Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Menanti Episode Baru Andi Mallarangeng



TAK ada berita paling membahagiakan hari ini selain dari bebasnya Andi Alifian Mallarangeng, yang kerap disapa Daeng Anto. Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) ini divonis empat tahun penjara dan denda 200 juta rupiah atas tuduhan ikut terlibat dalam kasus korupsi Hambalang.

Saya tak terlalu mengikuti detail-detail persidangan. Seingat saya, persidangan itu menunjukkan beliau tidak mengambil sepeserpun uang hasil korupsi. Uang itu beredar di orang-orang dekatnya, termasuk saudara dan teman-temannya. Dia lalai sebab orang-orang telah memanfaatkan posisinya sebagai menteri untuk satu tindakan korupsi. Saya percaya padanya.

Daeng Anto bukanlah orang baru buat saya. Saya mengenalnya saat beliau masih menjadi staf pengajar di Universitas Hasanuddin, Makassar. Di masa reformasi, dia punya banyak kontribusi pada gerakan mahasiswa Unhas. Dia yang selalu memberikan informasi, menemani mahasiswa yang sedang melancarkan aksi, juga ikut membuka jaringan bagi para mahasiswa.

Sayang, dia tak lama di Makassar. Dia terjerat pesona Jakarta. Tapi, dia pindah ke Jakarta bukan untuk duit. Orang sekelas Daeng Anto tak mungkin mengejar materi. Dia mencari tantangan serta persentuhan dengan banyak orang di kota itu. Dia ingin lebih banyak waktu untuk membagikan pengetahuannya. Hingga akhirnya ia masuk politik, lalu menjadi juru bicara presiden. Terakhir menjadi menteri, yang tersandung kasus korupsi.

Setelah bebas dari tahanan, saya menunggu-nunggu apa gerangan yang akan dilakukannya. Saya masih ingin mendengar kiprahnya di berbagai media. Saya berharap dia bisa kembali tampil di berbagai forum dan berbagi pengalamannya. Pengalaman di penjara selama empat tahun pastilah mengasah dirinya menjadi lebih religius. Penjara adalah kawah candradimuka yang membasuh semua kesalahannya sehingga kelak bisa kembali berbuat bagi orang banyak.

Saya menduga kuat dia tak ingin kembali memasuki dunia politik. Mungkin ia akan “tahu diri” dan lebih banyak bergrak di ranah aktivitas pendidikan dan kebudayaan. Sebagai alumnus program doktoral di salah satu perguruan tinggi di Amerika, barangkali ia akan kembali menjadi pengajar. Sayang sekali jika ilmu yang demikian luas tidak dibagikan ke orang banyak.

Yang paling saya tunggui darinya adalah catatan-catatan tentang praktik politik. Tak banyak akademisi yang punya pengalaman sepertinya, bisa memasuki panggung politik dan melihat langsung bagaimana orang-orang berdinamika di situ. Dia menyaksikan fragmen di tubuh partai, kementerian, hingga bagaimana kontestasi banyak aktor di panggung kuasa. Jika saja ia membagikan pengalaman itu, maka banyak kisah dan pelajaran yang bisa kita petik. Minimal, kita jadi tahu apa yang terjadi tubuh partai dan lembaga-lembaga negara.

Banyak intelektual yang menghasilkan karya hebat di penjara. Dahulu, Antonio Gramsci menulis karya hebatnya Prisoner Notebook di dalam penjara. Bahkan, Tan Malaka juga menulis buku-buku terbaiknya saat dalam pelarian. Karya terbaik selalu lahir dari perenungan yang dahsyat, tanpa banyak distraksi. Penjara adalah tempat terbaik untuk melahirkan karya-karya bagus.

Selama di penjara, Daeng Anto menulis kolom yang rutin dimuat media online. Kolomnya kemudian diterbitkan. Saya membaca sekilas. Ia membahas hal-hal ringan tentang politik. Mungkin ia meniatkan buku itu bisa dibaca semua kalangan. Ia tak ingin berpolemik, apalagi membahas kasusnya. Saya sih berharap ia menulis tentang Presiden SBY. Ternyata ia justru tak membahas sang presiden. Ia menulis hal-hal yang sederhana, serupa obrolan di warung kopi.

Di satu media online, saya membaca informasi rencana Daeng Anto jika keluar dari penjara. Rupanya ia ingin menulis buku mengenai permainan gaple. Ia ingin mencatat sejarah, taktik, dan strategi bermain gaple. Katanya, gaple tidak sepopuler catur yang telah dibahas banyak orang. Ia ingin menjadi orang pertama yang menulis tentang gaple.

Saya masih berharap ia menuliskan banyak hal tentang politik. Masa-masa pemerintahan SBY menyisakan banyak misteri saat orang-orang dekat di lingkaran SBY satu per satu menjadi tahanan kasus korupsi. Ada banyak peristiwa yang memang tidak sampai ke telinga publik. Pada sosok seperti Daeng Anto, kita berharap mendapat informasi gres mengenai dinamika dan saling sikut di lingkaran inti presiden.

Mungkin Daeng Anto sedang menunggu saat yang tepat untuk bercerita. Boleh jadi, ia ingin menyimpan kisah-kisah seputar istana sebab khawatir akan terjadi konflik yang bisa merobek pertemanannya. Sebagai orang Bugis, bisa jadi Daeng Anto akan meniru Jenderal M. Yusuf yang merahasiakan apa yang terjadi dengan Supersemar, surat sakti yang memindahkan kuasa dari Sukarno ke Suharto.

Ah, semoga Daeng Anto mau bercerita. Untuk itu, saya siap menunggunya.


Bogor, 21 April 2017



James Ferguson yang Memberi Ikan, Bukan Kail!



DI satu blog milik mahasiswa program doktor bidang antropologi di Amerika Serikat, saya membaca ulasan provokatif tentang sepuluh buku antropologi yang wajib untuk dibaca. Ia menuliskan beberapa buku dari nama yang cukup familiar, diantaranya adalah Marcel Mauss, Evan Pritchard, Karl Polanyi, Marshal Sahlins, hingga Marvin Harris.

Di antara nama-nama dan buku-buku yang disebutkannya, saya tertarik dengan buku Give a Man a Fish yang ditulis James Ferguson. Judulnya mengejutkan sebab melanggar kaidah dalam pemberdayaan yang sering dirapal serupa mantra yakni “Jangan beri ikan, berilah kail. Sebab dengan memberi ikan, maka seseorang akan hidup sehari, tapi memberi kail, maka seseorang bisa hidup selamanya.” Dari judulnya, kelihatan kalau James Ferguson menentang anggapan tentang "beri kail, jangan ikan." Menurutnya, berilah ikan.



Yang membuat saya penasaran adalah sosok James Ferguson ini adalah sosok yang sangat kondang di kalangan antropolog yang mengkaji pembangunan. Beberapa tahun silam, saya membaca bukunya yang berjudul The Anti-Politics Machine yang menyajikan kritik atas wacana pembangunan. Buku itu membahas riset tentang kegagalan proyek pembangunan di Lesotho yang didanai Bank Dunia dan CIDA. Buku itu membedah ide-ide “pembangunan,” bagaimana proses penciptaan wacana pembangunan, bagaimana pembangunan dijalankan, hingga efek yang dihasilkan.

Makanya, sesuai membaca ulasan tentang buku terbaru James Ferguson, saya lalu memesannya. Kini, buku itu telah ada di meja belajar saya. Seperti biasa, bagian paling saya sukai adalah pendahuluan, sebab penulis akan menjelaskan posisi teoritisnya, metodologi, serta ide-ide pokok yang menjadi nyawa keseluruhan halaman buku. Bagian awal cukup memesona. Mudah-mudahan saya bisa tuntas membacanya. Mohon maaf, buku sebagus ini tidak untuk dipinjamkan.

Bagi Ferguson, pepatah yang menyebutkan “beri kail, jangan ikan!” tidak selalu benar. Melalui riset dengan metode etnografis, ia mengajak orang berpikir tentang cara lain dalam melihat kemiskinan dan ketidakberdayaan. Studi yang dilakukannya menunjukkan bahwa transfer uang tanpa syarat --atau sering disebut direct cash transfer- kepada masyarakat miskin justru memunculkan semangat wirausaha. Masyarakat justru bisa mengelola bantuan dana itu lalu digunakan secara berkelanjutan. Intinya adalah distribusi yang adil, pengelolaan kepercayaan, dan kesempatan.

Riset ini menjadi menarik sebab kita terlalu sering melihat orang miskin dengan cara pandang kita. Padahal, sebegaimana pernah ditulis oleh Robert Chamber, yang sering terjadi adalah begitu banyaknya bias dalam melihat orang miskin disebabkan kuasa pengetahuan yang kita miliki. Kita mendefinisikan mereka dengan cara pandang kita, yang tentu saja, tidak mencerminkan keadaan sebenarnya.

Dalam buku ini, Ferguson secara impresif mengajukan pertanyaan, dekonstruksi, dan rekonstruksi atas pandangan klasik tentang kemiskinan, pembangunan dan negara-negara sejahtera. Dengan fokus pada kebijakan “bagi-bagi uang” atau cash transfer, ia menyajikan risalah antropologi di selatan Afrika, termasuk perdebatan mutakhir tentang praktik pembangunan dan anti-poverty activism.

Yang mengejutkan, dia tidak melakukan studi di negara-negara sejahtera, misalnya Eropa Barat dan Skandinavia, yang menerapkan kebijakan ini. Ia membahas negara miskin di Afrika Selatan yakni Namibia. Ia menjelaskan “politik distribusi.” Setiap warga negara adalah pemegang saham, sehingga semua warga berhal mendapatkan penghasilan dasar sebagai bantuan tanpa syarat. Ini berbeda dengan sistem pada masyarakat kapitalis yang hanya memberikan dana bagi hasil kepada para pekerja.

Seringkali kita beranggapan bahwa memberikan dana kepada orang lain secara gratis adalah perbuatan sia-sia. Belum apa-apa kita menduga akan digunakan untuk foya-foya, bersenang-senang, sehingga habis hanya dalam sehari. Melalui studi etnografis, Ferguson menunjukkan bahwa transfer uang tanpa syarat justru memberikan kekuatan positif. Di Namibia, dana diberikan kepada istri dan anak. Tindakan ini berakibat positif sebab mengurangi ketimpangan gender. Pemberian dana juga tidak mengakibatkan inflasi karena uang yang diberikan adalah hasil pajak dari ekstraksi tambang dan pajak progresif dari orang kaya.

Ferguson menunjukkan bahwa kewajiban dalam melakukan transfer redistribusi oleh negara dengan merujuk pada contoh-contoh sistem bagi hasil masyarakat primitif dari berburu, yang mana sudah dilakukan sebelum adanya negara. Membaca bagian ini, saya langsung teringat buku Jared Diamond berjudul The World until Yesterday yang begitu detail meriset masyarakat tradisional, yang memberinya banyak pelajaran kepada masyarakat modern. Praktik distribusi dana ini rupanya telah lama dilakukan oleh masyarakat tradisional di Afrika sana.

Selama ini kaum Marxian, pengkaji antropologi ekonomi, dan praktisi pembangunan  melihat bahwa produksi adalah hal dominan. Ferguson melihat justru distribusilah yang menentukan produksi. Dia menganjurkan pergeseran dari produksi ke distribusi. Dia mempertanyakan ulang tentang pasar, livelihood, buruh, dan masa depan politik progresif. Makanya, memberikan ikan lebih penting daripada memberikan kail. Sebab dengan memberikan ikan, artinya, satu masyarakat sanggup melakukan produksi dengan baik, sehingga tahapan berikutnya adalah bagaimana membagikannya secara adil kepada semua warga.

***

SEUSAI membaca buku ini, saya memikirkan banyak hal. Mulai dari dana desa, distribusi bantuan orag miskin, serta bagaimana mengawal penggunaan dana desa itu agar memberi manfaat kepada banyak orang. Bisakah tesis Ferguson digunakan untuk mengkaji kasus-kasus di Indonesia? Tentu saja bisa. Saya menemukan banyak narasi tentang ini.

Namun biarlah itu dibahas di tulisan lain. Untuk saat ini, saya memilih tenggelam dulu di bab-bab lain buku Give a Man a Fish ini.


Bogor, 18 April 2017


BACA JUGA:





Melihat FILDAN di Layar Kaca



SETIAP kali Fildan hendak tampil di ajang Dangdut Academy 4 di Indosiar, setiap kali pula timeline media sosial saya akan dipenuhi sorak-sorai dukungan dari semua kawan, sahabat, guru, dan sahabat dari bumi Sulawesi Tenggara maupun dari berbagai daerah lain di Indonesia. Pada setiap penampilan, apresiasi serta harapan-harapan terpancar kuat. Dia menjadi magnit bagi semua orang yang punya pertalian darah dengan Sultra.

Fildan memang fenomena. Dia mengisi topik diskusi di berbagai lapak, warung kopi, ataupun acara-acara arisan. Ia dibahas para nelayan di desa-desa pesisir Buton-Muna hingga lupa melaut. Dia juga didiskusikan rakyat biasa di pasar rakyat pebukitan Kolaka sembari berbelanja. Dua pekan silam, saat berkunjung ke kantor Pemprov Sultra di Kendari, saya mendengar sendiri banyak pegawai membahas Fildan sembari menyaksikan tayangan vokalnya di kanal Youtube.

Untuk pertama kalinya saya menyaksikan vidio audisi kontestan lomba dangdut yang ditonton hingga jutaan orang di Youtube, jumlah penonton yang memecahkan rekor terbanyak untuk seorang calon bintang. Tak sampai di situ, vidio yang menampilkan Fildan menyanyikan lagu India itu ikut ditonton dan didiskusikan oleh orang-orang India. Semuanya memberikan apresiasi. Saat Fildan ikut audisi dan menyanyikan lagu India berjudul Tum Hi Ho dan Muskurane, ada orang India yang membuat vidio berisikan perbandingan antara vokal Fildan dengan Arijit Singh, penyanyi asli lagu itu.

Saya juga melihat hal lain. Di tengah heterogenitas atau keberagaman masyarakat Sultra, Fildan adalah sosok pemersatu. Suara merdunya bisa menghadirkan sebersit kebanggaan dari warga beragam etnik di sana. Dia bukan milik orang Buton-Muna-Wakatobi. Dia milik semua etnik, mulai dari Kendari, Konawe, Kolaka, hingga Bombana. Suara merdunya saat menyanyikan lagu dangdut adalah simbol dari keseharian rakyat jelata yang menjadikan dangdut sebagai hiburan dari segala getir dan nestapa.

Di suara Fildan, terselip begitu banyak kebanggaan dan simbol daerah. Di daerah sendiri, Fildan serupa virus amnesia yang menghapus banyak hal. Saat dirinya menyanyi, banyak persoalan terlupakan. Selagi dia bersuara merdu, publik lupa dengan pelayanan pemerintahan yang biasa saja. Selagi dia tampil, publik lupa betapa buruknya kinerja aparat dan birokrasi. Selagi dia berdendang, publik lupa betapa banyaknya agenda penting yang terabaikan.

Fildan perlahan jadi komoditas politik. Di timeline saya, beberapa kepala dinas tak henti membuat postingan tentang Fildan. Banyak bupati membuat spanduk dukungan. Malah ada yang ngambek kalau daerahnya tak disebut Fildan. Kesannya, tak ada lagi hal lain yang lebih penting terkait tugas-tugas dan wilayah kerjanya. Fildan lebih penting dari apapun. Ataukah masyarakat memang sudah dalam keadaan baik-baik dan sejahtera sehingga hari-hari diisi dengan postingan ataupun pembicaraan tentang Fildan?

Untungnya, saya seorang rakyat biasa dan pengangguran. Saya cukup bahagia bisa melihat Fildan, putra La Suri, bisa bernyanyi. Saya yang tadinya tak begitu suka dangdut bisa menyukai irama musik khas Indonesia ini. Di setiap Fildan menyanyi, saya bahagia menyaksikan banyak spanduk dan pamflet dukungan dari banyak titik di daerah. Lebih senang lagi melihat banyak sosok yang saya kenali duduk di bangku penonton. Tampilnya Fildan tak hanya menghadirkan bahagia karena suara merdu itu, tapi juga rasa nostalgia atas banyak hal.

Ah, semoga saja Fildan tak berniat maju di ajang pilkada. Dia tak perlu mengikuti vokalis yang kini jadi Wakil Walikota Palu. Biar dia tetap memancarkan pesona di semua panggung yang dijejakinya. Biar dia tetap menjadi milik semua orang di Sulawesi Tenggara, dari pesisir kepulauan, hingga pegunungan sana. Biar dia tetap jadi milik kita, rakyat jelata yang butuh hiburan di sela-sela aktivitas memantau para pejabat yang sibuk membawa-bawa nama Fildan.




CINTA yang Menembus Angkasa



REMAJA itu bernama Gardner Elliot. Tanpa diingininya, ia lahir dan besar di Planet Mars. Dahulu, ibunya adalah astronot yang dikirimkan ke Mars untuk misi yang lebih panjang. Saat itu, manusia telah membangun wahana yang cukup luas di planet itu. Para astronot secara berkala dikirimkan untuk mengisi laboratorium an menjalankan riset. Di antara barisan para astronot itu, Sarah Elliot datang bersama rombongan. Apa daya, perempuan itu ternyata hamil dan meninggal dunia saat melahirkan bayinya di Mars.

Gardner tumbuh sebagai bocah bumi yang diasuh para astronot. Sejak masih bayi, ia telah divonis tidak bisa meninggalkan Mars. Dokter menyebut dirinya diterpa penyakit aneh yang hanya memungkinkannya tinggal di planet yang gravitasinya lebih rendah. Tak hanya itu, pihak NASA tak ingin membawanya ke bumi sebab khawatir terjadi kehebohan, serta penghakiman publik. Keberadaan Gardner dirahasiakan. Ia tak boleh kembali ke bumi. Ia adalah remaja Mars yang takdirnya ditentukan NASA dan perusahaan yang menyediakan ekspedisi ke planet itu. Ia haram kembali ke bumi.

Gardner tumbuh sebagai remaja cerdas yang penuh rasa ingin tahu. Ia besar di wahana yang canggih. Sejak belia, ia sudah akrab dnegan komputer, kendaraan antariksa, dan berbagai alat canggih. Waktunya diisi dengan banyak kegiatan. Bangun pagi, ia akan menyirami tanaman di ruang khusus, berlari di lintasan yang ada di wahana, serta tak lupa, ia akan mengaktifkan internet, lalu chatting dengan manusia bumi. Di situlah, ia menjalin hubungan dekat dengan remaja asal Arizona bernama Tulsa.

Kedekatan itu menumbuhkan benih-benih cinta. Dia mulai mempertanyakan mengapa dirinya ada di Mars. Ia tak peduli dengan pernyataan para dokter dan astronot tentang tubuhnya yang tak bisa bertahan lama di bumi. Ia ingin berangkat ke bumi, lalu menjalani hidup normal ala manusia lainnya. Suatu hari, saat memeriksa arsip ibunya, ia melihat rekaman ibunya bersama seorang lelaki. Ia yakin itulah ayahnya. Ia ingin menemui sang ayah. Ia juga ingin bertemu Tulsa, sekadar merengkuh tangannya, lalu merasakan getar indah yang disaksikannya di Youtube pada lelaki yang mengganggam tangan perempuan.

Biarpun amat ditentang, ia berhasil lolos. Seorang astronot perempuan, yang serupa ibunya, memberinya jalan. Ia diikutkan dalam misi perjalanan ke bumi. Hidupnya bermula di situ, sebagai manusia remaja yang falling in love pada Tulsa. Namun, apakah Tulsa percaya dirinya seorang penduduk Mars yang justru tak paham banyak hal tentang bumi? Bisakah gadis itu menerima dirinya sebagai manusia sekaligus alien yang datang untuk menjemput takdir bersamanya?

***

PEREMPUAN muda itu bernama Tulsa. Ia siswi sekolah menengah di Arizona. Setiap hari ia selalu chat dengan Gardner Elliot. Ia merasa amat dekat dengan lelaki itu. Biarpun lelaki itu merahasiakan banyak hal, ia tak peduli. Baginya, lelaki itu selalu siap saat dirinya hendak bercerita banyak hal. Lelaki itu selalu stand by di internet untuk menjadi sahabatnya.

Suatu hari, lelaki itu datang ke sekolahnya. Ia langsung marah-marah sebab tak pernah memberi kabar selama beberapa bulan. Saat Gardner menjelaskan ia sedang dalam perjalanan dari Mars, rasa marah itu semakin menjadi-jadi. Dunia sudah terlampau banyak menyimpan banyak kebohongan. Tak perlu lagi ada kebohongan dari lelaki yang setiap hari ditemaninya chatting.

Biarpun merasa dibohongi, ia tetap menerima permohonan maaf lelaki itu. Pelan-pelan ia melihat keanehan. Saat lelaki itu diminta menunggu dirinya di dekat tangga, beberapa jam berikutnya, lelaki itu masih di posisi yang sama. Ia tidak memilih duduk atau nongkrong di kantin sekolah. Rupanya, lelaki itu setia dengan janji untuk menunggunya.

Lelaki itu dikejar-kejar oleh polisi dan para lelaki berseragam NASA. Ia lalu berlari bersamanya. Ia merencanakan pelarian dengan pesawat penyiram tanaman, singgah ke Las Vegas, lalu menikmati banyak panorama di perjalanan. Bersama lelaki bernama Gardner, perjalanan itu menjadi mengasyikkan. Ia terheran-heran melihat lelaki itu yang terkesima melihat apapun, mulai dari bintang-bintang, pemandangan lembah, lautan luas, hingga serangga. Bahkan seekor kuda pun bisa membuat Gardner terkagum-kagum. Bersama Tulsa, Gardner menjalani banyak petualangan. Mereka tidur dipayungi langit di dalam tenda. Mereka bisa berbincang banyak hal sembari berpelukan. Gardner merasakan sesuatu yang paling indah di bumi. Dia merasakan CINTA.

Hingga akhirnya, Gardner terjatuh karena sakit. Dia pun membawanya ke rumah sakit, sebelum akhirnya kembali kabur karena Gardner yakin tak ada yang bisa mengobatinya. Gardner ikhlas jika dirinya akhirnya tewas dalam pencariannya. Di saat sakit itu semakin parah, mereka berhasil menemui laki-laki yang disangka ayah. Ternyata mereka keliru. Sakit Gardner semakin parah. Ia merasa sudah menyaksikan banyak hal-hal yang indah dan romantis di bumi. Ia ingin tewas di tengah gelombang samudera. Tulsa berteriak sekuat tenaga.

***

DI bioskop tanah air, film ini baru akan tayang. Di situs 21 Cineplex, film ini masuk kategori Coming Soon alias segera tayang. Tapi saya beruntung karena telah menyaksikannya lebih awal di situs internet. Rupanya film ini mendapat review negatif saat tayang di Amerika sana. Tapi saya justru menyukai jenis film yang sederhana, tapi punya pesan kuat.

Film ini memang ditujukan untuk remaja. Saya tertarik dengan tema yang tidak biasa, yakni kisah cinta manusia yang hidup di Mars dan manusia di bumi. Mereka sama-sama manusia, sama-sama dari species sama, hanya saja berbeda karena faktor kecelakaan. Yang membuat cintanya unik adalah berbagai perbedaan, yang justru menjadi jembatan pemersatu bagi mereka. Cinta mereka menembus ribuan kilometer, menembus ruang angkasa.

Dalam banyak sisi, film ini mengingatkan saya pada Blast from the Past (1999) yang diperankan Brendan Fraser dan Alicia Silverstone. Kisahnya mengenai pasangan saintis bersama bayinya yang masuk ke dalam bunker disebabkan kekhawatiran atas radiasi nuklir. Setelah puluhan tahun, bayi itu telah menjadi remaja yang dididik dengan selera tahun 1960-an. Remaja itu naik ke permukaan, lalu kembali menjadi manusia normal dengan segala keluguan dan kepolosannya.

Film Space between Us ini tak jauh beda dengan Blast from the Past. Bagi yang tak suka ribet, film ini sangat pas untuk dinikmati sebagai hiburan. Saya menyukai banyak hal biasa, yang justru amat bernilai. Misalnya melihat dari ketinggian, merasakan hujan, hingga melihat lautan biru dnegan pasir putih.

Saya menyukai pertanyaan Gardner Elliot kepada semua orang yang ditemuinya: What’s your favorite thing about earth?” Jika saya ditanyai hal yang sama, saya mungkin akan menjawab: “memandang lautan luas.” Sebab memandang lautan tak bertepi serupa memandang karya seni yang amat indah, mengingatkan saya pada masa kecil di tepi laut, membayangkan semesta luas di lautan dan segala mahluk di sana, lalu merasakan betapa kecilnya manusia.

Tapi saya tak akan menjawab lautan. Saya akan jujur mengatakan “cinta.” Sebab cinta adalah satu kata yang mengisi seluruh pemaknaan kita tentang semesta. Selagi ada cinta, segala hal yang biasa-biasa saja akan menjadi luar biasa. Selagi ada cinta, maka manusia akan selalu kuat dan menerjang segala kemustahilan. Selagi ada cinta, gunung tinggi akan didaki, laut luas akan diseberangi. Selagi ada cinta, manusia bisa melaksanakan misi yang tak mungkin menjadi mungkin. Selagi ada cinta, manusia siap berkorban untuk segala hal yang dicintainya.

Selagi ada cinta, tak ada lagi diri. Yang ada adalah kamu dan senyum mekar itu.


Bogor, 2 April 2017

BACA JUGA:











Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...