Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Dari Big Data, Artificial Intelligence, hingga Kediktatoran Digital




MEMBACA buku bagus itu serupa menghadapi satu es krim nikmat, yang harus dicicipi pelan-pelan. Rasanya tak tega untuk menghabiskannya sekaligus sebab ada banyak hal menarik yang bisa di-stabilo kemudian direnungi maknanya.

Sepekan ini saya membaca buku 21 Lessons for the 21st Century yang ditulis sejarawan asal Israel, Yuval Noah Harari. Untuk buku sebagus ini, saya sengaja membacanya pelan-pelan seperti sedang makan es krim. Malah kadang saya mengulangi bagian-bagian tertentu.

Dalam versi bahasa Inggris, buku ini terbilang baru sebab diluncurkan pada September 2018. Namun, saya melihat di media sosial, seseorang di Manado telah menerjemahkannya. Buku itu kemudian diterbitkan oleh satu perusahaan penerbitan di Manado. Ini baru keren, sebab penerbitnya berasal dari daerah, dan bukan dari penerbitan mapan. Sebagai orang daerah, saya bangga bisa membeli buku dari penerbit daerah.

Di Twitter, saya melihat ada keberatan dari pihak penerbit besar karena merasa telah memegang lisensi penerbitan. Saya sempat khawatir kalau penerbitannya akan ditarik sebab penerbit besar punya kuasa modal dan kuasa hukum. Makanya saya segera membelinya sebab takut akan ditarik. Biarpun tak dijual di toko buku besar, saya mendapatkannya dengan cara membeli online.

Sebagai pembaca, saya tidak peduli siapa yang berhak menerbitkannya. Bagi saya, selama buku itu sudah terbit, maka saya ingin segera memilikinya demi menuntaskan rasa dahaga. Di tambah lagi, saya membaca review yang dibuat Bill Gates tentang buku ini di New York Times. Saya makin penasaran. Baca review Bill Gates itu DI SINI.

Sebelumnya, saya sudah memiliki dua buku dari penulis yang karyanya amat disukai Barrack Obama, Bill Gates dan Mark Zuckerberg ini. Buku pertamanya adalah Sapiens yang mengurai ikhwal kemunculan Homo Sapiens hingga menjadi spesies terakhir di muka bumi. Selanjutnya, dia menulis Homo Deus yang isinya adalah masa depan manusia. Di dalamnya ada tema-tema seperti algoritma dan artificial intelligent, hingga agama baru bernama Big Data.

Dari sisi sistematika, buku baru ini terkesan lebih “berantakan.” Pada dua buku sebelumnya, alurnya ditata dengan rapi sehingga kita diberi pemahaman sejak awal lalu pelan-pelan maju ke berbagai topik. Perbedaan lain, jika  Sapiens membahas masa lalu, Homo Deus membahas masa depan, maka 21 Lessons membahas masa kini. Yang dibahas adalah 21 topik penting yang menjadi perbincangan manusia di masa kini.

BACA: Manusia dalam Tafsiran Sejarawan Israel

Buku ini terbagi atas lima bab utama, yang lalu di-breakdown menjadi 21 topik pembahasan. Lima bab utama itu adalah: (1) tantangan teknologi, (2) tantangan politik, (3) keputusasaan dan harapan, (4) kebenaran, (5) daya tahan.

Saya agak tertipu dengan judulnya. Dengan mengatakan 21 Lessons, maka kesannya ada sesuatu yang sudah jadi di situ. Saya pikir semacam buku Chicken Soup for the Soul. Tapi setelah membaca isinya, yang ada malah hamparan berbagai fenomena dan realitas yang menarik untuk didekati dengan intens. 

Harari bertindak sebagai filsuf, sejarawan, dan juga futurolog yang mengajak kita berbincang tentang manusia. Pada setiap kisah, dia mengajukan beberapa pertanyaan atau paragraf yang berisi pertanyaan atau renungan filosofis. Kutipan itu jadi semacam panduan untuk menelusuri dan mencari jawabannya di bagian itu. Minimal kita mendapatkan insight apa yang tertulis di situ.

Saya ambil contoh pada bagian 5 berjudul resilience atau daya tahan. Dia mengajukan pertanyaan sepeti ini: “How do you live in an age of bewilderment, when the old stories have collapsed and no new story has yet emergence to replace them.” Bagaimana Anda hidup di zaman kebingungan, ketika cerita-cerita lama telah runtuh, dan tidak ada cerita baru yang muncul untuk menggantikannya?

tiga buku yang ditulis Harari

Kekuatan Harari adalah dia bisa mendiskusikan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dia memahami sejarah manusia, sebab basic-nya adalah ilmu sejarah, namun dia juga memahami masa kini dan bisa membaca masa depan. Di ujung  diskusi itu, kita dikejutkan dengan pertanyaan apa yang harus kita lakukan di masa kini.

Beberapa pertanyaan yang diajukan cukup provokatif. Misalnya, dia bertanya bagaimana komputer dan robot mengubah makna menjadi manusia? Bagaimana kita menghadapi epidemi hoaks atau fake news? Apakah nasionalisme dan agama masih relevan? Apa yang harus kita ajarkan pada anak-anak kita pada saat algoritma teknologi jauh lebih memahami segala hal tentang keingintahuan anak kita ketimbang kita sendiri?

Harari mendiskusikan beberapa topik-topik aktual yang ramai dibahas masyarakat dunia, mulai dari isu bangkitnya nasionalisme, yang dipicu oleh kebijakan politik Donald Trump dan Vladimir Putin. Isu lain adalah imigrasi, terorisme, perang, hingga disrupsi teknologi. 

Dalam banyak argumen, saya temukan beberapa dilema manusia modern. Misalnya, di saat manusia tengah merayakan kebebasan dan ideologi liberalisme, di sisi lain ada revolusi kembar dalam teknologi informasi dan bioteknologi yang membuat manusia kehilangan kebebasannya. Revolusi ini menyebabkan banyak orang kehilangan kebebasan, dan kesetaraan manusia. Pesatnya perkembangan artificial intelligence (kecerdasan buatan) akan merenggut dunia bisnis dan menghilangkan pekerjaan banyak orang. 

Selain itu, algoritma Big Data membuat kekuasaan terkonsentrasi pada sedikit orang yang kemudian mengendalikan dunia politik dan dunia sosial sehingga manusia lain tak lebih dari sekadar sasaran produk serta banjirnya informasi yang menyesatkan. 

Posisi buku ini lebih kritis dalam memandang teknologi, sebab menawarkan banyak kemudahan, termasuk prediksi tentang usia manusia yang seolah akan abadi dikarenakan kemajuan bioteknologi yang bisa memindai tubuh manusia dan mengetahui biometrik, lebih dari yang diketahui manusia atas tubuhnya. 

Tapi di sisi lain, buku ini agak pesimis melihat semakin melemahnya manusia berhadapan dengan kecerdasan buatan yang perlahan akan mengambil alih semua pekerjaan. Mesin digital akan melaksanakan semua pekerjaan, robot akan bekerja tanpa mengenal kata istirahat, dan teknologi Big Data akan selalu membuat keputusan terbaik di tengah ribuan arus informasi dan data yang mengalir.

Saya menyenangi argumentasi tentang siapa yang memiliki data akan memiliki masa depan. Dulu, pada era agrikultur, aset paling berharga adalah tanah. Di era modern, mesin dan pabrik menjadi lebih penting. Inilah yang menjadi titik analisis dari Karl Marx tentang kelas borjuis dan proletar. 

BACA: Nicholas Carr dan Era Bodoh di Internet 

Tapi di era sekarang, aset terpenting adalah data, menggeser tanah dan industri. Bahkan politik menjadi arena untuk merebut dan memperjuangkan kontrol atas data. Aktivitas manusia modern tak bisa lepas dari data. Bahkan ketika kita bepergian sekali pun, kita mempercayakan pada Google dan Waze untuk memandu perjalanan kita.

Jika melihat peta politik sekarang, maka pemenangnya adalah siapa yang bisa mengendalikan algoritma dan data sehingga bisa pesan-pesan bisa menjadi peluru yang ditembakkan pada masa yang tepat. Kita sudah melihat bagaimana kemenangan Trump yang diikuti skandal atas bocornya data Facebook ke Cambridge Analytica.

Tak cuma politik. Di dunia bisnis, semua orang tak berdaya berhadapan dengan kedigdayaan Google dan Facebook yang mengontrol semua lalu lintas data di situ. Dua perusahaan raksasa ini punya algoritma yang mengendalikan mana informasi yang dilihat orang-orang dan mana yang bukan. Ibarat pedagang, Google bisa memilih produk mana yang disimpan di etalase.

Persoalannya, banyak negara yang dituntut untuk melakukan nasionalisasi data sehingga mengurangi kekuatan perusahaan besar. Inilah kondisi yang bisa menyebabkan lahirnya kediktatoran digital. Politisi ibarat dirigen yang mengendalikan orkestra manusia melalui data. Ketika mereka men-tweet, tiba-tiba saja publik heboh. 

Ketika mereka memosting di media sosial, kerusuhan bisa terjadi. Bahkan ketika mereka memberi komentar, kebencian muncul di mana-mana. Inilah situasi kediktatoran digital di mana seseorang mengendalikan semua arus informasi, melakukan rekayasa, sehingga kita semua berada di era post-truth atau pasca-kebenaran. 

Penjelasan Harari tentang post-truth juga menarik. Beberapa ahli mendefinisikan ini terjadi pasa masa sekarang ketika terjadi limpahan informasi. Harari menilai sejak awal kemunculan manusia, maka manusia sudah berada di era post-truth. Sebab kekuatan manusia selalu bergantung pada penciptaan dan keyakinan pada fiksi.

Dalam buku Sapiens dan Homo Deus, dia juga sudah menjelaskan, yang membedakan spesies kita dengan hewan adalah kemampuan kita untuk membuat fiksi yang memungkinkan kita untuk bekerja dalam skala kolektif yang besar. Fiksi akan selalu ada di sekitar kita di setiap zaman. Dulu orang percaya pada dewa, iblis, setan, hingga malaikat. Keyakinan itu lalu memandu manusia menjalani kehidupan. Kini, orang juga percaya pada fiksi seperti uang, negara, korporasi, pengadilan, hingga Google dan Facebook.

BACA: Pokemon Go, Game, dan Kecerdasan Generasi Internet

Bagian yang provokatif adalah ketika dia mengatakan bahwa “Ketika orang percaya pada satu berita bohong, maka itu dinamakan hoaks. Namun ketika orang percaya pada cerita yang dibuat-buat selama beribu-ribu tahun, maka itu adalah agama.” 

Saya melihat pernyataan itu sebagai teka-teki ilmiah yang menarik untuk didiskusikan. Dia memberikan banyak argumentasi atas pendapatnya. Meskipun dia menilai agama mengajarkan fiksi yang penuh berita dibuat-buat, tapi dia tidak mengingkari fungsi agama yang bisa menyatukan manusia lintas negara dan ras, serta bisa menggerakkan peradaban.

Dia memberi contoh beberapa katedral yang menjulang. Meskipun menurutnya bersumber dari fiksi, tapi bangunan berbentuk katedral dan ribuan lahirnya bisa muncul sebab manusia meyakini fiksi itu sebagai realitas.

Overall, saya menyukai pembahasan Harari yang sangat luas. Tak cuma bahas sejarah, tapi juga banyak aspek, mulai dari politik, sosial, budaya, hingga agama. Beberapa pertanyaan di sini membuat saya tertegun. 

Apakah kita masih punya kebebasan ketika big data selalu mengawasi kita? Apakah kita masih jadi manusia yang punya kebebasan ketika artificial intelligence bisa memahami kita dengan amat baik lebih dari pemahaman kita pada diri sendiri? Bagaimana menghadapi kediktatoran digital yang sekarang sudah mulai muncul di lapangan politik dan bisnis? 

Pertanyaan ini memang tak mudah dijawab. Seperti kata Harari, terhadap banyak persoalan global, seperti perubahan iklim, krisis ekologi, dan disrupsi teknologi, maka manusia harus menghadapinya secara bersama-sama. Manusia harus kembali membangun cerita-cerita kolektif yang bisa menyatukan semua bangsa sehingga semua sumber daya bisa dikerahkan untuk mengatasi berbagai soal itu. 



Sayangnya, saya tak begitu menyukai bab terakhir atau semacam kesimpulan buku ini. Harari menekankan pada pentingnya meditasi untuk melihat kembali perjalanan manusia di tengah jutaan informasi yang mengalir setiap saat. Sepanjang buku, kita dijejali dengan berbagai fakta, serta kekhawatiran, tiba-tiba saja di akhir buku, yang kita temukan adalah argumentasi klasik seperti halnya agama.

Kita seakan berlari dan mendaki satu gunung untuk menemukan semacam firdaus, tapi ternyata yang kita temukan bukan apa-apa. Kita hanya menemukan satu gundukan tanah, yang memberi kita keluasan pandang untuk melihat kembali apa-apa yang sudah dilalui. 

Bagian ini mengingatkan saya pada bab awal buku Thank You for Being Late yang ditulis Thomas L Friedman yang berterimakasih pada temannya yang terlambat datang ketika janjian sehingga dia ada waktu untuk merenungi banyak aspek yang berlarian di kehidupannya.

BACA: Empat Buku Thomas L Friedman

Mungkin demikian halnya di era serba digital ini. Yang hilang ataupun perlahan dikooptasi mesin adalah kesadaran kita sebagai spesies. Yang hilang adalah perenungan dan kontemplasi atas apa yang sudah dilalui, sebab semua mesin dan perangkat artificial intelligence jelas tak punya kesadaran. Mereka hanya bisa memproses informasi dan memberikan rekomendasi, namun tak bisa diajak bicara mengenai eksistensi manusia dan apa dilema moral dari setiap perubahan.

Sebagaimana saya katakan di awal, buku ini buat ketagihan. Ibarat es krim, kita tak puas mencicipinya. Sesuai membaca buku ini, saya rajin menonton banyak presentasi dan diskusi Harari di banyak lembaga, termasuk di kantor Google yang dihadiri banyak insinyur pengembang kecerdasan buatan. Seperti biasa, saya selalu terkesima melihatnya.




Musisi Jenius yang Menyayangi Kucing




KISAH Freddy Mercury dalam film Bohemian Rhapsody bukan saja menjadi nostalgia pada lagu-lagu Queen yang pernah menyihir dunia, melainkan menjadi gerbang untuk menelusuri sisi paling manusiawi dari seorang Freddy. 

Biarpun dia seorang Parsi yang berasal dari keluarga penganut Zoroaster, tapi dirinya kemudian menjadi ikon Inggris. Dia seorang pencinta kucing yang saat konser di negeri lain sering menelepon hanya untuk mendengar suara kucingnya. 

Dia seorang yang rapuh dan selalu bergerak meninggalkan zona nyamannya. Dia seorang yang tunduk pada alkohol dan pergaulan bebas sesama jenis. Tapi dia seorang sosok jenius di dunia musik yang suaranya selalu melekat di benak jutaan penggemarnya. 

Lelaki bergigi tonggos ini juga seorang pencinta yang gagal, yang hanya bisa mengenang kekasihnya melalui lagu “Love of My Life.” Dia menyebut berkat adanya ekstra empat gigi seri itu, suaranya bisa melengking hingga mencapai empat oktaf.

Apa pun itu, dia adalah sosok penting yang membawa musik rock ke arah baru yang amat menghibur. Dia menggabung berbagai genre, termasuk memasukkan unsur musik opera, paduan suara, diksi yang tidak umum, hingga nada-nada dan standar musik yang ingin digapainya.

Saya menonton film ini dengan perasaan yang penuh nostalgik. Banyak lagu Queen yang sangat familiar dan menjadi abadi di lintasan sejarah. Lagu-lagunya unik dan tidak biasa. Saya tak terkejut jika lagu-lagunya akan selalu dinyanyikan generasi setelahnya.

Sepanjang film, saya beberapa kali bersenandung lagu Queen yang saya sukai. Tak cuma Bohemian Rhapsody, tapi juga We are the Champion, We Will Rock You, Radio Gaga, hingga lagu-lagu romantis seperti Somebody to Love, Crazy Little Thing Called Love, dan Love of My Life.

Saya tak ingin mengulas aspek sinematografi dan akting pemainnya. Juga tak ingin membahas cerita. Saya percaya bahwa akan sulit menyajikan satu kisah yang memuat semua aspek kehidupan seseorang. 

Jujur, pemain film ini sangat mirip dengan aslinya. Bahkan gestur dari pemeran Freddy Mercury ini membuat hati dipenuhi rasa rindu pada penyanyi hebat itu. Sempat saya berpikir bahwa Brian May ikut main di film ini dan berperan sebagai dirinya. Kaget juga pas lihat di Youtube, ternyata orangnya sudah tua.

Yang paling nikmat dari film ini bukan cuma lagunya, tapi kisah perjalanan dan satu lanskap sosial tempat seseorang tumbuh dan menjulang tinggi. Setiap orang punya  bakat hebat yang hanya bisa tampil jika berada pada kondisi yang tepat. 

Freddy bersama Delilah, kucing setianya

Saya teringat kolumnis Malcolm Gladwell. Dalam buku Outliers, dia menjelaskan, kesuksesan tidak berasal dari angka nol. Semua orang berutang pada orang tua dan dukungan orang lain. Kesuksesan adalah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai “keuntungan yang terakumulasi”. Tempat dan kapan seseorang tumbuh besar memiliki pengaruh yang cukup besar.

Gladwell menolak anggapan tentang keberhasilan yang semata-mata dipicu oleh kecerdasan. Menurutnya, keberhasilan seseorang menggapai satu kesuksesan tidak bisa dilihat hanya dari satu aspek saja, melainkan terdapat hal yang lebih rumit, kompleks, dan hanya bisa dipahami dengan menelusuri kehidupan orang tersebut.

Gambaran yang paling sederhana namun gamblang dipaparkan Gladwell dalam cerita singkat mengenai pohon. Pohon ek menjadi yang tertinggi di hutan bukan semata-mata karena dia paling gigih. 

Dia menjadi yang tertinggi karena “kebetulan” tidak ada pohon lain yang menghalangi sinar matahari kepadanya, tanah di sekelilingnya dalam dan subur, tidak ada kelinci yang mengunyah kulit kayunya sewaktu masih kecil, dan tidak ada tukang kayu yang menebangnya sebelum dia tumbuh dewasa.

Jika teori ini diterapkan untuk seorang Freddy Mercury, maka kita akan melihat kasus yang unik. Dia tumbuh di tengah keluarga yang terlalu mengekang. Orang tuanya bersikap konservatif yang menginginkan anaknya agar disiplin dan menjadi orang Parsi yang baik.  Dia seorang pemberontak yang bengal dan memilih meninggalkan rumah. Bahkan dia menanggalkan nama Farroukh karena menggantinya dengan Freddy.

Hingga suatu hari, bertemulah dia dengan dua mahasiswa serius yang sedang merintis grup band. Mahasiswa itu adalah Brian May, seorang gitaris yang juga sedang belajar astrofisika hingga tingkat PhD. Satunya lagi adalah Roger Taylor yang tengah belajar kedokteran gigi.

Berbeda dengan Freddy, dua rekannya ini berasal dari keluarga mapan. Brian May tak cuma intelektual, tapi juga lahir dari ayah yang keluaran Teknik Elektro. Demikian juga dengan Roger. 

Berasal dari kelas sosial yang lapis bawah itu tidak membuat Freddy minder. Percaya dirinya tinggi. Dia mendatangi Brian dan meyakinkannya untuk sama-sama membentuk band. Sejarah grup musik Queen bermula di sini.

Freddy menjadi pemimpin dan menentukan arah grup band itu. Dia mencipta lagu, menentukan aransemen yang tepat, hingga rajin mengamati apa yang diinginkan para pencinta musik. Bersama rekannya, dia menemukan chemistry untuk jadi bintang besar, bahkan legenda.

Saya selalu suka melihat penampilannya di kanal Youtube. Ketika bernyanyi, dia selalu larut dengan apa yang dinyanyikannya. Penghayatan dan vokalnya setingkat dewa-dewa.  Gesturnya seperti para sufi yang sedang bermeditasi dan larut dengan aktivitas itu. 

BACA: Iwan Fals: Voice of Rebellion

Selain itu, gerak tubuhnya juga penuh energi. Dia menjadikan panggung sebagai arena ekspresi yang mengeluarkan semua potensi terbaiknya. Pantas saja jika penampilan Queen di panggung selalu ditahbiskan sebagai penampilan terbaik di abad ini.

Dalam beberapa referensi yang saya baca, aslinya Freddy adalah seorang pemalu. Dia pendiam dan tak banyak cakap. Ketika sedang berada di rumah, dia lebih sibuk bersama kucingnya Delilah. Tapi saat berada di panggung, dia menjadi figur berbeda. Dia akan penuh energi, menari, dan bertingkah dengan lepas. Dia menjadi magnet di tengah penampilan rekannya yang biasa saja. 

Saya yakin kawan-kawannya inilah yang menjadi lahan gembur bagi pertumbuhan potensinya. Dalam setiap perdebatan saat latihan, dia menguji setiap argumentasi hingga menemukan adonan rasa musik yang pas dan mudah diterima siapa pun. Dalam setiap latihan, mereka akan berdebat dan bertengkar demi menemukan komposisi yang tepat.

Saya teringat teori Gladwell yang lain yakni “hukum 11.000 jam.” Gladwell menyebut kesuksesan The Beatles adalah berkat latihan spartan selama 11.000 jam. Dia menyebut periode ketika The Beatles manggung di berbagai kafe hingga keliling kampus dan kota. Menurutnya, kesuksesan itu didapatkan dari kerja keras serta disiplin selama bertahun-tahun.

salah satu adegan film

Nah, kisah Queen juga bisa dilihat dari sisi ini. Selama bertahun-tahun, Freddy manggung di berbagai kampus, hingga akhirnya tur ke berbagai kota. Bermula dari rekaman satu album, grup vokal ini kian besar dan diundang ke mana-mana. Sepanjang perjalanan itu, mereka selalu bereksperimen pada berbagai genre musik sehingga menemukan komposisi yang pas.

Freddy juga seorang pebisnis yang visioner. Dijualnya mobil tua yang dipakai band itu agar bisa menyewa studio rekaman. Hingga akhirnya seorang produser datang dan hendak memodali mereka. Saat seorang produser bertanya, apa keunikan Queen, grup yang dibentuknya, Freddy menjawab, “We belong to them.” Maksudnya, Queen akan mengikuti selera pasar. 

Pada masa itu, Freddy sudah memahami marketing. Jika ingin laku, maka kenali pasar dan seleranya. Dalam satu adegan film, dia mengolok Brian May yang seorang doktor di bidang astrofisika, tapi hanya menghasilkan tulisan yang dibaca sangat sedikit orang di bidang itu.

Tapi Freddy memang manusia unik. Dia tak ingin sekadar mengikuti apa keinginan pasar. Dia punya obsesi lebih dari itu. Dia ingin membentuk selera pasar. Dia punya idealisme musik yang ingin menggabung banyak genre, melakukan eksplorasi dan eksperimen, hingga membuat jenis musik yang belum pernah dibuat band rock mana pun. Dia punya cita rasa musik yang perlu diaktualkan demi membuat sejarah.

Lagu Bohemian Rhapsody mewakili semua ambisi Freddy untuk membuat sesuatu yang beda. Dia berani menggabung unsur pop, rock, hingga opera dalam satu aransemen. Dia juga berani membuat lagu yang berdurasi enam menit, padahal di masa itu, rata-rata lagu sepanjang tiga menit.

Lagu itu mendapat penolakan para produser sebab diyakini akan ditolak oleh radio yang mensyaratkan durasi tiga menit. Lagu itu juga dianggap tidak punya genre yang jelas. Ada unsur pop, musik opera, hingga rock yang kental. Saya ketawa geli saat produser memprotes banyak istilah-istilah yang tidak dimengertinya di lagu itu, misalnya “scaramous” dan “bismillah.” 

Freddy tak bergeming. Baginya, musik adalah soal citra rasa dan selera tinggi yang menunjukkan kelas pendengarnya. Baginya, musik yang ditawarkan Queen adalah musik berkelas yang bisa dinikmati sebagaimana opera yang megah. 

Ketika satu radio berani memutar lagu itu, sejarah pun berubah. Dalam waktu singkat, lagu itu dikenal dan menyebar ke mana-mana. Queen semakin sukses dan dikenal. Personelnya mulai kaya-raya. Mereka merajai panggung hingga membuat Freddy lupa diri.

Setelah menjadi kaya, persoalan tak lantas selesai. Freddy mulai egois dan meninggalkan temannya. Orientasi seksualnya mulai berubah. Pasangannya pergi dan membiarkan Freddy tenggelam dalam hidup yang serba urakan. Penyakit HIV perlahan menggerogoti tubuhnya.

Klimaks dari film ini adalah ketika Freddy kembali bersama rekan-rekannya dan ingin tampil dalam konser Live Aid pada tahun 1985 yang hendak memberikan bantuan bagi warga miskin di Afrika. Bagi para pengamat musik, inilah konser terbesar dalam sejarah yang disebut menjadi panggung terbaik Queen. Di konser yang dihadiri semua penyanyi rock dan pop papan atas, Queen menjadi grup band paling atraktif yang paling disukai semua orang.

Dalam versi film, Freddy memberitahu rekannya kalau dirinya telah diserang AIDS sebelum konser. Padahal dalam versi sesungguhnya, dia diketahui menderita AIDS dua tahun setelah konser legendaris yang seolah menjadi milik Queen itu.

Kisah Freddy Mercury ini bisa dilihat sebagai tragedi seorang manusia. Bermula dari warga kelas bawah yang mencari ruang bermain, hingga menjadi legenda di dunia musik. Bermula dari figur yang pemalu, lalu menjadi penyanyi dengan aksi panggung memukau.

Tapi kisahnya juga memiliki sisi gelap. Beberapa orang yang berlatar kelas bawah kemudian sukses sering mengalami dilema saat di puncak karier. Di dunia sepakbola, Maradona adalah sosok yang punya banyak kontroversi saat berada di puncak karier. 

Saya menduga itu adalah bawaan dari sikap yang selalu menolak kemapanan. Berilah karakter seperti Freddy satu tantangan, maka semangatnya akan meluap-luap untuk membatasinya. Tapi berilah dia kemapanan, saat itu dia akan kehilangan dirinya, larut dalam gaya hidup, serta kehilangan banyak teman.

salah satu aksi panggung Freddy yang ikonik

Hal-hal seperti ini yang membuat kisah satu tokoh menjadi sangat manusiawi. Freddy bukan seorang Superman yang selalu kuat menghadapi apa pun. Dalam banyak sisi, dia seorang rapuh yang harus berjuang untuk keluar dari belitan masalah yang muncul dari sikap percaya diri terlampau berlebihan sehingga menjadi egoisme akut.

Pada akhirnya, dia seperti anak kecil yang merengek mencari mainan baru, dan ketika mendapatkannya dia lupa sekelilingnya. Hingga suatu saat, dia menyadari bahwa bukan mainan itu yang paling penting, melainkan orang-orang terkasih yang selama ini menjadi embun yang membasahi jiwanya. 

Ketika ditinggalkan banyak orang, di situlah dia menjadi dirinya sendiri. Dia merenung dan memikirkan betapa banyaknya hal penting yang selama ini dia abaikan. 

Saya menyukai adegan ketika dia sendirian di satu ruangan dan memikirkan banyak hal yang meninggalkannya sendiri. Sayup-sayup terdengar petikan lembut gitar Brian May, serta suara Freddy yang mengalun pelan:

Love of my life, 
you’ve hurt me 
You’ve broken my heart 
and now you leave me 
Love of my life can’t you see 
Bring it back, bring it back 
Don’t take it away from me  
because you don’t know 
what it means to me


Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...

Google+ Badge