Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Novel Filsafat, Rasa Remaja


SELALU saja ada kekaguman pada novelis Jostein Gaarder. Setiap novel yang dihasilkannya selalu membahas tema-tema besar dan filosofis, yang dikemas dalam kalimat-kalimat sederhana. Setelah sebelumnya membaca Dunia Sophie, kini saya hanyut saat mengikuti petualangan remaja bernama Anna dalam kisah Dunia Anna.

Jika Dunia Sophie membahas tentang petualangan ke rimba raya filsafat, dengan berbagai karakter dan barisan pemikir besar, kisah Dunia Anna hadir dengan tema-tema tentang lingkungan dan semesta. Keduanya punya benang merah yang sama, yakni alam pikiran remaja yang di dalamnya terdapat begitu banyak rasa ingin tahu.


Benang merah yang lain adalah surat. Dalam novel terbarunya, terdapat kisah tentang remaja bernama Nova, yang hidup pada tahun 2082, dan menerima surat dari nenek buyutnya Anna dari tahun 2013. Surat itu tak berisi rasa kangen, melainkan mendiskusikan tema-tema seperti lingkungan, alam semesta, serta berbagai fauna yang hidup pada tahun 2013. Sayangnya, beberapa tanaman dan hewan yang dibahas itu malah punah pada tahun 2082. Di sini terletak ironi dan kegetiran.

Novel ini membuat saya sesaat merasa kekosongan. Saya langsung melihat alam semesta sebagai ruang hdup yang juga punya posisi yang sama dengan manusia. Kita hanya mengontrak sebuah ruang hidup, yang kelak akan kita kembalikan kepada anak cucu kita. Ketka ruang hidup itu hancur, maka kelak kita akan menerima gugatan dari generasi mendatang.

Ada bagian yang membuat saya terdiam. Yakni ketika Nova bertemu nenek buyutnya Anna, lalu menuntut agar beberapa hewan punah dibangkitkan kembali. Anna jelas tak punya kuasa untuk itu. Anna hanya bisa diam sebab menyadari bahwa pangkal kerusakan itu terletak pada keangkuhan manusia hari ini yang memosisikan alam sebagai obyek yang akan ditaklukan. Manusia mengidap kesombongan sebagai pengendali alam semesta, lalu mengabaikan hak hidup bagi hewan dan tumbuhan.

Jika dilihat dari sisi filosofis, kisah yang dituturkan Gaarder ini telah banyak ditemukan. Para pemerhati lingkungan telah lama menyampaikan kekhawatiran atas bumi yang didiami hari ini. Malah, mereka telah membuat banyak aksi dan gerakan yang mengingatkan banyak orang tentang perubahan iklim serta betapa pentingnya menjagai bumi untuk diwariskan ke masa depan.

Hanya saja, Gaarder sukses menyampaikan gagasan itu dalam kalimat-kalimat sederhana, yang bisa dipahami para remaja, sekaligus mengetuk kesadaran mereka untuk mencintai alam lebih dari apapun. Menyelamatkan generasi muda hari ini amatlah penting untuk merekayasa masa depan, membentuk zaman yang lebih baik dan lebih arif secara ekologis.

Saya membayangkan bahwa kelak saya pun akan melakukan dialog serupa dengan anak saya Ara yang masih berusia tiga tahun. Barangkali, kelak dia akan bertanya hal-hal yang mulai susah saya terangkan. Ketika kami menonton beberapa film animasi, ia bertanya tentang beberapa hewan yang tidak saya ketahui namanya.

Kelak, anak saya akan mengutip kalimat dari novel Jostein Gaarder yang telak menohok saya. Barangkali ia akan mengutip Anna yang mengatakan,Kita telah menjauhkan diri kita dari alam tempat kita hidup dan mengabaikan seluruh eksistensi. Sudah sebegitu jauh hingga kebanyakan orang lebih bisa menyebutkan nama-nama pemain sepak bola dan bintang film ketimbang menyebutkan jenis-jenis burung.” (hlm 173).

Hmm. Boleh jadi, Ara pun akan mengutip kalimat itu saat ‘menghardik’ ketidaktahuan saya atas alam semesta.

Duel Terdahsyat Kenshin Himura




FINALLY! Saya menyaksikan film Ruroini Kenshin 3; The Legend Ends yang mengisahkan samurai bernama kenshin Himura. Saya menyukai beberapa adegan pertempuran dengan menggunakan pedang. Saya menyenangi wajah manis pemeran Kaoru Kamiya, kekasih Kenshin. Ada beberapa hal lain yang lebih membuat saya tertarik dan amat menikmati film ini. Ada juga hal yang mengecewakan.

***

KENSHIN mengarahkan pedang lurus ke arah penantangnya. Di hadapannya, lelaki bernama Aoshi Shinimori punya obsesi menjadi yang terbaik. Ia ingin mengalahkan Kenshin agar dicatat dalam sejarah sebagai pendekar nomor wahid. Pertarungan dimulai. Pedang berkelabatan.

Di tengah rerimbunan pepohonan, adegan pertempuran dalam film Ruroini Kenshin ini menjadi menarik. Kemampuan Kenshin menjadi bertambah setelah sebelumnya bertemu gurunya. Ia belajar mengendalikan emosinya, sehingga saat bertarung, ia bisa menghadirkan rasa lapar akan kemenangan.

Saya menyukai adegan tempur dengan pedang itu. Saya lama tak menyaksikan film Jepang. Terakhir, yang saya nonton adalah kisah The Last Samurai. Itupun film buatan Hollywood yang mengisahkan para samurai. Kisahnya cukup menancap di benak, khususnya saat sang tokoh mengagumi disiplin para samurai sembari berkata, “What is samurai? It means ‘devoted yourself to honour!”

Di film Ruroini Kenshin 3, kekalahan Aoshi menjadi dramatis. Sebab saat Aoshi terkapar, Kenshin sempat memberikan pertanyaan filosofis, “Aoshi, untuk apa kamu bertarung?” Melalui pertanyaan itu, Kenshin seolah menegaskan bahwa duel berpedang harus memiliki tujuan. Tak sekadar mencari siapa yang terbaik, namun diarahkan pada sesuatu yang lebih besar, dalam hal ini membela orang lain. Inilah tahap tertinggi seni berpedang, ketika pendekar meleburkan dirinya pada kepentingan orang banyak.

Kenshin Himura versus Makoto Shishio

Kisah di film ini lebih banyak berisikan perjalanan Kenshin untuk mengalahkan musuhnya Shishio Makoto. Adegan pembukanya adalah pertemuan dengan guru, yang membuat Kenshin kembali memperdalam ilmunya. Selanjutnya, perjalanan untuk mengalahkan Shishio.

Adegannya dibuat persis dengan kisah dalam serial komiknya. Sebagai pembaca komiknya, saya cukup puas menyaksikan adegan dalam versi filmnya. Hanya saja, saya merasa bahwa ada penyederhanaan dalam film.

Misalnya, pertemuan Kenshin dengan sang guru. Dalam komik, terdapat adegan akhir ketika Kenshin hendak melengkapi ilmu Hiten Mitsurugi-Ryu dengan jurus Amakakeru Ryū no Hirameki. Ia mesti berhadapan dengan sang guru. Sang guru mengingatkan bahwa salah satu dari mereka akan tewas ketka duel di udara. Demi ilmu itu, Kenshin bersedia menjalaninya. Trnyata sang guru yang tewas. Saat sekarat, sang guru masih sempat berucap, “Beginilah takdir yang harus dijalani. Saya juga dulu menewaskan guru saya untuk mendapatkan ilmu ini.”

Adegan ini tak ada dalam film. Padahal filosofinya sangat kuat.

Hal lain yang disederhanakan adalah kehadiran para Juppongatana, para samurai hebat di sekitar Shishio. Mereka tak banyak tampil. Di komiknya, para Juppongatana ini menjadi momok menakutkan. Kenshin mesti berhadapan dengan mereka satu per satu, sebelum akhirnya mencapai klimaks ketika bertarung dengan Shishio.

Tapi saya cukup terhibur dengan kehadiran sosok culun Seta Soujiro. Tampang tak berdosanya amat mirip dengan karakter dalam versi komik. Sayang, tak banyak penjelasan tentang latar belakang mengapa ia menjadi sangat kejam. Yang muncul adalah pertarungan dramatisnya dengan Kenshin, sebelum akhirnya kalah telak. Rupanya, Kenshin bisa membaca arah pergerakan kaki Sojiro sehingga bisa mengalahkannya.

 
Emi Takei, pemeran Kaoru Kamiya, kekasih Kenshin
tiga gadis dalam film. Kaoru, Megumi, dan pacar Shishio
 
Yahiko, Kaoru, Kenshin, dan Sagara Sanosuke

Saya juga terhibur dengan kehadiran Kaoru Kamiya. Sejak awal film, saya menyukai permainan aktris Emi Takei ini. Sosoknya mirip kaoru dalam versi komik yang manja, namun kadang suka marah-marah. Karakterya seperti permen rasa lolipop, yang mudah berubah. Ia terlihat sangat ingin melindungi Kenshn dan berharap agar lelaki itu tetap selamat.

Tema Perubahan

Di luar dari aspek cerita, yang saya pelajari dari kisah ini adalah cerita tentang perubahan. Benar kata seoang kawan, bahwa tak semua orang bersedia berubah. Selalu saja ada yang tak nyaman dnegan perubahan. Ketika Jepang akhirnya berubah pada masa Meiji, ada banyak kelompok status quo yang justru merasa terancam dengan perubahan itu. Mereka lalu mengacaukan keadaan, merancang kudeta dan membaka sebuah kota.

Dalam keadaan seperti ini, kita butuh sosok penyelamat seperti Kenshin Himura. Kita butuh seseorang yang ikhls mendedikasikan dirinya untuk mengatasi angkara-murka. Tema ini memang klasik. Sejarah peradaban kita selalu memberi ruang bagi para pahlawan.

Bedanya adalah pahlawan dalam film ini adalah seseorang yang memilih tinggal di desa, menjadi pengasuh anak-anak, serta kerap menjadi sasaran canda dan olok-olok. Yang paing saya sukai dari sosok Kenshin adalah sosoknya yang membumi dan tak hendak tinggal di istana. Ia juga menolak jabatan, dan memilih jadi warga biasa.

Namun saat negara membutuhkannya, ia akan berada pada posisi terdepan. Ia akan mengayunkan pedang sembari berteriak, “Hiten Mitsurugi-Ryu...”

Dan damai hadir di bumi.



BACA JUGA:





Suara di Balik Meja PNS


ilustrasi (foto; ilalangmbojo.blogspot.com)

DEMI menyelesaikan urusan terakhir terkait administrasi kepindahan, saya akhirnya pulang kampung. Ketika berkunjung ke kantor pemerintah daerah, kantor tempat saya beraktivitas selama beberapa tahun, saya merasa terharu. Saya mengenang saat-saat ketika menjalani hari-hari di kantor ini. Saya mengingat ada banyak orang baik yang bekerja tulus di balik meja birokrasi.

Kita sering terlampau sederhana dalam melihat sesuatu. Seringkali, kita hanya melihat sisi luar, lalu memberi label bahwa sesuatu itu tidak bagus. Padahal, mereka yang menjalaninya pasti akan punya penilaian berbeda. Pada akhirnya, kita akan mengamini bahwa perbedaan pendapat selalu bermuara dari begitu cepatnya memberikan penilaian, tanpa proses belajar dan memperkaya pengetahuan.

Ketika pertama kali memutuskan berkarier di dunia birokrasi, saya terjebak pandangan bahwa seorang PNS selalu identik dengan kemalasan, kelambanan, dan ketidakbecusan dalam bekerja. Dahulu, saya masih menjadi mahasiswa, amat sering saya ikut demonstrasi dan mengeam pemerintah. Dahulu, saya menuduh bahwa para pegawai adalah mereka yang suka kongkalikong demi memperkaya diri sendiri.

Saat mulai bekerja, saya masih memelihara anggapan itu. Saya butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan keadaan yang memaksa kita untuk disiplin dalam menjalani hari. Perlahan, saya menyesuaikan diri. Saya mulai menikmati apel pagi, apel siang, perjalanan dinas, hingga beberapa kali menyusun naskah pidato.

Saya melakukan semua pekerjaan dengan penuh semangat. Beberapa kali saya mendengar rumor tentang politik. Bahwa si pejabat A suka meminta uang. Pejabat B suka menyuruh-nyuruh, atau pejabat C sering menerima gratifkasi. Saya semakin yakin bahwa anggapan saya sebelumnya benar.

Kenyatan itu memang ada, namun tak selamanya demikian. Saya bertemu banyak orang yang tulus membantu, tanpa menghaapkan apapun. Saya teringat seorang ibu di Bagian Hukum dan Organisasi yang membantu saya mengurus berkas, menyempurnakan semua isian tentang kepindahan. Ketika hendak saya beri tip, dia justru menolak. Ia hanya berkata, “Suatu saat ada anak atau keluarga saya yang barangkali sedang susah dan kamu sedang senang. Saat itu, saya ingin kamu membantunya.”

Saya juga ingat seorang bapak yang menjabat sebagai kepala bagian. Jelas-jelas, semua urusan lewat dia. Tapi ia sangat marah ketika diajak bicara uang, sebagaimana para pejabat lain. Ia melakukan semua pekerjaan dengan ikhlas, tanpa mengharap apapun. Bapak, yang sering diam-dam berzikir itu, meniatkan semua kerja-kerjanya sebagai bagian dari kewajiban. Ia berharap ada banyak silaurahmi dan saling mendoakan.

Selama bekerja di situ, ada begitu banyak pegawai biasa, para staf rendahan sebagaimana saya, yang justru saling menjaga ikatan sulaturahmi. Kami bersahabat dan sering mengolok-olok. Semua hal jadi topik obrolan yang tak pernah habis. Kami sering duduk di kantin belakang kantor sembari membahas kelucuan-kelucuan. Mulai dari tingkah pejabat eselon satu, hingga tingkah seorang kepala bidang yang hobi menjilat atasan.

Tak disangka, obrolan-obrolan itu justru menjadi kenangan indah, yang membantu saya untuk memahami kompleksitas dunia birokrasi. Di tengah disiplin dan ritme kerja atasan, saya menemukan banyak hal menarik dan lucu, yang tak akan habis dibahas dalam semalam.

Terhadap semua kawan seperjuangan itu, saya menitip banyak harapan. Ada banyak orang baik di dunia ini yang ketika bersatu akan bisa mengubah keadaan. Hanya saja, ada banyak orang baik yang justru menjadi bagian dari struktur organisasi. Mereka kehilangan kedirian, lalu bertindak dan berperilaku sebagaimana arus besar dalam organisasi itu.

Akan tetapi, selalu saja ada anomali (penyimpangan) dalam anggapan kita.Ternyata, setelah menjalani dunia birokrasi, saya bertemu banyak orang yang secara ikhlas siap membantu saya untuk melakukan banyak hal. Mereka tak berharap apapun, selain dari komitmen untuk saling menjaga persahabatan.

Merekalah yang membuat saya terharu dan betah berada di komunitas ini. Mereka yang justru amat memahami saya itu adalah para pahlawan yang kepadanya saya jaminkan persahabatan abadi. Terimakasih karena telah menjadi bagian dari kekerabatan di lingkup birokrasi. Terimakasih karena telah saling belajar bersama.

Kini, saya siap memasuki tantangan baru. Saya akan kembali beradaptasi dengan ritme pekerjaan baru. Namun hati, pikiran, dan nalar saya senantiasa siap menghadapi perubahan apapun, sepanjang ada keyakinan bahwa sesuatu seberat apapun bisa diselesaikan, sepanjang ada kerjasama dan saling membantu.

Terimakasih brothers and sisters.

Jangan Belanja di Gramedia Online


ilustrasi

DI luar negeri, hal lazim belanja buku lewat jalur online. Ada kepuasan saat bertransaksi dengan situs-situs besar seperti Amazon.com, sebab informasi selalu diberikan kepada pembeli. Mulai dari harga buku, keadaan fisik buku (jika membeli bekas), hingga perkembangan pengiriman. Bahkan kita bisa melacak posisi terakhir buku yang dipesan.

Belanja buku lewat online memang mengasyikkan. Buku bisa lebih cepat datang, tanpa perlu mencari-cari di toko buku. Di tanah air, saya tadinya ragu berbelanja lewat online. Saya mencoba pada satu situs. Hasilnya memuaskan. Saya pun berlangganan di situs itu. Saya cukup puas sebab bukunya selalu datang tepat waktu.

Suatu hari, saya berhasrat kuat untuk membaca satu buku. Tertera kalau buku itu bisa dibeli lewat Gramedia online. Situs langganan saya tak menawarkan buku itu. Saya pun mendaftar sebagai member di Gramedia Online, lalu melakukan transaksi untuk membeli dua buku. Konfirmasi pembayaran telah dilakukan. Nomor order adalah 223250. Saya pikir, Gramedia adalah grup besar yang pasti akan menjunjung tinggi kepuasan pelanggannya.

Sehari setelah transaksi, tak ada kabar tentang pesanan itu. Bahkan dua minggu setelahnya, tetap tak ada kabar. Saya cek status pembelian, tetap saja tak berubah. Jangan-jangan ada yang salah. Saya pun mencoba menelepon ke kantor pusatnya, karyawan yang mengurusi online malah gak pernah bisa dihubungi. Saya disuruh agar menelepon lagi keesokan harinya. Besoknya, saya menelepon, kembali mendapat jawaban yang sama. Jelas, saya kecewa. Hiks.

Saya bisa paham jika hal ini terjadi ketika bertransaksi dengan situs-situs kecil. Tapi untuk sebuah unit bisnis yang namanya menjulang tinggi, hal ini sangat disayangkan. Padahal, mengurusi belanja online, tidak ribet-ribet amat. Cukup menyediakan seorang operator yang selalu stand by, jawab semua pertanyaan pelangaan melalui imel, beri respek, rajin mengecek transaksi hingga distribusi barang ke pelanggan.

Dunia online menuntut kita untuk selalu merespon setiap pesan. Sebab warga dunia online adalah mereka yang selalu terkoneksi dan bergerak dalam ritme informasi yang cepat. Sekali mereka kecewa, maka butuh energi besar untuk mengembalikan kepercayaan itu. Sebab, kekecewaan itu akan disebar di ranah maya, yang lalu menjelma sebagai virus yang perlahan membesar dan menjalar ke mana-mana.

Makanya, berikan respon. Dengarkan masukan. Terima kritik, lalu benahi organisasi demi memaksimalkan kepuasan pelanggan.

Hanya dengan cara itu kita bisa menjaga kepercayaan para pelanggan. Pesaing di dunia ini amat banyak. Tanpa menjaga kepercayaan, maka secara perlahan orang dengan mudah berpaling ke pihak lain yang lebih bisa menjaga reputasi dan pelayanan.

Saya teringat uraian dalam buku Wow Selling mengenai menjaga loyalitas. Seorang pria yang dikenal di Amerika sebagai sales mobil terhebat. Ternyata, rahasianya sederhana. Ia bisa menjaga relasi dengan semua orang. Ia sellau tersenyum dan menjadi sahabat menyenangkan. Ia jujur mengakui kalau ada barangnya yang tak bagus. Ia menjadikan semua orang sebagai saudara yang perlu dipahami keinginannya. Ia mendengar.

Sayangnya, saya belum menemukan bentuk perhatian seperti itu pada situs sebesar Gramedia Online. Harusnya, mereka secara rutin memberikan informasi tentang barang yang sudah dibeli. Jika barang itu tak ada, segera hubungi pelanggan, sampaikan keadaan sesungguhnya. Jangan membiarkan seorang pembeli dalam posisi yang galau sebab tidak tahu kabar terbaru tentang pesanannya.

Tapi setidaknya, saya tahu satu hal. Bahwa situs besar tak selalu memberikan jaminan tentang penjualan yang juga wow. Yup, saya belajar banyak hal baru.


Keajaiban Menulis Warga Desa


buku yang dibuat komunitas wisata di Wakatobi

SIAPA bilang warga desa tak bisa melahirkan sebuah buku bagus? Selama dua bulan, saya berkeliling empat daerah dan memberikan pelatihan menulis bagi warga desa dan para sahabat di daerah. Niat awalnya adalah untuk mengenalkan mereka pada dunia menulis dan dunia teknologi informasi. Hasilnya sungguh mencengangkan dan melebihi apa yang saya bayangkan. Mereka membuat saya terbelalak ketika berhasil membuat buku. It’s amazing!

***

BEBERAPA bulan silam, saya menerima undangan dari Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (Bakti) untuk mengisi materi tentang penulisan blog bagi para aktivis di Kupang. Saat itu, saya sangat tertantang untuk membumikan keterampilan menulis secara praktis bagi para sahabat di daerah.

Ketika pelatihan dilaksanakan, saya menemukan antusiasme yang sangat tinggi dari teman-teman di daerah tentang dunia menulis. Mereka mengejutkan saya dengan artikel serta tulisan yang sangat bagus, seolah ditulis oleh penulis profesional. Saya berkesimpulan bahwa siapapun akan sangat lancar ketika diminta menulis tentang kegiatannya sehari-hari.

Memang, saat itu saya memosisikan diri sebagai pendengar yang baik. Saya tidak memperkenalkan berbagai teori tentang kepenulisan yang dipelajari di kampus-kampus. Saya tak mau mengutip kisah para penulis hebat.  Setiap orang punya jalan sendiri untuk menemukan spirit kepenulisannya.

Teori-teori menulis hanya cocok diajarkan di kampus-kampus atau di masyarakat kota. Untuk masyarakat biasa, yang harus dilakukan adalah bagaimana membiarkan mereka bebas bercerita secara lepas. Tugas kita adalah menyediakan kanal-kanal agar semua kisah itu ditampung dalam aksara. Sebagai trainer, saya memilih untuk menjadi pendengar yang baik ketika masyarakat bercerita tentang dunia yang setiap hari mereka hadapi. Hasilnya mengejutkan. Kawan-kawan kita di daerah punya sedemikian banyak kisah-kisah hebat untuk dituliskan.

Sayangnya, saat itu Bakti belum berencana untuk menerbitkan hasil pelatihan menulis. Padahal, saat itu saya menemukan banyak tulisan menarik tentang dunia yang dihadapi para aktivis dan jaringan masyarakat di Kupang. Kisah-kisah rakyat biasa itu justru menjadi luar biasa sebab di dalamnya terdapat orisinalitas, kejujuran atas apa yang dihadapi, serta cara-cara khas masyarakat memahami persoalan, lalu menemukan cara unik untuk menghadapinya.

Dua bulan silam, kantor tempat saya bekerja di Institut Pertanian Bogor (IPB) memiliki program kerjasama dengan satu kementerian, serta pemerintah daerah. Program itu terkait promosi pariwisata di beberapa daerah, yakni Raja Ampat (Papua Barat), Sikka (NTT), Wakatobi (Sultra), lalu Seruyan (Kalteng). Salah satu item kegiatan adalah melahirkan beberapa produk promosi. Kembali, saya merasa tertantang untuk memberikan keterampilan menulis bagi warga desa demi mengenalkan daerahnya ke dunia luar.

Hal pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi komunitas menulis dan fotografi yang akan ikut dalam pelatihan di daerah. Untuk menulis, tolok ukurnya sederhana. Setiap orang pasti punya kisah menarik. Yang penting adalah kemauan untuk membagikan kisah itu pada orang lain. Itu sudah cukup. Saya juga baru tahu kalau komunitas fotografi ada di semua daerah. Tak semua memakai kamera DSLR. Banyak di antara mereka yang justru memakai smartphone. Itu sudah cukup. Yang penting adalah ada niat dan keinginan untuk mengabadikan momen.

suasana pelatihan di Sikka, NTT

Selanjutnya adalah bagaimana merancang pelatihan. Kami coba membuat satu pelatihan yang sangat fleksibel. Materinya bisa berkembang sesuai kebutuhan peserta. Lokasi pelatihan bisa berpindah-pindah. Kami bisa menggelarnya di tepi sawah-sawah hijau saat petani pulang dari sawah, di satu dangau kecil yang di bawahnya terdapat sungai jernih, atau barangkali di atas satu tebing yang dari situ terdapat pemandangan fantastis.

Pelatihan menulis didesain sebagai satu ruang belajar bersama di mana setiap orang bebas bercerita tentang dunianya. Saya percaya bahwa setiap orang punya kisah unik untuk dikisahkan. Setiap orang punya sumur dalam, tempat di mana berbagai imajinasi dan kisah-kisah menarik dipendam sekian lama.

Tugas dari pelatihan menulis adalah menyediakan tali dan timba sehingga setiap orang bisa mengambil inspirasi dari sumur dalam pengalamannya lalu disajikan sebagai inspirasi bagi banyak pihak. Tugas dari pelatihan menulis adalah menemukan rasa percaya diri serta mengasah keberanian untuk bercerita secara bebas, melalui medium tulisan, agar kisah-kisah yang terpendam itu bisa menggugah banyak pihak.

Saya teringat sebuah buku berjudul Transformed by Writing karangan Robert Hammond. Buku ini menjelaskan tentang kekuatan sebuah cerita yang bisa mengubah cara pandang atas kehidupan, serta mengubah dunia. Buku ini membuat saya yakin bahwa kisah-kisah yang ditulis para aktivis dan warga desa menyimpan kekuatan dahsyat untuk mengubah sesuatu. Melalui kisah, orang-orang bisa memahami dinamika, mengetahui apa yang dirasakan satu komunitas, serta menggalang solidaritas yang kukuh.

Bagi para aktivis dan peneliti sosial, menulis bisa menjadi senjata hebat. Ketimbang penurunkan tim peneliti yang bertugas untuk memahami satu masyarakat, jauh lebih baik memberikan keterampilan bagi warga biasa untuk menuliskan pengalamannya. Semua tulisan itu akan menjadi informasi berharga, memperkaya analisis, serta memperdalam pengetahuan tentang sesuatu, dari sisi pandang masyarakatnya.

buku yang dibuat komunitas wisata di Raja Ampat, Papua Barat

Di Raja Ampat, Papua Barat, seorang perempuan bercerita tentang rekannya yang berprofesi sebagai pelukis dengan medium pasir kuning, yang ternyata adalah limbah dari PT Freeport. Tulisannya membuat saya tersentuh karena menghadirkan ironi bahwa warga Papua berkreasi dengan limbah pasir, sementara emas justru dinikmati segelintir orang.

Di Sikka, Nusa Tenggara Barat, saya mendapati tulisan warga tentang tempat-tempat wisata eksotik yang justru terabaikan. Sungguh menyedihkan kala menyaksikan begitu gandrungnya warga kita yang hendak berwisata ke negara-negara tetangga, sementara di kampung halaman kita ada banyak tempat wisata hebat yang justru tak pernah dipijak. Saya merasakan betapa bangsa ini punya potensi hebat yang justru diabaikan oleh anak bangsanya. Melalui kisah sahbaat di Sikka itu, saya merasakan betapa indah dan menakjubkannya tanah air kita, yang justru tak banyak kita kenali.

***

BEBERAPA waktu setelah pelatihan, beberapa email berdatangan. Yang membuat saya terharu ketika ada email dari Wakatobi, Sikka, Raja Ampat, dan Seruyan yang menampilkan rencana buku yang akan diterbitkan. Mereka merancang desain sampul yang menarik, menyiapkan foo dan artikel-artikel. Saya terkesima karena para sahabat di daerah begitu antusias untuk memublikasikan pengalaman dan kisah-kisah mereka sendiri.

Para sahabat di daerah itu telah menampar keangkuhan akademik saya yang hingga kini hanya bisa menghasilkan sejumput publikasi. Pada akhirnya, menulis adalah soal keberanian untuk mengabarkan sesuatu. Menulis tak terkait gelar akademis, atau aktivitas ilmiah. Menulis adalah cara berekspresi, menyampaikan gagasan, menjerat rasa ingin tahu, lalu mengalirkan kecintaan pada tanah air. Menulis adalah cara lain untuk mengabarkan tentang satu keping kenyataan, lalu mengubah cara pandang atas kenyataan itu. Menulis adalah cara lain untuk mengibarkan revolusi.

Tak percaya? Saatnya belajar ke desa-desa.


Tahun Baru, Pesta Seks, dan Ritual Nikmat


ilustrasi


TAHUN baru tak hanya identik dengan terompet, karnaval, pesta tengah malam, serta kembang api. Di beberapa negara, tahun baru juga identik dengan pesta seks. Kini, pesta seks ini ikut menjadi wabah di tanah air kita. Entah sejak kapan dimulai, dan entah siapa yang membawanya. Yah, meskipun pahit, inilah fakta yang tengah melanda generasi kita hari ini.

***

SEBUAH pesan terkirim ke nomor ponsel saya. Seorang sahabat yang berprofesi sebagai pengusaha mengirimkan pesan untuk ketemuan di malam tahun baru. Saya tak terlalu bersemangat menanggapi. Di saat bersamaan, saya punya acara sendiri dengan teman kantor. Sahabat itu kembali kirim pesan, “Kamu rugi kalau tak datang. Saya lagi punya pacar ABG. Dia akan ajak teman-temannya untuk ikut party.”

Saya dan teman itu punya hubungan panjang. Selain kami sama-sama berasal dari Sulawesi, kami juga pernah bekerja di tempat yang sama. Hanya saja, saya memilih hengkang karena berbagai alasan. Dirinya tetap konsisten di jalur itu, dan selanjutnya berhasil menjadi kaya-raya.

Saya tak mengerti apa maksud pesannya hari ini. Kami baru ketemuan lagi beberapa hari lalu. Ia sudah bikn sahabat yang dulu. Ia sudah menjadi pria metropolis. Pakaiannya nampak mahal. Rambutnya disisir rapi. Aroma tubuhnya sangat khas aroma parfum berkelas. Pembicaraannya selalu tentang bisnis. Ia menyebut investasi, produk, dan juga marketing (pemasaran). Saya lebih suka mendengarkannya ketimbang ikut berbicara.

Beberapa tahun silam, ketika dirinya masih pengusaha kecil, ia pernah memanggil saya untuk merayakan tahun baru di satu diskotik, yang kini telah ditutup oleh Ahok. Saya menyaksikan berbagai minuman di atas meja. Hampir semua bermerek impor. Teman itu menggelar pesta dengan sejumlah pramugari sebuah maskapai. Ia serupa raja minyak yang dikelilingi gadis cantik.

Saya memandang gadis-gadis itu. Semuanya muda dan cantik. Semuanya seksi. Mereka larut dalam pesta yang diiringi musik berdentam-dentam. Di tempat itu, tak ada dialog. Hanya ada tawa cekikikan serta suara denting gelas yang beradu ketika hendak diminum. Beberapa orang menari untuk mengikuti musik. Entah kenapa, di tengah hingar-bingar itu, saya tak menemukan di mana letak kenikmatannya.

Melihat saya terdiam, teman itu lalu mendekat. Ia berbisik, “Jangan pulang dulu. Seteah pesta, akan ada pesta seks.” Saya bisa merasakan aroma minuman terpancar kuat. Saya lalu melirik ke arah gadis-gadis itu. Saat itu, entah kenapa, perasaan saya sangat tidak nyaman. Saya memilih pulang dan beristirahat.

Apakah gerangan yang dicari oleh mereka yang sedang berpesta itu? Terhadap teman saya, analisis sosiolog Daniel Bell paling pas menjelaskannya. Kata Bell, kapitalisme memiliki kontradiksi dalam drinya. Kapitalisme memaksa manusia untuk menjadi pekerja keras di siang hari, dengan mematuhi semua hukum ekonomi yakni efisiensi, sedikit pengorbanan, demi meraih hasil besar. Akan tetapi di malam hari, manusia akan menjadi dirinya. Aspek budaya akan menuntut pemenuhan. Manusia akan ‘dipaksa’ untuk seboros mungkin demi memenuhi naluri pesta dan kebahagiaan.

Hari-hari yang dilalui teman saya adalah bekerja. Ia seorang pekerja keras yang setiap hari mengejar client agar bersedia bekerjasama. Uang laksana menempel dengannya. Sekali proyeknya berhasil, ia punya dana segar untuk berpesta selama beberapa bulan. Di siang hari ia pekerja keras yang amat irit belanja, namun di malam hari, ia menjadi seorang pemboros yang meminum bir jauh lebih banyak dari kebiasaannya minum air putih.

“Gimana? Jadi ikut gak? Kasih kabar dong”

Kembali pesannya masuk ke ponsel. Sekian tahun berlalu, ia masih memiliki hobi yang sama. Saya membayangkan bahwa kali ini pesta yang akan digelarnya memiliki skala yang lebih besar. Di saat cuma jadi pengusaha kelas teri, ia sudah bisa menggelar party dengan para pramugari. Pasilah kali ini pestanya lebih berkelas.

Saya lalu memperhatikan beberapa pemberitaan media. Harian Tribun Timur di Makassar memberitakan tentang mahasiswa yang tinggal di pondokan, sebutan lain untuk rumah kos mahasiswa, yang mem-booking banyak kondom. Lalu sebuah haran nasional memberitakan kelangkaan kondom di Bekasi karena telah diborong.  Saya juga liputan tentang fenomena pesta seks di kalangan ABG pada malam tahun baru. Seorang teman apoteker juga meniyakan kalau penjualan kondom akan mencapai titik tertinggi saat valentine dan pesta tahun baru.

Nampaknya, pesta seks menjadi semacam ritual yang dilakukan setiap jelang tahun baru. Seingat saya, ritual seperti ini kerap dilakukan di kota-kota di Korea dan Jepang. Lantas, sejak kapan generasi hari ini ikut-ikutan menggelar pesta seks? Saya hanya bisa menduga. Mungkin ini adalah sisi lain dari kemajuan. Sisi-sisi lain dari kemajuan di Korea dan Jepang merasuk bersama industri budaya populer. Kaum muda kita adalah kaum yang paling rentan dalam menghadapi berbagai invasi budaya itu.

Rupanya, masyarakat kota di tanah air kita telah bertransformasi menjadi seperti masyarakat kota-kota besar yang melalui tahun baru dengan lendir terhambur. Anak-anak muda kita terlanjur memaknai kemajuan sebagai bertingkah sebagaimana mereka yang di sana, lalu mengabaikan segala tatanan nilai yang dibangun di rumah dan sekolah. Tapi, benarkah tatanan nilai diperkenalkan dengan baik di rumah dan sekolah? Tidakkah kesibukan orangtua untuk mengejar uang bisa berujung pada hak-hak anak, termasuk bagaimana mengenalkan nilai dan etika di dalam rumah?

Entah. Yang pasti, fenomena seks bebas ini tak melulu pada anak remaja dan anak kuliahan. Bahkan mereka yang sudah bekerja dan sukses, sebagaimana teman saya, juga melakukannya. Harusnya momen tahun baru menjadi momen reflektif. Semua pihak mesti melihat ulang ke belakang dengan jernih, mengakui berbagai problem yang muncul hari ini, lalu bersama-sama menemukan formulasi dan solusi terbaik untuk hari esok.

Di saat merenungi banyak hal, kembali ponsel saya berbunyi. Teman tadi kembali mengirim pesan lewat Whatsapp. Kali ini ia mengirimi gambar seorang gadis yang muda yang amat cantik, serupa wajah bintang sinetron. Saya tak tahu hendak berkata apa. Tak lama kemudian, kembali ia mengirim pesan.

“Gimana? Mau nggak sama dia?”


Diriku di Tahun 2014


aku dan keluarga


DIMATAKU, tahun 2014 adalah tahun paling melelahkan. Kepindahanku sebagai pegawai pemerintah daerah di Buton, Sulawesi Tenggara, ke kampus besar Institut Pertanian Bogor (IPB) harus diikuti dengan banyak adaptasi. Mulai dari suasana dan irama kerja, adaptasi keluarga di kota yang baru, hingga belajar membangun jaringan. Aku belajar untuk mengalir bersama sungai kehidupan di kota yang baru.

Aku juga mencatat tahun 2014 sebagai tahun paling ajaib. Kepindahan ke Bogor ibarat membuka 'pintu ke mana saja' yang dimiliki Doraemon. Aku beroleh kesempatan mengunjungi banyak tempat di tanah air, merasakan pahit manis dan asin pedas Indonesia di titik terjauh, bertemu dan berguru pada banyak orang di desa-desa dan pulau-pulau kecil.

***

SEBELUMNYA, kami tinggal di pesisir pantai. Hari-hari kami adalah laut biru, nyiur melambai, hingga hembusan angin pantai yang di siang hari terasa panas. Ketika memutuskan ke Bogor, kami harus belajar ulang. Kehidupan seolah distel ke titik awal. Aku sudah terbiasa pindah-pindah kota. Akan tetapi yang kupikirkan adalah keluarga. Aku membayangkan suasana, iklim, serta banyak hal yang membutuhkan adaptasi.

Bogor adalah kota yang terunik di tanah air. Curah hujannya cukup tinggi. Pantas saja jika kota ini disebut kota hujan, sebab hampir setiap hari hujan akan turun. Adaptasi pertama adalah cuaca yang berbeda dengan tempat lain. Hal lain yang dipikirkan adalah adaptasi sosial dan budaya. Kami memasuki setting budaya berbeda, dengan karakter penduduk yang juga beda.

Di tengah adaptasi itu, selalu saja ada pelajaran berharga. Kami mulai terbiasa dengan kultur pegunungan yang hijau dan pemandangan Gunung Salak di kejauhan. Kami mulai menikmati betapa banyaknya buah-buahan segar yang harganya murah di sini. Perlahan, kami mulai mengerti sepatah dua kata pembicaraan dalam bahasa Sunda. Di sekitar rumah, istriku dipanggil Teteh. Aku sendiri dipanggil Akang. Kadang dipanggil A’a. Hmm... Panggilan itu terdengar nyaman di kuping.

Perlahan aku mulai mengenali banyak orang. Jaringan pertemanan perlahan mulai berbuah. Beberapa tugas mengharuskanku untuk berkunjung ke daerah-daerah. Mulailah lembar petualangan dibuka satu per satu.

Di awal tahun 2014, aku berkunjung ke luar negeri yakni Thailand. Saat itu, aku ikut dalam rangkaian tur bersama beberapa sahabat penulis dan fotografer. Aku amat terkesima melihat industri pariwisata di negara itu. Hingga suatu hari aku menerima pesan dari sahabatku Ussama Kaewpradap asal Thailand yang hendak mendaki Gunung Bromo, lalu menyeberang ke Bali. Sesuai mendaki gunung dan menusuri banyak tempat, ia mengirim pesan, “You’re the luckiest man in this world. Cause you live in a paradise!”

Hah? Saat itu aku ragu. Hingga akhirnya, tugas sebagai peneliti telah membawaku ke banyak tempat di tanah air. Setelah mengunjungi banyak pantai dan tempat wisata di tanah air, aku merevisi semua anggapan tentang ‘rumput tetangga yang selalu lebih hijau.’ Faktanya adalah kita justru tak mengenali seberapa hijau rumput kita sendiri.

Kita tak banyak tahu seberapa biru langit di kampung halaman kita sendiri. Kita tak tahu seberapa dalam lautan kita yang telah menjadi ibu bagi ribuan biota laut yang membentuk taman-taman surga di dasarnya. Kita tak tahu kemegahan gunung-gunung di negeri kita sendiri yang selalu menjadi surga bagi para pengelana. Kita tak pernah merasakan betapa indahnya keceriaan di desa-desa, senyum anak-anak rimba, tetes keringat petani yang memanen padi, hingga tawa bahagia para nelayan yang perahunya dipenuhi ikan.

Indonesia begitu banyak menyimpan kisah-kisah ajaib. Kisah itu tak ditemukan di kota-kota. Kalaupun ada, maka media kita telah banyak mengulasnya di berbagai sisi. Lagian, wacana tentang kota-kota itu dengan mudahnya kita temukan di dunia maya, ruang pertemuan jutaan netizen dari berbagai penjuru. Sementara kisah-kisah tentang desa-desa, tentang petani kecil, tentang nelayan di satu pulau terpencil, menjadi berlian-berlian berharga yang harus ditemukan dan dibagikan. Aku merasa sungguh berunung bisa berkelana ke banyak pulau.

Pengalaman berkeliling ke berbagai pulau-pulau dan desa-desa telah mengalahkan semua hasrat petualangan ke negeri-negeri jauh. Perjalanan itu mengatasi rasa lapar dan rasa haus untuk menyaksikan sisi lain tanah air yang tak selalu dibingkai liputan media.

Setiap perjalanan selalu membuka mata tentang banyaknya hal yang bisa digapai. Barangkali, inilah seni perjalanan. Yang terbaik untuk kita lakukan adalah senantiasa menyerap pengetahuan di sekitar kita, lalu memperkaya batin dan pengalaman. Dengan cara itu, kita bisa melihat kehidupan dari sisi yang berbeda.

Belum setahun aku di tempat baru. Aku mulai menemukan ritme kehidupan. Aku mulai mengenali hawa pagi yang sejuk, embun di dedaunan, serta suara-suara alam ala pegunungan. Meskipun harus bergegas dan terbiasa berpindah-pindah, aku sangat menikmati keadaan. Mudah-mudahan saja pada tahun-tahun mendatang ada banyak hal baik yang akan dilakukan. Untuk soal ini, aku sedang menanam banyak benih.

Tahun 2015 ini aku tak punya banyak target. Biarlah kehidupan terus bergerak. Diriku hanyalah setetes air dari sungai kehidupan yang ikut mengalir, berkelit dari bebatuan, lalu menyatu dengan samudera besar bernama alam semesta. Semoga saja ada banyak kebaikan yang ditemui di sepanjang perjalanan menuju samudera besar itu. Semoga selalu ada kupu-kupu bahagia yang hinggap di sepanjang perjalanan, memberikan lega sesaat ketika jeda, lalu menjadikan semua perjalanan itu menjadi kisah-kisah indah yang menakjubkan.

Selamat tahun baru.


Kisah Bersama Sales Multi-Level



SEBAGAI orang yang awam dalam hal bisnis, saya selalu berhati-hati jika diajak bergabung ke bisnis multi-level marketing (MLM). Terkadang, saya tak bisa menolak ketika ‘dijebak’ seorang sahabat yang lalu mem-prospek saya agar bergabung sebagai sales multi-level. Belakangan, saya malah suka di-prospek. You know why?

***

DENGAN langkah tergesa-gesa, saya menuju Plaza Senayan, Jakarta. Perjalanan cukup jauh. Saya menumpang kereta dari Bogor ke Stasiun Gondangdia, selanjutnya, menumpang kendaraan umum menuju Plaza Senayan. Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan. Saya butuh empat jam. Tapi saya menjalaninya sebab tergoda oleh janji untuk diskusi mengenai masa depan.

Saya membayangkan barangkali ada pembicaraan tentang bagaimana iklim dan peluang usaha. Saya memang bukan pebisnis. Tapi saya suka diskusi dengan para sahabat pengusaha. Bersama mereka, saya menemukan spirit baru untuk mengatasi segala tantangan di masa depan. Para pebisnis adalah mereka yang melihat masa depan dnegan penuh optimisme. Mereka punya cara pandang yang selalu melihat sisi positif. Bahkan gagal pun tetap dilihat sebagai peluang untuk melesat maju.

Sungguh dengan beda dengan para ilmuwan sosial yang tema diskusinya agak monoton.

Seorang sahabat di Twitter selalu mengajak untuk ketemu. Ia membuat saya terkesima dengan rencana-rencananya. Saya tak mengenalnya sebelumnya. Tapi ia tiba-tiba saja ingin mengenalkan saya dengan ayah-ibunya. Katanya, mereka sedang membangun bisnis besar mengenai teknologi informasi di masa depan. Ia meyakini bahwa bisnis ini akan sangat booming. Saya penasaran.

Akhirnya, tibalah saya di tepat tujuan. Ayah dan ibu sahabat itu telah menyiapkan bahan presentasi. Ia memulai dengan beberapa pertanyaan tentang masa depan. Setelah itu, ia memperlihatkan gambar para raksasa di dunia IT yakni Mark Zuckerberg dan para pendiri Google. Selanjutnya ada pembicaraan tentang sebuah layanan berbasis IT yang memungkinkan kita untuk melaukan video-conference, video blogger, dan chatting secara gratis. “Semuanya bisa dilakukan tanpa buffering,” katanya. Saya mulai tertarik.

Berikutnya, pembicaraan tak lagi bahas IT. Barulah saya tahu kalau bergabung dalam apa yang disebutnya member dari pelayanan berbasis IT itu adalah bergabung dalam sebuah unit bisnis. Kita cukup mencari orang lain untuk gabung, dan setelah itu kita mendapatkan benefit. “Kalau anda bisa mengajak banyak orang gabung, maka uang akan menumpuk. Saatnya anda kaya,” katanya.

Pembicaraan mulai tak menarik. Bapak sahabat itu mulai mengambil banyak contoh tentang orang kaya baru di usia muda. Katanya, modal anak-anak muda itu sederhana. Mereka membangun jaringan pertemanan yang kemudian bergabung dalam satu wadah. bisnis, serta harapan agar ‘uang bekerja untuk kita.’ Ia menyebut Merry Riana, yang filmnya lagi tayang di bioskop. Ia juga menyebut beberapa nama yang baru saya kenal. Tak cukup dengan itu, ia juga memperlihatkan beberapa majalah dan video mengenai merka yang sukses. Resepnya satu yakni berbisnis multi-level.

Presentasi berikutnya semakin tak menarik di mata saya. Ia membahas tentang jabatan ketika sukses mengumpulkan ‘kaki-kaki’ di bawah. Nama posisi itu memakai nama batu mulia. Misalnya ada posisi Diamond, Silver, dan Gold. Semuanya bisa didapatkan kalau sukses mencari klien. Semakin banyak anggota, maka semakin kaya. “Kehidupan berikutnya menjadi indah. Kita bisa pensiun dini, bisa liburan, keliling dunia, serta merancang masa depan anak-anak yang cerah,” katanya.

Saya menyimak. Pikiran saya di tempat lain.

Ini bukan kali pertama saya di-prospek. Yang saya rasakan adalah multi-level itu serupa agama yang berbicara tentang masa depan. Ada iming-iming tentang hari depan, ada kitab-kitab berisikan motivasi yang salah satu nabinya adalah Robert Kiyosaki, penulis Rich Dad Poor Dad. Para penggiat multi-level juga memiliki kaset-kaset dan video motivasi, ada proyeksi dan peta penghasilan, seminar-seminar bisnis, hingga jalan-jalan gratis ke luar negeri.

Saya menghargai semua yang dikatakannya. Semua orang memang menginginkan hidup yang serba nyaman. Saya sendiri percaya bahwa uang hanyalah satu cara. Uang bukan segala-galanya. Yang jauh lebih penting adalah perasaan bahagia yang berdesir dalam hati ketika seseorang mengubah mindset tentang kehidupan. Bahagia adalah kondisi ketika seseorang menyukuri semua hal-hal kecil yang dirasakan sebagai keajaiban dalam hidup.

Yang saya sukai dari teman-teman MLM adalah semangat yang tak pernah padam untuk meyakinkan orang lain. Jujur, saya menikmati saat-saat diyakinkan tentang sesuatu. Saya menyenangi saat dipersuasi dan diberikan harapan tentang kehidupan yang menakjubkan dengan uang melimpah. Seseorang yang sukses di bisnis multi-level adalah seseorang yang sukses membangun jaringan lalu menggunakan jaringan itu untuk mendapatkan berbagai keuntungan bagi dirinya.

Jujur, mulanya saya tak suka diprospek. Belakangan saya merevisi pandangan itu. Saya mulai menyukai saat-saat di-prospek. Mengapa? Sebab kawan yang memprospek itu akan melakukan segala cara agar saya tertarik lalu memperhatikan presentasi. Saya menikmati saat-saat ketika saya berpura-pura paham, lalu mengangguk. Semangat teman itu langsung meluap-luap lalu menjelaskan banyak hal agar saya terkesima dan tertarik.

Sayang, hingga saat ini saya belum tertarik bergabung. Apalagi saat teman di Plaza Senayan itu menyebut uang pendaftaran sebesar 10 juta rupiah, serta pulsa keanggotaan sebesar 400 ribu rupiah per bulan. Buat saya, dana itu cukup besar untuk sekadar menganyam mimpi dan membayangkan masa depan yang hebat, ketika ‘uang bisa bekerja untuk kita.’

Usai di-prospek, saya kembali ke stasiun. Saya kembali harus berdesak-desakkan dari kereta. Saya kembali harus merasakan ketidaknyamanan ketika menumpang kendaraan umum. Yah, mudah-mudahan bisa sesukses sahabat yang tadi meyakinkan saya agar berbisnis multi-level.

Sahabat itu memang kaya-raya. Tapi saya merasa lebih kaya. Saya tak perlu mengumpulkan banyak uang, sebagaimana dirinya, untuk menikmati hidup. Sebab saya menikmati hidup dalam keadaan apapun. Saya berbahagia dengan segala hal-hal kecil dan hal-hal besar yang saya alami. Saya adalah orang terkaya di dunia. Terserah, anda sepakat atau tidak.


Bogor, 29 Desember 2014

Belum Tertarik Nonton Film Pendekar Tongkat Emas




MUNGKIN anda menganggap saya tak nasionalis. Hingga detik ini, saya belum berkeinginan menyaksikan film Pendekar Tongkat Emas (PTE) yang sedang tayang di bioskop. Saya menyenangi akting beberapa orang yang bermain dalam film itu. Mereka adalah maestro seni peran. Akan tetapi saya tak nyaman dengan pakaian yang meniru-niru para pemain film Cina.

Saya juga tak suka melihat potongan adegan berkelahi yang mirip film kungfu. Daripada nonton film yang mirip film kungfu, jauh lebih baik saya menonton film kungfu yang memang asli dari daratan sana. Saya lebih baik menonton ulang beberapa film yang dibintangi Jet Li. Saya masih lebih memilih menonton lagi film Hero karya Zhang Yi Mou yang adegan perkelahian serta filosofinya menancap kuat di benak saya selama bertahun-tahun.

Konon, penata kelahi dalam PTE berasal dari daratan Cina, yang telah terbiasa menggarap film kungfu. Makanya, bagi generasi yang suka nonton film kungfu, adegan perkelahian dalam film PTE menjadi hambar. Para penonton tak akan menemui kejutan. Tak ada rasa penasaran atas hal-hal baru. Tak ada keunikan.

Film ini tak membuat saya penasaran, sebagaimana film The Raid 2. Dalam film The Raid 2, saya penasaran menyaksikan bagaimana silat harimau bisa dikemas dalam laga modern. Hasilnya memang mencengangkan. Silat bisa menjadi sangat mematikan. Teknik berkelahinya nampak sangat beda dengan seni berkelahi ala film Cina. Di situ ada elemen kejutan dan sekaligus memantik rasa penasaran pada seni berkelahi yang justru berasal dari tanah air sendiri. Saya menyukai setiap gerak dari pemain film The Raid 2 yakni Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan. Mereka menguasai beladiri silat, dan membawa keindahan gerak itu ke dalam film.

Mereka jelas beda dengan Reza Rahadian dan Nicholas Sapitra yang notabene tak mahir bela diri. Kalaupun mereka berlatih selama beberapa bulan, tetap saja mereka bukan jagoan martial arts. Pastilah refleks tangan dan kakinya akan beda dengan yang mahir. Entah, saya ragu kalau akan ada adegan berkelahi yang indah disaksikan dalam film ini.

Hanya satu yang membuat saya penasaran dengan PTE, yakni alam Sumba yang sangat indah. Saya ingin menyaksikan bagaimana padang sabana yang luas, yang di dalamnya ada banyak kuda yang berlarian. Saya penasaran dengan tenun ikat yang dikenakan para pemain dalam film. Namun, ketika mengingat para aktor itu berpaian mirip Cina, kembali saya jadi malas. Bagi saya, alam Sumba dan pakaian khas Sumba ibarat dua keping puzzle yang saling bertaut. Aneh saja melihat tenun ikat tiba-tiba saja jadi motif pakaian Cina.

Tak biasakah kita menyaksikan alam Sumba dengan latar budaya yang juga Sumba?


Terpopuler Bulan Ini

...

...