Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Puisi Perlawanan Petani Tembakau




PEMERINTAH berencana untuk menaikkan harga rokok. Masyarakat diedukasi untuk tidak merokok. Isu-isu kesehatan lalu dimunculkan. Larangan ditebar ke mana-mana. Regulasi dibuat untuk menghambat peredaran tembakau dan rokok. Para petani tembakau di beberapa pegunungan dipaksa untuk melakukan konversi lahan.

Di berbagai media kita menyaksikan bagaimana diskursus tentang kian sempitnya ruang bagi para perokok. Benda itu dilihat sebagai benda najis yang memendekkan umur warga republik. Yang lebih banyak tampil adalah suara pemerintah, sebagai representasi suara negara, serta para rezim medis yang lalu menentukan mana sehat dan mana tidak sehat. Yang nyaris hilang dari ruh perdebatan itu adalah suara para petani. Barangkali suara mereka dianggap tidak penting. Kebijakan lahir dari atas, yang bertujuan untuk mengatur kalangan bawah. Sebagai warga negara yang baik, petani dipaksa untuk menerima begitu saja semua kebijakan. Suaranya tak penting sehingga nyaris tenggelam di tengah dinamika dan arus wacana.

Di manakah kita temukan suara-suara para petani tembakau? Bagaimanakah nasib ribuan hektar ladang tembakau yang selama ini menjadi penyangga ekonomi para petani di banyak tempat di tanah air? Apakah para petani hanya akan memandang ladang itu sembari mengenang masa silam yang hebat saat tembakau menjadi komoditas utama yang mengerek kesejahteraan mereka?

Di tengah kesunyian itu, saya menemukan buku berjudul Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung yang ditulis Mohamad Sobary. Buku ini merangkum banyak suara parau yang luput dari para pengambil kebijakan, yang kerap tampil di semua kanal media.

Saya menobatkan buku ini sebagai salah satu buku ilmu sosial paling bagus di tahun 2016 ini. Bukan saja isinya menyajikan satu keping realitas yang selama ini terabaikan, tapi juga ditulis berdasarkan riset dan observasi yang kuat terhadap para petani di Temanggung. Penulisnya, Mohamad Sobary, menyajikan satu narasi yang memikat sekaligus memilukan tentang para petani. Akan tetapi, para petani itu tidak lantas dikoyak-koyal waktu. Mereka bangkit melawan dan menggunakan semua instrumen yang mereka miliki.

Buku ini digali dari disertasinya yang dibuat saat usianya sudah mencapai 60 tahun. Dugaan saya, ia mendedikasikan buku ini sebagai karya akademik yang menjadi puncak pencapaian lelaki yang lama menjadi peneliti LIPI, lalu menjadi Direktur LKBN Antara. Makanya, buku ini tak saja menyajikan sesuatu yang menggugah nalar, juga menghadirkan sikap kritis dan pembelaan terhadap nasib para petani. Buku ini juga menyajikan suara-suara lirih para petani yang tengah digempur oleh kebijakan pemerintah. Tak hanya itu, buku ini juga menyajikan kekayaan khasanah budaya masyarakat pegunungan di Jawa, yang selama beberapa generasi telah menanam tembakau.

Tentu saja, bagian paling menarik dari buku ini adalah bagian yang menyajikan perlawanan para petani. Perlawanan itu tidak menempuh jalur perjuangan bersenjata. Mereka tidak sedang melakukan kudeta dan menolak segala bentuk intervensi negara. Mereka menyatakan sikap melalui demonstrasi, puisi-puis perlawanan, serta sejumlah ritual-ritual untuk mengingatkan para pemimpinnya. Mereka menempuh cara kultural, perlawanan berbasis buaya, yang tak garang dan penuh dar-der-dor,  melainkan melalui permainan simbol yang menakjubkan.

Para petani itu menampilkan kearifan yang melampaui para pengambil kebijakan. Mereka tidak sekadar menyampaikan sikap. Mereka justru menyampaikan gagasan yang substantif tentang keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Jika salah satu warisan kekayaan budaya hendak dihilangkan, maka negara juga harus memikirkan bagaimana nasib ribuan petani yang selama ini menggantungkan hidupnya di situ.

Yang membuat saya merinding adalah para petani menggunakan mantra-mantra yang memancarkan religio-magis yang mencekam, menggunakan berbagai simbol dan ritus dalam suasana kudus, melalui sesajen yang menghubungkan dunia ini dengan dunia sana. Para petani melawan dengan puisi-puisi yang sesekali dibacakan demi menghangatkan bara perlawanan. Mereka berperang dengan kidung dan aesthetic of art yang puitik.

Beberapa puisi yang sering dbacakan petani adalah Manunggaling Kawulo Alit yang berbahasa Jawa. Saya kutipkan paragraf yang menggugah hati:

Engkang gadahi watak serakah, angkuh lan ndholim
Engkang badhe mbrangus panguripan kawulo alii
wonten ing bui nuswantoro

Yang memiliki watak-watak serakah, angkuh, dan zalim
Yang akan membungkam kehidupan rakyat kecil di bumi Nusantara.

Petani mengadukan nasibnya ke hadapan penguasa langit. Dalam konteks politik, jika dilihat dengan kacamata penguasa, hal itu dianggap sebagai sindiran yang halus dan lembut. Dengan mengadukan tindakan penguasa kepada Tuhan, maka itu bermakna petani hendak menyampaikan ketidakberdayaan mereka dalam menghadapi kebijakan yang tidak berpihak.

Puisi lain yang juga menyentuh adalah pangkur suro greget yang selalu dibacakaan saat berdemonstrasi. Pangkur adalah sejenis tembang, greget adalah kemarahan. Menghadapi ancaman, petani hanya bisa marah. Pangkur ini adalah suara-suara petani yang berisi kemarahan mereka pada penguasa. Berikut teksnya:

Lekase angoyo woro
Nantang alam mongso siro kuwawi
Ulatono kredanungsun
Arso manguroh siro
Siro iku yekti mnungso kang waru
Tan ngerti mring kasunyatan
Soto yekti ngurakapi

Pada mulanya tampak seperti tindakan bermakna
Menantang alam tak mungkinlah kau berani
Lihatlah perlawananku
Siap menghajarmu
Kau itu manusia yang sudah kalap
Tak memahami kenyataan
Bahwa tembakau itu sungguh memenuhi kebutuhan hidup

Dalam beberapa aksi, para petani membagikan teks kidung di atas, beserta terjemahannya. Kata Sobary, mereka tak terlalu sadar akan hak cipta. Kidung dianggap milik alam, bukan milik orang per orang sebagaimana wujud tradisi lisan pada umumnya. Beribu-ribu kidung seperti di atas diciptakan oleh mereka jika kebutuhan untuk itu memang ada. Kidung, uang oleh Sobary, dianggap sama dengan puisi memiliki tujuan untuk menyampaikan suara hati terdalam para petani sebagai bentuk protes.

Sepintas, buku ini mengikuti argumentasi ilmuwan politik James Scott dalam Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance, yang diterjemahkan dengan judul Senjatanya Orang Kalah. Namun setelah membaca sekilas, buku ini menempuh pola berbeda. Di beberapa bagian ada refleksi atas pemikiran Scott dalam konteks Indonesia. Di antara yang membedakannya adalah buku ini menyajikan persinggungan perlawanan itu dengan tradisi serta konteks ekonomi-politik.

Namun, harus diakui, gagasan Scott sangat kuat merasuki buku ini. Seusai membaca buku ini, saya lalu membaca ulang etnografi yang dibuat Scott tentang para petani di Sandakan, Malaysia. Perlawannya juga unik, melalui organisasi anonim, perlawanan melalui sikap tahu sama tahu, mencuri sedikit-sedikit, memperlambat kerja, pura-pura bodoh, di depan bilang “iya” lalu di belakang memaki-maki, bergosip dan menjatuhkan nama baik, serta menghindari konfrontasi langsung.

Baik buku Sobary maupun bukunya Scott sama-sama menyajikan perlawanan yang tak biasa. Nampaknya, model perlawanan seperti inilah yang paling tepat dlakukan oleh masyarakat kelas bawah yang justru tak punya daya untuk konfrontasi secara langsung. Melalu aspek kultural itu, mereka menyatakan sikapnya.

Buku ini memosisikan para petani sebagai subyek yang harus didengarkan. Sungguh beda dengan membaca diskursus pemerintah tentang petani yang melihat mereka sebagai angka-angka statitik. Jujur, saya jenuh dengan tulisan tentang petani, yang tak menyertakan suara para petani. Sama jenuhnya saya dengan mengikuti diskusi kemiskinan di satu hotel mewah. Buku ini berbeda.

Saya juga menyenangi gaya penulisan buku ini yang sangat etnografis. Membaca buku ini serasa mengikuti kisah-kisah detektif yang seru, membumi, serta penuh kejutan. Saya seakan tidak membaca disertasi, melainkan mengikuti perjalanan para petani, meraskan denyut nadi dan detak jantung mereka, mengalami hasrat perlawanan akibat ruang hidup yang semakin sempit gara-gara kebijakan pemerintah.

Di bagian akhir, ada pencerahan yang muncul. Bahwa para petani itu tidak sedang memperjuangan kepentingannya, tapi menginginkan perubahan substansial yang mengubah tatanan yang lebih berkeadilan. Duh, betapa bijak dan arifnya para petani kita, kearifan yang jarang kita temukan di kalangan kaum cerdik pandai di kota-kota. Saya juga menyukai beberapa kutipan atas sosok Minke dan Nyai Ontosoroh novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dalam buku ini. Dua sosok dalam novel Pram itu menjadi prototipe ideal atas mereka yang melawan dengan kharisma serta menggunakan instrumen budaya.

Buku karya Sobary ini membuat saya merenungi banyak hal. Hakekat bernegara bukanlah melindungi mereka yang kuat dan penuh sumberdaya. Hakekat bernegara adalah melindungi semua orang yang dirampas haknya, memuliakan smeua warga negara, apapun profesi dan pekerjaannya. Posisi seorang intelektual adalah sebagai penyaksi, yang digambarkan Iwan Fals yakni: “Aku bernyanyi menjadi saksi.” Tugas selanjutnya adalah membebaskan semua suara yang dibungkam itu menjadi suara menggelegar yang membangunkan banyak orang.

Bogor, 21 Agustus 2016


Lelaki MANDAR di Pulau Kodingareng

dermaga di Pulau Kodingareng

DI Pulau Kodingareng, pulau kecil yang jaraknya sepenanakan nasi dari kota Makassar, saya bertemu seorang bapak yang tak pernah mengenyam pendidikan, namun bisa mengelola keuangan dengan cakap. Dengan kertas lusuh, bapak itu mengelola semua pembukuan keuangan dengan ingatan setajam seorang akuntan senior.

Dalam diskusi selama beberapa saat, bapak itu membuat saya menyadari bahwa pengetahuan ibarat jalan yang dibangun dari pengalaman, hasrat ingin tahu, serta keikhlasan untuk belajar. Dengan tuturan sederhana, bapak tua itu mengajarkan saya banyak hal, mulai dari pengelolaan sarana dan prasarana, pembuatan laporan keuangan, serta bagaimana melayani masyarakat banyak.

***

BAPAK itu memperlihatkan sebuah buku yang kertasnya agak kumal. Di situ, terdapat tulisan nama beberapa warga desa, serta tabel-tabel. Katanya, tabel itu berisikan nama-nama mereka yang mengambil air galon. Ia menyusun pembukuan, mencatat semua pengeluaran, lalu menghitung keuntungan bulanan.

Saat singgah di Pulau Kodingareng, bapak tua bernama Haji Musdin atau sering disapa Haji Musu itu menyambut saya di pelabuhan kecil pulau. Ia menunjukkan desalinator air laut yang merupakan bantuan pemerintah dua tahun silam. Saat itu, pemerintah banyak memberikan bantuan desalinator air laut ke pulau-pulau kecil. Tapi di banyak tempat, alat itu malah teronggok rusak dan tidak dimanfaatkan oleh warga secara maksimal.

Haji Musu mengaku asli Suku Mandar. Sejak dulu hingga kini, ia adalah nelayan yang bermodalkan perahu kecil bisa menantang samudera. Garis takdirnya serupa gelombang laut yang bisa membawanya ke manapun. Hingga suatu hari, perahunya tertambat di Pulau Kodingareng yang dihuni kebanyakan warga etnis Makassar. Di situlah ia menambatkan hatinya pada seorang gadis, yang kemudian menjadi teman setianya hingga keriput menjalari tubuhnya yang semakin ringkih.

Kertas kumal yang diperlihatkannya itu berisikan nama-nama serta kebutuhan warga atas air bersih yang dihasilkan alat desalinator air laut. Desalinator adalah alat pengubah air laut yang asin itu menjadi air bersih yang aman dikonsumsi oleh masyarakat. Bapak itu adalah pengelola desalinator, sekaligus mengatur uang yang dibayar warga untuk setiap galonnya. Uang itu akan dipakai untuk membayar honor operator serta pengantar air. Juga untuk pengembangan usaha itu sehingga layanannya dirasakan banyak orang.

Catatan yang dibuat Haji Musu

Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke pulau itu demi menyaksikan langsung bagaimana sejauh mana efektifitas bantuan pemerintah ke pulau kecil. Jika efektif, maka pemerintah akan menambah skala bantuan sehingga layanannya lebih luas. Jika gagal, maka akan ada evaluasi yang lalu menjadi catatan untuk dikembangkan pada tahun-tahun mendatang.

Di beberapa pulau kecil di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, saya menemukan beberapa alat yang tak lagi digunakan. Malah di satu pulau, alat itu menimbulkan masalah. Saat alat desalinator itu datang, masyarakat mulai tergantung pada keberadaan alat. Setiap hari, mereka mengambil kebutuhan air minum dari alat itu. Tapi setelah alat itu tidak berfungsi, masyarakat butuh beradaptasi lagi dengan cara lama. Beberapa yang kesulitan adaptasi lalu memaksa penanggungjawab alat itu untuk menghubungi kontraktor pembuatnya. Saat kontraktor tak mau bertanggungjawab, masyaraat hanya bisa menggerutu. Ketidakpercayaan pada pemerintah semakin menebal.

Haji Musu membuat saya terhenyak. Dia menunjukkan bagaimana seharusnya mengelola bantuan secara efektif. Berkat iuran yang dibayarkan warga, ia bisa membeli sepeda motor yang lalu digunakan sebagai sarana transportasi untuk mengantar air galon. Sejak alat itu dioperasikan, ia mencatat dengan rapi semua transaksi pembelian air. Bahkan, ia juga masih menyimpan catatan ketika alat desalinator pertama kali difungsikan di pulau kecil yang didiaminya.

Mulanya saya tak percaya. Ia lalu masuk rumah, lalu keluar sambil membawa tumpukan kertas kumal. Ia tersenyum saat menunjukkan transaksi yang terjadi, serta ke mana saja sisa uang dibelanjakan. Kertas-kertas kumal itu masih bisa dibaca dengan jelas. Di situ tertera tulisan “air galon ketika dijual di tempat.” Maksudnya, siapa saja bisa membeli air galon di dekat desalinator. Tulisannya adalah tulisan bersambung yang amat mudah dibaca. Ia mencatat siapa saja yang melakukan transaksi pada hari tertentu. Catatan itu menjadi jejak sejarah tentang proses belanja pada satu masa.

Berkat catatan kumal itu, ia bisa mempertanggungjawabkan proses pembelian sebuah sepeda motor yang kemudian berguna untuk mengantarkan galon ke seantero pulau. Wawasan bisnisnya cukup baik. Ia sudah bisa memperkirakan seberapa banyak keuntungan yang didapatkan selama setahun. “Saya sudah bisa perkirakan berapa galon yang habis dalam satu hari. Makanya, saya sudah bisa hitung berapa keuntungan bulanan,” katanya ketika ditanya tentang prediksi keuntungan.

Uniknya, ia tidak pernah mendapatkan pendidikan akutansi atau pengelolaan keuangan. Sekolahnya hanya sampai level sekolah menengah di pulau itu. Akan tetapi ia bisa mengelola alat desalinator, yang anggotanya puluhan orang. Ia belajar keuangan, tanpa belajar ilmu keuangan di sekolah formal. Ia punya kapasitas memimpin, walaupun ia tidak belajar khusus tentang ilmu kepemimpinan.

nelayan di Pulau Kodingareng
Haji Musu di Pulau Kodingareng

Catatan Haji Musu itu tidak serapi akuntan yang menyusun neraca dalam lajur debet dan kredit. Ketika saya melihat catatannya, saya sendiri tidak mengerti apa yang ditulisnya. Saat saya tanyai, ia bisa menjelaskan dengan detail apa makna dari angka dan simbol yang dibuatnya di situ. Catatannya rapi dan membuat saya kagum. Dalam bayangan saya, tak masalah mencatat dengan cara apapun. Anda bisa mencatat angka dalam tabel ataupun tidak. Terserah Anda, apakah perbanyak angka ataukah cuma simbol-simbol tertentu. Yang paling penting adalah anda bisa menjelaskan bagaimana kas masuk, kas keluar, dan simpanan. Itulah hal substansi dari setiap pencatatan.

Selalu saja ada banyak hal mencengangkan ketika di lapangan. Mereka yang dihinggapi bias kota akan menganggap bahwa orang-orang desa ataupun orang-orang pulau tak memahami bagaimana membangun sistem keuangan dan perencanaan. Seringkali ada anggapan bahwa pendidikan adalah satu-satunya tolok ukur untuk menilai kapasitas seseorang.

Seringkali, lembaga pendidikan memapankan apa yang disebut kebenaran dan bukan kebenaran. Seringkali kita menganggap diri kita lebih pandai dan berperadaban ketimbang ornag kampung. Saat bertandang ke kampung, kita lalu menceramahi mereka, mengajari mereka sesuatu yang boleh jadi lebih diketahui mereka, atau malah seringkali hendak sok tahu di hadapan mereka tetang kondisi kampung itu sendiri. Kita dihinggapi pandnagan angkuh yang merasa diri lebih tahu dari mereka.

Saya teringat Robert Chambers, seorang maha guru bagi para pelaku perubahan sosial, yang gandrung dengan pendekatan partisipatif. Kata Robert Chambers dalam buku Whose Reality Counts: Putting the Last First (1997), kampung telah menjadi korban penjungkir-balikan (putting the last first) dari pihak luar kampung (outsiders) yang mengaku serba tahu tentang kampung. Mereka, para outsiders ini, sering merasa lebih tahu. Pengetahuan warga kampung lalu diabaikan dan tak pernah mendapat porsi yang semestinya, yakni sebagai mercusuar bagi masyarakat untuk melangkah maju.

Tapi bapak Haji Musu menunjukkan kepada saya bagaimana mengelola laporan keuangan dengan rapih. Sebagai generasi sekolahan yang pernah belajar di magister, malah saya yang terkesan dengan kemampuannya mengingat lalu membuat format laporan keuangan sendiri.

Tak hanya laporan keuangan. Di level komunitas, ia menggerakkan kelompok masyarakat dan senantiasa berhubungan dengan pemerintah. Ia bertanggungjawab atas pengelolaan sarana dan prasarana di pulau kecil yang dimaksudkan untuk menjamin kesejahteraan masyarakat.

buku yang saya buat setahun silam

Ia bercerita dengan lancar tentang bagaimana pengelolaan sarana dan prasarana yang seharusnya mengakomodir dan mengedepankan kepentingan masyarakat sebagai penerima manfaat program efektifitas sarana dan prasarana di pulau pulau kecil berbasis masyarakat. Proses dan pelibatan masyarakat adalah merupakan kunci dalam setiap tahapan pengelolan sarana dan prasarana mengingat kegiatan pemikiran, ide-ide dan perumusan tindakan-tindakan dapat memberikan manfaat di masa yang akan datang, baik berkaitan dengan kegiatan-kegiatan operasional dalam pengadaan, pengelolaan, penggunaan, pengorganisasian, maupun pengendalian sarana dan prasarana.

***

KISAH Haji Musu yang sukses sebagai pengelola bisa mendatangkan banyak inspirasi. Namun, setiap kali ditanya tentang kisah suksesnya, ia selalu mengelak. Baginya, apa yang didapatnya adalah buah dari kerja keras semua anggotanya. Ia lalu menunjuk rekan kerjanya yang dianggapnya lebih tahu banyak daripada dirinya.

Kembali, saya temukan satu hal menarik dari dalam dirinya. Ternyata ia juga seorang yang humble dan tak hendak menyombongkan dirinya. Baginya, hal paling penting adalah bagaimana melibatkan orang lain dalam kerja-kerja pelayanan, kemudian memberikan manfaat luas kepada orang banyak.

Di pulau kecil itu, saya tertegun saat bertemu lelaki hebat ini.


Bogor, 19 Agustus 2016

Catatan:

Tulisan ini adalah bagian kecil dari buku Membangun Indonesia dari Pinggiran yang saya buat bersama Moh Abdi Suhufan dan Syofyan Hasan. Setelah membaca kembali tulisan ini lalu menelaah ulang data lapangan yang saya kumpulkan, saya lalu melakukan pembenahan seperlunya untuk tayang di blog ini.

Suatu Malam Bersama Zulficar Mochtar



SEBUAH kehormatan saat saya diajak makan malam oleh Zulficar Mochtar, sosok yang kini menjadi pejabat penting di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Beliau kini mejabat sebagai Kepala Balitbang, sekaligus pelaksana Dirjen Perikanan Tangkap, dua jabatan paling prestisius di kementerian itu. Beliau adalah sosok kedua setelah Hilmar Farid (Dirjen Budaya di Kemendikbud), yang bukan berasal dari birokrat. Beliau aktivis NGO yang kemudian lolos lelang jabatan, dan menjadi pejabat eselon satu di kementerian.

Saya datang memenuhi undangannya sebagai sahabat. Saya pikir makan malam ini akan dihadiri banyak orang. Ternyata, ia hanya datang berdua dengan istrinya. Saya tiba-tiba merasa penting, apalagi undangan ini telah beberapa kali diajukannya. Selama ini saya sok sibuk dan suka menunda. Sejak dia menjabat sebagai dirjen, saya belum pernah bertemu fisik. Kami hanya saling sapa lewat grup whatsapp. Itupun lebih banyak kompa-kompa, sebutan bagi tindakan saling memuji-muji, sesuatu yang lazim dilakukan para sahabat di Makassar.

Sejak tiga tahun silam, saya mengenal sosok ini saat sama-sama berpartisipasi pada kegiatan di Kementerian Kelautan. Di mata saya, dia adalah sosok yang komplit. Tak hanya cerdas dan menguasai seluk-beluk dunia kelautan, dia sahabat yang baik. Berbincang dengannya bisa membuat kita lupa waktu. Ia tak pernah kekurangan bahan cerita, guyonan, ataupun  detail-detail amatan lapangan yang bisa membuat diskusi terus mengalir.

Saya sangat antusias saat bertemu dengannya. Apalagi, dia belakangan ini menjadi orang kepercayaan Susi Pudjiastuti, ibu menteri yang belakangan sangat populer. Saya senang karena bisa dapat banyak kisah-kisah di balik birunya laut, serta kebijakan negara. Ficar demikian ia disapa, membagikan beberapa keresahan. Satu yang paling penting adalah betapa banyaknya kekayaan laut kita yang dicaplok negara lain. “Kita kehilangan sekitar 300 triliun kekayaan yang semestinya dinikmati anak bangsa, semestinya bisa menyejahterakan nelayan,” katanya.

Saya tertegun saat dirinya bercerita tentang laut kita yang menjadi medan pertarungan para pebisnis dan kapitalis dari negeri luar. Saya menemukan banyak pencerahan tentang laut kita yang terus-menerus dijarah, dan ketidakmampuan kita untuk mengawal semua kekayaan itu. Sungguh ironis saat mengetahui fakta kalau salah satu akantong kemiskinan di negeri ini adalah kampung-kampung nelayan yang terletak di pulau-pulau terluar. Jika lautan bisa dikelola dengan baik, seharusnya nelayan menjadi pihak yang paling diuntungkan, pihak paling sejahtera.

Dia juga membahas beberapa kebijakan yang akan dikeluarkannya, Di antaranya adalah pembagian lebih 3.000 kapal buat nelayan. Ia juga menyiapkan kebijakan asuransi bagi nelayan, yang sakan sangat membantu nelayan saat tidak melaut. Kalaupun ada risiko yang dihadapi nelayan, semisal meninggal saat mencari ikan, asuransi itu akan menyediakan dana hingga 200 juta rupiah. Jika kebijakan itu terrealisasi, maka ini bisa menjadi berita gembira bagi semua nelayan di tanah air.


Di akhir pertemuan, ia mengajukan pertanyaan, “Apakah kamu punya teman nelayan yang menurutmu layak untuk kita bantu?” 


Inspirasi Desa di Jeneponto


TERKAGUM-kagum saya melihat satu postingan di facebook. Satu desa di Jeneponto, Sulawesi Selatan, memublikasikan laporan tentang dana desa dan penggunaannya. Semua warga desa bisa melihat jumlah dan penggunaan dana desa itu secara transparan. Hebatnya, laporan itu disampaikan melalui baliho, sehingga semua orang bisa melihatnya.

Saya membayangkan baliho itu akan dilihat petani, nelayan, aparat desa, tukang sayur, tukang becak, sopir angkot, ibu Posyandu, penjual obat, pedagang pasar, hingga buruh yang bekerja di pabrik penggilingan padi. Semua pihak bisa tahu persis berapa dana yang mengucur ke desa itu, lalu digunakan untuk apa saja. Saya membayangkan warga desa akan mendiskusikan isi baliho itu di warung-warung kopi, lapak penjual sayur, sambil mempertanyakannya secara kritis. Mungkin saja, mereka akan menodong kepala desa dengan pertanyaan, mengapa begini dan mengapa begitu. Mungkin juga mereka punya banyak ‘amunisi’ untuk ditanyakan saat musyawarah desa.

Baliho itu nampak sederhana, namun bagi saya luar biasa. Saya langsung merefleksi ke dalam diri. Di kota-kota, yang katanya menjadi pusat peradaban, berapa banyak transparansi kita saksikan? Apakah kita pernah melihat anggaran daerah diumumkan terbuka ke hadapan publik? Apakah kita pernah menyaksikan detail satu Rincian Anggaran Belanja (RAB) proyek secara terbuka? Apakah kita pernah melihat laporan keuangan dari para bos di instansi tempat kita bekerja? Apakah kita menyaksikan kejujuran dari banyak pejabat tentang berapa anggaran yang mereka terima dan digunakan untuk apa saja? Apakah ada ketua umum partai politik yang secara terbuka mengumumkan keuangan partainya, serta digunakan untuk apa saja?

Zaman memang terus bergerak. Kota-kota tumbuh dengan segala kemegahannya, Tapi, kearifan dan kejujuran tetap tumbuh dari desa-desa. Saatnya menyerap beberapa praktik baik di desa-desa itu, lalu membawanya menjadi nilai dan transparansi di semua organisasi di berbagai wilayah. Saatnya berguru pada bagaimana keikhlasan warga desa mengumumkan dana yang diterimanya, serta kejujuran untuk mengumumkannya ke hadapan publik.

Meskipun saya yakin kalau akan ada banyak pertanyaan terkait baliho ini. Tapi setidaknya, di situ kita banyak melihat harapan kuat bagi bangsa ini. Di situ kita melihat embun yang tak banyak kita temukan di berbagai lapis organisasi, yang diharapkan bisa membawa bangsa ini ke arah cita-cita proklamasi. Dan dari satu desa di Jeneponto, kita menyimpan pelajaran berharga untuk Indonesia.



Tiga Mitos Kaum Terpelajar



MASYARAKAT awam kerap menganggap bahwa dunianya generasi sekolahan adalah dunia yang serba bernalar, serba rasional, serta penuh dengan kejernihan. Tak banyak yang mengetahui bahwa dunia kaum terpelajar pun penuh dengan mitos-mitos, sesuatu yang diterima begitu saja tanpa sikap kritis.

Kita bisa menyebutnya sebagai kegenitan kaum terpelajar. Tujuannya untuk membangun jarak antara kaum terpelajar dan tidak terpelajar. Jarak itu dibangun melalui sejumlah mitos, mulai dari mitos semakin banyak mengutip maka semakin keren, mitos menggunakan bahasa-bahasa tinggi dan susah, mitos merasa hebat saat menemukan banyak kesalahan argumentasi seseorang.

Yuk, kita diskusikan sama-sama.

***

BAPAK itu memulai presentasinya di hadapan para mahasiswa. Ia adalah doktor yang mengajar di satu kelas perkuliahan perguruan tinggi. Mahasiswa hanya tertarik mengikuti materinya selama setengah jam. Selanjutnya, tak ada lagi yang fokus ke materi. Bapak itu terus berbicara tanpa henti. Saat keluar ruangan, seorang mahasiswa berkata, “Gimana mau tertarik kalau penuh dengan bahasa susah. Saya tak mengerti.”

Saya tak terlalu terkejut dengan penuturan mahasiswa itu. Di dunia perguruan tinggi, saya banyak bertemu dengan orang-orang yang suka menggunakan bahasa tinggi. Yang dimaksud dengan bahasa tinggi di sini adalah penggunaan kata-kata yang diserap dari bahasa lain. Beberapa istilah-istilah bertaburan di teks-teks perkuliahan yang dipelajari di perguran tinggi, yang tak bisa dipahami semua orang.

Di kalangan warga kampus, mungkin sejumlah istilah sudah sama-sama dipahami. Tapi saat istilah itu dikeluarkan di masyarakat awam, tak semua orang bisa memahaminya. Iyalah, tak semua orang tahu apa itu paradigma, aksioma, idealisme, riset, hingga holistik. Jangankan masyarakat, kaum terpelajar di kampus belum tentu paham makna istilah itu.

Yang saya amati, beberapa orang suka menyebut istilah-istilah tinggi bukan untuk menyampaikan maksud. Banyak di antaranya yang hendak mengesankan dirinya pintar, serta mendapatkan respek dari orang banyak. Maklum saja, posisi sebagai kaum terpelajar dianggapnya lebih tinggi sehingga pantas mendapatkan penghormatan dari masyarakat biasa. Gimana caranya supaya diketahui kalau dirinya terpelajar? Lewat sejumlah istilah tinggi yang susah dipahami.

Coba saja hidupkan pesawat televisi. Amati dialog-dialog di situ. Pastilah anda akan menemukan begitu banyak istilah dan bahasa tinggi yang hanya dipahami oleh segelintir orang. Nampaknya, virus penggunaan bahasa tinggi bukan hanya melanda para akademisi dan pengamat di media, tapi juga merambah hingga para politisi, kaum profesional, hingga para pekerja media. Kalau nyambung, maka tetunya tak ada masalah. Yang sering terjadi adalah seringkali istilah yang digunakan justru tidak nyambung, serta membuat jarak dnegan masyarakat awam.

Berbahasa tinggi hanyalah satu mitos kaum terpelajar. Sejatinya, terdapat banyak mitos-mitos lain yang juga menghinggapi kalangan yang menganggap dirinya generasi sekolahan. Beberapa kitos itu tumbuh subur di beberapa perguruan tinggi di tanah air kita. Selain istilah tinggi, mitos lain adalah:

Pertama, mitos penggunaan kosa kata bahasa Inggris. Entah kenapa, ada anggapan kalau berargumentasi dnegan sesekali menyematkan kosa kata bahsa Inggris akan lebih keren dan meningkatkan gengsi seseorang. Saya mengenal beberapa orang yang kemampuan bahasa Inggris-nya biasa saja, tapi saat berargumetasi, ia kerap menggunakan beberapa kosa kata bahasa Inggris. Padahal, ia bisa saja menggunakan bahasa Indonesia. Tapi itu tadi, dianggapnya tidak keren.

Saat membaca banyak buku yang ditulis akademisi dalam bahasa Indonesia, saya menemukan begitu banyak kosa kata bahasa Inggris dalam teks. Demikian pula, saat membaca jurnal berbahasa Indonesia, saya juga menemukan hal yang sama. Saat melihat kata itu dengan detail, saya merasa bahwa seharusnya kata itu bisa diterjemahkan ke bahasa Indonesia.


Lihat saja dua paragraf tulisan yang saya ambil dari satu buku teks perguruan tinggi di atas. Dua paragraf itu menggunakan banyak kosa kata bahasa Inggris yang disisipkan dalam tulisan. Misalnya: “media management”, “media-friendly”, “public awareness”, “image-management”, dan “political marketing”. Padahal, kata-kata itu sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia yakni kata: “manajemen media”, “ramah media”, kesadaran publik”, “manajemen gambar”, hingga “pemasaran politik.”

Saya tak mengerti sejak kapan tren penggunaan bahasa Inggris ini masuk dalam beberapa buku teks yang diterbitkan di tanah air. Dugaan saya, beberapa istilah sengaja ditampilkan dalam bahasa aslinya agar tidak terjadi pergeseran makna dari teks aslinya yang berbahasa asing. Tapi persoalannya, penggunaan bahasa Inggris itu menjadi kebablasan saat hal-hal sederhana yang hendak disampaikan ditulis pula dalam bahasa Inggris.

Kembali pada pertanyaan awal, mengapa kita suka menggunakan istilah-istilah bahasa Inggris? Sebab penggunaan kata itu akan dianggap keren, berkelas, serta punta cita rasa kaum terpelajar. Bisa saja menggantinya dengan kosa kata bahasa Indonesia. Namun kata itu akan kehilangan greget. Seolah-olah tidak ilmiah.

Kedua, mitos banyaknya kutipan. Beberapa kali saya membaca tesis dan disertasi yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Kesan saya adalah terlampau banyak kutipan-kutipan serta nama-nama ilmuwan dari berbagai belahan bumi. Saya bisa memahami kalau kutipan dan nama itu bertujuan untuk membentangkan peta permasalahan, mendiskusikan satu soalan secara luas dan mengetahui pendapat dan teori dari banyak orang yang pernah memikirkan hal yang sama, lalu menemukan celah-celah yang menunjukkan kebaruan dari perspekti yang ditawarkan.

Tapi dalam banyak kasus, seringkali kutipan dan nama ahli itu sengaja diperbanyak, lalu pendapat pribadi sang penulis tak banyak muncul di teks yang sedang dibaca. Yang kita temukan adalah parade kutipan, tanpa melihat bagaimana seseorang mendemonstrasikan gagasannya sendiri. Bagi saya sih, yang terpenting adalah pendapat orisinil seseorang, sesederhana apapun itu. Setelah itu bagaimana dia mendialogkan ide-idenya dengan kenyataan yang terjadi di lain, termasuk melihatnya dari perspektif teori.

Ketiga, mitos ujian sebagai arena pembantaian. Di banyak perguruan tinggi yang saya amati, ujian adalah ajang yang paling mendebarkan bagi kaum terpelajar baru. Di situ, para guru besar akan menampilkan kebesarannya sebagai penilai yang menentukan layak tidaknya seseorang menjadi kaum terpelajar. Bagi seorang mahasiswa, ujian seringkali menjadi ajang dibantai dari banyak lini. Dalam setiap ujian, para penguji akan mencari kesalahan sebanyak-banyaknya lalu mendebat mahasiswa itu hingga kehilangan kata.

Seringkali ada anggapan kalau semakin banyak menemukan kesalahan, maka semakin bagus. Ujian tidak dikemas menjadi ajang pembelajaran yang seharusnya membuka perspektif seorang anak didik tentang hal-hal yang perlu dirambah dan dikuatkan dalam penulisannya.

Dua tahun silam, seorang senior saya dari Pulau Buton meninggal dunia, beberapa hari setelah ujian proposal. Kata seorang kawan, ia tertekan karena proposal itu dibantai dan dikatai sampah oleh pembimbingnya. Dalam beberapa kesempatan, saya juga mendengar berita tentang mahasiswa yang bunuh diri hanya karena gagal ujian. Beberapa hari lalu, seorang kawan mendapat kecelakaan saat berkendara ke rumah. Usut punya usut, ternyata ia berkendara dalam keadaan stres sebab ujiannya tidak mengesankan. Ia merasa kesalahannya dikuliti hingga akar-akarnya.

Andaikan mitos “ujian sebagai arena pembantaian” itu dibenahi, maka tak bakal ada asus-kasus seperti yang saya sebutkan di atas. Harusnya, ujian menjadi arena pembelajaran yang paling baik. Idealnya pula, kritik yang disampaikan dalam setiap ujian harus tetap fokus pada gagasan, dan tidak merendahkan si mahasiswa. Kesalahan memahami satu hal dalam dunia persekolahan adalah hal yang wajar. Melalui kesalahan itu, seseorang bisa belajar banyak dan mengembangkan kapasitasnya. Sayangnya, seringkali ujian tak dimaknai sebagai ajang pembelajaran. Yang ada adalah ketakutan karena akan didebat sampai kehilangan kata.

***

APA yang saya catatan di atas hanyalah sedikit dari demikian banyak kesalahan anggapan di dunia kaum terpelajar. Harusnya, intelektualitas menjadi landasan bagi seseorang untuk memahami sesuatu yang kompleks, lalu membahasakannya dengan cara sesederhana mungkin. Tugas seorang kaum terpelajar adalah mencerahkan dunia, memisah terang dari gelap, serta memberikan arah bagi setiap gerak bangsa yang melenceng.

Barangkali, kita bisa mengatakan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang terlampau lama dijajah bangsa barat sehingga segala hal yang identik dengan barat akan dianggap keren, berkelas, dan oke punya. Makanya, kita berusaha memirip-miripkan gaya dan cara bertutur demi mengesankan diri kita go international dan berkelas, padahal yang terjadi adalah kita sedang mendemonstrasikan ketidakmampuan kita dalam berbahasa dan memilih diksi yang tepat.

ilustrasi

Saya teringat kisah tentang perbedaan antara pendekar yang baru belajar, dan pendekar yang sudah makan asam-garam. Seorang pendekar yang masih baru belajar atau kerap disebut sabuk putih akan membawa pedang ke mana-mana. Ia akan selalu mengeluarkan pedang dan menebas apapun, demi mendapat pujian ataupun anggapan sebagai pendekar. Sementara pendekar yang benar-benar pendekar tak perlu membawa pedang. Ia akan menjadi warga biasa yang berjalan membawa ranting pohon. Namun di saat dirinya dalam kondisi krisis dan harus bertempur, ia bisa mengubah ranting itu menjadi pedang yang paling sakti.

Mungkin demikianlah seharusnya dunia kaum terpelajar. Semakin sakti seseorang, semakin membumilah dirinya. Ia tak akan membangun jarak dengan masyarakat. Ia akan melebur bersama masyarakat, ia menjadi tempat bertanya, ia memberikan jawaban yang terang dan jelas, ia menjadi penjaga nilai yang menyerap kearifan dari setiap masyarakat, lalu mengembalikannya sebagai embun berharga bagi orang banyak.

Saat mengakhiri tulisan ini, saya baru saja mendengar percakapan seorang terpelajar dan seorang masyarakat awam.

“Brother, apakah bisa kita melakukan sharing resources sehingga bisa tercipta landasan hidup yang lebih equal di antara kita? tanya seorang terpelajar kepada kawannya.
“Maksudmu?” kata kawannya.
“Maksud saya, resources harus dibagi rata biar tidak terjadi instabilitas sosial yang memicu konflik sebagai akibat dari segregasi sosial,”
“Saya tak ngerti,”
“Maksud saya, apakah rokok itu bisa dibagikan?”
“Ah, sialan kau, Ternyata kau hendak minta rokok. Ngapain pula memulainya dengan berbagai istilah-istilah tinggi!”



Bogor, 8 Agustus 2016

BACA JUGA:





Seusai Membeli Banyak Buku


TOKO buku Gramedia di Bogor menggelar pesta diskon. Saya pun datang berbelanja. Hanya dengan uang senilai 150 ribu rupiah, saya membeli 10 buku bagus. Jika dikalkulasi dengan harga normal, barangkali saya harus membayar di atas 500 ribu rupiah. Dikarenakan cuci gudang, saya bisa mendapatkannya dengan harga yang teramat murah.

Sebagai konsumen, jelas ini sangat menguntungkan. Tapi saya tiba-tiba tertegun saat membayangkan berapakah gerangan nilai materi yang akan didapatkan para penulis buku ini? Saya membatin tentang kerja keras mereka, mulai dari mengumpulkan gagasan, mengolah lagi semua gagasan itu agar enyah dibaca, berkorespondensi dengan editor dan penerbit, hingga akhirnya ikut menata aksara, lalu memberi masukan terkait desain layout dan cover buku. Terakhir adalah mempromosikan karyanya di toko buku.

Sebagaimana halnya manusia yang punya takdir berbeda-beda, karya tulis pun punya takdir berbeda. Ada karya tulis yang menyerbu toko buku dengan label best seller lalu dicetak berulang-ulang, dikembangkan menjadi film laris, yang lalu memberi kekayaan bagi penulisnya. Tapi ada juga yang cuma bernasib tragis; hanya selintas menghuni rak toko buku, setelah itu memenuhi rak buku diskon hingga harganya dibuat semurah mungkin, seolah-olah menggemakan suara pemilik toko buku yang hendak berkata, “Ayo, ambil buku ini. Gratis lho..”

Kata orang, pasar lebih mudah menyerap buku fiksi, ketimbang buku non-fiksi. Hanya saja tak semua fiksi bisa seberuntung novel yang mengisahkan persahabatan anak-anak di Belitung sana. Banyak yang nasibnya cuma melintas. Nasib buku non-fiksi lebih tragis lagi. Belakangan ini, saya kesulitan mendapatkan buku-buku non-fiksi bermutu, khususnya yang bergenre ilmu sosial dan budaya. Dalam amatan saya, hampir setiap tahun buku non-fiksi bermutu terbit, akan tetapi buku itu hanya sekilas hadir di toko buku, setelah itu lenyap tak tentu rimbanya. Beberapa di antaranya bisa dibeli lewat online, beberapa lagi lenyap tak tentu rimbanya.

Banyak di antara buku bermutu itu yang akan selalu abadi. Semisal buku karya James Scott berjudul Weapon of the Weak, yang lalu diterjemahkan penerbit Obor. Bagi saya, bahasan dalam buku ini bersifat abadi dan selalu relevan di baca kapanpun. Sayangnya, buku sebagus itu hanya muncul sekilas di toko buku. Mungkin buku itu tak banyak peminat. Hingga kini belum juga dicetak ulang.

Nah, di tengah kesulitan mendapatkan buku-buku bagus yang tak laku di pasar itulah, saya mendapatkan rekomendasi dari beberapa teman untuk membelinya di beberapa jasa penjual buku bajakan di Yogyakarta. Saya dikirimi katalog yang koleksinya cukup lengkap.

Setiap kali melihat katalog itu, saya benar-benar berada dalam dilema. Saya tahu bahwa penulis buku tak mendapatkan royalti dari buku yang terbeli. Tapi saya tak menemukan satu mekanisme lain untuk menyerap informasi dari buku itu ketika tak ditemukan lagi di pasar.

Taruhlah, saya ingin membaca buku Arus Balik yang ditulis Pramoedya Ananta Toer. Saya tak menemukan satupun buku itu di banyak toko buku. Buku itu hanya bisa dibeli dari penjual buku bajakan. Jika membelinya, maka tiba-tiba saja hati menjadi berat, khususnya saat membayangkan penderitaan penulisnya saat berada dalam penjara di Pulau Buru. Betapa tak adilnya kita mengagumi satu karya besar yang lahir pada situasi pengarangnya yang setiap saat nyawanya bisa melayang.

Kehidupan memang menyisahkan banyak dilema. Saya ingin menghormati semua penulis dan membeli buku dengan harga mahal. Saya tahu persis kalau seorang penulis tak banyak dapat untung dari setiap sen buku terjual. Di setiap harga buku, terdapat biaya untuk menggerakkan mata rantai penerbitan. Bagian yang diterima penulis selalu lebih kecil dari bagian yang diterima toko buku dan penerbit. Padahal penulis berlelah-lelah menghasilkan satu karya. Penulis pernah bersentuhan dengan satu keping kenyataan, memeram gagasan, lalu bersusah-payah melahirkan ide-ide dalam bentuk tertulis. Ia merawat gagasan itu, memberinya nutrisi dan masukan dari banyak orang, hingga akhirnya lahir.

Hiks, rasanya sedih juga saat harus membelinya dengan harga diskon buku yang menjadikan buku terlampau murah. Sementara di sudut sana, penulis buku itu hidup dalam keterbatasan. Ah, semoga saja mereka menerima banyak manfaat dan rezeki lain yang datang beruntun seiring dengan bukunya yang tersebar ke mana-mana. Semoga.



Bogor, 7 Agustus 2016

Melacak Spin Doctor di Balik AHOK



SEUSAI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyatakan diri akan maju ke pemilihan Gubernur DKI Jakarta melalui pintu partai politik sembari tetap menyertakan relawannya, dunia media sosial langsung heboh. Lalu lintas informasi di facebook dan twitter langsung meninggi. Sejumlah seleb twitter bersahut-sahutan dan memberikan respon positif ataupun negatif. Kita sedang menyaksikan satu peristiwa yang langsung direspon secara riuh di media sosial. Kita pun menyaksikan bagaimana informasi dikemas serupa hujan yang mengguyur dan menentukan opini publik.

Kita sedang menyaksikan kerja-kerja para Spin Doctor yang hendak mengendalikan opini. Jika hari ini semua informasi di media massa bernuansa positif dan memberikan rating tinggi kepada Ahok, maka boleh jadi itu adalah buah dari para Spin Doctor atau pengendali informasi di era modern. Demikian pula ketika informasi itu negatif. 

Bagaimanakah memahami alur kerja para Spin Doctor ini? Apa yang mereka lakukan untuk mengubah arus wacana di dunia politik? Siapa sajakah para pengendali informasi ini? Bagaimanakah menilai keberhasilan dan kegagalan satu tim kampanye politik? Saatnya mengenali siapa dan kerja-kerja para Spin Doctor itu.

***

WAJAH lelaki bermata sipit itu penuh semangat. Di hadapan relawan dan perwakilan partai politik, ia menyatakan akan maju di pilkada DKI Jakarta melalui jalur partai politik. Respon di media sosial berunculan. Di hari pertama, pernyataan Ahok menjadi trending topic di twitter. Tagar #tetapahok menjadi trending topic dunia pada hari itu.

Namun, pernyataan itu juga memicu penolakan. Tagar #BalikinKTPGue terpantau memuncaki Tren Twitter Indonesia, kemarin. Tagar itu memuat sejumlah sentimen negatif kepada Ahok, dalam usahanya mempertahankan kursi Gubernur DKI Jakarta, di Pilkada 2017.

Sebelumnya, Ahok sudah memastikan akan menggunakan kendaraan partai politik dalam Pilkada 2017. "Kami harus menghargai parpol yang sudah mendukung. Ya sudah, kami pakai parpol sajalah," kata Ahok, dalam acara halal bihalal yang diselenggarakan Teman Ahok, seperti dikutip Kompas.com, Rabu (27/7).

Boleh jadi, keputusan itu bikin kecewa sejumlah orang, yang menginginkan Ahok maju melalui jalur independen. Lagi pula, selama beberapa bulan terakhir, Ahok telanjur digembar-gemborkan akan menempuh jalur independen. Ikhtiar politik juga sudah dilakukan, dengan mengumpulkan 1 juta KTP untuk memenuhi syarat calon independen.

Perjalanan Ahok memang unik. Ia selalu meniti di sentimen negatif, lalu berubah menjadi sentimen positif. Dalam banyak kasus, ia bisa membalikkan tuduhan, yang sebeumnya banyak dibahas media, menjadi sentimen positif. Ia juga punya barisan yang rela bekerja siang malam untuknya. Tagar #BalikinKTPGue itu semalam menjadi bahan perbincangan. Betapa tidak, Teman Ahok men-tracking kalau pihak yang membuat tagar ituternyata banyak berasal dari luar Jakarta. Sebegitu pedulinya pada Ahok, sampai-sampai gubernur dan bupati di daerah lain terlupakan.


Minggu lalu, Ahok juga menjadi trending topic. Ia menjadi saksi di sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Ia tak menunjukkan gentar sedikitpun. Ia menghadapi sidang dengan tenang. Padahal, sidang ini bisa menjerat dirinya kapan saja. Di sidang itu, ia disorot kamera dari berbagai sisi, semua keterangannya akan dicatat dan disaksikan semua warga Indonesia. Ia bisa saja keseleo lidah dan idak paham aturan, yang bisa berujung pada jeruji besi. Namun, tak ada yang berubah dengan sikap dan caranya bicara. Ia tetap lugas, sebagaimana biasa.

Di dunia maya, persidangan ini menjadi topik yang menarik dibahas. Banyak netizen yang mencuit tentang Ahok lalu mendiskusikan banyak hal tentang dirinya. Banyak yang mengira, beberapa isu korupsi akan menjadi kuburan bagi Ahok. Yang terjadi, Ahok meladeni smeua tudingan secara terbuka. Tak hanya lolos, ia malah mengambil banyak point pencitraan dari berbagai tuduhan yang siang malam dibahas oleh para politisi.

Yang saya amati, Ahok adalah politisi yang paling piawai dalam hal mengelola informasi. Ia bisa memperhitungkan timing yang tepat kapan harus mengeluarkan sikap dan pernyataan. Dia bisa menghitung kapan harus bersuara dan kapan harus diam. Pernyataannya megikuti garis kurva yang dimulai dari rendah, lalu perlahan naik, setelah itu turun, dan naik lagi.

Sebelum bulan puasa, isu paling hangat mendera Ahok terkait dugaan korupsi rumah sakit sumber waras. Ahok membiarkan semua wacana yang membahas itu. Siang malam, semua televisi membahas dugaan krupsi itu dari berbagai perspektif. Beberapa anggota DPRD DKI Jakarta ikut terlibat membicarakannya, yang tanpa disadari justru menempatkannya ke dalam terang cahaya yang disorot publik.

Pada saat yang tepat, ia muncul di KPK sembari membuka wacana publik baru yang meragukan hasil investigasi BPK, lembaga yang sekian lama dianggap selalu bersih. Hingga akhirnya KPK membuat pernyataan tidak menemukan indikasi kerugian negara di situ. Para ahli hukum pun terbelah dalam menyikapi perbedaan perspektif antara KPK dan BPK. Di titik ini, ia telah selangkah lebih maju dalam memenangkan pertarungan informasi di berbagai kanal media.

Di bulan puasa, dirinya terkesan lebih banyak diam. Barangkali ia tahu kalau di bulan suuci itu, gairah religiusitas sedang tinggi-tingginya, yang bisa mempersatukan banyak pihak. Ia memilih untuk tidak berwacana, dan menahan diri selama bulan itu. Tapi seusai puasa, wacana tentang dirinya kembali marak. Ia tampil ke hadapan media. Ia mendatangi ruang sidang, lalu menjelaskan posisi politiknya. Jika dianalogikan sebagai pertandingan sepakbola, ia mencetak banyak skor penting selama pertandingan wacana ini.

Seusai puasa, isu rekamasi ini semakin mencuat. Kembali ia membiarkan semua debat publik berlangsung terbuka, yang telah berlarut-larut itu sebelum akhirnya tampil ke depan dan menjawab semua tuduhan di persidangan tipikor. Sepertinya, ia menunggu momen resmi untuk menyampaikan versi kebenarannya.

Saya menduga, setelah isu reklamasi mendingin, dan menyeret banyak pihak, akan ada lagi isu baru yang akan semakin memberi panggung bagi kian berkibarnya namanya di media. Barangkali, perseteruan dengan Rizal Rami akan semakin memanas (publik sudah tahu apa ending-nya). Atau barangkali perseteruan dengan Jokowi. Kita tak bisa menebak apa yang terjadi. Yan pasti, akan ada isu atau wacana yang akan terus meghangat lalu menempatkan dirinya di tengah pusaran informas, dan kelak akan mencuatkan namanya ke permukaan. Kita tunggu saja.

***

JIKA dunia politik ibarat dunia yang penuh pertempuran wacana, maka setiap politisi memerlukan seorang jenderal lapangan yang bisa mengendalikan semua arus informasi, sekaligus menggempur lawan dengan berbagai informasi tersebut. Para “jenderal” ini membangun benteng informasi yang mengolah semua data lalu meng-counter semua isu. Jika diperlukan, mereka sesekali melempar wacana tentang politisi atau partai lain. Dalam ranah akademis, mereka kerap disebut Spin Doctor.

Dahulu, Spin Doctor hanya menjelajah semua media massa, memiliki jejaring dan klik untuk mengatur wacana. Kini, arenanya menjadi lebih lebar dan lebih menantang. Mereka beroperasi di media sosial yang amat luas dan tak bertepi, mengatur ritme kapan mengalihkan informasi, menata saat tepat untuk menyetel pencitraan seseorang, sembari mengumpulkan data dan fakta kalau-kalau ada serangan dari pihak lain. Belakangan ini, semua Spin Doctor memiliki sehimpunan arsenal persenjataan yang setiap saat bisa menggempur media sosial dan media massa.

Dalam hal Ahok, para Spin Doctor itu muncul dalam berbagai isu tentang dirinya, menggiring wcaana, lalu mengatur ritme wacana itu. Yang menarik, para Spin Doctor itu tidak bekerja di kanal-kanal resmi media sosial yang dikelola Ahok dan timnya. Para Spin Doctor menggunakan banyak kanal warga biasa yang secara kontinyu membentuk citra Ahok.

Cara kerjanya adalah gempur semua media dengan berbagai informasi. Gunakan para seleb fasebuk dan twitter, yang dengan mudah dikenali, lalu jejali publik media sosial dengan berbagai informasi. Keberhasilan kerja Spin Doctor akan muncul dari hadirnya trending topic atau saat satu postingan menjadi wacana publik. Kegagalannya dilihat saat informasi menjadi negatif, saat publik melihatnya tidak dengan kacamata positif. Informasi terus dihadirkan serupa hujan

Dilihat dari sisi akademik, wacana Ahok di media sosial itu selalu saja menarik untuk diamati. Sebagai orang yang belajar Ilmu Komunikasi, saya bisa menyaksikan bagaimana wacana politik bekerja, bagaimana politik dikendalikan melalui wacana, bagaimana upaya mempersuasi, mempromosikan, atau malah membuat citra negatif tentang seorang aktor. Saya bisa menyaksikan bagaimana kerja seorang Spin Doctor dalam mengendalikan informasi.

Terminologi Spin Doctor mengacu pada bagaimana mengelola media (media management technique) di mana seorang pewarta media dianggap bisa menghalangi reportase yang obyektif dan transparan terhadap informasi yang ada. Seorang Spin Doctor adalah sesorang yang menempatkan informasi secara spin (berputar) untuk mempengaruhi opini publik dengan cara membiaskan informasi yang ditujukan untuk menaikkan citra seseorang, atau menjatuhkan citra orang lain.

Dalam satu riset, saya temukan kepingan informasi bahwa karakteristik spin adalah pertukaran atau perebutan antara informasi yang ada dengan publisitas. Istilah spin ini tidak muncul dari akademisi, melainkan berasal dari olahraga yakni permainan baseball dan cricket, di mana pelempar bola (pitcher) melempar bola ke arah penerima bola dengan teknik tertentu. Seringkali, bola itu dilempar dengan cara diplintir (spin) hingga arah bola berubah. Di sinilah awal munculnya istlah spin itu.

Meskipun istilah ini kurang akademis, istilah ini tetap digunakan untuk menggambarkan bagaimana New York Times melakukan rekayasa pemberitaan saat pemilihan Presiden Amerika Serikat pada tahun 1984. Sejak saat itulah, istilah ini digunakan untuk menyebut para Spin Doctor atau konsultan media management dalam mengendalikan agenda media. Kerja-kerja para Spin Doctor adalah ‘moulding the image’ atau merancang serangkaian kata-kata untuk didengar dan dilihat.

Para politisi hebat memerlukan seorang Spin Doctor untuk mengolah semua informasi. Di lapangan, namanya bisa berbeda-beda. Ada yang menyebutnya tim citra, konsultan poitik, tim media, ataupun tim sukses. Kerjanya pun bisa berbeda-beda, tetapi semuanya mengarah pada upaya menampilkan citra terbaik di hadapan publik, melalui media massa dan media sosial. Posisinya di tengah-tengah antara kandidat atau politisi dan media massa serta media sosial.

Sayangnya, kerja-kerja tim media dan konsultan politik di tanah air lebih ke arah kerja-kerja yang sifatnya jangka pendek yakni spin dan counter spin. Kerja mereka adalah mengarahkan informasi yang sifatnya positif, serta bagaimana mengatasi informasi negatif. Saya nyaris belum menemukan satu tim Spin Doctor yang bekerja secara sistematis dengan target-target angka menengah dan jangka panjang. Padahal, kerja-kerja seperti ini mudah dilakukan, hanya saja membutuhkan kesabaran dan ketelatenan tinggi.

Seminggu silam, seorang kawan menunjukkan software pengolah data kualitatif terbaru. Ia menunjukkan bahwa semua informasi dengan mudahnya bisa dipetakan. Kita bisa mengetahui bagaimana informasi itu bermula, selanjutnya seperti apa informasi itu berkembang hingga akhirnya seperti apa akhir dari pergerakan informasi itu.

***

SEORANG ahli psikoanalisis pernah mengatakan bahwa persepsi tentang diri seseorang dibentuk dari himpunan informasi mengenai orang tersebut. Dalam dunia politik, citra seorang politisi terkait erat dengan sejauh mana informasi tentang orang tersebut yang dikonstruksi oleh media dan berbagai kanal komunikasi lainnya.



Dalam hal Ahok kita bisa belajar bagaimana mengelola informasi lalu mengemasnya menjadi kekuatan. Memang, ia kerap juga dihajar media besar seperti Tempo dalam banyak kasus. Yang menarik, para warga melakukan investigasi sendiri, menelusuri berbagai dugaan, lalu mengeluarkan argumentasi yang bisa mendiskreditkan media itu. Pelajaran yang bisa dipetik, di era sekarang, semua orang bisa menggugat citra media, kemudian membangun sendiri citra yang diinginkannya dengan kerja-kerja Spin Doctor.

Terkait Ahok, kita bisa membuat beberapa catatan.

Pertama, nampaknya Ahok memiliki tim analis media yang canggih. Dirinya bisa memetakan wacana apa yang harus ditampilkan ke publik, dan mana saja yang harus diabaikan begitu saja. Hampir setiap hari, kita menyaksikan berbagai wacana tentang dirinya, yang selanjutnya publik akan membandingkan dengan apa-apa saja yang telah dilakukannya. Banyaknya wacana itu adalah pra-kondisi untuk terus memunculkan namanya hingga pilkada DKI Jakarta dimulai.

Kedua, desain besar untuk mengendalikan informasi tentang Ahok itu justru menjadi bumerang bagi semua elite politik dan lawan-lawannya. Mereka sibuk berdebat, dan lupa satu hal penting bahwa untuk mengalahkan Ahok harusnya dilakukan melalui langkah-langkah substantif yang bisa memikat hati publik. Berwacana tak selalu efektif dalam politik. Orang-orang ingin melihat sesuatu yang lebih nyata. Itu yang tak banyak terlihat.

Ketiga, Spin Doctor yang selama ini menopang Ahok tidak menggunakan akun resmi Ahok. Mereka tersebar di banyak akun, memiliki jejaring media sosial sendiri, yang suatu saat bisa digunakan untuk mengendalikan informasi. Kerja-kerja mereka cukup teorganisir dengan baik, bisa dilihat dari ritme atau fluktuasi informasi yang cukup terkendali. Kerja mereka cukup sistematis dan menggunakan smeua kanal media.

Keempat, dunia politik kita serupa panggung media sosial yang riuh dan ramai. Wacana yang ramai ini hanya bertujuan untuk sejenak membuat publik melupakan substansi dari perdebatan itu sendiri. Para politisi menggunakan Spin Doctor untuk mengendalikan arus informasi ke arah substansi pemberitaan yang positif untuk client-nya. Pada titik ini politik serupa pasar yang di dalamnya ada penawaran dan penjualan, lalu suara-suara pengiklan yang memberi bujuk rayu. Bahkan di situ ada suara yang isinya mendiskreditkan produk lain di pasar yang sama.

Keempat, pelajaran besar bagi semua gerakan sosial adalah bagaimana mendorong satu isu menyangkut publik menjadi wacana luas yang tersebar di banyak orang. Hanya dengan cara menemukan saluran yang tepat, agenda publik akan lebih bergema sehingga akan begaung dan membawa dampak berupa tekanan atas kebijakan publik. Pola-pola yang digunakan para Spin Doctor bisa diterapkan untuk menjadikan satu isu sebagai wacana publik, yang diharapkan bisa mengubah kebijakan publik.

Kelima, fenomena Spin Doctor ini bisa menjadi positif ketika informasi didudukkan sesuai proporsinya, namun bisa menjadi negatif tatkala publik diposisikan sebagai penonton yang dikendalikan apa yang hendak ditonton serta ditentukan dengan cerdik apa yang kesan yang ada di benak mereka. Pada titik tertentu, yang terjadi adalah pencitraan yang tak membawa maslahat apapun bagi publik.

Nah, terkait wacana Ahok, kita menyimpan banyak catatan.



Bogor, 26 Juli 2016

BACA JUGA:




Empat Skenario RIZAL RAMLI



NIAT awal masuk kabinet adalah untuk mengepret siapapun yang tidak punya visi kerakyatan, ternyata justru dirinyalah yang merasakan kepret. Pada diri lelaki itu, Rizal Ramli, kita sedang menyaksikan fragmen hidup yang serba tak sabaran. Jika politik adalah kesempatan yang bisa diciptakan dan mengalir mengikuti ritme, mantan Menko Maritim itu justru ingin menari sendirian.

Memahami Rizal ibarat memahami satu pertunjukan teater yang tak taat dengan skenario. Di balik panggung, ia membaca semua skenario dan memahami peran yang harus dilakoni. Namun di atas panggung, ia memainkan skenario sendiri yang disimpannya sejak jauh hari. Sayang, masa 11 bulan tak cukup baginya untuk mementaskan lakon drama yang disiapkannya.

Tapi di mata Rizal, teater ini belum usai. Apakah gerangan skenario yang pernah dimainkannya sehingga mendapatkan kepret dari atasannya sendiri? Marilah kita simak satu per satu sembari menebak apa lagi kartu skenario yang akan dimainkannya.

***

SALAH seorang kawan politisi punya perumpamaan bagus tentang Rizal Ramli. Menurutnya, Rizal adalah politisi yang mengikuti ke mana arah angin kamera berhembus. Maksudnya, energi dan vitalitas Rizal akan tampak berbeda saat kamera merekam dirinya. “Saat sidang kabinet, ia tipe yang pendiam dan selalu manggut-manggut mengikuti arahan. Tapi saat keluar ruangan dan berhadapan dengan kamera, ia tiba-tiba saja galak,” kata teman itu.

Ia berkisah tentang perseteruan Rizal Ramli dan Jusuf Kalla beberapa waktu silam. Rizal menantang Wapres JK berdebat mengenai program listrik 35 ribu watt. Tak hanya itu, ia berbicara di hadapan media kalau dirinya hanya tunduk pada presiden, not everyone else. Tapi saat sidang kabinet, ia justru lebih banyak diam. Wapres JK balik menceramahi dirinya, sesuatu yang dengan sengit diingkari Rizal saat ditanyai para jurnalis. Rizal mengesankan dirinya sebagai anggota legiun paling setia di jajaran pembantu presiden.

Ibarat pertandingan sepakbola, Rizal adalah pemain cadangan yang masuk untuk mengubah permainan. Sebelumnya, ia adalah komentator yang paling kritis atas apa yang tampak di lapangan. Sebelum itu, ia pernah menjadi pemain, dengan prestasi yang tidak terlalu mengesankan di tengah iklim politik yang penuh pergolakan pasca-reformasi.

Peran besar yang seharusnya dimainkan Rizal adalah mendinamisasi pergerakan semua anggota kabinet sehingga berjalan sesuai koridor nawa-cita yang dicanangkan presiden. Barangkali, satu atau dua sentilan Rizal dibutuhkan untuk mempercepat kerja para menteri dalam mewujudkan janji pemerintahan baru. Kritik memang diperlukan agar visi besar tidak menjadi fatamorgana yang sukar dikejar. Ternyata kritik itu berkembang liar ke mana-mana sehingga menimbulkan kesan perpecahan yang membuat dunia politik semakin gaduh.

Melalui Rizal, kita tahu tidak semua teori tentang politik selalu benar (baca: Empat Teori tentang Sikap Rizal Ramli). Mulanya ia dianggap sebagai orang kepercayaan Jokowi. Ternyata, usianya di kabunet hanya 11 bulan, yang menunjukkan bahwa dirinya gagal menerjemahkan visi kabinet. Lebih ngawur lagi teori dari seorang pengamat yang mengatakan dirinya adalah orang kepercayaan JK. Jika kepercayaan, tak mungkin ada perseteruan serta ketidakpercayaan pada sosok RI-2 itu.

Apakah gerangan evaluasi yang bisa kita berikan atas keberadaan Rizal di kabinet selama 11 bulan?

Pertama, kegagalan membangun komunikasi politik yang dinamis. Sebagai menteri koordinator, peran-peran yang harusnya bisa dimainkan adalah menjembatani komunikasi antar sektor, menajamkan visi nawa-cita, lalu mendinamisasi gerak menuju visi pemerintahan. Peran ini tak bisa berjalan optimal, disebabkan dirinya terlampau sibuk memelihara konflik dengan banyak pejabat lain.

Ada yang mengatakan bahwa tergesernya Rizal adalah imbas dari perseteruan dengan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Pangkalnya adalah perdebatan tentang reklamasi Pulau G di utara Jakarta. Dalam konferensi pers, Rizal menyampaikan sikap tim kerja, yang melarang reklamasi pulau tersebut, sesuatu yang emudian dianggap Ahok tidak ada dalam rekomendasi. Pihak Ahok membuka banyak data yang tak pernah direspon oleh pihak Rizal.

Tapi, saya menganggap alasan perseteruan dengan Ahok ini bukanlah substansi utama. Perseteruan itu hanyalah riak kecil dari buruknya komunikasi politik yang seharusnya bisa dimainkannya dengan bijak. Ia seharusnya bisa membangun satu kerangka dialog dan kesepahaman, yang lalu menggerakkan laju pemerintahan ke arah cita-cita ideal.

Kedua, pergerakan politik yang ibarat makan kerupuk. Terlihat banyak dan berbunyi kriuk-kriuk, tapi tak pernah mengenyangkan. Beberapa tugas langsung dari presiden yang seharusnya dituntaskannya ternyata justru menjadi probem yang terus muncul. Sebut saja tentang dwelling time, harga logistik yang tinggi, hingga pembenahan pelabuhan yang tak kunjung beres.

Di titik ini, Rizal harus banyak berguru pada Luhut Binsar Panjaitan tentang bagaimana menjadi seorang mastermind atau pengatur ritme yang luput dari pantauan publik. Luhut bisa mengendalikan dinamika Partai Golkar, dengan gejolak yang minim. Ia bekerja senyap dengan hasil yang besar bagi pemerintah. Sementara Rizal sebaliknya. Ia bekerja sedikit, dengan publikasi yang besar-besaran.

Ketiga, hasrat publikasi yang sedemikian massif sehingga menjadi jerat baginya. Ia membobardir media massa dan media online dunia maya dengan segala berita tentangnya. Ia juga memanfaatkan sosok Adhie Massardi sebagai spin doctor yang akan membelokkan segala isu tentang Rizal demi membangun glorifikasi atau upaya yang kian melambungkan namanya. Tugas spin doctor ini adalah meramaikan dinamika politik dengan berbagai isu, yang boleh jadi, membelokkan substansi tentang betapa sedikitnya kerja yang telah dilakukan.

Permainan wacana yang dimainkan para spin doctor memiliki tujuan yang sama yakni memosisikan Rizal sebagai hero, dan yang lain sebagai looser. Berbagai isu di-listing, lalu diatur timing-nya. Sebagai hero, ia berharap mendapatkan dukungan publik luas sehngga kelak menjadi simbol dari perjuangan melawan para penindas.

Jika diibaratkan permainan sepakbola, Rizal adalah tipe pemain individualis yang ingin sesegera mungkin mencetak gol, tanpa membangun tim yang kuat. Menjadi pahlawan memang memabukkan, sebab posisi itu memungkinkan seseroang menjadi sorotan semua kamera, lalu memantik kekaguman yang berujung pada citra terkerek tinggi.

Keempat, ia tidak juga menunjukkan pemahaman yang jelas atas visi maritim di pemerintahan ini. Pemerintahan Jokowi – JK adalah pemerintahan yang hendak mewujudkan visi maritim, namun visi besar itu tak pernah dijabarkan dengan jelas. Jika maritim diterjemahkan sebagai semesta berpikir yang seharusnya bisa merasuk dalam segenap kebijakan politik yang ditempuh pemerintah, tugas seorang menko adalah membumikan visi itu ke dalam kerangka kerja yang lebih terstruktur dan jelas arahnya.

Saat memilih istilah “Rajawali Kepret” sebagai simbolisasi dari peran ideal yang hendak dimainkannya. Simbol ini menjadi penegasan bahwa dirinya ingin mengkepret siapapun yang melenceng dari pemerintahan. Sayang, istilah ini ibarat senjata makan tuan. Sejarah mencatat bahwa dirinyalah yang kemudian dikepret di tengah jalan yang telah dirintisnya.



Pelajaran berharga dari kasus ini adalah sebagaimana pepatah Inggris: ”Don’t put all your eggs in one basket.” Jangan pernah menyimpan semua telur dalam satu keranjang. Jangan pernah mengeluarkan semua strategi dalam satu skenario. Anda mesti pandai mengatur ritme kapan harus menurunkan setiap kartu. Perhitungkan situasi dan konteks sekeliling. Jika kartu dikeluarkan sekaligus, maka bisa berpotensi chaos yang bisa mengancam pihak lain, lalu membuat anda yang tersingkir. Dan strategi terbaik adalah melakukan kerja-kerja hebat yang monumental, yang bisa membuka banyak pintu untuk menurunkan strategi lainnya.

***

APA boleh buat, layar telah terlanjur patah di jalan. Perjalanan lelaki itu masih akan panjang. Amat menarik menyaksikan apa saja kartu skenario yang akan dimainkannya. Ia tak mungkin mundur begitu saja, tanpa menyiapkan sejumlah kartu as .

Pertama, ia akan menampilkan kesan kalau dirinya di-reshuffle sebagai akibat dari kuatnya lobi para pengembang. Ia membangun kesan bahwa dirinya sedang melawan para pengembang, yang didukung penuh oleh pemerintah. Pesan ini mulai disuarakan oleh para spin doctor yang dekat dengan dirinya secara terus-menerus.

Kedua, ia akan tetap tampil menghadiri semua diskusi yang diadakan media massa. Ia akan kembali menjdi pengamat yang memiliki banyak ide-ide nyeleneh. Hanya dengan cara itu ia bisa merawat kekaguman orang lain kepadanya, yang nantinya akan bisa dijadikan sebagai senjata untuk kembali memasuki dunia politik.

Ketiga, ia akan ikut dalam upaya membangun oposisi kritis atas pemerintahan Jokowi-JK. Ia bukanlah sosok Habibie yang saat lengser memilih jadi guru bangsa dan tidak pernah melempa kata negatif pada siapapun pemimpin. Ia juga bukan Gus Dur yang kembali menekuni kegiatan kultural seusai mundur dari posisi presiden. Ia juga bukan Megawati yang masih memegang partai besar dan bisa mengendalikan banyak sisi dalam politik tanah air. Hanya melalui gagasan kritis,

Keempat, ia akan tetap merawat harapan menjadi pemimpin Indonesia. Melalui citra yang terus dijaga sebagai seorang penyelamat rakyat, ia akan terus berkiprah di panggung politik. Ia embangun persepsi dirinya sebagai anti-neolib serta sebagai pejuang yang hendak meluruskan pemerintahan Jokowi. Positioning ini akan terus dimainkannya hingga momen pemilu mendatang.

Dengan usia yang tak muda lagi, kesempatannya barangkali hanya sekali, yakni pada pemilu mendatang. Boleh jadi ia akan sukses menggapai mimpinya, boleh jadi pula ia akan gagal. Kita akan sama-sama menjadi saksi tentang sejauh mana pencapaiannya. Yang pasti, keberadaannya hari ini telah menghadirkan banyak catatan di benak kita, tentang politisi di panggung kuasa. Pada dirinya, kita sedang belajar memahami politik yang terus berubah.




Bogor, 28 Juli 2016

BACA JUGA:






Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...