Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

TerAWAN yang Melangkah di AWAN


Jika Presiden Jokowi mendapat julukan “Man of Contradiction” dari seorang jurnalis, maka sebutan paling pas untuk Terawan Agus Putranto adalah “Man of Controversy.” Sejak berkarier hingga menjabat menteri lalu diganti, dia tak henti membuat kontroversi di ranah kesehatan.

Marilah kita runut satu per satu. Sebelum menjadi menteri, semasa menjadi direktur di RSPAD, dia pernah berselisih dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) terkait metode penyembuhan stroke melalui brain wash yang dijalankannya di RSPAD.

Metode itu dianggap para dokter tidak sesuai prosedur. Namun bagi Terawan dan juga pasien-pasiennya, apa artinya prosedur ketimbang menyelamatkan nyawa banyak orang. Faktanya, hingga kini tak ada kabar tentang korban berjatuhan gara-gara mencoba metode “cuci otak” yang dipraktikkannya. 

Dia malah makin terkenal karena banyak pejabat negara, pesohor yang mendapat layanannya dan merasa mendapat kehidupan kedua. Tak jelas benar apakah metodenya itu membahayakan ataukah menyelamatkan.

Setelah menjadi menteri, dia tetap kontroversial. Publik tidak lupa dengan sikap denial-nya saat Covid pertama menghadang. Dengan santainya, dia berucap “Nanti juga sembuh sendiri” yang kemudian menjadi meme dan viral. Dia tidak memberikan mitigasi dan pencegahan dan mengira virus itu serupa flu yang bisa datang dan pergi. 

Dia pun menolak untuk tampil di media sampai-sampai seorang presenter terkenal mewawancarai kursi kosong yang sedianya ditempati Terawan. Meski dia dipermalukan dalam talkshow yang disebut banyak kalangan sebagai babak baru jurnalisme, meski dianggap sebagai biang kerok dari Covid yang kian menyebar, Terawan tetap melenggang hingga akhirnya diganti di tengah jalan. 

Mentalnya memang petarung. Dia membuktikan kalau dia tidak akan pernah tumbang. Dia juga tidak bertransformasi menjadi nyinyier sebagaimana menteri lain yang pernah menjabat selama satu periode. Dia tetap menjadi sosok yang datang dengan ide-ide hendak bikin apa, bukan mengenang masa lalu dan kritik sana sini.

Dia menawarkan secercah harapan kalau dirinya akan menemukan vaksin yang diyakini lebih efektif dalam melawan virus. Banyak cemooh dan kritik, tetapi banyak pula yang antre untuk menjadi relawan. Dia mengklaim memproduksi vaksin nusantara, yang tadinya disebut-sebut sebagai karya anak bangsa. Belakangan ketahuan kalau metode itu malah datang dari negeri Paman Sam.

Namun, publik lebih percaya reputasi ketimbang kontroversi. Banyak pesohor, mulai dari Aburizal Bakrie, Sudi Silalahi, hingga Dahlan Iskan siap menjadi relawan untuk menguji keampuhannya. Mereka percaya 100 persen kalau Terawan punya pengobatan yang andal.

Saat Vaksin Nusantara itu ditentang beberapa lembaga pemilik otoritas, banyak orang siap badan. Bahkan wakil rakyat yang terhormat, termasuk anggota komisi yang sering berinteraksi dengan Menteri Kesehatan, juga mendukung Terawan.

Di lihat dari sisi komunikasi, Terawan jelas di atas awan. Dia berbicara dengan sederhana dan dipahami publik. Dia memakai retorika nasionalisme. Dia juga didukung influencer hebat sekelas Dahlan Iskan, termasuk para anggota DPR. Semua memberikan testimoni dan endorsement yang menguatkan Terawan.

Sementara Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berbicara dengan kalimat yang rumit dan sukar dipahami publik. Lembaga ini mempersoalkan prosedur, tata cara riset, dan tetek-bengek menyangkut metodologi. Pembelaan dari organisasi IDI juga tidak menolong. Pihak IDI berbicara seolah semua orang akan memahaminya.

Di lihat dari sisi ini, langkah Terawan semakin tidak terbendung. Dia tahu cara merebut hati publik, juga memaksimalkan mereka yang merasa nyawanya pernah ditolong. Dia didukung influencer sehebat Dahlan Iskan yang membagikan banyak informasi positif tentangnya. Suara publik terkesan memihak Terawan.

Selain itu, banyak informasi berseliweran yang beraroma nasionalisme. Banyak teori konspirasi mengenai lalu-lintas perdagangan vaksin yang dikuasai segelintir perusahaan besar, yang seakan sengaja memiliki setting agar membuat dunia tergantung. Saat ada upaya kemandirian yang didorong anak bangsa, segera akan dihambat oleh korporasi besar yang didukung tangan negara.

Namun, apakah manfaat dari debat ini bagi publik? Nothing. Perdebatan ini tidak mencerahkan. Yang terjadi adalah risiko besar yang dihadapi ketika tidak ada petunjuk yang jelas apakah vaksin “made in Terawan” bisa membahayakan ataukah tidak.

Sejak dulu, problem besar di kalangan otoritas kesehatan adalah lemahnya komunikasi untuk menjangkau publik dengan menyampaikan informasi yang benar dan sahih. Kementerian Kesehatan kurang tegas memberikan penilaian sehingga publik dalam situasi yang kebingungan.

Harusnya, Kementerian Kesehatan membuat semacam “clearing house” atau rumah yang membetulkan semua kesalahan, lalu menjelaskan informasi dengan jernih sehingga publik memiliki panduan yang jelas.

Saya teringat artikel sosiolog Ignas Kleden mengenai perbedaan antara relevansi intelektual dan relevansi sosial. Relevansi intelektual adalah saat satu teori diterima kebenarannya oleh komunitas ilmiah. Sedangkan relevansi sosial adalah saat satu teori diterima oleh masyarakat, meskipun teori itu lemah secara metodologis.

Kata Ignas, ada saat di mana satu teori yang benar secara intelektual bisa ditolak secara sosial. Contohnya adalah pandangan Socrates yang ditentang manusia di zamannya. Namun, ada pula saat di mana teori yang salah secara intelektual, namun bisa diterima masyarakat pada zaman itu sehingga dianggap sebagai kebenaran.

Dalam konteks ini, terlepas dari banyaknya cacar akademis dari metode Terawan sebagaimana diungkap banyak pakar, masyarakatnya bisa menganggapnya benar apalagi jika didukung para key person dan juga politisi.

Sikap anti-sains ini bisa membawa risiko besar di masa mendatang. Saat tidak ada pengujian secara ilmiah pada satu produk, lalu digunakan secara massal, kelak bisa muncul banyak dampak bagi masyarakat. 

Namun, apakah metode Terawan membahayakan? Mengacu pada terapi brain wash yang dilakukannya, hingga kini tak ada juga laporan tentang dampak atau bahaya. Padahal sejak awal IDI menentangnya. Malah yang muncul adalah testimoni mereka yang tertolong oleh metode itu. Bahkan Terawan menjadikannya disertasi doktoral di Universitas Hasanuddin

Jika demikian soalnya, kita bisa mengatakan, di negeri ini, proses ilmiah dan proses politik sering tumpang tindih. Para politisi bisa saja mengakui sesuatu yang salah sebagai sesuatu yang benar sebab didorong oleh kepentingan. Di sisi lain, para intelektual sering tidak tuntas meneliti sesuatu sebab keburu dipengaruhi prasangka. Lagi-lagi didorong kepentingan.

Jangan heran jika Terawan akan semakin melangkah di awan.



Marketing 5.0, Phygital, dan Kisah Homo Deus

ilustrasi


Di satu kota Amerika Serikat, seorang bapak terheran-heran saat brosur dari perusahaan bernama Target tiba di rumahnya. Brosur itu ditujukan untuk anak perempuannya. Isinya adalah informasi mengenai produk bagi perempuan hamil.

Bapak itu keberatan karena anaknya seakan dituduh sedang hamil. Dia mendatangi Target dan melayangkan protes keras. Pihak Target lalu menunjukkan bagaimana data-data yang dikumpulkan.

Target telah lama membangun algoritma yang memprediksi perempuan hamil melalui postingan dan barang-barang yang dibeli. Pihak Target menganalisis big data dan memprediksi siapa saja yang sedang hamil, lalu mengirimkan kupon, dan brosur mengenai potongan harga.

BACA: Rahasia Ilmu Marketing di Sekitar Kita

Bapak itu tak bisa berkata-kata. Hingga akhirnya, anak perempuannya mengakui kalau dirinya memang hamil. 

Kasus ini menunjukkan betapa jitunya prediksi dari satu perusahaan tentang siapa yang akan jadi target pasarnya. Di abad ini, pemasaran telah lama bergeser, bukan lagi kegiatan menjajakan produk dari rumah ke rumah, tetapi sudah memanfaatkan big data, serta miliaran informasi di internet.

Tugas-tugas pemasaran tidak lagi hanya bertumpu pada pemasar tetapi mulai mengandalkan teknologi sebab daur hidup manusia lebih banyak berada di ruang-ruang maya. Bukan lagi gerak menuju digital, melainkan telah berada di dalam digital.


Mahaguru marketing Philip Kottler bersama Hermawan Kertajaya merekam semua dinamika itu dalam buku terbaru yakni Marketing 5.0: Technology for Humanity. Buku yang telah lama dinantikan oleh para praktisi pemasaran.

Saya sangat tertarik saat membaca lima trend yang menjadi dasar kelahiran buku ini. 

Pertama, munculnya generasi digital savvy. Generasi ini sering disebut milenial dan Gen Z. Mereka meramaikan wacana, menentukan arah baru di dunia kerja, serta mengubah lanskap komunikasi di abad ini. Generasi yang disebut Net Gen oleh Don Tapscott ini mewarnai dunia dengan caranya sendiri, sehingga mau tak mau semua orang dan semua perusahaan harus pandai berselancar di abad yang baru.

Kedua, gaya hidup Phygital semakin berkembang. Phygtal adalah singkatan dari Physical dan Digital. Di era ini, interaksi tidak lagi fisik, tetapi lebih banyak digital. Hampir semua kegiatan, mulai dari belanja, ngobrol, rapat, seminar, perkuliahan, hingga diskusi dilakukan melalui daring. 

Interaksi fisik semakin berkurang, apalagi sejak masa pandemi. Kita berhubungan dengan orang lain bukan lagi melalui pertemuan fisik, tetapi melalui avatar atau profile picture yang kita pilih di ruang digital. 

Ketiga, dilema digitalisasi. Kian massifnya penetrasi ruang digital dalam kehidupan kita menimbulkan banyak kekhawatiran. Ada banyak pekerjaan yang akan hilang. Ada banyak kecakapan baru yang dibutuhkan. Selain itu, ada kekhawatiran tentang keamanan dan ruang privasi yang kian terancam di era digital.

Keempat, makin sempurnanya perangkat teknologi. Berkat Google yang menyediakan platform gratis atau rumah bagi beragam aplikasi, setiap hari kita menyaksikan berbagai aplikasi yang memudahkan kehidupan manusia. Banyak bermunculan perusahaan baru yang menawarkan teknologi baru. Kita lihat makin cepatnya internet, cloud computing, big data, dan munculnya banyak software. 

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligence, dan Kediktatoran Digital

Penggunaan teknologi juga semakin luas. Bahkan para nelayan pun bisa memanfaatkan fish-finder atau aplikasi yang menentukan posisi ikan melalui satelit. Petani juga bisa menggunakan peta satelit untuk melihat kesuburan lahan, kalender tanam, serta penggunaan drone untuk penyiraman lahan.

Kelima, munculnya simbiosis antara manusia dan mesin. Kolaborasi manusia dan mesin telah menjadi penanda abad ini. Mesin membantu manusia untuk menganalisis semua data dan memberi rekomendasi banyak kebijakan ekonomi baru. 

Manusia punya logika dan kearifan (wisdom), tetapi mesin bisa meniru logical thinking manusia melalui sistem algoritma. Manusia punya kemampuan kontekstual, tetapi mesin  bekerja dengan pola terstruktur dan sistematis. Manusia bisa berpikir out of the box saat mesin menyodorkan sejumlah opsi dan pilihan. 

Saya teringat dengan konsep Homo Deus dari Yuval Noah Harari. Dalam bukunya yang menawarkan distopia, Yuval memprediksi, pada titik tertentu, mesin-mesin akan diimplan ke dalam tubuh manusia sehingga memunculkan satu spesies manusia baru yang adaptif dan bertahan lama.

BACA: Membaca Marketing 4.0

Teknologi medis membuat umur manusia lebih panjang, algoritma membuat manusia menentukan keputusan yang tepat dalam bisnis dan politik, serta artificial intelligent (kecerdasan buatan) akan menjadi DNA dari peradaban baru. 

Hari ini, prediksi Yuval mulai terasa kebenarannya. Lihat saja perkembangan teknologi yang kian meniru fisik manusia, atau sering disebut human-inspired bionics. Kemampuan berpikir dikembangkan menjadi artificial intelligent (kecerdasan buatan). Kemampuan berkomunikasi lalu dikembangkan menjadi Natural Language Processing (NLP). 

Kemampuan panca-indra dikembangkan menjadi teknologi sensor yang ditanamkan ke robot dan radar. Bahkan kemampuan manusia berimajinasi telah melahirkan augmented reality atau realitas virtual. 

Siapa sangka, di era ini, kita seakan hidup di era virtual ketika semua bentuk komunikasi dan interaksi berlangsung di ruang maya. Hari ini, kita berada dalam semesta baru yakni Internet of Thing (IoT) di mana data menjadi sumber energi baru yang menentukan semua strategi manusia.

Nah, dalam konteks inilah kita melihat relevansi dari Marketing 5.0. Pendekatan pemasaran harus bisa berselancar di tengah gelombang teknologi dan interaksi manusia dalam ruang maya. 

Pemasaran bukan lagi pendekatan yang langsung terjun ke pasar dan berinteraksi dengan orang-orang, tetapi bagaimana mengolah dan memanfaatkan data serta berselancar di ruang teknologi untuk menjalin relasi seluas-luasnya dan menerima manfaat sebesar-besarnya.



Bagi Philip Kottler dan Hermawan Kartajaya, pemasaran adalah sesuatu yang terus bergerak mengikuti dinamika zaman. Di era 1.0. produk dipasarkan dari rumah ke rumah (product oriented). Di era 2.0, orientasi pemasar pada pelanggan (customer oriented) sehingga relasi untuk pemasaran dibangun. 

Di era 3.0, relasi yang dibangun adalah human oriented sehingga menjadi lebih bermakna dan saling menguatkan. Di era 4.0, pemasaran menjadi lebih digital (moving to digital) sebab manusia mulai tergantung pada internet. Sedangkan di era 5.0. pemasaran berada dalam dunia digital (marketing in digital world). 

Dalam buku Marketing 5.0 ini, kegiatan pemasaran harus selalu fleksibel mengikuti dinamika. Kombinasi antara pendekatan offline dan online, perlunya omni-experience, serta optimalisasi teknologi untuk bisnis.


Dalam banyak hal, saya merasa apa yang disampaikan dalam buku ini tidaklah baru. Lima elemen utama yang dibahas dalam Marketing 5.0 yakni data-driven marketing, predictive marketing, augmented marketing, dan agile marketing. Bagi saya, kelima hal ini sudah lama dibahas oleh banyak orang seiring dengan hadirnya Google dan Facebook.

Bahkan Google jauh lebih maju sebab telah lama membuat Google Trend yang menjadi panduan bagi semua orang untuk memahami trending topic berdasarkan mesin pencari. Bahkan Google dan Facebook telah lama mengembangkan layanan yang memungkinkan para pemasar untuk berinteraksi dengan target pasarnya.

BACA: Ghea Indrawari dan Pelajaran Ilmu Marketing

Namun, saya menemukan pesan penting dari buku ini yakni setiap orang dan setiap organisasi mesti pandai-pandai berselancar di tengah zaman yang terus berubah. 

Sebagaimana pernah dikatakan ilmuwan Charles Darwin, mereka yang bertahan adalah mereka yang memahami zaman dan terus berubah. Mereka yang diam dan merasa nyaman, perlahan-lahan akan kalah, lalu punah.

Kita tak ingin punah. Makanya kita berubah. 



Jangan Salahkan ATHEIS, KAMBING, dan DOMBA

ilustrasi

Setiap kali ada bom meledak, kita akan melihat ekspresi yang sama dari para warga negeri +62. Semua orang akan mengutuk dan mengecam. Padahal, kita sama tahu, sejak Malin Kundang dikutuk, tidak ada satu pun kutukan yang efektif mengubah pihak lain jadi batu.

Kita pun melihat tuduhan pada orang yang sama. Selalu saja ada tuduhan pada orang tidak beragama. Juga tuduhan pada kambing hitam. Ada pula tuduhan pada domba yang suka diadu. Apa kita tidak berpikir kalau mereka bisa protes karena sering disalahkan?

Entah, sejak kapan kita dengan mudahnya menuduh orang tidak beragama sebagai pelakunya. Padahal, bisa jadi mereka sedang bersantai dan menikmati hiburan di hari ahad. Mereka tidak mungkin melakukan bunuh diri, sebab mereka cinta dunia dan ingin hidup selamanya. Mereka tidak mengenal konsep surga neraka.

BACA: Tunas Cinta yang Tumbuh Seusai Bom Surabaya

Saya ingat Richard Dawkins yang menulis The God Delusion. Menurutnya, tak ada orang atheis atau tidak beragama yang menganjurkan perang untuk membela atheis. Beda dengan mereka yang punya keyakinan atau agama.

Beberapa orang tidak beragama yang saya kenal selalu kaya-kaya. Mereka ingin menikmati hari-harinya, tanpa memikirkan kewajiban harus ke tempat ibadah. Mereka ingin sebebas-bebasnya, juga senikmat-nikmatnya. Namun bukan berarti mereka akan mengabaikan hukum. Mereka taat aturan sebab tidak ingin bermasalah dan menghabiskan waktu di penjara.

Apakah kita orang beragama lebih baik dari mereka? Apakah kita lebih cinta kemanusiaan ketimbang mereka? Apakah kita lebih unggul di banding mereka? Apakah kita menjadi lebih rahmatan lil alamin ketimbang mereka? Belum tentu.

Denny JA pernah menulis tentang pandemi Covid yang menyerang seluruh dunia, tak peduli apa agamanya. Namun, vaksin untuk menyelamatkan manusia justru datang dari negara-negara yang warganya banyak tidak beragama. Tiga vaksin berasal dari Cina. Dua vaksin dari Rusia. Dua vaksin dari Amerika Serikat. Lalu Jerman, Inggris, India, dan Belanda, masing-masing menyumbang satu vaksin.

Dilihat asal negara, dan agama populasinya, negara yang mayoritas Kristen, Hindu, bahkan tak beragama, berhasil menyediakan vaksin untuk Covid- 19. “Bukankah banyak negara yang mayoritas Muslim ikut terpapar virus Corona. Bukankah menyediakan vaksin itu bagian dari menolong kemanusiaan yang merupakan inti ajaran agama, termasuk agama Islam?” kata Denny JA.

Di tanah air, vaksin Sinovac dianggap lebih efektif ketimbang AstraZeneca. Di mana-mana kita melihat ada vaksinasi massal. Data terakhir, menyebutkan jumlah vaksin yang disuntikkan sudah mencapai angka 10 juta kali. 

Padahal, vaksin itu jelas-jelas datang dari negara komunis yang warganya banyak tidak beragama. Banyak warga kita bahkan lembaga ulama justru dengan percaya diri membanggakan vaksin yang disuntik ke tubuhnya. 

Saat vaksin itu masuk, apakah kita masih pede untuk memaki kalangan tidak beragama, padahal jelas-jelas mereka telah membuat satu vaksin yang diyakini akan menyelamatkan hidup kita?

Dilihat dari sisi ini, orang yang tidak beragama sekalipun bisa jadi jauh lebih baik dari kita yang beragama. Kita punya dalil dan teori untuk menyelamatkan manusia, tetapi kita tidak punya daya dan kuasa untuk membuat kemajuan dalam riset mengenai vaksin. Biarpun kita lebih banyak berdoa dan negeri ini banyak hajinya, namun yang membuat vaksin dan menyelamatkan populasi manusia adalah mereka. Apa boleh buat.

Lantas, sejak kapan kita menuduh kekerasan dilakukan orang orang tidak beragama?  Saya berasumsi, tuduhan itu mulai muncul sejak tahun 1965. Demi memperkuat propaganda anti-komunis, maka dibuatkan wacana kalau mereka adalah orang tidak beragama. Apalagi, situasi politik saat itu, orang komunis seorang berselisih dengan mereka yang mengatas-namakan Islam dalam ranah politik.

Padahal, banyak peneliti telah membuktikan, kalau mereka yang dituduh komunis itu adalah anak bangsa yang punya kontribusi pada kemerdekaan. Malah banyak di antara mereka yang tetap beragama dan rajin ibadah. Sayang, kita lebih mudah menuduh dan menimpakan kesalahan pada orang lain, ketimbang menalar dengan jernih apa yang terjadi.

Kambing Hitam dan Adu Domba

Saya juga mencatat, kita tak cuma menuduh manusia lain yang dianggap tidak beragama, tetapi kita juga dengan mudahnya menuduh hewan sebagai pelakunya. Dua hewan paling sering kita sebut adalah kambing hitam dan domba. Memang, ini hanya kiasan, tetapi ini menunjukkan betapa malasnya kita untuk menalar siapa pelakunya dan bagaimana menemukan akar dari permasalahan yang sedang terjadi.

Dalam bahasa Inggris, istilah kambing hitam disebut scapegoat. Dari manakah asalnya? 

Dari berbagai referensi, penjelasan tentang istilah kambing hitam iniditemukan dalam buku The 48 Law of Power yang ditulis oleh Robert Greene. 

Kisahnya, ada gubernur yang melakukan korupsi bersama dua asistennya. Hakim menjatuhkan hukuman mati kepada mereka. Eksekusi akan dilakukan di alun-alun kota. Namun saat eksekusi akan dilakukan, banyak protes bermunculan. Banyak yang tidak setuju jika gubernur dan asistennya itu dibunuh sebab mereka sedang sakit.

Dicarilah sousinya. Hakim lalu mempersilakan pada tetua adat untuk menentukan hukuman. Saat tetua adat berdehem untuk menentukan putusan, tiba-tiba di depan panggung terdengar suara “Mbeek….mbekkk…” Seekor kambing berwarna hitam melintas. 

Tetua adat memerintah warga untuk menangkap kambing malang itu dan dibawa naik ke panggung. Kambing itu diletakkan di tengah-tengah, antara hakim dan tetua adat. Kambing hitam itu terus mengembek. 

Scapegoat

Sambil mengelus jenggot kambing itu, tetua adat berkata: “Kesalahan gubernur pemimpin tertinggi kita dan kesalahan kita semua yang menghadiri sidang ini, sudah saya pindahkan ke kambing hitam ini. Sekarang usir dia ke hutan belantara sebagai hukuman baginya.” 

Sejak itu, rakyat negeri tersebut masing-masing memelihara kambing hitam, agar ketika ditemukan bersalah di hadapan hukum, bisa menjumpai tetua adat dan membawa kambing itu untuk dikambinghitamkam atas kesalahannya. Entah, apakah versi ini benar ataukah tidak.

Bagaimana dengan adu domba? Saya menduga istilah ini muncul sejak Belanda memperkenalkan istilah divide et impera. Istilah ini mengacu pada kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan.

Istilah ini diterjemahkan sebagai adu domba untuk memudahkan pemahaman orang-orang, yang secara kultural punya tradisi adu domba. Asumsinya adalah ada pengatur skenario yang punya akses pada kuasa dan modal, kemudian menjadikan orang lain sebagai domba untuk diadu. 

Ini Fenomena Apa?

Saya melihat sikap kita yang dengan mudahnya mengalahkan orang tak beragama, kambing hitam dan domba sebagai upaya untuk menghindari dari substansi persoalan. Kita tidak ingin membicarakan apa yang terjadi dengan sebenar-benarnya karena mengkhawatirkan akan terjadinya gejolak sosial. 

Kita lebih suka menyalahkan sesuatu yang tidak mungkin protes sebab jawaban itu sesaat akan membuat kita lega. Kita tidak ingin menalar fakta demi fakta dan menyukai jawaban instan. Dengan menyalahkan pihak lain, kita bisa berlindung dan menghindar dari gejolak sosial yang lebih besar.

Padahal, untuk mengatasi satu masalah, kita harus menerima dan mengakui apa yang terjadi lalu merumuskan strategi untuk mengatasinya. Menyelesaikan satu permasalahan sosial tidak semudah mengerjakan satu proyek jembatan, namun ikhtiar dan upaya harus terus dilakukan.

BACA: Kisah Diplomat Amerika yang Kampanye Anti-Teroris di Indonesia

Hari ini, kita menyaksikan ada bom bunuh diri. Kita bersedih atas adanya tragedi yang melukai tubuh kebangsaan kita. Namun kita mesti menatap masa kini dengan jernih, demi menyelamatkan masa depan. 

Tantangan besar kita adalah bagaimana membumikan indahnya agama dalam keseharian kita. Bukan sekadar bagaimana mendirikan rumah ibadah di mana-mana, tetapi bagaimana bisa menjadikan nilai itu merasuk dalam sains, teknologi, kemajuan, serta peradaban yang lebih baik untuk masa depan. Kita ingin membangun negeri yang kokoh di mana sungai-sungainya adalah agama, etika, dan kemanusiaan.

Kita perlu memperkuat formasi ekonomi kita sehingga tidak hanya berputar pada segelintir orang tetapi bisa menyentuh semua lapisan masyarakat sehingga semua pihak merasa punya andil dan peran penting di masyarakat kita, dan tidak ada yang merasa terabaikan.

Kerja-kerja ini tak mudah, namun jika tak dikerjakan, kita akan mengulang lagu lama di masa depan. Kalau bukan menyalahkan orang tak beragama, pasti menyalahkan kambing dan domba.



Saat DEWA KIPAS Turun dari Langit


Rekor itu akhirnya pecah. Tayangan pertandingan catur antara Dewa Kipas vs Irene ditonton lebih 1 juta orang. Tayangan di akun Yutub itu tidak hanya bergema di dalam negeri, tetapi juga manca-negara.

Federasi Catur Internasional (FIDE) membagi link pertandingan itu di akun Twitter. Bahkan beberapa Grand Master International ikut memantau pertandingan itu lalu menjelaskan langkah demi langkah. Semuanya penasaran dengan sosok Dewa Kipas.

Jika dunia catur ibarat rimba persilatan, Dewa Kipas adalah sosok yang menggoyang kemapanan. Di dunia catur online, sosoknya menebas banyak orang hingga mengalahkan pemain catur yang punya reputasi hebat. 

Dewa Kipas bukanlah sosok yang dibesarkan dari pertandingan demi pertandingan. Dia tiba-tiba saja muncul, entah dari mana, tiba-tiba menggegerkan dunia catur online. 

Saat dia dituduh curang yakni menggunakan algoritma dan kecerdasan buatan, para pendukungnya meradang. Dengan dalih nasionalisme, pendukungnya menyerbu situs catur dunia, lalu menyerang akun GothamChess, seorang International Master yang dikalahkan Dewa Kipas.

Di negeri +62, banyak orang menyukai kisah “from zero to hero” atau “from nothing to something.” Orang suka dengan kisah bukan siapa-siapa namun bisa kalahkan para master. Dewa Kipas ibarat seorang “zero” yang mengalahkan para “hero.” Dia makin populer. Bahkan dia diundang oleh “Cahyadi”, nama lain dari yutuber populer itu.

Hingga akhirnya datanglah Irene Sukandar. Grand Master Wanita ini membuat surat terbuka. Cahyadi mengendusnya sebagai peluang bisnis. Dia menjadi promotor yang mempertemukan dua pendekar ini.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, catur menjadi tontonan yang ditunggu banyak orang. Pertama kalinya saya menyaksikan pertandingan catur, dengan komentator Grand Master Susanto Megaranto yang smart, dan International Woman Master Chelsie Monica yang tampil cantik dan centil. 

Catur menjadi tontonan serupa sepak bola yang mempersatukan semua kelompok di tanah air, mulai dari cebong vs kampret, hingga kelompok bumi datar vs bumi bulat.

Dewa Kipas yang tadinya misterius karena bermain di langit online, kini harus turun ke bumi. Dia menjadi dirinya sendiri, tanpa ada siapa-siapa. Dia bukan lagi Dewa Kipas, melainkan menjadi Pak Dadang.

Selama ini dia bermain di dunia online, bisa jadi sembari duduk di pos ronda dengan asap mengepul, serta kopi. Kini, dia berada di studio dan menjadi tontonan warga global. Dia pun serba kikuk saat berhadapan dengan Irene yang menatap papan catur dengan style seperti Beth Harmon yang menatap lawan mainnya dalam serial Queens Gambit.

Kali ini, Pak Dadang tak membawa kejutan. Dua komentator yakni Susanto Megaranto dan Chelsie Monica dengan mudahnya menebak semua langkahnya. Mereka cukup humble saat menyebut Pak Dadang "hampir" mencapai level master. Irene menang telak, tanpa perlawanan berarti.

 

Saya, yang tak paham catur, sejak awal sudah menebak hasil pertandingan ini, meskipun saya berharap ada kejutan. Jika ingin pertandingan ini seru, maka Pak Dadang harus tetap menjadi Dewa Kipas, dan bermain di arena kesukaannya yakni online.

Tayangan pertandingan itu menjadi panggung penuh inspirasi. Para komentator kian populer karena mengapresiasi Pak Dadang. Irene menampilkan kedewasaan dengan menghargai Pak Dadang dan tidak jumawa. Biarpun kalah, Pak Dadang tetap membawa uang 100 juta. 

Bahkan tayangan itu mengangkat pamor catur selangkah lebih tinggi. Catur menjadi lebih menarik. Sponsor dan iklan berdatangan. Yang paling banyak dapat cuan adalah pemilik lapak, si youtuber botak itu. Kanalnya kian ramai. Dia makin berkibar di barisan para yutuber yang akan segera menenggelamkan stasiun televisi.

Saya sih melihat, ada elemen storytelling yang kuat dan memaksa orang untuk menyaksikannya secara langsung. Tayangan apa pun akan selalu ramai jika ada drama dan kisah yang seru. Sama halnya dengan olah raga lain seperti bola dan bulu tangkis, orang tak sekadar menyukai permainan, tapi kisah-kisah para pemainnya di balik layar. 

Seusai pertandingan semua bersalaman. Masalah dianggap selesai. Semua tersenyum. Irene membawa hadiahnya. Dewa Kipas mengakui kehebatan Irene. Semuanya tersenyum ceria.

Namun, satu pertanyaan yang belum terjawab, apakah Dewa Kipas curang dalam permainan catur online? Di akun Twitter, beberapa Grand Master memperlihatkan betapa tidak konsisten, betapa banyak blunder dari permainan Pak Dadang. Sungguh berbeda dengan permainannya di online yang akurasinya tinggi.

Saat pertandingan kedua, Grand Master Susanto Megaranto cukup berhati-hati memberikan respon. Saat pertandingan pertama usai, dia sudah memberikan semacam clue, kalau level Dewa Kipas levelnya di bawah Irene. Seusai pertandingan, Chess.com kian yakin kalau Dewa Kipas memang curang.

Federasi Catur Internasional ikut mengumumkan pertandingan itu

Saya memantau postingan beberapa pemain Chess.com di luar negeri yang heran melihat permainan Dewa Kipas yang banyak blunder, namun lebih heran lagi saat mengetahui bahwa Dewa Kipas malah menerima 100 juta rupiah atau 7.000 dollar AS. Dia tampil memamerkan pengetahuannya yang biasa saja di arena catur demi hadiah. 

Banyak yang heran karena Dewa Kipas dianggap berani dan inspiratif, padahal dia dianggap bermain curang di arena online. Banyak yang heran karena bangsa kita memuji dan memberi penghargaan pada seseorang yang curang.

Namun, bagi netizen kita, kebenaran itu jadi tak penting. Kisah Dewa Kipas diubah jadi kisah inspiratif. Tak perlu lagi ada vonis. Cukuplah diam-diam malu karena sudah mem-bully secara berjamaah akun chess.com, serta menebas akun GothamChess dengan kejam. 

Dan kita tutup mata pada banyak hal, sembari mencari isu apa lagi yang menyatukan netizen kita. Setelah pekan lalu pernikahan Aurel, kini pertandingan Dewa Kipas. Entah, besok isu apa lagi yang akan membuat kita bersatu.

Tunas Budaya yang Mekar dan Tumbuh di JALUR REMPAH

tarian Katreji di Maluku Utara yang mendapat pengaruh Eropa

Perempuan muda itu mulai bersiap-siap. Dia mengenakan pakaian tradisional. Dia bergabung dalam barisan muda-muda yang akan menari. Para penari perempuan memakai atasan hijau dan rok merah panjang. 

Busananya semakin apik dengan headpiece berwarna krem layaknya perempuan-perempuan Eropa. Mereka seolah perempuan dari negeri kompeni yang datang berkunjung ke negeri tropis. 

Sementara penari pria memakai setelah warna sama, dengan rompi dan dasi kupu-kupu. Mereka tampak sangat serasi. Mereka akan menampilkan Tari Katreji yang biasanya dipentaskan saat pesta adat dan pernikahan. Mereka berasal dari Halmahera. 

Di ajang Festival Kora-Kora yang digelar di Ternate pada tahun 2017, tarian Katreji dibawakan secara berpasangan oleh para penari yang mengenakan pakaian tradisional. 

Tarian ini adalah jejak dari kehadiran bangsa Portugis pada abad ke-16. Berkat jalur rempah-rempah, bangsa Portugis menempuh perjalanan ribuan kilometer dengan kapal-kapal besar untuk berdagang, kemudian kembali ke Eropa.

Tak hanya Portugis yang merambah Nusantara. Spanyol pun datang dan meninggalkan jejak berupa tarian. Di antaranya yang populer adalah tari lalayo. Tarian ini adalah tarian muda-mudi yang bertemakan cinta dua insan. Tarian ini berisi pesan-pesan romantis. Tarian ini biasa dibawakan secara berpasang-pasangan dan memiliki gerakan -gerakan yang indah di sepanjang babak tariannya. 

Lagu yang berirama Melayu juga menjadi elemen penting di dalam membentuk atmosfer romantis yang mendukung tersampaikannya pesan. Para penari mulai merambah ke tengah pelataran. Mata mereka semua saling berpandangan. Antara pria dan wanita seolah sedang dalam perasaan kasmaran. 

Sang pria mulai melakukan gerakan menggoda. Sang wanita memunculkan sebuah senyum simpul di mulutnya tanda menerima godaan sang pria. Keduanya kemudian berputar-putar dan tubuh mereka seolah sedang berdialog satu dengan lainnya. 

Di masa lalu, orang Portugis dan Spanyol tak sekadar berdagang. Mereka juga meninggalkan jejak di ranah budaya, musik, hingga bahasa. Di sepanjang pesisir jalur rempah-rempah, budaya Portugis mengalami akulturasi dengan budaya lokal, mengalami dialog dan saling memperkaya, kemudian menjadi tradisi yang diwariskan turun temurun.

Tak jauh dari Maluku Utara, tepatnya di Kota Ambon, Maluku, orang-orang menggandrungi tari Lenso. Tari lenso ditarikan sejumlah gadis-gadis yang memegang sapu tangan. Tarian ini sering dipentaskan dalam berbagai festival dan keramaian.

Tarian ini telah ada sejak ratusan tahun yang lalu, berawal dari masuknya bangsa Portugis di Maluku pada tahun 1612. Istilah “lenso” sendiri berasal dari bahasa Portugis yang berarti sapu tangan sebagai properti utamanya. 

Sapu tangan yang digunakan umumnya berwarna putih atau merah. Penarinya mengenakan pakaian adat tradisional Maluku yakni baju cele, kebaya putih lengan panjang, dan kain salele. Selain itu, rambut penari disanggul dengan hiasan bunga ron putih. 

Tari Lenso yang populer di Maluku

Tarian Lenso berkembang pesat, justru ketika penjajahan Portugis telah usai seiring datangnya bangsa Belanda. Di era Belanda tari ini sering disajikan saat perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina. Penduduk Desa Kilang yang ditugaskan membawakan tari ini untuk memeriahkan pesta rakyat.

Lenso menyimpan jejak sejarah Maluku adalah salah satu rumah sejarah tertua di Indonesia. Selama 2.300 tahun, daerah ini telah dikuasai bangsa asing. Percampuran budaya pun tak bisa dihindari, bahkan Maluku menjadi rumah bagi kaum Mestizo yang terbesar di Indonesia. 

Percampuran darah orang Maluku dengan bangsa lain, khususnya Eropa (Belanda dan Portugis) turut memungkinkan adanya akulturasi. Percampuran budaya tersebut lambat laun diterima sebagai bagian kebudayaan rakyatnya. 

Tari Lenso merupakan tari tradisional Maluku bertemakan pergaulan. Tarian rakyat ini difungsikan sebagai perekat persaudaraan kekerabatan dalam kehidupan sosial masyarakat Maluku. Gerakannya sederhana dan mudah agar bisa ditarikan oleh siapa saja dari kalangan apa saja.

Semua tarian di atas menunjukkan adanya pertautan atau perjumpaan budaya. Mulanya, bangsa-bangsa Eropa seperti Portugis dan Spanyol datang untuk berdagang rempah-rempah. Mereka lalu meluaskan misi untuk menyebarkan agama, setelah itu perlahan menguasai wilayah. 

Selanjutnya, mereka tak cuma datang berdagang. Mereka juga membawa budaya serta berasimilasi dengan budaya lokal. Tarian Katreji menunjukkan asimilasi yang sangat menarik, saat pakaian tradisional Maluku mendapat sentuhan fashion Eropa yakni topi yang dipakai perempuan, serta dasi yang dipakai laki-laki.

Selain seni tari, jejak Portugis, Spanyol, hingga Belanda juga terlihat pada banyaknya kata serapan ke bahasa Indonesia. Banyak kosa kata Portugis yang masih tersisa jejaknya. Di antaranya adalah sapato (sepatu), banco (bangku), armada (armada), bandeira (bendera), dan banyak lagi.

Sayangnya, kebanyakan orang hanya melihat dari sisi ekonomi yakni perdagangan. Padahal, catatan tentang perdagangan rempah selalu menyisakan kenangan memilukan bagi bangsa-bangsa di sepanjang jalur rempah-rempah.

Kedatangan bangsa Eropa untuk berdagang menjadi kenangan traumatik. Perkebunan rempah-rempah membutuhkan banyak tenaga kerja. Pemerintah kolonial bekerja sama dengan pengusaha serta penguasa lokal untuk mendatangkan budak. Perkebunan butuh digerakkan banyak budak yang tenaganya tidak dihargai.

Sebagai contoh bisa dilihat pada dokumen atau arsip mengenai daftar lelang atas 66 orang budak dari Buton di tahun 1755. 

arsip mengenai daftar lelang budak, tahun 1755

Di tahun 2009, sejarawan Dr Sri Margana menulis publikasi mengenai Budak Orang Buangan dan Perkenier di Perkebunan Pala: Perbudakan di Kepulauan Banda tahun 1770-1860. Dia menyimpulkan perbudakan di Kepulauan Banda didukung oleh banyak pihak. Di antaranya pedagang, pejabat VOC dan Pemerintah Belanda, perkenier, dan peran bajak laut. 

Kebutuhan akan tenaga kerja di perkebunan memungkinkan maraknya perdagangan budak dan hal ini memudahkan para perkenier mendapat budak dan orang buangan sebagai tenaga kerja di perkebunan pala. 

Kota-kota pantai di Maluku seperti Ambon, Seram, dan Banda adalah tempat-tempat penting sebagai pusat perdagangan budak, dan para pedagang budak di Maluku mempunyai jaringan di Timor, Sumba, Sumbawa, Bali, Makassar, Buton, dan Batavia bahkan sampai ke Asia Tenggara. 

Sisi kelam lainnya adalah munculnya kolonialisme atau penjajahan di seluruh wilayah Nusantara, termasuk beberapa perang besar yang ditempuh VOC untuk mengamankan jalur dagang. Di antaranya adalah Perang Makassar di tahun 1669.

Sejarawan Dr Mukhlis Paeni menilai saat kapal-kapal masih hilir mudik Jalur Rempah-rempah, ada tiga jenis aktivitas yang muncul. 

Pertama, perdagangan rempah. Saat itu, Maluku menjadi tujuan dari banyak negara yang ingin membeli rempah-rempah. Banyak penjelajah yang berusaha menemukan jalan ke timur sebagai pusat perdagangan rempah-rempah.

Kedua, perdagangan budak. Perkebunan membutuhkan banyak tenaga kerja, sehingga pihak VOC bekerja sama dengan penguasa lokal untuk mendatangkan budak dari berbagai daerah. 

Ketiga, aktivitas bajak laut. Banyak kapal yang jadi sasaran bajak laut. Apalagi, rempah-rempah adalah komoditas yang paling laku di pasar global.

“Makanya, pembicaraan tentang Jalur Rempah jangan hanya fokus pada perdagangan. Sebab perdagangan mendatangkan banyak luka pada bangsa ini. Kita harus melihatnya dari sisi budaya, di mana jalur itu menyebabkan banyaknya perjumpaan antar budaya yang membawa banyak dampak positif,” kata Dr Mukhlis Paeni.

Di masa kejayaan perdagangan rempah-rempah, berbagai kapal telah hilir mudik di perairan Nusantara. Mulai dari kapal Sriwijaya yang identik dengan peradaban Melayu hingga kapal-kapal Majapahit yang juga berdagang rempah-rempah hingga kawasan Asia. 

Ada pula kapal-kapal Eropa yakni Portugis, Spanyol, dan Belanda. Kapal-kapal dari Cina yang juga banyak datang untuk berdagang. Terakhir kapal-kapal kapal-kapal Eropa yakni Portugis, Spanyol, hingga Belanda.

Mereka yang datang dengan kapal-kapal itu turut serta membawa kebudayaannya, yang lalu menyebar ke warga lokal saat terjadi interaksi. Berikutnya, terjadi proses dialogis sehingga budaya menjadi rumah pengetahuan yang sama-sama dibagikan lalu memperkaya peradaban masing-masing.

Jalur Rempah membawa banyak pengaruh, khususnya pada budaya-budaya yang ada di pesisir. Pengaruh itu bisa dilihat di banyak aspek, mulai dari kosakata bahasa, musik, seni tari, pakaian, arsitektur hingga cara berpikir. 

Orang Eropa bukan hanya memperkenalkan musik dan tarian seperti dansa, tetapi juga bangunan-bangunan yang menjadi saksi bisu terhadap segala peristiwa masa lampau. Semua bangunan tersebut punya ciri khas yang sulit dibuat saat ini. Di antaranya adalah bangunan di Kota Tua, Jakarta. Dulunya, Kota Tua merupakan pusat pemerintahan Batavia.

Gaya arsitektur bangunan zaman Belanda menjadi jejak sejarah yang masih bisa dinikmati di masa kini. Bangsa Eropa, terutama Belanda, juga banyak mendirikan benteng-benteng untuk menghalau serangan dari Inggris. Kamu bisa lihat benteng Fort de Kock di Bukittinggi, di Sumatera Barat, Benteng Marlborough di Bengkulu, Benteng Spellwijk di Banten, Benteng Vredeburg di Yogyakarta, dan lain-lain.

Kedatangan bangsa Eropa juga membawa dampak dalam bidang sosial ataupun ekonomi. Salah satu dampak dalam bidang sosial adalah munculnya masyarakat yang menganut agama Katolik dan Kristen Protestan. Kedatangan Portugis yang membawa semangat Gold, Gospel, dan Glory (3G) memengaruhi penyebaran agama Kristen dan Katolik di Indonesia.

Salah satu penyebar agama Katolik di Indonesia yang terkenal adalah Fransiscus Xaverius, seorang misionaris dari Portugis, di Maluku pada tahun 1546-1547. Di samping penyebaran agama Katolik, agama Kristen Protestan juga turut tersebar di Indonesia.

Penyebaran agama Kristen Protestan mulai terjadi pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Raffles. Penyebaran agama ini dilakukan oleh Nederlands Zendeling Genootschap (NZG), yaitu organisasi yang menyebarkan agama Kristen Protestan berdasarkan Alkitab. Beberapa tokoh yang tergabung dalam NZG yang terkenal adalah Ludwig Ingwer Nommensen dan Sebastian Qanckaarts.

Dengan datangnya bangsa Eropa, masyarakat diperkenalkan pada mata uang. Raffles menjalankan kebijakan sistem sewa tanah. Dia memperkenalkan uang kertas dan logam mendorong munculnya perbankan modern di Hindia-Belanda. Salah satunya adalah De Javasche Bank, bank modern di Hindia-Belanda yang muncul pertama kali dan didirikan di Batavia pada tahun 1828.

Selanjutnya adalah bangkitnya kehidupan perekonomian akibat pembangunan jalan raya pos Anyer-Panarukan. Keberadaan infrastruktur jalan didukung oleh jaringan transportasi khususnya kereta api yang muncul dan berkembang pada masa sistem tanam paksa. 

Jaringan kereta api muncul dan berkembang di Hindia-Belanda sebagai sarana pengantaran hasil perkebunan yang ada di Hindia Belanda serta transportasi masyarakat. Munculnya sistem transportasi ini merupakan dampak kedatangan Bangsa Eropa bagi Indonesia yang masih bisa digunakan hingga hari ini.

Bidang pendidikan juga berkembang. Pendidikan dari Eropa pertama kali masuk ke Nusantara bersamaan dengan masuknya agama Kristen Katolik. Kala itu dibangun sekolah yang mengajarkan ajaran agama Katolik untuk para pribumi dari daerah Timur Indonesia di sekitar daerah Maluku.

Pendidikan mulai dianggap penting saat kebijakan Politik Etis dilakukan oleh pemerintah kolonial. Perhatian pemerintah kolonial Belanda terhadap pendidikan dikarenakan guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor-sektor swasta dan pemerintahan. Sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah menganut sistem pendidikan barat dan hanya bisa dimasuki oleh kalangan bangsawan. 

Pemerintah kolonial Belanda juga mendirikan sekolah-sekolah kejuruan seperti sekolah calon pegawai negeri sipil yaitu OSVIA (Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren). 

Ada pula dua sekolah kejuruan medis selevel dengan tingkat universitas yaitu School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), dan Nederland Indische Artssenschool (NIAS). STOVIA didirikan oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda untuk melahirkan dokter-dokter demi mengatasi berbagai penyakit berbahaya di wilayah jajahannya. Sekolah ini didirikan untuk mendidik masyarakat pribumi, sehingga setelah mengenyam pendidikan di STOVIA mereka mendapat gelar “Dokter Jawa”.

Kemudian muncul kembali pendidikan tingkat universitas Technische Hoogeschool (THS, Sekolah Tinggi Teknik). Melalui sekolah-sekolah bergaya pendidikan barat yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda nantinya melahirkan golongan elite baru dalam masyarakat Indonesia. Golongan elite baru, keluaran dari sekolah-sekolah Belanda, yang kemudian membawa perubahan dalam perjuangan bangsa Indonesia hingga mencapai kemerdekaan.

Jalur rempah juga membawa pengaruh pada kuliner. Cita rasa kuliner Nusantara sudah ada sejak era sebelum kolonialisme. Di zaman Yunani dan Romawi pada 2.000 tahun lalu, cengkih sudah menjadi komoditas penting.

Rempah yang banyak ditemukan di Maluku, menyebar ke seantero Nusantara dan menjadi bahan penting untuk pembuatan kuliner dengan rasa yang khas. Berbagai kuliner yang diolah dari bahan rempah muncul di mana-mana. 

Kuliner dengan olahan rempah bisa ditemukan di banyak wilayah, khususnya kawasa pesisir. Mulai dari Aceh, Minang, Bugis, hingga Jawa, tsemuanya menggunakan rempah. Bahkan kuliner berbahan rempah, juga bisa ditemukan di Negara-negara lain yang dahulu menjadi jalur perdagangan rempah.

Beberapa tahun lalu, CNN menobatkan rendang sebagai makanan terenak di dunia sebab meiliki kandungan rempah yang kuat. Ini menjadi representasi dari posisi rempah yang kuat untuk mengolah bahan kuliner menjadi istimewa.

***

Eropa bukanlah yang pertama berdatangan untuk rempah-rempah. Sejak era Sriwijaya, kawasan Nusantara sudah menjadi satu titik di jalur perdagangan rempah internasional yang penting. Sriwijaya adalah titik penting dari rempah dan menghubungkan antara Nusantara, Beijing, India, Persia, dan Timur Tengah.

Bahkan jika melihat relief yang ada di Candi Borobudur dan candi-candi lainnya, rempah telah menjadi komoditas yang diperdagangkan sejak dahulu. Bahkan jika ditarik lebih jauh, rempah telah diperdagangkan di pelabuhan tua di Barus, kemudian dikirimkan ke Mesir kuno yang dipergunakan untuk mengawetkan mumi. 

relief kapal di Candi Borobudur

Sejak dulu, posisi geopolitik nusantara yang sangat strategis, dengan konfigurasi kepulauan yang memiliki ribuan selat digunakan untuk banyak pelayaran dan perdagangan, menjadikan Nusantara, sebutan Indonesia kala itu, sebagai makro kosmos.

Rempah mempunyai rute yang terbentang dari Kepulauan Maluku, Lautan India, Laut Merah, Gurun Sinai, Laut Mediterania, dan Pantai Selatan Eropa. Bahkan jalur perdagangan rempah sudah dimulai pada tahun 2000 sebelum Masehi. 

Menurut intelektual Profesor Azyumardi Azra, yang memulai perdagangan rempah adalah orang-orang Mesir kuno. Islam menjadi patokan bagi Azyumardi yang membangkitkan rute ekspansi rempah dunia.

"Rute ini bangkit karena rute ekspansi Islam selama masa muslim Umayyad dan Abbasid pada periode abad 7-8 Masehi. Para pedagang muslim harus bersila pada Raja Sriwijaya. Mereka juga berlayar ke Maluku sebagai pusat rute perdagangan rempah dan mendapat perlindungan dari penguasa lokal. Sehingga mereka bisa menciptakan international free trade," ucap Azyumardi pada konferensi IFSR 2019 di Museum Nasional, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Rempah-rempah semakin lama semakin dikenal dunia. Setidaknya pada abad ke-7 M, pelayaran dan perdagangan dari Asia Timur, Asia Selatan dan Asia Barat menuju nusantara berburu rempah bernilai tinggi, seperti cengkeh, pala, bunga pala, kayu cendana, lada, gaharu, kamper (dikenal dengan nama kapur barus), dan produk rempah lainnya. 

Menyangkut rute rempah-rempah, Cina dan India-lah yang justru diyakini oleh peneliti Chee-Beng Tan memiliki kontak awal dengan Asia Tenggara. Profesor dari Universitas Sun Yat-Sen ini menyebutkan bahwa sebelum Arab, Persia, dan Yunani mencapai Asia Tenggara, Cina dan India sudah dapat memperoleh rempah-rempah dari Pantai Barat India, seperti Malabar.

Di Cina, cengkeh mulanya menjadi komoditas rempah yang diimpor dan digunakan pada saat Dinasti Han. Bahkan para Menteri pada zaman Dinasti Han juga sudah menghisap kayu manis. Selain itu, Cina juga sudah mengimpor pala dari Nusantara pada abad 4 atau 5 Masehi.

Pada perdagangan sutera dan rempah-rempah ketika Timur dan Arab sudah mapan, peran kapal Cina dan India menurut Chee-Beng Tan sudah menjadi teknologi canggih. Kapal kargo China bernama "Song Boat" ditemukan di Pantai Houzhu pada 1973 dengan panjang sebesar 24 meter dan lebar sebesar 9 meter. Chee-Beng Tan mengatakan kapal itu tenggelam pada 1271 Masehi.

Produk yang diangkut dalam kapal tersebut adalah untuk keperluan medis seperti lada, kacang areca, ambar, cangkang kura-kura, kayu laka, dan kayu gaharu.

Beberapa komoditas rempah yang populer adalah cengkeh, pala, lada, dan kayu manis. Cengkeh dihasilkan dari Ternate, Tidore, Halmahera, Seram, dan Ambon. Sedangkan fuli (dari buah pala) banyak tumbuh di Pulau Run di Kepulauan Banda. Kayu manis, kemenyan, kapur barus dari Sumatera dan Jawa, kayu cendana banyak dihasilkan di Pulau Timor dan Sumba, sedangkan lada banyak dihasilkan dari Banten (Pulau Jawa), Pulau Sumatera, dan Kalimantan Selatan. 

Sampai dengan abad ke-16 dapat dikatakan rempah-rempah belum menjalankan peran yang menentukan dalam perkembangan sejarah perubahan yang mendasar dalam dinamika masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Masuknya para penjelajah Eropa menjadikan Nusantara sebagai daerah kosmopolitan. Rute perdagangan rempah telah berkembang fungsinya menjadi persebaran kultur dan agama.

Nusantara pada abad 1480-1650 disebut Anthony Reid sebagai "Age of Commerce" karena menjadi pusat pertemuan perdagangan internasional. Rempah-rempah Maluku seperti cengkeh dan pala menjadi barang terpanas dari perdagangan global, sampai VOC mendirikan monopoli pada tahun 1650.

Rute perdagangan antara Mediterania dan Asia Timur pun tersegmentasi dengan para pedagang selat (Pasai, Melaka, Banten, Palembang, Aceh, Patani). Bahkan setelah larangan perdagangan selama berabad-abad menurut Anthony, China 1568 dan Jepang 1590-1653 mengirimkan perdagangan legalnya ke Asia Tenggara. Hal ini menjadikan pelabuhan di Asia Tenggara sebagai bagian penting dari interaksi antara Cina dan negara lainnya.

Sayangnya, kedatangan bangsa Eropa tidak sekadar untuk berdagang rempah. Bangsa Eropa memulai proses kolonialisasi dan penjajahan sehingga hanya menyisakan nestapa dan trauma.

Kepentingan awal mereka yang tadinya hanya untuk mencari daerah penghasil rempah-rempah berkembang menjadi kepentingan ekonomi kolonial melakukan eksploitasi kekayaan alam Indonesia demi kepentingan negeri induk. 

Rempah dan kolonialisme bangsa Eropa membawa kisah yang suram selama berabad-abad. Akan tetapi, dibalik kisah suram juga membawa kekuatan terintegrasinya suku-suku bangsa dalam membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Rempah dalam sejarah Indonesia bukan sekedar perdagangan komoditi, namun juga menjadi kekuatan yang menyatukan Indonesia antar satu daerah dengan daerah lainnya, antar suku bangsa, antar nilai-nilai dan budaya, yang pada akhirnya membentuk identitas masyarakat Indonesia. 


Masa Lalu untuk Masa Kini dan Masa Depan

Perjumpaan budaya dan belajar antar bangsa yang terjadi di sepanjang Jalur Rempah harusnya menjadi satu kekuatan bagi bangsa. 

Saat ini, pemerintah Cina memperkuat narasi tentang Jalur Sutra (Silk Road) demi memperkuat integrasi ekonomi antar berbagai kawasan di masa kini. Cina menjadikan dirinya sebagai pusat perdagangan lalu membangun relasi dengan berbagai bangsa-bangsa lain. Jalur Sutra menjadi wacana sejarah untuk memperkuat dinamika ekonomi politik masa kini.

Padahal, tidak banyak orang tahu kalau yang diperdagangkan di Jalur Sutra itu adalah  banyak produk rempah. Memang, dinamakan sutra sebab itulah komoditas asal Cina yang laku dan dihargai mahal di masa itu. Padahal, yang diperdagangkan banyak sekali, termasuk salah satunya rempah menjadi komoditi yang dominan dalam pertukaran itu.

Dengan logika yang sama, karena rempah sebagian besar berasal dari Maluku, dan merupakan  tanaman endemik dari Maluku, maka Indonesia pun bisa mengembangkan narasi tentang Jalur Rempah.

rempah-rempah

Di masa itu, Jalur Rempah menjadi kekuatan penting bagi perdagangan melalui dunia maritim. Bangsa Eropa datang karena rempah. Pelaut-pelaut dari Arab dan India datang ke Nusantara pada abad ke-9 dan abad ke-10 untuk mencari rempah-rempah. Bahkan orang Cina pun datang ke Nusantara dengan alasan sama.

Jalur rempah bisa melengkapi gambaran tentang sejarah dunia. Jalur rempah punya kontribusi pada perkembangan peradaban. Bahkan jalur ini menjadi kepingan penting untuk membahas bagaimana Eropa memasuki masa renaisans atau pencerahan.

Di masa lalu, kawasan Indonesia berkontribusi sangat besar terhadap peradaban Eropa karena hubungan kolonial itu. Kota-kota di Eropa seperti Amsterdam dibangun karena adanya hubungan perdagangan yang yang tidak seimbang. 

Jalur Rempah harus dilihat dari kerangka yang lebih luas dalam sejarah hari ini. Bahwa di situ ada pertukaran budaya, serta dinamika sosial ekonomi yang menjadi benih penting bagi lahirnya republik di hari ini.

Narasi jalur rempah seyogianya menghadirkan kebanggaan sebagai bangsa. Jalur rempah adalah identitas masa silam dan masa kini, sekaligus membangun masa depan. Sejarah jalur rempah adalah sejarah perjumpaan berbagai budaya, yang seharusnya bisa ditransformasikan menjadi kemajuan ekonomi di masa kini, serta menjadi keunggulan di masa mendatang.

Ada dua alasan penting untuk menghidupkan kembali kehangatan cita rasa rempah melalui program Jalur Rempah. 

Pertama, Indonesia atau Nusantara adalah tempat satu-satunya di muka bumi ini yang dipilih Tuhan untuk tumbuhnya rempah-rempah. Bumi ini kaya dengan rempah-rempah yang telah mempengaruhi sejarah dan peradaban. Pala dan cengkeh punya banyak kisah yang mengubah sejarah.

Kedua, jalur rempah adalah awal dari perdagangan besar lintas pulau dan lintas benua yang menunjukkan betapa kosmopolitnya Nusantara pada masa itu. Rutenya dimulai dari timur ke barat. Di setiap titik persinggahannya, terjadi asimilasi budaya, kemudian membentuk Nusantara. Tidak cuma sampai di ujung Sumatera saja, namun juga menjangkau Sri Lanka, India, Mesir, Afrika Selatan, juga Madagaskar.

Dua hal penting ini seharusnya menjadi pijakan untuk berbagai rencana pembangunan. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menawarkan paket pariwisata Jalur Rempah. Pariwisata bukan lagi pariwisata massal, tetapi pariwisata yang berbasis pada keingintahuan mengenai keanekaragaman hayati.

Saat ini, wacana ecotourism tengah marak. Dunia tengah berpaling ke ecotourism, tentang kearifan lokal, tentang turis atau pariwisata yang datang untuk belajar. Ada kesadaran ekologis di mana semua orang ingin kembali ke alam, termasuk mengonsumsi obat yang berbasis pada herbal.

Kementerian Pertanian bisa melakukan peremajaan ladang-ladang rempah. Tanaman rempah kembali didukung dengan riset pertanian. Agroindustri harus diperkuat sehingga semua wilayah memiliki tanaman endemik yang tetap dilestarikan.

Lalu, Kementerian Kesehatan mendorong industri obat herbal berbasis rempah-rempah asli Indonesia. Di era pandemi Covid-19, kita menyaksikan kenyataan bagaimana Cina bisa menjadi rumah bagi produksi berbagai obat herbal untuk mengatasi pandemi. Seharusnya, Indonesia juga menjadi pelopor bagi tumbuhnya produksi obat berbasis rempah-rempah yang diharapkan bisa mengatasi berbagai pandemi.

peta jalur rempah

Sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati, Indonesia harus menjadi pusat riset tentang farmasi. Masyarakat punya pengetahuan dan kearifan lokal untuk mengelola berbagai tanaman. Kekayaan intelektual yang dimiliki sejak era rempah-rempah ini seharusnya dilestarikan dan memperkuat sendi-sendi kemajuan. 

Padahal, satu sumber menyebutkan, industri farmasi bersumber pada 25 persen keanekaragaman hayati yang ada di hutan Amazon. Kita belum bisa mengelola rempah sebagai sumber dan bahan untuk industri farmasi.

Pandemik ini membawa satu problem baru bahwa kita berkontribusi terhadap kemunculan pandemik itu sendiri dengan rusaknya ekosistem, abai terhadap keanekaragaman hayati, lingkungan hidup dan semua isu itu.

Saat ini, pemerintah sedang mengupayakan agar Jalur Rempah mendapat pengakuan sebagai warisan dunia oleh Unesco. Indonesia tengah melobi beberapa negara untuk sama-sama mendaftarkan Jalur Rempah, bukan saja sebagai kenangan masa silam, tetapi untuk memperkuat ekonomi dan perdagangan hari ini.

Jalur rempah harus memiliki outstanding universal value (nilai universal yang menonjol) karena punya arti penting bagi peradaban. Dengan berupaya mendaftarkan jalur rempah menjadi warisan dunia, Indonesia ingin mengafirmasi bahwa jalur rempah ini bukan hanya menarik sebagai objek sejarah, tetapi memang punya kontribusi sangat besar terhadap peradaban.

Dalam narasi sejarah yang dominan itu, banyak kisah yang hilang. Modernitas Eropa seolah dimulai dari revolusi industri. Padahal, sebelumnya, ada basis perjalanan sejarah cukup panjang ketika rempah-rempah diperdagangkan dan membawa kemakmuran yang sangat besar bagi Eropa. Saat itulah, modernitas lahir.

Namun, Indonesia tak sekadar menunggu pengakuan dunia. Indonesia perlu melakukan revitalisasi tanaman rempah, sekaligus revitalisasi budaya sehingga rempah Indonesia kembali menjadi komoditas penting dunia. Indonesia perlu memperkuat riset dan inovasi sehingga rempah kembali menemui masa kejayaannya sebagaimana dahulu.

Tugas ini tidak mudah. Butuh kerja sama intens di antara berbagai ahli, serta pengambil kebijakan, dalam hal ini pemerintah. Jika tugas itu dilaksanakan, maka warga Indonesia bisa tersenyum lega. Satu tugas penting telah ditunaikan yakni menjadikan Indonesia sebagai tempat berlindung, sebagaimana disebutkan dalam syair ini:


Indonesia tanah air beta

Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

Slalu dipuja-puja bangsa




Sebuah Kisah di Tepi Gedung KPK


Berita itu menyebar lebih cepat dari api yang membakar ilalang. Seorang kepala daerah yang selama ini terkenal sebagai figur yang amat bersih dengan citra terjaga tiba-tiba diberitakan terjerat kasus korupsi.

Seorang pemimpin dengan sederet gelar, mulai dari gelar profesor hingga trah bangsawan, mengenakan rompi oranye sebagai tahanan lembaga anti rasuah. Sosok penuh visi yang bisa mengupas realitas pembangunan mulai dari akar filosofis sampai aksi lapangan itu kini tersandung oleh permainan yang entah disadarinya ataukah tidak.

Rasanya tak percaya melihat matahari yang terang di timur itu harus terhalang banyak mendung. Di dunia birokrasi, kariernya terus bersinar. Bermula dari bupati, dia melejit hingga kursi gubernur. Dia seharusnya menjadi oase pemimpin republik ini. Dia adalah kerinduan banyak orang akan sosok kepala daerah yang bersih, cerdas, penuh prestasi.

Apa daya. Dia yang sekian tahun berada di ruangan ber-AC itu, kini menempati sel di lantai dasar gedung merah putih yang pengap dan panas. Dia yang bersih itu, kini tercemar dan penuh jelaga. 

Kekuasaan memang serupa sihir yang bisa mengubah realitas dengan seketika. Kekuasaan bisa membuat seseorang menjadi figur karisma, dielu-elukan semua orang, hingga dipuji dalam berbagai narasi. Namun kekuasaan pula yang bisa membuat seseorang terjerembap ke lembah nista dan ruang gelap tahanan. Kekuasaan bisa membawa seseorang untuk mengenakan rompi oranye.

Ya, di negeri ini, rompi oranye ibarat mantra yang melumpuhkan semua marwah seseorang. Rompi itu ibarat tinja yang dilempar ke wajah. Sekali rompi itu dipakaikan, publik langsung menuduh seseorang bersalah. Publik tidak peduli adanya asas presumption of innocence atau praduga tak bersalah. Sekali Anda memakai rompi itu, bersiaplah untuk menerima takdir terburuk di mata publik.

Namun, apakah dia memang salah? Ataukah dia hanya mengikuti satu irama permainan yang sudah menjadi hal lazim dan praktik yang telah berjalan selama bertahun-tahun dan terus diwariskan, dari pemimpin satu ke pemimpin lain?

***

“Andaikan malaikat menjadi pemimpin di negeri ini, pasti akan terjerat. Ini hanya soal waktu. Semua pemimpin bisa masuk dalam jebakan betmen,” kata seorang kawan. 

Saya menyimak kalimatnya di satu hotel yang tidak jauh dari gedung KPK. Sebagai mantan kepala daerah, dia melihat ada sesuatu yang keliru dengan sistem bernegara kita. Seseorang yang bersih sekali pun bisa terjebak pada belukar permainan yang bisa menjerat setiap langkah.

Istilah “jebakan betmen” mengacu pada komedi di stasiun televisi tentang perangkap yang disiapkan kepada seseorang sehingga terjerat. Agar tidak terjebak, seseroang harus pandai membuat deal dengan banyak pihak. Dia mesti menjaga keseimbangan dari banyaknya kepentingan, termasuk membiayai perjuangan yang bermula sejak mencalonkan diri sebagai kepala daerah.

Politik kita memang penuh biaya tinggi. Kawan itu merinci banyak biaya. Demi mendapat rekomendasi partai, dia harus menyiapkan “setoran” pada petinggi partai. Jika satu kursi dihargai sampai 500 juta rupiah, dia harus siapkan miliaran rupiah untuk satu tiket.

Dia juga harus menyiapkan amunisi besar untuk memenangkan perang itu. Sering kali, semua mekanisme pengawasan hanya berlaku di atas kertas. Faktanya, semua calon kepala daerah harus bergerilya menyiasati aturan, serta mengeluarkan semua senjata demi melakukan serangan fajar. 

Demi kemenangan, dia akan membentuk tim sukses, yang isinya adalah barisan orang-orang yang menjadi pendukung, serta mengeluarkan biaya untuk memenangkannya. Pepatah “tak ada makan siang gratis” berlaku di sini. Rasanya amat lucu jika seseorang mendukung karena alasan visi dan niat baik.

Saya teringat riset dari Michael Buehler tentang relasi kuat antara kepala daerah dengan para pengusaha dan kontraktor yang menjadi penyokong dana. Banyak proyek yang dikerjakan oleh rekanan seorang kepala daerah. Setelah diusut, rekanan itu dahulu menjadi tim sukses.

Hubungan antara kepala daerah dan rekanan serupa hubungan petani dan tengkulak. Petani menanam sesuatu dan merawatnya. Sebelum tanaman itu berbuah, tengkulak datang lalu meng-ijon atau membayar tanaman itu. Petani kehilangan hak atasnya, sebab kontraktor sudah membayarnya jauh-jauh hari. 

Seorang rekanan sering bertindak serupa debt collector yang akan menagih janji kepala daerah. Mekanisme pengadaan barang dan jasa serta tender proyek disiasati demi menenangkan seseorang. Setelah menang kontraktor juga harus tahu diri. Dia juga harus menyiapkan setoran kepada kepala daerah jika ingin dirinya bisa mendapatkan paket program yang lain.

“Saya harus pandai melobi Jakarta jika ingin ada pembangunan di daerah. Dana APBD sudah habis untuk gaji pegawai dan kaplingan kontraktor,” kata kawan itu dengan suara pelan.

Perimbangan keuangan pusat dan daerah merupakan konsekuensi dari desentralisasi penyerahan urusan pusat dan daerah. Prinsip money follow function yang bermakna pendanaan harus mengikuti pembagian urusan dan tanggung jawab dari masing-masing tingkat pemerintahan. 

Namun, tak semua daerah bisa mengelola dana alokasi umum (DAU) dengan bijak. Banyak daerah yang menghabiskan lebih 50 persen anggarannya untuk belanja pegawai. Malah ada yang sampai 75 persen.

Biasanya, daerah-daerah ini akan memaksimalkan lobi demi mendapatkan dana pemerintah pusat. 

Riset FITRA menunjukkan betapa banyaknya dana yang dipegang pemerintah pusat serta membuka peluang untuk lahirnya praktik mafia anggaran. Salah satu kasus yang masih hangat adalah dana penyesuaian infrastruktur, yang sarat dengan kepentingan politik dan membuka ruang praktek mafia anggaran.

Banyak daerah yang kemudian berjibaku untuk mendapatkan dana perbaikan infrastruktur ini. Mereka mengoptimalkan berbagai kanal untuk mendapatkannya. Teman-teman di daerah sering bercerita tentang betapa banyaknya pintu yang harus dilewati agar bisa bertemu orang pusat. 

“Mulai dari pos satpam, saya sudah harus siapkan uang pelicin. Semakin ke atas semakin besar pelicin yang disiapkan,” kata seorang kawan.

Dia diarahkan untuk melobi para key person yang dianggap bisa membuka kunci anggaran. Boleh jadi mereka adalah pejabat, atau barangkali sejumlah keluarga pejabat yang dengan lihainya bisa mengatur urusan APBN negara dan memasukkan proposal itu sebagai prioritas negara. 

*** 

“Dengan ini kami menyatakan dia menjadi tersangka dan akan ditahan selama 20 hari,” kata Ketua KPK sebagaimana disiarkan banyak media. Di layar kaca, saya melihat sosok itu berdiri membelakangi kamera. Dia bukan lagi sosok yang disorot dengan penuh wibawa. Dia berbalik ke belakang.

Ada rasa tak percaya saat melihat sosok itu membelakang kamera. Dia tak berdaya berhadapan dengan sistem yang sudah berjalan kronis dan menahun. Bung Hatta benar saat mengatakan bahwa korupsi di tanah air ibarat kanker sudah masuk stadium tiga, stadium di mana sel kanker bisa saling memangsa agar tetap survive di tubuh yang sakit.

Patung Dewi Themis, Dewi Keadilan

Ada rasa ragu saat Ketua KPK menguraikan angka miliar uang yang diterimanya dari pengusaha. Dia tergelincir pada satu titik, di mana titik-titik lain telah banyak dilalui. Seorang kepala daerah tidak hanya meladeni rakyatnya, tetapi juga permintaan banyak pihak.

“Jebakan betmen ada di mana-mana. Setelah menjabat pun banyak lobi yang butuh cost politik. Sekali protes, maka jaringan akan tertutup. Sementara menerima sistem itu bisa membawa risiko kapan saja terjerat,” kata kawan itu.

Orang pusat dan orang daerah sama-sama mendapatkan “dana bagi hasil.” Semua pihak-pihak yang mengurus proyek-proyek ini akan kebagian jatah pula. Logikanya, tak mungkin ada air mengalir melalui keran, tanpa membuat pipa itu basah. 

Praktik ini menjadi lingkaran yang terus direproduksi, menguntungkan banyak pihak. Yang dirugikan adalah negara yang tiba-tiba saja mengeluarkan biaya politik dari praktik percaloan ini.

Dalam banyak hal, kita pantas memaki kepala daerah itu sebab sengaja melakukan praktik korupsi dan percaloan. Tapi kita juga tak bisa memungkiri fakta bahwa seseorang yang hendak membuat sejarah baru dan prestasi di daerahnya mesti pandai-pandai memaksimalkan lobi. 

Biarpun lebih sering tak setuju dengan Fahri Hamzah, ada kalimatnya yang cukup mengena hati. Selama ini penegakan korupsi hanya menonjolkan aspek penindakan. Sementara pencegahan tak banyak tersentuh. 

Kita mengabaikan satu sistem atau mekanisme yang bisa menjaga seseorang agar tidak korupsi. Kita seolah membiarkan sistem yang serupa perangkap itu bekerja, dan tak lama kemudian kita sibuk bertepuk tangan saat seorang kepala daerah ditangkap karena korupsi. 

“Mereka yang tertangkap adalah mereka yang sial. Berarti mereka tak pandai bermain. Tak pandai menjaga harmoni semua kekuatan, entah itu pusat maupun daerah, entah itu calo kecil maupun calo besar. Semua bisa setiap saat tertangkap. Ini soal waktu,” katanya menutup pembicaraan.

Di luar sana, semburat senja tampak di ufuk Jakarta. Nun jauh di Sulawesi, mendung tengah menutup langit.



"Age of Samurai" dan Kisah Kebangkitan

 

Di abad ke-16, Jepang adalah wilayah yang terus bergejolak. Syair paling sering terdengar adalah sorak-sorai pertempuran, pekik peperangan, dan suara-suara pedang yang beradu.

Ini adalah periode paling brutal dalam sejarah, yang dikenal sebagai masa Sengoku Jidai. Para penguasa feodal yang disebut daimyo saling bersaing dan bertarung untuk menjadi shogun atau penguasa militer kekaisaran.

Di tengah situasi itu, hadir tiga sosok yang memberi sapuan warna pada kanvas sejarah. Mereka adalah Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, dan Tokugawa Ieyasu. Ketiganya punya karakter amat berbeda. Ketiganya menghadirkan sentuhan berbeda dan membentuk mozaik Jepang yang utuh.

Kisah mereka yang dijuluki the three great unifiers atau tiga sosok pemersatu ini bisa disaksikan dalam serial dokumenter Age of Samurai: Battle for Japan, yang tayang di Netflix, sejak 24 Februari 2021. Saya menyaksikan enam episode serial ini secara maraton. Kelar sekaligus.

Nobunaga digambarkan sebagai sosok yang mengawali ambisi untuk mempersatukan Jepang. Dia adalah sosok yang suka bertempur dan menaklukkan. Pedangnya berkarat karena tetesan darah dari klan atau musuh yang ditaklukkannya.

Hideyoshi adalah sosok pendiam. Dia tidak setangguh Nobunaga dalam bertempur. Dia tidak menguasai bela diri. Mantan anak buah Nobunaga ini hanya manusia biasa yang lahir dari keluarga petani. Namun dia punya kecerdikan dan kecerdasan yang luar biasa sehingga dirinya sukses mempersatukan semua klan, lalu menjadi penguasa tertinggi.

Tokugawa Ieyasu tidak secerdas Hideyoshi. Tapi dia punya kesabaran di atas rata-rata. Saat Hideyoshi mangkat, dia menjadi penguasa tertinggi. Dia menikmati buah kerja Nobunaga dan Hideyoshi yang ingin mempersatukan semua klan di bawah panji kekaisaran.

BACA: Drama Korea, Soft Power, dan Imajinasi Masa Depan


Saya cukup menikmati alur kronologis semua sosok dalam serial ini. Serial ini cukup memikat karena menghadirkan banyak sejarawan. Mereka adalah Stephen Turnbull, David Spafford, Tomoko Kitagawa, dan lainnya. 

Serial ini meluruskan pemahaman saya yang sebelumnya mengira kisah Nobunaga cs hanyalah fiksi. Ternyata, kisah ini bersumber dari fakta sejarah. Dalam serial Netflix, kisahnya dituturkan ulang, dengan menggunakan kronologis, sehingga kita mendapat gambaran utuh.

Satu hal yang saya kritisi, serial ini terlampau hitam putih. Fakta-fakta disajikan secara kronologis dan runtut, khas penulisan sejarah. Peristiwa disajikan secara cepat dan sekilas-sekilas. Kita kehilangan nuansa dan banyak konteks yang seharusnya membantu kita memahami karakter setiap tokoh.

Kita tiba-tiba saja diperkenalkan pada karakter Nobunaga yang dengan tegas membunuh musuh-musuhnya, setelah itu masuk ke Hideyoshi yang menggantikannya. Hideyoshi juga digambarkan sebagai sosok tegas yang mengalahkan pembunuh Nobunaga. Tapi kita tidak mendapatkan gambaran seperti apa dan dengan cara apa Hideyoshi mengalahkan lawannya.

Di titik ini, saya terkenang pada novel Taiko yang ditulis penulis Jepang, Eiji Yoshikawa. Taiko menyajikan kisah periode ini dengan nuansa yang sangat kaya. Taiko menggambarkan semua karakter, mulai dari Nobunaga lalu Hideyoshi, kemudian Tokugawa Ieyashu. Taiko menggambarkan  secara manusiawi, tidak fokus pada peristiwa saling serbu dan serang, tetapi memaparkan bagaimana situasi dan konteks politik mengapa mereka harus menghunus samurai.

sampul baru TAIKO, karya Eiji Yoshikawa


Memang, porsi cerita Taiko lebih fokus pada sosok Hideyoshi. Kisahnya memang inspiratif. Si kurus berwajah monyet ini lahir sebagai anak petani, kemudian menjadi pembantu Nobunaga sebagai pembawa sandal, kemudian menangani dapur, kayu bakar, sampai akhirnya menjadi samurai di barisan Nobunaga. 

Namun dia memang dikaruniai kemampuan berdiplomasi, berargumentasi, dan retorika yang bisa mengubah pelayan yang ragu-ragu menjadi setia, saingan menjadi teman, dan musuh menjadi sekutu.

Dia seorang samurai yang tak berpedang (swordless samurai). Biarpun tak pandai bertarung, dia tahu dan berhasil bagaimana meneruskan cita-cita Nobunaga sehingga dirinya sukses mempersatukan Jepang.  Sayangnya, Hideyoshi tak bisa bertahan lama. Dia pun tewas setelah ambisinya untuk menguasai Korea dan Cina menemui banyak aral. Tokugawa Ieyashu lalu menjadi penerus dan membangun dinasti penguasa dan bertahan selama 300 tahun. 

Takdir ketiga sosok ini bisa dilihat pada kalimat yang sangat populer: “Penyatuan kembali seperti membuat nasi. Nobunaga menumbuk padi. Hideyoshi menanak nasi. Pada akhirnya, Ieyasu memakannya 300 tahun.”

Serial di Netflix ini juga gagal memotret utuh karakter orang Jepang. Yang dipaparkan hanya sisi kekerasan dan strategi untuk mengalahkan lawan. Saya yakin penonton akan kehilangan satu sisi penting dari orang Jepang yakni sisi kelembutan, spiritual, juga seni. Serial ini terlalu sejarah, kurang antropologi.

Saya ingat kajian Ruth Benedict yang berjudul “The Chrysanthemum and The Sword” yang diterjemahkan menjadi Pedang Samurai dan Bunga Seruni. Kajiannya pertama kali terbit tahun 1948 dan menjadi literatur klasik dalam antropologi, khususnya yang membahas pola-pola kebudayaan. Kajian ini menjadi pintu bagi bangsa lain untuk mengenal sisi terdalam bangsa Jepang.

Kata Ruth Benedict, pedang adalah simbol kalau orang Jepang selalu memberikan penghormatan terbaik pada mereka yang gugur dalam peperangan. Pedang adalah simbol dari keberanian. Sedangkan bunga seruni adalah simbol dari kasih sayang dan keindahan. 

Melalui penuturan Ruth Benedict, kita bisa melihat karakter lelaki Jepang yang membawa pedang, tetapi juga bunga seruni atau bunga krisan. Saya ingat karakter Katsumoto dalam film The Last Samurai yang dibintangi Tom Cruise dan Ken Watanabe. Katsumoto adalah pemimpin klan samurai yang susah menyelesaikan bait terakhir puisinya jelang pertempuran. Bahkan ketika dirinya sekarat karena ditembus peluru dan pedang, dia masih sempat-sempatnya menuntaskan puisinya.

Dua sisi yakni pedang dan bunga telah menjadi karakter bangsa Jepang yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka pendekar berpedang, tetapi sekaligus menjadi pencinta puisi. Semangat bushido dan samurai digunakan untuk mempersatukan dan meraih kejayaan. Sebagaimana dicatat Jared Diamond dalam Upheaval, di era Meiji, Jepang sukses melakukan transformasi dengan membuat ekonominya lebih terbuka. 

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligence, dan Kediktatoran Digital


Kejayaan samurai berakhir, namun spiritnya terus diwariskan. Di tahun 1905, semangat itu menjelma menjadi kekuatan bagi tentara Jepang untuk mengalahkan Rusia yang lalu membangkitkan spirit bangsa Asia. Semangat itu pula yang membuat pasukan Jepang berani menjemput maut saat perang dunia kedua. Setelah kalah perang, semangat itu hadir dalam hasrat kuat bangsa Jepang untuk membangun kekuatan ekonomi hingga perlahan menguasai dunia.

Hari ini, kita melihat semangat itu dalam kedigdayaan ekonomi serta soft power yang menjadikan negeri itu punya pengaruh kuat di peta dagang dan teknologi. Kita melihat semangat samurai itu hadir dalam banyak lini kehidupan sehingga mereka tetap menjadi bangsa tangguh. Mereka menyerap semua nilai barat, tetapi tidak pernah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Jepang.

Semuanya adalah legacy atau warisan dari para samurai. 


Anak Ruhani KANG JALAL

Kang Jalal

Di masa awal belajar menulis, saya berpikir bahwa semakin canggih pilihan kata, maka semakin hebatlah seseorang. Makin banyak istilah asing, makin cerdaslah seseorang. Semakin pusing membaca satu tulisan, semakin tinggi jelajah intelektual penulisnya.

Dulu, saya begitu terpesona melihat penulis memajang gelar doktor dan profesor di tulisannya. Padahal, sering kali, saya tak paham dia sedang membahas apa. Mungkin pikiran saya pendek. Tapi, kata Rocky Gerung, sering kali gelar bisa lebih panjang dari pikiran seseorang. Entah. 

Hingga suatu hari, saya membaca buku Islam Aktual yang ditulis Jalaluddin Rakhmat atau Kang Jalal. Saya terkesima dengan bahasa yang sederhana, namun dalam. Kalimatnya pendek-pendek. Dia menggunakan gaya bercerita, serupa kakek mendongeng di hadapan cucu yang terkantuk-kantuk. 

Seeingat saya, di buku Islam Aktual, ada beberapa cerita yang melekat di benak saya hingga kini. Di antaranya cerita tentang prajurit Amerika yang bunuh diri saat berada di kancah Perang Teluk. Dia bunuh diri bukan saat berperang, tetapi saat sedang istirahat. 

Rupanya, prajurit itu menonton tayangan di televisi mengenai Presiden Amerika George Bush yang sedang bermain golf. Prajurit itu merasakan ketidakadilan. Dia dan rekannya sedang menyabung nyawa demi nasionalisme negerinya di tanah yang jauh, sementara presidennya malah bermain golf.

Di mata saya, Kang Jalal adalah penulis yang selalu memikat. Dia tak pernah berniat memusingkan pembacanya. Dia sabar memilih kata yang dipahami semua orang. Dia tahu kalau semua orang tidak berada di garis perjalanan pengetahuan yang sama. Tugas seorang penulis adalah menjernihkan sesuatu dan mencerahkan.

Dia sering mengutip pakar atau filosof, tapi entah kenapa, kutipan itu terasa ringan dan mudah dipahami. Saya masih terkenang renyahnya tulisannya tentang Nietzsche, Heidegger, dan Kierkegard. Dia menggambarkan pemikiran mereka dengan bahasa sederhana, yakni serupa manusia terlempar di padang pasir, lalu bingung hendak ke mana.

Tahun 2000-an, Kang Jalal sering berkunjung ke Makassar. Saya merasakan nikmatnya mengikuti ceramahnya di kampus, ataupun di berbagai forum diskusi. Dia menjawab pertanyaan mahasiswa juga dengan bahasa yang sederhana.

Saya ingat, teman Gego, pernah bertanya di satu acara diskusi. “Saya gampang lupa sesuatu. Bagaimana cara menguatkan daya ingat?” Tadinya saya pikir Kang Jalal akan menjawab dengan kutipan nama-nama pemikir. Eh, dia mencontohkan dirinya yang juga pelupa semasa sekolah

“Biar saya tidak lupa, saya bikin gambar-gambar. Misalnya saat belajar definisi berita, ada kata novelty atau kebaruan. Saya gambar mobil baru yang kinclong, terus saya tulis novelty. Dengan cara begitu saya tidak akan pernah lupa,” katanya. 

Sayang, dalam pertemuan itu, saya lupa bertanya bagaimana menulis yang baik. Untunglah, saya membaca catatan Yudi Latif, cendekiawan yang satu almamater dengan Kang Jalal di Unpad. Yudi Latif mengakui kalau dia meniru gaya menulis Kang Jalal. Bersetuju dengan Kang Jalal, tulisan yang baik adalah tulisan yang sederhana, yang dipahami semua orang, yang tidak menyiksa pembacanya.

Kata Kang Jalal, jika seorang penulis membuat catatan yang rumit dan penuh istilah teknis, berarti penulis itu sendiri tidak paham apa yang ditulisnya. “Dia berlindung di balik istilah-istilah asing untuk menyembunyikan ketidaktahuannya.’

Saya merenungi kalimat dari Kang Jalal. Di mata saya, dia tipe penulis yang humble. Dia menjelaskan sesuatu sesederhana mungkin dan sejelas-jelasnya. Dia tidak bermaksud meninggikan diri. Dia tidak pernah bercerita yang hebat-hebat tentang dirinya. Tulisan adalah cara terbaik untuk membangun jembatan hati, mengalirkan makna, serta menjadi kecipak inspirasi yang terngiang di benak pembacanya.

Tulisannya adalah pancaran dari pengetahuannya, serta ikhtiar sederhana untuk berbagi. Dengan menulis, dia membangun jejaring makna dengan banyak orang. Dia bisa menginspirasi dan menggerakkan orang lain, serta menyebarkan pengetahuan dan kearifan ke segala sisi, dalam kecepatan yang tak bisa kita bayangkan.

Saya merasa beruntung sebab masih merasakan masa-masa tahun 1990-an dan 2000-an yang begitu haru biru wacana intelektualitas. 

Di masa itu, ada banyak penulis hebat dengan artikulasi yang sederhana. Itulah masa emas di mana banyak intelektual dan cendekiawan meramaikan media cetak. Mereka tidak berada di menara gading, tetapi meramaikan media massa, memenuhi rak toko buku dengan bacaan bermutu, hingga tampil di banyak forum diskusi.

Mereka tidak terjebak dalam tengkar yang tidak mutu mengenai dukung mendukung atau cebong kampret, namun mereka mencerahkan masyarakat dengan gagasan-gagasan. Selain Kang Jalal, ada juga Cak Nur, Gus Dur, Sobary, Emha Ainun Najib, dan banyak lagi. Tidak keliru jika mereka disebut sebagai Zaman Baru Islam Indonesia. 

Kini, di era televisi dan internet, kita melihat para intelektual jaman now berbagi ide di Podcast, bikin kanal Youtube, juga bikin postingan dengan nama yang diberi embel-embel gelar agar tampak keren. Mereka marah-marah kalau penontonnya sedikit, seolah itu cerminan dari masyarakat yang makin bodoh. Padahal, jujur saja, konten yang dibuat Rafi Ahmad jauh lebih menarik.

Atas alasan ini, kita akan sering mengenang Kang Jalal, cendekiawan rendah hati yang berbicara dengan bahasa sederhana dan menyentuh hati.  Sore ini, sehari setelah kepergiannya, seusai membaca banyak catatan tentangnya, saya merasa dia tak pernah benar-benar pergi. Anak ruhaninya sudah merasuk ke mana-mana. 

Catatannya akan terus abadi dan menjadi prasasti tentang dirinya. Dia mengingatkan pada Will Durant: “Scripta manent, verba volant.” Kata tertulis abadi, kata terucap lenyap.

Dia akan selalu abadi.



MARIA OZAWA, Pemersatu Bangsa Kita

Daisuki dan Maria Ozawa


Belum cukup sehari semalam, konten dari Youtuber dan komedian asal Jepang, Daisuki Botak, mengenai wawancara dengan Maria Ozawa mengenai Indonesia, sontak ditonton lebih 2,7 juta orang. Dua pekan silam, wawancara dengan Shigeo Takuda, alias kakek Sugiono, juga viral dan ditonton 7 juta orang.

Inilah potret bangsa kita. Di layar kaca, banyak orang sibuk berdebat tentang keputusan menteri yang meminta agar sekolah negeri tidak memaksakan jilbab. Banyak orang rela mati demi mempertahankan nilai agamanya. 

Banyak hubungan silaturahmi yang terganggu gara-gara beda pilihan politik. Orang-orang begitu mudah membangun kubu berbeda. Isu boleh berganti, tapi debat dan tengkar akan terus terjadi. Segala hal diperdebatkan, mulai dari presiden, gubernur, sampai imam besar.

Tapi lihatlah di media sosial kita. Para aktor dan aktris film bokep malah sangat populer dan diidolakan semua orang. Konten-konten tentang bintang film porno, termasuk konten Tante Ernie dan ibu-ibu seksi di Instagram, juga aksi seorang artis inisial GA malah laris manis dan tak bosan-bosan ditonton.

Dalam tayangan bersama Shiego Takuda alias kakek Sugiono, komedian Jepang yang berkarier di Indonesia, Daisuki, sengaja melakukan video call dengan banyak temannya di Indonesia. Rata-rata mengenal si kakek, yang beberapa kali disebut-sebut sebagai legend. Di konten tentang Maria Ozawa, dia tidak lagi melakukan vidio call, karena rata-rata orang akan tahu.

Seorang Youtuber menyebut konten-konten sejenis sebagai pemersatu bangsa. Itulah sebutan paling kreatif dan paling bisa menggambarkan bagaimana masyarakat kita hari ini. Pasca pilpres dan pemilihan Gubernur DKI, dunia maya kita seakan terbelah. Tiada hari tanpa gelut. Tiada hari tanpa melihat debat dan saling menang-menangan.

Berkat konten-konten agak porno, serta aktor film dewasa seperti Shigeo Takuda dan Maria Ozawa, publik bersatu dalam atmosfer yang tenteram dan damai. Berkat konten itu, kita kembali jadi anak bangsa yang cinta damai dan saling mendukung. Tak ada debat. Tak ada tengkar. Yang ada, pikiran-pikiran positif serta komentar lucu hingga porno. Betapa damainya media sosial kita.

Saya suka membaca banyak komentar yang menarik. Kadang kala, komentar lebih seru ketimbang kontennya. Di antaranya adalah: “Mari kita sampaikan rasa terima kasih kepada Maria Ozawa san. Terima kasih untuk apa? Ya, pokoknya terima kasih lah selama ini selalu menemani kami cowok menjadi dewasa. Good job Daisuke!!!”

Youtuber lain memberi komentar seru: “Kami warga indonesia sudah bosan dengan hoax atau drama politik... Kami butuh asupan podcast kaya gini,,podcast yg bener bener pemersatu bangsa..”

Guys, sepatutnya kita berterimakasih pada aktris dewasa yang lebih dikenal sebagai Miyabi ini. Dia telah membuka topeng yang selama ini kita kenakan. Sosok itu telah mengekspos dengan gamblang wajah manusia Indonesia sesungguhnya, yang setiap saat memaki dengan membawa moral, namun di saat bersamaan menikmati tayangan tersebut. 

Kita sering mengklaim sebagai negeri religius dan bermoral. Sering kita selalu berbangga dengan retorika ketimuran, jargon bahwa kita bangsa yang santun dan berkepribadian. Pejabat dan ulama kita bilang tayangan porno akan merusak bangsa. 

Namun jutaan orang yang menyaksikan penampilan Miyabi dan mengidolakannya adalah fakta yang tak bisa diabaikan. Di depan layar kita menolak, tapi diam-diam kita mencari videonya dan menonton sembari mengkhayal. Banyak orang yang memaki GA, arti yang tayangan pornonya menyebar di internet. Namun akuilah kalau semua orang diam-diam mencari video itu, menontonnya, lalu membagikannya ke mana-mana. Kita tak lebih baik dari dia yang dimaki itu.

Dalam wawancara itu, dia menyebut sisi lain bangsa kita. Setiap kali ke Indonesia, selalu ada masalah. Dia tertahan lebih sejam di bandara. Ruang geraknya dipersempit. Dia diinterogasi. Bahkan mengalami deportasi atau dipulangkan. “Saya datang karena diundang, tapi kok dipulangkan?” katanya.

Pernah, dia berhasil masuk Indonesia. Saat sejumlah orang tahu kedatangannya, dia disambut dengan demonstrasi. Dia juga terheran-heran karena fotonya sempat masuk buku pelajaran. Katanya, ada sejumlah figur yang disandingkan, ada figur baik dan ada figur tidak baik. Dia heran kenapa foto dan namanya masuk di buku itu.

Bisa jadi, negara ingin menjaga moral, juga menjaga ajaran agama. Tapi lihatlah respon orang Indonesia. Banyak orang ingin selfie dengannya. Di mana pun dia datang, orang-orang berlomba untuk berfoto dengannya.  Dia tak mengalami perlakuan yang sama saat datang ke negara-negara lain. Hanya di Indonesia, dia bisa dicaci sekaligus dipuja. 

Maria Ozawa atau Miyabi telah menelanjangi kepalsuan yang selama ini menghinggapi rakyat kita. Jutaan manusia Indonesia yang menonton filmnya adalah gambaran utuh tentang sosok kita yang sesungguhnya. Inilah potret bangsa kita. 

Bukan cuma potret dari mereka yang sedang berdoa khusyuk di satu tempat. Tapi juga mereka yang mengidolakan Maria Ozawa, mereka yang mencari teman tidur di hotel-hotel, maupun di pinggiran rel kereta api, mengumbar nafsu di dekat pemukiman tikus got.

Beruntunglah ada internet. Orang-orang bisa diam-diam menelusuri videonya, memberi komentar, dengan memakai nama alias. Saya teringat buku Everybody Lies yang ditulis Seth Stephens Davidowitz. Internet adalah kanal tempat kita menjadi jujur pada diri sendiri. Di depan orang lain, kita bisa tampil dengan wajah moralis. Tapi saat mengetik di kolom pencarian Google, kita akan menjadi diri sendiri.

BACA: Saat Membaca Everybody Lies

Makanya, kata Seth, Google melaporkan, di negeri yang semua orang mengaku moralis dan agamis, topik paling sering dicari orang-orang di situ adalah situs porno dan seks. Seseorang yang tampak alim dan pendiam, bisa jadi rajin mengetik kata perkosaan di mesin pencari Google. 

Satu lagi tentang Maria Ozawa atau Miyabi. Dia tidak baper. Dia senang karena dicintai banyak orang Indonesia. “Hanya saja, jika cinta terlalu kuat, maka bisa jadi bumerang bagi diri sendiri.”

Iya benar Miyabi. Kamu dicintai jutaan orang yang pernah melihat videomu. Bisa jadi mereka ikut berfantasi bersamamu. Kamu telah menghangatkan adrenalin banyak orang untuk tumbuh dewasa.

Terima kasih pemersatu bangsa.