Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Terima Kasih Aktivis Amerika


Peggy Gish dan Profesor McGinn saat menggelar aksi Kamisan di Ohio, beberapa tahun lalu

Di persimpangan Court Street, Athens, Ohio, saya melihat perempuan itu membentangkan spanduk bersama seorang lelaki. Di tahun 2013, saya memotret mereka yang sedang melakukan demonstrasi anti perang. Mereka membawa spanduk bertuliskan: “It’s a lie that war is protecting us.”

Mereka melakukan demonstrasi itu setiap Kamis, tanpa pernah libur. Selama bertahun-tahun, mereka melakukannya. Perempuan itu adalah Peggy Gish. Dia adalah istri mendiang aktivis Art Gish yang pernah menjadi tameng hidup saat menghadang tank Israel yang hendak membombardir Palestina. Buku Art Gish berjudul Hebron Journal telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan Mizan.

Sejak Perang Teluk, Peggy dan suaminya memilih jalan aktivisme anti perang demi mengingatkan semua orang kalau perang hanya menyisakan nestapa. Dia memilih jalan damai. Dia berkampanye perdamaian ke seluruh penjuru Amerika.

Hari itu, Peggy ditemani pria tua yang ternyata seorang profesor bernama Profesor McGinn. Di kalangan mahasiswa Indonesia, McGinn cukup populer karena risetnya mengenai tradisi lisan di Indonesia. Dia pun seorang aktivis anti perang yang selalu berkampanye perdamaian.

Saya terkenang keduanya saat menyaksikan situasi Timur Tengah yang kian memanas selama beberapa hari ini. Terbunuhnya seorang jenderal di Iran telah memantik rasa marah. Iran membalas dengan puluhan rudal yang amat presisi menghantam target.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melunak. Saat jumpa pers, Trump malah menyalahkan pemerintah sebelumnya, serta berbicara tentang perdamaian. Padahal, beberapa hari sebelumnya, dia seperti preman pasar yang sedang menggertak. Dia membanggakan peralatan perang, serta kesigapannya untuk menghancurkan situs budaya Iran.

BACA: Peggy Gish dan Setetes Embun

Berkat Twitter, saya jadi tahu bahwa perubahan sikap Trump dipicu oleh tingginya tekanan dalam negeri. Di kota-kota Amerika Serikat, demonstrasi digelar warga yang benci dengan perang. Banyak orang menyampaikan desakan kuat agar negeri itu tidak lagi menggelar perang. Sebab dampaknya bukan hanya ekonomi, tetapi juga anak-anak muda militer yang kemudian menjadi korban.

Salah satu horor bagi orang Amerika adalah menyaksikan peti mati berlapis bendera yang turun dari pesawat, serta upacara kemiliteran. Apalagi kebanyakan prajurit yang dikirim bertempur adalah anak-anak muda dari keluarga menengah ke bawah yang sengaja masuk militer demi memudahkan karier serta jaminan masa depan.

Bahkan mereka yang kembali dari pertempuran pun membawa trauma. Saya membaca di National Geographic edisi Februari tahun 2015, kalau kehidupan mereka tidak berjalan sebagaimana sebelumnya. Mereka sering dicekam ketakutan serta tiba-tiba saja panik dan gelisah. Mereka seakan terbawa pada situasi hidup mati saat berada di medan perang. Butuh banyak terapi untuk memulihkan keadaan mereka seperti sedia kala.

Makanya, saat negeri itu dikabarkan hendak menggelar perang, protes merebak di mana-mana. Para aktivis anti-perang menggelar aksi di mana-mana. Mereka mengirimkan pesan kalau fundasi negeri itu adalah perdamaian, bukan perang dan ambisi dari orang gila yang kini menjabat sebagai presiden.

Di Twitter, saya melihat tayangan pernyataan politisi Bernie Sanders. Mantan kandidat presiden dari Partai Demokrat yang kemudian dikalahkan Hillary Clinton, yang disebarkan ke mana-mana. Bernie menyebut sebanyak 59.000 tentara Amerika yang tewas karena kebohongan. Tahun 2003, tentara dikirim ke Irak untuk menghancurkan senjata pembunuh massal.

“Kita semua tahu kalau itu adalah kebohongan, tapi kita telah kehilangan 4.000 tentara Amerika yang pemberani dan ratusan ribu warga setempat. Saya yakin perang melawan Iran adalah bencana besar. Kita semua tahu dan pernah belajar konstitusi kita. Bahwa pernyataan perang adalah hasil keputusan kongres, bukan presiden,” katanya.

Bernie Sanders kini disebut-sebut sebagai penantang Trump yang paling kuat. Dia diidolakan bayak anak muda sebab membawa gagasan-gagasan sosialisme di negeri yang sangat kapitalis itu. Baginya, ketimbang perang, rakyat lebih membutuhkan jaminan kesehatan, pendidikan yang murah dan merata, serta kualitas hidup yang lebih baik.

Bernie tak sendirian. Gelombang unjuk rasa yang digelar kelompok Act Now to Stop War and End Racism, yang merupakan koalisi anti perang, bergema di mana-mana. Demonstrasi itu digelar di lebih dari 70 kota di Amerika Serikat. Bahkan di depan Trump Tower di Chicago, mereka menggelar aksi protes. Dukungan untuk mereka mengalir dari mana-mana.



Di luar Gedung Putih, sekitar 200 orang berkumpul sebagai bagian dari gelombang demo yang diserukan oleh organisasi-organisasi sayap kiri. Mereka meneriakkan slogan, “Tanpa Keadilan Tidak Ada Pedamaian” dan “Amerika Keluar dari Timur Tengah.”

Saya menyukai postingan Michael Moore, sutradara film dokumenter, di Twitter. Moore mempertanyakan mengapa negerinya harus membunuh Jenderal dari negeri lain. Dia berkata: “Remember—everything you hear from Trump and his cronies about Iran, like everything else he says, is a lie.”

Dia juga bilang: “WOW. Take them up on it, President Trump! No need to prove your manhood! You ARE a MAN! A BIG man! A strongman! Sooo powerful. You won! It was a perfect call! Your crowd was bigger than Obama’s! Women love you! You’re the least racist president ever. End the war tonight! YA BABY!”

Moore malah bergerak lebih jauh. Dia justru menuding Amerika telah melakukan kejahatan internasional sebab membunuh petinggi Negara lain yang datang secara resmi karena undangan.

“What Americans did Soleimani kill? Our troops, who were forced to invade Iraq, a country next to his which had nothing to do with 9/11? No.Our beloved troops were sent there to their deaths by Bush, Cheney &the 29 Democratic Senators who voted to commit this war crime. The Truth.”

Kerja mereka akhirnya berbuah. Presiden Donald Trump berada di ujung tanduk karena derasnya kecaman dan demonstrasi. Dia pun harus menerima fakta mengejutkan kemampuan rudal Iran yang bisa mengenai sasaran dengan presisi.

Jika perang berlanjut, di atas kertas negerinya akan menang. Tapi itu akan dibayar dengan banyaknya korban jiwa yang berjatuhan, serta pemandangan horor berupa peti mati yang berdatangan dari arena perang. Boleh jadi, dia melihat meme yang dibuat pejuang Hizbullah yakni tentara Amerika akan datang tegak, tapi akan kembali dalam keadaan berbaring. Dia tak punya pilihan selain membatalkan rencana perang.

Mereka-mereka yang anti-perang itu adalah sisi lain Amerika yang tidak banyak diketahui penduduk bumi yang lain. Selama ini kita terlanjur percaya pada satu sosok yang seolah mewakili semua. Padahal ada banyak keragaman dan perbedaan pandangan yang saling mempengaruhi semua kebijakan politik.

Mereka pantas mendapatkan ucapan terima kasih dan apresiasi karena telah menunjukkan sisi lain Amerika. Mereka layak mendapatkan penghargaan setinggi mungkin karena telah menjaga nalar dan mengedepankan sisi kemanusiaan. Bahwa manusia bisa berada di ruang politik berbeda, namun selalu berada di barisan yang sama sebagai umat manusia.

Mereka mengajarkan perbedaan. Bahwa ada ratusan juta manusia yang hilir mudik di negeri itu dan membentuk satu mozaik di bawah panji “E Pluribus Unum” atau “Unity in Diversity.” Ada begitu banyak perbedaan pandangan yang kesemuanya saling bersinergi dan membentuk negeri itu hingga sebesar sekarang.

BACA: Di Balik Ketenangan Hassan Nasrallah

Makanya, Amerika Serikat bukanlah musuh. Bahkan Iran pun bukan musuh. Demikian pula Turki, Libya, Kuba, bahkan Venezuela. Tak ada satu pun yang bisa dimusuhi hanya karena perbedaan.

Yang pantas dimusuhi adalah sikap keangkuhan yang merasa diri paling hebat dan berhak mengendalikan orang lain. Yang pantas dibenci adalah rasisme atau pandangan tentang diri yang hebat dan lebih mulia sehingga merasa berhak mengatur hidup orang lain. Yang harus dimusuhi adalah sikap sombong yang merasa lebih tinggi dan lebih hebat dari siapa pun, lalu menindas yang lain.

Saya teringat Peggy Gish. Dia mewakili gambaran tentang sisi lembut dari Amerika Serikat yang anti peperangan. Jika suaminya pernah menjadi tameng hidup dari tank Israel, Peggy pun pernah menjadi aktivis perdamaian di Irak.

Dia mendokumentasikan pelanggaran HAM yang dilakukan tentara AS. Dia pernah bercerita tentang pengalamannya di Irak. Yang berkesan adalah ketika berada di satu kota yang dijatuhi bom.

“Saya bersama mereka saat bom jatuh dan menghancurkan kota. Saya ketakutan sambil bertanya, di manakah kau Tuhan? Apakah Kau sedang bersama mereka yang menderita di peperangan ini?”

Saya mengenang kalimat-kalimatnya. Pernah, saya tak tahan untuk bertanya sesuatu. “Bisakah kita hentikan perang yang serupa virus telah menggerogoti manusia di zaman sekarang?”

Dia tersenyum. “Bisa. Hanya cinta yang mengalahkan semua kebencian. Saya telah membuktikannya. Saya merasakan bagaimana diculik oleh militer AS. Saya merasakan bagaimana cinta kasih adalah embun yang bisa memadamkan segala api amarah yang menyala-nyala.”



Di Balik Ketenangan HASSAN NASRALLAH




Timur Tengah memanas. Saya tak menemukan banyak berita di media-media kita, termasuk CNN. Semalam saya nonton Al Jazeera. Momentumnya tepat. Pemimpin Hizbullah, Hasan Nasrallah, sedang berpidato di hadapan ribuan massanya di Libanon, semalam.

Bendera merah telah berkibar di atas Masjid Agung Jamkaran di kota Qom, Iran. Di banyak tempat, ada duka serta rasa marah yang tertahan. Laskar Hizbullah mengalami itu.

Hassan Nasrallah sedang dalam kedukaan karena tewasnya jenderal asal Iran yang telah diakui perintah dari Donald Trump. Dia tetap tenang. Kalimatnya tidak bergelombang. Dia menyampaikan pesan kuat dalam bahasa yang mengalir tenang bak sungai jernih.

Retorikanya sungguh beda dengan Donald Trump yang dengan mudah memaki dan memojokkan orang lain. Trump memang dikelilingi privilise. Kisah hidupnya bergelimang kemewahan. Dia besar sebagai pebisnis. Bertahun-tahun dia membiayai kontes kecantikan Miss USA. Dia pun tak malu-malu tampil di kasino Las Vegas.

Trump tak tahu seperti apa kehilangan. Dia pun dengan mudahnya memberi persetujuan untuk membunuh orang lain, tanpa ada bukti-bukti awal sebelumnya. Jika jenderal itu teroris, tentunya namanya akan setenar Osama bin Laden yang diburu sepanjang waktu. Kali ini tak ada dialog. Bom telah menewaskan jenderal itu, tanpa pembelaan.

Beda dengan Trump, Nasrallah sangat paham seperti apa kehilangan. Bagi pemimpin Hizbullah, simbol perlawanan bagi kaum sunni dan syiah, kehilangan adalah kawan sekarib-karibnya.  Di tahun 1997, putranya, Sayid Hadi, gugur saat bentrok dengan Israel. Dia baru bisa memeluk jenazah putranya setahun berikutnya saat terjadi pertukaran dengan serdadu Israel.

Dalam duka yang mengepung, dia tetap bisa berpikir jernih. “Sayid Hadi adalah tanda bahwa dalam memimpin Hizbullah, kami tidak membesarkan anak-anak untuk menjadi pemimpin Hizbullah. Kami bangga dengan anak-anak kami yang pergi ke garis depan dan akan bangga dengan kesyahidan mereka.”

Kini, saat dia mengalami kehilangan, kalimatnya tetap terjaga. Tak ada sumpah serapah dan caci-maki selangit. Dia tetap santun dalam kalimat-kalimat yang menusuk. “Membunuh Jenderal Sulaimani berarti menargetkan seluruh Sumbu Perlawanan.“

Tapi bagi yang paham semiotika, kalimat yang tenang itu adalah tanda semarah-marahnya seseorang. Di kampung saya, seseorang yang teriak-teriak sembari mengacungkan badik bisa dipastikan adalah penakut yang tidak berani menusuk. Jika dia memang pemberani, maka dia akan tenang, mendekat, lalu menusuk.

Kehilangan jenderal itu bukan hanya kehilangan bagi Iran, tetapi juga kehilangan banyak orang. Bagi Trump, aksi itu penting untuk menaikkan popularitasnya. Tapi harga yang dibayar terlampau mahal.

Beberapa kawan saya di Amerika bercerita bagaimana ketatnya bandara serta berbagai pusat perbelanjaan di sana. Negeri itu kembali memasang mata dan telinga demi mengantisipasi peristiwa yang bisa terjadi. Keamanan diperketat. Gerak-gerik warga menjadi terbatas.

Di abad yang penuh teknologi ini, perang memang mengandalkan artificial intelligent. Semestinya warga Paman Sam bisa lebih tenang menyikapi pernyataan pemimpin Iran akan adanya balas dendam. Dalam film-film Hollywood, Paman Sam cukup menekan satu tombol, maka rudal akan meluncur ke satu titik.

Lagian, seperti dicatat Harrari, di abad ini negara-negara tidak akan memilih perang sebagai opsi penyelesaian masalah. Sebab perang hanya akan menguras cadangan ekonomi. Perang bukan bisnis yang menguntungkan. Tapi butuh satu orang gila untuk memulai perang. Itu yang terjadi sekarang.

BACA: Jika AS Perang dengan Cina, Apa Kata Harrari?

Apakah Trump ingin perang? Belum tentu. Perang hanya efektif untuk meningkatkan daya tawar politik. Targetnya jangka pendek untuk kembali mengerek popularitas.

Tapi dia mengabaikan siapa yang sedang menjadi sasarannya. Dia memukul gong perlawanan dengan mereka yang justru merindukan kematian di jalan Tuhan. Dia hendak konflik dengan mereka yang siap menjemput kesyahidan, mereka yang tak takut dengan ancaman kehilangan selembar nyawa.

Bagi Nasrallah dan juga pejuang-pejuang di jalannya, kematian adalah sesuatu yang disongsong dengan penuh kegembiraan. Mereka memahami bahwa kematian hanyalah jalan untuk bersatu kembali dengan sang pencipta, semacam jalan untuk membawa mereka pada posisi spiritualitas yang tinggi.

Di setiap malam Jumat, matanya basah saat melafalkan doa kumayl, yang salah satu kalimatnya: “Jika aku bisa bersabar menahan siksa-Mu, mana bisa aku bersabar untuk berpisah dari-Mu.”

Di titik ini, dunia paham betapa berkarismanya para pemimpin spiritual seperti dirinya. Kalimatnya terjaga. Mereka jauh dari kemewahan. Hidupnya hanya untuk umat dan bangsa. Orang-orang percaya sebab melihat hidup yang sederhana dan didedikasikan untuk orang lain. Mereka membawa suara langit ke bumi, lalu menjadikan diri mereka sebagai teladan bagi manusia lain.

Saya teringat beberapa tahun lalu saat bertugas meliput kedatangan Ahmadinedjad di Masjid Istiqlal, Jakarta. Semua orang ingin mendekat dan menyentuhnya. Saya beruntung bisa memegang jenggot pemimpin yang sederhana itu.

BACA: Menyentuh Pipi Ahmadinedjad

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, juga telah memberikan warning. Pemimpin yang hidupnya didedikasikan untuk jalan peperangan, pemimpin yang tetap memilih jalan hidup sederhana sebagai rahib, santo, atau ulama ini tetap tampil apa adanya demi menyerap spirit kenabian.

"Kehilangan jenderal kami memang pahit. Namun meneruskan perjuangannya dan mencapai kemenangan bakal membuat para penjahat getir," janjinya.

Khamenei telah memberikan fatwa. Namun, saya meyakini Iran tidak akan memberikan perlawanan terbuka. Mereka akan memilih jalan panjang, namun tidak merasa lelah demi mencapai apa yang diinginkan.

Kata Trump dalam cuitannya, Iran memang tidak memenangkan apa pun di era perang moderen. Tapi dia lupa kalau ada spirit perlawanan yang diwariskan dari generasi ke generasi, dari satu zaman ke zaman lain, dari satu peristiwa kematian ke peristiwa kematian lain.

Di semua periode itu, para singa-singa padang pasir yang berhati lembut silih berganti hadir dalam sejarah. Mereka berbaris untuk menjemput kemuliaan dalam dekapan Sang Pencipta dan para imam yang lebih dahulu berpulang.

Mereka tak sebanding dengan sumber daya yang dimiliki Paman Sam. Mereka semut di hadapan gajah. Mereka adalah liliput di hadapan Gulliver. Mereka adalah David di hadapan Goliath.

Tapi kita sama tahu kalau akhir kisah itu seringkali mengejutkan.




Sepenggal KIsah BASUKI




Dari semua anak buah Jokowi di periode pertama dan kedua, Basuki Hadimuljono adalah menteri favorit saya. Dia tipe yang tidak banyak ngomong. Dia juga figur yang tenang. Dia tidak punya ambisi politik.

Pernah, saya melihatnya makan di satu tempat makan di Terminal 3, Bandara Soekarno Hatta. Dia duduk tenang di sudut, seorang diri. Tidak terlihat satu pun staf yang mendampinginya. Padahal di kampung saya, seorang kepala daerah selalu membawa “pasukan” dan “dayang-dayang” ke mana-mana.

Basuki tidak pernah gila hormat. Dia tidak peduli disapa apa tidak oleh orang-orang. Saya yakin dia lebih suka tidak dikenali. Sebab dengan cara itu, dia bebas melakukan apa pun. Saat saya menyapa dan mengajaknya berfoto di bandara, wajahnya terlihat kurang nyaman.

Dia tipe pekerja keras yang selalu menuntaskan banyak hal. Dia menerjemahkan apa yang diinginkan atasannya dengan baik. Sebagai Panglima Infrastruktur Indonesia, dia hadir di mana-mana. Dia muncul di peresmian jalan tol, pelabuhan, jembatan, hingga perumahan.

Saya pernah melihat tayangan peresmian infrastruktur. Dia tidak duduk di jajaran menteri yang sedang mengelilingi presiden. Dia memegang kamera dan jongkok bersama para fotografer. Dia sangat membumi.

Padahal, kalau dia mau, posisi duduknya lebih tinggi dari gubernur dan bupati. Dia harusnya duduk di jajaran pejabat, menerima kalungan bunga, juga diberi kesempatan untuk sambutan-sambutan.

Anehnya, dia tak suka sambutan. Saya jarang menyaksikan dirinya berbicara panjang dan cerita semua rencana-rencananya di layar kaca. Kalau dia diwawancarai, kalimatnya selalu ringkas. Dia tipe orang yang seakan ingin berkata “Jangan lihat ucapanku, lihat kerjaku.”

Publik tahu prestasinya. Salah satu yang melekat di benak publik adalah pembangunan tol trans Jawa yang menghubungkan Merak hingga Banyuwangi. Berkat kesuksesannya, dia dijuluki Daendels baru, seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang memerintahkan pembangunan jalan dari Anyer ke Panarukan.

Tipe pekerja keras seperti dia selalu irit kata. Ketika dia mengomentari sesuatu, maka berarti ada sesuatu yang serius di situ. Logikanya, dia sangat berpengalaman mengelola banyak proyek besar. Dia tentu tahu di sisi mana ada kendala sehingga perlu dibenahi.

Kemarin, dia berpolemik dengan Gubernur Anies Baswedan mengenai banjir Jakarta. Dia menyoroti normalisasi sungai yang tidak berjalan sesuai target. Keduanya pernah sama-sama menjadi pembantu presiden.

Basuki percaya dengan konsep normalisasi. Dia sama dengan Gubernur DKI Jakarta sebelumnya yang meyakini normalisasi adalah salah satu upaya mengatasi banjir. Sungai harus dikeruk dan dilebarkan. Penduduk direlokasi ke tempat layak.

Di tempat berbeda, Anies yang mengatakan tidak ingin berpolemik. Dia tidak ingin ikut terpancing. Tapi, setelah itu dia memberi respon. Dia membandingkan kampung Pulo yang kini terendam padahal sudah dilakukan betonisasi. Anies lebih memilih naturalisasi.

Dalam hal berbicara di depan mikrofon, Anies adalah pakarnya. Ibarat petinju, Basuki bisa langsung KO dihantam dengan pukulan keras kata-kata. Tapi, kali ini, Basuki tidak lantas limbung. Malah Anies yang sedang limbung karena tekanan publik. Buzzer Anies harus bekerja lebih keras di berbagai kanal media.

Anies bisa bangkit dan meng-KO Basuki jika dia menunjukkan kinerjanya. Dua tahun bekerja, dia seharusnya sudah bisa menampilkan sesuatu. Dia harusnya menunjukkan sungai yang sudah dinaturalisasi, kemudian berkata, “Lihat apa yang sudah kami kerjakan. Lebih bagus kan?”

Sebagai publik kita hanya menjadi saksi dari silang pendapat dua pejabat ini. Namun, harus diingat, ada banyak pekerjaan rumah yang tak perlu menunggu selesainya perdebatan keduanya. Tetap ada kerja-kerja yang dilakukan untuk menjaga agar kawasan bisa terhindar dari banjir, atau minimal bisa mengurangi dampaknya.

Basuki terus bekerja. Basuki tidak hanya merambah Jakarta, tapi seluruh Indonesia. Saat berbicara Jakarta, dia tampak lelah. Rambutnya kian memutih, tapi kerja belum selesai. Belum apa-apa.

Tetap sehat Pak Basuki. Tetap bekerja. Kami ingin Bapak menjadi pemimpin bangsa ini yang bisa bekerja keras. Tidak sekadar bermain kata.




Kita Bisa Buat Kisah IP Man




Pria itu mendatangi markas latihan marinir Amerika Serikat (AS). Dia memenuhi tantangan seorang petinggi marinir yang melecehkan kungfu dan orang Cina. Dia bertarung demi harga diri mereka yang telah dihina dan dipukuli. Dia adalah guru IP Man yang diperankan Donnie Yen.

Dalam kisah IP Man 4: The Finale, kita kembali menyaksikan bagaimana nasionalisme dikemas dalam satu kisah laga yang apik. Ini film yang keempat. Film-film sebelumnya, selalu bergerak dengan tema yang sama yakni nasionalisme bangsa Cina di arena adu perkelahian.

Film ini menampilkan Bruce Lee, murid IP Man yang telah sukses di Amerika. Bruce Lee mengundang gurunya datang ke San Francisco. Kebetulan, saat itu putra IP Man bermasalah di sekolah sehingga akan dipindahkan ke Amerika.

Ketika IP Man tiba di Amerika, dia malah diadili para guru kungfu dan pengurus Chinese Benevolent Association (CBA) yang memprotes tindakan Bruce Lee yang mengajar kungfu pada orang barat. IP Man membela muridnya sehingga dirinya kesulitan mendapatkan rekomendasi agar anaknya bisa sekolah.

San Francisco di masa itu adalah kota yang intoleran. Banyak orang tidak siap dengan perbedaan ras sehingga muncul kebencian berlebihan. Kungfu tumbuh bagaikan bunga di tengah lahan kritis yang tak siap melihat perbedaan.

BACA: Kisah IP Man, Saat Kungfu Cina Menantang Tinju Eropa

Masalah mulai muncul saat ada orang Amerika bertubuh kekar yang belajar karate, kemudian memandang rendah kungfu. Saat festival tahun baru Cina, dia datang bersama rekan-rekannya kemudian menantang semua guru kungfu setelah sebelumnya mengatakan pecundang.

Beberapa guru kungfu meladeni tantangan namun kalah telak. Dalam keputus-asaan saat pelecehan terus dilakukan jago karate itu, IP Man maju bertarung. Hanya dengan beberapa sentuhan, dia membuat jago karate itu terkapar dengan tulang rusuk patah.

Orang Amerika lainnya tidak terima kenyataan itu. Dia lalu menantang semua guru kungfu hingga terkapar. Adegan final adalah adegan ketika IP Man datang ke markas marinir, kemudian bertarung hingga ada yang terkapar.

Saya menyukai adegan laga yang menampilkan kecepatan tangan serta bela diri yang mematikan. Mata seakan tak berkedip saat melihat derasnya pukulan IP Man. Guru Bruce Lee ini sering terlihat lemah dan tak berdaya. Postur tubuhnya seperti orang kebanyakan. Tapi saat bertarung, dia bisa bergerak lincah dan menyentuh semua titik lemah di tubuh lawannya.

Dia tak perlu menghabiskan energi untuk memukul dan menendang sekeras mungkin. Cukup menyentuh satu titik, maka lawan akan tumbang. Dalam film IP Man 4, dia hanya perlu menyentuh satu titik di bawah leher lawannya untuk membuatnya terkapar dan tak berdaya.

Jika disuruh mengenang semua adegan laga dalam film IP Man, pertarungan terbaik yang melekat di benak saya adalah saat IP Man melawan Guru Hung (diperankan Sammo Hung) dalam film IP Man 2. Mereka bertarung di atas meja bundar yang selalu bergerak. Pertarungan itu menunjukkan kelas kependekaran mereka yang di atas rata-rata.

Sayangnya, cerita dalam film keempat ini terlampau mudah ditebak. Alurnya persis film kedua. Kisahnya tentang orang Cina yang dilecehkan orang barat di arena duel. IP Man hadir sebagai pahlawan untuk mengembalikan supremasi orang Cina. Dia ingin menegaskan bahwa mereka tidak boleh dilecehkan dan dipandang rendah.

IP Man digambarkan sebagai sosok yang tidak rela melihat harga diri orang Cina dilecehkan. Dia seorang nasionalis. Di lapangan bela diri, dia tidak mau mendengar ada yang melecehkan bangsanya. Dia siap bertarung demi menunjukkan supremasi siapa yang kuat.

Dalam film pertama, dia melawan seorang jenderal Jepang yang pandai karate. Dalam film kedua, dia melawan petarung Inggris yang telah membunuh guru kungfu. Dalam film ketiga, dia melawan Mike Tyson. Dalam film keempat, dia melawan marinir Amerika yang jago karate.

Namun, sebagai penonton, nasionalisme ini yang menjadi bumbu agar pertarungan menjadi epik. Kita berharap agar tokoh protagonis bisa menang telak sebab bisa mengembalikan marwah. Kita ikut berdebar dan deg-degan saat tokoh kita bertarung. Kita berharap dia menang, kalau perlu menang telak agar pandangan orang-orang berubah.

IP Man Rasa Indonesia

Sejujurnya, kita pun bisa membuat kisah serupa IP Man. Kita bisa menghadirkan seorang jagoan yang menegakkan supremasi silat kita saat berhadapan dengan bela diri bangsa asing. Di era 1980-an, kita pernah menyaksikan Jaka Sembung dan Si Jampang yang melawan kompeni. Jika kisah itu dikemas ulang dan diperkaya, pasti akan jauh lebih menarik.

Sejarah kita mencatat, Nusantara adalah wilayah yang hilir mudik bangsa asing berdatangan. Jika kita bisa mengolah satu cerita silat yang menarik, serta perbenturan dengan bangsa asing, nasionalisme ala IP Man itu bisa dihasilkan.

Kita punya banyak bahan baku sejarah yang seharusnya bisa diolah menjadi fiksi menarik untuk menampilkan bela diri silat. Di zaman Sriwijaya, para biksu dari Cina datang belajar ke Sumatra kemudian kembali ke negerinya. Mereka tak hanya belajar tentang Buddha, tetapi juga beragam keahlian bela diri untuk dibawa ke kampung halamannya.

Dalam serial Tutur Tinular pernah dibahas Pendekar Lou dan Mei Shin, dua sejoli pendekar yang datang bersama pasukan Mongol ke tanah Jawa.

Di zaman Majapahit, banyak kisah tentang pendekar yang kemudian mengembangkan berbagai jenis bela diri. Bahkan ilmu bela diri Kali Majapahit berkembang pesat di Filipina. Bela diri yang dulu diajarkan pada pasukan khusus Majapahit telah punah di Indonesia, tetapi berkembang pesat di Filipina.

Tiongkok juga punya banyak pertautan dengan kita. Di novel Sam Po Kong, karangan Remy Silado, terdapat cerita bagaimana armada Cheng Ho singgah di beberapa tempat di Nusantara. Sudah pasti, terjadi silaturahmi kebudayaan, termasuk melalui perjumpaan kungfu dan silat.

Bahkan terhadap Jepang pun kita punya banyak pertautan. Di masa Gubernur Jenderal JP Coen beberapa samurai didatangkan dari Jepang untuk bekerja di Batavia. Bahkan para samurai ini juga dibawa ke Banda, Maluku, kemudian ikut membantai warga di sana bersama pasukan VOC.

Imajinasi bisa berkembang dengan membuat kisah ala IP Man. Bisa saja kita menulis fiksi kalau enam samurai itu lalu menantang pendekar silat setempat, hingga kemudian datang seseorang yang mengalahkannya hanya dalam beberapa sentuhan.

Jika ingin buat setting film zaman perjuangan, banyak pula kisah yang bisa digali. Di antaranya adalah beberapa perkumpulan rahasia yang tumbuh pada masa itu.



Dalam buku Kuasa Jepang di Jawa yang ditulis sejarawan Aiko Kuroshawa, saya membaca cerita tentang perkumpulan rahasia Kipas Hitam yang anggotanya menyebar di Jawa. Dalam buku itu, Kipas Hitam disebut sebagai organisasi rahasia yang didirikan oleh Hitoshi Shimizu, pemimpin gerakan propaganda Jepang (sendenbu), dengan tujuan untuk membangkitkan spirit bangsa Asia demi menumbangkan Eropa.

Hitoshi Shimizu mendirikan beberapa perkumpulan rahasia yang di antaranya adalah; (1) Ular Hitam, berisi orang-orang Indo-Belanda bermarkas di Bogor; (2) Chin Pan, perkumpulan yang menampung orang-orang Tionghoa; (3) Kipas Hitam, yang dibentuk untuk mempersiapkan orang-orang Indonesia melakukan perang kemerdekaan di bawah bimbingan Jepang. Saat Shimizu ditangkap Belanda, Kipas Hitam lalu bersekongkol dengan sekutu untuk menghadang para pejuang kemerdekaan.

Saya hanya mengungkap sedikit kisah dari lautan kisah yang bisa dikembangkan di tanah air kita. Point saya adalah negeri kita tak pernah kekurangan bahan baku untuk meramu satu kisah nasionalisme ala IP Man yang menggelorakan semangat untuk melawan siapa pun yang merendahkan kita.

Kita hanya butuh satu penulis skenario yang kuat demi mengolah semua narasi sejarah itu menjadi kisah yang berbobot, serta berkelas sebagaimana IP Man.

Hari kita bangga karena silat mulai menjadi rujukan pusat perfilman Hollywood menyusun kesuksesan film The Raid. Kita berharap di tanah air kita muncul satu kisah silat yang menggelorakan semangat nasionalisme, punya jalinan cerita yang menarik, serta lebih bertenaga.

Kita bisa melakukannya. Why not?


Sepenggal Kisah Abraham Samad




Suatu hari kami ke Kalimantan. Sehari sebelum berangkat, saya menyampaikan undangan dari satu lembaga anti-korupsi. Dia tidak langsung merespon. Saat di pesawat, dia jelaskan kalau banyak orang di lembaga itu yang memanfaatkan isu anti korupsi untuk kepentingan pribadi.

Setiba di Kalimantan, personel lembaga itu menjemputnya dengan mobil Alphard. Dia menolak. Malah dia mengajak saya untuk menggunakan angkutan umum menuju warkop di pinggir pantai. Di sana kami ngobrol lepas.

Saat itu, dia sudah bukan Ketua KPK. Tapi dia tetap memelihara integritas untuk tidak menerima begitu saja kebaikan orang lain. Dia pun menjaga jarak dengan politisi. Saat namanya masuk bursa presiden, dia menolak untuk bangun berbagai kesepakatan dengan banyak orang politik. Dia memilih berjalan sendirian di tengah arus.

Meskipun sudah tidak menjadi ketua KPK, dia tetap lebih populer dari ketua sesudahnya. Saat ke daerah, banyak yang malah tidak tahu nama penggantinya. Namanya identik dengan kata KPK. Pernah saya bergurau, hanya ada satu ketua KPK. Yang lain adalah penggantinya. Dia hanya tersenyum.

Di layar kaca, publik melihatnya sebagai sosok yang garang. Tapi saya melihatnya sebagai sosok yang humoris. Dia tipe yang mudah diajak tertawa bersama. Saya nyaman membahas banyak hal. Dia tidak jaim.

Banyak orang yang penasaran apa yang dia lakukan sekarang. Dia mengaku aktivitasnya tidak jauh dari mengajar dan memberikan materi mengenai hukum. Dia senang ngopi, dan juga selalu senang ketika diajak menikmati kuliner khas Makassar.

Dia telah mewarnai zaman dengan kiprahnya. Setelahnya kita hanya mendengar sayup-sayup. Entah, dengan mereka yang baru dilantik hari ini. Kita hanya bisa berharap.




Buku yang Saya Sukai di Tahun 2019




Di awal tahun 2019, saya dijangkiti virus bibliomania, yakni kebiasaan membeli banyak buku kemudian menumpuknya begitu saja, tanpa membaca. Orang Jepang punya istilah lain yakni tsundoku, yakni menumpuk bahan bacaan, kemudian meninggalkannya.

Saat itu, saya punya banyak koleksi buku yang antre untuk dibaca. Saya tidak mau berhitung soal buku. Ketika ke toko buku dan tertarik, saya akan membelinya. Saya tak peduli kalau uang di dompet hanya cukup untuk makan siang.

Dulu, saya sering menahan diri untuk tidak membeli banyak buku. Maklum, keuangan terbatas. Kini, ketika dompet selalu terisi, saya seakan balas dendam dan lampiaskan hasrat membeli buku sebanyak-banyaknya, padahal buku itu belum tentu saya baca.

Awal tahun 2019, saya lihat ada puluhan buku yang numpuk. Kalau melihat dari genre buku, tampaknya jenis buku yang saya baca juga berevolusi. Dulu suka yang rumit, sekarang malah suka yang praktis.

Mengapa? Sebab saya membeli buku hanya karena saya berhasrat kuat untuk baca. Saya tidak ingin ikut trend, ketika teman beli buku A maka saya gelisah untuk beli juga. Keputusan membaca juga dipengaruhi banyak hal. Intinya, saya mengalir mengikuti ke mana minat saya bergerak.

Semua orang punya minat berbeda. Semua orang punya kesukaan yang berbeda, sehingga kita tak perlu ikut-ikutan dalam hal membaca buku. Saya hanya membaca buku yang saya inginkan.

Bagi saya, kriteria buku bagus itu sederhana. Yakni ketika meninggalkan banyak hal yang terngiang-ngiang di pikiran saya selama beberapa hari, bisa menghadirkan kilasan-kilasan informasi saat melihat sesuatu, serta bisa memaksa saya untuk membacanya berkali-kali. Beberapa di antara buku tersebut adalah:


Mendaki Tangga yang Salah (Eric Baker)

Buku ini adalah terjemahan dari Barking Up the Wrong Tree. Ini buku yang saya sukai di tahun 2019. Saya sempat menyesal karena tidak membacanya sejak dulu. Beberapa kali saya abaikan buku ini saat berada di toko buku.

Saya suka cara penulis mengeksekusi ide-ide itu dalam buku yang dikemas menarik.  Gaya nulisnya “gue banget.” Selalu memulai dari cerita-cerita atau ilustrasi yang kemudian menggiring pembaca ke satu argumentasi. Gaya menulisnya adalah feature news ala National Geographic. Ada kombinasi antara cerita serta fakta-fakta dan riset yang membuat buku ini penuh kejutan.



Ini jenis buku serupa bom waktu disimpan di kepala kemudian meledak. Isinya mengejutkan. Kita tak menduga dengan hasil dan kesimpulannya. Buku ini mengajak kita untuk tidak melihat sesuatu dengan cara pandang yang biasa-biasa.

Misalnya, kita dijejali pandangan bahwa seorang anak harus menjadi juara agar masa depannya cerah. Ternyata tidak selalu demikian. Orang pintar di kelas malah jarang jadi miliuner. Saya suka tulisan tentang pelajaran terbaik dalam manajemen bukan datang dari perusahaan besar dan mapan, tetapi datang dari anggota geng, pembunuh berantai, dan bajak laut.


Politik Jatah Preman: Ormas dan Kuasa di Indonesia Pasca Orde Baru (Ian Douglas Wilson)

Buku yang digali dari riset etnografis ini menjadi buku favorit saya di tahun 2019. Apalagi, buku ini beredar pada saat yang tepat yakni kampanye pileg dan pilpres. Isinya sangat relevan sebab membahas para preman, gang, dan milisi yang ada di sudut-sudut Jakarta. Mereka sudah ada sejak zaman kolonial, hingga terus hadir di berbagai rezim.

Kita sama tahu kalau mereka hadir bergandengan dengan politisi dan penguasa. Mereka menjalankan operasi-operasi yang kemudian dibeking aparat dan pemerintah. Mereka terbagi dalam banyak kubu serta selalu bersaing satu sama lain. Ketika ada konflik, maka para beking yang akan bernegosiasi dan mencari titik temu.



Di Jakarta yang penuh sesak, politik bisa didapati dalam rebutan atas penggunaan akses, akses, dan kepemilikan ruang, termasuk perekonomian. Di sini, kaum preman, vigilante, milisi, dan kelompok-kelompok gangster menjadi wahana efektif untuk mendapatkan keuntungan.

Mereka diorganisir dalam identitas etnik serta agama. Mereka menyebut dirinya ormas berbasis etnik. Belakangan terjadi lagi transformasi sehingga ada juga yang memakai jubah kelompok keagamaan. Mereka sama-sama menjalankan peran seolah-olah pelindung masyarakat, yang kemudian menjadi alasan untuk memalak dan mengkapling parkiran, kemudian menjaga keamanan.

Buku ini menarik sebab membahas peta kelompok elite yang mengorganisir kelompok akar rumput. Asumsinya, untuk konsolidasi kekuasaan, para elite akan merangkul kelompok sub-hegemonik yang berpotensi merusak seperti geng demi keuntungan ekonomi klientelisme. Dengan cara itu, mereka memperluas kelas penguasa dalam apa yang disebut “struktur jatah preman yang berakar pada mode produksi yang spesifik.”

Harusnya saya resensi di masa kampanye. Tapi batal karena resensi itu akan menyebut nama-nama yang sedang berlaga di pilpres, di antaranya adalah Prabowo Subianto, yang disebut berkali-kali di buku ini.


Upheavel (Jared Diamond)

Saya salah satu penggemar Jared Diamond. Saya mengoleksi tiga bukunya, yakni Gun, Germs and Steel, kemudian Collaps, setelah itu The World Until Yesterday. Peraih Pulitzer ini selalu menulis keping kenyataan, kemudian dianalisisnya dari sisi sains yang lintas disiplin. Bukunya selalu kaya dengan argumen geografi, lingkungan, budaya, dan sejarah.



Buku Upheavel, yang diterbitkan Globalindo Manado, mendiskusikan bagaimana bangsa-bangsa pernah jatuh, kemudian bangkit dari krisis. Dia melakukan perbandingan pada tujuh negara, yakni Amerika Serikat (AS), Jepang, Chili, Finlandia, Australia, Jerman, dan Indonesia. Dia melihat bangsa-bangsa ini punya kekuatan untuk keluar dari krisis. Dia pun melihat ada potensi yang masalah yang bisa muncul.

Saya sangat tertarik membaca bab mengenai Indonesia. Jared Diamond melihat adanya krisis pada tahun 1965, ketika ratusan ribu orang dibantai oleh rezim militer. Dia melihat kediktatoran Suharto yang membawa banyak aspek negatif, tetapi ada juga aspek positifnya yakni pertumbuhan.

Meskipun didera krisis, Indonesia malah bangkit dan bisa mengelola ribuan etnik, keterpisahan pulau, serta berbagai agama berbeda.  Saya ingat, dulu ada pernyataan Jared Diamond tentang Indonesia yang bisa terpecah seperti Yugoslavia. Dalam buku ini dia malah melihat kian kuatnya identitas nasional, efektifnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, serta makin kuatnya integrasi nasional.

Krisis memang bisa memorak-porandakan satu bangsa. Tapi, ada bangsa-bangsa yang bisa bangkit dan tumbuh menjadi kekuatan baru. Saya ingat penuturan sejarawan Arnold Toynbee tentang dinamika antara “challenge and respons.” Setiap bangsa akan menemui tantangan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa memberikan respon atas tantangan yang dihadapinya.

Dalam beberapa hal, saya temukan argumentasi buku ini serupa dengan buku Why Nations Fail yang ditulis Daron Acemoglu. Mereka sama-sama melihat ada krisis, serta ada kekuatan untuk bangkit. Dengan menggunakan perbandingan antara berbagai studi kasus, kita bisa menemukan variasi serta kekuatan untuk berubah.


Filosofi Teras (Henry Mapiring)

Buku ini serupa obat penenang bagi manusia modern yang sering dilanda kecemasan. Buku ini tidak menawarkan satu solusi final. Buku ini menggali kearifan Yunani dan Romawi kuno untuk diterapkan di masa kini.

Yang ditawarkan adalah upaya untuk mengendalikan semua hal negatif dengan cara mengubah cara pandang kita, yakni melihat hal negatif itu sebagai sesuatu yang normal dan kita berdamai dengannya. Artinya, kita mengakui bahwa sesuatu itu negatif, tapi kita tidak lantas tenggelam di situ.



Kita punya kemampuan untuk mengubah hal negatif itu menjadi kekuatan positif sehingga ke depannya kita akan lebih tangguh dan kuat. Pandangan ini mirip dengan ajaran Buddha yang mengatakan: “Diri adalah apa yang kita pikirkan.” Jika kita menganggap diri kita positif dan bernilai, maka semesta pun akan berkonspirasi untuk membantu kita menggapai pandangan itu.

Buku ini bisa menyampaikan gagasan filosofis dalam kalimat-kalimat sederhana yang sangat praktis untuk masyarakat jaman now. Saya tidak terkejut saat mengetahui buku ini terbilang sangat laris dan dicetak ulang berkali-kali.


Enlightenment Now (Steven Pinker)

Ini salah satu buku favorit Bill Gates. Saya pun menyenangi optimisme Steven Pinker terhadap masa kini. Dia menyusun argumentasi disertai data-data tentang betapa banyaknya perubahan positif yang sedang terjadi.

Mulanya, profesor psikologi dari Harvard ini menyaksikan retorika Donald Trump yang amat pesimis. Trump mengatakan ibu dan anak terperangkap dalam kemiskinan. Dia juga bilang kriminalitas, narkoba, dan banyak manusia yang tewas di jalan.  Puncaknya adalah perlu mempersiapkan diri untuk perang terbuka.



Pinker terheran-heran melihat banyak orang yang percaya dengan semua pesimisme itu. Cara dia merespon persoalan itu bukan dengan cara ikut nyinyir dan menjelekkan Trump. Dia menulis dengan serius, mempersiapkan argumentasi dan menjawab semua keraguan.

Buku setebal lebih 700 halaman berisikan argumentasi dan analisisnya tentang kondisi dunia saat ini. Yang menakjubkan, dia menghamparkan timbunan data-data statistik yang isinya perbandingan antara periode sebelum 1600-an hingga kini. Saya terheran-heran dari mana dirinya bisa mendapatkan data begitu kaya.

Dalam banyak hal, saya setuju dengan Pinker. Berkat ide-ide pencerahan, rasionalitas, dan sains, manusia memasuki zaman baru yang jauh lebih baik. Berkat sains, manusia bisa memecahkan berbagai persoalan yang mendera, kemudian menyusun solusi untuk mengatasinya. Bagi Pinker, ide-ide pencerahan serupa obor yang menerangi kegelapan manusia.


Di Belanda Tak Seorang Pun Mempercayai Saya (Maarten Hidskes)

Sering pula kita melihat sejarah yang serba hitam putih. Sejarah serupa menyaksikan panggung yang memperhadapkan jagoan versus penjahat. Sering pula kita menempatkan diri kita dan bangsa kita sebagai jagoan, sementara pihak lain adalah penjahat.

Namun bagaimanakah halnya jika kita berada pada posisi yang dituduh sebagai penjahat? Apakah kita akan punya kejujuran untuk menelaah, kemudian berdamai dengan masa lalu kita yang merupakan bagian dari penjahat? Ataukah kenyataan tak selalu hitam putih sebab setiap sisi baik, selalu ada sisi jahat?



Buku Di Belanda Tak Seorang Pun Mempercayai Saya terbitan Obor ini menarik sebab mengisahkan bagaimana kekejaman yang pernah dilakukan Kapten Raymond Westerling di Sulawesi Selatan pada tahun 1946-1947.

Penulisnya, Maarten Hidskes, menulis buku ini serupa perjalanan untuk mengungkap teka-teki. Bapaknya adalah seorang anggota pasukan Kapten Westerling. Sepanjang hidup bapaknya, tak pernah ada dialog mendalam mengenai pengalamannya di Sulawesi Selatan.

Saya tertarik dengan cara Hidskes menyusun buku ini yang serupa dialog. Dia menelusuri pengalaman bapaknya melalui memoar, arsip, dokumentasi, dan semua jejak yang ada. Dia butuh waktu 25 tahun untuk mengumpulkan bahan mengenai perjalanan ayahnya selama 12 minggu saat menjadi pasukan khusus di bawah pimpinan Kapten Raymond Westerling.


#MO (Rheland Kasali)

Beruntunglah Indonesia punya akademisi seproduktif Rhenald Kasali. Setiap tahun dia sellau mengeluarkan buku-buku bagus yang membantu kita untuk memahami dinamika dunia yang terus berubah. Saya menyukai seri tulisannya mengenai perubahan lanskap digital yang kemudian mempengaruhi cara pandang terhadap bisnis.

Dalam buku ini, MO adalah singkatan dari Mobilisasi dan Orkestrasi. Dia meliat adanua monilisasi melalui dunia onternet, mulai dari penggunaan tagar, menciptakan sesuatu yang hype, dan munculnya banyak pemain baru. Dia melihat pemain lama akan bertumbangan dan diganti dnegan pemain baru yang kecil-kecil tapi lincah.

Untuk survive di era hyperconnected ini, kita mesti memahami power yang sedang berlangsung, kemudian merancang new power yakni berselancar di tengah orkestra perubahan.

Di era ini, perubahan tidak didorong oleh kecerdasan luar biasa, tetapi keterampilan mobilisasi yakni memahami anatomi, bauran mobilisasi online, share, lima elemen penggerak jari, dan pemahaman. Dia memberikan peta jalan apa yang harus dilakukan agar merancang sesuatu yang viral sehingga bisa menggerakkan orkestrasi perubahan.


Teh dan Pengkhianat (Iksaka Banu)

Sejak pertama membaca karya pertamanya Semua untuk Hindia, saya selalu memasukkan Iksaka Banu dalam list pengarang yang karyanya wajib dimiliki. Dia tidak membahas sejarah yang hitam putih. Dia, dengan berani, mengurai kisah dari sudut pandang orang Belanda yang dicap nista oleh sejarah kita.



Dia melihat peristiwa dari sudut berbeda. Siapa pun bisa berpotensi jahat, tanpa memandang warna kulit dan asal bangsanya. Bukunya membentang sketsa watak manusia yang penuh warna. Di setiap kumpulan, ada manusia baik dan ada manusia jahat. Tergantung kita melihatnya dari sudut mana. Namun jika kita membebaskan diri dari segala prasangka, kita akan melihat semua sudut sama saja. Selalu ada dinamika. Selalu ada gejolak. Selalu ada kebaikan, juga kejahatan.

Kolonialisme dan rasisme memang tengik. Tapi keduanya bukan sesuatu yang mudah dituding dan dijelaskan bentuknya. Keduanya tersimpan sebagai endapan pikiran dalam diri seseorang. Siapa pun bisa kolonialis dan rasis sepanjang hanya mengakui eksistensi dirinya, tanpa membuka ruang untuk mereka yang posisinya berbeda.

Buku Teh dan Pengkhianat ini senapas dengan buku Semua untuk Hindia. Cerpen favorit saya adalah Kalabaka yang mengisahkan bagaimana seorang serdadu Belanda yang bertugas ke Banda, pada masa Gubernur Jenderal JP Coen. Serdadu itu menjadi saksi dari kekejaman Belanda terhadap orang-orang Banda.

Saya suka bagian ketika serdadu itu beradu pandang dengan bangsawan Banda menjelang eksekusi. Entah kenapa, saya sampai memimpikan adegan yang dramatis. Saya membayangkan mata orang Banda itu menembus relung hati serdadu. Keren.


Lara Tawa Nusantara (Patris MF)

Saya menyukai catatan anak muda dari Padang ini. Dia mendatangi banyak lokasi bukan untuk wisata dan menikmati pemandangan indah, tetapi dia berusaha mengenal banyak orang di situ, meleburkan diri dalam kebudayaan. Catatannya bernuansa etnografis. Berisikan pelukisan kebudayaan secara mendalam.



Saya menyukai perspektifnya ketika menulis. Dia berusaha berbaur dengan semua orang. Dia berani membuat catatan yang butuh observasi mendalam. Demi catatan itu, dia selalu tinggal bersama warga, serta meminta mereka untuk menjelaskan banyak hal.

Saat di Kalimantan, dia menulis tentang Tarian Kematian, salah satu ritual penganut agama Kaharingan. Dia ke Bulukumba dan berkenalan dengan banyak pembuat kapan phinisi. Dia ke Toraja dan menulis tentang hidup mati orang Toraja. Dia ke Mandar dan menulis tentang perahu. Dia juga ke Mamasa, Wakatobi, Sasak, juga Bali.

Sejujurnya saya cemburu dengan Patris. Saya juga punya catatan serupa, tapi belum sempat diterbitkan. Apalagi, di beberapa tempat, dia bertemu dengan orang yang saya kenal. Di Toraja, dia ketemu Dian Pongtuluran yang merupakan junior saya di kampus. Di Wakatobi, dia bersama Guntur, teman saya di Baubau. Bahkan di tanah Mandar, dia bertemu Ridwan Alimuddin, seorang sahabat penulis dan peneliti Mandar.

Saya berharap bisa menulis catatan menarik seperti ini.


New Power (Jeremy Heimans & Henry Timms)

Sebenarnya ini buku yang terbit tahun 2018, tapi saya membacanya di tahun 2019. Saya tertarik untuk membacanya saat membaca buku #MO-nya Rheinald Kasali. Buku New Power ini paling sering isebut untuk menjelaskan bergesernya kuasa lama menuju kuasa baru, sesuatu yang tidak banyak dipahami para ilmuwan, pemerintah, dan pelaku bisnis.



Kekuatan Lama (Old Power) dimonopoli oleh segelintir orang, sulit diakses, dan dikendalikan oleh elit tertentu (leader-driven). Kekuatan Baru (New Power) sebaliknya bersifat terbuka, partisipatori, dan peer-driven.

Jika berhasil menciptakan dan mendayagunakan Kekuatan Baru maka Anda akan mencapai kegemilangan, sebaliknya jika masih terbelenggu Kekuatan Lama Anda akan punah ditelan jaman.


Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir (Marvin Harris)

Nama Marvin Harris adalah nama besar di jajaran suhu antropologi dunia. Saya menikmati bukunya yang diterjemahkan oleh Marjin Kiri. Buku ini selalu dibahas di semua kelas antropologi. Dia membahas bagaimana pengaruh lingkungan pada kebudayaan.



Dia bercerita tentang mengapa babi diharamkan orang Islam dan Yahudi. Katanya, pengharaman babi dilakukan untuk melindungi manusia di zaman itu agar kondisi pangan tetap terjaga, menghindari ketidakseimbangan ekologis, serta memudahkan mobilitas manusia di zaman itu.

Untuk membuat manusia patuh dan menjaga lingkungan serta tidak memelihara babi, perlu dibuatkan semacam aturan yang sifatnya mutlak. Yakni melalui ayat dan kitab suci.

Saya suka argumentasinya yang menganalisis kondisi ekologis yang mempengaruhi lahirnya aturan-aturan dalam religi. Dia menyajikan banyak argumentasi dan fakta yang mendukung kesimpulannya. Kita pun bisa memakai argumen Harris untuk menelaah banyak aspek dalam kebudayaan, mulai dari aturan adat, kekuasaan, hingga konflik sumber daya.


Lautan Rempah (Joaquim Magalhaes de Castro)

Inilah buku bagus yang saya beli di Desember 2019. Saya belum menuntaskan isinya. Saya baru membaca bab-bab awal. Isinya sangat menarik. Bercerita perjalanan seorang berkebangsaan Portugis ke Nusantara untuk menemukan jejak peradaban Portugis.



Dia bercerita tentang kedatangannya ke kampung-kampung, istilah-istilah Portugis yang dia temukan, hingga apa saja tradisi dan budaya yang punya pertautan dengan Portugis. Dia pun bercerita mengenai kunjungannya ke desa-desa yang penduduknya bermata biru. Dia menyebut adanya kaitan dengan Portugis.

Sayangnya, ada hal yang bikin pengalaman membaca terganggu. Tulisan dibuku ini kecil, rapat, dan agak kabur. Mata saya agak lelah menghabiskan bab-bab awal di buku ini. Tapi rasa lelah itu tergantikan oleh menariknya perjalanan serta pertemuan dengan orang-orang baru.

*** 

Tahun 2019 telah berlalu. Saya melihat tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Masih ada beberapa yang harus saya selesaikan. Saya pun memandang sejumlah buku biografi yang saya beli dan tuntaskan demi menulis beberapa orderan buku biografi.

Saya berharap tahun 2020 ada banyak buku bagus yang terbit. Saya percaya, semua orang punya minat buku berbeda. Makanya, buku juga harus variatif. Toko buku sebaiknya jangan memajang buku hanya dari genre yang sama.

Jika ada yang tanya, dalam hal literasi apa resolusi di tahun 2020, saya akan menjawab singkat. Saya tak ingin menjadi penganut tsundoku atau bibiliomania. Saya tak ingin menumpuk buku. Saya ingin membaca apa yang membuat saya tertarik. Saya ingin selalu mengikuti hasrat dan rasa haus pada buku-buku bagus. Saya ingin menjadi diri sendiri.



BACA:






Kolaborasi di Akhir Tahun 2019




Gambar buku itu akhirnya terkirim dari Bandung. Saya melihat daftar isi, kemudian tersenyum saat menemukan nama sendiri tertera di situ.

Saya senang karena menjadi editor dari buku yang berisikan pikiran cemerlang dari perempuan peneliti di Pusat Studi Jalan dan Jembatan, Balitbang Kementerian PUPR.

Semuanya berawal dari ajakan ngopi dari Ika Karlina, seorang doktor jebolan Amrik yang kelak akan jadi masa depan Ilmu Komunikasi di Indonesia. Ika mengajak saya ngopi di kampus Paramadina. Saya girang karena membayangkan bakal ketemu mahasiswi2 cantik.

Ternyata dia juga mengajak para peneliti di Balitbang PUPR. Saya diminta ikut membantunya jadi editor buku yang isinya capaian strategis dari para peneliti keren di situ. Tanpa pikir panjang, saya menerimanya.

Saya melihat dari sisi jejaring pertemanan yang makin luas. Ini kolaborasi yang menarik. Selain itu, saya pikir ini tantangan baru sebab bisa mengedit tulisan yang bukan dari ranah disiplin saya. Selama ini saya terlalu nyaman dengan topik ilmu politik, komunikasi, sosiologi, antropologi, dan sejarah. Saya ingin mencari tantangan baru dan ikut kolaborasi dengan periset bidang teknik.

Saat naskah-naskah mulai berdatangan, mulailah saya kebingungan. Saya keluar dari zona nyaman. Saya harus mengedit tulisan dengan topik seperti aspal plastik, daur ulang aspal, aplikasi pemantau jembatan, vegetasi yang tumbuh di lereng, terowongan, aplikasi pemantau kepadatan jalan, beton kinerja tinggi, hingga kisah-kisah para peneliti jalan dan jembatan.

Saya pun datang ke Bandung untuk memfasilitasi para peneliti perempuan yang semuanya hebat. Di bidangnya, kualitas mereka keren2. Rata2 alumni ITB dan kampus2 bagus di luar negeri. Mereka hanya butuh diajak berpikir sederhana sehingga risetnya bisa dipahami dan mempengaruhi kebijakan.

Tugas berikutnya terasa berat. Saya menghabiskan banyak gelas kopi, serta pindah-pindah warkop hanya untuk menemukan mood yang tepat ketika memahami teks, setelah itu mengemas ulang dengan bahasa yang renyah. Selama dua bulan bekerja, saya lebih banyak di warkop sembari menyeruput bergelas-gelas kopi.

Targetnya, buku ini bisa menyentuh pasar yang lebih luas sehingga bisa mencerahkan publik tentang betapa banyaknya inovasi dan riset mengenai jalan dan jembatan. Harapannya, buku ini bisa membuka mata orang kalau di balik semua jalan dan jembatan, ada dinamika dan riset yang dikerjakan oleh orang-orang penuh dedikasi.

Ketika akhirnya buku itu keluar, saya nyaris tak percaya. Hasilnya melebihi ekspektasi saya. Apalagi, teman2 peneliti membagikannya di media sosial. Saya bahagia meihat ekspresi mereka. Saya senang bisa membantu kerja-kerja mereka.

Tahun ini adalah tahun yang hebat. Saya merasa cukup produktif. Di awal Januari hingga April, saya memimpin beberapa tim buzzer dan pasukan medsos untuk pilpres dan pileg. Saya belajar banyak, khususnya skill IT dan pengelolaan konten, serta strategi menjangkau audiens.

Setelah itu, banyak perjalanan ke pelosok. Terjauh adalah Raja Ampat di Papua, serta perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Saya menikmati semua perjalanan serta pertemuan dengan banyak orang baik.

Saya pun ikut membidani lahirnya banyak literasi. Di antaranya buku perdamaian yang dibuat dalam bahasa Inggris bersama lembaga internasional, tiga biografi politisi dan kepala daerah, terakhir buku bersama peneliti di Balitbang kementerian.

Tahun depan, saya masih punya banyak mimpi2 dan target. Tercapai dan tidak tercapai, itu soal lain. Yang penting bisa menjalani hidup yang gembira dan bahagai bersama banyak orang baik di sekitar. Itu sudah lebih dari apapun.



Catatan di Museum MULTATULI




Jika saja tak ada Multatuli, juga Kartini, maka tak akan lahir satu lapis generasi cendekiawan baru seperti Sukarno-Hatta yang kemudian punya imaji tentang satu negeri bernama Indonesia.

Kolonialisme muncul dari satu pemikiran yang menganggap diri lebih tinggi dan punya otoritas untuk menindas yang lain. Kolonialisme adalah anak kandung dari perasaan superior sehingga menganggap yang lain harus tunduk patuh. Selama sekian abad, penindasan dilestarikan dengan berbagai cara, termasuk lewat struktur feodalisme, juga praktik kekerasan.

Di masa itu, Multatuli adalah orang yang mempertanyakan kolonialisme, bukan dengan cara berperang, tapi menghantam langsung jantung dari bekerjanya kolonialisme yakni cara berpikir. Dia menggugat cara berpikir yang melahirkan banyak kebijakan dan praktik politik yang seolah baik, tapi justru melahirkan penindasan.

Berkat kata-kata dalam novel Max Havelaar, dia mengubah banyak hal. Pribumi mulai mendapatkan akses pada pendidikan, yang membuka cakrawala baru untuk melihat dunia. Pendidikan ibarat pijar cahaya yang memercik pada pikiran yang selama ini terkungkung. Pijar api itu menyulut hasrat untuk merdeka dan lepas dari bayang-bayang penindasan.

Pendidikan menyebabkan pergerakan lebih terorganisir. Generasi baru bermunculan. Mereka berjuang di jalur intelektual dan diplomasi. Muncul Tirto Adisuryo, Tjipto, Semaun, Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, hingga Sukarno dan Hatta.





Multatuli mengingatkan kita pada satu hal penting. Bahwa kemerdekaan bukanlah perkara kulit berwarna melawan kulit putih. Bukan juga pribumi melawan asing. Yang dilawan Multatuli bukan hanya pemerintah kolonial, tetapi juga para bupati dan bangsawan yang menindas sesama anak bangsa.

Bahwa kemerdekaan lahir dari pikiran yang ingin melihat semua orang setara dan sejajar, tanpa ada yang mengeksploitasi sesamanya. Kemerdekaan bukan dongeng hitam putih tentang kejahatan kulit putih pada kulit berwarna, tapi kisah penindasan dari satu kaum yang merasa lebih tinggi. Sebab kulit berwarna pun bisa menjadi penindas baru yang lebih kejam pada sesamanya.

Jauh setelah Multatuli, pengarang Pramoedya Ananta Toer melanjutkan warisan Multatuli. Dia mengangkat kisah tentang Minke, mahasiswa STOVIA, yang belajar humanisme pada orang Belanda, sehingga berani mengkritik feodalisme di budayanya sendiri.

Muara dari kemerdekaan adalah pikiran yang bebas, melihat manusia secara mulia tanpa penindasan, tanpa melihat asal-usul, tanpa melihat golongan. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa.

Sayang, setelah merdeka, yang muncul adalah nasionalisme sempit. Kita mengenyahkan semua hal berbau asing di negeri ini. Padahal, ada banyak warisan pengetahuan, riset, dan akal budi yang telah membawa bangsa ini ke jalan kemerdekaan.

Jika hari ini bangsa kita kembali bertindak seperti penjajahnya, maka ada warisan yang dengan sengaja telah dihilangkan, atas nama pembangunan dan kekuasaan.



Di Museum Multatuli di Rangkasbitung, Lebak, saya mengenang banyak hal. Saya pun bernostalgia dengan mereka yang pikirannya disulut Multatuli. Mulai dari Kartini, Sukarno, Jose Rizal, Tan Malaka, hingga penyair WS Rendra.

Di mata saya, museum yang punya kembaran di Belanda ini adalah museum paling keren sebab menjadikan kata-kata sebagai muara dari perjuangan melawan kolonialisme. Kata-kata punya kemampuan untuk menggugah, menginspirasi, lalu menggerakkan.

Kata-kata punya kuasa magis untuk membuat satu bangsa punya arah dan tujuan ke mana hendak bergerak.