Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Lelaki BUGIS yang Menikah dengan BADIK


seorang penari mengacungkan badik (foto; Yusran Darmawan)

Badik itu bergerak. Di tangan pemiliknya, badik itu seakan menentukan sendiri ke mana hendak bergerak. Badik itu lalu menunjuk seseorang yang tak jauh dari itu. Pemilik badik itu tersenyum. Dia sedang mendemonstrasikan salah satu kemampuan badik itu yang bisa mengenali siapa saja orang sakti di ruangan itu.

Saya bertemu komunitas anak-anak muda yang menggemari badik dan berbagai besi di Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Mereka mengajak saya untuk ngopi setelah sebelumnya makan-makan. Saya bertemu mereka di sela-sela acara Festival Keraton Nusantara (FKN) yang diadakan di kota itu.

Pemilik badik itu adalah lelaki berusia 40-an tahun. Penampilannya jauh dari kesan seorang pendekar memakai badik. Dia bekerja sebagai kontraktor. Dia tampak seperti kalangan menengah ke atas. Matanya pun teduh, jauh berbeda dengan mata orang yang suka berkelahi.

Sebut saja namanya Baco. Dia bercerita kalau dirinya membawa badik itu ke mana pun dia pergi. Badik itu disimpan dalam tas pinggang. Badik itu memberinya rasa percaya diri, ketenangan, serta keberanian dalam membuat setiap keputusan. Badik itu memberinya rasa aman secara psikologis yang memberinya kekuatan.

Saya tak terlalu paham kekuatan seperti apa yang dihadirkan badik itu. Saya tidak menyangka, di era big data dan artificial intelligence, masih banyak anak muda yang menggemari badik dan berbagai besi. Mereka membawa badik dengan penuh kebanggaan. Badik itu menjadi benda seni yang tak ternilai harganya.

Di ajang FKN, mereka tak tertarik mengamati pagelaran tari dan seni budaya. Mereka lebih menyukai nongkrong di satu ruang pameran benda pusaka yang menampilkan badik, keris, parang, dan berbagai senjata lainnya.

Baco bercerita kalau dia sampai dini hari di lokasi pameran benda pusaka. Mengapa? “Sebab pemilik pusaka akan mengeluarkan pusaka andalannya saat tengah malam. Mereka tidak mau mengeluarkan di siang hari sebab khawatir kalau kekuatan pusakanya bisa disedot oleh seseorang di situ,” katanya.

Dia memberi saya informasi menarik kalau ternyata kekuatan pusaka bisa diambil dan dipindahkan. Saya pikir ada semacam hacker yang bisa meretas kekuatan satu pusaka, kemudian mengambilnya lalu disimpan ke pusaka lain. Keren juga.

Saya teringat Christian Pelras yang mengatakan bahwa sejak ratusan tahun lalu, badik telah menjadi identitas bagi lelaki Bugis Makassar. Badik tidak saja digunakan untuk pertahanan diri, tetapi juga untuk memberikan kharisma dan rasa percaya diri bagi pemiliknya.

Ada yang mencatat, sebelum nama Sulawesi populer, sebelumya pulau besar ini dinamakan Celebes. Nama ini diperkenalkan oleh seorang yang berkebangsaan Portugal bernama Antonio Calvao pada tahun 1563. Celebes terdiri atas dua suku kata. Cele yang bermakna keris, badik, atau kawali. Bessi yang bermakna besi.

Sejarawan Anthony Reid pernah menulis besi Luwu (bessi ussu) yang disebut sebagai besi terbaik yang kemudian menjadi komoditas dagang di era Majapahit. Besi Luwu mengandung meteorit dan feronikel sehingga menjadi pamor bagi pembuatan keris di Jawa. Konon, keris Empu Gandring dibuat dari bahan besi Luwu.



Dalam buku Ensiklopedi Keris disebutkan bahwa besi Luwu di pasaran dikenal dengan nama Bessi Pamorro, sampai dengan tahun 1920 masih dijumpai di pasar Salatiga dengan harga per kilo setara dengan 50 kg beras.

Bagi sejumlah kalangan di masyarakat Bugis dan Makassar, badik adalah keharusan. Itu terlihat pada ungkapan dalam bahasa Bugis yang berbunyi “tannia ugi narekko de’napunnangi kawali. ” Artinya bukan seorang Bugis jika tidak memiliki badik.

Di masa saya kuliah di Makassar, banyak teman dan sahabat yang membawa badik ke mana pun pergi. Saya pikir di masa kini sudah tidak banyak orang yang membawa badik. Tapi anak-anak muda di hadapan saya ini melihat badik seperti kekasih yang dibawa ke mana pun, dirawat dengan penuh cinta, serta sering ditimang dan dipamerkan.

Bahkan mereka tak segan-segan mengeluarkan biaya berapa pun untuk membeli pusaka yang disukai. Hubungan antara seseorang dan badik serupa hubungan dua kekasih. Kata Baco, dalam beberapa kasus, badik itu memilih sendiri siapa tuannya.

Dia bercerita tentang badik yang dipegangnya itu. Pada mulanya, dia berkunjung ke rumah temannya. Dia merasakan ada aura kuat benda pusaka di situ. Rekannya lalu bilang, kalau ada pusaka maka itu akan menjadi miliknya. Dia lalu mendatangi satu lemari, kemudian membuka laci bawah. Badik itu menyembul. Dia pun menemukan dua badik lainnya di situ.

Kadang, badik atau pusaka muncul saat sedang menggali. Bentuknya seperti batu atau fosil yang lama terpendam, tapi masih bisa berkarat. Sering pula, badik didapatkan dengan cara membeli.

Sebagai kontraktor, Baco sering mendapatkan badik dari para pekerja konstruksi, yang kebanyakan datang dari Makassar. Baco yakin para pekerja selalu membawa badik, Biasanya, dia akan tanya berapa maharnya kemudian membeli.

Di kalangan mereka yang bertransaksi badik, kata mahar sering digunakan untuk menggambarkan biaya yang harus dikeluarkan. Kata ini menunjukkan betapa berharganya badik sehingga hubungan antara badik dan pemiliknya adalah serupa hubungan pernikahan. Lelaki itu meminang badik dengan mahar tertentu.

***

SUASANA ruang pameran pusaka di dekat Istana Kedatuan Luwu tampak lengang. Hanya ada sedikit orang yang mondar-mandir di ruangan itu. Terdapat beberapa rak kaca yang isinya berbagai jenis pusaka.

Saya datang ke ruangan pamer ini karena tertarik dengan perbincangan di warung kopi. Baco mengajak saya untuk menyaksikannya langsung. Di situ, saya melihat beberapa bilah keris dengan sarung, badik, parang, hingga pusaka lainnya. Saya tertarik dengan satu badik yang gagangnya keperakan di sudut ruangan.

Salah seorang penjaga pameran mendekat. Dia lalu menjelaskan: “Ini badik Makassar. Lihat kale atau bilah yang pipih. Lihat juga battang atau perut yang buncit. Ujungnya atau cappa runcing dan tajam. Beda dengan badik Luwu yang lurus,” katanya.

Saya terus menatap badik itu. Penjaganya kembali berkata, “Sayang sekali badik ini sudah berjodoh. Dia akan kembali ke asal. Tadi ada orang Makassar yang bayar maharnya 26 juta rupiah.”

badik Makassar yang terjual 26 juta rupiah

Hah? Saya tersentak dan mundur teratur. Saya tidak menyangka kalau badik bisa dinilai semahal itu. Di ruangan itu, kebanyakan pusaka memang dihargai mahal. Malah ada yang lebih 50 juta rupiah. Ada pula yang tak bersedia dilepas, berapa pun harganya.

Baco menjelaskan, badik itu dihargai mahal karena dua hal. Pertama, fisik yakni bilah besi yang digunakan serta pamor yang memberikan kesan tentu saat melihat badik itu. Kedua, tuah atau isi yang ada dalam badik itu.

“Ada jenis badik yang punya uleng puleng dan battu lappa, sejenis motif pada besi. Kalau dua hal ini ada pada badik, maka akan membawa kebaikan bagi pemiliknya. Orang juga seiring mencari mabalesse atau retakan di atas punggung. Ini juga memudahkan rezeki pemiliknya,” katanya.

Banyak juga yang mencari badik untuk keperkasaan. Para pendekar atau jagoan biasanya ingin memiliki badik ini agar kelak bisa digunakan saat pertarungan. Tapi di masa kini, rasa percaya diri itu menjadi sangat penting untuk negosiasi bisnis, memasuki arena politik, atau pun untuk melobi.

Saya pikir manusia modern butuh sesuatu yang memberinya energi untuk melakukan banyak hal. Pada titik ini, badik menyimpan banyak pesan kuat, serta narasi yang memungkinkan seseorang menimba keberanian masa lalu kemudian menerapkannya di masa kini. Manusia butuh narasi dan kekuatan untuk menjalani hidup yang penuh tantangan.

Saat hendak meninggalkan ruangan, penjaga tadi menyuruh saya menyentuh satu badik yang dibawanya. Saya coba merasakan energi dari badik itu, sebagaimana yang dirasakannya. Tapi saya gagal menemukannya. Malah, yang melintas di pikiran saya adalah bait-bait puisi Berlayar di Pamor Badik dari penyair Madura yakni D Zawawi Imron:

Kata-kata dan peristiwa
telah lebur pada makna
dalam aroma rimba dan waktu

Hanya seutas pamor badik, tapi
tak kunjung selesai kulayari




Tenunan MANDAR di Bandara Hasanuddin




Biarpun orang Mandar kini berada di wilayah Sulawesi Barat, karya budaya mereka tetap dicintai oleh orang Sulawesi Selatan. Lihat saja langit2 Bandara Hasanuddin, Sulsel, yang dihiasi motif tenun Mandar.

Motif tenun Mandar ini jadi saksi buat mereka yang datang dan pergi dari sulsel. Motif tenun Mandar itu membuat saya terkenang pada pesan dari seorang sahabat di Majene:

"Inai-inai mattongan-tongan na nalolongani akkattana." Siapa yang bersungguh-sungguh dia yang dapat.

Selamat pagi Makassar.


Letkol Ratih Pusparini yang Menginspirasi


Letkol Ratih (depan tengah) berpose dengan rekannya sesama pasukan perdamaian PBB

Dia tersenyum ketika menyambut kedatangan saya di Gedung Lemhanas, Jakarta. Beberapa kali kami janjian, tapi selalu gagal ketemu. Saya pikir dia seorang militer yang kaku dan selalu serius. Di luar dugaan saya, dia sangat menyenangkan dan selalu punya banyak topik untuk dibahas.

Perempuan itu bernama Letkol Ratih Pusparini. Dia adalah tentara perempuan Indonesia pertama yang terjun dalam misi perdamaian PBB. Tahun 2008, dia ikut dalam misi Pasukan Garuda di Kongo. Dia menjadi military observer.

Sebagai perempuan, dia memiliki akses untuk memasuki wilayah yang tidak bisa dimasuki militer laki-laki. Dia tetap menggunakan pendekatan keibuan ketika berhadapan dengan perempuan dan anak-anak.

“Kami berhasil memasuki satu desa dan mendapatkan informasi mengenai kekerasan seksual di sana. Regu sebelumnya gagal mendapatkan informasi itu karena tidak ada perempuan di sana,” kata perwira TNI Angkatan Udara ini.

Ketika Ratih datang, ibu-ibu dan anak kecil akan mendekat dan bercerita tentang situasi yang mereka hadapi. “Kami adalah mata dan telinganya misi. Begitu ada berita tentang perkosaan dan kriminal, kami selalu datang ke lokasi bersama interpreter. Beda kalau laki-laki, ceritanya lebih banyak maskulin,” katanya.

Demi menunjang misi, Ratih selalu mendatangi orang sakit di seputaran batalyon. Ternyata hal ini sangat berkesan bagi mereka. Pendekatan kemanusiaan ini menjadi jauh lebih berkesan dari yang lain.

Di mana pun berada, pasukan Indonesia selalu berusaha membangun dekatan dengan masyarakat setempat melalui community engagement. Dalam program ini, militer dan sipil sama-sama merencanakan program atau kegiatan yang memiliki misi kemanusiaan.

Di Kongo, Ratih sangat terharu ketika seorang anak mendatanginya, kemudian berkata, “Mam, I wanna be like you! Because of you, we can go to school…" Saat itu, Ratih dan timnya berhasil mengamankan akses jalan sehingga anak-anak bisa pergi ke sekolah. Dia memeluk anak itu.

Kisah hidup yang tak dilupakannya adalah suatu hari pada tahun 2012, dia dihubungi wakil Kementerian Luar Negeri, Desra Percaya. Dia diminta untuk bersiap-siap dikirim ke Suriah, yang saat itu sedang dilanda peperangan.

Lulusan magister dari Monash University, Australia ini, masih mengenang perjalanan dari Libanon ke Suriah yang hanya tiga jam, tapi terasa menegangkan. Dia memakai pakaian militer. Wajahnya terlihat pucat. Seorang driver asal Libanon bertanya: “Mum, you’r okay?” Dia jawab, “I’m not okay.” Driver itu menjawab: “Just call your parents.”

Ratih menelepon ibunya di Indonesia. Dia menitip pesan: “Ma, kalau nanti tidak ada yang menelepon berati saya baik saja. Tapi kalau ada orang lain yang menelepon, ikhlaskan kepergian saya. Saya juga sudah ikhlas jalani semuanya,” katanya. Setelah menelepon dia tersenyum. Dia merasa plong. Pria Libanon itu berkata,” Now you look like an angel.”


Misi itu hanya berjalan selama 4 bulan. PBB memulangkan semua pasukan perdamaian karena situasi yang tidak aman. Beberapa teman Ratih tewas saat sedang menjalankan tugas.

Kini, Ratih menjadi figur inspiratif. Dia menerima penghargaan sebagai Perempuan Inspiratif dari Kedubes Amerika dan beberapa lembaga lainnya. Dia pun menerima UN Medal Honour.

Di hadapan sidang PBB, dia meminta agar perempuan lebih banyak dilibatkan dalam misi operasi perdamaian. Perempuan lebih bisa membaur dengan warga, khususnya ibu dan anak-anak. “Mereka adalah korban paling besar. Sentuhan keibuan lebih dibutuhkan oleh mereka,” kata Ratih di sidang PBB.

Saya menikmati perbincangan dengannya. Dia malah menolak dipanggil Ibu. Dia lebih suka dipanggil Mbak atau Ratih. Saat hendak foto-foto, saya memintanya memakai uniform yang dipakainya saat operasi perdamaian.

“Wah, saya mesti pakai loreng gurun yaa. Mas Yusran ini harusnya jadi komandan karena suka ngarahin-ngarahin.”

Saya tertawa ngakak. Saya pun ikut berpose dengannya. “Kalau di militer, mesti salam komando. Biar sah,” katanya.

Siiiiaaaaaappp!

Suatu Hari Bersama Gadis RONGKONG




Gadis itu tersenyum manis. Teramat manis. Dia mencoba berbagai gaya ketika saya datang memotretnya. Dia seperti mutiara yang masih belum banyak disepuh. Dia memiliki kecantikan alami.

Saya menaksir usianya 17 tahun, usia siswa sekolah menengah di tingkat akhir. Dia datang dari Desa Rinding Allo, Kecamatan Rongkong, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Dia datang dari wilayah pegunungan hijau yang rimbun dan tak banyak yang menjangkaunya.

Rongkong adalah wilayah yang selama sekian tahun terisolasi. Selain Rongkong, ada dua kecamatan yang terletak di pegunungan di wilayah Luwu, yakni Rampi dan Seko. Seko pernah menjadi headline berita nasional ketika diberitakan bahwa tarif ojek ke situ adalah sejuta rupiah sekali jalan. Maklum, jalannya rusak berat. Butuh beberapa hari untuk mencapainya.

Saya bertemu dengan gadis muda itu di Lapangan Salasa, Kecamatan Baebunta. Hari ini, Sabtu, 7 september 2019, masyarakat Rongkong banyak turun gunung demi mendatangi acara pelantikan Aliansi Keluarga Rongkong (Akar). Mereka datang dengan membawa berbagai atribut budaya.

Saya bisa melihat kekayaan khasanah budaya Rongkong. Wilayah ini serupa melting pot yang menyerap semua budaya-budaya. Busana adat gadis Rongkong serupa Toraja dan Bugis. Bahkan saya melihat sejumlah anak muda Rongkong memainkan kolintang, alat musik dari kayu yang selama ini saya ketahui hanya ada di Sulawesi Utara.

Rongkong punya seni tenun yang sungguh aduhai. Saya begitu cemburu melihat kain tenun yang segera mengingatkan saya pada kain tais di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, atau kain-kain khas di Nusa Tenggara Timur. Saya menduga, pernah ada dialog budaya atau mungkin proses saling belajar antar berbagai komunitas budaya di lintas pulau.



Secara umum, saya melihat budaya Rongkong seperti Toraja.

"Tidak kak. Rongkong tidak sama dengan Toraja," kata gadis itu seakan tahu apa yang saya pikirkan.

Bahasa yang digunakan orang Rongkong adalah bahasa Ta'e, bahasa yang dipakai warga Luwu. Saya ingat antropolog George Yunus Aditjondro. Dia pernah membantah anggapan bahwa Sulsel identik dengan Bugis. Kata George, orang Luwu tidak mau disebut Bugis. Bahasanya juga bahasa Ta'e, bukan bahasa Bugis.

Tapi, seorang kawan bercerita kalau bahasa Ta'e mirip bahasa Toraja. Mirip pula dengan bahasa yang digunakan orang Mamuju, Sulawesi Barat. Persis seperti yang saya pikirkan. Bahwa budaya tidak berada di ruang hampa sejarah. Budaya selalu menyebar seiring dengan migrasi manusia ke mana-mana. Budaya ibarat sari yang dipetik dari kembang, kemudian dibawa ke berbagai arah oleh kumbang bernama manusia.



"Kak, boleh minta nomor hp?" tanya gadis itu.
"Buat apa?" tanyaku.
"Saya ingin ingatkan kakak supaya kirimkan foto itu" katanya sedikit merajuk.

Tak lama kemudian, dia kembali bertanya. "Kak, apa saya cantik?"

Saya tak menjawab. Kamera langsung saya arahkan ke wajahnya. Dia kembali bergaya. Dalam hati saya menggumam, kamu memang cantik. Teramat cantik.



Berkunjung ke Markas INTERPOL




Demi menjalankan tugas di satu lembaga internasional, saya bertandang ke Markas Interpol yang terletak di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo. Saya bertemu AKBP Yuli Cahyanti. Kalau di militer, pangkat AKBP setara dengan Letnan Kolonel.

Perempuan asal Jawa Timur ini selalu terlihat ceria. Dia tipe perempuan yang suka bercanda. Saya nyaris tak percaya bisa bercanda dan mengatur-ngatur seorang polisi berpangkat letkol. Dia pun bersedia ketika saya ajak ketemu di satu mal di Jakarta.

Yuli adalah polwan yang sangat menginspirasi. Dia pernah ikut dalam pasukan misi perdamaian PBB di Darfur, Sudan. Dia pun lama bekerja di Interpol yang bermarkas di Malaysia.

Dalam dua kali pertemuan dengannya, Yuli bercerita pengalamannya saat menjadi anggota pasukan perdamaian. Mulanya dia dipandang remeh, bahkan oleh para lelaki yang bergabung di pasukan perdamaian. Sebab dia perempuan. Dan perempuan dianggap lemah.

Ternyata dia menjadi sosok inspiratif di pasukan perdamaian. Di daerah konflik, pihak yang menjadi korban dalam jumlah paling banyak adalah perempuan dan anak-anak. Sebagai perempuan, Yuli bisa berdialog dari hati ke hati dengan para perempuan yang menjadi korban kekerasan.

“Perempuan yang mengalami kekerasan seksual selalu tertutup. Mereka terguncang dan tidak mau menyampaikan masalahnya pada laki-laki. Pada saat itulah pendekatan sebagai sebagai sesama perempuan sangat diperlukan,” katanya.



Berkat Yuli saya baru tahu bahwa di daerah konflik, perempuan paling sering mengalami kekerasan seksual. Dia menjelaskan istilah seperti gender based violence dan conflict related sexual violence.

Saya tertarik dengan ceritanya tentang pasukan perdamaian Indonesia yang selalu diterima di manapun mereka bertugas. Pasukan Indonesia selalu disenangi warga karena dikenal ramah serta selalu membangun kedekatan dengan komunitas. Istilah kerennya “Community engagement.”

Kata Yuli, orang Indonesia dikenal selalu menyapa dan tersenyum. “Bahkan terhadap tiang listrik pun orang Indonesia tersenyum,” katanya sembari terkekeh. Yuli pernah menjelaskan tentang pendekatan polisi Indonesia saat misi perdamaian di hadapan sidang PBB di New York.

Demi keperluan foto, saya memintanya memakai baju polisi yang dikenakannya saat misi perdamaian, lengkap dengan baret biru PBB. Yuli pasrah-pasrah saja saat saya mengatur pakaiannya, serta foto di mana. “Wah, saya dikerjai nih sama Mas Yusran,” katanya.

Saya cuma senyum-senyum sambil memandang stafnya yang cantik dan selalu bilang siap pada semua perintah. Saya sempat kecele karena mengiranya sekretaris. Ternyata dia seorang polisi yang berpakaian putih hitam saat bertugas di mabes Polri.

Wah, kok saya bisa lupa namanya yaa?



‘The Iron Ladies’ in the Border


Mama Sinta and her son

On the border of Indonesia-Timor Leste, there are many heart-touching stories about women who promote the peace. They try to cure the trauma from their past, then they rise and spread the peace. Through farming, trading and weaving activities, they are spreading the seeds of peace for a brighter future.

***

Chrispina Taena crossed the border. The woman who trades daily in Pasar (local market) Tono, in the Oecuse District, Timor Leste came to Napan Village in Indonesia territory to attend a wedding invitation.

This woman, who is about 50 years old, never felt as a stranger in Napan Village. She was born and raised in this village. She left this village since she married a man from Oecuse. She immigrated with her husband. At that time, Oecuse was still part of East Timor, the 27th province in Indonesia.

However, since East Timor separated from Indonesia and became the Democratic Republic of Timor Leste, the woman called Mama (a term of woman who have married) Krista has become a citizen. She occasionally crosses the border.

Napan Village is located in North Bikomi District, North Central Timor Regency (TTU), East Nusa Tenggara Province (NTT). This village can be reached by car from Kupang, the capital of NTT province, as far as 200 kilometers.

The trip to this village can take five hours, after previously passing Kefamenanu, the capital of North Central Timor Regency. The total of village population is 1016 people. The total population of women is 526 people, more than the male population which is 490 people.

Mama Krista stated that the line separating the two countries is only a political line. "We can be different countries, but we are still brothers and sisters," she said.

Like other citizens, Mama Krista has a trauma about conflicts in the past. She was once a refugee who came to Napan to seek protection. She once lost many things, including her child during the conflict. But, Mama Krista also has a story about the resurrection

On August, 30th 1999, the people of Timor Leste voted for independence referendum from Indonesia which sponsored by United Nations (UN). After the referendum, the chaos was created and conflict tension began rise.

As a refugee, she did not want to sink into grief. She moves. "If I am still sad, how can I live? I am still alive. I have to take care of my life, "she said.

She started selling. The villagers of Napan Village lend many hands to her. Every villager realize that this is not a conflict between of their people. This conflict was designed by several people who were unwilling to see the political situation change.

When the situation is safe, Mama Krista returned to Oecuse and started everything from scratch. Mama Krista is a tough warrior. She started farming from the seeds relief of an international institution.

She knew that the seed her sow is the seed she reap. She organized and empowered the women to plant and harvest, then sell them to the nearest market.

Beside of farming, she also weaves. She formed a group of five women to weave in her home. She weaves a variety of beautiful Timorese fabrics, called tais. She uses the natural dyes to make Tais colorful. In fact, the yarn was from bark.

She was never ashamed and never felt too old to learn. When UNDP held a training to improve farming skills, she was very happy. She was full of enthusiasm when she got the chance to learn with farmers in Napan Village, Indonesia.

Mama Krista buried all the hatred. She did not intend to avenge and defuse hostility towards person or community. She was defused the anger by the activities of farming and weaving. She burned every resentment with love for other human beings.

Mama Krista turns the embers of revenge into dew of affection. She sees the past with a bright mind. She frames the present with kindness and love. She looked to the future with optimism, cheerful, and peaceful.

The Rising Phoenix

Mama Krista is not alone. Her colleague Yasinta Colo also experiences the same grief. In 1999, Mama Sinta ran into the wood in the midst of bullets. When the bullets hit her uncle, she kept running.

"I cried seeing my ‘little father’ or uncle got hit by a bullet. At that time, men and women run apart. Men get shot a lot. He joined women because he thought it would be safer. It turns out he was hit by a bullet,” she said with a sob.

The impact of the 1999 conflict affected all levels of society. Many men have died. Many women also have to face grief in refugee camps. For months, they lived in refugee camps and received assistance from international agencies.

However, Mama Sinta also did not want to dissolve in grief. She is indeed in grief remembering the traumatic event. "I think I should get up. I have to move. If not, what should I eat? "she said.

Head of Napan Village supported Mama Sinta with daily necessities to be sell, such as rice, cooking oil, gasoline, to vegetables. She was encouraging to cross the border to trade. She knew that Timorese people were in need of many things.

The people in border have a great ability to rise from their grief. They can quickly forget about tragedy and look for a better future. They are tougher than men even though they are the ones who suffer the most. Conflict and dark past do not make them lose their spirit for life.

They remind us to a phoenix when burned and turned to dust can be reborn as a new and stronger phoenix. They make tragedy to be a something that gives them the strength to stay alive and survive for the family.

Alongside the men, they come to work and make sure all family needs sufficient. They are not the type of women who only stay at home, because they enter the public spaces. They work hard and do various jobs beside men.

They trade, weave, farm, and provide for the family. They also become pillars at home that heal trauma and provide motivation to all family members to keep up and try.

They also become the agents of peace at the border and always remind people that national borders are not something to separate. National borders must be seen as opportunities to maintain brotherhood and friendship, and the economic networking.

However, peace is impossible, when only one party wants it. The seeds of peace can grow if all parties have the same commitment to keep humanizing and respecting each other.

A phoenix will not be a great bird by itself. Its is supported by an environment that develop its potential. Mama Krista and Mama Sinta could become agents of peace because of strongly supporting from the people, communities, cultures, religion, as well as traditional ceremonies.

Cultural Support

That man came in his traditional clothes. He wears a woven sarong and headband. He stopped by several villagers who were preparing to hold a traditional ceremony. He will lead a traditional ceremony and pray to the ancestors. That man is Petrus Pot.

As a traditional leader, he is not only served in Napan and the surrounding villages in Indonesian territory. He also led traditional ceremonies in Oesilo and other villages in the Oecuse district of East Timor. Petrus Pot is like an umbrella that covers everyone.



He also is a Catholic priest. He works in the Catholic church to serve the people. But when there is a traditional ceremony, he leads the ritual to make offerings to the ancestors. "I play both roles," said Petrus.

The population of Napan and Oesilo is relatively homogeneous. They have the same culture and rituals. They have related last names or clans. There are six sub-tribes or large clans, namely: (1) Kefi, (2) Siki, (3) Nule, (4) Eko, (5) Kolo, (6) Oki. This bond is still strong and maintained by the community.

Petrus said, traditional ceremonies are still important for the community. If villager is not present in the ceremony, someday people will also not come to his house if he has a ceremony. The traditional ceremony becomes a rigging which keeps the solidarity of the villagers to remain strong.

Petrus shared his experience during the conflict in 1999. He was very sad when he saw many refugees from Oecuse District coming to Napan Village. As a traditional leader, he treated everyone as relatives.

He helped accommodate all the refugees in the church. He tried to calm of refugees, especially women, who were traumatized. He also prepared a traditional party that could become a reconciliation for all.

The traditional party is called Tfua Ton which is held every year. During the traditional party, Petrus invited all parties to bring food and drinks. Petrus reads the prayer in the local language which contains messages for all parties to maintain peace.

He called the philosophy "Aifa Ben Neke, Sus Pet Bijae" which in Dawan language means "We are ready to assume and ‘breastfeed’ anyone who comes in and needs help." This philosophy is applied in both regions.

Petrus became a cultural agent that promoted peace. In the cultural field, he brought together all parties as fellow citizens who wanted peace. He held a ritual that aims to make everyone realize that they are from the same womb, as of the disaster experienced by one party is a common calamity.

Besides culture, there are two other arenas that can facilitate dialogue between citizens.

First, the economic arena. Those who are victims of conflict both lose their jobs, even though in daily life, they are connected in one economic chain.

Another Napan villagers, Brigitta Siki, told me about her business in se'i or Oecuse cuisine. He built a work chain therefore her products could be sold at Oecuse and got many consumers.

Brigitta and her sister are engaged in the Small and Medium Enterprises (SME) sector now. Their products are always in demand and eagerly awaited by the villagers. "I provided a supply of meat, then it was marketed at the stalls there," she said.

The border indeed holds great economic potential. Since long time ago, the villagers of Napan and Oesilo had bounded in a trade chain. Collaboration between villagers has developed since the conflict. They need each other because they both want a better life. They build a symbiosis of mutualism.

Second, the agricultural arena. The majority of villagers on the border are farmers. Dialogue and relations between villagers also occur in the agricultural field. The farmers in the two countries formed farmer groups which both of them can be learned and increased capacity from one another.

Jose Benu is a farmer in Napan Village. He said that he forgot all the trauma when he was farming. Farming is like a meditation to him which helps him to escape from all the problems that occurred in the past. He found productive activities that are useful for 'family kitchen', can also be sold to improve the welfare.

In the past year, UNDP has come and helped border communities to develop commodities in order to be in demand in the market, thus raising the economy of citizens. Brigitta is one of the UKM (Small and Medium Enterprise) who was flown to Malang in order learn culinary management. He went with some of his fellow UKM in so they absorb new things for the development of their products.

UNDP also helps farmers to develop horticultural products, which are healthy vegetables. Farmers at the border are taught how to grow vegetables, so they can meet their needs and sell them to markets. Per Capita income is still low, about Rp. 500,000 per month for each head of household.

The data from the Central Statistics Agency (BPS) in 2018 shows that agriculture and plantations are the sectors that absorb the most employment in Napan. The number of farmer households (RTP) is 257. According that number, 136 RTP have more than one hectare of land, 97 RT have land with an area of between 0.5 to 1 hectare.

Lesson Learned 

Those who have traveled to the borders of Indonesia and Timor Leste must have witnessed the blooming of Gamal Flowers (gliricidia sepium). In the middle of a barren and dry land, Gamal Flowers still bloom which bring the freshness and presents a magnificent views.

This gamal flower represents the reality that happening there. In the midst of doughtiness, there will be a hope that blooms, which gives freshness to everyone. There will be something that make the days more colorful.

Gamal Flower

Subsequent to the conflict, 'bud of love' grew and began to bear. 'The Iron Ladies' who can recover from trauma, then immediately recover and now begin to bring hope for improving family welfare.

In crisis situations, a number of individuals often act as peace-builders who reconcile situations. They strengthen society so that become a solid foundation for reconciliation and peace.

Mama Krista, Mama Sinta, Petrus Pot, and Brigita Siki become the peace-builders through productive economic activities. They are peace actors who use methods of communication, persuasion, and mediation in order to heal the community trauma through productive activities namely weaving, planting, and trading.

An important lesson at the borders of Indonesia and Timor Leste is the need for cooperation and the participation of many stakeholders to jointly develop a safe and calm situation. Peace is not something that drove from above, even though must grow from the bottom and strongly supported by all communities.

Peace is a situation that was born from the cooperation of many actors in the grass root who had experienced in conflict, thus there would be no more similar conflicts in the future. All stakeholders are expected to carry out cross-country, cross-political, cross-cultural cooperation to build economic transformation and post-conflict reconciliation.

Since 1992, the term peace-building has spread throughout the world when UN Secretary General Boutros Boutros-Ghali introduced peace-building as a peace agenda. Initially, this definition was only limited to efforts in ending the conflict, peacemaking, and peacekeeping.

Furthermore, the term peace-building is becoming more developed as an effort of various actors, both government and civil society, to overcome the effects and causes of conflict, then building a peaceful situation after the conflict.

The concrete approach of peace-building is the act of rebuilding areas that were destroyed by the conflict. In order to accelerate peace-building, social capital can be identified which can be used to strengthen and consolidate peace to avoid a conflict.

At the borders of Indonesia and Timor Leste, social capital which is strengthen the activities of all citizens are: cultural capital, economic capital, solidarity among conflict victims, and mutual trust. This social capital gives power to the community to prevent violence from happening in the future, as well as the emergence of solidarity to help the others.

This social capital must be recognized, in order to achieve the development direct. International institutions and local governments can strengthen this social capital thus that development can be more effective and touch the target of people who need a model of development.

Peace-building is an important phase for post-conflict recovery. The actions taken during the peace-building phase include economic recovery, rebuilding education facilities, health facilities, roads and other facilities damaged by the war.

"We want peace, not war. Because we are all here in the brotherhood. We both believe that the blessings of our ancestors will be always present if we take care of each other, " said Petrus Pot.

Napan Village is a witness of great women and men who are weaving peace to be pinned to the world. The village holds many stories about peace-builders who heal trauma and look for better future with a happiness




Sowing Seeds of Peace




A lady smiled. She was chewing betel which made her lips reddish. On a brink rock, she was sitting. She was staring down the cliff. A beautiful landscape of a reservoir or lake, surrounded by hills which covered by brownish soil.

The lake is located in the middle of barren hills in Napan Village, North Central Timor Regency, East Nusa Tenggara Province (NTT). Green scenery surrounded the lake. There are various types of green vegetables on the lake to the top of the hill: mustard greens, kale, cabbage, to beans.

"This lake is only dry in October. Therefore, we can always plant, " she said. "Unfortunately, we don't have a pump yet, so we take water in the lake to bring it up so we can flush vegetables," she continued.

On the edge of the lake, men were seen busy making beds to be planted. Meanwhile women were watering plants, ferting from organic materials, and cleaning crabgrasses.  There were also seen children playing between the plants.

In this village, everyone has a clear job description. Women do not stay at home and wait for their husbands. Moreover, the women became figures who are actively working. They go with their husbands to the farm, carrying their children.

"Here, every mama-mama comes to work in the garden. In fact, mama-mama also sell all these vegetables to the market, "said that lady. Mama means mother.

This mama statement was confirmed by a farmer, Jose Benu. Almost everyday, he will come to this farm with his wife. They work together and collaborating.

"If there are no women, what can I do?" he laughed. His teeth was seen reddish. Jose Benu was around 50 years old. He is one of the householder who took the initiative to farm around this lake. He also told me that most of the families who working around the lake were former Timor Leste refugees who had chosen to become Indonesian citizens.



"We all came to this village after the referendum. We have been becoming refugees for a long time. We feel safer here, so we choosed to remain in Indonesia," he continued.

Firstly, he worked odd jobs. He was not interested in becoming a smuggler of goods to Timor Leste. Up to now, border areas are prone to smuggling. The inequality in prices of goods in Indonesia and Timor Leste caused by smuggling. For instance, gasoline in Timor Leste costs USD 3 per litre. Meanwhile in Indonesia, the prices was only about 10.000 rupiah or USD 1 per litre.

The goods are smuggled across the border. In fact that the items were smuggled through the jalan tikus (secret passage) which they did not pass the guard post. Even though security is tightened, it always can getaway.

Jose Benu was interested in becoming a farmer. One day, he saw an empty land. He encouraged to meet the land owner, Edmundo Lase. He was allowed to manage the vacant lot.

He invited his colleagues who in the farmer group named Tafe'u to manage it. He explained the meaning of Tafe'u in Dawan, the language used by all Napan people and every villagers in Timor Leste region.

Tafe'u means always upgrading. Which one is upgraded? "Everything can be renewed. Including members of the farmer group," he said.

It have philosophical meaning. The philosopher, Heraclitus who cited penta rei, which means everything in life is always changing. Everything is always dynamic. What is the eternal is the changing itself.

In Jose Benu mind, farming is an activity that makes him forget all the trauma. When he saw the buds of plant growing, he could forget all the tragedies that he had experienced. His physique is becoming stronger, his mind turning fresher.

"Since I practice farming, I have forgotten all the problems and grief. I am happy indeed when I see the new buds appearing, and also green plants which give me freshness, " he said.

Jose Benu

Jose was lucky, in President Joko Widodo era, the Indonesian government built a reservoir on the areas. The government built a small lake in the middle of the barren hill. The lake was the beginning of the collaboration of many stakeholders. Village Government expands the lake. An international agency, UNDP, is conducting horticulture cultivation training for local residents. Even UNDP is preparing organic vegetable seeds for residents.

Jose began to see a glimmer of hope. He applied it on the hill. Firstly, he collected cow and goat dung. Then, the dung is spreaded on the beds, where he made it around the reservoir. After that, he watered it. Later, it is ready to be planted.

He also invited his colleague to make terrace beds, then planted them. Whoever makes raised beds and planting, has the right to harvest. Collaborating with his colleagues at Tafe'u, they grow kale, mustard greens, shallots, and cabbage. Everything is organic.

At first, Jose and his colleagues at Tafe'u were subsistence farmers (self-sufficiency) who only pursued their own needs. All crops harvested are only used for household needs. If there is any leftover, then it is sold to the market. "We are happy because after the harvest, we can meet the necessity of the family. It can also be sold, but not much," he said.

But after attending a training organized by UNDP in collaboration with the Mitra Tani Mandiri Foundation (MTM) and the Indonesian Ministry of Foreign Affairs (Kemenlu), farmers began to increase production yields, then sell them to the market. They began to make it a livehood to support the family.

Seeds of Truce

Jose and mama-mama who work around the lake told me that they were gardening just to fill free time. Although, since attending the training organized by UNDP and the Mitra Tani Mandiri Foundation (MTM), they have begun to see it as a productive economy.

The training is important because up to date the border residents have applied shifting cultivation. They did deforestation, burning, planting, then moving.  In the rainy season, they rarely farm because it is difficult to burn land.

As the result of the training, they can learn many things about horticulture, from planting, caring, to harvesting plants. "Because the support of UNDP and the MTM Foundation, we were able to expand our farms. We were also assisted by a facilitator who gave us input from planting to harvesting," said a mama there.

The training was held in December 2018 which aims to introduce Good Agriculture Practices (GAP). This training was given to 25 farmers in Napan, and 25 farmers in Oesilo. Farmers are taught to grow the vegetables and horticulture in the rainy season, namely tomatoes, eggplants, beans, string beans, kale, and mustard greens.

The training materials was provided included selection of vegetable seeds and varieties, preparation for vegetable seeding, land preparation, vegetable planting, vegetable maintenance, and pest and disease control.

This training is part of a collaborative project between Indonesia and Norway to build the local economy of communities on the border. In hope, that will improve and live cross-border economic activities, and increase the capacity of farmers.

This training on vegetable and horticulture techniques is the beginning of the project cooperation between Indonesia and Norway in the "Partnership Initiative for Institutional Development of Indonesia's South-South and Triangular Cooperation" (PIID-ISSTC), which one of the outputs is peace building through local economic development across the borders of Indonesia and Timor Leste.

The interesting fact about this training is the opportunity for the farmers at the border to learn from each other. Farmers in Indonesia visit Timor Leste, and vice versa. They learn in an equal and joyful atmosphere. They also share experiences.



MTM Foundation Director Josef Maan called the participatory monitoring approaching, namely a cross-visit between farmers regions to monitor each other's program progress. Participatory monitoring becomes a learning ground for farmers, a medium for them to motivate and control each other, fostering healthy competition between farmers with the result that they can advance their joint efforts.

He sees community participation as a very important benchmark in community empowerment. The concept of participation is often integrated in the problem identification and analysis cycle, program planning and implementation.

"If monitoring is carried out in a participatory manner, it will provide many benefits for farmers as actors and beneficiaries as well as for the institutions and implementing agencies of the program. Through this approach, we position farmers as actors and beneficiaries of the program, " he said.

Josef Maan hopes that through visiting each other, farmers in Napan and Oesilo can build interactive processes so that they get to know each other, build networks, share experiences, and learn how to apply correctly Good Agricultural Practices (GAP) and Good Handling Practices (GHP).

This participatory monitoring was effectively carried out for two days in two program areas. Initially several farmers' groups in Napan visited Oesilo. After that, the farmers in Oesilo came to visit Napan.

"We believe that all farmers have experience. Therefore, we hope that they can share their experiences so they can learn from each other," said Josef Maan.

Harvest the Elbow Grease

Agricultural activities in Napan and Oesilo have become fun activities for farmers. One of mama tells, farming is a joyful activity. She will be missing something if she does not come to the garden to check the condition of the plants. "If I saw the plants begin to bear fruit, I would be very happy," she said.

Jose Benu felt his mind become fresher when he saw greenery. "The support of UNDP and the MTM Foundation resulting we can expand the farm. We are delighted, because  growing vegetables can make the body can be fresh, the brain is also fresh. Seeing greenery, can be also made us fresh, " he said cheerfully.

Nowdays, vegetables are starting to be marketed. In fact, the vegetables did not have time to reach markets in Timor Leste, or the people's markets in Kefa, the capital of North Central Timor, because they were immediately bought.  "When harvest coming, I never had problem to sell these vegetables. Before reaching the market, it always sells first. In fact that many people come looking for vegetables here," he said.

Napan Village Head, Yohanis Anunu said agricultural commodities is a mainstay and contributed to increasing the family's economic income in his village. The commodities are corn, rice, peanuts, coconut, banana, cassava, teak, and mahogany. Unfortunately, per capita income is low which about at 500.000 rupiah per month for one householder.

Yohanis Anunu, Napan Village Head

Some villagers like Jose Benu do not want to grow vegetables only. In the lake, he raised fish. He also uses crabgrasses that grow around the lake as fodder. "Cows like to eat crabgrasses which grow in this lake," he said.

His imagination is not only seeing green vegetables, but also fish ponds and the farm there. If agriculture and livestock develops, he can start thinking about ecotourism. His vision that there will be a hut that served local coffee. He imagined that he will witness the magnificent green landscape in the middle of a barren hill.

"Whatever will be happens, I will keep farming. Not only for family necessity, but also I will find peace," he said.

For Jose and many other families, farming is a way out of all the trauma of conflict, as well as a bright way to get a better future.




Para JAGOAN dan Penumpang Gelap Republik


Di televisi, Presiden Jokowi memimpin upacara peringatan detik-detik proklamasi. Semua orang hendak mengenang peristiwa bersejarah itu. Tapi, apa yang disebut dengan mengenang itu selalu politis. 

Kita hanya mengenang episode tertentu, lalu mengabaikan banyak peristiwa lain pada saat yang sama. Kita hanya mengenang saat Sukarno dan Hatta membacakan naskah proklamasi, lalu kita abai pada banyak peristiwa lain.

Saya sedang membaca buku berjudul Gangsters and Revolutionaries yang ditulis sejarawan Robert Cribb. Buku ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan Komunitas Bambu pada tahun 2010, dengan judul Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta.

Saya merinding saat mengetahui bahwa pada masa revolusi, bukan hanya para nasionalis dan pemimpin pergerakan yang eksis, tapi juga para jagoan, para bandit, dan mereka yang menguasai dunia hitam.




Saat Sukarno membacakan naskah Proklamasi, para bandit dan para jagoan juga bergerak. Mereka mengatasnamakan dirinya sebagai laskar yang berbaju seperti pejuang, kemudian menebar teror di mana-mana. 

Beberapa kelompok memakai atribut agama, lalu mengatasnamakan jihad, untuk menebar teror sana-sini. Ada yang mengatasnamakan dirinya Lasykar Ubel-Ubel. Lasykar artinya tentara dan ubel-ubel adalah sorban yang dipakai jamaah haji di Mekkah.

Mereka menyatroni kantor-kantor dan gedung-gedung milik perusahaan Eropa dan Belanda. Atas nama kemerdekaan, mereka membunuh banyak orang dan mencaplok berbagai gedung, menjarah banyak barang, kemudian menuliskan grafiti “milik repoeblik.” 

Mereka membunuh banyak pegawai kantor pemerintah kolonial, yang saat itu mayoritas adalah orang Indonesia sendiri. Robert Cribb mencatat kesaksian seorang saksi sejarah tentang betapa sulitnya mendapatkan air minum di Klender karena banyak sumur tersumbat mayat orang Cina yang jadi korban pembantaian.

Bagi orang Eropa, bulan-bulan terakhir tahun 1945 adalah masa perampokan, perampasan, penculikan, dan pembunuhan acak di jalanan. Banyak orang Eropa yang menghilang, tiba-tiba ditemukan mengambang di kanal di tengah kota. 

Di banyak daerah, situasinya lebih kelam lagi. Di Kranji, orang Eropa yang bekerja sebagai mandor perkebunan swasta dibunuh. Istrinya lalu diperkosa. Di Karawang, seorang jagoan menduduki kantor bupati dan menyatakan dirinya sebagai bupati. Gangster lain mengambil alih semua perkebunan swasta dan menyatakan miliknya. Di Tangerang, pembantaian pada tuan tanah dan petani Cina terjadi. 

Cribb mengatakan, para pembunuh ini tidak punya agenda politik. Mereka adalah kaum oportunis yang memanfaatkan situasi politik saat Jepang sedang lemah, dan munculnya klaim kemerdekaan dari para pemimpin republik.

Saya tertegun membaca lembaran yang ditulis Cribb. Saya percaya dan amat yakin, para pemipin pergerakan seperti Sukarno dan Hatta mendambakan kemerdekaan karena melihat betapa jahatnya praktik politik dari pemerintah kolonial. Kemerdekaan muncul dari hasrat bebas dan keinginan diperlakukan sebagai manusia yang punya derajat yang sama.

Tapi harga yang diraih untuk merebut kemerdekaan itu begitu mahal. Tidak semua orang-orang punya niat suci untuk membebaskan sesama manusia dan mewujudkan tatanan baru yang lebih berkeadilan. Banyak yang melihatnya sebagai isyarat untuk melampiaskan keberingasan dan kejahatan, sebagaimana pernah dilakukan pemerintah kolonial.

Mungkin Anda beranggapan bahwa tindakan kekerasan adalah hal yang lumrah dalam satu revolusi. Tapi jika itu memang opsi yang dipilih, maka Anda sama saja dengan para kolonialis itu. Anda juga menghalalkan segala cara untuk membunuh yang lain, sebagaimana para kompeni yang datang menjarah di sini. Yang membedakan antara Anda dan mereka hanyalah kekuasaan.

Saya teringat Nelson Mandela, salah seorang manusia hebat yang terlahir di abad ini. Puluhan tahun dipenjara dan ditindas oleh rezim kulit putih, dia tidak lantas memerintahkan pembunuhan pada orang kulit putih. Dia berkata bahwa musuh kita bukanlah orang kulit putih. Musuh kita adalah penindasan dan keserakahan, sesuatu yang bisa hadir di tangan siapa saja. 

Saya teringat kebencian Sukarno dan Hatta pada kolonialisme, tapi tetap membuat mereka berlaku adil. Mereka percaya pada jalan-jalan diplomasi sebab jalan itu tidak menumpahkan darah manusia di mana-mana. 

Mereka bekerja sama dengan siapa pun, apapun warna kulitnya, sebab meyakini bahwa peninadasan adalah sesuatu yang maknanya bisa dirasakan secara universal. Sukarno menghormati guru-gurunya yang orang Belanda, bahkan Hatta menghormati para profesornya semasa belajar di Belanda sana. Mereka menyerap semangat perjuangan justru pada banyak orang Eropa.

versi terjemahan yang diterbitkan Komunitas Bambu

Sukarno pernah merasa  bersalah karena mengampanyekan Romusha, yang kemudian menjadi sumber penderitaan rakyat Indonesia. Tapi dia membayar lunas semua rasa bersalah itu dengan kemerdekaan, yang kemudian menjadi jembatan emas untuk menggapai kemajuan.

Tapi, para pemimpin pergerakan juga manusia biasa yang punya keterbatasan. Mereka tak berdaya ketika banyak kaum radikal mulai meneror dan membunuh di sana-sini. Bahkan seorang pemimpin pergerakan yakni Tan Malaka dibunuh oleh salah satu laskar yang bertindak tanpa koordinasi. Dalam situasi ketika tak ada kelompok berkuasa, semua orang bisa merebut kuasa demi menghamba pada keuntungan pribadi.

Hari ini, kita merayakan 74 tahun kemerdekaan. Tentu saja, ada yang diingat dan ada yang dikenang. Ada ingatan penuh bahagia, ada pula ingatan penuh sedih. Kita memilih mengenang yang bahagia dan merayakannya dengan gegap gempita.

Jika kita benar-benar mengabaikan hal yang sedih, maka di masa depan hal serupa bisa terjadi lagi. Ketika kita bisa gagal mengelola semua ingatan kelam di masa lalu menjadi pelajaran berharga, maka peristiwa serupa bisa terjadi di masa depan.

Perlu sejumput refleksi untuk mengenang kemerdekaan. Ada gembira, ada juga sedih. Perlu juga menyerap hikmah dan mutiara.



Sisi Lain PRAMOEDYA




Hari itu, akhir April 2006, saya sedang nongkrong di pojokan kantin Teksas di kampus UI bersama kawan-kawan antropers. Sahabat Diah Laksmi datang bawa kabar kalau Pramoedya Ananta Toer sedang sekarat. Dia divonis dokter hanya bisa bertahan sehari. Saya dan kawan-kawan terkejut.

Saya teringat cita-cita semasa di Makassar. Saya pernah bercita-cita agar suatu saat bisa makan malam dengan Pramoedya Ananta Toer, lalu mendengarnya bercerita. Saya yakin sekali, seorang penulis hebat pastilah pencerita hebat juga. Saya bayangkan, makan malam bersama Pram adalah hal paling romantis. Bahkan dia diam sekalipun pasti akan indah.

Sayang, ketika tiba di Jakarta dan menjadi jurnalis, saya malah terjebak dengan kesibukan. Apalagi awal-awal saya diminta jadi jurnalis infotainment. Setiap hari saya menguber Luna Maya, pedangdut Anissa Bahar, hingga penyanyi Angel Lelga.

Nanti setelah masuk UI, barulah saya ingat Pram. Sayang, saya terlambat. Ketika tiba di rumah Pram di kawasan Utan Kayu, Jakarta, dia sudah meninggal. Saya ingat dia dikelilingi banyak orang yang membacakan tahlil. Ada banyak orang mengaji di situ. Tapi, tak jauh dari situ, ada beberapa aktivis kiri yang berdatangan.

Saya bergabung dengan rombongan para jurnalis. Seorang kawan bercerita tadi ada seorang budayawan yakni Taufik Rahzen bercerita detik-detik Pram meninggal. Kata Taufik, Pram dikelilingi banyak anak cucunya yang semuanya mengaji. Saat Taufik bertanya siapa yang ajari mengaji, semua anak kecil itu menunjuk Pram. Hah?

Saya lupa nama teman jurnalis itu. Saya ingat dia bilang: “Sudah saatnya kita ubah cerita-cerita tentang Pram. Dia bukan atheis. Dia Islami. Buktinya, dia ngajarin anak cucunya mengaji. Indonesia harus tahu ini.”

Saya tak begitu tertarik dengan apa yang dibahasnya. Saya pikir, soal keyakinan adalah pilihan masing-masing. Anda mau peluk agama apa pun, silakan saja, sepanjang Anda tidak menyakiti orang lain. Selagi Anda baik, saya tidak peduli apa agama Anda. Saya pun akan jadi sahabat baik. Tapi selagi Anda jahat dan menyakiti saya, biarpun setiap hari kamu di rumah ibadah, saya tak akan sudi berteman.

Saya ingat Pram, yang pernah bilang bersikap adil sejak dalam pikiran. Bagi saya, apa pun pilihan ideologinya, dia tetap seorang penulis paling hebat yang lahir di rahim republik ini. Dia pun penulis yang nasibnya paling tragis. Puluhan tahun dipenjara tanpa ada keputusan pengadilan, buku-bukunya dilarang rezim hingga penghargaan terhadapnya pun diprotes ramai-ramai.

Tapi, dirinya tetap penulis yang sangat humanis. Kalimat-kalimatnya khas. Dia tidak menulis sesuatu yang picisan, tetapi sesuatu yang punya dampak bagi bangsanya. Dia menulis untuk sesuatu yang lebih besar mengenai bangsanya.

Dalam buku Bumi Manusia, dia menulis satu sosok dan satu periode yang diabaikan, padahal teramat penting dalam sejarah. Dia menulis tema kebangkitan nasional sebagai sesuatu yang muncul dari berbagai interaksi orang-orang serta semangat zaman yang membawa anak bangsa pada titik untuk merdeka. Di situ ada pergolakan ide-ide menjadi bahan bakar yang menyalakan semangat zaman.

Empat puluh hari setelah Pram meninggal, saya menghadiri diskusi yang diadakan di Bentara Budaya Kompas di Palmerah, Jakarta. Di rumah joglo yang posisinya tepat di seberang harian Kompas, saya mengikuti diskusi Pram yang dihadiri Goenawan Mohamad dan Taufik Rahzen.

Saat babakan pertanyaan, kawan jurnalis yang pernah mengajak saya berbincang, terlihat mengacungkan tangan. “Sudah waktunya kita melihat Pram dari sisi berbeda. Dia seorang Islamis. Dia ulama,” katanya.

Saya melihat mimik Taufik Rahzen yang tidak nyaman. Goenawan Mohamad menjawab dengan kalimat menohok. “Lantas, apa faedahnya jika kita memerangkap dia dalam satu kategori seperti itu? Bukannya itu malah mengecilkan Pram? Bukannya itu adalah sesuatu yang tidak diinginkan Pram sebagai seorang nasionalis yang berdiri di atas kaki semua golongan, khususnya anak bangsa yang tertindas?

Saya setuju dengan Goenawan. Sayang, saya tak bisa mengikuti diskusi itu sampai habis. Saya terima telepon dari redaktur untuk menguntit Luna Maya yang saat itu sedang bersama Ariel. Saya ingin cerita Luna Maya pada kesempatan lain.

Kini, saya memandang poster film Bumi Manusia, adaptasi dari novel yang ditulis Pram. Saya tak punya ekspektasi film ini akan sedahsyat novelnya. Bagi saya, novel dan film adalah dua hal berbeda. 

Yang saya tunggu dari film ini adalah diksi atau kalimat khas dari Pram yang menyentuh, menampar, juga menggedor ruang berpikir. Saya tunggu hadirnya sosok Minke yang diperankan Iqball, idola anak Indonesia “jaman now”. Saya tunggu bagaimana Annelies Mellema (kok saya selalu bayangkan Chelsea Islan yaa) seorang indo belanda yang jelita, dan ibunya Nyai Ontosoroh yang kharismatis.

Saya menunggu momen ketika Nyai Ontosoroh berkata: “Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”



Buat KAMU yang Gagal Masuk PTN Favorit




Buat kamu yang gagal masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit, jangan berkecil hati. PTN hanya memberi kamu satu tepukan dada kebanggaan, menjejalkanmu mitos-mitos tentang kebesaran dan kehebatan. Tapi percayalah, itu bukanlah segala-galanya. Malah bisa jadi bullshit!

Di Amerika Serikat, saya mengenal seorang kawan yang ketika menyebut kampusnya maka pertanyaan yang muncul adalah “Yang mana yaa? Kok saya baru dengar?” Tapi kawan itu punya mental tahan banting. Dia jauh melejit dari siapa pun. Dia bisa tampil di banyak konferensi besar dan selalu terpilih sebagai “the best paper.”

Saya juga mengenal seorang kawan asal Aceh. Dia tadinya ingin masuk kampus top di Jawa. Apa daya, dia tak diterima. Mulanya dia bersedih. Dia membayangkan masa depannya akan suram. Dengan sedih dia menerima fakta hanya diterima di kampus Islam kecil di Aceh. 

Tapi dia tidak mau kalah begitu saja. Dia mengasah dirinya dengan tekun hingga ketika lulus, dia diterima dalam program beasiswa ke luar negeri untuk kaum marginal. Dia melanjutkan master di satu kampus top di Amerika Serikat. Dia lanjut hingga meraih gelar doktor. Sebentar lagi dia akan melekatkan kata PhD di belakang kartu namanya sebagai seorang associate professor di satu kampus di luar negeri.

Kalau saja dia percaya dengan mitos hebatnya PTN, mungkin dia tidak akan sampai sejauh itu. Kuliah di kampus luar Jawa, pada perguruan tinggi yang biasa saja, tidak membuatnya kalah. Justru dia tertantang untuk membuktikan sampai mana batas pencapaiannya. Dia belajar dalam keterbatasan, tapi justru itu menjadi pelecut semangat yang luar biasa.

Percayalah, jika punya kesempatan ke luar negeri, coba cek kampus-kampus mana saja mahasiswa Indonesia berasal. Banyak di antaranya dari kampus-kampus tidak terkenal. Bukan PTN hebat. Lantas apa yang membawa mereka ke sana? Sebab mereka punya prestasi, daya survival, serta bisa punya semangat tahan banting untuk mencari beasiswa dan peluang-peluang baru. Mereka kreatif dan punya seribu cara menghadapi tantangan. 

Di luar negeri, semua kampus Indonesia dihitung medioker. Anda semua punya kesempatan yang sama untuk berkompetisi. Selagi Anda punya kemampuan, serta kapasitas, maka semua jalan sukses akan terbentang bagi Anda. 

Bukan nama kampus yang menentukan masa depan Anda, tapi semuanya ada di tanganmu. Pilih mana, menyerah karena gagal masuk kampus besar atau memelihara semangat baja demi menjemput peluang besar di masa depan?

Kampus besar hanya mitos. Bukan segala-galanya. Semuanya akan berpulang pada sejauh mana kemampuanmu menghadapi tantangan-tantangan baru, sejauh mana kemampuan yang kamu miliki untuk bertahan di semua situasi. Di era ini, Anda tak perlu bangga diajari dosen A yang hebat di kampus PTN. Sebab Anda bisa langsung berguru pada banyak profesor hebat di luar negeri yang rekaman kuliahnya beredar di Youtube.

Saya punya cerita lain. Seorang teman lulus dari satu kampus paling top di Jakarta. Ketika bekerja, dia selalu membanggakan kampusnya. Giliran dikasih pekerjaan, dia paling banyak membuat alasan. Dia selalu bilang, kalau di kampus, kami buatnya begini, bukan begitu. 

Dia tidak tahu bahwa semua manajer HRD lebih membutuhkan seseorang yang mau belajar, menyerap hal baru, dan selalu melakukan inovasi ketika bekerja. Andai dia baca buku Thank You for Being late yang ditulis Thomas L Friedman, dia akan mendapati fakta kalau 99 persen perusahaan selalu melatih ulang karyawannya karena pengetahuan dari kampus tak bisa diandalkan.

Dia gagal mencapai banyak target. Malah orang-orang dari kampus biasa justru jauh lebih melejit. Sebab mereka datang tanpa membawa kebanggaaan. Mereka datang sebagai pribadi yang siap bekerja keras dan membuktikan kalau mereka layak diterima. Juga ada motivasi ingin karier yang sepadan dengan gaji agar terus menanjak.

Orang-orang dari kampus biasa ini tertantang untuk membuktikan bahwa kampus hanya persinggahan, bukan sebagai cara untuk menghakimi kapasitas seseorang. Anda boleh saja bangga karena datang dari kampus besar. Namun di dunia kerja, you’re nothing. Kerja-kerjamu yang akan membuktikan seberapa layak Anda dinilai. Jika Anda hebat, buktikan dengan kerja yang juga hebat.

Nah, di era yang saling terhubung ini apakah perlu belajar di perguruan tinggi?

Saya masih punya cerita. Di Jakarta, saya kenal dengan seorang kawan. Dia mengelola usaha pelatihan. Dia sering mempekerjakan para profesor dan doktor untuk tampil memberi materi di pelatihannya. Dia sangat pede ketika bertemu orang baru dan presentasi. 

Saya tidak pernah bertanya latar pendidikannya. Suatu hari dia mengundang Prof Effendy Gazali, pakar komunikasi dari UI. Kebetulan saya juga ikut hadir. Saat makan siang, Effendy bertanya kawan itu kuliah di mana. Saya membayangkan dia akan menyebut kampus besar. Jawabannya, dia tidak pernah kuliah. Pendidikannya hanya SMA. Hah? Kok bisa begitu pede?

Kawan itu bercerita tentang kehidupan yang tidak mudah. Dia meniti karier dari officeboy, kemudian pesuruh di kantor. Tapi dia gunakan semua indra dan nalarnya untuk menangkap semua pembicaraan di situ. Dia ikuti semua materi pelatihan dan gunakan kesempatan untuk diskusi dengan paar. Dia melangkah tanpa beban. Dia tidak takut dibilang bodoh karena memang dia tidak sekolah. 

Kini, dia kelola lembaga pelatihan. Dia mempekerjakan para profesor dan doktor dan digaji 5-10 juta rupiah sekali membawakan materi. Para profesor itu girang bukan main dengan gaji segitu sekali ngomong. Para profesor itu tidak tahu kalau kawan yang tidak punya sekolah itu bisa memanen sampai 100 juta rupiah sekali pelatihan.  

suasana di satu coworking space

Pertemuan dengannya membuat saya banyak merenung. Di kafe-kafe ataupun coworking space, saya melihat banyak anak muda yang setiap hari nongkrong. Tapi mereka tak sekadar nongkrong. Mereka mengelola sektor ekonomi kreatif berbasis digital. Mereka mengelola e-commerce, menjadi youtuber, dan menjadi konten kreator yang tak punya kantor, tapi setiap saat bisa menghasilkan dollar.

Pernah, saya ngobrol dengan Yoan, seorang cewek manis berambut pirang di satu coworking space. Dia tidak tertarik kuliah, tidak juga berniat dapat gelar. Dia hanya lulusan SMA. Pernah, dia hampir lanjut kuliah, tapi setelah membaca pengumuman kalau perusahaan sekelas Google dan IBM tidak pernah melihat ijazah, dia mengurungkan niatnya.

Dia mengasah kapasitasnya dengan mengambil kelas-kelas singkat dan pembelajaran online. Dia memegang tiga sertifikat keahlian dari Google. Kini, dia jadi rebutan banyak korporasi besar. Hebatnya, dia menolak semua tawaran itu. Dia memilih bekerja dari kafe-kafe, sesekali ke Bali untuk berlibur sekaligus bekerja. Sesekali ada di daerah terpencil di Indonesia.

Sebagai orang yang pernah lulus dengan nilai sangat bagus di kampus-kampus besar yakni Unhas, UI, dan Ohio University, saya makin banyak belajar saat melihat banyak hal di sekitar. Dunia sedang bergerak maju. Pikiran pun harus terus bergerak. 

Jangan berbangga hati hanya karena kampus besar dan jaringan alumni yang selalu rajin menggelar arisan setiap tahun. Berbanggalah karena Anda punya kapasitas dan skill yang membuat Anda akan selalu dibutuhkan. 

Temukanlah passion atau sesuatu yang Anda sukai, kemudian kejar dengan sepenuh hati. Penentu masa depan bukanlah kampus atau dari mana Anda berasal, melainkan sejauh mana upaya menemukan emas berlian di dasar diri, yakni kemampuan untuk selalu belajar, menyerap hal baik di sekitar, dan melakukan hal-hal yang kamu sukai hingga kelak menjadi karier yang melejitkan dirimu pada level yang tidak pernah diduga.

Masih percaya dengan mitos kampus PTN?




Jared Diamond, UPHEAVAL, dan Kisah Kebangkitan


buku Upheaval dalam versi terjemahan

Di hadapan saya ada buku Upheaval" Turning Points for Nations in Crisis, buku terbaru yang ditulis Profesor Jared Diamond. Sejak membaca bukunya yang menang Pulitzer yakni Guns, Germs, and Steel, saya selalu mengikuti karya-karya pengajar di UCLA California ini.

Berkat kawan-kawan di Manado, saya bisa membacanya dalam versi Indonesia di tahun yang sama dengan terbitan di luar negeri. Sebagai orang timur, saya senang karena banyak buku bagus diterjemahkan dan diterbitkan kawan-kawan penerbit Globalindo di Manado. Bagi saya itu keren. Timur harusnya menjadi mata air pengetahuan untuk Indonesia.

Tidak semuanya buku Jared Diamond saya sukai. Tapi tetap saja asyik dibaca. Bahasanya renyah dan mengalir, serasa membaca catatan perjalanan. Dalam buku Guns, Germs, and Steel, dia terlalu mengagungkan pengaruh lingkungan pada perilaku manusia. Tapi buku berikutnya yakni Collaps dan The World Until Yesterday, dia menjadi sangat humanis.

Saya sepakat dengan Bill Gates, dunia amat beruntung memiliki intelektual sekaliber Jared Diamond. Profesor ini selalu produktif melahirkan karya-karya bagus dan tebal. Betapa saya penasaran untuk tahu proses kreatifnya. Dia seperti mata air yang tak kehabisan ide. Selalu ada yang baru di setiap bukunya.

Buku Upheaval mendiskusikan bagaimana bangsa-bangsa pernah jatuh, kemudian bangkit dari krisis. Dia melakukan perbandingan pada tujuh negara, yakni Amerika Serikat (AS), Jepang, Chili, Finlandia, Australia, Jerman, dan Indonesia. Dia melihat bangsa-bangsa ini punya kekuatan untuk keluar dari krisis. Dia pun melihat ada potensi yang masalah yang bisa muncul.

Saya penasaran mengapa dia tidak membahas Cina. Padahal Cina adalah calon super power yang menggantikan Amerika Serikat. Di lembaran awal, saya temukan jawabannya. Dia hanya menulis tentang beberapa negara-negara yang pernah didatanginya. Selain Jepang, dia pernah bolak-balik di semua negara itu. Dia menemukan banyak hal menarik tentang kebangkitan dari krisis.

Krisis memang bisa memorak-porandakan satu bangsa. Tapi, ada bangsa-bangsa yang bisa bangkit dan tumbuh menjadi kekuatan baru. Saya ingat penuturan sejarawan Arnold Toynbee tentang dinamika antara “challenge and respons.” Setiap bangsa akan menemui tantangan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa memberikan respon atas tantangan yang dihadapinya.

Saya sangat tertarik membaca bab mengenai Indonesia. Jared Diamond melihat adanya krisis pada tahun 1965, ketika ratusan ribu orang dibantai oleh rezim militer. Dia melihat kediktatoran Suharto yang membawa banyak aspek negatif, tetapi ada juga aspek positifnya yakni pertumbuhan.

Meskipun didera krisis, Indonesia malah bangkit dan bisa mengelola ribuan etnik, keterpisahan pulau, serta berbagai agama berbeda.  Saya ingat, dulu ada pernyataan Jared Diamond tentang Indonesia yang bisa terpecah seperti Yugoslavia. Dalam buku ini dia malah melihat kian kuatnya identitas nasional, efektifnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, serta makin kuatnya integrasi nasional.

Saya melihat pernyataan Jared Diamond mengabaikan beberapa fakta yang muncul belakangan. Dia tidak melihat bahwa negeri ini sedang bergelut untuk menyelesaikan banyak pekerjaan rumah, seperti makin kuatnya radikalisme serta politik identitas. Dia juga tidak melihat ada beberapa hal yang bisa merusak persatuan dan keragaman.



Dalam beberapa hal, saya temukan argumentasi buku ini serupa dengan buku Why Nations Fail yang ditulis Daron Acemoglu. Mereka sama-sama melihat ada krisis, serta ada kekuatan untuk bangkit. Dengan menggunakan perbandingan antara berbagai studi kasus, kita bisa menemukan variasi serta kekuatan untuk berubah.

Saya masih ingin membahas buku ini lebih panjang. Tapi, bacaan saya masih sebatas bab-bab awal. Maklumlah, buku ini baru datang kemarin dari penerbit online. Saya sedang lapar-laparnya untuk menghabiskan lembar demi lembar.

Saya sedang asyik-asyiknya membaca Jepang di era Meiji yang bisa bangkit dengan cara meniru barat, tapi tetap tidak kehilangan akar budayanya. Saya juga menyukai cerita tentang Finlandia yang di tengah krisis bisa mengalahkan Uni Soviet.

Secara umum, Jared Diamond menjadi pengamat politik dan sejarawan di buku ini. Dia agak menyimpang dari buku sebelumnya yang membahas lingkungan dan biologi. Saya tahu bahwa ada banyak yang mengkritik akurasi data di sini. Tapi Jared Diamond telah membuktikan satu hal: gagasan yang terbaik adalah gagasan yang dituliskan. 

Dia memulai satu proyek besar untuk menulis buku yang secara metodologis mempertemukan berbagai kajian. Dia pun telah mempersembahkan pelajaran berharga yang bisa kita petik dari lingkungan sekitar kita, dari setiap bumi manusia, dan dari kisah keruntuhan dan kebangkitan bangsa-bangsa.


De Maccasare ze Rovers




Ayolah anak-anak PSM. Kalian diwarisi sejarah hebat tentang perlawanan yang tak pernah surut. Tiga abad lalu, pasukan kompeni VOC amat gentar jika berhadapan dengan pasukan yang dipimpin Karaeng Galesong. 

VOC menyebut pasukan itu sebagai De Maccasare ze Rovers atau bajak laut Makassar. Pasukan itu bergerak cepat dan mengerikan laksana lanun. Pasukan itu punya spirit tak kenal kompromi. Sekali merengkuh dayung, tak ada istilah kembali.

“Kualleangna tallanga natoalia.” Lebih baik kupilih tenggelam dari pada kembali. Demikian ikrar Karaeng Galesong ketika meneror VOC hingga bertualang hingga tanah Jawa. Mereka melawan kompeni di manapun, di pelabuhan-pelabuhan, juga di atas kapal-kapal yang menembus samudera.

Kini kalian, pasukan ayam jantan PSM, sedikit lagi akan menantang macan Persija. Pertandingan bukan di atas lautan. Tapi percayalah, semangat Karaeng Galesong itu ibarat api yang membakar kalian hingga menyala-nyala hingga permainan kalian bisa selevel dewa di Stadion Mattaoanging.

Di atas lapangan hijau itu, tampilkanlah permainan terhebat sebagaimana pernah ditampilkan dengan gagah berani oleh nenek moyang kalian saat melawan VOC di tahun 1669. 

Sejarawan Anthony Reid mencatat, nenek moyang kalian telah mempersembahkan satu perempuran paling brutal dan paling megrerikan yang pernah dihadapi VOC di negeri-negeri bawah angin.

Jika semangat kalian mulai pudar, jika phinisi mulai tak dapat angin, jika juku eja atau ikan merah mulai terdampar di pasir, rapalkan mantra dari seorang prajurit bernama I Mangngopangi Daeng Ngutung di hadapan Kareng Galesong:

Punna nia bura’ne karaeng rewanggang na inakke
Sere’lipa kuruai kusionjo’ tompo bangkeng
Kusikekke kamma lame kukamma mamo kicini karaeng

"Jikalau ada lelaki yang lebih jantan dari saya karaeng
Satu sarung kami berdua saling beradu
Saling merobek layaknya ubi, seperti itulah yang karaeng lihat"

#ewako #psm