Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Catatan di Warung Coto Daeng Tona

Dia selalu tersenyum lebar setiap kali saya singgah di kedainya. Wajahnya yang sangar sontak berubah karena seulas senyum itu. Dia dipanggil Daeng Tona. Dia seorang pemilik warung Coto Makassar di kota Bogor.

Warungnya tak seberapa luas. Hanya muat beberapa orang. Itu pun selalu berpindah-pindah. Tapi selalu di seputaran Jalan Ahmad Yani, Bogor. Biarpun sederhana, warungnya punya magnet yang sangat kuat. 

Hampir semua warga Bugis Makassar di Bogor tahu di mana warungnya. Rasa cotonya original. Mereka yang lama di Makassar hanya butuh mencicipi setengah sendok kuah, langsung tahu kalau cotonya memang nikmat.

Saya ingat kata almarhum Bondan Winarno. Katanya, ada beberapa jenis kuliner yang nikmatnya akan terasa kalau dicicipi di warung pinggir jalan, di tengah suasana yang panas dan berangin. 

Dia mencontohkan sate. Katanya, dia sudah mencoba semua restoran mewah di Jakarta. Tak ada satu pun yang menyajikan sate senikmat warung pinggir jalan, di mana penjualnya penuh keringat bercucuran saat mengipas-ngipas sate, lalu asapnya memenuhi warung. Nikmatnya jauh mengalahkan sate di semua hotel berbintang. Saya pun menemukan hal yang sama dengan Coto Makassar, khususnya di warung Daeng Tona.

“Lama mi kita nda datang dii” sapa Daeng Tona. Saya mengangguk. Kami lalu ngobrol banyak hal. Bagi saya, mengobrol dengannya senikmat mencicipi cotonya.

Kisah hidupnya bukanlah perjalanan yang mulus dan landai. Kisahnya penuh lika-liku, duri-duri dan kelokan tajam. Dia berasal dari Takalar, Sulsel. Dia datang ke Jakarta hanya dengan baju melekat di badan. Dia merasa tak punya keahlian apa-apa. Tapi dia punya nyali dan keberanian seorang anak muda Makassar yang lihai memainkan badik dan berkelahi.

Dia lalu menjadi preman. Kariernya menanjak ketika dipercaya seseorang untuk menjadi pengawal pribadi. Kebetulan, orang itu tinggal di Jalan Ahmad Yani, Bogor. Sering Daeng Tona diminta ke Bogor untuk mengawal. Saat itulah dia ingin mencicipi coto, namun tidak menemukan satu pun warung coto di kota hujan.

Dia lantas berpikir kalau dirinya bisa berdagang coto di Bogor. Dia yakin ada banyak orang Bugis Makassar yang hilir mudik di Bogor, dan ingin mencicipi coto. 

Apalagi, dia punya kemampuan memasak coto yang didapatnya secara genetis. Mulai dari kakek hingga bapaknya adalah pemilik warung coto. Bahkan bapaknya dulu pernah membuka warung coto yang terkenal di Makassar yakni Warung Coto Gumer, singkatan dari Jalan Gunung Merapi, lokasi warung itu berdiri. Keluarganya di Takalar, Gowa, hingga Makassar pun banyak yang membuka warung coto.

Berkat pinjaman uang dari bosnya, dia nekat membuka lapak coto di Jalan Ahmad Yani. Dia masih hafal tanggal dia membuka warung yakni 14 September 1992. “Kalau satu bulan nda ada yang singgah makan, saya mau berhenti. Mauka jadi preman lagi,” katanya.

Mulanya, beberapa orang Makassar singgah makan. Mereka lalu merekomendasikan ke rekannya. Warungnya mulai populer di kalangan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS). Dia mulai sering diminta menyediakan kuliner dalam acara resmi KKSS di Kota Bogor. 

Daeng Tona berhenti jadi preman dan pengawal pribadi. Dia menemukan masa depannya di warung coto. Dia mulai merekrut karyawan. Bahkan ketika dia jadi pemilik warung, dia sendiri yang meracik bumbu, memotong daging, dan melayani pelanggannya. Dia membangun kedekatan melalui obrolan-obrolan khas Makassar.

Pernah, saya ke warungnya dan dilayani anak buahnya yang asli Bogor. Saat coto dihidangkan, kok rasanya aneh? Sejak saat itu saya selalu minta agar Daeng Tona yang mengolah hidangan. Rupanya banyak yang punya pengalaman seperti saya. Makanya, Daeng Tona selalu turun tangan untuk meracik bumbu dan melayani pelanggan.

Saya pernah memperhatikan caranya bekerja. Saya lihat sama saja jika kuliner itu dikelola oleh orang lain. Saya menduga, Daeng Tona memang punya sentuhan yang berbeda. Dalam sentuhan jemarinya, dia bisa mengenali rasa, rahasia, dan kode-kode DNA ternikmat dari setiap kuliner. Makanya, apa pun yang dia sentuh, selalu terasa nikmat. Dia seorang maestro kuliner.

Saking populernya namanya, ada satu warung coto di Jalan Ahmad Yani yang menamai warungnya Daeng Tona. “Pernahka datang pasimbung. Bikin kacau. Kulempar kursinya gara-gara napake namaku,” katanya. Harusnya, dia mematenkan namanya. Minimal orang yang memakai namanya harus membayar royalti.

Namun, kuliner adalah soal rasa. Anda bisa mengklaim satu merek, tapi lidah tak bisa dibohongi. Di mana pun Daeng Tona pindah, orang akan tetap mendatanginya. Orang akan tahu mana asli dan mana palsu.

Hari ini, saya kembali mendatangi warungnya. Lokasinya di Jalan Pandu Raya, tidak seberapa jauh dari lokasi lama. Warungnya lebih luas. Di sebelahnya ada restoran khas Makassar yakni Balla Baraka. Saya melihat ada panggung untuk seni yang backdropnya bergambar Sultan Hasanuddin.

“Sering-sering datang dii” katanya.

“Iye Daeng. Adapi rejeki lagi,” jawabku

“Biar nda ada uangta datangki saja. Kalau untuk kita gratis. Kan mahasiswa ji toh?”

Saya tersenyum. Dia mengira saya seorang mahasiswa. Saya tak ingin meralat anggapannya. Saya lalu menatap wajah di spion. Dia benar. Saya melihat ada wajah muda dan tampan.


Kisah NUR ALAM dari Lapas Sukamiskin

Jembatan Teluk Kendari

Matanya berkaca-kaca saat melihat saya datang menjenguknya. Di Lapas Sukamiskin, dia bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang warga binaan di Lapas itu. Dia bukan lagi Gubernur Sultra yang memimpin selama dua periode.

Ketika mondar-mandir Bandung untuk satu pekerjaan bersama Balitbang Kementerian PUPR, saya tiba-tiba terpikir untuk menemuinya. Sebab kantor Kementerian PUPR di Bandung tak jauh dari Lapas Sukamiskin. Saya singgah sejenak untuk bertemu.

Nur Alam yang saya saksikan ini tidak segemerlap dahulu. Dia datang dengan sandal jepit. Dia terlihat kurus. Kumisnya sudah dicukur. Dulu, hari-harinya adalah mendapat penghormatan. Kini, dia sendirian di situ. Dia hanya ditemani sesama warga binaan.

“Saya nda sangka kalau kamu masih ingat saya. Jarangmi orang yang datang lihat saya di sini,” katanya tersenyum. Saya mendengarkan kisahnya. Sejak dia ditahan, banyak orang yang menghindarinya. Dia bukan lagi pusat gravitasi untuk ditemui dan dilobi. Dia kembali menjadi dirinya sendiri, yang sesekali dijenguk oleh keluarganya.

Namun saya datang sebagai orang yang mengenalnya di akhir periodenya sebagai gubernur. Ketika dia dihindari, saya tetap akan mendatanginya. Saya melihatnya sebagai tokoh masyarakat yang perlu ditemui. Saya menjaga silaturahmi dengannya.  

Saya membayangkan betapa kontrasnya dia hari ini dengan sosok yang saya temui tahun 2017 silam. Saat itu, saya datang ke Kendari atas undangan Balitbang Sultra demi menyusun publikasi mengenai perjalanan Sultra di bawah kepemimpinan Nur Alam selama dua periode.

Setiap bertemu dengannya, dia selalu dikelilingi staf dan ajudan. Kalimatnya akan ditafsir menjadi kebijakan. Birokrasi bekerja sesuai arahannya. Di mata saya, dia tak pernah meninggikan diri. 

Pernah, saya datang ke rumahnya bersama kawan-kawan Balitbang. Dia menanyakan apakah kami sudah makan siang. Semua diam. Saya seorang diri yang menjawab belum. Dia lalu meminta sopirnya siapkan mobil. Dia meminta saya menemaninya di mobil. Sepanjang jalan dia cerita mengenai Kendari dan mimpi-mimpinya. Kami menuju restoran paling mewah di kota itu.

Kini, di tahun 2020, dia hanya seorang Nur Alam, tanpa embel-embel jabatan. Dia tetap seperti dahulu. Dia tetap tenang dan tidak meledak-ledak. Malah, dia bisa diskusi dengan santai dan membahas berbagai hal. Dia tetap menjadi figur yang hangat dan menyenangkan.

Bersama Nur Alam di Lapas Sukamiskin


Pertemuan itu menjadi awal dari rangkaian pertemuan selanjutnya. Entah bagaimana caranya, dia beberapa kali menelepon saya malam-malam. Dua pekan sesudah pertemuan di Sukamiskin, dia mengirim pesan agar kami bertemu di Rumah Sakit Bunda, Cikini, Jakarta. Saat itu, putrinya yang tertua yakni Giona melahirkan. Dia diizinkan pihak Lapas untuk menjenguk anaknya di rumah sakit. Di situlah kami kembali berbincang banyak. 

Suatu hari, dia cerita kalau akan ada pertadingan domino di Lapas. Dia berencana akan menghadiahkan buku mengenai perjalanan kariernya selama menjadi gubernur ke beberapa orang. Dia meminta bantuan agar saya mempersiapkannya. 

Dia mengirimkan gambar-gambar infrastruktur yang dibangunnya. Di antaranya adalah Rumah Sakit Bahteramas, Masjid Al Alam, Kendari New Port, gedung Bank Sultra, Jembatan Uluiwoi, juga jembatan Lowu-lowu ke Pulau Makassar. Terakhir, dia juga mengirimkan Jembatan Bahteramas, yang kini disebut Jembatan Teluk Kendari.

Saya meneruskan semua kiriman gambar itu ke seorang graphic designer di Bandung untuk merekam jejaknya.


Masjid Al Alam dan Jembatan Teluk Kendari

Pelabuhan Bungkutoko (Kendari New Port) dan Gedung Bank Sultra

RS Bahteramas dan Jembatan Uluiwoi

Jembatan Pulau Makassar


Kisah Jembatan

Saya tertarik dengan kisah Jembatan Teluk Kendari. Nur Alam pun bercerita banyak tentang jembatan itu, termasuk hal-hal yang tidak pernah diangkat media. Kisahnya panjang.  Kisahnya bermula dari obsesi Gubernur Sultra Edy Sabara yang berkunjung ke San Francisco dan melihat jembatan Golden Gate di tahun 1980.

Nur Alam membayangkan jembatan yang akan dibangun nanti menghubungkan dua kawasan yang dipisahkan oleh Teluk Kendari, yakni sisi utara Kota Kendari (Kota Lama) dengan sisi selatan (Kelurahan Lapulu, Kecamatan Abeli). Kawasan Kota Lama, sebagai wilayah pelabuhan, berkembang menjadi kawasan yang kumuh. 

Dulunya, ini merupakan kawasan pecinan dengan ciri khas toko emas yang berjajar di sepanjang wilayah pelabuhan. Namun, seiring kian berkembangnya pelabuhan, kawasan ini berangsur kumuh dengan tumbuhnya lahan-lahan peti kemas. Sempit, padat, dan tidak tertata baik.

Jembatan penyeberangan ini dianggap menjadi salah satu solusi. Adanya jembatan akan mempersingkat waktu tempuh di antara kawasan Kota Lama dengan Kecamatan Abeli dan Poasia, serta menciptakan pertumbuhan dan perkembangan kota secara seimbang. Selain itu, akan mendorong tumbuhnya wisata perairan.

Total anggaran yang disiapkan pemerintah untuk membangun jembatan sepanjang 1.346,37 meter ini sebesar Rp 750 miliar, meskipun secara kontraktual anggaran yang digunakan hanya Rp 729,19 miliar. 

Jembatan dengan lebar 24 meter dan ketinggian 25 meter dari permukaan laut ini akan dikerjakan selama empat tahun, yaitu sejak tahun 2015-2018. Sesuai kontrak, jembatan itu akan rampung pada 8 Desember 2018.  Rupanya bergeser hingga tahun 2020.

Tadinya, pemerintah pusat tak punya rencana bangun jembatan di Kendari. Penduduk Sultra tidak banyak. Ekonominya tidak semeriah daerah lain. Di lokasi jembatan, LHR-nya dianggap rendah. LHR adalah singkatan dari Lalu Lintas Harian, istilah yang digunakan dalam menghitung beban lalu lintas pada suatu ruas jalan dan merupakan dasar dalam proses perencanaan transportasi.

Di Sultra, banyak politisi dan ekonom yang menolak rencana jembatan itu. Banyak pula yang menudingnya telah menghancurkan situs sejarah. Dia menerima tuduhan sana-sini. Apalagi, tadinya jembatan itu hendak dibangun dengan biaya dari Pemerintah Cina, namun gagal. Dia tak henti-henti melobi pemerintah pusat.

Di masa SBY, dia gagal meyakinkan pusat. Dia mendapat harapan di era Jokowi. Lagi-lagi jalannya berliku. Saat melobi ke satu direktur di Kementerian PUPR, dia mengubah strategi. Saat didengarnya direktur itu berbicara dalam aksen Jawa, dia sontak berkata, “Pak, di daerah kami banyak orang Jawa. Bantulah mereka agar punya jembatan.” Kalimatnya menyentuh hati direktur itu.

Puncaknya adalah dia bisa presentasi di depan Jokowi.  Nur Alam meyakinkan Jokowi tentang kalkulasi nilai ekonomi atas jembatan itu. Diasumsikan bahwa jembatan itu akan mampu bertahan hingga 100 tahun. Dengan demikian, dengan anggaran pembangunan Rp 729 miliar itu berarti bahwa rata-rata biaya investasi per tahunnya sebesar Rp 7,2 miliar. 

Nilainya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan jumlah anggaran perjalanan dinas aparat pemerintah dalam setahun. 

“Tapi apa yang terjadi dengan pengembalian dari investasi itu, bisa saya katakan bahwa hari ini investasi negara itu sudah kembali. Hitungannya, hari ini harga tanah di Kota Lama yang hampir menjadi kota mati dan di Lapulu menjadi berkali-kali lipat. Yang untung siapa? Yang untung negara karena aset rakyatnya menjadi meningkat.”

Jokowi mengangguk. Saat itu juga dia perintahkan Menteri PUPR untuk siapkan anggaran. Semua proses langsung dimudahkan. Salah seorang sahabat Nur Alam, Ilah Ladamay, masih terheran-heran dengan keberuntungan Nur Alam. Dia tidak menyangka Jokowi bisa diyakinkan dengan cepat, sehingga saat itu juga memberi perintah ke Menteri PUPR.

sampul buku Di Depan Selalu Ada Cahaya


Tanggal 19 Agustus 2016, ground breaking pembangunan jembatan itu dimulai. Saat peletakan batu pertama, Nur Alam agak emosional bercerita perjalanannya membangun jembatan. Dia dituduh jadi antek Cina, setelah itu dituduh menggusur dan menghancurkan situs. 

“Di tahun terakhir ini juga saya masih mendapat tuduhan akan membangun hotel bekerja sama dengan pemerintah Cina. Sekarang lihatlah tiang pancang itu. Tiang itu bukan untuk membangun hotel, tetapi untuk pembangunan jembatan. Sekarang orang melihat hasilnya,” katanya.

Di acara itu, Sekjen Kementerian PUPR Taufik Widjoyono yang hadir mewakili Menteri PUPR Basuki Hadimuljono memberikan banyak bocoran kisah.

“Ground breaking pembangunan jembatan sepanjang lebih dari 1.300 meter hari ini kita lakukan. Jembatannya panjang, tapi saya pikir gubernur tahu ceritanya lebih panjang lagi. Ceritanya panjang sekali. Tahun 2008 kita bertemu Pak Gubernur di ruangan saya. Waktu itu jabatan saya masih direktur,” katanya.

Dia melanjutkan: “Proses itu kemudian berjalan, dianggarkan dengan bantuan Cina, namun gagal. Alhamdulillah, pembangunan jembatan hari ini siap kita lakukan. Bagi kami bukan soal mulainya, tetapi lebih penting kapan selesai. Jadi, doanya bukan untuk mulai, tetapi doakan untuk selesai.”

Rupanya, Sekjen Kementerian PUPR ikut menjadi saksi betapa berlikunya proses lobi sehingga jembatan itu bisa dibangun di Sultra. Tanpa proses lobi yang panjang dan melelahkan, jembatan itu tidak berdiri di Sultra, melainkan di daerah lain.

Tentu saja, ada banyak pihak yang terlibat dalam proses pembangunan jembatan. Namun, jika ditelaah lagi, jembatan itu bisa berdiri karena peran penting dari beberapa sosok. Mulai dari Nur Alam yang mengeksekusi ide-ide jembatan menjadi rencana dan mewujudkannya melalui lobi maraton, Presiden Jokowi yang menyetujui semua gagasan Nur Alam, serta Menteri PUPR Basuki Hadimoeljono yang mengerahkan "pasukan" untuk mengerjakan perintah Jokowi.

(Selengkapnya, baca di buku Di Depan Selalu ada Cahaya)

*** 

Hari ini, 21 Oktober 2020, jembatan yang dahulu diperjuangkan itu akan segera diresmikan. Nur Alam hanya bisa memantau dari Lapas Sukamiskin. Dia tidak bisa hadir. Tapi, jembatan itu akan selalu menjadi legacy atau warisan yang diberikannya untuk Sultra. 

Setiap pemimpin akan memiliki legacy. Warisan itu akan sangat bermakna jika pemimpin itu hidup dengan nilai-nilai untuk kemudian mentransformasikannya dalam bentuk kebaikan dan kemaslahatan bagi banyak orang yang dipimpinnya. 

Kata Donald J MacGammon, “leadership is action, not a position.” Kepemimpinan adalah serangkaian tindakan, bukan sekadar posisi yang menempatkan seseorang lebih tinggi. Di Sultra, Nur Alam meninggalkan legacy, yang tidak hanya berupa fisik, tetapi juga kemampuan lobi, manajerial, serta kemampuan menggerakkan orkestrasi birokrasi.

Kalaupun hari ini dia berada di Lapas Sukamiskin, bukan berarti kita harus mengabaikan semua apa-apa yang pernah dia raih. Pada satu masa, dia pernah bekerja dan berbuat banyak untuk Sultra, yang hari ini bisa kita lihat pada berbagai bangunan dan jejak yang ditinggalkannya.

Saya ingat James Kouzes dan Barry Posner dalam buku A Leader’s Legacy menyebutkan, “leadership is about leaving a lasting legacy”. Kepemimpinan adalah bagaimana meninggalkan warisan yang bertahan. Kepemimpinan adalah meninggalkan “warisan” yang tak lekang ditelan jaman. 

"Semoga Sultra selalu lebih baik," demikian kalimatnya saat saya meninggalkan Lapas. Semoga dia pun selalu baik-baik saja.



Filosofi Vietnam Drip


Momen terbaik untuk menikmati kopi adalah saat senja di tengah gerimis. Betapa beruntungnya saya yang tinggal di Bogor, kota hujan. Di sini, kopi, senja, dan gerimis adalah keping puzzle yang saling melengkapi.

Biasanya, saya memesan kopi tergantung mood dan situasi. Saat sedang sendiri dan bekerja, saya akan memesan Espresso. Saat sedang santai sambil ketawa-ketiwi dengan teman, saya memilih Capuccino. 

Saat sedang ingin melamun, saya akan pesan kopi tubruk. Pada kopi tubruk, ada kesederhanaan, juga ketulusan, dan sesuatu yang apa adanya. 

Namun saat sedang lelah di tengah suasana gerimis, saya memesan Vietnam Drip. Rasanya nikmat saat melihat tetes demi tetes kopi vietnam drip mengucur ke gelas, sementara di luar sana, ada tetes-tetes hujan dengan irama teratur.

Hari ini saya memandang Vietnam Drip sambil membaca buku berjudul Belalang Komunis yang ditulis Andre Barahamin, seorang peneliti dan penulis di Indoprogress yang tidak malu2 mengakui kalau dirinya menyukai buku2 komunisme. 

Andre bekerja sebagai seorang peneliti yang sering mengunjungi negara-negara Indocina, yakni Vietnam, Thailand, Laos, dan Cambodia. Saya belum pernah bertemu fisik dengannya. Banyak sahabat saya mengenalnya. Ada banyak gosip tentang dia. Tapi saya tak ingin bahas di sini. Itu urusan dia.

Di satu lembaran, saya temukan kisah tentang Vietnam Drip. Kata Andre, kebiasaan orang Vietnam menyuguhkan kopi dengan penyaring tunggal di setiap gelas adalah taktik untuk menyiasati langkanya mesin pembuat kopi.

Mereka menyebutnya phin. Penyaring itu terdiri atas ruang penyaring (filter chamber) penekan saringan (filter press), cangkir pas (cup spanner), dan tentu saja tutup saringan.

Di Vietnam, orang lebih suka menggunakan gelas kaca untuk menampung kopi, persis di sini. Mengapa? Sebab dengan gelas kaca, mereka bisa menyaksikan kopi yang jatuh perlahan. 

Mereka merenung atau kontemplasi ketika bertemu kopi. Tetes demi tetes kopi itu memberikan cukup waktu untuk mengambil napas. Kata Andre, persis seperti jeda antara kecupan dan gairah yang meletup.

Seorang dosen sejarah di Hue University, Vietnam, punya kisah lain. Katanya, Vietnam Drip punya makna historis bagi orang Vietnam. Menggunakan phin saat minum kopi adalah cara mereka melupakan perang. 

Sepanjang sejarahnya, orang Vietnam adalah barisan para petani yang gagah berani saat bertempur mempertahankan jengkal wilayahnya. Di era kerajaan, mereka melawan Cina, kemudian melawan Perancis di era perang dunia. 

Terakhir, mereka dengan gagah berani mengalahkan Amerika Serikat (AS). Demi menutup malu, Amerika harus membuat fiksi tentang Letnan John Rambo yang seorang diri mengalahkan Vietcong. 

Perang meninggalkan trauma yang dalam dan membekas di diri semua orang. Hingga kini, mereka memilih tidak membicarakannya secara terbuka. 

Mereka mencari cara agar semua trauma dan kengerian akibat perang itu bisa disalurkan dalam kanal-kanal aktivitas. Di titik ini, mereka mengalirkan trauma itu dalam tetes-tetes Vietnam Drip.

Saya ingat perjalanan saya ke Timor Leste setahun lalu. Saya bertemu para ibu yang mengalirkan semua trauma akibat perang dalam aktivitas menenun dan menanam. Mereka tidak ingin tenggelam dalam trauma dan kesedihan. Mereka bangkit dan bekerja. Mereka menatap masa depan, serta tidak ingin tenggelam dalam kesedihan.

Saya kembali menatap Vietnam Drip di hadapan saya. Saya pun bersiap untuk mencicipi seteguk. Sayup-sayup saya mendengar berta tentang orang demonstrasi yang menuntut hak. Saya ingat sejumlah anak remaja yang beberapa hari lalu diangkut polisi karena berdemonstrasi. 

Saya ingat kawan-kawan yang amat suka menyuruh demo, tapi tak pernah menampakkan wajahnya di tengah massa aksi. Mereka ingin menyalakan bara, tanpa mau menjadi kayu bakar. 

Terakhir saya ingat gadis Vietnam yang saya temui di Mangga Besar, Jakarta. Ah, semoga dia baik saja. 

Srupp....!!


BACA: Perempuan Vietnam di Sudut Mangga Besar


 


Melawan dengan LIPSTICK dan SEKS


Sasa di kampus Unhas

Perempuan muda itu bernama Sasa. Dia ikut dalam aksi menolak Omnibus Law. Saat berorasi, mahasiswi Universitas Hasanuddin tampil dengan segala kemudaannya. Kaos hitam, celana jeans sobek, dan masker hitam. Tangan kanan memegang pelantang suara, tangan kiri terangkat ke atas, dengan jemari menjepit rokok. Kata anak Jakarta, “Gue suka gaya lo.”

Dari ratusan demonstrasi yang tumbuh bak cendawan di musim hujan, aksi Sasa akan menjadi monumen yang selalu dikenang. Gambarnya akan menjadi sesuatu yang ikonik, pengingat atas aksi menolak Omnibus Law. Gambar itu pantas menghiasi lembaran sejarah.

Di era ini, kita melihat mahasiswa tak lagi menjadi aktor tunggal. Malah, siswa sekolah menengah kini sama beraninya dengan mahasiswa. Kita melihat bangkitnya kesadaran anak muda untuk berani bersuara. Aksi Sasa bahkan lebih ramai dibahas para netizen di Malaysia. Mereka tidak menyangka anak muda Indonesia bisa seberani itu. Dia menjadi inspirasi.

BACA: KIsah OMNI yang Ketinggalan BUS


Di tahun 2020, kita menyaksikan heroisme mahasiswa yang tumbuh di mana-mana. Sebetulnya, banyak orang yang paham situasi, tapi menolak untuk turun ke jalan. Banyak orang yang lebih suka provokasi dan setiap saat nyinyir di medsos. 

Namun, generasi yang ikut demonstrasi di tahun 2020 harus menyadari kalau mereka tidak punya stamina dan energi yang panjang untuk terus menjadi kerikil di sepatu rezim. Lihat saja, aksi yang mereka lakukan dengan mudah ditekuk aparat. Seharusnya mereka berpikir lebih canggih dari aktivis tahun 1998. Saatnya merumuskan gerilya dan strategi lain untuk terus menyampaikan sikap pada rezim. 

Aksi Sasa memang heroik. Namun di era 4.0, ada banyak pilihan strategi yang bisa dipilih untuk menggerakkan perubahan sosial. Di satu masa, sekadar demonstrasi sudah bisa menggerakkan rezim. Di masa kini, aksi-aksi harus lebih mengalami amplifikasi agar pesannya bergema lebih lama.

Apa ada variasi aksi lain yang lebih efektif? Banyak. Sejarah menunjukkan aksi-aksi perlawanan tak harus dilakukan melalui aksi heroik di jalan-jalan. Perubahan banyak dipicu oleh tindakan-tindakan kecil yang serupa rumput liar bisa merobohkan tembok kekuasaan

Mereka yang mengubah sejarah tak selalu para pahlawan, prajurit hebat, ataupun manusia dengan trah separuh dewa yang jatuh dari langit. Pemicunya adalah orang-orang biasa yang melakukan tindakan-tindakan kecil, yang lalu menggugah publik.

Saat siswa sekolah menengah kita membakar mobil polisi, seorang anak kecil berusia 15 tahun bernama Greta Thunberg berbicara di hadapan pemimpin dunia dengan kalimat yang menuding: "Kalian telah mencuri impian dan masa kecil saya dengan kata-kata kosong kalian."

Dia tak perlu teriak di jalan-jalan sembari menghadapi desingan peluru dan kabut gas air mata. Sebab dia tahu cara paling efektif untuk mengetuk kesadaran orang demi memberi tahu ada sesuatu yang keliru. Dia pandai memanfaatkan semua kanal komunikasi untuk menyebarkan semua pesan-pesan politiknya.

Kita bisa mengurai banyak contoh lain. Aksi mencuci bendera bisa menggetarkan rakyat Peru, pesan tersembunyi pada desain mata uang bisa menggelisahkan rakyat Myanmar, permainan sepakbola Didier Drogba bisa mengharu-biru Pantai Gading, hingga kalimat petinju Muhammad Ali bisa menggetarkan warga Amerika untuk mempertanyakan ulang makna nasionalisme negara yang memaksa warganya untuk menempur warga belahan bumi lain.

Jangan terkejut kala mengetahui gerakan emansipasi hak sipil dimulai dari perempuan bernama Rosa Parks yang menolak memberikan kursinya di bus pada tiga orang lelaki kulit putih. Mari pula beri ruang pada Malala Yosefai, perempuan berusia 25 tahun yang pidatonya menggetarkan rezim otoriter yang selalu menebar teror.

Greta Thunberg


Tak hanya itu, gosip-gosip bisa memukul rezim yang memulai perang di Darfur, Sudan Selatan. Jangan terkejut kalau menemukan fakta jatuhnya rezim Slobodan Milosevic dimulai dari aksi mengutak-atik foto melalui program photoshop, jatuhnya rezim Ferdinand Marcos berawal dari sejumlah perempuan yang menolak untuk mengubah suara pemilu.

Lihat pula, revolusi di dunia Arab, yang kerap disebut Arab Spring, dimulai dari aksi meneruskan pesan di twitter. Perempuan Serbia beraksi dengan dandanan seksi dan lipstick merona demi menghentikan perang. Tengok pula aksi menolak hubungan seks para perempuan Sudan bisa menghentikan perang saudara selama 20 tahun. Hah?

*** 

Saya membaca kisah-kisah menggetarkan itu pada buku Small Acts of Resistance: How Courage, Tenacity, and Ingenuity Can Change the World yang ditulis Steve Crawshaw dan John Jackson. 

Buku ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Roem Topatimasang, dan diterbitkan Insist dengan judul Tindakan-Tindakan kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran, dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia.


Membaca buku bagus ini membuat mata saya lebih jernih dalam melihat banyak hal. Batin saya beberapa kali tersentuh membaca 15 kisah perubahan sosial, yang semuanya dimulai dari tindakan-tindakan kecil.

Saya mengamini kalimat di awal buku: “Seseorang yang berjiwa bebas, dengan segenap ingatan dan juga ketakutannya, adalah sebatang tetumbuhan air yang rantingnya membelokkan arah deras arus sungai.”

Kutipan lain yang juga menyentuh saya adalah kutipan dari Bertolt Brecht. “Kata anak lelaki itu, ia belajar tentang bagaimana air yang lembut menitik, selama sekian tahun akan melubangi batu yang keras sekali pun. Kekerasan akan kalah juga akhirnya.”

Yang saya rasakan dari kutipan ini adalah perubahan selalu dimulai dari individu yang gelisah, lalu punya sedikit keberanian untuk menyatakan sikap. Keberanian itu serupa api kecil yang membakar ilalang kesadaran, yang terus membesar lalu menjadi gerakan sosial.

Dalam buku ini, saya membaca cerita tentang anak muda kulit hitam yang berani memasuki restoran dan duduk di kursi yang hanya diperuntukkan bagi warga kulit putih. Di tengah iklim politik yang menindas kaum kulit hitam, tindakan itu akan berdampak pada penangkapan.

BACA: Di Rimba Digital, Kita Adu Taktik


Anak muda itu memang ditangkap, tapi tindakannya menggugah orang lain, yang juga datang untuk duduk di kursi itu. Ratusan orang lalu bergantian duduk, hingga akhirnya memenuhi penjara. Aksi duduk itu lalu membakar kesadaran, memicu perlawanan, yang lalu berkembang jadi revolusi.

Buku ini bisa menjadi pegangan bagi semua praktisi gerakan sosial. Di dalamnya kita tak menemukan satu pun teori yang berat-berat, melainkan kisah-kisah inspirasi yang mengisahkan tentang banyaknya perubahan yang justru dimulai dari hal-hal sederhana. Beberapa kali nurani saya basah saat menemukan kegelisahan yang lalu dijelmakan dalam tindakan biasa, namun sukses menggugah banyak orang.

Miss Sarajevo yang memrotes perang di Bosnia

Saya suka kisah tentang perempuan Bosnia. Di tengah peperangan, mereka tetap berdandan modis, dengan lisptick merah merona. Di tahun 1993, warga Bosnia yang benci perang mengadakan kontes kecantikan. Para gadis-gadis cantik itu berpose di atas panggung yang terdapat spanduk besar bertuliskan “Don’t let them kill us!” Pesan itu bergema ke mana-mana. Grup musik U2 lalu membuat lagu berjudul Miss Sarajevo, yang liriknya adalah:

Is there a time for kohl and lipstick
Is there a tme for cutting hair
Is there a time for high street shopping
To find the right dress to wear

Apakah di sana ada waktu untuk maskara dan gincu
Apakah di sana ada waktu untuk memotong rambut
Apakah di sana ada waktu untuk belanja.
Untuk mendapatkan busana yang pantas disandang.


Bisa Anda bayangkan, sebuah acara lomba miss kecantikan diselenggarakan di tengah desingan peluru. Para perempuan Bosnia itu hendak menyatakan sikap benci pada perang yang berdampak luas. Siapa sangka, revolusi bisa dipicu oleh lipstick merah dari perempuan seksi.

Hal yang sama juga terjadi di Afghanistan ketika protes disuarakan melalui kontes Afghan Stars, lalu aksi protes warga Estonia atas rezim otoriter yang dilakukan dengan cara bernyanyi, hingga memicu The Singing Revolution.

Yang membuat saya terenyak adalah revolusi bisa dimulai dari hal-hal yang mungkin dianggap sederhana oleh banyak orang. Di Sudan, Lubna Hussein divonis bersalah dan akan diberi hukuman cambuk hanya karena mengenakan celana panjang, yang dianggap tidak sopan.

Ia melalui proses di pengadilan, lalu menjelaskan argumentasinya tentang perempuan. Ia membaca banyak kitab, dan mengejutkan orang-orang dengan pertanyaan kritis, yang lalu mengubah pandangan orang-orang.

Hal-hal besar sering kali dimulai dari hal-hal kecil, hal biasa, hal terabaikan. Yang barangkali bisa dilakukan adalah senantiasa konsisten, tetap mengikuti jalan nurani dan kebenaran, serta menyatakan sikap di tengah ketidakadilan.

Saya menganggap, ini bukan hal yang mudah, sebab sering kali pernyataan sikap bisa menggerakkan orang lain, yang lalu membuat hidup jadi tak nyaman.

Di buku ini, ada kisah inspiratif dari petinju hebat Muhammad Ali. Di puncak kariernya, ia justru menolak wajib militer dari negara untuk ikut perang Vietnam. Kalimatnya menghujam, “Mengapa pula saya disuruh memerangi Vietcong, sementara mereka tidak pernah mengatakan saya negro?”

Ali membuka borok rasisme yang sedang melanda Amerika Serikat, saat warga kulit hitam menjadi warga kelas dua. Pernyataan itu membuat Ali disekap, dicabut gelarnya, dilarang mengikuti kejuaraan dunia. Selama tiga tahun, ia kehilangan hak untuk bertinju, justru di tengah-tengah masa keemasannya.

Aktor Richard Harris mengatakan,” Setiap petinju selalu berusaha dan bersedia menjual jiwanya demi gelar sebagai juara tinju. Apa yang Ali lakukan? Dia justru menemukan kembali jiwanya dengan melepaskan gelar juara dunia itu.”

Muhammad Ali


Kisah lain yang juga mengejutkan adalah perempuan di Sudan Selatan. Perempuan bernama Samira Ahmed gelisah dengan perang saudara yang tak kunjung usai. Dua wilayah, yakni utara dan selatan, dibakar dendam berkepanjangan hingga memicu perang selama 20 tahun.

Samira ingin menghentikan perang. Dia muak dengan perang yang tak kunjung usai. Dia lalu mengorganisir perempuan di dua wilayah itu untuk bersatu. Mereka lalu membuat gebrakan melalui aksi menolak hubungan seks.

Aksi itu memang menggemparkan. Aksi itu adalah sexual abandoning (penelantaran seksual) yang lalu membuat para lelaki sejenak berhenti berperang lalu memikirkan hal-hal lain yang lebih penting.

“Perempuan-perempuan itu sama berpikir bahwa dengan menolak hubungan seks dengan suami, mereka bisa menekan lelaki untuk mengusahakan perdamaian. Taktik itu berhasil,” kata Samira.

Di tahun 2009, taktik ini juga dilakukan oleh para perempuan Kenya. Aksi mogok seks itu bisa memaksa presiden dan perdana menteri untuk ikut berunding dengan para perempuan itu.

***

SAYA senang membaca banyak contoh-contoh dalam buku ini yang membuka mata kita semua. Saya teringat pada buku James Scott yang berjudul Weapons of the Weak. Bahwa perlawanan orang lemah bisa diartikulasikan dengan banyak cara.

Pelajaran bagi mahasiswa dan para aktivis kita adalah terdapat banyak cara dan strategi untuk mendorong perubahan sosial. Anda hanya perlu kreatif dan bisa memaksimalkan semua teknologi jaman now yang memudahkan semua orang untuk berkonsolidasi demi aksi.

Buku Weapons of the Weak


Kata James Scott, perlawanan bisa disalurkan melalui simbol, gosip, hingga pesan yang lalu ditangkap oleh banyak kalangan. Perlawanan itu melalui cara-cara kultural yang pesannya lebih cepat tersebar dan memicu gerakan yang lebih besar.

Kita bisa melihat banyak contoh di negeri kita. Ada banyak orang hebat di sekitar kita yang perlu digali kisahnya demi menjadi nutrisi bagi anak-anak muda untuk melakukan perubahan.

Beberapa tahun lalu saya bertemu Maria Loretha, atau kerap dipanggil Mama Tata, yang menginspirasi warga untuk menanam sorgum di Pulau Adonara. Dengan cara itu, ia mengajarkan kemandirian pangan, serta sikap tidak tergantung pada pasokan beras, yang didatangkan dari Jawa.

Saya juga pernah bertemu dengan Ismail, anak muda di Berau yang mendirikan bank ikan lalu mengajak para nelayan berpartisipasi, serta tidak tergantung pada lintah darat.

Di sekitar kita ada banyak para champion atau juara yang bekerja dalam diam, menggugah kesadaran, lalu melakukan hal-hal luar biasa. Mereka tak suka dengan publisitas. Yang mereka kejar bukanlah kemasyhuran atau popularitas, lalu memajang wajah di berbagai baliho di banyak sudut kota. 

Orang-orang ini melakukan banyak hal-hal besar dengan langkah-langkah kecil demi membumikan pohon-pohon gagasannya agar tumbuh kokoh dan menginspirasi orang banyak.

Orang-orang ini bekerja untuk keabadian, berbuat untuk sesuatu yang jauh lebih bermakna. Meskipun mereka tak dicatat sejarah, nama mereka tergurat di hati banyak orang di sekitarnya. Mereka menggerakkan perubahan sosial.

Saat membayangkan orang biasa yang memantik perubahan sosial, sayup-sayup saya mendengar lantunan suara Bob Marley, penyanyi reagge asal Jamaika:

Emancipate yourself from mental slavery, 
None but ourselves can free our minds.
Have no fear for atomic energy,
'Cause none of them can stop the time.
How long shall they kill our prophets,
While we stand aside and look?
Some say it's just a part of it,
We've got to fulfill the book.
Won't you help to sing
These songs of freedom?
'Cause all I ever have,
Redemption songs,
Redemption songs,
Redemption songs.




OMNI yang Ketinggalan BUS

memotret buruh dalam satu kegiatan di Bali


Mulai dari mahasiswa, buruh, pengusaha, anggota dewan, menteri, hingga presiden, semuanya punya kontribusi pada meledaknya aksi sosial di tengah pandemi. Semua memegang sekeping puzzle yang hilang dalam dunia sosial kita hari ini. 

Sekian tahun republik ini berdiri, kita semua lebih sibuk memikirkan uang masuk dan semua target ekonomi, ketimbang berbicara dari hati ke hati. Kita lebih memikirkan Indonesia emas, tanpa mendengarkan anak bangsa. Kita ingin garuda segera melesat ke angkasa, lalu meninggalkan anak bangsa yang menumbuhkan bulu-bulunya.

Kita semua punya peran dalam pecahnya kotak pandora kebangsaan kita hari ini. Kita bisa membuat listing satu per satu demi mencatat apa yang sedang terjadi.

Pemerintah. Pemimpin pemerintahan, dalam hal ini Presiden, punya obsesi tentang pertumbuhan. Indonesia kini menjadi negeri yang punya GDP tertinggi di Asia Tenggara. Bahkan di Asia, kita masuk lima besar. Presiden kita ingin melesat lebih tinggi. 

Dia membuka keran investasi seluas-luasnya. Hal-hal yang menghambat segera dilibas. Pemimpin yang tumbuh dari rakyat ini mengabaikan banyak anak bangsanya. Dia lupa dengan masyarakat adat, buruh kecil yang kerja sehari dengan upah habis sehari, nelayan kecil yang kalah melawan korporasi perikanan, hingga lingkungan yang harusnya disisakan untuk menyuplai oksigen. 

Parlemen. Kita memilih mereka untuk menjadi pengimbang opini pemerintah kita. Kita ingin mereka punya taring. Namun mereka telah mengubah taring menjadi stempel. Apa yang datang, langsung distempel sebagai tanda persetujuan. Mereka hanya berkata “Yes Man” pada semua kebijakan yang disodorkan.

Heran, banyak di antara mereka malah cuci tangan. Di media sosial, berkoar-koar menolak. Tapi di sidang paripurna, mereka menjadi pendiam. Mereka lebih takut pada ketua partai ketimbang sorot mata orang biasa di daerah pemilihannya.

Kita rindu parlemen yang turun ke bawah, menelusuri lorong-lorong kehidupan masyarakat, lalu mendengar dan berdialog. Kita ingin mereka yang bersuara, bukan mereka yang menunggu arahan pemimpin partai.

Pengusaha. Bahkan pengusaha kita pun setali tiga uang. Pengusaha kita hanya sibuk mengejar rente dan remah-remah APBN. Pengusaha kita merasa minder jualan roti atau abon. Mereka menunggu proyek melalui kongkalikong dengan pemerintah.

Hanya di negeri ini, suara pengusaha lebih didengar ketimbang orang miskin. Para pengusaha kita berbondong-bondong memasuki parlemen. Mereka datang untuk menjadi calo anggaran, lalu membuat kebijakan, yang segera diikuti proposal atau rencana bisnis. 

BACA: Di Rimba Digital, Kita Adu Taktik!


Buruh. Ribuan buruh kita bekerja dengan kinerja pas-pasan, dengan gaji yang juga pas-pasan. Buruh kita lebih suka berdemonstrasi dan ikut arahan serikat organisasi ketimbang mengasah skill dan meningkatkan kapasitas. 

Buruh kita hanya mengenang masa indah ketika dahulu ada partai politik yang membela hak mereka lalu diberangus oleh negara. Hari ini buruh serupa kerbau yang bisa dicucuk hidungnya dan ikut ke mana pun apa kata serikat buruh. 

Tiba musim pemilu, dengan entengnya para buruh akan memilih sosok itu-itu saja, yang selama ini tidak memihak mereka. Tawar-menawar harga pas tancap gas.

Mahasiswa. Generasi mahasiswa hari ini adalah generasi tik tok yang rajin mengikuti trending topic. Saat demonstrasi jadi trending, mereka akan turun ke jalan-jalan. Namun, gerak mereka ibarat “panas-panas tai ayam.” Mereka serupa timnas PSSI yang hanya kuat berlari selama satu babak. Babak berikutnya, stamina kendor.

Lihat saja, demonstrasi mahasiswa saat menolak revisi UU KPK. Saya pikir itu akan jadi air bah yang tak berhenti, apalagi ada dua mahasiswa menjadi korban. Ternyata, stamina mereka tak panjang. Mereka hanya beberapa hari demo, setelah itu kembali ke kampus, dan tak pernah turun ke jalan lagi.  “Sekali berarti, sudah itu mati.”


Social Justice Warrior (SJW). Kita membutuhkan suara-suara kritis. Pemerintahan ini harus dihardik untuk mendengar suara publik. Kita membutuhkan para warrior yang bisa bersuara nyaring dan mengingatkan semua pihak jika ada yang salah.

Namun sering kali, SJW hanya menjadi label dari ketidaksukaan pada rezim. Banyak yang menunggu momen-momen ini untuk merayakan kebencian. Banyak SJW adalah versi KW. Banyak yang setiap hari menikmati kenyamanan di rumah mewah dan menerima dana asing, lalu sibuk memprovokasi sana-sini.

Ketika ada korban meninggal, mereka hanya menyampaikan duka lalu kembali berteriak panjang umur perlawanan. Mereka melakukannya dari rumah nyaman, atau dari ruang ber-AC di satu kampus mewah, atau dari kafe dekat pantai. Pejuang garis depan adalah kayu bakar bagi mereka. Saat rezim tumbang, mereka yang panen. Mereka mengklaim telah lama menanam benih.

***

Kita sedang menyaksikan ledakan dari endapan sosial yang lama tertahan. Dari barisan mereka yang turun ke jalan itu, tentunya ada yang paham mengapa harus turun ke jalan. Suara-suara mereka harus didengarkan.

Hari-hari belakangan ini kita sedang menyaksikan tipisnya telinga pemerintah dalam mendengar suara publik. Memang, dalam proses penyusunan Undang-Undang, ada tahapan berdiskusi dan berdialog dengan banyak pihak. 

Jika publik tetap tak paham, maka pemerintah tidak boleh meninggalkannya. Jadilah seorang guru yang sabar dalam membimbing muridnya. Sesekali murid bandel tentu bisa dimaklumi. Tugas guru adalah memberikan arahan dan juga jalan terang, dengan bahasa yang paling dipahami oleh muridnya.

memotret buruh di Bali

Yang terasa hilang dari kita adalah kebiasaan berdialog dan duduk bersama. Padahal itu ada dalam budaya kita. Orang Makassar mengenal tudang sipulung. Orang Minang mengenal tradisi basilang kata. Pendiri negeri kita punya istilah musyawarah.

Dalam situasi krisis, kita seyogyanya duduk bersama dan berbicara dari hati ke hati. Tentunya, syaratnya adalah semua pihak harus terbuka menerima semua kelebihan dan kekurangan setiap argumentasi. Pemerintah harus turun ke bawah, mendengar semua masukan, lalu mengajak semua orang untuk selalu dalam barisan yang sama menuju cita-cita kebangsaan.

Omnibus Law bermakna bus besar yang mengangkut semua. Omni bermakna semua. Tapi hari ini, tak semua orang merasa terangkut bus itu. Harusnya, prosesnya pun tetap memasukkan semua anak bangsa dalam bus besar itu. Bukan malah meninggalkan banyak pihak. 

Tugas kesejarahan kita adalah bagaimana menghapus lara di wajah Ibu Pertiwi dan menghadirkan senyum saat melihat anak-anaknya memakmurkan bumi, sebagaimana dicatat indah dalam syair ini:

“Kini ibu sedang lara

Merintih dan berdoa

Menjaga harta pusaka

Untuk nusa dan bangsa”



Di Rimba Digital, Kita Adu Taktik!


Di tengah badai Covid-19 yang belum ada tanda-tanda reda, para buruh siap untuk berdemonstrasi. Jalan-jalan mulai ramai. Suara perlawanan menggema di mana-mana. Senandung perlawanan mulai bergema.

Di periode kedua, pemerintahan Jokowi seakan balik punggung pada kekuatan-kekuatan masyarakat sipil. Suara-suara yang dulu menaikkan pengusaha kayu itu kini perlahan surut dan ditinggalkan. 

Kita bisa menghitung satu demi satu kebijakan. Mulai dari pelemahan KPK yang berujung pada tewasnya dua mahasiswa, penanganan Covid yang buruk koordinasinya, pemberian talangan pada Jiwasraya yang menunjukkan keberpihakan pemerintah bukan pada rakyat. Hingga UU Omnibus Law yang memicu kontroversi.

Sikap memang harus disampaikan. Namun, menyatakan sikap di tengah kondisi Covid merebak sama saja dengan setiap saat menyabung nyawa. Kepada para aktivis mesti disampaikan satu keping kenyataan: Orde Baru dahulu tumbang bukan semata karena aksi massa. Orde Baru dahulu tumbang karena gerilya para aktivis di rimba digital.

Kok bisa? Bagaimana cara mengulangnya di masa kini?

***

PERNAHKAH Anda mendengar nama Wael Ghonim? Di usia 31 tahun, anak muda Mesir ini telah dinominasikan untuk meraih hadiah Nobel. Majalah Time pernah memasukkan namanya ke dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di tahun 2011. World Economic Forum juga menyebutnya sebagai salah seorang Young Global Leader pada tahun 2012. Apakah yang dilakukan anak muda ini?

Anak muda ini seorang penggerak demonstrasi. Jutaan warga Mesir turun berdemonstrasi di jalan-jalan lalu menumbangkan rezim berkat provokasi anak muda ini. Ia menggalang dukungan, mengorganisir, membuat petisi serta membuat postingan yang menyentuh agar rakyat Mesir turun ke jalan dan berkumpul di Tahrir Square memulai revolusi yang disebut Arab Spring.

Dengan cara apa ia bisa menggerakkan jutaan orang? Ia menggunakan semua kanal media sosial. Wael Ghonim adalah seorang karyawan Google yang resah melihat rezim otoriter di negaranya. Dia lalu menggunakan Facebook dan Twitter untuk menggerakkan orang-orang. 

Dia membuat kampanye di Facebook Fanpage yakni “We are all Khaled Saeed” yang isinya adalah simpati kepada Khaled Saeed yang tewas saat diinterogasi oleh polisi. Massa tersentuh oleh postingan Wael Ghonim.

Revolusi disulut anak muda ini. Masyarakat Mesir saling berkoordinasi lewat Twitter. Semua orang bergerak serentak mengikuti komando anak muda ini. Orang-orang tidak saling kenal, bahkan tidak mengenali siapa dan seperti apa wajah anak muda ini. Tapi semua ikut dengan semua skenario dan rencananya. Semua bergerak demi menumbangkan rezim. 

Di dalam buku yang ditulisnya Revolution 2.0, Wael Ghonim mengatakan, “Our revolution is like Wikipedia, okay? Everyone is contributing content, [but] you don't know the names of the people contributing the content. This is exactly what happened. Everyone contributing small pieces, bits and pieces..” 

Revolusi kita seperti Wikipedia. Setiap orang berkontribusi pada konten. Tapi kamu tidak tahu nama-nama orang yang berkontribusi tersebut. Inilah yang terjadi. Setiap orang berkontribusi melalui kepingan-kepingan kecil.

Seperti halnya kontributor Wikipedia, yang tidak saling mengenal tapi bisa bersama-sama mengisi konten. Semua berkoordinasi dan bergerak secara spontan.

Wael Ghonim adalah potret dari aktivis Jaman Now. Banyak aktivis di berbagai negara yang kemudian mengikuti jejak langkahnya dalam merancang perubahan melalui jagad digital. Kita bisa melihat kenyataan itu di Hongkong, Korea, hingga negara-negara Amerika Latin. Semuanya punya obsesi revolusi dan melakukannya melalui tulisan menggugah di media sosial.

Di Indonesia pun, seorang aktivis seyogyanya memahami karakter zaman yang kini saling terhubung. Bergerak melalui postingan memang tidak lantas membuat seseorang bergerak dan meneriakkan revolusi. Namun seiring waktu, orang-orang bisa tergugah lalu menjadikan seseorang sebagai influencer, ataupun role model yang dikuti untuk perubahan.

Kita bisa menggunakan media sosial sebagai senjata untuk menggugah kesadaran. Kita bisa bergerak menggunakan petisi online. Bisa pula mengumpulkan dana melalui crowdsourcing. Melalu instagram, seorang aktivis bisa memasarkan idenya dan menggalang dukungan. Melalui Facebook, ia bisa membentuk barisan di mana anggotanya adalah para follower yang rutin mengikuti postingannya.

Senjata utama yang dibutuhkan aktivis Jaman Now adalah kemampuan merancang konten di ranah digital. Senjata ini jauh lebih canggih dari semua senjata yang dimiliki militer. 

Jika satu senjata hanya bisa menembak satu kepala, maka satu tulisan bisa menembus jutaan pikiran orang lain. Satu tulisan bisa tersebar secara viral lalu mempengaruhi opini orang demi satu kalimat perubahan.

Kekuatan Internet

Di Indonesia, ruang-ruang maya yang dibangun teknologi digital juga punya sejarah menumbangkan rezim. Internet mulai hadir saat Indonesia berada dalam iklim politik yang otoritarian pada masa Orde Baru. Saat itu, negara mengontrol semua informasi yang ada di media massa. 

Kehadiran internet disambut gembira oleh semua aktivis pro-demokrasi, sebab media ini tidak bisa dikontrol dan dikendalikan pemerintah. Di masa itu, pemerintah kerap memberikan ancaman berupa sensor atau pencabutan izin cetak kepada media-media yang anti-pemerintah.

Sebagaimana dicatat David T Hill dan Krishna Sen dalam buku The Internet in Indonesia’s New Democracy yang terbit tahun 2005, internet memainkan peran penting dalam transisi demokratis. Pemerintah tidak bisa mengontrol internet, sekaligus menyeleksi lalu lintas informasi yang ada di dalamnya. 


Semua aktivitas di internet, seperti email, newsgroup, website telah menjadi senjata bagi aktivis karena karakteristik real-time dalam tindak oposisi terhadap pemerintah melalui tukar-menukar informasi serta ajang konsolidasi gerakan.

Internet memainkan peran penting untuk menjatuhkan kediktatoran Soeharto dari kekuasaannya. Internet memasuki ruang-ruang publik, membayangi proses demokratisasi. Semua aktivitas politik, mulai dari kampanye dan pemilihan umum tak bisa dilepaskan dari kehadiran internet. 

Bahkan pendekatan terbaru dalam kampanye adalah melalui media online, yang dilakukan hampir semua partai politik. Ini menjadi bukti bahwa semua partai politik menggunakan internet untuk menopang aktivitas politiknya.

Ada menyebut fenomena ini sebagai “new media democracy” atau “social media democracy” yang kadang-kadang sering pula disebut “networking democracy”. Dalam hal ini, internet –khususnya media sosial—dianggap sebagai katalis demokratisasi. 

Media sosial memiliki potensi untuk menyusun ulang relasi kuasa dalam komunikasi. Dengan menggunakan media sosial, warga bisa memfasilitasi jejaring sosial (social networking) dan memiliki kemampuan untuk menantang kontrol monopoli produksi media dan diseminasi yang dilakukan negara dan institusi komersial.

Keterbukaan platform media sosial bagi individu dan kelompok telah menjadi sumber inovasi dan ide-ide dalam praktik demokratik. Kita bisa menyebutnya sebagai “demokrasi media sosial” yakni proses demokratis yang secara substansial dipengaruhi oleh penggunaan media sosial. 

Dalam hal ini, setiap ‘click’ yang dakukan warga bisa disebut sebagai ekspresi dalam iklim demokratisasi yang wadahnya berlangsung di media sosial.

Tak hanya digunakan oleh para aktivis pro-demokrasi. Beberapa studi menunjukkan bahwa internet juga digunakan oleh elemen gerakan sosial yang lain sebagai wadah untuk membangun konsolidasi. Di antaranya adalah studi yang dilakukan Yanuar Nugroho (2012) yang dipublikasikan dengan tajuk Localising the Global, Globalising the Local: The Role of the Internet in Shaping Globalisation Discourse in Indonesia NGOs.

Ia menunjukkan bahwa pihak aktivis NGO menggunakan internet untuk merespon berbagai wacana antiglobalisasi. Mereka menggunakan konteks lokal untuk merespon wacana global, menggunakan teknologi secara strategis sebagai pelempar isu ke dunia luar.

Terlepas dari itu, beberapa suara kritis penting pula untuk disampaikan. Merlyna Lim (2013), pengajar di Arizona State University, menilai bahwa khalayak media sosial hanya heboh saat membahas kasus-kasus tertentu. Makanya, ada gerakan sosial yang berhasil, misalnya kasus Prita Mulyasari dan gerakan “cicak versus buaya” untuk mendukung KPK. 

Hanya saja, dalam banyak kasus lain, yang terjadi adalah riuh di media sosial, tapi tidak begitu nampak aksinya. Merlyna Lim menyebutnya “many click but little sticks.” Banyak klik, tapi sedikit tongkat pemukul. Artinya, lebih banyak orang yang meng-klik ketimbang turun ke jalan untuk bergerak.

Namun, lagi-lagi ini soal momentum. Tidak menutup kemungkinan, akan muncul satu sosok generasi seperti Wael Ghonim yang punya kemampuan sebagai influencer di ranah digital, bisa menggerakkan orang-orang, yang kemudian membatalkan satu kebijakan publik yang tidak adil kepada rakyat.

Melalui postingan, para aktivis Jaman Now bisa memberikan advokasi kepada masyarakat. Satu kekeliruan yang kerap melanda aktivis adalah anggapan bahwa advokasi adalah tindakan berdemonstrasi dan berdiri tegak untuk menghadapi senjata dari aparat pemerintah. Advokasi dilihat sebagai kegiatan heroik, revolusioner, serta penuh keberanian.



Padahal, melalui konten-konten yang kuat, langkah-langkah advokasi itu bisa dipicu daya ledaknya. Melalui tulisan, para aktivis bisa memberikan panggung bagi masyarakat agar suaranya bisa didengar publik luas. 

Pada titik ini, seorang aktivis telah membuka pintu gerbang perubahan, ketika masyarakat tercerahkan dan bisa menyampaikan apa yang dirasakannya. Di Jaman Now, kerja-kerja seorang aktivis tidak selalu terkait dengan bagaimana ‘menggoreng’ isu sehingga menjadi wacana besar. Tapi bagaimana mengubahnya ke arah yang lebih baik.

Jika saja teknologi itu berada di tangan seorang baik yang di kepalanya penuh gagasan revolusioner, maka perubahan bisa berlangsung dengan cepat.

Yang pasti, tidak semua mereka yang berselancar di ranah digital adalah mereka yang sekadar curhat, berbagi info makanan, atau berbagi foto sedang melakukan perjalanan. Di balik aktivitas itu, terdapat banyak postingan yang mencerahkan, menggetarkan batin kita, lalu mengingatkan kita bahwa ada banyak hal yang keliru di negeri ini. 

Peran-peran aktivis Jaman Now adalah memfasilitasi orang lain untuk bersuara dan berbagi informasi melalui platform digital. Dia berjuang di rimba digital. Persis, sebagaimana dikatakan penyair WS Rendra: “Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.”



Membaca Kisah dari Kebun Terakhir


Saya selalu terkesima jika membaca kerja-kerja intelektual Tania Murray Li. Profesor antropologi asal Kanada ini selalu produktif melahirkan riset etnografis dan pengamatan mendalam dalam setiap karya-karyanya. 

Beberapa waktu lalu, saya membaca bukunya berjudul The Will to Improve yang lalu menjadi satu lensa ketika melihat desa. Ketika saya berkunjung ke desa, beberapa teori dan argumentasi Tania Li terus hadir dalam benak.  

Istilah yang sering saya kutip adalah “teknikalisasi permasalahan” yakni cara orang kota menjinakkan orang desa melalui aturan, pengetahuan, dan berbagai hal teknis. Seakan-akan orang kota lebih tahu dan lebih berhak bicara tentang desa.

Kini, saya memegang buku terbarunya yang sudah diterjemahkan yakni Kisah dari Kebun Terakhir, terjemahan dari Land's End. Isinya adalah riset etnografis di Sulawesi yang membahas bagaimana kemunculan kapitalis di antara penduduk adat di perbukitan yang memprivatisasi lahan demi menanam kakao.

Beberapa hari lalu, saya melihat ada diskusi yang membahas karya Tania Li. Saya setuju dengan amatan seorang akademisi tanah air. Tania Li berbicara kepada tiga audiens, yakni para akademisi, pengambil kebijakan, dan aktivis gerakan sosial. 

Tapi di acara diskusi itu, saya gelisah oleh satu hal. Mengapa ilmuwan kita hanya sampai pada taraf membahas karya orang lain seperti Tania Li, dan tidak menyerap sisi produktivitas Tania Li dalam melahirkan banyak karya hebat? Mengapa kita harus menanti akademisi dan peneliti asing seperti Tania Li untuk membahas berbagai fenomena di kampung halaman kita dan bukan kita sendiri yang melahirkan publikasi2 sebagus itu?

Saya ingat percakapan dengan seorang akademisi di satu kampus di Bogor. Katanya, insan akademis kita serupa pohon pisang. Sekali berbuah, setelah itu mati. Para intelektual kita hanya sekali menulis buku berupa olahan dari disertasi, setelah itu merasa puas dengan hanya melahirkan tulisan pendek untuk koran. Mereka lebih tertarik ikut pilkada, seleksi pejabat di kementerian, jadi komisaris BUMN, atau staf khusus menteri.

Katanya lagi, ilmuwan asing beda dengan ilmuwan kita. Setelah riset dan kontemplasi, ilmuwan asing akan melahirkan DALIL, sementara ilmuwan kita akan melahirkan DALIH.

Saya yakin dia sedang bercanda. Saya tidak merasa tersindir. Saya bukan akademisi. Saya hanyalah seorang pelatih kucing.


Liliput yang Menyerang Trump


Di tahun 2012, saya mengikuti kampanye Presiden Obama di Ohio, Amerika Serikat. Seminggu sebelum kampanye, orang-orang sudah antre untuk tiket. Semua nama dicatat. Alamat email, nomor HP, juga alamat rumah harus dimasukkan.

Di hari H, ada beberapa lapis penjagaan harus dilalui, sebelum akhirnya diizinkan masuk lokasi kampanye. Semua prosedur harus dijalani demi menyaksikan orang nomor satu di Amerika Serikat. 

Di sekitar lokasi, banyak orang berpakaian jas hitam, kaca mata hitam, serta ada alat komunikasi di telinganya. Itulah Secret Service (SS), agen rahasia yang berfungsi selaku pasukan pengawalan presiden. 

Seorang sahabat di kelas Politics of Developing Area menjelaskan tentang SS. Katanya, SS dibentuk sejak era Abraham Lincoln pada 14 April 1865. Sayangnya, di hari terbentuknya SS, Abraham Lincoln terbunuh. 

Tahun 1901, SS menjadi pasukan pengamanan presiden. Personel SS memiliki semua keahlian seorang pasukan khusus. Mereka menguasai semua jenis senjata, bisa bela diri, dan punya keahlian menjinakkan bom. Bahkan personel SS juga menjadi cikal bakal dari dibentuknya agen intelijen FBI.

Personel SS juga didoktrin untuk siap menangkis peluru yang ditembakkan ke Presiden Amerika Serikat. Mereka memilih mati ketimbang gagal. Namun sejak terbentuk 149 tahun yang lalu, hanya satu anggota SS yang tewas akibat melindungi presiden.

BACA: Ideologi Kiri Kanan yang Menyambut Corona

Peristiwa ini terjadi pada 1 November 1950, saat dua warga Puerto Rico menyerbu kediaman Presiden Harry Truman. Agen Leslie Coffelt tertembak tiga kali di dada dan perut.

Namun, cerita SS tidak selalu keberhasilan. Kegagalan Secret Service terbesar adalah saat gagal melindungi Presiden John F. Kennedy yang tewas terbunuh pada 22 November 1963.

William Manchester, dalam bukunya berjudul The Death of the President tahun 1967 mengungkapkan bahwa sembilan agen SS minum-minum di tengah malam, sehari sebelum peristiwa itu terjadi. Seorang agen bahkan keluar minum hingga pukul 5 pagi. Kegagalan melindungi Kennedy itu menjadi trauma yang tidak boleh terulang.

Kini, semua agen SS mesti punya fisik prima dan konsentrasi penuh untuk menjaga presiden. Mereka sangat terlatih dan siap mengantisipasi jika ada pihak yang hendak mencelakai presiden. 

Pengamanan untuk Presiden AS adalah pengamanan paling ketat sedunia. Jika Presiden AS hendak keluar negeri, SS akan tiba tiga bulan sebelumnya di lokasi. Mereka berkoordinasi dengan militer setempat, membuat standar pengamanan, menjaga hotel, dan membawa unit K-9 Secret Service yakni pasukan anjing.

Saat Presiden AS terbang dengan pesawat Air Force One, di sekeliling pesawat itu, akan ada enam pesawat yang mengawalnya. Ada pesawat yang membawa helikopter, kargo untuk limousin presiden dan hal-hal yang lain. Dalam proses ini setidaknya ada ribuan orang yang dilibatkan. Semua itu hanya untuk keselamatan satu orang saja yakni presiden AS.

pesawat yang mengawal Air Force One


Bahkan kemanapun pergi, SS selalu membawa pasukan koki atau juru masak untuk presiden. Mereka selalu melayani Presiden AS di White House sehingga mereka tahu selera presiden dan keluarganya.

Para koki ini berbelanja di pasar lokal, menguji sendiri makanan itu agar bersih dari racun, serta menghidangkannya tepat di hadapan presiden. Mereka bekerja dengan standar yang ketat untuk memastikan presidennya tetap aman dan baik-baik saja.

Semua agen SS ini tahu bahwa mereka tidak sekadar mengamankan Presiden AS, tetapi juga sedang mengawal sejarah. Semua yang dilakukan presidennya adalah sejarah. Jika suatu saat mereka gagal, maka mereka telah mewariskan sejarah yang buruk.

Wajar saja jika ada yang mengatakan, seorang Presiden AS adalah manusia paling aman di dunia. Sebab semua standar pengamanan dijalankan dengan prosedur paling ketat. Mereka mengantisipasi para teroris, perusuh, dan mereka yang berniat jahat.

*** 

Pengumuman di Twitter itu terdengar seperti dentuman bom atom. Presiden Trump yang memimpin negara paling kuat sejagat mengumumkan dirinya terserang virus Covid. Bursa saham bergejolak. Semua tidak menyangka. Para agen SS seakan tidak percaya.

Pengamanan paling ketat dan canggih sejagat ditembus oleh virus kecil yang justru selama ini tidak diperhitungkan oleh Presiden Trump sendiri. Dalam banyak kesempatan, dia meremehkan kemampuan virus. Padahal virus punya kemampuan yang bisa menembus standar pengamanan serta ketatnya penjagaan untuk Trump sendiri.

Pertahanan yang sekokoh raksasa dan sekuat Hulk malah bisa ditembus oleh makhluk sekecil liliput yang tak kasat mata, tetapi bergerak lebih efektif dan menyebar dari manusia ke manusia.

Tembusnya pertahanan Amerika Serikat seharusnya membawa pencerahan baru kepada dunia. Bahwa ancaman terbesar manusia bukan hanya terorisme dan konflik bersenjata. Ancaman terbesar manusia adalah virus-virus dan wabah yang bergerak lintas negara, berpindah dari hewan ke manusia, serta sanggup menembus pengamanan paling ketat.

Setelah pandemi berlalu, ada kesadaran baru yang memeluk semua umat manusia. Investasi terbesar bukanlah pada senjata dan peralatan tempur untuk menyerang bangsa lain, tetapi pada dunia kedokteran. Manusia mesti memperbanyak riset-riset kedokteran, memperbaiki semua fasilitas kesehatan, dan membenahi jejaring pelayanan kesehatan sampai ke level paling bawah.

Bukan hanya itu, saatnya investasi besar-besaran pada upaya untuk mengembalikan semua fungsi ekologis. Saatnya mengembalikan hutan lebat sebagai habitat hewan liar, yang selama ini menjadi benteng manusia dalam menghadapi virus.


Sebagaimana dicatat Jared Diamond dalam Guns, Germs, and Steel, pandemi atau wabah bermula dari tindakan manusia yang mendomestikasi hewan liar. Hewan liar yang kini dikonsumsi itu ternyata menjadi rumah dari banyak virus, yang bisa mengancam manusia. Saat populasi mereka dihabisi dan diburu untuk dimakan, maka virus-virus itu mencari rumah baru yakni manusia.

BACA: Saat Virus Menyerang Homo Deus

Pada akhirnya kita menyadari kalau secara biologis, manusia adalah hewan yang hanya menumpang di bumi. Kita harus hilangkan keangkuhan sebagai pemilik alam yang memonopoli semua jengkal lahan di alam, tanpa memberi ruang bagi hewan dan tumbuhan. Jika kesadaran ekologis ini tidak terbangun, maka wabah ini akan hadir kembali. Cepat atau lambat.

Setelah Presiden Trump diserang virus, dunia menjadi kian was-was. Boleh jadi, jumlah orang yang apatis akan makin berkurang. Jika presiden di negara adidaya saja bisa terserang, maka siapa pun berpotensi diserang. 

Seorang netizen bertanya di media sosial, kapan virus berakhir? Dia tidak pernah membaca pernyataan Dr Anthony Fauci, ilmuwan garda depan Amerika dalam melawan Covid: “You don't make the timeline, the virus makes the timeline."