Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Pak Jokowi, Batalkan Food Estate Itu!


Jokowi dan Prabowo

Pak Jokowi dan Pak Prabowo duduk di dekat sawah. Mereka membahas rencana pembangunan food estate atau lumbung pangan di Kalimantan. Hitung-hitungan di atas kertas dihamparkan oleh Menteri Pertanian. Perkiraan-perkiraan berapa ton panen dikeluarkan. 

Pak Jokowi, seorang presiden yang di masa kampanye menampilkan citra ndeso, namun ketika terpilih sibuk membagikan semua jabatan menteri, direktur, dan komisaris ke tim suksesnya.

Pak Prabowo, lelaki yang separuh hidupnya menjadi serdadu dan terbiasa membawa senjata, kini menjadi menteri yang masih mengurusi senjata. Dan tiba-tiba saja diserahi tugas untuk mengurusi proyek lumbung pangan.

Ini Indonesia abad 21, negeri yang tak pernah belajar pada kearifan budaya. Di banyak budaya, selalu ada tradisi lumbung sebagai strategi untuk menghadapi masa penuh ketidakpastian. Lumbung serupa asuransi yang bisa menjadi solusi ketika ada krisis.

Orang Minangkabau menyebutnya Rangkiang, orang Sunda menyebutnya Leuit, Orang Enrekang menyebutnya Landa. Orang NTT menyebutnya Umekebubu dan Lopo. Orang Batak Karo punya istilah Sapo Page. Orang Bali menyebutnya Jineng. Orang Toraja memanggilnya Alang. Orang Dompu menamakannya Jompa.

Sejak dulu, semua masyarakat punya lumbung. Tapi kini, kita baru akan membangunnya. Betapa kita menjadi bangsa yang tak belajar pada budaya. Betapa kita tak pernah siap menghadapi ancaman krisis.

BACA: Malu Aku Jadi Petani Indonesia

Ini juga negeri yang pemerintah dan masyarakatnya lupa dengan hasil alamnya sendiri. Tak perlu takut dengan krisis selagi pangan lokal tersedia di mana-mana. Tak ada beras, kita bisa makan ubi, jagung, ketela, keladi, talas, sagu, hingga sorgum.

Di Yahukimo, Papua, pernah masyarakat mengalami krisis pangan hingga beberapa tewas. Mereka sangat tergantung pada beras, sesuatu yang tidak pernah dialami nenek moyangnya yang karib dengan ubi dan sagu. Pemerintah dan masyarakat lupa betapa kayanya bumi kita dengan berbagai bahan pangan.

Ini Indonesia abad 21, negeri yang pemerintahannya tak pernah belajar pada sejarah. Pemerintahan Jokowi tak ada beda dengan pemerintahan sebelumnya. Selalu ingin menempuh jalan pintas. 

Dulu, Pak Harto ingin membangun sejuta hektar lahan gambut di tahun 1996-1997. Di masa Pak SBY, Ketapang direncanakan akan dibangun 100 ribu hektar lahan, lalu Bulungan seluas 300 ribu hektar. Serasa baru kemarin, Pak Jokowi hendak membangun 1,2 juta hektar di Merauke, Papua.

Ke mana semua lahan-lahan itu? Kenapa tak bisa jadi lumbung?

Di Merauke, kita mendengar banyak kisah miris. Terjadi perampokan lahan dari masyarakat adat. Mereka tersingkir dari tanah air yang diwariskan  nenek moyangnya. Kita mendengar kisah datangnya petani dari luar yang kemudian menguasai sumber daya lokal, serta ancaman kerusakan ekologis yang kian parah.

Kisah lumbung pangan atau food estate adalah kisah kegagalan. Mengapa? Sebab pertanian bukan sesuatu yang tercipta hanya dengan merapal mantra. Bukan pula dengan mengusap lampu wasiat. 

Pertanian adalah interaksi antara alam dan manusia, di mana manusia memuliakan alam dan melimpahinya dengan air kasih sayang. Alam akan membalasnya dengan tumbuhan, buah, dan pohon sebagai tanda cinta. 

Sekali manusia dibutakan materi dan hasrat, maka alam akan menjadi obyek yang diperas habis-habisan. Tanah dipaksa untuk menumbuhkan tanaman. Kalau perlu disirami dengan bahan kimia. 

Ini Indonesia abad 21, negeri yang pemerintahnya lebih cinta perusahaan ketimbang para petani. Pak Jokowi dan Pak Prabowo membahas pertanian dengan cara melibatkan BUMN. Pemerintah menunjuk PT Rajawali Nusantara Indonesia sebagai pelaksana proyek.

Lumbung dibangun dengan pendekatan korporasi. Di situ ada pemilik modal dan buruh upahan. Padahal, dalam bahasa Inggris, pertanian adalah agri dan culture. Di situ ada kata budaya yang menunjukkan jati diri manusia. Bertani dan menanam adalah budaya. Para petani adalah pahlawan yang memuliakan alam.

BACA: Jejak Jepang di Sawah Kita

Presiden kita yang terlampau cinta pada dunia pengusaha itu ingin menjadikan pertanian serupa korporasi. Petani bukan lagi penguasa di lahan-lahan. Mereka akan disingkirkan secara perlahan. Petani digantikan buruh yang diberi target berupa berapa ton panen setiap hektar. Jika tak memenuhi target, maka siap-siap di-PHK.

Harusnya, biarkanlah budi daya itu menjadi area para petani. BUMN cukup menyerap produksi para petani lalu melakukan proses, kemudian memasarkan. 

Ini Indonesia abad 21, negeri yang tidak memuliakan petaninya. Jika ingin mengumpulkan pangan sebanyak-banyaknya sebagai lumbung, maka tak perlu bikin proyek cetak sejuta lahan. Tak perlu bangun food estate itu. Cukup berikan harga yang pantas untuk petani.



Hargailah keringat petani kita dengan memberikan harga yang tinggi. Masak, harga pembelian pemerintah hanya 4.200 rupiah per kilogram? Padahal, kata seorang guru besar, biaya produksi di usaha tani untuk 1 kilogram gabah kering panen itu sudah 4.523 rupiah per kilogram. Jika harga gabah hanya segitu, mana bisa petani kita sejahtera dan menyekolahkan anaknya di tempat yang layak?

Muliakanlah petani dengan hentikan impor pangan. Biarkan komoditas petani dihargai mahal di tanah dan airnya sendiri. Jika harga komoditas itu bagus, petani akan meningkatkan produktivitas. Mereka akan meningkatkan semua produksi dengan penuh senyum sebab membayangkan masa depan yang cerah. Mereka akan bekerja lebih giat. Produksi pangan akan membaik. Stok pangan akan siap sehingga kita kebal dari hantaman krisis.

BACA: Kisah Petani yang Berhenti Menyadap Karet

Daripada bangun food estate, bermitralah dengan petani kita. Jika mereka tak punya uang untuk mulai bertani, carikan solusi. Tantang mereka untuk tingkatkan produksi. Beri garansi agar produk yang mereka buat akan dibeli dengan harga setinggi-tingginya oleh pemerintah.

Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Didiklah bangsa Indonesia agar tidak memandang rendah profesi petani. Berilah sejumput kebanggaan pada profesi itu sebab menjadi pahlawan kehidupan. 

Sesekali jalanlah ke desa-desa dan nagari kita. Hakekat kepemimpinan adalah mendengarkan. Tanyai dan diskusilah dengan petani kita. Bersiaplah menerima kenyataan, sepahit-pahitnya. Banyak petani justru tak ingin anaknya jadi petani. Menjadi petani tidak meningkatkan status sosial. Petani kita ingin ingin bersekolah tinggi-tinggi lalu melamar kerja sebagai pegawai negeri.

Di desa-desa kita, tak banyak lagi anak petani yang bercita-cita untuk menjadi petani. Mereka dicekoki dengan kata enterpreneur, abad digital, lalu kompetensi dan persaingan. Tak banyak kebanggaan yang tersisa pada profesi petani. Semuanya hanya menjadi masa lalu yang dikenang dengan romantis.

Jika tak ada lagi culture dan manusia yang memuliakan tanaman, maka suara lirih Bung Karno, pendiri negeri ini akan makin nyaring terdengar. “Pertanian adalah soal hidup matinya suatu bangsa.” 

Mungkin ekonomi kita akan tetap kokoh. Tapi, nurani dan keberpihakan kita sudah lama mati seiring dengan kian merananya petani di tanah air kita, tanah air Indonesia.



Generasi Strawberry




Berita sedih itu dikirimkan seorang kawan. Lelaki di ujung jalan di dekat rumah kami di kampung telah membunuh saudaranya sendiri. Motifnya adalah berebut warisan. Baru saya tahu kalau lelaki itu tidak punya pekerjaan tetap. Sementara saudaranya menguasai warisan.

Saya teringat mendiang orang tua mereka sangat terpandang. Mereka melimpahi anaknya dengan semua fasilitas. Semua anaknya dimasukkan sekolah mahal. Namun, keberlimpahan fasilitas itu tidak memberi hasil yang sepadan. Lulus dari sekolah mahal, tapi anak itu tidak bekerja. Orang tuanya tetap memanjakan.

Saya membaca artikel The New York Times mengenai fenomena Strawberry Generation. Istilah ini menggambarkan generasi Taiwan yang lahir tahun 1980-an pada masa pasca-perang, memiliki orang tua mapan dan kaya, serta kehidupan yang serba menyenangkan.

Generasi ini amat dimanjakan orang tuanya yang dahulu miskin. Orang tua tak ingin masa kelam mereka yang berada dalam ekonomi sulit karena peperangan menimpa anak mereka. Orang tua ini lalu melimpahi anaknya dengan semua fasilitas.

Generasi ini digambarkan serupa buah strawberry, yang mudah koyak hanya karena sedikit benturan. Generasi ini digambarkan tampak mewah, ranum, indah, akan tetapi tidak siap menghadapi benturan. Orang tuanya memberinya semua fasilitas dan kemewahan namun lupa menanamkan sikap kemandirian, daya tahan, serta karakter beradaptasi di segala sesuatu.

Ternyata, semua fasilitas bisa menjadi sesuatu yang negatif. Anak-anak jadi serba manja dan kehilangan daya juang serta semangat bertarung menghadapi situasi yang serba sulit. Saat dihadapkan dengan tantangan, seorang anak gampang menyerah dan rapuh, sebagaimana strawberry.

Saya belajar hal baru. Segala tantangan dan ketidaknyamanan adalah bagian dari lahan gembur yang menyuburkan karakter seorang anak untuk menjadi petarung. Seorang anak harus berhadapan dengan tantangan.

Ketika melimpahi anak dengan semua fasilitas, anak akan kehilangan daya juang serta daya survival, sesuatu yang dahulu dimiliki orang tuanya dan bisa membawanya pada kemakmuran. Sering kita tidak menyadari bahwa sikap over-protective dan pemberian semua fasilitas tidak selalu bagus buat anak. Kelak, anak itu kehilangan daya juang untuk menggapai impiannya.

Saya melihat fenomena Generasi Strawberry di sekitar kita. Saya bertemu banyak orang tua yang berpikir ketika menyekolahkan anaknya di tempat paling mewah, maka dianggapnya satu prestasi.

Padahal sekolah mahal tak selalu bisa jadi jaminan kesuksesan seorang anak. Sekolah mahal menyediakan banyak hal, tapi tak bisa mengajarkan daya tahan menghadapi kesulitan serta bagaimana menumbuhkan tekad kuat untuk menggapai mimpi. Orang tua harus tetap mendampingi seorang anak, memberinya tantangan, lalu mengapresiasi semua upaya-upaya kecilnya.

Saya merenungi kisah dari kawan saya di kampung. Bisa saja, orang tuanya terlampau memanjakan anaknya dengan penuh fasilitas dan lupa mengajarkan mereka langkah demi langkah untuk menjadi pribadi yang kuat.

Orang tuanya sibuk mengejar kemakmuran, lalu berpikir bahwa dengan menyekolahkan di tempat mahal, maka misi dianggap selesai. Padahal, semua tantangan adalah bagian dari proses pendewasaan untuk menjadi pribadi yang tangguh dan kuat.

Mendaki puncak memang melelahkan, tetapi kebahagiaan saat berada di puncak serupa air yang membasuh semua lelah. Mereka yang setiap saat menghadapi tantangan, kelak akan jadi pribadi tangguh dengan mental yang kokoh.

Saya ingat catatan Iqbal Djawad tentang acara televisi yang paling laris di Jepang yakni Hajimete no Otsukai. Di acara itu, anak-anak seusia PAUD diberikan misi tertentu sambil diikuti oleh kru televisi yang menyamar. Misalnya disuruh mengantarkan makanan untuk ayahnya di rumah sakit. Anak itu akan merasa berat, bahkan menangis.

Tapi dia mengambil tantangan, kemudian berjalan kaki atau kadang naik bus menuju rumah sakit. Saat anak itu tersesat, dia akan coba bertanya ke orang lain, yang kemudian menunjukkan jalan. Saat dia berhasil menjalankan misinya, orang tuanya akan memeluknya dan memberi ucapan terima kasih. Dia akan mendapatkan hadiah.

Saya bayangkan betapa beda dengan orang tua yang anaknya membunuh saudaranya. Di masa itu, mereka lebih suka membayar orang lain, ketimbang melihat anaknya bersusah payah mengantar sesuatu.

Yang Luput dari Gordon Ramsay di Tanah MINANG


seorang ibu mengajari Gordon Ramsay mengulek bumbu

SUARA gendang terdengar mengalun di halaman Istana Pagaruyung di Tanah Datar, Sumatera Barat. Seorang pria berwajah Eropa tampak celingukan di tengah penari piring dan sejumlah perempuan yang membawa nampan. 

Pria itu Gordon Ramsay. Dia menemui sahabatnya William Wongso, seorang pakar kuliner Nusantara. Ramsay ikut memakai songkok dan jas lalu memasuki istana. William Wongso mengajaknya menikmati jamuan di Istana Pagaruyung. 

Dia merasakan aroma rempah-rempah dan kari di kuliner Minangkabau. Dia makan dengan amat lahap. Beberapa kali dia tampak kepedasan, namun dia sangat menikmati. Bulir keringat tampak di wajahnya. Dia begitu menikmati rendang dan kuliner Minang yang kaya rasa. 

Saya yakin, lelaki Inggris yang menjadi chef kelas dunia itu, tak pernah mendengar kisah tentang Agus Salim, legenda diplomat Indonesia yang berasal dari Koto Gadang. Saat Agus Salim menghadiri penobatan Ratu Elizabeth II di Gereja Westminster Abbey di tahun 1953, dia pernah melinting rokok dan menghembuskan asapnya ke Pangeran Philips.

BACA: Nikmat Solo, Nikmat Soto Gading

Saat Pangeran bertanya itu aroma apa, Agus Salim menjawab tenang: “Karena aroma inilah bangsa tuan menjajah bangsa kami.” Rempah-rempah memang memesona. Bangsa Eropa berlomba mencari jalan ke Nusantara hanya untuk meminang rempah dan mengolahnya menjadi kuliner serta berbagai produk lainnya.

Kini, di tahun 2020, Ramsay datang sebagai orang Inggris yang ingin mencicipi rempah. Dia tidak lagi membawa semangat kolonialisme. Dia datang bersama kru National Geographic dalam program bertajuk Gordon Ramsay: Uncharted. Dia datang untuk bertualang dan mencicipi rasa asli kuliner yang dinikmati warga lokal. Dia pun menerima tantangan William Wongso untuk bertanding menyajikan rendang dalam sepekan, lalu menyajikannya di hadapan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. 

Ramsay menyajikan acara kuliner dengan sangat unik. Biasanya tayangan kuliner hanya fokus pada makanan itu sendiri. Ramsay tidak. Dia menjadikan kuliner hanya sebagai pintu untuk memasuki jendela budaya. 

Sebenarnya, dia bisa saja datang ke restoran padang demi mencicipi rendang dan belajar membuatnya. Tapi dia memilih mencari bahan hingga pelosok, berbaur dengan rakyat jelata. Dia menelusuri wilayah, kekayaan budaya, latar geografis, hingga perjumpaan dengan penduduk lokal. 

Demi mendapat daging sapi, dia ikut permainan Pacu Jawi, permainan sejenis karavan sapi. Dia jatuh bangun dan bermandikan lumpur. Dia mengikuti perjalanan nelayan, setelah itu memancing udang di dalam gua batu. Dia singgah mencicipi kuliner di pinggir jalan. Dia pun mencari bumbu ke pasar-pasar rakyat, kemudian belajar mengulek dan meracik pada seorang ibu pedagang pasar.

Ramsay yang pernah menimba ilmu dari beberapa koki kenamaan termasuk Albert Roux dan Marco Pierre White di London, Guy Savoy, dan Joël Robuchon di Prancis, menjadi head of chef di Aubergine, London sejak 1993. Dalam kurun waktu tiga tahun, restoran ini pun memperoleh tiga bintang Michelin, sebuah penghargaan bergengsi di industri kuliner.

Kini, restorannya tersebar di beberapa lokasi di Inggris juga negara-negara lain seperti, Italia, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Hong Kong dan Singapura. Namun kuliner adalah soal perjumpaan budaya. Anda tak bisa memahami rasa hanya dari satu perspektif. Rendang hanya bisa dipahami jika kita berbaur dengan warga setempat, ikut dalam denyut nadi aktivitas mereka, lalu menyajikannya dengan cara warga lokal.



Dengan rendah hati dan niat belajar, Ramsay belajar kuliner Minang pada rakyat biasa. Dia mengagumi kue yang disajikan warung di pinggir jalan. Dia mengagumi khasanah pusako minang sebagai rumah dari banyak ragam kuliner. 

Pada hari H, dia dan William Wongso bertanding masak di Ngarai Sianok. Di tengah bukit-bukit menjulang, sungai mengalir jernih, hingga suara-suara alam, Ramsay dan Wongso meracik kuliner lalu menyajikannya. Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dan istri memberikan jempol serta mengucapkan kalimat “lamak bana.”

Kuliner Minang telah dikemas oleh seorang chef dunia yang menyerap ilmu dari jalan-jalan, nagari-nagari, dan bersua para nelayan. Kuliner itu menjadi satu rasa yang merangkum banyak hal. Pada setiap tetes kuliner, ada banyak kisah, perjalanan, serta kenangan yang terus memperkaya pengalaman batin seseorang.

BACA: Bondan Winarno, Sejarah Kuliner, dan Rasa Budaya

Saya sangat menikmati tayangan Gordon Ramsay: Uncharted. Sekian lama menunggu, akhirnya program yang direkam sebelum Covid menyebar itu tayang di National Geographic, kemarin. Banyak orang tak sabar menyaksikan bagaimana Ramsay mencicipi rendang yang pernah ditahbiskan sebagai kuliner terlezat di dunia. Tayangannya ditunggu bukan hanya oleh warga tanah air, tapi juga mancanegara.

Ramsay adalah juru bicara yang mengabarkan pada dunia betapa hebatnya kekayaan khazanah kuliner Nusantara. Dia menampilkan lanskap alam, bukit-bukit hijau, sawah, dan tempat-tempat eksotik. Dia telah menyebar kisah tentang Indonesia sebagai negeri besar dengan tradisi kuliner yang kaya.

Yang Terasa Hilang

Saya merasakan ada beberapa hal yang luput dari tayangan itu. Ramsay tak bertanya tentang asal-muasal dan sejarah. Saat dia mengalami rasa pedas kuliner, dia tidak bertanya dari mana rasa itu bermula. Mengapa orang Minang suka makanan pedas?

Saya terkenang perjalanan saya ke Agam, Sumatera Barat. Di satu warung makan, saya menanyakan ini pada seorang sahabat. “Rasa pedas itu terkait dengan asal-usul orang Minang,” katanya. Dia bercerita tentang luhak nan tigo, atau asal-usul orang Minangkabau dari tiga lokasi, yakni Luhak Agam, Luhak Limapuluh Kota dan Luhak Tanah Datar.

Ketiga daerah itu dikenal sebagai dataran tinggi, yang disebut darek. Daerah itu dikelilingi hawa dingin sehingga masyarakat membutuhkan sesuatu yang hangat. “Makanya, selalu ada resep cabai di masakan Minang. Mereka butuh menghangatkan badan sebab hawa dingin menusuk-nusuk,” katanya.

Jika Ramsay teliti, dia bisa membandingkan kuliner Minang di satu lokasi dengan lokasi lain. Kuliner yang merambah Asia hingga Amerika, punya rasa dan menu yang sama. Ada semacam konsensus tentang masakan Padang. Selalu saja ada makanan bersantan, bergulai, dan rendang. Catatan sejarah menyebutkan, orang Minang sudah berabad-abad memasak makanan bersantan seperti rendang dan gulai.

Dalam buku The History of Sumatra (1784), William Marsde mencatat tentang dua tumbuhan paling penting di Sumatera yakni padi dan kelapa. Kini, keduanya menjadi bahan pokok semua kuliner Minang. Kelapa menjadi santan untuk membuat aneka gulai.

Saya pernah membaca komentar Gusti Asnan, guru besar sejarah Universitas Andalas, yang menyebutkan tentang catatan Jenderal Hubert Joseph de Stuers, panglima militer dan residen Padang pada masa Belanda, tahun 1827. De Stuers bercerita mengenai “teknik membuat masakan menggunakan kelapa yang dihaluskan.” Ini mengarah ke rendang. Artinya, rendang sudah ada sejak dulu.

Kuliner itu juga menunjukkan adanya pertautan dengan berbagai kebudayaan lain. Sejak lama, Minangkabau menjalin hubungan dengan Afrika dan India. Mereka dihubungkan oleh arus angin yang memandu para pelayar untuk saling mengunjungi.

Bahkan penjelajah Tome Pires dalam Summa Oriental menyebutkan koneksi kuat antara pantai barat Sumatra dengan Afrika dan India yang berlangsung di Pelabuhan Tiku, kini ada di Agam.  Hubungan itu bisa dilihat dari tradisi dan ritual budaya.

Dalam hal kuliner, gulai yang ada di Minang diduga kuat dipengaruhi oleh India. Bedanya, India tidak memakai santan, melainkan yoghurt dan kacang-kacangan, sebagai bahan pengental.



Di satu warung di Lubuk Basung, Agam, saya pernah bertanya: “Mengapa masakan Minang bisa ditemukan di seluruh penjuru Nusantara?” Seorang pelayan menjawab singkat. “Sebab orang Minang suka merantau. Mereka berkelana ke mana-mana dan membawa kuliner yang diharapkan bisa tahan berhari-hari. Itulah rendang dan sebangsanya,” katanya.

Saya merenung. Saya teringat perjalanan saya setahun lalu di Kefamenanu, wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbatasan dengan Timor Leste. Di situ, saya juga menemukan restoran padang yang menyajikan rendang dengan sangat nikmat.

Orang Minang adalah bangsa perantau. Mereka membawa semua kuliner dan khazanah budaya sehingga menjadi identitas Nusantara. Mereka juga membawa kerendahhatian dalam racikan rasa kuliner sehingga bersenyawa dengan kuliner setempat lalu menghadirkan rasa yang akrab dengan lidah.

BACA: Wangi Kopi dan Aroma Cengkeh Pegunungan Luwu

Bukan cuma orang Minang, bahkan suku bangsa lain, juga warga negara lain akan selalu mencari jalan ke tanah air demi mencicipi rendang. Saya ingat cerita seorang kawan mengenai ilmuwan politik William Liddle yang selalu mencari rendang saat datang ke Indonesia.

Biarpun berumah dan beranak-pinak di negeri lain, rasa kuliner itu akan selalu menjadi jalan pulang baginya untuk mengenang indahnya alam, kuatnya tradisi, serta senyum ramah banyak orang. 

Itulah pusako Indonesia.



Kisah Haru MAHASISWA yang Menghilang Selama 15 Tahun


ilustrasi

Dia masih menjadi mahasiswa IPB saat menghilang lima belas tahun silam di Pulau Seram, Maluku. Dia kembali ke kota hanya dengan sandal jepit dan baju lusuh. Tapi, dia disambut bak seorang pahlawan yang baru saja kembali dari medan laga. Dia dielu-elukan segenap penjuru.

Kisahnya menitikkan haru. Dia diabadikan dalam puisi. Dia seperti sungai yang tak henti mengalirkan inspirasi.

*** 

Hari itu, 22 September 1979 di Hotel Salak, Bogor. Lelaki berkulit legam itu dikelilingi teman-temannya. Dia hanya mengenakan sandal jepit. Temannya membawakan sepatu dan jas untuknya. Dia menolak memakainya. Namun, temannya bersikeras.

Lelaki itu, Muhammad Kasim Arifin, serupa anak yang hilang. Dia yang lahir di Langsa, Aceh, 18 April 1938 itu adalah mahasiswa yang kembali setelah 15 tahun. Teman-temannya sudah lama sarjana dan banyak yang sudah menjadi pejabat. Kasim hanya seorang petani yang bersahaja. Tapi dia justru jauh menjulang dibandingkan semua orang.

Tahun 1964, dia hanya seorang mahasiswa biasa yang mengikuti Program Pengerahan Mahasiswa, yang sekarang bernama Kuliah Kerja Nyata. Di masa itu, mahasiswa harus siap ditempatkan di pelosok negeri. Kasim mendapat lokasi di Waimital, Pulau Seram, Maluku. Dia pun mendatangi daerah terpencil itu sebab didorong hasrat untuk membumikan semua pengetahuannya.

Di Waimital, dia bertemu keluarga petani miskin yang datang melalui program transmigrasi. Nuraninya terketuk. Dia ingin berbuat sesuatu. Dia menanggalkan semua identitas kota pada dirinya. Dia memakai sandal jepit dan baju lusuh. Dia ikut menemani petani yang berjalan kaki 20 kilometer menuju sawah. Dia melakukannya setiap hari dan bolak-balik.

BACA: Menenun Damai di Perbatasan Indonesia-Timor Leste

Dia membantu petani untuk mengolah tanah. Diajarkannya pengetahuan yang didapatnya di kampus IPB. Dia membantu masyarakat untuk membuka jalan desa, membangun sawah baru, membuat irigasi. Dia tidak menunggu bantuan dari pemerintah. Dia membangkitkan semangat masyarakat untuk bergotong-royong.

Kasim peduli pada petani lebih dari dirinya sendiri. Dia pun mendapat kasih sayang dari semua orang. Dia disapa Antua, sebutan bagi orang yang dihormati di Waimital. Kasim begitu larut untuk membantu masyarakat, sampai-sampai dia lupa pulang.

Seharusnya dia di Waimital hanya tiga bulan. Tapi dia merasa tugasnya belum selesai. Bahkan saat semua teman-temannya pulang, dia tetap menjadi petani. Bahkan semua temannya telah diwisuda, dia masih setia di kampung itu. Hingga semua temannya lulus dan menjadi pejabat, dia tetap memilih di kampung itu hingga 15 tahun.

Di Aceh, orang tuanya memanggil. Dia bergeming. Bahkan Rektor IPB, Profesor Andi Hakim Nasution, memanggilnya kembali, dia masih juga bergeming. Tak kurang akal, Rektor IPB lalu mengutus Saleh Widodo, seorang teman kuliah Kasim, untuk menjemputnya di sana. Dengan berat hati, Kasim bersedia ke Jakarta, lalu Bogor, hanya dengan sandal jepit dan baju lusuh.

BACA: Jejak Jepang di Sawah Kita

Kampus memanggilnya untuk menyelesaikan studi. Kasim sejatinya tak butuh gelar akademik, tapi dia tak kuasa menolak permintaan teman-temannya. Dia mengaku tidak sanggup membuat skripsi. Teman-temannya berinisiatif untuk merekam kisahnya di Waimital untuk diajukan sebagai skripsi. Dia bercerita selama 28 jam. Temannya mencatat cerita itu dengan mata basah. Semua terharu.

Kasim adalah potret manusia yang melampaui dirinya. Dia bukan seperti kebanyakan orang yang hanya berpikir untuk kuliah lalu bekerja, mengumpul harta, kemudian hidup bahagia. Dia menemukan bahagianya dengan cara lain. Saat dia melihat petani tersenyum, hatinya mekar. Selagi senyum itu belum hadir, dia akan menganggap tugasnya jauh dari kata selesai.

Dia lebur bersama masyarakat. Mulanya dia datang sebagai Kasim, mahasiswa IPB yang penuh pengetahuan. Setelah 15 tahun, dia menjadi bagian dari masyarakat. Dia tak lagi ingin sesegera mungkin lulus, kemudian menyandang toga dan bekerja di instansi pemerintahan. Dia ingin membantu semua petani untuk sejahtera melalui tindakan memuliakan bumi, menghargai lumpur, lalu mengolah tanah-tanah pertanian. Dia mencintai tunas yang tumbuh lalu mekar jadi tanaman.

Hari itu, Kasim memasuki gedung IPB untuk wisuda. Mulanya dia ragu-ragu dan takut melihat banyak orang berdatangan. Semalaman dia tak bisa tidur di Hotel Salak karena pendingin udara dan suara bising di jalanan.

Di acara wisuda, dia ingin duduk di kursi belakang. Namun begitu dia datang, semua orang berdiri dan bertepuk tangan. Dedikasinya membuat banyak orang merinding. Dia adalah insinyur pertanian paling istimewa, paling menyentuh hati, dan paling menjulang dibandingkan yang lain.


Lelaki muda itu tetap Kasim yang bersahaja. Bahkan setelah wisuda pun, dia kembali ke Waimital demi meneruskan kerja-kerjanya. Setelah beberapa waktu, barulah dia menerima pinangan Universitas Syiah Kuala, Aceh, untuk menjadi dosen di sana hingga pensiun pada tahun 1994. Di Waimital, namanya selalu harum, bahkan diabadikan menjadi nama jalan.

Pemerintah pernah memberinya Kalpataru di tahun 1982. Dedikasinya pada pembangunan masyarakat desa dan lingkungan mendapatkan penghargaan. Namun Kasim menolak penghargaan itu. Konon, dia meninggalkan penghargaan tertinggi di bidang lingkungan itu di bawah kursi. Dia langsung pulang. Hingga, seseorang datang mengantarkan penghargaaan itu ke rumahnya. Dia tidak silau dengan penghargaan apa pun.

Ketika mendapat tawaran untuk studi banding ke Amerika Serikat, dia menolak. “Untuk apa saya harus ke Amerika yang punya tradisi pertanian berbeda dengan di sini?” katanya.

sampul buku "Seorang Lelaki di Waimital"

Dia selalu menjadi Kasim yang menginspirasi. Kisah hidupnya ditulis ke dalam buku berjudul Seorang lelaki dari Waimital yang ditulis Hanna Rambe di tahun 1983, dan diterbitkan Sinar Harapan. Seusai pensiun, dia tetap di Aceh dan menjadi aktivis lingkungan.

Di masa kini, betapa sulitnya menemukan anak muda yang masih idealis seperti dirinya. Anak muda hari ini berlomba-lomba untuk masuk dunia bisnis, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, lalu masuk ke lingkaran istana, entah sebagai staf milenial atau sebagai staf menteri. Bahkan para akademisi muda bermimpi jadi dirjen, staf khusus menteri, atau jadi pejabat di BUMN.

Kasim adalah oase yang serupa mata air selalu menjadi telaga inspirasi yang tak mengering. Saat dia diwisuda di tahun 1979, salah seorang rekannya penyair Taufiq Ismail, menulis puisi yang mengharukan tentang Kasim. Salah satu baitnya berbunyi:

...
Dari pulau itu, dia telah pulang
Dia yang dikabarkan hilang
Lima belas tahun lamanya
Di Waimital, Kasim mencetak harapan
Di kota kita mencetak keluhan
(Aku jadi ingat masa kita diplonco
Dua puluh dua tahun yang lalu)
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku
Ketika aku mengingatmu, Sim
Di Waimital engkau mencetak harapan
Di kota, kami …
Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah
Awan yang tergantung di atas kota juga
Kau kini telah pulang
Kami memelukmu.



Bukan Bakat, Bukan Pula Kecerdasan

sampul buku

Universitas yang paling sulit ditembus di Amerika Serikat, bukanlah Harvard. Bukan pula MIT. Melainkan Akademi Militer West Point. Kampus itu hanya menerima siswa yang paling tinggi skor kecerdasan dan juga paling bugar jasmaninya. Kampus itu adalah cikal bakal para jenderal dan petinggi militer.

Setiap tahun, terdapat puluhan ribu para juara dan atlet di SMA yang melamar di kampus ini. Hanya 4.000 orang yang akan lolos ke fase selanjutnya. Melalui seleksi yang ketat, hanya ada 1.200 orang yang akan diterima menjadi taruna. Mereka adalah pelamar paling cerdas, paling berbakat, dan paling kuat.

Namun setelah kuliah berjalan, banyak taruna akan putus sekolah. Yang mengejutkan, kebanyakan dari mereka akan mundur setelah menjalani pelatihan intensif selama tujuh minggu bernama Beast Barracks. Apakah gerangan?

Beast Barracks digambarkan sebagai latihan paling keras secara fisik dan emosional. Pelatihan ini dirancang agar seorang taruna mengeluarkan semua kemampuannya, baik secara fisik dan mental. Pelatihan ini digambarkan sama mengerikannya dengan pelatihan Green Berets bagi anggota pasukan khusus Angkatan Darat Amerika Serikat.

Yang menarik, mereka yang lolos melalui Beast Barrcks bukanlah mereka yang terbaik, bukan mereka yang punya skor kecerdasan dan fisik tinggi. Mereka yang lolos adalah kalangan biasa-biasa, tetapi sanggup menghadapi tantangan yang besar. Mengapa?

Psikolog Prof Angela Duckworth melakukan riset di West Point. Dia juga mengamati peserta lomba National Spelling Bee, kartunis New Yorker, dan tim American Football. Dia menemukan kesimpulan menarik.

Kejeniusan dan bakat bukanlah tolok ukur sukses. Menurut hipotesa Duckworth, orang yang bersemangat dan tekun cenderung lebih sukses dibanding orang lain yang mempunyai potensi alami (jenius) namun tidak mengiringinya dengan ketekunan.

Duckworth menyebutnya GRIT. Grit adalah istilah untuk semangat dan ketekunan yang dimiliki oleh seseorang ketika tengah melakukan sesuatu. Bahkan Duckworth membuat Grit Scale, yang menunjukkan seberapa tekun dan tabah seseorang.

Saya tak terkejut dengan penjelasan Duckworth. Ketika pertama meniti karier sebagai jurnalis, seorang jurnalis senior berkata, di dunia jurnalisik, sekadar bakat dan kecerdasan tidak cukup. Mereka yang menjadi top dan terbaik adalah mereka yang punya daya tahan dan ketekunan menjalani profesi itu.

Kata Duckworth: “Apa pun bidangnya, orang-orang yang sangat sukses memiliki semacam tekad kuat yang terwujud dengan dua cara. Pertama, para panutan ini luar biasa tegar dan kerja keras. Kedua, mereka tahu secara sangat mendalam apa yang mereka inginkan. Mereka tidak saja memiliki tekad kuat, mereka juga memiliki arah.”

Penjelasan ini ibarat kepingan puzzle dari apa yang saya baca di buku Barking Up the Wrong Tree. Seusai membaca buku itu, saya ingat seorang kawan kecil yang di masa sekolah bisa disebut siswa gagal, bahkan hanya lulus sekolah menengah, tapi kini menjadi sosok miliader. Dia jauh melampaui kami semua yang sekolah tinggi.

Selama ini kita hanya fokus pada kecerdasan. Kita hanya fokus pada pencapaian angka-angka. Padahal untuk menjadi sukses dan hebat, seseorang butuh lebih dari itu. Seseorang membutuhkan ketekunan, daya tahan, serta ketabahan untuk menempa diri dan menjalani profesi.

Beberapa hari lalu, saya dipanel dalam satu diskusi dengan seorang sahabat yang kini jadi penulis puisi. Dia kini kesohor di bidang itu. Orang-orang mengira menulis puisi hanya membutuhkan bakat. Namun dari kisahnya, saya menemukan sesuatu yang lebih dari itu. Dia menjalani hari-hari ketika rekan dan dunia sosialnya menganggap puisi tidak bisa memberi kehidupan.

Dia tekun. Dia tabah. Bahkan ketika mengerjakan puisi untuk satu film yang akan jadi blockbuster, dia menulis ratusan, kemudian dipilihnya beberapa untuk masuk buku dan tayang di film. Saya mengagumi kerja keras dan ketabahan yang begitu hebat.

Saya merenungi sistem pendidikan kita. Kata Duckworth, grit adalah sesuatu yang sukar diajarkan. Sekolah-sekolah kita hanya fokus pada capaian akademik. Namun, Duckworth luput melihat betapa pentingnya peran keluarga dalam menembuhkan Grit.

Saya ingat seorang akademisi di Makassar yang pernah memosting tangan keriput ayahnya yang berprofesi sebagai petani. Dia katakan, tangan keriput itu ditempa oleh panas, terbenam dalam lumpur, demi anak-anaknya bisa bersekolah. Tangan itu ikhlas menjalani hidup yang penuh keterbatasan demi membentang jalan sukses anak-anaknya.

Mata saya basah melihat postingannya. Justru pada kisah-kisah perjuangan itu, seorang anak bisa mengasah mentalnya sehingga tidak mudah jatuh. Dengan melihat ketulusan, kasih sayang, dan pengorbanan orang tua, seorang anak akan selalu bangkit dari setiap masalah.

Hidup memang tidak harus sempurna, untuk itu kita harus bangkit dan mengubah semua ketidaksempurnaan itu menjadi sekeping bahagia.

Namun, masih relevankah itu di zaman sekarang? Para orang tua sudah tidak sesulit dahulu. Pendidikan terbaik mudah didapatkan. Orang tua menyiapkan semua fasilitas dan memanjakan anak-anaknya. Banyak orang mengira, dengan menyekolahkan anak di tempat terbaik, maka selesailah persoalan. Padahal hidup tidak sesederhana itu Ferguso!

Ada banyak jawaban bisa diurai. Saya menyukai kutipan: "Menjadi tabah berarti bila kita jatuh tujuh kali, kita harus bangkit delapan kali." Saya ingat seseorang yang berkata, orang hebat bukanlah mereka yang berjalan lurus dan menggapai semua kesuksesan. Orang hebat adalah mereka yang setiap kali jatuh, selalu bisa bangkit kembali.

Itulah makna Grit.


Mungkinkah Paman Sam Menggempur Naga?




LAPORAN itu akhirnya tiba di tangan Presiden Cina, Xi Jinping. Laporan dibuat oleh Kementerian Pertahanan Cina. Isinya adalah analisis mengenai sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang selalu menuduh Cina sebagai biang dari banyaknya korban akibat virus Covid-19 di negara itu.

Laporan itu juga menyebutkan kian naiknya sentimen anti-Cina yang mencapai titik puncak sejak tragedi di Lapangan Tiananmen di tahun 1989. Di banyak negara, terdapat kebencian pada Cina yang sengaja direkayasa. Laporan itu meminta Xi Jinping untuk bersiap menghadapi semua risiko yang bisa saja terjadi.

Wabah Covid-19 memang membawa banyak dampak. Kekuatan satu negara bukan hanya militer dan arsenal nuklir, tetapi juga pada efektivitas dan kontrol negara yang kuat pada warganya, juga pada seberapa kuat benteng sistem kesehatan menjadi payung bagi warganya.

Dunia pasca-covid akan ditandai beberapa hal penting. Di antaranya adalah makin kuatnya kerinduan untuk melihat big government, negara serupa gajah dengan belalai panjang hingga mengendalikan semua warganya. Negara-negara akan membentuk menara pengawas ala panopticon-nya filsuf Michel Foucault demi mengawasi rakyat secara ketat melalui big data dan kecerdasan buatan.


Di sisi lain, kita juga melihat menguatnya sentimen nasionalisme. Negara-negara akan berpacu untuk memenuhi kebutuhannya dulu, baru berpikir pasar global. Lihat saja betapa banyak negara saling sikut demi mendapatkan alat rapid test dan alat pelindung diri (APD) yang disediakan Cina dan Korea. 

Pasca-Covid, nasionalisme akan menjadi pagar yang membatasi pergaulan antar negara. Masing-masing negara akan lebih memikirkan kebutuhan dalam negerinya. Dalam waktu dekat, kita akan melihat hal yang sama untuk pangan dan berbagai komoditas lainnya. Bagi negara seperti Indonesia, mau tak mau harus impor. Sekian tahun kita merdeka, bahkan rapid test dan APD pun kita belum mampu memproduksinya sendiri.

Kita pun melihat tatanan internasional baru pasca-covid. Di depan mata, kita akan menyaksikan bangkitnya perang dingin (cold war) antara Amerika Serikat dan Cina. Presiden Amerika Serikat Donald Trump belakangan banyak melontarkan tudingan kepada Cina sebagai biang dari virus yang telah menewaskan lebih 110 ribu warga Amerika. 

Dahulu, perang dingin terjadi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Namun sebagaimana dicatat beberapa pemikir, hubungan itu tak setara. Uni Soviet adalah negara yang nyaris bangkrut. Ekonominya terus memburuk. Sementara Cina sekarang punya posisi yang lebih kuat dari Soviet. Cina menjadi kekuatan dunia dan membentuk barisannya sendiri.

Dunia akan kembali menjadi bipolar. Amerika dengan barisan dan cheer leader-nya. Sementara Cina juga telah membentuk aliansi sendiri, dalam proyek yang disebutnya One  Belt and One Road Initiative (OBOR). Dunia akan menjadi dua kubu besar, yakni pengikut Amerika, dan satunya adalah pengikut Cina.

Saat ini, kondisi Amerika Serikat laksana petinju yang dihantam dengan tiga pukulan telak: (1) serangan virus Covid yang telah menewaskan lebih 110 ribu warganya, (2) pukulan ekonomi yang porak-poranda serta naiknya angka pengangguran, (3) isu rasisme setelah tewasnya George Floyd yang memicu rusuh dan demonstrasi di mana-mana.

Namun, segala kemungkinan bisa terjadi. Amerika kini dipimpin oleh Donald Trump yang kalimat di media sosial bisa membelah warga Amerika. Di tambah lagi, November nanti adalah pemilihan presiden. Jika Trump ingin menaikkan kembali pamornya, maka dia harus menciptakan musuh bersama. Dia mulai mengeluarkan retorika untuk menghukum Cina. Mungkinkah perang dunia ketiga akan terjadi?

*** 

Saya membaca artikel catatan sejarawan terkemuka Yuval Noah Harari dalam buku 21 Lesson for 21st Century.  Sejarawan Israel yang bukunya dibahas di seluruh dunia ini juga menjelaskan tentang perang. 

Dulu, negara-negara atau kerajaan kuat bisa memiliki wilayah luas karena perang dan penaklukan. Setiap jengkal wilayahnya didapatkan dari peperangan. Mereka menguasai semua sumber ekonomi, juga menjadikan masyarakat lain sebagai budak. 

Tapi di abad ke-21, perang bukan lagi jalan yang dipilih oleh negara-negara besar. Merela akan menghindari perang. Mengapa?

Pertama, adanya perubahan sifat ekonomi. Dulu, aset ekonomi adalah material sehingga perang bertujuan untuk mempermudah penaklukan dan penguasaan. Pihak yang menang akan leluasa mencaplok semua kekayaan pihak yang kalah, mulai dari ladang gandum, ladang minyak, lumbung pangan, hingga cadangan emas.

Pada zaman dulu, pemenang perang akan merampas semua harta, aset material, serta menjual penduduk sipil sebagai budak. Perang membuat satu bangsa bisa kaya raya melalui pencaplokan.


Sekarang, hal seperti itu tidak mungkin dilakukan. Aset ekonomi hari ini bukan lagi material, melainkan pengetahuan. Kita bisa mencaplok wilayah, tapi tidak bisa menguasai sumber-sumber pengetahuan. 

Anda bisa mencaplok Google, tapi yang Anda dapatkan hanya kantor dan semua peralatan kerja. Kekuatan Google bukan di situ, melainkan pada pengetahuan, penguasaan teknologi, kerja sama kolektif dan berjejaring, kemampuan mencipta hal baru, kepandaian bisnis, hingga ekosistem kerja yang menjadikannya sebagai perusahaan hebat.

Kedua, perang bukanlah hal yang secara bisnis menguntungkan. Perubahan sifat ekonomi ini hanya membuat perang menjadi sia-sia belaka. Tak akan banyak kentungan yang didapat, sebab kerugian akan lebih besar. Mengingat hal ini, negara-negara besar akan saling menahan diri dan menghindari perang.

Iran sama sekali tidak mendapat keuntungan signifikan dengan perang Iran-Irak. Dulu, Jepang mengira bahwa invasi Korea, Manchuria, hingga Cina daratan akan membuat ekonominya melejit. Jepang mengira, tanpa invasi, ekonominya akan makin hancur. Ternyata, justru invasi itu yang membuat ekonominya makin terpuruk dan luluh-lantak.

Perang itu membuat mereka bangkrut dan kehilangan ratusan ribu jiwa, khususnya ketika bom atom jatuh di Hiroshima dan Nagasaki. Ajaibnya, ekonomi Jepang malah bangkit setelah kalah perang. Negeri itu bisa membangkitkan hasrat dan motivasi kuat dalam hal ekonomi. Mereka ingin membayar lunas semua rasa malu atas kekalahan itu dengan kegemilangan ekonomi. Mereka berhasil.

Hari ini kita melihat Cina dengan kekuatan ekonomi yang sangat hebat dan menjadi pesaing Amerika. Tapi Amerika akan berpikir seribu kali untuk menyerang Cina. Kalkulasi biaya perang akan jauh lebih besar dibandingkan keuntungan yang didapatkan. 

Ekonom peraih nobel, Joseph Stiglitz bersama Linda J Bilmes menulis buku The Three Trillion Dollar War di tahun 2008. Mereka menghitung secara rinci-statistik, biaya yang harus dikeluarkan Amerika untuk Perang Irak. Biaya perang dan rentetan akibatnya yang harus dipikul Amerika, belum Inggris, Italia, dan lain-lain, tidak kurang dari tiga triliun dolar, sebuah angka yang teramat dahsyat dan tidak diperkirakan semula akan setinggi itu. 

Dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas bagi dunia, menurut Stiglitz, akan menelan biaya dua kali lipat: enam triliun dolar. Bahkan, sampai tahun 2017, pengeluaran pemerintah federal Amerika akan bergerak antara 3,5 triliun dolar AS dan 4,5 triliun dolar AS. Angka-angka ini sering disebut Bernie Sandres, kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat yang berhaluan sosialis. Sayang, dia mundur dari arena.

Di abad ini, senjata-senjata punya kemampuan merusak yang sangat hebat. Ledakan nuklir bisa membuat satu negara lenyap. Tapi jika dihitung dari sisi keuntungan ekonomi, maka tak banyak yang bisa diraup. Kata Harari, sejak bom atom jatuh di Hirshima dan Nagasaki, kita nyaris tak pernah lagi mendengar ada negara yang dijatuhi bom atom. 

Perang akan berhasil membangkitkan ekonomi apabila pemenangnya bisa memiliki kendali atas perdagangan global yang sedang berlangsung. Itu dialami Inggris ketika mengalahkan Napoleon. Juga dirasakan Amerika Serikat ketika berhasil menjatuhkan Hitler.  Tapi di abad ke-21, kita tidak akan melihat hal seperti itu lagi.


Ketiga, perang yang paling berbahaya bukan lagi perang berhadap-hadapan dengan senjata canggih yang punya daya rusak hebat. Bukan lagi seperti perang yang dilihat dalam film Rambo. Perang yang lebih menakutkan adalah perang siber. Makanya, negara-negara maju akan memilih untuk tidak terlibat perang mengingat dampak perang siber yang sangat besar.

Di era George W Bush, Amerika Serikat bisa dengan mudahnya menjatuhkan bom di Fallujah, Irak, sebab meyakini Irak tidak akan memberikan perlawanan yang sama pada kota-kota di Amerika seperti New York dan San Francisco. Demikian pula Rusia begitu pede saat menganeksasi Krimea, sebab militer Ukraina sengaja tidak memberikan perlawanan.

Namun dalam perang siber, Amerika akan sangat berhitung siapa yang dihadapi. Dia tidak akan berani menghadapi negara dengan kemampuan siber dan IT yang tangguh. Amerika berani berperang di Irak dan Afganistan, namun akan berhitung seribu kali jika menghadapi negara yang punya infrastruktur teknologi.

Mengapa? Sebab dalam perang siber, seorang remaja di Cina bisa saja merancang sistem informasi agar kereta saling tubruk di Boston dan New York. Bisa saja seorang anak muda di sudut Asia membuat pesawat-pesawat yang ada di Bandara John F Kennedy saling bertabrakan di udara. Semuanya bisa dimungkinkan sebab manusia amat tergantung pada kendali dunia digital. Sekali kenop ditekan, maka sistem bisa menghancurkan diri sendiri.

Mengacu pada pendapat Harari, kita tidak akan menyaksikan perang antar Amerika dan Cina. Itu bisa terjadi, jika Amerika melanggar batasan yang dibuat pemerintah Cina. Saat ini, Cina punya kepentingan di Hong Kong, Taiwan, dan Laut Cina Selatan. Jika Amerika mengusik salah satunya, perang besar bisa terjadi.

***

Meskipun semua analis menyatakan tidak mungkin, perang fisik bisa saja terjadi. Kita tak boleh mengabaikan kemungkinan itu. Sebab sejarah menunjukkan bahwa faktor terpenting yang menyebabkan perang adalah kebodohan manusia.

Beberapa pemimpin dan jenderal melihat dunia seperti permainan catur, di mana ada gengsi dan harga diri. Mereka sesukanya menggerakkan pion, meskipun disebut telah melakukan kalkulasi matang. Mereka bisa mengabaikan banyak hal, termasuk bagaimana ekonomi satu negara, serta orang-orang biasa yang akan menjadi korban dari gerakan pion itu.



Lantas di mana posisi Indonesia? 

Setiap ada konflik besar, perubahan besar selalu terjadi di negeri ini. Perang Dunia II terjadi, Indonesia merdeka. Saat konflik kembali terjadi, Sukarno menjadi pemain utama di panggung internasional ketika menggelar Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung yang sukses mempersatukan negara-negara dunia ketiga. Di tahun 1965, saat terjadi perang dingin, Suharto naik ke tampuk kekuasaan setelah menyingkirkan Sukarno yang tidak diinginkan Amerika. 

Jika konflik negara besar kembali terjadi pasca-covid, apa yang akan terjadi di Indonesia? Jika boleh menebak, pihak yang paling diuntungkan adalah pihak yang bisa bersekutu dengan pemenang di panggung internasional. Tapi, siapa yang jadi pemenang? 

Kita belum tahu. Tapi kita akan segera tahu. Kita akan segera menjadi saksi sejarah.


Siasat NAGA Membelit PAMAN SAM




Seperti apa gambaran orang Amerika terhadap Cina? Bacalah buku The Good Earth, karangan penulis Amerika yang pernah meraih nobel, Pearl S Buck. Cina dilihat sebagai negara agraris yang kusam, petaninya miskin dan kesusahan, tuan tanah tamak, kelaparan, serta bencana banjir dan penyakit silih berganti.

Sejauh pengalaman saya yang pernah tinggal di Amerika selama beberapa tahun, tidak semua orang Amerika punya wawasan geografis yang memadai. Mereka hanya tahu negaranya, minim pengetahuan tentang negara-negara lain. Pernah, di satu county (kecamatan), saya menyebut dari Indonesia, seorang bapak tua menjawab “long drive.” Hah? Dia pikir bisa menyetir untuk tiba di Indonesia.

Bisa dibilang, banyak orang Amerika yang tidak punya gambaran seperti apa perubahan yang terjadi di negara lain. Mereka pun hanya tahu sejarahnya sendiri. Mereka tahu bahwa Columbus mendatangi Amerika tahun 1492. Tapi mereka akan terkejut dan tidak percaya saat disodori riset Gavin Menzies yang menyebutkan, sebelum Columbus datang, Laksamana Cheng Ho lebih dulu menyinggahi Amerika pada tahun 1421 dengan kapal yang jauh lebih besar.

Sejak era kerajaan, Cina sudah menjadi bangsa besar yang kuat. Namun selama lebih 200 tahun mereka tertidur dan hanya menyaksikan pertandingan negara-negara kuat. Jepang, yang meniru Cina mengungguli negara itu di masa perang dan damai. Amerika berbaik hati dan memberikan kursi dewan keamanan PBB.

Tahun 1949, Cina memilih haluan komunis. Pemimpinnya Mao Zedong menjerumuskan negerinya ke bencana yang menghancurkan modal ekonomi, teknologi, dan intelektual. Di tahun 1979, di bawah Deng Xiao Ping, mulailah reformasi terjadi. Ekonomi mengikuti jalan kapitalis. Naga terbangun dan mulai menggeliat.

BACA: Ideologi Kiri Kanan yang Menyambut Corona

Di dekade 1990-an, Amerika Serikat tidak menyangka Cina tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang hebat. Ekonom peraih nobel asal Amerika, Jeffrey Sachs menyebut Cina adalah kisah pembangunan paling sukses di dunia. Pertumbuhannya mencapai lebih 9 persen tiap tahun, tercepat dalam sejarah.

Saya ingat pengalaman di satu kampus Amerika ketika mengambil kelas The Politics of Developing Area yang diasuh Dr Clemente. Dia menjelaskan perbedaan strategi antara Amerika Latin dan Cina dalam mengatasi kemiskinan di pedesaan.

Para sarjana Amerika Latin akan mengeluarkan teori tentang subsidi bagi petani miskin, revitalisasi pedesaan, penghargaan pada kearifan lokal, serta melalui pendekatan partisipatoris. Sementara Cina memilih jalan paling cepat, yakni desa harus masuk ke fase industri. Ketergantungan ke tanah harus dikurangi. Desa harus menjadi kota. Maka kesejahteraan akan meningkat.

Pendekatan mana yang efektif? Faktanya, Bank Dunia mengatakan lebih dari 850 juta orang di Cina telah diangkat keluar dari kemiskinan, dan negara ini berada dalam jalur untuk menghilangkan kemiskinan mutlak.

Kita kenal merek Xiomi, Oppo, Lenovo, Huawei, dan HTC. Semuanya adalah adalah gadget yang komponennya dikerjakan Usaha Kecil Menengah (UKM). Yasheng Huang dalam tulisannya Capitalism With Chinese Characteristics: Enterpreneurship and the State, mengatakan bahwa pada Maret 1984, Deng Xioping memanfaatkan UKM serta bisnis swasta daerah untuk menopang perekonomian Cina, yang kemudian dikenal dengan Township and Village Enterprises (TVEs).

Hal ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa produk dari Cina selalu terbilang murah. Karena mayoritas yang menjalankan perputaran ekonomi adalah bisnis swasta daerah dan UKM yang tersebar di beberapa provinsi seperti Guangdong, Fujian, Zhejiang, Jiangsu, dan Shandong. Peran dari pemerintah adalah mendukung serta membiayai dengan cara pemberian pinjaman kepada pelaku bisnis.

Setiap tahun pemerintah Cina memberi pelatihan kepada 200.000 pemuda desa berupa satu atau dua teknik yang dapat diterapkan di daerahnya. Tidak berhenti sampai di situ, pemerintah Cina juga bekerja sama dengan lembaga riset baik di tingkat pusat maupun daerah untuk terus mengembangkan teknologi yang kemudian akan dipakai di pedesaan ataupun oleh industri rumahan.

BACA: Selamat Datang di Era Post-Amerika

Dengan kekayaan yang melimpah, Cina leluasa mengirim anak mudanya untuk belajar di luar negeri. Kampus-kampus Amerika dipenuhi oleh mahasiswa dari Cina. Para pelajar Cina mendominasi fakultas teknologi dan ekonomi, berbeda dengan mahasiswa Amerika yang lebih suka ilmu sosial dan ilmu hukum. Di Amerika, sampai-sampai ada stereotype kalau Asia identik dengan matematika sebab bidang ini dikuasai oleh pelajar Asia, dalam hal ini Cina dan Jepang.

Tak hanya pintar, mereka juga kaya-kaya. Hal biasa menyaksikan pelajar dan mahasiswa Asia yang ke mana-mana menaiki Mercedes sehingga menimbulkan kesenjangan sosial. Saya pernah melihat seorang mahasiswa Cina dipanggil rekan-rekannya untuk melihat mobil Ferrari-nya yang kacanya dipecahkan di parkiran oleh mahasiswa yang cemburu. Bukannya marah, mahasiswa Cina itu hanya berkata “I’ll buy a new one.” 

Kemajuan Cina memang mencengangkan. Dalam buku The Post-American World, Fareed Zakaria memberikan beberapa ilustrasi. Tahun 1978, Cina hanya memproduksi 200 unit penyejuk udara dalam setahun. Tahun 2005, produksinya mencapai 48 juta unit. Barusan saya cek statistik, di tahun 2019, jumlah penyejuk udara yang dibikin di Cina adalah 218 juta unit dalam setahun.

Tahun 1980-an, Fareed Zakaria berkunjung ke Pudong, di dekat Shanghai. Suasananya masih kayak pedesaan. Kini, Pudong adalah distrik keuangan yang dipadati menara kaca serta terang benderang setiap malam. Pudong lebih luas delapan kali dari Canary Wharf, distrik keuangan di London, hampir seluas Chicago.

Pengusaha Amerika terkejut melihat perkembangan Cina. Negeri itu adalah produsen terbesar batu bara, baja, dan semen. Negeri itu adalah pasar terbesar untuk ponsel. Pada puncak revolusi industri, Inggris pernah dijuluki sebagai the largest manufacturer in the world atau bengkel terbesar di dunia. Kini, gelar itu diambil oleh Cina.

BACA: Virus yang Membangkitkan Komunisme

Ekspornya ke Amerika tumbuh berlipat-lipat. Mereka yang pernah ke Amerika pasti tahu kalau raksasa ritel di sana adalah Walmart, yang selalu dipadati kelas menengah dan bawah Amerika karena produknya murah. Walmart  memperkerjakan 2,1 juta orang, lebih banyak dari gabungan Ford, GM, GE, dan IBM. Pendapatannya 7 kali pendapatan Microsoft dan menyumbang 2 persen PDB Amerika.

Tahu dari mana semua barang di Walmart? Cina. Perusahaan itu mengimpor 27 miliar dollar per tahun dari Cina. Mulai dari pakaian sampai sayuran. Andaikan Cina menghentikan pasokan ke Walmart maka banyak orang akan kolaps di Amerika.

Bukan cuma itu. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi membuat Cina menimbun kekayaan. Cina pun menginvestasikan kekayaan itu dengan cara paling aman yakni membeli surat utang Amerika Serikat. Saat Amerika terjebak dengan perilaku konsumtif, Cina justru mendanainya. Amerika boros dengan pinjaman, Cina justru banyak menabung. Cina mengakumulasi obligasi Amerika. Cina menjadi pemberi pinjaman terbesar di Amerika.

Jangan kaget jika beberapa Presiden Amerika Serikat sangat hati-hati dengan Cina. Anda punya uang, maka Anda punya kedaulatan. Saat bertemu peminjam, Anda bisa berdiri tegak.

Pemerintah Cina leluasa membuat banyak program pembangunan, sebab tidak perlu memikirkan suara rakyat. Di negara lain, politisi mengerjakan hal populis tapi konyol, perbanyak subsidi dan bantuan. Semuanya demi mendapatkan suara. Cina tidak butuh itu. Dengan sistem yang otoriter, Cina bebas melakukan apa pun. Di negara lain, otoriter bisa memunculkan pemerintahan yang diktator dan korup. Cina justru tidak. Hukuman untuk koruptor adalah hukuman mati.

Apakah Naga akan membelit dan mengalahkan Paman Sam? Ini soal waktu. Kini Cina mengekor di nomor urut dua kekuatan ekonomi, setelah Amerika Serikat. Harus diakui, Amerika masih menjadi negara paling kuat, baik secara militer maupun ekonomi. Namun banyak lembaga terpercaya dan ekonom sudah memprediksi fenomena kejatuhan dan kebangkitan. Ada yang menyebut tahun 2050. Ada juga yang lebih awal.

Yang dikhawatirkan adalah generasi baru Cina yang lahir dan tumbuh di tengah kemakmuran dan kekuatan ekonomi. Saat mereka merasa hebat, mereka bisa bermain-main dengan militer. Mulailah mereka melakukan ekspansi dan aneksasi wilayah. Di tengah situasi militer yang terus diperkuat, mereka bisa menempuh jalan berbeda dengan sejarah bangsa itu.

Dahulu, pemimpin Perancis, Napoleon Bonaparte, pernah berkata “China is a sleeping lion. Let her sleep, for when she wakes, she will move the world.” Tahun 2014, saat Xi Jnping mengunjungi Perancis, dia berkata: "Today, the lion has woken up. But it is peaceful, pleasant and civilised."

*** 

Kini, dunia sedang dilanda pandemi Covid-19. Bermula dari Wuhan, virus itu menyebar ke seluruh dunia yang berimbas pada ekonomi. Dunia akan mengalami fase krisis saat banyak ekonomi bertumbangan.

Amerika Serikat menjadi negara yang paling mengalami dampak. Jumlah korban yang terinfeksi mencapai 1,6 juta orang, dengan korban tewas hingga 108 ribu orang. Jumlah pengangguran di Amerika bertambah 4 juta orang. Amerika juga diperparah dengan demonstrasi isu rasial yang sesekali diselingi aksi penjarah warganya.

Cina justru berada dalam kutub yang berbeda. Cina menunjukkan pada dunia bagaimana kerja-kerja big government bisa melindungi dan memberi rasa aman kepada warganya. Cina menjadi model dari bagaimana efektifnya negara mengelola masalah lalu mencarikan solusinya. Perencanaan terpusat serta negara yang kuat menjadi instrumen efektif untuk melawan pandemi.

Salah satu penanda kebesaran Cina

Pelajaran dari Covid adalah orang-orang ingin kembali memperkuat big government sebab lebih efektif mengatasi berbagai masalah. Sebagaimana dicatat Yuval Noah Harari, dunia akan mengarah ke surveillance state yang mengawasi warganya hingga biometri, serta munculnya nasionalisme untuk mengutamakan negara sendiri. Cina telah melakukan itu sejak jauh hari.

Dalam situasi ketika Amerika tengah dilanda berbagai unjuk rasa, Cina kian bergerak menjadi pemain global. Banyak negara Afrika yang diajak bekerja sama. Timur Tengah perlahan dimasuki. Bahkan beberapa negara Eropa, termasuk Italia dan Serbia bergabung dengan barisan Cina untuk sama-sama memperkuat ekonomi.

BACA: Senjata Cina untuk Melawan Tentara Corona

Cina memasuki bab berikutnya dalam pembangunan melalui gelombang pendanaan dalam proyek infrastruktur global besar-besaran, atau dikenal dengan belt dan Road Initiative. Proyek yang disebut jalur sutra modern itu bertujuan untuk menghubungkan hampir setengah populasi dunia dan seperlima dari PDB global, menyiapkan perdagangan dan link investasi yang membentang di seluruh dunia.

Di Asia Tenggara, kehadiran Cina penuh kontroversi. Tapi perlu menyimak pendapat mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad. Mulanya dia menolak proyek dengan Cina, Belakangan dia menyetujuinya. Dia belajar dari sejarah. Cina telah bertetangga dengan Malaysia lebih 2000 tahun. Namun Cina belum pernah menjajah Malaysia. "Namun bangsa Eropa datang pada 1509. Setelah itu dua tahun kemudian, mereka mencaplok Malaysia," ujarnya.

Indonesia punya situasi yang sama dengan Malaysia. Hubungan yang dibangun dengan Cina sudah terjalin sejak masa kedatangan Cheng Ho. Namun di era modern, hubungan itu pasang surut karena faktor ideologi komunisme yang ditentang kuat pada masa Orde Baru.

Pilihan terbaik bagi Indonesia adalah tidak berkiblat ke mana-mana. Tidak ke amerika, tapi tidak juga ke Cina. Namun, siapapun pemimpinnya, negeri ini akan kesulitan melangkah sebab akan selalu ada yang nyinyir, selalu ada yang sinis, selalu ada yang menyebut pemerintah goblok, selalu ada yang tak lelah menyebar hoaks.

Kita ingin sekaya Cina, tapi kita tidak ingin diatur secara paksa ala negeri itu. Kita pun ingin sekuat Amerika, tapi yang kita lakukan adalah rebahan. Kita ingin jadi bangsa hebat, tapi kita tidak siap untuk menjadikan diri kita hebat dan penuh prestasi. Kita lebih suka mencaci, ketimbang menyiapkan sejumlah prasyarat untuk jadi bangsa hebat.

Kapan kita sekaya Cina dan sekuat Amerika?



Membaca Hujan di Bulan Juni




"Seperti apa mencintai dengan sederhana?" tanya Najwa Shihab kepada Sapardi Joko Damono. Najwa bertanya tentang puisi "Aku Ingin" yang dahulu banyak dikutip para cowok ketika ingin nembak cewek, sering ditemukan di undangan pernikahan.

Penyair yang pernah menjadi Dekan Fakultas Sastra UI itu tertawa. Dia menjawab singkat, "Jangan percaya sama Sapardi." Penyair Joko Pinurbo punya komentar lain. "Mencintai dengan sederhana itu adalah mencintai yang paling tidak sederhana."

Sapardi akhirnya mau bercerita. Di suatu hari di bulan Juni, dia menyaksikan hujan turun mengguyur. Tangannya lalu bergerak untuk menulis puisi. Dia tak butuh waktu lama. Dia hanya butuh 15 menit untuk menuliskan dua puisi yang kemudian abadi dan melegenda. Dia menulis Aku Ingin dan Hujan Bulan Juni.

Saya menyaksikan penggalan dialog ini di Youtube, di sela-sela melihat berita demonstrasi dan penjarahan di negeri banyak sudut dunia. Saya ingat puisi Sapardi yang serupa embun selalu membasuh nurani.

Puisi Sapardi menjadi lebih indah ketika diubah menjadi musikalisasi dan dinyanyikan Ari dan Reda. Hari ini, awal bulan Juni, di tengah-tengah amarah dan murka serta nyinyir warga kerajaan medsos, saya mendaras puisi Sapardi yang dinyanyikan Ari dan Reda.


Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu



Selamat Datang di Era Post-Amerika




Mulai dari ilmuwan politik Samuel Huntington dan Francis Fukuyama, ekonom Joseph Stiglitz, hingga kolumnis Fareed Zakaria, era Amerika Serikat sudah diramalkan akan segera memudar. 

Saatnya dunia mengucapkan selamat datang pada era baru, era post-Amerika.

*** 

Di tengah malam, sahabat itu tiba-tiba menghubungi saya. Dia sedang di kota New York. Dia khawatir melihat situasi. Kota-kota di Amerika Serikat laksana sedang perang. Belum usai wabah pandemi, kini kota-kota dihantam dengan kerusuhan rasial. Dia sedang ketakutan.

Dahulu dia meninggalkan tanah air saat kerusuhan rasial terjadi. Kini, dia berhadapan dengan situasi yang sama. Di negara maju itu, dia justru merasa tidak aman. Di negara yang militernya terkuat di dunia itu, dia merasa sangat ketakutan. Amerika Serikat sedang tidak baik-baik saja.

Negeri Paman Sam itu tengah dihantam dengan keras oleh pandemi virus Corona. Negeri itu menjadi terdepan dalam hal jumlah pasien yang terinfeksi serta jumlah korban. Saat ini, lebih 100 ribu orang telah tewas akibat virus, jumlah yang lebih banyak dari orang Amerika yang tewas dalam perang Vietnam dan perang Korea.

Jika itu terjadi di negara dunia ketiga, maka kematian ratusan ribu orang bisa dijelaskan dengan mudah. Namun ini terjadi di Amerika Serikat, negeri yang menyandang status sebagai negara superpower. Virus itu telah membuka banyak sisi dari Amerika yang selama ini tidak terpantau dunia luar. 

Dunia baru tahu bahwa negeri itu punya banyak soal dengan sistem jaminan kesehatan, kekurangan APD dan ventilator, serta krisis masker. Mata dunia kini terbuka lebar. Dunia baru tahu selama ini ketimpangan sosial sudah lama menjadi bara yang mudah disulut.

Saat seorang warga kulit hitam bernama George Floyd tewas setelah lehernya ditindih lutut polisi di Minneapolis, api segera membesar. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Orang-orang mengamuk di banyak kota. Penjarahan terjadi Kantor gedung putih diserbu para demonstran yang meneriakkan slogan “I can’t breath.”

Hari-hari belakangan ini Amerika Serikat semakin terpukul oleh ketidakbecusan pemimpinnya, serta kepemimpinan yang buruk. Bukannya membenahi semua problem internal, pemimpinnya Donald Trump justru memancing murka banyak orang melalui cuitan-cuitannya.  Namun benarkah Trump adalah awal dari segalanya?

Di tahun 2008, kolumnis Fareed Zakaria sudah menulis buku berjudul The Post-American World. Dia bilang, Amerika masih menjadi negara dengan daya saing ekonomi paling tinggi di dunia. Negeri itu unggul dalam hal inovasi, ketersediaan teknologi terbaru, serta punya kolaborasi paling bagus antara litbang universitas dan industri. 

BACA: Seusai Membaca The Post American World

Selama puluhan tahun, negeri ini berkuasa dan mengatur dunia. Tapi bukan berarti bahwa kenyataan ini akan selalu statis. Kini banyak hal yang sudah berubah. Perusahaan terbesar bermarkas di Cina, industri film terbesar ada di Bollywood (India), pesawat terbesar dirakit di Rusia, serta munculnya kebangkitan negara-negara baru sebagai kiblat ekonomi dunia, di antaranya Cina, Rusia, Brazil, dan India. 

Globalisasi menggeser banyak hal. Belum lagi, krisis keuangan dunia telah memicu pergeseran pasar. Kebangkitan beberapa negara secara perlahan telah mengubah lanskap politik internasional, yang selama beberapa puluh tahun dikuasai Amerika Serikat.



Fareed Zakaria sudah memprediksi kalau Cina akan jadi pemenang di tatanan dunia baru. Penjelasannya ada pada nasionalisme, pengaruh Confucianis dalam ekonomi, kebijakan untuk membuka pintu ekonomi dan terintegrasi dengan pasar dunia, serta kebijakan untuk menguasai sektor energi.  

Tapi Fareed melihat kebangkitan itu tidak dalam waktu dekat. Sebab Amerika masih punya kekuatan militer, serta banyak sumber daya yang akan tetap menempatkannya dalam posisi atas bangsa-bangsa, di antaranya adalah kekuatan korporasi, jaringan dagang, serta kemampuan untuk mendikte bangsa-bangsa lain. 

Tampaknya, virus Corona telah mempercepat semua proses. Pergeseran itu berjalan lebih cepat dari apa yang dia bayangkan. Bukan semata karena kehebatan Cina, tetapi berbagai problem internal yang muncul di negeri itu sehingga tatanan dunia perlahan berpindah. Bagaimana mungkin negara-negara lain akan percaya pada Amerika saat pemimpinnya Donald Trump selalu bicara tentang American First? Virus Corona hanya mempercepat sekaratnya Amerika sebagai pemimpin dunia.

Di tahun 2016, ilmuwan politik Francis Fukuyama yang pernah meyakini akhir sejarah adalah kemenangan kapitalisme liberal merevisi pandangannya. Dia menulis artikel berjudul “America: The Failed State.” Dia bilang, Amerika sudah waktunya menyerahkan kepemimpinan global. 

Sistem politik Amerika disebut Fukuyama sudah lama mengalami disfungsi. Naiknya Trump serta politik biaya tinggi dan dugaan korupsi serta penyuapan di kongres telah menggerogoti nilai-nilai Amerika. Di sisi lain, masyarakat Amerika telah lama mengalami polarisasi secara politik, sehingga berimbas pada kian meningkatnya prasangka rasial.

Dalam buku “Everybody Lies: Big Data, New Data, and What The Internet Reveals About Who We Really Are”, peneliti Seth Stevens Davidowitz memakai analisis big data untuk merekam data Google mengenai naiknya Obama yang segera diikuti naiknya pencarian dengan kata kunci “nigger president” di banyak wilayah. Donald Trump menang telak di semua wilayah itu.

BACA: Seusai Membaca Everybody Lies

Terbaru, di artikel “We are Living in a Failed State, ” penulis George Packer mengatakan, virus corona telah menjadikan Amerika sebagai “bangsa pengemis” yang serupa bom waktu akan segera membesar. Penulis artikel melihat peristiwa tanggal 20 April 2020 saat Cina memberikan bantuan 2,46 juta masker, sebanyak 5.000 ventilator, dan banyak peralatan medis lain.

Ekonom peraih nobel, Joseph Stiglitz, menyebut negerinya seperti negara dunia ketiga. “Jumlah orang-orang yang mendatangi bank makanan sudah melampaui kapasitas. Ini seperti negara dunia ketiga. Jaringan pengaman sosial sudah lama tidak bekerja,” katanya. Amerika Serikat adalah negara dengan pelayanan kesehatan terburuk” katanya.

Saya teringat pada tuturan sejarawan Arnold Toynbee. Dia mengatakan tentang dinamika challenge and response. Di setiap zaman, selalu ada tantangan (challenge), bangsa-bangsa yang survive adalah bangsa yang bisa memberikan respons yang tepat.

Dahulu, Inggris adalah super power dengan jajahan yang menyebar ke seluruh dunia. Tapi keputusan mengikuti Perang Dunia I telah menyebabkan negara itu menghabiskan anggaran hingga 40 miliar dollar, seta tewasnya 700 ribu prajuritnya. 

Seusai Perang Dunia II, Amerika Serikat naik menjadi super power yang mengandalkan kekuatan militer. Kini, dunia melihat Amerika yang keropos dan kesulitan mempertahankan keseimbangan imperiumnya. 

Tak bisa disangkal, Cina tampil menjadi kekuatan baru. Cina terdepan bukan karena kekuatan militer, tetapi melalui soft power, inovasi teknologi, serta big government yang kuat dan melindungi rakyatnya dari hantaman pandemi. Cina menunjukkan kepemimpinan yang efektif, serta kekuatan birokrasi yang menjadi rantai komando dalam mengawasi semua rakyatnya dari bencana.

Penjelasan paling bagus tentang ini adalah teori yang disampaikan Joseph Nye Jr. Dulu, persaingan adalah menggunakan hard power yakni senjata dan kekuatan militer. Kini, persaingan memasuki medan baru yakni soft power, berupa inovasi dan kekuatan teknologi.

BACA: Senjata Cina untuk Melawan Corona

Secara mengejutkan, Cina meninggalkan patokan dollar dalam transaksi dan secara resmi menggunakan Yuan. Cina juga sedang melakukan inovasi dalam hal mata uang. Sebagai negara yang pertama menggunakan uang kertas, Cina pula yang akan mengakhirinya dan segera berpaling ke mata uang digital.

Dunia memang sudah berubah. Prediksi Samuel Huntington tentang benturan peradaban yang berpangkal pada identitas agama, antara barat yang Kristen dan Yahudi versus timur yang Muslim itu tidak terbukti. Cina menunjukkan karakter pemenang bukan karena ideologi komunisme yang sangar, tetapi melainkan kemampuan berselancar di tengah arus kapitalisme dan kemampuan berinovasi.

Benar kata mahaguru manajemen Peter F Drucker: “Knowledge rather than capital, land and labor is the new basis of wealth.” Pengetahuan dan inovasi adalah mata uang baru dalam menghadapi dunia baru, bukan lagi kekuatan militer.

BACA: Ideologi Kiri Kanan yang Menyambut Corona

Di mana posisi Indonesia? Sorry to say, negeri kita masih belum bisa move on dari cebong versus kapret., buzzrep versus kadrun, pendukung pemerintah versus pendukung Anies, serta rebutan pengaruh politik di tengah masa pandemi.

Entah, apa kita akan terus mengalir ataukah kita akan tenggelam. Mengutip Toynbee, kita pun tentang ditantang untuk memberikan respon dari tantangan yang sedang menghantam.

Kian tenggelam ataukah bangkit?



Buku Terbaik tentang Kebangkitan Nasional




Kebangkitan nasional itu bukan hari di mana bangsa bangkit dari tidur. Namun ada proses sejarah dan sintesis ide-ide yang memanaskan wacana pergerakan. Ada kisah-kisah pertemuan dan interaksi banyak orang yang lalu bersepakat untuk membuat gerakan bersama demi lahirnya embrio negeri yang baru.

Di tanah air kita, pernah ada masa ketika semua aliran dan ideologi sama-sama hidup dan berkembang, serta bersatu untuk pergerakan. Pernah ada masa ketika ideologi serupa baju yang bisa diganti-ganti. Kita kesulitan menarik garis atau marka pembeda sebab hari ini seseorang bisa nasionalis, besok dia menjadi Islami, lusanya komunis.

Saya menemukan kisah itu dalam buku An Age of Motion yang ditulis sejarawan Takashi Shiraishi. Buku yang diolah dari disertasi di Cornell University ini kemudian diterjemahkan oleh Hilmar Farid menjadi Zaman Bergerak. Di mata saya, ini buku paling bagus yang menjelaskan bagaimana ide-ide bergolak pada periode kebangkitan.

Fokus buku adalah sejarah sosial dan intelektual yang terjadi di Solo, Semarang, dan Yogyakarta, pada periode 1920-an hingga awal Indonesia merdeka. Generasi yang dibahas adalah para arsitek lahirnya Indonesia. Mereka belajar dari kenyataan, dipengaruhi oleh situasi sejarah, lalu membumikan ide-idenya pada orang banyak melalui publikasi dan karya tulis. Mereka bertanding gagasan melalui media demi mendapatkan simpati banyak orang.

Generasi Soekarno, Hatta, dan Tan Malaka adalah generasi yang tumbuh dari dialektika dan diskusi intens Tjokroaminoto dan Tjipto cs. Generasi Soekarno ibarat striker yang menjebol gawang, setelah sebelumnya bola digiring oleh generasi sebelumnya. Tanpa sintesis gagasan di masa Tjipto cs, tak akan muncul banyak konsep-konsep kebangsaan yang justru melampaui zamannya.

Selain Tjokro dan Tjipto, tokoh lain yang dibahas di sini adalah Tirto Adisoerjo, Soewardi Soerjaningrat, Mas Marco Kartodikromo, Semaoen, hingga Hadji Misbach.

Mereka berdiri di atas landasan berpikir yang berbeda. Mereka berpikir di aras ideologi yang berbeda, namun sama-sama bertemu pada satu jalan yakni cinta tanah air serta harapan munculnya negara baru yang bebas dari cengkeraman kolonialisme.

Di masa ketika negara bangsa masih serupa bayang-bayang, para tokoh ini telah menyusun cetak biru dan sintesis gagasan-gagasan, lalu diteruskan oleh generasi yang kemudian memproklamasikan kemerdekaan.

Buku ini memang buku sejarah, namun penggambaran tokoh-tokohnya begitu detail, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tak ada kisah tentang para hero atau pahlawan. Juga tak ada cerita tentang para jagoan yang mengubah sejarah. Ini adalah kisah tentang mereka yang memiliki gagasan tentang negeri yang lebih baik, tanpa penindasan.

Sejarah tidak dilihat sebagai rangkaian peristiwa. Sejarah adalah rekaman kejadian, kesaksian, serta pemaknaan dari para individu yang hadir pada satu masa. Sebagai kesaksian, maka ada sejumlah peristiwa dan kejadian besar yang lalu mempengaruhi pemaknaan atas satu kejadian.

Para individu itu memungut dan menyusun ulang pemikiran atau ide-ide yang diperoleh dari bermacam gagasan, misalnya sosialisme Marx dan Islamisme, untuk memaknai tindakan mereka dalam memperjuangkan dunia yang sepenuhnya baru, yaitu Hindia (Indonesia).

Gaya penulisan ini sangat khas dan detail, sebagaimana gaya beberapa peneliti Jepang yang pernah saya baca bukunya. Penulisnya tak ingin terjebak pada kategorisasi yang selalu dilakukan para sosiolog dan ilmuwan politik yang selalu ingin membagi aliran politik ke dalam kubu-kubu nasionalis, Islam, dan komunis, sebagaimana pernah dikemukakan ilmuwan politik Herbert Feith, yang lalu dibantah habis-habisan oleh Harry Benda.

Sebab di aras realitas, sebagaimana ditulis Benda, pembagian itu amatlah kabur. Menempatkan posisi seseorang ke dalam satu kubu berpotensi untuk mengabaikan begitu banyak kepingan fakta menarik tentang orang tersebut. Seorang Tjipto yang nasionalis dan Islami memakai pakaian dengan ciri khas Jawa, serta bergaul dan sangat diterima oleh orang Belanda. Lantas, di mana menempatkan dirinya?

Bagaimana pula meletakkan posisi seorang Hadji Misbach, yang dijuluki haji merah? Dia belajar di pesantren, setelah itu bergaul dengan para nasionalis seperti Tjipto, lalu mengakar di kelompok Islam dengan ide-ide komunisme? Bagaimana menjelaskan sintesis yang dilakukan Misbach atas ruh perjuangan Muhammad yang menentang penindasan yang bersesuaian dengan perjuangan kaum proletar, sebagaimana pernah diperjuangkan oleh Pangeran Diponegoro?

Di masa kini, kita melihat semua ideologi itu sebagai kamar-kamar terpisah yang tidak saling berdialog. Padahal perbedaannya hanya eksis dalam pikiran kita. Mestinya kita memahami setiap konteks sejarah, gagasan seorang tokoh, serta bagaimana situasi zaman yang terus bergerak. Gagasan tentang perubahan tak pernah tinggal di satu ruang hampa sejarah, melainkan selalu bergerak berkat dinamika dan dialog dengan kenyataan sekitar.

Pada mulanya adalah kehadiran lelaki bernama Tirto Adhisoerjo (1880), sosok yang dikenal sebagai Minke dalam Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer. Pada tahun 1903, ia menerbitkan koran sendiri (Medan Prijaji, Potri Hindia dan lainnya), lalu melahirkan Sarekat Prijaji dan Sarikat Dagang Islamijah, serta membuka bisnis hotel dan biro bantuan hukum. Tirto menjadi semacam archetype bagi pemimpin pergerakan pada masa berikutnya. Kemudian pada bulan Mei tahun 1908 organisasi Boedi Oetomo dibentuk.

Tak lama setelah itu, SI/SDI muncul. Berawal dari organisasi ronda untuk menjaga keamanan di lingkungan pengusaha batik, SI kemudian menjadi wadah masyarakat Islam Hindia terbesar dengan bermacam individu yang memiliki karakter dan latar belakang masing-masing. Dari bermacam karakter dan latar belakang itulah, kemudian, SI menjadi semacam arena bagi pertarungan gagasan dalam menafsirkan bagaimana seseorang seharusnya berjuang menjadi “satria sejati”.

Saya suka bagaimana penulis buku membagi plot-plot waktu perjalanan sejarah berdasar analisa situasi politik dan ekonomi. Tentang bagaimana situasi ekonomi yang dipengaruhi siklus bisnis mampu memicu radikalisme yang juga naik turun. Ketika periode inflasi tinggi, protes buruh semakin radikal. Sebaliknya, ketika kebijakan represi dilakukan, kondisi politik semakin ‘tenang’. Jadi, ada semacam ‘kebetulan’ yang kemudian dimanfaatkan oleh agen-agen propaganda pergerakan untuk memaknai situasi tersebut.


Gaya Pramoedya

Ketika membaca buku ini, saya merasakan gaya menulisnya yang mirip dengan Pramodeya Ananta Toer. Apakah penulis buku, Takashi Shiraishi, belajar menulis pada Pramoedya?

Tampaknya iya. Menurut informasi yang saya dapatkan dari sejarawan Sonny Karsono yang kini mukim di Korea, Takashi Shiraishi belajar gaya menulis pada Pramoedya. Makanya, kata-katanya demikian bertenaga, serta amat hati-hati dalam menuliskan fakta dan kejadian pada satu masa.

Tapi ada pula yang mengatakan buku ini ditulis dengan gaya sejarawan Jepang, yang amat hati-hati melihat setiap pecahan fakta, tidak ingin terlalu banyak menulis opini atas fakta itu, kemudian merangkai setiap pecahan fakta dengan penuh dedikasi.

Semua tokoh yang dibahas di sini menyadari kalau mereka punya perbedaan dalam melihat persoalan. Tapi tak pernah terlibat konflik dan saling benci. Perbedaan pemikiran dan pergerakan itu lalu dibiakkan dalam berbagai terbitan pers.

Inilah periode di mana para aktivis politik adalah para penulis hebat yang kemudian memantik kesadaran banyak orang tentang perlunya membangun ide-ide kebangsaan.

Beberapa perdebatan yang menarik adalah antara Mas Marco Kartodikromo dengan Tjokroaminoto, Semaoen dengan Soerjopranoto yang dipandang sebagai pertentangan antara kelompok komunis dengan pengurus SI pusat, seorang mubalig radikal beraliran Marxis, Misbach, melawan Syeitan Kapitalisme (yang dimaksud ialah Moehammadyah), antara Tjipto Mangoenkoesoemo dengan kelompok Boedi Oetomo, Kesunanan dan Mangkunegaran.

Pada masa ini, pers adalah senjata paling hebat untuk menggalang advokasi dan perlawanan. Tirtoadhiseorjo menulis di Medan Prijaji, Mas Marco menulis di koran Dunia Bergerak, Tjokroaminoto di Oetoesan Hindia, Semaoen di Sinar Djawa, Misbach menulis di Medan Moeslimin dan Islam Bergerak, hingga Soewardi Soerjaningrat menulis di harian De Express.

Para perintis pergerakan dan pelopor ide-ide kebangsaan ini adalah para jurnalis hebat yang menggugah kesadaran, menginspirasi banyak orang tentang pentingnya merdeka dan menentukan nasib sendiri, serta menjadi peletak semangat hebat di dada para generasi pemimpin sesudahnya.

Sungguh menyedihkan karena hari ini, mereka semua terabaikan. Beberapa dari mereka diberi stigma sebagai komunis yang tak perlu dikenang sejarah. Mereka dianggap tidak penting dan hanya dianggap sebagai catatan kaki dari sejarah pergerakan kebangsaan kita.

Padahal, semua perdebatan pada era sesudahnya hingga kini, berpangkal pada sintesis ide-ide dan debat yang disulut oleh generasi emas dalam sejarah sosial kita. Pada merekalah seharusnya kita banyak berhutang atas setiap tarikan napas di era kemerdekaan.