Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

DEREK REDMOND


Dia diprediksi akan menjadi juara lomba lari 400 meter. Dia, Derek Redmond, pelari asal Inggris yang memecahkan rekor lari di tahun 1985. Bahkan tahun 1987, dia kembali memecahkan rekor tersebut. Tahun 1988, harusnya dia berlaga di Olimpiade Seoul, tapi batal karena cedera.

Olimpiade 1992 di Barcelona adalah kesempatan terbaiknya. Dia siap menjadi juara kembali. Dia berlari sekencang mungkin saat pistol ditembakkan ke atas. Dia mengejar target setelah latihan selama berbulan-bulan.

Baru 150 meter berlari, kakinya sobek. Dia mengalami cedera. Dia tak sanggup berlari sehingga terduduk di lapangan. Semua temannya telah jauh meninggalkannya lalu mencapai garis finish. Dia hanya bisa menangis kesakitan.

Tapi dia perlahan bangkit. Dia memang tak punya kesempatan menang. Tapi dia tidak ingin meninggalkan Olimpiade tanpa mencapai garis finish. Dalam keadaan terpicang-pincang dia mulai berlari.

Pelatihnya menerobos ke lapangan. Pelatih yang juga ayahnya itu mengabaikan larangan pihak sekuriti. Dia mendekati anaknya yang berlari dalam keadaan pincang.

“Kamu tak harus melakukan ini Nak?” katanya.

“Tidak Ayah. Saya harus menggapai garis finish,”

“Kalau begitu, mari kita lakukan bersama-sama.”

Sang Ayah memeluk anaknya kemudian sama-sama berlari kecil. Menjelang garis finish, sang ayah melepaskan rangkulannya, kemudian menyilahkan anaknya untuk menggapai finish. 

Sebanyak 65 ribu penonton sontak berdiri dan memberikan standing applause melihat adegan yang mengharukan itu. Pertandingan bukanlah soal siapa menang dan kalah. Terpenting adalah menyelesaikan pertandingan, menuntaskan apa yang sudah dimulai.

Derek Redmond memang tak membawa pulang medali. Ia tak juara. Tapi ia telah menunjukkan karakter juara, yakni mereka yang berusaha menggapai garis akhir. Para juara adalah mereka yang menyelesaikan semua tugasnya tanpa menyerah, meskipun menghadapi sakit dan luka. 

Ayahnya pun tak kalah hebat. Dia tak mau menyaksikan luka dan sakit yang dihadapi anaknya. Mulanya dia ingin anaknya keluar lintasan agar cederanya tidak semakin parah. Namun melihat sikap mental anaknya yang tetap bertanding, dia memberi dukungan penuh. Dia berlari sambil memegang anaknya, dan membantunya ke garis akhir.

Jika kehidupan adalah arena di mana setiap orang menumbuhkan karakter, maka selalu saja ada karakter pemenang dan karakter pecundang. Para pecundang adalah mereka yang mudah mengeluh, suka mencari alasan dan menyalahkan orang lain. Sementara para pemenang adalah mereka yang selalu berlari hingga akhir, menginspirasi, dan punya karakter menggerakkan orang lain.

Orang hebat bukanlah mereka yang selalu menggapai kemenangan. Tapi mereka yang setiap kali jatuh, selalu bisa bangkit dan berlari. 

Kisah Derek Redmond menginspirasi banyak orang. Penyanyi Josh Groban bersenandung: 

You raise me up, so I can stand on mountains

You raise me up to walk on stormy seas

I am strong when I am on your shoulders

You raise me up to more than I can be

Puluhan tahun setelah apa yang terjadi di Barcelona tahun 1992, publik hanya mengenang nama Derek Redmond, bukan juara di lomba lari 400 meter. Karakter hebat akan terus melintasi zaman dan abadi dalam ruang indah di hati semua orang.


NYONG AMBON


Dia tak banyak bicara. Dia hanya senyam-senyum di Tik Tok. Sesekali bibirnya menggumam saat bernyanyi. Tapi, itu sudah cukup membuat banyak gadis cantik histeris dan klepek-klepek. Banyak perempuan mengunggah video duet bersamanya. 

Lelaki itu Marlon Abraham. Dia sering disebut sebagai pria paling manis dari Ambon Manise. Ada yang menyebut manisnya bisa bikin diabetes. Kulitnya tidak putih. Dia coklat agak gelap. Kumis tipis berbaris. Rambut keriting. Tapi senyumnya bikin orang jatuh hati. 

Penampilan Marlon beda jauh dengan para personel boyband Korea yang punya rahang lembut, rambut lurus, kulit putih bak pualam dan bibir merah bergincu. Wajah personel boyband Korea seperti kanak-kanak. Tampak polos, tak berdosa.

Marlon adalah anti-tesis. Dia menampilkan sosok lelaki timur yang punya rahang kokoh. Nyong Ambon ini tampil apa adanya. Dia seorang laki-laki matang yang dadanya bidang dan sedikit kekar. Dalam beberapa video, dia tampak kelelahan dan berkeringat. Kancing bajunya terbuka. Bulu dadanya tampak. Gadis2 histeris. Please Marlon, marry me!

Daya tariknya ada pada kulit gelap, rambut keriting, serta senyum manis yang sungguh menawan. Lesung pipinya mengingatkan pada Shahrukh Khan. Dia menjadi ikon kegantengan. Para selebriti mengidolakannya. Dia diundang masuk televisi dalam berbagai format siaran, ada talskhow, komedi, dan juga musik.

Tidak mengejutkan jika selebriti Nikita Mirzani membikin acara televisi di mana dirinya bersandar di kasur bersama Marlon. Baru beberapa menit tayang, ada adegan sejumlah gadis menghambur ke ranjang. Semua ingin bersama Marlon, nyong Ambon yang ganteng ini.

Saya tertarik melihat ketampanan, juga kecantikan khas timur. Sayangnya, makna ketampanan itu ditenggelamkan oleh kolonialisme. Puluhan tahun dalam cengkeraman kolonialisme, orang Indonesia melihat cantik dan ganteng seperti melihat penjajahnya. Ganteng dan cantik adalah berkulit putih, bermata biru, berambut pirang.

Konsep-konsep ini yang kemudian dieksploitasi oleh kapitalisme, di mana banyak produk pemutih, pelurus rambut, pemirang rambut, hingga lipstik merah merona. Berbagai produk kecantikan ibarat hamba yang melayani semua titah para pemodal. 

Konsep-konsep ini kian menyingkirkan mereka yang tinggal di timur. Kulit gelap terpinggirkan. Padahal sebelum kedatangan orang Eropa sebagai penjajah, kulit gelap pernah menjadi standar kecantikan dan kegantengan, sebagaimana tercatat dalam banyak naskah-naskah kuno.

Di timur, mereka yang berkulit gelap sering kali minder saat datang ke barat. Malah sering dicurigai. Komika Arie Kriting, yang berasal dari Wakatobi,  bercerita pengalamannya saat kuliah di Jawa. Semasa kuliah, setiap kali ada penyusunan panitia kegiatan, orang-orang timur selalu jadi seksi keamanan.  “Mereka lihat orang timur selalu seram dan mata melotot,” katanya.

Berkat internet, proses pembalikan anggapan itu sedang terjadi. Saya kagum melihat banyaknya orang timur yang tampil di Youtube dan Tik Tok yang segera populer ke mana-mana. 

Bukan hanya Marlon yang jadi standar kegantengan, saya tertarik melihat anak muda Papua yang membikin lagu-lagu Papua dalam kemasan rap atau hip hop. Mereka menampilkan sisi timurnya dengan penuh gembira. Bahkan mereka menyampaikan suara-suara perlawanan serta sisi lain Papua melalui musik. 

Jangan terkejut, konten anak Papua itu menyebar ke mana-mana, bahkan ada konten yang viral di India, Myanmar, dan Thailand. (Saya akan bahas di tulisan lain).

Berkat internet, publik tanah air lebih mengenal karakter pria timur selalu mempesona. Kulit gelap itu menjadi berkilau. Rambut keriting itu jauh lebih orisinal dari rambut keluaran salon-salon ternama. Jangan lupa, pria timur selalu romantis. Lihat saja lagu Kaka Main Salah yang dinyanyikan Marlon, yang bikin histeris cewek-cewek:

"Kaka su jaga nona

Dari dulu dulu e

Terpaksa kaka mundur

Jauh jauh e"


LATHI


Dalam bahasa Jawa, lathi bermakna lidah. Dalam percakapan, lathi sering menjadi kiasan dari ucapan. Selama beberapa bulan terakhir, lathi menjadi kosa kata bahasa Jawa yang sangat populer di dunia maya. What?

Lathi adalah judul lagu yang dibuat kelompok music Weird Genius yang dinyanyikan rapper asal Surabaya, Sara Fajira. Satu bait lagu ini memakai bahasa Jawa yakni: "Kowe ora iso mlayu saka kesalahan. Ajining diri ana ing LATHI.” Maknanya: “Kamu tidak bisa lari dari kesalahan. Kehormatan diri ada pada ucapannya.”

Lagu ini menjadi fenomena musik di tahun 2020. Di Youtube, video klip lagu ini ditonton sebanyak 95 juta orang dalam waktu 7 bulan, satu capaian yang fantastis. Lagu ini memecahkan rekor di Spotify Indonesia sebagai lagu lokal yang menjuarai tangga lagu Indonesia Top 50 dengan durasi terlama. Voice of America (VOA) mencatat, lagu Lathi telah di-download sebanyak 150 juta kali di berbagai platform digital.

Popularitas Lathi pun dilaporkan berhasil memuncaki sejumlah tangga lagu di negara lain, mulai dari Singapura, Malaysia, Hong Kong, hingga Taiwan. Bahkan di luar negeri, lagu itu juga masuk dalam jajaran Global Viral 50 Spotify dan mencapai peringkat ke-2.

Popularitas Lathi menjalar hingga Tik Tok. Banyak orang ikut dalam apa yang disebut Lathi Challenge, yakni membuat video ala klip Lathi yang menampilkan wajah seram. Video itu menjadi semacam wabah yang melanda muda-mudi Malaysia sehingga seorang ustad menyebut ada kalimat pemanggil setan di lagu itu. Lagu itu dianggap haram. Ramai pula perdebatan di Malaysia, namun semuanya mengakui betapa kreatifnya orang Indonesia mencipta seni yang mendunia.

Puncaknya, wajah para personel Weird Genius dipampang di billboard yang berada di Times Square New York. Mereka adalah Reza Arap, Eka Gustiwana, dan Gerald Liu. Lihat wajah mereka. Mereka bukan bule. Mereka asli orang Indonesia yang menulis lirik dalam bahasa Inggris dan bahasa Jawa, menampilkan gamelan, wayang, kuda lumping. Mereka menggabungkan musik elektronik dengan gamelan dalam varian Electronic Dance Music (EDM).

Mereka mendunia. Banyak DJ dan musisi dunia ingin bekerja sama. Mereka sukses go international, menyusul beberapa penyanyi lain seperti Anggun dan Agnez Mo. Bedanya, mereka tak perlu ke luar negeri dan bekerja sama dengan label asing. Mereka berkarya di Indonesia, menggabungkan unsur-unsur tradisional Indonesia, lalu menggunakan media sosial sebagai tools untuk membawa karya mereka mendunia.

Lagu Lathi menjadi salah satu ikon budaya Indonesia yang mendunia. Para personel Weird Genius tahu bagaimana membuat sesuatu viral di ranah global. Mereka mencipta lagu dalam bahasa Inggris, memasukkan unsur tradisi yang eksotis bagi bangsa luar, juga membuat musik yang kekinian.

Lagu Lathi dinyanyikan ulang atau di-cover oleh penyanyi luar negeri. Betapa serunya menyaksikan para penyanyi bule berusaha melafalkan bahasa Jawa dengan tepat. Selama ini, orang bule yang menertawakan kita yang berusaha belajar bahasa Inggris dengan pengucapan yang aneh. Kini, kita balik yang menilai pronounciation mereka saat melafalkan bahasa Jawa.

Selama ini, kita yang berusaha meniru barat. Internet telah membuat situasi perlahan berbalik. Kini, ada masanya barat yang berusaha menjadi diri kita. Dalam konteks budaya, tidak selalu yang dominan mempengaruhi minoritas, ada masanya dominan justru berusaha meniru minoritas. Lihat saja fenomena Korean Wave saat banyak warga dunia menjadi follower lagu-lagu hingga drama Korea, padahal bahasa Korea hanya dituturkan sebanyak 51 juta orang di semenanjung Korea.

Namun apakah kita memang minoritas? Guys.. Lihatlah Youtube dan semua platform digital hari ini. Warga paling heboh selalu netizen Indonesia. Populasi Indonesia adalah keempat terbanyak di dunia. Penduduk kita 260 juta orang, dibandingkan Malaysia yang hanya 30-an juta.

Banyak artis luar yang mengincar pasar Indonesia. Di dunia digital, tidak penting dari mana Anda berasal, sebab setiap klik atau follower bernilai sama, dari mana pun itu. Apa yang viral di Indonesia akan menjadi trending global. Kita bisa paham mengapa banyak penyanyi Korea yang meng-cover lagu Indonesia. Demikian pula para vlogger Malaysia dan Filipina yang selalu membuat konten tentang Indonesia. Bahkan penyanyi Malaysia terobsesi untuk menembus pasar Indonesia, sebagaimana dilakukan Sitti Nurhalizah.

Di bandingkan Korea, kita tidak punya peta dan arahan apa yang harus dilakukan untuk menembus pasar global. Beda halnya dengan Korea yang dalam buku The Birth of Korean Cool, digambarkan Euny Hong, tentang tekad pemerintahnya menembus budaya global, lalu melakukan riset, kemudian berkoordinasi dengan industri kreatif apa yang harus dilakukan.

Namun tak perlu menunggu negara. Kita gembira dengan munculnya talenta hebat yang bisa mendunia, bisa memaksa warga global untuk belajar bahasa kita. Pada para seniman hebat seperti Weird Genius atau pada Alif Ba Ta, anak muda yang bermain gitar dari kamar kusam, kita letakkan harapan tentang mimpi Indonesia merebut pentas global di dunia tanpa sekat.

Kita bisa perlahan menjemput cita-cita besar yang tertera pada lagu karya Ismail Marzuki: “Indonesia sejak dulu kala. Tetap di puja-puja bangsa.”



Kembalikan Ibu Susi !!

Susi Pudjiastuti

Menteri itu baru saja ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Seorang menteri yang dikelilingi tenaga ahli dan pakar perikanan, bahkan didukung pula pakar komunikasi komunikasi publik, justru dicokok bersama istrinya saat baru tiba di bandara.

Di media sosial, satu nama kemudian mencuat menjadi trending. Dia adalah perempuan lulusan SMP yang cintanya kepada keberlanjutan lautan Indonesia tak bisa ditakar. Da adalah perempuan yang pernah dipandang sebelah mata, tapi menjadi benchmark yang sukar digapai siapa pun. Maka ramailah orang berteriak: “Kembalikan Susi Pudjiastuti!”

Susi hanya menjabat satu periode. Tapi, dia meninggalkan legacy yang banyak untuk dunia kelautan Indonesia. Kalimatnya “Tenggelamkan!” terpatri di dasar hati publik Indonesia. Banyak yang tidak menyangka, perempuan yang disoroti karena bertato dan merokok itu justru punya nyali setinggi langit.

Keberanian memang tak membutuhkan banyak analisis risiko. Keberanian hanya butuh sebening keyakinan, bahwa apa yang sedang dikerjakan itu benar. Keberanian serupa api yang membakar seseorang dan bersedia untuk melakukan apa pun.

Perempuan yang memulai karier dari rakyat jelata tak berpunya itu tahu persis, dunia kelautan Indonesia serupa surga yang diperebutkan para maling dari banyak benua. 

Dia juga tahu kalau para maling itu punya akses pada kebijakan sehingga sering dilindungi.  Dia sering mendengar kisah para nelayan yang tangkapannya terganggu karena laut kita dijarah dengan kapal-kapal besar, yang tak menyisakan apa pun. 

Ketika menjadi menteri, dia fokus menghajar yang besar-besar. Dia tenggelamkan kapal-kapal asing penjarah lautan Indonesia. Dia abai dengan suara-suara protes dari pengusaha. Lautan adalah milik kita yang harus diselamatkan. Lautan harus diwariskan untuk anak cucu, lengkap dengan sumber daya hayati yang kaya. Lautan hanya untuk bangsa, juga untuk masa depan.

Dia pun melindungi nelayan kecil dengan asuransi. Dia dorong agar semua pelaku perikanan peduli pada sumber daya alam yang berkelanjutan. Bahkan dia melarang ekspor benih lobster yang hanya memberi keuntungan pada sejumlah orang. Cukup sedikit bersabar, maka benih atau bayi itu akan besar lalu bisa dijual berlipat-lipat harganya.

Apa daya, dia dianggap tidak pro bisnis. Kebijakannya bikin banyak orang kehilangan berlian. Dia dijegal oleh partai-partai politik yang kesemuanya mengajukan keberatan kepada presiden. Dia pun diganti dengan menteri berlatar partai yang disebut-sebut pro bisnis dan pengusaha.

Yang dilakukan menteri baru hanya sibuk mengkritik, bahkan mengungkit celah Susi. Menteri baru hanya sibuk nyinyir, tanpa menunjukkan satu kerja yang punya orientasi untuk hari ini dan hari depan. Menteri baru hanya jadi bayang-bayang. Dia mengganti semua kebijakan Susi hanya untuk menunjukkan dirinya jauh lebih baik dari menteri lulusan SMP.

Bahkan demi positioning yang kuat, menteri baru membentuk barisan tenaga ahli berupa para profesor dan pakar komunikasi publik. Susi yang hanya bisa bersuara parau di media sosial, ditentang habis-habisan. Kebijakannya dianggap hanya selevel SMP. 

Lautan kembali menjadi bancakan banyak kelompok. Petinggi partai burung bersorak-sorai dan berpesta dengan kuota ekspor benih sumber daya laut kita. Tak henti-hentinya menteri baru menyebut dirinya tak punya bisnis. Padahal laporan lembaga terpercaya menyebut kekayaannya terus melonjak.

Lautan kita tidak diam. Lautan kita menjadi saksi atas apa yang diakukan manusia. Dalam kearifan tradisional kita, lautan serupa semesta yang menjadi rumah bagi makhluk laut juga bagi manusia. 

Jika mengelola dengan baik, lautan akan berlimpah memberikan segala hal yang dibutuhkan manusia. Namun jika mengelolanya dengan niat memenuhi hasrat, mala lautan juga akan memberikan bala. Lautan punya banyak cara untuk menghukum keserakahan manusia.

Bau busuk dari pesta pora itu tercium media. Satu media besar memajang gambar menteri itu dengan benih lobster memenuhi mulutnya. Dunia kelautan kita yang sebelumnya sarat prestasi dan pujian kini penuh dengan sorotan. Jejaring di sekitar menteri pun diungkap satu per satu. 


Maka, bandara itu menjadi saksi. Menteri itu ditangkap bersama istri saat baru tiba. Dia tidak mewariskan apa pun selama menjabat. Dia hanya dikenang sejarah sebagai seorang menteri yang membuka keran ekspor benih, menghancurkan mata rantai keseimbangan di laut kita, serta mewariskan banyak sengkarut dan masalah untuk generasi mendatang.

Dia gagal menorehkan jejak di samudera kita. Dia menjadi bayang-bayang dan pengkritik menteri sebelumnya yang tadinya dipandang sebelah mata.

Pelajarannya adalah kehebatan retorika dan ketinggian ilmu seseorang bukanlah jaminan untuk menghasilkan kebijakan yang baik dan punya manfaat lintas generasi. Terpenting bukan sehebat apa kamu mengkritik mencaci orang lain, namun tampilkanlah sisi baik darimu yang kelak akan menjadi buah segar untuk dinikmati semua orang.

Dunia kelautan kita memang unik. Pernah dipimpin profesor, tapi malah tersandung. Saat dipimpin seorang lulusan SMP malah melejit dan sukses, serta menggetarkan para penjarah. Begitu dipimpin politisi pro-bisnis, kok malah kembali porak-poranda. Kalau gitu, kita memang butuh orang biasa dengan nyali luar biasa.

Makanya, marilah kita teriakkan tagar #KembalikanIbuSusi



DORAEMON, Imajinasi, dan Rasa Lapar Teknologi



Akhirnya, film Doraemon: Stand by Me 2 tayang di Jepang, pada 20 November 2020. Para penggemar kisah robot kucing itu menyebarkan kabar gembira itu ke seluruh dunia. Lima puluh tahun lalu, komik Doraemon pertama dirilis. Kini, film itu hadir untuk menghangatkan ingatan tentang kisah yang keren dan inspiratif.

Seorang sahabat di Jepang, Yukina Ishikawa, mengontak saya via Twitter. Dia girang sekali mengabarkan pengalamannya menonton film terbaru itu. Dalam film itu, ada tiga kisah terpisah yang dijalin menjadi satu cerita. Yaitu, Nobita yang menemui neneknya, Nobita yang melihat saat dia dilahirkan, dan saat pernikahan Nobita.

Yukina merekomendasikan saya untuk mengunduh soundtrack film ini berjudul “Niji” di Spotify yang dibawakan Masaki Uda. “Lagunya bikin sedih,” katanya. Mendengar kata Niji, kok saya malah mikir Giring Ganesha yaa.

Saya lalu melihat trailer film di Youtube. Dalam trailer tersebut, Nobita terlihat pergi ke masa lalu untuk bertemu dengan neneknya, yang sebenarnya sudah meninggal dunia saat ia masih bayi. Ditemani Doraemon, Nobita mengamati dan mengikuti segala kegiatan neneknya tanpa diketahui.

Pada satu momen, Nobita diam-diam mendengar keinginan terpendam sang nenek, yakni bisa menyaksikan cucunya menikah di masa depan. Nobita pun pergi ke masa depan untuk menyaksikan hari pernikahannya dengan Shizuka. Namun, pada hari pernikahan itu, Nobita dewasa tiba-tiba kabur.

Bagi penggemar Doraemon, jangan berharap film ini akan serupa kartun yang tayang di RCTI. Kisah Stand by Me 2 melanjutkan film sebelumnya yang ditujukan untuk para penggemar Doraemon yang telah beranjak dewasa. Film ini menampilkan sisi emosional yang kuat untuk para penonton yang sudah mengenal baik semua karakter dalam kisah itu.

BACA: Lembar Terakhir Komik Doraemon


Banyak di antara kita yang mengenal Doraemon hanya sebagai robot kucing yang punya banyak alat canggih dari perutnya. Dia berteman dengan Nobita, seorang anak pemalas, yang selalu meminta banyak alat. Nobita bersahabat dengan Suneo, Jaian, dan Shizuka. Mereka kerap melakukan banyak petualangan berkat alat-alat ajaib Doraemon.

Jika membaca tulisan sosiolog Ng Wai Ming berjudul The Impact of Japanese Comics and Animation in Asia, kita akan mendapatkan nuansa lain. Karakter Doraemon dan karakter lain dari komik Jepang telah sukses menggantikan Amerika Serikat (AS) sebagai eksportir komik dan animasi. Saat ini, hampir semua negara-negara Asia memiliki terjemahan komik Jepang. Mereka juga menayangkan serial ini di televisi negara masing-masing.

Sebagaimana dicatat Ng Wai Ming, yang merupakan professor Kajian Jepang di China University at Hongkong, karakter Doraemon sukses mengubah persepsi banyak orang tentang bangsa Jepang. Remaja Asia tergila-gila pada segala hal tentang Jepang. 

Berbeda dengan orang tua dan kakeknya, generasi baru menyimpan gambaran positif tentang Jepang. Bagi mereka, Jepang adalah negeri tempat Hello Kitty, Pikachu, Doraemon, Ultraman, dan Final Fantasy.

Kisah ini sukses menjadi public relation yang mengubah image tentang bangsa Jepang. Sebelumnya, citra Jepang adalah citra pada perang dunia kedua yakni citra tentang peperangan. Tapi melalui Doraemon, citra itu tergantikan menjadi senyum bahagia serta romansa tentang persahabatan seekor kucing ajaib dan teman-temannya yang kadang nakal, namun sama-sama mencintai persahabatan. 

Serial ini sukses menjadi mesin pengubah citra yang amat efektif sekaligus memperlebar daya jelajah kapital bangsa Jepang ke seluruh Asia dan dunia.

Saya pun teringat pada tulisan akademisi Saya Sashaki Shiraishi dalam buku Network Power: Japan and Asia yang diedit oleh Peter J Katzenstein dan Takashi Shiraishi, dan diterbitkan Cornell University tahun 1997. 

Dalam tulisan berjudul Japan’s Soft Power: Doraemon Goes Overseas, Siraishi memaparkan analisis menarik tentang Doraemon sebagai bagian dari soft power Jepang. ia mengutip istilah soft power yang dipopulerkan akademisi asal Harvard, Joseph Nye, untuk menggambarkan bagaimana pengaruh budaya dalam dinamika politik.

BACA: Drama Korea, Soft Power, dan Imajinasi Masa Depan


Shiraishi menggambarkan persaingan antar negara di era pasca Perang Dunia kedua yang lebih mengarah pada persaingan ekonomi dan bisnis. Doraemon dan juga beberapa tokoh dalam komik seperti Astro Boy dan Dragon Ball telah menjadi bagian dari ikon Jepang saat melakukan penetrasi ke banyak negara. 

Melalui strategi budaya, yang diwakili sosok Doraemon, Jepang lalu membanjiri pasar dunia dengan berbagai produk Jepang. Inilah strategi budaya yang ampuh, efektif, dan terasa menyenangkan, namun secara perlahan diikuti oleh penetrasi ekonomi.

poster Stand by Me 2

Tak heran kalau saat Majalah Time menobatkan Doraemon sebagai Asian Heroes pada tahun 2002, penulis Pico Iyer menyebut karakter ini sebagai ‘the cutest hero in Asia’. Setiap orang bakal terpesona saat menyaksikan kisah hebat ini. 

Saat hal yang luput dari pandangan Pico Iyer bahwa kisah Doraemon ini lebih dari sekadar kisah. Kisah ini telah lama tumbuh dan mewarnai masa kanak-kanak yang penuh imajinasi. Kisah ini telah menguatkan karakter Jepang untuk menjadi penguasa di ranah sains dan teknologi. 

Sebagaimana dicatat Shiraishi, perilaku Nobita yang selalu membutuhkan alat itu adalah gambaran dari perilaku sebagai “konsumen kreatif” yang selalu haus dengan inovasi dalam teknologi. Seakan jadi formula baku, Nobita selalu menggunakan alat pemberian Doraemon di luar niatan awalnya.

Percobaan Nobita memang kerap berujung petaka. Tapi, keingintahuan dan rasa optimismenya yang meluap-luap tak akan pernah hilang. Shiraishi menyimpulkan, “Keingintahuan anak-anak, rasa bebas, dan pikiran jernih pada akhirnya akan menghasilkan beragam produk teknologi, sebagaimana alat yang dibawa Doraemon dari masa depan.” 

Inilah kunci serial Doraemon. Inilah kunci dari segala inovasi dan daya cipta serta kreasi anak-anak yang ketika tumbuh besar selalu ingin menggapai hal baru. Kisah Doraemon mengingatkan saya pada kalimat fisikawan besar Albert Einstein bahwa “Imagination is more important than science.”  Bahwa imajinasi jauh lebih penting daripada ilmu pengetahuan. 

Pantas saja, sekolah-sekolah dasar di luar negeri lebih menekankan pada kegembiraan, mengasah daya cipta lewat permainan, menciptakan kondisi yang memungkinkan lahirnya kebebasan dan sikap tanggung jawab. 

Sebab hanya dengan kebebasan, kegembiraan, dan kebahagiaan, imajinasi bisa melesat jauh ke langit tinggi, dan kelak akan memungkinkan lahirnya penemuan hebat dalam sejarah manusia.

Saat mengingat Doraemon, ada banyak tanya yang menghujam dalam benak saya.  Mengapa industri kreatif bangsa kita tak kunjung bisa menghasilkan satu ikon dan karakter yang menggambarkan karakter kita sebagai bangsa yang perkasa dan punya solidaritas tinggi? 

Saya dan Yukina, sesama penggemar Doraemon


Saya pikir, inovasi dan kreativitas hebat hanya lahir dari satu masyarakat yang saling toleran dan menghargai semua kultur. Inovasi dan daya imajinasi hebat, serta kreativitas tidak akan lahir pada kultur yang merasa hanya dirinya yang benar. Inovasi hanyalah tunas dari benih pikiran terbuka untuk menyerap banyak hal, dan menemukan terobosan baru.

Saat memikirkannya, saya menyaksikan televisi. Ada seseorang penceramah yang sibuk meneriakkan kafir. Ada ancaman-ancaman, dan berbagai kalimat negatif. Ada sikap nyinyir yang masuk ke ruang publik kita sehingga perlahan menjadi karakter. 

Pantasan kita amat jauh dari peradaban Doraemon!


Alif Ba Ta

 
Jika saja tak ada internet, maka hidupnya tak lebih dari seorang buruh yang bisa mengoperasikan kendaraan jenis forklift, truk garpu, di kawasan industri Pulo Gadung. Jika tak ada Youtube, dia hanya anak muda pemalu yang cuma berani saat menjadi sopir alat berat.
 
Nama lengkapnya Alif Gustakhiyat. Di ranah Youtube, pria usia 31 tahun asal Ponorogo ini kondang dengan nama Alif Ba Ta. Dari kamar kos yang kusam, dia mengejutkan dunia dengan permainan gitar aliran fingerstyle. Sentuhan jemarinya serupa dewa yang bisa mengubah setiap petikan menjadi melodi indah.
 
Jika saja dia hidup di masa belum ada internet, kemampuannya akan jadi bakat terpendam. Dia akan jadi intan yang terkubur di dasar lautan. Namun berkat internet, sentuhan bermusiknya yang dihasilkan dari kamar kos yang kusam telah menyentuh hati warga dunia.
 
Musisi dunia mulai membicarakannya. Brian May, dewa gitar yang bermain untuk Queen selama beberapa dasawarsa malah mengunggah video Alif Ba Ta saat meng-cover lagu Bohemian Rhapsody di akun Facebook miliknya.
 
Video Alif yang memainkan lagu Love of My Life juga pernah diunggah pada akun resmi Facebook Queen. Musisi dunia lain yang terkesan dengan permainan Alif adalah Synyster Gates. Gitaris grup band Avenged Sevenfold ini mengunggah aksi Alif tersebut di Instagram Stories miliknya, lengkap dengan kata-kata pujian.
 
Alif juga pernah mendapatkan pujian dari gitaris luar negeri lainnya seperti, Alexandr Misko, Fun Two, dan Igor Presnyakov. Di tanah air, dia dikagumi Addie MS, Dewa Budjana, Anji Drive, Ahmad Dani, Bimbim Slank, Iwan Fals, dan Ariel Noah.
 
Saya lihat di satu video di Youtube, banyak orang speechless menyaksikan bagaimana dia memainkan melodi pembuka lagu Sweet Child of Mine milik Guns N Roses hanya dengan satu tangan. Dia memainkan lagu Hotel California sama indahnya dengan lagu yang dimainkan grup musik Eagles dalam formasi lengkap. That’s incredible!
 
Dia tidak hanya meng-cover lagu berbahasa Inggris, dia pun memainkan Tum Hi Ho dan Kal Ho Na Ho yang segera dibahas para vlogger cantik di India. Lagu Kiss the Rain karya Yiruma, pianis asal Korea, bisa dimainkannya dengan menyayat hati sehingga mengundang tangis sejumlah gadis di negeri ginseng itu. Sebagai penggemar drakor, Kiss the Rain yang dimainkan Alif adalah favorit saya.
 
Setiap video yang diunggahnya, segera akan muncul banyak video reaksi dari para netizen di seluruh dunia. Di Youtube, kita sering menyaksikan banyak warga dunia membicarakan permainannya. Banyak orang termasuk para gitaris di luar negeri bisa menangguk likers dan untung hanya dengan membicarakan dirinya.
 
Dunia internet memang mengagumkan. Tidak saja membunuh televisi dan berbagai format media mainstream. Internet ibarat cahaya yang menyoroti mereka yang selama ini luput dari pandangan publik. Internet ibarat dewa keadilan yang memberi panggung yang sama bagi orkestra besar ratusan pemusik di gedung opera dengan seorang Alif Ba Ta yang bermain musik di satu rumah kos lusuh, di depan alat peraga abjad dan huruf alif ba ta.
 
Ada banyak perusahaan penyedia konten di kota-kota besar. Banyak selebriti hadir di internet dengan kostum mahal, serta panggung yang megah. Namun tidak semua bisa mendapatkan like dan subscriber apresiasi sebagaimana Alif Ba Ta. Tidak semua punya power sebagaimana Alif.
 
Kontennya memang sederhana. Di semua videonya, dia tidak pernah bicara. Malah dia tidak pernah menatap kamera. Dia hanya bermain gitar di satu kamar kusam. Background-nya hanyalah tembok dan alat peraga abjad serta huruf hijaiyah. Justru konten sederhana itu menjadi kekuatannya.
 
Kekuatannya ada pada konten yang orisinil, keberanian mencoba hal baru dari berbagai genre, serta permainan gitar sekelas dewa yang memukau. Di tangannya, gitar menghasilkan bunyi-bunyi yang bisa mengaduk-aduk emosi mereka yang mendengarnya.
 
Alif orangnya humble. Dia tidak pernah berniat pamer. Jika niat pamer, dia akan mendatangi para siswa sekolah musik yang coba sok-sokan di hadapan orang yang tak bersekolah musik.
 
Andai itu terjadi, saya bayangkan, adegan dalam film Good Will Hunting ketika seorang mahasiswa pascasarjana mempermalukan seorang pembersih lantai di depan seorang gadis melalui kutipan2 buku ekonomi. Tiba2 datang pembersih lantai lain yang ternyata jauh lebih memahami semua buku ekonomi dan membuktikan betapa plagiatnya mahasiswa pasca itu. “You wasted $150,000 on an education you coulda got for $1.50 in late fees at the public library.”
 
Dengan potensi dan talenta seperti itu, saya berharap dia tidak ikut-ikutan demo yang lagi marak. Cukup demo musik, dunia akan mengaguminya. Semoga selalu sehat agar bisa menghibur warga dunia yang ekonominya sedang megap-megap.
 
Selamat pagi Indonesia.
 


Tujuh Kiat Konten Serius Jadi VIRAL


Siapa bilang konten viral di internet adalah konten-konten yang receh? Apakah konten viral gak boleh serius dan panjang?

Beberapa bulan lalu, Ferdian Paleka mengunggah konten receh berupa prank pada trans-seksual di Bandung. Kontennya memang viral, tapi membawa risiko sosial dan hukum baginya. Rumahnya didatangi banyak orang. Dia pun harus dibui.

Sebagaimana Ferdian, banyak orang yang mengira konten viral adalah konten yang receh, kurang ajar, dan bodoh. Mereka berharap kontennya viral sebab bisa dimonetasi jadi dollar. 

Jika Anda seorang pesohor atau selebriti, Anda tak perlu kerja keras. Namun jika Anda bukan siapa-siapa, butuh kerja keras untuk menjadikan konten Anda viral. Apakah semua konten viral harus receh? Gak juga. Saya banyak menemukan konten-konten bagus dan gak receh yang sering viral. 

Di era ini, sekadar berbagai gagasan saja tak cukup. Namun Anda harus bisa menjadikan gagasan itu menyebar ke mana-mana sehingga dibaca banyak orang. Dengan cara itu, Anda bisa menggerakkan perubahan, atau minimal menambah pengetahuan, serta mengubah mindset orang akan sesuatu.

Tentunya, tujuan orang bermedsos beda-beda. Ada yang sekedar curhat, berbagi informasi, atau sekadar eksis. Apa pun jenis kontennya, semuanya punya potensi menjadi viral. Jika gagasan itu viral, maka ide atau pemikiran Anda akan menyebar ke mana-mana. Pemikiran Anda tersebar luas.

BACA: Menjawab Sepuluh Alasan Tidak Menulis


Dulu, ketika awal-awal berkompasiana, saya sering menantang diri saya untuk membuat konten yang paling banyak dibaca. Berbagai strategi dicoba, mulai dari judul, kemasan, hingga memasarkan tulisan itu berbagai grup. Di zaman itu, tulisan saya bisa dibaca sampai lebih 10 ribu orang. 

Kini, setelah tidak berkompasiana, saya malah heran karena tulisan terpopuler di media itu hanya dibaca ratusan orang. Mungkin, pesaing kian bertambah. Jumlah Kompasianer juga terus bertambah.

Ketika rumus yang sama diterapkan ke blog pribadi, ternyata hasilnya tidak jauh berbeda. Jumlah pembaca tetap membludak. Bahkan konten serius pun tetap viral. Belum lama ini, saya me-review buku, pembacanya bisa puluhan ribu orang. 

Kesimpulan saya, internet itu ibarat pasar di mana semua orang datang dengan tujuan berbeda. Tidak semua ingin mencari hal receh. Banyak yang suka hal serius. Banyak yang suka hal positif. 

Berdasarkan pengalaman pribadi, ada beberapa syarat untuk membuat konten viral:

Pertama, kenali trending topic. Ini rumus dasar dalam jurnalistik, khususnya di era online. Pahami apa yang lagi ramai dibahas dan dibicarakan netizen. Ketika Anda membuat konten berdasar topik itu, maka potensi untuk dibaca sangat tinggi. Bagaimana caranya tahu apa yang ramai dibahas? Gampang. Cukup lihat apa trending topic di Twitter. Bisa pula pantau Google Trend. Kalau dua hal itu terasa rumit, cukup berselancar di beranda Facebook. Lihat topik apa yang paling banyak dibahas orang-orang. 

Jika tak niat untuk membahas trending topic, maka jadikan sebagai pintu masuk untuk membahas apa yang Anda hendak diskusikan. Bikin publik penasaran dengan mengangkat apa yang sedang trending, namun perlahan ajak publik untuk menelusuri gagasan Anda.

Kedua, berani lawan arus. Ini sering menjadi andalan saya. Risiko mengikuti trending topic adalah ada banyak orang yang membahas topik itu. Bayangkan, ada ribuan orang yang berjalan menuju satu titik. Jika Anda ikut arus, maka tidak ada yang peduli dengan Anda. Namun jika Anda memilih jalan berbeda, bahkan jalan sunyi sekalipun, semua orang akan melirik. Minimal ada pertanyaan, mengapa menempuh jalan berbeda?

Dalam konteks menulis, keberanian melawan arus akan membuat Anda diperhatikan. Kesan pertama sudah dimenangkan. Selanjutnya, tulislah gagasan dengan argumentasi yang kuat. Jangan hitam putih memandang persoalan. Ikuti simbol yin yang. Di tengah hitam, ada setitik putih. Di tengah putih, ada setitik hitam.


Di tengah perdebatan, Anda harus punya titik pijak dalam menilainya. Fokus pada argumentasi. Posisikan semua pihak punya kebenaran masing-masing. Atau minimal Anda berprasangka baik pada semua pihak, setelah itu tentukan di sisi mana kamu memilih. Tidak harus memilih satu pihak, tapi Anda bisa memilih posisi berbeda dari keduanya.

Ketiga, kenali audience. Saat membuat tulisan atau konten, kenali siapa yang akan menjadi calon pembaca. Paling bagus adalah pembacanya spesifik. Di Facebook, saya pernah membuat postingan tentang perahu Mandar. Saya pikir postingan itu hanya disukai puluhan orang. Saya tidak menyangka, lebih seribu orang menyukai dan lebih seribu pula membagikannya. 

BACA: Berguru Menulis pada Thomas L Friedman


Semakin spesifik, maka semakin langka artikel dengan topik itu. Tulisan akan segera menemukan pembacanya, yang lalu secara suka rela membagikannya ke mana-mana. Makanya, jangan terlalu silau untuk mengejar viral pada ceruk pasar yang besar. Tentukan pembaca lalu buat konten yang sesuai.

Keempat, kemas tulisan sesederhana mungkin. Jika Anda ingin tulisan viral, maka bahasanya harus populer. Publik atau netizen kita punya latar pendidikan yang berbeda. Maka, buatlah konten yang bisa dipahami semua orang, bukan hanya mereka yang sekolah, tapi juga mereka yang tidak sekolah.

Dalam satu kelas menulis, saya pernah disarankan untuk membaca majalah anak-anak agar kemampuan terasah. Sebab jika anak kecil bisa memahami tulisan itu, artinya orang dewasa pun demikian. Buatlah tulisan atau konten yang bisa dipahami semua kalangan, yang pesannya bisa menyentuh banyak orang.

Saya percaya, semakin tinggi kecerdasan seseorang, maka semakin pandai dia mengekspresikan gagasan, semakin sederhana dia menyampaikan ide. Seseorang tidak perlu memakai “bahasa tinggi” sekadar untuk menunjukkan dia hebat, tetapi cukup dengan bahasa sederhana yang sarat makna.

Kelima, Show. Don’t tell. Tulisan yang baik adalah tulisan yang bercerita dan mengantar pembacanya ke pemahaman. Istilah “show, don’t tell” sering jadi patokan bagi jurnalis lapangan. Misalnya, Anda bertemu seseorang yang dianggap cantik. Jangan tulis orang itu cantik, tapi gambarkanlah apa-apa yang terlihat. Biarkan pembaca yang menilai cantik dan tidaknya seseorang, sebab kosa kata cantik selalu relatif.

Buatlah tulisan yang jauh dari kesan menggurui. Sebodoh-bodohnya netizen, maka selalu saja merasa pintar. Makanya, jangan merasa pintar saat menulis, hanya karena Anda punya gelar doktor. Posisikan diri sama dengan pembaca. Berikan cerita-cerita, kisah-kisah atau dongeng yang memikat.

Saya ingat kata Thomas L Friedman, kitab terlaris dan selalu dibaca dari zaman ke zaman adalah kitab suci. Mengapa? Sebab isinya berupa cerita-cerita, pengalaman, hikayat, peristiwa, dan juga beberapa dongeng. Jika tulisan Anda ingin viral, perbanyak cerita sederhana yang disukai orang-orang.

Keenam, menginspirasi. Jika menulis adalah sebuah perjalanan, usahakan agar ada sesuatu yang bisa dibawa pulang. Jika seseorang mengarungi rimba raya pemikiran Anda, maka letakkanlah beberapa buah atau minuman segar yang bisa tersimpan di benaknya seusai membaca tulisan Anda.

Inspirasi adalah hikmah-hikmah, pembelajaran, pesan, makna, yang bisa didapatkan seseorang saat membaca tulisan tertentu. Tulisan inspiratif selalu punya positioning yang kuat. Mengapa? Sebab media sosial ibarat rumah besar di mana lebih banyak tulisan sampah berupa makian, curhat, atau kejengkelan yang tampil. Jika ada satu tulisan yang menyelipkan buah-buah inspirasi, maka tulisan itu akan menjadi oase atau telaga jernih tempat orang lain singgah dan menimba ilmu.


Bahkan dalam tulisan ilmiah, ada semacam kesimpulan apa yang bisa dipetik dari keseluruhan artikel. Ibaratnya, seseorang telah mengikuti gagasan dari awal sampai akhir, maka berilah persembahan berupa point penting yang akan diingatnya dan kelak dibagikan ke orang lain.

Ketujuh, berjejaring. Di era media cetak, seorang penulis atau kreator konten bisa tampil misterius dengan identitas anonim. Kini, seseorang harus menjaga interaksi dan jejaring dengan orang lain. Interaksi adalah bahasa penting di era digital. Anda tak bisa lagi mengabaikan orang lain, tetapi bangunlah dialog, pelihara keakraban, bangun relasi.

BACA: Jadi Penulis Makmur di Era Digital


Para blogger, Instagramer, dan Youtuber, sama paham kalau sesekali perlu mengunjungi lapak orang lain dan meninggalkan jejak. Di era ini, kolaborasi menjadi hal penting untuk melejit. Ajak orang lain untuk memberi masukan pada karya Anda, seiring waktu Anda membentuk barisan follower atau penggemar.

Saat penggemar organik Anda sudah terbentuk, maka apa pun yang dibagikan, pasti akan dibaca dan dibagikan oleh mereka. 

*** 

Apakah viral harus menjadi tujuan? Saya menjawabnya tidak. Tulis atau postinglah sesuatu yang Anda sukai. Jadilah diri Anda sendiri. Jadikan dunia menulis dan media sosial sebagai kanal yang menampilkan gagasan, memberi informasi, dan menjaga relasi dengan siapa saja.

Soal viral dan tidak, biarkan pembaca yang memutuskannya. Apa yang kita anggap viral, sering kali malah tidak viral. Apa yang kita anggap biasa saja, ternyata malah viral. Terpenting adalah kesediaan untuk berbagi informasi dan pengetahuan, serta menjaga silaturahmi. Itu jauh lebih penting dari viral.

Iya kan?


Catatan di Warung Coto Daeng Tona

Dia selalu tersenyum lebar setiap kali saya singgah di kedainya. Wajahnya yang sangar sontak berubah karena seulas senyum itu. Dia dipanggil Daeng Tona. Dia seorang pemilik warung Coto Makassar di kota Bogor.

Warungnya tak seberapa luas. Hanya muat beberapa orang. Itu pun selalu berpindah-pindah. Tapi selalu di seputaran Jalan Ahmad Yani, Bogor. Biarpun sederhana, warungnya punya magnet yang sangat kuat. 

Hampir semua warga Bugis Makassar di Bogor tahu di mana warungnya. Rasa cotonya original. Mereka yang lama di Makassar hanya butuh mencicipi setengah sendok kuah, langsung tahu kalau cotonya memang nikmat.

Saya ingat kata almarhum Bondan Winarno. Katanya, ada beberapa jenis kuliner yang nikmatnya akan terasa kalau dicicipi di warung pinggir jalan, di tengah suasana yang panas dan berangin. 

Dia mencontohkan sate. Katanya, dia sudah mencoba semua restoran mewah di Jakarta. Tak ada satu pun yang menyajikan sate senikmat warung pinggir jalan, di mana penjualnya penuh keringat bercucuran saat mengipas-ngipas sate, lalu asapnya memenuhi warung. Nikmatnya jauh mengalahkan sate di semua hotel berbintang. Saya pun menemukan hal yang sama dengan Coto Makassar, khususnya di warung Daeng Tona.

“Lama mi kita nda datang dii” sapa Daeng Tona. Saya mengangguk. Kami lalu ngobrol banyak hal. Bagi saya, mengobrol dengannya senikmat mencicipi cotonya.

Kisah hidupnya bukanlah perjalanan yang mulus dan landai. Kisahnya penuh lika-liku, duri-duri dan kelokan tajam. Dia berasal dari Takalar, Sulsel. Dia datang ke Jakarta hanya dengan baju melekat di badan. Dia merasa tak punya keahlian apa-apa. Tapi dia punya nyali dan keberanian seorang anak muda Makassar yang lihai memainkan badik dan berkelahi.

Dia lalu menjadi preman. Kariernya menanjak ketika dipercaya seseorang untuk menjadi pengawal pribadi. Kebetulan, orang itu tinggal di Jalan Ahmad Yani, Bogor. Sering Daeng Tona diminta ke Bogor untuk mengawal. Saat itulah dia ingin mencicipi coto, namun tidak menemukan satu pun warung coto di kota hujan.

Dia lantas berpikir kalau dirinya bisa berdagang coto di Bogor. Dia yakin ada banyak orang Bugis Makassar yang hilir mudik di Bogor, dan ingin mencicipi coto. 

Apalagi, dia punya kemampuan memasak coto yang didapatnya secara genetis. Mulai dari kakek hingga bapaknya adalah pemilik warung coto. Bahkan bapaknya dulu pernah membuka warung coto yang terkenal di Makassar yakni Warung Coto Gumer, singkatan dari Jalan Gunung Merapi, lokasi warung itu berdiri. Keluarganya di Takalar, Gowa, hingga Makassar pun banyak yang membuka warung coto.

Berkat pinjaman uang dari bosnya, dia nekat membuka lapak coto di Jalan Ahmad Yani. Dia masih hafal tanggal dia membuka warung yakni 14 September 1992. “Kalau satu bulan nda ada yang singgah makan, saya mau berhenti. Mauka jadi preman lagi,” katanya.

Mulanya, beberapa orang Makassar singgah makan. Mereka lalu merekomendasikan ke rekannya. Warungnya mulai populer di kalangan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS). Dia mulai sering diminta menyediakan kuliner dalam acara resmi KKSS di Kota Bogor. 

Daeng Tona berhenti jadi preman dan pengawal pribadi. Dia menemukan masa depannya di warung coto. Dia mulai merekrut karyawan. Bahkan ketika dia jadi pemilik warung, dia sendiri yang meracik bumbu, memotong daging, dan melayani pelanggannya. Dia membangun kedekatan melalui obrolan-obrolan khas Makassar.

Pernah, saya ke warungnya dan dilayani anak buahnya yang asli Bogor. Saat coto dihidangkan, kok rasanya aneh? Sejak saat itu saya selalu minta agar Daeng Tona yang mengolah hidangan. Rupanya banyak yang punya pengalaman seperti saya. Makanya, Daeng Tona selalu turun tangan untuk meracik bumbu dan melayani pelanggan.

Saya pernah memperhatikan caranya bekerja. Saya lihat sama saja jika kuliner itu dikelola oleh orang lain. Saya menduga, Daeng Tona memang punya sentuhan yang berbeda. Dalam sentuhan jemarinya, dia bisa mengenali rasa, rahasia, dan kode-kode DNA ternikmat dari setiap kuliner. Makanya, apa pun yang dia sentuh, selalu terasa nikmat. Dia seorang maestro kuliner.

Saking populernya namanya, ada satu warung coto di Jalan Ahmad Yani yang menamai warungnya Daeng Tona. “Pernahka datang pasimbung. Bikin kacau. Kulempar kursinya gara-gara napake namaku,” katanya. Harusnya, dia mematenkan namanya. Minimal orang yang memakai namanya harus membayar royalti.

Namun, kuliner adalah soal rasa. Anda bisa mengklaim satu merek, tapi lidah tak bisa dibohongi. Di mana pun Daeng Tona pindah, orang akan tetap mendatanginya. Orang akan tahu mana asli dan mana palsu.

Hari ini, saya kembali mendatangi warungnya. Lokasinya di Jalan Pandu Raya, tidak seberapa jauh dari lokasi lama. Warungnya lebih luas. Di sebelahnya ada restoran khas Makassar yakni Balla Baraka. Saya melihat ada panggung untuk seni yang backdropnya bergambar Sultan Hasanuddin.

“Sering-sering datang dii” katanya.

“Iye Daeng. Adapi rejeki lagi,” jawabku

“Biar nda ada uangta datangki saja. Kalau untuk kita gratis. Kan mahasiswa ji toh?”

Saya tersenyum. Dia mengira saya seorang mahasiswa. Saya tak ingin meralat anggapannya. Saya lalu menatap wajah di spion. Dia benar. Saya melihat ada wajah muda dan tampan.


Kisah NUR ALAM dari Lapas Sukamiskin

Jembatan Teluk Kendari

Matanya berkaca-kaca saat melihat saya datang menjenguknya. Di Lapas Sukamiskin, dia bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang warga binaan di Lapas itu. Dia bukan lagi Gubernur Sultra yang memimpin selama dua periode.

Ketika mondar-mandir Bandung untuk satu pekerjaan bersama Balitbang Kementerian PUPR, saya tiba-tiba terpikir untuk menemuinya. Sebab kantor Kementerian PUPR di Bandung tak jauh dari Lapas Sukamiskin. Saya singgah sejenak untuk bertemu.

Nur Alam yang saya saksikan ini tidak segemerlap dahulu. Dia datang dengan sandal jepit. Dia terlihat kurus. Kumisnya sudah dicukur. Dulu, hari-harinya adalah mendapat penghormatan. Kini, dia sendirian di situ. Dia hanya ditemani sesama warga binaan.

“Saya nda sangka kalau kamu masih ingat saya. Jarangmi orang yang datang lihat saya di sini,” katanya tersenyum. Saya mendengarkan kisahnya. Sejak dia ditahan, banyak orang yang menghindarinya. Dia bukan lagi pusat gravitasi untuk ditemui dan dilobi. Dia kembali menjadi dirinya sendiri, yang sesekali dijenguk oleh keluarganya.

Namun saya datang sebagai orang yang mengenalnya di akhir periodenya sebagai gubernur. Ketika dia dihindari, saya tetap akan mendatanginya. Saya melihatnya sebagai tokoh masyarakat yang perlu ditemui. Saya menjaga silaturahmi dengannya.  

Saya membayangkan betapa kontrasnya dia hari ini dengan sosok yang saya temui tahun 2017 silam. Saat itu, saya datang ke Kendari atas undangan Balitbang Sultra demi menyusun publikasi mengenai perjalanan Sultra di bawah kepemimpinan Nur Alam selama dua periode.

Setiap bertemu dengannya, dia selalu dikelilingi staf dan ajudan. Kalimatnya akan ditafsir menjadi kebijakan. Birokrasi bekerja sesuai arahannya. Di mata saya, dia tak pernah meninggikan diri. 

Pernah, saya datang ke rumahnya bersama kawan-kawan Balitbang. Dia menanyakan apakah kami sudah makan siang. Semua diam. Saya seorang diri yang menjawab belum. Dia lalu meminta sopirnya siapkan mobil. Dia meminta saya menemaninya di mobil. Sepanjang jalan dia cerita mengenai Kendari dan mimpi-mimpinya. Kami menuju restoran paling mewah di kota itu.

Kini, di tahun 2020, dia hanya seorang Nur Alam, tanpa embel-embel jabatan. Dia tetap seperti dahulu. Dia tetap tenang dan tidak meledak-ledak. Malah, dia bisa diskusi dengan santai dan membahas berbagai hal. Dia tetap menjadi figur yang hangat dan menyenangkan.

Bersama Nur Alam di Lapas Sukamiskin


Pertemuan itu menjadi awal dari rangkaian pertemuan selanjutnya. Entah bagaimana caranya, dia beberapa kali menelepon saya malam-malam. Dua pekan sesudah pertemuan di Sukamiskin, dia mengirim pesan agar kami bertemu di Rumah Sakit Bunda, Cikini, Jakarta. Saat itu, putrinya yang tertua yakni Giona melahirkan. Dia diizinkan pihak Lapas untuk menjenguk anaknya di rumah sakit. Di situlah kami kembali berbincang banyak. 

Suatu hari, dia cerita kalau akan ada pertadingan domino di Lapas. Dia berencana akan menghadiahkan buku mengenai perjalanan kariernya selama menjadi gubernur ke beberapa orang. Dia meminta bantuan agar saya mempersiapkannya. 

Dia mengirimkan gambar-gambar infrastruktur yang dibangunnya. Di antaranya adalah Rumah Sakit Bahteramas, Masjid Al Alam, Kendari New Port, gedung Bank Sultra, Jembatan Uluiwoi, juga jembatan Lowu-lowu ke Pulau Makassar. Terakhir, dia juga mengirimkan Jembatan Bahteramas, yang kini disebut Jembatan Teluk Kendari.

Saya meneruskan semua kiriman gambar itu ke seorang graphic designer di Bandung untuk merekam jejaknya.


Masjid Al Alam dan Jembatan Teluk Kendari

Pelabuhan Bungkutoko (Kendari New Port) dan Gedung Bank Sultra

RS Bahteramas dan Jembatan Uluiwoi

Jembatan Pulau Makassar


Kisah Jembatan

Saya tertarik dengan kisah Jembatan Teluk Kendari. Nur Alam pun bercerita banyak tentang jembatan itu, termasuk hal-hal yang tidak pernah diangkat media. Kisahnya panjang.  Kisahnya bermula dari obsesi Gubernur Sultra Edy Sabara yang berkunjung ke San Francisco dan melihat jembatan Golden Gate di tahun 1980.

Nur Alam membayangkan jembatan yang akan dibangun nanti menghubungkan dua kawasan yang dipisahkan oleh Teluk Kendari, yakni sisi utara Kota Kendari (Kota Lama) dengan sisi selatan (Kelurahan Lapulu, Kecamatan Abeli). Kawasan Kota Lama, sebagai wilayah pelabuhan, berkembang menjadi kawasan yang kumuh. 

Dulunya, ini merupakan kawasan pecinan dengan ciri khas toko emas yang berjajar di sepanjang wilayah pelabuhan. Namun, seiring kian berkembangnya pelabuhan, kawasan ini berangsur kumuh dengan tumbuhnya lahan-lahan peti kemas. Sempit, padat, dan tidak tertata baik.

Jembatan penyeberangan ini dianggap menjadi salah satu solusi. Adanya jembatan akan mempersingkat waktu tempuh di antara kawasan Kota Lama dengan Kecamatan Abeli dan Poasia, serta menciptakan pertumbuhan dan perkembangan kota secara seimbang. Selain itu, akan mendorong tumbuhnya wisata perairan.

Total anggaran yang disiapkan pemerintah untuk membangun jembatan sepanjang 1.346,37 meter ini sebesar Rp 750 miliar, meskipun secara kontraktual anggaran yang digunakan hanya Rp 729,19 miliar. 

Jembatan dengan lebar 24 meter dan ketinggian 25 meter dari permukaan laut ini akan dikerjakan selama empat tahun, yaitu sejak tahun 2015-2018. Sesuai kontrak, jembatan itu akan rampung pada 8 Desember 2018.  Rupanya bergeser hingga tahun 2020.

Tadinya, pemerintah pusat tak punya rencana bangun jembatan di Kendari. Penduduk Sultra tidak banyak. Ekonominya tidak semeriah daerah lain. Di lokasi jembatan, LHR-nya dianggap rendah. LHR adalah singkatan dari Lalu Lintas Harian, istilah yang digunakan dalam menghitung beban lalu lintas pada suatu ruas jalan dan merupakan dasar dalam proses perencanaan transportasi.

Di Sultra, banyak politisi dan ekonom yang menolak rencana jembatan itu. Banyak pula yang menudingnya telah menghancurkan situs sejarah. Dia menerima tuduhan sana-sini. Apalagi, tadinya jembatan itu hendak dibangun dengan biaya dari Pemerintah Cina, namun gagal. Dia tak henti-henti melobi pemerintah pusat.

Di masa SBY, dia gagal meyakinkan pusat. Dia mendapat harapan di era Jokowi. Lagi-lagi jalannya berliku. Saat melobi ke satu direktur di Kementerian PUPR, dia mengubah strategi. Saat didengarnya direktur itu berbicara dalam aksen Jawa, dia sontak berkata, “Pak, di daerah kami banyak orang Jawa. Bantulah mereka agar punya jembatan.” Kalimatnya menyentuh hati direktur itu.

Puncaknya adalah dia bisa presentasi di depan Jokowi.  Nur Alam meyakinkan Jokowi tentang kalkulasi nilai ekonomi atas jembatan itu. Diasumsikan bahwa jembatan itu akan mampu bertahan hingga 100 tahun. Dengan demikian, dengan anggaran pembangunan Rp 729 miliar itu berarti bahwa rata-rata biaya investasi per tahunnya sebesar Rp 7,2 miliar. 

Nilainya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan jumlah anggaran perjalanan dinas aparat pemerintah dalam setahun. 

“Tapi apa yang terjadi dengan pengembalian dari investasi itu, bisa saya katakan bahwa hari ini investasi negara itu sudah kembali. Hitungannya, hari ini harga tanah di Kota Lama yang hampir menjadi kota mati dan di Lapulu menjadi berkali-kali lipat. Yang untung siapa? Yang untung negara karena aset rakyatnya menjadi meningkat.”

Jokowi mengangguk. Saat itu juga dia perintahkan Menteri PUPR untuk siapkan anggaran. Semua proses langsung dimudahkan. Salah seorang sahabat Nur Alam, Ilah Ladamay, masih terheran-heran dengan keberuntungan Nur Alam. Dia tidak menyangka Jokowi bisa diyakinkan dengan cepat, sehingga saat itu juga memberi perintah ke Menteri PUPR.

sampul buku Di Depan Selalu Ada Cahaya


Tanggal 19 Agustus 2016, ground breaking pembangunan jembatan itu dimulai. Saat peletakan batu pertama, Nur Alam agak emosional bercerita perjalanannya membangun jembatan. Dia dituduh jadi antek Cina, setelah itu dituduh menggusur dan menghancurkan situs. 

“Di tahun terakhir ini juga saya masih mendapat tuduhan akan membangun hotel bekerja sama dengan pemerintah Cina. Sekarang lihatlah tiang pancang itu. Tiang itu bukan untuk membangun hotel, tetapi untuk pembangunan jembatan. Sekarang orang melihat hasilnya,” katanya.

Di acara itu, Sekjen Kementerian PUPR Taufik Widjoyono yang hadir mewakili Menteri PUPR Basuki Hadimuljono memberikan banyak bocoran kisah.

“Ground breaking pembangunan jembatan sepanjang lebih dari 1.300 meter hari ini kita lakukan. Jembatannya panjang, tapi saya pikir gubernur tahu ceritanya lebih panjang lagi. Ceritanya panjang sekali. Tahun 2008 kita bertemu Pak Gubernur di ruangan saya. Waktu itu jabatan saya masih direktur,” katanya.

Dia melanjutkan: “Proses itu kemudian berjalan, dianggarkan dengan bantuan Cina, namun gagal. Alhamdulillah, pembangunan jembatan hari ini siap kita lakukan. Bagi kami bukan soal mulainya, tetapi lebih penting kapan selesai. Jadi, doanya bukan untuk mulai, tetapi doakan untuk selesai.”

Rupanya, Sekjen Kementerian PUPR ikut menjadi saksi betapa berlikunya proses lobi sehingga jembatan itu bisa dibangun di Sultra. Tanpa proses lobi yang panjang dan melelahkan, jembatan itu tidak berdiri di Sultra, melainkan di daerah lain.

Tentu saja, ada banyak pihak yang terlibat dalam proses pembangunan jembatan. Namun, jika ditelaah lagi, jembatan itu bisa berdiri karena peran penting dari beberapa sosok. Mulai dari Nur Alam yang mengeksekusi ide-ide jembatan menjadi rencana dan mewujudkannya melalui lobi maraton, Presiden Jokowi yang menyetujui semua gagasan Nur Alam, serta Menteri PUPR Basuki Hadimoeljono yang mengerahkan "pasukan" untuk mengerjakan perintah Jokowi.

(Selengkapnya, baca di buku Di Depan Selalu ada Cahaya)

*** 

Hari ini, 21 Oktober 2020, jembatan yang dahulu diperjuangkan itu akan segera diresmikan. Nur Alam hanya bisa memantau dari Lapas Sukamiskin. Dia tidak bisa hadir. Tapi, jembatan itu akan selalu menjadi legacy atau warisan yang diberikannya untuk Sultra. 

Setiap pemimpin akan memiliki legacy. Warisan itu akan sangat bermakna jika pemimpin itu hidup dengan nilai-nilai untuk kemudian mentransformasikannya dalam bentuk kebaikan dan kemaslahatan bagi banyak orang yang dipimpinnya. 

Kata Donald J MacGammon, “leadership is action, not a position.” Kepemimpinan adalah serangkaian tindakan, bukan sekadar posisi yang menempatkan seseorang lebih tinggi. Di Sultra, Nur Alam meninggalkan legacy, yang tidak hanya berupa fisik, tetapi juga kemampuan lobi, manajerial, serta kemampuan menggerakkan orkestrasi birokrasi.

Kalaupun hari ini dia berada di Lapas Sukamiskin, bukan berarti kita harus mengabaikan semua apa-apa yang pernah dia raih. Pada satu masa, dia pernah bekerja dan berbuat banyak untuk Sultra, yang hari ini bisa kita lihat pada berbagai bangunan dan jejak yang ditinggalkannya.

Saya ingat James Kouzes dan Barry Posner dalam buku A Leader’s Legacy menyebutkan, “leadership is about leaving a lasting legacy”. Kepemimpinan adalah bagaimana meninggalkan warisan yang bertahan. Kepemimpinan adalah meninggalkan “warisan” yang tak lekang ditelan jaman. 

"Semoga Sultra selalu lebih baik," demikian kalimatnya saat saya meninggalkan Lapas. Semoga dia pun selalu baik-baik saja.



Filosofi Vietnam Drip


Momen terbaik untuk menikmati kopi adalah saat senja di tengah gerimis. Betapa beruntungnya saya yang tinggal di Bogor, kota hujan. Di sini, kopi, senja, dan gerimis adalah keping puzzle yang saling melengkapi.

Biasanya, saya memesan kopi tergantung mood dan situasi. Saat sedang sendiri dan bekerja, saya akan memesan Espresso. Saat sedang santai sambil ketawa-ketiwi dengan teman, saya memilih Capuccino. 

Saat sedang ingin melamun, saya akan pesan kopi tubruk. Pada kopi tubruk, ada kesederhanaan, juga ketulusan, dan sesuatu yang apa adanya. 

Namun saat sedang lelah di tengah suasana gerimis, saya memesan Vietnam Drip. Rasanya nikmat saat melihat tetes demi tetes kopi vietnam drip mengucur ke gelas, sementara di luar sana, ada tetes-tetes hujan dengan irama teratur.

Hari ini saya memandang Vietnam Drip sambil membaca buku berjudul Belalang Komunis yang ditulis Andre Barahamin, seorang peneliti dan penulis di Indoprogress yang tidak malu2 mengakui kalau dirinya menyukai buku2 komunisme. 

Andre bekerja sebagai seorang peneliti yang sering mengunjungi negara-negara Indocina, yakni Vietnam, Thailand, Laos, dan Cambodia. Saya belum pernah bertemu fisik dengannya. Banyak sahabat saya mengenalnya. Ada banyak gosip tentang dia. Tapi saya tak ingin bahas di sini. Itu urusan dia.

Di satu lembaran, saya temukan kisah tentang Vietnam Drip. Kata Andre, kebiasaan orang Vietnam menyuguhkan kopi dengan penyaring tunggal di setiap gelas adalah taktik untuk menyiasati langkanya mesin pembuat kopi.

Mereka menyebutnya phin. Penyaring itu terdiri atas ruang penyaring (filter chamber) penekan saringan (filter press), cangkir pas (cup spanner), dan tentu saja tutup saringan.

Di Vietnam, orang lebih suka menggunakan gelas kaca untuk menampung kopi, persis di sini. Mengapa? Sebab dengan gelas kaca, mereka bisa menyaksikan kopi yang jatuh perlahan. 

Mereka merenung atau kontemplasi ketika bertemu kopi. Tetes demi tetes kopi itu memberikan cukup waktu untuk mengambil napas. Kata Andre, persis seperti jeda antara kecupan dan gairah yang meletup.

Seorang dosen sejarah di Hue University, Vietnam, punya kisah lain. Katanya, Vietnam Drip punya makna historis bagi orang Vietnam. Menggunakan phin saat minum kopi adalah cara mereka melupakan perang. 

Sepanjang sejarahnya, orang Vietnam adalah barisan para petani yang gagah berani saat bertempur mempertahankan jengkal wilayahnya. Di era kerajaan, mereka melawan Cina, kemudian melawan Perancis di era perang dunia. 

Terakhir, mereka dengan gagah berani mengalahkan Amerika Serikat (AS). Demi menutup malu, Amerika harus membuat fiksi tentang Letnan John Rambo yang seorang diri mengalahkan Vietcong. 

Perang meninggalkan trauma yang dalam dan membekas di diri semua orang. Hingga kini, mereka memilih tidak membicarakannya secara terbuka. 

Mereka mencari cara agar semua trauma dan kengerian akibat perang itu bisa disalurkan dalam kanal-kanal aktivitas. Di titik ini, mereka mengalirkan trauma itu dalam tetes-tetes Vietnam Drip.

Saya ingat perjalanan saya ke Timor Leste setahun lalu. Saya bertemu para ibu yang mengalirkan semua trauma akibat perang dalam aktivitas menenun dan menanam. Mereka tidak ingin tenggelam dalam trauma dan kesedihan. Mereka bangkit dan bekerja. Mereka menatap masa depan, serta tidak ingin tenggelam dalam kesedihan.

Saya kembali menatap Vietnam Drip di hadapan saya. Saya pun bersiap untuk mencicipi seteguk. Sayup-sayup saya mendengar berta tentang orang demonstrasi yang menuntut hak. Saya ingat sejumlah anak remaja yang beberapa hari lalu diangkut polisi karena berdemonstrasi. 

Saya ingat kawan-kawan yang amat suka menyuruh demo, tapi tak pernah menampakkan wajahnya di tengah massa aksi. Mereka ingin menyalakan bara, tanpa mau menjadi kayu bakar. 

Terakhir saya ingat gadis Vietnam yang saya temui di Mangga Besar, Jakarta. Ah, semoga dia baik saja. 

Srupp....!!


BACA: Perempuan Vietnam di Sudut Mangga Besar


 


Melawan dengan LIPSTICK dan SEKS


Sasa di kampus Unhas

Perempuan muda itu bernama Sasa. Dia ikut dalam aksi menolak Omnibus Law. Saat berorasi, mahasiswi Universitas Hasanuddin tampil dengan segala kemudaannya. Kaos hitam, celana jeans sobek, dan masker hitam. Tangan kanan memegang pelantang suara, tangan kiri terangkat ke atas, dengan jemari menjepit rokok. Kata anak Jakarta, “Gue suka gaya lo.”

Dari ratusan demonstrasi yang tumbuh bak cendawan di musim hujan, aksi Sasa akan menjadi monumen yang selalu dikenang. Gambarnya akan menjadi sesuatu yang ikonik, pengingat atas aksi menolak Omnibus Law. Gambar itu pantas menghiasi lembaran sejarah.

Di era ini, kita melihat mahasiswa tak lagi menjadi aktor tunggal. Malah, siswa sekolah menengah kini sama beraninya dengan mahasiswa. Kita melihat bangkitnya kesadaran anak muda untuk berani bersuara. Aksi Sasa bahkan lebih ramai dibahas para netizen di Malaysia. Mereka tidak menyangka anak muda Indonesia bisa seberani itu. Dia menjadi inspirasi.

BACA: KIsah OMNI yang Ketinggalan BUS


Di tahun 2020, kita menyaksikan heroisme mahasiswa yang tumbuh di mana-mana. Sebetulnya, banyak orang yang paham situasi, tapi menolak untuk turun ke jalan. Banyak orang yang lebih suka provokasi dan setiap saat nyinyir di medsos. 

Namun, generasi yang ikut demonstrasi di tahun 2020 harus menyadari kalau mereka tidak punya stamina dan energi yang panjang untuk terus menjadi kerikil di sepatu rezim. Lihat saja, aksi yang mereka lakukan dengan mudah ditekuk aparat. Seharusnya mereka berpikir lebih canggih dari aktivis tahun 1998. Saatnya merumuskan gerilya dan strategi lain untuk terus menyampaikan sikap pada rezim. 

Aksi Sasa memang heroik. Namun di era 4.0, ada banyak pilihan strategi yang bisa dipilih untuk menggerakkan perubahan sosial. Di satu masa, sekadar demonstrasi sudah bisa menggerakkan rezim. Di masa kini, aksi-aksi harus lebih mengalami amplifikasi agar pesannya bergema lebih lama.

Apa ada variasi aksi lain yang lebih efektif? Banyak. Sejarah menunjukkan aksi-aksi perlawanan tak harus dilakukan melalui aksi heroik di jalan-jalan. Perubahan banyak dipicu oleh tindakan-tindakan kecil yang serupa rumput liar bisa merobohkan tembok kekuasaan

Mereka yang mengubah sejarah tak selalu para pahlawan, prajurit hebat, ataupun manusia dengan trah separuh dewa yang jatuh dari langit. Pemicunya adalah orang-orang biasa yang melakukan tindakan-tindakan kecil, yang lalu menggugah publik.

Saat siswa sekolah menengah kita membakar mobil polisi, seorang anak kecil berusia 15 tahun bernama Greta Thunberg berbicara di hadapan pemimpin dunia dengan kalimat yang menuding: "Kalian telah mencuri impian dan masa kecil saya dengan kata-kata kosong kalian."

Dia tak perlu teriak di jalan-jalan sembari menghadapi desingan peluru dan kabut gas air mata. Sebab dia tahu cara paling efektif untuk mengetuk kesadaran orang demi memberi tahu ada sesuatu yang keliru. Dia pandai memanfaatkan semua kanal komunikasi untuk menyebarkan semua pesan-pesan politiknya.

Kita bisa mengurai banyak contoh lain. Aksi mencuci bendera bisa menggetarkan rakyat Peru, pesan tersembunyi pada desain mata uang bisa menggelisahkan rakyat Myanmar, permainan sepakbola Didier Drogba bisa mengharu-biru Pantai Gading, hingga kalimat petinju Muhammad Ali bisa menggetarkan warga Amerika untuk mempertanyakan ulang makna nasionalisme negara yang memaksa warganya untuk menempur warga belahan bumi lain.

Jangan terkejut kala mengetahui gerakan emansipasi hak sipil dimulai dari perempuan bernama Rosa Parks yang menolak memberikan kursinya di bus pada tiga orang lelaki kulit putih. Mari pula beri ruang pada Malala Yosefai, perempuan berusia 25 tahun yang pidatonya menggetarkan rezim otoriter yang selalu menebar teror.

Greta Thunberg


Tak hanya itu, gosip-gosip bisa memukul rezim yang memulai perang di Darfur, Sudan Selatan. Jangan terkejut kalau menemukan fakta jatuhnya rezim Slobodan Milosevic dimulai dari aksi mengutak-atik foto melalui program photoshop, jatuhnya rezim Ferdinand Marcos berawal dari sejumlah perempuan yang menolak untuk mengubah suara pemilu.

Lihat pula, revolusi di dunia Arab, yang kerap disebut Arab Spring, dimulai dari aksi meneruskan pesan di twitter. Perempuan Serbia beraksi dengan dandanan seksi dan lipstick merona demi menghentikan perang. Tengok pula aksi menolak hubungan seks para perempuan Sudan bisa menghentikan perang saudara selama 20 tahun. Hah?

*** 

Saya membaca kisah-kisah menggetarkan itu pada buku Small Acts of Resistance: How Courage, Tenacity, and Ingenuity Can Change the World yang ditulis Steve Crawshaw dan John Jackson. 

Buku ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Roem Topatimasang, dan diterbitkan Insist dengan judul Tindakan-Tindakan kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran, dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia.


Membaca buku bagus ini membuat mata saya lebih jernih dalam melihat banyak hal. Batin saya beberapa kali tersentuh membaca 15 kisah perubahan sosial, yang semuanya dimulai dari tindakan-tindakan kecil.

Saya mengamini kalimat di awal buku: “Seseorang yang berjiwa bebas, dengan segenap ingatan dan juga ketakutannya, adalah sebatang tetumbuhan air yang rantingnya membelokkan arah deras arus sungai.”

Kutipan lain yang juga menyentuh saya adalah kutipan dari Bertolt Brecht. “Kata anak lelaki itu, ia belajar tentang bagaimana air yang lembut menitik, selama sekian tahun akan melubangi batu yang keras sekali pun. Kekerasan akan kalah juga akhirnya.”

Yang saya rasakan dari kutipan ini adalah perubahan selalu dimulai dari individu yang gelisah, lalu punya sedikit keberanian untuk menyatakan sikap. Keberanian itu serupa api kecil yang membakar ilalang kesadaran, yang terus membesar lalu menjadi gerakan sosial.

Dalam buku ini, saya membaca cerita tentang anak muda kulit hitam yang berani memasuki restoran dan duduk di kursi yang hanya diperuntukkan bagi warga kulit putih. Di tengah iklim politik yang menindas kaum kulit hitam, tindakan itu akan berdampak pada penangkapan.

BACA: Di Rimba Digital, Kita Adu Taktik


Anak muda itu memang ditangkap, tapi tindakannya menggugah orang lain, yang juga datang untuk duduk di kursi itu. Ratusan orang lalu bergantian duduk, hingga akhirnya memenuhi penjara. Aksi duduk itu lalu membakar kesadaran, memicu perlawanan, yang lalu berkembang jadi revolusi.

Buku ini bisa menjadi pegangan bagi semua praktisi gerakan sosial. Di dalamnya kita tak menemukan satu pun teori yang berat-berat, melainkan kisah-kisah inspirasi yang mengisahkan tentang banyaknya perubahan yang justru dimulai dari hal-hal sederhana. Beberapa kali nurani saya basah saat menemukan kegelisahan yang lalu dijelmakan dalam tindakan biasa, namun sukses menggugah banyak orang.

Miss Sarajevo yang memrotes perang di Bosnia

Saya suka kisah tentang perempuan Bosnia. Di tengah peperangan, mereka tetap berdandan modis, dengan lisptick merah merona. Di tahun 1993, warga Bosnia yang benci perang mengadakan kontes kecantikan. Para gadis-gadis cantik itu berpose di atas panggung yang terdapat spanduk besar bertuliskan “Don’t let them kill us!” Pesan itu bergema ke mana-mana. Grup musik U2 lalu membuat lagu berjudul Miss Sarajevo, yang liriknya adalah:

Is there a time for kohl and lipstick
Is there a tme for cutting hair
Is there a time for high street shopping
To find the right dress to wear

Apakah di sana ada waktu untuk maskara dan gincu
Apakah di sana ada waktu untuk memotong rambut
Apakah di sana ada waktu untuk belanja.
Untuk mendapatkan busana yang pantas disandang.


Bisa Anda bayangkan, sebuah acara lomba miss kecantikan diselenggarakan di tengah desingan peluru. Para perempuan Bosnia itu hendak menyatakan sikap benci pada perang yang berdampak luas. Siapa sangka, revolusi bisa dipicu oleh lipstick merah dari perempuan seksi.

Hal yang sama juga terjadi di Afghanistan ketika protes disuarakan melalui kontes Afghan Stars, lalu aksi protes warga Estonia atas rezim otoriter yang dilakukan dengan cara bernyanyi, hingga memicu The Singing Revolution.

Yang membuat saya terenyak adalah revolusi bisa dimulai dari hal-hal yang mungkin dianggap sederhana oleh banyak orang. Di Sudan, Lubna Hussein divonis bersalah dan akan diberi hukuman cambuk hanya karena mengenakan celana panjang, yang dianggap tidak sopan.

Ia melalui proses di pengadilan, lalu menjelaskan argumentasinya tentang perempuan. Ia membaca banyak kitab, dan mengejutkan orang-orang dengan pertanyaan kritis, yang lalu mengubah pandangan orang-orang.

Hal-hal besar sering kali dimulai dari hal-hal kecil, hal biasa, hal terabaikan. Yang barangkali bisa dilakukan adalah senantiasa konsisten, tetap mengikuti jalan nurani dan kebenaran, serta menyatakan sikap di tengah ketidakadilan.

Saya menganggap, ini bukan hal yang mudah, sebab sering kali pernyataan sikap bisa menggerakkan orang lain, yang lalu membuat hidup jadi tak nyaman.

Di buku ini, ada kisah inspiratif dari petinju hebat Muhammad Ali. Di puncak kariernya, ia justru menolak wajib militer dari negara untuk ikut perang Vietnam. Kalimatnya menghujam, “Mengapa pula saya disuruh memerangi Vietcong, sementara mereka tidak pernah mengatakan saya negro?”

Ali membuka borok rasisme yang sedang melanda Amerika Serikat, saat warga kulit hitam menjadi warga kelas dua. Pernyataan itu membuat Ali disekap, dicabut gelarnya, dilarang mengikuti kejuaraan dunia. Selama tiga tahun, ia kehilangan hak untuk bertinju, justru di tengah-tengah masa keemasannya.

Aktor Richard Harris mengatakan,” Setiap petinju selalu berusaha dan bersedia menjual jiwanya demi gelar sebagai juara tinju. Apa yang Ali lakukan? Dia justru menemukan kembali jiwanya dengan melepaskan gelar juara dunia itu.”

Muhammad Ali


Kisah lain yang juga mengejutkan adalah perempuan di Sudan Selatan. Perempuan bernama Samira Ahmed gelisah dengan perang saudara yang tak kunjung usai. Dua wilayah, yakni utara dan selatan, dibakar dendam berkepanjangan hingga memicu perang selama 20 tahun.

Samira ingin menghentikan perang. Dia muak dengan perang yang tak kunjung usai. Dia lalu mengorganisir perempuan di dua wilayah itu untuk bersatu. Mereka lalu membuat gebrakan melalui aksi menolak hubungan seks.

Aksi itu memang menggemparkan. Aksi itu adalah sexual abandoning (penelantaran seksual) yang lalu membuat para lelaki sejenak berhenti berperang lalu memikirkan hal-hal lain yang lebih penting.

“Perempuan-perempuan itu sama berpikir bahwa dengan menolak hubungan seks dengan suami, mereka bisa menekan lelaki untuk mengusahakan perdamaian. Taktik itu berhasil,” kata Samira.

Di tahun 2009, taktik ini juga dilakukan oleh para perempuan Kenya. Aksi mogok seks itu bisa memaksa presiden dan perdana menteri untuk ikut berunding dengan para perempuan itu.

***

SAYA senang membaca banyak contoh-contoh dalam buku ini yang membuka mata kita semua. Saya teringat pada buku James Scott yang berjudul Weapons of the Weak. Bahwa perlawanan orang lemah bisa diartikulasikan dengan banyak cara.

Pelajaran bagi mahasiswa dan para aktivis kita adalah terdapat banyak cara dan strategi untuk mendorong perubahan sosial. Anda hanya perlu kreatif dan bisa memaksimalkan semua teknologi jaman now yang memudahkan semua orang untuk berkonsolidasi demi aksi.

Buku Weapons of the Weak


Kata James Scott, perlawanan bisa disalurkan melalui simbol, gosip, hingga pesan yang lalu ditangkap oleh banyak kalangan. Perlawanan itu melalui cara-cara kultural yang pesannya lebih cepat tersebar dan memicu gerakan yang lebih besar.

Kita bisa melihat banyak contoh di negeri kita. Ada banyak orang hebat di sekitar kita yang perlu digali kisahnya demi menjadi nutrisi bagi anak-anak muda untuk melakukan perubahan.

Beberapa tahun lalu saya bertemu Maria Loretha, atau kerap dipanggil Mama Tata, yang menginspirasi warga untuk menanam sorgum di Pulau Adonara. Dengan cara itu, ia mengajarkan kemandirian pangan, serta sikap tidak tergantung pada pasokan beras, yang didatangkan dari Jawa.

Saya juga pernah bertemu dengan Ismail, anak muda di Berau yang mendirikan bank ikan lalu mengajak para nelayan berpartisipasi, serta tidak tergantung pada lintah darat.

Di sekitar kita ada banyak para champion atau juara yang bekerja dalam diam, menggugah kesadaran, lalu melakukan hal-hal luar biasa. Mereka tak suka dengan publisitas. Yang mereka kejar bukanlah kemasyhuran atau popularitas, lalu memajang wajah di berbagai baliho di banyak sudut kota. 

Orang-orang ini melakukan banyak hal-hal besar dengan langkah-langkah kecil demi membumikan pohon-pohon gagasannya agar tumbuh kokoh dan menginspirasi orang banyak.

Orang-orang ini bekerja untuk keabadian, berbuat untuk sesuatu yang jauh lebih bermakna. Meskipun mereka tak dicatat sejarah, nama mereka tergurat di hati banyak orang di sekitarnya. Mereka menggerakkan perubahan sosial.

Saat membayangkan orang biasa yang memantik perubahan sosial, sayup-sayup saya mendengar lantunan suara Bob Marley, penyanyi reagge asal Jamaika:

Emancipate yourself from mental slavery, 
None but ourselves can free our minds.
Have no fear for atomic energy,
'Cause none of them can stop the time.
How long shall they kill our prophets,
While we stand aside and look?
Some say it's just a part of it,
We've got to fulfill the book.
Won't you help to sing
These songs of freedom?
'Cause all I ever have,
Redemption songs,
Redemption songs,
Redemption songs.




OMNI yang Ketinggalan BUS

memotret buruh dalam satu kegiatan di Bali


Mulai dari mahasiswa, buruh, pengusaha, anggota dewan, menteri, hingga presiden, semuanya punya kontribusi pada meledaknya aksi sosial di tengah pandemi. Semua memegang sekeping puzzle yang hilang dalam dunia sosial kita hari ini. 

Sekian tahun republik ini berdiri, kita semua lebih sibuk memikirkan uang masuk dan semua target ekonomi, ketimbang berbicara dari hati ke hati. Kita lebih memikirkan Indonesia emas, tanpa mendengarkan anak bangsa. Kita ingin garuda segera melesat ke angkasa, lalu meninggalkan anak bangsa yang menumbuhkan bulu-bulunya.

Kita semua punya peran dalam pecahnya kotak pandora kebangsaan kita hari ini. Kita bisa membuat listing satu per satu demi mencatat apa yang sedang terjadi.

Pemerintah. Pemimpin pemerintahan, dalam hal ini Presiden, punya obsesi tentang pertumbuhan. Indonesia kini menjadi negeri yang punya GDP tertinggi di Asia Tenggara. Bahkan di Asia, kita masuk lima besar. Presiden kita ingin melesat lebih tinggi. 

Dia membuka keran investasi seluas-luasnya. Hal-hal yang menghambat segera dilibas. Pemimpin yang tumbuh dari rakyat ini mengabaikan banyak anak bangsanya. Dia lupa dengan masyarakat adat, buruh kecil yang kerja sehari dengan upah habis sehari, nelayan kecil yang kalah melawan korporasi perikanan, hingga lingkungan yang harusnya disisakan untuk menyuplai oksigen. 

Parlemen. Kita memilih mereka untuk menjadi pengimbang opini pemerintah kita. Kita ingin mereka punya taring. Namun mereka telah mengubah taring menjadi stempel. Apa yang datang, langsung distempel sebagai tanda persetujuan. Mereka hanya berkata “Yes Man” pada semua kebijakan yang disodorkan.

Heran, banyak di antara mereka malah cuci tangan. Di media sosial, berkoar-koar menolak. Tapi di sidang paripurna, mereka menjadi pendiam. Mereka lebih takut pada ketua partai ketimbang sorot mata orang biasa di daerah pemilihannya.

Kita rindu parlemen yang turun ke bawah, menelusuri lorong-lorong kehidupan masyarakat, lalu mendengar dan berdialog. Kita ingin mereka yang bersuara, bukan mereka yang menunggu arahan pemimpin partai.

Pengusaha. Bahkan pengusaha kita pun setali tiga uang. Pengusaha kita hanya sibuk mengejar rente dan remah-remah APBN. Pengusaha kita merasa minder jualan roti atau abon. Mereka menunggu proyek melalui kongkalikong dengan pemerintah.

Hanya di negeri ini, suara pengusaha lebih didengar ketimbang orang miskin. Para pengusaha kita berbondong-bondong memasuki parlemen. Mereka datang untuk menjadi calo anggaran, lalu membuat kebijakan, yang segera diikuti proposal atau rencana bisnis. 

BACA: Di Rimba Digital, Kita Adu Taktik!


Buruh. Ribuan buruh kita bekerja dengan kinerja pas-pasan, dengan gaji yang juga pas-pasan. Buruh kita lebih suka berdemonstrasi dan ikut arahan serikat organisasi ketimbang mengasah skill dan meningkatkan kapasitas. 

Buruh kita hanya mengenang masa indah ketika dahulu ada partai politik yang membela hak mereka lalu diberangus oleh negara. Hari ini buruh serupa kerbau yang bisa dicucuk hidungnya dan ikut ke mana pun apa kata serikat buruh. 

Tiba musim pemilu, dengan entengnya para buruh akan memilih sosok itu-itu saja, yang selama ini tidak memihak mereka. Tawar-menawar harga pas tancap gas.

Mahasiswa. Generasi mahasiswa hari ini adalah generasi tik tok yang rajin mengikuti trending topic. Saat demonstrasi jadi trending, mereka akan turun ke jalan-jalan. Namun, gerak mereka ibarat “panas-panas tai ayam.” Mereka serupa timnas PSSI yang hanya kuat berlari selama satu babak. Babak berikutnya, stamina kendor.

Lihat saja, demonstrasi mahasiswa saat menolak revisi UU KPK. Saya pikir itu akan jadi air bah yang tak berhenti, apalagi ada dua mahasiswa menjadi korban. Ternyata, stamina mereka tak panjang. Mereka hanya beberapa hari demo, setelah itu kembali ke kampus, dan tak pernah turun ke jalan lagi.  “Sekali berarti, sudah itu mati.”


Social Justice Warrior (SJW). Kita membutuhkan suara-suara kritis. Pemerintahan ini harus dihardik untuk mendengar suara publik. Kita membutuhkan para warrior yang bisa bersuara nyaring dan mengingatkan semua pihak jika ada yang salah.

Namun sering kali, SJW hanya menjadi label dari ketidaksukaan pada rezim. Banyak yang menunggu momen-momen ini untuk merayakan kebencian. Banyak SJW adalah versi KW. Banyak yang setiap hari menikmati kenyamanan di rumah mewah dan menerima dana asing, lalu sibuk memprovokasi sana-sini.

Ketika ada korban meninggal, mereka hanya menyampaikan duka lalu kembali berteriak panjang umur perlawanan. Mereka melakukannya dari rumah nyaman, atau dari ruang ber-AC di satu kampus mewah, atau dari kafe dekat pantai. Pejuang garis depan adalah kayu bakar bagi mereka. Saat rezim tumbang, mereka yang panen. Mereka mengklaim telah lama menanam benih.

***

Kita sedang menyaksikan ledakan dari endapan sosial yang lama tertahan. Dari barisan mereka yang turun ke jalan itu, tentunya ada yang paham mengapa harus turun ke jalan. Suara-suara mereka harus didengarkan.

Hari-hari belakangan ini kita sedang menyaksikan tipisnya telinga pemerintah dalam mendengar suara publik. Memang, dalam proses penyusunan Undang-Undang, ada tahapan berdiskusi dan berdialog dengan banyak pihak. 

Jika publik tetap tak paham, maka pemerintah tidak boleh meninggalkannya. Jadilah seorang guru yang sabar dalam membimbing muridnya. Sesekali murid bandel tentu bisa dimaklumi. Tugas guru adalah memberikan arahan dan juga jalan terang, dengan bahasa yang paling dipahami oleh muridnya.

memotret buruh di Bali

Yang terasa hilang dari kita adalah kebiasaan berdialog dan duduk bersama. Padahal itu ada dalam budaya kita. Orang Makassar mengenal tudang sipulung. Orang Minang mengenal tradisi basilang kata. Pendiri negeri kita punya istilah musyawarah.

Dalam situasi krisis, kita seyogyanya duduk bersama dan berbicara dari hati ke hati. Tentunya, syaratnya adalah semua pihak harus terbuka menerima semua kelebihan dan kekurangan setiap argumentasi. Pemerintah harus turun ke bawah, mendengar semua masukan, lalu mengajak semua orang untuk selalu dalam barisan yang sama menuju cita-cita kebangsaan.

Omnibus Law bermakna bus besar yang mengangkut semua. Omni bermakna semua. Tapi hari ini, tak semua orang merasa terangkut bus itu. Harusnya, prosesnya pun tetap memasukkan semua anak bangsa dalam bus besar itu. Bukan malah meninggalkan banyak pihak. 

Tugas kesejarahan kita adalah bagaimana menghapus lara di wajah Ibu Pertiwi dan menghadirkan senyum saat melihat anak-anaknya memakmurkan bumi, sebagaimana dicatat indah dalam syair ini:

“Kini ibu sedang lara

Merintih dan berdoa

Menjaga harta pusaka

Untuk nusa dan bangsa”