Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Jurnalisme yang Terhempas dan Terputus


ilustrasi

DI berbagai media online, terdapat diskusi tentang senjakala media. Seorang jurnalis senior menyampaikan keluh-kesahnya tentang senjakala media cetak yang secara perlahan dilibas oleh era online. Tak hanya media cetak yang mulai terkubur, dirinya pun ikut tenggelam dan menjadi museum.

Banyak hal yang berubah. Di era baru, semua orang bisa membuat web, memproduksi informasi, lalu menyebarkannya ke mana-mana. Hanya saja, itu tak lantas membuat media itu populer dan digandrungi. Era baru menuntut kesabaran, konsistensi, serta keberanian menjelajah ranah yang tak banyak dirambah.

Media baru menuntut kreativitas serta keunikan dalam memilih sudut pandang, sesuatu yang tak mudah bagi para jurnalis yang terbiasa berpikir mapan dalam iklim media yang terlanjur baku. Mereka yang hendak menguasai media di era baru, mesti memahami betapa peta sosial telah bergeser. Yang survive adalah yang bisa membaca dinamika sosial, lalu berselancar di atasnya. Yang bertahan adalah yang selalu menyerap hal baru, dan punya ribuan akal untuk menyajikan informasi.

Tentu saja, itu tak mudah Tapi ada kiat cerdik ke arah itu. Apakah gerangan?

***

BERITA itu datang di satu sore. Tabloid Bola yang dahulu selalu rutin saya beli terancam akan ditutup. Dalam format harian, media ini sudah lama ditutup. Masih segar di ingatan saya beberapa nama jurnalis olahraga, seperti Sumohadi Marsis, Ian Situmorang, hingga Wesley Hutagalung. Saya masih terkenang pada karikatur tabloid Bola yang khas dan selalu bisa mengocok perut.

Di satu website saya temukan keluh-kesah para mantan jurnalis Bola yang telah di-PHK. Rupanya, perubahan lebih cepat dari yang saya bayangkan. Media itu memang sekarat sebab kehilangan banyak pembaca, yang dahulu rajin membeli dan memberi pemasukan bagi media, namun kini lenyap satu per satu.

Media itu terlambat mengantisipasi pertumbuhan teknologi smartphone yang membuat orang-orang lebih suka menyerap informasi melalui HP. Media itu terlambat menyadari bahwa di era digital, publik tak perlu membayar untuk mendapatkan infromasi. Semuanya gratis, sebab media akan mendapatkan benefit seiring dengan massifnya kunjungan ke portal media.

Publik tak tertarik lagi membeli media di lapak koran, sebab informasi yang dibutuhkannya tersedia secara gratis dan bertebaran di berbagai situs. Publik cukup mengaktifkan media sosial. Di situ, mereka menemukan semua informasi, sekaligus bisa berdiskusi dengan banyak pihak yang mereproduksi informasi itu.

Memang, selalu saja ada rasa bahagia saat mencium wangi cetak pada media yang tiba di rumah. Selalu saja ada romantisme kala melihat koran diletakkan oleh loper di pintu rumah. Akan tetapi zaman terus bergerak. Media cetak dianggap berkontribusi pada rusaknya hutan untuk membuat kertas. Media cetak dianggap terlampau lama untuk menyajikan informasi, sesuatu yang bisa disajikan setiap detik oleh media online.

Ada satu dua yang masih bertahan. Yang masih eksis berupaya tetap menjaga kualitas dan roh jurnalisme yang mengandalkan pada kedalaman dan ketajaman analisis. Yang bertahan adalah media yang bisa membangun relasi dan kedekatan dengan semua pembacanya, membangun simbiosisi mutualisme yang saling menguntungkan. Namun, seberapa lamakah bisa bertahan di tengah gempuran media online yang semakin dahsyat dan telak menghantam?

Media online tampil sebagai penguasa baru yang memiliki banyak kaki-kaki. Di antara kaki itu ada demikian banyak website, blog, serta media sosial yang serupa semut perlahan menggerogoti gajah besar media-media mapan. Perlahan, peta sosial juga ikut-ikutan bergeser.

Para jurnalis hebat tak lagi punya kharisma dan aura di media baru. Para jurnalis hebat hanyalah sedikit dari jutaan suara ataupun hiruk-pikuk wacana yang saling berebut pengaruh. Banyak nama besar tumbang karena tidak bisa mengikuti ritme dari media baru yang selalu bergegas. Era ini ditandai begitu banyak pesaing yang saling berebut pengaruh. Di era digital, setiap tulisan atau postingan akan diukur dari seberapa banyak yang me-like dan me-retweet apa yang disajikan. Tak selalu publik melihat nama seseorang. Seorang warga biasa sekalipun bisa menulis hal-hal yang lalu disukai publik, lalu di-retweet ke mana-mana secara sukarela. Publik akan menyebarkannya secara gratis.

Warga biasa yang dulu hanya jadi penonton, kini tampil ke depan. Malah, banyak yang menjadi kiblat wacana. Nama-nama seperti Bre Redana dan puluhan jurnalis Kompas bisa tenggelam oleh sosok-sosok seperti Denny Siregar, Tomi Lebang, ataupun Fahd Pahdepie yang nampaknya lebih menguasai seluk-beluk menulis di dunia maya. Bahkan, nama-nama seperti Maria Hartiningsih dan Leila S Chudori, mulai kalah populer dibandingkan Jihan Davincka, Ary Amhir, Olyve Bendon, dan Dina Y Sulaiman, para blogger produktif yang tulisannya di-share banyak orang.

Inilah penanda zaman kita. Inilah zaman ketika para jurnalis tak lagi menjadi satu-satunya kebenaran. Inilah eranya para warga, yang profesinya beragam, berasal dari berbagai pelosok, tapi setiap tulisannya bisa menggugah dan mempengaruhi wacana publik. Inilah era perubahan, seustau yang harus dipahami demi merancang sesuatu.

***

SAYA teringat Dan Gilmore yang menulis buku We the Media. Gilmor melihat melihat tanda-tanda akan berakhirnya era meda konvensional, yang memosisikan jurnalis sebagai rasul pembawa kebenaran. Publik, yang dahulu dianggap pasif, kini mulai bergerak lebih aktif. Publik mulai bersuara dan menyampaikan reportase, yang seringkali lebih fresh, orisinil, dan mendalam. Prediksi Gilmor mulai terlihat sekarang.

Memang, banyak yang menempuh jalan pintas, Kita sering menemukan kabar bohong atau hoax yang sebarkan secara massif. Tapi percayalah, sekali seseorang menandai satu situs sebagai penyebar kebohongan, maka seumur hidup orang tak akan melirik media itu. Hoax ibarat parasit yang dihindari, sebab merusak kredibilitas, bisa berujung pada hilangnya teman, bisa membuat kita diblokir di dunia maya.

Satu hal yang harus catat. Media online bisa tumbuh setiap saat, tapi tak lantas membuatnya populer dan disukai orang lain. Siapapun bisa membuat blog, tapi yang akan bertahan adalah mereka yang setia menulis, terus belajar dari beragam kesalahan, serta mau menyerap ilmu dari banyak orang lain. Untuk sampai pada tahapan disukai, lalu dikunjungi setiap saat, satu media ataupun blog harus menunjukkan konsistensi, kemampuan melihat celah yang tak dimasuki media lain, serta keberanian untuk menyimpang dari arus besar.

Seiring dengan waktu, publik melakukan seleksi. Sekali menebar kebencian, maka satu mdia bisa berpotensi disukai atau dibenci sekaligus. Para penguasa era digital adalah mereka yang memahami bahasa warga dunia maya, menyajikan hal-hal yang bersesuaian dengan bahasa orang kebanyakan, serta punya passion menulis serta hasrat berbagi. Tanpa itu, seseorang bisa kesepian di dunia maya.

Media bisa dengan mudah dibuat, namun tak lantas bisa mendatangkan banyak orang untuk sekadar tetirah dan berkunjung. Untuk sampai pada tahapan ini, seseorang harus menjadi tuan rumah yang baik, menyajikan apa yang dibutuhkan, serta selalu belajar hal baru. Bersikap sebagai orang sok tahu di media baru hanya akan menghadirkan antipati orang lain. Dengan cara menyerap hal baru, seseorang bisa mejadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain, yang engaja brwsing untuk menemukan pembelajaran dan hal-hal yang menginspirasi.

***

MEDIA cetak memang bisa terkubur, tapi jurnalisme akan selalu ada. Jurnalisme sebagai hasrat terdalam manusia untuk berkomunikasi akan selalu hadir, meskipun berganti format lain. Yang harusnya dilakukan adalah memahami dinamika dan peta sosial yang terus bergeser, lalu berselancar sembari membawa berkarung-karung pengetahuan untuk disebar ke mana-mana. Jurnalisme yang tidak terhempas dan terputus adalah jurnalisme yang bisa menyerap hal-hal baik di sekitarnya dan terus berubah.

Perubahan itu abadi. Dia yang mau berubah adalah dia yang akan terus bertahan. Dia yang bertahan adalah dia yang menumbuhkan tunas dan melakukan segala upaya agar tunas itu menjadi pohon rindang. Dia yang mau belajar adalah dia yang terus memperkaya pikirannya dengan hal-hal baru, yang lalu menggerakkan dirinya untuk perubahan. Dia yang ingin menang adalah dia yang bisa menyerap energi para pemenang. Anda ingin abadi? Segeralah berubah.


30 Desember 2015

Dua Belas Buku yang Saya Sukai di Tahun 2015


ilustrasi

SAYA mencatat tahun 2015 sebagai tahun yang penuh perjalanan. Sepanjang tahun saya berkunjung ke hampir semua pulau-pulau besar di tanah air. Meskipun perjalanan itu melelahkan, saya selalu berusaha untuk meng-update pengetahuan dengan cara membaca sebanyak-banyaknya. Saya selalu tak punya target dalam membaca. Hanya saja, seiring dengan rasa ingin tahu yang terus mendesak, maka membaca menjadi kewajiban.

Ada tiga keuntungan yang saya harapkan ketika membeli buku. Pertama, intellectual benefit (keuntungan intelektual). Saya berharap membaca bisa membawa pencerahan atau minimal cara-cara baru memahami persoalan. Kedua, emotional benefit (keuntungan emosional), yang mencakup aspek-aspek emosi yang mengayakan jiwa dan kepekaan perasaan terhadap orang lain. Ketiga, spiritual benefit (keuntungan spiritual), yakni harapan untuk melihat zaman dan peradaban yang lebih baik, keinginan untuk menyerap hikmah, lalu membaca masa depan.

Mulai tahun 2015, saya rajin membaca National Geographic serta edisi Traveler. Saya menyukai gaya menulis sains serta laporan perjalanan yang dikemas dengan sangat menarik. Gaya menulis di majalah ini adalah kombinasi antara etnografi dan reportase investigatif, dua gaya menulis yang sangat saya sukai. Saya juga suka foto-foto dahsyat yang dengan melihatnya sekilas, kita bisa merasakan selaksa makna di baliknya. Dengan membaca National Geographic, rasa haus atas pengetahuan akan pengetahuan langsung terpuaskan.

Tak hanya itu, saya juga berusaha membeli buku-buku baru, lalu menuliskan catatan. Memang, saya tak selalu mengikuti semua buku, sebab postur keuangan saya sangat terbatas. Saya hanya membeli buku-buku tertentu yang menarik buat saya, atau dibahas oleh beberapa teman. Ada beberapa buku yang spesial mengendap di benak saya. Saya mencatat beberapa di antaranya:

Mata Air Keteladanan (Yudi Latif)

Buku ini saya simpan di daftar paling atas yang saya sukai. Memang, buku ini terbit tahun 2014, tapi saya belum lama membacanya. Bukunya sangat memikat. Di dalamnya ada kisah-kisah berbagai manusia dan pelaku sejarah, yang dengan caranya sendiri-sendiri telah membumikan Pancasila sebagai nilai hidup yang digali dari bumi Indonesia. Ia membedah berbagai keteladanan dari para founding fathers seperti Sukarno, Hatta, Tan Malaka, maupun Sjahrir, hingga beberapa pahlawan zaman sekarang, seperti Rabiah, suster apung di pulau-pulau sekitar Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Saya mengagumi ketelatenan Yudi mengumpulkan berbagai arsip dan catatan tentang manusia-manusia tidak biasa ini, yang mengamalkan berbagai sila dalam Pancasila, dengan caranya masing-masing.

Self Driving (Rhenald Kasali)

Sepanjang tahun 2015, saya membaca banyak buku Rhenald Kasali, Tak hanya Self Driving, saya juga membaca Agility, Cracking Zone, yang terbaru Change Leadership Non-Finito. Buku yang ditulis Rhenald selalu memberikan hikmah-hikmah dan pembelajaran yang bisa diterapkan secara praktis. Saya menyukai padatnya pengetahuan yang semuanya digali dari pengalaman. Rhenald mengajarkan saya pentingnya melihat kasus-kasus demi menjelaskan bahwa setiap teori dalam ilmu manajemen terus berubah dan berkembang. Ada teori yang tak memadai untuk mengamati satu kenyataan, namun ada pula yang bersesuaian. Buku-buku Rhenald selalu bergizi tinggi dan bisa menggerakkan motivasi.

Kuasa Jepang di Jawa (Aiko Kurasawa)

Mulanya, saya tertarik membeli buku ini karena ketebalannya yang serupa kitab-kitab. Setelah membacanya, saya tercengang atas kemampuan riset, mengumpulkan arsip sejarah, lalu melakukan analisis atas semua catatan. Penulisnya, Aiko Kurasawa, membahas tentang masa singkat pendudukan Jepang yang membawa dampak luas bagi Indonesia. Dikarenakan kebutuhan Jepang untuk Perang Pasifik, masa singkat di Indonesia digunakan seefektif mungkin untuk mengumpulkan sumber daya, sekaligus memobilisir para pemuda, tokoh pergerakan, untuk membentuk angkatan perang. Di buku ini, saya temukan bahasan menarik tentang bagaimana propaganda, serta pengaruh Jepang pada pengaturan kelembagaan pemerintah hingga level Rukun Tetangga (RT).

The Will to Improve (Tania Li)

Barangkali, inilah buku ilmu sosial paling bagus yang saya baca di tahun 2015. Saya sempat membaca buku ini dalam edisi bahasa Inggris, tapi terjemahan juga tak kalah memikat. Saya deg-degan saat mengikuti alur argumentasi penulisnya yang memaparkan bagaimana pembangunan dilaksanakan. Penulisnya, Tania Li, memaparkan data-data etnografis yang sangat memukau. Ia menunjukkan bahwa sejak zaman kolonial hingga masa kini, pembangunan selalu saja menyisakan perbedaan konsepsi antara pembangun dan yang dibangun. Dari dulu hingga ini, pembangunan tak pernah membawa kemakmuran. Sebab niat baik untuk membangun (the will to improve) selalu membawa kesengsaraan sebab program itu sendiri tak pernah bebas nilai. Pihak pembangun selalu merasa lebih tahu apa yang sedang dilakukan, lalu memosisikan masyarakat sebagai ruang kosong yang harus diisi, serta tak perlu didengar keinginannya. Buku yang sangat layak dibaca.

Identitas dan Kenikmatan (Ariel Heryanto)

Ini juga buku berlatar ilmu sosial dan cultural studies yang paling saya sukai di tahun 2015. Saya sangat menikmati uraian penulisnya yang renyah tentang bagaimana kaum muda perkotaan merumuskan ulang identitas mereka pada dekade abad ke-21. Buku ini menarik sebab memaparkan benak kaum muda kita yang serupa kanvas putih, yang lalu dihiasi dengan berbagai warna-warni yang merupakan representasi dari berbagai ideologis dan budaya pop. Di kanvas itu, terdapat tarikan kuat globalisasi dan tafsiran lokalitas, dan juga terdapat tarikan rezim yang hendak merekayasa sejarah. Bagi saya bab-bab terbaik adalah bab yang membahas bagaimana rezim merekayasa peristiwa 1965 dan menjejalkannya dalam budaya layar demi mengendalikan pikiran kaum muda. Membaca bagian ini serasa mengingat kembali tesis saya tentang mereka yang dituduh komunis dan berusaha bertahan. Sangat menarik.

Nasionalisme, Laut, dan Sejarah (Susanto Zuhdi)

Tema-tema sejarah dan laut selalu menjadi minat saya belakangan. Apalagi, penulis buku ini, Prof Susanto Zuhdi, adalah pembimbing tesis saya di Universitas Indonesia. Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang memiliki satu benang merah yakni nasionalisme, laut, dan sejarah. Saya menyukai argumentasi penulisnya yang mengatakan bahwa kemunduran bangsa ini disebabkan oleh sikap yang ‘memunggungi lautan.’ Ia lalu mengeksplorasi sejarah, tradisi kelautan, kearifan bahari yang dahulu menjadi tulang punggung berbagai etnik dan budaya. Agak terkejut juga karena penulisnya menyebut nama saya serta mengutip tesis yang saya buat. Hehehe.

Saving the World: A Brief History of Communication for Development and Social Change (Emile G. McAnany)

Di tahun 2015, saya membaca beberapa buku teks kajian komunikasi. Saya beruntung sebab seorang kawan di Amerika Serikat mengirimkan saya tiga buku menarik. Selain buku Saving the World, ia juga mengirimkan buku Evaluating Communication for Development: A Framework for Social Change. Saya juga masih berjuang untuk menghabiskan satu lagi buku Communication Power yang dibuat Manuel Castells. Nampaknya, kajian-kajian komunikasi terus mengalami pergeseran, hanya saja tak semua kampus di tanah air bisa meresponnya dengan cepat. Kebanyakan kampus hanya fokus pada jurnalistik, media studies, dan public realtions. Padahal, ada banyak perkembangan baru. Yang mendesak adalah perlunya pendekatan multi-disiplinier dalam memahami komunikasi, serta perlunya menguatkan aspek emansipatoris pada kajian itu.

Menolak Tumbang: Narasi Perempuan Melawan Kemiskinan (Lies Marcos)

Yang saya sukai dari buku ini adalah hadirnya suara-suara dari kaum perempuan di berbagai pelosok. Buku ini berbeda dengan kajian perempuan lain yang terasa kering sebab membahas perempuan dari perspektif peneliti. Buku ini merekam suara, serta memosisikan para perempuan sebagai subyek utama yang berkisah tentang dunianya yang sering diposisikan tidak adil. Buku ini semakin bertenaga karena hadirnya foto-foto yang dibuat foto yang dibuat Armin Hari, yang tak hanya membuat buku semakin berwarna, tapi juga bisa menyampaikan banyak makna dari sisi lain. Bab-bab dibuat meengalir, dan di akhir bab selalu ada catatan refleksi yang berisi pembelajaran serta rekomendasi apa yang harus dilakukan. Saya merasa senang bisa mengoleksi buku yang dijual agak mahal ini.

Wow Selling (Hermawan Kertajaya)

Di tahun 2015, saya juga rajin membaca buku-buku yang ditulis Hermawan Kertajaya. Saya menyukai gaya menulisnya yang mengalir serta produktivitasnya melahirkan buku-buku bagus. Saya menyukai topik tentang Marketing 3.0 sebab tidak menekankan pada penjualan, melainkan pada pentingnya membangun relasi dan hubungan emosional dengan siapa saja. Hermawan adalah guru marketing yang selalu belajar hal baru, memperkaya pengetahuannya, lalu menerapkannya dalam berbagai krisis yang dihadapi berbagai produsen. Melalui proses belajar ituah, Hermawan bisa terus eksis dan mengembangkan ilmu pemasaran.

Cahaya, Cinta, dan Canda M. Quraish Shihab

Dari beberapa biografi yang saya baca, biografi Quraish Shihab ini yang membekas di benak saya. Yang hadir di sini adalah gambaran tentang sosok ulama yang pada dasarnya manusia biasa, sebagaimana orang lain. Ia lahir di Sidrap, dari ayah keturunan Arab, dan ibu asli orang Bugis. Ia pernah bekerja sebagai penjaga kios milik ayahnya, suka bolos dan nonton film Hollywood, hingga akhirnya mendapatkan beasiswa ke Mesir. Di negeri fir’aun, ia menjadi penggila berat Real Madrid, dan terobsesi menjadi pemain bola. Buku ini kian menarik sebab di dalamnya terdapat argumentasi tentang beberapa hal kontroversial yang dituduhkan padanya. Apapun itu, Quraish adalah aset tanah air kita.

Menerjang Badai Kekuasaan (Dhaniel Dhakidae)

Sejak membaca buku berjudul Cendekiawan dan Kekuasaan yang ditulis Dhaniel Dhakidae, saya selalu ingin membaca apapun yang ditulisnya. Selain kolom di jurnal Prisma, saya juga menyukai buku ini. Buku ini tak biasa sebab memotret beberapa tokoh yang melawan kuasa. Mulai dari Bung Karno dan Bung Hatta, hingga anak muda seperti Soe Hok Gie. Ada juga bahasan tentang Pramoedya, serta gembong pencuri Kusni Kasdut. Semua pihak bisa menjadi jendela untuk memahami banyak hal. Saya senang dengan argumentasi mengapa ia menuliskan kumpulan biografi dari beberapa sosok. Ia mengutip C Wright Mills dalam buku Sociological Imaginations yang menekankan keterkaitan antara tiga aspek yakni biografi, struktur sosial, dan sejarah. Ketiganya saling merasuk satu sama lain, sehingga memahami satu biografi bisa membawa kita pada pemahaman atas sejarah dan struktur sosial.

Senja dan Cinta yang Berdarah  (Seno Gumira Adjidarma)

SEPANJANG tahun 2015, ada tiga buku karya Seno Gumira Adjidarma yang saya koleksi. Selain buku Senja dan Cinta yang Berdarah, yang merupakan kumpulan semua cerpen Seno sejak pertama mengarang di tahun 1970-an, hingga dua buku lain yang merupakan kumpulan esai yakni Tak Ada Ojek di Paris, serta Kartun dalam Politik Humor. Saya menyukai kumpulan cerpen Seno sebab selalu ada rasa bahasa yang khas di situ. Beberapa cerpen yang pernah membuat saya susah tidur adalah Manusia Kamar Pelajaran Mengarang, Sepotong Senja untuk Pacarku, Atas Nama Malam, dan Dodolit.. Doddolit..Dodolitbret. Pada setiap karya Seno, saya menemukan butiran pelajaran berharga, empati yang kuat pada realitas sosial, serta sisi lain kehidupan yang seringkali terabaikan oleh rutinitas yang menjerat.

***

TENTU saja, buku di atas hanyalah 12 dari beberapa yang saya koleksi dan baca. Saat mengamati koleksi buku, saya menemukan satu hal penting yakni minat saya tak fokus pada satu aspek. Minat saya merentang ke beberapa topik, mulai dari sains, ilmu sosial, filsafat, juga sejarah. Saya justru menikmati bacaan yang tidak fokus itu, sebab saya bukan akademisi yang memfokuskan diri pada satu kecakapan. Lagian, seorang akademisi sekalipun dituntut untuk meluaskan perspektif, mengayakan pahaman, sehingga bisa memahami sesuatu secara holistik.

Satu hal yang harus dicatat. Ketika membaca buku, saya tak selalu membacanya sampai tuntas. Kadang-kadang, saya memilih bagian-bagian tertentu yang saya anggap menarik, lalu meresepainya. Saya pun belajar dari orang lain yang juga membaca buku itu. Saya berusaha menyiasati waktu yang menyempit oleh keharusan mengerjakan rutinitas, serta aktivitas mencari nafkah untuk keluarga.

Kebanyakan dari buku di atas telah saya resensi di blog ini. Tujuannya bukan untuk menampilkan ‘kemewahan’ bacaan, tapi semata-mata niatnya untuk berbagi ilmu, serta mendapatkan kesan dan komentar dari orang lain yang juga tertarik membacanya.

Yang pasti, seusai membaca buku bagus, saya selalu terkenang-kenang, dan terobsesi untuk melahirkan karya serupa. Entah kapan bisa fokus untuk melahirkannya. Kali ini saya tak ingin apologi atau pembelaan. Barangkali saya hanya bisa menanam obsesi bahwa kelak saya pun bisa melahirkan sesuatu yang bisa mengendap di benak banyak orang, menggerakkan pikiran, serta kelak bisa abadi dan menyapa berbagai generasi. Semoga.


Bogor, 27 Desember 2015

Suatu Hari Bersama Penulis "Sepotong Senja untuk Pacarku"


 DI ajang Kompasianival 2015, saya sangat bahagia bisa bersua Seno Gumira Adjidarma, penulis yang saya koleksi hampir semua karya-karyanya. Beberapa cerpennya menancap kuat di benak saya, mulai dari Sepotong Senja untuk Pacarku, Pelajaran Mengarang, hingga Sebuah Pertanyaan untuk Cinta. Saya juga menyenangi novel yang dibuatnya, mulai dari Jazz, Parfum dan Insiden, Atas Nama Malam, Kitab Omong Kosong, hingga Naga Bumi: Jurus Tanpa Bentuk.

Saya mengagumi produktivitas serta kemampuannya menulis. Pengarang ini bisa menulis dalam beragam genre dengan kadar yang sangat memikat. Mulai karya sastra seperti cerpen, novel, catatan perjalanan, catatan ringan, reportase, hingga opini. Reportasenya yang paling saya sukai adalah perjalanan menelusuri jejak Wali Songo, para penyebar Islam di tanah Jawa. Ia menyajikannya dengan sangat menarik, padahal ia sendiri seorang pemeluk Kristiani. Saya juga suka karya ilmiah yang ditulisnya. Terakhir saya membaca disertasinya tentang Panji Tengkorak. Sungguh memikat.

bersama Seno

Hampir semua penghargaan di bidang kepenulisan telah diraihnya. Bahkan, ia berani menolak penghargaan bergelimang uang yakni Ahmad Bakrie Award sebagai bentuk empati atas korban lumpur Lapindo. Ia juga punya fans di mana-mana, salah satu di antaranya adalah Pramoedya Ananta Toer, yang menggemari cerpen Penembak Misterius. Semua puncak kepenulisan telah diraih Seno. Hanya saja, ia belum bisa menghasilkan satu masterpiece yang memberi kontribusi bagi tanah air, sebagaimana diakukan Pramoedya dalam karya-karya tetralogi Pulau Buru, yang meluruskan arah sejarah kebangkitan nasional.

Satu lagi, di ajang Kompasianival 2015 yang merupakan ajang kopi darat para blogger terbesar di tanah air, ia justru tak begitu populer. Ia tak banyak dikenal. Saya menyaksikan sendiri bahwa tak banyak blogger yang lalu lalang, yang menyempatkan diri untuk sekadar berjabat-tangan atau berpose dengannya. Saya juga menyesalkan panitia Kompasianival 2015 yang tak menyediakan panggung besar untuknya. Aneh, di ajang pertemuan para penulis, panggung besar malah diberikan kepada Fatin, seorang penyanyi jebolan ajang pencarian bakat. Bukan berarti saya menolak Fatin, namun di ajang yang mempertemukan para penulis, Seno harus diperlakukan seperti raja yang harusnya berbagi kiat-kiat menulis serta menggoreskan pedang kata di kanvas aksara.

Saya juga memikirkan hal lain. Apakah ini gejala kalau kita meminggirkan sastra yang sejatinya memanusiakan kita semua? Ataukah kita lebih terpukau dengan hal-hal glamour dan penuh riuh tawa, lalu mengabaikan suasana sublim, reflektif, serta kejernihan yang justru menjadi sahabat karib para penulis? Atau bisa juga ini pertanda kalau minat baca, minat menjelajah di dunia kata, ataupun hasrat mengenali para penulis besar di tanah air semakin terikis perlahan-lahan. Jika fenomena ini benar, boleh jadi, Seno akan menjadi museum yang hanya dikenang sedikit orang. Entah.

Apapun itu, di mata saya, Seno Gumira Ajidarma adalah dewa. Ia adalah panutan bagi dunia sastra dan dunia kepenulisan tanah air. Dahulu, saya sempat bersedih karena tak sempat berpose dengan pengarang Pramoedya. Namun rasa sedih itu sedikit terobati karena telah berpose dengan Seno, berjabat tangan dengannya, serta berbincang dengan lelaki yang kharismanya seperti seorang pendekar senior di jagad persilatan. Dengan rambut putihnya, ia seperti seorang suhu di rimba kepenulisan. Ia serupa Pendekar Tanpa Nama, seorang pendekar tak terkalahkan dalam kisah Naga Bumi yang ditulisnya.


Jakarta, 13 Desember 2015

Berbagai Tanya di Masjid Keramat



BERKUNJUNG ke makam mereka yang dikeramatkan selalu memberikan sensasi tersendiri. Saya merasakan ada energi kuat yang pancarannya masih terasa, menggerakkan ribuan orang untuk berziarah, serta menjaga satu komunitas agar tetap hangat, meskipun nyala api yang menyatukan mereka telah menjadi kisah yang dituturkan dengan bibir bergetar.

Kemarin, saya berkunjung ke Masjid Noer Alatas di kawasan Empang, Kota Bogor. Masjid ini sering disebut masjid keramat di Empang, Bogor. Di belakangnya, terdapat makam Al Habib Abdullah bin Mukhsin Alatas, seorang warga Yaman yang datang ke Bogor pada tahun 1828. Beliau seorang penyebar dan pengamal Islam yang amat dicintai warga sekitar. Sampai-sampai, puuhan tahun setelah kematiannya, ia tetap dikunjungi dan didoakan. Energinya masih terasa. Bahkan mereka yang tak mengenalnya, datang melepas rindu, sekaligus menyerap kembali ilmunya yang dilantunkan para murid.

Para habib, yang merupakan keturunan rasul, sering datang berkunjung. Para pengikut habib juga datang sehingga masjid itu semarak dengan doa yang selalu dikumandangkan. Di sekitar masjid, bisa saya saksikan bagaimana komunitas Arab membuka lapak-lapak, dan menjajakan kurma, tasbih, pewangi, serta kuliner khas Timur Tengah. Kampung itu menjadi kampung Arab.

Kata seorang sahabat, para habib berdoa di masjid ini dengan tangisan yang dikeraskan. Air mata mereka menetes-netes saat menyebut nama Tuhan. Saya membayangkan kecintaan yang begitu dahsyat. Saya membayangkan kerinduan yang amat sangat untuk bertemu dengan Sang Pencipta, mereguk nikmatnya pertemuan, kemudian mencerahkan batin, lalu mengisi kehidupan sebagai pribadi yang penuh makna.


Add caption

Tentu saja, saya tak sanggup untuk berdoa dengan air mata menetes. Saya rasa, berdoa di level itu membutuhkan sikap melepaskan semua kenikmatan dunia, demi membiarkan udara spiritual merasuk dan memenuhi jiwa. Barangkali hanya mereka yang lembut dan menyirami batinnya dengan kecintaan yang bisa melakukannya. Saya adalah seorang pendosa yang hanya bisa berkunjung dan menyaksikan para manusia setengah awliya sedang berdoa dan meratapi dunia yang serupa belenggu bagi seluruh manusia.

“Kamu dari mana?” Seorang bapak yang penampilannya serupa pengemis tba-tba bertanya.
“Saya dari jauh, Kebetulan saja tinggal di kota ini.” Jawab saya.
“Saya mendoakanmu supaya kamu selalu selamat dan jadi orang besar,” katanya.

Dia lalu berdoa. Saya pun memejamkan mata. Setelah doa selesai, tangannya terbuka diacungkan ke saya sebagai tanda sedang meminta sesuatu. Saya sempat tak paham, sebelum akhirnya memasukkan tangan ke dalam dompet lalu mengeluarkan beberapa lembar ribuan. Pepatah tak ada sesuatu yang gratis berlaku juga di sini. Bapak itu rupanya mendoakan saya demi beberapa lembar sedekah. Untung saja, saya punya sesuatu. Andai tak punya, entah apa yang akan dikatakannya.

Apapun itu, saya agak sedih dengan perilaku mengemis itu. Jika ia mengklaim dan meyakini doanya bisa menghadirkan rezeki dan nasib baik untuk saya, mengapa dia tidak mendoakan dulu dirinya sehingga tidak perlu mengemis di tempat itu dengan bibir bergetar karena menyebut nama-Nya? Mengapa ia tak meminta langit membukakan pintu rezeki untuknya sehingga tak perlu melakukannya demi gemerincing koin rupiah?

Ah, andai saja Habib Abdullah bin Mukhsin Alatas bisa bangkit dari kuburnya, apakah gerangan yang akan dikataannya? Jika ia melihat masjid yang didirikannya dipenuhi para peziarah, serta warga yang menadahkan tangan demi sedekah, apakah gerangan reaksinya? Apakah ia akan segera terdiam mengingat nilai-nilai yang diajarkannya? Ataukah ia akan seperti Muhammad Yunus di Bangladesh sana yang lalu membumikan indahnya agama dalam sikap berbagi pada sesama, membantu yang miskin dan papa, atau menolong mereka yang membutuhkan bantuan.

beberapa foto Habib
pedagang di masjid

pewangi dan tasbih yang dijajakan

Tanggung jawab besar yang harusnya diemban setiap Muslim adalah bagaimana menjadikan indahnya Islam sebagai sukma yang menggerakkan komunitas, membangun rumah perekenomian yang kokoh, menguatkan sendi-sendiri kemandirian umat di segala level kehidupan. Harusnya umat tak hanya menangis saat berdoa, tapi juga meratap saat melihat saudaranya masih terjerat kemiskinan, lalu mencari cara untuk mengatasinya dengan bergotong-royong daam spirit religiusitas.

Harusnya umat menjadi umat paling unggul, bukan unggul dalam hal jumlah, tapi kualitas kehidupan yang mencakup kemandirian ekonomi, kekuatan secara politik, serta bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam yang ada di sekitar. Harusnya umat Islam bisa memberikan bahagia bagi semua orang, mengelola alam dan seisinya sebagai warisan bagi umat mendatang, membangun peradaban yang penuh kedamaian, kebahagiaan, serta diikat oleh ilmu pengetahuan yang mencintai semua aspek kemanusiaan.

Bisakah Islam mengentaskan semua ketidakberdayaan, mengubah barisan umat menjadi parade para dermawan yang memiliki kepedulian untuk membangkitkan sesamanya demi masa kini dan masa depan yang sama-sama indah? Bisakah umat memiliki gerak bersama, tidak menindas sesama, teguh seperti karang saat ditawari segepok uang hasil korupsi, serta menyebar kebaikan dalam setiap inchi kehidupannya? Bisakah agama menjadi nilai-nilai untuk menjaga manusia agar tidak tamak dan serakah pada sesamanya, menjadi cahaya yang menerangi banyak orang di sekitarnya?

“Om, bisa minta sodakoh?” beberapa anak berbaju kotor datang mengerubungi saya. Kali ini saya tak bisa berkata apa-apa. Ada banyak getir di hati saya.


Bogor, 25 Desember 2015



Lelaki di Pulau Kodingareng Lompo


suasana di Pulau Kodingareng

MESKIPUN Kahar, lelaki asal Pulau Kodingareng, Makassar, tidak pernah mengenyam bangku pendidikan formal, ia sanggup mengelola desalinator air laut yang merupakan bantuan pemerintah. Pada dirinya terdapat kisah tentang semangat untuk terus belajar serta membangun jaringan dengan masyarakat. Inilah kisah tentang hal-hal baik dari program pendampingan masyarakat. Siapa bilang masyarakat kita bodoh?

***

LELAKI itu memperlihatkan sebuah buku yang kertasnya agak kumal. Di situ, terdapat tulisan nama beberapa warga desa, serta tabel-tabel. Katanya, tabel itu berisikan nama-nama mereka yang mengambil air galon. Ia menyusun pembukuan, mencatat semua pengeluaran, lalu menghitung keuntungan bulanan.

Lelaki itu bernama Kahar. Ia bekerja sebagai salah seorang pengelola sarana desalinator air laut di Pulau Kodingareng, Makassar. Katanya, sejak alat itu dioperasikan, ia mencatat dengan rapi semua transaksi pembelian air. Bahkan, ia juga masih menyimpan catatan ketika alat desalinator pertama kali difungsikan di pulau kecil yang didiaminya.

Mulanya kami tak percaya. Ia lalu masuk rumah, lalu keluar sambil membawa tumpukan kertas kumal. Ia tersenyum saat menunjukkan transaksi yang terjadi, serta ke mana saja sisa uang dibelanjakan. Kertas-kertas kumal itu masih bisa dibaca dengan jelas. Di situ tertera tulisan “air galon ketika dijual di tempat.” Maksudnya, siapa saja bisa membeli air galon di dekat desalinator. Tulisannya adalah tulisan bersambung yang amat mudah dibaca. Ia mencatat siapa saja yang melakukan transaksi pada hari tertentu. Catatan itu menjadi jejak sejarah tentang proses belanja pada satu masa.

Berkat catatan kumal itu, ia bisa mempertanggungjawabkan proses pembelian sebuah sepeda motor yang kemudian berguna untuk mengantarkan galon ke seantero pulau. Wawasan bisnisnya cukup baik. Ia sudah bisa memperkirakan seberapa banyak keuntungan yang didapatkan selama setahun.

“Saya sudah bisa perkirakan berapa galon yang habis dalam satu hari. Makanya, saya sudah bisa hitung berapa keuntungan bulanan,” katanya ketika ditanya tentang prediksi keuntungan.

Uniknya, ia tidak pernah mendapatkan pendidikan akutansi atau pengelolaan keuangan. Sekolahnya hanya sampai level sekolah menengah di pulau itu. Akan tetapi ia bisa mengelola alat desalinator, yang anggotanya puluhan orang. Ia belajar keuangan, tanpa belajar ilmu keuangan di sekolah formal. Ia punya kapasitas memimpin, walaupun ia tidak belajar khusus tentang ilmu kepemimpinan.

Selalu saja ada banyak hal mencengangkan ketika di lapangan. Mereka yang dihinggapi bias kota akan menganggap bahwa orang-orang desa ataupun orang-orang pulau tak memahami bagaimana membangun sistem keuangan dan perencanaan. Akan tetapi, Kahar menunjukkan bahwa kerapihan sistem keuangan adalah bagian dari habit yang bisa diasah dan dikembangkan. Buktinya, ia bisa menata keuangan dengan sangat rapi.

***

Kahar menjalin relasi dengan banyak pihak. Di level komunitas, ia menggerakkan kelompok masyarakat dan senantiasa berhubungan dengan para pengelola Destructive Fishing Watch (DFW), pendamping, dan pemerintah. Ia bertanggungjawab atas pengelolaan sarana dan prasarana di pulau kecil yang dimaksudkan untuk menjamin kesejahteraan masyarakat. Terkait hal itu, ia mebangun konsep perencanaan dan pemanfaatan sarana dan prasarana secara berkelanjutan. Perencanaan yang dimaksud adalah proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan saat proses tersebut dilakukan dan memberi manfaat pada waktu yang akan datang.

Catatan yang dibuat Kahar

Sehubungan dengan aktifitas pendampingan fasilitator sarana dan prasarana di beberapa pulau pulau kecil maka konsep pengelolaan dimaksud yaitu sedapat mungkin melakukan fasilitasi mulai dari tahap perencanaan (action plan) sampai pada tahap implementasi pelaksanaan dan pasca pendampingan dilakukan. Makanya, pengelolaan sarana dan prasarana mengakomodir dan mengedepankan kepentingan masyarakat sebagai penerima manfaat program efektifitas sarana dan prasarana di pulau pulau kecil berbasis masyarakat.

Makanya,  proses dan pelibatan masyarakat adalah merupakan kunci dalam setiap tahapan pengelolan sarana dan prasarana mengingat kegiatan pemikiran, ide-ide dan perumusan tindakan-tindakan dapat memberikan manfaat di masa yang akan datang, baik berkaitan dengan kegiatan-kegiatan operasional dalam pengadaan, pengelolaan, penggunaan, pengorganisasian, maupun pengendalian sarana dan prasarana.

Pengelolaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana di pulau kecil merupakan bagian dari fungsi manajemen yang harus dilaksanakan oleh kelompok pengelola bersama sama pemerintah daerah setempat. Berkaitan dengan hal itu, maka dalam proses pengelolaan diperlukan adanya kontrol yang baik dan menyeluruh.

Pengelolaan berbasis masyarakat itu merupakan upaya untuk menjawab kebutuhan infrastruktur dasar di pulau kecil. Dengan demikian, pengelolaan itu diharapkan bisa memberikan jawaban atas persoalan yang dihadapi seperti minimnya sarana air bersih, sanitasi yang buruk dan permasalahan lainnya. Pemeliharaan terhadap sarana dan prasarana air bersih dan minawisata merupakan aktivitas yang harus dijalankan untuk menjaga agar kondisi peralatan tetap terawat sehingga pemanfaatannya dapat berkelanjutan dan kebutuhan dasar di pulau pulau kecil secara bertahap dapat terpenuhi dengan memberikan contoh dan implementasi pengelolaan yang baik, termanfaatkan dan berkelanjutan.

Tujuan pengelolaan sarana dan prasarana itu sendiri adalah; (1) meningkatkan jumlah penerima manfaat dari adanya sarana dan prasarana di pulau pulau kecil melalui desalinasi air dan minawisata, (2) menciptakan dan mengidentifikasi usaha ekonomi produktif di pulau pulau kecil dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat pemanfaat setelah adanya sarana dan prasarana, (3) menciptakan kemandirian ditingkat masyarakat khususnya kelompok pengelola yang diberi mandat oleh masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sarana dan prasarana, (4) menciptakan peluang dan kerjasama kemitraan kelompok pengelola dengan berbagai pihak dalam mendukung usaha ekonomi produktif di pulau pulau kecil dan (5) menciptakan kemandirian kelompok pengelola dalam melakukan kontrol terhadap administrasi organisasi, pembukuan dan teknis terhadap sarana dan prasarana desalinasi dan minawisata.

***

KISAH Kahar yang sukses sebagai pengelola bisa mendatangkan banyak inspirasi. Namun, setiap kali ditanya tentang kisah suksesnya, ia selalu mengelak. Baginya, apa yang didapatnya adalah buah dari kerja keras semua anggotanya. Sebagaimana dikatakannya,  sarana dan prasarana di Kota Makassar khususnya desalinator air bersih di Pulau Kodingareng Lompo dan Minawisata di Pulau Samalona sangat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat setempat termasuk pulau-pulau di sekitarnya.

Kahar di Pulau Kodingareng

Fasilitator di Makassar mengakui kalau selama kegiatan pendampingan dilaksanakan dalam kurun waktu periode Februari – September 2014 kelompok pengelola sudah terbentuk sebelumnya dan telah ditetapkan melalui SK Dinas Kelautan Kota Makassar. Fokus utama fasilitator di awal kegiatan pendampingan adalah melakukan penguatan kelompok yang telah dibentuk tersebut. Hal ini dilakukan dan dirasakan sangat perlu mengingat dalam aspek pengelolaan terkait sarana dan prasarana yang telah tersedia bisa difungsikan secara maksimal, manfaatnya dirasakan oleh masyarakat secara baik, peran dan fungsi anggota kelompok masyarakat pengelola berjalan efisien dan efektif, serta terpeliharanya sarana dan prasarana sehingga pemanfaatannya dapat berkelanjutan.       
Merujuk pada tugas utama tersebut maka aspek kelembagaan kelompok masyarakat menjadi hal yang mutlak dalam mengefektifkan sarana dan prasarana berbasis masyarakat dipulau pulau kecil. Untuk itu peran kelompok masyarakat pengelola dalam melakukan pengelolaan terhadap sarana dan prasarana desalinasi air bersih dan minawisata yang telah disediakan oleh pemerintah pusat sedapat mungkin dapat dimanfaatkan secara maksimal dan seefisien mungkin sehingga membawa manfaat bagi masyarakat.

Kahar bercerita singkat tentang beberapa keberhasilan pendampingan di Pulau Kodingareng Lompo. Pertama, adanya pembarahuan laporan pembukuan kelompok desalinasi yang dapat di pantau secara periodik serta terciptanya kontrol yang baku. Ia telah menunjukkan keberhasilan itu melalui pembukuan yang rapi dan teratur.

Kedua, adanya petunjuk yang real terkait laporan pembukuan kelompok terhadap pengelolaan sarana dan prasarana baik dari aspek produksi air maupun hasil penjualan dan operasional yang nantinya dapat di pertanggung jawabkan oleh kelompok pengelola dan pemerintah desa/ kelurahan. Aspek akuntabilitas ini bisa dipenuhi seiring dengan rapinya administrasi.

Ketiga, terealisasinya laporan kelompok pengelola desalinasi air ke Dinas Kelautan Kota Makassar sebagi bentuk kontrol pengawasan dan asistensi bagi dinas kelautan kota makassar untuk melakukan evaluasi serta mengetahui perkembangan program air bersih di Pulau Kodingareng Lompo. “Kami secara rutin melaporkan semua perkembangan,” katanya.

Keempat, terealisasinya alat transportasi (kendaraan roda dua) untuk membantu pendistribusian air bersih kemasan galon ke rumah warga masyarakat yang membutuhkan. Saat kami berkunjung ke Pulau Kodingareng Lompo, alat roda dua itu digunakan untuk mengantarkan air galon ke rumah-rumah penduduk.

dermaga di Pulau Kodingareng

Kelima, meningkatnya pemahaman anggota kelompok dan aparat kelurahan akan pentingnya sarana dan prasarana air bersih di Pulau Kodingareng Lompo bagi masyarakat umum dan oleh karenanya untuk efektifitas dan keberlanjutannya kelompok pengelola dan aparat kelurahan bersama - sama melakukan pemeliharaan sebagai aset penting yang perlu dikembangkan.

Keenam, peningkatan jumlah pemanfaat di lokasi program setelah dilakukan pendampingan. Kondisi ini dirasakan manfaatnya oleh kelompok masyarakat pengelola dalam mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat pemanfaat termasuk masyarakat kurang mampu. Dengan demikian dalam melakukan pengelolaan kelompok masyarakat pengelola menyadari pentingnya penambahan anggota dalam membantu pendistribusian air bersih sampai ke tingkat masyarakat dengan meningkatkan bentuk pelayanan yang baik dan memuaskan konsumen.

Proses pendampingan di Makassar mencatat banyak kisah sukses. Pulau-pulau yang menjadi lokasi dampingan mencatat kemajuan signifikan ketika menerapkan berbagai masukan dalam proses pendampingan. Salah satu yang nampak di depan mata adalah meningkatnya jumlah kunjungan wisatwan ke Pulau Samalona, khususnya setelah adanya sarana dan prasarana minawisata. Kondisi ini memberi dampak terhadap peningkatan jumlah pendapatan masyarakat di pulau tersebut. Selain itu, keberadaan jetty apung juga menjadi daya tarik tersendiri bagi semua wisatawan.

Keberhasilan itu juga terlihat dari adanya sambutan positif dari aparat Pemerintah Kecamatan Mariso sehubungan berjalan dan terlaksananya program pendampingan dan bantuan sarana dan prasarana di Pulau Samalona. Mereka senantiasa berkunjung ke lokasi dan berdiskusi dengan masyarakat mengenai pelaksanaan program.

Terakhir, hal yang paling membahagiakan adalah berjalannya konsep pengembangan minawisata di Pulau Samalona, yakni berperan sebagai budidaya yang dilakukan oleh kelompok pengelola bersama masyarakat setempat dan wisata pemancingan bagi wisatawan yang berkunjung ke pulau ini.

Keberhasilan ini telah sampai ke pihak pemerintah daerah. Beberapa kali perwakilan pemerntah daerah datang dan menyatakan dukungan pada sarana dan prasarana serta pengelolaan yang dilakukan oleh kelompok masyarakat pengelola di pulau-pulau. Melalui Dinas Kelautan Kota Makassar secara rutin telah melakukan pembinaan per triwulan melalui kegiatan monitoring dan evaluasi. Selain itu kepada kelompok pengelola juga mendapat dana operasional melalui APBD Kota Makassar.


Desember 2015


Catatan:

Tulisan ini adalah bagian kecil dari buku Membangun Indonesia dari Pinggiran yang saya buat bersama Moh Abdi Suhufan dan Syofyan Hasan.
            
 

Dilema PKS, Dilema KUASA



KEMARIN, petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) datang menemui Presiden Joko Widodo. Meskipun mereka menolak sinyal tentang merapatnya partai dakwah itu ke pemerintah, opini publik perlahan terbentuk. Di akar rumput, sedang ada kegamangan tentang sikap itu. Padahal, di kalangan elite politik, beberapa sinyal sudah terbaca sejak pilpres berakhir. Apakah gerangan yang sedang terjadi?

***

ANAK muda itu kini lebih banyak diam. Padahal, beberapa waktu lalu, ia sangat aktif di dunia maya. Setiap kali ada celah yang mengabarkan tentang keburukan pemerintah, pasti akan segera dibagikannya. Ia tak menyisakan sedikitpun apresiasi. Tak ada sedikitpun harapan akan pemerintahan yang lebih baik. Hari-harinya adalah menebar kabar yang tak mengenakkan terhadap rezim.

Anak muda itu adalah salah satu simpatisan partai berlabel Islam. Sejak sebelum kampanye presiden, ia mendedikasikan dirinya sebagai seorang pejuang di dunia maya. Ia produktif dalam mencari celah dan kesalahan. Dianggapnya semua yang dilakukannya adalah bagian dari dakwah. “Umat butuh pandangan kritis. Saya akan menjadi salah satu pengisinya,” katanya.

Politik adalah seni untuk mengelola berbagai kemungkinan. Dalam politik, kelenturan adalah bagian dari keahlian yang diasah seorang politisi. Segala hal bisa dinegosiasikan. Sikap yang kaku dan keras, bisa menjadi simbol ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan situasi yang terus berubah. Tanpa sikap adaptif, seseorang bisa ditelan oleh mesin besar perubahan.

Sikap pengurus pusat itu tentu saja memuat anak muda itu terhenyak. Ia membayangkan sikapnya yang meneruskan segala cuitan dari Fahri Hamzah, salah satu petinggi partai yang paling berani. Ia mengingat kalimat benci yang disuarakannya di berbagai media sosial. Ia juga mengingat berbagai kabar yang terlanjur disebar. Lantas, apakah semua itu akan berubah haluan?

Di depannya, saya tak banyak berkomentar. Sejak beberapa bulan lalu, saya sudah mendengar rumor tentang apa yang terjadi di tubuh partai ini. Seorang sahabat yang menjadi tenaga ahli partai dakwah itu di DPR RI telah menjelaskan peta politiknya. Ia menyebutkan tentang adanya keinginan dari banyak orang untuk melakukan reposisi gerakan.

Sikap yang terlalu membela mati-matian rezim Koalisi Merah Putih (KMP) ditafsir bukan sikap yang tepat. Sikap itu hanya menyulitkan partai dan banyak kader yang sedang meniti buih di atas samudera politik. Sementara sikap membenci habis-habisan pada pemerintah hanya akan membuat partai itu mengempis. Asumsinya kalau kinerja pemerintah kian populis dan menyentuh banyak orang, suara pendukung pemerintah akan membesar, dan suara partai itu akan mengempis.

Maka, jalan tengah harusnya dihamparkan. Partai harus merapat ke pemerintah, demi menjaga kelangsungan gerak semua kader di level bawah, yang berprofesi sebagai pengusaha, rekanan pemerintah, pejabat eleson dua, pejabat daerah, hingga sejumlah walikota, bupati dan gubernur. Sikap membenci semua yang dilakukan pemerintah bisa kontra-produktif dengan tindakan kader yang sedang melakukan sesuatu.

Demi untuk menjaga marwah partai yang bisa dituduh oportunis, istilah “oposisi loyal” dikemukakan. Tujuannya adalah tetap menegaskan posisi yang berseberengan dengan pemerintah, namun tetap mendukung kebijakan yang pro-rakyat. Sikap ini jelas abu-abu dan terkesan membingungkan.

Harusnya, yang dibangun adalah sejumlah kriteria tentang politik yang lebih menjamin keadilan dan kesejahteraan rakyat, lalu menjadikan itu sebagai lensa untuk mengamati dunia politik. Dan sikap oposisi yang paling berani adalah keberanian untuk berdiri di luar pemerintah, namun menjadi partner yang cerdas, tak sekadar membebek, tapi konsisten menawarkan nilai dan jalan keluar paling baik untuk memastikan pemerintah sedang memihak rakyat.

Kita juga bisa melihatnya dari sisi yang pragmatis. Seorang teman yang menjadi kontraktor malah dengan tenangnya bercerita banyak hal. Sejak partai itu memilih sikap oposisi, semua proyek disambar oleh pihak lain. Yang paling menyedihkan adalah beberapa kementerian yang selama ini proyek-proyeknya dikapling kader partai itu tiba-tiba saja menutup pintu untuk mereka. Pemain baru berdatangan. Banyak yang terpental. “Partai kan dibentuk untuk memberikan akses bagi kader. Apa kita sanggup puasa selama lima tahun?” katanya.

***

WAJAH politik kita hanya hiruk-pikuk saat momen pemilu legislatif. Saat itu, semua ideologi, citra, serta cita-cita partai dilafalkan semua kader dengan bibir bergetar. Setiap kader mengujungi rumah-rumah demi memberikan pencerahan, lalu meniupkan berbagai imaji tentang Indonesia yang lebih baik.

Di ajang pemiihan presiden, politik kembali hiruk-pikuk. Semuanya menawarkan janji-janji perubahan. Saat seorang kandidat kalah, maka saat itu juga peta langsung berubah. Pihak yang kalah tak bisa mengelola energi kekalahan itu menjadi masukan yang konstruktif sebagai amunisi untuk pemilihan mendatang. Yang muncul di kubu yang kalah adalah kesunyian, ketiadaan energi kreatif, lalu berubah menjadi sikap nyinyir.

Yah, yang muncul adalah sikap nyinyir. Sikap ini bisa diterjemahkan sebagai sikap yang selalu mencari celah dan menciptakan keburuan atas sesuatu. Tentu saja, Indonesia butuh sikap kritis yang fokus pada substansi serta gagasan-gagasan. Tapi kenyinyiran hanyalah tanda kekanak-kanakan. Yang hendak dihadirkan bukan lagi sikap kritis, tapi sikap olok-olok dan benci yang bisa menelan energi besar untuk selalu menyebarkannya ke mana-mana.

Dunia politik kita serupa piramida. Di lapis bawah, terdapat banyak orang yang menjaga marwah dan ideologi perjuangan. Wacana tentang perjuangan dan ideologi terdengar dengan nyaring di lapis bawah, lapisnya mereka yang masih bening dan jernih melihat politik sebagai arena untuk membumikan nurani publik. Di berbagai ajang kaderisasi, politik menjadi mata air untuk mengalirkan visi-misi serta menjadi ruh yang menggerakkan semua hal. Mereka yang berada di bawah, akan merasakan betul betapa partai politik memiliki niat luhur.

Di lapis bawah, semangat perubahan dan menjebol zaman itu terasa sedemikian kencang. Seorang kader rela melakukan apapun demi membumikan spirit dan ideologi pergerakan. Bahkan setiap kader berani menyandang pedang keadilan demi mengadili pemerintah ataupun oknum yang dianggapnya telah menyimpang dari garis perjuangan partai.

TAPI di level atas, semangat itu tak begitu terasa. Yang ada adalah semangat pragmatisme, serta sikap yang selalu mencari celah-celah nyaman. Akan sulit mencari konsistensi di tengah iklim politik yang serba tak pasti. Demi mufakat, semua politisi melakukan musyawarah yag lalu bermuara pada kompromi dan sikap tahu sama tahu. Lobi-lobi dan negosiasi menjadi sesuatu yang lazim demi memuluskan banyak hal, yang semuanya bermuara pada tercukupinya kebutuhan ‘sandang-pangan-papan’ dari beberapa pihak yang terlibat di dalamnya.

Politik adalah soal siapa mendapatkan apa, kapan dan bagaimana. Politik adalah soal keberanian untuk memilih antara aspek “keadilan” ataukah aspek “kesejahteraan,” dua hal yang sejak lama saling tarik-menarik di tubuh partai itu. Di level pusat, semua politisi bisa memiliki perilaku yang sama, apapun ideologinya. Dan pada akhirnya, ideologi hanya menjadi materi di foum pengkaderan, tanpa mewujud dalam sikap dan tindakan.

“Ah, saya tak bisa berkata-kata. Saya memilih menunggu sikap pengurus pusat,” demikian kata sahabat yang dahulu aktif di media sosial itu. Saya bisa merasakan ada getir dalam kalimat-kalimatnya. Entah.

22 Desember 2015

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...