Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Ballon d'Or Bukan untuk Christiano Ronaldo




SEMBURAT cahaya memenuhi Menara Eiffel, Paris, semalam, saat trofi Ballon d’Or 2017 diserahkan kepada bintang Portugal Christiano Ronaldo. Pesepakbola dari klub los galacticos, Real Madrid, itu menerima penghargaan itu untuk kelima kalinya, jumlah yang sama dengan raihan si boncel Lionel Messi dari Argentina. Cahaya-cahaya Menara Eiffel menahbiskan Ronaldo sebagai salah satu yang terbaik sejagad.

Banyak kisah di balik penghargaan ini. Mulai dari pujian filosof Carlo Ancelotti, mantan pelatih Milan dan Bayern Munchen, hingga apresiasi bintang muda Kylian Mbappe yang bermain di Paris Saint Germain. Ada pula hadiah baju bayi berhias lima trofi Ballon d’Or untuk bayi kecil Alana Martina, buah cinta Ronaldo dengan Georgina. Ada juga tekad Ronaldo untuk terus bersaing dengan Messi, si boncel dan si kutu yang skill bolanya selevel dewa.

Nun di sana, di satu kampung kecil Portugal, seorang pemuda menyaksikan peristiwa itu dengan mata basah. Seorang pemuda yang disebut Ronaldo sebagai sahabat terbaik yang melempangkan karpet hebat untuk kebintangannya. Seorang pemuda, yang selalu disebut Ronaldo dengan takzim sebagai penerima Ballon d’Or sesungguhnya. Pemuda yang lebih hebat dari Ronaldo.

***

HARI itu, 24 Mei 2014, cahaya terang menyemburat dari jantung Stadium of Light di Lisbon, Portugal. Real Madrid berhasil menjadi juara Liga Champion setelah mengalahkan rival sekotanya Atletico Madrid. Pertandingan itu berjalan sedemikian dramatis dan begitu menegangkan bagi yang menyaksikannya.

Dalam pertandingan dramatis itu, Atletico Madrid lebih dulu unggul melalui gol yang dicetak Diego Godin pada menit ke-36. Hingga jelang akhir babak kedua, belum ada gol tercipta. Raut penuh kebahagiaan mulai memancar dari wajah Diego Simeone, pelatih Atletico Madrid. Ia membayangkan dirinya akan segera bersulang dengan “si kuping besar”, nama piala Champion yang memiliki pegangan lebar, untuk pertama kalinya.

Menjelang akhir babak kedua, harapan itu ibarat asap yang tersaput awan. Sergio Ramos mencetak gol pada menit ke 90 + 3. Skor menjadi 1 – 1. Pertandingan dilanjutkan dengan babak tambahan. Di sinilah Real Madrid menghadirkan kengerian bagi mimpi-mimpi Simeone. Tiga gol tambahan dicetak oleh Gareth Bale, Marcelo, serta tendangan penalti Christiano Ronaldo. Yup, nama terakhir ini menjadi penentu yang meramaikan selebrasi kemenangan Real Madrid. Namanya diteriakkan dan dielu-elukan oleh semua penonton.

Semua pendukung Real Madrid bersorak-sorak penuh kemenangan. Para pemain diarak menuju ke panggung untuk menerima medali serta piala. Semua media dan jurnalis berdiri di depan panggung lalu memotret momen dramatis itu. Ribuan cahaya blitz kamera tak henti mengabadikan momen bersejarah itu.

Tapi di tengah euforia dan bahagia yang diletupkan ke udara itu, pemain paling hebat di Madrid, Christiano Ronaldo, malah meninggalkan panggung. Ia berlari menuju tribun para penonton. Ia meninggalkan selebrasi di panggung utama. Dari tribun penonton, seorang pria dekil berdiri dan menyambut Ronaldo. Keduanya lalu berpelukan di tepian lapangan sambil berurai air mata.


 

Para jurnalis bertanya-tanya. Mengapa pula Ronaldo harus meninggalkan panggung penuh cahaya hanya untuk berpelukan dengan lelaki itu? Siapakah gerangan dirinya? Para jurnalis lalu mendekati lelaki yang dipeluk Ronaldo itu. Sayangnya, lelaki itu tak ingin diwawancarai. Ia melenggang meninggalkan Stadium of Light dan membiarkan para jurnalis dan publik bertanya-tanya. Lelaki itu menjadi misteri.
***

“Namanya Albert Fantrau,” demikian kata Ronaldo dalam sesi wawancara, beberapa hari sesudahnya. Ia menjawab pertanyaan para jurnalis yang penasaran dengan sosok lelaki itu. Seusai menyebut nama Fantrau, Ronaldo lalu terdiam. Matanya berkaca-kaca saat bercerita lirih tentang lelaki itu. Tanpa Fantrau, Ronaldo mengaku tak akan bisa menggapai kegemilangan dalam karier. Tanpa lelaki itu, ia tak mungkin mendapatkan sepatu emas sebagai salah satu pesepakbola paling ajaib di muka bumi.

Saat masih kanak-kanak, Ronaldo bermain bersama Fantrau di Andorinho, satu akademi sepakbola di Portugal. Keduanya adalah pemain paling berbakat di akademi itu. Keduanya adalah duet maut yang menggetarkan jala lawan. Tak ada satupun pemain muda yang sehebat keduanya. Mereka selalu bersama dan menjadi karib di dalam dan luar lapangan.

Suatu hari, seorang pemandu bakat dari klub besar Sporting Lisbon datang ke akademi itu. Pemandu bakat itu hendak merekrut pemain yang akan mengisi skuad Sporting Junior. Sayangnya, ia hanya bisa membawa satu orang pemain. Ronaldo harus bersaing dengan Fantrau. Untuk pertama kalinya, kedua sahabat itu harus bersaing memperebutkan satu slot tersisa. Siapa di antara mereka yang mencetak gol lebih banyak, akan direkrut ke dalam Sporting Junior.

Seleksi itu berjalan fair. Ronaldo mencetak gol pertama melalui tendangan terukur. Tak lama kemudian, Fantrau juga mencetak gol pertama melalui sundulan. Skor keduanya sama. Hingga akhirnya, pertandingan nyaris berakhir tanpa ada gol tambahan.

Dalam waktu sesempit itu, Fantrau berhasil menggocek bola dan membawanya hingga berhadapan dengan kiper lawan. Ronaldo berlari dari arah lain. Ronaldo merasa dirinya akan kehilangan kesempatan bergabung dengan klub besar sebab Fatrau akan segera mencetak gol.

Dalam situasi tinggal berhadapan dengan kiper lawan, dalam situasi akan segera menjadi pemenang, Fantrau justru mengoper bola ke Ronaldo. Gol tercipta. Ronaldo mendapatkan kesempatan emas yang seharusnya dimiliki Fantrau. Ronaldo mendapatkan “hadiah” berupa peluang mencetak gol dari seseorang yang harusnya mendapatkan kesempatan itu. Pemain bernama asli Ronaldo dos Santos Aveiro ini mencetak gol lebih banyak, sehingga berkesempatan bergabung dengan Sporting Lisbon.

“Mengapa kamu melakukan ini?” tanya Ronaldo di luar lapangan.  “Because you are better than me,” kata Fantrau. Kamu lebih baik. Kamu lebih berhak atas kesempatan emas ini. Kamu akan lebih cemerlang. Fantrau menekan semua ego dan mimpi-mimpinya untuk menjadi pemain besar demi membuka jalan bagi sahabatnya. Ronaldo menggambarkan sahabatnya dalam kalimat indah:
“I have to thank my old friend Albert Fantrau for my success. We played together for the same team in the U-18 championship. When a scout came to see us he said that, Whoever scores more goals will come into our academy. We won that match 3-0. I scored the first goal then Albert scored the second with a great header. But the third goal was impressive for all of us. Albert was one-on-one against the goalkeeper, he rounded the goalkeeper and I was running in front of him. All he had to do was to score that goal but he passed it to me and I scored the third goal, so I got that spot and went to the academy. After the match I went to him and asked him why? Albert said that “Because you (Ronaldo) are better than me.”
Pengorbanan Fantrau tak sia-sia. Ronaldo hijrah ke Sporting. Selanjutnya ia direkrut Manchester United, lalu mencetak banyak sejarah. Ia lalu berlabuh ke Real Madrid dan kembali melanjutkan kebintangannya. Ia meraih banyak hasil hebat, yang salah satunya disebabkan oleh pengorbanan seorang sahabat kecilnya. Ia memanen banyak kesuksesan, yang diawali oleh gol yang dihadiahkan Fantrau.

***

BERBAGAI penghargaan singgah di pangkuan Ronaldo. Di balik penghargaan itu ada kisah seorang sahabat yang memberi jalan bagi sahabat lainnya. Sebagai sahabat, Ronaldo tak pernah melupakan Fantrau. Ia berbagi kegembiraan dengan cara meninggalkan panggung kehormatan, hanya untuk memeluk sahabatnya itu.

Christiano Ronaldo dan Fantrau semasa remaja

Persahabatan keduanya adalah persahabatan abadi. Para jurnalis banyak berkisah tentang kehidupan Fantrau yang berkecukupan karena fasilitas yang diberikan Ronaldo. Semesta memberikan balasan setimpal atas keikhlasan Fantrau kepada sahabatnya. Keikhlasan itu dibalas oleh ketulusan Ronaldo yang akan selalu menganggapnya sebagai sahabat.

Kisah ini memercikkan banyak keping inspirasi. Mereka yang hebat adalah mereka yang berhasil menggapai puncak kesuksesan, bisa membawa diri melampaui semua capaian orang lain. Tapi mereka yang jauh lebih hebat adalah mereka yang membuka jalan bagi kesuksesan orang lain. Mereka yang lebih hebat mendedikasikan dirinya untuk kebahagiaan dan kesuksesan orang lain. Kebahagiaannya terletak pada seberapa banyak kisah dan senyum yang dipancarkan rang lain, berkat jalan kecil yang dirintisnya.

Bahwa di balik seorang hebat, terdapat banyak kisah mengharukan tentang manusia-manusia lain yang memberikan jejak pada pencapaian seseorang. Manusia hebat ini memang tak dicatat sejarah. Mereka jauh dari publisitas. Tapi berkat ketulusan dan keikhlasan mereka, banyak sejarah hebat berhasil ditorehkan. Semesta akan mencatat nama mereka dengan cara lain. Mereka akan diabadikan dalam bintang-gemintang yang berpendar abadi di hati orang-orang yang merasakan sentuhan mereka.

Di Menara Eiffel, Paris, di tengah kilatan ribuan cahaya, Ronaldo mengingat jalan lurus yang dibentang pemuda itu.


Siasat Jokowi Kandangkan Panglima Gatot



BIARPUN masa pensiun belum tiba, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo diberhentikan dengan hormat oleh Presiden Joko Widodo. Pertanyaan yang mencuat adalah mengapa pergantian itu sedemikian cepat? Apa salah Jenderal Gatot hingga diganti sebelum waktunya? Apakah karena dukungan Gatot pada aksi-aksi yang disusupi orasi kecaman pada pemerintah?

Marilah bersama kita menyaksikan manuver dan langkah-langkah politik yang taktis antara Jokowi dan Gatot. Di satu sisi, Gatot terkesan membangkang pada Jokowi. Di sisi lain, Jokowi membiarkan tarian Gatot, tidak memberikan respon berlebihan, hingga akhirnya memaksanya masuk dalam pusaran permainan yang perlahan menenggelamkan Panglima TNI itu. Marilah kita memprediksi, apakah setelah dia turun dari posisi panglima, bintangnya masih seterang sebelumnya atau malah redup?

***

MASSA berteriak marah saat ada isu mengenai para komunis rapat di LBH Jakarta. Banyak organisasi berdatangan hendak merangsak. Polisi siaga di tengah-tengah. Dalam situasi itu massa mengecam polisi lalu meneriakkan dukungan pada TNI. Mengapa harus membawa-bawa nama TNI dalam orasi yang isinya kecaman pada polisi?

Peta politik baru terhampar. Selama sekian dekade, TNI dan Polisi adalah institusi yang akur. Di era Orde Baru,  polisi adalah bagian dari militer. Setelah reformasi, polisi berada di bawah wewenang sipil. Militer masuk ke barak, menanti-nanti kapan ada guncangan stabilitas sehingga keluar barak dengan senjata di tangan.

Di era Gatot, TNI seolah menjadi kekuatan politik. TNI mereproduksi wacana yang isinya respon pada pemerintah berkuasa. Ada insubordinasi serta pembangkangan dalam beberapa pernyataannya. Sejarah mencatat, respon berlebihan pemerintah pada seorang jenderal bisa berujung pada popularitas. Kita sama paham bagaimana nama Susilo Bambang Yudhoyono melejit gara-gara sentilan dari Taufik Kiemas, suami Presiden Megawati.

Ini pula yang menjelaskan bagaimana Jokowi tidak merespon Gatot. Jokowi tidak ingin masuk dalam pusaran permainan politik yang dikendalikan oleh Gatot. Dalam situasi politik yang menyudutkan pemerintah, gatot melainkan kartu. Mungkin saja ia berharap popularitasnya akan terkerek. Mungkin ia sedang membangun fundasi dan infrastruktur politik yang akan dimasukinya saat pensiun. Jokowi memilih hati-hati, dan tidak banyak menanggapi Gatot. Dia bergerak melalui dua prajurit bawahannya yang merupakan mantan jenderal yakni Ryamizard dan Wiranto.

Kini, bola ada di tangan Jokowi. Gatot dalam posisi menyiapkan exit plan yang baik setelah keluar dari TNI. Apakah hendak fokus ke penggalangan opini menjadi calon pemimpin, sesuatu yang pernah diinginkan seniornya Jenderal Moeldoko namun gagal diterapkan? Ataukah ia memilih menunggu saat yang tepat untuk masuk arena.

Secara normatif, urusan pergantian Panglima TNI adalah sepenuhnya wewenang Presiden. Idealnya, Panglima TNI diganti ketika masa pensiunnya tiba. Jika dirunut sejarah, maka dari enam panglima TNI terakhir, hanya Gatot yang memiliki rekor diganti dua bulan sebelum masa pensiun berakhir. Sebelumnya, Moeldoko diganti sebulan sebelum pensiun. Panglima lainnya diganti setelah pensiun. Di antaranya adalah Djoko Suyanto yang diganti 26 hari setelah pensiun, Djoko Santoso (dua hari setelah pensiun), Agus Suhartono (lima hari setelah pensiun).

Di antara banyak Panglima TNI itu, hanya Gatot pula yang pernah diminta oleh berbagai organisasi masyarakat sipil dan pengamat politik untuk segera mundur. Banyak pihak yang gerah dengan manuver Panglima TNI yang terkesan melakukan insubordinasi terhadap pemerintah. Gatot dituduh melakukan beberapa pembangkangan politik, menarik TNI ke dalam gerbong kegaduhan dengan institusi lain, serta beberapa pernyataan yang memicu reaksi.

Di tangan Gatot, TNI menjadi lembaga yang lebih aktif, bukan pasif. Padahal sebagai hulubalang negara, TNI harus selalu berada di mana pun posisi pemerintahan. TNI bukan partai politik yang bisa dikemudikan oleh kepentingan politik, melainkan penjaga wawasan Nusantara yang akan selalu mengawal kepentingan negara. Dalam banyak hal, dia harus di tengah, bukan malah memperparah silang pendapat dan kegaduhan politik. Jika serdadu, yang memiliki senjata itu berpihak, bisa dibayangkan bagaimana kekacauan akan terjadi.

Gatot menggeser institusi TNI untuk masuk dalam pusaran politik. Sejak reformasi, tentara berada di barak dalam posisi siap siaga ketika dipanggil. Tapi di era Gatot, seorang panglima TNI menjadi media darling untuk membahas banyak aspek politik. Dalam posisi yang serba mendua itu, tak salah jika banyak organisasi non-pemerintah dan pengamat militer yang meminta Gatot untuk masuk arena politik. Dia harus segera menanggalkan seragam TNI, lalu fokus ke dunia politik.

Saya mencatat ada lima pernyataan Gatot yang memicu reaksi.

Pertama, mengkritik pemerintah melalui puisi Denny JA berjudul Tapi Bukan Kami yang Punya. Puisi ini berisikan celoteh seorang pemuda yang melihat betapa kayanya Indonesia, namun bukan kita yang punya. Beberapa syairnya adalah: “Dari kepala burung garuda, Ia melihat Indonesia. Lihatlah hidup di desa, sangat subur tanahnya. Sangat luas sawahnya. Tapi bukan kami punya. Lihat padi menguning, menghiasi bumi sekeliling. Desa yang kaya raya. Tapi bukan kami punya. Lihatlah hidup di kota, pasar swalayan tertata, ramai pasarnya. Tapi bukan kami punya. Lihatlah aneka barang, dijual belikan orang. Oh makmurnya, tapi bukan kami punya.”

Kedua, Gatot mengeluarkan instruksi penayangan ulang film G.30.S/PKI. Sebenarnya, tak ada yang salah dengan pernyataan itu. Sah-sah saja jika dirinya meminta prajurit untuk menonton film itu. Persoalannya, ia memberikan instruksi serta pernyataan yang terkesan arogan, mengabaikan begitu saja seniornya Jenderal Ryamizard, serta menantang pemerintah yang saat itu diam-diam saja. “Iya, itu memang perintah saya. Memangnya kenapa? Yang bisa melarang saya hanya pemerintah,” katanya.

Ketiga, pernyataan tentang makar. Dalam acara di salah satu televisi, ia menyatakan makar itu hoax. “Perjalanan 6 bulan terakhir, sudah membuktikan bahwa kita ditakut-takuti, sekarang jangan baper. Kita cuma ditakut-takuti doang. Itu beda, demo dengan makar itu,” ujarnya.

Ia menyebut demonstrasi yang tengah marak bukanlah indikasi makar. Pernyataan ini dianggap banyak kalangan telah merusak wibawa kepolisian yang telah mengeluarkan label tersangka pada sejumlah orang atas tuduhan makar, serta tidak menunjukkan koordinasi yang baik dengan aparat penegak hukum lainya, termasuk mengabaikan wibawa seorang presiden.

Gara-gara pernyataan ini, Menko Polhukam Wiranto memanggil Kapolri Tito Karnavian dan Gatot untuk dimediasi. Padahal, sebagai Panglima TNI, ia harus selalu berhati-hati dalam setiap pernyataan. Sebab pernyataannya akan selalu dilihat secara politis.

Tak berhenti di situ, ia juga mengeluarkan pernyataan dukungan kepada ulama. Gatot terlihat merapat ke kelompok Muslim tradisional demi menaikkan popularitasnya. Dia melempar wacana dukungan, di saat pemerintah tengah disoroti banyak kelompok.

Keempat, pernyataan TNI harus dilibatkan dalam penanganan terorisme. Ia mengusulkan kepada pemerintah dan DPR agar merevisi II No 15 Tahun 2003 yang mengatur tindak kejahatan itu. Ia ingin agar TNI terlibat dalam aksi penanganan teroris. Tak pelak ini memicu reaksi dari Polri sebagai aparat sipil. Polri bisa kehilangan “piring.” Jualan “anti-komunis” yang selalu dipakai TNI tidak selalu laku dan membuat publik khawatir. Makanya TNI pindah ke isu terorisme.

Kelima, pernyataan Gatot tentang isu pembelian senjata ilegal. Inilah pernyataan Gatot yang paling kontroversial. Mabes TNI malah menyalahkan pers karena membocorkan pernyataan di satu acara terbuka. Menko Polhukam Wiranto lalu melakukan klarifikasi. Tapi lagi-lagi klarifikasi itu terlanjur memberi image sikap Panglima TNI yang tegas dan hendak membela negara. Padahal, persoalan itu menunjukkan betapa rapuhnya koordinasi antar lembaga negara, yang seharusnya dibicarakan dalam rapat-rapat internal.

***

APA yang sudah dilakukan Gatot selama menjadi Panglima TNI? Jika pertanyaan ini diajukan ke pengamat pertahanan Connie Rahakundini Bakrie, Gatot tidak punya prestasi hebat. Ia hanya akan dikenang karena pernyataan politiknya, bukan pada kerja-kerja nyata yang dilakukannya. “Makanya dia harusnya pensiun dini,” katanya sebagaimana dikutip media.

Banyak hal yang harusnya dikerjakan Gatot. Ketika Presiden Jokowi memiliki visi poros maritim dunia, seharusnya Gatot merespon itu dengan menyusun road map TNI untuk membangun armada maritim yang tangguh. Hingga kini, road map itu tidak juga selesai. Gatot tidak membangun konsepsi TNI sebagai pertahanan negara dalam menyongsong visi poros maritim dunia.

Boleh jadi, ini juga yang menjelaskan mengapa Jokowi menunjuk pengganti Gatot dari Angkatan Udara. Kata Connie, “Di zaman modern, mana bisa Angkatan Laut bergerak tanpa dukungan Angkatan Udara?” Panglima TNI yang baru diharapkan bisa memperkuat pertahanan maritim dan udara untuk mendukung visi pemerintah. Tentunya, dia harus bisa berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan demi mewujudkan semua visi itu.

Saya menduga, pergantian itu segera dilakukan demi merespon iklim politik yang kian memanas. Tahun depan adalah tahun politik. Dalam waktu dekat, pilkada akan segera digelar. Para calon kepala daerah akan mendaftar ke KPU mulai Januari. Pilkada ini menjadi barometer untuk menentukan pemilihan legislatif, kemudian pemilihan presiden.

Partai-partai akan menjadikan pilkada ini sebagai arena terakhir untuk menguji seberapa cepat lari mereka dalam menghadapi pemilihan legislatif. Demikian pula para calon presiden akan turun full di ajang pilkada ini demi menggarap basis dukungan partai, serta memperkenalkan diri. Jika seorang Panglima TNI berpihak, maka bisa ditebak kerawanan akan muncul. Pilkada menjadi sangat politis. Ketika chaos terjadi, tentara akan keluar barak dan mengambil alih.

Jika seorang Panglima TNI berpihak, maka ia bisa menggunakan kartunya untuk memberi angin pada sejumlah kandidat demi satu proses tawar-menawar politik. Bisa saja, dia akan memberi angin pada sejumlah orang dengan imbalan akan didukung jika kelak memasuki peta perpolitikan yang sesungguhnya.

Berbagai fenomena ini dibaca dengan jeli oleh Presiden Jokowi. Ketika dirinya memutuskan untuk mengganti Panglima TNI sebelum waktunya, maka ia telah memutus satu kerja politik yang sedang dipersiapkan Gatot. Jokowi memang harus bergerak cepat sebab beberapa lembaga survei telah menempatkan Gatot sebagai salah satu kandidat kuat.

Malah, lembaga survei telah memasangkan Jokowi dan Gatot untuk persiapan maju ke arena pilpres. Tapi saya meyakini duet ini tidak akan terjadi. Jokowi dalam posisi lebih tinggi untuk menentukan hendak berpasangan dengan siapa. Gatot dalam posisi kehilangan ribuan prajurit dan institusi TNI yang dahulu bisa diklaimnya. Secara politik, posisinya akan seperti Moeldoko yang bergerak ke sana-sini mencari dukungan, namun bintangnya semakin redup saat meninggalkan baju militernya.

Di arena percaturan politik, kita sedang menyaksikan fragmen diam, tanpa suara. Manuver Gatot ditanggapi dingin. Hingga akhirnya, kekuatan utama yang selama ini menopangnya diambil alih. Tindakannya yang menggalang kekuatan diputus di tengah jalan. Bahkan dia dilarang untuk mengganti sejumlah perwira tinggi TNI. Mau tak mau, dia dipaksa menari dengan langgam berbeda. Apakah dia akan sukses di arena yang baru?

Saya memprediksi Gatot akan sesepi Moeldoko. Kita lihat nanti.

Meghan Clarke, Foto Bugil, dan Titah Ratu Elizabeth




GOSIP sedang berhembus dari tanah Inggris. Setelah berita Ratu Elizabeth II yang dikabarkan masih keturunan Nabi Muhammad, kini sang ratu memantik berita baru. Ia dikabarkan telah mengeluarkan titah untuk menghapus semua foto bugil Meghan Markle, calon istri Pangeran Harry.

Tak pelak, inilah sisi paling heboh dari pernikahan yang diperkirakan akan menjadi pernikahan ala negeri dongeng sebagaimana dulu dilakoni kakak Harry, Pangeran William, dengan Kate Middleton.

Di masa lalu, segala hal tentang keluarga istana dianggap bisa membawa pengaruh bagi semesta. Ketika mereka sedih, maka bisa menyebabkan hujan badai dan gagal panen. Di masa kini, segala hal mengenai istana adalah santapan empuk papparazzi dan pengelola yellow journalism, jurnalisme kuning yang isinya gosip dan infotainment.

Selama dua hari saya memantau The Sun, salah satu tabloid gosip paling berpengaruh di Inggris. Pemberitaan tentang Meghan Markle ini lebih heboh dari berita mengenai Kate Middleton, istri Pangeran William. Hari ini, The Sun mulai mengulik-ulik silsilah dan latar belakang Meghan. Berita anyar yang tayang dua jam lalu adalah “Who is Doria Darlans, Meghan Markle Mum’s Background.” Sebelumnya, ada juga berita “Who is Trevor Engelson, Meghan Markle’s Ex Husband.”

Pernikahan Pangeran Harry dan Meghan Markle dikabarkan serupa kisah Cinderella. Pangeran Harry besar di istana dengan tradisi yang serba konservatif. Segala tindak-tanduk dan gerak-gerik di istana akan menjadi sorotan publik. Masih segar dalam ingatan, bagaimana kekesalan Lady Diana, ibu dari Pangeran William dan Harry yang stres karena dibatasi dalam melakukan apapun.

Kekasih Harry, Meghan Markle, adalah perempuan keturunan kulit hitam yang mengaku pernah menerima perlakuan rasisme. Ia lahir di Amerika Serikat, tepatnya di Los Angeles. Namun, ia besar di California lalu tinggal di Toronto, Kanada, selama berkarier di dunia televisi. Ibunya, seorang perempuan etnik Afro-Amerika, adalah seorang instruktur yoga dan pekerja sosial. Ayahnya adalah mantan direktur penerangan televisi yang memenangkan Daytime Emmy Award sebagai Outstanding Achievement in Lighting Direction.

Biarpun Ratu  Elizabeth II telah sepuh, tetapi dia tetap memantau segala hal yang terjadi di istana. Pekan ini, santer terdengar, dirinya menyewa pengacara untuk menghapus semua foto-foto bugil Meghan Clarke di internet. Harian The Sun melaporkan, sebagian gambar itu telah dihapus. Tapi masih bisa ditemukan beberapa foto Meghan saat berjemur dalam keadaan telanjang.

Saya menduga, Ratu Elizabeth pernah membaca buku The New Digital Age yang ditulis Eric Schmidt, mantan CEO Google. Dalam buku itu, Eric mengatakan di masa depan, orang-orang akan menyewa para pengacara dan pekerja di bidang IT demi “membersihkan” jejak-jejak digital. Semua orang ingin melakukan pengendalian dan rekayasa informasi demi membangun citra positif. Internet akan serupa jendela yang menampilkan wajah paling jujur seseorang.

Mengacu pada Schmidt, informasi mengenai rencana pernikahan itu akan menjadi bom informasi yang tak bisa dibendung siapapun. Warganet dan berbagai media tak henti berkicau mengenai rencana itu. Masa lalu Meghan akan diungkap. Kontroversinya dibahas. Dia dikabarkan seorang janda yang pernah bercerai. Suaminya sebelumnya adalah Trevor Engelson, seorang pengusaha. Mereka menikah sejak 2012 hingga 2013. Konon, mereka berpisah setelah Meghan dikabarkan selingkuh dengan Michael de Zotto.

Tak hanya itu, diskusi juga meluas hingga membahas bagaimana Istana Inggris berada di tengah zaman yang kian kompleks. Dalam banyak segi, posisi Ratu Elizabeth II sebagai simbol dan penjaga nilai membuatnya tidak punya banyak pilihan. Ia tidak hadir pada pernikahan kedua Pangeran Charles dengan Camilla Parker Bowles, dikarenakan Camila adalah seorang janda. Demikian pula pernikahan Harry nantinya. Ia juga dikabarkan tidak akan hadir karena status Meghan yang pernah menikah sebelumnya.

Jika dirunut sejarah, ini bukan yang pertama. Di tahun 1937, Edrwad VIII harus melepaskan tahtanya saat menikah dengan Wallis Simpson. Bukan karena Wallis adalah orang Amerika Serikat, tapi karena ia bercerai dua kali dan dua suaminya masih hidup.Keinginan raja untuk menikahi Wallis disebut akan menyebabkan krisis konstitusional di Britania Raya. Pada Desember 1936, Edward VIII pun turun lalu diberi gelar baru yaitu Duke Windsor oleh adiknya George VI.

Meghan pun mengikuti jejak Wallis Simpson sebagai sesama orang Amerika. Saat media dan warganet sibuk membahas lumpur masa lalu pernikahannya, Meghan ibarat berlian yang terus kemilau. Ia tercatat punya banyak aktivitas kemanusiaan. Bersama Harry, ia punya komitmen kuat untuk membantu banyak badan amal. Dia adalah duta besar global untuk World Vision Canada. Ia telah mengunjungi Rwanda untuk gerakan kampanye air bersih.

Meghan pernah berkunjung ke Afghanistan mendukung pasukan AS dan keluarga mereka. Meghan juga menulis pada majalah Time mengenai stigma dan rasa malu seputar menstruasi yang di beberapa bagian dunia menjadi penghalang kesuksesan anak perempuan. Ia dihormati juga atas perannya dalam One Young World, bersama dengan Emma Watson, Cher dan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau.

Jika pernikahan itu terjadi, maka kehebohannya akan menyamai atau bahkan melebihi pernikahan Pangeran William. Sebab pernikahan itu dibangun dengan kontroversi ala Cinderella. Meghan seorang warga biasa. Ia memiliki kulit eksotik karena ibunya berkulit hitam. Ia juga seorang janda yang pernah cerai, dan mantan suaminya masih hidup.

Pernikahan itu akan kembali glamour. Publik akan menanti apa saja perhiasan yang digunakan, gaun pengantin, permata-permata, serta kereta kencana yang akan melintasi jalan-jalan kota London. Rumah mode akan berebut tender mendandani Meghan. Semua rumah berlian akan mengeluarkan koleksinya. Bahkan televisi mulai berebut hak siar.

Apa boleh buat. Di era kapitalisme yang tengah melaju kencang ini, pernikahan pangeran dan putri adalah komoditas yang terlampau sayang untuk dilewatkan. Pernikahan itu akan menjadi “Wedding of the Decade” yang serupa kanvas bagi banjirnya produk dan kisah-kisah mengenai keluarga raja yang bergelimang harta.

Di luar publikasi dan gosip berseliweran itu, Harry dan Meghan memendam rasa yang tidak diketahui publik. Cinta adalah perkara hati dan gemuruh di antara dua insan, yang sepi. Orang-orang hanya melihat dari tepian, tanpa tahu seberapa dahsyat gejolak perasaan dua insan. Di titik ini, keduanya menyimpan banyak kisah.

"Kami dua orang yang benar-benar bahagia dan saling mencintai. Kami pacaran diam-diam sekitar enam bulan sebelum menjadi pemberitaan. Saya fokus bekerja selama itu, lalu yang berubah adalah persepsi orang. Berubah. Saya masih orang yang sama dan saya tak pernah mendefinisikan diri saya dengan hubungan saya," tutur Meghan.


Bondan Winarno, Sejarah Kuliner, dan Rasa Budaya



BANYAK sisi untuk menilai Bondan Winarno. Tidak hanya soal jurnalisme investigasi, atau acara-acara kuliner dan jalan-jalan yang dipandunya. Dia juga punya keberpihakan pada kuliner lokal yang disajikan di warung-warung kaki lima. Ia menaikkan “kelas” warung kaki lima dan kuliner lokal hingga bersanding dengan restoran bintang lima di layar-layar televisi.

Dalam satu makan siang bersamanya, ia pernah menjelaskan resep kuliner Pencong di Bali yang hanya digunakan saat ada ayam aduan yang mati. Saya pun menceritakan pengalaman dan bacaan saya mengapa masakan Jawa terasa manis di lidah.

***

PERTENGAHAN tahun 2010, saya bertemu Bondan Winarno di Denpasar dalam satu acara diskusi mengenai pariwisata kuliner. Acara itu mempertemukan beberapa stakeholder, mulai dari pemerintah, pelaku pariwisata, jurnalis, blogger, dan para traveler. Seusai diskusi, kami ngobrol-ngobrol di ruang makan saat makan siang.

Saking asyiknya pembicaraan, kami tak sadar kalau hari telah beranjak sore. Kami berpisah. Malamnya, Bondan mengajak saya untuk ngopi-ngopi di satu warung kaki lima yang menyajikan kopi khas Bali yang nikmat. “Maknyuss” katanya.

Di mata saya, Bondan adalah sosok yang hangat. Ia tak pernah kehabisan topik. Kami membahas beragam topik yang tidak pernah habis dikupasnya. Ia punya banyak bumbu-bumbu untuk membuat setiap kisah jadi menarik. Lidahnya serupa alat canggih yang bisa mengenali semua jenis bumbu yang disajikan dalam makanan. Ia juga pencerita hebat yang selalu bisa mengemas semua kisah jadi menarik.

Kesan saya, wawasannya luas. Ia banyak keliling dunia demi berbagai tugas, sekaligus berpetualang mencicipi kuliner baru. Ia bertemu banyak kalangan, mulai dari pejabat hingga warga biasa yang saban hari ngopi di tepi jalan. Terhadap banyak kalangan itu, ia bisa memosisikan diri. Makanya, ia selalu menjadi kawan akrab banyak orang. Bahkan saya yang baru mengenalnya pun tiba-tiba merasa seperti kawan akrab yang sudah puluhan tahun saling mengenal.

Saat diajak membahas makanan, ia penuh antusias. Kata Bondan, hampir semua daerah memiliki khazanah pusaka, yakni aneka kuliner yang hingga kini masih lestari. Ia menolak anggapan bahwa masuknya berbagai kuliner impor akan mematikan semua kuliner lokal. Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Kuliner asing itu yang terancam gulung tikar oleh kuliner lokal.

“Kita sering khawatir sama pengaruh McDonald. Padahal, gerainya di seluruh Indonesia nggak lebih dari 115. Malah jumlahnya makin berkurang. Demikian pula dengan Starbucks yang bangkrut di mana-mana. Orang Indonesia berpikir, ngapain ngopi di Starbuck dan harus bayar sampai 50 ribu rupiah. Mending ngopi di pinggir jalan. Di Bali ini, harga ngopi di pinggir jalan cuma dua ribu rupiah. Padahal kenikmatannya sama saja,” katanya.

Bondan juga menjelaskan betapa tangguhnya para pengusaha kuliner kita. Saat krisis menerjang, justru para pengusaha kuliner yang paling tangguh menghadapinya. Mereka tangguh karena yakin publik tanah air kita akan selalu mencari kuliner lokal. “Sejauh-jauhnya manusia Indonesia berkelana, tetap saja lidahnya akan lebih suka nasi goreng ketimbang spageti,” katanya sembari terkekeh.

Jika dihitung, maka jumlah pengusaha kuliner bisa sampai separuh dari jumlah pengusaha di Indonesia. “Pengusaha kuliner itu bukan cuma tukang masak saja. Sebab semua peternak, pedagang ayam, juga masuk dalam kategori pengusaha kuliner. Demikian pula petani. Mereka semua menyediakan bahan untuk kuliner,” katanya.

Sayangnya, pemerintah tidak begitu peduli dengan pusaka kuliner. Padahal, jika kuliner dikelola dan dikemas secara kreatif, maka akan menjadi satu kekayaan budaya serta potensi wisata yang sangat besar.

“Sebenarnya, ini kan soal kemasan. Kita tidak mengemas kuliner kita secara kreatif. Misalnya saja di bali ini kita mengenal menu bernama Pencong. Ini masakan ayam yang amat enak. Pada masa lalu, resep ini hanya dibuat ketika ada ayam aduan yang kalah. Andaikan sejarah ini diceritakan, pastilah semua orang akan ngiler dan penasaran untuk mencoba,” lanjutnya lagi.

Nah, saat ia membahas ini saya tertarik. Saya setuju dengannya. Semua daerah punya kuliner yang resepnya diwariskan dari zaman ke zaman. Di setiap kuliner itu, ada banyak kisah, narasi, dan sejarah yang jika dikisahkan akan membuat semua orang penasaran. Saat ia mengisahkan menu Pencong di Bali, saya jadi penasaran untuk mencicipinya. Tapi saya membayangkan pasti akan sulit menemukan adu ayam di masa kini. Padahal, kata Bondan, menu pencong itu akan dikeluarkan saat ada ayam mati.

Berpose dengan Bondan Winarno

Ternyata di balik setiap masakan atau kuliner, terselip demikian banyak kisah-kisah yang bisa dieksplorasi dan menunjukkan bagaimana sebuah kebudayaan tumbuh dan berkembang. Kuliner bisa menjadi sebuah jendela atau pintu masuk untuk menjelaskan banyak hal. Mulai dari kebiasaan-kebiasaan yang ada di suatu tempat, bahan-bahan alami yang mudah ditemukan, hingga pelapisan sosial ketika satu kuliner di masa silam hanya dikonsumsi oleh keluarga bangsawan.

Kuliner bisa menjadi starting point untuk menjelaskan kebudayaan secara lebih luas. Dalam khasanah ilmu sosial yang menganut logika induktif, kuliner menjadi pintu masuk yang akan membawa seseorang memasuki jantung sebuah kebudayaan melalui pengenalan akan khasanah alam, serta dinamika dan interaksi antar manusia yang ada di dalamnya.

Melalui kuliner bernama Pencong tersebut, kita bisa mengenal lebih jauh tradisi sabung ayam, potensi alam Bali, serta bagaimana dinamika manusia-manusia Bali yang mengolah kuliner tersebut.

Saya teringat penuturan seorang sejarawan, mengapa makanan Jawa selalu terasa manis. Ada dua argumentasi yang bisa dikemukakan.

Pertama, rasa manis telah lama dikenal sebagai rasa yang wajib ada dalam makanan. Dalam teks Jawa kuno, terdapat ajaran tentang enam rasa yakni manis, asin, asam, pedas, pahit, dan sepat. Keenam rasa ini harus ada dalam setiap makanan demi menghasilkan rasa yang sempurna.

Kedua, rasa manis itu diduga terkait dengan banyaknya suplai gula di Jawa akibat didirikannnya banyak pabrik gula.  Sejarah mencatat, pada tahun 1830, Gubernur Jenderal Van den Bosch memberlakukan kebijakan tanam paksa untuk mengisi kas pemerintah yang kosong karena habis digunakan untuk perang melawan Pangeran Diponegoro. Para petani di Jawa hanya dibolehkan menanam komoditas tertentu yang laku di pasaran internasional, di antaranya adalah tebu dan kopi.

Lebih 100 pabrik gula lalu didirikan di Jawa. Sejuta petani menanam tebu, yang kemudian berimbas pada menipisnya stok beras. Di saat kekeringan, petani memasak dengan air perasan tebu. Sejarawan Onghokham menulis bahwa setelah tanam paksa dihapus, bisnis gula lalu beralih ke pedagang Tionghoa dan swasta. Melalu kerjasama dengan raja-raja Jawa, semua kerajaan lalu mengalami kemakmuran. Para abdi dalem, lalu mendapatkan konsesi tanah yang kemudian ditanami gula.

Walaupun bisnis gula kemudian meredup akibat krisis ekonomi tahun 1930-an, para priyayi dan bangsawan telah telanjur memiliki lifestyle sebagai warga kelas atas. Kebiasaan kuliner, khususnya yang manis-manis, menjadi gaya hidup masyarakat. Tak heran jika banyak yang terkena sakit gula. Konon, Sultan Hamengku Buwono VIII meninggal karena sakit gula. Ia menjadi satu dari banyak orang yang terkena dampak dari makanan berasa manis.

Ternyata, di balik setiap rasa makanan terdapat banyak pelajaran berharga yang bisa diserap. Melalui makanan, kita bisa memasuki rimba kebudayaan, merambah tepian sejarah, lalu membawa pulang demikian banyak inspirasi pengetahuan di sana. Melalui tradisi, kita bisa menyerap segenap masa lalu untuk memahami segala dinamika di masa kini.

***

PADA diri Bondan, saya temukan idealisme untuk mengangkat kuliner lokal. Melalui acara-acara yang diasuhnya, ia mempromosikan berbagai khasanah kuliner lokal yang cita rasanya selalu maknyuss. Tak terhitung betapa banyak restoran yang memajang fotonya yang pernah singgah dan mencicipi makanan di situ. Ia meninggalkan banyak jejak di hati pengusaha kuliner yang jualannya mendadak laris karena disinggahi dan dipromosikan Bondan.

Hari ini, saya membaca berita tentang Bondan yang sudah berpulang. Saya rasa Bondan sedang memulai perjalanan baru. Andaikan bisa kembali berdialog dengannya, saya berharap dirinya bisa bercerita seperti apa nikmatnya menu di surga. Apakah manis, asin, ataukah asam?

Biarlah Bondan yang merasakannya di sana.



Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...