Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Hikayat ALI MAZI yang Selalu Keluar dari Badai

Ali Mazi

Takdir Ali Mazi adalah senantiasa berhadapan dengan badai. Banyak babakan hidupnya yang diisi dengan konflik. Dia penuh siasat, tapi banyak pula siasat untuk menyingkirkannya. Dia sering ditikam dari belakang.

Hebatnya, politisi Sultra ini selalu keluar dari situasi sulit. Dia seperti burung phoenix yang terbakar jadi debu, setelah itu bangkit kembali.

*** 

Di ruangan itu, semua orang tampak bahagia. Hari itu, 18 Januari 2003, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Hari Sabarno melantik Ali Mazi dan Yusran Silondae sebagai pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk periode 2003-2008.

Dalam pelantikan itu, Hari Sabarno memulai sambutan dengan permintaan maaf. Seharusnya, pelantikan digelar pada 23 Desember 2002 lalu, bertepatan dengan berahirnya masa kepemimpinan La Ode Kaimuddin, namun baru bisa terlaksana pada 18 januari 2003. Namun, Hari tidak menjelaskan penundaan tersebut. 

Dia terpilih dalam mekanisme pemilihan yang diadakan di kantor DPRD Sultra. Dia terpilih dari hasil voting oleh para anggota parlemen. Saat itu, Ali Mazi adalah kandidat yang tidak banyak dikenali. Dia seperti datang dari negeri antah berantah, dan tiba-tiba memasuki gedung pemilihan.

Dalam pemilihan di gedung dewan, siapa saja bisa mencalonkan diri sebagai Gubernur. Ali Mazi lebih banyak berkiprah di Jakarta sebagai pengacara ibukota. Dia sukses menjadi pengacara papan atas dan menangani kasus-kasus besar. Dia menjadi tokoh yang dekat dengan elite-elite di kursi kekuasaan.

Tak banyak yang mengenalnya. Ali Mazi, pria asal Pasarwajo, Buton, ini bukan kaleng-kaleng. Dia adalah pengacara kondang di ibukota. Jejaringnya terbentuk saat menjadi pemimpin organisasi kemahasiswaan, serta aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Ali Mazi bukan politisi yang menghadapi jalan mulus dan datar. Dia menghadapi jalan yang tak mudah, serta penuh duri-duri. Dia harus melalui jalan berliku, dan beberapa kali dirinya hendak dijegal dan dijatuhkan.

Di hari ketika dia dilantik sebagai gubernur, menjadi hari pertama dirinya menghadapi badai. Sebanyak 24 anggota DPRD Sultra menolaknya. Polisi bahkan mengusut mereka dengan tuduhan gratifikasi. Namun dengan cerdiknya, dia bisa keluar dari kemelut itu. Semua orang akhirnya menerimanya sebagai gubernur.

Ali Mazi adalah pria yang masuk kategori “man of action.” Untuk maju gubernur, dia mempersiapkan konsep dengan matang. Dia mulai dengan membat satu dokumen tebal berjudul  Sultra 2020: Percepatan Pemerataan Pembangunan Poros Sosial-Ekonomi Kerakyatan di Era Transparansi Global

Dokumen setebal lebih 500 halaman ini memuat intisari pemikiran, konsep, dan strategi pembangunan yang akan dijalankan Ali Mazi jika terpilih sebagai gubernur. Barangkali, ini konsep paling lengkap dan mendalam yang disiapkan seseroang yang hendak masuk arena pemilihan kepala daerah.

Badai Demi Badai

Sayang sekali, dia tidak bisa menerapkan semua konsep itu dengan tepat, sebab badai demi badai menghampirinya. Setelah penolakan anggota dewan, badai selanjutnya yang dihadapinya adalah saat dirinya ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus perpanjangan Hak Guna Bangunan (HGB) Hotel Hilton di Senayan, Jakarta. Ali Mazi pun di-nonaktif-kan sebagai gubernur.

Baru setahun memimpin, dia kembali menjadi sebagai warga biasa. Dia ke Jakarta untuk menghadapi persidangan. Secara ajaib, dia kembali keluar dari krisis saat pengadilan menyatakan dirinya dinyatakan tidak terkait kasus itu. Status tersangkanya dibatalkan. 

Sebelumnya, banyak yang mengira karier politiknya sudah habis. Tapi dia justru keluar dari krisis dan kembali jadi Gubernur. Dia kembali berhadapan dengan orang-orang yang dulu bertepuktangan saat dirinya jadi tersangka, dulu bahagia saat dia tersangka. 

Ali Mazi adalah tipe pemimpin yang pantang menyerah. Dia teruskan periode pertama dengan capaian monumental untuk provinsi sekecil Sultra. Dia membenahi Bandara sebagai etalase atau gerbang memasuki Sultra. Dia bangun tugu persatuan sebagai simbol atau penanda persatuan di tanah yang warganya mudah terpantik emosi hanya karena perbedaan etnik.

Saat hendak masuk periode kedua, Ali Mazi kembali berhadapan dengan badai. Dia kalah di arena pilkada. Kekalahannya menyimpan banyak tanda tanya. Dia yang menguasai struktur politik Sultra, tiba-tiba kalah oleh pendatang baru. Sebagai pejabat, dia terlena. Ada banyak blind spot yang tidak diketahuinya, namun sangat dikenali oleh lawan politiknya. Dia tidak sadar kalau dirinya menjadi bulan-bulanan dari orang yang dibesarkannya.

Tahun 2014, dia ingin maju kembali. Lawannya sudah petahana. Badai kembali menghantam dirinya hingga tak bisa masuk arena. Dia berhadapan dengan struktur politik yang melakukan banyak cara agar dirinya tidak masuk arena. Dia dikerjai sehingga partai yang dikantonginya tidak memenuhi persyaratan.

Mereka yang mengamati politik di tahun 2013 mengira dia akan tenggelam. Apalagi dia tak banyak memberikan perlawanan. Dia diam saja saat banyak landmark yang dibangunnya diganti namanya. Nama Bandara diganti. Bahkan nama Tugu Persatuan juga diganti.

Secara ajaib, dia tidak pernah bisa tenggelam. Di tahun 2018, dia kembali bangkit dan memenangkan perhelatan politik. Semesta berkonspirasi untuk mendukung dirinya yang kembali ke panggung politik. Dia kembali hadir untuk meneruskan visinya yang terbengkalai 10 tahun silam.

Di periode kedua, dia meninggalkan legacy. Dia membangun jalan tol, rumah sakit jantung, serta perpustakaan modern. Semua adalah program strategis, yang berorientasi kedepan. Manfaatnya boleh jadi dirasakan di masa dia menjabat, namun akan menjadi tali-temali yang membantu masyarakat Sultra.

Periode kedua ini tak bisa dibilang mulus. Baru dua tahun menjabat, dia berhadapan dengan badai Covid-19 yang membuat dirinya tidak leluasa untuk bergerak. Istrinya meninggal karena badai itu. Dia pun tak bisa meneruskan semua rencana-rencananya untuk membangun Sultra.

Lagi-lagi, dia bisa keluar dari kemelut. Saat badai Covid berlalu, dia bisa menyelesaikan semua rencana-rencananya dengan mulus hingga akhir periode. Dia keluar dari krisis dengan menuai banyak penghargaan sebagai pemimpin yang menjalankan semua visi dan misinya.

Setelah usai menjadi Gubernur, dia maju menjadi anggota DPR RI di Pemilu tahun 2024. Lagi-lagi, dia berhadapan dengan badai, saat dirinya dinyatakan kalah oleh KPU. Dia nomor urut dua di partainya.

Kembali orang-orang mengira dirinya sudah habis. Rupanya dia tak patah arang. Dia lanjut berperkara di Mahkamah Konstitusi (MK).  Dia bawa semua bukti di persidangan.

Kembali, takdir bekerja untuk Ali Mazi. Saat perkara itu mulai terkuak, tiba-tiba, pesaingnya itu menyatakan mundur dari obyek perkara. Dia menyerahkan kursi terpilih itu ke Ali Mazi. Padahal, harusnya persidangan itu jalan terus. 

Buktikan mana yang benar dan mana yang salah. Apapun hasilnya, public diajari proses yang benar. Bahwa pemilu bukan soal siapa menang siapa kalah, tapi proses menjalankan etik dan mengelola suara rakyat dengan benar.

Di tingkat partai, Ali Mazi bersih-bersih. Sepertinya dia paham kalau ada kelompok yang menguasai struktur dan perlahan akan menyingkirkannya. Sebelum proses itu terjadi, dia menyingkirkan mereka.

Ali Mazi politisi yang selalu keluar dari badai. Kartunya tidak pernah berakhir. Dia menghadapi banyak badai, selalu bisa keluar dan menang.

Kepada seorang kawan di warung kopi, saya menanyakan rahasia mengapa dia selalu keluar dari badai. Kawan itu menyebut dua hal yang dimiliki politisi itu. 

Pertama, leluhurnya adalah Sultan Himayatuddin atau Oputa yi Koo, yang dahulu gigih melawan Belanda dan meniolak kompromi. Karakter itu muncul pada diri Ali Mazi yang menolak tunduk. 

Kedua, doa-doa ibunya selalu menuntun semua langkah politiknya. Ali Mazi pertama berniat Gubernur karena ibunya menitip pesan itu saat dia merantau. Ibunya pula yang selalu jadi tempatnya kembali dan bertanya banyak hal. 

Ibunya pula yang selalu ‘batata’’, sebutan di kalangan orang Buton untuk orang yang merapal doa dan harapan untuk hal baik. Semua dikembalikan kepada Tuhan, seperti diucapkan Sultan Idrus Kaimuddin: “Tawakalamo Poaromu I Opumu.” Tawakal menghadap Tuhanmu.




Kisah di Balik "Perempuan yang Memuliakan Tanaman"

sampul buku


Di satu kafe di Tebet, Jakarta Selatan, saya jumpa petinggi Kehati. Saya sudah lama mengenal Kehati sebagai rumah berkumpulnya para aktivis dan pemerhati lingkungan. Saat itu, saya diberi tawaran untuk menulis kisah Oday Kadariyah,  perempuan hebat yang berumah di bukit Ciwidey, Jawa Barat.

Mulanya saya masih menimbang. Saat mendengar kisah perempuan itu berhasil melawan penyakit kanker ganas dengan mengonsumsi tanaman obat, saya tertarik. Perempuan itu menelusuri kearifan budaya, mengungkap rahasia, dan menemukan ramuan yang dulu digunakan nenek moyang untuk mengobati kanker. Kerja kerasnya membuahkan Kalpataru.

Saya langsung mengiayakan. Saya tak mempersoalkan budget. Saya membayangkan betapa serunya menelusuri pebukitan di Ciwidey, bertemu para petani, dan pemulia tanaman. Bagi saya, menulis ibarat perjalanan untuk bertemu orang baru, belajar hal baru, serta memungut ide-ide di sepanjang perjalanan untuk didedahkan ulang bagi khayalak luas. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Sebelum proses penulis, pihak Kehati memfasilitasi saya untuk berjumpa Oday via zoom. Saya terkesan dengan keramahannya. Saya bayangkan proses menulis ini akan jadi petualangan yang seru.

Dugaan saya benar. Proses menulis kisah Oday menjadi perjalanan yang mengasyikkan. Meskipun saat itu Covid-19 tengah di puncak, saya tetap datang ke Ciwidey. Perjalanan itu sangat menyehatkan. Oday Kadariyah -biasa disapa Mamah Oday- menerima saya di rumahnya yang asri, setelah itu kami menuju kebunnya yang terletak di bukit.

Di situlah saya melihat Kebun Tanaman Obat (KTO) Sari Alam seluas 21 hektar yang dikelola Mamah Oday dan suaminya. Dia mengajak saya melihat 900 spesies tanaman obat, mengunjungi herbarium serta green house untuk melihat tanaman-tanaman obat.

Kisah bukit penuh tanaman obat ini bermula dari sakit kanker yang menyerang Oday beberapa tahun silam. Saat itu, dia sudah kehilangan harapan. Dokter sudah angkat tangan.

Saat itu, suami Oday bertemu seorang kerabat dari Sumatera yang memberikan tanaman bawang dayak (eleutherine bulbosa). Suaminya merebus bawang dayak itu, kemudian meminta Oday meminum airnya. Di situlah, keajaiban terjadi. Perlahan dia membaik.

Momen sembuh dari sakit itu jadi titik balik dalam hidupnya, menjadi titik nol di mana dirinya menulai lembaran baru. Dia lalu mendedikasikan hidupnya untuk membantu orang lain. Dia tanami bukit itu dengan tanaman obat. Dia membuat herbarium, laboratorium, serta menyediakan rumah bagi mereka yang diserang kanker. Bukit itu menjadi rumah penyembuhan bagi banyak orang.




Cinta telah merekatkan Oday dengan semua tanaman. Berkat cinta pula, tanaman memberikan keajaiban berupa mukjizat kesembuhan. Tanaman menjadi penyembuh, penyedia pangan, penyedia oksigen, dan penyedia semua ekosistem yang membuat Oday lebih bahagia.

Proses penulisan buku menjadi awal bagi perkenalan saya dengan Mamah Oday. Setiap kali berkunjung, saya selalu diberikan banyak oleh-oleh berupa tanaman obat yang sudah diolah menjadi minuman segar.  Berkat tanaman itu, saya melalui pandemi Covid dengan bahagia.

Proses penulisannya tidak begitu sulit. Saya menulis serupa orang bercerita lepas. Saya ceritakan bagaimaa pertema berkunjung dan apa saja yang disaksikan. Saya tampilkan foto-foto perjalanan yang menarik.

Demi memperkaya tulisan, saya berikan infografik tentang tanaman yang disebut Oday. Saya pikir, buku ini kelak bukan sekadar kisah perjumpaan, tapi juga menjadi sarana edukasi bagi semua orang.

Tugas saya hanya menulis dan menyarikan. Saya tak menyangka jika buku saya sukses membuat Mamah Oday sangat bahagia. Dia berulang-ulang menyampaikan terima kasih. Baginya, karya itu sangat bagus dan bisa merekam semua yang dia rasakan.

Setelah itu, saya lama tak berjumpa Mamah Oday. Beberapa waktu lalu, saya mendengar kabar suaminya meninggal dunia. Saya membayangkan betapa sedihnya Oday karena selama puluhan tahun dia selalu bersama suaminya, bahkan tak pernah melalui malam di tempat berbeda. Mereka selalu bersama.

Tiga hari lalu, Mamah Oday mengundang saya. Katanya, pihak Kehati akan meresmikan Tugu Kalpataru di Taman Herbal Kebun Tanaman Obat (KTO) Sari Alam. Tugu Kalpataru ini dibangun sebagai simbolis dari penghargaan Kalpataru 2018 yang diterima oleh Oday.

Sayang, saya tak bisa hadir. Padahal Mamah Oday dan pihak Kehati sangat berharap saya bisa hadir. Saya senang karena kontribusi Mamah Oday dalam melestarikan dan memperkenalkan tanaman obat nusantara kian dikenal.

Dedikasinya untuk memberikan edukasi dan pelatihan tentang pemanfaatan obat tradisional kepada khalayak luas, dianggap sejalan dengan pengembangan program bioprospeksi yang dijalankan oleh Yayasan Kehati.



Saat nembaca publikasi tentang peresmian tugu di kebun milik Oday, saya terkenang dengan perjumpaan dengannya. Saya ingat persis saat-saat menemaninya melihat tanaman. 

Dia menyapa tanaman serupa menyapa anaknya. “Hallo, apa kabar? Senang lihat kamu sehat dan subur,” katanya sembari mencium daun tanaman. Dia hirup aromanya sembari matanya tertutup. Dia resapi semua bau, lalu sejurus kemudian, dia tersenyum. Dia belai dan sentuh tanaman itu. Rona gembira dan bahagia memancar di wajahnya.

Saya jarang menemukan ekspresi seperti ini. Dia melihat tanaman seperti manusia, bukan komoditas. Tanaman dilihatnya sebagai entitas biologis. Tanaman punya jiwa, punya nyawa, sebagaimana manusia.

Mungkin ini yang menjelaskan mengapa tanaman bisa mengeluarkan semua saripati terbaik untuk Mamah Oday.

Berkat menulis, saya mengalami perjumpaan dengan banyak orang hebat yang menginspirasi dan serupa oksigen telah menghidupkan banyak sel-sel tubuh kita dengan kegembiraan. Terima kasih atas inspirasinya.



Jangan Ikuti Shin Tae-yong

Shin Tae-yong

Wajahnya datar saja. Saat orang lain bersorak-sorak, dia malah tanpa ekspresi. Shin Tae-yong, pelatih Indonesia asal Korea, tak ingin menunjukkan kegembiraan secara berlebihan. Dia tetap tenang, setenang air mengalir di Sungai Hwang.

Jurnalis asal Korea, Park Jo He, menyebut peristiwa semalam sebagai The Miracle of Doha atau Keajaiban Doha. Ini merujuk pada The Miracle of Kazan saat Shin Tae-yong membawa tim Korea untuk memulangkan Jerman di Piala Dunia 2018.

Kali ini, Shin memoles tim yang paling tidak diunggulkan. Di ajang Piala Asia, tim-tim Asia Tenggara hanya dilihat sebagai pelengkap penderita. Tim Asia Tenggara ibarat samsak bagi tim-tim besar untuk digebuki, lalu dipermalukan.

Tim yang dibawa Shin menjadi tim penuh magma dan membakar tim lawan. Dia membawa tim Indonesia, dari semenjana menjadi tim paling mengejutkan.

Dia menghentikan rekor Korea yang terus tampil di Olimpiade selama 40 tahun. Korea selalu lolos dalam sembilan Olimpiade terakhir. Mencapai prestasi besar dengan meraih perunggu London 2012. Pada Rio 2016 dan Tokyo 2020 tampil solid dengan lolos ke perempat final.

Tetapi, Korea harus absen di Paris 2024. Mereka gagal ke semifinal Piala Asia U-23. Shin menyebabkan pemain timnas Korea tersedu-sedu di pinggir lapangan saat Arham Pratama memastikan kemenangan Indonesia.

"Keajaiban Doha ini terjadi dalam suasana yang bahkan lebih luar biasa dibandingkan dengan Keajaiban Kazan. Shin Tae-yong unggul 21-8 dalam tembakan, dan unggul 53-47 dalam penguasaan bola," kata Park Joo-hee.

Media Korea murka melihat kekalahan ini. Chosun menulis: "Hal itu bukan alasan yang tepat untuk kalah dari Indonesia, yang punya ranking FIFA lebih dari 100 posisi (111 posisi) di bawah. Korea ranking 23 dan Indonesia ranking 134.”

Jurnalis Korea lainnya, Jang Han Seo, menyebut negerinya telah salah langkah saat melepas Shin pasca kegagalan di Piala Dunia 2018. Seharusnya mereka memberikan waktu yang ruang agar sang pelatih bisa membangun skuad dengan baik.

"Shin adalah talenta yang kami lewatkan dengan terburu-buru. Indonesia, di sisi lain, telah diberi banyak waktu. Indonesia mempercayakan Shin untuk menangani tim senior dan juga tim kelompok umur,” katanya.

"Itu adalah pilihan yang logis untuk sebuah tim yang tidak diunggulkan, dan salah satu yang menunjukkan komitmen yang tulus untuk pengembangan permainan," lanjutnya.

Memang, tak ada proses yang mengkhianati hasil. Tak ada capaian hebat, tanpa usaha yang juga hebat. Beberapa media Korea mengakui kalau mereka terlalu terburu-buru dalam menilai Shin. Satu kegagalan tidak bisa menjadi potret capaian seseorang. Proses adalah upaya untuk menempa seseorang atau satu tim untuk membuat berbagai keajaiban,

Shin Tae Yong mengenang masa-masa pertama ditunjuk jadi pelatih Indonesia. Dia membawa asisten pelatih fisik, Lee Jae Hong, yang mendampinginya sejak di Timnas Korea.

Lee menjelaskan kelemahan fisik timnas Indonesia. Dia mengamati banyak pertandingan. Timnas hanya sanggup bermain selama satu babak. Di babak kedua, stamina mulai turun. Mental juang sudah hilang. Selain itu, timnas selalu kalah duel. Sekali disenggol, langsung tumbang.

Menurutnya, kecepatan pemain Indonesia dan Korea hampir sama. Yang membedakan adalah kekuatan (power), body balance, dan endurance (daya tahan). Indonesia lemah di banyak sisi.

Dia juga melihat mental. Menurutnya, pemain Indonesia terlalu baik dan pasrah. Dalam sepakbola, kebaikan itu tidak berguna. “Anda harus melihat setiap pertandingan seperti perang. Di situ, Anda harus punya semangat menang dan mengalahkan. Harus siap bertarung. Kalau perlu membunuh,” katanya.

Kata Lee, fisik dipengaruhi oleh tiga hal yakni gaya hidup pemain, budaya, serta pola hidup. Dia menyoroti pemain yang suka makan gorengan dan nasi. Menurutnya, budaya makan mempengaruhi fisik pemain. Untuk kuat dan berotot butuh makan protein yang banyak.

Di level klub, pemain tidak mengonsumsi makanan bergizi. Tanpa banyak makan protein dan makanan bergizi, maka kebutuhan energi tidak akan cukup. Otot tidak bisa terbentuk. Padahal, sepakbola adalah olahraga fisik. Pemain harus siap berduel, siap main keras dengan kaki.

Lee tidak memahami kalau pemain bola di Indonesia kebanyakan berasal dari masyarakat dengan kategori ekonomi menengah ke bawah. Mereka bermain bola di tengah desakan ekonomi. Bola adalah malaikat yang memberi harapan bagi keluarga.

Setelah identifikasi, pelatih Shin dan Lee membuat daftar latihan. Porsi utama latihan adalah fisik. Rapor semua pemain dipantau. Mereka ditargetkan bisa bermain keras dan tahan banting saat di lapangan.

Para pemain diberikan weight training. Postur tubuh membesar. Kemampuan juga terus membaik. Pemain timnas diminta kurangi karbohidrat, perbanyak makan sayuran dan protein. Pemain juga dilarang makan gorengan, sebab di situ ada lemak-trans yang tidak baik bagi tubuh. Idealnya, pemain bola hanya memiliki persentase lemak tubuh sebesar 6 – 12 persen.

Fisik pemain mulai membaik. Rata-rata lemaknya sudah di kisaran 6-12 persen, mirip dengan pemain Korea. Saat itulah, pelatih Shin mulai mengajarkan filosofi bermain bola, juga strategi menang, sesuatu yang hilang di timnas Indonesia selama bertahun-tahun.

Perlahan, hasilnya mulai terlihat. Satu hal paling menonjol pada timnas di era Pelatih Shin adalah kemampuan bermain hingga 90 menit plus babak pertambahan waktu. Pemain timnas mengingatkan pada sosok Park Ji Sung, legenda Korea yang tak pernah mengenal lelah hingga dijuluki Oxygen Tank semasa bermain di Manchester United.


Di ajang Piala Asia U-23, Shin sempat bersedih saat harus menghadapi Korea, negara asalnya yang pernah “membuangnya.” Dia mengatakan: “Sejujurnya saya merasa senang, tetapi pada saat yang sama saya juga merasa sedikit sedih. Bagaimanapun pemenang sudah ditentukan. Sekarang saya sedang mengambil tanggung jawab sebagai pelatih Timnas Indonesia U-23, jadi saya melakukan yang terbaik untuk itu.”

Dia tak ingin selebrasi. Dia diam saat saat semua bersorak-sorai. Dia mendatangi bench pemain Korea dan menyalami semua orang. Untuk hal satu ini, publik tak ingin diam sebagaimana dirinya. Semua anak negeri bersorak-sorai dan merayakan kemenangan. Tak ada yang mau ikut dirinya dengan tanpa ekspresi. Saatnya bersorak.

Dia merasakan sesuatu yang beda antara Korea dan Indonesia. Dia merinding saat merasakan atmosfer sepakbola. Di Korea, dia tidak dianggap. Tapi di Indonesia, semua orang mengelu-elukannya.

Untuk pertama kalinya, namanya diteriakkan seusai Indonesia menang. Dia terharu melihat antusiasme ribuan orang yang berdatangan ke stadion dan tak lelah memberi dukungan.

Dia terkejut melihat sekitar 5.000 orang mendatangi Stadion Abdullah bin Khalidah di Qatar. Ribuan kilometer dari Indonesia, stadion itu dipenuhi para pekerja migran, para buruh, para mahasiswa, para pekerja, hingga mereka yang mengukir merah putih di dadanya.

Di stadion itu semua orang menyebut namanya. Malah, beberapa penonton membawa poster besar bergambar dirinya, serta terdapat tulisan: “Shin Tae Yong, Korea’s Best Export. Sorry Samsung.”

Dia terharu. Publik lebih terharu atas sejumput kebanggaan yang dia sematkan di lambang garuda. Biarkan publik tidak mengikuti dirimu yang tenang dan menolak selebrasi. Publik ingin pesta dan merayakan sejarah baru ini. Thanks Coach. See you in Paris!



Seni CARI MUKA


Di satu acara buka puasa, saya jumpa kawan itu. Dahulu, kami sering diskusi dan membaca bersama. Kami sempat nyasar jadi ‘anak kajian’ di kampus. Kini, dia sudah menjadi orang sukses dan tajir.

Dia punya netwoking yang kuat. Dia bisa tembus ke para pengambil kebijakan negeri ini. Dia dekat dengan banyak crazy rich. Padahal menurut saya, dia tidak pintar-pintar amat. 

Kelebihannya adalah dia tahu bagaimana memikat hati orang lain, sehingga menjadi kawan dekat, lalu menjalin relasi yang kuat. Dia membangun networking kuat sehingga punya akses ke banyak hal.

Networking adalah satu kata yang sering kita ucapkan, namun sulit dijalankan, apalagi bagi orang introvert seperti saya. Di dunia akademis, kita hanya fokus mengejar nilai dan status cumlaude, padahal dunia praktis tidak selalu membutuhkan itu. 

Seseorang yang punya networking bagus, akan jauh lebih sukses ketimbang orang yang hanya mengandalkan kepintaran. Malah, kata seorang kolumnis, seorang penjilat akan lebih sukses dari pekerja yang rajin. Mengapa? Sebab dia tahu cari muka ke atasan.

Kebetulan, saya baru saja menuntaskan buku berjudul NETWORKING: Seni Nyetor (dan cari) Muka untuk Profesional, yang ditulis William Ndut, akademisi UI. 

Saya tertarik dengan kalimat:  Bahwa networking bukan soal “setor muka" di pesta dan acara, tetapi juga seni “cari muka” yang membantu kita mencapai cita-cita dan menjadikan kehidupan profesional jauh lebih bermakna.

Dia melihat “cari muka” dalam pengertian positif. Yakni upaya untuk mengomunikasikan pencapaian, portofolio, atau kemampuan yang dimiliki dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup dan jejang karier profesional.

Baginya, networking adalah seni dan proses yang terus bertumbuh. Pada mulanya kita bertemu dengan seseorang dan berusaha saling mengenal. Seiring waktu, kita memupuk hubungan, hingga di satu titik bisa membawa manfaat bagi kita.

Namun, networking bukan sekadar bertemu seseorang lalu selfie, kemudian menyimpan namanya di HP.  Bukan barang dagangan, di mana kita berharap akan meminta sesuatu. Bukan pula sekadar berbincang-bincang di satu acara, Bukan pula bicara-bicara cerdas ala akademisi sehingga orang lain terkesima.

Sekadar kenal, sapa dan basa-basi adalah tahap pertama dari membangun networking yakni tahap struktural. Setelah itu adalah tahapan strategik di mana kita melihat networking bukan sebagai emas, melainkan “tambang emas” yang bisa diubah menjadi kekayaan tiada tara. 

Kita memupuk hubungan, menjalin relasi, saling membantu, serta saling menjaga silaturahmi. Kita membangun integritas, kepercayaan, reputasi, serta rekam jejak yang baik. Di titik ini kita berupaya untuk mengenali siapa kawan kita, apa kebiasaannya, serta apa saja hal yang membuatnya nyaman.

Tahap terakhir adalah tahap simbolik. Ini adalah tahap di mana kita telah memberi banyak kontribusi bagi orang sekitar kita. Di tahap ini kita menjadi figur yang menjadi enabler atau membuka jalan bagi orang lain, sehingga kelak kita mendapatkan banyak manfaat dari ketulusan dan niat baik itu.

Saya tertarik membaca tahapan strategik. Untuk merebut hati orang lain, tak sekadar cari muka, tapi perlu strategi. Kita perlu mengenali kebiasaan orang yang kita incar jadi networking, kemudian perlahan masuk melalui hal tersebut.

Saya ingat semasa jurnalis. Kami hendak menemui Zainal Tayep, pengusaha kaya asal Makassar di Bali. Saya dan beberapa kawan bertanya tentang regulasi bisnis. Terlihat dia kurang nyaman. Tiba-tiba seorang jurnalis bertanya: “Puang, ada saya punya ayam bitte. Jago sekali itu ayam.” 

Tiba-tiba wajah Zainal Tayep berseri-seri. Dia menatap kawan saya dengan bahagia. Mengalirlah pembicaraan tentang ayam aduan. Entah kawan ini tahu dari mana kebiasaan pengusaha kaya ini. Sejak saat itu, dia membangun networking kuat, hingga berkongsi bisnis dengan pengusaha itu.

Saya yang saat itu merasa terlalu pintar, gagal membangun suasana. Saya hanya bisa menyerap hikmah, sementara kawan itu menyerap dollar. 


Show Your Work!


Di satu postingan saya, kawan itu tiba-tiba curhat. Selama bertahun-tahun dia melamar kerja, tapi tidak ada satu pun yang menerimanya. 

Andaikan dia curhat pada Austin Kleon, mungkin akan ditanya balik, mengapa dia berpikir melamar kerja? Mengapa bukan pekerjaan yang melamarnya?

Saya ingat kawan itu, juga kawan lainnnya. Bertahun-tahun mereka belajar di perguruan tinggi. Tapi begitu masuk pasar kerja, semua capaian di kampus seolah diabaikan. 

Dalam buku berjudul Show Your Work, Austin Kleon menyarankan untuk jangan pernah ragu untuk memamerkan karya. Tunjukkan karya kita. Sebab dengan cara itu orang-orang akan mengenal kita, mengetahui skill kita, serta memelihara kesan baik tentang diri kita.

Bagaimana jika tidak punya karya? Ceritakan prosesnya. Jelaskan apa yang kamu sukai dan tidak sukai, serta apa target-target dan mimpimu. Dengan bercerita, maka kamu membuka dirimu untuk menerima masukan dari orang lain, juga membentuk pertemanan.

Di awal bukunya, dia mengutip kalimat seorang seniman: “Masalah terbesar yang dihadapi seorang seniman adalah bagaimana caranya menarik perhatian.” Tentunya, yang dia maksudkan adalah semua orang. Jika kita dikenal orang lain, maka jejaring akan terbentuk. Banyak orang membutuhkan kita.

Saya suka bagian ketika Austin menjelaskan, tak ada genius penyendiri. Tak ada orang hebat yang bekerja sendirian. Semua orang hebat selalu punya komunitas atau kelompok yang saling memberi masukan, saling membesarkan. 

Dia menyebutnya SCENIUS, yakni sekelompok orang yang saling mendukung, mengamati karya satu sama lain, saling menyumbang gagasan. Dengan memiliki Scenius, maka kamu bisa tumbuh dan berkembang melalui masukan-masukan, serta pengayaan dari orang lain.

Saya melihat Scenius ini sebagai jejaring. Biarpun skill kamu biasa-biasa, selagi kamu punya banyak kawan yang memantau aktivitasmu, perlahan kamu akan terus berkembang. Justru, kata Austin, jadilah seorang amatir yang selalu haus pengetahuan baru.

Di era media sosial, kita jangan jadi orang penyendiri. Austin menyarankan sering-sering berbagi ide atau postingan. Bagikan hal-hal yang menunjukkan portofoliomu. Jangan minder untuk membagikan pemikiran atau karyamu. Dengan cara demikian, kamu kian dikenal.  

Di titik ini, ada banyak kejutan menantimu. Di antara kejutan itu adalah seseorang menawarimu pekerjaan, padahal kamu tidak pernah melamar. Seseorang menawari proyek, padahal kamu tidak pernah memintanya. 

Benar kata seorang bijak. “Your network is your net worth.”” Semakin luas jaringanmu, maka semakin kaya dirimu. Benarkah?



Perginya Ksatria Pemilik Tujuh Bola Naga

ilustrasi


Dunia komik tengah berduka. Kematian Akira Toriyama, pencipta Dragon Ball, meninggalkan duka yang mendalam di hati penggemarnya. Kepergian itu tidak hanya diratapi para penggemar komik di Jepang, tetapi juga pemerintah China, juga pemerintah Jepang.

Kisah Dragon Ball telah merekatkan hubungan antara Jepang Cina, Korea, dan seluruh dunia. Di arena komik, kartun, dan animasi, semua umat manusia bersatu. Banyak generasi yang tumbuh sembari mengikuti petualangan Sun Goku dalam mencari bola naga.

Pemerintah China, melalui Kementerian Luar Negeri, juga menyatakan turut berduka. Seperti dikutip China Daily, jubir Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers rutin menyatakan, manga karya Akira Toriyama sangat populer di China dan menjadi bagian dari simbol pertukaran budaya serta persahabatan China-Jepang.

“Kami menyampaikan simpati kami yang terdalam atas meninggalnya Akira Toriyama-sensei, dan kami ingin menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarganya. Toriyama-sensei adalah seorang seniman manga yang sangat terkenal, dan karyanya juga sangat populer di China,” katanya.

“Saya perhatikan banyak netizen China yang mengungkapkan kesedihan mereka. Kami percaya bahwa akan ada lebih banyak seniman dan penulis berbakat dari Jepang yang karyanya akan meninggalkan dampak budaya Cina yang mengarah pada persahabatan yang lebih erat antara negara-negara kita.”

Dragon Ball adalah karya yang sangat berpengaruh. Awalnya mendapat inspirasi dari kisah klasik China, Journey to the West , serta film seni bela diri Hong Kong. Nama Sun Goku adalah bacaan Jepang dari Sun Wukong, atau Sun Go Kong, monyet nakal dan sombong yang merupakan salah satu tokoh penting yang mengawal Biksu Tong menuju barat.

Juru Bicara Pemerintah Jepang Yoshimasa Hayashi mengatakan, Akira Toriyama telah memainkan peran yang sangat penting bagi Jepang dengan memperkenalkan kekuatan lunak (soft-power)”Negeri Matahari Terbit” itu. “Karya Tuan Toriyama telah menghasilkan pengakuan luas terhadap konten Jepang di seluruh dunia,” tambah Hayashi.

Duka mendalam dirasakan semua insan komik di sleuruh dunia. Eiichiro Oda, pencipta manga blockbuster One Piece, mengatakan bahwa kehadiran Toriyama seperti ”pohon besar” bagi seniman manga muda. ”Dia menunjukkan kepada kita semua hal yang bisa dilakukan manga, mimpi untuk pergi ke dunia lain,” kata Oda.

“Kematiannya meninggalkan ”lubang yang terlalu besar untuk diisi,” kata lanjutnya.

Senada dengan itu, kreator manga "Naruto" Masashi Kishimoto bercerita bahwa karya-karya Toriyama yakni "Dr. Slump" dan "Dragon Ball" telah menemaninya sejak kecil dan menjadi bagian dari hidupnya.

"Bahkan ketika hal-hal menjadi sulit, 'Dragon Ball' selalu membuat saya melupakan hal itu. Dragon Ball adalah penyelamat bagi anak desa seperti saya," ujar Kishimoto.


Kishimoto memandang Toriyama sebagai seorang mangaka yang menjadi panutannya bahwa dia menyebut Toriyama sebagai "Dewa Manga".

Diketahui, Toriyama memulai karirnya di industri manga pada usia 23 tahun ketika dia mengikuti kontes kreator manga amatir yang digelar Kodansha Weekly Shonen Magazine. Kemudian dia membangun reputasinya melalui serial manga "Dr. Slump" pada 1980.

Pada tahun 1984, Toriyama menciptakan manga "Dragon Ball" yang kemudian berlanjut ke seri "Dragon Ball Z" dan "Dragon Ball Super". Hingga saat ini, "Dragon Ball" menjadi salah satu judul manga terlaris dan paling berpengaruh sepanjang masa.

Manga tersebut menjadi inspirasi bagi komikus Jepang populer lainnya seperti Eiichiro Oda, Tite Kubo, dan Masashi Kishimoto yang masing-masing menjadi pengarang komik "One Piece", "Bleach, dan "Naruto".

Toriyama juga berkiprah dalam industri gim dengan menjadi desainer karakter gim "Dragon Quest". Kemudian dia bersama kreator "Dragon Quest" Yuji Horii dan kreator "Final Fantasy" Hironobu Sakaguchi menciptakan gim "Chrono Trigger" yang dianggap sebagai salah satu gim terbaik yang pernah dibuat.

Soft Power dan Politik Jepang

Di tahun 1983, Perdana Menteri Jepang, Yasuhiro Nakasone, diwawancarai untuk edisi khusus Majalah Time berjudul, "Jepang: Sebuah Bangsa yang Mencari Diri Sendiri."

Dia  menyatakan: "Jepang mungkin seperti gula atau garam, kecuali jika kita mencoba mencicipinya, kita mungkin tidak akan pernah bisa memahami Jepang. Dulu, kita kurang dalam upaya mempublikasikan budaya Jepang. Kita sudah cukup berhasil dalam mengekspor produk. Tapi mulai sekarang, kita harus melakukan upaya yang lebih besar dalam mengekspor informasi budaya."

Pemerintah Jepang menggunakan budaya populer ini sebagai salah satu alat untuk meningkatkan soft power negaranya. Pemerintah mulai menyebarkan budaya populernya terutama anime, manga dan video games yang populer baik di negerinya sendiri dan di negara lain.

Sejarawan Saya Sashaki Shiraishi dalam tulisannya yang berjudul Japan’s Soft Power: Doraemon Goes Overseas, memaparkan analisis menarik tentang komik sebagai bagian dari soft power Jepang.

Dia mengutip istilah soft power yang dipopulerkan akademisi asal Harvard, Joseph Nye, untuk menggambarkan bagaimana pengaruh budaya dalam dinamika politik.

Shiraishi menggambarkan persaingan antar negara di era pasca Perang Dunia kedua yang lebih mengarah pada persaingan ekonomi dan bisnis. Doraemon dan juga beberapa tokoh dalam komik seperti Astro Boy dan Dragon Ball telah menjadi bagian dari ikon Jepang saat melakukan penetrasi ke banyak negara.

Melalui strategi budaya populer, Jepang lalu membanjiri pasar dunia dengan berbagai produk Jepang. Inilah strategi budaya yang ampuh, efektif, dan terasa menyenangkan, namun secara perlahan diikuti oleh penetrasi ekonomi.

Kini, dampak soft power itu kian terasa saat meninggalnya Toriyama ditangisi seluruh dunia. Karakter Sun Goku yang terbang dengan kedua sayap di punggunya menjadi trending di beberapa platform media sosial.

Beberapa klub bola menyatakan duka mendalam. Mulai dari Bayern Muenchen, Real Madrid, hingga AC Milan mengunggah ucapan duka. Semua berterima kasih atas kenangan masa kecil bersama Dragon Ball.

Di situs weibo, seorang penggemar masih tidak terima dengan kematian Toriyama. Dia mengajak orang-orang untuk melakukan sesuatu. ”Ayo kumpulkan ketujuh bola naga dan hidupkan kembali Tuan Akira Toriyama!”

Di kisah Dragon Ball, ketika tujuh bola naga terkumpul, maka semua harapan dan impian akan terkabulkan. Sebagaimana penggemar itu, kita berharap Toriyama hidup kembali dan menghibur kita semua.

Sayōnara [さようなら]



Saat Bahasa Makassar Melalangbuana di Jagad Digital

suasana launching kamus digital bahasa Makassar


Dahulu, bahasa Makassar menyebar ke negeri-negeri di bawah angin timur, tersebar hingga tanah Marege (Australia), berkelana jauh hingga Cape Town (Afrika Selatan) seiring dengan gerak pelaut Makassar meniti buih.

Kini, bahasa Makassar berkelana ke jagad digital, menelusuri semua gawai dan gadget, mendatangi semua warga dunia. Semuanya berkat ikhtiar banyak pihak. Mulai Badan Bahasa, Rumata Artspace, BasaIbu Wiki, hingga Kedutaan Besar Amerika Serikat.

***

“Aga kareba. Bajji-baji ji?”

Di lantai tiga Pacific Place Mall, perempuan berwajah manis itu meneriakkan kalimat dalam bahasa Makassar. Dia menyapa audience yang banyak di antaranya anak-anak muda warga Makassar.

Kemarin, Kamis (7/3/2024.), suasana kantor @america, pusat pendidikan di bawah koordinasi Kedutaan Besar Amerika Serikat, seakan pindah ke kota Makassar. Banyak orang berbahasa Makassar sembari sesekali menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Perempuan itu membuka acara Peluncuran Kamus Digital BasaSulsel Wiki dan BasaKalimantan Wiki. Peluncuran ini didukung oleh Badan Bahasa, Rumata Art Space, BasaIbu Wiki, dan Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Atasa Kebudayaan Kedubes Amerika Serikat di Indonesia, Emily Yasmin Norris, menyambut baik acara ini. Dia menuturkan, yang diluncurkan hari itu adalah BasaSulsel dan BasaKalimantan. Menurutnya, upaya untuk membawa bahasa lokal ke jagad digital itu didukung penuh kedutaan melalui skema dana hibah.

Atase Kebudayaan Amerika Serikat, Emily Noris

“Ini menandai 75 tahun hubungan Amerika Serikat dan Indonesia. Kita mengusung tema Diversity, Democracy, and Prosperity. Kami menyiapkan dana hibah untk membantu Upaya penyelamatan bahasa daerah di Indonesia. Kami mendukung upaya pelestarian bahasa. Sebab ini adalah bagian dari demokrasi,” katanya.

Di tempat yang sama, Kepala Badan Bahasa Sulsel, Dr Ganjar Harimansyah, yang hadir via daring, menjelaskan inisiatif itu asudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Pihaknya sudah mengumpulkan kosa kata, kemudian berupaya untuk menginternasionalisasi bahasa local, dan menerapkannya di sekolah-sekolah.

Badan Bahasa Sulsel lalu berkolaborasi dengan Rumata Art Space, yang digawangi Riri Riza dan Lily Yulianti Farid (alm), untuk mendigitalkan kamus tersebut sehingga bsia diakses semua orang di berbagai lokasi. Harapannya, generasi muda bisa menjangkau kamus itu di mana pun mereka berada.

Ikhtiar ini patut diacungi jempol. Sebagaimana dituturkan Ita Ibnu dari Rumata Art Space, bahasa Makassar mulai jarang digunakan. Anak-anak muda Makassar mulai jarang berbahasa lokal, sebab lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Kekhawatiran akan punahnya bahasa Makassar ini harus diantisipasi semua pihak. Dahulu, bahasa Makassar tersebar hingga ke negeri-negeri jauh, seiring dengan perjalanan para pelaut Makassar meniti buih.

Kosa kata bahasa Makassar menyebar hingga tanah Marege (Australia). Akademisi  Campbell  McKnight menuturkan jejak itu dalam bukunya Voyage to Marege. Menurut catatannya, para pelaut Makassar telah lama meninggalkan jejak interaksi dengan penduduk Aborigin. Pelaut Makassar tak cuma berdagang, tapi juga memperkaya kosa kata Suku Aborigin.

Paul Thomas, peneliti Monash University, menjelaskan sekitar 300 lebih kosa kata bahasa Yolngu, salah satu sub etnik Aborigin, dipengaruhi oleh kosa kata bahasa Makassar.

Dalam laporan yang bertajuk “Austronesian Loanwords in Yolngu-Matha of Northeast Arnhem Land” yang ditulis oleh Alan Walker and R David Zorc dari Australian National University (ANU) pada tahun 1981 mencantumkan berbagai kata yang dipengaruhi oleh para pelaut dari Makassar.

Di antaranya adalah kata jinapan yang berarti sama dengan kata senapan dalam bahasa Indonesia saat ini, jalatanyang sama artinya dengan kata selatan, jaran yang penggunaannya merujuk pada kuda, lipalipa yang sama dengan kosa kata bahasa Bugis yang berarti kano, hingga bandira dari kata bendera.

Menurut Paul, penyerapan bahasa ibu para pelaut Makassar itu terjadi karena hubungan dagang yang terbangun antara keduanya. Demi hubungan dagang, kedua kelompok harus menyepakati bahasa komunikasi.

Bukan hanya Australia, jejak-jejak bahasa Makassar juga bisa ditemukan di Madagaskar (Afrika), hingga Cape Town. Semuanya menunjukkan adanya pertalian melalui aktivitas perdagangan

Ini semakin menguatkan tesis Denys Lombard dalam bukunya “Le carrefour javanais”atau “Nusa Jawa Silang Budaya” tentang globalisasi yang sejatinya sudah berlangsung di abad ke-10 hingga abad ke-13, di mana banyak orang melakukan lintas benua dan berinteraksi di berbagai pelabuhan, sehingga peradaban kian mekar.

Sayang sekali, catatan emas penyebaran bahasa Makassar itu tidak seberapa benderang di masa kini. Ketika Makassar teriterasi ke dalam NKRI, bahasa lokal kian menyempit.

Perannya kian terpinggir hingga ke komunitas yang masih mempertahannya. Kota-kota menjadi global dan seragam. Semua warga berbahasa Indonesia, lalu perlahan berbahasa Inggris. Anak-anak muda mulai jarang berbahasa lokal. Mereka tercerabut dfari akar kulturalnya sehingga menjadi generasi yang lupa identitas, lupa sejarah.

Riri Riza

Namun, apakah kenyataan memang semiris itu? Sineas Riri Riza merasa optimis dengan situasi kekinian. Dia melihat banyak generasi baru yang mulai perlahan memgangkat kembali istilah-istilah lokal. Baginya, saat semua jadi global, maka saat itulah jangkar kebudayaan harus diperkuat.

Dia menyebut generasi baru perlahan mulai memasyarakatkan istilah lokal. Dia mencontohkan film lokal berjudul Ambo Nai.

“Film ini judulnya berani. Saya tidak tahu apa itu Ambo Nai. Tapi saya anggap memilih judul ini butuh keberanian. Ternyata isi filmnya juga hebat dan disukai banyak orang. Ada juga judul Uang Panai. Ini menunjukkan bahasa lokal mulai masuk ke budaya popular,” katanya.

Riri juga mengambil contoh beberapa rapper anak muda Makassar yang bersenandung dengan bahasa lokal. “Dengan masuk ke budaya popular, kita bisa melamgkah lebih jauh,”katanya.

Di ruangan itu, aroma optimisme kian menguat. Semua seakan sepakat bahwa perlu ada langkah-langkah yang diambil untuk kembali menjadikan bahasa Makassar sebagai bahasa berdaya. Daripada duduk diam dan merutuki keadaan, lebih baik bergerak dan menyalakan cahaya.

Hari itu, sebuah langkah berani telah ditempuh. Setelah upaya digitalisasi, tugas berikutnya sudah menunggu. Yakni bagaimana menjadikan bahasa itu kembali menjadi bahasa pergaulan, bahasa komunikasi, dan bahasa yang melambangkan identitas lokal.

Langkah kedepan terbilang cukup menantang. Namun orang Makassar tak kenal kata menyerah. Para pelaut punya semboyan: “Kualleanna Tallanga Na Toalia.” Sekali Layar Terkembang, Pantang Biduk Surut Ke Pantai. 



Profesor Sumbangan Baja, Seniman Geo-Spasial di Birokrasi Unhas

Sumbangan Baja


Hari itu, di tahun 1988, suasana ramai di acara wisuda kampus Universitas Hasanuddin. Saat itu, Rektor Unhas Prof Fachrudin, memintanya berdiri. Dia diperkenalkan sebagai wisudawan terbaik.

Tak hanya itu, Prof Fachrudin memintanya agar jadi dosen Unhas, tanpa perlu ikut tes. Semua bertepuk tangan. Pria itu, Sumbangan Baja, menandai peristiwa itu sebagai titik terpenting dalam hidupnya.

Dia diminta menjadi pengajar karena kualitas dan kapabilitasnya. Dia adalah mahasiswa berprestasi. Dia sosok yang tekun dan penuh ikhtiar untuk mengembangkan ilmunya.

Dia merasa telah melampaui cita-citanya di masa kecil. Dulu, dia sangat ingin menjadi guru. Baginya, guru adalah profesi yang paling berjasa sebab bisa membantu banyak orang.

Di Pulau Taliabu, tempatnya menjalani masa kecil, jumlah sarjana bisa dihitung jari. Ayahnya, La Ode Baja, adalah keturunan bangsawan Buton yang pindah ke Taliabu karena keadaan di Sulawesi Tenggara yang tidak aman karena banyak gerombolan.

Dia memberi nama Sumbangan untuk anaknya dengan harapan agar kelak bisa menjadi figur yang suka berderma atau memberi. Nama Sumbangan identik dengan dharma. Sumbangan diharapkan jadi figur yang memberi manfaat bagi banyak orang.

Demi bisa meraih mimpinya menjadi guru serta memberikan manfaat bagi banyak orang, Sumbangan memutuskan untuk pindah ke Baubau dan melajutkan sekolah menengah di sana. Setelah itu mendaftar sebagai mahasiswa Universitas Hasanuddin.

Sumbangan Baja seakan ditakdirkan sebagai ahli geo-spasial. Masa kecilnya berpindah-pindah, mulai Taliabu hingga Baubau, telah mengasah kepekaannya untuk selalu memetakan ruang dan kawasan tempatnya bermukim.

Dia adalah figur yang konsisten untuk terus mengembangkan bidang ilmu tanah. Hasrat belajarnya meluap-luap. Lulus dari Unhas, dia melanjutkan program magister di New Zealand, dan berhasil menjadi ahli geo-spasial. “Di New Zealand, saya semakin yakin untuk menjadi akademisi”katanya.

Di Negeri Kiwi itu, dia mendalami bidang geo-spasial hingga tingkat mahir. Wawasannya terbuka kalau ilmu ini bisa diterapkan di berbagai bidang kehidupan. Dia belajar ilmu remote sensing (pengindraan jauh), juga pemotretan lewat udara. Dia belajar teori kamera, scanner, lalu belajar menafsir setiap keping informasi. Dia membaca peta dari satelit untuk memahami rupa bumi.

Sekembalinya ke tanah air, Hasrat Sumbangan untuk menerapkan ilmunya kian meluap-luap. “Saya lihat ilmu ini sangat penting. Berkat geo-spasial, kita bisa mempelajari ,merekam, menggambarkan bumi dalam peta. Kita bisa menganalisa, hingga pengambilan keputusan,”katanya.

Dilihatnya Indonesia sebagai negeri yang luas dengan pulau hingga 17 ribu. Bukan hanya daratan tetapi juga lautan. Dengan memetakan wilayah, kita bisa merencanakan hal-hal baik, juga kebihakan yang positif, untuk Indonesia masa depan.

Di titik ini, Sumbangan Baja serupa seniman yang memahami peta lalu menyusun keping demi kepingan imajinasi untuk membuat perencanaan. Dia bekerja sama dengan banyak pemerintah daerah untuk membuat perencanaan wilayah.

“Ada begitu banyak sumber daya alam kita. Belum lagi manusianya. Kita harus kembangkan desa-desa, kota, serta wilayah untuk menjadi rumah yang nyaman bagi semua orang,”katanya.

Sumbangan memberi contoh tentang Kota Makassar. Menurutnya, kita bisa memetakan wilayah, lalu membuat perencanaan. Kita membaca peta, melihat mana hutan dan mana rawa, juga lokasi bukit. Kita bisa merancang di mana lokasi industri, pemukiman, termasuk mana lahan yang perlu dilindungi.

Baginya, tak semua lahan harus dieksploitasi. Ada lahan yang harus dilindungi sebab berperan sebagai paru-paru bagi bumi. Kalau dieksploitasi akan menimbulkan masalah.

Jejak Sumbangan Baja bisa dilihat di banyak kota dan kabupaten yang didampinginya. Sebagai saintis dan seniman, dia mengolah data menjadi imajinasi, yang kemudian menjadi rencana-rencana konkret untuk pembangunan. Dia menjadi mitra bagi banyak pemerintahan demi Menyusun tata ruang yang berkeadilan, baik bagi manusia, maupun ekologis.

Pengalaman sebagai konsultan terus bertambah. Jam terbangnya sebagai konsultan internasiponal terus bertambah. Dia ikut merancang stadion yang dipakai untuk Olimpiade Sydney. Dia bekerja di beberapa lembaga asing. Dia menguasai database, manajemen, serta pemetaan.

Bersama Asia Development Bank (ADB), dia terlibat dalam proyek besar, di antaranya adalah pemetaan mangrove atau hutan bakau. Dia membantu pemerintah untuk melindungi mangrove di Indonesia.

Sekian lama bekerja, dia dalam dilemma, apakah melanjutkan pendidikan sebagai doctor, ataukah terus bekerja di berbagai lembaga. Dia memilih untuk mengasah pengetahuannya dengan melanjutkan pendidikan doktor di Sydney, Autsralia. Dia mengambil program Geo-Science, yang merupakan induk dari Geo-Spasial. Dia menempuh pendidikan doktor sejak tahun 1998-2002.

Sepulang kuliah, dia kembali diminta untuk bekerja di beberapa Kementerian. Namun dia memilih untuk pulang ke kampus yang membesarkannya. Dia menjalankan amanah sebagai dosen dan pengajar. Meskipun fasilitasnya minim, dia tidak patah arang. Dia bertekad untuk memperbaiki situasi.

“Saat itu saya banyak cita-cita, tapi fasilitas terbatas. Hingga satu saat, saya diberi posisi, mulai dari ketua ad hoc, hingga Ketua Departemen Ilmu Tanah. Saya seorang saintis, tapi dalam perjalanan kita perlu memimpin, untuk memperbaiki. Teman-teman meminta saya jadi dekan. Hingga akhirnya saya terpilih,”katanya.

Sebagai dekan, dia mendedikasikan waktunya untuk memajukan institusi. Saintis diakomodasi, ruangan dan peralatan disiapkan. Kerja-kerjanya sangat bermanfaat. Seusai menjadi Dekan, dia menjadi Wakil Rektor 2 di bidang perencanaan keuangan dan infrastruktur.  Dia membawa manfaat di manapun dia berada.

***

HARI itu, 4 September 2019, suasana hening saat wisuda Unhas digelar. Profesor Sumbangan Baja tampil di hadapan wisudawan sembari bernyanyi. Dia menyanyikan lagu Ayah dengan suara yang beberapa kali serak.

Banyak orang berurai air mata. Sumbangan Baja tak sekadar memandang hadirin. Dia membayangkan betapa jauhnya perjalanannya. Dari seorang anak yang ingin jadi guru, kini dia adalah guru besar. Dari anak di daerah terpencil, kini dia menjadi professor di satu kampus besar yang memakai toga.

Dia sudah melampui banyak hal. Namun dia tidak hendak menyerah. Dia masih ingin berbuat banyak bagi banyak orang. Dia ingin membantu banyak orang juga kampus, sesuai dengan kapasitasnya.

Di tahun 2024, dia menjabat sebagai Sekretaris Unhas. Posisinya tetap penting sebab mengurusi hajat hidup banyak orang. Di luar kampus, dia pun membantu warga sekampung dengan menjabat sebagai Ketua Kerukunan Keluarga Indonesia Buton (KKIB).

Di acara wisuda itu, matanya berkaca-kaca saat berucap: “Ayah Dengarkanlah. Aku Ingin Berjumpa. Walau Hanya dalam Mimpi”




Ada FILSAFAT di Balik “Avatar: The Last Airbender”

Avatar The Last Airbender


TUHAN sedang berbaik hati pada penggemar anime. Beberapa bulan lalu, versi live action dari kartun One Piece hadir di Netfix. Kini, serial Avatar The Last Airbender versi live action diluncurkan.

Ada rasa haru dan nostalgia saat menyaksikan serial ini. Lebih 10 tahun lalu, saya mengikuti serial tentang bocah plontos yang keluar dari bongkahan es setelah tertidur 100 tahun. Serial ini mengisahkan suatu masa di mana ada 4 bangsa yang berinteraksi, yakni Air, Api, Angin, dan Tanah. Hingga Negara Api menyerang bangsa lain dan menguasai dunia.

Aang, seorang anak kecil berkepala plontos menyandang amanah sebagai Avatar yang hendak mengembalikan keseimbangan dunia. Saat dia dalam keadaa nirsadar, dia bisa memiliki kekuatan maha besar dan menguasai keempat unsur. Dia melawan Negara Api untuk mengembalikan keseimbangan.

Aang tak sendirian. Dia ditemani oleh prajurit Suku Air, yakni Katara dan Soka.Mereka menjadi tim yang kompak dan saling bantu dalam menghadapi Negara Api. Mereka adalah tim yang saling melengkapi.

Yang saya suka dari serial ini adalah gambaran yang dibuat presisi sebagaimana versi animasinya. Malah film ini menggambarkan setting dengan megah. Mulai dari Suku Air di Kutub Utara yang budayanya seperti orang Eskimo, Pulau Kiyoshi yang budayanya seperti Jepang kuno, Omashu yang seperti Asia Selatan, hingga Pengembara Udara yang perkampungannya seperti Tibet.

Namun, saya tidak akan mengurai sinopsis dari serial ini. Saya ingin melihat sisi lain. Bagi saya, serial ini bukan sekadar hiburan, tetapi mengandung banyak inspirasi dan telaah filsafat dan sosiologis. Serial Avatar menghadirkan pergulatan ide-ide atau gagasan.

Realitas sosiologis negeri dalam kisah ini adalah risalah filsafat Democritus yang menyebutkan bahwa alam semesta tersusun atas empat unsur utama yaitu api, air, tanah, dan udara.

Keempat unsur ini menjadi partikel yang menyusun atom bernama semesta. Konflik dan resistensi di antara unsur-unsur ini menjadi dinamika yang menjaga keseimbangan alam sekaligus harmoni semesta.

Tak ada realitas atau unsur yang buruk, sebab semua menyandang takdir berbeda dan saling menyeimbangkan sesuai dengan garis edar atau ziarah masing-masing unsur.



Serial ini menjadi pintu masuk untuk menelaah filsafat, sosiologi dan masa depan manusia. Di tahun 2022, terbit buku berjudul Avatar: The Last Airbender and Philosophy: Wisdom from Aang to Zuko, yang merupakan seri dari The Blackwell Philosophy and Pop Culture Series.

Buku ini membahas filsafat dari semua karakter. Di antara analisis yang saya sukai adalah analisis Profesor Justin White tentang karakter Zuko yang bergerak dari kegelapan menuju terang benderang berkat pemahaman filosofis yang kuat.

Dalam buku ini, para pemikir berbagi gagasan bagaimana memahami serial ini dan membawa perdebatannya ke arah filosofis. Mereka mengurai filsafat Timur, Barat, dan kearifan lokal, sebagaimana disampaikan sosok Paman Iroh dalam serial ini.

Serial ini membantu kita untuk memahami berbagai pertanyaan penting, misalnya bagaimana menangani kerusakan ekologi, dampak kolonialisme dan genosida, dan kesenjangan kekayaan, dengan menggunakan khasanah dari berbagai tradisi filosofis.

Saya menyarikan tiga poin penting yang bisa ditemukan dari buku ini.

Pertama, sebagaimana dikemukakan kreatornya Bryan Konietzko dan Michael Dante DiMartino, “manusia tidak selalu baik atau jahat, tetapi berada dalam keadaan seimbang atau tidak seimbang.”

Semua karakter dalam Avatar tidak selalu melakukan hal yang “benar” dan karakter “jahat” tidak selalu melakukan hal yang “salah”. Setiap karakter dapat dilihat dalam tingkat "keseimbangan" yang berbeda-beda.

Sebagai Avatar, Aang melambangkan pentingnya keseimbangan. Untuk menguasai keempat elemen dan membawa keseimbangan pada dunia, Aang pertama-tama diharuskan mencapai keseimbangan dalam dirinya.

Namun, Aang tetaplah manusia yang memiliki kekurangan. Aang sangat spiritual, seorang pasifis yang taat, dan secara alami memiliki karakter yang “seimbang.” Aang seperti 'kehilangan keseimbangan' karena ia diliputi emosi dan bereaksi tanpa melakukan refleksi terlebih dahulu.

Kedua, serial ini menggambarkan filsafat messianisme. Serial ini seakan menganfirmasi pandangan dari sejumlah filsuf maupun agamawan yang hingga kini masih meyakini kelak akan hadir seorang pembebas sebagaimana yang dituturkan dalam berbagai kitab suci.

Selama 100 tahun lenyapnya Aang, manusia menantikan sosok penyelamat. Kerinduan akan sosok Avatar ini adalah sesuatu yang universal dalam sejarah peradaban manusia.

Konsep Avatar muncul di hampir semua peradaban dan kebudayaan manusia sebagai bentuk kerinduan akan hadirnya sosok manusia sempurna yang kelak akan menghancurkan ketidakadilan, menjaga nilai, serta memperkuat moralitas serta tatanan peradaban yang lestari.

Dalam Hindu, Avatar adalah keturunan dewa yang turun ke bumi dan berwujud manusia. Titisan Dewa ini mengemban tugas untuk menegakkan kalimat kebenaran dan menjadi medium penghancur kejahatan. Itu bisa dilihat pada sosok seperti Krisna, Rama, dan Buddha.



Dalam keyakinan Kristen, konsep “Avatar” adalah konsep messiah. Kata messiah kerap dimaknai sebagai Kristus atau penyelamat. Nama ini dilekatkan pada belakang nama Yesus sehingga menjadi Yesus Kristus atau Yesus Sang Penyelamat. Kitab Perjanjian Lama (The Old Testament) banyak mengisahkan ini (lihat Isaiah 53).

Islam juga mengenal keyakinan tentang “Avatar” atau “Messiah” ini. Keyakinan itu termanifestasi dalam sosok Imam Mahdi yang digaibkan dan kelak akan hadir dalam satu setting sosial yang kian amburadul.

Messiah juga muncul di berbagai kebudayaan. Orang Jawa hingga kini masih meyakini akan adanya Ratu Adil yang kelak akan membawa Jawa ke era Gemah Ripah Loh Jinawi. Dalam studi Sartono Kartodirdjo, keyakinan ini justru menjadi api yang membakar semangat perlawanan orang Jawa untuk menentang ketidakadilan.

Ketiga, adanya unsur filosofi Timur yang kental. Mari kita lihat beberapa karakter. Aang adalah anggota Pengembara Udara (Air Nomads), sebuah bangsa biksu mandiri yang tinggal di kompleks kuil kuno mistis bersama dengan bison langit terbang.

Gambaran tentang tanah kuno yang harmonis ini memiliki banyak kesamaan dengan mitos Shambala, sebuah lembah yang konon ada di wilayah terpencil di Tibet. Di sini, setiap orang hidup dalam harmoni dalam masyarakat beragama yang sempurna. 

Aang, sang tokoh utama, memiliki seorang guru yang paling dekat dengan seorang ayah, seorang biksu tua bernama Gyatso. Dalam bahasa Tibet, Gyatso berarti “Laut” dan merupakan nama belakang Dalai Lama saat ini, Tenzin Gyatso.

Kita bisa menyaksikan bagaimana ajaran Buddha ditampilkan dalam serial ini. Mulai dari bagaimana membuka cakra, hidup vegetarian, konsep samsara dan pelepasan duniawi, hingga bagaimana dilema dihadapi Aang. Dia tidak ingin membunuh Raja Api Ozai sebab ajaran Buddha melarangnya.


Serial ini mencapai konklusi, Aang menyalurkan kekuatan spiritualnya dan dalam pertempuran seru terakhir. Dia berhasil menghilangkan kekuatan pengendalian api dan menaklukkannya tanpa membunuhnya.

Ini adalah pesan yang jelas. Bahwa seseorang yang hina seperti Ozai tetap salah jika dia dihancurkan secara spiritual. Dia harus mendapatkan pengampunan dan kesempatan kedua. Hal ini sejalan dengan cita-cita Budha dan Hindu tentang ahimsa, atau nir-kekerasan.

Baik versi kartun maupun live action, tokoh favorit saya adalah Paman Iroh. Dia sosok dari Negara Api yang paling bijak. Dia melampaui semua batasan sosiologis, dan melihat semua orang dalam satu semesta.

Salah satu kutipannya yang saya sukai adalah: "Perfection And Power Are Overrated. I Think You Are Very Wise To Choose Happiness And Love."



NEXUS, Harari, dan Sejarah Informasi yang Menghancurkan Dunia


Setelah Sapiens, Homo Deus, kini waktunya Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI. 

Yuval Noah Harari melanjutkan gagasan utamanya dalam Sapiens, yakni manusia bisa bekerja dalam skala massif karena mempercayai fiksi, cerita, dan mitos. Inilah prestasi terbesar umat manusia, yang tidak dimiliki hewan lain.

Saya tertarik dengan tema yang dibahas yakni sejarah singkat jaringan informasi, dari zaman batu hingga Artificial Intelligent. Harari memang sejarawan, tapi dia tidak asyik membahas masa lalu. Dia membaca masa lalu demi memahami masa depan yang sebentar lagi akan terjadi.

Buku ini membahas bagaimana informasi telah membentuk dan menghancurkan dunia kita. Revolusi informasi terjadi dengan cepat hingga manusia modern mengalami obesitas informasi, satu keadaan di mana satu informasi bertindih dengan informasi lainnya sehingga keadaan menjadi kacau. Tak jelas mana benar dan mana salah.

Tiga Buku Harari

Kita menyebut diri kita Sapiens, manusia bijaksana. Tapi kelakuan kita adalah merusak alam semesta. Kita di ambang bunuh diri ekologis dan teknologi. Kita membangun bumi melalui informasi dan kerja sama skala massif, namun penghancuran bumi juga melalui informasi, yang dikemas menjadi fiksi fantasi, dan delusi massal.

Kata Harari, sejarah tidak bersifat deterministik, begitu pula teknologi. Dengan membuat pilihan yang tepat, kita masih dapat mencegah dampak terburuk. Karena jika kita tidak bisa mengubah masa depan, lalu mengapa membuang-buang waktu untuk membahasnya?

Sejak manusia menjadikan sains sebagai pelita, kita sibuk mengeksploitasi alam, menggali bumi, merusak tanah, setelah itu menyingkirkan ekologi. Kini, takdir telah mengajarkan kalau kita keliru. Alam yang sekarat adalah awal dari manusia yang sekarat.


Masa depan dunia, bagi Harari, adalah distopia. Dunia yang menakutkan. Peran manusia dalam mengatur kehidupan di bumi akan digantikan oleh mesin pemroses data. Tugas kosmis Homo Sapiens telah berakhir, dan akan digantikan oleh data. Ini dimungkinkan apabila kita melihat perkembangan artificial intelligence dan big data saat ini.

Manusia juga tunduk pada algoritma. Manusia menyerahkan kebebasan pada algoritma dan mesin, yang bisa memprediksi dengan presisi apa saja yang dilakukan manusia. 

Sayang sekali, buku ini akan beredar di bulan September 2024. Saya hanya mendapatkan beberapa lembaran dari internet. Buku ini meminta kita untuk mempertimbangkan hubungan kompleks antara informasi dan kebenaran, birokrasi dan mitologi, kebijaksanaan, dan kekuasaan.  

Harari mengeksplorasi bagaimana berbagai masyarakat dan sistem politik menggunakan informasi untuk mencapai tujuan mereka dan menerapkan ketertiban baik dan buruk. Harari membahas pilihan-pilihan mendesak yang kita hadapi saat ini, karena kecerdasan non-manusia mengancam keberadaan kita.

Kita menantikan buku ini di bulan September mendatang.



THOMAS LEMBONG dan Nujuman Politik Indonesia


Tepat di tanggal 1 Januari 2024, Thomas Trikasih Lembong membagikan informasi mengenai buku-buku yang paling disukainya sepanjang tahun. Dia menyebut tiga buku, yakni Start with Why dari Simon Sinek, Atomic Habits dari James Lear, dan Factfulness dari Hans Rosling.

Buku-buku tersebut bukanlah buku baru bagi mereka yang suka membaca buku bisnis dan manajemen. Namun buku-buku itu penting bagi mereka yang ingin mendisiplinkan diri, bergerak serta setahap demi setahap mencapai kesuksesan.

Bukankah Thomas Lembong sudah lama menikmati kesuksesan, baik sebagai konsultan bisnis, hingga dua kali menjabat sebagai Menteri di era Jokowi? Apa gerangan yang dicarinya? 

Mari kita membahas pria ini.

*** 

Di podcast Prof Rhenald Kasali dia berbicara banyak. Kalimatnya terbata-bata. Datar dan tanpa intonasi. Diksinya terlihat terbatas. Dia terlihat lebih fasih berbahasa asing, ketimbang bahasa Indonesia. 

Biarpun bukan pendukung Anies, saya senang mengamati berbagai wawancara Thomas Lembong. Saya lihat, dia lebih menarik ketimbang capresnya Anies Baswedan. Thomas selalu genuine, fokus pada substansi dan argumentasi. Terlihat jelas kalau dia rajin membaca dan kaya dengan wacana.

Tom, lelaki asal Manado yang lahir pada 4 Maret 1971, kini wara-wiri di dunia politik. Dulu, dia seorang profesional yang menikmati kerja sebagai konsultan bisnis di luar negeri. Kini, dia menemani Anies ke mana-mana.

Di beberapa wawancara, dia kerap mengeluarkan nujuman politik. Sebagai investor dan trader, dia terbiasa mengambil risiko di pasar saham. Terkait keputusannya untuk bergabung dengan Anies, dia menjelaskannya dari sisi seorang investment maker. 

"Justru karena menurut perhitungan saya kans untuk menang Anies-Muhaimin terbuka lebar bahkan sangat baik. Bahkan saya suka bilang ini investasi yang paling menarik yang pernah saya buat dalam karir saya sebagai investment maker," ujarnya.

Hubungannya dengan Anies terbilang panjang. Bukan hanya sebatas sesama alumni Amerika, namun keduanya adalah profesional yang pernah mendukung Jokowi dan menjadi menteri. 


Ketika Anies menjadi Gubernur DKI, Tom dipercaya menjadi Komisaris Utama di beberapa perusahaan milik pemda. Tak hanya itu, Tom juga menjadi jembatan bagi Anies untuk melobi ke sejumlah lembaga internasional.

Semasa menjadi Gubernur, Anies sempat mengunjungi sejumlah bankir dan lembaga finansial – seperti European Investment Bank (EIB) yang merupakan lembaga pinjaman dari Uni Eropa (UE).

Demikian pula saat Anies berkunjung ke Eropa. Dia bertemu dengan berbagai unsur masyarakat – mulai dari akademisi (University of Oxford dan King’s College, London), pemerintahan (Mendag Internasional Inggris Anne-Marie Trevelyan dan Wali Kota Berlin Franziska Giffey), media (BloombergNEF), dan ekonom (EIB). Semua atas lobi Tom Lembong.

Pria alumnus Harvard ini bukanlah kaleng-kaleng. Ia meraih gelar sarjananya di Universitas Harvard pada 1994 dengan gelar Bachelor of Arts di bidang arsitektur dan tata kelola.

Setelah lulus, ia bekerja di Divisi Ekuitas Morgan Stanley di New York dan Singapura pada 1995. Ia kemudian menjadi bankir investasi di Deutsche Securities Indonesia pada 1999-2000.

Jejak kariernya mentereng. Tom bekerja di Deutsche Bank di Jakarta periode 1998-1999. Tugasnya, mengerjakan rekapitalisasi dan merger Bank Bumi Daya, Bank Eksim, Bank Dagang Negara dan Bank Bapindo menjadi Bank Mandiri.

Ia pun sempat menjadi Senior Vice President dan Kepala Divisi penanggung jawab restrukturisasi dan penyelesaian kewajiban Salim Group kepada negara akibat Bank BCA runtuh pada krisis moneter 1998.

Hingga akhirnya dia dua kali menjadi menteri di kabinet yang dipimpin Presiden Jokowi. Dia juga menjadi penulis pidato Jokowi. Salah satu pidato terbaik Jokowi disampaikan saat acara WTO di Bali, di mana Jokowi mengutip Game of Thorne. Itu buatan Tom Lembong.

Dia juga cukup tajir. Dalam laporan yang disetornya ke negara, kekayaan terbesarnya bukanlah aset rumah, bangunan, dan emas. Kekayaan terbesarnya adalah surat-surat berharga senilai 94,5 miliar rupiah. Total kekayaannya adalah Rp 101,5 miliar.

Kehadiran Tom Lembong adalah oase baru di dunia perpolitikan Indonesia. Politik kita banyak dipenuhi figur inkompeten yang mencari nafkah di jalur politik. Banyak tim sukses atau lingkar inti calon presiden adalah mereka yang berharap jadi Menteri, komisaris, atau proyek-proyek jika calonnya terpilih. 

Dia sepertinya jauh dari hasrat tersebut. Dia sudah melampaui semua yang diincar oleh para pencari cuan di sekitar calon presiden. Dia sudah selesai dengan dirinya.

Bisa dibilang dia amat cerdas. Dia alumnus Harvard University, yang alumninya di Indonesia tidak banyak, namun di dunia internasional, banyak memegang posisi kunci. Dia punya jejaring internasional yang baik. Dia bisa mengetuk berbagai lembaga dan organisasi internasional. 

Sebagai investor, dia paham dengan semua risiko yang diambilnya. Jika kalah, dia bisa kehilangan segalanya. Apalagi, dunia politik kita tidak seperti dunia bisnis, yang bisa dibaca pola dan arahnya ke mana. Politik kita, sebagaimana ditulis Philip Philpott adalah kuburan bagi banyak analis karena banyak hal yang cepat berubah.

BACA: Buku yang Saya Sukai di Tahun 2023


Dalam pembicaraan di podcast Prof Rhenald Kasali, dia mengakui kalau urusan rezeki dan dunia, dia sudah lebih dari cukup. Dengan mendukung Anies, dia mengaku sedang berinvestasi untuk Indonesia yang lebih baik di masa mendatang. Dia ingin memberi secuil perubahan demi bangsa dan negara.Dia meneukan alasan kuat untuk bergerak.

Saya ingat buku Start With Why dari Simon Sinek yang dibaca Tom Lembong. Kata Sinek, orang sukses adalah mereka yang menemukan spirit kuat dan motivasi dalam melakukan sesuatu. Mereka menemukan WHY, lalu menerabas semua belukar permasalahan, demi menggapai apa yang diidamkan. Mereka tidak cuma dipandu rasio, tapi juga hasrat kuat untuk bergerak.

Di mata saya, Tom Lembong terlalu lurus untuk masuk dunia politik. Dunia politik kita penuh intrik dan sukar ditebak. Politik kita penuh dengan permainan, yang hasil akhirnya sulit ditafsir. 

Tom memang cerdas dalam mengurai ekonomi, namun argumentasinya yang hebat-hebat bisa sirna serentak saat berhadapan dengan sosiologi masyarakat kita yang lebih menghargai pembagian bansos ketimbang ide-ide.

Di titik ini dia berhadapan dengan real politics, di mana argumentasi harus diturunkan menjadi strategi kemenangan yang bisa menjadi amunisi bagi semua relawan untuk bergerak.

Yang pasti, Tom Lembong selalu meninggalkan jejak basah di politik kita. Dia anak bangsa, profesional dengan jejaring internasional yang kembali untuk bangsanya. Dia ibarat burung yang kembali ke sarang. Kita bangga dengannya.



Kelas Menulis



Semalam, di ajang pelatihan menulis, saya kembali menemukan hal yang sama. Para peserta sudah jago menulis. Semua sudah pernah menghasilkan karya, mulai dari postingan, artikel, buku, bahkan karya ilmiah.

Mengapa mereka perlu belajar menulis? Sebab mereka kehilangan percaya diri. Mereka takut dikomentari. Takut dihina. Takut karyanya dibilang jelek. Setiap komentar negative bisa menurunkan hasrat menulis.

Saya teringat Natalie Goldberg, seorang guru yang mengajarkan teknik menulis bebas yang tinggal di New Mexico, Amerika Serikat (AS).

Natalie tak menawarkan satu rumusan baku tentang kiat menulis, baik menyangkut cara, gaya, teknik, format ataupun style. Bagi Natalie, menulis adalah upaya untuk melepaskan gagasan-gagasan yang bersarang dalam benak kita, upaya untuk mengalirkan diri kita, ide-ide yang berkelebat dalam pikiran, lalu dituangkan melalui medium tulisan.

Semua individu memiliki keunikan. Semua individu pasti memiliki cara pandang atau opini yang berbeda atas sesuatu. Dengan cara menuliskan sesuatu secara bebas, maka setiap orang memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat serta apa yang dirasakannya. Menulis hanyalah jembatan untuk membantu seseorang untuk mengekspresikan diri.



Nah, kebanyakan kita adalah selalu takut untuk memulai sebuah tulisan. Ada di antara kita  yang takut dikira bodoh, takut dikira tolol, ataupun takut dianggap tidak berpengalaman. Di saat bersamaan, seringkali kita merasa diri kita hebat, pintar, sehingga seakan-akan kita telah memiliki satu standar tersendiri di dunia kepenulisan.

Kata Natalie, semua sikap-sikap itu adalah sebuah penjara bagi siapapun yang hendak menulis. Seseorang yang hendak menulis harus berani menyingkirkan semua perasaan itu. 

Menulis harus dilihat sebagai upaya untuk mengalirkan sesuatu yang sedang dipikirkan. Menulis adalah upaya untuk bercerita atau menyampaikan sesuatu, tanpa harus terpenjara oleh keinginan untuk dipuji, atau ketakutan kalau-kalau orang akan menganggap bodoh.

Makanya, kita tak butuh banyak buku untuk menemukan cara menulis. Sebab yang paling penting adalah keberanian untuk melepaskan apa yang ada di pikiran kita secara bebas, tanpa harus terikat pada banyak konvensi atau aturan kepenulisan. Aturan-aturan dalam kepenulisan dan berbahasa hanya akan menjadi pemjara yang membuat kita tak akan pernah bisa menulis.

Lupakan semua aturan. Labrak semua konvensi tentang cara menulis. Kemudian mulailah menulis secara bebas. Tak usah peduli apa kata orang. Toh, kita menulis untuk diri kita sendiri yang didasari niat tulus untuk berbagi.

Kalaupun ada yang mengatakan tulisan kita jelek, maka yakinlah kalau si penghina itu bukan seorang penulis. Sebab para penulis akan menyadari betul bahwa melahirkan tulisan bukan sesuatu yang mudah. 

Para penulis akan paham betul bahwa menulis membutuhkan nyali dan keberanian. Sehingga apresiasi akan terus diberikan kepada mereka yang memiliki keberanian untuk menuangkan gagasan, seperti apapun gagasan itu, bukan malah menjatuhkannya.

Saya sering mengutip pelukis terkenal Van Gogh. Di masa hidupnya, ia melukis dan menjualnya ke mana-mana. Lukisan-lukisan karyanya tak pernah laku. 

Tapi ia tak pernah berhenti melukis hingga lukisannya disimpan di satu gudang. Beberapa tahun setelah ia meninggal, adiknya coba menjual satu lukisan. Ternyata malah laku jutaan dollar. Mulailah ia dikenal. Mulailah lukisannya diburu, sesuatu yang tak dinikmatinya saat masih hidup.

Boleh jadi, anda adalah Van Gogh. Pada hari ini, tulisan anda dianggap tidak baik. Namun, tak ada satupun yang bisa memastikan masa depan. Boleh jadi, tulisan anda adalah berlian yang tak ternilai harganya. 

Boleh jadi, apa yang anda tuliskan adalah emas yang tengah dinanti banyak orang. Makanya, jangan pernah berhenti menulis. Jangan pernah berhenti untuk membagikan keping demi keping inspirasi untuk dibaca banyak orang. Bukankah setiap tulisan menyimpan keunikan sendiri-sendiri?

Sebagaimana diajarkan dalam filosofi Zen, saat menulis, kosongkan pikiran kita. Lupakan berbagai teori menulis. Langsung gerakkan tangan untuk menulis baris-demi baris. 

Kita akan terkejut saat menyadari bahwa kita telah melahirkan lembar demi lembar. Kita telah mengalahkan satu musuh utama dalam menulis yakni halaman kosong. Kita sukses mengisinya dengan kata demi kata.

Natalie juga mengajarkan agar kita tak perlu meniru-niru gaya orang lain ketika menulis. Dengan meniru orang lain, maka kita terpenjara dengan cara seseorang menulis. Yang jauh lebih penting adalah menjadi diri sendiri dengan cara melepaskan ide itu secara bebas dan lepas, sehingga tulisan kita bisa mengalir.

Saya menikmati buku-buku yang ditulis Natalie. 

Saya akhirnya berkesimpulan bahwa praktik menulis adalah praktik meditasi. Menulis adalah upaya untuk menjadi diri sendiri, upaya menemukan keheningan lalu mengalirkan keheningan itu dalam kata demi kata. Menulis adalah upaya untuk menangkap makna, mengikatnya, lalu mengabadikannya.

Menulis adalah upaya untuk menjelmakan diri kita sebagai sungai jernih yang mengalir lepas, menghindari bebatuan dan karang yang menghadang, hingga akhirnya menemukan danau tenang untuk berdiam. 

Danau tenang itu adalah diri kita sendiri, sisi terdalam diri kita yang seringkali tak kita temukan.

“In writing, when you are truly on, 

there’s no writer, no pen, no thoughts. 

Only writing does writing –everything else is gone.” 


Buku yang Saya Sukai di Tahun 2023

Anna lagi di ruang baca 

TAHUN 2023 adalah tahun penuh tantangan. Ekonomi dunia sedang melambat. Perang berkecamuk di Eropa Timur dan Timur Tengah. Di layar kaca, hampir setiap hari kita melihat ada tragedi kemanusiaan. 

D tahun ini, saya mengalami banyak hal. Mulai dari kehilangan pekerjaan, hingga mendapat pekerjaan baru. Saya juga mengalami krisis finansial gegara transaksi online.

Apapun itu, membaca buku dan menonton film selalu menjadi oase yang efektif untuk keluar dari masalah seberat apapun. Tenggelam dalam lautan buku selalu menjadi tempat sembunyi yang paling bagus. Berenang dalam buku-buku bagus selalu jadi strategi healing paling pas.

Sepanjang tahun 2023, saya membaca banyak buku bagus. Saya membaca beragam tema, mulai sejarah, sosial, hingga buku-buku bertemakan bisnis. Saya menyelami pikiran para ilmuwan dan pengarang, mulai dari Martin Bossenbroek hingga Napoleon Hill. 

Entah kenapa, ada rasa lapar untuk membaca banyak hal baru. Semakin banyak membaca, rasanya semakin banyak ketidaktahuan. Semakin terbentur pada satu kenyataan betapa kita sebenarnya tidak tahu apa-apa.

Berikut daftar acak yang saya baca di tahun 2023.


Pembalasan Dendam Diponegoro (Martin Bossenbroek)

Buku ini masih hangat. Baru tiba dua hari lalu, Baru membaca satu bab, saya sudah jatuh cinta dengan isinya. Ini bukan sekadar sejarah. Gaya menulisnya lebih mirip novel. Kita hanyut mengikuti perjalanan seorang tokoh, dari zaman ke zaman.


Memang, buku-buku terbaik mengenai Diponegoro ditulis oleh Peter Carey. Namun buku yang ditulis sejarawan Belanda, Martin Bossenbroek ini, punya kekuatan. Martin menarik garis hubung antara Diponegoro dan tokoh-tokoh Indomesia modern, yakni Sukarno. 

Dia melihat sejarah tidak hitam putih. Dia tidak menghakimi masa lalu dengan cara pandang masa kini. Dia melihat sejarah sebagai lanskap di mana manusia mewarnainya dengan tindakan. Makanya, di buku ini, kita melihat pergulatan manusia. Kita membaca Pangeran Diponegoro versus Jenderal De Kock. Kita pun melihat jejaknya pada perseteruan antara Sukarno versus Van Mook.

Diponegoro kalah melawan De Kock. Tapi spiritnya tidak lantas hilang begitu saja. Spiritnya merasuki para founding father Indonesia, Sukarno, yang menang banyak saat berhadapan dengan Van Mook, tokoh penting Belanda.

Satu lagi. Gaya menulisnya mengingatkan saya saat mengikuti kuliah Southasian Studies yang diasuh Prof William Frederick. Belajar sejarah yang efektif adalah dengan cara menyelami samudera pengalaman seorang individu, memahami struktur sosial, lalu membaca arah sejarah masa depan.


Yang Tak Kunjung Padam (Soe Tjen Marching)

Siapkan tisu saat membaca buku ini. Isinya benar-benar membuat sedih. Ini kisah tentang mereka yang terbuang, mereka yang dihilangkan haknya sebagai warga negara, mereka yang tak bisa pulang.

Di akhir masa Bung Karno, ada ratusan, bahkan ribuan anak bangsa yang dikirim ke luar negeri. Pemerintah Indonesia mengirim mereka ke kampus-kampus besar di Eropa Timur. Mereka belajar keahlian yang spesifik, mulai kedokteran hingga nuklir. Juga bom atom.


Mereka yang dikirim ke luar negeri itu, sejatinya mengemban misi besar untuk Indonesia yang kuat dan perkasa. Apa daya, peristiwa 65 mengubah segalanya. Mereka yang dikirim itu langsung dicabut paspornya. Mereka tak bisa kembali pulang, meskipun sekadar menyentuh kaki ibunya.

Mereka tak paham apa itu komunis. Tapi label terlanjur dilekatkan pada mereka. Mereka menjadi korban dari kebijakan negara, yang justru meminggirkan rakyatnya sendiri.

Buku ini membuka lapis-lapis makna tentang mereka yang terbuang di negara lain. Mereka sering disebut eksil, meskipun definisi ini bisa diperdebatkan. Mereka yang terbuang itu adalah anak-anak bangsa terbaik.

Buku ini memotret sisi human interest dari mereka yang terbuang. Ada yang berhasil kembali, setelah sekian puluh tahun, namun Tanah Air tidak seramah yang mereka bayangkan. Banyak yang menerima stigma, dan kemudian memutuskan kembali ke Eropa.


Show Your Work (Austin Kleon)

Tahun ini saya membaca tiga buku dari Austin Kleon. Ketiganya adalah Steal Like An Artistm, Show Your Work, dan Keep Going. Saya menyukai ketiganya, namun jika diminta pilih satu, maka saya memilih Show Your Work.



Isinya gue banget. Austin Kleon ingin pekerja seni tetap pede dengan karyanya. Menurutnya, ceritakan pada orang tentang apa yang sedang Anda kerjakan. Terus berpikir positif dan bagikan proses kreatif Anda. Pada satu titik, orang akan mengenali Anda melalui karya-karya itu, sehingga membuka banyak peta jalan bagi kehidupan Anda.

Kata Austin, yang bukunya selalu menjadi New York Times Bestseller, tak perlu menjadi jenius untuk berkarya. Jadilah seorang amatir yang terus belajar hal baru. Jadilah diri sendiri untuk terus produktif. Abaika suara-suara sumbang. Temukan komunitas yang saling mendukung untuk sama-sama berkembang. 

Pendapat Austin bukanlah hal baru. Saya menemukan motivasi serupa saat membaca buku Writing Down the Bone yang ditulis Nathalie Goldberg, juga buku Big Magic dari Elizabeth Gilbert. Namun, tetap saja ada nutrisi baru yang menaikkan adrenalin saat membaca buku serupa.


Zaman Bergerak (Takashi Shiraishi)

Saat melihat buku Zaman Bergerak, karya sejarawan Jepang Takashi Shiraishi (terjemahan Hilmar Farid), diterbitkan ulang oleh Marjin Kiri, saya sangat gembira. Beberapa tahun lalu, saya membeli edisi bajakan, yang kualitasnya pas-pasan. Saya malah masih punya edisi bajakan. Pernah saya membaca edisi aslinya An Age of Motion yang diterbitkan Cornell.


Ini adalah satu buku sejarah paling menarik yang pernah saya baca. Gaya menulisnya serupa membaca Bumi Manusia karangan Pramoedya. Yang dibahas adalah situasi jelang kebangkitan nasional, saat ide-ide saling bertarung dan menjadi tanding dari kolonialisme.

Generasi kita hari ini hanya mengenal nama-nama seperti Sukarno, Hatta, Tan Malaka, juga Sjahrir. Padahal generasi Sukarno ibarat striker yang menjebol gawang, setelah sebelumnya bola digiring oleh para libero dari generasi sebelumnya. 

Di antara mereka adalah Kartini, Tjipto, Tirto, Hadji Misbach, Semaun, Suwardi Suryaningrat, Mas Marco, dan banyak lagi. Tanpa sintesis gagasan mereka, tak akan muncul konsep-konsep kebangsaan yang justru melampaui zamannya.

Mereka tidak bertarung di medan laga. Mereka berdebat di medan gagasan-gagasan. Betapa serunya menyimak artikel Tirtoadhiseorjo di Medan Prijaji, Mas Marco menulis di koran Dunia Bergerak, Tjokroaminoto di Oetoesan Hindia, Semaoen di Sinar Djawa, Misbach menulis di Medan Moeslimin dan Islam Bergerak, hingga Soewardi Soerjaningrat menulis di harian De Express.

Sungguh menyedihkan karena hari ini, mereka semua terabaikan. Beberapa dari mereka diberi stigma sebagai komunis yang tak perlu dikenang sejarah. Mereka dianggap tidak penting dan hanya dianggap sebagai catatan kaki dari sejarah pergerakan kebangsaan kita.

Padahal ada masa di mana tak ada kategori-kategori. Yang ada adalah dialektika gagasan dan adu wacana. Sebab kebangkitan berawal dari kesadaran akan posisi bangsa. Mengutip Takashi Shiraishi, “Dicerahkan kata-kata dan perbuatan mereka, rakyat melihat dunia dan bergerak.”


Unstoppable (Yuval Noah Harari)

Di tahun 2023, saya membaca buku Unstoppable Us: How Humans Took Over the World yang ditulis tahun 2022. Buku ini ditujukan untuk kanak-kanak, makanya dikemas menarik. Ada ilustrasi komik dan gambar-gambar untuk melengkapi narasi yang dituturkan dengan ringan.


Buku ini menyederhanakan berbagai penjelasan tentang arkeologi, sejarah, dan geografi dalam bahasa yang mudah dipahami siapapun. Ide-ide dalam buku Sapiens, yang ditulis Harari, tidak lagi secara eksklusif untuk orang dewasa, tapi juga dipahami anak-anak.

Saya pikir anak-anak perlu mendapatkan bacaan ilmiah, tapi mudah dipahami. Kita tak bisa lagi menjawab pertanyaan anak-anak hanya dengan menunjuk langit. Sedari dini, anak-anak sudah harus diperkenalkan dengan penalaran serta fakta-fakta ekologis.

Di buku ini, dia membahas hal-hal yang agak berat, misalnya bagaimana cerita-cerita telah menyatukan manusia dan membuat manusia bisa bekerja secara kolektif. Dia juga membahas spesies manusia lain, sebelum akhirnya bumi hanya dikuasai oleh spesies manusia sekarang.

Saya menemukan sosok Harari dalam buku ini serupa kakek yang mendongeng pada cucunya mengenai alam semesta. Dia mengajukan pertanyaan yang kemudian menjadi kemudi untuk berlayar di lautan argumentasi.

Saya kutipkan pertanyaan di bab awal. Dia mengatakan: “Kita manusia tidaklah sekuat singa. Kita tidak bisa berenang selincah dolphin, kita tidak punya sayap seperti elang. Lantas, bagaimana kita bisa menjadi makhluk yang memimpin planet ini? Jawabannya ada pada kisah paling aneh yang akan kamu dengar. Yuk, kita ikuti ceritanya.”


Rasa Tanah Air (Fadly Rahman)

Sejarah tak selalu berisikan kisah-kisah orang besar, para raja, para bangsawan, juga kisah kepahlawanan. Sejarah juga berisi tentang mereka yang jadi warga biasa, tentang hal-hal biasa, tentang kebiasaan-kebiasaan unik, juga kisah-kisah di tepian. Di antaranya adalah kisah kuliner dari masa ke masa.


Saya senang membaca buku sejarah kuliner yang ditulis Fadly Rahman. Saya mengoleksi semua buku-bukunya yang selalu sukses bikin saya lapar akan hal2 baru. Kini, saya membaca buku ketiganya yang berjudul Rasa Tanah Air yang berkisah tentang bagaimana kuliner Indonesia menyebar ke manca-negara.

Buku ini bercerita bagaimana kuliner Indonesia menyebar hingga negeri-negeri yang jauh. Kuliner itu menyebar seiring dengan berdiasporanya bangsa Indonesia ke berbagai titik. Saya ingat liputan di media Singapura mengenai cendol, yang sempat diklaim Malaysia dan Singapura. Rupanya sejarahnya terpaut jauh di Jawa pada masa-masa kerajaan.

Di tangan sejarawan seperti Fadly, kuliner menjadi pintu masuk untuk mengenali sejarah, mehamai budaya manusia Indonesia, serta bagaimana kuliner itu menyebar ke banyak titik, namun tetap memiliki pertautan rasa dengan tanah air. 


Ras, Kelas, Bangsa (Andi Achdian)

Jika buku Zaman Bergerak memotret dinamika pergerakan di Solo, maka buku Ras, Kelas, Bangsa ini memotret kota Surabaya yang kosmopolit di abad ke-20. Kisahnya seru sebab semua ras berkontestasi menuju kemerdekaan di “Surabaya yang panas.”


Saya mengenal baik penulisnya, Andi Achdian, sebab dulu sama-sama belajar di kampus UI. Sejak dulu, dia sudah hebat. Saya tidak terkejut jika dia bisa menulis buku sebagus ini. 

Menurut saya, dia cukup berani mengangkat topik yang tidak mudah. Buku ini memotret bagaimana politik pergerakan antikolonial, baik yang moderat maupun radikal, kooperatif maupun nonkooperatif, mau tak mau harus berhadapan langsung dengan persoalan perbedaan dan ketimpangan rasial di koloni ini. 

Di masa itu, kaum pergerakan punya agenda pergerakan untuk melawan kaum kulit putih. Tapi di saat bersamaan, mereka juga harus memberi ruang bagi berbagai ras yang juga ikut bergolak melawan penjajah. Berbagai kelompok masyarakat dari kalangan bumiputra, Eropa, Indo-Eropa, Tionghoa, dan Arab turut ambil bagian dalam aktivitas politik antikolonial. 


Rework – Remote (Jason Fried & David Heinemeier Hansson)

Sejatinya ini terdiri atas dua buku. Pertama buku Remote, yang isinya pengalaman pengusaha start-up yang mempekerjakan karyawan dari jarak jauh. Kedua, Rework yang membuka pandangan tentang dunia bisnis.

Menurut saya, buku ini serupa “mercon yang diledakkan dalam kepala.” Isinya membuat saya mengubah banyak pandangan tentang dunia bisnis. Yang ditulis di sini adalah pengalaman dua penulisnya dalam mengembangkan bisnis hingga menjadi raksasa.

Buku ini mengajarkan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda. Saya jadi tahu, apa yang ada di teori-teori tidak selalu benar. Di antaranya adalah jangan terlalu banyak rencana dan rapat-rapat. Langsung kerjakan sesuatu, dan belajar sambil jalan. Ide orisinil hanya bagian kecil, namun terpenting adalah bagaimana mengeksekusinya.


Komik Dunia Sophie (Jostein Gaarder)

Lebih 20 tahun lalu, saya membaca kisah remaja bernama Sophie Amundsend belajar filsafat melalui surat-surat yang diterimanya dari seseorang. Kini, saat membaca lagi kisah Dunia Sophie dalam versi komik grafis, sensasinya masih sama.


Bagi saya Dunia Sophie, yang ditulis Jostein Gaarder, adalah buku yang membuka gerbang pengetahuan. Buku ini meluruskan banyak hal tentang filsafat. Buku ini menjadi awal dari membaca berbagai literatur filsafat yang ternyata ringan dan enak dibaca. 

Kekuatan Dunia Sophie adalah kemampuan untuk membumikan hal rumit menjadi sederhana dan bisa dinikmati semua kalangan. Tak perlu berkerut kening untuk membaca novel ini. Cukup punya hasrat ingin tau dan rasa penasaran ala membaca novel-novel detektif.

Sebab novel ini menjadikan kisah filsafat seerti himpunan teka-teki. Kita bertualang ke masa lalu, berusaha memahami semesta, lalu menceritakan ulang kepada semua orang. Kita bepergian ke rumah gagasan-gagasan, kemudian menyarikan ulang semua pengalaman berharga itu.


Meaningfull Storytelling (Yoris Sebastian & Umayanti Utami)

Ini buku kedua dari Yoris Sebastian yang saya koleksi. Sebelumnya, saya membaca bukunya yang berjudul Generasi Langgas. Buku Meaningful Storytelling ini harusnya dimiliki oleh para kreator konten, humas, juga semua praktisi digital.


Sejak zaman Adam, manusia memiliki kemampuan bercerita. Kata Harari, kemampuan ini memungkinkan manusia untuk bekerja sama dengan manusia lain dalam skala massif. Berbagai cerita telah menghubungkan manusia satu sama lain, membuat mereka bisa bekerja sama, serta melakukan berbagai proyek besar. Manusia membentuk peradaban berkat cerita.

Buku ini mengajak semua orang untuk membagikan cerita-cerita inspiratif, yang bisa dikemas dalam berbagai platform media. Yoris berharap buku ini memantik semangat orang Indonesia untuk berbagi ha baik, bukannya berbagi hoaks.

Dalam buku ini ada kisah dari Samuel Ray yang sedari dulu sering membagikan tips-tips bagi para pencari kerja, mulai dari followers yang sedikit hingga kini followers-nya sudah sangat banyak, semua ini karena sifat konsisten yang dia miliki. 

Buku ini juga menyajikan hal praktis, agar semua orang bisa merancang konten yang bermakna. Pelajaran penting yang saya dapatkan, semua orang bisa merancang meaningful storytelling-nya masing-masing, sehingga dunia akan lebih baik.


Think and Grow Rich (Napoleon Hill)

Dalam buku yang pertama terbit tahun 1937 ini, Napoleon Hill mewawancarai lebih 500 orang kaya, lalu merumuskan prinsip-prinsip dan hal-hal yang mereka anut dan yakini hingga bisa menggapai kekayaan.


Memang tidak semua orang kaya itu baik, tapi tidak semua juga jahat. Mereka tidak berbeda dengan kaum kebanyakan. Mereka tak ada bedanya dengan kaum miskin.

Bedanya, orang-orang kaya selalu memiliki keyakinan kuat untuk menggapai impiannya. Mereka punya hasrat, melihat masa depan yang hendak digapai, lalu merumuskan langkah-langkah utuk menggapainya. 

Mereka pemimpi besar yang punya keyakinan kuat, lalu menjadikan keyakinan itu sebagai alam bawah sadar, yang memberinya kekuatan untuk melihat celah dan peluang. 

Hill menyebutnya keyakinan ini sebagai autosugesti. 

Pada mulanya, seseorang membayangkan dirinya punya kekayaan tertentu. Seseorang itu lalu mencatat dan mengulang-ngulang keinginannya itu sehingga tersimpan di alam bawah sadar lalu menjadi hasrat.

Hasrat itu lalu menjadi dorongan kuat baginya untuk bergerak. Dia menjadi lebih peka dengan berbagai peluang, membangun jaringan dengan mereka yang berhasrat sama, hingga mencapai titik kekayaan.

Bagi Hill, rumus klasik yang menyatakan kekayaan adalah hasil dari kerja keras dan kejujuran adalah rumus yang keliru. Kalau sekadar mendapat uang, maka kejujuran dan kerja keras itu penting.  Tapi untuk menjadi kaya, maka butuh lebih dari itu. 

Kekayaan adalah hasil yang muncul dari keyakinan dan hasrat kuat, rencana-rencana yang dijalankan, serta membangun tim dengan master mind yang sama. Kekayaan adalah buah dari pikiran, tindakan, dan langkah-langkah terorganisir.

Buku yang menarik.

*** 

BUKU di atas hanya sebagian dari banyak koleksi buku yang saya baca di tahun 2023. Saat ini, saya lagi menuntaskan buku Dunia Hantu Digul yang ditulis Takashi Shiraishi. Ada juga buku Merdeka dari Harry Poeze, serta buku Dunia Revolusi. 

Saya juga membaca ulang serial Percy Jackson gara-gara serialnya tayang di Disney Hotstar. Membaca buku serupa menikmati kuliner. Setiap beberapa jam, Anda akan merasa lapar dan harus segera mengatasinya. Makanya, koleksi saya terus bertambah. Rumah saya penuh dengan buku.

Selamat datang tahun 2024. Semoga makin banyak buku bagus.


BACA JUGA:

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2022

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2021

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2020

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2019

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2018

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2017

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2016

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2015