Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

ARSJAD RASJID Terlalu Lembut untuk Bertarung di Rimba Politik

 


Di bulan September, nama Arsjad Rasjid disebut sebagai Ketua TPN Ganjar. Saat itu, nama Ganjar meroket semua survei dan disebut-sebut akan memenangkan kontestasi pilpres. 

Kini, di akhir Desember, nama Ganjar tidak seterang dua bulan sebelumnya. Tak ada satupun lembaga survei yang menempatkannya di puncak. Strategi marketing politik apa yang dimainkan Arsjad dalam waktu yang tinggal 47 hari?

*** 

Suatu hari di bulan Oktober 2023. Di satu kampus di kawasan timur Indonesia, Arsjad datang untuk membawakan kuliah umum. Sejak mendarat di kota itu, dia mendadak diserbu banyak orang. Bukan hanya pengusaha, politisi dan akademisi antri untuk menemuinya.

Semua tahu kalau namanya setiap hari dibahas media massa. Arsjad akan memimpin tim besar untuk memenangkan Ganjar, yang saat itu memuncaki semua survei politik. Dia akan berada di barisan yang didukung Presiden Jokowi. 

Sebelah kakinya seolah sudah di ambang kemenangan. Dia akan ikut menemani presiden dalam menentukan siapa menteri, siapa kepala lembaga negara, hingga siapa saja yang akan menjadi komisaris perusahaan.

BACA: Kisah Bahlil, Dari Tomia, Banda, Hingga Papua


Arsjad menyatakan bersedia setelah mendapat restu dari dua sosok yang dikaguminya, yakni Megawati dan Jokowi. Megawati melihat Arsjad seperti anak kandung, sebab Arsjad berasal dari Palembang, sekampung dengan Taufik Kiemas, suami Mega.

Sedangkan Jokowi juga dianggap meng-anakemas-kan Arsjad, sejak merestuinya untuk memimpin Kadin, organisasinya para pengusaha papan atas negeri ini. Di banyak kegiatan, Arsjad sering mendampingi Jokowi, khususnya di acara yang menghadirkan banyak pengusaha.

Di awal-awal, Arsjad mengumumkan rencana-rencananya. Dia ingin menjadikan politik sebagai arena yang riang gembira. Dia ingin mengelola politik sebagaimana seorang CEO mengelola perusahaan. Dia ingin menerapkan marketing politik yang fokus pada ide-ide dan gagasan.

Semua kalangan melihat Arsjad sosok yang tepat. Dia paham interaksi kaum milenial di platform digital. Apalagi, pilpres mendatang akan didominasi generasi digital savvy. Generasi ini sering disebut milenial dan Gen Z. Mereka meramaikan wacana, menentukan arah baru di dunia kerja, serta mengubah lanskap komunikasi di abad ini.

Arsjad adalah idola bagi pebisnis yang ingin tumbuh besar. Dia seorang CEO handal, serupa Raja Midas yang semua sentuhannya bisa menjadi emas. Dia sukses di bisnis media, tambang, hingga motor listrik. Dia juga dekat dengan kalangan milenial. Setiap hari dia tampil di media sosial, membagikan hal baik, dan menebar inspirasi. Dia sosok yang suka berbagi ilmu.

Kini setelah tiga bulan berlalu, politik tidak berjalan seperti yang dikehendaki Arsjad. Dia bertubi-tubi menghadapi realitas politik, yang jauh dari apa yang dibayangkannya. Politik kita jauh lebih kompleks dari bisnis. Politik kita tidak sesederhana seorang pebisnis mengejar cuan.

Dia menghadapi beberapa tantangan besar:

Pertama, berubahnya haluan Presiden Jokowi. Arsjad yang menerima posisi Ketua TPN karena meyakini ada Jokowi terpaksa harus memutar kemudi tim untuk menghadapi gelombang yang lebih besar. Jika sebelumnya perahu yang dikemudikannya mulus untuk mencapai tujuan, kini harus siap menghadapi turbulensi.

Dia harus menjadi pemimpin di tengah krisis. Tak perlu menunggu angin dari Jokowi untuk membawa kapal melaju, melainkan harus tetap berlayar dengan mengandalkan dengan angin yang tak sekencang sebelumnya.

Positioning, yang tadinya hendak melanjutkan program pemerintah, sontak berubah, sehingga berdampak pada hilangnya pemilih loyal. Jika berbagai survei benar, maka dalam waktu dua bulan, Ganjar kehilangan banyak pemilih yang hijrah ke kubu sebelah.

Padahal, Arsjad figur yang tak suka konflik. Dia menghormati Megawati, sebagaimana dia juga menghormati Jokowi. Apa daya, dia tak bisa memilih. Dia terlanjur megawal Mega dan harus siap di kubu yang berbeda dengan Jokowi.

Kedua, kewenangan yang dimilikinya sangat terbatas. Di dunia politik, dia tak akan pernah menjadi CEO yang efektif. Mengapa? Sebab CEO sesungguhnya adalah pemilik partai, serta politisi-politisi yang butuh tampil di media jika ingin kembali terpilih masuk Senayan. 

Kekuasaannya tak sebesar kuasa milik sekjen partai merah yang leluasa menyerang pemerintah, tanpa peduli irama permainan yang dikehendaki Arsjad. 

Politik yang dibayangkannya sebagai arena riang gembira, menjadi arena yang penuh semburan kata. Semua orang melampiaskan kesal, tanpa menimbang pola-pola marketing yang sedang dibangun. 

Dalam bisnis, keputusan suka pada produk bisa melalui proses trial and error. Setelah beli dan suka, maka seseorang bisa merekomendasikan. Jika tak suka, maka seseorang tidak akan membeli lagi. Tak ada repeat order.

Dalam politik, tak ada trial and error. Jika Anda salah memilih, maka kesalahan itu hanya bisa diperbaiki lima tahun mendatang. Dalam momentum yang sangat terbatas, kerja-kerja marketing menjadi sangat penting untuk memberi pencerahan kepada publik tentang siapa yang dipilih.

Ketiga, Arsjad mengedepankan kelembutan di arena politik. Padahal arena ini dipenuhi mereka yang pandai bersiasat dan sesekali berkelahi untuk merebut kemenangan. Dia memilih merangkul, dan perlahan memperkenalkan Ganjar ke khalayak lebih luas.

BACA: Permainan Deseptif di Balik Gibran


Pendekatannya lebih ke arah soft selling, yang fokus pada menjalin relasi, kemudian perlahan mengajak orang lain masuk ke ruang politik. Namun, pendekatan ini akan efektif jika sedang berada di atas angin. Saat di posisi underdog, harus diimbangi dengan kengototan, serta keberanian untuk memasuki arena tempur.

Pendekatan soft selling sering tidak bisa efektif jika berhadapan dengan kebutuhan mendesak. Pendekatan ini sering tidak bisa langsung dipahami konsumen sebab membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk memanam kebaikan, juga pengetahuan, hingga perlahan akan dicintai konsumen atau khalayak.

Di sisi lain, pendekatan soft selling sering kalah dalam kompetisi sebab tidak secara langsung menampilkan keunggulan produk. Dalam kompetisi elektoral yang ketat, mau tak mau, tim sukses harus jualan hard selling. Differensiasi harus dibangun, agar suara menebal di satu pihak.

***

Tanggal 27 Desember 2023, lembaga CSIS mengumumkan hasil surveinya. Dalam rentang pilpres tinggal 47 hari lagi, Ganjar berada di posisi ketiga dengan angka 19 persen. Di atasbta ada Prabowo dengan 43,7 persen, dan Anies 26,1 persen. Jika survei ini dianggap kredibel, Ganjar perlahan ditinggalkan.

Angka ini hanyalah representasi dari satu keping kenyataan. Realitas terus bergerak. Namun Arsjad dan tim sudah seyogyanya memainkan strategi yang lebih intens. Dia harus memainkan perang kota untuk merebut wilayah yang selama ini menjadi basis. Dia mesti menurunkan tim kerja yang lebih massif untuk merebut basis lawan, dan mengamankannya.

Dia harus memperlebar kemenangan di Jateng, merebut Jabar, Jatim, juga Jakarta. Melihat suara yang kian tergerus, dia perlu memiliki kendali yang lebih kuat. Di sisi lain, dia tak berdaya melihat elite politik sibuk memperburuk situasi, melalui komentar yang tidak bermutu.

Dia harus punya banyak skenario demi memenangkan Ganjar. Sekali lagi, politik tidak sama dengan bisnis. Dia terlalu baik untuk bertarung dalam arena politik. Jika semua rencana tak berjalan, dia mesti menunggu lima tahun untuk menerapkan apa yang dipelajarinya di pilpres kali ini.

Sebagai anak bangsa terbaik, dia pantas duduk di posisi yang lebih penting. Dia pantas memimpin bangsa ini demi melalui samudera dan gelombang tantangan yang kian bertubi. 

Semoga dia seperti ras Saiyan dalam kisah Dragon Ball, yang semakin terluka akan semakin perkasa. Semoga dia semakin belajar, semakin sempurna. Kita menunggu Arsjad for Indonesia 2029.


Gampang Cuan


Ini film komedi. Tapi yang saya dapatkan bukan sekadar ketawa ngakak sampai perut sakit. Tapi saya juga belajar banyak hal, khususnya literasi keuangan. 

Film ini mengangkat hal-hal seperti utang, saham, reksadana, dengan cara-cara yang sangat menghibur. Keluar dari bioskop, tiba-tiba saja disergap hasrat ingin kaya melalui pasar saham.

Kisahnya tentang dua kakak beradik yang terjebak utang. Rumah di kampung disita bank. Adiknya datang dan ngotot ingin kuliah di kampus mahal. Mereka harus putar otak untuk mencari uang banyak dalam waktu singkat.

Singkat cerita, mereka lalu ikut dalam pasar saham. Mulanya belajar pada seorang playboy yang naksir si adik. Dalam keadaan kepepet, mereka mesti paham istilah-istilah dalam dunia saham.

Saya sudah lama tidak nonton komedi Indonesia yang seru, dan mencerahkan. Namun komedinya akan sangat terasa jika Anda paham bahasa Sunda. Sebab 80 persen dialog dalam film ini menggunakan bahasa Sunda. Untungnya, saya nonton di Bogor, di mana semua penonton tak henti tertawa ngakak.

Hal yang terasa aneh adalah film ini menggambarkan proses jual beli saham seperti Aladin mengusap lampu wasiat. Seolah-olah, Anda memasukkan uang, dan dalam waktu singkat, langsung cuan ratusan juta.

Yang saya alami, prosesnya tidak sesederhana itu Mesti rajin update informasi, mesti belajar analisis teknikal, dan banyak lagi. Juga siap jatuh bangun. Gak selalu bisa cuan. Beberapa bulan lalu, saya pernah boncos hingga tiga digit. Rasanya gak enak bahas pengalaman itu.

Tapi sebagai hiburan, film ini sukses menghibur. Saya suka bagian ending film, yang menjelaskan bedanya saham, investasi, trader, deposito, reksadana, obligasi, dan sukuk. Hal-hal yang rumit, tapi dibuat sederhana dengan analogi peternakan ayam.

Keren.


Peradaban Rambut


Di sela-sela melakukan perjalanan, saya membaca buku berjudul Peradaban Rambut Nusantara, yang ditulis Oky Andries dan Fatsi Anzani. Ini salah satu buku menarik yang saya baca dalam sebulan ini. 

Yang dibahas adalah hal unik mengenai sejarah. Bukan sejarah-sejarah heroik dari para bangsawan, pahlawan, jagoan, atau mereka yang bertarung di medan laga. Rasanya jenuh dan bosan juga membahas orang-orang besar ataupun merasa besar di kanvas sejarah.

Buku ini membahas hal remeh-temeh mengenai rambut. Spektrum pembahasannya cukup luas. Mulai dari bagaimana relief Mesir Kuno yang menggambarkan bangsawan sedang dicukur, kemudian relief di Candi Borobudur yang menampilkan kegiatan memotong rambut. Ada juga dibahas bagaimana rambut dalam peradaban Cina, Romawi, hingga Yunani.

Buku ini memberi wawasan baru buat saya. Bahwa memotong rambut adalah aktivitas yang sudah ada sejak manusia mulai wara-wiri di muka bumi. Jauh sebelum era Mesir kuno, rambut sudah menjadi lifestyle, identitas, juga menggambarkan kelas sosial. 

Di buku ini, saya menemukan catatan sejarawan Anthony Reid mengenai Arung Palakka yang membuat upacara pemotongan rambut di Gunung Cempalagi, Bone, saat kemenangannya atas Makassar di tahun 1972. 

Rambut menjadi simbol kesucian dan kekuatan. Di era perdagangan (age of commerce), para lelaki dan perempuan didorong untuk menumbuhkan rambut selebat mungkin.

Selain Arung Palakka, Pangeran Diponegoro juga bernazar akan menggunduli rambutnya jika menang dalam pertempuran.  Bahkan Pakubuwono I juga membuat ikrar serupa.

Para pejuang kemerdekaan juga membuat nazar terkait rambut. Di antaranya adalah Bung Tomo yang tidak akan mencukur rambut sebelum Indonesia merdeka.

Saya jadi paham kenapa Aji, kawan saya di Pare-Pare, menggunduli rambutnya seusai PSM Makassar juara. Rupanya itu tradisi kuno yang masih bertahan di era jaman now.

Bagian favorit saya di buku ini adalah kisah mereka yang mencukur para Presiden Indonesia. Mulai dari Yusuf Soebari yang selama puluhan tahun jadi tukang cukur Presiden Gus Dur. Juga kisah Agus Wahidin, pria asal Garut yang disebut sebagai satu-satunya orang yang berani memegang dan memutar kepala Presiden SBY. 

Ada juga pria bernama Herman, lagi-lagi asal Garut, yang rutin mencukur Presiden Jokowi. Orang-orang ini sering diabaikan sejarah, tetapi merekalah yang berani meletakkan pisau di leher presiden. Hanya mereka yang berani memiring-miringkan kepala Presiden Indonesia, di saat yang lain hanya bisa nyinyir dari kejauhan. Hebat kan?

Ini buku yang cukup menarik. Setelah ini saya ingin membaca dua buku lainnya. Satu mengenai sejarah para pembuat roti di Batavia, juga tentang bagaimana peradaban seks di Nusantara. 

Hmm. Sepertinya saya tertarik membaca buku kedua. Seru.


Nene Mallomo


Kawan itu menyambut dengan sumringah. Di Pangkajene, Sidrap, dia mengajak saya ke satu resto paling enak. Tak jauh dari situ, ada plang tertulis Selamat Datang di Bumi Nene Mallomo. 

Siapa Nene Mallomo? “Dia orang bijaksana. Dia cendekiawan masa lalu,” kata kawan saya. Di kalangan Bugis, kata nenek berlaku untuk semua gender. Ada istilah nenek laki2, dan ada nenek prempuan. Tak ada kakek.

Saya terdiam dan merenung. Di banyak tempat, sosok masa silam yang jadi ikon di masa kini adalah para petarung, para pahlawan, para jagoan, ataupun mereka yang bertarung di medan laga. Yang dicatat sejarah adalah para raja yang kadang berkuasa dengan buas, lalu mengakuisisi wilayah sekitarnya.

Tapi di Sidrap, sosok masa silam yang dikenang itu adalah seorang cendekiawan, yang melahirkan banyak petuah, nasihat, juga pesan-pesan kehidupan. Dia serupa Lao Tze di China, juga sosok Socrates di kebudayaan Yunani.

Kata kawan, Nene Mallomo adalah sosok legendaris yang pernah hidup di abad ke-17. Dia seorang ahli hukum yang dahulu menjadi penasihat raja dan datu. 

Dahulu, hampir semua kerajaan di tanah Bugis memiliki cendekiawan yang membimbing masyarakat. Ada lima cendekiawan yang terkenal. Mereka adalah Kajao Laliddo (Bone), Nene’ Mallomo (Sidrap), Arung Bila (Soppeng), La Megguk (Luwu), dan Puang ri Maggalatung (Wajo).

“Mereka bertemu dan berdiskusi, serta tukar pengalaman yang menambah wawasan baru. Dari sekian banyak pertemuan, yang dikenang orang adalah pertemuan di Cenrana,” kata kawan.

Di pertemuan itu, Nene’ Mallomo kemudian melahirkan buah pikirannya yang disepakati oleh para cendekiawan yang hadir. Buah pikirannya berupa sebuah prinsip yang harus dijalankan oleh aparat kerajaan dalam mewujudkan masyarakat yang taat hukum. 

Prinsip tersebut dikenal dengan ungkapan “Naia Adek Temmakkeana Temmakkeappo” (hukum tidak mengenal anak cucu). Hukum itu berlaku adil untuk semua. 

Siapapun yang bersalah harus diproses di pengadilan. Dia memperkenalkan prinsip kesetaraan, yang lebih awal dari semboyan Revolusi Perancis; liberte, egalite, dan fraternite.

Para cendekiawan melahirkan pedoman dan tata nilai, yang di Bugis disebut sebagai pangadereng, yang menurut budayawan Mattulada adalah keseluruhan norma, meliputi bagaimana bertingkah laku terhadap sesama manusia.

Salah satu ajaran Nene Mallomo, yang kemudian jadi semboyan Pemerintah Sulsel adalah “Resopa Temmangingngi Malomo Naletei Pammase Dewata.” Hanya dengan kerja keras, rahmat Dewa akan turun dari langit.” Inilah prinsip, yang disebut Marx sebagai kerja, di mana semua orang menafsir dan membentuk dunianya.

Mungkin semua semboyan ini perlu dilihat secara kritis. Bisa jadi, di masa silam, semua nilai ini dikonstruksi kelas berkuasa untuk mengendalikan kelas paling bawah. Nampaknya, Nene Mallomo mewakili keresahan cendekia melihat prilaku kelas berkuasa. 

Kata kawan saya, beberapa kalimat dari Nene Mallomo lahir untuk menghardik kelas berkuasa. Dia adalah orang istana, yang mengeluarkan kalimat-kalimat untuk membela orang luar istana. Melalaui prinsip itu, dia mendambakan masyarakat yang teratur, harmonis, dan saing menjaga.

Saya sedang memikirkan kalimat dari Nene Mallomo, saat seorang politisi masuk kafe dan menyapa. Dia bercerita tentang mimpi-mimpinya untuk menang pilkada. Dia sudah menyiapkan sekarung uang untuk serangan fajar. Dia pun siap menyingkirkan semua lawan politiknya. “Kalau mereka macam-macam, saya akan gergaji,”katanya.

Yah, Nene Malomo telah lama berpulang. Ajarannya pun menjadi kisah yang dituturkan saat senja memeluk malam.

.

.

PS: Ini bukan foto Nene Mallomo, tapi foto saat berjumpa dua pemuda Rappang


Relawan Digital


Pemilu sudah dekat. Semua politisi sedang berebut pengaruh. Semua ingin melalui tahapan marketing politik, yakni diketahui, dikenal, disukai, didukung, dan dipilih. 

Di Sidrap, seorang caleg meminta saya untuk membawa materi tentang relawan digital di hadapan tim suksesnya. Tadinya pengen nolak, tetapi rasanya tidak enak hati. Sebab sebelumnya saya ditraktir kuliner nasu palekko, bebek olahan yang nikmatnya luar biasa.

Caleg dan relawannya itu hendak merambah ke ranah digital. Namun, tak semuanya paham kalau di dunia itu tak ada sesuatu yang instan. Di ranah digital, Anda mesti setia dengan proses. Tidak mungkin langsung populer dalam seketika.

Anda harus mulai dari memetakan siapa audiens, setelah itu memberi asupan konten, hingga akhirnya follower kian membesar. Di titik itu, Anda bisa membangun satu Digital Tribe, kata Seth Godin, di mana Anda menjadi gravitasi dari satu komunitas.

Saya lihat problem bagi mereka yang baru merambah di dunia digital adalah seringkali mengira dunia itu sama dengan dunia yang dijalaninya. Jika dia populer di dunia nyata, maka dikiranya hal yang sama berlaku di dunia digital.

Sering pula ada gap atau jarak antar generasi. Seorang senior yang masih boomer sering marah-marah saat berinteraksi di WA haya karena dipanggil Om. Padahal panggilan itu biasa saja. Di Kaskus hingga forum jual beli, panggilan Om sering digunakan.

Yang sering saya lihat ada anggapan kalau relawan digital adalah gratisan. Soal ini sering dikeluhkan para pelaku industri kreatif di berbagai daerah. 

Seorang kawan fotografer pernah bercerita betapa dirinya sering dipandang remeh oleh klien Profesinya dianggap hanya hobi, sehingga dirinya sering tidak dibayar. “Kan ko Cuma klik-klik saja. Masak harus dibayar?” kata seseorang kepadanya.

Tak semua caleg paham kalau bermain-main di medsos tidak selalu gratisan. Anda mesti punya strategi menjangkau jutaan audiens dengan mengoptimalkan berbagai strategi. Perlu pula membentuk satu tim yang profesional.

Tak sekadar menghimpun barisan anak muda. Namun ada beberapa profesi yang akan saling terhubung dan membentuk satu ekosistem. Mulai dari konten kreator, graphic designer, video editor, hingga digital marketeer.

“Apa ada di antara kalian yang punya pengalaman kelola akun di medsos?” tanyaku. Semua menggeleng.

Saya bayangkan betapa banyaknya pekerjaan rumah yang harus dikejar. Sebab semua butuh proses. Butuh kerja-kerja jangka panjang, tidak sekadar memanaskan mesin politik menjelang proses pemilihan.


Permainan Deseptif di Balik GIBRAN

Ilustrasi bocil takut debat


Biarpun saya bukan pendukung Gibran, saya cukup tertarik melihat bagaimana pola-pola komunikasi deseptif yang dimainkan untuk menyesatkan publik.  Tim konsultan di belakang Gibran menerapkan ajaran Sun Tzu: "Biarkan rencanamu menjadi gelap dan tidak dapat ditembus seperti malam, dan ketika kamu bergerak, jatuh seperti sambaran petir?”

Politik kita bukan cuma soal pasangan yang bertarung di depan panggung debat. Politik kita adalah sinergi dari banyak tim belakang layar yang menyiapkan strategi, merancang aksi, lalu menentukan pilihan-pilihan tindakan untuk mengalahkan lawan. 

Politik kita adalah soal bagaimana mengemas pesan, juga bagaimana membuat publik terkecoh dan terjebak dalam kebenaran yang diatur dalam satu pra-kondisi, lalu pada titik pamungkas, semuanya dijungkirbalikkan.

Politik kita serupa game atau permainan di mana semua pihak bisa mengatur ritme bermain, menarik lawan untuk masuk dalam irama permainan, dan membiarkan lawan mengira akan menang. Di titik puncak, semua senjata pamungkas akan dikeluarkan laksana petir.

Saya melihat pola-pola komunikasi deseptif, yang menyesatkan lawan itu dalam dua hal. Pertama, saat dengan sengaja seolah melanggar kampanye yang melibatkan anak, yang ternyata adalah artificial intelligent. Kedua, membangun pra-kondisi tentang Gibran sebagai sosok culun, bodoh, dan takut debat.

Marilah kita tengok yang pertama.

Tanggal 23 November 2023 silam, kelompok yang menamakan dirinya Radar Demokrasi Indonesia melaporkan dugaan pelanggaran oleh kubu Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming ke Bawaslu.

Laporan yang dimaksud terkait dengan dugaan pelibatan anak-anak dalam sosialisasi program pemberian susu. "Saya melaporkan ada tindakan ataupun ada pelanggaran pemilu terhadap salah satu tim kampanye paslon," kata pihak Radar Demokrasi Indonesia, Steve Josh Tarore mengutip detik.com, Kamis (23/11).

Yang menarik, tim Prabowo-Gibran tidak langsung merespon laporan itu. Mereka membiarkan laporan itu hingga terjadi kehebohan. Selama beberapa hari media dipenuhi berita tentang pelanggaran hukum dari tim kampanye Prabowo-Gibran.

Saat semua pihak mulai bersorak karena tim itu ibarat masuk perangkap, keluarlah klarifikasi kalau itu bukan anak, melainkan Artificial Intelligent (AI). Rupanya “anak” itu bukan benar-benar anak sebab hanya merupakan rekayasa kompiter dan kecerdasan buatan. “Anak” itu tidak punya identitas, tidak punya orang tua, dan tidak punya status hukum.

Tentu saja, kasus ini tidak akan jauh merambah ke ranah hukum. Namun pesan penting terlanjut menyebar di masyarakat kalau tim itu punya kreatifitas tingkat tinggi hingga mampu mengecoh banyak orang. Silang pendapat di media diubah menjadi kekuatan yang memikat banyak orang, sekaligus menjadi lelucon kalau lawan masih berpikir jadul dan tidak kekinian.

Marilah kita tengok yang kedua. 

Sejak sebulan terakhir, Gibran dikesankan menghindari debat. Tim konsultan di belakang Gibran sengaja tidak menghadirkan “bocil” itu dalam debat-debat tidak resmi. Tim juga mengondisikan persepsi publik dengan tawar-menawar di KPU mengenai format debat, seolah Gibran tidak siap hadapi debat.

Permainan deseptif juga dihadirkan di ruang publik. Saat tampil kampanye, dia tampil kaku, asal ngomong, dan tidak sanggup bicara lebih dari 10 menit. Malah, dia juga sengaja dibuat keliru agar semakin jadi bulan-bulaan di media sosial. Semua tindakan itu membangun persepsi publik kalau anak ini tidak siap menghadapi berbagai debat politik.

Ketika debat resmi, barulah satu demi satu kartu dikeluarkan. Mereka yang mengira anak itu akan jadi bulan-bulanan sontak kecele dan tidak siap dengan perubahan pola debat. Dia yang tadinya dikira akan kalah telah dan mengenaskan, rupanya menguasai hal teknis sebab dirinya punya pengalaman sebagai walikota.

Debat cawapres menjadi arena untuk membuka kotak pandora. Muhaimin dan Mahfud yang tadinya di atas angin, tiba-tiba terkesan kehilangan arah dan kehilangan fokus dalam debat. Gibran menguasai panggung, bergerak ke banyak sisi, lalu menarik semuanya masuk dalam permainan yang dia kuasai.

Di ajang debat semalam, elemen kejutan hanya dimiliki Gibran seorang. Hanya dia yang punya elemen misteri dan kejutan.  Beda halnya dengan Muhaimin dan Mahfud yang sudah sering tampil di publik, sehingga publik sudah tidak terkejut dengan penampilan mereka. 

Jika Mahfud dan Muhaimin tampil hebat, itu biasa saja sebab mereka memang sering tampil hebat. Kejutannya adalah Mahfud dan Muhaimin sedikit tterkejut melihat Gibran yang ternyata bisa berdebat. “Bocil’ ini bisa tampil melampaui ekspektasi. Komunikasi Gibran lebih cair. Dia tidak selalu memguasai topik debat. 

Kadang pertanyaan dibelokkan, lalu menyisipkan poin-poin penting dari visi misi. Body language mengesankan dirinya paham persoalan, sorot mata lurus ke arah audience, lalu perlahan dia pun menunjukkan inkonsistensi dari lawan debatnya.

Strategi mengemas Gibran mengingatkan pada strategi Sun Tzu yakni: “Perdaya Langit untuk melewati samudera. Bergerak di kegelapan dan bayang-bayang, menggunakan tempat-tempat tersembunyi, hanya akan menarik kecurigaan. Untuk memperlemah pertahanan musuh anda harus bertindak di tempat terbuka menyembunyikan maksud tersembunyi anda dengan aktivitas biasa sehari-hari.”

Saya melihat tim di belakang Gibran paham benar bagaimana aspek sosiologis masyarakat Indonesia, yang serupa kerbau gamang dicucuk hidungnya mengikuti apa yang jadi trending topic. 

Tim ini tahu kalau masyarakat Indonesia mengidap “Fear of Missing Out” atau takut sendirian di medsos sehingga suka terlibat dalam bully berjemaah. Kecaman pada Gibran merambah ke berbagai medsos, hingga akhirnya debat semalam ibarat petir yang membungkan semua kalangan.

Nihil Substansi

Jika debat semalam menjadi arena untuk melihat masa depan, kita tak bisa berharap banyak. Sebab debat itu hanya menunjukkan bagaimana permainan menggulung lawan, tanpa menampilkan apa gagasan terbaik untuk Indonesia masa depan.

Ketiga orang kandidat lebih fokus untuk mengeluarkan program populis yang membahagiakan publik, tanpa memberi jalan keluar bagaimana menggapai semuanya. Mereka seolah memiliki uang segunung, lalu tugasnya hanya bagaimana menghabiskannya.

Yang kita lihat adalah para “penjual obat” yang seakan berteriak ini obat terbaik, tanpa menjelaskan apa yang harus dilakukan untuk menghadirkan obat terbaik itu. Debat semalam membuka mata kita betapa banyaknya problem di bangsa ini, yang seharusnya membutuhkan kerja keras, bukan sekadar “bicara keras”.

Sebagai anak bangsa, kita dibenturkan kenyataan, betapa seringnya debat pilpres, namun masalah bangsa tak kunjung diselesaikan. Satu demi satu pekerjaan rumah tidak pernah benar-benar tuntas, selalu dibahas di ajang debat pilpres, selalu dibicarakan dari dulu hingga kini, tanpa ada yang selesai.

Yang menyedihkan adalah fakta betapa tiga capres ini sebenarnya terhubung ke jaringan pemodal yang sama. Debat ini hanya artifisial. Sekadar formalitas. Di belakang layar, para bohir sedang tersenyum gembira melihat skenario dijalankan satu per satu.

Permainan deseptif hanya jadi senjata untuk menang debat. Di akhir semua episode politik ini, para bohir akan selalu menang. Dan kita kembali mencari sesuap nasi di jalan-jalan yang kian semrawut, yang di kiri kanannya ada baliho politisi yang sedang menjanjikan kesejahteraan.