Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Kutukan PALA

 


Jika tak ada pala, tak bakal ada Indonesia, Malaysia, Singapura, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Tak bakal ada jejak bangsa Eropa di tanah Nusantara yang permai. Tak bakal ada kota-kota modern yang tumbuh pesat.

Aroma pala, tanaman yang hanya tumbuh di Pulau Banda itu, telah menggerakkan kapal-kapal layar bangsa Eropa untuk bertualang ke negeri yang jauh, menyerap hasil bumi, lalu jejaknya tercecer di berbagai pantai, lalu kota-kota.

Pala adalah penanda peradaban, sesuatu yang menghela kapal kapitalisme untuk berkelana ke negeri yang jauh, menyisakan kisah kejayaan dan kegemilangan, juga nestapa dan kesedihan.

Pernah pada satu masa, harga pala lebih mahal dari emas. Para penjelajah, mulai dari Vasco Da Gama, Ferdinand Magelhan, hingga Christopher Columbus mencari jalan menuju pulau penghasil pala.

Bagi orang Eropa, kisah tentang pala adalah kisah penaklukan dan kejayaan. Berkat pala, kota-kota mekar di Belanda. Perusahaan VOC menjadi perusahaan paling kaya dengan keuntungan berlipat.

BACA: Tunas Budaya yang Tumbuh dan Mekar di Jalur Rempah


Namun bagi kalangan pribumi, kisah pala adalah awal dari banyak kisah nestapa. Pala memicu sejarah genosida paling memilukan dalam sejarah, saat penduduk Banda dibantai dengan kejam oleh VOC di bawah perintah Jan Pieterszon Coen.

Buku-buku sejarah kita mencatat banyak hal penting terkait pala. Mulai dari kolonialisme, perjanjian antara Spanyol dan Portugis yang membagi bumi jadi dua, hingga pertukaran Manhattan dengan Pulau Run, pulau penghasil pala di Banda.

Sejarah pala seakan sudah berakhir. Padahal, berbagai tafsiran baru terus bermunculan.

Dua Buku

Sepekan ini, saya membaca dua buku menarik mengenai pala dan rempah-rempah. Buku pertama The Banda Journal yang dibuat Muhammad Fadli dan Fatris MF. Buku kedua adalah Nutmeg’s Curse yang ditulis Amitav Ghosh. Dua buku ini ibarat dua keping puzzle yang saling melengkapi.

Kita mulai dari buku pertama. The Banda Journal adalah kolaborasi antara naskah yang ditulis memikat oleh Fatris MF, dan foto-foto situasi terkini di Pulau Banda yang dihasilkan Muhammad Fadli.

Buku The Banda Journal


Saya membaui aroma petualangan di huku ini. Fadli dan Fatris punya ketekunan ala peneliti dan kepekaan para jurnalis. Mereka datang berkali-kali ke Banda, merekam banyak realitas, mendialogkan dengan banyak naskah, lalu menjerat realitas itu dalam naskah dan foto.

Hasilnya adalah kolaborasi yang mengasyikkan. Gaya menulisnya bertutur dan membawa kita untuk menyelam jauh ke masa silam Banda, perjumpaan dengan banyak pendatang, hingga situasinya kini yang memilukan.

Banda dipotret dari banyak sisi, mulai dari penaklukan, kejayaan, hingga masa kini yang kondisinya kian menyedihkan. Tak ada lagi jejak Banda sebagai pulau yang dahulu menjadi incaran semua korporasi besar internasional. Hari ini, Banda adalah satu titik di peta besar Nusantara yang hanya punya kisah masa silam, tanpa kisah masa kini dan masa depan.

The Banda Journal memotret dinamika yang terentang beberapa abad, yang kemudian dikemas dengan gaya menulis ala etnografi. Kita menemukan timbunan kisah dan teks-teks masa silam yang dijalin dengan pengamatan mendalam di masa kini.

Sedangkan buku Nutmeg’s Curse atau Kutukan Pala ditulis dengan sama memikatnya. Amitav Ghosh menulis buku ini saat pandemi tengah menghantam New York. Dalam cekaman ketakutan akan pandemi, dia membuka lembaran catatan lapangan yang ditulisnya semasa berkunjung ke Banda, tahun 2016 silam.

Menurut Amitav Ghosh, kisah pala belum berakhir. Justru pala adalah titik awal untuk memahami bagaimana perubahan iklim, kerusakan ekologis, serta krisis di masa kini. Kehancuran ekologi dimulai dari pandangan manusia yang melihat alam sebagai obyek dan sasaran eksploitasi.

Sebelum abad ke-18, pala hanya berasal dari sekelompok pulau vulkanik kecil di timur Nusantara, yang dikenal sebagai Kepulauan Banda. Saat menyebar ke seluruh dunia, pala menjadi sangat berharga.

Di Eropa abad ke-16, hanya segelintir yang bisa membeli rumah. Berkat pala, para pedagang Eropa menjadi penakluk dan penjajah. Masyarakat di daerah jajahan harus membayar mahal untuk mendapatkan akses ke komoditas berharga ini.

Amitav Ghosh berpendapat, nasib berdarah Kepulauan Banda memperingatkan ancaman bagi kita saat ini. Lintasan kekerasan di pulau penghasil pala itu  mengungkapkan pola pikir kolonial yang membenarkan eksploitasi kehidupan manusia dan lingkungan alam.

Kutukan Pala memaparkan argumen kalau dinamika perubahan iklim saat ini berakar pada tatanan geopolitik berabad-abad yang dibangun kolonialisme barat. Makanya, rempah-rempah, seperti pala, harus diletakkan sebagai jantung yang mengubah peradaban, mendorong manusia untuk mengeksploitasi alam demi mengejar kekayaan, lalu menyisakan nestapa bagi aman dan masyarakat lokal.

Pencarian rempah lalu eksploitasi punya dampak panjang hingga masa kini, saat tatanan bumi mulai dihantam isu perubahan iklim.

BACA: Suatu Hari di Perbatasan Papua New Guinea


Bagi Ghosh, krisis hari ini adalah hasil dari pandangan mekanistik tentang alam semesta. Cara berpikir ini yang menjelaskan sejarah panjang kolonialisme hingga berdampak pada kerusakan ekologis dan krisis yang dihadapi manusia hari ini.

Saya sepakat dengan Ghosh. Jika hendak ditelusuri lebih jauh, akar dari cara berpikir ini terletak pada lahirnya sains sebagai mercusuar baru peradaban manusia. Semuanya bermula dari pandangan tentang manusia sebagai pusat yang berpikir, dan alam sebagai obyek yang dipikirkan.

Saat nabi rasionalisme Rene Descartes mengatakan Cogito Ergo Sum atau “aku ada karena aku berpikir,” saat itulah manusia menganggap dirinya sebagai pusat. Alam semesta tidak punya kesadaran. Hewan tidak punya hak hidup. Manusia merasa punya otoritas untuk mengelola alam dan melakukan eksploitasi.

Dunia Pasca-Pandemi

Hari ini, dunia sedang tidak baik-baik saja. Setelah pandemi Covid-19, manusia akan berhadapan dengan berbagai krisis yang lain, yang semuanya berpangkal pada ketidakseimbangan ekologis.

Kita perlahan membabat hutan lalu memburu hewan liar. Kita tidak menyadari kalau akan ada titik di mana virus yang tadinya aman dalam tubuh hewan liar itu menjalar ke manusia. Kita menjadi korban dari keserakahan dan ketamakan kita memandang alam.


Sesuai membaca dua buku ini, saya terkenang ucapan John Keay, penulis buku The Spice Route. “Sejarah dipenuhi paradoks. Tapi tidak ada yang sedahsyat kisah eksplorasi bumi yang diwakili perburuan rempah.”

Kutukan pala itu terus berlanjut. Kita sedang berdiam di bumi yang rapuh, yang pernah menjadi saksi dari kehancuran ekologis akibat perdagangan pala. Bumi juga menjadi saksi dari berbagai angkara kejayaan yang jejaknya terasa hingga kini.

Kita adalah anak cucu yang dikutuk. Kelak, anak cucu kita akan mencatat upaya kita keluar dari kutukan, juga jalan kita lepas dari nestapa. Entah berhasil apa tidak, yang pasti bukan hanya pala yang mengutuk kita, tapi semua tumbuhan dan hewan liar.

 




DENASSA yang Menghadirkan Telaga

 


DI kalangan aktivis organisasi, dia memilih jalan yang berbeda. Sahabat lain sibuk mencari jalan untuk ke Gedung Dewan atau sibuk mencari jalan pintas untuk kaya, dia memilih pulang kampung dan setia di jalur penyelamatan lingkungan.

Dia tak tergoda dengan kemewahan ibukota dan dunia yang glamour. Dia memilih jalan sunyi yang berkarib dengan suara-suara semesta. Dia memilih untuk mewujudkan satu demi satu mimpinya yang sederhana yakni menjadi sekeping puzzle yang melestarikan semesta.

Lelaki itu, Darmawan Denassa, hari ini, Kamis (14/10), menerima Kalpataru. Dari Borongtala, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dia mendatangi Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta. Senyumnya terlihat sumringah. Dia menerima penghargaan tertinggi bagi mereka yang menyelamatkan lingkungan.

Saya mengenalnya sejak lebih sepuluh tahun silam. Kami tetangga fakultas di kampus Unhas. Dia Sastra, saya FISIP. Sering kami jumpa di koridor dan bercengkerama. Ketika dia menjadi ketua himpunan mahasiswa sastra Indonesia, juga aktif di himpunan mahasiswa asal Gowa, kami sering jumpa.

Di masa itu, dia suka berorganisasi. Dia suka menghadiri semua agenda-agenda diskusi di kampus. Dia pun seorang aktivis yang dahulu suka turun ke jalan demi memprotes rezim.

Saya mengenalnya sebagai figur yang murah senyum dan suka bercanda. Siapa pun yang sekilas berbincang dengannya, pasti merasakan kalau dia orang baik. Dia sangat ramah dengan siapa saja.

Tahun 2013, Ketika saya baru saja pulang dari kuliah di luar negeri, nasib kembali mempertemukan kami. Saya dan dia bersama penggiat komunitas lainnya diajak Ni Nyoman Anna, sahabat keren di Oxfam, untuk ke Kupang. Kami diajak menghadiri kegiatan yang diikuti banyak komunitas dari berbagai kota. Ikut pula banyak kawan-kawan komunitas di Makassar. 

Di situlah saya melihat Darmawan Denassa yang berbeda. Dia melampaui para aktivis dan organisatoris yang ada di setiap kegiatan. Dia sudah bertransformasi menjadi figur baru yang memilih pulang kampung untuk misi-misi idealis. Dia tahu hendak melakukan apa, dengan cara apa. Dia punya visi kuat.

Dia mengelola Rumah Hijau Denassa yang menjadi wadah konservasi dan pengembangan literasi. Di sekitar rumahnya, dia mengoleksi banyak tumbuhan langka. Bahkan dia mengembalikan ekosistem hutan. Dia membangun tradisi literasi di pinggiran, bersama anak-anak sekitarnya. Dia mengumpul pustaka, lalu menggelarnya agar dibaca anak-anak.

suasana di Rumah Hijau Denassa

Denassa in action

Namun sekadar literasi saja tidak cukup. Literasi akan lebih maksimal jika berada di tengah ekosistem yang tepat. Dia tergerak untuk mengembalikan keasrian hutan, serta menghadirkan suara-suara alam secara alamiah.

Tumbuh dan besar di Borongtala, dia menjadi saksi dari modernisasi yang berlari cepat. Lingkungan yang dahulu penuh dengan hutan, serta di pagi hari dipenuhi suara-suara burung, perlahan-lahan punah. Hutan dikonversi menjadi sawah. Pohon-pohon perlahan ditebang satu demi satu. Rumah ekosistem perlahan hilang.

Anak-anak muda perlahan meninggalkan kampung. Semua ingin mencari penghidupan yang lebih baik di Makassar. Kota menjadi magnet untuk menarik semua orang ke sana. Kampung ditinggalkan, sementara ekosistem kian hancur akibat ketidakpedulian.

Langkah Denassa untuk kembali ke kampung adalah anomali bagi anak muda yang ramai ke kota. Dia tak sekadar kembali, Dia mulai mengumpulkan berbagai jenis tanaman, lalu menanam.

Saat di Kupang, tahun 2013, saya pernah menemaninya ke markas Geng Motor Imut, kumpulan anak muda peduli ternak, untuk mengambil bibit pohon langka. Tak hanya itu, dia juga meminta bibit sorgum kepada Mama Tata, pejuang lingkungan dan pelestari sorgum dari Pulau Adonara.

Kerja-kerjanya perlahan membuahkan hasil. Literasi, alam yang lestari, suasana sejuk, dan suara-suara alam, perlahan menjadi magnet. Perlahan ekosistem mulai kembali sebagaimana sedia kala. Hutan mulai menghijau. Suara-suara burung mulai terdengar di pagi hari.

Denassa mengembalikan segarnya suasana kampung pada orang Makassar yang kian kota. Banyak sekolah membawa siswanya ke Rumah Hijau Denassa demi nostalgia pada alam hijau, serta berbagai keriangan khas kampung.

Denassa mengenalkan kearifan lokal apabila murid-murid perkotaan datang berkunjung. Penguatan itu antara lain bermain ke sawah, memberi makan domba, hingga menangkap itik. Termasuk menyajikan makanan-makanan lokal, seperti umbi-umbian, jagung, ubi kayu, ubi jalar, ataupun makanan-makanan lokal lainnya.

Dia mendorong anak-anak belajar tradisi dan budaya lokal di Sawahku dan Rumah Hijau Denassa.  Para pelajar yang berkunjung tidak diperkenankan membawa makanan ataupun minuman berkemasan. Hal itu dinilai bisa merusak alam.  Pelajar diwajibkan membawa tumbler untuk menguatkan budaya perang terhadap sampah plastik.

Murid-murid TK ataupun murid SD kelas 1 hingga kelas 3, diwajibkan menggambar pengalamannya jika berkunjung. Sementara murid SD kelas 4-6, SMP, SMA, ataupun mahasiswa diminta menuliskan kisah hidupnya jika berkunjung.

Hal-hal seperti ini sederhana bagi mereka yang besar di kampung, tapi untuk masyarakat kota, hal-hal ini terasa amat mewah dan penuh kesan. Bagi anak-anak yang setiap hari bermain game di HP, petualangan memandikan kerbau adalah pengalaman yang akan selalu dikenang hingga akhir hayat.

Denassa tak sekadar bernostalgia, dia mengembalikan suasana keriangan anak-anak pedesaan pada generasi kota yang terpapar gadget dan internet. Mereka yang berkunjung ke Rumah Hijau Denassa akan merasakan suasana yang sejuk dan adem, serta menjadi semacam oase yang menyehatkan.

Saya terkenang diskusi kami di tahun 2013. Saat itu, kami membahas tema kegiatan Oxfam yakni Ideas + Action = Change. Bahwa perubahan selalu dimulai dari ide-ide sederhana, yang kemudian diterjemahkan menjadi aksi-aksi kecil. Senyawa dari ide dan aksi itulah yang menggerakkan roda perubahan.



suasana di Rumah Hijau Denassa

Beberapa tahun berlalu, dia telah mewujudkan semua yang pernah didiskusikan. Dia menjadi figur yang menginspirasi. Dia menjadi sosok yang melampaui banyak orang. Gagasan kembali ke alam di tengah masyarakat yang terpapar industri serta gawai adalah gagasan penting untuk tetap merawat bumi.

Kini, ratusan tanaman endemik dan non-endemik memenuhi lingkungan sekitar rumahnya seluas 3 hektar. Di tengah rumah hijau ini, Denassa membangun taman baca, mengundang banyak orang untuk berkumpul. Di situlah dia menyebarkan ide-ide untuk merawat bumi. Dia menjadi telaga untuk sejenak membasuh hasrat kota dalam diri kita yang terlampau kapitalis. 

Kini, Denassa telah menemukan tujuan hidupnya. Dia membangun telaga agar orang-orang berdatangan, sekadar merasakan sejuk di tengah panasnya peradaban.

Saya tak terkejut mendengar dirinya terus mendapatkan berbagai penghargaan. Penghargaan itu hanya buah dari kerja-kerja kecil yang dilakukannya. Namun saya yakin, bagi seorang pejuang lingkungan, penghargaan itu tak seberapa penting.

Jauh lebih penting mendengar suara-suara burung berkicau di pagi hari, di tengah hutan yang asri. Jauh lebih penting melihat tetes embun pagi di dedaunan yang terhampar di sekitar rumah. Jauh lebih penting melihat anak-anak yang bermain dan tertawa riang saat menyusuri pematang sawah.

Bagi Denassa, senyum, udara segar, kicau burung, jauh lebih penting dari apa pun. Dan kita warga kota hanya bisa iri melihatnya. Kita mau, tapi kita tak berani. Kita pengecut. Dia pemberani.


BACA:

Para Pahlawan di Tanah Kupang

Inspirasi Kupang untuk Perubahan Iklim

PNS Inspiratif di Kota Kupang



Kemewahan Bersama Ibu

 


Bisa bersama ibu adalah kemewahan tertinggi.  Bahagianya jauh melebihi apapun.

Dalam diamnya, seorang ibu punya kekuatan yang selalu bikin anaknya tak bisa berkata-kata. Dia adalah monumen dari rasa kasih dan sayang yang tak berkesudahan. Dia sungai mengalir yang tak pernah mengenal kata kering.

Tubuhnya kian renta, tapi saat anaknya datang, dia akan kembali perkasa. Dia kembali jadi induk ayam yang merentang sayapnya untuk melindungi anaknya dari elang.

Dia akan sekuat dahulu saat memeluk anaknya demi menghalau semua raksasa, setan, kanjoli, onicu, dan rasa takut.

Dia kumpulkan seluruh energinya hanya untuk memyambut anaknya, sembari bertanya, “sudah makan? Saya bikinkan parende yaa.?’

Anaknya yang lebih banyak abai dan durhaka itu hanya bisa mematung. Tak kuat melihat rasa kasih dan pengabdian sehebat itu. Sayup-sayup, dua bait puisi dari penyair Zawawi Imron menyelusup dalam sadar.


“Kalau aku merantau 

lalu datang musim kemarau

sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting

hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir”

bila aku merantau

sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku

di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan

lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar




Coto Makassar di Bandara Hasanuddin

 


Tahun 1500-an, coto Makassar sudah ada. Konon, ini makanan favorit para tubarani (ksatria) serta bangsawan Gowa. Selanjutnya, cita rasanya menyebar ke mana2.

Para pelaut Bugis Makassar, serta diaspora manusianya telah membawanya ke berbagai penjuru mata angin. Coto bisa ditemukan di Pasar Senen (Batavia), hingga Buitenzorg (Bogor) yang diasuh Daeng Tona. Bahkan berkelana ke kedai2 di Bugis Street (Singapura), lalu mencapai Semenanjung Malaysia.

Namun mencicipi coto di negeri asalnya punya sensasi berbeda. Bahan utamanya adalah daging sapi, namun ada lebih 40 jenis rempah2, membentuk rasa yang akrab di lidah, menjadi penanda sejarah bahwa di masa silam bumbu2 dan rempah juga bergerak melintasi lautan.

Semangkuk coto menyimpan banyak memori, juga sejarah.

 


BUTON SELATAN yang Lebih Indah dari Maldives

 

spot selam di Buton Selatan (foto: Dicky Millar)

Terik matahari menyambar air laut. Kerlip hamparan pasir yang putih dan bersih, membuat mata silau, siapa pun yang memandangnya dari jauh. Saat memandangi lebih dekat, tampak air laut yang jernih kebiruan menawarkan pemandangan eksotis. Ikan-ikan kecil yang berenang lihai di antara pasir putih yang dangkal semakin membuat siapa pun enggan meninggalkan pulau ini.

Perahu kecil bergerak menuju pulau yang tampak indah dengan gugusan pohon kelapa. Pulau ini ialah Pulau Ular. Namun, pulau ini tidak seseram Pulau lha da Queimada Grande, Brazil, sebuah pulau indah yang sama sekali tak satu pun pelancong pernah bermimpi untuk ke sana. Bahkan warga Brazil sendiri. Pulau itu dihuni oleh sekitar 2.000-4.000 golden lancehead viper (Bothrops insularis), salah satu jenis ular paling mematikan di dunia. 

Namun situasinya berbeda dengan Pulau Ular di Kabupaten Buton Selatan (Busel), Sulawesi Tenggara. Di sini, tidak ada ular. Pulau yang dikelilingi pasir putih ini juga tak berpenghuni. Pulau ini menjadi primadona tayangan televisi yang memotret pesona alam. Salah satunya adalah Indonesia Punya Cerita, yang tayang di Trans TV dua tahun lalu.

Lista, seorang wisatawan asal Jakarta yang diwawancarai TV nasional itu mengaku senang dapat menginjakkan kaki di pulau yang hanya berjarak 50 menit dari Bandara Betoambari, Baubau ini.

“Aku sengaja datang ke sini karena memang cari pulau yang sepi. Kalau orang kan ke Sulawesi Tenggara tahunya Wakatobi, nah ini nggak banyak yang tahu ada pulau secantik ini,” ujar Lista riang.

Lista salah satu contoh wisatawan dari luar Pulau Buton yang sengaja menghabiskan uang untuk bisa tiba di kabupaten muda ini. Lista dan kawannya beruntung sebab salah satu surga di Buton Selatan bisa dinikmati setelah kabupaten ini berbenah.

Perahu yang Menuju Pulau Ular di Buton Selatan (foto: BaYou)

Kabupaten yang dimekarkan tahun 2014 lalu memiliki pesona alam yang sangat menawan. Daerah hasil pemekaran Kabupaten Buton ini, sebagian wilayahnya terdiri atas kepulauan. Itu sebabnya, kabupaten ini menyimpan potensi besar di bidang pariwisata khususnya wisata bahari.

Pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitar Busel, kini mulai mengundang perhatian para wisatawan. Tak hanya wisatawan lokal, wisatawan asing pun tampak mulai berdatangan menikmati pulau-pulau indah Busel yang dianggap lebih indah dari pantai di Maldives.

***

Beberapa meter dari bibir pantai Batauga, sekelompok perahu nelayan dihias sedemikian rupa. Perahu-perahu yang digunakan untuk menangkap ikan ini, terombang-ambing oleh ombak seolah hendak menunggu aba-aba.

Sejurus kemudian. puluhan kapal nelayan tadi berlayar dengan mesin motor. Mereka berparade, berlomba mengitari teluk Batauga. Dari jauh kapal mereka tampak dengan kumpulan warna-warni indah yang mencolok di mata.

Selain parade, festival juga dimeriahkan dengan tarian Kadepo yang menceritakan warga pesisir laut Busel dalam menangkap ikan dengan peralatan tradisional. Tarian ini adalah

Setelah tarian itu selesai, dilanjutkan dengan prosesi ritual adat larung laut yang dilakukan masyarakat nelayan Laompo sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Ritual ini sudah rutin digelar masyarakat Laompo Batauga tiap musim melaut.

Ada ratusan wisatawan lokal yang menyaksikan parade, dan atraksi larung laut, mereka seolah terpukau dengan cantiknya pantai Batauga dan asyiknya atraksi budaya yang dimiliki masyarakat Busel.

Meski baru pertama kali digelar, Festival Buton Selatan yang mengangkat tema The Wonder of South Buton atau Keajaiban Buton Selatan ini berhasil menarik perhatian warga dalam dan luar Busel. Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi bahkan menginginkan festival ini dilaksanakan setiap tahun, menambah destinasi wisata unggulan baru di wilayah Sultra.

Festival Buton Selatan yang diadakan pada 29 November hingga 1 Desember 2019 ini merupakan kegiatan pariwisata yang diinisiasi oleh Bupati Haji La Ode Arusani. Festival yang mengangkat tema Keajaiban Buton Selatan ini merupakan gelaran pertama kali di Busel.

Festival ini digagas La Ode Arusani saat masih menjabat Plt Bupati Busel tahun 2019 lalu. Pria yang dikenal murah senyum ini menghendaki festival yang menyandingkan, keindahan alam serta kebudayaan itu digaungkan lebih besar di tahun mendatang demi mempopulerkan potensi wisata Busel. Dia berharap pariwisata akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Festival ini kita buat agar potensi Busel bisa diekspos ke wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Lewat kesempatan ini, masyarakat yang hadir bukan hanya ikut menyaksikan tapi juga mendoakan agar Busel lebih maju,” pintanya.

Dengan festival ini, Arusani berharap potensi wisata Busel bisa dilirik pemerintah pusat. Lebih jauh bahkan ke wisatawan manca-negara. Tak salah jika Arusani menghendaki kabupaten yang dipimpinnya menjadikan pariwisata sebagai proyek strategis.

Penari di Buton Selatan Festival

Salah satu ritual di Buton Selatan Festival (foto: Dicky Millar)

Pada festival perdana ini, Pemkab Busel akan menyuguhkan sejumlah acara unggulan sebagai etalase bagi masyarakat luas untuk mengenal lebih jauh adat dan budaya, kehidupan masyarakat bahari, kekayaan kuliner, serta potensi kreatif yang dimiliki masyarakat Busel.

Beberapa acara yang digelar adalah: parade budaya, karnaval perahu nelayan, ritual adat, pagelaran tari persembahan para pelajar, pemilihan duta wisata Buton Selatan, zona kuliner dan kreatif, lomba-lomba tradisional hingga fashion show tenun Buton.

Saat kegiatan karnaval perahu, ratusan nelayan ikut berpartisipasi. Demikian pula saat parade budaya. Banyak orang ikut terlibat dan berpartisipasi sehingga nuansa dan kekayaan budaya Buton Selatan bisa tampak.

Kekayaan tenun Buton juga akan mendapat tempat tersendiri di panggung Buton Selatan Festival melalui fashion show tenun. Apalagi, ada kolaborasi dengan desainer yang karyanya telah mewarnai catwalk bergengsi nasional di ajang Indonesia Fashion Week dan negara tetangga.

Sedang ajang pemilihan duta wisata adalah untuk menemukan potensi generasi muda Buton Selatan yang kenal budaya sekaligus berwawasan. Mereka akan menjadi duta dan wajah Buton Selatan dalam berbagai kegiatan promosi pariwisata.

Buton Selatan Festival 2019 diharapkan dapat menjadi jendela untuk melihat lebih dekat keragaman budaya serta keindahan alam Kabupaten Buton Selatan. Inilah upaya pemerintah Kabupaten Buton Selatan untuk ambil bagian dalam upaya merawat Indonesia, melalui pelestarian adat dan budaya lokal.

Sejak dimekarkan sejak tahun 2014, Buton Selatan kini tengah berbenah. Pemerintah terus menggalakkan pembangunan pariwisata berbasis adat, budaya dan bahari.

Sejalan dengan semboyan Kabupaten Buton Selatan Beradat. Adat dan budaya asli memang masih terus dilestarikan oleh masyarakat di wilayah yang menjadi tempat pertama kali penyebaran Islam di jazirah Buton itu. Dengan rutinnya digelar ritual adat dan budaya di desa-desa oleh masyarakat.

Seusai dilantik sebagai Plt Bupati Busel maupun bupati definitif setahun terakhir, La Ode Arusani segera memerintahkan jajaran di bawahnya untuk memulai mendata budaya dan potensi wisata yang dapat dipasarkan.

Budaya lokal dapat dijadikan promosi daerah atas keberagaman kebudayaan yang menjadi kekayaan Busel.

Even pariwisata lokal pun dimulai di tahun 2019 lalu. Kecamatan Lapandewa menggelar Pesta Adat Ma’acia Burangasi, Kecamatan Siompu menggelar pesta adat Metau’a, dan Sampolawa ada karnaval budaya Riapa Wapulaka, serta event yang terbesar dan perdana diadakan yaitu Buton Selatan Festival 2019.

Arusani mengatakan, kegiatan kebudayaan di tujuh kecamatan harus dieksplor. masih banyak kegiatan adat istiadat, tradisi lokal yang memiliki nilai-nilai luhur masa lalu belum tersentuh untuk dikelola dengan baik. Untuk itu ia meminta agar instansi teknis dan lainnya saling berkolaborasi sehingga potensi kepariwisataan dapat dibuatkan kalender pariwisata agar menjadi program tahunan yang bisa menjadi tujuan para pelancong.

Di sektor budaya, Arusani telah memberikan sentuhan pada pakaian adat seluruh perangkat adat. Hal itu penting untuk memperkuat eksistensi adat dalam kedudukannya di tengah-tengah masyarakat Busel. Serta menjadi potensi wisata yang sering dicari-cari oleh dunia luar.

“Kedepan pengembangan potensi kebudayaan Busel akan ditargetkan menjadi destinasi pariwisata unggulan, saya berharap kebudayaan kita masuk kalender pariwisata. Ini yang kita genjot 2020, sehingga bisa menjadi destinasi wisata internasional,” ujar bupati yang sebelumnya menjadi anggota dewan ini.

Arusani melanjutkan, potensi kebudayaan Busel harus mulai didata dengan baik. “Kita tahu nilai-nilai prosesi adat budaya sangat beragam serta unik, jauh berbeda dengan daerah lain. Hal ini yang akan diangkat sehingga menjadi destinasi wisata budaya,” harapnya.

Di tahun 2020 di sektor kebudayaan telah mendapat perhatian serius dari pemerintah. Jajaran di bawahnya pun giat bekerja demi memberi nilai tambah dalam laju pembangunan daerah melalui pariwisata.

“Kami tengah memprakarsai ide Bupati Buton Selatan dalam mendorong pengelolaan obyek wisata dengan membentuk Kelompok kelompok Masyarakat sadar wisata (Pokdarwis) yang akan dibentuk di semua Desa yang memiliki obyek wisata,” ujar La Ode Harwanto, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Busel.

Desa-desa di Busel memang menyimpan potensi wisata lain yang dapat menarik perhatian pelancong. Banyak peneliti yang tertarik untuk mengetahui eksistensi Parabela atau tetua adat, sebagai ujung tombak adat dan budaya dalam aktivitas kehidupan masyarakat.

Di Buton Selatan terdapat 24 baruga yang merupakan tempat pertemuan masyarakat yang umumnya berada di benteng kuno yang tersebar di 7 kecamatan di Buton Selatan.

Di tahun 2020, Bupati Arusani menargetkan untuk menunjukkan potensi kebudayaan dan potensi destinasi alam itu di pentas nasional. “Fokus kedepan potensi kekayaan kebudayaan Busel juga menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di kawasan Indonesia Timur,” papar Arusani.

Salah satu potensi unggulan yang tengah dikembangkan Bupati Arusani ialah Bukit Lamando yang berada di Desa Sandang Pangan Kecamatan Sampolawa. Bukit ini dianggap unik dan memiliki potensi wisata yang dapat diandalkan Buton Selatan untuk menarik wisatawan mancanegara.

Di tahun 2020 ini, bukit tersebut bahkan masuk dalam nominasi objek wisata dataran tinggi terbaik di Indonesia oleh ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020.

Arusani sangat berbahagia menyambut nominasi tersebut. Ia pun telah menginstruksikan Dinas Pariwisata untuk segera menyiapkan faktor pendukung lainnya, untuk bersaing dengan sembilan daerah lainnya guna menjadikan Bukit Lamando masuk dalam tiga besar.


Bahkan merebut posisi pertama kategori objek wisata dataran tinggi terbaik Se-Indonesia. Ia menghendaki nominasi ini tidak dilewatkan sebagai promosi gratis Buton Selatan kepada Indonesia dan dunia.

Bukan hanya Bukit Lamando yang berpotensi menjadi destinasi wisata unggulan. Destinasi wisata lain ialah Danau Taolalo, Siompu Barat Tonpa-Tonpanaune yang terkenal dengan wisata jeruknya, Batauga dengan permandian air panas, Bukti Langoi, dan  jembatan lingkar Lapoili.

 

Wisata yang Tersembunyi

Potensi wisata di tujuh kecamatan Busel, belum seluruhnya terpetakan. Masih banyak kegiatan adat istiadat, serta tradisi lokal yang memiliki nilai-nilai luhur yang layak menjadi objek wisata.

Arusani yang berlatar belakang pengusaha punya visi yang jelas, tentang optimalisasi sumber daya lokal yang dijabarkan dalam visi Pemkab Busel lima tahunan.

Pembangunan Kabupaten Buton Selatan difokuskan pada upaya mengoptimalkan segala bentuk sumber daya lokal yang meliputi sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya budaya, sumber daya buatan/teknologi, dan sumber-sumber penerimaan daerah untuk sampai pada peletakan kesejahteraan daerah yang kokoh.

Di titik ini Arusani menghendaki optimalisasi segala bentuk sumber daya lokal di sisi sumber daya budaya. Maka Pemkab akan segera mendata seluruh kegiatan ritual adat maupun kegiatan yang bernuansa kebudayaan seluruh desa dan kecamatan, baik yang digelar setiap tahun dengan berbagai ritual adat maupun kegiatan tradisi masyarakat setempat.

“Saya berharap potensi kebudayaan kita dapat terdata dengan baik, kita tahu nilai-nilai prosesi adat budaya sangat beragam serta unik, jauh berbeda dengan daerah lain,” harap Arusani.

Bukit Lamando, Buton Selatan

Jika sektor kebudayaan mendapat perhatian serius dari pemerintah, kata Arusani, ia yakin kebudayaan akan menjadi kekayaan tersendiri bagi Busel. Hal itu akan menjadi nilai tambah dalam laju pembangunan daerah. Wisata budaya kelak dapat dituangkan menjadi event internasional.

Salah satu potensi wisata sejarah dan budaya yang banyak dibicarakan di Busel adalah makan Gajah Mada. Di Tanah Air, ada banyak versi di mana letak kuburan Mahapatih di Kerajaan Majapahit itu. Kematiannya pun masih menjadi misteri.

Ada yang mengklaim Gajah Mada dimakamkan di Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Ada juga yang mengklaim Gajah Mada dimakamkan di Tuban, Jawa Timur. Di Lampung juga, diklaim sebagai tempat peristirahatan terakhir pemilik Sumpah Palapa itu.

Buton Selatan juga disebut-sebut sebagai tempat makam Gajah Mada. Setiap tahun, banyak orang Hindu yang datang berziarah ke makam itu. Pemerintah perlu merenovasi akses jalan, serta membenahi kawasan sekitar makam sehingga bisa dijangkau semua orang.

Kepala Dinas Kebudayaan Buton Selatan, Dr Ali Rosdin, mengungkapkan adanya dukungan dari Bupati Buton La Ode Arusani untuk membangun dua monumen, yakni Monumen Gajah Mada dan Monumen Syekh Abdul Wahid.

“Sudah banyak penelitian dilakukan. Kita ingin bergerak lebih cepat. Lebih baik kita bangun monumen. Pelan-pelan pikiran orang itu kita alihkan melalui monumen. Sehingga orang akan datang ke Batauga untuk singgah di Monumen Gajah Mada,” kata Dr Ali Rosdin.

Selain Monumen Gajah Mada, pihaknya juga berencana untuk membangun Monumen Syaikh Abdul Wahid, penyebar Islam di tanah Buton. Buton Selatan ingin melestarikan spirit yang dibawa Syaikh Abdul Wahid. “Kita ingin mewariskan semangat. Islam yang datang di Buton itu berasal dari Syaikh Abdul Wahid itu. Bukan berasal dari Ternate dan lain sebagainya,” lanjut Dr Ali Rosdin.

situs sejarah di Buton Selatan

Jejak Syaikh Abdul Wahid bisa dilihat pada situs budaya berupa masjid tertua di Wawoangi. Masjid ini diyakini sebagai masjid yang pertama kali dibangun di Jazirah Buton. Masjid ini didirikan pada tahun 1527 M oleh Syaikh Abdul Wahid.

Syaikh Abdul Wahid adalah sosok yang amat dihormati, sebab penyebar Islam pertama kali di Kesultanan Buton, termasuk mengislamkan, Sultan Buton I, Sultan Murhum (Laki Laponto). Konon, Syaikh Abdul Wahid melihat cahaya di langit turun di Wawoangi. Dia lalu membangun masjid di lokasi masjid sekarang.

Selain gua dan masjid, “situs misteri” lainnya, yakni gua Purbakala Waburi di pesisir pantai Lapandewa, dan jangkar raksasa di dasar lautan.

Ali Rosdin juga bercerita tentang Syaikh Abdul Wahid yang pertama singgah di Batu Atas, kemudian singgah ke Lampea di Lapandewa. “Kalau hanya cerita-cerita orang mau datang di situ, mau lihat apa. Makanya perlu ada monumen,” katanya.

Selain tempat bersejarah, Buton Selatan dikenal memiliki banyak gua yang memiliki daya tarik wisata sebab misteri serta jejak sejarah yang ditinggalkan. Salah satunya ialah Gua Jepang “Tanci”, di Desa Bola, Kecamatan Batauga.

Gua Tanci semakin meneguhkan klaim bahwa sejak dahulu, wilayah Busel menjadi lokasi yang sangat penting sebagai jalur perdagangan di kawasan Indonesia Timur. Jepang bahkan membangun kekuatan militernya di sini, dan menjadikannya basis pertahanan dari serangan musuh. Alhasil, gua berusia puluhan tahun ini dapat menjadi situs budaya yang tentu menarik bagi wisatawan.

 

Wisata Alam

Kekuatan pariwisata Buton Selatan adalah banyaknya destinasi wisata yang memukau. Di sini, bisa ditemukan padang savana yang luas, pulau-pulau yang menawan, pantai yang cantik, dan ekosistem yang indah.

Ada banyak pantai indah yang menyejukkan mata dan menjadi potensi wisata yang belum terjamah. Beberapa pulau di antaranya bahkan disebut-sebut mengalahkan keindahan pantai Maldives yang terkenal berkat pasir putih dan keindahan bawah lautnya.

Sektor Bahari memang telah menjadi sahabat bagi masyarakat Kabupaten Buton Selatan. Hampir 70 persen wilayah kabupaten ini terdiri dari perairan. Wisata bahari bisa ditemukan di tujuh kecamatan, yaitu Batauga, Sampolawa, Lapandewa, Batu Atas, Siompu, Siompu Barat dan Kecamatan Kadatua.

Salah satu spot wisata bahari yang tengah menjadi buah bibir adalah perairan Batu Atas. Banyak penyelam mengakui spot perairan Batu Atas memiliki panorama wisata bawah laut yang lebih indah dari Wakatobi.

spot selam di Batu Atas, Buton Selatan

Beberapa driver atau penyelam mengakui kekayaan biota lautnya sangat menakjubkan. Warna-warni terumbu karang, dihiasi ratusan jenis ikan mampu memukau para penyelam yang sempat menceburkan dirinya di lokasi ini. Semua kekayaan bawah laut membentuk variasi menyatu menjadi taman. Menghasilkan potret alam luar biasa.

Dari Kota Baubau, menuju Pulau Batu Atas dapat ditempuh dengan menggunakan akses transportasi laut. Kapal reguler siap setiap saat bisa mengantar, baik melalui Pelabuhan Topa dan Pelabuhan Tarafu di Kota Baubau. Biayanya cukup terjangkau. Hanya dengan Rp 70 ribu untuk sekali perjalanan, dengan waktu tempuh beberapa jam melewati laut banda.

Salah seorang penyelam, Dicky Millar, mengakui, bawah laut Batu Atas bisa menghipnotis.

“Keindahan laut Batu Atas ini bisa di setarakan dengan taman laut Wakatobi, bahkan ada beberapa keunikan yang hanya dapat di temukan di perairan Batu Atas. Namun bawah laut Batu Atas ini belum cukup diketahui oleh orang banyak. Saya pastikan menyelam berjam-jam pun rasanya kurang puas,” katanya.

Beberapa penyelam malah menyebut bawah laut Batu Atas lebih indah dari Raja Ampat. Tidak mengherankan jika spot menyelam Batu Atas menjadi favorit banyak wisatawan yang ke Wakatobi. Bahkan saat ini tengah diupayakan jalur langsung dari Pulau Komodo ke Batu Atas, kemudian dibuatkan paket-paket wisata untuk para pelancong.

Buton Selatan memang kawasan bahari. Sejak ratusan tahun lamanya sebelum Belanda mencapai daratan ini, penduduknya telah berdamai dengan laut, rasi bintang dan pulau-pulau tak berpenghuni. Ada empat kecamatan yang berjejer membentuk kepulauan di Buton Selatan. Pulau-pulau itu adalah Pulau Kadatua, Pulau Siompu dan Pulau Batu Atas. Sedang tiga kecamatan lainnya berada di daratan Pulau Buton yakni Batauga, Sampolawa dan Lapandewa.

Sadar berdiri sebagai daerah maritim, sejak awal, Pemda Buton Selatan sudah berambisi menjadikan pantai dan pesona bawah laut sebagai objek wisata unggulan dalam menarik wisatawan domestik, nasional maupun mancanegara.

Selain itu, ada pula Pulau Kawi-Kawia yang merupakan pulau terluar dan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan. Pulau Kakabia terkenal dengan burung berwarna putih hitam yang berkumpul dipulau tersebut pada pagi dan sore hari. Burung tersebut memangsa ikan terbang dan ikan lain yang hidup di permukaan laut dengan paruhnya yang besar dan panjang.

Di sekitar Pulau Kakabia banyak sekali ditemui penyu sisik dan hamparan terumbu karang yang masih sangat bagus. Di atas pulau, terdapat juga biawak, ular batu, tikus berwarna kemerah-merahan dan kotatu (kepiting kenari).

Untuk mewujudkan mimpi wisata bahari paling unggul di Kepulauan Buton. Pemda kini terus membenahi fasilitas serta menggiatkan promosi. Bupati La Ode Arusani telah bertekad untuk menjadi destinasi wisata nasional, mengalahkan kabupaten lain.

Di Indonesia, beberapa daerah juga fokus pada pengembangan pariwisata bahari. Satu di antaranya adalah Banyuwangi di Jawa Timur. Bagi Pemkab Banyuwangi, pariwisata diharapkan bisa menjadi gerbong yang menarik sektor lainnya. Pariwisata bisa memperkuat pertanian, perkebunan, industri jasa, hingga menarik investasi.

Buton Selatan memang masih seumur jagung. Tapi, pengembangan pariwisata sangat menjanjikan. La Ode Arusani ingin menjadikan Buton Selatan bertransformasi dari daerah yang dikenal dengan citra kabupaten yang maju dan modern dengan mengandalkan sektor pariwisata sebagai core economy-nya. Targetnya ialah ketika pendapatan perkapita kabupaten ini naik lebih dari dua kali lipat dan kunjungan wisatawan naik 10 kali lipat.

Di alam pikir pembangunannya, Bupati La Ode Arusani menetapkan landasan pembangunan Busel yang visioner, ia telah paham bahwa ke depan tren pertumbuhan ekonomi dunia bakal ditopang oleh pariwisata.

“Mari kita fokus pada pembangunan daerah yang kita cintai ini. Insyaallah saya terus fokus membangun secara merata di tujuh kecamatan. Mari kita saling mendoakan agar kita diberikan kesehatan, agar daerah ini terus lebih baik,” katanya.

Di era megatren “Leisure Economy” ini sektor pariwisata memang telah menjadi tulang punggung ekonomi bangsa-bangsa di dunia.

Sebut saja negara-negara maju seperti Inggris, Perancis, Spanyol, bahkan Malaysia dan Thailand, sudah mengandalkan sektor pariwisata sebagai core economy.Itu sebabnya Busel harus fokus memosisikan diri di pariwisata tertentu karena sektor pariwisata memiliki multiplier effect amat luas ke perekonomian secara keseluruhan. Artinya, kegiatan di sektor ini memiliki dampak luar biasa dalam menggerakkan begitu banyak kegiatan ekonomi lain.

Tak hanya itu, sektor pariwisata juga paling mudah dan paling murah mendatangkan devisa. Dengan begitu pariwisata menjadi “obat ampuh” untuk menyembuhkan penyakit akut current account deficit (CAD) yang diderita perekonomian kita beberapa tahun terakhir. Meningkatnya promosi serta angka kunjungan wisatawan di beberapa daerah tetangga juga akan memberikan efek bagi tumbuhnya industri pariwisata di Kabupaten Buton Selatan.

Konsep utama wisata yang tengah dikembangkan adalah sinergi antara wisata kepulauan (pantai, pulau bawah laut), wisata budaya (tradisi, ritual budaya tarian, dan musik), dan wisata alam (gua, savana, hutan dan air terjun).

Atraksi budaya di Buton Selatan

Ketiga komponen ini menjadi jantung utama dari kegiatan pariwisata di wilayah ini. Tantangan berikutnya adalah bagaimana memperkenalkan semua unsur pariwisata itu ke dunia luar sehingga lebih dikenal secara luas.

Sejauh yang bisa disaksikan, potensi wisata itu berbasis pada sumber daya alam yang melimpah ruah. Buton Selatan dikenal sebagai Negeri 1001 Misteri. Sebutan ini berdasar pada banyaknya misteri yang seharusnya bisa dikelola demi mendorong pariwisata.

Merujuk dari pernyataan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Busel, La Ode Harwanto, pihaknya mengungkapkan promosi wisata Busel budaya di-branding pada satu ikon, yakni perahu Boti. Moda transportasi tradisional masyarakat ini telah mengarungi sejarah kesultanan Buton, dan menjadi tumpuan masyarakat hingga sekarang.

“Harus ada satu tempat yang kita branding, yang sudah kuat tumbuhnya di wilayah Batauga ini. Termasuk ikon perahu Boti. Salah satu daerah yang melestarikan Boti ini hanya di Busel. Boti ini memang ada dan tumbuh di sini.”

Selain itu, ada wisata alam seperti Bukit Lamando di Desa Sandang Pangan (Rongi), Kecamatan Sampolawa, yang tahun ini terpilih sebagai nominator Anguerah Pesona Indonesia (API) Award 2020. Bukit Lamando, akan bersaing dengan 10 Kabupaten/kota lainnya di Indonesia untuk memperebutkan Kategori Dataran Tinggi Terbaik melalui voting SMS.

Masuk dalam nominasi itu kata Herwanto, sebuah kebanggaan tersendiri. Karena ini promosi gratis. Sebab membangun pariwisata itu yang paling banyak mengeluarkan uang bukan pada membangun infrastruktur tapi Promosinya.

“Kita bersyukur ini adalah promosi pariwisata gratis bagi Busel sehingga dikenal dunia luar,” katanya.

 

Integrasi dan Promosi

Pariwisata di Buton Selatan merupakan pengembangan terintegrasi. Keterlibatan instansi terkait terjalin dengan baik seperti yang telah diperintahkan oleh bupati. Dinas Infokom diminta fokus untuk promosi, Dinas PU untuk akses jalannya, Dinas Perhubungan dan juga termasuk Dinas Perdagangan. Kerja sama dijalin hingga Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Selain karena keindahan alamnya, Buton Selatan punya tradisi menyambut tamu yang unik salah satunya dengan parade penyambutan seni dan budaya yang memanjakan para pengunjung. Seperti saat sebuah Yacht mancanegara yang merupakan peserta Sail to Indonesia 2018 merapat ke pelabuhan Buton Selatan. Kehadiran mereka disambut antusias dengan parade seni budaya hingga kuliner oleh masyarakat Busel.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, waktu itu bahkan mengungkap, Buton Selatan merupakan destinasi pariwisata terbaik. Dengan karakter kuat alam wisata bahari, yang dilengkapi dengan kultur terbaik.

"Selamat datang di Buton Selatan. Wilayah ini merupakan salah satu destinasi terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. Nature dan culturenya sangat bagus. Para yachter bukan hanya menikmati, tapi bisa belajar beberapa tradisi unik masyarakat di sana. Enjoy Buton Selatan," ujar Arief dalam keterangan tertulisnya.

Event Sail to Indonesia 2018 total diikuti 75 yacht. Mereka berasal dari 12 negara. Terdiri dari Australia, Selandia Baru, Denmark, Prancis, Belanda, Inggris Raya, Jerman, Kanada, dan Amerika Serikat. Hal ini menjadi kesempatan promosi yang tidak disia-siakan Pemkab.

Apalagi Sail to Indonesia 2018 digelar empat hari dengan event tersebar di empat lokasi pula, yaitu di Desa Bahari 1, Bahari 2, Bahari 3, dan Rongi, Sampolawa.

Media nasional seperti detik.com dan kompas.com pernah memuat event ini. Dikutip dari detik.com, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Bahari Indroyono Soesilo, selesai acara mengatakan, Buton Selatan jadi salah satu destinasi terbaik Sail to Indonesia 2018. Penyambutan warga dan kesiapan Pemkab jadi yang terbaik di antara wilayah lain yang disinggahi peserta.

"Sail to Indonesia 2018 ini menjadi program luar biasa. Event ini akan memberikan pengaruh besar bagi pariwisata Indonesia. Perekonomian masyarakat bergerak, terutama di destinasi yang disinggahi," kata Indroyono.

Antusiasme masyarakat Buton Selatan, menyambut para tamu pun sangat luar biasa. Hal itu bisa dilihat dari 'ritual' khusus yang telah disiapkan. Ada beragam parade seni dan budaya yang ditampilkan, di antaranya Mangaru Dance dan Traditional Dance yang digelar di Pantai Lagunci, Desa Bahari. Tari Mangaru merupakan salah satu identitas Buton. Tarian ini menggambarkan keberanian kaum pria di dalam medan perang.

Dilengkapi peralatan perang, gerakan rancak akan diperlihatkan Tari Mangaru. Tarian ini biasanya juga diiringi oleh alat musik kansi-kansi, mbololo, dan gendang. Nuansa semakin klasik dengan kostum unik yang dikenakan para penari.

"Kami yakin para yachter ini akan terkesan selama berada di Buton Selatan. Sebab, wilayah ini memiliki culture yang sangat khas dan kuat," tegas Indroyono.

Buton Selatan juga akan menyajikan Boti Festival, di Desa Bahari, Boti Festival menarik perhatian. Sebab, memberi pengalaman melihat Boti yang merupakan perahu khas masyarakat Buton dengan tampilan fisik eksotis. Masih dari hari sama, para yachter juga menikmati kelas memasak ala wilayah Buton Selatan.

Selain beragam sajian budaya tradisional, para yachter juga akan disambut dengan kuliner terbaik khas Buton Selatan. Sebut saja, ada onde-onde, kasomi, tandu, dan masih banyak lainnya.

Selain tradisi dan potensi wisata yang telah disebutkan di atas, masyarakat Buton Selatan juga memiliki tradisi unik, di antaranya budaya Pindokoa yaitu aktivitas menangkap ikan dengan memakai tombak khusus. Tradisi Pindokoa ini sudah hidup selama ratusan tahun silam. Pindokoa menjadi treatment bila kondisi di laut kurang bersahabat lantaran faktor cuaca

Ada pula tradisi menarik lainnya yakni Sungkawiano Sangia oleh masyarakat Siompu. berdasarkan penafsiran ritual ini  berarti menyiram batu.

Proses penyiraman sangia ini dimulai dari penganyaman kaperansa yang dibuat dari bambu dengan bentuk persegi tempat diletakkannya nasi, daun sirih, dupa, gambir, kapur, isi kelapa, rokok.

Kaperansa ini biasanya dianyam oleh ana buou, bhisano sangia atau siapa saja yang hadir di acara sungkawiano sangia. Setelah penganyaman kaperansa selesai langkah selanjutnya diserahkan kepada bhisano sangia (tetua adat yang bertugas menyiram sangia) untuk menyusun isi kaperansa sekaligus menyiram sangia.

Ritual tersebut diharapkan agar mau memberi keselamatan dan ketenteraman masyarakat setempat. Secara umum, tujuan tradisi ritual sungkawiano sangia pada hakikatnya merupakan perwujudan untuk mengingat arwah leluhur, memohon berkah dan pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Masyarakat Siompu akan merasa lega dan puas apabila telah menggelar tradisi ritual sungkawiano sangia ini karena mereka telah melakukan amanat dari leluhurnya. Secara khusus, upacara sungkawiano sangia bertujuan agar seluruh masyarakat Siompu terhindar dari segala macam wabah penyakit khususnya yang timbul akibat gejala alam (pergantian musim) dan meminta rezeki kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tradisi ritual sungkawiano sangia dilaksanakan pada setiap pergantian musim, yakni pergantian musim timur ke barat sekitar bulan November sampai Desember.

Selain itu ada pula ritus budaya di Desa Bahari, Kecamatan Sampolawa, Buton Selatan, ritual ini mendaki jalan berbukit menuju puncak gunung, tempat tanah leluhur orang Wapulaka.

Puncak Gunung Susudu merupakan tanah leluhur warga Desa Bahari. Perjalanan warga ke tanah nenek moyang mereka itu merupakan ritual adat Riapa atau syukuran masyarakat desa atas hasil panen laut selama setahun. Setiap tiga tahun sekali atau setahun sekali. Menariknya, siapa pun boleh mengikuti ritual adat ini, walaupun orang tersebut berasal dari luar desa.

Puncak Gunung Susudu setinggi 1.000 meter, dipercaya sebagai kediaman orang pertama di suku tersebut. Setiap orang yang memasuki wilayah ini kemudian akan diberi Cucundu atau sebuah tanda di kening. Seorang wanita yang merupakan tokoh adat membacakan doa dan bertugas memberikan tanda ini.

Setelah itu, warga mulai mendatangi kuburan tua yang telah diperbaiki dan terdapat patung kecil terbuat dari kayu. Kuburan tersebut dipercaya sebagai kuburan Lapangera atau kuburan orang pertama Wapulaka.

Lokasi kuburan yang indah dan sejuk, dan hutan ini hutan adat, jadi dilarang untuk menebang hutan. Perpaduan kesejukan alam hingga pemandangan yang asri membuat adat Wapulaka menyimpan potensi wisata yang alami.

Apalagi di atas puncak gunung, terlihat laut teluk Desa Bahari yang indah serta hamparan pasir pantainya yang putih.

Buton Selatan merupakan salah satu  kabupaten di Indonesia yang telah merumuskan pokok-pokok pikiran kebudayaan, dengan menyinkronkan arahan dari UU UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan.

Sejak dilantik menjadi bupati definitif  La Ode Arusani pun mengeluarkan aturan yang sangat menjaga adat istiadat dan budaya di kabupaten itu. Selain rutin menggelar agenda budaya, Pemkab Busel melestarikan peninggalan leluhur berupa pemugaran situs budaya dan rehabilitasi rumah adat. Pemerintah memberikan bantuan rehabilitasi melalui APBD.

Tahun 2020 Pemkab merevitalisasi situs dan cagar budaya di wilayah Busel yang telah diidentifikasi kurang lebih 30 benteng pertahanan dan 18 baruga atau rumah adat eks Kesultanan Buton.

Selain merevitalisasi benteng dan baruga, pemkab juga memberikan suntikan dana pada setiap desa dalam perayaan acara acara adat termasuk memberi dukungan pengembangan sanggar sanggar kebudayaan di setiap desa.

Pantai Bahari di Sampolawa (foto: BaYou)

Padang Katanaa di Batauga (foto: BaYou)

Pemkab juga telah menyiapkan dana APBN untuk insentif perangkat adat di setiap desa. La Ode Arusani, menyadari bahwa lembaga adat itu sangat berperang penting menjadi mitra pemerintah untuk mengembangkan dan melaksanakan hal hal yang berhubungan dengan kemasyarakatan.

Sejumlah program tersebut adalah bentuk realisasi dari isu strategis pemkab Busel untuk terus menjaga dan merawat adat istiadat serta kearifan lokal masyarakat, sehingga upaya mendorong pelestarian kebudayaan menjadi salah satu program utama Pemkab Busel.

Selain wisata alam dan budaya, Buton Selatan juga memiliki kekayaan wisata kepulauan. Ini mencakup wisata pulau- pulau, wisata bawah laut, dan wisata kelautan.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana memperkenalkan semua unsur pariwisata itu ke dunia luar sehingga lebih dikenal secara luas. Merujuk pada definisi daya tarik wisata sebagaimana yang tercantum dalam UU No. 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan, maka dapat dikatakan bahwa Kabupaten Buton Selatan memiliki daya tarik wisata yang beragam.

Daya Tarik Wisata ini berasal dari keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang dapat menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Kekayaan alam yang dapat dijadikan obyek wisata di Kabupaten Buton Selatan terdapat seluruh kecamatan cakupan Kabupaten Buton Selatan.

Para pemerhati wisata mengatakan, ada empat unsur dalam pengembangan pariwisata. Di antaranya, aksesibilitas, amenitas dan atraksi atau sering disebut 3A, ditambah kelembagaan dan pengembangan sumber daya manusia.

Aksesibilitas adalah akses yang tersedia menuju destinasi. Akses ini dalam dua tahun terakhir menjadi prioritas pembangunan Bupati, La Ode Arusani. Lalu amenitas atau fasilitas pariwisata yang dikelola publik atau masyarakat yang berkorelasi dengan kebutuhan berwisata. Misalnya hotel, akomodasi dan rumah makan. Amenitas ini bisa dilakukan pemda maupun swasta. Namun, ini juga bisa dijalankan oleh masyarakat.

Selanjutnya dari sisi atraksi baik alam maupun budaya terus didorong. Misalnya pengadaan event tingkat masyarakat maupun pemerintah. Busel sudah punya kalender event, seperti Festival Buton Selatan dan Larung Laut yang setiap tahun dilaksanakan.

 

Pemasaran Melalui Digital

Pariwisata Buton Selatan terus berbenah. Kini, di era digital, pariwisata mesti melakukan transformasi sehingga siklus ekosistem kepariwisataan perlahan terbentuk. Di era 4.0, pariwisata Busel tidak bisa lagi hanya menunggu, melainkan harus ‘jemput bola’ untuk promosi dan memperkenalkan diri ke dunia luar.

Pariwisata Busel harus mengadaptasi pendekatan digital. Di era ini, wisatawan saling berjejaring dan menyebarkan informasi tentang satu kawasan. Sekitar 85% wisatawan dunia menjelaskan unggahan foto video dan platform media sosial mempengaruhi rencana berwisata mereka.

Media sosial memberi dampak pada ekosistem pariwisata dan mempengaruhi proses pengambilan keputusan berwisata. Dalam era digital pariwisata 4.0 penyebaran dan konsumsi informasi di media sosial terkait aktivitas pariwisata menjadi penting terhadap perkembangan pariwisata.

Kedepannya, wisata di Busel mesti merajai konten di semua platform media sosial. Busel harus aktif menyebar informasi di semua kanal atau jejaring media sehingga promosi terhadap wisata Busel terus gencar dilakukan. Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan media, melainkan harus proaktif dan menggelar promosi di semua jaringan.

Istilah pariwisata digital memang sudah mulai berkembang pesat di beberapa negara termasuk Indonesia. Pariwisata digital memiliki arti pemanfaatan digital pada industri pariwisata yang mencakup pengelolaan dan pemasaran. Pariwisata digital juga dapat di simpulkan memanfaatkan fasilitas sarana internet dengan berbagai media yang dekat dengan masyarakat seperti jejaring sosial, yakni Facebook, Instagram, Twitter, blog, dan website.

Untuk memperkuat konsep ini, Busel mesti memperkuat investasi di bidang sumber daya manusia, pemetaan destinasi unggulan, serta bagaimana mengemas informasi menjadi lebih menarik. Era 4.0 telah memberikan perubahan signifikan pada ekosistem kepariwisataan terutama pada generasi milenial.

Pendekatan Pariwisata digital era 4.0 yaitu merespon perubahan kebiasaan wisatawan yang mengarah pada pola hyperconected society melalui kebijakan pengembangan kawasan pariwisata digital yang di kemas melalui strategi pemasaran digital yang “kekinian”.

Berangkat dari pendekatan tersebut pengembangan pariwisata di era digital 4.0 yaitu perubahan pola komunikasi dari kawasan yang sudah ada sebelumnya ke komunikasi pemasarannya sehingga perkembangan dapat dicapai sesuai dengan kebutuhan dan target pasar.

Kedepannya, siapa pun yang hendak ke Busel bisa menemukan informasi yang tepat tentang kalender kegiatan, akomodasi, serta apa saja keunikan di setiap kegiatan. Busel bisa menjangkau dunia dengan platform digital. Itu bisa dikerjakan, sepanjang ada visi serta kemauan kuat untuk menggapainya.

 

DISCLAIMER:

Tulisan ini adalah bagian dari Busel Outlook, yang dibuat untuk Pemkab Buton Selatan, tahun 2020 silam.

 


Squid Game

 


Serial Squid Games yang tayang di Netflix ibarat roller coaster yang bikin kita sesaat menahan napas. Serial ini bisa bikin stop jantung buat mereka yang tak tahan melihat amis darah dan pertandingan hidup mati. Kita serasa menumpang mobil kecepatan tinggi, di mana setiap saat bisa menabrak tebing.

 Serial ini serupa Hunger Games, di mana para remaja saling bunuh dalam satu permainan. Juga mirip Alice in Borderland yang tayang di Netflix dan menampilkan dunia parallel di mana para pemain game menyabung nyawa.

Namun Squid Games seakan menarik semua kengerian sampai pada level maksimal, sembari menyelipkan pesan-pesan moral, ketimpangan sosial, serta mimpi-mimpi sejahtera ala kapitalisme modern.

Settingnya lebih banyak di satu pulau kosong, yang menjadi lokasi dari permainan game penuh tantangan. Di sini, ratusan orang memainkan permainan tradisional khas anak-anak Korea, yang dimainkan secara kolektif.

Hanya saja, di permainan ini, nyawa menjadi taruhannya. Semua orang harus siap bertarung. Di setiap level, satu demi satu pemainnya tewas mengenaskan, hingga menyisahkan satu orang di level akhir.

Mereka yang bermain adalah mereka yang terabaikan dalam realitas sosial. Ada pengangguran yag terjerat utang, perempuan pencopet yang harus bertarung di jalan-jalan demi adiknya, juga seorang magister lulusan sekolah terkemuka tapi dililit utang dan dalam bayang-bayang ekspektasi orang tuanya.

Mereka merasa gagal dalam hidup. Saat ada tawaran bermain game demi mendapatkan hadiah miliaran, mereka siap bertarung nyawa, bahkan harus mengalami dilema antara sisi materialis dengan sisi kemanusiaan dalam dirinya.

Mengikuti serial ini serasa membaca ulang beberapa literatur dalam sosiologi kontemporer. Bagian ketika sejumlah orang kaya merancang permainan ini hanya untuk bersenang-senang mengingatkan saya pada The Planners, yang dalam bukunya sosiolog Manuel Castells, digambarkan sebagai sejumlah orang yang mengendalikan informasi dalam satu network society.

Para Planners merancang alur permainan, mengamati tindakan manusia lainnya melalui algoritma, lalu merancang satu permainan di mana orang-orang serupa pion yang satu demi satu berkelahi dan dikorbankan demi mengejar angan-angan kesejahteraan.

Logika yang sama bisa menggambarkan alur dari kebijakan publik. Kebijakan itu dirancang oleh orang-orang kaya dan pintar yang sasarannya adalah orang miskin. Dari satu ruang kaca, mereka lalu memantau statistik berapa orang yang berhasil keluar dari jerat kemiskinan. Mereka menyaksikan bagaimana kita berjibaku di lapangan kehidupan untuk keluar dari krisis.

Belakangan, saya banyak menyaksikan bagaimana crazy rich bermunculan sembari berkoalisi dengan pemerintah berkuasa. Mereka membahas kebijakan untuk rakyat yang bermuara pada strategi agar kekuasaan tetap di genggaman. Dengan cara itu, mereka tetap kaya dan berpengaruh.

Dunia memang kian renta. Orang kaya bermunculan. Tapi orang miskin tetap saja jauh lebih banyak, yang sialnya, selalu jadi obyek dari berbagai kebijaksanaan. Orang miskin sering jadi kayu bakar sekadar untuk menerangi malamnya orang kaya.

Namun, kisah ini juga menyajikan antithesis. Setelah menang dan kaya, lantas apa? Bukan hanya miskin, kaya pun bisa membawa kita pada kehampaan. Tak ada greget. Tak ada lagi suka cita ala anak kecil bermain. Uang tak selalu jadi solusi, tapi manusia mengejarnya sepenuh hati, hingga siap mengorbankan nyawa manusia lainnya.

Serial ini sesaat membuat kita merenung. Dunia Squid Games adalah dunia kita. Kita adalah bagian dari permainan itu sendiri.


Saat Membaca "The Age of Surveillance Capitalism"

 


Ini jenis buku yang muram. Ini buku mengenai distopia. Isinya mengingatkan saya pada Homo Deus yang ditulis Yuval Noah Harari. The Age of Surveillance Capitalism membahas tentang betapa kita hanya menjadi pion di tengah percaturan perusahaan teknologi informasi.

Sejak pandemi, saya memperhatikan banyak orang di sekitar saya yang menghabiskan waktu selama lebih dari tujuh jam per hari untuk memandangi layar HP. Seorang kawan pemateri di acara Siberkreasi bilang lebih dari tujuh jam.

Selama tujuh jam, kita dalam pengawasan dari berbagai platform milik perusahaan besar. Kapitalisme telah mengawasi semua prilaku kita, lalu perlahan menggiring kita untuk menyukai lalu membeli sesuatu.

Teknologi perlahan mengubah peradaban kita. Dulu, Ketika mesin cetak ditemukan Guttenberg, pengetahuan menjadi mudah tersebar ke mana-mana, yang kemudian menggoyahkan gereja di abad pertengahan. Teknologi mengkalibrasi ulang pemikiran kita, sehingga ilmu pengetahuan lahir sebagai anak kandungnya.

Kini, di era Zuckerberg, kapitalisme hadir dalam bentuk baru. Bukan lagi dalam iklan dan baliho, tapi dalam semua aktivitas yang terpantau di media sosial.

Shoshana Zuboff, professor perempuan di Harvard, memotret femomena ini dengan sangat baik. Dia membahas mutan baru dari kapitalisme yang menggunakan teknologi. Zuboff menyebut mutan baru ini sebagai “kapitalisme pengawasan.”

Kapitalisme ini bekerja dengan menyediakan layanan gratis yang digunakan oleh miliaran orang dengan senang hati, memungkinkan penyedia layanan tersebut untuk memantau perilaku pengguna tersebut dengan detail yang mencengangkan – seringkali tanpa persetujuan eksplisit mereka.

Sekali lagi ini buku yang muram. Manusia tidak lebih dari data yang terus-menerus dianalisis dalam mesin Big Data. Cara berpikir kita digiring mengikuti algoritma.

Saya ingat dalam banyak diskusi yang diadakan Siberkreasi, banyak orang menyebut kecanduan digital yang semakin parah. Zuboff punya jawaban lengkapnya. Saya baru lembaran ke-100. Butuh kesabaran untuk menuntaskan sampai 700-an halaman.

Meski belum tuntas, buku ini sudah serupa hantu yang bikin takut. Saya tiba-tiba saja ingin menghentikan semua aktivitas di internet. Tapi saya belum siap kehilangan rutinitas untuk menyapa orang2 dan saling komen.

Zuboff telah menyalakan banyak cahaya di ruang gelap.