Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Nurani Jurnalisme dalam the Post


poster film The Post

KEMARIN, saya menonton film The Post yang mengisahkan dinamika jurnalisme di Amerika Serikat pada tahun 1970-an, saat dokumen Pentagon Papers dipublikasikan semua media. Sebagaimana kita tahu, Pentagon Papers membuat gusar Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon. 

Melalui tangan besinya serta dukungan hakim federal, Nixon mengancam untuk breidel semua media massa yang memuatnya. Bagi Nixon, negara tak pernah salah. Semua tindakan negara harus selalu benar, meskipun itu membohongi publik. Atas nama nasionalisme dan patriotisme, seorang presiden berhak melakukan apa pun, termasuk mengirim anak-anak muda ke medan perang demi membela negara.

Dalam catatan saya, inilah film paling bagus yang saya tonton selama setahun terakhir. Wajar saja jika beberapa penghargaan internasional telah diraih film ini. Selain itu, salah satu alasan utama saya menonton film ini adalah sutradaranya Stephen Spielberg. Di mata saya, beliau bukan sutradara yang mengejar aspek komersial. Beliau memilih-miih film yang hendak disutradarainya. Dia selalu memilih sesuatu yang berupa jejak makna dan akan membekas di benak semua penonton. Setiap kali kelar nonton film yang disutradarai Spielberg, saya akan sering merenungi banyak pusaran pesan dan makna di situ.

Sosok utama dalam film ini adalah Katharine Graham (diperankan Merryl Streep), pemilik harian The Washington Post. Perempaun yang disapa Kay itu terlihat kikuk dan tak percaya diri. Visinya sangat kuat yakni menyajikan jurnalisme berkualitas yang nantinya akan membawa profit. Tapi dia sering malu menyampaikannya. Sesekali dia bergabung dengan banyak sosialita demi menjaga hubungan baik dengan Washington Post yang dimilikinya. Dia juga menyerap info-info di situ.

Sosok penting lainnya adalah editor Ben Bradlee (diperankan Tom Hanks), seorang editor yang setiap hari mengendalikan liputan. Ia sosok ambisius yang menginginkan korannya menjadi yang terdepan dalam memberita. Korannya harus lebih dahulu memberitakan hal hebat. Sampai-sampai dia pernah meminta seorang reporter untuk datang ke New York untuk melihat bagaimana cara kerja koran pesaing.

Begitu marahnya dia ketika korannya memberitakan pernikahan putri presiden di halaman depan, pada saat The New York Times justru pertama kali memuat riset tentang Pentagon Papers, yang isinya permainan elite negara itu di perang Vietnam. Ben tak pernah ingin kecolongan. Dengan kekuasaannya, ia bisa memaksa seorang reporter untuk menemukan dokumen itu, bagaimanapun caranya.

Ketika dokumen itu di tangan, masalah tak berhenti di situ. Dia harus memahami ribuan halaman itu dalam waktu singkat agar segera dimuat dimuat di media. Dia juga harus menerima tekanan bertubi-tubi dari pemerintah yang tak ingin aib perang itu sampai ke publik. Ben adalah sosok idealis yang selalu percaya bahwa tugas media adalah mewartakan kebenaran dan mencerahkan publik.

Pada situasi ketika Ben tertekan dari segala lini, semua keputusan diserahkan kepada Kay Graham. Di sinilah terlihat bagaimana visi yang kuat, keberanian mengambil risiko, serta leadership dari seorang pemilik media. Adegan favorit saya di film ini adalah ketika Kay Graham di tengah pesta para tokoh-tokoh politik, tiba-tiba saja dia dipanggil ke satu ruangan untuk menerima telepon yang isinya adalah pertanyaan apakah dirinya setuju jika dokumen yang menikam pejabat Amerika itu dipublikasikan.

Saya menyukai ekspresi serta gerak kamera yang memutar demi merekam bagaimana wajah Kay Graham yang penuh tekanan saat mengambil keputusan. Saya menyukai kemewahan akting Merryl Streep saat hendak menentukan sikap. Dia ingin koran itu bertahan lama. Maklumlah, koran pesaingnya the New York Times lebih dahulu mendapat peringatan dan dibredel pemerintah sampai jangka waktu tertentu. 

Jika Kay mengizinkan pemuatan laporan yang menelanjangi pemerintah Amerika itu, maka bisa diprediksi pemerintah akan membredel korannya, sehingga ribuan orang yang berada di mata rantai industri jurnalisme bisa kehilangan pekerjaan. 

Tapi Kay percaya 100 persen pada reporter dan editornya. Di usia yang tidak muda lagi, dia berani mengambil risiko yang bisa membahayakan korannya. Rupanya, dia sangat yakin bahwa tugas utama jurnalistik adalah bagaimana melayani masyarakat, menyediakan informasi yang berimbang, serta membuka berbagai borok dan kepalsuan di lembaga-lembaga pemerintahan.

Bermula dari situasi yang dihadapi Kay inilah, muncul prinsip utama dalam jurnalisme yakni fire wall (pagar api) berupa pemisahan antara jurnalistik dan bisnis. Keduanya berjalan seiring dan tidak saling mengganggu. Kegiatan jurnalistik harus berjalan secara independen, tanpa harus ada intervensi dari pihak manapun, termasuk pihak bisnis. Dengan cara itu, media bisa independen dan tetap menjaga kualitasnya. Mengutip kata Bill Kovach, media hanya mengabdi pada kepentingan publik melalui idealisme para jurnalisnya.

Gayung bersambut. Perjuangan The Washington Post kemudian kembali diikuti The New York Times, serta semua koran-koran di Amerika Serikat. Pers saling bantu saat berperkara di pengadilan, sehingga akhirnya Mahkamah Agung Amerika memenangkan pihak pers yang sedang menjalankan tugas utamanya yakni mencerahkan publik. 

Seperti kata Bill Kovach, tugas jurnalistik selalu berpihak pada nurani, yang merupakan pantulan dari nurani ideal masyarakat. Nurani adalah tempat menemukan kejernihan dan sisi paling ideal dalam memandang sesuatu, menjadi kompas yang mengarahkan sikap.

*** 

FILM ini membuka banyak lapis kenangan saya ketika menekuni dunia jurnalistik, khususnya jurnalisme cetak. Masih segar di ingatan saya tentang rapat-rapat redaksi, rapat mendadak di ruangan pemimpin redaksi, serta perintah mendadak untuk menemui narasumber, melakukan konfirmasi, bahkan yang paling melelahkan adalah membongkar kembali halaman koran yang telah selesai di-layout.

Media memang berurusan dengan seberapa cepat mengejar informasi, serta bagaimana mengemas peristiwa dengan baik. Dalam iklim persaingan yang begitu tinggi, media dituntut untuk sangat kreatif dan segera menemukan isu yang paling hangat untuk dibahas publik. Makanya, suasana redaksi selalu dinamis dan penuh teriakan. 



Saya terkenang guru saya di bidang jurnalistik Valens Doy, wartawan senior Kompas, yang selalu menyebut paradoks di newsroom. Katanya, jurnalis mendorong demokratisasi dan keterbukaan, tapi ruang redaksi (newsroom) adalah ruangan “para bajingan” yang penuh marah-marah serta umpatan pada jurnalis. Mungkin saja jurnalis kita harus dihardik agar sisi terbaik dalam diri mereka bisa segera keluar, yang akan membawa dampak positif bagi media itu. 

Dunia jurnalisme adalah dunia yang selalu bergerak. Setiap saat orang-orang berkumpul membahas isu, lalu berrembug bersama bagaimana mengemasnya. Kolaborasi adalah kekuatan utama untuk menghasilkan karya terbaik. Semua orang tahu tugas dan perannya masing-masing, kemudian bekerja keras untuk menyajikannya. Seorang jurnalis tak punya waktu luang. Hari-harinya diisi dengan menemukan isu atau informasi yang akan disajikan pada pembaca.

Bahkan saat sedang santai sekalipun, dia harus siap-siap diinterupsi karena ada telepon dari kantor yang menanyakan sesuatu. Itu dialami Kay Graham, yang di sela-sela perayaan ultah di rumahnya, harus menyibak kerumuman orang-orang hanya karena kantor menelepon dan meminta keputusan darinya.

Sosok Ben Bradlee adalah tipikal redaktur yang selalu haus untuk menemukan hal baru. Dia bekerja keras menyajikan berita dengan angel paling menarik, tapi dia juga sosok yang menghargai privacy narasumbernya. Dalam film ini, dia akhirnya menyadari bahwa sebagai jurnalis, dia harus bisa memisahkan mana yang merupakan ranah publik dan mana yang merupakan ranah pribadi. Meskipun seorang narasumber adalah temannya, dia tetap harus profesional saat memberitakan sesuatu.

Dan kebahagiaan seorang jurnalis adalah ketika bertemu banyak orang yang merasa terbantu atas informasi yang ditulisnya. Pada titik ini, seorang jurnalis sukses membagikan sesuatu yang mencerahkan, membuka selubung gelap dari kenyataan, serta membantu orang lain mengupas-ngupas semua inti realitas.

Mungkin inilah kepuasan yang dirasakan Kay Graham dan Ben Bradlee saat bau busuk dalam pemerintahan Nixon itu mulai menyebar. Melalui kerja jurnalistik, mereka bisa menjadi anjing penjaga atas kebobrokan di depan mata. Bahwa mereka tidak sedang membongkar aib, tapi mencari kebenaran agar publik bisa lebih kritis terhadap semua yang terjadi di pemerintahan. 

Dengan membuka kebobrokan, mereka memberi alarm kepada publik agar selalu kritis dan berhati-hati pada agenda negara yang selalu mengatasnamakan rakyat. Bisa jadi ada hawa nafsu dan taktik pencitraan yang hendak menutupi kebohongan dengan yel-yel kecintaan pada rakyat. Bisa jadi, ada kepentingan dan kuasa politik yang diarahkan jauh dari rel kebenaran demi mengeruk pundi-pundi materi melalui kursi kekuasaan.

Saya tersentuh pada satu adegan dalam film. Saat Kay Graham antri di depan kantor pengadilan, seorang mahasiswa menunjukkannya jalan pintas. Mahasiswa itu bekerja di kejaksaaan, yang sesungguhnya sedang menggugat Kay dan insan pers lainnya. Tapi mahasiswa itu justru berbisik, “Saya mendukung dan mengagumi kalian. Beberapa keluarga saya juga dikirim ke Vietnam untuk misi bunuh diri yang tak ada kaitannya dengan kita semua di sini.”

Film yang inspiratif dan membuka mata.

Isyarat Politik di Balik Tertundanya Kedatangan Habib Rizieq



DI subuh hari, ribuan orang berpakaian putih hendak bergerak ke Bandara Soekarno Hatta. Mereka membawa panji-panji Front Pembela Islam (FPI) sembari bergerak dengan rapi. Seorang peserta konvoi bercerita mereka hendak menyambut kedatangan Habib Rizieq Shihab, yang disebut sebagai Imam Besar Islam Indonesia.

Massa penjemputan yang sebelumnya berkumpul menghadiri tabligh akbar dan istighasah di Masjid Baitul Amal, Cengkareng, Jakarta berangsur bergerak menuju Bandara menggunakan bus. “Ada jemaah yang masih bertahan di sini (Jakarta) dan sudah sebagian ke bandara dengan kendaraan bus dan mobil pribadi yang mereka bawa sendiri-sendiri. Kalau dari sini juga sama berangkat seusai salat subuh berjamaah,” kata Humas Persaudaraan Alumni 212, Novel Bamukmin, sebagaimana dikutip Vivanews.com.

Polisi juga sibuk dan bergegas. Sejumlah aparat kepolisian ditempatkan di sekitar bandara demi penyambutan itu. Polisi hendak menjaga ketertiban, tapi jamaah yang menjemput malah menuduh ada skenario lain. Pesan menohok disampaikan ke polisi. Ketua Presidium Alumni 212 Slamet Maarif menyatakan siap melawan polisi jika menangkap Sang Imam. “Kalau kepolisian ambil paksa, kami juga akan ambil paksa imam kami,” katanya.

Rizieq menetap di Arab Saudi sejak Mei 2017 beberapa waktu setelah polisi menetapkannya sebagai tersangka terkait dengan kasus dugaan konten pornografi dalam percakapan dengan Firza Husein di aplikasi pesan singkat. Kabar kedatangannya beberapa kali santer disebut-sebut, namun selalu batal karena berbagai alasan.

Setiap kali ada rencana kembali, berita tentang Rizieq segera menyebar ke mana-mana. Kehebohannya segera terasa. Berbagai organisasi yang mengatasnamakan dirinya alumni 212 sibuk membuat pernyataan pers. Berita kedatangan itu diramaikan dengan rencana penyambutan, tablig yang dihadiri jutaan massa, hingga konvoi ataupun arak-arakan.

Namun jika dilihat dari sisi komunikasi, pemerintah terlihat tenang-tenang saja. Pemerintah seakan tidak terganggu, dan tidak ada niat untuk mencampuri kedatangan itu. Jika datang, ya datang. Jika tidak datang, maka pemerintah juga tidak mengeluarkan pernyataan apa pun. Kehebohan hanya sebatas pada pendukung Rizieq, yakni kelompok-kelompok yang mengatasnamakan dirinya alumni 212.

Kalaupun ada pihak yang sering berkomentar adalah polisi. Itupun komentar polisi hanya sebatas bagaimana menjaga keamanan dan ketertiban para penjemput. Tak ada satu pun pernyataan polisi yang menyebut-nyebut kelanjutan kasus yang tengah menjerat Rizieq. Media sempat mengutip pernyataan Menko Polhukam Wiranto. Itupun komentarnya hanya sebatas informasi kalau Rizieq batal datang. Di luar itu, tak ada yang terekam oleh media.

Sayang, Riqieq batal datang. Padahal, jika datang, maka momentumnya sangat tepat. Energi semua orang sedang disibukkan pada ranah politik. Partai-partai tengah konsolidasi. Sejumlah figur mulai disebut-sebut sebagai penantang Joko Widodo.

Jika Rizieq datang, dia bisa meramaikan bursa wacana penantang Jokowi. Banyak partai politik ingin mendekatinya. Semua berharap dirinya memperkuat barisan jutaan umat yang kelak dengan sukarela akan mencoblos partai itu. Dari sisi politik, kartu Rizieq akan selalu hidup dan bisa dikelola menjadi kekuatan besar.

Kedatangan Rizieq juga penting untuk merapikan kembali gerakan alumni 212. Setelah demo besar yang konon katanya telah menghadirkan 7 juta orang, Banyak pihak yang kemudian mengatasnamakan gerakan itu dan melakukan langkah-langkah politik. Mulai dari mendorong calon gubernur, mengajukan sejumlah nama untuk jadi calon anggota legislatif, hingga mendekat ke sejumlah pihak dengan agenda politik tertentu.

Sekali lagi, disayangkan karena dirinya batal datang. Melalui sambungan telepon, dia menyampaikan pesan kepada semua orang.

“Akhirnya saya teruskan untuk istikarah mohon petunjuk Allah SWT, karena hanya Allah SWT yang Maha Tahu tentang apa yang terbaik dan terburuk untuk hamba-Nya, walaupun saya senantiasa beritikad sekeluarga untuk pulang pada hari ini, untuk jaga-jaga jika di menit terakhir bisyarah sekeluarga bisa segera pulang. Namun sampai saat ini saya belum mendapatkan isyarah yang bagus, apalagi bisyarah yang menggembirakan,” ujar Rizieq dalam rekaman pembicaraan melalui telepon yang diperdengarkan di Masjid Baitul Amal, Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (21/2).

“Jadi hari ini saya harus menunda dulu kepulangan saya.  Karena harus menunggu bisyarah sehingga pulang di waktu yang tepat dan saya akan tetap istikharah mohon petunjuk Allah SWT agar dapat bisyarah dan bisa. Jika seluruhnya sudah dapat keputusannya, maka saya sendiri yang akan mengumumkan kepada Umat Islam di Indonesia tentang kepulangan saya insyallah.  Karenanya saya minta kepada segenap umat Islam untuk mendoakan saya sekeluarga untuk bermunajat kepada Allah memohon kepada Allah agar saya sekeluarga diizinkan oleh Allah SWT untuk segera kembali ke Tanah Air dalam keadaan selamat dan memetik kemenangan bersama umat Islam. Amin amin ya rabbal alamin.”

Ada beberapa hal yang bisa disoroti dari pernyataan Rizieq. Kita bisa membuat beberapa asumsi sederhana.

Pertama, ia belum melihat momen yang tepat untuk kembali. Jika dikalkulasi secara politik, kepulangannya tidak tepat. Sebab pra-kondisinya belum memungkinkan. Mungkin saja dia ingin kepulangan itu akan heboh dan menggetarkan umat. Rupanya, kepulangan itu ditanggapi dingin. Reaksi umat juga tidak seheboh pernyataan di media. Jika tetap memaksakan pulang, maka cepat atau lambat, kasusnya akan dibuka kembali. Reaksi umat akan datar-datar saja.

Kedua, ia menitipkan pesan politik yang kuat. Perhatikan kalimat terakhir yang diucapkannya. Ia mengatakan, “Agar saya sekeluarga diizinkan oleh Allah SWT untuk segera kembali ke Tanah Air dalam keadaan selamat dan memetik kemenangan bersama umat Islam.” Kita bisa memberikan banyak tafsir terhadap frasa “memetik kemenangan” itu. Dirinya memberi pesan kalau sedang berada pada fase perjuangan untuk merebut kemenangan. Dirinya memberi harapan kepada semua pendukungnya kalau perjuangan itu akan berbuah kemenangan.

Pertanyaan yang pantas diajukan adalah perjuangan seperti apakah yang sedang dilakukannya? Apakah dia sedang berhadapan dengan sesuatu yang zalim sehingga perlu berjuang hingga memetik kemenangan?  Ataukah ini semacam pesan kepada semua pendukungnya agar tetap setia kepadanya sehingga kelak bisa menemaninya berjuang untuk memetik kemenangan?

Hanya Rizieq yang bisa menjawab pertanyaan ini. Yang pasti, dari tanah Saudi Arabia, dia selalu memantau apa saja yang sedang terjadi di tanah airnya.

Hikmah Anies Dicegat Paspampres



SEMUA orang ribut hanya gara-gara insiden paspampres menahan Gubernur Anies ikut mendampingi Presiden Jokowi. Anggap saja di situ ada penghinaan. Bukankah yang dihina tak akan berkurang kemuliaannya hanya karena hinaan itu, dan yang menghina juga tak akan meningkat derajatnya? Kalau mereka justru tertawa-tawa dan gembira selama pertandingan bola itu, lantas siapa yang baper?

Ya, kita-kita yang melulu berpikir politis dan ingin mengapitalisasi penghinaan itu jadi dukungan. Ya, kita-kita yang terlanjur mencintai semua junjungan kita dalam politik sehingga tak bisa keluar dari kotak pendukung, lalu santai ngopi-ngopi dan menertawakan para idola kita. Ya, kita-kita yang selalu berpikir bahwa ini ada skenario politik untuk menyingkirkan yang lain.

Sejak pemilihan presiden lalu, kita semua terpecah dalam dua kubu, yang namanya diambil dari nama-nama hewan. Ada yang disebut cebongers, hanya karena junjungannya pernah melepas kodok dan kecebong di kolam istana. Ada juga yang disebut kampret sebagai bentuk olok-olok. Dua kubu ini seperti dua kelompok anak kecil yang ribut gara-gara tidak kebagian permen lalu saling nyinyir.

Media sosial kita dipenuhi ujaran dan ledekan. Panggung kehidupan hanya dilihat arena untuk menemukan kesalahan dari patron politik, demi bahan ledekan baru. Akuilah, kalau kita sedang mengidolakan seseorang lalu berusaha membenarkan semua yang dilakukannya. Akuilah pula kalau kita tak suka dengan seseorang, sehingga ketika melakukan kesalahan, segera akan menjadi bahan ledekan baru di media sosial.

Media sosial kita jadi berisik dengan hal yang remeh-temeh yang tak ada kaitannya dengan hajat hidup rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Anggaplah ada konflik antara Jokowi dan Anies yang bermuara pada popularitas calon presiden. Pertanyaannya, apakah konflik mereka itu sesuatu yang substantif dan menyangkut kita semua, ataukah konflik itu muncul hanya karena kita suka membesar-besarkan sesuatu?

Tak cuma itu. Para pengamat baru bermunculan. Sejak peristiwa kemarin, banyak yang tiba-tiba jadi pakar soal keprotokoleran. Tiba-tiba saja membagikan berbagai pasal dalam undang-undang demi mengatakan bahwa seharusnya gubernur mendampingi presiden. Di kubu sebelah, muncul pula pakar yang menjelaskan bahwa itu bukanlah acara resmi sehingga aturannya fleksibel.

Di satu dinding media sosial seorang sahabat yang bekerja di lembaga internasional, saya melihat debat kusir tentang aturan keprotokoleran. Padahal, debat itu harusnya disederhanakan. Sahabat itu adalah pendukung Anies sehingga dirinya akan mengulik semua aturan demi menunjukkan betapa kelirunya paspampres.

Sementara pendebatnya adalah pendukung Jokowi yang melihat peristiwa itu sah-sah saja dilakukan. Harusnya, pertanyaan yang muncul adalah apa manfaat peristiwa itu pada kehidupan petani yang kian susah karena beras impor selalu berdatangan?

Ah, mungkin saja kita masih mengenang jelas peristiwa beberapa tahun silam, saat suami presiden mengatai seorang menteri sebagai jenderal kekanak-kanakan. Peristiwa itu dikapitalisasi dengan segera sehingga sang menteri akhirnya menjadi presiden. Peristiwa itu menunjukkan bahwa kita memandang politik serupa memandang gosip artis, yang akan berujung pada dukung-mendukung.

Padahal, kalau mau jujur, kehidupan kita tak pernah beranjak maju. Dari presiden ke presiden, banyak rakyat tetap miskin, tetap melarat, dan hanya bisa makan nasi basi. Dari pemilu ke pemilu, berbagai janji ditebar, dan kehidupan tetap saja susah. Pertengkaran dua politisi tak akan membawa manfaat apa-apa bagi banyaknya masalah di masyarakat kita yang membutuhkan kehadiran negara di situ.

Di tengah semua timbunan janji itu, kita rakyat biasa selalu bangkit dan berjibaku demi kehidupan kita sendiri. Pada akhirnya, nasib kita akan ditentukan pada sejauh mana kerja keras kita untuk membanting tulang, bukan pada sejauh mana realisasi janji seorang politisi. Kita merasa terhormat ketika berhasil mendapatkan sesuap nasi dari hasil kerja keras dan banting tulang. Kita merasa terhina apabila rejeki didapatkan dari hasil korupsi dan bagi-bagi seorang politisi.

Come on, hentikanlah perdebatan tak penting itu. Para politisi kita terlihat baik-baik saja. Tawa canda selalu hadir dalam setiap pertemuan mereka. Tak perlu kita kurang kerjaan dan tiba-tiba baper hanya karena melihat ada yang mati gaya dan kehilangan panggung.

Yakinlah, Gubernur Anies punya panggung yang jauh lebih besar dari sekadar Stadion GBK yakni seluruh wilayah DKI Jakarta yang dipenuhi kerja-kerja cerdas dan kreatifnya. Yakin pula, Pak Jokowi juga punya arena luas yakni pemenuhan kewajibannya sebagai presiden yang mengatur hajat hidup lebih 200 juta rakyat Indonesia. Mereka punya agenda, dan kita pun punya begitu banyak energi untuk membahas hal-hal yang jauh lebih penting.

Kepada Presiden Jokowi, harusnya kita ajukan seribu tanya, sudah berapa banyak kerja-kerja yang dilakukannya untuk memenuhi semua janji yang disebarnya ketika kampanye dahulu? Apakah dia bisa mendorong pemerataan ekonomi sehingga seluruh wilayah kita bercahaya di malam hari? Apakah dia bisa mendorong kemandirian serta hasrat bekerja warganya sehingga bangga dengan apa yang dihasilkan negeri sendiri, tanpa harus menunggu kebaikan negara lain?

Kepada Gubernur Anies, perlu pula kita ajukan pertanyaan, apakah dirinya sudah punya rencana bagaimana mewujudkan Jakarta bebas banjir sekaligus rumah yang membahagiakan semua orang termasuk orang yang dahulu tidak memilihnya? Apakah kerja-kerja di DKI telah tuntas dilakukannya sehingga dirinya merasa pantas untuk maju dan bertarung di arena politik yang lebih tinggi?

Kepada diri sendiri, mesti pula kita ajukan pertanyaan. Apakah diri kita bisa menjadi rahmat bagi mereka yang berumah di sekitaran kita? Apakah kita punya waktu untuk sekadar memikirkan dunia sekitar, lalu berikhtiar untuk melakukan hap-hal kecil tapi minimal punya dampak bagi para sahabat, tetangga, serta keluarga kita sendiri?

Ataukah kita hanya menjadi beban dari orang-orang baik di sekitar kita yang setiap saat memikirkan kita. Jangan-jangan orang-orang di sekitar kita capek memikirkan kita yang masih jomblo dan hanya sibuk naksir kiri kanan, tanpa eksekusi?


Pengakuan Seorang Penyebar Hoaks




PEDANG itu seakan tak bermata. Di Yogyakarta, pedang itu menyabet di Gereja Santa Lidwina, Sleman, Yogyakarta. Polisi menembak kaki pelaku, yang merasa sedang menjalankan apa yang dipercayainya. Di dunia maya, seseorang mengayunkan kata-kata serupa pedang demi menghina Buya Syafii Maarif yang mengunjungi gereja itu pasca aksi pedang. Saat polisi menangkap orang itu, kita melihat sosok berbeda. Sosoknya santun, tenang, dan demikian menjaga setiap tutur.

Rasanya tak percaya kalau hoaks yang isinya hinaan itu bermula dari sosok yang demikian tenang ini. Polisi memastikan lelaki itu sebagai pelaku penyebar hoaks yang kemudian viral dan tersebar ke mana-mana. Postingan itu telah dihapusnya saat banyak protes bermunculan. Polisi punya teknologi yang memastikan bahwa lelaki itu pelakunya, Ia tak bisa mengelak. Ia digelandang.

Beberapa netizen melampirkan bukti-bukti postingan lelaki itu. Dalam salah satu foto yang diunggahnya di Facebook, dia dengan bangga swafoto memegang sepucuk senjata api dengan latar belakang kotak besi tempat amunisi. Tertulis pesan dirinya siap menjemput imam besar yang akan datang. Foto ini semacam ancaman bagi siapapun yang menghalanginya.

Beberapa foto menunjukkan dirinya bersama petinggi partai. Malah, ada foto yang menampikan dirinya sebagai pembicara di acara partai itu. Pada banyak foto, terdapat kesan dirinya yang siap mengorbankan apa pun demi membela apa yang diyakininya. Pada banyak postingan, dia menampilkan keberanian menanggung apa pun risiko yang dihadapi dalam perjuangan.

Sering saya merasakan adanya kontradiksi. Bukankah postingan bohong dan hinaan yang dibuatnya justru bertentangan dengan apa yang diyakininya? Apakah keyakinannya membenarkan seseorang untuk berbohong dan “berpedang” di media sosial hanya untuk dilihat berani melawan otoritas berkuasa?

Yang pasti, lelaki itu tak sendirian. Ada banyak orang sepertinya di dunia nyata yang merasa sedang mengemban misi suci.

***

DI satu sudut kota Bogor, saya bertemu seorang anak muda. Sebut saja namanya Asep. Umurnya di bawah 30 tahun. Ia sangat santun ketika menjabat tangan, kemudian berbincang. Ia lebih sering menundukkan pandangan. Kesan saya, dia  seorang yang baik hati dan senantiasa menjaga dirinya dari segala yang dianggap tercela.

Seorang teman di Jakarta meminta saya untuk bertemu Asep untuk satu keperluan. Saya pun mengajukan pertemanan di media sosial. Saya pikir untuk seorang yang santun sepertinya, media sosial pasti dipenuhi kalimat positif. Ternyata saya keliru.

Di media sosial, ia sibuk menebar berbagai link yang isinya adalah keburukan pemerintah saat ini. Ia tak henti-hentinya berkampanye bahwa pemerintah ini adalah antek Yahudi, antek Cina, antek Amerika, hingga boneka dari seorang ketua partai.

Di dunia maya, ia bukan sahabat dialog yang baik. Ia seolah melihat media sosial sebagai ajang saling menebas pedang. Setiap kalimat yang postingannya berisi kritikan dan hujatan. Tanpa banyak argumen, ia menjawab setiap pertanyaan dengan berbagai tautan yang isinya berita negatif. Bahkan ketika disodorkan tautan berita yang isinya bantahan, ia akan mengabaikannya.

Saya melihat dua sisi lelaki itu. Di dunia nyata, ia adalah seseorang yang amat menjaga lidahnya ketika berbicara. Ia menghindari kalimat-kalimat yang bisa menyakiti orang lain. Ia melaksanakan semua ajaran yang menekankan silaturahmi, serta perlunya menjaga prasangka baik ketika bertemu sesama.

Ia menghormati semua orang, yang terpancar dari kalimat-kalimatnya yang selalu merendah. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Namun di dunia maya, ia menjadi sosok yang lain. Ia laksana seorang ksatria berpedang yang setiap saat menebas pendapat yang berbeda dengannya.

Ketika kami bertemu lagi, ia mulai terbuka. Ia menyebut dirinya menjalankan perintah dari pimpinannya. Baginya, setiap kalimat dari gurunya adalah kebenaran mutlak. Ia hanyalah seorang pekerja lapangan yang menjalankan instruksi partai. Ia adalah bagian dari cyber army yang bertugas untuk menginvasi dunia maya dengan berbagai isu negatif tentang satu calon.

“Apakah kamu tak merasa bersalah kalau isu itu ternyata tidak benar?” tanya saya.

Ia menggeleng. Baginya, ada satu tujuan besar yang hendak dicapai. Ia berangan-angan tentang Indonesia yang lebih baik, yang hanya bisa diwujudkan dengan memaksimalkan berbagai strategi dan menaikkan orang yang berpikir sama dengannya.

“Yang kita hadapi ini adalah sosok yang didukung cukong. Makanya, kita harus rebut semua strategi demi mempengaruhi massa,” katanya
“Tapi kan tujuan yang baik harus didukung oleh cara-cara yang baik,” kataku.
“Itu rumus lama. Mereka banyak main kayu. Kita harus berani main logam. Kita harus memastikan tujuan kita segera tercapai,” katanya tegas.

Diskusi kami berakhir. Tak ada guna berdebat dengan seseorang yang merasa telah menemukan kebenaran. Saya memilih untuk lebih banyak diam. Benar kata seorang sufi, jangan sesekali mengkritik seseorang yang merasa menemukan kebenaran. Kritik akan semakin membuat dirinya membenci kita. Kritiklah seseorang yang berakal. Setiap kritik akan membuat kita semakin dicintainya.

***

BEBERAPA malam selanjutnya, saya bertemu dua orang kawan alumni kampus luar negeri. Mereka bekerja sebagai konsultan media sosial. Kami adalah teman lama yang tiba-tiba saja bertemu saat singgah di satu kafe di dekat Sarinah. Mereka dikontrak seorang politisi. Mereka menjelaskan pada saya tentang peta-peta politik. Mereka menjelaskan tentang informasi yang disebarkan secara berjejaring yang lalu disebarkan secara viral.

Tugas mereka membuat saya terkesima. Mereka membuat isu-isu hitam demi menurunkan elektabilitas seseorang. Mereka mengendalikan dana besar untuk membayar media. Iklan disebar di mana-mana. Mereka bercerita tentang cara kerja ala intel yang mereproduksi isu. Mereka memanfaatkan para buzzer atau penggema isu yang akan meneruskannya hingga ke lorong-lorong dunia maya.

Cara kerja mereka adalah ‘menyerang sebelum diserang.’ Di saat mereka tahu bahwa tim lawan memiliki amunisi serang, maka mereka menyerang terlebih dahulu. Mereka lalu menebar isu ke beberapa grup besar facebook atau twitter, kemudian disebarkan ke mana-mana.

Diskusi dengan mereka membuat saya sadar bahwa di dunia maya, etika adalah sesuatu yang tak selalu menjadi landasan gerak. Jika semua relawan terlanjur melihat arena politik sebagai arena pertempuran, maka semua gerak dan energi diarahkan untuk menang.  Mungkin mereka berpikir bahwa hanya dengan kemenangan, semua cita-cita bisa digapai dengan mudah.

Lewat kampanye hitam itu, mereka memperbanyak pundi-pundi keuangan. Mereka menangguk dana besar dari capres, serta dari para donatur yang tersebar di mana-mana. Mereka memanen banyak rupiah, hanya dengan cara menganalisis peta politik, mereproduksi isu, menyebar kabar melalui media rekanan, dan terakhir, menyebarkannya melalui para pasukan dunia maya.

Politik memang telah lama kehilangan esensinya. Bukan lagi arena untuk merepresentasikan kepentingan publik, lalu mencari cara-cara paling tepat untuk membumikannya. Di mata kawan-kawan ini, politik adalah arena untuk menyebar kebencian, mengalahkan sosok lain dengan cara menikam dari belakang, lalu terus-menerus mempropagandakan gagasan tentang dunia yang lebih berkeadilan dan sistem yang menyejahterakan.

Dalam iklim politik yang penuh bujuk rayu itu, mereka membuai para laskar dunia maya untuk bergerak dengan ide-ide utopis yang diyakini akan terwujud kalau kandidatnya sukses menjadi pemimpin. Politik menjadi alat untuk kuasa.

***

TIBA-TIBA saja, saya teringat dengan teman di Bogor yang menjadi pasukan dunia maya itu. Saya teringat pada ketulusannya dalam bersahabat, serta sikapnya yang menjaga tutur kata. Saya tidak menyangka dirinya yang tulus itu menjadi pasukan dari isu-isu dari orang lain yang kemudian menangguk untung.

Saya mengingat kesantunan dan keikhlasan Asep di Bogor. Saya agak sedih kala membayangkan dirinya yang diserahi pedang demi menjadi martir di dunia maya, sementara orang-orang yang dibantunya adalah mereka yang sedang memperkaya diri, mereka yang melihat politik sebagai ladang untuk menanam gagasan, yang kemudian dipanen sebagai materi.

Teman itu tak menyadari kalau dirinya berperang untuk kepentingan segelintir orang. Dirinya mungkin sedang berharap surga di atas sana, sementara setiap sabetan pedangnya mendatangkan bahagia sesaat di surga dunia bagi segelintir orang. Dia bekerja dan menyerahkan keikhlasannya untuk hasrat kuasa sejumlah orang yang tak sabar untuk duduk di kursi penguasa lalu mengendalikan semuanya.

Semuanya terasa getir.

Siasat Jokowi Menangkan Semua Pilkada




GENDERANG pilkada serentak telah ditabuh seiring dengan diumumkannya pasangan calon kepala daerah. Di daerah-daerah yang akan menyelenggarakan pilkada, kemeriahan segera terasa. Semua partai politik dan para kandidat bersiap memasuki arena demi memenangkan pilkada dan mengamankan kursi kekuasaan selama lima tahun.

Bagi elite politik di Jakarta, pilkada adalah ajang pertaruhan. Dikarenakan pilkada dilaksanakan pada tahun politik, apapun hasilnya akan mempengaruhi konstelasi politik pada tingkat nasional. Apalagi, pilkada ini akan dilaksanakan di daerah-daerah yang basis massanya sangat banyak, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Bukankah Djawa adalah koentji?

Bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sudah pasti akan berlaga di pilpres mendatang, pilkada adalah palagan ataupun arena tempur yang harus dimenangkan. Menang-kalah akan membawa pengaruh pada duel di arena Pilpres. Setelah kandidatnya kalah di Jakarta dan Banten, apakah dirinya akan kembali memainkan strategi yang sama dan kembali kalah telak? Ataukah dirinya datang dengan strategi baru yang membawanya pada kemenangan?

***

TAK ada rasa khawatir di benak Khofifah Indar Parawasa menjelang pengundian nomor urut di arena pilkada Jawa Timur. Dirinya yang berpasangan dengan Emil Dardak tak mengistimewakan nomor manapun. Bagi mereka, nomor berapa pun tak masalah. Yang penting mereka bisa masuk arena dan memenangkan pemilihan.

“Milih yang mana saja. Yang penting harapannya menang dan dilantik,” kata Khofifah saat ditanyai di Hotel Garden Palace, Senin (12/2) kemarin.  Nomor satu atau dua sebagai urutan untuk nomor pasangan calon menurutnya tidak masalah. Asalkan nomor tersebut membawa keberhasilan dan mengantarkannya menjadi pemenang dalam Pilgub pada 27 Juni mendatang.

Khofifah memandang pilkada Jawa Timur lebih tinggi dari apapun. Ia rela melepaskan tanggung jawab sebagai menteri sosial demi mengikuti ajang perhelatan pemimpin politik yang belum tentu dimenangkannya. Ia akan berhadapan dengan Saifullah Yusuf (Gus Ipul), sosok yang ketika menjadi pasangan Soekarwo, pernah mengalahkannya dua kali.

Kali ini, Khofifah lebih optimis. Demi pengundian nomor urut, ia mengerahkan ribuan relawan agar menghadiri acara tersebut. Optimismenya juga menguat saat memikirkan bagaimana basis massa tetap mengenalnya sebagai aktivis NU yang cukup berpengaruh hingga perhelatan politik nasional. Dia juga optimis karena berpikir bahwa Istana Presiden akan mendukungnya.

Diskusi tentang ke mana dukungan Istana Presiden menjadi bahasan yang cukup menarik di Pilkada Jatim. Betapa tidak, dicopotnya Khofifah dari posisi Mensos menimbulkan spekulasi dirinya tidak didukung. Bisa saja Presiden Jokowi mempertahankannya di kursi Mensos, dengan memberinya cuti. Spekulasi bermunculan kalau istana tidak seberapa mendukungnya. Namun, ada juga analisis yang menunjukkan bahwa dicopotnya Khofifah adalah upaya “main cantik” dari istana. Khofifah dibebaskan dari kepentingan politik agar fokus mendulang suara di Jatim.

Di kubu sebelah, Gus Ipul juga optimis Istana Presiden akan mendukungnya. Gus Ipul yang berpasangan dengan Puti Guntur Sukarno, didukung oleh koalisi partai yakni PDIP, PKB, PKS, dan Gerindra. Koalisi ini dipimpin PDIP, partai politik tempat Jokowi bernaung. Jokowi dan Puti Guntur Sukarno sama-sama “petugas partai” yang merupakan representasi kubu nasionalis.

Kita bisa melihat bahwa koalisi pendukung pemerintah tidak berada di satu kubu. Koalisi partai itu menyebar, sengaja mendukung kandidat yang berbeda, sehingga tidak bisa diklaim satu figur hanya identik dengan oposisi. Selalu ada pengelompokan yang cair, sehingga siapa pun yang menang, kemungkinan besar akan memiliki afiliasi dengan pemerintahan Jokowi.

Jika diamati dengan melihat koalisi partai dan kader yang bertarung, pemenang Pilkada Jatim adalah figur yang dekat dengan Jokowi. Khofifah adalah mantan juru bicara Jokowi saat Pilpres. Sedangkan Gus Ipul diusung partai yang mengusung Jokowi. Gus Ipul didukung Megawati yang notabene adalah pemimpin partai yang mengorbitkan Presiden Jokowi.

***

STRATEGI Jokowi di pilkada serentak ini terlihat berbeda dengan strategi di pilkada sebelumnya. Kali ini, Jokowi lebih taktis dan hati-hati. Ia seakan menerapkan pepatah Inggris: “Don’t put your eggs in one basket” yang secara harfiah bermakna jangan menyimpan telur dalam satu keranjang. Artinya, jangan mengonsentrasikan semua upaya hanya di satu pihak. Lakukanlah semua upaya di beberapa pihak sehingga siapapun yang menang pasti akan membawa kemenangan bagimu.

Pilkada Jakarta dan Banten adalah pelajaran berharga. Di dua pilkada ini, partai pendukung pemerintah hanya berada di satu kubu. Ketika kubu lawan menguat, serta ditopang strategi yang bagus, maka kemenangan figur yang tidak punya kedekatan dengan pemerintah adalah petaka. Makanya, pada pilkada ini, partai-partai pendukung pemerintah sengaja menyebar, sehingga bisa ditemukan di mana-mana.

Seorang rekan aktivis partai politik yang dekat dengan istana menuturkan, Jokowi fokus mengamati pilkada hanya di daerah yang padat penduduknya. Pilkada provinsi, yang masuk radar istana adalah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan. Jumlah penduduk di lima daerah ini melewati angka 50 persen wajib pilih di pilpres mendatang. Kemenangan adalah harga mati yang tak bisa ditawar.

Strateginya cukup jitu sebab basisnya bukan hanya satu partai yakni PDIP, melainkan beberapa partai pendukung pemerintah. Kita bisa melihat mobilitas partai-partai ini yang berpencar dan tidak mendukung satu calon, sehingga skenario apa pun yang terjadi, pemenangnya adalah Jokowi juga.

Kita bisa melihat fenomena di Jawa Barat. Pada mulanya, terbentuk koalisi antara Dedy Mizwar dan Ahmad Syaikhu. Mereka adalah representasi dari Demokrat dan PKS. Di tengah jalan, koalisi ini bubar dikarenakan Gerindra tidak sudi bergabung. Gerindra merasa koalisi ini ibarat kereta yang sudah berlari kencang, dan mereka diminta mengikuti banyak kesepakatan.

Gerindra lalu memutuskan untuk membentuk koalisi baru bersama PKS dan PAN. Alasan lain juga muncul yakni koalisi sebelumnya dikendalikan Cikeas sehingga mendukung koalisi itu sama dengan mendukung Agus Yudhoyono sebagai calon presiden.

Gerindra membentuk poros sendiri bersama PKS dan PAN yang sama mendukung Sudradjat – Ahmad Syaikhu. Pasangan  ini berhadapan dengan pasangan Ridwan Kamil – U’u Ruzhanul Ulum yang didukung Nasdem, PPP, Hanura, dan PKB, kemudian pasangan Dedy Mizwar – Dedi Mulyadi yang diusung Demokrat dan Golkar. Sementara itu, PDIP mendukung TB Hasanuddin dan Anton Charliyan.

Penting untuk melihat bagaimana koalisi pemerintah mengepung pasangan usungan Gerindra dan PKS ini. Siapapun yang menang antara Ridwan Kamil ataupun Dedy Mizwar, bahkan TB Hasanuddin, maka posisi pemerintah ada di situ.

Kita bisa melihat bahwa pemerintah memainkan tiga kartu sekaligus. Satu di kubu Ridwan Kamil sebab diusung Nasdem dan PPP, satunya lagi di kubu Dedy Mizwar dan Dedi Mulyadi yang didukung Demokrat dan Golkar. Serta TB Hasanuddin – Anton yang didukung PDIP. Jika satu kubu ini menang, maka lagi-lagi ini adalah kemenangan Jokowi yang menyimpan kartu di tiga kubu.

Lihat pula pertarungan di Sumatera Utara (Sumut). Saat Edy Rahmayadi, yang didukung Gerindra perlahan mengumpulkan basis dukungan, beberapa partai pendukung pemerintah juga merapat. Partai itu adalah Nasdem dan Golkar demi menggenapi dukungan Gerindra, PKS, dan PAN.

Pada awalnya, Edy diyakini berpotensi menang mutlak. Namun setelah koalisi PDIP dan PPP mengajukan calonnya yakni Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus, maka petanya mulai berubah. Pesaing lainnya adalah JR Saragih dan Ance Selian yang didukung Demokrat, PKS, dan PKPI. Pasangan terakhir belum tentu lolos sebab masih terganjal di KPU.

Informasi yang berhembus dari Sumut, Djarot justru lebih berpeluang menang. Dirinya bisa mengonsolidasikan etnik Jawa yang cukup banyak di sana, juga bisa menjadi oase dari kader parpol yang dianggap lebih lurus dan punya visi kuat jika dibandingkan pesaing-pesaingnya.

Kita juga bisa menggunakan cara berpikir yang sama dalam melihat pilkada di Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan. Kubu Jokowi tak menyimpan dukungan pada satu kubu, memainkan sengaja menyebar sehingga siapa pun pemenangnya, akan menjadi mitra koalisi yang bisa memastikan lancarnya agenda-agenda politik ke depan. Kalaupun tak mendukung, minimal kepala daerah itu tidak akan menghambat beberapa agenda politik terkait pemenangan pilkada.

***

KATA Harold Lasswell, politik adalah siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana (who gets what, when, and how). Pemenang di arena politik adalah sosok yang bisa memahami siapa dirinya, mengenali kekuatan lalu mengeluarkan strategi paling jitu untuk memenangkan pertarungan. Politik, sebagaimana pernah dicatat Machiavelli, adalah kegiatan yang bermuara pada bagaimana memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Dalam rumusannya, “siapa yang mempunyai senjata akan mengalahkan siapa yang tidak mempunyai senjata”.

Di era Jokowi, senjata yang dimaksud tak selalu berupa senjata dalam pengertian alat-alat kuasa. Tapi bisa pula modal, dukungan partai politik, pengusaha, pengaruh, media massa, hingga strategi mengemas seorang kandidat dan menjaga ritme kemenangan. Di era Jokowi, pemenang di arena politik adalah sosok yang bisa mengombinasikan soft power dan bisa menentukan kapan harus bermain, kapan harus menunggu, dan kapan harus melangkahkan bidak.

Jika pilkada adalah arena percaturan politik, kita akan menanti-nanti bagaimana kelihaian Jokowi dalam mengarahkan bidak caturnya. Sejauh ini, langkah-langkahnya cukup meyakinkan. Apakah dirinya akan menang? Semuanya akan terjawab dalam beberapa bulan mendatang. Yang pasti, dia telah memainkan strategi baru yakni menyimpan telur dalam beberapa keranjang.

Makanya, apapun pilkadanya, pemenangnya adalah Jokowi.


Heboh, Milea Tinggalkan Dilan



SETELAH film Dilan ditonton lebih dari empat juta orang, berbagai rumor mengenai para pemainnya menjadi bahan gosip para netizen. Ketika film itu mulai booming, berbagai kelompok fans mulai terbentuk di berbagai kanal media sosial.

Yang terheboh adalah akun fans Dilan dan fans Milea yang saling berbalas pesan rindu. Sayangnya, kemesraan itu tak berumur panjang. Kini, Milea telah menemukan sosok pendamping. Bukan Dilan. Siapakah?

Pesaing itu adalah Adipati Dolken. Semuanya bermula dari film Teman Tapi Menikah yang diproduksi Falcon dan akan segera tayang.

Falcon adalah rumah produksi yang juga memproduksi film Dilan. Dalam film terbaru itu, aktor utamanya adalah Vanesha Prescilla, pemeran Milea, yang akan dipasangkan dengan Adipati Dolken. Publik akan disuguhi tontonan baru dan dipaksa untuk move on dari kemesraan Dilan dan Milea.

Banyak pihak yang nggak rela jika Milea berpasangan dengan aktor lain. Maklumlah, chemistry antara Dilan dan Milea dianggap sangat pas dan menancap di benak para fans. Ketika Falcon merilis tayangan Iqbaal (pemeran Dilan) dan Vanessa (pemeran Milea) sedang latihan akting lalu berpelukan, para fans langsung heboh dan mendesak agar keduanya segera jadian.

Kini, Milea akan berpasangan dengan Adipati Dolken. Nama Adipati Dolken bukanlah nama baru di dunia sinema kita.

Beberapa waktu lalu, dia membintangi film Perahu Kertas bersama Maudy Ayunda. Dalam film yang diangkat dari novel laris karya Dewi Lestari ini, Adipati berperan sebagai Keenan, sosok pelukis muda yang menolak keinginan ayahnya untuk kuliah di Fakultas Ekonomi.

Sementara Maudy Ayunda berperan sebagai Kugy, gadis muda periang dan tomboy yang meyakini dirinya adalah agen Neptunus. Meskipun tidak mencapai level seperti Dilan dan Milea, sosok Keenan dan Kugy cukup dikenang para fans.

Memang, Adipati Dolken lebih tua dari Iqbaal (pemeran Dilan). Usia Adipati Dolken adalah 26 tahun, sementara Iqbaal masih berusia 18 tahun. Makanya, Adipati Dolken nampak lebih dewasa dan matang. Namun, sebagaimana dikatakan seorang fans, bukankah anak-anak remaja senang dengan pria dewasa yang matang namun tetap bisa diajak asyik-asyik ala remaja?

Rumor kedekatan Adipati dan Vanesha juga diangkat oleh akun @lambe_turah, yang dikenal sebagai produsen banyak gosip artis. Akun ini menayangkan keduanya sedang jalan-jalan di satu pusat perbelanjaan.

Foto itu langsung heboh dan dikomentari oleh netizen yang tidak rela jika Milea berdekatan dengan sosok lain, selain Iqbaal (pemeran Dilan). Namun, baik Adipati dan Vanesha tidak memberikan konfirmasi apakah foto itu mereka.

Yang menarik, di instagram, hastag #antikangadiclub dan #bukankangadi muncul dan ramai diperbincangkan. Dalam film Dilan, nama Adi merujuk pada nama seorang mahasiswa ITB yang menjadi mentor, juga naksir berat pada Milea. Hastag anti Kang Adi ini sempat jadi trending topic dan diperbincangkan banyak orang.

***

MARILAH kita melihat hal ini secara sosiologis. Dunia di era kekinian tidak lagi dibatasi sekat-sekat geografis. Ketika satu film tayang, maka para penggemar dengan cepat membentuk satu kelompok sendiri yang mempertemukan mereka dengan sesama penggemar lalu membahas idola mereka.

Para fans berat menamakan dirinya shippers. Mereka akan mengikuti semua gosip tentang idola mereka, lalu membincangkannya di berbagai sudut dunia maya. Mereka suka memasang-masangkan idola mereka, menjodohkan dengan idola lain, bahkan sampai pada level hardliner yakni meneror idola mereka agar jadian dengan seseorang.

Saya mengenal seorang ibu muda di Bogor yang merupakan shippers berat film Dilan. Setiap hari dia mengikuti semua tayangan mengenai aktor dan aktris film ini. Dia juga bergabung dengan para shippers serupa lalu sibuk mengeluarkan analisis-analisis mengenai kedekatan dengan seseorang. Nah, topik paling hangat yang tengah dibahas munculnya sosok Kang Adi dalam kehidupan Dilan dan Milea yang sedikit lagi bertaut.

Ibu muda ini mengaku telah mengenal dunia shippers sejak tayangan drama Descendant of the Sun yang dibintangi Song Jong Ki dan Song Hey Kyo. Dia sangat menyukai permainan dua aktor ini lalu mulai mencari tahu siapa mereka, hingga akhirnya bergabung dengan grup fans #SongSongCouple di Instagram. Dia akan kepo mengikuti aktivitas aktor film itu, dan sesekali ikut “war” atau perang antar fans.

Fenomena shippers di Indonesia muncul sejak mewabahnya demam Korea di Indonesia. Shippers berasal dari kata ship yang artinya kapal. Jika kita menggunakan mesin pencari Google, kata Shippers akan membawa kita pada beberapa web mengenai ekspedisi atau pengapalan.

Padahal di kalangan penggemar drama Korea, ship bisa diartikan kapal yang artinya mereka meminati hal yang sama. Ada pula yang menyebut kata ship berasal dari kata worship yang artinya pemujaan. Maknanya, mereka memuja artis idola sehingga sibuk mencari tahu apa yang diakukan idolanya.

Sebenarnya fenomena ini sudah lama ada di kalangan penggemar sinetron. Akan tetapi kehadiran drama Korea membuat fenomena ini kian heboh, di tambah lagi kehadiran internet membuat mereka bisa terhubung di satu kanal pembicaraan.

Beberapa hal yang sering dilakukan para shippers ini antara lain mengawasi jadwal, mencari-cari jenis pakaian, warna rambut dan mode fashion artis idolanya yang sepasang untuk mencari kecocokan antara kedua pasangan imajinasi ini.

Selain itu mereka juga merekam dan mengabadikan gambar saat kedua idola mereka ini bertemu atau berpapasan bahkan meskipun hanya bersapa dan tersenyum satu sama lain. Dan banyak hal lain yang dilakukan oleh para shippers ini yang bahkan oleh kebanyakan fans lain dianggap sangat tidak lazim.

Tidak semua menerima keberadaan para shippers ini. Banyak fans yang menuduh mereka sebagai penyebar rumor dan skandal bahkan dikhawatirkan akan mencederai nama baik serta membahayakan karier idola mereka. Di Korea, isu pacaran dan menikah adalah isu sensitif. Meskipun demikian kelompok ini masih saja tetap ada bahkan termasuk kelompok yang paling banyak meramaikan banyak forum diskusi internasional (soompi.com, allkapop.com dll).

Di Indonesia, para fans ini seringkali lebih gila dari fans di Korea. Saat konser musik salah satu band Korea, CNBlue, para fans ramai berdatangan lalu membawa banner, logo maupun spanduk bertuliskan YongSeo, yang merupakan salah satu shippers terbesar di Indonesia.

Para fans ingin memasangkan vokalis grup band CNBlue, YongHwa, dengan Seo Hyun, anggota grup girlband wanita Korea yang paling terkenal di dunia, Girls Generation. Soal jadian atau tidak, itu utusan para idola. Fans hanya mendesak mereka.

Namun jika cara pandang sosiologis kembali digunakan, fenomena shippers ini menunjukkan bahwa batas-batas antara fakta dan imaji perlahan mengabur. Para fans tidak bisa membedakan film sebagai satu produk imajinasi dengan kehidupan aktor-aktrisnya sehari-hari.

Bagi mereka, batas itu mengabur sehingga keluar dari bioskop, tetap saja mereka menginginkan skenario yang sama terjadi di kehidupan normal.

Bagi pihak produsen, fenomena ini justru menguntungkan mereka. Sebuah produk akan cepat menyebar ke mana-mana ketika banyak fans yang merekomendasikannya.

Malah, setiap perusahaan mesti merancang lahirnya kelompok fans ini yang bisa berfungsi sebagai marketer atau pemasar produk yang secara sukarela merekomendasikan produk itu ke mana-mana. Nah, melihat fenomena shippers ini, saya yakin penonton film Dilan bisa mencapai 7 juta orang, sesuai target.

***

FILM Dilan 1990 harus dicatat sebagai awal mula dari kehadiran shippers yang rutin mengikuti kegiatan idola, membuat grup fans di dunia maya, lalu sibuk membicarakan idolanya. Para shippers kebanyakan adalah remaja, mahasiswa, tante-tante, dan ibu-ibu muda yang selalu mengikuti segala hal mengenai idolanya. Mereka tidak saling mengenal, bahkan tidak pernah bertemu. Mereka berjumpa di berbagai kanal media sosial, seperti Facebook, Twitter, Line, Instagram, hingga Whatsapp.

Tak semua shippers ini adalah perempuan. Dalam satu tayangan Dilan dan Milea yang berpelukan di Youtube, ada pengakuan heboh dari seorang laki-laki. Kurang lebih begini kalimatnya: “Saya bukan penganut LGBT. Saya laki-laki tulen.

Tapi melihat Dilan dan Milea, tiba-tiba rahim saya langsung hangat.” Komentar ini langsung heboh dan ditanggapi banyak orang.

Semalam, di satu grup shippers, banyak yang menyayangkan terlalu cepatnya penayangan film Teman Tapi Menikah, di saat kemesraan Dilan dan Milea tengah hangat-hangatnya di mata para penontonnya.

Lebih baik jika pihak rumah produksi menunggu hingga film Dilan tidak lagi ditonton, barulah mereka hadir dengan film baru. Namun, lagi-lagi, logika para fans tidak sama dengan logika pihak rumah produksi yang tak sekadar ingin melahirkan film berkualitas, tapi juga film yang laku di pasaran.

Nah, apakah Anda rela Milea berpasangan dengan sosok lain selain Dilan? Apakah Anda rajin mengikuti perkembangan Dilan dan Milea? Jika jawabannya ya, jangan-jangan Anda adalah salah satu shippers mereka.


Saat SBY Berkata "This is My War"



PRESIDEN keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meradang. Dia menggelar jumpa pers, menyampaikan perasaan yang dizalimi oleh berbagai tuduhan dan fitnah. Ditemani oleh barisan orang yang semuanya berbaju dan berbaret biru serta selalu mengangguk, ia menyampaikan keberatannya.

Ia menempuh jalur hukum. Ia juga menyampaikan ragu bahwa polisi akan menindaklanjuti laporan nantinya. Pasalnya, laporan terhadap Antasari setahun lalu tidak jelas pengusutannya. “Saya masih percaya kepada Kabareskrim, saya percaya Kapolri dan Presiden RI. Mudah-mudahan beliau-beliau mendengar suara hati saya untuk menindaklanjuti apa yang saya adukan nanti,” kata SBY.

Kalimat mantan presiden kita ini selalu santun, padahal dirinya dikesankan terzalimi, juga agak lebay. Tapi ada pesan yang tegas di situ. Dia ingin tuntutannya dipenuhi. Sebelumnya, dia telah melaporkan Antasari. Kali ini, dia melaporkan orang lain. Besok-besok, jika ada lagi yang menyebut dirinya dengan penekanan negatif, dia bisa saja melaporkannya kembali. Mungkin saja, dia ingin semua catatan yang menyebut namanya harus positif.

Di twitter, beragam reaksi bermunculan. Tak lama setelah konferensi pers itu, Gde Pasek, mantan pengurus partai biru, langsung mencuit. Ia mengatakan: “Telenovela politik kembali hadir dengan akting melodramatik dari artis masa lalu. Semoga bisa menghibur pencinta hiburan politik di tanah air.” Pasek tak spesifik menyebut nama. Tapi banyak orang mengaitkannya dengan momentum jumpa pers itu.

SBY mengaku akan menghadapinya seorang diri. Padahal, banyak orang yang siap membantunya. Banyak kader partai yang siap pasang badan untuknya. Tapi ia tetep kukuh. “Ini perang saya, this is my war. Perang untuk keadilan! Yang penting bantu saya dengan doa,” kata Presiden RI ke-6 ini.

Perang baginya adalah perjuangan untuk membersihkan namanya di hadapan hukum. Mungkin saja ia tak membaca sejarah. Bahwa seorang pemimpin yang baik justru paling sering disalahpahami. Sejarah bisa saja meletakkan noktah hitam dalam perjalanan karier seseorang. Namun, kelak akan tiba masa di mana kebenaran akan tampil ke permukaan. Di titik itu, tak perlu lagi ada jumpa pers. Tak perlu lagi berdiri di hadapan media bersama istri, anak, dan mantan menteri yang pernah jadi anak buah.

Pernyataan perang itu ditanggapi sejumlah kalangan. Para pengacara membentuk barisan lalu bersiap menghadapi jihad ala SBY. Pengacara senior, Maqdir Ismail, menyayangkan laporan itu. Bahkan Antasari Azhar ikut berkomentar. Linimasa di twitter diramaikan isu tentang pertemuan para sejumlah tokoh penentang SBY di Penjara Sukamiskin, yang dikemukakan pengacara SBY yakni Ferdinan Hutahaean.

Jika pun informasi itu benar, saya membayangkan betapa repotnya jika semua suara negatif harus dilaporkan ke pengadilan. Di usia yang terbilang sepuh itu, SBY harus kembali memasuki arena pertempuran lalu berperang menghadapi banyak kelompok. Dirinya akan sering buat konferensi pers, demi menyatakan perang. Mengapa pula harus menghabiskan energi untuk menghadapi sesuatu yang belum jelas di mata publik?

***

DI antara semua presiden Indonesia, SBY mengikuti jejak Megawati yang tetap eksis di partai politik. Mega sejak awal memimpin partai itu. Dia telah lama menjadi sukma yang mengawal warisan pemikiran ayahnya, hingga tak mau melepaskannya. Sementara SBY tadinya tak pernah menjabat posisi ketua umum, namun, ia kemudian mengambil alih posisi ketua umum lalu mengendalikan partai sesaat setelah dirinya lengser.

Di sini, terlihat paradoks. SBY adalah seorang demokrat, sesuai nama partainya, yang memberi ruang atau arena bagi kontestasi dalam dunia politik. Akan tetapi, dirinya justru sedang membentangkan karpet merah untuk anak-anaknya di jalur politik. Di banyak kota, foto anak sulungnya kini menghiasi jalan-jalan raya. Sang anak diperkenalkan sebagai calon pemimpin dari trah Cikeas.

Kita bisa saja berkata bahwa sang anak punya potensi sehebat ayahnya. Jika demikian halnya, mengapa dirinya tak dibiarkan sendirian menempuh jalan berbeda, meskipun itu berliku-liku, agar kelak menggapai keemasannya sendiri. Mengapa dia tak membangun nama besarnya di satu bidang kehidupan, hingga pada satu titik dirinya akan menorehkan jejak sejarahnya sendiri, dan jauh melampaui sang ayah.

Akan sangat elok jika semua mantan presiden, khususnya Mega dan SBY, untuk menjauh dari hingar-bingar politik. Jauh lebih baik jika mereka merawat sesuatu yang lebih besar bagi bangsa ini. Lebih baik merawat warisan sejarah serta tanggung jawab untuk menjadi nurani dan detak jantung anak bangsa dari Sabang sampai Merauke.

Justru tidak elok ketika seorang mantan presiden masih berkutat sebagai pemimpin partai politik yang berurusan dengan remeh-temeh, termasuk siapa calon bupati yang akan diusung di setiap daerah. Mereka harus menjauh dari cara berpikir sempit yang melihat politik sebagai palagan menang kalah. Mereka harusnya melampaui semua batasan dan sekat-sekat dunia politik demi Indonesia raya.

Mereka seharusnya menjaga kerja-kerja kebudayaan, tanpa harus terjebak pada pandangan sempit yang melihat tanah air dari sisi suku, bangsa, agama, dan partai politik. Mereka harusnya melingkupi semua orang, lalu menyerahkan energinya untuk kerja-kerja kebudayaan dan kemanusiaan. Mereka bukan milik satu partai, tapi milik semua bangsa Indonesia.

Kini, tinggal Presiden Habibie yang menjauh dari hingar-bingar politik. Saat turun dari jabatan presiden, Habibie menulis buku Detik-Detik yang Menentukan agar publik tahu betapa beratnya masa-masa yang dihadapinya sebagai presiden pengganti dari Suharto yang mengundurkan diri. Melalui buku, Habibie menjernihkan kasak-kusuk dan berbagai informasi berseliweran tentang periode itu. Dia memilih jalur intelektual demi meramaikan dialog publik, bukannya pergi melapor ke Bareskrim.

***

JIKA saja saya bertemu dengannya, barangkali saya akan menitipkan banyak pesan. Ayolah Pak SBY. Bongkarlah semua yang selama ini tersimpan rapat. Tak usah khawatir akan terjadi geger hanya karena dirimu membuka kotak pandora peristiwa itu. Lebih baik negeri ini heboh, sebab semua pihak akan tahu apa permainan di balik layar.

Lebih baik semua warga geger, namun perlahan semua pihak mencari cara untuk menyelesaikan segenap konflik yang mendera tubuh bangsa. Tunjuk saja siapa pelakunya agar publik tahu bahwa rasa murka yang gemuruh itu adalah kemarahan saat melihat ketidakadilan dan fitnah, bukan karena dirimu hendak menyembunyikan sesuatu.

Jika Pak SBY hanya sibuk jumpa pers lalu merasa terzalimi saat didampingi anak istri, maka publik hanya melihat satu tayangan yang serba kabur. Mungkin, ada pihak yang merasa dirimu sedang difitnah, namun, kita tak bisa menampik sejumput tanda tanya: ada permainan apa di negeri ini sehingga namamu disebut di persidangan? Jika posisimu benar, tak perlu mengkhawatirkan apapun. Bukankah seperti dirimu pernah katakan saat jumpa pers tentang Ahok, tak ada satu pun warga negara yang kebal hukum?

Para pemimpin seperti Bung Karno justru tak berdaya di hadapan rezim yang sekeras baja. Puluhan tahun Bung Karno menerima stigma negatif. Tapi keluarganya tak pernah berniat memperkarakan mereka yang menulis sosok itu dengan kalimat penghinaan. Warisan Bung Karno seakan hendak dilupakan. Bahkan rezim pernah nyaris menghapus sosoknya dalam momen penting pengibaran bendera sesuai pembacaan naskah proklamasi.

Namun, sejarah tak pernah tidur. Tuhan tak pernah diam. Di masa mendatang, teka-teki itu akan diurai. Akan ada pihak yang kemudian mengusut lalu coba meluruskan sejarah demi menyatakan bahwa Bung Karno adalah pemimpin besar yang berhasil membawa bangsa ini ke era kemerdekaan.

***

SAYA membayangkan SBY yang seharusnya undur diri dari panggung, kini kembali memilih jihad dan perang. Dia memang tak pernah menghilang, sebab di akhir masa kepresidenan, masa di mana dia seharusnya tetirah dan lengser, tetap saja memegang kursi ketua umum partai.

Jika saja banyak rumor yang dikemukakan pengacara SBY di banyak media benar, maka dia harus menghadapi banyak pihak yang dahulu menjadi oposisi, atau minimal pernah bekerja lalu kecewa dengannya. Dia menghadapi mereka yang pernah dibesarkannya, serta mereka-mereka yang pernah berharap banyak padanya.

Di usia yang seharusnya dirinya sudah menjadi begawan bagi politik Indonesia, dia masih harus berjibaku dan menghadapi banyak serangan, jika tak ingin segara karam lalu nama dan keluarganya hilang begitu saja. Publik tidak diam. Mereka mencatat apa saja yang telah diwariskannya, tak hanya saat menjabat sebagai presiden, namun sebagai warga negara biasa yang bertindak dan berpikir sebagai seorang negarawan besar.

Pada titik ini,  publik menanti warisan dan keteladanannya, sehingga Dewi Themis, dewi yang memegang sebilah pedang dan menutup matanya, bisa menempatkan dirinya sebagai figur yang selalu memegang supremasi hukum, meskipun kelak pedang hukum akan menebas dirinya.

Pak SBY, bisakah kami berharap akan secercah keteladanan?

Lonceng Bahaya di Balik Tewasnya Seorang Guru di Sampang



BANYAK orang sibuk membahas keberanian seorang mahasiswa yang meniup peluit lalu mengacungkan kartu kuning. Banyak orang saling tengkar di media sosial mengenai kandidatnya di pilkada. Adakah yang sejenak berhenti dan mengalihkan perhatian kepada tragedi meninggalnya seorang guru yang dipukuli muridnya di Sampang, Madura?

Guru honorer yang tewas itu bernama Ahmad Budi Cahyono. Ia mengajar di SMA 1 Torjun, Sampang, Madura. Budi mengalami tindak kekerasan seusai menegur muridnya yang ternyata seorang pendekar silat. Tak terima ditegur, murid itu mengeluarkan beberapa jurus yang kemudian membuat Budi tersungkur.

Budi masih sempat pulang ke rumah, sebelum akhirnya terkapar lalu tewas di rumah sakit. Dokter mendiagnosis guru itu tewas karena mati batang otak sehingga alat-alat tubuhnya mati seketika. Kepala guru itu menerima hantaman yang berujung pada cedera parah. Guru yang hari-harinya berdiri di kelas demi memoles kesenian dan membenahi budi pekerti siswanya itu tewas saat menjalankan tugas.

Beberapa teman guru memosting foto Budi yang tengah memegang biola di media sosial. Saya bisa merasakan betapa besarnya kesedihan istri Budi yang tengah hamil empat bulan. Sebagai anak dari pasangan guru, saya membayangkan betapa sedihnya saya jika itu menimpa keluarga saya. Tewasnya seorang guru di tangan muridnya bukan sekadar hilangnya satu jiwa di ruang sekolah, tapi duka yang harusnya ditangisi masyarakat kita.

Saya tak henti memandang potret Budi yang tewas di tangan muridnya. Ia memegang biola, sebagai tanda dirinya seseorang yang mengajar kesenian. Jika kesenian ibarat embun yang membasahi jiwa seseorang, maka Budi tewas karena tiadanya embun di jiwa muridnya.

Ia seharusnya menuntaskan tugasnya untuk melembutkan semua jiwa-jiwa kerontang itu. Apa daya, murid itu berada dalam kekang sistem sosial yang mengubahnya menjadi sosok bengis. Murid itu mengikuti naluri purba, tanpa membiarkan sisi paling manusiawi dalam dirinya berbisik.

Saya sedih memandang potret Budi. Semua guru menempuh jalan pedangnya sendiri ketika mengajar. Ada yang sesekali menghardik, namun beberapa detik kemudian bisa tersenyum saat menghadapi muridnya. Ada yang memilih jadi protagonis yang selalu sabar menghadapi semua muridnya. Ada yang memilih peran antagonis demi menegaskan mana yang salah dan mana yang benar.

Terhadap semua tindakan, terdapat pelajaran berharga tentang dunia yang kelak dihadapi semua murid tak selalu dunia yang penuh senyum. Untuk itu, karakter baja harus dibangun agar murid selalu tangguh menghadapi semua tantangan kehidupan. Karakter lembut juga mesti diasah agar murid selalu menemukan embun dan pencerahan dari semua hal-hal yang ada di sekitarnya.

Budi telah berpulang. Kematian seorang guru, apalagi dia guru honorer, bukanlah tragedi besar yang akan menyita perhatian semua orang. Kematian itu hanya menempati baris kecil di media-media dan perbincangan. Namun kematian seorang guru karena kekerasan siswanya ibarat dentangan lonceng yang menyerukan kematian banyak hal. Kematian itu ibarat lonceng tanda bahaya yang berbunyi nyaring dan sedang mengabarkan sesuatu yang lebih besar tengah ambruk di sekitar kita.

Tata nilai kita kian sekarat, saat seorang guru yang seharusnya diposisikan sebagai begawan yang didengar petuahnya, dan diperhatikan kalimat-kalimatnya, tewas di tangan anak asuhnya. Langit moral kita kita seakan runtuh berkeping-keping saat anak usia belasan tahun berani membunuh gurunya hanya karena satu teguran yang sejatinya hendak mengarahkannya pada kebaikan.

Menangisi kematian Budi adalah menangisi matinya sistem nilai kita, matinya relasi dan penghormatan kepada sosok yang mengajari anak-anak, matinya tradisi kearifan dan penghargaan pada sosok yang mengalirkan ilmu pengetahuan. Pada mereka yang mengajarkan kebaikan, selayaknya kita meletakkan penghormatan setinggi-tingginya atas semua karunia pengetahuan dan jendela pengetahuan yang dibuka lebar.

Mungkin saja sang guru memang berlebihan dalam mendidik. Dalam banyak kasus, kita sering mendengar kisah guru yang mendidik dengan kekerasan. Tapi kita juga harus mengakui bahwa kita gagal mendidik anak-anak kita untuk selalu berdialog dan menyampaikan keberatan dengan cara-cara yang bijaksana.

Mungkin saja kita abai dan tidak memberi ruang dialog kepada anak-anak kita, sehingga mereka pun cenderung memilih penyelesaian yang paling cepat. Begitu tak sepakat, tinju melayang. Dan seorang guru yang melembutkan hati itu akhirnya pergi selama-lamanya.

Di sini, saya mengenang matinya Budi. Menjadi guru di “jaman now” berbeda dengan menjadi guru di zaman ayah saya, yang mendapatkan posisi terhormat di masyarakat. Ayah saya dahulu dihormati dan didengarkan semua kalimatnya. Saya besar dalam keteladanan, serta pandangan masyarakat yang begitu tinggi dan positif dalam menilai seorang guru. Itulah tatanan sosial yang dahulu begitu tegak dan memayungi semua orang.

Di zaman kini, tatanan sosial itu mulai goyah sendi-sendinya. Seorang guru dipandang sebelah mata. Seorang pendidik kerap dilecehkan. Masyarakat kita kian menghamba pada materi, sehingga orang baik dan berilmu bisa dihardik dan dihinakan, sementara orang kaya akan dipandang setinggi langit. Kematian Budi tak bisa sepenuhnya disalahkan pada anak itu. Kematian Budi adalah indikasi dari kian jauhnya kita dari nilai dan penghormatan kepada sesama. Masyarakat kita kian individualis sehingga abai pada sekelilingnya.

Kembali saya memandang potret Budi. Saya merasakan ada satu ruang kosong dalam jiwa kita yang seharusnya diisi dengan budi pekerti dan kecintaan pada sesama, penghormatan pada yang siapa pun yang menunjukkan hikmah. Butuh kerja keras untuk kembali menyatukan kepingan-kepingan jiwa dan nilai yang terlanjur berserakan.

Budi memilih jadi martir, sekadar untuk memberi tahu kita bahwa ada kesalahan, serta bencana yang lebih besar jika kita tak segera menyikapinya. Saat ribuan guru ikut mengantar pemakaman Budi, terasa ada banyak suara berbisik bahwa betapa banyak kerja keras yang harus dilakukan di negeri ini.

Selamat jalan guru kami!

Tarung Jokowi vs Prabowo di Panggung Medsos



PEMILIHAN PRESIDEN (Pilpres) masih akan digelar setahun lagi. Tapi kemeriahannya sudah mulai tampak di media sosial. Pilpres kali ini serupa ajang Indonesian Idol di mana para fansnya membentuk barisan pemenangan sendiri. Para kandidat presiden memenuhi media sosial dengan berbagai postingan yang kemudian di-share berkali-kali oleh para penggemarnya.

Jika saja media sosial menjadi satu-satunya patokan dalam mengukur kemenangan di arena pilpres, maka pemenangnya adalah Prabowo Subianto sebagai politisi paling populer di Facebook, dengan jumlah penggemar hingga 9,6 juta orang. Selanjutnya Joko Widodo (7,9 juta), dan Susilo Bambang Yudhoyono (5,9 juta). Namun jika dilihat substansi dan pengelolaan konten secara kreatif, maka Presiden Jokowi adalah pemenangnya.

***

“Indonesia adalah negeri yang tidak pernah tidur.” Kalimat itu diucapkan oleh Profesor Don Flournoy, salah seorang pakar media di Amerika Serikat. Flournoy menyampaikan itu saat saya mengajaknya berbincang melalui media sosial. Ia melihat fakta betapa Indonesia amat sibuk dengan lalu lintas percakapan di media sosial. Hampir setiap saat, orang Indonesia akan memosting sesuatu, membentuk kubu-kubu, dan saling perang di media sosial.

Eric Schmidt, mantan CEO Google, mengatakan bahwa dunia di abad 21 terdiri atas dua yakni dunia nyata dan dunia maya. Semua penduduk di dunia nyata hendak membangun rumah di dunia maya. Anda dianggap tidak eksis ketika tidak punya akun atau rumah di dunia maya. Abad ini adalah abad migrasi ke dunia maya. Semua orang ingin bangun rumah maya agar terkoneksi dengan orang lain dalam ruang yang teramat luas.

Generasi lama, yang lahir sebelum tahun 1980-an, adalah generasi baru saja pindah dan membangun rumah maya, sehingga disebut digital immigrant. Banyak di antara mereka masih gatek alias gagap teknologi di era baru ini. Sedangkan generasi baru yang lahir setelah era 1980-an adalah generasi yang sejak kecil telah menikmati era internet. Mereka warga asli dunia ini, sehingga sering disebut digital native.

Dunia di abad 21 adalah surganya mereka yang berdiam di dunia maya. Internet menjadi virus yang menyebar hingga ke seluruh pelosok. Data terbaru yang dirilis Wearesocial.com menyebutkan bahwa populasi manusia di bumi adalah 7,5 miliar orang. Pengguna internet mencapai angka 4.02 miliar. Dari jumlah itu, pengguna media sosial adalah 3.1 miliar orang.

Indonesia tercatat sebagai negara yang terbilang cepat penetrasinya di dunia internet. Data itu menyebutkan, Indonesia masuk dalam lima besar negara yang warganya paling banyak mengakses media sosial. Bahkan Indonesia punya lebih banyak warga yang berselancar di media sosial jika dibandingkan dengan Amerika Serikat. Negara dengan persentase penduduk terbanyak yang mengakses media sosial adalah Cina, India, Indonesia, Iran, dan Amerika Serikat.

Makanya, dalam banyak hal, berbagai isu yang hangat di Indonesia perlahan akan menjadi konsumsi warga dunia. Jangan terkejut, saat PSSI hendak bertanding, ucapan semoga menang justru datang dari beberapa pemain top dunia, mulai dari Rio Ferdinand hingga David Beckham. Apa yang terjadi di Indonesia dengan cepat menyebar ke negara lain.

Data dari Wearesocial.com juga menyebutkan negara-negara yang terbanyak menggunakan Facebook. Terbanyak adalah India (250 juta orang), Amerika Serikat (230 juta), Brazil (130 juta), Indonesia (130 juta), dan Mexico (83 juta). Anda bisa bayangkan, betapa ramainya perbincangan di media sosial di Indonesia, yang kebanyakan didominasi oleh kaum muda dan generasi milenial. Mereka saling bertukar pesan dan melihat bagaimana respon publik di situ.

Hiruk-pikuk itu juga merambah ke dunia politik. Sejak pilpres digelar empat tahun silam, ruang-ruang media sosial dipenuhi kampanye yang digelar para politisi. Dahulu, para politisi menggunakan semua media mainstream sebagai wadah untuk menampilkan diri agar dikenali publik, kini pendekatan itu berubah total. Mereka lebih suka membuat akun di media sosial, kemudian setiap saat menampilkan semua aktivitas, sekaligus menyampaikan gagasan di situ.

Saya mencatat, sejak beberapa tahun terakhir, para kandidat presiden ramai-ramai membangun rumah di dunia maya. Facebook menjadi padang luas tempat mereka berinteraksi dan menyampaikan sikap. Namun tidak semua di antara mereka bisa mendapatkan popularitas dan kesukaan dari warga yang berdiam di Facebook.

Jika arena pilpres 2019 nanti adalah arena yang memperhadapkan Joko Widodo dan Prabowo Subianto, marilah kita menyaksikan bagaimana keduanya menampilkan diri di media sosial, khususnya Facebook.

Jokowi dan Prabowo sama-sama membangun halaman atau Fanpage di Facebook. Presiden Jokowi memiliki pengikut (follower) hingga 7,9 juta orang, sementara Prabowo Subianto memiliki pengikut hingga 9,6 juta orang. Jika dilihat dari sisi jumlah pengikut, Prabowo jelas di atas Jokowi. Nama lain yang di bawah mereka adalah SBY (5,9 juta), Partai Gerindra (3,6 juta), Ridwan Kamil (3,2 juta), dan Basuki Tjahaja Purnama (2,5 juta), dan Jusuf Kalla (1,8 juta). Selengkapnya lihat DI SINI.

Tapi dari segi pengayaan konten, sangat terlihat kalau Fanpage milik Prabowo kedodoran. Postingan terakhir Prabowo adalah tanggal 7 Januari 2018 mengenai kunjungannya ke Medan untuk menemui calon gubernur yang diusung Gerindra. Postingan itu disukai 46 ribu orang, dan dibagikan 2,781 orang.

Bandingkan dengan Presiden Jokowi yang jauh lebih sering tampil di media sosial, serta lebih banyak dibagikan oleh publik. Postingan terbaru Jokowi mengenai kunjungannya ke Afganistan, disukai lebih dari 70 ribu orang, dan dibagikan 3.500 orang. Dalam sehari, selalu ada beberapa postingan Jokowi yang tampil sehingga menjadi konsumsi publik dan dibagikan ke mana-mana.

Saya melihat media-media besar juga mengutip postingan itu untuk memperkuat pemberitaannya. Kita bisa mengatakan bahwa tim medsos Jokowi bekerja lebih spartan dan terorganisir. Mereka bisa mengelola semua informasi dan kegiatan sehari-hari tim Jokowi sehingga dengan segara bisa ter-update di media sosial.

Tim medsos Prabowo belum bisa mengelola banyaknya pengikut itu dengan menyediakan semua informasi yang dibutuhkan. Dalam amatan saya, postingan Prabowo terkesan monoton dan mengulang-ulang topik. Beberapa topik yang sering diangkat adalah nasionalisme dan kemandirian. Namun, topik itu dikemas menjadi postingan heroik yang jurusnya selalu diulang-ulang. Jika saja, tim medianya bisa mengelola itu menjadi tindakan sederhana yang mudah dipahami publik, pasti daya ledaknya akan jauh lebih besar.

Misalnya, Prabowo bisa berbicara nasionalisme, melalui tindakan membeli kopi lokal yang dijual di pinggir jalan. Tema besar nasionalisme dihadirkan dalam tindakan kecil yang justru lebih bermakna bagi banyak orang. Jika tim Prabowo punya creative content hebat, pastilah Fanpage miliknya akan menjadi salah satu senjata hebat yang bisa melejiitkan Prabowo.

Namun, duel ini masih panjang. Dalam dunia politik, pemenangnya adalah siapa yang bisa menjaga napas dan ritme dalam setiap ayunan kaki di maraton politik yang cukup panjang. Jika Prabowo Subianto mengelola akun Facebook-nya dengan baik, diorganisir oleh tim yang hebat, serta membagikan hal-hal yang disukai publik, lambat laun, intensitas akun Fanpage-nya bisa meninggalkan Jokowi.

Biarpun pengelolaan media sosial Jokowi lebih baik, bukan berarti tanpa cacat. Semua postingan yang tampil di Facebook Jokowi tampak hebat, sempurna, tetapi mengesankan Jokowi sebagai sosok yang formal dan kaku. Padahal, jika melihat wawancara Jokowi di media dan interaksinya bersama warga, segera terlihat kalau sosok ini adalah sosok yang merakyat dengan bahasa yang sederhana, serta penuh guyonan. Dalam satu dialog dengan para blogger, kritik telah dilontarkan. Jokowi mengaakui kalau tampilan sosoknya di media sosial agak serius.

Saya juga mengamati beberapa hal.

Pertama, media sosial milik Jokowi terkesan satu arah. Kesannya, media sosial hanya sekadar wadah untuk menginformasikan kepada publik apa saja aktivitas presiden. Padahal, publik media sosial, atau kerap disebut netizen, berharap ada interaksi, dialog, atau ajang berdiskusi tentang berbagai topik. Posisi media sosial bagi tim Jokowi hanya sebagai kanal yang memuat aktivitas, tanpa menjadi ruang berdialog atau kanal menampung aspirasi. Semua tanggapan terkesan dicuekkan begitu saja.

Kedua, media sosial milik Jokowi terkesan dikerjakan tim sukses, bukan oleh Jokowi sendiri. Makanya, informasi yang disajikan adalah informasi ala tim humas yang isinya hanya kebaikan-kebaikan dan aktivitas. Padahal media sosial harusnya menjadi kanal untuk menemukan sisi paling orisinil dari seseorang. Dilihat dari sisi ini, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih lebih baik dalam mengelola media sosialnya. Publik tahu mana postingan yang langsung dari jemari SBY sebab biasanya ada kode *SBY.

Postingan yang dikemas tim humas ini jadinya tidak menampilkan sisi paling lucu, paling heboh, dan paling disukai dari sosok Jokowi. Dalam banyak postingan, saya malah tidak tertarik mengikutinya karena informasinya sudah ada di media massa. Kalaupun dikerjakan tim humas, harusnya lebih kreatif. Mereka bisa merekam perasaan sang presiden saat bertemu orang lain, sesuatu yang tak selalu bisa ditangkap oleh jurnalis media.

Ketiga, kanal media sosial milik Jokowi belum dikelola maksimal melalui strategi online dan offline yang terpadu. Kesan saya, antara kerja online dan kerja offline berjalan sendiri-sendiri, tanpa saling berdialog. Maksud saya, tak ada percakapan di dunia maya, yang seharusnya bisa menampung aspirasi. Seharusnya, tim Jokowi menggunakan kanal itu untuk bertanya kepada publik, yang kemudian dikelola sebagai mekanisme untuk penyusunan kebijakan publik. Jokowi bisa saja bertanya ke warga tentang apa yang harus dilakukan atau tanggapan mereka atas isu politik.

Idealnya, beberapa aktivitas langsung atau offline bisa digelar berdasarkan rekomendasi atau masukan di dunia online. Pengelolaan online harus bersinergi dengan pengaturan kegiatan offline. Jokowi bisa saja berkunjung ke satu lokasi, lalu mengundang orang-orang melalui akun media sosial miliknya. Atau bisa juga memperbanyak kuis, mengadakan sayembara khusus yang bisa diikuti siapa pun, atau secara berkala mengadakan teleconference dengan para penggemarnya di media sosial yang ada di berbagai kota.

Keempat, sistem pengelolaan informasi itu cenderung terpusat. Semua informasi hanya mengalir dari satu kanal, tanpa melibatkan partisipasi publik. Saya paham bahwa dalam konteks akun resmi media sosial, informasi harus langsung dari Jokowi dan timnya. Hanya saja, mesti dipikirkan bagaimana mekanisme pelibatan publik dalam diseminasi informasi tersebut.

Saya membayangkan, semua relawan Jokowi lalu membentuk kluster-kluster atau kelompok di semua wilayah, sehingga setiap ada informasi, langsung disebar secara cepat di kanal-kanal yang selama ini tidak dijangkau Jokowi. Model kerja ini bisa menyiasati keterbatasan jangkauan akun Facebook milik Jokowi sehingga bisa menjaring penggemar dari banyak sisi.

Kelima, akun media sosial Jokowi belum dikembangkan sebagai platform politik untuk menampung semua persoalan yang dihadapi masyarakat, juga belum bisa menjadi sarana advokasi atas semua kepentingan publik. Jika saja dikembangkan ke arah itu, maka kanal media sosial itu akan menjadi jendela bagi warga untuk menyampaikan keluh kesah, yang selanjutnya akan diverifikasi tim Jokowi, yang akan memberikan laporan dan update sejauh mana keluh kesah itu disampaikan.

Jika saja media sosial itu menjadi jendela bagi Jokowi untuk menampung masukan dalam penyusunan kebijakan publik, maka ruang-ruang publik itu akan menopang demokratisasi serta membangun kedekatan seorang kepala negara dengan warganya. Kebijakan bisa dikawal prosesnya, sekaligus bisa pula dipantau hasilnya, yang kelak akan memberikan efek positif dalam kerja-kerja Jokowi.

***

INI hanya amatan sementara. Saya melihat dinamika di media sosial akan terus bergulir. Seiring dengan kian dekatnya pemilihan presiden, maka duel itu akan kembali sengit. Bagi warga, debat di media sosial akan lebih baik sebab tidak ada lagi kampanye di lapangan terbuka, di mana semua orang berebut baju kaos, nasi bungkus, serta jalanan ramai dengan pendukung yang menyetel gas motor dengan suara membahana.

Seiring momen pilpres yang kian dekat, saya akan menanti-nanti kampanye kreatif yang melibatkan para desainer handal dan kreator konten hebat-hebat negeri ini. Di era ini, Anda harus sangat kreatif untuk tampil dengan positioning sebagai sosok paling unik yang lebih bisa memikat publik.

Pengelolaan konten yang kreatif adalah urat nadi utama membangun media sosial yang hebat bagi seorang politisi. Tanpa itu, semua akun media sosial hanya nampak mewah di luaran, tapi tanpa isi dan substansi. Jika politik adalah arena untuk merebut dan mempertahankan kuasa, maka kerja-kerja para kreator konten kreatif adalah menyemarakkan dunia politik menjadi arena parade semua gagasan kreatif yang hasil akhirnya akan dilihat pada sejauh mana elektabilitas seorang figur terkerek.

Pada titik ini, tim Prabowo dan tim Jokowi masih harus bekerja keras untuk menghadirkan sesuatu yang beda dan paling bisa memenuhi ekspektasi publik.


Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...

Google+ Badge