Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Sebuah Tanya di Pohon Kehidupan



DI kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, aku melihat pohon besar berdiri kokoh di depan rektorat. Konon, pohon itu berasal dari Afrika, dan telah beberapa tahun ditanam di Subang, Jawa Barat. Setiap unsur dari pohon itu bisa dimanfaatkan oleh manusia, baik akar, batang, daun, dan buah. Ketika kurenungi, pohon itu adalah simbol dari falsafah kehidupan. Semakin kamu berguna, semakin kamu disayangi.

Pohon itu disebut pohon baobab, yang merupakan nama genus Adansonia. Pohon ini menyimpan air di dalam batangnya, dengan kapasitas diatas 120.00 liter untuk bertahan dalam kondisi lingkungan sekitarnya. Batangnya bisa diolah seperti sagu. Daunnya bisa dimakan sebagai lalapan. Buahnya manis dan menyegarkan.

Pohon itu ditanam  di sisi kanan dan sisi kiri Rektorat UI di kampus Depok. Pohon ini merupakan hibah dari Pabrik Gula Rajawali II dan PT Sang Hyang Sri (Persero) untuk UI dalam rangka konservasi. Menurut satu sumber, pohon ini adalah sebuah pohon yang sangat langka yang usianya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan tahun. Saat ini pohon-pohon yang dipindahkan ke UI usianya di atas 100 tahun.

Di Afrika, pohon itu sering disebut pohon kehidupan, mengingat usianya yang sangat tua. Bisa jadi, pohon ini menjadi saksi dari silih bergantinya kehidupan, pasang surut dinamika manusia menemukan dirinya, hingga bagaimana satu kehidupan hadir dan menggantikan kehidupan lain. Alam semesta laksana sebuah siklus atau daur yang terus melingkar dan tak berkesudahan.


Pohon itu mengingatkanku tentang banyak hal. Bahwa kehidupan ini tidaklah sepanjang usia pohon itu. Hanya mereka yang berguna bagi sesamanyalah yang kelak akan bertahan melintasi waktu. Mereka yang berguna itu bisa punah, namun nama baik serta karyanya akan terus diawetkan, dilestarikan, dan dijadikan pelajaran bagi generasi mendatang.

Ketika memotret pohon itu, ada kata tanya yang tiba-tiba menusuk batinku. “Apakah diriku akan seberguna pohon itu sehingga ditanam di mana-mana dan dilestarikan?” Entahlah. Aku sendiri ragu. Namun aku tak ingin menanam ambisi terlampau dalam. Aku tak mimpi mewariskan banyak jejak di belantara peradaban. Aku hanya ingin berguna di lingkup kecil. Minimal di keluarga kecilku. Minimal aku bisa menghadirkan senyum bahagia serta cinta di wajah Ara, kekasih hatiku, yang saat ini selalu bahagia ketika melihatku datang lalu berteriak "Ayaahhh!!!"


Nujuman Jusuf Kalla di Arena Pilpres


Jusuf Kalla (foto: new.uai.ac.id)

DARI sekian banyak politisi tanah air yang bertarung di kancah kepresidenan, Jusuf Kalla adalah satu dari sedikit politisi yang paling pandai membaca peta politik lalu menempatkan dirinya pada posisi paling strategis. Di ajang pemilihan umum (pemilu) kali ini, ia telah didekati beberapa calon presiden (capres). Ke manakah gerangan ia berlabuh? Inilah kisah terbaru tentang beliau.


HARI itu, di akhir tahun 2003, aku ikut dalam obrolan di satu ruangan kecil di sebuah showroom mobil di Makassar. Bersama beberapa sahabat jurnalis dan politisi, kami sama-sama bercerita tentang pemilihan umum (pemilu) yang akan berlangsung setahun berikutnya. Diskusi kami ngalor-ngidul dan tak jelas arahnya. Kami sama-sama tak bisa menebak seperti apa pemilu mendatang, serta siapa yang akan memenangkan kursi presiden.

Di tengah kebuntuan diskusi, pintu ruangan itu tiba-tiba berderit. Masuklah beberapa orang yang kemudian ikut bergabung dengan kami. Seorang di antaranya adalah Jusuf Kalla, mantan Menko Kesra. Pada saat itu, ia didampingi Aksa Mahmud, pemilik grup Bosowa, yang juga menjadi bos dari perusahaan media tempatku bekerja. Kami memang sengaja menunggu Pak JK untuk diskusi dengan tema-tema politik. Di tengah kesibukannya, ia mau saja datang demi berbagi ilmu.

Obrolan dikemas dalam suasana santai dan penuh canda. Pak JK mengambil spidol dan mencoret-coret di papan. Pemilu masih setahun. Tapi ia sudah tahu partai apa yang akan memenangkan pemilu.. Saat itu, ia adalah peserta konvensi Partai Golkar untuk memilih calon presiden. Namun, ia sudah yakin kalau dia tak akan terpilih.

Sebagaimana lazimnya pertandingan, sebuah prediksi hanyalah penghampiran dan jelas bukanlah kemutlakan sebab politik Indonesia laksana pertandingan yang sukar dibaca hasil akhirnya. Saat itu, aku tetap mencatat semua nujuman JK tersebut. Ia menebak lima besar hasil pemilu serta peluangnya sendiri ketika berpasangan dengan seorang calon presiden. Dengan nada bergurau, ia menantang semua yang menghadiri diskusi itu dengan kalimat, “Lihat setahun lagi. Apakah tebakan ini tepat ataukah tidak.“

Usai pemilu di tahun 2004, aku tersentak sebab tebakan tersebut tak meleset sama sekali. Bahkan, usai pemilihan presiden, lagi-lagi langkahnya tepat dan sesuai dengan prediksinya sendiri setahun sebelumnya.

Sebagaimana dikatakan banyak pengamat, JK adalah politisi yang unik sebab bisa mengkalkulasi sebuah peta politik yang berlangsung. Pengalamannya sebagai saudagar, telah menempanya dengan baik sehingga prediksi dan analisisnya punya presisi (ketepatan) yang tinggi ketimbang para pengamat politik yang kadang terlampau akademis dan mendewakan beragam survei. Kalkulasinya terukur dan langsung bisa menebak fenomena keakanan hanya dengan mengamati sekeping realitas kekinian.

Makanya, menafsir langkah JK laksana menafsir sebuah pertandingan yang dinamis dengan hasil yang sukar ditebak. Sebagaimana dicatat antropolog Christian Pelras, sosok JK adalah prasasti hidup dari dinamika manusia Bugis yang unik dan melanglangbuana ke beragam penjuru. Ia bukanlah tipe pemain politik yang diam, efisien, dan taat asas dalam dinamika politik. Ia lincah dan menerabas sana-sini, suatu kemampuan yang tak terlalu disenangi mereka yang mendambakan politik sebagai mesin yang berjalan rapi dan teratur dengan pola tertentu.

Sayang, duetnya dengan SBY tidak berlanjut. Meskipun akhirnya maju dalam pemilihan presiden di tahun 2009, ia sudah tahu kalau kansnya sangat kecil. Hitung-hitungannya kembali memang tidak keliru. Tetapi ia ingin menjaga sesuatu yang lebih besar, mulai dari soliditas partainya hingga marwah atau wibawa partainya.

Seorang sahabat di lingkaran Pak JK menuturkan kalau yang tak menginginkan Pak JK adalah Ibu Ani. Kubu Pak SBY mengkhawatirkan popularitas Pak JK yang akan terus meroket. Selain itu, kubu Pak SBY justru mempersiapkan Ibu Ani untuk memenangkan pemilu di tahun 2014. Jika Ibu Ani tak diterima publik, maka akan ada anggota keluarga lain yang akan bisa memantik simpati publik. Ternyata, hitung-hitungan kubu SBY tak satupun yang sesuai prediksi. Malah, setelah turun dari kursi kepresidenan, SBY terancam akan terjerat oleh banyak kasus.

***

HARI itu, di tahun 2011, rumah Pak JK di Pondok Indah kebanjiran tamu. Ia mengundang banyak orang untuk hadir di acara berbuka puasa. Aku datang dan melihat ada banyak tokoh di situ. Di antaranya adalah Anwar Nasution (mantan Gubernur BI), Aksa Mahmud, Sofjan Wanandi, Anies Baswedan, Mahfud MD, Ferry Mursyidan Baldan, Effendi Gazali, Quraish Shihab, Akbar Faizal, Yudi Latif. Aku juga sempat melihat Ippank Wahid, seorang konsultan politik ternama. Aku sendiri hadir untuk menemani seorang teman yang naksir pada Chaerani, putri bungsu Pak JK.

Seusai buka puasa dan salat magrib, Pak JK lalu bercerita bahwa dirinya kerap diminta Pak SBY untuk menyelesaikan konflik di beberapa daerah. Beberapa orang yang hadir langsung memprotes. Saat itu, Anies Baswedan beberapa kali mengingatkan Pak JK untuk tak menghadirinya. Ia tak ingin Pak JK menjadi bagian dari permasalahan yang sedang disulut oleh pemerintahan SBY-Boediono. Di tengah protes dan komentar itu, Pak JK tiba-tiba mengeluarkan kalimat yang membekas di pikiranku. “Selagi bangsa ini membutuhkan saya, maka saya tak mungkin menolak,” katanya.

Kulihat Pak JK ingin menunjukkan kepada banyak orang bahwa meskipun pilihan politik berbeda, namun kecintaan pada negara harus tetap dijaga. Ketika negara memanggil, ia akan tetap datang. Terbukti, ia tak pernah menolak panggilan Pak SBY untuk diskusi tentang penanganan konflik, meskipun rekomendasi Pak JK lebih sering diabaikan Pak SBY.

Jusuf Kalla di acara PMI (foto: kompas.com)

JK memang tak pernah menghilang dari lapangan pengabdian. Ia memimpin Palang Merah Indonesia (PMI) yang selalu hadir di tengah bencana. Ia juga tak pernah memerintahkan anggotanya memosting apa yang dilakukan lembaganya di media sosial. Ia juga memimpin Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang aktif untuk menggalang dana perbaikan beberapa masjid. Ia juga masuk ke detail-detail, seperti renovasi masjid, hingga sound system masjid yang katanya sering membuat jamaah tak bisa mendengarkan suara khatib. Tak hanya itu, ia juga memboyong Jokowi dari Solo ke Jakarta demi menjawab tantangan yang lebih besar.

Ia menunjukkan bahwa kerja-kerja keras membangun bangsa bisa dilakukan dari mana-mana. Pengaamannya menebar damai tak hanya diterapkan di tanah air, ia pun memberikan kontribusi di Rohingya, Myanmar.  Ia pun dundang ke berbagai negara demi membagikan pengalamannya sebagai juru damai.

Seusai bercerita tentang kesediaannya untuk hadir memenuhi undangan Pak SBY, diskusi lalu mengalir, sebagaimana biasa. Kembali, Anies Baswedan menyebut tentang janji kemerdekaan yang harus ditunaikan. Ia lalu meminta Pak JK untuk mempertimbangkan dengan serius jika ada anak bangsa yang memintanya menjadi calon presiden. Anies punya pernyataan menarik tentang usia sepuh yang sering digunakan sebagai jurus serangan pada Pak JK. “Usia itu tidak dilihat dari seberapa lama seseorang menjalani hidup. Namun seberapa segar dan progresif idenya untuk bangsa ini,” katanya.


***

DUA hari lalu, aku sedang minum kopi bersama seorang staf pribadi Pak JK di dekat Sarinah, Jakarta. Kami sama-sama membahas peta politik yang terus berubah. Pemilu telah usai. Peta koalisi mulai terbuka. Kami juga membahas tentang para pengamat politik yang seolah lebih pandai dari para politisi. Kami jarang menemukan pengamat yang netral. Semua bekerja berdasarkan pesanan pemberi order, lalu berusaha mengarahkan peta-peta koalisi capres. Namun, saat bahas posisi JK, kami sama terdiam. Entah ke mana gerangan ia akan berlabuh, yang pasti ia akan menjawab panggilan berbakti pada negara, di lapangan apapun.

Kring... Kring... Kring ...

Telepon kawanku berbunyi. Mulanya ia serius. Beberapa detik berikutnya, wajahnya seketika cerah. Ketika menutup telepon, ia lalu berkata dengan suara pelan, “Jokowi telah menemui Pak JK. Ia membawa mandat Ibu Mega sebagai capres. Ia berharap Pak JK bersedia mendampinginya sebagai cawapres.”

Hah?



Belajar Bahagia di KRL Jakarta-Bogor



TAK kusangka, warga Jakarta adalah mereka yang punya daya tahan luar biasa. Di tengah situasi yang tak nyaman, mereka tak pernah protes. Palingan mereka hanya menggerutu. Namun sekian detik kemudian, mereka lalu tenang, seolah tak ada apa-apa. Mereka sungguh hebat karena bisa tenang di tengah situasi yang tak nyaman.


SEBULAN ini, aku lebih banyak di Jakarta dan Bogor. Hari-hariku adalah perjalanan dengan kereta rel listrik (KRL) tujuan Jakarta Bogor. Aku menjadi bagian dari ribuan orang yang menghabiskan waktu demi menunggu kereta datang, berjejalan di kereta, lalu berkawan dengan bau peluh dan keringat. Aku mesti siap sedia jika tiba-tiba kereta bermasalah hingga tak bisa tepat waktu tiba di tujuan.

Dua hari lalu, aku naik kereta dari Stasiun Duren Kalibata. Baru jalan beberapa meter, kereta tiba-tiba berhenti. Ada pengumuman tentang masalah jaringan listrik di Stasiun Pasar Minggu. Kereta tak bisa melaju. Di sebelahku, seorang perempuan muda sempat melepaskan napas kekecewaan. Lelaki di ujung sana sempat menggerutu. Setelah itu keduanya lalu diam dan meneruskan aktivitas dengan handphonenya. Mereka bisa dengan cepat berpindah dari marah dan kecewa menjadi cuek dan tenang.

Aku teringat tulisan peneliti Jepang Hisanori Sato. Katanya, warga Jakarta adalah warga paling hebat sedunia. Mereka tak pernah protes terbuka atas kemacetan dan ketidaknyamanan pelayanan publik di Jakarta. Mereka juga punya daya tahan karena meskipun didera ketidaknyamanan. Mereka tetap melanjutkan kehidupan sebagaimana biasa.

Kupikir Sato benar. Sebagai warga baru Jakarta, aku bisa merasakan ketidaknyamanan. Di beberapa negara, warga akan mudah protes ketika ada pelayanan publik yang tidak memuaskan. Mereka bisa membuat petisi, mengajukan protes, atau menggalang opini lewat media massa. Namun di Jakarta, tak banyak warga yang memprotes.


Jangan-jangan ini terkait dengan budaya nrimo di kalangan warga kita. Dalam banyak hal, kita lebih suka menerima keadaan secara apa adanya, tanpa hendak memprotes dan mengajukan beragam pertanyaan kepada pemerintah. Padahal, dalam satu negara demokrasi, adalah hal biasa jika seorang warga mempertanyakan banyak ketidaknyamanan yang dialaminya kepada pemerintah.

Bisa pula kita mengatakan kalau kepasrahan warga itu muncul karena paham bahwa tak ada gunanya marah dan kecewa. Lagian, kalaupun hendak protes, maka diajukan ke mana. Apakah pemerintah mau mendengar? Jangan-jangan malah dipimpong ke birokrasi, yang seiring waktu, suara protes itu menguap entah di mana.

Aku memang harus belajar banyak pada warga biasa Jakarta yang sedemikian tahan dnegan berbagai keidaknyamanan. Naluri protes yang sering tumbuh dalam diriku mesti ditebas. Saatnya meluaskan hati, menerima kenyataan bahwa Jakarta bukanlah kota yang nyaman. Saatnya menerima kenyataan bahwa kereta yang kunaiki bisa macet kapan saja. Di titik itu aku mesti bahagia dengan semua ketidakberesan. Hiks...



Pesona Papua di Indonesian Idol


saat Nowela bernyanyi (foto: tribunnews.com)

DI ajang Indonesian Idol, pesona seorang perempuan Papua telah menyengat tanah air Indonesia. Perempuan itu menjadi magnet yang menawan hati banyak orang ketika berani membawakan lirik berbahasa Papua di ajang pencarian bakat bermusik paling spektakuler itu. Maka Indonesian Idol menjadi panggung untuk meneriakkan eksotika tanah Papua. Perempuan itu adalah Nowela Mikhaela Elizabeth Auparay.

***

“Kaka... Tidak lama lagi Nowela akan tampil. Kaka harus lihat pesona Papua.”

Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku. Pengirim pesan itu adalah Albert Komboy, seorang pemuda Papua yang tinggal di di Kaimana, Papua. Aku bukan penggemar acara Indonesian Idol. Namun pesan yang disampaikan dari tepi laut biru dengan pemandangan sunset terindah di dunia itu membuatku sedemikian penasaran.

Aku akhirnya menyaksikan penampilan Nowela. Melalui layar televisi, aku melihat tayangan warga Papua yang memenuhi studio. Mereka berteriak-teriak menyebut nama Papua. Di berbagai jejaring sosial, nama Nowela digemakan sebagai ikon kawasan timur. Ia dianggap sebagai representasi kawasan timur di layar televisi yang lebih banyak menampilkan wajah-wajah putih keturunan Eropa atau Asia Timur.

Beberapa malam lalu, Nowela tampil menyanyikan lagu Sang Dewi, yang dipopulerkan Titi Dj. Sebagaimana biasa, ia kembali membuat semua juri terkesan. Salah satu juri, Titi Dj memberikan standing applause untuknya. Namun aku paling terkesan dengan penampilannya tiga minggu lalu saat ia menyanyikan lagu Let It Go, yang merupakan soundtrack film Frozen.

Saat itu, kupikir ia akan menyanyi sebagaimana Demi Lovato, penyanyi aslinya. Ternyata tidak. Ia mulai lagunya dengan berteriak nyaring dalam bahasa yang baru pertama kudengar. Setelah itu, gendang ditabuh. Ada suara-suara yang mengingatkanku pada lagu Circle of Life dalam film Lion King yang menggambarkan rimba Afrika dengan hutan-hutan lebat. Seorang teman berbisik bahwa ia telah menambahkan lirik berbahasa Papua dalam lagu itu. Pantesan, bahasanya agak asing di telingaku.

Mendengar lagunya, pikiranku terbawa ke tanah Papua. Aku membayangkan pepohonan lebat dengan dahan yang menjulang tinggi ke angkasa. Aku membayangkan rimba raya yang dilalui kasuari serta burung cenderawasih. Aku membayangkan alam liar Papua yang begitu diidamkan oleh semua penjelajah dan penikmat bumi yang perawan. Sayang, sebuah perusahaan besar berbendera negara asing tengah mengeruk bumi Papua yang amat indah itu.

“Akhirnya, ada juga orang Papua di tivi kita,” canda Albert melalui ponsel. Aku tercenung memikirkannya. Ia benar. Televisi kita memang lebih banyak menampilkan sinetron tentang sosok-sosok berkulit putih dan terang. Di berbagai acara sinetron di televisi kita, wajah yang tampil adalah wajah yang itu-itu saja. Kalau bukan oriental khas Asia Timur, wajah yang sering muncul adalah peranakan Eropa.

Dalam hal selera, bangsa kita adalah bangsa yang terbelah. Di satu sisi, kita berulang-ulang menyebut kecintaan pada tanah air, namun di sisi lain kita justru seringkali lebih menaruh kekaguman pada mereka yang berwajah khas bangsa lain. Entah, apakah pemikiran kita adalah warisan dari penjajahan bangsa asing yang berlangsung sedemikian lama ataukah tidak. Yang pasti, jejak-jejak yang mengagungkan wajah khas asing itu masih bisa ditemukan dengan jelas di mana-mana.

Namun di tengah penyeragaman selera dan pengidolaan wajah khas asing itu, ada saja sejumlah warga kawasan timur Indonesia yang tampil di televisi dan secara konsisten membantu kita untuk menautkan mozaik keindonesiaan. Sepanjang ingatanku, di masa Orde Baru, wajah yang sering tampil di televisi adalah Luther Kalasuat. Ia menjadi salah satu presenter berita di TVRI.

Setelah era Luther Kalasuat, selanjutnya adalah era Edo Kondologit. Pemuda asal Sorong ini pertama muncul dari ajang pencarian bakat bermusik Asia Bagus. Meskipun ia tak juara di ajang ini, ia akhirnya sukses melenggang ke Jakarta sebagai seorang penyanyi dengan suara unik dan menggetarkan. Kemunculan Edo menjadi ikon bagi tanah Papua dan kawasan timur lainnya yang sukses wara-wiri di berbagai stasiun televisi kita.

aksi panggung Nowela (foto: merdeka.com)

Meski tak banyak, beberapa talenta dengan kemampuan seni asal kawasan timur mulai merambah stasiun tivi di dekade kekinian. Arie Kriting, pemuda asal Pulau Buton, telah lebih dulu menjadi ikon timur di ajang Stand Up Comedy yang tampil di satu stasiun televisi. Ia juga sukses bermain film Comic 8, yang kemudian melambungkan candaan khas orang timur.  Selain Arie, ada pula sosok Albert Fakdawer dan Minus Karoba yang bermain dalam film Denias, juga ada Michael yang pernah menjajal Indonesian Idol.

Melengkapi kesuksesan mereka, Nowela hadir di acara Indonesian Idol. Kehadirannya menjadi pertanda di ruang hati banyak orang bahwa sesungguhnya ada bakat-bakat hebat dalam bidang seni di belahan timur Indonesia. Bahwa kawasan timur tidak hanya menyimpan talenta hebat dalam sepakbola, sebagaimana ditunjukkan oleh Boaz Salossa atau Patrich Wanggai.

Mozaik Keindonesiaan

Pesan yang disampaikan Albert Komboy tentang jarangnya warga Papua tampil di televisi membuatku tercenung. Hari-hari kita dijejali oleh tayangan yang tidak berkualitas dan mendidik. Televisi kita gagal pula menyuguhkan mozaik keindonesiaan kita yang sedemikian luas dan kaya. Aku teringat pada berita bahwa warga di perbatasan Kalimantan lebih menggemari tayangan televisi Malaysia ketimbang televisi Indonesia. Mengapa?

Sebab mereka menemukan representasi dirinya di televisi Malaysia itu. Mereka menemukan para aktor dan aktris yang berbicara dengan logat sehari-hari mereka, yang membahas problem-problem kecil yang sehari-hari mereka hadapi. Sementara tivi kita sibuk memberitakan politik dan isu-isu yang hadir di Jakarta, Jawa, dan Bali. Media kita amat jarang melirik ke timur, di kawasan-kawasan yang sedemikian eksotik dan seyogyanya mendapat porsi pemberitaan yang seimbang.

“Kaka harus tahu kalau ada banyak emas di Papua. Tidak hanya di Freeport, tapi juga di Indonesian Idol,” kata Albert melalui SMS yang dikirimkannya. Ia benar. Kita memang jarang melirik ke timur. Padahal, ada banyak talenta hebat yang serupa mutiara di tepi laut Yapen Waropen. Emas tak akan pernah berkilau jika tak ditempa dengan teknik dan cara yang benar.

Jika hari ini talenta Nowela, seorang perempuan asal Suku Arnus, kian cemerlang bersinar, maka itu menjadi cerminan dari bakat-bakat terpendam di kawasan timur yang harusnya diangkat ke permukaan demi merepresentasikan identitas keindonesiaan yang sedemikian beragam dan kaya-raya. Semoga hadirnya Nowela tak hanya memantik kebanggaan pada tanah Papua, namun juga tanah air Indonesia yang kecintaan atasnya mengalir dalam nadi setiap nadi anak bangsa.


Sensasi Jadi Headline (21)


SENANG juga bisa menjaga agar blog pribadi di Kompasiana tetap terisi dengan tulisan baru. Meskipun saya cukup produktif menulis, tidak semua tulisanku dipilih jadi headline (HL) selama sebulan ini. Jika kuhitung barangkali sudah lebih 100 tulisanku yang dipilih sebagai HL. Semoga saja, aku bisa menjaga konsistensi menulis di kanal social blog terbesar itu.

Berikut, beberapa tulisan yang dipilih sebagai HL selama dua bulan ini.

Rudi Habibie, Cinta, dan Teka-Teki Sejarah
Surat buat Tan Malaka
Obral Adat demi Sang Presiden
Mamasa, Surga Gaib di Pegunungan Sulawesi
Lelaki Kurus di Belakang Baliho Garuda





Lelaki Kurus di Balik Baliho Garuda


manusia gerobak

DI balik gegap gempita dan janji-janji selangit tentang membantu rakyat kecil yang kadang diteriakkan di gedung mewah atau di atas kuda seharga tiga miliar rupiah, ada sejumlah orang yang justru bertahan dan bertarung dengan penuh harga diri. Mereka bukanlah pemilik kendaraan mewah yang suka berjanji itu. Mereka adalah rakyat biasa yang menjalani hidup dengan kerja keras dan penuh dedikasi. Lewat bahasa sederhana, mereka mengolok-olok politisi yang sibuk mencari kursi dan kuasa.

***

TAK jauh dari baliho besar bergambar garudan dan wajah seorang presiden, lelaki itu tertidur di atas gerobaknya. Pukul 10.00 pagi, lelaki kurus itu masih saja tidur, padahal di kiri kanannya, kenderaan lalu lalang. Di saat orang-orang juga berbondong-bondong menuju tempat pemungutan suara (TPS) untuk menyalurkan hak pilih, ia tetap terlelap.

Di dekat kompleks apartemen di Kalibata, aku menyaksikan lelaki di atas gerobak itu. Ketika aku mendekati gerobaknya, aku melihat barang bekas, di antaranya gelas plastik, aneka botol bir, serta banyak kantung plastik bertebaran. Lelaki itu tiba-tiba saja membuka mata. Melihatku, ia tersenyum, lalu tiba-tiba berkata dengan suara pelan, “Mas gak pergi nyoblos?” Entah kenapa, hatiku tiba-tiba dibasahi oleh keharuan mengingat betapa dirinya mengingat kewajiban semua warga negara, padahal negara itu sering mengabaikan rakyatnya.

Hampir setiap hari, aku melihat lelaki itu di sekitar tempatku bermalam. Kadang ia tidur di bawah baliho seorang presiden yang saban hari selalu berteriak tentang kesejahteraan rakyat kecil sambil mengepalkan tangan di atas kuda seharga 3 miliar rupiah. Sering pula lelaki itu membawa gerobaknya dan parkir di bawah baliho calon pemimpin berlatar pengusaha besar yang memiliki gedung-gedung pencakar langit.  Kadang pula ia duduk di tengah bawang-barang bekas yang dikumpulkannya sambil memperhatikan gambar seorang kepala daerah yang dicitrakan sederhana.

Namanya Poniman. Usianya 70 tahun. Orang-orang menyebut profesinya sebagai manusia gerobak. Ia menjalani hari di atas gerobak itu. Ia bangun, berjalan, mencari nafkah, hingga tidur di atas gerobak itu. Ia serupa keong yang ke mana-mana membawa gerobaknya. Tapi ia menolak disebut pengemis. Ia bekerja dengan penuh dedikasi demi mengumpulkan barang bekas, lalu menjualnya kepada para pengumpul.

Di gerobak itu pula, ia membawa tas ransel kumal yang isinya adalah seluruh benda kepunyaannya. Aku melihat kantong hitam yang isinya baju kumal dan handuk lusuh. Jangan terkejut. Ia tak punya rumah. Ia tinggal di gerobak itu dan setiap hari berkelana demi menghindari kejaran petugas yang menganggapnya seperti sampah di jalan raya.

Ia berkelana seorang diri. Namun beberapa manusia gerobak lainnya justru adalah keluarga. Ayah, ibu, dan anak sama-sama tinggal di gerobak tua itu. Mereka hidup, mencari makan, dan istirahat di gerobak tersebut. Mereka meletakkan semua ‘harta’ dan hasil jerih payahnya di gerobak itu. Bagi mereka, kosa kata hidup adalah berpindah-pindah demi mengais-ngais rezeki di jalan-jalan kota Jakarta.

Mulanya ia tinggal di lapak kumuh di dekat pembuangan sampah. Namun, hidup di lapak itu sungguh tak nyaman baginya. Setiap saat ia harus siaga dan melarikan diri ketika aparat datang untuk ‘menggaruknya.’ Ia dianggap sampah yang mengotori jalan-jalan. Ia dianggap wajib dienyahkan. Keberadaannya mengotori wajah kota yang mestinya nampak kaya dan teratur sebagaimana kota-kota di Eropa. Maka berkelanalah dirinya. Ia hidup berpindah dan sesekali berkelahi dengan nasib yang seolah hendak menyingkirkannya dari kota. 

***

HARI ini, jalanan lengang. Poniman memilih tak mencoblos. Ketika kutanya, ia langsung terkekeh. Ia megaku tak punya KTP, kartu keluarga, atau kartu identitas yang bisa menjadi prasyarat agar dirinya bisa mencoblos. Ia memilih bertahan di gerobaknya sembari menyaksikan mereka yang baru saja pulang mencoblos.

“Siapa presiden yang kamu suka?” tanyaku
“Tak satupun. Semuanya sama-sama mau cari kuasa. Kalau udah di atas, pasti lupa sama kita-kita.”
“Tapi kan bapak bisa memilih yang kelak akan membantu bapak mendapatkan kehidupan layak,” kataku dengan sok bijak.
“Layak? Hmm... Justru saya sedang hidup layak. Saya bebas ke mana-mana. Mereka yang hidup tak layak. Mereka tak sebebas saya karena harus mikir uang miliaran, mikir bini di apartemen sono, hingga mikir nama baik. Saya mah bebas. Hahaha.”

Ia lama terkekeh. Ia lalu menengok ke baliho seorang calon presiden yang menyebut tentang kemandirian bangsa. Ternyata rakyat seperti dirinya justru punya kemandirian hebat untuk terus bertahan. Di tengah janji para capres yang serba harum itu, ia sedang bertarung dengan nasib, tanpa menitip banyak harapan.

Apa yang bapak inginkan? Ia terdiam. Keinginannya hanya satu. Ia berharap ketika aparat keamanan datang, ia bisa segera pindah ke tempat aman. Di dalam dirinya kulihat kebebasan. Jika manusia lain selalu kembali di rumah yang ukurannya sekian kali sekian meter, Poniman bisa tidur di semua sudut jalan Jakarta. Ia bebas memilih hendak istirahat di manapun. Boleh jadi, ia pernah tidur di jalan raya depan hotel mewah yang pernah Anda tiduri. Boleh jadi ia pernah mengais sampah makanan yang pernah Anda buang di jalan raya. Ia adalah manusia bebas. Bebas tidur di manapun. Bebas makan apapun.

Poniman di dalam gerobaknya

Hebatnya, lelaki di hadapanku ini tak pernah sedikitpun memberi iming-iming janji. Ia juga tidak terjebak pada materi ataupun penampakan lahiriah. Ia tak peduli dengan janji-janji para lelaki berjas yang katanya hendak membantu orang-orang sepertinya. Ia hanya peduli pada gelas plastik bekas yang berserakan di jalan. Dalam sehari, ia bisa mendapatkan penghasilan hingga sepuluh ribu rupiah, sebuah jumlah yang hanya cukup untuk makan.

Melihat Poniman, aku dicekam kesedihan. Setelah puluhan tahun republik ini merdeka, namun pria seperti Poniman tetap saja menjamur di kota-kota. Telah beberapa kali presiden berganti, namun kemiskinan pria seperti Poniman menjadi realitas yang selalu hadir di mana-mana. Ada banyak politisi dan kandidat presiden yang balihonya memenuhi jalan-jalan. Ada banyak janji yang terucap di setiap lima tahun.

Tapi manusia-manusia seperti Poniman terus bertambah. Mereka adalah potret buram negeri yang para elite politiknya adalah mereka yang rela menghabiskan miliaran uang demi iklan televisi. Politisinya adalah para koruptor yang pandai berkongkalikong dengan sesamanya, menguras uang rakyat, lalu berpindah-pindah dengan kendaraan mewah berharga miliaran rupiah, kemudian tidur di atas kasur empuk di rumah-rumah yang serupa istana. 

Di tengah bombardiran janji politisi, Poniman justru kuat menjalani hari-harinya. Ia tetap bekerja dengan segala energi terbaik, demi memastikan dirinya tetap melihat matahari. Ia menganyam impian dari gerobak tua itu. Tapi ia bekerja keras dan bertindak jujur dalam setiap harinya. Ia tak pernah memberi janji, tapi selalu berusaha menyenangkan semua orang. Di tepi apartemen itu, ia tak pernah lelah tersenyum dan bersahabat dengan siapa saja.

Tanah air kita menyimpan banyak sosok hebat sebagaimana dirinya. Sayang, mata kita sering hanya terpaku pada mereka yang menjalani hari di dalam mobil mewah, atau di atas kuda-kuda mahal. Jika sejenak melihat ke bawah, menyaksikan denyut nadi lelaki seperti Poniman, barangkali kita akan sama sadar bahwa negeri ini tak pernah ekurangan harapan. Bahwa negeri ini selalu punya kekuatan yang terletak pada keberanian dan daya tahan warganya menghadapi kehidupan yang kian lama kian sulit.(*)


Pusaka Kerambit di Film The Raid 2


Iko Uwais (pemeran The Raid) sedang memegang kerambit

DI antara banyak adegan pertarungan yang brutal dan menegangkan dalam film The Raid 2: Berandal, yang paling menegangkan adalah pertarungan klimaks antara dua tokoh sama-sama menggunakan kerambit, senjata khas orang Minangkabau. Tak banyak yang tahu kalau senjata ini disebut sebagai senjata pisau paling mematikan, dan menjadi senjata wajib beberapa pasukan Amerika. What?

***

DUA lelaki itu sama-sama berbaju hitam. Mereka lalu saling tatap, kemudian mendekat. Keduanya lalu memasang kuda-kuda sambil menyentuhkan tangan. Tiba-tiba ada suara gendang ditabuh. Tanpa komando, keduanya lalu saling hantam dengan berbagai jurus mematikan. Keduanya laksana dua harimau yang saling cakar lalu sama menggaum.

Dua sosok itu adalah Rama (diperankan Iko Uwais) dan The Assasin (diperankan Cecep). Dalam film The Raid 2: Berandal, keduanya sama-sama bertarung dengan kemampuan seorang master silat tak terkalahkan. Ketika The Assasin mulai terkena beberapa pukulan, ia lalu mengeluarkan senjata berupa pisau bengkok yang lalu dijepit dengan jarinya. Ia mulai menebas. Crash..! Crash..!!!

Adegan pertarungan ini menjadi klimaks dalam film The Raid 2. Ketika menyaksikan perkelahian ini, aku beberapa kali berdecak kagum dengan koreografi perkelahian yang amat apik. Ternyata, pencak silat tak hanya beladiri yang menampilkan kelembutan dan gerak serupa tari. Pada titik tertentu, silat bisa menjadi sangat mematikan dengan jurus-jurus yang lebih dahsyat dari beladiri manapun.

Terlepas dari pro kontra atas film ini. Namun seusai menyaksikannya, aku bergumam bahwa ini film dahsyat. Bagiku, inilah film dengan koreografi hebat yang lebih dahsyat dari film kungfu atau film karate manapun.

poster film The Raid 2

Film ini memang bukan jenis film dokumenter tentang silat. Banyak yang mengira bahwa film ini serupa film-film yang dibintangi Barry Prima dan Advent Bangun yang kerap menampilkan adegan laga dunia persilatan. Ini murni film tentang seorang polisi yang menyusup ke sarang para gangster demi sebuah investigasi. Ternyata, ia malah terlibat dalam banyak konflik sehingga memaksanya bertarung dengan para jagoan yang tak segan menghilangkan nyawa.

Bagi yang tak siap menyaksikan adegan brutal dan penuh darah, sebaiknya tak menyaksikan film ini. Demikian pula bagi mereka yang tak suka melihat adegan perkelahian yang berujung pada kekerasan. Film ini serupa Kill Bill besutan Quentin Tarantino yang menyajikan kekerasan dengan demikian vulgar.

Namun berbeda dengan Kill Bill, perkelahian dalam film ini dibuat dengan sangat realistis. Duelnya dibuat sangat matang. Mereka yang menyaksikannya pasti paham bahwa paa pemain film ini adalah para juara silat yang lama malang melintang di banyak kejuaraan.

Berbeda dengan film pertamanya, alur film ini dibuat pelan, lalu klimaks. Banyak scene yang memperkenalkan para petarung, misalnya The Hammer Girl atau gadis cantik yang bertarung dengan senjata dua buah palu, lalu The Baseball Bat Man yakni lelaki yang bersenjatakan tongkat baseball, hingga sosok paling hebat The Assasin, seorang pendekar petarung. Puncaknya adalah ketika Iko harus berhadapan dengan semua petarung tersebut.

Senjata Kerambit

Adegan klimaks ketika Rama (Iko Uwais) melawan The Assasin (Cecep) adalah bagian yang paling kusukai. Keduanya bertarung dengan gaya yang hampir mirip. Sama-sama cepat dan bertenaga. Pertarungan itu semakin menegangkan ketika The Assasin mengeluarkan senjatanya yakni karambit berupa pisau yang melengkung serupa sabit. Senjata ini dipegang dengan cara memasukkan telunjuk ke dalam lubang di gagangnya, lalu dijepit. Pegangan jelas akan lebih kokoh karena susah terlepas.

aktor The Raid 2 dengan senjata kerambit

Setahuku, kerambit adalah senjata khas Sumatera yang kemudian menyebar ke banyak tempat di Asia Tenggara. Di Minangkabau, pisau ini disebut kurambiak atau karambiak. Senjata ini sangat berbahaya sebab bisa menyayat dan merobek anggota tubuh lawan secara cepat dan tidak terdeteksi. Dalam The Raid 2, pertarungan Rama dan The Assasin semakin mencekam ketika kerambit dikeluarkan. Beberapa kali, kerambit merobek tubuh sehingga darah muncrat. Adegan pertarungan ini adalah adegan yang paling kusukai sebab demikian mencekam.

Konon, para pesilat Minangkabau terinspirasi dari cakar harimau sumatera yang digunakan ketika merobek mangsanya. Sesuai filosofi alam takambang jadi guru, mereka lalu membuat senjata yang terinspirasi dari cakar harimau itu. Ada pula yang mengatakan bahwa kerambit terinspirasi dari sabit yang digunakan untuk mengirik padi. Pernah pula kubaca literatur bahwa orang Malaysia menyebut kerambit sebagai lawi ayam (chicken spur). Yang pasti, senjata ini lalu tersebar di Laos, Thailand, Kamboja, Filipina, hingga Myanmar.

Dalam buku Exotic Weapon of the Indonesian Archipelago, yang terbit tahun 2002, Steve Tarani menjelaskan bahwa kerambit juga terinspirasi dari kisah Mahabharata dan Ramayana. Dalam kisah itu, ada cerita tentang kuku pancanaka milik Bima, seoang ksatria Pandawa. Ada pula kisah tentang Kuku Hanuman yang juga serupa kuku Bima yang bisa merobek lawannya.

buku yang mengulas kerambit

Mengapa kerambit sedemikian populer di Asia Tenggara dan dunia? Ernest Emerson dalam Black Belt Magazine (edisi 25 Maret 2013) menjelaskan bahwa kerambit memiliki efisiensi serta efektivitas dalam mengalahkan lawan. Ia menyejajarkan kerambit dengan pedang samurai dan pisau kukri yang dipakai prajurit Gurkha di Nepal. Katanya, kekuatan kerambit adalah bisa menghadirkan tiga efek dalam stau pukulan, yakni hantaman tangan, luka robek karambit, hingga racun yang menyebar melalui karambit.

Emerson benar. Dalam khasanah silat, kerambit digunakan sebagai upaya terakhir ketika senjata lain telah digunakan. Kerambit juga identik dengan macho sebab digunakan dalam pertarungan jarak pendek yang sangat dipengaruhi oleh kelihaian dan kemampuan bela diri. Para pesilat harimau di Minang, serta para pesilat Bugis dikenal lihai dalam memainkan kerambit.


Negeri kita memang menyimpan khasanah budaya yang amat hebat hingga menyebar ke mancanegara. Wikipedia mencatat bahwa sejak tahun 2005. Beberapa perusahaan besar AS seperti Emerson Knives dan Strider Knives membuat pisau kerambit dalam jumlah banyak. Anehnya, meskipun kerambit adalah senjata wajib personel US Marshal, tetapi di Indonesia sendiri kurang begitu populer. Malah, belum pernah ada informasi kalau prajurit tentara kita melestarikan khasanah tradisi kerambit yang justru telah lama kondang di luar negeri.

Sehari seusai menonton film The Raid 2, aku masih saja terkenang dengan adegan perkelahian dalam film itu. Tak kusangka, pisau kerambit yang juga muncul dalam beberapa film Hollywood itu justru berasal dari Indonesia, tanah air yang demikian kaya dengan beragam khasanah dan tradisi. Sayang, tak banyak generasi muda yang paham betapa kayanya bangsa ini.




Sekuntum Anggrek, Setetes Ramuan Cinta



Apakah gerangan makna di balik sekuntum anggrek?

DI Mamasa, kota yang terletak di tengah pegunungan Sulawesi Barat, anggrek mudah ditemukan di mana-mana. Tak hanya di halaman rumah, anggrek juga mudah ditemukan di tepi-tepi sawah, tumbuh liar di mana-mana. Anggrek-anggrek itu menebar warna yang eksotis, aroma semerbak, serta menghadirkan suasana nyaman.

Anggrek tak sama dengan mawar. Jika mawar identik dengan cinta, maka anggrek identik dengan penghargaan, repek, ataupun keindahan. Sebagai simbol, anggrek punya banyak makna. Dahulu, bangsa Tiongkokmenganggap aroma anggrek sebagai aroma seorang kaisar. Anggrek punya aroma kewibawaan. Lain pula dengan Eropa di abad pertengahan. Anggrek adalah simbol dari majunya teknik pengobatan. Anggrek diolah menjadi ramuan yang menyembuhkan penyakit. Bahkan, anggrek diyakini bisa diolah sebagai ramuan cinta. Nah, apakah bisa kita membuat ramuan cinta dari sekuntum anggrek di masa kini?

Ketika seseorang memimpikan anggrek, maka itu adalah perlambang dari kebutuhan mendalam atas kelembutan, romantisme, serta kesediaan untuk bersetia pada seseorang yang dikasihi. Hingga akhirnya di abad ke-18, anggrek menjadi koleksi yang disimpan di rumah-rumah lalu menghadirkan rasa tentram bagi yang memandanginya.

Sayang, aku tak banyak bertanya pada warga Mamasa tentang makna anggrek di situ. Tapi banyaknya anggrek di rumah-rumah dan jalan-jalan cukuplah menjadi isyarat bahwa bunga itu menempati posisi penting dalam tahta hati warga setempat. Bahwa bunga itu memiliki kode budaya yang menggoreskan banyak hal di benak semua orang Mamasa. Barangkali anggrek juga meninggalkan jejak di hati mereka.








Mamasa, Surga Gaib di Pegunungan Sulawesi


tongkonan di Mamasa

DI tengah pegunungan Sulawesi Barat, di tengah syair dan lagu-lagu pebukitan yang dipenuhi tanaman kopi dan pinus, terdapat kota Mamasa yang tersembunyi dan misterius bagi banyak orang. Kota kecil dan sejuk ini tak hanya dihuni oleh warga yang berumah di tengah-tengah pebukitan nan indah, namun juga dihuni oleh sejumlah manusia gaib yang sesekali berinteraksi dengan warga desa. Hah?

***

LELAKI itu memakai ikat kepala khas orang Mamasa. Di pagi buta, ia duduk di tepi pasar sembari menghisap rokok kretek. Asap mengepul dari bibirnya yang keriput. Sayup-sayup, ia menembang lagu khas Mamasa. Ketika saya melihatnya di tepi pasar, ia memakai kain hitam, serta celana selutut berwarna hitam. Ia juga berselempang sarung khas berwarna merah dan hitam.

Sebelum sempat mengeluarkan sepatah katapun, ia langsung menyapa saya. Ia tahu kalau saya adalah pendatang di tempat itu. Ia lalu bercerita tentang kekuatan mistik orang Mamasa, mulai dari bagaimana mayat yang bisa berjalan sendiri ke lokasi penguburannya. Ia juga berkisah hingga kemampuan berdialog dengan arwah. Ketika bercerita, ia terdiam. Matanya mengikuti satu sosok. Ia lalu berbisik bahwa di Mamasa, ada banyak orang-orang gaib yang tinggal di hutan-hutan. “Mereka tak terlihat sebab menyembunyikan dirinya,” katanya.

Sayang, saya hanya bertemu sesaat dengan lelaki itu. Saat itu, saya datang bersama dua peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk melakukan observasi demi memulai beberapa penelitian di kabupaten yang masuk dalam kategori terpencil itu. Dalam perjalanan yang hanya beberapa hari itu, saya mendengar banyak kisah tentang dunia mistik orang Mamasa, termasuk kisah tentang To Membuni atau manusia-manusia yang tak terlihat di hutan-hutan.

Beberapa orang bercerita tentang To Membuni atau mereka yang tak terlihat. Orang Mamasa meyakini bahwa mereka sesekali turun ke kota dan berbaur dengan warga. Pernah, ada seorang warga yang menyiapkan hajatan. Warga itu menyiapkan makanan hingga 2000 bungkus sebab undangan yang hadir hanya 1000 orang. Anehnya, ketika makanan dihabiskan, banyak warga yang tak kebagian. Mengapa? “Sebab banyak bingkisan yang dibagikan kepada to membuni yang ikut datang,” kata seorang warga.

Lantas, mengapa mereka tak terlihat? Seorang teman bercerita bahwa to membuni hidup dalam dunia paralel, akan tetapi memiliki keterikatan dengan orang Mamasa dan Toraja. “Hanya orang-orang tertentu yang bisa berdialog dan mengunjungi perkampungan mereka,” kata teman tersebut.

patung selamat datang
suasana pedesaan yang sejuk
tongkonan yang berperan sebagai lumbung

Saya melihat sisi positif dari kisah itu. Barangkali kisah ini menyimpan ajaran penting bahwa hutan-hutan bukanlah tempat yang kosong dan tak berpenghuni. Hutan-hutan adalah wilayah yang didiami banyak mahluk, memiliki kesatuan napas yang selaras dengan kehidupan di desa-desa, sehingga kelestariannya perlu dijaga dan dipertahankan. Bagi masyaraat Mamasa, hutan adalah wilayah yang didiami. Mereka memuliakan hutan sekaligus menjaganya.

Sayangnya, banyak perambah hutan dan pekebun yang kemudian merusaknya sebab menganggapnya sebagai komoditas.

Menuju Mamasa

Saya sangat menikmati perjalanan ke Mamasa. Pegunngan dan hutan belantara Mamasa amat menantang untuk dijelajahi. Bagi yang suka petualangan, Mamasa adalah tempat yang mengasyikkan. Dari Makassar, kita bisa menempuh perjalanan darat melalui Parepare, Pinrang, dan Polewali. Jalanannya masih mulus. Namun begitu hendak meninggalkan Polewali menuju Mamasa, jalanan mulai mendaki dan rusak parah. Meski jarak dari Polewali ke Mamasa hanya 90 kilometer, namun jalanan rusak menyebabkan perjalanan ditempuh hingga berjam-jam.

Sepanjang perjalanan, saya beberapa kali membatin. Bahwa Indonesia telah merdeka selama lebih 62 tahun, namun ada banyak warga yang tak pernah tersentuh pembangunan. Banyak pula tempat-tempat yang masih terisolasi sehingga sukar untuk dijangkau. Mereka yang tinggal di Mamasa dan pegunungan Sulawesi Barat adalah mereka yang tak beruntung. Mereka butuh berjam-jam berjibaku dengan jalan rusak yang berlumpur demi untuk berpindah ke kota lain, sementara warga daerah lain justru hidup nyaman dengan jalanan yang serba mulus.

Perjalanan itu laksana jendela untuk melihat tanah air Indonesia yang jauh dari ibukota. Jalanan rusak, akses warga terhambat, hingga kemiskinan petani menjadi potret buram negeri ini. Akan tetapi, rakyat biasa di pegunungan itu bukanlah tipe yang mudah mengeluh dan mengutuki keadaan. Mereka justru tersenyum ceria saat disapa banyak orang yang singgah untuk berteduh. Senyum mereka menjadi perlambang bahwa di tengah situasi sulit, selalu ada harapan untuk bangkit.

Namun lelah karena perjalanan jauh itu sontak terbayar ketika mobil yang kami tumpangi tiba di Mamasa. Di pagi hari, saya menyaksikan sebuah kota yang tertutupi kabut tipis. Meskipun jarak pandang hanya beberapa meter, saya menyaksikan keindahan kota ini. Mamasa ibarat terletak di tengah mangkuk yang pinggirannya adalah pegunungan. Di pagi buta, saya menyaksikan sejumlah ibu yang membawa barang dagangan ke pasar, lalu anak-anak yang menggiring kerbau di sawah-sawah hijau membentang. Beberapa di antaranya meniup suling sembari duduk di atas kerbau. Sungguh menarik dilihat.

Mirip Toraja

Sepintas, kota Mamasa mengingatkan pada Toraja. Bangunan khas di kota ini adalah tongkonan, sebagaimana bisa ditemukan di Toraja. Ukirannya juga mirip. Yang membedakannya hanyalah bentuk atap. Seorang warga menjelaskan bahwa tongkonan di Mamasa masih asli, belum ada renovasi. Entah, apakah keterangannya benar ataukah keliru, yang pasti antropolog George Junus Aditjondro pernah berkata bahwa jika ingin melihat Toraja yang asli, jangan datang ke Toraja. “Datanglah ke Mamasa,” katanya.

Orang Mamasa memang bersaudara dengan orang Toraja. Mereka meyakini bahwa nenek moyangnya berasal dari Toraja. Makanya, rumah adat, pakaian tradisional, hingga agama lokal juga memiliki kesamaan. Satu hal yang juga menautkan mereka adalah kepercayaan pada mistik yang sama. Beberapa orang yang saya temui meyakini bahwa dunia mistik orang Mamasa sangatlah tinggi.

sungai yang mengaliri kota
anggrek
duduk di bawah tongkonan

Malah, banyak yang percaya bahwa orang Mamasa lebih sakti daripada orang Toraja. Entah, apakah informasi ini benar ataukah tidak. Yang pasti, Toraja adalah wilayah yang telah lama dikunjungi para turis dan pelancong. Orang Toraja juga telah banyak yang merantau dan merambah berbagai kota. Sedangkan orang Mamasa masih tinggal di pegunungan yang terisolasi. Mereka tak banyak meninggalkan pegunungan sehingga kebudayaannya belum banyak bersentuhan dengan kebudayaan lainnya.

Apapun itu, pengalaman di Mamasa mengajarkan bahwa Indonesia adalah wilayah luas yang penuh dengan keunikan. Tanah air ini amatlah banyak menyimpan kisah-kisah yang menakjubkan. Saya amat senang karena bisa mengunjungi beberapa tempat seindah dan semisterius Mamasa. Lebih bahagia lagi ketika bertemu orang-orang Mamasa yang sedemikian bersahaja, mencintai alamnya, serta tak pernah membanggakan diri atas apa yang sudah dilakukannya.

Ketika bertemu orang pegunungan Mamasa yang rendah hati itu, saya serasa dibasahi embun sejuk. Di Jakarta dan banyak kota lain, orang-orang tengah bersiap menyambut pemilu. Ada banyak orang yang angkuh dan membanggakan komitmen serta apa yang sudah dilakukannya. Dunia jadi arena penuh pamer kehebatan. Ada pula banyak hujatan. Mengapa di panggung politik kita tak banyak orang yang serendah hati dan sebijaksana orang Mamasa?


Terpopuler Bulan Ini

...

...