Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Dia Pendekar HMI, Dia Pendekar Bangsa

 


Berita itu datang secepat kilat. Di malam hari, saya menerima draft naskah buku mengenai Harry Azhar Azis untuk diperiksa. Di siang hari, saya menerima pesan kalau Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) itu telah berpulang.

Bang Harry, demikian dia disapa, besar di rahim organisasi Himpunan Mahasiswa Islam. Dia memimpin HMI pada periode yang terbilang mendebarkan. Dia berhadapan dengan bertubi-tubi masalah. Di antaranya adalah penetrasi Orde Baru yang kian kuat mencengkeram semua sendi kehidupan.

Semua masalah itu telah membesarkannya. Di kalangan aktivis HMI, Bang Harry ibarat pendekar yang sanggup menghadapi masalah sebesar apapun. Dia serupa pesilat yang pantang menghindar saat ditantang duel. Namun, dia akan memilih berduel dengan nalarnya. Dia urai semua masalah lalu perlahan menemukan solusinya.

Di titik itu, Bang Hary selalu melalui semua masalah dengan baik. Dia tampil tenang menghadapi semua masalah, seberat apapun. Dia tidak pernah meledak-ledak. Dia mempertemukan banyak simpul lalu menawarkan jalan keluar.

Saya terkenang dengan dirinya di tahun 2016. Saat itu, ruangannya di kantor BPK dipenuhi para jurnalis. Bang Harry akan dicecar mengenai modal yang disimpannya di satu perusahaan luar negeri. Dia justru menemui jurnalis dan bertanya, “Di mana letak salahnya?”

Langkah-langkah Harry terbilang cepat. Ia tak mau menunggu tensi pemberitaan tentang dirinya menurun. Ia langsung meladeni semua pertanyaan. Ia mendatangi Presiden Joko Widodo demi menjelaskan duduk perkara sebenarnya. Ia mendatangi Dirjen Pajak lalu meminta agar ada proses investigasi yang berlangsung transparan.

Berbeda dengan politisi lain yang cenderung menghilang, atau hadir dengan kalimat menyengat, Harry tak hendak menghindari dari persoalan. Ia juga tampil di televisi dan mengajak publik berdialektika. Ia membuka dialog agar publik bisa menemukan kisah langsung dari sumber pertama.

Lelaki yang lahir di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, pada 25 April 1956 ini, sejak dulu percaya kalau setiap masalah haruslah dihadapi, dan tak perlu dihindari. Konsistensi dan cara pandang ini bukan sesuatu yang muncul belakangan.

Ia telah menjaga konsistensi itu sejak mahasiswa, saat menjadi aktivis HMI. Dalam situasi kemelut karena pergesekan antara HMI dan negara, ia bisa mendamaikan banyak pihak lalu menatap masa depan yang sama-sama dicita-citakan, tanpa ada gesekan.

Itulah sekeping kisah tentang Harry Azhar Azis yang melekat di hati banyak orang.

***

DI hadapan saya terdapat buku berjudul Amanah Sampai Akhir yang merupakan biografi Harry Azhar Azis. Seorang kawan menghadiahkan buku ini demi mengenali siapa sosok itu. Sejak dulu, saya memang menggemari buku-buku jenis biografi. 

Yang saya senangi bukanlah kisah-kisah sukses atau kehebatan. Saya tertarik untuk mengetahui bagaimana seorang tokoh membingkai dirinya dan bagaimana ia merespon semua masalah yang mendera. Dalam buku-buku sejenis, saya menemukan sisi manusiawi. Bahwa pencapaian seseorang selalu diawali proses panjang yang sering luput dari pantauan publik.

Lelaki yang berasal dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau ini, sejak muda telah terbiasa menghadapi kesulitan. Latar ekonomi keluarganya terbilang tidak mampu, sehingga ia terbiasa bekerja sejak usia belia. Ia pernah menjadi bocah penjual kue, pemungut bola tenis, hingga beberapa kegiatan yang diniatkan untuk membantu ekonomi orangtuanya.

Ayahnya Abdul Azis Abba dan ibunya Dahniar Thaher berasal dari Pariaman, Sumatera Barat. Ia dididik dan dibesarkan dengan nilai-nilai khas Minangkabau yang menekankan pada kerja keras, pendidikan yang baik, dan sikap patuh. Dari ayahnya, ia belajar bagaimana kerja keras, sementara dari ibunya ia belajar nilai-nilai seperti keikhlasan dan kerja keras.


Saat ayahnya pensiun, kakaknya yang berprofesi sebagai dokter lalu menjadi tulang punggung keluarga. Kakaknya menjadi sosok yang sepenting ayah dan bu dan menentukan perjalanan kariernya. Kakaknya lalu memboyong semua keluarganya ke Jakarta dan menjalani kehidupan baru di sana.

Bagi orang Minang, merantau adalah proses dialektis untuk menemukan diri. Demikian pula bagi Harry. Ia melalui petualangan baru demi mematangkan sekaligus menemukan dirinya dalam belantara ibukota.

Harry bukan sosok sempurna. Masa SMA-nya digambarkan datar-datar Ia bukanlah seorang siswa yang menonjol secara akademik. Nilai-nilainya tidak istimewa. Ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Jakarta menjadi rumah yang mempertemukannya dengan banyak orang. Ia memilih menjadi siswa yang bergaul di mana-mana, ketimbang siswa yang mengejar prestasi di sekolah.

Dilema muncul saat dirinya tak diterima di perguruan tinggi favorit. Dia lalu masuk kampus APP, yang tidak sementereng beberapa kampus besar di masa itu. Ia merasa gagal memenuhi ekspektasi kakak serta orangtuanya yang menginginkan dirinya bisa lebih berkembang di kampus besar.

Di tengah perasaan gagal itu, ia menemukan kepercayaan dirinya saat mulai mengenal organisasi. Organisasi menjadi satu “the turning point” atau titik balik dalam kehidupannya. Ia menemukan diri dan minatnya di organsiasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Organisasi ini mempertemukannya dengan banyak intelektual. Kelebihan Harry adalah kemampuannya menuangkan gagasan ke dalam tulisan-tulisan yang jernih dan kokoh argumentasinya.

Ia juga seorang pengorganisir aksi-aksi perlawanan terhadap rezim pemerintahan. Dunia organisasi telah memperkenalkannya dengan dunia gagasan-gagasan, khususnya pemikiran tentang Islam sebagai mata air semua nilai. Kariernya melejit. Ia melalui banyak dinamika, yang kemudian mengantarkannya ke kursi ketua umum. Sebagai ketua, ia hadir dalam banyak momen sejarah yang penting, khususnya pada masa Orde Baru tengah kuat-kuatnya.

Ia seorang aktivis yang banyak mengkritik Orde Baru. Malah, ia pernah merasakan bagaimana meringkuk di penjara bersama aktivis lain. Penjara itu lalu menjadi kawah candradimuka bagi dirinya. Orde Baru serupa ayah yang menghardik anak-anaknya, namun sekaligus sebagai ibu yang memberikan banyak pelajaran.

Ia seorang idealis, sekaligus realis. Sebagai seorang Islam, ia sangat idealis dan memandang nilai-nilai Islam adalah mata air yang mengaliri semua sendi kehidupan. Akan tetapi, di saat pemerintah Orde Baru menyeragamkan semua asas organisasi menjadi Pancasila, ia mengalami dilema.

Sebagai pemimpin organisasi HMI, ia percaya kalau Pancasila adalah sesuatu yang terbuka yang tak harus dipaksakan sebagai satu-satunya asas. Akan tetapi, ia juga realistis saat melihat semakin mengguritanya kekuatan rezim, serta ancaman yang bakal dihadapi organisasinya jika menolak permintaan pemerintah.

Setiap pilihan menyisakan risiko politik yang harus dihadapinya. Pilihannya untuk mengakomodasi keinginan pemerintah lalu membawa dampak pada organisasi yang dipimpinnya.

Pasca-kepemimpinannya, HMI lalu terpecah menjadi dua yakni HMI Dipo (yang berkantor di Jalan Diponegoro), dan HMI MPO yang mengklaim dirinya sebagai penyelamat organisasi. Sebagai bentuk protes pada pemerintah Orde Baru, Harry memutuskan untuk tarik diri dari politik selama 10 tahun.

Mulailah ia menjalani tantangan baru yakni melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat, setelah sebelumnya meminang aktivis HMI yakni Amanah Abdul Kadir. Ia memilih dunia senyap, melanjutkan pendidikan magister dan doktoral bidang ekonomi di Amerika Serikat.

Episode rantau kembali dilakoninya. Posisi pijaknya sebagai ekonom kian kokoh. Ia menyerap banyak pelajaran dan hikmah di Amerika Serikat, yang kemudian menjadi bekal baginya saat kembali ke Indonesia.

***

Saat membaca kisah hidup Harry Azhar, saya teringat pada buku Sociological Imagination yang dibuat C Wright Mills. Dalam buku itu terdapat penjelasan tentang tiga hal yang menjadi dasar untuk memahami satu masyarakat, yakni biografi, sejarah, dan struktur sosial. Ketiga aspek ini saling berkaitan erat, saling meresap, dan saling berpotongan di banyak titik.

Setiap tindakan individu adalah produk sejarah yang dipengaruhi struktur masyarakat. Maka, upaya untuk memahaminya bukanlah sekadar menyalahkan individu, melainkan meletakkan tindakannya dalam satu konteks sosial, yang kemudian diurai secara perlahan, dan dipahami maknanya.

Di kalangan para ahli politik, berkembang pendekatan yang menggabungkan antara pengalaman personal dan struktur sosial di mana seseorang hidup. Peristiwa sejarah dan realitas sosio-antropologis diamati melalui pengamatan manusia. Sebab manusia dianggap sebagai subyek yang menyaksikan dan memberikan respon atas kondisi di sekitarnya.

Terdapat lima titik balik yang mempengaruhi cara berpikir Harry Azhar Azis.

Pertama, masa kecil di Tanjung Pinang, saat dibesarkan dalam keluarga yang memiliki kultur pekerja keras, lalu menginternalisasi nilai dan karakter sebagai orang Minang. Kedua, masa-masa menjalani sekolah menengah dalam situasi keterbatasan, hingga menemukan kenyamanan dalam interaksi bersama tema-teman kelompoknya. Di titik ini, sekolah tidak bisa menjadi lahan yang menyuburkan semua potensinya.

Ketiga, masa-masa ketika menjadi aktivis HMI yang mempertemukannya dengan banyak orang, mengasah kepekaannya sebagai seorang penulis dan pemikir. Masa-masa ini adalah masa terbaik yang menyiapkan bekal baginya untuk menjadi pemimpin nasional.

Keempat, masa-masa belajar di Amerika Serikat, memahami struktur sosial baru, belajar banyak hal, lalu kembali ke tanah air demi mempraksiskan ide-idenya untuk Indonesia yang lebih baik. Kelima, masa-masa memilih karier sebagai akademisi lalu politisi.

Memang, setiap manusia akan selalu mempertanyakan pilihan-piihannya, sembari melihat sekelilingnya. Saat ia menyaksikan paradoks, ataupun menemukan manusia lain yang serba ambigu, maka seseorang bisa memilih posisi yang abu-abu, dengan pertimbangan bahwa orang lain pun melakukannya. Setiap manusia selalu menghujam banyak tanya, menyerap pengalaman, lalu memutuskan apa yang terbaik baginya. Di setiap pilihan itu terdapat sedemikian banyak konsekuensi.

Di mata saya, kisah hidup Harry bukanlah kisah-kisah perlawanan dan pemberontakan terhadap rezim, melainkan kisah seorang manusia yang selalu hendak mencari keseimbangan baru untuk mencapai keadaan yang lebih baik.

Potret Harry adalah potret manusia yang berada di tengah dialektika dan tarik-menarik, kemudian berusaha menemukan titik paling seimbang. Keseimbangan itu tak akan memuaskan semua pihak. Boleh jadi, akan ada pihak yang merasa dirugikan, ada juga pihak yang akan diuntungkan. Keseimbangan itu menuntut sikap ikhlas untuk menerima keadaan yang paling bisa diterima semua pihak.

Selalu ada kaitan antara pilihan itu dengan kondisi sosial. Sehingga penting memahami konteks, setting, ataupun dinamika sosial yang menyebabkan seseorang memilih untuk di titik tertentu. Dengan cara memahami konteks sosial, kita bisa melihat kaitan atau relasi antara satu tindakan dengan tindakan lain, antara setiap keping peristiwa dan kepingan peristiwa yang lain, sehingga upaya untuk menyelesaikan masalah sosial bisa lebih holistik, dengan cara melihat kaitan antara dunia sosial dan dunia manusia yang saling berkelindan.

Sepintas, keseimbangan yang dibangun Harry Azhar Azis itu terkesan berkompromi dengan tekanan yang dihadapi. Sejak muda, ia berusaha membangun keseimbangan sebagai seorang Minang yang berbakti kepada orangtuanya dengan cara belajar dan bekerja, tapi di sini lain, terdapat panggilan kuat untuk memasuki rimba raya dunia aktivis.

Di dunia aktivis, ia kembali harus mencari kompromi antara idenya yang digali dari ajaran Islam saat berhadapan dengan kebijakan dan tangan besi negara.

Kompromi dan titik keseimbangan juga dipegang oleh Harry Azhar saat menjalankan tugas-tugas politik hingga menjadi anggota dewan. Ia berusaha mengalirkan anggaran negara yang sebelumnya dipegang pemerintah pusat ke berbagai daerah melalui berbagai skema. Ia merancang skema pemberian dana beasiswa kepada ribuan rakyat Indonesia sebagai amanah dari Undang-Undang Dasar 1945.

Akan tetapi keseimbangan yang dimaksudkannya itu bukan bermakna dirinya akan selalu menghindari setiap masalah. Keseimbangan di sini adalah sikap aktif untuk mengupayakan alternatif dan solusi terbaik di tengah berbagai pilihan. Justru dirinya akan menghadapi setiap masalah demi menemukan satu keseimbangan dari aspek idealisme dan aspek pragmatis dari ide-idenya.

Dalam hal Orde Baru, ia menghadapinya sebagai aktivis yang memperjuangkan rakyat. Dalam hal Orde Reformasi, beliau memasuki dunia politik melalui Partai Golkar. Dalam periode Jokowi, beliau menjadi Kepala BPK dan bertanggungjawab untuk mengawal keuangan negara. Bukan tak mungkin, setelah posisi Ketua BPK, ia akan melesat ke posisi lain yang lebih tinggi.

***

Di media sosial, ucapan duka atas wafatnya Harry Azhar Azis mulai berseliweran. Sosok ekonom yang tenang itu telah berpulang selama-lamanya. Dia membawa banyak jejak dan kenangan di hati banyak orang. 

Kisah-kisah tentang Bang Harry mengalir deras. Meskipun terbatas, saya pun punya interaksi dengannya. Dua bulan lalu, seorang kawan bercerita kalau ada orang yang menghubungi Bang Harry dan mengaku sebagai anak saya. Dia bilang saya sakit keras. Saat itu juga, Bang Harry mengirimkan uang.

Beberapa saat kemudian, dia diberitahu kalau anak saya masih kecil, Bang Harry terkejut. Rupanya dia telah dikerjai seseorang. Mendengar cerita itu, saya mengaguminya. Dia mengedepankan sisi welas asih ketimbang analisis atas situasi.

Saya ingat catatan Indra J Piliang tentang Bang Harry yang selalu siap membantu adik-adiknya yang kesulitan keuangan. Di kalangan aktivis HMI, dia dipanggil Bank Harry karena sikapnya yang ringan tangan.

Figur pemberani itu telah berpulang. Dia meninggalkan rekam jejak positif di semua arena yang dimasukinya. Saat mengingat Bang Harry, saya ingat pepatah Minang: “Alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati.”

Maknanya: jadilah orang yang memiliki sikap tegas dan sifat yang bijaksana, mampu menangani berbagai masalah pribadi dan persoalan sosial dengan melakukan musyawarah yang baik, saling memberi saran dan menemukan jalan keluar.

Selamat jalan Bang Harry.