Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Saat BARONANG Melintas di WAKATOBI


nelayan di Wakatobi

Di banyak tempat, alam menjadi obyek eksploitasi manusia demi keserakahan. Tapi di Liya, Wakatobi, para nelayan dan masyarakat lokal masih memelihara satu kearifan budaya yang mengagumkan.

Saat ikan baronang (rabbitfish) melintas dan melepas telur di wilayah itu, para nelayan bersukacita. Mereka mengadopsi ikan, menghormati ikan yang belum melepaskan telur, lalu berbagi dengan warga sekampung.

Mereka menggelar festival.

***

BAPAK nelayan itu menyiapkan perahu. Saat saya temui di pesisir Pulau Wanci di Wakatobi, dia sedang menata jaring atau perangkap ikan yang disebut ompo. Dia tersenyum sembari memandang lautan yang tengah ramai dengan para nelayan.

Hari itu, para nelayan Wakatobi sedang diliputi suasana penuh gembira. Mengacu pada kalender dan tradisi yang sudah berlangsung sekian tahun, ikan-ikan baronang akan bermigrasi dan melintas di perairan itu.

Di kalangan penyuka seafood, ikan baronang yang dalam bahasa setempat disebut borona, adalah ikan yang teramat lezat. Ikan ini selalu menjadi menu favorit di semua rumah makan. Namun, ikan ini tak selalu tersedia.

Di Wakatobi, ikan baronang malah rutin melintas dalam jumlah banyak. Ikan-ikan itu tak sekadar melintas. Mereka juga melepaskan telurnya di perairan itu, kemudian berpindah. Para nelayan telah lama memiliki kalender tentang kedatangan ikan itu.

Mereka sudah menyiapkan ompo untuk menangkap banyak ikan. Namun, mereka semua terikat pada aturan adat yakni hanya boleh menangkap ikan yang telah melepaskan telurnya. Ikan yang belum masih memiliki telur dibiarkan tetap bebas berkeliaran.

Musim migrasi besar-besaran ikan baronang berlangsung setiap tahun pada bulan September dan November tanggal 11-13 bulan hijriah. Semua nelayan telah lama menyiapkan perangkap ikan. Setiap tahun, mereka akan merayakan momen migrasi itu dengan riang gembira.

“Ikan baronang kayak berebut masuk ompo,” kata bapak nelayan itu dengan tersenyum.

Saya menyimak tuturannya. Alam semesta amat pemurah pada masyarakat Wakatobi. Setiap tahun alam semesta mengirimkan ribuan ikan untuk sekadar melintas agar bisa ditangkap para nelayan. Para nelayan pun membalas kemurahan alam semesta itu dengan cara hanya menangkap yang bisa ditangkap.

Faetival Migrasi Ikan Baronang


Para nelayan menjaga keseimbangan ekologi dengan cara menjaga kontinuitas dan regenerasi ikan baronang sehingga setiap tahun ikan-ikan akan tetap melintas dan panen berlimpah.

Demi menggenapi rasa gembira itu, masyarakat Liya bersama pemerintah Kabupaten Wakatobi dan sejumlah komunitas kreatif menggelar Festival Lalo’a Ikan Baronang. Dalam bahasa setempat, Lalo’a bermakna melintas. Tentu saja, yang melintas adalah ikan baronang, demi melepaskan telurnya di perairan itu.

Ketika mendengar festival ini, saya langsung tertarik. Ini festival yang unik. Biasanya festival selalu mengenai tradisi istana atau kerajaan, yang semuanya borjuis. Tapi ini adalah festival yang bernuansa ekologi.

Saya bisa merasakan ada penghormatan pada tradisi, ekologi, dan maritim. Saya membayangkan betapa arifnya para nelayan di Wakatobi sebab mencatat rapi migrasi ikan-ikan baronang, serta menghargai ikan yang melintas.

Acara festival Lalo’a akan dibuka dengan berbagai rangkaian kegiatan adat setempat, Mulai dari petuah dari ketua adat atau Meantu’u Liya, penampilan tari perang Honari Mosega, permainan Sepa Buloli mirip Sepak Raga, aksi Potamba atau saling lempar menggunakan gumpalan pasir dan lumpur.

bersama gadis Wakatobi berbaju adat


Pengunjung juga bisa ikut tradisi Hekomba atau menikmati malam terang bulan. Saya membayangkan acara ini pasti sangat romantis sebab memandang bulan purnama sembari menyaksikan pementasan drama Sampe’a.

Puncak acara adalah adopsi telur ikan baronang yang dilakukan dengan cara lelang ikan hasil lalo’a. Ikan yang ditangkap dan tidak memiliki telur lagi dalam perutnya, akan dilelang dengan harga tinggi. Sedangkan ikan yang masih memiliki telur tidak bisa dibeli.

Keunikan tradisi ini, ada pada proses lelang yang dilakukan melalui tradisi sampe’a atau pertunjukan drama kolosal. Sampe’a adalah semacam persaingan hasil panen antar kampung. Akan tetapi kampung yang paling banyak dibawakan hasil panen justru dinyatakan sebagai pihak yang kalah. Artinya, kampung itu paling sedikit panen di musim itu.

*** 

“Ini ikan baronangnya. Silakan dinikmati” 

Suara itu mengejutkan saya yang sedang melamun di satu ruas jalan Pulau Wangi-Wangi atau Wanci. Sebagai orang yang besar di lingkungan pesisir, saya sejak dulu menjadi fans berat ikan baronang.

Setiap kali ada tugas di kawasan timur, saya selalu mencari ikan baronang di kedai kuliner milik warga. Saya punya banyak memori terkait ikan ini. Saya ingat nelayan di kampung-kampung yang tersenyum bahagia saat ikan itu dibeli dengan mahal.

Di atas meja di hadapan saya, ikan ini tampak nikmat seusai dibakar. Asapnya mengepul dengan aroma bercampur rempah-rempah dan bumbu-bumbu. Di sebelah ikan, ada sepiring lalapan dengan tomat serta cabe merah yang akan segera berpadu dengan nikmatnya baronang.

Nyam... Nyam...

Kisah Nyata Tiga JOKER di Indonesia




SEUSAI membunuh, Joker tertawa terbahak-bahak. Dia merasa puas karena telah melampiaskan sesuatu. Publik tercekat. Dalam keterhimpitan ekonomi serta masyarakat yang tidak peduli, tindakan Joker dipandang masuk akal dan pantas dilakukan.

Di tanah air kita, ada beberapa orang yang seperti Joker. Ada banyak orang baik yang kemudian kecewa melihat situasi, lalu memilih jadi sosok antagonis. Ada penjahat yang setiap membunuh akan mengkhatamkan Al Quran, ada sosok yang dulunya pejuang kemerdekaan, hingga filsuf yang menulis puisi jelang hukuman mati. Mereka adalah Joker di alam nyata.

Siapakah mereka?

***

LELAKI itu Muksin Tamnge. Tapi ia lebih dikenal dengan nama Temmy. Banyak pula yang mengenalnya dengan nama Taufik. Lahir di Kei, Maluku, pada tahun 1938, namanya kondang di telinga para aparat pada masa Orde Baru. Ia keluar masuk penjara, dan memiliki rekor mengejutkan di dunia rampok. Ia tercatat merampok hingga 397 kali, mengorganisasi 63 preman dari berbagai etnik di berbagai kota.

Dirinya serupa Robin Hood. Ada saat di mana dirinya merampok miliaran, namun ada banyak saat dirinya membagikan rampokan itu ke banyak orang. Pernah, ia memberikan puluhan berlian kepada seseorang. Ia tak punya kriteria siapa yang hendak mendapatkan bantuannya. Selain rajin memberikan uang bagi orang sekitarnya, ia juga sering kedapatan memberikan bantuan bagi orang yang kecelakaan di jalan raya.

Kepribadiannya kompleks. Dari dalam penjara, ia pernah diwawancarai Prisma, jurnal ilmu sosial paling berpengaruh. Kepuasan tertinggi dalam batinnya adalah saat berhasil melahirkan senyum di bibir orang yang tengah dilanda kesusahan dan penderitaan.

Makanya, ia tak pernah menikmati sendirian hasil rampokan. Dihadiahkannya ke banyak orang, sebagai wujud dari aktualisasi mimpinya, untuk menghadirkan senyum di wajah orang lain. Mengapa dia harus menjadi perampok?

Kisahnya panjang. Masa kecilnya menyedihkan. Ayahnya sering mencambuknya, hingga beberapa kali lari dari rumah. Dia lalu belajar di madrasah, lalu lanjut sekolah menengah di Makassar.

Setelah studi lanjutan tentang pendidikan jasmani di Denpasar, ia disiapkan untuk menjadi sosok pelatih olahraga. Ia lalu dikirim ke Belgrado, Yugoslavia, demi mendapatkan pelatih olahraga handal. Apalagi, Indonesia akan menggelar Games of the New Emerging Forces (Ganefo) yang digadang-gadang akan menyaingi Olimpiade.

Sayang, nasibnya tak semulus itu. Ia diharuskan membayar sejumlah uang kepada pejabat Deplu. Tuntutan uang itu tak bisa dipenuhinya. Ia lalu kembali ke Denpasar, Bali. Kegagalan itu mengganggu tidurnya.

Ia berpikir kalau batas antara pejabat dan penjahat amatlah tipis. Seorang pejabat bisa saja jadi penjahat. Ia lalu kembali ke Jakarta, lalu menjadi preman di Pasar Senen. Di dunia hitam, ia menjadi Don yang ditakuti. Ia hanya mau merampok dua hal: (1) orang kaya yang memperkaya dirinya secara tidak wajar, (2) pegawai negeri yang memperkaya dirinya dengan fasilitas negara.

Yang mengejutkan, ia tahu kalau tindakannya jahat. Makanya, ia menutupinya dengan menamatkan Al Quran. Jika rekor merampoknya sebanyak 397 kali, maka ia berhasil menamatkan bacaan Al Quran hingga 548 kali. Dia bangga karena jumlah khataman Quran itu lebih banyak dari angka kejahatan yang dilakukannya.

Ah, biarlah Tuhan yang menilai.

***

DI ujung sel lain, terdapat seseorang bernama Kusni Kasdut. Dia berasal dari Blitar. Lelaki ini sama terkenalnya dengan Muksin. Ia spesialis perampok berlian. Dalam menjalankan aksinya, ia selalu membunuh polisi.  Ia dua kali divonis hukuman mati. Pertama karena membunuh polisi di sebuah perampokan berlian terbesar. Kedua, karena membunuh miliuner Arab yang kaya raya. Lelaki ini kian fenomenal karena beberapa kali lolos dari penjara.

Lahir pada tahun 1929, dirinya menjalani masa kecil sebagai penjual rokok dan kue. Di usia 16 tahun, ia mengetahui satu rahasia bahwa dirinya lahir dari hubungan gelap antara ibunya dengan seseorang, yang tak jelas. Ia kecewa berat.

BACA: Para Jagoan dan Penumpang Gelap Republik

Demi menutupi aib itu, ia mencari kegiatan lain. Di masa Jepang, ia bergabung dengan heiho, lalu menjadi pejuang. Ketika republik ini berdiri, ia bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal-bakal Tentara Nasional Indonesia, dengan pangkat sersan. Tugasnya di BKR cukup unik. Ia diminta merampok, mencuri, membunuh, dan merampas harta orang kaya demi perjuangan republik. Semuanya untuk kemerdekaan Indonesia.

Ia memulai tugas sucinya demi republik dengan merampok orang Tionghoa kaya di Madiun. Hasil rampokan diserahkan ke komandannya. Beberapa kali ia terlibat dalam pertempuran bersenjata. Hingga akhirnya, Konferensi Meja Bundar (KMB) telah menghentikan semua pertempuran itu. Kabinet Hatta melakukan rasionalisasi.

Ribuan tentara direkrut menjadi tentara republik, sisanya diarahkan menjadi pegawai negeri. Banyak pula yang tidak direkrut sebagai tentara ataupun pegawai, sesuatu yang memicu banyak pemberontakan.

Kusni sungguh sial. Namanya tak terdaftar dalam barisan tentara. Kembali, semua luka-luka hatinya kambuh. Ia seorang anak haram, ia seorang perampok bagi republik, ia menjadi ampas yang dibuang begitu saja. Mulailah dirinya menjadi sosok lain. Mulailah ia berkhianat pada republik yang dahulu dibelanya. Kusni menjadi sosok yang lain. Baginya, tak ada beda antara merampok orang Tionghoa kaya di Madiun, dengan merampok emas milik negara.

Tahun itu, tahun 1979, adalah tahun dimulainya Kabinet Pembangunan Kedua. Soeharto melancarkan hegemoni di semua lini. Mahasiswa dijinakkan sehingga kembali ke kampus. Kampus dibanjiri dana riset bagi dosen.

Dia melihat ekonomi yang hanya menguntungkan kelas atas. Pengangguran merebak. Para preman berkeliaran. Soeharto lalu mengeluarkan kebijakan agar aparat berhak menembak para preman di jalan-jalan. Mayatnya dibiarkan begitu saja.

Di tengah situasi itu, Kusni Kasdut melancarkan aksinya. Dia kecewa melihat tindakan negara yang sewenang-wenang pada warganya sendiri, yang telah berjuang susah payah demi kemerdekaan. Di puncak kekecewaannya, dia merampok dan membunuh aparat.

Sayang, dia tertangkap lalu divonis mati. Ia mengganti nama menjadi Ignatius Waluyo, lalu menjadi seorang Katolik yang taat. Hingga akhirnya, suatu hari di tahun 1980, peluru menembus jantungnya. Ia menjalani hukuman mati. Tamatlah riwayatnya.

Kisahnya menyentuh hati banyak kalangan. Grup musik rock, God Bless, membuat lagu yang terinspirasi dari kisahnya. Bahkan tidak lama lagi akan beredar film mengenai Kusni Kasut yang memilih jadi penjahat demi menyampaikan sikapnya pada republik ini.

***

SOSOK lain adalah Henky Tupanwel. Ia lahir di Ende, 17 Agustus 1932. Berbeda dengan Muksin dan Kusni Kasut yang berasal dari lapis menengah ke bawah, sosok Henky justru berbeda. Ia dibesarkan oleh seorang pendeta yang berumah di Bandung, dan bertugas di Angkatan Darat (AD). Ia menikmati hidup berkecukupan, serta sedikit lagi akan menjadi sarjana di Universitas Padjajaran.

Hanya saja, dirinya justru tidak nyaman. Ditempa disiplin yang ketat, serta keharusan belajar agama, Henky memutuskan untuk meninggalkan rumah. Mulailah ia bertransformasi menjadi seorang penjahat.

BACA: Kisah Soewardi yang Esainya Setajam Pedang

Pada usia 25 tahun, ia merampok bank di Bandung. Ia dipenjara, namun berhasil kabur. Beberapa kali mencuri dan ditahan, ia akhirnya ditahan di Nusa Kambangan. Hingga akhirnya berhasil lari, dan kembali merampok bank.

Ia serupa filsuf dalam tahanan. Ketika hakim memutuskan hukuman mati, ia bertanya, “Bagaimana cara Yang Mulia melaksanakan hukuman mati? Apa saya diperkenankan untuk memilih mati dengan cara disalib?” Terhadap seorang pendeta, ia menjelaskan, salib adalah simbol dari kepahlawanan. Yesus mati sebagai pahlawan. Makanya, dirinya pun ingin mati dengan cara demikian. Pada malam sebelum ditembak mati, ia menulis puisi:

Megah-megah dalam penjara
Hingga segalanya harus ditentang
Nyisih dari segala kegelapan
Akan pudar
Megah-megah dalam penjara
Hingga datang kemenangan jiwa
Aku bangga aku bangga
Karena kelelahan jerih payahku
Kan kuperuntukkan hanya bagi kemulyaan Tuhan
Di mana tanah tandus aku bercocok tanam.

Yang terasa dari puisi ini betapa Henky berbangga atas apa yang dilakukannya. Ia mungkin mengalami momen pertobatan, lalu menerima dengan ikhlas semua yang terjadi. Ia lalu melihat dirinya serupa martir yang mengorbankan diri demi Tuhan.

Dalam diri Henky, terdapat banyak pertanyaan tentang agama. Ia melihat para pendeta sibuk memenjarakan agama dalam pemenjaraan suci (holy confinement) untuk disentuh ajaran agama mana pun. Agama dilihatnya hanya sebagai kuasa yang dimiliki para pelakunya, yang kerap mengeluarkan tafsir sesuai dengan keyakinannya sendiri.

Hidup menjadi semakin paradoks bagi Henky. Ia berani menempuh hukuman mati, akan tetapi dengan cara seperti yang ditempuh oleh Yesus. Namun hakim tak bergeming. Pada tanggal 5 Januari 1980, dirinya ditembak oleh aparat. Dia tewas atas nama hukum yang ditegakkan negara.

***

TIGA kisah para penjahat ini saya temukan dalam buku Menerjang Badai Kekuasaan, yang ditulis Daniel Dhakidae, tahun 2015. Saya menemukan beberapa hikmah yang menarik dari hasil bacaan tentang mereka yang dituduh sebagai penjahat ini.

Pertama, di balik setiap penjahat, terdapat kisah-kisah yang menarik untuk ditelusuri. Selalu ada “the turning point” atau titik balik yang mengubah haluan hidup seseorang. Selalu ada proses dan pengalaman personal yang kemudian membuat seseorang memilih untuk berada pada posisi politik tertentu.



Setiap manusia akan selalu mempertanyakan pilihan-pilihannya, sembari melihat sekelilingnya. Saat ia menyaksikan paradoks, ataupun menemukan manusia lain yang serba ambigu, maka seseorang bisa memilih posisi yang abu-abu, dengan pertimbangan bahwa orang lain pun melakukannya.

Setiap manusia selalu menghujam banyak tanya, menyerap pengalaman, lalu memutuskan apa yang terbaik baginya. Di setiap pilihan itu terdapat sedemikian banyak konsekuensi.

Dalam hal Muksin, situasi yang dihadapinya adalah seorang pejabat yang hendak memeras dirinya. Ia mulai mempertanyakan batasan antara baik dan buruk, antara legal dan ilegal, antara kebenaran dan kesalahan. Kusni Kasdut pun demikian. Ia mempertanyakan batasan antara merampok seseorang untuk tujuan republik, serta sikap republik yang justru meminggirkannya.

Ia bertanya tentang apa makna nasionalisme, ketika jiwa dan raga diserahkan untuk negeri, tapi justru negeri tak peduli dengan dirinya. Demikian pula Henky Tupanwel. Ia mempertanyakan berbagai doktrin agama yang justru dilihatnya sebagai penjara. Nilai-nilai dan ajaran moral menjadi nisbi, dan seolah dihadirkan untuk dilanggar.

Kedua, selalu ada kaitan antara pilihan itu dengan kondisi sosial. Sehingga penting memahami konteks, setting, ataupun dinamika sosial yang menyebabkan seseorang memilih untuk di titik tertentu.

Yang terasa dari tiga kisah ini adalah betapa institusi negara hanya menguntungkan kelompok tertentu, betapa struktur negara tak bisa mewujudkan supremasi hukum dan bertindak adil pada sesamanya. Negara menjadi ajang persekongkolan massal yang semakin mengaburkan batasan antara moral baik dan buruk, antara benar dan salah, antara legal dan ilegal.

Saya teringat sosiolog C Wright Mills dalam buku Sociological Imagination yang menyebut tiga hal sebagai dasar untuk memahami satu masyarakat, yakni biografi, sejarah, dan struktur sosial. Ketiga aspek ini saling berkaitan erat.

Mereka yang biografinya tercatat sebagai penjahat adalah mereka yang berada dalam posisi terpinggirkan di masyarakat. Mereka menjadi antagonis sebab masyarakat mengarahkan mereka ke sana. Mereka memilih jadi penjahat, sebab orang baik sekali pun ternyata bertindak seperti penjahat.

Sebagaimana halnya Joker, mereka tertawa-tawa melihat banyak orang jahat yang tampil dengan topeng kebaikan. Mereka menjadi dirinya sendiri yang tewas setelah bertanggung jawab atas semua pilihan-pilihannya.

Mereka menjadi Joker.


Refleksi Seusai Menonton BEBAS




Saat orang nonton Joker, saya malah nonton Bebas. Tak perlu antri dan berebut tiket. Perasaan saya seperti naik KRL menuju Bogor di pagi hari, saat semua orang bergegas dan menuju Jakarta.

Kisahnya bolak-balik antara masa sekarang dan masa tahun 1990-an ketika tokohnya menjalani masa sekolah. Suasana tahun 1990-an dapat banget. Mulai musik, pakaian, sampai properti yang digunakan. Saya sangat menikmati musik2 genre 1990-an yang memenuhi film ini.

Saya malah lebih suka Bebas dibandingkan film Sunny. Padahal, Bebas mengadaptasi Sunny. Barusan ada adaptasi Korea sebagus ini. Jauh lebih baik dari Miss Granny yag diadaptasi jadi film Sweet 20.

Saya membayangkan penonton film ini akan segera bernostalgia tentang masa-masa remaja, masa-masa tak ada gadget yang mengganggu interaksi, masa-masa memelihara mimpi setinggi langit, masa-masanya geng-geng pertemanan muncul, lalu bibit konflik bermunculan.

Saya pun bernostalgia. Saya ingat masa SMA di kampung yang tidak penuh warna-warni kayak mereka di film ini. Saya ingat masa SMA adalah masa yang cukup gelap. Pertama kali mencoba alkohol, lari dari rumah, serta hampir saja putus sekolah.

Saya membayangkan betapa banyaknya kejutan antara masa SMA dan masa sekarang. Orang hebat di masa SMA dulu, kehidupannya kini biasa saja sebagaimana kita yang tak pernah dapat spotlight. Sering, ada teman SMA yang malah tidak dianggap, malah tiba-tiba jadi lebih bersinar.

Belum lama ini, saya ketemu teman SD. Di masa lalu, dia dianggap tidak punya harapan dan masa depan. Dia jarang ke sekolah. Tiap hari hanya bernyanyi di dekker. Ketika barusan ketemu di Jakarta, dia berubah. Dia sudah jadi pengusaha sukses dengan harta miliaran.

Pelajarannya adalah sering kali ada keterputusan antara cara pandang dulu dan sekarang. Apa yang kita anggap hebat di masa lalu, belum tentu hebat di masa sekarang. Sebab semua orang terus bergerak, mengalami suka dan duka, mengalami jatuh bangun hingga akhirnya tiba pada satu titik di mana dirinya ingin bangkit.

Saya sedang membaca buku Barking Up the Wrong Trees yang ditulis Eric Baker. Saya temukan hal baru. Menurutnya, ajaran-ajaran di masa kecil dahulu tak selalu bisa membawa kita pada tangga kehebatan. Misalnya orang yang rajin belajar dan disiplin, hingga juara kelas, tidak selalu jadi orang hebat di masa depan.

Pemulis buku memantau riset tentang para juara kelas. Dia menemukan fakta, pendidikan hanya mengarahkan seseorang menjadi sosok yang patuh dan taat aturan, hanya membuat seseorang bisa bertahan dalam sistem.

Pendidikan bisa mengantarkan seseorang jadi karyawan hebat. Tapi untuk jadi seorang penuh inspirasi dan luar biasa, seseorang butuh sesuatu yang beda. Untuk mencapai level sebagaimana pebisnis hebat dan para penemu, seseorang mesti punya kemampuan melihat sesuatu yang melampaui orang lain. Itu hanya didapatkan dengan keberanian melawan arus sejak usia belia.

Saya sedikit banyak setuju dengan pandangan ini. Banyak orang biasa malah terbilang nakal di masa kecil ternyata kini melampaui semua rekannya dulu.

Untuk jadi luar biasa, Anda mesti berani melawan arus, melihat dari sisi lain, serta berpikir terbalik demi menemukan potensi terbaikmu. Untuk jadi pemimpin hebat, Anda mesti merasakan jatuh bangun dalam kehidupan.

Orang hebat akan sering mendapat hantaman hingga jatuh, tapi dia akan selalu bisa bangkit dan menemukan caranya untuk tetap eksis. Kata Eric, orang sinting itu jenius. Sebab cara berpikirnya tidak cocok dengan cara berpikir dalam sistem sehingga dirinya selalu dipandang tidak punya harapan.

Orang yang dianggap bodoh dan sinting itu seperti ikan laut yang disimpan di kolam sempit. Saat dia disimpan di laut, di arena yang maha luas dan tanpa batas, dia akan gesit dan lebih lincah dari rekannya di kolam sempit. Dia akan berenang lebih cepat.



Siasat Perlawanan: Dari SEKS Hingga Lipstick




Siapa bilang perubahan sosial hanya dipicu oleh hal-hal heroik seperti berdemonstrasi di jalan-jalan sembari berkelahi dengan aparat? Sejak kapan perubahan bisa terjadi hanya melalui provokasi dan nyinyir di medsos? Sejarah mengajarkan pada kita, banyak hal-hal besar yang dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana.

Mulai dari anak kecil usia 15 tahun, Greta Thunberg, yang menuding pemimpin dunia, aksi pesepakbola Didier Drogba yang mengharu-biru Ghana, mulut besar Muhammad Ali yang menggetarkan warga Amerika, perempuan Serbia yang berdandan seksi demi meruntuhkan rezim, hingga perempuan Sudan yang menolak seks demi menghentikan perang saudara.

*** 

Pesta demonstrasi itu seakan usai. Ketika anggota DPR RI dilantik, semuanya seolah berhenti. Tak ada lagi teriakan-teriakan penuh hasutan di media sosial. Tak ada lagi pernyataan dukungan secara terbuka pada mahasiswa disertai puisi-puisi dan kata-kata indah kepada mahasiswa. Semuanya diam, seakan-akan menyerahkan semua sengkarut persoalan pada anggota DPR yang baru.

Semua tuntutan mahasiswa dan masyarakat sipil tiba-tiba digantikan oleh berita legislator Lora Fadil yang tidur-tiduran di gedung dewan, setelah itu seakan meledek netizen dengan cara berpose bareng tiga istri cantiknya. Bahkan kisah heroik dan tewasnya beberapa mahasiswa sontak digantikan oleh berita mengenai milenial bernama Hilary Brigita Lasut yang penampilannya cetar di sidang dewan.

BACA: Orang Bugis, Bule Seksi, dan Senja Temaram di Gili Trawangan

Perlawanan memang harus tetap didengungkan. Napas pejuang demokrasi harus lebih panjang. Jika mahasiswa Indonesia berpikir bahwa perjuangan harus dilakukan dengan cara heroik melalui aksi-aksi jalanan, maka ini adalah salah kaprah.

Sejarah menunjukkan aksi-aksi perlawanan tak harus dilakukan melalui aksi heroik di jalan-jalan. Perubahan banyak dipicu oleh tindakan-tindakan kecil yang serupa rumput liar bisa merobohkan tembok kekuasaan

Mereka yang mengubah sejarah tak selalu para pahlawan, prajurit hebat, ataupun manusia dengan trah separuh dewa yang jatuh dari langit. Pemicunya adalah orang-orang biasa yang melakukan tindakan-tindakan kecil, yang lalu menggugah publik.

Di saat mahasiswa Indonesia sedang berdemonstrasi, seorang anak kecil berusia 15 tahun bernama Greta Thunberg berbicara di hadapan pemimpin dunia dengan kalimat yang menuding: "Kalian telah mencuri impian dan masa kecil saya dengan kata-kata kosong kalian."

Dia tak perlu teriak di jalan-jalan sembari menghadapi desingan peluru dan kabut gas air mata. Sebab dia tahu cara paling efektif untuk mengetuk kesadaran orang demi memberi tahu ada sesuatu yang keliru. Dia pandai memanfaatkan semua channel komunikasi untuk menyebarkan semua pesan-pesan politiknya.

Tak perlu malu untuk belajar pada anak Swedia usia 15 tahun itu. Tak perlu pula bangga dengan anak STM kita yang datang berdemonstrasi setelah pulang sekolah tanpa tahu apa yang harus disuarakan.

Pelajaran yang bisa kita petik adalah banyak hal-hal kecil di sekitar kita yang bisa menjadi inspirasi untuk menyatakan sikap pada rezim. Saatnya melakukan hal-hal kecil yang penuh daya ledak dan bisa menggetarkan orang lain.

Lihatlah sekeliling, Aksi mencuci bendera bisa menggetarkan rakyat Peru, pesan tersembunyi pada desain mata uang bisa menggelisahkan rakyat Myanmar, permainan sepakbola Didier Drogba bisa mengharu-biru Pantai Gading, hingga kalimat petinju Muhammad Ali bisa menggetarkan warga Amerika untuk mempertanyakan ulang makna nasionalisme negara yang memaksa warganya untuk menempur warga belahan bumi lain.

Jangan terkejut kala mengetahui gerakan emansipasi hak sipil dimulai dari perempuan bernama Rosa Parks yang menolak memberikan kursinya di bus pada tiga orang lelaki kulit putih. Mari pula beri ruang pada Malala, perempuan berusia 25 tahun yang pidatonya menggetarkan rezim otoriter yang selalu menebar teror.

BACA: Mereka yang Menghadirkan Cahaya

Tak hanya itu, gosip-gosip bisa memukul rezim yang memulai perang di Darfur, Sudan Selatan. Jangan terkejut kalau menemukan fakta jatuhnya rezim Slobodan Milosevic dimulai dari aksi mengutak-atik foto melalui program photoshop, jatuhnya rezim Ferdinand Marcos berawal dari sejumlah perempuan yang menolak untuk mengubah suara pemilu.

Lihat pula, revolusi di dunia Arab, yang kerap disebut Arab Spring, dimulai dari aksi meneruskan pesan di twitter. Perempuan Serbia beraksi dengan dandanan seksi dan lipstick merona demi menghentikan perang. Lihat pula aksi menolak hubungan seks para perempuan Sudan bisa menghentikan perang saudara selama 20 tahun. Hah?

*** 

Saya membaca kisah-kisah menggetarkan itu pada buku Small Acts of Resistance: How Courage, Tenacity, and Ingenuity Can Change the World yang ditulis Steve Crawshaw dan John Jackson. Buku ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Roem Topatimasang, dan diterbitkan Insist dengan judul Tindakan-Tindakan kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran, dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia.

Membaca buku bagus ini membuat mata saya lebih jernih dalam melihat banyak hal. Batin saya beberapa kali tersentuh membaca 15 kisah perubahan sosial, yang semuanya dimulai dari tindakan-tindakan kecil.

Saya mengamini kalimat di awal buku: “Seseorang yang berjiwa bebas, dengan segenap ingatan dan juga ketakutannya, adalah sebatang tetumbuhan air yang rantingnya membelokkan arah deras arus sungai.”



Kutipan lain yang juga menyentuh saya adalah kutipan dari Bertolt Brecht. “Kata anak lelaki itu, ia belajar tentang bagaimana air yang lembut menitik, selama sekian tahun akan melubangi batu yang keras sekali pun. Dengan kata lain, kekerasan akan kalah juga akhirnya.”

Yang saya rasakan dari kutipan ini adalah perubahan selalu dimulai dari individu yang gelisah, lalu punya sedikit keberanian untuk menyatakan sikap. Keberanian itu serupa api kecil yang membakar ilalang kesadaran, yang terus membesar lalu menjadi gerakan sosial.

Dalam buku ini, saya membaca cerita tentang anak muda kulit hitam yang berani memasuki restoran dan duduk di kursi yang hanya diperuntukkan bagi warga kulit putih. Di tengah iklim politik yang menindas kaum kulit hitam, tindakan itu akan berdampak pada penangkapan.

Anak muda itu memang ditangkap, tapi tindakannya menggugah orang lain, yang juga datang untuk duduk di kursi itu. Ratusan orang lalu bergantian duduk, hingga akhirnya memenuhi penjara. Aksi duduk itu lalu membakar kesadaran, memicu perlawanan, yang lalu berkembang jadi revolusi.

Buku ini bisa menjadi pegangan bagi semua praktisi gerakan sosial. Di dalamnya kita tak menemukan satu pun teori yang berat-berat, melainkan kisah-kisah inspirasi yang mengisahkan tentang banyaknya perubahan yang justru dimulai dari hal-hal sederhana. Beberapa kali nurani saya basah saat menemukan kegelisahan yang lalu dijelmakan dalam tindakan biasa, namun sukses menggugah banyak orang.

BACA: Pahlawan Belia di Kota MANADO

Saya suka kisah tentang perempuan Bosnia. Di tengah peperangan, mereka tetap berdandan modis, dengan lisptick merah merona. Di tahun 1993, warga Bosnia yang benci perang mengadakan kontes kecantikan. Para gadis-gadis cantik itu berpose di atas panggung , yang terdapat spanduk besar bertuliskan “Don’t let them kill us!” Pesan itu bergema ke mana-mana. Grup musik U2 lalu membuat lagu berjudul Miss Sarajevo, yang liriknya adalah:

 Is there a time for kohl and lipstick
Is there a tme for cutting hair
Is there a time for high street shopping
To find the right dress to wear

Apakah di sana ada waktu untuk maskara dan gincu
Apakah di sana ada waktu untuk memotong rambut
Apakah di sana ada waktu untuk belanja
Untuk mendapatkan busana yang pantas disandang

Bisa Anda bayangkan, sebuah lomba miss kecantikan yang diselenggarakan di tengah desingan peluru. Para perempuan Bosnia itu hendak menyatakan sikap benci pada perang yang berdampak luas. Siapa sangka, revolusi bisa dipicu oleh lipstick merah dari perempuan seksi.

Hal yang sama juga terjadi di Afghanistan ketika protes disuarakan melalui kontes Afghan Stars, lalu aksi protes warga Estonia atas rezim otoriter yang dilakukan dengan cara bernyanyi, hingga memicu The Singing Revolution.

Yang membuat saya terhenyak adalah revolusi bisa dimulai dari hal-hal yang mungkin dianggap sederhana oleh banyak orang. Di Sudan, Lubna Hussein divonis bersalah dan akan diberi hukuman cambuk hanya karena mengenakan celana panjang, yang dianggap tidak sopan.

Ia melalui proses di pengadilan, lalu menjelaskan argumentasinya tentang perempuan. Ia membaca banyak kitab, dan mengejutkan orang-orang dengan pertanyaan kritis, yang lalu mengubah pandangan orang-orang.

Hal-hal besar sering kali dimulai dari hal-hal kecil, hal biasa, hal terabaikan. Yang barangkali bisa dilakukan adalah senantiasa konsisten, tetap mengikuti jalan nurani dan kebenaran, serta menyatakan sikap di tengah ketidakadilan.

Bagi saya, ini bukan hal yang mudah, sebab sering kali pernyataan sikap bisa menggerahkan orang lain, yang lalu membuat hidup jadi tak nyaman.

Di buku ini, saya belajar pada Muhammad Ali. Di puncak kariernya, ia justru menolak wajib militer. Kalimatnya menghujam, “Mengapa pula saya disuruh memerangi Vietcong, sementara mereka tidak pernah mengatakan saya negro?”

Pernyataan itu membuat Ali disekap, dicabut gelarnya, dilarang mengikuti kejuaraan dunia. Selama tiga tahun, ia kehilangan hak untuk bertinju, justru di tengah-tengah masa keemasannya.

Aktor Richard Harris mengatakan,” Setiap petinju selalu berusaha dan bersedia menjual jiwanya demi gelar sebagai juara tinju. Apa yang Ali lakukan? Dia justru menemukan kembali jiwanya dengan melepaskan gelar juara dunia itu.”

Kisah lain yang juga mengejutkan adalah perempuan di Sudan Selatan. Perempuan bernama Samira Ahmed gelisah dengan perang saudara yang tak kunjung usai. Dua wilayah, yakni utara dan selatan, dibakar dendam berkepanjangan hingga memicu perang selama 20 tahun.

Samira ingin menghentikan perang. Dia muak dengan perang yang tak kunjung usai. Dia lalu mengorganisir perempuan di dua wilayah itu untuk bersatu. Mereka lalu membuat gebrakan melalui penolakan hubungan seks.

Aksi itu memang menggemparkan. Aksi itu adalah ‘penelantaran seksual’ (sexual abandoning) yang lalu membuat para lelaki sejenak berhenti berperang lalu memikirkan hal-hal lain yang lebih penting.

“Perempuan-perempuan itu sama berpikir bahwa dengan menolak hubungan seks dengan suami, mereka bisa menekan lelaki untuk mengusahakan perdamaian. Taktik itu berhasil,” kata Samira.

Di tahun 2009, taktik ini juga dilakukan oleh para perempuan Kenya. Aksi mogok seks itu bisa memaksa presiden dan perdana menteri untuk ikut berunding dengan para perempuan itu.

***

SAYA senang membaca banyak contoh-contoh dalam buku ini yang membuka mata kita semua. Saya teringat pada buku James Scott yang berjudul Weapon of the Weak. Bahwa perlawanan orang lemah bisa diartikulasikan dengan banyak cara.

Pelajaran bagi mahasiswa dan para aktivis kita adalah terdapat banyak cara dan strategi untuk mendorong perubahan sosial. Anda hanya perlu kreatif dan bisa memaksimalkan semua teknologi jaman now yang memudahkan semua orang untuk berkonsolidasi demi aksi.

Kata James Scott, perlawanan bisa disalurkan melalui simbol, gosip, hingga pesan yang lalu ditangkap oleh banyak kalangan. Perlawanan itu melalui cara-cara kultural yang pesannya lebih cepat tersebar dan memicu gerakan yang lebih besar.



Kita bisa melihat banyak contoh di negeri kita. Ada banyak orang hebat di sekitar kita yang perlu digali kisahnya demi menjadi nutrisi bagi anak-anak muda untuk melakukan perubahan.

Beberapa tahun lalu saya bertemu Maria Loretha, atau kerap dipanggil Mama Tata, yang menginspirasi warga untuk menanam sorgum di Pulau Adonara. Dengan cara itu, ia mengajarkan kemandirian pangan, serta sikap tidak tergantung pada pasokan beras, yang didatangkan dari Jawa.

Saya juga pernah bertemu dengan Ismail, anak muda di Berau yang mendirikan bank ikan lalu mengajak para nelayan berpartisipasi, serta tidak tergantung pada lintah darat.

Di sekitar kita ada banyak para champion atau juara yang bekerja dalam diam, menggugah kesadaran, lalu melakukan hal-hal luar biasa. Kita hanya butuh menajamkan semua rasa demi mengenali orang-orang hebat di sekitar kita.

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligence, dan Kediktatoran Digital

Mereka tak suka dengan publisitas. Yang mereka kejar bukanlah kemasyhuran atau popularitas, lalu memajang wajah di berbagai baliho di banyak sudut kota. Orang-orang ini melakukan banyak hal-hal besar dengan langkah-langkah kecil demi membumikan pohon-pohon gagasannya agar tumbuh kokoh dan menginspirasi orang banyak.

Orang-orang ini bekerja untuk keabadian, berbuat untuk sesuatu yang jauh lebih bermakna. Meskipun mereka tak dicatat sejarah, nama mereka tergurat di hati banyak orang di sekitarnya. Mereka menggerakkan perubahan sosial.

Seusai membaca buku ini, sayup-sayup saya mendengar lantunan suara Bob Marley:


Emancipate yourself from mental slavery,
None but ourselves can free our minds.
Have no fear for atomic energy,
'Cause none of them can stop the time.
How long shall they kill our prophets,
While we stand aside and look?
Some say it's just a part of it,
We've got to fulfill the book.
Won't you help to sing
These songs of freedom?
'Cause all I ever have,
Redemption songs,
Redemption songs,
Redemption songs.


EMBUN di Tengah API yang Membakar


seorang demonstran membawa bendera merah putih (foto: kompas.com)


Semua cinta Indonesia. Mulai dari mahasiswa yang mengeluarkan pekik untuk berdemonstrasi, para polisi yang teguh menjaga fasilitas negara, para ahli hukum yang menyusun semua rancangan undang-undang, wakil rakyat yang ingin membenahi negara, hingga semua perangkat negara yang ingin membawa bangsa ini lebih baik.

Lantas, mengapa harus ada kabar benci yang disebar setinggi langit dan memenuhi udara? Mengapa orang saling curiga dan membenci? Siapa yang paling diuntungkan?

*** 

DUA anak muda di Kendari itu meregang nyawa karena peluru menembus tubuhnya. Usai sudah tugas mereka untuk ibu pertiwi. Mereka menyatakan sikap perlawanan dengan heroik. Anak muda memang harus menyabung nyawa untuk kebenaran. Mereka harus bertarung dengan rezim. Mereka harus menolak untuk sekadar duduk diam, seperti seniornya mantan aktivis.

Di mana-mana mahasiswa tampil ke depan. Semuanya menolak rancangan undang-undang. Mereka menyahut semua protes yang mengalir di semua media sosial. Telepon seluler mereka setiap saat dialiri informasi yang isinya penuh kemarahan. Segala jenis kabar mulai dari benci sampai murka berseliweran. Rasa iba pada negeri membuat mereka panik dan bergerak. Di tambah lagi, setiap saat media dijejali tayangan pekik mahasiswa di berbagai kota.

Jangan pula berharap mahasiswa akan paham substansi. Mereka bukan ahli hukum yang tahu persis detail dan titik koma satu aturan. Saat para pemimpin mahasiswa itu tampil di televisi, jangan berharap mereka akan meladeni semua argumentasi mengenai apa yang hendak dikritik. Mereka punya satu hal yang tidak dimiliki generasi lain yakni kemudaan dan keberanian. Mereka punya kekuatan saat berjejaring dengan banyak pihak.

Jangan heran jika banyak kelompok ingin menumpang aksi mereka. Bahwa isu yang mereka usung itu tidak fokus, itu soal lain. Mereka punya semangat muda yang terus membara.

Sebab mereka cinta negeri ini.

***

BAPAK polisi itu bersimbah peluh saat mengawasi demonstrasi. Mereka harus menghadapi mahasiswa yang notabene adalah anak, adik, saudara, ponakan, atau keluarga dekat. Bapak-bapak polisi itu paham bahwa tugas mereka harus ditunaikan. Jika mereka melonggarkan penjagaan, bisa-bisa semua fasilitas negara akan rusak dan dibakar, sebagaimana terlihat di beberapa kota.

Bapak polisi paham prosedur pengamanan. Sangat paham. Mereka pun sudah terbiasa dengan berbagai makian dan umpatan, bahkan ajakan berkelahi. Saat massa mulai beringas dan merangsak maju, mulailah mereka menembakkan gas air mata serta water canon. Setiap saat mereka berhadapan dengan ancaman pemecatan dan hukuman jika berani memukul massa.

Tugas mereka adalah mengamankan semua fasilitas publik. Mereka tidak diajarkan untuk anarkis. Saat berjaga, mereka memelihara kesabaran selevel dewa. Bisa dibayangkan, mereka harus menerima umpatan, lemparan batu, bom molotov, hingga teriakan-teriakan dari mereka yang mengaku intelektual.

BACA: Saat Rocky Gerung Menampar Akademisi Kita

Namun ada saat di mana kesabaran mereka bisa jebol. Mereka pun setiap saat harus siap menjadi pihak tertuduh serta kambing hitam dari setiap peristiwa. Siapapun bisa memanfaatkan situasi chaos. Mungkin ada di antara mereka yang tak bisa tahan emosi. Bisa saja ada penyusup yang menembak dari jarak dekat kepada massa yang sedang beringas. Mereka tetap teguh menjaga semua fasilitas negara, meskipun dihujat setinggi langit.

Mereka yang emosi kemudian melepaskan peluru harus segera diproses hukum. Mereka dihukum atas ketidaksabaran dan pelanggaran prosedur. Tak semua mereka bisa melalui ujian kesabaran yang begitu hebat. Ketika ada darah anak bangsa yang menetes, mereka harus siap-siap untuk diproses. Pedang keadilan akan menebas mereka yang melanggar. Mereka tahu itu.

Sebab mereka cinta negeri ini.

*** 

IBU profesor itu tampil di layar televisi. Namanya Harkristuti Harkrisnowo. Dia meminta mahasiswa yang hadir untuk membaca draft undang-undang itu. Dia menjelaskan proses perjalanan undang-undang yang tidak mudah. Sejak masa presiden kedua hingga presiden ketujuh, UU itu telah dipersiapkan. Di semua tahapan, ada uji publik di kampus-kampus.

Tim pembuat UU selalu mencari pikiran-pikiran terbaik. Mereka terbuka dengan diskusi dan debat. Kalaupun UU itu terbit, dan ada beberapa pasal yang dipertanyakan, maka jalan untuk menggugatnya dibuka lebar. Selalu ada mekanisme untuk mempertanyakan sesuatu. Keran untuk itu dibuka luas.

Dia tak sendirian. Ada pula nama lain yakni Profesor Muladi. Integritas dan kepakaran mereka teruji. Mereka menerima warisan dari guru-guru hukum yang terpelajar. Selama bertahun-tahun mereka bekerja. Mereka tak marah ketika hasil kerja mereka dimentahkan begitu saja dan dicaci oleh mereka yang tak belajar hukum.

Mereka paham tentang dalil sosiologi hukum yang menyebutkan bahwa setiap gagasan harus relevan dengan kondisi sosial tertentu. Ada situasi ketika satu ide besar tidak bersesuaian dengan keinginan masyarakat, sehingga ide itu tersaput angin. Dahulu, Galileo Galilei datang dengan ide baru yang kemudian ditentang masyarakat dan otoritas agama. Bertahun-tahun setelah Galileo tewas, barulah masyarakat sadar kalau dia benar.

Di era yang disebut Tom Nichols sebagai "the death of expertise”, era matinya kepakaran, apakah suara mereka yang ahli punya ruang yang memadai? Mereka tenggelam oleh celotehan para buzzer dan para laskar media sosial. Tapi para pakar hukum itu tak lantas mundur. Mereka tetap bekerja, meskipun dalam diam.

Sebab mereka cinta negeri ini.

*** 

WAKIL rakyat itu terpaku menatap layar. Segala tuntutan dan caci maki tengah mengarah ke gedung dewan. Dia menjalankan tugasnya dengan baik. Dia ikut dalam banyak rapat-rapat mengenai rancangan undang-undang. Dia menjalankan tugas konstitusionalnya dengan sebaik-baiknya.

Tapi dia paham bahwa setiap kebijakan lahir dari hasil negosiasi dan kontestasi. Ada banyak kekuatan yang saling bergesekan demi lahirnya satu kebijakan. Politik adalah arena yang terbuka untuk memperdebatkan mana yang disebut kepentingan rakyat dan mana kepentingan elite. Semua pihak sedang mengatasnamakan rakyat.

Mereka adalah wakil rakyat yang sebenar-benarnya. Mereka memegang mandat konstitusional karena dipilih melalui mekanisme pemilihan yang terbuka dan transparan. Kinerja mereka boleh diragukan. Tapi mereka punya akses untuk masuk gedung itu dan mendiskusikan banyak hal.

Kebijakan mereka tak selalu menyenangkan semua pihak. Tapi mereka dilantik untuk mengatasnamakan suara banyak orang. Mereka punya kuasa untuk menentukan siapa yang duduk di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu, membahas undang-undang, dan mengawasi jalannya pemerintahan.

BACA: Para Jagoan dan Penumpang Gelap Republik

Dalam setiap penyusunan kebijakan, selalu tersedia ruang untuk negosiasi dan diskusi alot. Bahkan untuk penentuan siapa ketua komisi yang menjadi perangkat hukum negeri, mereka melakukannya dengan ketat. Bukan kali ini saja. Ketua KPK pertama hingga Ketua KPK terakhir, semuanya terpilih karena seleksi di kalangan dewan. Lantas, mengapa hasil seleksi mereka dipertanyakan?

Sebab mereka tak lagi sendirian. Di era di mana transparansi menjadi jantung dari kehidupan masyarakat, kerja-kerja mereka menjadi sorotan banyak pihak. Mereka harus mendengar suara-suara, baik itu positif maupun negatif, dari banyak kalangan. Telinga mereka harus lebih peka untuk menangkap suara jarum jatuh hingga suara yang dikeraskan dengan megaphone.

Kalau ada keberatan pada keputusan mereka, celah-celah hukum terbuka. Silakan ajukan gugatan ke mahkamah. Bawa semua bukti, argumentasi, dan pikiran terbaik. Kalau lama, itulah prosedur, sebagaimana lamanya wakil rakyat itu membuat keputusan. Mengapa wakil rakyat itu lama membuat keputusan?

Sebab mereka cinta negeri ini.

*** 

DI sekeliling kita, terdapat banyak suara-suara yang mendengung. Selalu saja kita diajak untuk marah, resah, dan mengamuk. Emosi kita mudah diaduk-aduk oleh satu pandangan yang merasa dirinya benar. Kita harus siap untuk menghadapi semburan kebenaran dari buzzer yang sedang membawa misi tertentu. Bukan hanya versi pemerintah, tapi banyak pula anti pemerintah.

Padahal, mereka yang berseteru itu sedang menyampaikan cintanya pada bangsa. Di tingkat elite, mereka yang berseteru itu bisa duduk manis dan saling menyeruput teh panas. Lihat saja semua elite politik yang berseteru. Di layar kaca, mereka bisa sengit berdebat, tapi di belakang layar, mereka bisa tertawa-tawa bersama.

Tidak semua orang punya kearifan dalam mengelola perbedaan. Mereka yang tidak arif adalah mereka yang sibuk menebar provokasi di media sosial. Setiap ada hal meresahkan, langsung dibagikan, tanpa menelaah dulu apa yang sebenarnya terjadi. Selalu saja ada orang yang suka melihat bangsa ini chaos dan sesama warga saling curiga.

Siapa yang diuntungkan? Banyak. Mulai dari elite penguasa, para buzzer yang menerima orderan di mana-mana, gurita pemodal yang memiliki tentakel di kalangan para pengusaha gerakan sampai pada penguasa.

Kita rakyat jelata adalah kayu bakar yang setiap saat bisa disulut. Mereka tak ikut di jalan-jalan sebab sibuk mengamati melalui media sosial di satu ruangan ber-AC. Mereka hanya sibuk meneriakkan semangat dan panjang umur perlawanan sembari menjalankan agenda lain dari ruang kerja mereka.

Ketika korban berjatuhan, mereka akan segera memasang tagar duka cita dan solidaritas. Saat itulah kita sadar bahwa terlalu banyak harga yang harus dibayar demi menggugat sesuatu yang koridornya masih terbuka lebar. Negeri ini butuh embun ketenangan, kemudian duduk bersama dan berdialog untuk mencari solusi terbaik.

Jika negeri ini ingin menjadi tempat yang digambarkan komponis Ismail Marzuki: “Indonesia sejak dulu kala sudah dipuja-puja bangsa” saatnya saling mendengarkan. Padamkan api amarah, basahi dengan embun kesejukan, kemudian semua pihak mulai duduk bersama dan saling mendengarkan. Waspadai semua kabar provokasi. Dengarkan mereka yang menjerit. Buka hati dan pikiran untuk kemajuan bangsa.

Sebab semua cinta negeri ini.




Pengalaman Melatih Fasilitator Plan - DFW


bersama para fasilitator

Di siang yang cerah, saya diminta memfasilitasi para peneliti yang akan turun lapangan di Hotel Aston, Bogor. Mereka bekerja di bawah payung organisasi Plan International dan Destructive Fishing Watch (DFW). Mereka adalah anak muda pemberani yang akan bertugas di titik tertentu republik ini. Ada yang tugas di Bitung, ada yang di Tegal.

Tugas saya adalah melatih mereka agar bisa menulis catatan lapangan dan laporan riset yang baik. Saya diminta memoles kemampuan mereka sehingga bisa menangkap isu2 di lapangan dengan baik. Setelah itu mereka bisa mengalirkan semua yang dilihat dan disaksikan dalam artikel yang menarik.

Rasanya sangat sayang jika mereka tidak menulis catatan lapangan dan artikel yang baik. Sebab tidak semua orang punya "kemewahan" bisa bertualang sampai pulau2 terluar, bergumul dengan tantangan, serta menemukan kisah2 serupa mutiara untuk dibagikan kepada khalayak.

Saya lihat di kalangan NGO dan praktisi pembangunan sedang muncul kesadaran baru untuk merekam denyut nadi kenyataan lapangan lalu membagikannya ke publik. Istilah kerennya pengelolaan manajemen pengetahuan (knowledge management) kemudian diseminasi pengetahuan (knowledge dissemination) ke semua stakeholder dan masyarakat.

Tak lengkap jika program atau project tidak punya catatan dan publikasi. Sebab melalui catatan itu, kita bisa merawat semua memori dan temuan2 agar bisa tersimpan abadi dan kelak dibaca pengampu program berikutnya.




Pada akhirnya, yang dikenang dari program adalah catatan ringan dan menarik tentang situasi lapangan, yang dilengkapi foto2 dan video. Bukan laporan yang hanya berdebu di lemari lembaga donor. Saya ingat kutipan dari Will Durant: "Kata-kata tertulis abadi, kata-kata terucap lenyap."

Selamat bertugas ke pulau terluar. Semoga saya diajak untuk monev dan berkunjung ke sana lagi, sebagaimana tahun-tahun lalu. Jika fasilitator akan menulis tentang pekerja di sektor perikanan, saya ingin menulis tentang kucing di pulau terluar.

Tentu saja, bukan cuma kucing, tapi juga pemilik kucing. Biasanya sih penyuka kucing selalu imut kayak kucing. Hehehe


Ketika #BugisBerduka dan #MinangBerduka Ramai di Twitter


saat Wamena dicekam rusuh (foto: CNN Indonesia)

Dalam beberapa hari ini, kita menjadi akrab dengan tragedi. Perhatian kita berpindah dari isu-ke isu. Di era medsos, kita ibarat bola pimpong yang bergerak ke mana-mana mengikuti arah siapa yang menepuk.

Di mana-mana orang rusuh dan demonstrasi. Ada yang memprotes rancangan undang-undang, ada juga yang protes ketika seorang aktivis digelandang dan diperiksa. Dunia serupa kiamat. Bahkan hari ini, masih banyak yang membela habis-habisan dirinya atas satu perkara yang sebenarnya tengah bergulir.

Namun adakah yang sempat menoleh ke Wamena lalu Oksibil di sana, saat sejumlah orang Bugis dan Minang dibantai, dibakar, lalu diusir dari tanah yang telah menjadi tanah tumpah darahnya?

Di era di mana perhatian kita pada satu topik sangat dipengaruhi seberapa seksi topik itu di panggung internasional, peristiwa di Wamena sana tidak cukup menyita perhatian kita. Tapi di sana, ada puluhan jiwa yang tewas hanya karena dianggap pendatang.

Masih relevankah kita bicara pribumi dan pendatang di era ini? Apakah orang yang sudah tinggal sejak kakek-neneknya masih pantas disebut pendatang? Bisakah mereka yang menganggap tempat itu sebagai tanah tumpah darahnya disebut pendatang?

Sejarah mencatat mereka yang disebut pendatang itu datang hanya dengan selembar pakaian, kemudian mulai membuka lahan sepetak, lalu menyapa semua orang dalam damai. Mereka mencari nafkah,bercocok tanam, dan membagi rezeki dengan warga sekitar. Hingga mereka beranak-pinak lalu kian sejahtera di sana.

Memang, pemerintah bisa saja tak adil pada mereka yang mengaku sebagai penduduk asli. Sering ada laporan tentang isu HAM di sana, apalagi isu ini memang seksi di panggung internasional. Pemerintah lalai ketika mencaplok tanah lalu membiarkan penduduk asli jadi paria di tanahnya sendiri. Pemerintah juga keliru saat tidak punya banyak instrumen kebijakan yang memihak mereka.

Namun, pemerintah juga sama kelirunya ketika membiarkan masyarakat biasa saling bantai sehingga puluhan korban tewas, dan ribuan orang harus mengungsi ke Jayapura. Tugas negara adalah “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.”

Kita memasrahkan perlindungan saudara kita di sana pada negara sembari mengetuk solidaritas orang-orang untuk berpaling ke sana. Kita pun berharap agar pemerintah menjamin keamanan dan keadilan, yang berlaku untuk semua kalangan, tanpa memandang etnik dan asal-usulnya.

Namun, apakah ada ruang untuk bicara tentang tragedi kemanusiaan? Apakah bisa bicara kemanusiaan ketika hasrat semua orang tengah berpaling ke politik?

Hari-hari belakangan ini, kita menyaksikan ribuan mahasiswa di berbagai kota rela mempertaruhkan nyawa atas rancangan undang-undang yang sebenarnya masih terbuka celah hukum untuk membatalkannya. Kita melihat orang-orang yang bersuara protes agar pemimpin itu lengser.

Kita melihat para aktivis Social Justice Warrior (SJW) yang menemukan momentumnya. Suara mereka yang selama ini tenggelam di tengah hiruk-pikuk politik, kini bangkit kembali.

Tapi bolehlah kita menanam harapan kuat. Jika mereka memang peduli hak asasi manusia, kita harapkan agar mereka juga bicara tentang saudara kita Wamena. Kalau mereka bungkam, maka kita pun tak boleh lelah untuk bersuara.

Ini bukan waktunya menyalahkan siapapun. Bukan masanya untuk saling nyinyir dan menjelekkan siapapun. Kita desak pemerintah untuk melindungi anak bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia di sana. Kita dorong solidaritas publik agar berpaling ke mereka yang sedang terusir dari tanahnya.

Di jagad maya Twitter, #BugisBerduka menjadi trending. Orang Minang juga tengah menyeru solidaritas warganya untuk saling bantu saudaranya yang sedang kesusahan. Kita pun perlu mengetuk kesadaran atas kemanusiaan kita untuk melindungi dan mencintai semua anak bangsa, apapun agama dan etniknya.

Di Wamena, Papua, nurani kemanusiaan kita sedang diketuk. Pada air mata mereka yang mengungsi itu, kita menyaksikan begitu banyak beban yang dipikul tanah air kita: INDONESIA.


Foto: CNN Indonesia

Sharing di Radar Bogor




Betapa saya sangat girang saat diajak sharing dengan para redaktur di Radar Bogor. Pesertanya tidak semua dari Radar Bogor, tapi juga para redaktur di Radar Depok, Radar Sukabumi, dan Radar Cianjur. Hadir pula redaktur pojoksatu.

Kepada para redaktur, saya jelaskan disrupsi di dunia media. Mereka tak bisa nyaman dengan gaya menulis stright news. Saya tunjukkan slide bagaimana media2 asing mulai mempekerjakan robot untuk mengolah liputan dan reportase lapangan. Saya ajak mereka membahas tantangan2 di masa depan, serta perlunya selalu mengasah kemampuan.

Tentu saja, selalu ada harapan bagi mereka yang mau berubah. Saya percaya selalu ada kekuatan pada teks dan narasi. Di era ini, sekadar menulis saja tak cukup, tapi tulisan harus bisa menembus berbagai segmen, dibaca banyak kalangan, serta meninggalkan jejak di hati pembacanya. Tulisan harus melukiskan sesuatu dengan kemasan yang lebih baik ketimbang reportase televisi.

Untik itulah kami saling belajar. Saya ajarkan pada mereka nagaimana storytelling dan bercerita di era digital. Mereka sangat antusias. Saya pun menyerap hal baru tentang bagaimana newsroom merespon perubahan. Mereka mengajarkan saya bagaimana media2 bisa tetap bertahan dan merawat jaringan pembacanya.





Terakhir, saya membantu mereka untuk membenahi tulisan2nya. Sesi ini kian menarik sebab banyak hal2 lucu yang muncul saat mendiskusikan liputan2 yang mereka buat. Saya memberi mereka masukan dari sisi blogger atau warga biasa yang berharap sesuatu ketika membacanya.

Bagian yang saya sukai adalah ketika kelas usai. Saya menandatangani kuitansi yang bertuliskan beberapa angka nol. Empat jam berbagi setara dengan membeli beberapa buku bagus. Saya pun bisa perluas jaringan pertemanan. Semoga mereka tidak kapok untuk mengundang saya lagi.

Thanks.


Kapurung Ternikmat di Tanah Luwu (1)




Hanya di beberapa daerah kawasan timur Indonesia, saya menemukan masyarakat yang begitu memuliakan makanan berbahan sagu. Sejak masyarakat kita menjadikan beras sebagai pilihan utama, sagu dan komoditas hasil ladang seakan terpinggirkan.

Di Luwu, Sulawesi Selatan, sagu masih menjadi makanan pokok warga, bersanding dengan beras. Di sepanjang jalan menuju Masamba lanjut Malili, saya melihat begitu banyak warung yang menjual sagu, yang entah kenapa selalu dibungkus plastik merah.

Masyarakat mengolahnya jadi kapurung, olahan sagu yang dikombinasikan dengan sayur, ikan, udang, dan lain-lain. Di beberapa daerah, saya menemukan makanan sejenis kapurung. Di kendari, namanya sinonggi. Di Ternate dan Maluku, saya melihatnya disajikan dalam berbagai acara. Masyarakat di sana memakai sumpit untuk menggulung sagu.

Saat seorang teman di Masamba mengajak saya makan kapurung, berceritalah saya tentang sagu di Pulau Buton. Dulu, ibu saya menyajikan sagu seperti kolak panas, dicampur dengan air gula merah dan bersantan. Teman saya langsung protes: "Pasti rasanya aneh."

Saya terkekeh sebab saya pun menganggap aneh melihat sagu yang disajikan dengan sayuran, udang dan ikan. Kebudayaan memberikan resep-resep berbeda di berbagai wIlayah. Kebudayaan ibarat kaca mata yang membatasi cara pandang kita. saat lensanya merah, kita melihat semua hal jadi merah.

Di Luwu, kapurung adalah makanan pokok yang ditabah sayuran. Di tempat lain, sagu jadi bahan untuk kolak. Malah di Ambon, sagu Jadi bahan untuk kue bernama Bagea. Kesemuanua punya benang merah yakni sama2 memuliakan sagu.

Pada kapurung di atas meja, saya melihat potensi dan kekuatan lokal. Dulu, Indonesia mencapai kedaulatan pangan ketika ladang masih menjadi mitra pangan. Dulu, tak pernah ada kasus gizi buruk dan krisis pangan. Sebab ladang menyuplai kita dengan berbagai makanan, mulai dari sagu, jagung, keladi, ubi, dan banyak lagi.

Saya teringat krisis pangan di Yahukimo, Papua, beberapa tahun lalu. Kata seorang antropolog, krisis pangan di sana bukan karena alam tak lagi pemurah. Tapi pemerintah menggeser budaya pangan warga dari ladang ke sawah. Masyarakat jadi tergantung sama beras, yang untuk mendatangkannya ke Papua mesti diimpor dari pulau Jawa. Masyarakat jadi tergantung pada pangan dari luar. Alam tak lagi menjadi sandaran, sehingga pada satu titik ketika pasokan beras tidak datang, terjadilah krisis pangan.

"Bang, kapurungnya sudah mau dingin," kata sahabat itu.

Saya melihat kapurung yang begitu nikmat dengan udang sserta cabe yang rasanya agak pedas. Saya membayangkan senyum para pencari sagu di Luwu saat mengolah sagu. Saya membayangkan anak2 berlarian di hutan sambil memikul sagu. Saya melihat keriangan para ibu yang mengolah sagu jadi kapurung.

Saya melihat ada banyak bahagia dan haru bermunculan demi membawa sagu ini menjadi kapurung. Saya lalu menyendok kapurung, sesaat menikmati aroma hebat ini, lalu memasukkannya dalam mulut.

Sssrruuppp.

Orasi "Safety Matches"




Dia membayangkan ratusan mahasiswa yang sedang berdemonstrasi dengan jaket almamater. Nyali lelaki itu langsung keder. Dia tiba-tiba nervous. Dia tahu dia akan diminta orasi di hadapan massa mahasiswa. Masalahnya, dia tidak tahu hendak ngomong apa.

Malam sebelumnya dia menemui saya di pondokan mahasiswa. Dia tahu kalau saya sedang tidak niat ikut demonstrasi. hari itu, saya akan ujian. Baginya, ini kesempatan emas untuk mengeluarkan kutipan yang selalu saya teriakkan saat orasi. "Yos, saya udah bayangin mahasiswi akan histeris saat saya baca puisi."

Dia sejak lama cemburu dengan gaya orasi saya yang katanya tenang, serta sesekali mengutip syair dan puisi. "Kamu selalu bisa bikin mahasiswa hanyut, lalu tinju mengepal ke langit. Ajarin dong," katanya.

Sejak dulu, dia mengangkat saya sebagai gurunya. Saya pernah mengajarkan beberapa kutipan dari Antonio Gramsci, seorang Marxis Italia. Pernah pula saya beritahu kutipan dari Marx, yang kemudian selalu dimodifikasinya saat orasi: "kaum Jomblo sedunia, bersatulah."

Malam itu, saya ajarkan kutipan dari Rendra: "Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata." Ini puisi yang selalu efektif membakar semangat massa. Kutipan yang sama dahsyatnya dengan puisi Widji Tukul: "Hanya ada satu kata. Lawan!!"

Tapi sampai menjelang pulang, diulang-ulangnya semua kutipan itu. Dia bayangkan cewek yang ditaksirnya akan histeris. Tapi dia tak hafal2 juga. "Bisa mati saya kalau orasi kayak baca sambutan." Saat termangu, saya menatap korek di tangan. Aha! Ada ide berkelebat.

"Gini aja deh, kamu ucapkan safety matches polar bear. Tapi sampaikan dengan cepat seolah-olah itu bahasa asing." Dia tersenyum.

Hari ini saya sedang menunggu di depan ruang ujian. Di sana, sejumlah mahasiswa sedang berdemonstrasi. Saya mengenali suaranya yang menggelegar. Saya mendengar jelas dia berkata: "Mahasiswa harus bangkit dan berani menebas sejarah, sebagaimana dikatakan puisi Yunani yang bunyinya safety matches polar bear"

Suaranya tak terdengar jelas karena ditelan sorak-sorai mahasiswa. Semua berteriak "hidup mahasiswa." Bahkan ada mahasiswa yang spontan berlari menembus penjagaan aparat. Hari itu, mahasiswa long march sejauh 9 kilometer. Sepanjang jalan meneriakkan yel-yel.perlawanan.

Dalam hati saya berbisik, semuanya berkat kutipan "safety matches polar bear."



Senyum Manis Gadis LUWU


Gadis Luwu (foto: Yusran Darmawan)

Salah satu cendekiawan Sulsel yang saya kagumi adalah Ishak Ngeljaratan. Beliau adalah sosok yang setiap saat bersedia diajak diskusi mengenai apa pun. Saya cukup menikmati semua uraiannya saat bahas filsafat dan kebudayaan. Mendengar dia meninggal, saya sangat berduka.

Saya masih ingat ketika dirinya membahas budaya di Sulawesi Selatan. Saat itu, saya tersentak saat dirinya membahas Luwu. Menurutnya, Luwu serupa Yunani dalam kebudayaan Eropa. Sementara Bone dan Gowa adalah Romawi.

Maksudnya, Luwu adalah awal dari banyak pemerintahan di Tanah Bugis. Luwu adalah mata air dari nilai-nilai filosofis orang Bugis. Di rahim budaya Luwu, lahir naskah I La Galigo yang berisikan semua kearifan, pesan, serta peta jalan hidup manusia Bugis.

Masih kata Ishak, Luwu sebagaimana Yunani tidak membangun peradaban besar. Yang dia maksud peradaban itu adalah kerajaan kuat dan hebat yang punya pengaruh kuat hingga ke mana-mana. Ketika Yunani runtuh, maka landasan filosofisnya lalu menjadi fundasi bagi Gowa dan Bone. Itulah cikal-bakal Romawi, menurut Pak Ishak.

Kata seorang filolog, dalam I La Galigo disebutkan Luwu di masa lalu adalah wilayah pesisir sungai yang sumber ekonominya adalah perdagangan. Pada masa itu, komoditas besi asal Luwu menjadi bahan utama yang dikirim ke pusat kerajaan Majapahit.




Besi Luwu menunjukkan kehebatan teknologi metalurgi di masa itu. Besi Luwu menjadi unsur utama dalam senjata dan keris-keris hebat Majapahit, yang saat itu penguasa Nusantara. Kalau Luwu jadi pemasok komoditas utama, bisa dibayangkan betapa kayanya Luwu di masa itu.

Saya tidak paham persis yang dimaksudkan Ishak. Tapi, penjelajah James Brooke mencatat bahwa pada abad ke-19, Luwu menjadi kerajaan kecil. Katanya, Luwu adalah kerajaan Bugis paling tua, tapi menyedihkan. Palopo hanya terdiri 300 rumah yang tersebar. Dia sulit percaya bahwa Luwu pernah sangat berjaya pada masanya.

Apa pun itu, saya suka dengan kalimat Ishak tentang Luwu sebagai Yunani. Di mata saya, Yunani adalah tempat para filosof yang romantis. Namun, apakah anak-anak muda Luwu di masa kini masih suka syair, puisi, dan filsafat? Saya yakin masih. Dalam diri mereka, mengalir darah kearifan leluhur. Yang perlu dilakukan hanya mengingatkan kembali tentang warisan hebat itu.

Besok adalah pembukaan Festival Keraton Nusantara di Palopo. tadi sore, seorang kawan mengajak saya untuk hadiri pameran keris dan benda pusaka. Saya memilih melihat tarian dari sejumlah kembang2 cantik Luwu. Pada tarian itu, saya melihat ada sisi lembut yang membuat dunia selalu tersenyum.

Selamat malam Palopo.

Palopo, 8 September 2019

Sepenggal Kisah Xanana dan Habibie



Di media sosial beredar video tentang Xanana Gusmao yang menciumi Habibie. Video ini membuat saya tersentuh. Dua orang yang dahulu berdiri di garis berseberangan. Satu adalah mantan panglima tertinggi dari satu negara dengan penduduk 240 juta orang. Satunya adalah mantan pemimpin dari satu bangsa yang ingin merdeka dari negeri itu.

Saya sepakat dengan liputan media2 asing. Bahwa warisan terbesar Habibie bukanlah kisah cinta yang mendayu-dayu. Bukan pula teknologi dirgantara. Warisan terbesarnya adalah meletakkan kemanusiaan sebagai sesuatu yang lintas bangsa dan lintas negara, pada satu periode yang sedemikian kritis.

Dia tahu bahwa keputusannya akan membikin murka para jenderal yang mendapatkan pangkat bintang karena operasi militer di wilayah itu. Tapi dia kukuh membebaskan Indonesia dari virus2 kolonialisme yang dulu pernah mencengkeram negeri ini. Dia tak ingin mengulangi beban sejarah sebagai negeri yang pernah bebas dari kolonialisme, kemudian berperilaku kolonial sebagaimana penjajahnya.

Habibie memberikan jalan bebas bagi negeri itu untuk lepas dan menentukan nasibnya. Dia membebaskan Indonesia dari beban sejarah itu, sekaligus memberikan titik terang bagi negeri itu untuk menentukan nasibnya.

Beberapa pekan lalu, saya berkesempatan singgah di perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Secara ekonomi, negeri itu jauh tertinggal dari negeri kita. Desa2 di sana tampak miskin dan tidak terawat. Air mata saya tumpah saat bertemu tokoh adat yang bajunya compang-camping.

Tapi saya melihat ada banyak senyum bahagia yang mekar dan bersemi. Saya melihat ada kegembiraan dan wajah-wajah tanpa rasa takut di sana.

Saya teringat Prof Amartya Sen, ekonom peraih nobel, yang menyebut esensi pembangunan sebagai sesuatu yang membebaskan manusia. Saya pun ingat Soedjatmoko yang berkata, pembangunan harus bertujuan untuk emansipasi manusia.

Pada titik ini, kita melihat Habibie sebagai sosok humanis, yang melihat manusia sebagai tujuan dari semua kebijakan politiknya. Dalam hati Habibie terdapat esensi kisah Bumi Manusia yang menempatkan perjuangan manusia sebagai embun bening yang membasahi seluruh jiwa.

Melihat video Habibie yang berpelukan dan berciuman dengan Xanana Gusmao ini, saya bayangkan betapa indahnya hubungan dua manusia yang dipisahkan tapal batas negara, tapi keduanya bersatu dalam harmoni dan nada kemanusiaan yang sama.




Menenun DAMAI di Perbatasan Indonesia - Timor Leste


seorang ibu sedang menyiram kebun di Desa Napan, perbatasan Indonesia dan Timor Leste

Di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, terdapat banyak kisah-kisah mengharukan tentang para perempuan yang memelihara perdamaian. Mereka mengalami masa lalu yang kelam, berusaha menyembuhkan trauma, kemudian bangkit dan menyebarkan perdamaian.

Lewat aktivitas bertani, berdagang, dan menenun, mereka menyebar benih perdamaian dan menatap masa depan yang lebih benderang.

***

Hari itu, Chrispina Taena kembali melintasi perbatasan. Perempuan yang setiap hari berdagang di Pasar Tono, di Distrik Oecusse, Timor Leste ini datang ke Desa Napan di wilayah Indonesia untuk menghadiri undangan pernikahan.

Perempuan yang usianya 50-an tahun ini tidak pernah merasa sebagai orang asing di Desa Napan. Dia lahir dan besar di desa ini. Dia meninggalkan desa ini sejak menikah dengan lelaki asal Oesilo di Distrik Oecuse. Dia pun pindah demi mengikuti suami ke Oesilo. Pada masa itu, Oesilo masih bagian dari Timor Timur, provinsi ke-27 di Indonesia.

Tapi sejak Timor Timur melepaskan diri dari Indonesia dan menjadi Republik Demokratik Timor Leste, perempuan yang disapa Mama Krista ini ikut menjadi warga negara. Pada waktu tertentu, dia tetap sering melintasi perbatasan.

Dia tak perlu harus membawa paspor. Dia cukup membawa kartu Pos Lintas Batas Perbatasan (PLBP) yang memberinya akses untuk datang ke Indonesia selama 10 hari. Dia datang untuk berbagai keperluan.

Selain menghadiri undangan pernikahan sebab penduduk Napan dan Oesilo masih berkerabat, dua juga sering datang untuk membeli sayuran dan buah-buahan. Dia menjual semuanya di Timor Leste.

Desa Napan terletak di Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur. Desa ini bisa dijangkau dengan menggunakan mobil dari Kupang, Ibukota Provinsi NTT, sejauh 200 kilometer. Perjalanan ke desa ini bisa menempuh waktu lima jam, setelah sebelumnya melintas Kefamenanu, Ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara.

Bagi Mama Krista, garis yang memisahkan kedua negara hanya garis politik. “Kita bisa beda negara, tapi kita tetap bersaudara,” katanya dengan tersenyum. Sebagaimana halnya banyak penduduk lain, Mama Krista sering melintasi perbatasan untuk meramaikan aktivitas ekonomi.

embung yang dikelilingi kebun warga di perbatasan

Secara fisik, Desa Napan terlihat lebih berkembang dari Oesilo. Jalan-jalan di Napan terlihat mulus. Sedangkan di Oesilo, jalan-jalan tampak berbatu dan tidak diaspal. Penduduk Napan menyuplai semua kebutuhan pokok ke Oesilo, mulai dari produk pertanian, perkebunan, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya. Sementara komoditas dari Oesilo yang masuk ke Napan hanya ternak dan sopi atau tuak lokal. Itu pun, ternak hanya masuk pada saat tertentu. Sopi dari Oesilo dikenal murah dan banyak.

Hampir semua penduduk di desa perbatasan mengenal Mama Krista sebagai sosok yang ramah dan ceria. Dia selalu menyapa semua orang. Dia pun senang bercanda. Ke mana pun dia datang, banyak orang yang senang dengannya. Dia terlihat selalu gembira. Dia tidak pernah kehabisan topik pembicaraan.

Namun jika dia ditanya tentang peristiwa berpisahnya Indonesia dan Timor Leste di tahun 1999, dia segera menjadi sosok yang berbeda. Dia langsung terdiam, kemudian perlahan terisak dan menangis. Dia sangat sedih saat mengingat peristiwa kelam yang dialaminya.

Pada tanggal 30 Agustus 1999, rakyat Timor Leste memilih untuk merdeka dari Indonesia dalam sebuah referendum yang disponsori PBB. Setelah referendum, milisi pendukung kemerdekaan dan militer Indonesia bertempur sehingga ribuan orang menjadi korban. Sejumlah ahli memperkirakan ada 300.000 orang yang mengungsi ke Timor Barat.

Mama Krista masih mengenang dengan jelas peristiwa itu. Dia masih ingat rumah-rumah di desanya terbakar. Dia suatu pagi, dia mendengar banyak teriakan-teriakan yang menyuruh warga untuk berlarian. Dia langsung keluar rumah untuk mencari perlindungan. Dia mendengar suara tembakan serta melihat banyak mayat di jalan-jalan.

BACA: Sowing Seeds of Peace

Mama Krista berlari sekuat tenaga. Dia berlari sambil menggendong anaknya Riki, yang saat itu berusia lima tahun. Dia tidak menyadari kalau anaknya sedang sakit parah hingga akhirnya meninggal dunia. Ketika dia tahu, dia berhenti berlari dan menangis sekeras-kerasnya.

Saat itu, dia tak bisa terus-terusan menangis. Dalam situasi yang mencekam, dia harus berlari untuk menyelamatkan diri. Bersama warga lainnya, Mama Krista berlari sekencang-kencangnya. Dia menembus hutan bersama warga lain. Dia menerobos lintas batas demi bergabung dengan tenda-tenda pengungsi di Desa Napan.

Bulan-bulan pertama dilaluinya dengan kesedihan. Kehilangan anak adalah kehilangan segala-galanya. Selama ini aktivitasnya hanya untuk anaknya. Dia memulai hari saat melihat senyum anaknya. Sebelum tidur, dia masih melihat senyum anaknya.

Baginya, senyum anaknya adalah kompas kehidupan yang membuatnya kuat melalui semua tantangan seberat apa pun. Ketika kompas kehidupan itu pergi, dia merasa hampa. Dia kehilangan segalanya. Selama sebulan, hidupnya bergantung pada bantuan berbagai lembaga internasional. Semuanya terasa berat baginya.

Pada satu titik ketika air matanya mengering, dia mulai bangkit. Dia berpikir tak ada gunanya tenggelam dalam kesedihan. Dia bisa kehilangan masa lalu, tapi dia tak boleh kehilangan masa kini dan masa depan.

Dia tak ingin tenggelam dalam sedih. Dia bergerak.  “Kalau saya sedih terus, bagaimana saya bisa hidup? Riki memang sudah pergi. Tapi saya masih hidup. Saya harus rawat kehidupan,” katanya.

Dia mulai berjualan. Warga Desa Napan mengulurkan bantuan baginya. Semua menyadari bahwa ini bukan konflik antar warga. Konflik ini didesain oleh sejumlah orang yang tak rela melihat situasi politik berubah. Saat situasi aman, dia kembali ke Oesilo dan memulai semuanya dari nol.

Mama Krista seorang pejuang tangguh. Berbekal bibit tanaman dari satu lembaga internasional, dia mulai menanam. Dia tahu bahwa hanya dia yang menanam, yang kelak akan memanen. Dia menggerakkan ibu-ibu lainnya untuk menanam lalu memanen, kemudian menjualnya ke pasar terdekat.

Tak cuma menanam. Dia juga menenun. Dia membentuk kelompok yang beranggotakan lima perempuan untuk menenun di rumahnya. Dia menenun berbagai kain-kain khas Timor yang indah. Beberapa pewarna menggunakan pewarna alam. Bahkan benangnya menggunakan kulit kayu.

Dia tak pernah malu dan tak pernah merasa tua untuk belajar. Ketika UNDP menggelar pelatihan untuk meningkatkan kemampuan bertani, dia amat gembira. Dia penuh antusias saat mendapat kesempatan untuk belajar pada petani di Desa Napan, Indonesia. Dia belajar pada petani lain, dia pun bagikan pengetahuannya.

Mama Krista mengubur semua dendam. Dia tidak melampiaskan dengan kebencian dan sikap memusuhi satu orang atau satu komunitas. Dia melepaskan dendam itu dengan menjalani aktivitas menanam dan menenun. Dia membakar semua belukar dendam itu dengan embun kasih dan kecintaan pada manusia lainnya.

Mama Krista mengubah bara dendam menjadi embun kasih sayang. Dia mengasihi alam dan mengasihi manusia. Dia melihat masa lalu dengan pikiran terang. Dia membingkai masa kini dengan kebaikan dan cinta.

Dia menatap masa depan dengan penuh optimis. Penuh bahagia. Penuh ceria. Penuh damai.

The Rising Phoenix

Mama Krista tidak sendirian. Rekannya Yasinta Colo juga mengalami kesedihan yang sama. Di tahun 1999, perempuan yang dipanggil Mama Sinta itu berlari ke hutan di tengah desingan peluru. Saat peluru mengenai pamannya, dia tak sempat menangisi kematian itu. Dia harus terus berlari.

“Saya menangis lihat bapak kecil atau paman kena peluru. Waktu itu, laki-laki dan perempuan lari terpisah. Laki-laki yang banyak ditembak. Dia ikut perempuan karena mengira akan lebih aman. Ternyata dia yang kena peluru,” katanya sembari terisak.

Yasinta Colo

Dalam situasi yang penuh ancaman, Mama Sinta tak bisa membawa jenazah pamannya. Jenazah itu lalu disimpan di dekat tebing. Lokasinya ditandai. Dia bersama perempuan-perempuan lainnya berlari dan menembus perbatasan. Mereka lalu menjadi pengungsi di Desa Napan.

Dampak dari konflik tahun 1999 itu menimpa seluruh lapisan masyarakat. Banyak laki-laki yang meninggal. Banyak pula perempuan yang harus menanggung sedih di pengungsian. Selama berbulan-bulan, mereka hidup di pengungsian dan menerima bantuan lembaga internasional.

Tapi sebagaimana halnya Mama Krista, Mama Sinta juga tidak ingin larut dalam kesedihan. Dia memang bersedih saat mengingat peristiwa traumatik serta keluarganya yang meninggal. Namun dia sadar bahwa kesedihan itu tidak akan mengembalikan semua keluarganya. “Saya pikir saya harus bangun. Saya harus bergerak. Kalau tidak, mau makan apa,” katanya.

BACA: Mama Sinta yang Bangkit dari Kesedihan

Mama Sinta mulai membeli kebutuhan sehari-hari di Desa Napan yakni seperti beras, minyak goreng, bensin, hingga sayuran. Dia nekat melintasi perbatasan untuk berdagang. Dia tahu bahwa warga Timor Leste sedang membutuhkan banyak hal.

Pada saat itu, perbatasan masih dijaga ketat. Mama Sinta lalu berkomunikasi dengan cara membenturkan batu sehingga menghasilkan irama tertentu. Dia menyapa rekannya di Timor Leste agar datang membeli barangnya. Mereka berkomunikasi dengan isyarat agar memudahkan transaksi, tanpa sepengetahuan pihak militer.

Perempuan Timor Leste memiliki kemampuan hebat dalam hal bangkit dari kesedihan. Mereka bisa cepat melupakan tragedi dan menatap masa depan yang lebih baik. Mereka lebih tangguh dari lelaki padahal mereka adalah pihak yang paling menderita. Konflik dan peristiwa kelam tidak membuat mereka kehilangan semangat hidup.

Kisah Mama Krista dan Mama Sinta mengingatkan pada burung phoenix yang saat terbakar dan menjadi debu bisa terlahir kembali sebagai phoenix yang baru dan lebih kuat. Mereka menjadikan tragedi sebagai sesuatu yang memberi mereka kekuatan untuk tetap hidup dan bertahan demi keluarga.

Bersama para lelaki, mereka ikut bekerja dan memastikan semua kebutuhan keluarga terpenuhi. Mereka bukan tipe perempuan yang hanya tinggal di rumah saja, sebab mereka memasuki ruang publik. Mereka bekerja keras dan melakukan berbagai pekerjaan bersama para lelaki.

Mereka berdagang, menenun, bertani, dan mencukupi nafkah keluarga. Mereka pun menjadi pilar di rumah yang menyembuhkan trauma dan memberikan motivasi kepada semua anggota keluarga agar tetap bangkit dan berusaha.

Mereka juga menjadi agen perdamaian di perbatasan serta selalu mengingatkan orang-orang kalau batas negara bukanlah sesuatu yang harus memisahkan. Batas negara harus dilihat sebagai peluang untuk tetap menjaga persaudaraan dan persahabatan, serta saling berjejaring di lapangan ekonomi.

Namun, perdamaian tidak akan mungkin bisa terjadi jika hanya diinginkan satu pihak. Benih perdamaian akan bisa tumbuh jika semua pihak memiliki komitmen yang sama untuk tetap saling memanusiakan dan menghargai.

Burung phoenix tidak akan menjadi burung hebat jika sendirian. Dia didukung oleh lingkungan yang bisa menjadi lahan gembur bagi pengembangan potensinya.  Mama Krista dan Mama Sinta bisa menjadi agen perdamaian karena dukungan kuat dari lingkungan kedua negara, baik itu masyarakat, budaya, agama, juga upacara adat.

***

Bapak itu datang dengan mengenakan pakaian adat. Dia memakai sarung tenun dan ikat kepala. Dia singgah menemui beberapa warga yang sedang bersiap-siap menggelar upacara adat. Dia akan memimpin upacara adat dan berdoa kepada leluhur. Bapak itu adalah Petrus Pot.

Sebagai tetua adat, dia tidak hanya bertugas di Napan dan desa-desa sekitar di wilayah Indonesia. Dia juga memilin upacara adat di Oesilo dan desa-desa lain di distrik Oecuse, Timor Leste. Petrus ibarat payung harus memayungi semuanya.

Petrus Pot adalah pemimpin adat sekaligus rohaniwan Katolik. Dia bekerja di gereja Katolik untuk melayani umat. Tapi saat ada upacara adat, dia memimpin ritual untuk memberikan persembahan kepada nenek moyang. “Saya menjalankan peran keduanya,” kata Petrus.

saya sedang mewawancarai Petrus Pot

Penduduk Napan dan Oesilo relatif homogen. Mereka memiliki budaya dan menjalankan ritual yang sama. Mereka memiliki nama belakang atau marga yang saling berkerabat. Di sini, terdapat enam sub-suku atau marga besar, yakni: (1) Kefi, (2) Siki, (3) Nule, (4) Eko, (5)  Kolo, (6) Oki. Ikatan ini masih kuat dan dipertahankan masyarakat.

Kata Petrus, upacara adat masih menjadi hal yang penting di masyarakat. Jika ada warga yang tidak hadir, suatu saat warga juga tidak akan datang ke rumahnya jika diundang mengikuti upacara adat. Upacara adat itu menjadi tali temali yang menjaga solidaritas warga agar tetap kuat.

Petrus bercerita pengalamannya saat konflik di tahun 1999. Dia sangat sedih saat melihat banyaknya pengungsi dari Distrik Oecuse yang datang ke Desa Napan. Sebagai pemuka adat, dia melihat semua orang sebagai kerabat. Apalagi, mereka punya budaya dan bahasa lokal yang sama.

BACA: Petrus Pot yang Merawat Damai

Dia ikut menampung semua pengungsi di gereja. Dia berusaha menenangkan pengungsi, khususnya perempuan, yang mengalami trauma. Dia pun mempersiapkan pesta adat yang bisa menjadi ajang rekonsiliasi bagi semua pihak yang menjadi korban. Pesta adat itu dinamakan Tfua Ton yang digelar setiap tahun.

Saat pesta adat itu, Petrus mengundang semua pihak untuk membawa makanan dan minuman. Petrus membaca doa dalam bahasa lokal yang berisi pesan-pesan agar semua pihak tetap menjaga kedamaian.  Dia menyebut filosofi “Aifa Ben Neke, Sus Pet Bijae” yang dalam bahasa Dawan bermakna “Kami siap memangku dan menyusui siapa pun yang datang dan membutuhkan bantuan.” Filosofi ini berlaku di kedua wilayah.

Petrus menjadi agen budaya yang mempromosikan perdamaian. Di lapangan budaya, dia mempertemukan semua pihak sebagai sesama warga yang sama-sama menginginkan perdamaian. Dia menggelar ritual yang tujuannya agar semua orang menyadari bahwa mereka berasal dari rahim yang sama sehingga musibah yang dialami satu pihak adalah musibah bersama.

Selain budaya, ada dua arena lain yang bisa memfasilitasi dialog-dialog antar warga.

Pertama, arena ekonomi. Mereka yang menjadi korban konflik sama-sama kehilangan pekerjaan, padahal dalam kehidupan sehari-hari, mereka saling terhubung dalam satu mata rantai ekonomi.

Warga Desa Napan lainnya Brigitta Siki bercerita tentang bagaimana dirinya berdagang se’i atau kuliner Oecuse. Dia membangun rantai kerja sehingga produk yang dibuatnya bisa dijual di Oekuse sehingga dirinya memiliki banyak konsumen.

Brigitta kini bergerak di sektor Usaha Kecil Menengah (UKM). Dagangannya selalu laris dan ditunggu-tunggu warga. “Saya menyediakan pasokan daging, kemudian dipasarkan di kios-kios yang ada di sana,” katanya.

Area perbatasan memang menyimpan potensi ekonomi yang hebat. Sejak dulu, warga Napan dan Oesilo memang sudah terikat dalam satu mata rantai perdagangan. Kerja sama antar warga berkembang sejak konflik. Mereka saling membutuhkan sebab sama-sama menginginkan kehidupan yang lebih baik. Mereka membangun simbiosis mutualisme.

Jose Benu, salah seorang petani

Kedua, arena pertanian. Mayoritas warga di perbatasan adalah petani. Dialog-dialog dan relasi antar warga juga terjadi di lapangan pertanian. Para petani di dua negara itu membentuk kelompok tani yang kemudian saling belajar dan saling meningkatkan kapasitas.

Jose Benu, seorang petani di Desa Napan, bercerita, dia melupakan semua trauma kerusuhan ketika sedang menanam. Baginya, menanam ibarat meditasi yang membantunya melepaskan diri dari semua masalah yang terjadi di masa lalu. Dia menemukan aktivitas produktif yang berguna untuk konsumsi keluarga, juga bisa dijual untuk meningkatkan kesejahteraan.

Setahun terakhir, UNDP datang dan membantu masyarakat perbatasan untuk mengembangkan komoditas agar bisa laris di pasaran sehingga mengangkat ekonomi warga. Brigitta adalah salah seorang pelaku UKM yang diberangkatkan ke Malang untuk belajar pengelolaan kuliner. Dia berangkat bersama beberapa rekannya sesama pelaku UKM agar bisa menyerap hal baru demi pengembangan produknya.

UNDP juga membantu petani untuk mengembangkan produk hortikultura yakni sayuran sehat. Para petani di perbatasan diajari bagaimana membudidayakan sayuran sehingga bisa mencukupi kebutuhannya serta dijual ke pasar-pasar. Pendapat per kapita masyarakat masih rendah yakni Rp 500.000 per bulan untuk setiap kepala keluarga.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 menunjukkan, pertanian dan perkebunan adalah sektor yang paling banyak menyerap lapangan kerja di Napan. Jumlah Rumah Tangga Petani (RTP) adalah 257. Dari jumlah itu, 136 RTP memiliki lahan lebih dari satu hektar, 97 RTP memiliki lahan dengan luas antara 0,5 hingga 1 hektar.

Data penduduk yang bekerja di sektor pertanian lebih banyak dari mereka yang bekerja di sektor perdagangan dan industri. Jumlah pelaku industri yang hanya 28 orang, juga pemilik usaha perdagangan hanya ditekuni 44 orang.

Artinya, pertanian dan perkebunan adalah nadi utama dari kehidupan warga Desa Napan. Dengan mengembangkan pertanian dan perdagangan, warga di perbatasan akan hidup lebih baik. Mereka beruntung karena di masa pemerintahan Presiden Jokowi, embung dibangun sehingga warga bisa berkebun di sekitarnya. Mereka menanam sayuran, buah-buahan, serta berbagai kacang-kacangan.

UNDP juga mempertemukan para petani di dua negara itu dalam satu platform kerja sama yang menguntungkan. Para petani mengorganisir dirinya dalam berbagai kelompok, kemudian merencanakan program menanam bersama, serta mengembangkan kapasitas. Mereka saling mengunjungi dan saling memberi masukan.

Saat sama-sama belajar di lapangan, segera terlihat kalau tidak ada yang superior di antara mereka. Semuanya sama-sama belajar dan berkembang bersama. Bahkan mereka juga menggelar upacara adat bersama-sama untuk mensyukuri semua capaian.

Lesson Learned 

Mereka yang pernah ke perbatasan Indonesia dan Timor Leste pasti pernah menyaksikan bunga-bunga gamal (gliricidia sepium) bermekaran. Di tengah tanah yang tandus dan kering, bunga gamal tetap mekar sehingga membawa kesegaran dan menghadirkan pemandangan indah.

Bunga gamal ini mewakili realitas yang sedang terjadi di sana. Di tengah situasi yang kering-kerontang, selalu ada harapan yang mekar, selalu ada yang memberikan kesegaran, selalu ada yang membuat hari-hari lebih berwarna.

bunga gamal yang bermekaran

Seusai konflik, tunas-tunas baru bermunculan dan kini mulai memberikan buah. Banyak perempuan hebat yang bisa bangkit dari trauma, bisa segera recovery dan kini mulai membawa harapan bagi peningkatan kesejahteraan keluarga.

Dalam situasi krisis, sejumlah individu sering bertindak sebagai peace-builder yang mendamaikan situasi. Mereka memperkuat institusi dan kelembagaan di masyarakat sehingga menjadi fundasi pijak yang kuat untuk rekonsiliasi dan perdamaian.

Mama Krista, Mama Sinta, Petrus, hingga Brigita Siki adalah masyarakat yang menjadi peace-builder melalui aktivitas ekonomi produktif. Mereka adalah aktor perdamaian yang menggunakan metode komunikasi, persuasi, dan mediasi sehingga banyak kelompok masyarakat bisa menyembuhkan traumanya melalui kegiatan produktif yakni menenun, menanam, dan berdagang.

Pelajaran penting di perbatasan Indonesia dan Timor Leste adalah perlunya kerja sama dan peran serta dari banyak pihak untuk sama-sama membangun situasi yang aman dan tenang. Perdamaian bukanlah sesuatu yang hanya dikerjakan dari atas, tetapi harus tumbuh dari bawah dan mendapat dukungan kuat dari semua masyarakat.

Perdamaian adalah situasi yang lahir dari kerja sama banyak aktor di grass root yang pernah mengalami situasi penuh konflik, sehingga berharap tidak ada lagi konflik serupa di masa mendatang. Semua pihak diharapkan melakukan kerja sama yang sifatnya lintas negara, lintas politik, lintas budaya untuk membangun transformasi ekonomi dan rekonsiliasi pasca-konflik.

Sejak tahun 1992, istilah peace-building menyebar ke seluruh dunia sejak Sekjen PBB Boutros Boutros-Ghali memperkenalkan peace-building sebagai agenda perdamaian. Mulanya, definisi ini hanya terbatas pada upaya mengakhiri konflik, peacemaking, dan peacekeeping.

Selanjutnya, istilah peace-building menjadi lebih berkembang sebagai upaya dari berbagai aktor, baik pemerintah ataupun masyarakat sipil, untuk mengatasi dampak dan sebab konflik, kemudian membangun situasi yang damai pasca-konflik.

Bentuk konkrit dari peacebuilding adalah tindakan pembangunan kembali daerah-daerah yang mengalami hancur akibat terjadinya konflik. Untuk mempercepat peacebuilding dilakukan identifikasi pada modal sosial yang dapat digunakan untuk memperkuat dan mempersolid perdamaian untuk menghindari agar tidak terjadi suatu konflik.

Di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, modal sosial yang menjadi perekat aktivitas semua warga adalah modal budaya, modal ekonomi, solidaritas sesama koban konflik, dan rasa saling percaya. Modal sosial ini memberikan kekuatan pada masyarakat untuk mencegah kekerasan terjadi di masa mendatang, serta munculnya solidaritas untuk saling membantu.

Modal sosial ini mesti dikenali sehingga pembangunan bisa berjalan dengan lebih terarah. Lembaga internasional dan pemerintah lokal bisa memperkuat modal sosial ini sehingga pembangunan bisa lebih efektif dan menyentuh target masyarakat yang membutuhkan sentuhan pembangunan.

Peacebuilding merupakan fase penting untuk pemulihan pasca konflik. Hal-hal yang dilakukan pada fase peacebuilding ini meliputi pemulihan kembali perekonomian, pembangunan kembali sarana pendidikan, kesehatan, jalan, dan sarana-sarana lain yang rusak akibat perang.

“Kami ingin damai, bukan perang. Karena kami semua di sini bersaudara. Kami sama-sama percaya berkah nenek moyang akan selalu hadir kalau kami saling menjaga. Kami ingin sama-sama maju dan berkembang,” demikian kata Petrus Pot.

Desa Napan menjadi saksi dari para perempuan dan lelaki hebat yang sama-sama menenun kain perdamaian untuk disematkan kepada dunia. Desa ini menyimpan banyak kisah tentang peace-builder yang menyembuhkan trauma dan menatap masa depan dengan hati penuh riang gembira.