Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Sepuluh Catatan Atas Film Fantastic Beasts 2




Akhirnya, rasa haus itu berhasil dipadamkan. Setelah lama menanti jadwal tayang film Fantastic Beasts 2: The Crimes of Grindelwald, saya menonton film itu di hari kedua penayangannya.

Sebagai penggemar berat Harry Potter, saya sudah lama menanti-nanti karya terbaru penulis JK Rowling. Saya tak ingin berbagi spoiler atas film ini sebab beberapa orang sudah mengancam agar saya tidak membocorkan cerita film.

Saya hanya ingin berbagi beberapa kesan saya atas film ini yang kian melengkapi semesta Harry Potter.

Pertama, film ini hanya bagi mereka yang paham kisah Harry Potter. Jika bukan, pasti akan sulit memahami logika dan alur kisah dalam film ini. Sebagaimana film sebelumnya, film ini mengulas peristiwa sebelum Harry Potter muncul.

Makanya, beberapa nama di sini sangat familiar. Misalnya: Albus Dumbledore, Nicholas Flamel, Lestrange, dan sekilas muncul Minerva McGonagall.

Kedua, berbeda dengan Harry Potter, film ini terlihat kelam dan berat. Jangan bandingkan dengan film superhero dari Marvel yang ringan, lucu, dan menghibur. Film ini seperti film detektif yang sedikit kelam dan penuh teka-teki. Pada bagian awal adalah pengenalan situasi dan tokoh, selanjutnya masuk pada satu demi satu misteri.

Ketiga, sosok-sosok dalam Fantastic Beast 1 hadir kembali dalam film ini. Favorit saya adalah Newt Scamander, tokoh utama, yang penyayang binatang. Jika film sebelumnya hanya berkutat di Amerika Serikat, setting film kedua lebih banyak di Eropa.

Film kedua ini adalah lanjutan dari film pertama. Namun, kisahnya menjadi lebih berliku dan menarik. Beberapa orang di Twitter, kesulitan mengikuti jalinan kisahnya. Menurut saya, mereka bukan pencinta berat Harry Potter. Jika mengikuti serial yang terlaris di dunia itu, pasti punya gambaran awal bagaimana dunia magis di film ini.

Keempat, sebagaimana film sebelumnya, ada banyak binatang sihir muncul dalam film. Favorit saya adalah hewan sihir dari Cina yang sepintas mirip barongsay. Wajahnya seperti macan, tapi punya gigi yang menonjol seperti babi hutan.

Hewan favorit saya di film pertama muncul lagi. Hewan itu adalah Nifflers, hewan seperti bebek yang paruhnya lebar, serta sangat menyukai koin emas. Hewan ini akan punya peran penting yang membantu Newt Scamander. Hewan lain yang juga muncul adalah Bowtruckles, sejenis tunas hijau yang selalu masuk di kantung Newt.



Yang mengejutkan saya adalah sosok Nagini, yang ternyata mulanya berwujud perempuan Asia, serta terkena kutukan sehingga bisa menjadi ular. Dalam film, jelas-jelas disebut Nagini berasal dari Indonesia, Ini sama persis dengan pengakuan JK Rowling di Twitter kalau Nagini diambil dari mitologi Indonesia. Sayang sekali karena gagal diperankan artis Indonesia. 

Kelima, struktur kisahnya mirip dengan kisah Harry Potter. Jika dalam serial itu, ada penjahat tengik yakni Lord Voldemort, maka di kisah Fantastic Beasts ada Gellert Grindelwald. Keduanya sama-sama tipe penjahat yang rasis dan punya pandangan bahwa hanya kelas tertentu yang pantas berkuasa.

Baik Voldemort dan Grindelwald sama-sama punya barisan pengikut, yakni orang-orang yang berpikiran sama. Saya pikir, ini adalah bentuk kritik JK Rowling pada sejumlah orang yang masih saja percaya pada pemahaman rasis bahwa ada orang yang punya warisan pemimpin, sehingga apa pun yang dikatakannya adalah benar.

Orang-orang yang rasis ini hanya percaya pada kebenaran dalam versi yang dipercayainya. Ketika dihadapkan dengan fakta lain, maka pasti akan menyangkal. Kekuasaan seolah jatuh dari langit dan hanya diberikan pada kelas tertentu.

Keenam, dalam pandangan saya, film ini gagal menampilkan sosok Grindelwald sebagai penyihir jahat yang penuh ambisi. Saya tak melihat ada adegan mengerikan sebagaimana Voldemort membunuh banyak orang dalam serial Harry Potter.

Malah, ketika hendak lari dari kereta terbang yang membawanya ke penjara, Grindelwald tidak tega mencederai kusir kereta. Jika penjahat besar dan sadis, tak mungkin dia menyelamatkan orang tak bersalah. Pasti dia akan selalu mengeluarkan kutukan Avada Kedavra.

Ketujuh, kunci utama yang membuat film ini berkesan adalah adegan terakhir saat masa lalu Credence, anak lelaki yang menghancurkan New York dalam film sebelumnya, diungkap. Tapi saya tidak akan membocorkannya di sini.

Kedelapan, jika saya simpulkan, figur paling utama di film ini bukanlah Newt Scamander, melainkan Albus Dumbledore. Dalam film, Albus memilih tetap di Hogwart dan menolak tugas untuk menangkap Grindewald. Ternyata, keduanya saling mengenal, malah membuat sumpah darah untuk tidak saling menyakiti.

Dalam satu adegan, Dumbledore melihat dirinya pada cermin tarsah, gambaran yang muncul adalah Grindewald. Artinya, itulah figur yang paling dia cintai, sebagaimana Harry Potter yang melihat cermin dan muncul ayah ibunya.

Dalam film ini, Dumbledore digambarkan sebagai guru yang baik, sabar dalam mengajarkan Pertahanan pada Ilmu Hitam, hingga membimbing Newt Scamander serta Lestrange.

Kesembilan, sebagai satu semesta yang rencananya akan keluar dalam lima film, teka-teki dan misteri diungkap pelan-pelan, serta tetap punya pertalian dengan kisah Harry Potter. Dalam film, beberapa adegan yang diambil di Hogwart membuat rasa rindu pada semesta Harry Potter menebal.

Rowling paham benar bahwa pembaca Harry Potter kini telah dewasa. Mereka pasti menginginkan kisah ini lebih menantang. Maka kisahnya sengaja dibuat berliku, dan beberapa fakta akan membuat orang terkaget-kaget. 

Misalnya, Dumbledore yang dalam kisah Harry Potter adalah sosok bijaksana, bisa jadi, masa mudanya tidak sebijaksana itu.

Setiap orang selalu punya sisi lain yang akan memperkaya kematangan dan kedewasaannya. Demikian pula masa lalu setiap orang selalu ada warna-warni. Dengan menerima semua warna, baik hitam ataupun putih, seseorang bisa semakin dewasa dan bijaksana.

Kesepuluh, tanpa bermaksud menyimpulkan, babak final dari film ini adalah pertarungan antara Albus Dumbledore versus Grindelwald.



Dalam beberapa buku Harry Potter, pertarungan ini beberapa kali disebut sebagai duel sihir yang paling mencekam. Semua penggemar Harry Potter pasti paham tentang hal ini. Hanya saja, untuk menuju ke klimaks itu, banyak hal yang harus diurai lebih dahulu.

Sebagaimana pernah saya catat dalam tulisan lain, kekuatan kisah Harry Potter adalah selalu tumbuh dan berkembang. Semua karakter punya sisi lain yang unik dan masa silam sehingga membentuk dirinya pada satu masa. Karakter pembacanya pun terus tumbuh seiring dengan pertumbuhan karakter dalam buku yang dibacanya.

Dalam kisah lanjutan yang tetap ditulis JK Rowling ini, banyak karakter yang diperkenalkan. Kenyataan akan diurai lebih kompleks sebab ini bukan kisah anak-anak yang belajar sihir demi mengalahkan seorang penjahat besar, melainkan kisah orang-orang dewasa yang sama-sama sakti, saling mengenal, dan tahu kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Saya tak sabar menunggu pertarungan final itu.

Dari Big Data, Artificial Intelligence, hingga Kediktatoran Digital




MEMBACA buku bagus itu serupa menghadapi satu es krim nikmat, yang harus dicicipi pelan-pelan. Rasanya tak tega untuk menghabiskannya sekaligus sebab ada banyak hal menarik yang bisa di-stabilo kemudian direnungi maknanya.

Sepekan ini saya membaca buku 21 Lessons for the 21st Century yang ditulis sejarawan asal Israel, Yuval Noah Harari. Untuk buku sebagus ini, saya sengaja membacanya pelan-pelan seperti sedang makan es krim. Malah kadang saya mengulangi bagian-bagian tertentu.

Dalam versi bahasa Inggris, buku ini terbilang baru sebab diluncurkan pada September 2018. Namun, saya melihat di media sosial, seseorang di Manado telah menerjemahkannya. Buku itu kemudian diterbitkan oleh satu perusahaan penerbitan di Manado. Ini baru keren, sebab penerbitnya berasal dari daerah, dan bukan dari penerbitan mapan. Sebagai orang daerah, saya bangga bisa membeli buku dari penerbit daerah.

Di Twitter, saya melihat ada keberatan dari pihak penerbit besar karena merasa telah memegang lisensi penerbitan. Saya sempat khawatir kalau penerbitannya akan ditarik sebab penerbit besar punya kuasa modal dan kuasa hukum. Makanya saya segera membelinya sebab takut akan ditarik. Biarpun tak dijual di toko buku besar, saya mendapatkannya dengan cara membeli online.

Sebagai pembaca, saya tidak peduli siapa yang berhak menerbitkannya. Bagi saya, selama buku itu sudah terbit, maka saya ingin segera memilikinya demi menuntaskan rasa dahaga. Di tambah lagi, saya membaca review yang dibuat Bill Gates tentang buku ini di New York Times. Saya makin penasaran. Baca review Bill Gates itu DI SINI.

Sebelumnya, saya sudah memiliki dua buku dari penulis yang karyanya amat disukai Barrack Obama, Bill Gates dan Mark Zuckerberg ini. Buku pertamanya adalah Sapiens yang mengurai ikhwal kemunculan Homo Sapiens hingga menjadi spesies terakhir di muka bumi. Selanjutnya, dia menulis Homo Deus yang isinya adalah masa depan manusia. Di dalamnya ada tema-tema seperti algoritma dan artificial intelligent, hingga agama baru bernama Big Data.

Dari sisi sistematika, buku baru ini terkesan lebih “berantakan.” Pada dua buku sebelumnya, alurnya ditata dengan rapi sehingga kita diberi pemahaman sejak awal lalu pelan-pelan maju ke berbagai topik. Perbedaan lain, jika  Sapiens membahas masa lalu, Homo Deus membahas masa depan, maka 21 Lessons membahas masa kini. Yang dibahas adalah 21 topik penting yang menjadi perbincangan manusia di masa kini.

BACA: Manusia dalam Tafsiran Sejarawan Israel

Buku ini terbagi atas lima bab utama, yang lalu di-breakdown menjadi 21 topik pembahasan. Lima bab utama itu adalah: (1) tantangan teknologi, (2) tantangan politik, (3) keputusasaan dan harapan, (4) kebenaran, (5) daya tahan.

Saya agak tertipu dengan judulnya. Dengan mengatakan 21 Lessons, maka kesannya ada sesuatu yang sudah jadi di situ. Saya pikir semacam buku Chicken Soup for the Soul. Tapi setelah membaca isinya, yang ada malah hamparan berbagai fenomena dan realitas yang menarik untuk didekati dengan intens. 

Harari bertindak sebagai filsuf, sejarawan, dan juga futurolog yang mengajak kita berbincang tentang manusia. Pada setiap kisah, dia mengajukan beberapa pertanyaan atau paragraf yang berisi pertanyaan atau renungan filosofis. Kutipan itu jadi semacam panduan untuk menelusuri dan mencari jawabannya di bagian itu. Minimal kita mendapatkan insight apa yang tertulis di situ.

Saya ambil contoh pada bagian 5 berjudul resilience atau daya tahan. Dia mengajukan pertanyaan sepeti ini: “How do you live in an age of bewilderment, when the old stories have collapsed and no new story has yet emergence to replace them.” Bagaimana Anda hidup di zaman kebingungan, ketika cerita-cerita lama telah runtuh, dan tidak ada cerita baru yang muncul untuk menggantikannya?

tiga buku yang ditulis Harari

Kekuatan Harari adalah dia bisa mendiskusikan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dia memahami sejarah manusia, sebab basic-nya adalah ilmu sejarah, namun dia juga memahami masa kini dan bisa membaca masa depan. Di ujung  diskusi itu, kita dikejutkan dengan pertanyaan apa yang harus kita lakukan di masa kini.

Beberapa pertanyaan yang diajukan cukup provokatif. Misalnya, dia bertanya bagaimana komputer dan robot mengubah makna menjadi manusia? Bagaimana kita menghadapi epidemi hoaks atau fake news? Apakah nasionalisme dan agama masih relevan? Apa yang harus kita ajarkan pada anak-anak kita pada saat algoritma teknologi jauh lebih memahami segala hal tentang keingintahuan anak kita ketimbang kita sendiri?

Harari mendiskusikan beberapa topik-topik aktual yang ramai dibahas masyarakat dunia, mulai dari isu bangkitnya nasionalisme, yang dipicu oleh kebijakan politik Donald Trump dan Vladimir Putin. Isu lain adalah imigrasi, terorisme, perang, hingga disrupsi teknologi. 

Dalam banyak argumen, saya temukan beberapa dilema manusia modern. Misalnya, di saat manusia tengah merayakan kebebasan dan ideologi liberalisme, di sisi lain ada revolusi kembar dalam teknologi informasi dan bioteknologi yang membuat manusia kehilangan kebebasannya. Revolusi ini menyebabkan banyak orang kehilangan kebebasan, dan kesetaraan manusia. Pesatnya perkembangan artificial intelligence (kecerdasan buatan) akan merenggut dunia bisnis dan menghilangkan pekerjaan banyak orang. 

Selain itu, algoritma Big Data membuat kekuasaan terkonsentrasi pada sedikit orang yang kemudian mengendalikan dunia politik dan dunia sosial sehingga manusia lain tak lebih dari sekadar sasaran produk serta banjirnya informasi yang menyesatkan. 

Posisi buku ini lebih kritis dalam memandang teknologi, sebab menawarkan banyak kemudahan, termasuk prediksi tentang usia manusia yang seolah akan abadi dikarenakan kemajuan bioteknologi yang bisa memindai tubuh manusia dan mengetahui biometrik, lebih dari yang diketahui manusia atas tubuhnya. 

Tapi di sisi lain, buku ini agak pesimis melihat semakin melemahnya manusia berhadapan dengan kecerdasan buatan yang perlahan akan mengambil alih semua pekerjaan. Mesin digital akan melaksanakan semua pekerjaan, robot akan bekerja tanpa mengenal kata istirahat, dan teknologi Big Data akan selalu membuat keputusan terbaik di tengah ribuan arus informasi dan data yang mengalir.

Saya menyenangi argumentasi tentang siapa yang memiliki data akan memiliki masa depan. Dulu, pada era agrikultur, aset paling berharga adalah tanah. Di era modern, mesin dan pabrik menjadi lebih penting. Inilah yang menjadi titik analisis dari Karl Marx tentang kelas borjuis dan proletar. 

BACA: Nicholas Carr dan Era Bodoh di Internet 

Tapi di era sekarang, aset terpenting adalah data, menggeser tanah dan industri. Bahkan politik menjadi arena untuk merebut dan memperjuangkan kontrol atas data. Aktivitas manusia modern tak bisa lepas dari data. Bahkan ketika kita bepergian sekali pun, kita mempercayakan pada Google dan Waze untuk memandu perjalanan kita.

Jika melihat peta politik sekarang, maka pemenangnya adalah siapa yang bisa mengendalikan algoritma dan data sehingga bisa pesan-pesan bisa menjadi peluru yang ditembakkan pada masa yang tepat. Kita sudah melihat bagaimana kemenangan Trump yang diikuti skandal atas bocornya data Facebook ke Cambridge Analytica.

Tak cuma politik. Di dunia bisnis, semua orang tak berdaya berhadapan dengan kedigdayaan Google dan Facebook yang mengontrol semua lalu lintas data di situ. Dua perusahaan raksasa ini punya algoritma yang mengendalikan mana informasi yang dilihat orang-orang dan mana yang bukan. Ibarat pedagang, Google bisa memilih produk mana yang disimpan di etalase.

Persoalannya, banyak negara yang dituntut untuk melakukan nasionalisasi data sehingga mengurangi kekuatan perusahaan besar. Inilah kondisi yang bisa menyebabkan lahirnya kediktatoran digital. Politisi ibarat dirigen yang mengendalikan orkestra manusia melalui data. Ketika mereka men-tweet, tiba-tiba saja publik heboh. 

Ketika mereka memosting di media sosial, kerusuhan bisa terjadi. Bahkan ketika mereka memberi komentar, kebencian muncul di mana-mana. Inilah situasi kediktatoran digital di mana seseorang mengendalikan semua arus informasi, melakukan rekayasa, sehingga kita semua berada di era post-truth atau pasca-kebenaran. 

Penjelasan Harari tentang post-truth juga menarik. Beberapa ahli mendefinisikan ini terjadi pasa masa sekarang ketika terjadi limpahan informasi. Harari menilai sejak awal kemunculan manusia, maka manusia sudah berada di era post-truth. Sebab kekuatan manusia selalu bergantung pada penciptaan dan keyakinan pada fiksi.

Dalam buku Sapiens dan Homo Deus, dia juga sudah menjelaskan, yang membedakan spesies kita dengan hewan adalah kemampuan kita untuk membuat fiksi yang memungkinkan kita untuk bekerja dalam skala kolektif yang besar. Fiksi akan selalu ada di sekitar kita di setiap zaman. Dulu orang percaya pada dewa, iblis, setan, hingga malaikat. Keyakinan itu lalu memandu manusia menjalani kehidupan. Kini, orang juga percaya pada fiksi seperti uang, negara, korporasi, pengadilan, hingga Google dan Facebook.

BACA: Pokemon Go, Game, dan Kecerdasan Generasi Internet

Bagian yang provokatif adalah ketika dia mengatakan bahwa “Ketika orang percaya pada satu berita bohong, maka itu dinamakan hoaks. Namun ketika orang percaya pada cerita yang dibuat-buat selama beribu-ribu tahun, maka itu adalah agama.” 

Saya melihat pernyataan itu sebagai teka-teki ilmiah yang menarik untuk didiskusikan. Dia memberikan banyak argumentasi atas pendapatnya. Meskipun dia menilai agama mengajarkan fiksi yang penuh berita dibuat-buat, tapi dia tidak mengingkari fungsi agama yang bisa menyatukan manusia lintas negara dan ras, serta bisa menggerakkan peradaban.

Dia memberi contoh beberapa katedral yang menjulang. Meskipun menurutnya bersumber dari fiksi, tapi bangunan berbentuk katedral dan ribuan lahirnya bisa muncul sebab manusia meyakini fiksi itu sebagai realitas.

Overall, saya menyukai pembahasan Harari yang sangat luas. Tak cuma bahas sejarah, tapi juga banyak aspek, mulai dari politik, sosial, budaya, hingga agama. Beberapa pertanyaan di sini membuat saya tertegun. 

Apakah kita masih punya kebebasan ketika big data selalu mengawasi kita? Apakah kita masih jadi manusia yang punya kebebasan ketika artificial intelligence bisa memahami kita dengan amat baik lebih dari pemahaman kita pada diri sendiri? Bagaimana menghadapi kediktatoran digital yang sekarang sudah mulai muncul di lapangan politik dan bisnis? 

Pertanyaan ini memang tak mudah dijawab. Seperti kata Harari, terhadap banyak persoalan global, seperti perubahan iklim, krisis ekologi, dan disrupsi teknologi, maka manusia harus menghadapinya secara bersama-sama. Manusia harus kembali membangun cerita-cerita kolektif yang bisa menyatukan semua bangsa sehingga semua sumber daya bisa dikerahkan untuk mengatasi berbagai soal itu. 



Sayangnya, saya tak begitu menyukai bab terakhir atau semacam kesimpulan buku ini. Harari menekankan pada pentingnya meditasi untuk melihat kembali perjalanan manusia di tengah jutaan informasi yang mengalir setiap saat. Sepanjang buku, kita dijejali dengan berbagai fakta, serta kekhawatiran, tiba-tiba saja di akhir buku, yang kita temukan adalah argumentasi klasik seperti halnya agama.

Kita seakan berlari dan mendaki satu gunung untuk menemukan semacam firdaus, tapi ternyata yang kita temukan bukan apa-apa. Kita hanya menemukan satu gundukan tanah, yang memberi kita keluasan pandang untuk melihat kembali apa-apa yang sudah dilalui. 

Bagian ini mengingatkan saya pada bab awal buku Thank You for Being Late yang ditulis Thomas L Friedman yang berterimakasih pada temannya yang terlambat datang ketika janjian sehingga dia ada waktu untuk merenungi banyak aspek yang berlarian di kehidupannya.

BACA: Empat Buku Thomas L Friedman

Mungkin demikian halnya di era serba digital ini. Yang hilang ataupun perlahan dikooptasi mesin adalah kesadaran kita sebagai spesies. Yang hilang adalah perenungan dan kontemplasi atas apa yang sudah dilalui, sebab semua mesin dan perangkat artificial intelligence jelas tak punya kesadaran. Mereka hanya bisa memproses informasi dan memberikan rekomendasi, namun tak bisa diajak bicara mengenai eksistensi manusia dan apa dilema moral dari setiap perubahan.

Sebagaimana saya katakan di awal, buku ini buat ketagihan. Ibarat es krim, kita tak puas mencicipinya. Sesuai membaca buku ini, saya rajin menonton banyak presentasi dan diskusi Harari di banyak lembaga, termasuk di kantor Google yang dihadiri banyak insinyur pengembang kecerdasan buatan. Seperti biasa, saya selalu terkesima melihatnya.




Musisi Jenius yang Menyayangi Kucing




KISAH Freddy Mercury dalam film Bohemian Rhapsody bukan saja menjadi nostalgia pada lagu-lagu Queen yang pernah menyihir dunia, melainkan menjadi gerbang untuk menelusuri sisi paling manusiawi dari seorang Freddy. 

Biarpun dia seorang Parsi yang berasal dari keluarga penganut Zoroaster, tapi dirinya kemudian menjadi ikon Inggris. Dia seorang pencinta kucing yang saat konser di negeri lain sering menelepon hanya untuk mendengar suara kucingnya. 

Dia seorang yang rapuh dan selalu bergerak meninggalkan zona nyamannya. Dia seorang yang tunduk pada alkohol dan pergaulan bebas sesama jenis. Tapi dia seorang sosok jenius di dunia musik yang suaranya selalu melekat di benak jutaan penggemarnya. 

Lelaki bergigi tonggos ini juga seorang pencinta yang gagal, yang hanya bisa mengenang kekasihnya melalui lagu “Love of My Life.” Dia menyebut berkat adanya ekstra empat gigi seri itu, suaranya bisa melengking hingga mencapai empat oktaf.

Apa pun itu, dia adalah sosok penting yang membawa musik rock ke arah baru yang amat menghibur. Dia menggabung berbagai genre, termasuk memasukkan unsur musik opera, paduan suara, diksi yang tidak umum, hingga nada-nada dan standar musik yang ingin digapainya.

Saya menonton film ini dengan perasaan yang penuh nostalgik. Banyak lagu Queen yang sangat familiar dan menjadi abadi di lintasan sejarah. Lagu-lagunya unik dan tidak biasa. Saya tak terkejut jika lagu-lagunya akan selalu dinyanyikan generasi setelahnya.

Sepanjang film, saya beberapa kali bersenandung lagu Queen yang saya sukai. Tak cuma Bohemian Rhapsody, tapi juga We are the Champion, We Will Rock You, Radio Gaga, hingga lagu-lagu romantis seperti Somebody to Love, Crazy Little Thing Called Love, dan Love of My Life.

Saya tak ingin mengulas aspek sinematografi dan akting pemainnya. Juga tak ingin membahas cerita. Saya percaya bahwa akan sulit menyajikan satu kisah yang memuat semua aspek kehidupan seseorang. 

Jujur, pemain film ini sangat mirip dengan aslinya. Bahkan gestur dari pemeran Freddy Mercury ini membuat hati dipenuhi rasa rindu pada penyanyi hebat itu. Sempat saya berpikir bahwa Brian May ikut main di film ini dan berperan sebagai dirinya. Kaget juga pas lihat di Youtube, ternyata orangnya sudah tua.

Yang paling nikmat dari film ini bukan cuma lagunya, tapi kisah perjalanan dan satu lanskap sosial tempat seseorang tumbuh dan menjulang tinggi. Setiap orang punya  bakat hebat yang hanya bisa tampil jika berada pada kondisi yang tepat. 

Freddy bersama Delilah, kucing setianya

Saya teringat kolumnis Malcolm Gladwell. Dalam buku Outliers, dia menjelaskan, kesuksesan tidak berasal dari angka nol. Semua orang berutang pada orang tua dan dukungan orang lain. Kesuksesan adalah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai “keuntungan yang terakumulasi”. Tempat dan kapan seseorang tumbuh besar memiliki pengaruh yang cukup besar.

Gladwell menolak anggapan tentang keberhasilan yang semata-mata dipicu oleh kecerdasan. Menurutnya, keberhasilan seseorang menggapai satu kesuksesan tidak bisa dilihat hanya dari satu aspek saja, melainkan terdapat hal yang lebih rumit, kompleks, dan hanya bisa dipahami dengan menelusuri kehidupan orang tersebut.

Gambaran yang paling sederhana namun gamblang dipaparkan Gladwell dalam cerita singkat mengenai pohon. Pohon ek menjadi yang tertinggi di hutan bukan semata-mata karena dia paling gigih. 

Dia menjadi yang tertinggi karena “kebetulan” tidak ada pohon lain yang menghalangi sinar matahari kepadanya, tanah di sekelilingnya dalam dan subur, tidak ada kelinci yang mengunyah kulit kayunya sewaktu masih kecil, dan tidak ada tukang kayu yang menebangnya sebelum dia tumbuh dewasa.

Jika teori ini diterapkan untuk seorang Freddy Mercury, maka kita akan melihat kasus yang unik. Dia tumbuh di tengah keluarga yang terlalu mengekang. Orang tuanya bersikap konservatif yang menginginkan anaknya agar disiplin dan menjadi orang Parsi yang baik.  Dia seorang pemberontak yang bengal dan memilih meninggalkan rumah. Bahkan dia menanggalkan nama Farroukh karena menggantinya dengan Freddy.

Hingga suatu hari, bertemulah dia dengan dua mahasiswa serius yang sedang merintis grup band. Mahasiswa itu adalah Brian May, seorang gitaris yang juga sedang belajar astrofisika hingga tingkat PhD. Satunya lagi adalah Roger Taylor yang tengah belajar kedokteran gigi.

Berbeda dengan Freddy, dua rekannya ini berasal dari keluarga mapan. Brian May tak cuma intelektual, tapi juga lahir dari ayah yang keluaran Teknik Elektro. Demikian juga dengan Roger. 

Berasal dari kelas sosial yang lapis bawah itu tidak membuat Freddy minder. Percaya dirinya tinggi. Dia mendatangi Brian dan meyakinkannya untuk sama-sama membentuk band. Sejarah grup musik Queen bermula di sini.

Freddy menjadi pemimpin dan menentukan arah grup band itu. Dia mencipta lagu, menentukan aransemen yang tepat, hingga rajin mengamati apa yang diinginkan para pencinta musik. Bersama rekannya, dia menemukan chemistry untuk jadi bintang besar, bahkan legenda.

Saya selalu suka melihat penampilannya di kanal Youtube. Ketika bernyanyi, dia selalu larut dengan apa yang dinyanyikannya. Penghayatan dan vokalnya setingkat dewa-dewa.  Gesturnya seperti para sufi yang sedang bermeditasi dan larut dengan aktivitas itu. 

BACA: Iwan Fals: Voice of Rebellion

Selain itu, gerak tubuhnya juga penuh energi. Dia menjadikan panggung sebagai arena ekspresi yang mengeluarkan semua potensi terbaiknya. Pantas saja jika penampilan Queen di panggung selalu ditahbiskan sebagai penampilan terbaik di abad ini.

Dalam beberapa referensi yang saya baca, aslinya Freddy adalah seorang pemalu. Dia pendiam dan tak banyak cakap. Ketika sedang berada di rumah, dia lebih sibuk bersama kucingnya Delilah. Tapi saat berada di panggung, dia menjadi figur berbeda. Dia akan penuh energi, menari, dan bertingkah dengan lepas. Dia menjadi magnet di tengah penampilan rekannya yang biasa saja. 

Saya yakin kawan-kawannya inilah yang menjadi lahan gembur bagi pertumbuhan potensinya. Dalam setiap perdebatan saat latihan, dia menguji setiap argumentasi hingga menemukan adonan rasa musik yang pas dan mudah diterima siapa pun. Dalam setiap latihan, mereka akan berdebat dan bertengkar demi menemukan komposisi yang tepat.

Saya teringat teori Gladwell yang lain yakni “hukum 11.000 jam.” Gladwell menyebut kesuksesan The Beatles adalah berkat latihan spartan selama 11.000 jam. Dia menyebut periode ketika The Beatles manggung di berbagai kafe hingga keliling kampus dan kota. Menurutnya, kesuksesan itu didapatkan dari kerja keras serta disiplin selama bertahun-tahun.

salah satu adegan film

Nah, kisah Queen juga bisa dilihat dari sisi ini. Selama bertahun-tahun, Freddy manggung di berbagai kampus, hingga akhirnya tur ke berbagai kota. Bermula dari rekaman satu album, grup vokal ini kian besar dan diundang ke mana-mana. Sepanjang perjalanan itu, mereka selalu bereksperimen pada berbagai genre musik sehingga menemukan komposisi yang pas.

Freddy juga seorang pebisnis yang visioner. Dijualnya mobil tua yang dipakai band itu agar bisa menyewa studio rekaman. Hingga akhirnya seorang produser datang dan hendak memodali mereka. Saat seorang produser bertanya, apa keunikan Queen, grup yang dibentuknya, Freddy menjawab, “We belong to them.” Maksudnya, Queen akan mengikuti selera pasar. 

Pada masa itu, Freddy sudah memahami marketing. Jika ingin laku, maka kenali pasar dan seleranya. Dalam satu adegan film, dia mengolok Brian May yang seorang doktor di bidang astrofisika, tapi hanya menghasilkan tulisan yang dibaca sangat sedikit orang di bidang itu.

Tapi Freddy memang manusia unik. Dia tak ingin sekadar mengikuti apa keinginan pasar. Dia punya obsesi lebih dari itu. Dia ingin membentuk selera pasar. Dia punya idealisme musik yang ingin menggabung banyak genre, melakukan eksplorasi dan eksperimen, hingga membuat jenis musik yang belum pernah dibuat band rock mana pun. Dia punya cita rasa musik yang perlu diaktualkan demi membuat sejarah.

Lagu Bohemian Rhapsody mewakili semua ambisi Freddy untuk membuat sesuatu yang beda. Dia berani menggabung unsur pop, rock, hingga opera dalam satu aransemen. Dia juga berani membuat lagu yang berdurasi enam menit, padahal di masa itu, rata-rata lagu sepanjang tiga menit.

Lagu itu mendapat penolakan para produser sebab diyakini akan ditolak oleh radio yang mensyaratkan durasi tiga menit. Lagu itu juga dianggap tidak punya genre yang jelas. Ada unsur pop, musik opera, hingga rock yang kental. Saya ketawa geli saat produser memprotes banyak istilah-istilah yang tidak dimengertinya di lagu itu, misalnya “scaramous” dan “bismillah.” 

Freddy tak bergeming. Baginya, musik adalah soal citra rasa dan selera tinggi yang menunjukkan kelas pendengarnya. Baginya, musik yang ditawarkan Queen adalah musik berkelas yang bisa dinikmati sebagaimana opera yang megah. 

Ketika satu radio berani memutar lagu itu, sejarah pun berubah. Dalam waktu singkat, lagu itu dikenal dan menyebar ke mana-mana. Queen semakin sukses dan dikenal. Personelnya mulai kaya-raya. Mereka merajai panggung hingga membuat Freddy lupa diri.

Setelah menjadi kaya, persoalan tak lantas selesai. Freddy mulai egois dan meninggalkan temannya. Orientasi seksualnya mulai berubah. Pasangannya pergi dan membiarkan Freddy tenggelam dalam hidup yang serba urakan. Penyakit HIV perlahan menggerogoti tubuhnya.

Klimaks dari film ini adalah ketika Freddy kembali bersama rekan-rekannya dan ingin tampil dalam konser Live Aid pada tahun 1985 yang hendak memberikan bantuan bagi warga miskin di Afrika. Bagi para pengamat musik, inilah konser terbesar dalam sejarah yang disebut menjadi panggung terbaik Queen. Di konser yang dihadiri semua penyanyi rock dan pop papan atas, Queen menjadi grup band paling atraktif yang paling disukai semua orang.

Dalam versi film, Freddy memberitahu rekannya kalau dirinya telah diserang AIDS sebelum konser. Padahal dalam versi sesungguhnya, dia diketahui menderita AIDS dua tahun setelah konser legendaris yang seolah menjadi milik Queen itu.

Kisah Freddy Mercury ini bisa dilihat sebagai tragedi seorang manusia. Bermula dari warga kelas bawah yang mencari ruang bermain, hingga menjadi legenda di dunia musik. Bermula dari figur yang pemalu, lalu menjadi penyanyi dengan aksi panggung memukau.

Tapi kisahnya juga memiliki sisi gelap. Beberapa orang yang berlatar kelas bawah kemudian sukses sering mengalami dilema saat di puncak karier. Di dunia sepakbola, Maradona adalah sosok yang punya banyak kontroversi saat berada di puncak karier. 

Saya menduga itu adalah bawaan dari sikap yang selalu menolak kemapanan. Berilah karakter seperti Freddy satu tantangan, maka semangatnya akan meluap-luap untuk membatasinya. Tapi berilah dia kemapanan, saat itu dia akan kehilangan dirinya, larut dalam gaya hidup, serta kehilangan banyak teman.

salah satu aksi panggung Freddy yang ikonik

Hal-hal seperti ini yang membuat kisah satu tokoh menjadi sangat manusiawi. Freddy bukan seorang Superman yang selalu kuat menghadapi apa pun. Dalam banyak sisi, dia seorang rapuh yang harus berjuang untuk keluar dari belitan masalah yang muncul dari sikap percaya diri terlampau berlebihan sehingga menjadi egoisme akut.

Pada akhirnya, dia seperti anak kecil yang merengek mencari mainan baru, dan ketika mendapatkannya dia lupa sekelilingnya. Hingga suatu saat, dia menyadari bahwa bukan mainan itu yang paling penting, melainkan orang-orang terkasih yang selama ini menjadi embun yang membasahi jiwanya. 

Ketika ditinggalkan banyak orang, di situlah dia menjadi dirinya sendiri. Dia merenung dan memikirkan betapa banyaknya hal penting yang selama ini dia abaikan. 

Saya menyukai adegan ketika dia sendirian di satu ruangan dan memikirkan banyak hal yang meninggalkannya sendiri. Sayup-sayup terdengar petikan lembut gitar Brian May, serta suara Freddy yang mengalun pelan:

Love of my life, 
you’ve hurt me 
You’ve broken my heart 
and now you leave me 
Love of my life can’t you see 
Bring it back, bring it back 
Don’t take it away from me  
because you don’t know 
what it means to me


Matinya Tabloid BOLA, Matinya KREATIVITAS


BERITA itu datang serupa petir yang menyambar di siang bolong. Tabloid Bola yang dahulu selalu menjadi rujukan ketika hendak mengetahui informasi tentang bola tak lama lagi akan tutup. Tak ada lagi logo Bola di lapak koran dan majalah. Tak ada lagi kartun Si Gundul di pinggir jalan. 

Saya punya banyak kenangan terhadap media ini. Dahulu, hampir setiap Selasa dan Jumat, saya membeli majalah ini di lapak-lapak yang ada di pintu dua, kampus Unhas, Makassar. 

Tak lengkap menonton pertandingan bola jika tidak membaca ulasan dari media ini. Saya masih mengingat beberapa nama yang sering saya kutip, di antaranya Sumohadi Marsis, Ian Situmorang, dan Wesley Hutagalung. Di banyak lapak warung kopi, sering saya temukan analisis kawan-kawan tentang bola, yang sumbernya adalah analisis para jurnalis Bola.



Saya juga masih terkenang dengan poster-poster tim kesayangan yang selalu ditempel di dinding kos-kosan mahasiswa. Saya juga ingat diksi yang khas media ini sebagai judul besar di halaman depan. Selalu ada rima yang khas. Misalnya: Beban Boban, Nestapa Nesta.

Setelah pertama terbit tahun 1984, akhirnya media yang dulu menjadi trendsetter dari semua media olahraga itu akan mengakhiri perjalanannya di dunia cetak. Bola akan menambah deretan media cetak yang telah lama berakhir, di antaranya adalah majalah Hai, koran Sinar Harapan, harian Terbit,  dan banyak lagi.

Pertanyaannya mengapa Bola harus tumbang? Banyak kalangan yang dengan mudahnya mengatakan bahwa penetrasi media online perlahan meminggirkan media cetak. Bola dianggap gagal mengantisipasi perubahan zaman sehingga ketika masuk era smartphone, media ini kehilangan pembacanya.

Tapi saya tak mau ikut-ikutan dengan analisis itu. Sebab bagi saya, itu sama dengan menyederhanakan persoalan. Jurnalisme adalah dunia yang selalu bergerak dan fleksibel. Setiap perubahan selalu diketahui lebih dahulu oleh para jurnalis dan media-media. Mustahil mereka tidak tahu tentang perubahan yang perlahan menggerus zaman.
Menurut seorang kawan jurnalis, Bola adalah media yang paling cepat mengikuti perubahan. Setiap ada gadget terbaru, maka para jurnalis Bola yang selalu lebih dulu memilikinya. Setiap pertandingan luar negeri, Bola selalu mengutus jurnalis untuk meliput dan bercerita dari tepi lapangan.

Bagi saya, matinya satu media disebabkan perasaan jumawa dan sikap mapan para pengelolanya. Pada satu masa, Bola pernah besar dan berjaya, selanjutnya tidak melakukan transformasi lagi. Media ini bertahan dengan pola lama sebab meyakini pola lama itu sukses membuat mereka pada titik kejayaan. 

Media ini terjebak pada sikap pongah bahwa pembaca akan selalu mengikuti mereka ke mana pun hendak bergerak. Pengelola dan jurnalisnya pernah menemukan satu style menulis yang kemudian jadi trendsetter selama beberapa dekade, sehingga merasa mapan dan tidak mau mengubahnya. Sebagai pemain besar, mereka pikir semua media harusnya mengikuti mereka. 

Padahal zaman terus bergulir. Pemain mapan perlahan digeser oleh anak kemarin sore yang bergerak gesit dan lincah. Kegagalan Bola adalah kegagalan untuk melakukan transformasi dan refleksi sebab terlanjur merasa besar dan mapan. Kegagalan Bola adalah kegagalan untuk melakukan inovasi di tengah menjamurnya media sehingga perlahan menjadi gajah bengkak yang susah berjalan. 

Sebagai pembaca Bola, saya mengikuti media ini hingga akhir tahun 1990-an. Pada awal tahun 2000-an, saya sudah tidak membaca Bola. Sebab saat itu, koran-koran lokal di Makassar menyajikan informasi tentang Bola dalam format sisipan hingga beberapa lembar setiap hari. 

Dari pada menunggu tabloid Bola yang hanya terbit dua kali seminggu, mending saya membaca koran lokal yang setiap hari punya sisipan berita bola yang lengkap. Membaca koran lokal lebih lengkap sebab ada informasi lokal, informasi nasional, juga informasi olahraga dalam format sisipan yang lengkap setiap hari. Ditambah lagi, murah pula.

Ada juga sisi lain. Dua hari lalu, saya bersua dengan seorang kawan yang kini menjadi petinggi di satu lini perusahaan miliki Gramedia. Dia bercerita bahwa alarm kematian Bola itu sudah berlangsung lama, ketika media itu mulai merumahkan para jurnalis seniornya.

Kawan itu pernah diundang Bola untuk melakukan sharing tentang media. Dia mengkritik Bola yang terlalu mapan dan tidak melakukan transformasi diri sejak lama. Yang terjadi, kawan itu malah dinasihati macam-macam oleh para jurnalis senior Bola yang merasa lebih paham dunia media olahraga.

Grafis Tabloid Bola (sumber: Kumparan)

Tak berselang lama dari pertemuan itu, malah Bola mulai kolaps. Beberapa bulan berikutnya, pengelola Bola malah mendatangi markas teman itu dianggap sukses membangun media olahraga yang perlahan menyingkirkan Bola. Malah, para jurnalis senior itu pelan-pelan mengakui bahwa mereka banyak ketinggalan.

Kawan itu menyampaikan satu contoh. Pernah, para pengelola Bola memandang enteng pentingnya Instagram, sebagaimana dijelaskan kawan itu. Mereka heran-heran mengapa media milik kawan itu selalu meng-update Instagram dan memperkaya dengan tampilan grafis yang keren. 

Pengelola Bola tidak paham bahwa generasi milenial adalah pengguna instagram, yang akan mencari informasi tentang sesuatu di Instagram, kemudian mencari versi cetak dan online. Instagram ibarat virus yang mempengaruhi isi kepala seseorang, mempengaruhi top of mind atau preferensi di pikiran, sehingga berdampak pada kian naiknya popularitas satu media.

BACA: Jurnalisme yang Terhempas dan Terputus

Contoh lain dikemukakan kawan itu. Saat sesi diskusi tentang media, para jurnalis senior di Bola selalu ingin menceramahi para jurnalis baru di media lain yang sedang mengembangkan media olahraga. Para jurnalis Bola itu tidak menyadari bahwa jurnalisme selalu terkait perkembangan zaman. Selalu ada spirit zaman yang berubah yang seharusnya dipahami oleh semua pelaku di ranah jurnalistik. 

Harusnya, para jurnalis Bola itu mendengar anak muda, memahami kebiasaan mereka mencari informasi, kemudian melakukan formulasi liputan mendalam yang tetap renyah dikonsumsi kalangan muda. Tanpa semangat menyerap itu, media ibarat zombie yang sudah mati, tapi mau memaksakan diri untuk tetap hidup.

Apa boleh buat. Zaman lebih cepat bergerak dari pikiran manusia. Matinya Bola adalah matinya kreativitas untuk merawat pembaca, matinya semangat untuk memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar informasi. Ketika disrupsi terjadi, Bola perlahan ditinggalkan pembaca, ditinggalkan pengiklannya, hingga akhirnya cuma memiliki satu hal yakni nostalgia.

Bahkan saat Bola mulai fokus ke online, saya anggap sudah kasip. Media ini hanya berlari di belakang media online yang sudah mapan. Padahal pernah ada masa ketika Bola menertawakan media online yang kecil-kecil dan berusaha tumbuh itu. Kini, media yang dipandang sebelah mata itu menjadi petarung utama yang liat di dunia online dan bisa menyengat Bola hingga tewas.

BACA: Nurani Jurnalisme dalam The Post

Pada akhirnya, kita akan mengamini pendapat Charles Darwin, bahwa yang bertahan bukanlah yang terhebat dan terkuat, melainkan yang paling survive dalam menghadapi perubahan. Dalam konteks media, yang bertahan adalah media yang paling memahami pasar dan bergerak untuk memenuhi kebutuhan pasar yang juga terus bergerak.

Jurnalisme bisa berganti format. Media bisa berubah bentuk. Tapi kreativitas, ide-ide yang mengalir deras, dan inovasi ibarat denyut nadi yang menjaga napas media lebih panjang. Tanpa itu, media bisa cepat berakhir, apa pun formatnya.

Sedih juga melihat banyak yang berduka di media sosial. Padahal yang membuat Bola mati karena kita sendiri yang tidak lagi mau membeli. Kita adalah pembaca yang kian selektif dan memenuhi kebutuhan informasi secara cepat.

Kita ikut menancapkan belati di tubuhnya, dengan cara tidak lagi mau membeli, sehingga kehilangan kawan seiring dalam mengarungi zaman yang kian penuh tantangan. 

Hari ini kita hanya menabur bunga di pusara Bola sembari mengurai satu demi satu kenangan.


Eric Thohir di Mata Profesor Amerika




Sejak menjadi Ketua Panitia Asian Games 2019, kemudian menjadi Ketua Tim Jokowi-Ma’ruf, nama Erick Thohir terus meroket dan jadi pembicaraan publik. Dia mewakili beberapa kriteria yang amat diidamkan orang-orang.

Dia muda, kaya-raya, suka olahraga, juga pengusaha hebat. Jangan lupa, dia juga seorang Muslim yang taat. 

Beberapa kalangan sibuk membahas sepak-terjang Erick sebagai pengusaha media dan baliho yang membawa gerbongnya merapat ke Jokowi. Dia disebut akan membawa gerbong pengusaha ke Jokowi.

Sebagai pebisnis handal, dia diperkirakan akan bisa menggaet dan mengonsolidasi kalangan milenial dan pebisnis. Namun bagaimanakah sosok Erick yang sebenarnya? Apakah dia akan membawa semua medianya menjadi cebong, sebutan bagi fans Jokowi garis keras?

Bagaimana pandangannya tentang Islam? Apakah dia akan menentukan kebijakan redaksi semua media yang dimilikinya?

Saya menemukan catatan tentang Erick Thohir yang ditulis Profesor Janet Steele, seorang pengajar jurnalistik di George Washington University. Dia bercerita tentang Erick yang belum saya temukan di liputan media-media.

Ternyata Erick memiliki ayah yang etniknya separuh Lampung dan separuh Bugis. Ibunya, setengah Tionghoa dan setengah Jawa Barat. Erick juga menikahi perempuan setengah Tionghoa, dan setengah Betawi. Selain latar belakang etnik, kisah Erick juga menarik untuk diulas.

Erick adalah pebisnis yang memulai kariernya dengan mengakuisisi Republika, media berbasis Muslim terbesar di Indonesia. Dia mengambil-alih media itu saat sedang krisis. Janet Steele menulis dan mewawancarai Erick Thohir saat melakukan riset mengenai Jurnalisme Kosmopolitan di Negara Muslim Asia Tenggara.

Dia melakukan riset pada empat media. Pertama, Sabili, yang disebutnya mewakili Islam skripturalis. Kedua, Republika yang menjadi representasi dari pandangan atas Islam sebagai pasar. Ketiga, Harakah, media Malaysia yang melihat Islam sebagai politik.

Keempat, Malaysiakini yang melihat Islam secara sekuler. Kelima, Tempo, yang dianggapnya sebagai representasi Islam kosmopolitan.

Secara umum, perjalanan Republika menempuh dua periode. Periode pertama adalah periode politik, ketika media itu di bawah ICMI yang menjadi lokomotif pemikiran di era Orde Baru. Periode kedua adalah periode bisnis ketika Mahaka Grup yang dipimpin Erick Thohir mengambil-alih media itu, kemudian mengubah haluan media itu menjadi lebih berorientasi pasar.

Di mata Janet, Republika di masa Erick Thohir mengalami pergeseran. Saat berkunjung ke media itu, tidak tampak banyak simbol-simbol keislaman. Padahal media ini bertujuan untuk melayani masyarakat Muslim.
Pihak Republika mengklaim apa yang mereka lakukan sesuai dengan garis keislaman. Dalam tulisan tentang sejarah Republika, yang beredar untuk kalangan internal, terdapat kutipan: “Dari halaman pertama hingga terakhir, tak ada yang menyimpang dari kerangka kerja “amar ma’ruf nahi mungkar.” 

Syahrudin El Fikri, salah seorang redaktur senior yang ditemui Janet mengatakan bahwa inilah Islam substansial.

“Kami tidak bisa hanya berdiam diri melihat para tetangga miskin. Itu salah. Kami tidak bisa diam saja melihat gereja dibakar. Itu tidak boleh. Kami tidak bisa membiarkan kaum Ahmadiyah dibakar. Kami bekerja karena kami harus mengatakan sesuatu: toleransi. Inilah yang disebut Islam substantif.”

Janet pertama kali bertemu Erick pada bulan Februari 2013. Di sebuah restoran yang trendi, Erick mengajak Janet untuk makan malam. Pertama bertemu, Erick langsung bertanya, “Apakah Anda Muslim?” Janet menjawab bukan.

Erick bercerita, saat pertama masuk kantor Republika, dia memperlihatkan sebuah foto mengenai situasi di negara lain. Erick berkata:

“Kali pertama masuk Republika, saya tunjukkan foto. Inilah Islam. Orangnya memang Jerman, tetapi Muslim. Jangan mengira bahwa orang Tionghoa dan orang kulit putih, bukan Muslim. Belum tentu. Anda tak bisa berprasangka seperti itu."

Janet lalu bertanya tentang agama Erick Thohir, yang langsung dijawab lugas: “Saya seorang haji. Namun yang jelas, Islam bagi keluarga saya adalah sesuatu yang bersifat pribadi. Itu identitas kami, tetapi juga sesuatu yang sangat personal,” kata Erick.

Erick mengakui bahwa dirinya membawa visi bisnis ke Republika, yang tadinya dikelola sangat idealis. Dahulu, Republika adalah tempat orang menuangkan gagasan-gagasan tentang bangsa. Ada banyak intelektual dan pemikir yang rutin mengisi kolom di media ini.

Di masa Erick, Republika makin berorientasi bisnis.

“Saya ingat empat pesan yang saya sampaikan ketika masuk Republika. Pertama, media ini seharusnya berada di tengah, moderat. Kedua, saya tidak ingin Islam dianggap bodoh, miskin, dan terbelakang. Ketiga, kita tak boleh berprasangka. Ketika melihat sesuatu, kita tidak bisa secara otomatis langsung berpikir negatif. Kita harus berpikiran terbuka. Terakhir, Anda harus memikirkan pembaca,” katanya.

Erick menginginkan media ini bisa berpikir positif. “Antiglobalisasi? Itu belum terbukti buruk. Jangan mengira itu buruk. Orang asing juga membayar pajak. Oleh karena itu, saya bilang berpikir positiflah,” katanya. Janet tak puas dengan pernyataan Erick.

Dia lalu mewawancarai pihak redaksi. Semuanya berpandangan sama bahwa pebisnis tidak ikut mencampuri semua kebijakan redaksional. Saat ada hal-hal menyangkut politik, maka sikap pihak redaksi belum tentu sama dengan Erick Thohir.

Pada saat diwawancarai, Erick Thohir masih menjabat sebagai Presiden Direktur TVOne. Saat pemilihan presiden tahun 2014, TVOne mendukung Prabowo Subianto. Republika pun dianggap mendukung Prabowo.

Pihak redaksi mengklaim kalau mereka netral. Sebagai media, mereka mendukung siapa pun. Tapi, Janet Steel mengamati tajuk harian ini dan juga Republika Online (ROL) kebanyakan dukungan kepada Prabowo.

Pihak redaksi Republika Online menyebut, kebanyakan pembaca media itu berasal dari Muhammadiyah yang menyukai tulisan-tulisan serangan pada Jokowi. Makanya, tulisan-tulisan mengenai serangan pada Jokowi selalu menjadi tulisan terpopuler yang tampil di halaman depan.

“Kami tidak bisa mengontrolnya Itu otomatis. Sebab cyber army Prabowo menyebarkan tulisan itu ke mana-mana. Makanya, Republika seakan-akan mendukung Prabowo,” kata Joko Sadewo, Pimred Republika Online.

Janet menganalisis hubungan antara web analytics atau proses mengukur dan menganalisis trafik situs web dan gatekeeping, proses menentukan berita yang tayang. Pembaca Republika memiliki kecenderungan untuk mendukung Prabowo dengan perbandingan 6 banding 1. Inilah para pembaca yang kemudian menyebarkan tulisan itu ke mana-mana sehingga menjadi hit.

Janet berkesimpulan bahwa segmen pasar menentukan arah pemberitaan media. Bahwa semua pilihan-pilihan berita, pada akhirnya akan diseleksi oleh segmen pembaca sehingga menentukan perwajahan dan isu yang ditampilkan.

Karena segmen pasarnya adalah komunitas Muslim, media ini lebih fokus pada isu-isu tentang Islam, mulai dari partai politik berbasis Islam, hingga tema-tema yang diperbincangkan komunitas Muslim.

Masuknya Erick Thohir mengubah wajah media ini ke arah komersial. Transisi itu menyebabkan adanya kompromi dengan idealisme dan ceruk pasar sebelumnya. Media ini akan tetap menyajikan jurnalisme yang profesional dan berbicara atas nama demokrasi, ekonomi, juga toleransi.

Dengan demikian, kita sudah bisa memprediksi bagaimana sikap media ini terkait pilpres tahun 2019. Belajar pada Janet, media ini akan berposisi di tengah, tapi pembaca dan cyber army yang akan menyebar berita itu ke mana-mana sehingga membentuk citra atau gambaran tentang media ini.

Gerak netizen ini adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa dihambat oleh Erick Thohir. Dia pun tidak mungkin mengintervensi media sebab di era media sosial ini, netizen punya otoritas hendak membagikan berita yang mana, juga menentukan mana yang hits dan mana yang bukan.

Pertanyaan terakhir yang cukup menohok dari Janet adalah: apakah Republika melayani kepentingan pembaca Muslim ataukah menjadi pemuas keinginan mereka?



Dari Nyinyir, Pencari Kambing Hitam, Hingga Kisah Relawan Hebat




Setiap kali bencana alam terjadi, media sosial langsung ramai dengan berbagai postingan. Jika diamati, semua postingan itu akan memberikan kita gambaran tentang berbagai tipe orang serta responnya saat melihat bencana. Ada yang suka nyinyir, mencari kambing hitam, hingga relawan hebat yang berjibaku di lapangan.

Sejauh yang saya amati, pada hari ketika bencana alam terjadi, semua orang memberikan reaksi yang sama. Orang-orang akan langsung membuat meme, tagar, dan pernyataan duka-cita. Hari pertama, semua orang saling mendoakan keselamatan.

Orang-orang akan berusaha menemukan keluarganya, setelah itu mulai mengontak berbagai lembaga yang siap memberikan donasi. Ini berjalan sampai hari ketiga dan keempat. Setelah itu, orang-orang mulai tidak satu barisan.

Masyarakat mulai terpecah dalam beberapa kategori yang menunjukkan bagaimana respon dan pandangannya atas bencana. Sejauh yang saya amati, ada delapan tipe netizen terkait bencana. Anda masuk yang mana?

Pertama, tipe mendadak religius. Banyak yang langsung mengeluarkan dalil-dalil dalam kitab yang mengatakan bahwa bencana itu sebagai azab dari Tuhan. Mulai ada yang posting beberapa ritual yang dianggap jauh dari agama.

Ada yang membawa-bawa kalangan LGBT yang kian menjamur. Bahkan ada yang memposting foto yang isinya suasana bar di kota tempat terjadinya bencana. Ada juga yang mengatakan kawasan yang dihantam bencana itu sering berlangsung maksiat.

Bencana bisa menyebabkan orang-orang lebih religius. Yang bikin tidak nyaman adalah sering kali ada vonis seakan-akan mereka yang kena bencana itu adalah mereka yang mendapat hukuman. Sedang diri yang tidak kena bencana lebih religius.

Kedua, tipe rasional. Mereka yang masuk tipe ini akan berdebat dengan kelompok pertama. Beberapa orang di timeline saya membagikan peta yang isinya frekuensi gempa terjadi di mana saja dalam 10 tahun terakhir.

Di peta itu terlihat kalau Kalimantan tidak pernah terkena gempa. Seseorang mengatakan, “Jika gempa karena banyaknya maksiat, berarti Kalimantan adalah pulau yang semua penduduknya paling suci dan saleh.”

Kelompok ini berpandangan bahwa Indonesia memang berada di jalur ring of fire. Kita berpijak di atas patahan gempa, sehingga yang dibutuhkan adalah kearifan dan kesiagaan untuk menghadapi gempa. Apalagi, nenek moyang menghadapi gempa dengan teknologi rumah yang anti gempa, serta kearifan lokal agar masyarakat waspada.

Ketiga, tipe pencari kambing hitam. Mereka yang masuk dalam tipe ini adalah mereka yang setiap saat mencari kesalahan. Selain menyalahkan adanya ritual sesat sehingga gempa, mereka juga sibuk menyalahkan pemerintah.

Mereka tidak banyak menggalang solidaritas sebab terlalu sibuk mencari kesalahan orang-orang yang berjibaku di lapangan. Mereka mengecam penanganan bencana. Tapi mereka juga tidak melakukan apa pun. Bahkan ketika pemerintah menjelaskan sulitnya medan akibat infrastruktur rusak, tetap saja kelompok ini akan nyinyir.

Mereka merasa selalu benar dan merasa pemerintah telah melalaikan korban. Harus diakui kalau koordinasi bantuan terkesan amburadul.

Akan sangat bagus jika semua pihak memastikan pemerintah akan menjalankan fungsinya yakni hadir di tengah gempa, serta menggalang kerelawanan semua warga tanah air agar peduli gempa.

Akan sangat elok kalau mereka mengingatkan semua pihak untuk tetap bergerak membantu semua korban bencana. Kata seseorang, “Daripada sibuk mengutuk kegelapan, lebih baik kita menyalakan sebatang lilin.”

Keempat, tipe politisi oportunis. Nah, kelompok ini adalah kelompok yang pandai melihat momen. Begitu ada gempa dan banyak korban, mereka akan sibuk selfie dengan latar gempa. Mereka sibuk menyampaikan gambar apa yang terjadi, terus dirinya seolah-olah datang ke situ dan bersedih.

Mereka membuat video yang berisikan musik menyayat hati, kemudian ada potret dirinya di situ. Mereka yang tipe politisi oportunis yang langsung menyampaikan pernyataan duka, serta memajang foto korban bencana, serta potret diri yang sedang bersedih.

Ada himbauan untuk menyumbang, tapi sempat-sempatnya memasang foto diri dan logo partai. Mereka pandai menyelipkan pesan kampanye di tengah penderitaan banyak orang. Kelompok ini juga suka memolitisasi bencana demi senjata kritik pada pemerintah.

Kelima, tipe pengambil keuntungan. Beberapa hari setelah bencana menghantam, jalan-jalan di berbagai kota akan diramaikan oleh orang-orang yang meminta sumbangan bencana. Masalahnya, tidak ada informasi atau transparansi terhadap para penyumbang ke mana saja dana dialihkan.

Bahkan di satu kota di Jawa Barat, polisi menangkap sejumlah orang yang melumuri tubuhnya dengan cat perak demi minta sumbangan bencana. Kata polisi, orang-orang ini menipu masyarakat sebab dana sumbangan itu ternyata digunakan untuk mabuk-mabukan.

Penipuan yang mengatas-namakan bencana juga berlangsung dalam motif lain. Seorang teman membagikan pesan WA dari seseorang yang memperlihatkan struk sumbangan bencana sebesar 5.500.000. Orang itu mengaku salah transfer, yang seharusnya cuma 500 ribu.

Dia minta dikirimkan sisanya sebab dana itu adalah anggaran kantor. Teman itu mengecek tidak ada dana masuk atas nama orang itu. Tapi orang itu tetap ngotot minta dananya dikembalikan. Teman saya tak mau kalah.

Dia jelaskan mekanisme pengembalian uang, serta ajakan untuk ketemu. Si penipu itu langsung memblokir teman saya. Case closed.

Keenam, tipe penggalang solidaritas. Mereka yang masuk dalam tipe ini adalah mereka yang nuraninya tersentuh lalu mencari cara agar membantu korban bencana. Mereka menggalang bantuan secara mandiri, lalu menyalurkannya ke pihak berwenang.

Mereka tidak banyak bicara di media sosial, juga tidak banyak nyinyir, tapi punya langkah-langkahnya terukur. Mereka adalah tipe yang nuraninya tersentuh, lalu bergerak mengumpulkan bantuan. Saya mengenal beberapa orang dengan tipe ini.

Mereka tidak cuma berhenti pada duka, tapi melakukan banyak hal-hal hebat untuk membantu korban. Mereka juga tidak mau menyalahkan siapa pun. Sebab dalam setiap bencana, koordinasi selalu sulit dilakukan karena banyak hal terjadi, serta duka dan trauma yang menghadang. Tipe penggalang solidaritas selalu menemukan cara untuk membantu.

Ketujuh, tipe relawan hebat. Jika penggalang solidaritas hanya mengumpulkan bantuan dan tidak ke lokasi, para relawan hebat ini adalah mereka yang begitu mendengar gempa, langsung datang ke lokasi demi melakukan sesuatu.

Mereka meninggalkan kenyamanan demi membantu mereka yang sedang trauma. Di antara beberapa nama yang saya kenal adalah Profesor Idrus Paturusi, mantan Rektor Universitas Hasanuddin, yang juga seorang dokter senior.

Setiap gempa, dia langsung berangkat ke lokasi dan membantu pasien dalam situasi penuh keterbatasan. Di media sosial, seseorang memosting fotonya yang sedang tidur di kursi setelah kelelahan mengoperasi para pasien.

Dia adalah relawan sejati yang hadir di semua bencana dan bekerja demi kemanusiaan. Banyak pula orang yang melakukan hal-hal hebat seperti Idrus.

Mendengar gempa, seorang kawan saya di Makassar langsung sibuk membeli banyak makanan, dan pakaian bekas, kemudian membawa mobil sendiri ke Palu. Kawan itu tak cuma menggalang solidaritas, dia juga berkendara puluhan kilometer demi memastikan agar bantuan yang dibawanya tiba di sasaran.

Saya juga mengagumi seorang sahabat yang bersepeda dari kampungnya di Sulawesi barat demi membantu korban bencana. Bahkan ada pula yang sengaja berperahu demi efektivitas membawa logistik dan bantuan.

Orang-orang ini mengingatkan saya pada pentingnya kerja-kerja sosial dan nilai-nilai kebajikan sesungguhnya. Mereka bekerja keras dan menjadi malaikat-malaikat hebat di sekitar kita. Mereka meletakkan kemanusiaan sebagai tujuan dari semua gerak dan aktivitas, dan bergerak berdasarkan naluri untuk membantu orang lain yang sedang ditimpa musibah.

Pertanyaannya, Anda masuk tipe yang mana?

Jika tidak masuk satu pun, berarti kita harus menambah tipe yang baru, yakni mereka yang cuek-cuek saja dan memilih hanya jadi pengamat. Mereka menyatakan solidaritas, tapi setelah itu lebih suka diam dan mengamati semua postingan. Sepertinya, saya masuk kategori ini.


Kiat Praktis untuk Selamat dari Tsunami Hoaks ala Ratna Sarumpaet




Dalam diri kita ada potensi untuk terpapar hoaks seperti yang pernah disebar Ratna Sarumpaet. Kita mudah percaya sesuatu, apalagi itu disebar di media sosial seperti Facebook, WhatsApp Groups, dan Twitter yang diberi label rahasia atau informasi A1.

Emosi kita mudah tersulut saat membaca pesan-pesan yang seolah memaparkan dinamika di lapis paling dalam. Padahal, banyak informasi yang disebar itu sengaja dibuat satu kelompok yang tujuannya untuk mengaburkan informasi.

Bahkan, sering kali kelompok yang sama membuat informasi pesanan dari dua kubu yang sedang berhadapan. Di era ini, informasi menjadi sesuatu yang diperdagangkan. Jasa pabrik konten menjamur. Para penggiat media sosial mudah digiring dengan sesuatu yang seolah-olah fakta.

Tanpa sadar, kita menjadi mainan para spin doctors, dan mereka yang sengaja dibayar untuk mempengaruhi opini melalui berbagai tulisan pendek yang serupa api kecil menyebar di sekam yang telah disiram bensin prasangka.

Informasi lalu diberikan label lingkar dalam dan tidak jelas ditulis siapa menjadi sesuatu yang mudah menyebar. Bahkan, sering kali mencatut nama tokoh publik dengan tujuan agar lebih mudah diterima publik.

Kita berada di era post-truth ketika fakta dan fiksi telah dicampur-aduk. Kita tidak tahu mana yang benar sebab informasi berseliweran dan disebarkan dengan cepat melalui algoritma media sosial.

Bagaimanakah kiat-kiat agar tidak terjebak dalam berbagai setingan informasi dan berbagai provokasi agar membenci yang lain?

***

KAWAN itu tiba-tiba saja marah-marah. Dia membaca pesan yang dikirim melalui WhatsApp Groups. Isinya adalah bagaimana politik sengaja didesain untuk menyingkirkan seseorang. Kawan itu mengidolakan seorang politisi.

Dia tidak rela jika idolanya difitnah dan sengaja dijebak sehingga tampak bodoh dan jadi bulan-bulanan. Saat membaca informasi di HP-nya, dia merasa tahu bayak hal. Hal pertama yang dia lakukan adalah menyebar tulisan itu ke banyak grup.

Dia merasa informasi yang benar harus disebarkan. Apalagi jika informasi itu disampaikan seseorang yang sejak dulu dikaguminya. Tak sampai tiga hari, datang bantahan. Informasi yang disebarnya ternyata hoaks.

Kawan itu tidak merasa salah apa pun. Malah, meskipun sudah ada bantahan, dia tetap saja lebih percaya pada informasi yang lebih dahulu disebarnya. Jangan mengira kawan itu tidak berpendidikan sehingga mudah terpapar hoaks. Dia seorang doktor.

Dia adalah satu dari sejumlah orang yang mudah terpengaruh oleh tulisan pendek yang disebar melalui media sosial. Kita berhadapan dengan tsunami informasi, di mana ada banyak akun anonim yang seolah-olah membocorkan fakta tersembunyi.

Polanya adalah menuturkan sesuatu seolah-olah itu adalah inside story yang lengkap alurnya, serta siapa-siapa yang bermain di belakang setiap peristiwa. Narasinya membahas orang per orang, serta kepentingan, yang lalu mengeruk keuntungan untuk kepentingan pribadi.

Sepintas, tulisan-tulisan itu membuka apa yang tersembunyi di panggung politik. Padahal, isinya sangat jauh dari fakta. Isinya berisikan syak-wasangka yang dikemas dalam bentuk artikel investigasi, lalu dibumbui dengan tudingan-tudingan. Kawan itu mudah emosi saat membaca banyak pesan, sehingga menyebarkannya ke mana-mana.

Di berbagai kanal, muncul berita seolah-olah informasi itu A1. Dia terlanjur menganggap ada setingan, sehingga semua hal dianggap setingan. Dahulu, arena untuk menyampaikan informasi rahasia dalam politik adalah melalui surat kaleng. Selanjutnya, ada juga yang menggunakan pamflet dan selebaran.

Di akhir kekuasaan Soeharto, para aktivis menyebarkan pamflet dan berbagai publikasi kritis melalui jalur bawah tanah, maksudnya bukan jalur resmi yang dikehendaki pemerintah. Pada masa itu, yang hendak disebarkan adalah fakta-fakta yang tak banyak diungkap ke publik.

Media mencatat beberapa aktivis dan intelektual yang memilih risiko dipenjarakan daripada ikut dalam lautan massa yang bungkam. Seiring dengan era internet, serta arus informasi yang kian menyebar, dinamikanya mulai berubah.

Hampir semua politisi dan kelompok kepentingan menjalin relasi dengan para spin doctors, yakni orang-orang yang bisa mempengaruhi opini atau wacana di media massa demi menaikkan citra seseorang, atau menjatuhkan citra kelompok lain.

Rekayasa informasi dipandang sebagai sesuatu yang wajib demi mengendalikan arus wacana. Persoalannya, rekayasa informasi itu sering kali dibuat dengan cara menyusun narasi yang tak berbasis fakta.

Parahnya, ada banyak orang yang mudah saja menerima semua informasi yang berseliweran di sekitarnya, tanpa mengeceknya lebih jauh.

Di media sosial, banyak orang yang dengan mudahnya diprovokasi dengan berita-berita dari berbagai situs abal-abal, lalu kehilangan daya kritis untuk mempertanyakan semua informasi itu. Publik mudah tersihir dengan berita seolah-olah inside story, setelah itu ikut menjadi clicking monkey, para penyebar informasi fitnah melalui berbagai kanal media sosial.

Fenomena ini mengingatkan pada tulisan seorang ilmuwan sosial yang mengatakan bahwa orang hanya ingin melihat apa yang ingin dilihatnya. Maksudnya, saat seseorang terlanjur punya prasangka, maka dia hanya akan melihat hal-hal sesuai dengan prasangka sebelumnya.

Biarpun banyak sumber kredibel menyatakan fakta itu keliru, ia tidak akan memercayainya. Tapi ketika satu fakta dari sumber abal-abal menyatakan dirinya benar, ia akan langsung menyebarkannya, tanpa mengeceknya lagi.

Yang saya amati, rekayasa informasi itu selalu mengandalkan dua pola: (1) menggunakan media abal-abal yang mudah dibentuk di ranah online, (2) menggunakan serial informasi di twitter dan facebook.

Di dua pola ini, kita akan menemukan informasi yang dikemas seolah-olah investigasi, seringkali dibumbui kalimat bombastis yang mudah membuat publik percaya. Di dua kanal ini, para spin doctors dan cyber army bekerja dengan cara membombardir informasi, menghasut publik agar me-like lalu men-share informasi, tanpa mengecek mana fakta dan fiksi dalam informasi tersebut.

Di dua kanal ini, posisi publik adalah pasif dan aktif sekaligus. Mereka menerima informasi yang kebetulan bersesuaian dengan prasangkanya, lalu menyebarkannya ke mana-mana, tanpa sikap kritis.

Sebenarnya, fenomena banjir dan rekayasa informasi ini bukanlah hal yang baru. Pada tahun 2001, mahaguru para jurnalis, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, telah menulis buku berjudul Blur: How to Know What’s True in the Age of Information Overload. 

Buku ini berisikan bagaimana seharusnya bersikap di era banjir informasi. Kovach tidak sedang menulis panduan untuk para jurnalis. Kovach menjelaskan bagaimana keriuhan informasi di era digital, yang kemudian dipelintir oleh para spin doctors. 

Ia menyasar publik, yang disebutnya tidak lagi menjadi konsumen berita, namun juga sebagai produser yang juga menyebarkan informasi. Yang perlu diwaspadai adalah pihak-pihak yang hendak memanipulasi kebenaran demi kepentingan kelompok tertentu.

Kata Kovach, fenomena banjir informasi ini bukanlah sesuatu yang baru. Sejak munculnya era komunikasi, manusia terbiasa berhadapan dengan berbagai informasi. Seiring dengan perubahan lanskap sosial dan politik, berubah pula cara-cara manusia memahami dan berinteraksi dengan informasi.

Perubahan pola komunikasi itu berjalan sering dengan perubahan pola kepemimpinan, mulai dari pemimpin spiritual ke pemimpin suku, pemimpin suku ke raja, munculnya negara-kota, serta otoritas negara. Informasi juga mengalir mengikuti otoritas, hingga era sekarang yang memungkinkan informasi bisa mengalir dari berbagai sisi.

Masih kata mahaguru jurnalistik dari Harvard University ini, terdapat sejumlah kiat bagi warga untuk “diet informasi” dengan cara menggunakan pola pikir skeptis (skeptical knowing) langkah demi langkah.

Pertama, kenali setiap jenis konten yang dihadapi. Kedua, kita harus memeriksa kelengkapan laporan media. Ketiga, kita harus menilai otoritas dan kualifikasi sumber. Keempat, kita harus menilai fakta dengan membedakan antara mengamati dan memahami, kesimpulan dan bukti, serta bagaimana berinteraksi dengan fakta.

Kelima, lakukan evaluasi terus-menerus terhadap setiap informasi. Penuturan Kovach ini memang agak jlimet. Pada intinya, ia mengatakan bahwa sebagai konsumen, kita harus berpikir kritis. Saat membaca informasi, kita harus mencari apa yang lebih, serta bisa membuat kita percaya bahwa informasi itu akurat.

Terhadap banyak informasi, kita harus meninggalkan cara berpikir lama yang seolah-olah media hendak mengatakan “percayalah apa yang saya katakan.” Kita harus menggantinya dengan cara berpikir yang melihat semua liputan dengan pertanyaan, “Apa yang harus membuat saya percaya? Tunjukkanlah bukti-bukti kuat biar saya yakin.”

Setiap orang harus menjadi editor yang mempertanyakan semua informasi. Di sini terletak daya kritis dan kemampuan analitik. Jika seseorang punya daya kritis itu, ia tidak akan mudah diseret-seret oleh berbagai informasi yang menyebar di berbagai kanal media sosial.

Namun jika orang tersebut tak menggunakan akalnya, semua informasi yang masuk akan langsung dipercayainya.

Di Indonesia, ada banyak perkembangan menarik terkait kebiasaan membaca. Yang saya lihat, orang-orang suka menyebar informasi, tanpa mengecek apakah itu hoaks ataukah fakta. Secara praktis, saya merekomendasikan beberapa kiat agar tidak menjadi obyek penderita di era internet.

Pertama, jangan mudah terpaku pada judul yang heboh. Pada beberapa media, judul-judul heboh dan bombastis berguna untuk membuat audience tertarik dan mengeklik. Biasanya, judul itu diawali dengan kata “astaga”, “luar biasa”, “wow”, dan berbagai kata-kata lain. Malah, saya sering menemukan judul yang diawali kata “masyallah”. Judul-judul ini sengaja dibuat untuk menciptakan suasana heboh, dan memaksa orang untuk membacanya.

Kedua, perhatikan media yang memberitakannya. Saat Anda melihat judul heboh, jangan langsung klik. Perhatikan, media manakah yang memuatnya. Kalau medianya sejenis pusingan.com, analisahebat.com, atau beberapa media berlabel agama yang belum pernah Anda dengar, sebaiknya jangan langsung klik.

Sekali satu media menyebar informasi yang tidak akurat, masukkan list media itu dalam daftar media yang membodohi dan tidak layak baca. Dibanding media abal-abal itu, lebih baik percaya pada media resmi. Sebab media resmi memiliki disiplin verifikasi dan standar jurnalistik yang sudah lama dibangun.

Sering ada yang bertanya, bagaimana dengan kepentingan pemilik modal di media resmi itu? Boleh jadi ada kepentingan. Tapi yakinlah, jantung utama bisnis media adalah kredibilitas. Bisnis ini punya investasi besar.

Seorang pemilik modal yang mencampuri kepentingan pemberitaan bisa berdampak pada turunnya kredibilitas media, yang akan berujung pada lesunya iklim bisnis. Jika ini terjadi, maka triliunan uang yang keluar akan percuma. Bisnis media akan bangkrut dan gulung tikar.

Pemilik media yang bijak, tak mungkin mencampuri berita untuk memuji-muji dirinya sebab akan bermuara pada kemuakan publik yang membuat medianya ditinggalkan.

Ketiga, kalaupun Anda terpaksa mengeklik, perhatikan sumber-sumber beritanya. Kalau sumber berita adalah sumber yang otoritatif, berarti itu pernyataan resmi. Dalam kasus kriminal, sumber resmi adalah polisi.

Dalam berita korupsi, sumber resmi adalah pihak KPK atau penegak hukum. Tapi kalau sumber yang Anda baca adalah seorang penggiat organisasi massa, maka ragukanlah informasinya. Ragukan pula informasi tentang korupsi, yang disampaikan oleh seorang pengamat korupsi.

Dalam banyak kasus, para pengamat sering kali menjalankan pesanan tertentu dari sejumlah pemodal.

Keempat, perhatikan keberimbangan. Saat media memuat satu sumber tertentu, periksa apakah ada pernyataan resmi dari sumber lain yang berseberangan. Mengapa? Sebagai pembaca, posisi kita serupa hakim yang akan menimbang-nimbang benar tidaknya sesuatu.

Tanpa keseimbangan informasi, kita tak akan mendapat gambaran utuh terhadap satu kejadian.  Artinya, jika informasi tak seimbang, berarti liputan itu tidak netral.

Kelima, bedakan antara fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dan disaksikan oleh jurnalis. Sementara opini adalah himpunan kesan atas peristiwa itu.  Media yang kredibel akan banyak menyajikan fakta sebab pembaca bisa mendapatkan informasi dari tangan pertama.

Media yang tidak kredibel akan menyajikan parade opini yang boleh jadi bertujuan untuk menggiring persepsi pembaca sehingga bersepakat dengan agenda isu yang dilancarkan.
Keenam, jangan langsung percaya apa yang disajikan media. Lakukan crosscheck dengan media lain. Dalam riset, ini disebut triangulasi. Lakukanlah cross-check dengan liputan media lain. Kalau banyak yang memuatnya, maka informasi itu boleh jadi valid.

Informasi adalah denyut nadi media massa. Ketinggalan satu informasi penting adalah aib bagi media itu. Makanya, setiap berita heboh, pastilah akan dimuat banyak media.

***

KIAT ini hanya sepenggal. Masih banyak yang bisa didiskusikan. Intinya, kembangkan cara berpikir skeptis saat membaca media. Seperti kata Kovach, pertanyakan setiap informasi.

Buat pertanyaan dalam diri, apa nilai lebih yang membuat Anda percaya liputan itu, apakah kekuatan informasi itu, serta siapa yang diuntungkan dan akan dirugikan dari penyebaran informasi itu.

Jika Anda hendak menyebarkannya, yakinkan diri Anda bahwa informasi itu benar dan berguna bagi publik. Sebab jika informasi itu sesat, maka Anda akan jadi penyebar fitnah. Jika informasi itu tidak benar, Anda akan jadi kambing congek yang mau-mau saja dibodohi semua orang demi agenda-agenda terkait rekayasa informasi.

Jauhkan segala prasangka terhadap seseorang atak kelompok tertentu yang kerap menjadi sasaran dari media abal-abal itu. Hadirkan sikap kritis, bahwa di balik setiap pahlawan, pasti ada celah yang menunjukkan dia manusia biasa.

Dan di balik seseorang yang dituduh sebagai penjahat, pasti ada sisi baik yang memanusiakan dirinya. Melalui keseimbangan itulah, kita bisa melihat kehidupan sebagai arena yang sangat dinamis.


Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...

Google+ Badge