Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Tak Sabar Menanti Aksi 212




DUA kali trailer film Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 dirilis. Saya selalu terkesima menyaksikan tokoh-tokoh yang dahulu saya temukan dalam novel serial yang ditulis Bastian Tito itu.  Saya tak sabar menyaksikan film yang didanai oleh 20th Fox International itu. Semasa masih SD dan SMP, saya penggemar berat novel ini dan selalu membelinya setiap ada edisi terbaru.

Kini, Wiro Sableng, pendekar yang selalu cengengesan dan bercanda itu akan hadir dalam format layar lebar. Tak tanggung-tanggung, film ini adalah kolaborasi antara rumah produksi Indonesia dan raksasa film Hollywood yakni 20th Century Fox. Saya membayangkan film kolosal ini akan sangat meriah, apalagi ditunjang beberapa aktor dan aktris papan atas negeri ini.

Sejak awal tahun 2018, saya sudah membuat resolusi yakni menyaksikan film ini, apa pun yang terjadi. Sebagai penggemar Wiro, saya rindu kehadiran tokoh-tokoh dalam semesta novel ini. Di satu media, saya membaca komentar produser film ini Sheila Timothy yang mengatakan bahwa ada kemiripan antara serial Wiro Sableng dan Game of Thorne. Makanya, struktur cerita film Wiro dibuat seperti Game of Thorne.

Anggini, Wiro, dan Bujang Gila Tapak Sakti

Katanya, serial Game of Thorne terjadi di satu tempat bernama Westeros, yang di dalamnya terdapat beberapa kerajaan. Masing-masing punya karakteristik sendiri. Nah, serial Wiro juga punya semesta tiga lokasi dengan ciri khas berbeda. Yakni golongan hitam yang mendiami gunung dan hutan, golongan putih yang juga mendiami gunung dan hutan terpisah, serta pihak kerajaan yang sering membenturkan dua aliran persilatan ini. Kerajaan sering memanfaatkan golongan hitam untuk menyerang golongan putih, demikian pula sebaliknya.

Dalam trailer terbaru, saya melihat sejumlah tokoh dalam serial ini. Tokoh golongan hitam yang tampil adalah Mahesa Birawa (yang diperankan pesilat hebat Yayan Ruhiyan), Empat Brewok dari Goa Sanggreng, hingga Kaligundil. 

Sedangkan tokoh golongan putih yang tampil selain Wiro adalah Eyang Sinto Gendeng, Anggini (murid cantik Dewa Tuak), Bujang Gila Tapak Sakti atau sering disingkat Bujala Tasaki, dan Bidadari Angin Timur (yang diidolakan Wiro). Tak boleh dilupakan kehadiran kakek Segala Tahu yang kemampuannya seperti Google sebab selalu punya jawaban atas semua pertanyaan. Bahkan kakek ini bisa-bisa lebih pintar dari Google sebab dia bisa meramal peristiwa masa depan.

Dalam versi novel, ada sejumlah karakter unik yang selalu saya sukai kemunculannya. Selain Dewa Tuak yang membawa bumbungan bambu berisi arak, ada juga Dewa Ketawa, Dewa Sedih, Raja Penidur, juga musuh bebuyutan Wiro Sableng yakni Pangeran Matahari dari Puncak Merapi.

BACA: Lelaki Muslim di Sisi Ratu Inggris

Saya juga terkenang beberapa jurus dan pukulan yang dimiliki Wiro juga masih segar di pikiran. Di antaranya Pukulan Sinar Matahari, yang saat digunakan, lengan Wiro akan bersinar keperakan hingga siku. Juga pukulan kunyuk melempar buah, banteng topan melanda samudera, pukulan angin puyuh, hingga pukulan Dewa Topan Menggusur Gunung. Masing-masing jurus diajarkan oleh guru berbeda. 

Meskipun baru dua trailer yang diluncurkan, saya sudah mendapat gambaran bagaimana megahnya film ini. Konon, budget-nya lebih besar dari kebanyakan film Indonesia. Yang membuat saya tak sabar adalah film ini bisa menandai kembalinya era film silat yang dahulu begitu berjaya di Indonesia. Sejak perfilman kita bangkit, kita jarang menemukan film silat. Terakhir, saya menonton film Pendekar Tongkat Emas yang dibintangi Nicholas Saputra. Saya dengar film ini tak begitu sukses.

Saya membayangkan, penggemar Wiro pasti akan penasaran untuk menyaksikan film ini. Bagi saya, kisah Wiro Sableng membawa banyak lapis kenangan. Mulai dari masa-masa di sekolah menengah saat mengikuti serial ini. Saya masih terpesona menyaksikan petualangan pendekar sakti mandraguna yang selalu cengengesan dan sesekali mengerjai banyak orang, namun selalu dikagumi banyak cewek ini. Saya juga teringat pada beberapa lembar adegan porno di novel ini yang bikin saya tidak bisa tidur, serta diam-diam ke kamar mandi. Hahaha.

Bidadari Angin Timur, pendekar yang ditaksir Wiro

Di mata saya, Wiro Sableng adalah pendekar yang lintas budaya dan berpetualang ke mana-mana. Dia dibesarkan di Gunung Gede hingga akhirnya dianggap cukup ilmu untuk memasuki rimba persilatan. Dia tak perlu memikirkan lapangan kerja sebab hari-harinya adalah berkelana dan bertarung demi mengalahkan golongan hitam. Dia hadir dalam banyak intrik dan konflik kerajaan.

Dia juga bertualang di banyak lokasi. Kebanyakan latar cerita adalah petualangannya di tanah Jawa dan Sunda. Tapi, dia juga berpetualang hingga ke pulau seberang. Saya suka mengikuti petualangan Wiro ke Sumatera dan berguru pada orang sakti yakni Tua Gila dari Andalas, seseorang yang dianggap gila dan memiliki silat dengan gerakan tak beraturan ala orang gila. Wiro pernah ke Aceh dan bertemu Nyanyuk Amber dan Pandansuri dalam episode Raja Rencong dari Utara.

Di tanah Minang, Wiro juga bertemu dan berguru pada Datuk Rao Basaluang Ameh yang memiliki ciri khas berupa suara seruling khas Minang. Sang Datuk selalu bersama Datuk Rao Bamato Hijau yakni harimau putih nan sakti. Keduanya menjadi guru Wiro. Dulu, ketika mendengar lagu Badai Pasti Berlalu yang dinyanyikan Chrisye dan diaranser Erwin Gutawa, ada suara saluang, yang langsung mengingatkan saya pada kemunculan Datuk Rao Basaluang Ameh.

Selain Sumatera, Wiro juga berpetualang ke Bali dan mengalahkan Nyoman, seorang pendekar pemetik bunga, yang suka memperkosa perempuan. Malah, Wiro juga berpetualang ke Jepang hingga Cina. Dalam episode Pendekar Gunung Fuji, entah bagaimana caranya, Wiro datang ke Jepang dan ikut dalam konflik para samurai di sana. Beberapa istilah Jepang digunakan dalam film ini, termasuk beberapa jurus dan pukulan. 

golongan hitam

Tanpa saya sadari, kisah Wiro Sableng menjadi medium pembelajaran budaya paling efektif. Saya mengenali banyak istilah, produk budaya seperti saluang, rencong, kalewang, hingga jenis-jenis keris dari kisah ini. Saya pun paham beberapa keping sejarah karena Wiro pernah terlibat di dalamnya. Kisah-kisah seperti Wiro juga menanamkan pentingnya mengenali tradisi hingga multi-kulturalisme. Melalui kisah ini, saya paham bahwa Indonesia adalah mozaik yang terdiri atas banyak budaya, bahasa, dan adat istiadat.

BACA: Tunas Cinta yang Tumbuh Seusai Bom Surabaya

Di semua budaya terdapat banyak kearifan budaya termasuk para pendekar berhati bijak yang menemukan kesempurnaan hidupnya melalui duel di rimba persilatan. Dalam sikap cengengesan Wiro, juga terdapat banyak kearifan dan filosofi hidup, yang di antaranya adalah sikap solidaritas, kesetiaan pada nilai-nilai ksatria, dan juga keberanian untuk membela mereka yang tertindas.

Saya tak terkejut ketika Wiro Sableng masuk dalam daftar buku-buku terbaik dan menginspirasi yang dimuat dalam Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik 100 Buku yang terbit tahun 2009 dan diedit Muhidin M Dahlan dan Diana AV Sasa. Bagaimanapun juga, ada banyak nilai dan pelajaran dalam Wiro Sableng yang kemudian kuas telah mewarnai kanvas pemikiran satu lapis generasi Indonesia pada satu masa.

Ah, saya tak sabar menyaksikan aksi 212 yang asli. Di suatu negeri yang didera angkara dan murka, aksi 212 diharapkan kembali hadir untuk mengembalikan keseimbangan. Saatnya pendekar 212 datang kembali dan mengembalikan keadilan di rimba persilatan. Di negeri lain, nama 212 seolah identik dengan kelompok tertentu yang memasuki ranah politik dan kebijakan negeri ini. Padahal, pemilik nama 212 yang asli ini adalah sosok petualang lintas wilayah yang setiap harinya bergaul dengan siapa saja, menimba ilmu pada siapa saja, serta membela semua yang tertindas, tanpa berharap dapat kursi kekuasaan.

Ciaattt...!!!

Kisah Diplomat Amerika yang Menggelar Kampanye Anti-Teroris di Indonesia


Stanley Harsha bersama anak-anak Indonesia

BANYAK orang di sekitar kita yang beranggapan bahwa mustahil seorang Muslim melakukan teror bom. Banyak yang meyakini bahwa teror bom itu adalah rekayasa untuk menjatuhkan citra Islam. Bahkan, banyak yang menyebar informasi melalui media sosial kalau pihak yang merekayasa teror itu adalah Amerika Serikat. 

Bagaimanakah jika Anda menjadi seorang warga Amerika Serikat di Indonesia yang berhadapan dengan berbagai isu tersebut? Berikut kita ikuti catatan seorang diplomat di Kedubes Amerika Serikat yang selama bertahun-tahun meyakinkan orang Indonesia bahwa ada sejumlah orang yang memang berpotensi melakukan teror.

***

STANLEY Harsha amat gembira saat bertugas di Indonesia. Bulan Agustus 1986, dia diterima bekerja di Kementerian Luar Negeri, Amerika Serikat. Ketika diminta memilih hendak bertugas di negara mana, lulusan University of Colorado ini memilih Indonesia dengan pertimbangan Indonesia adalah negeri yang eksotik. Siapa sangka, setahun setelah bertugas, dia jatuh cinta pada perempuan Indonesia, kemudian menikah. Dia pun pindah agama menjadi Islam.

Dalam buku berjudul Seperti Bulan dan Matahari: Indonesia dalam Catatan Diplomat Amerika, Stanley menuliskan catatan harian tentang pengalamannya selama berada di Indonesia. Ia bercerita bagaimana dirinya berusaha memahami kebudayaan Jawa demi menikahi seorang perempuan Jawa. Ia juga belajar memahami berbagai simbol budaya serta kebiasaan masyarakat Indonesia. Ia belajar dari berbagai pengalaman, lalu memberikan catatan kritis, sekaligus refleksi atas pengalamannya.

Biarpun Stanley adalah orang Amerika, separuh dirinya sudah menjadi orang Indonesia. Istri, anak, dan mertuanya adalah orang Indonesia. Dia pun telah menjadi seorang Muslim yang taat. Dia bekerja di kantor Kedubes AS di Jakarta pada periode yang cukup berat. Pada masa dirinya bekerja, terjadi peristiwa serangan teroris di Gedung WTC. Presiden AS saat itu George Walker Bush melancarkan perang pada terorisme. Amerika membombardir beberapa lokasi yang diduga sebagai markas para teroris.

Di Indonesia, sentimen anti-Amerika menguat. Banyak tokoh agama yang mengecam Amerika. Stanley terheran-heran karena banyak orang Indonesia yang tidak percaya dengan bukti-bukti yang disodorkan kalau Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden adalah otak dari penyerangan itu. Malah, yang muncul adalah berbagai teori konspirasi kalau pelakunya adalah Amerika sendiri. Tugas Stanley adalah meyakinkan orang Indonesia bahwa peristiwa itu benar adanya, dan tidak mungkin pihak Amerika Serikat membuat konspirasi itu.

Saat Amerika Serikat menyerang markas Al Qaeda di Afganistan, banyak pemimpin ormas Islam menyatakan jihad. Tapi jihad mereka tidak dilakukan di Afganistan, melainkan dengan cara berdemonstrasi di depan Kedubes AS. Dalam situasi ini, Stanley memikirkan banyak solusi untuk meyakinkan banyak orang dengan fakta-fakta yang mereka miliki.

Ia melihat media-media Indonesia sering melakukan provokasi. Ia punya catatan lengkap bagaimana pemberitaan media yang membuat framing seakan-akan perang yang dilancarkan Amerika sebagai perang yang hendak menghancurkan Islam. Gara-gara pemberitaan itu, Kedubes AS menjadi sasaran demonstrasi banyak pihak yang kemudian membakar bendera Amerika. Sering, Stanley tidak bisa keluar kantor sehingga terpaksa bermalam. Kantor Kedubes AS serupa benteng yang dipasangi kawat berduri.

Dalam situasi yang cukup berat itu, pihak Kedubes tetap tenang menghadapinya. Sebagai Atase Pers, Stanley setiap hari mengirimkan berlembar-lebar informasi tentang apa yang dilakukan negaranya kepada media-media di Indonesia. Dia juga menghubungi media untuk melakukan dialog dan menyampaikan sikap Amerika. Tak hanya itu, brosur tentang jaringan teroris juga disebar ke semua media dan tokoh politik agar memahami bahwa terorisme juga bisa mengintai Indonesia kapan saja.

Pada masa itu, Duta Besar AS adalah Ralph L Boyce juga membuka keran dialog dengan semua tokoh Islam. Pernah, kata Stanley, Kedubes AS dikepung pendemo dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Boyce meminta Stanley mengundang masuk pimpinan pendemo lalu berbicara dengan mereka. Setelah dialog, akhirnya semua massa bubar dan kembali ke rumah masing-masing. Boyce meyakinkan semua orang kalau Amerika tidak bermaksud menyerang Islam. Pemerintah AS siap bekerja sama dengan semua pihak demi memberantas terorisme yang bisa menyarang siapa saja.

Stanley melakukan media visiting ke semua media. Bahkan ia juga mendatangi Sabili, majalah yang sering menebar kabar kebencian pada pihak Amerika. Berkat kunjungan itu, tensi pemberitaan ekstrem Sabili menurun, serta memberikan ruang bagi informasi dari pihak Amerika. Bekerja sama dengan sejumlah Muslim moderat, Kedubes AS sering mengirim utusan untuk berdialog dengan pihak pesantren, serta memberikan donasi berupa buku-buku yang diharapkan bisa menjadi jembatan dialog.



Dalam buku ini, saya menemukan betapa rapinya cara kerja pihak kedubes. Mereka rajin mengamati semua wacana, membaca liputan semua koran, membuat analisis media, setelah itu merencanakan berbagai program. Mereka tekun mengadakan riset untuk menghitung sejauh mana persepsi warga Indonesia atas Amerika. Digabungkan dengan analisis media, mereka lalu merumuskan hendak melakukan apa. Di antara program yang dilakukan adalah mengunjungi elite politik, pemimpin, ataupun semua lembaga ormas serta pesantren.

Saat sweeping tengah marak, ia sempat merasa tidak aman sekaligus mengkhawatirkan keluarganya. Ia lalu mengungsikan keluarganya ke Amerika. Sebagai pihak kedubes, ia mesti menjalankan misi untuk menangkis kemarahan masyarakat sekaligus berusaha memastikan semua warga Amerika tetap aman dari tindakan anarkisme. Ia rajin memberikan informasi kepada warga Amerika. Di saat bersamaan, ia juga menggelar beberapa program. Di antaranya adalah kunjungan ke elite-elite politik Indonesia, kunjungan ke semua pemimpin media, serta kunjungan ke semua organisasi ormas.

Tantangan yang dihadapinya adalah (1) bagaimana menjelaskan ke banyak orang Indonesia tentang bahaya terorisme, (2) bagaimana meyakinkan orang-orang bahwa Amerika tak pernah membenci umat Muslim, sebab yang dibenci adalah oknum pelaku kekerasan, (3) bagaimana menjelaskan sikap Amerika yang selalu ingin bersahabat dengan siapa pun. Ia selalu mengacu pada Pew Research yang menyatakan bahwa sebagian besar warga Indonesia tidak percaya dengan wacana terorisme yang selalu diteriakkan Amerika.

Yang saya saluti adalah langkah-langkah yang dilakukan pihak kedubes selalu mengacu pada riset dan pengayaan data. Saya bisa merasakan betapa rapinya kegiatan pengumpulan data, riset lapangan, serta analisis pemberitaan media yang mereka lalukan. Pihak kedubes juga menggelar kampanye diplomasi publik. Mereka membuat satu tim untuk menangani kampanye anti-terorisme. 

Hampir setiap hari mereka mengirimkan hak jawab ke semua media massa, menghubungi tokoh-tokoh masyarakat, lalu menyebarkan brosur ke lebih dari 3.000 pesantren. Meskipun kampanye itu digelar secara simultan, Stanley mengakui bahwa kebanyakan orang Indonesia; (1) tetap menganggap Osama bin Laden tidak bersalah dan bukan ancaman dunia, padahal bukti-bukti kuat telah disampaikan, (2) tetap menganggap bahwa serangan teroris 11 September bukan ancaman bagi dunia, (3) tetap menganggap perang melawan teroris adalah perang melawan Islam.

***

KESADARAN memang membutuhkan proses untuk menggapai kematangannya. Ketika bom meledak di Bali, warga Indonesia baru sadar tentang bahaya nyata terorisme. Ketika bom kembali meledak di Hotel JW Mariott, barulah tokoh-tokoh politik mempercayai tentang ancaman terorisme. Beberapa pemimpin ormas keagamaan mulai berbicara lain ketimbang sebelumnya. Meskipun malu-malu, mereka mulai mengakui ancaman terorisme serta perlunya meningkatkan kewaspadaan sebab bom bisa meledak di mana saja dan mengancam siapa saja. 

Akan tetapi, tetap saja ada anggapan kalau bom di Bali dan Hotel JW Marriott itu adalah settingan Amerika. Padahal, sejak awal peta jaringan teroris sudah disebar. Kesulitannya adalah mayoritas orang Indonesia beranggapan bahwa corak keberagamaan orang Islam di mana-mana sama. Tak banyak yang mau mengakui bahwa ada sejumlah orang Islam yang justru memelihara paham radikal, melihat pemerintah sebagai taghut, dan ingin menggantikan dasar negara menjadi Islam. Harus diakui pula, ada sejumlah orang Muslim yang percaya bahwa perjuangan harus dilakukan dengan cara perjuangan bersenjata.

Kembali, tokoh-tokoh Islam mengeluarkan pernyataan yang isinya adalah kecaman pada Amerika. Hingga akhirnya tertangkapnya Amrozy cs membuat semua pihak sadar bahwa memang ada sejumlah orang di sekitarnya yang berniat melakukan teror dan membunuh orang yang berbeda keyakinan. Barulah mata banyak orang terbuka kalau di sekitar kita ada banyak orang yang berani melakukan teror dan korbannya bisa siapa saja, termasuk keluarga kita.

Stanley mengakui kerja Kedubes AS menjadi lebih berat karena harus membangun jembatan komunikasi dengan sejumlah tokoh Muslim agar memahami beberapa fakta yang sudah ada, dan tidak terjebak pada teori konspirasi. Sering kali kebencian buta menjadi penghalang bagi seseorang untuk melihat cahaya kebenaran. Tak adil juga memusuhi bangsa Amerika dengan hanya berdasar pada satu atau dua keping informasi, yang boleh jadi bahannya hanya kutipan dari satu media yang belum tentu berdasar pada fakta. 

Saya bayangkan, andaikan dia bekerja di Kedubes AS sekarang, pastilah dia akan terkejut melihat banyaknya hoaks dan informasi di media sosial yang isinya kebencian pada Amerika, serta analisis abal-abal yang seolah-olah isinya bersumber dari fakta demi fakta. Stanley akan sulit memahami, aplikasi media sosial buatan Amerika Serikat menjadi lahan subur bagi berkembangnya paham radikal yang sangat berpotensi menjadi teror di masa mendatang.

Bagi saya, buku ini sangat bagus untuk memahami bagaimana orang Amerika memandang Indonesia. Di banyak tempat, ada kekaguman serta hikmah yang bertebaran. Ada juga sikap kritis melihat Indonesia dari sisi orang asing yang datang sebagai diplomat. Melalui berbagai cara pandang itu, kita bisa menyerap banyak pelajaran untuk memperkaya pengetahuan kita tentang tanah air yang kita cintai beserta beragam masyarakatnya.

Seperti halnya judul buku Seperti Bulan dan Matahari, Stanley menilai Indonesia dan Amerika seperti itu. Keduanya sangat berbeda, namun memiliki keindahan. Jika saja keduanya selalu melakukan dialog dan kolaborasi, maka keindahan itu bisa sama-sama dirasakan. Semoga.


Tunas CINTA yang Tumbuh Seusai Bom Surabaya




ALAM semesta tak pernah berhenti memberikan banyak pelajaran untuk kita. Hari ini gunung bisa meletus dan membuat segala hal di sekitarnya berserakan dan mati. Tapi esok setelah letusan itu, dunia seakan telah didaur ulang. Udara menjadi lebih jernih, tanah-tanah lebih gembur, dan tunas-tunas baru tumbuhan muncul di mana-mana.

Peristiwa bom di Surabaya juga menunjukkan pelajaran serupa. Betapa kuatnya ikatan solidaritas warga, betapa hebatnya ketangguhan orang Surabaya dalam menghadapi setiap ancaman. Dan betapa banyaknya pelajaran cinta yang bisa dipetik dari peristiwa bom yang niatnya untuk menebar ketakutan itu.

Di Surabaya, kita melihat cinta yang bertebaran dan tumbuh di mana-mana.

*** 

DUARRR!!!! Bom itu meledak di Gereja SMTB Santa Maria Tidak Bercela di Ngagel, Surabaya. Potongan tubuh terlempar ke mana-mana. Teroris itu datang dengan menumpang sepeda motor, yang lajunya dihambat oleh seorang petugas keamanan di gereja itu. Tubuh petugas keamanan itu berhamburan bersama teroris. Jika saja tak ada petugas itu, ratusan orang di dalam gereja akan menjadi korban. “Untung ada Bayu,” kata seorang jemaat.

Hari itu, semua orang di gereja itu menyebut nama Aloysius Bayu Rendra Wardhana, atau kerap dipanggil Bayu. Dalam waktu sepersekian detik, Bayu melompat dan berlari demi menghadang motor yang memasuki gereja. Niatnya tak sekadar memberitahu di mana lokasi parkir, tapi ia bisa merasakan ada sesuatu yang salah ketika pengendara terus melaju ke depan gereja.

Lelaki yang baru saja memiliki bayi itu menjalankan tugasnya dengan amat baik. Dia memilih menjadi martir demi menyelamatkan banyak orang. Kematiannya tak hanya ditangisi istri bersama bayi kecilnya, tapi juga ditangisi banyak orang yang kesemuanya berterimakasih kepadanya. Dia memilih untuk melepaskan selembar nyawanya yang sangat berharga demi keselamatan banyak orang.

Bayu dan teroris itu sama-sama tewas. Tubuh mereka sama-sama terburai. Teroris itu mengorbankan diri demi menyampaikan pesan. Teroris itu meninggalkan dunia dengan harapan agar banyak orang ikut tewas bersamanya. Baginya, tidak penting siapa pun yang tewas, sebab dirinya hendak menyampaikan pesan politik kepada pihak berkuasa. Dia ingin menebar teror. 

Tapi Bayu berbeda. Dia rela tewas demi menyelamatkan banyak kehidupan. Bayu adalah seorang yang sangat mencintai kehidupan, dan ikhlas menyelamatkan mereka yang hidup. Istri dan bayinya memang akan kehilangan Bayu. Tapi seumur hidup istri dan bayinya akan bersemi kisah-kisah heroik seorang ayah yang rela bertarung demi kehidupan. Sepanjang hidup mereka, akan dibanjiri sungai apresiasi dan kebajikan dari banyak orang. Bayu adalah pahlawan yang akan selalu menjadi monumen di hati banyak orang Surabaya.

BACA: Yang Tersisa Seusai Bom Surabaya

Beberapa jam setelah Bayu tewas, kisah kepahlawanannya menyebar bersama angin. Orang-orang mulai tergugah dan menyatakan simpati. Semuanya menyatakan kecaman pada teroris. Di balik kecaman itu, terselip pernyataan cinta kepada mereka yang menjalani kehidupan. Pimpinan organisasi massa dari berbagai agama menatakan sikap. NU dan Muhammadiyah mengutuk pelaku pemboman. 

Kemanusiaan memang tak akan pernah dibatasi oleh sekat-sekat apa pun. Orang-orang melihat bahwa korban dari peristiwa itu adalah manusia-manusia yang niatnya datang untuk beribadah. Apa pun agama dan keyakinannya, setiap orang berhak untuk hidup dan dilindungi. Bahkan terhadap seseorang yang bersalah sekalipun, hak hidupnya harus dijaga dan dilindungi.

Beberapa abad setelah peristiwa peperangan antar agama pernah meluluhlantakkan umat manusia, masih saja ada banyak orang yang membawa permusuhan sebagaimana abad silam. Masih saja ada banyak orang yang beranggapan bahwa bumi adalah ladang perang untuk menyebarkan keyakinan. Masih saja ada orang yang merasa khawatir dan takut akan dizalimi sebagaimana abad-abad silam. 

Padahal dunia terus bergerak maju. Selain kisah peperangan, dunia menyimpan banyak catatan tentang perdamaian. Selain kisah-kisah dalam berbagai manuskrip dan kitab, sejarah mencatat banyaknya orang-orang yang rela menjadi martir untuk perdamaian. Dunia amat indah ketika orang-orang tiba pada ikrar untuk berpegangan tangan demi menatap masa depan yang penuh bahagia.

*** 

KISAH lain yang menggetarkan di Surabaya adalah seusai bom, ratusan orang berbondong-bondong mendatangi kantor Palang Merah Indonesia (PMI) untuk mendonorkan darah. Ratusan orang ini datang beramai-ramai untuk mendonorkan darah dengan harapan bisa membantu korban peristiwa bom.



Mulai dari birokrat hingga driver online semuanya datang untuk menyumbangkan darahnya. Seusai mendonorkan darah, seorang bapak yang bekerja sebagai driver online berkata, “Saya ingin menyelamatkan manusia lain yang jadi korban bom. Saya ingin berbuat banyak hal, tapi ini yang bisa saya lakukan saat ini,” katanya.

Bapak itu tidak pernah mempersoalkan latar belakang agama korban yang hendak dibantunya. Dia tahu bahwa korban yang berjatuhan itu adalah jemaat gereja dan petugas keamanan. Tapi kesadaran akan kemanusiaan itu jauh lebih berharga dari apa pun. Dengan menyumbang darah, dia berharap ada banyak orang terselamatkan. Ada kehidupan yang tetap dipertahankan.

Seorang lelaki lain bernama Teguh juga mengajak banyak orang untuk mendonorkan darah. Teguh tak pernah mendonorkan darah seumur hidupnya. Tapi mendengar banyak orang mendonorkan darah untuk korban bom, ia lalu tergerak hatinya. Ia pun datang dan ikut membantu. “Setetes darah saya akan sangat berharga untuk orang lain.” Teguh mengajarkan betapa pentingnya membantu sesama.

Surabaya memang menyimpan banyak kisah heroik. Dahulu, kota ini menorehkan jejak ketika banyak orang banyak berjibaku dan bertarung dengan penjajah yang hendak kembali bercokol. Semangat hebat untuk mempertahankan wilayah itu menyebabkan ribuan orang tewas dalam satu semangat yang terus diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Di Surabaya, peristiwa bom itu kian menguatkan solidaritas warga. Tak hanya berbagi postingan tentang kecaman pada terorisme, semua orang berbagi semangat untuk tidak takut pada apa pun aksi teror.  Semua orang menyalakan semangat nasionalismenya dan menyatakan perang pada segala hal yang mengancam nurani kemanusiaan semuanya. Sebab teror bisa datang kapan saja dan di mana saja. Teror juga bisa mengancam diri kita dan seluruh keluarga sehingga harus dilawan sekarang juga.

Di Surabaya, kita menyaksikan semangat kepahlawanan. Semangat itu terus terpatri di dada orang Surabaya. Ketika banyak orang memikirkan orang lain, maka itu pertanda bumi ini akan tidak pernah kekurangan orang baik. Ada pesan kuat menghentak: "Kita boleh beda dalam keyakinan, tapi dalam kemanusiaan, kita adalah saudara sekandung."

Ketika banyak orang yang berbagi untuk sesamanya, kita menyaksikan satu proses transformasi sedang berlangsung. Alam bisa saja mengalami badai, tapi setelah itu tunas-tunas tanaman akan tumbuh dan menghijau. Sebuah ledakan bisa dipandang sebagai representasi benci dan angkara yang tak akan selamanya abadi. Di atas puing-puing kebencian itu, nilai-nilai seperti solidaritas, kebaikan, dan keteladanan akan tumbuh di mana-mana. 

Semuanya berakar pada rasa cinta yang berkecambah, kemudian mengeluarkan akar, lalu menumbuhkan batang hingga daun-daun. Kelak, bunga cinta akan bermekaran dan menebar keindahan dan wangi yang menyemarakkan peradaban.



Yang Tersisa Seusai Bom Surabaya




SEBUAH bom kembali meledak. Di tiga gereja yang terletak di Surabaya, bom itu menyisakan kengerian. Di media sosial, beberapa orang menyebar tayangan tentang reruntuhan, serta cabikan tubuh. Polisi menyebut bom itu sebagai bom bunuh diri. Dalam hati, ada selarik tanya, apakah diri menjadi tak begitu berharga sehingga dikorbankan untuk menyampaikan pesan?

Satu media besar mengisahkan seorang anak muda yang berlari ke gereja itu demi menyelamatkan ibunya. Dia menerima pesan ibunya melalui WhatsApp. Dia berlari sekencang yang bisa diakukannya demi sesegera mungkin tiba di gereja. Ibunya seorang jemaat gereja yang taat. Anak muda itu mulai membayangkan horor yang terjadi pada ibunya.

Sebuah bom tak saja meninggalkan jejak fisik berupa reruntuhan bangunan dan puing-puing. Sebuah bom juga menyisakan trauma yang dalam. Terasa seperti belati yang menghujam ke dalam diri. Seumur hidup orang akan membawa trauma itu ke mana-mana, menjadi mimpi buruk yang menakutkan, menjadi lapis-lapis kengerian kala dikenang.

Anak muda itu melihat halaman depan gereja yang berantakan. Ia seolah melihat jejak-jejak pertempuran. Bom itu membuat semuanya menjadi puing. Dia melihat banyak tubuh terluka. Ia melihat polisi dan masyarakat biasa jadi korban. Seorang anak bersimbah darah saat dibopong demi mencari pertolongan. Di mana-mana ada suara panik dan ketakutan. Ia melihat darah membanjir di banyak titik. 

Dengan suara bergetar, ia memanggil-manggil ibunya. Beruntung, ia menemukan ibunya dalam keadaan selamat. Tapi tangis dan wajah kengerian tampak jelas di wajah sang ibu. Mungkin saja ibu itu akan berkisah dari awal sampai akhir. Mulai dari kedatangannya untuk berdoa dan memuliakan Tuhan, dan setelah itu bunyi ledakan menggetarkan semuanya. “Mengapa kami yang sedang beribadah harus menjadi korban? Apa salah kami? Apakah Tuhan akan bahagia ketika ada manusia lain yang dilenyapkan?”

Ibu dan anak muda itu mungkin tak paham. Bahwa dia yang melempar bom itu juga datang karena merasa sedang mendengarkan perintah langit. Mungkin saja pelaku telah lama memendam benci dan hendak melakukan sesuatu. Dia lupa bahwa pihak yang menjadi sasarannya adalah manusia biasa sebagaimana dirinya yang juga punya keluarga, punya ibu, punya anak, dan juga punya kehidupan.

Dia yang membom itu ibarat sosok Silas dalam novel Da Vinci Code karya Dan Brown, yang menjalankan perintah untuk menebar teror. Silas melaksanakan pesan itu dengan kesadaran penuh kalau dirinya sedang menjalankan perintah Tuhan, meskipun itu adalah teror. Dia merasa sedang menegakkan kebenaran.

Mungkin pelempar bom hendak berkata kamu layak menerima amarahku. Mungkin dia hendak berteriak ketika kamu berbeda, maka kamu telah mengancam diriku. Maka sesatlah kamu dan bakal menerima nasib para umat yang pernah diperangi dan ditimpakan azab. Mungkin saja dia membaca kitab dan menemukan catatan tentang para umat yang ditenggelamkan ke dasar bumi, diberi azab berupa banjir besar atau api yang turun dari langit. Dia ingin mengambil peran Tuhan, menebar azab ke mereka yang berbeda.

Pembom itu melihat banyak musuh di gereja yang harus segera dilenyapkan. Dia ingin berbuat sesuatu demi menggapai nirwana. Dia ingin mempersembahkan satu lembar nyawanya demi kehidupan abadi yang bahagia, sebagaimana telah dijanjikan bagi martir sepertinya. Pelempar bom itu hendak berkata, aku benar dan kamu bukan. Ketika kamu kafir dan sesat, kamu tidak berhak atas cinta kasihku. Kamu tak berhak atas keadilanku. Kamu tak berhak menerima rahmat atas seru sekalian alam, serta kedamaian yang terpancar dari hati.

***

INDONESIA di abad ke-21 adalah Indonesia yang penuh dengan pertarungan memperebutkan kebenaran. Demi kebenaran, seseorang bisa saja menyingkirkan pihak lain yang dianggapnya sesat. Demi kebenaran, seseorang bersedia menjadi martir untuk menebar teror dan menyingkirkan manusia lainnya. Kebenaran itu jauh lebih penting dari nyawa manusia dan kedamaian. 

Hari ini, Indonesia diremuk bom. Beberapa hari lalu, sejumlah orang menewaskan bhayangkara muda yang tengah bertugas. Besok, entah kengerian apa lagi yang akan tercatat dalam sanubari bangsa kita sebagai bangsa yang cinta damai. Sepertinya, teror mulai menjadi kosa kata yang setiap saat menghantui kita sebagai anak bangsa.


Sungguh menyedihkan melihat anak-anak muda Indonesia melakukan teror demi sesuatu yang dianggapnya benar. Kalimat: “Gapailah surgamu, tapi biarkanlah orang lain hidup damai dan menggapai surga masing-masing” tak berlaku lagi. Yang ada, ketika surgaku tak sama denganmu, maka aku berhak membawamu sama-sama ke langit.

Yang juga menyedihkan, belum usai proses evakuasi korban, belum kering air mata para korban, tiba-tiba saja ada sejumlah manusia tengik yang sibuk mengeluarkan analisis tentang teori konspirasi dari negara untuk menyudutkan kelompok tertentu. Sejumlah orang kehilangan nurani kemanusiaan dalam melihat peristiwa itu, dan mengedepankan informasi yang dianggapnya benar.

Padahal, di luar semua apa yang dianggap benar, semua korban adalah manusia biasa. Mereka adalah tubuh yang sama-sama mengalir darah dan jiwa. Kita satu spesies dengan mereka. Tatkala mereka menjadi korban dari satu kengerian, seyogyanya kita pun merasakan hal yang sama. Kita pun mestinya merasa satu tubuh dan satu jiwa, sebab berada di bumi yang sama, menghirup udara yang sama. Harusnya kita berada dalam satu gelombang rasa sedih yang sama ketika membayangkan keluarga kita menjadi korban.

Entah kenapa, kita lebih suka berdebat ketimbang mendengarkan suara hati orang lain. Nalar kita dikerek tinggi-tinggi, tapi kita lupa mendengarkan suara hati kita sebagai manusia yang melihat sesama kita. Setiap hari kita suka berdebat dan menggugat keyakinan orang lain, namun kita lupa apakah kita telah menjadi sosok welas asih yang diajarkan dalam keyakinan kita sendiri. Kita menerima keyakinan sebagai setumpuk ajaran dan perintah, tanpa meresapinya hingga sumsum dalam diri.

Ketimbang sibuk mendebat seberapa benar tindakan teroris itu, lebih baik kita melihat sesama manusia yang tengah berada dalam derita. Lebih baik kita melihat semua orang sebagai manusia biasa yang sama-sama hendak hidup damai. Marilah bersama kita mengecam siapa pun yang mendukung aksi teror itu dan mengabaikan nurani kemanusiaannya sendiri. Saatnya bersatu dan menunjukkan kita adalah manusia yang peduli pada siapa pun di sekitar kita.

Karena kita adalah manusia yang juga punya darah dan daging sebagaimana korban-korban itu. Karena kita adalah sesama penghuni bumi yang peduli pada sesama, apa pun agama dan keyakinannya. Karena kita adalah manusia Indonesia yang ingin hidup damai, jauh dari permusuhan.

Atau jangan-jangan kita menjadi sedemikian religius sehingga melihat yang lain dengan cara berbeda. Ataukah kita sudah merasa sedemikian saleh sehingga apa pun yang berbeda dengan kita harus dipaksa tunduk menjadi serupa dengan kita.

Ah, saya tiba-tiba saja terkenang John Lennon yang bersenandung, “Imagine, there’s no heaven. Imagine there’s no country, there’s no religion too.” Jika saja tak ada kehidupan serba indah langit, barangkali manusia tak akan menjalankan misi-misi untuk menggapai kehidupan yang lebih sempurna. Jika saja tak ada kehidupan setelah mati, mungkin orang-orang akan melihat hidup sebagai sesuatu yang dijaga sepenuh hati.

Di Surabaya, kita menyaksikan teror. Kita melihat satu sketsa kehidupan tentang perebutan untuk menjadi pihak paling benar. Kita menyaksikan dengan mata basah. Kita menguatkan hati untuk tetap kuat dan tidak takut apa pun. Saatnya menyatakan sikap berani dengan tinju yang mengarah ke angkasa. Kita tak takut teror sebab kita mencintai semua apa pun yang ada di sekitar kita. 

Di Surabaya, kita tak pernah diam. Kita mencatat peristiwa ini dengan tinta terang agar menjadi alarm bagi kita untuk masa depan. Kelak kita akan wariskan Indonesia yang damai, bersahabat, dan menjadi surga bagi siapa pun yang mendiaminya. Ya, selain menggapai surga di hari esok, kita pun punya tanggung jawab sejarah untuk menghadirkan surga itu di hari ini, di kehidupan yang fana ini.



Sosok Penting di Balik Melejitnya Tribunnews



Dahlan Dahi, sosok di balik Tribunnews.com


DUA pekan silam, Tribunnews.com menjadi situs nomor dua paling sering dikunjungi di Indonesia setelah Google.com menurut versi Alexa Rank. Bahkan Tribunnews mengalahkan situs mapan seperti media sosial Facebook. Di grup Kompas, Tribunnews pernah dilihat sebagai anak bawang yang dipandang sebelah mata. Kini, media itu adalah situs berita nomor satu di Indonesia, yang malah jauh meninggalkan Kompas.

Di balik melejitnya Tribunnews, ada satu sosok hebat yang selama ini menjadi aktor intelektual dan inspirasi bagi media ini. Dia adalah Dahlan Dahi, sosok yang tadinya hanya mengepalai koran daerah di Makassar, kini menjadi sosok paling penting dalam transformasi media di era disrupsi. Dahlan adalah sosok bertangan dingin yang bisa mengubah Tribun, dari media yang dipandang remeh, menjadi pemimpin pasar semua media di Indonesia.

*** 

SEPTEMBER 2003, saya datang ke showroom mobil Mercy di Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar. Saya mengikuti wawancara kerja sebagai jurnalis di koran daerah di bawah bendera Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Hari itu, berita tentang koran baru ini sudah santer terdengar di seluruh penjuru Makassar.

Saya diwawancarai dua orang pria. Satu sudah berusia sekitar 50-an tahun, satunya lagi masih terbilang muda, mungkin sekitar 30-an tahun. Tak lama setelah wawancara, saya diterima sebagai jurnalis. Belakangan saya tahu kalau dua orang pewawancara itu adalah Uki M Kurdi (sering dipanggil Pak Uki), yang menjadi pemimpin redaksi, satunya lagi adalah Dahlan Dahi yang menempati posisi redaktur pelaksana. Media itu dinamakan Tribun Timur yang diharapkan bisa menjangkau banyak kota di kawasan timur Indonesia.

Saya pun akhirnya tahu kalau Dahlan berasal dari Wakatobi yang pada masa itu masih dalam wilayah Kabupaten Buton. Artinya, saya terbilang sekampung dengannya. Tapi kami membangun hubungan yang profesional. Kami tak pernah bahas kampung. Kami membahas kerja-kerja jurnalistik dengan ukuran yang sama bagi setiap orang. 

Pak Uki dan Dahlan telah lama menjadi partner di bisnis media. Sebelumnya, mereka bekerja di harian Surya yang terbit di Surabaya, di bawah bendera PT Indopersda Prima Media, yang juga di bawah Kompas Gramedia. Selanjutnya, keduanya mengelola tabloid Bangkit pada masa reformasi. Isinya adalah berita-berita politik yang tengah hangat dan sengaja dibuat menghentak. Ketika reformasi usai dan iklim politik mulai stabil, tabloid itu ditutup. 

Karier Dahlan bermula dari Identitas, media mahasiswa Universitas Hasanuddin. Semasa kuliah, ia mulai bekerja di Berita Kota, koran metro yang berpusat di Makassar, kemudian pindah ke harian Surya di Surabaya, lalu TV7, media di bawah jaringan Kompas Gramedia, di Jakarta. Sebagai jurnalis, Dahlan sempat bertugas untuk meliput Perang Teluk di Irak dan Kuwait. Dia mencapai mahkota yang didambakan para jurnalis yakni menjadi jurnalis perang. Pengalamannya meliput di bawah desingan peluru dan keharusan mengirimkan berita dalam waktu cepat di era ketika teknologi belum seperti sekarang menjadi kisah menarik yang dibagikannya kepada jurnalis muda saat pelatihan di Tribun.

Pelatihan yang difasilitasi Dahlan terbilang ketat. Dia mewajibkan semua calon jurnalis membuat catatan harian. Dia juga memberikan penugasan bagi jurnalis untuk turun lapangan. Setiap hari dia mendiskusikan liputan para jurnalis, memberikan catatan, serta beberapa perbaikan. Dia cukup sabar membimbing semua jurnalis muda. Dia menanamkan konsep-konsep Tribun sebagai media yang marketable dan diharapkan bisa diterima pasar. Dia membangun militansi bahwa kerja seorang jurnalis tak bisa dipandang sebelah mata. Dia mengajarkan independensi dan keberanian dalam memberita.

Bersama Uki M Kurdi, dia menjelaskan konsep-konsep berita yang mikro, people oriented, serta harus menarik mata (eye catching). Semua jurnalis Tribun yang ikut pelatihan menghafal konsep-konsep ini di luar kepala. Pada saat saya mengikuti pelatihan, beberapa pemateri dari Kompas juga dihadirkan. Di antaranya adalah Pepih Nugraha (Kepala Biro Kompas Indonesia Timur) dan Suryopratomo (Pemred Kompas).

Biarpun Tribun adalah anak perusahaan Kompas Gramedia, Pak Uki dan Dahlan tidak bermaksud meniru tampilan Kompas. Mereka paham bahwa media mesti punya positioning sendiri. Pembaca Tribun bukanlah pembaca Kompas yang pendidikannya tinggi. Tribun menyasar rakyat kebanyakan dan generasi X sehingga tampilannya pun dibuat lebih remaja, serta menarik untuk dipandang. 

Isu-isu yang diangkat pun harus isu yang lagi hangat, namun dikemas dalam format edutainment, pesan-pesan edukasi disampaikan dengan cara menghibur (entertain). Pada masa awal, Tribun didesain untuk masyarakat kota. Liputannya adalah isu-isu kota, termasuk lifestyle, leisure, wisata, hingga trend terbaru. Tribun mengurangi porsi kriminal, yang masa itu adalah jualan utama semua media. Bahkan Dahlan melarang kriminal tampil di halaman satu. Alasannya, warga kota butuh inspirasi. “Kalau warga kota lihat gambar korban dan darah di pagi hari, maka dia bisa kehilangan semangat untuk bekerja,” katanya. Iya sih. Dia benar.

Dari sisi konsep, Tribun cukup matang. Kritikan disampaikan dalam bahasa santun yang tidak provokatif, dalam kemasan menghibur. Jika ingin mengkritisi pejabat yang mewah, tak perlu langsung tunjuk hidung. Cukup beritakan mobilnya yang mewah, rumah besar, dan barang-barang mahal yang dikoleksi. 

Konsep lain yang dikembangkan adalah memahami kebutuhan masyarakat atas informasi. Kata Dahlan, ada tiga hal yang dibutuhkan masyarakat terkait informasi. Pertama, intellectual benefit. Orang ingin bertambah pengetahuannya ketika membaca media. Kedua, emotional benefit. Semua orang ingin mendapatkan aspek afektif mengenai wilayah yang didiaminya. Makanya media harus bisa menangkap nuansa emosi ini. Ketiga, spiritual benefit. Semua orang ingin melihat peradaban lebih baik, visi yang lebih mendalam, dan ekosistem yang positif dan penuh spritualitas.

Salah satu pemateri yang berkesan buat saya adalah Valens Doy, mantan jurnalis Kompas yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Valens menjelaskan karakter dasar dalam pemberitaan Tribun,  yang dikembangkan berdasarkan tiga aspek penting yakni (1) merangkum apa yang terjadi (what happened), (2) merekam makna dan membaginya kepada publik (what does it means), dan (3) memberikan informasi pada publik apa yang harus dilakukan (what should I do).

Kata Valens, jantung dari proses jurnalisme Tribun senantiasa menekankan pada makna. Sebuah pemberitaan dianggap berhasil menyentuh sasaran ketika terjadi resultan dua aspek yakni publik memahami makna dari setiap kejadian, dan publik paham apa yang harus dilakukan sebagai warga. Pada titik ini, Tribun senantiasa didorong untuk menemukan butir-butir makna di balik setiap kejadian, memberikan pencerahan kepada warga agar mereka bisa melihat persoalan dengan lebih terang, serta menggugah kesadaran publik untuk melakukan sesuatu.

Konsep-konsep ini ditanamkan ke benak semua calon jurnalis dan juga para redaktur. Jelang koran terbit, dia meminta saya menjadi litbang yang men-support koran dengan data dan fakta. Saya pun diberi akses ke Pusat Informasi Kompas yang memiliki koleksi semua arsip liputan sejak tahun 1960-an.

Hingga akhirnya koran itu pun terbit. Di situlah saya menyaksikan betapa sibuknya Dahlan setiap hari. Dia memegang tiga posisi sekaligus. Selain sebagai redaktur pelaksana, dia juga menjadi koordinator liputan yang menentukan topik-topik yang hendak ditulis, serta manajer produksi yang bertugas mengawal proses produksi berita hingga proses cetak.

Di mata saya, Dahlan bukan tipe seorang bos yang suka perintah-perintah, lalu duduk diam. Dia ikut bekerja keras bersama anak buahnya. Dia selalu tiba di kantor lebih awal dari semua redaktur. Dia pun yang paling larut meninggalkan kantor. Dia mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus. Dia tipe multi-tasking yang cepat belajar. 

Bisa Anda bayangkan, dia mengorganisir liputan, ikut mengedit berita halaman satu, kemudian memantau kerja layouter. Dia pun ikut memeriksa semua halaman hasil layout yang diserahkan redaktur. Pada dirinya saya melihat kerja keras yang begitu tinggi.

Tak berhenti di situ, dia pun ikut mengawasi proses cetak. Dalam beberapa situasi, dia pernah memerintahkan mesin cetak berhenti beroperasi hanya karena mendapat informasi yang lebih gres untuk tampil di halaman satu. Koran dirombak. Prosesnya kembali mulai dari awal. Dia melakukannya tanpa mengeluh.

Saya sering bertanya-tanya, nih orang kok selalu sehat dan kuat? Pada masa itu, saya beberapa kali pura-pura sakit dan bolos liputan. Dia tak pernah melakukannya. Setiap saat ada di kantor dan memantau liputan. Energinya yang berlipat-lipat itu tak pernah hilang dalam benak saya kala mengingat sosoknya.

***

KELIRU jika hanya melihatnya sebagai sosok pekerja keras. Di dunia media, sekadar bekerja bisa membuat seseorang jadi hebat. Tapi seseorang akan jauh lebih hebat jika bisa menjadi pribadi pembelajar yang terus mengevaluasi semua capaian. Dahlan adalah tipe pembelajar yang terus mengasah dirinya. Tadinya saya agak under-estimate karena pendidikan S1-nya di Ilmu Politik Unhas tak kelar. Ternyata dia tipe yang selalu berkembang. Dia belajar jauh lebih banyak dari mereka yang di kampus.

Tahun 2004, buku Dan Gilmore berjudul We the Media diluncurkan. Buku itu sudah memprediksi bahwa dunia akan tiba di era di mana warga biasa menjadi pewarta. Makanya, tema-tema citizen journalism akan berkembang pesat. Banyak pekerja media yang melihat konsep ini sebagai musuh dari kerja jurnalis konvensional.

Dahlan Dahi saat meniup kue ultah Tribunnews, disaksikan Herman Darmo, Director Group of Regional Newspaper Kompas Gramedia

Uniknya, Dahlan justru menyerap semangat yang dijelaskan Dan Gilmore itu dan membawanya ke Tribun. Saat musim haji, Tribun meminta warga biasa untuk melaporkan keadaan di Arab, kemudian memajang laporan itu beserta foto warga di koran. Kata Dahlan, dengan cara demikian, semua pihak akan untung. Tribun tak perlu memberangkatkan reporter untuk meliput sehingga hemat ongkos. 

Sementara bagi warga, mereka justru melakukannya dengan senang hati. Dengan memberi laporan keadaan di sana, keluarganya akan tahu keadaannya baik-baik saja. Benar-benar simbiosis mutualisme.

Dahlan pun menerapkan konsep citizen journalist itu dalam liputan Tribun. Makanya, di halaman-halaman koran, kita akan sering menemukan warga biasa memberikan laporan. Pada saat itu, banyak media mainstream yang masih saja memelihara pagar api antara liputan jurnalis dan warga biasa. Seolah, liputan jurnalis selalu lebih baik dan lebih profesional dan satu-satunya yang pantas tampil di media. Dahlan mengubah pandangan itu. Di Tribun, seorang warga biasa bisa memberikan reportase yang setara dengan kerja jurnalistik.

Jika dilihat dari sisi marketing, langkah itu terbilang strategis. Sebab media memang harus mendekatkan diri dengan khalayaknya. Media harus memberikan ruang kepada warga untuk berbicara. Kini, berbagai media malah membangun semacam skema user generated content, di mana warga biasa bisa ikut meramaikan ekosistem jurnalistik. Media-media besar d luar negeri mulai menerapkan skema ini. Ruang bagi publik dibuka luas sehingga media tidak eksklusif. Semua orang bisa meramaikannya sepanjang gagasan itu sesuai dengan visi media.

Dalam liputan sehari-hari, konten lokal dikuatkan. Dahlan pandai benar mengelola emotional benefit untuk pasar pembaca. Dalam liputan politik misalnya. Porsi tokoh-tokoh lokal Sulsel diberikan lebih besar. Tak ada netralitas. Tribun memihak tokoh-tokoh lokal di pentas Jakarta. Nama-nama seperti Jusuf Kalla sering tampil sebab dirinya adalah bagian dari kekuatan emosional masyarakat.

Dalam hal olahraga, porsi PSM diberikan lebih besar sebab masyarakat Makassar memang suka sepakbola dan menjadikan klub itu sebagai kebanggaan. Tribun tampil estetis. Tampak cantik dengan kekuatan lokal. Tribun memberikan porsi besar bagi warga Makassar yang cantik-cantik untuk menjadi narasumber. Fotonya sering tampil di media itu dan mengabaikan model Jakarta. Ini adalah strategi brilian sebab model lokal adalah pasar dan pembaca. Mereka akan bangga tampil di media. Keluarganya akan mencari media itu. Bahkan dirinya semakin dikenal.

*** 

SETELAH dua tahun menjadi jurnalis, saya memilih keluar dan menekuni profesi lain. Dahlan diberi amanah yang jauh lebih besar. Ia tak lagi cuma mengurusi Tribun Timur, tapi juga ikut membidani lahirnya Tribun lain di banyak daerah. Di semua daerah itu, dia menjadi sosok penting yang meletakkan landasan kuat.

Ketika era digital semakin merambah dan perlahan menenggelamkan media cetak, Dahlan tak ikut meratap sebagaimana jurnalis senior lain. Dia tak ingin beromantisir dan membanggakan era cetak. Dia lalu menyiapkan Tribunnews sebagai kanal yang menjadi induk dari semua koran-koran daerah di lingkup Kompas Gramedia.

Yus, seorang web developer yang pernah bekerja bersama Dahlan, bercerita awal-awal membangun Tribunnews. Dahlan setiap hari akan mendatanginya di kantor untuk membenahi konsep perwajahan media. “Saya sering kewalahan untuk memenuhi keinginannya. Setiap hari dia akan datang dan mendiskusikan bagaimana konsep media itu,” katanya.

Teman lain, Hasanuddin Aco, juga bercerita hal yang sama. Dia menjelaskan bagaimana Dahlan bisa membaca trend dunia digital dan menerapkannya pada media online yang tengah dibangunnya. Semua jurnalis dituntutnya untuk selalu mengecek apa saja trending topic dan bagaimana mengemas berita dengan tepat sehingga disukai publik. Jurnalis dituntut untuk terus berkembang dan terus belajar.

Posisi Tribunnews adalah nomor dua di Alexa Rank

Kelebihan Tribun adalah selalu memberikan ruang besar bagi inovasi baru dan kreasi secara terus-menerus. Dikarenakan media ini tengah mencari bentuk, banyak hal yang bisa dikembangkan. Inovasi adalah kata kunci untuk mengembangkan media di era yang disebut “jaman now” ini.

Saya melihat beberapa kekuatan Tribunnews. 

Pertama, berita-berita dibuat marketable dengan judul-judul yang clickbait. Terlepas dari kritik bahwa clickbait itu tidak mencerdaskan, Tribun bisa melakukan inovasi sehingga orang akan selalu mengklik di medianya. Dalam dunia jurnalisme online, tolok ukur satu berita diterima publik adalah seberapa banyak jumlah klik. Di titik ini, Tribunnews pandai membuat orang penasaran untuk kemudian mengklik dan membaca media itu. Ditambah lagi, berita kadang dipecah menjadi tiga atau empat bagian sehingga lama orang berselancar di media ini juga semakin lama.

Kedua, terlihat benar kalau media ini selalu rajin memantau trending topic di semua media sosial. Terlihat benar kalau semua lini media ini rajin memantau apa yang tengah hangat di berbagai media sosial. Pantauan Google Trend menjadi semacam kompas ke mana desain liputan diarahkan. Ketika ada isu menarik, dengan cepat jurnalis menuliskannya dan segera tayang. Saya melihat format penulisan berita juga tidak kaku. Formatnya lebih fleksibel dan tidak harus mengikuti kaidah-kaidah jurnalis dasar. 

Ketiga, Tribunnews tak terlalu mempersoalkan magnitude atau seberapa tokoh seseorang untuk menjadi narasumber. Bahkan komentar seorang netizen pun dianggap setara dengan komentar seorang politisi hebat. Tak cuma itu, kemampuan mengemas sisi-sisi lain dari setiap peristiwa juga menjadi kekuatan yang tak bisa serta-merta ditiru oleh media lain.

Saya melihat ini dipengaruhi oleh jam terbang pengelolanya ketika menggarap media-media daerah. Sebab mengelola media daerah jauh lebih sulit dibanding mengelola media nasional. Anda mesti meyakinkan orang-orang di daerah bahwa media ini punya banyak informasi yang dibutuhkan dan dicari oleh orang lain. Anda tak bisa sepede media nasional yang datang menawarkan info-info politisi dan artis Jakarta. Di daerah, Anda mesti bisa meyakinkan masyarakat bahwa media Anda punya banyak hal yang dibutuhkan.

Keempat, Tribunnews bisa memaksimalkan keberadaan media-media daerahnya dengan baik. Berita dari seorang jurnalis yang bekerja di koran Serambi Indonesia di Aceh bisa pula tayang di Tribunnews, selain di medianya. Demikian pula jurnalis di jaringan Tribun yang berada di Yogya, Kupang, Makassar, Manado, Medan, Pontianak, ataupun Banjarmasin. Semuanya berada pada posisi yang sejajar dalam hal memberikan reportase kepada Tribunnews dan medianya sendiri.

Memang, bukan grup Tribun yang menguasai daerah-daerah, melainkan Jawa Pos. Namun, saya tidak melihat ada upaya serius dari Jawa Pos untuk menguasai lini bisnis online melalui jejaring media-medianya.Penjelasannya sederhana. Sebab media cetak terlalu nyaman di lini cetak, dan bisa gagap ketika memasuki bisnis media online.

Kelima, Tribunnews tahu segmen pembaca yang hendak disasar. Beritanya tidak rumit. Beritanya sederhana dan langsung pada sasaran. Ini jelas berbeda dengan berita-berita yang tayang di Kompas. Dengan memahami segmen pembaca yang disasar, Tribun bisa leluasa mengemas informasi yang marketable dan lebih mudah diterima pembaca, ketimbang menyajikan mahakarya jurnalistik yang memenangi penghargaan. 

Dari sisi kualitas, Tribun sama saja dengan media-media mapan lainnya. Standar jurnalistiknya tidak istimewa amat. Tapi kalau kita bicara soal siapa yang lebih disukai pasar, maka Tribun sudah mencapai level dewa yang tahu apa saja informasi yang dikejar pembaca. Tribunnews yang paling memahami pembaca dan bisa mengemas sesuatu yang disukai pembaca.

***

TENTU saja, kekuatan utama dari semua proses ini adalah keberadaan Dahlan sebagai pimpinan di Tribunnews. Kemampuan belajar dan menyerap informasi yang didapatnya dari pengalaman membuka banyak koran daerah memberinya kekuatan dan daya gedor pada media yang ditanganinya. Kemampuannya memahami anak muda “jaman now” dan keberaniannya menyusun media sesuai kebutuhan pembaca adalah awal dari kesuksesannya membawa Tribunnews sebesar sekarang.



Saya membayangkan Dahlan akan laris diburu oleh banyak grup media. Jika saja dia ingin gaji tinggi, maka mungkin saja pemilik grup besar akan memberikannya cek kosong yang bebas diisi berapa pun. Dia tipe dirigen yang bisa memimpin orkestra media dengan baik, mengendalikan tim, dan memotivasi orang untuk mengeluarkan energi terbaiknya. Siapa pun yang bekerja dengannya bisa merasakan semangat bekerjanya yang tinggi, juga visi dan kemampuannya menyerap hal baru.

Saya mendengar dia masih setia bertahan di Tribunnews. Tanggungjawabnya bertambah. Dia dipercaya mengepalai divisi online dari grup media Gramedia. Dia memimpin Grid.id, situs berita entertainment yang lagi marak. Dia pun menangani bolasport.com yang merupakan penggabungan dari Juara.net (kerjasama Kompas.com - Bola) dan superball (yang dikelola tribunnews.com). Dua portal ini juga sukses di tangannya. 

Dahulu, Bola punya nama besar sebagai tabloid. Beberapa nama di dalamnya sangat tenar. Ketika Bola mulai turun pembacanya dan mulai menunjukkan tanda-tanda kolaps, maka itu pertanda media itu dikelola dengan cara lama yang mapan, tanpa melakukan inovasi. Kehadiran Dahlan sangat penting di situ.

Dua bulan lalu, tepatnya bulan Februari, saya bertemu Dahlan di Hotel Clarion, Makassar, saat ulang tahun Tribun Timur. Sempat saya tanyakan rahasia Tribunnews yang dicatat Alexa sebagai situs berita tertinggi. Dia menjawab singkat: "Yusran pasti pernah merasakan bagaimana pengalaman ketika dahulu membawa nama Tribun. Dulu, semua narasumber memandang Tribun sebelah mata. Kita hanya mengekor di balik media-media yang sudah mapan. Tapi sekarang, situasinya sangat terbalik. Justru kita yang ditunggu. Kita yang dicari. Kita sudah berada di depan media-media mapan itu.”

Saya bahagia mendengarnya. Bagaimanapun juga, saya paham bagaimana beratnya membesarkan media di tengah media mapan, di tengah cibiran dari media lain yang merasa tersaingi. Saya tahu bahwa di situ tak hanya butuh konsistensi dan keberanian untuk menjelajahi hal baru, tapi juga ada visi kuat serta kemampuan mengenali apa yang dibutuhkan pembaca dan mengemasnya dengan baik. Lebih penting dari itu, dia bisa mengubah media menjadi kuat, kakinya di mana-mana, serta bisa berpijak kokoh, tanpa harus menggadaikan idealismenya.

Saya membayangkan betapa besar pengaruh Dahlan saat ini. Jika media yang dikelolanya adalah media dengan jangkauan tertinggi di Indonesia, dirinya akan menjadi sosok yang diburu semua politisi, pejabat, bahkan presiden. Dirinya akan dikejar-kejar sebagai partner diskusi yang dianggap paham bagaimana selera publik, serta bagaimana mengemas informasi menjadi begitu viral. Terbukti, saat bertemu dengannya dan saling bercerita kesibukan masing-masing, pembicaraan kami terhenti karena ada menteri dan gubernur yang datang untuk berbincang dengannya. Bayangkan, menteri dan gubernur pun antri untuk ngobrol dengannya.

Biarpun sesaat bertemu dengannya, saya terkenang kata Joseph Pulitzer, seorang mahaguru dalam dunia jurnalisme. Katanya, jurnalisme bukan saja soal idealisme dan bagaimana melayani publik, tapi juga soal bagaimana sirkulasi yang tersebar ke mana-mana, serta soal uang. Sebab uang bisa menjamin kemerdekaan seorang jurnalis. Maksudnya, jika media Anda besar dan laku, maka kesejahteraan Anda terpenuhi, dan Anda punya independensi dari berbagai kepentingan. 

If a newspaper is to be of real service to the public, it must have a big circulation: first, because its news and its comments must reach the largest possible number of people; second, because circulation means advertising, and advertising means money, and money means independence. 

Melihat Dedy "Mi'ing" Gumelar dari Dekat


Mi'ing (tengah) bersama Didin dan Unang sesama pendiri Bagito

DI berbagai rezim, Bagito selalu mengalirkan kritikan deras demi melihat Indonesia lebih baik. Kritikan itu disampaikan dalam bahasa humor yang kreatif dan selalu pas di hati. Tak menyakiti siapa pun, namun terasa menohok. Mereka yang pernah hidup di zaman Soeharto pasti paham bahwa Bagito berkontribusi pada upaya menumbuhkan kesadaran kritis yang memuncak pada aksi-aksi menjatuhkan rezim.

Saya merasa amat beruntung bisa kenal dan akrab dengan Mi’ing, tokoh utama di grup yang anggota lainnya adalah Didin dan Unang. Setelah lama bersua Mi’ing, saya mencatat betapa banyaknya pelajaran dan keping-keping hikmah dari komedian yang kini berusia 60 tahun itu. 

***

DI depan panggung restoran Kampung Laut di Semarang, Jawa Tengah, dia duduk menghadapi meja dengan banyak makanan. Restoran luas yang menyediakan seafood itu terbilang ramai di malam hari. Ketika datang, saya tak sulit menemukannya. Semua pelayan di restoran itu langsung menunjuk posisinya saat saya menyebut namanya. Dia seorang komedian yang paling sering tampil di televisi. Dia adalah Dedy Gumelar atau kerap disapa Mi’ing.

Untuk pertama kalinya saya datang ke restoran terapung ini. Suasananya dibuat serupa pedesaan Jawa yang asri dan hening. Dari gerbang menuju restoran, saya melewati titian bambu yang di kiri kanannya terdapat lampu serupa obor. Restoran ini didirikan di atas empang yang di dalamnya terdapat banyak ikan berseliweran. Di siang hari, banyak orang datang memancing di sini, kemudian ikan tangkapan diolah oleh pihak restoran.

Di tempat itu, ia sedang duduk ditemani asistennya Kang Jana. Saya pikir saya telat datang. Dia telah usai makan malam. Tiba-tiba saja dia memanggil pelayan restoran itu. Dia memesan satu buah kelapa muda, yang airnya disimpan di gelas. Ketika pesanannya datang, mulailah ia mengeruk isi kelapa muda itu. “Saya selalu suka makan daging kelapa muda. Segar dan sehat,” katanya.

Mi’ing hadir di Semarang atas undangan dari Kami Indonesia untuk memberikan motivasi kepada ribuan mahasiswa di sana. Dia diharapkan berbagi kisah sukses, bagaimana meniti karier dari nol hingga mencapai posisi hari ini. Dia diharapkan bisa berbagi pengalaman yang diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi anak muda milenial. 

BACA: Lima Badik Abraham Samad

Jika selama ini dia selalu tampil di televisi dan layar film mengikuti skenario tertentu, maka kali ini dirinya diharapkan menjadi skenario sendiri. Dia tak diminta berperan sebagai orang lain, namun sebagai dirinya sendiri. Dia diminta untuk bercerita bagaimana meniti karier hingga berada di posisi puncak dunia hiburan. 

Pada tahun 1992, grup lawak Bagito yang dipimpinnya menerima bayaran hingga 3 miliar lebih, pada saat kurs dollar masih di angka 2000 rupiah. Bagito adalah grup lawak pertama yang diundang manggung ke Amerika Serikat, Australia, dan beberapa negara lain. Bagito adalah grup lawak pertama yang personelnya mendapatkan bayaran berupa mobil BMW seri terbaru.

Di mata saya, Bagito adalah grup lawak yang membangun arah baru dunia komedi. Mereka tak sekadar menghadirkan kelucuan, tapi juga dnegan berani menyisipkan pesan-pesan bertemakan sosial politik yang menyindir rezim di zamannya. Bagito membawa arah baru komedi yang cerdas, peka dengan kondisi sekitar, dan berperan penting dalam merawat kesadaran kritis melalui tingkah humor di pentas dan layar kaca.

Sebagai generasi yang pernah menyaksikan bagaimana Bagito menghibur di layar kaca, saya selalu penasaran bagaimana awal grup ini? Apakah mereka langsung hebat sebagai komedian?

“Saya tak pernah malu mengakui masa silam saya,” demikian Mi’ing membuka percakapan. Dirinya lahir di Lebak, Banten, dari ayah yang bekerja sebagai tentara, dan ibunya seorang guru yang kemudian beralih profesi menjadi penjahit dan berdagang kue. Mentalnya terasah sejak kecil saat membantu ibunya berjualan kue. Hingga akhirnya setelah lulus SMP, dia memutuskan untuk merantau ke Jakarta demi hidup yang lebih baik.

Dirinya lalu menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Pemprov DKI Jakarta. Latar belakang pendidikan yang alumnus STM menempatkan dirinya di bagian arsip bangunan. Akan tetapi, bakat seni dan keinginan kuat untuk merambah dunia hiburan membuat dirinya mengambil keputusan berani. Dia mundur dari PNS dan fokus menjadi pelawak dan penyiar radio.

bersama Mi'ing di Restoran Kampung Laut, Semarang

Dia mengajak adiknya Didin Pinasti yang pada masa itu adalah pegawai di Mahkamah Agung (MA), juga Unang yang sebelumnya bekerja sebagai pelukis kue. Mereka lalu membentuk grup lawak Bagito dan mulai memberanikan diri ikut berbagai lomba lawak. Jalan karier mereka mulai terbentang saat sering jadi juara di lomba lawak itu. Tapi bukan berarti ekonominya membaik. 

Mi’ing bercerita kesulitan hidupnya yang pulang melawak tengah malam dalam keadaan tidak punya uang. “Dulu lapangan banteng kan terminal. Saya sama Didin dan Unang nyaris dipalak karena dikira baru datang dari Jawa. Padahal saya jalan kaki dari Ancol untuk melawak karena tidak punya uang. Premannya malah kasihan. Kami dikasih duit,” katanya sembari memandang layar televisi.

Saat Mi’ing bercerita, layar televisi di restoran tengah menayangkan film yang dibintangi Warkop DKI yang personilnya adalah Dono, Kasino, dan Indro. Ketika pelayan restoran hendak memindahkan channel televisi, Mi’ing protes. Dia memperhatikan film itu, sembari termenung. Dia bercerita tentang karier-nya yang dimulai dari kedekatan dengan Warkop DKI. 

Sebelum di Bagito, dia menjadi tim kerja Warkop DKI. Dia menyiapkan semua perlengkapan dan kebutuhan trio pelawak legendaris itu. “Bahkan saya membawa setrika kecil untuk menyetrika jas yang mereka kenakan. Saya juga tahu apa saja obat dan vitamin yang mereka konsumsi,” katanya.

BACA: Iwan Fals: The Voice of Rebellion

Setiap kali Warkop DKI manggung di satu kota, Mi’ing diminta untuk datang lebih dahulu ke kota itu. Pada masa belum ada Google sebagai sumber informasi, Mi’ing bertugas mengumpulkan semua informasi tentang kota itu, termasuk apa saja jenis humor dan joke-joke yang bisa bikin orang tertawa. “Saya berkunjung ke pasar dan terminal. Saya bawa alat perekam dan mewawancarai banyak orang. Mulai dari preman, mandor terminal hingga warga biasa. Saya tanyain di mana lokalisasi, tempat-tempat ramai, juga apa saja yang lagi heboh di situ,” katanya mengenang.

Semua bahan itu kemudian diketik lalu diperlihatkan kepada personel Warkop DKI. Cara kerja Mi’ing mengingatkan saya pada cara kerja peneliti lapangan yang selalu merekam dan mencatat percakapan sehari-hari kemudian diolah menjadi laporan riset. Baru saya tahu kalau dunia komedi pun mewajibkan adanya riset. Tanpa melakukan riset sebagai upaya mengenal audience, bahan humor yang disiapkan tidak akan dipahami orang. Humor itu tak akan lucu sebab kehilangan konteks dan relevansi.

Pendekatan ini diterapkan Mi’ing bersama Bagito. Ketika menjadi pelawak radio, dia juga berupaya membaca media dan mengikuti perkembangan isu agar lawakannya tidak “garing.” Setiap kali manggung, dia harus ada di lokasi dua jam sebelumnya. Dia akan berdiri di belakang panggung sembari menatap penonton. Dia berusaha untuk tahu siapa saja yang hadir, siapa pejabat yang datang, dan bagaimana suasana gedung. 

Pernah, dirinya memarahi Didin yang terlambat datang ke lokasi pertunjukan. “Siapa lu? Emang lu bisa lucu kalau telat kayak gitu?” katanya. Dunia komedi yang dituturkan Mi’ing mengingatkan saya pada salah satu strategi perang ala Sun Tzu yang berbunyi: “Kenali dirimu, kenali lawanmu, dan kau akan memenangkan seribu pertempuran.”

Mungkin ini pula rahasia mengapa Bagito sedemikian laris. Personelnya rajin mengamati kondisi sosial, memahami apa yang tengah dirasakan masyarakat, kemudian mengolahnya menjadi lawakan yang segar dan bermutu. Pada masa ketika grup lawak mengandalkan komedi slapstick yakni komedi ala terpleset kulit pisang, Bagito datang dengan resep humor yang cerdas. Penonton Bagito pun meluas, Tidak hanya mereka yang setiap hari di terminal dan pasar-pasar, tapi juga mereka yang berada di gedung-gedung mewah.

Bermula dari grup kecil yang hanya manggung di pentas lawak, Bagito terus melejit. Mi’ing tidak menyangka garis takdir Bagito menempatkannya sebagai pelawak pertama yang memiliki acara atau program di stasiun televisi RCTI. Selama 18 tahun, Bagito meramaikan layar kaca RCTI dengan humor cerdas dan kritik pada pemerintah. 

Tak disangka, grup kecil yang dibentuk Mi’ing karena desakan ekonomi itu tumbuh membesar dan paling laris pada masanya. “Andaikan dulu saya tetap jadi PNS, mungkin genteng rumah saya masih bocor. Kalau saja dulu saya bermental cemen, mungkin saya tak akan mencapai posisi seperti sekarang,” kata Mi’ing.

Keberanian itu mengundang risiko. Dirinya beberapa kali dipanggil Kodam Jaya, diperiksa polisi, hingga dicekal di stasiun televisi milik pemerintah. Tapi sebagaimana dikatakannya, kebenaran harus dikabarkan. “Seniman harus menjadi reflektor dinamika masyarakat.”

*** 

“Apakah semua yang hadir di sini masih kenal saya?” tanya Mi’ing di hadapan ribuan mahasiswa UIN Wali Songo, Semarang. Semua mahasiswa berteriak kenal. Tapi Mi’ing tak percaya. “Saya yakin kalian tak kenal saya sebab sudah lama saya tidak muncul di tivi. Tapi kalau kalian buka Youtube dan mencari Bagito, pasti akan tahu masa silam saya,” katanya dengan gaya yang dimiripkan Dilan, sosok yang tengah disukai banyak anak muda berkat novel karangan Pidi Baiq.

Di panggung itu, Mi’ing tetap memesona. Dalam kemasan ala standup comedy, dia tetap energik dan membuat semua orang terpingkal-pingkal. Dia sempat mengutip puisi Taufiq Ismail yang bunyinya mahasiswa takut pada dosen, dan terakhir presiden takut pada mahasiswa. Ia menambahi puisi itu dengan kalimat “Presiden takut pada kaos.” Semua hadirin tergelak.

Mi’ing masih seperti dulu. Setelah malang-melintang di dunia hiburan, dirinya menjadi politisi. Dia menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014 melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Dia juga mengembangkan bisnis di bidang penyedia baja untuk konstruksi. Biarpun dirinya sudah menjadi politisi yang sering tampil di talkshow televisi, dirinya tetap membumi. Dia tetap sosok yang humoris, merakyat, dan selalu ingin membahagiakan siapa pun.

bersama Mi'ing

Selama dua bulan sering bertemu Mi’ing, saya selalu tak percaya saat dirinya membahas usianya yang sudah 60 tahun. Saya pikir dirinya sedang bercanda. Tapi dua hari ini, saya memantau akun instagram-nya yang menyebutkan dirinya ulang tahun ke 60. Barulah saya mengecek Wikipedia dan melihat informasi dirinya yang lahir pada 27 April 1958. Dirinya memang berusia 60 tahun. 

Padahal fisiknya masih seperti anak muda usia 40-an tahun. Mi’ing bercerita kalau dirinya pernah menghadiri reuni dengan teman segenerasinya. Dia seolah-olah berkunjung ke panti jompo, ketika temannya menua, dan dirinya masih tampak muda. Mungkin saja, sikap optimis dan membuat hidup menjadi lebih lucu berkontribusi pada fisiknya yang selalu tampak muda.

BACA: Rhoma Irama di Mata Profesor Amerika

Di usia yang tak lagi sepuh, Mi’ing terlihat semakin bijaksana. Dia terlihat lebih arif dalam memandang kenyataan. Lawakannya tetap menyengat, tapi dirinya tidak kehilangan kesantunannya. Pernah, saat manggung di acara Kami Indonesia di Bali, Mi’ing sempat meledek moderator bernama Diana. Beberapa jam setelah acara itu, Mi’ing meminta saya untuk menyampaikan permintaan maaf kepada Diana karena menjadikannya bahan lawakan. Bahkan dia ingin Diana ikut makan siang bersama kami.

Kalimatnya juga kian filosofis. Dia fasih menjelaskan gaya komedi Bagito. “Bagito diharapkan menjadi media katarsis yang memindai ketidakadilan, keterpurukan ekonomi, kembali menjadi penyejuk. Kami menjadi reflektor yang memotret kehidupan masyarakat," katanya.

Dia mengaku tidak lagi mengejar popularitas. Setelah 14 tahun berhenti melawak, rejekinya tetap lancar. Kini ia merencanakan sesuatu yang lebih substantif. Dia berbagi pengalaman kepada banyak anak muda, memberikan pemahaman kepada mereka tentang kehidupan yang begitu banyak pilihan, serta menguatkan karakter. Dia ingin anak muda punya mental baja.

“Indonesia butuh anak muda bermental baja. Indonesia tidak butuh anak muda bermental cemen,” katanya dalam banyak kesempatan.

Biarpun sering mendengar kalimat itu diucapkannya, saya selalu saja tergetar saat mendengarnya. Saya melihat Mi’ing telah mencapai level kebijaksanaan yang tak sembarang bisa dicapai oleh orang lain. Dia mengingatkan saya pada seorang pesilat yang sudah berada di level begawan yang tak lagi memikirkan dirinya, namun memikirkan orang lain.

Kini dirinya aktif dalam banyak kegiatan sosial. Dirinya membangun perpustakaan di banyak desa. Dirinya juga ikut memberikan motivasi kepada anak-anak muda agar selalu bermental baja. 

Pada Mi’ing saya menemukan pelajaran hidup. Jika kehidupan telah memberikan banyak hal pada seseorang, maka ada masa di mana seseorang akan berbuat sama pada kehidupan di sekitarnya. Menjadi pohon kokoh memang baik, namun jauh lebih baik menjadi tanah gembur yang memberikan nutrisi agar semua tumbuhan bisa kuat berpijak, akarnya menghujam ke dasar bumi, dan daun-daunnya memberikan udara bagi semesta. 

Selamat ulang tahun Bang Mi'ing.

Lima Badik Abraham Samad


Di Cina, mantan pemimpin lembaga pengawas anti-korupsi terpilih sebagai Wakil Presiden Cina dan mendampingi Xi Jinping. Apakah takdir yang sama akan berlaku untuk Abraham Samad dan terpilih sebagai Wakil Presiden? Apakah dirinya siap mengemban amanah yang lebih besar dari sekadar menangkap dan menjebloskan para koruptor?

*** 

LELAKI itu memasuki ruangan yang dipenuhi ribuan mahasiswa. Ketika dirinya hadir, semua mahasiswa histeris dan berebut hendak berjabat tangan dengannya. Dia dielu-elukan bak seorang pesohor yang datang berkunjung ke satu tempat. Dia tak hendak jumawa. Dia ikut bergabung dengan mahasiswa, kemudian ikut selfie dengan mereka. Lelaki itu Abraham Samad.



Beberapa kali saya bersua dengannya di acara roadshow Kami Indonesia bersama rombongan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Abraham Samad dipilih sebagai sosok inspiratif yang bisa menyulut semangat anak-anak muda untuk lebih berintegritas dan berkarakter. Kepada anak-anak muda, dia diharapkan berbagi pengalaman bagaimana membangun rumah karakter.

Kisah hidup Abraham bukanlah kisah seorang anak muda manja yang mendapat keistimewaan karena ayahnya seorang pejabat. Bukan pula kisah ala sinetron tentang sosok muda yang dengan berani memasang baliho besar lalu memproklamirkan dirinya sebagai pemimpin dengan label “jaman now.” Bukan pula kisah seseorang yang memakai celana jeans dengan surban melingkari leher lalu tersenyum lebar di baliho-baliho besar. Dia tak perlu branding dan baliho sebesar itu untuk mencitrakan dirinya. Semua orang tahu siapa Abraham dan apa yang sudah dilakukannya.

Kisah Abraham adalah kisah penuh onak dan duri, tentang seorang aktivis anti korupsi yang memilih banyak arena untuk berjuang. Jalan hidupnya serupa lintasan roller coaster yang lebih banyak menanjak, sesekali menikung, lalu menukik. Ada masa di mana dirinya melawan anggota parlemen, mengorganisir demonstrasi, menjalin relasi dengan media, hingga akhirnya menjabat sebagai pimpinan di lembaga anti korupsi.

BACA: Seikat Bunga untuk Abraham Samad

Saat menjadi pimpinan tertinggi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ekspresinya selalu dingin. Dia memimpin lembaga yang setiap hari memeriksa berbagai penyelewengan dan lalu lintas uang negara yang masuk ke kantung pribadi. Pose yang jarang senyum itu adalah representasi dari begitu banyaknya sulur-sulur persoalan yang menjerat tubuh bangsa. Dia pun sering hadir di layar kaca saat media membutuhkan keterangannya tentang satu kasus. Ekspresinya selalu datar, tanpa ekspresi. 

Salah satu posenya yang mengendap di benak saya adalah ketika dirinya hadir di Makassar sebulan setelah menjadi Ketua KPK. Dia datang di satu warung kopi untuk berdiskusi dengan koalisi masyarakat sipil anti korupsi. Saat itu, seorang peserta diskusi menyerahkan badik kepadanya. Abraham mengambil badik itu lalu mengacungkan ke langit. Publik gemuruh dan berteriak menyambut dirinya. 

Bagi orang Bugis Makassar, badik adalah simbol dari keberanian dan juga kekuatan. Badik adalah identitas serta representasi dari keberanian mengambil segenap risiko. Di masa kini, badik menjadi ikon dari kesetiaan untuk membela prinsip-prinsip serta apa pun yang diyakini benar. Ketika Abraham mengacungkan badik, maka orang-orang melihat komitmen dirinya yang sangat besar untuk berbuat sesuatu.

Pada masa itu, para aktivis dan organ masyarakat sipil di Makassar menanti-nanti apakah dirinya seberani Antasari Azhar, Ketua KPK terdahulu. Nanti setelah Abraham menersangkakan Miranda Goeltom, para aktivis menyebut peristiwa itu sebagai “pecah telur.” Bahkan mereka menggelar jumpa pers dengan cara unik. Telur-telur dipecahkan sebagai simbol Abraham telah melakukan banyak hal. 

Jika saja tradisi itu dipertahankan, maka betapa banyaknya telur yang akan dipecahkan. Semasa memimpin lembaga itu, banyak koruptor yang dijebloskan ke penjara. Abraham tak saja menahan pejabat selevel gubernur, tapi juga menteri aktif hingga pimpinan lembaga kepolisian. Lembaga yang dipimpinnya mendapatkan banyak penghargaan, termasuk di antaranya adalah Ramon Magsaysay Awards. 

Seorang jurnalis pernah berujar, “Saya ngeri membayangkan nyali manusia itu. Apakah dia tidak takut disingkirkan para cukong yang menyelusup di dalam pemerintahan kita?” Saya pun memendam pertanyaan yang sama. Tak butuh waktu lama, kekhawatiran jurnalis itu terbukti. Sosok yang memenjarakan koruptor dengan kerugian miliaran rupiah itu, tiba-tiba tersingkir karena alasan sepele yakni memasukkan nama orang lain di kartu keluarga. Butuh sekian tahun bagi negara untuk mengakui bahwa kasus itu begitu sepele hingga akhirnya pemerintah menyatakan deponeering. Kasus itu selesai. 

Setidaknya, Abraham telah memberikan jejak panjang di lembaga itu. Dia pernah melawan koruptor dengan cara terbaik yang ditunjukkan anak bangsa. Dia mengingatkan saya pada pernyataan Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer; “Kita telah melawan Nak. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.”

***

“Bang, apakah Indonesia bisa berakhir ketika kita tak bisa keluar dari status darurat korupsi?” Seorang mahasiswa bernama Diana merangsak barisan yang mendekati Abraham demi meneriakkan pertanyaan itu. Di kampus Universitas Udayana, Abraham dikerubuti banyak mahasiswa, yang datang tak sekadar menyaksikan dirinya berpidato tentang Indonesia yang diharapkan bebas korupsi. 

Abraham sejenak terdiam. Dia lalu mengutip pernyataan politisi yang mengatakan bahwa Indonesia bisa bubar di tahun 2030. Bedanya, Abraham mengeluarkan argumentasi. “Indonesia bisa bubar lebih cepat ketika korupsi terus menjamur dan menggerogoti rumah kebangsaan kita. Indonesia bisa berakhir ketika uang rakyat tak henti dipakai untuk pesta pora kepentingan pribadi, dan anak bangsa justru permisif dengan semua keadaan itu,” katanya dengan tegas.

Abraham hanya singgah sejenak di kampus itu. Dirinya bukan lagi menjabat sebagai Ketua KPK. Tapi kehadirannya dinanti banyak orang. Dirinya dielu-elukan oleh mahasiswa dan masyarakat di mana pun dirinya singgah. Pada sosok ini, orang-orang pernah menitipkan harapan untuk menangkap siapa pun yang hendak mengambil uang rakyat. 

Simpati kepadanya tetap tak berkurang. Dia bertransformasi menjadi legenda pemberantasan anti-korupsi. Sikap dinginnya saat berhadapan dengan koruptor telah mengangkat marwah lembaga yang pernah dipimpinnya. Di saat Indonesia tengah mengalami situasi yang disebut orang-orang sebagai darurat korupsi, sosok Abraham akan selalu menjadi hero di hati masyarakat.

BACA: Apa Kabar Abraham Samad?

Melihat antusiasme dan respon orang-orang, saya bertanya, apakah dirinya tidak melihat itu sebagai harapan besar bagi orang-orang agar dirinya melakukan sesuatu yang lebih besar? Apakah dirinya tak berpikir untuk menjadi pemimpin bangsa ini demi menuntaskan agenda pemberantasan korupsi? 

“Jika amanah itu datang, saya tak pernah menolak. Sepanjang diri saya masih bisa memberikan kontribusi, saya pasti akan menerima tawaran itu. Itu adalah kewajiban konstitusional saya,” katanya.

Tapi, saya membayangkan jika rencana itu hendak diwujudkan, betapa terjalnya jalan yang akan ditempuh Abraham. Dirinya bukan politisi. Dia tak berpartai. Bahkan dirinya pernah memenjarakan banyak kader partai yang korup. Dia pun tak punya modal. Entah sejak kapan, publik beranggapan bahwa di dunia politik, cost adalah segala-galanya. Dalam iklim politik di mana semuanya butuh biaya, integritas yang ditawarkan Abraham laksana ‘menggantang asap mengukir langit.’

Namun, sejarah kita sering kali menyajikan kenyataan berbeda. Mereka yang berduit tak selalu bisa melenggang mulus menuju ke kursi kekuasaan. Pada pemilu lalu, tak ada yang menyangsikan kekuatan finansial Aburizal Bakrie untuk melenggang ke kursi kekuasaan. Tentu saja, dia didukung para konsultan dan jejaring partai yang tersebar hingga kelurahan. Tapi dirinya justru tak pernah bisa memasuki panggung pemilihan presiden. Kekuatan finansial itu tak bisa membeli sekeping harapan di benak orang-orang agar mau mendukung dan memilihnya.



Banyak pula yang beranggapan bahwa kandidat yang bertarung di pilpres kali ini adalah sosok yang bisa merepresentasikan identitas keumatan. Jika semua partai dan kandidat presiden berpikir demikian, maka basis pemilih akan terkotak-kotak, sehingga peluang besar akan dipegang oleh sosok yang bisa menjadi representasi semua kalangan. Indonesia butuh sosok yang bisa menjadi payung bagi gerimis perpecahan sehingga mesti ditemukan isu bersama yang bisa menautkan semua kelompok menjadi mozaik keindonesiaan.

Di mata saya, Abraham punya kans jika dilihat dari beberapa argumentasi. 

Pertama, pada pemilu mendatang, jumlah pemilih akan didominasi oleh generasi milenial yang berusia rentang 15-39 tahun. Data BPS menunjukkan, jumlah generasi milenial pada tahun 2019 adalah 48 persen, yang kesemuanya adalah wajib pilih. Melihat potensi suara yang begitu besar, beberapa partai dan kandidat yang akan bertarung dalam kontestasi pemilu sudah mulai dengan serius melirik dan menarget generasi milenial. Pada poin ini, Abraham adalah sosok yang sangat dikenal generasi milenial berkat integritas dan kiprahnya selama memimpin KPK.

Kedua, isu-isu anti-korupsi bisa menjadi titik temu dari siang perdebatan terkait identitas yang seakan tak berkesudahan. Isu anti-korupsi dan Indonesia darurat korupsi adalah tema besar yang selama ini menjadi keresahan publik sehingga dibutuhkan pemimpin yang bisa menjadi titik tengah sekaligus payung bagi semuanya.

Ketiga, dalam situasi ketika semua partai politik menyodorkan kandidat presiden ataupun wakil, maka figur non-partai sering menjadi titik tengah yang disepakati semua pihak. Di titik ini, Abraham bisa menjadi alternatif dan figur penting di luar struktur partai yang ada. Dia bisa menjadi penengah yang diterima semua pihak dan melenggang ke arena pilpres.

Kita menanti bagaimana sejarah bergerak, apakah memberi ruang kepadanya ataukah menjadi milik orang lain. Yang pasti, ajang pilpres nanti diharapkan menjadi pesta meriah yang bisa diikuti dan diramaikan banyak pihak. Agenda-agenda besar publik, khususnya agenda pemberantasan korupsi, mestinya tetap diangkat demi Indonesia yang lebih baik. 

*** 

“Bang, kalau terpilih menjadi pemimpin apa yang akan dilakukan?” Kembali, seorang mahasiswa memberikan pertanyaan. Abraham Samad menyebut beberapa hal, namun saya mencatat ada lima hal penting. Pertama, dalam waktu lima tahun siap untuk memberantas korupsi. Kedua, memperbaiki tata kelola sumber daya alam. Ketiga, mengatasi kebocoran anggaran negara. Keempat, memperkuat kemandirian dan ketahanan pangan. Kelima, membenahi sistem peradilan sehingga semua warga bisa mendapatkan keadilan.

“Saya berharap generasi mendatang mendengar kata korupsi seperti mendengar kata dinosaurus yang sudah punah,” katanya.

Jika lima hal ini menjadi visi, maka saya membayangkan Abraham kini memiliki lima badik yang akan menjadi fokus keberaniannya. Dia akan memberantas korupsi, memperbaiki tata kelola sumber daya alam, menangkap siapa pun yang membocorkan anggaran negara, dan menangkap mafia hukum. Lima aspek ini yang akan jadi medan jihadnya, menjadi sasaran dari badik yang diacungkannya jika sejarah mencatat namanya sebagai pemimpin.

Saya membayangkan medan perjuangan Abraham yang terus bergeser. Dari demonstrasi jalanan, aktivis organisasi, hingga akhirnya menjadi Ketua KPK. Jika hidup ini menyimpan banyak misteri dan kejutan, maka bisa jadi Abraham masih memiliki medan pengabdian lain yang lebih besar. Semuanya akan tergantung pada apakah dirinya berhasil menciptakan momentum sejarah itu ataukah tidak.

Sejarah pernah mencatat kisah seorang tokoh anti-korupsi menjadi pemimpin bangsa. Di Cina, tokoh anti korupsi paling tenar Wang Qishan terpilih sebagai Wakil Presiden dan mendampingi Xi Jinping. Wang Qishan adalah kepala pengawas anti-korupsi yang meraih popularitas sehingga dipilih oleh parlemen. Medan perjuangannya berpindah ke sesuatu yang lebih besar.

Jika semesta memberi ruang, kelak kita akan mencatat nama Wang Qishan bukan yang terakhir. Abraham Samad akan menjadi nama baru yang dicatat sejarah. Semoga.


Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...

Google+ Badge