Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Siasat JOKOWI Menggenggam JAWA


Presiden Joko Widodo

BARU saja usai pengumuman quick count, Khofifah Indar Parawansa sudah membuat pernyataan yang membuat gerah Partai Demokrat sebagai partai pendukung di pilkada Jawa Timur. Demikian pula dengan Ridwan Kamil yang begitu dinyatakan menang telah membuat geram Partai Gerindra. Padahal, kedua figur pemenang pilkada ini hanya menyampaikan pernyataan politik.

Baik Khofifah maupun Ridwan sama-sama menyatakan siap mendukung Jokowi pada pilpres tahun mendatang. Pernyataan keduanya diliput semua media-media besar, lalu menimbulkan reaksi partai-partai, khususnya di luar pemerintah. Namun, pernyataan keduanya telah membuka satu tabir yang selama ini tidak tampak dalam perhelatan politik di banyak daerah itu.

Bahwa pemenang sesungguhnya dari semua pilkada besar, khususnya di Jawa adalah Presiden Joko Widodo sendiri. Kok bisa?

***

SORAK-sorai masih gemuruh di jalan-jalan. Semua orang masih sibuk memberikan ucapan selamat. Beberapa lembaga besar telah mengumumkan hasil hitung cepat (quick count) pemilihan kepala daerah (pikada) Jawa Timur. Pemenangnya adalah Khofifah Indar Parawansa.

Perempuan yang dikenal sebagai aktivis Muslimat NU itu diwawancarai oleh Rosiana Silalahi dari Kompas TV. Khofifah ditanya mengenai pendapatnya atas kemenangan itu, serta beberapa agenda ke depan. Dalam wawancara itu, Khofifah memuji kerja-kerja Presiden Jokowi. Sebagai mantan Menteri Sosial, dia melihat bagaimana Jokowi bekerja. "Kerja kerasnya beliau tentu berharap bisa menuntaskan PR-PR," ucapnya. 

Rosi kemudian bertanya, apakah bersedia kembali menjadi Jubir Jokowi seperti Pilpres 2014. Khofifah menjawab, "Kalau ditunjuk. He..He." Rosi terus mengejar. "Jadi, Anda hanya akan mendukung Pak Jokowi dan bukan capres lain?" tanya Rosi. "Iya, insya Allah begitu," jawab Khofifah. (Selengkapnya bisa dibaca di Kompas.com DI SINI)

Pernyataan Khofifah ditanggapi Ketua DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean. Dia menilai sikap Khofifah akan terus berkembang seiring dinamika. Ia yakin Khofifah akan mendukung pasangan calon yang diusung Demokrat sebab partai itu adalah salah satu pengusung. Namun Demokrat tak sendirian. Partai lain yang juga mengusung Khofifah yakni Golkar, Nasdem, PPP, dan Hanura, semuanya sudah menyatakan sikap mendukung Jokowi.

Kata Ferdinand, kalaupun Khofifah langsung menyatakan dukung Jokowi, maka pernyataan itu sebagai kesantunan sebagai orang yang bekerja di bawah Jokowi. “Tidak mungkin Khofifah langsung menyatakan tidak dukung Jokowi di pilpres,” katanya.

Sejauh ini, Partai Demokrat belum menyatakan hendak mendukung siapa. Isu yang berkembang, partai yang dipimpin mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu akan mengusung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Hanya saja, semuanya masih bisa berkembang.

Tak hanya Khofifah. Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat terpilih versi quick count juga menyatakan sikap. Dalam wawancara dengan Aiman Witjaksono dari Kompas TV, ia juga ditanya tentang seputar dukungan kepada Jokowi. Ia menjawab:

"Ya saya kira logika sederhana ya, partai-partai pendukung sudah menyatakan deklarasi untuk pilpres. Partai-partai pendukung saya semua sudah, Nasdem, Hanura, PPP, dan seterusnya. Tentulah arah dukungan dari kami, calon berdua ini tidak akan jauh berbeda fatsun kepada etika politik, kan begitu ya, etika politik seperti itu," ujar Ridwan Kamil. (pernyataannya bisa dibaca DI SINI)

Pernyataan itu memicu reaksi Partai Gerindra. "Tadi Kang Emil menyatakan secara resmi mendukung Pak Jokowi pada Pilpres 2019. Padahal, sebelum pemilihan, setiap ditanya media, beliau menyatakan tidak benar mendukung Pak Jokowi dan belum memutuskan mendukung siapa," ujar anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade kepada wartawan, Rabu, 27 Juni 2018.

Andre mengatakan, andai sikap politik itu disampaikan lebih awal, dia yakin Emil tak akan mendapat suara seperti hasil quick count. Andre menduga sikap politik Emil yang terkesan abu-abu tentang Jokowi sebelum pencoblosan adalah salah satu strategi meraup suara masyarakat yang diklaim Andre ingin mengganti presiden.

"Menurut kami, seandainya Kang Emil menyatakan dari awal sebelum pencoblosan bahwa beliau mendukung Pak Jokowi, kami meyakini bahwa suara Kang Emil akan lebih kecil dari sekarang," ucapnya. 

"Perbedaan sikap dari sebelum dan sesudah pencoblosan ini menunjukkan Kang Emil memang masih mengincar suara pemilih Jabar yang ingin #2019GantiPresiden. Kami menyayangkan ketidakjujuran Kang Emil dari awal ke masyarakat Jabar," katanya.

*** 

BAGI elite politik di Jakarta, pilkada ibarat palagan pertempuran. Dikarenakan pilkada dilaksanakan pada tahun politik, apa pun hasilnya akan mempengaruhi konstelasi politik pada tingkat nasional. Apalagi, pilkada ini akan dilaksanakan di daerah-daerah yang basis massanya banyak, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Bukankah Djawa adalah koentji?

Seorang kawan yang dekat dengan lingkar istana menuturkan, kali ini, Jokowi lebih taktis dan hati-hati. Ia seakan menerapkan pepatah Inggris: “Don’t put your eggs in one basket” yang secara harfiah bermakna jangan menyimpan telur dalam satu keranjang. Artinya, jangan mengonsentrasikan semua upaya hanya di satu pihak. Lakukanlah semua upaya di beberapa pihak sehingga siapa pun yang menang pasti akan membawa kemenangan bagimu.

Pilkada Jakarta dan Banten adalah pelajaran berharga. Di dua pilkada ini, partai pendukung pemerintah hanya berada di satu kubu. Ketika kubu lawan menguat, serta ditopang strategi yang bagus, maka kemenangan berada di tangan mereka. Jakarta lepas dari genggaman. Belajar dari pengalaman itu, pada pilkada ini partai-partai pendukung pemerintah sengaja menyebar, sehingga bisa ditemukan di mana-mana.

Jokowi fokus mengamati pilkada hanya di daerah yang padat penduduknya. Pilkada provinsi, yang masuk radar istana adalah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan. Jumlah penduduk di lima daerah ini melewati angka 50 persen wajib pilih di pilpres mendatang. Kemenangan adalah harga mati yang tak bisa ditawar.

Strateginya cukup jitu sebab basisnya bukan hanya satu partai yakni PDIP, melainkan beberapa partai pendukung pemerintah. Kita bisa melihat mobilitas partai-partai ini yang berpencar dan tidak mendukung satu calon, sehingga skenario apa pun yang terjadi, pemenangnya adalah Jokowi juga.

Di Jawa Timur, koalisi pemerintah menyebar di pasangan Khofifah – Emil Dardak dan pasangan Gus Ipul – Puti. Tadinya, Gerindra ingin buat poros sendiri melalui La Nyalla. Belakangan memilih bergabung dengan Gus Ipul pada last minute sebelum pendaftaran ke KPU. Bisa dilihat, siapa pun pemenang pilkada Jatim, maka di dalamnya ada partai pemerintah.



Kita juga bisa melihat fenomena di Jawa Barat. Pada mulanya, terbentuk koalisi antara Dedy Mizwar dan Ahmad Syaikhu. Mereka adalah representasi dari Demokrat dan PKS. Di tengah jalan, koalisi ini bubar dikarenakan Gerindra tidak sudi bergabung. Gerindra merasa koalisi ini ibarat kereta yang sudah berlari kencang, dan mereka diminta mengikuti banyak kesepakatan. Gerindra lalu memutuskan untuk membentuk koalisi baru bersama PKS dan PAN. Alasan lain juga muncul yakni koalisi sebelumnya dikendalikan Cikeas sehingga mendukung koalisi itu sama dengan mendukung Agus Yudhoyono sebagai calon presiden.

Gerindra membentuk poros sendiri bersama PKS dan PAN yang sama mendukung Sudradjat – Ahmad Syaikhu. Pasangan  ini berhadapan dengan pasangan Ridwan Kamil – U’u Ruzhanul Ulum yang didukung Nasdem, PPP, Hanura, dan PKB, kemudian pasangan Dedy Mizwar – Dedi Mulyadi yang diusung Demokrat dan Golkar. Sementara itu, PDIP mendukung TB Hasanuddin dan Anton Charliyan.

Penting untuk melihat bagaimana koalisi pemerintah mengepung pasangan usungan Gerindra dan PKS ini. Siapa pun yang menang antara Ridwan Kamil ataupun Dedy Mizwar, bahkan TB Hasanuddin, maka posisi pemerintah ada di situ. Jokowi diuntungkan oleh posisi kedua kubu ini.

Kita juga bisa melihat bahwa pemerintah memainkan tiga kartu sekaligus. Satu di kubu Ridwan Kamil sebab diusung Nasdem dan PPP, satunya lagi di kubu Dedy Mizwar dan Dedi Mulyadi yang didukung Demokrat dan Golkar. Serta TB Hasanuddin – Anton yang didukung PDIP. Jika satu kubu ini menang, maka lagi-lagi ini adalah kemenangan Jokowi yang menyimpan kartu di tiga kubu.

Lihat pula pertarungan di Sumatera Utara (Sumut). Saat Edy Rahmayadi, yang didukung Gerindra perlahan mengumpulkan basis dukungan, beberapa partai pendukung pemerintah juga merapat. Partai itu adalah Nasdem dan Golkar demi menggenapi dukungan Gerindra, PKS, dan PAN. Maka saat Edy Rahmayadi menang, maka kemenangan itu tidak bisa diklaim sebagai milik Gerindra. Ada partai koalisi Jokowi di situ, meskipun kandidat yang diusung PDIP yakni Djarot kalah.

Kita juga bisa menggunakan cara berpikir yang sama dalam melihat pilkada di Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan. Jawa Tengah lebih sederhana pemetaannya sebab wilayah itu adalah kandang banteng sejak lama. Yang dilakukan adalah menjaga keseimbangan antara kubu nasionalis dan kubu Islam sehingga isu SARA tidak akan efektif. 

Seorang kawan pengurus DPP Golkar bercerita bahwa Jokowi diuntungkan oleh banyaknya koalisi pemerintah sehingga pemetaan kekuatan bisa dikonsolidasi. Di banyak daerah, Golkar sering diposisikan sebagai lawan dari PDIP. Keduanya memang partai besar, sehingga bisa mempengaruhi konfigurasi kekuatan. Keduanya diposisikan untuk “menjepit” koalisi anti pemerintah, khususnya Gerindra dan PKS sehingga tak leluasa bergerak.

Sementara partai pemerintah justru menang banyak. Jokowi bisa mengatur ritme sehingga partai pemerintah berbagi teritori yang menjadi kekuasaan mereka. Nasdem dan PPP menguasai Jabar melalui Ridwan Kamil. PDIP tetap di Jateng dan Bali. Golkar bersama PPP dan Hanura berjaya di Jatim. 

Makanya, bisa dipahami kegeraman Fahri Hamzah melihat daerah-daerah yang dahulu menjadi basisnya tiba-tiba porak-poranda karena dikepung koalisi pemerintah. Strategi oposisi terlampau mudah dibaca sebab masih terkena euforia kemenangan di pilkada Jakarta. 

Fahri kesal karena daerah-daerah yang dahulu dipimpin PKS, kini hilang semua. "Jadi hampir semua posisi yang selama ini dipegang PKS, Sumut hilang, Jabar  hilang, mudah-mudahan Sumbar ini nggak hilang. Maluku Utara hilang, hampir semuanya itu hilang," katanya. Sementara Jakarta, kata Fahri, tidak bisa diklaim sebagai PKS.

Dalam pilkada serentak ini, Gerindra dan PKS tidak mendapat satu pun kemenangan di provinsi besar di Jawa. Tapi mereka bisa menghibur diri sebab perolehan suara pasangan yang didukung Gerindra dan PKS di Jabar lebih banyak dari hasil survei. Pasangan itu bisa bekerja maksimal untuk mengamankan basis suara. Tapi, tetap saja harus dianggap sebagai kekalahan, mengingat Jabar adalah wilayah yang dahulu dipimpin PKS, serta menjadi basis kemenangan Prabowo.

Pantas saja jika Fahri Hamzah terus menyampaikan kekesalan di twitter-nya. Dia men-tweet: “Pilkada Jawa Barat itu paling tragis...sewaktu kader2 PKS deklarasikan Demiz-Syaikhu saya langsung bilang “menang telak..!”. Tapi manuver elite PKS mengalahkan akal sehat. Demiz yg telah dampingi aher 5 tahun malah ditinggal. Suara pecah dan kalah! Tragis!”

Fahri juga membuat kuis, apakah pilih hampir menang atau hampir kalah. Sebanyak 70 persen follower-nya memilih hampir kalah. 

*** 

JIKA pilkada ini adalah barometer politik sebelum pileg dan pilpres, maka kita sudah bisa membuat beberapa kalkulasi dan prediksi.

Pertama, dengan hilangnya basis di daerah berpenduduk padat di Jawa, maka Gerindra dan PKS dalam posisi yang serba terjepit. Kubu oposisi akan sulit terkonsolidasi sebab tidak didukung hulubalang lapangan yang tangguh yakni para kepala daerah yang punya banyak pendukung. Tanpa kepala daerah yang lebih menguasai teritori, maka arena politik akan menjadi lebih terjal dan berat.

Kedua, partai-partai seperti PAN dan PKS akan kembali menghitung ulang kekuatan. Seperti kata Fahri Hamzah, hilangnya basis-basis wilayah yang dahulu milik PKS akan menjadi bahan evaluasi bagi partai-partai itu. Kehilangan basis wilayah bisa bermakna ruang gerak yang tidak leluasa sehingga bisa berdampak pada turunnya aspek elektoral. Hilangnya basis juga bisa bermakna hilangnya sumber daya politik dan modal kuasa untuk melebarkan sayap dalam memenangkan pileg dan pilpres.
Ketiga, pengalaman di pilkada ini menunjukkan bahwa Prabowo belum bisa menjadi kapal besar yang akan membawa semua partai kecil ke arah pulau impian. Prabowo belum bisa menjadi vote getter yang memberikan kemenangan dan keuntungan bagi partai lain ketika dirinya pun gagal mendistribusi kekuatan di berbagai daerah demi koalisinya. Oposisi bisa tercerai-berai, dan bisa saja merapat ke pemerintah secara diam-diam.

Keempat, langkah-langkah Jokowi yang mendistribusi semua kekuatan menjadi langkah strategis yang mengkonsolidasi semua basis kemenangan. Ketika teritori dan lapangan dibagi dengan adil semua partai, maka itu sama dengan mengikat partai agar tidak ke mana-mana. Jokowi bisa leluasa menentukan hendak berpasangan dengan siapa sebab partai merasa telah mendapatkan manfaat dengan kedekatan bersama dirinya. Basis elektoral partai akan naik, dan bisa berdampak pada jumlah kursi parlemen.

Kelima, jika kubu Prabowo akan melemah, maka kubu lain yang perlu diwaspadai Jokowi adalah kubu Cikeas, dalam hal ini Partai Demokrat. Ketika Gerindra tidak bisa menarik dan merawat kekuatan partai-partai lainnya sehingga sama-sama besar, maka Partai Demokrat bisa mengambil peran-peran strategis itu. Sejauh ini, Demokrat cukup fleksibel dalam mengambil sikap. Kadang bersama oposisi, tapi lebih banyak berakrab-akrab dengan pemerintah. Di sinilah kelihaian SBY dalam memainkan irama serta sesekali mengetuk pemerintah agar mengikuti alur yang disiapkannya. Demokrat lebih siap menjadi pengendali kekuatan oposisi yang lebih taktis langkah-langkahnya dan sukar ditebak.

***

SEPERTI kata Harold Lasswell, politik adalah siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana (who gets what, when, and how). Pemenang di arena politik adalah sosok yang bisa memahami siapa dirinya, mengenali kekuatan lalu mengeluarkan strategi paling jitu untuk memenangkan pertarungan. Politik, sebagaimana pernah dicatat Machiavelli, adalah kegiatan yang bermuara pada bagaimana memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Dalam rumusannya, “siapa yang mempunyai senjata akan mengalahkan siapa yang tidak mempunyai senjata”.

Di era Jokowi, senjata yang dimaksud tak selalu berupa senjata dalam pengertian alat-alat kuasa. Tapi bisa pula modal, dukungan partai politik, pengusaha, pengaruh, media massa, hingga strategi mengemas seorang kandidat dan menjaga ritme kemenangan. Di era Jokowi, pemenang di arena politik adalah sosok yang bisa mengombinasikan soft power dan bisa menentukan kapan harus bermain, kapan harus menunggu, dan kapan harus melangkahkan bidak.

Selamat bergembira buat Jokowi.


Yang Serba Gres di Pilkada 2018




BESOK, ajang pilkada akan digelar. Tak jauh dari rumah, saya telah melihat tempat pemungutan suara (TPS) dibangun. Pemerintah juga telah meliburkan hari. Semua orang mulai bergegas dan menyiapkan apa yang dibutuhkan terkait dengan pilkada. Suasananya serupa pesta meriah.

Pilkada tahun ini nyaris serupa dengan pilkada tahun lalu. Kemeriahannya terasa di jalan-jalan dan media sosial. Tahun ini, ada 171 daerah, terdiri atas 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten yang akan menggelar pilkada. Lebih setahun ini saya selalu bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah yang sibuk membahas pilkada.

Saya melihat ada beberapa hal baru dan gres di pilkada tahun ini.

Pertama, perang udara lebih massif dibanding sebelumnya. Semua tim sukses dan tim kampanye sama-sama paham bahwa media sosial ibarat warung kopi yang mempertemukan semua pihak di situ. Semua orang berkumpul dan terus-menerus membahas berbagai isu-isu politik. Media sosial menjadi ruang bagi kita untuk menemukan apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan.

Mengacu pada pandangan psikolog Erving Goffman, medsos ibarat panggung depan di mana semua kandidat berusaha menampilkan dirinya sebaik mungkin. Semua hal baik tentang satu kandidat dihamparkan di sini. Mulai dari visi, foto paling keren, hingga sikap yang religius. Beberapa kali saya mual melihat poster seorang kandidat yang mendadak religius dan berpose selalu memegang tasbih. Padahal, saya tahu bahwa keseharian calon kepala daerah itu tidaklah demikian. Maklumlah, itu demi suara.

Media sosial juga menjadi arena untuk menemukan berbagai black campaign kepada satu kandidat. Di situ semua tim sukses bertemu, berdebat, bertengkar dan bahkan saling fitnah. Sebagai warga, saya melihatnya sebagai lelucon. Saya sering tersenyum menyaksikan debat dan aksi saling “buka kartu” di media sosial. Lucu saja melihat seseorang yang kita kenali bergelar doktor, tiba-tiba berdebat sampai saling maki dengan akun palsu dari seorang tim sukses.

Hampir semua tim sukses memiliki pasukan cyber yang kerjanya adalah mem-bully dan menemukan kelemahan semua lawannya. Yang terjadi adalah saling hantam dan saling serang. Sayangnya, pasukan cyber itu hanya memiliki satu misi yakni bagaimana membuka aib lawan sebanyak mungkin. Padahal, idealnya ada tiga hal yang paling penting dari armada cyber yang harus selalu terkonsolidasi. (1) tim intelektual yang seharusnya menjadi pemikir dan menentukan tema-tema kampanye. (2) tim defensif, yang tugasnya menjawab semua isu negatif. (3) tim ofensif, yang tugasnya langsung menyerang semua argumentasi dari lawan. 

Kedua, pilkada ini sangat kental dengan simbol-simbol religiositas. Pada hakikatnya menjadi pemimpin adalah menjadi pelayan rakyat, menjadi administrator, ataupun menjadi manager yang akan mengelola kepentingan publik. Namun di pilkada ini, para calon kepala daerah mencitrakan dirinya sebagai ustad. Mereka tak menonjolkan skill kepemimpinan atau kemampuan menemukan soludi bagi persoalan publik. Sebab yang ditampilkan adalah tingkat kealiman dan kesalehan. 

Skema permainan pilkada di banyak daerah ini mendapat pengaruh dari skema pilkada DKI setahun lalu yang sarat dengan permainan isu identitas. Makanya, para calon kepala daerah ramai-ramai ingin tampak agamis. Ditambah lagi, pilkada dilakukan setelah bulan Ramadhan dan Lebaran. Sempurnalah proses mendadak religius ini diperankan semua calon kepala daerah. Meskipun saat turun lapangan, tetap saja yang dijanjikan adalah bagaimana menghabiskan dan membagi-bagi uang APBD.

Ketiga, strategi utama dari semua tim di pilkada ini adalah harus memiliki surveyor atau lembaga survei. Di pilkada-pilkada lalu, lembaga survei sering malu-malu untuk menyatakan satu kandidat menang. Kini, tidak lagi. Lembaga survei benar-benar menjadi "bandwagon" yang menggiring orang-orang agar percaya bahwa satu kandidat akan menang. Makanya, di pilkada ini, lima lembaga survei bisa melahirkan lima calon pemenang. Artinya, mereka adalah bagian dari tim sukses yang mengumumkan survei dengan tujuan untuk meyakinkan orang-orang bahwa satu kandidat akan menang, sehingga harus segera didukung.

Apalagi, di banyak daerah, massa mengambang kebanyakan aparatur sipil negara (ASN). Kelompok ini akan menjatuhkan pilihan pada detik-detik akhir. Sebab mereka ingin memastikan yang dia dukung akan memenangkan pilkada. Jika salah mendukung, maka bisa-bisa dia akan dimutasi ke daerah terpencil, atau minimal kehilangan jabatan di birokrasi. Makanya, survei menjadi penting sebab mengirimkan sinyal kepada kelompok yang masih ragu-ragu ini agar segera menjatuhkan pilihan.

Keempat, skema baru yang muncul dalam pilkada ini menjegal lawan politik di pengadilan sehingga batal memasuki arena. Saya lihat skema ini sukses dimainkan di satu pilkada di Sulawesi. Ceritanya, tim sukses akan menemukan celah dari satu kandidat lalu mengajukan gugatan ke pengadilan, yang bertujuan agar kandidat lain tidak bisa memasuki arena. Ujung dari upaya hukum ini adalah calonnya akan melenggang mulus ke TPS dan hanya berhadapan dengan kolom kosong. 

Skema ini dianggap efektif dan akan menjadi strategi di masa-masa depan. Seorang kandidat kepala daerah berkata, daripada habis biaya untuk operasional tim di lapangan, mending menghabiskan biaya untuk mendapatkan rekomendasi partai, yang amat mahal itu, kemudian memperkuat amunisi tim hukum yang akan menjegal tim lawan. Makanya, di pilkada ini, posisi tim hukum akan diperkuat pada masa mendatang, sehingga menjadi tim inti yang bisa menentukan jalannya pilkada.

Kelima, tim medsos (sering disebut tim udara) dan tim hukum hanya satu keping yang mempengaruhi kemenangan satu kandidat. Di mata saya, hasil akhir dari pilkada ini akan ditentukan oleh seberapa kuat mobilitas dan arsenal pergerakan tim-tim darat. Sebab tim darat yang akan mengetuk pintu, bertemu dengan masyarakat, serta melobi sejumlah pihak yang diyakini bisa mempengaruhi suara.

Pergerakan tim darat ini tidak tampak di media sosial, namun bisa diamati di lapangan. Mereka bergerak diam-diam demi menyergap dengan semua kekuatan penuh, melobi dan memberikan garansi, serta menghubungi semua kekuatan penting. Pergerakan tim ini tidak boleh menghadirkan banyak riak-riak, agar strateginya tidak mudah terbaca. Tim ini harus efektif sebab langsung berhadapan dengan masyarakat.

Di banyak daerah, pergerakan tim darat inilah yang akan menjadi tolok ukur untuk melihat kemenangan seseorang. Bukan pada berapa banyak logistik, namun lebih pada bagaimana bisa mengikat para elite dan tokoh sehingga bersedia untuk berkonsolidasi demi memenangkan seseorang. Kuncinya terletak pada kenali kebutuhan dan keinginan, penuhi semua kebutuhan itu, perlakukan semua orang pada posisi terhormat, setelah itu iyakan apa pun yang diharapkan.

Dalam praktik lapangan, sering kali kesediaan seorang elite atau tokoh untuk mendukung orang lain bukan karena uang atau posisi. Sering kali yang dibutuhkan hanya apresiasi dan keinginan untuk dipandang. Seorang kandidat mesti mengenali semua elite kemudian menemui mereka, berjabat tangan, kemudian meminta restu agar didukung untuk maju ke arena politik. Realitasnya, keramahan seperti ini adalah strategi penting untuk mendapatkan dukungan, yang kemudian diikuti gerbong pemilih.

Jika saya diajak untuk menebak pemenang pilkada, maka saya hanya bisa memberikan beberapa kriteria figur yang menang. Pertama, jangan amati pergerakan di medsos. Itu hanya permukaan. Kedua, amati bagaimana pergerakan tim darat. Amati sejauh mana konsolidasi elite-elite dan tokoh politik, termasuk para mantan politisi yang kini menjadi tokoh masyarakat. Siapa yang paling bisa membangun konsolidasi elite, baik pusat maupun daerah, itulah pemenangnya.

Tak percaya? Kita lihat besok.


Seusai MESSI Dihempas Kroasia


Messi berpose dengan GOAT, singkatan dari Greatest of All Time

ADA yang aneh dengan selebrasi Ronaldo seusai mencetak gol di Piala Dunia. Dia tiba-tiba saja mengusap dagunya, seolah sedang menyentuh janggut. Saat membaca The Sun, saya jadi tahu maknanya. Ronaldo sedang mengirim pesan sindiran kepada Lionel Messi, rivalnya di jajaran pemain yang akan jadi legenda.

Dalam iklan Adidas, Messi berpose dengan kambing (goat). Pesan yang mau disampaikan Adidas adalah Messi layak menyandang gelar sebagai GOAT, yang merupakan kepanjangan dari Greatest of All Time. Rupanya, Ronaldo ingin berkata, saya lebih layak menjadi GOAT atau the greatest. Bukan dia.

Ronaldo memang tengah di puncak permainan. Kata Gabriel Batistuta, senior Messi di Argentina, Ronaldo tidak butuh 10 pemain hebat seperti rekannya di Madrid. Dengan siapa pun dia bermain, maka tim itu akan menjadi tim super. Pemain senior Argentina lainnya, Hernan Crespo mengiyakan pendapat itu.

Di Argentina, hanya satu orang yang sehebat itu. Dia adalah Diego Maradona. Ketika bermain di Barcelona, Maradona jadi bintang. Ketika terhempas dan berada di klub papan bawah Italia yakni Napoli, dia bisa mengubah klub medioker itu menjadi klub juara, sesuatu yang kemudian tidak pernah digapai lagi sepeninggalnya. 

Bahkan Maradona bisa melunturkan nasionalisme satu negara. Saat perempat final Piala Dunia 1990, Italia berhadapan dengan Argentina di Napoli. Para pendukung Italia di Napoli justru tidak mendukung negaranya sendiri. Mereka mendukung Argentina sebab di situ ada Maradona, yang berhasil mengangkat derajat klub serendah Napoli ke langit sepakbola Italia.

Tapi Messi bukanlah Maradona. Messi masih butuh dukungan anggota tim lainnya. Di Barcelona, dia dimanjakan oleh banyak pemain. Dia adalah seorang adik kesayangan Ronaldinho yang selalu memotivasi dan mengusap kepalanya saat dirinya membuat keajaiban. Dia punya rekan-rekan yang rajin memberi suplai bola, yakni Iniesta, Busquets, Xavi, Neymar, Rakitic, ataupun Suarez. Tanpa mereka, Messi bukan apa-apa. Dia memang seorang anak manja yang terlahir dengan bakat istimewa dan sentuhan magis yang bisa mengubah permainan.
Namun, waktu tak pernah mau diam di tempat. Waktu terus bergerak. Messi yang belia itu kini memasuki usia dewasa. Dia tak bisa lagi menunggu sanjungan Ronaldinho agar motivasinya menyala. Ada masa di mana dirinya harus tampil ke depan, memimpin satu kesebelasan, lalu bermain kolektif untuk menggapai mimpi bersama.

Di titik ini, Messi terlambat matang. Fisiknya memang menua. Janggutnya memenuhi dagu dan pipi. Tapi dia tetap Messi yang manja. Lihatlah, dalam pertandingan melawan Kroasia, Messi amat sering tertangkap kamera sedang menundukkan wajah. Dia seperti zombie yang kehabisan darah, namun dipaksa untuk terus berlari. Pertandingan itu menjadi milik Kroasia yang menang dengan skor 3-0.

selebrasi Ronaldo yang menyentuh jenggot, sindiran kepada Messi

Memang, ada banyak alasan bisa dikemukakan. Mulai dari pelatih yang taktiknya hanya satu yakni bagaimana bola bisa tiba di kaki Messi demi bekerjanya keajaiban, tak adanya gelandang serang sehebat Xavi dan Iniesta yang menopang kerja Messi, tak ada winger lincah yang bisa menaik pemain lain dan membuat Messi bisa berkreasi, juga kesulitan Argentina menemukan kiper hebat sejak era Sergio Goycochea. Harus diakui, para pemain tidak punya rasa lapar kemenangan. 

Sejak era Maradona, Argentina tak pernah kehabisan striker hebat, tapi tak melahirkan banyak stopper tangguh dan kiper-kiper hebat. Para pemain berlomba-lomba menjadi pencetak gol dan tak mau jadi penyeimbang tim. Semua ingin seperti Maradona dan Messi, tanpa ada gelandang kreatif yang bisa memanjakan pemain depan.

Tapi mereka yang menyaksikan pertandingan itu dan berkicau di media sosial menyatakan rasa kecewa untuk sesuatu yang lain. Ada rasa sedih karena pertandingan itu menghadirkan fakta miris bahwa Messi tidak punya leadership. Messi tidak punya karakter kuat yang bisa memberikan aura positif bagi rekan-rekannya. Dia bukan singa yang bisa mengubah semua domba bawahannya untuk bermental singa.

Jika Messi dewasa dan matang, dia tidak akan menundukkan kepala di sepanjang pertandingan. Dia mestinya menegakkan kepala, membangkitkan motivasi semua rekannya, serta berteriak, “Kita boleh kalah. Tapi kita akan kalah dengan sehormat-hormatnya.”

Sebagai leader, dia seharusnya bisa membangkitkan motivasi dan kekuatan timnya. Sebagai leader, dia harus bermental baja dan berada di tengah timnya dalam segala situasi. Dia tak boleh tampak putus asa dan menunduk. Sebab performa timnya akan selalu bergantung pada bagaimana dirinya

Di pertandingan itu, Kroasia menjadi kesebelasan yang tak kenal ampun. Kata Luka Modric, strategi timnya berhasil. Mereka memutus semua aliran bola ke Messi. “Kami mematikan Messi. Kami menghentikan semua aliran bola ke dia. Dia pemain paling berbahaya,” katanya di akhir pertandingan, sebagaimana dimuat laman resmi Fifa. 
Tiga gol tanpa balas ibarat tikaman belati yang menghempaskan Messi hingga titik paling memilukan. Messi makin tertunduk. Hampir mustahil dirinya memenangkan piala Ballon D’or. Dirinya pun tak akan menyandang gelar sebagai the greatest of all time (GOAT). Bukan soal gagal di Piala Dunia. Dirinya gagal menjadi nyawa dan kekuatan tim.

Sah-sah saja jika dia dicaci begitu rupa. Dalam keadaan tim terseok-seok, dia tak boleh menghindar dengan kepala tunduk. Dia harusnya meniru Cristiano Ronaldo yang selalu mendampingi rekan-rekannya, bahkan ketika dirinya tak bermain. Lihat saja babak final Piala Eropa tahun 2016 lalu, Ronaldo cedera dan tak bisa bermain. Tapi dia tetap berdiri di tepi lapangan sembari membangkitkan motivasi semua rekannya. Dia adalah inspirator sekaligus pemimpin bagi rekannya.

Ketika wasit meniup peluit tanda pertandingan melawan Kroasia berakhir, Messi ke tepi lapangan dengan kepala tertunduk. Dia tidak menyemangati atau membangkitkan semangat rekan-rekannya. Di pertandingan itu, Messi harusnya sematang Ronaldinho. Harusnya dia setangguh Charles Puyol, stopper Barcelona yang selalu bertepuk tangan untuk timnya, baik menang ataupun kalah. Sayang, Messi hanya menunduk dan memasuki ruang ganti. Dia hanya kanak-kanak dalam tubuh orang dewasa yang berharap dapat pelukan hangat dari kakak-kakaknya.

Sepertinya, Argentina tak akan melaju ke babak selanjutnya. Kepergian Messi dan Argentina telah menyisakan satu ruang kosong di Piala Dunia ini. Tak ada lagi harapan untuk menyaksikan sentuhan magis dari dewa bola yang telah ditahbiskan sebagai legenda hidup. Tak ada lagi lari cepat ala kijang sembari memainkan gerak tipu yang melalui tiga hingga empat pemain, lalu secara ajaib menceploskan bola ke dalam net gawang. Tak ada lagi lari menyamping dan tendangan geledek yang merobek gawang.

Ronaldinho dan Messi, senior dan junior di Barcelona

Pelajaran dari kegagalan ini adalah lakukan segala sesuatu dengan riang, tanpa ada beban. Messi yang sekarang bermain tidak selepas dahulu. Dia sudah menyandang nama besar dan beban dari negaranya dan seluruh pencinta bola. Harusnya dia tetap bermain dengan segembira-gembiranya, sebagaimana dahulu dilakukannya di jalan-jalan Rosario, Argentina. Harusnya dia tetap riang seperti anak kecil yang asyik berlari, tanpa harus mengejar trophy. Harusnya dia tak terbebani dengan gelar dewa yang disematkan di dadanya.

Sewaktu Messi masih junior di Barcelona, dia beberapa kali merasakan pahitnya kekalahan bersama tim itu. Di saat-saat seperti itu, kerap kali kapten Ronaldinho mendatangi semua rekan-rekannya dengan cengengesan sembari berkata, “Ayolah kawan. Ini cuma permainan. Harusnya kita gembira, apa pun hasilnya.”

Sayang, kali ini tak ada Ronaldinho.


Mohon Maaf Lahir Batin




Mohon maaf atas segala postingan yang dirasa tidak mengenakan hati. Mohon maaf jika ada aksara yang tiba2 menggelayut di alam sadarmu lalu menghadirkan resah. Mohon maaf kalau ada kalimat yang tersesat di resah dan gelisahmu.

Sebagai penulis, bintang sinetron, pembuat puisi, blogger, social media influecer, gantengis, handsamis, dan kucingis, saya penuh dengan keisengan, baik kepada manusia maupun kepada hewan yang saya latih. Percayalah, tak ada mens rea atau niat jahat di situ. Kata iklan sebuah BUMN, "kita mulai dari nol yaa."

Just info, tahun ini saya salat idul fitri di tempat paling keren di dunia yakni kebun raya Bogor. Lapangan untuk salat dipayungi pohon-pohon tua yang rindang dan kokoh. Saking kerennya, Presiden Jokowi ikut salat di sini. Sayang, saya tak bisa mendekat, sekadar meminta maaf karena sering menyebut namanya selama empat tahun ini. 

Mohon maaf lahir batin buat semua manusia, hewan, dan semua penghuni semesta. Minai Aidin wal faidzin. Love u all.


Sharing di Hadapan Peneliti LIPI




Sehari yang menakjubkan. Bisa konser di LIPI, lembaga riset paling keren di tanah air. Bisa ketemu peneliti keren yang suka berbagi ilmu. Bisa bertemu kawan2 yang selama ini hanya bersua di dunia maya.

Lebih keren lagi karena disuruh pindah ke sana. Tapi saya rasa ilmuku gak mumpuni untuk kerja di tempat bergengsi itu. Lagian, saya cukup nyaman dan bahagia dengan profesi sebagai pelatih kucing spesialis yang dipanggil ke mana2.

Niat awal ke LIPI adalah ngasih ceramah atau tausyiah. Ternyata malah saya yang banyak belajar dan berguru di sana. Sungguh beruntung bisa kenal orang2 hebat yang rendah hati dan suka berbagi ilmu.

Yang paling membahagiakan adalah di akhir acara dapat honor pula. Nah, sekarang saya malah bingung untuk menentukan hendak ngopi di mana. Bingung juga hendak mengajak siapa. Mau?

NB

Postingan medsos ini dibuat pada tanggal 7 Juni 2013, pukul 13.00








Kisah dari Dekat Kampung yang Warganya Ditelan Ular


Perahu yang menuju Pulau Ular, yang terletak di selatan Pulau Buton (foto: Bayu Saputra)


TAK jauh dari kampung halaman saya, tepatnya di Pulau Muna, berita tentang seorang wanita tua yang ditelan ular telah menyebar hingga ke mancanegara. Semua media di tanah air sibuk memberitakan. Para peneliti berkomentar tentang lahan perburuan ular yang telah berubah menjadi kebun-kebun. Warga masih dendam dan menyisir semua lubang di dekat kebun. 

Saya memperhatikan pemberitaan Washington Post dua hari lalu. Saya mendapati tiga berita yang menulis reportase itu, satu di antaranya berupa video. Dua berita itu adalah: A Woman Want to Check Her Corn – and was Swallowed by a Phyton, dan satunya lagi berjudul 7 Meter Long Phyton Swallows Indonesian Woman. Ternyata, media paling terkenal di Amerika Serikat itu juga mengutip media Perancis dan Associated Press. 

Saya tertarik dengan kalimat dalam berita yang ditulis Avi Selk. Jurnalis asing punya pandangan agak berbeda sebab melihat peristiwa ini dari kejauhan. Avi Selk mengatakan: 

“Biasanya ular memangsa mamalia berukuran kecil. Menyerang manusia adalah sesuatu yang amat langka ibarat menang lotre. Amat jarang terjadi, sebagaimana sering ditulis Washington Post. Biasanya, informasi yang ada cenderung hoax. Pernah ada foto ular yang menelan babi di Cina, Afrika, dan Asia Tenggara, namun diduga hoax. Tapi peristiwa di Indonesia itu mengejutkan dunia. Ini bukan pertama, sebelumnya peristiwa serupa telah terjadi.”

Bagi jurnalis Amerika ini, peristiwa di Indonesia adalah peristiwa yang mengejutkan. Mungkin saja dia beranggapan bahwa semua ular sudah lama jinak sebagaimana disaksikannya di kebun binatang. Di Indonesia, peristiwa manusia ditelan ular bukanlah yang pertama. Dalam waktu yang tidak terlalu jauh, seorang pekebun di Sulawesi Barat juga ditemukan dalam perut ular. 

Bagi kami yang tinggal di Buton dan Muna, ular menjadi hewan buas yang sering menjadi musuh manusia sehingga diperangi dan dibunuh. Sewaktu kecil, saya beberapa kali melihat ular yang ditangkap, kemudian dikuliti. Kulit ular itu direntang di atas kayu panjang, kemudian orang-orang mulai mengiris demi menyingkirkan daging. Saya pernah ikut mengiris daging ular. Seorang teman berbisik, “Baunya seperti daging ayam yaa?”

BACA: Sufi Besar, Tasawuf, dan Naskah di Pulau Buton

Ibu saya bercerita tentang seorang bocah yang masih keluarga dengan kami di Buton Utara yang hilang dan ditemukan di perut ular. Kata ibu saya, saat perut ular dibelah, bocah itu masih hidup, dan tak lama kemudian tewas karena tulang-tulangnya remuk. Informasi dari ibu saya harus dicek ulang. Biasanya, python akan membelit mangsanya hingga tewas kemudian menelannya.

Kisah lain juga sering saya dengar dari salah seorang paman yang menjadi pekebun di utara Pulau Buton. Letak kebunnya sekitar dua jam menyeberang laut dari kampung tempat ular menelan seorang ibu. Paman saya memiliki kebun di tengah hutan, yang ditanaminya berbagai komoditas. Paman saya cukup cerdik sebab dirinya juga memelihara tiga anjing yang lalu menjadi sahabatnya menjelajahi kebun dan hutan.

Sewaktu kecil, paman bercerita pada saya tentang anjing-anjing itu. Katanya, anjing adalah hewan yang bisa berbicara dengan daun-daun. Kalau paman jalan di tengah hutan, anjing akan menempuh rute yang melingkar. Anjing tak pernah tersesat. “Kalau anjing tersesat, maka dia akan bertanya pada daun apakah di sini ada manusia lewat ataukah tidak.”

Beberapa tahun berikutnya, saya menyadari kalau anjing punya indra penciuman yang tajam. Dia akan bisa membaui manusia di daun-daun. Masih kata paman, anjing selalu paling cepat tahu kalau ada ular atau binatang buas di sekitar. Saat anjing tak henti menyalak, maka biasanya ada sesuatu di situ. 

Selain berkebun, paman juga memelihara ayam di tengah hutan. Sering, anjing menyalak di tengah malam. Paman langsung tahu kalau ada ular yang datang untuk memangsa ayam. Paman akan segera menyalakan lampu srongking, lalu mengambil parang, kemudian mendatangi ular itu lalu menebasnya pada pandangan pertama. “Kalau terlambat, kita yang akan dibunuh,” katanya.

Bagi masyarakat, ular dianggap sebagai hewan jahat yang harus segera dilenyapkan. Anehnya, ketika beberapa tahun lalu saya membaca catatan tentang fabel di Buton dan Muna, saya justru tak pernah menemukan cerita tentang ular sebagai hewan jahat. Demikian pula dalam folklor atau cerita rakyat. Yang banyak muncul sebagai hewan jahat adalah monyet. Saya menduga, monyet dianggap jahat karena sering mencuri di kebun-kebun milik manusia. Sementara ular punya padang perburuan yang jauh di tengah hutan. Makanya, ular sangat jarang disebut dalam fabel.

Saya juga menemukan fakta lain. Ular dianggap identik dengan kesaktian dan keperkasaan. Di masyarakat Buton, ada kisah mistis tentang lelaki sakti bernama La Ode Wuna yang tubuhnya separuh manusia dan separuh ular. Digambarkan dalam beberapa lukisan, tubuh La Ode Wuna seperti Little Mermaid dalam kisah Disney yang atasnya manusia dan bawahnya ikan. Bedanya, sebelah atas tubuh La Ode Wuna adalah manusia dengan cambang dan jenggot serta rambut lebat, bawahnya adalah ular yang bergelung.

Saya tidak bermaksud membela ular itu. Saya hanya bisa berempati bahwa ketika dirinya memangsa manusia, tentu ada argumentasi yang harusnya bisa kita pahami. Pesan penting yang hendak disampaikannya adalah ada ruang hidup yang perlahan terpinggirkan sehingga dirinya kesulitan untuk bertahan. Tindakan memangsa manusia bukan karena dirinya jahat, melainkan cara untuk bertahan hidup. Jika dalam posisi ular itu, apa yang bisa kita lakukan ketika kita sedang lapar dan tak ada satu pun makanan di sekitar kita?

Jika kita berasumsi bahwa alam adalah sesuatu yang seimbang, maka anomali atau keanehan pada ekosistem disebabkan oleh sesuatu yang kini tidak seimbang lagi. Kita harus mengecek ulang bagaimana keseimbangan ekologis bekerja, di mana posisi ular selama sekian tahun dan di mana posisi manusia. Marilah kita melihat data tentang laju deforestasi atau penggundulan hutan yang kian massif, kian menipisnya ruang hidup makhluk di sekitar kita akibat pemukiman dan perkebunan yang kian merambah, hingga siapa saja yang diuntungkan dari kian tergerusnya pohon-pohon di sekitar kita.

Ada sesuatu yang keliru dalam cara kita memahami semesta. Kita manusia terlampau berkuasa sehingga semua lini kehidupan hendak dijajah. Kita tak menyisakan sedikit ruang bagi makhluk lain yang hidup di semesta ini. Kita perlahan membuka hutan, membuka perkampungan, menjadikannya kebun, menggali tanah-tanah demi tambang, lalu menyingkirkan mereka yang selama ini menjadikan hutan sebagai bumi tempat berpijak.

Ular memang berbahaya. Tapi manusia justru jauh lebih berbahaya sebab setiap saat membunuh makhluk lain, membakar hutan, lalu mengkaplingnya sebagai milik sendiri. Dahulu, manusia dan ular tak saling mengganggu. Semua punya ruang hidup. Makanya, kita perlu bertanya, bagaimana pertumbuhan populasi manusia sehingga menyingkirkan ruang-ruang hidup hewan, kemudian bagaimana cara hewan beradaptasi dengan ekologi yang terus berubah.

Seorang kawan ahli ular mengatakan, ular adalah hewan yang hanya menyerang ketika dirinya merasa terancam. Ketika dirinya baik-baik saja, maka dia tidak akan melakukan hal-hal aneh. Ular hanya bergerak berdasarkan insting hewani untuk bertahan hidup. Dalam situasi lapar dan tak ada mangsa di sekitarnya, dia akan segera berburu demi menemukan santapan baru.

Dalam edisi terbaru National Geographic, saya membaca artikel mengenai keseimbangan ekosistem alam. Pulau-pulau kita adalah panggung kehidupan yang menampilkan interaksi rumit antara unsur ekosistem: musim, air, tumbuhan, lebah, dan manusia. Satu unsur mengalami gangguan, maka unsur lain akan berpengaruh.

Dahulu, ular melata di tepi hutan dan pematang sawah. Ular memangsa tikus dan babi, dua hewan yang juga sering mengganggu manusia. Ketika tikus dan babi dibunuh dengan racun, maka ular kehilangan mangsa. Ketika hutan menjadi kebun dan dijarah, kemudian babi dibantai beramai-ramai, maka ular kehilangan mangsa. Padahal bagi ular, mencari mangsa adalah kodrat hewani yang membuatnya bertahan hidup. 

Dalam buku Sapiens: A Brief History of Humankind yang ditulis Noah Yuval Harari disebutkan, pada masa awal berkelana di muka bumi, manusia juga adalah makhluk yang berburu dan meramu. Dalam rantai makanan, manusia sering kali menjadi santapan dari hewan-hewan buas yang sama-sama berusaha untuk survive di alam semesta. 

BACA: Sapiens dalam Tafsiran Sejarawan Israel

Hingga akhirnya manusia menemukan api yang kemudian menjadi awal revolusi. Manusia punya cara untuk mengalahkan hewan sebesar apa pun, bisa mengolah hewan menjadi makanan yang empuk. Kemampuan kognitif manusia semakin meningkat, hingga akhirnya memutuskan membentuk perkampungan. Manusia tak lagi berburu, tapi mulai mengembangkan agrikultur. 

Manusia mulai merambah hutan demi membangun perkampungan, setelah itu membuka kebun di hutan-hutan. Hewan mulai didomestikasi. Hutan yang tadinya milik semua makhluk mulai dikapling untuk membangun perkampungan. Manusia buat sertifikat kepemilikan, tanpa peduli hewan yang tinggal di sana. Manusia menjadi satu-satunya pemilik alam semesta.

Modernitas kian membuat manusia jumawa dan merasa diri sebagai satu-satunya pemilik salam semesta. Kearifan yang dahulu dimiliki manusia di berbagai etnik perlahan disingkirkan demi memenuhi hasrat kapitalis dan keserakahan untuk memangsa semua sumber daya. Padahal, dahulu manusia hidup bertetangga dengan alam. Manusia tahu apa yang bisa diambil dan apa yang tidak. Hari ini, kita kehilangan kearifan yang dahulu dimiliki nenek moyang kita, sesuatu yang membuat mereka amat bersahabat dengan alam semesta.  Namun di suku-suku tepi hutan, kearifan itu masih terlihat jejaknya. 

***

Saya teringat satu kisah yang menyentuh hati saya dalam buku Homo Deus: A Brief History of Tomorrow adalah ketika seorang warga Suku Nayaka di selatan India terbunuh oleh seekor gajah. Pemerintah lalu menawarkan kepada penduduk suku lainnya untuk menangkap dan membunuh gajah yang menyebabkan tewasnya seorang warga.

Tapi penduduk malah menolak. Mereka justru mengatakan bisa memahami mengapa gajah itu menewaskan salah satu anggotanya. Antropolog Danny Naveh mencatat pengakuan penduduk suku. Penduduk suku punya versi cerita sendiri. 

Kata mereka, ada dua gajah yang tinggal di hutan itu. Dua gajah itu selalu memulai perjalanan bersama di setiap pagi, kemudian keduanya akan memutari jalan berbeda. Di sore hari, kedua gajah itu akan bertemu di satu titik, untuk kemudian menghabiskan malam bersama. Ritual itu sudah berjalan bertahun-tahun.

Suatu hari, beberapa pejabat pemerintah bersama stafnya, mungkin semacam Departemen Kehutanan, memasuki hutan itu dan menemui seekor gajah yang sedang berjalan. Merasa terancam, seorang staf lalu menembak gajah itu hingga mati. Mungkin juga dia mengincar gading gajah itu yang bernilai mahal. 

Orang-orang itu tidak paham paham bahwa ada gajah lain yang setia menunggu gajah itu. Di sore hari, gajah lainnya menunggu di titik pertemuan, namun gajah satunya tidak datang-datang. Gajah itu berkeliling lalu menemukan bangkai gajah satunya. Dia lalu mengeluarkan suara yang didengar seisi hutan. Dia sedang marah.  Hari-hari berjalan tidak biasa lagi. Gajah itu berjalan seorang diri dan menyeruduk sana-sini. Dia kehilangan harapan hidup. Dia menerjang apa pun di hadapannya, hingga akhirnya dia tanpa sadar telah membunuh seorang manusia.

Ketika pemerintah menawarkan bantuan pada warga suku untuk membunuh gajah itu, warga menolak dengan tegas. Seorang tetua adat malah berkata, “Bagaimana mungkin kami harus marah sama gajah itu, sementara dia dalam keadaan sedih dan getir karena pasangannya telah kalian renggut? Bagaimana perasaanmu ketika kekasih hatimu tiba-tiba saja dibunuh orang lain hanya karena dia dianggap hewan yang seolah tak punya hak hidup di hutan ini?”

Saya merasakan ada banyak tetes-tetes permenungan sesuai membaca kisah ini. Batin saya dibasahi oleh banyak hikmah. Kita manusia hidup di era di mana kita satu-satunya yang menafsirkan sesuatu. Kadang-kadang, kita tak memberikan ruang bagi orang lain, bahkan makhluk lain untuk mendiami bumi ini. Atas nama pengetahuan dan keserakahan kita tak hanya menyingkirkan semua hewan, tapi juga menyingkirkan manusia lainnya.

Kita manusia modern, mengira kitalah satu-satunya pemilik alam semesta. Padahal kita hanya sekrup kecil dari mesin besar bernama alam semesta. Kita kehilangan kepekaan untuk memahami apa saja kenyataan yang terjadi di sekitar kita sebab nurani kita telah lama tumpul oleh hasrat kuasa dan keinginan kita untuk menjadi yang terunggul.

Pada suku-suku seperti Nayaka, kita menemukan cermin untuk melihat diri kita sesungguhnya. Pada suku itu, ada kearifan yang melihat kehidupan tidak sekadar aku dan kamu, tapi juga dia yang berdiam di sana. Pada suku ini, kita menemukan keikhlasan untuk melihat diri sebagai bagian kecil semesta, di mana ada juga bagian-bagian lain di situ yang hidup bersama selama jutaan tahun. 

*** 

SEPEKAN terakhir, warga kampung halaman masih berduka atas tewasnya seorang ibu karena serangan ular phyton. Sepatutnya kita semua bersedih. Tewasnya seorang warga adalah tragedi bagi seluruh manusia. Saatnya menyalakan kewaspadaan agar peristiwa serupa tidak terjadi.

Di mata saya, solusinya adalah bukan memburu semua ular lalu membunuhnya. Solusi itu hanya bekerja dalam jangka pendek. Kalaupun kita melakukannya, dan membuat ular punah, maka alam semesta akan mengalami ketidak-seimbangan. Hilangnya populasi ular bisa berdampak pada tidak terkendalinya populasi tikus dan babi, yang kelak akan membawa bencana bagi umat manusia. Boleh jadi, semua hewan akan punah, dan tersisa kita manusia sebagai the last species on earth. Kemungkinan itu bisa terjadi mengingat kian hilangnya habitat hutan bagi hewan liar, serta semakin populasi manusia yang tidak terkendali lalu merambah semua hutan dan sudut paling liar di muka bumi ini.

Yang bisa kita lakukan adalah memahami posisi semua hewan, menyadari bahwa ruang-ruang hidup mereka telah kita renggut, serta menghargai keberadaan mereka di alam semesta. Hutan harus kembali dihijaukan. Perambahan hutan dikurangi, ekosistem dipelihara agar lestari, eksistensi hewan dihargai dengan cara tidak memasuki wilayah mereka. 

Namun, apakah kita manusia ikhlas untuk membiarkan alam tetap liar sebagaimana adanya, sementara kita tahu bahwa kayu-kayu hutan, komoditas, dan tambang di situ bisa membuat kita kaya raya dan hidup laksana surga?


Mudik Seru ala Mahasiswa dengan Kapal Pelni




SEBAGAI tradisi yang dilakukan setiap tahun, mudik adalah sesuatu yang membahagiakan semua orang. Hampir semua orang Indonesia punya pengalaman beda-beda dengan mudik. Nah, sebagai orang yang tinggal di pulau kecil, kemudian merantau ke kota besar demi meningkat harkat dan derajat melalui pendidikan, saya pun mengalami mudik sebagai peristiwa yang seru dan amat berkesan.

Saya tinggal dan besar di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Ketika masa perkuliahan dimulai, nasib mengarahkan saya untuk tinggal dan menetap di Makassar. Jauh sebelum tiba Lebaran, saya sudah menandai tanggal untuk mudik. Pada masa itu, kami tak punya alternatif untuk mudik. Pesawat belum singgah di kampung kami. 

Kapal Pelni adalah satu-satunya moda transportasi yang membawa kami menuju kampung halaman. Bagi yang tinggal di Kendari dan Kolaka, maka mereka akan mudik dengan menumpang mobil yang lalu menyeberang dengan kapal fery di Bajoe menuju Kolaka. Sementara kami warga pulau, hanya punya satu pilihan yakni kapal Pelni.

Di setiap momen mudik, kapal Pelni itu menjadi arena pertemuan dari mahasiswa asal Buton-Muna-Wakatobi yang tersebar di banyak kota. Sebab rute kapal itu adalah dari Jakarta, Surabaya, lalu Makassar, hingga Baubau. Di setiap pelabuhan, pasti akan ada mahasiswa asal kampung kami yang naik kapal. Saya masih terkenang saat-saat di kapal Pelni, saat bertemu teman-teman kecil yang kuliah di berbagai kota, saat menunggu keberangkatan dari kafetaria kapal Pelni di dek paling atas, sebelah belakang.

Demi mudik, saya menyiapkannya sejak jauh hari. Bermula dari memanjangkan rambut dan dibiarkan keriting, biar kelihatan urakan dan macho saat di kapal. Celana jeans belel yang saya pakai sengaja disobek di bagian lutut biar kesannya sedikit liar dan nakal. Tak lupa, ada rokok di saku jaket yang kelak akan dinyalakan saat sedang menunggu di dek tujuh kapal, dekat kafetaria. 

Demi kesan gagah, jauh-jauh hari saya menabung untuk membeli tas kerel ala pencinta alam, yang ada matras di atasnya. Fashion paling keren untuk mahasiswa di masa itu adalah fashion ala pencinta alam. Rasanya keren sekali kalau dianggap suka berpetualang dan naik gunung. Di akhir masa kuliah, fashion yang lagi happening adalah penampilan ala fotografer. Rasanya bangga kalau naik kapal sambil menenteng kamera. Padahal kemampuan motret masih amatiran. Masih sebatas motret acara ulang tahun.

Tak hanya itu, saya juga sengaja membeli baju kaos dengan lambang kampus biar dikira anak kuliahan. Saya juga beli buku-buku tebal, yang nyaris tak pernah dibaca. Saya bayangkan gadis-gadis akan terkesima dan kagum melihat penampilan ala pendaki gunung.

Pada masa itu, saya tinggal di pondokan, istilah anak Makassar untuk rumah kos berupa rumah panggung terbuat dari kayu. Teman-teman saya punya cara sendiri untuk mempersiapkan mudik, khususnya saat di kapal. 

Seorang kawan bernama La Udi akan latihan vokal selama seminggu demi bisa tampil sempurna saat karaoke dengan lagu-lagu dangdut di kafetaria kapal. Sebab di kafetaria kapal, sering kali ada karaoke. Banyak mahasiswa menunggu di sana, memesan segelas kopi, lalu menyaksikan para biduan saling pamer kemampuan bernyanyi. La Udi membayangkan dirinya akan jadi bintang, mendapat tepuk tangan meriah, setelah itu dapat hadiah berupa tiket nonton film yang agak porno di dek dua.

Selain bernyanyi, kemampuan joged juga diperlukan untuk membuat orang-orang kagum. Kalau soal joged, La Udi tak perlu diajari. Dia sudah pengalaman menghadiri pesta panen kande-kandea di banyak desa di kampung kami. Di setiap acara adat itu, selalu ada acara joged untuk anak-anak muda. Setiap kali joged, pasti dia akan mendapat pacar baru. Duh! Bikin cemburu saja.

Tak cuma karaoke, La Udi juga mengasah kemampuan bermain domino. Lama tempuh kapal Pelni selama 12 jam dari Makassar ke Baubau akan terasa singkat jika dilalui dengan bermain domino. Bagi kami, amat rugi membeli tiket kelas 1 hingga kelas 4. Sebab, waktu akan lebih banyak dihabiskan di kafetaria, tangga kapal, atau lorong-lorong kamar. Apa yang dilakukan di situ? Kalau bukan main domino, kami akan isi dengan berceloteh berbagai topik.

Saking seringnya naik kapal, saya mengenali semua tempat di kapal itu. Sepanjang kuliah, saya selalu menaiki kelas ekonomi. Saya terbiasa tidur di berbagai tempat. Pernah tidur di tangga, dekat dapur, lorong-lorong kamar kelas, hingga pernah pula menyewa kamar anak buah kapal (ABK). Malah, pernah saya tidur di sekoci. Tempat favorit saya adalah sedikit ruang di atas tangga dek kapal sebelah dalam. Sebab saat duduk di tangga, saya bisa menyaksikan orang yang lalu lalang, dan sedikit menepi karena kami menguasai tangga kapal.

Saat berada di kapal, saya merasakan banyak hal yang berubah. Beberapa teman yang dahulu minder, tiba-tiba jadi lebih percaya diri. Beberapa kawan mulai berambut gondrong, padahal dulu tampak rapi sebab jadi anak mami di masa SMA. Kadang kami bahas teman yang dahulu juara kelas, tiba-tiba kehilangan kharismanya saat kuliah.

Seorang teman tidak percaya kalau saya bisa lancar kuliah. Padahal, semasa di SMA, saya terbilang siswa paling sering bolos dan pernah terancam tidak naik kelas. Lebih terkejut lagi teman itu saat mendengar saya cukup dikenal di kampus. Dipikirnya saya akan keluar atau minimal drop out saat semester tiga. Maklumlah, dia memandang saya dengan cara pandang lama. Dia tidak tahu kalau pergaulan dan interaksi bisa membuat seseorang berubah.

Saat bertemu teman-teman sekampung, topik paling disukai adalah tentang kiprah teman-teman cewek yang dahulu pernah menjadi idola dan agak angkuh di sekolah. Kuliah di kota-kota, membuat kawan sekampung bertemu dengan pergaulan yang lebih luas, sehingga menganggap kalau ada banyak cewek yang melebihi idola sekolah kami, namun justru jauh dari kesan angkuh. 

Tak habis-habisnya, kami mengenang masa kecil di kampung halaman. Kami juga membahas perkembangan teman-teman kami yang lama tak bertemu. Mulai dari La Albert yang berhenti kuliah karena menekuni aktivitas paranormal dan perdukunan, La Dora yang dicari preman karena menghamili keluarga preman itu, hingga La Komar yang di masa SMA dikenal malas, tiba-tiba menjadi aktivis yang muncul di banyak demonstrasi.

Pada beberapa kawan, momen mudik menjadi ajang uji nyali dan petualangan. Modusnya ditempuh dengan tidak membeli tiket untuk menaiki kapal laut. Saya tahu persis kalau kawan itu punya uang, tapi dia sengaja tidak membeli tiket. Mungkin dia merasa keren saat menumpang kapal tanpa tiket, lalu menghindari kejaran satpam dan petugas tiket. 

Pernah pula dia tertangkap satpam. Bukannya malu, dia justru merasa bangga karena tertangkap. Dia pun membayar tiket. Setelah itu dia akan petantang-petenteng ke mana-mana lalu lempar senyum sana sini saat berita tentang dirinya tertangkap telah menyebar. Dia justru bangga karena tertangkap. Dasar!

Seorang kawan aktivis, punya kiat cerdik. Dia akan membuat negosiasi dengan pihak kapal Pelni. “Jumlah kami 10. Apakah kami bisa diberi 10 tiket dengan hanya membayar 6 tiket?” Kalau pihak Pelni setuju, maka dia akan merasa bangga setinggi langit. Misi untuk lobi telah sukses.

Mudik di kapal Pelni juga menjadi ajang untuk bertemu dengan teman cewek semasa di kampung. Kadang kaget juga mengetahui Si A tiba-tiba menjadi lebih cantik dan memesona saat kuliah. Mungkin dia sudah mengenal mode dan salon. Padahal, semasa di kampung, dia tidak masuk nominasi dan klasemen cewek yang akan diincar. 

Di satu perjalanan dengan kapal, Si A singgah ke kafetaria bersama teman-teman cewek lainnya. Tiba-tiba saja, geladak kafetaria itu ramai dengan para mahasiswa. Banyak mahasiswa yang duduk di pagar kapal, sengaja mengibaskan rambut gondrongnya, lalu menghembuskan asap rokok. Saya tahu ada beberapa teman yang tidak merokok. Tapi di kapal itu, mereka akan merokok. Tahu alasannya? Biar keren dan nampak macho. Siapa tahu Si A akan tertarik.

Ada juga mahasiswa yang datang menyapa Si A lalu mengeluarkan istilah-istilah sulit, seperti paradigma, aksioma, atau revolusi sains. Disebutlah nama para filsuf dan pemikir, mulai dari Plato, Aristoteles, hingga Nietzsche dan Michel Foucault. Dibahaslah topik mengenai pemerintah yang bobrok, tidak becus, lalu dikeluarkannya teori-teori ekonomi makro. Dia lalu menyebut kiprahnya di dunia aktivis dan intelektualitas. Tahu alasan mengeluarkan istilah rumit? Biar Si A kagum dan bersedia dipacari. Yah, namanya juga usaha.

Demi keinginan agar tampak macho itu, beberapa orang sengaja menenggak alkohol. Maklumlah, bagi kami orang kampung, menenggak alkohol adalah bagian dari ritus menjadi orang dewasa. Di masa saya kuliah, ada beberapa kawan sekampung yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK). Para ABK inilah yang lalu mengajak rekan-rekannya ke ruang-ruang tersembunyi di kapal, biasanya ruang rapat. Di situ, beberapa bir dan konau (tuak khas Buton) dikeluarkan. Mereka lalu party dan hepi-hepi.

Saking seringnya naik kapal, saya menghafal persis semua pengumuman di kapal itu. Misalnya, “ABK dek muka belakang.” Atau pengumuman tentang “Kapal serong kiri”. Ada tiga pengumuman yang paling saya sukai. Pertama, pengumuman makan malam. Saya tak sabar untuk antre demi makanan yang diletakkan di atas kaleng dengan petak-petak ala narapidana. Kedua, pengumuman kalau diskotek sudah dibuka dan pengunjung diminta datang dengan memakai sepatu. Anda bisa bayangkan, di atas kapal, ada diskotek. Kembali saya akan bertemu La Udi si raja joged di situ. Ketiga, pengumuman kalau sejam lagi kapal akan tiba di Pelabuhan Baubau.

Nah, pengumuman terakhir ini yang paling menyenangkan. Saya akan segera menuju anjungan atau geladak kapal. Saya menyaksikan kampung halaman yang terlihat di kejauhan. Yang pertama saya kenali adalah rumahnya La Ony yang tampak dari kejauhan, jembatan batu yang dipenuhi kapal layar, hingga akhirnya kerumunan penjemput yang menanti kedatangan kami, anak mahasiswa yang dahulu bengal, kini melanjutkan pendidikan demi masa depan.

Di antara penjemput itu, selalu ada para ayah dan ibu yang membanjiri pelabuhan dengan rasa rindu.  Orang tua selalu jadi pihak paling sibuk dan paling deg-degan demi menyambut anaknya. Bagi mereka, seorang anak yang merantau demi pendidikan ibarat merpati yang terbang tinggi dan kelak akan kembali ke sarang. Rumah terasa lengkap jika semua hadir. Kelak, saya pun akan bahagia saat menjemput anak yang belajar di kampung-kampung jauh demi masa depan yang lebih baik.


NB

Dalam versi berbeda, tulisan ini pernah tayang di blog ini. Saya telah memodifikasinya dengan beberapa tambahan informasi baru.


Pengakuan Seorang Bupati Terduga Korupsi




IBARAT panggung pertunjukan, Jawa Timur tengah menjadi sorotan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sejumlah bupati dan wali kota tertangkap tangan saat sedang melakukan transaksi dan gratifikasi terkait proyek. Mereka dituduh melakukan permufakatan jahat yang menyebabkan negara rugi hingga miliaran rupiah.

Tuduhan korupsi ibarat tinja yang dilemparkan ke wajah dan disaksikan orang banyak. Mereka yang dituduh sontak kehilangan sebagian hak-hak manusianya untuk dianggap benar. Sekali label itu disematkan, publik langsung menganggap seseorang bersalah. Publik tidak peduli adanya asas presumption of innocence atau praduga tak bersalah. Sekali Anda korupsi, maka Anda siap dinista.

Bagaimanakah halnya jika Anda menjadi kepala daerah yang diduga korupsi? Apakah dirinya memang korup ataukah hanya korban dari sistem yang begitu permisif pada korupsi?

***

Di satu kafe di ibukota, tanpa sengaja saya bertemu seorang bupati di kawasan timur yang sedang resah. Dia bersama beberapa orang seolah sedang mengulur waktu di kafe itu. Saya menyapanya, yang kemudian dibalas dengan dingin. Saya merasakan adanya atmosfer rasa sedih di situ.

Bupati itu tetap berusaha ramah. Rupanya mereka baru saja menyaksikan berita di layar televisi tentang tertangkapnya seorang kepala daerah di Jawa Timur. Sang bupati lebih banyak diam. Sejurus kemudian, bupati itu mulai bersuara. “Beginilah nasib kepala daerah. Setiap saat harus waspada pada jebakan betmen. Siapa pun bisa kena. Ini soal waktu.”

Istilah “jebakan betmen” mengacu pada komedi si stasiun televisi tentang perangkap yang disiapkan kepada seseorang sehingga kemudian terjerat. Bupati di hadapan saya ingin mengatakan bahwa setiap kepala daerah selalu berhadapan dengan “jebakan betmen.” Semuanya bisa terjerat ketika tidak hati-hati meniti di panggung kuasa, atau tidak pandai menjaga keseimbangan dan relasi dengan semua kelompok.

Bupati di hadapan saya menguraikan betapa banyaknya sistem tak benar yang dibiarkan itu. Dia mengurai perjalanannya untuk menjadi bupati. Demi mendapat rekomendasi partai, dia harus menyiapkan “setoran” pada petinggi partai. Jika satu kursi dihargai sampai 500 juta rupiah, dia harus siapkan miliaran rupiah untuk satu tiket.

Saya lantas teringat La Nyalla Mattalitti, seorang cagub yang gagal memasuki arena di Jawa Timur. Dia meradang dan membuka semua permainan itu di media massa. Dia mengungkap berapa besaran angka yang harus disiapkannya demi mendapatkan suara partai. Dalam banyak hal, saya tahu dia benar sebab saya sering mendengar kisah yang sama.. Padahal, dirinya belum berhasil memasuki arena.
Ketika masuk panggung pilkada, seseorang kembali harus menyiapkan amunisi besar untuk memenangkan perang itu. Biarpun segala mekanisme pengawasan disusun, itu hanya berlaku di atas kertas. Faktanya, semua calon bergerilya menyiasati aturan, hingga siap-siap mengeluarkan semua senjata demi melakukan serangan fajar. Mayoritas kepala daerah akan menyebut angka yang sangat besar demi memenangkan proses pemilihan itu.

Jika sang calon kaya raya, maka dia bisa dengan mudah menyiapkan amunisi. Jika tidak, maka dia mesti pitar otak demi menemukan dana segar. Jalan pintas yang sering dipilih adalah melobi sejumlah kontraktor agar bersedia untuk menalangi banyak pembiayaan. Para kontraktor itu diberi harapan untuk mendapatkan banyak paket kegiatan, jika sang kandidat terpilih. Namun, semuanya tidak gratis.

Pijar api permasalahan bermula di sini. Seorang kepala daerah yang terpilih dari satu sistem berbiaya tinggi, hal pertama yang dia lakukan agar segera membayar janji-janjinya saat hendak kampanye. Dia berhadapan dengan tuntutan dari delapan penjuru mata angin. Mulai dari tuntutan rakyat yang berharap agar janji perubahan bisa terealisasi. Dirinya juga berhadapan dengan para kontraktor yang mulai menagih pekerjaan.

Hubungan antara kepala daerah dan kontraktor serupa hubungan petani dan tengkulak. Petani menanam sesuatu dan merawatnya. Sebelum tanaman itu berbuah, tengkulak datang lalu meng-ijon atau membayar tanaman itu sebelum dipanen dengan biaya murah. Ketika tanaman itu telah dipanen, petani kehilangan hak atasnya, sebab kontraktor sudah membayarnya jauh-jauh hari. 

Maka seorang kontraktor sering bertindak serupa debt collector yang akan menagih janji kepala daerah. Mekanisme pengadaan barang dan jasa serta tender proyek disiasati demi menenangkan seseorang. Setelah menang kontraktor juga harus tahu diri. Dia juga harus menyiapkan setoran kepada kepala daerah jika ingin dirinya bisa mendapatkan paket program yang lain.

“Saya harus pandai melobi Jakarta jika ingin ada pembangunan di daerah. Dana APBD sudah habis untuk gaji pegawai dan kaplingan kontraktor,” kata bupati itu dengan suara pelan.

Perimbangan keuangan pusat dan daerah merupakan konsekuensi dari desentralisasi penyerahan urusan pusat dan daerah. Prinsip money follow function yang bermakna pendanaan harus mengikuti pembagian urusan dan tanggung jawab dari masing-masing tingkat Pemerintahan.  Yang terjadi, tak semua daerah bisa mengelola dana alokasi umum (DAU) dengan bijak. Banyak daerah yang menghabiskan lebih 50 persen anggarannya untuk belanja pegawai. Malah ada yang sampai 75 persen.

Biasanya, daerah-daerah ini akan sesegera mungkin mencari lobi demi mendapatkan dana pemerintah pusat. Apalagi, sejak lama menjadi pertanyaan besar, apakah kebijakan perimbangan keuangan antara pemerintah dan pemerintah Daerah terkini, sudah dilakukan secara proporsional, adil, demokratis dan sesuai dengan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah?.

Riset FITRA menunjukkan betapa banyaknya dana yang dipegang pemerintah pusat serta membuka peluang untuk lahirnya praktik mafia anggaran. Salah satu kasus yang masih hangat adalah dana penyesuaian infrastruktur, yang sarat dengan kepentingan politik dan membuka ruang praktek mafia anggaran.

Banyak daerah yang kemudian berjibaku untuk mendapatkan dana perbaikan infrastruktur ini. Mereka mengoptimalkan berbagai kanal untuk mendapatkannya. Teman-teman di daerah sering bercerita tentang betapa banyaknya pintu yang harus dilewati agar bisa bertemu orang pusat. “Mulai dari pos satpam, saya sudah harus siapkan uang pelicin. Semakin ke atas semakin besar pelicin yang disiapkan,” kata seorang kawan dari daerah.

Tak hanya itu, saat melobi dan membawa proposal di kementerian, orang daerah diarahkan untuk melobi para key person yang dianggap bisa membuka kunci anggaran. Boleh jadi mereka adalah pejabat, atau barangkali sejumlah keluarga pejabat yang dengan lihainya bisa mengatur urusan APBN negara dan memasukkan proposal itu sebagai prioritas negara. Jika besar dana yang disiapkan, maka besar pula kemungkinan menang persaingan dengan demikian banyak daerah lain yang juga mengincar dana yang sama.

*** 

Bupati di hadapan saya masih terpekur saat bercerita bagaimana upayanya melakukan lobi. Di meja pemerintah pusat, antrian proposal daerah berderet rapi. Jika seseorang hendak mendapat proyek yang bermakna kemajuan bagi daerah, perbaikan infrastruktur dan lapangan kerja baru, maka sejumlah pelicin harus disiapkan.

Bupati itu tak berdaya berhadapan dengan sistem yang sudah berjalan kronis dan menahun. Bung Hatta benar saat mengatakan bahwa korupsi di tanah air ibarat kanker sudah masuk stadium tiga, stadium di mana sel kanker bisa saling memangsa agar tetap survive di tubuh yang sakit.

“Jebakan betmen ada di mana-mana. Mulai dari saat pilkada, saat mulai meyakinkan konstituen dan harus siapkan biaya. Setelah menjabat pun banyak lobi yang butuh cost politik. Sekali protes, maka jaringan akan tertutup. Sementara menerima sistem itu bisa membawa risik kapan saja terjerat,” katanya.

Orang pusat dan orang daerah sama-sama mendapatkan “dana bagi hasil.” Semua pihak-pihak yang mengurus proyek-proyek ini akan kebagian jatah pula. Logikanya, tak mungkin ada air mengalir melalui keran, tanpa membuat pipa itu basah. Praktik ini menjadi lingkaran yang terus direproduksi, menguntungkan banyak pihak. Yang dirugikan adalah negara yang tiba-tiba saja mengeluarkan biaya politik dari praktik percaloan ini.

BACA: Saling Sikut Demi Rekomendasi Partai

Dalam banyak hal, kita pantas memaki kepala daerah itu sebab sengaja melakukan praktik korupsi dan percaloan. Tapi kita juga tak bisa memungkiri fakta bahwa seseorang yang hendak membuat sejarah baru dan prestasi di daerahnya mesti pandai-pandai memaksimalkan lobi. Dia harus siap kehilangan 50 demi mendapatkan angka 5 juta. Sayangnya, angka 50 itu bisa menjadi jerat yang setiap saat mengikat lehernya lalu menyeret ke penjara.

Saya hanya bisa mendengarkan. Saya pikir tak bijak juga memaki seorang kepala daerah terduga korupsi setinggi langit. Bahkan terhadap seseorang yang sudah divonis sebagai koruptor pun tak etis untuk memakinya sebagai pencuri. Meskipun mereka melakukan itu secara sadar, penting kiranya memahami bagaimana situasi yang dihadapi, apa saja permainan yang harus diikuti, serta bagaimana seseorang akhirnya melakukan tindakan jahat itu.

Biarpun lebih sering tak setuju dengan Fahri Hamzah, ada kalimatnya yang cukup mengena hati. Selama ini penegakan korupsi hanya menonjolkan aspek penindakan. Sementara pencegahan tak banyak tersentuh. Kita mengabaikan satu sistem atau mekanisme yang bisa menjaga seseorang agar tidak korupsi. Kita seolah membiarkan sistem yang serupa perangkap itu bekerja, dan tak lama kemudian kita sibuk bertepuk tangan saat seorang kepala daerah ditangkap karena korupsi. 

“Mereka yang tertangkap adalah mereka yang sial. Berarti mereka tak pandai bermain. Tak pandai menjaga harmoni semua kekuatan, entah itu pusat maupun daerah, entah itu calo kecil maupun calo besar. Semua bisa setiap saat tertangkap. Ini soal waktu,” katanya menutup pembicaraan.

Di luar sana, lembayung senja perlahan memayungi Jakarta.



Nusantara, Atlantis, dan Petualangan Dua Remaja




REMAJA bernama Rani dan Bimo itu tanpa sengaja memasuki portal ke negeri yang peradabannya jauh lebih tinggi. Rumah-rumahnya setinggi menara dan disepuh emas. Teknologinya canggih. Namun Rani tak merasa asing di situ. Dia mendengar orang-orang berbicara dalam bahasa yang akrab di telinganya. 

Ternyata, mereka memasuki portal yang menghubungkannya dengan kediaman nenek moyang Nusantara. Para leluhur yang dahulu membangun candi-candi terbesar di dunia itu ternyata masih eksis. Mereka menyembunyikan peradabannya saat konflik mulai merekah di Nusantara. Mereka sengaja tidak menampakkan diri, dan hanya menampilkan beberapa artefak candi sebagai jejak arkeologis.

Kisah tentang Rani yang memasuki era kejayaan Majapahit itu saya temukan dalam novel berjudul Candi Nuswantara. Novel ini adalah kelanjutan dari novel Gerbang Nuswantara yang terbit dua tahun silam. Novel ini menyajikan petualangan seorang remaja, disertai beberapa pertanyaan penting tentang sejarah kita. 

Pada masa silam, leluhur telah memiliki jejak peradaban yang hebat. Itu bisa dilihat pada megahnya candi-candi yang kemudian jadi warisan dunia. Sejarah mencatat bahwa peradaban itu selanjutnya runtuh, tenggelam, dan jejak-jejaknya dikais oleh para arkeolog dan sejarawan. Informasi yang diterima sangat minim, hingga akhirnya tafsir dimonopoli oleh para sarjana asing yang datang dan menyusun masa silam kita dalam sejarah.

Dalam novel yang ditulis Victoria Tunggono ini, masa silam itu tak lantas hilang begitu saja. Yang terjadi, masa silam tetap terus berjalan, melanjutkan peradabannya, hanya saja sengaja menyembunyikan diri sehingga tidak tampak. Peradaban Majapahit dan Mataram kuno tidak lenyap begitu saja. Mereka masih eksis sebab sengaja menghilangkan diri agar terhindar dari kepunahan.

Dari sisi cara bercerita (storytelling), novel ini saya anggap biasa-biasa saja. Novelnya serupa chick lit  dan teen lit yang tengah digandrungi para remaja. Tapi saya sangat tertarik ketika penulis novel ini menyebut-nyebut komunitas Turonggo Seto yang banyak membantunya dalam mengembangkan ide untuk novel ini. 

Lebih tersentak lagi saat penulis novel membahas kehebatan Nusantara, yang pernah disebut sebagai peradaban Atlantis, dan kemudian lenyap begitu saja. Novel ini menjadi sekeping dari puzzle teka-teki yang dipercayai banyak orang tentang leluhur hebat Nusantara yang pernah menguasai dua per tiga bumi.

Saya ingat, pada saat reformasi, terjadi perdebatan ulang tentang seperti apa identitas Indonesia. Ada yang kembali menggemakan gagasan tentang Indonesia sebagai negara agama yang berkiblat ke Timur Tengah. Namun, ada juga sejumlah orang yang menganggap bahwa identitas asli Indonesia bukan tercermin pada budaya yang dipengaruhi agama dari Timur Tengah, sebab sebelum era itu, bahkan beberapa abad sebelumnya, Nusantara sudah pernah berdiri dan punya jejak peradaban yang hebat.

Di antara sejumlah orang yang menawarkan gerak kembali ke tradisi asli itu adalah sejumlah anak muda yang tergabung dalam yayasan bernama Turonggo Seto, yang disebut penulis novel ini dalam pengantarnya. Anak muda di Turonggo Seto ini menghangatkan diskusi tentang kehebatan Nusantara itu dalam satu grup media sosial bernama Greget Nuswantara. Tak sekadar diskusi, mereka melakukan jelajah candi, menafsir ulang relief candi, dan mengemukakan teori bahwa ada banyak candi-candi lain yang jauh lebih hebat, namun masih terkubur. 

Pada masa itu, terdapat buku mengenai teka-teki Atlantis yang ditulis profesor berkebangsaan Brazil. Yang menarik, buku itu memaparkan fakta bahwa kemungkinan besar peradaban hebat yang digambarkan dalam banyak naskah orang Eropa sebagai rumahnya orang-orang yang jenius dan punya teknologi tinggi itu ada di Nusantara. Atlantis itu diyakini  tenggelam saat terjadi letusan besar sehingga es di kutub mencair.

Buku lain yang juga mempengaruhi adalah Eden in the East yang ditulis ilmuwan biologi molekuler Stephen Oppenheimer. Buku ini membantah versi sejarah tentang nenek moyang kita yang disebutkan dari Cina, sebab DNA orang Indonesia lebih tua dari Cina. Artinya, orang Indonesia sekarang dibentuk oleh satu peradaban tua yang telah lama menghuni wilayah ini, kemudian memencar karena adanya banjir besar. Buku-buku ini mempengaruhi padangan bahwa Nusantara memang hebat, dan kita generasi yang hanya bisa menelusur kehebatan itu.

Pada tahun 2006, sahabat saya di antropologi UI, Diah Laksmi, sering bercerita tentang anak-anak muda ini. Kata Diah, mereka adalah keluaran kampus-kampus besar seperti ITB dan UI. Basic mereka pertambangan dan geologi, namun sangat meminati kajian masa silam. Pendekatan mereka adalah gabungan dari metode saintifik, yakni metode ilmiah dan teknologi untuk mengenali batuan, dan pendekatan klenik.

Mungkin kita akan merasa geli saat mendengar kata klenik. Dalam angan kita, klenik adalah metode bagi para dukun berusia sepuh dan masih kolot. Makanya agak aneh saat mendengar anak muda lulusan kampus-kampus hebat di tanah air malah menjadikan klenik itu sebagai metode yang melengkapi pendekatan saintifik.

Biasanya, metode ilmiah justru akan menyingkirkan klenik. Bagi anak-anak muda Turonggo Seto, klenik itu berupa mantra-mantra dan berdialog dengan para  leluhur, yang kemudian akan diikuti metode ilmiah, termasuk penggunaan peta-peta yang disiapkan Google. Anak-anak muda itu sering berseloroh kalau mereka dari MIT, yang merupakan kepanjangan dari Menyan Institute of Technology. 

Saya belum pernah menyaksikan cara kerja mereka. Namun akan sangat menarik menyaksikan bagaimana mereka membakar dupa lalu merapal mantra, kemudian berdialog dengan leluhur. Kata mereka, sebagaimana disampaikan Diah, mantra dan menyan itu adalah password bagi bekerjanya satu algoritma teknologi. Prinsip kerjanya sama dengan teknologi siri yang dikembangkan Apple, ataupun perangkat Google Assistant yang dikembangkan Google. Prinsip kerjanya adalah lafal tertentu dari bibir manusia akan dikenali sebagai pembuka dari bekerjanya satu sistem. 

Anak-anak muda itu tidak mau mengikuti trajectory dari peneliti asing. Anak-anak muda itu membangun konstruksi teori sendiri. Menurut mereka, sejarah Nusantara dahulu amatlah hebat, namun proses kolonialisasi membuat kehebatan itu sengaja dihilangkan. Sarjana kolonial malah membangun teori tentang Nusantara yang terpengaruh jejak India sebagaimana terlihat pada candi-candi.

Anak-anak muda itu meyakini bahwa candi-candi adalah bukti nyata tentang kehebatan di masa silam. Malah mereka mengajukan pertanyaan mengapa teknologi unggul dan kemampuan di masa silam itu justru nyaris punah ketika Indonesia sebagai negara bangsa berdiri? Mengapa kita harus jauh-jauh berguru di negeri orang tentang teknologi, padahal nenek moyang kita telah meletakkan satu landasan hebat yang memungkinkan lahirnya banyak jejak peradaban?

Mungkin, kita akan mempertanyakan sejauh mana bukti-bukti yang dimiliki anak muda itu. Tapi satu hal penting, mereka telah membangun satu hipotesa menarik, serta merumuskan sendiri bagaimana kerja epistemologi dalam menemukan kebenaran. Di mata mereka, epistemologi bukanlah setumpuk perangkat yang kaku dalam menemukan kebenaran, melainkan sesuatu yang bergerak dan selalu dimaknai oleh masyarakat.

Sayangnya, diskusi di grup Greget Nuswantara itu menjadi tidak seru disebabkan serangan banyak kelompok yang menganggap mereka anti-agama sebab hendak melestarikan tradisi kuno. Tapi setidaknya, diskusi itu telah membuka mata bahwa Nusantara punya jejak emas yang harusnya dirawat dan dilestarikan.

Saya juga merasakan penyesalan karena tak sempat bertemu dan mengenal akrab mereka. Saya hanya membaca kisah mereka dalam tesis yang dibuat Diah di UI dengan judul Sejarah Nuswantara menurut Turangga Seta: Kajian Antropologi terhadap Proses Produksi Pengetahuan. Dalam tesis itu, Diah menjelaskan bagaimana pengetahuan dipengaruhi oleh proses kultural dan sosial dari komunitas yang mereproduksi pengetahuan itu. Pemahaman itu dibentuk oleh nalar dan realisme sendiri yang dicapai pengalaman sesama warga komunitas.

Pesan kuat yang muncul dalam novel ini adalah kebanggaan pada masa silam, serta jejak nenek moyang harus membara dalam diri setiap anak bangsa. Kebanggaan itu harusnya menjadi ikhtiar untuk menyelamatkan semua hasil produksi pengetahuan di masa silam untuk memperkaya peradaban masa kini. 

Demi membangun peradaban yang kuat itu, maka bangsa ini tak harus berkiblat pada bangsa lain, melainkan menemukan unsur dinamik yang ada di tubuh bangsa, termasuk capaian hebat yang banyak di temukan di sekujur peradaban kita di masa silam.


Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...

Google+ Badge