Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Lelaki Korea Bergincu Merah


Kim Soo Hyun dalam salah satu drama Korea

SESEORANG di rumahku sedang keranjingan menonton drama You Who Come from the Star. Ia agak telat menyaksikan drama yang beberapa waktu lalu membuat banyak perempuan ‘terkapar’ pada pemeran prianya yakni Kim Soo Hyun. Ketika ‘terpaksa’ menyaksikan tayangan ini, aku menemukan definisi tampan bagi orang Korea. Yakni wajah bersih dan cling setiap saat, rambut rapi seolah tiap saat keluar dari salon, serta bibir bergincu merah. Inikah tampan?

***

SEBUAH badai hiburan tengah melanda dunia. Badai itu kerap disebut Korean Wave. Melengkapi penetrasi yang tinggi di bidang teknologi, di mana-mana bisa kita saksikan berbagai produk industri hiburan asal negeri Ginseng itu. Di tanah air, layar televisi kita ikut menyiarkan tayangan drama, film, musik asal Korea.

Entah kenapa, setelah menyaksikan beberapa film Korea, tak satupun yang ‘bersarang’ di benakku. Aku juga tak bisa menghapal persis wajah para pemerannya. Aku hanya mengingat satu nama yakni Cha Tae Hyun yang berperan dalam film My Sassy Girl. Tadinya, aku berpikir mungkin agak sulit menghapal wajah aktor asal Asia Timur.

Tapi anggapan ini langsung kutepis. Aku menghapal betul wajah dan karakter bintang film Hongkong seperti Jet Li, Andy Lau, Jacky Chan, Aaron Kwok, Stephen Chow, Mo Shao Chung, Chao Wen Chuo, hingga aktor laga favoritku yakni Donnie Yen dan Ekin Cheng. Ketika melihat wajah mereka di poster, aku langsung mengenalinya. Anehnya, aku tak bisa menghapal satupun aktor film Korea, padahal beberapa filmnya telah kutonton. Why?

Tak hanya aktor, aku juga tak menghapal satupun aktris Korea. Aku hanya bisa menyebutkan beberapa judul film yang ceritanya bisa membuatku betah dan menontonnya hingga tuntas. Di antara film itu adalah My Sassy Girl, My Boss is My Hero, Sex is Zero, dan My Girlfriend is an Agent.

Bagiku, aktor dan aktris Korea memiliki tipikal wajah yang sama. Para aktor dan aktris lahir dari rahim kebudayaan yang kriteria tampan dan cantik telah mengalami penyamaan. Industri hiburan telah menetapkan satu kriteria tentang tampan dan cantik, yang kemudian menjadi ikon kapitalisme. Setiap orang ingin berpenampilan sebagaimana kriteria-kriteria itu. Apakah bisa?

“Korea adalah negeri yang warganya paling banyak melakukan bedah plastik,” kata Anton, seorang sahabat asal Palembang yang tengah menjalani program post-doktoral di University of California at Berkeley, Amerika Serikat. Anton, yang beberapa kali berkunjung ke Korea, juga memaparkan analogi. Katanya, jika di tanah air sunatan adalah sesuatu yang wajib bagi lelaki, maka di Korea, bedah plastik dianggap sebagai hal wajib. Hah?

Anton benar. Beriringan dengan penyeragaman konsep, industri kedokteran menyediakan praktik bedah plastik yang lalu menjadi trend. Setiap orang ingin mengubah penampilan agar nampak lebih bersinar sehingga menarik hati lawan jenisnya. Di tengah keseragaman penampilan seperti itu, adakah tempat bagi keunikan? Entahlah.

poster drama You Who Come from the Star

Yang pasti, industri hiburan di Korea memang laksana virus yang merasuk ke mana-mana. Di satu blog, aku menemukan keheranan seorang warga Amerika yang ikut program pertukaran pelajar di Korea. Katanya, di kelas yang diikutinya, semua orang punya defenisi yang seragam tentang cantik. Yakni memiliki mata yang besar. Maklum saja, mayoritas warga Korea memiliki mata sipit, yang dianggap pasaran.

Siswa Amerika itu menjelaskan kalau beberapa teman sekelasnya sengaja ke sekolah membawa alat sejenis pembesar bola mata yan justru bisa berbahaya bagi siswa itu. Jika alat itu terlupa, maka kerap kali para siswa menggunakan bolpoin untuk membesarkan bulu mata.

Beberapa sosiolog telah mengatakan bahwa selera kita adalah selera yang dikonstruksi oleh media massa. Industri hiburan melakukan proses ‘cuci otak’ sehingga semua orang memiliki konsep yang seragam. Demi konsep yang seragam itu, orang-orang akan melakukan banyak hal dan mengeluarkan uang sebanyak yang sanggup dikeluarkan. Celakanya, Korea mengidap ‘amnesia’ massal yang kemudian membawa konsekuensi pada dinamika sosial, budaya, serta relasi personal antar warganya.

Namun, apakah anda sepakat dengan konsep tampan dan cantik ala Korea itu?

Sejak dulu, aku menolak penyeragaman definisi. Apapun itu. Bagiku, wajah bersih dan cling, rambut selalu rapi seolah keluar dari salon, serta gincu merah bukanlah tolok ukur ketampanan seorang lelaki. Yang disebut tampan adalah mereka yang memiliki wajah tegas dan karakter yang kuat. Ketampanan seseorang tak bisa dilihat dari fisik, namun suara yang tegas, berwibawa, serta punya pesona yang sanggup menggerakkan orang lain untuk melakukan apapun yang diinginkan sang pemilik suara tegas. Lelaki yang gagah adalah lelaki yang punya kharisma, mata yang tajam namun teduh, serta memiliki ketenangan dalam keadaan apapun. Ia juga bisa menenangkan siapapun yang sedang galau melalui kalimat-kalimat yang menggetarkan.

Ini menurutku lho. Bisa kutebak kalau definisi ini amat berbeda dengan definisi dari para ABG yang memajang poster Lee Min Ho dan Kim Soo Hyun sembari histeris lalu mengecupnya. Boleh jadi, sosok para lelaki bergincu merah itu justru lebih membekas di hati ketimbang kisah-kisah hebat dan inspiratif dari mereka yang mengubah dunia secara diam-diam dan tak berniat menyebarkan kisah-kisah magisnya.

Yah, setiap zaman memang punya ciri. Setiap zaman punya selera.


Yang Kusuka di Kota Makassar


buku yang dibeli hari ini

YANG kusuka dari Kota Makassar adalah energi besar dari warganya untuk mencipta dan melahirkan karya-karya bagus. Jumlah mereka tak banyak, namun jika kubandingkan dengan kota-kota lain, hanya di Makassar, aku bisa merasakan hasrat besar untuk menuliskan gagasan lalu membuatnya abadi di sepanjang zaman.

Memang, Makassar sedang dipenuhi ancaman dari geng motor. Banyak juga ancaman tentang kekerasan, serta amarah yang dengan begitu mudahnya melepas badik keluar dari sarungnya. Tapi di sini juga ada kelembutan serta semangat belajar yang tinggi. Ada beberapa orang yang kukenal menyimpan magma belajar serta menulis yang membuatku iri setengah mati. Beberapa di antaranya telah berkibar di level nasional, namun tetap tak mau kehilangan identitasnya sebagai orang Makassar.

Mungkin, semangat mengagumkan ini lahir dari rahim budaya dialektis yang banyak memberi ruang bagi perbedaan gagasan. Barangkali, iklim diskusi sudah sedemikian kokoh di tempat ini sehingga menjadi lahan subur bagi tumbuhnya kecambah-kecambah hasrat ingin tahu yang lalu menguatkan pohon ilmu pengetahuan. Yang pasti reproduksi pengetahuan di Makassar ibarat bunga yang terus memekar dan wanginya semerbak.

Satu hal yang kusayangkan, akademisi Makassar tidak secepat para penggiat kebudayaan dalam merespon dinamika. Para akademisi justru jalan di tempat, mandek karya, terjebak pada rutinitas dan riset pesanan, serta hanya bisa berbicara dari sudut yang ‘common sense.’ Mereka tak sejeli beberapa sahabat di Kampung Buku dan Ininnawa (beralamat di Jalan Abd Daeng Sirua) yang tekun melahirkan buku-buku bagus, membentuk jejaring dengan para peneliti, lalu belajar bersama-sama dalam dunia indah yang penuh dengan aksara.




Makassar, 16 September 2014
seusai membeli buku-buku lokal yang bagus.


Mereka yang Susah Air di Atas Air


suatu siang di Pulau Badi

MEREKA yang tinggal di pulau-pulau berpasir putih di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, itu seakan tinggal di atas surga. Langit biru, pasir putih, lautan jerbih menjadi bagian dari keseharian mereka. Siapa sangka, di balik keindahan pulau-pulau itu terselip banyak kisah mengharukan tentang perjuangan demi menemukan sumber penghidupan hingga ke daratan-daratan yang jauh.

***

TAK lama lagi, perahu kecil yang kutumpangi akan sampai di Pulau Badi. Dari kejauhan, pulau itu nampak indah. Laut dan langit biru seakan mengapit pohon hijau dan pasir putih. Di kejauhan, aku melihat perahu nelayan serta anak kecil yang bermain di pasir putih. Pemandangannya sungguh menakjubkan.

Pulau Badi terletak di Desa Mattiro Deceng, Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkep. Dari Makassar, pulau ini bisa ditempuh hingga dua jam perjalanan. Pulau ini juga bisa dijangkau dari Pangkajene, ibukota Kabupaten Pangkep. Akan tetapi, lebih banyak orang yang berangkat dari Makassar. Penduduk pulau juga lebih banyak bepergian ke Makassar.

Bersama seorang fasilitator Destructive Fishing Watch (DFW), lembaga yang concern pada isu kelautan, serta penumpang lain, aku turun dari perahu. Ternyata ada beberapa jergen berisi air yang juga ikut diturunkan. Barulah kutahu kalau ternyata perahu itu juga memuat banyak jergen berisi air. Seorang warga pulau lalu menjelaskan tentang masalah yang mendera warga pulau. Ternyata mereka yang berdiam di sekeliling air itu justru mengalami masalah kesulitan mendapatkan pasokan air bersih. Meskipun berumah di tengah air, namun air tawar amatlah penting untuk dikonsumsi dan dimasak.

Haris, seorang warga pulau, menuturkan, bahwa meskipun demi mendapatkan air tawar yang layak diminum itu, mereka harus menempuh perjalanan selama dua jam berperahu ke Makassar. Bahkan di tengah musim ketika ombak mengaduk lautan, mereka harus tetap mendapatkan air bersih. “Kami mau gimana lagi. Air bersih adalah kebutuhan utama warga pulau. Tak mungkin mengharapkan sumur sebab airnya payau. Untuk minum dan masak, kami harus mendapatkan air bersih,” katanya.

Dalam kunjungan singkat itu, aku menyempatkan diri berkunjung ke sekeliling pulau yang bisa dilakukan hanya dalam beberapa jam. Luas pulau hanya 6,50 hektar dengan jumlah penduduk sebanyak 402 kepala keluarga (KK). Lebih 90 persen penduduk pulau ini bekerja sebagai nelayan. Ada pula yang berprofesi sebagai pedagang pengumpul. Namun tak banyak.

Pulau ini memang cukup kondang sebagai kawasan konservasi karang. Sebelumnya, masyarakat kerap merusak karang dan memanfaatkannya sebagai bahan bangunan. Namun seiring dengan banyaknya program konservasi karang dari beberapa lembaga lokal dan internasional, maka kondisinya kini membaik. Beberapa tempat menjadi spot penyelaman. Di sini, dengan mudahnya ditemukan clown fish yang muncul dalam film Finding Nemo, serta beberapa ikan hiu.

Banyaknya program konservasi itu amatlah kontras dengan ketersediaan prasarana di pulau ini. Sejauh yang kuamati dan saksikan, sentuhan pemerintah di pulau ini hanyalah dalam bentuk ketersediaan bangunan sekolah dasar. Di luar itu, nyaris tak ada sarana dan prasarana yang dibangun untuk warga pulau.



Mereka yang tinggal di pulau ini seolah dibiarkan hidup dan menata dirinya sendiri, tanpa banyak merasakan makna pembangunan yang sesungguhnya. Demi air bersih, warganya harus menempuh perjalanan melewati laut. Demikian pula dengan pelayanan kesehatan, pendidikan, serta prasarana yang dibutuhkan mereka yang berumah di pulau-pulau.

Haris menuturkan, galon air yang didatangkan dari Makassar itu harus dibeli dengan harga 8000 rupiah. warga pulau harus membeli satu galon air seharga 8.000 rupiah. Padahal, di kota Makassar, harga segalon air di depot isi ulang hanya sekitar 2.500 rupiah. Jika air itu habis dalam waktu tiga hari, silakan hitung biaya yang harus dibayarkan oleh para nelayan kecil di pulau ini.

Belum lagi jika ditambah dengan biaya listrik. Dahulu, d beberapa pulau, ada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang bisa menyediakan listrik secara terbatas. Sayangnya, pembangkit ini tak bertahan lama. Kebutuhan listrik warga lalu dipasok oleh genset yang membutuhkan bahan bakar dnegan biaya yang cukup besar. Dengan biaya yang sedemikian banyak setiap bulannya, masihkah anda berminat tinggal di pulau-pulau indah itu?

Desalinator

Di tahun 2011, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memiliki program pengadaan desalinator air laut di pulau ini. Program ini sangatlah bagus dan bisa menjadi solusi bagi masyarakat setempat. Selama lebih tiga tahun, masyarakat menikmati air bersih berbiaya murah yang dibangun dengan bahan baku air laut.

Kata beberapa warga yang kutemui, air yang dihasilkan oleh alat ini sangat segar dan tawar sebagaimana air merek Aqua. Bahkan jika dibandingkan dengan air galon yang dibeli dari Makassar, air yang dihasilkan dari alat ini masih lebih baik. Uji laboratorium juga menegaskan hal itu.

Sungguh disayangkan, alat itu tiba-tiba rusak. Warga sudah berupaya untuk memperbaiki alat itu, namun tak ada satupun yang bisa memperbaikinya di Makassar. Alat buatan Swiss itu agak berbeda dengan mesin desalinator air laut yang ada di pulau-pulau lain. Warga juga telah mengontak pihak kontraktor yang memasang alat,  namun tak ada respon sama sekali. Kata seorang kawan, logika yang dibangun para kontraktor adalah logika proyek. “Setelah mereka memasang alat, mereka langsung kabur sebab menganggap kontraknya sudah selesai,” katanya.

Pelajaran berharga di masa mendatang adalah pengadaan sarana dan prasarana harus berbasis masyarakat. Dalam artian, masyarakat harus ikut mengawasi dan mengadakan satu sarana, lalu mengawal sarana itu secara terus-menerus. Pelajaran lainnya, pihak luar tak boleh lepas tangan atas apa yang sudah dibangunnya. Mereka harus selalu siap untuk membantu dan menyelesaikan segala keluhan masyarakat.

perahu nelayan

Yang menakjubkanku, masyarakat menjadi terbiasa dengan berbagai kesultan hidup. Di tengah berbagai masalah yang mendera, mereka tak kehilangan keceriaan menghadapi hari. Aku merasakan bahagia itu saat bersama seorang pria yang membudidayakan kuda laut, serta beberapa nelayan yang datang mengobrol di rumah warga yang kudiami selama semalam.

Pelajaran berharga yang kudapatkan di situ adalah di balik setiap keindahan, selalu ada ketidakindahan yang kadang tak bisa kita pahami sebelum memasuki jantung keindahan itu. Dan di balik setiap ketidakindahan, selalu ada keindahan dan keriangan dari mereka yang mengalaminya.

Kita bisa membumikan filosofi itu di konteks Pulau Badi. Bahwa di balik keindahan pulau itu, ada kesulitan warga mendapatkan air bersih dan listrik. Di balik kesulitan itu, selalu ada kebahagiaan menjalani hari-hari di pulau yang amat mempesona itu. Inilah butir-butir inspirasi yang kutemukan di pulau itu.


Kiat Gratis Keliling Tanah Air


saat berperahu di Kepulauan Spermonde, Sulsel


PERNAH, kubaca tulisan seorang travel blogger tentang kiat gratis bisa jalan-jalan ke luar negeri. Salah satunya adalah menikah dengan warga asing. Saat itu, kutambahkan satu kiat lagi yakni memenangkan beasiswa ke luar negeri. Anda tak hanya jalan-jalan, tapi juga bisa tinggal selama bertahun-tahun. Aku telah mengalaminya.

Belakangan, muncul pertanyaan, bagaimanakah halnya jika kita berkeinginan untuk keliling Indonesia? Adakah kiat gratis? Bisakah kita memiliki pekerjaan yang mengharuskan kita untuk setiap bulan melakukan perjalanan lalu belajar di satu tempat?

Dahulu, pertanyaan itu kusimpan rapat-rapat. Kupikir mustahil bisa keliling ke banyak tempat di tanah air. Indonesia yang begini luas tak mungkin dijelajahi satu per satu. Kupikir betapa menyenangkannya bisa mengunjungi banyak tempat, mengambil gambar, lalu pindah lagi ke tempat lain.

Namun selalu saja ada kejutan yang kadang datang menghampiri. Selama beberapa bulan ini, aku perlahan-lahan menjadi seorang traveler. Aku berpindah-pindah banyak tempat, mengunjungi pulau-pulau eksotik, lalu merencanakan perjalanan ke mana-mana. Kok bisa? Yup, sebab aku bekerja sebagai peneliti. Pekerjaan ini memungkinkanku untuk setiap saat melakukan perjalanan, bertemu orang baru, lalu mengambil gambar-gambar menarik.

saat berada di Papua Barat

Ternyata ada jalan lain untuk bisa keliling tanah air. Dengan menjadi peneliti, anda memiliki kesempatan untuk setiap saat belajar dari kenyataan, menyerap pengetahuan di semua tempat, lalu berguru pada masyarakat setempat. Demi kegiatan riset itu, aku berkelana hingga tanah Papua, pedalaman Sulawesi barat, hingga kota-kota kecil di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Selama beberapa bulan ini, aku mengunjungi banyak tempat yang kemudian mengasah nuraniku untuk lebih arif dalam memandang setiap kenyataan.

Susahkah jadi peneliti? Bagiku, semua pekerjaan punya dimensi kesusahan sendiri. Aku menyadari betul kalau aku punya beberapa kelemahan di bidang ini. Namun penelitian selalu mengajarkanku untuk terbiasa bekerja secara tim, saling melengkapi kekurangan masing-masing, lalu membangun satu mekanisme kerja yang memungkinkan akhirnya riset yang berhasil.

Harus dicatat, kebahagiaan sebagai peneliti tidaklah dilihat dari seberapa banyak tempat yang didatangi. Kebahagiaannya terletak pada seberapa sanggup kita melahirkan satu rekomendasi yang lalu mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik. Bahagianya ada pada senyum riang dari orang-orang yang terbantu atas kehadiran kita, serta mendapatkan manfaat dari kehadiran kita yang hanya sesaat. Puncaknya adalah bahagia ketika bisa berguru dan mengasah pengetahuan pada orang-orang hebat yang humble (rendah hati) dan jauh dari kesan angkuh.

Aku bersyukur bisa berguru pada seorang dukun yang pandai menafsirkan bintang di Mamasa, Sulawesi Barat. Aku senang karena bisa menyaksikan keahlian seornag nakhoda kapal phinisi di pulau-pulau sekitar Makassar. Aku juga tak akan pernah lupa dengan pengalaman bertemu seorang pemain sasando di Kupang yang jari-jarinya seolah punya mata sebab bisa memainkan sasando dengan dua tangan. Semua jarinya menyentuh senar demi menghasilkan melodi yang aduhai dan luar biasa indah.

bersama pemusik sasando asal Pulau Rote di Kupang, NTT


Perjalanan itu semakin bermakna sebab menjadi arena untuk mengayakan pengetahuan, sekaligus memperkaya pengalaman batin. Inilah berlian-berlian indah yang kutemukan di perjalanan. Inilah harta karun berharga yang kutemukan dari kunjungan ke banyak tempat di tanah air.

Aku telah menemukan jalan untuk keliling Indonesia. Bagamanakah dengan anda? Apakah anda tak berkeinginan untuk mengunjungi setiap jengkal dari tanah air yang sedemikian luas dan kaya budayanya?


Bogor, 11 September 2014

Rahasia di Balik Tulisan Juara


saat Ara menulis dengan tangan kiri

DARI sekian banyak mengamati tulisan-tulisan yang menang lomba, sejatinya ada prinsip universal yang bisa diterapkan. Ada banyak kiat-kiat praktis serta bagaimana memancing atensi para juri dan pembaca sehingga berpihak pada tulisan kita. Dari sisi teknis semua orang bisa mempelajari bagaimana menulis yang baik. Tapi tak semua orang bisa menghadirkan gagasan yang kuat dalam tulisannya.

Padahal, gagasan itulah yang akan menjadi ruh yang menjiwai tulisan. Nah, bagaimanakah menemukan gagasan itu?

***

DI atas perahu kecil jenis jolloro’, di tengah-tengah gugusan Kepulauan Spermonde di Sulawesi Selatan, saya mengaktifkan internet melalui ponsel yang saya bawa. Seseorang telah menandai saya di twitter. Katanya, nama saya masuk sebagai juara kedua dalam lomba menulis yang diadakan Seknas Jokowi (beritanya DI SINI). Tentu saja saya kaget bercampur bahagia. Kok bisa?

Dari sisi hadiah, lomba ini tak menyediakan hadiah sebesar ketika saya memenangkan lomba penulisan esai ekonomi yang diadakan oleh Sekretariat Kabinet RI. Saat itu, saya menerima uang tunai 20 juta rupiah sebagai juara pertama. Tapi lomba menulis yang diadakan oleh Seknas Jokowi ini punya nilai lebih.

Betapa tidak, juri untuk lomba ini adalah para sastrawan dan penulis papan atas. Di jajaran juri, ada nama Seno Gumira Adjidarma, penulis yang paling saya idolakan sebab bisa menulis dalam berbagai genre, mulai dari novel, esai, analisis sastra, filsafat, tulisan populer, catatan perjalanan, hingga komik populer. Saya mengagumi energi dan kejutan-kejutan yang dibawanya dalam jagad kepenulisan tanah air.

Juri lainnya juga tak kalah kaliber. Ada Linda Christanty, yang pernah memenangkan Khatulistiwa Literary Award, lalu AS Laksana, penulis yang rajin saya senangi karya fiksinya. Para juri ini telah malang melintang di dunia kepenulisan. Makanya, saya tak berharap banyak. Bisa masuk nominasi saja sudah syukur. Ketika mengetahui bahwa tulisan itu menjadi salah satu pemenang, jelas saya merasa sangat bahagia sekaligus terkejut. Mengapa? Sebab tulisan yang menang itu bukanlah tulisan yang saya sukai, tapi tetap saya ikutkan demi meramaikan lomba.

Beberapa teman bertanya tentang bagaimana kiat bisa memenangkan lomba menulis. Saya telah menuliskan rahasia ini beberapa kali. Tapi terkait kemenangan kemarin, saya ingin berbagi tentang pentingnya gagasan yang kuat di balik sebuah tulisan yang menang lomba.

Berani Berpikir Beda

SERING, dalam satu lomba, para peserta cenderung menuliskan hal-hal yang menurutnya hebat, dahsyat, atau bisa memunculkan decak kagum. Pernah, seorang kawan memperlihatkan tulisan yang akan diikutkannya lomba. Baru baca pengantarnya, saya tak tertarik untuk meneruskan bacaan. Ia menulis, “Paradigma baru sains mengajarkan kita untuk selalu humble dalam melihat semesta yang eksis dari teori big bang.” Kalimat ini bisa mengesankan bahwa penulisnya seorang cerdas, namun yakinlah kalimat ini tak akan mengesanan juri manapun. Mengapa? Sebab semua juri dan pembaca selalu menginginkan gagasan yang orisinil, serta bisa membuat orang-orang betah untuk membacanya hingga tuntas.

Artinya, temukan topik yang sederhana, menggugah, dan bisa dipahami siapapun. Dalam artian, topik itu bisa dikaji secara universal dan menyimpan demikian banyak inspirasi. Beranilah untuk menjelajahi hal-hal yang tidak banyak disentuh orang lain sebab dengan cara demikian, tulisan anda akan unik dan akan diperhatikan.

Seorang teman pernah ikut lomba foto tentang hari buruh. Di saat banyak orang memotret luapan emosi para buruh yang sedang berdemonstrasi, teman itu memilih ke pelabuhan rakyat. Ia memotret para buruh berusia muda yang sedang mengangkut karung-karung berisikan beras dan kopra. Ia mengambil gambar tentang mereka yang penuh coreng-moreng dan jelaga karena bekerja sejak subuh. Hasilnya, fotonya langsung menang. Padahal, secara teknis fotografi, jepretannya standar. Tapi ia sukses menampilkan ide yang fresh dan orisinal.

Teman lain pernah ikut seleksi beasiswa ke luar negeri. Ia mengikuti tes wawancara. Di saat orang lain bercerita tentang mimpi-mimpi untuk bangsa yang lebih baik di tengah percaturan globalisasi ataupun harapan untuk mengentaskan kemiskinan dan keterbelakangan, teman itu datang dengan gagasan sederhana.

Ia mengatakan, “Di masa depan adalah saya ingin menjadi pendongeng. Saya akan meggali kearifan masyarakat kita, kemudian dikisahkan kepada anak-anak Indonesia agar mereka tidak kehilangan identitas dan karakternya. Dengan cara itu saya berharap bisa berkontribusi pada perubahan.” Ide ini sederhana, unik dan punya kekuatan. Teman itu sukses mendapat beasiswa ke Amerika.

Beberapa waktu lalu, ada pembuat dokumenter yang mengangkat gagasan tentang Suster Apung, yakni seorang suster yang berpindah-pindah pulau dnegan perahu kecil demi memberikan pelayanan kesehatan. Saya tak terkejut jika ide ini memenangkan lomba film dokumenter sebab gagasannya sederhana dan tidak biasa, tapi penuh inspirasi.


Artinya, kata kunci pertama dalam setiap lomba, baik itu menulis, memotret, melukis, pidato, presentasi, juga seleksi beasiswa adalah keunikan gagasan, kesederhanaan, dan kekuatan. Tulisan yang baik selalu lahir dari gagasan yang baik dan bertenaga. Ketika seseorang menemukan gagasan yang kuat, maka metode, teknik, serta panduan dalam kepenulisan akan menjadi sayap-sayap yang akan menerbangkan gagasan itu ke mana-mana.

Tampilkanlah sesuatu yang tidak biasa. Hadirkan makna dari kenyataan yang setiap hari disaksikan orang, namun seringkali luput dari perhatian. Munculkanlah sekeping kenyataan yang bisa menggerakkan serta menghadirkan gagasan positif agar orang lain ikut bergerak. Temukan inspirasi, sesuatu yang serupa rembulan bisa menghadirkan cahaya terang untuk membantu orang lain agar melihat dengan jernih di tengah kegelapan.

Caranya mudah. Amati semua kenyataan di sekitar. Berusaha untuk temukan makna dan pembelajaran dari setiap kejadian. Pungutlah semua hikmah yang bertebaran di sekitar kita. Jika itu berhasil ditemukan, maka anda sudah memiliki satu tahap untuk menjadi juara. Jika anda berhasil menemukan satu pembelajaran serta makna penting, maka anda sudah memiliki satu point penting untuk menjadi juara. Selanjutnya adalah tinggal menyempurnakan proses narasi dan bagaimana membingkai gagasan demi gagasan.

Untuk tahap selanjutnya adalah melakukan riset. Beberapa kali saya tegaskan bahwa tulisan yang baik lahir dari riset yang juga baik. Bagi para penulis, riset itu dilakukan dengan cara membaca berbagai tulisan serupa demi menemukan sisi lain yang tak pernah disentuh. Bisa pula membaca berbagai informasi terkait topik yang akan dituliskan. Dengan cara demikian, sebuah tulisan akan lebih kaya perspektif.

Jika semua informasi dan data telah dikumpulkan, saat selanjutnya adalah mulai menulis. Ada banyak teknik menulis yang bisa diterapkan. Kadang, seorang penulis akan memulai dari menuliskan dahulu hal-hal penting yang akan dirangkainya menjadi artikel. Ia bisa mulai dari belakang, tengah, atau depan. Prinsipnya adalah biarkan semua gagasan itu mengalir dengan lepas bak sungai.

Tentu saja, tulisan ini terlampau singkat untuk membahas beberapa hal penting dan mendasar di balik sebuah tulisan yang memenangkan lomba. Namun saya selalu meyakini bahwa tulisan yang baik selalu berangkat dari gagasan yang baik. Makanya, jangan pernah kehilangan fokus dalam setiap aktivitas. Percayalah, di balik semua hal biasa, terdapat sesuatu yang luar biasa dan bisa menjadi pelajaran bagi yang lain. Membagikan pengalaman itu pada yang lain secara gratis jauh lebih menakjubkan ketimbang menang lomba. Inilah semangat utama yang mesti disemai dan terus dipupuk.


Lelaki yang Menelusuri Pulau Harapan


Forum Maritim Hebat

LELAKI itu tiba-tiba saja terdiam. Hatinya tersentuh ketika sedang menyaksikan debat calon presiden. Seorang presiden bertubuh kerempeng beberapa kali menyebut kata maritim. Dirinya yang setiap hari beraktivitas di laut tak hanya paham apa makna maritim, tapi juga meresapi kata yang terus-menerus mengalir dalam darahnya. Di tepi pantai di Desa Sekotong, Lombok Barat, ia lalu memutuskan untuk berbuat sesuatu. Ia ingin membantu pria yang menyebut kata maritim itu. Tapi apakah gerangan yang bisa dilakukannya?

Lelaki itu bernama Risal. Usianya belum 30 tahun. Ia bekerja sebagai fasilitator untuk masyarakat nelayan. Saban hari, ia akan mengikuti aktivitas nelayan dan bersama-sama memantau illegal fishing atau pencurian ikan. Ia juga sesekali membantu nelayan ketika berurusan dengan pemerintah atau bank. Hari-harinya digarami oleh kecintaan pada laut serta para nelayan di Pulau Lombok.

Sebagai alumnus program Ilmu Kelautan, Universitas Hasanuddin, ia bisa memilih profesi di darat. Ia bisa menjadi karyawan bank atau sebagai pengusaha, sebagaimana banyak teman-temannya. Tapi ia lebih cinta pada lautan. Demi cintanya itu, ia pernah tinggal di pulau terpencil selama berbulan-bulan bersama masyarakat nelayan.

Ketika berbincang tentang pulau-pulau, mata Risal berbinar-binar. Ia seolah diajak bercerita tentang surga yang sedang didiaminya. Pengetahuannya tentang laut cukup komplit. Ia bisa bercerta tentang para nelayan Buton yang kemudian menjadi bajak laut di Selat Malaka hingga tentang para pembom ikan di Kepulauan Supermonde. Baginya, semuanya adalah pilihan. “Selama ini, tak ada yang peduli pada nelayan. Makanya, banyak nelayan banting stir menjadi bajak laut. Kita tak punya pemimpin yang peduli pada lautan,” katanya.

Makanya, ketika mendengar ada capres yang menyebut-nyebut tentang lautan, hatinya langsung mekar. Ia terharu sebab selama ini lautan tak pernah tesentuh. “Saya terharu ketika capres kurus itu menyebut-nyebut kata maritim. Indonesia sudah lama merdeka. Tapi tak ada satupun presiden yang sangat peduli pada lautan. Saya ingin membantu sebisa-bisanya,” katanya.

Mulanya, Risal bingung, dengan cara apa hendak membantu. Beberapa temannya memberikan sumbangan melalaui rekening. Ia tak punya dana lebih yang bisa dibagikan. Ia hanya memiliki sekeping keikhlasan untuk berbuat. Suatu hari, ia mendengar tentang sekelompok relawan yang menyebut dirinya sebagai Forum Maritim Hebat. Kelompok ini menggelar kampanye kratif dengan cara melakukan blusukan maritim. Tanpa banyak menimbang, ia langsung bergabung. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia berkampanye untuk seseorang. Baginya, selagi ada harapan dan niat baik, maka perjuangan mesti dimulai.

Bagaimanakah memulainya?

***

DI Jakarta, sebuah kelompok bernama Forum Maritim Hebat (FMH) dideklarasikan. Berbeda dengan relawan politik lain, kelompok ini berniat untuk mengampanyekan gagasan-gagasan maritim yang pernah disampaikan capres Joko Widodo. Kegiatan yang dipilih adalah blusukan maritim, di mana seluruh anggotanya akan mengunjungi pulau-pulau terpencil sembari membawa gambar Jokowi – Jusuf Kalla. Rencananya, ada seribu spot maritim yang akan dikunjungi di 34 provinsi.

saat blusukan maritim

Koordinator forum ini adalah Muhammad Zulficar mengklaim hendak menyerap aspirasi, agar nantinya diserahkan ke Jokowi – JK. “Rencananya kami akan melakukannya di 1.000 spot maritim yang tertinggal dan terabaikan dan merekam aspirasi masyarakat di sana,” katanya.

Kegiatannya sangat unik. Mereka akan menyebar jaringan semua fasilitator yang berdiam di pulau-ppulau beserta aliansi strategisnya yakni para nelayan. Bersama-sama, mereka akan menggemakan perlunya membuat gerakan kembali ke laut sebagai rumah bbersama di bahwa kepemimpinan Jokowi – JK.

Tak ada donatur kakap yang mendanai kelompok ini. Pembiayaannya secara urunan. Masing-masing anggotanya memberikan kontribusi dengan cara mengunjungi pulau, menyerap aspirasi, mendokumentasikannya, lalu menyebarnya mealui jejaring sosial. Biayanya swadaya. Pusat tak mengucurkan apapun selain semangat yang kuat untuk menyebarkan seluas mungkin gagasan-gagasan untuk kembai menjadikan laut sebagai semesta yang menyediakaan kekayaan bersama yang menjadi lokus mencari nafkah bagi banyak orang.

***

DI Pulau Lombok, Risal itu menganyam visi yang sama. Di tengah hembusan angin sepoi-sepoi di tepi pantai, ia berbincang dengan beberapa nelayan muda tentang apa yang harus dilakukan. Bersama para nelayan itu, ia telah membentuk baywatch yang bertugas mengawasi pesisir pantai secara sukarela. Para nelayan muda itu bersedia menjadi baywatch di sela-sela aktivitas menangkap ikan.

Mereka lalu membahas pulau-pulau di sekitar Lombok. Yang mengagumkan, para nelayan itu menghafal dengan detail semua pulau-pulau. Maklumlah, nelayan itu telah mengitari pulau-pulau itu sejak masih belia. Pengetahuan mereka tentang pulau-pulau sekitar adalah pengetahuan yang diwariskan dari nenek moyang yang terus dipelihara dari zaman ke zaman.

Risal meyakini bahwa pengetahuan itu sangat penting sebagai pijakan awal untuk menelusuri banyak hal substansial di masa kini. Tak mungkinlah menggelar satu program atau kegiatan bagi nelayan, tanpa memahami apa yang ada di benak para nelayan.

Pertama adalah identifikasi wilayah. Lebih 80 persen penduduk bekerja di sektor pertanian dan kelautan. Sebanyak 92 persen penduduk hidup di desa-desa, baik yang berada di tengah hutan, maupun desa di sekitar pantai. Tentu saja, kegiatan blusukan maritim akan sangat strategis demi memperkenalkan program.

Kedua adalah mengenali budaya. Sebagian besar penduduk adalah etnis Sasak dan etnik Bali. Kebanyakan warga masih memelihara tali kekerabatan yang cukup erat. Mereka saling mengenal, serta memiliki solidaritas yang tinggi. Jika kampanye bertujuan untuk memersuasi mereka, maka pendekatannya harus berbasis kultur.

Ketiga adalah identifikasi isu-isu strategis. Untuk soal ini, Rizal dan para nelayan sama-sama sepakat kalau masalah terbesar yang mendera sebagian besar warga adalah kemiskinan. Entah kenapa, meskipun daerah ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan, namun masih amat banyak penduduk yang miskin. Sepeertinya, panen adi yang melimpah lebih banyak dijual ke luar daerah, ketimbang dikonsumsi oleh warga lokal.

Di banyak pulau, para nelayan justru tak menikmati hasil laut. Mengapa? Sebab kennyakan hasil laut justru dijual dan diekspor ke manca-negara. Para nelayan tidak mendapatkan apa-apa dari keseluruhan proses bisnis itu. Mereka hanya menjadi penyaksi yang tak berdaya.

***

HARI itu, Risal dan nelayan muda mendatangi pasar kecil di dekat Sekotong. Ia mmbawa replika Jokowi dan JK. Penduduk lalu datang berkerumun. Mereka memperhatikan replika itu sembari bertanya ada apakah gerangan. Risal lalu membiarkan mereka bertanya-tanya. Setelah itu, ia mulai bercerita dengan bahasa yang mudah dipahami warga.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu. Gambar ini adalah calon presiden. Dia sama dengan kita semua. Dia berasal dari masyarakat yang sama dengan kita. Dia tidak bicara tinggi-tinggi sebagaimana cara bicara orang kota. Dia bicara sama dengan kita semua. Dia bisa memahami kita semua. Marilah kita beri kepercayaan kepadanya,” katanya.
“Tapi dia kan mash menjabat?” tanya seorang warga.
“Iya. Dia masih menjabat. Tapi rakyat ingin dia memegang ada tanggung jawab yang lebih besar,” jawabnya.
“Apa bedanya dengan calon lain?”
“Bedanya adalah dia berjanji untuk menjaga laut dan seisinya. Dia mau memperhatikan nasib kita semua sebagai nelayan kecil. Dia akan mengembalikan laut sebagai sumber kehidupan bagi bangsa ini. Dia cinta laut, sebagaimana kita. Iya khan?,”
“Iya. Kita sama-sama cinta laut,” kata beberapa warga.


Usai dialog, Risal lalu pindah ke pulau lain. Selama lebih seminggu, ia terus berkampanye demi mempromosikan seorang kandidat capres yang sama sekali belum pernah ditemuinya. Ia ikhlas melakukannya demi sebuah harapan. Ia rela berkampanye di pulau-pulau demi sebuah harapan dan idealisme tentang seorang pemimpin yang berjanji untuk membangkitkan sektor maritim.

Terhadap mimpi-mimpi besar itu, Risal merasa terpanggil. Biarpun kelak capres itu kalah, ia ingin dicatat oleh sejarah bahwa drinya telah berbuat sesuatu. Dirinya telah bekerja menanam banyak impian yang kemudian berbuah manis bagi banyak orang. Dengan tanpa mengharap pamrih, Risal telah mengajarkan pada banyak orang tentang makna sukarelawan yang sesungguhnya.

Meskipun pada akhirnya, Jokowi kalah di Nusa Tenggara Barat (NTB), namun aksi Risal telah sukses menaikkan nama Jokowi di wilayah itu. Dalam jangka panjang, ia juga sukses membangkitkan satu hal penting di masyarakat Lombok yakni kepedulian pada laut dan seisinya, kecintaan pada dunia maritim, serta kesediaan untuk menjaga laut dan seisinya.

Unuk yang terakhir ini, Risal merasa telah memenangkan satu misi penting.



CATATAN:

Tulisan ini terpilih sebagai pemenang kedua lomba menulis kisah relawan Jokowi-JK, yang diadakan Seknas Jokowi. Beritanya bisa dibaca DI SINI.

Orang KOTA, Orang DESA


pemandangan di Pulau Badi, Pangkep, Sulawesi Selatan


ANDA ingin tahu seperti apakah makna ketulusan? Sempatkanlah waktu untuk ke desa-desa. Jangan terkejut ketika banyak yang menyapamu, lalu mengajakmu ke rumahnya. Di situ, kamu akan dijamu dengan makanan yang paling enak. Pelayanan terbaik diberikan. Makanan terenak juga dikeluarkan.

Tak hanya itu. Sang pemilik rumah akan menemanimu berbicara hingga kamu mengantuk dan terlelap. Setelah kamu bangun, kembali ia menghidangkan makanan terbaik. Ia akan memperlakukanmu sebagai tamu besar yang harus dilayani. Untuk semua pelayanan itu, tuan rumah tak meminta bayaran sepeserpun. Ia melakukannya dnegan ikhlas. Ia semata-mata hanya ingin bersahabat denganmu. Tak lebih. Bukankah itu sebuah ketulusan dan keikhlasan tanpa syarat?

Mereka yang berkunjung ke desa-desa pastilah paham bahwa selalu ada ketulusan dan penerimaan yang amat tinggi pada siapapun tamu yang datang. Mereka yang berumah di desa masih memelihara jaringan kekerabatan, lalu memperluasnya pada titik di mana semua orang bisa menjadi saudara. Mereka menghargai orang kota yang datang berkunjung lalu memastikan bahwa semua yang datang itu dihinggapi kenyamanan.

Namun, seringkali ada banyak tanya yang tumbuh. Apakah orang-orang desa menemui perlakuan yang sama ketika berkunjung ke kota? Apakah orang desa akan menemui ketulusan yang sama sebagai balas atas apa yang pernah diberikannya di desa?

Mereka yang di kota seringkali merasa lebih beradab, lebih berpendidikan, lebih moderen, lebih hebat, lebih kaya, dan lebih segala-galanya. Mereka yang di kota sering memandang sebelah mata mereka yang datang dari desa. Hanya karena pakaian yang yang lebih mahal dan mentereng, orang kota itu kerap memandang hina orang desa yang berpakaian sederhana. Hanya karena merasa lebih kaya, mereka yang di kota itu akan menertawakan orang desa yang datang membawa pisang dan ubi sebagai tanda ketulusan dan tali kasih.

Orang kota sedang membangun peradaban yang materialistik yang ditopang oleh pandangan tentang diri yang lebih hebat. Yang dibangun oleh peradaban ini adalah kuasa tentang diri yang lebih, lalu memandang rendah yang lain, tanpa melihat bahwa yang lain itu boleh jadi adalah mata air inspirasi. Orang kota yang mengklaim diri moderen itu telah lama kehilangan kepekaan serta nurani yang mudah basah oleh tetesan embun kebaikan. Mereka lama menjadi karang yang selalu berdiri kukuh, namun alpa untuk menyapa gelombang yang setiap saat membelainya.

Kita tak banyak bertanya dalam diri, mengapa harus memandang remeh yang lain? Mengapa kita tak memandang kebaikan dan ketulusan sebagai senyawa yang akan menjadikan kaki-kaki seseorang amat kokoh untuk berpijak laksana karang di samudera kehidupan? Mengapa mereka yang di kota itu tak belajar ikhlas dan memperlakukan semua orang sebagai sahabat sebagaimana yang di desa itu?



Hari ini aku banyak merenung. Aku adalah orang desa yang kemudian tinggal di kota demi sesuap nasi. Kupahami benar bagaimana sikap orang kota pada orang desa, kendatipun orang kota itu justru berakar di desa. Selama beberapa hari, aku berkeliling ke banyak pulau-pulau kecil. Warganya demikian hangat ketika kutemui. Semua rumah yang kusinggahi menyediakan penganan. Mereka seolah tak rela ketika kukatakan bahwa aku hendak beranjak pergi. Mereka menahan langkahku hanya karena makanan telah disiapkan untuk dicicipi. Padahal, aku tak memberi apapun pada mereka. Dan mereka pun akan tersinggung jika aku hendak membayar semua kebaikan itu.

Perjalanan ke desa-desa dan pulau-pulau semakin membuka mataku untuk lebih lebar menatap kenyataan. Aku mulai mempertanyakan makna kemajuan dan peradaban hari ini. Kutentang pula pandangan yang menilai seseorang dari kehebatannya ketika memasuki sirkuit pengejaran materi dan kemegahan. Kulihat dunia dengan cara baru. Mereka yang hebat adalah mereka yang berumah di desa, mereka yang memperlakukan semua orang sebagai saudara, mereka yang membuka pintunya ketika ada yang hendak berkunjung. Mereka adalah sosok yang melakukan hal-hal baik, tanpa mengharap apapun.

Apakah anda punya pengalaman berkunjung ke desa?



Saat Warga Kupang Anti-McDonald


pangan lokal di Kupang

ANDA penggemar ayam goreng ala McD dan KFC dan berbagai makanan siap saji dari luar negeri? Beberapa waktu lalu, di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), anak-anak muda justru menggelar kampanye anti makanan impor seperti KFC dan McDonald. Mereka menggalakkan gerakan kembali ke pangan lokal seperti ubi dan jagung. Tak disangka, keresahan mereka adalah potret keresahan warga dunia atas ancaman terbesar di masa mendatang, yakni ancaman kerawanan pangan.

***

DI dekat Biara Souverdi di Oebofu, Kupang, anak-anak muda itu sedang menyiapkan beberapa bibit tanaman. Mereka menanam bibit itu dalam batang pisang yang diletakkan secara melintang. Setelah menanam, mereka lalu menemui seorang tamu yang datang. Mereka berbagi bibit tanaman lokal seperti jejawud serta sorgum, dua tanaman khas Nusa Tenggata Timur (NTT).

Ketika kutemui dua bulan silam, anak-anak muda yang tergabung dalam Geng Motor Imut itu bercerita tentang kian langkanya pangan lokal, serta semakin tergantungnya warga Kupang pada berbagai pangan yang datang dari luar. Mereka juga berbicara tentang beberapa isu strategis seperti kemiskinan, serta keterbelakangan, juga kelaparan yang semakin mewabah ketika ketergantungan semakin meningkat. “Kita kehilangan kekuatan utama kita yakni pangan lokal. Kita mengabaikan kemurahan alam serta kebaikan bumi yang melimpahi kita dengan sumber makanan,” kata salah seorang dari mereka.

Anak muda itu membuatku tersentak. Di usia semuda itu, mereka bisa berbicara tentang hal-hal substansial. Mereka memang unik. Mereka sangat berbeda dengan beberapa remaja yang kutemui di Taman Nostalgia, Kupang, beberapa waktu lalu. Beberapa remaja itu justru tersenyum-senyum serta saling meirik ketika kuminta menyebutkan makanan lokal. Bahkan mereka tertawa cekikikan ketika menyebut ubi, jagung, pisang, ubi kayu, hingga berbagai jenis kacang tanah. Mereka merasa minder dengan pangan yang tadi disebutnya.

Pangan lokal memang semakin terpinggirkan di mana-mana. Di Kupang, pangan lokal mulai terabaikan oleh deru kota yang kian berderap dan menjadi modern. Saat kutanyakan pada beberapa penduduk, mereka justru tak tahu apa itu sorgum. Padahal tanaman itu dengan mudahnya ditemukan di mana-mana. Buahnya sejenis padi, yang lebih banyak di makan oleh burung. Aku teringat sahabat Maria Loretha di Adonara yang tekun berkampanye agar warga kembali mengonsumsi sorgum dan tidak menunggu-nunggu beras dari pulau Jawa.

peserta kampanye
 
aku cinta pangan lokal

Padahal, tanpa kecintaan pada pangan lokal, mustahil kita berdiskusi tentang ketahanan dan kedaulatan pangan. Logikanya, tak mungkin orang Kupang dipaksa membudidayakan sesuatu yang justru berjarak dengan kultur dan geografis wilayahnya. Tak adil jika orang Kupang diwajibkan makan beras, padahal wilayah itu tak cocok menjadi areal pertanian. Melihat tanah tandus dan berbatu di situ, aku berpikir bahwa sejak dahulu, ladang telah lama menjadi sandaran masyarakat untuk menggantungkan hidup. Seharusnya, ladang kembali difungsikan, demi menjadi sumber pangan bagi warga.

Sayangnya, potret yang kusaksikan di Kupang adalah keinginan kuat untuk segera memasuki gerbang modernisasi. Kapitalisme mulai menari-nari di kota itu. Baru masuk Bandara El tari, aku menyaksikan banyak restoran fast-food, serta jajanan yang tidak sehat. Sebagaimana generasi lain di berbagai kota, warga Kupang sedang gandrung-gandrungnya dengan makanan impor. Warga itu tak menyadari bahwa di negeri-negeri barat yang dianggapnya hebat itu, pangan lokal yang dimakannya begitu bernilai, sedangkan fast-food yang dianggapya hebat itu justru sumber penyakit yang mendera masyaakat di belahan bumi sana.

Barangkali, pangkal masalahnya terletak pada citraan tentang apa yang dianggap hebat dan tidak hebat. Demi citraan hebat serta anggapan lebih beradab itu, orang-orang melakukan banyak hal yang seringkali justru mengabaikan khasanah yang dimilikinya. Beras dianggap sebagai pangan kelas atas dan berpunya. Pemerintah pusat menganjurkan masyarakat setempat untuk mengonsumsi beras. Bahkan, pemberian jatah pangan bagi para pegawai negeri sipil (PNS) juga berwujud beras, sementara kita sama tahu bahwa PNS dianggap sebagai lapis sosial tinggi di masyarakat. Ketika PNS diminta mengonsumsi beras, maka beras dianggap memiliki citraan yang tinggi sebab identik dengan gaya hidup kelas berpunya.

Walhasil, masyarakat bekerja untuk bisa membeli beras, bukan lagi jagung atau umbi-umbian. Bahkan pangan lokal sudah tidak dibudidayakan lagi di kebun-kebun petani. Kebijakan pemerintah yang menyalurkan jatah beras miskin (raskin) semakin memperparah kondisi ini. Tiap saat warga ramai-ramai mengantre pembagian beras itu. Mereka lupa bahwa masih ada lahan yang bisa ditanami jagung atau umbi-umbian. Beras apapun jenis dan kualitasnya telah menjadi indikator kemakmuran. Sementara itu, generasi sekarang telah memandang rendah terhadap produk pangan lokal yang dijual di pasar-pasar tradisional.

Namun beberapa anak muda kreatif di Geng Motor Imut itu mengingatkanku pada kekhawatiran tentang dunia di masa mendatang. Sebelum tahun 2050 mendatang, jumlah populasi dunia yang membutuhkan pangan akan bertambah dua miliar. Bahkan di negara maju sekalipun, krisis pangan mulai terjadi akibat tidak seimbangnya antara produksi makanan, serta laju konsumsi yang semakin lama semakin cepat.

Anak-anak muda itu percaya bahwa krisis pangan bisa dihindari ketika muncul gerakan bersama untuk mengembalikan pangan lokal sebagai menu utama di meja makan. Pangan lokal harus digalakkan kembali demi kehidupan yang ebih sehat dan lebih segar. Mengonsumsi pangan lokal juga sama dengan menguatkan para peladang, petani setempat, serta pedagang lokal yang justru menjadi urat nadi dari distribusi pangan lokal.

***

HARI itu, sebuah kampanye pangan lokal digelar di Taman Nostalgia. Penyelenggaranya adalah Oxfam International bersama sejumlah komunitas reatif di Kupang. Aku menyaksikan pangan lokal dikemas secara menarik dan dihidangkan kepada semua orang yag hadir. Beberapa mahasiswa membawa poster-poster yang isinya adalah ajakan untuk mencintai pangan lokal.

"plant locally, eat wisely, live happily"

Aku teringat pada artikel pada majalah National Geographic terbaru. Melalui riset yang dilakukan para antropolog dan ahli gizi, terungkap fakta menarik bahwa bahan makanan yang dimakan manusia purba adalah makanan yang jauh lebih sehat ketimbang yang dikonsumsi manusia modern hari ini. Mengapa? Sebab manusia purba lebih banyak makan daging mentah, tidak memakan bahan yang sudah dimasak, ataupun digoreng. Para ahli dengan mudahnya memperkirakan bahwa pada masa lalu tak ada penyakit jantung, diabetes, serta kanker yang membunuh sebagian besar manusia hari ini. Dahulu, orang-orang hidup selaras dan alami bersama semesta.

Tak pelu jauh bertandang ke masa silam. Silakan bandingkan daya tahan tubuh kakek dan nenek kita yang hidup di desa-desa. Mereka jauh lebih sehat dan lebih kuat. Dua orang nenekku hidup hingga mencapai usia 120 tahun. Mereka tak banyak menyimpan rahasia. Mereka hanya makan seperlunya yang ada di alam, tanpa banyak diolah, serta senantiasa bekerja keras. Sayang, rahasia sederhana yang diterapkan nenek moyang itu susah diterapkan di masa kini. Sebabnya sederhana. kita terlampau gengsi untuk kembali ke pangan lokal. Hiks.


Terpopuler Bulan Ini

...

...