Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Retorika Penjual Obat di Masjid Belopa


beberapa peraga yang digunakan penjual obat

GERIMIS baru saja turun seusai salat Jumat di Masjid Belopa, Luwu, Sulawesi Selatan. Saat keluar dari masjid, saya menyaksikan banyak jamaah berkerumun di dekat tempat wudhu. Saya pun singgah melihat-lihat apa yang membuat orang berkerumun. Ternyata, di situ ada para penjual obat sedang beratraksi. Mereka mengeluarkan retorika dengan teknik memukau. Mereka berkisah tentang perjalanan mereka ke belantara, pengetahuannya tentang berbagai jenis penyakit, hingga khasiat obatnya yang bisa mengatasi berbagai penyakit.

Buat mereka yang suka piknik ke desa-desa dan kota kecil Indonesia, penjual obat adalah mereka yang bisa ditemukan di pasar-pasar. Seringkali mereka berlagak serupa pemain sirkus yang sedang memamerkan permainan sulap atau akrobat. Mereka menampilkan atraksi sebelum menggelar dagangan. Berkat atraksi itu massa lalu menyemut dan mengelilinginya.

Penjual obat pertama yang saya saksikan memakai pakaian khas papua. Ia tak berbaju, melainkan rok berupa alang-alang. Kalungnya berupa gigi-gigi hewan yang panjang. Ia memakai hiasan kepala ala Papua. Saya menyaksikan koteka yang tersampir di pinggangnya. Saya bisa melihat beberapa tato unik di bahunya. Di hadapannya, ia meletakkan berbagai kliping berita tentang khasiat obat dari tanah Papua. Beberapa benda aneh juga dipamerkannya.

Beliau tidak memakai pelantang suara sebab suaranya menggelegar dan terdengar hingga jauh. Ia berretorika dalam banyak bahasa. Ia menggunakan bahasa Luwu, bahasa utama yang digunakan di Belopa, lalu bahasa Bugis, hingga bahasa Indonesia. Biarpun demikian, sebagai pendatang di situ, saya bisa memahami jelas apa yang dimaksudkannya.

Bapak ini menjual cairan lintah, yang diklaimnya bisa mengatasi impotensi dan meningkatkan vitalitas laki-laki. Dengan retorika selangit, serta menampilkan atraksi ala ngebor, ia menyebut bahwa khasiat obatnya akan bisa membuat seseorang lengkap sebagai Don Juan, Cassanova, dan playboy yang akan membahagiakan semua perempuan di ranjang. Khasiat obatnya bukan dirasakan laki-laki, sebagai consumer, melainkan dirasakan perempuan sebagai pihak yang merasakan manfaat.

“Kalau kamu pakai obat ini, saya jamin punyamu akan berdiri keras dan kuat. Kalau tidak percaya, minum obat ini, setelah itu tunggu setengah jam. Punyamu akan berdiri keras, trus gantungkan dua butir kelapa di situ. Saya jamin punyamu tidak akan jatuh,” katanya. Saya tersenyum-senyum saat membayangkan apa yang dikatakannya. Mana ada sih orang yang saat itunya lagi “bangun” tiba-tiba mau saja menggantungkan dua butir kelapa.

penjual obat berkostum ala Papua

Penjual obat ini menyebut berbagai bonus yang bisa diberikannya bagi pembeli obatnya. Rupanya di sini berlaku pula promosi “You buy one, you get two” sebagaimana lazim kita mendapatkannya di supermarket. Bonus yang diberikannya adalah benda yang juga punyakhasiat meningkatkan kelelakian. Ia menyebut “kayu ular”, semacam kulit kayu asal papua yang digigit-gigit saat laki-laki melakukan hubungan seksual. Kayu ini akan meningkatkan vitalitas. Bonus lain adalah buluh perindu, juga merupakan obat pusaka asal Kalimantan yang meningkatkan stamina. Lainnya adalah belut yang sudah dikeringkan. Khasiatnya juga sama.

Seusai menyaksikan bapak yang berbaju tradisional Papua itu, saya pindah ke penjual lainnya. Masih dengan retorika yang sama, penjual ini punya positioning berbeda. Ia menampilkan dirinya sebagai seorang ustad yang fasih mengutip hadis-hadis dan ayat-ayat kitab suci. Ia menyebut banyak hadis tentang kesehatan. Setelah itu, pelan-pelan ia mengaitkan hidup sehat ala Rasulullah itu dengan obat yang dibawanya. Obat yang dibawanya adalah jenis herbal yang diyakini bisa menembuhkan begitu banyak penyakit. Saya terheran-heran melihat daftar banyaknya penyakit yang bisa disembuhkan berkat obatnya. Jika obatnya benar berkhasiat, pastilah semua rumah sakit, klinik, dan pusat kesehatan akan tutup.

Kepada sahabat Idham Adhiatmaja yang menemani, saya berbisik, “Tahu bedanya dokter dan penjual obat?” Idham menggeleng. Saya lalu menjawab, “Kalau dokter, satu penyakit akan diatasi dengan banyak obat. Tapi penjual obat, semua penyakit hanya diatasi dengan satu obat.” Idham tertawa ngakak.

Saya masih tertarik dengan bapak berpenampilan ustad ini. Rupanya ia mengajak beberapa orang untuk menbaui aroma obatnya. Setelah itu ia akan berseru, “Bapak sekalian baru saja merasakan bagaimana aroma surga. Seperti itulah nikmatnya kekuatan penyembuhan dari Allah.” Saya tersenyum lalu meninggalkan arena itu.
 
peraga dari penjual obat asal Buton

Tapi sebelum pergi, saya tersentak saat membaca namanya di spanduk: La Ode Akbar Parigi Ternyata dia berasal dari Buton, kampung halaman saya. Hah?


***

BEBERAPA kali saya menulis tentang para penjual obat ini. Di mata saya, keberadaan mereka dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari mahalnya biaya rumah sakit, semakin berjaraknya pelayanan kesehatan ke masyarakat bawah, kalkulasi biaya yang murah jika membeli obat ke penjualnya, kemudahan akses masyarakat untuk menjangkau penjual obat, hingga kekuatan sugesti yang ditiupkan oleh para penjual obat ke benak para penontonnya.

Saya teringat pada catatan sosiolog Daniel Bell, mengenai modernitas yang kerap diiringi irasionalitas. Semakin kita modern, maka semakin banyak hal irasional. Di dunia yang serba rasional, terukur, dan dilandasi pencerahan ini, keputusan-keputusan manusia seringkali susah dijelaskan dengan kata-kata. Makanya, kiprah para ahli retorika, para ideolog, dan para juru kampanye masih efektif dalam menyuntikkan apa yang disebut kebenaran di benak kita. Di titik ini kita bisa melihat kemampuan kampanye para penjual obat.

Kekuatan para penjual obat bukan sekadar atraksi, tapi pada kemampuan retorika yang bisa membuai semua orang. Sang penjual akan memegang pengeras suara lalu mengoceh sepanjang pertunjukan itu. Dia bisa mengklaim dirinya sebagai ahli segala hal. Ketika dia bicara, semua orang akan percaya kalau dirinya adalah kombinasi dari beberapa profesi sekaligus, mulai dari ahli pengobatan, sosok sakti mandraguna, hingga sebagai sosok welas-asih yang hendak membantu orang banyak.

Kita mungkin menyebutnya pembual. Tapi di lingkaran di mana penjual obat beratraksi, sabdanya selalu diamini semua penonton. Kekuatan kampanyenya terlihat saat penonton merogoh kocek dan mengeluarkan pundi-pundinya demi sang penjual obat. Keberhasilannya terlihat pada seberapa banyak orang yang percaya padanya, meskipun boleh jadi ia sedang membual.

Tunggu dulu, apakah ia membual? Entahlah. Sebagai orang kota yang modern, mungkin kita melabelnya sebagai pembual, kampungan, atau irasional. Tapi pernahkah anda melakukan refleksi dan menyaksikan justru masyarakat kota yang paling banyak percaya pada bualan para “penjual obat” yang berjubah sebagai politisi, calon gubernur, calon presiden, hingga calon ketua RT?

Pernahkah kita bertanya pada diri, bahwa dalam setahun kita menerima janji surga berupa kesejahteraan dari para “penjual obat” berbaju politisi dan partai politik? Mulai tingkat presiden, provinsi, kabupaten, hingga desa dan RT, kita menerima banyak janji-janji dan harapan besar. Tapi sudahkah kita mengalkulasi seberapa banyak pengaruhnya bagi kehidupan kita? Entahlah.

Di malam hari, saya masih menimang obat yang dibeli di Masjid Belopa. Saya heran saja mengapa bisa percaya begitu saja. Di layar televisi, saya menyaksikan debat calon gubernur. Jujur, saya lebih menyukai retorika dari penjual obat yang saya saksikan tadi siang.



Belopa, Luwu, 14 Januari 2017

BACA JUGA:


Dari Tanjung Pinang Hingga Tanah Luwu


JIKA satu perjalanan menyimpan satu kepingan puzzle, maka perjalanan demi perjalanan akan menjadi upaya untuk menautkan banyak kepingan puzzle menjadi satu gambaran yang utuh. Dalam banyak kesempatan, saya merasakan perjalanan sebagai sesuatu yang terus bertumbuh. Pengetahuan kita tentang satu topik kian mendalam seiring dengan perjalanan, yang kemudian mempertemukan kita dengan banyak pengetahuan lain.

Dua tahun silam, saya berkunjung ke Tanjung Pinang, dan menyaksikan jejak sejarah orang Bugis dari tanah Luwu yang datang dan berdiam di tanah Melayu, lalu membangun kerajaan di Malaysia dan Singapura. Hari ini, saya berkunjung ke tanah Luwu, tanah yang merupakan leluhur dari para raja di negeri tetangga itu. Saya belajar untuk merunut ulang kisah-kisah mereka yang memilih jadi perantau lalu membangun peradaban besar di banyak tempat.

Sekelebat tanya melintas di pikiran saya. Mengapa orang-orang besar itu tak membangun peradaban hebat, berupa kerajaan besar dan megah, di kampung halamannya sendiri? Mengapa mereka harus keluar dan tidak menjelmakan ide-ide besarnya di tanah Luwu?

***

Hari itu, dua tahun silam.

DARI pompong atau perahu kecil yang saya tumpangi, Pulau Penyengat tampak asri dipandang. Di tengah pulau itu, saya melihat warna kuning keemasan berdiri kokoh. Batin saya tercekat. Entah kenapa, saya merasa seolah pernah berada di sini. Kawan alfiandri berbisik kalau itulah Masjid Pulau Penyengat. Masjid ini adalah saksi dan jejak dari banyak hal. Di antara yang menggetarkan hati adalah masjid ini ibarat rumah bagi Raja Ali Haji, sosok hebat di tanah Melayu, pahlawan yang menulis gurindam dan puisi tentang kearifan, serta pejuang gigih yang hendak memerdekakan bangsanya.

Bersama sahabat Alfiandri dan Wayu, saya berkunjung ke Pulau Penyengat. Saya ingin melihat langsung pulau yang dahulu menjadi sentrum dari denyut nadi kebudayaan Melayu. Saya ingin berziarah ke makam Raja Ali Haji, sesuatu yang saya yakini sebagai cara terbaik untuk mengenali dan menyerap pelajaran dari seorang tokoh.

Di pulau itu, saya merenungi banyak hal tentang Raja Ali Haji. Dari sekian banyak kisahnya yang mentereng, hati saya selalu saja basah saat mengingat jejaknya di dunia syair. Ia adalah sufi yang menjadi pahlawan nasional. Kitab yang ditulisnya mengenai bahasa menjadi patokan bagi para peserta Kongres Pemuda saat merumuskan bahasa persatuan. Ia seorang penulis yang produktif, sekaligus pejuang hebat dalam mengasah literasi bangsanya.

berpose di depan masjid Pulau Penyengat, Kepulauan Riau

Beberapa hari sebelumnya, saat pertama memasuki Kota Tanjung Pinang, saya menyaksikan bagaimana syair yang dibuatnya digurat di banyak lokasi. Pesan-pesannya yang dijejalkan dalam syair telah menjadi ikon dan kebanggan kota itu. Raja Ali Haji adalah pengendali kata, yang bisa mengubah kata-kata, dari sekadar sehimpunan bunyi, lalu menjadi kecipak sungai mengalir, hingga menggelegar, menggedor, dan menggebrak kesadaran.

Lelaki yang lahir di Selangor, Malaysia, pada tahun 1808. Ia adalah putra Raja Ahmad, yang dikenal sebagai Engku Haji Tua. Ia adalah cucu Raja Haji Fi Sabilillah, yang merupakan saudara Raja Lumu, Sultan pertama di Selangor. Raja Haji sendiri adalah putra Opu Daeng Cella', lelaki Bugis asal Tanah Luwu yang pertama datang pada abad ke-18.

di Masjid Pulau Penyengat

Biarpun Raja Ali Haji adalah sosok besar di tanah Melayu, ia tak pernah melupakan tanah leluhurnya. Selain mengarang syair Gurindam Dua Belas yang tersohor itu, ia juga menulis kitab tentang silsilah Melayu dan Bugis demi mencari jati diri dan garis nenek moyangnya. Biarpun tak ada catatan sejarah perjalananya ke tanah Bugis, ia tetap memosisikan Bugis sebagai penanda identitasnya. Ia menulis kitab silsilah Bugis-Melayu, sebelum akhirnya membuat syair-syair yang menaikkan namanya.
Ia menjaga identitasnya sebagai orang Bugis di tanah Melayu.

***

“Kamu berasal dari mana?” Bapak berambut putih itu datang menemui saya lalu menjabat tangan. Sepertinya, dia bisa mengenali saya sebagai orang yang baru pertama berkunjung ke masjid itu. Saat saya menyebut berasal dari Sulawesi, bapak itu tersenyum. Ia mengangguk, lalu merespon singkat,

“Saya juga dari Sulawesi. Saya dari Luwu,” katanya.
“Pernah ke Luwu?” tanya saya.
“Belum pernah. Kakek moyang saya Opu Daeng Cella, berasal dari Luwu,” katanya.

Sahabat saya, Alfiandri, bercerita kalau bapak itu adalah salah seorang keturunan langsung Raja Ali Haji. Pantas saja dirinya tetap menyebut nama Opu Daeng Cella’, sosok yang merupakan kakek Raja Ali Haji. Tanpa saya minta, bapak berambut putih itu lalu menjelaskan banyak hal tentang masjid itu. Mulai dari makna empat pilar, makna syair, hingga beberapa puisi sufistik.

bersama keturunan Raja Ali Haji

Opu Daeng Cella’ adalah satu dari lima pangeran asal Luwu yang hijrah dari kampung halamannya. Opu Daeng Cella lalu diangkat sebagai raja muda di Riau, yang kemudian mewariskan tahtanya pada anaknya Raja Haji, ayah dari Raja Ali Haji. Saudaranya yang lain adalah; Opu Daeng Parani, Opu Daeng Marewa, Opu Daeng Manambong dan Opu Daeng Kamase. Kesemuanya memiliki riwayat yang cukup masyhur, dan diangkat menjadi Sultan di Malaysia, Riau dan Kalimantan Barat.

Masing-masing menempuh takdir berbeda. Opu Daeng Manambong menjadi sultan di Mempawah, Kalimantan Barat. Opu Daeng Parani menikah dengan puteri Raja Selangor, dan adik Raja Kedah. Ia adalah menantu Raja Selangor dan adik ipar Raja Kedah. Opu Daeng Kamase dinobatkan menjadi raja Sambas di Kalimantan Barat, dengan gelar pangeran Mangkubumi. Opu Daeng marewa sebelunya adalah raja muda di Riau, yang kemudian digantikan Opu Daeng Cella.

Kelimanya masyhur dan mewariskan jejak hebat di negeri yang dikunjunginya. Jika hari ini kita mendengar nama mereka, maka kita sedang mendengar kisah diaspora yang tidak saja bertujuan untuk membangun kuasa, tapi juga mewariskan jejak berharga di bumi manapun yang dikunjungi. Kita bisa melihatnya pada sosok Raja Ali Haji yang mewariskan banyak hal baik, tak hanya bagi tanah melayu, tapi juga Indonesia.

***

HARI ini, saya berada di Belopa, ibukota Kabupaten Luwu. Saya teringat banyak pengalaman saat di Pulau penyengat, kepulauan Riau. Saya membatin bahwa sejarah di banyak tempat di Malaysia, Riau, hingga Kalimantan, dimulai dari tanah ini. Namun, Luwu tidaklah semegah negeri-negeri yang dijelajahi para putra Luwu. Kini, Luwu adalah wilayah yang telah mekar menjadi beberapa wilayah, mulai dari Kota Palopo, Luwu, Luwu Timur, hingga Luwu Utara.

Pertanyaan yang menggelayut di benak adalah mengapa orang-orang besar itu tak membangun peradaban hebat, berupa kerajaan besar dan megah, di kampung halamannya sendiri? Mengapa mereka harus keluar dan tidak menjelmakan ide-ide besarnya di tanah Luwu?

Saya menyimpan pertanyaan ini, lalu menanyakannya pada Bachrianto Bachtiar, seorang akademisi. Kata Bachrianto, Luwu adalah wilayah yang punya wiayah luas, dengan berbagai kekayaan. Katanya, semua etnik bisa ditemukan di Luwu dikarenakan banyaknya sumberdaya alam yang bisa menopang kesejahteraan.

“Kalaupun ada orang Luwu merantau, maka pastilah itu disebabkan sesuatu yang prinsipil. Mereka memilih memegang prinsip itu, mempertahankannya mati-matian. Kalau perlu, mereka siap binasa demi prinsip yang dipegang erat itu,” katanya.

Saya merenungi penuturan Bachrianto. Sejarah hijrahnya orang Luwu ke Malaysia dan wilayah lain memang tak bisa lepas dari faktor politik. Hijrahnya lima bangsawan Luwu itu tak bisa dilepaskan dari faktor politik. Seusai Perang Makassar yang ditandai dengan lahirnya Perjanjian Bongaya di tahun 1669, banyak orang Bugis-Makassar yang merasa tercabik harga dirinya. Mereka merasa terhina sebab harus dipimpin oleh orang Belanda, yang telah mengalahkan mereka dalam perang dahsyat.

bersama keturunan Raja Ali Haji

Hijrahnya mereka ke banyak titik menjadi awal dari diaspora orang-orang Bugis Makassar yang lalu tersebar ke mana-mana. Di tanah yang baru, mereka menjadikan kecerdasan dan keahlian perangnya sebagai modal untuk menjadi pemimpin. Tak heran, banyak di antara mereka yang menjadi pemimpin sebab sukses memaksimalkan semua modal keahlian yang dimilikinya untuk menaikkan posisinya.
Sahabat saya, Helmy Ayuradi Mihardja, menjelaskan tentang dinamika Bugis perantauan itu dengan cara meneropongnya dari sisi pandang filsuf Pierre Bourdieu. Kata Helmy, modal budaya dan simbolik etnik Bugis mempermudah mereka bertarung di arena sosial maupun di arena ekonomi.

Sebab, modal budaya dan simbolik telah menjadi habitus masyarakat Bugis, yang teguh memegang prinsip-prinsip kehidupan etnik Bugis termasuk prinsip siri’na passe. Prinsip Siri’ merujuk prinsip malu, yang meliputi malu hidup melarat di kampung orang lain dan malu mengambil hak orang lain. Mereka mengamalkan prinsip Passe,  tidak tega melihat saudaranya hidup sengsara. Nilai-nilai passe mendorong orang-orang Bugis untuk saling bahu membahu dalam perbaikan nasib.

Di luar itu, orang Bugis punya strategi bertahan dengan memaksimalkan tiga ujung, yakni ujung lidah (cappa lila), ujung badik (cappa kawali), dan ujung kemaluan (cappa lasse). Ujung lidah adalah kemampuan diplomasi dan bersiasat. Ujung badik adlaah kemampuan tempur dan mengalahkan siapapun lawan. Ujung kemaluan adalah metafor dari prinsip akulturasi dengan budaya lain, yag ditempuh melalui perkawinan.

Filosofi tiga ujung ini pernah pula dipaparkan oleh Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, yang merupakan keturunan Bugis. Ia memaparkan itu saat menerima gelar doktor honoris causa dari Universitas Hasanuddin. Najib meyebut filosofi tiga ujung ini sebagai daya-daya adaptasi dalam menghadapi ruang sosial baru.

Kita juga bisa menambahkannya dengan argumentasi tentang spirit rantau. Bahwa mereka yang merantau dibekali optimisme kuat untuk sukses agar kelak tidak membawa rasa malu saat kembali ke kampung halaman. Spirit ini menjadi kompas yang memandu sejauh manapun kaki perantau Bugis bergerak. Semangat rantau ini telah menggerakkan mereka untuk menjalin persahabatan dengan siapapun. Mereka bersahabat dengan siapapun, tapi bisa menyabung nyawa untuk hal-hal yang melanggar prinsip.

Di sini, di tanah Luwu, saya merenungi perantauan orang-orang Bugis di Luwu yang berkelana hingga jauh. Saya merenungi salah satu pasal dalam gurindam dua belas yang disusun Raja Ali Haji:

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi.

Belopa, 11 Januari 2017

BACA JUGA:




Kisah Si Cantik dalam The Great Wall

poster film The Great Wall

DI tahun 2002, sutradara Zhang Yimou menggebrak dunia melalui film Hero, yang digambarkan serupa puisi yang menusuk jantung kalbu manusia. Kisah Hero yang dibintangi Jet Li dan Donny Yen itu adalah filsafat tentang kekuasaan, nasionalisme dan kisah tentang mereka yang merawat kuasa dan bangsa dengan caranya masing-masing.

Kini, di pembuka tahun 2017, sutradara Zhang Yimou mempersembahkan karya kolosal berjudul The Great Wall, yang berlatar di kisah-kisah mistis di sekitar tembok besar Cina. Sayang, film ini tak sepuitik film Hero, dan film lain yang dibuat Zhang Yimou yakni House of Flying Dagger.

Dalam banyak hal, film menjadi sangat Hollywood, tak menawarkan sesuatu yang baru, dan kisahnya mudah ditebak. Di luar berbagai hal buruk itu, beberapa hal dalam film ini cukup memuaskan hati. Saya menyukai adegan kolosal yang ditata dengan sangat menarik, Tapi harus saya akui, film ini cukup menghibur. Di antara banyak actor dan aktris yang tampil, mata saya terpaku pada kemampuan akting Jian Tin yang berperan sebagai Jenderal Lin.

Satu lagi, dia juga cantik!

***

DI setiap tempat dan wilayah, selalu ada kisah-kisah mistik dan legenda, Melalui legenda itu, manusia belajar untuk memahami spirit dan pesan yang hendak disampaikan, sekaligus memahami posisi sejarahnya. Filsuf Max Horkheimer menulis tentang mitos selalu punya substansi yang sama dengan rasionalitas. Mitos itu tak pernah bisa lepas dari manusia.

Film The Great Wall menyajikan hal-hal mistis terkait tembok besar Cina. Sejarah mencatat bahwa tembok itu dibangun untuk menghalangi pergerakan para musuh dari utara yang kerap mengganggu warga Cina. Film ini mengungkap hal-hal mitos tentang tembok, yang ternyata juga digunakan untuk menghalangi pergerakan pasukan monster bernama Tao Tei yang hendak menghancurkan pemukiman manusia.

Sepintas, Tao Tei mirip Tyrannosaurus Rex yang bertubuh besar, dengan mulut yang terbuka lebar, sehingga menampakkkan gigi-gigi tajam serupa belati. Tao Tei hadir setiap 60 tahun sekali demi menyerbu tembok besar lalu membunuh semua orang. Tao tei adalah simbol keserakahan dan ketamakan untuk menguasai semua sumberdaya alam.

Di hari itu, suasana tembok besar di penuhi pasukan dari berbagai kesatuan. Pasukan itu bersiap-siap untuk menghadapi pasukan Tao Tei. Pasukan ini disimbolkan dengan berbagai jenis hewan. Yang menarik adalah ada juga pasukan bangau, yang anggotanya adalah para perempuan berbaju perang warna biru.

Di tengah suasana persiapan menghadapi perang, datang dua penjelajah barat yakni William (diperankan oleh Matt Damon) dan Tovar (diperankan Pedro Pascal). Tujuan kedatangan mereka adalah untuk mencari black powder, sebutan bagi bubuk mesiu, yang saat itu telah ditemukan di Cina. Dua sosok dari barat ini berniat untuk membawa bubuk mesiu itu ke Eropa, dengan harapan agar mereka kaya-raya. Mereka datang di saat yang tidak tepat. Mereka terpaksa melibatkan diri dalam pertempuran melawan monster.

karakter yang tampil dalam film

Mereka bertemu dengan Jenderal Lin, perempuan yang menjadi salah satu pimpinan pasukan. William berdiskusi beberapa hal dengan perempuan berparas cantik itu. William, yang dasarnya adalah tentara bayaran, memutuskan untuk ikut berperang dan membantu orang-orang Cina yang sedang menghadapi monster itu. Tembok besar menjadi saksi dari banyak hal, termasuk William yang belajar filosofi Xin Ren pada Lin.

***

SEBAGAI penggemar Zhang Yimou, saya selalu berharap lebih pada film yang dibuatnya. Saat melihat namanya, saya langsung menbayangkan film Hero yang kolosal, namun tetap punya substansi kuat. Kali ini saya agak kecewa dengan film baru Zhang Yimou yang konon katanya menjadi salah satu film dengan budget terbesar di Cina.

Film terbarunya ini biasa saja. Skenarionya mudah ditebak. Karakter orang-orangnya terlampau hitam putih. Saya sepakat dengan beberapa kritikan. Film ini kembali menegaskan adanya whitewashing, yakni pandangan yang melihat orang Eropa atau barat, yang berkulit putih atau ras kaukasoid, sebagai pahlawan. Fenomena whitewashing adalah fenomena aktor atau aktris kulit putih yang memainkan karakter di luar rasnya (Asia, Afrika, atau bahkan, suku Indian). Istilah ini tak lepas dari kontroversi karena mengandung konotasi negatif, seakan segala sesuatu yang “putih” dapat membilas dan membuat segalanya lebih baik. Selain itu, “putih” dipersepsikan setingkat lebih tinggi dari yang lain.

Kolomnis film Tom Brook dari BBC mengklaim bahwa fenomena “whitewashing” seringkali dilakukan dengan sembrono sehingga menghasilkan karakter yang karikatural sekaligus cenderung merendahkan ras lain. Hal ini akhirnya menyuburkan stereotip negatif terhadap identitas lain, tak hanya di layar kaca, namun juga di dunia sehari-hari.

Fenomena “whitewashing” awalnya bermula akibat kurangnya artis keturunan Asia dan Afrika di Hollywood pada era '20an hingga paruh pertama dekade '60an. Di sisi lain, langkanya artis Asia atau Afrika sebenarnya berpangkal dari diskriminasi rasial yang pada masa-masa itu memang masih menyelimuti Hollywood. Di zaman kini, whitewashing ini masih saja muncul dalam beberapa film berlatar Asia atau Afrika, tapi sosok hero-nya adalah orang barat.

Saya menyaksikan beberapa film yang mengukuhkan padangan whitewashing ini. Di antaranya adalah Avatar: The Last Airbender. Kenapa pula pemeran sosok Avatar Aang adalah bocah bule, sementara di versi animasi, Aang adalah bocah Asia? Sama halnya dnegan kekecewaan saya pada film 47 Ronin. Mengapa pula di kisah itu muncul sosok yang diperankan Keanu Reeves di tengah latar Jepang kuno?

Dalam film The Great Wall, saya masih tak paham mengapa pula ada sosok William yang datang ke Cina, lalu tiba-tiba menjadi pahlawan. Apakah tak ada satupun sosok dalam prajurit Kekaisaran Cina yang bisa menjadi hero dan mengalahkan smeua Tao Tei, sebagaimana yang dilakukan William pada bagian akhir film?

***

BARANGKALI hal yang menyelamatkan film ini adakah ketegangannya. Adegan demi adegan kolosal ditata apik sehingga membuat penonton tak ingin meninggalkan tempat duduk. Saya menyukai berbagai kostum menarik para prajurit. Saya juga suka sama adegan saat ribuan panah meluncur ke udara.

Dari sedemikian aktor dan aktris yang tampil pas-pasan di film ini, saya menaruh perhatian pada aktris Jing Tian. Penampilannya cukup membuat betah. Dia tak hanya cantik, tapi bisa menampilkan sosok sebagai perempuan yang tangguh. Hubungan antara dia dan William menjadi kisah menarik yang bisa menjaga ritme dalam film agar tidak membosankan. Seusai menonton film ini, saya menyempatkan waktu untuk melacak siapa dirinya.

Jian Tian yang berperan sebagai Lin

Sosok Jing Tian mengingatkan saya pada beberapa nama. Di antaranya adalah sosok Angela Wing Yeung atau Angelababy yang berperan sebagai pilot Rain Lao dalam film Independence Day: Ressurgence. Nama lain yang saya kenal adalah Rosamund Kwan, yang berperan sebagai Bibi May dalam beberapa film yang dibintangi Jet Li berjudul Kungfu Master. Saya berharap masih sering menyaksikan Jing Tian di layar kaca.

Kehadiran aktris Cina ini di pentas film dunia bisa membangkitkan kebanggaan kita sebagai orang Asia di lanskap perfilman dunia. Minimal kita bisa menyaksikan dunia yang heterogen dalam berbagai film. Minimal kita bisa menemukan cermin diri kita di film itu, tak sekadar menyaksikan supermasi bangsa dan ras lain di berbagai film.



Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...