Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Jurus Terakhir Setya Novanto



PAPA Setya Novanto memang sakti. Dia bukan saja punya ilmu belut yang licin sehingga sanggup keluar dari semua persoalan. Dia juga punya ilmu halimun yang memungkinkannya bisa lenyap dan tak terlihat. Untuk pertama kalinya, para penyidik KPK yang hendak menangkap dibuat kecele. Radarnya jauh lebih ampuh bekerja, dan memprediksi cepat atau lambat para penyidik akan datang dan menyeretnya. Papa memang sakti.

Sungguh menarik melihat bagaimana dirinya melalui persoalan ini. Reputasi Setya Novanto adalah selalu bisa keluar dari tekanan besar yang dihadapinya. Pada diri Setya Novanto, kita bisa menyerap bagaimana menghadapi semua krisis dengan segala ketenangan. Dia tetap tersenyum, bahkan pada saat dirinya menjadi tersangka. Di mana-mana, status tersangka adalah belenggu yang membuat seseorang tidak bergerak.

Tapi Novanto adalah pengecualian. Dengan status tersangka itu, dia tetap bisa berdekatan dengan penguasa. Dia masih bisa cengar-cengir pada saat serangan bertubu-tubi mengarah padanya. Bahkan saat KPK sibuk mengeluarkan berbagai pertanyaan sana-sini tentang dirinya, dia masih tetap cuek sembari terkantuk-kantuk pada satu momen yang disorot publik. Seorang keroco yang menjadi tersangka pasti tak bisa tidur dan setiap saat cemas melihat berita. Tapi orang sesakti Novanto tetap bisa ngantuk. Tertidur pula. Entah kesaktian apa yang dimilikinya.

Kesalahan KPK adalah terlampau terbuka mengumbar rencana-rencana. Lembaga ini rupanya suka menggunakan media sebagai panggung untuk membuat situasi heboh. Ketika suara-suara publik muncul dan menjadi air bah pendukung, barulah keluar senjata terakhir KPK yakni penangkapan.

KPK lebih dahulu menggiring opini bersalah, memberikan label koruptor pada seseorang sehingga publik percaya 100 persen kalau seseorang jahat, setelah itu baru eksekusi. KPK memberikan stigma koruptor dulu, setelah itu baru mulai mencari cara untuk membuktikannya. Kalimat ini pernah disampaikan Anas Urbaningrum.

Saat penyidik KPK pulang dengan tangan hampa, maka itu adalah pertanda betapa tidak bekerjanya semua radar KPK di hadapan Novanto. Itu adalah tanda bahwa Novanto lebih tahu rencana-rencana KPK ketimbang KPK sendiri. Publik bisa mengembangkan banyak spekulasi. Jangan-jangan ada informan dari dalam yang selalu membisikkan semua rencana itu ke Novanto sehingga langkah antisipatif segera dilakukan.

Kok bisa, Novanto seakan tahu bahwa surat penangkapan yang sifatnya rahasia akan segera keluar, dan penyidik akan ke rumahnya. Jangan-jangan, dia penyuka peribahasa “sedia payung sebelum hujan.” Sebelum penyidik datang, kabur duluan.
Menghadapi sosok seperti Novanto, harusnya KPK lebih tenang. Jika kekuatan Novanto adalah bermain dalam diam, maka KPK juga harusnya memainkan pola yang sama. Menghadapi seseorang yang memakai ajian halimun, KPK juga harus memakai ajian halimun.

Susun rencana dengan matang, dan eksekusi tanpa banyak mencari panggung. Tak perlu gembar-gembor dan bicara di hadapan media massa. Langsung saja tangkap jika memang tindakan itu sudah seharusnya diambil. Harusnya tangkap saja sejak kemarin-kemarin. Harusnya, ketika Novanto selesai rapat paripurna dewan, langsung giring dia ke mobil tahanan. Pertanyaannya, mengapa harus menunggu publik heboh dan media berdatangan, barulah KPK bergerak?

Menghadapi Novanto memang tak bisa menempuh strategi biasa. Kekuatan Novanto adalah kemampuan untuk membangun jejaring di semua lini. Kita sudah melihat bagaimana jejaring di berbagai lini itu bekerja saat dirinya lebih tahu rencana lawan yang hendak menerungkunya. Berbekal kekuatan partai politik yang digenggamnya, Novanto bisa melancarkan lobi di lapis atas pemegang kekuasaan negeri ini.
Bahkan saat KPK hendak menersangkakannya lagi, dia masih melawan dengan laporan ke Bareskrim. Novanto adalah pengendali irama permainan yang sebelumnya telah diprediksinya.

Sungguh menarik untuk mengamati kartu apa yang dimiliki Novanto saat ini. Presiden dan Wapres telah menyampaikan sikap. Semua lembaga hukum telah berkoordinasi dan satu suara. Suara-suara publik telah satu suara berkat operasi canggih di media sosial dan semua media massa. Tinggal menunggu kartu terakhir apa yang akan dipegangnya.

Dia masih punya peluang lolos ketika dinyatakan bebas dari semua masalah. Bukan tak mungkin kartu itu ada di genggamannya. Sekian tahun berpolitik, dia sudah menanam akar yang menghujam ke mana-mana. Kini, jejaring itu akan bekerja untuknya.

Jika dia lolos, Papa memang sakti. Entah. Saya memprediksi dia akan terjerat. Mari kita bertaruh.




Sepuluh Alasan untuk Menulis Blog



JAUH sebelum menjadi blogger keren, saya merasakan bagaimana nikmatnya menulis di media cetak. Saat berprofesi sebagai jurnalis di satu media, saya merasakan bagaimana menulis setiap hari, dan menyeleksi tulisan mana yang dimuat di media. Hingga akhirnya, saya mundur dari dunia itu, namun kaki saya masih berpijak di dunia aksara. Saya menyebar tulisan di banyak media demi menopang hidup.

Tanpa bermaksud angkuh, saya telah menjajal berbagai genre dan medium menulis, mulai dari opini media, artikel majalah, newsletter, buku, jurnal ilmiah, hingga publikasi internasional. Namun saya justru menemukan passion saya di dunia blog. Saya menemukan satu kegairahan yang tak saya temukan di media lain. Saya menemukan betapa nikmatnya menulis di media baru ini, sesuatu yang tak banyak dipahami oleh para penulis di media konvensional. Saya merasakan kebebasan, kegairahan, serta interaksi yang membuat saya ketagihan di dunia ini.

Yang saya herankan, sering kali ada anggapan bahwa blogger adalah kumpulan para penulis amatir yang hanya menulis curhat. Anggapan ini salah besar. Bisa saya tunjukkan betapa banyaknya para cendekia, profesor, dan penulis berpengalaman yang justru lebih nyaman menjadi blogger. Bisa pula saya tunjukkan betapa banyak buku yang dilahirkan para blogger. Mereka yang menganggap blogger bukan penulis adalah mereka yang kurang berselancar di internet, kurang meng-update berbagai informasi yang berseliweran. Mungkin saja mereka kurang piknik.

Namun jika saya renungi, terdapat beberapa alasan mengapa dunia blog jauh lebih menyenangkan daripada dunia menulis di media cetak.

Pertama, kebebasan. Menulis di blog membuat saya bebas menulis apapun. Saya tak bisa didikte siapapun. Saya bisa menulis berbagai topik yang saya sukai, mulai dari bacaan, film, hingga apa yang saya pikirkan. Ini jelas berbeda dengan media konvensional di mana saya menulis berdasarkan topik yang sedang hangat dibicarakan. Di dunia blog, saya bebas menulis apapun, termasuk topik yang mustahil diangkat oleh media massa.

Saya tak harus bersetia pada gaya menulis yang populer. Dengan menulis di blog, saya bebas memilih diksi, istilah, atau apapun style menulis. Saya bebas memulai dari mana saja, tak harus mengikuti kaidah penulisan berita yang 5W + 1H. Saya ibarat anak kecil yang menemukan lahan bermain yang luas dan diijinkan berlarian sebebas mungkin.

Kedua, dunia blog mempertemukan saya dengan banyak kalangan dari berbagai lapisan masyarakat. Para blogger itu bisa siapa saja dan domisili di mana saja. Tak bisa dipetakan berdasarkan lapis sosial tertentu. Mereka saling berbagi kabar dan berbagi pengetahuan secara gratis, tanpa mengharapkan apapun.

Beberapa kali saya ke daerah, dan selalu bertemu para blogger. Mereka bisa berprofesi apa saja. Ada di antara mereka yang merupakan kelompok sosialita dengan tas-tas mahal dan bermerek, tapi ada juga ibu-ibu warga kompleks yang suka ngeblog, ada juga anak-anak muda traveller dengan bersendal jepit, juga pegawai kantoran yang menulis di sela-sela waktu. Malah, ada yang bergelar jenderal, profesor, dan peneliti hebat. Tak penting apa latar belakangnya, selagi saling berbagi kabar, maka mereka akan selalu bertaut. Di dunia blog, semuanya setara dan saling berbagi informasi, tanpa ada kriteria mana yang penting dan mana yang tak penting.

Sungguh beda dengan komunitas penulis opini media yang pernah saya ikuti. Di situ adalah barisan para pemikir yang serius, membaca buku-buku tebal, suka mengutip berbagai istilah. Di dunia blog, saya bertemu warna-warni manusia yang menyukai beragam topik. Makanya, pertemuan dengan para blogger selalu menjadi pertemuan yang paling menyenangkan. Selalu menjadi ajang yang menggembirakan. Kami bisa bercerita bebas, tanpa harus ada yang jadi sentrum atau pusat. Kami juga saling berbagi makanan. Semuanya sejajar. Semuanya punya cerita. Semua punya bahan untuk didiskusikan.

Ketiga, seorang blogger adalah jurnalis, editor, penerbit, serta pembaca sekaligus. Bayangkan, anda menjalankan sendiri semua pekerjaan itu. Mulai dari menulis, mengedit, me-layout, memasukkan foto, membuat ilustrasi hingga menerbitkannya sekaligus. Betapa nikmatnya meracik sendiri bahan tulisan lalu mengolahnya hingga menyajikannya. Seperti apapun kue tulisan yang hadir, maka itulah manifestasi diri anda. Ada proses ketika anda terketuk ide, mulai mencari wadah menulis, terkoneksi internet, lalu menambahi ilustrasi. Yummy! Jadilah hidangan tulisan yang bergizi itu.

Keempat, dunia blog adalah dunia yang anti-struktur dan anti-hierarki. Di media massa, betapa banyaknya struktur yang harus dilewati agar tulisan anda lolos. Mulai dari jurnalis yang memeriksa naskah redaktur, editor bahasa, redaktur pelaksana, hingga pemimpin redaksi. Belum lagi hierarki di industri media yang setiap saat bisa membatalkan tulisanmu untuk dimuat. Di semua fase, tulisan anda bisa terpental. Biarpun pihak media mengatakan bahwa tak ada like and dislike, tapi tetap saja media akan memuat tulisan yang dianggap mewakili karakter media itu.

Di dunia blog, tak ada mahluk bernama bos. Kamulah satu-satunya yang mengendalikan struktur. Kamu bebas menulis dan menentukan topik apapun. Yang membatasi hanyalah seberapa banyak kuota internet. Kalau kuota terbatas, kamu tak bebas posting. Ada lagi, kalau listrik padam, kamu tak bisa terkoneksi.

Kelima, dunia blog adalah dunia yang mudah ditemukan. Tak perlu berlangganan informasi. Cukup menghidupkan perangkat telepon genggam, maka kamu sudah bisa mengakses informasi dan menayangkan tulisan. Orang-orang juga mudah mengenalimu saat sering membaca tulisan-tulisanmu. Kerap, saya terheran-heran saat bertemu seseorang yang tahu segala hal tentang diri saya.

Pernah, saya kenalan dengan seorang cewek manis. Dengan segala gombal dan pengakuan masih bujangan, saya bercerita banyak topik biar dia kagum. Giliran dia ngomong, tiba-tiba menanyakan kabar Ara, anak saya. Hah? Tahu dari mana? Ternyata dia pembaca blog saya. Dia tahu semua hal tentang diri saya, yang saya sendiri sudah lupa. (Hehehe).

Jika media cetak peredarannya terbatas hanya pada area tertentu, blog justru sangat fleksibel. Blog bisa dibaca di mana saja, bahkan di luar negeri sekalipun. Jika suatu saat anda berkunjung ke Planet Mars dan bisa mengakses internet, pasti anda bisa melihat blog, bisa pula mengisinya. Blog tak mengenal tempat. Ia bisa ditemukan di mana saja, ia juga bisa diisi di mana saja.

Keenam, dunia blog adalah dunia yang personal sekaligus sosial. Personal dalam artian kita bebas menulis dengan menggunakan perspektif diri kita sendiri. Di dunia blog, anda tak perlu gelar sarjana politik untuk menjadi seorang penganalisis politik. Tak perlu menjadi jurnalis bola untuk sekadar menjadi pengamat bola. Kamu bisa menjadi apa saja. Kamu bisa menjadi dirimu sendiri, tanpa harus peduli dengan orang lain.

Sosial dalam artian kamu membangun interaksi dengan blogger lain. Minimal, dengan sahabat dekatmu yang bisa membaca lalu memberikan masukan. Kalau kamu aktif di facebook, cukup letakkan tautan di timeline kamu, maka yakinlah, semua sahabatmu akan ikut melihat dan penasaran atas apa yang kamu tulis. Artinya, setiap tulisan pasti ada pembacanya. Minimal diri sendiri dan keluarga.

Ketujuh, ruang untuk menulis blog sangat luas. Jika menulis di media massa, kamu harus memperhatikan seberapa panjang tulisan yang dibutuhkan untuk dimuat. Menulis di blog, kamu bebas mengatur sendiri berapa panjang naskahmu. Kamu bebas hendak menulis panjang dan pendek, bebas memasukkan foto dan grafis, bebas mengisi sebanyak-banyaknya informasi. Tak perlu khawatir. Internet adalah dunia maha luas yang belum bisa diketahui tepian-tepiannya sampai batas mana. Artinya, kamu bisa berkrasi segila mungkin, tanpa harus takut terbatasi.

Kedelapan, dunia ini tidak ribet. Dengan bermodalkan telepon selular (ponsel), kamu sudah bisa meng-update isi blogmu lalu menyebarkannya ke mana-mana. Kalau tak punya ponsel, kamu bisa ke warnet demi meng-upload. Kalau masih tak ada lagi, bisa pergi ke restoran cepat saji yang menyediakan layanan internet gratis. Gampang khan?

Kesembilan, dunia blog adalah dunia yang terus berproses. Mulanya nge-blog, saya hanya bisa menulis satu atau dua paragraf. Seiring waktu, kemampuan terus berkembang. Kini, saya mulai bisa menulis panjang-panjang dengan teknik menulis yang membuat orang lain betah membacanya. Blog mengasah daya-daya kreativitas dan nalar seorang blogger untuk terus menyempurna. Melalui interaksi dengan pembaca, seorang blogger bisa terus belajar dan menyempurnakan tulisannya, menyerap semua energi kritik demi menemukan karakter kuat dalam semua tulisan-tulisannya.

Kesepuluh, dunia blog adalah dunia yang abadi. Semua tulisan tercatat rapi dalam jagad raya luas bernama internet. Tulisan itu akan terus tayang dan bisa ditemukan siapapun yang ingin membacanya. Tulisan itu tak mengenal istilah basi, bisa disaksikan setiap saat, bisa di-update setiap saat, bisa pula dikoreksi setiap saat. Tulisan itu menjadi jejak yang mengisahkan pemikiranmu pada satu kurun waktu, menjadi saksi atas apapun yang kamu saksikan lalu pikirkan, menjadi tanda yang mengantarkanmu ke aras kedewasaan dan kebijaksanaan.

***

INILAH sepuluh daftar yang saya temukan. Boleh jadi, masih banyak hal lain yang belum sempat saya catat. Yang memotivasi saya bertahan di dunia ini adalah amatan saya tentang format media masa depan yang akan berevolusi ke arah media yang lebih personal. Orang-orang akan mencari media ataupun blog yang paling klik dengan hati dan pikirannya, lalu menjadi pengunjung setia blog itu demi menyerap semua informasi.

Dunia ini mempertemukan saya dengan banyak orang yang sepeminatan. Saya merasakan banyak kenikmatan di dunia blog yang selalu menjadi hal-hal yang membahagiakan. Ibarat rumah bermain, dunia blog selalu saja nyaman menjadi tempat untuk tetirah atau melepas kepenatan, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Di sini, saya menemukan oase atau tempat minum di tengah gurun kehidupan. Di sini pula saya berbagi banyak hal untuk saling menguatkan bersama semua orang yang menganggap saya sebagai sahabat.

Anda ingin menulis bebas? Yuk, menulis di Locita.co.


Setelah Lafran Pane, Siapa Lagi Pahlawan dari HMI?




KEGEMBIRAAN atas dianugerahkannya gelar pahlawan nasional kepada Lafran Pane, pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merebak di mana-mana. Alumni HMI sontak membingkai foto profil di media sosial dengan warna hijau hitam serta pernyataan bangga atas gelar bagi Lafran Pane. Di berbagai wilayah, mereka yang bergabung dalam KAHMI menggelar kegiatan sebagai tanda syukur.

Pemberian gelar pahlawan memang selalu politis. Apalagi, Indonesia adalah negara yang terbanyak memiliki pahlawan, yakni sekitar 187 orang. Sementara negara seperti Amerika Serikat hanya memiliki 50-an orang pahlawan. Tak hanya itu, gelar pahlawan selalu dikaitkan dengan siapa rezim berkuasa. Sebab rezim akan memberi stempel layak tidaknya seseorang menjadi pahlawan.

Terpilihnya Lafran Pane harus dilihat sebagai penanda positif bagi Indonesia. Ia akan menambah barisan para pahlawan yang bukan berkiprah di arena peperangan. Pahlawan tak selalu mereka yang bertarung di medan perang, atau memanggul senjata. Pahlawan adalah mereka yang melampaui dirinya, memikirkan sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar capaian pribadi.

Sukarno dan Hatta adalah sosok yang melampaui dirinya. Mereka alumni perguruan tinggi pada masanya. Jika saja mereka menjadi pegawai pemerintah atau mendirikan perusahaan, mereka akan menangguk untung dan kaya raya dari profesinya itu. Tapi mereka memikirkan sesuatu yang melampaui semua capaian material itu. Mereka memikirkan bangsa, serta meletakkan fundasi bagi negeri baru yang memosisikan semua orang dalam posisi sama. Mereka ingin membebaskan bangsa dari hardikan bangsa lain.

Atas pertimbangan ini, mereka pantas menjadi pahlawan. Namun, kepahlawanan harus dipandang sebagai tindakan, bukan sebagai gelar semata. Kepahlawanan adalah ikhtiar untuk melakukan sesuatu, bukan satu predikat yang disahkan dalam selembar kertas putih dengan lambang negara. Kepahlawanan adalah kesediaan untuk membantu orang lain, sembari mengabaikan kepentingan diri.

Sebagaimana halnya Sukarno dan Hatta, Lafran Pane bekerja dengan cara memercikkan api intelektualitas, melalui organisasi kader bagi mahasiswa. Ia membangun basis organisasi mahasiswa berbasis Islam terbesar di Indonesia. Organisasi itu melahirkan banyak kader, intelektual, serta aktivis yang bertebaran di segala penjuru. Ia juga memperkenalkan integrasi antara Islam dan kebangsaan sebagai dasar dalam bernegara.

Ditinjau dari banyak sisi, dia layak menjadi pahlawan. Ditambah lagi, ada inisiatif dari sejumlah tokoh politik, termasuk Akbar Tanjung yang meggelar roadshow dan seminar di puluhan kampus. Ide-ide Lafran disebarkan. Akbar menjadi lokomotif yang menarik gerbong pengusung nama Lafran ke pemerintah. Maka stempel dan gelar kepahlawanan itu menjadi keniscayaan.

Jika melihat kiprah HMI yang sedemikian luas, dengan kader yang sedemikian banyak, mengapa hanya Lafran seorang yang diangkat menjadi pahlawan? Adakah nama lain yang sekualitas Lafran, memiliki kiprah yang menginspirasi, serta pantas menjadi teladan bagi bangsa ini?

Siapakah nama lain yang pantas dikedepankan sebagai sosok yang telah melampaui dirinya dan meninggalkan jejak dalam di hati banyak orang? Adakah kader HMI yang berbuat hal membanggakan bagi bangsa ini?

Jika saya ditanya, maka saya akan menyebut banyak nama. Mulai Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, Ahmad Wahib, hingga Munir. Masing-masing punya jejak penting di hari orang yang mengenalnya. Jika diminta mengerucutkan satu nama, saya akan menyebut satu nama yakni Munir.

Nurcholis adalah intelektual yang membumikan spirit keislaman dalam lungkup kemodernan dan keindonesiaan. Demikian pula Dawam yang banyak menulis tema ekonomi Islam. Ahmad Wahib adalah sosok muda yang menulis catatan penuh pergolakan dan menggelisahkan banyak anak muda Islam.

Tapi Munir berbeda dengan mereka. Di dunia intelektual, bintangnya tak seberapa benderang. Tapi di dunia aktivis dan pergerakan sosial, namanya adaah matahari yang tak pernah kehabisan sinar. Munir adalah monumen bagi semua pejuang keadilan di tanah air.

Munir adalah aktivis HMI, mantan Ketua HMI Komisariat Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya, yang paling fenomenal. Namanya menjadi getar bagi siapapun yang hendak membahas dunia aktivisme sosial, dunianya mereka yang berdiri di hadapan massa tertindas. Munir adalah nama yang disebut orang-orang yang tak berdaya karena represi dan penindasan negara.

Sebagai seorang sarjana hukum, Munir mendedikasikan pengetahuannya untuk menantang rezim. Munir bukan tipe seperti alumnus HMI lainnya yang memilih berlindung di balik ketiak pemerintah sembari mengais-ngais proyek untuk memperkaya diri.

Ia memasuki massa rakyat, menjalankan peran-peran advokasi dan membela mereka yang dibisukan haknya oleh negara. Ia tidak hendak menjadi intelektual baru penopang kuasa, tapi memilih menjadi kerikil di ujung sepatu militer dan penguasa yang berkelindan untuk menindas.

Pada akhir Orde Baru, Munir adalah simbol perlawanan terhadap rezim. Ia mengawal semua korban kekerasan melalui organisasi Kontras. Ia pembela HAM terdepan, yang mengedepankan nilai-nilai anti kekerasan, humanisme, toleransi, serta kritis pada watak negara yang otoriter.

Ia juga seorang yang amat sederhana. Para sahabatnya punya kenangan tentang sosok Munir yang ke mana-mana dengan menggunakan sepeda motor. Padahal, jika saja ia sedikit ramah pada negara, maka dirinya akan bergelimang harta. Ia memilih sesuatu yang melampaui semua harta.

Ia bergabung di LBH dan menjalankan peran sebagai intelektual organik, membangun kesadaran kritis, dan tak telah mengingatkan orang-orang bahwa ada yang salah di negeri ini. Ia ditahbiskan sebagai sosok panutan, idola, serta menjadi contoh bagaimana dedikasi seorang intelektual untuk membela ketertindasan.

Hingga akhirnya, Munir tewas secara menyedihkan pada usia 38 tahun, dalam perjalanan untuk menimba ilmu di negeri Belanda. Ia belum menuntaskan kerja-kerja sosialnya yang bersinggungan dengan kuasa, tapi jejaknya tersimpan abadi di hati banyak orang. Hingga kini, namanya masih disebut para aktivis, utamanya di kegiatan rutin di depan Istana Negara tiap hari Kamis, Kamisan.

Orang-orang meneladani karakternya yang memilih hidup sederhana dan digarami serta diasinkan oleh dunia pergerakan. Munir menjadi monumen bagi para pejuang HAM dan pembela orang biasa.

Sekali lagi, kepahlawanan identik dengan rezim. Mengakui kepahlawanan Munir sama dengan mengakui betapa rusaknya rezim yang dihadapi Munir. Mengakui kiprah Munir sama dengan membenarkan betapa banyaknya daftar kejahatan yang dilakukan negara pada rakyatnya sendiri. Berhadapan dengan Munir, rezim tiba-tiba saja penuh rahasia.

Bahkan, beberapa tahun setelah kematian Munir, tetap saja tak ada keadilan untuknya, Pembunuhnya raib. Negara merahasiakan investigasi mengenai kematiannya. Munir masih saja menimbulkan kontroversi dan saling tuding antar aktor negara dan militer.

Ia menyisakan begitu banyak teka-teki atas bangsa ini yang tak kunjung bisa menemukan siapa pembunuhnya. Bagi pengikutnya, Munir adalah tugu yang sukar digapai. Nyaris tak ditemukan aktivis dengan kematangan intelektual dan setaktis dirinya dalam menyusun strategi perlawanan.

Dilihat dari kriteria manapun, Munir adalah pahlawan. Ia menginspirasi, memberikan arahan, juga meninggalkan jejak basah di hati semua orang yang mengenalnya. Hanya saja, ia akan terabaikan sebagaimana nasib tokoh-tokoh hebat dengan jejak hebat yang juga diabaikan negara.

Di antara tokoh itu adalah Tan Malaka, Tirto Adhisuryo, Mas Marco Kartodikromo, Haji Misbach, Semaun, Amir Syarifuddin, dan banyak lagi. Munir adalah tokoh pergerakan abad kini yang terabaikan hanya karena soal perlawanannya pada negara.

Bahkan nama Munir tenggelam di kalangan aktivis “jaman now” yang lebih mengenal sosok seperti Nicholas Saputra dan Reza Rahadian. Padahal, Munir ibarat penganggu atas kian kekarnya pohon kekuasaan. Namun, seorang pahlawan sejati pastilah tidak mencari gelar atau embel-embel.

Seorang pahlawan sejati meletakkan bahagianya bukan pada gelar dan stempel, melainkan pada sejauh mana orang-orang akan mengenangnya, serta meletakkan namanya di hati orang banyak. Pahlawan sejati adalah mereka yang tak mencari sanjungan dan gelar, melainkan berbuat sesuatu untuk kehidupan yang lebih baik.

Pada titik ini, kita mesti mencatat nama Munir dengan tinta emas.




Melihat Surga di Belakang Rumah

Suasana di Pantai Nirwana, Baubau

DI Instagram, saya menampilkan foto pesisir pantai di Buton, yang serupa kaca, dan di atasnya ada perahu nelayan sedang melintas. Saya cuma sekadar memosting foto yang jaraknya hanya 10 menit dari rumah. Saya juga memosting foto dua perahu berjejer di pasir putih. Bagi orang kampung seperti saya, itu adalah pemandangan biasa. Laut biru adalah kenyataan sehari-hari yang tak istimewa. Tapi seorang kawan berkebangsaan Jerman mengirimi pesan singkat, “Yos. It’s Amazing. You live in a paradise!”

Seringkali apa yang kita anggap biasa adalah surga bagi orang lain. Kita sering tak menyadari bahwa ada begitu banyak orang yang iri kepada kita-kita yang berumah di pesisir, bermain di pasir putih hingga bosan, serta berenang di antara ubur-ubur dan penyu. Banyak yang cemburu karena matahari yang setiap saat bersinar di kampung kita, laut-laut biru dengan pohon kelapa hijau yang melambai, hingga pemandangan matahari senja yang sedemikian memukau.

Kita tak menyadari bahwa kita tinggal di atas kepingan surga. Ketika orang lain melihat sisi surga itu, barulah mata kita membuka, barulah nalar kita tersentak. Saat saya belajar di kelas riset, seorang profesor pernah memberi tahu, “Kamu tak akan pernah menyadari bahwa kamu tinggal di atas gunung, ketika kamu tak pernah turun gunung.” Benarkah kita tak sadar jika sedang memijak negeri surga?

Kemarin, saya mengambil gambar suasana pantai yang masih perawan, dalam pengertian belum terjamah oleh tangan-tangan kekar kapitalisme seperti jasa perhotelan atau para pengusaha rakus yang mengkapling pantai. Saya memotret pantai yang indah, di mana semua warga kampung bebas untuk datang dan mandi, lalu membangun istana pasir.

Sahabat asal Jerman itu kembali mengirim pesan,  "I’m absolutely jealous.” Saya lalu merespon. Saya ceritakan padanya bahwa banyak warga kampung yang justru menganggap Eropa dan Amerika adalah segala-galanya. Dia lalu mengirimkan link foto tentang sisi lain negerinya. Ia berpesan bahwa negerinya bukanlah surga.

Dialog dengannya sangatlah menarik. Banyak warga di tanah air yang sering tidak menyadari betapa beruntungnya tinggal di negeri tropis ini. Ada jutaan orang yang bermimpi setinggi langit untuk menginjakkan kaki di negeri empat musim.

Niat mereka tak selalu terkait dengan keinginan untuk mengasah pengetahuan, namun banyak yang menganggapnya sebagai tantangan, refleksi dari hasrat untuk menjelajah dunia, atau mungkin hanya untuk sekadar memasang foto di situs jejaring sosial. Pada titik ini, negeri lain selalu dianggap lebih ideal ketimbang negeri sendiri. Yang parah adalah ketika beberapa orang berada pada titik yang merendahkan negeri sendiri.

Memang, di sini tak ada salju. Di sini tak ada pohon mapple dengan daun yang berwarna-warni mengikuti musim. Juga tak ada gedung-gedung tinggi. Namun negeri ini justru menyimpan begitu banyak pemandangan eksotik yang justru amat digilai masyarakat luar. Di antara pemandangan eksotik itu adalah pantai berpasir putih dan laut biru.

Bagi masyarakat Amerika, berpesiar ke pantai dengan pasir putih adalah sesuatu yang amat mewah. Maklum saja, demi menemui laut dan pasir putih, mereka mesti terbang ke Miami atau Florida. Ongkos penerbangan cukup mahal. Pantas saja jika traveling ke sebuah pulau tropis yang terdapat pasir putih dan laut biru adalah hal yang amat mahal bagi warga Amerika. Ketika ada seseorang yang melakukannya, maka orang itu dianggap kaya sebab mengeluarkan banyak ongkos demi perjalanan tersebut.



Bagi kita warga Indonesia, khususnya yang bermukim di pulau-pulau, pantai dengan pasir putih bukan sesuatu yang mahal. Saya hanya butuh lima menit untuk mencapai laut dari rumah. Bahkan demi mendatangi pantai dengan pasir putih, sebagaimana fotonya saya pajang di atas saya hanya butuh waktu sekitar 15 menit. Ketika berpose di pantai itu, maka para sahabat di Amerika dan Eropa akan berdecak kagum dan mengapresiasi betapa beruntungnya saya yang tinggal di pulau tropis.

Bagi saya, pernyataan surga itu bukanlah sebuah isapan jempol. Selama berpetualang ke luar negeri, ada banyak hal yang saya kangeni dari tanah air. Selain kangen pada pantai berpasir putih yang asri dan amat elok dipandang mata, saya selalu merindukan kuliner yang demikian kaya atau beranekaragam di berbagai daerah. Ke manapun saya berpindah, selalu saja saya temukan berbagai makanan khas yang rasanya selalu unik dan beda, serta mencerminkan kekhasan satu daerah.

Mengapa kita sering tak menyadari kenyataan bahwa kita sedang memijak negeri surga? Sebab kita lahir dan besar di negeri ini sehingga semua kenyataan berlalu begitu saja dan menjadi hal yang biasa saja. Kita tak merasakan betapa dahsyatnya pantai berpasir putih, jika kita tak pernah merasakan bagaimana danau-danau di Amerika yang berpasir hitam dan penuh lumpur. Kita tak merasakan nikmatnya makanan sea food di tanah air jika tak pernah merasakan bagaimana hidup di luar negeri, di mana pilihan ikan hanyalah ikan air tawar yang tak berasa sama sekali.

Mungkin pula peribahasa ‘rumput tetangga selalu lebih hijau’ berlaku di sini. Kita hanya sibuk memperhatikan nikmatnya mereka di negeri barat sana, tanpa menyadari bahwa negeri kita begitu dahsyat, memiliki garis pantai terpanjang di dunia, memiliki pemandangan yang mengagumkan dan hanya bisa dikhayalkan bagi sebagian besar masyarakat barat.

Ternyata, tak hanya warga kita yang bermimpi ke negeri lain. Warga negeri lain pun memelihara mimpi yang sama untuk berkunjung ke negeri kita dan melihat langsung pemandangan yang selama ini hanya bisa mereka khayalkan. Mimpi bagi sebagian orang barat untuk ke negeri kita juga berubah menjadi rasa cemburu serta iri untuk turut menikmati surga tropis, sesuatu yang setiap hari kita rasakan. Saat menulis artikel ini, saya masih terkenang dengan kalimat sahabat, “I’m absolutely jealous!”

Yah. Saya bahagia bisa mengunjungi pulau-pulau. Saya bahagia menikmati sesuatu yang hanya bisa dibayangkan mereka di negeri sana. Saya bahagia karena berumah di atas kepingan surga. Saya bangga dengan keadaan ini. Apakah Anda berpikir sama dengan saya?



Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...