Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Lima Argumentasi Mengapa Tuan Guru Bajang Pantas Jadi Capres


saat Tuan Guru Bajang iktikaf di masjid dan membetulkan bacaan anak-anak yang sedang mengaji


SEPEKAN ini, Twiter diramaikan saling komentar mengenai Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi sebagai salah satu calon presiden alternatif. Beberapa seleb twitter, mulai dari Andi Arief, Sudjiwo Tejo, Roy Suryo hingga Mahfud MD meramaikan diskusi mengenai TGB. Perdebatan itu bermula dari Andi Arief, salah satu orang dekat Cikeas, yang menuduh TGB menggerakkan buzzer bayaran. Sontak, reaksi bermunculan di mana-mana.

Banyak yang mengira, naiknya nama TGB belakangan ini adalah hasil dari kerja para tim media sosial yang terus meramaikan berbagai konten terkait TGB. Padahal, relawan TGB punya sumber daya amat terbatas dan belum merambah ke setiap lini medsos. Saat bertemu mereka di Kota Mataram, saya mendapat kesan kalau mereka masih mencari pola kerja yang tepat untuk memasarkan nama TGB. 

Lantas, apa yang menjelaskan mengapa nama TGB ramai dibicarakan? 

***

RUMAH yang berukuran kecil itu tampak sepi. Di depannya, terlihat papan nama yang bertuliskan lembaga bantuan hukum. Di Jalan Pemuda, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), saya bertandang ke rumah itu demi memenuhi ajakan seorang kawan. Rumah itu menjadi markas dari simpatisan Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, yang masih menjabat sebagai Gubernur NTB. Di situ, mereka selalu bertemu dan membicarakan berbagai hal terkait konten kreatif TGB.

Saya bertemu simpatisan TGB dalam diskusi yang santai dan penuh gelak tawa. Latar belakang para simpatisan ini beraneka-ragam. Beberapa di antaranya adalah sahabat yang telah lama berinteraksi. Ada yang berprofesi sebagai fungsionaris partai, jurnalis, hingga beberapa di antaranya adalah aktivis lembaga swadaya masyarakat. Mereka selalu mendiskusikan konten kreatif yang bisa semakin memopulerkan TGB.

Mereka mengakui bahwa pergerakan mereka sangat terbatas. Dalam diskusi itu, saya menarik kesimpulan kalau mereka bukan pemain media sosial yang sangat berpengalaman dalam mendorong satu isu. Mereka mengaku masih pemula, dan memasuki rimba raya medsos hanya dengan modal idealisme: bahwa segala niat baik mesti ditebar ke mana-mana. Mereka ingin berkontribusi agar wacana pemilihan pemimpin Indonesia bisa lebih semarak.

Belakangan, nama TGB memang ramai dibicarakan. Di akun Youtube, banyak video mengenai TGB beredar luas dan menjadi viral. Lini masa Facebook dan Twitter juga diramaikan oleh kehadiran TGB. Di mana-mana kita temukan akun medsos yang setia mengampanyekan TGB.

Yang mengherankan saya, para simpatisan TGB mengakui bahwa tidak semua penggiat medsos yang mengampanyekan TGB berada dalam kendali mereka. Artinya, terdapat banyak orang yang lalu secara suka-rela menjadi juru kampanye bagi TGB dan meramaikan wacana tentang lelaki itu di berbagai media sosial. Semuanya berjalan secara alamiah, tanpa banyak intervensi. Hasilnya cukup mengejutkan. Buktinya, nama TGB dibicarakan di mana-mana. Dia mulai disebut-sebut sebagai capres alternatif yang bisa menjadi pesaing kuat bagi Jokowi dan Prabowo.

Meskipun banyak yang hendak membenturkan dirinya dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai sesama kader Demokrat, TGB tidak seleluasa AHY yang merupakan putra ketua umum. Jika keduanya dihadapkan dan diskusi soal nasionalisme dan kebangsaan, posisi keduanya seimbang. Tapi jika tema diskusinya keislaman, AHY bukan tandingan TGB yang merupakan doktor di bidang tafsir Al Quran. 

Dilihat dari sisi pemasaran, TGB lebih pantas dijual sebab bisa menjangkau kalangan nasionalis dan Islami sekaligus. Apa daya, elektabilitas TGB jauh di bawah AHY yang sudah mulai menjulang saat pilkada DKI Jakarta lalu.

TGB juga tidak seleluasa Cak Imin ataupun Rohmy yang bisa keliling kampanye dengan membawa bendera partai dan disambut fungsionaris partai di mana pun. Pergerakan TGB lebih banyak bersifat kultural dan tanpa embel partai. Dia bergerak sendiri, membentuk tim sendiri, serta hanya mengandalkan kemampuannya berceramah. Di situlah letak kekuatannya.

Terhadap kian melesatnya nama TGB belakangan ini, saya melihat ada lima kekuatan yang bisa dihamparkan di sini.

Pertama, TGB punya asosiasi yang kuat dengan kalangan Islam. Basisnya adalah ulama berlatar tradisional. Dia dikenal sebagai seorang penghafal Quran dan bagian dari pendakwah Islam sejak lama. Gelar Tuan Guru di depan namanya adalah simbol dari kekuatan kultural di NTB. Dia tidak sekadar santri, dia juga memperdalam pengetahuan keagamaannya sampai menggapai gelar doktor di Universitas Al Azhar, yang merupakan jantung peradaban Islam yang paling tua. Dia adalah titik temu dari berbagai corak keagamaan dan aliran pemikiran Islam.

BACA: Tuan Guru yang Jadi Pesaing Terbaik Jokowi dan Prabowo

Tidak mengejutkan jika dukungan kalangan Islam mengalir dari mana-mana. Bahkan beberapa penggerak aksi 212 juga secara terbuka menyatakan sikap. Ustad Bahtiar Nasir membuat pernyataan dukungan. Demikian pula Ustad Abdul Somad yang berceramah di mana-mana dan beberapa kali menyebut nama TGB. Jaringan alumni Al Azhar juga mengampanyekannya.

Tentu saja, TGB tak identik dengan aksi 212. Buktinya, banyak warga NU dan Muhammadiyah ikut mendukung TGB. Indikasinya terlihat dari banyaknya undangan kepada TGB untuk mengisi ceramah agama di kantong-kantong NU di Jawa Timur. Dukungan yang muncul kepadanya bersifat spontan dari berbagai elemen masyarakat.

Belakangan ini, undangan untuk ceramah mengalir dari seluruh pelosok tanah air, TGB tak hanya tampil di televisi, tapi juga di berbagai daerah. Awalnya, undangan itu datang dari jaringan alumni Universitas Al Azhar, di mana TGB menjadi ketuanya yang menggantikan Prof Quraish Shihab. Kini, undangan itu berasal dari banyak kelompok masyarakat yang berharap bisa bertemu dengannya.

Kedua, latar belakang TGB yang pernah memimpin pemerintahan. Dari sisi pengalaman memimpin, TGB punya posisi yang sama dengan Jokowi saat maju sebagai capres. Jokowi adalah pemimpin yang memulai karier dari posisi wali kota, selanjutnya gubernur. Keduanya menunjukkan bahwa kepemimpinan bisa dimulai dari arena kecil yang bisa menjadi batu loncatan untuk tantangan yang lebih besar.

Sebagai gubernur, TGB berada di jajaran para gubernur terbaik, penerima Leadership Award 2017 dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang merupakan rekomendasi dari panel ahli sejumlah akademisi. TGB menerima penghargaan itu bersama empat gubernur lainnya Soekarwo (Gubernur Jawa Timur),  Ahmad Heriawan (Gubernur Jawa Barat),  Syahrul Yasin Limpo (Gubernur Sulawesi Selatan), dan Irwan Prayitno (Gubernur Sumatera Barat).

Potret pembangunan NTB selama dua periode kepemimpinannya secara berkelanjutan, diakui semakin berdaya saing dan semakin berprestasi. NTB pernah mencatat rekor sebagai daerah dengan laju pertumbuhan ekonomi terbaik, dengan angka pertumbuhan 9,9 persen, jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya sebesar 4,9 persen. Selama tiga tahun berturut-turut dari 2014 sampai dengan 2016 pertumbuhan ekonomi NTB juga mampu konsisten berada di atas rata-rata nasional.

Ketiga, dirinya dikenal sebagai sosok muda, berpengalaman, dan berintegritas. Ini diakui oleh beberapa pengamat politik, termasuk Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun yang menilai, secara kualitas memang TGB jauh atas kandidat lain.

"Secara kualitas TGB jelas memiliki kompetensi untuk maju menjadi capres. Bicara track record, TGB lebih matang. TGB jelas sudah punya pengalaman riil memimpin sebuah provinsi," tegas Rico. Selain itu, bicara pemimpin muda, TGB juga punya basis kuat. “Saat terpilih menjadi gubernur NTB 10 tahun lalu, usia TGB masih relatif muda. Dia terbilang muda, pengalaman, religius. TGB sudah punya ketiganya dan jelas lebih riil," tutur dia.

Selain diundang kalangan pesantren, TGB juga cukup populer di kalangan warga kampus. Dia kerap diundang berceramah dan berbagi pengalaman di kampus-kampus besar tanah air. Kisah-kisah suksesnya menyebar. Pengalamannya membuat branding wisata halal di NTB yang kemudian berbuah penghargaan internasional menjadi buah bibir banyak orang. 

Keempat, berasal dari luar Jawa. Latar belakang ini patut pula dipertimbangkan, mengingat Indonesia adalah negeri yang multi-kultural dan terdiri atas berbagai suku bangsa. Sepanjang sejarah, pemimpin kita selalu merepresentasikan kekuatan dari dua unsur yakni Jawa dan luar Jawa. Itu sudah terjadi sejak duet Soekarno-Hatta, hingga Jokowi-JK. Hanya ada satu pengalaman di mana pemimpin adalah sesama Jawa yakni SBY-Boediono. Namun, secara umum, komposisi ini seyogyanya menjadi pertimbangan.

Biarpun, secara etnisitas, TGB berasal dari etnik yang populasinya tidak besar, akan tetapi dirinya adalah representasi dari kekuatan di luar Pulau Jawa. Kehadirannya penting untuk memastikan bahwa semua anak bangsa, apa pun suku bangsanya, tetap punya kesempatan dan akses yang sama untuk menjadi pemimpin nasional. Bagaimanapun juga, politik bukan hanya soal kalkulasi siapa mayoritas dan siapa minoritas, namun juga soal bagaimana menemukan kandidat terbaik, apapun suku bangsanya.

Kelima, momentum yang tepat. Melihat tema kebangkitan politik identitas yang tengah marak, maka kehadiran figur berlatar Islam menjadi keniscayaan. Figur ini diharapkan bisa berada di tengah-tengah, bisa diterima semua kalangan, serta punya visi pemerintahan yang baik untuk membawa Indonesia lebih baik di masa mendatang.

Indonesia menunggu hadirnya figur yang bisa menjadi penengah. Kita terlampau lama dibelah oleh banyak kategori, misal tradisional versus modern, cebong versus kampret, Islam nusantara versus bumi datar, yang kesemuanya adalah ekses dari pemilihan presiden lalu. Indonesia membutuhkan sosok yang bisa menjadi payung bagi semua kalangan, bisa menghadirkan peran pentingnya negara dalam segala hal-hal yang dibutuhkan warganya.

Tuan Guru Bajang saat berceramah

Dalam bayangan saya, Jokowi dan Prabowo akan mendekati figur yang paling bisa diterima semua kalangan. Makanya, saya lebih menjagokan TGB ketimbang Anies Baswedan yang saat ini identik dengan satu kelompok. Posisi TGB yang bisa berdiri di tengah dan bisa mendapatkan dukungan dari semua kalangan. Yang dibutuhkan hanyalah bagaimana diseminasi dan sosialisasi informasi secara terus-menerus sehingga semua orang tahu sisi baik TGB yang diharapkan bisa membawa Indonesia lebih baik.

Kendala yang dihadapi TGB saat ini adalah elektabilitas yang masih rendah, serta dukungan politik yang minim. Meskipun dari Partai Demokrat, TGB paham bahwa kendaraan partai itu akan dikendarai siapa. Ketika dirinya diasosiasikan dengan partai biru itu, maka dirinya bisa terkena risiko. Masih segar di ingatan publik pernyataan Anas Urbaningrum yang mengatakan dirinya adalah anak yang tak diinginkan. Di titik ini, TGB harus menghitung dengan baik semua langkah-langkah yang hendak diambilnya.

***

“Apa yang bisa kami lakukan?” sahabat yang menjadi simpatisan TGB bertanya pada saya di Mataram. Saya tidak tahu harus menjawab apa. Menurut saya, apa yang mereka lakukan terbilang luar biasa. Mereka sudah menunjukkan kerja-kerja hebat sebab bisa membawa nama TGB lebih benderang di banding gubernur lainnya yang akan segera mengakhiri masa jabatan.

Terlepas dari soal menang dan kalah, para sahabat di NTB telah mengajarkan saya bahwa dari provinsi yang dahulu tak punya mimpi untuk merengkuh kepemimpinan nasional itu, kini muncul optimisme dan harapan baru tentang Indonesia yang lebih baik. Mereka menunjukkan sekeping mozaik Indonesia yang merupakan fusi atau gabungan dari daerah-daerah. Semua punya saham di republik ini, termasuk saham untuk membincangkan apa yang terbaik buat Indonesia yang lebih hebat.


Ghea Indrawari dan Pelajaran Ilmu Marketing




BETUL, Ghea Indrawari memang sudah waktunya meninggalkan panggung Indonesian Idol 2018. Bagi Anda yang mengikuti ajang kompetisi ini, pasti mafhum bahwa berada di posisi lima besar sudah luar biasa baginya. Saingannya terlampau berat. Saya sepakat dengan komentar banyak pihak, dia harusnya tersingkir sejak awal. Kualitasnya tenggelam dibandingkan banyak jagoan nyanyi yang sudah lama tersingkir karena perolehan dukungan yang rendah.

Tapi pertanyaan yang muncul adalah mengapa Ghea bisa bertahan dan terus melejit hingga posisi lima besar? Apa yang dilakukan anak Singkawang ini sehingga bisa mengalahkan banyak saingannya di panggung itu? Bagaimana kita mengaitkannya dengan fenomena “jaman now” serta bagaimana memahami watak pemasaran digital hari ini?

Ghea memang fenomena menarik untuk diulas. Di telinga saya, vokalnya cenderung biasa. Sepintas tak ada istimewa. Tapi jika didengarkan terus, justru tak membosankan. Dia unik, beda juga komersial. Dia menampilkan kemanjaan yang tidak berlebihan. Gaya busana, riasan, dan penampilannya yang agak Korean Style bersesuaian dengan anak-anak “jaman now” yang sedang demam dengan hiburan negeri ginseng itu. Ghea pandai memosisikan dirinya sehingga pantas jadi idola anak-anak muda.

Dari semua kontestan Indonesian Idol, hanya ada dua nama yang penampilannya selalu keren. Selain Ghea, ada juga nama Marion Jola. Keduanya tahu bagaimana memaksimalkan dukungan publik melalui penampilan keren, suara manja, dan wajah yang menawan. 

Sejak audisi, Ghea sudah menampilkan kepribadiannya yang unik. Publik suka melihat dirinya yang tampak imut, culun, serta lugu. Apa yang keluar dari mulutnya sering jadi trending dan percakapan netizen. Sewaktu dirinya memanggil Ari Lasso dengan panggilan Om, kemudian pada satu penampilan diganti dengan Ahjusi, segera menjadi trend yang diperbincangkan netizen.

Melihat Ghea, saya serasa melihat vokalis Korea-Pop, seperti Kim Tae Yon, Lee Ji-Eun, ataupun cewek-cewek imut dan seksi dari grup Girl’s Generation. Entah disadari atau tidak, Ghea mengubah tampilannya seperti para bintang K-Pop. Dengan cara itu, dia membentuk barisan penggemar sendiri yang setiap hari mencari video penampilannya.

Untuk pertama kalinya, saya menyaksikan video audisi Indonesian Idol yang ditonton sampai 12 juta orang. Tak ada satu pun video pesaingnya yang ditonton sebanyak itu. Bahkan video audisi Maria Simorangkir, kontestan dengan vokal sempurna dan diprediksi akan jadi juara, hanya ditonton ratusan ribu orang. Video penampilan terbaik Maria paling banyak ditonton sampai 6 juta orang. Kebanyakan video Maria ditonton 1 juta orang.

Ghea Indrawari berbeda. Selain video audisi yang ditonton 12 juta orang, video-video dirinya yang lain juga selalu trending topic. Saat dia menyanyikan lagu Akad dari payung Teduh, penontonnya 12 juta orang. Kemudian lagu Kangen dari Dewa 19, juga ditonton sampai 12 juta orang. Padahal video asli lagu itu yang dinyanyikan Dewa 19 hanya ditonton 8 juta orang.



Sejak awal lomba, saya melihat para juri Indonesian Idol selalu berkampanye tentang popularitas versus kualitas. Para juri bahkan selalu mengatakan, jangan sampai kualitas mengalahkan popularitas. Saya sih melihat para juri tidak ingin Ghea terus melaju. 

Ketika babak lima besar, mereka berkepentingan agar yang lolos ke empat besar adalah sosok yang benar-benar punya vokal hebat. Dibuatlah mekanisme hak veto, yang di satu sisi bertujuan untuk melindungi penyanyi dengan vokal hebat, tapi justru kalah popularitas. Para juri berkilah bahwa dua penyanyi bagus yakni Kevin dan Marion Jola tersingkir lebih awal. Padahal kompetisi itu basisnya adalah perolehan voting melalui SMS. Pemenangnya adalah siapa yang terbanyak didukung. 

Sepertinya, para juri tak ingin Ghea terus melaju. Sebab jika Ghea melaju, maka satu dari penyanyi degan kualitas vokal hebat di lima besar itu akan tersingkir. Maka, hak veto menjadi senjata juri untuk menyelamatkan salah satu penyanyi itu. Buktinya, ketika Ghea yang tersingkir, hak veto itu tak digunakan. Dengan sangat yakin, saya menganggap voting itu cuma akal-akalan saja.

Para juri ini mungkin lupa kalau mereka pun lahir dari industri musik kita yang memberi ruang pada popularitas, selanjutnya baru kualitas. Dalam satu ajang lomba musik, Ari Lasso mengakui itu. Dia membandingkan dirinya dengan Judika, yang kualitas vokalnya di atas rata-rata. Kata Ari, dirinya bersama Ariel Noah, dan Armand Maulana punya kualitas vokalnya yang sebenarnya tidak begitu istimewa dibandingkan jagoan vokal pada masanya. Kekuatan mereka hanya keberanian terjun ke industri musik, mencari celah pasar, memahami apa jenis lagu yang dibutuhkan, setelah itu tampil di lini populer itu.



Dengan kualitas vokal yang biasa, mengapa Ghea bisa mencapai lima besar? Sebab dirinya punya sesuatu yang bisa menggerakkan para netizen untuk membentuk barisan penggemar, lalu secara suka rela bekerja untuk tetap mempertahankannya di arena lomba itu. Kualitasnya mungkin biasa, tapi banyak orang yang suka dengannya, berharap tetap melihat dirinya tampil di layar kaca, dan selalu mengikuti apa pun yang dilakukannya.

Seorang kawan malah bisa menjelaskan kehidupan Ghea di Singkawang. Dia juga cerita bagaimana Ghea mengikuti ajang lomba nyanyi sebelumnya. Rupanya, dia rajin mengikuti postingan mengenai penyanyi itu di Youtube. Pantas saja jika dia rajin membagikan semua hal tentang Ghea. Dia tidak sendirian. Di kanal Youtube, banyak saya temukan orang-orang yang menyampaikan dukungan kepada mahasiswi di satu kampus di Yogyakarta itu. Malah, seorang netizen bernama Jenda dengan senang hati membuat video yang isinya salam untuk Ghea. Dia pun datang ke studio RCTI sembari mengenakan baju kaos bergambar Ghea demi menyerahkan hadiah berupa boneka.

Mengikuti ajaran mahaguru marketing Hermawan Kertajaya, ada tiga pasar yang saat ini dikejar oleh semua pemasar yakni anak muda (youth), perempuan (woman), dan netizen. Tiga pasar inilah yang menjadi kekuatan Ghea. Dia bisa memesona anak muda dan perempuan, juga para netizen sehingga bersedia untuk mengampanyekan dirinya, memberikan dukungan SMS, serta memberinya tangga-tangga untuk menjadi bintang di acara itu.

Saya teringat tuturan Don Tapscott dalam buku Wikinomic yang menyebut anak-anak muda jaman now dengan sebutan prosumer. Mereka adalah generasi yang tak ingin hanya berhenti sebagai konsumen. Mereka ingin menjadi produsen yang bisa merancang konten dan menyebarkannya ke mana-mana. Mereka tak ingin pasif, melainkan ikut menyebarkan ide-ide dalam satu atmosfer pertukaran gagasan yang ideal. 

Saat anak-anak muda itu membagikan postingan atau membuat konten-konten menarik tentang Ghea, maka mereka berkontribusi pada semakin naiknya popularitas penyanyi itu sehingga selalu mendapatkan dukungan SMS. Anak-anak muda itu menjadi pemasar yang jsutru tak punya ikatan apa-apa dengan Ghea. Malah, mereka tak pernah bertemu penyanyi muda itu. Mereka bekerja gratisan berdasarkan rasa suka serta keinginan untuk tetap melihat Ghea di panggung Idol.

Saya juga temukan penjelasan lain dari Hermawan Kertajaya. Dalam buku Wow Marketing, Hermawan mengatakan, keberhasilan dalam marketing modern ditandai fenomena ketika orang lain secara sukarela ikut mengampanyekan produk yang kita jual. Dahulu, pemasaran adalah kegiatan yang satu arah, tapi tidak di jaman now. Hermawan membuat tahapan-tahapan. 

Pertama, aware. Konsumen mulai kenal dengan produk. Kedua, appeal. Konsumen mulai tertarik dengan produk itu tapi belum yakin. Ketiga, ask. Konsumen mulai mempertanyakan produk itu kepada orang lain. Keempat, act. Ketika orang lain mengatakan produk itu bagus, konsumen mulai menyukai produk. Kelima, advocate. Konsumen mulai suka, puas, dan mengampanyekan produk itu ke mana-mana.

Di era digital, seorang konsumen akan bercerita kepada banyak orang ketika dirinya puas menggunakan satu produk. Dia akan membagikan pengalaman itu melalui media sosial agar orang-orang ikut menyukai produk itu. Dia akan merekomendasikannya agar orang lain juga punya pengalaman yang sama.

Saya rasa, aspek pemasaran modern itu bisa menjelaskan apa yang terjadi pada fans Ghea Indrawari. Para fans menyukai penampilannya, kemudian membagi pengalaman itu dengan orang lain, menyebarkannya melalui media sosial (Facebook, Twitter, dan Instagram), dengan tujuan agar orang-orang juga menyukainya. Mereka tak punya pertalian dengan Ghea, tapi mereka dihubungkan oleh perasaan yang sama yakni kesukaan melihat Ghea tampil di panggung Idol.

Melihat antusiasme begitu tinggi, di tengah kritik pedas para juri, saya tak yakin Ghea tersingkir karena dukungan SMS yang rendah. Lagian, pihak televisi tak pernah membuka seperti apa metodologi pengumpulan data melalui polling SMS itu. Sebagai penonton, kita hanya menerima hasil voting, tanpa tahu seperti apa model pengumpulan datanya. Kita menerimanya dan menganggap itulah hasilnya.



Yah, apa boleh buat. Ghea tersingkir. Saya masih berharap bisa menyaksikannya di panggung musik Indonesia. Entah apakah dia akan berhasil atau tidak, lagi-lagi semuanya berpulang pada bagaimana dirinya mempertahankan ikatan kuat dengan penggemarnya. Beberapa juara di Indonesian Idol justru gagal jadi bintang karena kegagalan mereka dalam mengemas dirinya sehingga punya posisi unik di jagad musik. Malah, yang jadi bintang justru mereka yang tersingkir di babak awal lomba nyanyi itu. Kita bisa lihat fenomenanya pada Afghan, Sammy Simorangkir, Firzha, hingga Citra Scholastika.

Pada diri Ghea, saya menemukan pelajaran berharga. Dalam lanskap bisnis hari ini, pemenangnya bukan melulu soal siapa yang memiliki kualitas dan teknik memadai. Pemenang persaingan hari ini adalah siapa yang bisa menghadirkan elemen “wow”, membawa kebaruan, juga paling bisa meyakinkan orang lain agar secara suka rela berkampanye. 

Saya yakin Ghea tak lantas hilang begitu saja. Setidaknya, saya masih selalu menyaksikan dirinya yang imut di Instagram. Di masa mendatang, televisi akan lenyap dilibas oleh kehadiran video streaming yang tengah marak di Instagram dan Youtube. Biarlah saya membahasnya pada tulisan lain.


Bertemu Idham Ardiansyah



Di tengah rerimbunan apartemen kalibata, saya berjumpa sahabat M Idham Adriansyah yang jauh2 datang dari Sinjai, Sulsel. Pada mulanya kami ngobrol lepas dan tertawa-tawa membahas kelucuan pada satu masa. Tetiba hpnya berdering.

Di seberang sana, anaknya menelepon. Suaranya sayup. Idham membesarkan suara hp. Ternyata memang tak ada suara. Lebih 10 menit idham meyakinkan anaknya yang tidak berkata apa2, dan hanya bisa sesunggukan. Rupanya sang anak rindu ayahnya, sampai2 tak bisa berkata apa2. Ah, ternyata rindu itu memang berat.

Idham mengaku sangat dekat dengan anaknya. Katanya, dia seorang pengangguran sehingga waktunya lebih banyak di rumah, sedang istrinya yang sibuk mencari nafkah.
Saya terdiam. Namun dalam diri saya bergejolak rasa iri yang menggunung. Bisa bersama anak seharian penuh adalah sebenar-benarnya kemewahan bagi seorang ayah. Jutaan ayah di seluruh dunia setiap hari harus menembus belantara kota hanya demi nafkah keluarga. 

Jutaan ayah harus menyabung nyawa di jalan raya, di kantor-kantor, di sawah ladang, demi membahagiakan istri dan anaknya. Padahal, jika setiap ayah ditanya dengan jujur, keinginan terbesarnya adalah bisa setiap hari di rumah dan bermain-main bersama anaknya.

Apa boleh buat, peradaban materialisme mengarahkan kita untuk lebih banyak di luar rumah demi mengejar sesuatu yang entah kapan bisa cukup bagi kebutuhan kita. "Nanti ayah pulang, terus kita cari mainan sama2. " Idham masih membujuk di hp-nya. 

Saya memandang iri. Dalam hati saya berbisik, dalam hal2 sederhana, terdapat begitu banyak kenikmatan dan kemewahan yang sering tak bisa dipahami orang lain.

Seikat Bunga untuk ABRAHAM SAMAD




PEREMPUAN berhijab itu merangsak naik ke atas panggung di Baruga Andi Pangerang Pettarani, Universitas Hasanuddin, pekan silam. Dia membawa seikat bunga yang akan diserahkan kepada salah satu pembicara. 

Di panggung acara seminar motivasi Spirit of Indonesia yang diadakan Kami Indonesia, duduk Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf, dan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad.

Rupanya perempuan itu menyerahkan seikat bunga kepada Abraham Samad. Tak sekadar menyerahkan bunga, dia juga menyampaikan sepatah dua patah kata dengan suara parau. Dia begitu mengidolakan sosok yang dahulu selalu hadir di layar kaca dan memberikan status tersangka kepada orang-orang yang diduga korupsi. Dia membawa bunga, bukan sebagai bentuk lamaran.

“Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaan saya bisa berdiri di sini. Saya mewakili orang-orang yang mengidolakan Bapak. Bunga ini bukan sebagai lamaran. Seandainya bapak masih bujang, saya akan bersedia jadi pendamping Bapak,” katanya yang lalu disambut heboh semua pengunjung.

Abraham tampak tersipu. Dia mengambil bunga itu, lalu meletakkannya di meja. Senyum tak lepas dari wajahnya. Acara kembali dilanjutkan dengan presentasi dan diskusi. Di seminar itu, Abraham menjadi sosok yang dinantikan. Bahkan kedatangannya yang terlambat pun, mengundang tepuk tangan dan gemuruh peserta.

Hari itu, Abraham adalah magnet acara seminar. Presentasinya disukai banyak mahasiswa. Dia menjelaskan tokoh-tokoh yang dikaguminya, mulai dari Hatta hingga Ahmadinejad. Dia juga membahas para politisi korup, mulai dari Ben Ali sampai Ferdinand Marcos. 

Saya menyukai batasan yang diberikan Abraham tentang korupsi. Baginya, korupsi bukan sekadar mengambil uang negara. Korupsi punya pengertian yang lebih luas. Seorang anak muda yang mengendarai motor dan seharusnya memakai helm namun tidak memakainya, bisa dikategorikan korupsi. Seorang dosen yang punya jadwal mengajar namun tidak menunaikannya, juga melakukan korupsi.

Seusai seminar, ribuan mahasiswa mengerubunginya. Semua ingin berpose dengan lelaki yang pernah menjerat banyak orang terduga korupsi ini. Saya lihat dia menerima semua ajakan berfoto. Saya teringat seorang kawan politisi. Menurutnya, semua ajakan berfoto harus diterima. “Sebab semakin banyak difoto, maka semakin banyak orang yang memajang gambar kita di media sosial. Maka semakin banyak yang mengampanyekan kita secara gratis,” katanya. 

Saya pun mendekati Abraham, sebagaimana mahasiswa lain. Bedanya, saat melihat saya, Abraham langsung merangkul. “Bisanya kita ketemu di sini,” katanya dalam aksen Makassar. Saya hanya tertawa. Dia meminta saya untuk menemaninya sejenak. Ternyata dia mengajak saya untuk bersama dengannya menuju kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) yang juga menggelar kegiatan serupa di Unhas. Saya pun ikut di mobilnya.

Sepanjang mobil, Abraham masih ingin membahas korupsi. Tapi saya lebih suka membahas lain. Kami membahas perkembangan politik. Saya katakan gagasan Abraham itu bisa lenyap begitu saja jika dia tidak membangun kolaborasi dengan orang baik yang berada di pemerintahan. Dengan kata lain, harus ada sosok presiden yang kelak akan menjalankan agenda pemberantasan korupsi, sesuatu yang dibahasnya berulang-ulang.

“Kenapa Abang tidak sekalian maju sebagai presiden?” saya menodongnya dengan pernyataan itu. Dia terhenyak. Jalan ke kursi presiden memang berliku. Dirinya bukan orang partai. Bukan politisi. Malah banyak politisi yang membencinya sebab dirinya punya track record memenjarakan politisi. Namun, gagasan baik tak harus dipenjara dalam seminar-seminar. Gagasan itu harus bergema di banyak titik, termasuk di jantung kekuasaan. Jika ada kesempatan dirinya jadi pemimpin bangsa, why not?

Dalam bayangan saya, Abraham punya branding yang cukup baik. Dirinya identik dengan sosok anti-korupsi. Publik, khususnya kalangan generasi milenial, melihat sosoknya sebagai sosok pahlawan yang menyelamatkan uang negara. Namun, banyak orang yang mulai melupakannya. Makanya, agenda mendesak yang perlu dilakukannya adalah bagaimana mengembalikan ingatan kolektif tentang dirinya, yang kemudian bisa berujung pada dukungan kuat publik agar dirinya masuk ke ranah politik.

Pemilu dan pilpres mendatang akan menjadi arena paling menantang. Betapa tidak, jumlah generasi milenial yang merupakan wajib pilih adalah 48 persen dari total pemilih. Mereka berada pada rentang usia 15-39 tahun. Melihat potensi suara yang sangat besar, semua partai politik akan menyasar generasi ini dengan berbagai strategi. Nah, salah satu cara mendekati mereka adalah mendekati kolam di mana mereka selalu berkumpul dan bertemu, yakni media sosial. Makanya, untuk pemilu dan pilpres mendatang, media sosial adalah koentji!

Yang harus diingat, generasi milenial bukanlah generasi yang mudah diarahkan dan diperintah. Anda tak bisa mengendalikan mereka hanya dengan otoritas sebagai pejabat, mantan pejabat, ataupun sebagai orang kaya dan berpengaruh. Mereka cenderung apolitis sehingga untuk menyentuh mereka, strateginya adalah pahami karakter mereka, bicaralah dengan bahasa mereka yang cenderung sederhana dan gaul, hadirkan sesuatu yang bermakna dan menginspirasi, serta sentuhlah mereka dengan cara berpikir yang anti kemapanan, serta ide-ide perubahan.

Masalahnya, untuk membangun karakter kuat di meia sosial butuh waktu yang panjang dan menahun. Abraham tidak setangguh Mahfud MD yang begitu merajai Twitter dengan postingan mencerahkan. Di Facebook, popularitas Abraham jauh di bawah Jokowi, Prabowo, ataupun Ridwan Kamil yang telah lama wara-wiri dan memiliki jutaan pengikut. Bahkan di Instagram, Abraham kalah dengan Zulkifli Hasan atau Muhaimin Iskandar yang setiap saat menyebar postingan. Para politisi itu telah lama melibatkan konsultan untuk secara rutin mengisi konten.

Lagian, di media sosial, seseorang tak bisa serta-merta langsung populer. Seseorang harus konsisten membuat postingan, berbagi hal baik, serta mencerahkan publik. Prosesnya tidak singkat, sebab yang hendak dituju adalah generasi yang anti-hierarki. Di media sosial berlaku ucapan, meskipun Anda hebat dan besar di luar, maka di ruang ini, Anda adalah warga biasa yang punya posisi sejajar dengan lainnya.

BACA: Kembalinya Abraham Samad

Tapi bukan berarti peluang itu tertutup buat Abraham. Menurut saya, cara paling cepat membangun popularitas di media sosial adalah segera menunjuk creative content ataupun admin yang paham gagasan Abraham dan tahu cara memasarkannya. Saatnya membangun rumah di medsos yang bisa dijangkau semua orang, serta secara reguler berbagi postingan mencerahkan. Jangan ragu untuk berinvestasi di media sosial melalui iklan yang bisa menjangkau jutaan orang. Kalau konten bagus, maka pesan itu akan di-retweet di mana-mana.

Tak hanya itu, libatkan para social media influencer atau orang yang berpengaruh di media sosial. Abraham harus segera harus menjalin kontak dengan para jagoan medsos yang sekali posting bisa di-like sampai ribuan orang. Para jagoan medsos ini harus pandai memetakan isu yang tidak bagus buat Abraham, merancang isu tandingan, lalu menyiapkan strategi yang bisa mengerek kembali nama Abraham. Dia harus mendekati selebritis medsos, mengikat mereka dengan gagasan dan visi yang sama, kemudian menggempur media sosial dengan ide-ide anti-korupsi.

Namun, harus dicatat, permainan di medsos hanyalah pelengkap dari strategi menggempur lapangan dengan bermacam ide kreatif. Tetap saja dia membutuhkan seorang pengatur strategi kampanye yang efektif, yang bisa memetakan pada titik mana harus memasarkan gagasan Abraham. Di titik ini, strategi online dan offline harus disinergikan sehingga daya ledaknya bisa lebih kuat.

BACA: Abraham Samad: Dari Warung Kopi Hingga Ketua KPK

Sayang, pertemuan kami terbilang singkat. Saya masih ingin memberi masukan kepadanya. Jelek-jelek gini, saya juga seleb medsos yang punya banyak fans dan pengikut di dunia maya. Secara teoritik, saya juga sangat menguasai ranah ini sebab merupakan basic keilmuan saya. Hanya saja, sejauh ini saya belum tertarik untuk bekerja dengan politisi. Saya menjadikan medsos hanya sebagai ranah untuk narsis dan berbagi postingan tidak penting.

“Jangki lupa untuk kontakka nah,” demikian kata Abraham saat kami tiba di UNM. Di sana, sejumlah mahasiswa telah antri untuk berpose dengannya. Saya memilih nongkrong di satu warung kecil di depan UNM. Seorang bapak tua pemilik warung langsung menyapa, “Kaluru ki Daeng?” Dia menawarkan rokok. Saya mengiyakan. Hari itu, sebatang rokok kretek dan segelas kopi Toraja menemani sore yang cerah. 

Tak jauh dari situ, Pantai Losari seakan memanggil-manggil. Lama meninggalkan Makassar, terasa ada rindu yang harus dilabuhkan di sana.


Makna Ibu Bagi SYARKAWI RAUF




DI layar televisi, kita sering menyaksikan bagaimana Syarkawi Rauf, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menjelaskan soal ekonomi, khususnya kartel dan persaingan usaha. Dia selalu tampak dingin, serius, dengan kalimat yang bernuansa akademik. 

Namun saat dirinya membahas perjalanan hidupnya, kalimatnya berujung pada pentingnya seorang ibu. Dia kehilangan kata. Sesaat dia berhenti, kemudian meninggalkan podium. Dia tak kuasa melanjutkan kalimat-kalimatnya.

Saya menyaksikan pidato Syarkawi saat Seminar Motivasi Spirit of Indonesia yang diadakan Kami Indonesia di Baruga AP Pettarani Unhas, pekan silam. Syarkawi dipanel dengan Gubernur Syahrul Yasin Limpo, mantan Ketua KPK Abraham Samad, komedian dan Mi’ing Bagito. Semua pemateri diminta membahas perjalanan kariernya, serta apa saja motivasi dan perjalanan hidup yang bisa dibagikan kepada mahasiswa.

Bagi saya, permulaan presentasi yang disampaikan Syarkawi tak begitu menarik. Dia menjelaskan tentang reformasi yang kemudian melahirkan banyak lembaga termasuk KPPU. Dia juga membahas kartel serta bagaimana kapitalisme kroni bekerja. 

Saya melihat mahasiswa malah ngantuk saat dirinya menjelaskan konsep-konsep di hadapan ribuan orang yang hadir di situ untuk mendapatkan motivasi, atau mungkin mendapatkan hiburan. Sepertinya, Syarkawi bisa membaca suasana forum. Dia lalu mengubah gaya presentasinya. Mulailah dia membahas tentang perjalanan kariernya yang dimulai sejak lahir dan kecil di Polewali Mandar.

Dia bercerita bagaimana dirinya dahulu adalah seorang aktivis mahasiswa, yang getol berdemonstrasi di periode jelang kejatuhan Soeharto tahun 1998. Saya menjadi saksi atas dirinya yang dulu suka berdemonstrasi. Dahulu, saya adalah bagian dari massa yang sering menyaksikan bagaimana orasi Syarkawi yang menghentak. 

Dia lulus kuliah dalam waktu enam tahun, kemudian berangkat ke Jakarta. Perjalanannya tidak mudah sebab pada masa itu dia hidup dengan ekonomi pas-pasan. Pernah, saya diajak ke kos-kosannya yang tampak biasa di Depok. Beruntung, dia telah membangun jaringan selama di Makassar. Dia diajak seorang senior bergabung di satu lembaga kajian. Dia tak menyebut nama. Tapi dalam obrolan beberapa tahun lalu, dia pernah bilang kalau yang mengajaknya adalah Andi Alifian Mallarengeng.

Selama kuliah, Syarkawi bekerja sebagai dosen, kemudian jadi ekonom di Bank BNI. Setelah itu, dirinya terpilih jadi komisioner KPPU yang termuda. Jalan takdir membawanya ke posisi pimpinan KPPU, lembaga negara yang lokasinya tak jauh dari Istana Negara.

Saat merefleksikan tapak demi tapak perjalanan kariernya, dia memberikan tips kepada mahasiswa. “Dari begitu banyak hal yang saya gapai, semuanya tak bisa dilepaskan dari peran luar biasa seorang ibu. Kalau bukan karena ibu, saya tak mungkin berdiri di sini. Seorang ibu yang menjadi matahari bagi setiap pijakan langkah saya. Berkat ibu, saya bisa melakukan banyak hal. Pesanku pada kalian, sayangi dan cintai ibumu.”

Saat menyebut ibu, penuturannya terhenti. Semua orang menyaksikan dirinya yang tiba-tiba sesenggukan. Harusnya dia lanjut menjelaskan apa saja kiat lain, misalnya bekerja dan membangun jejaring. Rupanya, pembahasan tentang ibu itu membuat semuanya buyar. Dia menutup presentasinya. 

Dia masih sempat berkata, “Kalau bahas ibu, saya selalu seperti ini. Saya tidak bisa lagi berkata-kata.” Semua orang bertepuk. Syarkawi kembali duduk di kursi para pemateri, bersama Gubernur Syahrul. Saya masih berharap dia akan banyak bercerita tentang ibunya. 

*** 

KISAH Syarkawi menarik untuk direnungkan. Hampir semua orang sukses selalu memiliki keluarga yang mendukung mereka hingga menggapai impiannya. Mereka tak berjuang sendirian, tapi ada tetes keringat orang tua serta keluarga yang mengikhlaskan diri mereka sebagai lahan gembur bagi seorang anak untuk tumbuh dan membesar.

Dalam buku Outliers, yang pertama kali terbit tahun 1988, Malcolm Gladwell mengatakan bahwa kesuksesan tidak berasal dari angka nol. Semua orang berutang pada orang tua dan dukungan orang lain. Kesuksesan adalah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai “keuntungan yang terakumulasi”. Tempat dan kapan seseorang tumbuh besar memiliki pengaruh yang cukup besar.

Gladwell menolak anggapan tentang keberhasilan yang semata-mata dipicu oleh kecerdasan. Menurutnya, keberhasilan seseorang menggapai satu kesuksesan tidak bisa dilihat hanya dari satu aspek saja, melainkan terdapat hal yang lebih rumit, kompleks, dan hanya bisa dipahami dengan menelusuri kehidupan orang tersebut.

Gambaran yang paling sederhana namun gamblang dipaparkan Gladwell dalam cerita singkat mengenai pohon. Pohon ek menjadi yang tertinggi di hutan bukan semata-mata karena dia paling gigih. Dia menjadi yang tertinggi karena “kebetulan” tidak ada pohon lain yang menghalangi sinar matahari kepadanya, tanah di sekelilingnya dalam dan subur, tidak ada kelinci yang mengunyah kulit kayunya sewaktu masih kecil, dan tidak ada tukang kayu yang menebangnya sebelum dia tumbuh dewasa.

Dukungan lingkungan adalah hal yang sangat ditekankan oleh Gladwell. Dia memberikan banyak contoh mengenai orang jenius yang gagal. Salah satunya adalah kisah tentang Chris Langan, seorang pria dengan IQ 195 (lebih tinggi daripada IQ Einstein yang sebesar 150). Orang dengan IQ setinggi namun tidak tercatat sebagai manusia berprestasi di dunia, bahkan akhirnya berprofesi sebagai tukang pukul serta penjaga sebuah peternakan kuda.

Langan bukan tidak mencoba untuk sukses. Tetapi dia gagal mendapatkan kesempatan dan gagal mendapatkan dukungan yang diperlukan. Dia berasal dari keluarga broken home yang miskin. Suatu ketika, Langan yang jago kalkulus itu mencoba menyampaikan kritik kepada dosen kalkulusnya yang dia anggap tidak bisa mengajar dengan benar. Alih-alih mendapatkan teman diskusi, yang diperolehnya justru kesalahpahaman.

Ketika kuliah tingkat kedua, beasiswanya dihentikan karena ibunya lupa mengisi formulir yang diperlukan untuk memperpanjang beasiswa. Langan mencoba bernegosiasi dengan pihak kampus tapi ditolak.  Tahun berikutnya dia mencoba kuliah di kampus lain sambil bekerja. Dia mencoba memindahkan jam kuliahnya ke waktu lain agar bisa mendapatkan angkutan ke kampus dengan mudah karena dia memiliki kendala dengan kendaraan. Langan kembali gagal. Begitulah, yang dia peroleh adalah akumulasi “kegagalan” atau “kesialan”.

Menurut Gladwell, Langan tidak cukup memiliki kecerdasan praktis. Dia tidak berhasil mengatasi masalah-masalah praktis yang lazimnya dapat dipecahkan bahkan oleh orang-orang yang kecerdasan analitisnya di bawah dia. Sebenarnya dia membutuhkan dukungan sebagaimana yang diperlukan orang-orang cerdas lain untuk sukses. Dia tidak sanggup menghadapi keruwetan hidupnya itu sendirian.

Lebih jauh Gladwell mengaitkan kasus Langan ini dengan dukungan yang diberikan orang tua terhadap anak-anaknya. Dia melihat orang tua yang hebat umumnya sering berdiskusi dengan anaknya, mengajak anaknya berunding, sementara orang tua yang biasa-biasa saja hanya memberikan perintah.

*** 

SAYANGNYA, di acara yang saya hadiri pekan silam, Syarkawi tidak banyak bercerita bagaimana ibunya membesarkannya, bagaimana ibunya mengarahkan semua pilihan-pilihannya. Andaikan dia membahas itu, maka presentasinya akan jauh lebih menarik dari pembahasan tentang kartel dan persaingan tidak sehat.

Dari bahasa tubuhnya di acara itu, saya bisa merasakan ada gemuruh kuat yang bergerak dalam dirinya kala menyebut nama ibu. Kalimat ibu menjadi kalimat paling indah yang ada di hati seorang anak. Semua kesuksesan dan kebahagiaan seorang anak selalu berawal dari impian seorang ibu. 

Pada akhirnya, topik tentang ibu membuat Syarkawi berhenti membahas banyak hal. Dia memilih untuk meredakan gemuruh hatinya, duduk diam, lalu mengingat ibunya. Entah, apakah ibunya masih ada ataukah sudah berpulang. Yang pasti, kehadirannya teramat penting sebab telah menggoreskan banyak hal di kanvas hidup Syarkawi Rauf.

Sayup-sayup, saya terkenang, puisi Kahlil Gibran:

Ibu adalah segalanya,
dialah penghibur di dalam kesedihan.
Pemberi harapan di dalam penderitaan,
dan pemberi kekuatan di dalam kelemahan.
Dialah sumber cinta, belas kasihan, simpati dan pengampunan.
Manusia yang kehilangan ibunya
berarti kehilangan jiwa sejati
yang memberi berkat dan menjaganya tanpa henti.
Segala sesuatu di alam ini melukiskan tentang sosok ibu.
Matahari adalah ibu dari planet bumi
yang memberikan makanannya dengan pancaran panasnya.
Matahari tak pernah meninggalkan alam semesta pada malam hari
sampai matahari meminta bumi untuk tidur sejenak
di dalam nyanyian lautan dan siulan burung-burung dan anak-anak sungai.
Dan Bumi ini adalah ibu dari pepohonan dan bunga-bunga
menjadi ibu yang baik bagi buah-buahan dan biji-bijian.
Ibu sebagai pembentuk dasar dari seluruh kewujudan
dan adalah roh kekal, penuh dengan keindahan dan cinta.



Oase Filsafat Itu Bernama Rumi Institute




DI tengah berjejalnya masyarakat kota yang saban hari sibuk mencari penghidupan, di tengah banyak orang yang hanya memikirkan materi dan kemapanan, di tengah banyak orang yang hanya sibuk menebar benci dan amarah, terdapat sejumlah anak-anak muda yang tetap memelihara cinta pada semesta dan meniti di atas jalur sufisme. Mereka setia bersyair dan beragama dengan penuh cinta. Mereka mendendangkan syair Jalaluddin Rumi, seorang penyair dan sufi yang berasal dari Konya, Turki.

*** 

SUASANA Popi Cafe di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, agak lengang ketika saya memarkir kendaraan. Saya menerima undangan untuk berbagi pengetahuan bersama kawan-kawan yang tergabung dalam Rumi Institute. Tadinya saya ingin menolak ajakan itu. Saya pikir saya bukan pengkaji filsafat yang baik. Saya membaca hal yang ringan-ringan, mulai dari komik Doraemon hingga serial Harry Potter.

Selain itu, saya membayangkan kajian yang dilakukan Rumi Institute akan dihadiri para filosof yang terbisa mengenyam bacaan-bacaan, mulai dari Socrates hingga Derrida. Namun, di sisi lain ada hasrat untuk bertemu dan berkenalan dengan mereka. Saya masih beranggapan bahwa semakin tinggi pengetahuan seseorang, maka dia akan semakin membumi. 

Di tambah lagi, semasa kuliah, saya mengoleksi beberapa literatur filsafat, khususnya yang banyak yang mengkaji pemikiran Rumi. Salah satu penulis yang saya kagumi adalah Annemarie Schimmel, yang menulis Akulah Angin Engkaulah Api: Hidup dan Karya Jalaluddin Rumi. Buku Schimmel lain yang saya koleksi adalah Dan Muhammad adalah Utusan Allah. Buku lain yang saya sukai adalah The Tao of Islam yang ditulis Sachiko Murata. Pada semua buku ini, nama Jalaluddin Rumi banyak disebut.

Tiba di kafe itu, saya disambut Muhammad Nur Jabir yang kini menjadi Direktur Rumi Institute. Saya lebih suka memanggilnya Ustad Nur. Semasa kuliah, saya sepengajian dengannya. Setiap malam Jumat, kami sering bertemu di Jalan Bontomene Makassar untuk mengaji dan mendaras beberapa doa. Bedanya, dia masih setia berdoa hingga sekarang, sementara saya mulai banyak berlumur dosa. 

Beberapa teman lain berdatangan. Saya bertemu sahabat yang selama 15 tahun terakhir tinggal di Iran. Ada juga jurnalis yang bekerja di satu media online. Pada mereka yang berdatangan dan ikut nimbrung dalam percakapan ini, saya menemukan satu kehangatan dan persahabatan. Mereka senang berdiskusi, saling mendengarkan, juga saling mengapresiasi.

Mereka yang hadir di kafe itu berbeda dengan gambaran saya sebelumnya. Tadinya saya membayangkan mereka adalah manusia buku yang serius dan kaku. Ternyata mereka justru hangat dan suka bercanda. Mereka tidak menampilkan ciri-ciri semisal celana cingkrang atau memakai jenggot. Mereka pengkaji agama dan filsafat yang tampilannya santai dan wajahnya memancarkan senyum. Saya merasa damai di tempat itu.

Mereka adalah tipikal sufi kota yang suka membaca khazanah filsafat dan sufistik, namun dalam kesehariannya mereka punya profesi berbeda. Ada yang menjadi dosen, karyawan perusahaan asing, pemilik kafe, pengusaha, dan juga seniman. Mereka beragam profesi, akan tetapi dipertemukan di ruangan itu sebagai sesama pencinta Rumi. Tak hanya mengutip syair Rumi, mereka juga mempraktikkan ajaran itu dalam laku keseharian. Di antaranya adalah selalu menghadirkan cinta di mana pun berada. 

***

TEMA yang diajukan adalah Masa Depan Digital. Saya membayangkan buku Sapiens dan buku Homo Deus yang ditulis Yuval Noah Harari. Saya juga mengingat buku The Gene: An Intimate History yang ditulis Siddharta Mukherjee. Dalam dua buku ini, saya menemukan narasi perjalanan manusia yang melewati banyak revolusi, mulai dari revolusi agrikultur, revolusi kognitif, hingga revolusi sains. Hingga akhirnya manusia tiba pada titik di mana sains dan teknologi menjadi senjata bagi manusia untuk meniru kerja Tuhan. Manusia ingin menjadi Homo Deus, dengan kualifikasi seperti Tuhan.

Sayangnya, bahan-bahan untuk presentasi itu belum disiapkan dengan matang. Ustad Nur meminta saya untuk membahas apa saja yang terkait digital. Saya memilih membahas buku yang ditulis Manuel Castells mengenai The Rise of the Network Society. Saya tekankan pembahasan tentang lanskap kuasa yang mulai berubah. Dahulu kekuasaan dimiliki segelintir penguasa, kini kekuasaan adalah milik mereka yang terkoneksi di jaringan internet dan bisa memaksimalkannya untuk menghasilkan konten-konten viral.

Saya mulai penjelasan tentang beberapa revolusi yang dimediasi oleh kehadiran teknologi internet. Salah satu ciri revolusi “zaman now” sebagaimana dikatakan Whael Ghonim adalah mereka yang bergerak dan turun ke jalan tidak saling mengenal. Mereka digerakkan oleh ikatan yang sama yakni solidaritas yang digalang melalui dunia maya. Makanya, para pemimpin revolusi adalah anak-anak muda yang tampak ringkih, tapi penuh tenaga saat mengisi konten di dunia maya.

saat memberikan materi

Makanya, dunia digital harusnya dianggap sebagai peluang dan kesempatan. Kita tak harus melihatnya sebagai virus yang bisa menggerogoti kehidupan, tapi harus berkarib dengannya, menyerap banyak hal baru di situ, lalu menyentuh hati banyak orang melalui setiap hentakan jemari atas laptop. Kita punya kesempatan untuk menjangkau jutaan orang pada satu kesempatan.

Memang, ada banyak pula persoalan yang muncul di era digital. Nicholas Carr dalam The Shallow merinci argumentasi tentang generasi digital yang dianggapnya lebih bodoh ketimbang generasi sebelumnya. Generasi digital hanya suka berselancar di lautan kata-kata dunia maya, tanpa ada niat untuk menyelam ke dasar demi menemukan kedalaman makna. Tak ada lagi ruang kontemplasi dan perenungan di situ.

Saya menyukai antusiasme mereka. Suasana diskusi menjadi tidak kaku sebab semua pihak bisa saling belajar. Mungkin yang harus dilakukan adalah memperkuat kemampuan digital sehingga kita tak sekadar menjadi konsumen, tapi juga aktif sebagai produser yang bisa berselancar di atas ombak era digital.

*** 

SAYA cukup menikmati perjumpaan dengan semua sahabat di Rumi Institute. Bagi saya, Rumi Institute adalah oase buat mereka yang hendak mengisi jiwanya dengan nutrisi mencerahkan. Rumi ibarat platform yang mempertemukan semua orang, yang berada dalam ritus pencarian yang sama. Dalam pandangan saya, Jalaluddin Rumi memandang agama sebagai manifestasi dari cinta kepada Ilahi. Jika cinta itu yang menjadi energi penggeraknya, maka kecintaan akan punya dimensi yang tak hanya kepada Ilahi, tapi juga kepada semua ciptaan-Nya. 

Tantangan besar bagi mereka yang meniti di atas jalan Rumi adalah bagaimana menghadirkan cinta dalam setiap gerak dan langkah kesehatiannya. Dunia sudah terlampau lama dibakar oleh amarah, benci, dan dengki. Saatnya dunia kembali dibasuh dengan cinta kasih kepada semua makhluk, tanpa pemandang apa pun suku bangsa dan agamanya.

Tantangan lain adalah menyusun rencana aksi dan menyediakan menu yang tepat bagi masyarakat perkotaan. Tentunya, di luar pendekatan yang akademis seperti diskusi, kajian, dan publikasi, banyak strategi yang bisa ditempuh oleh Rumi Institute. Di mata saya, hal paling mendesak adalah bagaimana membangun wacana tanding atas produksi kebencian yang marak di media sosial. Rumi Institute harusnya punya banyak instrumen untuk dijangkau di media, sehingga bisa secara kontinu memberikan pencerahan. 

Yang mudah dilakukan dan cepat mendatangkan atensi adalah mengikuti langgam kerja generasi milenial yang mobile dan cepat berubah. Rumi Institute bisa mengikuti platform kerja android yang bersifat terbuka dan membiarkan orang-orang berkreasi di situ. Kerja-kerja praktis penting dilakukan, namun dengan catatan agar spirit Rumi, pendekatan sufistik, dan penggalian atas makna tetap diperkuat. Sebab sufisme inilah yang menjadi ciri pembeda dari Rumi Institute dibandingkan lembaga lain.

Seusai diskusi, saya merasakan optimisme yang begitu kuat. Saya menemukan banyak inspirasi dan nutrisi spiritual yang memperkaya batin. Di ruangan itu, saya serasa flashback pada masa-masa yang membahagiakan saat memperdalam filsafat dan kearifan. 

Saya disadarkan pada satu fakta, sebagai masyarakat kota, saya pun hanya sibuk mencari apa saja di luar diri. Segala hal yang indah, cantik, membahagiakan, hendak digapai. Yang terasa hilang adalah perjalanan menuju ke dalam diri, menyelami makna, dan mendengarkan suara-suara jiwa. Kehidupan yang kering kerontang harus segara dibasuh dengan embun permenungan.

Persis seperti kata-kata Rumi: “Jangan terlampau sering melihat keluar. Lihatlah ke dalam diri. Carilah itu.”


Orang Bugis, Bule Seksi, dan Senja Temaram di Gili Trawangan


seorang bule memotret di Gili Trawangan

MATAHARI mulai beranjak naik saat perahu yang saya tumpangi mulai bergerak menuju Gili Trawangan. Dari Lombok, saya menggunakan perahu bermotor yang ditumpangi sekitar 25 orang dalam posisi saling berhadapan. Lebih separuh adalah turis asing yang datang dengan ransel besar. Laut biru yang jernih, langit biru serta buih ombak yang memecah di tepian perahu menjadi pemandangan yang membahagiakan. 

Entah kenapa, setiap kali hendak berkunjung pada pulau-pulau destinasi wisata andalan, saya selalu berdebar-debar. Saya membayangkan daftar tempat wisata yang akan segera dicentang. Dari sekian banyak pulau wisata di tanah air, saya pernah berkunjung ke Pulau Derawan (Berau, Kaltim), Raja Ampat (Papua Barat), Wakatobi (Sultra), dan juga Bunaken (Manado, Sulut).

BACA: Mencari Perawan di Pulau Derawan

Di hadapan saya, seorang turis perempuan cantik menatap takjub ke lautan biru itu. Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, saya mengambil gambarnya. Dia tersenyum manis. Dia bercerita datang jauh dari Kanada. Di negerinya, laut biru yang menawan serta karang-karang indah menjadi imajinasi bagi banyak orang. Untuk mendapat pemandangan indah ala pulau tropis itu, dia harus mengeluarkan biaya besar.

Di perahu itu, ada beberapa orang ibu yang tak henti berbincang dalam bahasa lokal. Ahyar, sahabat asal Lombok yang tampan dan menemani perjalanan itu, tidak mengenali bahasa lokal yang digunakan. Ia hanya mengenali beberapa kosa kata dalam bahasa Sasak. Sekilas, saya juga bisa menangkap beberapa kosa kata dalam bahasa Bugis. Dugaan saya, mereka adalah orang Bugis yang telah lama bermigrasi sehingga menyatu dengan warga lokal. Bahasa mereka pun sering bercampur.

Jejak orang Bugis di Gili Trawangan diperkirakan telah berlangsung lama. Seorang kawan di Lombok menuturkan penghuni pertama pulau itu adalah beberapa tahanan yang dibuang dari Pulau Lombok. Setelah itu datang sejumlah pelaut Bugis yang membawa keluarganya untuk menetap. Para pelaut Bugis ini dikenal sebagai pelaut paling berani di Nusantara. Mereka mengarungi samudera, menantang badai, demi untuk berumah di pulau kecil, lalu menjalani kehidupan yang selalu meniti buih.

saat tiba di Gili Trawangan

Jejak orang Bugis itu bisa ditemukan di hampir semua pulau-pulau yang kemudian jadi tempat wisata di Indonesia. Salah satu karakter mereka yang selalu saya temukan adalah mereka tetap menjaga identitasnya, meskipun telah melebur dengan warga lokal. Mereka tetap Bugis, meskipun mereka telah kawin-mawin dengan warga setempat. Mereka tidak ingin menanggalkan identitasnya di mana pun mereka berada.

BACA: Syair Lelaki Bugis di Pulau Penyengat

Saya teringat buku The Bugis yang ditulis Christian Pelras. Katanya, perpindahan atau diaspora massif orang Bugis itu diperkirakan sejak takluknya Makassar pada VOC tahun 1669. Orang Bugis Makassar yang tak ingin dipimpin Belanda lalu berkelana ke banyak titik di Nusantara. Mereka lebih suka membangkang, memilih jadi perompak lautan dan serdadu bayaran, lalu menjadi penguasa di kerajaan-kerajaan lain di Nusantara hingga Malaysia.

Kata sejarawan Bernard Vlekke, armada perompak Bugis Makassar menguasai perairan Kalimantan. Mereka membawa teror dan ketakutan. Makanya, mereka dijuluki Macassar Zee Rovers, bajak laut Makassar. Mereka menjejak Kalimantan, Jawa, hingga daerah-daerah lain. Keturunan mereka tersebar di mana-mana hingga tak lagi mengenali nenek moyangnya.

***

PERAHU yang saya tumpangi tiba di pesisir Gili Trawangan. Semua orang bersiap-siap turun. Saya membuka sepatu sebab kaki harus menjejak di perairan dangkal. Pemandangan yang saya saksikan mengingatkan pada Phi Phi Island di Phuket Thailand. Di mana-mana terlihat penginapan, kafe, serta bule yang berjubel laksana pasar.

Gili Trawangan kini menjadi destinasi wisata dunia. Di bandingkan Derawan. Raja Ampat, dan Wakatobi, Gili Trawangan adalah tempat paling ramai dengan turis asing. Tempat ini hanya bisa disaingi Pantai Kuta di Bali. Padahal, sajian keindahan alam dan wisata di sini jelas jauh lebih kaya dibandingkan Kuta, Bali.




Pulau ini berdekatan dengan Gili Meno dan Gili Air. Ketiganya menjadi destinasi wisata favorit para pelancong. Di pulau sekecil ini, berbagai bangsa datang dengan tujuan sama yakni berwisata, menikmati keindahan alam, juga menikmati hari-hari penuh petualangan. Dahulu, Gili Trawangan belum menjadi tempat wisata. Pamornya kalah jauh dari Bali. 

Suatu hari, beberapa turis datang dan menyelam di sini. Mereka menemukan keindahan yang tak ditemukan di Bali. Mulailah mereka bercerita ke mana-mana, hingga akhirnya pulau kecil ini menjadi magnet wisata dunia. Kebanyakan wisatawan hendak menyelam. 

BACA: Jejak Makassar di Thailand

Di beberapa titik di tiga gili ini terdapat tempat penangkaran hewan laut. Contohnya, Gili Trawangan yang memiliki tempat penangkaran hiu dan penyu, Gili Meno yang memiliki tempat penangkaran penyu dan ikan lain. Sementara, Gili Air menjadi daya tarik penyelam karena keberadaan palung laut yang cukup dalam. Tak heran, bila gili-gili ini menjadi populer di kalangan wisman penyelam. Selain masih cukup sepi, alam bawah lautnya juga indah.

Saya lalu berkeliling pulau. Yang menarik, tak ada kendaraan bermotor di pulau ini. Hanya ada dua alat transportasi di sini. 

Pertama, cidomo, yang merupakan singkatan dari cikar, dokar, dan motor. Disebut cikar karena ditarik kuda. Dokar berwujud pada pedati yang berbahan kayu. Sedangkan motor adalah dua ban karet yang digunakan. Tujuan akhir cidomo adalah sebuah dermaga kapal yang menjadi pelabuhan kapal yang datang dan pergi ke tiga pulau  yang berjejer di sebelah barat laut pulau lombok. 

Cidomo alias Cikar, Dokar, dan Motor

Kedua, sepeda yang banyak disewakan di pulau itu. Di sepanjang pesisir pulau, terdapat banyak penyewaan sepeda. Saya melihat banyak turis asing yang memilih bersepeda demi mengitari pulau seluas 340 hektar ini. Jalan-jalan di pulau ini tak diaspal. Pemandangan yang terlihat adalah turis yang berjalan, serta suara kaki kuda pada cidomo yang menyusuri jalanan. 

Tempat ini benar-benar ramah lingkungan.

***

SUARA azan menggema dari masjid besar di tengah pulau. Beberapa orang bergegas menuju Masjid Baiturrahman yang terletak di tengah pulau. Pemandangannya kontras sebab di tepi pantai dan di jalan-jalan, para bule berjalan hanya dengan mengenakan bikini, sementara mereka yang ke masjid tetap saja berjalan, tanpa merasa terganggu. 

Benar juga kata seorang kawan, penduduk asli etnik Bugis akan memenuhi masjid. Saya bisa melihat beberapa orang memakai songkok tobone, songkok khas yang dahulu dipakai bangsawan di tanah Bugis. Biarpun mereka tak lagi menjadi nelayan dan pelaut sebab telah kaya-raya di bisnis pariwisata, mereka tetap orang Bugis yang taat dengan ajaran agama. Bahkan di pulau itu, mereka tetap menggelar ritual dan adat Bugis. 

Seorang anak muda bercerita biarpun Gili Trawangan sudah jadi kampung global yang kesemua warganya bisa bahasa Inggris, saat hendak menikah, maka semua akan membicarakan panai’ atau uang naik dalam pernikahan Bugis.

Saya menemukan sisi lain yang membuat pulau ini semakin menarik. Banyak pemilik homestay dan cottage datang ke masjid dengan memakai baju koko, saring, dan songkok haji berwarna putih. Bahkan beberapa anak muda yang jadi guide selam, ikut ke masjid setelah mengenakan sarung dan songkok yang tak muat di kepala karena rambut gimbal. Beberapa anak muda bertato juga datang ke masjid untuk salat. 

Pulau ini punya toleransi setingkat dewa yang memungkinkan mereka untuk tidak saling mengganggu. Pariwisata tetap jalan, sementara ibadah dan ritual juga berjalan di lokasi yang sama. Teman saya Ahyar bercerita dirinya pernah mendatangkan sejumlah Tuan Guru atau ulama tradisional Lombok ke pulau ini. Mereka mengitari pulau, melihat bule-bule berbikini, sambil mengucap astagfirullah. 

BACA: Senyum Getir Nelayan Raja Ampat

Biarpun jargon pariwisata halal dikampanyekan di seantero Nusa Tenggara Barat (NTB), tetap saja tidak mungkin mengubah model wisata di Gili Trawangan menjadi lebih syariah. Akan sulit melarang para bule berbikini dan menggelar pesta bir di sepanjang pantai. Kalaupun itu hendak dilarang, bisa dibayangkan berapa ribu orang yang akan menjadi pengangguran sebab selama ini menggantungkan hidup pada industri wisata di situ. Banyak pengusaha wisata akan bangkrut dan menggulung tikar.

Sisi komersial dan sisi spiritual berjalan seiring di pulau ini. Pariwisata menjadi sektor yang menghela ekonomi warga, sementara sisi spiritual tetap mengisi ruang-ruang ruhani warga. Fathul, seorang kawan aktivis dan jurnalis di Lombok berkata, setiap tahun Gili Trawangan menyumbang jamaah haji yang cukup besar di NTB. Ini menjadi hal yang cukup dilematis saat dibahas. Banyak di antara yang berhaji itu mendatangkan penghasilan besar dari penjualan bir. “Kalau bahas tentang apakah sah berhaji dari hasil penjualan bir, biasanya diskusi akan selesai. Mau pakai penjelasan syariat atau penjelasan sosiologis?” kata Fathul dengan terkekeh.

Satu hal yang menjadi kekhawatiran adalah potensi kerusuhan yang bisa meledak kapan saja. Banyak warga yang menjual tanahnya atau bekerja sama dengan investor asing untuk membangun hotel atau cottage, kemudian warga itu menjadi pembantu di situ. Kekhawatiran ini pernah pula saya temukan saat observasi di Bali. Pariwisata memang terlihat indah dan cantik di luar, tapi selalu punya sisi yang menggiriskan yakni nasib warga lokal yang setiap saat bisa tergusur.



Dalam beberapa publikasi saya temukan potensi konflik berupa kepemilikan lahan di sini. Pemerintah dan warga juga kerap ribut karena soal lahan. Pemerintah bisa berkolaborasi dengan sejumlah investor, lalu menyingkirkan warga. Di sisi lain, warga juga menolak menggusur. Pemerintah menggunakan aparat bersenjata. Warga, yang kaya raya karena pariwisata, menyewa preman untuk menghadapi aparat. Konflik berlarut-larut.

Konflik juga terjadi karena tata ruang pulau. Pemerintah telah menetapkan tiga pulau itu sebagai kawasan konservasi perairan Gili Matra. Kawasan konservasi Gili Matra seluas 2.954 hektar dengan 665 hektar di antaranya wilayah darat. Selebihnya perairan laut. Pemerintah juga telah menyusun zonasi pemanfaatan sumber daya. Zonasi itu menjadi panduan bagi para penyedia layanan menyelam (dive operator) ataupun pemandu snorkeling. 

BACA: Mencari Navigasi Bugis Hingga Amerika Serikat

Dalam praktik, masih banyak masalah. Hotel dan kafe yang melanggar tata ruang, pemilik kapal yang melempar jangkar sembarangan, hingga penataan kawasan wisata yang berantakan. Di beberapa tempat, ada bangunan permanen dibangun di atas pantai. Berdasarkan pendataan oleh pemerintah Dusun Gili Trawangan, saat ini ada sekitar 150 bangunan yang tidak memiliki izin di sepanjang pantai. Warga tak punya dasar hukum untuk menggunakan lahan pantai tersebut. Tapi, warga bisa saja berkolaborasi dengan investor bermodal dan mencaplok kawasan.

*** 

“Would u like to help me to take my picture?” Seorang perempuan bule menyapa saya saat tiba di ujung pulau. Saya sedang memperhatikan ayunan yang posisinya di pasir putih. Dari ayunan itu terlihat laut biru dan pasir putih yang indah. Saya menoleh dan tersenyum saat melihat bule itu. Ia menyodorkan kamera jenis mirrorless.

Bule itu tampak cantik. Tubuhnya cukup semampai. Dia mengaku sebagai pelajar di Jerman yang bertualang seorang diri ke New Zealand, lanjut ke Bali, setelah itu Gili Trawangan, kemudian berakhir di Phuket, Thailand. Dalam usia semuda itu, dia berkelana untuk wisata seorang diri, jauh meninggalkan kampung halaman, kemudian menikmati bumi yang masih perawan.

Dengan senang hati, saya mengiyakan tawarannya. Saya lalu mengambil banyak posenya yang cantik. Biarpun masih amatir, saya cukup paham bagaimana mengambil gambar yang bagus dan artistik. Saat menyerahkan kamera, kami berbincang singkat. Dia tersenyum melihat foto-fotonya yang cantik. Padahal di mata saya, fotonya biasa saja. Dirinya yang cantik.

Tak hanya itu, dia pun mengambil gambar saya di ayunan, sebagaimana dirinya. Dia gembira saat saya menyukai hasil jepretannya. 


Di atas pasir dan cahaya matahari yang tepat di ubun-ubun, kami berbincang banyak. Dia datang untuk menyelam dan snorkeling. Dia menikmati sensasi saat berenang bersama penyu dan pari manta. Di matanya, Gili Trawangan adalah kepingan surga. Pantas saja kalau dirinya telah menghabiskan waktu selama empat minggu. Dia menikmati pulau kecil dan aktivitas di situ. 

Saya membayangkan banyak turis asing yang datang dengan modal besar, sebagaimana dirinya. Para turis itu lalu meramaikan ekosistem pulau, membaur dengan turis lain, serta warga lokal demi pesta. Turis yang datang ini terjebak rutinitas di negara asalnya sehingga butuh berwisata sebagai wahana melepas penat. Saat itulah mereka bertemu pemuda lokal yang menjadi guide dan menemani mereka selama beberapa waktu. Turis ini terkesima menemukan keramahan dan perhatian, sesuatu yang langka ditemukan di negaranya sebab semua orang bergegas karena banyak urusan.

BACA: Hantu-Hantu Laut di Wakatobi

Tanpa mereka sadari, kerap ada benang cinta yang terajut di situ. Pantai di Gili Trawangan menjadi saksi bagaimana keramahan menjelma menjadi jalinan asmara. Saya mendengar banyak bule perempuan yang kepincut dengan keramahan guide lokal lalu memutuskan menikah dan tinggal di Australia. Bahkan, para guide lokal yang menikah dengan bule Australia itu membentuk komunitas yang secara berkala bertemu di satu negara bagian di Australia.

Kembali, saya memandang gadis ini. Saya tahu bahwa tak lama lagi senja akan segera hadir di pantai. Suasananya pasti akan sangat romantis. Saat memandang ufuk sana yang memerah, dia tiba-tiba bertanya, “Apakah kamu masih akan di sini saat senja? Bolehlah kita menikmati senja bersama,” katanya.

Saya menatap dirinya yang tersenyum manis. Malah teramat manis.


Saatnya Membela JONRU




JON Ria Ukur (Jonru) telah divonis majelis hakim. Pengadilan menyatakan dirinya bersalah. Banyak orang kembali menyalahkan apa yang dilakukannya. Padahal, Jonru tidak salah apa-apa. Dia hanya mengungkapkan apa yang diyakini dan dipercayainya kepada publik melalui media sosial. Dia hanya lebih jujur dari siapa pun dan memilih bercerita melalui sentuhan jemarinya. 

Apakah dia pantas disalahkan untuk opini yang dia anggap benar?

Dalam diri Jonru tak ada niat untuk berbohong. Dia mendapat pesan-pesan yang terkirim dari jaringannya. Sebagaimana netizen lainnya, dia tak punya waktu untuk melakukan verifikasi atas fakta demi fakta. Lagian, tugas melakukan verifikasi harusnya di tangan para ilmuwan dan sejarawan yang berdiam di menara ilmu. Mereka yang harusnya produktif menulis demi mencerahkan publik atas setiap fakta dan kepingan informasi.

Tugas verifikasi juga harusnya diemban oleh para jurnalis yang setiap hari melahirkan aksara. Namun para jurnalis sudah lelah untuk melakukan intisari dunia jurnalisme. Mereka terjebak dan tiba-tiba harus berpacu dalam sirkuit persaingan media, yang dimenangkan oleh siapa yang paling cepat, dan paling kuat berlari.

Jonru adalah subyek yang kesadarannya ditentukan oleh membanjirnya beragam informasi yang tak terverifikasi. Di era sebelumnya, informasi hanya ditemukan dalam celoteh para pedagang koran di lampu merah, atau di tuturan para penyalur media, atau dalam setiap menit sajian berita televisi. Di era Jonru, informasi masuk secara gratis dan memberondong di smartphone begitu kita bangun pagi. Informasi berseliweran di sekitar kita, yang kurang sabar untuk mencerna satu demi satu.

Kita malas berpikir. Kita malas untuk mengecek ulang. Sehingga ketika kian banyak informasi berjejalan, kita mudah percaya. Kita melihat bungkus ketimbang isi. Di era Jonru, profesi guru dan dosen, bahkan profesor, tak malu-malu saat menyebar satu informasi. Profesi yang seharusnya mengajarkan penalaran itu seakan kehilangan greget saat berhadapan dengan limpahan informasi yang diklaim sebagai informasi di balik layar.

Kita tak punya waktu untuk melakukan verifikasi dengan cara mengecek pada media-media kredibel. Dengan mudahnya kita percaya dengan sesuatu yang seolah-olah informasi A1. Kita mudah saja percaya saat informasi bohong dibagikan banyak orang sekaligus. Kita gampang tersentuh saat informasi itu diberi latar kalimat-kalimat yang dikutip dari kitab suci. Asal diberi label agama, emosi kita mudah tersulut, lalu percaya dengan informasi yang tujuannya justru untuk membenci yang lain.

Jonru adalah produk dari sistem sosial kita yang lumpuh penalarannya. Sistem pendidikan kita tak mengajarkan bagaimana membedakan kebenaran dan kesesatan. Kita telah mundur di era kegelapan ketika otoritas mengalahkan pencarian kebenaran. Kita tak menghargai diskusi dan penalaran. Kita tak fokus pada informasi, melainkan siapa yang memberi informasi. Saat informasi disampaikan seseorang yang memakai jubah keagamaan, kita mudah saja larut.

Jonru adalah potret dari kian mundurnya ilmu pengetahuan. Tak ada lagi debat data dan fakta, sesuatu yang merupakan jantung pencarian pengetahuan. Kita terburu-buru ingin mengambil kesimpulan dari satu proses ilmiah yang sedang berjalan. Di benak kita, hanya ada sesuatu yang final, tanpa harus mencari-cari dan mendebat semua sumber. 

Sekolah-sekolah dan universitas telah lama menjadi pabrik yang menghasilkan gelar kebangsawanan baru. Bahkan gelar-gelar diobral murah di berbagai ruko yang menyebut dirinya kampus. Para profesor kita telah lama berhenti meneliti dan menulis publikasi. Semuanya berebut jabatan penting di pemerintahan agar bisa mengumpulkan pundi-pundi. Mahasiswa kita lebih suka selfie dan memamerkan makanan di instagram. 

Toko-toko buku telah lama sepi, dan keberadaannya kian terkucil karena ekspansi dari berbagai barang mewah. Buku-buku di perpustakaan kian berdebu karena punahnya tradisi baca dan tulis serta diskusi secara mendalam. Buku-buku menjadi artefak yang kian terpinggirkan dikarenakan orang-orang lebih suka mencari informasi di situs abal-abal penyedia daftar konspirasi jahat yang akan menghancurkan bangsa ini.

Saat bangsa-bangsa lain sibuk mengembangkan kecambah ilmu pengetahuan hingga tumbuh lalu dahan dan rantingnya menjangkau mega-mega, kita hanya berjalan di tempat. Bangsa lain telah mampu mengembangkan riset medis dan mengobati banyak penyakit ganas, kita masih saja hidup dalam keyakinan bahwa hanya dengan berbekal mantra, semua penyakit akan sembuh.

Jonru adalah potret dari malasnya kita menyediakan kanal-kanal yang bisa menjadi portal bagi publik untuk menemukan jawaban. Pemerintah kita membangun tembok-tembok yang terlampau tinggi bagi rakyat untuk menggapainya. Di depan mata kita, seorang pedagang kaki lima bisa dihardik, ditendang dan diterjang, sementara para kontraktor korup justru dipuji setinggi langit dan dijadikan kepala daerah.

Kita lebih menghargai otoritas tanpa isi, simbol akademik tanpa isi, tanda pangkat tanpa pelayanan, juga gelar keulamaan tanpa kearifan. Yang hilang dari kita adalah sikap kritis untuk selalu menalar setiap kepingan fakta. Kita tak lagi mencari pertautannya dengan fakta lain demi memahami konstruksi gagasan itu, kemudian menentukan benar dan salah.

Sekali lagi, Jonru adalah produk dari gagalnya sistem sosial kita yang seharusnya mengajarkan kita untuk lebih menalar, ketimbang memvonis. Ketika semua hal dilihat sebagai konspirasi dan ada niat jahat, maka segala yang baik pun akan tampak berbeda. Kebenaran kehilangan penanda. Kebaikan kehilangan ruh. Tanpa sadar benih prasangka dan kebencian tumbuh dalam diri kita, memenuhi semua pembuluh darah, lalu menjadi identitas yang mendefinisikan siapa diri kita.

Ketika segala sesuatu di sekitar kita menjadi penuh keburukan, ketika hal baik menjadi tidak baik, bahkan ketika hal yang buruk justru menjadi baik di mata kita, saatnya mengucapkan selamat tinggal kepada nalar dan akal sehat. Ucapkan selamat datang abad penuh nyinyir. Bersiaplah untuk menjadi Jonru selanjutnya.

Namun, dengan menimbang berbagai fakta mengenai sistem dan dinamika sosial, kita akan tiba pada satu muara pertanyaan, apakah pantas kita menyalahkan Jonru?



Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...

Google+ Badge