Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Perempuan Indonesia di Zona Perang


Ratih Pusparini

Wajahnya terlihat pucat-pasi. Dalam perjalanan dari Lebanon ke Suriah, dia lebih banyak diam. Perjalanan itu hanya akan berlangsung selama tiga jam. Tapi, itu bukan perjalanan biasa. Tahun 2012, Suriah tengah dilanda peperangan. Suara tembakan terdengar di mana-mana. Bom juga bisa berjatuhan kapan saja.

Perempuan itu Mayor Ratih Pusparini adalah tentara perempuan Indonesia pertama yang diterjunkan ke pasukan perdamaian. Dia mendapatkan misi yang cukup berat yakni harus berada di garis depan Suriah demi mengirim pesan kepada semua warga kalau mereka tidak sendirian dalam menghadapi peperangan.

Ratih masih mengenang persis tanggal ketika dirinya mendapat telepon dari wakil Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Desra Percaya. Dia ditelepon pada tanggal 12 April 2012, jam 4 sore. Pada masa itu, dia sedang tugas di Lebanon.

Desra menelepon dan berkata, “Ratih kamu harus bersiap-siap. Kamu akan jadi militer Indonesia pertama yang berangkat ke Suriah.” Ratih mulai menjalani hari-hari yang penuh ketegangan. Pada masa itu, hanya ada 3 persen perempuan yang menjalankan misi perdamaian PBB.

BACA: Diplomasi Senyum Polwan Indonesia

Perjalanan selama tiga jam itu terasa lama bagi Ratih. Dia khawatir mengingat Suriah yang saat itu sangat tidak aman. Melihat dirinya yang lebih banyak diam, driver yang berasal dari Libanon langsung menyapa: “Mum, you’re okay?” Ratih menjawab singkat: “I’m not okay.”

Pria itu seakan tahu apa yang dirasakan Ratih. Dia langsung berkata: “Please call your parents. Tell them your situation.” Ratih segera menelepon keluarganya dengan menggunakan fasilitas telepon satelit.

Kepada ibunya, dia berbisik dengan tenang: “Mama, kalau tidak ada telepon dari saya, berarti semuanya aman. Tapi kalau orang lain yang menelepon, saya minta semuanya menerima semua kenyataan. Saya sudah ikhlas menjalani apa pun yang terjadi.”

Seusai menelepon, Ratih tersenyum. Dia siap menghadapi apa pun yang ada di depannya. Dia berada pada titik kepasrahan. Dia tidak lagi memikirkan apakah akan hidup ataukah mati di misi yang sedang dijalaninya.

“Kalau Allah menakdirkan saya hidup, maka saya akan selamat. Tapi kalau dia menghendaki saya meninggal, maka di mana pun itu, pasti akan terjadi, katanya.

Ratih langsung tersenyum. Dia tenang menjalani tugasnya.  Lelaki itu melihat perubahan wajah Ratih yang tadinya tampak panik. Dia berkata: “Now you look like an angel.”

Di Suriah, situasinya lebih buruk dari yang Ratih bayangkan. Dia mesti menghadapi risiko yang sangat besar saat berada di garis depan. Ratih masih mengenang rekannya yang tertembak di kaki saat sedang menjalankan misi perdamaian. Tapi dia merasa kehadirannya penting sebab memberi rasa nyaman kepada warga yang saat itu dicekam ketakutan.

Pernah, saat di Suriah, Ratih ditelepon oleh wakil Kemenlu, Desra Percaya. Ketika sedang berbincang, terdengar suara tembakan bersahut-sahutan. Desra langsung berkata, “Ratih, apa itu suara tembakan?” Ratih menjawab: “Ya benar. This is the symphony of my life.”

Suara tembakan terdengar dari segala arah. Ratih tidak bisa memastikan dari mana arah tembakan itu. Penembaknya pun bisa dari kalangan pemerintah atau pun oposisi. Hidup Ratih setiap saat dalam bahaya. Pasukan perdamaian PBB pun sering menjadi sasaran tembak.

BACA: Prasasti Abadi Seorang Polwan

Misi perdamaian PBB hanya berjalan selama empat bulan di Suriah. Baru bertugas tiga bulan, Ratih ditarik ke Lebanon. Misi itu dianggap sangat berbahaya sehingga ditutup oleh PBB. Bagi PBB, keselamatan pasukan perdamaian adalah prioritas utama dalam setiap misi yang dijalankan.

Namun pesan yang hendak disampaikan telah sampai kepada warga. Masyarakat internasional akan selalu berada di sisi warga yang tengah dilanda peperangan. Mereka tidak sendirian dalam menghadapi bencana kemanusiaan dan peperangan yang sedang terjadi.

Misi Perdamaian

Hidup Ratih laksana roller-coaster yang selalu berhadapan dengan gejolak. Perempuan kelahiran Jakarta ini tadinya tidak berniat menjadi tentara. Saat lulus dari Jurusan Sastra Inggris, Universitas Airlangga, Surabaya, tidak membayangkan akan menjadi tentara.

Saat iseng mengikuti seleksi, ternyata dia diterima menjadi prajurit TNI Angkatan Udara. Kariernya terus menanjak karena dirinya seorang pekerja keras yang mudah bergaul dengan siapa saja.

Tahun 2008, dia tercatat dalam sejarah sebagai perempuan Indonesia pertama yang diberangkatkan dalam Pasukan Garuda, pasukan perdamaian Indonesia untuk misi PBB di Republik Demokratik Kongo. Dia berperan sebagai military observer.

Ratih Pusparini bersama perempuan yang menjadi anggota pasukan perdamaian 

Sebagai perempuan, dia memiliki akses untuk memasuki wilayah yang tidak bisa dimasuki militer laki-laki. Sebagai militer, dia tetap menggunakan pendekatan keibuan ketika berhadapan dengan perempuan dan anak-anak.

“Kami berhasil memasuki satu desa dan mendapatkan informasi mengenai kekerasan seksual di sana. Regu sebelumnya gagal mendapatkan informasi itu karena tidak ada perempuan di sana,” katanya.

Ketika Ratih datang, ibu-ibu dan anak kecil akan mendekat dan bercerita tentang situasi yang mereka hadapi. “Kami adalah mata dan telinganya misi. Begitu ada berita tentang perkosaan dan kriminal, kami selalu datang ke lokasi bersama interpreter. Beda kalau laki-laki, ceritanya lebih banyak maskulin,” katanya.

Demi menunjang misi, Ratih selalu mendatangi orang sakit di seputaran batalyon. Ternyata hal ini sangat berkesan bagi mereka. Pendekatan kemanusiaan ini menjadi jauh lebih berkesan dari yang lain. “Program Ibu Ani Yudhoyono yakni mobil pintar terus berjalan sampai sekarang. Program itu sangat efektif untuk anak-anak di daerah konflik,” katanya.

Di mana pun berada, pasukan Indonesia selalu berusaha membangun kedekatan dengan masyarakat setempat melalui community engagement. Dalam program ini, militer dan sipil sama-sama merencanakan program atau kegiatan yang memiliki misi kemanusiaan.

Di Kongo, Ratih sangat terharu ketika seorang anak mendatanginya, kemudian berkata, “Mam, I wanna be like you! Because of you, we can go to school…" Saat itu, Ratih dan timnya berhasil mengamankan akses jalan sehingga anak-anak bisa pergi ke sekolah.

Tahun 2012, Ratih kembali diberangkatkan ke misi perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL), kemudian Suriah.  Setelah itu dia ditugaskan ke Indonesia. Pada April 2018 hingga sekarang, dia bertugas Jakarta dengan posisi sebagai Staf Kantor Kerja Sama Luar Negeri Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia.

Ratih menjadi sosok yang menginspirasi banyak kalangan. Dia menerima banyak penghargaan atas kiprahnya di dunia militer dan perdamaian. Tahun 2013, dia meraih Indonesian Women of Change Award yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar AS.

Selain itu, Ratih yang kini berpangkat Letnan Kolonel itu itu juga mendapatkan tanda kehormatan berupa The United Nations (UN) Medal, UN Medal Syria dan UN Peacekeeping Medal in Lebanon. Dia juga sering mendapat undangan sebagai pembicara yang berbagi inspirasi kepada anak-anak muda. Dia ingin mengubah mindset orang-orang bahwa perempuan bisa melakukan banyak hal luar biasa.

Mengutip data dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), berdasarkan analisa dari UN Women, sebanyak 1.187 perjanjian perdamaian tahun 1990-2017, terdapat 2% mediator perempuan; 5% negotiator perempuan dan 5% saksi dan penandatanganan perjanjian perdamaian perempuan.

Hingga 31 Maret 2019, terdapat 3.472 personel militer perempuan dan 1.423 personel polisi perempuan dari total 89.681 personel penjaga perdamaian, atau 5,46%. Jumlah ini tentunya harus dapat ditambah, dan Indonesia memiliki niatan yang kuat untuk hal ini. Indonesia memiliki obsesi untuk terus mengirimkan perempuan dalam pasukan perdamaian.

*** 

Hari itu, sebuah diskusi sedang dihelat di Markas Besar PBB di New York. Letnan Kolonel Ratih Pusparini menjadi pembicara bersama Mayor Jenderal Kristin Lund, petinggi militer Norwegia. Pembicara lain adalah Letnan Kolonel Yuli Cahyanti dari Polri, serta Wakil Tetap Duta Besar RI untuk PBB, Dian Triansyah Djani.

Di sela-sela sidang Special Committee for Peacekeeping Operations, Ratih berbicara sebagai tentara yang pernah bertugas sebagai peace keeper di berbagai penugasan. Dia menyampaikan masukan agar perempuan lebih banyak dilibatkan dalam berbagai misi perdamaian.

Mayjen Kristin Lund, petinggi militer Norwegia, berpose dengan Letkol Ratih Pusparini dalam satu diskusi di Markas PBB, New York

Dia berkata: “Personil perempuan biasanya lebih bisa membaur dengan masyarakat lokal dibandingkan personil laki-laki, hal ini yang memberikan nilai lebih bagi kesuksesan misi di daerah operasi. Perempuan juga perlu diberikan peran lebih selain feminine duties yakni logistik, medis, dan administratif.”

Sementara Yuli Cahyanti menyampaikan hal senada bahwa personil perempuan pada umumnya lebih dekat dengan korban konflik dan pengungsi internal khususnya perempuan dan anak-anak. Selain itu, perempuan lebih diterima oleh masyarakat lokal dan mampu memberikan rasa aman, khususnya bagi perempuan dan anak-anak di kamp pengungsi.

“Budaya Indonesia dapat diterima dengan baik di masyarakat lokal yang bermotokan senyum, sapa dan salam,” ujar Yuli.

Mayjen Kristin Lund menjelaskan perlunya kaderisasi untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam MPP PBB dan keharusan personel perempuan untuk memperkaya pengalaman guna meraih level tertinggi di PBB dan di misi, salah satunya dengan mengakses "UN Experience."

Di ruangan itu, semua orang mengapresiasi pandangan delegasi Indonesia tentang perempuan yang seharusnya lebih banyak dilibatkan dalam Peace Keeping Operation.

Sejalan dengan amanah konstitusi, Indonesia telah terlibat dalam misi pemeliharaan PBB sejak 1957.  Saat ini, Indonesia berada pada ranking ke-9 negara kontributor personil militer dan polisi pada misi UNIFIL (Lebanon), UNAMID (Darfur, Sudan), MINUSCA (Republik Afrika Tengah), MINUSMA (Mali), MONUSCO (Kongo), MINUTSAH (Haiti), MINURSO (Sahara Barat), UNISFA (Abyei), UNMISS (Sudan Selatan).

Dari 2.872 personil TNI dan POLRI yang terlibat, 60 di antaranya adalah perempuan dari TNI maupun POLRI.

Acara itu berjalan sangat sukses dan mendapat perhatian tinggi dari negara anggota PBB dan publikasi luas oleh Divisi Berita PBB. Hastag  #Womenpeacekeepers menjadi trending topic ketiga di twitter.

Pada malam harinya diadakan pula Resepsi Diplomatik "To Honor the Role of Women Peacekeepers" dan menyambut sesi sidang C-34, dan dihadiri oleh delegasi C-34, Sekretariat PBB, kalangan penasehat militer, masyarakat madani, think-thank, akamedisi dan media.

Pesan Ratih terus bergema. “PBB harus membuat langkah-langkah afirmatif untuk menambah jumlah perempuan dalam misi PBB. Perlu ada perubahan kebijakan pro perempuan, dan reformasi budaya dan mindset.”

Ratih percaya, ketika perempuan diberi kesempatan yang lebih luas untuk berperan aktif dalam perdamaian dunia, maka dunia akan menjadi lebih damai.

“Perempuan punya banyak sisi keibuan dan kasih sayang. Ketika tetes-tetes kasih sayang itu membasuh hati, maka semua amarah akan mendingin. Dunia menjadi lebih baik,” katanya.



Diplomasi Senyum Polwan Indonesia


Saat AKBP Yuli Cahyanti tugas di Darfur

Tak sedikit pun ada rasa terkejut saat mendengar dirinya akan ditugaskan dalam misi perdamaian di Darfur, Sudan. Perempuan itu, AKBP (setara Letnan Kolonel) Yuli Cahyanti, adalah polisi yang tidak mengenal rasa gentar. Dia percaya pada kekuatan budaya Indonesia yang bisa mendamaikan dunia.

***

Suasana di One Bellpark Mall di Jalan Fatmawati, Jakarta, terlihat ramai saat perempuan itu singgah ke Kafe Starbuck, akhir Agustus 2019. Dia datang mengenakan baju lengan panjang berwarna hitam, serta celana jeans. Dia duduk di situ setelah sebelumnya memesan kopi. Dia lalu mengambil ponsel dan menatap beberapa pesan di situ.

Orang-orang di dalam kafe itu tidak menyadari kalau sosok yang duduk itu adalah seorang polisi wanita yang telah terjun dalam berbagai penugasan. Dia tidak hanya bertugas di Indonesia, melainkan telah menjalankan tugas sebagai anggota pasukan perdamaian di beberapa negara konflik.

Yuli Cahyanti, perempuan asal Jawa Timur yang pernah betugas di Darfur, Sudan pada tahun 2012-2013. Dia pun pernah menjadi Director for Plan and Programs, ASEANAPOL Secretariat at Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 2015 – 2017. Dia pun sosok yang menerima banyak penghargaan. Di antaranya adalah satyalencana dari Presiden RI.

Dia tersenyum ramah saat disapa. Dia bersikap hangat kepada siapa pun yang mengajaknya berbincang. Dia sangat jauh dari kesan kaku. Dengan senyum dan keramahan seperti itu, dia menjadi sosok yang bisa diterima siapa saja.

Hari itu, Yuli bercerita tentang pengalamannya menjadi peace-keeper di Darfur, Sudan. Mendengar kata konflik, banyak orang yang gentar. Yuli tak sedikut pun gentar. “Sejak menjadi polisi, saya siap ditugaskan ke wilayah konflik mana pun. Saya siap menerima semua risiko yang akan dihadapinya, bahkan kematian sekali pun,” katanya.

Darfur menjadi sorotan dunia ketika konflik pecah pada 2003, saat pemberontak mengangkat senjata melawan rezim pemerintahan Khartoum yang dianggap diskriminatif. Misi Uni Afrika dan PBB (UNAMID) mulai dijalankan sejak 2007 hingga kini.



Sejak konflik pecah, warga sipil menjadi korban. Mereka tidak saja kehilangan anggota keluarga, tapi juga terusir dari tanahnya sendiri sehingga hidup di kamp pengungsian. Beberapa negara lalu mengirimkan misi perdamaian untuk meringankan beban masyarakat di sana. Indonesia pun terpanggil untuk mengirim misi perdamaian.

Niat menjadi anggota pasukan perdamaian sudah lama membara dalam diri Yuli. Beberapa tahun sebelum mendaftar sebagai pasukan perdamaian, dia pernah mengikuti acara International Police Woman di Afganistan. Saat itu dia terkesan dengan beberapa pasukan perdamaian PBB yang bertugas untuk mengawal semua peserta.

Dia membayangkan betapa bahagianya jika dia kelak bisa berperan untuk menghadirkan rasa aman bagi orang lain. Dia bertekad agar kelak bisa bergabung dalam misi perdamaian. Cita-citanya terkabul di tahun 2012 saat menjadi bagian dari pasukan perdamaian yang bertugas di Darfur.

Saat itu, Yuli hanya punya sedikit pengetahuan tentang Darfur. Dia tahu bahwa Darfur sedang dilanda konflik yang bisa mengancam jiwanya. Darfur adalah wilayah yang juga rawan bencana.

Yuli mendengar berita bahwa penyakit malaria di tempat itu adalah malaria paling berbahaya sedunia. Tapi semua hal itu tidak membuatnya gentar. Dia tetap ingin datang ke sana. Dia siap meninggalkan keluarganya selama setahun demi menjawab panggilan kemanusiaan dalam dirinya.

Mulanya terasa berat untuk meninggalkan anak tunggalnya yang saat itu berusia 7 tahun. Ada panggilan nurani seorang ibu yang sempat menghentikan langkahnya. Tapi di sisi lain, ada pula panggilan kemanusiaan saat membayangkan nasib anak-anak dan perempuan di daerah pengungsi. Suami dan anaknya ikhlas melepas dirinya yang berbagi untuk kemanusiaan.

Saat tiba di Darfur, Yuli terkejut melihat situasi yang lebih buruk dari apa yang dibayangkannya. Dia melihat daratan luas yang tandus serta kering. Dia tidak menyangka, di dataran tandus ini konflik terjadi sehingga masyarakat merasakan dampaknya.

BACA: Prasasti Abadi Seorang Polwan

Dia sangat sedih saat melihat kondisi perempuan dan anak-anak yang sangat memprihatinkan. Seorang ibu harus mencari air di lokasi yang sangat jauh dari tempat tinggalnya. Ibu itu membawa tujuh jergen air. Dia dibantu anak-anaknya, sementara suaminya hanya bermalas-malasan di rumah.

“Kebanyakan korban konflik adalah perempuan dan anak-anak. Mereka yang merasakan dampak konflik. Untuk itu, kehadiran polwan sangat dibutuhkan sebab punya sisi keibuan yang membantu mereka untuk berempati dengan korban,” katanya.

Yuli menceritakan satu kenyataan yang dilihatnya. Suatu hari, dia berpatroli dan menemukan ada perempuan yang mengalami kekerasan seksual hingga trauma. Perempuan itu menolak untuk ditemui siapa pun. Perempuan itu hanya bisa menangis dan mengunci diri di rumah.

Saat Yuli datang dan menyapa “Assalamualaikum”, perempuan itu mau menerimanya. Dia lalu bercerita tentang apa yang dialami. Mata Yuli berkaca-kaca saat mendengar kisah perempuan itu. Dia adalah korban dari konflik antar warga yang terus bertikai. Perempuan itu diperkosa oleh sejumlah orang yang datang menjarah.

“Jika saja bukan perempuan yang datang, dia akan menolak siapa pun yang hendak memberikan bantuan. Dia merasa nyaman ketika bicara dengan sesama perempuan,” katanya.

Sebagai perempuan, Yuli bisa melakukan pendekatan personal kepada banyak orang. Saat sedang melakukan patroli, dia akan ikut berbincang dengan perempuan yang sedang antri mendapatkan air bersih. Dia berbaur dengan siapa saja, serta mendengarkan apa saja pengalaman yang dirasakan oleh penduduk lokal.

Dia melihat budaya poligami yang masih marak di Darfur. Seorang laki-laki bisa memiliki empat istri yang ditempatkan di rumah terpisah. Dia mendengar sering kali ada masalah serta konflik yang menyebabkan hak-hak seorang perempuan terabaikan.

“Sebagai seorang perempuan dan juga seorang ibu, hati saya selalu tersentuh mendengar kasus seperti ini. Saya selalu tergerak untuk membantu. Hanya saja, saya tidak boleh terlalu jauh mengintervensi. Saya hanya bisa merekomendasikan ke polisi setempat,” katanya.

Polisi Perdamaian

Sejak tahun 2008, Polri telah mengirimkan personelnya untuk mengikuti misi perdamaian di African Union - United Nations Hybrid Operation in Darfur (UNAMID), Sudan. UNAMID berdiri sejak 31 Juli 2007 yang bertujuan untuk melindungi warga sipil serta berkontribusi pada keamanan untuk bantuan kemanusiaan, serta membantu proses politik agar berjalan lancar.

Data yang dihimpun United Nation Peacekeeping, Indonesia mulai mengirim polisi ke UNAMID sejak tahun 2008, dan saat ini berada di urutan ke-enam negara yang terbanyak mengirim polisi ke UNAMID yakni 145 orang.

Polri juga selalu rutin mengirim pasukan untuk misi perdamaian di Afrika Tengah. Misi perdamaian itu dinamakan United Nations Multidimensional Integrated Stabilization Mission in The Central African Republik (MINUSCA).

Menurut Yuli, polisi yang bertugas sebagai peace-keeper terbagi atas dua peran dan tanggung jawab. Pertama, Individual Police Officers yang tugasnya adalah memberikan perlindungan kepada civilian dan para pengungsi, yang disebut Internally Displaced Person (IDP). Kedua, Formed Police Units (FPU) yang betugas untuk melindungi personel dan fasilitas PBB, melindungi warga sipil, serta mendukung operasi kepolisian di Sudan.

Sebelum bertugas sebagai Individual Police Officer di Darfur, Yuli menjalani seleksi yang cukup ketat. Dia mengikuti beberapa tes, yakni bahasa Inggris, menyetir, dan menembak. Dia menjalani dua tahap seleksi. Seleksi pertama dilakukan Mabes Polri, sedangkan seleksi kedua dilakukan PBB.

Dari sekian banyak polisi dalam angkatannya hanya lulus 100 orang, kemudian nama-nama tersebut dikirim markas PBB di New York dan barulah diseleksi kembali, sampai akhirnya 43 orang dinyatakan lolos. Lima di antaranya polisi wanita.

Sebelum berangkat, dia pun sempat mendapatkan pelajaran bahasa Arab agar berkomunikasi dengan warga di sana. “Pelajaran ini sangat berguna saat di lapangan. Walau pun hanya dengan assalamualaikum warga di sana sudah senang," ungkapnya.

Sebagai bagian dari Garuda Bhayangkara, sebutan untuk polisi saat bertugas sebagai pasukan perdamaian, Yuli mengaku punya banyak suka dan duka. Dia menghadapi banyak tantangan. Di antaranya adalah Sudan merupakan wilayah yang sering dilanda bencana.

Pengalaman paling tidak nyaman adalah ketika terjebak banjir di tengah gurun pasir. Saat itu, dia bersama rombongan mendatangi pos pengamanan tidak jauh dari markas.  "Saya ikut patroli siang. Cuaca tidak kelihatan akan hujan. Tiba-tiba cuaca berubah jadi gelap dan hujan deras. Keadaan di tempat saya patroli saat itu langsung banjir sehingga kita tidak bisa kembali ke kamp saya," ungkapnya.

saat memotret Ibu Yuli
saat ngopi dengan Ibu Yuli

Sialnya pada saat itu, Yuli tidak membawa sedikit pun perbekalan makanan, dia hanya membawa satu botol air mineral. Ia berfikir saat itu, tempatnya patroli tidak jauh dari camp utama hanya 20 menit perjalanan.

Karena tidak bisa kembali akibat jalan yang dilaluinya berubah menjadi sungai lumpur, ia pun terpaksa harus bermalam. Dengan berbekal satu botol minuman mineral Yuli harus bertahan hingga keesokan harinya.

"Saya tidak bawa persediaan makanan saat itu, karena jalan yang dilalui tergenang air makanya kita terjebak. Kawan dari FPU Mesir yang mencoba mencari jalan ke luar pun ternyata tidak bisa jadinya kami bermalam," ujarnya.

Pengalaman itu membuatnya lebih berhati-hati dan membuat perencanaan yang matang. Dia tidak ingin mengalami situasi seperti ini lagi. Pengalaman menjadi guru terbaik baginya.

Indonesian Way

Sebagai perempuan yang bertugas di area konflik, Yuli tidak pernah mengkhawatirkan apapun. Dia terkenang ibunya yang pernah berkata, selagi dia memperlakukan orang lain dengan baik, maka dirinya pasti akan diperlakukan dengan baik.

“Bagi kita orang Indonesia, senyum dan sapa adalah hal biasa. Setiap hari kita melakukannya. Tapi saat berada di negara lain, apalagi yang tengah mengalami konflik, senyum dan sapa menjadi diplomasi yang sangat efektif. Saya bisa diterima siapapun,” katanya.

Salah satu pendekatan Indonesia dalam misi perdamaian adalah community engagement. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk Civil-Military Cooperation (CIMIC) yang biasanya berupa bantuan kemanusiaan yakni mengajar dan memberikan layanan kesehatan. Selain itu, juga melakukan fasilitasi gencatan senjata dan proses perdamaian.

saat di kamp

Pendekatan ini membuatnya mudah diterima warga sipil. Dia membangun kedekatan dengan para ibu yang sedang mengantri air bersih. Dalam beberapa foto, terlihat dirinya saling menyapa dan berdialog dengan para ibu.

“Pengalaman saya, perempuan lebih diterima oleh masyarakat lokal dan mampu memberikan rasa aman, khususnya bagi perempuan dan anak-anak di kamp pengungsi. Budaya Indonesia dapat diterima dengan baik di masyarakat lokal. Kita cukup beri senyum, sapa dan salam,” katanya.

Yuli dan perempuan lain yang bergabung dalam peace-keeper menjadi duta bangsa Indonesia yang menyebarkan benih-benih perdamaian. Yuli memberi kontribusi penting untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak sebagai pihak yang paling banyak menjadi korban. Yuli menunjukkan betapa pentingnya pendekatan kemanusiaan demi membantu mereka yang dilanda konflik.

Yuli dan Polwan Indonesia lainnya telah menunjukkan kasih sayang dan semangat persaudaraan di negeri yang jaraknya ribuan kilometer. Dalam diri mereka, terdapat wajah Indonesia yang sesungguhnya yakni wajah yang welas asih, wajah yang mengedepankan "kemanusiaan yang adil dan beradab."

Mereka adalah anak bangsa yang menjalankan amanat konstitusi yakni “turut menciptakan perdamaian dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.”




Prasasti Abadi Seorang Polwan


Dewi Suryani di depan masjid yang dibangunnya sendiri di Darfur

Masjid itu berdiri kokoh di tengah gurun pasir yang tandus dan kering di tanah Sudan. Warnanya coklat kekuningan. Masjid itu menjadi tempat salat sekaligus tempat bertemu para warga.

Di samping masjid, terdapat plang berukuran cukup besar yang berisikan tulisan dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris. Tulisan itu terbaca:

Dewi Suryani IPO Indonesia
This Al Rahman Mosque was constructed
By heartfelt female
Donation from female IPO Indonesia 1 Dewi Suryani

Semua orang yang tinggal di sekitarnya tahu kalau masjid itu didirikan oleh Bripka Dewi Suryani, seorang polisi wanita asal Indonesia yang bertugas sebagai Individual Police Officer.

Datang sebagai polisi yang bertugas untuk perdamaian, Dewi melakukan suatu hal yang monumental. Dia mendonasikan semua gajinya untuk membangun masjid yang diharapkan akan menjadi jembatan bagi warga untuk bertemu dan berdoa bersama.

“Niat saya sederhana. Saya ingin masjid ini bisa menimimalkan perselisihan. Biasanya perselisihan muncul karena kesalahpahaman. Semoga masjid ini membawa rahmat dan kasih sayang sehingga terwujud perdamaian,” kata Dewi Suryani melalui sambungan telepon.

Dia hanya orang biasa yang bertugas di misi perdamaian. Dia bukan orang kaya-raya yang punya harta berlimpah dan setiap saat bisa bangun masjid. Tapi Dewi bertindak luar biasa. Dewi menggunakan semua gajinya untuk masjid yang diharapkannya bisa menjadi kanal perdamaian.

Perempuan asal Sumatera Barat ini mulanya datang patroli di Shangil Tobaya. Dia terkejut melihat masjid milik warga yang dibangun dari alang-alang yang terlihat sangat sederhana. Saat hujan turun, air akan masuk ke dalam masjid sehingga mengganggu orang yang sedang salat.

"Suatu hari saya patroli, terus lihat kok masjidnya kayak gini. Hujan lagi. Kayak ranting yang disusun-susun. Saya berpikir kalau masjid ini diperbaiki, pasti akan sangat bagus buat masyarakat. Selama ini mereka mengeluh kalau hujan maka langsung banjir,” katanya.

Dewi gelisah melihat kondisi masjid yang terbuat dari alang-alang itu. Apalagi, masjid sederhana itu letaknya di kampung milik Hafiz, lelaki yang selama ini menjadi penerjemahnya. Hafiz membantu Dewi untuk berkomunikasi dan menjalin relasi dengan warga lokal.

Biarpun Hafiz menjadi asisten lapangan, Dewi memosisikannya sebagai orang tua yang harus dihormati. Dia memanggilnya Abah Hafiz sebagai bentuk penghormatan. Panggilan Abah di Indonesia menunjukkan kedekatan dengan seseorang yang dipandang sebagai bapak atau paman.

kondisi masjid sebelum dibangun
Setelah dibangun ulang

Sejak pertama tiba, Dewi terkejut melihat kondisi daerah itu yang mengenaskan. Dia tidak menyangka daerah konflik jauh lebih parah dari apa yang selama ini pernah disaksikannya.

“Kesan saya sedih di awal-awal. Saya hanya diam saja. Kok ternyata masih ada yang kayak gini yaa. Jangankan buat belanja, buat makan saja mereka susah. Air saja di tanah yang jorok itu diminum sama mereka,” katanya.

Dewi menyaksikan satu fragmen kehidupan yang dahulu tampak indah, namun dikoyak oleh konflik. Konflik telah membawa dampak bagi semua orang. Banyak jiwa yang hilang dan banyak sumber daya yang hancur. Banyak ibu-ibu yang harus banting tulang demi mencari makanan dan air untuk anaknya.

Dewi tahu kalau dia hanya orang luar yang datang dengan misi perdamaian. Dia menjadi saksi dari banyak peristiwa di situ yang belum menunjukkan tanda-tanda konflik akan berakhir. Dia sedih menyaksikan anak-anak yang kelaparan.

Sayangnya, dia tidak bisa memberikan makanan yang selalu dibawanya saat patroli pada anak-anak. Dia patuh pada arahan pihak PBB yang tidak menginginkan para anggota pasukan perdamaian memberikan makanan kepada masyarakat.

“Jika itu dilakukan, maka masyarakat bisa berkelahi. Dikasih satu orang, ratusan orang bisa mengejar dan meminta bagian yang sama,” katanya.

Akhirnya Dewi menemukan cara membantu masyarakat yakni dengan membangun masjid. Melalui penerjemahnya, Hafiz, dia berkomunikasi dengan warga sehingga rencana itu bisa terwujud.

Ketika masjid itu telah selesai, Dewi mendapat penugasan baru ke headquarter. Dia memang mengajukan lamaran agar bisa pindah ke situ. Saat ia menyampaikannya ke sejumlah warga, mereka langsung shock. Mereka bilang Dewi tidak boleh pergi sebelum ada satu seremoni yang menghadirkan semua warga desa agar mereka bisa berterimakasih langsung kepadanya.

Namun, Dewi tidak ingin melalaikan tugas. Dia tetap ingin pergi. Komandannya di desa itu mengirim surat ijin kepada pihak headquarter. Izin diberikan. Dewi bisa menunda keberangkatan demi menghadiri pertemuan bersama seluruh warga yang hendak menyampaikan ucapan terima kasih.

Akhirnya, pertemuan itu diadakan di dekat masjid. Semua warga desa berdatangan demi memberi ucapan terima kasih kepada Dewi, seorang polwan Indonesia yang telah membiayai pembangunan masjid dengan gajinya.

“Warga desa sangat terharu dan berharap saya bisa sering-sering datang untuk menengok mereka. Sebagai polisi, saya senang bisa berkontribusi. Tujuan saya bukanlah untuk popularitas. Saya hanya ingin membantu mereka sebisa yang saya lakukan. Saya bahagia jika mereka bahagia,” katanya.

Apresiasi terhadap Dewi tidak hanya diberikan oleh warga desa di Darfur. Apresiasi itu juga datang dari Jakarta. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo sangat kagum dengan langkah Bripka Dewi.

“Polri memberikan apresiasi terhadap langkah terpuji Bripka Dewi yang telah melakukan renovasi dan pembangunan masjid di Sudan,” katanya.

Kontribusi Polwan

Dewi Suryani telah dua kali menjadi anggota Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB atau "United Nations - African Union Hybrid Operation" di Darfur, Sudan. Sebelumnya, dia pernah terlibat penugasan mewakili anggota Polri yang bertugas sebagai penjaga misi perdamaian pada wilayah "sektor sentral" di Darfur pada tahun 2014.

Bersama polwan yang diterima dalam misi perdamaian, Dewi mendapatkan pembekalan "Pre Deployment Training" (PDT) selama tiga pekan yang diselenggarakan satuan kerja Polri Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) dikepalai Irjen Polisi HS Maltha.

Saat Dewi di Darfur, Sudan

Selanjutnya, Dewi bersama beberapa rekannya menjalankan kegiatan seperti pelatihan mengemudi, pengenalan misi PBB dan "United Nations Core Value", pemeriksaan kesehatan, vaksinasi, serta simulasi kerja.

Pembekalan itu digelar di ruangan "Command Post Exercise" (CPX) bertempat di Pusat Latihan Multi Fungsi (PLMF) Cikeas Bogor Jawa Barat. Bagi anggota Polri yang terpilih wajib mengikuti pelatihan itu sebagai bekal melaksanakan tugas pada misi pemeliharaan perdamaian PBB.

Pusat latihan ini memiliki berbagai fasilitas diantaranya ruang kelas, ruang makan, tempat ibadah, tempat pelatihan mengemudi, shooting range, Command Post Exercise, serta fasilitas akomodasi.

Jumlah polwan yang ikut dalam misi perdamaian terus bertambah. Tahun 1999, jumlah polwan yang menjadi Individual Police Officer (IPO) hanya 1 orang. Pada tahun 2019, jumlahnya telah mencapai 56 orang. Tahun 2019, ada 29 orang polwan yang terdaftar sebagai Formed Police Unit (FPU). Jumlah ini terus bertambah setiap tahunnya.

Berkat latihan, Dewi memiliki kapasitas untuk menjalankan misi perdamaian internasional. “Andaikan saya masih punya waktu lebih lama di Darfur, saya berencana untuk memfasilitasi pertemuan pihak-pihak yang bertikai di sana,” katanya.

Dewi telah menjalin komunikasi dengan semua pihak yang bertikai. Dia telah memetakan konflik itu hanya berkisar pada orang-orang tertentu saja. Andaikan punya waktu lebih, dia akan menuntaskan satu kerja besar yakni memfasilitasi dialog yang akan mempertemukan semua pihak pada posisi yang sama.

Langkah yang hendak dilakukan Dewi bukanlah hal baru. Bulan Mei 2019 lalu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat memimpin sidang Dewan Keamanan PBB, menyebut kisah seorang mayor dari Indonesia yang berhasil menjalankan misi fasilitasi perdamaian.

Retno menyebut keberhasilan personel asal Indonesia di MONUSCO, Republik Demokratik Kongo, yang berhasil mengupayakan rekonsiliasi antara komunitas lokal dengan mantan kombatan, sehingga memungkinkan reunifikasi keluarga.

“Mayor Gembong beserta tim-nya dari Indonesia berhasil memfasilitasi reunifikasi 422 mantan kombatan, sehingga semakin memperkuat perdamaian,” ujar Menlu Retno Mardusi kepada DK PBB.

Dia memuji pasukan penjaga perdamaian PBB atau Korps Baret Biru merupakan contoh nyata mengenai kemitraan global, kepemimpinan kolektif dan tanggung jawab bersama untuk perdamaian.

“Korps Baret Biru (Blue Helments) adalah penjaga perdamaian yang melindungi ratusan juta manusia di seluruh dunia. Mereka adalah wajah Dewan Keamanan PBB, dan salah satu potret kerja sama multilateral yang terbaik,” ungkapnya.

Warisan Berharga

Wajahnya terlihat gembira saat tiba di Padang, Sumatera Barat. Agustus 2019, Dewi telah kembali dari misi perdamaian di Darfur. Dia masih teringat bagaimana sambutan masyarakat desa di Darfur yang sangat besar pada kehadiran polwan.

“Saya masih teringat saat masih di sana. Kalau kami pergi patroli, kita sering dikejar anak-anak. Saya masih ingat sambutan masyarakat yang sangat besar pada keberadaan polwan Indonesia. Hati saya masih tersimpan separuh di sana,” katanya.

saat Dewi bertugas

Dewi telah meninggalkan Darfur. Tapi semangatnya yang selalu mendahulukan kepentingan warga desa akan selalu menjadi teladan bagi banyak orang. Dia telah meninggalkan warisan berharga, bukan hanya bagi masyarakat Darfur, tapi juga bagi polwan yang akan menjalankan misi perdamaian.

Dewi telah menjadi duta bangsa yang menampilkan keramahan dan kasih sayang bangsa ke panggung internasional. Dia meninggalkan banyak mutiara berharga sebagai anak bangsa yang selalu peduli pada kemanusiaan dan mewujudkannya di mana pun dirinya berada. Dia meninggalkan prasasti yang membekas di hati warga Darfur.

Masjid itu bukan sekadar fisik. Di situ ada ketulusan, keikhlasan, dan rasa cinta yang ditunjukkan seorang manusia dari seberang lautan. Di situ ada hati yang bening, yang melihat semua orang sebagai saudara.




Pelajaran dari Petani Jagung




Dia seorang petani jagung di Texas, Amerika Serikat. Jagungnya selalu dikenal sebagai jagung paling unggul. Jagungnya selalu dihargai lebih mahal karena orang percaya dengan kualitasnya yang terjaga.

Dia pun seorang yang dermawan. Semua petani yang datang meminta bibit jagung unggul itu, pasti akan diberinya. Bahkan dia dengan senang hati berbagi ilmu tentang bagaimana menanam jagung.

Seorang jurnalis bertanya, apa dia tidak khawatir ilmunya akan dijiplak hingga jagungnya banyak pesaing? Kenapa dia tidak merahasiakan saja ilmu menanam jagung?

Petani itu hanya tersenyum. Dia pun menjelaskan, kalau di sekeliling kebun itu ditanami jagung unggul, maka pembuahan yang terjadi karena angin akan selalu menghasilkan jagung-jagung yang juga unggul.

Jika saja hanya kebunnya yang memakai bibit unggul, sementara kebun di sekitarnya dari bibit yang kurang baik, maka pembuahan jagung di kebunnya akan tidak maksimal. Bibit yang kurang bagus bisa terbawa angin ke kebunnya, dan menghasilkan jagung yang kurang bagus.

Jurnalis itu terdiam. Petani itu baru saja menyiram segelas inspirasi di kepalanya. Pada dasarnya kesuksesan seseorang sangat bergantung pada kesuksesan orang lain. Jika Anda hanya sukses seorang diri, maka Anda adalah seorang individual yang kesuksesannya tidak bertahan lama.

Tapi jika Anda banyak membantu orang lain untuk menggapai kesuksesan, maka kesuksesan Anda akan bertahan lebih lama. Orang lain yang Anda bantu itu siap untuk menopang dan membantu Anda agar selalu sukses. Jika suatu saat Anda ditimpa masalah, orang lain selalu siap membantu agar Anda kembali bangkit.

Dalam hidup, kita terlampau sering hanya memikirkan diri sendiri. Kita seakan berlomba di sirkuit untuk menjadi yang terunggul, terbaik, dan menyingkirkan orang lain. Kita ingin menjadi yang terhebat, lalu mengabaikan orang di sekitar kita.

Gara-gara semua obsesi itu, kita terasing dari dunia sekitar kita. Bahkan kawan kita pun seakan enggan berdekatan dengan kita. Ada di antara kita yang bangga menjadi pejabat dan merasa berhak memerintah orang lain. Namun saat dia kehilangan jabatan, barulah dia sadar ketika semua orang menjauh dari dirinya perlahan-lahan.

Di titik ini, kita menemukan relevansi dari konsep karma. Selagi Anda memberi kebaikan pada semesta, maka semesta pun akan membalasnya dengan kebaikan. Selagi Anda mendedikasikan hidup untuk membantu orang lain, maka semua orang akan menjadikan dirinya sebagai tangga agar Anda selalu sukses.

Petani jagung itu tahu nikmatnya memberi. Bahkan dia rela berbagi rezeki kepada semua orang di sekitarnya. Sebab kebahagiaan terbesar bukan pada sanjungan dan pujian. Kebahagiaan terbesar baginya terletak pada senyum tulus, raut wajah gembira, serta kegembiraan yang terpancar di hati orang lain saat dia datang menyapa. Saat itu, dia menjadi orang paling bahagia sedunia.

Kawan yang baik, sudahkah Anda membantu orang lain hari ini?


Postingan yang Bikin Kaya




Sering saya mendengar para penulis dan sastrawan mengeluh karena keterbatasan penghasilan. Namun anak muda yang saya temui hari ini tak punya keluhan sama sekali.

Saya dan dia bertemu tanpa sengaja di satu sudut coworking-space di Bogor. Penampilannya seperti anak kuliahan yang sedikit dekil. Dia mengenali saya sebagai blogger dan kompasianer. Maka tenggelamlah kami dalam obrolan.

“Ngapain kamu di sini?” tanyaku.
“Saya bekerja bang” jawabnya.
“Hah! Saya lihat kamu cuma ngopi dan mainin HP”

Dia terkekeh. Dia lalu bercerita tentang dunianya. Dia membuat perusahaan yang kerjanya adalah membuat postingan status di media sosial.

Saya tertarik. Sebab saya mengenal beberapa tipe orang di medsos. Ada yang senang posting curhat, suka posting makanan, atau suka berbagi jalan2 di Korea. Ada juga yang menjadikan medsos sebagai arena berperang melawan kubu lainnya.

Anak muda di hadapan saya ini menjadikan medsos untuk membuat postingan yang kemudian dibayar. Menurutnya, semua lembaga, perusahaan, kursus, toko, kantor, bahkan warung rata-rata punya akun di medsos. Tidak semua lembaga punya kemampuan untuk mengelolanya. Dia lalu membuka jasa posting di medsos.

“Berapa bayarannya?”
“Saya dikontrak bulanan Bang. Saya dibayar 5 juta rupiah per bulan,” katanya.

Saya pikir jumlah itu tak begitu banyak. Dia tersenyum melihat saya yang sedikit skeptis. “Saya punya lima klien Bang. Sebulan saya bisa dapat 25 juta rupiah hanya dari posting2,” katanya. Hah? Kali ini saya yang terbelalak.

Saya pikir masuk akal dia punya penghasilan segitu. Dulu, perusahaan membutuhkan jasa admin call center untuk menjawab telepon dan menangani protes klien. Kini, semua lembaga punya website dan akun medsos sebagai wajah perusahaan.

Semua lembaga membutuhkan jasa admin medsos yang profesional, mampu membuat postingan menarik dan menjual, bisa membangun komunitas maya, serta bisa mengelola interaksi dengan semua follower. Para admin ini bisa bekerja dari mana saja. Ada yang standby di warkop, kafe, malah ada yang setiap hari nongkrong di coworking space.

Ini bukan kali pertama saya bertemu anak muda yang hanya duduk-duduk bisa meraup banyak duit. Sebelumnya saya pernah bersua dengan beberapa buzzer yang kerjanya hanya nongkrong di kafe tapi bisa meraup banyak penghasilan.

Yang bikin saya kagum, anak muda ini bisa mengolah keterampilan menulis menjadi sesuatu yang menjanjikan. Saya tahu kalau kemampuan menulisnya standar. Biasa saja. Tapi dia bisa memasarkan dirinya sehingga menjadi kreator konten yang dipercaya banyak orang. Dia bisa menjual kemampuannya sehingga dipercaya oleh para calon klien.

Sering kali kita hanya mengasah kemampuan teknis, yakni menulis, meneliti, menganalisis, memotret, mendesain, atau membuat grafis dan video, juga membuat karikatur. Sekadar kemampuan teknis tidak cukup. Kita dituntut untuk mengembangkan keterampilan bisnis, membangun brand, bangun relasi, networking, mengelola sumber daya, menetapkan harga, hingga strategi pasar.

Jika kemampuan teknis dan non-teknis ini digabungkan, maka brand seseorang bisa melejit dan mengelola bisnis dari rumah. Dia tinggal duduk santai, membangun relasi melalui medsos, lalu sesekali bertemu klien untuk tandatangan kontrak. Dia tinggal menjadi lelaki orderan yang dibayar jasanya.

“Trus, apa kamu gak repot kelola enam akun medsos dan mesti posting tiap hari?” Kembali saya bertanya.
“Gak Bang. Kadang postingan di lembaga A, saya posting lagi di lembaga B beberapa hari berikutnya. Saya bikin bank konten. Kan audience-nya beda” katanya sembari tersenyum
“Sialan!. Cerdas sekali kau.”

Kami tertawa terbahak-bahak.



Membaca Terjemahan The Wealth of Nations




Menjadi peresensi itu nikmat. Anda tidak hanya bisa baca buku baru, tetapi juga bisa berbagi ilmu dengan orang lain. Anda punya peluang dapat banyak kawan sesama pembaca buku. Lebih nikmat lagi ketika bisa mendapatkan buku gratis.

Kemarin, Penerbit Globalindo, yang pengelolanya keren-keren mengirimkan saya buku terjemahan The Wealth of Nations yang ditulis Adam Smith. Ini buku babon dalam ilmu ekonomi. Penulisnya adalah bapak ilmu ekonomi. Dia sepenting Isaac Newton dalam ilmu fisika, ataupun Charles Darwin di ranah biologi.

Saya memang sudah berniat membelinya. Tapi saya ragu-ragu karena saya pikir rumit. Selain itu, kantong sedang kering gara-gara lama menganggur.

Penerbit mengirimkan buku itu secara gratis. Katanya, saya tak perlu mengeluarkan biaya apa pun. Saya hanya perlu memberi alamat. Aseekk...

Beberapa bulan ini saya sering dikirimi buku gratis. Saya anggap ini adalah silaturahmi yang indah antara penulis dan pembaca buku. Sejujurnya, saya ingin menolak setiap kali dikirimi buku gratis. Saya tahu betul betapa susahnya menulis sesuatu, sementara nilai jualnya tak sebanding dengan kerja kerasnya.

Sudah sepantasnya jika apresiasi kepada seorang penulis diberikan dengan cara membeli karyanya, bukan menerima hadiah gratis. Tapi, di era medsos kayak sekarang, apresiasi bisa diberikan dengan cara lain. Di antaranya adalah menulis resensi, yang kemudian disebar di ruang maya.

Buku karya Adam Smith ini masuk daftar buku yang ingin saya baca. Semalam saya membacanya sekilas. Saya pikir penuh dengan analisis ala ekonomi makro. Ternyata dia membahas hal-hal sederhana yang filosofis. Dia bercerita dengan kalimat yang berbunga-bunga. Dia mendiskusikan produk domestik bruto, pasar, manfaat perdagangan, hingga kemakmuran.

Saya salut dengan penerjemah buku setebal lebih 1,000 halaman ini yakni anak muda, kader HMI, bernama Haz Algebra. Sebelumnya dia sudah menerjemahkan bukunya Yuah Noval Harari hingga akademisi Steven Pinker.

Saya yakin, menerjemahkan buku setebal 1.000 halaman butuh perjuangan ekstra. Tapi semua lelah itu terbayar saat melihat buku sepenting ini akhirnya terbit, beredar dan menjangkau khalayak luas, dibaca banyak orang, diterapkan pengambil kebijakan.

Jika bertemu dengannya, saya ingin menjabat tangannya sembari berkata: “Terima kasih telah menerjemahkan buku penting yang inspiratif ini. Terima kasih telah membawa khazanah pemikiran dunia menjadi sesuatu yang enak dibaca dan perlu.”

Terima kasih atas kerja kerasnya yang amat bermakna bagi tumbuhnya tunas pengetahuan.



Membaca NAGABUMI 3




Di tahun 2009, saya terpesona membaca cerita silat Nagabumi 1: Jurus Tanpa Bentuk yang ditulis Seno Gumira Ajidarma. Ada rasa dahaga yang terpuaskan atas kian langkanya genre cerita-cerita silat di tanah air. Setahun berikutnya, saya lanjut membaca Nagabumi II: Buddha, Pedang, dan Penyamun Terbang.

Sejak era pengarang Asmaraman S Kho Ping Hoo hingga eranya Bastian Tito yang menulis Wiro Sableng, saya selalu menyukai cerita para pendekar yang menemukan kesempurnaannya dalam setiap pertarungan. Mereka mengarungi dunia persilatan dan bertemu dengan berbagai tokoh dan karakter.

Setiap pendekar punya motif dan tujuan. Ada yang hendak merebut supremasi sebagai pendekar tak terkalahkan. Ada pula yang bertarung karena bayaran. Dalam kisah Nagabumi, saya menyukai sosok Pendekar Tanpa Nama yang selalu dikejar para pendekar karena dirinya tak pernah kalah.

Sosok ini mengingatkan saya pada Kenshin Himura, sosok dalam kisah Samurai X, yang sengaja menyepi di desa demi melarikan diri dari masa lalunya sebagai pembantai para pendekar. Justru ketika dia bersembunyi, dia akan terus dicari mereka yang ingin menjadi sosok tak terkalahkan.

Bedanya, Pendekar Tanpa Nama selalu bisa menyedot kemampuan lawannya. Jurus Tanpa Bentuk yang dikuasainya memberinya kemampuan untuk menyerap semua ilmu silat dari lawannya. Dia tidak bisa digolongkan sebagai putih dan hitam. Bahkan silat golongan hitam, termasuk ilmu racun pun, dikuasainya.

Yang menarik buat saya, kisah Nagabumi ini bukan sekadar fiksi silat. Tapi di situ juga ada sejarah dan filsafat. Sosok Pendekar Tanpa Nama adalah alter ego dari pengarang untuk menghamparkan berbagai kisah dan jalinan hikmah. Kita seakan berkelana mengikuti perjalanan sang pendekar, mengunjungi beragam budaya dan peristiwa sejarah, serta mereguk nikmatnya filsafat dan seni dalam setiap episodenya.



Kini, di meja saya sudah ada buku Nagabumi 3: Hidup dan Mati di Chang’an. Buku ini terbit delapan tahun setelah buku keduanya terbit. Lama penasaran dan menunggu, saya lalu menemui pengarangnya hanya untuk menanyakan kapan Nagabumi 3 terbit. Hikmahnya, saya jadi kenal dan punya foto bersama sastrawan idola saya ini.

Saya penasaran sebab dalam buku Nagabumi 2, Pendekar Tanpa Nama bertarung di Kamboja. Kini, dia sudah mencapai Negeri Atap Langit dan bersua para pendekar dunia kangouw atau kungfu. Saya membayangkan, betapa beratnya tantangan yang dihadapi di negeri yang melahirkan banyak bela diri.

Saya ingin segera menuntaskannya. Tapi melihat jumlah halamannya yang lebih 1.000, lebih tebal dari Mushashi yang ditulis Eiji Yoshikawa, saya harus sabar dan tabah saat membacanya. Namun, membaca buku bagus itu ibarat menikmati es krim. Nikmatnya makin terasa saat dijilat pelan-pelan sampai habis. Iya kan?


Pengantar untuk Bupati INDAH




Sahabat keren dan ganteng Rizal Muthahhari menulis buku mengenai bupati di Luwu Utara. Pihak penerbit yakni Isnul Ar Ridha memberi saya kehormatan untuk menulis kata pengantar. Saya sudah menerima bukunya. Menurut saya, bukunya sangat keren. Tulisannya mengalir.

Penulisnya bilang sejak lama dia ingin meminta saya menulis pengantar, tapi dia agak malu dan sungkan. Saya tidak paham mengapa dia sungkan. Dia pikir saya seorang penulis sekelas dewa sehingga bisa membuat orang lain keder. Padahal saya hanya warga biasa yang suka jalan-jalan, melukis, bermain biola, juga membelai kucing.

Menurut saya, semua kerja-kerja pemerintahan dan capaian seorang kepala daerah harus dicatat. Jika tidak, maka semua kerja-kerjanya seakan tidak terlihat. Kerjanya bisa diabaikan dan dilupakan begitu saja. Apalagi jika lawan politik gencar mendelegitimasi kerjanya.

Saya ingat seorang pejabat yang merasa risih jika biografinya selama memimpin ditulis. Dia tidak tahu kalau ingatan orang-orang sangat pendek. Ketika kisah-kisah perjalanannya memimpin tidak dicatat, maka semua kenangan tentang dirinya akan segera berlalu dan tersaput angin.

Saya ingat ketika membuka-buka arsip kolonial, saya sering menemukan ada dokumen mengenai memori gubernur atau bupati. Rupanya, pada masa kolonial, seorang pejabat rutin menulis buku yang isinya catatan perjalanan, apa saja yang sudah dibuat, apa saja yang belum dan apa-apa saja yang menjadi rekomendasi.

Saya pikir ini adalah tradisi yang sangat baik. Dengan dituliskan, semua capaian akan terekam abadi dalam sejarah, juga bisa disebarkan ke publik, sehingga mereka tahu apa saja yang sudah dicapai dan apa yang belum.

Bagaimana jika biografi pejabat isinya hanya hal baik? Menurut saya tak masalah. Sebab dia sedang memaparkan satu sketsa kenyataan yang dilihatnya. Kalau ada yang tak sepakat dengan itu, biarlah sejarah yang kelak akan menentukan sejauh mana klaim itu benar ataukah tidak.

Namun, seperti kata Will Durant: “Kata-kata tertulis abadi, kata-kata terucap lenyap.” Apa yang dicatat, itulah yang abadi.

Sepekan ini, seseorang mengajak saya berdiskusi tentang penulisan biografi seorang kepala daerah. Saya katakan, biografi itu sekadar membahas tentang perjalanan seseorang, tapi juga apa saja kebijakan dan warisannya di satu wilayah. Pendekatannya adalah mikro-makro. Kala dalam riset, gunakan kombinasi antara pengalaman dekat (emic point of view) dan pengalaman jauh.

Ada saat kita memantau sisi kemanusiaan seorang pemimpin, ada juga saat memantau semua data-data makro mengenai capaian-capaian. Dengan demikian buku menjadi lebih humanis. Data-data disajikan renyah dan ada sentuhan rasa dan sisi kemanusiaan.

Di akhir diskusi, teman itu bertanya: “Bagaimana jika kamu yang menulisnya?”

Saya tidak segera menjawab

Gadis Nelayan di Wakatobi




Senyumnya mengembang saat berpose di depan ikan baronang raksasa di Desa Liya Bahari, Wakatobi. Dia begitu gembira menyaksikan anak-anak yang semuanya membawa gambar ikan baronang yang diacungkan.

Saya pun mendekat dan mengabadikan kembang senyum itu. Kami saling sapa. Dia bercerita tentang kegemarannya ke laut. Dia pun bercerita tentang bapaknya yang hari itu sangat gembira memanen ikan baronang.

Saya menyimak kisahnya. Saya teringat diskusi dengan senior dan sahabat Zulfikar yang kini menjadi Dirjen Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Katanya, dunia nelayan Indonesia sedang mengalami krisis nelayan muda. Banyak anak muda nelayan yang tidak tertarik jadi nelayan. Anak2 nelayan lebih banyak yang bercita-cita jadi aparatur sipil negara (ASN).

Saya belum lihat datanya. Tapi dugaan saya, krisis nelayan muda juga tengah melanda Wakatobi. Ketimbang meneruskan pekerjaan bapaknya, anak-anak nelayan lebih memilih untuk merantau dan melakoni profesi lain. Profesi nelayan dianggap tidak keren, kurang gaul, dan sedikit kampungan.

"Saya malah ingin jadi nelayan," gadis muda ini seakan paham apa yang saya pikirkan.
"Masak sih?"
"Iya. Buktinya, sekarang saya jadi mahasiswa Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan di Wakatobi."

Saya tersenyum. Sahabat Zulfikar pernah bercerita mengenai sekolah vokasi yang dibentuk Kementerian Kelautan dan Perikanan di Wakatobi. kurikulum sekolah ini diharapkan lebih applied, lebih terapan. Tujuannya agar anak muda bisa langsung bekerja di sektor perikanan.

Saya rasa mindset masyarakat pun harus berubah. Profesi nelayan, dan juga petani, adalah sokoguru rumah kebangsaan kita. Mereka berkontribusi besar pada penyediaan pangan yang akan merawat generasi dan menentukan wajah suatu bangsa. Senyum nelayan hari ini adalah senuum generasi Indonesia masa mendatang.

Di era 4.0, profesi nelayan juga harus berkembang. bukan lagi hanya menggunakan jala dan kail, tapi sudah harus mengandalkan big data, memantau data satelit tentang arah ikan, memahami kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk penangkapan yang efektif dan ramah lingkungan. Nelayan harus memiliki spirit bisnis lalu mengelola sektor perikanan sebagai bisnis yang produktif dan bisa mensejahterakan.

"Kak, jangan lupa hadir di acara Hekomba, nanti malam. Saya mengundang kakak," katanya dengan mata berbinar. Dia langsung beranjak. Saya suka memandang rambutnya yang agak pirang.

Saya tidak tahu apa itu hekomba. Kata seorang kawan di desa Liya, tradisi hekomba adalah tradisi menikmati malam di terang bulan. Saat itu laki-laki akan bertemu perempuan pujaannya kemudian berkenalan lebih akrab. Keduanya memandang bulan bersama-sama. ini tradisi yang sangat romantis di masyarakat pesisir.

Dalam hati kecil, ada tunas tanya yang tumbuh, kok dia mengajak saya yaa.



BAHLIL LAHADALIA di Pulau Tomia


Bahlil di Pulau Tomia

Di antara banyak nama yang disebut Presiden Jokowi sebagai menteri, saya tertarik dengan satu nama yakni Bahlil Lahadalia, Kepala BKPM. Secara fisik, dia tampak berbeda. Dia kelihatan seperti wajah orang kebanyakan. Dia seperti wajah yang kita lihat di pelelangan, atau pasar ikan. Dia berwajah seperti orang sebelah rumah kita.

Bandingkan dengan Airlangga Hartarto yang wajahnya terlihat sebagai orang yang lahir dan besar di keluarga kaya. Lihat pula bedanya dengan Prabowo Subianto yang kelihatan gagah dengan kharisma dan aura terpancar. Jangan bandingkan dia dengan Erick Thohir.

Saya beberapa kali bertemu dan berbincang dengannya di markas Relawan Pengusaha Nasional untuk Jokowi-Amin (Repnas) yang dibentuk para pengurus HIPMI. Dia menjadi Ketua Dewan Pembina Repnas, sementara saya menjadi konsultan media sosial.

Di situlah saya mendengar suaranya yang sekeras debur ombak di lautan. Dia berbicara dengan logat timur Indonesia yang kental. Saat dia tahu saya orang Buton, dia langsung sumringah. Dia mengaku sebagai orang Buton. Orangtuanya berasal dari Pulau Tomia dan Binongko di Wakatobi, yang merantau ke Maluku Tengah, kemudian ke Fakfak, Papua. Daerah-daerah ini adalah kota-kota yang menjadi migrasi orang Buton di timur Nusantara.

Beberapa tahun lalu, sahabat saya Eka Sastra sudah bercerita banyak tentang Bahlil. Dia memulai semuanya dari bawah. Mereka yang sering ke timur pasti paham bahwa kebanyakan orang Buton sering menjadi pekerja kasar yang bekerja keras. Dia pun menjalani hidup yang cukup keras.

Di masa kecil, Bahlil sudah menjajakan kue di sekolah. Semasa belajar di SMK, bahkan dia menjadi kondektur dan sopir angkot. Saat kuliah, dia tak punya biaya untuk lanjut ke Jawa. Dia lalu banting stir kuliah di sekolah tinggi yang tidak terkenal di Jayapura. Dia pun bekerja serabutan sebagai sopir angkot untuk membiayai kuliahnya.

Tapi, dalam dirinya ada jiwa seorang aktivis. Dia bergabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hingga terakhir menjabat sebagai Bendahara Umum di PB HMI. Para aktivis HMI di Jakarta sering bercerita tentang Bahlil yang memulai kariernya dari tukang bikin kopi, lalu perlahan mulai sok akrab dengan para senior sehingga mendapat kepercayaan.

Saya melihat dia tipe pekerja keras yang mudah akrab dengan siapapun. Dia juga tipe yang hangat dan suka bercerita lepas. Ini menjadi modalnya ketika mengarungi rimba raya Jakarta. Dia menemukan passion-nya di dunia bisnis. Perlahan dia mulai menikmati kesuksesan, hingga akhirnya bisa membangun gedung bernama Cenderawasih Building di kawasan Mampang Prapatan.

Yang saya sukai, dia bukan tipe yang suka menutupi masa lalunya. Dia tak pernah malu bercerita dirinya di masa lalu yang bukan siapa-siapa. Dia ingin memotivasi adik-adiknya di HMI kalau semua orang bisa menggapai kesuksesan sepanjang berusaha dan punya semangat pantang menyerah.

Namanya mulai berkibar saat maju sebagai calon Ketua HIPMI. Dia melawan pengusaha yang merupakan putra dari satu grup besar taksi yang beroperasi skala nasional. Dia bisa memenangkan kontestasi itu. Bintangnya kian bersinar dan mulai sering tampil di layar televisi.

Saat perhelatan kampanye presiden 2019, dia langsung bergabung dengan Jokowi. Saya mendengar sendiri alasannya di kantor Repnas. Dia ingin melihat orang kampung seperti Jokowi bisa menjadi pemimpin. Dia menyebut dirinya dan Jokowi punya DNA yang sama yakni sama-sama dari kampung, sama-sama memulai dari nol. “Saya ingin lihat orang kampung menjadi presiden,” katanya.

saat Bahlil dipanggil Jokowi sebagai menteri

Di dunia pengusaha, Bahlil adalah mentor bagi banyak orang. Dia selalu mengajarkan kerja keras dan tekun belajar. Dia punya teori tentang para pengusaha yakni by nasab dan by nasib.

Yang dimaksudkannya by nasab adalah pengusaha yang mengelola usaha yang merupakan warisan keluarga. Pengusaha yang kaya karena sudah kaya dari sononya. Sedangkan by nasib adalah pengusaha yang memulai semuanya dari bawah, sebab harus bekerja demi hidup. “saya ini pengusaha by nasib karena harus mulai dari nol. Saya generasi pertama,” katanya sembari terkekeh.

“Yang kita butuhkan adalah pengusaha by desain. Karena segala hal harus dirancang sejak dini. Kompetisi makin ketat, makanya bisnis juga harus cerdas.’

Saat ditanya siapa sosok pengusaha yang paling menginspirasinya, dia langsung terdiam sesaat. Dia menyebut sumber inspirasinya adalah orang Buton bernama Lahadalia, bapaknya yang berprofesi sebagai buruh bangunan. Bapaknya adalah buruh bangunan yang bergaji 7.500 rupiah per hari, namun bisa menyekolahkan 8 anaknya hingga sarjana. Bapaknya tetap bekerja untuk anaknya, meskipun sedang sakit.

“Sayang, bapak saya meninggal tahun 2003, saat saya belum jadi apa-apa,” katanya parau.

Andai saja bapaknya melihat dirinya dipanggil presiden sebagai seorang menteri, pasti dia akan tersenyum bahagia.


Geliat Literasi di Wakatobi




Di Pulau Wanci, Wakatobi, saya kembali bertemu anak muda inspiratif ini. Dia dipanggil Muizt Bhojest. Hari-harinya tak lepas dari kamera. Dia fotografer, tapi belakangan ini mulai menekuni film dokumenter.

Lima tahun lalu, saya bertemu dengannya saat saya datang bersama peneliti IPB yang mengerjakan proyek dari Kementerian Desa. Saya memberikan coaching clinic terkait penulisan. Dia salah satu peserta paling aktif. Saat itu kami membuat buku berjudul Wakatobi: Catatan Para Penyaksi.

Hasrat belajarnya tak pernah surut. Ketika saya tinggalkan Wakatobi, dia terus perdalam kemampuannya menulis skenario. Dia menulis tentang seorang lelaki Suku Bajo yang mencari aksara.

Suku Bajo adalah suku penjelajah lautan yang kemudian menetap di beberapa pesisir laut. Mereka tak bisa jauh dari lautan. Di beberapa daerah, pemerintah hendak mendaratkan orang Bajo. Kebijakan ini jelas ditentang sama orang Bajo sendiri sebab menjauhkan mereka dari lautan.

Bojes memotret sekeping kenyataan tentang anak muda Bajo. Dia membuat cerita tentang lelaki Bajo yang hendak mencari aksara. Anak muda itu mencari guru yang bisa mengajarnya baca tulis. Kata Bojes, masih banyak orang Bajo yang belum bisa membaca dan menulis.

Mereka butuh kemampuan baca tulis agar bisa bernegosiasi dengan pemerintah, agar bisa terkoneksi dengan dunia luar. Saya teringat Butet Manurung yang memberikan keterampilan baca tulis bagi anak-anak Suku Anak Dalam di Jambi.

Bojes membuat film dokumenter tentang anak muda itu. Kisah Mustari Mencari Aksara itu mengangkat perjalanan seorang anak Bajo untuk mencari guru yang mengenalkannya pada aksara. Karyanya kemudian diikutkan lomba di tingkat nasional. Ketekunannya berbuah.

"Saya tidak menyangka, karya itu terpilih sebagai juara dua nasional," katanya saat saya temui di Wakatobi.

buku yang kami buat di Wakatobi

Bojes diundang ke Makassar untuk mendapatkan penghargaan atas karya filmnya. Dia memakai pakaian khas tokoh adat di Wakatobi. Dia bangga karena mengharumkan gugusan pulau indah itu ke pentas nasional. (silakan cek filmnya di Youtube)

Kini dia aktif berjuang untuk literasi. Dia ingin membuat buku mengenai cerita rakyat Wakatobi. Dia pun ingin membuat pameran foto hasil perjalanannya di wilayah yang disebut sebagai surga nyata bawah laut itu.

Saya tidak menyangka Rumah Kita, yang pernah saya dirikan di Wakatobi, kini terus berkembang. Anggotanya terus menuai prestasi di bidang-bidang kreatif. Selain Bojes, saya juga bertemu Guntur yang kini menjadi salah satu fotografer bawah laut terbaik yang pernah saya kenal.

Mereka adalah asa di gugusan pulau indah ini. Mereka punya andil untuk menggemakan Wakatobi ke pentas global sebagai destinasi wisata yang pantas dibanggakan. Sepuluh tahun lalu, Wakatobi belum sehebat ini.

Berkat kerja banyak orang, termasuk mereka dan penggiat sektor kreatif, kabar tentang pulau ini menggaung ke mana-mana.

“Sperma yang dulu kau tanam di sini sudah mulai besar. Sering-seringlah ke sini,” kata Guntur, sahabat Bojes. Yang dia maksudkan adalah Rumah Kita, di mana saya punya andil untuk mendirikan dan melatih mereka.

Saya tersenyum kecut. Saya tahu dia bermaksud menyindir saya yang pernah datang sebagai orang pusat membawa program di masyarakat lokal kemudian menghilang.

Saya lalu diam sambil memandang seorang nelayan yang baru saja pulang dari melaut. Hei, dia bersama anaknya yang cantik. Sesaat saya melupakan Bojes.


Jusuf Kalla yang Mendayung di Antara Dua Presiden




Di tengah sorak-sorai dan gegap-gempita di acara pelantikan, saya terkenang Jusuf Kalla. Ada semacam rongga yang kosong dalam diri saat mengenang sosok hebat ini. Sebagai wakil presiden, dia lebih banyak diam. Tapi mereka yang berada di lingkaran istana paham bahwa dia sosok yang sedang menjaga keseimbangan.

Pada Jusuf Kalla, kita melihat bagaimana gagasan-gagasan bisa dibumikan. Dia melengkapi sisi lain Jokowi yang selalu ingin cepat, tanpa memahami bagaimana birokrasi bekerja, serta berbagai aturan harus dibenahi.

Pada Jusuf Kalla, kita melihat sosok yang kenyang makan asam garam pemerintahan. Dia pun sering di-bully dan dicaci, khususnya televisi berwarna merah yang menjadikan ucapannya tentang Jokowi sebagai bulan-bulanan. Namun dia tetap memancarkan senyum di balik kumis tipis serta logat Bugisnya yang masih kental.

Saya melihat sosoknya bukan semata sebagai wakil presiden. Dia adalah representasi kawasan timur Indonesia, kawasan yang warganya tak lagi bermimpi jadi presiden selagi pemilihan masih mengandalkan popularitas, geopolitik, dan isu-isu kesukuan. Jusuf Kalla menerabas semua arus saat tampil sebagai tokoh penting republik ini.

Saya mengenal banyak orang di lingkarannya. Beberapa kali pun, saya menyempatkan waktu untuk bertandang ke Istana Wapres. Tak terhitung beberapa kali saya ditraktir sama orang dekat beliau, mulai dari jubir, hingga staf humas. Di Istana Wapres, saya menemukan suasana egaliter dalam canda dan tawa penuh persaudaraan.

BACA: Saat Jusuf Kalla Gertak Laskar Jihad

Sosok Jusuf Kalla meningatkan saya pada Hatta yang selalu ingin mencari rekonsiliasi. Hatta pernah menulis buku yang sangat menggetarkan yakni Mendayung di Antara Dua Karang demi menentukan pijakan ekonomi politik Indonesia di tengah percaturan global.

Kata Hatta, Indonesia tidak berpijak pada blok politik mana pun. Indonesia bebas dan aktif dalam perdamaian dunia. Dalam dunia ekonomi, orang-orang melihat posisi Hatta yang hendak keluar dari berbagai ideologi besar.

Pulihan tahun setelah Hatta menulis, Jusuf Kalla pun memilih posisi itu. Dia selalu memilih berada di tengah dari perseteruan anak bangsa yang suka mengotak-ngotakkan diri. Saat pemerintahan Jokowi cenderung ke satu kubu, Jusuf Kalla menjadi temali yang merekat banyak kubu.

Risikonya, dia sering dianggap berposisi di seberang kapal yang dikemudikan presiden. Dia akan dicaci dan dihina oleh mereka yang menjadi garis keras pemerintah. Dia pun akan sering diabaikan dalam urusan politik dan pemerintahan.

Tapi semua tahu, bahwa dalam sikap yang terkesan mendua itu, dia sedang menjaga rumah kebangsaan menjadi milik semua kalangan. Dia ingin mempertegas bahwa republik ini bukan milik satu kalangan. Semua kalangan punya saham terhadap republik ini, terlepas dari begitu banyaknya ketidaksepakatan kita dengannya.

Dia merangkul semua pihak, termasuk pihak yang sering dianggap “musuh” banyak kalangan. Dengan cara itu, dia bisa diterima semua kalangan. Bukan berarti dia selalu mendua, namun dia ingin menyatakan bahwa perbedaan pandangan politik tidak harus membuat kita saling benci dan menyingkirkan yang lain.

BACA: Jusuf Kalla, Quraish Shihab dan Kisah-Kisah Keluarga

Dalam dua kali menjabat sebagai wapres dari dua periode berbeda, tentunya Jusuf Kalla punya banyak cerita.

Di masa SBY, dia sering jadi tameng saat pemerintah hendak mengeluarkan kebijakan yang tidak populer. Dia yang mengumumkan kenaikan BBM, sehingga dicaci publik. Saat BBM diturunkan, Presiden SBY yang gantian mengumumkan. Jusuf Kalla tetap menjalankan tugasnya, meskipun sering menempatkan dirinya dalam posisi tidak menyenangkan.

Di era Jokowi, Istana Wapres selalu terbuka pada kelompok yang mengatasnamakan agama. Dia menerima semua kalangan lalu mengajaknya berdialog. Dia tahu bahwa mereka yang datang dengan api amarah pasti akan mendingin saat dihadapi dengan senyum dan diberi tetes kalimat lembut.

Jusuf Kalla menyimpan banyak hal, cerita, dan dinamika politik di antara dua presiden. Kita tak pernah mendengar kalimatnya yang merendahkan dua sosok yang pernah didampinginya. Di titik ini, dia seteguh Jenderal M Jusuf, sosok yang dikaguminya dan memberinya perintah untuk menyelesaikan Al Markaz Al Islami di Makassar.

BACA: Pesan Tersembunyi dalam Puisi Jusuf Kalla

Saya membayangkan hari-hari yang tak pasti dengan pergantian Jusuf Kalla. Kita semua akan kehilangan satu sosok di pemerintahan yang menjadi perekat semua kalangan dan kelompok. Kita bakal rindu dengan negosiator ulung, yang paham dinamika manusia, sehingga semua pihak merasa ditinggikan dalam konteks bernegara.

Pada diri Jusuf Kalla, kita melihat banyak sisi baik. Dia bukan saja pebisnis handal, ekonom hebat, pekerja keras, penanam kata damai, tapi dia juga sosok yang mempertemukan semua pihak. Dia berdiri di tengah anak bangsa yang merukunkan dan mendamaikan, sembari memberi terang ke mana bangsa ini bergerak.

Saya berharap, semangat perdamaian serta posisi politik yang memihak bangsa harus tetap dirawat dan ditumbuhkan. Semangat Jusuf Kalla harus dilestarikan dan diabadikan dalam gerak laju kebangsaan kita.

Jika Habibie membentuk Habibie Center, satu wadah yang menyebarkan inspirasi dan pemikiran Habibie, saya berharap ada semacam Jusuf Kalla Center yang bisa merawat perdamaian dan kerja keras di antara sesama anak bangsa.

Inspirasi dan teladan Jusuf Kalla ibarat benih yang harus disemai dan disebar ke mana-mana. Di masa depan, kita akan melihat ada banyak pohon perdamaian dan pohon kerja keras yang tumbuh kuat, dengan akar kebangsaan yang kokoh, lalu ranting dan daun-daun menjangkau mega-mega harapan. Kelak, pohon itu akan mengeluarkan buah manis untuk semua anak bangsa.

Terimakasih Daeng Ucu.

BACA: Husain Abdullah: Dari Jurnalis, Jubir Wapres Hingga Calon Walikota





Saat BARONANG Melintas di WAKATOBI


nelayan di Wakatobi

Di banyak tempat, alam menjadi obyek eksploitasi manusia demi keserakahan. Tapi di Liya, Wakatobi, para nelayan dan masyarakat lokal masih memelihara satu kearifan budaya yang mengagumkan.

Saat ikan baronang (rabbitfish) melintas dan melepas telur di wilayah itu, para nelayan bersukacita. Mereka mengadopsi ikan, menghormati ikan yang belum melepaskan telur, lalu berbagi dengan warga sekampung.

Mereka menggelar festival.

***

BAPAK nelayan itu menyiapkan perahu. Saat saya temui di pesisir Pulau Wanci di Wakatobi, dia sedang menata jaring atau perangkap ikan yang disebut ompo. Dia tersenyum sembari memandang lautan yang tengah ramai dengan para nelayan.

Hari itu, para nelayan Wakatobi sedang diliputi suasana penuh gembira. Mengacu pada kalender dan tradisi yang sudah berlangsung sekian tahun, ikan-ikan baronang akan bermigrasi dan melintas di perairan itu.

Di kalangan penyuka seafood, ikan baronang yang dalam bahasa setempat disebut borona, adalah ikan yang teramat lezat. Ikan ini selalu menjadi menu favorit di semua rumah makan. Namun, ikan ini tak selalu tersedia.

Di Wakatobi, ikan baronang malah rutin melintas dalam jumlah banyak. Ikan-ikan itu tak sekadar melintas. Mereka juga melepaskan telurnya di perairan itu, kemudian berpindah. Para nelayan telah lama memiliki kalender tentang kedatangan ikan itu.

Mereka sudah menyiapkan ompo untuk menangkap banyak ikan. Namun, mereka semua terikat pada aturan adat yakni hanya boleh menangkap ikan yang telah melepaskan telurnya. Ikan yang belum masih memiliki telur dibiarkan tetap bebas berkeliaran.

Musim migrasi besar-besaran ikan baronang berlangsung setiap tahun pada bulan September dan November tanggal 11-13 bulan hijriah. Semua nelayan telah lama menyiapkan perangkap ikan. Setiap tahun, mereka akan merayakan momen migrasi itu dengan riang gembira.

“Ikan baronang kayak berebut masuk ompo,” kata bapak nelayan itu dengan tersenyum.

Saya menyimak tuturannya. Alam semesta amat pemurah pada masyarakat Wakatobi. Setiap tahun alam semesta mengirimkan ribuan ikan untuk sekadar melintas agar bisa ditangkap para nelayan. Para nelayan pun membalas kemurahan alam semesta itu dengan cara hanya menangkap yang bisa ditangkap.

Faetival Migrasi Ikan Baronang


Para nelayan menjaga keseimbangan ekologi dengan cara menjaga kontinuitas dan regenerasi ikan baronang sehingga setiap tahun ikan-ikan akan tetap melintas dan panen berlimpah.

Demi menggenapi rasa gembira itu, masyarakat Liya bersama pemerintah Kabupaten Wakatobi dan sejumlah komunitas kreatif menggelar Festival Lalo’a Ikan Baronang. Dalam bahasa setempat, Lalo’a bermakna melintas. Tentu saja, yang melintas adalah ikan baronang, demi melepaskan telurnya di perairan itu.

Ketika mendengar festival ini, saya langsung tertarik. Ini festival yang unik. Biasanya festival selalu mengenai tradisi istana atau kerajaan, yang semuanya borjuis. Tapi ini adalah festival yang bernuansa ekologi.

Saya bisa merasakan ada penghormatan pada tradisi, ekologi, dan maritim. Saya membayangkan betapa arifnya para nelayan di Wakatobi sebab mencatat rapi migrasi ikan-ikan baronang, serta menghargai ikan yang melintas.

Acara festival Lalo’a akan dibuka dengan berbagai rangkaian kegiatan adat setempat, Mulai dari petuah dari ketua adat atau Meantu’u Liya, penampilan tari perang Honari Mosega, permainan Sepa Buloli mirip Sepak Raga, aksi Potamba atau saling lempar menggunakan gumpalan pasir dan lumpur.

bersama gadis Wakatobi berbaju adat


Pengunjung juga bisa ikut tradisi Hekomba atau menikmati malam terang bulan. Saya membayangkan acara ini pasti sangat romantis sebab memandang bulan purnama sembari menyaksikan pementasan drama Sampe’a.

Puncak acara adalah adopsi telur ikan baronang yang dilakukan dengan cara lelang ikan hasil lalo’a. Ikan yang ditangkap dan tidak memiliki telur lagi dalam perutnya, akan dilelang dengan harga tinggi. Sedangkan ikan yang masih memiliki telur tidak bisa dibeli.

Keunikan tradisi ini, ada pada proses lelang yang dilakukan melalui tradisi sampe’a atau pertunjukan drama kolosal. Sampe’a adalah semacam persaingan hasil panen antar kampung. Akan tetapi kampung yang paling banyak dibawakan hasil panen justru dinyatakan sebagai pihak yang kalah. Artinya, kampung itu paling sedikit panen di musim itu.

*** 

“Ini ikan baronangnya. Silakan dinikmati” 

Suara itu mengejutkan saya yang sedang melamun di satu ruas jalan Pulau Wangi-Wangi atau Wanci. Sebagai orang yang besar di lingkungan pesisir, saya sejak dulu menjadi fans berat ikan baronang.

Setiap kali ada tugas di kawasan timur, saya selalu mencari ikan baronang di kedai kuliner milik warga. Saya punya banyak memori terkait ikan ini. Saya ingat nelayan di kampung-kampung yang tersenyum bahagia saat ikan itu dibeli dengan mahal.

Di atas meja di hadapan saya, ikan ini tampak nikmat seusai dibakar. Asapnya mengepul dengan aroma bercampur rempah-rempah dan bumbu-bumbu. Di sebelah ikan, ada sepiring lalapan dengan tomat serta cabe merah yang akan segera berpadu dengan nikmatnya baronang.

Nyam... Nyam...

Kisah Nyata Tiga JOKER di Indonesia




SEUSAI membunuh, Joker tertawa terbahak-bahak. Dia merasa puas karena telah melampiaskan sesuatu. Publik tercekat. Dalam keterhimpitan ekonomi serta masyarakat yang tidak peduli, tindakan Joker dipandang masuk akal dan pantas dilakukan.

Di tanah air kita, ada beberapa orang yang seperti Joker. Ada banyak orang baik yang kemudian kecewa melihat situasi, lalu memilih jadi sosok antagonis. Ada penjahat yang setiap membunuh akan mengkhatamkan Al Quran, ada sosok yang dulunya pejuang kemerdekaan, hingga filsuf yang menulis puisi jelang hukuman mati. Mereka adalah Joker di alam nyata.

Siapakah mereka?

***

LELAKI itu Muksin Tamnge. Tapi ia lebih dikenal dengan nama Temmy. Banyak pula yang mengenalnya dengan nama Taufik. Lahir di Kei, Maluku, pada tahun 1938, namanya kondang di telinga para aparat pada masa Orde Baru. Ia keluar masuk penjara, dan memiliki rekor mengejutkan di dunia rampok. Ia tercatat merampok hingga 397 kali, mengorganisasi 63 preman dari berbagai etnik di berbagai kota.

Dirinya serupa Robin Hood. Ada saat di mana dirinya merampok miliaran, namun ada banyak saat dirinya membagikan rampokan itu ke banyak orang. Pernah, ia memberikan puluhan berlian kepada seseorang. Ia tak punya kriteria siapa yang hendak mendapatkan bantuannya. Selain rajin memberikan uang bagi orang sekitarnya, ia juga sering kedapatan memberikan bantuan bagi orang yang kecelakaan di jalan raya.

Kepribadiannya kompleks. Dari dalam penjara, ia pernah diwawancarai Prisma, jurnal ilmu sosial paling berpengaruh. Kepuasan tertinggi dalam batinnya adalah saat berhasil melahirkan senyum di bibir orang yang tengah dilanda kesusahan dan penderitaan.

Makanya, ia tak pernah menikmati sendirian hasil rampokan. Dihadiahkannya ke banyak orang, sebagai wujud dari aktualisasi mimpinya, untuk menghadirkan senyum di wajah orang lain. Mengapa dia harus menjadi perampok?

Kisahnya panjang. Masa kecilnya menyedihkan. Ayahnya sering mencambuknya, hingga beberapa kali lari dari rumah. Dia lalu belajar di madrasah, lalu lanjut sekolah menengah di Makassar.

Setelah studi lanjutan tentang pendidikan jasmani di Denpasar, ia disiapkan untuk menjadi sosok pelatih olahraga. Ia lalu dikirim ke Belgrado, Yugoslavia, demi mendapatkan pelatih olahraga handal. Apalagi, Indonesia akan menggelar Games of the New Emerging Forces (Ganefo) yang digadang-gadang akan menyaingi Olimpiade.

Sayang, nasibnya tak semulus itu. Ia diharuskan membayar sejumlah uang kepada pejabat Deplu. Tuntutan uang itu tak bisa dipenuhinya. Ia lalu kembali ke Denpasar, Bali. Kegagalan itu mengganggu tidurnya.

Ia berpikir kalau batas antara pejabat dan penjahat amatlah tipis. Seorang pejabat bisa saja jadi penjahat. Ia lalu kembali ke Jakarta, lalu menjadi preman di Pasar Senen. Di dunia hitam, ia menjadi Don yang ditakuti. Ia hanya mau merampok dua hal: (1) orang kaya yang memperkaya dirinya secara tidak wajar, (2) pegawai negeri yang memperkaya dirinya dengan fasilitas negara.

Yang mengejutkan, ia tahu kalau tindakannya jahat. Makanya, ia menutupinya dengan menamatkan Al Quran. Jika rekor merampoknya sebanyak 397 kali, maka ia berhasil menamatkan bacaan Al Quran hingga 548 kali. Dia bangga karena jumlah khataman Quran itu lebih banyak dari angka kejahatan yang dilakukannya.

Ah, biarlah Tuhan yang menilai.

***

DI ujung sel lain, terdapat seseorang bernama Kusni Kasdut. Dia berasal dari Blitar. Lelaki ini sama terkenalnya dengan Muksin. Ia spesialis perampok berlian. Dalam menjalankan aksinya, ia selalu membunuh polisi.  Ia dua kali divonis hukuman mati. Pertama karena membunuh polisi di sebuah perampokan berlian terbesar. Kedua, karena membunuh miliuner Arab yang kaya raya. Lelaki ini kian fenomenal karena beberapa kali lolos dari penjara.

Lahir pada tahun 1929, dirinya menjalani masa kecil sebagai penjual rokok dan kue. Di usia 16 tahun, ia mengetahui satu rahasia bahwa dirinya lahir dari hubungan gelap antara ibunya dengan seseorang, yang tak jelas. Ia kecewa berat.

BACA: Para Jagoan dan Penumpang Gelap Republik

Demi menutupi aib itu, ia mencari kegiatan lain. Di masa Jepang, ia bergabung dengan heiho, lalu menjadi pejuang. Ketika republik ini berdiri, ia bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal-bakal Tentara Nasional Indonesia, dengan pangkat sersan. Tugasnya di BKR cukup unik. Ia diminta merampok, mencuri, membunuh, dan merampas harta orang kaya demi perjuangan republik. Semuanya untuk kemerdekaan Indonesia.

Ia memulai tugas sucinya demi republik dengan merampok orang Tionghoa kaya di Madiun. Hasil rampokan diserahkan ke komandannya. Beberapa kali ia terlibat dalam pertempuran bersenjata. Hingga akhirnya, Konferensi Meja Bundar (KMB) telah menghentikan semua pertempuran itu. Kabinet Hatta melakukan rasionalisasi.

Ribuan tentara direkrut menjadi tentara republik, sisanya diarahkan menjadi pegawai negeri. Banyak pula yang tidak direkrut sebagai tentara ataupun pegawai, sesuatu yang memicu banyak pemberontakan.

Kusni sungguh sial. Namanya tak terdaftar dalam barisan tentara. Kembali, semua luka-luka hatinya kambuh. Ia seorang anak haram, ia seorang perampok bagi republik, ia menjadi ampas yang dibuang begitu saja. Mulailah dirinya menjadi sosok lain. Mulailah ia berkhianat pada republik yang dahulu dibelanya. Kusni menjadi sosok yang lain. Baginya, tak ada beda antara merampok orang Tionghoa kaya di Madiun, dengan merampok emas milik negara.

Tahun itu, tahun 1979, adalah tahun dimulainya Kabinet Pembangunan Kedua. Soeharto melancarkan hegemoni di semua lini. Mahasiswa dijinakkan sehingga kembali ke kampus. Kampus dibanjiri dana riset bagi dosen.

Dia melihat ekonomi yang hanya menguntungkan kelas atas. Pengangguran merebak. Para preman berkeliaran. Soeharto lalu mengeluarkan kebijakan agar aparat berhak menembak para preman di jalan-jalan. Mayatnya dibiarkan begitu saja.

Di tengah situasi itu, Kusni Kasdut melancarkan aksinya. Dia kecewa melihat tindakan negara yang sewenang-wenang pada warganya sendiri, yang telah berjuang susah payah demi kemerdekaan. Di puncak kekecewaannya, dia merampok dan membunuh aparat.

Sayang, dia tertangkap lalu divonis mati. Ia mengganti nama menjadi Ignatius Waluyo, lalu menjadi seorang Katolik yang taat. Hingga akhirnya, suatu hari di tahun 1980, peluru menembus jantungnya. Ia menjalani hukuman mati. Tamatlah riwayatnya.

Kisahnya menyentuh hati banyak kalangan. Grup musik rock, God Bless, membuat lagu yang terinspirasi dari kisahnya. Bahkan tidak lama lagi akan beredar film mengenai Kusni Kasut yang memilih jadi penjahat demi menyampaikan sikapnya pada republik ini.

***

SOSOK lain adalah Henky Tupanwel. Ia lahir di Ende, 17 Agustus 1932. Berbeda dengan Muksin dan Kusni Kasut yang berasal dari lapis menengah ke bawah, sosok Henky justru berbeda. Ia dibesarkan oleh seorang pendeta yang berumah di Bandung, dan bertugas di Angkatan Darat (AD). Ia menikmati hidup berkecukupan, serta sedikit lagi akan menjadi sarjana di Universitas Padjajaran.

Hanya saja, dirinya justru tidak nyaman. Ditempa disiplin yang ketat, serta keharusan belajar agama, Henky memutuskan untuk meninggalkan rumah. Mulailah ia bertransformasi menjadi seorang penjahat.

BACA: Kisah Soewardi yang Esainya Setajam Pedang

Pada usia 25 tahun, ia merampok bank di Bandung. Ia dipenjara, namun berhasil kabur. Beberapa kali mencuri dan ditahan, ia akhirnya ditahan di Nusa Kambangan. Hingga akhirnya berhasil lari, dan kembali merampok bank.

Ia serupa filsuf dalam tahanan. Ketika hakim memutuskan hukuman mati, ia bertanya, “Bagaimana cara Yang Mulia melaksanakan hukuman mati? Apa saya diperkenankan untuk memilih mati dengan cara disalib?” Terhadap seorang pendeta, ia menjelaskan, salib adalah simbol dari kepahlawanan. Yesus mati sebagai pahlawan. Makanya, dirinya pun ingin mati dengan cara demikian. Pada malam sebelum ditembak mati, ia menulis puisi:

Megah-megah dalam penjara
Hingga segalanya harus ditentang
Nyisih dari segala kegelapan
Akan pudar
Megah-megah dalam penjara
Hingga datang kemenangan jiwa
Aku bangga aku bangga
Karena kelelahan jerih payahku
Kan kuperuntukkan hanya bagi kemulyaan Tuhan
Di mana tanah tandus aku bercocok tanam.

Yang terasa dari puisi ini betapa Henky berbangga atas apa yang dilakukannya. Ia mungkin mengalami momen pertobatan, lalu menerima dengan ikhlas semua yang terjadi. Ia lalu melihat dirinya serupa martir yang mengorbankan diri demi Tuhan.

Dalam diri Henky, terdapat banyak pertanyaan tentang agama. Ia melihat para pendeta sibuk memenjarakan agama dalam pemenjaraan suci (holy confinement) untuk disentuh ajaran agama mana pun. Agama dilihatnya hanya sebagai kuasa yang dimiliki para pelakunya, yang kerap mengeluarkan tafsir sesuai dengan keyakinannya sendiri.

Hidup menjadi semakin paradoks bagi Henky. Ia berani menempuh hukuman mati, akan tetapi dengan cara seperti yang ditempuh oleh Yesus. Namun hakim tak bergeming. Pada tanggal 5 Januari 1980, dirinya ditembak oleh aparat. Dia tewas atas nama hukum yang ditegakkan negara.

***

TIGA kisah para penjahat ini saya temukan dalam buku Menerjang Badai Kekuasaan, yang ditulis Daniel Dhakidae, tahun 2015. Saya menemukan beberapa hikmah yang menarik dari hasil bacaan tentang mereka yang dituduh sebagai penjahat ini.

Pertama, di balik setiap penjahat, terdapat kisah-kisah yang menarik untuk ditelusuri. Selalu ada “the turning point” atau titik balik yang mengubah haluan hidup seseorang. Selalu ada proses dan pengalaman personal yang kemudian membuat seseorang memilih untuk berada pada posisi politik tertentu.



Setiap manusia akan selalu mempertanyakan pilihan-pilihannya, sembari melihat sekelilingnya. Saat ia menyaksikan paradoks, ataupun menemukan manusia lain yang serba ambigu, maka seseorang bisa memilih posisi yang abu-abu, dengan pertimbangan bahwa orang lain pun melakukannya.

Setiap manusia selalu menghujam banyak tanya, menyerap pengalaman, lalu memutuskan apa yang terbaik baginya. Di setiap pilihan itu terdapat sedemikian banyak konsekuensi.

Dalam hal Muksin, situasi yang dihadapinya adalah seorang pejabat yang hendak memeras dirinya. Ia mulai mempertanyakan batasan antara baik dan buruk, antara legal dan ilegal, antara kebenaran dan kesalahan. Kusni Kasdut pun demikian. Ia mempertanyakan batasan antara merampok seseorang untuk tujuan republik, serta sikap republik yang justru meminggirkannya.

Ia bertanya tentang apa makna nasionalisme, ketika jiwa dan raga diserahkan untuk negeri, tapi justru negeri tak peduli dengan dirinya. Demikian pula Henky Tupanwel. Ia mempertanyakan berbagai doktrin agama yang justru dilihatnya sebagai penjara. Nilai-nilai dan ajaran moral menjadi nisbi, dan seolah dihadirkan untuk dilanggar.

Kedua, selalu ada kaitan antara pilihan itu dengan kondisi sosial. Sehingga penting memahami konteks, setting, ataupun dinamika sosial yang menyebabkan seseorang memilih untuk di titik tertentu.

Yang terasa dari tiga kisah ini adalah betapa institusi negara hanya menguntungkan kelompok tertentu, betapa struktur negara tak bisa mewujudkan supremasi hukum dan bertindak adil pada sesamanya. Negara menjadi ajang persekongkolan massal yang semakin mengaburkan batasan antara moral baik dan buruk, antara benar dan salah, antara legal dan ilegal.

Saya teringat sosiolog C Wright Mills dalam buku Sociological Imagination yang menyebut tiga hal sebagai dasar untuk memahami satu masyarakat, yakni biografi, sejarah, dan struktur sosial. Ketiga aspek ini saling berkaitan erat.

Mereka yang biografinya tercatat sebagai penjahat adalah mereka yang berada dalam posisi terpinggirkan di masyarakat. Mereka menjadi antagonis sebab masyarakat mengarahkan mereka ke sana. Mereka memilih jadi penjahat, sebab orang baik sekali pun ternyata bertindak seperti penjahat.

Sebagaimana halnya Joker, mereka tertawa-tawa melihat banyak orang jahat yang tampil dengan topeng kebaikan. Mereka menjadi dirinya sendiri yang tewas setelah bertanggung jawab atas semua pilihan-pilihannya.

Mereka menjadi Joker.