Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Cerita tentang JOSE BENU




Di tahun 1999, dia menyaksikan kerusuhan dan amarah memenuhi udara. Dia melihat kekerasan saat sejumlah orang meneriakkan merdeka. Tapi, bapak bernama Jose Benu ini tak ingin tenggelam dalam kesedihan. Dia ingin move on. Dia merajut kenangan baru. Kehidupan harus terus bergerak.

Di Desa Napan, salah satu desa di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, dia mulai menata hari. Bapak yang dahulu adalah pengungsi Timor Timur ini merasa lebih aman di desa itu sehingga dirinya bisa bekerja dengan tenang.

Mulanya dia bekerja serabutan. Suatu hari, bapak yang mulutnya selalu merah karena mengunyah sirih ini melihat tanah kosong. Dia memberanikan diri untuk menemui pemilik tanah yakni Edmundo Lase. Dia diizinkan untuk mengelola tanah kosong itu. Dia mengajak rekan-rekannya yang bergabung dalam kelompok tani Tafe’u untuk mengelolanya.

Dia menjelaskan makna Tafe’u dalam bahasa Dawan, bahasa yang dipakai semua warga Napa serta warga desa di wilayah Timor Leste. Tafe’u bermakna selalu memperbarui. Apa yang diperbarui? “Semua hal bisa diperbaharui. Termasuk anggota kelompok tani itu,” katanya.

Saya rasa maknanya sangat filosofis. Saya ingat filsuf Heraclitus yang menyebut penta rei, yakni segala hal dalam hidup ini selalu berubah. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Kehidupan ini selalu bergerak.

embung yang menyediakan sumber air
bedeng-bedeng yang ditanami sayuran


Jose beruntung, pada era Presiden Jokowi, pemerintah membangun embung di tanah itu. Telaga kecil terhampar di tengah pegunungan tandus itu. Telaga itu menjadi awal kolaborasi banyak pihak. Pemerintah Desa memperluasnya. Lembaga internasional yakni UNDP mengadakan pelatihan budidaya hortikultura kepada warga lokal. Bahkan UNDP menyiapkan bibit sayuran organik kepada warga.

Jose mulai melihat secercah harapan. Dia menerapkannya di bukit itu. Mulanya dia kumpulkan kotoran sapi dan kambing. Kotoran itu lalu disebar di bedeng-bedeng yang dibuatnya di sekitar embung. Setelah itu dia menyiraminya, sehingga siap ditanam.

Dia juga mengajak rekannya untuk membuat bedeng-bedeng yang berbentuk terassiring, lalu menanaminya. Siapa pun yang membuat bedeng dan menanam, berhak untuk memanen. Bersama rekan-rekannya di Tafe’u, mereka menanam sayur kangkung, sawi, bawang merah, pici, dan kol. Semuanya organik.

Dia tak pernah kesulitan menjual semua sayuran itu. Bahkan sayurannya tidak sempat menjangkau pasar di Timor Leste, atau pasar rakyat di Kefa, ibukota Timor Tengah Utara, sebab langsung dibeli.

“Waktu panen, saya tidak pernah kesulitan jual ini sayuran. Sebelum sampai pasar, selalu terjual duluan. Malah banyak orang datang cari sayur di sini,” katanya.

Di embung itu, dia pun memelihara ikan. Rumput-rumput tumbuh di sekitar embung yang kemudian dikonsumsi ternak. Ke depannya, Jose membayangkan tidak hanya melihat sayuran hijau, tapi juga kolam ikan, serta peternakan di situ.

Saya memberinya masukan untuk membuat dangau-dangau yang menyediakan kopi lokal. Tempat itu bisa dikelola jadi wisata ekologis. Saya membayangkan, betapa nikmatnya duduk di satu lapak sambil melihat tumbuhan hijau menghampar. Saya bisa melahirkan banyak puisi di situ.

Pegunungan tandus itu perlahan menghijau. Lahan-lahan di situ ibarat kanvas yang dilukis hijau oleh Jonas bersama rekan-rekannya. Saya serasa melihat oase di tengah bukit-bukit yang gundul, ada bukit hijau dan telaga jernih yang menghampar. Serasa melihat noktah kehidupan yang kecil namun perlahan terus membesar.

Ketika berkunjung ke situ, saya terkesan melihat banyak orang bekerja di situ. Malah, lebih banyak mama-mama yang bekerja. Saya melihat banyak anak-anak ikut terlibat. Mereka bermain dengan riang di sela-sela rerimbunan sayuran.

Ketika saya duduk dan berbincang dengan Jose, semua mama-mama itu itu terlibat. Mereka spontan mengoreksi pernyataan Jose jika dirasanya keliru.

Jose Benu
Perempuan-perempuan di Napan ini bisa membuat stres para penulis buku gender yang masih masih beranggapan perempuan ditindas laki-laki. Di sini, semua orang sejajar, sama-sama menanam, sama-sama memanen, dan sama-sama bisa berbicara.

Jose menatap hamparan hijau itu dengan tersenyum. Dulu dia memendam ingatan traumatik karena konflik yang membunuh. Kini dia menyaksikan hamparan hijau yang menghidupkan. Kini dia menata masa kini dan masa depan. Jejaknya bisa dilihat pada bukit-bukit yang dulu gundul, kini penuh tanaman hijau.

Pada Jose, saya melihat banyak pelajaran.


Sepekan Bersama Chelsea Nguyen




Entah apa yang di benak petinggi lembaga internasional di bawah payung PBB ketika meminta saya untuk jadi konsultan ahli di perbatasan Timor Leste. Dia pikir saya punya skill riset dan menulis, serta analisis yang bagus. Padahal, keahlian saya adalah membual dan melatih kucing.

Biar sudah menolak, saya tetap diajak ke sana. Saya pikir palingan cuma jalan-jalan dan menulis. Saat di pesawat, barulah saya diberitahu kalau ada tugas tambahan lain yakni menjadi mentor bagi peneliti asal Norwegia yang akan ikut turun ke lapangan. Lebih terkejut lagi ketika mendengar dia tak bisa bahasa Indonesia. Matilah saya.

Peneliti itu bernama Chelsea Nguyen. Ketika dia berbicara, saya serasa berada di film Harry Potter yang semua pemain beraksen British. Tapi saya masih bisa menangkap jelas semua kalimatnya. Biarpun bahasa Inggris saya sudah campur dengan aksen Buton Bugis Makassar, dia bisa paham. 

Ayahnya berdarah Vietnam yang sudah jadi warga negara Norwegia. Ketika bertemu dengannya di Kefa, dia memperkenalkan diri sebagai ekonom yang memegang gelar master bidang ekonomi politik di London School of Economic (LSE) di Inggris. Bahkan dia kenal Anthony Giddens dan pernah diskusi. Hah?

Demi menutup rasa minder, saya bertanya mengapa namanya Chelsea, mengapa bukan Arsenal, klub yang meskipun jarang menang tapi saya idolakan. Mengapa pula namanya bukan Tottenham yang berhasil menembus final Champion League. Katanya, bapaknya adalah fans Chelsea, khususnya pemain Frank Lampard.

Kami berbincang tentang buku-buku. Bacaannya sangat berkelas. Dia seperti perpustakaan berjalan. Dia bisa menjelaskan banyak nama besar di bidang ekonomi politik. Saat saya menyebut buku White Man’s Burden, dengan cepat dia menyebut William Easterly penulis buku itu.

Menurut satu staf lembaga PBB, dia seorang pemikir dan penulis handal. Blognya berisi ratusan artikel dalam berbagai topik, khususnya ekonomi politik. Saya sempat mengintip blognya, tapi tak kuat baca. Semuanya berbahasa Inggris.

BACA: Cerita tentang Nahad Baunsele

Pengetahuan sebanyak itu bukan jaminan kalau dirinya menguasai banyak hal. Dia curhat kalau dirinya adalah tipe periset yang lebih banyak bekerja di belakang meja. Dia bisa memahami bagaimana data-data ekonomi bekerja, tapi dia akan sangat kesulitan ketika diminta mengeksplor kisah-kisah manusia. 

“Yos bagaimana cara memulai wawancara? Bagaimana caramu melakukannya” dia bertanya. Saya bingung bagaimana menjawabnya. Selama ini saya tak pernah merasa melakukan wawancara. Malah saya menghindari kesan wawancara. Saya merasa sedang ngobrol lepas, banyak mendengar, kemudian banyak bertanya. Sesederhana itu.

Saat kami di lapangan, dia mengikuti ke manapun saya bergerak. Rasanya kikuk juga jika diikuti seseorang. Dia memosisikan dirinya seperti Anakin Skywalker yang mengikuti Master Obi Wan Kenobi. Dia menjadi padawan atau murid yang memperhatikan, menyimak, dan belajar.

Kendala saya hanya satu yakni harus kerja dua kali. Saya harus menerjemahkan semua kalimat informan ke dalam bahasa Inggris agar dia juga paham. Saya pun harus menerjemahkan pertanyannya ke informan. Saya menjalani dua peran, sebagai peneliti, sekaligus penerjemah. 

Saya paham mengapa para peneliti asing seperti Ben Anderson mesti menguasai bahasa Indonesia dulu sebelum turun kapangan. Penguasaan bahasa membuat mereka fleksibel bergerak dan cepat memahami kalimat informan. Bahasa adalah gerbang budaya yang membuat seseorang bisa memahami ekspresi, mimik, hingga keyakinan yang diekspresikan dalam diksi atau pilihan kata.

Tapi saya kagum karena Chelsea adalah tipe yang sangat cepat belajar. Saat saya beritahu tentang kerja-kerja peneliti yang tak sekadar bilang “I’ve been there” tapi juga memahami realitas sesuai dengan pikiran warga lokal, dia cepat menyerap.

Saat di lapangan, dia tak ada rasa canggung ketika bertemu petani, makan bersama petani di ladang, hingga ikut mendaki bukit-bukti demi ke ladang petani di Timor Leste. Saya juga kagum, dia cukup cepat mengambil hati pemuka adat saat mencoba sirih yang selalu dibawa-bawa pemuka adat itu. Dia melakukan observasi partisipatoris dengan baik.

Pada saat kami bertemu korban kekerasan, saya bisa melihat dia terguncang ketika mendengar subyek bercerita. Dia beberapa kali tertegun saat mendengar tuturan mereka. Ini adalah pengalaman baru yang berkesan baginya. Dia belum pernah mendengar kenyataan semenggetarkan ini di negerinya.

Seusai wawancara, dia terharu. Dia memeluk semua ibu yang menjadi koban itu. Dia berbisik, ini adalah pengalaman luar biasa baginya. Baginya, pengalaman ini jauh lebih berkesan dari pengalaman berurusan dengan angka-angka. Dia menemukan keindahan riset humaniora sebagai jembatan hati yang membuat manusia saling memahami satu sama lain.

Saat senja mulai nampak di ufuk bumi loro sae, dia menemui saya kemudian berbisik: “Thanks for everything.” Saya terheran-heran. Saya merasa tidak melakukan apa-apa. Dia tetap tersenyum riang. Saya fokus memperhatikan pipinya yang kemerahan. Hmm.. Dia cantik.




Cerita tentang Nahad Baunsele




Saat dia berangkat ke luar negeri, orang2 mengira dirinya akan bersenang-senang dan berkelana di negeri asing. Padahal, dirinya sedang bekerja keras demi melawan semua tantangan.

Lelaki itu Nahad Baunsele, datang dari kampung di So’e, Timor Tengah Selatan. Berkat beasiswa IFP, dia diundang belajar ke Tulane University, salah satu universitas dengan tradisi epidemologi dan public health terbaik di Amerika Serikat.

Kampusnya terletak di New Orleans, yang dikenal sebagai kota penuh pesta, jazz, dan punya populasi kulit hitam yang besar. Nahad ke sana hanya bermodal nekad. Betapa tidak, skor Toefl-nya hanya 430. Bahasa Inggrisnya pas-pasan.

Jangankan untuk belajar, untuk sekadar berkomunikasi dengan orang lain pun dia kesulitan. Setelah empat bulan belajar bahasa di New Orleans University, Nahad mulai kuliah di Tulane.

Dia menuturkan, pada semester pertama, dia seperti makhluk bumi yang tersesat di negeri alien. Dia ketinggalan di semua kuliah. Bahkan dia terancam dipulangkan kalau tidak bisa mengikuti ritme perkuliahan.

Nahad tak ingin kembali ke So’e dengan membawa kegagalan. Dengan kemampuan terbatas, dia menemui satu per satu dosennya. Dia ceritakan masalah kemampuan bahasa yang terbatas itu.

Dia hadapi masalah itu dengan cara mengakuinya, kemudian mengajak orang lain untuk membantunya. Gayung bersambut. Dosen-dosennya tersentuh. Semuanya sepakat bahwa perjalanan menyusuri separuh bumi demi belajar itu membutuhkan keberanian besar.

Mulailah Nahad mendapatkan bantuan. Saat Nahad membuat paper, dosen akan membantunya untuk membaca ulang dan mencari ide-ide orisinal di situ. Nahad merasakan betapa baiknya orang-orang yang selalu melihat sisi terbaiknya, bukan sisi terlemah seseorang.

Di New Orleans, di kota yang surganya penyuka pesta dan para pemabuk yang menenggak brandy setiap saat, Nahad menemukan setitik cahaya. Dia mulai menemukan semangat belajar. Dia membayangkan akan membawa banyak pengetahuan demi So’e, kampung halamannya.

Kisah Nahad di New Orleans adalah kisah perjuangan menghadapi keterbatasan. Jika saja dia menyerah, maka dia akan pulang dengan membawa cerita kegagalan. Namun dia punya tekad kuat untuk menentukan takdirnya di masa depan.

Setelah dua tahun lebih delapan bulan, dia pulang membawa keberhasilan. Kini, dia berada di So’e dan menghadapi dunia yang ingin diubahnya. Dia kembali berurusan dengan penyakit menular, dunia puskesmas, serta tantangan yang tidak mudah.

Tapi semangat baja yang ditempa di New Orleans itu menjadi kompas kehidupan baginya. Dia tetap menunjukkan determinasi dan kemampuan menemukan solusi di tengah masalah. Dia pun tak ingin meninggalkan So’e sebab itulah medan pengabdiannya.

Saat saya bertemu dengannya di So’e, wilayah yang sedingin Puncak di Bogor, Nahad dengan riang bercerita pengalamannya. Dia bercerita perjuangannya menyediakan fasilitas kesehatan bagi rakyat yang terpinggirkan.

Dia baru saja membangun 12 Puskesmas dengan fasilitas paling lengkap, mulai dari ruang rawat inap hingga perumahan dokter. Saya suka ceritanya tentang perjuangan membantu masyarakat nelayan yang tidak memiliki KTP sebab suka berpindah-pindah. "Pada saat itu, negara harus hadir membantu warganya," katanya.

Saya lebih banyak mendengar. Saya begitu kagum dengan dirinya. Saya melihat Nahad yang terus bertransformasi. Mulanya saya melihat dirinya di Jakarta sebagai seorang penerima beasiswa. Setelah itu dirinya datang ke luar negeri dengan membawa keterbatasan.

Kini dirinya menjadi sosok penuh ide-ide perubahan di kampung halamannya. Dia membawa kembang ilmu untuk menjadi persembahan bagi So’e, kampung halamannya.

Sambil mendengar dirinya bercerita, sayup-sayup saya mendengar lagu dari Louis Amstrong, penyanyi jazz bersuara serak di New Orleans:

"I see skies of blue and clouds of white
The bright blessed day, the dark sacred night
And I think to myself what a wonderful world"



Menonton "The Dude in Me"




Yang saya suka dari film Korea adalah ceritanya selalu sederhana, tapi dikemas dengan menarik. Film Korea selalu menyimpan kejutan di bagian akhir yang meninggalkan jejak di hati penonton. Film Korea suka menghadirkan ending yang menyengat.

Semalam saya menonton film berjudul “The Dude in Me” yang pernah tayang di bioskop kita pada bulan Februari 2019. Kisahnya sangat menghibur.

Cerita film ini tidak orisinil2 amat. Ceritanya mengingatkan saya pada dua film Korea yakni Luck Key, mengenai seorang gangster serta seorang anak remaja yang bertukar peran, dan film Miss Granny tentang seorang nenek yang kembali jadi muda lalu mengejar mimpinya. Saya juga ingat filmnya Stephen Chow berjudul Fight Back to School.

Ceritanya, seorang gangster kaya berdiri di dekat gedung tinggi. Dia kejatuhan seorang anak SMA yang berusaha mengambil sepatu di atas gedung. Gangster itu koma. Entah bagaimana ceritanya, dirinya terbangun dalam tubuh siswa SMA itu.

Cerita bergulir menarik. Siswa SMA itu dulu pecundang di sekolah dan sering di-bully, tiba2 jadi jagoan. Dia juga mengenal seorang anak perempuan yang sering di-bully. Ibu anak perempuan itu ternyata mantan pacarnya. Dia juga akhirnya tahu kalau anak perempuan itu adalah anak kandungnya sendiri.

Di pertengahan film saya sudah bisa menebak lanjutannya. Tapi saya tetap ikuti sebab kemasannya menarik. Menonton film ini serasa mengemut permen nano-nano, ada rasa manis, pahit, dan asam. Di film ini, ada unsur komedi, action, dan drama cinta. Ketiganya membentuk satu adonan film yang lezat.

Belakangan ini saya suka nonton film Korea yang tayang di TvN. Di mata saya, orang Korea memang pandai membuat film yang sederhana tapi asyik. Mereka bisa meramu bahan-bahan sehari-hari menjadi cerita yang renyah dikunyah, serta bikin kita terkenang-kenang.

Yang saya gak suka dari film The Dude in Me adalah tampang Jinyoung, personel B1A4, yang menurutku khas para boyband Korea. Terlalu cantik untuk peran macho. Aneh juga sebab kadang kalau lihat Jinyoung, saya serasa bercermin. Saking miripnya.



Mencari YUSUF di Istana WAPRES


tiga alumni Unhas berpose di acara halal bihalal IKA Unhas

Sabtu lalu, halal bihalal IKA Unhas diadakan di Kantor Wapres. Tapi tak semua yang datang berniat untuk halal bihalal. Banyak yang datang karena menyadari inilah kesempatan terakhir menghadiri halal bihalal bersama Jusuf Kalla di istana.

Banyak yang berpikir bahwa butuh waktu lama lagi melihat ada orang Bugis Makassar, atau orang Indonesia Timur, menjadi presiden ataupun wakil presiden. Setidaknya, dalam lima tahun ke depan, posisi wapres dijabat seorang kiai dari tanah Banten.

Saya pun ikut hadir demi merasakan momen penting itu. Jusuf Kalla memberikan pesan yang tak biasa. Bukan sekadar sambutan, tapi memberikan masukan strategi bagi anak muda di timur untuk bisa meniti karier sebagaimana dirinya.

Dia mulai dengan mengenang semua kariernya di pentas politik. Mulai dari menteri, menteri koordinator, hingga wakil presiden. Semuanya tak didapatkan dengan mudah. Fundasi dari semua posisi itu dibangunnya di daerah.

Dia memang memulai semuanya di daerah. Sejak kuliah, dia sudah memegang posisi penting di banyak organisasi. Mulai dari organisasi mahasiswa Bone, Senat Mahasiswa Ekonomi Unhas, hingga HMI Cabang Ujung Pandang.

Setelah itu, dia berkarier dari posisi karyawan hingga direktur utama. Meskipun itu perusahaan keluarga, dia memulainya dari nol. Dia bekerja keras hingga menjadi direktur utama. Dia pun memimpin banyak organisasi sosial.

Saat elite Jakarta mencari sosok inspiratif di daerah, namanya akan berada di baris paling atas. “Pesanku kepada kalian semua, mulailah dari daerah. Gabung di semua organisasi sosial. Bangun reputasi dan kompetensi. Yakinlah, orang Jakarta akan mencari kalian,” katanya.

BACA: Elegi Esok Makassar

Saya menyimak petuahnya. Dia bukan sekadar ikon Bugis Makassar di pentas politik nasional. Tapi dia juga wajah Indonesia timur, wilayah amat luas di tanah air, namun sering terabaikan karena penduduknya sedikit. Itu pun tersebar di banyak pulau kecil.

Saya memandang Jusuf Kalla yang sedang berpidato. Sekonyong-konyong, saya teringat tuturan Wahyudin Halim, seorang cendekiawan yang saya kagumi di Makassar. Dalam satu diskusi beberapa tahun silam, dia pernah mengutip ucapan raja bernama Arung Matoa Matinrowa Rikannana di abad 17 mengenai filosofi sulappa eppa atau empat nilai utama bagi lelaki Bugis Makassar.

Menurutnya, lelaki Bugis Makassar memiliki empat sifat paling utama. Pertama, to panrita atau bijaksana. Kedua, to warani atau berani. Ketiga, to acca atau pintar. Keempat, to sugi atau kaya raya.

Dalam sejarah, jarang ditemukan satu sosok yang punya semua kombinasi sifat unggul itu. Biasanya, masing-masing sifat ada pada satu orang. “Ada empat orang bernama Yusuf yang bisa menjadi representasi atau gambaran sifat itu,” kata Wahyudin. Siapakah?

Pertama, sifat to panrita atau bijaksana ada pada diri Syekh Yusuf al Makassari (1626-1699). Dia adalah ulama besar yang kemudian dibuang pemerintah kolonial ke Afrika Selatan. Dia menginspirasi Nelson Mandela, pejuang kemanusiaan terbesar di abad ini.

Kedua, sifat to warani atau berani bisa dilihat pada sosok Jenderal M Jusuf (1928-2004). Pria asal Kajuara, Bone, menjadi sosok penting di era Orde Baru. Dia seorang Panglima ABRI yang dikenal berani dan rela memasang badan untuk republik. Dia salah satu tokoh di balik lahirnya Supersemar.

Ketiga, to acca atau cerdas ada pada sosok Jusuf Habibie. Selama beberapa dekade dia menjadi menteri riset dan teknologi, setelah itu menjadi wapres. Terakhir jadi presiden. Memang, ayah Habibie dari Gorontalo. Ibunya pun dari Yogyakarta. Tapi dia lahir dan besar di Pare-pare, di tanah Bugis.

Keempat, to sugi atau orang kaya ada pada sosok Jusuf Kalla. Dia seorang pebisnis handal, aktivis organisasi, serta manajer hebat. Dia tipe praktisi, yang bisa menyerap hikmah dari pengalaman, kemudian diterapkannya dalam kerja-kerja.

Sejarah mencatat, empat Yusuf telah berkiprah di posisi penting. Kedepan, mesti ada sosok lain yang menggantikan mereka di berbagai posisi penting. Dia bisa bernama Yusuf, bisa bernama La Baco, bisa bernama La Mellong.

Yang pasti, dia punya jejak dan prestasi bagus sehingga kelak menjadi kembang-kembang yang selalu didatangi lebah, kemudian menghasilkan madu. Dia juga punya reputasi hebat sehingga kelak semesta akan melejitkan namanya. Siapakah Yusuf berikutnya? 

Sebagai penyaksi, kita akan segera menemukan jawabannya.



Undangan Ngopi di UNDP

Terhadap ajakan ngopi, saya tak pernah menolak. Apalagi jika yang ngajak seorang perempuan cantik. Lokasinya pun keren yakni kantor UNDP, di Menara Thamrin, Jakarta.

Maka datanglah saya. Ternyata UNDP berada di lantai yang sama dengan lembaga PBB lainnya. Penjagaannya super ketat. Ada pemeriksaan tas, melewati pemeriksaan sekuriti, hingga akhirnya menunggu di lantai tujuh.



Saya akhirnya bertemu Mareska Mantik, perempuan asal Manado yang lulus kuliah di Boston. Dia sudah lama bekerja di lembaga PBB, bahkan sudah beberapa kali tugas di negara lain. Saya mengenalnya sebagai sesama penerima beasiswa IFP. Dia mengajak saya untuk meeting dulu di lantai 9.

Kami rapat bertiga. Kami bahas pemberdayaan masyarakat dan pembangunan. Diskusi kemudian mengalir ke point utama yakni perbatasan Timor Leste. Saya baru tahu kalau ada wilayah Timor Leste yang berada di tengah2 daratan Indonesia. 

Dia bercerita tentang perempuan2 yang dulunya korban konflik, tapi kini menenun perdamaian. Saya membatin, andaikan diminta menulis tentang perempuan itu, saya akan sangat gembira. Saya suka menjelajah, suka bertemu orang2 dengan budaya berbeda, suka mencatat hal2 kecil di perjalanan.

Sedang asyik menyimak, dia bertanya:

"Apa kamu bersedia diajak ke Timor Leste?"
"Kapan?" tanyaku.
"Senin depan" katanya.
"Hah?"

Elegi Esok MAKASSAR


Sosok Karaeng Pattingalloang pada atlas Joan Blaeau tahun 1664

Di Makassar, orang-orang sedang bicara tentang pemilihan Walikota Makassar. Gemanya terasa hingga ke mana-mana. Semilir anging mammiri telah membawa perbincangan itu hingga ke banyak sudut kota Jakarta, khususnya di warkop yang sering didatangi orang Makassar.

Saya percaya Makassar adalah mercu suar yang memberi cahaya bagi daerah-daerah sekitarnya. Sejak dulu, kota ini adalah pusat dagang, sekaligus pusat pengetahuan. Makassar ibarat kakak yang menuntun banyak adiknya di timur untuk berlari mengejar kemajuan.

Pada pilkada lalu, publik tanah air terkejut. Seorang calon walikota, yang merupakan keluarga dari salah satu grup bisnis paling kuat, bisa kalah melawan kotak kosong. Ini sejarah menarik. Bahwa jaringan besar serta kuat dan ternama bisa kalah melawan kotak kosong. Tentu ada banyak cerita di balik itu yang hanya bisa diketahui oleh orang Makassar sendiri.

Pilkada akan kembali digelar tahun depan. Banyak orang sudah mendeklarasikan diri sebagai calon. Beberapa orang disebut-sebut mewakili klan atau keluarga tertentu. Seorang kawan menyebut dana miliaran yang siap digelontorkan beberapa orang.

Tadinya saya agak malas untuk tahu banyak hal tentang perhelatan politik di sana. Namun keseringan ke warung kopi untuk mencari partner tanding domino lambat laun membuat saya ikut mendengar diskusi alot tentang peta politik di sana. 

Semalam, saat tengah asyik-asyiknya main domino, seorang calon walikota datang ke warkop. Dia bercerita tentang rencana-rencananya yang ingin membenahi Makassar. Tapi ditanya secara detail apa yang mau dibenahi, jawabannya ngambang. Dia sendiri belum tahu hendak mulai dari mana.

Satu hal yang selalu mengganjal saya dalam berbagai diskusi informal itu adalah hilangnya ide-ide besar ke mana wilayah itu hendak dibawa. Saya belum menemukan satu gagasan besar apa yang hendak diterapkan. Kebanyakan hanya masuk pada isu-isu populis yang menurut saya justru tidak menarik.

Harus diakui, Makassar kian besar. Tapi juga kian semrawut. Dulu, melintas dari PLTU Tello menuju kawasan Tamalanrea hingga Daya serasa melalui jalan tol bebas hambatan yang mulus dan sepi. Kiri kanan hanya rawa dan alang-alang. Kini, jalanan itu laksana pasar yang tumpah. Kiri kanan adalah ruko dan mal, juga pedagang yang berhamburan.

Di saat sibuk, Jalan Pettarani, Mappanyukki, dan Hertasning akan macet parah dengan kadar yang lebih tinggi dari kemacetan di Jakarta. Makassar penuh dengan ruko dan perbelanjaan yang mengepung, serta jalan-jalan sempit. Kota ini tak lagi punya banyak pohon-pohon hijau yang bisa membuat kita sejenak tersenyum dan menikmati pemandangan.

Yang lebih terasa hilang adalah ide-ide besar ke mana kota ini hendak dilayarkan. Di abad ke-17, Makassar adalah kota dunia yang menjadi rujukan bagi pengembangan sains, bisnis, dan tata kota. 

Sejarawan Anthony Reid mencatat, Makassar sebagai kota paling ambisius dalam sains. Dahulu, transliterasi atas buku-buku berbahasa asing paling banyak terjadi di sini. Kitab pembuatan mesiu dari Andreas Moyona diterjemahkan ke dalam bahasa Makassar. Satu dari tiga teleskop Galileo Galilei didatangkan ke Makassar dan disimpan di Maccini Sombala (tempat melihat bintang).

Pada satu masa, Makassar menyimpan banyak kisah heroik dan keberanian, juga kecintaan pada ilmu pengetahuan, serta peradaban yang menjadi matahari di Nusantara. Sombaopu dulu adalah bandar paling sibuk di mana smeua bangsa pernah berniaga sebab menganut konsep mare liberum, kebebasan di laut. 

Sultan Alauddin, Raja Gowa yang memimpin Makassar itu, punya kalimat yang masyhur: “Tuhan menciptakan bumi dan lautan. Tanah dibagi-bagikan di antara manusia, tetapi samudra diperuntukkan bagi semuanya. Tak pernah terdengar bahwa pelayaran di lautan dilarang bagi seseorang, atau bagi satu kaum”

Tapi hari ini, level para calon pemimpin di Kota Makassar adalah hanya ingin membenahi kesemrawutan kota, mengatasi banjir, sembari beramah-ramah dan tersenyum manja pada para pengembang dan pebisnis kakap yang telah merenggut kenikmatan melihat matahari senja di Pantai Losari.

Jangankan merengkuh dunia dan langit, Makassar sudah lama menjadi bola yang digelindingkan para kapitalis, mulai dari yang merampas nikmat senja di Losari, merenggut Karebosi dari warga, menutup akses nelayan Mariso dari lautan, merampas sawah-sawah dan suara burung di Hertasning Baru, hingga memaksa publik untuk melihat kesemrawutan baliho dan kekacauan visual di jalan-jalan.

Saat membayangkan tengah berjalan-jalan di Makassar, saya terkenang dengan esai dari Ishak Ngeljaratan, seorang guru di sana, mengenai ada banyak hal yang hilang di tengah kita. Di antaranya adalah senyum ramah, keteduhan kota, dan juga nutrisi jiwa. 

Ishak benar. Ada banyak hal yang hilang.



Kisah Orang Super Kaya




Dalam satu konferensi berlatar ilmu sosial, saya pernah berkomentar mengapa kita selalu mengkaji orang-orang biasa yang marginal dan selalu menjadi obyek kebijakan? Mengapa kita sesekali tidak membahas orang-orang super kaya, militer yang jadi beking, serta pejabat negara yang melahirkan kebijakan itu?

Saat itu, konferensi membahas topik-topik seperti penggusuran, marginalisasi, kemiskinan, serta penyingkiran masyarakat adat dari lahan-lahan tambang. Para ilmuwan di konferensi itu seakan bersepakat kalau semuanya bermuara pada hasrat atas uang, serta kongkalikong pejabat, pengusaha kaya, dan militer. 

Tapi, saat itu, saya tak melihat ada satu kajian yang khusus membahas bagaimana etnografi orang-orang super kaya, bagaimana mereka membangun relasi dengan pejabat, apa nilai-nilai yang diyakini, serta bagaimana mereka melihat manusia lainnya. 

Bagi peneliti sosial, problemnya adalah akses pada orang marginal jauh lebih mudah. Menembus orang super kaya sulitnya bukan main. Anda harus melalui barisan sekuriti, staf, karyawan, hingga sekretaris yang menyusun jadwal. Anda harus bisa melalui anjing penjaga, yang mungkin anda anggap najis.

Padahal, sebagaimana halnya masyarakat marginal, kehidupan orang kaya adalah area misterius yang tak diketahui orang. Mereka memang sering mendapat publisitas. Tapi hanya pada sisi kesuksesan dan ekspansi yang mereka lakukan. 

Tak banyak yang bercerita tentang siapa mereka, seperti apa kepahitan hidup mereka, bagaimana mereka memulai karier dari nol, bagaimana mereka mendaki tangga-tangga kehidupan. Tak ada cerita bagaimana mereka menghabiskan waktu setiap hari, apakah memantau karyawan, ataukah sibuk cari arena bisnis yang baru.

Saat ini saya membaca dua buku mengenai dua orang super kaya Indonesia, yakni Ciputra dan Dato’ Sri Tahir. Kedua buku ini ditulis oleh Alberthiene Endah. Saya tertarik membaca titik balik atau the turning point, bagaimana tokoh ini yang tadinya orang biasa menjadi sosok luar biasa.

Saya baru menghabiskan satu buku, yakni mengenai Ciputra. Ceritanya menarik. Dia terlahir dengan nama Tjien Hoan di Parigi, Sulawesi Tengah. Bapaknya hanya pedagang kelontong yang kemudian ditangkap polisi Jepang dan tewas di tahanan. 

Dia menjalani masa kecil dengan trauma. Dia lalu bersekolah di Gorontalo, kemudian Manado. Dia malah pernah jadi atlet lomba lari yang mewakili Sulawesi Utara di ajang PON di Jakarta.

Kariernya bermula ketika dirinya lulus ITB. Dia membuka jasa konsultan arsitektur di garasi rumah. Sayang, bisnis itu jalan di tempat. Dia hanya dapat proyek kecil2. Dia tetap miskin. Itupun harus bersaing dengan mandor yang tidak belajar arsitektur. Di zaman itu, orang mengira untuk bangun rumah tak perlu arsitek. Cukup mandor.

Titik balik hidupnya bermula saat pindah ke Jakarta. Dia setiap hari mencari jalan untuk bertemu Gubernur DKI, Soemarno. Hingga suatu saat dia berhasil bertemu, kemudian ditantang untuk menata ulang kawasan Senen. 

Tantangan itu diterimanya. Dia sukses memimpin satu tim besar untuk menata ulang Senen, setelah sebelumnya banyak menggusur warga. Proyek Senen menjadi proyek monumental yang melejitkan namanya.

Dia lalu menjawab tantangan lain. Dia membenahi kawasan rawa-rawa di Ancol menjadi taman hiburan kelas dunia. Setelah itu dia membangun banyak perumahan dan gedung-gedung tinggi di Jalan Sudirman dan Thamrin. 

Dia juga membangun kota mandiri yakni Bintaro, kemudian kawasan Pondok Indah, yang dulu namanya Pondok Pinang. Dia juga membangun Bumi Serpong Damai (BSD) bersama Liem Sio Liong. Bahkan dia masuk negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Kesan saya adalah dirinya sosok yang tak pernah berhenti ketika sudah memulai. Masa lalunya yang miskin menjadi pelecut baginya untuk berbuat lebih. Kekuatannya adalah bisa membangun aliansi dengan pejabat pemerintah, berkoalisi dengan pengusaha lainnya, juga kemampuan mengendus mana yang bisa jadi ladang uang.

Sayang, tak ada cerita mengenai bagaimana caranya mengelola hubungan dengan pemerintah. Saya tak percaya jika hubungan itu hanya atas dasar profesionalitas. Saya rasa ada banyak permainan dan sisi gelap yang tak dibahas di sini, termasuk apa yang ditawarkannya hingga mendapat semua konsesi besar di atas tanah negara, yang berujung pada peminggiran masyarakat.

Saya mungkin berharap banyak pada buku ini. Padahal ini bukan buku tentang ekonomi politik, juga bukan riset sosial dengan perspektif kritis. Tapi setidaknya, saya bisa tahu filosofi hidupnya, motivasi serta kehebatannya dalam mengendus mana lahan yang bisa jadi uang. Saya bisa merasakan ambisi serta hasrat untuk sekaya-kayanya dan semakmur-makmurnya.

Seusai membaca buku ini, saya teringat artikel mengenai Chairil Anwar yang dahulu sering mangkal di Senen. Saya bayangkan betapa banyak manusia yang hilir-mudik dan lalu lalang di situ., mulai dari seniman hingga buaya darat. Tapi sejak Ciputra mengambil alih Senen, segala hal berubah di sana. 

Inilah harga kemajuan. Banyak yang tercerai-berai, tapi banyak yang datang dan menjadi tatanan baru. Pada kisah Ciputra, kita bisa merasakan bagaimana kota terus berevolusi di tengah dengus napas masyarakat kota yang selalu tak puas. 

Entah, apa kita sepakat atau tidak dengan perkembangan itu.



Jika Dunia Tanpa THE BEATLES


poster film

Serasa baru kemarin film Bohemian Rhapsody mengembalikan ingatan pada salah satu band musik legendaris yakni Queen. Kini, film Yesterday menjadi mesin waktu yang membangkitkan kenangan pada para musisi jenius asal Liverpool: The Beatles.

Dari kota Liverpool, personel The Beatles tidak saja membius dan merevolusi dunia dengan lagu yang memiliki lirik kuat, tapi juga filosofis. Selama sekian dekade, mereka menjadi ikon dari kejeniusan dalam bermusik, juga popularitas yang membumbung tinggi hingga mencapai level yang belum tentu bisa digapai musisi “jaman now.”

Film Yesterday dibuat dengan konsep komedi. Ini bukan kisah tentang masa muda The Beatles. Bukan pula cerita tentang Paul McCartney atau John Lennon. Sutradara peraih Oscar dalam film Slumdog Millionaire, Danny Boyle, mengambil premis yang amat cerdas yakni bagaimana dunia jika tak ada the Beatles.

Kisahnya dimulai dari Jack Malik (diperankan Himesh Patel), musisi lokal yang meniti karier dari panggung ke panggung, yang selalu ditemani manajernya yang cantik. Suatu hari dia merasa gagal dalam bermusik dan memutuskan hendak gantung gitar.

Dalam perjalanan dengan sepeda, dia mengalami kecelakaan. Saat itu semua listrik di seluruh dunia padam selama 12 detik. Saat dia sembuh dari perawatan, dia disambut rekan-rekannya yang menghadiahkannya gitar. Dia menyanyikan lagu Yesterday yang langsung memikat semua rekannya.

Saat ditanya kapan menulis lagu itu, dia lalu menyebut itu adalah lagu milik The Beatles. Rupanya, tak satupun di situ yang mengenal The Beatles. Jack lalu men-searching melalui Google, dan ternyata tak ada satupun informasi mengenai The Beatles. Bahkan ketika dia mengetik kata kunci John Lennon Paul Mc Cartney, yang muncul di layar Google adalah Pope John Paul.

Rupanya, banyak memori yang hilang. Hanya dirinya yang mengingat lagu-lagu the Beatles.

Jack lalu menulis ulang semua lirik lagu The Beatles, kemudian mulai memainkannya dalam banyak kesempatan. Dia mulai dapat banyak fans. Hingga akhirnya dia tampil di satu tayangan lokal. Keajaiban tak berhenti di situ. Seorang musisi terkenal Ed Sheeran mendatanginya lalu mengajaknya jadi bintang tamu di salah satu konsernya.

Jack benar-benar menikmati berkah dari kejeniusan musik The Beatles. Di depan keluarganya dia menyanyikan lagu Let It Be yang langsung membuat mereka terpesona. Bahkan saat ditantang Ed Sheeran untuk lomba menulis lagu dalam waktu cepat, dia langsung secara spontan menyanyikan lagu The Long and The Winding Road.

Jack dianggap sebagai musisi jenius yang menulis lirik-lirik indah. Manajer Ed Sheeran mengundang Jack untuk datang ke Hollywood. Dia ditangani oleh para pelaku industri yang melihat Jack sebagai produk. Beberapa lagu The Beatles yang dinyanyikan Jack mulai dipajang di website, dan dalam waktu cepat disukai oleh jutaan orang.

Jack siap-siap menikmati ketenaran. Tapi dia merasa ada yang kurang. Beberapa lirik lagu The Beatles hilang dari memorinya. Dia pun berangkat ke Liverpool demi menelusuri tempat-tempat yang dulu sering menjadi inspirasi bagi The Beatles. Dia mengunjungi Penny Lane, makan Eleanor Rigby, Abbey Road, hingga Strawberry Fields.

Saya menyukai bagian romansa antara Jack dengan rekannya Ellie (diperankan Lily James yang pernah bermain dalam Cinderella). Di film ini, Ellie tampil cantik sebagai teman kecil yang kemudian jadi manajer saat Jack belum sukses. Chemistry antara Jack dan Ellie benar-benar pas.


poster film
Tentu saja, bagian yang paling saya sukai adalah lagu-lagu The Beatles yang bertebaran di sepanjang film. Mulai dari Hard Days Night, I Saw You Standing There, I Wanna Hold Your Hand, Penny Lane, Back in the USSR, Something, All My Loving, juga Hey Jude. 

Salah satu adegan lucu di film ini adalah ketika Ed Sheeran menyarankan agar mengganti Hey Jude dengan Hey Dude. Katanya, Hey Dude akan lebih ‘nendang’.

Ternyata, tak cuma Jack sendiri yang mengingat lirik The Beatles. Dalam film, ada dua orang tua yang menemui Jack dan membawakannya Yellow Submarine (kapal selam kuning). 

Keduanya mendukung Jack sebab tidak bisa membayangkan betapa tragisnya dunia jika tidak mengenali karya musik jenius dari Paul MacCartney, John Lennon, George Harrison, dan Ringo Starr. Bahkan keduanya memberikan satu alamat yang kemudian didatangi Jack. Di situ ada satu personil The Beatles.

Saya menilai, sutradara Danny Boyle tak sekadar memberi karpet nostalgia bagi penggemar The Beatles yang menampilkan lagu dengan lirik filosofis yang kuat, tapi juga mengungkap sisi lain industri musik, khususnya posisi seorang penyanyi yang dilihat sebagai produk dari mata rantai kapitalisme. Bagian akhir film ini juga cukup berani dan mengejutkan.

Sutradara seakan ingin mengajukan satu diskusi, apakah The Beatles masih relevan di tengah generasi saat ini? Apakah liriknya masih kuat menancap di benak publik serta menjadi inspirasi bagi dunia di abad yang jauh dari perang ini?

Saya rasa dia ingin menjawab ya melalui film ini. Dia ingin mengatakan musik The Beatles akan tetap abadi dan selalu hadir di setiap zaman. Anak-anak milenial termasuk di Rusia yang dulunya bernama USSR, tetap akan mengidolakan grup band paling populer dalam sejarah ini.

Di zaman ketika perang dunia baru saja usai, lirik cinta The Beatles menjadi oase tempat orang-orang menemukan kedamaian. The Beatles pun menjadi ikon dari era ketika kapitalisme di bidang musik berutmbuh bak jamur di musim hujan. The Beatles adalah awal dari era British Invasion di bidang musik yang merambah ke Amerika Serikat dan negara-negara lainnya.

Sayangnya eksplorasi pada lirik The Beatles tidak dibahas di film ini. Akan menarik membandingkan pandangan John Lennon yang kerap pesimis, Paul Mc Cartney yang selalu optimis, dan George Harrison yang sangat spiritualis.

Mengenang The Beatles

Seusai menonton film, saya tergiang-ngiang dengan banyak lagu The Beatles. Saya memutar kembali beberapa lagu The Beatles yang berkesan. Beberapa lagu favorit saya yang tak muncul di film adalah Till There Was You, Norwegian Wood, Across the Universe, dan Baby It’s You, 

Bahkan saya sampai dua kali menonton tayangan Paul McCartney di acara James Corden Show. Saya menikmati saat-saat Paul berkunjung ke lokasi-lokasi yang dulu menginspirasi The Beatles.

Saat Paul Mc Cartney tampil di satu bar, saya langsung terkenang beberapa bait dalam buku Outliers yang ditulis Malcolm Gladwell. Dalam buku itu, Gladwell menjelaskan premis waktu 10.000 jam yang dibutuhkan seseorang untuk mencapai tahapan skill tingkat dewa. 

Ed SHreen, Lily James, dan Hamish Patel

Dia mencontohkan The Beatles yang pernah manggung di satu bar kecil di Hamburg selama 1200 kali di tahun 1964, dan hanya dibayar dengan minuman. Kata Gladwell, berkat kesempatan manggung, sekaligus kesempatan mengasah diri itu, The Beatles bisa menghasilkan karya-karya yang luar biasa seperti Sgt. Papers Lonely Heart Club Band dan White Album. 

Tapi, saya tak selalu setuju dengan Galdwell. The Beatles bisa seperti itu karena mereka memang jenius, punya bakat alam yang menjadikan mereka sebagai legenda, serta punya visi yang jelas dalam melihat dunia melalui musik. 

Sekadar latihan saja tak lantas membuat seseorang jadi legenda. Tapi diperlukan visi yang kuat, pandangan yang jernih, obsesi, ambisi, dan juga langkah-langkah kecil untuk menggapai semua mimpi itu. The Beatles punya segalanya untuk jadi legenda.

Saya terkenang satu lirik hebat yang ditulis The Beatles:

"Suddenly
I'm not half the man I used to be
There's a shadow hanging over me
Oh, yesterday came suddenly
Why she had to go, I don't know
She wouldn't say"




Ketika AMIEN RAIS Tinggalkan PRABOWO



Amien Rais berjalan cepat saat tiba di Kertanegara, Jakarta, Kamis (27/6). Di situ, semua anggota koalisi sedang menyaksikan siaran langsung sidang Mahkamah Konstitusi (MK) yang akan memutuskan sengketa pilpres. Amien langsung menemui Prabowo.

Beberapa jurnalis dan pengamat langsung mengeluarkan spekulasi. Sejumlah pengurus DPP PAN bercerita kalau hubungan Amien dan Prabowo agak memanas. Amien dikabarkan telah mengabaikan panggilan Prabowo di hapenya hingga lebih 30 kali. Ada apakah?

Amien keberatan karena Prabowo dikabarkan menerima tawaran dari Jokowi yang disebut majalah Tempo sebagai 212, yakni 2 kursi menteri, 1 kursi watimpres, dan 2 kursi pimpinan MPR. Masih ditambah pula garansi untuk mengamankan bisnis Prabowo.

Bagi Amien, perjuangan harus terus digelorakan. Tak ada kompromi. Ini atas nama umat. Pendapat Amien senada dengan orasi Abdullah Hehamahua di luar gedung MK. “Kalau rekonsiliasi Prabowo-Sandi mengakui kemenangan Jokowi demi mendapat beberapa kursi, itu namanya pelacur.”

Masih dari seorang pengurus PAN, demi memuluskan semua kesepakatan itu, persidangan di MK sengaja dipilih untuk mengulur waktu. Persidangan itu hanyalah exit plan menuju kesepakatan. Amien jelas meradang mendengar informasi itu. 

Amien lupa kalau politik adalah seni mengelola berbagai kemungkinan. Dalam politik, ada istilah: “the winner takes it all.” Pemenang menentukan semuanya, termasuk menentukan nasib pihak yang kalah.

BACA: Kisah di Balik Pengendali "All Jokowi's Men"

Di Indonesia, Prabowo adalah pihak yang paling paham betapa pahitnya menerima kekalahan bertubi-tubi. Dia sudah empat kali masuk arena untuk pemilihan presiden. Tahun 2004 dia mendaftar untuk konvensi Golkar. Tahun 2009 dia menjadi pasangan Megawati, yang kemudian kalah. 

Tahun 2014, dia maju sebagai capres bersama Hatta Radjasa. Di atas kertas, inilah momen terbaiknya. Apa daya, publik lebih suka pendatang baru yakni Joko Widodo, yang pernah diorbitkan oleh Prabowo sendiri. Tahun 2019, dia kembali maju untuk mengalahkan Jokowi yang telah menjadi incumbent.

Kali ini, semua kenyataan tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkannya. Dia masih menuding ada kecurangan, tetapi dia sendiri tidak punya bukti kecurangan. Semua tuduhan itu telah dimentahkan majelis hakin, yang tentunya telah melakukan kajian mendalam dan membuka kajiannya pada publik.

Ketika kemenangan Jokowi disahkan, maka kita akan segera menyaksikan aksi zig-zag para politisi yang akan mencari keseimbangan baru. Politisi kita akan menjadi semut-semut yang berusaha mendekati gula Jokowi. 

Saya menduga, akan ada beberapa perkembangan terbaru:

Pertama, Koalisi Adil Makmur diperkirakan akan menghitung hari. Setelah Demokrat minta koalisi ini dibubarkan, kini PAN juga meminta hal yang sama. Koalisi ini memang dibangun untuk sesuatu yang pramatis dan jangka pendek. Saat partai-partai politik melihat tujuan gagal tercapai, koalisi ini ibarat kapal karam yang tidak lama lagi masuk ke dasar samudera.

Koalisi ini tidak dibangun untuk sesuatu yang ideologis. Makanya, para pendukung tak perlu baper dan mengira koalisi ini akan selalu bertahan. Partai politik pada dasarnya akan selalu mencari keseimbangan baru. Saat peta politik berubah, semua kesepakatan juga berubah.

Kedua, melihat perkembangan terbaru, Gerindra akan merapat ke pemerintahan. Arus bawah partai jelas tak menginginkan skenario itu. Namun jika berpikir dalam konteks strategi serta target ke depan, posisi merapat ke pemerintah adalah solusi terbaik yang bisa diambil.

Bisa jadi, regerenrasi partai akan dimulai. Prabowo akan menyerahkan kursi ketua umum ke Sandiaga Uno. Tapi, pertanyaannya, apakah Prabowo bersedia, sementara Sandiaga belakangan menunjukkan sikap berbeda dengannya?

Semua partai akan fokus ke tahun 2024. Partai Demokrat lebih dulu move on. Partai biru ini sadar kalau tetap bersama Prabowo bukanlah pilihan. Sebab posisi kalah adalah kehilangan semua sumberdaya politik dan ekonomi. 

Demi menghadapi 2024, lebih realistis jika Demokrat bersama kubu pemenang. AHY bisa mendapat panggung yang setiap saat dapat sorotan. Dia cukup melakukan satu program yang hebat, maka namanya akan dielu-elukan, sebagaimana Jokowi ketika masih menjadi gubernur. Untuk program hebat itu tak sulit ditemukan. Dia di-backup oleh banyak pemikir di Yudhoyono Institute, termasuk di antaranya Rocky Gerung.

Ketiga, semua partai politik mulai saling bernegosiasi untuk menjadi pimpinan dewan dan MPR. Pengalaman tahun 2014 ketika semua opisisi menjadi pemimpin di alat kelengkapan dewan akan jadi pelajaran berharga. Kali ini situasinya akan sangat berbeda. Pemerintahan Jokowi akan lebih memperkuat posisinya di parlemen.

Semua partai politik, baik pendukung ataupun oposisi, akan mendekat ke pemerintah. Sebab pemerintah punya kekang untuk mengendalikan partai-partai. Kita bisa lihat pada apa yang terjadi di tahun 2014. Golkar dan PPP mengalami dualisme, sebelum semuanya dikendalikan pemerintah.

Keempat, kemungkinan besar, Yusril tidak akan diplot di posisi Menteri Hukum dan HAM. Sebab kursi menteri itu akan diisi oleh partai pemenang. Belajar dari Pemilu lalu, PDIP akan menempatkan sosok di kursi Mendagri dan Menteri Hukum. Dua posisi ini sangat penting. Satu untuk mengontrol birokrasi. Satunya untuk mengendalikan partai.

Kelima, Munas Golkar akan segera digelar. Kandidat yang bersaing adalah Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo. Airlangga membangun gerbong sendiri, namun Bamsoet akan didukung oleh gerbong Setya Novanto. Semuanya adalah loyalis Jokowi. Tapi, belakangan ada nama baru yakni Erick Tohir. 

Keenam, PAN juga akan menggelar muktamar. Zulkifli Hasan akan mendapat penantang baru, yang diperkirakan akan menemui Jokowi dan memberi janji membawa gerbong PAN ke sana. Jika Jokowi mau, dia bisa membuat partai itu mengalami dualisme, kemudian proses hukum akan memenangkan pendukung pemerintah.

Bagi PAN, muktamar ini akan jadi fase transisi untuk menentukan apakah Amien Rais masih jadi patron atau tidak. Di kalangan internal PAN ada bisik-bisik kalau selagi Amien masih bisa mengatur-ngatur di dalam partai, maka kader lain tak punya kesempatan untuk berkembang.

Tapi jika posisi Amien Rais masih kuat, PAN akan memilih jalur oposisi. Andai Gerindra juga oposisi, maka belum tentu PAN akan mau segerbong dengan Gerindra. PAN akan memilih untuk membangun gerbong sendiri, kemudian menarik PKS, partai yang menang banyak di pemilu lalu.

Ketujuh, Partai Nasdem akan semakin besar. Setelah menang banyak di pileg barusan, partai ini akan kembali fokus memenangkan pilkada-pilkada. Di kementerian, partai ini mengincar posisi jaksa agung. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, maka obsesi untuk jadi tiga besar di Pemilu 2024 akan segera terwujud. Partai ini belajar dari PDIP yakni kuasai struktur dan birokrasi, setelah itu bikin aksi populis.

Kedelapan, semua partai akan membenahi strategi dan perencanaan. Pelajaran dari empat kali kekalahan Prabowo adalah mesti ada perencanaan strategi yang matang, serta lebih fleksibel dalam mengambil konsituen.

BACA: Saat Jokowi Bangkrut

Branding Prabowo terlalu identik dengan nasionalis ala Gerindra yang bersintesa dengan kekuatan Islam ala FPI. Untuk kontestasi di level kecil semacam pilkada DKI, strategi ini cukup berhasil. Tapi diterapkan untuk Indonesia yang skalanya besar, strategi ini perlu ditinjau lagi.

Kedepannya, semua politisi akan lebih berhati-hati. Politisi akan berusaha lebh inklusif sehingga semua kalangan bisa disentuh dan diyakinkan. Politisi akan lebih taktis dan memainkan banyak skenario demi kemenangan.

Kesembilan, pelajaran buat kita semua adalah politik kita digerakkan oleh pragmatisme atau kepentingan jangka pendek. Semua partai politik sedang mencari posisi yang tepat untuk tetap survive. Bagi Gerindra dan sejumlah oposisi, pilihan bergabung dengan pemerintah adalah pilihan strategis.

Tapi saya melihat itu bisa jadi “jebakan betmen.” Oposisi merapat ke pemerintah laksana pasukan kalah perang yang siap diberi takdir apa pun. Pemerintahan Jokowi sedang butuh legitimasi. Ketika semua tawarakan diiyakan, maka Anda bisa tersandera. Basis massa rakyat akan kabur, di sisi lain, pemerintah bisa kapan saja memutus urat nadi saat sedang menjabat.

Anggap saja kader Gerindra jadi menteri. Untuk sesaat, semua demonstrasi mereda. Tapi pendukung setia Gerindra akan apatis dan kabur. Setahun berikutnya, saat menteri itu di-reshuffle Jokowi. Maka game over. Massa hilang, kursi kekuasaan juga hanya sejenak.

Pelajaran bagi netizen adalah jangan baper. Para elite kita hanya ribut di depan televisi. Di balik layar, mereka tertawa bersama, kemudian saling kongkalikong siapa dapat apa. Benar sekali ungkapan bahwa kita rakyat akan selalu jadi pihak yang kalah.

*** 

Amien Rais tengah merenung. Dia membayangkan kerja keras bersama tim Prabowo yang belum berhasil. Di bulan Juni 2018, dia sempat mengeluarkan pernyataan "Tuhan malu kalau tidak mengabulkan doa umat yang ingin presiden segera diganti." Dia pun pernah menyebut pilpres seperti Perang Badar.

Kini, semua ketentuan Allah telah berlaku. Sayang, saat takdir itu bekerja, Prabowo memandang peperangan ini dengan realistis. Dia bukan lagi pejuang di medan laga yang memilih gerilya. Dia memilih untuk meletakkan senjata dan bergabung dengan lawannya.

"Semoga saja Prabowo tidak bersedia bergabung," ujarnya.



Gerilya Calon Menteri


ilustrasi

Biarpun sudah cukup lama di kota, saya tetap merasa sebagai orang kampung. Saat ada telepon dari seorang dirjen di satu kementerian yang mengajak makan-makan di restoran, saya girang setengah mati. 

Saya bayangkan akan bebas memilih menu, tanpa harus memikirkan isi dompet. Di kampung, saya amat bangga saat bertemu pejabat kecamatan. Tapi yang ngajak makan-makan ini adalah seorang dirjen, eselon satu. Betapa bangganya saya.

Singkat kata, bertemulah kami di satu restoran di kawasan Menteng. Saya bebas memilih menu apapun. Tapi setelah makan, kami berbincang. Barulah saya ingat pepatah Inggris: "there's no free lunch." Tak ada makan siang gratis. Rupanya saya akan jadi pendengar dari mimpi2 bapak ini yang ingin jadi menteri kabinet. Saya merasa seperti Nobita yang dipaksa mendengar nyanyian Jaian, dan celoteh Suneo.

Saya ingat di layar kaca, sidang MK belum usai. Tapi di kalangan pendukung dan oposisi, hasilnya seakan sudah ditebak. Orang-orang sudah lama gerilya dan melobi sana-sini demi posisi menteri. Di negeri ini, sekadar pintar tak cukup. Anda mesti dikenal. Anda mesti ditahu kapasitasnya. Anda mesti punya mimpi yang bersesuaian dengan visi seorang pemimpin.

Jalan ke arah kursi menteri cukup terjal. Kalau Anda punya partai politik, maka jalannya lebih landai. Anda tinggal sikut saingan di partai. Jika hanya andalkan kecerdasan dan profesionalitas, Anda mesti punya sesuatu untuk bisa tampil glowing di tengah begitu banyaknya orang hebat di negeri ini.

Jika syarat itu terpenuhi, Anda juga mesti punya jejaring dengan organisasi massa yang punya banyak anggota serta berpengaruh. Jika tak ada link dengan NU, Muhammadiyah dan KAHMI, maka Anda bisa andalkan jaringan organisasi alumni kampus. Yang tak kalah penting, nama Anda harus masuk radar para pencari bakat. Ini penting, tapi sulit.

Bapak ini tak ingin saya sekadar jadi pendengar. Dia mengeluarkan sebundel dokumen yang harus saya baca. Dia ingin mendengar masukan saya atas berkas calon menteri yang akan diajukannya ke banyak lembaga dan organisasi.

Karena sudah ditraktir makan, saya tak enak hati jika tidak membantunya. Biarpun saya bilang kalau pengalaman saya hanya review proposal acara lomba panjat pinang di kampung, dia ngotot agar saya tetap membaca berkasnya. Yah, terpaksa saya berpura-pura jadi konsultan branding.

Saya melihat CV-nya puluhan lembar. Saya juga lihat berbagai sertifikat, penghargaan, dan pengalaman tampil di panggung internasional. Saya sarankan agar meringkas semua dokumen itu. Bikin pendek, sederhana, tapi kuat.

Saya ingat waktu ajukan aplikasi beasiswa luar negeri. Pelamar cukup membuat dua lembar catatan, yang isinya berupa study objective, yakni rencana2 dan target2 jika menjadi mahasiswa. Satunya lagi adalah personal statement, yang isinya ringkasan perjalanan hidup, pengalaman penting, serta mimpi-mimpi di masa mendatang. 

Saya menyarankan agar dia membuat dua esai yang bertutur. Satu tentang mimpi-mimpi dan rencana-rencana jika dia memegang jabatan itu. Satu lagi tentang perjalanan hidup dan pengalaman, serta masa depan yang ingin dia gapai.

Dalam esai sependek itu, dia harus bisa meyakinkan orang. Pilih diksi dan kalimat yang bertenaga. Jangan terlalu mengawang, tapi hadirkan sesuatu yang konkret dan berangkat dari pahaman yang jernih. Hadirkan optimisme bahwa Indonesia akan lebih baik jika sejumlah prasyarat dipenuhi, termasuk menjadikan dirinya sebagai menteri.

"Bagaimana caranya membuat esai semacam study objective yang kuat?" dia bertanya.

Saya terdiam sesaat. Saya ingin jawab supaya dia rajin membaca RPJMN, sering-sering melihat visi-misi capres pemenang yang diajukan ke KPU, juga rajin memantau tayangan debat capres. Amati semua diksi dan keyword dari capres pemenang. Jika dia punya software N-Vivo yang dipakai pengolah data kualitatif, kita bisa mengolah diksi yang dipakai capres itu untuk membuat esai yang bertenaga.

Saya belum sempat sampaikan masukan itu. Sekonyong-konyong, saya teringat postingannya di berbagai medsos yang rajin membagikan hoaks dan kebencian mengenai pemimpinnya. Saya ingat argumennya yang basisnya adalah kebohongan yang dibuat para buzzer. Saya ingat berbagai tautan media abal-abal yang dianggapnya sebagai kebenaran. 

Sekarang, di depan saya, dia tiba-tiba bercerita mimpinya untuk jadi menteri. 

"Yos, apa kamu bisa bantu siapkan dokumen dan esai yang menggugah itu?"

Kali ini saya benar-benar terdiam. Berharap bisa segera kabur dari tempat itu.



Kisah di Balik Pengendali “All Jokowi’s Men”


ilustrasi kampanye Jokowi dan Ma'ruf Amin (desain: Hari Prast)

Setiap pemimpin selalu punya strategi komunikasi politik untuk menggapai tangga kekuasaan. Jika Hitler punya Joseph Goebbels sebagai pengatur strategi komunikasi, maka siapakah yang pertama kali mengatur strategi politik untuk Jokowi yang tadinya hanya seorang tukang kayu? 

Banyak yang mengira, Jokowi adalah mutiara yang ditempa ahli strategi komunikasi politik keluaran program doktor di kampus-kampus luar negeri. Padahal, sosok pertama yang mengarahkan langkah politik Jokowi adalah seorang jurnalis, alumnus arkeologi UGM.

Karier dan CV-nya mungkin tidak seberapa mentereng. Tapi dia membuat sejarah dengan mengorbitkan seorang tukang kayu menjadi walikota dua periode, gubernur satu periode, lalu jadi presiden dua periode. 

Pada pria itu, kita menemukan beberapa pelajaran strategi komunikasi politik yang belum tentu kita dapatkan di kampus-kampus.

*** 

Tadinya, Jokowi bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang pengusaha mebel asal Solo yang bisnisnya mulai membaik setelah diterpa krisis. Dia pun tak punya latar belakang pengalaman organisasi. Bersama rekannya, dia ikut mendirikan Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia (Asmindo) sebagai wadah bersama.

Suatu hari, dia berjalan-jalan menyusuri kota Solo. Dia menyaksikan banyak kesemrawutan. Dia mulai gelisah saat memikirkan bahwa banyak hal yang seharusnya bisa dikerjakan. Kepada rekan-rekannya, dia bercerita banyak. Diskusi itu mengerucut pada satu kesimpulan: dirinya harus maju menjadi calon walikota.

BACA: Saat Jokowi Bangkrut

Secara suka rela, banyak orang mulai bergerak. Ada yang melobi partai. Ada pula yang mencari siapa yang akan menjadi pasangan. Bahkan ada pula yang mulai membuat fundrising atau pengumpulan dana.

Pada saat itu, Jokowi bertemu dengan pria bernama Anggit Noegroho. Anggit bekerja sebagai jurnalis di Solopos, yang kemudian menjadi pemimpin redaksi Joglo Semar. Jokowi yang tidak banyak paham politik mendapatkan banyak pencerahan dari Anggit, seorang jurnalis yang sering meliput politik. Kebetulan pula, di sela-sela kerja jurnalis, Anggit membuka jasa konsultan komunikasi.

Jokowi dan Anggit sering berdiskusi tentang strategi politik. Mereka membahas banyak topik, mulai dari hal simpel hingga hal yang agak berat. Saat mendiskusikan pakaian, Anggit menyarankan Jokowi untuk memakai batik motif godhong kates atau daun pepaya. 

Anggit, alumnus arkeologi UGM ini, meyakini, daun pepaya adalah simbol rasa pahit yang membawa kesembuhan. Banyak manfaat kesehatan yang bisa didapatkan dari daun pepaya yang pahit. Bagi Jokowi, simbol daun pepaya ini membawa pesan kalau perjuangannya di Solo akan penuh kepahitan demi menyembuhkan kota itu. 

Anggit tak cuma merumuskan filosofi dan pilihan pakaian. Dia juga membuat survei awal yang menunjukkan keterpilihan Jokowi hanya 10 persen. Mereka menjadikan itu sebagai titik awal untuk membuat berbagai langkah politik.

Dalam buku Jokowi Menuju Cahaya yang ditulis Alberthiene Endah, Jokowi bercerita dirinya sangat menyukai diskusi dengan Anggit. Pemikiran Anggit sederhana, berorientasi rakyat, serta ngena. Jokowi dan Anggit adalah dua sisi mata uang koin yang saling melengkapi. Anggit merumuskan strategi, dan Jokowi menjalankan strategi itu.

Anggit Noegroho

Pemikiran Anggit yang sederhana ini bersesuaian dengan filosofi Jawa mengenai ilmu godhot yakni mencari pemecahan masalah dengan berpikir sederhana. Salah satu solusi yang ditemukan adalah temui masyarakat, ajak berbicara, serta dengarkan kata hati mereka.

Jokowi menjadikan turun langsung bertemu masyarakat itu sebagai strategi. Saat ditanya jurnalis, apa nama strategi itu, Jokowi kebingungan. Dia lalu menemui Anggit dan berdiskusi. 

“Masuk dan mengitari sampai ke tempat terdalam itu namanya blusuk, Pak. Begini saja, kita kasih nama gaya kampanye ini blusukan. Sementara itu dulu. Nanti kalau kita sudah ketemu kata yang lebih tepat tinggal kita revisi,” kata Anggit.

Ternyata Jokowi malah suka nama itu. Dia mendatangi warga dan bersalaman. Seorang anggota tim menghitung kalau Jokowi telah bersalaman dengan 37 persen jumlah penduduk Solo. Berkat strategi blusukan, dia terpilih menjadi walikota.

Anggit tidak lantas meninggalkan Jokowi. Dia tetap membantu Jokowi untuk merumuskan banyak hal penting. Solo berbenah. Nama Jokowi tidak hanya bergema di Solo saja, tetapi seluruh Indonesia. Perlahan kemajuan Solo menjadi kisah yang tersebar ke mana-mana. Nama Jokowi bergema hingga DKI Jakarta.

***

Hari itu, 17 Maret 2012, ponsel Jokowi berdering saat sedang menonton Opera Van Java yang digelar di Stadion R Maladi, Solo. Sebuah SMS masuk ke ponselnya. Pengirimnya adalah Megawati Sukarnoputri, mantan presiden yang kini jadi ketua umum partai. Isinya, Jokowi mesti tiba di Jakarta tepat pagi hari.

Bersama Anggit, serta ajudannya Hanggo, mereka berangkat dengan pesawat paling pagi. Ternyata di DPP PDIP, dia disambut meriah. Semua jurnalis dan politisi yang hadir bertepuk tangan ketika dirinya datang. Semua orang sudah tahu kalau Jokowi akan didorong PDIP menjadi calon Gubernur DKI Jakarta.

Seusai pertemuan, Jokowi mencari hotel untuk menginap bersama Anggit dan Hanggo. Jokowi sekamar dengan Anggit sehingga mereka bisa leluasa berbincang. Jokowi berkata: “Anggit, sekali lagi ini terjadi. Semakin saya menolak, semakin jalan saya dimudahkan.”

Esoknya, Jokowi yang dipasangkan dengan Ahok hendak mendaftar ke KPU. Jika di Solo, Jokowi memakai batik godhong kates, maka harus ada identitas di Jakarta. Terbersit ide tentang kemeja kotak-kotak. 

ilustrasi Jokowi saat blusukan di Bali (desain: Hari Prast)

Jokowi bersama Anggit dan Hanggo berkeliling toko pakaian di Tebet, dekat kantor PDIP untuk mencari baju kotak-kotak. Lantaran rapat, Anggit bergerak sendirian. Dia pun memesan dua pasang dalam berbagai ukuran untuk Jokowi dan wakilnya. 

Tak cuma itu, Jokowi mendengar masukan Anggit agar mendaftar ke KPU dengan mengendarai bus kopaja. Singkat kata, kerja keras Jokowi terbayar. Dia terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta. Kembali, sejarah baru tercipta.

Bahkan sejarah baru tak berhenti di situ. Jokowi maju sebagai calon presiden, dan dicatat sejarah sebagai orang sipil pertama yang memenangkan pemilihan langsung di Indonesia. Kariernya melesat bak meteor. Dimulai dari walikota, kemudian gubernur, setelah itu presiden.

Dalam semua kerja-kerja politik itu, Anggit selalu terlibat. Bersama beberapa orang, Anggit membentuk tim yang dinamakan alap-alap. Tim ini bertugas untuk menentukan ke mana saja Jokowi hendak melakukan blusukan. Tim ini mengolah semua informasi dan merekomendasikan apa saja keputusan yang sebaiknya dipilih Jokowi.

Dalam Majalah Tempo, edisi 21-27 Januari 2012, tim alap-alap ini dinamakan “All Jokowi’s Men.” Tempo mencatat, tim itu menggodok semua isu, menyediakan data, dan memperkirakan dampaknya. Dalam tim ini, tak ada satu pun orang partai. Semuanya adalah orang dekat Jokowi yang dibawa dari Solo.

Peran Anggit tidak saja sebagai pengolah semua informasi. Dia juga menjadi orang kepercayaan Jokowi yang mengurusi segala hal. Bahkan Anggit mengatur perabot di rumah jabatan Jokowi. Bahkan tempat tidur didatangkan khusus dari Solo, yang pernah dibuat sendiri oleh Jokowi. “Bapak merasa nyaman dengan tempat tidur ini,” kata Anggit.

Dalam buku Menuju Cahaya, Jokowi bercerita suasana saat dirinya terpilih sebagai presiden. Dia memanggil Anggit dan memintanya secara khusus untuk tetap mendampinginya. Anggit diberi jabatan resmi sebagai Sekretaris Presiden yang menentukan semua jadwal serta kunjungan Jokowi ke mana pun. 

“Dia telah mendampingi saya selama kampanye dan memimpin Solo, serta Jakarta. Dia tak pernah mau mendapatkan jabatan khusus, padahal pemikirannya sangat berarti. Setelah jadi presiden, saya tidak menginginkan hubungan tidak resmi. Saya memanggilnya secara khusus dan memintanya untuk memangku jabatan resmi,” kata Jokowi.

*** 

Tentunya, ada banyak pihak yang mendampingi dan berkontribusi pada kemenangan Jokowi. Untuk kontestasi sebesar pilpres, pasti ada banyak tim yang terlibat langsung di lapangan. Mulai dari tim desain, tim komunikasi politik, hingga tim pemenangan lainnya.

BACA: Bukan Jokowi di Media Sosial

Tapi, tim Anggit adalah tim yang konsisten mendampingi Jokowi sejak maju menjadi walikota, hingga gubernur dan pemilihan presiden. Kita bisa katakan, inilah tim sukses yang paling berhasil dalam sejarah republik ini. Inilah tim dan konsultan politik, yang tadinya bergerak dan menang di pilkada lokal, kemudian bertarung dan tetap menang di level pilpres.

Seorang walikota di satu daerah di kawasan timur Indonesia tak habis pikir mengapa Jokowi yang tadinya sesama walikota kok tiba-tiba menjadi presiden. Bagi praktisi komunikasi, rahasianya terletak pada kemampuan mengemas branding dengan baik, serta konsisten menjaga branding itu.

Jika kita percaya bahwa politik adalah kerja-kerja kolektif  yang bermula dari bawah serta direncanakan dengan matang, maka kerja-kerja politik tim Anggit adalah kerja yang paling efektif dalam mempersiapkan seorang kandidat, mulai dari level lokal, hingga nasional. Tim ini menepis isu, melawan hoaks, kemudian menentukan apa wacana positif yang dibagikan kepada publik. 

Banyak orang penasaran dengan chemistry mengapa Jokowi begitu percaya pada tim ini, serta totalitas kerja yang ditunjukkan tim ini. Padahal dengan melihat bagaimana Jokowi, maka jawabannya mudah ditemukan. 

Jokowi adalah tipe pengusaha yang tidak mudah percaya kepada siapa pun. Tapi sekali dirinya percaya, maka kepercayaan itu akan dipegang teguh sampai kapan pun, sepanjang yang dipercayai bisa menjaga kepercayaan itu. 

Jokowi bersama enam presiden RI lainnya (desain: Hari Prast)

Selain itu, Anggit dikenal sebagai figur yang tidak pernah meminta apa pun kepada Jokowi. Dia dan timnya bekerja ikhlas, dengan hasil yang efektif. Simbiosis mutualisme yang dibangun dengan Jokowi menjadikan kerja tim itu  menjadi sangat terorganisir dan rapi.

Pelajaran yang bisa dipetik dari kerja-kerja tim kecil yang selama ini mendampingi Jokowi adalah Anda bisa punya berbagai gagasan hebat, tapi gagasan itu harus dibumikan dengan sederhana, dalam langkah-langkah politik yang tampak sederhana, tapi punya visi besar yang bisa bergema di semua wilayah.

Setiap orang bisa membuat konsep dan branding. Anda tak perlu lulus dari kampus besar dunia untuk sekadar bisa membuat konsep dan branding. Tapi, tidak semua orang tahu bagaimana membumikan serta menjaga ritme sehingga branding itu tetap hidup, berkembang, dan menyebar ke mana-mana.

Di titik ini, kita mesti belajar pada simbiosis antara Anggit dan Jokowi. Anggit punya kontribusi ide, dan Jokowi menjalankannya di lapangan. Sinergi keduanya adalah awal dari harmoni dan efektivitas kerja-kerja tim. Sinergi keduanya adalah bagian dari sejarah bangsa Indonesia yang telah memilih seorang presiden dari kalangan rakyat jelata.

Sebegitu besarnya peran Anggit, namun saat ditanya salah satu media online tentang perannya selama ini mendampingi Jokowi, dia hanya menjawab singkat: “Ah, siapalah saya.”