Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

EMBUN di Tengah API yang Membakar


seorang demonstran membawa bendera merah putih (foto: kompas.com)


Semua cinta Indonesia. Mulai dari mahasiswa yang mengeluarkan pekik untuk berdemonstrasi, para polisi yang teguh menjaga fasilitas negara, para ahli hukum yang menyusun semua rancangan undang-undang, wakil rakyat yang ingin membenahi negara, hingga semua perangkat negara yang ingin membawa bangsa ini lebih baik.

Lantas, mengapa harus ada kabar benci yang disebar setinggi langit dan memenuhi udara? Mengapa orang saling curiga dan membenci? Siapa yang paling diuntungkan?

*** 

DUA anak muda di Kendari itu meregang nyawa karena peluru menembus tubuhnya. Usai sudah tugas mereka untuk ibu pertiwi. Mereka menyatakan sikap perlawanan dengan heroik. Anak muda memang harus menyabung nyawa untuk kebenaran. Mereka harus bertarung dengan rezim. Mereka harus menolak untuk sekadar duduk diam, seperti seniornya mantan aktivis.

Di mana-mana mahasiswa tampil ke depan. Semuanya menolak rancangan undang-undang. Mereka menyahut semua protes yang mengalir di semua media sosial. Telepon seluler mereka setiap saat dialiri informasi yang isinya penuh kemarahan. Segala jenis kabar mulai dari benci sampai murka berseliweran. Rasa iba pada negeri membuat mereka panik dan bergerak. Di tambah lagi, setiap saat media dijejali tayangan pekik mahasiswa di berbagai kota.

Jangan pula berharap mahasiswa akan paham substansi. Mereka bukan ahli hukum yang tahu persis detail dan titik koma satu aturan. Saat para pemimpin mahasiswa itu tampil di televisi, jangan berharap mereka akan meladeni semua argumentasi mengenai apa yang hendak dikritik. Mereka punya satu hal yang tidak dimiliki generasi lain yakni kemudaan dan keberanian. Mereka punya kekuatan saat berjejaring dengan banyak pihak.

Jangan heran jika banyak kelompok ingin menumpang aksi mereka. Bahwa isu yang mereka usung itu tidak fokus, itu soal lain. Mereka punya semangat muda yang terus membara.

Sebab mereka cinta negeri ini.

***

BAPAK polisi itu bersimbah peluh saat mengawasi demonstrasi. Mereka harus menghadapi mahasiswa yang notabene adalah anak, adik, saudara, ponakan, atau keluarga dekat. Bapak-bapak polisi itu paham bahwa tugas mereka harus ditunaikan. Jika mereka melonggarkan penjagaan, bisa-bisa semua fasilitas negara akan rusak dan dibakar, sebagaimana terlihat di beberapa kota.

Bapak polisi paham prosedur pengamanan. Sangat paham. Mereka pun sudah terbiasa dengan berbagai makian dan umpatan, bahkan ajakan berkelahi. Saat massa mulai beringas dan merangsak maju, mulailah mereka menembakkan gas air mata serta water canon. Setiap saat mereka berhadapan dengan ancaman pemecatan dan hukuman jika berani memukul massa.

Tugas mereka adalah mengamankan semua fasilitas publik. Mereka tidak diajarkan untuk anarkis. Saat berjaga, mereka memelihara kesabaran selevel dewa. Bisa dibayangkan, mereka harus menerima umpatan, lemparan batu, bom molotov, hingga teriakan-teriakan dari mereka yang mengaku intelektual.

BACA: Saat Rocky Gerung Menampar Akademisi Kita

Namun ada saat di mana kesabaran mereka bisa jebol. Mereka pun setiap saat harus siap menjadi pihak tertuduh serta kambing hitam dari setiap peristiwa. Siapapun bisa memanfaatkan situasi chaos. Mungkin ada di antara mereka yang tak bisa tahan emosi. Bisa saja ada penyusup yang menembak dari jarak dekat kepada massa yang sedang beringas. Mereka tetap teguh menjaga semua fasilitas negara, meskipun dihujat setinggi langit.

Mereka yang emosi kemudian melepaskan peluru harus segera diproses hukum. Mereka dihukum atas ketidaksabaran dan pelanggaran prosedur. Tak semua mereka bisa melalui ujian kesabaran yang begitu hebat. Ketika ada darah anak bangsa yang menetes, mereka harus siap-siap untuk diproses. Pedang keadilan akan menebas mereka yang melanggar. Mereka tahu itu.

Sebab mereka cinta negeri ini.

*** 

IBU profesor itu tampil di layar televisi. Namanya Harkristuti Harkrisnowo. Dia meminta mahasiswa yang hadir untuk membaca draft undang-undang itu. Dia menjelaskan proses perjalanan undang-undang yang tidak mudah. Sejak masa presiden kedua hingga presiden ketujuh, UU itu telah dipersiapkan. Di semua tahapan, ada uji publik di kampus-kampus.

Tim pembuat UU selalu mencari pikiran-pikiran terbaik. Mereka terbuka dengan diskusi dan debat. Kalaupun UU itu terbit, dan ada beberapa pasal yang dipertanyakan, maka jalan untuk menggugatnya dibuka lebar. Selalu ada mekanisme untuk mempertanyakan sesuatu. Keran untuk itu dibuka luas.

Dia tak sendirian. Ada pula nama lain yakni Profesor Muladi. Integritas dan kepakaran mereka teruji. Mereka menerima warisan dari guru-guru hukum yang terpelajar. Selama bertahun-tahun mereka bekerja. Mereka tak marah ketika hasil kerja mereka dimentahkan begitu saja dan dicaci oleh mereka yang tak belajar hukum.

Mereka paham tentang dalil sosiologi hukum yang menyebutkan bahwa setiap gagasan harus relevan dengan kondisi sosial tertentu. Ada situasi ketika satu ide besar tidak bersesuaian dengan keinginan masyarakat, sehingga ide itu tersaput angin. Dahulu, Galileo Galilei datang dengan ide baru yang kemudian ditentang masyarakat dan otoritas agama. Bertahun-tahun setelah Galileo tewas, barulah masyarakat sadar kalau dia benar.

Di era yang disebut Tom Nichols sebagai "the death of expertise”, era matinya kepakaran, apakah suara mereka yang ahli punya ruang yang memadai? Mereka tenggelam oleh celotehan para buzzer dan para laskar media sosial. Tapi para pakar hukum itu tak lantas mundur. Mereka tetap bekerja, meskipun dalam diam.

Sebab mereka cinta negeri ini.

*** 

WAKIL rakyat itu terpaku menatap layar. Segala tuntutan dan caci maki tengah mengarah ke gedung dewan. Dia menjalankan tugasnya dengan baik. Dia ikut dalam banyak rapat-rapat mengenai rancangan undang-undang. Dia menjalankan tugas konstitusionalnya dengan sebaik-baiknya.

Tapi dia paham bahwa setiap kebijakan lahir dari hasil negosiasi dan kontestasi. Ada banyak kekuatan yang saling bergesekan demi lahirnya satu kebijakan. Politik adalah arena yang terbuka untuk memperdebatkan mana yang disebut kepentingan rakyat dan mana kepentingan elite. Semua pihak sedang mengatasnamakan rakyat.

Mereka adalah wakil rakyat yang sebenar-benarnya. Mereka memegang mandat konstitusional karena dipilih melalui mekanisme pemilihan yang terbuka dan transparan. Kinerja mereka boleh diragukan. Tapi mereka punya akses untuk masuk gedung itu dan mendiskusikan banyak hal.

Kebijakan mereka tak selalu menyenangkan semua pihak. Tapi mereka dilantik untuk mengatasnamakan suara banyak orang. Mereka punya kuasa untuk menentukan siapa yang duduk di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu, membahas undang-undang, dan mengawasi jalannya pemerintahan.

BACA: Para Jagoan dan Penumpang Gelap Republik

Dalam setiap penyusunan kebijakan, selalu tersedia ruang untuk negosiasi dan diskusi alot. Bahkan untuk penentuan siapa ketua komisi yang menjadi perangkat hukum negeri, mereka melakukannya dengan ketat. Bukan kali ini saja. Ketua KPK pertama hingga Ketua KPK terakhir, semuanya terpilih karena seleksi di kalangan dewan. Lantas, mengapa hasil seleksi mereka dipertanyakan?

Sebab mereka tak lagi sendirian. Di era di mana transparansi menjadi jantung dari kehidupan masyarakat, kerja-kerja mereka menjadi sorotan banyak pihak. Mereka harus mendengar suara-suara, baik itu positif maupun negatif, dari banyak kalangan. Telinga mereka harus lebih peka untuk menangkap suara jarum jatuh hingga suara yang dikeraskan dengan megaphone.

Kalau ada keberatan pada keputusan mereka, celah-celah hukum terbuka. Silakan ajukan gugatan ke mahkamah. Bawa semua bukti, argumentasi, dan pikiran terbaik. Kalau lama, itulah prosedur, sebagaimana lamanya wakil rakyat itu membuat keputusan. Mengapa wakil rakyat itu lama membuat keputusan?

Sebab mereka cinta negeri ini.

*** 

DI sekeliling kita, terdapat banyak suara-suara yang mendengung. Selalu saja kita diajak untuk marah, resah, dan mengamuk. Emosi kita mudah diaduk-aduk oleh satu pandangan yang merasa dirinya benar. Kita harus siap untuk menghadapi semburan kebenaran dari buzzer yang sedang membawa misi tertentu. Bukan hanya versi pemerintah, tapi banyak pula anti pemerintah.

Padahal, mereka yang berseteru itu sedang menyampaikan cintanya pada bangsa. Di tingkat elite, mereka yang berseteru itu bisa duduk manis dan saling menyeruput teh panas. Lihat saja semua elite politik yang berseteru. Di layar kaca, mereka bisa sengit berdebat, tapi di belakang layar, mereka bisa tertawa-tawa bersama.

Tidak semua orang punya kearifan dalam mengelola perbedaan. Mereka yang tidak arif adalah mereka yang sibuk menebar provokasi di media sosial. Setiap ada hal meresahkan, langsung dibagikan, tanpa menelaah dulu apa yang sebenarnya terjadi. Selalu saja ada orang yang suka melihat bangsa ini chaos dan sesama warga saling curiga.

Siapa yang diuntungkan? Banyak. Mulai dari elite penguasa, para buzzer yang menerima orderan di mana-mana, gurita pemodal yang memiliki tentakel di kalangan para pengusaha gerakan sampai pada penguasa.

Kita rakyat jelata adalah kayu bakar yang setiap saat bisa disulut. Mereka tak ikut di jalan-jalan sebab sibuk mengamati melalui media sosial di satu ruangan ber-AC. Mereka hanya sibuk meneriakkan semangat dan panjang umur perlawanan sembari menjalankan agenda lain dari ruang kerja mereka.

Ketika korban berjatuhan, mereka akan segera memasang tagar duka cita dan solidaritas. Saat itulah kita sadar bahwa terlalu banyak harga yang harus dibayar demi menggugat sesuatu yang koridornya masih terbuka lebar. Negeri ini butuh embun ketenangan, kemudian duduk bersama dan berdialog untuk mencari solusi terbaik.

Jika negeri ini ingin menjadi tempat yang digambarkan komponis Ismail Marzuki: “Indonesia sejak dulu kala sudah dipuja-puja bangsa” saatnya saling mendengarkan. Padamkan api amarah, basahi dengan embun kesejukan, kemudian semua pihak mulai duduk bersama dan saling mendengarkan. Waspadai semua kabar provokasi. Dengarkan mereka yang menjerit. Buka hati dan pikiran untuk kemajuan bangsa.

Sebab semua cinta negeri ini.




Pengalaman Melatih Fasilitator Plan - DFW


bersama para fasilitator

Di siang yang cerah, saya diminta memfasilitasi para peneliti yang akan turun lapangan di Hotel Aston, Bogor. Mereka bekerja di bawah payung organisasi Plan International dan Destructive Fishing Watch (DFW). Mereka adalah anak muda pemberani yang akan bertugas di titik tertentu republik ini. Ada yang tugas di Bitung, ada yang di Tegal.

Tugas saya adalah melatih mereka agar bisa menulis catatan lapangan dan laporan riset yang baik. Saya diminta memoles kemampuan mereka sehingga bisa menangkap isu2 di lapangan dengan baik. Setelah itu mereka bisa mengalirkan semua yang dilihat dan disaksikan dalam artikel yang menarik.

Rasanya sangat sayang jika mereka tidak menulis catatan lapangan dan artikel yang baik. Sebab tidak semua orang punya "kemewahan" bisa bertualang sampai pulau2 terluar, bergumul dengan tantangan, serta menemukan kisah2 serupa mutiara untuk dibagikan kepada khalayak.

Saya lihat di kalangan NGO dan praktisi pembangunan sedang muncul kesadaran baru untuk merekam denyut nadi kenyataan lapangan lalu membagikannya ke publik. Istilah kerennya pengelolaan manajemen pengetahuan (knowledge management) kemudian diseminasi pengetahuan (knowledge dissemination) ke semua stakeholder dan masyarakat.

Tak lengkap jika program atau project tidak punya catatan dan publikasi. Sebab melalui catatan itu, kita bisa merawat semua memori dan temuan2 agar bisa tersimpan abadi dan kelak dibaca pengampu program berikutnya.




Pada akhirnya, yang dikenang dari program adalah catatan ringan dan menarik tentang situasi lapangan, yang dilengkapi foto2 dan video. Bukan laporan yang hanya berdebu di lemari lembaga donor. Saya ingat kutipan dari Will Durant: "Kata-kata tertulis abadi, kata-kata terucap lenyap."

Selamat bertugas ke pulau terluar. Semoga saya diajak untuk monev dan berkunjung ke sana lagi, sebagaimana tahun-tahun lalu. Jika fasilitator akan menulis tentang pekerja di sektor perikanan, saya ingin menulis tentang kucing di pulau terluar.

Tentu saja, bukan cuma kucing, tapi juga pemilik kucing. Biasanya sih penyuka kucing selalu imut kayak kucing. Hehehe


Ketika #BugisBerduka dan #MinangBerduka Ramai di Twitter


saat Wamena dicekam rusuh (foto: CNN Indonesia)

Dalam beberapa hari ini, kita menjadi akrab dengan tragedi. Perhatian kita berpindah dari isu-ke isu. Di era medsos, kita ibarat bola pimpong yang bergerak ke mana-mana mengikuti arah siapa yang menepuk.

Di mana-mana orang rusuh dan demonstrasi. Ada yang memprotes rancangan undang-undang, ada juga yang protes ketika seorang aktivis digelandang dan diperiksa. Dunia serupa kiamat. Bahkan hari ini, masih banyak yang membela habis-habisan dirinya atas satu perkara yang sebenarnya tengah bergulir.

Namun adakah yang sempat menoleh ke Wamena lalu Oksibil di sana, saat sejumlah orang Bugis dan Minang dibantai, dibakar, lalu diusir dari tanah yang telah menjadi tanah tumpah darahnya?

Di era di mana perhatian kita pada satu topik sangat dipengaruhi seberapa seksi topik itu di panggung internasional, peristiwa di Wamena sana tidak cukup menyita perhatian kita. Tapi di sana, ada puluhan jiwa yang tewas hanya karena dianggap pendatang.

Masih relevankah kita bicara pribumi dan pendatang di era ini? Apakah orang yang sudah tinggal sejak kakek-neneknya masih pantas disebut pendatang? Bisakah mereka yang menganggap tempat itu sebagai tanah tumpah darahnya disebut pendatang?

Sejarah mencatat mereka yang disebut pendatang itu datang hanya dengan selembar pakaian, kemudian mulai membuka lahan sepetak, lalu menyapa semua orang dalam damai. Mereka mencari nafkah,bercocok tanam, dan membagi rezeki dengan warga sekitar. Hingga mereka beranak-pinak lalu kian sejahtera di sana.

Memang, pemerintah bisa saja tak adil pada mereka yang mengaku sebagai penduduk asli. Sering ada laporan tentang isu HAM di sana, apalagi isu ini memang seksi di panggung internasional. Pemerintah lalai ketika mencaplok tanah lalu membiarkan penduduk asli jadi paria di tanahnya sendiri. Pemerintah juga keliru saat tidak punya banyak instrumen kebijakan yang memihak mereka.

Namun, pemerintah juga sama kelirunya ketika membiarkan masyarakat biasa saling bantai sehingga puluhan korban tewas, dan ribuan orang harus mengungsi ke Jayapura. Tugas negara adalah “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.”

Kita memasrahkan perlindungan saudara kita di sana pada negara sembari mengetuk solidaritas orang-orang untuk berpaling ke sana. Kita pun berharap agar pemerintah menjamin keamanan dan keadilan, yang berlaku untuk semua kalangan, tanpa memandang etnik dan asal-usulnya.

Namun, apakah ada ruang untuk bicara tentang tragedi kemanusiaan? Apakah bisa bicara kemanusiaan ketika hasrat semua orang tengah berpaling ke politik?

Hari-hari belakangan ini, kita menyaksikan ribuan mahasiswa di berbagai kota rela mempertaruhkan nyawa atas rancangan undang-undang yang sebenarnya masih terbuka celah hukum untuk membatalkannya. Kita melihat orang-orang yang bersuara protes agar pemimpin itu lengser.

Kita melihat para aktivis Social Justice Warrior (SJW) yang menemukan momentumnya. Suara mereka yang selama ini tenggelam di tengah hiruk-pikuk politik, kini bangkit kembali.

Tapi bolehlah kita menanam harapan kuat. Jika mereka memang peduli hak asasi manusia, kita harapkan agar mereka juga bicara tentang saudara kita Wamena. Kalau mereka bungkam, maka kita pun tak boleh lelah untuk bersuara.

Ini bukan waktunya menyalahkan siapapun. Bukan masanya untuk saling nyinyir dan menjelekkan siapapun. Kita desak pemerintah untuk melindungi anak bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia di sana. Kita dorong solidaritas publik agar berpaling ke mereka yang sedang terusir dari tanahnya.

Di jagad maya Twitter, #BugisBerduka menjadi trending. Orang Minang juga tengah menyeru solidaritas warganya untuk saling bantu saudaranya yang sedang kesusahan. Kita pun perlu mengetuk kesadaran atas kemanusiaan kita untuk melindungi dan mencintai semua anak bangsa, apapun agama dan etniknya.

Di Wamena, Papua, nurani kemanusiaan kita sedang diketuk. Pada air mata mereka yang mengungsi itu, kita menyaksikan begitu banyak beban yang dipikul tanah air kita: INDONESIA.


Foto: CNN Indonesia

Sharing di Radar Bogor




Betapa saya sangat girang saat diajak sharing dengan para redaktur di Radar Bogor. Pesertanya tidak semua dari Radar Bogor, tapi juga para redaktur di Radar Depok, Radar Sukabumi, dan Radar Cianjur. Hadir pula redaktur pojoksatu.

Kepada para redaktur, saya jelaskan disrupsi di dunia media. Mereka tak bisa nyaman dengan gaya menulis stright news. Saya tunjukkan slide bagaimana media2 asing mulai mempekerjakan robot untuk mengolah liputan dan reportase lapangan. Saya ajak mereka membahas tantangan2 di masa depan, serta perlunya selalu mengasah kemampuan.

Tentu saja, selalu ada harapan bagi mereka yang mau berubah. Saya percaya selalu ada kekuatan pada teks dan narasi. Di era ini, sekadar menulis saja tak cukup, tapi tulisan harus bisa menembus berbagai segmen, dibaca banyak kalangan, serta meninggalkan jejak di hati pembacanya. Tulisan harus melukiskan sesuatu dengan kemasan yang lebih baik ketimbang reportase televisi.

Untik itulah kami saling belajar. Saya ajarkan pada mereka nagaimana storytelling dan bercerita di era digital. Mereka sangat antusias. Saya pun menyerap hal baru tentang bagaimana newsroom merespon perubahan. Mereka mengajarkan saya bagaimana media2 bisa tetap bertahan dan merawat jaringan pembacanya.





Terakhir, saya membantu mereka untuk membenahi tulisan2nya. Sesi ini kian menarik sebab banyak hal2 lucu yang muncul saat mendiskusikan liputan2 yang mereka buat. Saya memberi mereka masukan dari sisi blogger atau warga biasa yang berharap sesuatu ketika membacanya.

Bagian yang saya sukai adalah ketika kelas usai. Saya menandatangani kuitansi yang bertuliskan beberapa angka nol. Empat jam berbagi setara dengan membeli beberapa buku bagus. Saya pun bisa perluas jaringan pertemanan. Semoga mereka tidak kapok untuk mengundang saya lagi.

Thanks.


Kapurung Ternikmat di Tanah Luwu (1)




Hanya di beberapa daerah kawasan timur Indonesia, saya menemukan masyarakat yang begitu memuliakan makanan berbahan sagu. Sejak masyarakat kita menjadikan beras sebagai pilihan utama, sagu dan komoditas hasil ladang seakan terpinggirkan.

Di Luwu, Sulawesi Selatan, sagu masih menjadi makanan pokok warga, bersanding dengan beras. Di sepanjang jalan menuju Masamba lanjut Malili, saya melihat begitu banyak warung yang menjual sagu, yang entah kenapa selalu dibungkus plastik merah.

Masyarakat mengolahnya jadi kapurung, olahan sagu yang dikombinasikan dengan sayur, ikan, udang, dan lain-lain. Di beberapa daerah, saya menemukan makanan sejenis kapurung. Di kendari, namanya sinonggi. Di Ternate dan Maluku, saya melihatnya disajikan dalam berbagai acara. Masyarakat di sana memakai sumpit untuk menggulung sagu.

Saat seorang teman di Masamba mengajak saya makan kapurung, berceritalah saya tentang sagu di Pulau Buton. Dulu, ibu saya menyajikan sagu seperti kolak panas, dicampur dengan air gula merah dan bersantan. Teman saya langsung protes: "Pasti rasanya aneh."

Saya terkekeh sebab saya pun menganggap aneh melihat sagu yang disajikan dengan sayuran, udang dan ikan. Kebudayaan memberikan resep-resep berbeda di berbagai wIlayah. Kebudayaan ibarat kaca mata yang membatasi cara pandang kita. saat lensanya merah, kita melihat semua hal jadi merah.

Di Luwu, kapurung adalah makanan pokok yang ditabah sayuran. Di tempat lain, sagu jadi bahan untuk kolak. Malah di Ambon, sagu Jadi bahan untuk kue bernama Bagea. Kesemuanua punya benang merah yakni sama2 memuliakan sagu.

Pada kapurung di atas meja, saya melihat potensi dan kekuatan lokal. Dulu, Indonesia mencapai kedaulatan pangan ketika ladang masih menjadi mitra pangan. Dulu, tak pernah ada kasus gizi buruk dan krisis pangan. Sebab ladang menyuplai kita dengan berbagai makanan, mulai dari sagu, jagung, keladi, ubi, dan banyak lagi.

Saya teringat krisis pangan di Yahukimo, Papua, beberapa tahun lalu. Kata seorang antropolog, krisis pangan di sana bukan karena alam tak lagi pemurah. Tapi pemerintah menggeser budaya pangan warga dari ladang ke sawah. Masyarakat jadi tergantung sama beras, yang untuk mendatangkannya ke Papua mesti diimpor dari pulau Jawa. Masyarakat jadi tergantung pada pangan dari luar. Alam tak lagi menjadi sandaran, sehingga pada satu titik ketika pasokan beras tidak datang, terjadilah krisis pangan.

"Bang, kapurungnya sudah mau dingin," kata sahabat itu.

Saya melihat kapurung yang begitu nikmat dengan udang sserta cabe yang rasanya agak pedas. Saya membayangkan senyum para pencari sagu di Luwu saat mengolah sagu. Saya membayangkan anak2 berlarian di hutan sambil memikul sagu. Saya melihat keriangan para ibu yang mengolah sagu jadi kapurung.

Saya melihat ada banyak bahagia dan haru bermunculan demi membawa sagu ini menjadi kapurung. Saya lalu menyendok kapurung, sesaat menikmati aroma hebat ini, lalu memasukkannya dalam mulut.

Sssrruuppp.

Orasi "Safety Matches"




Dia membayangkan ratusan mahasiswa yang sedang berdemonstrasi dengan jaket almamater. Nyali lelaki itu langsung keder. Dia tiba-tiba nervous. Dia tahu dia akan diminta orasi di hadapan massa mahasiswa. Masalahnya, dia tidak tahu hendak ngomong apa.

Malam sebelumnya dia menemui saya di pondokan mahasiswa. Dia tahu kalau saya sedang tidak niat ikut demonstrasi. hari itu, saya akan ujian. Baginya, ini kesempatan emas untuk mengeluarkan kutipan yang selalu saya teriakkan saat orasi. "Yos, saya udah bayangin mahasiswi akan histeris saat saya baca puisi."

Dia sejak lama cemburu dengan gaya orasi saya yang katanya tenang, serta sesekali mengutip syair dan puisi. "Kamu selalu bisa bikin mahasiswa hanyut, lalu tinju mengepal ke langit. Ajarin dong," katanya.

Sejak dulu, dia mengangkat saya sebagai gurunya. Saya pernah mengajarkan beberapa kutipan dari Antonio Gramsci, seorang Marxis Italia. Pernah pula saya beritahu kutipan dari Marx, yang kemudian selalu dimodifikasinya saat orasi: "kaum Jomblo sedunia, bersatulah."

Malam itu, saya ajarkan kutipan dari Rendra: "Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata." Ini puisi yang selalu efektif membakar semangat massa. Kutipan yang sama dahsyatnya dengan puisi Widji Tukul: "Hanya ada satu kata. Lawan!!"

Tapi sampai menjelang pulang, diulang-ulangnya semua kutipan itu. Dia bayangkan cewek yang ditaksirnya akan histeris. Tapi dia tak hafal2 juga. "Bisa mati saya kalau orasi kayak baca sambutan." Saat termangu, saya menatap korek di tangan. Aha! Ada ide berkelebat.

"Gini aja deh, kamu ucapkan safety matches polar bear. Tapi sampaikan dengan cepat seolah-olah itu bahasa asing." Dia tersenyum.

Hari ini saya sedang menunggu di depan ruang ujian. Di sana, sejumlah mahasiswa sedang berdemonstrasi. Saya mengenali suaranya yang menggelegar. Saya mendengar jelas dia berkata: "Mahasiswa harus bangkit dan berani menebas sejarah, sebagaimana dikatakan puisi Yunani yang bunyinya safety matches polar bear"

Suaranya tak terdengar jelas karena ditelan sorak-sorai mahasiswa. Semua berteriak "hidup mahasiswa." Bahkan ada mahasiswa yang spontan berlari menembus penjagaan aparat. Hari itu, mahasiswa long march sejauh 9 kilometer. Sepanjang jalan meneriakkan yel-yel.perlawanan.

Dalam hati saya berbisik, semuanya berkat kutipan "safety matches polar bear."



Senyum Manis Gadis LUWU


Gadis Luwu (foto: Yusran Darmawan)

Salah satu cendekiawan Sulsel yang saya kagumi adalah Ishak Ngeljaratan. Beliau adalah sosok yang setiap saat bersedia diajak diskusi mengenai apa pun. Saya cukup menikmati semua uraiannya saat bahas filsafat dan kebudayaan. Mendengar dia meninggal, saya sangat berduka.

Saya masih ingat ketika dirinya membahas budaya di Sulawesi Selatan. Saat itu, saya tersentak saat dirinya membahas Luwu. Menurutnya, Luwu serupa Yunani dalam kebudayaan Eropa. Sementara Bone dan Gowa adalah Romawi.

Maksudnya, Luwu adalah awal dari banyak pemerintahan di Tanah Bugis. Luwu adalah mata air dari nilai-nilai filosofis orang Bugis. Di rahim budaya Luwu, lahir naskah I La Galigo yang berisikan semua kearifan, pesan, serta peta jalan hidup manusia Bugis.

Masih kata Ishak, Luwu sebagaimana Yunani tidak membangun peradaban besar. Yang dia maksud peradaban itu adalah kerajaan kuat dan hebat yang punya pengaruh kuat hingga ke mana-mana. Ketika Yunani runtuh, maka landasan filosofisnya lalu menjadi fundasi bagi Gowa dan Bone. Itulah cikal-bakal Romawi, menurut Pak Ishak.

Kata seorang filolog, dalam I La Galigo disebutkan Luwu di masa lalu adalah wilayah pesisir sungai yang sumber ekonominya adalah perdagangan. Pada masa itu, komoditas besi asal Luwu menjadi bahan utama yang dikirim ke pusat kerajaan Majapahit.




Besi Luwu menunjukkan kehebatan teknologi metalurgi di masa itu. Besi Luwu menjadi unsur utama dalam senjata dan keris-keris hebat Majapahit, yang saat itu penguasa Nusantara. Kalau Luwu jadi pemasok komoditas utama, bisa dibayangkan betapa kayanya Luwu di masa itu.

Saya tidak paham persis yang dimaksudkan Ishak. Tapi, penjelajah James Brooke mencatat bahwa pada abad ke-19, Luwu menjadi kerajaan kecil. Katanya, Luwu adalah kerajaan Bugis paling tua, tapi menyedihkan. Palopo hanya terdiri 300 rumah yang tersebar. Dia sulit percaya bahwa Luwu pernah sangat berjaya pada masanya.

Apa pun itu, saya suka dengan kalimat Ishak tentang Luwu sebagai Yunani. Di mata saya, Yunani adalah tempat para filosof yang romantis. Namun, apakah anak-anak muda Luwu di masa kini masih suka syair, puisi, dan filsafat? Saya yakin masih. Dalam diri mereka, mengalir darah kearifan leluhur. Yang perlu dilakukan hanya mengingatkan kembali tentang warisan hebat itu.

Besok adalah pembukaan Festival Keraton Nusantara di Palopo. tadi sore, seorang kawan mengajak saya untuk hadiri pameran keris dan benda pusaka. Saya memilih melihat tarian dari sejumlah kembang2 cantik Luwu. Pada tarian itu, saya melihat ada sisi lembut yang membuat dunia selalu tersenyum.

Selamat malam Palopo.

Palopo, 8 September 2019

Sepenggal Kisah Xanana dan Habibie



Di media sosial beredar video tentang Xanana Gusmao yang menciumi Habibie. Video ini membuat saya tersentuh. Dua orang yang dahulu berdiri di garis berseberangan. Satu adalah mantan panglima tertinggi dari satu negara dengan penduduk 240 juta orang. Satunya adalah mantan pemimpin dari satu bangsa yang ingin merdeka dari negeri itu.

Saya sepakat dengan liputan media2 asing. Bahwa warisan terbesar Habibie bukanlah kisah cinta yang mendayu-dayu. Bukan pula teknologi dirgantara. Warisan terbesarnya adalah meletakkan kemanusiaan sebagai sesuatu yang lintas bangsa dan lintas negara, pada satu periode yang sedemikian kritis.

Dia tahu bahwa keputusannya akan membikin murka para jenderal yang mendapatkan pangkat bintang karena operasi militer di wilayah itu. Tapi dia kukuh membebaskan Indonesia dari virus2 kolonialisme yang dulu pernah mencengkeram negeri ini. Dia tak ingin mengulangi beban sejarah sebagai negeri yang pernah bebas dari kolonialisme, kemudian berperilaku kolonial sebagaimana penjajahnya.

Habibie memberikan jalan bebas bagi negeri itu untuk lepas dan menentukan nasibnya. Dia membebaskan Indonesia dari beban sejarah itu, sekaligus memberikan titik terang bagi negeri itu untuk menentukan nasibnya.

Beberapa pekan lalu, saya berkesempatan singgah di perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Secara ekonomi, negeri itu jauh tertinggal dari negeri kita. Desa2 di sana tampak miskin dan tidak terawat. Air mata saya tumpah saat bertemu tokoh adat yang bajunya compang-camping.

Tapi saya melihat ada banyak senyum bahagia yang mekar dan bersemi. Saya melihat ada kegembiraan dan wajah-wajah tanpa rasa takut di sana.

Saya teringat Prof Amartya Sen, ekonom peraih nobel, yang menyebut esensi pembangunan sebagai sesuatu yang membebaskan manusia. Saya pun ingat Soedjatmoko yang berkata, pembangunan harus bertujuan untuk emansipasi manusia.

Pada titik ini, kita melihat Habibie sebagai sosok humanis, yang melihat manusia sebagai tujuan dari semua kebijakan politiknya. Dalam hati Habibie terdapat esensi kisah Bumi Manusia yang menempatkan perjuangan manusia sebagai embun bening yang membasahi seluruh jiwa.

Melihat video Habibie yang berpelukan dan berciuman dengan Xanana Gusmao ini, saya bayangkan betapa indahnya hubungan dua manusia yang dipisahkan tapal batas negara, tapi keduanya bersatu dalam harmoni dan nada kemanusiaan yang sama.




Menenun DAMAI di Perbatasan Indonesia - Timor Leste


seorang ibu sedang menyiram kebun di Desa Napan, perbatasan Indonesia dan Timor Leste

Di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, terdapat banyak kisah-kisah mengharukan tentang para perempuan yang memelihara perdamaian. Mereka mengalami masa lalu yang kelam, berusaha menyembuhkan trauma, kemudian bangkit dan menyebarkan perdamaian.

Lewat aktivitas bertani, berdagang, dan menenun, mereka menyebar benih perdamaian dan menatap masa depan yang lebih benderang.

***

Hari itu, Chrispina Taena kembali melintasi perbatasan. Perempuan yang setiap hari berdagang di Pasar Tono, di Distrik Oecusse, Timor Leste ini datang ke Desa Napan di wilayah Indonesia untuk menghadiri undangan pernikahan.

Perempuan yang usianya 50-an tahun ini tidak pernah merasa sebagai orang asing di Desa Napan. Dia lahir dan besar di desa ini. Dia meninggalkan desa ini sejak menikah dengan lelaki asal Oesilo di Distrik Oecuse. Dia pun pindah demi mengikuti suami ke Oesilo. Pada masa itu, Oesilo masih bagian dari Timor Timur, provinsi ke-27 di Indonesia.

Tapi sejak Timor Timur melepaskan diri dari Indonesia dan menjadi Republik Demokratik Timor Leste, perempuan yang disapa Mama Krista ini ikut menjadi warga negara. Pada waktu tertentu, dia tetap sering melintasi perbatasan.

Dia tak perlu harus membawa paspor. Dia cukup membawa kartu Pos Lintas Batas Perbatasan (PLBP) yang memberinya akses untuk datang ke Indonesia selama 10 hari. Dia datang untuk berbagai keperluan.

Selain menghadiri undangan pernikahan sebab penduduk Napan dan Oesilo masih berkerabat, dua juga sering datang untuk membeli sayuran dan buah-buahan. Dia menjual semuanya di Timor Leste.

Desa Napan terletak di Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur. Desa ini bisa dijangkau dengan menggunakan mobil dari Kupang, Ibukota Provinsi NTT, sejauh 200 kilometer. Perjalanan ke desa ini bisa menempuh waktu lima jam, setelah sebelumnya melintas Kefamenanu, Ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara.

Bagi Mama Krista, garis yang memisahkan kedua negara hanya garis politik. “Kita bisa beda negara, tapi kita tetap bersaudara,” katanya dengan tersenyum. Sebagaimana halnya banyak penduduk lain, Mama Krista sering melintasi perbatasan untuk meramaikan aktivitas ekonomi.

embung yang dikelilingi kebun warga di perbatasan

Secara fisik, Desa Napan terlihat lebih berkembang dari Oesilo. Jalan-jalan di Napan terlihat mulus. Sedangkan di Oesilo, jalan-jalan tampak berbatu dan tidak diaspal. Penduduk Napan menyuplai semua kebutuhan pokok ke Oesilo, mulai dari produk pertanian, perkebunan, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya. Sementara komoditas dari Oesilo yang masuk ke Napan hanya ternak dan sopi atau tuak lokal. Itu pun, ternak hanya masuk pada saat tertentu. Sopi dari Oesilo dikenal murah dan banyak.

Hampir semua penduduk di desa perbatasan mengenal Mama Krista sebagai sosok yang ramah dan ceria. Dia selalu menyapa semua orang. Dia pun senang bercanda. Ke mana pun dia datang, banyak orang yang senang dengannya. Dia terlihat selalu gembira. Dia tidak pernah kehabisan topik pembicaraan.

Namun jika dia ditanya tentang peristiwa berpisahnya Indonesia dan Timor Leste di tahun 1999, dia segera menjadi sosok yang berbeda. Dia langsung terdiam, kemudian perlahan terisak dan menangis. Dia sangat sedih saat mengingat peristiwa kelam yang dialaminya.

Pada tanggal 30 Agustus 1999, rakyat Timor Leste memilih untuk merdeka dari Indonesia dalam sebuah referendum yang disponsori PBB. Setelah referendum, milisi pendukung kemerdekaan dan militer Indonesia bertempur sehingga ribuan orang menjadi korban. Sejumlah ahli memperkirakan ada 300.000 orang yang mengungsi ke Timor Barat.

Mama Krista masih mengenang dengan jelas peristiwa itu. Dia masih ingat rumah-rumah di desanya terbakar. Dia suatu pagi, dia mendengar banyak teriakan-teriakan yang menyuruh warga untuk berlarian. Dia langsung keluar rumah untuk mencari perlindungan. Dia mendengar suara tembakan serta melihat banyak mayat di jalan-jalan.

BACA: Sowing Seeds of Peace

Mama Krista berlari sekuat tenaga. Dia berlari sambil menggendong anaknya Riki, yang saat itu berusia lima tahun. Dia tidak menyadari kalau anaknya sedang sakit parah hingga akhirnya meninggal dunia. Ketika dia tahu, dia berhenti berlari dan menangis sekeras-kerasnya.

Saat itu, dia tak bisa terus-terusan menangis. Dalam situasi yang mencekam, dia harus berlari untuk menyelamatkan diri. Bersama warga lainnya, Mama Krista berlari sekencang-kencangnya. Dia menembus hutan bersama warga lain. Dia menerobos lintas batas demi bergabung dengan tenda-tenda pengungsi di Desa Napan.

Bulan-bulan pertama dilaluinya dengan kesedihan. Kehilangan anak adalah kehilangan segala-galanya. Selama ini aktivitasnya hanya untuk anaknya. Dia memulai hari saat melihat senyum anaknya. Sebelum tidur, dia masih melihat senyum anaknya.

Baginya, senyum anaknya adalah kompas kehidupan yang membuatnya kuat melalui semua tantangan seberat apa pun. Ketika kompas kehidupan itu pergi, dia merasa hampa. Dia kehilangan segalanya. Selama sebulan, hidupnya bergantung pada bantuan berbagai lembaga internasional. Semuanya terasa berat baginya.

Pada satu titik ketika air matanya mengering, dia mulai bangkit. Dia berpikir tak ada gunanya tenggelam dalam kesedihan. Dia bisa kehilangan masa lalu, tapi dia tak boleh kehilangan masa kini dan masa depan.

Dia tak ingin tenggelam dalam sedih. Dia bergerak.  “Kalau saya sedih terus, bagaimana saya bisa hidup? Riki memang sudah pergi. Tapi saya masih hidup. Saya harus rawat kehidupan,” katanya.

Dia mulai berjualan. Warga Desa Napan mengulurkan bantuan baginya. Semua menyadari bahwa ini bukan konflik antar warga. Konflik ini didesain oleh sejumlah orang yang tak rela melihat situasi politik berubah. Saat situasi aman, dia kembali ke Oesilo dan memulai semuanya dari nol.

Mama Krista seorang pejuang tangguh. Berbekal bibit tanaman dari satu lembaga internasional, dia mulai menanam. Dia tahu bahwa hanya dia yang menanam, yang kelak akan memanen. Dia menggerakkan ibu-ibu lainnya untuk menanam lalu memanen, kemudian menjualnya ke pasar terdekat.

Tak cuma menanam. Dia juga menenun. Dia membentuk kelompok yang beranggotakan lima perempuan untuk menenun di rumahnya. Dia menenun berbagai kain-kain khas Timor yang indah. Beberapa pewarna menggunakan pewarna alam. Bahkan benangnya menggunakan kulit kayu.

Dia tak pernah malu dan tak pernah merasa tua untuk belajar. Ketika UNDP menggelar pelatihan untuk meningkatkan kemampuan bertani, dia amat gembira. Dia penuh antusias saat mendapat kesempatan untuk belajar pada petani di Desa Napan, Indonesia. Dia belajar pada petani lain, dia pun bagikan pengetahuannya.

Mama Krista mengubur semua dendam. Dia tidak melampiaskan dengan kebencian dan sikap memusuhi satu orang atau satu komunitas. Dia melepaskan dendam itu dengan menjalani aktivitas menanam dan menenun. Dia membakar semua belukar dendam itu dengan embun kasih dan kecintaan pada manusia lainnya.

Mama Krista mengubah bara dendam menjadi embun kasih sayang. Dia mengasihi alam dan mengasihi manusia. Dia melihat masa lalu dengan pikiran terang. Dia membingkai masa kini dengan kebaikan dan cinta.

Dia menatap masa depan dengan penuh optimis. Penuh bahagia. Penuh ceria. Penuh damai.

The Rising Phoenix

Mama Krista tidak sendirian. Rekannya Yasinta Colo juga mengalami kesedihan yang sama. Di tahun 1999, perempuan yang dipanggil Mama Sinta itu berlari ke hutan di tengah desingan peluru. Saat peluru mengenai pamannya, dia tak sempat menangisi kematian itu. Dia harus terus berlari.

“Saya menangis lihat bapak kecil atau paman kena peluru. Waktu itu, laki-laki dan perempuan lari terpisah. Laki-laki yang banyak ditembak. Dia ikut perempuan karena mengira akan lebih aman. Ternyata dia yang kena peluru,” katanya sembari terisak.

Yasinta Colo

Dalam situasi yang penuh ancaman, Mama Sinta tak bisa membawa jenazah pamannya. Jenazah itu lalu disimpan di dekat tebing. Lokasinya ditandai. Dia bersama perempuan-perempuan lainnya berlari dan menembus perbatasan. Mereka lalu menjadi pengungsi di Desa Napan.

Dampak dari konflik tahun 1999 itu menimpa seluruh lapisan masyarakat. Banyak laki-laki yang meninggal. Banyak pula perempuan yang harus menanggung sedih di pengungsian. Selama berbulan-bulan, mereka hidup di pengungsian dan menerima bantuan lembaga internasional.

Tapi sebagaimana halnya Mama Krista, Mama Sinta juga tidak ingin larut dalam kesedihan. Dia memang bersedih saat mengingat peristiwa traumatik serta keluarganya yang meninggal. Namun dia sadar bahwa kesedihan itu tidak akan mengembalikan semua keluarganya. “Saya pikir saya harus bangun. Saya harus bergerak. Kalau tidak, mau makan apa,” katanya.

BACA: Mama Sinta yang Bangkit dari Kesedihan

Mama Sinta mulai membeli kebutuhan sehari-hari di Desa Napan yakni seperti beras, minyak goreng, bensin, hingga sayuran. Dia nekat melintasi perbatasan untuk berdagang. Dia tahu bahwa warga Timor Leste sedang membutuhkan banyak hal.

Pada saat itu, perbatasan masih dijaga ketat. Mama Sinta lalu berkomunikasi dengan cara membenturkan batu sehingga menghasilkan irama tertentu. Dia menyapa rekannya di Timor Leste agar datang membeli barangnya. Mereka berkomunikasi dengan isyarat agar memudahkan transaksi, tanpa sepengetahuan pihak militer.

Perempuan Timor Leste memiliki kemampuan hebat dalam hal bangkit dari kesedihan. Mereka bisa cepat melupakan tragedi dan menatap masa depan yang lebih baik. Mereka lebih tangguh dari lelaki padahal mereka adalah pihak yang paling menderita. Konflik dan peristiwa kelam tidak membuat mereka kehilangan semangat hidup.

Kisah Mama Krista dan Mama Sinta mengingatkan pada burung phoenix yang saat terbakar dan menjadi debu bisa terlahir kembali sebagai phoenix yang baru dan lebih kuat. Mereka menjadikan tragedi sebagai sesuatu yang memberi mereka kekuatan untuk tetap hidup dan bertahan demi keluarga.

Bersama para lelaki, mereka ikut bekerja dan memastikan semua kebutuhan keluarga terpenuhi. Mereka bukan tipe perempuan yang hanya tinggal di rumah saja, sebab mereka memasuki ruang publik. Mereka bekerja keras dan melakukan berbagai pekerjaan bersama para lelaki.

Mereka berdagang, menenun, bertani, dan mencukupi nafkah keluarga. Mereka pun menjadi pilar di rumah yang menyembuhkan trauma dan memberikan motivasi kepada semua anggota keluarga agar tetap bangkit dan berusaha.

Mereka juga menjadi agen perdamaian di perbatasan serta selalu mengingatkan orang-orang kalau batas negara bukanlah sesuatu yang harus memisahkan. Batas negara harus dilihat sebagai peluang untuk tetap menjaga persaudaraan dan persahabatan, serta saling berjejaring di lapangan ekonomi.

Namun, perdamaian tidak akan mungkin bisa terjadi jika hanya diinginkan satu pihak. Benih perdamaian akan bisa tumbuh jika semua pihak memiliki komitmen yang sama untuk tetap saling memanusiakan dan menghargai.

Burung phoenix tidak akan menjadi burung hebat jika sendirian. Dia didukung oleh lingkungan yang bisa menjadi lahan gembur bagi pengembangan potensinya.  Mama Krista dan Mama Sinta bisa menjadi agen perdamaian karena dukungan kuat dari lingkungan kedua negara, baik itu masyarakat, budaya, agama, juga upacara adat.

***

Bapak itu datang dengan mengenakan pakaian adat. Dia memakai sarung tenun dan ikat kepala. Dia singgah menemui beberapa warga yang sedang bersiap-siap menggelar upacara adat. Dia akan memimpin upacara adat dan berdoa kepada leluhur. Bapak itu adalah Petrus Pot.

Sebagai tetua adat, dia tidak hanya bertugas di Napan dan desa-desa sekitar di wilayah Indonesia. Dia juga memilin upacara adat di Oesilo dan desa-desa lain di distrik Oecuse, Timor Leste. Petrus ibarat payung harus memayungi semuanya.

Petrus Pot adalah pemimpin adat sekaligus rohaniwan Katolik. Dia bekerja di gereja Katolik untuk melayani umat. Tapi saat ada upacara adat, dia memimpin ritual untuk memberikan persembahan kepada nenek moyang. “Saya menjalankan peran keduanya,” kata Petrus.

saya sedang mewawancarai Petrus Pot

Penduduk Napan dan Oesilo relatif homogen. Mereka memiliki budaya dan menjalankan ritual yang sama. Mereka memiliki nama belakang atau marga yang saling berkerabat. Di sini, terdapat enam sub-suku atau marga besar, yakni: (1) Kefi, (2) Siki, (3) Nule, (4) Eko, (5)  Kolo, (6) Oki. Ikatan ini masih kuat dan dipertahankan masyarakat.

Kata Petrus, upacara adat masih menjadi hal yang penting di masyarakat. Jika ada warga yang tidak hadir, suatu saat warga juga tidak akan datang ke rumahnya jika diundang mengikuti upacara adat. Upacara adat itu menjadi tali temali yang menjaga solidaritas warga agar tetap kuat.

Petrus bercerita pengalamannya saat konflik di tahun 1999. Dia sangat sedih saat melihat banyaknya pengungsi dari Distrik Oecuse yang datang ke Desa Napan. Sebagai pemuka adat, dia melihat semua orang sebagai kerabat. Apalagi, mereka punya budaya dan bahasa lokal yang sama.

BACA: Petrus Pot yang Merawat Damai

Dia ikut menampung semua pengungsi di gereja. Dia berusaha menenangkan pengungsi, khususnya perempuan, yang mengalami trauma. Dia pun mempersiapkan pesta adat yang bisa menjadi ajang rekonsiliasi bagi semua pihak yang menjadi korban. Pesta adat itu dinamakan Tfua Ton yang digelar setiap tahun.

Saat pesta adat itu, Petrus mengundang semua pihak untuk membawa makanan dan minuman. Petrus membaca doa dalam bahasa lokal yang berisi pesan-pesan agar semua pihak tetap menjaga kedamaian.  Dia menyebut filosofi “Aifa Ben Neke, Sus Pet Bijae” yang dalam bahasa Dawan bermakna “Kami siap memangku dan menyusui siapa pun yang datang dan membutuhkan bantuan.” Filosofi ini berlaku di kedua wilayah.

Petrus menjadi agen budaya yang mempromosikan perdamaian. Di lapangan budaya, dia mempertemukan semua pihak sebagai sesama warga yang sama-sama menginginkan perdamaian. Dia menggelar ritual yang tujuannya agar semua orang menyadari bahwa mereka berasal dari rahim yang sama sehingga musibah yang dialami satu pihak adalah musibah bersama.

Selain budaya, ada dua arena lain yang bisa memfasilitasi dialog-dialog antar warga.

Pertama, arena ekonomi. Mereka yang menjadi korban konflik sama-sama kehilangan pekerjaan, padahal dalam kehidupan sehari-hari, mereka saling terhubung dalam satu mata rantai ekonomi.

Warga Desa Napan lainnya Brigitta Siki bercerita tentang bagaimana dirinya berdagang se’i atau kuliner Oecuse. Dia membangun rantai kerja sehingga produk yang dibuatnya bisa dijual di Oekuse sehingga dirinya memiliki banyak konsumen.

Brigitta kini bergerak di sektor Usaha Kecil Menengah (UKM). Dagangannya selalu laris dan ditunggu-tunggu warga. “Saya menyediakan pasokan daging, kemudian dipasarkan di kios-kios yang ada di sana,” katanya.

Area perbatasan memang menyimpan potensi ekonomi yang hebat. Sejak dulu, warga Napan dan Oesilo memang sudah terikat dalam satu mata rantai perdagangan. Kerja sama antar warga berkembang sejak konflik. Mereka saling membutuhkan sebab sama-sama menginginkan kehidupan yang lebih baik. Mereka membangun simbiosis mutualisme.

Jose Benu, salah seorang petani

Kedua, arena pertanian. Mayoritas warga di perbatasan adalah petani. Dialog-dialog dan relasi antar warga juga terjadi di lapangan pertanian. Para petani di dua negara itu membentuk kelompok tani yang kemudian saling belajar dan saling meningkatkan kapasitas.

Jose Benu, seorang petani di Desa Napan, bercerita, dia melupakan semua trauma kerusuhan ketika sedang menanam. Baginya, menanam ibarat meditasi yang membantunya melepaskan diri dari semua masalah yang terjadi di masa lalu. Dia menemukan aktivitas produktif yang berguna untuk konsumsi keluarga, juga bisa dijual untuk meningkatkan kesejahteraan.

Setahun terakhir, UNDP datang dan membantu masyarakat perbatasan untuk mengembangkan komoditas agar bisa laris di pasaran sehingga mengangkat ekonomi warga. Brigitta adalah salah seorang pelaku UKM yang diberangkatkan ke Malang untuk belajar pengelolaan kuliner. Dia berangkat bersama beberapa rekannya sesama pelaku UKM agar bisa menyerap hal baru demi pengembangan produknya.

UNDP juga membantu petani untuk mengembangkan produk hortikultura yakni sayuran sehat. Para petani di perbatasan diajari bagaimana membudidayakan sayuran sehingga bisa mencukupi kebutuhannya serta dijual ke pasar-pasar. Pendapat per kapita masyarakat masih rendah yakni Rp 500.000 per bulan untuk setiap kepala keluarga.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 menunjukkan, pertanian dan perkebunan adalah sektor yang paling banyak menyerap lapangan kerja di Napan. Jumlah Rumah Tangga Petani (RTP) adalah 257. Dari jumlah itu, 136 RTP memiliki lahan lebih dari satu hektar, 97 RTP memiliki lahan dengan luas antara 0,5 hingga 1 hektar.

Data penduduk yang bekerja di sektor pertanian lebih banyak dari mereka yang bekerja di sektor perdagangan dan industri. Jumlah pelaku industri yang hanya 28 orang, juga pemilik usaha perdagangan hanya ditekuni 44 orang.

Artinya, pertanian dan perkebunan adalah nadi utama dari kehidupan warga Desa Napan. Dengan mengembangkan pertanian dan perdagangan, warga di perbatasan akan hidup lebih baik. Mereka beruntung karena di masa pemerintahan Presiden Jokowi, embung dibangun sehingga warga bisa berkebun di sekitarnya. Mereka menanam sayuran, buah-buahan, serta berbagai kacang-kacangan.

UNDP juga mempertemukan para petani di dua negara itu dalam satu platform kerja sama yang menguntungkan. Para petani mengorganisir dirinya dalam berbagai kelompok, kemudian merencanakan program menanam bersama, serta mengembangkan kapasitas. Mereka saling mengunjungi dan saling memberi masukan.

Saat sama-sama belajar di lapangan, segera terlihat kalau tidak ada yang superior di antara mereka. Semuanya sama-sama belajar dan berkembang bersama. Bahkan mereka juga menggelar upacara adat bersama-sama untuk mensyukuri semua capaian.

Lesson Learned 

Mereka yang pernah ke perbatasan Indonesia dan Timor Leste pasti pernah menyaksikan bunga-bunga gamal (gliricidia sepium) bermekaran. Di tengah tanah yang tandus dan kering, bunga gamal tetap mekar sehingga membawa kesegaran dan menghadirkan pemandangan indah.

Bunga gamal ini mewakili realitas yang sedang terjadi di sana. Di tengah situasi yang kering-kerontang, selalu ada harapan yang mekar, selalu ada yang memberikan kesegaran, selalu ada yang membuat hari-hari lebih berwarna.

bunga gamal yang bermekaran

Seusai konflik, tunas-tunas baru bermunculan dan kini mulai memberikan buah. Banyak perempuan hebat yang bisa bangkit dari trauma, bisa segera recovery dan kini mulai membawa harapan bagi peningkatan kesejahteraan keluarga.

Dalam situasi krisis, sejumlah individu sering bertindak sebagai peace-builder yang mendamaikan situasi. Mereka memperkuat institusi dan kelembagaan di masyarakat sehingga menjadi fundasi pijak yang kuat untuk rekonsiliasi dan perdamaian.

Mama Krista, Mama Sinta, Petrus, hingga Brigita Siki adalah masyarakat yang menjadi peace-builder melalui aktivitas ekonomi produktif. Mereka adalah aktor perdamaian yang menggunakan metode komunikasi, persuasi, dan mediasi sehingga banyak kelompok masyarakat bisa menyembuhkan traumanya melalui kegiatan produktif yakni menenun, menanam, dan berdagang.

Pelajaran penting di perbatasan Indonesia dan Timor Leste adalah perlunya kerja sama dan peran serta dari banyak pihak untuk sama-sama membangun situasi yang aman dan tenang. Perdamaian bukanlah sesuatu yang hanya dikerjakan dari atas, tetapi harus tumbuh dari bawah dan mendapat dukungan kuat dari semua masyarakat.

Perdamaian adalah situasi yang lahir dari kerja sama banyak aktor di grass root yang pernah mengalami situasi penuh konflik, sehingga berharap tidak ada lagi konflik serupa di masa mendatang. Semua pihak diharapkan melakukan kerja sama yang sifatnya lintas negara, lintas politik, lintas budaya untuk membangun transformasi ekonomi dan rekonsiliasi pasca-konflik.

Sejak tahun 1992, istilah peace-building menyebar ke seluruh dunia sejak Sekjen PBB Boutros Boutros-Ghali memperkenalkan peace-building sebagai agenda perdamaian. Mulanya, definisi ini hanya terbatas pada upaya mengakhiri konflik, peacemaking, dan peacekeeping.

Selanjutnya, istilah peace-building menjadi lebih berkembang sebagai upaya dari berbagai aktor, baik pemerintah ataupun masyarakat sipil, untuk mengatasi dampak dan sebab konflik, kemudian membangun situasi yang damai pasca-konflik.

Bentuk konkrit dari peacebuilding adalah tindakan pembangunan kembali daerah-daerah yang mengalami hancur akibat terjadinya konflik. Untuk mempercepat peacebuilding dilakukan identifikasi pada modal sosial yang dapat digunakan untuk memperkuat dan mempersolid perdamaian untuk menghindari agar tidak terjadi suatu konflik.

Di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, modal sosial yang menjadi perekat aktivitas semua warga adalah modal budaya, modal ekonomi, solidaritas sesama koban konflik, dan rasa saling percaya. Modal sosial ini memberikan kekuatan pada masyarakat untuk mencegah kekerasan terjadi di masa mendatang, serta munculnya solidaritas untuk saling membantu.

Modal sosial ini mesti dikenali sehingga pembangunan bisa berjalan dengan lebih terarah. Lembaga internasional dan pemerintah lokal bisa memperkuat modal sosial ini sehingga pembangunan bisa lebih efektif dan menyentuh target masyarakat yang membutuhkan sentuhan pembangunan.

Peacebuilding merupakan fase penting untuk pemulihan pasca konflik. Hal-hal yang dilakukan pada fase peacebuilding ini meliputi pemulihan kembali perekonomian, pembangunan kembali sarana pendidikan, kesehatan, jalan, dan sarana-sarana lain yang rusak akibat perang.

“Kami ingin damai, bukan perang. Karena kami semua di sini bersaudara. Kami sama-sama percaya berkah nenek moyang akan selalu hadir kalau kami saling menjaga. Kami ingin sama-sama maju dan berkembang,” demikian kata Petrus Pot.

Desa Napan menjadi saksi dari para perempuan dan lelaki hebat yang sama-sama menenun kain perdamaian untuk disematkan kepada dunia. Desa ini menyimpan banyak kisah tentang peace-builder yang menyembuhkan trauma dan menatap masa depan dengan hati penuh riang gembira.



Saat ROCKY GERUNG Menampar Akademisi Kita


Rocky Gerung saat membawakan kuliah umum di kampus Universitas Muhammadiyah, Surakarta

DIA tak perlu sibuk mengejar peringkat di Google Scholar, SINTA, serta setengah mati melobi agar artikelnya masuk di jurnal terindeks Scopus. Dia pun tak perlu merogoh kocek demi presentasi di seminar agar karyanya masuk prosiding ilmiah. Dia tidak perlu ikut Sabbatical Program agar karyanya tembus level dunia.

Dia cukup menulis penggalan ide di Twitter, kemudian tampil di layar kaca. Cukup bersuara miring, meskipun secara akademis tidak nyambung, dia sudah bisa menceramahi para akademisi mulia di kampus-kampus yang terbungkuk-bungkuk mengejar gelar profesor doktor. Dia hanya lulusan S1.

Perkenalkan, namanya ROCKY GERUNG.

*** 

Pemilihan Presiden (pilpres) memang telah usai. Ibarat pasar, semua pedagang telah menggulung kembali tikar dagangan. Prabowo telah kembali merapat ke Jokowi. Semua partai dan legislator kembali ke asal. Semuanya kembali ke rutinitas awal, sembari tetap berburu kue proyek dan kuasa.

Namun, ada satu nama yang justru mendapatkan bintang terangnya. Rocky Gerung menjadi sosok yang kian melejit. Dia laris dipanggil sebagai pembicara ke mana-mana. Dia tampil di banyak diskusi. Dia menjadi selebriti yang dikejar hanya untuk dimintai tanda tangannya, lalu foto bareng.

Beberapa bulan terakhir, dia laris diundang ke kampus-kampus di berbagai daerah, khususnya kampus yang berafiliasi ke Muhammadiyah. Saya sering melihat foto-fotonya berseliweran di media sosial. Di banyak kampus, dia diundang untuk membawakan kuliah umum. Gayanya tetap nyentrik. Dia menolak hanya berdiri kaku di podium. Serupa penyanyi konser, dia bergerak ke kiri dan kanan panggung. Kamera hp tak henti mengabadikannya.

Hanya Rocky Gerung yang bisa memorak-porandakan bangunan hierarki di perguruan tinggi.

Semua orang paham bahwa perguruan tinggi kita ibarat menara gading yang memelihara hierarki. Anda tak mungkin jadi guru besar jika hanya bergelar sarjana. Jangan mimpi bisa berceramah di hadapan para doktor jika gelar Anda hanya selevel diploma. Jangan mimpi jadi rektor jika karyamu hanya dipublikasi di media kampung, tanpa pernah dipajang di publikasi internasional, yang terindeks Scopus.

Tapi Anda tak perlu berkecil hati. Untuk menceramahi para profesor dan doktor itu, Anda tak perlu mengejar semua hierarki itu sampai setengah mampus. Belajarlah pada Rocky Gerung yang hanya perlu sering-sering menulis di Twitter. Dia hanya mengeluarkan sepenggal-sepenggal ide yang kemudian viral.

BACA: Fadli Zon dalam Tinjauan Peneliti Jepang

Dari sisi marketing, Rocky Gerung punya positioning yang jelas. Dia tahu siapa penggemarnya. Dia hanya perlu bersuara nyaring sebagaimana diinginkan para penggemarnya. Dia paham kekuatan algoritma media sosial dan bagaimana mengelola informasi sehingga viral, kemudian diperbincangkan di mana-mana. Dia memilih jalur oposisi yang konsisten, bahkan lebih konsisten dari Prabowo Subianto. Dia menjadi idola baru yang disenangi di mana-mana.

Jika dibuatkan tahapan, maka ada dua tahap penting untuk mengenal seorang Rocky Gerung.

Pertama, fase ketika dirinya menjadi intelektual di kampus. Pada dekade 1990-an hingga 2000-an, namanya sudah berkibar. Tapi hanya di lingkup terbatas para akademia kampus. Seorang sahabat saya selalu tak sabar menantikan kuliah-kuliahnya yang bernas. Dia memang sosok yang punya kualitas mumpuni.

Saya membaca beberapa tulisannya sejak tahun 2000-an. Dia tipe intelektual publik yang produktif dan konsisten melahirkan gagasan-gagasan. Dia bisa menjelaskan satu gagasan sederhana sampai tingkatan filosofis. Bersama Gus Dur dan Azyumardi Azra, dia ikut mendirikan Setara Institute yang diniatkan sebagai wadah dialog bagi mereka yang menyenangi tema-tema demokrasi dan keadilan sosial.

Seingat saya, dia sudah lama dekat dengan partai politik. Dia pernah menjadi pengurus Partai Indonesia Baru (PIB) yang dipimpin almarhum Dr Sjahrir pada tahun 2004. Dia kemudian berlabuh ke Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) yang mengusung Sri Mulyani Indrawati sebagai presiden pada tahun 2014.

Nama Rocky Gerung hanya sesekali muncul di permukaan. Sebagai akademisi pun, dia hanya disebut dalam kelas-kelas kuliah filsafat. Dia hanya disebut sesekali saat sejumlah nama besar disebut. Dia lebih dikenal sebagai intelektual yang bekerja di kampus.

Kedua, fase ketika kekuatan media bergeser ke media sosial. Di sinilah Rocky Gerung menemukan bintang terangnya. Dia bisa menampilkan suara kritis yang disambut dnegan gegap gempita. Ini adalah era crowd atau kerumunan, ketika sejumlah orang di media sosial membentuk barisan, meramaikan tagar, lalu memobilisasi kekuatan.

Rocky paham benar bagaimana mengelola gagasan. Di era ini, Anda tak perlu tampil di forum-forum ilmiah dan mengutip dari para pakar. Cukup dengan sentuhan jemari di HP, maka gagasan sudah menyebar ke mana-mana. Namun, gagasan itu harus dikemas dengan baik, disampaikan dalam kalimat sederhana, namun menohok serta diamplifikasi secara massif.

BACA: Lelaki Bugis yang Menikah dengan BADIK

Di era Marketing 4.0, sebagaimana sering dijelaskan Hermawan Kertajaya, seorang netizen tak puas jika hanya membaca dan mengangguk. Dia bergerak untuk sharing ke mana-mana, kemudian mengdavokasi gagasan itu ke khalayak yang lebih luas. Bisa dibayangkan, gagasan yang tadinya hanya cuitan dari Rocky bisa seperti api yang membakar lahan gambut kering, yang dengan cepat viral.

Dalam pandangan saya, hal-hal yang disampaikan Rocky dalam cuitan dan komentar di layar kaca tidak selalu membawa hal baru. Namun dia tahu bagaimana memosisikan gagasan itu hingga cepat diterima satu segmen masyarakat. Dia tahu bahwa di era medsos, masyarakat berbicara dalam satu ruang gema (echo chamber) sehingga mereka selalu ingin melihat apa yang mereka lihat.

Dalam kondisi tanpa beban dan tidak punya banyak kepentingan, Rocky menjadi intelektual publik yang diidolakan. Dia memasuki tahapan menjadi selebriti, saat gagasannya selalu disebar, padahal hanya dituliskan salam sepenggal-sepenggal cuitan.



Dia mengingatkan saya pada uraian Timms dan Heimans dalam buku New Power yang terbit tahun 2018. Kata Timms dan Heimans, kekuatan lama dimonopi oleh segelintir orang yang sukar diakses publik, dikendalikan elite. Sementara kekuatan baru adalah mereka yang terbuka, mudah diakses, tahu bagaimana mengelola emosi publik, serta bisa menggerakkan orang-orang untuk selalu membagikan semua gagasan itu.

Rocky seakan membawa pesan bahwa di era 4.0 sekarang ini, Anda tak perlu sekadar pintar. Anda juga perlu populer untuk bisa menggerakkan publik. Anda harus mengenali big data agar semua kalimat Anda cepat menyebar, sehingga populer, dan semua orang mengajak Anda. Tentunya, kantong akan semakin tebal.

*** 

Di mana salahnya jika Rocky Gerung bicara di kampus-kampus? 

Bagi saya tak ada salahnya. Saya malah berharap dia mengubah kultur di kampus-kampus kita. Tapi saya juga paham jika sejumlah orang bertanya-tanya, “Apa sih karyanya Rocky? Sehebat apa dia jika dibandingkan para akademisi filsafat yang karyanya banyak di toko-toko? Mengapa harus memanggil Rocky?”

Saya berharap Rocky bisa 'menampar' para akademisi kita, minimal menunjukkan bahwa untuk menjadi intelektual, Anda tak harus setia mengikuti kurikukum. Saya ingin dia menunjukkan kalau prosedur kampus tidak selalu melahirkan seorang intelektual publik.

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligence, Hingga Kediktatoran Digital

Satu hal yang menjengkelkan di kampus adalah ketika orang-orang saling memanggil dengan menyebut gelar-gelar.  Di satu diskusi, saya pernah mlihat orang saling menyapa dengan panggilan Pak Doktor. Bahkan banyak profesor yang akan murka ketika tidak disapa Profesor. Beberapa orang di kampus masih saja memelihara feodalisme, bahwa kecerdasan dan kepandaian diukur dari gelar-gelar.

Saya suka kalimat Rocky dalam satu dialog “Gelar itu hanya menunjukkan Anda lulus kuliah. Tapi bukan menunjukkan Anda bisa berpikir apa tidak.”

Tapi di sisi lain, muncul pula anggapan bahwa Rocky tidak sedang mengadakan kuliah umum di hadapan para profesor dan doktor. Dia sedang melakukan jumpa fans. Makanya, di kampus, dia bicara tentang kehebatannya di banyak forum televisi. Dia bicara berbagai topik yang tak selalu sesuai dengan disiplin yang dikuasainya.

Di era yang disebut Tom Nichols sebagai The Death of Expertise, Rocky hanya memuaskan dahaga mereka yang anti pemerintah dan selalu merindukan figur oposisi. Dia tak selalu mencerahkan publik sebab dia melihat satu sisi, sebagaimana diinginkan para pengundang dan fansnya yang tak sabar untuk selfie dengannya.

Dia hadir di saat yang tepat, ketika orang-orang hanya melihat bungkus, tanpa melihat isi. Orang bisa histeris melihat sosoknya, tapi ketika ditanya apa pendapat Rocky yang paling disetujui, tiba-tiba saja bungkam.“Pokoknya dia anti-Jokowi,” kata seseorang.

Ah, saya merindukan Rocky yang dulu.



Lelaki BUGIS yang Menikah dengan BADIK


seorang penari mengacungkan badik (foto; Yusran Darmawan)

Badik itu bergerak. Di tangan pemiliknya, badik itu seakan menentukan sendiri ke mana hendak bergerak. Badik itu lalu menunjuk seseorang yang tak jauh dari itu. Pemilik badik itu tersenyum. Dia sedang mendemonstrasikan salah satu kemampuan badik itu yang bisa mengenali siapa saja orang sakti di ruangan itu.

Saya bertemu komunitas anak-anak muda yang menggemari badik dan berbagai besi di Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Mereka mengajak saya untuk ngopi setelah sebelumnya makan-makan. Saya bertemu mereka di sela-sela acara Festival Keraton Nusantara (FKN) yang diadakan di kota itu.

Pemilik badik itu adalah lelaki berusia 40-an tahun. Penampilannya jauh dari kesan seorang pendekar memakai badik. Dia bekerja sebagai kontraktor. Dia tampak seperti kalangan menengah ke atas. Matanya pun teduh, jauh berbeda dengan mata orang yang suka berkelahi.

Sebut saja namanya Baco. Dia bercerita kalau dirinya membawa badik itu ke mana pun dia pergi. Badik itu disimpan dalam tas pinggang. Badik itu memberinya rasa percaya diri, ketenangan, serta keberanian dalam membuat setiap keputusan. Badik itu memberinya rasa aman secara psikologis yang memberinya kekuatan.

Saya tak terlalu paham kekuatan seperti apa yang dihadirkan badik itu. Saya tidak menyangka, di era big data dan artificial intelligence, masih banyak anak muda yang menggemari badik dan berbagai besi. Mereka membawa badik dengan penuh kebanggaan. Badik itu menjadi benda seni yang tak ternilai harganya.

Di ajang FKN, mereka tak tertarik mengamati pagelaran tari dan seni budaya. Mereka lebih menyukai nongkrong di satu ruang pameran benda pusaka yang menampilkan badik, keris, parang, dan berbagai senjata lainnya.

Baco bercerita kalau dia sampai dini hari di lokasi pameran benda pusaka. Mengapa? “Sebab pemilik pusaka akan mengeluarkan pusaka andalannya saat tengah malam. Mereka tidak mau mengeluarkan di siang hari sebab khawatir kalau kekuatan pusakanya bisa disedot oleh seseorang di situ,” katanya.

Dia memberi saya informasi menarik kalau ternyata kekuatan pusaka bisa diambil dan dipindahkan. Saya pikir ada semacam hacker yang bisa meretas kekuatan satu pusaka, kemudian mengambilnya lalu disimpan ke pusaka lain. Keren juga.

Saya teringat Christian Pelras yang mengatakan bahwa sejak ratusan tahun lalu, badik telah menjadi identitas bagi lelaki Bugis Makassar. Badik tidak saja digunakan untuk pertahanan diri, tetapi juga untuk memberikan kharisma dan rasa percaya diri bagi pemiliknya.

Ada yang mencatat, sebelum nama Sulawesi populer, sebelumya pulau besar ini dinamakan Celebes. Nama ini diperkenalkan oleh seorang yang berkebangsaan Portugal bernama Antonio Calvao pada tahun 1563. Celebes terdiri atas dua suku kata. Cele yang bermakna keris, badik, atau kawali. Bessi yang bermakna besi.

Sejarawan Anthony Reid pernah menulis besi Luwu (bessi ussu) yang disebut sebagai besi terbaik yang kemudian menjadi komoditas dagang di era Majapahit. Besi Luwu mengandung meteorit dan feronikel sehingga menjadi pamor bagi pembuatan keris di Jawa. Konon, keris Empu Gandring dibuat dari bahan besi Luwu.



Dalam buku Ensiklopedi Keris disebutkan bahwa besi Luwu di pasaran dikenal dengan nama Bessi Pamorro, sampai dengan tahun 1920 masih dijumpai di pasar Salatiga dengan harga per kilo setara dengan 50 kg beras.

Bagi sejumlah kalangan di masyarakat Bugis dan Makassar, badik adalah keharusan. Itu terlihat pada ungkapan dalam bahasa Bugis yang berbunyi “tannia ugi narekko de’napunnangi kawali. ” Artinya bukan seorang Bugis jika tidak memiliki badik.

Di masa saya kuliah di Makassar, banyak teman dan sahabat yang membawa badik ke mana pun pergi. Saya pikir di masa kini sudah tidak banyak orang yang membawa badik. Tapi anak-anak muda di hadapan saya ini melihat badik seperti kekasih yang dibawa ke mana pun, dirawat dengan penuh cinta, serta sering ditimang dan dipamerkan.

Bahkan mereka tak segan-segan mengeluarkan biaya berapa pun untuk membeli pusaka yang disukai. Hubungan antara seseorang dan badik serupa hubungan dua kekasih. Kata Baco, dalam beberapa kasus, badik itu memilih sendiri siapa tuannya.

Dia bercerita tentang badik yang dipegangnya itu. Pada mulanya, dia berkunjung ke rumah temannya. Dia merasakan ada aura kuat benda pusaka di situ. Rekannya lalu bilang, kalau ada pusaka maka itu akan menjadi miliknya. Dia lalu mendatangi satu lemari, kemudian membuka laci bawah. Badik itu menyembul. Dia pun menemukan dua badik lainnya di situ.

Kadang, badik atau pusaka muncul saat sedang menggali. Bentuknya seperti batu atau fosil yang lama terpendam, tapi masih bisa berkarat. Sering pula, badik didapatkan dengan cara membeli.

Sebagai kontraktor, Baco sering mendapatkan badik dari para pekerja konstruksi, yang kebanyakan datang dari Makassar. Baco yakin para pekerja selalu membawa badik, Biasanya, dia akan tanya berapa maharnya kemudian membeli.

Di kalangan mereka yang bertransaksi badik, kata mahar sering digunakan untuk menggambarkan biaya yang harus dikeluarkan. Kata ini menunjukkan betapa berharganya badik sehingga hubungan antara badik dan pemiliknya adalah serupa hubungan pernikahan. Lelaki itu meminang badik dengan mahar tertentu.

***

SUASANA ruang pameran pusaka di dekat Istana Kedatuan Luwu tampak lengang. Hanya ada sedikit orang yang mondar-mandir di ruangan itu. Terdapat beberapa rak kaca yang isinya berbagai jenis pusaka.

Saya datang ke ruangan pamer ini karena tertarik dengan perbincangan di warung kopi. Baco mengajak saya untuk menyaksikannya langsung. Di situ, saya melihat beberapa bilah keris dengan sarung, badik, parang, hingga pusaka lainnya. Saya tertarik dengan satu badik yang gagangnya keperakan di sudut ruangan.

Salah seorang penjaga pameran mendekat. Dia lalu menjelaskan: “Ini badik Makassar. Lihat kale atau bilah yang pipih. Lihat juga battang atau perut yang buncit. Ujungnya atau cappa runcing dan tajam. Beda dengan badik Luwu yang lurus,” katanya.

Saya terus menatap badik itu. Penjaganya kembali berkata, “Sayang sekali badik ini sudah berjodoh. Dia akan kembali ke asal. Tadi ada orang Makassar yang bayar maharnya 26 juta rupiah.”

badik Makassar yang terjual 26 juta rupiah

Hah? Saya tersentak dan mundur teratur. Saya tidak menyangka kalau badik bisa dinilai semahal itu. Di ruangan itu, kebanyakan pusaka memang dihargai mahal. Malah ada yang lebih 50 juta rupiah. Ada pula yang tak bersedia dilepas, berapa pun harganya.

Baco menjelaskan, badik itu dihargai mahal karena dua hal. Pertama, fisik yakni bilah besi yang digunakan serta pamor yang memberikan kesan tentu saat melihat badik itu. Kedua, tuah atau isi yang ada dalam badik itu.

“Ada jenis badik yang punya uleng puleng dan battu lappa, sejenis motif pada besi. Kalau dua hal ini ada pada badik, maka akan membawa kebaikan bagi pemiliknya. Orang juga seiring mencari mabalesse atau retakan di atas punggung. Ini juga memudahkan rezeki pemiliknya,” katanya.

Banyak juga yang mencari badik untuk keperkasaan. Para pendekar atau jagoan biasanya ingin memiliki badik ini agar kelak bisa digunakan saat pertarungan. Tapi di masa kini, rasa percaya diri itu menjadi sangat penting untuk negosiasi bisnis, memasuki arena politik, atau pun untuk melobi.

Saya pikir manusia modern butuh sesuatu yang memberinya energi untuk melakukan banyak hal. Pada titik ini, badik menyimpan banyak pesan kuat, serta narasi yang memungkinkan seseorang menimba keberanian masa lalu kemudian menerapkannya di masa kini. Manusia butuh narasi dan kekuatan untuk menjalani hidup yang penuh tantangan.

Saat hendak meninggalkan ruangan, penjaga tadi menyuruh saya menyentuh satu badik yang dibawanya. Saya coba merasakan energi dari badik itu, sebagaimana yang dirasakannya. Tapi saya gagal menemukannya. Malah, yang melintas di pikiran saya adalah bait-bait puisi Berlayar di Pamor Badik dari penyair Madura yakni D Zawawi Imron:

Kata-kata dan peristiwa
telah lebur pada makna
dalam aroma rimba dan waktu

Hanya seutas pamor badik, tapi
tak kunjung selesai kulayari




Tenunan MANDAR di Bandara Hasanuddin




Biarpun orang Mandar kini berada di wilayah Sulawesi Barat, karya budaya mereka tetap dicintai oleh orang Sulawesi Selatan. Lihat saja langit2 Bandara Hasanuddin, Sulsel, yang dihiasi motif tenun Mandar.

Motif tenun Mandar ini jadi saksi buat mereka yang datang dan pergi dari sulsel. Motif tenun Mandar itu membuat saya terkenang pada pesan dari seorang sahabat di Majene:

"Inai-inai mattongan-tongan na nalolongani akkattana." Siapa yang bersungguh-sungguh dia yang dapat.

Selamat pagi Makassar.


Letkol Ratih Pusparini yang Menginspirasi


Letkol Ratih (depan tengah) berpose dengan rekannya sesama pasukan perdamaian PBB

Dia tersenyum ketika menyambut kedatangan saya di Gedung Lemhanas, Jakarta. Beberapa kali kami janjian, tapi selalu gagal ketemu. Saya pikir dia seorang militer yang kaku dan selalu serius. Di luar dugaan saya, dia sangat menyenangkan dan selalu punya banyak topik untuk dibahas.

Perempuan itu bernama Letkol Ratih Pusparini. Dia adalah tentara perempuan Indonesia pertama yang terjun dalam misi perdamaian PBB. Tahun 2008, dia ikut dalam misi Pasukan Garuda di Kongo. Dia menjadi military observer.

Sebagai perempuan, dia memiliki akses untuk memasuki wilayah yang tidak bisa dimasuki militer laki-laki. Dia tetap menggunakan pendekatan keibuan ketika berhadapan dengan perempuan dan anak-anak.

“Kami berhasil memasuki satu desa dan mendapatkan informasi mengenai kekerasan seksual di sana. Regu sebelumnya gagal mendapatkan informasi itu karena tidak ada perempuan di sana,” kata perwira TNI Angkatan Udara ini.

Ketika Ratih datang, ibu-ibu dan anak kecil akan mendekat dan bercerita tentang situasi yang mereka hadapi. “Kami adalah mata dan telinganya misi. Begitu ada berita tentang perkosaan dan kriminal, kami selalu datang ke lokasi bersama interpreter. Beda kalau laki-laki, ceritanya lebih banyak maskulin,” katanya.

Demi menunjang misi, Ratih selalu mendatangi orang sakit di seputaran batalyon. Ternyata hal ini sangat berkesan bagi mereka. Pendekatan kemanusiaan ini menjadi jauh lebih berkesan dari yang lain.

Di mana pun berada, pasukan Indonesia selalu berusaha membangun dekatan dengan masyarakat setempat melalui community engagement. Dalam program ini, militer dan sipil sama-sama merencanakan program atau kegiatan yang memiliki misi kemanusiaan.

Di Kongo, Ratih sangat terharu ketika seorang anak mendatanginya, kemudian berkata, “Mam, I wanna be like you! Because of you, we can go to school…" Saat itu, Ratih dan timnya berhasil mengamankan akses jalan sehingga anak-anak bisa pergi ke sekolah. Dia memeluk anak itu.

Kisah hidup yang tak dilupakannya adalah suatu hari pada tahun 2012, dia dihubungi wakil Kementerian Luar Negeri, Desra Percaya. Dia diminta untuk bersiap-siap dikirim ke Suriah, yang saat itu sedang dilanda peperangan.

Lulusan magister dari Monash University, Australia ini, masih mengenang perjalanan dari Libanon ke Suriah yang hanya tiga jam, tapi terasa menegangkan. Dia memakai pakaian militer. Wajahnya terlihat pucat. Seorang driver asal Libanon bertanya: “Mum, you’r okay?” Dia jawab, “I’m not okay.” Driver itu menjawab: “Just call your parents.”

Ratih menelepon ibunya di Indonesia. Dia menitip pesan: “Ma, kalau nanti tidak ada yang menelepon berati saya baik saja. Tapi kalau ada orang lain yang menelepon, ikhlaskan kepergian saya. Saya juga sudah ikhlas jalani semuanya,” katanya. Setelah menelepon dia tersenyum. Dia merasa plong. Pria Libanon itu berkata,” Now you look like an angel.”


Misi itu hanya berjalan selama 4 bulan. PBB memulangkan semua pasukan perdamaian karena situasi yang tidak aman. Beberapa teman Ratih tewas saat sedang menjalankan tugas.

Kini, Ratih menjadi figur inspiratif. Dia menerima penghargaan sebagai Perempuan Inspiratif dari Kedubes Amerika dan beberapa lembaga lainnya. Dia pun menerima UN Medal Honour.

Di hadapan sidang PBB, dia meminta agar perempuan lebih banyak dilibatkan dalam misi operasi perdamaian. Perempuan lebih bisa membaur dengan warga, khususnya ibu dan anak-anak. “Mereka adalah korban paling besar. Sentuhan keibuan lebih dibutuhkan oleh mereka,” kata Ratih di sidang PBB.

Saya menikmati perbincangan dengannya. Dia malah menolak dipanggil Ibu. Dia lebih suka dipanggil Mbak atau Ratih. Saat hendak foto-foto, saya memintanya memakai uniform yang dipakainya saat operasi perdamaian.

“Wah, saya mesti pakai loreng gurun yaa. Mas Yusran ini harusnya jadi komandan karena suka ngarahin-ngarahin.”

Saya tertawa ngakak. Saya pun ikut berpose dengannya. “Kalau di militer, mesti salam komando. Biar sah,” katanya.

Siiiiaaaaaappp!

Suatu Hari Bersama Gadis RONGKONG




Gadis itu tersenyum manis. Teramat manis. Dia mencoba berbagai gaya ketika saya datang memotretnya. Dia seperti mutiara yang masih belum banyak disepuh. Dia memiliki kecantikan alami.

Saya menaksir usianya 17 tahun, usia siswa sekolah menengah di tingkat akhir. Dia datang dari Desa Rinding Allo, Kecamatan Rongkong, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Dia datang dari wilayah pegunungan hijau yang rimbun dan tak banyak yang menjangkaunya.

Rongkong adalah wilayah yang selama sekian tahun terisolasi. Selain Rongkong, ada dua kecamatan yang terletak di pegunungan di wilayah Luwu, yakni Rampi dan Seko. Seko pernah menjadi headline berita nasional ketika diberitakan bahwa tarif ojek ke situ adalah sejuta rupiah sekali jalan. Maklum, jalannya rusak berat. Butuh beberapa hari untuk mencapainya.

Saya bertemu dengan gadis muda itu di Lapangan Salasa, Kecamatan Baebunta. Hari ini, Sabtu, 7 september 2019, masyarakat Rongkong banyak turun gunung demi mendatangi acara pelantikan Aliansi Keluarga Rongkong (Akar). Mereka datang dengan membawa berbagai atribut budaya.

Saya bisa melihat kekayaan khasanah budaya Rongkong. Wilayah ini serupa melting pot yang menyerap semua budaya-budaya. Busana adat gadis Rongkong serupa Toraja dan Bugis. Bahkan saya melihat sejumlah anak muda Rongkong memainkan kolintang, alat musik dari kayu yang selama ini saya ketahui hanya ada di Sulawesi Utara.

Rongkong punya seni tenun yang sungguh aduhai. Saya begitu cemburu melihat kain tenun yang segera mengingatkan saya pada kain tais di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, atau kain-kain khas di Nusa Tenggara Timur. Saya menduga, pernah ada dialog budaya atau mungkin proses saling belajar antar berbagai komunitas budaya di lintas pulau.



Secara umum, saya melihat budaya Rongkong seperti Toraja.

"Tidak kak. Rongkong tidak sama dengan Toraja," kata gadis itu seakan tahu apa yang saya pikirkan.

Bahasa yang digunakan orang Rongkong adalah bahasa Ta'e, bahasa yang dipakai warga Luwu. Saya ingat antropolog George Yunus Aditjondro. Dia pernah membantah anggapan bahwa Sulsel identik dengan Bugis. Kata George, orang Luwu tidak mau disebut Bugis. Bahasanya juga bahasa Ta'e, bukan bahasa Bugis.

Tapi, seorang kawan bercerita kalau bahasa Ta'e mirip bahasa Toraja. Mirip pula dengan bahasa yang digunakan orang Mamuju, Sulawesi Barat. Persis seperti yang saya pikirkan. Bahwa budaya tidak berada di ruang hampa sejarah. Budaya selalu menyebar seiring dengan migrasi manusia ke mana-mana. Budaya ibarat sari yang dipetik dari kembang, kemudian dibawa ke berbagai arah oleh kumbang bernama manusia.



"Kak, boleh minta nomor hp?" tanya gadis itu.
"Buat apa?" tanyaku.
"Saya ingin ingatkan kakak supaya kirimkan foto itu" katanya sedikit merajuk.

Tak lama kemudian, dia kembali bertanya. "Kak, apa saya cantik?"

Saya tak menjawab. Kamera langsung saya arahkan ke wajahnya. Dia kembali bergaya. Dalam hati saya menggumam, kamu memang cantik. Teramat cantik.