Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Squid Game

 


Serial Squid Games yang tayang di Netflix ibarat roller coaster yang bikin kita sesaat menahan napas. Serial ini bisa bikin stop jantung buat mereka yang tak tahan melihat amis darah dan pertandingan hidup mati. Kita serasa menumpang mobil kecepatan tinggi, di mana setiap saat bisa menabrak tebing.

 Serial ini serupa Hunger Games, di mana para remaja saling bunuh dalam satu permainan. Juga mirip Alice in Borderland yang tayang di Netflix dan menampilkan dunia parallel di mana para pemain game menyabung nyawa.

Namun Squid Games seakan menarik semua kengerian sampai pada level maksimal, sembari menyelipkan pesan-pesan moral, ketimpangan sosial, serta mimpi-mimpi sejahtera ala kapitalisme modern.

Settingnya lebih banyak di satu pulau kosong, yang menjadi lokasi dari permainan game penuh tantangan. Di sini, ratusan orang memainkan permainan tradisional khas anak-anak Korea, yang dimainkan secara kolektif.

Hanya saja, di permainan ini, nyawa menjadi taruhannya. Semua orang harus siap bertarung. Di setiap level, satu demi satu pemainnya tewas mengenaskan, hingga menyisahkan satu orang di level akhir.

Mereka yang bermain adalah mereka yang terabaikan dalam realitas sosial. Ada pengangguran yag terjerat utang, perempuan pencopet yang harus bertarung di jalan-jalan demi adiknya, juga seorang magister lulusan sekolah terkemuka tapi dililit utang dan dalam bayang-bayang ekspektasi orang tuanya.

Mereka merasa gagal dalam hidup. Saat ada tawaran bermain game demi mendapatkan hadiah miliaran, mereka siap bertarung nyawa, bahkan harus mengalami dilema antara sisi materialis dengan sisi kemanusiaan dalam dirinya.

Mengikuti serial ini serasa membaca ulang beberapa literatur dalam sosiologi kontemporer. Bagian ketika sejumlah orang kaya merancang permainan ini hanya untuk bersenang-senang mengingatkan saya pada The Planners, yang dalam bukunya sosiolog Manuel Castells, digambarkan sebagai sejumlah orang yang mengendalikan informasi dalam satu network society.

Para Planners merancang alur permainan, mengamati tindakan manusia lainnya melalui algoritma, lalu merancang satu permainan di mana orang-orang serupa pion yang satu demi satu berkelahi dan dikorbankan demi mengejar angan-angan kesejahteraan.

Logika yang sama bisa menggambarkan alur dari kebijakan publik. Kebijakan itu dirancang oleh orang-orang kaya dan pintar yang sasarannya adalah orang miskin. Dari satu ruang kaca, mereka lalu memantau statistik berapa orang yang berhasil keluar dari jerat kemiskinan. Mereka menyaksikan bagaimana kita berjibaku di lapangan kehidupan untuk keluar dari krisis.

Belakangan, saya banyak menyaksikan bagaimana crazy rich bermunculan sembari berkoalisi dengan pemerintah berkuasa. Mereka membahas kebijakan untuk rakyat yang bermuara pada strategi agar kekuasaan tetap di genggaman. Dengan cara itu, mereka tetap kaya dan berpengaruh.

Dunia memang kian renta. Orang kaya bermunculan. Tapi orang miskin tetap saja jauh lebih banyak, yang sialnya, selalu jadi obyek dari berbagai kebijaksanaan. Orang miskin sering jadi kayu bakar sekadar untuk menerangi malamnya orang kaya.

Namun, kisah ini juga menyajikan antithesis. Setelah menang dan kaya, lantas apa? Bukan hanya miskin, kaya pun bisa membawa kita pada kehampaan. Tak ada greget. Tak ada lagi suka cita ala anak kecil bermain. Uang tak selalu jadi solusi, tapi manusia mengejarnya sepenuh hati, hingga siap mengorbankan nyawa manusia lainnya.

Serial ini sesaat membuat kita merenung. Dunia Squid Games adalah dunia kita. Kita adalah bagian dari permainan itu sendiri.


Saat Membaca "The Age of Surveillance Capitalism"

 


Ini jenis buku yang muram. Ini buku mengenai distopia. Isinya mengingatkan saya pada Homo Deus yang ditulis Yuval Noah Harari. The Age of Surveillance Capitalism membahas tentang betapa kita hanya menjadi pion di tengah percaturan perusahaan teknologi informasi.

Sejak pandemi, saya memperhatikan banyak orang di sekitar saya yang menghabiskan waktu selama lebih dari tujuh jam per hari untuk memandangi layar HP. Seorang kawan pemateri di acara Siberkreasi bilang lebih dari tujuh jam.

Selama tujuh jam, kita dalam pengawasan dari berbagai platform milik perusahaan besar. Kapitalisme telah mengawasi semua prilaku kita, lalu perlahan menggiring kita untuk menyukai lalu membeli sesuatu.

Teknologi perlahan mengubah peradaban kita. Dulu, Ketika mesin cetak ditemukan Guttenberg, pengetahuan menjadi mudah tersebar ke mana-mana, yang kemudian menggoyahkan gereja di abad pertengahan. Teknologi mengkalibrasi ulang pemikiran kita, sehingga ilmu pengetahuan lahir sebagai anak kandungnya.

Kini, di era Zuckerberg, kapitalisme hadir dalam bentuk baru. Bukan lagi dalam iklan dan baliho, tapi dalam semua aktivitas yang terpantau di media sosial.

Shoshana Zuboff, professor perempuan di Harvard, memotret femomena ini dengan sangat baik. Dia membahas mutan baru dari kapitalisme yang menggunakan teknologi. Zuboff menyebut mutan baru ini sebagai “kapitalisme pengawasan.”

Kapitalisme ini bekerja dengan menyediakan layanan gratis yang digunakan oleh miliaran orang dengan senang hati, memungkinkan penyedia layanan tersebut untuk memantau perilaku pengguna tersebut dengan detail yang mencengangkan – seringkali tanpa persetujuan eksplisit mereka.

Sekali lagi ini buku yang muram. Manusia tidak lebih dari data yang terus-menerus dianalisis dalam mesin Big Data. Cara berpikir kita digiring mengikuti algoritma.

Saya ingat dalam banyak diskusi yang diadakan Siberkreasi, banyak orang menyebut kecanduan digital yang semakin parah. Zuboff punya jawaban lengkapnya. Saya baru lembaran ke-100. Butuh kesabaran untuk menuntaskan sampai 700-an halaman.

Meski belum tuntas, buku ini sudah serupa hantu yang bikin takut. Saya tiba-tiba saja ingin menghentikan semua aktivitas di internet. Tapi saya belum siap kehilangan rutinitas untuk menyapa orang2 dan saling komen.

Zuboff telah menyalakan banyak cahaya di ruang gelap.


Suatu Hari Bersama para HUMAS

 



Jika saja tak diundang ke Banten, saya tak banyak tahu apa domain kerja para praktisi Humas atau Public Relation sekarang. Selama ini saya hanya melihat akrivitas Humas lebih banyak membuat pres-rilis dan membangun jaringan dengan jurnalis.

Rupanya, itu anggapan yang sudah kuno. Sekarang, semuanya sudah berubah. Sejak gong revolusi 4.0 ditabuh, Humas terus berkembang.

Di kantor Kanwil Kemenkumham Banten, saya melihat perubahan itu. Divisi Humas di sana telah memiliki perangkat Podcast. Mereka juga mengelola akun media sosial, mulai dari Instagram, Youtube, hingga Facebook.

Rupanya, Humas Jaman Now dituntut untuk menjadi kreator konten. Para Humas harus mengelola portal informasi. Mereka harus langsung menyapa publik dan membuat konten yang disukai. Padahal, dulu mereka hanya andalkan para jurnalis.

Saya pikir, ini perubahan yang positif. Di daerah2, anggaran Humas habis hanya untuk para jurnalis. Padahal tidak semua punya media yang jelas. Malah sering jurnalis (atau bisa jadi orang yang mengaku jurnalis) “memeras”instansi, apalagi jika menemukan ada yang keliru.

Bisa Anda bayangkan, betapa banyaknya biaya siluman hanya untuk menjaga aliran informasi ke publik.

Tapi sekarang, lagu lama itu perlahan mulai ditinggalkan. Sekarang, Humas harus lebih aktif. Mereka harus mengelola informasi dan menggunakan kanal media sosial, yang gratisan itu untuk berbagi.

Seorang kawan bercerita betapa rapinya organisasi kerja Kantor Staf Presiden dalam mengelola informasi. Mereka mengelola semua akun informasi terkait Presiden. Mereka sangat aktif menyebarkan aktivitas, serta gagasan-gagasan.

Saya melihat ada trend baru. Dulu, pejabat publik mencari jurnalis untuk memuat informasi. Sekarang, malah para jurnalis sibuk memantau akun media sosial pejabat itu untuk dimuat di medianya. Pernyataan di medsos bisa menjadi “f├»rst hand reality.

Namun, apakah semua Humas siap beradaptasi dengan era baru di mana mereka harus lebih produktif?

Saat di Banten, para Humas memperlihatkan medsos yang mereka kelola. Kesan saya, medsos itu terlalu kaku. Medsos itu dikelola dengan gaya yang terlalu Humas. Informasi yang disajikan lebih banyak tidak penting. Misalnya upacara bendera, pejabat gunting pita, atau acara rapat.

Informasi itu tak bermakna bagi publik. Sebagai warga biasa, saya akan komentar, “Ngapain saya like dan share postingan itu. Gak ada manfaatnya buat saya.”

Namun, saat diskusi, saya menggali banyak hal dari mereka. Rupanya, ada banyak hal pemting yang bisa diolah menjadi konten. Sayangnya, mereka terpaku dengan gaya lama. Pantasan, postingannya kaku dan tidak menarik. Wajar jika tidak dilirik.

Saya pikir, mereka harus banyak belajar bagaimana membuat konten menarik. Jika ingin viral, tentunya ada beberapa jenis konten yang bisa dibuat. Tak harus joged-joged lalu tergelincir karena menginjak kulit pisang. Hal-hal sederhana tapi penuh makna pun bisa jadi viral.

“Tapi apakah etis jika akun pemerintah bikin postingan receh?”seseorang bertanya. Lagi-lagi ini mindset keliru, bahwa postingan itu harus receh.

 


Sebagai penggiat medsos, saya berkali-kali membuktikan kalau konten yang penuh makna, tapi dikemas santai, bisa lebih diterima publik. Pengalaman saya cukup banyak dalam membuat konten yang positif, tapi disukai banyak orang.

Meskipun pelatihan itu singkat, tapi saya menyerap banyak hal. Saya melihat banyak peluang bisnis untuk mengembangkan pelatihan sejenis. Minimal bisa jadi konsultan di berbagai instansi yang ingin perkuat lini Public Relation di era 4.0.

Saya teringat semasa kuliah di Ilmu Komunikasi. Ada dua jurusan yakni Jurnalistik dan Public Relation.

Kami yang lelaki dan merasa suka petualangan, pasti akan ambil jurnalistik. Sementara cowok ganteng, dan juga cewek cantik, biasanya pilih Humas. Beberapa teman mengaku tidak bisa menulis dan ingin ambil profesi yang lebih banyak networking.

Nah, apa respon kawan-kawan itu saat lihat kerja Humas sekarang mau tak mau harus banyak menulis dan membuat konten? Saya sungguh penasaran.


KRISDAYANTI Bukanlah Marhaen yang "Menghitung Hari Detik Demi Detik"

 


Krisdayanti senyum-senyum manja saat ditanya gajinya. Dia seperti kebanyakan orang Indonesia yang malu-malu kucing menyebut berapa penghasilannya sebulan. Setelah didesak, barulah perempuan yang lolos DPR RI melalui partai banteng ini bicara apa adanya. Gajinya selangit. Wow.

Buat Anda yang sedang terlibat banyak cicilan di bank, atau Anda yang sibuk menghindari debt collector, jangan iri dengannya. Bahkan bagi Anda yang malu keluar rumah karena utang menumpuk, terimalah kenyataan ini.  Anda yang masih melakukan ritual “babi ngepet”untuk kumpulkan receh demi receh, jangan cemburu yaa.

Dia merinci pendapatannya. "Setiap tanggal 1 masuk Rp 16 Juta, tanggal 5 Rp 59 juta ya kalau tidak salah," katanya.

Dia juga mengungkapkan perihal dana aspirasi. Anggota Komisi IX DPR itu mengaku menerima dana aspirasi sebesar Rp 450 juta. "Itu memang wajib untuk kita. Namanya juga uang negara. Dana aspirasi itu Rp 450 juta, lima kali dalam setahun," ungkapnya.

Tak sampai di situ, Krisdayanti juga mengaku menerima uang untuk kunjungan ke daerah pemilihan (dapil), yang dilakukan saat masa reses. Uang kunjungan ke dapil ini diterima delapan kali setiap tahun. "Uang kunjungan ke dapil Rp 140 juta. Itu 8 kali setahun," ungkapnya.

Nah, itu belum cukup. Dia masih punya amunisi untuk membuat sakit hati para Sobat Misqueen. Selama menjadi anggota DPR RI, dia tetap bisa manggung selama tidak mengganggu kerjanya saat melayani masyarakat. "Boleh manggung di hari kerja asalkan lokasi di sekitar Jakarta dan malam hari," ujarnya.

Sebenarnya, komentar ini biasa saja. Dia hanya menampilkan realitas yang dialaminya setiap hari. Sebagai anggota dewan yang mulia, dia tak perlu harus banting tulang dan mengais rezeki di jalan-jalan. Dia cukup dandan, datang ke ruang sidang, tak perlu fokus pada apa yang dibahas, lalu “menghitung hari” kapan gajian. Pundi-pundinya akan selalu terisi.

Dia hanya lupa kalau komentar itu tidak sepantasnya disampaikan dalam situasi sekarang. Banyak rakyat yang berusaha bertahan hidup saat kehilangan pendapatan di masa pandemi. Seharusnya dia lebih berempati terhadap derita dan kesedihan wong cilik di basis-basis suaranya yang tengah berusaha untuk bertahan. Maka tak perlulah cengengesan itu.

BACA: Garis Batas yang Memisah Selama 22 Tahun


Dia dibayar mahal oleh negara untuk satu tanggung jawab. Dia menerima kucuran duit yang dikumpulkan dari pajak rakyat. Mulai dari rakyat kaya hingga rakyat yang harus rela karena saat membeli telur, tetap ada potongan pajak. 

Perempuan cantik yang dahulu memulai karier dari kompetisi menyanyi Asia Bagus ini mendulang suara terbanyak di daerah pemilihan (Dapil) Malang Raya, yakni Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang.

Di DPR RI, dia bertugas di Komisi IX yang menaungi bidang Kesehatan dan ketenagakerjaan. Seharusnya, dia jauh lebih sibuk dari anggota komisi lainnya. Hampir dua tahun Indonesia terserang pandemi. Banyak korban berjatuhan, baik tenaga medis maupun rakyat biasa. Dia berada di titik di mana kesehatan tengah dalam sorotan, agar anak bangsa tetap selamat melalui badai pandemi.

Sejatinya, tak masalah dia dibayar selangit. Tapi, ada tuntutan tanggung jawab besar atas apa yang dia terima. Dia duduk di situ "karena dipilih, bukan dilotre". Dia diharapkan membayar semua dukungan itu melalui kerja keras serta keberpihakan.

Sayang, suara merdunya hanya nyaring di panggung-panggung hiburan. Di panggung dewan, suaranya nyaris tak terdengar. Jauh lebih sering menemukan suaranya saat ribut dengan Aurel, atau saat dirinya sedang membela Raul Lemos. Jika ditanya, mungkin saja dia akan berdendang “Kutak Sanggup.”

Politik kita memang serupa panggung. Apa yang tersaji di situ, tak selalu merupakan realitas sebenarnya. Tapi bagi politisi sekelas Krisdayanti, dunia politik memang panggung dalam pengertian sebenarnya.

Lihat saja di Senayan, dia tetap tampil mentereng. Sapuan gincu merah selalu terlihat di bibirnya. Ruang dewan serupa panggung untuk show. Bahkan di saat krisis pun, dia tetap tampil serupa barbie yang selalu glamour di banyak kesempatan.



Kehidupan memang tak selalu menanti keajaiban, sebagaimana syair “menghitung hari detik demi detik.” Ada orang seperti Krisdayanti yang menjalani hari dengan sedikit senandung “Cobalah untuk Setia.” Dia cukup datang, duduk, diam, dengar, lalu duit. Semuanya lancar.

Yah, ada rasa sedih saat membayangkan dunia politik kita yang sudah lama kehilangan ideologi. Partai yang menjadi rumah bagi Krisdayanti itu adalah partai wong cilik. Di situ, ada ideologi yang ditanamkan oleh Bung Karno untuk berpihak pada rakyat kecil.

Mulanya, Bung Karno bersepeda di selatan Bandung. Bung Besar ini berdialog dengan seorang petani pemilik lahan kecil. Petani itu punya istri dan empat anak, yang dibiayai dari lahan sempit, yang merupakan warisan. Di mata Bung Karno, petani kecil bernama Marhaen itu adalah potret rakyat Indonesia yang punya alat produksi, tetapi hanya untuk sekadar bertahan hidup.

“Di saat itu cahaya ilham melintas di otakku. Aku akan memakai nama itu untuk menamai semua orang Indonesia yang bernasib malang seperti dia! Semenjak itu kunamakan rakyatku Marhaen,” tutur Sukarno.

Hari ini, puluhan tahun setelah Bung Karno merumuskan marhaenisme, yang kemudian jadi ideologi partai merah, kita melihat kenyataan yang amat jauh. Tak semua menjadi pengawal marhaen. Malah banyak yang menikmati tetes keringat marhaen sembari cengengesan saat ditanya gaji.

Kita rakyat kecil yang merupakan anggota “Sobat Misqueen”hanya bisa menyaksikan lakon di panggung politik. Krisdayanti bisa duduk di sana karena pilihan yang kita jatuhkan lima tahun lalu. Lebih baik kita sabar menunggu Pemilu berikutnya, sembari mendendangkan lagu:


Menghitung hari detik demi detik

Menunggu itu 'kan menjemukan

Tapi kusabar menanti jawabmu

Jawab cintamu


Jangan Salahkan SAIPUL JAMIL

 

Saiful Jamil saat keluar penjara (foto: suara.com)

Saipul Jamil keluar penjara. Lelaki yang oleh orang dekatnya kini disapa Bang Haji itu seakan baru saja keluar dari kawah candradimuka. Dia mempersiapkan album baru, mulai laris dipanggil stasiun televisi. Dia seakan baru melalui cobaan hidup yang luar biasa selama dibui.

Jika menjadi dirinya, pasti Anda akan menikmati semua sambutan itu. Dia seorang penghibur yang berharap bisa selalu tampil di media. Dia dielu-elukan, dikerubungi bak pemenang Olimpiade, hingga diundang stasiun televisi. Malah peluncuran albumnya diperkirakan bakal heboh.

Bang Haji Saipul Jamil tak pantas disalahkan atas semua sambutan meriah itu. Dia hanya menikmati karpet merah yang disiapkan masyarakat dan industri hiburan tanah air kita. Dia adalah bagian dari industri yang telah lama memosisikan rating sebagai Yang Maha Kuasa. Selagi ada penonton, cuan mengalir, maka Bang Haji ini akan selalu tampil.

Menjelang dia bebas, banyak kru infotainmen menunggunya di luar lapas. Dia tetap pesohor, bukan pesakitan. Dia disambut dengan banyak senyum bahagia serta kalungan bunga. Dia tetap ganteng seperti biasa, saat dikerubungi dan ditanyai para kru infotainmen, yang beberapa tahun lalu merasa sebagai jurnalis.

BACA: Maria Ozawa, Pemersatu Bangsa Kita


Baru keluar dari masa penahanan selama delapan tahun, dia sudah mengesankan dirinya dikhianati orang orang yang dia anggap dekat. Dia seakan-akan teledor karena mempercayai orang lain. "Jadi buat teman-teman hati-hati, berbijaklah. Pokoknya selalu waspada, itu saja."

Kita yang mendengarnya ingin teriak “Bangsaatt!” Kita geram mendengar kalimatnya. Seseorang yang mencabuli orang lain kok merasa dikhianati. Apakah orang yang dicabuli itu harusya pasrah saja terhadap tindakannya, setelah itu merahasiakan perilaku bejat itu?

Namun, demikianlah logika dunia hiburan bekerja. Dunia hiburan kita sejak lama lihai membolak-balik kenyataan. Begitu keluar penjara, dia hadir dengan identitas baru. Orang dekatnya menyapanya Bang Haji. Dia seolah menjalani cobaan yang berat.

“Tapi kan dia pedofil? Kok tampil di media?”tanya seorang netizen. Netizen ini pura-pura tidak tahu kalau media kita akan menampilkan siapapun, sepanjang ada yang nonton. Tidak peduli, apa itu setan atau malaikat, sepanjang ditonton, maka akan memenuhi syarat untuk tampil.

Bisa saja tiap hari media menampilkan aktivis dan pejuang kemanusiaan, juga sosok inspiratif, tapi apakah ada yang nonton?

Saya kenal banyak pejuang lingkungan, pembela masyarakat adat, dan pejuang kemanusiaan. Di Pulau Adonara, saya kenal Maria Loretha, perempuan Dayak yang menanam sorgum dan menyelamatkan pangan warga pulau. Saya mengenal Oday Kadariyah di Bandung yang merawat dan melestarikan tanaman obat. Saya pun kenal Aleta Baun, perempuan perkasa asal Molo di NTT, yang menjaga hak masyarakat adat.

Tapi apakah mereka diundang ke televisi? Pernah, tapi sangat jarang. Sambutan publik juga biasa-biasa. Ratingnya gak tinggi. Mereka tak dilelu-elukan. Respon masyarakat datar saja. Tak ada histeria.

Beda halnya dengan Saipul Jamil. Lihat saja di kanal Yutub. Apapun yang dilakukannya, bisa jadi konten dengan banyak penonton. Bahkan, selama dia dipenjara, banyak tayangan mengenai aktivitasnya.

Biarpun lelaki ini divonis karena kasus pencabulan, sesuatu yang jauh dari ajaran agama, dia selalu tampil di depan kamera dengan atribut agama. Dia memakai peci, baju gamis, dan sering menenteng sajadah. Dia memberi kesan agamis.

Keluar dari penjara, bintangnya malah makin terang. Dia tampil di stasiun televisi dalam program bincang-bincang. Media yang menampilkan wawancaranya itu dulunya media yang idealis. Yang ditampilkan hanyalah tokoh yang benar-benar hebat. Tapi perlahan media itu ditinggalkan penonton.

Yang diinginkan orang-orang adalah penghibur seperti Bang Haji yang rela berjoged seliar apapun, rela melakukan aksi-aksi hiburan yang memukau, setiap saat menampilkan lesung pipi di wajah yang setampan boneka barbie. Media dan publik sama-sama butuh sosok penghibur. Semua lebih suka tontonan.

Media kita sudah lama lebih peduli kulit ketimbang isi. Saipul Jamil lebih laris ketimbang pembela hak masyarakat adat. Sama halnya dengan penceramah penuh lelucon akan lebih populer ketimbang kiai senior yang penuh kharisma.

Marilah kita melihatnya dari sisi lain. Kehadiran Bang Haji Saipul Jamil itu telah membuka banyak hal di sekitar kita. Kehadirannya, juga protes atas dirinya, telah membuka banyak lapis-lapis realitas di sekitar kita.

Pertama, ingatan masyarakat kita sangat pendek. Kasus seorang figur yang sudah divonis bersalah bisa dengan cepat dilupakan. Malah figur yang sama bisa menjadi pahlawan, sepanjang terus dicitrakan tertindas.

Kita bisa lihat banyak orang seperti Saipul Jamil, yang divonis bersalah, setelah itu diangkat lagi derajatnya. Di dunia politik, seorang mantan koruptor, yang pernah divonis penjara oleh institusi negara, bisa saja kembali dipercaya oleh institusi negara lainnya untuk jadi komisaris.

Tengoklah apa yang terjadi dengan Emir Moeis, yang pernah divonis korupsi proyek pembangunan PLTU di Lampung, kini diangkat menjadi komisaris di PT Pupuk Iskandar Muda. Dia pernah diovis bersalah oleh institusi negara karena menyalahgunakan kepercayaan, kini diangkat menjadi komisaris yang tugasnya mengawasi penyalahgunaan anggaran. Kita bertanya dengan sedih, bagaimana mungkin sapu kotor hendak membersihkan lantai kotor?

Jangankan Saipul Jamil, seorang petinggi militer yang selama beberapa tahun membunuh rakyatnya sendiri hanya karena beda ideologi bisa menjadi pahlawan. Dia bisa dibuatkan museum. Malah dia menjadi sosok terpopuler. Padahal beberapa tahun sebelumnya, namanya dicaci dalam semua demonstrasi, dia pernah dibenci setinggi langit.

Kedua, bangsa kita memang bangsa pemaaf. Di negara lain, selebritis yang terkena kasus seperti Saipul Jamil akan disisihkan dan dijauhi publik. Karier Bill Cosby, komedian yang pernah dijuluki American Dad itu, tamat setelah dirinya terena kasus perkosaan. Media-media dan penyedia konten menjauhinya. Dia pun dijauhi publik.

Di Korea malah lebih tegas lagi. Beberapa selebritis terkenal yang terbukti melakukan pelecehan seksual, kariernya akan tamat. Mereka dijauhi publik. Tak ada lagi yang mengidolakan mereka. Padahal, sebelumnya mereka menjadi idola dan panutan. Di antara mereka, ada nama Kang Ji Hwan, Lee Seo Won, dan Jung Joon Hyung.

Andaikan mereka semua berkarier di Indonesia, produsernya akan meniru langkah Saipul Jamil. Buat acara yang mengesankan dirinya adaah korban. Ambil gambar di mana dia menangis dan memaafkan pelapornya. Tutupi kejahatannya. Angkat sisi humanisnya. Publik akan kembali menerimanya dengan lapang dada.

Masyarakat kita mudah menghukumi sesuatu, tapi mudah pula memaafkan. Masyarakat kita mudah tersentuh dengan air mata seorang figur publik. Air mata itu akan menghilangkan semua ingatan tentang kejahatan seseorang.

Ketiga, kembalinya Saipul Jamil ke panggung iburan menunjukkan kegagalan literasi media yang selama ini digembar-gemborkan banyak aktivis. Gerakan pencerahan dan penyadaran publik tidak maksimal, tidak saling terkoordinasi, serta tidak menyentuh akar rumput.

Lagian, naluri publik akan selalu mencari konten yang menghibur. Di kanal media sosial, publik tetap mencari tayangan yang ngawur, tanpa melihat substansi. Figur seperti Saipul Jamil akan tetap populer, meskipun kampanye menentangnya juga bertubi-tubi.

Ini menjadi PR bersama. Kedepannya, perlu dipikirkan strategi yang lebih canggih agar semua masyarakat bisa memilah mana konten positif, mana konten yang benar. Bukan sekadar mengikuti semua yang dilakukan selebriti.

Di titik ini, Saipul Jamil tetap pede tampil di hadapan publik. Saat tahu petisi penolakan dirinya beredar di media sosial, dia menjawab santai. “Yang namanya gak suka  akan selalu ada. Biarin saja mereka ngurusin hidup gue. Lu ngomongin gue, gue bodo amat,” katanya.

Ba…..tt!!!