Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Saling Sikut demi Rekomendasi Partai



KEMERIAHAN terjadi di hampir semua daerah yang akan melaksanakan pilkada. Para kandidat bupati ataupun gubernur memenuhi jalan-jalan di tengah lautan massa. Mereka serupa para gladiator yang tak lama lagi akan memasuki arena pertarungan. Para pendukung meneriakkan yel-yel.

Tahukah Anda bahwa di balik kemeriahan itu, para calon kepala daerah telah menempuh proses panjang dan sedikit ‘berdarah-darah’, serta saling sikut demi mendapatkan selembar rekomendasi? Tahukah Anda bahwa semua kandidat kepala daerah itu harus datang ke Jakarta, menelusuri ‘jalan-jalan tikus’ di partai politik, memberikan garansi, dan terakhir saling mengunci dengan segepok rupiah demi selembar rekomendasi partai?

Marilah kita simak kisah perjalanan mereka yang menelusuri rimba-rimba gelap politik kita, yang kesaksiannya tak pernah dibahas di seminar atau dalam retorika mereka yang sukses jadi pejabat.

***

AKHIRNYA surat rekomendasi itu keluar juga. Wajah bapak itu langsung muram. Namanya tidak tertera dalam lembar yang dikeluarkan partai politik itu. Dia kalah oleh kandidat lain. Dia seakan tak terima. Saat saya temui di satu kafe di dekat Sarinah, ia beberapa kali memukul meja. Ia dikalahkan oleh kandidat lain yang bukan berasal dari partai itu.

Bapak itu wajar jika emosi. Ia telah bekerja selama dua tahun demi pencalonannya sebagai kepala daerah. Relawannya telah lama berkeliling dan mengetuk rumah warga. Ia telah mencetak brosur yang isinya visi-misi, mencetak stiker potret diri lalu ditempel di rumah-rumah warga.

Bahkan ia juga membuat baliho berukuran besar yang tersebar di banyak titik. Uang dan tenaga yang dikucurkannya terbilang besar. Tapi itu tadi, dia tidak mendapatkan rekomendasi partai politik.

“Demokrasi kita dihargai dengan segepok uang,” katanya. Saya hanya terdiam mendengarkan keluh kesahnya. Sampai seminggu sebelum rekomendasi keluar, ia masih optimis. Ia datang ke Jakarta sejak dua bulan lalu. Selama waktu itu, ia “bergerilya”, menemui tokoh-tokoh kunci di partai politik, malah menemui calon presiden. Pada semua orang yang ditemuinya, ia memberikan garansi kemenangan dan suara besar bagi partai itu.

Indonesia telah lama menerapkan prinsip desentralisasi. Namun dalam hal pemilihan kepala daerah, semuanya akan berpulang pada “kemurah-hatian” pusat. Untuk menjadi kandidat, Anda mesti mendapatkan surat rekomendasi yang ditandatangani oleh ketua umum partai dan sekretaris jenderal, yang di atasnya ada stempel partai. Tanpa itu, Anda tidak akan bisa  mendaftar menjadi calon kepala daerah.

Rekomendasi partai itu ibarat surat sakti yang ditunggu semua kalangan. Tanpa rekomendasi, sia-sialah semua upaya kerja keras menyapa rakyat demi meningkatkan popularitas. Untuk mendapatkan rekomendasi, jalan terjal harus ditempuh. Tidak sesederhana Anda datang melamar, simpan berkas, lalu menunggu panggilan untuk fit and proper test. Anda harus melobi, menemui banyak pihak, meyakinkan banyak orang.

Di kalangan banyak orang yang kerap bersentuhan dengan parpol, urusan rekomendasi ini sederhana. Namun ada beberapa hal yang diperhatikan partai sebelum mengeluarkan rekomendasi.

Pertama, ukuran elektabilitas dan popularitas. Partai politik akan menggelar survei demi menentukan seberapa Anda berpotensi menang ataukah kalah. Kalau potensi menang akan kuat, partai akan membuka ruang dialog. Kalau surveinya jelas-jelas menunjukkan Anda tidak punya potensi menang, partai akan ogah-ogahan.

Demi survei itu, di semua daerah, semua kandidat bupati dan gubernur akan dipungut biaya saat pendaftaran. Jumlahnya bisa bervariasi. Beda partai, beda pula biaya survei. Seorang sahabat mesti membayar 100 juta rupiah demi survei di satu partai besar. Jika kandidat yang mendaftar sebanyak lima orang, silakan hitung berapa biaya yang akan diraup partai.

Sering kali ada wawancara dengan partai dan diuji akademisi. Formatnya adalah serupa ujian skripsi seorang mahasiswa sarjana. Kandidat duduk di tengah, kemudian diberikan banyak pertanyaan. Pada titik ini, ide-ide tentang transformasi menjadi penting.

Namun percayalah, itu semua hanya berlaku di atas kertas atau sebatas di arena itu saja. Biarpun Anda sukses memenangkan debat dan wacana, itu bukan jaminan Anda akan sukses mendapat rekomendasi. Kekuatan wacana itu nomor paling buntut dalam dunia politik.

Partai politik juga akan memperhitungkan seberapa pentingnya satu daerah. Jika daerah itu adalah basisnya, maka mereka akan lebih hati-hati mengambil sikap. Boleh jadi, mereka akan lebih memilih kadernya, sebab minimal kader itu telah menunjukkan kinerja berupa pundi-pundi suara yang cukup besar di situ. Atau minimal sudah lama aktif di partai dan mengenali tokoh-tokoh kunci pengambil keputusan di partai itu.

Jika daerah itu punya populasi sangat besar, maka partai akan bermain lebih aman. Mereka akan memilih kandidat yang citranya baik agar citra partai ikut terkerek. Mereka akan hati-hati memilih kandidat sebab barometer kemenangan pemilu ada di daerah itu.
Namun jika daerah itu bukan basis, pembicaraannya adalah seberapa kuat Anda bisa membawa kemenangan. Sebab hanya kemenangan yang akan memberi garansi bagi kader partai itu untuk lebih banyak berkiprah, serta bisa menaikkan perolehan suara di pemilu mendatang.

Harus dicatat, pemenang partai belum tentu mendapat rekomendasi. Pengurus partai di level provinsi hanya merekomendasikan tiga sampai lima nama ke pihak pengurus pusat. Selanjutnya, nama-nama itu dipersilakan untuk gerilya di Jakarta demi mendapatkannya. Tanpa gerilya, mustahil rekomendasi di tangan. Kecuali jika survei membuktikan Anda akan dipilih 90 persen masyarakat. Itu lain soal.

Kedua, ukuran “amunisi” atau uang. Seorang kawan politisi pernah berkata, “Jika Anda tidak punya uang, maka takdir Anda di dunia politik hanya berhenti sebatas tim sukses atau tim pemenangan, malah Anda akan jadi tukang ketik. Tapi jika Anda punya uang, maka semua arena akan terbuka lebar.

Faktor uang ini amat penting, tapi entah kenapa, pihak politisi enggan membahasnya terbuka. Biasanya, semua orang tutup mulut saat ditanya tentang pengaruh uang. Ibarat hantu, uang itu dirasakan ada, tapi tidak pernah tampak di atas meja saat calon kepala daerah dan pengurus partai bertemu.

Makanya, proses penyerahan atau pemindahan uang dari tangan ke tangan selalu tertutup dan hanya diketahui sedikit orang, akan tetapi cipratannya akan terasa ke banyak pihak. Nanti ketika seseorang tidak mendapat rekomendasi, barulah dia bernyanyi bahwa dia tidak sanggup memenuhi permintaan sejumlah uang tertentu. Itulah politik.

Rekomendasi itu ibaratnya dilelang. Pemenangnya adalah dia yang paling tinggi mengajukan penawaran. Satu kursi partai akan dikonversi dengan nilai tertentu. Semakin besar perolehan kursi, semakin besar pula biaya yang harus disiapkan. Di daerah-daerah yang penduduknya sedikit di timur, satu kursi sering dihargai 250 juta rupiah. Untuk empat kursi, Anda mesti menyetor sebesar 1 miliar rupiah. Ini hitungan terkecil lho. Jika itu di daerah besar yang padat penduduknya, jumlah “mahar” akan jauh lebih besar.

Jangan mengira bahwa kandidat hanya membayar “mahar.” Itu hanya Dana Permulaan (DP). Selanjutnya, partai akan membuat proposal pemenangan. Mereka berdalih dana itu akan digunakan untuk menggerakkan semua mesin politiknya, mulai dari pusat kuasa sampai ke lapis terluar. Kandidat tak punya pilihan.

Padahal, faktanya, dalam pilkada langsung mesin partai tak pernah bekerja maksimal. Mereka hanya muncul di awal, saat deklarasi, saat panggung kampanye. Mereka tak hadir saat meyakinkan warga untuk memilih kandidat tertentu.

Faktor uang ini kadang mengherankan. Di satu daerah, saya mendengar pihak yang mendapat rekomendasi partai bukanlah politisi ataupun aktivis, juga tak ada pengalaman berorganisasi. Pengalamannya hanyalah sebagai ibu rumah tangga. Usut punya usut, ternyata suaminya adalah kontraktor tambang yang punya aset hingga miliaran rupiah. Saat fakta ini dikemukakan, semua pihak akan terdiam, tak tahu harus berkata apa. Itulah realitas politik.

Makanya, pada seorang kawan yang hendak maju menjadi kepala daerah, pertanyaan yang diajukan adalah berapa banyak uang yang disiapkannya untuk mendapatkan rekomendasi partai? Berapa pula yang disiapkannya untuk menggapai kemenangan?

Jika tak punya saldo cukup, sebaiknya urungkan semua niat baik untuk menyejahterakan masyarakat itu. Pilkada bukan sekadar ajang memenangkan gagasan, tapi juga ajang yang bisa memiskinkan Anda, semiskin-miskinnya.

Ketiga, kekuatan lobi dan jejaring. Bagi kandidat yang tak punya dana besar, atau punya modal pas-pasan, maka harapan mereka adalah memaksimalkan jaringan. Jika mereka dahulu adalah aktivis organisasi masyarakat (ormas), maka pintu lobi telah ditemukan. Dengan bermodalkan pertemanan dengan pengurus partai, atau pengalaman aktif di organisasi itu, lobi mulai diintensifkan.

Ormas besar punya kader yang berada di pucuk pimpinan partai. Ormas-ormas itu bisa menghubungi atau malah melobi pimpinan partai. Tapi itu akan kembali pada seberapa kuat pengaruh Anda di organisasi itu.

Tak hanya ormas, ikatan alumni organisasi mahasiswa pun bisa jadi pintu untuk lobi. Beberapa organisasi semisal Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Kahmi) akan menjadi kanal untuk mempertemukan banyak pihak. Dalam acara-acara Kahmi, seorang kandidat bupati bisa datang, menautkan kembali hubungan dengan para senior, rekan, atau kenalan yang telah jadi petinggi negeri ini. Selanjutnya, jalan lobi akan terbentang.

Bukan cuma jalur organisasi, jalur kultural pun bisa ditempuh. Seorang sahabat punya jalur sejumlah kiai yang tengah didekati ketua umum partai. Garansi yang dipasang adalah jika sang ketua umum tidak mendukung, maka suara partainya di tempat tertentu akan tergerus. Demi didukung kiai, sahabat itu harus nyantri dulu selama periode tertentu, setelah itu bersama Pak Kiai akan mulai mengetuk pintu partai.

Jika punya jalur langsung ke ketua umum partai, maka jalan akan lebih mulus. Seorang bupati di timur pernah mendapatkan rekomendasi dari satu partai hanya karena dia sekelas dengan ketua umum partai itu. Tentu saja, dia tetap harus membayar biaya-biaya ke partai itu. Point-nya adalah jejaring akan sangat menentukan apakah Anda mendapat rekomendasi ataukah tidak.

Dalam hal lobi, semua akan berusaha merapat ke ketua umum ataupun sekjen. Demi mendekat ke mereka, Anda mesti melalui jalur-jalur yang kerap dipakai. Beberapa jalur sering dianggap lebih kuat pengaruhnya dibandingkan jalur lainnya. Seorang kandidat akan terbiasa berhadapan dengan sejumlah orang yang bertindak sebagai calo yang bisa menghubungkan dengan pengambil keputusan di partai itu. Jika tidak hati-hati, para calo ini akan panen besar atas pundi-pundi uang yang disiapkan seorang calon kepala daerah.

***

SAYA masih di satu kafe di Sarinah bersama Bapak yang baru saja gagal mendapatkan rekomendasi partai politik. Dia bercerita tentang mimpi-mimpi idealnya untuk bekerja dan berbuat sesuatu di kampung halamannya.

Apa daya, mimpi itu terhambat oleh permintaan mahar yang gagal dipenuhinya. Ia gagal bersaing dengan kandidat lain yang jauh lebih siap dan rajin “menyiram” ke mana-mana. 

Dalam dunia politik, gagasan memang penting tapi bukan segala-galanya. Demikian pula uang yang juga penting, tapi bukan segala-galanya. Faktor lobi juga penting, tapi bukan satu-satunya. Pemegang rekomendasi adalah mereka yang bisa mendapatkan ketiga faktor itu, yakni gagasan, uang, dan juga lobi.

Jika disuruh memilih prioritas, mungkin faktor uang dan lobi adalah kekuatan utama di balik lahirnya setiap rekomendasi. Gagasan adalah faktor terakhir, yang paling tidak penting. Tapi dirasa perlu juga untuk meyakinkan pemilik saham partai dan pelobi.

Lagian, soal gagasan bisa dikemas ulang. Itu bisa menjadi lahan garapan para konsultan politik dan tim ide yang rata-rata adalah peraih gelar doktor dari kampus-kampus bergengsi.

Saya merenungi kenyataan yang cukup menyedihkan ini. Saya membayangkan betapa sulitnya melakukan perubahan ketika seorang calon kepala daerah harus membayar dulu semua utang-utang, baik itu materi maupun kebaikan orang-orang yang melicinkan jalannya. Jika demikian halnya, perubahan hanya mimpi di siang bolong.

Seorang kawan berbisik, pelaku perubahan itu haruslah orang yang memiliki segalanya, tapi punya niat tulus untuk berbuat sesuatu. Dia harus kaya, tapi juga idealis. Dia harus seperti Bruce Wayne, yang punya segalanya, namun menjadi idealis saat mengenakan jubah Batman. Atau dia harus seperti Tony Stark yang punya banyak ide-ide evolusioner di bidang teknologi sehingga kaya raya, tapi menyimpan senjata andalannya yakni jubah Iron Man untuk membela yang tertindas.

Sejujurnya ada opsi lain. Seorang kepala daerah pelaku perubahan itu haruslah seseorang yang punya jejak di masyarakat, dia dikenal karena prestasi dan kiprahnya yang membantu banyak orang, kemudian kisah-kisahnya disebar para relawan.

Para relawan bergerak aktif mempromosikan orang baik itu, menggalang fundrising untuk membiayai semua kebutuhan, juga sebagai tim pemenangan yang akan menggugah semua orang untuk bergerak demi perubahan.

Saya tahu bahwa di luar negeri, aksi-aksi seperti ini sering dilakukan. Tapi di sini, di tanah air Indonesia yang amat kita cintai, aksi itu masih seperti mimpi. Entah kapan negeri ini  bisa berubah.


Di Bali Surat Cerai AHOK



SEPUCUK surat itu telah menggemparkan semua warganet. Konon, surat itu adalah gugatan cerai yang diajukan dari rumah tahanan Mako Brimob. Pengirimnya tertera nama Basuki Tjahaja Purnama (sering disapa Ahok) yang mengajukan cerai kepada Veronica Tan. Beberapa media besar telah mengonfirmasi bahwa informasi itu benar. Banyak pihak terhenyak. Sebagai figur publik yang disukai sekaligus dibenci, Ahok tidak pernah menunjukkan tanda-tanda keretakan rumah tangga.

Ada apa di balik isu perceraian Ahok?

Sejak memutuskan karier sebagai politisi, Ahok adalah sosok yang dibenci sekaligus dirindukan. Barangkali, ia adalah satu-satunya politisi yang dihantam dengan demo berjilid-jilid, namun tetap berani tegar menghadapi persidangan, sekaligus tetap maju di gelanggang pemilihan kepala daerah (pilkada). Dia ibarat petinju yang seharusnya sudah knockout tapi tetap selalu bisa bangkit. Dia pula politisi yang ketika ditahan rajin dikunjungi warga. Dunia politik kita mencatat kehebohan saat ribuan bunga mengirim ucapan selamat jalan kepadanya di Balaikota DKI.

Dia lebih strong jika dibandingkan calon wakil gubernur di Jawa Timur yang langsung mundur ketika foto-foto mesra dengan seseorang (entah benar apa tidak) beredar. Dia tak sekalipun gentar menghadapi risiko politik apapun, tetap tenang saat debat kandidat, meskipun lawan debatnya mengeksploitasi sisi emosionalnya. Dia tidak pernah mangkir bahkan lari dari persidangan. Semua respon publik dihadapinya. Dia memang emosional, tapi dia selalu siap menghadiri panggilan, dan berdiri tegar ketika semua orang mengumpatnya.

Di balik sosok yang kuat itu, terdapat satu sosok yang juga sangat kuat. Sejak Ahok dikecam publik, Veronica Tan, atau akrab disapa Vero, tak pernah meninggalkan lelaki asal Belitung itu. Dia hadir dalam semua persidangan. Dia menjadi juru bicara keluarga. Ketika Ahok selalu dicegat dan hanya bisa kampanye di ruang tertutup, Vero tetap tak pernah jauh dari suaminya. Bahkan dia pula yang berurai air mata saat mengumumkan langkah hukum Ahok yang menerima vonis dua tahun penjara.

Ahok dan Vero adalah dua sisi koin yang saling melengkapi. Sikap keras Ahok menemui sikap lembut Vero. Keduanya adalah duet yang setiap saat menerima umpatan publik dan terlihat tetap solid. Jika hari ini beredar rumor kalau Ahok mengajukan cerai, ada apakah gerangan? Bisakah satu pihak memberikan penjelasan apa yang sedang terjadi di antara pasangan yang selalu tampak tenang dan rukun ini?

Salah seorang pengacara Ahok, Humphrey Djemat, mengatakan, rumah tangga Ahok-Veronica sejatinya tak pernah ada masalah. Humphrey mengungkapkan terakhir kali bertemu Ahok sekitar dua bulan lalu di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Dari situ, dia melihat sama sekali tak ada gelagat buruk ikhwal biduk rumah tangga keduanya.

“Sikap Pak Ahok biasa-biasa saja, tetap ceria dan sama sekali tidak menunjukkan ada masalah pribadi,” ujar Humprey.

Kata Humphrey, kasus cerai selalu bersifat pribadi. “Kasus cerai seperti ini bersifat sangat pribadi. Jadi mohon maaf saya tidak bisa mengomentarinya. Cuman sedih aja mendengarnya. Apalagi kalau benar terjadi. Setahu saya, Pak Ahok dan istrinya sebagai keluarga yang taat beragama dan hubungannya harmonis,” katanya.

Menarik untuk melihat bagaimana respon dan reaksi publik. Masih saja banyak orang yang mengumpat Ahok sebagai orang jahat yang seharusnya menerima hukuman lebih berat. Namun, saya perhatikan di lini massa dan twitter, lebih banyak orang yang merasa sedih dan berharap berita itu adalah hoaks semata.

Jika gugatan cerai itu benar, kita bisa mengangkat beberapa asumsi yang dikumplkan dari warganet untuk menjelaskannya. Setidaknya, ada empat asumsi yang saat ini bisa menjadi jawaban atas informasi perceraian ini.

Pertama, hubungan keduanya memang sudah tidak harmonis. Mungkin saja keduanya sudah tidak rukun, khususnya sejak lelaki itu ditahan. Namun jika melihat bagaimana bahasa tubuh keduanya saat persidangan dan semasa vonis, keduanya tidak menunjukkan masalah sedikit pun. Kasus ini berbeda dengan cerai para selebritis yang diawali cekcok serta pernyataan heboh di media. Kasus ini unik, sebab tiada angin dan tiada hujan, tiba-tiba ada gugatan cerai.

Kedua, ada anggapan kalau Vero tidak tahan dengan sikap Ahok yang selalu emosi dan marah-marah. Asumsi ini dikemukakan oleh seorang warganet yang berkomentar di akun twitter Ahok. Tapi, asumsi ini terlampau berlebihan. Sikap emosional Ahok kepada keluarganya tak pernah sedikitpun tertangkap oleh media massa dan media online.

Ketiga, ada anggapan tentang sosok lain dalam kehidupan rumah tangga mereka. Sejak Ahok ditahan di Mako Brimob, Vero dikabarkan menjalin hubungan dengan sosok lain. Boleh jadi, ada ruang-ruang dalam dirinya yang membutuhkan sosok sebagai tempat menyampaikan keluh kesah. Ketika suaminya ditahan, kekosongan itu akhirnya diisi oleh orang lain. Asumsi ini sah saja. Tapi jika melihat kehidupan mereka, rasanya ini agak berlebihan. Namun urusan rumah tangga selalu misterius. Hanya diketahui oleh mereka yang menjalaninya.

Keempat, di antara keduanya terdapat perbedaan pandangan mengenai masa depan Ahok setelah keluar dari Mako Brimob. Ada yang menduga Vero tidak bersedia jika suaminya itu kembali jalur politik sebab masih trauma dengan pengalaman pahit yang telah dilaluinya. Pendapat ini masuk akal juga. Sebab perempuan lebih peka dengan berbagai situasi, sementara laki-laki justru lebih berani menghadapi risiko apapun.

Bagi saya, kartu Ahok di dunia politik akan tetap jalan. Penahanannya tidak akan menghapus rekam jejaknya di birokrasi dan pemerintahan. Ia masih akan berkiprah di dunia politik, meskipun dirinya bukan lagi menjadi sosok terdepan yang setiap saat disorot lampu blitz kamera. Kalaupun ia ingin mundur, publik harus mendorongnya untuk tetap maju sebab politisi seperti dia unik dan orisinil. Minimal gagasannya masih bisa diterapkan di tengah barisan politisi yang hanya fokus pada pencitraan.

Dia tipe politisi yang akan selalu didengar pendapat kontroversialnya. Pada masa Orde Baru, peran ini pernah dilakoni Gus Dur. Bedanya, Gus Dur punya massa fanatik yang siap menyabung nyawa untuk dirinya sebagai kyai. Gus Dur seorang kiyai yang punya otoritas dan kharisma sebagai negarawan. Sementara Ahok punya massa dari lapis kelas menengah perkotaan yang hanya diam dan menyaksikan, tanpa berani masuk lapangan sebagai petarung untuknya.

Kelima, langkah perceraian ini adalah langkah terbaik yang dipilih Ahok untuk menyelamatkan keluarganya. Sejak kasus penistaan agama mencuat, Ahok merasa keluarganya ikut dibawa-bawa dalam persoalan ini. Keluarganya harus menerima stigma atas apa yang dilakukannya. Ahok memikirkan istri dan anak-anaknya yang setiap saat harus menerima label dan stempel dirinya. Dia memilih untuk lepas dari mereka dan menjauh agar mereka tidak ikut menerima dampak dari sikap politik yang dipilihnya.

Bisa dikatakan, gugatan cerai itu adalah langkah penyelamatan yang dipilih Ahok demi masa depan yang lebih baik bagi keluarganya. Dia memilih menjadi lilin yang terbakar demi tetap menjadi cahaya bagi orang lain di sekitarnya.

Gugatan cerai hanyalah satu manifestasi dari sikapnya yang berharap keluarganya bisa mendapatkan iklim positif dan dunia yang menerima mereka dengan lapang dada. Dia memilih sendirian, demi keamanan, ruang hidup, dan kenyamanan istri dan anaknya.

***

ENTAH mana yang benar, yang pasti berita perceraian adalah berita yang selalu menyedihkan. Perceraian adalah urusan keluarga. Namun, siapapun yang mendengarkannya, selalu menyesalkan itu dan berharap ada jalan keluar.

Pada diri Ahok dan Vero terselip banyak harapan untuk menyelesaikan semua masalah, tanpa harus berujung pada keretakan rumah tangga. Mereka sudah pernah melalui ujian berat yang berujung pada hilangnya kebebasan Ahok. Seharusnya mereka bersiap menghadapi ujian lainnya di arena kehidupan. Melalui berbagai ujian itu, seseorang kian matang dan dewasa, serta memandang hidup lebih arif.

Bagaimanapun juga, keluarga akan selalu menjadi rumah tempat kembali dan menemukan kedamaian. Dalam dunia politik yang keras dengan duel wacana dan saling serang, rumah dan keluarga adalah oase dan mata air yang selalu menyejukkan kerongkongan. Jika perceraian itu benar, maka Ahok benar-benar akan jadi seorang ronin atau samurai kesepian yang berkelana seorang diri. Dia akan menjadi Musashi yang sendirian mengarungi rimba politik dan menanggung semua risiko politik seorang diri.

Kalaupun pilihan itu harus diambil, semoga itu bukan karena keterpaksaan atau tekanan, ataupun perselisihan. Semoga keputusan itu adalah pilihan rasional dan realistis bagi mereka demi mengejar sesuatu yang lebih besar. Sebab pada akhirnya, semua orang akan mempertanggungjawabkan apapun yang diyakininya di hadapan pemilik alam semesta.

Salam damai untuk Ahok dan Vero.


Tiga Indikasi Kemenangan Prabowo Subianto




ARENA pemilihan presiden (pilpres) 2019 akan menjadi palagan ketiga bagi Prabowo Subianto, setelah pernah menjadi kandidat wapres, kemudian kandidat presiden. Biarpun survei publik yang digelar SMRC menyebutkan elektabilitasnya kian menurun, Prabowo justru sedang memasuki momen keemasannya. Sejatinya, dia jauh lebih siap memasuki palagan pertempuran itu dibandingkan sebelumnya.

Dia telah membersihkan sejumlah ranjau politik dan membesarkan partai yang diprediksi masuk akan tetap berada di tiga besar. Di banyak daerah, dia sedang menyiapkan kader yang diyakini akan merebut hati orang-orang. Dia juga masih memiliki kader militan dan barisan pendukung yang menganggapnya sebagai juru selamat demi mengatasi keterpurukan Indonesia.

Yang mendesak baginya adalah strategi politik yang tepat agar palagan pilpres 2019 tidak lantas menjadi kuburan politik yang bisa membuat namanya hanya menjadi catatan kaki sejarah pilpres. Dia butuh strategi baru dan tidak perlu mengulangi strategi yang pernah membuatnya kalah. Di arena pilpres ini, hanya ada satu kata untuknya: Menang!

Bisakah?

***

AKHIRNYA survei itu diungkap ke publik. Di awal tahun politik, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengumumkan survei yang menjadi barometer awal untuk melihat peta kekuatan di arena pemilihan presiden. Posisi Presiden Jokowi terus menguat seiring dengan semakin tingginya tingkat kepuasan publik atas kinerjanya.

Survei itu juga menunjuk Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto sebagai satu-satunya sosok terkuat yang akan menjadi pesaing Jokowi di Pilpres 2019 mendatang. Dalam surveinya, berdasarkan tingkat keterpilihan, Prabowo mendapat 10,5 persen berada di urutan kedua setelah Jokowi yang memerolehan 38.9 persen sebagi calon presiden mendatang. Sementara keterpilihan untuk SBY sebesar 1.4 persen dan Gatot Nurmantyo 0.8 persen.

“Dalam hal elektabiltas presiden, Survei SMRC menunjukkan posisi Jokowi terus menguat,” ungkap Direktur Eksekutif SMRC, Djayadi Hanan, di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa, 2 Januari 2018, kemarin.

Djayadi menambahkan, di sisi lain, nama pesaing terdekat Jokowi hanyalah Prabowo yang memperoleh 18,5 persen suara, yang menunjukkan tidak ada perubahan dukungan dibandingkan hasil survei September 2017. “Pak Prabowo menjadi kandidat terkuat calon pesaing Jokowi pada Pilpres 2019,” katanya. Selain itu, Djayadi menjelaskan ketika responden dihadapkan dengan hanya dua pilihan, suara Jokowi justru semakin menguat. Jokowi memperoleh suara 64,1 persen, disusul Prabowo (27,1 persen).

Sementara itu, terkait dengan calon wakil presiden, tingkat ketepilihan Jusuf Kalla (JK) tertinggi mengalahkan AHY dan Gatot Nurmatyo. “Tiga nama yang mendapat suara terbanyak, M Jusuf Kalla 14.1 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 12.7 persen dan Gatot Nurmantyo 12.2 persen,” tandasnya.

Survei ini hanya memotret top of mind, apa yang ada dipikirkan publik saat dilakukan. Tapi jika mengamati realitas politik dari hari ke hari, Prabowo tetap memiliki peluang besar. Terdapat beberapa alasan mengapa Prabowo masih memiliki kans untuk melenggang ke kursi presiden.

Pertama, isu-isu tentang HAM semakin menghilang. Salah satu sebab kekalahan Prabowo pada pilpres lalu adalah dimunculkannya noktah sejarah pada periode reformasi ketika mantan Pangkostrad itu dituduh terlibat dalam penculikan sejumlah aktivis. Pada pilpres lalu, isu itu diklaim tak ada kaitannya dengan politik, murni soal HAM.

Ketika momentum politik dimenangkan Jokowi, mereka yang dulu bersuara kritis atas HAM itu kini bungkam. Tak ada lagi yang menyuarakan isu itu. Bahkan, pemerintahan Jokowi juga tidak melakukan inisiatif untuk menyelesaikan problem masa silam itu dengan cara membentuk tim investigasi. Bungkamnya para pengkritik dan diamnya pemerintah memberikan keyakinan bagi publik bahwa isu itu adalah rekayasa untuk menjatuhkan Prabowo.

Jika ada lagi yang menyuarakannya di arena pilpres, pertanyaan yang muncul adalah mengapa selama Jokowi berkuasa, isu itu tidak diusut tuntas? Ada permainan apa?

Kedua, kemenangan Anies – Sandi, figur yang diusung Prabowo di pilkada DKI Jakarta adalah darah segar yang semakin menguatkan. Selama sekian tahun Prabowo dan Gerindra berada pada posisi kalah, namun tiba-tiba berbalik menjadi kemenangan di ajang “pilkada rasa pilpres” itu. Prabowo tampil sebagai figur yang memenangkan duet itu. Dia ikut berkampanye. Semua kader Gerindra berada di garis depan kemenangan. Keberhasilan menggenggam Jakarta adalah modal awal ke pilpres. Bukankah Djakarta adalah koentji?

Kemenangan pilkada DKI Jakarta adalah momentum awal untuk memanaskan mesin politik. Kemarin, akun Buni Yani, mengunggah postingan yang isinya memicu reaksi netizen. Ia mengatakan, “Pola DKI bisa dipakai di Pilkada Jabar. Pendukung Sudradjat-Syaikhu dan pendukung Demiz jangan saling serang, justru harus saling dukung dan sinergi. Kalau ada putaran kedua, siapapun yg lolos nanti masing2 pihak harus rela mendukungnya. Ayo bersatu.”

Meskipun orang-orang memprotes ketidakpahaman Buni Yani akan aturan pilkada yang hanya satu putaran di luar DKI, point-nya adalah strategi Jakarta akan direplikasi di daerah-daerah lainnya. Jakarta menjadi barometer bagaimana menggerakkan semua infrastruktur partai.

Jakarta juga barometer untuk menguatkan hubungan dengan partai-partai yang dahulu tergabung dalam nostalgia Koalisi Merah Putih (KMP), yang kemudian dilanjutkan dengan rencana koalisi di sejumlah daerah vital lainnya. Jika koalisi ini bisa kembali menang di satu daerah, apakah itu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, maka saya memprediksi, Prabowo hanya butuh sedikit saja upaya untuk menang di pilpres. Kerjanya akan lebih ringan.

Ketiga, Prabowo diuntungkan oleh bangkitnya politik identitas yang merupakan efek dari pilkada DKI Jakarta. Selama dua tahun terakhir, kekuatan kelompok berlabel Islam simbolik yang selama ini berada di tepian bangkit ke permukaan. Mereka menggalang solidaritas kaum Muslim perkotaan, serta menebar protes pada pemerintahan Jokowi, yang disebut sebagai anti-Islam.

Strategi pemerintah yang hanya merangkul ormas tertentu, serta meminggirkan mereka mendapat perlawanan sengit yang terus berkobar. Indikasinya terlihat pada demo berjilid-jilid, kian massif-nya media sosial dengan dukungan pada kelompok ini, hingga persekusi pada siapa pun yang dianggap mendiskreditkan mereka. Kekuatan kelompok ini semakin membesar ketika mereka membutuhkan satu figur yang bisa jadi simbol oposisi pada pemerintah. 

Beberapa sikap pemerintah menunjukkan bagaimana peminggiran pada kekuatan politik yang kian membesar ini. Jika tarik-menarik ini terus terjadi, serta muncul dukungan dari kekuatan politik dan pemodal, bukan tak mungkin kelompok yang dimotori Habib Rizieq ini bisa membuat people power yang akan menggerus dukungan kuat kepada Jokowi.

Jangan lupa, setahun sebelum pilkada DKI Jakarta, semua pihak yakin Ahok akan melenggang mulus. Jika skenario itu dimainkan ulang, serta didukung politisi dan finansial, Jokowi bisa-bisa kehilangan jutaan pengikut.

Pada titik ini, Prabowo ibarat oase yang menyediakan dukungan serta simbol perlawanan. Kolaborasi antara kekuatan radikal di perkotaan hingga pedesaan, dukungan politisi, serta arus finansial yang kuat akan membuat gerakan ini semakin membesar sehingga akan menjadi duri bagi elektabilitas Jokowi.

***

SEMUA strategi butuh pengorganisasian gagasan. Kunci kemenangan Prabowo akan kembali pada seberapa efektif tim-timnya mengorganisir semua kekuatan yang bisa berpotensi membawa kemenangan. Sebagai contoh, di atas kertas, koalisi Gerindra dan PKS memiliki cyber army yang hebat di dunia maya. Namun jika mereka tidak bisa mengelola tim ini dengan baik, maka bisa-bisa yang muncul adalah “senjata makan tuan.”

Menurut saya, tim-tim Prabowo harus berani mengevaluasi dengan kritis kekalahan periode lalu. Tim ini mesti menemukan formula yang baik, khususnya bagaimana mengelola tim-tim lapangan dan tim intelektual. Yang tak kalah penting adalah bagaimana merumuskan relasi dengan kelompok penentang pemerintah yang jumlahnya kian membesar.

Tim Prabowo harus memikirkan diferensiasi strategi di berbagai lini. Saat berhadapan dengan penentang pemerintah, tim Prabowo harus merangkul dan menguatkan. Saat berhadapan dengan tim cyber army dari pihak lawan, tim juga harus tetap menghantam, namun tetap santun.

Demikian pula saat menghadapi debat-debat, serta memperkaya pengetahuan semua relawan, tim harus sesegera mungkin menyiapkan manual book yang bisa menjadi patokan bersama dalam merespon semua isu yang menunjukkan betapa banyaknya kerja pemerintah yang belum tuntas.

Yang tak kalah penting adalah bagaimana melakukan branding terhadap Prabowo agar tidak melulu bicara tentang nasionalisme dan anti-asing. Tema ini cocok sebagai jargon saat kampanye namun dalam interaksi sehari-hari mesti dibumikan dengan cara mencari hal-hal sederhana yang bisa dipahami dan dimengerti oleh publik. Di titik ini, Jokowi adalah maestro yang paling mudah berbaur dengan rakyat. Beberapa istilah Jokowi seperti “Ambil sepedanya”, pertanyaan tentang ikan, justru menjadi strategi ampuh untuk berinteraksi.

Nah, Prabowo harus menemukan bahasa kunci yang bisa mendekatkan dirinya dengan rakyat. Dia harus menemukan orisinalitas dirinya yang alamiah, dan tidak dibuat-buat. Dia harus berani tampil apa adanya, dan mendengarkan kalimat seorang petani, yang bebas mencandai dirinya. Figur militer yang kaku harus dihilangkan. Dia harus lebih membumi dan secara alamiah berinteraksi dengan siapa saja.

Bagaimanakah menemukan strategi tepat untuk membawa pada kemenangan? Ruang di sini amat terbatas. Saya akan membahasnya pada tulisan berikutnya.

Nikahi Angel Lelga, Vicky Prasetyo Tetap Kontroversial



DI AWAL tahun 2018, salah satu berita terheboh di jagad hiburan adalah rencana pernikahan Angel Lelga dan Vicky Prasetyo. Resepsi besar akan dilaksanakan pada awal Februari mendatang. Keduanya kini selalu tampil berdua di hadapan publik. Biarpun keduanya bukan yang terbaik di bidangnya, tetapi keduanya cukup eksis dan punya tempat tersendiri di mata publik.

Vicky Prasetyo adalah tipikal figur tahan banting yang bisa keluar dari situasi apa pun. Bertubi-tubi kegagalan mendera hidupnya. Mulai dari gagal menikah dengan pedangdut Zaskia Gotik, dipenjara karena kasus utang-piutang, gagal jadi Kepala Desa Karang Asih, kemudian gagal jadi Walikota Bekasi. Ia tidak lantas tenggelam begitu saja. Malah ia kembali ke panggung hiburan dan menjadi komedian yang sering tampil di televisi. Kontroversi terus mengikuti langkah kakinya.

Pada Vicky, kita temukan bagaimana perjuangan untuk jadi pesohor dan selebriti. Pada dirinya kita temukan potret diri manusia Indonesia, yang sering kali terjebak dalam “kontroversi hati” demi menggapai “statusisasi kemakmuran.”

***

KEMARIN, saat berkunjung ke Pantai Ancol, saya melihat Angel Lelga yang bergandengan tangan dengan Vicky Prasetyo. Tadinya saya ingin mendekat, tapi mereka sedang dikerubuti jurnalis. Dahulu, semasa jadi jurnalis, saya cukup akrab dengan Angel Lelga. Ketika dia menjauh dari dunia hiburan, lalu menjadi politisi, intensitas pertemuan kami jadi hilang sama sekali.

“Tanggal 9 Februari kami akadnya, resepsi tanggal 10 Februari,” kata Vicky kepada media. Ia mengaku Angel Lelga mulai dikenal oleh anak-anak dari pernikahan Vicky sebelumnya. Benih-benih cinta di antara mereka mulai tumbuh ketika keduanya kerap melakukan berbagai kegiatan bersama.

Kata Angel Lelga, “Mulai dekatnya enggak makan waktu banyak, hanya dua bulan kurang lebih. Itu pun karena ada kedekatan shooting bareng, nyanyi bareng, bisnis bareng, dari situ kita saling mengenal satu sama lain,” ucapnya.

Belakangan ini, Angel menggarap bisnis butik yang dipasarkan hingga ke tiga negara. “Yang pasti udah jalannya, sudah jodoh, udah takdirnya, tinggal saya menjalankan semuanya dengan Bismillah. Karena niat Vicky juga baik, jadi saya tanggapi semua dengan baik,” sambung Angel.

Rencana mereka tak bisa dibilang mulus. Beberapa kontroversi mencuat. Vicky dituduh telah nikah siri dengan Angel Lelga. Video pernikahan itu tersebar di berbagai situs jejaring sosial. Di Jakarta, seorang perempuan bernama Roihanah Azizah Fitri Octavia, yang kerap disapa Vivie mengaku telah nikah siri dengan Vicky. Malah, ia juga menyebut lelaki itu telah mengambil uangnya, yang katanya dipakai untuk bisnis.

“Dalam perjalanan aku dan Vicky, dia ajakin bisnis kerjasama sampai aku kucurin dana Rp 100 juta. Sudah berjalan bisnisnya 4-5 bulan tapi enggak ada transparansi keuangan,” ucapnya saat menggelar jumpa pers di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, sebagaimana dicatat Kompas.com, Agustus 2017 lalu.  “Pembukuan pun dia selalu bilang iya, tapi sampai sekarang aku enggak tahu hasilnya,” lanjutnya.

Tak hanya uang, Vivie juga sudah merelakan mobil miliknya untuk dijual dan diberikan kepada Vicky. “Ketiga mobil aku ada titip jual sama Vicky, semua diminta STNK dan BPKB. Salahnya aku enggak terima MOU, karena aku pikir suami sendiri dan aku percaya saja,” ujarnya.

Kontroversi Vicky

Sosok Vicky memang menarik dibahas. Kontroversinya mulai muncul saat dirinya dikabarkan hendak menikah dengan Zaskia Gotik. Dirinya semakin populer saat diwawancarai media. Ia menjawab pertanyaan dengan kalimat yang terdengar intelek, akan tetapi tidak nyambung. Sisi tidak nyambung inilah yang membuat dirinya di-bully terus-menerus. Biar semua orang kembali ingat Vicky, berikut transkrip komentarnya dahulu:

“Di usiaku ini, twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi karena basically, aku senang musik, walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya. Kita belajar, apa ya, harmonisisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikir kita enggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan. Dengan adanya hubungan ini, bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia, tapi menjadi confident. Tapi, kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik dan aku sangat bangga…”

Anehnya, seorang mantan pemimpin redaksi sebuah media paling berpengaruh juga ikut ‘mengolok-olok’ cara berbahasa Vicky. Padahal, tulisan sang mantan pemred itu lebih memusingkan dari cara berbahasa Vicky. Tulisannya amat sulit dimengerti karena penuh bahasa intelek dan filsafat tingkat tinggi. Mengapa harus Vicky yang dibahas dan ditertawakan?

Beberapa hari lalu, saya kembali menyaksikan videonya yang sedang berpidato dalam bahasa Inggris pada kampanye pemilihan kepala desa. Banyak orang menertawakannya karena berpidato dengan bahasa Inggris yang tak fasih dan tak mematuhi kaidah grammar.

Seorang tetangga saya ikut-ikutan menertawakan cara berbahasa Vicky. Padahal, saya tahu persis bahwa tetangga saya juga punya bahasa Inggris yang hancur-hancuran. Mengapa harus menertawakan Vicky ketika sebagian dari kita justru punya problem yang sama dalam hal berbahasa Inggris?

Bagi saya, hal yang amat wajar ketika Vicky belepotan dalam menggunakan bahasa Inggris. Bahasa itu bukan bahasa nenek moyang kita. Sejak lahir dan bersekolah, bahasa Inggris hanya dipelajari secara terbatas. Jika kita tak bisa bahasa Inggris, maka itu bukan hal yang luar biasa. Itulah fenomena keseharian kita. Namun, apakah di negara-negara berbahasa Inggris semua orang fasih menggunakan bahasa itu? Ternyata malah tidak juga.

Di luar negeri, beberapa teman dari Asia Timur seperti Jepang Korea dan Cina, sering mengalami kendala bahasa, sebagaimana kita.  Namun warga internasional tidak pernah menertawakan cara berbahasa yang tidak fasih itu. Pengalaman saya mengajarkan bahwa ruang-ruang sosial di negeri itu justru memberikan kesempatan kepada banyak orang untuk belajar dan mengembangkan kemampuan berbahasanya. Masyarakat internasional justru mendorong semua orang untuk belajar, tanpa pernah mengolok-olok pengetahuan orang lain.

Hal lain yang sering dibahas mengenai Vicky adalah penggunaan bahasa intelek. Kita sama-sama menyaksikan bagaimana Vicky menyebut-nyebut istilah seperti ‘kontroversi kemakmuran’, ‘labil ekonomi’, ‘konspirasi hati.’

Seingat saya, cara berbahasa dan penyebutan berbagai istilah seperti ini bukanlah hal yang baru. Hampir setiap hari, kita dibombardir dengan cara berbahasa yang amburadul oleh berbagai media massa. Sebagai konsumen, kita dipaksa untuk menyaksikan komentar dari orang-orang hebat yang kerap mengeluarkan istilah-istilah canggih yang justru berjarak dari pemahaman sebagian orang.

Sebagai rakyat biasa, kita dipaksa untuk memahami beragam istilah canggih yang dikeluarkan orang-orang hebat di negara ini. Contoh paling nyata adalah kebijakan menaikkan harga BBM. Pemerintah sibuk retorika tentang harga minyak dunia, inflasi, krisis, dan pentingnya regulasi harga. Apakah rakyat biasa paham dengan bahasa canggih itu? Tidak sama sekali. Yang terjadi kemudian adalah upaya pengaburan informasi, yang prosesnya sama saja dengan yang dilakukan oleh Vicky.

Tak hanya Vicky, para pengamat politik di media pun paling sering menggunakan istilah-istilah yang kadang malah membuat sesuatu semakin rumit. Bahkan, ada pengamat yang sering memakai kata berbahasa Inggris sebagai judul untuk sebuah tulisan berbahasa Indonesia. Saya pernah pula melihat seorang pengamat berkali-kali menyebut istilah depresiasi. Setelah mengamati dengan saksama, ternyata ia hendak menyebut kata ‘penurunan.’ Jika kata tersebut punya padanan dalam bahasa Indonesia, mengapa harus memakai istilah asing?

Bahkan pada zaman Orde Baru, berbagai istilah-istilah canggih sengaja dikeluarkan pemerintah demi untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya. Kita masih ingat istilah ‘kenaikan harga’ yang diganti oleh pemerintah dengan istilah ‘penyesuaian harga’, kemudian istilah ‘penjara’ diganti dengan ‘lembaga pemasyarakatan.’ Bahasa memang jadi medium kuasa. Melalui penggunaan bahasa yang canggih itu, satu kelompok memperkuat cengkeraman dominasinya pada kelompok lain.

***

BERBAGAI kontroversi Vicky adalah potret sosial kita yang sesungguhnya. Di satu sisi, banyak yang menghinanya karena cara berbahasa yang sedemikian kacau, tapi di sisi lain, ia bisa mengemas cara berbahasa itu menjadi sesuatu yang memiliki efek komedi, sehingga menjadi penghasilan baginya. Ia mengubah olokan menjadi keriangan.

Saya beberapa kali menyaksikan penampilannya di panggung komedi di beberapa televisi. Ia menjadi komedian handal yang sering tampil bersama beberapa nama yang sudah populer, di antaranya Rafi Ahmad dan Ruben Onsu.

Vicky adalah produk dari amburadulnya cara berbahasa di berbagai level sosial. Ia juga menunjukkan watak kita sebagai anak bangsa yang suka mengolok-olok kelemahan orang lain, padahal kita pun mengidap problem yang sama. Ketika kita menertawakan Vicky, maka sesungguhnya kita sedang menertawakan diri sendiri yang sering gagap dalam meniru istilah-istilah canggih.

Lagian, masyarakat kita yang terlanjur mendefinisikan bahwa sesuatu yang hebat adalah sesuatu yang diucapkan dengan istilah hebat. Generasi sekolahan kita gagal mendidik masyarakat untuk lebih mengedepankan makna, ketimbang kulit dari sebuah pesan. Orang hebat kita pandai mengutip statistik dan istilah asing demi menampilkan citra diri yang hebat, tanpa memedulikan tingkat pengetahuan masyarakat.

Vicky telah membantu kita untuk mendefinisikan watak masyarakat kita yang sesungguhnya. Mungkin, kita pun sering berbahasa sebagaimana dirinya. Sebab bahasa itulah yang kita saksikan setiap hari. Bahasa itulah yang membuat kita semua mendefinisikan diri kita. Bahasa itulah yang setiap hari kita saksikan di media.

Sikap kita justru menjadi lelucon bagi Vicky. Kini ia populer dan kaya berkat keusilan kita menyoal berbagai hal, termasuk caranya berbahasa.

Semoga pernikahannya dengan Angel Lelga berjalan lancar.

Pesta Seks di Malam Tahun Baru



BANYAK cara untuk merayakan Tahun Baru. Ada yang membawa trompet dan meniupnya di tengah keriuhan. Ada yang memilih refleksi di tempat sunyi sembari memandang masa lalu, melakukan evaluasi, lalu menatap masa depan. Ada yang memilih untuk merayakannya bersama kerabat dan tetangga. Ada juga yang memilih untuk menyaksikan pesta kembang api yang berdenyar di langit dan menghadirkan hujan cahaya.

Ada juga yang merayakannya dengan menggelar pesta esek-esek. Hah?

***

SEBUAH pesan terkirim ke nomor ponsel saya. Seorang sahabat yang berprofesi sebagai pengusaha mengirimkan pesan untuk bertemu di malam tahun baru. Saya tak terlalu bersemangat menanggapi. Di saat bersamaan, saya punya acara sendiri dengan bersama sahabat lainnya. Sahabat itu kembali kirim pesan, “Kamu rugi kalau tak datang. Saya lagi punya pacar baru. Dia akan ajak teman-temannya untuk ikut party. Kamu tahu pesta apa kan?”

Saya dan teman itu punya hubungan pertemanan yang cukup lama. Selain kami sama-sama berasal dari Sulawesi, kami juga pernah bekerja di tempat yang sama. Hanya saja, saya memilih hengkang karena berbagai alasan. Dirinya tetap konsisten di jalur itu, dan selanjutnya berhasil menjadi kaya-raya.

Dia sudah bukan sahabat yang dulu sesama dekil dan kerap dijuluki kaypang, sebutan bagi pengemis dalam film-film Kungfu. Dia sudah menjadi pria metropolis. Jakarta telah mengubahnya menjadi pria sukses dan perlente. Pakaiannya mahal. Rambutnya disisir rapi. Aroma tubuhnya sangat khas aroma parfum berkelas. Pembicaraannya selalu tentang bisnis. Ia menyebut investasi, produk, dan juga marketing (pemasaran). Dalam banyak pertemuan, saya lebih suka mendengarkannya ketimbang ikut berbicara.

Beberapa tahun silam, ketika dirinya masih pengusaha kecil, ia pernah memanggil saya untuk merayakan tahun baru di satu diskotik, yang telah ditutup oleh Ahok. Saya menyaksikan berbagai minuman di atas meja. Hampir semua bermerek impor. Teman itu menggelar pesta dengan sejumlah pramugari sebuah maskapai. Ia serupa raja minyak yang dikelilingi gadis cantik.

Saya melihat dirinya di tengah gadis-gadis. Semuanya muda dan cantik. Semuanya seksi. Mereka larut dalam pesta yang diiringi musik berdentam-dentam. Di tempat itu, tak ada dialog. Hanya ada tawa cekikikan serta suara denting gelas yang beradu ketika hendak diminum. Beberapa orang menari untuk mengikuti musik.

Melihat saya terdiam, sahabat itu lalu mendekat. Ia berbisik, “Jangan pulang dulu. Setelah pesta, akan ada pesta.” Saat itu, saya memilih pulang dan beristirahat.

Beberapa hari berikutnya, kami kembali bertemu. Ia bercerita tentang pesta seks di malam tahun baru. Ia bercerita dengan gamblang. Ia tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk menggelar pesta itu di satu hotel. Ia mendapatkan bonus dari aktivitasnya yang selama ini menjadi tambang uang bagi pihak hotel dan sejumlah pihak.

Sebagai pengusaha dan juga konsultan Human Resource Development (HRD) beberapa perusahaan, ia sering mengadakan pelatihan di hotel-hotel. Dalam sebulan, ia bisa mengadakan pelatihan sampai dua kali, dengan jumlah peserta sebanyak 100 orang. Semuanya pesertanya menginap di hotel itu. Bisa dibayangkan, berapa pemasukan yang diberikannya ke pihak hotel.

Dia pun menjadi rebutan dari hotel-hotel besar untuk menjadi klien. Malah, dia bisa memesan 100 kamar hotel, tanpa perlu membayar uang muka. Setiap momen tertentu, dia akan diberikan hadiah. Ketika ulang tahun, rumahnya penuh hadiah dan parsel dari banyak pengusaha hotel. Saat acara tahun baru, dia menerima banyak undangan untuk “bersenang-senang.” Dia pun bisa mengajak teman.

***

ENTAH, ini berlangsung sejak kapan. Setiap kali Tahun Baru, ada saja yang merayakannya dengan pesta esek. Ada yang melakukannya di hotel, banyak pula warga Jakarta yang memilih ke kawasan Puncak sebab dianggap lebih longgar, ditambah lagi hawa dingin serta suasana romantis saat memandang dari ketinggian.

Mereka yang tinggal di kawasan Puncak, Bogor, sama mafhum bahwa tahun baru, banyak villa akan ramai di-booking oleh orang-orang Jakarta. Pemilik villa hanya menyerahkan kunci, setelah itu menyerahkan villa ke penyewanya, tanpa ada akses untuk mengontrol apa yang terjadi di sana.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa beberapa kali mengingatkan masyarakat agar tidak merayakan tahun baru dengan menenggak minuman keras serta pesta seks. Ia menginginkan masyarakat melakukan hal-hal yang positif dan tidak berlebihan merayakan pergantian tahun.

Radar Bogor melansir liputan tentang villa-villa yang telah di-booking. Kata seorang pemilik villa di Desa Kopo, Kecamatan Cisarua, pada H-20 tahun baru 2017, vila-vila sudah mulai di-booking. “Biasanya anak muda dan pasangan-pasangan. Kalau soal pesta seks, ya itu udah biasa. Soalnya puncak tahun baru aman. Gak ada razia. Polisi sibuk mengatur arus lalu lintas,” ungkapnya.

Sementara itu, data dari Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Puncak mencatat sudah 60 vila yang sudah di-booking. Kebanyakan berasal dari Jakarta dan Bekasi. “Itu angka booking dari vila-vila sewaan secara manual. Kalau untuk online belum kami cek,” sebut Ketua Kompepar Puncak, Teguh Maulana.

Pesta seks tak hanya dilakukan di Puncak. Bahkan di kota seperti Jakarta, yang warganya menjadi saksi demonstrasi religi berjilid-jilid itu, pesta seks juga kerap terjadi. Beberapa media kerap kali menulis liputan tentang ini. Hotel-hotel sering menjadi lokasi menggelar pesta. Pihak hotel menghargai privasi klien-nya, sehingga tidak pernah menanyakan hendak menyewa kamar untuk keperluan apa.

Selain hotel, lokasi yang dirasa paling aman adalah apartemen yang kini menjamur di Jakarta. Di banyak apartemen, pemilik ataupun kamar memiliki kunci akses khusus sehingga bisa menggunakan lift ke kamarnya. Selain dirinya dan pemilik apartemen, tak ada orang lain yang bisa naik ke kamar itu. Apartemen adalah tempat yang super safety sebab hanya bisa dimasuki mereka yang punya kunci atau akses masuk.

Modus pesta seks ini kian canggih. Banyak para pelakunya yang menggunakan jejaring media sosial untuk saling berhubungan. Mereka menggunakan aplikasi yang bisa segera menghapus pesan seusai dibaca. Dengan cara demikian, jejaknya tidak akan bisa dilacak siapa pun.

***

KEMBALI ponsel saya bergetar. Saya mengecek pesan Whatsapp dari sahabat yang kini telah sukses itu. Ia mengirim pesan, “Gimana? Mau ikut gak?” Saya teringat tuturan sosiolog Daniel Bell dalam buku The Cultural Contradictions of Capitalism. Kata Daniel Bell, kapitalisme memaksa manusia untuk menjadi pekerja keras di siang hari, dengan mematuhi semua hukum ekonomi yakni efisiensi, sedikit pengorbanan, demi meraih hasil besar.

Akan tetapi di malam hari, manusia akan menjadi dirinya. Aspek budaya akan selalu menuntut pelepasan dan pemenuhan. Manusia tak sadar dan dipaksa untuk bertindak seboros mungkin demi memenuhi naluri pesta dan kebahagiaan.

Hari-hari yang dilalui sahabat saya itu adalah kerja, kerja, dan kerja. Ia seorang pekerja keras yang setiap hari mengejar klien agar bersedia bekerja sama. Ia seolah dikejar uang. Ia akan sangat kritis mengamati nilai kontrak serta bekerja dengan seefisien mungkin.

Saat menggelar party, ia tak ragu-ragu untuk menghabiskan berapapun biaya yang diterimanya dari hasil kerja efisien itu. Di siang hari ia pekerja keras yang amat irit belanja, namun di malam hari, ia menjadi seorang pemboros yang meminum bir jauh lebih banyak dari kebiasaannya minum air putih.

Saya memperhatikan lalu lintas informasi di media. Sebuah harian nasional memberitakan kelangkaan kondom di Jakarta karena telah diborong.  Ada juga liputan tentang fenomena pesta seks di kalangan ABG pada malam tahun baru. Beberapa pelaku industri farmasi mengakui kalau penjualan kondom akan mencapai titik tertinggi saat Valentine dan pesta Tahun Baru.

Sepertinya, pesta seks menjadi semacam ritual yang dilakukan setiap jelang Tahun Baru. Padalah ritual seperti ini sejak lama dilakukan di kota-kota di Korea dan Jepang. Lantas, sejak kapan generasi hari ini ikut-ikutan menggelar pesta esek? Saya hanya bisa menduga. Mungkin ini adalah sisi lain dari kemajuan. Sisi-sisi lain dari kemajuan di Korea dan Jepang merasuk bersama industri budaya populer. Kaum muda kita adalah kaum yang paling rentan dalam menghadapi berbagai invasi budaya itu.

Rupanya, masyarakat kota di tanah air kita telah bertransformasi menjadi seperti masyarakat kota-kota besar yang melalui tahun baru dengan lendir terhambur. Anak-anak muda kita terlanjur memaknai kemajuan sebagai bertingkah sebagaimana mereka yang di sana, lalu mengabaikan segala tatanan nilai yang dibangun di rumah dan sekolah.

Tapi, benarkah tatanan nilai diperkenalkan dengan baik di rumah dan sekolah? Tidakkah kesibukan orang tua untuk mengejar uang bisa berujung pada hak-hak anak, termasuk bagaimana mengenalkan nilai dan etika di dalam rumah? Atau bisakah kita mengatakan kalau selama ini kita hanya mengenalkan agama sebagai serangkaian simbol yang nihil makna untuk diterapkan dan dijiwai dalam kehidupan sehari-hari?

Yang pasti, fenomena pesta seks ini harus menjadi perihatinan bersama. Semua pihak harus waspada agar peristiwa ini tidak terjadi. Saat berrefleksi dan meletakkan kembali landasan nilai dan norma yang kuat di ranah keluarga.

Harusnya momen tahun baru menjadi momen reflektif. Semua pihak mesti melihat ulang ke belakang dengan jernih, mengakui berbagai problem yang muncul hari ini, lalu bersama-sama menemukan formulasi dan solusi terbaik untuk hari esok. Semua pihak harus duduk bersama demi menemukan jalan keluar atas fenomena yang setiap tahun terus terjadi.

Di saat merenungi banyak hal, kembali ponsel saya berbunyi. Teman tadi kembali mengirim pesan lewat Whatsapp.

“Gimana? Mau ikut gak?”

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2017




TAHUN 2017 segera berlalu. Di jalan-jalan, trompet penanda pergantian tahun telah bermunculan. Tak lama lagi, trompet itu akan ditiup dengan keras sembari menyaksikan kembang api meledak di udara. Kalender akan segera sampai di lembar terakhir. Tahun 2018 tampak di depan mata.

Saya mencatat tahun 2017 adalah awal dari kian suramnya toko-toko buku di Indonesia. Setiap kali berkunjung ke toko buku terbesar Indonesia, saya menyaksikan bagaimana ruang-ruang untuk memajang buku kian sempit. Dahulu, semua sudut di toko itu dipenuhi hamparan buku. Kini, buku-buku makin terdesak oleh kehadiran stationary, pulpen-pulpen mahal, DVD original, hingga tas anak sekolah. Toko buku perlahan berganti menjadi ruang pamer dari beragam produk, mulai alat tulis hingga laptop.

Yang juga menyedihkan saya adalah semakin terbatasnya buku-buku bertemakan ilmu sosial dan humaniora. Entah kenapa, sepanjang tahun 2017, saya belum menemukan satu buku bagus bertemakan ilmu sosial yang terbit dalam bahasa Indonesia, dan ditulis oleh orang Indonesia. Tahun lalu, saya masih mendapatkan buku Mohammad Sobary mengenai studi atas petani tembakau di Temanggung. Masih tahun lalu, buku lain yang juga bagus ditulis para Indonesianis. Di antaranya adalah Hidup di Luar Tempurung (Benedict Anderson), Serdadu Belanda di Indonesia (Geert Oostindie), juga In Search of Middle Class in Indonesia yang ditulis Gerry Van Klinken. (BACA: Buku yang Saya Sukai di Tahun 2016)

Dua tahun lalu, lebih banyak buku bagus, termasuk yang ditulis orang Indonesia. Di antaranya buku Ariel Heryanto mengenai Identitas dan Kenikmatan, bukunya Daniel Dhakidae mengenai mereka yang melawan di masa Orde Baru, bukunya Susanto Zuhdi tentang laut dan kekuasaan, buku Lies Marcos tentang perempuan menolak tumbang. Buku bagus lainnya ditulis Indonesianis, yakni buku Tania Li tentang etnografi dan kritik wacana pembangunan, juga bukunya Aiko Kurosawa mengenai kuasa Jepang di Jawa. (BACA: Buku yang Saya Sukai di Tahun 2015)

Mungkin, pencarian saya terbatas hanya di toko-toko buku. Tahun 2017 ini, ada banyak buku yang hanya beredar di online. Beberapa penerbit seperti Ombak, Jalasutra, Marjin Kiri, juga Kobam lebih fokus berdagang di online. Mereka mulai menarik buku dari toko-toko sebab tidak memberi banyak keuntungan buat mereka.

Sayangnya, saya bukan tipe pembeli buku yang melihat katalog online. Saya masih suka datang ke toko buku, menciumi aroma cetak, sembunyi-sembunyi membuka plastik buku, lalu membaca isinya, lalu tergugah saat menemukan paragraf yang keren. Saya hanya membeli melalui online saat banyak orang yang merekomendasikan buku itu. Biasanya, saya akan gelisah saat ada buku bagus yang dibaca, dan saya belum baca. Dengan segala cara, saya akan mendapatkan buku itu sesegera mungkin.

Asumsi lain adalah memang buku-buku bertemakan ilmu sosial dan humaniora sangat terbatas. Akademisi di bidang ini sangat banyak. Malah berlimpah. Dugaan saya, mereka hanya sibuk mengejar kum atau penilaian agar segera naik pangkat dan menyandang gelar profesor. Mungkin saja mereka sibuk menulis di jurnal asing, lalu lupa untuk membagikan pengetahuannya pada khalayak luas. Saya sering sekali terkejut saat teman memberi tahu Bapak A telah jadi profesor. Dalam hati saya bertanya, mana karyanya? Kok tiba-tiba jadi profesor?

Kelangkaan buku bisa pula disebabkan para guru besar atau peneliti kita sibuk tampil di televisi. Mereka lebih suka disorot kamera, ketimbang menyorot lembaran layar putih yang seharusnya mengalirkan pikiran mereka. Di tanah air kita, para akademisi sekalipun lebih suka cari panggung, ketimbang mencerahkan masyarakat atas perubahan yang terjadi di sekitar kita.

Saya juga melihat banyak orang hebat yang lebih suka berceloteh di media sosial seperti Facebook dan Whatsapp. Yang dibahas adalah pikrian orang lain. Paling sering membagikan link-link yang isinya hoaks.  Padahal, akan sangat baik jika menggunakan media sosial untuk membagikan pikiran dan perasaannya. Publik bisa belajar dan tercerahkan.

Dari penelusuran terbatas dan hasil kunjungan ke toko buku setiap dua minggu, saya menyusun list tentang buku yang saya sukai. Tentu saja, daftar yang saya buat dibuat dengan sangat subyektif. Bagi saya, kriteria buku bagus itu sederhana.

Pertama, buku itu bisa membuat saya merenung selama beberapa hari. Dalam artian, buku itu meninggalkan jejak di pikiran saya yang sesekali melintas saat sedang duduk atau mengkhayal. Kedua, buku itu saya jadikan koleksi andalan, yang sering saya buka saat senggang.

Ketiga, buku itu ibarat mercon yang meledakkan banyak pahaman yang lama jadi pola di pikiran saya. Buku yang mengajarkan saya pahaman baru selalu terasa special. Keempat, buku itu membasahi jiwa saya dengan inspirasi baru. Seusai membacanya, saya menemukan semangat, juga optimisme. Kelima, buku itu pernah saya resensi dan rekomendasikan kepada orang lain.

Berikut daftar buku yang saya sukai di tahun 2017.

Sapiens (Yual Noah Harari)

Dalam versi bahasa Inggris, buku ini terbit tahun 2015. Tapi terjemahannya dalam bahasa Indonesia terbit tahun 2017. Ketika membaca buku ini, saya beberapa kali memaki dalam hati, “Sialan! Kok buku sebagus ini baru saya baca sekarang yaa. Selama ini saya ke mana saja?”


Buku ini tidak menyajikan riset dengan metodologi yang ketat. Dari sisi metode dan sistematika penulisan, saya lebih suka bukunya Jared Diamod yang berjudul Guns, Germs, and Steel. Yang saya sukai dari buku ini adalah gaya menulis esai yang disusun serupa dialog atas semua fakta-fakta. Penulisnya, sejarawan muda Israel, tidak menyusun sejarah sebagai rangkaian koronologis, melainkan percakapan yang melintasi waktu. Ia mendiskusikan lintasan panjang yang dilalui manusia, sepanjang 150.000 tahun eksis di planet bumi. (BACA: Manusia dalam Tafsiran Sejarawan Israel)

Ia membahas tiga peristiwa penting yang membuat Sapiens mencapai puncak peradabannya. Pertama, revolusi kognitif, sekitar 70.000 tahun lalu. Manusia mulai meningkat kecerdasannya, menciptakan perkakas, lalu menyebar ke banyak lokasi.

Kedua, revolusi pertanian. Sekitar 11.000 tahun lalu, manusia mulai berhenti dari kegiatan berburu dan meramu, mulai tinggal di perkampungan, melakukan domestikasi hewan, serta mulai berkebun dan bersawah. Ketiga, revolusi sains, sekitar 500 tahun lalu. Peristiwa ini memicu revolusi industri, yang mendorong revolusi informasi, dan revolusi bio-teknologi. Revolusi ini adalah signal berakhirnya manusia. Manusia akan digantikan oleh post-human, cyborg, dan robot yang tidak pernah mati.

Homo Deus (Yuah Noval Harari)

Saya kembali menempatkan buku karya Harari sebagai buku kedua yang saya sukai. Buku ini belum terbit dalam bahasa Indonesia. Saya membelinya dalam versi bahasa Inggris saat singgah ke Periplus di Bandara Sukarno Hatta. Tanpa banyak menimbang, langsung saya beli karena penasaran dengan isinya.


Dalam buku Homo Deus, Yuval Noah Harari menulis tentang penemuan teknologis berikutnya yang sama pentingnya dengan penemuan api dan bagaimana penemuan itu akan merubah alur evolusi spesies kita di masa mendatang. Saya seolah membaca kisah science fiction ala film Star Wars.

Buku ini membahas penemuan-penemuan teknologis fantastis yang sedang berkembang di awal abad 21: neurosains, bio-engineering, gene editing dan penemuan teknologis yang mungkin akan menjadi penemuan terakhir spesies manusia: kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

Masa depan adalah era kecerdasan buatan. Kecerdasan ini memegang peranan penting di dalam semua lini kehidupan. Kecerdasan buatan juga akan mengambil alih sebagian besar pekerjaan manusia untuk dikerjakan dengan komputer, robot dan mesin. Banyak manusia jadi pengangguran, muncul kelas baru yang mengendalikan semuanya. Demokrasi bakal punah. (BACA: Setelah Sapiens, Kini Homo Deus)

Saya terkejut membaca penjelasan tentang teknologi yang lebih memahami manusia, ketimbang manusia itu sendiri. Google, Facebook, dan Amazone, punya catatan lengkap tentang apa saja yang Anda posting, apa yang anda gelisahkan, makanan apa yang disukai, hingga apa saja buku dan film yang anda tekuni. Teknologi bisa mengetahui bio-ritme dan apa saja yang menyedihkan ataupun membahagiakan anda.

Algoritma yang digunakan Google dan Amazon sama dengan algoritma yang terjadi dalam sistem kognitif manusia saat berpikir atau mengambil keputusan sehari-hari. Bedanya hanya pada kompleksitas. Pada satu masa, kemampuan algoritma komputer akan berkembang sedemikian rupa sehingga melampaui kemampuan kognisi manusia dalam setiap bidang kehidupan.

Origin (Dan Brown)

Dan Brown adalah novelis yang selalu saya ikuti bukunya. Ia tidak cuma menyajikan cerita, lengkap dengan alur dan plot yang menegangkan. Ia juga menyajikan banyak pengetahuan baru. Pada setiap bukunya, saya belajar hal-hal seperti simbologi, fisika modern, juga bagaimana religi dalam kehidupan kontemporer. Dan Brown selalu menentang kemapanan berpikir dan hadir dengan ide-ide baru yang diambilnya dari berbagai disiplin ilmu. Jangan lupa, dia juga selalu kekinian dan meng-update pengetahuannya dengan studi terbaru.

Novel Origin yang belum lama ini saya beli secara online dan langsung dibaca tuntas, menyajikan satu rangkaian teka-teki seorang ilmuwan yang terbunuh dalam satu presentasi sains. Ada persinggungan dengan tokoh-tokoh agama besar dunia, juga diskusi tentang awal dan akhir alam semesta. Saya membayangkan pembaca awam akan kebingungan membacanya.

Namun bagi yang sudah membaca Homo Deus, pasti tidak akan terkejut. Dalam Homo Deus telah diprediksi mengenai artificial intelligent (kecerdasan buatan) serta dominasi teknologi yang kian merambah kehidupan manusia, sehingga pada satu titik manusia ingin jadi dewa yang mengendalikan segalanya, namun manusia juga bisa kehilangan pilihan-pilihan sebab dikendalikan oleh teknologi.

Disruption (Rhenald Kasali)

Inilah buku dalam bahasa Indonesia yang paling menarik di tahun 2017 ini. Buku ini diulas oleh berbagai kalangan, mulai dari pebisnis, akademisi, dan juga praktisi. Yang didiskusikan adalah perubahan lanskap kehidupan yang merupakan akibat atau pengaruh dari kehadiran teknologi informasi. Banyak bisnis tumbang, pemain besar rontok serta anak-anak muda generasi milenial yang membawa ide-ide baru.


Buku ini menjelaskan gelombang ketiga internet serta peradaban baru yang menuntut manusia mengubah pola pikirnya, a disruptive mind. Peradaban ini dibentuk oleh Hukum Moore yang mengubah kecepatan menjadi eksponensial, berhadapan dengan pribadi yang masih berpikir linear. Ini buku menarik bagi yang hendak memahami karakter jaman now.

Free Writing (Hernowo)

Hernowo adalah penulis yang selalu saya tunggu buku-bukunya, khususnya mengenai dunia kepenulisan. Dia produktif melahirkan buku-buku yang isinya selalu mencerahkan dan membantu semua orang agar bisa menulis. Selain belajar teknik menulis, khususnya bagaimana mengoptimalkan otak kiri dan otak kanan saat menulis, buku-buku Hernowo juga berisikan motivasi agar hasrat menulis itu segera bangkit. Biasanya, seusai membaca buku Hernowo, saya merasakan rasa lapar untuk segera menulis dan mengalirkan gagasan.



Buku yang ditulis Hernowo adalah buku wajib yang selalu saya bawa saat diminta memberikan pelatihan menulis. Menurut saya, metode Hernowo paling pas diterapkan untuk melatih siapa saja. Di mata saya, ia tidak membawa satu pendekatan atau teknik baru. Beberapa pendekatannya saya temukan dalam beberapa penulis lainnya. Tapi Hernowo tetap spesial sebab ia mengajarkan orang untuk mengalirkan semua ide-ide atau apa saja yang dipikirkan ke dalam kanvas tulisan.

Melalui metode itu, setiap orang selalu memiliki keunikan dan orisinalitas. Yang digali dalam pelatihan menulis adalah bagaimana mengeluarkan semua orisinalitas itu, dan mengatasi semua hambatan-hambatan saat hendak mulai menulis. Sejak buku Mengikat Makna diluncurkan, Hernowo ibarat “tabib” dalam pengertian Socrates, yakni orang yang membantu orang lain melahirkan ide-ide.

Raden Mandasia (Yusi Avianto Pareanom)

Saking sukanya novel ini, saya sengaja membacanya dengan lambat. Saya suka alur, diksi, dan cara mengemas kalimat dalam buku ini. Buku ini mengisahkan pendekar yang punya karakter unik. Novel memenangkan penghargaan Khatulistiwa Award tahun 2016.

Di novel ini, pendekarnya bukanlah sosok yang sibuk menjaga moral dan nilai, serta berpikiran ala superhero: “great power, great responsibility.” Di sini, tokoh pendekar atau jagoannya tak hanya penuh dendam kesumat, tapi juga sedikit bodoh, suka memasak dan bisa mengenali berbagai jenis bumbu masakan. Unik kan?

Pendekarnya bukan jagoan sok penjaga moral. Pendekarnya justru punya nafsu birahi yang begitu tinggi (ups…). Beberapa lembar dari cerita silat ini adalah gambaran tentang adegan ranjang yang justru membuat napas jadi tertahan, jantung jadi deg-degan. Kisah ini serupa gabungan antara Wiro Sableng, Mahabharata, serta sedikit unsur Freddy S. (khususnya adegan ranjang tadi). Sialan, saya sudah lama tidak menemukan kisah silat yang komplit seperti tersaji di novel ini.

Satu lagi, jagoannya hampir tiap saat mengeluarkan makian. Bagi kamu yang menjunjung tinggi ajaran moral, disarankan jangan baca novel ini. Pasti kamu akan kesal karena hampir di semua lembar, jagoannya akan mengeluarkan makian: anjing!.

Thank You for Being Late (Thomas L Friedman)

Buku terbaru Friedman ini saya dapatkan dari Elizarni, mahasiswa Indonesia yang studi di Amerika Serikat. Saat dia pulang, saya minta agar dibawakan buku ini. Saya penikmat tulisan-tulisan Thomas Friedman. Dia seorang jurnalis The New York Times. Dia tipe jurnalis intelektual yang bergelar PhD dari satu kampus berpengaruh di Amerika.


Dia terkenal karena liputan-liputan mendalamnya di berbagai negara. Tak mengherankan jika liputan-liputan investgasi itu telah mengantarnya sebagai jurnalis penerima Pulitzer Prize sebanyak tiga kali. Bagi para jurnalis, Pulitzer serupa hadiah nobel bagi seorang ilmuwan.

Saya menyukai gaya menulisnya yang ringan, tapi penuh makna. Gaya menulis yang ringan ini juga saya temukan pada beberapa akademisi Amerika dan peraih nobel, di antaranya adalah Joseph Stiglitz, William Easterly, dan Daron Acemoglu.

Mereka bisa menyederhanakan hal yang rumit, tapi tetap tidak kehilangan rasa intelektual. Sebagamana halnya para intelektual itu, Friedman bisa mendiskusikan hal-hal yang rumit seperti globalisasi, serenyah saat makan mie ramen di satu kedai. Ia mengakui bahwa seringkali ide-ide untuk bukunya lahir saat dirinya tengah bersantai di satu kafe atau warung kopi. (BACA: Empat Buku Thomas Friedman dan Berguru Menulis pada Thomas Friedman)

Demokrasi, Korupsi, dan Makhluk Halus (Nils Bubandt)

Saya telat membaca buku yang terbit sejak Desember 2016 ini. Buku karya Prof Nils Bubandt berjudul Demokrasi, Korupsi, dan Makhluk Halus, terbitan Obor, ini adalah jenis buku unik yang menelisik bagaimana dunia politik dan dunia makhluk halus saling berkelindan di Indonesia. Mulanya, saya tertarik membacanya karena diterjemahkan oleh Prof Achmad Fedyani, antropolog UI, yang merupakan pembimbing tesis saya.


Ternyata buku ini memang menarik. Buku ini membahas tentang kecenderungan para politisi pada kegaiban dan makhluk halus menjelaskan politik kita penuh harapan dan kekecewaan, yang disebut Derrida sebagai adanya “struktur di balik hegemoni.” Buku ini membahas banyak sisi yang nyaris diabaikan, namun menjelaskan banyak hal dari dunia politik kita yang penuh aroma mistis.

Deskripsi etnografis di dalamnya buat saya kaget-kaget, lalu menandainya dengan stabilo. Mulai dari bahasan tentang seribu jin yang konon dikirimkan satu pesantren untuk digunakan dalam demonstrasi anti-korupsi, tewasnya seorang politisi yang diyakini karena santet dari lawan politiknya, pencalonan seorang sultan di Maluku Utara di kancah politik yang merasa didukung arwah nenek moyang, hingga seorang ibu yang mengaku nabi di Jailolo, lalu percaya datangnya sultan yang lama hilang beserta banyak emas dari dasar bumi, juga bicara tentang kebangkitan Sukarno.

The Shallows (Nicholas Carr)

Kembali, saya telat membaca buku yang terbit sejak 2011, dan pernah masuk nominasi peraih Pulitzer ini. But, it’s better late than never. Buku ini membahas fenomena kecanduan pada internet yang menyebabkan orang-orang lupa waktu.  Buku ini adalah buku provokatif yang menunjukkan betapa banyaknya hal buruk yang terjadi akibat ketergantungan pada internet. Penulisnya menggali argumentasi dari berbagai bidang ilmu demi menunjukkan bahwa internet telah membuat kita semakin bodoh.

Sepintas, buku ini agak pesimis dalam melihat internet, berbeda dengan buku Grown Up Digital karya Don Tapscott yang sangat optimis melihat internet. Tapi ada banyak pelajaran dan argumentasi yang bisa dipetik.

Membaca buku The Shallows ini menyadarkan kita bahwa internet serupa candu yang membuat kita selalu ingin berselancar, membuat banyak pekerjaan kita tertunda, menyebabkan waktu kita terbuang percuma.

Nicholas Carr bercerita, dahulu dia seorang yang gila baca. Ia adalah penyelam di lautan kata-kata. Tapi sejak mengenal internet, semua kebiasaan itu berubah. “Dulu, saya adalah penyelam di lautan kata–kata. Kini, saya bergerak cepat di permukaannya seperti orang yang mengendarai jet ski.”

Internet menyebabkan fokusnya hilang, dan sibuk menjadi peselancar, tanpa kemampuan menyelam lagi. Internet menyebabkan manusia memasuki era kebodohan. Struktur otak dan cara berpikir manusia bisa berubah gara-gara kecanduan pada internet.

Buku ini adalah peta memahami sisi buruk internet yang harus diwaspadai. Baca resensi saya: Nicholas Carr dan Era Bodoh di Internet.

Big Magic (Elizabeth Gilbert)

Setelah buku Eat Love and Pray, saya menyenangi buku Big Magic yang ditulis Elizabeth Gilbert ini. Buku yang baru saja diterjemahkan ke bahasa Indonesia ini membahas kreativitas. Kata Gilbert, kreativitas bukan sesuatu yang datang dari dalam diri individu, tetapi ada proses spiritual. Manusia sanggup menulis sesuatu disebabkan ada ilham atau ide-ide yang memasuki tubuhnya. Tulisan hanya satu cara untuk menjerat ide-ide itu agar tidak lepas.


Gilbert menelusuri jejak kreativitas di berbagai zaman, di antaranya adalah masa Yunani dan Romawi kuno. Para seniman bisa melahirkan mahakarya hebat disebabkan oleh kreativitas, yang diyakini berasal dari roh di lokasi yang misterius. Kreativitas seniman didapatkan dari yang peri berdiam di balik tembok rumahnya.

Peri, yang disebut Gilbert serupa Dobby dalam serial Harry Potter, membantu para seniman untuk menuntaskan kerja-kerja kreativitasnya. Para seniman menjadikan diri mereka sebagai wadah bagi masuknya peri demi lahirnya karya-karyanya.

Socrates percaya bahwa dia memiliki “daemon” yang mengajarkan kebijakan dari jauh. Orang Romawi pun mempercayai ide yang sama, tapi mereka menyebut makhluk itu Jenius. Orang Romawi tidak menganggap Jenius sebagai manusia yang sangat sangat pintar.

Mereka percaya Jenius adalah sesuatu yang magis dan sakral yang hidup dalam tembok ruang kerja seniman, mirip seperti peri-rumah Dobby, yang keluar dari persembunyiannya untuk membantu sang seniman dan membentuk hasil akhir karya tersebut.

Catatan Lapangan Antropolog (Editor: Frieda Amran)

Buku ini saya masukkan dalam list bukan karena saya salat satu penulis di dalamnya. Buku ini menarik sebab isinya adalah kolaborasi dari para antropolog alumnus Universitas Indonesia, mulai dari yang senior hingga junior. Saya cukup menikmati kolaborasi peneliti senior dan junior ini. Editornya adalah Frieda Amran, seorang antropolog senior yang tinggal di Belanda.

Buku ini menarik sebab menyajikan sketsa perjumpaan para peneliti saat berada di lapangan. Dalam perjumpaan itu, seorang peneliti belajar pada masyarakat setempat, berusaha memahaminya, lalu lebur dengan masyarakat itu. Hubungan yang terbentuk bukan sekadar peneliti dan masyarakat, tetapi menjadi kerabat dekat yang tetap saling menjaga silaturahmi. Buku ini menyajikan realita dari sisi para peneliti yang turun lapangann.

Seringkali ada ketidaknyamanan atau kesulitan, tetapi itu justru menjadi pelajaran berharga yang dipetik peneliti untuk senantiasa mengapresiasi siapapun yang ditemuinya di lapangan. Semua ketidaknyamanan itu akan menjadi pelajaran berharga bagi seorang peneliti demi membentangkan karpet merah pengetahuan kepada banyak orang, sembari mengutip kalimat Geertz: “I’ve been there” saat merekahkan pengetahuan berharga untuk menghormati masyarakat yang dikunjunginya.

Koran Kami with Lucy from the Sky (Bre Redana)

Di mata saya, ini bukan jenis novel yang membuat saya berdebar-debar dan tak sabar menghabiskannya. Novel ini termasuk novel paling lama saya habiskan. Saya membawanya di tas selama beberapa hari. Ceritanya tidak begitu mengejutkan. Terlampau banyak ceramah yang membuat saya beberapa kali hendak memutus bacaan. Tapi saya tetap membacanya sebab saya pernah merasakan bagaimana irama kerja media cetak yang serba hati-hati.


Yang saya temukan di novel ini adalah perjalanan seorang jurnalis, yang mengenang masa-masa ketika jurnalisme adalah panggilan jiwa bagi mereka yang hendak mengabarkan kebenaran. Saya menemukan nostalgia seorang jurnalis tua, masa ketika pekerjaan dianggap hobi, masa-masa mengetik di tengah tumpukan kertas dan secangkir kopi, nginap di mess kantor, dan sesekali ngelayap ke tempat hiburan malam. Nostalgia itu hadir melalui dialog antara jurnalis gaek itu dengan seorang perempuan muda, generasi milenial.

Buku ini menyajikan banyak renungan bagi generasi hari ini. Setidaknya, ada pesan-pesan dan kekhawatiran seorang jurnalis senior melihat dunianya sekarang yang makin berubah. Para jurnalis kini bekerja di ruang AC, berada di kantor mewah yang tidak mengizinkan lagi jurnalis merokok, ngopi, dan tidur di kolong meja, hal-hal yang dulu dialami para senior.

Para jurnalis kini datang dengan pakaian necis ala generasi milenial, bukan lagi para seniman gondrong yang setiap hari menyerap ide melalui obrolan lepas bersama kopi di bawah pohon, setelah itu janjian ketemu di hiburan kelas teri.

Novel ini menyajikan lintasan perjalanan seorang jurnalis tua yang melihat dunia yang ditekuninya selama puuhan tahun terus berubah. Dalam banyak hal saya tidak sepemismis dirinya. Saya percaya, di era big data ini, jurnalisme terus bertransformasi, meskipun nilai-nilai seperti akurasi dan aktualitas akan selalu abadi.

Musik Indonesia 1997-2001 (Jeremy Walch)

Buku berjudul lengkap Musik Indonesia 1997-2001: Kebisingan dan Keberagaman Aliran Lagu, yang ditulis Jeremy Wallach, terbit di bulan Maret 2017. Saya tertarik membeli buku ini seusai membaca catatan di halaman belakang yang menyebutkan buku ini merupakan riset etnografis yang membumi dengan ketajaman analisis dari teori budaya kontemporer.


Beberapa kajian dalam buku ini mengingatkan saya pada buku Andrew N Weintraub berjudul Dangdut: Musik, Identitas dan Budaya Indonesia, yang terbit tahun 2012 lalu. Satu lagi referensi bagus tentang dangdut ditulis oleh William Frederick tahun 1982 berjudul Rhoma Irama and the Dangdut Style: Aspects of Contemporary Indonesia Popular Culture.

Ketiga studi itu laksana tali-temali yang saling terkait. Ketiganya membahas dinamika antara dangdut dan masyarakat menengah ke bawah Indonesia yang menjadi penggemar berat musik itu. Kesamaan ketiganya adalah sama-sama menjelaskan hubungan antara musik itu dengan ruang batin masyarakat Indonesia yang dimediasi dengan baik oleh lagu-lagu berirama dangdut.

Yang baru dari buku Jeremy Wallach adalah pelukisan etnografis yang mendalam. Dia menelusuri panggung musik, toko kaset, konser, studio, dan banyak lokasi demi menemukan pemahaman tentang musik Indonesia. Biarpun tidak spesifik membahas dangdut, kita bisa memahami bagaimana interpretasi masyarakat atas musik, bagaimana identitas direpresentasikan, serta bagaimana globalisasi mempengaruhi musik Indonesia.

Give a Man a Fish (James Ferguson)

Setelah membaca buku James Ferguson yang berjudul The Anti-Politics Machine yang menyajikan kritik atas wacana pembangunan, saya ketagihan untuk membaca buku lainnya. Ia produktif mengkritik pembangunan sebab dirasanya tidak selalu menjadi jawaban bagi masyarakat di negara berkembang.


Bagi Ferguson, pepatah yang menyebutkan “beri kail, jangan ikan!” tidak selalu benar. Melalui riset dengan metode etnografis, ia mengajak orang berpikir tentang cara lain dalam melihat kemiskinan dan ketidakberdayaan. Studi yang dilakukannya menunjukkan bahwa transfer uang tanpa syarat–atau sering disebut direct cash transfer– kepada masyarakat miskin justru memunculkan semangat wirausaha.

Masyarakat justru bisa mengelola bantuan dana itu lalu digunakan secara berkelanjutan. Intinya adalah distribusi yang adil, pengelolaan kepercayaan, dan kesempatan.

Riset ini menjadi menarik sebab kita terlalu sering melihat orang miskin dengan cara pandang kita. Padahal, sebagaimana pernah ditulis oleh Robert Chamber, yang sering terjadi adalah begitu banyaknya bias dalam melihat orang miskin disebabkan kuasa pengetahuan yang kita miliki. Kita mendefinisikan mereka dengan cara pandang kita, yang tentu saja, tidak mencerminkan keadaan sebenarnya.

Dalam buku ini, Ferguson secara impresif mengajukan pertanyaan, dekonstruksi, dan rekonstruksi atas pandangan klasik tentang kemiskinan, pembangunan dan negara-negara sejahtera. Dengan fokus pada kebijakan “bagi-bagi uang” atau cash transfer, ia menyajikan risalah antropologi di selatan Afrika, termasuk perdebatan mutakhir tentang praktik pembangunan dan anti-poverty activism.

***

DEMIKIAN, beberapa buku yang saya baca di tahun 2017. Masih banyak buku lain, tapi tidak mungkin saya bagikan semuanya di sini. Risiko melakukan seleksi adalah kita harus tega untuk memilih buku-buku tertentu saja.

Jika suatu saat Anda berkunjung ke rumah saya, Anda akan melihat bahwa satu-satunya harta yang saya miliki adalah buku-buku. Saya suka membanggakan koleksi buku saya kepada siapapun yang berkunjung. Siapa tahu, saya bisa dapat rekomendasi buku bagus yang bisa memperkaya koleksi di rumah.

Saya menyambut tahun 2018 dengan penuh harapan agar semakin banyak buku bagus yang memperkaya pengetahuan dan pengalaman. Semoga

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...