Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Gadis-Gadis Pencinta Doraemon



DI satu waktu libur, saya menemani anak dan istri berkunjung ke pameran 100 alat ajaib Doraemon. Mulanya saya berpikir bahwa pengunjung pameran adalah barisan anak kecil yang mengidolakan Doraemon. Ternyata saya keliru. Pengunjung pameran itu adalah orang-orang dewasa.

Di acara itu, saya menyaksikan bagaimana Doraemon bisa menjelma sebagai semesta yang mengawetkan ingatan para pengunjung tentang masa kecil yang ceria, masa kecil yang bertumbuh, dan masa lalu yang selalu membayangi masa kini. Ada satu tanya yang mendesak batin, “Apakah ada jejak yang diwariskan oleh sosok kartun masa silam itu?”

Entahlah. Yang pasti, anak saya, yang berusia tiga tahun, tak seberapa menggemari Doraemon. Ia menghapal bentuknya yang unik, serta mengenali nama sosok kucing berwarna biru itu. Namun ia tak terlalu suka. Ia tak histeris saat menyaksikan puluhan patung-patung kucing robot masa depan itu. Ekspresinya datar saja. Malah, saat setengah jam di acara itu, ia merengek untuk segera pulang.

Namun tidak dengan banyak remaja dan orang dewasa di ruangan itu. Saya berkeliling dan menyaksikan tingkah para penggemar sosok kartun itu. Mereka datang berombongan, berfoto narsis dengan patung Doraemon, lalu tersenyum bahagia kala melihat hasil jepretan kamera.

Generasi hari ini adalah generasi narsis. Generasi hari ini tak seberapa peduli dengan nilai dan makna di balik satu komoditas. Anak-anak muda yang saya saksikan ini tak seberapa tertarik untuk menelusuri ingatan tentang sosok Doraemon. Barangkali mereka hanya mengingat kantung ajaib yang bisa mengeluarkan berbagai benda. Mungkin mereka tak menangkap makna bahwa kantung ajaib itu adalah simbol dari inovasi serta rasa lapar akan teknologi yang tak berkesudahan.


Tapi, barangkali mereka sedang menjaga ingatan tentang sosok itu. Mereka yang menggemari Doraemon adalah mereka yang dahulu menjadi remaja pada era 1990-an dan 2000-an, era ketika ekonomi Indonesia sedang membaik, dan televisi telah menjadi barang murah yang bisa ditemukan di mana-mana. Mereka adalah generasi X yang perilakunya perlahan ditentukan oleh televisi sebagai benda ajaib yang menjadi juri atas apa yang hebat dan tak hebat.

Doraemon menjadi jembatan atas masa-masa ketika mereka berdiam di rumah dan menikmati tontonan komersial. Doraemon menjadi ‘technologies of memory’ yang secara perlahan merawat ingatan mereka tentang masa silam yang menyenangkan. Doraemon menjadi satu wahana rekreasi pikiran di tengah sumpeknya hari-hari yang penuh deadline dan tugas-tugas mendesak. 

Yup, kita memang butuh rekreasi.

Bogor, 18 April 2015

Jejak Jepang di Sawah Kita


persawahan

DI banyak desa-desa kita, sawah-sawah nampak hijau dan tanaman padi berbaris dengan rapi. Siapa sangka, di balik keindahan sawah-sawah kita yang tertata itu, terdapat cerita tentang kontribusi bangsa Jepang saat menjajah bangsa kita. Inilah berbagai kisah menarik yang ditemukan oleh sejarawan Jepang Aiko Kurasawa.

***

SEBUT saja nama pria itu adalah Kenji. Ia seorang insinyur pertanian Jepang yang didatangkan ke Jawa pada tahun 1942. Ia bertugas untuk menjalankan misi penting yakni meningkatkan produksi pertanian di Jawa demi menyuplai kebutuhan Jepang pada perang Pasifik.

Jepang datang ke Jawa dengan membawa pasukan sebanyak 10.000 hingga 15.000 tentara. Sebagian besar pasukan itu lalu dibawa ke front pertempuran di Pasifik. Pertempuran itu membutuhkan logistik yang cukup besar. Mesti ada upaya agar para prajurit mendapatkan pakan yang cukup, sekaligus bisa menggenjot ekonomi daerah jajahan.

Demi tujuan perang itu, Jepang datang ke Indonesia sembari membawa janji-janji tentang kemerdekaan. Demi angan-angan kemerdekaan, Jepang mendapatkan simpati anak negeri. Jepang lalu masuk ke desa-desa demi melakukan ekspoitasi ekonomi, serta menopang kebutuhan perang. Tak hanya tentara, Jepang juga mendatangkan sejumlah insinyur untuk menata pertanian.

Kenji bertugas sebagai zosan shidokan atau pengawas peningkatan produksi, Ia bertugas di karasidenan Pekalongan. Sebagai insinyur, ia bekerja dnegan patokan ilmiah, melakukan riset, dan merekomendasikan sejumah program. “Tugas saya adalah meningkatkan produksi beras dan mendidik masyarakat untuk bertani dengan benar,” katanya.

Kisah Kenji ini saya temukan dalam buku Kuasa Jepang di Jawa: Perubahan Sosial di Pedesaan 1942-1945, yang ditulis Aiko Kurasawa, terbitan Komunitas Bambu, tahun 2015. Buku ini sebelumnya menjadi disertasi di Cornell University yang berjudul Mobilization and Control: A Study of Social Change in Rural Java 1942 – 1945.

Di mata saya, buku ini sangat menarik sebab selama ini literatur tentang Jepang hanya mengisahkan tentang kekejaman tentara itu di masa perang. Ternyata, terdapat sisi lain dari perang, yakni sejauh mana transformasi terjadi di pedesaan, yang kemudian mengubah tatanan kelembagaan, serta dinamika kelembagaan warga desa.

Mulanya, negeri Sakura itu merasa frustasi melihat rendahnya produksi beras di Jawa. Mereka berambisi untuk memindahkan ilmu pertanian ke para petani Jawa. Yang dilakukan pertama adalah mendatangkan ahli pertanian yang bertugas untuk melakukan alih teknologi kepada petani. Jepang lalu mendidik dan melatih para perantara atau penyebar pengetahuan mengenai teknk pertanian.

Mereka membangun Noji Shinkeyo (Stasiun Percobaan Pertanian) di Bogor. Beberapa insinyur dan peneliti Jepang lalu merekomendasikan untuk mengganti bibit padi yang dipakai petani pada masa itu. Sebab bibit padi itu dianggap tidak bisa menghasilkan produksi yang besar. Insinyur Jepang menggantinya dengan beras horai dari Taiwan.

Kenji dan para insinyur lain lalu merancang inovasi teknik. Salah satunya adalah teknik penanaman dengan garis-garis lurus pada jarak tanam tertentu. Teknik ini disebut larikan. Sebelum perang, para petani Jawa menanam padi secara acak dan tidak mengikuti garis lurus. Jepang melihat cara menanam itu mempengaruhi rendahnya produktivitas padi. Mereka memerintahkan agar petani mengikuti cara petani Jepang, yakni mengikuti daris lurus.

buku karya Aiko Kurasawa

propaganda bangsa Jepang

pamflet propaganda

Setelah melalui serangkaian percobaan yang dilakukan para insinyur negeri matahari terbit itu, didapatkanlah jarak tanam yang ideal adalah 20 centimeter antar padi. Untuk menjaga agar jaraknya sama, maka petani diminta memegang tali panjang dengan simpul pada setiap jarak 20 cm. Petani lain diminta menanam padi pada setiap simpul tersebut. Jepang juga meminta agar petani tidak menanam bibit lebih dalam dari 2 cm.

Yang menarik, Kenji dan para insinyur Jepang itu memberikan contoh pada para petani melalui sepetak tanah percobaan yang disebut shikenden. Tanah ini disediakan di setiap desa, yang kemudian menjadi patokan bagi petani untuk menanam padinya. Mulanya, petani keberatan karena penanaman yang mengikuti garis lurus ini membutuhkan banyak tenaga kerja dan lebih menyusahkan. Lantas, bagaimanakah cara mempengaruhi warga desa?

Cara yang ditempuh adalah memaksimalkan segala bentuk propaganda serta menggelar kampanye secara massif. Selain memanfaatkan sejumlah tokoh nasionalis, Jepang menggunakan segala media indoktrinasi, mulai dari film, radio, surat kabar, serta memanfaatkan sjeumlah kiai di desa-desa. Semua mesin propaganda itu digerakkan untuk mendapatkan tenaga warga desa secara gratis untuk program seperti romusha, perekrutan tentara, serta kebijakan agar petani menyerahkan hasil panen kepada bangsa Jepang.

Masa penjajahan yang singkat itu akhirnya menyisakan trauma dan kengerian, sebab di dalamnya terdapat banyak nestapa dan kesedihan, khususnya pada program seperti kerja paksa (romusha), perekrutan perempuan yang menjadi pemuas hasrat seksual (kerap disebut jugun ianfu), dan tekanan dari kenpetai atau tentara yang bertugaS sebagai pengawas warga desa.

Buku ini membuka mata saya atas banyak hal. Pertama, tenyata penjajahan tak selalu berisikan cerita sedih tentang pertempuran dan nestapa kehilangan keluarga. Ternyata, peperangan juga menyimpan sisi lain, khususnya proses saling belajar, alih pengetahuan, serta proses perubahan di masyarakat. Salah satu jejak yang tersisa dari kehadiran Jepang adalah berbagai inovasi pada sektor pertanian.
           
Kedua, dalam waktu yang relatif singkat, Jepang mengubah kelembagaan masyarakat desa sehingga mengikuti model dari Jepang pada periode agraris. Kita bisa melihat itu pada lahirnya struktur Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) yang di Jepang disebut sebagai tonarigumi, yang merupakan unit gabungan dari beebrapa rumah. Kelembagaan ini sengaja dibentuk untuk memaksimalkan kontrol dan mobilisasi dari Jepang demi mendukun perang. Para pemimpin nasional dan ulama digerakkan untuk menggiring kesadaran rakyat agar terus menjadi pendukung Jepang.

padi yang berbaris rapi

Ketiga, dalam situasi penuh indoktrinasi dan tekanan, maka perlawanan bisa muncul. Itu terlihat ketika beberapa kiai di Pesantren Sukamanah, Tasikmalaya, menyatakan perlawanan kepada Jepang. Para ulama itu tak sudi dipimpin oleh rezim yang terus menindas dan menyengsarakan rakyat.

***

SAYANG sekali, kehadiran Kenji dan insinyur lain gagal meningkatkan produktivitas sektor pertanian di Jawa. Aiko Kurasawa mencatat, para insinyur itu diberi target, namun tidak diberikan waktu yang cukup untuk melakukan riset lapangan. “Saya kesulitan ketika diberi target. Saya belum mengenali pertanian jawa dengan baik. Tiba-tiba diminta mengajari penduduk yang bertahun-tahun menjadi petani. Waktu saya lebih banyak habis untuk memancing,” katanya.


Bogor, 14 April 2015

Sensasi jadi Headline (27)

UNTUK kesekian kalinya, saya memajang beberapa tulisan saya yang menjadi headline di Kompasiana. Selamat membaca!

 Nikmat Solo, Nikmat Coto Gading

 Politik Cerdik Aburizal Bakrie

 Rakyat Saling Cakar, Elite Saling Peluk

 Kopi Ternikmat di Dunia


Ceritakan Padaku tentang Dongeng?


ilustrasi
 
Dongeng dimulai dari imajinasi yang terbang tinggi, mengeksplorasi ide-ide serta gagasan baru, bercengkrama dengan awan-awan fantasi lalu kembali menukik ke bumi dan membawa rembulan kisah. Dongeng dimulai dari khayalan lalu diikat dengan benang peristiwa serta dikuatkan oleh simpul narasi. Ada bahagia serta sedih yang sering dipertukarkan, lalu perjalanan mendaki, naik ke puncak, kemudian kembali ke bumi dengan akhir tragis ataupun bahagia. Apapun ending-nya, semuanya adalah pilihan sang pembuat dongeng demi mencapai sesuatu.

Sebuah dongeng adalah sebuah cerita. Di situ ada dunia dan manusia-manusia atau sesuatu yang saling mengisi. Sering pula kisah binatang atau kisah tentang sesuatu di tempat jauh atau di negeri awang-awang. Atau kisah tentang mahluk antah berantah seperti raksasa, kurcaci, penyihir, serta pohon-pohon yang kesemuanya menjadi karakter utuh. Di sini tak ada rasio atau sains, yang ada adalah kesediaan menerima sesuatu, serta kesediaan untuk hanyut dalam aliran kisah yang kadang deras, kadang pula tenang.

Sebuah dongeng dituturkan oleh para pencipta, yang menjaga alur, menciptakan tokoh, lalu menyusun setiap kepingan kejadian. Para pendongeng adalah mereka yang di dalam benaknya terdapat banyak dunia yang hanya bisa dipahami oleh mereka sendiri, lalu dijejalkan dalam kata. Terkadang, kata sanggup menggambarkan apa yang dibayangkan, namun kata lebih sering terbatas. Maka pendongeng ibarat sumur yang tak pernah mengering. Ia terus mengalir.

Di dalam dongeng, terdapat satu permufakatan. Bahwa akal akan selalu tunduk pada imajinasi. Akal akan selalu ikut dalam alur yang dibuat sang pencipta. Maka seekor kuda bisa terbang dan mengepakkan sayap, manusia bisa berkelana ke masa silam, serta bumi yang bisa berputar-putar. Tak ada pertanyaan di situ, sebab dongeng punya rasio dan logikanya sendiri-sendiri.

Dan di situ terdapat demikian banyak pelajaran dan hikmah-hikmah yang bersembunyi dalam kisah.


Bogor, 11 April 2015

Pengalaman Membuat Newsletter (2)


UNTUK keenam kalinya saya membuat newsletter untuk merangkum tulisan dari para peneliti. Tadinya, niat saya hanyalah untuk merekam semua dinamika di dalam lembaga riset. Ternyata, newsletter ini diharapkan bisa terbit secara rutin. Di satu sisi, newsletter ini mendapatkan apresiasi. Tapi di sisi lain, saya harus senantiasa merancang tema-tema yang akan diterbitkan. Berikut newsletter terbaru.









Menyerap Hikmah, Memulung Makna


poster film

FILM Ada Surga di Rumahmu memiliki tema yang sederhana, namun sangat kuat menggedor-gedor hati ini. Film ini mengajukan banyak tanya yang memenuhi benak saya. Betapa saya merasa terlalu jauh dari orangtua. Betapa saya, laksana manusia modern lainnya, terjebak dalam sirkuit pencarian zona nyaman. Betapa saya mengabaikan begitu banyak hal-hal sederhana yang justru sangat bernilai dan membahagiakan.

Film ini membuat saya sejenak merenung. Betapa saya laksana seseorang yang bepergian untuk mencari-cari udara, tanpa menyadari bahwa udara senantiasa melingkupi dan setiap saat memasuki tubuh saya dalam tarikan napas. Ke mana-mana saya mencari bahagia, padahal sejatinya bahagia itu amatlah dekat. Ia terletak pada senyum seorang ibu saat memandang anaknya. Ia terletak pada beningnya telaga hati ibu yang menampung semua tumbuhan kebaikan dan pengharapan dalam diri anaknya.

***

DI Mal Belanova, Bogor, saya menyaksikan poster film Ada Surga di Rumahmu, yang diproduksi Mizan. Film ini disutradarai oleh Aditya Gumay. Aktor utamanya adalah Husein Idol. Bersama istri dan anak, saya memutuskan untuk menonton film ini. Apalagi, kami tak tertarik menonton film Fast and Furious 7 yang lagi tayang di bioskop.

Jujur, saya bukan penggemar film berlatar religi. Beberapa film religi yang pernah saya tonton tak begitu mengesankan. Mengapa? Di mata saya, film religi seringkali menghadirkan ancaman-ancaman, apakah itu ancaman akan masuk neraka, ancaman akan tewas dalam keadaan tubuh penuh belatung, ataukah ancaman akan mendapat azab. Sejak awal, saya ingin beragama yang dilandasi cinta kasih, bukannya ketakutan-ketakutan.

Saya juga tak suka dengan kemasan religi pada film-film horor yang menegaskan peran ulama hanya sebagai pengusir setan. Padahal, setan dalam kehidupan ini amatlah kompleks. Setan tak lagi hadir pada sosok kuntilanak ataupun genderuwo. Setan bisa hadir pada sikap masa bodoh atas sesama, sikap merasa diri paling hebat, ataupun sikap merasa enggan untuk membuka diri pada beragam inspirasi kebaikan. Setan bisa hadir di media sosial, dalam bentuk fitnah pada orang lain, atau menyebar berita-berita yang tak berbasis fakta.

Dibayangi oleh berbagai pengalaman menonton religi sebelumnya, saya penasaran untuk menyaksikan film ini. Adegan pembuka bikin saya tercekat. Seorang anak kecil berpidato tentang sosok bernama Uwais Al Qarni, yang setia menjagai ibunya yang lumpuh dan buta. Saya tersentak dengan kisah bahwa Rasul begitu menghormati pemuda yang menjagai ibunya itu. Pemuda itu disebut sebagai penghuni langit. Pemuda itu mendapat tempat istimewa di hati Rasul sehingga dirinya selalu dicari para sahabat di masa itu.

Adegan selanjutnya berjalan apik dan mengesankan. Anak kecil yang berpidato tadi selanjutnya masuk pesantren. Ia penuh keisengan dan kenakalan-kenakalan kecil. Saya terpingkal-pingkal saat menyaksikan adegan ketika gurunya menghukum si anak harus ceramah di kuburan di tengah malam buta. Saya juga terkekeh saat si anak itu diharuskan ceramah mengenai keadilan di satu pasar tradisional, di hadapan penjual daging yang sedang memotong-motong daging, yang barangkali sedikit mengurangi timbangan. Ekspresinya lucu saat melihat kilatan kemarahan di wajah penjual daging.

Adegan selanjutnya bikin hati ini menjadi basah. Guru anak muda itu senantiasa mengulangi kalimatnya bahwa keberhasilan seorang anak selalu terletak pada keikhlasan dan pengharapan orangtuanya. Ia memberikan pesan bahwa mencintai orangtua adalah bagian dari indahnya ajaran agama. Ia membisikkan pesan indah agar si pemuda menyayangi orangtuanya lebih dari apapun.

Pesan indah itu disampaikan dalam tindakan-tindakan yang sederhana dan sering kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Saya melihat dedikasi seorang ayah dan ibu untuk kebahagiaan anaknya. Saya menyaksikan tenunan kasih seorang ibu yang menyimpan kain milik anaknya, yang kemudian diciumi saat merindukannya. Saya menyaksikan betapa dahsyatnya cinta seorang ibu yang tak ingin memberi tahu anaknya kalau dirinya sedang didera penyakit, hanya karena tak ingin menganggu hari-hari anaknya.

Sebelum menjadi seorang ayah, hal-hal ini sukar untuk saya pahami. Saya pun pernah didera sikap egois yang seolah tak mau tahu sejauh mana cinta orangtua pada anaknya. Setelah menikah dan punya anak, saya melihat kehidupan dengan cara berbeda. Saya merinding saat membayangkan bahwa sampai kapanpun saya tak pernah bisa membalas setiap tetes kebaikan yang diberikan oleh kedua orangtua. Saya merasakan betapa indahnya cinta mereka di setiap jejak-jejak perjalanan saya.

novel yang jadi inspirasi film

Film, yang diangkat dari novel karya Oka Aurora ini, membuat nurani saya bergetar pada banyak adegan. Misalnya, si anak muda itu membagikan pendapatannya sebanyak 50 persen untuk ibunya. Saya lalu bertanya dalam diri, apakah pernah saya membagikan honor pekerjaan riset yang saya terima dalam jumlah sebanyak itu kepada ibu?

Anak muda itu juga selalu menunggu restu ibu dan ayahnya saat hendak melakukan pekerjaan apapun. Kembali, saya bertanya dalam diri apakah saya setiap saat bertanya pada ibu tentang semua yang saya lakukan? Jangan-jangan ada setan egoisme yang memenuhi hati saya untuk selalu merasa benar atas apa yang sedang saya lakukan, tanpa meminta pertimbangan pada ibu di kampung halaman. Mengapa pula saya harus bersekolah tinggi jika pada akhirnya membuat saya begitu sombong pada orangtua?

Adegan terbaik di mata saya adalah saat sang anak muda itu berada di Jakarta, lalu memutuskan untuk pulang ke kampung halaman demi menciumi kaki ibunya yang sedang sakit. Betapa tak mudahnya mengambil keputusan ini, di tengah impian untuk merenda karier hebat di Jakarta sana. Tapi anak muda melakukannya dengan penuh harapan bahwa niat baik untuk menjagai orangtua jauh lebih penting dari apapun, serta keyakinan kuat bahwa Tuhan tak akan pernah menutup mata atas semua ketulusan dan keikhlasan. Selalu ada jalan terang di situ.

Film ini ibarat telaga yang sejenak membasuh semua keangkuhan yang mengering di hati saya. Selama beberapa hari, pesan-pesan film ini terus terngiang dalam benak saya. Ada demikian banyak hal-hal hebat dan menyentuh di sekitar kita yang seringkali terabaikan akibat kesibukan dan hasrat menggapai zona nyaman. Bahwa di balik banyak tindakan orang-orang di sekitar kita, ada banyak hikmah dan inspirasi yang seharusnya bisa membuat kita lebih terang melihat kehidupan.

Film ini juga membuat saya sangat optimis dalam menjalani hari-hari. Saya tak akan khawatir atas apapun, termasuk kehilangan pekerjaan sekalipun. Saya tak pernah takut untuk melakukan banyak hal-hal baru, selagi cinta kasih orangtua selalu menjadi cahaya lilin yang memandu saya di tengah pekatnya kegelapan. Di situ ada harapan, di situ ada keikhlasan yang ditipkan dalam setiap gerak, di situ ada keyakinan bahwa semua niat baik akan selalu mendatangkan hasil yang baik pula.


Bogor, 9 April 2015

Rakyat Saling Pukul, Elite Golkar Saling Peluk


Jusuf Kalla dan Aburizal Bakrie

DI tengah gegap gempita dan diskusi publik di media sosial tentang politik, para politisi Senayan justru tenang-tenang saja, seakan tak ada apa-apa. Di tengah dualisme yang melanda Partai Golkar, para politisinya bisa minum kopi sembari membahas hal-hal lucu lalu tertawa bersama. Ini bukanlah isapan jempol. Inilah sisi lain dari politik kita yang sungguh berbeda dengan debat dan konflik di media sosial.

***

KAMIS, 2 April 2015. Suasana meriah nampak di Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Banyak orang datang dengan mengenakan jas serta dasi merah. Mereka menghadiri pelantikan para pengurus Hipmi periode 2015-2018. Rencananya, acara ini akan dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang sekaligus akan melantik para pengurus Hipmi yang baru.

Di saat semua peserta menunggu acara dimulai, datang politisi Aburizal Bakrie. Ia nampak sibuk berjabat tangan dengan beberapa pengurus Hipmi. Suasananya tampak sangat akrab dan penuh gelak tawa. Tak lama kemudian, Wapres Jusuf Kalla tiba di lokasi. Ia diiringi oleh beberapa anggota paspamres yang nampak tegap. Tepuk tangan memenuhi ruangan seiring kedatangannya.

Aburizal lalu mendekat dan ikut berjabat tangan dengan Jusuf Kalla. Keduanya lalu duduk di deretan yang sama. Tak ada sedikitpun noda permusuhan di wajah mereka. Semuanya nampak santai dan penuh dengan suasana ceria. Padahal, publik tahu kalau keduanya sedang ada tengkar politik.

Pemerintah mengakui Golkar yang sah di bawah pimpinan Agung Laksono. Konon, Jusuf Kalla adalah sosok penting yang mengetahui bagaimana pergerakan kubu Agung. Sementara Aburizal masih mengklaim diri sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Meskipun PTUN mengeluarkan putusan sela yang memenangkan partainya, hingga kini keputusan pemerintah belum dicabut. Jika kondisinya demikian, tentu saja, kubu Aburizal tak berhak mengajukan calon di ajang pilkada.

Di acara Hipmi itu, semuanya tampak damai-damai saja. Saat Jusuf Kalla berpidato yang isinya himbauan agar para pengurus Hipmi tidak terjebak politik praktis, Aburizal beberapa kali mengangguk sembari bertepuk tangan.

Beberapa hari sebelumnya, Senin (30/3), ada kisah menarik. Di ajang pelantikan Korps Alumni KNPI, beberapa politisi yang bserseteru juga duduk berdampingan. Mereka malah duduk semeja. Mereka adalah Yasonna Laoly (Menteri Hukum dan HAM), Aburizal Bakrie (Ketum Golkar versi Munas Bali), Komjen Badrodin Haiti (Plt Kapolri), Setya Novanto (Ketua DPR), Azis Syamsuddin (politisi Golkar), Puan Maharani (politisi PDIP), dan Tjahjo Kumolo (politisi PDIP).

Jika saja mereka mendengar kecaman-kecaman di medsos, barangkali mereka akan ikut saling mengecam dan menolak duduk berdekatan. Tapi mereka justru mengabaikan semua perbedaan. Mereka duduk bersama lalu membahas berbagai isu politik sembari terkekeh-kekeh.

Mereka tak membahas tentang tengkar dan konflik. Mereka sama-sama ceria dan sesekali bercanda. Azis Syamsuddin sendiri dengan entengnya mengatakan bahwa Korps Alumni KNPI dibentuk untuk mendukung semua kegiatan-kegatan pemerintah yang pro-rakyat.

Puan Maharani sendiri sempat mengeluarkan kelakar mengenai Aziz Syamsuddin. Kata Puan, perbedaan pendapat dengan Aziz bisa membuat emosinya naik turun. Namun hubungannya tetap cair. Mereka tetap bersahabat. "Saya sering (berbeda pendapat‎), soal apapun. Saya di situ sering jantungan. Tapi kita bicara baik-baik pelan-pelan dan sepakat itu cooling down dulu," katanya.

Barangkali para politisi itu tak paham bahwa di dunia media sosial (medsos) sedang terjadi perdebatan dan adu argumentasi di antara warga dunia maya. Eskalasi debat dan saling kecam kian meningkat yang kemudian berujung pada sikap saling caci dan fitnah. Berbagai isu bermunculan. Berbagai situs abal-abal menjadi setetes bensin yang memperbesar nyala api konflik dan saling ejek. Beberapa intelektual menjadi corong dari berbagai informasi yang tak punya basis fakta jelas. Perdebatan beberapa orang berubah menjadi pertengkaran yang dipenuhi caci-maki.

Apakah mereka yang berdebat itu paham bahwa orang-orang yang disangkanya tengah berkonflik justru tenang-tenang saja?

Politik kita memang masih belum bergeser dari tafsiran Harold Lasswell yakni siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana. Di ajang politik nasional, publik tak paham bahwa mereka yang disangkanya menjunjung tinggi aspirasi rakyat itu pada dasarnya adalah mereka yang mencari celah demi mendapatkan kuasa dan sumberdaya ekonomi. Untuk dua hal itu, orang bisa melakukan apa saja, termasuk mengubah berbagai pilihan politik.

Barangkali, ini bisa menjelaskan sikap para elite Golkar yang justru tak terlalu dipusingkan oleh dualisme. Seiring waktu dan keinginan mendapatkan posisi yang tepat, banyak di antara anggota DPR asal Golkar yang menyeberang ke kubu Agung Laksono. Pertimbangannya bisa berbeda-beda. Ada yang berpindah karena faktor idealisme saat melihat partai yang dikendalikan oleh hasrat pribadi, ada juga yang melihat faktor legalitas pemerintah demi mendapatkan ‘lahan bermain’ di ajang pilkada.

Di gedung DPR RI, seorang anggota DPR RI dari Golkar mengisahkan pengalamannya saat dilobi Zainuddin Amali, Sekretaris Golkar versi Agung Laksono. Mulanya, perempuan yang menjadi anggota DPR ini enggan sebab tak enak hati dengan Idrus Marham yang selama ini menjadi klik-nya. Zainuddin Amali lalu mengirim pesan ke Idrus yang langsung disetujui, Idrus merestui kepindahan itu sembari berharap agar partai tetap dikuatkan.

Sahabat itu menjelaskan bahwa para politisi tak pernah menyusun satu rencana atau skenario. Politisi yang hebat adalah politisi yang bisa membaca keadaan, lalu menyusun beberapa opsi atau pilihan politik. Jika A gugur, maka ada rencana cadangan yakni A1. “Mereka membaca kenyataan, menyusun analisis, lalu menentukan ke mana biduk hendak berlabuh. Salah pilih, risikonya bisa fatal. Mereka tahu itu,” katanya.

Bagaimanakah kita membaca fenomena ini? Psikolog Erving Goffman pernah menjelaskan ini melalui pendekatan dramaturgi. Menurutnya, kehidupan ini ibarat panggung drama di mana seseorang menggunakan berbagai topeng karakter. Pada satu kesempatan, politisi akan menampilkan wajah saling kecam, namun pada kesempatan lain, mereka akan saling tertawa-tawa.

Kita bisa pula mengatakan bahwa ada aspek kultural yang selama ini terabaikan dari wacana politik. Kita alpa menyaksikan bahwa semua aktor politik justru berangkat dari latar yang tak jauh berbeda, menjalani hidup di dewan sebagai rekan seperjuangan, serta adanya berbagai pertautan kepentingan di antara mereka.

Dalam pandangan saya, wacana politik di media massa dan media sosial adalah wacana yang paling menguras energi dari semua rakyat biasa. Yang kemudian muncul adalah semakin hilangnya silaturahmi serta semangat untuk sama-sama belajar membaca politik melalui upaya menyatukan setiap patahan kejadian. Di satu sisi, ada hal positif yang muncul ketika publik kian sadar politik dan bisa bersuara.

Tapi di sisi lain, ada pula hal negatif ketika publik justru terjebak pada fanatisme atas satu kubu, menghardik kubu yang lain, sembari meyakinkan orang lain bahwa negeri ini sedang genting sebab politisinya sibuk berkonflik. Publik bisa saja melihat politik sebagai wacana penuh carut-marut di mana debat dan saling klaim tak pernah mencapai kata sepakat. Mereka bisa saling kecam, di saat para politisi, yang katanya berseteru itu, justru tengah meminum kopi di satu sudut kafe sembari tertawa lalu melihat wacana di media sosial.

Nah, apakah anda adalah salah satu dari pengecam atau pembela politisi mati-matian?


Bogor, 7 April 2015

Pelatihan Menulis untuk Akademisi


usana pelatihan menulis di Ambon

BEBERAPA minggu silam, saya diundang satu lembaga untuk memberikan pelatihan menulis populer bagi akademisi dan peneliti. Dua kali memberikan pelatihan itu, saya akhirnya berkesimpulan bahwa problem besar bagi akademisi terkait menulis bukanlah teknik penulisan dan bagaimana memulai paragraf. Apakah gerangan?

***

HARI itu, saya menjadi fasilitator pelatihan menulis di Ambon, Maluku. Saya ditantang untuk mengubah kurikulum kelas menulis yang berbeda dengan materi pelatihan jurnalistik. Fokusnya adalah bagaimana melatih para akademisi dan peneliti agar terbiasa dnegan berbagai style menulis, termasuk menulis blog, artikel populer, dan essai. Saya menerima tantangan itu sebagai ajang pembelajaran.

Tadinya, saya mengira bahwa pesertanya adalah para dosen muda ataupun peneliti yang baru meniti karier. Saat sesi perkenalan, saya tercengang. Banyak di antara pesertanya adalah dosen senior yang telah lama malang-melintang di berbagai konferensi ilmiah di dalam dan luar negeri.

Sebagai fasilitator, saya malah senang. Sebab metode pembelajaran yang dipilih adalah metode belajar untuk orang dewasa. Semua orang bisa menjadi guru dan berbagi pengalaman. Saat menggelar sharing, saya bertanya pada beberapa dosen senior, mengapa mereka ingin ikut pelatihan itu. Jawabannya cukup mengejutkan. “Saya ingin belajar bagaimana menulis yang bisa menginspirasi dan mencerahkan publik,” katanya.

Pada sesi sharing itu pula saya mendapatkan satu kenyataan menarik. Bahwa banyak di antara mereka yang merasa kesulitan ketika hendak mulai menulis. Padahal, pekerjaan mereka senantiasa terkait dengan teks, serta bagaimana memahami dunia teks. Jika saja mereka pun mengalami kesulitan, bagaimanakah halnya dengan masyarakat kebanyakan yang lain?

Mulanya saya beranggapan bahwa jangan-jangan, mereka kesulitan ketika hendak membuat tulisan ilmiah. Ternyata tidak juga. Jangankan menulis ilmiah, menulis secara lepas saja mereka kesulitan. Para akademisi yang saya temui ini merasa kesulitan untuk menggerakkan pena dan menghasilkan banyak tulisan, baik untuk jurnal ilmiah, maupun untuk konsumsi media massa.

Sejak dahulu, saya beranggapan bahwa menulis adalah soal bagaimana mengalirkan energi secara lepas dan dikanalisasi ke dalam kata. Saya tak hendak membedakan antara tulisan ilmiah dan tulisan populer. Bagi saya, keduanya hanyalah style atau bentuk yang berbeda. Tapi ‘sumsum’-nya sama, yakni bagaimana melepaskan gagasan ataupun mengalirkan energi ke dalam teks.

Melalui pelatihan itu, saya menampung gagasan dari mereka. Saat praktik menulis, saya mendapat kesimpulan kalau mereka telah mengetahui berbagai jenis-jenis dan kiat memulai proses menulis. Problem besar yang kerap dihadapi lebih mengarah ke aspek psikologis, yakni kekhawatiran-kekhawatiran tentang tulisan yang akan lahir kelak. Banyak orang yang memelihara kekhawatiran sebelum aktivitas menuis dimulai. Sebagai akademisi, mereka takut kalau-kalau tulisannya dianggap jelek oleh orang lain, dianggap basi, dianggap tidak paham perkembangan, ataupun dianggap tidak standar.

Padahal, kodrat seorang akademisi ataupun ilmuwan adalah belajar dari semua kesalahan. Ilmu pengetahuan berkembang pesat melalui trial and error alias coba dan gagal. Tanpa pernah mengalami kesalahan, ilmu tak akan bisa menemukan bentuknya seperti sekarang. Lantas, mengapa mereka sampai takut melakukan kesalahan?

Saya melihat pangkal persoalan ada di lembaga pendidikan kita. Sejak awal, kita selalu diajarkan untuk takut melakukan kesalahan. Kita tak belajar untuk menulis secara lepas. Kita tak dibiasakan untuk menulis catatan harian. Di sekolah-sekolah, menulis diajarkan sebagai tugas yang lalu diberi penilaian benar dan salah. Menulis dilatih dengan rumus-rumus yang ketat sehingga melahirkan kekhawatiran kalau-kalau bertindak tidak sesuai dengan aturan kepenulisan.

Harusnya, menulis dikembalikan pada kodratnya sebagai medium atau cara untuk menyampaikan gagasan. Yang dinilai bukan soal bagus-tidaknya, atau benar-salahnya, melainkan sejauh mana pesan yang disampaikan bisa diterima publik. Kalau publik bisa memahami pesannya, maka tujuan sang penulis telah tercapai. Kalau tulisan itu bisa menggerakkan orang lain, maka sang penulis layak mendapat acungan jempol. That’s it.

Tentu saja, untuk bisa menembus media massa dan jurnal-jurnal ilmiah, ada tata cara yang harus dipatuhi. Namun, persyaratan itu akan mudah dipenuhi kalau seseorang punya passion kuat untuk menulis dan berbagi. Inilah yang harus ditemukan oleh siapapun yang hendak meniti di jalan aksara.

Makanya, kelas-kelas kepenulisan harusnya diisi dengan bagaimana menumbuhkan passion kuat untuk berbagi pengalaman melalui tulisan. Yang ditekankan bukanlah bagaimana membuat tulisan yang benar, melainkan bagaimana memberanikan diri untuk menulis sesuatu, serta membuka pikiran untuk selalu belajar, lalu membiasakan diri untuk selalu produktif.

Latihan Menulis

Di Ambon, saya menjadi fasilitator kelas menulis. Dikarenakan para peserta telah memiliki pengetahuan tentang dunia menulis, yang harus disentuh adalah kesadaran mengapa seseorang bersedia menulis. Hasrat menulisnya mesti dibangkitkan dengan cara berbagi pengalaman, ataupun mengambil sebanyak mungkin contoh tentang mereka yang menjadikan kepenulisan sebagai ladang untuk berbagi.

Jika kelas menulis diibaratkan sebagai kelas untuk menyerap dan melepas energi, maka semua semangat dan hasrat para peserta adalah nutrisi yang akan melancarkan semua materi pelatihan sekaligus menguatkan semua orang.

peserta pelatihan menulis

Materi haruslah disusun secara fleksibel, sesuai dengan kebutuhan dan keinginan peserta. Masing-masing peserta adalah guru yang bisa memberikan masukan konstruktif pada rekannya, sesama pembelajar di ranah kepenulisan. Harapannya adalah semua peserta bisa menulis secara lepas, dan membuang jauh semua beban-beban yang menggelayut di pundak.

Ada tiga hal yang menjadi patokan. Pertama, menulislah secara bebas. Tak usah peduli dengan berbagai rumus dan tata bahasa. Setiap orang punya kisah ataupun gagasan yang layak untuk dibagikan. Tak semua orang ditakdirkan untuk menjadi penulis besar ataupun menjadi sosok hebat dalam menulis. Makanya, tak perlu ada jurus yang sama dalam menulis. Semua orang bisa menemukan jalan kepenulsian sendiri-sendiri yang paling membuatnya nyaman.

Kedua, jadikan menulis sebagai proses yang bertumbuh. Pada hari ini kita menulis gagasan A, yang lalu akan tumbuh melalui nutrisi masukan serta koreksi dari orang lain. Kita akan menyianginya dari semua kritik dan cacian sehingga terus melesat tumbuh besar. Pada akhirnya, kita akan memanen buah dari proses tersebut. Minimal kita mendapatkan

Ketiga, buka hati dan pikiran untuk selalu belajar. Jangan pernah melupakan aktivitas untuk selalu membaca dan belajar dari tulisan-tulisan orang lain. Belajar terbaik dalam hal menulis adalah membaca. Membaca adalah sisi lain dari dunia menulis yang saling memperkuat dan melengkapi. Seorang penulis hebat adalah juga seornag pembaca hebat. Temukan jenis tulisan yang kamu minati, kemudian pelajari gaya dan teknik menulisnya. Semakin banyak membaca, seseorang akan menemukan sendiri kriteria dan jalan ke arah dunia menulis.

Pelatihan ini membuka mata saya. Bahwa pada dasarnya tulisan itu ibarat tanaman yang bisa terus dipupuk dan dibesarkan melalui tangan dingin kita. Ada pula parasit yang kelak akan mengecilkan tanaman itu. Parasit itu seringkali sukses mematikan tanaman menulis seseorang. Namun mereka yang punya passion kuat akan sukses membesarkan tanaman itu, lalu menikmati buah-buah manisnya.

***

DUA minggu berlalu sesuai pelatihan. Hari ini saya membuka email. Beberapa sahabat mengirimkan link artikel yang dibuatnya. Ada juga yang memberitahukan rencana untuk membuat buku-buku teks. Ada pula yang mengirimkan email, “Apakah kita bisa melakukan pelatihan itu sekali lagi? Saya masih ingin belajar lebih banyak!”



Sesobek Refleksi di Pelatihan Kader HMI


Saat berkunjung ke kampung halaman untuk menengok ibu, saya didadak untuk membawakan materi di Intermediate Training Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Baubau. Pihak steering dan panitianya meminta saya membawakan materi Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis). Saya benar-benar tak tahu harus mulai dari mana, serta bagaimana membumikan materi yang agak ‘berat’ itu.

Dahulu, saya terbiasa dijemput malam-malam untuk mengisi materi sampai pagi. Namun lima tahun terakhir ini, saya tidak pernah lagi hadir di pengkaderan lembaga itu. Saya hanya menyaksikan dari kejauhan. Namun ketika yang mengundang adalah adik-adik, ponakan, serta para sahabat di kampung halaman, saya tak bisa menolak. Saya pun memutuskan hadir.

Kesan saya, organisasi sekelas HMI tak banyak mengalami transformasi. Saya cukup paham bagaimana lembaga-lembaga studi ataupun bisnis mengelola pelatihan dengan standar tinggi. Mereka menyiapkan semuanya dengan serius. Ruangan pelatihan dikemas menjadi fleksibel, dengan materi yang ringan, menginspirasi, serta mendorong hasrat untuk melejitkan potensi diri.

Biasanya, pelatihan dikemas sebagai ajang yang menggairahkan semangat berpikir. Para pemateri menjadi fasilitator yang menganalisasi energi para peserta pelatihan. Metode pelatihan selalu berkembang. Alat peraga pun terus-menerus dikembangkan secara kreatif. Saya malah melihat banyaknya materi yang dikemas dengan video dan visualisasi yang menarik. Tujuannya? Agar peserta tak bosan dan bersemangat mengikuti materi.

Namun pelatihan di lembaga HMI, yang saya saksikan ini, seakan jalan di tempat. Model pelatihan hari ini tak jauh beda dengan model pelatihan yang saya ikuti 10 tahun lalu. Ada beberapa hal yang saya amati dan tepat untuk didiskusikan bersama-sama.

Pertama, para instruktur pelatihan ini memberikan setumpuk tugas kepada peserta yang harus diselesaikan. Peserta diberikan semacam instruksi agar setia mengikuti materi. Kalau peserta tak disiplin, maka mereka tak akan diluluskan.

Padahal, di mata saya, berbagai aturan dan tugas-tugas itu justru membuat pelatihan jadi kehilangan greget. Fokus para peserta bukan pada materi, melainkan pada upaya menyelesaikan tugas. Hingga kini, saya belum melihat ada korelasi antara kewajiban menyelesaikan tugas di tengah padatnya materi terhadap peningkatan kapasitas intelektual peserta. Yang harusnya dipahami adalah berikan peserta kebebasan untuk memahami dan menyerap materi, tanpa perlu memberikan banyak penugasan.

Kedua, saya menangkap kesan kalau banyak pemateri yang menjadikan arena pelatihan sebagai arena untuk berbicara banyak hal, tanpa mau mendengarkan para peserta. Saya menangkap kesan kalau yang muncul adalah ceramah, bukannya diskusi. Interaksi dalam belajar bersifat satu arah. Padahal, para peserta adalah mereka yang dianggap punya kapasitas mumpuni untuk menalar persoalan. Mereka punya kemampuan intelektual yang cukup baik untuk membangun dialektika di dalam ruang diskusi.

Ketiga, saya melihat kesan kalau tak banyak instrumen untuk membuat materi menjadi menarik. Pengalaman saya ikut berbagai pelatihan menunjukkan bahwa yang kemasan pelatihan seringkali dianggap lebih penting ketimbang materi. Jika panitianya kreatif, maka mereka akan menyiapkan visual, berbagai video, serta berbagai permainan yang konsepnya kreatif dan menghibur. Hal-hal itu bisa menjadi vitamin agar peserta tahan untuk mengikuti keseluruhan materi.

Keempat, harusnya materi bisa dibuat lebih fokus. Yang ditekankan adalah bagaimana bisa mengantar peserta, mulai dari level filosofis hingga pembumian wacana. Dengan cara demikian, materi bisa lebih menarik dan semakin menantang. Diskusi-diskusi akan lebih terfokus dan terarah, tanpa harus selalu tambal sulam tas materi yang silih-berganti.

Saya teringat kuliah-kuliah Dr Cambridge di kampus Ohio. Ia selalu memulai materi dari hal-hal sederhana, lalu mengajak peserta untuk menelusuri rimba raya teori, batas-batas teori, hingga bagaimana teori itu dibumikan. Ia menata materi secara rapi, dan menegaskan kepada semua mahasiswa untuk meniti di koridor itu.

Kelima, pelatihan harusnya dikemas sebagai interaksi yang menyenangkan. Peserta bisa lebih banyak belajar, berdiskusi, dalam suasana yang penuh kegembiraan. Bolehlah dikemas sebagai pelatihan yang sedikit mengasah otak. Berilah tantangan kepada peserta ataupun tugas untuk menganalisis persoalan. Beri kesempatan kepada mereka untuk menganalisis dan membuat kesimpulan. Kelak kesempatan belajar bersama itu akan menjadi kenangan terindah bagi mereka.

Tentu saja, merancang satu pelatihan yang fun dan berkualitas jelas tak mudah. Saya pun belum berpengalaman soal ini. Pengalaman saya adalah menerapkannya dalam konteks pelatihan menulis. Untuk konteks HMI, maka beberapa masukan diatas layak untuk dipertimbangkan.

Yakin Usaha Sampai


Baubau, 2 April 2015

Merenda Impian Melalui Desa Energi



Di tengah kekhawatiran banyak negara terhadap kelangkaan energi di masa mendatang, sejumlah anggota masyarakat telah menunjukkan langkah-langkah sederhana untuk menghadirkan energi sekaligus menjaga kesinambungannya. Jika saja api semangat mereka dipertahankan nyalanya, maka negeri ini bisa mandiri energi, sekaligus memiliki desa-desa yang berdaulat dalam hal energi.

***

ANAK muda itu mengambil korek gas lalu menyalakan tungku. Api biru langsung mencuat ke atas. Semua orang bertepuk tangan. Di tengah pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT), bumi yang dipenuhi ilalang dan pemandangan eksotik, nyala api biru itu disambut suka cita oleh warga tepian hutan. Betapa tidak, sumber api itu bukan berasal dari bahan minyak yang dibeli di kota. Sumbernya adalah di kampung tu sendiri, pada kotoran ternak yang dipelihara warga.

Anak muda yang memperkenalkan inovasi itu adalah anggota dari Geng Motor Imut. Jangan bayangkan mereka adalah geng motor yang suka membuat onar di malam hari. Imut adalah singkatan dari Aliansi Masyarakat Peduli Ternak. Anak-anak muda itu berkeliling kampung demi berbagi pengetahuan tentang peternakan.

Anak-anak muda yang merupakan alumni Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana itu memberikan beberapa inovasi. Selain memberikan petunjuk teknis bagaimana mengatasi masalah terkait ternak, mereka melakukan lompatan besar ketika berusaha mengatasi kebutuhan energi bagi warga desa.

Kita sama paham bahwa di kampung-kampung energi berbasis fosil amat susah dijangkau. Kalaupun ada, maka energi itu sangat mahal harganya. Nah, anak muda itu lalu mengajari warga bagaimana mengolah kotoran sapi sehingga menjadi bio-gas, yang kemudian menjadi sumber energi untuk masak serta penerangan.

Hebatnya, mereka membangun instalasi biogas dari bahan-bahan yang ada di sekitar masyarakat. Mereka menggunakan beberapa drum bekas oli, ban dalam bekas mobil, dan selang. Dengan menggunakan beberapa pipa, gas dari kotoran ternak itu dialirkan ke dapur-dapur warga, lalu sebagian dialirkan ke lampu-lampu listrik untuk memberikan energi terang.

“Niat kami adalah membantu masyarakat. Kami tak ingin membebani mereka. Makanya, bahan dan peralatan yang digunakan haruslah berasal dari sekitar mereka. Melalui inovasi, warga desa bisa mengatasi kebutuhan energi mereka,” kata Noverius Nggili, pimpinan anak-anak muda itu.

Sejak lama, bumi NTT dikenal sebagai basis peternak. Dahulu, NTT terkenal sebagai sentra produksi sapi. Wilayah ini pernah memasok semua kebutuhan daging ke seluruh penjuru tanah air. Sayangnya, belakangan, posisi sebagai sentra sapi itu mulai bergeser. Tak banyak lagi sapi yang dihasilkan di sini. Kalaupun ada, maka hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga.

Yang menarik, anak-anak muda itu kembali mengampanyekan pentingnya memelihara sapi. Di saat bersamaan, peternakan itu bisa pula menghasilkan energi melalui biogas. Jika dikembangkan secara kontinyu dan massif, maka kebutuhan energi di level desa akan terpenuhi.

Metode yang mereka tempuh terbilang sederhana. Bahan baku kotoran ternak melimpah dari babi, unggas, hingga sapi. Kesemua kotoran itu lalu disatukan dan ditambahi dnegan sedikit air. Dikarenakan banyak warga yang menolak untuk menyentuh kotoran ternak, maka itu diatasi dengan sepeda statis. Pemilik ternak tinggal mengayuh sepeda demi mencampur kotoran dengan air.

Cairan itu disimpan di satu drum. Pada hari ke-21, gas akan muncul, namun masih bercampur udara sehingga belum bisa digunakan. Pada hari ke-22, kotoran sudah menghasilkan gas murni sehingga bisa dipakai untuk memasak selama dua jam. Jika ditambah dengan ekstrak kotoran yang sdah dibersihkan, maka gas yang dihasilkan akan lebih banyak. Tak kurang akal, geng ini menciptakan tempat penampungan gas dengan memfungsikan ban dalam bekas mobil. Ban itu berfungsi sebagai lumbung gas bai warga.

Skala Massif

Ide yang dikembangkan ini terbilang sederhana dan bisa langsung diterapkan oleh masyarakat desa. Beberapa lembaga lalu mengeluarkan inovasi untuk mengembangkan berbagai kegunaan dari gas itu. Sebuah tim dari Surya University, yang dipimpin Prof Yohannes Surya, tengah mengembangkan biogas sebagai ganti bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Sungguh luar biasa. Tadinya biogas itu hanya untuk memenuhi kebutuhan masak dan penerangan, ternyata bisa pula dikembangkan menjadi bahan bakar untuk transportasi.

Sepintas, gagasan ini kelihatan biasa saja. Akan tetapi, gagasan ini sungguh luar biasa sebab bermaksud untuk menemukan solusi atas kebutuhan energi di level desa dan komunitas. Ikhtiar ini terbilang besar sebab memulai kerja-kerja untuk masa depan, di tengah situasi ketika pemerintah justru gagal menemukan solusi tepat untuk warganya.

Kita sama paham bahwa energi adalah kebutuhan mendasar semua bangsa. Energi adalah sesuatu yang bisa digunakan untuk membawa kemasalahatan bagi masyarakat. Sayangnya, energi sering pula menjadi alasan bagi banyak bangsa untuk larut dalam konflik yang berkepanjangan. Gara-gara energi, peperangan tersulut di banyak tempat.

Di tengah situasi global yang chaos karena perebutan energi, di banyak titik di tanah air, terdapat sejumlah figur yang berusaha untuk mengatasi keutuhan energi itu pada level yang lebih kecil. Mereka memperkenalkan biogas sebagai energi yang ramah lingkungan, serta berasal dari lingkungan sekitar.

Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana bisa menebarkan bibit-bibit gagasan bernas itu ke tempat lain agar kelak bisa tumbuh subur dan menyediakan pohon-pohon rindang bagi warga untuk menggantungkan diri. Tantangannya adalah bagaimana menyuntikkan kesadaran akan pentingnya menemukan solusi energi, sehingga yang muncul adalah sikap self-sustain atau keberanian untuk memenuhi kebutuhan sendiri, tanpa harus tergantung pada energi fosil yang didatangkan dari luar. Terkait hal ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.


Pertama, menyusun identifikasi di level desa. Harus ada sebuah pemetaan yang akurat tentang kondisi aktual, serta apa saja yang bisa dikembangkan. Jika di NTT, energi yang dikembangkan adalah biogas sebab terdapat banyak ternak di situ, maka harus ada identifikasi atas alternatif energi ditempat lain. Beberapa waktu lalu, saya membaca publikasi tentang pengembangan energi berbasis angin di Sumba, yang dilakukan oleh Ricky Elson, seorang peneliti yang lama bermukim di Jepang.

Kedua, mulai menggalang partisipasi warga. Rahap awal yang harus dilakukan adalah menggugah kesadaran warga tentang pentingnya sumberdaya energi. Kesadaran mereka harus dibangkitkan dan dinyalakan sehingga memberikan partisipasi. Harus ada upaya serius untuk meyakinkan mereka bahwa mengatasi kebutuhan energi adalah mengatasi kebutuhan di masa kini. Lewat upaya itu, mereka juga bisa mengatasi kebutuhan di masa depan.

Ketiga, membangun beberapa contoh yang bisa disaksikan warga. Demi membangun kesadaran, ada baiknya jiak warga diperlihatkan beberapa contoh yang bisa digunakan oleh mereka. Para praktisi pendidikan mengajarkan bahwa memberikan tauladan jauh lebih penting ketimbang memberikan setumpuk teori-teori.

Keempat, membangun kelembagaan di masyarakat. Faktor kelembagaan ini sangat penting agar warga bisa slaing bersinergi dan mengatur dirinya. Selain itu, harus ada lembaga yang bertanggungjawab atas pekerjaan itu. Kegagalan program pemerintah di banyak tempat dikarenakan tak adanya dukungan kelembagaan yang dibentuk warga desa.

Kelima, melakukan pengawasan yang efektif. Ketika pekerjaan itu bisa menghadirkan spirit bersama, maka semua warga akan merasakan pentingnya pekerjaan itu, yang kemudian berujung pada adanya hasrat untuk saling mengontrol dan mengawasi.

Memang, energi amatlah vital. Menghadirkan dan mengawasinya pun harus dilihat sebagai sesuatu yang vital. Ketika desa-desa bisa mandiri dalam hal energi, maka negeri ini akan memiliki aset yang sangat kuat. Ke depannya, negeri ini bisa mengatasi kebutuhan energi melalui tangan-tangan kreatif warganya untuk menciptakan desa mandiri energi, yang kemudian menyalakan seluruh anak negeri ke arah apa yang diimpikan bersama. Semoga.



(tulisan ini diikutkann pada lomba blog bertemakan Hemat Energi yang diadakan bisnis.com dan Total)

Terpopuler Minggu Ini

...

...