Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Semuanya Berkat HERNOWO HASIM


beberapa buku yang ditulis Hernowo

BIASANYA, saya sangat cepat menyatakan dukacita dan menuliskan kesan-kesan tentang seseorang. Tapi untuk lelaki bernama Hernowo Hasim, saya butuh beberapa hari untuk bisa menulis. Saya tidak tahu hendak memulai dari mana. Saya merasakan ada yang kosong di rongga hati kala menyadari bahwa seorang guru telah berpulang. Uniknya, sang guru itu justru belum pernah saya temui.

Hernowo, seorang guru menulis telah berpulang. Kenyataan ini terasa menyakitkan bagi saya yang membaca hampir semua, dan mengoleksi banyak buku yang ditulis salah satu pendiri penerbit Mizan ini. Saya membayangkan akan kehilangan motivasi dari orang yang selalu saya tunggu buku-buku terbarunya. Saya sedih saat membayangkan tidak lagi mendapatkan sekeping atau dua keping komentarnya atas artikel pendek yang saya buat.

Beberapa orang telah menulis tentang apa saja ide-ide yang diperkenalkan Hernowo. Saya tak ingin ikut-ikut menulis sesuatu yang sudah dibahas banyak orang. Saya ingin mengikuti anjuran Hernowo yang selalu meminta orang-orang untuk mengeluarkan pemikirannya yang orisinal melalui gaya menulis bebas. Baiklah, saya ingin buat pengakuan mengapa Hernowo begitu penting di mata saya.

Dahulu, sebelum bertemu buku yang ditulis Hernowo, saya sudah menekuni dunia menulis. Satu atau dua tulisan saya terpampang di Identitas, koran milik mahasiswa Universitas Hasanuddin. Sesekali saya juga meramaikan koran lokal. Akan tetapi saya menulis dengan gaya yang susah dimengerti masyarakat awam. Saya menulis terlampau akademik, dengan teori-teori yang berhamburan, dan pendapat orisinal saya hanya secuil.

Dalam artikel-artikel pendek itu, saya menghamparkan banyak teori dan kutipan-kutipan yang tak lazim bagi orang paham. Saya akan merasa keren ketika mengutip banyak pemikir dan filsuf hebat, meskipun saya sendiri tak paham benar apa yang dikatakan orang hebat itu. Bacaan saya hanya satu atau dua buku, tapi ketika menulis, saya berpretensi paham semua pemikiran orang lain.

Perasaan saya akan melambung jauh saat bertemu seseorang yang tidak paham apa yang saya tulis. Rasanya saya ingin berkata, “Makanya, banyak baca. Biar paham apa yang saya tulis.” Sepertinya saya ingin berkata pada mereka yang tak paham: “Makanya, jadi orang pintar dong. Seperti saya.”

Entah kenapa, pada masa itu, saya justru amat bangga ketika orang-orang tak memahami apa yang saya tulis. Ada semacam perasaan jumawa ketika menganggap bahwa tulisan kita membuat orang lain bingung dan tidak mengerti. Ada perasaan bahwa kita telah membangun satu jarak intelektual yang tinggi, yang tak bisa digapai sembarang orang. Ada perasan hebat ketika ilmu kita jauh di depan, dan orang lain tak paham.

Dengan gaya menulis seperti itu, saya jadi tidak produktif. Sebab saya berharap tulisan itu akan dianggap hebat oleh orang lain. Saya akan kecewa ketika satu tulisan saya dianggap biasa-biasa saja. Kegiatan menulis adalah kegiatan yang menjadi amat menakutkan buat saya. Sebelum tulisan jadi, saya bayangkan cibiran, hinaan, dan juga anggapan bahwa saya hanya menulis sampah. Lebih sakit hati saat membayangkan tulisan itu akan dianggap rendah orang lain.

Pada satu titik, saya tak bisa melakukan apa pun. Untuk membuat satu artikel pendek, saya butuh waktu berhari-hari sebab takut penilaian orang. Lebih sering saya urungkan niat untuk mengirimkan tulisan itu sebab khawatir kalau-kalau tulisan itu bisa mencederai anggapan orang bahwa saya pintar. Saya tak ingin dianggap bodoh.

Hingga suatu hari, saya menemukan buku Mengikat Makna yang ditulis Hernowo. Mulanya, saya memandang enteng buku ini. Saya pikir ini tak beda dengan buku-buku how to yang banyak beredar di pasaran. Ketika pertama membacanya, saya mulai tertarik. Kalimat Ali bin Abi Thalib yakni "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya" terasa menyesap dalam diri. Saya membaca kalimat-kalimat yang disusun sederhana, tapi maknanya terasa menusuk hingga sumsum terdalam.

Hernowo telah menghancurkan keangkuhan dalam diri saya tentang menulis. Bahwa menulis itu adalah cara untuk berkomunikasi dan membangun jembatan pemikiran dengan orang lain. Bahwa menulis itu bertujuan untuk menggerakkan, untuk menginspirasi, bukan untuk membuat orang lain kagum. Melalui tulisannya, Hernowo mengajarkan untuk menemukan sesuatu yang orisinil, apa adanya, mengalir, dan menjadi medium bagi seseorang untuk mengalirkan jati dirinya.




Saya sepakat dengan apa yang ditulis pada bagian awal buku Mengikat Makna. Bahwa kegiatan menulis adalah upaya untuk mengikat makna, kemudian merekam, menyimpan, dan mendokumentasikannya. Ketika seseorang menulis, maka sesungguhnya seseorang sedang berpikir. Dia mencerna satu kenyataan, kemudian mengalirkan pengetahuannya itu ke dalam aksara. Menulis adalah cara bagi seseorang untuk berbagi pengetahuan, menyebar manfaat, dan mengajak orang lain untuk memikirkan sesuatu.

Gaya menulis Hernowo sesederhana percakapan di warung kopi atau di teras rumah, tapi makna yang disampaikannya terasa menghujam sampai ke jantung. Dia tidak sedang menggurui, tetapi menunjukkan cahaya terang ketika orang-orang berada dalam situasi gelap hendak memanggil aksara apa. Dia menunjukkan cara-cara sederhana bagaimana memulai gagasan, meniti di atas jembatan aksara, hingga tiba pada ujung yang mengejutkan saat seseorang menyadari bahwa dirinya bisa menulis.

Dalam tuturan Hernowo, seseorang tak akan bisa menjadi penulis yang hebat jika dirinya bukan pembaca yang hebat. Demi mengikuti anjuran Hernowo, saya pun banyak membaca buku-buku yang dianjurkannya. Saya lalu mencari buku yang ditulis Natalie Goldberg, seorang praktisi menulis yang memperlakukan aktivitas menulis serupa meditasi. Saya membaca bukunya yang berjudul Writing Down the Bone, salah satu buku yang mempengaruhi Hernowo.
Seusai membaca buku itu, saya kembali merenungi buku Hernowo. Kesimpulan saya, setiap orang punya kemampuan untuk menulis. Makanya, kelas-kelas kepenulisan itu adalah sesuatu yang tidak perlu. Mengapa? Sebab setiap orang punya kisah yang seharusnya bisa dibagikan melalui aktivitas menulis. Semua orang punya sumur yang berisikan telaga kisah dalam dirinya. 

Kalaupun ada kelas menulis, maka yang dibahas dalam kelas itu adalah bagaimana menemukan tali panjang dan timba, yang kemudian digunakan untuk mengambil kisah dari dalam sumur diri, kemudian dibawa ke atas. Kelas menulis harusnya menjadi kelas penemuan diri. Seseorang mengenali dirinya, mengenali apa saja kisah menarik yang dimilikinya dan berguna bagi orang lain, lalu menemukan cara agar kisah-kisah itu bisa berbaris dalam aksara.

Sejak buku Mengikat Makna, saya mulai mengikuti buku-buku Hernowo. Hingga akhirnya, saya mulai menikmati dunia menulis. Berkat Hernowo, saya lebih percaya diri. Menulis adalah aktivitas yang menyenangkan dan membahagiakan. Saya tak pernah terbebani dengan kegiatan menulis. Bagi saya, menulis serupa singgah bermain di satu telaga, membasuh wajah, kemudian sejenak meminum air dingin di situ. 

Berkat Hernowo, saya sering tak peduli apa pun penilaian sinis orang lain. Bagi saya, jika ada orang yang mencibir satu tulisan, pastilah orang itu bukan penulis. Sebab seorang penulis pasti paham bahwa tidak mudah melahirkan satu tulisan. Selalu ada proses ketika penulis hamil dengan gagasan-gagasan, kemudian menjaganya dalam pikiran, lalu susah payah melahirkannya ketika menulis. Hinaan pada satu tulisan adalah ekspresi ketidakmampuan untuk melahirkan hal yang sama. Potret rasa iri karena orang lain bisa maju selangkah, saat diri hanya bisa mencibir.

Buku-buku Hernowo adalah jenis buku yang tidak saja menyediakan peta jalan agar seseorang tidak tersesat dalam dunia aksara, tapi juga semacam mantra agar seseorang menemukan kekuatan dan daya-daya hebat itu dalam dirinya. Seseorang tak harus menunggu bantuan orang lain, tapi membangkitkan potensi yang selama ini tertidur dalam dirinya. Tipe bukunya adalah menggerakkan seseorang untuk menimba sebanyak-banyaknya potensinya demi menggapai kebahagiaan.

BACA: Sepuluh Alasan untuk Tidak Menulis

Buku-bukunya tak cuma menggerakkan, tapi juga membasahi diri dengan berbagai kearifan dan spiritualitas. Hernowo menyerap kearifan dari tulisan banyak orang, lalu membagikannya kepada banyak orang. Dia menyentuh nurani orang lain dengan pelajaran dan kisah-kisah yang menggerakkan sehingga orang-orang menemukan jati dirinya serta tujuan hendak ke mana. Sesuai membaca bukunya, saya tak cuma merasakan secercah cahaya terang, tapi juga nurani yang dibasahi oleh embun permenungan. 

buku Hernowo yang terbaru

Makanya, ketika membaca berita dirinya telah berpulang, saya merasa sangat kehilangan. Interaksi saya dengannya amat terbatas. Saya belum pernah bertemu dengannya. Saya hanya berinteraksi melalui media sosial. Saya rajin membaca catatannya di satu grup Facebook yang dikelolanya. Ketika saya membagikan tulisan saya di situ, dia dengan sukarela memberikan catatan yang selalu membuat saya melambung dan nyaris tidak berpijak di bumi saking bahagianya.

Pernah pula saya membuat endorsement bukunya akun media sosial saya. Dirinya membaca endorsement itu, kemudian membagikannya ke mana-mana. Saya merasa tersanjung sebab seorang guru sekaliber dirinya, mau saja membagikan catatan saya serta perasaan terima kasih yang dalam. 

Kini, guru hebat yang memberi cahaya terang di dunia menulis itu telah berpulang. Saya tak bisa hadir di pemakamannya. Tapi dari sudut hati yang dalam, saya merapal satu harapan kuat. Semoga setiap aksara yang ditulisnya, yang telah berkelana lalu mengetuk hati banyak orang itu kelak menjadi malaikat yang akan bertutur tentang betapa baiknya dirinya. Semoga setiap kalimat yang pernah dia catat dan abadi dalam buku-bukunya itu akan menjadi amal jariah yang terus memberinya kebaikan di mana pun dia berada. 

Selamat jalan guru menulisku.


Spanduk Duka Cita di Kota Manado




DI Medan, seorang akademisi diringkus aparat karena menganggap teror bom adalah skenario. Tapi di Manado, duka cita atas teror masih tercium di jalan2. Orang masih membicarakannya sembari menyeruput kopi di pagi hari pada bulan puasa.

Di depan Taman Kesatuan Bangsa (TKB) bunga-bunga diletakkan di depan selembar poster yang berisi tanda tangan sebagai tanda mengecam terorisme. Di situ, ada foto Kusuma bangsa, para polisi yang menjadi korban peristiwa itu. Apakah mereka bagian dari skenario?

Rasanya tak mungkin mereka jadi martir dari satu skenario demi mengalihkan isu. Di era ini, isu tak bisa dialihkan. Jejak digitalnya bisa diendus siapa saja. Maka, ancaman teror itu nyata, senyata-nyatanya. Ada kengerian yang setiap saat bisa menerjang. Ada teror yang setiap saat bisa melumat kita ketika lengah.

Mungkin ini kenyataan yang harus kita hadapi di era post-truth, era di mana kebenaran tak lagi menjadi sesuatu yang dicari lewat proses ilmiah. Kebenaran ditemukan lebih dahulu, dipercayai lebih dahulu sehingga fakta demi fakta tak lagi penting.

Di Manado, saya melihat kesedihan yang diekspresikan melalui rangkaian bunga di depan poster polisi yang gugur.

Sekeping Inspirasi di Kota Manado


Kutipan di Bandara Sam Ratulangi

KISAH sebuah kota bukan saja kisah tentang deru knalpot kendaraan bermotor. Bukan juga kisah tentang gedung-gedung tinggi dan jalanan macet yang riuh di pagi dan sore hari. Kisah sebuah kota adalah kisah manusia-manusia yang serupa kuas telah menggoreskan jejak warna-warni di kota itu. 

Di Kota Manado, kota indah di utara tanah air, saya bertemu banyak sosok penuh inspirasi. Pada diri mereka, saya menemukan wajah lain dari kota yang sepintas telah lama dilumat oleh hedonisme dan adu cepat di sirkuit pencarian kekayaan. Berkat mereka, saya melihat sisi lain kota yang sepintas tampak tenang dan adem-ayem di timur. Mereka memberikan identitas dan sukma bagi kota yang menjadi jejak basah bagi siapa pun yang hendak menelusurinya. 

Saatnya berkenalan dengan Benny Ramdhani. Mari jo!

*** 

SUARA bapak itu agak pelan ketika mulai presentasi. Dia diperkenalkan sebagai tokoh lokal Manado. Namanya Benny Rhamdani. Usianya sekitar 40-an tahun. Tubuhnya tinggi besar dan agak tambun. Kumis melintang bertengger di atas bibirnya. Tampaknya, semua orang di Manado sangat mengenalnya. Ketika MC mempersilakan dia untuk bicara, semua orang bertepuk tangan.

Dalam acara yang digelar Kami Indonesia bersama MPR RI di kampus Universitas Negeri Manado (Unima) di Tondano, dia mendapat giliran presentasi setelah mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad dan anggota DPR RI Akbar Faisal. Dua presenter sebelumnya tampil berapi-api dan penuh semangat. Benny justru memulai kalimat dengan tenang.

Dia mengutip teks kitab Injil, kemudian teks dalam Al Quran yang isinya salam dan ucapan selamat sejahtera. Sepintas, gaya retoriknya mengingatkan pada seorang penginjil di gereja. Setelah salam, dia bertanya pada hampir seribu mahasiswa Unima di ruangan itu: “Ada di sini yang beragama Hindu? Islam? Ada yang Nasrani?” Bergantian mahasiswa mengacungkan tangan. “Apakah kalian merasakan ada masalah?” Semua menjawab tidak. 

“Saya ingin berkata pada semua teroris, enyahlah kalian dari Indonesia. Kita tak punya masalah antar agama. Kita baik-baik saja dan hidup rukun harmonis selama berabad-abad,” katanya yang diiringi tepuk tangan membahana.

BACA: Pahlawan Belia di Kota Manado

Benny adalah anggota DPD dari Sulawesi Utara. Ketika bertemu dengannya, saya tak menyangka dirinya berasal dari provinsi yang dikenal sebagai bumi nyiur melambai ini. Fisiknya jauh dari fisik kebanyakan orang Manado yang putih-putih. Ternyata dia lahir di Jawa Barat dari keluarga yang terbilang miskin, kemudian “dibuang” ke Talaud. Dirinya menjadi representasi dari keragaman dan multi-kulturalisme di utara Sulawesi. Dia dari Jawa Barat, besar di Talaud, kuliah di Manado, kemudian terpilih menjadi wakil rakyat Sulawesi Utara di Senayan. 

Ketika kuliah di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Benny tampil sebagai aktivis dan demonstran. Di masa-masa Presiden Soeharto menjadi sosok otoritarian yang menghadirkan teror bagi rakyat, Benny justru memilih jalan tidak biasa yakni menjadi aktivis dan demonstran. Dia getol melakukan demonstrasi di kampus Unsrat, yang disebutnya sebagai kampus yang penuh dengan mahasiswa hedonis. “Saya sering demonstrasi sendirian karena mahasiswa tidak peduli dengan pesan yang mau saya sampaikan,” katanya.

Benny menjalin relasi dengan aktivis Pijar yakni Nuku Sulaeman, serta aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD). Dia pun berangkat ke Jakarta bulan Januari 1998 demi bergabung dengan aksi mahasiswa kampus lain. Dia melakukan tindakan heroik yakni mengiris tangan hingga mendapatkan 25 jahitan ketika berdemonstrasi di kampus UI. Dia meminta pertanggungjawaban mahasiswa UI yang dianggapnya telah melahirkan Orde Baru.

Tak cuma itu, dia juga melakukan mogok makan di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta bersama rekannya Wahab Talaohu. Dalam aksi yang dijagai langsung oleh advokat senior Adnan Buyung Nasution dan Munir itu, Benny dilarikan di Rumah Sakit St Carolus untuk dirawat. Saat baru diinfus selama 3,5 jam, dia dilarikan ke rumah Gus Dur di Ciganjur karena ada isu aparat yang hendak menangkapnya. 

Dalam pelarian itu, Benny dirawat seorang suster di Carolus yang setiap menundukkan badannya akan menjuntai kalung rosario. Dalam keadaan sakit, Benny menggenggam kalung rosario itu kemudian berbisik, “Kalau saya sembuh, saya ingin minta kalung ini sebagai jejak kenangan kalau saya pernah dirawat dalam kasih Tuhan yang mengalir melalui dirimu.” 

Setelah 20 tahun peristiwa reformasi, Benny mengisahkan pengalamannya itu di hadapan mahasiswa. Dia tak malu-malu menceritakan dirinya drop out dari kampus karena sering melakukan demonstrasi. Justru pengalaman drop out itu menjadi cambuk bagi dirinya untuk terus melesat dan sukses di bidang lain. Dia mengasah dirinya sebagai pembela kelompok yang dimarginalkan oleh kebijakan pemerintah.

Berkat reformasi, dirinya punya kesempatan untuk memasuki panggung politik. Dia lalu memaksimalkan kekuatan jejaring yang telah dibentuknya sejak masih menjadi mahasiswa. Dia memberanikan diri untuk maju ke panggung politik hingga akhirnya sukses menjadi anggota DPRD Sulawesi Utara selama dua periode, kemudian tampil di DPD RI sebagai wakil rakyat Sulawesi Utara.

BACA: Mawar Cantik Kota Manado

Tak banyak yang tahu kalau dirinya tidak menamatkan pendidikan di level sarjana. Bahkan Rektor Unsrat pun baru tahu kalau Benny tak lulus kuliah. Kepada mahasiswa, Benny membagikan inspirasi. “Biarpun kamu di-DO, tapi bukan berarti kehidupan kamu berakhir di situ. Bukan berarti kamu akan terjebak dalam kebodohan. Tapi justru harus menjadi kekuatan bagi kamu untuk menemukan apa yang terbaik bagi dirimu,” Semua mahasiswa bertepuk tangan.

Saya yang berada di ruangan itu ikut bertepuk tangan. Saya teringat ucapan filsuf Lao Tze: “Failure is great opportunity.” Kegagalan adalah peluang besar untuk berbuat sesuatu. Ketika satu pintu tertutup, maka pintu-pintu lain akan terbuka. Saat seseorang gagal, bulan lantas dirinya akan gagal di semua bidang kehidupan. Justru seseorang akan menemukan pintu-pintu lain yang bisa melejitkan potensinya untuk menjadi pribadi unggul. Benar kata seorang filsuf: “When we hit our lowest point, we are open to a greatest change.” Ketika kita mencapai titik paling terpuruk, maka kita baru saja membuka perubahan besar dalam hidup kita.

patung depan Manado Town Square

Beruntunglah Kota Manado yang punya banyak sosok hebat seperti Benny. Pada sosok seperti ini, kita menemukan banyak pelajaran yang kelak akan menjadi inspirasi bagi generasi penerus. Namun, kehidupan Benny masih akan terus bergerak. Sikap heroiknya pada masa reformasi akan terus ditantang oleh sejarah. Jika suatu saat ia terlibat kasus korupsi, maka jejak emasnya akan terhapus begitu saja. Tantangan berat yang dihadapinya adalah bagaimana tetap menjaga spirit reformasi dan berbuat sesuatu yang lebih bagi daerah yang diwakilinya.

Dirinya juga tak sendirian. Selain dirinya, tentu ada banyak sosok-sosok lain yang memberikan banyak pelajaran bagi warga kota untuk tidak selalu egois dalam kehidupan, namun meletakkan sekeping pelajaran bagi orang lain. Sosok-sosok hebat ini tak selalu tercatat sejarah, tapi mereka punya peran kecil untuk mengingatkan orang lain tentang sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang lebih bermakna.

Saya meyakini bahwa setiap pengalaman adalah keping pelajaran berharga, yang jika dikumpulkan akan menjadi hamparan hikmah bagi pengayaan jiwa seseorang. Kelak, kita pun akan memberikan inspirasi bagi kehidupan yang akan menjadi tanah gembur bagi tumbuhnya tunas-tunas baru yang memenuhi bumi dengan udara kebaikan.

Di masa silam, peran-peran sebagai sosok inspiratif itu telah dengan amat baik dilakoni oleh Sam Ratulangi, seorang doktor bidang ilmu pasti dari Universitas Zurich yang kemudian mendedikasikan hidupnya untuk republik yang tengah tumbuh tunasnya. Ratulangi meninggalkan hidup mapan demi menjawab panggilan hidup sebagai seorang patriot yang berbuat sesuatu bagi bangsa. 

Saat hendak meninggalkan Manado, saya membaca kutipan menggetarkan dari Sam Ratulangi di bandara yakni “Si tou timou tumou tou” yang artinya manusia baru dapat disebut manusia jika sudah memanusiakan manusia lainnya. Kalimat ini meletakkan esensi kemanusiaan pada tindakan, pada laku untuk memanusiakan orang lain, pada spirit kolektivitas untuk berjalan bersama manusia lainnya. 

Satu sosok manis mengejar saya di bandara. Dari kejauhan, saya melihat seraut wajah manis dengan membawa oleh-oleh di tangan. Dia menyusul saya yang hendak meninggalkan kota itu. Ada banyak rasa yang tak bisa terucap. Sebelum berpisah, dia berbisik  “torang samua basudara kong baku-baku sayang.”


Tak Sabar Menanti Aksi 212




DUA kali trailer film Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 dirilis. Saya selalu terkesima menyaksikan tokoh-tokoh yang dahulu saya temukan dalam novel serial yang ditulis Bastian Tito itu.  Saya tak sabar menyaksikan film yang didanai oleh 20th Fox International itu. Semasa masih SD dan SMP, saya penggemar berat novel ini dan selalu membelinya setiap ada edisi terbaru.

Kini, Wiro Sableng, pendekar yang selalu cengengesan dan bercanda itu akan hadir dalam format layar lebar. Tak tanggung-tanggung, film ini adalah kolaborasi antara rumah produksi Indonesia dan raksasa film Hollywood yakni 20th Century Fox. Saya membayangkan film kolosal ini akan sangat meriah, apalagi ditunjang beberapa aktor dan aktris papan atas negeri ini.

Sejak awal tahun 2018, saya sudah membuat resolusi yakni menyaksikan film ini, apa pun yang terjadi. Sebagai penggemar Wiro, saya rindu kehadiran tokoh-tokoh dalam semesta novel ini. Di satu media, saya membaca komentar produser film ini Sheila Timothy yang mengatakan bahwa ada kemiripan antara serial Wiro Sableng dan Game of Thorne. Makanya, struktur cerita film Wiro dibuat seperti Game of Thorne.

Anggini, Wiro, dan Bujang Gila Tapak Sakti

Katanya, serial Game of Thorne terjadi di satu tempat bernama Westeros, yang di dalamnya terdapat beberapa kerajaan. Masing-masing punya karakteristik sendiri. Nah, serial Wiro juga punya semesta tiga lokasi dengan ciri khas berbeda. Yakni golongan hitam yang mendiami gunung dan hutan, golongan putih yang juga mendiami gunung dan hutan terpisah, serta pihak kerajaan yang sering membenturkan dua aliran persilatan ini. Kerajaan sering memanfaatkan golongan hitam untuk menyerang golongan putih, demikian pula sebaliknya.

Dalam trailer terbaru, saya melihat sejumlah tokoh dalam serial ini. Tokoh golongan hitam yang tampil adalah Mahesa Birawa (yang diperankan pesilat hebat Yayan Ruhiyan), Empat Brewok dari Goa Sanggreng, hingga Kaligundil. 

Sedangkan tokoh golongan putih yang tampil selain Wiro adalah Eyang Sinto Gendeng, Anggini (murid cantik Dewa Tuak), Bujang Gila Tapak Sakti atau sering disingkat Bujala Tasaki, dan Bidadari Angin Timur (yang diidolakan Wiro). Tak boleh dilupakan kehadiran kakek Segala Tahu yang kemampuannya seperti Google sebab selalu punya jawaban atas semua pertanyaan. Bahkan kakek ini bisa-bisa lebih pintar dari Google sebab dia bisa meramal peristiwa masa depan.

Dalam versi novel, ada sejumlah karakter unik yang selalu saya sukai kemunculannya. Selain Dewa Tuak yang membawa bumbungan bambu berisi arak, ada juga Dewa Ketawa, Dewa Sedih, Raja Penidur, juga musuh bebuyutan Wiro Sableng yakni Pangeran Matahari dari Puncak Merapi.

BACA: Lelaki Muslim di Sisi Ratu Inggris

Saya juga terkenang beberapa jurus dan pukulan yang dimiliki Wiro juga masih segar di pikiran. Di antaranya Pukulan Sinar Matahari, yang saat digunakan, lengan Wiro akan bersinar keperakan hingga siku. Juga pukulan kunyuk melempar buah, banteng topan melanda samudera, pukulan angin puyuh, hingga pukulan Dewa Topan Menggusur Gunung. Masing-masing jurus diajarkan oleh guru berbeda. 

Meskipun baru dua trailer yang diluncurkan, saya sudah mendapat gambaran bagaimana megahnya film ini. Konon, budget-nya lebih besar dari kebanyakan film Indonesia. Yang membuat saya tak sabar adalah film ini bisa menandai kembalinya era film silat yang dahulu begitu berjaya di Indonesia. Sejak perfilman kita bangkit, kita jarang menemukan film silat. Terakhir, saya menonton film Pendekar Tongkat Emas yang dibintangi Nicholas Saputra. Saya dengar film ini tak begitu sukses.

Saya membayangkan, penggemar Wiro pasti akan penasaran untuk menyaksikan film ini. Bagi saya, kisah Wiro Sableng membawa banyak lapis kenangan. Mulai dari masa-masa di sekolah menengah saat mengikuti serial ini. Saya masih terpesona menyaksikan petualangan pendekar sakti mandraguna yang selalu cengengesan dan sesekali mengerjai banyak orang, namun selalu dikagumi banyak cewek ini. Saya juga teringat pada beberapa lembar adegan porno di novel ini yang bikin saya tidak bisa tidur, serta diam-diam ke kamar mandi. Hahaha.

Bidadari Angin Timur, pendekar yang ditaksir Wiro

Di mata saya, Wiro Sableng adalah pendekar yang lintas budaya dan berpetualang ke mana-mana. Dia dibesarkan di Gunung Gede hingga akhirnya dianggap cukup ilmu untuk memasuki rimba persilatan. Dia tak perlu memikirkan lapangan kerja sebab hari-harinya adalah berkelana dan bertarung demi mengalahkan golongan hitam. Dia hadir dalam banyak intrik dan konflik kerajaan.

Dia juga bertualang di banyak lokasi. Kebanyakan latar cerita adalah petualangannya di tanah Jawa dan Sunda. Tapi, dia juga berpetualang hingga ke pulau seberang. Saya suka mengikuti petualangan Wiro ke Sumatera dan berguru pada orang sakti yakni Tua Gila dari Andalas, seseorang yang dianggap gila dan memiliki silat dengan gerakan tak beraturan ala orang gila. Wiro pernah ke Aceh dan bertemu Nyanyuk Amber dan Pandansuri dalam episode Raja Rencong dari Utara.

Di tanah Minang, Wiro juga bertemu dan berguru pada Datuk Rao Basaluang Ameh yang memiliki ciri khas berupa suara seruling khas Minang. Sang Datuk selalu bersama Datuk Rao Bamato Hijau yakni harimau putih nan sakti. Keduanya menjadi guru Wiro. Dulu, ketika mendengar lagu Badai Pasti Berlalu yang dinyanyikan Chrisye dan diaranser Erwin Gutawa, ada suara saluang, yang langsung mengingatkan saya pada kemunculan Datuk Rao Basaluang Ameh.

Selain Sumatera, Wiro juga berpetualang ke Bali dan mengalahkan Nyoman, seorang pendekar pemetik bunga, yang suka memperkosa perempuan. Malah, Wiro juga berpetualang ke Jepang hingga Cina. Dalam episode Pendekar Gunung Fuji, entah bagaimana caranya, Wiro datang ke Jepang dan ikut dalam konflik para samurai di sana. Beberapa istilah Jepang digunakan dalam film ini, termasuk beberapa jurus dan pukulan. 

golongan hitam

Tanpa saya sadari, kisah Wiro Sableng menjadi medium pembelajaran budaya paling efektif. Saya mengenali banyak istilah, produk budaya seperti saluang, rencong, kalewang, hingga jenis-jenis keris dari kisah ini. Saya pun paham beberapa keping sejarah karena Wiro pernah terlibat di dalamnya. Kisah-kisah seperti Wiro juga menanamkan pentingnya mengenali tradisi hingga multi-kulturalisme. Melalui kisah ini, saya paham bahwa Indonesia adalah mozaik yang terdiri atas banyak budaya, bahasa, dan adat istiadat.

BACA: Tunas Cinta yang Tumbuh Seusai Bom Surabaya

Di semua budaya terdapat banyak kearifan budaya termasuk para pendekar berhati bijak yang menemukan kesempurnaan hidupnya melalui duel di rimba persilatan. Dalam sikap cengengesan Wiro, juga terdapat banyak kearifan dan filosofi hidup, yang di antaranya adalah sikap solidaritas, kesetiaan pada nilai-nilai ksatria, dan juga keberanian untuk membela mereka yang tertindas.

Saya tak terkejut ketika Wiro Sableng masuk dalam daftar buku-buku terbaik dan menginspirasi yang dimuat dalam Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik 100 Buku yang terbit tahun 2009 dan diedit Muhidin M Dahlan dan Diana AV Sasa. Bagaimanapun juga, ada banyak nilai dan pelajaran dalam Wiro Sableng yang kemudian kuas telah mewarnai kanvas pemikiran satu lapis generasi Indonesia pada satu masa.

Ah, saya tak sabar menyaksikan aksi 212 yang asli. Di suatu negeri yang didera angkara dan murka, aksi 212 diharapkan kembali hadir untuk mengembalikan keseimbangan. Saatnya pendekar 212 datang kembali dan mengembalikan keadilan di rimba persilatan. Di negeri lain, nama 212 seolah identik dengan kelompok tertentu yang memasuki ranah politik dan kebijakan negeri ini. Padahal, pemilik nama 212 yang asli ini adalah sosok petualang lintas wilayah yang setiap harinya bergaul dengan siapa saja, menimba ilmu pada siapa saja, serta membela semua yang tertindas, tanpa berharap dapat kursi kekuasaan.

Ciaattt...!!!

Kisah Diplomat Amerika yang Menggelar Kampanye Anti-Teroris di Indonesia


Stanley Harsha bersama anak-anak Indonesia

BANYAK orang di sekitar kita yang beranggapan bahwa mustahil seorang Muslim melakukan teror bom. Banyak yang meyakini bahwa teror bom itu adalah rekayasa untuk menjatuhkan citra Islam. Bahkan, banyak yang menyebar informasi melalui media sosial kalau pihak yang merekayasa teror itu adalah Amerika Serikat. 

Bagaimanakah jika Anda menjadi seorang warga Amerika Serikat di Indonesia yang berhadapan dengan berbagai isu tersebut? Berikut kita ikuti catatan seorang diplomat di Kedubes Amerika Serikat yang selama bertahun-tahun meyakinkan orang Indonesia bahwa ada sejumlah orang yang memang berpotensi melakukan teror.

***

STANLEY Harsha amat gembira saat bertugas di Indonesia. Bulan Agustus 1986, dia diterima bekerja di Kementerian Luar Negeri, Amerika Serikat. Ketika diminta memilih hendak bertugas di negara mana, lulusan University of Colorado ini memilih Indonesia dengan pertimbangan Indonesia adalah negeri yang eksotik. Siapa sangka, setahun setelah bertugas, dia jatuh cinta pada perempuan Indonesia, kemudian menikah. Dia pun pindah agama menjadi Islam.

Dalam buku berjudul Seperti Bulan dan Matahari: Indonesia dalam Catatan Diplomat Amerika, Stanley menuliskan catatan harian tentang pengalamannya selama berada di Indonesia. Ia bercerita bagaimana dirinya berusaha memahami kebudayaan Jawa demi menikahi seorang perempuan Jawa. Ia juga belajar memahami berbagai simbol budaya serta kebiasaan masyarakat Indonesia. Ia belajar dari berbagai pengalaman, lalu memberikan catatan kritis, sekaligus refleksi atas pengalamannya.

Biarpun Stanley adalah orang Amerika, separuh dirinya sudah menjadi orang Indonesia. Istri, anak, dan mertuanya adalah orang Indonesia. Dia pun telah menjadi seorang Muslim yang taat. Dia bekerja di kantor Kedubes AS di Jakarta pada periode yang cukup berat. Pada masa dirinya bekerja, terjadi peristiwa serangan teroris di Gedung WTC. Presiden AS saat itu George Walker Bush melancarkan perang pada terorisme. Amerika membombardir beberapa lokasi yang diduga sebagai markas para teroris.

Di Indonesia, sentimen anti-Amerika menguat. Banyak tokoh agama yang mengecam Amerika. Stanley terheran-heran karena banyak orang Indonesia yang tidak percaya dengan bukti-bukti yang disodorkan kalau Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden adalah otak dari penyerangan itu. Malah, yang muncul adalah berbagai teori konspirasi kalau pelakunya adalah Amerika sendiri. Tugas Stanley adalah meyakinkan orang Indonesia bahwa peristiwa itu benar adanya, dan tidak mungkin pihak Amerika Serikat membuat konspirasi itu.

Saat Amerika Serikat menyerang markas Al Qaeda di Afganistan, banyak pemimpin ormas Islam menyatakan jihad. Tapi jihad mereka tidak dilakukan di Afganistan, melainkan dengan cara berdemonstrasi di depan Kedubes AS. Dalam situasi ini, Stanley memikirkan banyak solusi untuk meyakinkan banyak orang dengan fakta-fakta yang mereka miliki.

Ia melihat media-media Indonesia sering melakukan provokasi. Ia punya catatan lengkap bagaimana pemberitaan media yang membuat framing seakan-akan perang yang dilancarkan Amerika sebagai perang yang hendak menghancurkan Islam. Gara-gara pemberitaan itu, Kedubes AS menjadi sasaran demonstrasi banyak pihak yang kemudian membakar bendera Amerika. Sering, Stanley tidak bisa keluar kantor sehingga terpaksa bermalam. Kantor Kedubes AS serupa benteng yang dipasangi kawat berduri.

Dalam situasi yang cukup berat itu, pihak Kedubes tetap tenang menghadapinya. Sebagai Atase Pers, Stanley setiap hari mengirimkan berlembar-lebar informasi tentang apa yang dilakukan negaranya kepada media-media di Indonesia. Dia juga menghubungi media untuk melakukan dialog dan menyampaikan sikap Amerika. Tak hanya itu, brosur tentang jaringan teroris juga disebar ke semua media dan tokoh politik agar memahami bahwa terorisme juga bisa mengintai Indonesia kapan saja.

Pada masa itu, Duta Besar AS adalah Ralph L Boyce juga membuka keran dialog dengan semua tokoh Islam. Pernah, kata Stanley, Kedubes AS dikepung pendemo dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Boyce meminta Stanley mengundang masuk pimpinan pendemo lalu berbicara dengan mereka. Setelah dialog, akhirnya semua massa bubar dan kembali ke rumah masing-masing. Boyce meyakinkan semua orang kalau Amerika tidak bermaksud menyerang Islam. Pemerintah AS siap bekerja sama dengan semua pihak demi memberantas terorisme yang bisa menyarang siapa saja.

Stanley melakukan media visiting ke semua media. Bahkan ia juga mendatangi Sabili, majalah yang sering menebar kabar kebencian pada pihak Amerika. Berkat kunjungan itu, tensi pemberitaan ekstrem Sabili menurun, serta memberikan ruang bagi informasi dari pihak Amerika. Bekerja sama dengan sejumlah Muslim moderat, Kedubes AS sering mengirim utusan untuk berdialog dengan pihak pesantren, serta memberikan donasi berupa buku-buku yang diharapkan bisa menjadi jembatan dialog.



Dalam buku ini, saya menemukan betapa rapinya cara kerja pihak kedubes. Mereka rajin mengamati semua wacana, membaca liputan semua koran, membuat analisis media, setelah itu merencanakan berbagai program. Mereka tekun mengadakan riset untuk menghitung sejauh mana persepsi warga Indonesia atas Amerika. Digabungkan dengan analisis media, mereka lalu merumuskan hendak melakukan apa. Di antara program yang dilakukan adalah mengunjungi elite politik, pemimpin, ataupun semua lembaga ormas serta pesantren.

Saat sweeping tengah marak, ia sempat merasa tidak aman sekaligus mengkhawatirkan keluarganya. Ia lalu mengungsikan keluarganya ke Amerika. Sebagai pihak kedubes, ia mesti menjalankan misi untuk menangkis kemarahan masyarakat sekaligus berusaha memastikan semua warga Amerika tetap aman dari tindakan anarkisme. Ia rajin memberikan informasi kepada warga Amerika. Di saat bersamaan, ia juga menggelar beberapa program. Di antaranya adalah kunjungan ke elite-elite politik Indonesia, kunjungan ke semua pemimpin media, serta kunjungan ke semua organisasi ormas.

Tantangan yang dihadapinya adalah (1) bagaimana menjelaskan ke banyak orang Indonesia tentang bahaya terorisme, (2) bagaimana meyakinkan orang-orang bahwa Amerika tak pernah membenci umat Muslim, sebab yang dibenci adalah oknum pelaku kekerasan, (3) bagaimana menjelaskan sikap Amerika yang selalu ingin bersahabat dengan siapa pun. Ia selalu mengacu pada Pew Research yang menyatakan bahwa sebagian besar warga Indonesia tidak percaya dengan wacana terorisme yang selalu diteriakkan Amerika.

Yang saya saluti adalah langkah-langkah yang dilakukan pihak kedubes selalu mengacu pada riset dan pengayaan data. Saya bisa merasakan betapa rapinya kegiatan pengumpulan data, riset lapangan, serta analisis pemberitaan media yang mereka lalukan. Pihak kedubes juga menggelar kampanye diplomasi publik. Mereka membuat satu tim untuk menangani kampanye anti-terorisme. 

Hampir setiap hari mereka mengirimkan hak jawab ke semua media massa, menghubungi tokoh-tokoh masyarakat, lalu menyebarkan brosur ke lebih dari 3.000 pesantren. Meskipun kampanye itu digelar secara simultan, Stanley mengakui bahwa kebanyakan orang Indonesia; (1) tetap menganggap Osama bin Laden tidak bersalah dan bukan ancaman dunia, padahal bukti-bukti kuat telah disampaikan, (2) tetap menganggap bahwa serangan teroris 11 September bukan ancaman bagi dunia, (3) tetap menganggap perang melawan teroris adalah perang melawan Islam.

***

KESADARAN memang membutuhkan proses untuk menggapai kematangannya. Ketika bom meledak di Bali, warga Indonesia baru sadar tentang bahaya nyata terorisme. Ketika bom kembali meledak di Hotel JW Mariott, barulah tokoh-tokoh politik mempercayai tentang ancaman terorisme. Beberapa pemimpin ormas keagamaan mulai berbicara lain ketimbang sebelumnya. Meskipun malu-malu, mereka mulai mengakui ancaman terorisme serta perlunya meningkatkan kewaspadaan sebab bom bisa meledak di mana saja dan mengancam siapa saja. 

Akan tetapi, tetap saja ada anggapan kalau bom di Bali dan Hotel JW Marriott itu adalah settingan Amerika. Padahal, sejak awal peta jaringan teroris sudah disebar. Kesulitannya adalah mayoritas orang Indonesia beranggapan bahwa corak keberagamaan orang Islam di mana-mana sama. Tak banyak yang mau mengakui bahwa ada sejumlah orang Islam yang justru memelihara paham radikal, melihat pemerintah sebagai taghut, dan ingin menggantikan dasar negara menjadi Islam. Harus diakui pula, ada sejumlah orang Muslim yang percaya bahwa perjuangan harus dilakukan dengan cara perjuangan bersenjata.

Kembali, tokoh-tokoh Islam mengeluarkan pernyataan yang isinya adalah kecaman pada Amerika. Hingga akhirnya tertangkapnya Amrozy cs membuat semua pihak sadar bahwa memang ada sejumlah orang di sekitarnya yang berniat melakukan teror dan membunuh orang yang berbeda keyakinan. Barulah mata banyak orang terbuka kalau di sekitar kita ada banyak orang yang berani melakukan teror dan korbannya bisa siapa saja, termasuk keluarga kita.

Stanley mengakui kerja Kedubes AS menjadi lebih berat karena harus membangun jembatan komunikasi dengan sejumlah tokoh Muslim agar memahami beberapa fakta yang sudah ada, dan tidak terjebak pada teori konspirasi. Sering kali kebencian buta menjadi penghalang bagi seseorang untuk melihat cahaya kebenaran. Tak adil juga memusuhi bangsa Amerika dengan hanya berdasar pada satu atau dua keping informasi, yang boleh jadi bahannya hanya kutipan dari satu media yang belum tentu berdasar pada fakta. 

Saya bayangkan, andaikan dia bekerja di Kedubes AS sekarang, pastilah dia akan terkejut melihat banyaknya hoaks dan informasi di media sosial yang isinya kebencian pada Amerika, serta analisis abal-abal yang seolah-olah isinya bersumber dari fakta demi fakta. Stanley akan sulit memahami, aplikasi media sosial buatan Amerika Serikat menjadi lahan subur bagi berkembangnya paham radikal yang sangat berpotensi menjadi teror di masa mendatang.

Bagi saya, buku ini sangat bagus untuk memahami bagaimana orang Amerika memandang Indonesia. Di banyak tempat, ada kekaguman serta hikmah yang bertebaran. Ada juga sikap kritis melihat Indonesia dari sisi orang asing yang datang sebagai diplomat. Melalui berbagai cara pandang itu, kita bisa menyerap banyak pelajaran untuk memperkaya pengetahuan kita tentang tanah air yang kita cintai beserta beragam masyarakatnya.

Seperti halnya judul buku Seperti Bulan dan Matahari, Stanley menilai Indonesia dan Amerika seperti itu. Keduanya sangat berbeda, namun memiliki keindahan. Jika saja keduanya selalu melakukan dialog dan kolaborasi, maka keindahan itu bisa sama-sama dirasakan. Semoga.


Tunas CINTA yang Tumbuh Seusai Bom Surabaya




ALAM semesta tak pernah berhenti memberikan banyak pelajaran untuk kita. Hari ini gunung bisa meletus dan membuat segala hal di sekitarnya berserakan dan mati. Tapi esok setelah letusan itu, dunia seakan telah didaur ulang. Udara menjadi lebih jernih, tanah-tanah lebih gembur, dan tunas-tunas baru tumbuhan muncul di mana-mana.

Peristiwa bom di Surabaya juga menunjukkan pelajaran serupa. Betapa kuatnya ikatan solidaritas warga, betapa hebatnya ketangguhan orang Surabaya dalam menghadapi setiap ancaman. Dan betapa banyaknya pelajaran cinta yang bisa dipetik dari peristiwa bom yang niatnya untuk menebar ketakutan itu.

Di Surabaya, kita melihat cinta yang bertebaran dan tumbuh di mana-mana.

*** 

DUARRR!!!! Bom itu meledak di Gereja SMTB Santa Maria Tidak Bercela di Ngagel, Surabaya. Potongan tubuh terlempar ke mana-mana. Teroris itu datang dengan menumpang sepeda motor, yang lajunya dihambat oleh seorang petugas keamanan di gereja itu. Tubuh petugas keamanan itu berhamburan bersama teroris. Jika saja tak ada petugas itu, ratusan orang di dalam gereja akan menjadi korban. “Untung ada Bayu,” kata seorang jemaat.

Hari itu, semua orang di gereja itu menyebut nama Aloysius Bayu Rendra Wardhana, atau kerap dipanggil Bayu. Dalam waktu sepersekian detik, Bayu melompat dan berlari demi menghadang motor yang memasuki gereja. Niatnya tak sekadar memberitahu di mana lokasi parkir, tapi ia bisa merasakan ada sesuatu yang salah ketika pengendara terus melaju ke depan gereja.

Lelaki yang baru saja memiliki bayi itu menjalankan tugasnya dengan amat baik. Dia memilih menjadi martir demi menyelamatkan banyak orang. Kematiannya tak hanya ditangisi istri bersama bayi kecilnya, tapi juga ditangisi banyak orang yang kesemuanya berterimakasih kepadanya. Dia memilih untuk melepaskan selembar nyawanya yang sangat berharga demi keselamatan banyak orang.

Bayu dan teroris itu sama-sama tewas. Tubuh mereka sama-sama terburai. Teroris itu mengorbankan diri demi menyampaikan pesan. Teroris itu meninggalkan dunia dengan harapan agar banyak orang ikut tewas bersamanya. Baginya, tidak penting siapa pun yang tewas, sebab dirinya hendak menyampaikan pesan politik kepada pihak berkuasa. Dia ingin menebar teror. 

Tapi Bayu berbeda. Dia rela tewas demi menyelamatkan banyak kehidupan. Bayu adalah seorang yang sangat mencintai kehidupan, dan ikhlas menyelamatkan mereka yang hidup. Istri dan bayinya memang akan kehilangan Bayu. Tapi seumur hidup istri dan bayinya akan bersemi kisah-kisah heroik seorang ayah yang rela bertarung demi kehidupan. Sepanjang hidup mereka, akan dibanjiri sungai apresiasi dan kebajikan dari banyak orang. Bayu adalah pahlawan yang akan selalu menjadi monumen di hati banyak orang Surabaya.

BACA: Yang Tersisa Seusai Bom Surabaya

Beberapa jam setelah Bayu tewas, kisah kepahlawanannya menyebar bersama angin. Orang-orang mulai tergugah dan menyatakan simpati. Semuanya menyatakan kecaman pada teroris. Di balik kecaman itu, terselip pernyataan cinta kepada mereka yang menjalani kehidupan. Pimpinan organisasi massa dari berbagai agama menatakan sikap. NU dan Muhammadiyah mengutuk pelaku pemboman. 

Kemanusiaan memang tak akan pernah dibatasi oleh sekat-sekat apa pun. Orang-orang melihat bahwa korban dari peristiwa itu adalah manusia-manusia yang niatnya datang untuk beribadah. Apa pun agama dan keyakinannya, setiap orang berhak untuk hidup dan dilindungi. Bahkan terhadap seseorang yang bersalah sekalipun, hak hidupnya harus dijaga dan dilindungi.

Beberapa abad setelah peristiwa peperangan antar agama pernah meluluhlantakkan umat manusia, masih saja ada banyak orang yang membawa permusuhan sebagaimana abad silam. Masih saja ada banyak orang yang beranggapan bahwa bumi adalah ladang perang untuk menyebarkan keyakinan. Masih saja ada orang yang merasa khawatir dan takut akan dizalimi sebagaimana abad-abad silam. 

Padahal dunia terus bergerak maju. Selain kisah peperangan, dunia menyimpan banyak catatan tentang perdamaian. Selain kisah-kisah dalam berbagai manuskrip dan kitab, sejarah mencatat banyaknya orang-orang yang rela menjadi martir untuk perdamaian. Dunia amat indah ketika orang-orang tiba pada ikrar untuk berpegangan tangan demi menatap masa depan yang penuh bahagia.

*** 

KISAH lain yang menggetarkan di Surabaya adalah seusai bom, ratusan orang berbondong-bondong mendatangi kantor Palang Merah Indonesia (PMI) untuk mendonorkan darah. Ratusan orang ini datang beramai-ramai untuk mendonorkan darah dengan harapan bisa membantu korban peristiwa bom.



Mulai dari birokrat hingga driver online semuanya datang untuk menyumbangkan darahnya. Seusai mendonorkan darah, seorang bapak yang bekerja sebagai driver online berkata, “Saya ingin menyelamatkan manusia lain yang jadi korban bom. Saya ingin berbuat banyak hal, tapi ini yang bisa saya lakukan saat ini,” katanya.

Bapak itu tidak pernah mempersoalkan latar belakang agama korban yang hendak dibantunya. Dia tahu bahwa korban yang berjatuhan itu adalah jemaat gereja dan petugas keamanan. Tapi kesadaran akan kemanusiaan itu jauh lebih berharga dari apa pun. Dengan menyumbang darah, dia berharap ada banyak orang terselamatkan. Ada kehidupan yang tetap dipertahankan.

Seorang lelaki lain bernama Teguh juga mengajak banyak orang untuk mendonorkan darah. Teguh tak pernah mendonorkan darah seumur hidupnya. Tapi mendengar banyak orang mendonorkan darah untuk korban bom, ia lalu tergerak hatinya. Ia pun datang dan ikut membantu. “Setetes darah saya akan sangat berharga untuk orang lain.” Teguh mengajarkan betapa pentingnya membantu sesama.

Surabaya memang menyimpan banyak kisah heroik. Dahulu, kota ini menorehkan jejak ketika banyak orang banyak berjibaku dan bertarung dengan penjajah yang hendak kembali bercokol. Semangat hebat untuk mempertahankan wilayah itu menyebabkan ribuan orang tewas dalam satu semangat yang terus diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Di Surabaya, peristiwa bom itu kian menguatkan solidaritas warga. Tak hanya berbagi postingan tentang kecaman pada terorisme, semua orang berbagi semangat untuk tidak takut pada apa pun aksi teror.  Semua orang menyalakan semangat nasionalismenya dan menyatakan perang pada segala hal yang mengancam nurani kemanusiaan semuanya. Sebab teror bisa datang kapan saja dan di mana saja. Teror juga bisa mengancam diri kita dan seluruh keluarga sehingga harus dilawan sekarang juga.

Di Surabaya, kita menyaksikan semangat kepahlawanan. Semangat itu terus terpatri di dada orang Surabaya. Ketika banyak orang memikirkan orang lain, maka itu pertanda bumi ini akan tidak pernah kekurangan orang baik. Ada pesan kuat menghentak: "Kita boleh beda dalam keyakinan, tapi dalam kemanusiaan, kita adalah saudara sekandung."

Ketika banyak orang yang berbagi untuk sesamanya, kita menyaksikan satu proses transformasi sedang berlangsung. Alam bisa saja mengalami badai, tapi setelah itu tunas-tunas tanaman akan tumbuh dan menghijau. Sebuah ledakan bisa dipandang sebagai representasi benci dan angkara yang tak akan selamanya abadi. Di atas puing-puing kebencian itu, nilai-nilai seperti solidaritas, kebaikan, dan keteladanan akan tumbuh di mana-mana. 

Semuanya berakar pada rasa cinta yang berkecambah, kemudian mengeluarkan akar, lalu menumbuhkan batang hingga daun-daun. Kelak, bunga cinta akan bermekaran dan menebar keindahan dan wangi yang menyemarakkan peradaban.



Yang Tersisa Seusai Bom Surabaya




SEBUAH bom kembali meledak. Di tiga gereja yang terletak di Surabaya, bom itu menyisakan kengerian. Di media sosial, beberapa orang menyebar tayangan tentang reruntuhan, serta cabikan tubuh. Polisi menyebut bom itu sebagai bom bunuh diri. Dalam hati, ada selarik tanya, apakah diri menjadi tak begitu berharga sehingga dikorbankan untuk menyampaikan pesan?

Satu media besar mengisahkan seorang anak muda yang berlari ke gereja itu demi menyelamatkan ibunya. Dia menerima pesan ibunya melalui WhatsApp. Dia berlari sekencang yang bisa diakukannya demi sesegera mungkin tiba di gereja. Ibunya seorang jemaat gereja yang taat. Anak muda itu mulai membayangkan horor yang terjadi pada ibunya.

Sebuah bom tak saja meninggalkan jejak fisik berupa reruntuhan bangunan dan puing-puing. Sebuah bom juga menyisakan trauma yang dalam. Terasa seperti belati yang menghujam ke dalam diri. Seumur hidup orang akan membawa trauma itu ke mana-mana, menjadi mimpi buruk yang menakutkan, menjadi lapis-lapis kengerian kala dikenang.

Anak muda itu melihat halaman depan gereja yang berantakan. Ia seolah melihat jejak-jejak pertempuran. Bom itu membuat semuanya menjadi puing. Dia melihat banyak tubuh terluka. Ia melihat polisi dan masyarakat biasa jadi korban. Seorang anak bersimbah darah saat dibopong demi mencari pertolongan. Di mana-mana ada suara panik dan ketakutan. Ia melihat darah membanjir di banyak titik. 

Dengan suara bergetar, ia memanggil-manggil ibunya. Beruntung, ia menemukan ibunya dalam keadaan selamat. Tapi tangis dan wajah kengerian tampak jelas di wajah sang ibu. Mungkin saja ibu itu akan berkisah dari awal sampai akhir. Mulai dari kedatangannya untuk berdoa dan memuliakan Tuhan, dan setelah itu bunyi ledakan menggetarkan semuanya. “Mengapa kami yang sedang beribadah harus menjadi korban? Apa salah kami? Apakah Tuhan akan bahagia ketika ada manusia lain yang dilenyapkan?”

Ibu dan anak muda itu mungkin tak paham. Bahwa dia yang melempar bom itu juga datang karena merasa sedang mendengarkan perintah langit. Mungkin saja pelaku telah lama memendam benci dan hendak melakukan sesuatu. Dia lupa bahwa pihak yang menjadi sasarannya adalah manusia biasa sebagaimana dirinya yang juga punya keluarga, punya ibu, punya anak, dan juga punya kehidupan.

Dia yang membom itu ibarat sosok Silas dalam novel Da Vinci Code karya Dan Brown, yang menjalankan perintah untuk menebar teror. Silas melaksanakan pesan itu dengan kesadaran penuh kalau dirinya sedang menjalankan perintah Tuhan, meskipun itu adalah teror. Dia merasa sedang menegakkan kebenaran.

Mungkin pelempar bom hendak berkata kamu layak menerima amarahku. Mungkin dia hendak berteriak ketika kamu berbeda, maka kamu telah mengancam diriku. Maka sesatlah kamu dan bakal menerima nasib para umat yang pernah diperangi dan ditimpakan azab. Mungkin saja dia membaca kitab dan menemukan catatan tentang para umat yang ditenggelamkan ke dasar bumi, diberi azab berupa banjir besar atau api yang turun dari langit. Dia ingin mengambil peran Tuhan, menebar azab ke mereka yang berbeda.

Pembom itu melihat banyak musuh di gereja yang harus segera dilenyapkan. Dia ingin berbuat sesuatu demi menggapai nirwana. Dia ingin mempersembahkan satu lembar nyawanya demi kehidupan abadi yang bahagia, sebagaimana telah dijanjikan bagi martir sepertinya. Pelempar bom itu hendak berkata, aku benar dan kamu bukan. Ketika kamu kafir dan sesat, kamu tidak berhak atas cinta kasihku. Kamu tak berhak atas keadilanku. Kamu tak berhak menerima rahmat atas seru sekalian alam, serta kedamaian yang terpancar dari hati.

***

INDONESIA di abad ke-21 adalah Indonesia yang penuh dengan pertarungan memperebutkan kebenaran. Demi kebenaran, seseorang bisa saja menyingkirkan pihak lain yang dianggapnya sesat. Demi kebenaran, seseorang bersedia menjadi martir untuk menebar teror dan menyingkirkan manusia lainnya. Kebenaran itu jauh lebih penting dari nyawa manusia dan kedamaian. 

Hari ini, Indonesia diremuk bom. Beberapa hari lalu, sejumlah orang menewaskan bhayangkara muda yang tengah bertugas. Besok, entah kengerian apa lagi yang akan tercatat dalam sanubari bangsa kita sebagai bangsa yang cinta damai. Sepertinya, teror mulai menjadi kosa kata yang setiap saat menghantui kita sebagai anak bangsa.


Sungguh menyedihkan melihat anak-anak muda Indonesia melakukan teror demi sesuatu yang dianggapnya benar. Kalimat: “Gapailah surgamu, tapi biarkanlah orang lain hidup damai dan menggapai surga masing-masing” tak berlaku lagi. Yang ada, ketika surgaku tak sama denganmu, maka aku berhak membawamu sama-sama ke langit.

Yang juga menyedihkan, belum usai proses evakuasi korban, belum kering air mata para korban, tiba-tiba saja ada sejumlah manusia tengik yang sibuk mengeluarkan analisis tentang teori konspirasi dari negara untuk menyudutkan kelompok tertentu. Sejumlah orang kehilangan nurani kemanusiaan dalam melihat peristiwa itu, dan mengedepankan informasi yang dianggapnya benar.

Padahal, di luar semua apa yang dianggap benar, semua korban adalah manusia biasa. Mereka adalah tubuh yang sama-sama mengalir darah dan jiwa. Kita satu spesies dengan mereka. Tatkala mereka menjadi korban dari satu kengerian, seyogyanya kita pun merasakan hal yang sama. Kita pun mestinya merasa satu tubuh dan satu jiwa, sebab berada di bumi yang sama, menghirup udara yang sama. Harusnya kita berada dalam satu gelombang rasa sedih yang sama ketika membayangkan keluarga kita menjadi korban.

Entah kenapa, kita lebih suka berdebat ketimbang mendengarkan suara hati orang lain. Nalar kita dikerek tinggi-tinggi, tapi kita lupa mendengarkan suara hati kita sebagai manusia yang melihat sesama kita. Setiap hari kita suka berdebat dan menggugat keyakinan orang lain, namun kita lupa apakah kita telah menjadi sosok welas asih yang diajarkan dalam keyakinan kita sendiri. Kita menerima keyakinan sebagai setumpuk ajaran dan perintah, tanpa meresapinya hingga sumsum dalam diri.

Ketimbang sibuk mendebat seberapa benar tindakan teroris itu, lebih baik kita melihat sesama manusia yang tengah berada dalam derita. Lebih baik kita melihat semua orang sebagai manusia biasa yang sama-sama hendak hidup damai. Marilah bersama kita mengecam siapa pun yang mendukung aksi teror itu dan mengabaikan nurani kemanusiaannya sendiri. Saatnya bersatu dan menunjukkan kita adalah manusia yang peduli pada siapa pun di sekitar kita.

Karena kita adalah manusia yang juga punya darah dan daging sebagaimana korban-korban itu. Karena kita adalah sesama penghuni bumi yang peduli pada sesama, apa pun agama dan keyakinannya. Karena kita adalah manusia Indonesia yang ingin hidup damai, jauh dari permusuhan.

Atau jangan-jangan kita menjadi sedemikian religius sehingga melihat yang lain dengan cara berbeda. Ataukah kita sudah merasa sedemikian saleh sehingga apa pun yang berbeda dengan kita harus dipaksa tunduk menjadi serupa dengan kita.

Ah, saya tiba-tiba saja terkenang John Lennon yang bersenandung, “Imagine, there’s no heaven. Imagine there’s no country, there’s no religion too.” Jika saja tak ada kehidupan serba indah langit, barangkali manusia tak akan menjalankan misi-misi untuk menggapai kehidupan yang lebih sempurna. Jika saja tak ada kehidupan setelah mati, mungkin orang-orang akan melihat hidup sebagai sesuatu yang dijaga sepenuh hati.

Di Surabaya, kita menyaksikan teror. Kita melihat satu sketsa kehidupan tentang perebutan untuk menjadi pihak paling benar. Kita menyaksikan dengan mata basah. Kita menguatkan hati untuk tetap kuat dan tidak takut apa pun. Saatnya menyatakan sikap berani dengan tinju yang mengarah ke angkasa. Kita tak takut teror sebab kita mencintai semua apa pun yang ada di sekitar kita. 

Di Surabaya, kita tak pernah diam. Kita mencatat peristiwa ini dengan tinta terang agar menjadi alarm bagi kita untuk masa depan. Kelak kita akan wariskan Indonesia yang damai, bersahabat, dan menjadi surga bagi siapa pun yang mendiaminya. Ya, selain menggapai surga di hari esok, kita pun punya tanggung jawab sejarah untuk menghadirkan surga itu di hari ini, di kehidupan yang fana ini.



Sosok Penting di Balik Melejitnya Tribunnews



Dahlan Dahi, sosok di balik Tribunnews.com


DUA pekan silam, Tribunnews.com menjadi situs nomor dua paling sering dikunjungi di Indonesia setelah Google.com menurut versi Alexa Rank. Bahkan Tribunnews mengalahkan situs mapan seperti media sosial Facebook. Di grup Kompas, Tribunnews pernah dilihat sebagai anak bawang yang dipandang sebelah mata. Kini, media itu adalah situs berita nomor satu di Indonesia, yang malah jauh meninggalkan Kompas.

Di balik melejitnya Tribunnews, ada satu sosok hebat yang selama ini menjadi aktor intelektual dan inspirasi bagi media ini. Dia adalah Dahlan Dahi, sosok yang tadinya hanya mengepalai koran daerah di Makassar, kini menjadi sosok paling penting dalam transformasi media di era disrupsi. Dahlan adalah sosok bertangan dingin yang bisa mengubah Tribun, dari media yang dipandang remeh, menjadi pemimpin pasar semua media di Indonesia.

*** 

SEPTEMBER 2003, saya datang ke showroom mobil Mercy di Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar. Saya mengikuti wawancara kerja sebagai jurnalis di koran daerah di bawah bendera Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Hari itu, berita tentang koran baru ini sudah santer terdengar di seluruh penjuru Makassar.

Saya diwawancarai dua orang pria. Satu sudah berusia sekitar 50-an tahun, satunya lagi masih terbilang muda, mungkin sekitar 30-an tahun. Tak lama setelah wawancara, saya diterima sebagai jurnalis. Belakangan saya tahu kalau dua orang pewawancara itu adalah Uki M Kurdi (sering dipanggil Pak Uki), yang menjadi pemimpin redaksi, satunya lagi adalah Dahlan Dahi yang menempati posisi redaktur pelaksana. Media itu dinamakan Tribun Timur yang diharapkan bisa menjangkau banyak kota di kawasan timur Indonesia.

Saya pun akhirnya tahu kalau Dahlan berasal dari Wakatobi yang pada masa itu masih dalam wilayah Kabupaten Buton. Artinya, saya terbilang sekampung dengannya. Tapi kami membangun hubungan yang profesional. Kami tak pernah bahas kampung. Kami membahas kerja-kerja jurnalistik dengan ukuran yang sama bagi setiap orang. 

Pak Uki dan Dahlan telah lama menjadi partner di bisnis media. Sebelumnya, mereka bekerja di harian Surya yang terbit di Surabaya, di bawah bendera PT Indopersda Prima Media, yang juga di bawah Kompas Gramedia. Selanjutnya, keduanya mengelola tabloid Bangkit pada masa reformasi. Isinya adalah berita-berita politik yang tengah hangat dan sengaja dibuat menghentak. Ketika reformasi usai dan iklim politik mulai stabil, tabloid itu ditutup. 

Karier Dahlan bermula dari Identitas, media mahasiswa Universitas Hasanuddin. Semasa kuliah, ia mulai bekerja di Berita Kota, koran metro yang berpusat di Makassar, kemudian pindah ke harian Surya di Surabaya, lalu TV7, media di bawah jaringan Kompas Gramedia, di Jakarta. Sebagai jurnalis, Dahlan sempat bertugas untuk meliput Perang Teluk di Irak dan Kuwait. Dia mencapai mahkota yang didambakan para jurnalis yakni menjadi jurnalis perang. Pengalamannya meliput di bawah desingan peluru dan keharusan mengirimkan berita dalam waktu cepat di era ketika teknologi belum seperti sekarang menjadi kisah menarik yang dibagikannya kepada jurnalis muda saat pelatihan di Tribun.

Pelatihan yang difasilitasi Dahlan terbilang ketat. Dia mewajibkan semua calon jurnalis membuat catatan harian. Dia juga memberikan penugasan bagi jurnalis untuk turun lapangan. Setiap hari dia mendiskusikan liputan para jurnalis, memberikan catatan, serta beberapa perbaikan. Dia cukup sabar membimbing semua jurnalis muda. Dia menanamkan konsep-konsep Tribun sebagai media yang marketable dan diharapkan bisa diterima pasar. Dia membangun militansi bahwa kerja seorang jurnalis tak bisa dipandang sebelah mata. Dia mengajarkan independensi dan keberanian dalam memberita.

Bersama Uki M Kurdi, dia menjelaskan konsep-konsep berita yang mikro, people oriented, serta harus menarik mata (eye catching). Semua jurnalis Tribun yang ikut pelatihan menghafal konsep-konsep ini di luar kepala. Pada saat saya mengikuti pelatihan, beberapa pemateri dari Kompas juga dihadirkan. Di antaranya adalah Pepih Nugraha (Kepala Biro Kompas Indonesia Timur) dan Suryopratomo (Pemred Kompas).

Biarpun Tribun adalah anak perusahaan Kompas Gramedia, Pak Uki dan Dahlan tidak bermaksud meniru tampilan Kompas. Mereka paham bahwa media mesti punya positioning sendiri. Pembaca Tribun bukanlah pembaca Kompas yang pendidikannya tinggi. Tribun menyasar rakyat kebanyakan dan generasi X sehingga tampilannya pun dibuat lebih remaja, serta menarik untuk dipandang. 

Isu-isu yang diangkat pun harus isu yang lagi hangat, namun dikemas dalam format edutainment, pesan-pesan edukasi disampaikan dengan cara menghibur (entertain). Pada masa awal, Tribun didesain untuk masyarakat kota. Liputannya adalah isu-isu kota, termasuk lifestyle, leisure, wisata, hingga trend terbaru. Tribun mengurangi porsi kriminal, yang masa itu adalah jualan utama semua media. Bahkan Dahlan melarang kriminal tampil di halaman satu. Alasannya, warga kota butuh inspirasi. “Kalau warga kota lihat gambar korban dan darah di pagi hari, maka dia bisa kehilangan semangat untuk bekerja,” katanya. Iya sih. Dia benar.

Dari sisi konsep, Tribun cukup matang. Kritikan disampaikan dalam bahasa santun yang tidak provokatif, dalam kemasan menghibur. Jika ingin mengkritisi pejabat yang mewah, tak perlu langsung tunjuk hidung. Cukup beritakan mobilnya yang mewah, rumah besar, dan barang-barang mahal yang dikoleksi. 

Konsep lain yang dikembangkan adalah memahami kebutuhan masyarakat atas informasi. Kata Dahlan, ada tiga hal yang dibutuhkan masyarakat terkait informasi. Pertama, intellectual benefit. Orang ingin bertambah pengetahuannya ketika membaca media. Kedua, emotional benefit. Semua orang ingin mendapatkan aspek afektif mengenai wilayah yang didiaminya. Makanya media harus bisa menangkap nuansa emosi ini. Ketiga, practical benefit. Media harus memiliki manfaat yang sifatnya praktis bagi masyarakat. Media harus bisa mengedukasi masyarakat untuk memahami sesuatu dengan lebih jelas. Keempat, spiritual benefit. Semua orang ingin melihat peradaban lebih baik, visi yang lebih mendalam, dan ekosistem yang positif dan penuh spritualitas.

Salah satu pemateri yang berkesan buat saya adalah Valens Doy, mantan jurnalis Kompas yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Valens menjelaskan karakter dasar dalam pemberitaan Tribun,  yang dikembangkan berdasarkan tiga aspek penting yakni (1) merangkum apa yang terjadi (what happened), (2) merekam makna dan membaginya kepada publik (what does it means), dan (3) memberikan informasi pada publik apa yang harus dilakukan (what should I do).

Kata Valens, jantung dari proses jurnalisme Tribun senantiasa menekankan pada makna. Sebuah pemberitaan dianggap berhasil menyentuh sasaran ketika terjadi resultan dua aspek yakni publik memahami makna dari setiap kejadian, dan publik paham apa yang harus dilakukan sebagai warga. Pada titik ini, Tribun senantiasa didorong untuk menemukan butir-butir makna di balik setiap kejadian, memberikan pencerahan kepada warga agar mereka bisa melihat persoalan dengan lebih terang, serta menggugah kesadaran publik untuk melakukan sesuatu.

Konsep-konsep ini ditanamkan ke benak semua calon jurnalis dan juga para redaktur. Jelang koran terbit, dia meminta saya menjadi litbang yang men-support koran dengan data dan fakta. Saya pun diberi akses ke Pusat Informasi Kompas yang memiliki koleksi semua arsip liputan sejak tahun 1960-an.

Hingga akhirnya koran itu pun terbit. Di situlah saya menyaksikan betapa sibuknya Dahlan setiap hari. Dia memegang tiga posisi sekaligus. Selain sebagai redaktur pelaksana, dia juga menjadi koordinator liputan yang menentukan topik-topik yang hendak ditulis, serta manajer produksi yang bertugas mengawal proses produksi berita hingga proses cetak.

Di mata saya, Dahlan bukan tipe seorang bos yang suka perintah-perintah, lalu duduk diam. Dia ikut bekerja keras bersama anak buahnya. Dia selalu tiba di kantor lebih awal dari semua redaktur. Dia pun yang paling larut meninggalkan kantor. Dia mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus. Dia tipe multi-tasking yang cepat belajar. 

Bisa Anda bayangkan, dia mengorganisir liputan, ikut mengedit berita halaman satu, kemudian memantau kerja layouter. Dia pun ikut memeriksa semua halaman hasil layout yang diserahkan redaktur. Pada dirinya saya melihat kerja keras yang begitu tinggi.

Tak berhenti di situ, dia pun ikut mengawasi proses cetak. Dalam beberapa situasi, dia pernah memerintahkan mesin cetak berhenti beroperasi hanya karena mendapat informasi yang lebih gres untuk tampil di halaman satu. Koran dirombak. Prosesnya kembali mulai dari awal. Dia melakukannya tanpa mengeluh.

Saya sering bertanya-tanya, nih orang kok selalu sehat dan kuat? Pada masa itu, saya beberapa kali pura-pura sakit dan bolos liputan. Dia tak pernah melakukannya. Setiap saat ada di kantor dan memantau liputan. Energinya yang berlipat-lipat itu tak pernah hilang dalam benak saya kala mengingat sosoknya.

***

KELIRU jika hanya melihatnya sebagai sosok pekerja keras. Di dunia media, sekadar bekerja bisa membuat seseorang jadi hebat. Tapi seseorang akan jauh lebih hebat jika bisa menjadi pribadi pembelajar yang terus mengevaluasi semua capaian. Dahlan adalah tipe pembelajar yang terus mengasah dirinya. Tadinya saya agak under-estimate karena pendidikan S1-nya di Ilmu Politik Unhas tak kelar. Ternyata dia tipe yang selalu berkembang. Dia belajar jauh lebih banyak dari mereka yang di kampus.

Tahun 2004, buku Dan Gilmore berjudul We the Media diluncurkan. Buku itu sudah memprediksi bahwa dunia akan tiba di era di mana warga biasa menjadi pewarta. Makanya, tema-tema citizen journalism akan berkembang pesat. Banyak pekerja media yang melihat konsep ini sebagai musuh dari kerja jurnalis konvensional.

Dahlan Dahi saat meniup kue ultah Tribunnews, disaksikan Herman Darmo, Director Group of Regional Newspaper Kompas Gramedia

Uniknya, Dahlan justru menyerap semangat yang dijelaskan Dan Gilmore itu dan membawanya ke Tribun. Saat musim haji, Tribun meminta warga biasa untuk melaporkan keadaan di Arab, kemudian memajang laporan itu beserta foto warga di koran. Kata Dahlan, dengan cara demikian, semua pihak akan untung. Tribun tak perlu memberangkatkan reporter untuk meliput sehingga hemat ongkos. 

Sementara bagi warga, mereka justru melakukannya dengan senang hati. Dengan memberi laporan keadaan di sana, keluarganya akan tahu keadaannya baik-baik saja. Benar-benar simbiosis mutualisme.

Dahlan pun menerapkan konsep citizen journalist itu dalam liputan Tribun. Makanya, di halaman-halaman koran, kita akan sering menemukan warga biasa memberikan laporan. Pada saat itu, banyak media mainstream yang masih saja memelihara pagar api antara liputan jurnalis dan warga biasa. Seolah, liputan jurnalis selalu lebih baik dan lebih profesional dan satu-satunya yang pantas tampil di media. Dahlan mengubah pandangan itu. Di Tribun, seorang warga biasa bisa memberikan reportase yang setara dengan kerja jurnalistik.

Jika dilihat dari sisi marketing, langkah itu terbilang strategis. Sebab media memang harus mendekatkan diri dengan khalayaknya. Media harus memberikan ruang kepada warga untuk berbicara. Kini, berbagai media malah membangun semacam skema user generated content, di mana warga biasa bisa ikut meramaikan ekosistem jurnalistik. Media-media besar d luar negeri mulai menerapkan skema ini. Ruang bagi publik dibuka luas sehingga media tidak eksklusif. Semua orang bisa meramaikannya sepanjang gagasan itu sesuai dengan visi media.

Dalam liputan sehari-hari, konten lokal dikuatkan. Dahlan pandai benar mengelola emotional benefit untuk pasar pembaca. Dalam liputan politik misalnya. Porsi tokoh-tokoh lokal Sulsel diberikan lebih besar. Tak ada netralitas. Tribun memihak tokoh-tokoh lokal di pentas Jakarta. Nama-nama seperti Jusuf Kalla sering tampil sebab dirinya adalah bagian dari kekuatan emosional masyarakat.

Dalam hal olahraga, porsi PSM diberikan lebih besar sebab masyarakat Makassar memang suka sepakbola dan menjadikan klub itu sebagai kebanggaan. Tribun tampil estetis. Tampak cantik dengan kekuatan lokal. Tribun memberikan porsi besar bagi warga Makassar yang cantik-cantik untuk menjadi narasumber. Fotonya sering tampil di media itu dan mengabaikan model Jakarta. Ini adalah strategi brilian sebab model lokal adalah pasar dan pembaca. Mereka akan bangga tampil di media. Keluarganya akan mencari media itu. Bahkan dirinya semakin dikenal.

*** 

SETELAH dua tahun menjadi jurnalis, saya memilih keluar dan menekuni profesi lain. Dahlan diberi amanah yang jauh lebih besar. Ia tak lagi cuma mengurusi Tribun Timur, tapi juga ikut membidani lahirnya Tribun lain di banyak daerah. Di semua daerah itu, dia menjadi sosok penting yang meletakkan landasan kuat.

Ketika era digital semakin merambah dan perlahan menenggelamkan media cetak, Dahlan tak ikut meratap sebagaimana jurnalis senior lain. Dia tak ingin beromantisir dan membanggakan era cetak. Dia lalu menyiapkan Tribunnews sebagai kanal yang menjadi induk dari semua koran-koran daerah di lingkup Kompas Gramedia.

Yus, seorang web developer yang pernah bekerja bersama Dahlan, bercerita awal-awal membangun Tribunnews. Dahlan setiap hari akan mendatanginya di kantor untuk membenahi konsep perwajahan media. “Saya sering kewalahan untuk memenuhi keinginannya. Setiap hari dia akan datang dan mendiskusikan bagaimana konsep media itu,” katanya.

Teman lain, Hasanuddin Aco, juga bercerita hal yang sama. Dia menjelaskan bagaimana Dahlan bisa membaca trend dunia digital dan menerapkannya pada media online yang tengah dibangunnya. Semua jurnalis dituntutnya untuk selalu mengecek apa saja trending topic dan bagaimana mengemas berita dengan tepat sehingga disukai publik. Jurnalis dituntut untuk terus berkembang dan terus belajar.

Posisi Tribunnews adalah nomor dua di Alexa Rank

Kelebihan Tribun adalah selalu memberikan ruang besar bagi inovasi baru dan kreasi secara terus-menerus. Dikarenakan media ini tengah mencari bentuk, banyak hal yang bisa dikembangkan. Inovasi adalah kata kunci untuk mengembangkan media di era yang disebut “jaman now” ini.

Saya melihat beberapa kekuatan Tribunnews. 

Pertama, berita-berita dibuat marketable dengan judul-judul yang clickbait. Terlepas dari kritik bahwa clickbait itu tidak mencerdaskan, Tribun bisa melakukan inovasi sehingga orang akan selalu mengklik di medianya. Dalam dunia jurnalisme online, tolok ukur satu berita diterima publik adalah seberapa banyak jumlah klik. Di titik ini, Tribunnews pandai membuat orang penasaran untuk kemudian mengklik dan membaca media itu. Ditambah lagi, berita kadang dipecah menjadi tiga atau empat bagian sehingga lama orang berselancar di media ini juga semakin lama.

Kedua, terlihat benar kalau media ini selalu rajin memantau trending topic di semua media sosial. Terlihat benar kalau semua lini media ini rajin memantau apa yang tengah hangat di berbagai media sosial. Pantauan Google Trend menjadi semacam kompas ke mana desain liputan diarahkan. Ketika ada isu menarik, dengan cepat jurnalis menuliskannya dan segera tayang. Saya melihat format penulisan berita juga tidak kaku. Formatnya lebih fleksibel dan tidak harus mengikuti kaidah-kaidah jurnalis dasar. 

Ketiga, Tribunnews tak terlalu mempersoalkan magnitude atau seberapa tokoh seseorang untuk menjadi narasumber. Bahkan komentar seorang netizen pun dianggap setara dengan komentar seorang politisi hebat. Tak cuma itu, kemampuan mengemas sisi-sisi lain dari setiap peristiwa juga menjadi kekuatan yang tak bisa serta-merta ditiru oleh media lain.

Saya melihat ini dipengaruhi oleh jam terbang pengelolanya ketika menggarap media-media daerah. Sebab mengelola media daerah jauh lebih sulit dibanding mengelola media nasional. Anda mesti meyakinkan orang-orang di daerah bahwa media ini punya banyak informasi yang dibutuhkan dan dicari oleh orang lain. Anda tak bisa sepede media nasional yang datang menawarkan info-info politisi dan artis Jakarta. Di daerah, Anda mesti bisa meyakinkan masyarakat bahwa media Anda punya banyak hal yang dibutuhkan.

Keempat, Tribunnews bisa memaksimalkan keberadaan media-media daerahnya dengan baik. Berita dari seorang jurnalis yang bekerja di koran Serambi Indonesia di Aceh bisa pula tayang di Tribunnews, selain di medianya. Demikian pula jurnalis di jaringan Tribun yang berada di Yogya, Kupang, Makassar, Manado, Medan, Pontianak, ataupun Banjarmasin. Semuanya berada pada posisi yang sejajar dalam hal memberikan reportase kepada Tribunnews dan medianya sendiri.

Memang, bukan grup Tribun yang menguasai daerah-daerah, melainkan Jawa Pos. Namun, saya tidak melihat ada upaya serius dari Jawa Pos untuk menguasai lini bisnis online melalui jejaring media-medianya.Penjelasannya sederhana. Sebab media cetak terlalu nyaman di lini cetak, dan bisa gagap ketika memasuki bisnis media online.

Kelima, Tribunnews tahu segmen pembaca yang hendak disasar. Beritanya tidak rumit. Beritanya sederhana dan langsung pada sasaran. Ini jelas berbeda dengan berita-berita yang tayang di Kompas. Dengan memahami segmen pembaca yang disasar, Tribun bisa leluasa mengemas informasi yang marketable dan lebih mudah diterima pembaca, ketimbang menyajikan mahakarya jurnalistik yang memenangi penghargaan. 

Dari sisi kualitas, Tribun sama saja dengan media-media mapan lainnya. Standar jurnalistiknya tidak istimewa amat. Tapi kalau kita bicara soal siapa yang lebih disukai pasar, maka Tribun sudah mencapai level dewa yang tahu apa saja informasi yang dikejar pembaca. Tribunnews yang paling memahami pembaca dan bisa mengemas sesuatu yang disukai pembaca.

***

TENTU saja, kekuatan utama dari semua proses ini adalah keberadaan Dahlan sebagai pimpinan di Tribunnews. Kemampuan belajar dan menyerap informasi yang didapatnya dari pengalaman membuka banyak koran daerah memberinya kekuatan dan daya gedor pada media yang ditanganinya. Kemampuannya memahami anak muda “jaman now” dan keberaniannya menyusun media sesuai kebutuhan pembaca adalah awal dari kesuksesannya membawa Tribunnews sebesar sekarang.



Saya membayangkan Dahlan akan laris diburu oleh banyak grup media. Jika saja dia ingin gaji tinggi, maka mungkin saja pemilik grup besar akan memberikannya cek kosong yang bebas diisi berapa pun. Dia tipe dirigen yang bisa memimpin orkestra media dengan baik, mengendalikan tim, dan memotivasi orang untuk mengeluarkan energi terbaiknya. Siapa pun yang bekerja dengannya bisa merasakan semangat bekerjanya yang tinggi, juga visi dan kemampuannya menyerap hal baru.

Saya mendengar dia masih setia bertahan di Tribunnews. Tanggungjawabnya bertambah. Dia dipercaya mengepalai divisi online dari grup media Gramedia. Dia memimpin Grid.id, situs berita entertainment yang lagi marak. Dia pun menangani bolasport.com yang merupakan penggabungan dari Juara.net (kerjasama Kompas.com - Bola) dan superball (yang dikelola tribunnews.com). Dua portal ini juga sukses di tangannya. 

Dahulu, Bola punya nama besar sebagai tabloid. Beberapa nama di dalamnya sangat tenar. Ketika Bola mulai turun pembacanya dan mulai menunjukkan tanda-tanda kolaps, maka itu pertanda media itu dikelola dengan cara lama yang mapan, tanpa melakukan inovasi. Kehadiran Dahlan sangat penting di situ.

Dua bulan lalu, tepatnya bulan Februari, saya bertemu Dahlan di Hotel Clarion, Makassar, saat ulang tahun Tribun Timur. Sempat saya tanyakan rahasia Tribunnews yang dicatat Alexa sebagai situs berita tertinggi. Dia menjawab singkat: "Yusran pasti pernah merasakan bagaimana pengalaman ketika dahulu membawa nama Tribun. Dulu, semua narasumber memandang Tribun sebelah mata. Kita hanya mengekor di balik media-media yang sudah mapan. Tapi sekarang, situasinya sangat terbalik. Justru kita yang ditunggu. Kita yang dicari. Kita sudah berada di depan media-media mapan itu.”

Saya bahagia mendengarnya. Bagaimanapun juga, saya paham bagaimana beratnya membesarkan media di tengah media mapan, di tengah cibiran dari media lain yang merasa tersaingi. Saya tahu bahwa di situ tak hanya butuh konsistensi dan keberanian untuk menjelajahi hal baru, tapi juga ada visi kuat serta kemampuan mengenali apa yang dibutuhkan pembaca dan mengemasnya dengan baik. Lebih penting dari itu, dia bisa mengubah media menjadi kuat, kakinya di mana-mana, serta bisa berpijak kokoh, tanpa harus menggadaikan idealismenya.

Saya membayangkan betapa besar pengaruh Dahlan saat ini. Jika media yang dikelolanya adalah media dengan jangkauan tertinggi di Indonesia, dirinya akan menjadi sosok yang diburu semua politisi, pejabat, bahkan presiden. Dirinya akan dikejar-kejar sebagai partner diskusi yang dianggap paham bagaimana selera publik, serta bagaimana mengemas informasi menjadi begitu viral. Terbukti, saat bertemu dengannya dan saling bercerita kesibukan masing-masing, pembicaraan kami terhenti karena ada menteri dan gubernur yang datang untuk berbincang dengannya. Bayangkan, menteri dan gubernur pun antri untuk ngobrol dengannya.

Biarpun sesaat bertemu dengannya, saya terkenang kata Joseph Pulitzer, seorang mahaguru dalam dunia jurnalisme. Katanya, jurnalisme bukan saja soal idealisme dan bagaimana melayani publik, tapi juga soal bagaimana sirkulasi yang tersebar ke mana-mana, serta soal uang. Sebab uang bisa menjamin kemerdekaan seorang jurnalis. Maksudnya, jika media Anda besar dan laku, maka kesejahteraan Anda terpenuhi, dan Anda punya independensi dari berbagai kepentingan. 

If a newspaper is to be of real service to the public, it must have a big circulation: first, because its news and its comments must reach the largest possible number of people; second, because circulation means advertising, and advertising means money, and money means independence. 

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...

Google+ Badge