Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Kampung Bugis Diapit Dua Bidadari



DI bumi Kalimantan Timur, orang-orang Bugis membangun perkampungan lalu menjelajah ke mana-mana. Mereka punya etos kerja hebat sehingga menguasai lapangan ekonomi, menjadi para saudagar baru, lalu menguasai jabatan publik. Di kampung kecil Tanjung Batu, Berau, aku menyaksikan harmoni yang amat memukau ketika orang Bugis menjadi nelayan yang menguatkan semua nelayan lain untuk bangkit dari keterpurukan.

***

DI Tanjung Batu, Berau, lautan menjadi nadi kehidupan banyak orang. Hampir seratus persen, pekerjaan penduduk adalah nelayan. Mereka menyandarkan kehidupannya pada lautan. Mereka menata masa kini dan masa depan, dengan menjadikan laut sebagai titik pusatnya. Mereka mengelilingi laut demi menyerao energi kehidupan melalui profesi sebagai nelayan ataupun pedagang hasil laut.

Di kampung itu, aku singgah di dekat dermaga penyeberangan ke Pulau Derawan dan Pulau Maratua. Dari desa ini, Pulau Derawan hanya berjarak sekitar 15 menit perjalanan dengan speedboat. Pulau Maratua yang eksotik itu hanya sejauh satu jam perjalanan. Dermaga ini adalah pintu masuk ke pulau-pulau yang menawan dan molek serupa bidadari. Kampung yang kusinggahi ini seakan dikepung oleh dua bidadari di pesisir timur Kalimantan.

Harum aroma kopi menggiring langkahku untuk singgah ke satu warung kopi. Saat duduk di situ, aku mendengar pembicaraan para pengunjung. Aku bisa mengenali bahasa Bugis yang digunakan oleh para pengunjung warung kopi. Mayoritas pengunjung warung ini adalah orang Bugis. Sayup, aku juga mendengar lagu Bugis yang menyayat hati dari televisi di sudut ruangan. Ketika pemilik warung mendekat, ia lalu bertanya, “Mau pesan apa ki?”

Warung kopi itu menjadi jendela untuk mengamati banyak hal. Para nelayan tangguh di kampung ini adalah orang-orang Bajau dan Bugis yang mencari rezeki dengan menantang samudera hingga ke perairan negara tetangga. Sejarah tentang mereka terbilang panjang. Pertautan dan dialog budaya itu telah lama terjadi. Laut menjadi saksi.

Seorang warga mencatat kalau nelayan Bugis telah lama mendiami perkampungan ini. Pada mulanya, orang Bugis banyak berdiam di Pulau Derawan. Ketika bajak laut Filipina datang dan mengamuk, konflik tak terhindarkan. Banyak penduduk yang lalu pindah ke Tanjung Batu, hingga kini.

Kampung ini tumbuh menjadi miniatur dari berbagai suku bangsa. Selain Bugis, orang Bajau dan Jawa banyak pula yang tinggal di sini. Akan tetapi, tak pernah ada satupun kisah tentang konflik yang berujung pada aksi saling bantai. Tak pernah ada kisah tentang perkelahian antar etnik di sini. Semuanya hidup tenteram dengan tingkatan ekonomi yang berada di level sejahtera. Semua mencari jalan damai, khususnya saat sama-sama merasakan deru ombak lautan.


Sejarah Berau memang tak bisa lepas dari peranan para imigran Bugis. Ibukota Berau, Tanjung Redep, bermula dari perkampungan yang didiami orang Bugis. Pada tahun 1810, terjadi konflik internal di Kerajaan Berau. Seorang raja memindahkan kerajaan ke kampung Bugis itu sebagai strategi politik demi mendapatkan dukungan dari orang-orang Bugis. Sebuah dukungan bisa dikonversi sebagai semangat perlawanan yang tak bakal habis kepada siapapun.

Tak puas dengan dukungan, sang raja lalu menikahi putri Raja Wajo di tanah Bugis. Maka lengkaplah persekutuan itu. Lengkaplah dukungan pasukan serta ikhtiar untuk mengembangkan perkampungan itu menjadi satu kerajaan yang kemudian melawan Belanda.

Kisah ini menunjukkan bahwa diaspora dan persebaran budaya itu bukanlah sesuatu yang baru terjadi hari ini. Prosesnya sudah berlangsung lama dan menyejarah. Apa yang dikira sebagai gejala hari ini sesungguhnya telah berurat akar di masa silam. Pertanyaan penting yang menarik untuk diurai. Bagaimanakah kisah diaspora di masa kini?

***

DI hadapanku duduk sosok lelaki berusia sekitar 30 tahun. Sebut saja namanya Andi Innong. Aku menghubunginya sehari sebelumnya. Ia adalah sosok penting yang menjadi petinggi satu organisasi nelayan. Lelaki ini adalah pebisnis ikan yang menjadi bapak bagi ratusan nelayan. Ia memberikan banyak bantuan pada nelayan. Mulai dari subsidi bagi nelayan yang hendak membeli peralatan tangkap, hingga rencana membuat bank ikan yang nantinya akan menjadi wadah bagi nelayan untuk menabung dengan ikan.

Tadinya kupikir dia adalah seorang warga asli Tanjung Batu yang lama malang melintang dan menjalin relasi dengan para nelayan. Saat berbincang, dialek Bugis keluar dari bibirnya. Ternyata ia adalah perantau yang telah lebih 10 tahun berada di kampung itu. Tapi ia tak hendak menyebut dirinya perantau. Menurutnya, wilayah itu adalah kampung nenek moyangnya yang pernah datang beramai-ramai ke situ.

Bisnisnya terus mekar. Ia meraup omzet hingga 900 juta rupiah dalam sebulan. Belakangan, aku berpikir bahwa barangkali ada motif pada kebaikannya. Dengan cara selalu memberikan bantuan kepada nelayan, ia telah membangun satu aliansi bisnis yang kuat. Para nelayan itu menjadikannya sebagai bapak angkat, sekaligus sebagai satu-satunya agen yang menerima setoran ikannya. Barangkali, ia kaya raya dengan bisnisnya. Sementara nelayan itu jutsru stagnan dan jalan di tempat.


Andi Innong hanya satu dari sedemikian banyak manusia Bugis yang lalu berumah di Kalimantan. Mereka tersebar di mana-mana, mulai dari sektor bisnis, hingga politisi dan kepala daerah. Mereka mudah diterima di mana-mana sebab ada pertautan sejarah dan ingatan tentang pertautan budaya antara bangsa Bugis dan sukubangsa di Kalimantan.

Di satu sisi, wajar saja jika orang Bugis melesat bak meteor di tanah Borneo. Mereka punya etos kerja hebat. Mereka punya spirit rantau yang membuat mereka tahan banting lalu memenangkan duel di berbagai bidang. Hanya saja, aku memikirkan tentang penduduk lokal yang kian tersingkir oleh dinamika zaman. Mungkin etnis lokal akan kalah di segala lini sehingga tak punya daya untuk sekadar menjadi tuan di negerinya sendiri. Mungkin pula mereka akan kehilangan arena untuk sekadar eksis dan mempertegas identitas Kalimantan.

Mungkin, akan lebih baik jika dipikirkan kebijakan negara yang bisa memberi ruang bagi warga lokal untuk tetap memiliki ruang di berbagai lini penting kehidupan. Kasus Malaysia bisa menjadi rujukan ketika Perdana Menteri Mahathir Mohamad menerapkan kebijakan New Economy Policy yang memberikan ruang bagi orang Melayu agar bisa bangkit. 

Tapi lagi-lagi, gagasan ini akan memunculkan pertanyaan, mana budaya asli dan pendatang? Bukankah budaya dari etnik pendatang telah bersenyawa dengan budaya setempat? Marilah kita sama memikirkannya.

Apapun itu, sosok Andi Cinnong ini sungguh inspiratif. Ia menjadi pahlawan bagi ratusan nelayan sebab dianggap meningkatkan harkat dan derajat para nelayan. Ia menunjukkan bahwa diaspora Bugis di masa kini bisa membawa berkah bagi dunia sekitarnya. Ia membuktikan bahwa niat tulus serta sikap rongan tangan pada sesama adalah kunci-kunci untuk menggapai keberhasilan. Tanpa banyak teori, ia menguatkan pihak lain, lalu bersama-sama membentuk jaringan yang kuat.



Berau, 24 Mei 2015
Saat merancang perjalanan ke Pulau Derawan

Buat Sahabat yang Gemar Memetik Uang



DIA seorang pemetik uang. Hari-harinya adalah mencari uang sebanyak-banyaknya. Dipikirnya uang itu serupa buah dalam satu kebun yang bebas dipanen oleh siapa saja, tanpa peduli apakah itu di kebun sendiri ataukah di kebun orang lain. Uang menjadi tujuan sekaligus titik akhir dari segala orientasi. Uang harus berada dalam genggaman, tak peduli dengan cara apa menggapainya. Kadang, ia menggandakan uang.

Ia mencari jalan pintas agar uang itu bisa segera datang. Ia akhirnya berhasil mendapatkannya. Diajaknya beberapa orang untuk membantunya. Setelah uang datang, tak ada lagi persahabatan. Ia mengklaim dirinyalah yang berjasa. Di hadapan uang, tak ada pertemanan. Yang ada adalah majikan dan pekerja. Majikan berhak menindas pekerja.

Untuk sesaat ia kaya-raya. Akan tetapi, pelan tapi pasti teman-temannya meninggalkannya. Tak ada yang mau bekerja pada seorang kemaruk sebagaimana dirinya. Perlahan, ia tak lagi bisa mengembangkan sayap. Orang-orang menghindarinya. Padahal, andaikan ia mengembangkan kerjasama, maka dia akan semakin kuat dan kokoh. Padahal, teman-teman itulah yang membuat dirinya besar.

Pada akhirnya, uang memang bisa membeli masa kini. Namun tak selalu bisa membeli masa depan. Uang hanyalah buah dari satu benih yang pernah ditebar dan dirawat dengan penuh cinta. Buah itu memang manis dan menggiurkan. Pantas saja jika banyak yang mengejar-ngejarnya.

Namun sungguh keliru mereka yang terus-menerus mengejar buah tersebut. Sebab ada masa ketika buah itu akan habis dan lenyap tak bersisa. Para pencari buah kerap gigit jari ketika buah yang dicarinya habis dimakan satu per satu. Para pencari buah mengira buah akan selamanya bertahan. Mereka alpa kalau buah itu bisa membusuk, kehilangan kesegaran, hingga lapuk di telan usia.

Para pencari buah harus banyak belajar pada para penanam buah. Para penanamlah yang merawat pohon sejak masih berbentuk benih. Mereka yang menyirami, menumbuhkannya dengan penuh cinta, serta setia menjaganya dari berbagai tanaman penganggu. Mereka pernah melalui hari-hari yang dicemooh, namun tetap sabar merawat pohon itu. Pada masanya kelak, pohon itu akan menyediakan banyak buah-buah manis yang merupakan hasil kerja keras serta ketabahan menjalani semua proses menanam.

Terserah pada kalian hendak memilih menjadi penikmat buah ataukah menjadi penanam pohon. Terserah pada kalian, hendak menjadi pencari uang ataukah penanam uang. Jika menjadi penikmat, maka uang menjadi segala-galanya. Uang akan menadi tujuan utama, sebagai kompas ke mana kehidupan bergerak. Akan tetapi ada masa ketika uang itu akan meninggalkanmu dan terbang tinggi dan mencari sosok lain.

Jika kamu menjadi seorang penanam, maka kamu akan setia dengan semua proses. Kamu akan menjadi pribadi yang selalu mencintai pekerjaan, serta menjaga segala nilai-nilai seperti persahabatan, solidaritas, kasih sayang, dan cinta kasih. Kalau kamu punya nilai-nilai itu, uang akan mengkutimu laksana anak sungai yang terus mengalir. Uang hanyalah akibat dari kesabaranmu menjaga semua nilai itu. Uang hanyalah buah dari apa yang kamu kerjakan dengan sepenuh hati.

Lantas, kamu memilih yang mana?


Menulis untuk Para AKTIVIS


 “JIKA satu peluru bisa menembus satu kepala, maka satu tulisan bisa menembus berjuta-juta kepala sekaligus.” Kalimat ini telah lama dipahami para aktivis dan praktisi perubahan. Sejak lama para aktivis menganggap tulisan sebagai senjata untuk perubahan sosial. Akan tetapi, sejak era media sosial dan informasi telah menjangkau seluruh pelosok, tak banyak yang memahami bahwa seyogyanya kalimat itu telah lama bergeser. Kini, tulisan para aktivis bukan lagi satu-satunya pemantik perubahan.

***

DI tanah Papua Barat, seorang perempuan desa bernama Fransina Mayor menulis tentang seorang pelukis yang bahan bakunya adalah pasir sisa pertambangan di PT Freeport. Tulisannya ringkas, dan lebih mengedepankan ekspresi seni bagi seorang warga Papua. Namun ketika dibaca utuh, tulisan itu menghadirkan sekeping ironi. Bahwa ternyata, warga Papua hanya mendapatkan remah-remah atau sisa dari kekayaan alam di tanahnya sendiri.

Tulisan itu memang singkat. Akan tetapi ada satu ekspresi kuat yang deras mengalir kala membayangkan betapa kayanya tanah Papua, dan betapa sedikitnya hasil alam yang bisa dinikmati warga lokal. Tulisan itu serupa belati yang menusuk-nusuk nurani, bahwa di balik kemegahan rencana besar bernama investasi asing, terselip begitu banyak kenyataan yang memiriskan hati.

Saya membaca tulisan Fransina pada buku Pesona Papua Barat yang diterbitkan oleh Pusat Studi Pembangunan, Pertanian dan Pedesaan (PSP3) Institut Pertanian Bogr (IPB). Meskipun buku ini diniatkan sebagai rangkuman tulisan tentang wisata dari warga lokal, isinya membahas berbagai topik menarik yang bisa menggugah nurani, sebagaimana bisa dibaca pada goresan Fransina.

Pada titik ini, sebuah tulisan bisa menjadi jendela bagi nurani banyak orang. Sebuah tulisan bisa menjadi nyanyi sunyi yang mengingatkan kita akan begitu banyaknya hal yang terjadi di sana. Tulisan dari warga setempat menjadi satu keping informasi berharga yang menjelaskan kepada kita bagaimana repon warga atas perubahan sosial di sekitarnya. Selanjutnya, tugas dari banyak pihak adalah bagaimana mengangkat suara-suara yang selama ini nyaris tak terdengar itu sehingga diketahui banyak orang.

Tulisan itu menjadi berbeda sebab disampaikan oleh warga lokal yang setiap hari bergelut dengan realitas. Jika saja tulisan itu disampaikan oleh para aktivis ataupun praktisi organisasi non-pemerintah (Ornop), maka barangkali tulisan itu akan muncul banyak interpretasi. Bisa saja muncul kesan kalau tulisan aktivis itu diniatkan untuk mendapatkan hibah dana asing, atau barangkali provokasi pada pemerintah agar mengucurkan anggaran.




Selama sekian waktu tulisan para aktivis menjadi satu-satunya cermin bagi dinamika sosial. Tulisan itu menjadi peluru yang mengoyak kesadaran banyak orang bahwa ada banyak hal penting dan terabaikan di sekitar kita. Namun dengan era kemajuan media sosial dan informasi yang mengalir hingga pelosok, maka tulisan para aktivis tak lagi sendiri. Ada sedemikian banyak ekspresi dari warga lokal yang juga mesti mendapatkan panggung. Barangkali, opini warga tak setajam para penggiat gerakan sosial, namun ada kekuatan dan sikap yang jelas harus dipahami oleh kita semua.

Lantas, apakah tulisan sang aktivis menjadi tidak penting? Tentu saja tetap penting. Namun bergantung pada siapa aktivisnya. Jika sang aktivis tak punya tilikan dan observasi yang mendalam di lapangan, maka tulisan itu akan sangat bernilai. Namun ketika sang aktivis memiliki interest pribadi dan tidak berniat untuk mengangkat suara-suara komunitas, bisa dipastikan, tulisannya akan kehilangan makna. Tulisan itu akan berjarak dengan dunia sosial. Tulisannya akan gagal memahami detak jantung dan denyut nadi masyarakat lokal.

Pada titik ini, kita mesti menimbang pentingnya ekspresi langsung dari warga lokal. Apapun yang dituliskannya adalah ekspresi dari apa yang sedang dihadapinya. Boleh jadi, tulsiannya akan lebih jernih, lebih bening, dan lebih jeli dalam mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Maka yang harus dilakukan seorang aktivis adalah bagaimana membangkitkan kesadaran untuk menulis bagi warga setempat.

Sudah bukan zamannya lagi untuk menjadikan warga lokal sebagai informan ataupun obyek yang diwawancarai. Warga lokal harus menjadi subyek yang bisa menyampaikan sikap-sikap politiknya. Masyarakat harus diberikan ruang memadai untuk menuliskan gagasan, demi mengetahui berbagai praktik pembangunan yang dihadapinya setiap saat. Mereka harus didorong untuk menyamapikan sikapnya atas setiap pengalaman yang dilalui sebagai warga biasa.

Bergeser

Sejauh pemahaman saya, dunia riset sosial kita telah lama mengajurkan kolaborasi dengan masyarakat lokal ini. Ketika berguru pada Prof Gene Ammarell, seorang antropolog senior di negeri Paman Sam, ia menjelaskan pentingnya bekerjasama dengan warga. Pernah, saya bertanya tentang trend penelitian ilmu sosial saat ini. Ia lalu menjawab singkat bahwa saat ini, trend penelitian bergeser ke arah riset yang sifatnya kolaboratif antara peneliti dengan masyarakat lokal. Jika demikian halnya, bagaimanakah menjembatani kesenjangan pengetahuan bagi kedua belah pihak? “Ajak mereka untuk sama-sama menulis. Temukan makna pada tulisan mereka,” kata Gene.

Dalam konteks praktisi gerakan sosial, yang harus dilakukan adalah bagaimana melakukan sharing pengetahuan dengan masyarakat lokal, melatih mereka untuk memahami metodologi riset sehingga menyampaikan gagasan dalam artikel yang sederhana. Yang mesti dilakukan adalah menguatkan gagasan masyarakat lokal, memberinya senjata untuk membidik kenyataan, memberikan cahaya terang untuk bisa mengenali kenyataan di sekitar.

Tulisan tersebut harus diihat sebagai upaya untuk memberikan advokasi kepada masyarakat dengan cara memberinya kekuatan untuk bergerak. Satu kekeliruan yang kerap melanda aktivis adalah anggapan bahwa advokasi adalah tindakan berdemonstrasi dan berdiri tegak untuk menghadapi senjata dari aparat pemerintah. Advokasi dilihat sebagai kegiatan heroik, revolusioner, serta penuh keberanian.

Padahal, melalui tulisan, langkah-langkah advokasi itu bisa dipicu daya ledaknya. Melalui tulisan, para aktivis bisa memberikan panggung bagi masyarakat agar suaranya bisa didengar publik luas. Pada titik ini, seorang aktivis telah membuka pintu gerbang perubahan, ketika masyarakat tercerahkan dan bisa menyampaikan apa yang dirasakannya. Dan kita bisa berharap pada dunia yang warganya punya sikap jelas, tanpa terombang-ambing!



Bogor, 19 Mei 2015

Mantra Pemikat dari Tanah Mandar


ilustrasi

DI satu desa di pedalaman tanah Mandar, Sulawesi Barat, seorang bapak tua mengajariku mantra-mantra pemikat perempuan. Pada usia 20-an tahun, aku lansung merinding. Rasanya tak sabar untuk meninggalkan kampung itu demi langsung mencoba mantra pemikat itu. Berhasilkah?

***

HARI itu, di akhir dasawarsa 1990-an. Aku dan sahabat Muhammad Toha bekerja di satu lembaga penelitian di kampus Universitas Hasanuddin, Makassar. Kami mendapat tugas untuk melakukan riset lapangan selama dua minggu di satu desa terpencil di Kabupaten Pollewali Mamasa, Sulawesi Selatan (kini menjadi bagian dari Sulawesi Barat).

Penelitian itu mengenai pendidikan di daerah-daerah terpencil. Kami hendak mengamati sejauh mana akses warga daerah terpencil untuk mendapatkan pendidikan. Kami mengamati keterbatasan infrastruktur, serta bagaimana dukungan masyarakat terhadap sekolah-sekolah.

Kami memang sengaja memilih daerah yang paling terpencil. Aku masih ingat persis. Desa yang kami datangi terletak di Kecamatan Tutallu. Dari jalan poros Makasaar ke mamuju, kami singgah ke Tinambung. Setelah itu mobil yang kami tumpangi akan belok ke kanan dan melalui tanjakan yang cukup jauh. Pada masa itu, infrastruktur jalan sangatlah buruk. Setelah tiba di Tutallu, kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki selama beberapa jam. Semua barang bawaan kami sampirkan pada seekor kuda yang kami sewa.

Desa yang menjadi lokasi penelitian itu sangatlah terpencil. Tak ada listrik. Tak ada fasilitas publik. Penduduknya tinggal terpisah-pisah, namun tak begitu jauh dari sungai. Nah, sungai itu menjadi pusat aktivitas warga. Di situlah warga mandi, mencuci pakaian, sekaligus fasilitas untuk buang air besar. Mulanya, aku ragu-ragu untuk mandi di sungai itu. Tapi setelah melihat beberapa gadis desa ikut mandi, aku pun membiasakan diri. Minimal bisa melirik ke kiri dan ke kanan. Hihihi.

Aku dan Toha menginap di rumah seorang guru sekolah dasar. Bapak itu telah memiliki dua anak. Di rumahnya itu, tinggal pula adik iparnya yang cantik jelita. Sepintas, adik iparnya itu mirip artis ibukota. Saat pertama datang, gadis itu menghidangkan minuman lalu menyilahkanku untuk minum. Ia tertunduk saat itu, namun ketika mengangkat wajahnya, sekilas matanya melirik ke arahku. Darahku langsung berdesir.

Bapak pemilik rumah sempat memberikan beberapa masukan. Ia meminta kami untuk berhati-hati ketika dihidangkan minuman oleh warga. Katanya warga di kampung itu masih banyak yang mengamalkan ilmu sihir. Meskipun tak begitu percaya dengan sihir, aku mengikuti sarannya.

Keesokan harinya, aku mulai menelusuri desa itu demi menuju sekolah terdekat. Selama beberapa hari, observasi dan wawancara di sekolah itu sukses dilaksanakan. Kami lalu bergerak untuk mengumpulkan data ke beberapa warga. Hingga akhirnya, kami mewawancarai seorang bapak yang nampak terpelajar di kampung itu.

Yang menarik, bapak itu menjelaskan tentang banyaknya mantra-mantra dan kesaktian di kampung itu. Ia mengambil kertas-kertas lusuh di kamarnya lalu memperlihatkan sebuah gabar yang menunjuk ke delapan penjuru mata angin. “Ini namanya kutika. Bagi orang mandar, ini berguna untuk melihat hari-hari baik,” katanya.

Ia menunjuk hari-hari baik untuk menanam, serta hari baik untuk melaut. Yang menarik, ada pula hari baik untuk berkelahi dengan seseorang. Katanya, saat pergi menantang orang lain pada hari itu, maka seseorang akan selamat dan tak mendapat celaka.

Kutika dikenal dalam berbagai budaya. Tak hanya Mandar, orang Bugis ataupun Buton juga mengenal konsep kutika. Biasanya kutika selalu dikaitkan dengan perhitungan konsep tentang hari-hari baik. Barangkali, ada semacam pengulangan atas satu kebaikan yang terjadi di masa silam. Pada masa kini, kutika menjadi kompas yang menentukan kapan satu kelompok masyarakat memulai suatu pekerjaan.

Yang jauh lebih menarik adalah ketika bapak itu membuka kertas-kertas lusuh yang katanya berisikan matra-mantra. Pada satu bagian, ia bercerita tentang mantra pemikat perempuan. Jiwa mudaku bergejolak. Aku sangat tertarik. Kubayangkan gadis-gadis manis di kampus. Kubayangkan pula sejumlah wanita yang pernah menolak cintaku. Kali ini, perempuan itu akan bertekuk lutut dan berharap cintaku. Aku tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi kelak.

Yang mengherankan, tanpa kuminta, bapak itu bersedia mengajarkan mantra itu secara gratis. Menurutnya, mantra itu sangat efektif. Kita harus meletakkan jari telunjuk di bawah lidah, sembari mengucap mantra. “Kalau sudah baca mantranya, usahakan untuk sentuh gadis itu. Pastilah dia langsung jatuh cinta,” kata bapak itu. Aku langsung berdebar-debar.

Dua hari setelah pertemuan itu, aku meninggalkan lokasi penelitian. Mantra itu telah kuhafal luar kepala. Sepanjang perjalanan ke Makassar, aku memikirkan kepada siapa mantra itu akan kurapal. Kubayangkan si A yang bahenol. Tiba-tiba saja kuurungkan niatku karena kupikir si A tak begitu menarik. Kubayangkan lagi Si B yang lebih seksi. Tak puas, kukhayalkan lagi Si C. Ah, aku jadi bingung hendak ‘menyihir’ siapa.

Setibanya di Makassar, aku tak bisa tidur selama beberapa malam. Gara-gara mantra itu aku tak kunjung bisa tidur. Aku tak tahu apakah akan menggunakan mantra ini ataukah tidak. Namun ada rasa penasaran yang terus menggelayut di hati ini. Apakah mantra ini bisa bekerja? Apakah hari-hariku akan seperti Rano karno ataupun Rhoma Irama yang senantiasa dikelilingi gadis-gadis manis dalam semua filmnya?

Hingga suatu hari, aku menyaksikan kawan perempuan melintas. Tiba-tiba saja ada gejolak kuat untuk menggunakan mantra itu. Jantungku berdegup lebih kencang. Kubayangkan matanya akan dipenuhi simbol cinta, sebagaimana kusaksikan dalam film kartun. Saat ia mendekat, aku segera meletakkan telunjuk ke bawah lidah. Kubaca mantranya, lalu kucolek dirinya.

Kembali, jantungku berdegup lebih kencang saat menanti reaksinya. Sekian detik, ia tiba-tiba menoleh. Aku serasa menyaksikan adegan dalam film Korea yang tiba-tiba saja menjadi slow motion.  Aku seolah tidak menginjak tanah.


(Bersambung)

Riset Politik yang Tak Biasa



SEJUJURNYA, saya bukan peminat buku-buku bertemakan politik. Tapi buku yang dieditori akademisi Edward Aspinall ini cukup mengejutkan saya sebab isinya lain dari yang lain. Selama ini, buku tentang politik lebih banyak membahas tentang bagaimana struktur dan pola kerja partai politik. Kebanyakan membahas tentang ideologi politik ataupun visi besar tentang kebangsaan. Sebagai rakyat biasa, saya merasa tema2 itu lebih banyak bullshit. Di lapangan, semua orang juga tahu kalau kenyataannya tak seperti itu.

Buku yang merupakan kolaborasi dari banyak peneliti ini menyajikan data lapangan yang sangat kaya. Yang ditampilkan adalah fenomena di akar rumput. Tentang bagaimana caleg2 dan politisi menggunakan segala cara untuk menang, mulai dari politik uang, penggunaan jaringan kerabat, serta bagi-bagi karpet di masjid. Saya tersenyum-senyum saat membaca buku ini sebab fenomena yang diangkat adalah kenyataan sehari-hari serta selalu kita saksikan. Saya kagum dengan para penelitinya yang sukses mengangkat data lapangan itu menjadi riset yang penting untuk membaca politik kita.

Pada akhirnya, saya belajar bahwa selalu ada jarak antara apa yang tersaji dalam buku-buku teks politik, dan apa yang bisa ditemukan di sekitar kita. Tugas para peneliti adalah merangkum keping-keping kenyataan di sekitar kita lalu menghantarkannya ke hadapan banyak orang agar bisa menginspirasi dan menjernihkan pandangan tentang dunia yang setiap hari dihadapi.

Yup, ini buku bagus yang rasanya lebih mengarah ke riset antropologis dan sosiologis ketimbang riset ilmu politik. Sangat asyik untuk dibaca. Recommended!


Bogor, 13 Mei 2015

Mencari jejak di NEGERI MARITIM



“Sebagai negara maritim, samudra, laut,
selat dan teluk adalah masa depan peradaban kita.

--- Joko Widodo
Presiden RI


DI layar televisi, lelaki kurus itu sedang berpidato perdana sebagai Presiden RI ke-7. Tadinya, semua orang mengira ia akan berpidato dengan intonasi datar, dengan isi yang juga datar, sebagaimana pendahulunya. Ternyata ia berbicara tentang sesuatu yang substansial. Ia bicara tentang jagad maritim, khasanah kekayaan bangsa Indonesia yang selama sekian dekade seakan terlupakan.

Ia juga melanjutkan kalimatnya:

“Kita telah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi samudra, dan memunggungi selat dan teluk. Ini saatnya kita mengembalikan semuanya sehingga 'Jalesveva Jayamahe', di laut justru kita jaya, sebagai semboyan kita di masa lalu bisa kembali.”

Kalimat itu telah menyentak banyak orang. Indonesia adalah negeri kepulauan yang memilih lebih dari 17 ribu pulau-pulau. Indonesia memiliki lautan yang luas, samudera lebar yang membentang dan mengikat satu demi satu kepulauan, serta sumber daya maritim yang amat kaya dan menempatkan bangsa ini ke dalam jajaran terhomat bangsa-bangsa yang punya mega-diversity dalam hal sumber daya hayati. Namun mengapa negeri ini tidak juga menjadi negara maritim yang perkasa?

Kalimat Presiden Jokowi yang mengatakan, “Kita terlalu lama mengunggungi laut” mengingatkan pada ucapan Presiden Soekarno di Bumimoro, Jawa Timur, tahun 1951. Soekarno pernah berkata, “Usahakan agar kita menjadi pelaut kembali. Ya...bangsa pelaut dalam arti seluas-luasnya. Bukan sekadar menjadi jongos di kapal...bukan! Tapi bangsa pelaut dalam arti cakrawati samudra. Bangsa pelaut yang memiliki armada niaga, bangsa pelaut yang mempunyai armada militer, bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri."

Pantai Nirwana di Baubau, Sulawesi Tenggara

Tak hanya Soekarno, sastrawan terbesar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia, Pramoedya Ananta Toer juga mengingkapkan hal yang sama. Saat berbicara tentang tenggelamnya kerajaan di nusantara, khususnya Jawa, ia mengatakan, "Kehancuran kerjaan di Nusantara, khususnya di Jawa karena singgasana rajanya dialihkan dari laut."

Yup, laut serupa urat nadi yang amat penting bagi bangsa. Jika sejarah dimaknai sebagai himpunan kearifan, kebijaksanaan, dan akumulasi pengalaman yang tertata rapi dan melintasi generasi, negara ini selayaknya bersedih.

Catatan emas pelaut Nusantara yang menaklukan benua dan samudera, jejak sejarah peradaban kita yang telah lama berkarib dengan lautan, justru tidak pernah dilihat sebagai kekuatan untuk menata masa kini. Sejarah mengajarkan bahwa Sriwijaya (684-1377) dan Majapahit (1251-1459) menggapai keemasannya karena menguasai lautan. Sayang, kerajaan setelahnya justru memunggungi lautan.  Indonesia pernah mengembalikan kekuatan lautnya era Soekarno. Setelah di bawah penjajahan, mental negara maritim diubah menjadi negara pedalaman yang terpuruk dalam nalar mistik.

Soekarno sadar potensi maritim sangat besar sehingga pada 1960 dibentuk Dewan Maritim saat pembentukan Kabinet Dwikora. Ada juga Kemenko Bidang Maritim, di bawahnya Menteri Perhubungan, Menteri Perikanan dan Pengolahan Laut, dan Menteri Perindustrian Maritim. Kemenko Maritim yang digagas Soekarno langsung dihapus saat Orde Baru bertahta. Di bawah pemrintahan Soeharto, Indonesia lebih mementingkan pembangunan berbasis agraris sehingga Kemenko Maritim dihapus. Daratan dianggap lebih utama, ketimbang lautan.

Sejak itu, Indonesia menjadi negara yang ‘lupa lautan.’ Kita tak pernah lagi merawat seluruh potensi dunia maritim untuk membangun postur negara yang kuat. Sekian dekade pembangunan kita, hanya fokus pada daratan, tanpa memosisikan lautan sebagai titik berat pembangunan. Selama sekian waktu, lagu “Nenek Moyangku Orang Pelaut” hanya menjadi lagu yang mengantar tidur seorang anak. Lagu itu tidak menjadi mercusuar untuk menjelaskan kedirian, genealogi, asal-muasal, serta orientasi hendak ke mana negeri ini bergerak.

Hari itu, presiden baru tiba-tiba berbicara tentang Indonesia Poros Maritim Dunia. Akankah terwujud?

***

SEORANG nelayan di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, tengah mengamati layar televisi. Lelaki yang disapa Daeng Reka itu terharu ketika presiden baru menyebut kata ‘nelayan’ dalam pidatonya. Berbilang banyak presiden telah berganti, namun tak ada juga yang menyebut nelayan dalam pidato kenegaraan. Ia paham bahwa nelayan dan juga para petani sering diposisikan sebagai lapis bawah negeri ini. Ia paham bahwa

Hari itu, saya bertemu Daeng Reka menonton televisi sebelum berangkat melaut. Saban hari, ia menangkap ikan, kemudian menjualnya di beberapa pedagang pengumpul. Ombak lautan Sulawesi telah menjadi sahabat karibnya. Ia seorang nakhoda ulung yang menjadikan lautan sebagai kanvas untuk mencari nafkah. Sayang, garis hidupnya seolah terpatok  sebagai nelayan biasa. Ia masih belum bisa keluar dari mata rantai kemiskinan yang telah lama membelit dirinya.

Di kalangan nelayan, ia hanyalah seorang sawi atau nelayan biasa. Di kalangan nelayan yang tumbuh dalam tradisi Bugis-Makassar, sawi adalah bawahan dari seorang punggawa atau pemilik kapal. Seorang sawi hanya bekerja sebagai anak buah, menjalankan instruksi, serta melaksanakan apapun yang menjadi keinginan seorang punggawa.

perahu layar di Baubau, Sultra

Struktur sosial ini telah berlaku selama beberapa dekade. Para nelayan lapis bawah tak memiliki banyak kesempatan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan itu, lalu menjadi sosok pemilik kapal. Yang bisa dilakukan adalah sesegera mungkin keluar dari mata rantai kelembagaan yang mengekang, lalu memperkuat semangat wirausaha sehingga lambat laun bisa mengatasi segala masalahnya. Namun, apakah kenyataan sesederhana itu?

Di tengah akses yang lemah serta kondisi perbankan, para nelayan kemudian berpaling pada tengkulak. Memang, bunga pinjaman pada tengkulak jauh lebih tinggi, akan tetapi para nelayan itu mendapatkan kemudahan berupa akses yang cepat serta tidak ada administrasi yang berbelit-belit. Di sisi lain, para tengkulak sukses memanfaatkan jejaring kekerabatan yang kuat di masyarakat. Pantas saja jika nelayan berpikir bahwa meskipun bunga mahal, akan tetapi jika tak perlu mengurus administrasi dan menyerahkan dokumen agunan, mereka akan memilih bekerjasama dengan para tengkulak, ketimbang bank.

Belum lagi, ada jarak geografis yang begitu jauh. Para elite politik di Jakarta sibuk mengatasnamakan rakyat. Segala kebijakan politik, bahkan yang menyangkut nasib para nelayan, justru diputuskan dari Jakarta, tanpa memahami dan mendengar apa yang diinginkan para nelayan. Semua partai politikpun mengatasnamakan rakyat sebagai jantung dari semua kegiatan politik. Namun, apakah mereka benar peduli pada rakyat? Apakah mereka punya komitmen untuk membantu jutaan rakyat Indonesia yang berharap banyak pada mereka?

Hari itu, Daeng Reka menyeka air matanya ketika mendengar pidato sang presiden. Seusai pelantikan, sang presiden berkata, “Kepada para nelayan, buruh, petani, pedagang pasar, pedagang asongan, TNI, Polri, pengusaha, dan kalangan rofesional, saya menyerukan untuk bekerjasama, bahu-membahu, bergotong-royong, karena inilah momen bersejarah bagi kita semua untuk bergerak bersama-sama untuk bekerja, untuk bekerja, dan bekerja,” katanya.

Daeng Reka hanya paham sedikit apa yang dimaksudkan presiden. Ia tahu bahwa yang diinginkan adalah bekerja secara bersama-sama. Padahal, makna yang disampaikan itu cukup luas, melampaui semua yang dikatakan. Pidato itu menegaskan posisi strategis nelayan sebagai salah  aktor utama dalam  mewujudkan Indonesia sebagai negara yang kuat. Ketika nelayan disebut lebih awal ketimbang rofesi lain mencerminkan pemikiran presiden yang hendak memacu dan memberikan perhatian khusus kepada nelayan.

Selama ini, para nelayan diposisikan hanya sebaga obyek dari berbagai kebijakan. Aspirasi mereka tak didengarkan. Mereka menjadi figuran dari orkestra pembangunan di tanah air sendiri. Terbukti dari kenyataan yang ada saat ini, dimana nelayan sebagian besar berada dibawah garis kemiskinan. Selain nelayan penangkap ikan, juga pembudidaya seperti petambak ikan belum mendapat prioritas peran dalam pembangunan nasional.

Akses permodalan yang sulit serta peningkatan SDM yang lemah turut dirasakan oleh nelayan, dimana pengembangan infrastruktur pendidikan yang minim di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil menjadi salah satu pemicunya. Disisi lain jaminan kesejahteraan, perlindungan bagi nelayan kecil masih jauh dari harapan. Data tahun 2014 menunjukkan jumlah  nelayan di Indonesia mencapai 37 juta jiwa, 70 % dari total tersebut dibawah ambang kemiskinan serta hidup dari hutang ke hutang.  Salah satu penyebabnya adalah kelangkaan BBM, dimana nelayan sulit untuk membeli BBM jenis solar sesuai dengan harga eceran yang ditetapkan pemerintah. Kedepan, persoalan rencana kenaikan harga BBM tentu juga perlu mempertimbangkan hal tersebut.

Keberadaan nelayan akan sangat menentukan kemampuan produksi perikanan negara Indonesia, sementara karena tekanan ekonomi seperti penjelasan diatas mendorong banyaknya nelayan berpindah profesi yang termasuk mendorong terjadinya urbanisasi masyarakat pesisir ke kota-kota besar.  Hal lain yang berdampak negatif  terhadap nelayan adalah perusakan lingkungan serta praktik privatisasi lahan di wilayah pesisir. Perusakan lingkungan akan menyebabkan terganggunya ekosistem sehingga hasil produksi perikanan menurun.

Privatisasi atau pengkaplingan lahan di pesisir menyangkut kebutuhan tempat tinggal serta lahan alternatif bagi keluarga nelayan untuk bercocok tanam atau membudidaya ikan saat harus bertahan  pada  masa panceklik atau  kondisi dimana tangkapan dari laut berkurang atau bahkan tidak ada.  Jokowi dalam pidatonya memberikan harapan besar untuk menempatkan posisi nelayan sebagai inti pembangunanan Indonesia dan menjadi “Poros Maritim Dunia” , dengan demikian akan memberikan perhatian khusus kepada nelayan sehingga berbagai persoalan tersebut dapat diatasi.

***

PERTEMUAN dengan Daeng Reka yang amat berkesan bagi saya. Batin saya seakan diguyur oleh pencerahan baru tentang betapa banyaknya kerja keras yangharus ditempuh demi menyambungkan harapan seorang pemimpin dan realitas yang dihadapi seorang warga. Tentu saja, berdiam diri tidak menyediakan jalan keluar apapun. Yang harus dilakukan adalah merangkum semua keresahan, lalu mengalirkannya dalam berbagai kanal yang tepat demi menemukan muara yang memberi jawaban atas semuanya.

Namun seiring dengan hadirnya pemerintahan baru, sebuah harapan telah bersemi. Seiring dengan hadirnya pemerintahan baru, saatnya kita menggelorakan kembali segala kesadaran tentang pentingnya laut yang tak hanya berfungsi sebagai medium  transportasi,  ideologi dan pertahanan, melainkan sebaga semesta kehidupan dari begitu banyak manusia. Laut tidak dilihat sebagai pemisah tetapi pemersatu yang menghubungkan pulau-pulau di Indonesia. Laut adalah sabuk yang merekatkan Nusantara.

Sejarah mengajarkan kita semua bahwa pada masa silam, perjuangan adalah perlawanan untuk meraih kemerdekaan dan lepas dari rantai penjajahan. Kini, semangat itu bertransformasi menjadi bentuk perlawanan terhadap himpitan ekonomi dan berbagai persoalan pelik yang saat ini tengah dihadapi seluruh anak bangsa. Mulai hari ini, identitas bangsa dan negara Indonesia sebagai negara kepulauan yang terintegrasi dengan wilayah perairannya (lautan) harus diperkukuh kembali. Lautan tak hanya menjadi spektrum geografis sebagai negara kepulauan, tetapi juga identitas bangsa berbudaya maritim yang dinamis. Geo-political destiny kita adalah maritim.  

Seluruh anak bangsa mesti menyadari pentingnya budaya bahari Indonesia. Negara ini kaya akan hasil laut, tetapi banyak kekayaan laut tersebut dikuasai oleh asing baik secara legal maupun ilegal sehingga tidak memberi kontribusi nyata bagi kemakmuran bersama.

Komitmen yang harus diwujudkan  dalam tindakan nyata adalah mengelola lautan dengan segala potensinya menjadi peluang untuk memajukan bangsa, karena kejayaan  nusantara sebagai bangsa maritim dahulu diperoleh atas kemampuan memahami potensi serta mengelolanya.  Tekad yang harus dikuatkan adalah mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai negeri maritim yang berjaya di banyak aspek, tak hanya sektor perikanan dan kelautan, tapi juga perniagaan, dan pertahanan.

Pantai di Gili Nanggu, Lombok

Dengan hadirnya pemerintahan yang memiliki ketajaman visi dan kesadaran terhadap posisi strategis nusantara akan membawa negara ini disegani oleh negara-negara lain dimasa yang akan datang. Perubahan yang diharapkan kedepan tentunya berangkat dari paradigma berpikir yang selama ini lebih mengedepankan pemanfaatan sumberdaya daratan menjadi berorientasi pada pemanfaatan sumberdaya lautan. Indonesia sebagai negara kepulauan tidak dapat terpisahkan dari kemampuannya dalam  manajemen pertahanan, untuk itu pertahanan maritim seharusnya menjadi strategi utama dalam menjamin kedaulatan negara.

Yang juga menyentuh hati, Presiden Jokowi juga mengumpamakan dirinya sebagai nakhoda yang memimpin kapal besar bernama Indonesia. Negeri ini diibaratkan sebagai sebuah kapal yang berlayar menuju tanah harapan. Seorang nahkoda adalah pemegang kekuasaan dan pengendali pada suatu  kapal. Ia mengatakan:

Mengakhiri pidato ini, saya mengajak saudara-saudara sebangsa dan setanah air untuk mengingat satu hal yang pernah disampaikan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, Bung Karno, bahwa untuk membangun Indonesia menjadi negara besar, negara kuat, negara makmur, negara damai, kita harus memiliki jiwa cakrawarti samudera; jiwa pelaut yang berani mengarungi gelombang dan hempasan ombak yang menggulung. Sebagai nahkoda yang dipercaya oleh rakyat, saya mengajak semua warga bangsa untuk naik ke atas kapal Republik Indonesia dan berlayar bersama menuju Indonesia Raya. Kita akan kembangkan layar yang kuat. Kita akan hadapi semua badai dan gelombang samudera dengan kekuatan kita sendiri. Saya akan berdiri di bawah kehendak rakyat dan Konstitusi. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa merestui upaya kita bersama.”

Kalimat ini amat bersesuaian dengan filosofi Suku Bajo, salah satu suku yang bertualang di lautan, yang meyakini bahwa masyarakat laksana perahu yang terombang-ambing di lautan sehingga senantiasa mecari keseimbangan. Ketika semua pihak bekerjasama, perahu itu akan lincah membelah samudera. Namun ketika tak siap menghadapi samudera, maka perahu itu akan limbung ke kanan dan ke kiri.

Filosofi ini bisa dibumikan dalam konteks Indonesia. Jika semua anak bangsa bisa saling bergotong royong dan  mengambil peran, maka tercapailah tujuan bersama yaitu menjadikan Indonesia sebagai negara yang besar, negara yang kuat dan negara yang damai.(*)


Cerita tentang Dua Sahabat


ilustrasi

DI kampung saya, hanya ada satu pekerjaan yakni menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Di luar itu, maka dianggap bukan pekerjaan yang ideal. Tapi di Jakarta tidaklah demikian. Ada banyak pekerjaan dan profesi yang justru bisa menghasilkan banyak uang. Tadinya saya menganggapnya aneh, namun ada banyak orang yang bisa menggapai sukses, tanpa mengandalkan selembar ijazah.

Selama beberapa waktu di Jakarta, saya menemukan banyak fakta unik dan mengejutkan. Bahwa kecerdasan bukanlah hal yang paling penting untuk sukses. Bahkan gelar akademis pun tidak begitu penting. Yang dibutuhkan hanyalah kemampuan bertahan, kemampuan melihat celah-celah pekerjaan, serta kemampuan membangun jaringan dengan banyak orang.

***

TEMAN itu selalu berpakaian necis. Ia selalu datang dan menunjukkan gadget terbaru yang dimilikinya. Ia memakai ponsel jenis Iphone 6 seri terbaru. Ketika saya tanya ponsel itu digunakan untuk apa? Ia terkekeh. Ia hanya menggunakan satu aplikasi yakni kamera. Itu pun hanya digunakannya untuk memotret berbagai jenis batu akik yang dikoleksinya.

Hari-harinya adalah nongkrong di Warung Kopi Phoenam yang berlokasi di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta. Kerap, saya datang menemaninya untuk bercerita hal yang lucu-lucu. Pembicaraannya tak jauh-jauh dari topik tentang perempuan dan batu akik. Kalau diajak berbicara serius, ia enggan menanggapi. Ia lebih suka membahas hal-hal ringan.

Saya mengenalnya sejak lama. Dahulu, ia terdaftar sebagai mahasiswa di satu perguruan tinggi di Makassar. Sayang, ia tidak sempat menyelesaikan kuliahnya. Ketimbang belajar di kelas, ia lebih suka nongkrong di kantin-kantin kampus dan menggoda para mahasiswi. Ketika kami semua lulus, ia pun banting stir ke Jakarta. Bertahun-tahun tak bertemu, saya akhirnya selalu melihatnya di warung kopi Phoenam, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta.

Setiap kali bertemu, saya selalu bertanya dalam hati, apakah pekerjaan teman ini? Rasanya aneh saja melihat ada orang yang setiap hari datang ke warung kopi dengan memakai mobil mewah. Apakah ia tidak bekerja?

Belakangan saya tahu. Ternyata ia adalah salah satu pembuat animasi yang punya reputasi baik di Jakarta. Ia kerap mengerjakan animasi untuk televisi serta berbagai video perusahaan. Animasi yang dibuatnya sungguh menakjubkan. Pekerjaannya rapi dan halus. Itulah sebab mengapa ia selalu dicari dan dibayar mahal oleh berbagai perusahaan. Kini, ia juga memiliki bisnis pembuatan neon box serta televisi raksasa berisikan iklan di jalan-jalan utama Jakarta.

Ia dibayar mahal karena kompetensi serta kemampuannya. Ia mendapatkan kompetensi itu melalui proses belajar secara otodidak dan konsistensinya di jalur itu. Ia memang pembelajar hebat yang belajar animasi karena memang memiliki passion dan semangat yang kuat di bidang itu. Sungguh menyenangkan bisa menekuni hobi. Semakin jauh menyenangkan pula ketika menekuni hobi itu malah dibayar.

Saya juga terkesima dengan seorang sahabat. Sebut saja namanya Baco. Ia justru tak pernah belajar di perguruan tinggi. Saya mengenalnya sejak lima tahun silam. Bebrbeda dengan teman yang bekerja sebagai animator, Baco paling sering keluar daerah. Ia selalu pindah-pindah kota dan selalu tinggal di hotel-hotel mewah. Ia bekerja sebagai pengelola pelatihan yang ditujukan bagi pegawai negeri, kontraktor, dan pebisnis.

Jaringannya luas. Ia bisa mengendus peluang di bidang pelatihan. Alasannya, ada banyak orang yang ingin belajar kapasitas teknis, namun tidak punya ruang memadai untuk itu. Lagian, lembaga-lembaga pendidikan tak selalu menyediakan pelatihan untuk mempelajari hal-hal teknis itu. Padahal, banyak yang membutuhkan itu.

Ia lalu berjejaring. Ia menyebar relasi di mana-mana. Ia rutin menggelar pelatihan di berbagai kota. Malah, ia mempekerjakan para doktor dan akademisi sebagai pemateri di lembaganya. Para akademisi bergelar doktor itu dibayarnya 5 juta untuk membawakan materi seharian.

Luar biasa. Ia mempekerjakan orang sekolahan yang menghabiskan waktu tahunan untuk sekadar gelar. Sementara dirinya bisa mendapatkan uang hingga 100 juta rupiah dalam sebulan. Ia seolah menunjukkan bahwa pada akhirnya, kehidupan ditentukan oleh mereka yang bisa survive dan menemukan jalannya sendiri. Kehidupan tak ditentukan oleh kampus-kampus melalui selembar ijazah. Yang jauh lebih penting adalah pengalaman dan jaringan luas serta kesediaan untuk selalu belajar pada setiap etape kehidupan.

Yang saya senangi pada dua sahabat ini adalah mereka sama-sama punya waktu luang yang snagat banyak untuk sekadar kumpul-kumpul dan ngopi dengan sahabat-sahabatnya. Mereka sungguh beda dengan para pekerja kantoran yang saban hari ke kantor lalu bekerja seharian, setelah itu kembali ke rumah ketika matahari tenggelam.

Dua sahabat itu tidak diperbudak pekerjaan. Bekerja dalam sebulan bisa membiayai keluarga serta kebiasaan kumpul-kumpul selama setahun lebih. Mereka bisa mengendalikan waktu, lalu merencanakan hal-hal yang idealis, yang bisa meningkatkan kapasitas, serta membuat mereka bisa melakukan hal-hal yang bermakna. Mereka bisa setiap saat berkumpul bersama keluarga, berlibur, serta menekuni hobi tertentu.

Kehidupan memang serupa kanvas yang bebas diisi dengan aneka warna-warni. Dua sahabat itu memilih untuk menyapukan warna favoritnya di kanvas itu. Keduanya menaklukan kehidupan melalui kejelian untuk melihat peluang. Keduanya menginspirasi orang lain dengan caranya sendiri. Keduanya mengajarkan pada saya bahwa kehidupan selalu punya harapan dan matahari sepanjang kita bekerja keras dan terus belajar.

Sungguh senang bersahabat dengan mereka.


Saat Strawberry Belum Bermekaran



TERGODA oleh cerita seorang kawan tentang agrowisata, saya dan keluarga menyempatkan diri ke kebun strawberry di Cipanas, Jawa Barat. Niatnya adalah ikut memetik strawberry lalu membawanya pulang sebagai kenang-kenangan. Sayang, waktu kedatangan kami bukan di saat yang tepat.

***

“TUHAN menciptakan tanah Priangan saat sedang tersenyum.” Kalimat itu diucapkan seorang sahabat beberapa tahun silam. Ia tak sekadar mengeluarkan kalimat lepas. Ia menyaksikan betapa banyaknya pemandangan indah di tanah Sunda. Selalu ada yang baru di situ.

Dalam perjalanan ke Cipanas, saya berkunjung ke perkebunan strawberry. Saya membaca di satu website tentang paket wisata di kebun buah kecil berwarna merah itu. Semua pengunjung bisa ikut dalam kegiatan memetik strawberry, lalu mengemasnya dalam wadah yang cantik.

Saya berpikir bahwa wisata ini unik dan kreatif. Saya membayangkan betapa asyiknya menyaksikan langsung strawberry yang selama ini hanya bisa ditemukan dalam permen ataupun minuman. Saya membayangkan betapa senangnya menelusuri kebun strawberry, memilai-milah buah yang bisa dipanen, hingga menyimpannya dalam keranjang.

Wisata ini bisa menjadi wisata edukasi bagi anak saya. Ia bisa paham bahwa di balik permen dan minuman rasa strawbeery yang disukainya, ada buah-buahan merah yang tumbuh dari tanaman merambat yang dipanen secara berkala. Saya ingin agar ia melihat kebun buah-buahan, menumbuhkan kecintaan pada tanaman, lalu kelak menanam banyak bibit yang akan menghijaukan bumi.




Sayangnya, buah strawberry tidak sedang bermekaran. Tapi saya cukup puas ketika bisa menyaksikan langsung tanaman itu dari dekat. Saya juga senang menyaksikan kebun-kebun sayuran yakni tomat, brokoli, dan terung, cabe, dan lain-lain. Di situ, pengunjung bisa pula ikut menanam strawberry, membuat dodol, hingga menangkap ikan di kolam, lalu mengolahnya.

Saya juga menggemari atraksi berkuda di tengah hujan gerimis. Ternyata, berkuda itu tak semudah menyaksikannya di film. Saya agak kesulitan menyeimbangkan diri. Mulanya saya menjepit tubuh kuda agar tidak jatuh. Ternyata, tubuh kita harus mengikuti pergerakan kuda sehingga bisa seirama dan menikmati proses menunggang kuda itu.

Perjalanan ke Cipanas tak sia-sia. Memang, tak ada strawberry yang dipetik, tapi ada banyak makna dan hikmah yang dipetik dan memperkaya batin. Saya teringat kalimat Gandhi, “Bumi sangat luas, dan senantiasa cukup untuk memberi makan semua manusia. Namun tak akan cukup untuk memberi makan ketamakan manusia.”

Cipanas, 4 Mei 2015

saat berkuda


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Terpopuler Minggu Ini

...

...