Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Cerita tentang Ricardus Keiya




Saya menghabiskan malam bersama dua pemuda timur Indonesia. Tapi saya ingin cerita tentang lelaki berbaju merah dan berkalung salib.

Namanya Ricardus Keiya. Di medsos, namanya adalah Rigo Detto. Dia berasal dari Paniai, Papua. Datang ke Bogor untuk kuliah di kampus IPB bersama 40 rekannya sesama Papua. Mereka sesama penerima beasiswa dari pemerintah Papua. 

Riki, demikian ia disapa, tadinya ingin gabung di Persipura. Dia pesepakbola handal yang sudah lulus seleksi. Sayang, orangtuanya ingin dia lanjut kuliah. Datanglah dia ke Bogor. Tapi, kenyataan tidak seindah yang dibayangkannya.

Dia mesti betadaptasi dengan materi kuliah yang belum pernah didapatnya di Papua. "Taputar saya dikasi soal kalkulus." 

Dia tak mau patah arang. Dia pun beradaptasi dengan perkuliahan yang tidak mudah. Dia mencari aktivitas lain. Dia bergabung dengan tim sepakbola IPB. Dia menjadi bintang yang dielu-elukan dalam banyak turnamen.

Alam memang melakukan seleksi. Demikian pula 40 orang dari Papua itu. Dia akhir perkuliahan, hanya 2 orang yang berhasil meraih gelar sarjana. Riki adalah salah satunya. 

Sisanya rata2 putus di tengah jalan, dengan berbagai alasan. Kebanyakan tidak bisa beradaptasi dengan materi2 yang belum pernah dipelajari semasa SMA di Papua. Apa boleh buat, pendidikan di barat dan timur memang sangat timpang.

Riki memang mengejutkan. Tak hanya lulus S1, dia pun lanjut program magister bidang Sosiologi Pedesaan. Dia pun sering ikut kegiatan riset di satu lembaga.Bahkan dia pernah jadi pemateri pada diskusi tentang Papua di satu universitas di Jakarta.

Kini dia tak lama lagi akan lulus magister. Dia menulis tesis tentang landgrabbing atau perampasan lahan di Merauke, Papua.

Saat saya tanya pendapatnya tentang lahan luas hingga ratusan ribu hektar yang dimiliki seorang capres, Riki langsung bersemangat. Dia menjelaskan banyak sisi tentang lahan itu, serta beberapa analisis.

Sayang, dia tidak ingin pernyataannya dipublish di sini. Mengapa? "Biar banyak orang yang cari saya untuk diskusi mengenai landgrabbing. Biar saya ikut terkenal seperti kaka," katanya sembari terkekeh.

Iya deh. Ntar bocorin yaa


Membaca Jurnalisme Musik




Untuk pertama kalinya saya melihat ada buku yang membahas seluk beluk dunia jurnalisme musik. Sebagai pembelajar jurnalistik sekaligus pemain piano dan biola, buku ini 'gue banget.'

Ulasannya cukup bagus. Gaya menulisnya adalah tengah2 antara menulis akademik dan populer, mirip2 gaya menulis yang selama ini saya terapkan.

Yang dibahas juga lengkap. Mulai dari media2 yang membahas musik hingga mendiskusikan kritik musik. Saya suka cerita tentang Pure Saturday, band yang memilih jalur indi dan konsisten di situ.

Buku bergizi untuk akhir pekan cocok dibaca sambil mendengar vokal Freddy Mercury yang berpadu dengan lengkingan gitar Brian May.

Bukalapak, Lupabapak, dan Kedunguan Digital


ilustrasi

Di era pemilihan presiden, semua orang tiba-tiba memiliki sumbu pendek. Hanya karena satu cuitan, maka satu negeri bisa ribut. Hanya karena satu komentar di media, satu bangsa bisa terbelah. Bahkan hanya karena satu tagar di internet, semua orang akan sibuk membelah diri dalam berbagai kubu. Ini bukan soal cebong vs kampret.

Ini soal bangsa yang kian terpolarisasi. Energi publik yang seharusnya dipakai untuk mendiskusikan berbagai hal yang substansial, tiba-tiba tersita untuk masuk dalam debat remeh-temeh yang sejatinya berpangkal pada kesalahan dalam memilih diksi dan kalimat yang tepat untuk menyatakan maksud.

Pendiri Bukalapak itu tidak menyadari kalau dirinya bukan lagi anak muda alay yang bebas ngomong apa saja di media sosial. Dia seorang public figure yang seharusnya memiliki kecerdasan dalam hal menangkap momen apa yang sedang terjadi di bangsanya.

Sebagaimana pengakuannya, dia tidak bermaksud untuk bersikap seperti apa yang dituduhkan. Dia hanya tidak tahu bagaimana memilih diksi yang tepat. Dia kembali menjadi anak muda bodoh yang karbitan, tapi tiba-tiba mendadak kaya karena mainan startup mendapat siraman dari investor.

Kalau pun dia menyenangi satu kubu, jelas tak ada salahnya. Dia bisa saja gentle mengakui sikap politiknya, tanpa harus gentar karena tekanan dan seruan Lupabapak. Abaikan saja suara netizen yang mengingatkan dirinya perhatian seorang kepala negara. Bantah saja argumentasi kalau kemajuan usahanya itu karena iklim yang dibuat oleh kepala negara itu.

Akuilah kalau selama ini dirinya bukan hanya buat platform digital untuk para UKM, sebagaimana klaimnya selama ini, tetapi juga membuat bahan gorengan yang kemudian cepat disambar para cebong dan kampret. 

Tak perlu ngomong soal dana riset sebab para periset sendiri sudah lama mengeluh risetnya diabaikan sebab pihak berwenang hanya peduli pada laporan keuangan dan aspek administrasi. Di negeri ini, riset sudah lama jadi barang pajangan, dan hanya menjadi alat legitimasi kebijakan.

Para periset hanya berkutat dengan debu di lapangan riset dan berbagai laboratorium. Nasib mereka tak baik-baik amat. Satu-satunya riset yang diperhatikan dan bikin penelitinya makmur hanya survei politik dan opini pesanan. Itu pun hanya untuk membuat tim sukses gembira dan capresnya sujud syukur.

Di sisi lain, kita pun harus mengakui kalau watak netizen kita memang suka ribut. Bahkan soal Valentine saja sibuk berdebat sebab dianggap bukan budaya kita. Semuanya lupa kalau budaya kita yang sesungguhnya adalah suka debat dan tengkar tanpa ada ujung demi membela kelompok kita.

Budaya kita adalah perasaan merasa tertinggal saat ada kereta debat yang sudah berjalan jauh. Semua ingin ikut dalam adu tengkar.

Dulu, kita menyaksikan bagaimana Sari Roti hendak diboikot. Seruan itu hanya sejenak sebab setelah itu semuanya kembali pada rutinitas sehari-hari. Dengan memboikot Sari Roti tidak membuat kehidupan Anda semakin baik.  Kini, Bukalapak hendak diboikot. Ketika di masa depan ternyata Bukalapak masih eksis, maka kita akan kembali menarik ludah yang sudah dilepaskan.

Para ahli psikologi menyebut fenomena kolektif ini sebagai fear of missing out (fomo). Banyak orang ingin ikut terlibat membahas sesuatu yang sedang ngetrend. Tanpa memilah dan menganalisis, langsung saja ikut menyebar satu tagar.

Dunia digital membuat kita mudah emosional sehingga gampang terserat dalam arus debat yang tak henti. Siapa yang paling diuntungkan dari debat ini? Tentunya, tim sukses dan tim pemenangan. Yang bertepuk adalah para spin doctors, para pemelintir informasi, mereka yang membelokkan setiap debat untuk menguatkan laskar siber dan menggempur lawan. 

Setiap isu ibarat amunisi dan bom yang kemudian diledakkan di media sosial sehingga huru-hara dan keramaian tercipta. Dengan melempar isu, mereka jadi tahu siapa kawan dan siapa lawan, kemudian menghimpun mereka dalam satu barisan.

Mereka bisa memerintah algoritma media sosial sehingga pesan untuk ribut itu tersulut ke mana-mana. Setelah itu, mereka ramai-ramai mengipasi kita agar selalu ribut. Ketika perhatian publik tercurah pada satu isu, mereka akan melakukan operasi yang lain.

Misalnya menjauhkan perdebatan tentang salat Jumat, atau fokus pada mencari isu lain untuk menutupi debat tidak berkualitas.

Saya ingat satu bab dalam buku 21 Lessons for 21st Century yang ditulis Yuval Noah Harari mengenai kebebasan. Katanya, di era big data dan kecerdasan digital, maka manusia kehilangan kebebasannya sebab tunduk pada kekang yang dipegang oleh para pengendali digital.

Bahaya yang dihadapi manusia saat ini adalah apa yang disebutnya kediktatoran digital, saat semua algoritma dan mesin cerdas bisa memetakan potensi cebong dan kampret dalam diri seseorang, kemudian diarahkan untuk menjadi pemandu sorak yang meramaikan hiruk-pikuk dan diskusi tak ada ujung di ruang maya kita.

Marilah kita akui bahwa kita juga terjebak pada kedunguan digital secara massif sehingga kita kehilangan nalar untuk melihat mana hal penting dan tak penting untuk ditengkarkan.

Atau haruskah kita menunggu pilpres ini berlalu biar kita kembali menemukan akal sehat kita?



Sepuluh Postingan Hebat untuk Caleg Juara




Pertanyaan penting yang sering muncul dari para caleg di media sosial adalah bagaimana menyusun materi atau konten yang tepat untuk memikat orang agar setia menjadi pengikut (follower), dan setelah itu akan memilih di bilik suara?

***

Seiring dengan kian dekatnya pemilu, kawan itu mulai bijak di media sosialnya. Sebelumnya, dia rajin menyembur kebencian dan permusuhan kepada seseorang yang kini sedang menjabat. Tapi belakangan ini, dia berubah drastis. Dia mulai rajin membagikan petuah-petuah dan postingan bijak.

Dia tak sendirian. Hampir semua politisi dan caleg kini masuk ke media sosial. Rimba persilatan medsos kini dipenuhi banyak orang yang mendadak baik. Ada yang rutin memajang foto kegiatan, kata-kata bijak, ada pula yang sibuk memasang foto tersenyum.

Namun rimba persilatan medsos ini terasa menjemukan sebab semua orang menggunakan jurus yang sama. Semua orang menampilkan postingan berupa wajah yang sudah dipercantik oleh sotosop, kemudian dibumbui kalimat bijak, setelah itu ajakan memilih.

Sebagai netizen, kita nyaris tak menemukan kebaruan. Tak ada variasi dan jurus baru. Padahal, jantung dari semua aktivitas pengelolaan medsos adalah kreativitas.

Mereka yang menguasai medsos bukan mereka yang terganteng dan terkaya, melainkan mereka yang paling kreatif, paling bisa mengolah hal-hal sederhana menjadi menarik, serta bisa membangun interaksi kuat dengan para netizen.

Di mata saya, jantung dari semua aktivitas di media sosial adalah pengelolaan konten. Ketika Anda punya konten menjual, maka Anda akan dikenali, kemudian disukai. Jika selalu konsisten, rasa suka akan berubah menjadi dukungan hingga dipilih di bilik suara.

Banyak orang yang terus-menerus menyajikan menu yang itu-itu saja di media sosial. Padahal, ada banyak kiat dan strategi konten yang bisa dipilih. Seiring waktu, Anda bisa memantau semua konten itu, melihat mana yang disukai, kemudian jadikan sebagai style atau ciri Anda.

Saya mengidentifikasi ada 10 jenis postingan yang bisa dipilih seorang politisi di media sosial. Kita lihat satu persatu.

Pertama, narasi. Inilah jenis postingan yang paling populer dan disukai. Anda cukup bercerita tentang diri Anda secara apa adanya. Tak sekadar bercerita, bagikanlah hikmah atau pembelajaran dengan cara yang kreatif dan tidak menggurui.

Sekali Anda bisa mengetuk hati seseorang, maka dia akan segera menjadi follower, setelah itu relawan, kemudian jadi tim sukses. Saya memantau narasi adalah kekuatan dari beberapa politisi yang paling disukai di media sosial.

Lihat saja postingan Presiden Jokowi, Ridwan Kamil, Anies Baswedan, Airlangga Hartarto, hingga tokoh-tokoh seperti Basuki Tjahaja Purnama. Mereka bisa bercerita dengan mengalir dan menunjukkan sisi paling manusiawi pada diri mereka.

Kedua, analisis. Banyak netizen menyukai tulisan-tulisan yang menyajikan cara pandang atas satu hal. Analisis tidak selalu berupa angka-angka, tapi juga bisa berupa upaya menghubungkan satu atau dua fakta, kemudian memberikan gambaran atas apa yang terjadi, prediksi ke depan, serta apa yang harus dilakukan.

Tokoh seperti Mahfud MD disukai orang-orang di Twitter karena beliau sering memberikan pencerahan kepada publik atas peristiwa aktual. Demikian pula beberapa nama seperti Gus Nadir yang sering memberikan kultwit tentang peristiwa aktual.

Ketiga, foto bercerita. Kalangan generasi milenial biasanya lebih suka hal-hal yang visual dan menarik mata. Mereka menggemari foto-foto yang unik dan menampilkan sisi lain seseorang. Melalui foto, netizen bisa membangun interaksi dengan seseorang.

Sebagai politisi, Anda tak perlu setiap saat menampilkan wajah. Sesekali angkat sisi lain dari daerah pemilihan Anda. Bisa berupa tempat wisata, kehidupan sosial, hingga kebiasaan warga yang unik-unik. Melalui foto, ajak orang-orang untuk terlibat. Sampaikan gagasan Anda melalui foto yang sederhana tapi kuat.

Keempat, video pendek. Sebagaimana foto, ini juga jenis postingan populer yang disukai. Saya perhatikan karakteristik netizen adalah senang membagikan banyak hal melalui media sosial, termasuk melalui WhatsApp Grup.

Video pendek dengan durasi satu menit menjadi amat disukai sebab ringan, mudah diunduh, dan mudah pula disebarkan ke mana-mana. Tantangan dalam membuat video adalah bagaimana menyajikan satu konten yang unik dan tidak sekadar memajang foto dan kalimat-kalimat retorik.

Saran saya, buatlah video pendek yang bercerita. Bisa dalam bentuk testimoni atau pengakuan orang-orang yang mengenal Anda. Bisa pula berisikan kunjungan atau perjalanan ke satu titik.

Kelima, meme. Bagi milenial, meme adalah hal yang juga disukai. Meme berupa parodi atau foto-foto yang diberikan teks-teks lucu. Meme disukai karena punya sifat yang menghibur. Ini klop dengan karakter generasi milenial yang senang dengan hal-hal menghibur dan menyenangkan.

Contoh Meme
Sebagai politisi, Anda bisa membuat meme untuk menyampaikan maksud. Bisa berupa foto Anda dan seorang pesohor serupa artis, setelah itu ada kalimat-kalimat lucu. Bisa pula berupa grafis diri Anda beserta tanya jawab yang isinya jawaban mengapa masuk politik. Kemudian di sudut bawah, ada karikatur anak kecil dengan kepala gundul yang memberikan komentar lucu. Itu bisa kok.

Keenam, karikatur. Yang dimaksud karikatur adalah penggambaran satu obyek konkret dengan cara melebih-lebihkan obyek tersebut. Karikatur bisa berupa wajah yang sedang tersenyum, dengan kepala terlihat besar, tetapi badan tampak kecil.

Karikatur bisa menjadi cara untuk menyampaikan pesan. Yang terpenting di sini bukanlah gambar, tapi apa pesan kuat yang hendak disampaikan. Sebagaimana meme, karikatur punya unsur menghibur yang bisa membuat orang suka dan membagikannya.

Ketujuh, infografik. Saya mengamati, infografik sangat populer belakangan ini. Hampir semua media online, tim relawan, hingga tim sukses, selalu menyenangi penyajian data melalui infografik. Data yang kadang memusingkan bisa menjadi lebih sederhana dan menarik.

Tak hanya tim sukses, saya juga mengamati semua lembaga negara dan swasta punya divisi yang rajin membuat infografik. Sebab penyajian infografik bisa menyentuh semua kalangan, serta mudah dipahami.

Kedelapan, quote atau kutipan. Biasanya untuk keperluan Instagram, kutipan sangat disukai. Jika Anda tak punya kutipan menarik, bisa pula mengambil kutipan dari tokoh-tokoh hebat. Bisa pula mengambil hal sederhana, tetapi bisa mengetuk hati seseorang ketika membacanya. Misalnya ucapan: “Di tengah berbagai masalah dan kesibukan, jangan lupa untuk bahagia.”



Kesembilan, pers rilis. Sebagai politisi, usahakan untuk selalu dekat dengan media. Anda mesti responsif dengan berbagai isu yang terjadi di sekitar Anda. Respon kepada media bisa diberikan dalam berbagai bentuk.

Selain memberikan pernyataan, juga dalam bentuk mengirimkan press release atau pernyataan pers. Pernyataan itu disampaikan dalam kalimat sederhana yang langsung pada sasaran. Perkuat pada argumentasi dan data-data sehingga komen Anda tidak asal.

Jika Anda melakukannya dengan baik, media-media akan sukarela memuatnya secara gratis. Semakin sering muncul di media, maka peluang Anda untuk dikenal dan disukai semakin besar. Setelah dimuat media, link atau tautan pernyataan itu bagikan di media sosial, kemudian boost sehingga menjangkau ribuan orang. Mudah khan?

Kesepuluh, retweet dan reshare. Anda bisa membagikan postingan tertentu atau tautan berita yang isinya menarik serta menunjukkan posisi berpikir Anda. Bagikanlah hal-hal bermanfaat yang Anda yakini bisa membawa dampak positif bagi konstituen Anda.

Bisa pula membagikan kalimat atau pesan dari calon presiden yang Anda sukai. Pilihlah pernyataan yang optimis, inspiratif, dan membawa harapan sebab biasanya jenis pernyataan begini yang disukai netizen.

Berikan pencerahan, perspektif, serta sudut pandang yang menarik sehingga seseorang semakin menyukai Anda dan suka rela menjadi relawan.

***

Nah, sepuluh jurus di atas hanya secucil dari berbagai jenis postingan yang saya amati di media sosial. Anda bisa mengembangkannya menjadi berbagai jenis postingan. Prinsipnya adalah pikatlah seseorang dengan konten yang menarik dan membuatnya sejenak berhenti saat mengamati ribuan konten yang melintas di media sosial.

Pertanyaan berikutnya, apakah jurus-jurus yang bisa diterapkan agar semua orang menyukai postingan yang kita buat? Seberapa efektif kampanye digital untuk memenangkan seseorang? Saya akan mengurainya pada tulisan mendatang. Ingatkan yaa, kalau-kalau saya lupa. Hehehe.

Suatu Hari Bersama KHALID MUSTAFA




DI satu hotel dekat Pasar Baru, Jakarta, saya bertemu dengannya. Namanya Khalid Mustafa. Dia adalah sosok yang populer di kalangan penyidik KPK maupun Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Dia adalah orang yang paling sering dipanggil lembaga itu dan ditanyai banyak hal.

Namun, dia tidak dipanggil sebagai tersangka. Dia dipanggil untuk memberikan keterangan ahli terhadap penyimpangan dalam hal pengadaan barang dan jasa pemerintah. Dia diminta mengidentifikasi ada tidaknya korupsi di proyek-proyek pengadaan barang dan jasa. Dia selalu tidak butuh waktu lama. Semua regulasi dan teknis pengadaan dihapalnya luar kepala.

Saya ingat Bung Hatta yang pernah mengatakan bahwa korupsi di Indonesia laksana kanker yang sudah masuk stadium empat, satu tahap di mana koruptor saling memangsa. Tugas Pak Khalid adalah memberikan kesaksian dan analisis apakah proyek pengadaan itu sudah sesuai prosedur atau tidak, apakah ada potensi korupsi ataukah tidak.

Kisah hidup lelaki asal Parepare ini sangat menarik untuk ditelusuri. Seorang teman bercerita, dirinya dulu adalah teknisi komputer di Makassar. Dia lalu merantau ke Jakarta, kemudian mendaftar sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Di sinilah, dia menemukan passion-nya yakni senang mengamati semua dokumen pengadaan barang.

Dia membaca undang-undang, kemudian melihat praktik di sekelilingnya. Dia cepat menyerap berbagai aturan dan regulasi. Di blognya, dia bercerita banyak. Saat masih golongan 2C, dia sudah sering dipanel dengan menteri dan dirjen untuk memberikan materi tentang pengadaan barang dan jasa.

Dia melihat bahwa pengadaan barang dan jasa selalu menjadi celah bagi tindak pidana korupsi. Masih segar di ingatan kita saat Gubernur Ahok mempersoalkan harga printer dan scanner di Pemrov DKI yang ditulis senilai 150 miliar rupiah. Ada banyak proyek pemerintah yang lalu di-markup dan sengaja dibesarkan agar masuk kantung pejabat. Di sinilah titik korupsi mulai menyebar.

Kata Khalid, ada tiga tipe aparat sipil negara yang diproses hukum karena korupsi pengadaan. Pertama, orang yang memang punya niat jahat untuk korupsi. Kedua, orang yang tidak bisa menolak perintah atasan. Ketiga, orang yang tidak tahu bahwa dia salah, tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, dan tidak punya kompetensi terkait pengadaan.

Dia juga menilai bahwa nyaris tidak ada satu pun perguruan tinggi yang memberikan kelas khusus pengadaan. Padahal, ini kemampuan yang dibutuhkan oleh semua instansi pemerintah, perusahaan penyedia, dan semua pejabat struktural. Sebab semua kantor pemerintah pasti membutuhkan kemampuan ini biar tidak korupsi dan uang negara terselamatkan.

Khalid melihat tantangan di depan mata. Dia merasa punya keahlian itu. Dia mundur dari ASN, kemudian mulai mengelola pelatihan mengenai pengadaan barang dan jasa. Dirinya laris diundang sebagai pembicara di mana-mana. Dia sudah mengunjungi puluhan kota dari Sabang sampai Merauke demi memberikan materi. 

Jadwalnya padat. Kata seorang teman, untuk membuat janji dengannya mesti konfirmasi jauh-jauh hari. Sebab dalam sebulan, dia bisa ke luar daerah sampai lebih 20 kali.

Tanpa disadari, dia sudah memberikan kontribusi bagi Indonesia agar lebih kuat dan berdaya, serta pemerintah menjalankan tugasnya dengan benar. Melalui sistem yang kuat, juga kapasitas yang memadai, praktik korupsi bisa dihindari.

Kemarin, saya ketemu di Pasar Baru, dia menjalin kerjasama dengan penyedia platform IndonesiaX untuk memberikan kelas-kelas gratis dalam hal pengadaan barang dan jasa. Khalid ingin agar semua orang di seluruh Indonesia bisa belajar mengenai pengadaan barang dan jasa secara gratis melalui online.

IndonesiaX menyediakan kelas-kelas gratis yang diasuh para pakar di berbagai bidang. Saya mengecek, mereka bekerja sama dengan banyak orang hebat seperti Profesor Rhenald Kasali, dan juga kampus besar seperti UI dan UGM untuk memberikan kelas gratis melalui online. Anda cukup register dan bisa menyelesaikan kursus atau kelas gratis itu pada periode tertentu. Anda pun bisa mendapatkan sertifikat kompetensi.

Rupanya Khalid terobsesi untuk memberikan kelas online dan bekerja sama dengan kampus-kampus agar mahasiswa diberikan kompetensi terkait pengadaan. Sebagai pengurus di Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), dia menggaransi kalau mahasiswa di satu kampus yang mengambil kelas yang diasuhnya akan bisa mendapatkan gelar di belakang nama sebagai pemegang kompetensi di bidang procurement atau pengadaan.

Berapa biaya yang harus dikeluarkan kampus dan mahasiswa? “Tak perlu. Kelas itu gratis. Namun untuk mengambil sertifikat mesti ikut ujian kompetensi dan membayar biaya yang tidak seberapa,” katanya.

Saya langsung terkenang kampus di timur yang mulai melirik potensi kelas-kelas online dengan para pakar. Kampus-kampus cukup membuat MoU dengan lembaganya, maka sudah bisa mengunduh materi. mahasiswa bisa pula dapat sertifikat kompetensi dan gelar tambahan. 

Saya menikmati pertemuan dengannya. Saat hendak berfoto, saya langsung berseloroh bahwa kebahagiaan bisa berfoto dengan seorang pakar. Dia langsung menjawab dengan aksen Makassar yang kental. “Bukanji pakar. Tapi pakarumbang ji.”

Saya terkekeh. Bagi yang pernah di Makassar pasti tahu makna “pakarumbang.” Iya khan?

Catatan Seusai Reuni SMP




Di satu siang yang cerah, beberapa kawan mengajak saya untuk reunian sesama alumni SMP 3 Baubau di Pulau Buton. Datanglah saya dengan ruang gembira di resto de leuit, Bogor. 

Dahulu, kami sekolah di pulau kecil, jauh dari pusat peradaban kota-kota besar. Di masa itu, kami jalan kaki ke sekolah, menempuh jarak yang tidak singkat. Kami pun tak mengenal berbagai jenis les dan bimbingan, sebagaimana anak jaman now.

Tapi saya perhatikan, semua kawan2 saya malah sukses di bidang masing-masing. Semua menemukan arena untuk berkiprah. 

Sebagai orang kampung yang tinggal di kota, saya mulai memikirkan banyak hal. Di kota, banyak yang mengira bahwa bisa menyekolahkan anak di tempat mahal dan mewah adalah cara terbaik untuk menyiapkan masa depan yang cerah.

Banyak orang yang terlalu protektif dan melimpahkan anaknya dengan fasilitas. Padahal esensi pendidikan bukan itu. Tempat sekolah dan fasilitas bukan tolok ukur dari kualitas dan masa depan seorang anak. Malah anak bisa jadi generasi strawberry yang mudah rapuh ketika menghadapi tantangan 

Yang terpenting dari sekolah adalah anak menemukan motivasi dan daya juang. Ketika dia punya itu, maka tidak penting bersekolah di mana. Dia akan menemukan jalannya untuk menggapai apa yang jadi mimpi dan passion-nya. 

Justru ketidaknyamanan dan keterbatasan adalah bagian dari latihan untuk menjadikan seorang anak sebagai petarung yang berjiwa Spartan. 

Tentu saja, ada juga faktor lain. Di antaranya adalah dukungan orang tua yang serupa sungai mengalir, juga harapan-harapan baik dari lingkungan. Dukungan itu juga berupa menyediakan waktu untuk menemani anak dalam berbagai aktivitas. 

Bagi orang kota, waktu bersama anak adalah hal paling mewah sekaligus paling mahal sebab semua orang terjebak dalam berbagai kesibukan. Padahal, itu jauh lebih penting daripada memberinya berbagai fasilitas mewah dan sekolah mahal.

Di acara reuni sekolah kampung di kota besar ini, saya tersenyum melihat teman2 yang sudah sukses. Ada yang sudah jadi kepala cabang dari bank swasta. Ada yang jadi pelaut dan sudah keliling tujuh samudera. Ada juga yang menekuni karier sebagai petinggi di badan SAR Nasional.

"Kamu sendiri sudah jadi apa Yos" tanya seorang kawan. 
"Saya sudah menemukan dunia saya. Yakni menjadi pelatih kucing. Sesekali saya jadi penjual obat di berbagai lokasi" kataku dengan gembira.

Semua orang melongo. Namun sejurus kemudian, semua tertawa terbahak-bahak.


Gadis Imut dalam Tubuh Robot Petarung




Tadinya, saya berpikir bahwa film Artificial Intelligence yang dibuat Steven Spielberg adalah film science fiction terakhir yang mempesona. Setelah nonton film Alita: Battle Angel yang diproduseri James Cameron, saya merevisi pandangan itu.

Alita menyajikan efek visual yang begitu megah dan adegan laga yang ditata seperti tari balet. Sepintas ini bukan film animasi sebab semua tampilan visual tampak sangat realistik. Padahal, yang tampil di layar adalah para cyborg dan robot, yang saling bertarung.

Film ini adalah proyek ambisius James Cameron yang pernah membuat film terlaris di dunia yakni Titanic dan Avatar. Di satu media, James Cameron bercerita kalau rencana film ini sudah ada di kepalanya sejak tahun 2000, namun ditundanya karena harus menyutradarai film Avatar.

Selain itu, Cameron menganggap teknologi film saat itu belum mumpuni untuk membuat film Alita. Dia harus menunda proyek itu lebih 10 tahun hingga dianggapnya teknologi sudah memungkinkan untuk mewujudkan mimpinya untuk membuat film animasi yang seakan menyatu dengan dengan realitas. Dia lalu berkolaborasi dengan sutradara Robert Rodriguez.

Sosok Alita seperti gadis remaja imut, namun tubuhnya adalah robot. Jika saja tak melihat matanya yang berukuran besar, sebagaimana karakter dalam komik Jepang, barangkali saya tidak akan berpikir bahwa ini animasi. Ketika melihat adegan pertarungan robot yang begitu realistis, saya mengira ini beneran.

Film ini memang berawal dari komik Jepang (manga) berjudul Gunnm yang dibuat Yukito Kishiro. Setting kisah adalah tahun 2563, ketika banyak manusia berinteraksi dengan robot. Malah banyak manusia yang menjadi cyborg, separuh tubuhnya adalah robot. Lanskap cerita mengingatkan saya pada film Elysium.

Bumi masih dihuni manusia, meskipun dipenuhi sampah. Sebagian manusia, khususnya kelompok kaya dan berkuasa, membangun satu kota di langit. Di sana, manusia terpilih mengontrol kehidupan di bumi yang dipenuhi rongsokan dan sampah.

Kisah Alita bermula ketika Dr Dryson Ido menemukan serpihan kepala robot di satu rongsokan. Dia lalu menghidupkan robot itu dan memberinya tubuh. Robot perempuan remaja itu terbangun dalam kondisi tak mengenal siapa dirinya. Ido memberinya nama Alita demi mengingatkan pada anak perempuannya yang telah tewas.

Sampai di sini, saya teringat komik Astro Boy yang digambar Osamu Tezuka. Robot kecil itu diperlakukan seperti anak oleh ilmuwan yang menemukannya. Bedanya, ingatan Alita pelan-pelan terkuak saat dalam situasi kritis dirinya harus berkelahi dan menghadapi lawan-lawan yang sangar.

Alita adalah tipe perempuan muda yang culun, namun begitu gesit dan lihai ketika bertarung. Terlihat ringkih dan rapuh, namun dia melayani semua adehan pertarungan tanpa sedikit pun mundur. Dalam banyak pertempuran, dia pelan-pelan mengingat masa lalunya sebagai seorang prajurit pasukan khusus yang dahulu berperang di bumi.

Saya sangat menikmati banyak adegan pertempuran yang dibuat sangat realistis. Pembuat komik dan film ini menghadirkan satu dunia baru di era masa depan. Di sini, ada adegan motorball ala balapan liar yang diikuti Anakin Skywalker dalam film Star Wars, di mana pesertanya bisa saling membunuh. Ada pula mastermind yang bisa mengendalikan para robot demi membunuh Alita.

Para robot musuh Alita digambarkan bengis dan berkelahi dengan sadis. Di tengah banyak laga yang dihadapi Alita, terselip kisah cinta antara Alita dengan seorang pemuda. Kesemua kepingan kisah itu kian melengkapi pertarungan Alita yang keras dan bisa membuat dirinya setiap saat tewas.

Hingga akhirnya, terkuak satu kepingan fakta kalau Alita menguasai satu teknik beladiri yang sudah punah selama 300 tahun. Dia adalah bagian dari laskar yang dahulu hendak menyerbu kota di atas bumi, yang menindas semua warganya.

Saya melihat film ini adalah gabungan dari kisah Astro Boy, Star Wars, Elysium, Artificial Intelligent, Avatar, dan juga perjuangan ala Braveheart.

Di beberapa media online, banyak yang mengkritik kisahnya yang kurang mengeskplor karakternya. Wajar saja sebab film ini kan tidak melulu drama, selain itu masih akan ada sekuel atau kelanjutannya.

Saya justru sangat menikmatinya. Saya memberi jempol untuk semua adegan laga dan pertarungan di sini. Hanya saja, perlu disampaikan kalau film ini memang bukan untuk anak-anak sebab banyak adegan kekerasan. Bagi yang menggemari adegan laga dan tempur antar robot, film ini adalah juara.

Tak percaya? Nontonlah.


Profesi Baru yang Muncul di Era Digital




Dalam satu acara yang dihelat Tempo, saya bertemu Ali Akbar, anak muda yang menulis buku Digital Ekosistem. Dia mengaku bekerja sebagai Data Scientist, sering pula mengaku sebagai pakar SEO atau Search Engine Optimization. Di acara itu, Ali Akbar membawakan materi tentang bagaimana mengembangkan aset digital.

Menurut pihak Tempo, Ali Akbar adalah sosok yang selalu direkomendasikan pihak Google untuk membawa materi tentang digital. Itu menandakan beliau punya rekam jejak yang baik di mata Google.

Bagi saya, Ali Akbar orangnya menyenangkan. Dia jauh dari kesan serius. Dia tampil seperti anak muda kuliahan yang memakai hoody dan topi. Dari sisi bisnis, dia orang yang bisa memaksimalkan Google untuk meraup miliaran rupiah. Dia pun tak pelit ilmu. Dia senang berbagi ilmu.

Hari itu, dia bercerita tentang seorang kawannya yang curhat karena tidak punya pekerjaan. Kawannya adalah seorang akuntan, lulusan UI. Ali bertanya apa keahlian yang hendak dijual kawannya. Rupanya kawan itu tidak tahu apa keahliannya yang bisa mendatangkan duit banyak.

Kawannya menjawab hal lain. Katanya, rumah tangganya baru saja dilanda prahara. Beruntung dia bisa menyelamatkan pernikahannya. Tak lama berpikir, Ali Akbar mengusulkan supaya kawannya itu jadi Konsultan Pernikahan. Hah? Apa profesi itu memang ada?

Ali Akbar mulai merancang strategi. Dia mengusulkan agar kawannya membuat website yang menerangkan dirinya sebagai Konsultan Pernikahan. 

Ali Akbar tahu persis bahwa orang-orang, khususnya yang tinggal di kota, selalu bertanya pada Google terkait semua hal. Jika mau jalan-jalan, maka mereka mengecek lokasi jalan-jalan favorit di Google. Demikian pula dalam hal makan, tugas-tugas, bahkan mencari teman kencan. Orang-orang sangat percaya pada rekomendasi Google.

Ali Akbar menyuruh temannya untuk menggunakan fasilitas Google Adwords. Anda bisa mengapling tempat di mesin pencari Google untuk produk Anda. Memang, fasilitas itu berbayar, tapi hasilnya menakjubkan. Siapa pun yang mengetik di Google kata “Konsultan Pernikahan” dan “Konsultan Perkawinan”, maka pasti akan menemukan nama temannya di semua halaman pertama Google, lengkap dengan nomor teleponnya.

Bagi saya, strategi ini ibarat nelayan yang memasang bubu di sungai, setelah itu sesekali mengeceknya. Anda pun bisa melakukannya. Anda bisa kapling kata “orang ganteng” di Google sehingga semua pencarian mengenai orang ganteng akan merekomendasikan nama Anda. 

Jika Anda caleg di Kota Baubau, bisa saja bayar Google sehingga ketika siapa pun mencari kata “caleg hebat di Baubau”, maka Google akan merekomendasikan nama Anda (upss... ini bocoran strategi)

Nah, balik ke teman Ali Akbar. Belum lama setelah “bubu” itu dipasang, temannya mulai kebanjiran telepon dari banyak orang. Rupanya, ada banyak orang yang punya masalah pernikahan sehingga butuh konsultasi.

Biarpun bukan psikolog, teman Ali Akbar mulai kebanjiran klien. Pelan-pelan dia belajar bagaimana menghadapi klien. Dia pun laris diundang televisi sebagai konsultan pernikahan. Di website konsultan pernikahan, dia rajin menulis tips bagaimana mempertahankan pernikahan. Beberapa buku dihasilkannya. Bahkan profilnya sering masuk majalah. Kalau Anda tak percaya, coba searching nama Indra Noveldy. Dialah teman Ali Akbar.

Saya sengaja menulis tentang Ali Akbar dan temannya sebab melihat beranda media sosial tiba-tiba saja dipenuhi banyak “konsultan pernikahan” dadakan. Seorang mantan pejabat publik baru saja keluar tahanan, kemudian hendak menikah lagi. Publik terbagi dua, apakah mendukung mantan atau mendukung yang baru.

Melihat analisis yang keren-keren, seolah paham benar problem rumah tangga orang lain, saya berpikir kenapa tidak sekalian buka jasa konsultan pernikahan. Setidak-tidaknya kebiasaan membahas pernikahan bisa mendatangkan rejeki bagi Anda. 

Itu lebih baik dari sibuk bergunjing untuk membahas rumah tangga orang lain, setelah itu sibuk nyari informasi tentang tes CPNS. Setiap pernikahan selalu punya dinamika. Tak perlu kita memvonis orang lain. Cukuplah mendengarkan, memberi masukan jika diminta, serta berharap hal baik akan terjadi.

Kesimpulannya, ada orang yang bisa meraup untung dari berbagai isu, tapi ada juga yang hanya menghasilkan "sampah" di media sosial.

DIGITAL STORYTELLING untuk Menang Pemilu Legislatif




Dulu seorang politisi butuh biaya besar untuk sekadar turun ke konstituen dan menyapa semua orang. Kini, politisi cukup bermain di dunia digital demi menyentuh hati banyak orang. Namun, tak semua tahu apa yang harus dilakukan di dunia itu.

Tak semua paham bahwa sekadar memosting foto atau status bijak tak cukup. Bahkan rajin sebar link di WhatsApp dan Facebook juga tak cukup. Selalu sebar foto wajah tampan atau cantik serta nomor urut, tidak menjamin orang akan memilih. Bahkan menguasai big data, algoritma medsos dan semua profil pengguna juga tak cukup.

Lantas, apa dong?

***

Tahun 2016, publik Amerika Serikat heboh. Semua lembaga survei yang terlanjur memprediksi kemenangan Hillary Clinton kemudian gigit jari. Tak diduga, Donald Trump memenangkan pemilihan itu. Dia yang dianggap rasis dan kalimatnya menyengat banyak orang itu malah terpilih sebagai pemimpin negara adidaya.

Beberapa waktu kemudian, beberapa lembaga kredibel memberikan bocoran tentang pola kerja konsultan politik Cambridge Analytica (CA) di belakang Trump. Dalam situs resminya, lembaga ini mengungkap bagaimana mereka membantu kemenangan Trump.

Salah satu strategi yang digunakan adalah bagaimana mengidentifikasi pemilih yang dapat dibujuk (persuadable voters) dan isu-isu yang para pemilih itu pedulikan. CA kemudian mengirimkan 'pesan-pesan' yang berdampak pada sikap mereka.

Ringkasnya, CA memiliki akses pada jutaan data semua pengguna medsos, setelah itu mulai melakukan riset untuk mengolah data lalu merancang pemasaran digital. Kerja mereka sangat efektif sehingga bisa mengubah pihak yang diprediksi kalah menjadi menang. Di mana letak kehebatan CA?

Dalam banyak kasus, orang-orang menuding kehebatannya pada tools atau perangkat teknologi yang digunakan. Namun, saya punya pendapat lain.

Memahami pengguna media sosial dan kebiasaan-kebiasaan mereka memang penting, namun yang juga sama pentingnya adalah bagaimana merancang satu konten yang bisa membuat orang-orang tergugah lalu memutuskan untuk memilih seseorang.

Kekuatan CA ada pada dua sisi yakni “mengenal dan membidik.” Pihak CA bisa mengenali profil semua pengguna medsos, kebiasaan, kesukaan, hingga isu-isu yang direspon. Setelah itu, CA bisa memproduksi konten yang serupa peluru bisa dipakai untuk membidik semua konsumen langsung ke jantung kesadarannya, sehingga berdampak pada tingkat kesukaan serta keterpilihan.

Memang cerita-cerita yang dibuat pihak CA sering dituding sebagai penuh hoaks, kebencian, dan permusuhan. Banyak yang menuding narasi itu dipenuhi kebohongan sehingga publik dijejali cerita horor yang membuat ketakutan, agar memilih seseorang.

Tetap saja kita harus anggap pembuat cerita itu hebat sebab bisa tahu jenis cerita macam apa yang bisa dipercaya orang lain sebagai kebenaran. Melalui perangkat teknologi, CA tahu bahwa ada sejumlah orang yang memelihara ketakutan sehingga perlu dipupuk dengan berbagai cerita. Pada satu titik bisa mempengaruhi orang lain untuk memilih kandidat tertentu.

Kita tak setuju dengan semua hoaks dan kebencian itu. Tapi, pelajaran besar dari CA adalah orang-orang bisa tergugah karena permainan kata. Bahwa konten yang dibuat dengan dosis tepat bisa mempengaruhi khalayak.

Pertanyaannya, bisakah kita menggunakan prinsip-prinsip dalam CA itu untuk sesuatu yang positif yakni memenangkan pemilu legislatif bagi caleg kita yang berada di satu wilayah? Bisakah kita menyederhanakan cara kerja CA untuk membuat seseorang disukai di media sosial?

***

Sejak dulu, dunia politik kita penuh dengan cerita-cerita. Kesan tentang seseorang dibentuk oleh cerita-cerita yang sampai pada kita. Jika kita berkeliling dan melihat baliho politisi, maka kita akan melihat bagaimana cerita hendak dibangun mengenai orang itu.

Kita melihat slogan, misalnya: merakyat, peduli, mengabdi, atau saleh. Semuanya adalah cerita yang hendak dibangun. Di era digital, cerita-cerita itu juga bisa dengan cepat dibangun dan disebarkan. Di era ini, tak perlu mengeluarkan biaya mahal, cukup menyempatkan waktu untuk berbagi kabar di media sosial, maka pesan bisa cepat menyebar ke mana-mana.

Sayangnya, banyak politisi cenderung menggunakan strategi pesan yang sama. Kalau bukan berbagi pesan bijak, link berisi dakwah, atau foto diri disertai nomor urut dan logo partai. Hal-hal seperti ini memang wajar, namun bisa tidak efektif. Sebab jika tidak dikemas dengan baik, kesan yang muncul adalah menggurui.

Apalagi jika seseorang hanya melakukan itu ketika dekat pemilu. Di media sosial, kita lebih sering melihat wajah tersenyum yang diiringi nomor urut dan kata-kata bijak. Sepertinya caleg kita kurang kreatif sehingga suka copy-paste apa yang dilakukan rekannya. Padahal harusnya buat pembedaan (diferensiasi).

Beberapa ahli komunikasi sudah memperingatkan bahwa pesan-pesan yang selalu disampaikan berulang memang berpotensi untuk disukai, tapi yang sering terjadi adalah munculnya rasa bosan dan muak. Demikian pula selalu mengulang-ulang pesan yang menampilkan wajah senyum. Ini juga bisa berujung pada rasa bosan.

Nasihat memang baik, tapi kalau terus-menerus dijejalkan ke telinga seseorang yang terjadi adalah penolakan. Apalagi jika pemberi nasihat itu diyakini sedang punya motif politik. Sama halnya dengan pernyataan bahwa senyum itu bagus, namun jika Anda bertemu seseorang yang tiba-tiba senyum, maka yakinlah orang itu adalah caleg.

Jika kata hendak dijadikan mantra yang bisa mengubah kesadaran orang, maka kata-kata harus masuk dengan strategi yang tepat. Salah satu strategi yang diterapkan dalam dunia pemasaran adalah menggunakan soft campaign. Gunakan kampanye yang tidak lantas menonjolkan diri secara berlebihan.

Nah, Anda mesti memahami teknik bercerita (storytelling) yang benar. Jika diamati, semua budaya dan peradaban selalu memiliki berbagai cerita-cerita yang kemudian memberikan makna bagi setiap generasi. 

Storytelling sama tuanya dengan keberadaan manusia. Sebab manusia selalu ingin bercerita dengan sesamanya, berbagi kisah dan kegembiraan, serta mewariskan banyak kearifan. Semua manusia pasti menyenangi bercerita dengan sesamanya.

Di semua budaya, manusia suka berkumpul lalu bercakap-cakap dan membagikan informasi. Pengetahuan tentang bercerita ini sudah lama diterapkan dalam bisnis. Salah satu brand yang konsisten membangun cerita adalah Coca-Cola.



Sejak awal, iklan Coca-Cola tidak pernah menggurui khalayak. Selalu dimulai dengan cerita, kemudian diakhiri dengan pesan kuat yang bisa tertinggal di benak orang-orang yang menyaksikannya.

Jika Anda seorang politisi yang hendak memasarkan diri ke hadapan orang lain di era digital, apa yang harus dilakukan?

Pertama, rumuskan lebih dahulu apa konsep yang merupakan keunggulan Anda. Kalau Anda merasa sebagai caleg mewakili anak muda, punya kapasitas, serta kepedulian, jadikanlah itu sebagai tagline. Jadikan sebagai narasi besar untuk kampanye di dunia digital.

Kedua, turunkan narasi besar itu dalam bentuk cerita-cerita sederhana yang menarik. Misalnya, ketika Anda merumuskan kekuatan Anda adalah peduli, maka buatlah berbagai cerita pendukung yang menunjukkan kepedulian.

Tak perlu cerita-cerita besar dengan berbagai teori dan bacaan canggih. Cukup tampilkan pengalaman Anda yang sederhana, misalnya bertemu sejumlah pencari kerja yang kesulitan mengakses informasi lapangan kerja. Berikan contoh pengalaman Anda ketika memulai karier atau wirausaha.

Jika Anda menampilkan diri sebagai sosok yang merakyat, berceritalah tentang pengalaman menjadi rakyat. Berikan optimisme bahwa di tengah rakyat itu ada kekuatan dan solidaritas yang jika dikelola bisa menjadi sesuatu yang hebat.

Ketiga, rumuskan strategi dalam membuat postingan. Beberapa postingan yang disukai adalah postingan yang sederhana, tidak menggurui, serta punya pesan penting.

Dalam buku Political Personal Branding: Strategi Jitu Menang Kampanye di Era Digital yang ditulis Silih Agung Wasesa, disebutkan, beberapa jenis postingan yang disukai orang adalah mengenai harapan, cinta, perjuangan hidup, rasa tertindas, anak-anak, kemenangan, dan banyak lagi.

Anda bisa memilih satu topik kemudian dikaitkan dengan pengalaman Anda, setelah itu selipkan pesan-pesan penting kepada netizen. Setiap hari, evaluasi semua postingan. Dalam waktu tertentu, Anda sudah bisa paham mana yang disukai publik dan mana yang tidak.

Keempat, kembangkan aset digital. Semua akun di media sosial bisa menjadi aset digital. Yang perlu dilakukan adalah kumpulkan pengikut sebanyak-banyaknya sehingga Anda punya sasaran yang bisa dipersuasi dengan postingan-postingan bermutu.

Agar mereka menjadi pengikut setia, cari tahu apa yang mereka sukai, kemudian buat postingan yang sesuai dengan hasil pengamatan Anda. Pahami dengan baik bahwa semua media sosial punya kekuatan dan arena bermain yang berbeda.

Twitter digunakan untuk hal-hal yang mesti cepat disampaikan. Instagram menekankan pada visualisasi yang menarik dipandang. Facebook untuk postingan yang agak panjang dan mendalam. Prinsip kerja media sosial adalah satu isu bisa dikembangkan untuk berbagai kanal. Yang berbeda adalah kemasan dan format penyajian.

Untuk Twitter, Anda mesti meringkas informasi itu lalu ditulis dalam kalimat pendek. Sementara Facebook bisa menjadi ruang untuk menulis lebih dalam sekaligus bisa memancing reaksi pembaca.

Kelima, gunakan strategi untuk memviralkan postingan. Sejauh yang saya amati, ada beberapa cara untuk memviralkan postingan. Yakni: menggunakan fasilitas Ads atau iklan yang disiapkan semua media sosial sehingga kita bisa menambah jangkauan postingan ke ribuan orang di wilayah yang dituju.

Cara lain adalah bekerja sama dengan para influencer atau para penggiat media sosial di berbagai wilayah. Anda bisa memetakan siapa pendukung Anda yang paling intens di media sosial dan punya banyak pengikut.

Kalau dirasa repot, minta semua relawan Anda untuk me-retweet atau meneruskan semua pesan-pesan yang disampaikan di akun pribadi. Dengan cara ini, jangkauan dari semua postingan bisa lebih luas sehingga banyak orang berpotensi melihat postingan itu.

Keenam, pertahankan interaksi dan dialog. Kekuatan media sosial adalah adanya interaksi dan saling jawab antar penggunanya. Ini yang tidak dimiliki oleh media-media arus utama. Media sosial memungkinkan kita untuk saling diskusi dan tukar pikiran. Hanya saja, diskusi ini harus dijaga agar selalu menyehatkan.

Anda mesti pandai-pandai memilah kapan mesti menanggapi dan kapan mesti diam. Sebab tidak semua orang di meida sosial berniat untuk diskusi. Banyak di antaranya yang malah ingin debat kusir dan memanas-manasi sesuatu. Di sini, dibutuhkan sat kearifan dan kejernihan untuk tidak larut dalam perdebatan tak berujung.

***

Digital Storytelling hanyalah cara untuk memasarkan diri di media sosial. Penggunaan berbagai software dan tools hanya sebagai alat saja. Yang terpenting adalah bagaimana membangun konten yang positif dan strategi menjaga interaksi sehingga penggemar Anda terus bertumbuh.

Kalau dikerjakan dengan konsisten, maka bisa menjadi kekuatan dahsyat yang ada di tangan seseorang. Buktinya, media sosial bisa membuat revolusi merebak di banyak negara, bisa membuat rejim tumbang, dan bisa membuat perubahan besar.

Kita tak perlu muluk. Cukup bisa meloloskan seseorang ke parlemen. Itu saja cukup. Iya kan?


Kiat Menang (2)




Empat tahun lalu, saya melihat pengumuman tentang lomba menulis XL Awards, yang diadakan operator seluler XL. Saya tergoda dengan hadiah juara pertama yakni sebesar 20 juta rupiah. Saya pikir ini lomba menulis artikel pendek yang hadiahnya paling besar.

Dikarenakan saat itu ekonomi keluarga sedang morat-marit, saya memutuskan ikut. Saya ingin juara. Saya kirim artikel sepanjang dua halaman setengah setelah sebelumnya saya perkuat. Seingat saya, jumlah pesertanya ratusan orang. 

Setelah sebulan berlalu, seseorang dari XL menghubungi saya. Ternyata saya menang. Nama saya ada di banyak media nasional (klik link DI SINI). Saya tersanjung. 

Seseorang bertanya, apakah rahasianya? Ada kiat menang lomba yang bisa dibagikan? Saya pikir tak ada salahnya berbagi. Biar makin banyak orang yang menang lomba. Hehehe.

Ilmu pertama yang diterapkan ketika ikut lomba adalah kenali siapa yang mengadakan lomba. Jangan mentang-mentang tertulis lomba menulis artikel, maka Anda akan sembarang kirim artikel. Jika lomba itu diadakan operator seluler, usahakan cari ide yang sedikit nyambung dengan mereka. 

Beberapa lomba menulis sengaja dibuat untuk memuji-muji sponsor. Kalau Anda bisa menemukan artikel yang nyambung sama sponsor. Ada unsur memuji, atau minimal menyenangkan sponsor, maka Anda punya peluang juara.

Lantas, apa tulisan itu harus selalu memuji? Gak juga. Ibarat makan obat, maka Anda harus punya dosis yang tepat. Memujinya juga harus proporsional dan punya alasan kuat. Mesti ada argumentasi logis mengapa pujian atau apresiasi itu muncul.

Nah, tempo hari saya membagikan kiat tentang perlunya memiliki satu ide yang unik dan menarik. Ternyata, ide saja tidak cukup. Sebab ide ibarat tunas gagasan yang harus dipupuk dan dirawat sehingga kelak menjadi tumbuhan yang kokoh.

Saat itu, saya menemukan ide tentang seorang anak muda yang memilih pulang kampung dan menjadi nelayan. Dia tak ingin jadi nelayan biasa. Dia lalu men-download aplikasi fishfinder yang membantunya untuk mengenali di mana posisi plankton. Dia tinggal datang dnegan perahu, menebar jaring, terus kembali dengan timbunan ikan. Dia menginspirasi nelayan lain.

Ide ini saya dapatkan ketika bermain domino dengan beberapa sahabat fasilitator di Kementerian Kelautan. Tapi, saat itu saya tidak langsung menulis. Kalau hanya menulis nelayan muda maka tidak menarik. Saya ingin perkaya ide itu dengan melihat banyak hal menarik di sekitarnya.

Saya lalu mencari artikel jurnal, termasuk laporan riset mengenai para nelayan di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Selama beberapa hari, saya merenung untuk kembangkan ide. Setelah proses membaca dirasa cukup, maka saatnya menulis. 

Saya terinspirasi pada antropolog Clifford Geertz yang membahas emik dan etik dalam penelitian. Emik adalah kenyataan sebagaimana dipahami masyarakat lokal. Sedangkan etik adalah kenyataan sebagaimana dipahami peneliti.

Kata seorang guru, emik itu adalah pengalaman dekat. Sedangkan etik adalah pengalaman jauh. Seorang peneliti yang sedang menulis laporan harus pandai2 mengombinasikan dua pengalaman ini. 

Ada saat di mana dia menggambarkan sesuatu dengan detail sebab dirinya hadir di situ. Namun ada saat di mana dia melihatnya dari kejauhan, membandingkannya dengan kenyataan di tempat lain. Bisa juga membandingkannya melalui literatur.

Dalam konteks menulis, saya lebih suka menyebutnya zoom in dan zoom out. Ketika Anda hendak memotret, ada saat di mana Anda menggunakan zoom in, sehingga obyek foto jadi lebih dekat. Tapi ada saat di mana Anda bisa menggunakan zoom out sehingga bisa dilihat hal-hal di sekitar obyek foto. 

Menulis dengan pendekatan zoom in dan zoom out ini bisa membantu kita agar tidak hanya memahami satu kenyataan, tapi bisa mendialogkannya dengan banyak hal yang ada di situ, maupun di tempat lain. Dengan cara demikian, kita bisa lakukan refleksi mendalam sehingga tulisan bisa menjadi lebih kaya dan bergizi.

Apakah sulit? Tidak. Gampang kok. Menulis itu ibarat berenang. Anda tak akan pernah pandai kalau hanya mempelajari semua teori renang. Anda harus berani lompat ke kolam lalu menggerakkan tangan dan kaki. 

Tapi, kalau tetap tenggelam, jangan salahkan saya yaa...

BACA: Kisah Ajaib Mantan Pembom Ikan

Kiat Menang (1)




Ada orang yang menjadikan media sosial sebagai arena untuk menyebar benci dan dengki. Ada juga yang menjadikannya sebagai ladang untuk menceramahi orang lain. Tapi ada juga yang menjadikannya sebagai arena untuk cari uang. Nah, saya salah satunya. 

Untuk itu, saya ingin berbagi cerita.

Pada pilpres empat tahun lalu, saya melihat ada pengumuman lomba menulis yang diadakan Seknas Jokowi. Jurinya adalah para sastrawan nasional yakni Seno Gumira Adjidarma, Linda Christanty, dan AS Laksana.

Namun, saya tergiur melihat hadiahnya yakni 10 juta rupiah (pemenang pertama), 7,5 juta rupiah (pemenang kedua), dan 5 juta rupiah (pemenang ketiga). Saya membayangkan, kalau bisa menyabet juara tiga, maka bisa dipakai traktir nonton, makan2, dan sisanya untuk beli buku2. Bisa juga untuk ajak kencan kenalan baru. 

Saya pun memutuskan untuk ikut. 

Pengalaman saya, yang beberapa kali menang lomba menulis, ada beberapa pantangan jika ingin menang lomba. 

Pertama, jangan pernah menulis apa-apa yang dibahas televisi dan semua media Jakarta. Tema itu biasanya sudah basi dan umum. Kedua, jangan gunakan bahasa yang rumit-rumit sebab juri hanya membaca paragraf awal. Ketiga, topiknya jangan terlalu serius dan mengawang-awang sebab ini bukan skripsi. Keempat, jangan juga terlalu mendayu-dayu. Kelima, jangan bahas tentang orang-orang hebat di tivi.

Saya juga punya beberapa kiat menang lomba menulis. Pertama, cari topik yang tidak biasa. Kedua, sebaiknya angkat cerita-cerita kampung sebab tidak banyak yang tahu. Ketiga, gunakan gaya bertutur seperti laporan pandangan mata. Keempat, bikin tulisan yang serupa dialog dengan kenyataan yang dilihat. Kelima, temukan makna atau pembelajaran di situ. 

Nah, kebetulan, saat itu saya sedang berada di Lombok untuk mengawal satu program yang diadakan salah satu NGO bidang kelautan. Saya pikir tema tentang anak muda yang memilih bekerja di pulau kecil akan menarik untuk ditulis. Makin seru pula ketika anak muda itu memilih mendukung capres dan secara mandiri menyebar virus positif di sekelilingnya.

Setelah tulisan itu dikirim, ternyata malah terpilih sebagai juara kedua. Saya ingat juara tiganya adalah mas Fandy Hutari, sejarawan muda yang bukunya selalu keren.

Saya sengaja berbagi pengalaman ini karena saya mulai melihat banyak informasi lomba menulis. Malah, saya melihat ada yang hadiahnya kamera mirrorless yang harganya di atas 10 juta rupiah. Tiba-tiba saja, jemari saya langsung gatal pengen ikut lomba.

Nah, daripada sibuk debat kusir dan saling serang di medsos, mending energi itu dipakai untuk memperbanyak peluang menang lomba. Sebab kata seorang kawan, makin banyak ikut lomba, makin besar peluang menang, makin cerah masa depan. Hehehe.

Apa yang Kau Cari BTP?




Seorang kawan yang mukim di luar negeri terheran-heran melihat Twitter selama dua hari terakhir. Percakapan didominasi oleh berita mengenai bebasnya Basuki Tjahaja Purnama (BTP), yang dahulu dipanggil Ahok.

Kawan itu bertanya-tanya, mengapa bebasnya seseorang dari penjara justru disambut dengan begitu meriah oleh para netizen dan rakyat Indonesia? Apa yang diharapkan dari BTP sehingga bebasnya dirinya sontak dibicarakan bagi banyak orang?

Media asing juga ikut meramaikan peristiwa bebasnya BTP. Media Australia, Sydney Morning Herald, menulis bahwa bebasnya BTP adalah "pengingat" akan undang-undang penistaan agama yang sudah "digunakan sebagai senjata" di Indonesia.

Sementara itu, South China Morning Post menulis bahwa BTP, "Keluar dari Penjara...Ke Pelukan Pengawal Mantan Istrinya". New York Times menyebut bahwa setelah bebas dari penjara, dia akan, "berdoa di kuburan ayahnya dan melakukan perjalanan ke luar negeri untuk menghindari keramaian politik Indonesia".

Pianis dan komposer Ananda Sukarlan ciptakan komposisi “No more moonlight over Jakarta.” Beberapa artis seperti Cinta Laura memasang foto bersama BTP. Bahkan ekonom dan mantan menteri di era SBY, Chatib Basri, memasang foto sedang bersama BTP. Selain mereka, ada banyak orang yang memajang foto saat bersama BTP.

Melihat reaksi netizen dan masyarakat Indonesia, serta pemberitaan media, bisa dilihat kalau BTP masih menempati ruang khusus di hati masyarakat. Bahwa kasus penistaan agama yang disematkan padanya tidak lantas memupus kecintaan masyarakat kepadanya.

Dia tetap dikenang sebagai sosok yang punya jejak. Dengan segala kontroversi yang melekat padanya, BTP masih diingat publik sebagai sosok ksatria yang berani menghadapi semua masalah yang menderanya. Dia tak berniat untuk lari dari masalah.

Justru semua tuduhan dihadapinya di pengadilan hingga akhirnya menjalani masa tahanan. Dia adalah kepala daerah yang kerja-kerjanya diakui, tapi kemudian dihantam dengan berbagai isu agar dirinya tidak terpilih.

Hebatnya, di tengah hantaman demo berjilid-jilid serta seruan jihad banyak orang, dia tetap tegar dan menghadapi semuanya.

Saya teringat buku Winnetou Ketua Suku Apache yang ditulis Karl May. Dalam buku itu disebutkan bahwa orang Indian selalu menghargai semua keberanian, meskipun itu datang dari pihak musuh. Mereka akan memberi apresiasi pada orang yang dianggap berani menghadapi semua kenyataan apa pun.

Itu yang terasa ketika melihat BTP. Anggaplah dia bersalah. Tapi dia telah melakukan semua prasyarat yang untuk menebus semua kesalahan itu. Dia telah meminta maaf secara terbuka, menerima fakta kekalahan di pilkada, juga telah menjalani semua hukuman.

Memang, hukuman itu tidak lantas menghilangkan ketidaksukaan sejumlah orang kepadanya. Tapi setidaknya publik tahu bahwa orang ini bukan tipe yang lari dari masalah. Dia hadapi semua perdebatan dan juga semua proses di pengadilan, tanpa harus meminta ribuan orang berdemo untuk dirinya.

Dia tidak seperti tersangka ujaran kebencian yang berharap agar salah satu capres menang biar dirinya bisa bebas. Dia juga tidak seperti sosok yang memukul anak kecil dan selalu membawa massa saat hendak diperiksa polisi.

Seorang teman bercerita, jika BTP mau bekerja di perusahaan skala nasional dan internasional, maka banyak yang akan memperebutkan dirinya. Dia bisa menjadi CEO handal yang mengorkestrasi perubahan.

Dia tipe pemimpin yang tahu arah dan tujuan, serta tahu apa saja yang perlu dikerjakan untuk menggapai tujuan tersebut. Kalau pun dia menolak, maka banyak hal bisa dilakukannya. Dia bisa menggelar talkshow yang pasti akan ditonton jutaan orang.

Begitu dirinya mengumumkan akan membuka kanal Youtube, langsung dikuti ribuan orang. Dia tipe orang yang punya penggemar setia. Lihat saja film tentang dirinya pun laris manis dan ditonton lebih sejuta orang.

Dari sisi manajemen, BTP adalah simbol dari berbagai inovasi kebijakan publik di satu kota yang terbiasa dengan hal-hal yang mapan. Inovasinya masih diingat banyak orang, khususnya dalam hal pelayanan publik yang lebih responsif pada rakyat.

Banyak yang tak suka kebiasaannya menggusur, tapi warisannya dalam hal penataan sungai serta pengendalian banjir selalu dikenang publik. Dia tipe yang terbuka, sampai-sampai rapat para birokrat direkam dan diunggah di internet, satu hal yang kemudian menjerat dirinya.

Biarpun kebijakan ini ibarat senjata makan tuan, tetap saja dia mewariskan hal yang baik yakni publik tahu apa yang terjadi di balik bilik pemerintahan. Dari sisi politik, kartu BTP jelas belum habis. Banyak lembaga, khususnya elemen gerakan masyarakat sipil dan masyarakat internasional, yang menilai dirinya tidak bersalah.

Tuduhan penodaan agama ibarat karet yang bisa ditarik ulur. Sering digunakan sebagai pasal untuk menjerat seseorang yang tak disukai. Selepas keluar dari masa tahanan, BTP akan menemui banyak undangan dari berbagai lembaga internasional di luar negeri.

Dia seperti para aktivis di zaman Orde Baru yang ketika keluar dari tahanan langsung berangkat keluar negeri dan mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Dia akan menjadi wajah dari minoritas Indonesia yang berhasil naik menjadi pejabat publik, setelah itu kalah dalam kontestasi politik dengan tudingan berbagai isu.

Dia akan menjadi sketsa dari bagaimana dinamika hubungan antar politik dan religi di negeri mayoritas warganya beragama Muslim. Syukurlah, BTP tidak lantas hilang begitu saja. Penahanan tak akan menenggelamkan dirinya.

Namanya akan terus melambung dan dirindukan publik. Dia akan menjadi sosok yang inspiratif, yang kalimat-kalimatnya ditunggu untuk sesuatu yang lebih baik.

Pada BTP, kita menitip harapan agar selalu menjadi mata dan telinga untuk Indonesia yang lebih baik di masa depan. Amin.



Bebasnya BA'ASYIR: Berkah ataukah Ancaman bagi JOKOWI?




LANGKAH Presiden Jokowi untuk membebaskan Abu Bakar Ba’asyir menjadi perbincangan publik. Banyak die hard atau pendukung berat Jokowi merasa kecewa dengan langkah politik itu. Menurut kabar yang beredar, pembebasan itu dilatari oleh persoalan kemanusiaan.

Suara-suara sumbang mulai bermunculan. Perdana Menteri Australia Scott Morison mengajukan protes. Ma’ruf Amin, cawapres Jokowi, memberi respon agar Scott untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Banyak pihak di tanah air yang mempertanyakan langkah politik itu.

Jika memang niatnya kemanusiaan, mengapa Jokowi tidak turun tangan untuk membela sejumlah kasus-kasus bernuansa intoleransi seperti Meiliana dan Ahok? Bagaimana halnya dengan nasib pengungsi Syiah di Sampang, juga Jemaah Ahmadiyah yang mengalami persekusi, hingga kasus-kasus intoleransi yang tengah marak?

Mengingat pilpres yang tak lama lagi digelar, mau tak mau, semua langkah Jokowi akan dikaitkan dengan pilpres. Jika niat pembebasan itu dikarenakan hasrat Jokowi untuk merengkuh suara sejumlah kalangan yang menjadikan Ba’asyir sebagai pahlawan, maka langkah itu jelas keliru. 

BACA: Makna Dukungan Alumni UI untuk Jokowi

Jokowi bisa kehilangan pendukung utama yakni kelas menengah yang jika dibelah dadanya bisa ditemukan guratan "NKRI Harga Mati" di situ. Jokowi mengabaikan pendukungnya yang selalu mengangkat wacana pluralisme, kebangsaan, serta NKRI. Jokowi bisa dianggap mengabaikan empat pilar yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

Kalau memang niatnya untuk merebut suara, maka Jokowi mesti menghitung fakta kalau pendukung Ba’asyir telah lama melabuhkan suara ke kelompok sebelah. Beberapa orang mengatakan, mereka merasa nyaman karena kubu sebelah dianggap representasi Islam politik yang sering turun ke jalan untuk membela agama.

Namun, jika ditelaah lebih mendalam, ada beberapa asumsi yang bisa dikemukakan terkait pembebasan ini.

Pertama, pembebasan ini memang murni soal kemanusiaan. Ba’asyir telah melewati lebih dua per tiga masa tahanan. Usianya juga sudah renta dan sedang sakit-sakitan. Belasan tahun terakhir, dia berurusan dengan perkara hukum, mulai dari pengadilan hingga penahanan. Energinya habis untuk menjalani hidup di pengapnya sel penjara. Bahkan dia sempat menghuni lapas paling angker yakni Nusakambangan.

Ba’asyir juga diyakini sudah tidak mungkin berkoordinasi dengan sejumlah orang untuk aksi-aksi. Pihak keamanan punya banyak cara untuk memantau pergerakan Ba’asyir. Jika dia memang kembali berkonsolidasi dengan sel-sel gerakan, maka informasi itu bisa dengan cepat diketahui aparat.

Di tambah lagi, ada anggapan kalau mereka yang berada di usia sepuh sudah tidak lagi memikirkan dunia. 

Kedua, strategi cantik Jokowi untuk kembali menaikkan pamor Yusril Ihza Mahendra. Bebasnya Ba’asyir tak bisa dilepaskan dari kuatnya lobi Yusril kepada Jokowi. Sebagai pengacara senior dan pimpinan partai berlabel Islam, Yusril dianggap dekat dengan sejumlah lingkaran dekat Ba’asyir.

Melalui pembebasan ini, Jokowi memberikan ruang dan panggung bagi Yusril, sekaligus menghidupkan lagi asa bagi partai yang dipimpin Yusril, yang telah diprediksi banyak lembaga survei akan sulit melewati ambang batas parlemen yakni 4 persen.

Jokowi paham bahwa para pendukung Yusril dan partainya akan beririsan dengan pendukung Gerindra dan koalisinya. Memberi ruang bagi Yusril sama dengan mengurangi basis suara bagi lawan politiknya. 

Bagi Yusril sendiri, bergabung dengan kubu Jokowi menjadi pilihan cerdas sebab ketika bersama koalisi Prabowo, dia dan partainya hanya berada di tepian dan tak mendapat manfaat apa pun. Di tambah lagi, koalisi Prabowo tak memberikan satu solusi dan jalan keluar bagaimana membesarkan partai-partai yang berada di koalisi.

Bebasnya Ba’asyir sendiri sempat membuat kubu lawan panik. Belum lagi bebas, sudah banyak beredar artikel di WhatsApp Grup yang menyebutkan bahwa tidak ada andil Jokowi di situ. Bebasnya Ba’asyir dianggap hal yang sudah seharusnya sebab beliau telah menjalani dua per tiga masa hukuman. Ini bisa dilihat sebagai indikasi kepanikan.

Ketiga, strategi Jokowi untuk mengalihkan perhatian publik dari Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang akan segera keluar penjara. Bebasnya Ahok tidak serta-merta membuat semua isu yang dihembuskan padanya akan selesai. Ahok masih dianggap sebagai perekat bagi bersatunya elemen oposisi yang bisa menambah semangat juang mereka untuk menjatuhkan Jokowi.

Belum lagi keluar dari tahanan, sejumlah orang sudah siap untuk menggelar aksi untuk memperkarakan Ahok dengan sejumlah kasus-kasus lain. Pihak yang paling diuntungkan dari aksi-aksi itu adalah oposisi yang pernah mengambil berkah dari isu Ahok di pilkada DKI Jakarta, serta memperkuat koalisi mereka.

Di media sosial, isu Ahok ibarat peluru yang tak habis-habisnya ditembakkan untuk menghantam PDIP dan Presiden Jokowi sendiri. Masih banyak kampanye “Jangan pilih partai pendukung penista agama” berseliweran. Jika Jokowi dan koalisinya tak punya strategi pembalikan isu yang tepat, maka isu ini bisa terus melebar ke mana-mana dan menggerus tabungan suara.

Keempat, strategi untuk menepis stigma. Isu paling kuat yang menghantam Jokowi di pilpres ini adalah isu identitas. Isu ini sukses diterapkan dalam pilkada DKI Jakarta. Biarpun saat debat pilpres, isu ini tidak nampak, namun sulit untuk menampik fakta kalau di akar rumput, isu identitas menjadi komoditas paling laris yang dijual elite politik.

BACA: Perang Robot di Pilpres 2019

Hingga saat ini, Jokowi masih saja dianggap sebagai anti-Islam serta mengkriminialisasi ulama. Padahal, faktanya Ba’asyir ditangkap dan divonis pada era SBY. Bahkan, Habib Rizieq Shihab yang menjadi simbol gerakan 212 pernah ditahan pada era SBY karena dianggap menyebabkan keributan.

Memang, tak serta-merta semua pendukung Ba’asyir akan menjatuhkan pilihan ke Jokowi. Tapi setidaknya pembebasan itu bisa mengirimkan satu sinyal kuat bahwa pemerintahan Jokowi bukan anti-Islam serta punya keberpihakan pada ulama dan anak bangsa. Jika ada yang menyangkal, maka bebasnya Ba’asyir akan menjadi contoh yang akan sering dikutip.

Kelima, meredam efek radikalisasi. Mengingat usia Ba’asyir yang kian renta, jika ada apa-apa dengannya, maka pemerintah bisa menjadi pihak tertuduh. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, “Bayangkan kalau terjadi apa-apa di penjara itu, maka pemerintah akan dianggap salah.”

Tahun 2016, pemerintahan Jokowi memindahkan penahanan Ba’asyir yang tadinya di Lapas Nusakambangan ke Lapas Gunung Sindur di Bogor. Jika Ba’asyir meninggal di tahanan, maka akan menjadi kartu as bagi lawan politik yang segera menuduh pemerintah telah menelantarkan seorang ulama tua hingga meninggal di tahanan.

Jika tewas di tahanan, maka akan membangkitkan semangat kaum jihadis yang akan melihat Ba’asyir sebagai martir. Kardono Aryo Setyorakhmadi, seorang jurnalis yang sering ke Timur Tengah dan bertemu kelompok Hamas, menilai, jika Ba’asyir meninggal di tahanan, efeknya bisa sama dengan tewasnya Sayyid Quthb di Mesir tahun 1966 lalu. 

Kardono juga menilai, Ba’asyir jauh lebih dikenal para jihadis di Timur Tengah dibandingkan nama seperti Aman Abdurrahman. Dalam situasi kesehatan Ba’asyir yang kian parah, maka pilihan terbaik adalah membebaskannya. Masih mengutip Kardono, ini bukan soal cebong dan kampret. Ini hanya soal pilihan-pilihan strategi terbaik yang bisa memadamkan berbagai peristiwa yang bisa muncul di masa depan.

Entah mana yang benar dari lima asumsi di atas. Yang pasti, bebasnya Ba’asyir akan semakin menambah kontroversi yang bisa kian menggerus tabungan suara Jokowi di pilpres nanti. Bisa pula itu dilihat sebagai pilihan strategis untuk menghadirkan Indonesia yang bersih dari terorisme, sekaligus memberikan keadilan dan rasa aman kepada semua warganya, juga menangkal apa yang bisa terjadi di masa depan.

Di titik ini, kita tak boleh berhenti berharap, Indonesia akan selalu menjadi bangsa yang lebih baik di masa mendatang.




Orasi Terbaik di Dunia




Orasi terbaik yang pernah saya lihat adalah orasi yang dibawakan para penjual obat di Pasar Baubau di Sulawesi Tenggara. Setidaknya itu yang terekam di memori saya. Di situ, ada hiburan yang dikemas dengan kelincahan retorika. Di situ ada kekuatan komunikasi, serta pemasaran yang amat memikat.

Saking kuatnya kata-kata penjual obat yang disampaikan serupa mantra, penonton tak cuma terpukau dan tahan selama dua jam menyaksikannya, tapi juga tidak ragu-ragu untuk mengeluarkan dompet lalu membeli obat yang dijual. Wow keren!

Ini baru permainan retorika yang keren. Saya tak pernah lihat ada politisi yang orasi, dan bisa membuat penonton suka rela mengeluarkan uang. Biasanya, malah penonton yang dibayar agar bersedia datang untuk menyaksikan orasi itu. Lebih hebat penjual obat kan?

Gara-gara penjual obat itu, saya sangat sering bolos sekolah. Di masa itu, ada tiga hal yang bisa bikin saya bolos sekolah. Pertama, ketika ada PR dan saya lupa bikin. Kedua, ketika ada novel silat, baik itu wiro sableng maupun Kho Ping Hoo beredar. Ketiga, ketika ada penjual obat yang orasi di pasar. 

Nah, para penjual obat yang datang ke kampung kami kebanyakan mengikuti rute kapal Pelni dari Ujung Pandang. Biasanya setelah berdagang di kampung kami, mereka akan lanjut ikut kapal ke rute kawasan timur, yakni Ambon dan Papua.

Sedemikian seringnya menonton penjual obat, saya paham betul urutan-urutan ketika mereka mulai berjualan obat. 

Pertama, mereka akan memulai dengan sesuatu yang menghentak perhatian warga pasar. 

Kadang mereka akan mulai dengan akrobat atau sulap. Kadang memulai dengan pertunjukan sihir, misalnya membuat anak-anak tertidur. Ups, saya pernah jadi volunteer. Tentunya sebelumnya di-briefing dulu, kemudian dapat hadiah uang sebesar 500 rupiah. Di zaman itu, jumlah ini bisa beli es cendol dan kue2 lokal seperti sanggara, taripa, dan burangasa.

Nah, tahap pertama ini akan sangat menentukan banyaknya orang yang datang. Pernah, saya melihat penjual obat amatiran yang menggunakan ular. Setelah ular melata, dia akan mulai mengeluarkan sesumbar-sesumbar: “Ular ini saya tangkap langsung dari tanah Papua. Happ.... saya bisa kontak dengan ular ini.” 

Penonton terpukau. Sedetik berikutnya, ular itu terus melata ke penonton. Penjual obat itu mulai panik. Dia mulai memanggil banyak nama: “Dorce, Bleki. Diam kamu.” Ular terus berjalan. Penonton muai panik. Dalam keadaan terpojok, penjual obat itu berteriak, “Amirr... ambil ularmu.” Penonton tertawa.

Kedua, ketika penonton sudah terkumpul, pelan-pelan dia mulai mengeluarkan maksud dan tujuan. Dia akan mulai dengan narasi yang mengawang. “Rusia sudah luncurkan satelit. Amerika sudah sampai di bulan. Kita di sini masih andalkan guna-guna.”

Pernah juga dia mulai dengan cerita Maradona. “Bapak ibu tahu kenapa Diego Armando Maradona begitu lincah memainkan si kulit bundar?” Setelah penonton menggeleng, baru dia keluarkan obatnya.

Ada juga yang mulai dengan bercerita mengenai Rhoma Irama: “Baru-baru ini Raden Haji Oma Irama menikah lagi dengan seorang gadis cantik. Bapak ibu tahu apa rahasia mengapa Rhoma begitu perkasa di atas ranjang? Ini obatnya. Bapak ingin bisa berdiri keras dan kuat sampai-sampai bisa digantungkan dua biji kelapa? Ini obatnya.”

Ketiga, saat penonton mulai tertarik, mulailah dia menawarkan bonus agar penonton makin semangat untuk membeli. Biasanya, bonusnya adalah rumus-rumus untuk pasang kode Porkas, semacam judi yang dilegalkan pemerintah Orde Baru. Bonus lain adalah didoakan agar cepat kaya. Doanya diambil dari kitab suci yang dibacakan dengan sangat fasih.

Pernah saya bertanya dalam hati, kalau penjual obat punya doa yang manjur agar orang lain kaya-raya, kenapa dia tidak mendoakan dirinya lebih dahulu? 

Keempat, siapkan banyak strategi pamungkas. Di antaranya adalah menyiapkan sjeumlah orang yang akan bermain drama yakni tiba-tiba membeli dan berebut. Penonton akan tertarik lalu membelinya dengan cepat. Padahal, semua itu hanya tipu.

Sayang, kejayaan para penjual obat sudah berakhir. Saya nyaris tak pernah lagi menyaksikan mereka memasang tenda payung dan beratraksi di pasar-pasar. Ke manakah mereka?

Ternyata banyak di antara mereka yang memilih jadi caleg. Mereka masih tetap orasi. Tapi kali ini tidak lagi sambil bawa ular. Mereka keliling kampung bersama para penyanyi dangdut. Malah banyak di antara mereka yang sukses jadi politisi.

Sejak dulu, saya beranggapan bahwa ada perbedaan antara dokter dan penjual obat. Kalau dokter selalu merekomendasikan banyak obat untuk satu penyakit. Sementara penjual obat akan merekomendasikan satu obat untuk semua penyakit.

Kini saya temukan kesamaan antara penjual obat dan politisi. Apakah gerangan? Keduanya sama-sama memberikan harapan besar kepada penontonnya. Sekali membeli obatnya, maka semua masalah akan teratasi. Dalam hal politik, sekali mencoblos, maka semua masalahmu juga segera teratasi.

Tul gak?

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Followers

...