Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Bukan JOKOWI di Media Sosial




DAHULU, kita hanya menemukan aktivitas dan komentar seorang pejabat publik melalui media massa. Kini, sikap, pikiran, dan pendapat mereka dengan mudahnya bisa ditemukan melalui media sosial. Kita menemukan mereka menyempil di tengah barisan warga biasa, menyaksikan mereka dari dekat, dan bisa mengikuti apa saja yang mereka lakukan.

Negeri kita menjadi negeri paling sibuk dan berisik di media sosial. Seorang kawan di luar negeri pernah bertanya pada saya, apa sih yang dilakukan orang Indonesia sampai-sampai menjadi negeri yang tinggi percakapannya di media sosial? Kawan itu tidak paham tentang cebong dan kampret. Dia juga tidak tahu bahwa di sini, bahkan hal-hal seperti etnik dan pilihan presiden bisa membuat tengkar dan debat kusir yang panjang.

Data dari Wearesocial.com juga menyebutkan negara-negara yang terbanyak menggunakan Facebook. Terbanyak adalah India (250 juta orang), Amerika Serikat (230 juta), Brazil (130 juta), Indonesia (130 juta), dan Mexico (83 juta). Anda bisa bayangkan, betapa ramainya perbincangan di media sosial di Indonesia, yang kebanyakan didominasi oleh kaum muda dan generasi milenial. Mereka saling bertukar pesan dan melihat bagaimana respon publik di situ.

Seiring dengan kian banyaknya orang Indonesia yang bercakap-cakap di media sosial, para politisi, pesohor, artis, dan juga tokoh masyarakat ramai-ramai menyerbu media sosial dengan membawa berbagai jargon dan isu. Di antara semua pesohor dan pejabat publik, Presiden Joko Widodo adalah yang paling aktif dan paling massif bergerilya di situ. Di semua lini media sosial, dia selalu memiliki akun pribadi. 

Perlu dicatat, akun Presiden Jokowi bukanlah yang paling populer. Akun milik Prabowo Subianto paling populer di Facebook, dengan jumlah penggemar hingga 9,6 juta orang. Selanjutnya Joko Widodo (7,9 juta), dan Susilo Bambang Yudhoyono (5,9 juta). Namun jika dilihat substansi dan pengelolaan konten secara kreatif, maka Presiden Jokowi adalah pemenangnya.


Tak hanya facebook, twitter, instagram, hingga Youtube pun dirambah Jokowi. Di situ, dia mengabarkan semua kegiatannya yang begitu banyak di negeri luas ini. Publik pun membanjiri semua postingannya dengan komentar. Saya cukup lama menjadi follower beliau di banyak akun medsos. Saya salut pada informasi yang terus-menerus di-update. Dalam sehari, bisa lebih lima postingan di situ. Semua kegiatan Jokowi dicatat secara lengkap.

Namun, belakangan saya mulai tidak tertarik membaca postingan Presiden Jokowi di akun media sosialnya. Saya mencatat ada beberapa hal yang membuat jenuh sehingga postingan itu jadi tidak menarik.

Pertama, media sosial milik Jokowi terkesan satu arah. Kesannya, media sosial hanya sekadar wadah untuk menginformasikan kepada publik apa saja aktivitas presiden. Padahal, publik media sosial, atau kerap disebut netizen, berharap ada interaksi, dialog, atau ajang berdiskusi tentang berbagai topik. Posisi media sosial bagi tim Jokowi hanya sebagai kanal yang memuat aktivitas, tanpa menjadi ruang berdialog atau kanal menampung aspirasi. Semua tanggapan terkesan dicuekkan begitu saja.

Kedua, media sosial milik Jokowi terasa benar dikerjakan tim sukses, bukan oleh Jokowi sendiri. Makanya, informasi yang disajikan adalah informasi ala tim humas yang isinya hanya kebaikan-kebaikan dan aktivitas. Padahal media sosial harusnya menjadi kanal untuk menemukan sisi paling orisinil dari seseorang. Dilihat dari sisi ini, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih lebih baik dalam mengelola media sosialnya. Publik tahu mana postingan yang langsung dari jemari SBY sebab biasanya ada kode *SBY.

Postingan itu mulai tak beda jauh dengan hasil kerja tim-tim humas di daerah-daerah. Hanya menampilkan kegiatan seremonial pejabat. Padahal, saya berharap bisa menemukan sisi orisinil seseorang di media sosial itu. Postingan yang dikemas tim humas ini jadinya tidak menampilkan sisi paling lucu, paling heboh, dan paling disukai dari sosok Jokowi. 

Dalam banyak postingan, saya malah tidak tertarik mengikutinya karena informasinya sudah ada di media massa. Kalaupun dikerjakan tim humas, harusnya lebih kreatif. Tim harus bisa merekam perasaan sang presiden saat bertemu orang lain, sesuatu yang tak selalu bisa ditangkap oleh jurnalis media.

Ketiga, narasi yang ditulis di situ tidak sesuai dengan gaya tutur Jokowi. Ini sudah pernah disampaikan beberapa blogger Kompasiana saat bertemu Jokowi di istana negara. Saya lupa siapa yang sampaikan, tapi saat itu ada yang memprotes mengapa narasi di medsos kok beda dengan keseharian Jokowi. Sebab kesehariannya terkesan santai, suka bercanda, dan bahasanya sederhana. Sementara di media sosial, Jokowi kadang terlalu serius, penuh data-data dan angka, juga sesekali ngesastra dan serupa novelis. 
Kerja berat tim Jokowi nanti adalah bagaimana memahami gaya bertutur Jokowi, kemudian menjadikannya strategi dalam mengemas pesan-pesan di media. Sebab kekuatan Jokowi ada pada kesederhanaan dan bahasa tutur yang muda dipahami. Tak perlu serius-seriuslah sebab Pakde Jokowi sendiri gak seserius itu dalam interaksi sehari-hari.

Ketiga, kanal media sosial milik Jokowi belum dikelola maksimal melalui strategi online dan offline yang terpadu. Kesan saya, antara kerja online dan kerja offline berjalan sendiri-sendiri, tanpa saling berdialog. Maksud saya, tak ada percakapan di dunia maya, yang seharusnya bisa menampung aspirasi. Seharusnya, tim Jokowi menggunakan kanal itu untuk bertanya kepada publik, yang kemudian dikelola sebagai mekanisme untuk penyusunan kebijakan publik. Jokowi bisa saja bertanya ke warga tentang apa yang harus dilakukan atau tanggapan mereka atas isu politik.

Idealnya, beberapa aktivitas langsung atau offline bisa digelar berdasarkan rekomendasi atau masukan di dunia online. Pengelolaan online harus bersinergi dengan pengaturan kegiatan offline. Jokowi bisa saja berkunjung ke satu lokasi, lalu mengundang orang-orang melalui akun media sosial miliknya. Atau bisa juga memperbanyak kuis, mengadakan sayembara khusus yang bisa diikuti siapa pun, atau secara berkala mengadakan teleconference dengan para penggemarnya di media sosial yang ada di berbagai kota.



Keempat, sistem pengelolaan informasi itu cenderung terpusat. Semua informasi hanya mengalir dari satu kanal, tanpa melibatkan partisipasi publik. Saya paham bahwa dalam konteks akun resmi media sosial, informasi harus langsung dari Jokowi dan timnya. Hanya saja, mesti dipikirkan bagaimana mekanisme pelibatan publik dalam diseminasi informasi tersebut.

Saya membayangkan, semua relawan Jokowi lalu membentuk kluster-kluster atau kelompok di semua wilayah, sehingga setiap ada informasi, langsung disebar secara cepat di kanal-kanal yang selama ini tidak dijangkau Jokowi. Model kerja ini bisa menyiasati keterbatasan jangkauan akun Facebook milik Jokowi sehingga bisa menjaring penggemar dari banyak sisi.

Kelima, akun media sosial Jokowi belum dikembangkan sebagai platform politik untuk menampung semua persoalan yang dihadapi masyarakat, juga belum bisa menjadi sarana advokasi atas semua kepentingan publik. Jika saja dikembangkan ke arah itu, maka kanal media sosial itu akan menjadi jendela bagi warga untuk menyampaikan keluh kesah, yang selanjutnya akan diverifikasi tim Jokowi, yang akan memberikan laporan dan update sejauh mana keluh kesah itu disampaikan.

Jika saja media sosial itu menjadi jendela bagi Jokowi untuk menampung masukan dalam penyusunan kebijakan publik, maka ruang-ruang publik itu akan menopang demokratisasi serta membangun kedekatan seorang kepala negara dengan warganya. Kebijakan bisa dikawal prosesnya, sekaligus bisa pula dipantau hasilnya, yang kelak akan memberikan efek positif dalam kerja-kerja Jokowi.

*** 

TAK ada gading yang tak retak. Meskipun ada celah, tetap saja akun media sosial Presiden Jokowi menjadi model paling bagus dalam pengelolaan media sosial di tanah air kita. Melalui akun media sosial itu, kita bisa melihat secara langsung apa yang dirasakannya, serta apa saja yang dilakukannya untuk tanah air Indonesia.

Bagi sebagian besar netizen, maka Jokowi seakan hadir dan berdialog langsung. Tapi bagi sebagian lainnya, akun itu hanya menambah satu kanal informasi yang semuanya mudah ditemukan di banyak media massa.





Kiat Membangun Laskar Media Sosial di Era Politik 4.0




Apakah Anda seorang politisi yang sedang butuh cara untuk menjangkau banyak kaum milenial yang sering berkeliaran di media sosial? Apakah Anda seorang calon presiden atau kepala daerah yang butuh strategi agar semua postingan bisa viral lalu disukai generasi milenial? 

Jika ya, bacalah artikel ini dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. 

***

SUATU hari di tahun 2014, seorang kawan mengajak saya untuk mengelola satu fanpage di Facebook bertemakan cinta. Pada dasarnya saya bukan orang yang suka memosting tema-tema cinta. Tapi, melihat jumlah follower aktif dari fanpage itu yang mencapai jutaan, saya tertarik. Saya penasaran ingin tahu apa manfaatnya.

Yang dilakukan sederhana. Kami hanya konsisten memosting kalimat-kalimat cinta yang kemudian langsung mengena di hati generasi milenial. Secara sukarela, para anggota  yang kemudian secara sukarela menyebarkannya secara viral. Dalam sehari, saya bisa menyiapkan tiga kalimat indah, rayuan, ataupun kisah-kisah inspiratif yang disebarkan hingga ribuan kali dalam sehari.

Sebulan jelang pemilihan presiden, pihak Facebook menutup fanpage itu dengan berbagai pertimbangan. Saya tidak tahu persis apa pertimbangannya. Saat itu, beberapa rekan sesama admin kemudian tersebar. Beberapa admin langsung laris manis di kalangan para politisi ataupun pengguna jasa social media marketer. Seorang di antaranya diajak menjadi salah satu tenaga ahli dan pengelola media sosial dari salah seorang calon presiden yang menjadi penantang Jokowi. Saya sendiri memilih jadi seorang pengangguran yang amat suka diajak ngopi.

Salah seorang kawan lain bekerja di DPR untuk seorang politisi muda terkenal yang mengelola akun di media sosial hingga punya follower aktif yang banyak. Jurus yang dipakai di fanpage bertema cinta itu digunakan. Sang politisi cepat sekali diterima generasi milenial. Setiap hari dia berinteraksi dan saling sapa melalui media sosial. 

Bahkan, ketika berkunjung ke daerah pemilihan (dapil), dia mengumumkan ajakan untuk bertemu di satu tempat dengan follower-nya. Sungguh mengejutkan ketika yang hadir sangat banyak. Jauh melampaui ekspektasinya. Ternyata media sosial bisa menjadi sarana yang sangat ampuh untuk mengumpulkan orang-orang, memviralkan ide-ide dan gagasan positif, lalu menjadi senjata untuk melakukan transformasi sosial.

Di situ, saya menyadari betapa besar potensi mengelola fanpage yang anggotanya ratusan ribu hingga jutaan. Ternyata, mengelola fanpage bisa menjadi kekuatan bagi seorang politisi untuk menyentuh banyak kalangan, lalu mengelola mereka menjadi barisan relawan yang secara sukarela mengampanyekan seseorang ke mana-mana. Sepanjang konten bisa dikelola dengan baik, maka konten itu bisa tersebar dengan amat cepat, yang sering kali tak terduga.

Ternyata, media sosial bisa menjadi senjata.

***

INDONESIA akan segera menggelar panggung pemilu legislatif dan pemilihan presiden. Di banding sebelumnya, pemilu kali ini terasa berbeda. Benar kata Jusuf Kalla, kampanye pemilu dan pilpres tak lagi identik dengan pengerahan massa dalam jumlah banyak yang bisa memacetkan lalu lintas. Tapi kampanye bisa dilakukan dengan cara memanfaatkan semua saluran dan teknologi yang bisa menjangkau banyak orang.

Dalam amatan saya, di era yang disebut para pengamat sebagai era 4.0 yang ditandai dengan dunia digital dan era internet of things, cara pandang terhadap politik juga mengalami pergeseran.

Pertama, di era 4.0, kerja-kerja pemasaran politik harus diarahkan pada bagaimana menguatkan jejaring relawan, sehingga politik menjadi kerja-kerja bersama yang melibatkan banyak pihak. Politik seyogyanya dikelola menjadi misi bersama yang harus digapai demi memperjuangkan berbagai agenda-agenda penting untuk bangsa.

Di negara seperti Amerika Serikat (AS), kerja-kerja politik dilakukan dengan merekrut relawan yang memiliki visi dan misi yang sama. Di negeri kita, kerja relawan adalah kerja tim sukses yang targetnya hanya bagaimana mengumpulkan massa, tanpa menyiapkan landasan kuat sehingga kegiatan politik menjadi lebih berdaya.

Kedua, politik di era 4.0 akan fokus pada keseimbangan antara kerja-kerja offline dan kerja-kerja online. Yang dimaksud offline adalah kegiatan politik melalui temu kader, kunjungan, kampanye, dialog, anjangsana, pelatihan, ataupun aksi spanduk dan baliho. Sedang kerja online adalah memaksimalkan semua jaringan media sosial sehingga pesan dan visi-misi diketahui semua khalayak.

Politik di era 4.0 adalah bagaimana menggunakan jaringan media sosial yang efektif dan efisien. Hipotesis yang dibangun adalah semakin banyak likers, maka semakin tinggi elektabilitas. Mengapa? Sebab generasi milenial adalah generasi yang sukar dikendalikan dalam skema politik yang penuh mobilisasi. Generasi ini adalah generasi apolitis yang harus didekati dengan cara-cara unik. Mereka harus diyakinkan, dibujuk, diberikan fakta, sehingga secara sadar mau menjadi relawan yang membantu seorang politisi.

Ketiga, politik di era 4.0 akan memberikan penguatan pada bagaimana membangun infrastruktur teknologi dalam mengelola semua isu dan jaringan relawan. Politik dikelola dengan cara profesional dan berbasis teknologi. Suara publik bisa dipantau melalui percakapan media sosial. Pemilihan isu kampanye bisa ditemukan melalui analisis atas keyword atau kata-kata kunci yang sedang marak di internet pada satu lokasi. Seorang politisi bisa bicara lebih efektif seba sebelumnya punya pemetaan detail tentang apa saja yang dilakukan dan dibicarakan di dunia maya.

Tak hanya itu, para calon pemilih bisa dideteksi melalui teknologi informasi. Algoritma Facebook dan Google bisa dengan mudahnya mempertemukan kita dengan pemilih di satu lokasi, sehingga memudahkan kita yang hendak menyebarkan pesan secara viral agar dilihat oleh calon konstituen kita. Kita pun bisa dengan mudah mengevaluasi semua isu yang diviralkan, melihat kembali sejauh mana jangkauan, seberapa disukai publik, setelah itu menyusun perencanaan matang bagaimana “menggempur” media sosial dengan isu-isu tertentu.

***

Kata kunci yang harus dipegang untuk memenangkan pertarungan di era politik 4.0 adalah kuasai generasi milenial. Sebab beberapa lembaga sudah melansir fakta bahwa pemilih akan didominasi oleh generasi milenial yang berusia pada rentang 15-39 tahun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah generasi milenial pada tahun 2019 adalah 48 persen, yang kesemuanya adalah wajib pilih.

Melihat potensi suara yang begitu besar, beberapa partai dan kandidat yang akan bertarung dalam kontestasi pemilu sudah mulai dengan serius melirik dan menarget generasi milenial. Hampir semua politisi, partai politik, dan organisasi politik berusaha memikat generasi milenial dengan cara memasuki rimba media sosial, tempat generasi ini berinteraksi.

Namun, banyak politisi yang justru merasa gagap ketika memasuki dunia ini. Banyak politisi ataupun calon presiden berdandan ala generasi milenial, mengenakan celana jeans, rambut dengan model kekinian, lalu tersenyum sembari mengalungkan sejadah di pundaknya. Ada juga calon presiden yang ikut dalam rombongan motor vespa, atau menaiki motor keren tanpa spion, juga menggelar kompetisi game online di satu kota.



Banyak politisi yang justru mengira bahwa ketokohan di dunia nyata pasti akan berdampak di dunia maya. Ini keliru besar. Sebab dunia maya adalah dunia yang egaliter dan tanpa hierarki. Tak ada orang hebat di situ. Semuanya dalam posisi setara dan berinteraksi. Bahkan seorang mantan ibu negara bisa didebat dan ditentang oleh seorang warga biasa.

Maka seorang politisi tenar amat terkejut saat dirinya hanya diikuti segelintir orang. Dia pun harus pandai membangun komunikasi yang egaliter, bukan searah sebagaimana sering dipraktikkannya di ruang-ruang sosial. Demi memikat generasi milenial, seorang politisi mesti menempatkan dirinya sebagai warga biasa, yang berinteraksi tanpa ada sekat, kemudian memosisikan semua orang sebagai sahabat atau mitra dekat.

Prinsip-prinsip ini memang sederhana. Tapi akan begitu sulit dipraktikkan oleh mereka yang selama ini terbiasa ditinggikan oleh orang lain. Di dunia maya, Anda harus menjadi diri sendiri dan menanggalkan pola komunikasi yang berharap sanjungan atau kesopanan di atas rata-rata. Anda harus siap untuk didebat seorang anak kemarin sore, tanpa harus kehilangan harga diri Anda sebagai seorang politisi.

Pengelolaan media sosial ini menjadi penting. Sebab media sosial bukan lagi arena yang dipandang sebelah mata. Media sosial menjadi gerbang untuk memahami dinamika isu dan percakapan masyarakat. Media sosial juga bisa menjadi ruang untuk menyebarkan satu ide yang kemudian didiskusikan warga, sehingga berkembang menjadi luas.

*** 

Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan untuk mengelola media sosial dengan efektif? Apakah yang diperlukan agar kita punya armada media sosial yang baik dan bisa memikat hati semua calon konstituen sehingga bersedia untuk menjadi relawan dan membantu kerja-kerja politik?

Saya akan memberikan beberapa kiat praktis.

Pertama, jika tak punya waktu untuk mengelola sendiri, maka bangunlah satu tim media sosial yang tangguh. Kerja-kerja tim adalah bagaimana meningkatkan jumlah follower dan jangkauan media sosial yang beranggotakan orang-orang atau pemilih di satu kawasan. Namun tim ini harus menyadari bahwa kampanye di media sosial bukan dengan cara memasarkan tanda gambar dan foto seseorang secara terus-menerus.

Kerja tim ini lebih pada soft campaign atau mengelola postingan yang punya value dan bisa mencerahkan publik. Yang hendak diubah adalah top of mind publik bahwa seseorang punya kriteria atau ciri sebagai politisi yang bisa dipercaya. Akun seorang politisi yang baik tidaklah menjadi wadah untuk melempar hujatan dan makian, sebab tidak semua orang nyaman dengan itu. Namun selalu memberikan pencerahan, membuka wawasan, serta persuasif dalam meyakinkan orang-orang. 

Belajar pada tim media sosial saat pilkada DKI lalu, skema kerja tim bisa mengarah pada tiga hal. (1) Pusat komando yang merupakan pangkalan data dan informasi, kemudian disebarkan ke semua jejaring cyber army yang tersebar di semua titik, (2)  Tim Social Media Army memiliki pasukan lapangan yang tugasnya adalah mempercepat tersebarnya informasi, (3) Tim Defensif bertugas untuk menyusun klarifikasi dan bantahan di media social, (4) Tim Supportif bertindak sebagai litbang yang mengumpulkan data, fakta, dan riset.

Soal skema kerja biasanya fleksibel dan tergantung pada kebutuhan.

Kedua, Setelah tim terbentuk, buatlah satu pengelolaan konten yang berkualitas. Sebab konten yang berkualitas akan menentukan seberapa banyak orang akan menyukai postingan tersebut. Tim ini secara reguler membuat postingan, serta berpartisipasi dalam diskusi publik di media sosial melalui upaya memberikan komentar, kuliah daring (kultweet), diskusi, sharing informasi



Prinsipnya, satu informasi bisa diarahkan ke berbagai kanal media sosial. Tinggal disesuaikan dengan karakter media sosial itu. Misalnya pengguna Twitter menyukai postingan yang sederhana dan langsung pada sasaran. Sementara Facebook suka dengan postingan yang provokatif, tapi bisa mencerahkan.

Tim pembuat konten kreatif ini tidak hanya beranggotakan pembuat konten yang kreatif, tapi juga beberapa orang yang menguasai IT, yang bisa bantu memetakan apa saja perbincangan publik, lalu merekomendasikan apa saja postingan yang bisa dibuat. Tim IT juga bertugas untuk memviralkan setiap informasi, serta bisa memahami cara kerja dan algoritma Facebook dan Google, serta media sosial lainnya. Tim ini juga harus dilengkapi dengan seorang graphic designer yang tugasnya mengemas postingan jadi menarik sehingga dipahami publik pada berbagai lapis usia.

Ketiga, memperluas jejaring dengan para relawan. Tim harus menyusun tim-tim kecil yang bekerja di setiap komunitas, menyusun kerja-kerja pemberdayaan relawan, serta sering melakukan upgrading dengan semua relawan media sosial. Polanya adalah membuat banyak “peternakan” akun, yang tujuannya adalah membuat satu pesan tersebar secara cepat di banyak komunitas.

Ciri generasi milenial adalah prosumer. Mereka tak ingin sekadar menjadi konsumer, melainkan ingin dilibatkan sebagai produsen yang merancang informasi dan menyebarkannya ke mana-mana. Yang harus dilakukan adalah membangun kerangka pikir yang sama, menyesuaikan ritme kerja dan tema-tema yang akan diposting, serta sesekali membuat ledakan informasi secara serentak sehingga publik medsos akan heboh dan mulai mempertimbangkan pilihan politik pada seorang politisi.

*** 

MENGELOLA media sosial untuk generasi milenial memang gampang-gampang sulit. Gampang sebab Anda hanya mengikuti sejumlah protokol yang sudah dibuat. Sulit karena harus konsisten dan selalu belajar dan meng-update informasi. Makanya, pengelolaan media sosial mirip dengan pengelolaan redaksi media massa. Bedanya, media sosial harus selalu melakukan evaluasi, serta memiliki target dan rencana yang lebih cepat proses eksekusinya.

Jika langkah-langkah itu diterapkan, maka hasilnya akan menakjubkan. Citra seseorang terbentuk. Jaringan relawan yang siap bekerja tanpa bayaran akan tersebar di semua lokasi, serta banyaknya pertemanan yang bisa membuahkan hasil-hasil yang produktif bagi seseorang. Yang terpenting, politik bisa dikelola dalam relasi yang sejajar dan saling membutuhkan.

Konstituen bisa membumikan idealismenya dengan cara mempercayakan pada satu politisi. Di sisi lain, politisi akan bekerja untuk memahami keinginan konstituennya dan secara terukur bisa melihat sejauh mana kiprahnya dalam bekerja untuk orang banyak.


Mandzukic yang Melangkah di Awan


poster Madzukic di Slavonski Board, Kroasia

TAK ada sedikit pun bayangan bagi Mario Mandzukic bahwa Kroasia akan menembus babak final. Datang ke Rusia, dirinya hanya ingin bermain bagus. Syukur-syukur bisa membuat sejarah. Makanya, ketika Kroasia mengalahkan Rusia, dia begitu gembira. Striker Juventus itu mentraktir bir warga sekampungnya di Slavonski Board sebagai pesta kemenangan. 

Media setempat menyebut Mandzukic tidak lupa dengan kampung halamannya. Situs Croatiaweek melaporkan, Mandzukic membayar 25.000 kuna, atau setara dengan 3.400 euro untuk semua minuman warga seusai kemenangan Kroasia atas Rusia. Baginya, itu tak seberapa jika dibandingkan rasa gembira yang tumpah ruah karena sukses mengalahkan Rusia di kampung halamannya. 

Bagi warga Slavonski Board, Mandzukic adalah pahlawan yang mengharumkan nama daerah. Dia seorang pesepakbola yang ulet dan energinya tak habis-habis saat mengenakan baju timnas Kroasia. Dia juga seorang dermawan, yang tak hanya mentraktir bir, tapi juga pernah memberikan uang jumlah besar bagi pemadam kebakaran di kampungnya.

Di Piala Dunia 2018, takdir sedang memihak Kroasia. Tadinya, Mandzukic berpikir hanya datang sebagai penggembira. Ketika mengalahkan Nigeria, Argentina, Islandia, dirinya mulai melihat harapan. Puncaknya adalah ketika timnya berhasil mengalahkan Denmark dalam partai hidup mati saat kedua tim harus menjalani laga adu penalti. Di situlah harapan Mandzukic mulai mekar.

Jalan ke arah takdir itu tak mudah. Seusai menang melawan Denmark, Kroasia kembali harus bertarung hidup mati melawan Rusia. Kembali, pertandingan itu harus diakhiri dengan adu penalti. Mandzukic mengatakan timnya tak sedang bertanding bola. “Kami berperang dan berdarah-darah untuk bisa terus melaju,” katanya.

Tim Kroasia bermain lebih lama dari tim manapun. Saat melawan Denmark, kemudian Rusia, mereka bermain hingga dua kali perpanjangan waktu, kemudian adu penalti. Melalui peperangan itu, mental bertanding mereka terasah. 

“Tekanan terbesar kami adalah saat melawan Denmark di babak 16 besar. Tapi sejauh ini kami sangat menikmati setiap pertandingan di Piala Dunia ini,” kata Mandzukic saat jumpa pers sebelum pertandingan melawan Inggris. Rekannya, Andres Kramaric, yang pernah bermain untuk Leicester saat menjadi kampiun Liga Inggris, juga memberi komentar.

“Kami respek pada Inggris sebagai tim besar. Tapi kami juga berharap Kroasia bisa menjadi negara terkecil yang pernah menjangkau babak final. Inggris bermain dengan cara berbeda. Tapi, mereka harus hati-hati karena ini adalah semi-final. Mungkin, keberuntungan ada pada sisi Kroasia,” katanya.

Mandzukic dan Kramaric benar. Pertandingan itu menjadi milik Kroasia. Kekuatan Kroasia adalah dinamo permainan yang tak pernah usang. Serangan mereka bagaikan air bah, yang tak pernah mengenal lelah. Dari sisi taktik, tim Kroasia biasa saja. Namun, tim ini adalah tim paling adaptif yang bisa mengikuti gaya bermain lawan, lalu menemukan titik lemahnya, untuk kemudian ditekuk dan dipatahkan.

Kekuatan lain yang tak terlihat adalah spirit nasionalisme yang terus berkobar. Saat mengenakan pakaian timnas Kroasia, semangat Mandzukic berkobar. “Saya merasakan sesuatu yang berbeda. Sebuah hal istimewa ketika bisa melakukan sesuatu untuk tim nasional,” katanya. Ketika mengenakan seragam itu, dirinya bukan lagi menjadi pahlawan bagi warga kampung Slavonski Board, tapi menjadi pahlawan bagi semua bangsa Kroasia.

Seorang jurnalis pernah menulis suasana di ruang ganti timnas Kroasia. Di situ, semua pemain melingkari Mandzukic dan pelatih. Suara khas Mandzukic bergema nyaring. “Kita telah menunggu beberapa tahun untuk kesempatan ini. Kemenangan sangat dekat. Kita akan meninggalkan tetes kenikmatan terakhir untuk mencapai mimpi kita. Kita akan siap berperang,” katanya.

Timnas Kroasia memang diisi barisan pemain yang lapar. Sebagai pemain, mereka telah berjaya di klub masing-masing dan pernah dikalungi menjadi juara. Saat bermain bersama Bayern Muenchen, Madzukic pernah memenangkan Piala Champion. Demikian pula Luca Modrid bersama Real Madrid, dan Ivan Rakitic bersama Barcelona. Mereka telah melanglangbuana dalam berbagai pertarungan hidup mati di kancah sepakbola profesional.

Wajar saja jika mereka tak kenal takut. “Kroasia memang punya pemain berpengalaman. Tapi bermain sebagai tim nasional, kami masih hijau. Belum banyak sejarah. Kami respek pada semua lawan kami. Tapi tak ada takut pada kami. Kami sangat percaya pada kemampuan kami,” katanya lagi.

Mandzukic memang seorang pemain besar. Kiper Inggris, Jordan Pickford adalah salah satu fans beratnya. Duel mereka di lapangan adalah duel antara idola dan seorang fans. Mandzukic pun tak ragu-ragu memuji Pickford yang disebutnya punya masa depan cerah. “Dia menunjukkan potensi besar. Saya yakin dia punya masa depan cerah. Tapi saya juga yakin kami punya cara untuk mengejutkannya.”

Maka sejarah baru tercipta. Mandzukic dan kawan-kawan sukses melangkah ke partai final. Dia berhasil merobek gawang Pickford saat babak perpanjangan waktu. Dahulu, pahlawan masa kecil mereka yakni Davor Suker dan Zvonimir Boban hanya sanggup menapak ke babak semi-final. Kini, Kroasia telah melangkah jauh. Bahkan sedikit lagi menggamit piala. Namun, apakah mereka tidak lelah dengan pertandingan-pertandingan lama yang menguras tenaga?

“Lelah? Kami tak pernah lelah. Kami sedikit lagi menggapai semua mimpi kami. Sekarang ini kami sudah melangkah di awan untuk merebut bintang mimpi kami,” katanya sebagaimana dicatat dailystar.co.uk.

Partai final mendatang akan menjadi ajang paling seru untuk menggoreskan sejarah. Satu tim hendak mengulang sejarah sebagai pemenang. Sedang tim lain akan melampiaskan rasa haus dan lapar untuk menggapai kemenangan. Dunia sedang menanti, sembari menyobek lembaran sejarah baru. 

Yang pasti, di partai final itu, semangat Mandzukic akan kembali bergelora saat mendengar semua fans Kroasia menyanyikan lagu Moja Croatia, lagu yang diciptakan rapper Kroasia bernama Slusaj Stoka yang selalu menyatukan semua fans. 

Pobjeda, borba, veselja, nacija… 
Volim te jako, 
Moja Croatia

Kemenangan, pertarungan, sukacita, bangsa ...
Aku sangat mencintaimu,
Kroasiaku

Yang Menjengkelkan dari Gibran Jokowi




WAJAR saja jika banyak yang datang melakukan aksi di depan outlet penjualan martabak milik Gibran Rakabuming, putra sulung Presiden Jokowi Widodo (Jokowi). Sebab Gibran harusnya bertingkah seperti anak pejabat dan penguasa lainnya. Mereka yang melakukan aksi itu mungkin saja hendak mengatakan, Gibran harusnya tahu diri bahwa sebagai putra presiden, dia tak harus merendahkan diri dengan jualan martabak.

Ada banyak suara yang membahas Gibran. Seseorang mengatakan, "Harusnya dia main-main dengan proyek APBN. Dia tak perlu bersusah payah sebagaimana jalan yang ditempuhnya sekarang sebagai pengusaha. Dia cukup datang cengengesan di kantor kementerian, maka banyak dirjen dan menteri akan sukarela membagikan proyek-proyek disertai upeti dan angpao." 

Ada lagi yang berkata: "Harusnya dia belajar pada anak-anak pejabat di negaranya yang dengan mudahnya menjadi kaya raya berkat proyek-proyek yang disetorkan bawahan bapaknya. Kenapa pula dia tidak mau meniti karier di dunia politik, sebab bisa saja mendapatkan karpet merah untuk jadi calon presiden berkat restu bapaknya. Dia tak perlu antrean, sebab ketika dirinya datang, mendadak semua orang jadi petugas partai."

Tapi kok dia malah jualan martabak? Kalaupun dia mau tetap ngotot jualan martabak, bisa saja dia meminta negara untuk menjadikan martabak buatannya sebagai produk nasional yang disajikan dalam semua jamuan kenegaraan, mulai dari level istana sampai desa. Dia cukup bilang ya, maka semua birokrasi akan dengan sukarela melakukannya.

Dia lupa. Di negerinya sendiri, menjadi putra seorang pejabat adalah menempati strata sosial yang berbeda dengan kebanyakan orang lain. Anda cukup ongkang-ongkang kaki dan menunjuk pada titik mana Anda hendak melakukan usaha. Dia cukup melirik seorang pejabat dan pengusaha, maka semuanya akan dibawakan di hadapannya. 

Makanya, Gibran menjadi seorang anak presiden yang menjengkelkan. Tujuan dari dagang atau bisnis adalah mencari untung. Masak dia mau saja menempuh jalan yang panjang dan sukar demi mendapat untung. Bagaimana jika gagal? Apakah dia tidak merasa malu sebab bekerja keras demi sesuatu yang tidak pasti? 

***

ANDAIKAN bisa bertemu Gibran, saya ingin bercerita banyak hal. Tak jauh dari kampung saya, putra seorang bupati ditahan aparat karena terbukti menggunakan dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) kabupaten hingga hampir mencapai angka 10 miliar rupiah. Dia bebas bebas menggunakan dana negara hingga miliaran. Maklumlah, ayahnya bupati. Mana ada yang berani menentang?

Catatan tentang transaksi yang dilakukan pemuda itu memang ada di mana-mana. Ia pernah menutup satu bar ataupun karaoke di satu kota demi menjamu semua teman-temannya. Ia seorang flamboyan yang ke mana-mana bersama para gadis. Seorang teman bercerita kalau terdapat satu kamar jenis presidental suite di satu hotel mewah di Jakarta, yang hanya bisa ditempati olehnya selama setahun. Ia membawar sewa selama setahun penuh, meskipun ia tidak setiap saat ada di Jakarta.

Mungkin, tak masalah jika prilaku berfoya-foya itu menggunakan dana pribadi. Parahnya, ia tak punya usaha ataupun bisnis yang bisa menunjang sikap berfoya-foya itu. Bapaknya adalah seorang bupati yang punya kuasa atas miliaran dana pusat yang dititipkan ke daerah melalui berbagai skema anggaran. Memang, tak mudah mencairkan dana itu. Ada mekanisme yang harus ditempuh. Akan tetapi ayahnya seorang bupati yang bebas mengeluarkan memo kepada bendahara daerah.

Berbekal secarik memo, ia lalu mengontak bendahara daerah. Dengan sedikit ancaman pencopotan dari posisinya. Birokrasi bergerak laksana hamba yang setiap saat memenuhi keinginan sang putra mahkota. Tercatat beberapa kali transfer dana publik ke rekening pribadi. Tercatat pula transfer dana publik ke rumah karaoke, rumah pijat, rumah mode, salon, hingga beberapa resto mewah. 

Birokrasi punya banyak mekanisme yang diperhalus dengan istilah-stilah, misalnya penyegaran, penguatan visi bupati, fit and proper test, hingga berbagai nama lain yang ujung-ujungnya adalah pencopotan birokrat yang tak bersedia menghamba pada kepala daerah. Berani membantah, siap-siap kehilangan jabatan. Jika anda masih joblo, tentu tak masalah. Tapi jika anda seornag profesional yang punya keluarga, maka siap-siap untu menyanyikan lagu “sakitnya tuh di sini.”

Anda jangan terkejut dengan kenyataan ini. Reformasi dan desentralisasi telah memindahkan kewenangan pusat ke daerah-daerah. Di masa reformasi, terdapat banyak wacana untuk menguatkan daerah. Tapi fakta yang muncul cukup menggiriskan. Di banyak tempat, yang muncul sebagai kepala daerah adalah mereka yang tidak punya karakter melayani. Yang muncul adalah transformasi dari kerajaan atau kesultanan ke dalam birokrasi. Kepala daerah adalah raja, yang lain adalah abdi.

Putra bupati menjadi putra mahkota yang juga harus disembah. Jika tak ingin ketahuan sebagaimana kepala daerah yang disebut di atas, ada banyak mekanisme lain. Misalnya menjadikan sang putra sebagai kontraktor yang dimodali ayahnya, kemudian menadah semua proyek pemerintah daerah. 

Dengan cara ini, semua proyek infrastruktur masuk kas pribadi, kemudian digunakan untuk hal lain, misalnya menjadi ketua partai politik, menjadi ketua organisasi massa. Di ajang pemilihan, sang putra mahkota itu lalu menjadi caleg, yang menggunakan kekuatan uang, hingga akhirnya terpilih menjadi anggota dewan. Nanti siap-siap jadi bupati untuk menggantikan ayahnya.

Bisa pula cara lain. Sang putra mendapat jatah kuasa pertambangan, yang kemudian digunakan untuk mengeruk hasil bumi. Kalau cara ini berisiko, ada lagi yang lebih simpel, yakni membeli tanah warga dengan harga murah, setelah itu menyusun ulang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) lalu membangun infrastruktur di sekitar tanah sang putra. Harga tanah melonjak drastis. 

Kalau masih berisiko, ada lagi cara lain. Buka saja satu toko bahan bangunan, toko makanan, toko alat tulis, toko foto kopi. Nanti semua rekanan pemda diarahkan untuk belanja di situ. Anggaran di-markup, sisakan untuk bagi-bagi, setelah itu simpan mliaran rupiah ke bank. Sang putra lalu kaya-raya.

Semuanya bisa terjadi. Ayahnya kan bupati.

***

MAKANYA, betapa jengkelnya beberapa kawan saya melihat Gibran yang hanya jual martabak. Jika ia tinggal di daerah, ia sudah lama menjadi bahan tertawaan. Ia benar-benar beda dengan keuarga pejabat di daerah-daerah yang sibuk membangun dinasti lalu mewariskan kekuasaan dan juga materi hanya untuk keluarganya. Jika saja ia berpikir uang, posisinya sebagai putra presiden bisa membuatnya kaya-raya dalam sekejap, tak perlu berjualan martabak. 

Ah, mungkin Gibran terlampau lugu. Dia tidak belajar dari putra-putri presiden sebelumnya yang mengeruk dana negara demi mengalirkannya ke perusahaan pribadi. Dia tidak belajar bagaimana putri presiden yang di awal-awal mendapat tender ratusan kilometer jalan tol, lalu mendapat lagi jatah saham hingga lebih 30 persen di beberapa bank terbesar. 

Saudara dari putri itu lalu mendapat monopoli perdagangan cengkeh, jatah 1 dollar dari setiap barel penjualan BBM, penjualan mobil hingga mie instan, usaha penerbangan, ratusan perusahaan tambang, hingga payung hukum negara untuk proyek mobil nasional yang ternyata mobil asal Korea, yang telah dibebaskan bea-masuk agar murah dijual. 

Si Gibran itu memang beda. Kenapa pula ia tidak berpikir untuk membuat banyak yayasan-yayasan, lalu mengelola dana negara di yayasan itu? Dia bisa belajar dari anak pejabat sebelumnya yang membangun masjid dan rumah sakit di mana-mana, namun menyelip sisa anggaran dalam jumlah sangat besar? 

Atau tak usahlah jauh-jauh. Anggaplah Gibran ini malas bekerja dan ingin santai di rumah. Mengapa pula ia tak berpikir untuk menjadi komisaris dari banyak perusahaan yang dengan sukarela akan menyerahkan posisi itu kepadanya, sebagai bentuk upaya “menjilat” kepada ayahnya demi proyek-proyek besar?

Jika saja Gibran membuka mata, mengapa pula ia tak meniru orang-orang yang mengaku relawan, yang merasa berjasa besar menaikkan ayahnya sebagai presiden, lalu teriak-teriak mengkritik demi jabatan komisaris BUMN? Mengapa pula ia tak meniru para politisi yang dulu memaki dan menyebar kampanye negatif ayahnya, lalu setelah ayahnya jadi presiden, para politisi itu datang ke istana dengan bersimpuh lalu cengengesan, sembari berkata, “Apakah bisa kami berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan negara?” Tapi melalui apa? “Melalui proyek!”

***

TAPI saya justru melihat Indonesia yang lebih benderang dengan kehadiran anak muda seperti Gibran. Dengan caranya sendiri, ia menginspirasi rakyat Indonesia untuk bekerja keras dengan tangan sendiri, keluar dari bayang-bayang ayahnya, berpeluh keringat demi menegakkan kemandirian. Saya bangga melihat seorang anak muda yang memilih untuk memulai dari nol, tanpa harus memanfaatkan posisi keluarga, menggunakan aji mumpung, atau melingkar pada lapis-lapis elite kuasa demi membangun kartel.

Dengan caranya sendiri, anak muda ini telah ‘menampar’ putra-putri pejabat yang hanya bisa memanfaatkan jabatan dan posisi ayahnya demi memenuhi kebutuhan pribadi. Gibran menunjukkan bahwa menemukan jalan nasib sendiri jauh lebih terhormat daripada sikap kongkalikong dan memanfaatkan posisi serta jabatan bapaknya. Bapaknya pun tak kelihatan menyiapkan satu jalan tol baginya untuk kelak menjadi politisi yang punya hak eksklusif untuk menentukan calon presiden.

Gibran memisahkan antara wilayah kerja bapaknya, serta wilayah garis edarnya, dan tak punya niat untuk mencampur-baurkan keduanya. Ia sadar bahwa jabatan presiden adalah amanah. Ia tahu bahwa pada jabatan itu melekat tanggungjawab, kerja keras, bukannya kemudahan-kemudahan dalam berbagai urusan. Ia memilih menjadi rakyat biasa yang bekerja, namun sesekali bisa mencandai ayahnya, yang kebetulan menjabat sebagai presiden di negara kepulauan terbesar di dunia.

Melalui anak muda seperti Gibran, kita bisa berharap pada tanah air Indonesia yang lebih hebat di masa mendatang. Kita berharap akan tumbuhnya lapis generasi baru yang menghadapi derasnya samudera kehidupan dengan mengayuh di atas biduk sendiri, dengan mengembangkan layar sendiri lalu memanggil angin perubahan, demi mencapai pulau kebangsaan yang indah-permai.

Makanya, mereka yang tak suka Gibran lalu berdemo di depan usaha martabaknya adalah mereka yang berharap Indonesia mundur ke belakang, pada era ketika seorang anak presiden bisa semewah-mewahnya dengan menggunakan kuasa ayahnya. 

Mereka yang tak suka Gibran adalah mereka yang masih berpikir ala kerajaan, ketika seorang anak mendapat limpahan semua kemewahan dan pengaruh, bisa melakukan semua hobi mahal, sosialita, dan bisa pilih-pilih teman hanya dari kalangan bangsawan. Mereka yang tak suka Gibran adalah mereka yang mentalnya masih feodal, masih mengira seorang anak pejabat harusnya foya-foya dengan fasilitas ayahnya.

Mereka yang tak suka Gibran adalah mereka yang tak mampu mengharga bahwa setetes keringat dari kerja keras adalah berlian yang jauh lebih bernilai dari apapun. Di keringat itu, ada kemandirian, ikhtiar untuk tegak, serta keberanian menghadapi hidup yang penuh risiko dengan cara berdiri di atas kaki sendiri. 

Di situ ada kekuatan untuk tegak, tanpa harus manja pada orang lain, juga bapak sendiri. Di situ ada pertaruhan bahwa lebih terhormat bekerja dengan tangan sendiri, dengan keringat yang menetes-netes, ketimbang menggunakan sesuatu yang bukan hak.

Salut buat Gibran.



Siasat JOKOWI Menggenggam JAWA


Presiden Joko Widodo

BARU saja usai pengumuman quick count, Khofifah Indar Parawansa sudah membuat pernyataan yang membuat gerah Partai Demokrat sebagai partai pendukung di pilkada Jawa Timur. Demikian pula dengan Ridwan Kamil yang begitu dinyatakan menang telah membuat geram Partai Gerindra. Padahal, kedua figur pemenang pilkada ini hanya menyampaikan pernyataan politik.

Baik Khofifah maupun Ridwan sama-sama menyatakan siap mendukung Jokowi pada pilpres tahun mendatang. Pernyataan keduanya diliput semua media-media besar, lalu menimbulkan reaksi partai-partai, khususnya di luar pemerintah. Namun, pernyataan keduanya telah membuka satu tabir yang selama ini tidak tampak dalam perhelatan politik di banyak daerah itu.

Bahwa pemenang sesungguhnya dari semua pilkada besar, khususnya di Jawa adalah Presiden Joko Widodo sendiri. Kok bisa?

***

SORAK-sorai masih gemuruh di jalan-jalan. Semua orang masih sibuk memberikan ucapan selamat. Beberapa lembaga besar telah mengumumkan hasil hitung cepat (quick count) pemilihan kepala daerah (pikada) Jawa Timur. Pemenangnya adalah Khofifah Indar Parawansa.

Perempuan yang dikenal sebagai aktivis Muslimat NU itu diwawancarai oleh Rosiana Silalahi dari Kompas TV. Khofifah ditanya mengenai pendapatnya atas kemenangan itu, serta beberapa agenda ke depan. Dalam wawancara itu, Khofifah memuji kerja-kerja Presiden Jokowi. Sebagai mantan Menteri Sosial, dia melihat bagaimana Jokowi bekerja. "Kerja kerasnya beliau tentu berharap bisa menuntaskan PR-PR," ucapnya. 

Rosi kemudian bertanya, apakah bersedia kembali menjadi Jubir Jokowi seperti Pilpres 2014. Khofifah menjawab, "Kalau ditunjuk. He..He." Rosi terus mengejar. "Jadi, Anda hanya akan mendukung Pak Jokowi dan bukan capres lain?" tanya Rosi. "Iya, insya Allah begitu," jawab Khofifah. (Selengkapnya bisa dibaca di Kompas.com DI SINI)

Pernyataan Khofifah ditanggapi Ketua DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean. Dia menilai sikap Khofifah akan terus berkembang seiring dinamika. Ia yakin Khofifah akan mendukung pasangan calon yang diusung Demokrat sebab partai itu adalah salah satu pengusung. Namun Demokrat tak sendirian. Partai lain yang juga mengusung Khofifah yakni Golkar, Nasdem, PPP, dan Hanura, semuanya sudah menyatakan sikap mendukung Jokowi.

Kata Ferdinand, kalaupun Khofifah langsung menyatakan dukung Jokowi, maka pernyataan itu sebagai kesantunan sebagai orang yang bekerja di bawah Jokowi. “Tidak mungkin Khofifah langsung menyatakan tidak dukung Jokowi di pilpres,” katanya.

Sejauh ini, Partai Demokrat belum menyatakan hendak mendukung siapa. Isu yang berkembang, partai yang dipimpin mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu akan mengusung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Hanya saja, semuanya masih bisa berkembang.

Tak hanya Khofifah. Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat terpilih versi quick count juga menyatakan sikap. Dalam wawancara dengan Aiman Witjaksono dari Kompas TV, ia juga ditanya tentang seputar dukungan kepada Jokowi. Ia menjawab:

"Ya saya kira logika sederhana ya, partai-partai pendukung sudah menyatakan deklarasi untuk pilpres. Partai-partai pendukung saya semua sudah, Nasdem, Hanura, PPP, dan seterusnya. Tentulah arah dukungan dari kami, calon berdua ini tidak akan jauh berbeda fatsun kepada etika politik, kan begitu ya, etika politik seperti itu," ujar Ridwan Kamil. (pernyataannya bisa dibaca DI SINI)

Pernyataan itu memicu reaksi Partai Gerindra. "Tadi Kang Emil menyatakan secara resmi mendukung Pak Jokowi pada Pilpres 2019. Padahal, sebelum pemilihan, setiap ditanya media, beliau menyatakan tidak benar mendukung Pak Jokowi dan belum memutuskan mendukung siapa," ujar anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade kepada wartawan, Rabu, 27 Juni 2018.

Andre mengatakan, andai sikap politik itu disampaikan lebih awal, dia yakin Emil tak akan mendapat suara seperti hasil quick count. Andre menduga sikap politik Emil yang terkesan abu-abu tentang Jokowi sebelum pencoblosan adalah salah satu strategi meraup suara masyarakat yang diklaim Andre ingin mengganti presiden.

"Menurut kami, seandainya Kang Emil menyatakan dari awal sebelum pencoblosan bahwa beliau mendukung Pak Jokowi, kami meyakini bahwa suara Kang Emil akan lebih kecil dari sekarang," ucapnya. 

"Perbedaan sikap dari sebelum dan sesudah pencoblosan ini menunjukkan Kang Emil memang masih mengincar suara pemilih Jabar yang ingin #2019GantiPresiden. Kami menyayangkan ketidakjujuran Kang Emil dari awal ke masyarakat Jabar," katanya.

*** 

BAGI elite politik di Jakarta, pilkada ibarat palagan pertempuran. Dikarenakan pilkada dilaksanakan pada tahun politik, apa pun hasilnya akan mempengaruhi konstelasi politik pada tingkat nasional. Apalagi, pilkada ini akan dilaksanakan di daerah-daerah yang basis massanya banyak, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Bukankah Djawa adalah koentji?

Seorang kawan yang dekat dengan lingkar istana menuturkan, kali ini, Jokowi lebih taktis dan hati-hati. Ia seakan menerapkan pepatah Inggris: “Don’t put your eggs in one basket” yang secara harfiah bermakna jangan menyimpan telur dalam satu keranjang. Artinya, jangan mengonsentrasikan semua upaya hanya di satu pihak. Lakukanlah semua upaya di beberapa pihak sehingga siapa pun yang menang pasti akan membawa kemenangan bagimu.

Pilkada Jakarta dan Banten adalah pelajaran berharga. Di dua pilkada ini, partai pendukung pemerintah hanya berada di satu kubu. Ketika kubu lawan menguat, serta ditopang strategi yang bagus, maka kemenangan berada di tangan mereka. Jakarta lepas dari genggaman. Belajar dari pengalaman itu, pada pilkada ini partai-partai pendukung pemerintah sengaja menyebar, sehingga bisa ditemukan di mana-mana.

Jokowi fokus mengamati pilkada hanya di daerah yang padat penduduknya. Pilkada provinsi, yang masuk radar istana adalah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan. Jumlah penduduk di lima daerah ini melewati angka 50 persen wajib pilih di pilpres mendatang. Kemenangan adalah harga mati yang tak bisa ditawar.

Strateginya cukup jitu sebab basisnya bukan hanya satu partai yakni PDIP, melainkan beberapa partai pendukung pemerintah. Kita bisa melihat mobilitas partai-partai ini yang berpencar dan tidak mendukung satu calon, sehingga skenario apa pun yang terjadi, pemenangnya adalah Jokowi juga.

Di Jawa Timur, koalisi pemerintah menyebar di pasangan Khofifah – Emil Dardak dan pasangan Gus Ipul – Puti. Tadinya, Gerindra ingin buat poros sendiri melalui La Nyalla. Belakangan memilih bergabung dengan Gus Ipul pada last minute sebelum pendaftaran ke KPU. Bisa dilihat, siapa pun pemenang pilkada Jatim, maka di dalamnya ada partai pemerintah.



Kita juga bisa melihat fenomena di Jawa Barat. Pada mulanya, terbentuk koalisi antara Dedy Mizwar dan Ahmad Syaikhu. Mereka adalah representasi dari Demokrat dan PKS. Di tengah jalan, koalisi ini bubar dikarenakan Gerindra tidak sudi bergabung. Gerindra merasa koalisi ini ibarat kereta yang sudah berlari kencang, dan mereka diminta mengikuti banyak kesepakatan. Gerindra lalu memutuskan untuk membentuk koalisi baru bersama PKS dan PAN. Alasan lain juga muncul yakni koalisi sebelumnya dikendalikan Cikeas sehingga mendukung koalisi itu sama dengan mendukung Agus Yudhoyono sebagai calon presiden.

Gerindra membentuk poros sendiri bersama PKS dan PAN yang sama mendukung Sudradjat – Ahmad Syaikhu. Pasangan  ini berhadapan dengan pasangan Ridwan Kamil – U’u Ruzhanul Ulum yang didukung Nasdem, PPP, Hanura, dan PKB, kemudian pasangan Dedy Mizwar – Dedi Mulyadi yang diusung Demokrat dan Golkar. Sementara itu, PDIP mendukung TB Hasanuddin dan Anton Charliyan.

Penting untuk melihat bagaimana koalisi pemerintah mengepung pasangan usungan Gerindra dan PKS ini. Siapa pun yang menang antara Ridwan Kamil ataupun Dedy Mizwar, bahkan TB Hasanuddin, maka posisi pemerintah ada di situ. Jokowi diuntungkan oleh posisi kedua kubu ini.

Kita juga bisa melihat bahwa pemerintah memainkan tiga kartu sekaligus. Satu di kubu Ridwan Kamil sebab diusung Nasdem dan PPP, satunya lagi di kubu Dedy Mizwar dan Dedi Mulyadi yang didukung Demokrat dan Golkar. Serta TB Hasanuddin – Anton yang didukung PDIP. Jika satu kubu ini menang, maka lagi-lagi ini adalah kemenangan Jokowi yang menyimpan kartu di tiga kubu.

Lihat pula pertarungan di Sumatera Utara (Sumut). Saat Edy Rahmayadi, yang didukung Gerindra perlahan mengumpulkan basis dukungan, beberapa partai pendukung pemerintah juga merapat. Partai itu adalah Nasdem dan Golkar demi menggenapi dukungan Gerindra, PKS, dan PAN. Maka saat Edy Rahmayadi menang, maka kemenangan itu tidak bisa diklaim sebagai milik Gerindra. Ada partai koalisi Jokowi di situ, meskipun kandidat yang diusung PDIP yakni Djarot kalah.

Kita juga bisa menggunakan cara berpikir yang sama dalam melihat pilkada di Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan. Jawa Tengah lebih sederhana pemetaannya sebab wilayah itu adalah kandang banteng sejak lama. Yang dilakukan adalah menjaga keseimbangan antara kubu nasionalis dan kubu Islam sehingga isu SARA tidak akan efektif. 

Seorang kawan pengurus DPP Golkar bercerita bahwa Jokowi diuntungkan oleh banyaknya koalisi pemerintah sehingga pemetaan kekuatan bisa dikonsolidasi. Di banyak daerah, Golkar sering diposisikan sebagai lawan dari PDIP. Keduanya memang partai besar, sehingga bisa mempengaruhi konfigurasi kekuatan. Keduanya diposisikan untuk “menjepit” koalisi anti pemerintah, khususnya Gerindra dan PKS sehingga tak leluasa bergerak.

Sementara partai pemerintah justru menang banyak. Jokowi bisa mengatur ritme sehingga partai pemerintah berbagi teritori yang menjadi kekuasaan mereka. Nasdem dan PPP menguasai Jabar melalui Ridwan Kamil. PDIP tetap di Jateng dan Bali. Golkar bersama PPP dan Hanura berjaya di Jatim. 

Makanya, bisa dipahami kegeraman Fahri Hamzah melihat daerah-daerah yang dahulu menjadi basisnya tiba-tiba porak-poranda karena dikepung koalisi pemerintah. Strategi oposisi terlampau mudah dibaca sebab masih terkena euforia kemenangan di pilkada Jakarta. 

Fahri kesal karena daerah-daerah yang dahulu dipimpin PKS, kini hilang semua. "Jadi hampir semua posisi yang selama ini dipegang PKS, Sumut hilang, Jabar  hilang, mudah-mudahan Sumbar ini nggak hilang. Maluku Utara hilang, hampir semuanya itu hilang," katanya. Sementara Jakarta, kata Fahri, tidak bisa diklaim sebagai PKS.

Dalam pilkada serentak ini, Gerindra dan PKS tidak mendapat satu pun kemenangan di provinsi besar di Jawa. Tapi mereka bisa menghibur diri sebab perolehan suara pasangan yang didukung Gerindra dan PKS di Jabar lebih banyak dari hasil survei. Pasangan itu bisa bekerja maksimal untuk mengamankan basis suara. Tapi, tetap saja harus dianggap sebagai kekalahan, mengingat Jabar adalah wilayah yang dahulu dipimpin PKS, serta menjadi basis kemenangan Prabowo.

Pantas saja jika Fahri Hamzah terus menyampaikan kekesalan di twitter-nya. Dia men-tweet: “Pilkada Jawa Barat itu paling tragis...sewaktu kader2 PKS deklarasikan Demiz-Syaikhu saya langsung bilang “menang telak..!”. Tapi manuver elite PKS mengalahkan akal sehat. Demiz yg telah dampingi aher 5 tahun malah ditinggal. Suara pecah dan kalah! Tragis!”

Fahri juga membuat kuis, apakah pilih hampir menang atau hampir kalah. Sebanyak 70 persen follower-nya memilih hampir kalah. 

*** 

JIKA pilkada ini adalah barometer politik sebelum pileg dan pilpres, maka kita sudah bisa membuat beberapa kalkulasi dan prediksi.

Pertama, dengan hilangnya basis di daerah berpenduduk padat di Jawa, maka Gerindra dan PKS dalam posisi yang serba terjepit. Kubu oposisi akan sulit terkonsolidasi sebab tidak didukung hulubalang lapangan yang tangguh yakni para kepala daerah yang punya banyak pendukung. Tanpa kepala daerah yang lebih menguasai teritori, maka arena politik akan menjadi lebih terjal dan berat.

Kedua, partai-partai seperti PAN dan PKS akan kembali menghitung ulang kekuatan. Seperti kata Fahri Hamzah, hilangnya basis-basis wilayah yang dahulu milik PKS akan menjadi bahan evaluasi bagi partai-partai itu. Kehilangan basis wilayah bisa bermakna ruang gerak yang tidak leluasa sehingga bisa berdampak pada turunnya aspek elektoral. Hilangnya basis juga bisa bermakna hilangnya sumber daya politik dan modal kuasa untuk melebarkan sayap dalam memenangkan pileg dan pilpres.
Ketiga, pengalaman di pilkada ini menunjukkan bahwa Prabowo belum bisa menjadi kapal besar yang akan membawa semua partai kecil ke arah pulau impian. Prabowo belum bisa menjadi vote getter yang memberikan kemenangan dan keuntungan bagi partai lain ketika dirinya pun gagal mendistribusi kekuatan di berbagai daerah demi koalisinya. Oposisi bisa tercerai-berai, dan bisa saja merapat ke pemerintah secara diam-diam.

Keempat, langkah-langkah Jokowi yang mendistribusi semua kekuatan menjadi langkah strategis yang mengkonsolidasi semua basis kemenangan. Ketika teritori dan lapangan dibagi dengan adil semua partai, maka itu sama dengan mengikat partai agar tidak ke mana-mana. Jokowi bisa leluasa menentukan hendak berpasangan dengan siapa sebab partai merasa telah mendapatkan manfaat dengan kedekatan bersama dirinya. Basis elektoral partai akan naik, dan bisa berdampak pada jumlah kursi parlemen.

Kelima, jika kubu Prabowo akan melemah, maka kubu lain yang perlu diwaspadai Jokowi adalah kubu Cikeas, dalam hal ini Partai Demokrat. Ketika Gerindra tidak bisa menarik dan merawat kekuatan partai-partai lainnya sehingga sama-sama besar, maka Partai Demokrat bisa mengambil peran-peran strategis itu. Sejauh ini, Demokrat cukup fleksibel dalam mengambil sikap. Kadang bersama oposisi, tapi lebih banyak berakrab-akrab dengan pemerintah. Di sinilah kelihaian SBY dalam memainkan irama serta sesekali mengetuk pemerintah agar mengikuti alur yang disiapkannya. Demokrat lebih siap menjadi pengendali kekuatan oposisi yang lebih taktis langkah-langkahnya dan sukar ditebak.

***

SEPERTI kata Harold Lasswell, politik adalah siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana (who gets what, when, and how). Pemenang di arena politik adalah sosok yang bisa memahami siapa dirinya, mengenali kekuatan lalu mengeluarkan strategi paling jitu untuk memenangkan pertarungan. Politik, sebagaimana pernah dicatat Machiavelli, adalah kegiatan yang bermuara pada bagaimana memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Dalam rumusannya, “siapa yang mempunyai senjata akan mengalahkan siapa yang tidak mempunyai senjata”.

Di era Jokowi, senjata yang dimaksud tak selalu berupa senjata dalam pengertian alat-alat kuasa. Tapi bisa pula modal, dukungan partai politik, pengusaha, pengaruh, media massa, hingga strategi mengemas seorang kandidat dan menjaga ritme kemenangan. Di era Jokowi, pemenang di arena politik adalah sosok yang bisa mengombinasikan soft power dan bisa menentukan kapan harus bermain, kapan harus menunggu, dan kapan harus melangkahkan bidak.

Selamat bergembira buat Jokowi.


Yang Serba Gres di Pilkada 2018




BESOK, ajang pilkada akan digelar. Tak jauh dari rumah, saya telah melihat tempat pemungutan suara (TPS) dibangun. Pemerintah juga telah meliburkan hari. Semua orang mulai bergegas dan menyiapkan apa yang dibutuhkan terkait dengan pilkada. Suasananya serupa pesta meriah.

Pilkada tahun ini nyaris serupa dengan pilkada tahun lalu. Kemeriahannya terasa di jalan-jalan dan media sosial. Tahun ini, ada 171 daerah, terdiri atas 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten yang akan menggelar pilkada. Lebih setahun ini saya selalu bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah yang sibuk membahas pilkada.

Saya melihat ada beberapa hal baru dan gres di pilkada tahun ini.

Pertama, perang udara lebih massif dibanding sebelumnya. Semua tim sukses dan tim kampanye sama-sama paham bahwa media sosial ibarat warung kopi yang mempertemukan semua pihak di situ. Semua orang berkumpul dan terus-menerus membahas berbagai isu-isu politik. Media sosial menjadi ruang bagi kita untuk menemukan apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan.

Mengacu pada pandangan psikolog Erving Goffman, medsos ibarat panggung depan di mana semua kandidat berusaha menampilkan dirinya sebaik mungkin. Semua hal baik tentang satu kandidat dihamparkan di sini. Mulai dari visi, foto paling keren, hingga sikap yang religius. Beberapa kali saya mual melihat poster seorang kandidat yang mendadak religius dan berpose selalu memegang tasbih. Padahal, saya tahu bahwa keseharian calon kepala daerah itu tidaklah demikian. Maklumlah, itu demi suara.

Media sosial juga menjadi arena untuk menemukan berbagai black campaign kepada satu kandidat. Di situ semua tim sukses bertemu, berdebat, bertengkar dan bahkan saling fitnah. Sebagai warga, saya melihatnya sebagai lelucon. Saya sering tersenyum menyaksikan debat dan aksi saling “buka kartu” di media sosial. Lucu saja melihat seseorang yang kita kenali bergelar doktor, tiba-tiba berdebat sampai saling maki dengan akun palsu dari seorang tim sukses.

Hampir semua tim sukses memiliki pasukan cyber yang kerjanya adalah mem-bully dan menemukan kelemahan semua lawannya. Yang terjadi adalah saling hantam dan saling serang. Sayangnya, pasukan cyber itu hanya memiliki satu misi yakni bagaimana membuka aib lawan sebanyak mungkin. Padahal, idealnya ada tiga hal yang paling penting dari armada cyber yang harus selalu terkonsolidasi. (1) tim intelektual yang seharusnya menjadi pemikir dan menentukan tema-tema kampanye. (2) tim defensif, yang tugasnya menjawab semua isu negatif. (3) tim ofensif, yang tugasnya langsung menyerang semua argumentasi dari lawan. 

Kedua, pilkada ini sangat kental dengan simbol-simbol religiositas. Pada hakikatnya menjadi pemimpin adalah menjadi pelayan rakyat, menjadi administrator, ataupun menjadi manager yang akan mengelola kepentingan publik. Namun di pilkada ini, para calon kepala daerah mencitrakan dirinya sebagai ustad. Mereka tak menonjolkan skill kepemimpinan atau kemampuan menemukan soludi bagi persoalan publik. Sebab yang ditampilkan adalah tingkat kealiman dan kesalehan. 

Skema permainan pilkada di banyak daerah ini mendapat pengaruh dari skema pilkada DKI setahun lalu yang sarat dengan permainan isu identitas. Makanya, para calon kepala daerah ramai-ramai ingin tampak agamis. Ditambah lagi, pilkada dilakukan setelah bulan Ramadhan dan Lebaran. Sempurnalah proses mendadak religius ini diperankan semua calon kepala daerah. Meskipun saat turun lapangan, tetap saja yang dijanjikan adalah bagaimana menghabiskan dan membagi-bagi uang APBD.

Ketiga, strategi utama dari semua tim di pilkada ini adalah harus memiliki surveyor atau lembaga survei. Di pilkada-pilkada lalu, lembaga survei sering malu-malu untuk menyatakan satu kandidat menang. Kini, tidak lagi. Lembaga survei benar-benar menjadi "bandwagon" yang menggiring orang-orang agar percaya bahwa satu kandidat akan menang. Makanya, di pilkada ini, lima lembaga survei bisa melahirkan lima calon pemenang. Artinya, mereka adalah bagian dari tim sukses yang mengumumkan survei dengan tujuan untuk meyakinkan orang-orang bahwa satu kandidat akan menang, sehingga harus segera didukung.

Apalagi, di banyak daerah, massa mengambang kebanyakan aparatur sipil negara (ASN). Kelompok ini akan menjatuhkan pilihan pada detik-detik akhir. Sebab mereka ingin memastikan yang dia dukung akan memenangkan pilkada. Jika salah mendukung, maka bisa-bisa dia akan dimutasi ke daerah terpencil, atau minimal kehilangan jabatan di birokrasi. Makanya, survei menjadi penting sebab mengirimkan sinyal kepada kelompok yang masih ragu-ragu ini agar segera menjatuhkan pilihan.

Keempat, skema baru yang muncul dalam pilkada ini menjegal lawan politik di pengadilan sehingga batal memasuki arena. Saya lihat skema ini sukses dimainkan di satu pilkada di Sulawesi. Ceritanya, tim sukses akan menemukan celah dari satu kandidat lalu mengajukan gugatan ke pengadilan, yang bertujuan agar kandidat lain tidak bisa memasuki arena. Ujung dari upaya hukum ini adalah calonnya akan melenggang mulus ke TPS dan hanya berhadapan dengan kolom kosong. 

Skema ini dianggap efektif dan akan menjadi strategi di masa-masa depan. Seorang kandidat kepala daerah berkata, daripada habis biaya untuk operasional tim di lapangan, mending menghabiskan biaya untuk mendapatkan rekomendasi partai, yang amat mahal itu, kemudian memperkuat amunisi tim hukum yang akan menjegal tim lawan. Makanya, di pilkada ini, posisi tim hukum akan diperkuat pada masa mendatang, sehingga menjadi tim inti yang bisa menentukan jalannya pilkada.

Kelima, tim medsos (sering disebut tim udara) dan tim hukum hanya satu keping yang mempengaruhi kemenangan satu kandidat. Di mata saya, hasil akhir dari pilkada ini akan ditentukan oleh seberapa kuat mobilitas dan arsenal pergerakan tim-tim darat. Sebab tim darat yang akan mengetuk pintu, bertemu dengan masyarakat, serta melobi sejumlah pihak yang diyakini bisa mempengaruhi suara.

Pergerakan tim darat ini tidak tampak di media sosial, namun bisa diamati di lapangan. Mereka bergerak diam-diam demi menyergap dengan semua kekuatan penuh, melobi dan memberikan garansi, serta menghubungi semua kekuatan penting. Pergerakan tim ini tidak boleh menghadirkan banyak riak-riak, agar strateginya tidak mudah terbaca. Tim ini harus efektif sebab langsung berhadapan dengan masyarakat.

Di banyak daerah, pergerakan tim darat inilah yang akan menjadi tolok ukur untuk melihat kemenangan seseorang. Bukan pada berapa banyak logistik, namun lebih pada bagaimana bisa mengikat para elite dan tokoh sehingga bersedia untuk berkonsolidasi demi memenangkan seseorang. Kuncinya terletak pada kenali kebutuhan dan keinginan, penuhi semua kebutuhan itu, perlakukan semua orang pada posisi terhormat, setelah itu iyakan apa pun yang diharapkan.

Dalam praktik lapangan, sering kali kesediaan seorang elite atau tokoh untuk mendukung orang lain bukan karena uang atau posisi. Sering kali yang dibutuhkan hanya apresiasi dan keinginan untuk dipandang. Seorang kandidat mesti mengenali semua elite kemudian menemui mereka, berjabat tangan, kemudian meminta restu agar didukung untuk maju ke arena politik. Realitasnya, keramahan seperti ini adalah strategi penting untuk mendapatkan dukungan, yang kemudian diikuti gerbong pemilih.

Jika saya diajak untuk menebak pemenang pilkada, maka saya hanya bisa memberikan beberapa kriteria figur yang menang. Pertama, jangan amati pergerakan di medsos. Itu hanya permukaan. Kedua, amati bagaimana pergerakan tim darat. Amati sejauh mana konsolidasi elite-elite dan tokoh politik, termasuk para mantan politisi yang kini menjadi tokoh masyarakat. Siapa yang paling bisa membangun konsolidasi elite, baik pusat maupun daerah, itulah pemenangnya.

Tak percaya? Kita lihat besok.


Seusai MESSI Dihempas Kroasia


Messi berpose dengan GOAT, singkatan dari Greatest of All Time

ADA yang aneh dengan selebrasi Ronaldo seusai mencetak gol di Piala Dunia. Dia tiba-tiba saja mengusap dagunya, seolah sedang menyentuh janggut. Saat membaca The Sun, saya jadi tahu maknanya. Ronaldo sedang mengirim pesan sindiran kepada Lionel Messi, rivalnya di jajaran pemain yang akan jadi legenda.

Dalam iklan Adidas, Messi berpose dengan kambing (goat). Pesan yang mau disampaikan Adidas adalah Messi layak menyandang gelar sebagai GOAT, yang merupakan kepanjangan dari Greatest of All Time. Rupanya, Ronaldo ingin berkata, saya lebih layak menjadi GOAT atau the greatest. Bukan dia.

Ronaldo memang tengah di puncak permainan. Kata Gabriel Batistuta, senior Messi di Argentina, Ronaldo tidak butuh 10 pemain hebat seperti rekannya di Madrid. Dengan siapa pun dia bermain, maka tim itu akan menjadi tim super. Pemain senior Argentina lainnya, Hernan Crespo mengiyakan pendapat itu.

Di Argentina, hanya satu orang yang sehebat itu. Dia adalah Diego Maradona. Ketika bermain di Barcelona, Maradona jadi bintang. Ketika terhempas dan berada di klub papan bawah Italia yakni Napoli, dia bisa mengubah klub medioker itu menjadi klub juara, sesuatu yang kemudian tidak pernah digapai lagi sepeninggalnya. 

Bahkan Maradona bisa melunturkan nasionalisme satu negara. Saat perempat final Piala Dunia 1990, Italia berhadapan dengan Argentina di Napoli. Para pendukung Italia di Napoli justru tidak mendukung negaranya sendiri. Mereka mendukung Argentina sebab di situ ada Maradona, yang berhasil mengangkat derajat klub serendah Napoli ke langit sepakbola Italia.

Tapi Messi bukanlah Maradona. Messi masih butuh dukungan anggota tim lainnya. Di Barcelona, dia dimanjakan oleh banyak pemain. Dia adalah seorang adik kesayangan Ronaldinho yang selalu memotivasi dan mengusap kepalanya saat dirinya membuat keajaiban. Dia punya rekan-rekan yang rajin memberi suplai bola, yakni Iniesta, Busquets, Xavi, Neymar, Rakitic, ataupun Suarez. Tanpa mereka, Messi bukan apa-apa. Dia memang seorang anak manja yang terlahir dengan bakat istimewa dan sentuhan magis yang bisa mengubah permainan.
Namun, waktu tak pernah mau diam di tempat. Waktu terus bergerak. Messi yang belia itu kini memasuki usia dewasa. Dia tak bisa lagi menunggu sanjungan Ronaldinho agar motivasinya menyala. Ada masa di mana dirinya harus tampil ke depan, memimpin satu kesebelasan, lalu bermain kolektif untuk menggapai mimpi bersama.

Di titik ini, Messi terlambat matang. Fisiknya memang menua. Janggutnya memenuhi dagu dan pipi. Tapi dia tetap Messi yang manja. Lihatlah, dalam pertandingan melawan Kroasia, Messi amat sering tertangkap kamera sedang menundukkan wajah. Dia seperti zombie yang kehabisan darah, namun dipaksa untuk terus berlari. Pertandingan itu menjadi milik Kroasia yang menang dengan skor 3-0.

selebrasi Ronaldo yang menyentuh jenggot, sindiran kepada Messi

Memang, ada banyak alasan bisa dikemukakan. Mulai dari pelatih yang taktiknya hanya satu yakni bagaimana bola bisa tiba di kaki Messi demi bekerjanya keajaiban, tak adanya gelandang serang sehebat Xavi dan Iniesta yang menopang kerja Messi, tak ada winger lincah yang bisa menaik pemain lain dan membuat Messi bisa berkreasi, juga kesulitan Argentina menemukan kiper hebat sejak era Sergio Goycochea. Harus diakui, para pemain tidak punya rasa lapar kemenangan. 

Sejak era Maradona, Argentina tak pernah kehabisan striker hebat, tapi tak melahirkan banyak stopper tangguh dan kiper-kiper hebat. Para pemain berlomba-lomba menjadi pencetak gol dan tak mau jadi penyeimbang tim. Semua ingin seperti Maradona dan Messi, tanpa ada gelandang kreatif yang bisa memanjakan pemain depan.

Tapi mereka yang menyaksikan pertandingan itu dan berkicau di media sosial menyatakan rasa kecewa untuk sesuatu yang lain. Ada rasa sedih karena pertandingan itu menghadirkan fakta miris bahwa Messi tidak punya leadership. Messi tidak punya karakter kuat yang bisa memberikan aura positif bagi rekan-rekannya. Dia bukan singa yang bisa mengubah semua domba bawahannya untuk bermental singa.

Jika Messi dewasa dan matang, dia tidak akan menundukkan kepala di sepanjang pertandingan. Dia mestinya menegakkan kepala, membangkitkan motivasi semua rekannya, serta berteriak, “Kita boleh kalah. Tapi kita akan kalah dengan sehormat-hormatnya.”

Sebagai leader, dia seharusnya bisa membangkitkan motivasi dan kekuatan timnya. Sebagai leader, dia harus bermental baja dan berada di tengah timnya dalam segala situasi. Dia tak boleh tampak putus asa dan menunduk. Sebab performa timnya akan selalu bergantung pada bagaimana dirinya

Di pertandingan itu, Kroasia menjadi kesebelasan yang tak kenal ampun. Kata Luka Modric, strategi timnya berhasil. Mereka memutus semua aliran bola ke Messi. “Kami mematikan Messi. Kami menghentikan semua aliran bola ke dia. Dia pemain paling berbahaya,” katanya di akhir pertandingan, sebagaimana dimuat laman resmi Fifa. 
Tiga gol tanpa balas ibarat tikaman belati yang menghempaskan Messi hingga titik paling memilukan. Messi makin tertunduk. Hampir mustahil dirinya memenangkan piala Ballon D’or. Dirinya pun tak akan menyandang gelar sebagai the greatest of all time (GOAT). Bukan soal gagal di Piala Dunia. Dirinya gagal menjadi nyawa dan kekuatan tim.

Sah-sah saja jika dia dicaci begitu rupa. Dalam keadaan tim terseok-seok, dia tak boleh menghindar dengan kepala tunduk. Dia harusnya meniru Cristiano Ronaldo yang selalu mendampingi rekan-rekannya, bahkan ketika dirinya tak bermain. Lihat saja babak final Piala Eropa tahun 2016 lalu, Ronaldo cedera dan tak bisa bermain. Tapi dia tetap berdiri di tepi lapangan sembari membangkitkan motivasi semua rekannya. Dia adalah inspirator sekaligus pemimpin bagi rekannya.

Ketika wasit meniup peluit tanda pertandingan melawan Kroasia berakhir, Messi ke tepi lapangan dengan kepala tertunduk. Dia tidak menyemangati atau membangkitkan semangat rekan-rekannya. Di pertandingan itu, Messi harusnya sematang Ronaldinho. Harusnya dia setangguh Charles Puyol, stopper Barcelona yang selalu bertepuk tangan untuk timnya, baik menang ataupun kalah. Sayang, Messi hanya menunduk dan memasuki ruang ganti. Dia hanya kanak-kanak dalam tubuh orang dewasa yang berharap dapat pelukan hangat dari kakak-kakaknya.

Sepertinya, Argentina tak akan melaju ke babak selanjutnya. Kepergian Messi dan Argentina telah menyisakan satu ruang kosong di Piala Dunia ini. Tak ada lagi harapan untuk menyaksikan sentuhan magis dari dewa bola yang telah ditahbiskan sebagai legenda hidup. Tak ada lagi lari cepat ala kijang sembari memainkan gerak tipu yang melalui tiga hingga empat pemain, lalu secara ajaib menceploskan bola ke dalam net gawang. Tak ada lagi lari menyamping dan tendangan geledek yang merobek gawang.

Ronaldinho dan Messi, senior dan junior di Barcelona

Pelajaran dari kegagalan ini adalah lakukan segala sesuatu dengan riang, tanpa ada beban. Messi yang sekarang bermain tidak selepas dahulu. Dia sudah menyandang nama besar dan beban dari negaranya dan seluruh pencinta bola. Harusnya dia tetap bermain dengan segembira-gembiranya, sebagaimana dahulu dilakukannya di jalan-jalan Rosario, Argentina. Harusnya dia tetap riang seperti anak kecil yang asyik berlari, tanpa harus mengejar trophy. Harusnya dia tak terbebani dengan gelar dewa yang disematkan di dadanya.

Sewaktu Messi masih junior di Barcelona, dia beberapa kali merasakan pahitnya kekalahan bersama tim itu. Di saat-saat seperti itu, kerap kali kapten Ronaldinho mendatangi semua rekan-rekannya dengan cengengesan sembari berkata, “Ayolah kawan. Ini cuma permainan. Harusnya kita gembira, apa pun hasilnya.”

Sayang, kali ini tak ada Ronaldinho.


Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...

Google+ Badge