Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Cerita tentang Nahad Baunsele




Saat dia berangkat ke luar negeri, orang2 mengira dirinya akan bersenang-senang dan berkelana di negeri asing. Padahal, dirinya sedang bekerja keras demi melawan semua tantangan.

Lelaki itu Nahad Baunsele, datang dari kampung di So’e, Timor Tengah Selatan. Berkat beasiswa IFP, dia diundang belajar ke Tulane University, salah satu universitas dengan tradisi epidemologi dan public health terbaik di Amerika Serikat.

Kampusnya terletak di New Orleans, yang dikenal sebagai kota penuh pesta, jazz, dan punya populasi kulit hitam yang besar. Nahad ke sana hanya bermodal nekad. Betapa tidak, skor Toefl-nya hanya 430. Bahasa Inggrisnya pas-pasan.

Jangankan untuk belajar, untuk sekadar berkomunikasi dengan orang lain pun dia kesulitan. Setelah empat bulan belajar bahasa di New Orleans University, Nahad mulai kuliah di Tulane.

Dia menuturkan, pada semester pertama, dia seperti makhluk bumi yang tersesat di negeri alien. Dia ketinggalan di semua kuliah. Bahkan dia terancam dipulangkan kalau tidak bisa mengikuti ritme perkuliahan.

Nahad tak ingin kembali ke So’e dengan membawa kegagalan. Dengan kemampuan terbatas, dia menemui satu per satu dosennya. Dia ceritakan masalah kemampuan bahasa yang terbatas itu.

Dia hadapi masalah itu dengan cara mengakuinya, kemudian mengajak orang lain untuk membantunya. Gayung bersambut. Dosen-dosennya tersentuh. Semuanya sepakat bahwa perjalanan menyusuri separuh bumi demi belajar itu membutuhkan keberanian besar.

Mulailah Nahad mendapatkan bantuan. Saat Nahad membuat paper, dosen akan membantunya untuk membaca ulang dan mencari ide-ide orisinal di situ. Nahad merasakan betapa baiknya orang-orang yang selalu melihat sisi terbaiknya, bukan sisi terlemah seseorang.

Di New Orleans, di kota yang surganya penyuka pesta dan para pemabuk yang menenggak brandy setiap saat, Nahad menemukan setitik cahaya. Dia mulai menemukan semangat belajar. Dia membayangkan akan membawa banyak pengetahuan demi So’e, kampung halamannya.

Kisah Nahad di New Orleans adalah kisah perjuangan menghadapi keterbatasan. Jika saja dia menyerah, maka dia akan pulang dengan membawa cerita kegagalan. Namun dia punya tekad kuat untuk menentukan takdirnya di masa depan.

Setelah dua tahun lebih delapan bulan, dia pulang membawa keberhasilan. Kini, dia berada di So’e dan menghadapi dunia yang ingin diubahnya. Dia kembali berurusan dengan penyakit menular, dunia puskesmas, serta tantangan yang tidak mudah.

Tapi semangat baja yang ditempa di New Orleans itu menjadi kompas kehidupan baginya. Dia tetap menunjukkan determinasi dan kemampuan menemukan solusi di tengah masalah. Dia pun tak ingin meninggalkan So’e sebab itulah medan pengabdiannya.

Saat saya bertemu dengannya di So’e, wilayah yang sedingin Puncak di Bogor, Nahad dengan riang bercerita pengalamannya. Dia bercerita perjuangannya menyediakan fasilitas kesehatan bagi rakyat yang terpinggirkan.

Dia baru saja membangun 12 Puskesmas dengan fasilitas paling lengkap, mulai dari ruang rawat inap hingga perumahan dokter. Saya suka ceritanya tentang perjuangan membantu masyarakat nelayan yang tidak memiliki KTP sebab suka berpindah-pindah. "Pada saat itu, negara harus hadir membantu warganya," katanya.

Saya lebih banyak mendengar. Saya begitu kagum dengan dirinya. Saya melihat Nahad yang terus bertransformasi. Mulanya saya melihat dirinya di Jakarta sebagai seorang penerima beasiswa. Setelah itu dirinya datang ke luar negeri dengan membawa keterbatasan.

Kini dirinya menjadi sosok penuh ide-ide perubahan di kampung halamannya. Dia membawa kembang ilmu untuk menjadi persembahan bagi So’e, kampung halamannya.

Sambil mendengar dirinya bercerita, sayup-sayup saya mendengar lagu dari Louis Amstrong, penyanyi jazz bersuara serak di New Orleans:

"I see skies of blue and clouds of white
The bright blessed day, the dark sacred night
And I think to myself what a wonderful world"



Menonton "The Dude in Me"




Yang saya suka dari film Korea adalah ceritanya selalu sederhana, tapi dikemas dengan menarik. Film Korea selalu menyimpan kejutan di bagian akhir yang meninggalkan jejak di hati penonton. Film Korea suka menghadirkan ending yang menyengat.

Semalam saya menonton film berjudul “The Dude in Me” yang pernah tayang di bioskop kita pada bulan Februari 2019. Kisahnya sangat menghibur.

Cerita film ini tidak orisinil2 amat. Ceritanya mengingatkan saya pada dua film Korea yakni Luck Key, mengenai seorang gangster serta seorang anak remaja yang bertukar peran, dan film Miss Granny tentang seorang nenek yang kembali jadi muda lalu mengejar mimpinya. Saya juga ingat filmnya Stephen Chow berjudul Fight Back to School.

Ceritanya, seorang gangster kaya berdiri di dekat gedung tinggi. Dia kejatuhan seorang anak SMA yang berusaha mengambil sepatu di atas gedung. Gangster itu koma. Entah bagaimana ceritanya, dirinya terbangun dalam tubuh siswa SMA itu.

Cerita bergulir menarik. Siswa SMA itu dulu pecundang di sekolah dan sering di-bully, tiba2 jadi jagoan. Dia juga mengenal seorang anak perempuan yang sering di-bully. Ibu anak perempuan itu ternyata mantan pacarnya. Dia juga akhirnya tahu kalau anak perempuan itu adalah anak kandungnya sendiri.

Di pertengahan film saya sudah bisa menebak lanjutannya. Tapi saya tetap ikuti sebab kemasannya menarik. Menonton film ini serasa mengemut permen nano-nano, ada rasa manis, pahit, dan asam. Di film ini, ada unsur komedi, action, dan drama cinta. Ketiganya membentuk satu adonan film yang lezat.

Belakangan ini saya suka nonton film Korea yang tayang di TvN. Di mata saya, orang Korea memang pandai membuat film yang sederhana tapi asyik. Mereka bisa meramu bahan-bahan sehari-hari menjadi cerita yang renyah dikunyah, serta bikin kita terkenang-kenang.

Yang saya gak suka dari film The Dude in Me adalah tampang Jinyoung, personel B1A4, yang menurutku khas para boyband Korea. Terlalu cantik untuk peran macho. Aneh juga sebab kadang kalau lihat Jinyoung, saya serasa bercermin. Saking miripnya.



Mencari YUSUF di Istana WAPRES


tiga alumni Unhas berpose di acara halal bihalal IKA Unhas

Sabtu lalu, halal bihalal IKA Unhas diadakan di Kantor Wapres. Tapi tak semua yang datang berniat untuk halal bihalal. Banyak yang datang karena menyadari inilah kesempatan terakhir menghadiri halal bihalal bersama Jusuf Kalla di istana.

Banyak yang berpikir bahwa butuh waktu lama lagi melihat ada orang Bugis Makassar, atau orang Indonesia Timur, menjadi presiden ataupun wakil presiden. Setidaknya, dalam lima tahun ke depan, posisi wapres dijabat seorang kiai dari tanah Banten.

Saya pun ikut hadir demi merasakan momen penting itu. Jusuf Kalla memberikan pesan yang tak biasa. Bukan sekadar sambutan, tapi memberikan masukan strategi bagi anak muda di timur untuk bisa meniti karier sebagaimana dirinya.

Dia mulai dengan mengenang semua kariernya di pentas politik. Mulai dari menteri, menteri koordinator, hingga wakil presiden. Semuanya tak didapatkan dengan mudah. Fundasi dari semua posisi itu dibangunnya di daerah.

Dia memang memulai semuanya di daerah. Sejak kuliah, dia sudah memegang posisi penting di banyak organisasi. Mulai dari organisasi mahasiswa Bone, Senat Mahasiswa Ekonomi Unhas, hingga HMI Cabang Ujung Pandang.

Setelah itu, dia berkarier dari posisi karyawan hingga direktur utama. Meskipun itu perusahaan keluarga, dia memulainya dari nol. Dia bekerja keras hingga menjadi direktur utama. Dia pun memimpin banyak organisasi sosial.

Saat elite Jakarta mencari sosok inspiratif di daerah, namanya akan berada di baris paling atas. “Pesanku kepada kalian semua, mulailah dari daerah. Gabung di semua organisasi sosial. Bangun reputasi dan kompetensi. Yakinlah, orang Jakarta akan mencari kalian,” katanya.

BACA: Elegi Esok Makassar

Saya menyimak petuahnya. Dia bukan sekadar ikon Bugis Makassar di pentas politik nasional. Tapi dia juga wajah Indonesia timur, wilayah amat luas di tanah air, namun sering terabaikan karena penduduknya sedikit. Itu pun tersebar di banyak pulau kecil.

Saya memandang Jusuf Kalla yang sedang berpidato. Sekonyong-konyong, saya teringat tuturan Wahyudin Halim, seorang cendekiawan yang saya kagumi di Makassar. Dalam satu diskusi beberapa tahun silam, dia pernah mengutip ucapan raja bernama Arung Matoa Matinrowa Rikannana di abad 17 mengenai filosofi sulappa eppa atau empat nilai utama bagi lelaki Bugis Makassar.

Menurutnya, lelaki Bugis Makassar memiliki empat sifat paling utama. Pertama, to panrita atau bijaksana. Kedua, to warani atau berani. Ketiga, to acca atau pintar. Keempat, to sugi atau kaya raya.

Dalam sejarah, jarang ditemukan satu sosok yang punya semua kombinasi sifat unggul itu. Biasanya, masing-masing sifat ada pada satu orang. “Ada empat orang bernama Yusuf yang bisa menjadi representasi atau gambaran sifat itu,” kata Wahyudin. Siapakah?

Pertama, sifat to panrita atau bijaksana ada pada diri Syekh Yusuf al Makassari (1626-1699). Dia adalah ulama besar yang kemudian dibuang pemerintah kolonial ke Afrika Selatan. Dia menginspirasi Nelson Mandela, pejuang kemanusiaan terbesar di abad ini.

Kedua, sifat to warani atau berani bisa dilihat pada sosok Jenderal M Jusuf (1928-2004). Pria asal Kajuara, Bone, menjadi sosok penting di era Orde Baru. Dia seorang Panglima ABRI yang dikenal berani dan rela memasang badan untuk republik. Dia salah satu tokoh di balik lahirnya Supersemar.

Ketiga, to acca atau cerdas ada pada sosok Jusuf Habibie. Selama beberapa dekade dia menjadi menteri riset dan teknologi, setelah itu menjadi wapres. Terakhir jadi presiden. Memang, ayah Habibie dari Gorontalo. Ibunya pun dari Yogyakarta. Tapi dia lahir dan besar di Pare-pare, di tanah Bugis.

Keempat, to sugi atau orang kaya ada pada sosok Jusuf Kalla. Dia seorang pebisnis handal, aktivis organisasi, serta manajer hebat. Dia tipe praktisi, yang bisa menyerap hikmah dari pengalaman, kemudian diterapkannya dalam kerja-kerja.

Sejarah mencatat, empat Yusuf telah berkiprah di posisi penting. Kedepan, mesti ada sosok lain yang menggantikan mereka di berbagai posisi penting. Dia bisa bernama Yusuf, bisa bernama La Baco, bisa bernama La Mellong.

Yang pasti, dia punya jejak dan prestasi bagus sehingga kelak menjadi kembang-kembang yang selalu didatangi lebah, kemudian menghasilkan madu. Dia juga punya reputasi hebat sehingga kelak semesta akan melejitkan namanya. Siapakah Yusuf berikutnya? 

Sebagai penyaksi, kita akan segera menemukan jawabannya.



Undangan Ngopi di UNDP

Terhadap ajakan ngopi, saya tak pernah menolak. Apalagi jika yang ngajak seorang perempuan cantik. Lokasinya pun keren yakni kantor UNDP, di Menara Thamrin, Jakarta.

Maka datanglah saya. Ternyata UNDP berada di lantai yang sama dengan lembaga PBB lainnya. Penjagaannya super ketat. Ada pemeriksaan tas, melewati pemeriksaan sekuriti, hingga akhirnya menunggu di lantai tujuh.



Saya akhirnya bertemu Mareska Mantik, perempuan asal Manado yang lulus kuliah di Boston. Dia sudah lama bekerja di lembaga PBB, bahkan sudah beberapa kali tugas di negara lain. Saya mengenalnya sebagai sesama penerima beasiswa IFP. Dia mengajak saya untuk meeting dulu di lantai 9.

Kami rapat bertiga. Kami bahas pemberdayaan masyarakat dan pembangunan. Diskusi kemudian mengalir ke point utama yakni perbatasan Timor Leste. Saya baru tahu kalau ada wilayah Timor Leste yang berada di tengah2 daratan Indonesia. 

Dia bercerita tentang perempuan2 yang dulunya korban konflik, tapi kini menenun perdamaian. Saya membatin, andaikan diminta menulis tentang perempuan itu, saya akan sangat gembira. Saya suka menjelajah, suka bertemu orang2 dengan budaya berbeda, suka mencatat hal2 kecil di perjalanan.

Sedang asyik menyimak, dia bertanya:

"Apa kamu bersedia diajak ke Timor Leste?"
"Kapan?" tanyaku.
"Senin depan" katanya.
"Hah?"

Elegi Esok MAKASSAR


Sosok Karaeng Pattingalloang pada atlas Joan Blaeau tahun 1664

Di Makassar, orang-orang sedang bicara tentang pemilihan Walikota Makassar. Gemanya terasa hingga ke mana-mana. Semilir anging mammiri telah membawa perbincangan itu hingga ke banyak sudut kota Jakarta, khususnya di warkop yang sering didatangi orang Makassar.

Saya percaya Makassar adalah mercu suar yang memberi cahaya bagi daerah-daerah sekitarnya. Sejak dulu, kota ini adalah pusat dagang, sekaligus pusat pengetahuan. Makassar ibarat kakak yang menuntun banyak adiknya di timur untuk berlari mengejar kemajuan.

Pada pilkada lalu, publik tanah air terkejut. Seorang calon walikota, yang merupakan keluarga dari salah satu grup bisnis paling kuat, bisa kalah melawan kotak kosong. Ini sejarah menarik. Bahwa jaringan besar serta kuat dan ternama bisa kalah melawan kotak kosong. Tentu ada banyak cerita di balik itu yang hanya bisa diketahui oleh orang Makassar sendiri.

Pilkada akan kembali digelar tahun depan. Banyak orang sudah mendeklarasikan diri sebagai calon. Beberapa orang disebut-sebut mewakili klan atau keluarga tertentu. Seorang kawan menyebut dana miliaran yang siap digelontorkan beberapa orang.

Tadinya saya agak malas untuk tahu banyak hal tentang perhelatan politik di sana. Namun keseringan ke warung kopi untuk mencari partner tanding domino lambat laun membuat saya ikut mendengar diskusi alot tentang peta politik di sana. 

Semalam, saat tengah asyik-asyiknya main domino, seorang calon walikota datang ke warkop. Dia bercerita tentang rencana-rencananya yang ingin membenahi Makassar. Tapi ditanya secara detail apa yang mau dibenahi, jawabannya ngambang. Dia sendiri belum tahu hendak mulai dari mana.

Satu hal yang selalu mengganjal saya dalam berbagai diskusi informal itu adalah hilangnya ide-ide besar ke mana wilayah itu hendak dibawa. Saya belum menemukan satu gagasan besar apa yang hendak diterapkan. Kebanyakan hanya masuk pada isu-isu populis yang menurut saya justru tidak menarik.

Harus diakui, Makassar kian besar. Tapi juga kian semrawut. Dulu, melintas dari PLTU Tello menuju kawasan Tamalanrea hingga Daya serasa melalui jalan tol bebas hambatan yang mulus dan sepi. Kiri kanan hanya rawa dan alang-alang. Kini, jalanan itu laksana pasar yang tumpah. Kiri kanan adalah ruko dan mal, juga pedagang yang berhamburan.

Di saat sibuk, Jalan Pettarani, Mappanyukki, dan Hertasning akan macet parah dengan kadar yang lebih tinggi dari kemacetan di Jakarta. Makassar penuh dengan ruko dan perbelanjaan yang mengepung, serta jalan-jalan sempit. Kota ini tak lagi punya banyak pohon-pohon hijau yang bisa membuat kita sejenak tersenyum dan menikmati pemandangan.

Yang lebih terasa hilang adalah ide-ide besar ke mana kota ini hendak dilayarkan. Di abad ke-17, Makassar adalah kota dunia yang menjadi rujukan bagi pengembangan sains, bisnis, dan tata kota. 

Sejarawan Anthony Reid mencatat, Makassar sebagai kota paling ambisius dalam sains. Dahulu, transliterasi atas buku-buku berbahasa asing paling banyak terjadi di sini. Kitab pembuatan mesiu dari Andreas Moyona diterjemahkan ke dalam bahasa Makassar. Satu dari tiga teleskop Galileo Galilei didatangkan ke Makassar dan disimpan di Maccini Sombala (tempat melihat bintang).

Pada satu masa, Makassar menyimpan banyak kisah heroik dan keberanian, juga kecintaan pada ilmu pengetahuan, serta peradaban yang menjadi matahari di Nusantara. Sombaopu dulu adalah bandar paling sibuk di mana smeua bangsa pernah berniaga sebab menganut konsep mare liberum, kebebasan di laut. 

Sultan Alauddin, Raja Gowa yang memimpin Makassar itu, punya kalimat yang masyhur: “Tuhan menciptakan bumi dan lautan. Tanah dibagi-bagikan di antara manusia, tetapi samudra diperuntukkan bagi semuanya. Tak pernah terdengar bahwa pelayaran di lautan dilarang bagi seseorang, atau bagi satu kaum”

Tapi hari ini, level para calon pemimpin di Kota Makassar adalah hanya ingin membenahi kesemrawutan kota, mengatasi banjir, sembari beramah-ramah dan tersenyum manja pada para pengembang dan pebisnis kakap yang telah merenggut kenikmatan melihat matahari senja di Pantai Losari.

Jangankan merengkuh dunia dan langit, Makassar sudah lama menjadi bola yang digelindingkan para kapitalis, mulai dari yang merampas nikmat senja di Losari, merenggut Karebosi dari warga, menutup akses nelayan Mariso dari lautan, merampas sawah-sawah dan suara burung di Hertasning Baru, hingga memaksa publik untuk melihat kesemrawutan baliho dan kekacauan visual di jalan-jalan.

Saat membayangkan tengah berjalan-jalan di Makassar, saya terkenang dengan esai dari Ishak Ngeljaratan, seorang guru di sana, mengenai ada banyak hal yang hilang di tengah kita. Di antaranya adalah senyum ramah, keteduhan kota, dan juga nutrisi jiwa. 

Ishak benar. Ada banyak hal yang hilang.



Kisah Orang Super Kaya




Dalam satu konferensi berlatar ilmu sosial, saya pernah berkomentar mengapa kita selalu mengkaji orang-orang biasa yang marginal dan selalu menjadi obyek kebijakan? Mengapa kita sesekali tidak membahas orang-orang super kaya, militer yang jadi beking, serta pejabat negara yang melahirkan kebijakan itu?

Saat itu, konferensi membahas topik-topik seperti penggusuran, marginalisasi, kemiskinan, serta penyingkiran masyarakat adat dari lahan-lahan tambang. Para ilmuwan di konferensi itu seakan bersepakat kalau semuanya bermuara pada hasrat atas uang, serta kongkalikong pejabat, pengusaha kaya, dan militer. 

Tapi, saat itu, saya tak melihat ada satu kajian yang khusus membahas bagaimana etnografi orang-orang super kaya, bagaimana mereka membangun relasi dengan pejabat, apa nilai-nilai yang diyakini, serta bagaimana mereka melihat manusia lainnya. 

Bagi peneliti sosial, problemnya adalah akses pada orang marginal jauh lebih mudah. Menembus orang super kaya sulitnya bukan main. Anda harus melalui barisan sekuriti, staf, karyawan, hingga sekretaris yang menyusun jadwal. Anda harus bisa melalui anjing penjaga, yang mungkin anda anggap najis.

Padahal, sebagaimana halnya masyarakat marginal, kehidupan orang kaya adalah area misterius yang tak diketahui orang. Mereka memang sering mendapat publisitas. Tapi hanya pada sisi kesuksesan dan ekspansi yang mereka lakukan. 

Tak banyak yang bercerita tentang siapa mereka, seperti apa kepahitan hidup mereka, bagaimana mereka memulai karier dari nol, bagaimana mereka mendaki tangga-tangga kehidupan. Tak ada cerita bagaimana mereka menghabiskan waktu setiap hari, apakah memantau karyawan, ataukah sibuk cari arena bisnis yang baru.

Saat ini saya membaca dua buku mengenai dua orang super kaya Indonesia, yakni Ciputra dan Dato’ Sri Tahir. Kedua buku ini ditulis oleh Alberthiene Endah. Saya tertarik membaca titik balik atau the turning point, bagaimana tokoh ini yang tadinya orang biasa menjadi sosok luar biasa.

Saya baru menghabiskan satu buku, yakni mengenai Ciputra. Ceritanya menarik. Dia terlahir dengan nama Tjien Hoan di Parigi, Sulawesi Tengah. Bapaknya hanya pedagang kelontong yang kemudian ditangkap polisi Jepang dan tewas di tahanan. 

Dia menjalani masa kecil dengan trauma. Dia lalu bersekolah di Gorontalo, kemudian Manado. Dia malah pernah jadi atlet lomba lari yang mewakili Sulawesi Utara di ajang PON di Jakarta.

Kariernya bermula ketika dirinya lulus ITB. Dia membuka jasa konsultan arsitektur di garasi rumah. Sayang, bisnis itu jalan di tempat. Dia hanya dapat proyek kecil2. Dia tetap miskin. Itupun harus bersaing dengan mandor yang tidak belajar arsitektur. Di zaman itu, orang mengira untuk bangun rumah tak perlu arsitek. Cukup mandor.

Titik balik hidupnya bermula saat pindah ke Jakarta. Dia setiap hari mencari jalan untuk bertemu Gubernur DKI, Soemarno. Hingga suatu saat dia berhasil bertemu, kemudian ditantang untuk menata ulang kawasan Senen. 

Tantangan itu diterimanya. Dia sukses memimpin satu tim besar untuk menata ulang Senen, setelah sebelumnya banyak menggusur warga. Proyek Senen menjadi proyek monumental yang melejitkan namanya.

Dia lalu menjawab tantangan lain. Dia membenahi kawasan rawa-rawa di Ancol menjadi taman hiburan kelas dunia. Setelah itu dia membangun banyak perumahan dan gedung-gedung tinggi di Jalan Sudirman dan Thamrin. 

Dia juga membangun kota mandiri yakni Bintaro, kemudian kawasan Pondok Indah, yang dulu namanya Pondok Pinang. Dia juga membangun Bumi Serpong Damai (BSD) bersama Liem Sio Liong. Bahkan dia masuk negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Kesan saya adalah dirinya sosok yang tak pernah berhenti ketika sudah memulai. Masa lalunya yang miskin menjadi pelecut baginya untuk berbuat lebih. Kekuatannya adalah bisa membangun aliansi dengan pejabat pemerintah, berkoalisi dengan pengusaha lainnya, juga kemampuan mengendus mana yang bisa jadi ladang uang.

Sayang, tak ada cerita mengenai bagaimana caranya mengelola hubungan dengan pemerintah. Saya tak percaya jika hubungan itu hanya atas dasar profesionalitas. Saya rasa ada banyak permainan dan sisi gelap yang tak dibahas di sini, termasuk apa yang ditawarkannya hingga mendapat semua konsesi besar di atas tanah negara, yang berujung pada peminggiran masyarakat.

Saya mungkin berharap banyak pada buku ini. Padahal ini bukan buku tentang ekonomi politik, juga bukan riset sosial dengan perspektif kritis. Tapi setidaknya, saya bisa tahu filosofi hidupnya, motivasi serta kehebatannya dalam mengendus mana lahan yang bisa jadi uang. Saya bisa merasakan ambisi serta hasrat untuk sekaya-kayanya dan semakmur-makmurnya.

Seusai membaca buku ini, saya teringat artikel mengenai Chairil Anwar yang dahulu sering mangkal di Senen. Saya bayangkan betapa banyak manusia yang hilir-mudik dan lalu lalang di situ., mulai dari seniman hingga buaya darat. Tapi sejak Ciputra mengambil alih Senen, segala hal berubah di sana. 

Inilah harga kemajuan. Banyak yang tercerai-berai, tapi banyak yang datang dan menjadi tatanan baru. Pada kisah Ciputra, kita bisa merasakan bagaimana kota terus berevolusi di tengah dengus napas masyarakat kota yang selalu tak puas. 

Entah, apa kita sepakat atau tidak dengan perkembangan itu.