Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Pelayaran Orang Australia di Tanah Buton

sejumlah perahu yang sandar di Pelabuhan Baubau

BERITA paling membahagiakan minggu ini adalah peluncuran terjemahan buku berjudul The Voyage to Marege yang ditulis Campbell McKnight pada tahun 1976. Buku ini mengisahkan pelayaran orang Makassar yang berlayar menuju tanah Marege (Australia) di abad ke-17. Orang Makassar ini bukan saja amat berani sebab menempuh perjalanan untuk menantang samudera, tapi juga menjalin relasi dengan orang Aborigin, membentuk kebudayaan, mencipta kata dan tradisi, lalu jejak-jejak phinisi itu digurat dalam gua-gua di Australia bagian utara.

Saya sungguh penasaran untuk membaca buku ini. Dalam salah satu blognya, seorang kawan berkisah buku itu sedemikian detail menyajikan fakta, rute perjalanan, sketsa, bahasa, budaya hingga lukisan gua. Semoga saja buku ini menjadi awal dari banyak buku-buku bertema maritim di negeri ini. Bukankah pemerintah kita memulai kerja dengan menyebutkan bahwa “kita terlalu lama memunggungi lautan?”

Kali ini, saya tidak sedang membahas buku McKnight. Saya ingin berkisah tentang bagaimana orang Australia yang datang jauh-jauh untuk menelusuri jejak para pelaut di tanah Buton, Sulawesi Tenggara, lalu berusaha untuk memahami bagaimana napas dan tradisi kelautan yang punya relasi kuat dengan masyarakatnya.

Lelaki itu bernama Michael Southon. Secara fisik, saya belum pernah dengannya. Saya pernah beberapa kali berkorespondensi melalui email. Saya membaca namanya tertera pada sampul buku The Navel of the Perahu yang ditulisnya tahun 1995. Buku ini adalah disertasi Southon di Australia National University, salah satu universitas terbaik di dunia. Demi keperluan disertasi itu, Southon datang ke Pulau Buton, lalu tinggal selama beberapa waktu di Lande, wilayah Buton Selatan.

Southon menempuh jalan berbeda dengan McKnight. Jika McKnight menelusuri jejak orang Makassar di Australia, maka Southon mengikuti orang Buton yang berlayar ke Australia, lalu memutuskan untuk menelusuri jejak mereka hingga ke tanah Buton. Dalam satu percakapan melalui email, Southon bercerita kalau dirinya ingin tahu mengapa para nelayan Buton jauh-jauh pergi ke Australia, apakah gerangan misi yang hendak ditunaikan, dan apakah kepergian itu terkait dengan kondisi sosial ekonomi mereka. Ia menelusuri kampung nelayan, bergaul dengan para nelayan, ikut berlayar, lalu menuliskan narasinya dalam satu buku yang memikat.

Buku The Navel of the Perahu menjadi monografi yang menarik. Para penjelajah dan pelaut Buton menggunakan perahu jenis lambo yang bisa dilihat sebagai metafor atas dialog-dalog masyarakat Buton dan semesta yang dihadapinya. Perahu itu adalah lambang dari filosofi kehidupan, serta bagaimana pandangan atas masyarakat dan negara. Kata Southon, orang Buton selalu menggunakan perahu sebagai metafor untuk menjelaskan banyak hal. Misalnya, untuk menyebut sahabat atau teman dekat, orang Buton akan menggunakan kosa kata “sabangka” yang dalam bahasa Wolio bermakna seperahu. Untuk menjelaskan sistem kesultanan, mereka juga menggunakan istilah perahu dengan empat cadiknya. Jika hendak ditelusuri dalam syair, terdapat banyak contoh yang bisa didedahkan demi memahami betapa perahu dan lautan adalah jantung bagi kebudayaan Buton.

Setiap buku riset selalu saja menyajikan perjalanan pemikiran dari penulisnya. Saya selalu menyukai bagian awal dan bagian akhir dari buku bertema riset. Pada bagian awal, peneliti akan mengurai mengapa tertarik pada topik tertentu, dan pada bagian akhir seringkali kita menemukan bagaimana peneliti berbelok dan lebih tertarik pada topik lain, sehingga kegiatan riset menajdi perjalanan yang berkelok. Itu hal lumrah.

sampul buku yang ditulis Michael Southon

Pada mulanya, Southon ingin tahu bagaimana ekonomi maritim di desa. Ia fokus pada strategi ekonomi yang hendak digapai oleh para pemilik perahu, nakhoda, dan anak buah kapal sebagaimana mereka menunjukkan parameter ekonomi lokal. Namun dalam perjalananya, ia tertarik untuk melihat bagaimana hubungan simbolik antara perahu dan rumah bisa membawa pada pemahaman tentang kelembagaan sosial dan ritual di tingkat desa.

Buku The Navel of the Perahu ini terdiri atas dua bahagian. Pertama, Southon menyajikan data demografi dan ekonomi desa, yang di dalamnya terdapat para pemilik perahu. Ia menunjukkan pola-pola kompleks antara perahu dan perdagangan sebagaimana peran para pemilik perahu yang menjadikan perahunya sebagai pemuat kargo dan transportasi di antara berbagai pelabuhan di kawasan timur nusantara. Kedua, ia menyajikan refleksi atas pemahaman selama kunjungannya di desa-desa nelayan. Ia menjelaskan dimensi simbolik yang kuat atas ekonomi perahu.

Saya suka penjelasannya tentang hubungan antara manusia Buton dan perahunya seperti hubungan antara suami dan istri. Perahu itu dibuat dari kayu terbaik, dirawat dengan segala ritual, dkerjakan dengan penuh cinta. Setiap bagian perahu memiliki makna simbolik yang menarik untuk ditelusuri. Belu lagi ritual dalam menyelesaikan setiap bagian perahu. Tentang ritual ini, saya menemukan deskripsi yang lebih lengkap dalam buku Tony Rudyansjah berjudul Kesepatan Tanah Wolio.

Southon menunjukkan bagaimana pengetahuan tentang ritual di sekitar pembuatan kapal menjadi sumber status di dalam desa, memberdayakan mereka yang mendemonstrasikan pengetahuan itu. Para pembuat perahu, nakhoda, dan penjelajah menempati posisi khusus dalam pengorganisasian masyarakat. Mereka juga harus memiliki kecakapan dan kesaktian tertentu untuk bisa membawa perahu berlayar hingga negeri jauh di Australia sana.

Dalam salah satu review yang dimuat di Journal of Royal Anthropological Institute pada September 1996, antropolog Gene Ammarell (penulis buku Navigasi Bugis) mengatakan bahwa temuan-temuan Southon ini terasa familiar bagi para pengkaji Asia Tenggara, khususnya topik-topik mengenai maritim. Namun, sebagaimana dicatat Ammarell, karya Southon ini terbilang unik dikarenakan dua hal. Pertama, Southon menjelaskan banyak pemahaman yang unik atas dinamika masyarakat pelaut, sebagaimana beberapa studi tentang Bugis dan mandar. Southon menyajikan dimensi ekonomi atas transaksi di lautan. Temuannya menampilkan bagaimana kontrak antara pemilik kapal ke nakhoda memiliki dimensi sosial yang kaya, serupa seorang anak yang hendak dinikahkan dan hendak menempuh hidup baru. Kedua, observasinya atas dinamika perahu itu menjadi jantung dari upaya memahami organisasi rumah, desa, dan masyarakat Buton di antara orang-orang maritim Asia Tenggara.



Saat memberi pengantar untuk buku ini, James J Fox menyatakan buku ini tidak hanya menjadi catatan etnografis yang lengkap mengenai masyarakat Buton sebagai masyarakat maritim, tapi juga juga memosisikan masyarakat Buton, juga masyarakat Bugis dan Makassar, sebagai partisipan penting dalam “enterpreneurial explosion" atas perdagangan melalui pelayaran skala kecil di kawasan timur Indonesia.

Sebagai orang Buton, saya beruntung bisa membaca buku menarik ini. Di tangan para peneliti dan ilmuwan seperti Michael Southon, hal-hal yang nampak bisa menjadi berlian yang begitu bernilai. Riset tak hanya menyajikan temuan-temuan dan fakta, tapi juga menjadi pelayaran yang mengasyikkan untuk menelusuri kekayaan tradisi di masyarakat kita, menjadi jalan buat kita untuk menyelami dan memahami budaya, lalu menemukan banyak mutiara berkilauan di situ.

Sayang, buku ini hanya terbit dalam bahasa Inggris. Belum ada yang berniat menerjemahkannya. Atau haruskah saya yang menerjemahkannya agar bisa dinikmati masyarakat Buton dan semua yang tertarik tentang maritim?


Kendari, 21 Februari 2017



 BACA JUGA:






Sosok SEKSI di Pulau BOKORI

Pulau Bokori, sebagaimana dilihat dari atas

BELUM lama mengenalnya, perempuan itu mengajak ke Pulau Bokori, yang bisa ditempuh sepeminuman teh dari daratan Kendari. Di pulau kecil yang dahulunya tak terurus itu, saya menyaksikan banyak hal yang berubah. Pulau ini tak ditakdirkan sebagai pulau indah, namun melalui sentuhan pemerintah daerah, pulau itu bersalin dan ditata hingga jadi obyek wisata kelas dunia.

Saat memotret perempuan itu di pasir putih, dalam bayang-bayang matahari yang beranjak naik, saya melihat banyak kenyataan yang tak terungkap. Saya serasa menyaksikan legenda suku Bajo yang hidup menyatu dengan lautan, merasakan urat nadi mereka yang membelah lautan dengan perahunya,

***

MATAHARI dan samudera ibarat dua kekasih yang saling bertatapan. Di pagi hari, matahari mengirimkan cahaya lembut yang membelai samudera. Lautan biru serupa kaca yang tembus hingga dasar. Lautan membiaskan warna biru sebagai pantulan atas kelembutan langit. Laut dan langit adalah dua kekasih yang saling menyapa.

Saya menaiki perahu kecil yang meluncur menuju Pulau Bokori. Dari Kota Kendari, saya menuju Kecamatan Soropia. Dari sini, saya hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk menjangkau pulau yang digadang-gadang Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai salah satu destinasi wisata kelas dunia.

Mereka yang pernah ke Kendari lima tahun silam, pastilah tak membayangkan ada pulau seindah Bokori. Pulau ini mulai dikembangkan dalam dua tahun ini. Pemerintah membenahi pulau yang awalnya tak terurus itu. Pada mulanya Bokori hanyalah pulau bakau yang berlumpur. Pemerintah lalu membersihkan pulau, mengisinya kembali dengan pasir putih, membangun berbagai fasilitas cottage, dermaga, paviliun, hingga berbagai kanopi untuk memandang laut.

Saya menaiki perahu itu bersama perempuan yang saya temui di satu hiburan. Dipikirnya saya seorang fotografer profesional yang piawai memotret perempuan hingga memancar semua kecantikannya. Saya menyanggupi ajakan memotretnya. Namun saya tak setuju saat ia meminta untuk dipotret dalam busana seksi. Saya tipe pemotret amatiran yang saat memotret obyek, maka segala hal di sekitar tiba-tiba lenyap. Ah, saya tak ingin konsentrasi terganggu saat melihatnya berbusana seksi.




Bokori ibarat gadis yang sekian lama dipingit di kampung halaman, kemudian memasuki salon lalu dirias secantik mungkin. Wajah asli yang berlumpur dan penuh bakau itu kini diganti dnegan kosmetik baru berupa pasir putih, pohon kelapa, dan villa-villa. Visualisasi topografinya unik. Pulau ini bisa dikelilingi dalam waktu sejam. Tepian pulau penuh dengan pasir putih.

Pemerintah Sulawesi Tenggara tak main-main untuk mengembangkan Bokori. Tak kurang dari miliaran APBD provinsi telah dikucurkan untuk membenahi pulau ini. Provinsi ini hendak mengejar mimpi sebagai pemilik banyak destinasi wisata laut kelas dunia. Setelah dalam beberapa tahun ini Wakatobi sukses menjadi arena wisata alam yang tersohor, kini giliran Bokori yang hendak dikemas.

Saya beruntung karena dalam dua tahun terakhir, saya telah mengunjungi banyak pulau-pulau indah. Pernah saya berkunjung ke Raja Ampat di Papua Barat, Gili Sudak di Lombok, Pulau Derawan di Kalimantan Timur, Pulau Simeulue di Aceh, hingga Kepulauan Wakatobi. Namun Bokori tidak serupa dengan tempat-tempat wisata itu. Jika pulau-pulau lain adaah keping surga indah yang dilepas ke bumi oleh Yang Maha Indah dalam satu skenario proses alam, maka Bokori adalah pulau kecil yang dikemas, ditata, dan di-branding ulang.

***

BAPAK itu bernama Hasan. Dia adalah pengemudi perahu yang membawa saya ke Bokori. Dia mengaku berasal dari suku Bajo, satu suku bangsa yang tersebar di banyak pesisir Sulawesi Selatan dan Tenggara. Bagi seorang warga Suku bajo seperti Hasan, lautan ibarat ibu yang menyediakan semua kebutuhan. Makanya, orang-orang Bajo tak pernah mau berumah di daratan. Mereka mendiami pesisir, mengembangkan budaya di situ, berkarib-karib dengan semua gelombang laut.

Kata Hasan, dahulu Bokori adalah tempat orang Bajo berdiam. Pada pertengahan tahun 1980-an, pemerintah provinsi di bawah kepemimpinan Gubernur Haji Alala, memindahkan semua penduduk Bajo di Bokori ke daratan luas Kendari. Alasannya, Bokori terancam abrasi dan bisa membahayakan bagi warga. Orang-orang Bajo itu kini berdiam di lima desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Soronipa yaitu Desa Leppe, Desa Bajo Indah, Desa Mekar, Desa Bajoe dan Desa Bokori.

Warga setempat memprotes pemindahan itu. “Waktu itu banyak yang menentang. Alasannya karena nanti tidak bisa hidup di daratan. Tapi begitu melihat hidup di daratan lebih menjanjikan, mereka pun berbondong-bondong untuk pindah,” katanya.

Boleh jadi, alasan abrasi itu tak terlalu tepat. Buktinya, pada era Gubernur Laode Kaimuddin, Bokori dikembangkan menjadi obyek wisata. Pemerintah menanam pohon-pohon, serta membangun villa. Sayang, pengembangan itu terhenti sehingga Bokori menjadi pulau kosong.

Mungkin, di tahun 1980-an, pemerintah menyebar hoax ke warga tentang kondisi pulau. Warga yang belum menyadari bahwa pulaunya adalah surga menyingkir ke daratan. Saya membayangkan warga asli Bokori hanya bisa memandang pulau itu dengan nanar. Mungkin saja mereka membayangkan masih menjadi pemilik pulau itu. Kini, berbagai manusia, yang menyebut dirinya wisatawan, datang ke pulau itu lalu menjelajahi semua lekuk pulau.

Penuturan Hasan membuat saya tercenung. Setelah mengelilingi pulau ini, saya merasakan banyak yang hilang. Memang, infrastruktur pulau ini cukup lengkap dan memenuhi standar destinasi wisata. Tapi saya merasa kehilangan interaksi dengan warga lokal sebagai salah satu jantung kegiatan wisata. Saya ingin mengulangi kenangan saat berbincang dengan ibu-ibu suku Bajo di Pulau Derawan saat mereka sedang menjemur ikan di tepian pasir putih. Saya ingin sekali mengulangi keriangan saat mendayung di atas perahu koli-koli bersama anak-anak di Wakatobi.




Bagi saya, berkunjung ke lokasi wisata bukan sekadar melihat obyek, memotret dan pulang. Saya menyenangi pertempaun-pertemuan dengan manusia-manusia di lokasi wisata, merasakan denyut jantung mereka yang hidup di pesisir, menikmati keceriaan warga setempat yang seringkali terheran-heran mengapa ada orang yang siap menghabiskan jutaan rupiah demi mendatangi kampung halamannya.

Yang tersaji di Bokori adalah pulau wisata yang tanpa penghuni. Tak ada ada budaya warga setempat. Tak ada pemandangan bapak tua yang sedang memahat perahu. Tak ada anak belia yang penuh keberanian saat mengemudikan perahu lalu menyelam ke dasar laut demi mengambil mutiara.  Tak ada syair, legenda, mitos, dongeng, dan mantra-mantra lautan yang membuat setiap adrenalin penjelajahan mencapai titik puncak.

Di Pulau Bokori, saya merasa sunyi di tengah sorak-sorai orang bergembira.

***

SAYA masih duduk di pasir putih saat memandang Kendari dari kejauhan. Saya cukup lelah berkeliling. Saya ingin menikmati pagi yang cahayanya temaram di tengah sepoi-sepoi angin yang berderai di pesisir pantai.

Satu suara lembut membuyarkan lamunan saya. “Abang, apa pemotretan sudah bisa dimulai?” Perempuan itu datang ke hadapan saya dengan mengenakan kain pantai yang panjang. Ia serupa pramugari maskapai singa yang membiarkan kaki indahnya menyembul di tengah kain panjang. Di bahagian atas, ia berpakaian amat minim. Dadanya ditutup secarik kain yang talinya mengikat di belakang lehernya. Ia tak malu berpakaian seksi di hadapan saya.

Di sini, di belakang kamera, saya tak sanggup menatap ke depan. Saya memilih untuk menundukkan pandangan.


Kendari, 19 Februari 2017


BACA JUGA:








Gadis Karaoke Kota Kendari

ilustrasi

LELAKI itu bernama La Ntolu. Perawakannya sedang dan sedikit berotot. Kulitnya legam, sebagai pertanda kalau dirinya sering dibakar matahari. Saya dan dia adalah kawan sejak sekolah menengah di Pulau Buton. Dahulu, ia seorang pencari ikan yang gesit, yang menjual tangkapannya di pasar Kota Baubau. Kini, ia telah menjadi salah satu pedagang sukses di kota Kendari.

Di Bandara Halu Oleo, dahulu bernama Bandara Wolter Monginsidi, La Ntolu menyambut saya dengan sumringah. Saya telah mengontaknya di media sosial, jauh hari sebelum menggapai kota Kendari. La Ntolu menyanggupi untuk menjadi guide di kota yang menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara itu. Sebelum saya datang, ia beberapa kali mengatakan akan mengajak saya ke semua tempat indah di kota Kendari. Kali ini, saya telah bersamanya, dan menelusuri beberapa tempat yang disebutnya sebagai “tempat indah.”

Tadinya saya berpikir, tempat indah yang dimaksudkannya itu adalah pulau-pulau tropis dengan pemandangan pasir putih yang menawan. Saya pikir yang dimaksudkannya itu adalah pusat-pusat kuliner yang menjajakan seafood dan berbagai makanan hasil laut. Ternyata, tempat-tempat indah yang dimaksudkannya adalah berbagai karaoke dan kafe yang menjamur di Kota Kendari.

Kendari adalah kota yang tumbuh dengan pesat. Dalam beberapa naskah lama, wilayah ini dahulu disebut Laiwui. Nama Laiwui sudah ada sejak abad ke-16, sebagaimana dicatat dalam laporan controleur, pejabat VOC yang berkunjung ke wilayah ini. Seorang sejarawan lokal mengatakan, nama Laiwui muncul saat orang Portugis datang dan bertanya pada penduduk di mana terdapat air minum. Penduduk setempat menyebut “Laiwui” yang berarti “banyak air.”

Kisah orang Portugis ini punya versi lain bagi para sejarawan lokal. Katanya, si orang Portugis itu bertanya nama daerah ini kepada seorang pendayung yang membawa rakit panjang. Si pendayung menjawab “Kandai” atau “Mekandai”, yang artinya mendayung. Jawaban ini yang kemudian dicatat menjadi Kendari sebagai mana kota.

Versi sejarah ini menegaskan supremasi orang Eropa dalam penentuan nama. Dikarenakan orang Eropa telah mengenal tradisi literasi, maka nama-nama kota pun harus dicatat oleh mereka untuk kemudian menjadi nama resmi. Saya rasa mesti ada penelusuran asal muasal nama yang tak melulu mengandalkan catatan para penjelajah Eropa.

Hari ini, Kendari bukan lagi wilayah yang dipenuhi para pendayung yang berakit. Kawasan yang dahulu menjadi arena dayung itu adalah Teluk Kendari yang serupa kolam di kepung pemukiman. Saya merasakan area teluk ini telah semakin menyempit jika dibandingkan dnegan puluhan tahun silam. Reklamasi telah menyempitkan kawasan ini. Tak hanya itu, di tengah-tengah teluk, saya melihat masjid besar tengah dibangun di tengah laut.

Kata La Ntolu, Kendari adalah surga bagi para pebisnis. Ia menyebut, bisnis apapun akan sukses di sini. Namun, bisnis serupa lautan yang bisa pasang dan bisa pula surut. Beberapa tahun silam, sektor pertambangan menjadi booming di sini. Tambang-tambang nikel yang merekah di Kendari, Konawe, hingga Kolaka menjadi ladang yang terus memberikan kekayaan bagi warga setempat. Uang-uang dari hasil tambang mengalir ke Kota Kendari. Uang itu serupa darah yang mengalir ke banyak nadi. Banyak rumah-rumah mewah berdiri. Banyak rumah hiburan yang tumbuh bak cendawan di musim hujan.

Ketika pemerintah mengeluarkan putusan yang menunda ekspor mineral, Kendari adalah wilayah yang terkena dampak besar. Banyak hotel yang ambruk. Mal yang kehilangan pengunjung, hingga rumah-rumah karaoke yang sepi dan tidak lagi hingar-bingar dengan nyanyian para ladies.

***

PEREMPUAN itu datang dengan pakaian minim. Ia mengetuk pintu lalu duduk di tengah rombongan saya dan teman-teman di satu rumah bernyanyi. Ia juga memesan beberapa botol bir, lalu mulai menuang bir ke beberapa gelas. Setelah itu, ia mulai mengambil pelantang suara lalu menyanyikan beberapa lagu dangdut.

Sahabat La Ntolu mengajak saya singgah di satu rumah karaoke di Jalan Saranani. Rumah karaoke ini adalah cabang dari banyak usaha serupa di kota-kota besar. Tentu saja, rumah karaoke ini tidak menyediakan ladies, sebagaimana rumah karaoke lainnya. Tapi di situ, terdapat banyak perempuan muda yang siap untuk diajak dan menemani.

Saya memperhatikan perempuan itu, Usianya belia. Barangkali ia sebaya dengan keponakan saya yang tengah duduk di bangku sekolah menengah. Dalam usia semuda itu, ia sudah berjibaku dengan nasib. Ia merelakan dirinya menjadi sekeping puzzle dari industri hiburan malam di kota Kendari yang terus beranjak.

Ia mengaku berasal dari Konawe, wilayah yang jaraknya dua jam dari Kendari. Ia bekerja sebagai ladies di karaoke sejak dua tahun silam. Pendidikannya hanya sampai sekolah menengah. Katanya, tak banyak pekerjaan yang bisa menopang di kampung halamannya. Pilihan ke Kota Kendari adalah pilihan paling realistis baginya demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Di berbagai tempat karaoke, pekerjaan gadis ini tidak terbilang ringan. Ia tak saja menjadi pemanis di ruangan itu, tapi juga bernyanyi dan berduet dengan siapa saja di ruangan. Ia bisa bernyanyi hingga puluhan lagu dalam semalam. Ia juga bisa menenggak alkohol hingga mabuk dalam semalam. Pada setiap botol alkohol yang dipesan tamu, ia mendapat persenan di situ. Semakin banyak minuman yang dipesan tamu, ia juga semakin bayak mendapat keuntungan.

Namun apakah minuman bir itu tidak membuatnya semakin gemuk? “Lihat perut saya. Tetap rata kan?” katanya sambil menunjukkan perutnya yang tertutup baju yang nyaris tembus pandang.

Belakangan ini Kendari identik dengan karaoke. Setiap kali berkunjung ke kota ini, saya selalu saja terperangah melihat kafe-kafe dan karaoke yang tumbuh menjamur. Di masa kecil, saya menyaksikan kawasan Jalan By Pass sebagai rawa-rawa yang penuh lumpur. Kini, kawasan itu menjadi salah satu nadi hiburan malam. Saat berkeliling kota di malam hari, saya menyaksikan banyak plang karaoke serta plang merek bir ternama di beberapa ruas jalan lain.

Di malam hari, Kendari adalah kota yang terus bersolek dengan hiburan malam. Hampir semua hiburan malam mempekerjakan para ladies, sebutan bagi para pemandu karaoke yang berpakain seksi dan menggoda. Kalaupun tidak, para gadis itu bisa didatangkan dari luar.

“Berapa pendapatanmu dalam semalam?” tanya saya pada perempuan yang menemani kami itu. Ia langsung tertawa ngakak. Ia menyebut satu angka, yang terbilang cukup besar bagi saya yang bekerja serabutan. Nampaknya, pekerjaan ini bisa membuatnya hidup cukup mapan.

Jangan pula salah kaprah dan mengira pekerjaan ini terus-terusan memberinya pendapatan besar. Dalam beberapa tahun terakhir gadis-gadis Kendari ini harus bersaing dengan banyak gadis-gadis dari luar, khususnya Sulawesi Utara. Mereka juga bersaing dengan para ladies yang datang dari tanah Jawa dan Sunda. Persaingan itu sedemikian sengit sehingga banyak yang memilih mencari nafkah dengan menjadi gadis karaoke di kabupaten-kabupaten wilayah kepulauan.

Saya memikirkan banyak hal. Sulawesi Tenggara penuh dengan kekayaan alam dan potensi besar. Seorang kawan pengajar Fakultas Ekonomi di salah satu kampus di Kendari pernah mengeluarkan estimasi. Katanya, dengan memanfaatkan seperempat luasan hutan yang didalamnya terdapat Sumber Daya Alam seperti emas, nikel, aspal yang berkualitas, Sultra bisa membuat Negara ini jauh lebih sejahtera. Bahkan dengan potensi sumber daya alam Sultra di bidang pertambangan ini, tanpa kerja pun negara bisa mendapat penerimaan sebesar 12 triliun rupiah penerimaan negara bukan pajak dibanding dengan hutang luar negeri sebesar 1,6 triliun rupiah.

Kita bisa mengatakan bahwa pertambangan di Sultra belum bisa menjadi lokomotif kesejahteraan bagi warganya. Jika saja perekonomian merata, maka tak bakal banyak gadis yang menjadi pekerja di rumah karaoke. Idealnya, potensi daerah harus digunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Potensi itu harus memberikan peluang dan kemampuan bagi siapapun untuk bisa sejahtera, tanpa harus terjebak menjadi sekrup kecil dari industri hiburan malam.

Sekonyong-konyong, sahabat La Ntolu melingkarkan tangannya ke perempuan itu. Mereka lalu tertawa gembira dalam suasana musik yang keras. Mungkin sahabat itu telah mabuk. Dia dan perempuan itu pelan-pelan beranjak ke sudut ruangan. Di tengah suara musik dan malam yang pekat, suara-suara mereka tenggelam.

Di layar televisi, saya menyaksikan Ariel, vokalis Peterpan, tengah menyanyikan lagu karangan Titik Puspa:

Dosakah yang dia kerjakan
Sucikah mereka yang datang
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis
di dalam senyuman
Oh apa yang terjadi.. terjadilah
Yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya
Oh apa yang terjadi.. terjadilah
Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa



Kendari, 18 Februari 2017

BACA JUGA:






Tepian Langit Edward Poelinggomang



KEMATIAN seorang sejarawan bukanlah kematian yang direspon serentak di berbagai media sosial. Kematian seorang pencatat peristiwa yang lampau dan nyaris lenyap di ingatan bukanlah kematian yang ditangisi banyak orang. Bagi banyak orang, kematian itu akan menjadi ingatan yang perlahan menguap, lalu tenggelam disaput oleh angin sejarah. Beda halnya dengan kematian seorang pesohor ataupun selebriti.

Saya ingin mengenang seorang guru, seorang sejarawan, seorang bapak bernama Edward Poelinggomang, yang meninggal beberapa hari lalu di Makassar. Berita kematiannya sayup terdengar. Tak banyak cuitan tentang dirinya. Beberapa media mencatat peristiwa itu. Namun, pamornya kalah dengan apa yang terjadi di Jakarta sana. Bahkan orang-orang Makassar pun lebih suka bertengkar sengit hingga rela mencabut badik demi membela politisi Jakarta sana.

Adakah yang merasa kehilangan dengan kepergian Edward Poelinggomang? Saya mencatat tidak banyak. Di mata saya, Edward serupa berlian yang tak henti memancarkan kemilaunya. Lelaki ini bisa menjelaskan sejarah Bugis-Makassar dengan begitu detail. Edward adalah mesin waktu berjalan yang kerap bertualang ke masa lalu kemudian kembali ke masa kini demi menceritakan penjelajahannya yang sedemikian memukau.

Di tanah Makassar, Edward adalah pencatat sejarah lalu menyebarkan catatannya hingga berbagai penjuru tanah air, hingga negeri-negeri jauh. Buku dan tulisannya menyebar luas dan menginspirasi banyak orang. Publikasinya itu menggema ke banyak titik, menjadi rujukan bagi banyak peneliti, menjadi sekeping kisah masa silam yang membawa pesan untuk masa kini.

Saya memosisikan Edward setara dengan sejarawan Anthony Reid. Jika Anthony Reid mencatat perang Makassar sebagai perang paling mengerikan yang pernah dihadapi VOC di Nusantara, maka Edward mencatat periode sebelum perang itu sebagai periode paling emas dan gemilang, yang menempatkan Gowa-Tallo, sebagai kerajaan induk di Makassar, sebagai wilayah yang lebih maju dibandingkan Singapura di abad ke-19.

Kekaguman saya bertambah saat menyadari Edward bukan orang Makassar. Dia berasal dari Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Akan tetapi dia jauh lebih mengetahui Makassar dibandingkan orang-orang yang di tubuhnya mengalir darah Makassar. Ia seorang historian by training yang mempelajari teori, metode, serta kemampuan membaca berbagai dokumen sejarah. Seorang kawan bercerita bahwa Edward tak hanya fasih berbahasa Belanda, tapi juga bisa memahami bahasa Belanda klasik yang digunakan dalam naskah-naskah lama VOC. Justru karena bukan orang Makassar, ia bisa lebih jernih dalam memandang stiap kepingan fakta masa silam.

Atas dasar itu, saya bisa memahami kalau buku Edward berjudul Makassar Abad ke-19 menjadi buku penting bagi siapapun yang hendak melihat periode kejayaan. Buku yang digali dari disertasi di salah satu kampus di Belanda itu menjadi buku penting bagi siapapun yang hendak menelusuri Makassar pada periode kejayaannya. Buku itu mengejutkan, khususnya bagi mereka yang terlanjur berpikir inferior seolah bangsa ini mundur sejak zaman dahulu.

Sebelum buku itu terbit, Edward sudah hadir dengan gagasan mengejutkan. Saya mengenali sejarawan ini saat menjadi mahasiswa Universitas Hasanuddin. Ia mengejutkan nalar saat wawancaranya dimuat di harian Kompas. Ia mengatakan bahwa perbedaan Bugis dan Makassar hanya ada dalam ruang imajinasi kita. Ia menyebut perbedaan itu sebagai konstruksi kolonial. Ia lalu menjelaskan bagaimana nenek moyang Bugis dan Makassar berasal dari rahim yang sama, tumbuh dalam peradaban yang selaras, lalu bersama-sama mengukir sejarah di selatan Celebes hingga banyak negeri di bawah angin timur.

Kata Edward, perbedaan Bugis dan Makassar itu sengaja dibangun oleh Belanda seusai perang Makassar. Semuanya bermula dari perang Makassar yang memperhadapkan Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka. Pengikut Hasanuddin disebut orang Makassar, pengikut Arung Palakka, disebut sebagai orang Bugis. Padahal, realitas sejarah tidak sesederhana itu. Di pasukan Hasanuddin, banyak yang berbahasa Bugis, demikian pula sebaliknya. Apa daya, orang-orang lebih suka mencari perbedaan, ketimbang titik-titik persamaan.

Saat saya menjadi jurnalis di media kampus di tahun 1999-2000, saya beberapa kali bertemu Edward. Saya malah pernah diundang di rumahnya, di Perumahan Dosen Unhas, Tamalanrea. Setiap kali ke rumahnya, ada banyak rasa bercampur aduk di pikiran saya. Sejarawan, dosen, dan peneliti kesohor ini hidup di rumah yang sangat sederhana. Ruang tamunya dipenuhi banyak buku dan kertas-kertas kerja. Komputer yang digunakannya sehari-hari adalah komputer tua yang sesekali ngadat. Pernah, ia mengeluh karena beberapa file buku yang dikerjakannya lenyap di komputer itu.

Pada suatu masa, saya pernah mendampingi Edward sebagai moderator saat peluncuran buku The Bugis karta Christian Pelras di Gedung PKP Unhas, Makassar. Edward menyebut buku itu serupa berlian bagi pengkaji Bugis-Makassar dikarenakan ruang lingkup kajiannya yang luas dan kaya. Di masa itu, Edward menjadi komentator dan penganalisis sejarah yang laris dikontak para jurnalis, baik di Makassar maupun di ibukota Jakarta.

Pada diri Edward, saya melihat sosok seorang akademisi tulen yang bekerja dengan data dan riset, serta seorang filosof yang menyatukan semua maknamenjadi kearifan dalam memandang zaman. Ia mengingatkan siapa saja bahwa dalam sejarah ada banyak pesan, yang hanya bisa ditemukan dencan cara menyelami pesan itu lalu membawanya ke permukaan. Namun, itu masih tak bermakna jika manusia tidak membumikan kearifan itu dalam berbagai khasanah kehdupan. Hanya dengan cara ini kita bisa terhindar dari sikap bebal, yang membuat kita selalu saja mengulangi kesalahan sejarah di masa silam. Tanpa menyerap kearifan itu, kita akan selalu jatuh di lubang yang sama.

Karya terbaik Edrwad membahas Makassar. Tapi ia juga menulis banyak topik. Ia tak hanya mendiskusikan bangkit dan jatuhnya imperium Makassar. Ia juga menulis tentang petani garam di Arungkeke. Ia juga bisa dengan baik menjelaskan bagaimana sejarah ruko dan restoran di Makassar berawal dari orang Cina yang datang menetap. Bahkan ia bisa menjelaskan dengan detail pakaian-pakaian yang dikenakan orang Makassar, Melayu, Cina, hingga orang Buton di masa itu.

Ia keluar dari anggapan banyak orang bahwa sejarah itu hanya membahas peristiwa yang besar-besar saja, membahas para raja dan kaisar, juga membahas isu-isu hebat seperti revolusi dan sejenisnya. Buktinya, ia bisa membahas hal-hal kecil, hal-hal biasa, yang sering dianggap hanya sebagai remah-remah di berbagai buku sejarah. Ia juga seorang pengkaji ilmu sosial dan ilmu budaya demi memperkuat analisis dan tafsirannya atas dinamika sejarah.



Dalam satu kesempatan, saya mendengar Edward berkata, sejarah dan setiap tafsiran masa lalu akan dilihat dengan cara pandang masa kini. Peristiwa masa silam itu ibarat teks yang tak pernah lepas dari kepentingan penafsirnya. Sering orang terjebak dengan kepentingan sempit lalu memandang sejarah masa lalu dengan cara berpikir yang sempit itu. Sering pula orang memandang sejarah hanya sebagai rangkaian peristiwa yang saling serupa kepingan, tanpa ada upaya untuk menautkannya satu per satu. Pada titik ini, sejarah membutuhkan analisis berbagai disiplin dalam ilmu sosial budaya untuk mendapatkan gambaran yang jauh lebih holistik.

Saya teringat bacaan tentang sejarawan Perancis Fernand Braudel. Dalam buku Thomas Burke berjudul The History and Social Science, Braudel menyebut dialog sejarah dan ilmu sosial itu seperti dialog orang tuli dan orang bisu, sebab tidak saling mendengarkan. Sejarah seolah hanya mengurusi hal-hal besar, sedang ilmu sosial, khususnya antropologi, mengurusi hal-hal kecil. Belakangan, berbagai pendekatan justru saling menginspirasi. Di titik ini, kita memang membutuhkan para ilmuwan bersahaja sebagaimana Edward. Sebagai sejarawan, ia bekerja dengan metode yang ketat, namun analisisnya bisa menembus berbagai sekat disiplin ilmu.

Hari ini, saya mengenang kepergian Edward. Saya teringat mitologi Yunani yang selalu menempatkan para pahlawan sebagai salah satu bintang di langit. Saya berharap agar semua guru dan ilmuwan sekelas Edward juga menjadi bintang yang berpijar abadi di tepian langit sana, memberikan arahan bagi generasi kini yang mengais-ngais ilmu di bumi, menjadi cahaya yang menuntun manusia ke arah yang lebih baik. Di tangan Edward, sejarah adalah cahaya yang memandu peradaban hari ini agar selalu menyerap kearifan pengetahuan dari abad-abad silam.

Selamat jalan guru.





Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...