Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Perempuan VIETNAM di Sudut MANGGA BESAR


ilustrasi

“Hallo. Saya dari Vietnam. Kamu mau tidur sama saya?” 

Perempuan itu menyapa dengan suara terbata-bata. Aksennya terdengar aneh. Langkah saya terhenti. Tidak jauh dari gerbang Lokasari Plaza, di kawasan Mangga Besar, suaranya mencegat langkah saya. 

Kawasan ini sejak lama dikenal sebagai “red light district” di Jakarta. Di era Gubernur Jenderal VOC, kawasan Mangga Besar ini sudah menjadi salah satu pusat hiburan malam. Dulu, namanya Gang Mangga. Bahkan, penyakit sifilis dinamakan Sakit Mangga sebab banyak ditemukan di kawasan ini.

Kini, di era Gubernur Anies, semua jenis hiburan malam masih bisa ditemukan di sini. Mulai dari karaoke, pijat plus-plus, hingga tempat esek-esek. Penjaja cinta memenuhi banyak ruas jalan, khususnya dari gerbang Lokasari menuju plaza.

Saya tak punya niat ke kawasan ini. Namun seorang kawan mengajak bertemu di satu warung kopi yang lokasinya tak jauh dari plaza. Selain hiburan, ada banyak warung kopi di kawasan ini, yang rasanya selalu mengendap di pikiran.

Saat melintas di situ, saya tak pernah menoleh ke kiri-kanan. Tapi malam ini, saya tertarik mendengar aksen bahasa Indonesia yang terbata-bata. Saya pun menoleh. 

Dia mendekat. Saya merasakan aroma parfum yang kuat. Perempuan ini agak berisi, istilah lainnya montok. Dia tidak begitu tinggi. Rambutnya agak kemerahan. Kulitnya putih bersih di tengah redupnya lampu jalan. Riasannya cukup menor. Melihat fisik dan penampilannya, saya yakin dia bukan dari sini. Dugaan saya, dia dari Cina. Saya akui, dia cantik. Sepintas wajahnya mengingatkan saya pada Tina Toon.

“Kamu mau short time atau long time?” kembali dia menawarkan diri. Saya dengar aksennya memang seperti orang yang terbiasa menggunakan bahasa mandarin. “If you agree, we can move to that hotel,” katanya sembari menunjuk satu hotel murah yang tak jauh dari situ.

BACA: Orang Bugis, Bule Seksi, dan Senja Temaram di Gili Trawangan

Kali ini dia menggunakan bahasa Inggris. Dugaan saya, bahasa Indonesianya terbatas. Makanya, dia campur dengan bahasa Inggris. Saya tersenyum, kemudian mengeluarkan rokok kretek dari saku. Spontan, dia menyodorkan korek gas. Saya membakar rokok, kemudian menghembuskan asap kuat-kuat ke udara.

“You say you come from Vietnam?” tanyaku.
“Yes, I am,” katanya. 

Dia lalu mencari sesuatu di tas hitam yang dibawanya. Dia mengambil selembar kertas fotokopian, kemudian menyodorkan ke saya. Kertas itu kopian dari passpor asal Vietnam, tertera foto gadis ini, serta tertulis nama depannya: Nguyen. Saya percaya dia berkata benar.

“How long you have been in Jakarta?” tanya saya.

Mulailah dia bercerita. Dia datang bersama rekan-rekannya karena diajak oleh seorang mucikari di Hanoi. Mulanya dia kerja di satu hotel,  yang letaknya tidak jauh dari Jembatan Harmoni. Hotel itu mempekerjakan gadis-gadis dari Thailand, Vietnam, hingga beberapa negara barat. 

Dia memperkirakan sejak tahun 2000-an, banyak perempuan Vietnam dan Thailand yang berdatangan ke Jakarta dan beredar di banyak hiburan malam. Gaji di Indonesia terbilang tinggi. Menurutnya, 1 rupiah senilai 1,5 kali mata uang di negaranya. Jadi kalau dia dapat 1 juta, maka itu sama dengan 1,5 juta di negaranya. 

(Sepulang dari situ, saya mengecek di Google, 1 juta rupiah senilai dengan 1,6 juta dong, mata uang Vietnam).

Setelah hampir dua tahun bekerja di dekat jembatan Harmoni, dia memberanikan diri untuk keluar. Dia mengajak empat rekannya sesama Vietnam untuk mandiri. Dia tinggal di satu kos-kosan. Sembari menjajakan diri di pinggir jalan, juga menjadi mucikari bagi empat rekannya. Lokasi yang sering jadi tempat mangkalnya adalah Lokasari Plaza. Dia sudah enam bulan di situ.

Sepertinya dia cukup betah di Lokasari. Di situ memang banyak pekerja seks. Tapi masing-masing tidak saling iri. Malah mereka saling bantu dan memasarkan temannya. Anda tak cocok pada satu orang, dia akan mencarikan orang lain. Di situ, semuanya saling menjaga solidaritas.

***

Sejak kapan Jakarta kebanjiran pekerja seks dari luar?

Semuanya bermula dari surat yang ditulis Gubernur Jenderal Jan Pietersz Coen pada tahun 1623. Untuk membangun Batavia, Coen meminta agar didatangkan kapal-kapal penuh penumpang dari Belanda. Coen meyakinkan petinggi VOC kalau Batavia cocok jadi kota dagang, apalagi lahan-lahan sekitarnya sangat subur.

Dalam buku Batavia: Masyarakat Kolonial Abad 17 yang ditulis sejarawan Hendrik E Niemeijer, saran Coen tidak begitu bisa meyakinkan orang Belanda untuk berdatangan. Jumlah yang berdatangan tidak sebanyak yang diharapkan Coen. Itu pun yang datang adalah laki-laki Belanda yang kontraknya hanya tiga sampai lima tahun. Jika tak ada perempuan, bagaimana populasi kota bisa berkembang?

buku yang ditulis Hendrik E. Niemeijer

Dalam buku yang pertama terbit di Amsterdam itu, disebutkan kalau Coen menemukan cara lain. Dia meminta kapal-kapal berdatangan dari berbagai penjuru Nusantara yang membawa para budak. Pada masa itu, Batavia menjadi kota kosmopolit yang separuh penduduknya adalah para budak dari berbagai suku-bangsa. Bukan hanya orang Bali, Bugis, dan Jawa, tetapi didatangkan pula budak dari Cina.

Pada masa itu, Coen menolak seks bebas. Dia pernah menghukum anak angkatnya karena kedapatan selingkuh. Hanya saja, dia tidak bisa menemukan solusi dari begitu banyaknya pria Belanda yang membutuhkan hiburan. Demikian pula di kalangan pribumi. 

Banyak orang Belanda yang memelihara gundik dari pribumi. Sementara perempuan pribumi, banyak yang suka rela menjadi gundik ataupun nyai-nyai dengan harapan bisa mendapat jaminan penghasilan lebih baik, ketimbang jadi budak. Inilah yang menjadi cikal-bakal dari prostitusi di Batavia.

Tempat prostitusi pertama di Jakarta adalah di kawasan Macao Po, yaitu berupa rumah-rumah tingkat yang berada di depan stasiun Beos, sekarang stasiun Jakarta Kota. 

Disebut demikian karena para pekerja seks berasal dari Macao yang didatangkan oleh para germo Portugis dan Cina untuk menghibur para tentara Belanda di sekitar Binnenstadt, sekitar kota Inten di terminal angkutan umum Jakarta Kota sekarang. Tempat itu juga menjadi persinggahan orang kaya Cina untuk mencari hiburan.  

Tempat prostitusi pun berkembang. Tidak lagi hanya terkonsentrasi di satu tempat saja, misalnya kemudian berkembang tempat pelacuran kelas rendah di sebelah timur Macao Po, yakni sekitar jalan Jayakarta sekarang. Saat itu bernama Gang Mangga, kini menjadi kawasan Mangga Besar.

Kompleks Gang Mangga kemudian tersaingi oleh rumah-rumah bordil yang didirikan oleh orang Cina yang disebut soehian. Kompleks pelacuran semacam ini kemudian dengan cepat menyebar ke seluruh Jakarta.

BACA: Penolakan Seks yang Memicu Revolusi

Setelah itu muncul kompleks pelacuran serupa di Gang Hauber (Petojo) dan Kaligot (Sawah Besar). Hingga awal tahun 1970an Gang Hauber masih dihuni oleh para pekerja seks, sedangkan Kaligot sudah tutup pada akhir 1950an. 

Dalam makalah berjudul Prostitusi di Jakarta dalam Tiga Kekuasaan, 1930-1959, Sejarah dan Perkembangannya, terdapat uraian yang lebih detail tentang prostitusi di Jakarta era modern.

Pada masa Jepang, prostitusi dilegalkan. Banyak perempuan dipaksa menjadi pekerja seks untuk memuaskan para prajurit yang sedang bertempur. Banyak yang kemudian tidak kembali dan menyembunyikan identitas. (untuk lebih jelas, baca buku Pramoedya berjudul Perawan Remaja di Sarang Militer).

Di masa kemerdekaan, Jakarta ibarat gula yang didatangi semut. Urbanisasi menguat. Banyak orang-orang dari daerah berdatangan dan mengais rejeki di kota ini. Di waktu malam, Jakarta menggeliat menjadi kota yang tak pernah tidur.

Tahun 1950-an sampai 1960-an terdapat banyak tempat prostitusi yang tumbuh subur di Jakarta, seperti di Jalan Halimun, antara Kali Malang, dekat markas CPM Guntur, hingga Bendungan Banjir Kanal. Tempat lainnya tersebar di Kebon Sereh, belakang stasiun Jatinegara, Bongkaran, Tanah Abang, Kali Jodo, dan Stasiun Senen.

BACA: Gadis Karaoke Kota Kendari

Bahkan pada masa Gubernur Ali Sadikin di tahun 1970-an, pemerintah secara resmi meresmikan lokalisasi di Kramat Tunggak, yang terletak dekat pelabuhan Tanjung Priok. Kramat Tunggak ditetapkan sebagai lokalisasi prostitusi dengan SK Gubernur Ali Sadikin, yaitu SK Gubernur KDKI No. Ca.7/1/54/1972, SK Walikota Jakarta Utara No.64/SK PTS/JU/1972, dan SK Walikota Jakarta Utara No.104/SK PTS/SD.Sos Ju/1973. 

Di era reformasi, hiburan malam justru semakin marak. Lokalisasi memang secara resmi sudah tidak ada lagi. Tapi para pencari hiburan malam bisa menemukannya di berbagai kafe, karaoke, hingga spa dan sauna. Di banyak kawasan dan sudut Jakarta, terdapat hotel-hotel yang menjajakan cinta. Para penjaja cinta pun didatangkan dari luar negeri.

*** 

“Can we go inside?” 

Perempuan Vietnam ini mulai memegang tangan saya. Dia menunjuk hotel murah yang ada di depan kami. Saya masih belum memberi respon. Saya bisa melihat wajahnya dari dekat. Dia seperti bidadari.

Saya tiba-tiba saja berpikir, jika banyak pekerja seks dari negara-negara tetangga berdatangan ke Jakarta, apakah ini pertanda kalau ekonomi kita stabil sebab banyak menghabiskan uang untuk hiburan malam?

HP-nya berdering. Dia berbicara dengan seseorang dalam bahasa Inggris. Saya tak begitu jelas mendengar apa yang dibahas. Wajahnya berseri-seri. 

“I think I have to go there. Someone just call me,” katanya.

Tenpa menunggu jawaban, dia langsung pergi. Dia bergegas menuju Plaza Lokasari. Saya masih ingin berbicara banyak. Saya menyesal karena belum sempat memberinya sesuatu. Bagaimanapun, dia telah menemani saya untuk berbincang sejenak. 

Sayang, dia tidak kembali. Hingga setengah jam berlalu, saya masih mencium bau parfumnya. Dalam hati, saya menggumam satu-satunya kosa kata Vietnam yang saya ketahui, kalau tak salah, bermakna sampai jumpa lagi:

“Hẹn gặp lại!”


Bukan Hanya LAFRAN PANE




Tadinya, anak piatu dari Gunung Sibualbuali itu hanya seorang tukang protes. Telunjuk takdir mengarahkannya untuk menjadi seorang guru besar. Tadinya dia hanya seorang penjual es lilin demi bertahan hidup. Tapi sejarah menempatkannya sebagai seorang pahlawan nasional. Dia, Lafran Pane.

Kepahlawanan Lafran tidak didapatkan dari tarung di medan laga dan arena pertempuran. Dia memilih menjadi guru dan pendiri organisasi mahasiswa. Dia bergerak dengan cara yang sederhana, melalui mimbar-mimbar pengkaderan mahasiswa, meletakkan Islam sebagai api di pikiran anak muda, juga sebagai embun yang membasahi nurani.

Kisah Lafran Pane bisa dibaca lengkap pada novel berjudul Merdeka Sejak Hati yang ditulis A. Fuadi, penulis trilogi Negeri 5 Menara. Melalui novel ini, kita akan menemukan satu keping sejarah Lafran sebagai manusia biasa yang ingin berbuat sesuatu bagi bangsanya.

Lafran ingin mempersembahkan kemerdekaan. Tapi, kemerdekaan baginya bukan sekadar pernyataan dengan pekik lalu muncul perlawanan. Kemerdekaan adalah situasi ketika seseorang berani jujur dan sederhana di tengah riuh rendah dunia. Kemerdekaan dimulai sejak dari hati. Merdeka dimulai dari nurani, sebagaimana tuntunan indah agama Islam yang dianutnya.

Demi kemerdekaan itu, Lafran tak lelah mengajak orang-orang untuk datang dari masjid ke masjid. Dia mengajak anak muda khususnya mahasiswa untuk berorganisasi dan membentuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). 

Dia menginspirasi lahirnya para intelektual kampus yang “bernapaskan Islam, serta bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur.” Dia menyalakan pelita Islam agar semua anak muda tidak tersesat di jalan, serta menemukan cahaya terang kemerdekaan.

Baca: Sesobek Refleksi di Pelatihan HMI

Saya belum membaca tuntas novel bagus ini. Masih mencari waktu yang tepat. Saya menyenangi spirit dari kepahlawanan Lafran. Saya tak sepakat dengan orang-orang yang melihat para pahlawan hanya dari arena peperangan. Seolah-olah Anda harus bertempur dulu baru bisa dibilang pahlawan.

Pahlawan adalah mereka yang melampaui dirinya, memikirkan sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar capaian pribadi. Sukarno dan Hatta adalah sosok yang melampaui dirinya. Mereka alumni perguruan tinggi pada masanya. 

Jika saja mereka menjadi pegawai pemerintah atau mendirikan perusahaan, mereka akan menangguk untung dan kaya raya dari profesinya itu. Tapi mereka memikirkan sesuatu yang melampaui semua capaian material itu. 

Mereka memikirkan bangsa, serta meletakkan fundasi bagi negeri baru yang memosisikan semua orang dalam posisi sama. Mereka ingin membebaskan bangsa dari hardikan bangsa lain.

Kepahlawanan harus dipandang sebagai tindakan, bukan sebagai gelar semata. Kepahlawanan adalah ikhtiar untuk melakukan sesuatu, bukan satu predikat yang disahkan dalam selembar kertas putih dengan lambang negara. Kepahlawanan adalah kesediaan untuk membantu orang lain, sembari mengabaikan kepentingan diri.

Sebagaimana halnya Sukarno dan Hatta, Lafran Pane bekerja dengan cara memercikkan api intelektualitas, melalui organisasi kader bagi mahasiswa. Ia membangun basis organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia. 

Organisasi itu melahirkan banyak kader, intelektual, serta aktivis yang bertebaran di segala penjuru. Ia juga memperkenalkan integrasi antara Islam dan kebangsaan sebagai dasar dalam bernegara.

Penerus Lafran

Saya membaca berita kalau novel ini akan segera difilmkan. Tentunya, spirit Lafran akan menyebar ke mana-mana. Tapi saya berharap beberapa nama besar yang lahir di rahim HMI perlu mendapat tempat sebagaimana Lafran. Mereka pun perlu diabadikan dalam karya, novel ataupun film agar semangatnya menyebar.

Jika saya ditanya, maka saya akan menyebut banyak nama. Mulai Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, Ahmad Wahib, hingga Munir. Masing-masing punya jejak penting di hari orang yang mengenalnya. 

Nurcholis adalah intelektual yang membumikan spirit keislaman dalam lingkup kemodernan dan keindonesiaan. Demikian pula Dawam yang banyak menulis tema ekonomi Islam. Ahmad Wahib adalah sosok muda yang menulis catatan penuh pergolakan dan menggelisahkan banyak anak muda Islam.

BACA: Menolak Saut, Membela HMI

Di mata saya, Munir mendapat tempat istimewa. Kisahnya menarik untuk diulas. Di dunia intelektual, bintangnya tak seberapa benderang. Namun di dunia aktivis dan pergerakan sosial, namanya adalah matahari yang tak pernah kehabisan sinar. Munir adalah monumen bagi semua pejuang keadilan di tanah air.

Munir adalah mantan Ketua HMI Komisariat Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya, yang paling fenomenal. Namanya menjadi getar bagi siapapun yang hendak membahas dunia aktivisme sosial, dunianya mereka yang berdiri di hadapan massa tertindas. Munir adalah nama yang disebut orang-orang yang tak berdaya karena represi dan penindasan negara.

Sebagai seorang sarjana hukum, Munir mendedikasikan pengetahuannya untuk menantang rezim. Munir bukan tipe alumnus HMI kebanyakan yang memilih berlindung di balik ketiak pemerintah sembari mengais-ngais proyek untuk memperkaya diri.

Munir, pejuang HAM

Ia bersama massa rakyat, menjalankan peran-peran advokasi dan membela mereka yang dibisukan haknya oleh negara. Ia tidak hendak menjadi intelektual baru penopang kuasa, tapi memilih menjadi kerikil di ujung sepatu militer dan penguasa yang berkelindan untuk menindas.

Pada akhir Orde Baru, Munir adalah simbol perlawanan terhadap rezim. Ia mengawal semua korban kekerasan melalui organisasi Kontras. Ia pembela HAM terdepan, yang mengedepankan nilai-nilai anti kekerasan, humanisme, toleransi, serta kritis pada watak negara yang otoriter.

Ia juga seorang yang amat sederhana. Para sahabatnya punya kenangan tentang sosok Munir yang ke mana-mana dengan menggunakan sepeda motor. Padahal, jika saja ia sedikit ramah pada negara, maka dirinya akan bergelimang harta. Ia memilih sesuatu yang melampaui semua harta.

Ia bergabung di LBH dan menjalankan peran sebagai intelektual organik, membangun kesadaran kritis, dan tak telah mengingatkan orang-orang bahwa ada yang salah di negeri ini. Ia ditahbiskan sebagai sosok panutan, idola, serta menjadi contoh bagaimana dedikasi seorang intelektual untuk membela ketertindasan.

Hingga akhirnya, Munir tewas secara menyedihkan pada usia 38 tahun, dalam perjalanan untuk menimba ilmu di negeri Belanda. Ia belum menuntaskan kerja-kerja sosialnya yang bersinggungan dengan kuasa, tapi jejaknya tersimpan abadi di hati banyak orang. 

Orang-orang meneladani karakternya yang memilih hidup sederhana dan digarami serta diasinkan oleh dunia pergerakan. Munir menjadi monumen bagi para pejuang HAM dan pembela orang biasa.

Saya membayangkan kisah Munir menjadi inspirasi bagi generasi baru Indonesia. Kisahnya akan jadi cahaya terang bahwa seorang anak muda jangan selalu berpikir mapan. Harus ada yang memainkan peran-peran mengawal masyarakat akar rumput 

Dia pantas menjadi pahlawan sekaligus inspirator yang meletakkan bahagianya bukan pada jabatan dan popularitas melainkan pada sejauh mana dirinya memberikan manfaat bagi orang lain.

Saya berharap ada yang menulis kisah Munir. Jika tak ada, apakah ini isyarat kalau saya yang harus menuliskan kisah hebat itu?




Salut Tim MAWAR, Salut TEMPO




Marilah kita berterimakasih kepada Tim Mawar, pasukan yang dahulu dibentuk Prabowo Subianto di tahun 1998. Ketika Tempo menyebut kaitan antara Tim Mawar dengan kerusuhan 21-22 Mei 2019, tim ini memilih untuk melapor ke Dewan Pers. 

Saya tak bisa bayangkan jika keberatan itu terjadi di masa Orde Baru. Dulu, mekanisme untuk menyampaikan keberatan bukan melalui saluran resmi. Ketika jurnalis menyengat pejabat, maka jurnalis itu sering hilang begitu saja. Jurnalis Bernas, Udin, adalah salah satunya.

Dengan cara melapor ke Dewan Pers, akan ada mekanisme hukum yang berjalan. Dewan Pers akan mengecek semua berita yang dibuat Tempo. Lembaga itu akan melihat seberapa berimbang Tempo dalam liputannya. Jika tidak berimbang, apalagi jika mengarang-ngarang, tentunya ada risiko hukum yang akan didapatkan media itu.

Bagi pemerhati media, pembuktian keberimbangan itu tidak begitu sulit dilakukan. Ada banyak metodologi riset untuk membuktikan keberimbangan dan keberpihakan satu media. Kita bisa melakukan analisis teks untuk menentukan apakah satu liputan cenderung tendensius ataukah tidak. Dulu, saya sering melakukan analisis teks ini untuk memantau netralitas dan keberpihakan.

BACA: Matinya BOLA, Matinya Kreativitas

Semua pihak yang berbeda pandangan akan dikonfrontir. Saya yakin, pihak Dewan Pers akan fokus pada informasi apa yang disajikan, serta cara-cara Tempo mendapatkan informasi itu. Apakah sumbernya jelas ataukah karang-karang? Selain itu, perhatian akan diberikan pada apakah informasi itu berimbang ataukah tidak. Jika menuduh A, maka apakah ada ruang bagi A untuk menjawab tuduhan itu?

Ketika informasi didapatkan dengan cara yang benar dan disajikan secara berimbang, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan Tempo. Media itu sudah kenyang dengan segala gugatan. Malah Tempo sudah pernah dibreidel pada masa Orde Baru atas satu informasi yang seharusnya bisa diperdebatkan lebih dahulu.

Hingga kini, media itu masih bisa eksis dan bertahan. Seiring waktu, jurnalisme Tempo tetap menjadi role model bagi liputan investigasi banyak media. Di tengah seliweran informasi yang tidak jelas, media itu masih menyajikan analisis mendalam dan juga kejelasan informasi. Inilah yang dibutuhkan publik.

Dulu, saya termasuk orang yang menyangka kalau produk jurnalistik akan segera berakhir seiring dengan kehadiran media sosial. Seiring waktu, saya pun merevisi anggapan itu. Media sosial belakangan ini hanya menyajikan sampah serta produk informasi yang sengaja mengaburkan persoalan. 

Berbagai media online memang menyajikan kecepatan. Tapi dalam hal kemasan, kedalaman, juga kelengkapan informasi, media-media cetak masih amat dibutuhkan. Publik tidak ingin sekadar tahu apa yang terjadi, tetapi butuh informasi lebih, apa yang ada di balik fakta-fakta itu, siapa yang terkait, apa kepentingannya, serta apa saja dampak yang bisa muncul. 

Publik, termasuk saya, mengalami kerinduan pada kerja-kerja jurnalistik yang berpangkal pada verifikasi dan cek ricek situasi lapangan. Produk jurnalisme menjadi lebih bernilai sebab dikerjakan dengan standar dan prosedur kerja yang jelas, serta diberi sentuhan oleh banyak pihak sebelum tayang ke publik.

Di media sosial, Anda tak bisa memverifikasi sejauh mana kebenaran satu informasi. Di banyak grup WhatsApp, kita hanya mendapatkan share artikel dari berbagai grup yang tak jelas benar siapa penulisnya. Nama seseorang sering dicatut. Hingga akhirnya seseorang itu memberi klarifikasi bahwa namanya digunakan sepihak.

Berkat produk jurnalistik, kita melihat ada kejelasan penyampai pesan. Kalau pun tak sepakat, ada banyak jalur untuk menggugat liputan itu. Bisa melalui surat elektronik, menghubungi jurnalis, hingga lapor ke Dewan Pers atau pihak berwenang. 

BACA: Sosok Penting di Balik Tribunnews

Setidaknya, Anda tahu ke mana harus memprotes dan menggugat ketika ada ketidaksepakatan. Beda halnya dengan media sosial yang serupa hantu bisa menyebar ke mana-mana, tanpa jelas siapa yang membuat konten itu.

Beruntunglah ada Tempo yang masih menyajikan investigasi, sesuatu yang memang harus dikerjakan para jurnalis. Mereka mempertaruhkan reputasi dan nama baik yang dibangun lama sebelum banyak partai politik berdiri. Jika investigasinya ngawur, mereka siap untuk menghadapi semua risiko.

Liputan investigasi seperti ini adalah oase di tengah seliweran informasi dari berbagai media abal-abal dan akun buzzer di medsos. Dalam situasi saat ini, publik mengalami Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK). Tadinya menjauh dari media mainstream, kini mendekat.

Namun, sebagai pembaca, saya tak menelan mentah-mentah semua informasi dari Tempo. Saya malah sering menemukan media ini menggunakan sumber anonim, yakni seseorang yang tidak mau disebutkan namanya. 

Dalam dunia riset, sumber anonim sering digunakan jika informasi itu bisa membahayakan narasumber. Sebab yang terpenting adalah informasi itu benar atau tidak, bukan pada siapa pelakunya. 

Tapi dalam dunia jurnalisme, informasi dari sumber anonim bisa membuat kredibilitas media jadi turun. Memang, media itu bisa mengklaim sumber itu A1 dan tak perlu diungkap, tapi makin banyak anonim bisa membuat publik bahwa media ini terlalu ini banyak spekulasi dan berlindung dibalik nama anonim.

Kritik lain pada Tempo adalah adanya vonis atau penilaian dini. Maksud saya, Tempo bukanlah polisi, jaksa, dan hakim yang melakukan investigasi, kemudian memutuskan bersalah tidaknya seseorang. Tugas media ini hanya menghamparkan semua hasil investigasi, tanpa harus terjebak pada vonis siapa yang terlibat. 

Satu lagi, bisakah kita menyebut satu tim bersalah sementara pelakunya hanya satu orang? Bukankah mengaitkan kesalahan satu orang oknum pada satu kelompok adalah bagian dari over-generalisation yang merupakan kesalahan berpikir?

Tapi biarlah Dewan Pers dan pengadilan yang akan menentukan apakah salah ataukah benar.

BACA: Erick Thohir di Mata Profesor Amerika

Sebagai publik, kita harus berani memberikan apresiasi kepada Tim Mawar yang memilih membawa persoalan ini ke Dewan Pers. Kita akan melihat proses yang terbuka, apakah jurnalisme Tempo bisa jadi rujukan ataukah tidak.

Namun, ada banyak pertanyaan yang terbersit di pikiran saya. Bagaimanakah halnya jika Dewan Pers menganggap Tempo sudah benar dan menyatakan Tim Mawar yang keliru? Apakah Tim Mawar tidak lantas menolak lalu mengklaim diri benar, kemudian sujud syukur? Apakah tidak lantas Tim Mawar menyatakan lebih percaya pada people power?

Entahlah, semoga Tim Mawar tidak belajar banyak pada sikap pendirinya.




Dulu Benci, Kini CLBK




DUA edisi terakhir Majalah Tempo mengenai kerusuhan 21 Mei 2019 menjadi incaran banyak orang. Lapak koran kembali ramai. Orang-orang haus dengan informasi yang tidak ada di media sosial. Juga tidak ada dalam berbagai cuitan para buzzer yang berseliweran di timeline.

Dulu, saya termasuk orang yang menyangka kalau produk jurnalistik akan segera berahir seiring dengan kehadiran media sosial. Seiring waktu, saya pun merevisi anggapan itu. Sebab media sosial belakangan ini hanya menyajikan sampah serta produk informasi yang sengaja mengaburkan persoalan.

Publik, termasuk saya, mengalami kerinduan pada kerja-kerja jurnalistik yang berpangkal pada verifikasi dan cek ricek situasi lapangan. Produk jurnalisme menjadi lebih bernilai sebab dikerjakan dengan standar dan prosedur kerja yang jelas, serta diberi sentuhan oleh banyak pihak sebelum tayang ke publik.. 

Di media sosial, Anda tak bisa memverifikasi sejauh mana kebenaran satu informasi. Di banyak grup WhatsApp, kita hanya mendapatkan share artikel dari berbagai grup yang tak jelas benar siapa penulisnya. Nama seseorang sering dicatut. Hingga akhirnya seseorang itu memberi klarifikasi bahwa namanya digunakan sepihak.

Pada produk jurnalistik, kita melihat ada kejelasan penyampai pesan. Kalau pun tak sepakat, ada banyak jalur untuk menggugat liputan itu. Bisa melalui surat elektronik, menghubungi jurnalis, hingga lapor ke Dewan Pers atau pihak berwenang. 

Anda tahu ke mana harus memprotes dan menggugat ketika ada ketidaksepakatan. Beda halnya dengan media sosial yang serupa hantu bisa menyebar ke mana-mana, tanpa jelas siapa yang membuat konten itu.

Dua edisi terakhir Tempo menyajikan investigasi, sesuatu yang memang harus dikerjakan para jurnalis. Mereka mempertaruhkan reputasi dan nama baik yang dibangun lama sebelum banyak partai politik berdiri. Jika investigasinya ngawur, mereka siap untuk menghadapi semua risiko.

Liputan investigasi seperti ini adalah oase di tengah seliweran informasi dari berbagai media abal2 dan akun buzzer di medsos. Dalam situasi saat ini, publik mengalami Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK). Tadinya menjauh dari media mainstream, kini mendekat.

Tempo berani menyajikan teka-teki kerusuhan seperti kisah sabotase dalam film-film. Asumsinya, ada sejumlah orang yang tidak siap dengan kekalahan pilpres, kemudian merancang strategi agar terjadi rusuh sehingga terjadi pergantian kepemimpinan. Sayangnya, aksi itu tidak digarap dengan serius. Pelakunya amatiran sehingga mudah dibekuk.

Saya tak ingin berspekulasi. Saya hanya berharap siapa pun pelakunya harus diadili. Sebagai bangsa, kita terlalu pemurah sebab memilih untuk melupakan satu luka atas peristiwa besar, tanpa ada proses hukum. Padahal, dengan mengusut tuntas pelakunya dan memberi hukuman, kita berharap peristiwa serupa tidak terjadi di masa depan.

Dengan cara itu, kita menyelamatkan masa depan.




Jika AS dan Cina Perang, Apa Kata HARARI?


ilustrasi

Tak ada peristiwa sehangat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Cina dalam dua pekan terakhir. Berawal dari pelarangan Huawei di AS, berlanjut ke isu perlombaan siapa tercepat dalam teknologi 5G, teknologi yang diyakini akan mengubah lanskap bisnis masa depan. 

Saat ini, AS dan Cina sedang terlibat perang dagang. Namun, ada pula yang memanas-manasi adanya perang beneran. Apakah mungkin di abad yang serba digital ini perang akan terjadi antar dua negara besar? Apakah mungkin peristiwa perang dunia kedua akan terulang?

Saya membaca artikel tentang perang yang ditulis sejarawan terkemuka Yuval Noah Harari di Time (Baca DI SINI). Dalam buku 21 Lesson for 21st Century, sejarawan Israel yang bukunya dibahas di seluruh dunia ini juga menjelaskan tentang perang. Saya tertarik untuk menarasikan ulang gagasan Harari demi melihat pertautannya dengan persaingan antara Amerika Serikat dan Cina.

Dulu, negara-negara seperti Amerika Serikat bisa memiliki wilayah luas karena perang dan penaklukan. Setiap jengkal wilayah didapatkan dari peperangan serta kehilangan ratusan ribu jiwa. Tapi di abad ke-21, perang bukan lagi jalan yang dipilih oleh negara-negara besar. 

Malah, hampir tidak mungkin dua kekuatan besar akan berhadapan. Ada beberapa sebab yang bisa diuraikan.

Pertama, adanya perubahan sifat ekonomi. Dulu, aset ekonomi adalah material sehingga perang bertujuan untuk mempermudah penaklukan dan penguasaan semua aset material. Pihak yang menang akan leluasa mencaplok semua kekayaan pihak yang kalah, mulai dari ladang gandum, ladang minyak, lumbung pangan, hingga cadangan emas.

Pada zaman dulu, pemenang perang akan merampas semua harta, aset material, serta menjual penduduk sipil sebagai budak. Perang membuat satu bangsa bisa kaya raya melalui pencaplokan.

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligence, Hingga Kediktatoran Digital

Pada era kekinian, hal seperti itu tidak mungkin dilakukan. Aset ekonomi hari ini bukan lagi material, melainkan pengetahuan teknis dan kelembagaan. Kita bisa mencaplok wilayah, tapi tidak bisa menguasai sumber-sumber pengetahuan. 

Anda bisa mencaplok Google, tapi yang Anda dapatkan hanya kantor dan semua peralatan kerja. Padahal, kekuatan Google bukan di situ, melainkan pada pengetahuan, penguasaan teknologi, kerja sama kolektif dan berjejaring, kemampuan mencipta hal baru, kepandaian bisnis, hingga ekosistem kerja yang menjadikannya sebagai perusahaan hebat.

Kedua, perang bukanlah hal yang secara bisnis menguntungkan. Perubahan sifat ekonomi ini hanya membuat perang menjadi sia-sia belaka. Tak akan banyak kentungan yang didapat, sebab kerugian akan lebih besar. Mengingat hal ini, negara-negara besar akan saling menahan diri dan menghindari perang.

Iran sama sekali tidak mendapat keuntungan signifikan dengan perang Iran-Irak. Dulu, Jepang mengira bahwa invasi Korea, Manchuria, hingga Cina daratan akan membuat ekonominya melejit. Jepang mengira, tanpa invasi, ekonominya akan makin hancur. Ternyata, justru invasi itu yang membuat ekonominya makin terpuruk dan luluh-lantak.

Perang itu membuat mereka bangkrut dan kehilangan ratusan ribu jiwa, khususnya ketika bom atom jatuh di Hiroshima dan Nagasaki. Ajaibnya, ekonomi Jepang malah bangkit setelah kalah perang. Negeri itu bisa membangkitkan hasrat dan motivasi kuat dalam hal ekonomi. Mereka ingin membayar lunas semua rasa malu atas kekalahan itu dengan kegemilangan ekonomi. Mereka berhasil.

tiga buku yang ditulis Harari

Hari ini kita melihat Cina dengan kekuatan ekonomi yang sangat hebat. Tapi Cina akan berpikir seribu kali untuk menyerang Amerika. Kalkulasi biaya perang akan jauh lebih besar dibandingkan keuntungan yang didapatkan. Bisa dibayangkan berapa kerugian yang akan dihadapi Cina. Banyak negara akan memblokade, produk negeri itu tidak masuk dalam rantai perdagangan global, hingga hilangnya pasar.

Di abad ini, senjata-senjata punya kemampuan merusak yang sangat hebat. Ledakan nuklir bisa membuat satu negara lenyap. Tapi jika dihitung dari sisi keuntungan ekonomi, maka tak banyak yang bisa diraup. Kata Harari, sejak bom atom jatuh di Hirshima dan Nagasaki, kita nyaris tak pernah lagi mendengar ada negara yang dijatuhi bom atom. 

Perang akan berhasil membangkitkan ekonomi apabila pemenangnya bisa memiliki kendali atas perdagangan global yang sedang berlangsung. Itu dialami Inggris ketika mengalahkan Napoleon. Juga dirasakan Amerika Serikat ketika berhasil menjatuhkan Hitler.  Tapi di abad ke-21, kita tidak akan melihat hal seperti itu lagi.

Ketiga, perang yang paling berbahaya bukan lagi perang berhadap-hadapan dengan senjata canggih yang punya daya rusak hebat. Bukan lagi seperti perang yang dilihat dalam film Rambo. Perang yang lebih menakutkan adalah perang siber. Makanya, negara-negara yang sama-sama maju akan memilih untuk tidak terlibat perang mengingat dampak perang siber yang sangat besar.

Di era George W Bush, Amerika Serikat bisa dengan mudahnya menjatuhkan bom di Fallujah, Irak, sebab meyakini Irak tidak akan memberikan perlawanan yang sama pada kota-kota di Amerika seperti New York dan San Francisco. Demikian pula Rusia begitu pede saat menganeksasi Krimea, sebab militer Ukraina sengaja tidak memberikan perlawanan.

Namun dalam perang siber, Amerika akan sangat berhitung siapa yang dihadapi. Dia tidak akan berani menghadapi negara dengan kemampuan siber dan IT yang tangguh. Amerika berani berperang di Irak dan Afganistan, namun akan berhitung seribu kali jika menghadapi negara yang punya infrastruktur teknologi.

Mengapa? Sebab dalam perang siber, seorang remaja di Cina bisa saja merancang sistem informasi agar kereta saling tubruk di Boston dan New York. Bisa saja seorang anak muda di sudut Asia membuat pesawat-pesawat yang ada di Bandara John F Kennedy saling bertabrakan di udara. Semuanya bisa dimungkinkan sebab manusia amat tergantung pada kendali dunia digital. Sekali kenop ditekan, maka sistem bisa menghancurkan diri sendiri.

Meskipun semua analis menyatakan tidak mungkin, perang fisik bisa saja terjadi. Kita tak boleh mengabaikan kemungkinan itu. Sebab sejarah menunjukkan bahwa kekuatan terpenting yang menyebabkan perang adalah kebodohan manusia.

Beberapa pemimpin dan jenderal melihat dunia seperti permainan catur, di mana ada gengsi dan harga diri. Mereka sesukanya menggerakkan pion, meskipun disebut telah melakukan kalkulasi matang. Mereka bisa mengabaikan banyak hal, termasuk bagaimana ekonomi satu negara, serta orang-orang biasa yang akan menjadi korban dari gerakan pion itu.

Hari ini pun kita melihat semua negara memperkuat persenjataan untuk menghadapi bangsa lain. Dunia bisa terjerembab dalam lubang yang sama ketika sejumlah orang marah dan bodoh memimpin lalu seenaknya menggerakkan pion dengan dalih harga diri dan kalkulasi rasional. Sejarah punya banyak catatan.

***

Beberapa pekan terakhir, kita sedang menyaksikan perang siber antara Amerika Serikat dan Cina. Amerika menuduh perusahaan teknologi Cina yakni Huawei telah menganggu keamanan nasional negara itu sebab ada dugaan spionase dalam produknya. Perusahaan raksasa Amerika yakni Google dan Facebook dilarang untuk bekerja sama dengan Huawei.

Cina tak lantas diam. Negara itu juga mengancam akan melawan tindakan Amerika dengan pembatasan beberapa ekspor teknologi mereka. Huawei diam-diam sedang mematangkan sistem operasi mereka sehingga tidak tergantung pada android yang dimiliki Google.

Tapi beberapa analis menyebutkan kalau konflik itu berpangkal pada kian majunya riset Cina mengenai teknologi 5G. Huawei perlahan mengungguli perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dalam hal riset teknologi 5G. Kita bisa bayangkan apa yang terjadi di masa depan. Sebab kemajuan teknologi selalu diiringi perubahan lanskap bisnis dan kekuatan dunia.

Dahulu, teknologi 4G telah mengubah dunia menjadi lebih interaktif sehingga memungkinkan munculnya banyak startup seperti bukalapak, tokopedia, dan Gojek. Anda mungkin masih punya memori bagaimana teknologi 1G membuat Anda bisa punya HP, yang layarnya hanya memuat satu baris teks. Tiba-tiba di era 4G, Anda sudah bisa video call dengan siapa pun di belahan bumi mana pun.

Ketika era 5G masuk, perbandingan dengan 4G bagaikan televisi layar datar dibandingkan dengan tv cembung ukuran 14 inchi. Jika 5G mulai digunakan secara massal, maka interaksi akan jauh lebih cepat, latensi (waktu tunggu) lebih rendah. Anda tak perlu khawatir akan lambat loading. Kecepatannya lebih tinggi dari kedipan mata.




Beberapa perusahaan mencanangkan teknologi 5G akan sama pentingnya dengan listrik. Salah satu output dari teknologi ini adalah mobil otonom (tanpa driver) yang bisa “berkomunikasi” dengan mobil lain di jalan raya, industri kesehatan yang memungkinkan operasi jarak jauh serta penggunaan robot.

Bisa pula diterapkan untuk hiburan yang interaktif, belanja online, serta Internet of Things (IoT) yang digunakan di rumah hingga smart city, dan pertanian. Bahkan bisa digunakan untuk keperluan militer, khususnya perang dengan menggunakan drone dan robot yang dikendalikan dari pusat komando.

Marilah kita melihat satu contoh penggunaan teknologi 5G untuk mobil otonom. Saat ini semua industri otomotif bersiap menyambut era mobil otonom yang tidak lagi butuh sopir. Berkat teknologi V2X atau Vehicle to everything, mobil bisa "berkomunikasi" dengan mobil lain, juga dengan pejalan kaki atau orang, serta jaringan.

Berkat komunikasi dengan mobil lain, mobil otonom bisa mengetahui lokasi mobil yang berada di dekatnya. Sedangkan komunikasi dengan pejalan kaki akan berguna saat berkendara. Tatkala hendak menyeberang contohnya, perangkat yang digunakan pejalan kaki bisa mengingatkan akan mobil yang sedang melaju. Sementara, berkomunikasi dengan jaringan memungkinkan jaringan memberikan informasi mengenai kondisi yang lokasinya cukup berjarak, seperti adanya kecelakaan pada 2,5 kilometer di depan.

Makanya, Cina dan Amerika tidak akan bertempur secara fisik. Tapi mereka akan bertempur di lintasan perlombaan menjadi teknologi terdepan. Cina punya riset 5G yang maju, tapi Amerika sudah lama membangun ekosistem teknologi. 

Amerika Serikat punya kekuatan untuk memaksa semua perusahaan teknologi di negaranya agar memutus kerja sama dengan Huawei sehingga mengerdilkan perusahaan itu agar kekuatan teknologi tetap menjadi kebanggaan Amerika Serikat.

Tapi, dalam beberapa hari terakhir, Huawei melawan dengan sengit. Perusahaan ini sudah lama menyiapkan Plan B jika Plan A gagal. Huawei menjalin kerja sama dengan Rusia, serta negara Eropa lainnya. Huawei sedang menyiapkan serangan balik.

Di lanskap teknologi, kita sedang menyaksikan perang antara dua pemilik kekuatan besar. Keduanya bersaing untuk memperebutkan supremasi di bidang teknologi, sekaligus siapa yang mengendalikan wajah dunia di masa datang.

Dalam buku Homo Deus, Harari pernah bilang bahwa agama masa depan adalah dataisme. Semua orang akan bergerak mengikuti ke mana algoritma data yang sangat mengenali manusia lalu mengarahkan pilihan-pilihan manusia. Data akan lebih mengontrol manusia ketimbang kitab suci dan janji penyelamatan dalam agama samawi.

Kita sudah bisa menebak siapa yang akan kendalikan dunia di masa depan, yakni negara yang punya teknologi dan algoritma paling canggih, dalam hal ini Amerika Serikat dan Cina. Keduanya punya infrastruktur teknologi serta ekosistem yang memungkinkan lahirnya banyak inovasi untuk memimpin dunia.

Lantas, di mana posisi kita sebagai bangsa Indonesia yang penduduknya setiap saat jadi mainan hoaks sehingga sibuk tengkar dan rusuh hanya karena beda pilihan politik?




Dua Pesan Lebaran




Lebaran tahun ini, saya membuat dua pesan di media sosial, dalam hal ini Facebook. Keduanya diniatkan sebagai sebentuk sapaan, sekaligus candaan kepada para sahabat. Silakan menyimak.

Pesan Pertama

Mama: "Kami minta maaf atas semua kesalahan yang terstruktur, sistematis, dan massif, termasuk salah input dan kecurangan. Maafkan jika ada real count tindakan yang tidak tepat di hati."

Ayah: "Apa yang dikatakan istri saya itu tidak patut. Tidak elok menyindir di tengah situasi terbelah. Idul fitri harusnya merangkul, bukan memukul. Saatnya kita rekonsiliasi, bukan mengoyak luka anak bangsa."

Pesan Kedua

Semua orang menulis permohonan maaf dan Selamat Idul Fitri dengan kata2 yang amat indah. Sebagai pujangga medsos, saya kehilangan kata. Semua stok kalimat bagus berisikan doa sudah dikopas ke mana2. 

Tahun lalu, saya mengalami fenomena "senjata makan tuan." ucapan selamat lebaran yang saya buat di beberapa grup telah beredar ke mana2, dalam banyak nama, bahkan terkirim kembali ke saya pakai nama orang lain.

Tapi tak apa. Dengan cara itu kita memuliakan Idul Fitri. Dengan kalimat indah itu, kita merayu Sang Pencipta agar selalu melimpahkan rezeki dan kebaikan bagi kita dan semesta.

Tahun ini, saya kehabisan kata indah. Semuanya sudah diserap para sahabat. Biarlah saya ucapkan kalimat itu dalam format paling sederhana: "Selamat hari raya idul fitri. Mohon maaf lahir dan batin."

Semoga semesta selalu damai dalam ruang dan canda. Semoga semua kata indah menjadi mantra yang menyihir dunia menjadi lebih baik, lebih manusiawi, lebih membahagiakan.

Yusran Darmawan & keluarga

Prananda Paloh, Milenial, dan Media Sosial




CATATAN: Tulisan ini saya buat untuk buku berjudul Inspirasi Restorasi yang dibuat atas permintaan Fraksi Nasdem DPR RI. Isinya adalah 100 kisah politisi Nasdem di Indonesia. Mudah-mudah bisa segera terbit dan dipasarkan.


Kampus Universitas Harvard di Boston, Amerika Serikat, menyiapkan ruang kelas yang berisikan calon pemimpin dunia. Mahasiswanya adalah putra dari semua presiden, pemimpin partai, ataupun tokoh politik di berbagai negara. 

Pihak Harvard meyakini bahwa pemimpin masa depan memiliki hubungan genealogis dengan pemimpin sebelumnya. Asumsinya adalah nilai-nilai kepemimpinan memang tak bisa diwariskan, akan tetapi bisa disebarkan secara kontinyu di dalam satu keluarga.

Jika Harvard hendak membuat kelas serupa di Indonesia, siapakah gerangan wajah-wajah yang akan mengisi dunia politik tanah air kita di masa mendatang? Mereka adalah Yenny Wahid, Puan Maharani, Agus Harimurti Yudhoyono, Anindya Bakrie, Solichin Kalla, dan Prananda Surya Paloh. Semuanya sedang mempersiapkan diri ke arah itu. 

Namun, Prananda Surya Paloh tampak berbeda dengan yang lain. Apakah yang sedang dipersiapkan oleh anak muda usia 30 tahun ini?

Memperkuat Media Sosial

Ruang kecil di sudut lantai 23 gedung DPR RI itu tampak lengang. Penghuninya terlihat hanya beberapa orang. Sepintas, ruangan itu terlihat sama dengan ruang kerja anggota DPR RI yang lain. Tapi setelah berada di dalam, ternyata atmosfernya berbeda.

Atmosfer ruangan itu ditata sebagai ruangan khas seorang anak muda. Di situ, terdapat satu teropong besar yang bisa digunakan untuk melihat obyek di kejauhan. Di situ terdapat rak yang berisikan buku-buku mengenai politik dan kebudayaan. 

Ruang kerja itu dihuni oleh Prananda Surya Paloh, anggota Fraksi Nasional Demokrat (Nasdem) di DPR RI. Kesan santai sengaja dibangun agar ruangan itu bisa menjadi tempat diskusi yang nyaman bagi siapa pun yang berkunjung. Ini juga disesuaikan dengan jiwa muda Prananda. Di ruangan itu, aku bertemu dan banyak berdiskusi dengan tim-tim ahli yang menopang kegiatan Prananda.

Banyak pihak yang hanya mengenalnya sebagai putra Surya Paloh, tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang dilakukannya untuk bangsa. Selama ini orang mengira dia seperti politisi lain yang hanya mengandalkan jejaring keluarga, serta menjadi ruang-ruang parlemen sebagai lahan untuk mencari nafkah. Padahal Prananda adalah pekerja keras yang menggapai semua impiannya dari bawah.

Sejak menjadi anggota parlemen, informasi tentangnya beredar melalui dunia maya. Di kanal twitter, ia beberapa kali menjadi trending topic dunia. Dalam banyak isu, suaranya mengemuka dan disebar banyak orang di ranah media sosial. 

Beberapa isu yang mencuatkan namanya adalah penolakan hukuman mati, tanggapan atas penenggelaman kapal ikan, hingga yang terbaru adalah penolakan atas dana aspirasi sebesar 20 miliar rupiah. Melalui media sosial, suaranya bergema ke mana-mana.

Lulusan Monash University di Australia ini menjadi ikon dari generasi muda yang paling banyak dibicarakan. Tak hanya itu, fanpage-nya di Facebook dikunjungi hingga ribuan orang. Ia menggelar kuis tentang Pancasila yang diikuti banyak kalangan. 

Data Socialbakers, lembaga pemeringkat internasional, menempatkan Facebook Fanpage milik Prananda Paloh berada di peringkat 8 politisi yang paling banyak pengikut, yakni sebanyak 1,9 juta orang. Tujuh nama di atas Prananda adalah Prabowo Subianto, Joko Widodo, SBY, Partai Gerindra, Ridwan Kamil, Partai Solidaritas Indonesia, dan Basuki Tjahaja Purnama.

Website Prananda juga paling sering ter-update. Informasi lengkap disajikan, mulai dari kegiatan harian di ranah politik, hingga berbagai informasi yang isinya adalah pertanggungjawaban kepada publik atas kiprah selama beberapa waktu di gedung parlemen.

“Saya ingin menyajikan satu ruang politik yang terbuka. Saya ingin semua orang tahu kegiatan seorang politisi. Saya ingin memutus jarak, dan memilih satu ruang yang memungkinkan saya untuk bisa belajar dan menyerap informasi dari banyak orang,” katanya.

Sepintas, pergerakan ini tak ada yang baru. Hampir semua politisi menggunakan kanal media sosial untuk menyapa semua konstituennya. Akan tetapi jelajah di ranah maya ini justru menarik dilakoni seorang Prananda. Betapa tidak, sebagai pemilik salah satu jaringan media paling besar di tanah air, ia bisa dengan mudahnya memanfaatkan jaringan media yang dimilikinya.

Ia justru memilih cara lain untuk menyampaikan ekspresi. Ia memilih dan memperkuat media sosial sebab meyakini bahwa interaksi di kanal ini bersifat langsung, di mana semua orang memiliki posisi yang setara saat berinteraksi. Dengan cara berinteraksi secara langsung, ia menjadi role model bagi politisi yang menggunakan semua suara-suara publik yang tersebar di berbagai kanal, lalu menggunakan kanal itu membumikan ide-ide besarnya.

Pada diri Prananda terletak kerja-kerja sistematis yang berpijak pada hari ini dan hari depan. Ia di-backup oleh tim analis media yang tangguh. Semua informasi didapatkan dari beberapa kanal, lalu dianalisis, dilihat seberapa besar urgensinya. Informasi itu kemudian diteruskan melalui berbagai kanal, baik itu kanal politik, maupun kanal yang lain. Sebagai politisi, ia memaksimalkan jejaring yang dibangunnya di ranah ini.

Namun ia juga membentuk berbagai lembaga kemanusiaan dan yayasan yang tujuannya untuk memberikan bantuan kepada siapa pun yang membutuhkan. Satu saja catatan atas kerjanya, yakni hanya mencakup Sumatera Utara yang menjadi basis politiknya. Harusnya, ia bisa melebarkan sayap hingga ke banyak tempat di tanah air. Dengan cara demikian, ia bisa membangun branding sebagai tokoh nasional yang bisa melintasi sekat-sekat geografis dan perbedaan.

Awal Mula di Ranah Politik

Prananda memutuskan untuk masuk dunia politik pada tahun 2012. Usianya baru 24 tahun dan baru saja lulus kuliah. Saat itu ada penerimaan Daftar Calon Partai Nasdem yang saat itu bersiap memasuki Pemilu. Orangtuanya tak pernah memaksanya masuk politik. “Saat itu saya pikir ada peluang dan kesempatan,” katanya.

Dia pun mulai berkampanye dengan tema Restorasi Indonesia”, senada dengan jargon partai. Selama satu setengah tahun di Dapilnya yakni Sumatera Utara, dia mulai bertemu masyarakat. “Saya bukannya shock. Saya melihat kesenjangan sosial. terlalu jauh kalau membandingkan Jakarta dan Medan. Bandingkan saja kota Medan dengan daerah pinggiran. Kesenjangannya sangat jauh. Saya ingin berbuat banyak.”

Kerja keras Prananda segera berbuah. Dia berhasil terpilih sebagai anggota DPR RI. Ketika terpilih, dia kembali ke Desa Sibolangit di Deli Serdang. Dia disambut warga bak pahlawan. Dia mendapatkan inspirasi untuk membentuk Yayasan Prananda Sury Paloh (PSP). Lembaga ini menjadi tali kasih yang menyalurkan bantuan sosial kepada warga yang membutuhkan.

Yayasan ini memberikan bantuan kepada masyarakat. Mulai dari pemberian bibit unggul ternak, yakni kambing dan sapi. Yayasan ini tidak meminta kembali apa yang diberikan. Yayasan PSP berharap agar masyarakat memanfaatkan bantuan itu untuk bisa lebih sejahtera.

Prananda bekerja dengan detail. Bantuan untuk kecamatan lain disesuaikan dengan kebutuhan warga. Di daerah pesisir, dia memberikan pelatihan bagaimana menjadi nelayan modern yang lebih maju dalam hal menangkap ikan. Dia juga memberi pendampingan dan bantuan speedboat 

Semua kerja-kerja itu dilakukan Prananda di usia muda. Ketika dia harus bersaing dengan mereka yang pernah menjabat, Prananda tak patah arang. “Orang melihat bahwa muda itu bukan berarti bodoh atau tidak punya pengalaman cukup. Jam terbang boleh kalah, Tapi kita punya motivasi untuk berubah, karena satu-satunya yang muda adalah saya, itu menjadi kekuatan.”

Semangat muda inilah yang dibawanya ke DPR RI. Dia ditempatkan di Komisi I yang membidangi pertahanan, intelijen, luar negeri, komunikasi, dan informatika. Di komisi ini, dia menunjukkan idealismenya. Dia memegang teguh apa yang dikatakan Tan Malaka: “Kemewahan bagi pemuda adalah idealismenya.” 

Selain menjabat sebagai Wakil Ketua Fraksi Nasdem, dia juga menjabat sebagai anggota Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP). Dia aktif berinteraksi dengan konstituennya dengan cara memberikan pemahaman bahwa kehadiran pemuda di parlemen adalah angin segar.

Untuk itu, dia mendirikan Prananda Surya Paloh (PSP) Center yang aktif memberikan bantuan sosial kepada masyarakat di daerah pemilihannya. 

Kini, ia juga diberi amanah sebagai Ketua Umum Garda Pemuda Nasdem. Dia ingin mengubah paradigma organisasi ini. Tidak semata berpatokan pada politik murni, melainkan sebagai wadah untuk mengembangkan kreativitas.

“Saya juga punya target politik, Saya ingin Garda Pemuda Nasdem bisa menorehkan sejarah. Saya rasa belum ada organisasi pemuda lain yang sanggup menaruh 10 anggota DPR RI di parlemen. Target juga adalah 20 persen DPRD Provinsi, dan 20 persen DPRD Kabupaten dan kota,” katanya dengan penuh semangat.

Semoga niat baik ini selalu mendapat jalan dari Yang Maha Kuasa. Semoga Prananda terus berbuat baik pada semua orang.



Mencari DAMAI di Sekam Konflik Pulau BUTON


seorang aparat melihat rumah yang terbakar (foto: Kompas.com)

Media nasional memuat berita mengenai konflik di Kabupaten Buton. Sebanyak 87 rumah di satu desa terbakar karena konflik dengan masyarakat desa lainnya. Polisi dan aparat keamanan sedang bekerja untuk memadamkan api konflik. Semua pihak dihimbau untuk tenang dan damai.

Ratusan warga kini mengungsi ke desa lain dalam situasi harap-harap cemas. Seorang kawan bercerita kalau eskalasi konflik sewaktu-waktu bisa kembali membuncah. Warga desa lain mulai terlibat. Tetua adat ada yang ikut dalam pusaran konflik.

Di Pulau Buton, konflik ibarat bara dalam sekam. Sewaktu-waktu konflik bisa memantik. Di masa kolonial, ada kisah peperangan yang menewaskan banyak orang. Di zaman kemerdekaan, banyak pula catatan tentang perlawanan. Di masa Orde Baru, ada kekerasan pada mereka yang dituduh komunis.

Di banyak desa, tradisi kependekaran masih hidup. Anak muda bangga mempelajari kesaktian dan ilmu kebal. Saat konflik Ambon meletus di tahun 1999, banyak anak muda Buton yang kembali ke kampung dan bercerita heroik tentang konflik itu. Juga bangga bercerita mengenai ilmu kebal.

Secara umum, masyarakat Buton adalah masyarakat yang cukup kosmopolit. Mereka terbiasa berpindah-pindah tempat sehingga membentuk wawasan mereka dan sikap terbuka pada para pendatang. 

Apalagi, Buton terletak jalur pelayaran dan alur perdagangan tradisional sehingga lalu lintas kapal cukup lancar, khususnya ke kawasan timur Indonesia. Jika mereka terbuka pada orang lain, mengapa mereka bisa terlibat konflik antar kerabat di kampung sendiri?

BACA: Sufi Besar, tasawuf, dan Naskah di Pulau Buton

Sejauh yang saya lihat, konflik di Buton masih sebatas kelahi antar kelompok. Itu pun, ada kawasan yang selama ini menjadi hotspot konflik. Dua tahun terakhir, konflik sering terjadi di kota Baubau. Beberapa orang tewas gara-gara konflik itu. 

Berita hari ini cukup mengejutkan saya. Selama lebih 30 tahun lebih, saya baru mendengar ada kejadian di mana lebih 87 rumah dibakar warga desa sebelah. Apalagi, warga desa di sana semuanya masih berkerabat, atau minimal saling mengenal. Tak ada catatan konflik berskala massif.

Dalam situasi seperti ini, saya berharap aparat hukum segera bekerja untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat. Supremasi hukum harus tegak. Pelaku rusuh harus ditemukan.

Kata John Paul Lederach (1999), salah seorang profesor studi perdamaian, rekonsiliasi atau perdamaian antar kubu bisa dilakukan jika terdapat prasyarat kebenaran dan keadilan. Jika dua hal itu terpenuhi, baru kita bicara perdamaian.

Kebenaran yang dimaksud di sini adalah adanya transparansi, pengungkapan, dan klarifikasi atas apa yang terjadi. Sedangkan keadilan adalah adanya unsur kesetaraan, pemulihan hubungan atas dasar hak-hak, adanya restitusi atau pengembalian hak-hak masing-masing individu.

Itu saja tak cukup. Mesti ada upaya-upaya investigasi atas sebab-musabab konflik sehingga tidak terjadi di masa depan. Mesti ada analisis ekonomi politik mengapa konflik itu bisa muncul, apakah ini ada kaitan dengan konflik agraria ataukah ada formasi ekonomi baru yang sedang berjalan di desa-desa kita. Secara kultural, tugas semua pihak adalah bagaimana membangun kembali kohesi atau ikatan antar masyarakat yang mulai koyak. Kita mesti memikirkan rekonsiliasi.

BACA: Kisah dari Dekat Kampung yang Warganya Ditelan Ular

Ada yang bilang, terlalu dini untuk bicara rekonsiliasi. Sebab konflik masih berlangsung. Amarah masih mencari ruang untuk diletupkan. Namun, kita bisa sedikit lega karena aparat sudah berada di lapangan. Mereka sudah siaga dan berjaga-jaga kalau-kalau ada yang hendak membalas dendam.

Saya berpandangan rekonsiliasi harus dibicarakan sejak dini. Kita sama-sama ingin agar konflik itu tidak terus berlanjut. Semua harus move on. 

Namun, rekonsiliasi itu bukan sekadar bertemu dan bersepakat damai. Kita mesti menemukan strategi budaya agar kedekatan antar masyarakat yang sudah berlangsung ratusan tahun bisa kembali bertaut. Konflik sebesar apa pun tak harus mengorbankan sendi-sendi kedekatan dan hubungan persaudaraan yang lama dibangun. 

Daripada larut dalam dendam dan amarah, lebih baik menatap hari esok yang penuh harapan.

Bagi saya, energi untuk konflik selalu ada dalam setiap masyarakat. Semua masyarakat punya benih-benih konflik. Tugas semua pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, adalah bagaimana membuat saluran-saluran agar energi itu bisa mengalir menjadi sesuatu yang positif. Bukan lantas menjadi sesuatu yang destruktif dan merugikan orang lain.

Kanalisasi itu bisa dilakukan melalui kebudayaan. Apalagi, setiap masyarakat punya tradisi dan budaya sebagai norma hidup bersama yang menyatukan semua orang. Sejauh amatan saya, ada banyak peta-peta sosial budaya yang telah bergeser. Masyarakat Buton hari ini bukan lagi masyarakat sebagaimana dahulu dicatat rapi para antropolog dan sosiolog. 

Sejak masuk dalam era NKRI dan kapitalisme, cara pandang masyarakat telah lama bergeser. Pemahaman atas kanalisasi konflik dalam kebudayaan Buton telah bergeser. Dulu, banyak ritual budaya yang bisa merekatkan hubungan antar desa. Sebut saja, tradisi pesta panen yang dilakukan secara bergelombang di banyak desa, yang diiringi tradisi makan-makan (pekande-kandea). Masyarakat bisa berkunjung ke berbagai desa demi menghadirinya.

BACA: Kisah Raja Bugis di Pulau Buton

Sewaktu masih di bangku SMA, saya cukup hafal jadwal pesta panen di berbagai desa. Sebab di setiap pesta panen itu, selalu ada pesta joged untuk anak muda. Malah, ada ritual seperti kamoo-moose atau mencari jodoh di Lakudo. Semua ritual itu bisa memperkuat silaturahmi. Masyarakat saling kenal. Anak muda saling berjodoh sehingga integrasi antar desa semakin kuat. 

Sekarang, acara-acara itu masih ada. Tapi sudah tidak semenggetarkan dulu. Lebih mudah bagi anak muda menggunakan Facebook, Tinder, atau Badoo untuk sekadar bertemu kenalan baru. Tak perlu tetua dan pemuka adat. Cukup menggunakan gadget, Anda sudah menemukan kenalan baru.

Dahulu, ketaatan pada tokoh dan tetua adat menjadi sumbu dari keteraturan sosial. Seorang tetua adat punya peran penting dalam setiap ritual budaya yang berlangsung di tengah masyarakat. Mereka juga menjadi mata air nilai dan pengetahuan.

Kini, peran mereka sekadar melengkapi ritual yang berjalan. Mereka tak lagi sentral. Masyarakat menyerap pengetahuan dan nilai baru melalui bangku pendidikan, tayangan media, hingga wacana yang marak di media sosial. Mereka menemukan idola baru pada sosok Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Malah, masyarakat lebih suka berdebat tentang pilihan capres. Mereka juga punya ingatan kolektif tentang kerusuhan di kota-kota. Mereka tahu bahwa masyarakat kota yang katanya beradab itu juga tak selalu siap menang dan siap kalah. Masyarakat kota itu juga mudah berkelahi demi berebut sesuatu.

Desa-desa tidak lagi guyub dan damai sebagaimana dulu. Sejak dana desa bergulir, masyarakat terjebak dalam sirkuit pencarian kekayaan sebanyak-banyaknya. Orang kaya baru bermunculan. Banyak pihak berebut sumber daya di desa-desa.

Lihat saja, konflik yang sedang hangat di media itu dipicu oleh aksi sejumlah anak muda yang melakukan konvoi dengan motor, dengan suara knalpot yang memekakkan telinga, sehingga memicu amarah warga satu desa.

BACA: Mahasiswa Buton di Kapal PELNI

Betapa banyak peta sosial budaya yang bergeser di masa sekarang. Makanya, pendekatan untuk melakukan rekonsiliasi konflik tak bisa lagi hanya dengan mempertemukan para tokoh masyarakat dan tokoh agama. Tak bisa lagi hanya dengan ritual adat atau tradisi bakar ubi sebagaimana yang dilakukan di Papua sana. Butuh sesuatu yang lebih substantif, lebih menyentuh, dan lebih mengena dengan dinamika sehari-hari masyarakat.

Kita pun mesti punya keberanian untuk menelusuri fakta-fakta sosio ekonomi desa. Mungkinkah konflik itu hanya puncak gunung es permasalahan yang sedang terjadi dan menggerus desa-desa kita? Apakah ini dampak dari pembangunan ekonomi yang abai pada dinamika manusia sehingga konflik hanya satu cara melepaskan persoalan yang dihadapi masyarakat desa?

Kita bisa diskusi panjang. Tapi yang mendesak saat ini adalah bagaimana menghentikan konflik, menegakkan hukum, membangun silaturahmi, serta mendekatkan yang pernah saling tatap dengan penuh amarah.

Saya optimis mereka yang berkonflik itu bisa segera berhenti dan memadamkan amarah. Kita berharap ada embun kedamaian yang hinggap di hati mereka yang bisa membasuh amarah, meredam gelisah, serta menghadirkan kesadaran baru bahwa semua orang adalah kerabat dan bersaudara.

Bukankah kita semua bersaudara?


UPDATE
1. Dilaporkan ada korban yang tewas.
2. bantuan polisi telah datang dari Kendari
3. Beberapa rumah sakit masih sibuk menerima korban yang terluka
4. Posko bantuan telah dirikan untuk membantu korban yang mengungsi
5. Informasi tentang konflik Buton di beberapa media. Klik DI SINI, DI SINI, DI SINI.


Yang Menjengkelkan dari KAESANG Jokowi


Kaesang saat melayat Ani Yudhoyono di Singapura

Tak penting untuk mendebat kubu kampret yang mempersoalkan celana jeans Kaesang saat melayat Ani Yudhoyono di Singapura. Sama tak pentingnya mendebat kubu cebong yang membalas dengan postingan foto Sandiaga Uno bercelana puntung saat melayat satu tokoh.

Sebab keduanya telah menunjukkan kepedulian atas meninggalnya seseorang. Keduanya datang melayat, dengan maksud untuk menyampaikan duka, sekaligus menunjukkan tanda kasih dan dukungan pada keluarga yang ditinggalkan. Keduanya sedikit lebih baik dari Didit Hediprasetyo, putra Prabowo, yang tak pernah terlihat datang melayat.

Kaesang menunjukkan adab. Dia datang melayat, menyampaikan duka, setelah itu ikut berdoa bersama. Dia ikut antre sebagaimana warga lain, padahal bapaknya adalah pemimpin negara yang sedang menjabat. Dia taat asas sebagai warga. Atas sikapnya itu, politisi Partai Demokrat memberikan apresiasi.

Tapi kalau ada yang mempersoalkan gaya Kaesang yang tampil ndeso, saya no comment. Terlalu sering saya melihat lini masa media sosial orang-orang yang menilai Kaesang, juga kakaknya Gibran, serasa bukan anak presiden. Publik lebih suka menilai tampilan, ketimbang substansi.

Publik medsos membandingkan Kaesang dengan anak presiden lainnya. Dia tidak sekaya dan seplayboy Tomy Suharto. Dia tidak secerdas Ilham Habibie dan Yenny Wahid. Dia tidak segagah Agus Yudhoyono. Tidak juga selincah politisi Puan Maharani.

Kaesang terlampau jauh jika dibandingkan dengan nama-nama di atas. Dia terkesan tidak mau menunjukkan aura dari putra seorang yang paling berkuasa di republik ini. Padahal dia bisa tampil kaya-raya dengan pakaian merek mahal, dan ke mana-mana ditemani ajudan.

Di media media sosial, dia lebih banyak bercanda. Bersama kakaknya, dia saling olok, menyebar canda, dan juga berbagi komen lucu. 
Saya mengenal seorang kawan yang sering nyinyir pada Kaesang. Saat saya tanya, kawan itu kesal melihat tingkah laku Kaesang yang seperti bukan putra presiden. Dia membayangkan seorang putra presiden adalah manusia strata kelas atas yang tampak kaya-raya, angkuh dan tidak bergaul dengan siapa pun.

“Masak, ada anak presiden tingkahnya kayak pedagang pasar,” kata kawan itu. 

Kawan itu masih menganggap kalau anak presiden adalah bangsawan yang berjarak dengan siapa pun. Dia pikir, anak pejabat adalah mereka yang hanya foya-foya dan sesekali menghadiri acara pengguntingan pita. Dia merasa jengkel dengan Kaesang yang disebutnya tidak mau memanfaatkan posisi bapaknya.

Saya tak terkejut dengan pernyataan kawan itu. Di banyak daerah, menjadi putra seorang bupati atau gubernur ibarat menjadi pangeran yang bisa lakukan apa pun. Di satu daerah, ada anak bupati yang ketika jogging sengaja meminta barisan patwal untuk mengawalnya. Dia jogging di belakang Satpol PP yang memakai motor ala chips. Dia merasa bangga.

Di beberapa tempat, bupati dan keluarganya leluasa memainkan semua proyek pemerintah daerah. Semua yang besar-besar diembat, yang kecil-kecil barulah diserahkan pada kontraktor lokal.

Kita menyebutnya nepotisme. Bapaknya pejabat, anak dan keluarganya yang menikmati semua limpahan proyek. Jabatan dianggap sebagai peluang untuk membangun jaringan uang yang diharapkan

Maka sungguh mengherankan melihat Kaesang yang cengengesan di media sosial. Kalau saja dia sedikit “pintar’, dia cukup menaikkan alis saat bertemu menteri demi meminta jatah proyek APBN, komisaris BUMN, atau mengambil fee dari proses lelang jabatan. Cukup dia bilang “kata bapak”, maka semua struktur birokrasi bisa bergerak demi mengamankan perintah itu.

Dia bisa saja meniru pura-putri presiden sebelumnya. Dia tak pernah membaca kalau ada putri presiden yang di awal-awal mendapat tender ratusan kilometer jalan tol, lalu mendapat lagi jatah saham hingga lebih 30 persen di beberapa bank terbesar.

BACA: Yang Tak Disukai pada GIBRAN Jokowi

Putra presiden lainnya mendapat monopoli perdagangan cengkeh, jatah 1 dollar dari setiap barel penjualan BBM, penjualan mobil hingga mi instan, usaha penerbangan, ratusan perusahaan tambang, hingga payung hukum negara untuk proyek mobil nasional yang ternyata mobil asal Korea, yang telah dibebaskan bea-masuk agar murah dijual. 

Ada pula yang membuat yayasan-yayasan lalu mengelola dana negara di yayasan itu? Ada juga yang membuat masjid dan rumah sakit di mana-mana, tapi sebelumnya sudah mengamankan sisa anggaran dalam jumlah sangat besar? 

Tapi Kaesang malah memilih jualan pisang. Hah?

***

Tanah air sepatutnya bangga dengan anak muda ini. Dengan memilih mandiri, dia ingin menunjukkan bahwa lebih terhormat membangun kerajaannya sendiri, tanpa harus bergantung pada siapa pun, termasuk bapaknya.

Upaya menemukan jalan nasib sendiri jauh lebih terhormat daripada sikap kongkalikong dan memanfaatkan posisi serta jabatan orang tua. Dia tetap menjaga independensi bapaknya, dengan cara tidak mau merecoki dengan bisnis pribadi. Dia membangun karakter dan integritas.

Mereka yang jengkel pada Kaesang adalah mereka yang berharap Indonesia bergerak mundur, yang masih berpikir bahwa para penguasa adalah lapis bangsawan baru yang harus tampil berwibawa dan sikap penuh karismatik.




Mereka tak siap dengan perubahan, ketika posisi dan jabatan tidak lebih dari sekadar pembagian kerja yang harus ditunaikan dengan penuh amanah dan bertanggung jawab. Bahkan seorang presiden pun adalah pekerja yang memimpin orkestra perubahan yang dimainkan semua anak bangsa dengan penuh harmoni.

Di zaman ini, tak semua orang paham apa itu integritas. Orang-orang lebih suka melihat kulit ketimbang isi. Bahkan mereka yang berpenampilan mewah lebih dihargai ketimbang mereka yang biasa saja. Padahal, bisa jadi yang berpenampilan mewah itu hanya staf, sementara majikan berpakaian biasa saja.

Kaesang membuktikan bahwa setetes keringat dari kerja keras adalah berlian yang jauh lebih bernilai dari apa pun. Di keringat itu, ada kemandirian, ikhtiar untuk tegak, serta keberanian menghadapi hidup yang penuh risiko dengan cara berdiri di atas kaki sendiri. 

Di situ ada kekuatan untuk tegak, tanpa harus manja pada orang lain, juga bapak sendiri. Di situ ada pertaruhan bahwa lebih terhormat bekerja dengan tangan sendiri, dengan segala kerja dan usaha, dengan keringat yang menetes-netes.(*)



Wahyu Keprabon Itu Bernama ANI YUDHOYONO


ekspresi sedih SBY saat Ani Yudhoyono meninggal

Ketika Ken Arok bertemu Ken Dedes, dia seakan melihat cahaya yang memancar dari betisnya. Dia meyakini bahwa Ken Dedes memegang wahyu yang kelak akan menjadikan siapa pun yang menikahinya sebagai raja.  Dia pun percaya, Ken Dedes akan menurunkan raja-raja Jawa.

Sejarawan Ong Hok Ham mengatakan apa yang dilihat Ken Arok adalah wangsit atau wahyu keprabon. Secara tradisional, orang Jawa percaya bahwa siapa pun yang memegang wahyu, maka kekuasaan akan bertahan pada orang itu atau dinasti tertentu.

Bahkan di zaman ketika artificial intelligent atau kecerdasan buatan makin dominan, serta semua interaksi dipengaruhi oleh internet of thing (IoT), kepercayaan tentang wahyu ini masih diyakini banyak orang.

Tadinya, Ken Arok bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang sudra yang punya obsesi memegang kuasa. Dia pun berhasil menggapainya berkat wahyu keprabon yang ada pada diri Ken Dedes.

Sebagaimana Ken Arok, dahulu Soeharto bukan siapa-siapa. Dia hanya anak seorang petani yang kemudian bergabung dalam laskar republik. Tapi garis takdirnya mulai berubah ketika menikahi Sitti Hartinah (Ibu Tien), seorang bangsawan Keraton Solo, yang diyakini memegang wahyu kekuasaan. Karier Soeharto melesat hingga kursi presiden, penguasa tertinggi di Nusantara abad ke-21.

Banyak yang meyakini, peran Ibu Tien sangat penting sebab menjaga Soeharto. Seseorang pernah bercerita bahwa setiap malam tertentu, Ibu Tien akan menjalankan ritual tertentu untuk melindungi suaminya secara mistik sehingga kekuasaannya kokoh dan tidak goyah.

Meninggalnya Ibu Tien ketika Soeharto berkuasa menjadi pukulan berat bagi tahta Soeharto. Dia kehilangan sosok yang menjaga kuasanya secara mistik, serta menjaga wahyu keprabon.

Sejarah mencatat, meninggalnya Ibu Tien menjadi awal kejatuhan Soeharto. Ekonomi kian terpuruk. Hingga akhirnya krisis menyerang dan reformasi menghancurkan sendi-sendi kekuasaan Soeharto.

Konsep kekuasaan yang ditentukan oleh wahyu dan kuasa seorang istri ini juga bisa dilihat pada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dahulu, SBY hanya seorang prajurit taruna Akademi Militer biasa yang barangkali hanya punya bayangan sederhana tentang kariernya.

Namun garis takdirnya berubah ketika dirinya bertemu Kristiani Herawati atau Ani Yudhoyono, putri ketiga dari Jenderal Sarwo Edhi Wibowo, sosok paling kuat di sisi Soeharto pada masa awal Orde Baru. 

Karier seorang taruna Akademi Militer tidak berjalan secara alamiah, namun selalu dipengaruhi oleh patron atau sosok yang ada di belakangnya. Ketika tidak punya beking, maka karier seorang taruna akan jalan di tempat, atau malah tenggelam. 

Di titik ini, peran Ani Yudhoyono menjadi sangat vital sebab ayahnya adalah tokoh penting di jajaran militer Indonesia. Bisakah Anda bayangkan betapa percaya dirinya SBY ketika membawa memo dari Jenderal Sarwo Edhie di tengah militer Indonesia yang tunduk dan taat pada kuasa Orde Baru?

Nah, di luar dari pertimbangan rasional itu, ada juga aspek mistik tentang kekuasaan di balik peran Ani. Entah, apakah SBY tahu tentang kisah ini, namun di kalangan para sejarawan beredar anggapan kalau Soeharto mendapat firasat kalau wahyu kuasa berikutnya jatuh ke Sarwo Edhie. Makanya, dengan segala cara, Soeharto berusaha menyingkirkan Sarwo Edhie agar tidak merongrong kekuasaannya.

Belakangan, Sarwo Edhie memang tidak memegang kuasa apa pun setelah Soeharto. Dia dimatikan sebelum berkembang. Namun anggapan bahwa dirinya memegang wahyu tak sepenuhnya salah. Sebab wahyu itu ternyata dimiliki oleh putrinya Ani Yudhoyono.

Sebagaimana Ibu Tien terhadap Soeharto, Ani Yudhoyono juga memainkan peran penting bagi kekuasaan SBY. Beberapa politisi meyakini, Ani bisa mengintervensi pilihan-pilihan politik suaminya, termasuk siapa yang akan berpasangan dengan suaminya.

Saya pernah mendapat informasi kalau Jusuf Kalla gagal mendampingi SBY pada periode kedua karena permintaan Ibu Ani yang tidak ingin ada matahari kembar di istana. Demikian pula tampilnya Boediono sebagai wakil SBY, juga atas rekomendasi Ibu Ani.

Menarik untuk ditelusuri seberapa jauh peran Ibu Ani dalam mempengaruhi keputusan politik SBY. Jurnalis John Macbeth menulis biografi SBY yang kemudian memberinya judul The Loner.  Maksudnya SBY adalah sosok yang banyak merenung sendirian.

Dia dikabarkan ragu-ragu dan selalu hati-hati dalam bersikap. Saya yakin dalam ragu-ragu dan kesendirian itu, Ani Yudhoyono adalah sosok penting yang menyerap semua kegelisahan suaminya, kemudian memberinya kekuatan untuk menjalankan bahtera pemerintahan dengan baik.

Ada kuasa dan kekuatan yang memberi kekuatan bagi suaminya sehingga bisa menjadi sosok terdepan dalam panggung politik dan kuasa. Posisi perempuan menjadi mata rantai penting bagi kekuasaan seorang laki-laki hingga posisi politik tertentu.

Kini. Ani Yudhoyono, sosok yang memberi napas dan kekuatan bagi SBY itu telah berpulang. Dia sudah menuntaskan tugasnya untuk menjaga kuasa suaminya sehingga bisa kekal selama dua periode. 

Di lini masa Twitter beredar foto SBY yang dicekam kesedihan atas kepergian istrinya. SBY, sosok yang dahulu hanya seorang prajurit biasa, kariernya melesat bak meteor berkat Ani Yudhoyono di sisinya. Kini penopang dirinya itu lebih dahulu pamit menghadap pemilik kuasa semua wahyu semesta.

Saya hanya bisa bayangkan betapa besarnya kesedihan yang mendera lelaki yang wajahnya mulai keriput itu.

Innalillahi.