Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

"Karena Cinta, Hidupmu Berwarna"

TAK banyak film romantis yang benar-benar romantis. Banyak yang berniat romantis, malah terjerembab jadi film yang memuakkan. Saya yakin, jenis film ini termasuk susah dibuat. Ibarat makanan, jika racikan resepnya tidak pas, maka pasti tidak menghadirkan rasa lezat. Dalam film romantis, bagian paling sulit adalah bagaimana menghadirkan chemistry, semacam larutan kimiawi, yang menggemuruh di hati aktor dan artisnya. 

Di antara sedikit film yang sukses menghadirkan chemistry itu adalah film Sleeples in Seattle yang dibuat tahun 1993. Inilah salah satu film romantis yang sangat memorable. Sorot mata dan tatapan aktornya sungguh sukar dilupakan bagi para pencinta film romantis. Saat-saat ketika Tom Hanks bertatapan dengan Meg Ryan ibarat kenangan yang terpatri abadi. Mereka adalah duet terbaik dalam genre film romantis yang tatapannya penuh makna. Lewat tatapan itu, kita bisa merasakan sebuah gejolak, gemuruh, atau gelombang samudera cinta yang memenuhi raga dan menyelinap keluar melalui tatap yang penuh makna.

Malam ini saya kembali menonton film ini. Suasananya mulai agak jadul. Pertemuan kedua tokoh bermula ketika si anak menelepon melalui radio secara on air, pada satu segmen acara cinta yang dibedah psikolog. Sang ayah marah-marah, namun tak berdaya ketika si anak menyodorkan telepon untuk ditanyai psikolog. Publik radio mendengarkan kisah sang ayah yang tak bisa tidur sejak kematian istrinya. Si ayah yang kemudian dikenal sebagai Sleepless in Seattle itu menggambarkan istrinya dengan kalimat memukau, "Ada ribuan kenangan kecil yang tak lekang tentang dirinya. Di saat pertama kali menatap mata dan menyentuh tangannya, saya merasakan sebuah momen ajaib. It's a magic."

Publik Amerika tersentuh. Ribuan perempuan mengirimkan surat ke radio dan minta diperkenalkan dengan Sleeples in Seattle. Dan seorang perempuan di sudut lain Amerika ikut kepincut. Dengan cara yang unik dan sedikit mendebarkan, ia akhirnya bertemu dengan sang idola di atas Empire State Building di Manhattan, New York. Cinta bertaut. Bulan tersenyum.


Kisahnya memang sederhana. Namun betapa berdebar-debarnya para penonton yang menyaksikan film ini. Saya dibuat penasaran dan tidak sabar menantikan pertemuan. Semuanya serba kebetulan yang menyenangkan. Musik jazz mengalun. Ada suara serak-serak basah yang tiba-tiba berbisik, "Ketika kamu menemukan cinta, maka hidupmu kian berwarna."

Apakah hidup memang seromantis itu? tergantung bagaimana Anda mendefinisikan romantis. Dua sosok dalam film ini hanya bertemu selama beberapa menit jelang ending film. itupun tak banyak dialog selain sapaan hallo dari si anak kecil yang kemudian memperkenalkan ayahnya. Dalam diam itu, mereka saling menatap. Wajahnya bersemu kemerahan. Lalu dua tangan terulur dan saling mengenggam. Dan kita sebagai penonton tiba-tiba merasakan sebuah keajaiban sedang terjadi. Kita merasakan gejolak dua hati. Di akhir film tiba-tiba saja kita mengamini kalimat penyanyi jazz bersuara serak tersebut, "Ketika kamu menemukan cinta, maka hidupmu kian berwarna."


Jakarta, 27 Februari 2011
Saat sedang merindukan kepingan jiwa

Surat buat Pemuda Arab

Anak muda di Arab. Bangkitlah dengan tangan terkepal. Masa depan negeri ada di tangan kalian. Jangan pernah berhenti dan menyerah, sebab menyerah hanya milik para pengecut. Kalian yang sedang meretas jalan revolusi adalah para pahlawan yang sedang membangkitkan kerajaan Rasul di muka bumi ini. Para penguasa lalim dan serakah itu harus dilenyapkan! Kalian terpilih untuk menyandng tugas suci sebagaimana pernah disandang Rasul ketika menumbangkan kepongahan dan keserakahan.

Anak muda dunia Arab. Berjalanlah terus di garis depan. Semangat Mohamed Bouazizi, pemuda pedagang asongan yang membakar diri di Tunisia, akan menyalakan sanubari kalian. Semangat Khaled Said, pemuda 28 tahun yang disiksa aparat Mesir karena menyebrkan kebobrokan Mubarak di internet, ibarat cahaya lilin yang mengarahkan ke mana hendak bergerak.

Anak muda dunia Arab. Kalianlah yang akan menunjukkan nyala revolusi pada negeri-negeri yang rakyatnya tertindas. Kalianlah pemuda yang memanggul tugas suci dan penuh marabahaya, namun di situ terletak pertaruhan atas nama negeri dan rakyat yang sejahtera di bawah panji kebesaran nilai-nilai ilahiyah. 

Maka teruslah bergerak. Sebab akan menjadi saksi atas sikap kalian yang tak pernah menutup mata dan tak pernah berhenti mengepal, meskipun pesawat tempur siap menembakkan bom atas diri kalian. teruslah maju ke depan. Biarkan kami akan meniti di atas jejak emas yang kalian torehkan di buku besar bernama revolusi.

Tetes Inspirasi CLARA NG

Clara Ng di tengah tumpukan buku-buku fiksi


KALI ini saya ingin menimba banyak ilmu kepenulisan pada Clara Ng. Saya memang belum membaca satupun fiksi karya Clara, namun saya tahu persis bahwa setiap kali ke toko buku, selalu saja saya temukan buku karya Clara. Saya selalu bertanya-tanya dalam hati, betapa produktifnya Clara dalam menulis kisah. Seperti apakah gerangan imajinasinya membumbung tinggi, menemukan selaksa kisah seperti warna-warna pelangi, kemudian kembali ke bumi dengan kisah menakjubkan yang serupa air mengalir, tak berkesudahan.

Kali ini, saya tidak akan mengomentari banyak karya Clara. Saya hanya mengangkat beberapa kutipan kalimatnya dalam wawancara sebagaimana dimuat di Kompas hari ini, Kamis (24/2). Saya memilih beberapa komentarnya yang snagat kuat dan inspiratif. Semoga kelak saya bisa meniru jejak Clara. Thanks atas pencerahannya.


Keberanian saya adalah kegentaran saya terhadap hidup. Saya rasa, kalau ingin selalu aman sentosa dan terbebas dari rasa takut, tidak usah menulis fiksi! Menjadi penulis fiksi membutuhkan keberanian untuk berhadapan dengan diri sendiri, meneruskan penceritaan, dan terakhir, bertanggung jawab kepada masyarakat.

Saya sering bertemu dengan orang-orang yang mengaku ingin menulis cerita dahsyat. Tapi ternyata saya sangat jarang menemukan yang ”benar-benar” melakukannya dibandingkan dengan yang ”ingin”. Penulis adalah orang yang menulis, jadi kalau seseorang tidak menulis, berarti dia bukan penulis. Karya tak bisa dihasilkan hanya dengan berpikir atau berangan-angan tentang menulis, tapi karya dihasilkan dengan benar-benar bekerja. Maka. nyalakan komputer dan mulailah mengetik cerita. Inspirasi akan mengalir lancar saat mulai menulis.

Bagi saya, menulis bukan beban, jadi semangat saya tidak didasari target. Saya sudah cukup bahagia apabila saya memberi kesempatan kepada diri untuk membuka keran ide di kepala dan mengalirkan kata-kata. Sebab, tanpa menulis, saya merasa kepala saya terlalu penuh dan mampet. Anak-anak harus dibiasakan menulis sejak dini, sejak mereka mulai belajar membaca dan merangkai kata. Dengan menulis, anak-anak diajarkan untuk lebih pandai berbahasa dan mengungkapkan perasaan/gagasannya, juga menjadi komunikator yang baik kepada sesamanya.

Ciri khas penulis yang baik pasti memiliki kenikmatan menjadi pengamat di tengah keramaian dan menjadi penyendiri di saat benar-benar sendiri. Nah, sebenarnya seperti itulah awal mula proses kreatif saya. Selanjutnya, sorang penulis juga mempunyai sikap-sikap kemandirian yang sangat kuat (untuk mulai menulis) dan menjadi ”orang lain” di dalam ceritanya.

Saya menyukai dunia kepenulisan karena sejujurnya hanya dunia itulah yang paling setia dan tak pernah berpaling dari saya. Saat hidup saya terus maju dan berproses, beberapa kegiatan dan aktivitas saya di bidang-bidang lainnya menjadi longgar dan membosankan, hanya dunia menulis yang tak pernah letih memuaskan dahaga saya

Bagi saya, menulis adalah jalan pedang dan pedang yang saya maksud di sini sebagai filosofi hidup dan simbol pemahaman. Ini adalah semacam panggilan jiwa saya untuk membenahi dan membela kaum yang dibungkam, sekecil dan sesederhana apa pun usaha saya. 

How Influences The Tipping Point?

Have you ever read The Tipping Point from Malcolm Gladwell? Today, I start to read this book. I try to answer my curiosity in my mind about what the influence of this book. I've already read many articles about the power of Galdwell's books. I don’t know whether that information is true or false. But now, one of those books rest on my hand. This is a good time for me to prove that article. 

What is The Tipping Point? Galdwell said The Tipping Point is that magic moment when an idea, trend, or social behavior crosses a threshold, tips, and spreads like wildfire. Just as single sick person can start an epidemic of the flu, so too can a small but precisely targeted push cause a fashion trend, the popularity of new product, or a drop in the crime rate.

Through this book, Galdwell brilliantly illuminates the tipping point phenomenon is already changing the way people throughout the world think about selling products and disseminating ideas.

Dicegat Kampanye WWF

SAAT melintas di Plaza semanggi, saya dicegat seorang gadis yang segera mengatakan, "Maaf, saya bukan penjual produk. Saya hanya ingin presentasi sesuatu." Saya menghentikan langkah. Gadis itu memakai baju dengan logo World Wildlife Fund (WWF). Ia juga memegang beberapa brosur tentang WWF yang isinya gambar-gambar tentang lingkungan. Tanpa saya minta, ia lalu nyerocos tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Sebenarnya saya agak malas memperhatikan. Tapi saya merasa penasaran karena ini adalah bentuk kampanye yang unik dan kreatif. Gadis itu memperkenalkan diri, kemudian mulai menjelaskan tentang kerusakan hutan, serta polusi di Indonesia, yang katanya menempati urutan ketiga di dunia setelah Cina dan Amerika Serikat (AS). Beberapa kali ia bertanya, apakah saya tahu tentang rusaknya lingkungan kita. Saya hanya memperhatikan dan sesekali manggut-manggut.

Di akhir pembicaraan, ia lalu mempromosikan pentingnya menjaga lingkungan. Ia mengajak saya berpartisipasi dengan mengirimkan donasi sebesar Rp 5.000 per hari. Mungkin dikiranya saya seorang profesional muda yang sukses, ia langsung mencatat nama, nomor telepon, serta alamat saya di Jakarta. Setelah itu ia meminta nomor kartu kredit. Saya agak gengsi mengakui kalau saya tidak memiliki kartu kredit. Saya katakan kalau lupa bawa. Ia agak kecewa karena data transaksi tidak bisa diproses. Padahal, saya memang tidak terlalu tertarik untuk menyumbang. 

Jangankan mau memikirkan lingkungan, masalah makan sehari-hari saja masih susah. Ia berjanji akan menghubungi dalam waktu dekat. Dalam hati, saya langsung memikirkan alasan untuk menolaknya.

Saya salut dengan model kampanye seperti ini. Pihak WWF cukup kreatif untuk mengumpulkan donasi pada masyarakat. Yang saya kritik adalah metode yang digunakan. dengan cara menahan seseorang di jalan raya, kemudian mencecar dengan presentasi yang disampaikan dengan kalimat serba cepat, yang terjadi bukannya publik akan paham dan mengamini gagasan WWF. Yang terjadi adalah kejenuhan dan harapan agar presentasi segera berakhir sehingga seseorang akan segera berlalu dari situ. 

Hal lain yang saya kritisi adalah saya merasa seolah terjebak. setelah mendengar penjelasan yang berentetan tentang lingkungan, tiba-tiba disodorkan isian untuk donasi setiap hari. Saya jelas terkejut dan tidak tahu harus berkata apa. Untunglah, saya punya alasan tepat kalau saya tidak bawa kartu kredit. Andaikan sejak awal mereka menjelaskan posisinya untuk mengumpulkan donasi, mungkin saya akan keberatan untuk mendengarkan.

Apapun itu, saya cukup salut dengan model kampanye yang kreatif tersebut.

Tantangan Film Indonesia

FILM Hollywood terancam tidak diputar di bioskop Tanah Air. Banyak yang kecewa dan marah-marah. Namun saya tidak mau larut. Justru saya bersyukur karena akan semakin terbuka peluang buat pasar film dalam negeri. Para sineas kita akan semakin kreatif untuk menyiasatinya dengan menghadirkan film-film berkualitas.

Saya membayangkan terbukanya lapangan kerja yang besar. Harus diakui, industri kreatif seperti perfilman adalah industri yang padat modal dan padat tenaga. Terdapat begitu banyak profesi yang bersentuhan langsung dengan profesi ini. Makanya, jika Hollywood benar-benar serius menghentikan pasokan film di Indonesia, maka iklim ini akan menjadi tantangan bagi dunia film kita untuk mengembalikan kondisi perfilman kita yang sepat berjaya.

Di sisi lain, saya juga tidak akan pernah khawatir akan kehilangan kenikmatan menyaksikan film Hollywood. Selagi film bajakan masih beredar, maka siapapun di negeri ini masih bisa menyaksikan film Hollywood yang berkualitas dengan harga murah. Teman saya berseloroh, "Selagi ada bajakan, ngapain beli yang mahal?" Lho!

Aku Busur, Dirimu Anak Panah

KELAK, saya ingin anak-anak saya bisa bersekolah di tiga kampus di bawah tulisan ini. Jika mereka tidak berkenaan, saya akan persilakan mereka untuk memilih apa yang terbaik buat diri dirinya. Mereka berhak memilih apa yang terbaik buat mereka, apa yang paling membuat nyaman. Mereka punya hak memilih. Sebab kata Gibran, "Anakmu, bukanlah anakmu. Mereka adalah putra dan putri kehidupan."


You are the bows from which your children
as living arrows are sent forth.



Misteri Nusantara Kalahkan Peradaban Maya (3)

DALAM dua tulisan sebelumnya, saya sudah mengangkat beberapa relief di Candi Penataran yang menggambarkan penaklukan nenek moyang Nusantara atas prajurit Maya di Amerika. Dalam tulisan ini, saya akan membahas lebih jauh tentang relief di Candi Cetho. yang mencengangkan, beberapa patung di candi ini justru menampilkan prajurit Sumeria yang sedang menyembah. Pertanyaannya, apa yang terjadi di masa silam? Apakah ini kian menguatkan tesis Profesor Santos, ilmuwan asal Brazil yang menyebutkan Nusantara sebagai pusat peradaban dunia.

Candi Ceto yang berbentuk seperti kuil di Amerika Latin
Candi Ceto terletak di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.  Candi ini terletak pada ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut. Pertama melihat candi ini, saya tersentak melihat bentuknya yang mengingatkan saya pada candi-candi milik peradaban Maya di Amerika Latin. Tulisan ini disusun dengan mengacu pada hasil ekspedisi tim Turonggo Seto dari Geger Nuswantara yang disusun dalam sebuah makalah oleh peneliti Agung Bimo Sutejo dan Timmy Hartadi. Gambar-gambar juga mengacu pada temuan mereka.

Menurut situs Wikipedia, candi ini merupakan candi yang bercorak agama Hindu peninggalan masa akhir pemerintahan Majapahit (abad ke-15). Laporan ilmiah pertama mengenainya dibuat oleh Van de Vlies pada 1842. AJ Bernet Kempers juga melakukan penelitian mengenainya. Ekskavasi (penggalian) untuk kepentingan rekonstruksi dilakukan pertama kali pada tahun 1928 oleh Dinas Purbakala Hindia Belanda. Berdasarkan keadaannya ketika reruntuhannya mulai diteliti, candi ini memiliki usia yang tidak jauh dengan Candi Sukuh. Lokasi candi berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, pada ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut. Lihat data Wikipedia DI SINI.

Apa yang menarik dari candi ini? Ada banyak hal. Pertama, sejarahnya. Kata arkeolog, candi ini warisan majapahit kelang runtuh. bagi saya, ini aneh. Sebab batu yang digunakan adalah batu kali, berbeda dengan candi Majapahit yang pakai batu bata merah. Artinya, usia candi ini bisa jauh lebih tua. 

patung bangsa Sumeria di Candi Ceto

Kedua, ketika memasuki candi ini segera akan nampak sebuah patung yang aneh. Beberapa arkeolog menyebutnya sebagai patung penjaga. Agung Bimo Sutejo dan Timmy Hartadi, peneliti dari tim Turonggo Seto, menyebut patung itu sebagai patung seorang prajurit Sumeria. Kok bisa?

Sumeria disebut-sebut sebagai salah satu peradaban kuno di Timur Tengah, terletak di sebelah selatan Mesopotamia (tenggara Irak) dari catatan terawal abad ke-4 SM sampai munculnya Babilonia pada abad ke-3 SM. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Sumeria. Mereka bercocok tanam dan sudah memiliki sistem pengairan. Bangunan-bangunan mereka dibuat dari lumpur. Mereka menganut agama politeis. Jika Sumeria adalah salah satu peradaban kuno, lantas mengapa patung seorang prajuritnya bisa ditemukan di Candi Ceto?

perhatikan patung dengan teliti, termasuk hiasan telinga
dan hiasan di pergelangan tangan yang mirip jam tangan

Perhatikan patung di atas. Wajah dan potongan rambut sama sekali tidak menunjukkan penduduk Nusantara, tetapi justru memiliki kesamaan dengan orang Sumeria, Viking, Romawi, atau Yunani. Namun dari sisi pembentukan mata sangat identik dengan patung Sumeria. Pertanyaannya, mengapa dipatungkan dalam posisi ketakutan serta menyembah?

bandingkan hiasan kepala patung itu dengan
hiasan kepala orang Sumeria yang bisa ditemukan di internet

Menurut catatan peneliti Agung Bimo Sutejo dan Timmy Hartadi, bila diperhatikan dari sisi perhiasan, untuk telinga biasanya orang Jawa menggunakan Sumping, sedangkan pada patung ini hanya menggunakan anting-anting. Pada lengan tangan biasanya menggunakan kelat bahu dan pada patung ini tidak, juga pergelangan tangan orang Jawa biasanya memakai gelang keroncong, tetapi pada patung ini terlihat menggunakan gelang yang sangat mirip dengan jam tangan, gelang sejenis ini merupakan gelang ciri khas dari daerah Sumeria.

berbagai versi gambar orang Sumeria. Rata-rata memakai hiasan jam tangan
dan bentuk rambut yang sama dengan patung di Candi Ceto

Kita bisa membandingkan beberapa gambar orang Sumeria yang bisa ditemukan di internet. Rata-rata menggunakan hiasa seperti jam tangan di pergelangan tangannya. Kebiasaan di Sumeria, perhiasan berupa gelang menyerupai jam tangan yang hanya digunakan oleh mereka yang dari kalangan bangsawan dan ksatria. Begitu juga dengan bentuk mahkota rambut dan jenggot yang mirip, dari sisi cara berpakaian agak lain dengan yang di gambar ini. Bentuk mata sangat mirip, karena digambarkan mata yang besar dan lebar. Menurut catatan sejarah, orang Sumeria menggunakan pakaian itu di zaman 3.000 - 4.000 tahun sebelum masehi. Jika mereka memang mempunyai peradaban dan tata sosial yang sudah bagus, lantas mengapa mereka menyembah dan takluk di Candi Ceto?

Yang juga menarik, profil prajurit Nusantara memiliki kemiripan dengan gambar prajurit yang ada di beberapa kuil di Villahermosa, Mexico. Perhatikan gambar berikut:

relief prajurit Nusantara di Candi Ceto
relief yang mirip di Villahermossa, Mexico
Bandingkan  pula gambar dua patung di bawah ini yang menunjukkan kemiripan:

sebelah kiri adalah patung orang Sumeria di Candi Ceto,
sedang sebelah kanan adalah relief orang Sumeria di Monte Alban, Qaxaca, Mexico 

Pada gambar di atas, sama-sama terlihat dua sosok yang sedang dalam posisi ketakutan, takluk, dan menyembah. Adakah yang bisa menjelaskan hubungan peradaban kita dengan peradaban Maya - Inca dalam menghadapi bangsa Sumeria?


BERSAMBUNG...............

Baca Juga:

Misteri Nusantara Kalahkan Peradaban Maya (1)

Misteri Nusantara Kalahkan Peradaban Maya (2)

Misteri Relief UFO di Candi Borobudur

Misteri Relief UFO di Candi Borobudur

Kemarin, dalam satu diskusi di satu komunitas di internet, terdapat fakta tentang salah satu relief di candi Borobudur yang menampilkan benda terbang tak dikenal hingga menakutkan semua binatang. Foto relief tentang benda terbang yang menakutkan tersebut  bisa dilihat di bawah ini:

relief benda terbang di Candi Borobudur

Nenek moyang kita pernah mengabadikan benda misterius itu di candi Borobudur. Ada dua benda aneh yang jelas tergambar dalam relief ini. Yang pertama tepat di atas kuda yang berbentuk seperti piring terbang. Sedangkan yang kedua berada di atas gajah. 

Perhatikan kedua gambar itu. Gambar UFO yang tergambar semuanya dalam posisi melayang jadi tanpa tiang penyangga ataupun tanpa tali penggantung. Kedua bentuk benda ini juga membuat ketakutan dua hewan yang tergambar (kuda dan gajah). Keberadaan kuda dan gajah ini menunjukkan kedua hewan ini ada di lapangan yang luas, karena bisa berlarian, sehingga tidak mungkin dua benda misterius ini menempel pada dinding bangunan. Percayakah Anda dengan gambar UFO di Candi Borobudur? Silakan jika tidak percaya. Lantas, apa penjelasan tentang relief ini?

Fenomena Unidentified Flyng Objects (UFO) memang tak akan pernah habis dibahas. Beberapa waktu lalu, publik Tanah Air sempat heboh dengan fenomena crop circle di salah satu sawah di Sleman. Pemerintah mengatakan itu adalah buatan manusia, namun beberapa kalangan menyebut bahwa itu adalah buatan mahluk yang bukan manusia. lebih spesifik disebut buatan alien, mahluk luar angkasa yang dilaporkan sering muncul di bumi dengan menggunakan pesawat canggih berbentuk piring terbang

Di Indonesia, terdapat sebuah kelompok yang intens mengkaji UFO. Mereka menamakan kelompoknya Komunitas Beta UFO. Kata "BETA" adalah singkatan dari Benda Terbang Tak Dikenal. Istilah ini digunakan untuk seluruh fenomena penampakan benda terbang yang tidak bisa diidentikasikan oleh pengamat dan tetap tidak teridentifikasi walaupun telah diselidiki. Istilah BETA diperkenalkan oleh Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) era 1960-an RJ Salatun untuk fenomena ini. 

crop circle di Sleman, Yogyakarta
Istilah lain yang digunakan adalah "piring terbang" (bahasa Inggris: flying saucer) dan pertama kali digunakan wartawan untuk menggambarkan benda terbang misterius yang dilihat oleh Kenneth Arnold, yaitu sembilan obyek terbang aneh dalam suatu formasi di atas gunung Rainier, pegunungan Cascade, Washington.Peristiwa itu terjadi pada tanggal 24 Juni 1947. Sejak saat itu, istilah “Piring Terbang” memengaruhi imajinasi banyak orang.

Istilah lain yang juga sempat diperkenalkan adalah BETEBEDI (Benda Terbang Belum Dikenal) yang dikemukakan oleh seorang akuntan publik dari Bandung yang bernama C.M. Tanadi yang pada tahun 80-an banyak menerbitkan buku terjemahan tentang fenomena ini dan majalah yang bernama Betebedi.

Memang, UFO menjadi fenomena yang tak pernah habis diperbincangkan. Di Indonesia, terdapat banyak laporan mengenai penampakan UFO di berbagai daerah, sebagaimana bisa dilihat DI SINI. Namun, jika ditelaah lebih jauh, penampakan benda aneh di langit ini, tercatat dalam banyak kesaksian masa silam, serta pada naskah-naskah kuno, maupun pada relief bangunan kuno. 

Dalam naskah kuno India, Ramayana, juga terdapat catatan tentang benda terbang aneh dan canggih tersebut. demikian pula dalam catatan penulis Romawi, Julius Obsequens, pada tahun 99 SM yang juga menyebut-nyebut benda terbang aneh dan tak dikenal. Bahkan, ada juga catatan tentang pengalaman sahabat Nabi Muhammad SAW, yang bernama Usayd bin Hudhayr yang melihat gumpalan awan menyerupai payung yang mengagumkan, dan belum pernah terlihat olehnya sebelumnya. Awan tersebut terlihat sangat indah dihiasi dengan benda berkedip-kedip seperti lampu bergantungan, tergantung seperti lampu-lampu memenuhi ufuk dengan sinarnya yang terang. Akhirnya awan tersebut terbang lebih tinggi kemudian menghilang.

Terdapat banyak kisah dan penampakan. Namun penampakan dalam relief di Candi Borobudur ini cukup menarik untuk menjadi gerbang untuk merambah ke pembahasan yang lebih detail. Nah, percayakah Anda dengan UFO?

Sebuah Jawab buat Sahabat Malaysia

Seorang sahabat asal Malaysia beberapa kali mengirim imel dan tanggapan pada dua tulisan saya DI SINI dan DI SINI. Saya menjawabnya melalui postingan ini.

Maafkan karena saya tak banyak tahu tentang Malaysia. Yang saya tahu konsep kemalaysiaan sebagaimana yang saya temukan di media massa Indonesia. Rasanya, negeri itu terlalu jauh buat saya untuk sekedar dikunjungi dan dipahami bagaimanakah cara berpikir warganya. Maka media masa menjadi satu-satunya wadah yang mengayakan konsep saya tentang Malaysia. Namun, adakah gambaran positif dari media Indonesia tentang Malaysia? Silakan menyimak media Indonesia dan temukan bagaimana perasaan orang Indonesia di Malaysia, apa yang mereka alami, hingga membentuk gambaran tentang negeri itu.

Memang, ada banyak kesamaan antara Indonesia dan Malaysia. Tapi sejarah dan kolonialisme bangsa asing menjadi sebab yang memisahkan. Sayapun menganggap Malaysia sebagai saudara. Namun, adakah yang bisa menjelaskan mengapa orang malaysia memanggil Indon dengan sapaan yang merendahkan, atau tudingan yang serba tidak enak tentang Indonesia di sana. Bisakah pula saudara jelaskan mengapa ada banyak orang Indonesia yang diperlakukan seperti sapi perah, disiksa hingga nyaris tewas, dilihat seperti binatang.

Saya punya beberapa sahabat yang kuliah di sana. Entah kenapa, sepulang dari sana justru kian bertambah kebencian kepada Malaysia. Mungkin saya perlu bertanya lebih jauh. Tapi setidaknya saya bisa berkesimpulan kalau mereka telah mengalami banyak hal di sana. Mereka mengalami pengalaman yang tidak enak hingga tiba pada titik kebencian sedemikian rupa. Bisakah Anda menjelaskan apakah betul ada pengalaman buruk yang diterima warga Indonesia di sana?

Apapun komentar Anda, saya senang mendengarnya. Apalagi karwena Anda memosisikan blog ini punya kekuatan yang mempengaruhi pemikiran banyak orang. Maafkan karena jawaban ini terlalu singkat. Tapi kita bisa diskusi jauh demi menenangkan hati dan menyelesaikan tanda tanya yang berkelebat di pikiran kita. Terimakasih...

Picture in Journey


Foto yang tersisa saat mengikuti kegiatan Jakarta Heritage Trails: Chinatown Journey di Kawasan Kota Tua, Jakarta. Saya akan menuliskan pengalaman menelusuri bangunan Cina di kota tua Jakarta, pada tulisan lain. Mudah-mudahan dalam satu atau dua hari ini.

Thanks Oemar Werfete atas fotonya

The Difficulties to Dismiss FPI


If the motherland can speak, it will cry after watch the Indonesian situation now. Many days before, there were three people killed and four people injured in incident of violence in Cekeusik, Pandeglang, Banten. They are members of Ahmadiyah, one of the Islamic groups based in Jakarta. They were killed after being tortured by hundreds of people who join Islamic Defender Front (FPI). 

Yesterday, President of Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) has ordered law enforcement officials to search for a legitimate and legal way to dismiss FPI who can be blame in this situation. However, many people still doubt that Presidentt SBY will dismiss FPI. The purpose of this essay is discussing the several factors that indicate the difficulties to dismiss the mass organizations like FPI.

For those who believe the statement of SBY will dismiss FPI consider many argumentations. Perhaps they could say that all words from the president have implications to every law enforcers. They might say that the statement of President SBY is very clear in order to create a better circumstance in religious atmosphere including relation between Islamic follower and Ahmadiyah follower. This is true if we think that statement of Presiden SBY would be followed by law enforcer. But this is partially wrong when we think the sociological fact or the relation of FPI with other mass organizations, and political network behind the FPI. Believe it or not, the existence of FPI is related to the government who always take advantage from it. 

Besides that, there are various opinions about the existence of FPI and the position of Ahmadiyah. Many people still believe that FPI has the good intention to protect Moslem Community from many things that can be recognized as contrary to Islamic religion principle. They trust and support FPI to supervise the nightclub in Jakarta and to warn people who tried to interpret Islam with broad interpretation. Many Islamic communities convince that Ahmadiyah had wrong interpretation about Islam and tends to destroy the fundamental principal in Islam. 

But, it is not a strong argumentation to let the FPI action to Ahmadiyah follower. We can’t forget the fact about FPI actions. FPI members always create a terrible situation. They attack other group and sometimes harm people. They also often act brutally and ignore the principle of tolerance among religious communities in Indonesia. The incident in Cekeusik which three people died is not the first. There are series brutally actions in previous time. Because we live under the law umbrella, the government should take the strong decision to dismiss FPI. But it is hard to dismiss FPI for several reasons.

The first is the networking. Social researcher from Netherland, Gerry Van Klinken, ever describes about the networking of FPI. In one of international publications, he said FPI has strong network with the regime and many prominence people including General Wiranto (former The Chief of Indonesian National Army), and General Kivlan Zen. They were noted as one of the founding fathers of FPI. According to historical data, FPI was established in 1998 when the regime of Soeharto falls down. In that situation, many pressure groups were established to anticipate the horizontal conflict between government and society.  Klinken also said that it is impossible to dismiss FPI because of the relationship and back up from prominence people. There is a mutual symbiosis between military officer or politician and FPI member. Politician and military need FPI to express their hidden agenda about political issues, and FPI need them too in order to get the finance for their activity. 

The second is the influence. FPI has strong influence to its follower. From year to year, FPI maintain its ideology to encourage its follower. Andri Rosadi, the researcher from Gajah Mada University, said FPI masses are the youngers who have strong motivation to express their religious thought. They have the same dream to practice the Islamic value in their everyday life. They have the same disagreement to the government and start to make a movement to reach their dream. Most of them believe this government must be replaced with Islamic government in order to create Islamic government. The famous quotation from FPI website is noble life or died as syuhada. 

The third is the situation. According to Van Klinken and Rosadi, the existence of FPI is depends on the politic, social, and economic situation. In politic situation, the government can’t guarantee peace and freedom for people to express their belief. The government is not established law to punish everyone and mass organizations who attack the freedom of other people. In social, many radical organizations are increased because of problem in law enforcement. There are no rules about mass organizations that limit mass activity. In economic, there is huge numerous unemployment in our society. These situations give contributions to the establishment of radical organizations like FPI. 

Considering the networking, the situation, and influence, it is difficult to dismiss FPI. Although the government success to dismiss this organization, but in the same time, the same organization will established with the different name. If the government wants to solve the problem about radical organization, it must solve all problems in social, politics, and economics.

Bermain Layang-Layang di Lapangan Monas

PERNAHKAH anda kembali melakukan hal-hal yang pernah dilakukan di masa kecil? Sesekali cobalah melakukannya. Pasti sangat menakjubkan. Saya sudah melakukannya dalam beberapa minggu terakhir. Minggu lalu, saya mulai gemar bermain futsal, yang dulunya kerap dilakukan waktu kecil. Meskipun kali ini dilakukan dalam ruangan indoor atau tertutup (karena di Jakarta nyaris tak ada lapangan), namun keriangannya sama dengan ketika saya lakukan di masa kecil yakni di pasir putih di tepi pantai.

berpose sebelum bermain layangan

Hari ini bertambah lagi hal yang dilakukan sewaktu kecil. Tadi saya bermain layangan di lapangan Monas, Jakarta. Layangannya saya beli pada penjual dengan harga yang murah yakni lima ribu rupiah, lengkap dengan segulung benang nilon. Kenikmatannya luar biasa. Serasa memutar ulang kenangan dan kenikmatan yang naris hilang dalam suasana yang berbeda. Saya terkenang kembali episode kehidupan yang lama lewat di Kota Baubau di Pulau Buton, khusunya bagian ketika saya bermain layangan di masa kecil.

Dulu, bermain layangan adalah aktivitas yang sangat menyenangkan. Biasanya, saya membeli rangka layang-layang yang terbuat dari bambu di warung seorang penjual yang bernama La Basari. Selanjutnya saya lalu menyobek kantong plastik dan memasangnya di rangka tersebut. Saat itu, saya sudah menyiapkan lem khusus, yang diambil dari getah pohon kelor. Sehari sebelumnya, saya mengiris batang pohon kelor, sehingga keesokan harinya penuh dengan getah yang berfungsi sebagai lem. 

Saat itu, saya melakukannya seorang diri. Anda bisa membayangkan betapa mandirinya anak-anak di masa itu sebab menyiapkan segalanya seorang diri. Menyiapkan layang-layang adalah bagian dari keahlian seorang anak kecil di kampung saya. Setelah plastik direkatkan di rangka tersebut, selanjutnya adalah menimbang dengan benang. Benang saya ikat di tengah layang-layang lalu ditimbang. Kalau layang-layang itu miring ke kiri, artinya saya mesti memasangkan ekor di sayap kanan biar balance (seimbang). Demikian pula sebaliknya. Kalau miring ke kanan, maka saya akan memasang ekor di sayap kanan. kami menyebutnya ekor. Padahal sesungguhnya itu hanya cabikan kain agar layangan itu seimbang.

Selanjutnya adalah menerbangkan layangan. Nah, di kampung saya, permainan layangan adalah permainan kolektif. Kami anak-anak kecil memainkannya secara bersama. Biasanya, saya akan meminta seorang anak kecil untuk memegang layangan dari kejauhan. Saya mengulur benang, lalu setelah dirasa cukup, saya lalu menariknya. Maka terbanglah layangan tersebut diiringi sorak-sorai semua anak-anak.


Pada masa itu, sering ada kompetisi dalam hal bermain layangan. Sejumlah anak kecil membuat benang gelasan yakni benang khusus yang dilumuri dengan pecahan kaca serta getah kayu tertentu. Benang itu akan lebih tebal, kuat serta sanggup menyobek benang lain hingga putus. Ketika ada terjadi duel, kami anak kecil menanti-nanti dengan harap-harap cemas. Biasanya ada pengumuman kalau ketika ada layangan yang putus, maka siapapun yang menemukannya, berhak memilikinya. Makanya, kami berlarian sekuat tenaga demi mendapatkan layangan tersebut.

Saat ini saya tidak pernah menyaksikan anak-anak berlarian mengejar layangan putus. Dulu, pemandangannya sangat ramai. Sebab rata-rata anak kecil membawa tongkat yang diatasnya dipasang ranting kayu demi meraih layangan putus itu. Nah, seorang anak akan memiliki dua misi penting. Selain segera mendapatkan layangan pada kesempatan pertama, ia juga harus mengamankan layangan itu dari anak-anak lain yang ingin merusaknya. Mungkin anak-anak itu berpikir zero sum game, di mana semuanya sama-sama kalah. Namun biasanya, sang pemenang akan mengamankan layangan itu serupa benda berharga. Ia akan mengancam anak-anak lain yang hendak merebutnya.

Tadi sore, semua kenangan itu menari-nari di pelupuk mata. Saya bermain layangan di tengah banyak orang yang juga bermain layangan. Kami tak saling mengenal, sebagaimana kenangan indah di waktu kecil. Kali ini tak ada anak-anak yang menanti kalau-kalau ada duel sehingga mereka bisa berebut layangan putus. Tak ada juga anak kecil yang membantu memegang layangan di kejauhan hingga saya menariknya dan terbang tinggi.

Tapi setidaknya, saya menemukan keriangan yang nyaris hilang. Saya kembali menemukan sensasi ketika menerbangkan sesuatu, dan saat-saat menegangkan ketika layangan itu menukik hingga kembali mengangkasa. Dan saya serasa melihat masa lalu yang menari-nari pada layangan terbang itu.(*)


Jakarta, 15 Februari 2011

Kado Perawan di Hari Valentine


VALENTINE sudah kehilangan makna. Tak ada lagi mata air permenungan di situ. Tak peduli dari mana dan apa latar kisah ini, Valentine sudah lama menjadi ikon modernisasi. 

Aku tak pernah mendengar seseorang yang menyebut-nyebut sejarah Valentine atau pesan bijak tentang hari Valentine dan kasih sayang. Bahkan dari para sahabat yang Kristiani sekalipun, tak pernah kudengar kisah Valentine, selain dari pesta pora dengan bau bir yang memenuhi ruangan, serta tubuh seksi yang bergoyang dengan keringat yang membasahi dalam balutan musik yang memekakkan telinga. 

Terakhir kudengar kisah ini dari seorang ustad yang hendak mejustifikasi pandangannya bahwa Valentine itu adalah haram. Valentine adalah setan. Valentine adalah iblis. Dan mereka yang merayakan Valentine bertempat di neraka.

Aku tak peduli dengan apapun kata orang tentang hari ini. Tanya saja sembarang orang yang melintas, apakah mereka tahu sejarah Valentine? Jawabannya pasti tidak. Sebab Valentine sudah lama menjadi ikon dari sebuah pesta hura-hura, menjadi penanda akan kisah kasih yang semu dan nihil makna. Di abad konsumerisme seperti saat ini, Valentine adalah moment penting untuk memasarkan produk. Ada warna pink di mana-mana, ada gambar hati, serta sebuah testimoni kasih sayang. Namun, benarkah ada kasih sayang di situ?

Kita manusia modern selalu membutuhkan sebuah momentum. Kita selalu ingin menandai sesuatu dengan aneka sebutan. Kita selalu saja membutuhkan alasan untuk berpesta pora. Di kota seperti Jakarta, Valentine identik dengan pesta seks. Entah sejak kapan budaya ini menyebar, namun di sini, anak-anak muda merayakan Valentine dengan berbagai sebutan. Kemarin, dalam satu liputan di Pos Kota, Valentine identik dengan "pesta mengakhiri masa keperawanan." Anak-anak muda itu --yang ternyata berasal dari golongan kaya negeri ini-- merayakan Valentine sebagai tradisi untuk pesta seks. 

Anak-anak muda itu menganggap seks sebagai manifestasi kasih sayang. Seks menjadi bahasa baru silaturahmi dan saling sapa. Keperawanan menjadi kado. Mereka mengaku sedang merayakan kasih sayang lewat seks, akan tetapi setelah itu kasih sayang menguap ke udara. Kasih sayang itu tidak mengendap dan bertahan lama sebagai telaga yang menggenang di hati. 

Jakarta adalah sebuah kota yang penuh paradoks. Ribuan orang merayakan hari kasih sayang. Sementara ribuan orang pula harus kehilangan kasih sayang setiap harinya. Di sini cinta dan kasih sayang serupa barang yang mudah didapat dengan menyerahkan lembaran ratusan ribu. Tapi sekian detik berikutnya kasih sayang itu bisa menguap ke udara.

Pada akhirnya, kasih sayang bukanlah sesuatu yang didapatkan di pasar senen atau di bar-bar beraroma bir. Kasih sayang adalah sesuatu yang sublim dan tumbuh serupa pohon beringin yang kekar karena disirami mata air pengalaman serta kesediaan untuk berkorban. 

Barangkali kasih sayang tidak membutuhkan banyak kata dan pesta pora atau pesta seks. Kasih sayang terletak pada bening mata bahagia yang melihat dirimu bahagia, atau pada sorot mata yang menggenang ketika melihat dirimu sedang bersedih. Kasih sayang terletak pada kalimat-kalimat yang memenuhi rongga dada kita ketika menyaksikan sosok yang kita sayangi, kalimat yang serupa oksigen dan setiap saat kita hirup hingga tubuh kita menyempurna. 

Kasih sayang --betapa mahalnya menyebut kata ini di Jakarta-- tidaklah identik dengan pesta serta hingar-bingar. Kasih sayang berkarib dengan sunyi, menjelma sebagai embun yang membasahi kalbu, menyiraminya hingga menguatkan diri kita. Kasih sayang tak membutuhkan momen seperti Valentine. Ia hanya butuh sikap yang jernih, dan hati yang membuka. Dan di situ terukir nama-nama yang kita sayangi.

Terserah, apakah anda merayakannya atau tidak, izinkan saya mengucapkan selamat hari kasih sayang! Semoga damai tercipta di bumi.....

Selamat Jalan Sahabat!

KEMARIN, seorang sahabat meninggal dunia. Setelah bertahan hampir sebulan akibat tiga peluru yang menembus lehernya, Tuhan akhirnya mengakhiri deritanya. Ia kembali ke pangkuan Tuhan dengan damai. Kami di sini hanya bisa mengenangnya. Kami hanya bisa mengenangnya sebagai tragedi atas sebuah ketidakdilan. Kami di sini hanya bisa mengingat uloag episode penting bersamanya, serta takdir menyedihkan yang djalaninya. Masih segar catatanku tentangnya DI SINI. Ia memang masih amat muda. Ia masih 27 tahun. 

Selamat jalan sahabat...
Damai bersamamu!!

Demi Kau dan Si Buah Hati


DULUNYA aku membenci semua lagu Pance F Pondaag. Suaranya juga tak kusukai sebab terdengar seperti sedang tercekik. Tapi, entah kenapa, beberapa hari ini sebuah lagu dari Pance tiba-tiba saja terus mengiang di telingaku. Sebuah lagu yang berjudul "Demi Kau dan Si Buah Hati."

Pada mulanya, lagu ini kudengar pada acara prajabatan di Kendari. Seorang pemateri menyanyikan lagu ini karena dirinya sering terlambat pulang, dan istrinya mulai marah-marah hingga menutup pintu. Kemarin, sahabatku Utu (pengajar fakultas ekonomi Universitas Halu Oleo) menceritakan kisah seorang sahabatnya terkait lagu ini. Katanya, seorang sahabat di Kendari menjalani karier sebagai PNS kecil di satu dinas. Hidupnya normal. Segalanya teratur. 

Namun demi keinginan untuk menambah penghasilan, ia lalu bergabung dengan tim sukses seorang kandidat gubernur. Ia lalu sering pulang malam. Di saat istrinya marah dan menutup pintu, ia lalu mulai menyanyi dengan suara pelan, "Demi Kau dan si Buah Hati// terpaksa Aku Harus Begini....." Istrinya trenyuh hingga akhirnya membuka pintu.

Aku sempat tersenyum-senyum ketika Utu menceritakan lagu ini. Padahal, sebenarnya aku memikirkan lagu ini yang kalimat-kalimatnya kupahami benar. Kusadari kalau lagu ini punya pertautan dengan diriku sendiri. Saat ini kurasakan bagaimana posisi para suami yang setiap hari memikirkan keluarga, meastikan bahtera keluarga itu tetap terpancang, layar tetap mengembang di samudra kehidupan. Mungkin seperti inilah rasanya menjadi seseorang yang berusaha mencukupi nafkah. Kelak, ketika istriku menutup pintu rumah, akupun akan menyanyi "Demi Kau dan Si Buah Hati....."

Nah, seperti apakah lagu Pance F Pondaag yang memotret para suami yang banting tulang demi keluarga tersebut? Inilah naskah lengkap lagu tersebut:


Mengapa harus begini
Tiada lagi kehangatan
Memang ku sadari sering ku tinggalkan
Kau seorang diri

**
Bukannya aku sengaja
Meninggalkan kau sendiri
Aku menyadari bukan sandiwara
Kasihmu kepadaku

Tiap malam engkau ku tinggal pergi
Bukan bukannya aku sengaja
Demi kau dan si buah hati
Terpaksa aku harus begini

Tiap hari hingga malam berakhir
Ku tau kau tersiksa karna diriku
Sejujurnya aku katakan
Tiada satu pengganti dirimu

Ghost Writer: Kisah Para Penulis Pesanan


DEMI mencari tambahan penghasilan, saya diajak teman untuk menjadi seorang Ghost Writer (GW) alias penulis hantu atau penulis bayangan. Tentu maksudnya bukanlah menjadi hantu yang menulis sesuatu. Maksudnya adalah menjadi seorang penulis yang tidak disebutkan namanya, melainkan memakai nama orang lain. Di luar negeri, GW adalah hal yang kerap terjadi. Kita bisa menemukan itu dalam film Ghost Writer yang diperankan Pierce Brosnan.

Bahkan para peneliti hebatpun juga sering menjadikan para asistennya sebagai penulis bayangan. Seorang kawan menjelaskan bahwa antropolog kondang seperti Marvin Harris sering meminta asistennya untuk menuliskan pemikirannya. Ia tinggal mendiktekan sesuatu, dan asistennya inilah yang akan menerjemahkan gagasan abstrak tersebut ke dalam kalimat yang terukur sebagaimana lazimnya sebuah karya ilmiah. Di luar negeri ini, praktik ini adalah hal yang dianggap beradab. Sebab sang asisten tak lebih sebagai "tukang pemindah kata" yang tugasnya merekam pemikiran dan menuliskan gagasan.

Namun di Indonesia, GW sangat berbeda dengan apa yang ada di luar negeri. Di sini, GW adalah seseorang yang ditugasi menulis sesuatu, sebagus mungkin, demi meningkatkan citra seseorang. Bahasa kasarnya, GW adalah penulis pesanan yang bekerja dengan imbalan serta targetnya adalah meningkatkan pencitraan. Pantas saja jika di negeri ini, banyak politisi yang tiba-tiba menjadi penulis buku. Aneh saja melihat tokoh sekelas Taufiq Kiemas yang untuk ngomong saja sering salah, tiba-tiba saja menulis buku hebat tentang nasionalisme dan demokrasi.

Pertanyaannya mengapa jumlah GW kian menjamur? Jawabannya karena di negeri ini, seorang penulis belum bisa hidup secara profesional dari apa yang dituliskannya. Inilah sebab mengapa untuk menulis sesuatu, ia mesti memakai nama orang lain. Seorang penulis di negeri ini adalah penyusun aksara sekaligus penjaja gagasan. Ia akan menjual keahliannya demi menulis sesuatu bagi orang lain. Dan ia hidup lewat gagasan kretif yang dijualnya atas nama orang lain. Memang ironis sebab di negeri ini, tidak semua penulis bisa menampilkan namanya. 

Faktor lain yang juga mempengaruhi adalah karena di negeri ini, menulis masih dianggap sebagai sesuatu yang sukar dilakukan. memang, kita mendapatkan pelajaran mengarang di sekolah dasar hingga perguruan tinggi, namun pelajaran itu tidak membuat kita menjadi seseorang yang pandai mengarang. Memang, di perguruan tinggi ada kewajiban untuk menulis skripsi bagi jenjang S1, dan tesis bagi mahasiswa di jenjang S2. Tapi tetap saja tidak membuat para calon intelektual itu pandai menulis.  Malah, faktanya justru banyak yang copy-paste atau plagiat sana-sini. Bagi yang lama di Jakarta, tentu saja tahu di mana saja bisa mendapatkan jaringan untuk mengerjakan tesis atau skripsi plagiat. Yah, negeri ini sudah lama menjadi negeri yang calon intelektualnya adalah plagiat.

Faktor lain yang juga patut diperhatikan adalah faktor penerbit dan jaringan distribusi. Kedua unsur ini bisa berperan sebagai malaikat maut bagi seorang penulis. terkadang, sebuah naskah yang hebat bisa terancam tidak dicetak ketika penerbit tidak tertarik. JK Rowling, penulis Harry Potter, harus mendatangi delapan penerbit untuk bersedia menerbitkan Harry Potter, sebuah buku yang kemudian dicatat sejarah sebagai buku terlaris di dunia. Di negeri ini, kondisinya jauh lebih parah. Penerbit kadang bersikap seenaknya menolak naskah, tanpa mempelajari naskah itu secara baik. Ia sering hanya membuka ruang bagi penulis yang sudah punya nama. Sementara penulis pemula harus mengais-ngais rezeki. Syukur-syukur bisa seberuntung Rowling.

Selanjutnya adalah faktor jaringan distribusi. Tahukah Anda, matinya industri buku di negeri ini justru disumbang oleh para agen distributor. HBetapa tidak, toko buku sekelas Gramedia mengambil keuntungan hingga 40 persen dari harga jual. Bukankah jumlah ini amat keterlaluan sebab membuat harga buku melambung dan keuntungan terbesar diambil toko buku. bagaimana keuntungan buat penerbit dan penulis? malah penulis hanya mendapat 10 persen dari karya yang disiapkannya selama berbulan-bulan. 

Yup, tulisan ini hanya sebuah pemetaan sederhana. Jika kondisi perbukuan kita tidak segera dibenahi, maka jumlah Ghost Writer akan terus menjamur.(*)


Jakarta, 13 Februari 2010

Fiksi sebagai Nyawa Sejarah

PERNAHKAH kita berpikir untuk belajar sejarah melalui fiksi? Bagi yang ketat dengan metodologi, fiksi dan sejarah ibarat minyak dan air yang mustahil dipertemukan. Namun bagi yang menyenangi petualangan, maka sejarah dan fiksi menjadi rangkaian teka-teki yang amat menarik untuk ditelusuri. Fiksi membuat sejarah jadi lebih bernyawa. Fiksi ibarat ruh yang membuat sejarah memiliki daging, darah, serta tulang belakang. Berkat fiksi, sejarah jadi dekat dengan urat nadi kita, menjelma sebagai energi yang bisa kita rasakan kala melihat sesuatu atau mengingat satu kejadian.


Beberapa hari ini, saya sedang mengakrabi novel Nagabumi II: Buddha, Pedang, dan Penyamun Terbang, karya Seno Gumira Adjidarma (penulis favorit saya). Kisahnya tentang Pendekar Tanpa Nama (mengingatkan saya pada peran Jet Lee dalam film Hero yang disutradari Zhang Yi Mou) yang berkelana mulai dari Javadvipa (Jawa) lalu ke Tanah Kambuja, Campa, Vietnam, hingga ke Negeri Atap Langit (Cina) dan Tibet. Saya membaca buku ini serupa seseorang yang kehausan di tengah padang gurun. Saya baca dengan lahap sebab di dalamnya terdapat haru-biru kisah pengembaraan, cinta kasih, pertarungan yang secepat kilat dan susah diikuti mata, tentang pendekar yang menemukan kesempurnaannya dalam pertarungan, serta kisah tentang perjumpaan kebudayaan di negeri-negeri yang jauh.

Membaca Nagabumi II, serasa membaca sejarah tapi tidak dengan cara baca sejarah yang umum, sebagaimana sering kita temukan dalam buku-buku. Bagi saya, sejarah sering kali menjemukan karena berisikan kronologis, rangkaian kejadian, serta peristiwa-peristiwa yang sudah lewat. Sejarah bisa menjenuhkan karena sering hadir sebagai hafalan yang mesti diendapkan dalam kepala, tanpa menyimpan makna, atau selaksa kisah yang berjejalan untuk dibaca, tanpa kita tahu kalau kisah itu serupa berlian yang amat berharga untuk menjelaskan masa kini, dan membaca masa depan kita.

Melalui Nagabumi II, saya membaca sejarah melalui kisah petualangan dan pertarungan. Kisah ini memang tentang para pendekar. Namun para pendekar ini bukanlah mereka yang jatuh dari langit serupa kera sakti Sun Go Kong. Para pendekar dalam kisah ini tumbuh dari satu masyarakat, dibesarkan dalam rahim kebudayaan, dan melihat kepandaian berkelahi sebagai tradisi yang menakar dan terus disempurnakan dalam perjumpaan dengan para pendekar lainnya. Membaca buku ini, serasa belajar beberapa ilmu sekaligus. Mulai dari filsafat, sejarah, kebudayaan, hingga pengetahuan tentang pelukisan bangsa-bangsa (etnografi).

Maafkan karena saya hanya bisa membahas singkat tentang isi buku ini. Saya baru sampai 356 dari sebanyak 980 halaman. Pada halaman yang saya baca, Pendekar Tanpa Nama sudah tiba di Negeri Atap Langit dan tinggal bersama para biksu Shaolin. Mudah-mudahan saya bisa menuntaskannya dalam waktu cepat. Saya harus mencari waktu membaca di sela-sela belajar bahasa Inggris. Semoga bisa segera tuntas.(*)

Saat Belajar Statistik

SAYA tak terbiasa dengan statistik. Sungguhpun saya tahu bahwa statistik itu amat penting, namun saya sudah lama tidak mengasah bakat saya di bidang itu. Padahal, statistik amat berguna untuk memotret realitas dengan segera, memahami batas-batas terjauh realitas sosial, serta mengenali gerangan apa yang terjadi.

Para ilmuwan sosial yang bekerja dengan statistik, bisa segera mengenali kenyataan secara cepat. Saya tahu bahwa statistik sering dituding menyederhanakan kenyataan lewat numerik, akan tetapi sejauh ini statistik cukup berhasil dan paling andal untuk menebak sebuah kecenderungan, mengetahui apa yang dipikirkan manusia atas sesuatu, serta bisa memprediksi apa yang terjadi kelak. Kita bisa melihat kebenaran pernyataan ini dalam statistik pemilihan umum (pemilu). Dalam dua kali pemilu di Indonesia, statistik cukup andal untuk menebak hasil pemilu pada kesempatan pertama.

Mungkin inilah yang menyebabkan mengapa statistik demikian populer. Dan saya sering menyesal mengapa tidak memperdalam statistik sejak dulu. Padahal, saya sangat yakin kalau kemampuan statistik saya di sekolah menengah cukup baik.

Tapi sejak pertama memperdalam riset kualitatif, saya sudah memutuskan untuk fokus ke situ. Riset kaulitatif mengajari saya untuk mengenali satu kenyataan dengan penuh empati, serta jauh lebih menantang sebab riset menjadi petualangan ala Indiana Jones yang berdiam di satu tempat, memecahkan masalah, dan menjalin persaudaraan dengan manusia-manusia lain.

Tapi saya tidak memusuhi statistik dan riset kuantitatif. Saya tahu bahwa statistik amat penting. Malah, kuantitatif bisa memperkuat kualitatif dalam hal memotret realitas secara tepat. Sementara kualitatif berguna untuk memahami darah, daging, serta sumsum realitas sosial tersebut.

Saya sekali karena saya hanya memperdalam riset kualitatif.

Makna Sebuah Makian

DI balik setiap tulisan yang tampil di blog ini, saya selalu menemukan beragam reaksi serta spontanitas para pembaca. Bahkan beberapa tulisan sering mengundang komentar pedas yang memaki-maki. Terhadap semuanya saya respek dan menerima dengan lapang dada. Tapi saya sering kesal kalau ada yang memaki-maki, namun tidak meninggalkan nama dan alamat email. Bagi saya, ini adalah jenis komentator pengecut yang hanya berani menyerang, namun tidak secara gentle mengakui dirinya. Ia melempar batu dan setelah itu bersembunyi. Makanya, saya memilih jalan pintas, yakni segera menghapus komentar tersebut. 

Komentar tersebut tidak akan tayang di blog sebab akan saya sensor ketika melakukan moderasi. Saya mulai melakukan moderasi alias persetujuan apakah komentar akan tayang ataukah tidak di blog ini sejak setahun lalu --ketika saya berkasus dan banyak pemaki di blog ini. Filing saya, pemaki tersebut adalah sahabat dekat sendiri yang hanya berani melempar dari luar, tanpa unjuk diri. Makanya, setelah melalui banyak pertimbangan, saya lalu memutuskan untuk melakukan moderasi.

Maaf, bukannya tidak siap dikritik, namun saya tidak suka dengan para pemaki yang bersembunyi, merasa pintar, dan menghinakan pendapat orang lain. Boleh saja memaki, namun alangkah lebih baik jika tampilkan nama dan alamat imel yang jelas, biar ada kesinambungan dialog serta bisa saling belajar. jika saya memang layak dimaki, dengan senang hati saya menerimanya. Jika memaki hanya karena perbedaan pendapat, tentunya saya amat tidak sepakat. sebab upaya menyelesaikan perbedaan adalah dengan dialog dan diskusi, bukannya melempar lalu sembunyi. Dengan cara diskusi, pengetahuan akan bertambah. Bukankah demikian?

Hari ini, saya membuka imel dan menemukan beberapa komentar yang mengapresiasi dan memaki tulisan saya yang dianggap kontroversial yakni Maaf, Saya tak Ber-Tuhan. Saya menemukan begitu banyak reaksi, baik positif maupun negatif. Semua komentar yang mengapresiasi, saya tayangkan di blog. Sementara komentar yang memaki tanpa identitas, langsung saya delete. Anda penasaran melihat komentar kasar tersebut? Saya akan perlihatkan Anda dua komentar. Itupun saya pilih komentar yang agak halus dan tidak memaki sebagaimana yang saya delete. Silakan menyimak dan nilai sendiri.

Komentar pertama dari seorang profesor asal malaysia. Saya sudah mengecek blog pribadinya. Belau seorang profesor doktor yang cukup pentingdi malaysia. Namun, komentarnya sangat aneh karena tiba-tiba saja membahas politik luar negeri serta ambisi Singapura. Atau mungkin saya yang berpikir aneh. Silakan menyimak:

Salam mas, harap mas dapat baca artikel ini: http://ridhuantee.blogspot.com/2011/01/bertindak-sebelum-terlambat.html. Ia berkenaan pandangan Lee Kuan Yew dalam bukunya yg terbaru "Hard Truth to keep Singapore Going". Ada bermacam lagi kata2nya yg amat sombong tentang Islam dan kebimbangan beliau tentang Malaysia dan Indonesia dari segi militer. 
Pernahkah kita terfikir utk menyerang Singapura? Tidak bukan? Tapi Lee Kuan Yew memikirkannya. Kenapa? Pasti ada agendanya.
Nah, sekarang jelaslah siapa yg punya motif utk mengadu domba Malaysia dan Indonesia. Lihat saja sebahagian stesyen TV di Indonesia. Bukankah milik org Singapura? Objektif mereka jauh lebih jahat mas. Jadi saya harap mas berhati2 dalam memainkan isu nasionalisme antara Indonesia dan Malaysia apabila menulis - apalagi bila disiar di akhbar. Nasionalisme itu menjadi alat mereka utk memecah belahkan Islam. Moga hubungan sesama Islam tidak tercemar oleh adu domba si kafir proksi Israel di nusantara, Insyallah. Btw, selamat studi ke Quesland mas. Salam dr Malaysia. 

Satu lagi adalah komentar dari seseorang yang tidak meninggalkan jejak. Kalimatnya mengkritik, namun tidak saya tanggapi karena tidak mencantumkan identitas dan alamat. nah, inilah komentarnya:

(Ah,.. jika itu Tuhan yang dimaksudkan, maka saya memilih tak bertuhan)
Mas Yus, sadar ga bikin tulisan ini ?, referensinya apa kok seberani ini...???, jika anda muslim tentu Qur'an dan Sunnah yang jadi landasan berpikirnya, jika bukan, maka akalmu telah menyesatkanmu .....hati-hati mas, jangan sampai kecerdasan anda dipakai oleh orang2 yg ingin merusak islam baik anda sadari atau tidak.
semoga anda lebih teliti dan berpikir lagi sebelum membuat tulisan kayak gini....baca juga Sejarah Rasulullah SAW. good luck ...

Komentar profesor asal Malaysia itu menelaah hal-hal yang tidak dibahas dalam tulisan, akan tetapi hal yang dibahasnya cukup menarik. Sementara komentar kedua, justru hendak mempertanyakan tulisan, serta menyampaikan pesan otoritarian bahwa sumber referensi hanya satu yakni Quran dan Sunnah. Ia juga menyampaikan kekhawatiran bahwa akal telah menyesatkan saya, dan kecerdasan saya (emangnya saya cerdas yaa) telah digunakan musuh Islam. Membaca komentar ini, saya kian paham bagaimana logika para penghancur rumah ibadah atau mereka yang membunuh Jamaah Ahmadiyah. Saya menerima kritikan ini dengan lapang dada


Terhadap semua pengkritik, saya mengucapkan terimakasih...

Suatu Sore



Suatu sore di Monas, Jakarta. 
Thanks buat Umar yang telah memotret

Maaf, Saya Tak Ber-Tuhan!

KEMARIN ada lagi yang tewas dihakimi. Tiga orang dihakimi massa hingga modar. Kendaraannya dibakar, hingga semua buku dan pakaiannya. Apakah ketiganya kriminal? Tidak. Apakah mereka menyakiti dan merugikan orang lain? Juga tidak. Apakah mereka koruptor yang merugikan negara? Tidak. Ketiganya dihakimi karena mereka adalah warga Jamaah Ahmadiyah. Ketiganya dihakimi hanya karena dianggap berbeda. 


Mereka yang sedang menghakimi itu merasa sedang menegakkan kebenaran. Mereka merasa sedang memurnikan ajaran Tuhan yang mengirimkan rasul sebagai berkah bagi alam semesta. Di situ ada takbir berkumandang. Ada harapan yang dikuatkan dengan bara keyakinan untuk menegakkan kebenaran. Dan bara itu selanjutnya serupa magma yang panas dan memuntahkan amarah. Maka mengamuklah mereka, lalu menyebut-nyebut nama Tuhan, tanpa menyadari bahwa jangan-jangan justru setanlah yang sedang menari kegirangan di situ.

Umat Islam Indonesia tengah mencari bentuk. Di sini, Islam bukan saja keyakinan yang dimanifestasikan untuk merawat kehidupan yang lebih baik. Bukan sekadar pedoman atau kompas ke mana kehidupan ini bergerak. Tapi di sini Islam dijelmakan sebagai sebuah kategori sosial. Semacam penanda atau identitas sebuah kelompok. Mungkin saja, mereka yang membunuh itu hendak berkata, aku Islam dan kamu bukan. Ketika kamu bukan Islam, maka kamu tidak berhak atas cinta kasihku. Kamu tak berhak atas keadilanku. Kamu tak berhak menerima rahmat atas seru sekalian alam, serta kedamaian yang terpancar dari hati.

Mungkin mereka hendak berkata kamu layak menerima amarahku. Mungkin mereka hendak berteriak ketika kamu berbeda, maka kamu telah mengancam diriku. Maka sesatlah kamu dan bakal menerima nasib para umat yang pernah diperangi dan ditimpakan azab. Mungkin saja mereka membaca kitab dan menemukan catatan tentang para umat yang ditenggelamkan ke dasar bumi, diberi azab berupa banjir besar atau api yang turun dari langit. 

Tuhan, sebagaimana yang diyakini para pembunuh itu, adalah Tuhan yang berwajah kejam seperti Adolf Hitler. Tuhan --betapa banyaknya konsepsi tentang-Mu-- dianggap sebagai satu sosok yang semakin sempurna ketika disembah dan disucikan dalam ritual di atas altar yang suci. Tuhan yang dalam pahaman mereka serupa permata, semakin digosok, maka semakin berkilau.

Namun, benarkan Tuhan serupa permata yang kian digosok kian berkilau? Saya tidak yakin. Bagi saya, Tuhan adalah sebuah kesempurnaan itu sendiri. Akal kita hanya sanggup menalar gejala dan tanda-tanda kebesaran-Nya, tanpa melakukan penyaksian atas diri-Nya. Jangan-jangan, Tuhan tak pernah butuh disembah. Ia tetap sempurna di manapun Ia berpijak. Maha Dahsyat yang tak pernah bergantung pada segala puja-puji dan persembahan di atas altar. Ia adalah Maha Aksara yang pengetahuannya tak terbetik dalam benak kita, tak sanggup disederhanakan dalam numerik dan eksplanasi. Ia mengatur alam semesta dan menciptakan para malaikat yang bertindak sebagai hukum dan ketentuan yang berlaku. 

Tentu saja, Ia tak butuh sanjungan. Ia tak butuh sikap heroik seolah kehormatan-Nya perlu dibela dan dipertahankan hingga titik darah penghabisan. Tuhan, sebagaimana kata Gus Dur, tak perlu dibela sebab dirinya adalah kebenaran itu sendiri. Segala upaya yang bermaksud membela Tuhan adalah laku yang justru kian merendahkan eksistensi-Nya. Seolah Tuhan akan tercemar dengan hinaan sebuah kelompok. Tuhan tak pernah tercemar. Justru manusialah yang mencemarkan dirinya dengan berbagai kedunguan, yang kemudian diselesaikan hanya dengan mengucap kata tobat.

Ketika seseorang hendak menegakkan ajaran dan membunuh sesamanya, maka ia berpikir Tuhan serupa kaisar yang mesti dijaga harga dirinya. Mereka yang hendak menghakimi sesama atas nama persembahan kepada Tuhan adalah manusia-manusia dungu yang justru sedang menghancurkan ciptaan Tuhan, sekaligus mengingkari pesan kudus dan damai yang terselip dalam setiap ajaran yang dibisikkan para Rasul.

Namun, betapa sulitnya menanamkan kesadaran spiritualitas yang menjaga bumi dan seisinya sebagai bagian dari diri kita. Umat Islam Indonesia hidup dalam arena ketika Islam hanya dilihat sebagai kosmetika politik dan kebanggan semu. Kita bangga menyebut diri sebagai bangsa Muslim terbesar, tapi kita tak pernah bertanya, apakah ajaran islam yang indah itu sanggup kita jelmakan dalam tatanan hukum, serta keadilan yang menjadi payung buat semua anak bangsa. Kita mempunyai kementerian agama, namun kementerian ini tidak pernah melakukan transformasi sosial, menanam benih kesadaran bahwa agama hadir hanya sebagai jalan untuk menemukan diri-Nya yang penuh kuasa dan mengatur bumi dengan hukum-hukum-Nya.

ilustrasi

Mungkin kita sedang bebal-bebalnya. Kita telah mengambil alih tugas Rasul yang menyandang tugas suci untuk sebuah ajaran. Bagi saya, kisah-kisah para rasul yang umatnya ditenggelamkan adalah kisah yang penuh ironi dan teka-teki semiotik yang perlu disibak dan ditemukan maknanya. Mungkin, point utama kisah itu adalah para Rasul telah gagal melakukan transformasi kesadaran dan pencerahan spiritual. Mungkin para Rasul lemah metodologi dalam persuasi, serta tidak berpikir kreatif dan mengajarkan sesuatu secara doktriner. 

Namun, kuasa untuk menenggelamkan umat itu justru berpulang pada Tuhan. Para Rasul tak pernah mendorong batu ke puncak gunung lalu menggelindingkannya ke sebuah perkampungan penduduk dan melindas mereka yang tidak patuh. Para Rasul tak pernah mendatangi orang-orang lalu membunuh dan menyakiti. Mereka bekerja secara diam-diam dalam sunyi dan hening saat “menghadirkan” Tuhan dalam setiap ajarannya. 

Mereka menyampaikan isyarat, dan ketika umat membangkang, Tuhanlah yang menjatuhkan vonis dengan caranya sendiri. Mungkin ia menenggelamkan umat tertentu. Tapi saya meyakini bahwa tenggelam di sini bukan dalam artian harfiah ketika Tuhan serupa Zeus yang melemparkan petir demi menenggelamkan satu kota. Ia bekerja dengan hukum sebab akibat yang sering tak terdeteksi oleh nalar. Serupa dengan kisah masyarakat tradisional, bahwa ketika kamu merusak hutan, maka azab Tuhan akan datang. Memang, banjir akan datang. Tapi banjir tersebut hadir karena hukum dan ketentuaan Tuhan bahwa hutan punya keseimbangan ekosistem yang terkait erat dengan sekitarnya. Dan ketika manusia merusaknya, maka ia merusak keseimbangan. Banjir adalah akibat sekaligus ketentuan Tuhan.

Hari ini, sebagian dari kita mengidap penyakit serius ketika hendak mengambilalih tugas Tuhan demi menenggelamkan sesama. Mereka berperan sebagai Rasul sekaligus Tuhan. Mereka tak mau sabar dengan segala ketentuan-Nya dan kausalitas yang ditetapkannya di atas bumi. Tuhan dilihat sebagai sosok yang hanya diam dan menyaksikan, tanpa menunjukkan kuasa sebagaimana diperlihatkan ketika menenggelamkan umat terdahulu. Maka, mereka mengambil alih tugas Tuhan. Mereka membunuh sesamanya yang diberi label sesat. Setelah itu mereka tersenyum karena berpikir misi kerasulan telah ditetapkan. Dan Tuhan akan semakin tersenyum nun jauh di sana. Benarkah?

Ah,.. jika itu Tuhan yang dimaksudkan, maka saya memilih tak bertuhan. 

Saat Australia Memanggil

HAMPIR saja saya kehilangan rasa percaya diri. Selama beberapa hari saya terombang-ambing dalam ketidakjelasan. Saya selalu teringat pada kontrak yang saya tandatangani akhir Oktober lalu. Jika dalam setahun tidak ada kampus yang bersedia menampung, maka beasiswa ini bisa gugur. Saya mulai khawatir saat membayangkan itu. Apalagi saya telah memilih tiga universitas di Amerika Serikat (AS) dan satu di Australia. Minggu ini, rata-rata semua sahabat saya sudah menerima panggilan dari Australia, lantas, mengapa saya belum menerima panggilan? Apakah ada yang salah dengan aplikasi yang saya kirimkan?

the university of queensland
Seribu pertanyaan memenuhi benak ini. Perjalanan saya sudah cukup jauh dan sekarang tiba di titik ini. Sudah lebih tiga bulan saya belajar seperti anak sekolahan yang datang jam delapan pagi dan pulang sore. Saya membutuhkan kemenangan kecil. Dan hari ini, The University of Queensland tiba-tiba memanggil. Saya belum memastikan akan ke sini. Tapi saya bisa memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan aplikasi yang saya kirimkan. Dan saya juga yakin dan kembali optimis bahwa status saya sebagai penerima beasiswa ini tidak akan gugur.

Saya sudah mengumpulkan banyak informasi tentang Queensland. Kampus ini termasuk peringkat 40 dunia dan peringkat tiga di Australia. Jika dibandingkan dengan beberapa kampus di Amerika Serikat (AS) seperti Ohio atau Texas, maka Queensland masih lebih tinggi peringkatnya. Beberapa sahabat juga merekomendasikan Queensland karena terletak di Brisbane, sebuah kota yang masuk dalam kategori layak huni. Kelebihan lain bagi yang memilih tinggal di kota ini karena mudah mendapatkan pekerjaan, serta jaminan kesehatan yang lebih baik. beberapa sahabat yang kembali dari Brisbane rata-rata pulang dalam keadaan makmur.

the university of queensland
Namun, kali ini saya tidak mencari kemakmuran. Saya tidak khawatir akan pulang dalam keadaan kere.  Saya hanya ingin mengalahkan diri saya sendiri dengan cara menggapai titik terjauh yang bisa saya gapai. Saya juga ingin memberikan teladan buat si kecil yang tengah menunggu di sana. Saya ingin membahagiakannya, menghadirkan rasa bangga buatnya. Kelak, sebagai seorang bapak, saya akan bercerita tentang petualangan di negeri-negeri yang jauh. Petualangan untuk menemukan diri sendiri.(*)

Kristal-Kristal Cahaya


INI adalah surat pertama yang kutuliskan untukmu. Aku tak tahu bagaimana keadaanmu di sana. Mungkin dirimu sedang disekap kegelapan. Mungkin dirimu sedang kelaparan, atau kehausan. Aku tak tahu apakah gerangan yang dirimu sedang rasakan di situ. 

Jarak kita terpisah oleh batasan geografis berpuluh kilometer. Tapi tidak untuk hati ini. Di sini, ada bagian hati yang selalu merindukan hadirmu, menanti saat-saat ketika dirimu memanggil. Menanti saat-saat dirimu menyapa. Aku tahu bahwa dirimu menggantungkan harapan hanya pada tali yang menghubungkan pusarmu dengan ibumu. Andai aku bisa menggantikan ibumu, maka sudah lama tanggung jawab itu kupikul, sebagaimana Atlas yang setia memanggul bumi. 

Nak, orang Bugis percaya bahwa tali itu akan menjadi kembaranmu. Tali itu akan menjadi sisi lain dari dirimu yang kelak akan bercerita banyak tentang asal-muasalmu. Tali itu adalah tali kasih yang menautkan hati, memintas jarak, serta menjadi manifestasi atas rasa kasih sayang ibu untukmu. Kelak tali itu akan berkisah banyak tentang betapa tak bertepinya kasih sayang ibumu kepadamu. 

Nak, di sini aku berdebar saat membayangkanmu. Aku membayangkan tanggungjawab, serta kesediaan untuk memenuhi semua hak yang berhak dirimu tuntut kepadaku. Kelak dirimu akan tahu bagaimana rasanya menjadi seorang dewasa yang mendedikasikan hidupnya untuk memahat cinta di sebuah prasasti bernama tanggungjawab. Kelak kamu akan tahu bahwa diriku dan ibumu telah menyiapkan diri kami untuk menjadi mata air yang menyirami tubuhmu, membesarkanmu dengan lantunan kasih, dan melindungimu dari semua bahaya.

Nak, ibumu tadi menelpon untuk menyampaikan keadaanmu. Kamu sungguh beruntung punya seorang ibu yang selalu ceria, meskipun terkadang ia suka merajuk manja dan tiba-tiba ngambek. Kamu beruntung karena berada dalam dekapan yang tepat, seorang ibu yang akan menyayangi dan menjagaimu, dengan kasih yang tak bertepi. Terhadap ibumu, tak setitikpun berkurang keyakinanku bahwa dirimu berada pada dekapan yang tepat.

Di sini, di jantung sebuah kota, pada jarak sekian kilometer dari ibumu yang kucintai, diriku sedang merinduimu. Diriku yang sedang belajar bagaimana menjadi ayah yang akan menjadi beringin kekar tempat dirimu menggantungkan harapan. Semoga cinta ibumu dan cintaku akan menjadi kristal cahaya yang menemani kesunyianmu, menemani proses ketika tubuhmu menyempurna.(*)

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...