Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Film Aquaman dan Teka-Teki Atlantis di Indonesia




DI banyak bioskop kita, film Aquaman yang diperankan Jason Momoa dan Amber Heard tengah tayang dan disambut meriah. Banyak orang antre untuk menyaksikan kisah Arthur Curry yang berebut tahta sebagai penguasa Atlantis, kerajaan di bawah laut.

Tahukah Anda, sejak awal reformasi, banyak orang sibuk mendiskusikan posisi Atlantis yang disebut-sebut berada di lautan Indonesia? Tahukah Anda bahwa ada beberapa pakar yang menguatkan teori bahwa benua yang hilang itu ada di sekitar kita?

***

DEMI merebut tahta dari saudaranya, Arthur Curry atau Aquaman bersedia untuk merebut takhta sebagai penguasa Atlantis, kerajaan hebat dengan teknologi canggih yang berada di dasar laut. Bersama Putri Mera, Arthur lalu menaiki kapal selam yang membawanya ke negeri Atlantis.

Dalam film Aquaman yang disutradarai James Wan, Atlantis digambarkan sebagai negeri yang mewah di dasar laut. Dahulu, kerajaan itu berada di permukaan, dan sudah mencapai kematangan teknologi, saat bangsa lain masih percaya bumi itu datar.

Akibat keserakahan, Atlantis tenggelam ke dasar laut. Namun kekuatan tongkat trisula Neptunus yang dipegang King Atlan menyebabkan warga Atlantis bisa bernapas di dalam air. Negeri itu tetap berdiri. Penduduknya tetap membangun peradaban yang mewah dan canggih, meskipun berada di dasar laut.

Aquaman bukan film pertama yang membahas Atlantis. Hampir semua perusahaan film, termasuk Disney, pernah membuat film yang bertemakan Atlantis sebagai peradaban yang hilang. Hingga kini, masih banyak orang yang meyakini bahwa pernah ada masa di mana manusia telah menapak satu kejayaan, namun tenggelam karena alasan yang tidak diketahui.

Di Indonesia, diskusi tentang Atlantis juga marak pada era pasca-reformasi. Maklumlah, pada era reformasi marak perdebatan tentang seperti apa identitas Indonesia. Ada yang kembali menggemakan gagasan tentang Indonesia sebagai negara agama yang berkiblat ke Timur Tengah.

Namun, ada juga sejumlah orang yang menganggap bahwa identitas asli Indonesia bukan tercermin pada budaya yang dipengaruhi agama dari Timur Tengah. Argumentasinya, sebelum era itu, bahkan beberapa abad sebelumnya, Nusantara sudah pernah berdiri dan punya jejak peradaban yang hebat.

Bahkan masa lalu Nusantara dilacak ke era yang disebut filsuf Yunani yakni Plato dan Aristoteles sebagai era Atlantis.

Saya melihat perdebatan itu dimulai sejak seorang profesor berkebangsaan Brazil yakni Arysio Santos menulis buku berjudul Atlantis: The Lost Continent Finally Found. Profesor Santos dikenal sebagai geolog dan fisikawan nuklir.

Dalam bukunya, dia menyebutkan bahwa setelah melakukan penelitian selama 30 tahun dan membuat peta bawah laut, mengkaji mitologi, hingga arkeologi, dia menyimpulkan bahwa posisi Atlantis berada di Indonesia.

Dalam buku yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia ini, Santos menganalisis teks-teks Atlantis yang dahulu pernah dikemukakan Plato dan Aristoteles. Di situ tertera bahwa Atlantis tenggelam karena banjir besar melanda manusia pada satu masa sehingga permukaan laut meninggi.

Dia menyimpulkan Atlantis berada di khatulistiwa, pada wilayah yang banyak memiliki gunung api sehingga ketika terjadi letusan besar, permukaan air naik, wilayah itu tenggelam. Wilayah yang paling memenuhi syarat yang digambarkan Santos adalah Indonesia.

Buku lain yang juga menguatkan Santos adalah Eden in the East yang ditulis ilmuwan biologi molekuler Stephen Oppenheimer. Buku ini membantah versi sejarah tentang nenek moyang kita yang disebutkan dari Cina, sebab DNA orang Indonesia lebih tua dari Cina.

Artinya, orang Indonesia sekarang dibentuk oleh satu peradaban tua yang telah lama menghuni wilayah ini, kemudian memencar karena adanya banjir besar. Setelah dua buku ini terbit, perdebatan tentang Atlantis kian marak.

Umumnya banyak pihak yang setuju dengan pandangan itu dan sibuk memaparkan bukti kehebatan Nusantara di bandingkan bangsa lain. Bahkan beberapa intelektual kita, di antaranya Prof Jimly Ashidique sering mengutip Indonesia sebagai Atlantis yang hilang.

Publik semakin tertarik ketika di zaman SBY, pemerintah membentuk Tim Katastrofik Purba yang dipimpin politisi Partai Demokrat, Andi Arief, yang meneliti bencana purba yang pernah terjadi. Namun dalam perjalanannya, lembaga ini juga mengemukakan banyak hipotesis tentang adanya banyak piramida yang berukuran lebih besar dari piramida Mesir. Di antaranya adalah piramida di Gunung Padang.

Bahkan tim ini sempat melakukan penggalian, namun dihentikan di tengah jalan. Tim ini meyakini bahwa ada banyak artefak hebat di Nusantara yang masih terkubur sebagaimana dahulu Candi Borobudur ketika digali di zaman Raffless. Artefak itu menunjukkan Nusantara pernah berjaya pada masa silam, yang disebut sebagai Atlantis.

Pada tahun 2007, Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Umar Anggara Jenny juga menyampaikan pandangan banyak peneliti Amerika Serikat yang meyakini Atlantis ada di Indonesia.

Kata Umar Anggara, arkeolog Amerika Serikat (AS) bahkan meyakini benua Atlantis dulunya adalah sebuah pulau besar bernama Sunda Land, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Kata Umar, dalam dua dekade terakhir memang diperoleh banyak temuan penting soal penyebaran dan asal usul manusia.

Salah satu temuan penting ini adalah hipotesa adanya sebuah pulau besar sekali di Laut Cina Selatan yang tenggelam setelah zaman es.

Jika Anda menyempatkan waktu ke Toko Gramedia, pasti Anda akan temukan banyak buku yang membahas Indonesia sebagai Atlantis yang hilang. Di antaranya adalah buku Peradaban Atlantis Nusantara yang ditulis Ahmad Y Samantho dan Oman Abdurrahman.

Buku lain adalah yang ditulis pakar geologi yang bekerja di LIPI yakni Dr Dhani Hilman Natawidjaja berjudul Plato Tidak Bohong, Atlantis Ada di Masa Pra-Sejarah Indonesia. Masih banyak buku lain yang tak mungkin saya sebut satu per satu di sini.

Saya juga menemukan banyak website yang membahas keterkaitan Indonesia dan Atlantis. Bahkan saya juga mendapati banyak fiksi atau novel mengenai Atlantis di Indonesia. Yang terkenal adalah karangan ES Ito berjudul Negara Kelima, serta dwilogi Gerbang Nuswantara yang ditulis Victoria Tunggono. Ada juga novel yang ditulis Tasaro berjudul Nibiru.



Semua buku itu memaparkan fakta bahwa kemungkinan besar peradaban hebat yang digambarkan dalam banyak naskah orang Eropa sebagai rumahnya orang-orang yang jenius dan punya teknologi tinggi itu ada di Nusantara. Atlantis itu diyakini  tenggelam saat terjadi letusan besar sehingga es di kutub mencair.

Yang menarik buat saya, banyak orang yang kemudian bergerak menelusuri reruntuhan Atlantis itu. Majalah Tempo pernah memuat cerita tentang warga Amerika yang rajin menelusuri pesisir selatan Jawa demi menemukan reruntuhan Atlantis.

Sewaktu kuliah di UI, sahabat saya Diah Laksmi bercerita tentang anak muda keluaran UI dan ITB yang membentuk Turonggo Seto yang rajin melakukan ekspedisi demi membuktikan Indonesia adalah Atlantis.

Tak sekadar diskusi, mereka melakukan jelajah candi, menafsir ulang relief candi, dan mengemukakan teori bahwa ada banyak candi-candi lain yang jauh lebih hebat, namun masih terkubur.  Latar belakang pendidikan mereka adalah pertambangan dan geologi, namun sangat meminati kajian masa silam.

Pendekatan mereka adalah gabungan dari metode saintifik, yakni metode ilmiah dan teknologi untuk mengenali batuan, dan pendekatan klenik. Memang aneh kedengarannya, sebab bagi anak-anak muda itu, klenik adalah metode yang diwariskan sejak lama oleh nenek moyang, dan bisa melengkapi metode ilmiah.

Entah bagaimana menjelaskan persoalan ini secara ilmiah. Bagi saya, diskusi tentang Atlantis selalu terkait dengan diskusi masa kini dan masa silam. Ketika kita membayangkan kejayaan masa silam, maka itu adalah pertanda bahwa kita gelisah melihat masa kini kita yang hanya bisa menjadi penyaksi bangsa-bangsa lain yang unggul.

Ini adalah potret kekalahan kita menyaksikan bangsa lain yang sudah menjangkau ruang angkasa, sedangkan kita tidak punya cerita hebat masa kini. Maka, kita lalu mencari kejayaan itu di masa silam sembari menyesali kenyataan mengapa kita mengabaikan masa silam demi meniru bangsa lain.

Kita memilih bernostalgia pada sesuatu yang masih menjadi wacana, dikarenakan kegagalan kita membangun kejayaan itu di masa kini. Ada satu hal yang saya sepakati dari semua diskusi mengenai Atlantis di Indonesia. Yakni banyak misteri yang perlu diungkap.

Untuk itu, kita mesti mengembangkan berbagai studi dan riset demi mengungkap banyak misteri. Tapi di saat bersamaan, kita juga tak boleh alpa untuk membangun kejayaan di masa kini. Jika bangsa China bisa membangun negerinya menjadi negeri unggul di masa kini dengan memori kolektif kejayaan bangsanya di masa lalu, kita pun bisa melakukan hal yang sama. Iya khan?



Sepenggal Kisah Hardiyanti Rukmana




Hari ini, saya membaca berita tentang Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut. Biasanya saya hanya melihat sekilas dan sambil lalu. Kisah tentang Mbak Tutut dan ayahnya Presiden Soeharto sudah sering saya baca dalam banyak publikasi para peneliti. Mereka adalah Crazy Rich Asian yang sebenar-benarnya. 

Saya terkejut melihat aktivitas Mbak Tutut sekarang adalah menjadi blogger. Dia secara rutin mengisi catatan harian di satu blog. Dia bercerita tentang ayahnya, perjuangannya membuat jalan tol pertama yang disebutnya sebagai prestasi anak bangsa, hingga cerita tentang ibunya, Tien Soeharto.

Blognya cukup membuat saya betah. Saya baru tahu kalau acara Kirab Remaja Indonesia dihidupkan lagi. Di situ, ada foto dirinya bersama sejumlah remaja dengan baju merah putih, menyanyikan lagu-lagu nasionalis, setelah itu memberi tepuk tangan dan salam ala tentara. 

Silakan cek blognya DI SINI

Saya pernah menyaksikan acara ini semasa kecil melalui layar kaca di TVRI. Pernah saya bertanya pada bapak saya, apa mungkin orang akan cinta pada Indonesia dengan cara baris-berbaris keliling kota sambil sesekali menyanyikan lagu perjuangan? Bapak saya tak berani menjawab. Dia tahu, kritisisme tak diperlukan di zaman itu. Dia bercita-cita agar anaknya jadi PNS. 

Melihat catatan-catatan Mbak Tutut, saya merasakan betapa kuatnya niat beliau untuk “meluruskan” pemahaman tentang masa silam. Saya sebenarnya berharap dia membuka banyak hal apa yang terjadi pada masa itu, bukan mengangkat hal yang remeh-temeh, misalnya pesan-pesan bapaknya sebelum meninggal. 

Berani gak dia cerita berapa uang negara yang kemudian dikelolanya dengan membawa stempel nama bapaknya? Apakah dia akan mengakui proyek-proyek apa saja yang kemudian dikelolanya hanya karena para menteri dan pejabat takut sama bapaknya?

Saya teringat kajian dari Maurice Halbwach, sosiolog Perancis yang terkenal dengan teorinya mengenai ingatan kolektif. Bahwa apa yang kita sebut sebagai ingatan bukan sekadar endapan kenangan atas satu peristiwa bersejarah yang pernah terjadi pada satu masa, melainkan sesuatu yang selalu aktif dan terus mengalami reproduksi makna berdasarkan situasi kesejarahan.

Masih kata Halbwach, orang-orang akan menggunakan medium tertentu untuk melestarikan ingatan. Medium itu bisa berupa ritual, upacara, peringatan, patung, monumen, atau tugu.

Mungkin ini pula yang sedang dilakukan Tutut. Dia melakukan rekonstruksi atas masa silam, dengan mengangkat versinya sendiri, kemudian menggunakan blog sebagai medium. Dia juga membangun museum di kampung ayahnya, menuturkan lagi banyak cerita, dan mengangkat sisi religius dan penyabar ayahnya. 

Dia mengabaikan narasi dari banyak peneliti dan sejarawan yang telah mengangkat masa silam dengan metodologi yang ketat. Dia ingin menafsir ulang masa lalu, dengan mengangkat sisi humanis bapaknya, seakan-akan hendak berkata, “Enak jamanku to?”

Tahun depan, Indonesia akan memasuki pilpres. Saya menganggap momen ini menjadi strategis sebab yang sedang bertarung adalah ingatan dan tafsir masa silam. Ada yang menganggap masa silam itu amat indah dan masa kini begitu terpuruk sehingga solusinya adalah kembali ke masa silam. 

Di kutub lain, saya melihat anggapan bahwa masa silam sudah berlalu, namun masih menyisakan jejak berupa mentalitas yang harus disingkirkan demi Indonesia masa depan. Bahwa Indonesia masa depan adalah Indonesia baru yang tidak pernah melupakan sejarah sebab selalu menyerap banyak hikmah dari perjalanan bangsa sehingga tidak jatuh di lubang yang sama.

Di situ, saya melihat ada ingatan yang sedang berebut mencari tempat di benak generasi baru yang pikirannya serupa ruang kelas yang kosong.



FADLI ZON dalam Tinjauan Peneliti Jepang


Fadli Zon bersama patung empat pendiri bangsa di rumah budaya yang didirikannya

Bulan April lalu, saya diajak Profesor Susanto Zuhdi untuk menghadiri orasi ilmiahnya di kampus Universitas Indonesia, Depok. Di acara itu, saya bertemu Fadli Zon yang ternyata adalah bimbingan Prof Susanto yang belum lama lulus di program doktor bidang sejarah UI. 

Di layar kaca dan media sosial, Fadli Zon terlihat arogan, tidak mau mendengar lawan debatnya, hingga penuh kritik membabi-buta pada rezim. Bahkan dia juga seorang yang produktif buat puisi untuk mengkritik Jokowi. Tapi saat bertemu langsung, dia sosok yang sangat hangat. 

Sebagai murid, dia datang dan menghadiri acara orasi dari Prof Susanto. Dia tidak memosisikan dirinya lebih tinggi sebab semua yang datang adalah murid Prof Susanto. Malah dia ikut berbincang santai dengan banyak orang. Tentu saja, tak ada topik mengenai Jokowi dan Prabowo di situ.

Saya pun teringat dengan sosoknya sebagaimana ditulis Hisanori Kato, seorang peneliti asal Jepang. Tulisan tentang Fadli itu saya temukan dalam buku Islam di Mata Orang Jepang karya Hisanori Kato, terbitan Kompas 2014. 

Sebagaimana lazimnya para antropolog, dalam buku ini, Kato bercerita pengalamannya ketika melakukan riset tentang Islam di Indonesia. Dalam riset itu, ia tidak fokus pada ajaran dan teks keislaman. Ia fokus pada bagaimana Islam dipersepsi, dihayati, dan dijelmakan dalam sikap hidup para penganutnya.

Kato menuliskan beberapa sosok yang menurutnya inspiratif serta menjadi representasi Islam di Indonesia. Ia menulis pertemuannya dengan Gus Dur, Mohamad Sobary, Ismail Yusanto (Jubir HTI), Ulil Abshar Abdalla, Abu Bakar Ba’asyir, hingga beberapa sosok muda seperti Eka Jaya (anggota FPI) dan Fadli Zon.

Pada beberapa tokoh itu, ia mengaku tidak sekadar wawancara. Ia sedang belajar dan menyerap pengetahuan.
Saya tertarik membaca kisah perkenalannya dengan Fadli Zon. Sebelumnya, saya memang tak punya banyak gambaran tentang sosok ini. Pernah, saya membaca bukunya Politik Huru-Hara 1998, namun saya tak begitu terkesan sebagaimana membaca buku Pretext for the Mass Murder karya John Roosa. 

Kato menggambarkan Fadli sebagai sosok penting di balik peristiwa demonstrasi besar-besaran anti SDSB. Pada tahun 1980-an, pemerintah memiliki program Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB). Bentuknya adalah semacam lotre di mana setiap orang memiliki iming-iming untuk kaya. Sebagai aktivis, Fadli Zon mengorganisir demonstrasi untuk menentang kebijakan SDSB.

SDSB ibarat taruhan memasang sejumlah nomor. Jika tebakannya benar, maka akan mendapatkan hadiah. Jika tidak, maka bisa pasang nomor lagi pada kesempatan lain. Bagi Fadli, kebijakan memasang SDSB itu ibarat judi. “Hukumnya adalah haram,” katanya.

buku yang ditulis Hisanori Kato

Yang menarik buat saya, penggambaran tentang Fadli adalah sosok generasi muda Muslim yang getol memperjuangkan agama. Di saat wawancara itu, Fadli menginginkan agar Islam bisa diakomodasi di ranah politik. 

“Seharusnya Islam terlibat aktif dalam politik. Saya memimpikan Indonesia menjadi negara yang demokratis. Seperti Anda ketahui, Indonesia adalah negara yang mayoritas warganya beragama Islam. Dalam hal ini keterlibatan warga Muslim sangat diperlukan,” kata Fadli sebagaimana dicatat Kato.

Wawancara ini penting untuk memahami bahwa pada mulanya Fadli memang tokoh yang berniat untuk menempuh jalan politik melalui wacana keagamaan. Padahal, jalan hidupnya agak berbeda. Sebab ia pernah menjalani sekolah menengah di Amerika Serikat (AS), pernah pula memiliki keluarga angkat yang beragama Kristen. 

Dua tahun setelah Soeharto turun, Fadli lalu bergabung dengan Partai Bulan Bintang (PBB) demi membumikan gagasannya tentang Islam. Ketika terjadi perpecahan di tubuh partai itu, Fadli lalu hengkang ke Inggris untuk belajar di London School of Economic (LSE).

***

Saya juga menemukan beberapa inspirasi tentang Fadli Zon. Sosok ini cukup konsisten pada ranah kebudayaan. Ia rajin berburu koleksi publikasi, kartu pos, dan segala hal menyangkut Indonesia di luar negeri. Bahkan, ia juga mengumpulkan foto-foto bersejarah untuk dipajang di rumah budaya dan perpustakaan yang didirikannya.

Beberapa tahun silam, seorang sejarawan yang saya temui di negeri Paman Sam menyampaikan kekagumannya atas upaya Fadli Zon mendapatkan koleksi foto saat Kartosuwiryo, pemimpin gerakan DI/TII, dieksekusi pemerintahan Soekarno. Dokumen foto itu amat bernilai bagi para sejarawan yang hendak memahami kejadian tersebut demi menyerap tetes-tetes hikmah.

Dia mendirikan Rumah Budaya Fadli Zon di Tanah Datar, Sumatera Barat, daerah kelahirannya. Di situ, ia memajang sekitar 100 koleksi keris Minangkabau yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun. Ia juga mengoleksi lebih 700 buku bersejarah yang bertema Minangkabau, serta beberapa koleksi bersejarah di antaranya keris Luk Sembilan asal Pagaruyung yang dibuat pada abad ke-18, songket lama, dan lukisan kuno. Ia juga memajang fosil kerbau berusia dua juta tahun di rumah budaya itu.

peresmian patung Tan Malaka
patung Chairil Anwar

Di media online, saya membaca artikel tentang koleksi di rumah budaya ini. Di situ, terdapat empat patung pendiri bangsa, yakni Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka. Aneh juga sebab Fadli Zon dalam banyak kesempatan mengkritik komunisme dan menjelaskan bahayanya, tapi malah dia sendiri memajang patung Tan Malaka.

Di situ juga ada patung Chairil Anwar, juga banyak koleksi lukisan dan ukiran. Tak hanya itu, di situ juga terdapat koleksi batu akik yang berasal dari banyak wilayah di Indonesia.

Kecintaan Fadli pada ranah budaya dan literasi juga diwujudkan dengan pendirian Fadli Zon Library di Jakarta. Ia memiliki perpustakaan dengan koleksi buku sebanyak 40.000, koleksi koleksi naskah kuno, dan koleksi koran tempo dulu. Beberapa koleksi lainnya adalah: koleksi keris, tombak, pedang dan badik dari berbagai kerajaan Nusantara, koleksi prangko, koleksi uang logam (coin), koleksi patung dan lukisan dari berbagai maestro seniman Indonesia.

Ada juga koleksi piringan hitam (long play) dari musisi atau penyanyi Indonesia, koleksi rokok yang di produksi di Indonesia, koleksi tekstil dan kain tua dari berbagai daerah, serta koleksi kaca mata dari beberapa tokoh.

Bagi saya, perpustakaan dan rumah budaya itu merupakan wujud dari kecintaan Fadli Zon pada kebudayaan. Dia mencintai Indonesia dengan cara menyerap semua artefak dan karya-karya agung dari bumi Indonesia. Melalui koleksi-koleksi yang dikumpulkannya, dia berharap mewariskan sesuatu yang kelak akan menjadi dokumen budaya dan sejarah yang penting untuk Indonesia.

Pada titik ini, Fadli Zon telah menyimpan banyak warisan berharga yang kelak jadi mutiara budaya dan sejarah bagi generasi mendatang. Salut untuknya.

***

Sayangnya, artikel Hisanori tidak menyajikan cerita mengenai bagaimana pertemuan Fadli dengan Prabowo Subianto. Saya menyayangkan mengapa hal ini tak dibedah lebih jauh. Sebab kisah perjumpaan dengan Prabowo serta pilihan politik Fadli untuk mendampinginya pastilah menyimpan cerita yang menarik bagi semua sejarawan dan pemerhati ilmu sosial.

BACA: Luna Maya, Suzanna, dan Narasi Profesor Amerika

Saya penasaran bagaimana transformasi seorang aktivis yang mencintai budaya, menjadi seorang politisi yang amat setia pada satu figur. Mungkin saja, kecintaan Fadli pada Indonesia membawanya pada satu kesimpulan bahwa dirinya harus masuk ke ranah politik, di mana Prabowo menjadi figur yang bisa mewujudkan cita-citanya.

Saya hanya mendengar selentingan kabar kalau perkenalannya dengan Prabowo sudah berlangsung lama. Bahkan Prabowo yang menyekolahkannya ke Inggris. Jika ini benar, maka terjadi simbiosis antara seorang intelektual dengan politisi. Para politisi bisa meng-ijon atau berinvestasi pada para aktivis dan intelektual agar di kemudian hari menjadi partner dan pembela yang setia.

Satu hal yang saya sayangkan adalah Fadli Zon tidak meneruskan tradisi intelektualnya melalui upaya menulis buku-buku bermutu. Rasanya amat sayang, gelar master dari London School of Economic, kampus yang banyak melahirkan para pemikir dunia, hanya berakhir sebagai politisi yang memproduksi puisi-puisi kritik yang diarahkan pada rezim. 

rumah budaya Fadli Zon

Saya membayangkan dia akan melahirkan banyak buku dan artikel bermutu sebagaimana dahulu dilahirkan Sukarno dan Hatta, yang kemudian menjadi artikel penting dalam tapak sejarah pemikiran bangsa ini. Dia punya kapasitas yang memadai untuk mencerahkan negeri dengan gagasannya cemerlang, yang diolah dengan pendekatan budaya serta rasa cinta yang dahsyat pada negeri.

Dia bisa mewariskan catatan sekelas Madilog karya Tan Malaka atau Di Bawah Bendera Revolusi karya Sukarno. Bahkan dia bisa menulis topik ekonomi sedalam Mendayung di Antara Dua Karang yang disusun Hatta.

Jika saja dia melakukan itu, maka kelak warisannya pada negeri akan paripurna. Dia mengoleksi artefak budaya. Dia pun mewariskan pemikiran yang cemerlang serta perilaku politik yang berada dalam bingkai keadaban. Tapi, saya masih berharap dia bisa melakukannya. 

Tak sekadar puisi-puisi itu.




Tiga Opsi untuk BUNI YANI




Lama ditunggu, akhirnya kasasi dari Mahkamah Agung (MA) keluar juga. Mahkamah menyatakan menolak kasasi yang diajukan Buni Yani. Dia tetap dinyatakan bersalah sesuai keputusan Pengadilan Negeri Bandung yang telah memvonis Buni Yani 1 tahun enam bulan penjara.

Dia dianggap bersalah karena mengedit dan menyebarkan video Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang kemudian heboh dan mengundang reaksi berupa demonstrasi hingga berjilid-jilid. Jika tak ada lagi upaya hukum, maka Buni Yani tinggal menunggu waktu kapan akan dieksekusi.

Saya mengenal Buni Yani sebagai sesama alumni Ohio University. Semasa di Ohio, saya membaca tesisnya yang mengenai politik editorial di harian Kompas dan Republika saat memberitakan konflik Maluku.

Dia menulis tesis di bawah bimbingan seorang profesor yang dikenal sangat mencintai Indonesia. Bahkan Buni tinggal di rumahnya.

Saya beberapa kali bersua dengan Buni Yani dalam berbagai pertemuan alumni, serta berinteraksi di WhatsApp Grup. Di mata saya, dia orangnya baik dan senang berdiskusi. Dia pribadi yang hangat. 

Dia pernah mengirimi saya pesan melalui SMS. Dia tahu kalau saya sedang berada di Lombok. Kebetulan, dia pun menuju ke Lombok, kampung halamannya. Dia mengajak untuk sekadar ngopi dan berbincang. Sayang, jadwal kami tak bertemu.

Tapi sejak momen pilpres, postingannya di media sosial mulai menyengat. Beberapa orang tidak nyaman dengan sebab sering kali merendahkan pihak pendukung capres tertentu. Pernah dia didebat habis-habisan hingga akhirnya mengurangi postingan. Hingga akhirnya, kasus itu bergulir dan kasasi MA keluar.

Kalaupun Buni Yani harus dieksekusi, maka saya berharap itu tidak lantas menenggelamkan seorang Buni Yani. Saya ingin dia tetap produktif dan melakukan banyak hal yang kelak akan menjadi perbincangan banyak orang.

Jika akhirnya dieksekusi, ada tiga hal yang bisa dilakukan Buni Yani.

Pertama, dia harus menulis. Dalam sejarah, kita banyak membaca kisah tentang karya-karya hebat yang lahir dari penjara. Dahulu, aktivis asal Italia, Antonio Gramsci, menulis Prisoner Notebook dari dalam jeruji. Tan Malaka menulis Madilog ketika menjadi buronan.

Nelson Mandela menulis karya terbaiknya Long Walk to Freedom saat berada dalam tahanan. Bahkan karya terbaik sastrawan Pramoedya Ananta Toer lahir di tahanan yang terletak di Pulau Buru.

Kasus Buni Yani bisa dilihat dari banyak sisi. Selama ini kita hanya tahu dari berita yang ditampilkan banyak media. Tapi kita tidak pernah tahu persis apa yang dirasakan Buni Yani, serta bagaimana penilaiannya atas kasus ini sebagai seorang akademisi.

Sebagai alumni Ohio University, dia punya amunisi yang cukup untuk sekadar menulis kasusnya secara jernih, yang selama ini luput dari pantauan media. Andaikan dia menulis kasus ini dari perspektif auto-etnografi, satu perspektif riset yang tengah populer, maka pasti akan menarik dibaca.

Dia bisa menguraikan apa saja lesson learned yang dihadapinya bagi pengembangan kajian tentang media sosial di Indonesia. Dia bisa menyumbang kepingan penting pada the body of knowledge kajian komunikasi di tanah air, yang belakangan ini terkesan mandek.

Di tambah lagi, dia punya kemampuan menulis dalam bahasa Inggris. Dia bisa menuliskan kasusnya dengan bahasa Inggris sehingga diketahui oleh publik luar. Dia bisa populer di kalangan organisasi pelindung hak sipil dan hak asasi.

Jika bebas, undangan untuk menghadiri konferensi ke luar negeri akan laris diterimanya. Dia bisa setenar Malala Yousafzai yang sering diundang di banyak negara karena kisah perjuangannya di tengah tekanan milisi Taliban telah menginspirasi banyak orang.

Kedua, Buni Yani harus tetap aktif sebagai buzzer dari Prabowo-Sandi. Dia bisa mencitrakan dirinya sebagai orang yang dizalimi oleh rezim ini. Dia bisa saja menuding peradilan dan penghakiman pada dirinya sebagai sesuatu yang sengaja di-setting oleh aparat berwenang.

Ujung-ujungnya dia bisa menyalahkan Jokowi, sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh pencinta oposisi,  sebagai kepala negara yang tidak berbuat apa-apa untuk membela dirinya sedang memperjuangkan kebebasan berbicara.

Sebagai buzzer, Buni bisa menjadi simbol dari kesewenang-wenangan penguasa. Buni akan menempati posisi strategis dalam perang wacana di media sosial. Sebagai akademisi yang pernah belajar di Ohio dan Leiden, dia tahu bagaimana memetakan pesan-pesan yang berpotensi viral, serta bagaimana merancang sesuatu menjadi viral.

Di tambah lagi, kasusnya telah melejitkan dirinya sebagai micro-celebrity yang punya banyak penggemar di dunia maya. Dia hanya butuh konsistensi dalam membuat postingan kemudian menyebarkan ke berbagai kanal.

Kalaupun di tahanan dia tidak bisa menggunakan HP, maka dia bisa menempuh strategi Anas Urbaningrum yang menulis bahan postingan di kertas, kemudian dicuitkan oleh sahabat-sahabatnya di Twitter.

Jika saja Prabowo-Sandi menang, maka Buni Yani bisa panen berkah dan keuntungan, sebagaimana aktivis 98 yang dulunya memenuhi penjara di rezim Orba, kini bisa melenggang ke kursi kekuasaan dan duduk nyaman di posisi strategis.

Ketiga, dia bisa fokus sebagai pendakwah. Dia melejit sejak kasus Ahok. Jika Ahok dilabel sebagai penista, maka Buni Yani dilabel sebagai pembela. Sejak kasusnya merebak, saya melihat Buni Yani mulai populer sebagai pendakwah. Dia mulai sering diundang ke acara-acara yang dibuat FPI. Dia juga mulai rajin mendatangi pengajian. Penampilannya mulai agamis.

Jika ditahan, dia bisa kembali memperdalam ilmu agama hingga level magister, setelah keluar dia bisa meramaikan televisi dengan menjadi selebriti. Saat ini, dia sudah menjadi branding yang kuat di kalangan banyak orang. Sebagaimana diakuinya sendiri di satu media, sejak kasusnya merebak, dia mulai laris sebagai penceramah.

Dakwahnya tidak hanya di medsos, kini mulai merambah ke masjid dan beberapa majelis taklim. Dia tidak perlu nyantri selama bertahun-tahun. Dia hanya perlu kembali membaca buku-buku agama, sehingga bisa mengutip ayat dan hadis, setelah itu mulai fokus membahas pembelajaran serta pelajaran agar orang lain bisa setegar dirinya.

Dengan keahiannya di bidang komunikasi, dia bisa jadi pendakwah sekaligus motivator yang akan mengalahkan popularitas Mario Teguh. Dengan sedikit polesan bisnis, branding Buni Yani bisa dikelola untuk memasarkan banyak hal.

Dia bisa jadi duta bagi usaha atau bisnis berlabel 212, sebagaimana Rafi Ahmad menjadi duta promosi bagi Alfamart. Malah dia bisa membuat label sendiri sebagaimana dilakukannya ketika membuat gelas dengan wajah dirinya disertai tulisan Buni Yani Mencari Keadilan.

Yang pasti, Buni Yani bisa tetap melakukan banyak hal. Tahanan hanya akan menjadi terminal sementara yang akan semakin melejitkan dirinya. Sungguh menarik untuk melihat bagaimana transformasi dirinya, serta bagaimana tanggapannya atas banyak hal. Jika ada yang menulisnya, pasti akan menjadi bacaan yang menarik.

Tapi saya berharap dirinya yang menulis tentang itu. Semoga.


Selamat Datang JONRU GINTING




Setelah mendekam di penjara selama 14 bulan, Jon Ria Ukur (Jonru) diizinkan untuk meninggalkan tahanan. Dia sudah menjalani 2/3 vonis pengadilan yakni 1 tahun 6 bulan. Jonru, pria yang dituding menebar kebencian itu, kini bisa kembali ke rumah.

Kuasa hukum Jonru telah memastikan bebasnya Jonru. "Betul bebas bersyarat. Tadi beliau bebas sekitar bakda asyar atau pukul 15.00 WIB dari LP Cipinang," ujar Kuasa Hukum Jonru, Djuju Purwanto, sebagaimana dicatat banyak media, Jumat (23/11/2018).

Saya membayangkan media sosial akan kembali heboh dengan kedatangan Jonru. Banyak orang yang gembira dengan kehadirannya. Tanpa dirinya, media sosial ibarat ring tinju yang kehilangan sosok seperti Mike Tyson. Tanpa dirinya, media sosial seakan lengang dari hiruk-pikuk dan debat.

Di twitter, saya melihat gambar dirinya saat bebas. Beberapa orang menyambut dan memeluknya. Pengacaranya mengatakan dia ingin kembali ke keluarganya dahulu. Politisi Gerindra, Habiburokhman, merasa gembira atas bebasnya Jonru.

Jika Jonru ingin bergabung dengan tim Prabowo, Habiburokhman siap menyambut. Banyak orang berharap agar Jonru bisa kembali seperti dulu. Seorang netizen menyebutnya “ksatria cyber putih” yang segera kembali ke medan pertempuran.

Ada pula yang mencatat kaum cebong bakal kelojotan dengan kembalinya Jonru.

Pada pemilu lalu, Jonru adalah sosok yang meramaikan debat di media sosial. Dia serupa magnet yang menarik banyak orang untuk setia mengikuti apa pun yang ditulisnya. Setiap postingannya di Facebook selalu dibagikan banyak orang. Bahkan setelah Pemilu dia tetap menempati posisi istimewa di hati sejumlah orang.

Dari sisi marketing, Jonru adalah pemasar yang brilian. Dia tahu potensi akun media sosialnya yang selalu didatangi orang-orang. Secara terbuka, Jonru membuka ruang untuk iklan. Bahkan dia mencantumkan nomor bagian iklan untuk dihubungi siapa pun yang ingin bekerja sama dengannya.

Jika kita mengacu pada gagasan Alice Marwick (2011) dalam buku To See and To Be Seen: Celebrity Practice on Twitter, Jonru bisa dikatakan sebagai micro-selebriti. Dalam artian, dia adalah selebriti dalam satu jejaring sosial. Apa pun yang diunggahnya akan dibagikan dengan cepat oleh semua fansnya, tanpa melihat postingan itu secara kritis.

Meskipun dia dipenjara, dia tetap tidak akan kehilangan penggemar. Malah, penjara itu akan menjadi semacam ujian bagi konsistensi perjuangannya. Para fans akan melihat dirinya ibarat Nabi Yusuf yang pernah dipenjara di istana seorang penguasa.

Simpati padanya akan tetap tumbuh. Jonru tetap menjadi merek yang kuat. Pertanyaannya, apakah Jonru masih segarang dulu ketika memosisikan dirinya sebagai pengkritik pemerintah?

Biarpun bukan penggemarnya, saya sering memantau apa saja yang dibagikan Jonru. Dalam berbagai tayangan di Youtube, dirinya mengatakan selalu berniat mencari klarifikasi. Dia hanya memantulkan berbagai rumor yang didengar dari jaringannya, kemudian direspon banyak orang.

Ibaratnya dia melempar sesuatu, yang diharapkan akan dibalas dan diklarifikasi. Masalahnya, tak semua penggemarnya yang menanti klarifikasi. Apa yang dibagikannya, langsung dianggap sebagai kebenaran. Meskipun, banyak yang dibagikannya itu masih samar-samar. Malah berpotensi menjadi kebohongan.

Apakah Jonru suka berbohong? Saya rasa tidak. Saya yakin dia tak ada niat untuk berbohong. Dia mendapat pesan-pesan yang terkirim dari jaringannya. Sebagaimana netizen lainnya, dia tak punya waktu untuk melakukan verifikasi atas fakta demi fakta.

Lagian, tugas melakukan verifikasi harusnya di tangan para ilmuwan dan sejarawan yang berdiam di menara ilmu. Mereka yang harusnya produktif menulis demi mencerahkan publik atas setiap fakta dan kepingan informasi.

Tugas verifikasi juga harusnya diemban oleh para jurnalis yang setiap hari melahirkan aksara. Namun para jurnalis sudah lama terjebak dalam sirkuit persaingan media, yang dimenangkan oleh siapa yang paling cepat, dan paling kuat berlari. Berita adalah sesuatu yang memberi sensasi bagi publik.

Jonru adalah subyek yang kesadarannya ditentukan oleh membanjirnya beragam informasi yang tak terverifikasi. Dia ibarat keramik yang dibentuk oleh apapun lempung informasi yang ada di sekitar.

Di era sebelumnya, informasi hanya ditemukan dalam celoteh para pedagang koran di lampu merah, atau di tuturan para penyalur media, atau dalam setiap menit sajian berita televisi. Di era Jonru, informasi masuk secara gratis dan memberondong di smartphone begitu kita bangun pagi.

Informasi berseliweran di sekitar kita, yang kurang sabar untuk mencerna satu demi satu. Jonru adalah produk dari sistem sosial kita yang lumpuh penalarannya. Sistem pendidikan kita tak mengajarkan bagaimana membedakan kebenaran dan kesesatan.

Kita telah lama mundur di era kegelapan ketika otoritas mengalahkan pencarian kebenaran. Kita tak menghargai diskusi dan penalaran. Kita tak fokus pada informasi, melainkan siapa yang memberi informasi.  Saat informasi disampaikan seseorang yang memakai jubah keagamaan, kita mudah saja larut.

Di era digital seperti sekarang, informasi menjadi senjata yang sengaja digunakan untuk melumpuhkan sesuatu. Ketika semua hal dilihat sebagai konspirasi dan ada niat jahat, maka segala yang baik pun akan tampak berbeda. Kebenaran kehilangan penanda. Kebaikan kehilangan ruh.

Benih prasangka dan kebencian tumbuh dalam diri kita, memenuhi semua pembuluh darah, lalu menjadi identitas yang mendefinisikan siapa diri kita. Pada titik ini, kita jadi kehilangan fokus dan kejernihan untuk menelaah apa yang benar dan apa yang salah.

Lantas, di mana salahnya Jonru?



Misteri Baju Biru Sandiaga Uno




Setiap ada momen pemilu, maka selalu saja ada hal baru. Tahun 2004, Indonesia pertama kalinya mengenai quick count untuk memprediksi hasil pemilu. Tahun 2009, semua politisi mengandalkan semua survei dan alur metodologis. 

Tahun 2014, survei menjadi ketentuan wajib bagi semua partai, kandidat presiden, dan calon kepala daerah. Bagaimana tahun 2019?

Kita bisa menjawab pertanyaan ini dengan menelaah mengapa Sandiaga Uno selalu memakai baju biru ke mana pun saat kampanye. Apakah yang hendak disampaikan Sandiaga? Bagaimana mengaitkan baju biru Sandiaga dengan perubahan mindset para politisi kita?

***

IBARAT mesin disel, Sandiaga Uno terus bergerak. Dia terus mengunjungi banyak lokasi, menyapa banyak orang di pasar-pasar, hingga berdialog dengan ibu-ibu dan anak muda. Ketika diumumkan sebagai calon wakil presiden, dia langsung tancap gas.

Pengumuman sebagai cawapres itu menjadi babak baru bagi mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini. Dia mulai mengenakan baju biru dalam semua aktivitas. Banyak yang berspekulasi kalau baju biru Sandiaga adalah simbol dari PAN, partai yang akan dimasukinya setelah keluar dari Gerindra.

Ada juga yang berspekulasi kalau warna biru itu adalah pernyataan Sandiaga bahwa dirinya bukan lagi untuk DKI Jakarta, melainkan sesuatu yang lebih besar. Sandiaga sendiri mengaku baju biru yang dikenakannya adalah usulan dari Didit Hediprasetyo, putra tunggal Prabowo Subianto.

Sebagai desainer kelas dunia, Didit merasa Sandiaga akan lebih tepat mengenakan baju berwarna biru. "Mas Didit bilang, 'Mas pakai biru sejuk lho, teduh. Dan blue collar worker itu kan biru.' Terus katanya kalau dipadukan celana cokelat jadi bagus," katanya pada detik.com.

Sandiaga mengaitkan warna biru sebagai blue collar worker atau simbol kelas pekerja di luar negeri. Blue collar worker sering diperhadapkan dengan white collar worker atau pekerja kerah putih yakni mereka yang bekerja di kantoran. Sandiaga ingin menonjolkan tekadnya yang siap bekerja keras untuk Indonesia yang lebih baik.

Yang menarik adalah pengakuan Ferry Juliantono, salah seorang tim kampanye Prabowo-Sandi. Sebagaimana dimuat Tempo,Ferry menuturkan baju biru Sandiaga itu tidak sembarang dipilih. Tim kampanye melakukan riset berdasarkan analisis data pengguna media sosial di Indonesia.

Dari aktivitas di media sosial, tim kampanye jadi tahu kecenderungan dan karakter pemilih. Salah satu analisis menyebutkan sebagian besar generasi milenial menyukai gaya berpakaian yang kasual dan sepatu kets. Sebelumnya, Sandiaga suka mengenakan kemeja dan batik. Perlahan baju yang dikenakan Sandiaga pun diubah.

Riset juga menyebutkan warna biru adalah warna yang paling disukai semua kalangan, tidak hanya milenial. Biru dianggap sebagai warna yang menyejukkan. Inilah alasan mengapa Sandiaga selalu memakai baju biru ke manapun bergerak. Potensi suara generasi milenial memang tengah diperebutkan.

Berdasarkan data KPU, pemilih berusia di bawah 35 tahun mencapai 100 juta atau lebih dari separuh jumlah pemilih, yang mencapai 187 juta. Riset media sosial juga menunjukkan olahraga yang disukai generasi milenial adalah lari dan basket.

Kebetulan, Sandiaga menggeluti dia cabang olahraga ini sejak lama. Makanya, tak sulit untuk mengubah dirinya. Hal lain yang juga ditemukan adalah pemilih tidak menyukai kandidat yang suka menyerang lawan.

Makanya Sandiaga selalu diposisikan berada di tengah dari dua kubu yang berhadapan, meskipun posisi Sandiaga tetap saja akan dilihat satu paket dengan Prabowo.

***

Fenomena Sandiaga menunjukkan bagaimana politisi dan pelaku politik “jaman now” menyiapkan semua kandidatnya. Sandiaga memakai baju biru berdasarkan rekomendasi dari analisis tentang warna yang disukai netizen di berbagai media sosial.

Datanya diambil dari himpunan percakapan, postingan, serta survei online di berbagai media. Inilah yang baru dalam Pemilu 2019 mendatang. Jika pemilu-pemilu sebelumnya identik dengan survei dan tracking popularitas melalui metode tatap muka dan penyebaran kuesioner, kini semua orang berpaling ke algoritma media sosial.

Semua tim dan kandidat berupaya untuk menjangkau semua audiens melalui media sosial, tapi juga karena menggunakan algoritma media demi menemukan apa yang diinginkan publik, serta apa yang harus diakukan untuk memenuhi harapan publik.

Pemilu ini adalah palagan pertempuran para ahli IT, ahli komunikasi, dan ahli marketing, yang saling bersinergi demi merumuskan konsep untuk mengemas seorang kandidat, serta bagaimana menyebarkan seluas mungkin melalui berbagai platform digital.

Bukan hanya tim Prabowo-Sandi, tim sukses Jokowi-Ma’ruf juga bekerja berdasarkan tuntutan algoritma media. Tim sukses Jokowi-Ma’ruf memaksimalkan kerja-kerja para ahli IT, komunikasi, dan marketing berusaha memahami data-data yang ditambang dari Google, Facebook, Twitter, dan Instagram, lalu menganalisis berbagai isu, setelah itu merumuskan counter isu.

Tahun 2014 lalu, dua kandidat presiden sudah mulai menggunakan instrumen media sosial dalam hal menyebarkan informasi seluas-luasnya. Tapi tahun ini, intensitasnya semakin tinggi sebab semua kandidat sudah belajar pada kelemahan dan kekuatan pada gaya bermain pada periode lalu.

Kali ini semua jauh lebih siap. Jagad digital tak cuma menjadi arena bertempur, tapi juga untuk menambang data, memahami berbagai cuitan dan postingan demi menemukan formulasi yang tepat, setelah itu menggempur media dengan berbagai variasi serangan yang langsung menyasar pikiran publik yang berselancar di media sosial.

Yang baru dari pemilu kali ini, semua tim tidak lagi hanya mengandalkan data lapangan yang didapatkan melalui survei, tetapi juga mengandalkan big data yang setiap hari diraup semua mesin pencari Google dan Facebook, kemudian menemukan berbagai rekomendasi yang dipakai untuk aksi.

Thomas L Friedman dalam buku Thank You for Being Late sempat membahas bagaimana big data dalam politik. Dia bercerita pengalamannya pada tahun 2016 saat bertemu Yani Medya, yang mengelola jasa konsultan komunikasi bernama New Media Inc.

Perusahaan ini mengerjakan analisis big data untuk pemerintah Turki dan beberapa perusahaan besar. Perusahaan ini melacak semua media dan memberikan laporan kepada klien-nya mengenai berita apa yang muncul di benak konsumen media di mana pun.

Setahu saya, di Indonesia, ada banyak lembaga asing yang datang menawarkan jasa serupa. Katadata melaporkan banyaknya lembaga asing spesialis big data telah mengajukan diri untuk menjadi klien dari partai politik.

Di antaranya adalah Kinetica Inc, yang selama ini telah bekerja dengan Lippo Grup untuk mengembangkan aplikasi OVO. Kinetica mengklaim memiliki software yang bisa mempelajari perilaku pemilih di jagad maya sehingga kampanye digital bisa lebih terarah.

Kinetica mengklaim bisa mengumpulkan data calon pemilih sepeti demografi, perilaku, sikap terhadap partai politik, serta sentimen yang disalurkan melalui media sosial. Kinetica jelas menggunakan analisis terhadap big data, yang merupakan himpunan data (data set) dalam jumlah yang sangat besar, rumit, dan tak terstruktur, namun bertebaran di internet.

David W Nikerson dan Tod Rogers dalam artikelnya yang berjudul Political Campaign and Big Data di Journal of Economic Perspective (2014) telah menjelaskan arti penting big data dalam kampanye politik.

Big data dalam kampanye politik bisa digunakan sebagai data base dalam penyusunan target rencana kampanye dan sasarannya. Dengan big data, para politisi mampu memetakan demografi, sejarah kontribusi pemilih dalam politik, pandangan politik pemilih hingga urusan remeh, seperti konsumsi media, aktivitas di media sosial, hingga status kepemilikan rumah, mobil, atau kapal.

Dalam konteks pemilu, big data penting dan telah dipraktikkan oleh Donald Trump yang membuatnya menang dalam pemilu di Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu. Dalam pemilu AS 2016, big data telah dimanfaatkan Donald Trump dengan menggandeng Cambridge Analytica untuk menganalisis data penduduk.

Dengan big data, para politisi dapat mendulang berbagai informasi sekecil-kecilnya dari para pemilih.

***

PERTANYAANNYA, apakah analisis big data ini bisa diterapkan untuk konteks Indonesia? Apakah strategi ini tepat diterapkan di masyarakat Indonesia? Saya sendiri tak begitu yakin. Saya melihatnya dalam beberapa argumentasi.

Pertama, dunia media sosial di Indonesia terlampau banyak dikepung akun robot yang setiap saat menyampaikan opini yang tengah diatur sebelumnya. Akun-akun ini membuat dunia politik seakan bising, padahal faktanya dalam kehidupan nyata belum tentu demikian.



Kedua, dunia digital tetap membutuhkan asupan data dari kerja-kerja lapangan. Sebab semua aktivitas, tindakan, sikap, dan kunjungan adalah bahan mentah yang akan memperkaya semua skema tempur di dunia digital.

Dengan demikian, tetap penting untuk melakukan pengayaan data serta melakukan kerja-kerja lapangan yang terarah. Artinya, strategi online dan offline tetap penting untuk disinergikan.

Maka, pendekatan tradisional seperti turun lapangan, temu konstituen, serta kerja-kerja ril lebih bernilai ketimbang sekadar melempar wacana di media sosial. Pubik lebih percaya pada apa yang dia lihat, ketimbang apa yang dia dengar.

Ketiga, setelah big data dipahami, tahapan penting berikutnya adalah bagaimana merancang satu strategi kampanye yang efektif.

Di sini, konten kampanye adalah hal substansial yang paling penting. Jantung dari semua kegiatan kampanye kandidat adalah bagaimana meramu dan merancang konten yang tepat agar menancap di benak publik. Tanpa konten kuat, maka penyebaran informasi akan pincang.

Tanpa konten kuat, maka kerja-kerja kampanye hanya mengandalkan konten hoaks dan permainan isu yang bisa kontra-produktif dan menurunkan suara.

Setahun jelang pemilu, kita bisa melihat betapa banyaknya hoaks berseliweran yang menimbulkan ketakutan di masyarakat. Ini yang sedang dikerjakan oleh tim Sandiaga. Bagaimana meramu dan menemukan konten yang pas sehingga aura positif dan harapan sebagai pemimpin negeri akan lebih bergema.

Demi Indonesia yang lebih baik, kerja-kerja politik harus rapi dan terorganisir.



Selamat buat Lala Suhaila




SEBUAH paket buku terkirim ke rumah saya. Isinya adalah novel berjudul Selendang Sutra Bidadari, yang ditulis Lala Suhaila. Pengirim paket adalah Lala Suhaila sendiri. Saya dan dirinya belum pernah bersua secara fisik. Tapi di dunia Facebook, kami saling mengomentari.

Di mata saya, Lala adalah penulis novel yang sangat produktif. Sebagai seseorang yang juga suka menulis, saya tahu persis bahwa tidak mudah menulis novel setebal ini. Butuh konsistensi, ketekunan, dan mental tahan banting ketika mulai menulis. Butuh keberanian untuk mengisi lembar kosong dengan barisan aksara yang berkisah.

Saya ingat novelis Dewi Lestari. Dalam satu diskusi dengannya, dia bercerita bagaimana kerja kerasnya dalam menulis, yang disebutnya sebagai “upaya untuk melawan lembar kosong.” Demi menulis novel Perahu Kertas, dia sengaja mengontrak kamar di kos-kosan mahasiswa “jaman now” demi memahami apa yang dipikirkan dan diperbincangkan para mahasiswa itu. 

Masih kata Dewi, saat dirinya tiba-tiba merasa stuck alias tidak tahu hendak menulis apa lagi, saat itulah dia akan ke kamar mandi. Saat air mengguyur kepalanya, ide-ide bermunculan sehingga dirinya mendapat semangat lagi untuk menulis. Dewi bercerita, ketika dirinya menulis, maka dia akan sangat sering mandi, demi men-stimulasi ide-idenya.

Bagi saya, kisah tentang proses kreatif seorang penulis sering kali lebih penting dari karyanya. Saya ingat Elizabeth Gilbert yang pernah bilang bahwa seorang penulis hanya sekadar mencatat sesuatu yang singgah di kepalanya. 

Makanya, para penulis atau pekerja seni abad pertengahan selalu percaya bahwa ada kekuatan lain yang bekerja bersama mereka sehingga membantu mereka melahirkan banyak karya-karya besar.

Kata Elizabeth Gilbert, saat menulis, seseorang tidak menjadi dirinya sendiri. Dia separuh kesurupan sebab ada sesuatu yang merasuki dirinya, dan mengarahkan jemarinya untuk bekerja. 

Di abad pertengahan, kekuatan itu disebut “Genius”, yakni makhluk seperti peri rumah Dobby dalam kisah Harry Potter yang sesekali merasuk dalam diri penulis dan membantunya menyelesaikan karya tertentu.



Nah, saat melihat karya Lala Suhaila, saya memikirkan bagaimana proses yang dia jalani ketika menulis. Seperti apa dia menyisihkan waktu demi merawat bayi novelnya? Apakah kata-kata orang di sekitarnya saat dirinya sedang konsentrasi menulis dan sejenak mengabaikan dunia sosial? Apa kiat yang bisa dibagikannya saat orang lain seperti saya hendak mengikuti jejaknya bisa melahirkan novel setebal ini?

Lala Suhaila akan mengundang saya sebagai salah satu pembicara yang membahas bukunya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Saya belum dapat konfirmasi tentang waktunya. Biasanya, dalam momen seperti ini, saya tidak suka jadi pembicara. Saya lebih suka menyimak, menyerap, dan belajar darinya. 

Saya berharap bisa menyerap ilmu menulisnya demi menyelesaikan beberapa ide-ide mengenai novel cinta di kepala saya. Ide lain yang muncul adalah pengalaman saya sebagai anak band, pemain piano, pengajar les biola, dan juga pelatih kucing. Ide-ide ini harusnya dituangkan jadi novel yang menarik.

Semoga bisa bersua dengan Lala di momen itu. Jangan lupa untuk selfie yaa.



Luna Maya, Suzanna, dan Narasi Profesor Amerika


Luna Maya

Indonesia tengah dilanda demam film horor. Di satu bioskop di ibukota, saya menyaksikan begitu banyak siswa sekolah menengah yang tengah antre untuk menonton film Suzanna Bernapas dalam Kubur yang dibintangi Luna Maya.

Beberapa media mencatat rekor film ini yang ketika hari pertama ditayangkan, telah memecahkan rekor jumlah penonton film horor terbanyak yakni sebanyak 201.000 orang.

Di dunia maya, perbincangan tentang film ini juga langsung menghangat serta menenggelamkan film lainnya, termasuk film Hanum dan Rangga yang heboh itu.

Melihat kehebohan ini, saya menduga, film ini bisa menjadi salah satu film terlaris tahun ini. Apalagi, Indonesia tengah demam film horor. Statistik menunjukkan, penonton dari beberapa film horor yang diproduksi tahun ini telah berhasil menembus satu juta penonton. Hebat khan?

Film Suzanna Bernapas dalam Kubur menjadi film nostalgia bagi penggemar Suzanna, yang pernah dinobatkan sebagai Ratu Film Horor Indonesia. Pada dekade 1980-an hingga 1990-an, Suzanna menjadi artis film horor paling populer.

Film-filmnya selalu laris dan ditunggu oleh para penggemarnya. Kini, Suzanna hadir kembali dalam fisik Luna Maya. Menurut satu media, film ini akan menghadirkan suasana horor Indonesia zaman dulu. Film akan dimulai dengan cerita Suzanna (diperankan Luna Maya) dan Satria (diperankan Herjunot Ali) yang pindah ke pedesaan yang suasananya mirip Puncak, Bogor.

Mereka hidup bahagia. Suatu hari, Satria berangkat ke luar negeri. Momen ini lalu dimanfaatkan empat anak buah Satria untuk merampok rumah itu, kemudian membunuh Suzanna yang ternyata sedang hamil tua. Suzanna dikubur begitu saja setelah dibunuh dengan sadis.

Ternyata arwah Suzanna datang dan menghantui kehidupan empat pembunuh itu. Arwah itu berniat untuk membalas dendam. Dengan wajah datar dan tampilan yang mencekam, ia mulai hadir di kehidupan para pembunuhnya. Dalam suasana tegang karena kehadiran arwah penasaran, kisah film ini bergerak.

Saya tertarik melihat kehebohan di bioskop ketika film ini ditayangkan. Jika film adalah gambaran dari apa yang tengah dipikirkan dan dirasakan masyarakatnya, tentunya menimbulkan pertanyaan, apakah masyarakat kita memang suka dengan hal-hal klenik dan mistik?

Tapi setidaknya kita patut berterimakasih pada film-film horor itu. Bagaimanapun juga, film horor selalu mengangkat aspek-aspek dalam budaya kita, di antaranya adalah kepercayaan pada hantu-hantu di masyarakat.

Berkat film horor, anak-anak dan generasi “jaman now” punya gambaran tentang hantu-hantu seperti Kuntilanak, Sundel Bolong, hingga Pocong .

***

SAYA juga tertarik dengan pernyataan produser film Suzanna ini yang mengatakan hendak membangkitkan genre film horor Indonesia tempo dulu. Penampilan Luna Maya sebagai Suzanna adalah semacam nostalgia bagi penggemar Suzanna dan genre horor tempo dulu.

Beberapa waktu lalu, kritikus Veronica Kusumaryati mencoba membandingkan film horor Indonesia pada periode sebelum reformasi (masa Orde Baru), dengan masa sesudahnya. Menurutnya, film horor mengalami pergeseran, baik dari sisi pelaku, lokasi, dan penyelesaian.

Dia melihat, setting film horor periode lalu, khususnya 1970-an hingga akhir 1990-an selalu pedesaan, dengan para pemain yang juga berperan sebagai orang desa. Sumber cerita selalu berasal dari legenda. Hantu-hantu yang muncul berasal dari cerita rakyat, mulai dari Sundel Bolong, Kuntil Anak, Wewe Gombel, hingga Nyi Blorong.

Motivasi dalam film periode ini adalah balas dendam. Penyelesaian selalu dilakukan oleh kiai atau ulama setempat. Biasanya, ada adegan pertarungan kiai melawan setan yang berakhir dengan terbakarnya setan ketika diucapkan kalimat berupa doa atau penggalan ayat dalam kitab suci. Nah, para periode reformasi, film horor mengalami pergeseran.

Setting-nya selalu perkotaan, yang bisa mengambil tempat di rumah mewah, jembatan, tempat wisata, kereta api, rumah sakit, hingga sekolah. Pemeran dalam film selalu remaja perkotaan, yang di antara mereka ada yang tidak percaya legenda.

Setannya adalah gabungan dari legenda semisal genderuwo, Kuntil Anak, sundel bolong, juga beberapa setan baru, misalnya Suster Ngesot, psikopat, dan penjaga kereta api. Motivasi dalam film adalah misteri di masa lalu.  Penyelesaian film sering kali open ending atau terbuka. Ini berbeda dengan penyelesaian pada film jaman dulu yang didominasi tokoh agama.

Jika film Suzanna Bernapas dalam Kubur hendak mengembalikan spirit film horor masa lalu, maka tentunya film ini akan mengambil posisi pada kategori film lama, sebagaimana diulas di atas. Hantunya adalah Sundel Bolong.

Setting-nya adalah pedesaan, dengan para aktor yang berperan sebagai orang desa. Motifnya adalah balas dendam dan arwah penasaran. Dari sisi cerita, bisa dibilang film ini sederhana. Akan tetapi, inilah rumus yang dipakai produser untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya.

Yang ditekankan dalam film horor jaman dulu adalah cerita sederhana yang efeknya membuat orang ketakutan sehingga berteriak di dalam bioskop.

Kritikus film dari Amerika Serikat, Charles Derry (2007), yang pernah memeta-metakan film horor ke dalam beberapa genre. Menurutnya, film horor bisa diklasifikasikan dalam tiga genre: (1) horor psikologis, (2) horor bencana, (3) horor hantu.

Mengacu pada Derry, kebanyakan film kita masih berkutat pada film hantu. Ini adalah genre yang paling populer sejak awal kemunculan film horor di Indonesia. Bahkan Suzanna pun laris mendapatkan peran beberapa hantu legendaris yang disukai banyak orang.

Di sini prinsip dagang berlaku. Semakin banyak orang ketakutan, semakin banyak orang ke bioskop. Maka semakin bertambahlah pundi-pundi yang diraup oleh para pembuat film ini.

***

SUZANNA memang ikon film horor. Artis kelahiran Bogor yang nama lengkapnya Suzzanna Martha Fredericka van Osch ini tadinya adalah artis untuk film-film serius. Malah ia beberapa kali mendapatkan penghargaan di dunia seni peran.

Bintangnya makin terang saat dia mulai bermain dalam film mistik. Di antaranya adalah Bernapas dalam Lumpur, Bumi Makin Panas, Pulau Cinta, dan Ratu Ilmu Hitam. Dia kemudian jadi ikon film horor paling populer. Kisah hidupnya juga penuh dengan cerita mistis, di antaranya sering ke kuburan dan memakan kembang melati.

Saya yakin tidak semua generasi “jaman now” yang paham bahwa pada zaman Orde Baru, Suzanna tak sekadar seram. Dia juga figur yang keseksiannya sering dieksploitasi dalam beberapa film, khususnya adegan perkosaan hingga tewas dan menjadi arwah penasaran.

Beberapa akademisi dan peneliti pernah membahas Suzanna. Taun 1991, terbit buku berjudul Indonesia Cinema: National Culture on Screen yang ditulis Profesor Karl Heider. Profesor berkebangsaan Amerika Serikat (AS) ini menyatakan, film horor Indonesia pada masa Orde Baru tidak bisa dilepaskan dari tiga hal, yaitu komedi, seks, dan religi.

Ini menjadi semacam formula atau rumus yang membuat film-film horor Indonesia digemari penontonnya. Jika melihat film horor yang baru, maka rumus ini masih bisa ditemukan. Tema horor religi di film menjadi berkurang belakangan ini.



Tapi di layar televisi tema-tema religi dan horor sering ditemukan, misalnya dalam banyak sinetron azab. Biasanya film-film tersebut untuk menegaskan pada penonton bahwa manusia yang menentang Tuhan akan bernasib buruk dan mendapatkan siksa, baik saat mereka masih hidup maupun saat mereka sudah mati, misalnya kisah “mayat berbelatung” dan “tangisan arwah”.

Pola yang sering muncul adalah hadirnya tokoh agama yakni kiai atau ustad yang datang merapal doa bersama tasbih di tangan. Sosok kiai seperti ini masih bisa dijumpai dalam beberapa film horor Indonesia di awal tahun 2000, yaitu Kafir dan Peti Mati.

Tapi dalam beberapa film horor yang baru, nuansa religi ini mulai jarang kelihatan. Tema-tema komedi dan seks ternyata masih menjadi andalan film horor Indonesia saat ini.

Masih kata Karl G Heider, Suzanna mewakili gambaran tentang sosok perempuan yang tidak cuma seram, tapi juga menjadi obyek seksual dan simbol kekalahan pada paki-laki. Dalam banyak filmnya, Suzanna ditampilkan sebagai figur tertindas, yang tewas secara mengenaskan.

Jika dilakukan analisis atas film-filmnya, maka figurnya selalu hadir untuk ditindas, kemudian bangkit, setelah itu dikalahkan lagi. Suzanna hadir dalam film demi menunjukkan betapa kejamnya laki-laki, namun begitu berkuasa sehingga tetap menjadi pemenang.

Ini mengingatkan pada tuturan Laura Mulvey (1975), film selalu bersifat ideologis karena merupakan cerminan struktur tidak sadar dan ideologi dominan pembuat dan penontonnya.

Kisah-kisah dalam film Suzanna selalu diawali ketertiban dan kedamaian, suasana desa yang tenang, agamis, dan Pancasilais. Kemudian, muncul sejumlah karakter jahat, antagonis, yang iri sehingga mulai merusak kedamaian desa.

Karakter jahat ini menggunakan ilmu santet atau ilmu hitam, juga menggunakan cara sadis yakni perkosaan dan pembunuhan. Suzanna sebagai perempuan baik dilenyapkan oleh para antagonis yakni laki-laki.

Selanjutnya, Suzanna menjadi hantu dan arwah penasaran yang juga melakukan hal-hal jahat kepada manusia biasa. Di akhir film, hantu dan perempuan jahat itu akhirnya kembali dikalahkan oleh sosok laki-laki dalam wujud ustad, kiai, atau pemuka agama.

Di sini, kita bisa melihat laki-laki sebagai sosok yang mengembalikan tatanan sosial menjadi tenang dan damai, sekaligus menegaskan kembali patriarki, yakni dunia yang dikuasai laki-laki.

Saya belum tahu seperti apa jalan cerita di film terbaru Suzanna yang diperankan Luna Maya ini. Jika ceritanya masih sama dengan dulu, maka kita bisa katakan bahwa tema-tema lama dalam film Indonesia kembali hadir, yang bisa dilihat sebagai petanda kalau masyarakat kita masih belum bergeser dari tema-tema dahulu.

Nonton yuk, tapi serem lho...

Kritik SBY yang Menohok Prabowo




Setelah lama berdiam diri, akhirnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mulai menyengat. Dia mulai berani mengkritik koalisi yang mengajukan nama Prabowo Subianto dan Sandiaga sebagai pasangan capres dan cawapres. Melalui Twitter, SBY berkicau tentang banyak hal.

Mulai dari pernyataan tidak ingin menanggapi pernyataan Wasekjen Gerindra yang dianggap nadanya tidak baik dan terus digoreng, hingga cerita bahwa dirinya pernah jadi capres dan tidak pernah menyalahkan partai pengusung.

Namun pernyataan yang paling menohok adalah pernyataan bahwa capres adalah superstar yang harus tampil ke permukaan. SBY berbicara tentang belum jelasnya visi misi dari Prabowo Subianto.

SBY mengatakan: "Saat ini rakyat ingin dengar dari Capres apa solusi, kebijakan & program yang akan dijalankan untuk Indonesia 5 tahun ke depan.” Dia juga melanjutkan cuitan di Twitter: “Kalau "jabaran visi-misi" itu tak muncul, bukan hanya rakyat yang bingung, para pendukung pun juga demikian. Sebaiknya semua introspeksi.”

SBY memang harus selalu tampil. Sebagai ketua umum partai, dia harus tampil ke publik demi menjaga ingatan positif orang-orang tentang dirinya. Dengan cara itu, dia bisa menjaga elektabilitas partainya sehingga punya kans untuk mengajukan putranya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ke jenjang politik yang lebih tinggi.

Menarik untuk disimak pernyataan SBY di tahun politik. Pada tahun 2016 lalu, terbit buku The Loner yang ditulis John McBeth. Dalam buku itu, Mcbeth menyebu SBY sebagai seorang yang peragu sebab SBY akan selalu menimbang dengan matang semua keputusan yang diambilnya.

Beberapa pengamat menyebutkan, SBY tidak seberapa lihai jika bukan dirinya yang hendak dimajukan. Buktinya, pasca dirinya menjabat presiden selama dua periode, banyak skenario politiknya yang tidak berjalan. Dia gagal mendorong anaknya ke kursi Gubernur DKI. Setelah itu gagal mencalonkannya sebagai calon presiden ataupun calon wakil presiden.

Realitas politik tidak selalu memihak langkah-langkah SBY. Kini, dirinya fokus untuk memenangkan perahu partainya sehingga tetap bertahan di parlemen. Di sisi lain, dirinya juga tengah menyiapkan putranya AHY agar bisa memasuki kompetisi elektoral pilpres berikutnya.

Dia juga dituntut untuk tetap memenangkan capres koalisinya yakni Prabowo Subianto. Ketika SBY mengkritik Prabowo, maka akan menjadi perbincangan publik.

Pernyataan SBY ini terasa menohok sebab merupakan pernyataan terbuka kalau selama ini visi dan misi Prabowo tidak diketahui rakyat, juga tidak diketahui partai pendukung. SBY seakan mengaminkan kritikan banyak orang kalau kubu oposisi hanya menyoroti hal-hal yang tidak substansial.

Padahal, sejak ditetapkan sebagai calon presiden, Prabowo sudah mendatangi banyak lokasi demi mengemukakan visi ke mana Indonesia yang hendak dituju. Namun, bagi sebagian orang, pernyataan Prabowo banyak yang hanya berisi kritikan, tanpa menjelaskan apa yang ingin dilakukannya ketika terpilih.

Kritikan SBY harus dilihat dari beberapa sisi.

Pertama, selama ini partai koalisi di kubu oposisi belum punya satu pendapat yang sama tentang apa yang akan dilakukan jika berhasil memenangkan kompetisi. Kubu oposisi sibuk pembedaan dengan cara kritik, tapi abai pada konten tentang apa yang harus dilakukan.

Ketika konten sudah dirumuskan, semua pihak mesti punya bahasa yang sama untuk menyebarkan konten itu. Tujuannya adalah agar publik punya pilihan sehingga terjadi diferensiasi atau pembedaan dengan petahana.

Kedua, SBY membuka fakta betapa anggota koalisi itu tidak kompak sebab masing-masing jalan dengan agendanya masing-masing. SBY membuka satu lapis kenyataan bahwa yang dipikirkan semua partai politik bukanlah bagaimana memenangkan presiden, melainkan bagaimana bisa lolos dan masuk parlemen.

Pernyataan SBY ini bukan hal baru. Beberapa lembaga survei melansir temuan kalau publik lebih suka membahas pilpres ketimbang pileg. Makanya, partai-partai yang diuntungkan adalah partai yang punya calon presiden, dalam hal ini Gerindra dan PDIP. Dua partai ini akan mendapatkan efek ekor jas sehingga suaranya diperkirakan akan meningkat.

Namun sebagai ketua partai, SBY justru punya kepentingan agar partainya tidak karam. Apa artinya Prabowo terpilih sebagai presiden, tapi partai-partai malah terpental. Opsi terbaik bagi Partai Demokrat adalah suara partai signifikan, sehingga tetap berada di parlemen, dan nantinya punya bekal yang memadai untuk mendorong AHY berlaga di kontestasi pilpres selanjutnya.

Ketiga, kritikan SBY harus dilihat sebagai alarm bagi perlunya menjalin komunikasi yang intens demi memenangkan Prabowo. Dia berharap agar berbagai strategi dirumuskan ulang sehingga potensi kemenangan lebih terbuka.

Kritik dirasa perlu untuk menyolidkan semua gerakan dari partai koalisi demi kemenangan bagi semua pihak. Mungkin saja SBY ingin menggeser perbincangan publik. Tidak cuma membahas pilpres, tapi juga membahas bagaimana memenangkan semua partai politik di koalisinya sehingga lolos parliamentary threshold. Apa artinya menang pilpres, tapi partainya malah terpental ke luar arena.

Keempat, SBY tidak yakin kalau Prabowo akan memenangkan kompetisi elektoral. Sebagai ketua umum partai politik yang dua kali memenangkan pilpres, insting SBY cukup kuat untuk menafsir apa yang terjadi.

Partai Demokrat yang dikelola secara modern, pasti punya tim litbang yang sudah memberikan amatan tentang sejauh mana potensi kemenangan. Ketika potensi kemenangan itu dirasakan kecil, maka sejak dini, SBY dan partainya harus menyatakan sikap demi tetap menjaga basis pemilih.

Dia mesti menjaga keseimbangan perahu, tapi tetap harus cantik di hadapan mitra koalisi dan lawan politiknya. Ibarat pemain catur, SBY cukup lihai memainkan bidak. Dia bisa memosisikan sejumlah anggotanya untuk berada di dua sisi.

Sosok seperti Ferdinand Hutahaean didorong untuk menjadi loyalis Prabowo sekaligus menjadi pengkritik pemerintah. Sementara sosok seperti Andi Arief diposisikan sebagai pengkritik Prabowo. Keduanya menjalankan peran berbeda di dalam partainya.

Di sisi lain, sejak beberapa tahun lalu, dia juga sudah menyimpan banyak bidak di kubu sebelah. Beberapa kadernya, mulai dari Ruhut Sitompul hingga Hayono Isman sudah pindah ke kubu sebelah. Terbaru adalah Tuan Guru Bajang. Mereka yang pindah ini bertugas untuk menyambut dan menyiapkan infrastruktur jika Demokrat benar-benar pindah ke kubu sebelah.

Kelima, SBY kemungkinan tidak ingin Prabowo menang pilpres. Sebab kemenangan Prabowo akan membuat jalan politik semakin terjal bagi AHY untuk memasuki kompetisi pilpres berikutnya. 

Kemenangan Prabowo mungkin akan membuka jalan bagi AHY untuk menjadi menteri, tetapi dalam pilpres berikutnya, itu tidak banyak membawa manfaat bagi kepentingan Partai Demokrat.

Mari kita hitung kalkulasi politiknya. Jika Prabowo-Sandi menang pilpres, maka periode berikutnya, pasangan ini masih akan mencalonkan diri. Sepuluh tahun berikutnya, Sandi akan maju sebagai calon presiden.

Jika menang, maka dia akan menjabat dua periode. Pertanyaannya, kapan AHY bisa menjadi capres? Lain halnya jika Jokowi-Ma’ruf yang menang. Lima tahun berikutnya, arena kontestasi akan terbuka lebar.

Tidak ada lagi kubu petahana yang bisa menggerakkan infrastruktur politik. Kompetisi akan lebih seru sebab masing-masing partai akan punya kans yang sama ketika mengajukan jagoannya.

Keenam, publik akhirnya belajar bahwa partai politik lebih memikirkan cara untuk eksis ketimbang memperjuangkan satu keyakinan atau ideologi tertentu. Orang-orang partai tidak bicara visi jangka panjang, serta pertarungan antar ideologi.

Orang partai hanya bicara bagaimana bisa tetap eksis, mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, serta tetap menari di tengah berbagai hempasan ombak dan gelombang. Lantas, asumsi mana yang paling tepat untuk mendekati realitas?

Jawabannya akan ditemukan dalam empat bulan mendatang, saat pilpres usai digelar. Ibarat semesta, semua partai politik akan selalu mencari keseimbangan baru. Saat musim hujan, mereka akan menyiapkan banyak payung.

Saat musim salju, mereka akan menyiapkan papan seluncur untuk berselancar.


Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...

Google+ Badge