Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Membaca Perlawanan Politik dan Puitik




MENCARI buku bagus itu ibarat mencari berlian di tengah timbunan batu-batu. Dalam sekian kali pencarian, kita tak selalu menemukan buku bagus. Namun sekali bertemu, ada rasa puas yang susah digambarkan dalam kata. Hari ini saya menemukan buku bagus yang ditulis esais Mohammad Sobary, pernah jadi peneliti LIPI, pernah pula memimpin LKBN Antara. Buku ini digali dari disertasinya yang dibuat saat usianya sudah mencapai 60 tahun. Dugaan saya, ia mendedikasikan buku ini sebagai karya akademik yang menjadi puncak pencapaiannya.

Baru membaca sekilas, saya menemukan beberapa hal menarik dalam buku Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung.

Pertama, buku ini memosisikan para petani sebagai subyek yang harus didengarkan. Sungguh beda dengan membaca diskursus pemerintah tentang petani yang melihat mereka sebagai angka-angka statitik. Jujur, saya jenuh dengan tulisan tentang petani, yang tak menyertakan suara para petani. Sama jenuhnya saya dengan mengikuti diskusi kemiskinan di satu hotel mewah. Buku ini berbeda.

Kedua, buku ini membahas bagaimana respon dan perlawanan petani atas kebijakan pemerintah. Perlawanan itu tidak selalu dilakukan dengan aksi massa serta bakar-bakaran ala mahasiswa di kota-kota. Para petani menempuh cara yang sangat cerdik dan sistematis, melalui kharisma dan kepemimpinan, melalui pilihan strategi dan pergerakan, serta bagaimana menggunakan semua instrumen kultural untuk menyatakan sikap.

Yang membuat saya merinding adalah para petani menggunakan mantra-mantra yang memancarkan religio-magis yang mencekam, menggunakan berbagai simbol dan ritus dalam suasana kudus, melalui sesajen yang menghubungkan dunia ini dengan dunia sana. Para petani melawan dengan puisi-puisi yang sesekali dibacakan demi menghangatkan bara perlawanan. Mereka berperang dengan kidung dan aesthetic of art yang puitik.

Sepintas, buku ini mengikuti argumentasi ilmuwan politik James Scott dalam Weapons of the Weak, yang diterjemahkan dengan judul Senjatanya Orang Kalah. Namun setelah membaca sekilas, bukui ini menempuh pola berbeda. Di beberapa bagian ada refleksi atas pemikiran Scott dalam konteks Indonesia. Namun, harus diakui, gagasan Scott sangat kuat merasuki buku ini.

Ketiga, saya amat menyukai gaya penulisan buku ini yang sangat etnografis. Membaca buku ini serasa mengikuti kisah-kisah detektif yang seru, membumi, serta penuh kejutan. Saya seakan tidak membaca disertasi, melainkan mengikuti perjalanan para petani, meraskan denyut nadi dan detak jantung mereka, mengalami hasrat perlawanan akibat ruang hidup yang semakin sempit gara2 kebijakan pemerintah.

Di bagian akhir, ada pencerahan yang muncul. Bahwa para petani itu tidak sedang memperjuangan kepentingannya, tapi menginginkan perubahan substansial yang mengubah tatanan yang lebih berkeadilan. Duh, betapa bijak dan arifnya para petani kita, kearifan yang jarang kita temukan di kalangan kaum cerdik pandai di kota-kota.

Saatnya membaca.


Segera Terbit: Kerlip Cahaya di Perbatasan




SETAHUN silam, saya melatih 25 anak muda pemberani yang akan menjadi fasilitator di pulau-pulau terluar. Saya memberi latihan tentang dasar-dasar menulis, yang lebih ke arah pencatatan etnografi dalam tradisi riset ilmu sosial. Anak-anak muda ini bekerja di tepian tanah air, dan menyaksikan langsung halaman depan republik ini. Mereka melawan semua ketidaknyamanan demi hasrat petualangan dan penjelajahan, yang tak semua orang bisa melakukannya.

Sebelum berangkat, saya memberi mereka target untuk menulis artikel. Pekerjaan ini tak mudah bagi mereka, yang sebagian besar belum pernah menulis artikel. Saya meyakinkan mereka bahwa pekerjaan ini mudah dan bisa dilakukan. Saya cukup pede karena sebelumya pernah melatih warga desa di empat lokasi untuk membuat artikel tentang keseharian mereka. Lagian, anak-anak muda itu sudah lama mengenal media sosial. Jika mereka bisa buat status curhat di facebook, pasti mereka bisa menulis artikel. Pasti mereka bisa buat buku. Yang mereka butuhkan adalah motivasi kuat untuk bisa menghasilkan sesuatu.

Selama mereka di lapangan, saya menjadi provokator agar mereka menulis. Saya tak henti merawat motivasi mereka agar berani membuat catatan, seperti apapun bentuknya. Tak pernah bosan, saya membisikkan mantra Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama orang itu tidak menulis, ia akan tenggelam dari masyarakat dan dari sejarah. Menulis itu bekerja untuk keabadian.”

Saya pun menawarkan diri sebagai editor yang membantu mereka. Tak saya sangka, proses mengedit catatan itu menjadi proses belajar yang membahagiakan buat saya. Saya serasa bertamasya ke banyak lokasi. Betapa senangnya mengedit kisah-kisah petualangan di pulau terluar. Mulai dari perjalanan ke kampung-kampung di Pulau Enggano, perdagangan ilegal penyu di Pulau Sebatik, kehidupan di Pulau Maratua, hingga pengalaman mendebarkan saat berada di tengah pusaran konflik warga di Pulau Kolempon, Papua. Pada setiap catatan, saya menemukan pembelajaran berharga yang menebalkan kekaguman saya kepada mereka. Sebagai editor, saya banyak belajar pada mereka.

Serasa tak percaya saat melihat buku itu akan segera rampung dan akan diterbitkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Destructive Fishing Watch (DFW). Lebih tak percaya lagi saat melihat nama saya di sampul depan dari kerja-kerja hebat yang dilakukan oleh anak muda itu. Ah, bahagianya.



Bogor, 24 Juli 2016


Pokemon Go, Game, dan Kecerdasan Generasi Internet


DI layar televisi, saya menyaksikan debat antara seseorang yang meyebut dirinya pakar, dengan seorang presenter. Sang “pakar” beberapa kali menyebut bahaya Pokemon Go dan beberapa aplikasi game lainnya. Setelah menyimak wawancara itu, saya sangat yakin kalau sang “pakar” tak pernah merasakan nikmatnya bermain game. Tak mengejutkan jika ia berargumentasi, video game ataupun online game merusak generasi muda. Ia membandingkan dengan masa kecilnya yang tak pernah bermain game, lalu sukses dalam karier. Terhadap game, ia menyebutnya sebagai racun bagi kehidupan generasi baru. Benarkah?

Saya tak ingin membahas tentang Pokemon Go yang banyak dicurigai oleh pemerintah dan aparat. Saya melihat argumentasi mereka tentang game sebagai simbol dari adanya gap antar generasi. Hampir semua yang menolak game adalah generasi yang justru tak pernah merasakan nikmatnya bermain game. Generasi yang anti pada game ini kebanyakan generasi tua yang dibesarkan dengan nilai-nilai yang berbeda dengan generasi baru. Mereka yang disebut generasi baby boomer ini tumbuh dengan nilai bahwa yang tua selalu benar, nilai-nilai masa lalu selalu lebih unggul, pendidikan harus dibangun dengan disiplin ala tentara.

Yang sering kita saksikan adalah kegamangan generasi tua terhadap generasi baru. Generasi tua menjadi amat defensif saat berhadapan dengan sesuatu yang tidak mereka pahami. Mereka gagap dengan kehadiran berbagai perangkat baru, serta dunia digital yang begitu digilai anak-anak muda. Meskipun mereka mengatakan bahwa kehadiran banyak game, aplikasi, dan software dipandang menghadirkan kultur baru yang akan merusak pikiran, sesungguhnya mereka justru tak mengenal apa yang dikatakan tersebut.

Berbagai argumentasi dikeluarkan, yang kesemuanya bermuara pada ketidaktahuan, serta adanya anggapan yang menghujam dalam diri kalau nilai-nilai generasi lama lebih baik dari generasi hari ini. Kebanyakan kritik bersumber dari ketakutan, serta ketidakpahaman terhadap apa yang sedang terjadi, dan sejauh mana keasyikan hal-hal baru itu.

Pada tahun 2008, terbit sebuah buku berjudul The Dumbest Generation: How the Digital Age Stupefies Young Americans and Jeopardizes Our Future yang ditulis Mark Bauerlein, dan diterbitkan oleh Penguins, New York. Buku ini menarik sebab berisi gugatan pada nilai-nilai generasi masa kini yang dianggap lebih bodoh dari generas masa lalu. Buku ini sedemikian pesimis serta melihat ada banyak nilai yang bergeser dan semakin hilang pada generasi hari ini, milai dari disiplin, kepatuhan, serta semangat belajar.

Tak lama setelah buku ini terbit, berbagai respon bermunculan. Penulisnya Bauerlein dicecar dengan berbagai data terbaru yang menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan generasi sekarang lebih tinggi dari generasi lalu. Bahkan tingkat IQ pada siswa sekolah di Amerika Serikat menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dibanding generasi lama. Beberapa ahli lalu mengambil kesimpulan bahwa generasi baru memiliki kecerdasan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Makanya, berbagai inovasi dan kreativitas dimunculkan demi mengalirkan kecerdasan anak muda, yang di usia belia sudah menjadi miliuner, sebagaimana Mark Zuckerberg, pendiri Facebook.

Dalam buku Grown Up Digital, yang pertama kali terbit tahun 2009, penulis Don Tapscott membantah argumen tentang generasi masa kini yang dianggap lebih bodoh. Ia menampilkan banyak data dan riset tentang kecerdasan generasi kini yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Kata Tapscott, para net-gener, sebutan untuk generasi yang mengenal internet sejak kecil, menggunakan teknologi untuk menjadi lebih cerdas dibanding orangtuanya. Tumbuh dalam lingkungan digital, membuat generasi ini memiliki keterampilan mental, seperti kemampuan pemindaian dan berpindah-pindah dari tugas mental satu ke tugas mental lain dengan cepat.

beberapa sosok dalam game online

Kata Tapscott, generasi ini cepat merespon berbagai informasi yang masuk dengan cara-cara yang unik. Mereka berpikir dan mengolah informasi dengan cara berbeda. Mereka mengolah wawasan-wawasan baru, yang lalu membawa banyak implikasi pada sistem pendidikan, iklim bisnis, serta bagaimana mempengaruhi kebijakan. Makanya, yang harus dilakukan adalah memahami cara berpikir generasi ini, lalu mengembangkan sistem pendidikan yang lebih kondusif bagi siap kritis serta nalar mereka untuk tumbuh dengan cepat.

Dalam buku yang ditulis Tapscott, saya menemukan beberapa contoh menarik. Di antaranya adalah eksperimen yang dilakukan Green dan Bavalier terhadap para pemain game aksi seperti Warcraft, Crazy Taxi, Age of Empire. Mereka juga melakukan eksperimen pada generasi yang bukan pemain game. Tujuan eksperimen itu adalah membandingkan bagaimana kedua pihak merespon infromasi visual dalam pikirannya.

Hasil riset itu menunjukkan bahwa para pemain game jauh lebih cepat merespon informasi visual di pikirannya, ketimbang mereka yang tidak bermain game. Para pemain game jauh lebih banyak melihat berbagai target seperti bujur sangkar, lingkaran, wajik, limas, kerucut, yang ditampilkan di layar komputer. Para pemain game lebih cepat memproses semua informasi di pikirannya. Tadinya, Green dan Bavalier menganggap kemampuan para pemain game itu tumbuh secara alami. Ternyata tidak. Saat generasi tua itu dilatih dan bermain salah satu game aksi yakni Medal of Honor selama 10 hari, kemampuan visual mereka meningkat pesat.

Riset ini menarik sebab kemampuan mengolah data-data visual sangat berpengaruh pada keterampilan spasial, kemampuan memanipulasi obyek 3-D secara mental, yang sangat berguna bagi para arsitek atau perancang bangunan, pemahat, insinyur, pekerja desain interior, fashion designer, pembuat animasi dan kartun, para seniman, hingga para ahli matematika. Kemampuan memproses data visual adalah jantung bagi kesuksesan di beberapa bidang tersebut.

Riset lain membuktikan game interaktif sangat berguna dalam pelatihan dokter bedah. Tapscott mengangkat fakta tentang bedah laparoskopis, sebuah teknik invasif minimal dengan kamera dan alat-alat operasi yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui irisan kecil kira-kira satu sentimeter. Ahli bedah laparoskopis mengerjakan operasi bedah hanya dengan melihat citra yang berasal dari kamera internal yang sangat kecil. Dalam studi tahun 2004, para dokter muda yang terbiasa bermain game dan dilatih untuk mempelajari keterampilan bedah ini lebih cepat belajar, dan lebih sedikit melakukan kesalahan dibandingkan mereka yang tak pernah bermain game.

Di luar riset tadi, saya pun mengamati anak saya Ara yang berusia 5 tahun. Dalam sehari, anak ini bisa menghabiskan beberapa jam untuk bermian game. Ia melakukannya di luar aktivitas seperti bersekolah, bersepeda, dan bermain dengan rekan sebayanya. Yang mengejutkan saya, ia dengan cepat belajar bahasa Inggris, dan menguasai begitu banyak kosa kata yang tidak pernah saya ajarkan sebelumnya. Saat kami berkunjung ke satu tempat hiburan, ia sangat familiar dengan peta visual yang dibagikan. Ia dengan cepat membuat keputusan ke mana saja kami haris berkunjung.

Dalam usia semuda itu, ia sudah bisa memahami situasi, serta membuat prioritas tindakan yang harus dilakukan. Dalam situasi tertentu, ia memberikan nasihat serta pilihan-pilihan yang harus diambil. Kelihatannya ini sepele. Tapi saya sering bertemu dengan para pekerja kantoran yang justru tak bisa memahami situasi, serta membuat keputusan apa yang harus dilakukan. Saya banyak melihat orang yang mentalnya adalah tipe pekerja yang harus diberikan petintah apa yang harus dilakukan, tanpa kemampuan membaca situasi lalu menyusun prioritas di tengah berbagai pilihan. Hanya satu penjelasan atas kemampuan Ara. Ia sering bermain game, terbiasa berada pada satu situasi penuh tantangan, lalu membuat keputusan strategis.

salah satu game online

Saya teringat pada Prof Vilbert Cambridge, yang pernah mengajari saya di kelas Communication and Development di kampus Ohio. Dalam beberapa kali pertemuan, ia menunjukkan sejumlah game komputer yang diajarkanya kepada anak-anak di beberapa negara berkembang. Salah satu game itu adalah situasi di tengah desa Afrika di mana beberapa anak harus mengambil air di tengah gurun. Anak-anak itu harus melewati sejumlah tantangan untuk menuju sumber air itu. “Sepintas ini permainan, tapi sesungguhnya ini adalah pelajaran besar bagi anak-anak untuk mengenali situasi di sekitarnya, lalu membuat banyak keputusan strategis. Anak-anak zaman sekarang belajar dengan cara yang berbeda dengan generasi saya,” kata Cambridge.

***

SAYA tak akan berpanjang lebar membahas fenomena game. Saya hanya ingin mengatakan bahwa ada banyak norma dan nilai yang bisa diserap pada generasi baru yang seharusnya menjadi inspirasi bagi kita untuk mengubah pendidikan, cara belajar, iklim bisnis, serta cara kita memahami sesuatu. Mengutip Tapscott, generasi ini baik-baik saja.

Mereka belajar sambil bermain game dan terkoneksi internet. Mereka menyukai kecepatan, anti pada rutinitas, menginginkan kebebasan, dan membuat sesuatu sesuai selera (kustomisasi). Mereka membawa mentalitas bermain dalam pekerjaan, lalu membuat pekerjaan itu menjadi fantastis. Tak heran jika perusahaan raksasa Google membangun kantor yang atmosfernya seperti ruang bermain. Di situ ada banyak camilan, sofa-sofa untuk berbaring, serta ruangan yang didesain warna-warni sehingga menampilkan kesan santai, yang jauh dari kesan serius sebuah kantor. Bahkan karyawan diijinkan untuk membuat proyek pribadi, yang dalam banyak kasus, justru kelak menjadi tambang uang bagi perusahaan itu.

salah satu sudut di kantor Google

Dunia memang telah banyak berubah. Melalui game, aplikasi, dan software, telah lahir satu generasi multi-tasking yang bisa mengerjakan banyak tugas saat bersamaan. Mereka dengan cepat memindai artikel di internet, lalu memperkaya informasi itu dengan informasi lain.

Saya mengakui ada juga generasi baru ini yang menggugah konten porno, mengambil informasi dari internet demi plagiasi, lalu menyebar bully dan meme yang sering mendiskreditkan orang lain. Pada tahap ini, pengawasan orang tua dan sekolah sangat penting untuk mengalirkan energi kreatif itu ke arah sesuatu yang positif. Pengawasannya bukan dengan gaya generasi tua yang menghardik dan memaksakan sesuatu. Pengawasan itu harus dengan cara yang kreatif dan menyenangkan, nilai-nilai yang dijadikan patokan dalam mengisi aktivitasnya hari demi hari.

Semoga kita selalu belajar dan menyerap semua pengetahuan.


Bogor, 23 Juli 2016

BACA JUGA:




Terjerat Informasi Medsos dan Media Abal-Abal


 


SALAH satu fenomena media sosial di Indonesia adalah kemunculan banyak pakar dadakan. Saat kinerja ekonomi Jakarta dibahas, semuanya jadi pakar ekonomi. Tiba-tiba saja semua paham istilah2 seperti penyerapan anggaran dan pengawasan kinerja. Saat ada isu reshuffle kabinet, semua orang jadi pakar politik. Semuanya jadi jago membahas tentang perimbangan kekuatan, serta membahas lemahnya kekuasaan eksekutif.

Dari mana sumber informasinya? Dari media abal-abal dan satu atau dua paragraf yang disebar melalui Whatsapp.

Nah, saat ada peristiwa kudeta di negara lain, semua menjadi pakar politik internasional. Tiba-tiba saja negeri itu menjadi lebih familiar dari negeri sendiri. Seolah apa yang terjadi di sana telah lama diprediksi sebab perkembangan politik di sana telah lama diamati. Seolah telah lama membaca segala hal tentang ngeri itu, lalu lupa kalau pengetahuannya sebatas sinetron negeri itu yang pernah ramai di sini.

Dari mana sumber informasinya? Dari media abal-abal dan satu atau dua paragraf yang disebar melalui Whatsapp.

Di satu grup, beberapa orang rajin membagikan informasi tentang kehebatan Mr X, pemimpin di negeri seberang itu, serta pujian dari negara lain. Biasanya, saya tanya balik, apa ada sumber informasi resmi dari media besar berbahasa asing yang bisa membantu kita memahami apa yang terjadi? Seperti biasa, tak ada jawaban. Aneh saja, di abad informasi, tak banyak yang menunjukkan rujukan informasi, serta sumber kutipan, yang memungkinkan kita untuk dapat informasi dari tangan pertama. Lebih sulit lagi menemukan orang yang merekomendasikan buku2 dan bahan bacaan.

Mungkin, inilah fenomena di republik medsos. Tak perlu memperkaya informasi. Tak perlu melakukan cross-check informasi dan menahan diri hingga ada kejelasan. Cukup membaca informasi yang disebar secara massif, ikut-ikut resah dengan apa yang terjadi di dunia lain, lalu menyebar segala informasi tentang peristiwa itu. Ada yang mengutuk, ada yang memuji dan berharap hal serupa terjadi sini. Padahal dalam setiap perubahan, satu korban itu terlampau banyak dan sudah cukup untuk melukai nurani kemanusiaan kita. Besok informasi itu akan tenggelam lagi. Saat ada topik atau isu lain yang lebih hangat dan lebih seksi, para netizen akan menjadi pakar soal isu itu.

Tahu sumbernya dari mana? Dari media abal-abal dan satu atau dua paragraf informasi yang disebar melalui Whatsapp.

Eh, ngomong-ngomong, apa kalian tahu kalau mahasiswa Papua di Yogyakarta menerima perlakukan kejam dari aparat dan masyarakat sana? Ah, pasti kalian tahunya cuma apa yang terjadi di kejauhan sana.


Bogor, 17 Juli 2016


INDONESIA TIMUR, Eksotika, dan Catatan yang Terserak

sampul buku

INDONESIA timur ibarat sebentang peta yang masih belum dikenali serta menantang untuk dijelajahi. Setiap orang bisa menjelajah lalu menambahkan berbagai informasi pada sebidang peta tersebut. Tak sekadar informasi tentang semesta indah yang dahulu pernah memikat para penjelajah Eropa yang datang untuk mencari rempah-rempah. Tapi juga kisah tentang flora dan fauna yang masih alami dan misterius bagi para petualang.

Bagi para mahasiswa pencinta alam Silvagama di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Indonesia Timur serupa berlian yang ditemukan seusai menyelam dalam samudera kekayaan flora dan fauna. Saya sangat menikmati ketakjuban mereka saat menelusuri lima taman nasional di Indonesia Timur, sebagaimana dicatat dalam buku Cerita dari Timur: Catatan Perjalanan Ekspedisi Taman Nasional, yang diterbitkan Gadjah Mada University Press, tahun 2016.

Apakah gerangan kisah menarik yang ditemukan di kawasan timur itu?

***

“Tuhan menciptakan Timor untuk kayu cendana, Banda untuk Pala, serta Maluku untuk cengkih. Barang-barang ini tak ada di tempat lain di dunia kecuali di tempat tadi.”

Kalimat itu diungkapkan oleh Tome Pires dalam buku Summa Oriental, yang terbit tahun 1511. Pires sedang mengungkapkan kekagumannya atas berbagai komoditas di timur Nusantara yang memikat bangsa Eropa hingga berbondong-bondong ke tanah itu. Sebelum bangsa Eropa, bangsa Cina lebih dahulu datang, dan merahasiakan rute ke tanah itu.

Perjalanan menemukan timur adalah perjalanan menemukan kejayaan. Didorong hasrat kapitalisme Eropa yang layatnya tengah naik, para penjelajah berdatangan ke timur. Kabar yang muncul dari timur dipenuhi kabar tentang eksotisme, serta betapa banyaknya sumberdaya. Kabar ini lalu membius para pemilik kongsi dagang, yang datang atas nama negara, lalu berusaha mencaplok wilayah itu demi menguasai semua sumberdaya.

Kolonialisme juga memiliki dampak lain yang tak melulu soal ketamakan dan akumulasi kapital. Kolonialisme juga menyimpan kisah tentang mekarnya ilmu pengetahuan di tanah jajahan, yang lalu menyebar ke dunia sana. Itu terlihat dari kedatangan ilmuwan Alfred Russel Wallace yang mencatat semua flora dan fauna, membuat klasifikasi, lalu menentukan garis sebagai pembeda. Dari tanah Ternate, Wallace mengirim surat kepada muridnya Charles Darwin yang berisi catatan ekspedisinya. Siapa sangka, "Letter from Ternate" itulah yang menginspirasi Darwin untuk melahirkan teori evolusi yang masyhur itu.

Di abad kekinian, perjalanan Wallace ke timur itu telah menginspirasi banyak kalangan. Baru-baru ini, para mahasiswa yang tergabung dalam Silvagama, organissi pencinta alam di Fakultas Kehutanan UGM, melakukan perjalanan ke lima taman nasional di timur yakni Taman Nasional Aketajawe-Lolobata (Halmahera), Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (Maros, Sulawesi Selatan), Taman Nasional Wasur (Merauke, Papua), dan Taman Nasional Lore-Lindu (Sulawesi Tengah).

Dalam buku Cerita dari Timur, para mahasiswa ini mencatat kenangan, menuliskan penjelajahan serta pengalaman, lalu memberikan catatan kritis tentang kondisi taman nasional itu. Catatan mereka tak hanya merangkum keindahan dan keanekaragaman, tapi juga beberapa kebiasaan yang justru bisa mengancam taman nasional itu di masa mendatang.


Sebagai buku yang merangkum ekspedisi, buku ini memuat narasi perjalanan, deskripsi berbagai taman nasional beserta flora dan fauna, juga merangkum foto-foto tentang keadaan di lokasi. Melalui narasi dan gambar, kita seolah berkunjung ke taman nasional itu lalu menyaksikan jantung dari berbagai keping kenyataan di situ.

Di Halmahera, saya menemukan catatan tentang Sofifi, ibukota Maluku Utara yang sepi sebab penduduk lebih suka tinggal di Ternate. Tak jauh dari situ terdapat Taman Nasional Aketajawe-Lolobata yang dipenuhi berbagai jenis burung-burung yang tak ditemukan di tempat lain. Birdlife International, lembaga yang fokus pada pengamatan burung, mencatat terdapat 11 daerah penting bagi burung di taman nasional ini.

Sebagaimana halnya Wallace yang terpesona dengan tempat itu, para mahasiswa juga terpesona dengan keanekaragaman burung yang hanya ada di kawasan timur. Di antara banyak burung itu, terdapat jenis burung bidadari halmahera (semioptera wallaci). Para mahasiswa itu memanjat pohon, lalu merekam aktivitas burung itu. Mereka serasa menemukan mutiara sebab burung ini terbilang misterius. Walaupun sudah dicatat oleh Wallace, belum pernah ada yang merekam jejaknya secara utuh. Tak ada yang bsia memastikan di mana burung ini bersarang dan siklus hidupnya.

Di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan, para mahasiswa itu memantau berbagai jenis kupu-kupu. Tak hanya itu, mereka juga menelusuri gua bawah tanah, dan menemukan sungai-sungai di dalamnya. Mereka menelisik kolong, celah-celah di bumi yang bisa disusuri, demi menemukan indanya pemandangan di gua-gua bawah tanah. Saya menemukan catatan menarik saat mereka membahas tentang vandalisme atau aksi corat-coret yang dilakukan di gua-gua di bukit karst. Nampaknya, tak semua penjelajah punya wawasan ekologis yang baik. Ada saja orang yang mengotori kawasan yang indah itu.

Hal lain yang juga cukup miris adalah banyaknya warga yang menangkap kupu-upu untuk dijadikan souvenir. Saya menyaksikan di sekitar Bantimurung, banyak warga yang menjadikan kupu-kupu itu sebagai hiasan dinding juga dimasukkan dalam plastik lalu menjadi gantungan kunci. Kenyataan ini cukup miris mengingat bahwa kupu-kupu memiliki hak hidup serta berkembang dihabitatnya. Harusnya dia dibiarkan terbang bebas di alam Bantimurung yang sedemikian menawan.

Catatan yang paling saya sukai adalah perjalanan di Taman Nasional Wasur di Merauke, Papua. Saya beruntung sebab pernah melintasi taman nasional ini dalam perjalanan menuju perbatasan Indonesia dan Papua New Guinea setahun silam. Saya sangat familiar dengan deskripsi yang ada dalam catatan ini. Saya juga menyukai informasi tentang flora, serta budaya setempat. Misalnya tentang nilai-nilai, pantangan saat berburu, serta sanksi. Ada pula informasi tentang cara-cara masyarakat berburu dan deskripsi hewan apa saja yang ada di taman nasional itu.

Yang membuat saya menyukai tulisan tentang perjalanan di Merauke ini adalah adanya deskripsi yang cukup lengkap tentang bagaimana kehidupan masyaraat setempat yang berinteraksi dengan hewan dan tumbuhan di taman nasional itu. Saya mendapat informasi baru tentang sejumlah aturan adat dalam perburuan rusa, misalnya hanya boleh berburu saat musim kering sebab saat musim hujan, rusa itu akan berkembang biak. Selanjutnya, hanya boleh memanah yang jantan, sebab yang betina akan dibiarkan untuk bereproduksi. Ada pula berbagai sanksi adat bagi yang melanggar.

Sayangnya, nilai-nilai dalam perburuan itu mulai bergeser disebabkan oleh uang serta tingginya permintaan daging. Beberapa hewan di taman nasional itu seperti kanguru, kasuari, dan walabi, kian terancam hidupnya disebabkan para pemburu selalu mencari mereka. Para mahasiswa itu mencatat pergeseran tradisi berburu, yang dahulu hanya untuk memenuhi kebutuhan subsisten, menjadi perbruan komersial.

Di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah, para mahasiswa itu banyak mencatat kehidupan etnis Kaili. Mereka juga menulis ekosistem Danau Lindu, beserta satwa-satwa eksotik di situ. Sebagaimana dicatat Wallace, Sulawesi adalah kawasan ekologis yang unik. Jenis flora dan faunanya punya karakteristik berbeda dengan kawasan lain. Makanya, perjalanan di Danau Lindu menjadi perjalanan yang menyenangkan sebab bisa menyaksikan keunikan danau, serta hamparan perkebunan kopi yang dibangun masyarakatnya.

***

BAGI saya, buku ini membuka mata menjadi lebih jernih tentang betapa kayanya kawasan timur. Saya berharap agar lanju mdoernisasi dan pembangunan tidak menggerus kekayaan alam itu sehingga kelak masih bisa diwariskan ke anak cucu. Catatan dalam buku ini menjadi alarm kalau terdapat banyak hal yang berubah, dan dibutuhkan kesadaran untuk melanjutkan adegan konservasi di kawasan itu.

Dikarenakan dibuat oleh mahasiswa pencinta alam, saya bisa memahami kalau buku ini tidak begitu kritis. Padahal, perubahan ekologis yang terjadi berupa semakin berkurangnya habitat hewan disebabkan oleh banyak, dan yang paling dominan bukanlah penduduk, melainkan masuknya korporas tambang dan kayu yang memosisikan hutan sebagai sesuatu yang bisa dikapling lalu dibagi-bagi. Beberapa studi tentang Lore Lindu pernah dibuat oleh para antropolog, di antaranya adalah Greg Accioli, George Aditjondro, Celia Loew, Peluso, dan beberpaa peneliti lainnya. Terakhir, saya membaca tulisan Claudia D'Andrea yang membahas dinamika dan perlawanan warga lokal atas kehadiran pihak korporasi kopi berlabel internasional di Lindu.


Di Merauke, Papua, saya menemukan informasi dalam buku ini yang mengesankan seolah-olah warga Marind-Anim yang berburu lalu menangkap satwa demi diambil dagingnya. Mungkin, mereka memang pelakunya. Tapi saya sangat yakin kalau posisi warga lokal hanya sebagai kaki-tangan dari kuasa modal yang selama beberapa tahun ini menggerus tanah Papua. Selama berada di taman nasonal itu, saya menemukan banyak kisah pilu tentang konversi hutan menjadi lahan persawahan, yang lalu dikelola oleh petani yang didatangkan dari Jawa. Pemerintahan Jokowi-JK hendak menciptakan lahan sejuta hektar di Merauke melalui tangan petani dari luar. Para penduduk lokal hanya menjadi penonton dari orkestrasi kapitalisme yang terus-menerus menyempitkan lahan, menghanurkan ruang hidup bagi tanaman dan hewan, hingga akhirnya mempersempit ruang bagi penduduk lokal.

Demikian pula di Bantimurung, Sulawesi Selatan. Harusnya para mahasiswa itu tak hanya fokus pada aksi vandalisme, tetapi juga fokus pada bagaimana korporasi semen telah mengebir kawasan karst itu, membuat lubang yang amat besar, yang jika dilihat dari atas, nampak beberapa bukit mulai rata dengan tanah. Kehadiran pabrik semen bisa mengancam ekosistem,

Yang bisa diperkuat dari buku ini adalah: (1) analisis yang tajam dalam melihat dinamika dan relasi antara aktor lokal, aktor nasional, korporasi, serta negara yang menyebabkan ekosistem di taman nasional itu terancam, (2) bagaimana membangun advokasi dan pengarus-utamaan agenda-agenda konservasi melalui upaya meningkatkan kesadaran kritis bagi warga lokal. Warga harus digugah kesadarannya untuk mengenali peta permasalahan yang terjadi di sekitarnya. Tugas dari semua intelektual itu tak hanya membuat deskripsi, tapi harus menyentil kesadaran masyarakat untuk mempertanyakan banyak hal, sebagai upaya untuk menjaga kelestarian alam dan ekosistem di kawasan taman nasional.

Nampaknya bukan cuma mahasiswa yang seharusnya menyandang tugas ini. Ini adalah tugas sejarah bagi semua pihak untuk menjadikan pengetahuan sebagai senjata yang menjaga lingkungan dari tangan pendekar berwatak jahat. Ini adalah tugas kita semua. Iya khan?



Bogor, 15 Juli 2016

BACA JUGA:







Lima Profesor yang Mencerahkan Media Sosial

ilustrasi


MEDIA sosial itu ibarat kerumunan manusia dengan berbagai latar belakang. Anda bisa memilih berteman dengan siapa saja. Mulai dari tukang sate, penghina presiden yang kini berurusan dengan polisi karena kasus penculikan anak, bisa pula berteman dengan seorang pemaki yang suka menyebut nama binatang, bisa pula bersahabat dengan seseorang yang setiap kalimatnya memancarkan energi negatif. Anda berhak untuk berteman atau berselancar di gelombang yang sama dengan mereka.

Saya sendiri akan menghapus siapapun yang memancarkan energi negatif. Kalaupun saya mengenal kawan itu, cukuplah berteman di dunia nyata saja. Saya memilih untuk bersahabat dan rajin mengikuti postingan mereka yang selalu memancarkan energi positif, mencerahkan media sosial dengan ide-ide baru, serta setia berinteraksi dan belajar bersama yang lain. Di antara sedikit orang itu, saya setia mengikuti postingan beberapa profesor yang mencerahkan.

Para profesor ini memosisikan dirinya sama dengan netizen lain, membagikan informasi yang diketahuinya, lalu berdiskusi dan berinteraksi dengan siapapun. Mereka menjadi cahaya yang membuat media sosial penuh gagasan-gagasan. Setiap kali membuka akun media sosial, saya tak sabar untuk melahap gagasan mereka, menyerap ilmu langsung dari mereka, lalu memperkaya pengetahuan saya tentang sesuatu.

Dikarenakan latar belakang saya ilmu sosial yang sesekali membaca buku ekonomi politik dan budaya, serta religi, saya mencatat ada lima orang profesor yang paling saya sukai postingannya. Inilah mereka yang mencerahkan itu.

Pertama, Ariel Heryanto. Beliau adalah satu dari sedikit ilmuwan sosial Indonesia yang punya nama di panggung internasional. Di jagad ilmu sosial budaya, tak ada yang meragukan reputasinya. Beliau adalah profesor di Australian National University. Saya mengoleksi beberapa buku yang ditulis olehnya. Selain buku berjudul Pop Culture in Indonesia, saya juga membaca bukunya yang berjudul Identitas dan Kenikmatan. Saya menyukai analisanya yang kritis saat mengamati budaya populer di tanah air.

Di dunia facebook, Ariel amat rajin berbagi informasi. Ia kerap membagikan kliping koran yang isinya dokumentasi tentang beberapa hal pada masa Orde Baru. Mungkin ia berniat untuk mengingatkan orang-orang agar tidak mudah melupakan apa yang terjadi. Saya sendiri menyukai postingan atau komentarnya tentang satu peristiwa. Ia sangat kritis saat membahas peristiwa 1965. Namun ia tidak asal ngomong, sebagaimana tentara Kivlan Zen. Ariel meladeni semua tantangan berdialog. Ia menulis banyak publikasi, serta memiliki dokumentasi yang memadai tentang peristiwa itu.

Sebagai pengkaji cultural studies, ia banyak fokus mengamati hal-hal sepele yang berseliweran di media sosial, lalu membagikan opininya. Saat heboh tentang Fadli Zon yang menggunakan fasilitas negara untuk mengantar anaknya di New York, ia menulis postingan yang menanggapi itu. Katanya: Ini bukan kasus unik atau tunggal. Ini sebuah tradisi panjang. Negaranya boleh jadi menanggung hutang berat. Anggaran negara serba mepet. Tetapi para pejabat tinggi negara itu super-kaya untuk ukuran dunia. Dan walau sudah kaya masih terus-menerus mencoba memeras dan menjarah sebisa-bisanya harta negara MUMPUNG ada kesempatan.

Ia juga pernah memosting daftar peringkat universitas di Asia, bagaimana persepsi kita tentang Cina, serta posisi negara yang hegemonik. Yang paling saya sukai dari semua postingannya adalah gaya bahasanya yang membumi, mudah dipahami siapa saja, serta tetap kritis mengamati semua fenomena. Bagi saya, Ariel adalah sosok cendekiawan yang paling saya sukai di media sosial. Saya mengidolakannya, sejak kuliah hingga kini.

Kedua, Nadirsyah Husen. Sebagaimana Ariel yang berkarier di luar negeri, Nadirsyah adalah pengajar di Monash University. Beliau adalah pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di Australia. Di facebook, ia biasa memosting bidang kajian yang selama ini ditekuninya yakni Islamic Studies. Dia rajin menulis artikel pendek yang lalu dibagikannya secara gratis. Setiap kali ia memosting sesuatu, artikelnya akan di-share kembali oleh ratusan hingga ribuan orang. Dia mencerahkan media sosial.

Yang saya sukai dari Nadirsyah adalah pemikirannya yang sangat menghargai tradisi. Dia adalah ulama NU yang bisa menyerap makna di setiap ritual keagamaan, lalu menyajikannya kembali dalam analisis yang mencerahkan. Jangan mengira dia seorang liberal yang tak bisa mengaji. Dirinya tipikal alumnus pondok pesantren yang menguasai ilmu-ilmu Islam, lalu membumikannya dalam cara-cara memahami satu persoalan. Dia seorang radisionalis, sekaligus modernis. Dia menghormati tradisi tapi tidak kehilangan hasrat untuk mengkaji Islam secara modern.

Beberapa kali saya membagikan postingannya yang mencerahkan. Hari ini, saya menyukai dan membagikan apa yang ditulisnya. Inilah postingannya:

Tidak cukup memahami Islam sebagai doktrin
Saat saya menjelaskan proses panjang sejarah kodifikasi al-Qur'an, sejumlah pihak banyak yang kaget. Mereka tahunya hanya produk akhir berupa mushaf al-Qur'an yang sekarang kita pegang. Mereka tidak menyangka bahwa tanda baca, pembagian 30 juz, bahkan ilustrasi di pinggiran mushaf itu tidak ada di jaman Nabi Muhammad SAW.
Begitu juga ketika saya menjelaskan perbedaan tanda berhenti di sebuah potongan ayat akan melahirkan perbedaan pandangan ulama, sebagian menuduh saya mengada-ngada bahkan ada yang menyebut saya professor tolol atau kiai sesat. Saya terpaksa mencantumkan teks asli dari berbagai kitab tafsir klasik kepada mereka untuk membuktikan bahwa perdebatan itu sudah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Sejarah perdebatan dan perkembangan pemikiran keislaman dari mulai di jaman Nabi, sahabat, khilafah, sampai sekarang amat menarik untuk ditelusuri.
Di lain kesempatan saya mengulas mengenai sejarah agama di dunia, bahwa sebelum Islam datang, agama Nasrani memiliki sejarah yang amat panjang termasuk konflik saat pemilhan Paus. Agama apapun, apakah itu Islam, Budha atau Nasrani memiliki sejarah yang begitu asyik untuk dipelajari sehingga kita akan paham dinamika internal mereka. Bahkan ekspresi keberagamaan yang diwujudkan dalam bentuk seni baik berupa lukisan, tarian atau bahkan masakan yang berbeda semuanya merupakan elemen penting untuk memahami peradaban dunia. Islam adalah bagian dari peradaban dunia, maka mempelajari dunia adalah hal penting untuk memahami Islam.
Selain pentingnya memahami agama dari sudut sejarah, kita juga akan terpesona melihat agama dari perpektif sosial. Misalnya tutup kepala baik untuk lelaki atau perempuan di masing-masing agama itu berbeda-beda. Lihat saja dari mulai sorban di arab, sampai bentuk kopiah yang berbeda di Turki, Mesir dan Indonesia. Atau bagaimana lebaran di tanah air identik dengan ketupat, mudik dan saling maaf-memaafkan yang berbeda dengan di jazirah Arab.
Lihatlah bagaimana sebagian kalangan marah-marah ketika saya tunjukkan fenomena sosial sebagian permaisuri dan tokoh perempuan Arab yang tidak berhijab syar'i atau foto sebagian syekh yang bersalaman dengan perempuan. Mereka menganggap saya menyebarkan pemahaman yang sesat, padahal saya sedang menunjukkan bagaimana Islam dipraktekkan secara berbeda-beda dalam tataran sosial kemasyarakatan. Saya tidak sedang membahas teks keagamaan, tapi kenyataan sosial. Ini bukan masalah benar atau salah, tapi bagaimana di Arab sekalipun ada fenomena sosial yang sangat dinamis dan menarik untuk kita pelajari.
Memahami agama dalam perspektif politik juga amat menarik. Bagaimana kita harus membaca dengan kritis hadis-hadis yang diriwayatkan setelah masa konflik di era Khalifah Utsman, Ali dan Muawiyah. Karena sejak dulu sampai sekarang bagi para politisi tidak ada cara kampanye yang paling efektif selain mencari justifikasi ayat dan hadis, bukan?! Sebagai contoh dari dulu sampai sekarang akan ada pihak yang berdebat mengenai kesahihan maupun kepalsuan riwayat: "jikalau engkau melihat Muawiyah berdiri di mimbarku, bunuhlah ia!" Sekali lagi, politisasi agama terjadi sejak dulu. Inilah yang harus kita pahami untuk menelaah konflik sunni-syi'ah dalam perspektif politik.
Begitulah, beragam perspektif yang amat dinamis dalam memahami teks keagamaan baik di pesantren, madrasah maupun perguruan tinggi Islam. Cara kita mengkaji Islam menjadi warna-warni. Ini berbeda dengan pola pengajaran di halaqah dan majelis ta'lim yang mengajarkan Islam lewat doktrin semata. Islam dipahami hanya dalam dua bentuk saja: surga atau neraka; sunnah atau bid'ah; benar atau salah; pahala atau dosa; Muslim atau kafir; sah atau batal; dan halal atau haram.
Di luar itu bagi mereka tidak ada pembahasan dari sudut sejarah, budaya, sosial ataupun politik. Maka terkaget-kagetlah sebagian saudara kita itu melihat berbagai perspektif berbeda yang ditawarkan para kiai, cendekiawan maupun budayawan. Mereka kena penyakit kagetan, terus marah-marah dan akhirnya mencaci maki. Sudah tak ada ilmu, tak pula mereka menjaga adab.
Islam yang dipahami sebagai doktrin semata akan terasa kering dari berbagai disiplin ilmu. Islam yang melulu diajarkan dalam bentuk doktrin akan terasa tajam menghakimi yang lain. Sebagai contoh, perdebatan apakah bumi ini bulat atau datar, Islam doktrin akan buru-buru merujuk pada terjemahan ayat Qur'an untuk mengatakan bumi itu datar. Islam dalam perpsektif kajian ilmu akan berkonsultasi dengan para saintis terlebuh dahulu, dan bekal info dari para saintis itulah yang akan membawa perspektif baru dalam memahami ayat Qur'an seputar ini.
Begitu juga soal air yang suci dan menyucikan. Islam doktrin akan mengatakan selama air itu dua kullah maka dianggap suci untuk berwudhu. Secara doktrin fiqh ini memang sah, namun apakah air dua kullah itu secara medis/klinis tidak mengandung bakteri atau kuman? Di sinilah kita perlu perspektif baru mengenai air yang bersih dan layak untuk dikonsumsi. Sah secara fiqh dan bersih secara medis/klinis.
Semoga kita bisa terus belajar dan tidak hanya berhenti di doktrin, tapi terus melengkapi kajian Islam dengan berbagai perspektif ilmu yang sangat kaya dan dinamis. Generasi santri modern adalah mereka yang bisa mengkaji ayat quraniyah dan ayat kauniyah sekaligus. Kita menunggu terus bermunculan para pakar yang menguasai berbagai bidang ilmu keislaman dan ilmu umum agar wawasan kita menjadi luas. Insya Allah!
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Ketiga, Yudi Latif. Beliau adalah alumnus Australian National University (ANU). Saya mengoleksi disertasinya yang diterbitkan Mizan dengan judul Inteligensia, Muslim, dan Kuasa. Dia membahas genealogi para intelektual Muslim yang pernah mewarnai sejarah di tanah air. Setahu saya, Yudi adalah salah satu intelektual yang sangat produktif. Buku yang dibuatnya banyak dan tebal-tebal. Terakhir, saya membeli dua buku tebal yang ditulisnya mengenai Pancasila. Buku pertama berjudul Negara Paripurna. Buku kedua berjudul Mata Air Keteladanan.

Di media sosial, Yudi punya dua akun, yakni Yudi Latif, satunya lagi adalah Yudi Latif Dua. Saya menyukai yang kedua. Dia suka memosting segala hal. Tak hanya pemikiran dan cetusan-cetusan gagasan, ia juga membagikan foto-foto bersama keluarganya. Melalui foto perjalanan itu, terlihat dia suka berkunjung ke berbagai tempat eksotik di Indonesia. Malah terakhir, saya melihatnya berdoa di makam Bung Karno.

Saya menyukai postingannya tentangisu-isu kebangsaan dan nasionalisme. Tapi saya jauh lebih suka saat dirinya memosting puisi dan kalimat inspiatif. Saya menemukan sisi lain Yudi Latif, yang berbeda dengan apa yang tersaji dalam tulisan-tulisannya. Ternyata beliau suka menulis dengan kalimat yang menyejukkan. Lihat saja postingannya saat memberi ucapan selamat idul fitri Ia menulis: “Teman-teman yg budiman. Selamat Idul Fitri. Semoga awan mendung kembali jernih disiram hujan berkah dari langit, diteruskan akar ke sungai yg mengalirkannya ke hilir terjauh. Mohon maaf lahir dan batin! Salam, Yudi Latif dan keluarga.”

Tak hanya memberi ucapan selamat, ia juga menulis artikel agak panjang tentang Idul Fitri. Berikut apa yang dituliskannya:

Saudaraku, ibarat embun yang terperangkap di daun lusuh, kepulangan kita ke Idul Fitri kali ini melahirkan situasi ”kesucian” yang riskan. Pribadi-pribadi boleh saja terlahir kembali bak embun suci, tetapi relung kehidupan negara tempat mereka bertahan adalah ruang yang cemar. Menjelang penampakan hilal, langit suci diuapi kekotoran bumi, dari onggokan sampah kebiadaban terorisme, korupsi penegak hukum dan pencucian uang, hingga kematian warga akibat kelalaian pelayanan publik. Saat gema takbir berkumandang, kehidupan seperti roller coaster yang berjumpalitan antara optimisme dan pesimisme. Antara fajar fitrah yang meneguhkan sikap hidup yang positif dan kegelapan bumi yang menebar bayangan hidup yang negatif. Dalam situasi demikian, kesucian Idul Fitri bukanlah sesuatu yang harus diterima begitu saja. Kita tidak cukup menjadi suci (secara pribadi), tetapi yang lebih penting bagaimana kesucian itu bisa dipakai untuk menyucikan (negara). Seperti kata Aristoteles, ”Manusia baik belum tentu menjadi warga negara yang baik. Manusia baik hanya bisa menjadi warga negara yang baik bilamana negaranya juga baik. Sebab, di dalam negara yang buruk, manusia yang baik bisa saja menjadi warga negara yang buruk”. Inilah saatnya, kebaikan pribadi harus memiliki komitmen untuk memperkuat etika sosial. Gairah keagamaan tidak berhenti pada narsisme simboliknya, melainkan pada penguatan misi profetiknya dalam memperjuangkan kemaslahatan hidup bersama. Dengan hati suci yang bertaut dengan gelombang kesucian kolektif, semoga bumi kehidupan dapat disucikan kembali! (Yudi Latif, Makrifat Pagi)

Keempat, Rhenald Kasali. Beliau adalah profesor bidang manajemen di Universitas Indonesia (UI). Beliau sangat aktif di media sosial. Tak hanya twitter, beliau aktif di facebook melalui postingan singkat serta artikel blog yang mencerahkan. Saya melahap hampir semua apa yang dtuliskannya. Sebagai orang yang bukan berlatar ekonomi, saya snagat terbantu dengan apa yang ditulisnya. Saya belajar memahami sedikit demi sedikit bagaimana manajemen, serta kiprah para manajer hebat. Hebatnya, Rhenald suka juga memberikan sentuhan sejarah dan sosial budaya dalam semua tulisantulisannya.

Kekuatan Rhenald adalah bisa merespon semua isu yang tengah hangat dengan amat cepat. Saat lagi heboh tentang demo sopir taksi, Rhenald lalu menulis tentang sharing economy atau ekonomi berbagi. Ia bisa memperkenalkan banyak wcaana baru dengan bahasa yang membumi dan bisa dipahami siapa saja. Saat heboh tentang Fadli Zon meminta fasilitas di KJRI New York, ia menulis artikel panjang yang bercerita mengenai tantangan yang diberikan kepada mahasiswanya agar keluar negeri tanpa diantar siapapun. Sebab ketika mahasiswa itu tersesat, ia sesungguhnya sedang belajar dan menemukan banyak pengetahuan baru. Ia mengatakan:

Mungkin kita semua sepakat, anak-anak yang pintar di sekolah belum tentu pintar dalam kehidupan.
Sayangnya banyak orang tua yang masih berpikir, kalau anaknya juara kelas, pintar di sekolah, pasti akan pintar menjalani hidup.
Untuk itulah sering kita lihat orang tua yang amat protektif, membuat anak merasa sudah belajar walau itu hanya di sekolah. Sedangkan perjalanannya menuju sekolah, pergaulannnya, kebiasaannya mengambil keputusan dalam keadaan sulit, selalu disterilisasi orangtua.Apalagi bila orang tua punya kuasa, banyak koneksi, punya uang, maka semua itu akan distrerilisasi lebih luas lagi. Padahal yang membentuk orang tuanya hari ini sukses sudah jelas: orangtua mereka tak seprotektif mereka.


Postingan Rhenald selalu menginspirasi. Ia menekankan kemandirian dan keberanian untuk memilih perubahan. Tema perubahan memang sudah lama ditekuninya, sejak menulis buku Change. Perubahan yang diinginkannya adalah perubahan dalam diri yang kemudian berimbas pada perubahan dunia sekitar. Mustahil ada perubahan, tanpa mengubah mindset dalam memahami dunia sekitar.

Melalui media sosial, saya juga menemukan sisi lain Rhenald. Ia mendirikan Rumah Perubahan sebagai wadah untuk mengaktualkan berbagai ide-idenya. Baru saya tahu kalau ia punya kegiatan mentoring bagi anak-anak muda selama dua tahun. Anak muda itu dilatih untuk  memiliki mindset yang terbuka dan mental yang tangguh. Output-nya, akan ada kontribusi positif dan nyata dari mereka selaku agent of the change untuk melakukan perubahan-perubahan positif bagi bangsa.

Ia juga membuka kelas menulis, piknik edukatif bagi keluarga, serta berbagai kegiatan kreatif lainnya. Ini belum lagi ditambah dengan kegiatannya yang menjadi konsultan banya perusahaan, serta publikasi karya-karyanya sehingga ide-ide perubahan yang digulirkannya bisa tersebar ke mana-mana. Rhenald adalah tipikal intelektual yang membumikan gagasan-gagasannya melalui banyak kaki. Dia layak menjadi panutan.

Kelima, Mochtar Pabottingi. Beliau adalah profesor riset bidang ilmu politik di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Reputasinya sangat mentereng sebagai alumnus program doktoral di satu perguruan tinggi di Amerika Serikat. Ia sangat produktif dalam hal menulis artikel yang isinya adalah analisis politik. Penguasaan teorinya sangat baik.

Di mata saya, Mochtar adalah tipe intelektual yang berbicara blak-blakan. Ia bukan tipe intelektual yang hobinya menyenangkan penguasa dan kaum pemodal. Ia menyampaikan idenya secara lugas dan terbuka. Kalimat-kalimatnya jernih serta ditopang logika yang kuat. Dia juga seorang penulis puisi yang produktif. Dalam dirinya, saya menemukan kobinasi akademisi yang taat asas saat menyampaikan argumentasi, serta seorang seniman yang lentur dalam membengkokkan kata.

Di media sosial, postingannya bernas. Ia tak ragu-ragu mengkritik Jokowi – JK saat keduanya dianggap hendak melemahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia juga mengkritik pemikiran banyak orang yang seolah-olah anti pada segala hal mengenai Cina. Bagi Mochtar Pabottingi, Cina adalah suku bangsa yang membentuk Indonesia, serta punya banyak warisan penting di Indonesia, di antaranya adalah agama Islam yang pernah diperkenalkan Laksamana Cheng Ho di beberapa daerah. Menolak segala hal mengenai Cina adalah menolak identitas Indonesia yang selama sekian tahun telah melebur dalam tradisi dan budaya.

Saya melihat postingan Mochtar Pabottingi selalu diniatkan untuk mencerahkan pikiran-pikiran sengkarut di media sosial. Sayangnya, belakangan ini ia jarang memosting sesuatu. Terakhir saya membaca postingannya tentang kegiatannya di bulan Ramadhan yang sedang mengedit tulisan terjemahan yang akan diterbitkan sebagai buku. Bayangkan, dalam usia setua itu, ia masih mendedikasikan dirinya untuk hal-hal yang akan menjadi fundasi pengetahuan bagi anak bangsa.

***

DI artkel ini, saya hanya menyajikan lima profesor. Sejatinya, ada banyak intelektual yang mencerahkan media sosial dengan gagasan-gagasannya. Mereka menunjukkan jalan di saat banyak orang tersesat dan terjebak dalam histeria penilaian yang seringkali tak adil terhadap sesamanya. Para profesor ini menghadirkan wacana lain. Dengan gayanya masing-masing, mereka menyentil cara berpikir para netizen yang suka rame-rame saat menanggapi sesuatu, serta mudah terjebak dalam pola berpikir yang seragam.

Kehadiran mereka dan sejumlah sosok menginspirasi lainnya, telah menghadirkan wacana baru. Saya berpikir, daripada menghabiskan energi untuk membaca postingan mereka yang suka memfitnah atau menghasut sesamanya, jauh lebih baik kalau saya mengikuti tulisan mereka yang mencerahkan, punya kapasitas baik, serta bersih dari berbagai kepentingan politik. Pada para intelektual seperti mereka, saya belajar banyak hal baru, dan menjadikan media sosial sebagai wadah untuk menyerap makna-makna yang penting untuk memperkaya pengalaman kehidupan.

Membaca postingan mereka ibarat mengikuti perkuliahan yang dikemas dalam bahasa yang egaliter. Tanpa sadar, saya telah belajar banyak hal baru hanya dengan membaca postingan mereka. Media sosial tak hanya mempertemukan saya dengan banyak sahabat yang menginspirasi, tapi juga mempertemukan dengan para intelektual yang jauh dari kesan angkuh, para akademisi yang membumi dan rela duduk sejajar untuk berdiskusi dengan siapa saja, serta para guru yang memosisikan dirinya sama dengan siapapun di media sosial. Bersama mereka, kita sedang belajar dan berinteraksi dalam jejaring luas yang memungkinkan kita untuk saling menyerap pengetahuan.

Bogor, 12 Juli 2016

BACA JUGA:



Kiat agar Tidak Jadi "Kambing Congek" di Era Internet

Blur yang ditulis Bill Kovach dan Rosensteil (sumber: Balairungpress)

RAMADHAN memang telah berlalu. Seharusnya bulan suci itu meninggalkan jejak berupa hati yang bersih dari prasangka dan fitnah. Di media sosial, jejak-jejak Ramadhan seakan hilang tersaput angin. Banyak yang kembali pada kebiasaan sebelumnya yakni menebar kebencian, prasangka, dan fitnah.

Tak adil juga menyalahkan orang per orang. Di era ini, berbagai informasi berseliweran sehingga orang-orang kesulitan untuk mengetahui mana yang fakta dan mana yang bukan. Jangankan orang biasa, para doktor pun bisa dengan mudahnya tersulut amarah saat membaca postingan berisi kebencian lalu membagikannya. Padahal, postingan itu dimuat dalam situs abal-abal, dibuat seorang lulusan sekolah dasar, yang tujuannya adalah mendapatkan banyak klik, lalu dijual ke pengiklan

Bagaimanakah kiat-kiat agar tidak terjebak dalam berbagai settingan informasi dan berbagai provokasi agar membenci yang lain? Berikut, beberapa kiat yang sebagian di antaranya saya kutip dari penjelasan Bill Kovach dan Tom Rosentiel dalam buku Blur, How to Know What’s True in the Age of Information Overload. Buku ini telah diterjemahkan dan terbit tahun 2012 lalu.

***

SUATU hari saya bertemu Husain Abdullah. Beliau adalah juru bicara Wakil Presiden Jusuf Kalla. Husain mengajak saya untuk ngopi-ngopi di Phoenam, satu kedai kopi yang tersohor di kalangan orang Makassar di Jakarta. Kami membahas berbagai dinamika informasi yang berkembang belakangan ini.

Husain bercerita tentang banyaknya akun anonim di berbagai situs social blog yang isinya adalah pemutarbalikan fakta. Polanya adalah menuturkan sesuatu seolah-olah itu adalah inside story yang lengkap alurnya, serta siapa-siapa yang bermain di belakang setiap peristiwa. Narasinya membahas orang per orang, serta kepentingan, yang lalu mengeruk keuntungan untuk kepentingan pribadi. Sepintas, tulisan-tulisan itu membuka apa yang tersembunyi di panggung politik. Padahal, isinya sangat jauh dari fakta. Isinya berisikan syak-wasangka yang dikemas dalam bentuk artikel investigasi, lalu dibumbui dengan tudingan-tudingan.

Husain pantas resah. Pada saat itu, ada beberapa tulisan yang membahas tentang berbagai tudingan terhadap Jusuf Kalla, yang dibuat dengan gaya reportase. Artikel itu dibuat oleh orang-orang yang memakai nama alias atau samaran. Gaya menulisnya seplah berada di satu lokasi kejadian, dan menyaksikan bagaimana transaksi dana serta aliran uang yang tujuannya untuk suap. “Tulisan itu seolah-olah pengamatan lapangan yang disertai beberapa data. Padahal, semuanya adalah fitnah. Tak ada ruang untuk mengklarifikasinya, sebab akun itu pakai nama samaran,” katanya.

Salah satu contoh yang mudah diamati adalah munculnya berbagai berita tentang sebab-sebab meninggalnya Husni Kamil Manik. Di berbagai kanal, muncul berita seolah-olah meninggalnya beliau disebabkan adanya intrik dari elite politik. Ada saja orang yang mempercaya dan menyebarkannya, lalu mengabaikan keterangan resmi dari dokter, komentar pihak keluarga, dan berbagai sumber penting lainnya. Terlanjur menganggap ada settingan, maka semuanya lalu dianggap settingan, bahkan meninggalnya seseorang pun tetap saja dianggap settingan.

Dahulu, arena untuk menyampaikan informasi rahasia dalam politik adalah melalui surat kaleng. Selanjutnya, ada juga yang menggunakan pamflet dan selebaran. Di akhir kekuasaan Soeharto, para aktivis menyebarkan pamflet dan berbagai publikasi kritis melalui jalur bawah tanah, maksudnya bukan jalur resmi yang dikehendaki pemerintah. Pada masa itu, yang hendak disebarkan adalah fakta-fakta yang tak banyak diungkap ke publik. Terdapat ebberapa aktivis dan intelektual yang memilih risiko dipenjarakan daripada ikut dalam lautan massa yang bungkam.

Seiring dengan era internet, serta arus informasi yang kian menyebar, dinamikanya mulai berubah. Hampir semua politisi dan kelompok kepentingan menjalin relasi dengan para spin doctors, yakni orang-orang yang bisa mempengaruhi opini atau wacana di media massa demi menaikkan citra seseorang, atau menjatuhkan citra kelompok lain. Rekayasa informasi dipandang sebagai sesuatu yang wajib demi mengendalikan arus wacana. Persoalannya, rekayasa informasi itu seringkali dibuat dengan cara menyusun narasi yang tak berbasis fakta.

Parahnya, ada banyak orang yang mudah saja menerima semua informasi yang berseliweran di sekitarnya, tanpa mengeceknya lebih jauh. Di media sosial, banyak orang yang dengan mudahnya diprovokasi dengan berita-berita dari berbagai situs abal-abal, lalu kehilangan daya kritis untuk mempertanyakan semua informasi itu. Publik mudah tersihir dengan berita seolah-olah inside story, setelah itu ikut menjadi clicking monkey, para penyebar informasi fitnah melalui berbagai kanal media sosial.

Fenomena ini mengingatkan pada tulisan seorang ilmuwan sosial yang mengatakan bahwa orang hanya ingin melihat apa yang ingin dilihatnya. Maksudnya, saat seseorang terlanjur punya prasangka, maka dia hanya akan melihat hal-hal sesuai dengan prasangka sebelumnya. Biarpun banyak sumber kredibel menyatakan fakta itu keliru, ia tidak akan memercayainya. Tapi ketika satu fakta dari sumber abal-abal menyatakan dirinya benar, ia akan langsung menyebarkannya, tanpa mengeceknya lagi.

ilustrasi

Yang saya amati, rekayasa informasi itu selalu mengandalkan dua pola: (1) menggunakan media abal-abal yang mudah dibentuk di ranah online, (2) menggunakan serial informasi di twitter dan facebook. Di dua pola ini, kita akan menemukan informasi yang dikemas seolah-olah investigasi, seringkali dibumbui kalimat bombastis yang mudah membuat publik percaya.

Di dua kanal ini, para spin doctors dan cyber army bekerja dengan cara membobardir informasi, menghasur publik agar me-like lalu men-share informasi, tanpa mengecek mana fakta dan fiksi dalam informasi tersebut. Di dua kanal ini, posisi publik adalah pasif dan aktif sekaligus. Mereka menerima informasi yang kebetulan bersesuaian dengan prasangkanya, lalu menyebarkannya ke mana-mana, tanpa sikap kritis.

Sebenarnya, fenomena banjir dan rekayasa informasi ini bukanlah hal yang baru. Pada tahun 2001, mahaguru para jurnalis, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, telah menulis buku berjudul Blur: How to Know What’s True in the Age of Information Overload. Buku ini berisikan bagaimana seharusnya bersikap di era banjir informasi. Kovach tidak sedang menulis panduan untuk para jurnalis. Kovach menjelaskan bagaimana keriuhan informasi di era digital, yang kemudian diplintir oleh para spin doctors. Ia menyasar publik, yang disebutnya tidak lagi menjadi konsumen berita, namun juga sebagai produser yang juga menyebarkan informasi. Yang perlu diwaspadai adalah pihak-pihak yang hendak memanipulasi kebenaran demi kepentingan kelompok tertentu.

Kata Kovach, fenomena banjir informasi ini bukanlah sesuatu yang baru. Sejak munculnya era komunikasi, manusia terbiasa berhadapan dengan berbagai informasi. Seiring dengan perubahan lanskap sosial dan politik, berubah pula cara-cara manusia memahami dan brinteraksi dengan informasi. Perubahan pola komunikasi itu berjalan seriing dengan perubahan pola kepemimpinan, mulai dari pemimpin spiritual ke pemimpin suku, pemimpin suku ke raja, munculnya negara-kota, serta otoritas negara. Informasi juga mengalir mengikuti otoritas, hingga era sekarang yang memungkinkan informasi bisa mengalir dari berbagai sisi.

Masih kata mahaguru jurnalistik dari Harvard University ini, terdapat sejumlah tips bagi warga untuk “diet informasi” dengan cara menggunakan pola pikir skeptis (skeptical knowing) langkah demi langkah. Pertama, kenali setiap jenis konten yang dihadapi. Kedua, kita harus memeriksa kelengkapan laporan media. Ketiga, kita harus menilai otoritas dan kualifikasi sumber. Keempat, kita harus menilai fakta dengan membedakan antara mengamati dan memahami, kesimpulan dan bukti, serta bagaimana berinteraksi dengan fakta. Kelima, lakukan evaluasi terus-meneru terhadap setiap informasi.

Penuturan Kovach ini memang agak jlimet. Pada intinya, ia mengatakan bahwa ebagai konsumen, kita harus berpikir kritis. Saat membaca informasi, kita harus mencari apa yang lebih, serta bisa membuat kita percaya bahwa informasi itu akurat. Terhadap banyak informasi, kita harus meninggalkan cara berpikir lama yang seolah-olah media hendak mengatakan “percayalah apa yang saya katakan.” Kita harus menggantinya dnegan cara berpikir yang melihat semua liputan dengan pertanyaan, “Apa yang harus membuat saya percaya? Tunjukkanlah bukti-bukti kuat biar saya yakin.”

Setiap orang harus menjadi editor yang mempertanyakan semua informasi. Di sini terletak daya kritis dan kemampuan analitik. Jika seseorang punya daya kritis itu, ia tidak akan mudah diseret-seret oleh berbagai informasi yang menyebar di berbagai kanal media sosial. Namun jika orang tersebut tak menggunakan akalnya, semua informasi yang masuk akan langsung dipercayainya.

Di Indonesia, ada banyak perkembangan menarik terkait kebiasaan membaca. Yang saya lihat, orang-orang suka menyebar informasi, tanpa mengecek apakah itu hoax ataukah fakta. Secara praktis, saya merekomendasikan beberapa kiat agar tidak menjadi obyek penderita di era internet.

Pertama, jangan mudah terpaku pada judul yang heboh. Pada beberapa media, judul-judul heboh dan bombastis berguna untuk membuat audince tertarik dan mengklik. Biasanya, judul itu diawali dengan kata “astaga”, “luar biasa”, “wow”, dan berbagai kata-kata lain. Malah, saya sering menemukan judul yang diawali kata “masyallah”. Judul-judul ini sengaja diibuat untuk menciptakan suasana heboh, dan memaksa orang untuk membacanya.

Kedua, perhatikan media yang memberitakannya. Saat anda melihat judul heboh, jangan langsung klik. Perhatikan, media manakah yang memuatnya. Kalau medianya sejenis puyengan.com, analisahebat.com, atau beberapa media berlabel agama yang belum pernah anda dengar, sebaiknya jangan langsung klik. Sekali satu media menyebar informasi yang tidak akurat, masukkan list media itu dalam daftar media yang membodohi dan tidak layak baca.

Dibanding media abal-abal itu, lebih baik percaya pada media resmi. Sebab media resmi memiliki disiplin verifikasi dan standar jurnalistik yang sudah lama dibangun. Sering ada yang bertanya, bagaimana dengan kepentingan pemilik modal di media resmi itu? Boleh jadi ada kepentngan. Tapi yakinlah, jantung utama bisnis media adalah kredibilitas. Bisnis ini punya investasi besar. Seorang pemilik modal yang mencampuri kepentingan pemberitaan bisa berdampak pada turunnya kredibilitas media, yang akan berujung pada lesunya iklim bisnis. Jika ini terjadi, maka triliunan uang yang keluar akan percuma. Bisnis media akan bangkrut dan gulung tikar. Pemilik media yang bijak, tak mungkin mencampuri berita untuk memuji-muji dirinya sebab akan bermuara pada kemuakan publik yang membuat medianya ditinggalkan.

Keempat, kalaupun anda terpaksa meng-klik, perhatikan sumber-sumber beritanya. Kalau sumber berita adalah sumber yang otoritatif, berarti itu pernyataan resmi. Dalam kasus kriminal, sumber resmi adalah polisi. Dalam berita korupsi, sumber resmi adalah pihak KPK atau penegak hukum. Tapi kalau sumber yang anda baca adalah seorang penggiat organisasi massa, maka ragukanlah informasinya. Ragukan pula informasi tentang korupsi, yang disampaikan oleh seorang pengamat korupsi. Dalam banyak kasus, para pengamat seringkali menjalankan pesanan tertentu dari sejumlah pemodal.

Kelima, perhatikan keberimbangan. Saat media memuat satu sumber tertentu, periksa apakah ada pernyataan resmi dari sumber lain yang berseberengan. Mengapa? Sebagai pembaca, posisi kita serupa hakim yang akan menimbang-nimbang benar tidaknya sesuatu. Tanpa keseimbangan informasi, kita tak akan mendapat gambaran utuh terhadap satu kejadian. Artinya, jika informasi tak seimbang, berarti liputan itu tidak netral.

ilustrasi

Keenam, bedakan antara fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dan disaksikan oleh jurnalis. Sementara opini adalah himpunan kesan atas peristiwa itu. Media yang kredibel akan banyak menyajikan fakta sebab pembaca bisa mendapatkan informasi dari tangan pertama. Media yang tidak kredibel akan menyajikan parade opini yang boleh jadi bertujuan untuk menggiring persepsi pembaca sehingga bersepakat dengan agenda isu yang dilancarkan.

Ketujuh, jangan langsung percaya apa yang disajikan media. Lakukan crosscheck dengan media lain. Dalam riset, ini disebut triangulasi. Lakukanlah cross-check dengan liputan media lain. Kalau banyak yang memuatnya, maka informasi itu boleh jadi valid. Mengapa? Sebab informasi adalah denyut nadi media massa. Ketinggalan satu informasi penting adalah aib bagi media itu. Makanya, setiap berita heboh, pastilah akan dimuat banyak media.


***

KIAT ini hanya sepenggal. Masih banyak yang bisa didiskusikan. Intinya, kembangkan cara berpikir skeptis saat membaca media. Seperti kata Kovach, pertanyakan setiap informasi. Buat pertanyaan dalam diri, apa nilai lebih yang membuat anda percaya liputan itu, apakah kekuatan informasi itu, serta siapa yang diuntungkan dan akan dirugikan dari penyebaran informasi itu. Jika anda hendak menyebarkannya, yakinkan diri anda bahwa informasi itu benar dan berguna bagi publik.

Sebab jika informasi itu sesat, maka anda akan jadi penyebar fitnah. Jika informasi itu tidak benar, anda akan jadi kambing congek yang mau-mau saja dibodohi semua orang demi agenda-agenda terkait rekayasa informasi. Jauhkan segala prasangka terhadap seseorang atak kelompok tertentu yang kerap menjadi sasaran dari media abal-abal itu. Hadirkan sikap kritis, bahwa di balik setiap pahlawan, pasti ada celah yang menunjukkan dia manusia biasa. Dan di balik seseorang yang dituduh sebagai penjahat, pasti ada sisi baik yang memanusiakan dirinya. Melalui keseimbangan itulah, kita bisa melihat kehidupan sebagai arena yang sangat dinamis.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.



Bogor, 11 Juli 2016

BACA JUGA:




Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...