Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Jangan Bunuh Dwi Hartanto

Dwi Hartanto

JAGAD intelektual dan media di tanah air sontak heboh. Seseorang yang mengaku ilmuwan muda dan sempat dielu-elukan masyarakat, ternyata tak lebih dari seorang pembual yang merekayasa informasi dirinya hanya demi sanjungan dan ucapan “wow.” Sepekan terakhir, berbagai peristiwa yang mengungkap kebohongan itu bermunculan. Mulai dari dicabutnya gelar kehormatan dari Kedutaan Indonesia di Belanda, sidang komisi etik di satu kampus, hingga munculnya pernyataan resmi di atas kertas bermeterai.

Anak muda bernama Dwi Hartanto itu segera menjadi bulan-bulanan media massa. Dia dihabisi dan dituding sebagai pembual yang menimbulkan kehebohan. Dia dianggap sebagai biang dari semua histeria, yang kini dianggap sebagai hal memalukan bagi banyak kalangan. Anak muda itu dinyatakan bersalah dan harus menanggung semua akibat. Padahal, dia tak sendirian.

Dia berada dalam satu ekosistem media dan masyarakat yang ikut berkontribusi pada kebohongan skala berjamaah. Dia memang sukses mengecoh banyak orang, akan tetapi banyak orang justru menikmati kebohongan itu dan menangguk untung dari kehebohan itu.

Memang, anak muda itu berbohong. Tapi kebohongannya tidak akan menimbulkan skala heboh dan besar jika tidak diliput secara massif oleh banyak media. Kebohongan itu hanya akan menjadi obrolan lepas di warung kopi, jika saja tak ada satu program khusus televisi, dengan host cantik dan cerdas, yang kemudian ikut menyiarkan “prestasi” hebat anak muda itu. Cobalah hitung dengan seksama, berapa banyak pendapatan media dan stasiun televisi dari orkestra kebohongan yang melibatkan mereka?

Jika hari ini semua media seakan “membantai” anak muda itu, maka boleh jadi itu untuk menutupi rasa malu sebab telah ikut membesarkan si anak muda itu, menyebarkan kebohongan itu ke banyak titik, tidak melakukan cek dan ricek atas semua fakta. Hari ini, kita nyaris tak menemukan satupun berita yang isinya pengakuan salah dari media sebab telah ikut berkontribusi pada kebohongan yang direproduksi secara massal.

Marilah kita bersama-sama membuat pengakuan. Bahwa ada satu aspek paling penting dari disiplin media yang hilang, yakni disiplin verifikasi. Mahaguru jurnalistik, Bill Kovach, menyebut verifikasi sebagai sesuatu yang membedakan antara jurnalisme dengan hiburan (entertainment), propaganda, fiksi, atau seni. Infotainmen fokus pada apa yang paling bisa memancing perhatian. Propaganda akan menyeleksi fakta atau merekayasa fakta, demi tujuan sebenarnya, yaitu persuasi dan manipulasi. Sedangkan jurnalisme berfokus utama pada apa yang terjadi, seperti apa adanya.

Disiplin verifikasi tercermin dalam praktik-praktik seperti mencari saksi-saksi peristiwa, membuka sebanyak mungkin sumber berita, dan meminta komentar dari banyak pihak. Disiplin verifikasi berfokus untuk menceritakan apa yang terjadi sebenar-benarnya. Dalam kaitan dengan apa yang sering disebut sebagai “obyektivitas” dalam jurnalisme, maka yang obyektif sebenarnya bukanlah jurnalisnya, tetapi metode yang digunakannya dalam meliput berita.

Kata Bill Kovach, ada sejumlah prinsip intelektual dalam ilmu peliputan: (1) Jangan menambah-nambahkan sesuatu yang tidak ada; (2) Jangan mengecoh audiens; (3) Bersikaplah transparan sedapat mungkin tentang motif dan metode Anda; (4) Lebih mengandalkan pada liputan orisinal yang dilakukan sendiri; (5) Bersikap rendah hati, tidak menganggap diri paling tahu.

Dalam kasus Dwi Hartanto, semua media hanya fokus pada apa yang diucapkan anak muda itu, tanpa mau berlelah-lelah untuk mencari informasi seberapa benar apa-apa yang dikatakannya? Mengapa tak ada yang sekadar iseng mengecek melalui Paman Google, apakah pada lomba sains tertentu, si anak muda itu benar mendapatkan award tertinggi? Atau hal paling mudah. Pernahkah ada orang yang iseng-iseng mengetik nama anak muda itu di web kampusnya, sekadar memastikan nama lengkap dan profesinya di situ?

Dalam pandangan saya, anak muda itu hanya sekadar mencari panggung. Dia ingin tampil dalam sorot kekaguman dan apresiasi banyak orang. Dia tak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Dia lalu merekayasa fakta-fakta demi mengecoh banyak orang. Dia mengarang cerita serupa fiksi, yang seketika menghebohkan. Kebohongannya mengecoh banyak orang termasuk media massa, hingga akhirnya tampil di televisi.

Anak muda itu benar-benar jeli sebab melihat ada hasrat nasionalisme dan kebanggaan berlebihan pada bangsa. Pada bangsa yang masyarakatnya merasa inferior dan hanya bisa menyaksikan perlombaan sains bangsa lain, kisahnya akan segera menghebohkan. Kita telah lama krisis kisah hebat mengenai pencapaian di panggung dunia, sehingga saat ada anak muda yang konon tampil ke depan, kita sontak membanggakannya, tanpa sikap kritis dan upaya mengecek kembali. Media langsung heboh dan menyiarkannya. Pembaca berdatangan. Jumlah iklan akan bertambah.

Namun, anak muda itu seorang amatiran. Dia bukan pembohong profesional. Tidak sehebat para pembohong di dunia politik yang bisa merekayasa informasi ala kerja-kerja spin doctors. Di era millenium seperti ini, tampil bohong di media ibarat menjadikan diri sebagai sasaran dari sejumlah pemburu yang sedang mengintip dengan senjata. Banyak orang yang bisa mengecek identitas dirinya dan melacak informasi ke kampus-kampus yang diklaimnya. Dia pikir berbohong di era digital seperti ini sama dengan membual di warung kopi, di mana orang tak mungkin mengecek seberapa benar informasi itu.

Jika dia memang pembohong profesional, dia akan menolak tampil di media. Mungkin dia akan mengontrol publisitas sebab media massa disaksikan banyak pihak termasuk para ilmuwan. Hasrat tampil hebat di panggung telah membuatnya lupa bahwa banyak orang yang mengenalnya, dan setiap saat bisa membuka lakon yang dimainkannya. Pada titik ini, dia tersandung oleh imajinasi akan kehebatan dan popularitas, serta decak kagum. Ia pembohong bodoh, yang seolah tak paham bahwa media massa adalah panggung yang bisa dilihat dan dicek banyak orang seketika. Saat banyak orang mulai melacak pengakuan-pengakuannya, banyak hal tersingkap.

Dalam beberapa sisi, anak muda itu mengingatkan saya pada seorang pembual paling mengagumkan yakni Dr Karl May. Pengarang kisah Winnetou Kepala Suku Apache. Di penjara, Karl May membual di hadapan para narapidana penjara tentang pertemuannya dengan Winnetou, Kepala Suku Indian Apache. Ia malah menggambarkan bagaimana padang perburuan prairie, pertarungan tangan kosong, hingga nasib suku Indian yang sekarat. Karl May bercerita seakan-akan dirinya yang disebut Old Shatterhand, seorang petarung di alam perburuan liar itu. Belakangan, ketahuan kalau dirinya tak pernah ke padang suku Indian. Bahkan gelar Doktor yang dipasang di depan namanya adalah palsu.

Bedanya dengan Dwi Hartanto adalah sejak awal kebohongan Karl May dianggap sebagai fiksi yang menarik untuk dituliskan. Salah satu penerbit di Jerman bisa mencium bau uang yang banyak dari kisah-kisah itu jika ditulis dan disebarkan. Kisah Winnetou ditulis dan disebarkan. Orang terbius dengan petualangan dan persahabatan di padang perburuan. Kisah itu mempesona dunia, menginspirasi banyak orang, jua membasahi imajinasi orang-orang akan pentingnya memanusiakan semua orang.

Beda lainnya adalah penampilan sosok Dwi Hartanto cukup meyakinkan. Dia seorang mahasiswa program doktoral di kampus bergengsi itu. Istilah-istilah teknis yang dikeluarkannya cukup membuat kita terperangah. Dia punya akses dan kuasa pada perbendaharaan istilah sains yang membuat banyak orang kehilangan nalar dan sikap kritis. Bagi saya, tanpa perlu menyebut prestasi hebat itu, Dwi Hartanto sudah bisa menjadi sosok inspiratif. Tak mudah menjadi mahasiswa dan bisa belajar di kampus teknologi terbaik di dunia itu. Apa daya, dia ingin sesuatu yang berlebih.

Saya malah berharap kisah yang dituturkan Dwi Hartanto dikemas menjadi fiksi, yang nantinya akan laris-manis. Ceritanya tentang Lethal Weapon from the Sky akan mengalahkan kisah Digital Fortress dari Dan Brown. Kisahnya tentang pengembangan pesawat militer generasi terbaru sangat layak tampil di layar film dan menambah khasanah kisah yang menggetarkan kita semua.

Nah, dengan melihat betapa amatirnya kebohongan itu, serta betapa bodohnya media yang menelan informasi itu bulat-bulat, janganlah kita ikut-ikutan membunuh karakter anak muda itu. Biarlah ini menjadi pelajaran berharga baginya untuk setia pada proses dan menghargai capaian-capaiannya, tanpa harus membuat glorifikasi. Anak muda itu masih punya peluang untuk menjadi yang terbaik, sepanjang dia bisa belajar dari kasus ini, dan menjadikannya pengalaman berharga untuk setia pada tahapan menjadi ilmuwan besar.

Di sisi lain, marilah kita berrefleksi dan merenungi mengapa kita menjadi bagian dari kebohongan massif dari media-media kita yang setiap saat meneror kita, melalui layar televisi, lembaran media massa, hingga layar ponsel kita semua.

Marilah kita menertawakan diri sendiri.




Membaca Catatan Pinggir 11



Di dunia penulisan esai, Goenawan Mohamad adalah dewa. Terlepas dari apapun kritik orang kepadanya, produktivitas menulisnya selalu bikin merinding. Ia menulis dengan konsisten. Setiap minggu ia akan menulis amatan atas apa yang ada di sekitarnya. Ia tak sekadar mencatat. Ia juga berefleksi, membiaskan kembali semua amatan itu dengan lensa nuraninya yang dibasahi puisi, syair, dan segenap kearifan. Diksinya khas. Hanya dengan membaca dua atau tiga kalimat tulisannya, saya bisa menebak itu tulisan Goenawan atau bukan.

Ia seorang pelahap buku yang paling lapar. Seorang kawan menyebut kontribusi Goenawan pada diskursus ilmu sosial dan humaniora demikian besar. Barangkali, dialah yang pertama memberitahukan pada warga Indonesia tentang buku baru atau siapa saja pemikir yang karyanya tengah hangat dibahas di luar sana. Di masa ketika Marxisme diharamkan di dunia akademis, Goenawan memperkenalkan banyak nama, termasuk para pemikir kiri baru, juga para pengkritiknya yang paling sengit.

Tak terasa buku Catatan Pinggir, yang menghimpun koleksi tulisannya di Tempo telah memasuki buku ke-11, yang terbit tahun 2017 ini. Biarpun esainya tak semua saya sukai, tapi selalu saja ada rasa dahaga yang terpuaskan saat membaca satu demi satu kepingan kata darinya yang sedingin jus markisa di siang terik.


Menanti Nobel untuk Jusuf Kalla

ilustrasi

AKHIRNYA pemenang nobel perdamaian tahun 2017 telah diumumkan di Oslo, Norwegia, kemarin. Pemenangnya adalah kelompok International Campaign for Abolish Nuclear Weapons, atau kerap disebut ICAN. Dalam situs resminya, ICAN dideskripsikan sebagai koalisi kelompok akar rumput non-pemerintah di lebih dari 100 negara. Gerakan ini dimulai di Australia dan resmi diluncurkan di Wina pada 2007.

Sejak hadiah nobel pertama dianugerahkan pada tahun 1901 kepada Henry Dunant (bapak Palang Merah Internasional), belum ada satupun putra Indonesia yang berhasil meraih penghargaan bergengsi di bidang perdamaian itu. Akan tetapi, sepertinya penantian itu bisa segera berakhir pada tahun-tahun mendatang. Saat ini, lobi-lobi dan kampanye ke arah Nobel mulai digelar. Kandidat paling kuat yang dianggap memenuhi syarat saat ini adalah Muhammad Jusuf Kalla, yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden RI.

Jalan ke arah Nobel perdamaian itu sedang dirintis. Di satu grup percakapan whatsapp, informasi tentang ini santer terdengar. Rupanya, lobi-lobi untuk mengantarkan Jusuf Kalla (JK) ke penghargaan bergengsi itu telah digelar. Dalam beberapa kesempatan, nama JK telah diajukan sebagai salah satu kandidat. Dilihat dari banyak segi, JK adalah orang tepat untuk menerima penghargaan itu. Boleh jadi, dialah orang Indonesia pertama yang paling memenuhi seluruh kriteria untuk menerima nobel perdamaian.

Jika dirunut sejarah, sejak tahun 2016 lalu, salah satu putra Indonesia yakni Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah dinominasikan untuk meraih nobel. Sayang, penghargaan itu tidak sempat diraih. Presiden SBY dianggap punya kontribusi pada perdamaian Aceh. Menurut satu rumber informasi, pihak Komite Nobel menurunkan tim periset ke Indonesia, yang kemudian membawa informasi bahwa aktor utama di balik perdamaian itu adalah Kalla’s Men, sebutan bagi orang-orang di bawah kendali JK.

Gaung untuk menaikkan kembali nama JK kian bergema nyaring di tahun 2017 ini. Di bulan Maret 2017, JK menerima penganugerahan gelar doktor honoris causa dari salah satu kampus di Thailand yakni Rajamangla University of Technology of Isan (RMUTI). Pihak kampus melihat pencapaian JK yang penting dalam mendorong perdamaian di beberapa wilayah Indonesia, yakni Ambon, Poso, dan Aceh. Sebelumnya, di tahun 2015, JK juga mendapatkan gelar yang sama atas perannya mendorong perdamaian dari Universitas Syah Kuala, Aceh.

Nama JK juga kian nyaring bergema saat kunjungan International Peace Foundation (IPF), lembaga yang punya nama mentereng di ranah perdamaian. Dalam dialog bertajuk Asean Bridges-Dialogues Towards a Culture of Peace, nama JK dibahas. IPF dikenal sebagai lembaga yang sering menominasikan para peraih nobel bidang perdamaian. Lembaga ini juga kerap memfasilitasi para peraih nobel perdamaian untuk menebar virus perdamaian ke seluruh dunia.

Saat menyinggung kontribusi JK, Chairman IPF, Uwe Morawtz sempat bertanya lalu memberikan pernyataan, “"Ada kampanye untuk dia? Tidak? Mungkin tidak di masa lalu, tapi mungkin kami akan mempertimbangkan dukungan di masa depan," katanya. Sinyalemen Uwe menjadi penting sebab menunjukkan dukungan lembaganya untuk pencalonan JK.

Meski begitu, Uwe mengaku, IPF bukan salah satu pihak yang memiliki wewenang penuh untuk menentukan peraih nobel. Lembaganya hanya mengusulkan. Ia mengakui telah lama memendam kagum atas jejak-jejak JK di ranah penyelesaian konflik dan perdamaian.

Uwe mengenal Kalla sebagai seorang juru perdamaian. Kalla, kata dia, telah banyak menyelesaikan konflik yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, seperti Ambon, Poso, dan Aceh. "Tak hanya di beberapa daerah di Indonesia, tapi juga di negara lain seperti Thailand," katanya, sebagaimana dikutip Metrotvnews.com.

JK juga kerap diminta pikirannya untuk membantu mengatasi berbagai konflik. Terakhir, ia diminta masukan oleh tim PBB di bawah Kofi Anan terkait Rohingya. Bagi JK, konfik Rohingya bisa diatasi, sepanjang ada pemetaan yang jelas atas aktor-aktor pemicu konflik. Jika banyak pihak yang terlibat di sana, maka penyelesaiannya akan butuh waktu panjang. Kondisi ini beda jauh dengan Aceh yang hanya mengenal satu kelompok dan pimpinannya jelas.

JK juga diminta masukannya oleh banyak negara, seperti Spanyol, Perancis, hingga Somalia. Bahkan Presiden Somalia meminta JK sebagai pihak yang mendamaikan konflik etnik di sana. Sayangnya, JK tidak punya waktu panjang untuk itu sebab tengah menjalankan tugas sebagai wakil presiden.

Jika semua syarat terpenuhi, maka yang dibutuhkan adalah kampanye massif untuk mendorong nama JK. Kalaupun tahun ini penghargaan itu gagal direbut, maka tahun depan, mimpi untuk melihat putra Indonesia meraih nobel harus segera terwujud. Pertanyaannya, apakah rakyat Indonesia mau untuk mendukung putra bangsanya meraih penghargaan bergengsi itu, ataukah malah tidak rela hanya karena perbedaan pandangan faksi politik?

Kekuatan JK

Seorang teman yang studi di Brandeis University di Boston kerap bercerita bagaimana nama JK disebut dalam beberapa kuliah tentang perdamaian. Pendekatan JK untuk menbatasi konflik terbilang unik dan baru. JK tidak pernah menggunakan satu resep untuk mengatasi konflik. Ia berpikir kontekstual dan selalu melihat banyak aspek yag khas di satu wilayah, sebelum merumuskan solusi. Ia menekankan pada dialog-dialog yang membebaskan.

Biarpun JK adalah bagian dari negara, ia justru mengupayakan perdamaian dari tepian, di luar sisi diplomasi resmi. Ia bekerja di luar struktur negara, yang seringkali dianggap oleh banyak pihak sebagai bukan kewenangannya. Justru, melalui upaya di luar struktur negara itu, ia sukses menghampar karpet merahperdamaian. Bagi JK, kemanusiaan adalah kata pertama yang harus dikedepankan dan menautkan semua kepentingan. Ia tak ingin terkotak-kotak oleh perbedaan suku, agama, dan golongan.

Di Ambon, pendekatan JK dianggap tak biasa karena ia menolak tindakan pemerintah yang hanya menurunkan brimob dan tentara untuk mengatasi konflik. JK menolak jika konflik Ambon diselesaikan ala koboi yakni saling hajar dengan pistol di tangan. Ia menolak operasi militer yang kemudian menempatkan seseorang pada posisi jagoan karena membunuh banyak orang. Ia dengan berani menghardik seorang pimpinan Laskar Jihad yang ingin berperang. Bagi JK, perang hanya akan membuat susah semua pihak.

Di Poso, ia mempertemukan dua kelompok bertikai yakni kelompok Islam dan kelimpok Kristen. Mereka dipertemukan agar terjadi dialog."Kalau ingin menyelesaikan konflik ini rumusnya sederhana, harus tahu apa penyebabnya. Dan semua upaya damai hanya satu rumusnya; lakukan dialog dan kompromi. Jadi harus cari titik temunya sehingga damai dapat diterima kedua belah pihak."

JK melihat konflik disebabkan oleh tiga hal. Pertama, ideologi seperti PKI dan DI/TII. Kedua, ketidak adilan ekonomi. Itu bisa dilihat pada beberapa gerakan perlawanan di antaranya Permesta dan GAM. Ketiga, adanya sejarah ingin merdeka. “Tidak ada platform yang sama karena semua tergantung akar masalahnya, latar belakang serta perkembangannya," katanya apda satu kesempatan.

Hal penting, kata JK, kita harus mengenali siapa saja yang berkonflik dan apa keinginannya. Jika konflik yang terjadi adalah konflik vertikal, maka penyelesaiannya melalui rekonsiliasi dan bentuk pemberian amnesti dan rehabilitasi. Dalam semua negosiasi, yang harus dijaga dalah harga diri (dignity) lawan. Sebab orang akan mudah tersinggung dan mengayunkan kapak peperangan saat harga dirinya tersakiti. Harga diri lawan tersebut harus terus dijaga pada semua tahapan perundingan.

"Kalau mau damai, cari lawan yang paling keras lebih dahulu, karena kalau sudah bisa tundukkan yang keras, nanti gampang tundukkan yang lembut," katanya saat kuliah umum di ITB, beberapa waktu lalu. Namun untuk mencari lawan yang paling keras harus dilakukan pertemuan-pertemuan informal (lobi-lobi) lebih dahulu. “Kalau perlu 50 persen persoalan sudah selesai pada pertemuan informal, baru setelah itu masuk ke tahap formal. Pertemuan informal juga harus digunakan untuk mencari siapa pemimpin utamanya, siapa panglima perangnya, siapa lawan yang paling keras. “

Kata JK, perundingan harus benar-benar netral dan adil. "Jika datang ke kelompok Kristen, maka ia harus juga datang ke kelompok Islam. Jika datang ke mesjid satu hari, maka harus datang ke gereja juga satu hari," ujarnya. Selain itu, tambah Wapres, penengah juga tidak boleh takut kepada mereka. "Jadi jangan pernah tampakkan rasa takut pada mereka. Kasih tahu pada mereka bahwa kita tidak takut, kita datangi kedua belah pihak tanpa pengawalan," kata JK.

Saat menyelesaikan kasus Poso, ia datang ke Tentena (wilayah Kriten), namun dengan mengajak seorang anggota Polisi Simatupang yang beragama Kristen. Alasannya, supaya kalau ada orang Kristen, maka Simatupang yang diminta berada di depan. Namun jika di kelompok Islam, maka ia sendiri yang akan ada di depan. Dan kiat-kiat seperti itu pula yang ia gunakan untuk menyelesaikan perundingan damai dengan GAM.

Untuk penyelesaian dengan GAM, ia sengaja mencari tim perunding yang bukan berasal dari suku Jawa. Karena GAM sangat memiliki trauma dengan suku tersebut. "Saat saya ketemu Malik Mahmoud, saya katakan mungkin Indonesia tidak akan kalahkan GAM, tapi Indonesia siap berperang 100 tahun. Tapi juga mungkin GAM tak bisa kalahkan Indonesia, karena kekuatan GAM hanya 5.000, sementara Indonesia satu juta. Kalau Indonesia siap berperang 100 tahun, maka yang menjadi korban orang Aceh karena tempat perang di Aceh," katanya mengungkapkan kiatnya menundukkan Malik Mahmoud agar bersedia berunding.

Dari situlah, dilakukan perundingan-perundingan secara marathon. Dan semua tahapan perundingan ia selalu menerapkan kiat-kiat yang sama yakni cara lawan yang keras, jaga kehormatan dan harga diri lawan (dignity), jaga kepercayaan, serta cari titik temu untuk mencapai perdamaian yang bisa diterima kedua belah pihak.

***

SAYA membayangkan, di acara panggung bergengsi pemberian hadiah nobel perdamaian tahun 2018, nama Jusuf Kalla disebut. Saya bayangkan betapa solusi orisinil khas Indonesia akan semakin bergema di dunia luar. Bahwa Indonesia adalah negeri yang diamuk api konflik, namun dipadamkan oleh anak-anak bangsa yang cinta perdamaian. Bahwa inspirasi perdamaian tumbuh dari bumi Indonesia, yang kelak akan dituturkan sebagai narasi perdamaian pada segenap anak cucu.

Semoga perdamaian menjadi ciri yang melekat pada bangsa ini. Amin.





Pesan Dokter Ochie yang Mengetuk Nurani


Dokter Ochie bersama pengungsi Rohingya

SEBULAN lalu, hampir semua kanal media sosial dipenuhi teriakan dukungan untuk Rohingya. Tak sekadar dukungan, banyak pula yang memaki pemerintah. Banyak orang mengira bahwa umpatan di media sosial adalah cara terbaik untuk membela mereka yang teraniaya di sana. Kini, nama Rohingnya nyaris tak lagi ditemukan di media sosial. Yang muncul adalah kekhawatiran atas bangkitnya satu partai politik yang terkubur di masa silam.

Saya teringat kalimat seorang sejarawan: ingatan orang Indonesia itu pendek. Setiap peristiwa akan berlalu dalam sekejap. Kita mudah tersulut dalam perdebatan atas sesuatu yang sedang ngetrend. Begitu ada isu baru, perhatian kita segera berpindah. Hingar-bingar perdebatan tentang Rohingya langsung pupus ketika isu komunis datang. Kita seakan lupa penderitaan warga Rohingya, hanya karena ajakan nonton bareng yang disampaikan Panglima TNI.

Tak ada lagi perdebatan dan desakan kemanusiaan. Malah, seorang kawan beranggapan bahwa asalkan sudah menyumbang, maka kewajibannya telah usai. Rohingya tak seramai dulu. Kini, isunya adalah komunis. Semuanya seakan hilang tersaput angin. Rohingya seakan sudah selesai.

Dari banyaknya barisan mereka yang rajin membahas Rohingya, terdapat segelintir orang yang justru lebih banyak diam, tapi tak benar-benar diam. Mereka tak ikut dalam debat dan tengkar di medsos, namun meringankan tangan dan kaki untuk berbuat sesuatu. Tanpa mengajukan permintaan dana di jalan-jalan, atau sibuk menyalahkan orang lain hanya karena opini tentang Rohingya, mereka berbuat sesuatu. Mereka tak hendak hanyut dalam arus besar wacana.

Dari tanah Bangladesh, lokasi pengungsian warga Rohingya, saya tersentuh saat membaca pesan dan foto seorang sahabat bernama Dokter Rosita Rivai. Rupanya, dia menjadi relawan kemanusiaan di sana. Ia datang bersama rombongan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bekerjasama dengan Dompet Dhuafa. Ochie, demikian ia disapa, menjadi dokter yang mengabdi di jalur kemanusiaan. Ia melawan kemapanan khas kaum menengah perkotaan yang lebih suka di rmah sembari bercuit di medsos. Ia datang ke lokasi konflik, mengobati mereka yang sakit, menggendong anak kecil yang terkena gizi buruk, berdialog dengan banyak orang.

Saya mengenal Ochie sewaktu dirinya menjadi mahasiswa Fakultas kedokteran, Universitas Hasanuddin di Makassar. Tadinya, saya pikir dirinya seperti mahasiswa kedokteran lain, yang barangkali hendak berniat menjemput kemapanan setelah lulus. Tapi Ochie berbeda. Ia bergabung dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan kerap terjun ke berbagai arena konflik. Ia justru tak berada di rumah-rumah sakit mewah, melainkan berhadapan dengan segala keterbatasan di daerah konfik, mengambil risiko setiap saat bisa terpapar sakit saat di lapangan, berjibaku demi menghapus sedih di wajah mereka yang terpinggirkan oleh bencana dan perang.

Kekaguman saya adalah pada saat dirinya yang kini telah berkeluarga masih saja meluangkan waktu untuk terjun dengan kondisi yang jauh dari zona nyaman ini. Pilihan yang luar biasa untuk seorang istri. Saya yakin suaminya adalah seorang lelaki yang kuat dan sangat terbuka dalam memahami pilihan itu.

Hari ini, Dokter Ochie berkisah tentang pertemuannya dengan perempuan bernama Ara di Bangladesh. Di siang terik membakar, ia berada di tenda kesehatan milik Indonesia Humanitarian Alliance. Pasiennya adalah pengungsi Rohingya yang terbatuk-batuk sembari memegang perut, menahan nyeri. Ochie bercerita:

Saya melihat antrian seorang ibu menggendong anaknya. Bibi Ara (40), menggendong anak bungsunya, Asna Biba (2 bulan). Ibu tersebut terlihat kelimpungan dalam menenangkan si bayi yang terus meraung-raung. Saya dan dr Muh Iqbal Mubarak dari Komite Penanggulangan Bencana IDI dan Dompet Dhuafa menghampiri ibu tersebut. Terlihat Asna Biba yang terisak. Kepala bayi itu terlihat membesar, perutnya membuncit, namun lingkar lengannya mengecil. Dari pelukan ibunya, dia berpindah ke tanganku.

Ochie tak sedikitpun berniat mundur. Ia mendekati ibu itu dan mengajak bercanda:

Sekalipun dalam hati terdalam saya teriris, saya membayangkan jika anak itu adalah anakku. Mendekam dalam derita malnutrisi. Selang beberapa lama, bayi itu berangsur tenang. Diam dalam pelukanku, katanya.



Ibu itu tiba di kamp pengugsian sejak 15 hari yang lalu. Dia dan bayinya ini menempuh perjalanan selama tiga hari dari negara bagian Rakhine menuju Cox’s Bazar. Bersama rombongan pengungsi, mereka melewati hutan, jalan berbatu, juga trauma akan desingan peluru di kampungnya. Dalam keterbatasan pangan mereka berjalan. Dalam keterbatasan tersebut, kadangkala si Ibu memberikan nasi atau roti yang ditumbuk terlebih dahulu lalu dilarutkan dengan air tadahan sungai di perjalanan mereka. Sebagiannya lagi terpaksa berlapar. Wajar ketika diare dan kekurangan gizi mendera mereka.

Asna Biba dan Bibi Ara tidak sendiri. Banyak pengungsi terkena penyakit tersebut. Hingga hari ini sejumlah 370 ribu pengungsi tersebut yang juga diantaranya bayi dan anak-anak itu mengalami penyakit infeksi saluran penapasan dan penyakit kulit beberapa lainnya lagi diare disertai penyakit mata. Mayoritas pasien adalah anak-anak balita dengan status gizi kurang.

Kami tim medis tersebut masih membutuhkan obat-obatan dan bahan makanan untuk para pengungsi. Karena Asna Biba dan Bibi Ara adalah manusia. Karena Pengungsi itu adalah saudara kita, sesama manusia, katanya.

Pesan dari Rohingya membuat saya tercenung. Di tengah isu Rohingya yang mulai tenggelam, Ochie menyampaikan pesan melalui media sosial. Ia berharap suaranya akan menembus relung-relung hati orang lain untuk kembali membicarakan Rohingya lalu melakukan sesuatu. Di luar sekat-sekat politik antar negara, di sana terdapat manusia yang menanti bantuan dan uluran tangan. Ia mengetuk nurani semua orang untuk kembali fokus pada tragedi kemanusiaan dan melakukan segala yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

Saya bisa merasakan pesan-pesan Ochie yang menghujam ke dalam dada. Suara-suara kemanusiaan harus selalu menjadi kompas bagi orang-orang untuk bergerak, menjadi panduan dalam segala tindakan. Suara kemanusiaan selalu melintasi sekat perbedaan dan keyakinan semua orang. Suara kemanusiaan melampaui segala debat dan diskusi politik dan ideologi. Dalam segala keterbatasan, suara-suara kemanusiaan harus disampaikan ke semua pihak yang terketuk hatinya demi berbuat sesuatu bagi sesamanya.

Saya paham bahwa Ochie tak berniat membangun sensasi. Di tengah para pengungsi yang penuh keterbatasan itu, ia mengirimkan pesan yang mengaduk-aduk kemanusiaan kita semua. Ia hanya ingin kembali meningatkan orang agar tetap fokus pada Rohingya, tetap setia dan fokus pada tugas-tugas menegakkan kemanusiaan, tanpa harus terpengaruh oleh berbagai situasi.



Semoga saja, suaranya menembus semua hati manusia. Termasuk menembus hati mereka yang berdemontrasi hari ini demi menolak komunisme yang telah lama dikubur sejarah. Jika di sini, banyak orang membahas sesuatu yang entah ada ataukah tidak, suara parau Ochie tak lelah mengingatkan semua orang untuk berbuat sesuatu terhadap saudara kita di sana.

Ah, betapa indahnya jika semua orang memandang orang lain sebagai saudara. Tanpa melihat suku, agama, ras juga pilihan keyakinan.

Catatan:

Jika anda ingin membantu Ochie, kirimkan sumbangan melalui Dompet Dhuafa.


Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...