Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Membaca Steven Pinker




Lama menunggu, akhirnya saya bisa menimang buku Enlightement Now yang ditulis Steven Pinker. Buku ini terbilang baru. Di Amrik, buku yang ditulis profesor bidang psikologi evolusioner dari Harvard ini terbit tahun 2018 lalu.

Saya makin penasaran untuk membaca buku ini setelah membaca review yang dibuat Bill Gates. Beliau memang rajin membuat resensi buku-buku baru dan merekomendasikannya. Berkat rekomendasi Bill Gates, saya hunting beberapa buku bagus. Di antaranya buku2 yang ditulis Yuval Noah Harari.

Bill Gates menyebut buku ini sebagai buku favoritnya sepanjang masa. Seingat saya, di Indonesia, yang pernah meresensi buku Steven Pinker ini baru Rizal Mallarangeng. Harus saya akui, Rizal terbilang rajin membaca dan meresensi buku.

Berkat penerbit Globalindo yang beralamat di Kota Manado, buku Steven Pinker bisa dimiliki. Hebatnya, penerjemah buku ini adalah Haz Algebra, anak muda yang menempa diri di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Manado. Dia pula yang menerjemahkan buku Yuval Noah Harari berjudul 21 lessons for 21st century.

Salut buat Haz yang menerjemahkan buku setebal 700 halaman dalam bahasa Indonesia. Kalau bukan karena kecintaan pada ilmu pengetahuan, tak mungkin dia punya energi untuk menerjemahkan buku2 sebagus ini.


Inspirasi JACK MA




Inspirasi bisa datang dari satu kejadian tak terduga. Isaac Newton menemukan ide tentang gravitasi ketika ada apel yang jatuh di depannya. Sebelum Archimedes berteriak “eureka” sebagai tanda menemukan satu ide, dia baru saja masuk ke dalam bak mandi.

Pebisnis terkaya asal Cina, Jack Ma, menemukan nama Alibaba saat berbincang dengan pramugari di pesawat. “Apa kamu tahu tentang Alibaba” tanya Jack Ma. Pramugari itu menjawab Alibaba adalah anak muda dalam kisah 1001 malam yang berhasil mengalahkan 40 penyamun.

Jack Ma merasa ada cahaya yang menyala di kepalanya. Dia memutuskan untuk memakai nama Alibaba sebagai nama bagi e-commerce yang sedang dikembangkannya. 

Orang-orang tidak mengetahui bahwa ada pesan penting yang hendak disampaikan Jack Ma. Dalam buku mengenai Jack Ma, yang saya beli dengan harga murah di Big Bad Wolf, saya menemukan kisah lain. 

Saat Jack Ma mendirikan startup, dia harus berhadapan dengan raksasa Ebay yang berasal dari Amerika Serikat.

Saya menduga, dia berpikir kalau Ebay serupa para penyamun yang merampok harta-harta milik orang Cina lalu menimbunnya di gua. Mungkin saja dia berasumsi kalau Alibaba akan mengambil harta karun itu dari para penyamun Ebay. 

Dia ingin mengalahkan perusahaan Amerika itu, tapi bukan dengan cara menyalahkan pemerintahnya. Bukan juga dengan cara sibuk memaki-maki Amerika. Dia ingin menang dalam satu pertarungan yang fair di arena yang disebut pasar.

Strategi yang disusun Jack Ma terbilang mengesankan. Ebay membuat web dengan tampilan universal dan serba minimalis. Web Ebay terlihat elegan dan rapi, sebagaimana Google. Jack Ma tahu kalau orang Cina suka tampilan yang ‘busy’ atau ramai. Orang Cina suka web yang penuh warna-warni dan padat, sebagaimana reklame di pasar-pasar Shanghai. 

Jack Ma membangun web yang sesuai dengan kepribadian orang Cina yang suka ramai dan warna-warni itu. Di Ebay, hanya ada dua kategori yakni “buyers”dan “sellers.” Ini adalah platform global. Maka di web buatan Jack Ma, kategori yang muncul adalah laki-laki dan perempuan. Dia tahu kalau orang Cina merasa nyaman belanja di kamar-kamar yang dibedakan menurut jenis kelamin.

Saya suka cara Jack Ma menggambarkan Ebay sebagai “hiu di lautan.” Dia berkata dengan penuh optimisme: “Ebay maybe a shark in the ocean, but I am a crocodile in the Yangzi river. If we fight in the ocean, we lose. But if we fight in the river, we win.” Ebay mungkin serupa hiu di lautan, tapi saya adalah buaya di Sungai Yangzi. Jika kami bertarung di lautan, saya kalah, Tapi jika kami bertarung di sungai, saya menang.

Semua tahu akhir pertarungan itu. Tahun 2007, Ebay hengkang dari Cina karena babak belur dihantam Alibaba. Keajaiban tak berhenti di situ. Jack Ma mengakuisisi Yahoo. Dia lalu membuka kantor besar di Silicon Valley. Alibaba lebih besar dari Facebook dan Amazon. Dia juga dinobatkan sebagai orang terkaya di Cina. 

Saya cukup senang membaca kisah Jack Ma ini. Saya suka membaca cerita tentang orang yang memulai kariernya dari nol. Teralhir dari keluarga miskin, Jack Ma terbiasa dengan segala penderitaan. Bahkan dia pernah melamar kerja hingga 30 kali ke berbagai perusahaan. Dia pun tabah menjalani profesi sebagai guru bahasa Inggris selama enam tahun.

Di waktu senggang, dia membaca berbagai cerita kungfu. Ketika dirinya kaya, dia membuat film pendek tentang dirinya yang bertarung dengan para aktor film kungfu yakni Jet Lee dan Donny Yen. 

Saya suka filosofinya tentang uang. Menurutnya, masa terbaik dalam hidupnya adalah ketika masih miskin. Sebab saat itu, dirinya penuh semangat dan motivasi untuk kerja keras. Ketika seseorang mulai kaya, maka berbagai tekanan akan datang. Masalah bermunculan. Tapi, kata Jack Ma, orang kaya akan selalu diperhatikan. 

“Ketika kamu miskin, belum sukses, semua kata-kata bijakmu terdengar seperti kentut. Tapi ketika kamu kaya dan sukses, kentutmu terdengar sangat bijak ...

Hahaha. Rasanya ingin memaki. Sialan lu!

Membaca MARKETING 4.0




Dulu, saya nyaris tak pernah membaca buku bertemakan marketing atau pemasaran. Suatu hari saya tergoda membaca buku Marketing Wow yang ditulis Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya. Saya terkesima dengan cara Kartajaya membahas satu topik.

Dia mulai dari cerita mengenai satu fenomena dan studi kasus. Setelah itu dia mulai menjelaskan mengapa begini dan mengapa begitu. Dia perbanyak contoh-contoh yang bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara demikian, penjelasannya membumi dan juga renyah.

Buku Marketing Wow juga mengejutkan saya. Pemasaran bergerak ke arah sesuatu yang humanis. Jadi lebih antropologis. Bukan lagi menjual produk, tapi bagaimana membangun relasi dan jejaring dengan orang banyak. Demi membangun relasi itu, Anda harus jadi orang baik yang menawarkan ketulusan dan keikhlasan.

Makanya, ketika membaca Hermawan Kartajaya menulis buku Marketing 4.0 bersama mahaguru pemasaran Philip Kottler, saya tak sabar untuk membacanya. Buku itu terbit dalam bahasa Inggris, namun telah diterjemahkan ke dalam 26 bahasa. Sayang, saya tidak sempat mendapatkannya.

Ketika singgah ke toko buku, saya melihat buku itu telah diterjemahkan. Langsung saya membelinya. Saya membacanya hanya dalam waktu sehari. Namun selama beberapa hari, saya membawa buku itu. Ada banyak pelajaran yang saya temukan.

Di antaranya, pemasaran telah bergeser dari eksklusif ke inklusif. Produk yang bagus, tadinya eksklusif dan hanya milik satu kalangan, kini menjadi inklusif. Bisnis juga bergerak dari vertikal ke horizontal. Globalisasi dan internet telah mengubah lanskap menjadi lebih sejajar. Tak ada lagi pemain kuat sebab perlahan digerogoti banyak pemain kecil yang lebih gesit di pasar.

Yang menarik, para pelanggan tidak lagi hanya mendengar iklan televisi. Bahkan pendapat pakar juga ditinggalkan. Pelanggan lebih mendengar 4F yakni friends (teman), families (keluarga), Facebook Fans, dan Follower (pengikut) Twitter. 

Hal ini sudah dijelaskan Kottler & Hermawan dalam buku Marketing 3.0. Menurutnya, ketika orang menyukai satu produk, maka dia akan merekomendasikannya di media sosial. Orang lain pun mudah terpengaruh ketika ada yang membagikan informasi di media sosial. 

Nah, dalam Marketing 4.0, saya mendapat penjelasan detail tentang sinergi antara online dan offline. Dua aspek ini harus saling sinergi dan melengkapi. Dalam ekonomi digital, interaksi digital saja tidak cukup. Sentuhan offline tetap penting. 

Perubahan ini dipengaruhi kehadiran kaum muda (youth) yang ingin mewarnai dunia dengan caranya, para perempuan (women) yang punya otoritas untuk belanja, juga para netizen yang aktif berkomunikasi dan berbagi.

Bagian favorit saya adalah bagian yang membahas bagaimana menyusun konten, membuat tagar, tagline, dan langkah-langkah memasarkan konten. Membaca bagian ini, saya bisa memahami cara kerja para politisi dan tim sukses capres memasarkan kandidatnya. Ada yang terencana, ada pula yang tidak. 

Secara umum, Marketing 4.0 adalah peta untuk memenangkan bisnis di era digital, yang tetap berpatokan pada strategi bagaimana memahami perilaku manusia dengan sebaik-baiknya. 

Recommended!

Berhaji di Tanah Bugis




Embun masih basah saat saya tiba di pelataran parkir Bandara Sultan Hasanuddin. Ratusan orang menyemut di pintu keberangkatan. Di sana-sini, saya melihat orang berpelukan dan bertangisan. Rupanya, hari ini banyak yang hendak berangkat umroh.

Bagi orang Bugis Makassar, momen keberangkatan ke Tanah Suci adalah momen yang mengharukan. Ada semacam rasa galau kalau-kalau mereka yang berangkat tidak akan kembali lagi. 

Tidak mengejutkan, jika warga sekampung akan mengantar ke bandara demi mengucap selamat jalan, juga tangis haru saat melihat keluarga bergegas berangkat. Semuanya berharap agar mereka yang berangkat haji itu bisa kembali dengan selamat. Untuk itu, mereka bertangisan.

Saya tidak paham sejak kapan tradisi bertangis-tangisan ini dimulai. Namun, saya pernah membaca buku yang ditulis Henri Chambert Loir berjudul Naik Haji di Masa Silam. Di situ, dijelaskan kalau pada tahun 1800-an, mereka yang berhaji butuh waktu tempuh perjalanan hingga enam bulan dengan menggunakan kapal laut. 

Jalur laut menjadi satu-satunya pilihan sebab jalur pesawat dibuka nanti tahun 1952. Masih dalam catatan Henri, perjalanan itu terasa berat bagi jamaah. Mereka menumpang kapal kargo yang memuat barang. Semua jamaah berdesak-desakan sehingga melebihi kapasitas kapal. 

Ketika badai menyerang, maka ratusan penumpang bisa tewas karena barang-barang berjatuhan. Belum lagi makanan tidak terjamin, serta tidak adanya petugas kesehatan. Ada lagi wabah kolera yang setiap saat bisa menyerang. Bahkan setiba di tanah Arab, keadaan tetap sulit bagi mereka hingga akhirnya tiba di tanah air.

Berhaji di masa lalu mesti menyiapkan fisik agar tangguh menempuh perjalanan jauh dan tantangan yang akan menghadang. 

Namun, selalu ada sisi positif. Mereka yang berhaji di masa lalu adalah mereka yang siap memperdalam ilmu agamanya. Berhaji adalah ritual penyempurna bagi santri dan orang biasa yang belajar agama. 

Sepanjang perjalanan di kapal layar, mereka akan belajar, mengkaji agama, lalu berdiskusi,. Demikian pula ketika kembali dari Mekkah. Mereka akan berpengetahuan sebagaimana orang yang baru usai belajar agama di level doktoral. 

Mungkin ini pula yang menjelaskan mengapa orang Bugis-Makassar yang hendak berhaji akan diantar seluruh keluarga saat di bandara. Momen melepas haji itu adalah momen penuh mengharukan sebab mereka akan saling bertangisan seolah-olah akan lama tidak bertemu, atau malah tidak bertemu lagi. 

Zaman memang bergeser. Di bandara itu orang bertangis-tangisan seakan tidak bertemu lagi. Tradisi ini masih bertahan. Padahal mereka yang berhaji di masa kini akan men-tag lokasi di mana pun berada. Di setiap persinggahan pesawat, mereka akan melakukan panggilan video call dengan mereka di kampung halaman.

Pernah, saya melihat seorang kawan yang memosting dirinya berdoa dalam keadaan menangis di depan Ka’bah. Aneh saja melihat foto dirinya berdoa sambil menangis. Tangan kiri menyeka air mata, tapi tangan satunya memegang hape kamera lalu selfie.

Anda yang berhaji di masa kini akan menemui tantangan baru. Apakah memilih ingin merasakan indahnya gelora spiritualitas di tanah suci dalam diam, sebab sebagaimana kata seorang sufi, biarlah itu menjadi rahasia antara anda dan Dia. Ataukah memilih untuk mengabadikan setiap momen agar orang-orang tahu kalau Anda cukup kaya dan mampu ke Baitullah.

Di ruang tunggu bandara, saya hanya bisa cemburu sembari berharap kelak akan menempuh perjalanan serupa.

Di atas sana, Dia sedang menyaksikan.


Undangan dari Kampus Unhas




Sejak lulus kuliah, saya lama tidak menginjakkan kaki di kampus Universitas Hasanuddin. Kalaupun singgah, biasanya hanya sejenak untuk ngopi2 dengan para sahabat. Ketika ada undangan dari pihak Unhas untuk bicara2, saya tak mungkin menolak. 

Tak mungkin saya mengabaikan undangan dari kampus yang selama sekian tahun jadi ruang belajar dan menempa diri. Tapi melihat pembicara lain yang keren2, rasanya ingin kabur. Saya coba menghibur diri. Bahwa tak semua mahasiswa ingin dengar presentasi yang hebat2. 

Bisa jadi para mahasiwa kangen melihat aksi penjual obat di Lapangan Karebosi. Bisa jadi, ada yang ingin diskusi tentang kucing. Tapi dugaan saya, banyak yang ingin lanjut diskusi tentang mantra. Yuk...

Makan Malam Bersama Mafia Ohio



Di hari nyepi, Jakarta ikut sepi. Jalan-jalan terasa lengang. Datanglah saya ke Pinang Bistro Oakwood, untuk mengikuti pertemuan dengan para alumnus Ohio University at Athens, USA. Para alumnus menamakan dirinya Mafia Ohio.

Ceritanya, para alumnus datang untuk menyambut kedatangan Prof Gene Ammarell, antropolog penulis buku Navigasi Bugis, yang berencana ke Makassar untuk menjadi visiting professor di Unhas.

Saya ikut menyambut guru yang pernah mengajari banyak hal terkait riset etnografis. Saya pun senang bertemu teman dan sahabat dekat. Beberapa di antaranya adalah mantan roommate yang kini udah semakin hebat. Sayang, saya tak bertemu Prof Syafii Maarif dan Dr Salim Said di situ. Biasanya mereka datang.

Saya tidak paham sejak kapan sebutan Mafia Ohio. Seingat saya, dulu hanya ada sebutan Mafia Berkley, sebutan untuk para ekonom alumnus kampus di LA. Belakangan istilah Mafia Ohio muncul pula. Mungkin semacam olok2 saja. Mereka tersebar di mana2 dan bekerja di berbagai bidang.

Terbanyak dari mereka bekerja sebagai akademisi dan peneliti, baik yang berkarier di dalam negeri, ataupun luar negeri. Setelah itu banyak aktivis NGO, serta periset di lembaga internasional.

Namun, tak semua bekerja di bidang itu. Seorang kawan kini menekuni profesi sebagai barista atau peracik kopi. Tentu saja, profesi paling keren di ruangan itu adalah pelatih kucing, profesi langka yang tidak ditekuni satupun mafia Ohio.

Di Pinang Bistro, saya bergabung dalam suasana penuh ceria dan bersahabat. Di luar sana, saya lihat jalanan nampak sepi. Tak seperti biasanya.

Prediksi Akurat Siapa Kalah Menang di Pilpres




Wajah kawan itu langsung berubah. Di layar kaca, satu lembaga survei berreputasi telah mengeluarkan publikasi. Dia tak percaya, sosok yang dijagokannya, yang sudah dibela dalam semua debat dan tengkar di media sosial selama setahun terakhir diprediksi akan kalah.

Baginya, pilpres ini bukan sekadar memilih sosok pemimpin. Baginya, pilpres ini adalah isu dunia akhirat. Dia sangat percaya bahwa naiknya figur itu akan membuat Indonesia semakin terpuruk dan tertinggal jauh. Dia memelihara imaji kalau figurnya akan membawa Indonesia ke era paling hebat. Bukan sekadar macan, tapi gabungan antara semua hewan perkasa.

Figur seperti dirinya tidak sendirian. Ada begitu banyak orang yang percaya bahwa pilpres ini adalah ajang paling penting. Setiap hari kita menyaksikan media sosial yang dipenuhi perdebatan.

Tapi, pernahkah kita berpikir bahwa sebenarnya hasil pilpres sudah bisa ditebak? Memang, pilpres masih sebulan lebih. Banyak lembaga survei sudah memprediksi hasilnya. Para anggota tim pemenangan masih menghibur diri bahwa sehari sebelum hari H, peluang masih tetap ada.

Kita sudah bisa memprediksinya dari sekarang. Tak perlu mengandalkan big data dan analisis dari berbagai mesin cerdas. Kita sudah bisa memprediksi dengan akurat siapa pemenang dan siapa yang akan gigit jari. Siapa yang akan memang? Siapa yang akan kalah?

Nah, kita akan mulai dulu dari pihak yang kalah. Siapakah gerangan?

Pertama, Jokowi dan Prabowo. Keduanya memang menjadi kontestan pilpres. Di atas kertas, satu di antaranya adalah pemenang dan satunya lagi kalah. Tapi jika dilihat dari sisi personal, dua sosok ini adalah manusia Indonesia yang menjadi sasaran empuk dari semua propaganda dan hoaks.

Masa lalu dan hal pribadi keduanya dibuka dengan telanjang oleh publik. Wajahnya dijadikan meme dan olok-olok untuk menjelekkan pihak lain. Bahkan kalimat keduanya dipotong-potong lalu disebarkan ke mana-mana disertai berbagai analisis yang seolah hebat.

Jokowi dan Prabowo adalah korban dari pemilihan di era digital yang membuat semua orang bisa mereproduksi berbagai jenis konten. Keduanya muncul dalam semua percakapan dari masyarakat yang telah terpapar berbagai fitnah, kabar bohong, hingga hasutan.

Kedua, masyarakat sipil. Sejak lima tahun lalu, masyarakat kita sudah lama terbagi dalam dua kubu yang kian mengental. Dua kubu ini tidak berkomunikasi sebab memang tidak saling mendengarkan.

Ada banyak silaturahmi yang kemudian buyar hanya karena perbedaan politik. Banyak event penuh gembira yang berubah hanya karena perbedaan sikap politik. Politik tidak lagi mendekatkan. Politik menjadi ajang yang mencerai-beraikan dunia sosial kita.

Entah, siapa yang memulainya, tiba-tiba saja orang mengindentifikasi diri dalam kubu yang memakai nama hewan, kemudian bertarung secara brutal di banyak debat. Warisan dari pilpres ini adalah masyarakat yang kian sakit dan kehilangan akal sehat.
Biarpun semuanya mengklaim sebagai pemilik akal sehat, faktanya masing-masing pihak sibuk saling menyalahkan. Pilpres ini menyisakan pekerjaan besar buat masyarakat kita untuk membangun ulang kohesivitas dan semen perekat semua kubu yang kian menjauh.

Ketiga, umat Islam. Sejak pilkada DKI Jakarta, umat Islam sudah mengalami situasi yang juga terbelah. Di semua kubu, para ulama mengeluarkan berbagai dalil, teks, dan argumentasi yang menguatkan kebenaran kelompoknya.

Nama Tuhan disebut dalam doa yang dilafazkan dengan kalimat bergetar sembari menuding kelompok lain sebagai kafir. Umat Islam menjadi sasaran dari berbagai kampanye yang memakai isu agama. Banyak orang alim yang kian jauh dari kalimat mencerdaskan.

Demi politik, mimbar khotbah dan suara ulama berubah menjadi ajang propaganda. Semuanya lupa untuk mengawal isu-isu substansial terkait pemberdayaan umat dan bangsa. Semuanya larut dalam aksi saling serang dengan menggunakan ayat-ayat Tuhan.

Semuanya lupa untuk menjadikan Islam sebagai penarik gerbong kemajuan bangsa dan menjadi mat air nilai di tengah hidup yang kian krisis keteladanan.

***

Nah, siapa yang menang dari pilpres penuh drama dan tengkar ini? Kita bisa melihat kemenangan pada beberapa pihak, apa pun hasil pilpres.

Pertama, politisi. Apa pun hasilnya, politisi akan selalu menjadi pemenang. Berkat pertengkaran dan saling nyinyir itu, suara partai akan meningkat. Ketika suara meningkat, maka makin banyak petugas partai masuk parlemen. Makin besar pula akses pada jatah kekuasaan.

Tangga menuju kekuasaan memang berat. Tapi politisi bisa melakukannya tanpa perlu banyak berdarah-darah. Mereka cukup menunggangi para petarung jalanan dan para laskar media sosial yang tanpa sadar kalau telah menjadi pihak yang dimainkan dalam perjalanan ke kursi kekuasaan. Setelah capresnya menang, para politisi akan pesta pora.

Kursi pejabat, duta besar, hingga komisaris BUMN akan dibagi-bagikan. Semua gerbong akan mengajukan nama calon menteri dan pejabat. Setelah pesta usai, tinggallah rakyat jelata yang mengais-ngais harapan kalau-kalau ada kebijakan yang berpihak buat mereka.

Kedua, pebisnis. Para pebisnis dan pengusaha besar akan selalu menjadi pemenang dari semua proses politik. Mereka boleh saja menghabiskan uang untuk membantu satu kubu. Tapi ketika dilihatnya kubu lain menguat, maka dengan segera semua finansial dan logistik akan dipindahkan.

Bagi para pebisnis, hanya ada satu skenario yakni kemenangan. Mereka masih berpatokan pada pepatah Inggris yakni “Don’t put your eggs in one basket.” Jangan menaruh telur-telurmu dalam satu keranjang. Maksudnya, jangan menaruh semua risiko mengenai dirimu pada satu pihak.

Pandai-pandai melihat peluang. Sebab pergantian rezim bisa membuat akses bisnis terganggu. Ketika rezim yang didukung menang, maka peta bisnis terbuka lebar. Anda bisa leluasa mengatur siapa yang menang tender jalan, bandara, hingga penyediaan komoditas. Ketika Anda menang, maka bisnis akan makin jaya.

Ketiga, para planner, perencana, tim survei, jasa konsultan, hingga para akademisi bajakan. Istilah Planner saya kutip dari penjelasan Manuel Castells dalam buku Communication Power sebagai sekelompok orang yang mendesain semua proses politik untuk memenangkan kelompoknya.

Bagi kelompok ini, pilpres adalah ajang untuk menaikkan reputasi. Mereka bekerja pada satu kubu untuk melatih para prajurit perang, menyiapkan syair pertempuran serta peta jalan dan skenario tempur.

Mereka menjadikan capres dan politisi sebagai boneka yang dikendalikan untuk memenangkan perang. Ketika timnya menang, maka reputasinya akan semakin naik. Setelah pileg dan pilpres, ada banyak pilkada yang harus dimenangkan. Tak cuma sebagai tim, mereka bisa masuk untuk menguasai saham di perusahaan daerah, hingga menarik rente dari banyak kebijakan politik.

***

Lantas, kita rakyat jelata dapat apa? Yang kita dapat hanya harapan. Bahwa siapa pun yang menang akan bisa mewujudkan pelayanan publik yang lebih ramah kepada rakyat biasa. Bahwa siapa pun yang naik akan bisa membuka ruang dan akses yang sama kepada siapa pun anak bangsa terbaik yang ingin bekerja untuk rakyat.

Apa mungkin harapan itu akan terwujud melihat kontestasi ini telah menelan begitu banyak biaya dari para pemilik armada perang hingga dunia sosial kita yang kian tercabik-cabik karena hilangnya silaturahmi dan akal sehat di antara kita?

Tampaknya, PR kita kian banyak. Makin sulit pula. Khususnya bagaimana membangun kembali masyarakat yang kuat di tengah puing-puing reruntuhan konflik di pilpres ini.



Mantra Pemikat Tanah Mandar (Ekspedisi Sulbar 3)




Di lepas Pantai Majene, saya bertemu gadis itu. Dia bukanlah gadis Mandar yang sedang menunggu kekasihnya di tepi laut, sebagaimana dikisahkan penyair asal Madura, D Zawawi Imron. Dia datang ke situ untuk rekreasi bersama sejumlah rekannya. Saat kami bertemu pandang, ada semacam getaran listrik yang menjalar ke seluruh tubuh saya.

Saya teringat beberapa syair atau pantun berbahasa Mandar. Dalam beberapa pantun, saya temukan sisi romantis yang dahsyat lelaki Mandar saat bertemu dengan perempuan. Perhatikan syair ini:

Uru uitammuTappa mongea matingTappa andiangTambar paulinna 
Saat pertama kumelihatmu
Aku langsung jatuh hati padamu
Seketika tak ada
Obat penyembuh.

Melihat gadis itu, jiwa saya bergejolak. Rasanya tak sabar untuk menyapa dan berkenalan. Tapi entah kenapa, ada banyak ragu yang menyergap saya. Dalam keadaan seperti itu, saya mengingat satu mantra Mandar yang saya simpan selama lebih sepuluh tahun. Mantra itu berguna untuk memikat seorang gadis.

Dahulu, saya pernah melakukan riset di satu desa perbatasan Tutallu dan Campalagian bersama sahabat Muhammad Toha, seorang kawan yang mengaku sebagai reinkarnasi Nabi Yusuf. Ada seorang bapak tua yang mengenalkan kami pada beberapa khasanah pengetahuan tradisional orang Mandar. 

Mulanya dia menunjukkan satu kertas lusuh yang isinya adalah gambar serupa mata angin. Dia menyebut gambar itu sebagai kutika, yang berfungsi sebagai primbon atau panduan hari-hari baik. 

Dia bilang, ada hari baik untuk melaut, menanam, juga berkelahi. Hah? Ada saat di mana lelaki Mandar siap sedia berduel dan menghunus badik. Untuk menang duel, mesti tahu kapan saat tepat untuk berkelahi. Mungkin, ini pernah dipakai pada masa peperangan. 

Bagi saya, ini bukan hal baru. Kami orang Buton, khususnya Buton Utara, menyebutnya kucika. Fungsinya sama yakni mengetahui hari baik dan hari buruk. Saya pikir ini juga tak beda jauh dengan orang Cina yang mengenal feng shui dan shio untuk menentukan hari baik. Orang Eropa malah mengenal zodiak dan perbintangan.

Setelah menunjukkan kutika, bapak itu lalu mengajarkan beberapa mantra. Di antaranya adalah mantra pemikat perempuan. Dia menulis lafal di kertas yang saat itu juga saya hafalkan. Heran juga, padahal tak satupun pelajaran di kampus yang terekam di otak.

Saya membayangkan diri saya akan jadi playboy sebagaimana seorang kawan asal Bone, Sulsel, yang menguasai ilmu pakkarawa, mantra pemikat. Saya berkhayal bisa seperti Ariel Peterpan yang bisa ganti pacar sebanyak tiga kali dalam sehari. 

Sejujurnya, saya tak percaya mantra. Tapi seorang kawan bilang mantra itu punya kekuatan untuk mengintervensi gelombang pemikiran seseorang. “Mantra bisa melakukan by pass alias menembus kesadaran perempuan itu. Prosesnya sama ketika memikat seseorang dengan mengandalkan ketampanan. Bedanya, ketampanan adalah materi, sementara mantra bekerja di ruang non materi,” katanya.

Sayang, sepertinya tak berjodoh dengan ilmu itu. Sepulang dari riset, saya malah tidak pernah merapalnya ketika bertemu seseorang. Padahal, orang tua yang mengajarkan ilmu itu meyakinkan saya kalau mantra itu bisa membuat seseorang tak bisa tidur dan tak sabar untuk berjumpa.

Kemarin, dalam perjalanan ke Majene, Aco, driver yang mengantar saya, bercerita kalau zaman sudah bergeser. Mantra pemikat Mandar sudah kalah jauh dengan mantra Jepang berlabel Toyota Alpard. Di zaman ini, lebih keren memiliki unicorn dan startup ketimbang setumpuk mantra. 

Saya percaya, dalam hal tertentu, mantra adalah sugesti yang bisa memelihara semangat seseorang. Berkat mantra, seseorang punya rasa percaya diri yang lebih sehingga bisa memberi kekuatan untuk melakukan banyak hal. 

Di Majene, saya terkenang pada mantra itu. Jika ada jomblo pembaca tulisan ini yang ingin segera mengakhiri karier jomblo-nya, jangan malu untuk mengirim inboks. Jika Anda ingin jadi playboy yang memikat perempuan seperti Luna Maya dan Syahrini sekaligus, dengan senang hati akan saya kirimkan mantra sakti itu.

Mau?


Para Filosof di Perahu Sandeq (Ekspedisi Sulbar 2)




Bapak tua itu memandang laut. Wajahnya mengeriput. Kumis dan janggutnya berwarna putih kekuningan. Ketika saya temui di Pantai Balanipa, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dia lebih banyak diam sembari sesekali mengisap rokok kretek yang dijepit dua jemarinya.

Bapak itu adalah seorang nakhoda perahu sandeq. Ketika saya tanya mana perahunya, dia menunjuk ke satu arah. Di sana, ada perahu dengan tiang layar berwarna putih, nampak anggun saat meniti ombak. Dia tersenyum.

Di mata saya, sandeq adalah salah satu warisan jenius dari leluhur Mandar. Beberapa peneliti menyebutkan bahwa sandeq adalah perahu tercepat di dunia. Bentuk yang ramping dan pipih itu bisa melesat dan menembus ombak menggunung. Di lautan itu, sandeq melaju dengan kelihaian seorang ballerina. Sandeq tahu kapan saat menembus ombak, dan kapan saat berjalan anggun.

Saya memandang bapak tua ini. Seorang kawan di Majene bercerita bahwa bapak tua ini adalah nakhoda legendaris yang saat berada di atas perahu, kalimatnya serupa dewa. Dia ibarat Sinbad yang pernah berlayar memembus tujuh samudera, dari Pantai Balanipa hingga tanah Marege (Australia).

Saya teringat esai yang ditulis Ignas Kleden tentang kepemimpinan maritim. Ignas membandingkan kepemimpinan para nakhoda versus tuan tanah (feodalisme). Kata Ignas, tuan tanah adalah mereka yang melestarikan kuasa atas tanah, membangun hierarki antara pemimpin dan bawahan, serta melestarikan dominasi.

Tapi seorang nakhoda lahir dari sistem yang sangat mengedepankan keahlian. Seorang nakhoda tidak dipilih secara demokratis oleh semua penghuni kapal. Dia adalah sosok paling senior, sosok yang paling memahami laut dan semua pergerakan ombak, juga bisa membaca bintang gemintang dan gerak semua hewan laut. Dia peka pada setiap hembusan angin.

Di tengah ombak yang menerjang, seorang nakhoda tidak akan mengajak awak kapalnya berdiskusi demi mencari solusi. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Setiap kalimatnya adalah perintah. Semua penumpang percaya kepadanya. Semua orang menambatkan selembar nyawa padanya.

Ketika krisis menghadang dan kapal mulai oleng, nakhoda akan menyelamatkan semua penumpang. Di kalangan para nakhoda terdapat konsensus bahwa lebih baik tenggelam bersama kapal daripada lari sebagai pengecut. 

Laku moral dan kebajikan inilah yang menyebabkan Kapten Rifai, nakhoda kapal Tamponas 2 memilih karam bersama kapalnya. Juga Kapten Edward Smith, nakhoda Titanic yang tenang memilih bersama kapal saat memasuki kedalaman samudera.

Entah, apakah para awak perahu pernah membaca filsafat, tapi mereka mengingatkan saya pada filsuf Plato yang pernah mengatakan bahwa pemimpin harusnya tidak dipilih secara demokratis. Pemimpin adalah mereka yang tahu dan paling paham apa yang harus dilakukan.

Saya menoleh ke bapak tua di sebelah ini. Dia bercerita tentang tiga unsur di perahu sandeq. Pertama, cadik di kiri kanan. Katanya, cadik adalah simbol dari kuatnya karakter dan jati diri. Tanpa itu, manusia akan oleng. Kedua, palayyarang atau layar. Ini adalah simbol dari pentingnya tujuan dan arah ke mana seseorang hendak bergerak. Ketiga, warna putih di layar. Ini adalah simbol kesucian hati dan kejernihan jiwa. Hidup seseorang akan seimbang ketika menjaga kesucian hatinya.

Kali ini saya yang terdiam dan menyerap kalimat bijak dari nakhoda perahu sandeq. Dia punya kearifan yang tercermin dari setiap helai kata2nya. Saya membayangkan para nakhoda yang tenang memandang ombak sembari tetap mengarahkan kapal. Saya membayangkan keberanian Kapten Rifai dan Kapten Edward Smith.

"Pernahkah bapak ketakutan saat berada di laut, ketika ombak menghadang dan petir bersahut-sahutan" tanya saya kepadanya.

"Nak, saya ini orang Mandar. Kami punya semboyan dari leluhur kami yakni 'dota lele ruppu dari na lele di lolangang'. Lebih baik hancur perahu daripada mundur dalam pelayaran," katanya.

Saya memandang bapak ini dengan takjub. Dia bukan cuma filosof, tapi juga menyerap semua kearifan Mandar dalam setiap aliran darahnya.

Di ufuk sana, perahu sandeq nampak berayun-ayun meniti ombak.


Banyak Mutiara di Tanah Mandar (Ekspedisi Sulbar 1)


Vokalis Letto, Noe, saat diarak dalam satu ritual budaya Mandar

Suara azan menyambut saat saya tiba di Polewali Mandar. Bersama tiga kawan, saya datang dengan mobil carteran dari Makassar. Tanah Mandar terasa basah akibat hujan deras yang mengguyur semalam. Keluar dari mobil, saya disambut semilir angin yang sepoi-sepoi.

Biarpun jarang ke sini, tanah Mandar selalu menempati ruang khusus di hati saya. Semuanya bermula dari puisi yang ditulis penyair Madura, D Zawawi Imron, berjudul Nyanyian Gadis Mandar. Saya merinding saat melihat penyairnya membaca puisi itu di Baruga AP Pettarani Unhas, lebih 10 tahun lalu.

Dalam puisi itu, ada kisah seorang gadis Mandar yang menenun di tepi pantai sembari menanti kekasihnya seorang nakhoda perahu yang menantang samudera. Tanah Mandar adalah tanahnya para pelaut yang bertualang menembus samudera, menyebar di banyak pulau. Di banyak pesisir, orang Mandar berumah dan membaur dengan warga setempat, lalu berbagi pesona budaya maritim. Laut adalah semesta bagi mereka.

Dalam puisi itu, gadis Mandar bersyair:

“Kalau matahari
nanti tak terbit lagi di Tinambung
Meski tenunanku belum selesai
Kucari mayatmu ke gunung ombak
Di sana sajadah kuhampar
Sebagai bukti: dalam diri ada Mandar”

Sejak itu, Mandar menempati ruang khusus di hati saya. Di tambah lagi, saya berkawan dengan banyak orang baik di tanah ini. Tahun 2000-an, saya beberapa kali ke sini untuk melakukan riset di pedalaman tanah ini. Setiap kedatangan selalu spesial karena ada banyak orang yang menjadi keluarga.

Hari ini saya kembali ke tanah yang magis ini. Dalam perjalanan, seorang kawan bercerita tentang grup band Letto yang sering datang ke sini. Vokalis band Letto adalah Noe, yang merupakan putra sulung budayawan Emha Ainun Nadjib. Baru saya tahu kalau Noe dan ayahnya, Emha, rajin datang ke sini untuk berguru pada banyak orang.

Di zaman Orde Baru dan reformasi, Emha adalah budayawan paling produktif yang melahirkan banyak esai-esai di semua media. Seusai reformasi, dia seakan menghilang dari panggung politik dan budaya. Kata seorang kawan, rupanya dia banyak ke tanah Mandar dan berkontemplasi dengan bimbingan beberapa ulama setempat, tokoh adat, dan orang-orang alim di tanah Mandar.

Ketika putranya, Noe, hendak membentuk band, Emha memberinya nama LETTO. Saya baru tahu kalau nama Letto berasal dari bahasa Mandar yang artinya pematahan atau pemisahan. Letto bermakna mematahkan atau memisahkan sifat-sifat buruk dalam diri guna mencapai tahap demi tahap untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Saya terkesima. Jika ada waktu lebih di sini, saya ingin bertemu banyak orang dan berbincang tentang perjalanan menuju kearifan. Jika Emha yang lahir dan besar dari subkultur pesantren Jawa Timur, merasa betah dan kerasan di tanah Mandar, berarti ada banyak hal hebat di sini. Ada banyak mutiara, berupa hal metafisis dan spiritual, yang tak banyak diungkap, namun berdenyut dan ditemukan oleh orang-orang yang datang ke tanah ini.

Sayang, saya tak bisa berlama-lama di sini. Beberapa teman mengajak saya untuk bertemu Noe yang kebetulan sedang berada di Polewali. Dalam hati, saya berdoa semoga ada waktu lebih agar bisa menyerap banyak hikmah dan hal baik di sini. 

Setidaknya, bisa bertemu orang baik yang menyerap hikmah dan ajaran baik di tanah ini. Semoga.


Sepenggal Kisah tentang Fauzan Mukrim




Jika saya diminta menyebutkan satu nama penulis yang saya kenal dan sukai setiap tetes kalimatnya, maka saya akan menyebut nama Fauzan Mukrim.

Banyak orang2 mengidolakan lelaki yang dipanggil Ochan itu. Bahkan istri dan adik perempuan saya pun menyukai goresan kalimatnya. Dia bukan tipe penulis yang menyabet dengan pedang kata demi membelah satu argumen. Dia menghadirkan embun yang seketika membuat kita tertegun dan melihat dunia dengan cara lain.

Saya mengenalnya di kampus Unhas pada fakultas dan jurusan yang sama. Saya lebih dulu setahun di kampus, meskipun dari sisi umur, kami sepantaran. Malah saya sedikit lebih muda (piss....). 

Masih segar di ingatan saya. Hari itu, saya ke kampus dengan wajah sangar karena harus meng-ospek junior baru. Dia adalah mahasiswa baru yang datang dari Watampone, sekampung dengan Jusuf Kalla. Dia lulus dari SMA 1 Bone.

Tadinya, saya ingin ikut2 mahasiswa senior yang saat itu sengaja tampil kasar dan ingin menghajar semua junior. Tapi saya urungkan niat itu. Selain karena dia tiba2 jatuh sakit, ada temannya yang amat manis. Namanya Azizah Azis. 

Ketika dia menjadi mahasiswa baru, saya mengagumi Ochan. Betapa tidak, pada saat saya amat kesulitan menembus koran kampus agar mau memuat tulisan saya, cerpennya sudah berhasil menembus Majalah Hai. Saya masih ingat kalau cerpen itu berjudul Bapak.

Saat kuliah, saya beberapa kali sekelas dengannya. Pernah, dosen kami Sinansari Ecip mengajukan pertanyaan pada mahasiswa. Yang menjawab benar akan mendapat buku. 

Saya segera mengacung dan menjawab. Ternyata dia juga mengacung dan menjawab lain. Kata Sinansari Ecip, dua jawaban itu benar. Hadiah buku itu jadi milik kami berdua.

Saya tak terkejut jika dia memilih karier sebagai jurnalis. Sejak dulu dia berkaitan dengan kata. Bermula dari Trans Tv, dia ke detik.com, kemudian ke CNN. Di semua tempat, dia menunjukkan talenta jurnalis hebat. Dia pun produktif melahirkan banyak novel dan buku2 yang laris di pasaran. Pernah, saya bela-belain datang ke Gramedia Depok, hanya untuk melihat dirinya yang diundang untuk membahas bukunya.

Dua hari lalu, saya bertemu dengannya di gedung Trans Corp. Biarpun namanya sudah semakin besar dengan fans yang begitu banyak, dia dengan gembira menemui saya dan ikut ngopi di sudut gedung itu, di tengah kesibukannya yang bejibun.

Saya seolah menyaksikan masa lalu yang menari-nari di pelupuk mata. Saya menyaksikan dirinya yang dulu hangat, kini tetap hangat. Dia masih seperti dulu.

Sayang, dia ragu2 untuk mengizinkan saya tampil di CNN sebagai seorang pelatih kucing handal. Entah, apa pertimbangannya. Padahal saya tahu, dengan posisi yang setingkat di bawah Chairul Tandjung, cukup dia menjentikkan jari, maka saya bisa tampil di tivi itu.

Iya khan?

Menemukan DON TAPSCOTT di Big Bad Wolf




Di Jakarta, para penggila buku adalah spesies aneh. Mereka jarang terlihat di toko buku yang kian sepi dan kehilangan pengunjung. Mereka bermunculan saat-saat tertentu. Di antaranya adalah saat acara Big Bad Wolf yang tengah berlangsung di Serpong, Tangerang.

Saya datang ke ajang Big Bad Wolf dengan persiapan yang lebih matang. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan setahun lalu yakni datang pada hari-hari terakhir. Saat itu, saya tak mendapatkan banyak buku yang saya sukai. Kali ini saya datang pada hari kedua.  

Suasana Serpong cerah ketika saya datang bersama keluarga. Area parkir yang luasnya seperti sepuluh kali lapangan bila itu penuh dengan kendaraan. Saya butuh waktu setengah jam untuk menemukan parkir. Itu pun dapatnya di ujung.

Kali ini saya datang bersama istri dan dua anak. Tahun lalu, anak saya Ara (7 tahun) banyak membeli buku-buku komik bergambar. Tahun ini saya berniat membelikan apa pun buku yang diinginkannya. Terhadap keinginan membeli buku, saya tak ingin berhitung. Selagi ada niat membaca, maka saya akan membelikannya. Semahal apa pun itu.

Belakangan, saya agak khawatir karena Ara lebih banyak bermain HP. Saya beberapa kali ingin melarangnya menghabiskan waktu bermain HP. Namun dia beberapa kali mengejutkan saya dengan kemampuan berbahasa Inggris yang fasih. Saya kaget-kaget ketika dia mengajak saya bercakap bahasa Inggris dan mengeluarkan kosa kata dan kalimat yang belum pernah saya ajarkan.

BACA: Pokemon Go, Games, dan Kecerdasan Generasi Internet

Ternyata, internet membuat anak ini jadi warga dunia. Dia lebih fasih berbahasa Inggris ketimbang berbahasa Indonesia. Sering dia menanyakan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang sulit dipahaminya. Semalam dia bertanya, “Ayah apa artinya balas dendam?” Saya mencarikan padanan dalam bahasa Inggris. “Balas dendam itu sama dengan revenge.” Ternyata dia langsung paham. 

Big Bad Wolf menjadi ajang yang pantas ditunggu-tunggu. Dalam setahun, hanya ada satu momentum untuk bisa mendatangi pameran buku terbesar, yang memajang begitu banyak buku-buku impor berkualitas. Saya serasa nggak percaya, buku-buku impor tebal yang ditulis para penulis kaliber internasional bisa dijual dengan sangat murah.

BACA: Kekurangan Buku di Big Bad Wolf

Tahun ini, saya menemukan koleksi nonfiksi dan sejarah yang lebih banyak dari tahun sebelumnya. Berada di sini, saya benar-benar lupa waktu. Hampir di semua rak, saya menemukan buku bagus yang layak dibawa pulang. Tentunya, saya harus memperhitungkan budget sebab jika tidak, bisa-bisa jatah bulanan akan berkurang.

Saya perhatikan tema-tema yang dijual di sini cukup beragam. Paling sering saya lihat adalah buku anak. Setelah itu Business and Economy, History, Fiction, Reference, Self Help, Sports, Hobbies, dan Language. Saya berharap ada koleksi ilmu sosial, ternyata malah tidak banyak. Saya paham bahwa koleksi ilmu sosial dan humaniora memang jarang. 

Saya pun lebih banyak berkeliling di rak buku Business and Economy. Saya benar-benar tergoda menyaksikan buku-buku mengenai ekonomi baru, masyarakat digital, dan pemasaran. 

Kesan saya, buku-buku ekonomi, khususnya pemasaran, selalu dinamis. Selalu ada hal baru. Saya terkesima melihat buku-buku ekonomi yang isinya pembelajaran dari satu studi kasus. Saya melihat banyak buku mengenai Samsung, Ali Baba, Steve Jobs, Lenovo, Silicon Valley, hingga disrupsi di berbagai bidang.



Mungkin saya keliru. Tapi saya beranggapan orang-orang pemasaran selalu lebih cepat memahami denyut perubahan sosial. Mereka selalu lebih cepat mengantisipasi perubahan sebab kerja mereka adalah memasarkan sesuatu. Nah, dalam proses itu, penting kiranya menggali otentisitas, keunikan, dan kekuatan dari dalam diri agar bisa menaklukkan orang lain.

Buku lain yang saya lihat dinamis adalah buku-buku bertemakan sejarah. Saya kagum-kagum karena para sejarawan tidak pernah kehabisan topik untuk dieksplor dan ditulis dengan menggunakan banyak perspektif. Di pameran itu, saya tak cuma melihat sejarah peristiwa besar dan peperangan, tapi juga topik menarik seperti biografi olahragawan, sejarah tentang air dalam pahaman manusia, hingga sejarah ilmu pengetahuan.

Tapi, favorit saya adalah tema-tema ekonomi dan bisnis. Di satu rak, saya menemukan buku yang ditulis Thomas L Friedman, seorang jurnalis bergelar Phd dari Minnesota yang tiga kali memenangkan Pulitzer atas tulisannya mengenai ekonomi politik. Beruntung, saya sudah memiliki bukunya yakni Thank You for Being Late.

Saya terhenti di satu rak saat menyaksikan buku yang ditulis Don Tapscott berjudul The Digital Economy: Rethinking Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence. Buku ini pertama ditulis tahun 1995, kemudian dikemas ulang dan diberi catatan lagi pada tahun 2014. 




Saya makin tertarik membaca Tapscott setelah menemukan artikel dari seorang profesor UGM yang menyebut Tapscott adalah orang pertama yang mengenalkan istilah Ekonomi Digital. Dia terbilang lebih dulu memprediksi era ekonomi digital akan semakin menguat.

Kebetulan, saya telah mengoleksi dua buku yang ditulis Don Tapscott yakni Grown Up Digital dan Wikinomics

Buku Grown Up Digital adalah satu buku terbaik yang ditulis mengenai kehadiran Net Generation yang memahami dunia dengan cara baru dan pelan-pelan mengubahnya. Buku ini menjadi demikian powerful sebab memadukan prediksi dan riset yang dilakukan pada ribuan siswa di Amerika Serikat. 

Tapscott tak hanya membahas pengaruh Net Generation di bidang bisnis, tapi juga politik, organisasi, hingga pendidikan. Buku yang sangat keran ini tidak pernah bosan ketika dibaca berkali-kali.

Buku Wikinomics juga keren. Tapscott menggambarkan dunia yang semakin terintegrasi sehingga kolaborasi menjadi mata uang penting untuk menguasai abad ini. Perusahaan seperti Google telah menerapkan kolaborasi dan sharing pengetahuan secara gratis di dunia maya. Bahkan Wikipedia menjadi perusahaan skala dunia, padahal tidak punya karyawan. Wikipedia menjadi besar karena sokongan dari banyak orang di berbagai belahan dunia yang tidak saling kenal. Mereka bekerja sama seperti semut yang membangun sarang yang kokoh.

Bayangkan, betapa bahagiannya saya saat menemukan buku The Digital Economy yang ditulis Don Tapscott. Kebahagiaan itu kian sempurna saat menemukan buku Tapscott lainnya yang berjudul MacroWikinomocs: Rebooting Business and the World. Tanpa banyak menimbang, saya langsung masukkan dua buku itu dalam keranjang belanja. Saya malah tidak sabar untuk segera membawanya keluar.



Di rak lain, saya menemukan juga buku bagus yakni The Global Code yang ditulis Clotaire Rapaille, yang sebelumnya menulis buku laris The Culture Code. Buku lain adalah Head in the Cloud yang membahas mengapa manusia harus menghabiskan waktu untuk tahu banyak hal pada saat Google sudah menyiapkan perpustakaan raksasa di dunia maya. Di rak lain, saya mengambil beberapa buku lain.

Ketika bertemu anak istri, ternyata mereka lebih banyak membeli buku. Kata istri, Ara tadinya ogah-ogahan datang ke pameran buku sebab dia merasa buku itu sangat old. Dia lebih suka gadget. 

Tapi dia benar-benar terkesima saat melihat buku-buku bertemakan Augmented Reality atau realitas tambahan. Bisa juga dibilang 4 Dimensi. Buku-buku jenis ini menggabungkan antara teks dan digital. Untuk membacanya, kita harus mengunduh aplikasi buku itu di Playstore. Ketika dilihat dengan aplikasi, semua karakter langsung keluar. Hebatnya, kita bisa berinteraksi dengan karakter dalam buku itu melalui aplikasi yang ada di HP. Hebat kan?





Adik Ara, Anna (2 tahun), juga membeli buku. Ketika saya datang, dia meminta saya untuk membuka bukunya yang isinya adalah potongan-potongan kertas yang membentuk istana. Dia membeli buku mengenai permainan tengkorak. Dia sibuk menakut-nakuti saya saat gambar tengkorak itu muncul. Padahal semakin dia berusaha seram, maka semakin dia terlihat lucu.

Kami langsung beranjak ke kasir. Semakin lama di situ, maka semakin tergoda untuk mengambil banyak buku. Itu pun total belanja kami hampir mencapai angka 2 juta rupiah. Bagi saya ini sudah terlalu banyak. Saya bakal mengurangi jadwal ke warung kopi karena sudah terlalu banyak belanja buku. 

Tapi tak apa. Kembali pada prinsip saya: untuk soal buku, saya tak mau berhitung. 



Apakah Jusuf Kalla Main Dua Kaki?




DI tengah iklim politik yang terbelah, setiap pernyataan akan ditafsir sesuai kepentingan. Ketika dianggap mendukung, maka dengan segera diviralkan. Ketika dianggap menentang, maka dengan segera pernyataan itu akan ditenggelamkan. Mungkin inilah yang sedang dialami Wakil Presiden RI, Muhammad Jusuf Kalla (JK).

Dalam iklim politik yang serba terbelah, JK berusaha untuk tetap obyektif. Dengan tegas dirinya menyatakan dukung Presiden Jokowi. Namun, dirinya tetap tetap obyektif, yang kemudian menjadi amunisi bagi pihak lain.

Saat debat presiden, Jokowi sempat membahas pesaingnya Prabowo Subianto yang memiliki lahan ratusan ribu hektar di Kalimantan Timur dan Aceh. Ketika ditanya jurnalis keesokan harinya, JK memberi pernyataan yang ditafsirkan sebagai pembelaan pada Prabowo.

JK mengaku, pembelian lahan industri di Kaltim atas seizinnya ketika menjabat wapres pada masa SBY. Pernyataan itu ramai disebarkan para pendukung Prabowo. Pernyataan itu dianggap sebagai amunisi dukungan bagi Prabowo.

Beberapa orang menyebut ada blunder di tim Jokowi. Media sekelas Tirto menyebut JK sebagai “kuda troya” atau strategi yang dianggap bisa menghancurkan barisan tim. Benarkah?

Abdul Kadir Karding, Wakil Ketua TKN Jokowi, justru mengatakan bahwa JK hanya mengonfirmasi apa yang dinyatakan Jokowi sebagai fakta. Yang dipersoalkan bukanlah cara mendapatkan lahan itu, melainkan fakta bahwa Prabowo ikut menguasai lahan seluas ratusan ribu hektar.

Kata Karding, yang seharusnya menjadi sorotan adalah kontradiksi antara pernyataan Prabowo yang hendak memberantas kemiskinan, tapi menguasai lahan hingga ratusan ribu hektar. "Apakah reforma agraria yang manifestasinya adalah bagi-bagi untuk rakyat dan bagi-bagi sertifikasi untuk rakyat bisa dilakukan oleh orang yang menguasai begitu banyak aset?" katanya.

Nah, penegasan JK menjadi penting. Sebab dalam banyak kesempatan, Prabowo malah mengkritik penguasaan lahan. Pernyataan Jokowi diamini Prabowo, kemudian dipertegas kembali oleh JK. Jika pernyataan itu benar, maka Prabowo adalah bagian dari segelintir elite yang menguasai lahan luas negeri ini.

Jejak digital mencatat beberapa pernyataan Prabowo, dan juga anggota koalisinya yakni Amien Rais tentang ini. Tanggal 1 April 2018, CNN Indonesia mencatat pernyataan Prabowo yang menyebut segelintir orang menguasai hampir separuh kekayaan kita. Pemilikan tanah belum merata sebab dikuasai elite.

"Segelintir orang menguasai hampir separuh kekayaan kita. Apalagi soal tanah, 1 persen populasi yaitu konglomerat menguasai 80 persen tanah kita," kata Prabowo, sebagaimana dicatat CNN.

Beberapa orang di lingkar dekat JK menjelaskan bahwa JK memang berusaha untuk tetap obyektif. Dia tidak ingin perseteruan politik membuat tak ada komunikasi dan saling klarifikasi. Sebagai orang yang punya track record sebagai juru damai, dia tetap melihat sesuatu secara proporsional, tanpa harus terjebak dengan dukungan politik.

Beberapa orang dekat JK memang bergabung dengan kubu Prabowo. Di antara mereka ada beberapa menteri yang pernah di-reshuffle Jokowi, yakni Sudirman Said, Ferry Mursyidan Baldan, juga Anies Baswedan yang sejak dulu dekat dengan JK.

Ada pula spekulasi menyebutkan kalau JK malah kehilangan ruang gerak bersama Jokowi. Beda halnya ketika dulu dirinya mendampingi SBY, di mana dia dianggap sebagai “the real president.” 

Namun, secara politik, JK sudah menegaskan pilihan. Hubungannya dengan Jokowi juga baik-baik saja. Dua pekan lalu, Jokowi menyambangi rumah JK untuk menengok cucu JK yang baru saja lahir. Keduanya bertemu dan bercengkerama, tak ada tanda-tanda perseteruan di situ.

Dua pekan lalu, JK telah memberi penegasan. "Kenapa kita sepakat pilih nomor 1, tentu yang paling bisa menjawab itu saya sebenarnya, karena saya harus bersama-sama sudah 4 tahun dengan beliau. Saya dapat melihatnya dari dalam dan dari luar. Mungkin beliau bukan yang terbaik tapi yang jelas yang terbaik yang ada. Silakan pilihan kita cuma dua," ungkapnya.

JK sudah memberi penegasan. Dia tak mungkin menarik kembali perkataannya. Dia tak punya trackrecord atau rekam jejak berkhianat. Dia pun tetap konsisten dengan apa yang sudah dikatakannya.

Di musim politik, orang cenderung memilih-milih mana yang akan dipercayainya maupun tidak. Saat JK bilang akan dukung Jokowi, tak ada satupun suara yang membicarakannya. Bahkan saat dirinya menyebut Jokowi menang debat, semuanya juga diam.

Namun saat dirinya mengeluarkan pernyataan yang dianggap membela Prabowo, publik langsung heboh. Padahal, secara politik dia tidak ke mana-mana. Tetap mendukung Jokowi, dan berharap agar Indonesia lebih baik pada periode keduanya.

Hari-hari ini, kalimat JK dianggap sebagai bentuk dukungan. Padahal, ada kritik dan siasat JK untuk membuka satu lapis kenyataan di hadapan publik. Di situ, dia menyatakan sikap tegasnya.



Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Followers

...