Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Momen Haru Hajime Moriyasu


DI TENGAH sorak-sorai dan pekik kemenangan membahana di angkasa, lelaki Jepang itu bergerak menuju tepi lapangan. Dia memandang ke arah sebagian penonton yang tertunduk pilu. Pria itu, Hajime Moriyasu, langsung membungkuk. Dia melakukan ojigi, sebagai tanda permintaan maaf.

Semua penonton di stadion maupun di jagad maya terkesima. Di abad 21, pria itu serupa samurai yang baru saja menyelesaikan pertempuran. Tim samurai biru yang dipimpinnya telah bertarung tak kenal lelah. Mereka kalah terhormat setelah seluruh jiwa raga dan tulang dibanting dalam pertempuran.

Bermain di Al Janoub Stadium, Senin (5/12) malam, timnas Jepang unggul 1-0 di babak pertama berkat gol Daizen Maeda pada menit ke-43. Sayang, keunggulan tersebut langsung dibalas Kroasia di awal babak kedua lewat gol Ivan Perisic pada menit ke-55, skor menjadi 1-1.

Di babak adu penalti, kiper Kroasia, Dominik Livakovic tampil luar biasa dengan menghalau tiga penendang penalti dari para pemain Jepang.

Hajime Moriyasu membungkuk, lalu memberi penghormatan. Ia juga meminta maaf karena gagal membawa Jepang lolos ke 8 besar atau perempat final. Dia menunjukkan sikap ksatria dan jiwa besar, serupa oase di tengah warga dunia yang kian pongah dan tak mau mengakui kekalahan.

Tim yang diasuhnya telah menorehkan sejarah baru di kanvas sepakbola dunia. Timnya mengalahkan dua mantan juara dunia yakni Spanyol dan Jerman. Timnya juga bermain imbang melawan Kroasia yang tampil fantastis di Piala Dunia edisi sebelumnya.

Setelah melakukan aksi membungkuk itu, dia pun membuat pernyataan saat konferensi pers. “Ini adalah era baru. Mereka menunjukkan pada kami era baru masa depan sepakbola Jepang,” katanya.

“Para pemain bisa berpikir untuk bersaing melawan seluruh dunia dari level yang sama," katanya sebagaimana dikutip BolaStylo dari Goal International.

"Kami mengalahkan Jerman, kami mengalahkan Spanyol, kami mengalahkan dua mantan juara dunia. Jika kami berpikir untuk maju daripada stagnan, masa depan pasti akan berubah.”

Dia melanjutkan, "Jika sepakbola Jepang terus ingin berada di panggung terbaik, saya yakin itu kami akan mampu mengatasi penghalang ini.”

Bola memang serupa bandul takdir yang mengayun dan menunjukkan banyak sisi kehidupan manusia. Di Qatar, bola telah menyingkap satu kekuatan karakter dari bangsa Jepang yang pantang menyerah dan selalu menyerap energi terbaik dari setiap peristiwa dan pengalaman.

Semalam, timnas Jepang kalah dalam pertandingan bola. Namun mereka menang dalam menunjukkan kekuatan hati untuk menyerap semua hikmah dan pengalaman lalu mengubahnya menjadi kekuatan.

Dalam buku Upheaval: Turning Points for Nations in Crisis, Jared Diamond menjelaskan bagaimana Jepang di era Meiji bisa bangkit dari krisis dan menjadi bangsa pemenang. Bahkan saat luluh lantak di era Perang Dunia ke-2, Jepang bisa tetap tegak berdiri dan menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Kuncinya terletak pada sikap ojigi, mengakui kekalahan, memberi hormat, dan menancapkan tekad kuat untuk terus maju ke depan. Kita boleh jadi tak memenangkan pertarungan di masa kini. Tapi kita punya sekuntum asa untuk memenangkan masa depan.

Sebagaimana simbol pada bendera Jepang yang bermakna hinomaru. Di depan selalu ada matahari harapan. (*)



Hatibi Bula, Cinta, dan Kisah Albino yang Menjadi Ulama Besar di Tanah Buton

keturunan Hatibi Bula di Pulau Siompu (foto: Rustam Awat)

Sorak-sorai dan tepuk tangan membahana. Rombongan karnaval tenun dari Buton Selatan menjadi bintang pertunjukan. Di Kendari, 25 April 2019, dalam rangkaian acara HUT Sultra, rombongan dari Buton Selatan itu menyentuh hati banyak orang.

Buton Selatan menampilkan remaja dan pria dewasa albino. Mereka berbaris rapi dengan mengenakan pakaian tradisional Buton. Mereka berasal dari Pulau Siompu, yang masih masuk dalam wilayah administrasi Buton Selatan.

Media-media melansir cerita tentang populasi albino di Buton Selatan. Yang membanggakan, para warga albino itu disebut-sebut sebagai keturunan dari Hatibi Bula, seorang ulama besar tanah Buton yang tinggal di Pulau Siompu.

Hatibi Bula adalah seorang albino. Dia adalah khatib berkulit terang. Dia menjadi ulama besar yang kharismatis dan sangat terkenal di masa itu. Dia menjadi suluh yang mencerahkan masyarakat Siompu. Suaranya sebening embun saat sedang bermunajat

Buton Selatan punya banyak hal menarik. Selain banyaknya populasi albino, di sini terdapat warga yang bermata biru, seperti orang Eropa. Semuanya menjadi daya tarik wisata. 

Bagaimana kisah Hatibi Bula hingga menjadi ulama besar di tanah Buton?


*** 

Nama lengkapnya adalah La Ode Hasani Ibnu Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin Khalifatul Khamis. Bapaknya adalah La Kabumbu, sering disebut Mokobhaadiana, yang kemudian menjadi Sultan Buton ke-29, bergelar Muhammad Idrus Kaimuddin. Idrus memerintah mulai tahun 1824.

Hatibi Bula menikah dengan perempuan bangsawan Gowa Makassar bernama Karaeng Hayati, atau sebagian lain menyebutnya Karaeng Iyati yang adalah putri Raja Gowa Karaeng Yusuf.

Sumber-sumber lisan di Buton mengisahkan perkawinan La Ode Hasani atau Hatibi Bula dengan Karaeng Hayati adalah sebagai pertanda kedekatan hubungan Gowa dengan Buton di masa itu. Mula-mula mereka saling mengenal dalam masjid di pesisir kampung Butung,  Makassar, kemudian memutuskan menikah.

BACA: Serpih Jejak Gajah Mada di Buton Selatan


Hatibi Bula tumbuh dalam binaan dan didikan langsung ayahnya dalam sebuah madrasah yang dinamainya Zaawiyah. Dibawah asuh langsung ayahnya, ia diajari pendidikan moral dan pengetahuan agama, khususnya tasawuf terutama Khalwatiyah Sammaniyah aliran tarikat dari Syaikh Muhammad bin Syais Sumbul Al Makki seorang tokoh tasawuf timur tengah terkemuka di mana ayahnya Muhammad Idrus Kaimuddin berguru kepadanya.

Hatibi Bula tumbuh menjadi anak yang cerdas. Kedalaman dan keluasan pengetahuan agamanya melampaui umurnya yang masih belia. Tak hanya berpengetahuan, ia juga fasih berbahasa Arab dalam praktiknya. Banyak kitab-kitab Arab dipelajarinya. Bahkan kitab suci Al-Quran telah ia khatamkan ketika usianya masih belia betul, sebelas tahun. 

Dia mendapat nama La Ode Hasani, yang merupakan cucu Nabi Muhammad SAW. Sultan Idrus Kaimuddin menitip harapan yang besar agar kelak anaknya itu menjadi juga pemimpin, paling tidak pemimpin dalam agama, pemimpin umat, sesuatu yang kelak memang terbukti benar adanya. 

La Ode Hasani menjadi pemimpin agama dan imam di masjid Siompu, ia lalu diangkat menjadi Khatib di Masjid Agung Keraton Kesultanan Buton.

salah satu keturunan Hatibi Bula

La Ode Hasani muda menghabiskan waktunya dalam tafakur dan syiar Islam di pulau Siompu. Di Pulau yang kelak menjadi tempat tinggalnya hingga wafat itu, ia menjadi imam masjid sekaligus mengajarkan agama Islam. 

Ia dikenal sebagai ulama besar dengan pengetahuan keislaman yang luas. Ia juga tersohor sebagai ulama bersuara merdu. Ketika dia mengaji dan memimpin salat, suaranya sangat merdu. Banyak orang berbondong-bondong datang ke Masjid hanya karena mendengar suara azannya yang begitu indah.

Pernah pada suatu masa, Sara Hukumu di Masjid Agung Keraton Kesultanan Buton memerlukan seorang pandai untuk menduduki jabatan Khatib. Kadie-Kadie (desa) kemudian disisir untuk mencari orang yang paling tepat untuk menduduki jabatan itu. 

Barulah di Siompu ditemukan orang paling tepat. Dialah La Ode Hasani, Imam Masjid Siompu. Dia dibawa ke Wolio dan dilantik menjadi khatib di Masjid Agung Keraton Kesultanan Buton. Karena jabatan dan kulitnya yang putih, dipanggillah ia sebagai Hatibi Bula.

Jabatannya sebagai Khatib di masjid Agung Keraton Kesultanan Buton itu mengharuskannya sementara meninggalkan pulau Siompu untuk tinggal di Wolio, yang merupakan ibukota Kesultanan Buton. Murid yang dianggapnya paling mampu ditunjuk untuk menggantikannya dalam memimpin dakwah syiar Islam di Masjid Siompu. 

Setelah beberapa tahun menjabat sebagai Khatib di Masjid Agung Keraton Kesultanan Buton, La Ode Hasani atau Hatibi Bula merasa dirinya banyak kekurangan dalam pemahaman ilmu agama. 

Penguasaannya terhadap ilmu tarikat dianggapnya masih dangkal. Dia berpikir untuk pergi menuntut ilmu. Dia ingin belajar di sumbernya ilmu-ilmu agama di tanah suci Makkah. Sebagaimana ayahnya, ia memerlukan juga seorang Mursyid yang sanad keilmuannya jelas tersambung langsung ke baginda Nabi Muhammad Salallahu Aalaihi Wassalam.

BACA: Sepenggal Kisah Syaikh Abdul Wahid di Burangasi


Ia kemudian memberanikan diri menyampaikan keinginannya itu kepada ayahnya Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin. Setelah menimbang dan memberinya masukan sebagai nasihat, Sultan Idrus Kaimuddin akhirnya memberinya izin dengan disertai syarat yang tak boleh diabaikannya. 

Syarat itu sebagaimana syarat umumnya orang tua ketika melepas anaknya pergi menuntut ilmu: temukanlah guru yang benar sebagai Mursyid, sabar di negeri orang dan tekun-tekunlah belajar. 

Betapa girang La Ode Hasani mendapatkan restu dan izin ayahnya. Dia sangat gembira. Dia membayangkan tanah suci Makkah, kediaman para Wali Auliah, tempat sebaik-sebaik menimba ilmu agama, tempat mereka para mahaguru, para Mursyid yang suci. 

Sembari menunggu kapal yang akan membawanya ke Makassar, ia mulai mempersiapkan bekal dan keperluannya selama nanti di sana.

Kapal pengangkut beras dari kampung Tira Sampolawa telah sandar di pelabuhan Baubau, La Ode Hasani akan menumpang di kapal itu, membawanya sampai ke Makassar. Di sepanjang pelayaran terus saja ia mengaji, bahkan juga mengajari Islam bagi para kru dan penumpang kapal lainnya. 

Para kru dan penumpang kapal sangat senang. Hatibi Bula ikut juga sebagai penumpang bersama mereka. Dirasa waktu begitu cepat berlalu, masih ingin bersama Hatibi Bula tetapi kapal telah sampai di pelabuhan Makassar.

Setiba di Makassar ternyata kapal menuju ke Tanah Suci belum ada. Dalam penantian menunggu kapal di Kampung Butung Makassar, Hatibi Bula  tetap menjadikan Masjid di Kampung Butung Makassar sebagai tempat  untuk menjalani hidup keseharian. Di masjid itu,  ia mengaji sebelum dan sesudah salat Magrib, Isya, dan Subuh. 

Pelabuhan Makassar tempo doeloe

Pada waktu Hatibi Bula mengaji, banyak orang yang heran karena suaranya sangat bagus dan memukau. Banyak orang yang senang dengan  Hatibi Bula, termasuk putri Karaeng Gowa yang bernama Siti Iyati. Dia sering dipanggil Karaeng Iyati, sebagai lazimnya panggilan untuk bangsawan di Makassar. 

Karaeng Iyati pun sangat senang bahkan jatuh cinta kepada Hatibi Bula. Karaeng Iyati sangat rajin untuk datang sembahyang di masjid. 

Di lain kesempatan Hatibi Bula ingin mengumandangkan azan di setiap waktu salat,  namun harus seizin Karaeng Gowa. Setiap meminta izin untuk mengumandangkan azan selalu ditolak oleh karaeng Gowa karena Hatibi Bula dianggap sebagai pendatang yang mirip dengan orang Belanda. Kulitnya putih albino dan matanya biru. 

Seiring perjalanan waktu, lama kelamaan Hatibi Bula diperkenankan untuk mengumandangkan azan yang tadinya dipermasalahkan. Dalam mengumandangkan azan semua orang ada di sekitar Masjid Kampung Butung berlomba-lomba datang ke masjid lantaran lantunan suara azan dari Hatibi Bula  yang begitu memukau sangat indah. 

Pada suatu waktu, Hatibi Bula diperkenankan untuk menjadi imam pada Salat Magrib dan Subuh di Masjid Kampung Butung. 

Kepiawaian dan kemerduan suara yang dilantunkan oleh Hatibi Bula  semakin menambah keakrabannya dengan Karaeng Iyati. Keakraban membuat mereka semakin dekat, menjadikan keduanya menjalin cinta.

Perjalanan cinta Hatibi Bula dengan Karaeng Iyati ternyata tidak direstui oleh Karaeng Gowa. Bahkan Karaeng Iyati  tidak diperkenankan lagi  untuk sembahyang di masjid Kampung Butung. Karaeng Gowa sudah mengetahui bahwa anaknya menjalin kasih dengan orang asing Hatibi Bula. 

Larangan itulah yang membuat Karaeng Iyati tertekan jiwanya dan kemudian jatuh sakit. Sakitnya Karaeng Iyati membuat Karaeng Gowa gelisah. Karaeng Iyati adalah anak satu-satunya perempuan. 

Segala macam obat dari tabib dan orang pintar yang ada di Kerajaan Gowa dipanggil untuk mengobati Karaeng Iyati. Tetapi tak seorang pun yang dapat menyembuhkannya. Lalu Karaeng Gowa membuka sayembara bahwa barang siapa yang dapat menyembuhkan penyakitnya anaknya,  maka ia akan dikawinkan  dengan anaknya tersebut.

Mendengar ada informasi sayembara yang diadakan oleh Karaeng Gowa, Hatibi Bula pun berniat untuk mengikuti sayembara dan ia pun mendaftarkan diri. Dia pun diijinkan mengobati.  Karaeng Iyati langsung terbangun mendengar suara Hatibi Bula. Lalu Hatibi Bula membacakan doa pada air untuk diminum Karaeng Iyati. Selesai meminum air tersebut, Karaeng Iyati langsung meminta makanan dan seketika sehat saja badannya.

Setelah menyembuhkan Karaeng Iyati, Hatibi Bula  memohon kepada Karaeng Gowa untuk menepati janjinya. Namun Karaeng Gowa masih menunda-nunda untuk menepati janjinya. Hatibi Bula mencoba cara lain dengan  melamar Karaeng Iyati tetapi Sultan Gowa meminta mahar yang sangat tinggi yaitu 7 katepi/nyiru emas dengan maksud untuk menggagalkan  perkawinan. 

Dengan mahar sangat tinggi tersebut, Hatibi Bula memberitahu orang di tempat tinggalnya agar menyimpan karung sebanyak 7 karung di bawah tempat tidurnya pada malam Jumat. Pada pagi hari setelah bangun tidur,  karung tersebut telah berisi emas. Ketujuh  karung emas itulah dibawa ke rumahnya Karaeng Gowa untuk dijadikan sebagai mahar lamaran bagi Karaeng Iyati. Namun, lagi-lagi Karaeng Gowa masih menunda-nunda lagi perkawinan tersebut.

BACA: Teka-Teki Cinta di Bukit Lamando, Buton Selatan


Dengan penundaan tersebut, maka Hatibi Bula terpaksa membawa lari Karaeng Iyati ke Pulau Buton pada subuh hari sambil memohon kepada Allah SWT. Dia menghentakan kakinya ke tanah dan berkata, “Landaki Tanah,  Gomia Tanah,  Anee Dhangia Mopajerena."  Artinya: “Diinjak tanah, diisap tanah, jika ada yang mengejarnya.”

Dengan permintaan kesaktian itu, utusan Karaeng Gowa setengah mati untuk mengejar Hatibi Bula dan Karaeng Iyati. 

Setiba di Baubau, Hatibi Bula melapor kepada Ayahandanya Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin bahwa ia telah membawa lari anaknya Karaeng Gowa. Utusan Karaeng Gowa sedang mengejar mereka dengan armadanya yang besar.

keturunan Hatibi Bula di Pulau Siompu

Sesudah melapor itu, pada malam harinya Hatibi Bula dan Karaeng Iyati langsung dibawa untuk diungsikan di Pulau Siompu. Pada malam itu juga armada Karaeng Gowa yang mengejar Hatibi Bula  tiba pula di perairan Baubau. 

Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin memerintahkan agar semua lesung, gong dan yang lainnya dibunyikan bersamaan bahwa seakan-akan Kesultanan Buton diserang dari darat. Mendengar suara tersebut  maka armada Sultan Gowa menyingkir dan berlabuh sementara ke Pulau Makassar, pulau kecil di dekat Baubau.

Keesokan harinya diadakanlah perundingan antara Sultan Buton dengan utusan Karaeng Gowa. Sultan Buton bersumpah  dengan memegang kitab suci Al Quran. Bahwa tidak ada anaknya Karaeng Gowa di Pulau Buton. 

Sumpah itu sengaja diucapkan oleh Sultan Buton  karena Hatibi Bula dan Karaeng Iyati telah berada di Pulau Siompu, pulau kecil di selatan Pulau Buton. Di Pulau Siompu Hatibi Bula dan Karaeng Iyati melanjutkan hidupnya dengan bahagia. Mereka berketurunan dan tinggal menetap di sana sampai meninggalnya. 

Kini, keturunan Hatibi Bula terus bertambah. Banyak keturunannya yang albino. Mereka tetap dihormati masyarakat, sebab mengingatkan pada Hatibi Bula. Bahkan keturunan itu selalu membawa nama daerah Buton Selatan di berbagai acara budaya.

Keturunan Hatibi Bula tetap menjaga marwah leluhurnya Hatibi Bula yang terus dikenang sebagai sosok ulama besar yang menjadi guru bagi masyarakat siompu dan masyarakat Buton lainnya.


Catatan: Tulisan ini dibuat bersama budayawan La Yusrie dan Yadi La Ode



Si Rambut Putih di Kandang Banteng


PARTAI Amanat Nasional (PAN) hendak mencalonkan Ganjar dan Erick Thohir atau Ridwan Kamil. Demikian pula partai-partai dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Tapi, PDIP sampai sekarang belum ada tanda-tanda mencalonkan Ganjar. Partai ini terlihat tetap ingin mencalonkan Puan Maharani.

Publik bertanya-tanya, jika hendak menang, kenapa harus Puan? Apakah PDIP tidak ingin memenangkan pemilu agar tetap bisa mengeksekusi berbagai agenda kerakyatan?

Jika melihatnya dari sisi politik, tentunya sikap “kandang banteng” akan membingungkan. Tapi jika dilihat secara bisnis, keputusan itu sangat masuk akal. Ibarat bisnis, PDIP dan Demokrat punya pemilik saham tunggal. Sedangkan Golkar, PPP, dan PAN sudah sejak lama go public. Pemegang sahamnya dari banyak kelompok.

Yang dipikirkan pemilik saham mayoritas adalah tetap bertahta hingga kapan pun. Bahkan ketika meninggalkan partai pun, kendali harus tetap berada di tangannya biar bisa lengser keprabon dengan riang gembira dan bahagia.

Sebagai pemegang saham tunggal di PDIP, Megawati Sukarnoputri tahu kalau dirinya ada masanya. Kalaupun kelak harus tinggalkan partai, dia ingin regenerasi itu tidak keluar dari lingkarannya trah Sukarno.

Sejak dulu, para pemimpin, khususnya yang tumbuh dalam kultur Jawa, sangat peduli dengan siapa yang menggantikannya. Fenomena ini sering disebut wahyu keprabon.

Konon, Ken Arok pertama kali melihat cahaya di betis Ken Dedes, yang dianggapnya sebagai wahyu keprabon atau semacam legitimasi supranatural yang menjadi tanda seseorang akan menjadi pemimpin.

Di era Orde Baru, konon Suharto melihat wahyu keprabon pada diri Tien Soeharto. Di akhir kepemimpinannya, Soeharto melihat wahyu keprabon turun ke Sarwo Edhie Wibowo.

Soeharto tak rela menyerahkan kuasa pada Sarwo Edhie. Dia memilih mengasingkan Sarwo Edhie dari ranah politik. Dia lupa kalau wahyu keprabon itu tetap di keluarga Sarwo Edhie, yakni turun ke menantunya Susilo Bambang Yudhoyono.

Megawati adalah figur yang pandai membaca tanda-tanda alam. Di masa Orde Baru, dia yakin orde itu akan runtuh. Dia memimpin barisan oposisi dan berdiri di garis depan garda perlawanan karena yakin Soeharto akan tumbang.

Di tahun 2014, dia berani mencalonkan Jokowi karena yakin alam semesta telah memberikan dukungan. Dia tahu kalau tetap memaksakan diri maju, alam semesta tidak akan mendukungnya. Dengan mencalonkan Jokowi, partainya akan tetap menang pemilu sehingga dirinya akan selalu signifikan dalam proses politik.

Kini menjelang tahun 2024, dia tahu kalau dia tetap memaksakan Puan masuk arena, maka bertentangan dengan kehendak alam semesta. Publik ingin “Si Rambut Putih” akan masuk arena melalui kandang banteng.

Jika mencalonkan “Si Rambut Putih”, ada kekhawatiran kelak kendali partai akan bergeser dari kuasa Mega. Si Rambut Putih bisa berkoalisi dengan kubu oposisi di PDIP lalu mengambilalih kursi ketua umum. Dalam iklim demokrasi, pemilik saham mayoritas partai bisa terdepak jika alam semesta menginginkan itu.

Selain itu, Pilpres 2024 tidak sama dengan momen politik lain yang dilalui Megawati. Ini pilpres terakhir bagi politisi sepuh seperti SBY, Megawati, Jusuf Kalla, Surya Paloh, hingga Prabowo Subianto. Pilpres ini adalah transisi untuk mempersiapkan generasi baru yang akan mewarnai politik Indonesia masa depan.

Jika tidak mencalonkan Puan hari ini, bagaimana kelangsungan dinasti dan trah Sukarno?

***

Fenomena pelanggengan dinasti ini bukan hal baru di Indonesia. Dalam buku Notes on Java’s Regent Families, Heather Sutherland memaparkan bagaimana para elite Jawa mempertahankan kuasa dengan cara membangun dinasti.

Dalam buku yang diterjemahkan menjadi Politik Dinasti Keluarga Elite Jawa Abad XV-XX (Komunitas Bambu, 2021), Heather mengurai berbagai upaya kolonial melanggengkan kekuasaan para elite Jawa. Politik dinasti terjadi saat kekuasaan dikuasai satu keluarga besar secara turun-temurun.

Sutherland menunjukkan bagaimana elite politik masa lalu menjaga lambang-lambang kebangsawanan dengan gelar-gelar. Gelar kebangsawanan akan didapatkan juga oleh keturunan yang menggantikannya.

Misalnya, bupati Magelang pertama tahun 1810 adalah RT Danoeningrat, kemudian penggantinya yang merupakan anaknya bergelar RAA Danoeningrat II di tahun 1862, dan seterusnya. Namun, nama gelar ini bisa berganti apabila dinasti politik tersebut terputus.

Selain itu, seorang elite akan menampilkan pakaian, gaya hidup, tempat tinggal, serta posisi yang memberinya akses untuk tetap menjaga warisan supremasi sebagai penguasa.

Di era Indonesia modern, kita bisa saksikan fenomena yang sama. Sukarno mewariskan namanya jadi nama belakang anak-anaknya agar kelak bisa tampil di tampuk politik. Megawati memberikan banyak posisi kepada Puan agar berproses dan segera matang demi memasuki kancah politik nasional.

Posisi yang penting membuat elite punya modal sosial untuk menjaga relasi dan jaringan dengan para pemilik modal sehingga bisa dikapitalisasi menjadi jejaring bisnis dan oligarki. Di masa lalu, elite yang loyal pada pemerintah kolonial akan mendapat garansi kekuasaannya akan langgeng.

Di masa kini, posisi pemerintah kolonial sudah diambil alih oleh banyak pemilik kapital. Mereka punya kuasa untuk menentukan siapa pemimpin, juga punya kuasa untuk menaikkan dan menurunkan pemimpin.

Nah, di titik ini, kita bisa paham kalau hasrat PDIP untuk mencalonkan Puan lebih disebabkan oleh proses regenerasi kuasa politik yang diharapkan tetap berada di trah keluarga Sukarno. Kuasa politik akan memengaruhi kuasa ekonomi, sekaligus memastikan seseorang tetap memiliki napas di arena politik sehingga kelak bisa memasuki arena kapan pun dia merasa siap.

***

Presiden Jokowi tampil di hadapan ribuan relawan. Dia kembali mengirimkan kode siapa yang hendak didukungnya. Dari beberapa peristiwa, sangat terlihat jelas kalau Jokowi tidak ingin mengulangi kesalahan Presiden SBY yang tidak menyiapkan penerus kekuasaan sepeninggalnya sebab hanya memberi ruang bagi keluarganya.

Politik kita memang emosional. Baik Presiden SBY dan Presiden Jokowi sama-sama ingin menyiapkan dinasti. Bedanya, SBY tidak sempat mempersiapkan rute jalan yang akan dilalui anaknya.

Namun politik kita juga rasional. Pengamat politik Ikrar Nusa Bakti menilai jika ada partai atau gabungan partai yang mengajukan capres-cawapres yang elektabilitasnya rendah, itu sama artinya partai itu melakukan bunuh diri politik.

Karena Pemilu 2024 ini era amat penting dalam perjalanan Republik menyongsong kepemimpinan generasi baru bangsa menjelang 100 tahun RI.

Jika Mega, Jokowi, Puan, dan Ganjar bisa kompromi, maka akan menjadi kekuatan yang dahsyat. Bangsa kita terkenal sebagai bangsa yang suka bermusyawarah dan kompromi. Jika PDIP berkoalisi dengan KIB di mana akan menjadi partai utama di dalam koalisi, maka kandidat yang diusung akan tak terbendung.

Jika PDIP mengajukan Ganjar, yang berpasangan dengan Ridwan Kamil ataupun Erick Thohir, maka tak ada yang bisa menandingi mereka. Kuasa politik dan kuasa modal akan berkelindan dan kembali menjadi langgam politik kita di abad kekinian.

Semua cincai, sekaligus cuan.



Sepenggal Kisah Syaikh Abdul Wahid di Burangasi, Buton Selatan

Patung Syaikh Abdul Wahid di Lapandewa, Buton Selatan

Jika saja tak ada dirinya, maka Islam tidak sampai ke Tanah Buton. Syaikh Abdul Wahid adalah penyebar Islam yang datang dari jauh. Pria bernama lengkap Syaikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani adalah legenda. 

Dia membawa suluh Islam yang menerangi masyarakat Buton. Dia pun mengislamkan Raja Buton ke-6, Timbang Timbangan atau Lakilaponto yang bergelar Sultan Murhum. Dia juga mengubah haluan Kerajaan Buton menjadi Kesultanan yang mengamalkan Islam.

Menurut beberapa riwayat bahwa Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani sebelum sampai di Buton pernah tinggal di Johor. Selanjutnya bersama isterinya pindah ke Adonara, kini wilayah Nusa Tenggara Timur. 

Dia lalu hijrah ke Pulau Batu Atas pada tahun 933H/1526M yang termasuk dalam pemerintahan Buton. Di Pulau Batu Atas, Buton, Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani bertemu Imam Pasai yang kembali dari Maluku menuju Pasai (Aceh). 

BACA: Sufi Besar, Tasawuf, dan Naskah di Pulau Buton


Imam Pasai menganjurkan Syaikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani pergi ke Pulau Buton untuk menyebarkan agama Islam. 

Konon Raja Buton ke-6, Timbang Timbangan atau Lakilaponto terkenal dengan kesaktiannya dan bisa mengalahkan bajak laut. Karena, beberapa kali Kerajaan Buton coba ditaklukkan para bajak laut demi bisa menguasai perairan menuju Maluku Utara untuk mencari rempah-rempah. 

Salah satu kesaktian Lakilaponto adalah kebal senjata tajam maupun peluru dan dia berhasil mengusir Labolontio, bajak laut bermata satu. 

Namun kesaktian sang raja tidak seberapa dengan kesaktian Syaikh Abdul Wahid yang akhirnya menjadi gurunya. 

Syaikh Abdul Wahid yang terkenal sakti berhasil menjadikan Raja Buton ke-6, Timbang Timbangan atau Lakilaponto menjadi muridnya. Sang Raja akhirnya masuk Islam yang bergelar Sultan Murhum atau Sultan Muhammad Kaimudin. 

Sultan Murhum merupakan Raja Buton pertama yang menerima pengaruh Islam setelah berkuasa lebih kurang 20 tahun. Otoritas dan keteladanan raja memudahkan dijadikannya Islam sebagai agama resmi bagi orang Buton dan Muna. 

Saat itu terjadi pengislaman beramai-ramai dalam lingkungan Istana Kesultanan Buton dan sekaligus melantik Sultan Murhum sebagai Sultan Buton pertama. Sehingga Sultan Buton dianugerahi gelar Khalifatul Khamis oleh Khalifah Ustmaniyah, 

Ketika itu Khilafah Ustmaniyah di Istanbul Turki sebagai pusat pemerintaahan Islam mengakui kedaulatan Kesultanan Buton yang menjalankan secara penuh syariat islam dalam sistem pemerintahannya. 

Sampai sekarang masih terdapat beberapa peninggalan Syaikh Abdul Wahid di Kesultanan Buton. Di antaranya adalah Benteng Keraton Buton, yaitu benteng pertahanan yang mengelilingi istana sultan dengan berbagai alat kelengkapannya. 

Bermula dari Burangasi

Ada banyak kisah mengenai Syaikh Abdul Wahid saat pertama kali tiba di Burangasi, kini masuk wilayah Buton Selatan. Masyarakat memiliki banyak ingatan kolektif yang dituturkan turun-temurun mengenai ulama ini. 

Dia mendarat pertama kali di tanah Burangasi, tepatnya di pantai Rampea. Sang Syaikh menyusuri pesisir pantai untuk mencari penghuni tempat yang baru disinggahinya. 

Wali Allah ini berjalan ke arah utara menuju Matano Tai. Di sana, ia bertemu gurunya. Sang guru memberinya nasihat sebelum pergi dan menghilang di tengah deburan ombak.   

Syaikh Abdul Wahid terkejut melihat gurunya yang menghilang begitu saja. Bersamaan dengan itu, Al Qur’an yang ia pegang lepas dalam genggaman dan jatuh ke dasar laut. Tempat jatuhnya Al Qur’an itu dikenal dengan nama Tanjung Pemali. 

Satu sudut pemandangan di Burangasi, Buton Selatan

Tiba waktu salat, Wali Allah ini segera mengumandangkan azan dengan suara merdu. Seluruh makhluk yang mendengarnya turut berzikir memuji kebesaran Ilahi. Lantunan azan itu didengar La Buntouno, masyarakat Burangasi yang berhari-hari tinggal di hutan karena sedang berburu rusa. 

Ketika memasuki waktu-waktu salat, ia diam membisu, menyimak dengan teliti azan Syaikh Abdul Wahid. Sang Pemburu ini terkesima dengan syair-syair azan dan kemerduannya. Hingga suatu ketika, La Buntouno meninggalkan hutan menuju perkampungan warga. 

Di tengah perkampungan Burangasi, pemburu itu segera menceritakan apa yang ia dengar. 

“Kamaipo agori, ndau o pindongo suara mia bundo. Mia ia haleo baumelamo laguno. Nopilagu lima mpalinga a alo. Laguno wange, nongea labaru.. labaru.. labaru..” 

Kepala suku dan masyarakat setempat penasaran dengan cerita sang pemburu ini. Mereka mengutus La Buntouno dan beberapa warga setempat untuk menjemput orang baru yang melantunkan nyanyian merdu itu. 

BACA: Kisah Raja Bugis di Pulau Buton


Di hadapan sang Syaikh, La Buntouno memohon agar dia ikut bersama mereka ke perkampungan Burangasi. Namun, Wali Allah ini tak menerima begitu saja. Kedekatannya dengan Allah Ta’ala membuat Syaikh Abdul Wahid tahu, kalau mereka belum tersentuh dengan kemuliaan Islam. Kehidupan masyarakatnya masih lekat dengan sesuatu yang diharamkan Sang Pencipta. 

Syaikh Abdul Wahid memberi syarat kepada La Buntouno dan masyarakat lainnya –agar membersihkan kampung mereka dari segala jenis najis dan sesuatu yang diharamkan Sang Pencipta, seperti anjing dan babi. 

Karakter masyarakat Burangasi yang mudah menerima hal-hal baru, patut diberi apresiasi. Pasalnya, syarat yang diajukan Syaikh Abdul Wahid dikerjakan dengan penuh kepatuhan. Warga yang memiliki kandang babi segera dirobohkan dan hewan peliharaannya dilepas begitu saja. 

Perintah Sang Syaikh sudah dilakukan, La Buntouno diutus kembali untuk memberitahu hal itu. Syaikh Abdul Wahid bahagia dan terharu dengan karakter masyarakat Burangasi yang mudah menerima ajaran baru. Menurutnya, ini adalah awal yang baik untuk memperkenalkan risalah Islam pada mereka. 

Beberapa saat kemudian, Wali Allah itu mengarahkan tangannya ke langit. Ia berdoa kepada Allah. Tongkatnya ditancapkan ke tanah. Ia meminta agar diturunkan hujan lebat demi membersihkan perkampungan dari segala bentuk najis yang dilarang oleh agama. 

Mengingat, saat itu masyarakat Burangasi menganut kepercayaan agama lokal, maka tentu saja banyak tulang-tulang babi yang berserakan di tengah perkampungan. Beberapa saat kemudian, angin mendesau, petir menggelegar. Hujan turun dengan kekuatan penuh mengguyur perkampungan. Semua tulang-belulang terbawa arus hujan. Perkampungan Burangasi bersih dari tulang-tulang babi.

Sang Syaikh dengan perasaan senang menerima ajakan La Buntouno. Kedatangannya disambut dengan penuh sukacita oleh masyarakat Burangasi. Sosoknya yang berkharisma, tutur kata yang lembut dan budinya yang luhur, membuat Syaikh Abdul Wahid mudah diterima dan langsung berbaur dengan masyarakat setempat. 

Setiap waktu salat tiba, Sang Syaikh selalu melantunkan azan dengan suara merdu dan mendirikan salat di atas sebuah batu. Orang-orang menyebutnya Koncu Labatu Puaro. Tentu saja, masyarakat setempat bingung dengan tingkahnya –dan mengira Syaikh Abdul Wahid sedang bersenandung. Anehnya, nyanyian berulang-ulang itu belum pernah mereka dengar sebelumnya.

Syaikh Abdul Wahid memahami kebingungan masyarakat Burangasi. Tanpa menunggu pertanyaan, Wali Allah ini perlahan menjelaskan tentang ritual yang ia lakukan. 

Yang dikira nyanyian itu adalah azan. Sementara gerakan berulang-ulang yang ia lakukan setelah azan adalah salat. Itulah beberapa ibadah yang diperintahkan dalam ajaran Islam. 

Penduduk Burangasi takjub dengan penjelasan Syaikh Abdul Wahid. Mereka minta diajari. Dengan bahasa santun dan tutur kata yang lembut, Wali Allah ini menolaknya. Ia menegaskan, sebelum belajar tata cara ibadah dalam Islam, maka terlebih dahulu mereka harus  bersyahadat; bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Nabi dan utusan Allah. 

Masyarakat Burangasi menyanggupi syarat itu. Mereka berbondong-bondong mengucapkan syahadat sesuai panduan Syaikh Abdul Wahid. Tak perlu waktu lama bagi Wali Allah ini untuk mengislamisasi masyarakat Burangasi. Sang Syaikh begitu gembira dan melantunkan syukur kehadirat Allah atas antusias masyarakat untuk mengenal Islam. 

Masyarakat Burangasi begitu semangat dalam mempelajari Islam. Realitas itu membuat Sang Syaikh berpikir untuk membangun surau sebagai pusat belajar Islam. 

Tak menunggu lama, ia pun memerintahkan masyarakat bergotong-royong membangun surau itu. Penduduk setempat menyanggupi seruannya. Semua sumber daya dikerahkan untuk mempercepat pembangunannya. 

Kebahagiaan masyarakat membuncah dalam jiwa ketika menyaksikan bangunan penting, simbol masuknya Islam di tanah Burangasi berdiri kokoh dan gagah berani. Pada zaman dulu, masyarakat setempat menamai bangunan itu dengan ‘Langgara' dan sekarang kita kenal dengan sebutan 'Baruga I Liwu'.

Langgara menjadi tempat Syaikh Abdul Wahid untuk mengajarkan Islam. Karena al-Qur’an yang menjadi pegangannya jatuh di Tanjung Pemali, maka ia mengajarkan Qur'an dan pokok-pokok Islam secara lisan; dari mulut ke mulut. Proses pengajaran Islam secara lisan itu oleh masyarakat Burangasi menyebutnya Kawalimboba. Tak lupa, Syaikh Abdul Wahid juga melakukan sunatan massal untuk menyempurnakan keislaman mereka. 

Waktu terus berjalan, matahari dan rembulan silih berganti menyapa semesta. Masyarakat Burangasi perlahan hidup dalam nuansa Islam. Ketika azan berkumandang, mereka berbondong-bondong mendirikan salat berjamaah. 

Syaikh Abdul Wahid menganggap perlu ada benteng kokoh yang mengelilingi surau. Pemikiran itu segera diutarakan. Masyarakat setempat menerima usulnya. Tak berselang lama, pembangunan benteng dimulai. Sang Syaikh juga terlibat dalam rancangan dan pengerjaannya. 

Saat itu, aktivitas masyarakat mulai terbagi. Di siang hari bekerja membangun benteng. Malam harinya berkumpul di Langgara untuk belajar ilmu agama. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan benteng itu. Setelah rampung, mereka memberinya nama Benteng Duria. 

Ajaran Islam mulai mewarnai sendi kehidupan masyarakat Burangasi. Syaikh Abdul Wahid harus melanjutkan perjalanan, menyebarkan syiar Islam ke seluruh jazirah Pulau Buton. Saat itu ia hendak memenuhi undangan Raja Buton yang memintanya memperkenalkan Islam di kerajaannya. 

Sebelum pergi, Sang Syaikh mengumpulkan masyarakat Burangasi di Langgara. Ia memberi nasihat dengan penuh hikmah. Semua yang hadir menyimak penuh takzim. Nuansa kesedihan tersaji di Baruga Liwu. 


Sebentar lagi mereka kehilangan panutan dengan akhlak terpuji, sosok berilmu tinggi dan cahaya kelembutan yang selalu terpancar di raut wajahnya. Isak tangis mengiringi kepergian Syaikh Abdul Wahid di tanah Burangasi.

Sebenarnya, perasaan itu terbit juga di jiwa Sang Syaikh. Ia merasa, masih ada pokok ajaran Islam yang belum sempat diajarkan pada masyarakat setempat, yaitu hukum dan syarat pelaksanaan akikah. 

Namun, utusan Raja Buton meminta Syaikh Abdul Wahid untuk menemui Raja dengan segera. Walhasil, Wali Allah ini menitip pesan pada pemuka adat dalam hal ini Sara Burangasi tentang uang sedekah kurban kambing. 

Itulah sebabnya, sejak kepergian Syaikh Abdul Wahid hingga sekarang, masyarakat Burangasi selalu  melakukan ritual mata’ano bembe atau akikah, yaitu penyembelihan kambing sebagai pernyataan syukur orangtua atas kelahiran anaknya.  

Sebelum meninggalkan Tanah Burangasi, Syaikh Abdul Wahid juga menyerahkan sebilah pisau pada pemuka agama. Pisau itu akan difungsikan pada acara sunatan massal. Dan sampai sekarang, pisau peninggalan Sang Syaikh itu masih ada. 

Selain yang disebut di atas, ada juga beberapa peninggalan Sykeh Abdul yang masih lestari hingga sekarang, seperti bendera merah dan putih yang berbeda tiang; keduanya memiliki tiang masing-masing. Dalam pelaksanaan sunatan massal, bendera itu dikibarkan saat melakukan Legoa. 

Peninggalan lainnya adalah Sambahea Lohoro. Ritual ini dilakukan pada saat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Para tokoh melakukannya di Ka’ana Nto’owa. Tentu bukan hanya itu, ajaran Kawalimboba yang diwariskan Sang Syaikh juga masih terjaga keasliannya. Meski tak bisa dimungkiri, dewasa ini makin sedikit generasi yang mau mempelajarinya.



Prabowo Berani, Ganjar Tenang



KOALISI itu baru seumur jagung. Namun santer terdengar kalau pasangan Prabowo – Muhaimin akan segera bercerai. Konon, pihak Prabowo ingin berjodoh dengan Ganjar Pranowo. Ada kabar berhembus kalau pasangan ini didukung istana.

Ibarat permainan, kartu Prabowo memang belum habis. Dia tetap maju ke palagan pilpres dengan penuh semangat. Dia tahu sebagian pendukungnya lari ke Anies, namun dia tetap yakin punya banyak keunggulan.

Dalam dua pekan, banyak sosok penting bertemu Prabowo Subianto. Mulai dari Menteri Pertahanan Amerika Serikat hingga Panglima Angkatan Bersenjata Cina. Di atas kertas, mereka membahas jual beli alutsista.

Namun, bisa jadi mereka membahas hal-hal yang jauh lebih substantial. Di antaranya adalah posisi Indonesia di tengah tarik-menarik negara-negara serta potensi perang di masa mendatang.

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang Rusia–Ukraina diprediksi akan panjang. Banyak pengamat melihat Rusia sengaja menahan diri dan tidak melancarkan serangan pamungkas.

Rusia sengaja membiarkan barat mengalirkan senjata dan jutaan dollar ke Ukraina, yang secara perlahan akan membuat koalisis NATO dan Amerika akan bangkrut dengan sendirinya. Rusia pun telah membangun aliansi strategis dengan negara BRICS yang membuat negara itu tetap tegar menghadapi sanksi.

Perang itu ibarat pisau yang menikam semua orang. Bukan hanya inflasi dan ekonomi yang kian suram, tapi perang itu telah membuka kotak pandora peperangan yang selama sekian tahun ditutup rapat.

Banyak negara, mulai Jerman hingga Jepang mulai menambah anggaran militer. Dunia mulai khawatir dengan perang yang setiap saat bisa merambah ke mana-mana.

Dalam sejarah, perang selalu menjadi titik akhir opsi untuk mencapai tujuan tertentu. Di masa sekarang, perang bisa terjadi sebagai harga yang harus dibayar Amerika untuk mempertahankan imperium selama beberapa dekade.

Saat ini, perang terjadi di Eropa, di mana Ukraina menjadi proxy dan perpanjangan tangan. Setelah Eropa, perang berikutnya bisa terjadi di Asia, saat Cina hendak mengambilalih Taiwan ke pangkuan Ibu Pertiwi Tiongkok.

Perang juga bisa merambah ke Laut Cina Selatan, yang menjadi rumah bersama bagi komunitas Asean.

Di titik ini, Indonesia menjadi negara paling strategis yang perannya ditunggu. Indonesia pun menjadi negara yang setiap saat bisa terkena dampak perang. Indonesia pun setiap saat harus siap berperang untuk menjaga setiap jengkal tanah air dari berbagai kekuatan yang bisa merobek kebangsaan.

Di titik ini, Indonesia butuh Prabowo. Ya Prabowo. Mengapa?

Pertama, Prabowo berlatar militer. Setiap zaman selalu melahirkan pemimpin yang tepat untuk menjawab permasalahan yang muncul. Indonesia butuh pemimpin yang kuat untuk menghadapi krisis global yang diperkirakan bisa terjadi dalam waktu dekat.

Dalam beberapa perhelatan pilpres, Prabowo selalu mengingatkan publik tentang perlunya modernisasi peralatan militer. Dia selalu mengingatkan orang-orang tentang potensi perang yang bisa terjadi.

Dalam dunia militer, ada peribahasa: “Si vis pacem, para bellum.” Jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang. Di atas kertas, Prabowo lebih unggul dari capres lain dalam hal memimpin orkestrasi perang saat Ibu Pertiwi dalam ancaman.

Selain itu, sebagian besar publik Indonesia menginginkan pemimpin seperti Vladimir Putin yang terlihat kuat. Di antara semua capres yang namanya disebut lembaga survei, hanya Prabowo yang mendekati Putin.

Kedua, Prabowo bisa menjadi titik tengah dan penyeimbang. Dulu, Prabowo dipersepsikan sebagai anti-China. Namun saat pidato di forum International Institute for Strategic Studies (IISS) Shangri-La Dialogue 2022 di Singapura, ia mengemukakan pandangan yang disukai semua orang. Bahkan pejabat dan pemimpin militer Cina membagikan berita tentang pernyataan Prabowo.

Saat itu, Prabowo menyebut posisi Indonesia yang respek pada semua kekuatan-kekuatan besar dunia. Posisi Indonesia adalah tidak memihak siapapun, tetapi berperan aktif untuk mendorong perdamaian dunia.

“Situasi di Ukraina mengajarkan kami bahwa kami tidak akan pernah bisa mengabaikan keamanan dan kemerdekaan kita begitu saja. Oleh karena itu, kami bertekad untuk memperkuat pertahanan kami dan itulah kata kuncinya. Outlook kami defensif, tetapi kami telah menyatakan bahwa kami akan mempertahankan wilayah kami dengan segala cara yang kami miliki,” katanya.

Ketiga, Prabowo bisa menjadi titik tengah dari polarisasi politik. Memang, sebagian pendukungnya pindah ke Anies, namun sebagian tetap loyal padanya. Dilihat dari sisi marketing, dia tetap startegis. Sebab dia bisa menggaet pemilih Jokowi, sembari tetap mempertahankan sebagian pendukungnya.

Dia juga terbukti bisa dipercaya. Saat pindah ke haluan pemerintah, dia bisa bekerja dengan baik, dan mengabaikan suara-suara yang memintanya untuk oposisi atau terus mengkritik pemerintah.

Gerinda memainkan politik dua kaki. Di pemerintahan, ada Prabowo yang menopang pemerintah. Di luar pemerintahan, ada sosok Fadli Zon yang terus melancarkan kritik pada pemerintah. Strategi menjaga keseimbangan ini memungkinkan Prabowo tetap mendulang suara yang cukup signifikan.

Keempat, sebagaimana pernah dilontarkan Gus Dur, Prabowo adalah sosok yang paling ikhlas. Dia patriot sejati yang bisa mengabaikan semua perbedaan. Saat dia kalah dari arena pilpres, dia bersedia menerima pinangan Jokowi untuk menjadi menteri demi bangsa dan negara Indonesia.

Dia menunjukkan kepada banyak orang kalau segala perbedaan bisa diabaikan saat Ibu Pertiwi memanggil. Dia menolak untuk mengarahkan pendukungnya membenci pemerintah. Dia bisa menjaga amanah dan konsisten membantu Jokowi hingga hari terakhir menjabat.

***

Di jagat politik, berembus kabar Prabowo didorong untuk berpasangan dengan Ganjar. Kubu Muhaimin Iskandar, yang partainya PKB siap koalisi dengan Gerindra, langsung protes dan mengancam akan membuat poros baru. Pihak Gerindra, yang diwakili Sekjen Ahmad Muzani, tetap tenang dan menilai kompetisi pilpres masih panjang.

Jika Prabowo berpasangan dengan Ganjar, maka keduanya bisa saling melengkapi. Prabowo berani, Ganjar tenang. Prabowo akan fokus mengurus geopolitik dan isu-isu internasional, Ganjar akan fokus untuk memperkuat dalam negeri.

Namun, Prabowo berpotensi kehilangan massa dari kalangan Nahdlatul Ulama, yang terbukti bisa memenangkan Jokowi hingga jadi presiden dua periode.

Di dunia politik, segala hal bisa terjadi. Jangankan Prabowo-Ganjar, bahkan Prabowo-Puan pun bisa menjadi pasangan. Bisa pula Prabowo-Anies, mengingat Kerja sama keduanya di pilkada DKI Jakarta.

Yang pasti, kartu Prabowo tetap hidup. Dia tetap menjadi pemain politik yang bisa mengubah lanskap pertarungan politik negeri ini.

Sebab Indonesia butuh Prabowo.



Menjadi GIVER

 


Sahabat itu datang menemui saya di satu sore. Dia curhat tentang kehidupan ekonomi keluarganya yang biasa-biasa. Kariernya tidak begitu sukses. Dia selalu melakukan banyak hal, tapi nafkah keluarganya tidak mencukupi. Istrinya pun ingin pisah.

Saya tahu persis sahabat ini adalah orang baik. Dia tidak pernah ragu-ragu jika hendak membantu orang lain. Setiap ada rejeki, pasti akan dia berikan kepada yang butuh. Dia pun siap sedia membantu orang lain jika meminta. Lantas, kenapa dia tidak sukses?

Saya teringat buku Give and Take yang ditulis Adam Grant. Menurut psikolog yang juga konsultan di Google, orang baik justru banyak yang gagal. Orang baik bisa menjadi yang paling gagal di antara berbagai tipe manusia.

Dia membagi manusia dalam banyak tipe. Tipe pertema adalah tipe pemberi (giver). Ini adalah tipe mereka yang paling suka berbagi, suka membantu tanpa pamrih, dan setiap saat bersedia untuk membantu orang lain.

Tipe kedua adalah tipe pengambil (Taker). Ini adalah tipe orang yang suka memanfaatkan orang lain. Orang dengan tipe ini hanya bersedia membantu jika dia melihat ada manfaat langsung yang diterima. Jika tidak, dia akan menolak untuk memberi.

Tipe ketiga adalah penyeimbang (Matcher). Ini adalah tipe mereka yang seimbang. Jika dia menerima kebaikan, akan berusaha membalas kebaikan itu. Jika kita jahat kepadanya, dia pun akan membalas kejahatan itu. Minimal, dia tidak mau berkawan.

Nah, kata Adam Grant, lebih 56 persen manusia bumi adalah tipe Matcher. Tipe ini selalu membalas kebaikan, juga menjaga hubungan dengan para Giver. Seorang Matcher akan menjaga jarak dengan para Taker. Sebab sekali mereka dimanfaatkan, maka mereka bisa berpotensi membalas perlakuan itu.

Jika dibuat urutan sukses, siapa yang paling di bawah? Adam Grant menjawab Giver. Mengapa? Sebab seorang Giver sering kali hanya memikirkan orang lain, tanpa memikirkan dirinya. Seorang Giver gagal sering jadi bulan-bulanan dari para bos yang pragmatis.

Lihat saja di kantor-kantor. Seorang Giver akan bersedia menjalankan perintah apapun, meskipun tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya. Dia akan selalu bilang Yes, meskipun dalam hati kecilnya tahu kalau dia sedang dieksploitasi. Saat tahu dia dimanfaatkan, dia hanya menerima lapang dada dan menyerahkan pada Tuhan.

Di atasnya, ada Taker. Seorang Taker hanya mengambil untung sesaat, setelah itu perlahan akan gagal. Mengapa? Sebab orang-orang akan menjauh. Dalam jangka pendek, dia bisa sukses memanfaatkan orang lain, namun seiring waktu, reputasinya akan menyebar sehingga orang-orang tidak mau mengambil risiko berdekatan.

Di atas Taker, barulah tipe Matcher. Tipe ini akan menjaga keseimbangan, sehingga tidak terlalu gagal, juga tidak terlalu sukses. Posisinya di tengah-tengah.

Siapa yang paling sukses dan paling kaya? Jawabannya adalah Giver. Jadi seorang Giver bisa menjadi tersukses, bisa pula tergagal. Lantas apa yang membedakan keduanya?

Seorang Giver sukses selalu punya tujuan kapan dia harus memberi dan kapan harus menolak. Meskipun dia kaya, dia tidak lantas memberi semua orang yang datang meminta apalagi jika permintaan itu diawali pujian-pujian. Dia akan selektif, hanya tanpa pamrih pada orang yang pantas dibantu.

Giver sukses akan melihat hubungan-hubungan jangka panjang. Saat dia memberi, maka dia bisa memastikan bahwa kelak orang yang diberi akan loyal dan membalas pemberian itu. Dengan cara memberi, lingkaran pengaruh dan reputasinya menyebar, sehingga semua orang ingin bekerja sama dengannya.

Di era kekinian, semua pekerjaan selalu berbasis pada jaringan. Makanya, istilah "Your Network is Your Net Worth" sangat tepat. Melalui silaturahmi dan pemberian, seorang Giver akan terus memperluas jaringan sosialnya, sehingga hubungan-hubungan itu membuahkan hasil kepadanya.

Contoh Giver sukses ini bisa dilihat pada Angel Investor yang selalu membantu anak muda pengembang start-up dengan harapan kelak usahanya akan besar. Jika sukses, dia akan untung, namun jika gagal, dia tidak berharap uangnya kembali. Niatnya membantu, tapi tetunya ada analisis bisnis yang komprehensif tentang potensi cuan di masa mendatang.

Giver sukses berprinsip "You Win, I Win". Dia menjadikan pemberian dan kemurah-hatian sebagai strategi untuk membangn relasi-relasi dan hubungan jangka panjang. Dia ibarat menanam pohon, yang kelak akan tumbuh besar lalu memberi banyak buah manis.

“Saya paling rajin dan paling membantu, tapi kenapa saya merasa paling gagal? Yos, apa kamu bisa bantu saya?” tanya sahabat ini.

Saya hanya bisa diam dan mendengarkan. Saya hanya seorang Matcher yang tak bisa berbuat banyak. Saya ingin membantu, tapi saya ragu-ragu apakah bantuan itu kembali ataukah tidak.

Saya lihat, dia menunggu jawaban.



Teater Perang dan Kebangkitan ASIA

 


LELAKI itu, Hajime Moriyasu. Saat peluit panjang dibunyikan di Khalifah International Stadium, dia kegirangan dan diliputi bahagia. Pasukan Samurai Biru yang dibawanya sukses menebas permainan pasukan Bavaria.

"Saya mempersiapkan mereka untuk bermain secara kolektif. Saya persiapkan mereka untuk berperang,” kata Moriyasu saat sesi konferensi pers, sebagaimana dilansir dari laman zerozero.

Sehari sebelumnya, pasukan Saudi Arabia menghancurkan Argentina, tim yang sempat disebut unbeatable atau tak terkalahkan. Semua orang lupa kalau bola selalu bundar.

Sebagaimana dikatakan Michel Platini, dalam dunia bola, bukan awal yang penting, melainkan akhir yang menentukan segalanya. Anda boleh jemawa karena merasa perkasa, tetapi hasil akhir akan menghukum Anda ke titik paling memalukan.

Di pertandingan itu, pasukan Jepang benar-benar menjelma menjadi mimpi buruk. Harga diri pasukan ini sempat terkoyak saat bek Jerman, Antonio Rudiger seakan mengejek pemain Jepang dengan cara berlari sambil berjingkrak.

Dia seakan menertawakan orang Asia yang jangkauan larinya pendek. Rudiger tidak tahu kalau sekali harga diri terkoyak, maka maut pun bisa ditempuh. Pasukan itu menjalankan kamikaze yakni mengeluarkan energi terbaiknya.

Orang Jepang sudah lama mendambakan malam itu. Seorang komikus bernama Yoichi Takahashi pernah membuat animasi mengenai Jepang yang membobol gawang Jerman melalui tendangan Tsubasa Ozora. Semalam, yang menjalankan peran Tsubasa adalah Takuma Asano, pemain yang merumput di kandang Jerman.

Piala Dunia edisi ini penuh kejutan. Kuasa-kuasa lama perlahan digusur. Tim-tim mapan tidak bisa lagi memandang remeh tim-tim Asia yang semenjana.

Di lapangan ekonomi, kuasa lama mulai keropos. Ini Abad Asia, abad di mana negara-negara Asia, yang dahulu porak poranda karena perang, kini muncul menjadi kekuatan baru. Lihat saja di jajaran negara G-20. Asia menempatkan tujuh negara di jajaran negara yang ekonominya paling mapan.

Saya ingat Kepala Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan Uni Eropa Josep Borrell Fontelles. Saat berkunjung ke Jakarta, dia mengatakan, masa depan akan ditulis di Indo-Pasifik. Sebab, 60 persen perekonomian dunia bergerak di Indo-Pasifik dan 2,5 miliar jiwa kelas menengah tinggal di kawasan ini.

Jauh-jauh hari, sejumlah pakar hubungan internasional telah menggaungkan istilah ”Abad Asia”. Seperti Rachman lewat buku Easternization itu, pakar-pakar menyebut Abad Asia sebagai era kebangkitan peran Asia dan penurunan peran AS-Eropa.

AS dan Eropa adalah kuasa lama yang kian ditinggalkan. Mereka masih beranggapan kalau mereka adalah pusat dunia. Di arena ekonomi, semua tahu kalau Asia akan menjadi kekuatan ekonomi dan geopolitik yang dominan di kancah global.

Dalam buku "The New Asian Hemisphere: The Irresistible Shift of Global Power to the East" yang ditulis tahun 2008, Profesor Kishore Mahbubani juga meramalkan kebangkitan Asia. Dalam buku yang menjadi pegangan banyak mahasiswa, termasuk di Harvard University, dia Asia memasuki era baru sejarah dunia yang ditandai dengan dua poin utama.

Pertama, akhir dari era dominasi Barat dalam sejarah dunia. Tapi, akhir dari dominasi Barat dalam sejarah dunia tidak berarti akhir dari Barat. Kedua, dia melihat kembalinya Asia.

Sejak tahun pertama Masehi hingga tahun 1820, China dan India secara konsisten merupakan dua ekonomi terbesar di dunia. Mereka akan kembali ke posisi yang sama tadi di abad ke-21 ini.

Kishore menempatkan penggunaan telepon seluler yang melonjak tajam di Asia sebagai tolok ukur kebangkitan kembali Asia. Lihat saja pasar telepon selular di seluruh dunia yang didominasi produk Asia.

Kata Kishore, memperoleh telepon seluler bukan hanya soal menggunakan alat. Ini adalah tentang memberdayakan kaum miskin, lebih efektif daripada mendapat dana bantuan asing.  Telepon seluler mendorong langkah menuju modernitas yang melanda di seluruh Asia. Informasi soal kemajuan bisa diraih lebih awal.

Katanya, Asia bangkit karena menyerap tujuh pilar kebijakan Barat. Tujuh pilar itu, yakni pasar bebas ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, meritokrasi, budaya pragmatisme, budaya perdamaian, penegakan hukum, dan pendidikan.

”Tragisnya, pada saat negara-negara Asia telah menemukan kembali kebijakan tujuh pilar, negara-negara Barat telah kehilangan kepercayaan pada beberapa pilar tadi, termasuk ekonomi pasar bebas. Karena itu, waktunya telah tiba bagi Barat untuk kembali mempelajari nilai-nilai dari tujuh pilar dari negara-negara Asia,” ujar Kishore.

Kita semua tahu kalau realitas bergerak lebih cepat dari prediksi para ahli. Kita tak menyangka kalau kejatuhan Eropa dan Amerika itu bisa lebih cepat.

Saat badai pandemi menghantam, krisis ekonomi mulai tumbuh bak jamur, lalu kian diperparah oleh invasi Russia ke Ukraina. Di titik ini, Eropa mulai limbung karena kehabisan energi dan gas. Pendulum sejarah segera bergeser ke Asia.

***

“Ini bukan kejutan. Ini sejarah,”kata Moriyasu. Dia menyebut, kunci kemenangan Jepang terletak pada pengalaman pemain yang sudah malang-melintang di liga Jerman dan berbagai liga Eropa.

Dia menggemakan spirit orang Asia yang dengan cepat bisa menyerap kemajuan di berbagai tempat. Di era Meiji, Jepang bisa bangkit dan menjadi raksasa ekonomi karena meniru Eropa. Seiring waktu, mereka memperkat karakter dan membangun etos kerja sebagai bangsa unggul.

Tentu saja, dibutuhkan fokus dan konsistensi untuk menjalankan semua pelajaran itu. Sikap angkuh dan jemawa hanya akan membuat satu bangsa terlena lalu abai pada sejarah, lalu kalah.

Tim Jerman memulai pertandingan dengan menutup mulut. Mereka memilih untuk menyampaikan pesan politik di satu arena di mana mereka harusnya fokus. Sikap abai itu lalu dihukum dengan dua gol di menjelang babak kedua berakhir.

“Kami bersatu sebagai satu kesatuan. Kami harus bertahan sampai peluit akhir berbunyi. Kami datang bukan untuk sekadar bertanding. Kami sedang berperang,” kata Moriyasu. 


Tak Ada yang Sepantas Basuki

 


Ada capres yang membanggakan stadion. Ada capres yang membanggakan jembatan penyeberangan, lalu merasa pantas berada di posisi puncak republik. Namun sosok satu ini benar lain dari yang lain. Dia bukan penata kata. Dia pekerja keras.

Dia tak pernah memamerkan apa yang dibangunnya. Hari-harinya adalah bekerja dan bekerja, tanpa melakukan lobi politik. Hasil kerjanya terbentang nyata dari Sabang sampai Merauke, pada jalan-jalan dan jembatan yang digunakan semua anak bangsa.

Dia pun menolak untuk tampil seperti pejabat. Dia tampil seperti pegawai biasa dengan keringat mengucur deras dan membasahi baju putihnya. Di acara resmi kenegaraan yang menghadirkan pemimpin dunia, dia hanya tampil bak fotografer yang menyandang kamera.

Jika tolok ukurnya adalah kinerja, maka tak ada orang sepantas dirinya untuk memimpin republik ini. Dia, Basuki Hadimuljono.

Dia menjalani masa remaja yang terus bergerak mengikuti ayahnya, seorang anggota militer. Dia tumbuh di beberapa kota, mulai Palembang hingga Papua, lalu Surabaya. Setelah itu dia belajar di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dia pun menjalani karier sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian PU. Kariernya terus menanjak hingga menduduki beberapa posisi penting di kementerian. Dia lalu melanjutkan studi magister hingga doktor di Colorado State University. Beberapa tahun setelah kembali ke tanah air, dia menjadi dirjen termuda di Kementerian PU.

“Waktu itu umur 48, di PU. Padahal waktu itu kan di PU banyak sekali para senior saya yang jago-jago, tapi Pak Menteri Alm. Pak Soenarno waktu itu menunjuk saya sebagai Dirjen Sumber Daya Air,” katanya dalam satu podcast.

Posisi ini tak membuat Basuki jumawa lalu abai dengan sekelilingnya. Nurani kemanusiaannya kian terasah saat mendapat tugas untuk menangani berbagai bencana di Indonesia. Jiwa kepemimpinannya kian matang saat harus menangani bencana yang membuat banyak orang kehilangan rumah hingga nyawa.

“Yang berkesan buat saya selain sebagai direktur jenderal termuda, saya ditunjuk pada saat adanya bencana-bencana, pasti sebagai tim atau ketua tim. Menangani disaster itu harus dengan love, dengan cinta. Apapun, mau kompetensi, mau macam-macam, tapi terakhir, love. Harus menangani disaster dengan love. Kalau enggak, pasti tewas kita,” ujarnya.

Pengalaman menghadapi bencana ini membuat dirinya selalu cepat mengeksekusi apapun keputusan. Dia tak pernah menunggu dan menunggu. Dia bergerak, menjalankan semua amanah, lalu membiarkan orang lain menilai karyanya.

Saat ditunjuk Presiden Jokowi menjadi Menteri PUPR, dia pun tetap menjadikan posisi itu sebagai ranah untuk bekerja. Dia tak punya waktu untuk ketemu banyak orang dan memamerkan apa yang dia lakukan. Dia memilih bekerja dalam senyap.

Dari semua anak buah Jokowi di periode pertama dan kedua, Basuki Hadimuljono adalah salah satu menteri favorit saya. Dia tipe yang tidak banyak ngomong. Dia juga figur yang tenang. Dia tidak punya ambisi politik.

Pernah, saya melihatnya makan di satu tempat makan di Terminal 3, Bandara Soekarno Hatta. Dia duduk tenang di sudut, seorang diri. Tidak terlihat satu pun staf yang mendampinginya. Padahal di kampung saya, seorang kepala daerah selalu membawa “pasukan” dan “dayang-dayang” ke mana-mana.

Basuki tidak pernah gila hormat. Dia tidak peduli disapa apa tidak oleh orang-orang. Saya yakin dia lebih suka tidak dikenali. Sebab dengan cara itu, dia bebas melakukan apa pun. Saat saya menyapa dan mengajaknya berfoto di bandara, wajahnya terlihat kurang nyaman.

Dia menuntaskan banyak hal. Sebagai Panglima Infrastruktur Indonesia, dia hadir di mana-mana. Dia muncul di peresmian jalan tol, pelabuhan, jembatan, hingga perumahan.

Saya pernah melihat tayangan peresmian infrastruktur. Dia tidak duduk di jajaran menteri yang sedang mengelilingi presiden. Dia memegang kamera dan jongkok bersama para fotografer. Dia sangat membumi.

Padahal, kalau dia mau, posisi duduknya lebih tinggi dari gubernur dan bupati. Dia harusnya duduk di jajaran pejabat, menerima kalungan bunga, juga diberi kesempatan untuk sambutan-sambutan.

Anehnya, dia tak suka sambutan. Saya jarang menyaksikan dirinya berbicara panjang dan cerita semua rencana-rencananya di layar kaca. Kalau dia diwawancarai, kalimatnya selalu ringkas. Dia tipe orang yang seakan ingin berkata “Jangan lihat ucapanku, lihat kerjaku.”

Publik tahu prestasinya. Salah satu yang melekat di benak publik adalah pembangunan tol trans Jawa yang menghubungkan Merak hingga Banyuwangi. Berkat kesuksesannya, dia dijuluki Daendels baru, seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang memerintahkan pembangunan jalan dari Anyer ke Panarukan.

Saat perhelatan G20 yang menghadirkan pemimpin negara-neara terkaya, Basuki memilih penampilan seperti ajudan sembari membawa kamera. Dia tidak terlihat seperti Menteri yang sibuk menyambut kepala negara. Dia memilih untuk senyap, setelah kerja-kerjanya menyiapkan perhelatan itu kelar.

Padahal, dia adalah bagian dari Dream Team di kabinet Jokowi, bersama Retno Marsudi dan Sri Mulyani, yang sukses menggelar acara dan menghadirkan pemimpin dunia

Dia tetap tak ingin tampil di momen yang harusnya membuat dirinya terus benderang disorot kamera. Dia adalah Basuki yang memilih jadi orang biasa, yang menyorotkan cahaya kamera ke orang lain.

Tahun 2024, Indonesia akan menghelat pemilihan presiden. Indonesia akan memilih putra terbaik bangsa yang akan membawa kemudi bangsa ini ke arah kesejateraan. Indonesia akan memilih nakhoda, sosok yang diharapkan punya integritas dan rekam jejak hebat untuk membawa bangsa ini melesat maju.

Jika integritas rekam jejak yang menjadi patokan dalam menilai seseorang, maka Basuki harus ditempatkan di posisi puncak. Basuki ibarat permata bangsa yang berkilau karena kerja keras, bukan karena koneksi dan kedekatannya dengan pemimpin politik.

Jika rekam jejak yang jadi tolok ukur menilai seseorang, maka capres manapun akan minder jika disandingkan dengan kerja-kerja Basuki. Dia tak perlu menata kata, cukup meminta orang lain untuk berkeliling dan melihat sendiri seperti apa definisi kerja keras.

Namun, dalam sistem yang menjadikan partai politik sebagai pusat gravitasi politik, Basuki mungkin tak masuk hitungan. Negeri ini lebih suka melihat batu koral yang disepuh seolah permata, ketimbang intan mutiara yang kemilau di dasar lautan.

Jika kelak meninggalkan kementerian, dia merasa akan memiliki banyak waktu untuk menjalankan hobinya dalam bermusik. “Working hard, playing hard. Main band, main drum khususnya, itu bukan hanya hiburan buat saya tapi kayak olahraga buat saya,” tuturnya.

Basuki telah meninggalkan satu legacy berharga kepada seluruh anak bangsa. Dia menjadi teladan tentang sosok yang tidak sibuk menata kata, melainkan bekerja. Dia menjadi legenda yang kelak akan dikisahkan generasi mendatang tentang sosok pekerja, yang menolak untuk disanjung.

Dia menjadi satu kembang indah di taman persada negeri yang akan selalu menjadi “pusaka abadi dan jaya, selalu dipuja-puja bangsa.”

 


Dagang Sapi Anies Baswedan dan Gibran Jokowi

 


Jika Anda pendukung yang setiap hari posting kritik, serangan, hingga kecaman kepada Presiden Jokowi, bagaimana perasaan Anda melihat Anies bertemu Gibran Jokowi?

Jika Anda pendukung Anies yang setiap hari berteriak anti-oligarki, bagaimana pula perasaan Anda saat melihat Anies bersama Surya Paloh saling canda dan riang gembira saat bicara pilpres?

Saya teringat akademisi Simon Philpott. Dalam buku berjudul Rethinking Indonesia: Postcolonial Theory, Authoritarianism, and Identity, dia mengatakan dunia politik Indonesia laksana kuburan bagi para pengamat dan ilmuwan yang tekun mengamatinya.

Banyak asumsi dan prediksi yang kemudian tidak terbukti realitasnya. Banyak pula hal-hal baru yang tiba-tiba memotong di tengah jalan, lalu mengambil alih kendali wacana politik.

Di Amerika Serikat, sejak zaman dulu, politik di sana hanya mengenal dialektika antara Partai Republik dan Partai Demokrat. Mereka ibarat minyak dan air yang bersaing, dan saling mencari keseimbangan baru.

Di Indonesia, kita sering melihat politik anti-tesis, lalu seiring waktu, ujung-ujungnya adalah kompromi. Kita sering melihat dua kubu berbeda dan membelanya setengah mati, namun di akhir fragmen politik, dua kubu akan bertaut dan berbagi peran.

Kita menyimpan banyak catatan. Dulu, di awal Pak Jokowi menjabat, politik kita terbagi dua kubu, yakni Koalisi Kebangsaan dan Koalisi Kerakyatan. Setelah keduanya bubar, muncul lagi Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih. Setelah itu muncul perseteruan antara Jokowo vs Prabowo, yang kemudian berakhir damai.

Elite politik hari ini tak jauh beda dengan elite politik sebelumnya. Mereka boleh berbeda gagasan, tetapi selalu berusaha mencari titik temu. Menurut sosiolog Emannuel Subangun, politik kita serupa pasar, di mana semua pihak saling menjajakan dagangan, lalu saling barter.

Hal yang sama bisa ditafsir dari pertemuan antara Anies Baswedan dengan Gibran Rakabuming Raka. Pertemuan menarik sebab Anies sempat disebut seorang politisi sebagai anti-tesis Jokowi. Anies dianggap membawa harapan baru sebab dianggap membawa langgam politik yang berbeda dengan Jokowi.

Pendukung Anies di media sosial adalah mereka yang sangat kritis pada Jokowi. Banyak di antara mereka adalah pendukung Prabowo yang kemudian tidak rela melihat jenderal itu menerima pinangan Jokowi untuk menjadi Menteri.

Namun real politics Indonesia tidaklah sederhana melihat perdebatan netizen di media sosial yang sibuk mempolarisasi. Para politisi sama paham kalau politik memang harus mencari titik temu, bukan asal melempar benci pada orang lain. Apa yang bisa ditafsirkan dari pertemuan Anies Baswedan dan Gibran?

Pertama, pertemuan Anies Baswedan dan Gibran Jokowi bisa dilihat dari logika pasar yang disebutkan Emannuel Subangun. Keduanya sama-sama politisi yang coba memasarkan diri. Keduanya beririsan kepentingan.

Anies Baswedan menyadari benar kalau untuk memenangkan pilpres, dia mesti bisa menggenggam Jawa. Titik lemahnya adalah tidak begitu populer di kalangan pemilih dari latar etnik Jawa.

Kalimat “Jawa adalah koentji” masih relevan hingga sekarang. Dia mesti sering mendatangi simpul-simpul peradaban Jawa, bertemu banyak elite politik di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan mencari titik temu.

Dengan mendatangi elite politik Jawa Tengah bisa menjadi modal kuat untuk mendatangi diaspora Jawa di seluruh Indonesia, yang jika bersatu bisa memenangkan arena pilpres.

Dia mesti berlari lebih kencang untuk bisa sejajar dengan Gandjar Pranowo yang sudah identik dengan pemilih basis etnik Jawa. Kekuatan pemilih dari basis etnik Jawa ini sukses mengantarkan Jokowi memenangkan kompetisi pilpres dua periode.

Kedua, Anies menyadari kalau ada sentimen negatif di kalangan pendukung Jokowi terhadap dirinya. Ini terkait dengan polarisasi di DKI Jakarta. Sentimen negatif itu harus dihilangkan dengan cara sering bertemu mereka yang punya afiliasi langsung dengan Presiden Jokowi.

Anies tahu dia mesti berbaik-baik dengan Presiden Jokowi dan pendukungnya, jika ingin menambah pundi-pundi dan bekal suara menuju arena pilpres. Dia tidak mungkin hanya menjaga basis massa fanatiknya di DKI. Dia harus lincah bergerak dan menemui banyak elite politik dan massa di berbagai daerah.

Ketiga, negosiasi politik. Di zaman kerajaan, negosiasi akan berjalan lancar jika Anda membawa persembahan, bisa berupa benda-benda berharga, bisa pula dengan membawa putri raja untuk dinikahkan.

Anies paham logika ini. Dia tak mungkin datang ke Solo untuk menemui Gibran jika tidak membawa satu tawaran. Banyak kalangan yang memprediksi kalau Anies akan membuka ruang agar kartu Jokowi tetap hidup, meskipun sudah tidak menjabat sebagai presiden.

Sebagaimana pemimpin di masa kerajaan, kepentingan Jokowi adalah keberlanjutan dan kelanggengan dinasti. Dua hal tadi menjadi amunisi bagi Anies untuk mendapatkan atensi dari Presiden Jokowi.

Banyak yang menduga, Anies akan menawarkan Gibran semua sumber daya untuk menduduki kursi DKI 1. Bagi kubu Jokowi, tawaran ini tentu tidak mungkin ditampik. Sebab dengan menduduki kursi DKI 1, maka satu kaki sudah memijak di arena pilpres. Dengan menjadi DKI 1, maka semua mata anak bangsa akan fokus mengawasi sehingga popularitas bisa dikatrol dengan cepat.

Jika tawarannya bersambut, maka keduanya bisa sama-sama menangguk keuntungan. Jalan Anies ke kursi RI-1 akan semakin lapang. Jalan Jokowi untuk menjaga napasnya di dunia politik melalui anak dan menantu juga berjalan lancar, dan regenerasi kepemimpinan nasional juga bisa segera berjalan.

Pilpres 2024 memang menarik. Sebab ini pilpres terakhir bagi para pemain lama di jagat politik Indonesia. Ini pilpres terakhir bagi politisi sepuh seperti SBY, Megawati, Jusuf Kalla, Surya Paloh, hingga Prabowo Subianto. Pilpres ini adalah transisi untuk mempersiapkan generasi baru yang akan mewarnai politik Indonesia masa depan.

Bagi kita, kalangan akar rumput, pilpres ini harus dilihat sebagai tontonan menarik. Sebagaimana kata sosiolog Emannuel Subangun, politik kita ibarat pasar di mana para politisi saling barter barang dagangan. Politisi sibuk dagang sapi.

Makanya, tak perlu baper. Tak perlu tengkar. Tak perlu teriak-teriak mendukung calon presiden hanya karena ideologi dan kesamaan visi. Lagi-lagi, ini pasar buah di mana para politisi adalah pedagang yang mengklaimnya buahnya terbaik, namun diam-diam isinya sudah busuk.

Kita menjadi penyaksi, yang diam-diam mencatat, sembari memelihara harapan agar Ïbu pertiwi tidak sedang bersusah hati. Kita menjaga agar agar air mata Ibu Pertiwi tidak semakin berlinang melihat anak bangsa saling jegal demi kekuasaan.



Kiat Negosiasi ala Adam Grant

 


Pada mulanya saya anggap debat dan negosiasi adalah hal sepele. Maklumlah selama aktif di organisasi dan kampus, debat adalah makanan sehari-hari. Namun saat diminta untuk negosiasi dalam bisnis dan politik, saya benar-benar seperti anak kecil.

Dalam dua bulan terakhir, saya bertemu banyak orang. Sering kali harus bernegosiasi dan meyakinkan orang lain. Saya benar-benar nol. Dalam situasi itu, emosi sering keluar dari kepala lalu mempengaruhi lalu lintas argumen. Saat emosi, separuh pengetahuan hilang. Saya pun kalah negosiasi.

Beruntunglah saya menemukan buku Think Again yang ditulis Adam Grant, seorang profesor bidang psikologi organisasi di Amerika Serikat. Katanya, jangan pernah menganggap debat sebagai perang di mana ada kalah dan menang.

Debat yang baik bukanlah perang. Bukan seperti pemainan tarik tambang di mana kita bisa menyeret lawan ke sisi kita. Debat adalah tarian tanpa koreografi. Kita saling menari dengan musuh lalu saling memahami langkah masing-masing.

Jika kita terlalu memaksakan langkah, lawan kita akan menolak. Jika kita menyamakan gerakan dengan dirinya, maka kita akan senada dan seirama.

Adam Grant banyak menjelaskan tentang para negosiator hebat. Semakin hebat seroang negosiator, semakin mampu menundukkan siapapun yang jadi lawannya, tanpa banyak mengeluarkan energi.

Dalam perang, tujuan kita adalah meraih kemenangan, sehingga kita sering kali segan untuk mengalah. Dalam negosiasi, bersepakat dengan argumen lawan adalah teknik untuk melucuti .

Ibarat tarian, seorang negosiator ulung tahu kalau dia tak bisa mematung sembari berharap agar pasangannya bergerak. Untuk mencapai selaras, maka ada kalanya kita harus berani bergerak mundur. Saat itulah, kita mengajak lawan untuk menari dengan gerakan yang sudah kita tentukan.

Kata Adam Grant, jangan terlalu banyak bawa senjata dalam pertempuran. Negosiator pemula akan membawa terlalu banyak argumen, sehingga terjebak dalam logika bertahan dan menyerang. Dia akan meremehkan argumentasi lawan, lalu memaksakan argumennya, sehingga kedua belah pihak tidak mungkin sejalan.

Negosiator ulung adalah penari yang memperhatikan lawannya. Dia pun bersikap open-mind dan menyerap gerakan lawan sebagai pijakan untuk bergerak. Dia mendengar dan mengamati argumen terkuat, lalu perlahan menjadikan itu sebagai titik tumpu untuk bergerak.

Seorang pendebat yang baik bukanlah dia yang penuh emosi dalam menyerang orang lain, melainkan dia yang mendengarkan dengan baik, mengamati argumentasi terkuat, lalu mengajak lawannya untuk mendiskusikan ulang argumentasi itu. Dia pun berjiwa besar untuk mengakui kalau-kalau argumentasinya salah. Dia menyerap energi terbaik lawannya untuk memperkuat dirinya.

Yang terpenting dalam debat dan negosiasi bukanlah menunjukkan kita benar dan orang lain salah, tetapi membuka perspektif untuk mempertimbangkan ulang kemungkinan bahwa mereka bisa salah. Di titik ini, rasa ingin tahu akan menjadi kompas yang menuntun seseorang pada kebenaran.

Di satu villa di dekat danau, saya sedang membaca bukunya Adam Grant sembari menyeruput es kopi gula aren. Tetiba ada suara halus, “Mas Yus, hari ini kok pendiam? Mau dipijitin?”

Hmm. Kali ini saya tak ingin berdebat.


Saat Mundur dari PNS

 


“Ko sudah gila kah?”

Suara kawan itu masih mengiang di ponsel. Di daerah, orang rela membayar ratusan juta demi profesi itu. Bahkan banyak yang rela jadi honorer bertahun-tahun, tanpa ada kejelasan apakah diangkat jadi pegawai ataukah tidak. Tapi saya justru memilih haluan lain.

“Ko ada masalah kah?” kata kawan itu. Dia kaget saat saya menjawab tidak ada. Semuanya baik saja. Karier dan kerjaan bagus. Malah bisa dibilang keren. Saya pun selalu sukses dan memberikan nilai tambah di penugasan apapun.

Kata kawan itu, kalaupun ada masalah, bisa malas-malasan, kayak pejabat yang di-nonjob. Gaji lancar, meskipun tak ada tunjangan. Begitu pimpinan berganti, bisa kembali naik jabatan.

Teman itu tidak paham kalau mumpung masih muda, saatnya melakukan banyak kegilaan2 dalam hidup. Kelak, ketika tua dan mapan, maka sudah tidak mungkin melakukan hal-hal gila. Dan keputusan ini adalah keputusan paling gila dalam hidup.

Yang paling sulit adalah meyakinkan orangtua dan keluarga di kampung. Sebab bagi mereka, menjadi pegawai bukan sekadar jaminan masa kini dan masa tua, tapi juga status sosial dan prestise. Terpandang.

Butuh waktu untuk meyakinkan banyak orang, sama halnya butuh waktu untuk meyakinkan diri sendiri. Namun keputusan tetap harus diambil sebab hidup harus terus bergerak.

Entah kenapa, saya ingin lebih banyak di rumah. Dunia luar menjadi tidak menantang. Saya jenuh dengan rutinitas. Ingin melakukan hal-hal yang selama bertahun-tahun tidak dilakukan karena terjebak rutinitas. Misalnya, bangun kesiangan, liburan di hari kerja, memandikan anak, juga masak-masak.

Saya ingin menikmati kebebasan saat bangun pagi, tanpa harus fokus menyelesaikan list pekerjaan. Saya ingin menjalankan banyak hobi, tanpa harus terbelenggu pekerjaan. Misalnya pergi memancing, urus kucing, merawat tanaman, atau memelihara ayam hutan.

“Trus ko kerja apa nanti?” tanya kawan itu.

“Saya mau fokus urus kucing,” jawabku,

“Ko benar-benar sudah gila.”