Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Erick Thohir dalam Catatan Profesor Amerika


Erick Thohir dan Sri Mulyani saat jumpa pers mengenai pemberhentian Dirut Garuda

Di awal kabinet ini dilantik, kita punya ekspektasi pada beberapa nama. Mulai dari Bahlil Lahadalia, Nadiem Makarim, hingga Erick Thohir. Tapi di antara mereka, tampaknya hanya Erick Thohir yang terlihat menampilkan ketegasan serta gebrakan yang selalu menjadi sorotan publik.

Ketika dia meminta Ahok bergabung di Pertamina, dia terlihat santai dan mengabaikan suara-suara protes dari sejumlah orang yang mengatasnamakan agama. Dia melihat kinerja, bukan suara bising. Demikian pula saat memangkas pejabat eselon di kementeriannya.

Saat dia memberhentikan Dirut Garuda, dia melakukannya seperti gaya seorang sherif yang menembakkan pistol saat menerima laporan. Dia tampak dingin dan terlihat tidak ada beban. Kalau Anda salah, ya salah. Tak ada ampun untuk itu.

Sosok Erick Thohir membersitkan banyak harapan kepada anak muda Indonesia untuk tetap teguh dan konsisten, serta memberikan energi terbaik. Dia adalah sosok yang bekerja dan kian terpantau di radar publik. Dia pantas menjadi pemimpin bangsa ini.

Leadership-nya sudah terlihat sejak menjadi Ketua Panitia Asian Games 2019, serta Ketua Tim Jokowi-Ma’ruf.

Dia mewakili beberapa kriteria yang amat diidamkan orang-orang. Dia muda, kaya-raya, suka olahraga, juga pengusaha hebat.  Sebagai pengusaha media dan baliho, dia membawa gerbongnya merapat ke Jokowi. Sebagai pebisnis handal, dia bisa menggaet dan mengonsolidasi kalangan milenial dan pebisnis.

Orang lupa kalau dia seorang Muslim yang sangat taat. Seorang relawan berkisah ketika sedang salat di GBK, dia tidak menyangka kalau yang menjadi makmum adalah Erick Thohir. Catatannya viral.

Siapakah sosok Erick yang sebenarnya? Bagaimana pandangannya tentang Islam? Apakah dia akan menentukan kebijakan redaksi semua media yang dimilikinya?

Saya menemukan catatan tentang Erick Thohir yang ditulis Profesor Janet Steele, seorang pengajar jurnalistik di George Washington University. Janet bercerita tentang Erick yang belum saya temukan di liputan media-media.

Ternyata Erick memiliki ayah yang etniknya separuh Lampung dan separuh Bugis. Ibunya, setengah Tionghoa dan setengah Jawa Barat. Erick juga menikahi perempuan setengah Tionghoa, dan setengah Betawi. Selain latar belakang etnik, kisah Erick juga menarik untuk diulas.

Erick adalah pebisnis yang memulai kariernya dengan mengakuisisi Republika, media berbasis Muslim terbesar di Indonesia. Dia mengambil-alih media itu saat sedang krisis. Janet Steele menulis dan mewawancarai Erick Thohir saat melakukan riset mengenai Jurnalisme Kosmopolitan di Negara Muslim Asia Tenggara.

Dia melakukan riset pada empat media. Pertama, Sabili, yang disebutnya mewakili Islam skripturalis. Kedua, Republika yang menjadi representasi dari pandangan atas Islam sebagai pasar. Ketiga, Harakah, media Malaysia yang melihat Islam sebagai politik. Keempat, Malaysiakini yang melihat Islam secara sekuler. Kelima, Tempo, yang dianggapnya sebagai representasi Islam kosmopolitan.

Dalam catatan Janet, perjalanan Republika menempuh dua periode. Periode pertama adalah periode politik, ketika media itu di bawah ICMI yang menjadi lokomotif pemikiran di era Orde Baru. Periode kedua adalah periode bisnis ketika Mahaka Grup yang dipimpin Erick Thohir mengambil-alih media itu, kemudian mengubah haluan media itu menjadi lebih berorientasi pasar.

Di mata Janet, Republika di masa Erick Thohir mengalami pergeseran. Saat berkunjung ke media itu, tidak tampak banyak simbol-simbol keislaman. Padahal media ini bertujuan untuk melayani masyarakat Muslim.

Pihak Republika mengklaim apa yang mereka lakukan sesuai dengan garis keislaman. Dalam tulisan tentang sejarah Republika, yang beredar untuk kalangan internal, terdapat kutipan: “Dari halaman pertama hingga terakhir, tak ada yang menyimpang dari kerangka kerja “amar ma’ruf nahi mungkar.”

Syahrudin El Fikri, salah seorang redaktur senior yang ditemui Janet mengatakan bahwa inilah Islam substansial.

“Kami tidak bisa hanya berdiam diri melihat para tetangga miskin. Itu salah. Kami tidak bisa diam saja melihat gereja dibakar. Itu tidak boleh. Kami tidak bisa membiarkan kaum Ahmadiyah dibakar. Kami bekerja karena kami harus mengatakan sesuatu: toleransi. Inilah yang disebut Islam substantif.”

Janet pertama kali bertemu Erick pada bulan Februari 2013. Di sebuah restoran yang trendi, Erick mengajak Janet untuk makan malam. Pertama bertemu, Erick langsung bertanya, “Apakah Anda Muslim?” Janet menjawab bukan.

Erick bercerita, saat pertama masuk kantor Republika, dia memperlihatkan sebuah foto mengenai situasi di negara lain. Erick berkata:

“Kali pertama masuk Republika, saya tunjukkan foto. Inilah Islam. Orangnya memang Jerman, tetapi Muslim. Jangan mengira bahwa orang Tionghoa dan orang kulit putih, bukan Muslim. Belum tentu. Anda tak bisa berprasangka seperti itu."

Janet lalu bertanya tentang agama Erick Thohir, yang langsung dijawab lugas: “Saya seorang haji. Namun yang jelas, Islam bagi keluarga saya adalah sesuatu yang bersifat pribadi. Itu identitas kami, tetapi juga sesuatu yang sangat personal,” kata Erick.

Erick mengakui bahwa dirinya membawa visi bisnis ke Republika, yang tadinya dikelola sangat idealis. Dahulu, Republika adalah tempat orang menuangkan gagasan-gagasan tentang bangsa. Ada banyak intelektual dan pemikir yang rutin mengisi kolom di media ini.

Di masa Erick, Republika makin berorientasi bisnis.

“Saya ingat empat pesan yang saya sampaikan ketika masuk Republika. Pertama, media ini seharusnya berada di tengah, moderat. Kedua, saya tidak ingin Islam dianggap bodoh, miskin, dan terbelakang. Ketiga, kita tak boleh berprasangka. Ketika melihat sesuatu, kita tidak bisa secara otomatis langsung berpikir negatif. Kita harus berpikiran terbuka. Terakhir, Anda harus memikirkan pembaca,” katanya.

Erick menginginkan media ini bisa berpikir positif. “Anti globalisasi? Itu belum terbukti buruk. Jangan mengira itu buruk. Orang asing juga membayar pajak. Oleh karena itu, saya bilang berpikir positiflah,” katanya.

Janet tak puas dengan pernyataan Erick. Dia lalu mewawancarai pihak redaksi. Semuanya berpandangan sama bahwa pebisnis tidak ikut mencampuri semua kebijakan redaksional. Saat ada hal-hal menyangkut politik, maka sikap pihak redaksi belum tentu sama dengan Erick Thohir.

Pada saat diwawancarai, Erick Thohir masih menjabat sebagai Presiden Direktur TvOne. Saat pemilihan presiden tahun 2014, TvOne mendukung Prabowo Subianto. Republika pun dianggap mendukung Prabowo.

buku yang ditulis Profesor Janet Steele

Pihak redaksi mengklaim kalau mereka netral. Sebagai media, mereka mendukung siapa pun. Tapi, Janet Steel mengamati tajuk harian ini dan juga Republika Online (ROL) kebanyakan dukungan kepada Prabowo.

Pihak redaksi Republika Online menyebut, kebanyakan pembaca media itu berasal dari Muhammadiyah yang menyukai tulisan-tulisan serangan pada Jokowi. Makanya, tulisan-tulisan mengenai serangan pada Jokowi selalu menjadi tulisan terpopuler yang tampil di halaman depan.

“Kami tidak bisa mengontrolnya Itu otomatis. Sebab cyber army Prabowo menyebarkan tulisan itu ke mana-mana. Makanya, Republika seakan-akan mendukung Prabowo,” kata Joko Sadewo, Pimred Republika Online.

Janet menganalisis hubungan antara web analytics atau proses mengukur dan menganalisis trafik situs web dan gatekeeping, proses menentukan berita yang tayang. Pembaca Republika memiliki kecenderungan untuk mendukung Prabowo dengan perbandingan 6 banding 1. Inilah para pembaca yang kemudian menyebarkan tulisan itu ke mana-mana sehingga menjadi hit.

Janet berkesimpulan bahwa segmen pasar menentukan arah pemberitaan media. Bahwa semua pilihan-pilihan berita, pada akhirnya akan diseleksi oleh segmen pembaca sehingga menentukan perwajahan dan isu yang ditampilkan.

Karena segmen pasarnya adalah komunitas Muslim, media ini lebih fokus pada isu-isu tentang Islam, mulai dari partai politik berbasis Islam, hingga tema-tema yang diperbincangkan komunitas Muslim.

Masuknya Erick Thohir mengubah wajah media ini ke arah komersial. Transisi itu menyebabkan adanya kompromi dengan idealisme dan ceruk pasar sebelumnya. Media ini akan tetap menyajikan jurnalisme yang profesional dan berbicara atas nama demokrasi, ekonomi, juga toleransi.

Dengan demikian, kita sudah bisa memprediksi bagaimana sikap media ini terkait pilpres tahun 2019. Belajar pada Janet, media ini akan berposisi di tengah, tapi pembaca dan cyber army yang akan menyebar berita itu ke mana-mana sehingga membentuk citra atau gambaran tentang media ini.

Gerak netizen ini adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa dihambat oleh Erick Thohir. Dia pun tidak mungkin mengintervensi media sebab di era media sosial ini, netizen punya otoritas hendak membagikan berita yang mana, juga menentukan mana yang hits dan mana yang bukan.

Pertanyaan terakhir yang cukup menohok dari Janet adalah: apakah Republika melayani kepentingan pembaca Muslim ataukah menjadi pemuas keinginan mereka?

***

KINI, sosok Erick Thohir kembali berada dalam spotlight percakapan publik. Sejauh ini, dia bisa menampilkan sosok sebagai pekerja keras yang cepat dalam mengambil keputusan. Kalangan milenial mengidolakan sosok seperti ini sebagai figur pemimpin yang tak sekadar menata kata, tetapi bisa pula bekerja.

Jika dia berniat menjadi pemimpin bangsa ini, karpet merah sedang terbentang untuknya. Apalagi jika kinerjanya semakin moncer. Erick akan jadi kereta yang melaju kencang dan tak bisa dihentikan siapa pun. Bahkan oleh Prabowo maupun Sandiaga Uno.

Kita tunggu saja.



Laskar Digital untuk Menaklukkan BRIGITTA LASUT


Hillary Brigitta Lasut

Ketika Hillary Brigitta Lasut memimpin sidang MPR RI, terbersit banyak harapan kalau telah lahir generasi baru yang akan mengelola politik dengan cara-cara milenial, minimal dia akan menggunakan media sosial secara efektif untuk mengelola pesan dan aspirasi politik.

Tapi setelah beberapa bulan berlalu, dia tak selincah anak muda bernama William Aditya Sarana, kader PSI yang menggunakan medsos untuk membuka praktik anggaran di DKI Jakarta. Malah dia tak “bunyi” di media sosial. Suara dan pandangan politiknya seakan tenggelam di dasar laut Bunaken.

Marilah kita memetakan aset digital yang dia miliki. Pertama, dia punya Facebook Fanpage dengan jumlah follower hingga 10K. Bagi politisi yang lolos Senayan, jumlah ini terbilang kecil. Kedua, di Instagram, dia punya 57,3K follower. Ini jumlah yang cukup besar. Tampaknya dia lebih banyak aktif di Instagram. Ketiga, dia punya akun Youtube yang hanya diikuti 947 orang.

BACA: Senjata Digital untuk Aktivis Jaman Now

Kekuatan media sosial bukan dilihat dari jumlah follower, tapi seberapa produktif dia melahirkan konten berkualitas yang kemudian viral. Kekuatannya pada sejauh mana reproduksi gagasan yang kemudian heboh dan menyebar ke mana-mana, tidak hanya dapilnya, tetapi seluruh Indonesia.

Di sinilah letak kelemahan Brigitta Lasut. Dia bukan tipe orang yang rajin menginformasikan melalui media sosial. Di Fanpage Facebook, dia tidak banyak membagi postingan. Sepanjang November, dia tidak memosting apa pun. Dia hanya aktif di bulan Oktober yang tercatat ada 7 aktivitas.

Dia lebih banyak akif di Instagram. But, come on, postingannya kebanyakan selfie dengan sejumlah tokoh, dan selfie saat ada kegiatan. Dia belum bisa memaksimalkan Instagram sebagai kanal yang mengalirkan gagasan.

Bolehlah memajang foto selfie, tapi dia harus menyiapkan banyak ruang untuk mengalirkan gagasan-gagasan yang substansial, yang diolah kembali dengan sederhana, yang bisa dipahami generasinya. Harusnya dia perkuat pada substansi pesan yang berkaitan dengan publik sebab sebagai wakil rakyat dia adalah penyambung lidah dan penyampai pesan yang berkewajiban untuk kembali menyampaikan pesan pada publik.

Mungkin saja dia memang sibuk. Tapi dia bisa saja memercayakan urusan media sosial kepada sejumlah juru bicara (jubir) digital yang dia tunjuk untuk membagikan sejumlah hal bermanfaat yang dilakukannya.  Dia bisa memaksimalkan kerja staf yang bisa menjadi admin sekaligus mengelola sejumlah prajurit digital yang berfungsi untuk menyebarkan informasi tentang dirinya. Dia bisa menaklukkan orang lain melalui konten yang produktif dan bermanfaat.

BACA: Laskar Digital untuk Menangkan Pilkada

Belajar pada pilpres lalu, untuk menjadi politisi milenial yang kuat di dunia digital, dia harus membekali timnya dengan tiga hal. Pertama, digital listening tool, yang berisikan perangkat untuk memetakan semua percakapan di media sosial. Kedua, digital media platform, yang isinya berbagai platform media sosial, juga media mainstream. Ketiga, mobile apps, yang digunakan relawan secara mobile di berbagai lokasi.

Ketiga perangkat ini digunakan untuk mengontrol semua aliran informasi. Jantung dari aktivitas ini adalah perlunya kreator konten untuk memetakan semua percakapan netizen. Selanjutnya, tim kreator konten akan merancang konten yang bisa viral, meneruskannya kepada para influencer dan laskar media sosial yang akan meneruskannya di lapangan.

Harusnya, tim medsos Brigitta bisa mulai memetakan percakapan netizen dengan mengamati big data. Setelah itu, timnya membuat banyak konten yang kemudian dioptimasi sehingga menyebar ke mana-mana.

Timnya harus paham bagaimana merancang sesuatu yang bisa viral. Harus memahami social currency atau sesuatu yang berlaku universal bagi netizen. Harus menampilkan hal yang menginspirasi dan bermanfaat. Harus paham bagaimana mengelola semua emosi netizen.

BACA: Digital Storytelling untuk Menang Pemilu

Jika dia melakukan langkah-langkah itu, dia hanya butuh waktu singkat untuk meraih popularitas. Dia tinggal merawat popularitas dan branding yang dia miliki, dan kelak bisa terus subur sehingga menjadikannya sebagai politisi milenial yang berpengaruh di media sosial.

Tapi, lagi-lagi semuanya berpulang pada politisi itu. Tidak semua politisi paham dan siap mengeluarkan dana untuk menunjang penetrasinya di media sosial. Tidak semua paham karakter “jaman now”, apa yang diinginkan publik sekarang, dan bagaimana mencapainya.

***

Dalam buku The New Digital Age, mantan petinggi Google Eric Schmidt menyebut dunia kini terbagi dua yakni dunia nyata dan dunia maya. Manusia mencurahkan banyak perhatian ke dunia maya demi menjangkau informasi dan membangun koneksi.

Semua strategi bisnis dan strategi politik berusaha untuk menjangkau dua dunia itu. Dalam dunia pemasaran, orang mengenal kombinasi strategi online dan strategi offline. Dua strategi ini saling melengkapi dan memperkuat.

Dinamika di dunia offline (dunia nyata) akan terpantul gemanya di dunia online, demikian pula sebaliknya. Di dunia politik, semua orang sama sepakat bahwa untuk menjangkau jutaan warga, khususnya kalangan milenial, maka dunia online adalah tempat paling strategis.

Di tahun 2007, anak muda Chris Hughes melakukan revolusi di bidang pemasaran politik. Dia membangun platform di media sosial untuk membantu Obama memenangkan pemilihan Presiden Amerika Serikat. Dia berhasil menjangkau jutaan warga Amerika hanya dengan menggerakkan jemari di media sosial.



Di belahan bumi lain, anak muda Whael Ghonim menggunakan media sosial untuk menggerakkan revolusi di Tunisia. Dia membakar satu gelombang revolusi yang lalu menyebar ke Timur Tengah.

Di Hongkong, anak muda Joshua Wang juga menggunakan media sosial untuk menggerakkan Umbrella Revolution atau revolusi payung. Melalui Twitter, dia menggedor semangat orang-orang untuk bergerak dan memprotes kebijakan negara.

BACA: Perang Robot di Arena Pilpres

Abad 21 ditandai oleh perubahan yang digerakkan dengan cara-cara milenial, yang cirinya adalah tidak dipimpin oleh satu tokoh revolusi, menekankan partisipasi dan kolektivitas, cepat terorganisir sebab dihubungkan media sosial, serta punya isu-isu bersama yang viral.

Kalangan baby boomer agak susah memahami kecenderungan baru ini. Pengerahan massa, kampanye jalanan dengan ribuan kendaraan, aksi spanduk di semua sudut kota, temu kader hingga ribuan relawan, serta kampanye yang menghadirkan penyanyi dangdut adalah cara-cara lama yang sudah tidak efektif di zaman kekinian.

Kini, cara-cara lama itu akan segera diganti dengan penetrasi media sosial. Makanya, yang harus dibangun adalah infrastruktur media sosial yang kuat, di mana di dalamnya terdapat konten yang kuat, serta penetrasi digital yang juga bagus.

BACA: Kiat Membangun Laskar Media Sosial di Era 4.0

Kerja-kerja media sosial selalu terkait dua hal: produksi konten berkualitas dan viral, dan diseminasi konten itu ke mana-mana. Jika dua aspek ini bisa ditangani dengan baik, maka seorang politisi bisa memaksimalkan kanal media sosialnya untuk berbagi dan menjangkau konstituen.

Contoh paling bagus tentang manajemen pengelolaan media sosial yang efektif adalah Fanpage pribadi Presiden Joko Widodo, Ridwan Kamil, dan Anies Baswedan. Mereka bisa mengelola konten dengan baik, tahu apa yang ingin diketahui publik, serta membangun komunikasi.

Yang kurang dari konten politisi di atas adalah mereka belum bisa menjadikan media sosial sebagai platform untuk berdialog dan merekam aspirasi publik untuk menjadi rekomendasi dalam penyusunan kebijakan publik.

Namun, melalui media sosial, mereka membangun kedekatan dengan publik, menghilangkan tembok pemisah, serta memperkuat silaturahmi digital untuk menunjang kerja-kerja politik mereka sebagai kerja untuk publik.

Dalam dunia politik, menaklukkan dunia offline atau dunia digital menjadi sangat penting, Jika tidak, Anda yang akan ditaklukkan oleh beragam wacana yang menerpa bagai hujan. Anda hanya jadi penonton.

Di era politik 4.0, pengelolaan digital adalah koentji!


Cerita tentang Juara Kelas




Di satu kafe di Jakarta Timur, saya bertemu dengannya. Dia sahabat semasa SD hingga SMA di Pulau Buton. Dia masih ceria seperti dulu. Dalam satu perbincangan, dia cerita kalau dirinya sedang membangun rumah senilai miliaran rupiah di kampung kami.

Saya tahu dia tidak niat pamer. Saya pandangi kawan ini dari ujung kepala sampai ujung kaki. Saya tidak sedang berhadapan dengan kawan saya yang dulu. Dia sudah berubah. Dia mengelola banyak usaha. Dia kini sukses, bahkan lebih dari semua teman-teman sekolahnya.

Saya membayangkan dirinya dahulu. Dia seorang siswa paling malas. Kadang sekolah dan kadang tidak. Dia bukan siswa yang masuk radar guru-guru. Bahkan dia nyaris tinggal kelas. Saya masih ingat ada guru yang menyuruhnya berhenti sekolah. Dia sudah dianggap gagal. Mungkin, alasan itu membuatnya tidak kuliah.

Seusai bertemu dengannya, saya ceritakan pada ibu di kampung melalui telepon. Ibu saya adalah guru SD yang cukup mengenal semua kawan saya. Dia nyaris tak percaya pada apa yang saya katakan. Seorang anak yang dahulu divonis gagal total di sekolah, ternyata bisa melejit dan melampaui semua teman-temannya.

Saya teringat buku Barking up the Wrong Tree yang ditulis Eric Barker. Ada uraian tentang riset yang dilakukan oleh Karen Arnold, periset di Boston College. Karen mengikuti 81 orang lulusan terbaik SMA untuk melihat seperti apa karier mereka.

Sebanyak 95 persen yang lanjut kuliah, rata-rata IPK mereka adalah 3.6. Keberhasilan di SMA menentukan keberhasilan di perguruan tinggi. Mereka bisa diandalkan, konsisten, dan punya kehidupan yang baik.

Tetapi adakah di antara mereka yang jadi pemimpin besar? Atau sosok inspiratif yang mengubah dunia? Atau minimal jadi sosok yang melampaui kebanyakan warga di kampung halamannya? Jawabannya nol.

Karen berkesimpulan: “Mereka adalah orang hebat di dunia kerja. Mereka jadi karyawan yang baik. Tapi mereka bukan orang visioner. Mereka tinggal dalam sistem, bukan mengubah sistem.”

Mengapa orang nomor satu di sekolah jarang menjadi orang nomor satu di kehidupan nyata? Dia punya dua jawaban.

Pertama, sekolah menghadiahi siswa yang secara konsisten melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka. Nilai akademis selalu berbanding lurus dengan nilai kedisiplinan. Nilai akademis adalah peramal yang bagus untuk kedisiplinan, kesungguhan, dan kemampuan mematuhi aturan.

“Pada dasarnya kita menghadiahi kepatuhan dan kemauan mengikuti sistem,” katanya. Banyak lulusan terbaik mengakui kalau mereka bukanlah yang tercerdas, tetapi mereka adalah pekerja keras. Ada yang bilang, ini hanya soal memberi apa yang diinginkan guru dan bukan benar-benar memahami pelajaran dengan lebih baik.

Kedua, sekolah hanya menghadiahi nilai tinggi pada kaum generalis. Tidak banyak pengakuan diberikan pada passion atau kemahiran siswa. “Para lulusan terbaik selalu sukses, secara pribadi dan profesional. Tapi mereka tidak pernah mengabdi total di satu arena di mana mereka menuangkan seluruh gairahnya. Biasanya itu bukan resep meraih kehebatan dan keunggulan” katanya.

Saya ingat anak saya Ara. Dia sangat bagus untuk pelajaran matematika, tapi dia sangat lemah untuk pelajaran bahasa Sunda. Hanya gara-gara itu dia tidak menjadi yang terbaik di kelasnya. Pendekatan generalis tidak membawa pada kemahiran.

Karen melihat semua lulusan terbaik selalu pragmatis. Mereka mengikuti aturan dan lebih menghargai nilai A ketimbang keterampilan serta pemahaman mendalam atas satu topik.

Sekolah memang punya aturan, tapi kehidupan tidak bekerja sebagaimana aturan di sekolah. Kehidupan punya struktur yang lebih rumit, sehingga pemenangnya adalah mereka yang kreatif dan jeli melihat di mana dirinya bisa mengembangkan potensi seluas-luasnya.

Karen menyebut beberapa nama yang gagal di sekolah kemudian jadi pemimpin dunia. Di antaranya adalah Winston Churcill, perdana menteri Inggris terhebat. Dia orang yang terbilang biasa-biasa saja di sekolah. Ketika jadi politisi pun, dia masih menjadi sosok yang biasa-biasa dan malah penakut. Dia sering dikontraskan dengan Neville Chamberlain, sosok jenius dan cemerlang yang diprediksi jadi pemimpin besar Inggris.

Tapi, justru ketakutan Churcill adalah sisi yang sangat dibutuhkan Inggris saat itu. Churcill adalah orang pertama yang memandang Hitler sebagai ancaman. Sementara saat itu banyak yang melihat Hitler sebagai kawan. Ketakutan Churcill ternyata menjadi penyelamat bagi Inggris sebelum Perang Dunia II. Dia pun dicatat sejarah.

Hari ini saya kembali bertemu kawan itu. Dia bercerita banyak mimpinya yang ingin digapai. Saya ingat dirinya yang dulu. Saya yakin, sejak dulu dia adalah orang hebat. Dia malas karena sekolah gagal menemukan potensi terbaiknya. Saat keluar sekolah, dia justru bisa melejit laksana roket.

Dia masih bercerita banyak hal. Saya pilih mendengarkan, sembari mencatat dalam hati. Dia keren.



Membaca Storynomics




Mulanya saya penasaran ketika Luhut Binsar Panjaitan menyebut konsep Storynomic untuk pengembangan pariwisata. Saya googling, kata ini dikutip banyak pelaku pariwisata. Maksudnya, Anda tak mungkin bicara wisata kalau tak punya cerita yang hendak dibagikan.

Makin penasaran dengan kata ini saat membaca artikel di National Geographic kalau UGM kembangkan Borobudur dengan basis storytelling sebagai elemen penting dari storynomic.

Saya telusuri lagi ternyata kata ini diambil dari salah satu buku yang direkomendasikan para pelaku ekonomi digital. Buku itu berjudul Storynomics: Story Driven Marketing in the Post Advertising World yang ditulis Robert McKee, terbit tahun 2018.

Buku ini membahas bagaimana promosi atau iklan gaya lama yang kini digusur oleh storytelling atau pendekatan bercerita. Hollywood telah lama memakai teknik bercerita ini untuk periklanan dan film. Dalam konteks ekonomi, satu cerita bisa menjadi jantung dari tubuh bisnis, pemasaran, branding iklan, dan kegiatan ekonomi.

Storytelling adalah fundasi utama dari pemasaran konten. Anda tak mungkin memasarkan sesuatu jika tak punya kisah menarik. Kita sama tahu, sekarang ini banyak orang yang terlalu mendewakan big data untuk memahami manusia.

Tapi penulis buku ini membantahnya. Menurutnya, kekuatan perubahan bukanlah data. Manusia punya banyak aspek sosial, budaya dan ekonomi yang tak bisa dikuantifikasi. Kita perlu memahami aspek psikologis, sosiologis, dan antropologis di mana manusia hidup. “Taruh data dalam cerita, maka pengalaman hidup akan terasa masuk akal,” katanya.

Sebagai seorang pembual yang tak pernah kehabisan bahan cerita, buku ini ibarat peta yang menuntun ke mana hendak bergerak. Saya melihat ada trend semua lembaga, perusahaan, perguruan tinggi, politisi, kantor2, bahkan warung untuk lebih membuka diri di era 4.0. Tapi tidak semua paham apa yang cerita yang harus dibagikan untuk mengikat audiens.

Saya melihat beberapa hal yang dibahas di sini sudah saya lakukan, meskipun dengan bahasa berbeda. Saya baru tahu kalau konsepnya sudah semakin berkembang hingga jadi storynomics.

Sayang, saya belum baca tuntas buku yang terbit tahun 2018 ini. Saya membelinya seharga 10 ribu rupiah melalui online. Lumayan, saya tak perlu memesan melalui Amazon atau mendatangi Periplus.

Baru membaca bagian awal, saya sudah tahu kalau buku ini punya kemampuan untuk menyedot pembacanya hingga lembar terakhir.



Kompasiana yang Mengubah Hidup




Kemarin, sahabat Agung Han terpilih sebagai Kompasianer of the Year 2019. Dia menyisihkan ratusan bahkan ribuan blogger lain yang bergabung dalam Kompasiana sebagai platform bagi komunitas blogger terbesar dan tetap eksis di Indonesia.

Di tahun 2013, saya pernah mendapatkan penghargaan yang sama. Malah, saya dapat dua penghargaan yakni sebagai Kompasianer of the Year, dan juga sebagai Reporter Warga Terbaik.

Saya mengenang masa-masa berkompasiana. Saat itu, orang-orang baru mulai mengenal dunia blog. Tadinya, Kompasiana hanya diperuntukkan bagi para jurnalis Kompas, kemudian dibuka untuk publik. Saya pun ikut meramaikan dengan berbagai jenis artikel.

Saya teringat masa itu saya begitu tertantang untuk membuat artikel terpopuler setiap hari. Makanya, saya bereksperimen dengan berbagai gaya menulis renyah dan populer, serta judul-judul yang agak genit.

Belakangan saya sadari bahwa eksperimen itu perlahan mengubah gaya menulis saya, yang tadinya serius dan filosofis menjadi lebih populer. Kompasiana mengubah saya dari seseorang yang menulis jelimet dan penuh istilah2 akademis, menjadi lebih populer dan mudah dipahami siapa pun.

Di masa itu, Kompasiana selalu menghargai reportase dan pengamatan lapangan. Saya pun sering menulis reportase, ketimbang menulis opini. Bagi saya, tulisan opini sifatnya hanya temporer. Hanya aktual pada momen tertentu. Sementara tulisan reportase akan selalu abadi. Dia tidak akan basi dibaca kapan pun.

Tapi, kelebihan tulisan opini, khususnya politik, adalah selalu menjaring banyak pembaca. Saya berusaha menyeimbangkan. Sesekali tulis opini, tapi lebih banyak tulis reportase. Dengan cara demikian, saya cukup produktif menulis buku, juga selalu punya pembaca di mana-mana.

Nikmat berkompasiana adalah bisa terhubung dengan jejaring blogger di seluruh Indonesia. Mayoritas blogger malah pernah singgah di Kompasiana. Interaksi dengan banyak influencer juga dimulai di sini. Bahkan Kompasiana menjadi barometer dari suara dan opini publik atas situasi politik tanah air. Saya pun senang karena tetap berjejaring dengan mereka hingga kini.

Sekian tahun di Kompasiana, muncul keinginan untuk berumah di blog pribadi. Ada masa di mana saya ingin menjadi diri saya, tanpa harus ikut dalam arus besar. Biarpun menulis di blog sendiri ibarat menempuh jalan sunyi, namun saya justru menemukan kedamaian di situ, Saya lebih bebas menulis hal-hal yang tidak populer.

Ternyata saya tidak bisa lepas dari gaya menulis yang diterapkan di Kompasiana. Ditambah lagi setelah membaca beberapa literatur, saya makin bersemangat menulis populer. Apalagi saya membaca banyak jurnal berbahasa Inggris yang ditulis dengan gaya santai.

Saya mengamini kata-kata Kang Jalal yang pernah dikutip Yudi Latif: “Ketika saya menulis dengan sederhana dan mengalir berarti saya sangat memahami topik itu. Tapi ketika saya menulis dengan gaya yang sulit dipahami, itu berarti saya pun tak paham apa yang dibahas. Saya berlindung di balik istilah akademis untuk menutupi ketidakmampuan saya memahami satu topik.”

Beberapa tahun setelah menjadi Kompasianer of the Year, saya masih tetap menekuni dunia blog. Ketika perlahan literasi bergeser dari cetak ke digital, saya ikut mendapat berkah. Catatan2 di medium digital itu menyebar ke mana2.

Saya punya banyak sahabat di mana-mana. Ketika berkunjung ke tempat terjauh, saya sering kaget bertemu orang yang tiba-tiba menyapa dan bercerita kalau pernah berinteraksi di dunia maya.

Saya memang tidak berkompasiana lagi. Tapi semangatnya tetap tersisa yakni sharing dan connecting. Saya tetap berbagi dan terhubung dengan banyak orang. Saya punya banyak sahabat penulis dunia maya yang saling memancarkan aura dan gelombang positif. Semangat berbagi itu selalu terbawa hingga kini.

Di banyak tempat yang saya singgahi, saya bertemu banyak sahabat. Lebih bahagia lagi karena sahabat itu tak sekadar menyapa, tapi ada seulas senyum gembira, jabat tangan yang hangat, serta kalimat pendek “Hai, saya pernah baca tulisanmu. Saya suka”

Bahagianya tak terkira.

Jangan Hukum AGNEZ MO




Bukan hal luar biasa jika Agnez Mo menjadi trending topic. Di media sosial, sejak lama terbentuk kelompok Agnez Haters yang selalu siap melontarkan segala caci pada apa yang dilakukannya. 

Kalimatnya memang menunjukkan satu gejala inferior sebagai bangsa. Dia sesungguhnya menyampaikan bahwa dia minder saat nama Indonesia disebut. Dia berlindung dengan menyebut nama-nama bangsa lain. 

Dengan cara itu, dia berharap si pewawancara akan memahami kalau dia memang berbeda dengan kebanyakan Indonesia yang tidak punya prestasi dan jejak di panggung dunia. Dia bisa bangun diferensiasi dan seakan berkata “saya dari ras bangsa unggul.”

Agnez Mo bukanlah Susi Susanti yang dalam film Susi: Love for All selalu bangga menyebut nama Indonesia, bahkan di saat bangsanya tengah diamuk konflik rasial. Saat kewarganegaraan Susi dipertanyakan, saat keluarganya dalam keadaan takut karena konflik etnik, dia tetap menyebut dirinya Indonesia.

Tapi marilah kita lihat kasus ini dari sudut pandang lain. Agnez berada dalam situasi sebagai pihak yang diwawancarai. Sejak awal, dia bercerita tentang Indonesia yang begitu beragam, serta dirinya yang minoritas. Topiknya adalah bagaimana menjadi minoritas dan bisa keluar dari kerumunan.

Anggaplah, Agnez “salah ngomong”, maka itu tidak ada artinya dengan begitu banyak publikasi nama Indonesia seiring dengan popularitasnya di panggung internasional. Saya rasa dia tidak mungkin mengabaikan identitas keindonesiaan yang disandangnya sejak kecil hingga berkarier sebagai penyanyi. Rasanya tidak adil jika dia dihukumi hanya karena satu atau dua pernyataan.

Marilah kita melihat Agnez sebagai perjalanan panjang. Apa pun yang dilakukannya akan selalu dianggap salah. Dulu, dia dicaci tidak pantas berada di panggung internasional sebab dirinya terlalu Indonesia. 

Saya masih ingat persis. Di tahun 2010, dia mendapat kehormatan sebagai presenter di ajang American Music Awards (AMA). Perempuan yang berprofesi sebagai penyanyi itu tampak kikuk dan hanya bisa cengengesan. 

Banyak orang yang mengatakan bahwa bahasa Inggrisnya masih belum memadai untuk tampil di acara sekelas itu. Dia grogi, demam panggung, dan lebih banyak diam serta tersenyum. Di media sosial, dia menjadi bulan-bulanan sebab bahasa Inggrisnya payah. Dia dianggap terlalu Indonesia, kurang menginternasional.

Namun pada situs-situs berbahasa asing, komentar tentang dirinya selalu positif. Agnez disebut sebagai fenomena baru. Situs globalgrind.com menyebut, bahwa meskipun Indonesia adalah negeri dengan kepadatan penduduk keempat dunia dan minim penyanyi di panggung dunia, Agnez bisa tampil di Amerika Serikat (AS) dan bekerja sama dengan produser hebat Timbaland. Kolaborasi mereka telah menelurkan album “Coke Bottle.”

Ibarat sebuah perjalanan, Agnez masih berada di tepi kancah musik dunia, di mana kompetisi dan artis baru selalu bertumbuhan. Ia memang masih jauh dari pencapaian seniornya Anggun C Sasmi. Beredar isu kalau album Agnez sempat dijual secara bajakan, sehingga ditarik oleh pihak i-Tune. Gosip juga beredar tentang cover albumnya yang meniru simbol Illuminati, semacam sekte tertentu yang dikabarkan anti-agama.

Ketika Agnez menyebut ambisinya untuk go international, ia langsung dianggap arogan. Demikian pula ketika Agnez memajang fotonya yang sedang bersama seorang penyanyi Amerika di Instagram. Orang-orang langsung menganggapnya pamer. 

Padahal, apa yang dilakukan Agnez dilakukan pula oleh banyak orang di media sosial. Dan jika ditelaah, semua kritikan itu selalu menyangkut hal remeh-temeh atau tidak substansial. Semua pengkritik hanya menyoroti soal yang tidak penting, seperti style ketika berbicara, gaya ngomong, postingan di media sosial, atau soal klaim-klaim.

Hebatnya, Agnez tak pernah menanggapi kritikan itu. Ia terus berbenah dan mengasah diri. Di ranah musik, barangkali Agnez adalah penyanyi dengan jumlah penghargaan paling banyak di Indonesia. Ia memenangkan puluhan trofi, termasuk 10 Anugerah Musik Indonesia (AMI), tujuh Panasonic Awards, dan empat MTV Indonesia Awards. Ia juga telah dipercaya menjadi duta anti narkoba se-Asia serta duta MTV EXIT dalam memberantas perdagangan manusia.

Pengamat musik Bens Leo menyebut bahwa Agnez adalah satu-satunya penyanyi wanita yang sudah pantas menjadi seorang diva dan penerus Anggun C Sasmi. Ia dianggap mampu menjual CD-nya sebanyak 1 juta kopi dalam waktu singkat, berkolaborasi dengan musisi dunia, sampai mengonsep video klipnya sendiri.

Di level internasional, ia berhasil meraih penghargaan dua tahun berturut-turut atas penampilannya di ajang Asia Song Festival di Seoul, Korea Selatan, pada tahun 2008 dan 2009. Hingga akhirnya, ia menjadi satu-satunya artis Indonesia yang pernah menjadi presenter dan berkesempatan menyanyi di Red Carpet American Music Awards di Los Angeles, AS, pada 2010 lalu. 

Barangkali, ia pula satu-satunya artis Indonesia yang menjadi aktris utama pada dua drama Asia yakni The Hospital dan Romance In the White House yang dibuat oleh sebuah rumah produksi di Taiwan.

Dengan prestasi yang segudang, mengapa Agnez banyak dikritik di media sosial? Bukankah kiprahnya adalah representasi dari semangat kerja keras dan hasrat untuk berprestasi serta ikhtiar untuk menggapai impian?

Semua kritikan itu semakin menunjukkan pijakan kakinya yang sudah kian jauh di dunia entertain. Makian itu semakin menunjukkan bahwa Agnez adalah sosok penting yang namanya semakin berkibar. Harus dicatat, di usianya yang terbilang muda, ia telah mencapai semua hal yang kian menempatkannya sebagai diva musik tanah air. Ia telah ‘melambung jauh’ dengan segala prestasi yang untuk menandinginya mesti menggapai jalan terjal.

Inspirasi Agnez

Daripada sibuk mencaci Agnez, marilah kita belajar banyak hal darinya. Kita bisa memetik hikmah demi menyuburkan benih-benih kerja keras dan semangat dalam diri kita. Dia bisa menjadi inspirasi buat kita semua bahwa kesuksesan bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit. 

Kesuksesan hanya dari kerja keras serta proses menyempurnakan diri untuk terus belajar. Ia membuka mata kita semua bahwa usia muda tak selalu bermakna hijau alias tak matang. Pada Agnez, kita bisa belajar beberapa hal:

Pertama, kita belajar tentang bagaimana menanam mimpi dan menyuburkannya secara terus-menerus. Beberapa tahun silam, Agnez selalu menyebut ambisinya tentang go international. Demi mimpi itu ia tak pernah surut. 

Ia memiliki langkah-langkah kecil untuk menggapai mimpinya. Ia tak mau sekedar diam dan menunggu. Ia berbuat dan melakukan beragam daya dan upaya untuk menggapai mimpinya itu. Penulis Paolo Coelho mengatakan, tak masalah sebesar apa pun mimpimu, namun semuanya tergantung pada seberapa kuat usaha untuk menggapai mimpi itu.

Kedua, Agnez mengajarkan kita tentang pentingnya kerja keras dan perubahan. Saya tak pernah lupa tayangan ketika dirinya menjadi presenter di acara American Music Awards. Ia dikritik karena kemampuan bahasanya yang rendah. 

Media mencatat, bahwa setahun setelah acara itu, ia tampil membawakan presentasi dalam bahasa Inggris di hadapan ratusan orang di Pacific Place Mall, Jakarta. Ia berbicara tentang “Dream, Believe, and Make It Happen” dalam bahasa Inggris yang fasih dan mengundang decak kagum. Bahkan, seorang moderator berkebangsaan AS sempat memberikan pujiannya terhadap Agnez, “Penggunaan bahasa Inggris-nya lebih baik ketimbang saya berbicara bahasa Indonesia.”



Ketiga, Agnez mengajarkan kita tentang dedikasi pada profesi. Sejak masih kecil, ia tahu bahwa jalan hidupnya adalah menjadi seorang penyanyi. Demi pilihan itu, ia mengasah diri. Di tanah air, tak banyak penyanyi cilik yang sukses bertransformasi menjadi penyanyi dewasa yang penuh prestasi. Ia sukses melakukannya sekaligus sukses menuai prestasi.

Keempat, Agnez mengajarkan kita untuk berani menghadapi tantangan-tantangan baru. Ia tak hendak berpikir nyaman dengan menikmati ketenaran sebagai diva musik tanah air. Ia menjemput tantangan baru dengan memasuki jantung musik dunia. Kalaupun ia belum sesukses Anggun, ia telah meniti di atas jalan yang sama, dan kelak akan menempatkannya pada posisi yang sukar digapai penyanyi tanah air lainnya.

Di tanah air, kita terbiasa dengan hidup yang datar-datar saja. Sering kali, kita tak siap dengan hidup ala roller coaster. Ketika melihat seseorang hendak keluar dari zona datar, kita sering tak nyaman dan merasa terganggu. Kita lalu melekatkan berbagai label seperti ambisius, gila, cari popularitas, dan banyak sebutan lainnya. Kita memelihara energi negatif, yang semakin membuat kita semakin tidak produktif dan sibuk memperhatikan orang lain.

Sebagaimana halnya Agnez, jauh lebih jika kita mengasah diri, dan menyalakan motivasi dalam hati kita, yang kemudian menjadi cahaya terang untuk menemani batin kita di belantara kehidupan.

Jauh lebih baik jika kita menyerap energi positif dari semua orang, kemudian mentransformasikannya menjadi kerja keras yang menghiasi setiap langkah kita sehingga ladang kehidupan kita akan semerbak dengan bunga-bunga prestasi serta jejak-jejak indah dalam sejarah kehidupan kita.

Dia jangan dihukum. Lebih baik kuatkan dirinya agar selalu melihat Indonesia sebagai tanah air yang diperjuangkan dan dicintai dengan sepenuh jiwa. 




Para Stafsus Milenial yang Borjuis




Presiden Jokowi baru saja mengumumkan siapa saja staf khusus milenial. Presiden kita ini memilih anak-anak muda untuk menjadi ring satu dari kalangan yang sukses, muda, dan tajir. Inilah anak muda yang dianggap ideal, bagi presiden kita ini.

Saya melihat latar belakang mereka. Mayoritas adalah keluaran luar negeri. Mayoritas adalah pelaku bisnis startup yang kemudian sukses. Meskipun harus saya akui kalau ada di antara mereka yang kisahnya mengesankan dan membanggakan.

Bagi presiden, yang jualan di masa kampanye adalah tampilan ndeso tapi kebijakannya memuja investor ini, sukses itu adalah ketika bisa punya bisnis dengan omzet besar di usia muda.

Kita bisa melihat pemilihan stafsus ini dari banyak sisi. Dari sisi politik, pelajaran yang bisa dipetik adalah agar anak muda masuk menjadi lingkar dalam istana, maka sebaiknya harus punya mainan baru berupa startup yang bisa memberi income miliaran. Mesti punya satu aktivitas yang bisa mendatangkan decak kagum dan seruan wow.


BACA: Perempuan Indonesia di Zona Perang

Kalau hanya mengandalkan idealisme dan semangat perlawanan, kalau hanya punya rasa cinta tanah air, kalau hanya punya pekik melawan ketidakadilan, kalau hanya punya prestasi hebat di sekolahan hingga jadi ilmuwan, jangan mimpi untuk masuk istana. Sebab negara hanya mengakui eksistensi mereka yang punya usaha, sukses, dan kaya.

Saya melihat kategori mereka yang terpilih sebagai stafsus ini terlampau seragam. Kriterianya terlalu borjuis. Pemerintah kita tidak melihat banyaknya keragaman serta kisah dari anak muda yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pemerintah kita hanya melihat satu sisi, tanpa melihat betapa banyaknya anak muda hebat dengan kisah memukau di seluruh Indonesia. Mereka tidak harus kaya dan sukses, tetapi punya dampak bagi sekitarnya.

Saya ingat ada anak muda yang bermodal perahu membawa pustaka untuk anak-anak di pulau-pulau terluar. Di tengah keterbatasan, anak muda ini malah memikirkan literasi bagi anak-anak pulau. Saya mengenal anak muda keturunan Tionghoa yang ikut dalam misi kemanusiaan bersama seorang dokter, mengunjungi pulau-pulau kecil demi memberi layanan kesehatan.

Saya ingat ada anak muda yang berdiri di tengah masyarakat yang tanahnya akan digusur. Anak muda ini bisa saja cuek dan berpikir nyaman sebagai mahasiswa. Tapi ada sisi kepedulian dan panggilan nurani untuk bersama orang-orang yang tanahnya hendak dirampas.

Ada pula kisah anak muda yang mengorganisir para pemusik jalanan dan kaum miskin kota. Atau kisah anak muda yang mengajari petani agar meningkatkan omzet, tanpa ingin disorot media. Mengapa pula pemerintah tak mencari anak muda yang berani menepi dari hiruk-pikuk dan spotlight media, tetapi berani mewujudkan idealismenya dengan cara-cara sederhana.

Ada juga cerita anak muda yang menulis syair dan karya sastra, juga para pelukis, pematung, dan seniman yang bekerja untuk menyuarakan apa yang terjadi di masyarakat. Apa mereka masuk hitungan pemerintah? No way. Presiden kita lebih melirik anak tunggal pengusaha besar. Lebih melirik pemain startup.

Saya hanya bisa menyebutkan sedikit contoh. Kerja-kerja beberapa anak muda yang saya sebutkan di atas amat jauh dari pantauan media. Kerja mereka hanya diketahui segelintir orang, tetapi mereka meninggalkan satu legacy atau warisan yang amat berharga bagi kemanusiaan.

BACA: Siasat Perlawanan: Dari Seks Hingga Lipstick

Mereka memiliki nurani dan sanubari yang amat cinta pada bangsanya, dan bekerja mewujudkannya dalam langkah-langkah kecil.

Jika saja mereka diangkat jadi stafsus presiden, mereka bisa mengurai di mana problem birokrasi dan tiadanya keberpihakan pada publik. Anak muda yang membawa pustaka ke pulau itu bisa membantu pemerintah menyusun kebijakan agar pendidikan tidak hanya dinikmati orang2 perkotaan, tetapi secara merata menjangkau pulau-pulau.

Apa boleh buat, negara ini terlanjur menentukan seperti apa kriteria anak muda. Mereka yang hanya bergerak dengan membawa semangat kerelawanan untuk banyak orang lain jelas tak masuk hitungan.

Namun apa pun itu, anak muda harus terus bergerak untuk perubahan. Negara boleh tak mengakui kiprah Anda, tetapi pengakuan dari masyarakat sekitar, khususnya masyarakat marginal, jauh lebih penting dari segalanya. Bekerja untuk orang banyak jauh lebih bermakna dari sekadar ajakan masuk ring satu istana.

Pada anak muda hebat yang bekerja di tepian, tanpa publisitas, dan semata memikirkan orang banyak, pada anak muda yang masuk menemui malam demi pekik aksi gugatan pada ketidakadilan, saya titipkan sekeping paragraf dari Chairil Anwar:

Aku suka pada mereka yang berani hidup…
Aku suka pada mereka yang masuk menemui malam…
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu….
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !



Membaca Jurnalisme Sindhunata




Saya mengikuti tulisan Sindhunata di harian Kompas. Saya suka tulisannya tentang orang-orang biasa yang sering terabaikan. Saya pun suka tulisannya tentang bola yang sangat menggetarkan. Dia selalu mengangkat sisi yang sangat manusiawi.

Di goresan Sindhunata, bola bukan sekadar skor, bukan pula menang kalah, tetapi ada kisah pergulatan manusia yang berusaha menggapai kemenangan. Saya pernah kliping tulisannya tentang Roberto Baggio yang memilih Budha, Alessandro del Piero yang bermain bola demi mengenang kakeknya, Michel Platini yang menonton konser di malam sebelum tragedi Heysel, Ronaldinho yang bermain bola sebagaimana anak kecil di Rio de Janeiro, hingga Patrick Berger yang membawa novel utk dibaca di euro 1996.

Dalam buku barunya ini dia menjelaskan sisi humanisme dan jurnalisme di harian Kompas, yang menjadi energi tulisan2nya. Kalau dilihat dari konteks kekinian, banyak hal yang sudah berubah. Dia bilang, jurnalis adalah pekerjaan kaki. Jurnalis harus rajin bergerak, rajin melihat, rajin mencatat, setelah itu berpikir.

Kini, para jurnalis harus rajin juga berselancar di web dan medsos, juga memahami big data untuk membantunya memahami kenyataan. Jurnalis harus sedalam Google, dan sehangat Facebook.

Membaca catatannya di sini, saya tiba pada satu hipotesis sederhana. Kekuatan Sindhunata bukan pada angel liputan yang bisa memotret sisi humanis, tetapi ada pada kontemplasi atau renungan2nya atas setiap keping kenyataan. Dia seorang filosof yang sering merenung, menelusuri relung pemikiran kemudian mencarinya dalam setiap fragmen kenyataan yang ditemuinya untuk dikemas dalam karya jurnalistik.

Pemikiran filosofis itu tidak membuatnya melangit, melainkan tetap berpijak di bumi. Jurnalisme menarik pikiran kembaranya agar tidak selalu terbang tinggi di atas punggung filosof, tetapi tetap membumi dan mencari kearifan dalam sosok manusia biasa.

Makanya, dia bisa menulis tentang para filosof Mazhab Frankfrut, tetapi dia pun bisa cerita tentang Mbah Wagiyem di Pasar Beringharjo. Dia bisa menulis Zinedine Zidane sebagai seorang dewa bola, tetapi dia bisa menjelaskan lingkungan masa kecil ZIdane yang keras sebagai anak migran di Perancis.

Anehnya, saya bisa menyebutkan nama-nama jurnalis dan penulis inspiratif yang kajiannya dalam di era Sindhunata. Tapi jika ditanya, siapa jurnalis Kompas kekinian yang seperti Sindhunata, saya malah tidak tahu. Padahal saya masih langganan kompas. Jauh lebih mudah buat saya menyebutkan siapa penulis di jagad maya yang selalu saya ikuti catatan-catatannya.

Bisa jadi, saya adalah pelanggan koran yang lebih suka selancar di jagad maya. Entahlah.

Apa Anda bisa bantu saya menyebutkan satu saja?


Mencicipi Kopi SOE




Di Jalan Margonda, Depok, saya pertama kali jatuh cinta dengan kopi soe. Baru tahu kalau di Bogor dan Jakarta, gerai kopi soe berdiri di banyak titik.

Saya merasa beruntung karena pernah berkunjung ke Soe, dararan tinggi yang merupakan ibukota Timor Tengah Selatan.

Sayang, saya belum pernah menikmati kopi Soe di sana. Padahal, saya sangat yakin kalau pemilik gerai kopi Soe ini terbius oleh nikmat kopi di sana sehingga menjadikannya merek dagang.

Saat memandang segelas kopi Soe, saya terbayang pebukitan di sana, jeruk manis yang mudah ditemukan di mana2, olahan se'i yang nikmat. Tentu saja, saya terbayang senyum sahabat Nahad Baunsele yang selalu mengembang saat ditemui.

Saya membayangkan So'e yang sejuk, semesta indah di pebukitan Timor.

Srruupp....

Bersama Pemilik BlazBluz




Tidak jauh dari Stasiun Kiara Condong, Bandung, dia menyambut saya dengan senyum yang teramat lebar. Namanya La Tusu. Dia adalah teman sekelas semasa SMP dan SMA di Pulau Buton. Dia berasal dari Wakaokili, sekitar 26 kilometer dari Baubau.

Dia begitu gembira saat saya datang mengunjungi warkop yang dimilikinya. Dia panggil beberapa pelayan, terus bertanya saya hendak makan dan minum apa. Dia sangat senang karena teman kecilnya datang berkunjung.

Saat tanya harga, pelayannya minta saya tentukan harga. Saya kegeeran. Saya pikir karena saya teman dari pemilik warkop, maka saya bebas menentukan harga. Ternyata, semua orang diperlakukan sama di situ. Di warkop itu, pengunjung yang menentukan berapa harga kopi yang diminumnya.

Lantas, gimana mau untung? La Tusu tidak lantas menjawab.

Dia bercerita tentang persentuhannya dengan dunia digital. Dia mendirikan blazbluz.com, perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran online. Dia tahu kalau di antara teman sekolahnya, saya paling paham dunia startup. Aslinya sih, saya hanya sok tahu. Ilmu saya gak jauh2 dari melatih kucing.

Mulanya dia melakoni bisnis affiliated marketing. Dia bersama beberapa orang memasarkan satu bisnis secara online, kemudian mendapatkan fee atau komisi dari penjualan itu. La Tusu memahami bagaimana cara kerja big data. Dia tahu ada data tentang satu perusahaan yang mengeluarkan produk di Amerika Serikat.

Melalui analisis big data, dia juga tahu kalau produk itu sangat dibutuhkan banyak orang di Rusia. Dia pun memasarkan produk dari Amerika itu ke Rusia secara online. Dia mendapatkan komisi dari setiap penjualan. Ketika produk itu booming, mulailah dia meraup banyak dollar. Bisnisnya mencapai angka miliaran.

Kok bisa barang Amerika dijual di Rusia oleh pemasar asal Buton yang tinggal di Bandung? Gaes... ini era globalisasi. Ini era online. Kamu bisa duduk-duduk di satu warkop kemudian memasarkan barang dari satu lokasi ke lokasi lain. Kamu tak perlu berpindah. Duduk-duduk saja, eh tiba-tiba dollar masuk rekening.

Dia bercerita, pernah ada pengusaha dari Amerika datang ke Indonesia hanya untuk menemui dia dan timnya. Pengusaha itu terheran-heran dengan kemampuan La Tusu memasarkan produk. Rupanya, di negara seperti Amerika pun, tidak semua orang melek teknologi digital.

Dia mendidik anak-anak muda untuk memahami pemasaran digital. Malah dia mengajarkan anak SMK yang hanya tahu update status untuk jadi pemasar handal di era online. Dia pun merekrut anak SMK itu untuk jadi pasukan digitalnya.

Sahabat ini lalu mengajak saya melihat-lihat rumah besar, di mana ada warkop di situ. Di ruang depan, saya melihat ada galeri yang memajang banyak kaos, busana muslim dan hijab. Katanya, ini hanya sampel atau spesimen. Perusahaannya punya gudang di markas JNE yang kemudian dipakai menyimpan barang kemudian dikirim ke berbagai penjuru.

Di ruangan lain, saya melihat banyak anak-anak muda di depan laptop. Katanya, ini adalah ruangan para admin mengelola pemasaran melalui media sosial. Perusahaannya memasarkan banyak kaos dan produk fashion melalui fasilitas adsens di Facebook dan Google.

Kalau kamu sering temukan iklan kaos di Facebook, misalnya kaos bertema nasionalisme, tema kampus, atau kaos bertuliskan orang ganteng lahir tahun yang persis tahun lahirmu, bisa jadi itu adalah hasil kerja bagian promosinya.

Di satu ruangan lain, saya melihat studio foto. Katanya, di ruangan itu, semua produk yang dijual akan difoto, kemudian diteruskan ke tim marketing. Ada pula ruangan yang menjadi ruang pelatihan. Secara periodik, perusahaannya menggelar pelatihan untuk pemasaran di media sosial. “Algoritma Facebook itu selalu berubah. Makanya kami harus selalu update,” katanya.

“Sudah lama jualan kaos?” Saya bertanya.
“Kami tak jualan kaos. Yang kami jual adalah platform. Maksudnya, tiap orang bisa memasarkan produk melalui platform yang kami bikin,” katanya.

Jadi, perusahannya hanya menyiapkan kaos oblong, yang kemudian bisa didesain siapa saia. Skemanya adalah User Generated Content. Siapapun bisa buat desain, kemudian promosi, lalu mendapat hak paten. Saat ada order untuk kaos dan desain itu, pembuat desain akan dapat fee. Sistem yang mengatur semuanya. Mungkin ini yang disebut sharing economy.

“Makanya, kami mengajak anak muda untuk bisnis, tawarkan desain, dan dia bisa menjualnya. Di sini banyak pembuat desain kaos yang mendadak kaya gara-gara desainnya viral,” katanya.

Belakangan ini, dia sering menjalin kerjasama dengan kampus. Dia pun sering diundang jadi pembicara. Dia ingin memperluas ekosistem digital sehigga setiap orang bisa mereguk manisnya bisnis di era 4.0 ini.

Terakhir, tanpa dia jelaskan, saya paham sendiri mengapa kopi di situ gratis. Banyak orang yang belajar pada Google dan Facebook. Dua raksasa IT ini menggratiskan banyak layanan. Tak perlu bayar untuk pakai Google, juga Facebook. Tapi perlahan, mereka punya banyak skema lain untuk menjadi perusahaan kaya-raya.

Ketika Anda nyaman di warkop itu, Anda akan sering datang. Saat banyak komunitas bergabung dan berjaring, kolaborasi bisa terjalin. Di sinilah, peluang bisnis bermunculan.

Sayang, saya tak bisa lama di Bandung. Ketika pulang, dia menghadiahkan saya dua kaos Blazbluz. Saya pakai ke stasiun. Seorang pramugari kereta yang secantik Syahrini, mengajak selfie. Dia berbisik, “Akang kasep, saya suka kaosnya. Akang yang punya blazbluz yaa?” Dalam bahasa Sunda, kasep artinya ganteng.

Mendengar suara renyahnya, insting petualangan saya bekerja. Saya mengiyakan. Dia tidak tahu kalau saya mantan penjual obat di Pasar Baubau dengan keahlian retorika hingga level dewa. Cewek Bandung ini tersenyum. Duh, geulis pisan! Saatnya memasang perangkap.



Perempuan Indonesia di Zona Perang


Ratih Pusparini

Wajahnya terlihat pucat-pasi. Dalam perjalanan dari Lebanon ke Suriah, dia lebih banyak diam. Perjalanan itu hanya akan berlangsung selama tiga jam. Tapi, itu bukan perjalanan biasa. Tahun 2012, Suriah tengah dilanda peperangan. Suara tembakan terdengar di mana-mana. Bom juga bisa berjatuhan kapan saja.

Perempuan itu Mayor Ratih Pusparini adalah tentara perempuan Indonesia pertama yang diterjunkan ke pasukan perdamaian. Dia mendapatkan misi yang cukup berat yakni harus berada di garis depan Suriah demi mengirim pesan kepada semua warga kalau mereka tidak sendirian dalam menghadapi peperangan.

Ratih masih mengenang persis tanggal ketika dirinya mendapat telepon dari wakil Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Desra Percaya. Dia ditelepon pada tanggal 12 April 2012, jam 4 sore. Pada masa itu, dia sedang tugas di Lebanon.

Desra menelepon dan berkata, “Ratih kamu harus bersiap-siap. Kamu akan jadi militer Indonesia pertama yang berangkat ke Suriah.” Ratih mulai menjalani hari-hari yang penuh ketegangan. Pada masa itu, hanya ada 3 persen perempuan yang menjalankan misi perdamaian PBB.

BACA: Diplomasi Senyum Polwan Indonesia

Perjalanan selama tiga jam itu terasa lama bagi Ratih. Dia khawatir mengingat Suriah yang saat itu sangat tidak aman. Melihat dirinya yang lebih banyak diam, driver yang berasal dari Libanon langsung menyapa: “Mum, you’re okay?” Ratih menjawab singkat: “I’m not okay.”

Pria itu seakan tahu apa yang dirasakan Ratih. Dia langsung berkata: “Please call your parents. Tell them your situation.” Ratih segera menelepon keluarganya dengan menggunakan fasilitas telepon satelit.

Kepada ibunya, dia berbisik dengan tenang: “Mama, kalau tidak ada telepon dari saya, berarti semuanya aman. Tapi kalau orang lain yang menelepon, saya minta semuanya menerima semua kenyataan. Saya sudah ikhlas menjalani apa pun yang terjadi.”

Seusai menelepon, Ratih tersenyum. Dia siap menghadapi apa pun yang ada di depannya. Dia berada pada titik kepasrahan. Dia tidak lagi memikirkan apakah akan hidup ataukah mati di misi yang sedang dijalaninya.

“Kalau Allah menakdirkan saya hidup, maka saya akan selamat. Tapi kalau dia menghendaki saya meninggal, maka di mana pun itu, pasti akan terjadi, katanya.

Ratih langsung tersenyum. Dia tenang menjalani tugasnya.  Lelaki itu melihat perubahan wajah Ratih yang tadinya tampak panik. Dia berkata: “Now you look like an angel.”

Di Suriah, situasinya lebih buruk dari yang Ratih bayangkan. Dia mesti menghadapi risiko yang sangat besar saat berada di garis depan. Ratih masih mengenang rekannya yang tertembak di kaki saat sedang menjalankan misi perdamaian. Tapi dia merasa kehadirannya penting sebab memberi rasa nyaman kepada warga yang saat itu dicekam ketakutan.

Pernah, saat di Suriah, Ratih ditelepon oleh wakil Kemenlu, Desra Percaya. Ketika sedang berbincang, terdengar suara tembakan bersahut-sahutan. Desra langsung berkata, “Ratih, apa itu suara tembakan?” Ratih menjawab: “Ya benar. This is the symphony of my life.”

Suara tembakan terdengar dari segala arah. Ratih tidak bisa memastikan dari mana arah tembakan itu. Penembaknya pun bisa dari kalangan pemerintah atau pun oposisi. Hidup Ratih setiap saat dalam bahaya. Pasukan perdamaian PBB pun sering menjadi sasaran tembak.

BACA: Prasasti Abadi Seorang Polwan

Misi perdamaian PBB hanya berjalan selama empat bulan di Suriah. Baru bertugas tiga bulan, Ratih ditarik ke Lebanon. Misi itu dianggap sangat berbahaya sehingga ditutup oleh PBB. Bagi PBB, keselamatan pasukan perdamaian adalah prioritas utama dalam setiap misi yang dijalankan.

Namun pesan yang hendak disampaikan telah sampai kepada warga. Masyarakat internasional akan selalu berada di sisi warga yang tengah dilanda peperangan. Mereka tidak sendirian dalam menghadapi bencana kemanusiaan dan peperangan yang sedang terjadi.

Misi Perdamaian

Hidup Ratih laksana roller-coaster yang selalu berhadapan dengan gejolak. Perempuan kelahiran Denpasar ini tadinya tidak berniat menjadi tentara. Saat lulus dari Jurusan Sastra Inggris, Universitas Airlangga, Surabaya, tidak membayangkan akan menjadi tentara.

Saat iseng mengikuti seleksi, ternyata dia diterima menjadi prajurit TNI Angkatan Udara. Kariernya terus menanjak karena dirinya seorang pekerja keras yang mudah bergaul dengan siapa saja.

Tahun 2008, dia tercatat dalam sejarah sebagai perempuan Indonesia pertama yang diberangkatkan dalam Pasukan Garuda, pasukan perdamaian Indonesia untuk misi PBB di Republik Demokratik Kongo. Dia berperan sebagai military observer.

Ratih Pusparini bersama perempuan yang menjadi anggota pasukan perdamaian 

Sebagai perempuan, dia memiliki akses untuk memasuki wilayah yang tidak bisa dimasuki militer laki-laki. Sebagai militer, dia tetap menggunakan pendekatan keibuan ketika berhadapan dengan perempuan dan anak-anak.

“Kami berhasil memasuki satu desa dan mendapatkan informasi mengenai kekerasan seksual di sana. Regu sebelumnya gagal mendapatkan informasi itu karena tidak ada perempuan di sana,” katanya.

Ketika Ratih datang, ibu-ibu dan anak kecil akan mendekat dan bercerita tentang situasi yang mereka hadapi. “Kami adalah mata dan telinganya misi. Begitu ada berita tentang perkosaan dan kriminal, kami selalu datang ke lokasi bersama interpreter. Beda kalau laki-laki, ceritanya lebih banyak maskulin,” katanya.

Demi menunjang misi, Ratih selalu mendatangi orang sakit di seputaran batalyon. Ternyata hal ini sangat berkesan bagi mereka. Pendekatan kemanusiaan ini menjadi jauh lebih berkesan dari yang lain. “Program Ibu Ani Yudhoyono yakni mobil pintar terus berjalan sampai sekarang. Program itu sangat efektif untuk anak-anak di daerah konflik,” katanya.

Di mana pun berada, pasukan Indonesia selalu berusaha membangun kedekatan dengan masyarakat setempat melalui community engagement. Dalam program ini, militer dan sipil sama-sama merencanakan program atau kegiatan yang memiliki misi kemanusiaan.

Di Kongo, Ratih sangat terharu ketika seorang anak mendatanginya, kemudian berkata, “Mam, I wanna be like you! Because of you, we can go to school…" Saat itu, Ratih dan timnya berhasil mengamankan akses jalan sehingga anak-anak bisa pergi ke sekolah.

Tahun 2012, Ratih kembali diberangkatkan ke misi perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL), kemudian Suriah.  Setelah itu dia ditugaskan ke Indonesia. Pada April 2018 hingga sekarang, dia bertugas Jakarta dengan posisi sebagai Staf Kantor Kerja Sama Luar Negeri Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia.

Ratih menjadi sosok yang menginspirasi banyak kalangan. Dia menerima banyak penghargaan atas kiprahnya di dunia militer dan perdamaian. Tahun 2013, dia meraih Indonesian Women of Change Award yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar AS.

Selain itu, Ratih yang kini berpangkat Letnan Kolonel itu itu juga mendapatkan tanda kehormatan berupa The United Nations (UN) Medal, UN Medal Syria dan UN Peacekeeping Medal in Lebanon. Dia juga sering mendapat undangan sebagai pembicara yang berbagi inspirasi kepada anak-anak muda. Dia ingin mengubah mindset orang-orang bahwa perempuan bisa melakukan banyak hal luar biasa.

Mengutip data dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), berdasarkan analisa dari UN Women, sebanyak 1.187 perjanjian perdamaian tahun 1990-2017, terdapat 2% mediator perempuan; 5% negotiator perempuan dan 5% saksi dan penandatanganan perjanjian perdamaian perempuan.

Hingga 31 Maret 2019, terdapat 3.472 personel militer perempuan dan 1.423 personel polisi perempuan dari total 89.681 personel penjaga perdamaian, atau 5,46%. Jumlah ini tentunya harus dapat ditambah, dan Indonesia memiliki niatan yang kuat untuk hal ini. Indonesia memiliki obsesi untuk terus mengirimkan perempuan dalam pasukan perdamaian.

*** 

Hari itu, sebuah diskusi sedang dihelat di Markas Besar PBB di New York. Letnan Kolonel Ratih Pusparini menjadi pembicara bersama Mayor Jenderal Kristin Lund, petinggi militer Norwegia. Pembicara lain adalah Letnan Kolonel Yuli Cahyanti dari Polri, serta Wakil Tetap Duta Besar RI untuk PBB, Dian Triansyah Djani.

Di sela-sela sidang Special Committee for Peacekeeping Operations, Ratih berbicara sebagai tentara yang pernah bertugas sebagai peace keeper di berbagai penugasan. Dia menyampaikan masukan agar perempuan lebih banyak dilibatkan dalam berbagai misi perdamaian.

Mayjen Kristin Lund, petinggi militer Norwegia, berpose dengan Letkol Ratih Pusparini dalam satu diskusi di Markas PBB, New York

Dia berkata: “Personil perempuan biasanya lebih bisa membaur dengan masyarakat lokal dibandingkan personil laki-laki, hal ini yang memberikan nilai lebih bagi kesuksesan misi di daerah operasi. Perempuan juga perlu diberikan peran lebih selain feminine duties yakni logistik, medis, dan administratif.”

Sementara Yuli Cahyanti menyampaikan hal senada bahwa personil perempuan pada umumnya lebih dekat dengan korban konflik dan pengungsi internal khususnya perempuan dan anak-anak. Selain itu, perempuan lebih diterima oleh masyarakat lokal dan mampu memberikan rasa aman, khususnya bagi perempuan dan anak-anak di kamp pengungsi.

“Budaya Indonesia dapat diterima dengan baik di masyarakat lokal yang bermotokan senyum, sapa dan salam,” ujar Yuli.

Mayjen Kristin Lund menjelaskan perlunya kaderisasi untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam MPP PBB dan keharusan personel perempuan untuk memperkaya pengalaman guna meraih level tertinggi di PBB dan di misi, salah satunya dengan mengakses "UN Experience."

Di ruangan itu, semua orang mengapresiasi pandangan delegasi Indonesia tentang perempuan yang seharusnya lebih banyak dilibatkan dalam Peace Keeping Operation.

Sejalan dengan amanah konstitusi, Indonesia telah terlibat dalam misi pemeliharaan PBB sejak 1957.  Saat ini, Indonesia berada pada ranking ke-9 negara kontributor personil militer dan polisi pada misi UNIFIL (Lebanon), UNAMID (Darfur, Sudan), MINUSCA (Republik Afrika Tengah), MINUSMA (Mali), MONUSCO (Kongo), MINUTSAH (Haiti), MINURSO (Sahara Barat), UNISFA (Abyei), UNMISS (Sudan Selatan).

Dari 2.872 personil TNI dan POLRI yang terlibat, 60 di antaranya adalah perempuan dari TNI maupun POLRI.

Acara itu berjalan sangat sukses dan mendapat perhatian tinggi dari negara anggota PBB dan publikasi luas oleh Divisi Berita PBB. Hastag  #Womenpeacekeepers menjadi trending topic ketiga di twitter.

Pada malam harinya diadakan pula Resepsi Diplomatik "To Honor the Role of Women Peacekeepers" dan menyambut sesi sidang C-34, dan dihadiri oleh delegasi C-34, Sekretariat PBB, kalangan penasehat militer, masyarakat madani, think-thank, akamedisi dan media.

Pesan Ratih terus bergema. “PBB harus membuat langkah-langkah afirmatif untuk menambah jumlah perempuan dalam misi PBB. Perlu ada perubahan kebijakan pro perempuan, dan reformasi budaya dan mindset.”

Ratih percaya, ketika perempuan diberi kesempatan yang lebih luas untuk berperan aktif dalam perdamaian dunia, maka dunia akan menjadi lebih damai.

“Perempuan punya banyak sisi keibuan dan kasih sayang. Ketika tetes-tetes kasih sayang itu membasuh hati, maka semua amarah akan mendingin. Dunia menjadi lebih baik,” katanya.



Diplomasi Senyum Polwan Indonesia


Saat AKBP Yuli Cahyanti tugas di Darfur

Tak sedikit pun ada rasa terkejut saat mendengar dirinya akan ditugaskan dalam misi perdamaian di Darfur, Sudan. Perempuan itu, AKBP (setara Letnan Kolonel) Yuli Cahyanti, adalah polisi yang tidak mengenal rasa gentar. Dia percaya pada kekuatan budaya Indonesia yang bisa mendamaikan dunia.

***

Suasana di One Bellpark Mall di Jalan Fatmawati, Jakarta, terlihat ramai saat perempuan itu singgah ke Kafe Starbuck, akhir Agustus 2019. Dia datang mengenakan baju lengan panjang berwarna hitam, serta celana jeans. Dia duduk di situ setelah sebelumnya memesan kopi. Dia lalu mengambil ponsel dan menatap beberapa pesan di situ.

Orang-orang di dalam kafe itu tidak menyadari kalau sosok yang duduk itu adalah seorang polisi wanita yang telah terjun dalam berbagai penugasan. Dia tidak hanya bertugas di Indonesia, melainkan telah menjalankan tugas sebagai anggota pasukan perdamaian di beberapa negara konflik.

Yuli Cahyanti, perempuan asal Jawa Timur yang pernah betugas di Darfur, Sudan pada tahun 2012-2013. Dia pun pernah menjadi Director for Plan and Programs, ASEANAPOL Secretariat at Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 2015 – 2017. Dia pun sosok yang menerima banyak penghargaan. Di antaranya adalah satyalencana dari Presiden RI.

Dia tersenyum ramah saat disapa. Dia bersikap hangat kepada siapa pun yang mengajaknya berbincang. Dia sangat jauh dari kesan kaku. Dengan senyum dan keramahan seperti itu, dia menjadi sosok yang bisa diterima siapa saja.

Hari itu, Yuli bercerita tentang pengalamannya menjadi peace-keeper di Darfur, Sudan. Mendengar kata konflik, banyak orang yang gentar. Yuli tak sedikut pun gentar. “Sejak menjadi polisi, saya siap ditugaskan ke wilayah konflik mana pun. Saya siap menerima semua risiko yang akan dihadapinya, bahkan kematian sekali pun,” katanya.

Darfur menjadi sorotan dunia ketika konflik pecah pada 2003, saat pemberontak mengangkat senjata melawan rezim pemerintahan Khartoum yang dianggap diskriminatif. Misi Uni Afrika dan PBB (UNAMID) mulai dijalankan sejak 2007 hingga kini.



Sejak konflik pecah, warga sipil menjadi korban. Mereka tidak saja kehilangan anggota keluarga, tapi juga terusir dari tanahnya sendiri sehingga hidup di kamp pengungsian. Beberapa negara lalu mengirimkan misi perdamaian untuk meringankan beban masyarakat di sana. Indonesia pun terpanggil untuk mengirim misi perdamaian.

Niat menjadi anggota pasukan perdamaian sudah lama membara dalam diri Yuli. Beberapa tahun sebelum mendaftar sebagai pasukan perdamaian, dia pernah mengikuti acara International Police Woman di Afganistan. Saat itu dia terkesan dengan beberapa pasukan perdamaian PBB yang bertugas untuk mengawal semua peserta.

Dia membayangkan betapa bahagianya jika dia kelak bisa berperan untuk menghadirkan rasa aman bagi orang lain. Dia bertekad agar kelak bisa bergabung dalam misi perdamaian. Cita-citanya terkabul di tahun 2012 saat menjadi bagian dari pasukan perdamaian yang bertugas di Darfur.

Saat itu, Yuli hanya punya sedikit pengetahuan tentang Darfur. Dia tahu bahwa Darfur sedang dilanda konflik yang bisa mengancam jiwanya. Darfur adalah wilayah yang juga rawan bencana.

Yuli mendengar berita bahwa penyakit malaria di tempat itu adalah malaria paling berbahaya sedunia. Tapi semua hal itu tidak membuatnya gentar. Dia tetap ingin datang ke sana. Dia siap meninggalkan keluarganya selama setahun demi menjawab panggilan kemanusiaan dalam dirinya.

Mulanya terasa berat untuk meninggalkan anak tunggalnya yang saat itu berusia 7 tahun. Ada panggilan nurani seorang ibu yang sempat menghentikan langkahnya. Tapi di sisi lain, ada pula panggilan kemanusiaan saat membayangkan nasib anak-anak dan perempuan di daerah pengungsi. Suami dan anaknya ikhlas melepas dirinya yang berbagi untuk kemanusiaan.

Saat tiba di Darfur, Yuli terkejut melihat situasi yang lebih buruk dari apa yang dibayangkannya. Dia melihat daratan luas yang tandus serta kering. Dia tidak menyangka, di dataran tandus ini konflik terjadi sehingga masyarakat merasakan dampaknya.

BACA: Prasasti Abadi Seorang Polwan

Dia sangat sedih saat melihat kondisi perempuan dan anak-anak yang sangat memprihatinkan. Seorang ibu harus mencari air di lokasi yang sangat jauh dari tempat tinggalnya. Ibu itu membawa tujuh jergen air. Dia dibantu anak-anaknya, sementara suaminya hanya bermalas-malasan di rumah.

“Kebanyakan korban konflik adalah perempuan dan anak-anak. Mereka yang merasakan dampak konflik. Untuk itu, kehadiran polwan sangat dibutuhkan sebab punya sisi keibuan yang membantu mereka untuk berempati dengan korban,” katanya.

Yuli menceritakan satu kenyataan yang dilihatnya. Suatu hari, dia berpatroli dan menemukan ada perempuan yang mengalami kekerasan seksual hingga trauma. Perempuan itu menolak untuk ditemui siapa pun. Perempuan itu hanya bisa menangis dan mengunci diri di rumah.

Saat Yuli datang dan menyapa “Assalamualaikum”, perempuan itu mau menerimanya. Dia lalu bercerita tentang apa yang dialami. Mata Yuli berkaca-kaca saat mendengar kisah perempuan itu. Dia adalah korban dari konflik antar warga yang terus bertikai. Perempuan itu diperkosa oleh sejumlah orang yang datang menjarah.

“Jika saja bukan perempuan yang datang, dia akan menolak siapa pun yang hendak memberikan bantuan. Dia merasa nyaman ketika bicara dengan sesama perempuan,” katanya.

Sebagai perempuan, Yuli bisa melakukan pendekatan personal kepada banyak orang. Saat sedang melakukan patroli, dia akan ikut berbincang dengan perempuan yang sedang antri mendapatkan air bersih. Dia berbaur dengan siapa saja, serta mendengarkan apa saja pengalaman yang dirasakan oleh penduduk lokal.

Dia melihat budaya poligami yang masih marak di Darfur. Seorang laki-laki bisa memiliki empat istri yang ditempatkan di rumah terpisah. Dia mendengar sering kali ada masalah serta konflik yang menyebabkan hak-hak seorang perempuan terabaikan.

“Sebagai seorang perempuan dan juga seorang ibu, hati saya selalu tersentuh mendengar kasus seperti ini. Saya selalu tergerak untuk membantu. Hanya saja, saya tidak boleh terlalu jauh mengintervensi. Saya hanya bisa merekomendasikan ke polisi setempat,” katanya.

Polisi Perdamaian

Sejak tahun 2008, Polri telah mengirimkan personelnya untuk mengikuti misi perdamaian di African Union - United Nations Hybrid Operation in Darfur (UNAMID), Sudan. UNAMID berdiri sejak 31 Juli 2007 yang bertujuan untuk melindungi warga sipil serta berkontribusi pada keamanan untuk bantuan kemanusiaan, serta membantu proses politik agar berjalan lancar.

Data yang dihimpun United Nation Peacekeeping, Indonesia mulai mengirim polisi ke UNAMID sejak tahun 2008, dan saat ini berada di urutan ke-enam negara yang terbanyak mengirim polisi ke UNAMID yakni 145 orang.

Polri juga selalu rutin mengirim pasukan untuk misi perdamaian di Afrika Tengah. Misi perdamaian itu dinamakan United Nations Multidimensional Integrated Stabilization Mission in The Central African Republik (MINUSCA).

Menurut Yuli, polisi yang bertugas sebagai peace-keeper terbagi atas dua peran dan tanggung jawab. Pertama, Individual Police Officers yang tugasnya adalah memberikan perlindungan kepada civilian dan para pengungsi, yang disebut Internally Displaced Person (IDP). Kedua, Formed Police Units (FPU) yang betugas untuk melindungi personel dan fasilitas PBB, melindungi warga sipil, serta mendukung operasi kepolisian di Sudan.

Sebelum bertugas sebagai Individual Police Officer di Darfur, Yuli menjalani seleksi yang cukup ketat. Dia mengikuti beberapa tes, yakni bahasa Inggris, menyetir, dan menembak. Dia menjalani dua tahap seleksi. Seleksi pertama dilakukan Mabes Polri, sedangkan seleksi kedua dilakukan PBB.

Dari sekian banyak polisi dalam angkatannya hanya lulus 100 orang, kemudian nama-nama tersebut dikirim markas PBB di New York dan barulah diseleksi kembali, sampai akhirnya 43 orang dinyatakan lolos. Lima di antaranya polisi wanita.

Sebelum berangkat, dia pun sempat mendapatkan pelajaran bahasa Arab agar berkomunikasi dengan warga di sana. “Pelajaran ini sangat berguna saat di lapangan. Walau pun hanya dengan assalamualaikum warga di sana sudah senang," ungkapnya.

Sebagai bagian dari Garuda Bhayangkara, sebutan untuk polisi saat bertugas sebagai pasukan perdamaian, Yuli mengaku punya banyak suka dan duka. Dia menghadapi banyak tantangan. Di antaranya adalah Sudan merupakan wilayah yang sering dilanda bencana.

Pengalaman paling tidak nyaman adalah ketika terjebak banjir di tengah gurun pasir. Saat itu, dia bersama rombongan mendatangi pos pengamanan tidak jauh dari markas.  "Saya ikut patroli siang. Cuaca tidak kelihatan akan hujan. Tiba-tiba cuaca berubah jadi gelap dan hujan deras. Keadaan di tempat saya patroli saat itu langsung banjir sehingga kita tidak bisa kembali ke kamp saya," ungkapnya.

saat memotret Ibu Yuli
saat ngopi dengan Ibu Yuli

Sialnya pada saat itu, Yuli tidak membawa sedikit pun perbekalan makanan, dia hanya membawa satu botol air mineral. Ia berfikir saat itu, tempatnya patroli tidak jauh dari camp utama hanya 20 menit perjalanan.

Karena tidak bisa kembali akibat jalan yang dilaluinya berubah menjadi sungai lumpur, ia pun terpaksa harus bermalam. Dengan berbekal satu botol minuman mineral Yuli harus bertahan hingga keesokan harinya.

"Saya tidak bawa persediaan makanan saat itu, karena jalan yang dilalui tergenang air makanya kita terjebak. Kawan dari FPU Mesir yang mencoba mencari jalan ke luar pun ternyata tidak bisa jadinya kami bermalam," ujarnya.

Pengalaman itu membuatnya lebih berhati-hati dan membuat perencanaan yang matang. Dia tidak ingin mengalami situasi seperti ini lagi. Pengalaman menjadi guru terbaik baginya.

Indonesian Way

Sebagai perempuan yang bertugas di area konflik, Yuli tidak pernah mengkhawatirkan apapun. Dia terkenang ibunya yang pernah berkata, selagi dia memperlakukan orang lain dengan baik, maka dirinya pasti akan diperlakukan dengan baik.

“Bagi kita orang Indonesia, senyum dan sapa adalah hal biasa. Setiap hari kita melakukannya. Tapi saat berada di negara lain, apalagi yang tengah mengalami konflik, senyum dan sapa menjadi diplomasi yang sangat efektif. Saya bisa diterima siapapun,” katanya.

Salah satu pendekatan Indonesia dalam misi perdamaian adalah community engagement. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk Civil-Military Cooperation (CIMIC) yang biasanya berupa bantuan kemanusiaan yakni mengajar dan memberikan layanan kesehatan. Selain itu, juga melakukan fasilitasi gencatan senjata dan proses perdamaian.

saat di kamp

Pendekatan ini membuatnya mudah diterima warga sipil. Dia membangun kedekatan dengan para ibu yang sedang mengantri air bersih. Dalam beberapa foto, terlihat dirinya saling menyapa dan berdialog dengan para ibu.

“Pengalaman saya, perempuan lebih diterima oleh masyarakat lokal dan mampu memberikan rasa aman, khususnya bagi perempuan dan anak-anak di kamp pengungsi. Budaya Indonesia dapat diterima dengan baik di masyarakat lokal. Kita cukup beri senyum, sapa dan salam,” katanya.

Yuli dan perempuan lain yang bergabung dalam peace-keeper menjadi duta bangsa Indonesia yang menyebarkan benih-benih perdamaian. Yuli memberi kontribusi penting untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak sebagai pihak yang paling banyak menjadi korban. Yuli menunjukkan betapa pentingnya pendekatan kemanusiaan demi membantu mereka yang dilanda konflik.

Yuli dan Polwan Indonesia lainnya telah menunjukkan kasih sayang dan semangat persaudaraan di negeri yang jaraknya ribuan kilometer. Dalam diri mereka, terdapat wajah Indonesia yang sesungguhnya yakni wajah yang welas asih, wajah yang mengedepankan "kemanusiaan yang adil dan beradab."

Mereka adalah anak bangsa yang menjalankan amanat konstitusi yakni “turut menciptakan perdamaian dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.”