Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Saat Membaca "The Age of Surveillance Capitalism"

 


Ini jenis buku yang muram. Ini buku mengenai distopia. Isinya mengingatkan saya pada Homo Deus yang ditulis Yuval Noah Harari. The Age of Surveillance Capitalism membahas tentang betapa kita hanya menjadi pion di tengah percaturan perusahaan teknologi informasi.

Sejak pandemi, saya memperhatikan banyak orang di sekitar saya yang menghabiskan waktu selama lebih dari tujuh jam per hari untuk memandangi layar HP. Seorang kawan pemateri di acara Siberkreasi bilang lebih dari tujuh jam.

Selama tujuh jam, kita dalam pengawasan dari berbagai platform milik perusahaan besar. Kapitalisme telah mengawasi semua prilaku kita, lalu perlahan menggiring kita untuk menyukai lalu membeli sesuatu.

Teknologi perlahan mengubah peradaban kita. Dulu, Ketika mesin cetak ditemukan Guttenberg, pengetahuan menjadi mudah tersebar ke mana-mana, yang kemudian menggoyahkan gereja di abad pertengahan. Teknologi mengkalibrasi ulang pemikiran kita, sehingga ilmu pengetahuan lahir sebagai anak kandungnya.

Kini, di era Zuckerberg, kapitalisme hadir dalam bentuk baru. Bukan lagi dalam iklan dan baliho, tapi dalam semua aktivitas yang terpantau di media sosial.

Shoshana Zuboff, professor perempuan di Harvard, memotret femomena ini dengan sangat baik. Dia membahas mutan baru dari kapitalisme yang menggunakan teknologi. Zuboff menyebut mutan baru ini sebagai “kapitalisme pengawasan.”

Kapitalisme ini bekerja dengan menyediakan layanan gratis yang digunakan oleh miliaran orang dengan senang hati, memungkinkan penyedia layanan tersebut untuk memantau perilaku pengguna tersebut dengan detail yang mencengangkan – seringkali tanpa persetujuan eksplisit mereka.

Sekali lagi ini buku yang muram. Manusia tidak lebih dari data yang terus-menerus dianalisis dalam mesin Big Data. Cara berpikir kita digiring mengikuti algoritma.

Saya ingat dalam banyak diskusi yang diadakan Siberkreasi, banyak orang menyebut kecanduan digital yang semakin parah. Zuboff punya jawaban lengkapnya. Saya baru lembaran ke-100. Butuh kesabaran untuk menuntaskan sampai 700-an halaman.

Meski belum tuntas, buku ini sudah serupa hantu yang bikin takut. Saya tiba-tiba saja ingin menghentikan semua aktivitas di internet. Tapi saya belum siap kehilangan rutinitas untuk menyapa orang2 dan saling komen.

Zuboff telah menyalakan banyak cahaya di ruang gelap.


Suatu Hari Bersama para HUMAS

 



Jika saja tak diundang ke Banten, saya tak banyak tahu apa domain kerja para praktisi Humas atau Public Relation sekarang. Selama ini saya hanya melihat akrivitas Humas lebih banyak membuat pres-rilis dan membangun jaringan dengan jurnalis.

Rupanya, itu anggapan yang sudah kuno. Sekarang, semuanya sudah berubah. Sejak gong revolusi 4.0 ditabuh, Humas terus berkembang.

Di kantor Kanwil Kemenkumham Banten, saya melihat perubahan itu. Divisi Humas di sana telah memiliki perangkat Podcast. Mereka juga mengelola akun media sosial, mulai dari Instagram, Youtube, hingga Facebook.

Rupanya, Humas Jaman Now dituntut untuk menjadi kreator konten. Para Humas harus mengelola portal informasi. Mereka harus langsung menyapa publik dan membuat konten yang disukai. Padahal, dulu mereka hanya andalkan para jurnalis.

Saya pikir, ini perubahan yang positif. Di daerah2, anggaran Humas habis hanya untuk para jurnalis. Padahal tidak semua punya media yang jelas. Malah sering jurnalis (atau bisa jadi orang yang mengaku jurnalis) “memeras”instansi, apalagi jika menemukan ada yang keliru.

Bisa Anda bayangkan, betapa banyaknya biaya siluman hanya untuk menjaga aliran informasi ke publik.

Tapi sekarang, lagu lama itu perlahan mulai ditinggalkan. Sekarang, Humas harus lebih aktif. Mereka harus mengelola informasi dan menggunakan kanal media sosial, yang gratisan itu untuk berbagi.

Seorang kawan bercerita betapa rapinya organisasi kerja Kantor Staf Presiden dalam mengelola informasi. Mereka mengelola semua akun informasi terkait Presiden. Mereka sangat aktif menyebarkan aktivitas, serta gagasan-gagasan.

Saya melihat ada trend baru. Dulu, pejabat publik mencari jurnalis untuk memuat informasi. Sekarang, malah para jurnalis sibuk memantau akun media sosial pejabat itu untuk dimuat di medianya. Pernyataan di medsos bisa menjadi “fïrst hand reality.

Namun, apakah semua Humas siap beradaptasi dengan era baru di mana mereka harus lebih produktif?

Saat di Banten, para Humas memperlihatkan medsos yang mereka kelola. Kesan saya, medsos itu terlalu kaku. Medsos itu dikelola dengan gaya yang terlalu Humas. Informasi yang disajikan lebih banyak tidak penting. Misalnya upacara bendera, pejabat gunting pita, atau acara rapat.

Informasi itu tak bermakna bagi publik. Sebagai warga biasa, saya akan komentar, “Ngapain saya like dan share postingan itu. Gak ada manfaatnya buat saya.”

Namun, saat diskusi, saya menggali banyak hal dari mereka. Rupanya, ada banyak hal pemting yang bisa diolah menjadi konten. Sayangnya, mereka terpaku dengan gaya lama. Pantasan, postingannya kaku dan tidak menarik. Wajar jika tidak dilirik.

Saya pikir, mereka harus banyak belajar bagaimana membuat konten menarik. Jika ingin viral, tentunya ada beberapa jenis konten yang bisa dibuat. Tak harus joged-joged lalu tergelincir karena menginjak kulit pisang. Hal-hal sederhana tapi penuh makna pun bisa jadi viral.

“Tapi apakah etis jika akun pemerintah bikin postingan receh?”seseorang bertanya. Lagi-lagi ini mindset keliru, bahwa postingan itu harus receh.

 


Sebagai penggiat medsos, saya berkali-kali membuktikan kalau konten yang penuh makna, tapi dikemas santai, bisa lebih diterima publik. Pengalaman saya cukup banyak dalam membuat konten yang positif, tapi disukai banyak orang.

Meskipun pelatihan itu singkat, tapi saya menyerap banyak hal. Saya melihat banyak peluang bisnis untuk mengembangkan pelatihan sejenis. Minimal bisa jadi konsultan di berbagai instansi yang ingin perkuat lini Public Relation di era 4.0.

Saya teringat semasa kuliah di Ilmu Komunikasi. Ada dua jurusan yakni Jurnalistik dan Public Relation.

Kami yang lelaki dan merasa suka petualangan, pasti akan ambil jurnalistik. Sementara cowok ganteng, dan juga cewek cantik, biasanya pilih Humas. Beberapa teman mengaku tidak bisa menulis dan ingin ambil profesi yang lebih banyak networking.

Nah, apa respon kawan-kawan itu saat lihat kerja Humas sekarang mau tak mau harus banyak menulis dan membuat konten? Saya sungguh penasaran.


KRISDAYANTI Bukanlah Marhaen yang "Menghitung Hari Detik Demi Detik"

 


Krisdayanti senyum-senyum manja saat ditanya gajinya. Dia seperti kebanyakan orang Indonesia yang malu-malu kucing menyebut berapa penghasilannya sebulan. Setelah didesak, barulah perempuan yang lolos DPR RI melalui partai banteng ini bicara apa adanya. Gajinya selangit. Wow.

Buat Anda yang sedang terlibat banyak cicilan di bank, atau Anda yang sibuk menghindari debt collector, jangan iri dengannya. Bahkan bagi Anda yang malu keluar rumah karena utang menumpuk, terimalah kenyataan ini.  Anda yang masih melakukan ritual “babi ngepet”untuk kumpulkan receh demi receh, jangan cemburu yaa.

Dia merinci pendapatannya. "Setiap tanggal 1 masuk Rp 16 Juta, tanggal 5 Rp 59 juta ya kalau tidak salah," katanya.

Dia juga mengungkapkan perihal dana aspirasi. Anggota Komisi IX DPR itu mengaku menerima dana aspirasi sebesar Rp 450 juta. "Itu memang wajib untuk kita. Namanya juga uang negara. Dana aspirasi itu Rp 450 juta, lima kali dalam setahun," ungkapnya.

Tak sampai di situ, Krisdayanti juga mengaku menerima uang untuk kunjungan ke daerah pemilihan (dapil), yang dilakukan saat masa reses. Uang kunjungan ke dapil ini diterima delapan kali setiap tahun. "Uang kunjungan ke dapil Rp 140 juta. Itu 8 kali setahun," ungkapnya.

Nah, itu belum cukup. Dia masih punya amunisi untuk membuat sakit hati para Sobat Misqueen. Selama menjadi anggota DPR RI, dia tetap bisa manggung selama tidak mengganggu kerjanya saat melayani masyarakat. "Boleh manggung di hari kerja asalkan lokasi di sekitar Jakarta dan malam hari," ujarnya.

Sebenarnya, komentar ini biasa saja. Dia hanya menampilkan realitas yang dialaminya setiap hari. Sebagai anggota dewan yang mulia, dia tak perlu harus banting tulang dan mengais rezeki di jalan-jalan. Dia cukup dandan, datang ke ruang sidang, tak perlu fokus pada apa yang dibahas, lalu “menghitung hari” kapan gajian. Pundi-pundinya akan selalu terisi.

Dia hanya lupa kalau komentar itu tidak sepantasnya disampaikan dalam situasi sekarang. Banyak rakyat yang berusaha bertahan hidup saat kehilangan pendapatan di masa pandemi. Seharusnya dia lebih berempati terhadap derita dan kesedihan wong cilik di basis-basis suaranya yang tengah berusaha untuk bertahan. Maka tak perlulah cengengesan itu.

BACA: Garis Batas yang Memisah Selama 22 Tahun


Dia dibayar mahal oleh negara untuk satu tanggung jawab. Dia menerima kucuran duit yang dikumpulkan dari pajak rakyat. Mulai dari rakyat kaya hingga rakyat yang harus rela karena saat membeli telur, tetap ada potongan pajak. 

Perempuan cantik yang dahulu memulai karier dari kompetisi menyanyi Asia Bagus ini mendulang suara terbanyak di daerah pemilihan (Dapil) Malang Raya, yakni Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang.

Di DPR RI, dia bertugas di Komisi IX yang menaungi bidang Kesehatan dan ketenagakerjaan. Seharusnya, dia jauh lebih sibuk dari anggota komisi lainnya. Hampir dua tahun Indonesia terserang pandemi. Banyak korban berjatuhan, baik tenaga medis maupun rakyat biasa. Dia berada di titik di mana kesehatan tengah dalam sorotan, agar anak bangsa tetap selamat melalui badai pandemi.

Sejatinya, tak masalah dia dibayar selangit. Tapi, ada tuntutan tanggung jawab besar atas apa yang dia terima. Dia duduk di situ "karena dipilih, bukan dilotre". Dia diharapkan membayar semua dukungan itu melalui kerja keras serta keberpihakan.

Sayang, suara merdunya hanya nyaring di panggung-panggung hiburan. Di panggung dewan, suaranya nyaris tak terdengar. Jauh lebih sering menemukan suaranya saat ribut dengan Aurel, atau saat dirinya sedang membela Raul Lemos. Jika ditanya, mungkin saja dia akan berdendang “Kutak Sanggup.”

Politik kita memang serupa panggung. Apa yang tersaji di situ, tak selalu merupakan realitas sebenarnya. Tapi bagi politisi sekelas Krisdayanti, dunia politik memang panggung dalam pengertian sebenarnya.

Lihat saja di Senayan, dia tetap tampil mentereng. Sapuan gincu merah selalu terlihat di bibirnya. Ruang dewan serupa panggung untuk show. Bahkan di saat krisis pun, dia tetap tampil serupa barbie yang selalu glamour di banyak kesempatan.



Kehidupan memang tak selalu menanti keajaiban, sebagaimana syair “menghitung hari detik demi detik.” Ada orang seperti Krisdayanti yang menjalani hari dengan sedikit senandung “Cobalah untuk Setia.” Dia cukup datang, duduk, diam, dengar, lalu duit. Semuanya lancar.

Yah, ada rasa sedih saat membayangkan dunia politik kita yang sudah lama kehilangan ideologi. Partai yang menjadi rumah bagi Krisdayanti itu adalah partai wong cilik. Di situ, ada ideologi yang ditanamkan oleh Bung Karno untuk berpihak pada rakyat kecil.

Mulanya, Bung Karno bersepeda di selatan Bandung. Bung Besar ini berdialog dengan seorang petani pemilik lahan kecil. Petani itu punya istri dan empat anak, yang dibiayai dari lahan sempit, yang merupakan warisan. Di mata Bung Karno, petani kecil bernama Marhaen itu adalah potret rakyat Indonesia yang punya alat produksi, tetapi hanya untuk sekadar bertahan hidup.

“Di saat itu cahaya ilham melintas di otakku. Aku akan memakai nama itu untuk menamai semua orang Indonesia yang bernasib malang seperti dia! Semenjak itu kunamakan rakyatku Marhaen,” tutur Sukarno.

Hari ini, puluhan tahun setelah Bung Karno merumuskan marhaenisme, yang kemudian jadi ideologi partai merah, kita melihat kenyataan yang amat jauh. Tak semua menjadi pengawal marhaen. Malah banyak yang menikmati tetes keringat marhaen sembari cengengesan saat ditanya gaji.

Kita rakyat kecil yang merupakan anggota “Sobat Misqueen”hanya bisa menyaksikan lakon di panggung politik. Krisdayanti bisa duduk di sana karena pilihan yang kita jatuhkan lima tahun lalu. Lebih baik kita sabar menunggu Pemilu berikutnya, sembari mendendangkan lagu:


Menghitung hari detik demi detik

Menunggu itu 'kan menjemukan

Tapi kusabar menanti jawabmu

Jawab cintamu


Jangan Salahkan SAIPUL JAMIL

 

Saiful Jamil saat keluar penjara (foto: suara.com)

Saipul Jamil keluar penjara. Lelaki yang oleh orang dekatnya kini disapa Bang Haji itu seakan baru saja keluar dari kawah candradimuka. Dia mempersiapkan album baru, mulai laris dipanggil stasiun televisi. Dia seakan baru melalui cobaan hidup yang luar biasa selama dibui.

Jika menjadi dirinya, pasti Anda akan menikmati semua sambutan itu. Dia seorang penghibur yang berharap bisa selalu tampil di media. Dia dielu-elukan, dikerubungi bak pemenang Olimpiade, hingga diundang stasiun televisi. Malah peluncuran albumnya diperkirakan bakal heboh.

Bang Haji Saipul Jamil tak pantas disalahkan atas semua sambutan meriah itu. Dia hanya menikmati karpet merah yang disiapkan masyarakat dan industri hiburan tanah air kita. Dia adalah bagian dari industri yang telah lama memosisikan rating sebagai Yang Maha Kuasa. Selagi ada penonton, cuan mengalir, maka Bang Haji ini akan selalu tampil.

Menjelang dia bebas, banyak kru infotainmen menunggunya di luar lapas. Dia tetap pesohor, bukan pesakitan. Dia disambut dengan banyak senyum bahagia serta kalungan bunga. Dia tetap ganteng seperti biasa, saat dikerubungi dan ditanyai para kru infotainmen, yang beberapa tahun lalu merasa sebagai jurnalis.

BACA: Maria Ozawa, Pemersatu Bangsa Kita


Baru keluar dari masa penahanan selama delapan tahun, dia sudah mengesankan dirinya dikhianati orang orang yang dia anggap dekat. Dia seakan-akan teledor karena mempercayai orang lain. "Jadi buat teman-teman hati-hati, berbijaklah. Pokoknya selalu waspada, itu saja."

Kita yang mendengarnya ingin teriak “Bangsaatt!” Kita geram mendengar kalimatnya. Seseorang yang mencabuli orang lain kok merasa dikhianati. Apakah orang yang dicabuli itu harusya pasrah saja terhadap tindakannya, setelah itu merahasiakan perilaku bejat itu?

Namun, demikianlah logika dunia hiburan bekerja. Dunia hiburan kita sejak lama lihai membolak-balik kenyataan. Begitu keluar penjara, dia hadir dengan identitas baru. Orang dekatnya menyapanya Bang Haji. Dia seolah menjalani cobaan yang berat.

“Tapi kan dia pedofil? Kok tampil di media?”tanya seorang netizen. Netizen ini pura-pura tidak tahu kalau media kita akan menampilkan siapapun, sepanjang ada yang nonton. Tidak peduli, apa itu setan atau malaikat, sepanjang ditonton, maka akan memenuhi syarat untuk tampil.

Bisa saja tiap hari media menampilkan aktivis dan pejuang kemanusiaan, juga sosok inspiratif, tapi apakah ada yang nonton?

Saya kenal banyak pejuang lingkungan, pembela masyarakat adat, dan pejuang kemanusiaan. Di Pulau Adonara, saya kenal Maria Loretha, perempuan Dayak yang menanam sorgum dan menyelamatkan pangan warga pulau. Saya mengenal Oday Kadariyah di Bandung yang merawat dan melestarikan tanaman obat. Saya pun kenal Aleta Baun, perempuan perkasa asal Molo di NTT, yang menjaga hak masyarakat adat.

Tapi apakah mereka diundang ke televisi? Pernah, tapi sangat jarang. Sambutan publik juga biasa-biasa. Ratingnya gak tinggi. Mereka tak dilelu-elukan. Respon masyarakat datar saja. Tak ada histeria.

Beda halnya dengan Saipul Jamil. Lihat saja di kanal Yutub. Apapun yang dilakukannya, bisa jadi konten dengan banyak penonton. Bahkan, selama dia dipenjara, banyak tayangan mengenai aktivitasnya.

Biarpun lelaki ini divonis karena kasus pencabulan, sesuatu yang jauh dari ajaran agama, dia selalu tampil di depan kamera dengan atribut agama. Dia memakai peci, baju gamis, dan sering menenteng sajadah. Dia memberi kesan agamis.

Keluar dari penjara, bintangnya malah makin terang. Dia tampil di stasiun televisi dalam program bincang-bincang. Media yang menampilkan wawancaranya itu dulunya media yang idealis. Yang ditampilkan hanyalah tokoh yang benar-benar hebat. Tapi perlahan media itu ditinggalkan penonton.

Yang diinginkan orang-orang adalah penghibur seperti Bang Haji yang rela berjoged seliar apapun, rela melakukan aksi-aksi hiburan yang memukau, setiap saat menampilkan lesung pipi di wajah yang setampan boneka barbie. Media dan publik sama-sama butuh sosok penghibur. Semua lebih suka tontonan.

Media kita sudah lama lebih peduli kulit ketimbang isi. Saipul Jamil lebih laris ketimbang pembela hak masyarakat adat. Sama halnya dengan penceramah penuh lelucon akan lebih populer ketimbang kiai senior yang penuh kharisma.

Marilah kita melihatnya dari sisi lain. Kehadiran Bang Haji Saipul Jamil itu telah membuka banyak hal di sekitar kita. Kehadirannya, juga protes atas dirinya, telah membuka banyak lapis-lapis realitas di sekitar kita.

Pertama, ingatan masyarakat kita sangat pendek. Kasus seorang figur yang sudah divonis bersalah bisa dengan cepat dilupakan. Malah figur yang sama bisa menjadi pahlawan, sepanjang terus dicitrakan tertindas.

Kita bisa lihat banyak orang seperti Saipul Jamil, yang divonis bersalah, setelah itu diangkat lagi derajatnya. Di dunia politik, seorang mantan koruptor, yang pernah divonis penjara oleh institusi negara, bisa saja kembali dipercaya oleh institusi negara lainnya untuk jadi komisaris.

Tengoklah apa yang terjadi dengan Emir Moeis, yang pernah divonis korupsi proyek pembangunan PLTU di Lampung, kini diangkat menjadi komisaris di PT Pupuk Iskandar Muda. Dia pernah diovis bersalah oleh institusi negara karena menyalahgunakan kepercayaan, kini diangkat menjadi komisaris yang tugasnya mengawasi penyalahgunaan anggaran. Kita bertanya dengan sedih, bagaimana mungkin sapu kotor hendak membersihkan lantai kotor?

Jangankan Saipul Jamil, seorang petinggi militer yang selama beberapa tahun membunuh rakyatnya sendiri hanya karena beda ideologi bisa menjadi pahlawan. Dia bisa dibuatkan museum. Malah dia menjadi sosok terpopuler. Padahal beberapa tahun sebelumnya, namanya dicaci dalam semua demonstrasi, dia pernah dibenci setinggi langit.

Kedua, bangsa kita memang bangsa pemaaf. Di negara lain, selebritis yang terkena kasus seperti Saipul Jamil akan disisihkan dan dijauhi publik. Karier Bill Cosby, komedian yang pernah dijuluki American Dad itu, tamat setelah dirinya terena kasus perkosaan. Media-media dan penyedia konten menjauhinya. Dia pun dijauhi publik.

Di Korea malah lebih tegas lagi. Beberapa selebritis terkenal yang terbukti melakukan pelecehan seksual, kariernya akan tamat. Mereka dijauhi publik. Tak ada lagi yang mengidolakan mereka. Padahal, sebelumnya mereka menjadi idola dan panutan. Di antara mereka, ada nama Kang Ji Hwan, Lee Seo Won, dan Jung Joon Hyung.

Andaikan mereka semua berkarier di Indonesia, produsernya akan meniru langkah Saipul Jamil. Buat acara yang mengesankan dirinya adaah korban. Ambil gambar di mana dia menangis dan memaafkan pelapornya. Tutupi kejahatannya. Angkat sisi humanisnya. Publik akan kembali menerimanya dengan lapang dada.

Masyarakat kita mudah menghukumi sesuatu, tapi mudah pula memaafkan. Masyarakat kita mudah tersentuh dengan air mata seorang figur publik. Air mata itu akan menghilangkan semua ingatan tentang kejahatan seseorang.

Ketiga, kembalinya Saipul Jamil ke panggung iburan menunjukkan kegagalan literasi media yang selama ini digembar-gemborkan banyak aktivis. Gerakan pencerahan dan penyadaran publik tidak maksimal, tidak saling terkoordinasi, serta tidak menyentuh akar rumput.

Lagian, naluri publik akan selalu mencari konten yang menghibur. Di kanal media sosial, publik tetap mencari tayangan yang ngawur, tanpa melihat substansi. Figur seperti Saipul Jamil akan tetap populer, meskipun kampanye menentangnya juga bertubi-tubi.

Ini menjadi PR bersama. Kedepannya, perlu dipikirkan strategi yang lebih canggih agar semua masyarakat bisa memilah mana konten positif, mana konten yang benar. Bukan sekadar mengikuti semua yang dilakukan selebriti.

Di titik ini, Saipul Jamil tetap pede tampil di hadapan publik. Saat tahu petisi penolakan dirinya beredar di media sosial, dia menjawab santai. “Yang namanya gak suka  akan selalu ada. Biarin saja mereka ngurusin hidup gue. Lu ngomongin gue, gue bodo amat,” katanya.

Ba…..tt!!!




Garis Batas yang Memisah selama 22 Tahun

Jose Benu

“Waktu rusuh, saya lari cari selamat, terus menyeberang ke sini,” kata pria itu dengan mata menerawang. Saya menemuinya di dekat perbatasan Indonesia – Timor Leste di Desa Napan, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, beberapa waktu lalu.

Namanya Jose Benu. Sehari-harinya dia bekerja sebagai petani sayuran di dekat embung yang dibangun pemerintah Indonesia. Dia hanya memakan apa yang ditanam dan apa yang dipetik. Sebagian tanamannya dijual.

Tadinya dia warga Timor Leste. Tapi dia memilih ke sisi Indonesia. Baginya, batas-batas negara terlalu samar. Yang dia tahu, semua orang di wilayah itu bersaudara. Mereka satu budaya, satu adat, satu bahasa. Kenapa pula ada yang namanya batas?

Dia jarang mengenang apa yang terjadi di tahun 1999. Namun jika ditanya, dia berhati-hati untuk bercerita. Dia butuh waktu sejenak untuk mengenang kerusuhan dan amarah yang memenuhi udara. Dia melihat kekerasan saat sejumlah sesama manusia saling tempur, saling mencari kata menang.

BACA: Perempuan Timor Leste yang Mengubur Dendam


Dia kehilangan banyak hal. Tapi dia tak ingin tenggelam dalam sedih. Dia sudah lama move on. Dia merajut kenangan baru. Kehidupan harus terus bergerak. Dia menanam sembari melupakan. Dia mulai episode baru dalam kehidupannya.

Mulanya dia bekerja serabutan. Suatu hari, pria yang mulutnya selalu merah karena mengunyah sirih ini melihat tanah kosong di dekat embung. Dia memberanikan diri untuk menemui pemilik tanah yakni Edmundo Lase. 

Dia diizinkan untuk mengelola tanah kosong itu. Dia mengajak rekan-rekannya yang bergabung dalam kelompok tani Tafe’u untuk mengelolanya.

Dia menjelaskan makna Tafe’u dalam bahasa Dawan, bahasa yang dipakai semua warga Napan serta warga desa di wilayah Timor Leste. Tafe’u bermakna selalu memperbarui. Apa yang diperbarui? “Semua hal bisa diperbaharui. Termasuk anggota kelompok tani itu,” katanya.

Maknanya sangat filosofis. Saya ingat filsuf Heraclitus yang menyebut penta rei, yakni segala hal dalam hidup ini selalu berubah. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Kehidupan ini selalu bergerak.

Kini, di desa itu, terbentang satu garis batas yang memisah kita dan mereka. Di satu ruas jalan umum, garis itu jadi penanda dari dua pos jaga. Sebelah sini adalah wilayah Indonesia, sebelah sana adalah wilayah Timor Leste.

Bagi penduduk seperti Jose Benu, garis batas itu membingungkan. Garis itu membelah desa-desa di mana warganya serumpun, berbahasa daerah yang sama, serta saling berinteraksi. Garis itu membelah mereka jadi dua negeri terpisah, padahal mereka sejatinya satu. 

“Saya sering ke sebelah untuk lihat kebun,” katanya. Dia dan warga Napan lain sering melintas batas. Bukan melalui pos yang dijaga militer kedua negara, tetapi melalui banyak “jalan tikus” yang membelah dua wilayah itu.

bunga-bunga yang mekar di perbatasan

Sejarah memang terlanjur mencatat. Tepat pada 30 Agustus 1999 lalu, 22 tahun silam, rakyat Timor Leste telah menentukan pilihan. Di tanggal itu, pada masa pemerintahan BJ Habibie, hasil referendum untuk penentuan nasib diumumkan. Timor Leste, yang tadinya bernama Timor Timur, resmi keluar dari NKRI dan berdiri menjadi negara baru.

Bagi mereka yang menghargai kemanusiaan, maka berdirinya negeri itu adalah musim semi kebebasan. Sekian tahun didera konflik bersenjata yang menewaskan banyak rakyat tak berdosa, negeri kecil itu bisa hidup dalam damai. Bunga-bunga harapan bermekaran. 

Namun mereka yang melihat “NKRI is dead price” atau NKRI harga mati, hingga kini masih memendam perih. Masih saja menganggap wilayah itu adalah tanah warisan nenek moyangnya sehingga pantang untuk dilepaskan. 

Mereka lupa kalau apa yang disebut nasionalisme itu lahir dari proses membayang-bayangkan sesuatu yang berbeda lalu bergabung. Nasionalisme hasil dari kerja pikiran, yang suka menghubungkan, sementara di lapangan, belum tentu demikian.

BACA: Menenun Damai di Perbatasan Timor Leste 


Kini sekian tahun berlalu, suara-suara sumbang itu masih terdengar. Seseorang kawan dari Jakarta yang pernah  mengunjungi perbatasan hingga ke desa-desa di Timor Leste melihat pemandangan kontras. Dia melihat desa-desa di Timor Leste tampak kering dan meranggas seolah tak ada harapan.

Sementara desa-desa di wilayah Indonesia dilihatnya kian semarak berkat dana desa, program desa broadband, hingga pembangunan bendungan. Desa di Indonesia tampak mulai sejahtera, sementara di sebelahnya tampak jauh dari kata sejahtera. Kemerdekaan itu belum bisa membawa kesejahteraan. “Harusnya mereka tak perlu merdeka,” kata kawan itu. 

Tapi saya justru berpandangan lain. Saya ingat pendapat dari Amartya Sen mengenai “Development as freedom.” Tak ada pembangunan jika tak ada kebebasan. Apalah arti pembangunan berbagai infrastruktur jika kebebasan warganya diabaikan. Apa arti pembangunan, jika setiap saat rakyat dalam cekaman ketakutan. Apa arti kesejahteraan jika setiap saat ada desingan peluru dan suara-suara bom yang menggelegar.

Sekian tahun Indonesia di sana, memang banyak hal dibangun, tetapi banyak hal pula yang hilang. Di antaranya adalah kebebasan. Maka, kemerdekaan menjadi proses untuk membebaskan diri dari semua tekanan, penindasan, hingga dari semua rasa takut. Kemerdekaan adalah awal untuk mulai menanam harapan, memupuknya dengan semua kecintaan pada bangsa, lalu menghadirkan kesejahteraan di hati semua orang.

Antonius Anton

Setelah puluhan tahun berlalu, Timor memang belum sejahtera. Negeri itu masih harus bergulat dengan banyak persoalan internal sebagai bangsa baru. Tapi berjalan-jalan di wilayah itu, ada senyum yang mekar di mana-mana. Mereka menikmati buah manis kemerdekaan yakni bebas dari rasa takut. Warga dua negara bebas saling melintasi, malah ada yang memanfaatkannya untuk bisnis.

“Ah, itu hanya garis. Kita bisa lewat kapan saja untuk bisnis,” kata Antonius Anton yang saya temui di kantor lembaga swadaya masyarakat. Anton adalah tipe pebisnis yang bisa menjual apa saja.

Dia membuat minuman yakni anggur jahe dan anggur kulit pisang yang laris manis di Timor Dia juga membuat kripik labu, sambal, permen asam, hingga berbagai jenis jamu.

BACA: Jembatan Kasih Antonius di Dua Negara


“Di antara semuanya, yang paling laris adalah anggur kulit pisang dan anggur jahe. Setelah itu, minyak kemiri, permen asam, jamu temu lawak. Pelanggan saya tersebar hingga Timor Leste. Kalau di Timor Leste, anggur ini dijual sampai 2 dolar 50 sen. Kalau ditukar dengan rupiah, maka bisa dapat 35 ribu rupiah,” katanya. 

Mata uang yang dipakai di Timor Leste adalah dolar Amerika Serikat. Makanya harga-harga menjadi lebih mahal dibandingkan desa-desa perbatasan di Indonesia. Pantas saja banyak penyelundupan terjadi. Harga BBM di Timor Leste adalah 3 dolar atau sekitar 35.000 rupiah, sementara di Indonesia harganya sedikit di atas 10 ribu rupiah.

Bertemu Anton, juga Jose Benu menjadi pengalaman berharga buat saya. Politik bisa membuat kita saling membangun garis batas dengan orang lain. Tapi di ranah budaya, kita selalu mencari kesesamaan. Di ranah bisnis, kita selalu mencari celah dan keuntungan. Di ranah kemanusiaan, kita adalah satu. 

Hari ini, 30 Agustus 2021, tepat 22 tahun sejak peristiwa referendum dan munculnya garis batas di dua negara. Banyak hal telah berubah, khususnya di perbatasan. Namun, ikatan persaudaraan dan persahabatan itu tak akan pernah tersaput angin. Kita akan memupuknya dengan penuh cinta.



Indonesia - Belanda yang Saling Bertolak Punggung

Raja Belanda, Willem Alexander berama Presiden Jokowi di depan Istana Bogor, yang dahulu kedialan Gubernur Jenderal Belanda di Indonesia

Setiap kali peringatan hari kemerdekaan, kita sering menemukan beragam ekspresi dan makna. Kita sering menemukan umpatan pada para penjajah. Namun bagaimanakah kesan para penjajah, yang sering diumpat itu, terhadap kemerdekaan kita? 

Pekan lalu, saya membaca artikel berbahasa Belanda yang dibuat oleh Michel Maas. Judul artikelnya adalah: “Hoe denken de Indonesiërs over de Nederlanders?”. Terjemahannya adalah “Apa pendapat orang Indonesia tentang Belanda?” (artikelnya bisa dibaca DI SINI)

Dalam artikel itu, koresponden de Volksradt di Asia Tenggara, Michel Maas menganjurkan adanya percakapan antar dua bangsa. Kemerdekaan seakan menjadi awal dari hilangnya dialog dan percakapan. Padahal kengerian dan trauma bukan hanya milik orang Indonesia. Orang Belanda pun banyak yang masih terkenang-kenang masa itu. Banyak di antara mereka yang masih trauma.

Berkat artikel itu, saya bisa melihat peristiwa itu dari sudut pandang yang lain. Bukan semata apa yang tertulis dalam sejarah kita, serta retorika para pejabat. Tapi perlu memahaminya dari sisi yang lain.

Di antara beberapa fakta yang dikemukakan Michel Mass, saya tertarik dengan penuturannya tentang apa yang terjadi pada 17 Agustus 1945. Bagi orang Indonesia, di tanggal itu terjadi proklamasi kemerdekaan. Semua peperangan setelah proklamasi adalah upaya untuk mempertahankan kemerdekaan yang direbut dengan susah payah. 

Belanda tidak mengakui Proklamasi itu. Dalam versi Belanda, untaian negeri yang dinamakan Indonesia itu masih dalam tanggung jawab mereka. Ketika proklamasi terjadi, banyak laskar sipil yang berdalih mempertahankan kemerdekaan, tapi menggelar teror di sana-sini. Belanda berkewajiban untuk menciptakan keamanan dan ketertiban.

Sejak 17 Agustus 1945, orang Indonesia dan orang Belanda saling membelakangi. Orang Belanda sering menengok ke belakang, orang Indonesia melihat ke depan. Padahal, selama ratusan tahun Belanda di tanah ini, selalu terjadi kolaborasi dan interaksi. 

Ada perang, tetapi banyak juga kerja sama. Bahkan generasi Sukarno yang membebaskan Indonesia adalah alumni sekolah-sekolah bikinan Belanda, di mana banyak guru-gurunya simpati pada perjuangan.

Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia jatuh pada 27 Desember 1949, saat Ratu Yuliana menyerahkan kedaulatan kepada Muhammad Hatta, utusan Indonesia. Belanda menyebut peristiwa ini sebagai “The Transfer.” Ratu Yuliana berdialog dengan Hatta dalam bahasa Belanda. 

Kata Michel Mass, klaim Belanda itu sangat menggelikan. Itu sama halnya dengan Inggris yang tidak mengakui kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli 1776, sebab sesudahnya, terjadi pertempuran antara Amerika dan Inggris dalam waktu yang cukup panjang.

Pernah, Menteri Both, seorang pejabat Belanda, datang ke Jakarta pada tahun 2005 dan menghadiri acara kemerdekaan. Dia ditanya: “Apakah Belanda mengakui 17 Agustus atau tidak?' Dia menjawab: "De facto ya, tapi tidak de jure." 

Selama empat tahun, sejak proklamasi, orang Indonesia terus berjuang. Mereka yang gugur disebut tewas dalam upaya jihad melawan asing. Belanda menjadi pecundang. Banyak prajuritnya yang menyesal disuruh datang pada saat Agresi Militer.

Orang Indonesia menyebut operasi yang dilakukan Belanda sebagai Agresi Militer. Tapi orang Belanda menganggap tindakannya sebagai Aksi Polisionil untuk mengamankan ketertiban.

Namun, ada trauma pada tindakan segelintir orang Belanda di masa itu. Di antaranya adalah Kapten Raymond Westerling. Pria yang sering disebut Turki ini menegakkan keamanan dengan cara membunuh satu per satu setiap warga yang diduga hendak memobilisasi perlawanan.

Tapi, di kalangan orang Belanda, Westerling tidak selalu diterima. Malah Westerling disingkirkan oleh orang Belanda sendiri karena tindakannya dianggap mendatangkan kengerian. Meskipun ada juga orang Belanda yang mendukung Westerling karena tindakannya meredakan teror di mana-mana.

Masa setelah Proklamasi disebut Belanda sebagai “Masa Bersiap.” Ini tidak ada dalam kamus sejarah Indonesia. Belanda menggunakan istilah itu untuk menggambarkan gelombang kekerasan yang meletus tak lama setelah Proklamasi kemerdekaan. 

Di masa bersiap, propaganda demi propaganda terus terjadi. Para pemoeda (pejuang muda) memburu siapa saja yang orang Belanda atau yang berhubungan dengan Belanda. Dalam hitungan bulan, mereka membunuh antara 20 dan 35 ribu pria, wanita, orang tua, dan anak-anak. 

Dalam buku Gangsters and Revolutionaries, sejarawan Robert Cribb berkata, pada masa revolusi, bukan hanya para nasionalis dan pemimpin pergerakan yang eksis, tapi juga para jagoan, para bandit, dan mereka yang menguasai dunia hitam. Mereka mengatasnamakan dirinya sebagai laskar yang berbaju seperti pejuang, kemudian menebar teror di mana-mana. 

Beberapa kelompok memakai atribut agama, lalu mengatasnamakan jihad, untuk menebar teror sana-sini. Ada yang mengatasnamakan dirinya Lasykar Ubel Ubel. Lasykar artinya tentara dan ubel-ubel adalah sorban yang dipakai jamaah haji di Mekkah.

Mereka menyatroni kantor-kantor dan gedung-gedung milik perusahaan Eropa dan Belanda. Atas nama kemerdekaan, mereka membunuh banyak orang dan mencaplok berbagai gedung, menjarah banyak barang, kemudian menuliskan grafiti “milik repoeblik.” 

Mereka membunuh banyak pegawai kantor pemerintah kolonial, yang saat itu mayoritas adalah orang Indonesia sendiri. Robert Cribb mencatat kesaksian seorang saksi sejarah tentang betapa sulitnya mendapatkan air minum di Klender karena banyak sumur tersumbat mayat orang Cina yang jadi korban pembantaian.

Bagi orang Eropa, bulan-bulan terakhir tahun 1945 adalah masa perampokan, perampasan, penculikan, dan pembunuhan acak di jalanan. Banyak orang Eropa yang menghilang, tiba-tiba ditemukan mengambang di kanal di tengah kota. 

Di banyak daerah, situasinya lebih kelam lagi. Di Kranji, orang Eropa yang bekerja sebagai mandor perkebunan swasta dibunuh. Istrinya lalu diperkosa. Di Karawang, seorang jagoan menduduki kantor bupati dan menyatakan dirinya sebagai bupati. Gangster lain mengambil alih semua perkebunan swasta dan menyatakan miliknya. Di Tangerang, pembantaian pada tuan tanah dan petani Cina terjadi. 

Cribb mengatakan, para pembunuh ini tidak punya agenda politik. Mereka adalah kaum oportunis yang memanfaatkan situasi politik saat Jepang sedang lemah, dan munculnya klaim kemerdekaan dari para pemimpin republik.

Sayangnya, di masa kini, kita membaca sejarah versi Indonesia dan menyebut mereka sebagai pejuang yang hendak membebaskan bangsa. Padahal, dalam catatan Cribb tidak semua berniat untuk berjuang. Banyak yang memanfaatkan situasi.

Mungkin Anda beranggapan bahwa tindakan kekerasan adalah hal yang lumrah dalam satu revolusi. Jika demikian, maka Anda sama saja dengan para kolonialis itu. Anda juga menghalalkan segala cara untuk membunuh yang lain, sebagaimana para kompeni yang datang menjarah di sini. 

Yang membedakan antara Anda dan mereka hanyalah kekuasaan.

Kini, 76 tahun setelah Proklamasi dibacakan, banyak orang Belanda masih mengenang Indonesia sebagai tanah yang dahulu pernah mereka diami. Hati mereka masih hangat saat mendengar ada banyak kosa kata bahasa Belanda yang menjadi bahasa Indonesia.

Banyak di antara mereka yang coba menelusuri ingatan lama tentang Indonesia. Mereka datang mendatangi tempat-tempat, lokasi, hingga kota-kota. Mereka mengenang Indonesia hingga menitikkan air mata.

Saat pemutaran film The East, banyak generasi baru di Belanda, yang terkejut menyaksikan tindakan nenek moyangnya. Mereka tidak menyangka kalau kekerasan bisa dilakukan dengan begitu kejam pada warga pribumi. 

Saya menduga, mereka juga tidak membaca banyak catatan, kalau pribumi pun melakukan itu pada mereka. Pada masa itu, dua kubu saling bertempur. 

Satu merasa memiliki tanah ini dan ingin mempertahankannya. Satu lagi tak sabar untuk segera merdeka, lalu mengusir, membunuh, mencaplok, dan menyingkirkan yang lain. Dua kubu itu tak mau berdialog. Saling bertolak punggung. 

Michel Mass menggambarkan dengan getir tentang orang Belanda yang datang di hari kemerdekaan. Dia mendatangi pemakaman Belanda yang terletak di Menteng Pulo. Dia melihat ada nisan tiga anak dari Van Slooten, yang berusia 7, 8, dan 10 tahun. Mereka dimakamkan dalam satu lubang. 

Mereka tewas akibat kekerasan yang dilakukan bangsa Indonesia, sebagaimana banyak orang Indonesia lain yang juga tewas pada masa itu.  Dan kita yang hidup di masa kini seakan terpenjara oleh masa lalu. Kita masih memelihara kebencian atas sesuatu yang kita ketahui sepenggal. 

Kita pun merasa paling benar.



Fantasi Elon Musk


Di seluruh planet, dia adalah pria yang mengolah semua fantasi menjadi kerajaan bisnis. Dia pria penuh mimpi, yang perlahan mewujudkannya satu demi satu. Dia adalah Elon Musk.

Saya sedang membaca biografinya yang ditulis Ashlee Vance. Kesan saya, Elon Musk bukan manusia yang lahir di abad ini. Saya menduga dia adalah seorang time traveler dari masa depan yang datang ke masa kini untuk meretas jalan ke sana.

Saya sangat tertarik membaca masa kecilnya, semasa di Afrika Selatan. Dia adalah seorang anak yang pendiam. Hari-harinya diisi dengan permainan video game. Dia juga sangat rajin membaca buku-buku yang dibelikan ayahnya.

Konon, dia menghabiskan waktu 10 jam dalam sehari untuk membaca. Bahkan dia juga pengunjung setia perpustakaan. Dia sering ditemukan di sudut perpustakaan bersama buku-buku.

Dia paling suka membaca komik dan kisah science fiction. Di usia lima tahun, dia sudah merancang cerita tentang perang alien melawan manusia. Alien akan datang dengan pesawat yang membawa bom hidrogen dan membawa kehancuran pada manusia.

Dia juga membaca kisah-kisah fantasi. Buku favoritnya adalah Lord of The Ring (LOTR) yang ditulis J.R Tolkien. Kisah ini sangat menyentuh hatinya sehingga ketika dewasa, dia selalu merekomendasikannya. Beberapa kali di Twitter, dia menyebut LOTR sebagai inspirasinya. 

Pernah, seorang siswa muda dari India bertanya kepada Musk melalui Twitter bagaimana bisa buku tebal klasik yang diisi dengan kisah para hobbit, orc, penyihir, dan elf menginspirasinya? 

Dia menjawab: “Don't give up if the cause is important enough, even if you believe you are walking into doom. Good friends really matter.” Para penggemar LOTR akan teringat adegan ketika Frodo Baggins bersama rekan-rekannya berbagai makhluk melakukan perjalanan ke Mount Doom. Mereka kuat karena saling bantu.

Bagi Elon Musk, ada kesamaan antara kisah fiksi sains dan fantasi, yakni manusia mengemban misi penting di alam semesta. Manusia harus merawat alam, dengan cara mewujudkan teknologi dengan energi bersih, serta membangun pesawat antariksa untuk memperluas capaian manusia. Dengan kata lain, manusia harus jadi khalifah.

“Mungkin saya terlalu banyak membaca komik dan fantasi,” katanya. Fantasi itu ibarat kompas yang menentukan ke mana Elon Musk bergerak. Berkat fantasi itu, dia melakukan revolusi pada tiga bidang industri, yakni teknologi, transportasi, dan ruang angkasa. Dia membangun PayPal, Tesla, Zip2, SpaceX dan Solar City sebagai perusahaan yang mengubah dunia.

Bahkan, dia berambisi mengirim koloni manusia untuk tinggal di Mars pada 2025. Mungkin Anda akan menganggapnya gila, tapi dia perlahan mewujudkannya. Perusahaannya SpaceX saat ini jadi perusahaan terdepan dalam peluncuran roket dan satelit untuk NASA dan berbagai lembaga lain.

Dari sisi sains, banyak yang secerdas Elon Musk. Tapi dalam hal imajinasi, Elon Musk seolah penduduk masa depan. Imajinasinya mendorong pada inovasi dan penciptaan. Sains memang bisa membantu manusia menjelaskan banyak hal, tapi imajinasi selalu terkait dengan daya cipta, serta merancang masa depan. 

Pantas saja jika fisikawan Albert Einstein mengatakan: “Imagination is more important than knowledge.”

Mungkinkah ada generasi sehebat Elon Musk yang lahir di negeri ini pada masa sekarang dan masa depan? Saya agak pesimis.  

Betapa tidak, kita jarang melihat anak-anak menggemari fantasi hingga terbawa mimpi. Orang tua pun tidak membekali anaknya dengan berbagai dongeng, hikayat, hingga fantasi.  Kita mengajari anak kita dengan hafalan.  Cukup fasih menghafal lembar demi lembar, kita sudah puas. 

Maka biarlah Elon Musk menguasai masa kini dan masa depan. Kita menguasai kehidupan setelah masa depan. Kita lebih menang di hari akhir.



Kisah Kolaborasi


Jauh dari satu daerah di timur Nusantara, dia datang ke Jakarta. Dia seorang pedagang yang cukup sukses. Saat jumpa dengannya, dia sedang bersama sejumlah anak muda lainnya. Rupanya, dia mengajari anak-anak muda itu cara berbisnis di lini yang sama dengannya.

Dia berbagi ilmu. Dia ikut membuka peluang pasar. Dia merekomendasikan usaha teman-temannya. 

“Apa tidak takut mereka jadi saingan yang kelak bikin bisnismu bangkrut?” Saya bertanya. Dia malah tersenyum. Menurutnya, rumus itu tak berlaku dalam kehidupan. “Semakin banyak kamu memberi, maka semakin banyak rezekimu yang mengalir,” katanya.

Saya merenung. Selama ini kita terlalu sering melihat persaingan. Kita beranggapan semua orang akan saling caplok. Padahal, kehidupan bergerak dengan cara berbeda. Semakin sering berkolaborasi, maka semakin membesar manfaat yang diterima.

Saya terkenang dengan kisah seorang petani jagung di Texas. Dia terkenal karena jagungnya paling unggul. Uniknya, dia tak pernah pelit. Dia bagikan bibit jagung kepada semua petani jagung di sekitar kebunnya. Semuanya menghasilkan jagung paling unggul.

Kenapa dia mau saja membagikan bibit jagungnya? Bukankah dengan membagikannya, dia akan makin miskin karena banyak pesaing? 

Menurutnya, kalau di sekeliling kebun itu ditanami jagung unggul, maka pembuahan yang terjadi karena angin akan selalu menghasilkan jagung-jagung yang juga unggul. 

Jika saja hanya kebunnya yang memakai bibit unggul, sementara kebun di sekitarnya dari bibit yang kurang baik, maka pembuahan jagung di kebunnya akan tidak maksimal. Bibit yang kurang bagus bisa terbawa angin ke kebunnya, dan menghasilkan jagung yang kurang bagus.

Di sinilah letak indahnya kolaborasi. Semakin banyak kawan seiring sejalan, maka semakin banyak tangan dan bahu yang kelak akan menarikmu saat sedang ditimpa masalah. Semakin banyak berbagi kebaikan, maka kebaikan pun akan sering datang dengan cara yang ajaib, sering kali tidak disangka-sangka.

Saya sedang membaca buku berjudul Macrowikinomics, yang ditulis Don Tapscott. Rupanya, ekonomi masa kini dan masa depan selalu berbasis kolaborasi. Jejaring atau networking menjadi kekuatan. 

Pantasan, model pendidikan di negara seperti Amerika Serikat mulai berubah. Tidak lagi menekankan pada tugas-tugas individual, tapi selalu pada kerja sama.

“Saya tak akan miskin hanya karena membantu orang,” kata kawan pedagang itu. Melalui kolaborasi, ada banyak tangan dan otak yang membantunya. Melalui kerja sama, dia membangun sistem. Kelak dia akan menikmati buah dari benih unggul yang ditanam, yang disuburkan oleh guguran daun dari tanaman subur di sekitarnya.


PUAN versus GANJAR di Instagram

ilustrasi

Karakter seseorang selalu bisa dibaca dari sikap dan tindakan. Biarpun seseorang mengaku baik, namun publik lebih percaya pada tindakan yang terlihat. Demikian pula dengan dunia politik. Di era 4.0, sikap politik seorang politisi “Jaman Now” dengan mudah terbaca melalui akun media sosialnya.

Nah, bagaimana membaca sikap politik dua kader partai banteng yakni Puan Maharani dan Ganjar Pranowo di Instagram? Apa pelajaran yang bisa dipetik di situ? 

*** 

Puan Maharani tampak tersenyum cerah. Dalam video yang diunggahnya di Instagram, Kamis (13/8) kemarin, dia terlihat bersama banyak anak muda. Dia bersama mahasiswa, atlet, hingga sejumlah anak muda yang berpakaian olahraga. Terlihat, semua anak muda itu berada di perkotaan.

Dia memberikan pesan-pesan penuh motivasi. Diiringi musik yang membakar semangat, dia menulis kalimat: ‘Wahai kaum muda yang saya kasihi. Mari kencangkan kehendak. Dorong produktivitas.” 

Dia menyampaikan pesan dalam konteks pandemi sehingga perlu mendorong anak muda agar tetap semangat.

Kemarin, Puan hanya mengunggah satu video dalam sehari di Instagram. Itu pun video itu dikemas dari kepingan-kepingan gambar yang diambil di berbagai kesempatan. Pesan yang disampaikan juga standar. Pesannya serupa kalimat motivator. Tak ada pernyataan langsung dari Puan.

Sehari sebelumnya, Puan hanya memajang satu foto berupa dirinya mengenakan kerudung, kemudian mengucapkan ucapan selamat tahun baru Islam.

Postingan Puan Maharani di Instagram

Kemarin, Ganjar Pranowo mengunggah dua video pendek. Video pertama menampilkan dirinya datang ke Mal Paragon di Jawa Tengah. Dia melihat warga yang hendak masuk mal. Setelah itu dia menyampaikan protes tentang kebijakan syarat vaksin untuk masuk mal. 

“Saya menyampaikan, ini sebenarnya tidak fair. Banyak masyarakat yang rindu untuk segera divaksin. Maka tugas kita untuk menyiapkan vaksin lebih banyak,” katanya. Ada nada protes pada kebijakan pemerintah pusat, tapi dia memberikan solusi yakni mempercepat vaksin.

Dalam dunia retorika, kalimat Ganjar ini terbilang aman. Dia mengkritik, tapi dengan bahasa yang santun. Dia pun memberikan jalan keluar yang bisa ditempuhnya sebagai seorang kepala daerah. 

BACA: Perang Robot di Pilpres


Menarik untuk dilihat bagaimana dia menulis caption video. Bunyinya: “Karena aturan sudah dikeluarkan, ya ayo kita terapkan. Tapi kita jg harus bertanggungjawab, vaksinasi wajib dipercepat. Dan di Jawa Tengah, setiap Minggu kuota selalu kita tambah. Semoga kita diberi kesehatan dan diberi kekuatan untuk saling menyelamatkan.”

Di hari yang sama, Ganjar juga mengunggah video mengenai seorang ibu berusia sekitar 50-an tahun yang berprofesi sebagai penjual makanan. Ibu itu curhat tentang pendapatannya di masa pandemi yang terus berkurang. Saat itu juga, Ganjar memesan 100 porsi makanan. Mata ibu itu berkaca-kaca, kemudian mengucap Alhamdulillah.

Dalam video itu, Ganjar menulis: “Mari kita saling menguatkan, sebisa kita. Hal sekecil apa pun, asal bisa melahirkan senyuman saudara kita, ayo lakukan.” 

Pesan ini hampir mirip dengan pesan yang disampaikan Puan Maharani di hari yang sama. Bedanya hanya pada kemasan pesan yang mau disampaikan.

Sebagai politisi, Puan Maharani dan Ganjar Pranowo punya pandangan berbeda tentang media sosial, khususnya Instagram. Namun, netizen tetap menemukan visi keduanya di situ. Di profil Instagram, Puan menulis kalimat: ”Ojo Pedhot Oyot (Jangan Putus Akar).” Entah dia menyindir siapa. Sedangkan Ganjar mencatat: “Tuanku ya Rakyat, Gubernur cuma Mandat"

Jika dibandingkan, Instagram Puan versus Ganjar ibarat Liliput versus Hulk. Jumlah pengikut Puan hanya 526.000 orang, serta hanya menghasilkan 625 postingan. Dalam sehari, dia rata-rata hanya memposting satu konten. Sepertinya, dia menganggap Instagram tidak seberapa penting.

Sedangkan Ganjar punya 3,7 juta pengikut, dengan jumlah postingan 4.624.  Ganjar dan timnya sangat produktif. Rata-rata dalam sehari bisa empat konten atau kadang lebih. 

Perbedaan lainnya adalah kemasan. Mudah terlihat kalau tim medsos Puan bekerja asal-asalan. Kontennya terkesan dibuat oleh pejabat humas, yang sekadar melaporkan peristiwa. Kesannya kayak membaca liputan media di masa Orde Baru. Isinya hanya kegiatan pejabat.

Postingan Ganjar Pranowo

Sementara kemasan konten-konten Ganjar dibuat dengan serius dan perencanaan matang. Tim Ganjar paham pendekatan partisipatoris, sehingga memosisikan Ganjar bukan sebagai seorang pejabat, melainkan sebagai seorang partner yang sejajar dengan siapa saja. Ganjar tidak digambarkan duduk di singgasana, tapi sebagai warga biasa yang menyapa semua orang dengan ramah.

Dalam video, terlihat warga bisa bebas bercanda, malah meledek. Ganjar juga ikut menimpali dengan ledekan sehingga suasananya cair. Hal-hal seperti ini tidak terlalu terlihat pada postingan Puan Maharani yang terkesan kaku.

Padahal, Puan Maharani harusnya bisa jauh lebih kreatif. Sebagai Ketua DPR, dia bisa leluasa menyapa warga dari Sabang sampai Merauke, mendengarkan semua pihak, lalu berbincang santai di warung-warung kopi, sebagaimana pernah dilakukan kakeknya. Puan terlalu nyaman di posisi sebagai Ketua DPR sehingga tidak tampak berkeringat dan berpeluh bersama rakyat.

BACA: Kiat Membangun Laskar Media Sosial


Namun bukan berarti Instagram Ganjar sempurna dan tanpa celah. Segmentasi pesan di Instagram Ganjar hanya menyasar kalangan masyarakat bawah, yang rata-rata bisa berbahasa Jawa. Hal ini bisa dipahami sebab sasarannya adalah masyarakat Jawa Tengah. Instagram bagi Ganjar adalah sarana untuk menyapa warga biasa, sekaligus menyampaikan pertanggungjawaban publik.

Pendekatannya memang menarik, sebab mengedepankan teknik bercerita atau storytelling.. Namun, kalangan tertentu, khususnya menengah ke atas dari sisi pendidikan, berharap lebih. Akan lebih baik jika sesekali Ganjar menampilkan infografis berupa data atau informasi sehingga bisa mengedukasi publik. 

Ganjar harus memperluas segmen pengikutnya di media sosial. Jika dia ada niat jadi presiden, maka dia pun harus pandai mengemas konten yang sesuai untuk semua kalangan, bukan hanya mereka yang fasih bahasa Jawa.

Selain itu, kontennya harus lebih variatif dan tidak monoton. Timnya bisa lebih kreatif dan membuat berbagai jenis konten, yang tidak hanya storytelling semata, tetapi bisa pula menampilkan meme, karikatur, foto bercerita, hingga infografis. 

*** 

Data terbaru di Indonesia menunjukkan, platform media sosial terpopuler tetaplah Youtube, kemudian WhatsApp, lalu Instagram. Setelah itu Facebook, lalu Twitter. Masing-masing media sosial punya karakteristik netizen yang berbeda. Sehingga pesan yang disampaikan haruslah dikemas dengan cara berbeda.

Instagram adalah platform medsos yang terus tumbuh dan banyak didominasi kalangan muda. Banyak politisi memilih untuk memperkuat Instagram sebab ada banyak pembatasan di Facebook, sejak kasus Cambridge Analytica terkuak.

BACA: Digital Storytelling untuk Menang Pilkada


Yang pasti, penguatan Instaram menjadi agenda penting bagi politisi yang ingin menguasai ranah digital. Di era internet of things, kerja-kerja politik akan fokus pada keseimbangan antara kerja-kerja offline dan kerja-kerja online. 

Seorang politisi mesti membangun infrastruktur teknologi dalam mengelola semua isu dan jaringan relawan. Suara publik bisa dipantau melalui percakapan media sosial. Bahkan publik pun memantau politisi melalui algoritma media sosial.

Benar kata Eric Schmidt dalam The New Digital Age, kita perlahan pindah ke dunia maya. Kita semua ingin bangun rumah nyaman di situ. Kita pun ingin popular di situ.



Laba-Laba Bukalapak

 


Bukalapak akhirnya melantai di bursa saham, 6 Agustus lalu. Sejak pagi, saya berusaha untuk membeli secara eceran. Dapat sih, tapi tidak banyak. Main recehan. Tak ada artinya dibandingkan 96.000 investor lain yang berebut membeli saham. Semua antusias mengikuti IPO unicorn asal Indonesia itu.
Media lebih tertarik dengan hal2 sensasional. Misalnya, kekayaan Ahmad Zaky yang bertambah 1 triliun dalam sehari. Benar-benar wow. 
 
Bagi saya, Bukalapak bukan sekadar marketplace atau pasar. Bukapalak adalah ide-ide, kreativitas, juga kecerdikan.
 
Pernah, seorang kawan terheran-heran mengapa Bukalapak bisa begitu kaya. Padahal tidak bangun mal atau pusat bisnis. Tidak sibuk cari pelanggan. Bahkan tidak punya barang.
 
Bukalapak hanya membangun rumah di internet. Dia hanya siapkan ruang. Para penjual berdatangan memenuhi lapak. Pembeli berdatangan bak laron mengerumuni sumber cahaya. Semua transaksi berlangsung kasat mata.
 
Semua terjadi di dunia maya. Kita tak melihat ada tawar-menawar. Tapi perlahan, duit Ahmad Zaky bertambah bak sungai mengalir deras. Dia hanya duduk-duduk di rumah, tapi cuan terus berdatangan.
Bagaimana memahami model bisnisnya? Saya pikir perumpamaan paling tepat adalah membandingkan cicak dan laba-laba.
 
Kita mencari duit seperti cicak. Kita keluar di pagi hari, sibuk menangkap mangsa, malamnya kembali ke rumah. Besoknya kita melakukan hal yang sama. Kita adalah karyawan, pegawai, staf, personalia, admin, atau anak buah
 
Kita ibarat ambtenaar atau pegawai di masa kolonial Belanda yang berpakaian seragam jas putih, dan topi besi ala mandor, lalu petantang-petenteng di tengah masyarakat. Kita merasa keren, apalagi orang-orang menatap segan. Saat melamar anak orang, kita begitu bangga menyebut diri sebagai karyawan.
 
Sementara pendiri Bukalapak mencari duit seperti laba-laba. Dia tidak menangkap mangsa. Dia menghabiskan waktu untuk membangun jaring atau net, setelah itu menunggu mangsa yang terjerat satu demi satu. Dia tak perlu keluyuran ke mana-mana. Cukup tidur-tiduran. Mangsa yang berdatangan.
Laba-laba membangun sistem, yang kemudian bekerja untuknya. 
 
Di dunia bisnis, karakter laba-laba bisa dilihat pada pemilik bisnis, agen asuransi, para pembuka lapak, investor, dan pemilik usaha. Mereka berdarah-darah saat membangun sistem, setelah itu bisa berleha-leha siang malam.
 
Tapi, jangan berkecil hati. Kita yang pegawai dan karyawan punya sedikit kebanggaan. Kita punya seragam, baju dinas, baju safari, hingga jas yang dipakai saat pelantikan.
 
Di titik ini, kita lebih gagah dibandingkan pemilik Bukalapak yang harus bersusah payah mengejar klien dan pelanggan. Lihat, saja, pemiliknya selalu pakai baju kaos, mirip Mark Zuckerberg.
Bagaimana pun juga, jadi cicak lebih keren. Punya lidah panjang untuk menangkap mangsa. Bisa pula dipakai menjilat ke atasan. Iya kan?

Dunia Game


Di suatu siang yang terik, di satu gedung tinggi di kawasan SCBD, saya diajak ketemuan oleh sejumlah anak muda. Usia mereka masih belasan tahun hingga awal dua puluhan. Mereka memperkenalkan profesinya yakni Gamer. Hah?

Selama ini saya pikir game hanya untuk main-main. Rupanya, ada sejumlah orang yang berkecimpung di dunia game, lalu mendapatkan penghasilan yang cukup besar. Bahkan lebih besar dari honor yang saya terima sebagai pelatih kucing.

Seorang di antara mereka menunjukkan apa yang dibuatnya. Dia membuka laptop lalu menunjukkan desain animasi yang dibuat. Saya melihat ada gambar kapal serta di dalamnya ada orang-orang berbaju ala prajurit Jawa masa lalu, lengkap dengan tameng dan keris. Rupanya, anak muda itu adalah game developer.

Dia tahu kalau saya lama belajar antropologi. Dia minta masukan tentang jenis-jenis kapal, keris, hingga pakaian. Dia juga minta bantuan saya untuk membuatkan cerita menarik di permainan itu sehingga setiap pemain game punya misi yang harus dikejar. Saya menyanggupi.

Anak muda lainnya mengaku sebagai game tester. Ceritanya, ketika ada produk game yang diluncurkan, baik di dalam maupun luar negeri, dia akan menjadi pihak yang diminta mencoba permainan itu. Untuk aksi-aksinya, dia dibayar pakai dollar. Wow.

Ada juga yang menjadi anggota tim e-sport. Dia dibayar profesional oleh tim yang merekrutnya. Saya malah baru tahu kalau dunia e-sport itu seperti kompetisi sepakbola, di mana ada klub yang merekrut banyak pemain, setelah itu rutin latihan, lalu tampil dalam kejuaraan. Ini benar-benar dunia baru buat saya yang hanya jago memainkan game ular di HP jenis Nokia.

Anak paling muda di situ tersenyum-senyum saat ditanya apa yang dia lakukan di dunia game. Dia menjadi joki karakter. Misalnya, ada pemain game yang ingin mengubah karakter petani jadi prajurit, dia bisa bantu dengan cara menjadi joki. Setelah dia main, skill petani dengan cepat bisa di-upgrade. Sesekali dia jual poin atau mata uang yang berlaku di game.

Lainnya mejadi kreator konten. Mereka bermain game, merekam permainan itu, lalu membagikannya di platform Yutub. Follower-nya banyak. Mereka mencetak banyak cuan. Saya langsung ingat anak saya yang rutin mengikuti kanal Obit, si anjing, yang selalu me-review game terbaru. Jangan-jangan, salah satu dari mereka adalah Obit si Anjing.

Saya lihat mereka nampak sukses dan kaya. Mereka memakai gadget terbaru, juga sepatu mahal. Dunia game menjadi profesi yang cukup mapan bagi anak muda usia belasan tahun. 

Tentu saja, saya tak ingin menghakimi apa yang mereka lakukan dengan cara pandang generasi ala baby boomer. Malah saya kagum sama mereka. Dahulu, Mark Zuckerberg adalah seorang game developer yang mengunduh bank data semua cewek se-Harvard, lalu memasukkan foto-foto cewek itu ke aplikasi Facemash dan meminta mahasiswa lain untuk memvoting siapa paling cantik. 

Saya ingat Don Tapscott dalam buku Grown Up Digital, tentang lahirnya NetGen yang mengenal internet sejak kecil, menggunakan teknologi untuk menjadi lebih cerdas dibanding orangtuanya.

Kata Tapscott, generasi ini cepat merespon berbagai informasi yang masuk dengan cara-cara yang unik. Mereka berpikir dan mengolah informasi dengan cara berbeda. Mereka mengolah wawasan-wawasan baru, yang lalu membawa banyak implikasi pada sistem pendidikan, iklim bisnis, serta bagaimana mempengaruhi kebijakan. 

Tapscott memberi contoh tentang anak-anak muda Amerika yang rata-rata paham sejarah dan mitologi gara-gara main game. Ada juga hasil riset yang menyebutkan para pemain game jauh lebih cepat merespon informasi visual di pikirannya, ketimbang mereka yang tidak bermain game.  Para pemain game jauh lebih banyak melihat berbagai target seperti bujur sangkar, lingkaran, wajik, limas, kerucut, yang ditampilkan di layar komputer. 

Riset ini menunjukkan, kemampuan mengolah data-data visual sangat berpengaruh pada keterampilan spasial, kemampuan memanipulasi obyek 3-D secara mental, yang sangat berguna bagi para arsitek atau perancang bangunan, dokter, pemahat, insinyur, pekerja desain interior, fashion designer, pembuat animasi dan kartun, para seniman, hingga para ahli matematika. 

Saya pun teringat guru saya, Profesor Vilbert Cambridge, yang bercerita bagaimana game menjadi tools yang sangat penting untuk kampanye hidup sehat di Afrika. “Game itu bisa jadi sarana edukatif. Makanya kita harus bikin banyak game untuk melatih anak-anak kita,” katanya.

Yang saya pikirkan, bagaimana anak-anak ini menjelaskan profesinya kepada orang tuanya. Di kampung saya, yang namanya profesi, kalau bukan polisi, tentara, dokter, pe en es, yaa pedagang. Saya bayangkan respon keluarga di kampung saat saya beritahu profesi saya sebagai gamer. "Apa ko bikin? Main-main ji? Lebih baik ko pulang."

Hmm. Dunia memang terus berubah.


Daripada Pulang Jadi PENELITI, Mending Jadi BUZZER

saat Erick Thohir berbincang dengan peneliti asal Indonesia di Oxford


Erick Thohir, Menteri BUMN, memanggil pulang peneliti Indonesia di Universitas Oxford, Inggris, yang punya andil dalam pengembangan AstraZenecca. Namun Erick tidak tahu bahwa di negeri yang tunduk pada investasi asing ini, menjadi buzzer dan tim sukses lebih menjanjikan masa depan ketimbang jadi peneliti. 

Di dunia riset, Anda harus meniti karier dari level paling bawah, dimulai dari posisi peneliti junior yang mengerjakan semua hal, termasuk mengambil sampel ke daerah terjauh. Sementara di dunia buzzer dan tim sukses, Anda hanya perlu ikut-ikut tim pemenangan seorang kepala daerah atau calon presiden, setelah itu cukup baca “Bismillah”, langsung dapat posisi Komisaris.

Bayangkan, ada seorang peneliti yang bertahun-tahun kerja di Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagalistrikan di Perusahaan Listrik Negara (PLN). Kariernya bermula dari manjat tiang listrik hingga bertahun-tahun kemudian mulai jadi peneliti senior. 

Kira-kira, apa responnya saat baca berita tentang Eko Sulistyo, salah seorang tim sukses Jokowi, diangkat sebagai Komisaris PLN. Padahal, belum tentu Eko tahu banyak tentang dunia PLN. Pengetahuan peneliti itu jauh di atas Eko. Bedanya, Eko adalah tim sukses Jokowi. Dia dekat kekuasaan. Ada pula timses Jokowi jadi Komisaris BUMN, yang modalnya hanya memuji Jokowi dan mengolok Prabowo di Twitter.

Bukan hanya di pusat, di level pemerintah daerah juga setali tiga uang. Seorang gubernur bisa saja membentuk TGUPP yang gajinya selangit, jauh di atas peneliti di balitbang milik pemda. Bahkan TGUPP bisa mengendalikan kepala dinas. Siapa yang diangkat jadi TGUPP? Ya tim sukses. Bisa jadi penyusun konsep, jubir di media, angkat-angkat tas, atau barangkali berperan untuk mendatangkan massa saat kampanye.

Di satu daerah di Sulawesi, anggota TGUPP rata-rata bergelar profesor doktor. Para ilmuwan bergelar profesor, yang seharusnya menjadi sumber daya terbaik untuk pendidikan dan riset, tiba-tiba harus mengurusi birokrasi dan anggaran perjalanan dinas di pemda. Ironis.

BACA: Ayo, Dukung Rektor Jadi Komisaris

 

Lihatlah di sekitar kita. Ada banyak jejak digital di media-media tentang tim sukses yang tadinya hidup pas-pasan, lalu naik kelas begitu calonnya menang. Risetnya Michael Buehler, pengajar di University of London,  mengungkap ada banyak tim sukses yang mendapatkan permen berupa proyek begitu kandidatnya menang. Di situ, berlaku hukum take and give. Anda diberi posisi, Anda juga harus menyetor. Ada uang, ada cashback.

Lantas, Erick Thohir mau meminta anak muda yang sedang sekolah di Inggris itu untuk pulang lalu jadi peneliti di tanah air dengan standar hidup pas-pasan, sementara ada kelompok yang hanya kerja sedikit langsung dapat posisi tinggi? 

Erick Thohir, yang berlatar pengusaha ini, tidak tahu iklim riset di tanah air kita. Posisi peneliti hanya menempati posisi pinggiran di segala ranah. Di berbagai kantor pemerintah, posisi peneliti di Balitbang, bukanlah posisi yang bagus, sehebat apa pun karya Anda. 

Rekomendasi peneliti tidak didengar dalam perumusan kebijakan. Kertas kerjanya hanya berserakan di laci para pejabat. Tulisannya di jurnal hanya dibaca sedikit orang yang tertarik, itu pun hanya kalangan nerd di kampus-kampus yang berteman dengan buku.

Saat badai pandemi Covid-19 datang menyerang, banyak peneliti, ahli-ahli dan epidemolog memberikan jalan keluar. Tapi, rekomendasi mereka kalah nyaring dengan suara seorang pebisnis kakap. Suara peneliti bisa dengan mudah diabaikan saat seorang investor menjelaskan kalkulasi kerugian jika saran peneliti itu dituruti.

Kita tak punya ekosistem riset yang bagus. Idealnya, ada interaksi yang intens antara pengambil kebijakan (dalam hal ini pemerintah), peneliti di perguruan tinggi, serta dunia industri.  Ekosistem ini tidak terbentuk, apalagi Kementerian Riset Dikti yang seharusnya jadi perekat ketiganya malah dibubarkan.

Berkat pandemi, kita jadi tahu betapa rapuhnya dunia riset kita. Terlalu jauh jika kita bandingkan dunia riset kita dengan Inggris dan Amerika Serikat. Di Asean saja, kita tertinggal jauh. 

Rasio jumlah peneliti dengan jumlah penduduk di Singapura adalah lebih dari tujuh ribu peneliti per satu juta penduduk. Sedangkan di Malaysia sebanyak 2.590 peneliti per satu juta penduduk. Sementara di Indonesia, rasionya hanya sebesar 1.071 peneliti per satu juta penduduk. Angka rasio ini pun sudah termasuk dosen di perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.

Jika sains adalah senjata, dan peneliti adalah pasukannya, maka jelas kita tak berdaya dalam menghadapi situasi darurat yang membutuhkan kerja-kerja peneliti. Kita tak mungkin setangguh Inggris.

Dalam buku Vaxxers: The Inside Story of The Oxford Vaccine and The Race Aigainst Virus, Profesor Sarah Gilbert bercerita tentang proses riset menahun yang telah dibuat Jenner Institut, Oxford University, sebelum membuat vaksin Oxford AstraZeneca. Dia mengibaratkan prosesnya seperti membuat kue, di mana adonannya sudah lama ada dan siap, sehingga proses berikutnya tinggal meletakkan pewarna di atas kue.

Sejak lama, mereka meneliti berbagai varian virus, mulai Ebola, sampai Mers. Mereka sudah lama membuat template, sehingga ketika ada satu virus menyerang, mereka tahu bagaimana menyiapkan vaksinnya. Vaksin AstraZeneca kelar dalam waktu 12 bulan, sementara peneliti kita entah kapan bisa keluar.

Tapi riset di Oxford itu butuh bertahun-tahun dan selalu dibiayai negara. Pemerintah menyediakan anggaran untuk proses riset yang panjang di perguruan tinggi, yakni Universitas Oxford, kemudian ada dukungan kuat dari dunia industri yakni AstraZeneca. Hebatnya, para peneliti ini menolak mamatenkan vaksinnya agar bisa terjangkau warga dunia.

BACA: Peneliti yang Jadi Berkah bagi Semesta

 

Namun cerita-cerita hebat begini akan sulit kita temukan di tanah air kita. Rasanya sulit kita mendapati tim peneliti yang bekerja bertahun-tahun kembangkan riset dengan dukungan dana yang kuat dari negara. 

Kerja peneliti tidak dihargai, apalagi jika penelitian itu tidak ada kaitannya dengan mendatangkan investasi, serta industri 4.0. Anggaran riset kita amat minimalis. Pemerintah kita ingin sesuatu yang jangka pendek, dan mudah terlihat. Pemerintah tidak tertarik dengan program jangka panjang, yang hasilnya belum tentu terlihat dalam satu periode. Di sisi lain, peneliti hidup dengan gaji pas-pasan. 

Tengoklah pengalaman Burhanuddin Muhtadi yang dibagikannya di Twitter. Lulus dari program doktor di Australian National University (ANU), dia kembali kerja di kampus sebagai akademisi dan peneliti. Gajinya hanya sekitar tiga juta rupiah. 

Gajinya lebih rendah dari besaran gaji UMR untuk buruh di Jakarta. Gaji segitu sama dengan seorang buruh pabrik sepatu di Bogor, yang pendidikannya hanya sekolah dasar. Dia banting stir kerja di lembaga survei, konsultan, pengamat politik, hingga menjadi narasumber. 

Makanya, mending anak muda di Oxford, yang dipanggil Erick Thohir itu, tidak pulang. Lebih baik dia bekerja di Inggris yang punya keberpihakan pada riset. Lebih baik bekerja di ekosistem di mana fasilitas laboratorium sangat lengkap sehingga potensinya bisa terus berkembang dan membuat banyak hal yang menyelamatkan dunia.

Namun jika dia memaksakan untuk pulang tak apa. Selain jadi peneliti, dia bisa nyambi sebagai buzzer, biar kelak dia bisa masuk ring satu kebijakan, dan mendorong agar ada perhatian pada dunia riset. Riset jalan, tapi cuan juga datang.  Siapa tahu bisa jadi “Bismillah Komisaris.”



Membaca Kabar dari Timur


Di sela-sela kesibukan menyelesaikan satu pekerjaan, saya membaca buku Kabar dari Timur yang ditulis anak muda asal Padang, Fatris MF. Dia menulis dengan gaya bertutur. Dia menulis perjalanan mengunjungi banyak daerah di timur Indonesia, mulai dari Flores, Sumba, Timor, hingga Alor. Dia pun datang ke Ambon, lalu Pulau Buru.
 
Sebagian besar tempat yang dia gambarkan, sudah pernah saya kunjungi. Namun, begitu banyak hal yang luput dari pantauan. Wajarlah, saya ke lokasi itu karena ada pekerjaan. Saya tidak sempat berkeliling, berjumpa banyak orang, dan mencatat kesan-kesan.
 
Saya sangat menikmati catatan perjalanan ini. Kita seakan meminjam panca indra penulisnya untuk merasakan kehadiran tempat-tempat menarik ini. Tak sekadar tempat, ada kisah tentang perjumpaan dengan banyak orang di perjalanan. Mereka menjadi senyawa penting yang menghidupkan satu kawasan.
 
Di buku ini, bagian yang paling saya sukai adalah kisah mengenai legiun pemburu ikan paus di Lamalera. Penulisnya menggambarkannya dengan gaya yang dramatis. Ada doa-doa yang dirapal ke langit, kemudian lelaki pemberani dengan kulit legam karena terbakar matahari mengayuh dayung ke tengah Laut Sawu. Para perempuan menunggu di tepi pantai.
 
Namun ada juga kisah getir tentang anggota legiun pemburu paus itu yang tewas, kehilangan anggota tubuh.
 
Saya juga suka catatannya tentang Timor Leste, negara baru yang dulu bagian dari kita. Penulisnya bercerita dengan jujur tentang sisi lain tentang tanah airnya yang dipandang berbeda di sana. Butuh satu wisdom atau kebijaksanaan untuk melihat semua peristiwa, dengan jernih, di luar batas-batas nasionalisme.
 
Berkat catatan Fatris, kita bisa melihat warna-warni di banyak tempat. Dia serupa etnografer yang merekam apa yang disaksikan, sekaligus mendialogkannya dengan dirinya. Dalam proses dialog itu, dia bisa saja mengutip pustaka, mengingat adegan film, atau mengisahkan pengalamannya.
 
Saya pikir inilah kekuatan narasi yang dibuat Fatris. Dia tetap menjadi orang Minang, yang dengan rendah hati mau belajar pada kebudayaan lain. Dia tidak menghakimi, tetapi berusaha memahami apa yang dilihatnya dengan cara deskripsi yang kuat.
 
Saya rasa pustaka tentang Indonesia timur harus diperbanyak. Sepertinya kita lebih mengenal negara-negara lain, ketimbang tanah air kita. Kita lebih tahu pulau-pulau di Jepang, ketimbang pulau-pulau di Nusa Tenggara.
 
Saya ingat beberapa tahun lalu, saya membaca Melawat ke Timur yang ditulis Roem Topatimasang. Selama ini timur identik dengan ketertinggalan. Timur berada di sisi yang jauh. Banyak orang di barat yang tidak tahu tentang timur. Mereka mendefinisikan timur dengan sesukanya.
 
Padahal, orang timur justru sangat mengenal barat. Orang timur tahu kota-kota di Indonesia barat. Semuanya tahu Aceh, Padang, Jakarta, Surabaya, hingga Malang. Tapi coba tanya orang di Indonesia barat, apa mereka tahu di mana letak Morowali, Baubau, Taliabu, Tual, hingga Kaimana?
 
Satu saja kritikan tentang buku ini, yakni terlalu sedikit. Ibarat minuman, rasa haus belum terpuaskan. Dia hanya mengunjungi Nusa Tenggara, kemudian ke Kepulauan Maluku. Padahal timur itu amatlah luas. Saya paham, tidak mungkin petualangan ke timur bisa tuntas dalam beberapa kali perjalanan. Timur itu terlalu luas. Butuh banyak perjalanan dan perjumpaan.
 
Tapi setidaknya, buku ini sudah memulai. Kita jadi tahu sekeping dari bingkai besar lukisan indah bernama Indonesia. Kita jadi tahu, ada banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan di sana. Kita pun tahu ada banyak orang baik yang sekali kamu sapa dan menganggapmu teman, dia akan siap menyabung nyawa untukmu.
 
Bukan lantas memerangi dan menganggap mereka sebagai musuh dari kekuasaan yang letaknya di barat.
 

Peneliti yang Menjadi Berkah bagi Semesta

sampul buku Vaxxers

Ada orang yang setiap hari menyebut dirinya membawa berkah dan rahmat bagi semesta. Tapi setiap hari yang dilakukannya hanya menyebar kebencian dan energi negatif. 

Ada orang yang diam-diam bekerja untuk kemanusiaan. Berkat kerjanya, banyak orang yang selamat, terhindar dari kematian. Dia menyelamatkan jutaan warga bumi, tanpa bertanya apa kebangsaan, ras, suku bangsa, atau warna kulit.  Dia adalah Profesor Sarah Gilbert.

Saya membaca buku terbarunya berjudul Vaxxers, yang ditulisnya bersama Dr Catherine Green, koleganya di Universitas Oxford yang sama-sama menemukan vaksin AstraZeneca. Saya membeli buku ini via Amazon, dengan harga yang cukup mahal  (sekitar 15 dollar), tapi isinya sangat bergizi. Buku ini sama bagusnya dengan buku The Emperror of All Maladies: Biography of Cancer, karya Siddharta Mukherjee yang meraih Pulitzer.

Buku Vaxxers ini sangat menarik. Kita seakan diajak tur untuk melihat laboratorium tempat peneliti bekerja keras menyelamatkan umat manusia. Saya ingat meme di Twitter, definisi superhero di abad ini sudah bergeser. Bukan lagi para jagoan dan pendekar. Mereka adalah para peneliti yang bekerja di laboratorium. Mereka mencari jalan untuk menyelamatkan manusia dari kepunahan. 

BACA Saat Corona Menyerang Homo Deus


Buku ini mengisahkan suka duka dan perjalanan untuk menemukan vaksin. Kisahnya paling epik dalam sejarah manusia di abad ke-21, yang disebut banyak media lebih dramatis dari pendaratan manusia di bulan, sama hebatnya dengan penemuan DNA, serta lebih menegangkan dari perjalanan manusia ke puncak Everest. 

Ini adalah kisah orang biasa yang melawan pandemi dengan senjata sains. Mereka menjalani momen yang mendebarkan di tengah badai. Mereka memisahkan fakta dari fiksi. Mereka bekerja untuk membuat vaksin dalam waktu singkat. Dunia menyaksikan kerja mereka, yang memberi nyala harapan bagi masa depan.

Sarah Gilbert mengibaratkan dirinya seolah masuk dalam 'a race against virus' atau balapan melawan virus yang memiliki kecepatan tinggi. Dia berpacu melawan virus yang dengan cepat menyebar. Setiap hari ada jutaan warga dunia meninggal. Setiap hari, dia tertekan oleh pemerintah dan media yang tidak sabar menunggu hasil kerjanya.  Dia berkejaran dengan waktu dan memeras semua energinya untuk menemukan vaksin Covid. 

Dia memulai kisahnya sejak 1 Januari 2020. Saat itu, dia membaca artikel tentang empat orang di Cina yang menderita pneumonia aneh. Dia beruntung karena ilmuwan Cina sudah memetakan urutan genetik virus Corona. Berbekal peta genom itu, Gilbert mulai menyiapkan rancangan vaksin. 

Pusat riset di Jenner Institut, Oxford University telah memiliki pengalaman dalam menghadapi berbagai varian virus, mulai dari ebola hingga Mers. Pusat riset ini telah merancang sistem yang dapat diadaptasi untuk memberikan perlindungan terhadap berbagai virus sebelum munculnya Covid . 

Kendaraan mereka adalah adenovirus – tidak terkait dengan virus corona yang bertanggung jawab atas Covid – yang menyebabkan gejala seperti pilek ringan pada simpanse tetapi biasanya tidak menginfeksi manusia. Itu direkayasa secara genetik untuk mencegah replikasi dalam tubuh manusia.

Dalam adenovirus ini ditambahkan satu set gen yang menginstruksikan sel untuk membuat protein "antigen" dan menghasilkan respons perlindungan terbaik dalam sistem kekebalan manusia. 

Dua peneliti Oxford: Dr Catherina Green dan Prof Sarah Gilbert

Saya suka cara Sarah Gilbert menjelaskan proses pembuatan vaksin. Prosesnya serupa pembuatan kue ulang tahun, tanpa tahu untuk siapa dibuat. Kataya, Anda bisa mempercepat proses pembuatan kue dengan cara menyiapkan adonan dan memanggang kue terlebih dahulu. Setelah tahu siapa yang berulang tahun, Anda cukup mengoleskan icing dengan pesan tersebut, yaitu protein lonjakan.

Saat Melawan Hoax

Saya menyukai bagian ketika mereka berusaha meyakinkan masyarakat agar tidak terjebak hoax. Rupanya, hoax bukan hanya terjadi di tanah air kita, tapi juga marak di negara-negara lain. 

Catherine Green bercerita bagaimana pertemuannya dengan seorang ibu saat liburan. Ibu itu menuduh ada merkuri dan bahan berbahaya dalam vaksin. Dia takut bis tertular bahkan meninggal sesuai divaksin.

“Saya khawatir kita tidak tahu apa yang mereka masukkan ke dalam vaksin ini: merkuri dan bahan kimia beracun lainnya. Saya tidak mempercayai mereka,” kata wanita itu kepada Green. 

Green menjelaskan dengan tepat bagaimana tim Oxford membuat vaksinnya, termasuk daftar bahan lengkap, tanpa merkuri. “Ini adalah saat saya tahu bahwa kami, para Vaxxers , harus keluar dari lab kami dan menjelaskan diri kami sendiri,” tulisnya.

Sarah Gilbert dan Catherine Green akhirnya menyadari betapa pentingnya komunikasi sains. Meskipun peneliti bekerja di laboratorium, mereka sesekali harus turun ke masyarakat untuk menjelaskan apa yang terjadi, sehingga publik bisa tercerahkan.

"Kami telah menempuh perjalanan panjang untuk mengalahkan virus ini. Saya ingin orang-orang tahu bagaimana kami benar-benar sampai di sini dan apa yang terjadi selanjutnya: bagaimana kami keluar dari kekacauan ini dan bagaimana kami bersiap untuk hal berikutnya yang tak terhindarkan.” 

Buku ini menjadi ikhtiar mereka untuk menjelaskan kepada publik tentang betapa banyaknya manfaat dari vaksin daripada risikonya. Mereka meyakinkan semua pihak, tidak ada risiko dalam vaksin yang mereka buat.

Daftar Isi

Bagian paling mengharukan adalah kisah-kisah personal yang mereka hadapi sebagai peneliti. Mereka menghabiskan waktu di laboratorium, sehingga harus meninggalkan keluarga. 

Sarah Gilbert punya tiga anak usia sekolah menengah, yang harus rela kehilangan ibunya sementara waktu. Dia sering kali meratapi beban kerja yang intens, sehingga membuatnya kehilangan waktu bersama keluarga. 

Green menulis dengan menyentuh tentang persimpangan yang sulit antara pekerjaan dan kehidupan rumah. Dia adalah ibu tunggal dari Ellie yang berusia sembilan tahun. Sebagai ibu, batinnya berontak saat harus lebih banyak di laboratorium.

Namun kerja-kerja mereka untuk kemanusiaan membuahkan hasil. Dalam waktu 12 bulan atau setahun, mereka telah memproduksi vaksin AstraZeneca yang kemudian menyelamatkan jutaan warga dunia, tanpa peduli latar belakangnya.  Mereka menolak mempatenkan vaksin itu, dan menghibahkannya untuk umat manusia.

Dalam sunyi, mereka bekerja untuk kemanusiaan. Namun publik tidak diam. Nama meeka terpatri dalam ruang batin banyak orang, khususnya mereka yang mendapatkan manfaat dari kerja-kerja mereka untuk manusia lain.

Saat Sarah Gilbert menghadiri turnamen tenis Wimbledon, dia diminta duduk di Royak Box, kursi kehormatan yang biasanya ditempati keluarga Kerajaan Inggris. Sebelum tenis digelar, pembawa acara memperkenalkan siapa Sarah Gilbert. 

BACA: Akankah Bendera Putih Berkibar?


Saat itulah, semua orang berdiri, memberikan standing ovation, serta terus bertepuk tangan. Sarah Gilbert mengalami momen emosional yang mengharukan. Jutaan orang di seluruh dunia merasakan manfaat dan berkah dari tangan dinginnya. Dia menjadi figur yang mengembalikan kegembiraan dari mereka yang tertular virus. Dia menjadi manusia yang memberi berkah bagi jutaan manusia lain. Dia menjadi rahmatan lil alamin.

Perang melawan pandemi itu memang belum selesai. “The ending has not been written,” kata Gilbert. “Saya ingin semua orang tahu, kami tetap berdiri di sini, di garis untuk menyelamatkan yang lain,” katanya.

Namun Sarah Gilbert dan timnya telah memberikan amunisi penting bagi para nakes dan dokter untuk bertempur dan mengalahkan virus. Pertempuran itu masih berlangsung di ruang ICU, ruang gawat darurat, ruang perawatan, hingga ruang operasi di berbagai rumah sakit, seluruh dunia.

Bisa saja virus itu terus melakukan mutasi, namun dengan kehadiran manusia penuh dedikasi seperti Sarah Gilbert, kita bisa sedikit lega dan tersenyum.

Dunia akan semakin indah berkat kehadiran mereka, yang sekali standing ovation saja rasanya tak cukup untuk membalas kebaikan dan kemurahan hati sebesar itu. 

Mereka pahlawan abad ini.