Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Mudik Seru ala Mahasiswa dengan Kapal Pelni




SEBAGAI tradisi yang dilakukan setiap tahun, mudik adalah sesuatu yang membahagiakan semua orang. Hampir semua orang Indonesia punya pengalaman beda-beda dengan mudik. Nah, sebagai orang yang tinggal di pulau kecil, kemudian merantau ke kota besar demi meningkat harkat dan derajat melalui pendidikan, saya pun mengalami mudik sebagai peristiwa yang seru dan amat berkesan.

Saya tinggal dan besar di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Ketika masa perkuliahan dimulai, nasib mengarahkan saya untuk tinggal dan menetap di Makassar. Jauh sebelum tiba Lebaran, saya sudah menandai tanggal untuk mudik. Pada masa itu, kami tak punya alternatif untuk mudik. Pesawat belum singgah di kampung kami. 

Kapal Pelni adalah satu-satunya moda transportasi yang membawa kami menuju kampung halaman. Bagi yang tinggal di Kendari dan Kolaka, maka mereka akan mudik dengan menumpang mobil yang lalu menyeberang dengan kapal fery di Bajoe menuju Kolaka. Sementara kami warga pulau, hanya punya satu pilihan yakni kapal Pelni.

Di setiap momen mudik, kapal Pelni itu menjadi arena pertemuan dari mahasiswa asal Buton-Muna-Wakatobi yang tersebar di banyak kota. Sebab rute kapal itu adalah dari Jakarta, Surabaya, lalu Makassar, hingga Baubau. Di setiap pelabuhan, pasti akan ada mahasiswa asal kampung kami yang naik kapal. Saya masih terkenang saat-saat di kapal Pelni, saat bertemu teman-teman kecil yang kuliah di berbagai kota, saat menunggu keberangkatan dari kafetaria kapal Pelni di dek paling atas, sebelah belakang.

Demi mudik, saya menyiapkannya sejak jauh hari. Bermula dari memanjangkan rambut dan dibiarkan keriting, biar kelihatan urakan dan macho saat di kapal. Celana jeans belel yang saya pakai sengaja disobek di bagian lutut biar kesannya sedikit liar dan nakal. Tak lupa, ada rokok di saku jaket yang kelak akan dinyalakan saat sedang menunggu di dek tujuh kapal, dekat kafetaria. 

Demi kesan gagah, jauh-jauh hari saya menabung untuk membeli tas kerel ala pencinta alam, yang ada matras di atasnya. Fashion paling keren untuk mahasiswa di masa itu adalah fashion ala pencinta alam. Rasanya keren sekali kalau dianggap suka berpetualang dan naik gunung. Di akhir masa kuliah, fashion yang lagi happening adalah penampilan ala fotografer. Rasanya bangga kalau naik kapal sambil menenteng kamera. Padahal kemampuan motret masih amatiran. Masih sebatas motret acara ulang tahun.

Tak hanya itu, saya juga sengaja membeli baju kaos dengan lambang kampus biar dikira anak kuliahan. Saya juga beli buku-buku tebal, yang nyaris tak pernah dibaca. Saya bayangkan gadis-gadis akan terkesima dan kagum melihat penampilan ala pendaki gunung.

Pada masa itu, saya tinggal di pondokan, istilah anak Makassar untuk rumah kos berupa rumah panggung terbuat dari kayu. Teman-teman saya punya cara sendiri untuk mempersiapkan mudik, khususnya saat di kapal. 

Seorang kawan bernama La Udi akan latihan vokal selama seminggu demi bisa tampil sempurna saat karaoke dengan lagu-lagu dangdut di kafetaria kapal. Sebab di kafetaria kapal, sering kali ada karaoke. Banyak mahasiswa menunggu di sana, memesan segelas kopi, lalu menyaksikan para biduan saling pamer kemampuan bernyanyi. La Udi membayangkan dirinya akan jadi bintang, mendapat tepuk tangan meriah, setelah itu dapat hadiah berupa tiket nonton film yang agak porno di dek dua.

Selain bernyanyi, kemampuan joged juga diperlukan untuk membuat orang-orang kagum. Kalau soal joged, La Udi tak perlu diajari. Dia sudah pengalaman menghadiri pesta panen kande-kandea di banyak desa di kampung kami. Di setiap acara adat itu, selalu ada acara joged untuk anak-anak muda. Setiap kali joged, pasti dia akan mendapat pacar baru. Duh! Bikin cemburu saja.

Tak cuma karaoke, La Udi juga mengasah kemampuan bermain domino. Lama tempuh kapal Pelni selama 12 jam dari Makassar ke Baubau akan terasa singkat jika dilalui dengan bermain domino. Bagi kami, amat rugi membeli tiket kelas 1 hingga kelas 4. Sebab, waktu akan lebih banyak dihabiskan di kafetaria, tangga kapal, atau lorong-lorong kamar. Apa yang dilakukan di situ? Kalau bukan main domino, kami akan isi dengan berceloteh berbagai topik.

Saking seringnya naik kapal, saya mengenali semua tempat di kapal itu. Sepanjang kuliah, saya selalu menaiki kelas ekonomi. Saya terbiasa tidur di berbagai tempat. Pernah tidur di tangga, dekat dapur, lorong-lorong kamar kelas, hingga pernah pula menyewa kamar anak buah kapal (ABK). Malah, pernah saya tidur di sekoci. Tempat favorit saya adalah sedikit ruang di atas tangga dek kapal sebelah dalam. Sebab saat duduk di tangga, saya bisa menyaksikan orang yang lalu lalang, dan sedikit menepi karena kami menguasai tangga kapal.

Saat berada di kapal, saya merasakan banyak hal yang berubah. Beberapa teman yang dahulu minder, tiba-tiba jadi lebih percaya diri. Beberapa kawan mulai berambut gondrong, padahal dulu tampak rapi sebab jadi anak mami di masa SMA. Kadang kami bahas teman yang dahulu juara kelas, tiba-tiba kehilangan kharismanya saat kuliah.

Seorang teman tidak percaya kalau saya bisa lancar kuliah. Padahal, semasa di SMA, saya terbilang siswa paling sering bolos dan pernah terancam tidak naik kelas. Lebih terkejut lagi teman itu saat mendengar saya cukup dikenal di kampus. Dipikirnya saya akan keluar atau minimal drop out saat semester tiga. Maklumlah, dia memandang saya dengan cara pandang lama. Dia tidak tahu kalau pergaulan dan interaksi bisa membuat seseorang berubah.

Saat bertemu teman-teman sekampung, topik paling disukai adalah tentang kiprah teman-teman cewek yang dahulu pernah menjadi idola dan agak angkuh di sekolah. Kuliah di kota-kota, membuat kawan sekampung bertemu dengan pergaulan yang lebih luas, sehingga menganggap kalau ada banyak cewek yang melebihi idola sekolah kami, namun justru jauh dari kesan angkuh. 

Tak habis-habisnya, kami mengenang masa kecil di kampung halaman. Kami juga membahas perkembangan teman-teman kami yang lama tak bertemu. Mulai dari La Albert yang berhenti kuliah karena menekuni aktivitas paranormal dan perdukunan, La Dora yang dicari preman karena menghamili keluarga preman itu, hingga La Komar yang di masa SMA dikenal malas, tiba-tiba menjadi aktivis yang muncul di banyak demonstrasi.

Pada beberapa kawan, momen mudik menjadi ajang uji nyali dan petualangan. Modusnya ditempuh dengan tidak membeli tiket untuk menaiki kapal laut. Saya tahu persis kalau kawan itu punya uang, tapi dia sengaja tidak membeli tiket. Mungkin dia merasa keren saat menumpang kapal tanpa tiket, lalu menghindari kejaran satpam dan petugas tiket. 

Pernah pula dia tertangkap satpam. Bukannya malu, dia justru merasa bangga karena tertangkap. Dia pun membayar tiket. Setelah itu dia akan petantang-petenteng ke mana-mana lalu lempar senyum sana sini saat berita tentang dirinya tertangkap telah menyebar. Dia justru bangga karena tertangkap. Dasar!

Seorang kawan aktivis, punya kiat cerdik. Dia akan membuat negosiasi dengan pihak kapal Pelni. “Jumlah kami 10. Apakah kami bisa diberi 10 tiket dengan hanya membayar 6 tiket?” Kalau pihak Pelni setuju, maka dia akan merasa bangga setinggi langit. Misi untuk lobi telah sukses.

Mudik di kapal Pelni juga menjadi ajang untuk bertemu dengan teman cewek semasa di kampung. Kadang kaget juga mengetahui Si A tiba-tiba menjadi lebih cantik dan memesona saat kuliah. Mungkin dia sudah mengenal mode dan salon. Padahal, semasa di kampung, dia tidak masuk nominasi dan klasemen cewek yang akan diincar. 

Di satu perjalanan dengan kapal, Si A singgah ke kafetaria bersama teman-teman cewek lainnya. Tiba-tiba saja, geladak kafetaria itu ramai dengan para mahasiswa. Banyak mahasiswa yang duduk di pagar kapal, sengaja mengibaskan rambut gondrongnya, lalu menghembuskan asap rokok. Saya tahu ada beberapa teman yang tidak merokok. Tapi di kapal itu, mereka akan merokok. Tahu alasannya? Biar keren dan nampak macho. Siapa tahu Si A akan tertarik.

Ada juga mahasiswa yang datang menyapa Si A lalu mengeluarkan istilah-istilah sulit, seperti paradigma, aksioma, atau revolusi sains. Disebutlah nama para filsuf dan pemikir, mulai dari Plato, Aristoteles, hingga Nietzsche dan Michel Foucault. Dibahaslah topik mengenai pemerintah yang bobrok, tidak becus, lalu dikeluarkannya teori-teori ekonomi makro. Dia lalu menyebut kiprahnya di dunia aktivis dan intelektualitas. Tahu alasan mengeluarkan istilah rumit? Biar Si A kagum dan bersedia dipacari. Yah, namanya juga usaha.

Demi keinginan agar tampak macho itu, beberapa orang sengaja menenggak alkohol. Maklumlah, bagi kami orang kampung, menenggak alkohol adalah bagian dari ritus menjadi orang dewasa. Di masa saya kuliah, ada beberapa kawan sekampung yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK). Para ABK inilah yang lalu mengajak rekan-rekannya ke ruang-ruang tersembunyi di kapal, biasanya ruang rapat. Di situ, beberapa bir dan konau (tuak khas Buton) dikeluarkan. Mereka lalu party dan hepi-hepi.

Saking seringnya naik kapal, saya menghafal persis semua pengumuman di kapal itu. Misalnya, “ABK dek muka belakang.” Atau pengumuman tentang “Kapal serong kiri”. Ada tiga pengumuman yang paling saya sukai. Pertama, pengumuman makan malam. Saya tak sabar untuk antre demi makanan yang diletakkan di atas kaleng dengan petak-petak ala narapidana. Kedua, pengumuman kalau diskotek sudah dibuka dan pengunjung diminta datang dengan memakai sepatu. Anda bisa bayangkan, di atas kapal, ada diskotek. Kembali saya akan bertemu La Udi si raja joged di situ. Ketiga, pengumuman kalau sejam lagi kapal akan tiba di Pelabuhan Baubau.

Nah, pengumuman terakhir ini yang paling menyenangkan. Saya akan segera menuju anjungan atau geladak kapal. Saya menyaksikan kampung halaman yang terlihat di kejauhan. Yang pertama saya kenali adalah rumahnya La Ony yang tampak dari kejauhan, jembatan batu yang dipenuhi kapal layar, hingga akhirnya kerumunan penjemput yang menanti kedatangan kami, anak mahasiswa yang dahulu bengal, kini melanjutkan pendidikan demi masa depan.

Di antara penjemput itu, selalu ada para ayah dan ibu yang membanjiri pelabuhan dengan rasa rindu.  Orang tua selalu jadi pihak paling sibuk dan paling deg-degan demi menyambut anaknya. Bagi mereka, seorang anak yang merantau demi pendidikan ibarat merpati yang terbang tinggi dan kelak akan kembali ke sarang. Rumah terasa lengkap jika semua hadir. Kelak, saya pun akan bahagia saat menjemput anak yang belajar di kampung-kampung jauh demi masa depan yang lebih baik.


NB

Dalam versi berbeda, tulisan ini pernah tayang di blog ini. Saya telah memodifikasinya dengan beberapa tambahan informasi baru.


Pengakuan Seorang Bupati Terduga Korupsi




IBARAT panggung pertunjukan, Jawa Timur tengah menjadi sorotan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sejumlah bupati dan wali kota tertangkap tangan saat sedang melakukan transaksi dan gratifikasi terkait proyek. Mereka dituduh melakukan permufakatan jahat yang menyebabkan negara rugi hingga miliaran rupiah.

Tuduhan korupsi ibarat tinja yang dilemparkan ke wajah dan disaksikan orang banyak. Mereka yang dituduh sontak kehilangan sebagian hak-hak manusianya untuk dianggap benar. Sekali label itu disematkan, publik langsung menganggap seseorang bersalah. Publik tidak peduli adanya asas presumption of innocence atau praduga tak bersalah. Sekali Anda korupsi, maka Anda siap dinista.

Bagaimanakah halnya jika Anda menjadi kepala daerah yang diduga korupsi? Apakah dirinya memang korup ataukah hanya korban dari sistem yang begitu permisif pada korupsi?

***

Di satu kafe di ibukota, tanpa sengaja saya bertemu seorang bupati di kawasan timur yang sedang resah. Dia bersama beberapa orang seolah sedang mengulur waktu di kafe itu. Saya menyapanya, yang kemudian dibalas dengan dingin. Saya merasakan adanya atmosfer rasa sedih di situ.

Bupati itu tetap berusaha ramah. Rupanya mereka baru saja menyaksikan berita di layar televisi tentang tertangkapnya seorang kepala daerah di Jawa Timur. Sang bupati lebih banyak diam. Sejurus kemudian, bupati itu mulai bersuara. “Beginilah nasib kepala daerah. Setiap saat harus waspada pada jebakan betmen. Siapa pun bisa kena. Ini soal waktu.”

Istilah “jebakan betmen” mengacu pada komedi si stasiun televisi tentang perangkap yang disiapkan kepada seseorang sehingga kemudian terjerat. Bupati di hadapan saya ingin mengatakan bahwa setiap kepala daerah selalu berhadapan dengan “jebakan betmen.” Semuanya bisa terjerat ketika tidak hati-hati meniti di panggung kuasa, atau tidak pandai menjaga keseimbangan dan relasi dengan semua kelompok.

Bupati di hadapan saya menguraikan betapa banyaknya sistem tak benar yang dibiarkan itu. Dia mengurai perjalanannya untuk menjadi bupati. Demi mendapat rekomendasi partai, dia harus menyiapkan “setoran” pada petinggi partai. Jika satu kursi dihargai sampai 500 juta rupiah, dia harus siapkan miliaran rupiah untuk satu tiket.

Saya lantas teringat La Nyalla Mattalitti, seorang cagub yang gagal memasuki arena di Jawa Timur. Dia meradang dan membuka semua permainan itu di media massa. Dia mengungkap berapa besaran angka yang harus disiapkannya demi mendapatkan suara partai. Dalam banyak hal, saya tahu dia benar sebab saya sering mendengar kisah yang sama.. Padahal, dirinya belum berhasil memasuki arena.
Ketika masuk panggung pilkada, seseorang kembali harus menyiapkan amunisi besar untuk memenangkan perang itu. Biarpun segala mekanisme pengawasan disusun, itu hanya berlaku di atas kertas. Faktanya, semua calon bergerilya menyiasati aturan, hingga siap-siap mengeluarkan semua senjata demi melakukan serangan fajar. Mayoritas kepala daerah akan menyebut angka yang sangat besar demi memenangkan proses pemilihan itu.

Jika sang calon kaya raya, maka dia bisa dengan mudah menyiapkan amunisi. Jika tidak, maka dia mesti pitar otak demi menemukan dana segar. Jalan pintas yang sering dipilih adalah melobi sejumlah kontraktor agar bersedia untuk menalangi banyak pembiayaan. Para kontraktor itu diberi harapan untuk mendapatkan banyak paket kegiatan, jika sang kandidat terpilih. Namun, semuanya tidak gratis.

Pijar api permasalahan bermula di sini. Seorang kepala daerah yang terpilih dari satu sistem berbiaya tinggi, hal pertama yang dia lakukan agar segera membayar janji-janjinya saat hendak kampanye. Dia berhadapan dengan tuntutan dari delapan penjuru mata angin. Mulai dari tuntutan rakyat yang berharap agar janji perubahan bisa terealisasi. Dirinya juga berhadapan dengan para kontraktor yang mulai menagih pekerjaan.

Hubungan antara kepala daerah dan kontraktor serupa hubungan petani dan tengkulak. Petani menanam sesuatu dan merawatnya. Sebelum tanaman itu berbuah, tengkulak datang lalu meng-ijon atau membayar tanaman itu sebelum dipanen dengan biaya murah. Ketika tanaman itu telah dipanen, petani kehilangan hak atasnya, sebab kontraktor sudah membayarnya jauh-jauh hari. 

Maka seorang kontraktor sering bertindak serupa debt collector yang akan menagih janji kepala daerah. Mekanisme pengadaan barang dan jasa serta tender proyek disiasati demi menenangkan seseorang. Setelah menang kontraktor juga harus tahu diri. Dia juga harus menyiapkan setoran kepada kepala daerah jika ingin dirinya bisa mendapatkan paket program yang lain.

“Saya harus pandai melobi Jakarta jika ingin ada pembangunan di daerah. Dana APBD sudah habis untuk gaji pegawai dan kaplingan kontraktor,” kata bupati itu dengan suara pelan.

Perimbangan keuangan pusat dan daerah merupakan konsekuensi dari desentralisasi penyerahan urusan pusat dan daerah. Prinsip money follow function yang bermakna pendanaan harus mengikuti pembagian urusan dan tanggung jawab dari masing-masing tingkat Pemerintahan.  Yang terjadi, tak semua daerah bisa mengelola dana alokasi umum (DAU) dengan bijak. Banyak daerah yang menghabiskan lebih 50 persen anggarannya untuk belanja pegawai. Malah ada yang sampai 75 persen.

Biasanya, daerah-daerah ini akan sesegera mungkin mencari lobi demi mendapatkan dana pemerintah pusat. Apalagi, sejak lama menjadi pertanyaan besar, apakah kebijakan perimbangan keuangan antara pemerintah dan pemerintah Daerah terkini, sudah dilakukan secara proporsional, adil, demokratis dan sesuai dengan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah?.

Riset FITRA menunjukkan betapa banyaknya dana yang dipegang pemerintah pusat serta membuka peluang untuk lahirnya praktik mafia anggaran. Salah satu kasus yang masih hangat adalah dana penyesuaian infrastruktur, yang sarat dengan kepentingan politik dan membuka ruang praktek mafia anggaran.

Banyak daerah yang kemudian berjibaku untuk mendapatkan dana perbaikan infrastruktur ini. Mereka mengoptimalkan berbagai kanal untuk mendapatkannya. Teman-teman di daerah sering bercerita tentang betapa banyaknya pintu yang harus dilewati agar bisa bertemu orang pusat. “Mulai dari pos satpam, saya sudah harus siapkan uang pelicin. Semakin ke atas semakin besar pelicin yang disiapkan,” kata seorang kawan dari daerah.

Tak hanya itu, saat melobi dan membawa proposal di kementerian, orang daerah diarahkan untuk melobi para key person yang dianggap bisa membuka kunci anggaran. Boleh jadi mereka adalah pejabat, atau barangkali sejumlah keluarga pejabat yang dengan lihainya bisa mengatur urusan APBN negara dan memasukkan proposal itu sebagai prioritas negara. Jika besar dana yang disiapkan, maka besar pula kemungkinan menang persaingan dengan demikian banyak daerah lain yang juga mengincar dana yang sama.

*** 

Bupati di hadapan saya masih terpekur saat bercerita bagaimana upayanya melakukan lobi. Di meja pemerintah pusat, antrian proposal daerah berderet rapi. Jika seseorang hendak mendapat proyek yang bermakna kemajuan bagi daerah, perbaikan infrastruktur dan lapangan kerja baru, maka sejumlah pelicin harus disiapkan.

Bupati itu tak berdaya berhadapan dengan sistem yang sudah berjalan kronis dan menahun. Bung Hatta benar saat mengatakan bahwa korupsi di tanah air ibarat kanker sudah masuk stadium tiga, stadium di mana sel kanker bisa saling memangsa agar tetap survive di tubuh yang sakit.

“Jebakan betmen ada di mana-mana. Mulai dari saat pilkada, saat mulai meyakinkan konstituen dan harus siapkan biaya. Setelah menjabat pun banyak lobi yang butuh cost politik. Sekali protes, maka jaringan akan tertutup. Sementara menerima sistem itu bisa membawa risik kapan saja terjerat,” katanya.

Orang pusat dan orang daerah sama-sama mendapatkan “dana bagi hasil.” Semua pihak-pihak yang mengurus proyek-proyek ini akan kebagian jatah pula. Logikanya, tak mungkin ada air mengalir melalui keran, tanpa membuat pipa itu basah. Praktik ini menjadi lingkaran yang terus direproduksi, menguntungkan banyak pihak. Yang dirugikan adalah negara yang tiba-tiba saja mengeluarkan biaya politik dari praktik percaloan ini.

BACA: Saling Sikut Demi Rekomendasi Partai

Dalam banyak hal, kita pantas memaki kepala daerah itu sebab sengaja melakukan praktik korupsi dan percaloan. Tapi kita juga tak bisa memungkiri fakta bahwa seseorang yang hendak membuat sejarah baru dan prestasi di daerahnya mesti pandai-pandai memaksimalkan lobi. Dia harus siap kehilangan 50 demi mendapatkan angka 5 juta. Sayangnya, angka 50 itu bisa menjadi jerat yang setiap saat mengikat lehernya lalu menyeret ke penjara.

Saya hanya bisa mendengarkan. Saya pikir tak bijak juga memaki seorang kepala daerah terduga korupsi setinggi langit. Bahkan terhadap seseorang yang sudah divonis sebagai koruptor pun tak etis untuk memakinya sebagai pencuri. Meskipun mereka melakukan itu secara sadar, penting kiranya memahami bagaimana situasi yang dihadapi, apa saja permainan yang harus diikuti, serta bagaimana seseorang akhirnya melakukan tindakan jahat itu.

Biarpun lebih sering tak setuju dengan Fahri Hamzah, ada kalimatnya yang cukup mengena hati. Selama ini penegakan korupsi hanya menonjolkan aspek penindakan. Sementara pencegahan tak banyak tersentuh. Kita mengabaikan satu sistem atau mekanisme yang bisa menjaga seseorang agar tidak korupsi. Kita seolah membiarkan sistem yang serupa perangkap itu bekerja, dan tak lama kemudian kita sibuk bertepuk tangan saat seorang kepala daerah ditangkap karena korupsi. 

“Mereka yang tertangkap adalah mereka yang sial. Berarti mereka tak pandai bermain. Tak pandai menjaga harmoni semua kekuatan, entah itu pusat maupun daerah, entah itu calo kecil maupun calo besar. Semua bisa setiap saat tertangkap. Ini soal waktu,” katanya menutup pembicaraan.

Di luar sana, lembayung senja perlahan memayungi Jakarta.



Nusantara, Atlantis, dan Petualangan Dua Remaja




REMAJA bernama Rani dan Bimo itu tanpa sengaja memasuki portal ke negeri yang peradabannya jauh lebih tinggi. Rumah-rumahnya setinggi menara dan disepuh emas. Teknologinya canggih. Namun Rani tak merasa asing di situ. Dia mendengar orang-orang berbicara dalam bahasa yang akrab di telinganya. 

Ternyata, mereka memasuki portal yang menghubungkannya dengan kediaman nenek moyang Nusantara. Para leluhur yang dahulu membangun candi-candi terbesar di dunia itu ternyata masih eksis. Mereka menyembunyikan peradabannya saat konflik mulai merekah di Nusantara. Mereka sengaja tidak menampakkan diri, dan hanya menampilkan beberapa artefak candi sebagai jejak arkeologis.

Kisah tentang Rani yang memasuki era kejayaan Majapahit itu saya temukan dalam novel berjudul Candi Nuswantara. Novel ini adalah kelanjutan dari novel Gerbang Nuswantara yang terbit dua tahun silam. Novel ini menyajikan petualangan seorang remaja, disertai beberapa pertanyaan penting tentang sejarah kita. 

Pada masa silam, leluhur telah memiliki jejak peradaban yang hebat. Itu bisa dilihat pada megahnya candi-candi yang kemudian jadi warisan dunia. Sejarah mencatat bahwa peradaban itu selanjutnya runtuh, tenggelam, dan jejak-jejaknya dikais oleh para arkeolog dan sejarawan. Informasi yang diterima sangat minim, hingga akhirnya tafsir dimonopoli oleh para sarjana asing yang datang dan menyusun masa silam kita dalam sejarah.

Dalam novel yang ditulis Victoria Tunggono ini, masa silam itu tak lantas hilang begitu saja. Yang terjadi, masa silam tetap terus berjalan, melanjutkan peradabannya, hanya saja sengaja menyembunyikan diri sehingga tidak tampak. Peradaban Majapahit dan Mataram kuno tidak lenyap begitu saja. Mereka masih eksis sebab sengaja menghilangkan diri agar terhindar dari kepunahan.

Dari sisi cara bercerita (storytelling), novel ini saya anggap biasa-biasa saja. Novelnya serupa chick lit  dan teen lit yang tengah digandrungi para remaja. Tapi saya sangat tertarik ketika penulis novel ini menyebut-nyebut komunitas Turonggo Seto yang banyak membantunya dalam mengembangkan ide untuk novel ini. 

Lebih tersentak lagi saat penulis novel membahas kehebatan Nusantara, yang pernah disebut sebagai peradaban Atlantis, dan kemudian lenyap begitu saja. Novel ini menjadi sekeping dari puzzle teka-teki yang dipercayai banyak orang tentang leluhur hebat Nusantara yang pernah menguasai dua per tiga bumi.

Saya ingat, pada saat reformasi, terjadi perdebatan ulang tentang seperti apa identitas Indonesia. Ada yang kembali menggemakan gagasan tentang Indonesia sebagai negara agama yang berkiblat ke Timur Tengah. Namun, ada juga sejumlah orang yang menganggap bahwa identitas asli Indonesia bukan tercermin pada budaya yang dipengaruhi agama dari Timur Tengah, sebab sebelum era itu, bahkan beberapa abad sebelumnya, Nusantara sudah pernah berdiri dan punya jejak peradaban yang hebat.

Di antara sejumlah orang yang menawarkan gerak kembali ke tradisi asli itu adalah sejumlah anak muda yang tergabung dalam yayasan bernama Turonggo Seto, yang disebut penulis novel ini dalam pengantarnya. Anak muda di Turonggo Seto ini menghangatkan diskusi tentang kehebatan Nusantara itu dalam satu grup media sosial bernama Greget Nuswantara. Tak sekadar diskusi, mereka melakukan jelajah candi, menafsir ulang relief candi, dan mengemukakan teori bahwa ada banyak candi-candi lain yang jauh lebih hebat, namun masih terkubur. 

Pada masa itu, terdapat buku mengenai teka-teki Atlantis yang ditulis profesor berkebangsaan Brazil. Yang menarik, buku itu memaparkan fakta bahwa kemungkinan besar peradaban hebat yang digambarkan dalam banyak naskah orang Eropa sebagai rumahnya orang-orang yang jenius dan punya teknologi tinggi itu ada di Nusantara. Atlantis itu diyakini  tenggelam saat terjadi letusan besar sehingga es di kutub mencair.

Buku lain yang juga mempengaruhi adalah Eden in the East yang ditulis ilmuwan biologi molekuler Stephen Oppenheimer. Buku ini membantah versi sejarah tentang nenek moyang kita yang disebutkan dari Cina, sebab DNA orang Indonesia lebih tua dari Cina. Artinya, orang Indonesia sekarang dibentuk oleh satu peradaban tua yang telah lama menghuni wilayah ini, kemudian memencar karena adanya banjir besar. Buku-buku ini mempengaruhi padangan bahwa Nusantara memang hebat, dan kita generasi yang hanya bisa menelusur kehebatan itu.

Pada tahun 2006, sahabat saya di antropologi UI, Diah Laksmi, sering bercerita tentang anak-anak muda ini. Kata Diah, mereka adalah keluaran kampus-kampus besar seperti ITB dan UI. Basic mereka pertambangan dan geologi, namun sangat meminati kajian masa silam. Pendekatan mereka adalah gabungan dari metode saintifik, yakni metode ilmiah dan teknologi untuk mengenali batuan, dan pendekatan klenik.

Mungkin kita akan merasa geli saat mendengar kata klenik. Dalam angan kita, klenik adalah metode bagi para dukun berusia sepuh dan masih kolot. Makanya agak aneh saat mendengar anak muda lulusan kampus-kampus hebat di tanah air malah menjadikan klenik itu sebagai metode yang melengkapi pendekatan saintifik.

Biasanya, metode ilmiah justru akan menyingkirkan klenik. Bagi anak-anak muda Turonggo Seto, klenik itu berupa mantra-mantra dan berdialog dengan para  leluhur, yang kemudian akan diikuti metode ilmiah, termasuk penggunaan peta-peta yang disiapkan Google. Anak-anak muda itu sering berseloroh kalau mereka dari MIT, yang merupakan kepanjangan dari Menyan Institute of Technology. 

Saya belum pernah menyaksikan cara kerja mereka. Namun akan sangat menarik menyaksikan bagaimana mereka membakar dupa lalu merapal mantra, kemudian berdialog dengan leluhur. Kata mereka, sebagaimana disampaikan Diah, mantra dan menyan itu adalah password bagi bekerjanya satu algoritma teknologi. Prinsip kerjanya sama dengan teknologi siri yang dikembangkan Apple, ataupun perangkat Google Assistant yang dikembangkan Google. Prinsip kerjanya adalah lafal tertentu dari bibir manusia akan dikenali sebagai pembuka dari bekerjanya satu sistem. 

Anak-anak muda itu tidak mau mengikuti trajectory dari peneliti asing. Anak-anak muda itu membangun konstruksi teori sendiri. Menurut mereka, sejarah Nusantara dahulu amatlah hebat, namun proses kolonialisasi membuat kehebatan itu sengaja dihilangkan. Sarjana kolonial malah membangun teori tentang Nusantara yang terpengaruh jejak India sebagaimana terlihat pada candi-candi.

Anak-anak muda itu meyakini bahwa candi-candi adalah bukti nyata tentang kehebatan di masa silam. Malah mereka mengajukan pertanyaan mengapa teknologi unggul dan kemampuan di masa silam itu justru nyaris punah ketika Indonesia sebagai negara bangsa berdiri? Mengapa kita harus jauh-jauh berguru di negeri orang tentang teknologi, padahal nenek moyang kita telah meletakkan satu landasan hebat yang memungkinkan lahirnya banyak jejak peradaban?

Mungkin, kita akan mempertanyakan sejauh mana bukti-bukti yang dimiliki anak muda itu. Tapi satu hal penting, mereka telah membangun satu hipotesa menarik, serta merumuskan sendiri bagaimana kerja epistemologi dalam menemukan kebenaran. Di mata mereka, epistemologi bukanlah setumpuk perangkat yang kaku dalam menemukan kebenaran, melainkan sesuatu yang bergerak dan selalu dimaknai oleh masyarakat.

Sayangnya, diskusi di grup Greget Nuswantara itu menjadi tidak seru disebabkan serangan banyak kelompok yang menganggap mereka anti-agama sebab hendak melestarikan tradisi kuno. Tapi setidaknya, diskusi itu telah membuka mata bahwa Nusantara punya jejak emas yang harusnya dirawat dan dilestarikan.

Saya juga merasakan penyesalan karena tak sempat bertemu dan mengenal akrab mereka. Saya hanya membaca kisah mereka dalam tesis yang dibuat Diah di UI dengan judul Sejarah Nuswantara menurut Turangga Seta: Kajian Antropologi terhadap Proses Produksi Pengetahuan. Dalam tesis itu, Diah menjelaskan bagaimana pengetahuan dipengaruhi oleh proses kultural dan sosial dari komunitas yang mereproduksi pengetahuan itu. Pemahaman itu dibentuk oleh nalar dan realisme sendiri yang dicapai pengalaman sesama warga komunitas.

Pesan kuat yang muncul dalam novel ini adalah kebanggaan pada masa silam, serta jejak nenek moyang harus membara dalam diri setiap anak bangsa. Kebanggaan itu harusnya menjadi ikhtiar untuk menyelamatkan semua hasil produksi pengetahuan di masa silam untuk memperkaya peradaban masa kini. 

Demi membangun peradaban yang kuat itu, maka bangsa ini tak harus berkiblat pada bangsa lain, melainkan menemukan unsur dinamik yang ada di tubuh bangsa, termasuk capaian hebat yang banyak di temukan di sekujur peradaban kita di masa silam.


Menyeka Sedih di Wajah Zinedine Zidane




PENGUMUMAN itu datang tiba-tiba. Di tengah pekik hore dan kegembiraan yang membuncah di jantung kota Madrid, di saat lonceng kemenangan masih berdentang di Gereja Catedral de la Almudena, sang pelatih Zinedine Zidane mengundurkan diri dari kursi pelatih. Ada apakah gerangan?

Kolumnis Nando Villa menyebut kabar terbaru Zidane itu lebih mengejutkan dari berita jatuhnya Perdana Menteri Spanyol. Seorang pelatih yang baru saja mencatatkan sejarah dengan memenangkan Piala Champion selama tiga tahun berturut-turut, tiba-tiba menyatakan mundur di tengah sorak-sorai dan hadiah berlimpah karena kemenangan? Apakah ini bukan satu kegilaan?

Dia memenangkan trophy lebih banyak dari pelatih Real Madrid mana pun. Kata Nando Villa, Zidane adalah seorang gentleman sejati yang berani menghadapi apa pun. Dia tidak membuat drama terlebih dahulu, misalnya melalui pernyataan pers. Dia menyimpan semua persoalan seorang diri, hingga tiba-tiba saja mengajukan pengunduran diri.

Orang-orang sibuk berspekulasi. Memimpin klub sebesar Real Madrid adalah memimpin barisan pemain hebat di galaksi yang sukar ditundukkan. Semua ingin mewarnai permainan dengan caranya sendiri sebagai bintang. Zidane harus berhadapan dengan seorang presiden klub yang juga megalomaniak yakni Florentino Perez. Banyak media dan kolumnis berspekulasi, pengunduran diri itu sudah lama disiapkan Zidane setelah dirinya terus tertekan di bawah tekanan Perez.

Memang, Perez dikenal suka mengintervensi semua pelatih Madrid. Dia punya banyak “mainan” atau “anak emas” yang wajib untuk bermain. Perez bisa menekan pelatih jika pemain itu tak masuk dalam starting eleven. 

BACA: Lelaki Dekil yang Lebih Hebat dari Cristiano Ronaldo

Sebelum Zidane, pelatih sebelumnya Rafa Benitez memimpin tim yang serba timpang. Ketika Madrid berhadapan dengan Barcelona dalam el classico tahun 2015, Benitez ingin memasang gelandang bertahan Casemiro di lapangan. Namun Perez memaksa Benitez untuk memasang pemain favoritnya James Rodrigez di posisi Casemiro. Real Madrid kemudian dihancurkan Barcelona dengan skor 4-0. Takdir Rafa Benitez di Madrid berakhir.

Zidane dipilih menggantikan Benitez. Berbeda dengan pelatih sebelumnya, Zidane ngotot dengan pilihannya untuk mencadangkan James dan Gareth Bale, dua pemain paling mahal Madrid seharga 70 juta dan 100 juta euro. Zidane menyeimbangkan tim dengan memasang Isco dan Casemiro. Taktik itu berhasil. Madrid memboyong Piala Champion. 

Jika dilihat pada masa itu, keputusan Zidane terlampau berani dan mengundang risiko. Dia tidak mencadangkan satu andalan Perez, tapi dua sekaligus. Jika kalah, nasibnya akan berakhir. Namun, demikianlah risiko yang harus dibayar seorang pelatih. Jika menang, dia akan dicatat sejarah. Jika kalah, dia akan tenggelam di lipatan sejarah.

Sebagai pelatih yang sebelumnya adalah pemain legendaris, dia tidak ada beban melakukan keputusan apa pun sebab percaya bahwa lapangan bola bukan ajang untuk menunjukkan ego, tetapi harus menjadi panggung untuk segala kreativitas dan keberanian.

***

Sejak kecil, Zidane sudah menunjukkan keberanian dan kepercayaan diri yang tinggi. Kehidupan masa kecil yang keras telah menempa dirinya menjadi seorang pribadi tangguh yang siap menghadapi semua risiko apa pun dalam kehidupannya. Dia anak imigran miskin yang hijrah dari Afrika Utara. Setiba di Perancis, Zidane kecil ikut orang tuanya yang tinggal di La Castellane, sebuah tempat kumuh yang menyedihkan di tepian Marseille. Di situ, Zidane bermain bola di jalanan yang gawangnya ditandai batu. 

Pada masa itu, Zidane kecil bukan yang terbaik. Tapi dia tak pernah menyerah menghadapi apa pun. “Ketika teman-teman pulang, saya masih bermain dan mempelajari trik bermain bola,” katanya. Semua keahliannya sekarang adalah sesuatu yang didapatnya secara alamiah, melalui proses belajar di lapangan bermain masa kecilnya.

Di umur 13 tahun, dia ditemukan Jean Varraud seorang pemandu bakat dari AS Cannes. Ia menangis saat berpisah dengan orang tuanya yang miskin. Namun kehidupan terus berlanjut, Pada usia 16 tahun, dia sudah menjadi pemain profesional di Bordeaux, sebelum akhirnya pindah ke Juventus, Italia. Di mana pun dia pergi, dia akan terus mengenang Jean Varraud yang menemukan potensi hebatnya. “Saya bisa seperti ini karena Varraud.”

BACA: Rahasia Terbesar Jose Mourinho

Hingga akhirnya dia menjadi pemain yang melebihi ekspektasinya sendiri. Di piala dunia 1998, saat Perancis mengalahkan Brazil, dia menjadi pahlawan yang dielu-elukan semua orang. Dia membawa keajaiban bagi Perancis yang tak pernah menggenggam piala dunia. “Ia bukan pemain bola, ia adalah keberuntungan,” kata Laurent Blanc, mantan pemain Perancis, sebagai dicatat seroang jurnalis. “Ia seperti tidak datang dari dunia ini,” kata Aimé Jaquet, mantan Pelatih Perancis. “Ia seperti dewa, ia bermain bola dengan kemolekan seorang balerina,” puji David Beckham.



Kini, dewa bola yang bermain seperti balerina itu mengukir karier sebagai pelatih cemerlang.  Dia menggapai banyak rekor sebagai pelatih hebat dengan sederet prestasi mentereng. Sebagai pelatih Real Madrid, dia sudah memiliki warisan yang akan selalu dikenang dari generasi ke generasi. Dia meninggalkan panggung Madrid dengan dua warisan utama. 

Pertama, dia memenangkan tiga piala Champion berturut-turut yang belum pernah dilakukan pelatih Madrid mana pun. Di sisi lain, dia tidak pernah memaksakan satu style bermain kepada pemainnya. Dia membentuk tim seperti amuba yang bisa cepat membelah diri dalam banyak situasi. Timnya paling adaptif dan seimbang. Tak ada satu rumusan baku dalam pakem Zidane. 

Memang, Zidane tidak sejenius Pep Guardiola dan Jurgen Klopp yang punya filosofi bermain yang jelas. Jika ketiganya didudukkan dalam satu seminar, Zidane akan lebih banyak diam dan membiarkan Guardiola dan Klopp berceramah tentang bagaimana membangun tim dengan karakter menyerang. Zidane tak akan berkutik sebab dirinya bukan tipe pelatih penuh visi melangit, tapi dia punya pragmatisme dan rasa lapar kemenangan yang paling tinggi. 

Zidane lebih pasif, membiarkan pemainnya berekspresi dengan mengikuti hasrat bermain yang paling disukai. Dalam situasi tertentu, dia dengan cepat bisa mengubah skema bermainnya. Lihat saja para pertandingan kedua babak semifinal saat melawan PSG. Zidane mengubah skema permainan menjadi 4-4-2 dan menempatkan Marco Asensio dan Lucas Vazquez di posisi sayap. Posisi tak terduga ini berjalan sangat efektif, yang menempatkan posisi Cristiano Ronaldo sebagai pencetak gol.

BACA: Maradona, Seks, dan Tuhan

Zidane dikenal sebagai pelatih yang paling memahami pemainnya, Dia meyakinkan pemainnya bahwa cara terbaik untuk mendapatkan hasil terbaik adalah kesediaan untuk hidup dan mati bersama-sama hingga babak akhir. Itu terlihat ketika awal musim, klub telah menyetujui transfer kiper muda Atletico yakni Kepa Arrizabalaga. Zidane menunda transfer itu hingga akhir musim. 

Dia tidak ingin mengirim pesan kepada kiper sekarang kalau ada keraguan pada permainannya. Zidane berdiri melawan Perez. Keputusan itu dijawab kiper Keylor Navas dengan penyelamatan-penyelamatan brilian dalam pertandingan selanjutnya.

Di babak akhir, semua keputusan yang dibuatnya sebagai pelatih Real Madrid telah menempatkannya sebagai legenda yang akan selalu dikenang di klub bersejarah itu. Publik akan mengenang kepercayaan dirinya, kekuatan hatinya ketika memotivasi semua pemainnya di ruang ganti, hingga bagaimana ketenangannya saat menghadapi pertandingan.

Namun, apakah Zidane tidak malah bersedih meninggalkan panggung hijau yang selalu disorot kamera? Bagaimanakah perasaannya ketika pergi dari panggung di mana suporter Madrid tak henti bernyanyi untuknya: Como not e voy a querer yang bermakna bagaimana mungkin kami tak mencintaimu?

Dalam jumpa pers ketika mengumumkan pengunduran diri, Zidane lebih banyak diam. Sesekali dia menatap piala “si kuping lebar”, julukan untuk Piala Champion, di hadapannya.(*)


BACA: Filsafat Kearifan, Filsafat Alex Ferguson





Semuanya Berkat HERNOWO HASIM


beberapa buku yang ditulis Hernowo

BIASANYA, saya sangat cepat menyatakan dukacita dan menuliskan kesan-kesan tentang seseorang. Tapi untuk lelaki bernama Hernowo Hasim, saya butuh beberapa hari untuk bisa menulis. Saya tidak tahu hendak memulai dari mana. Saya merasakan ada yang kosong di rongga hati kala menyadari bahwa seorang guru telah berpulang. Uniknya, sang guru itu justru belum pernah saya temui.

Hernowo, seorang guru menulis telah berpulang. Kenyataan ini terasa menyakitkan bagi saya yang membaca hampir semua, dan mengoleksi banyak buku yang ditulis salah satu pendiri penerbit Mizan ini. Saya membayangkan akan kehilangan motivasi dari orang yang selalu saya tunggu buku-buku terbarunya. Saya sedih saat membayangkan tidak lagi mendapatkan sekeping atau dua keping komentarnya atas artikel pendek yang saya buat.

Beberapa orang telah menulis tentang apa saja ide-ide yang diperkenalkan Hernowo. Saya tak ingin ikut-ikut menulis sesuatu yang sudah dibahas banyak orang. Saya ingin mengikuti anjuran Hernowo yang selalu meminta orang-orang untuk mengeluarkan pemikirannya yang orisinal melalui gaya menulis bebas. Baiklah, saya ingin buat pengakuan mengapa Hernowo begitu penting di mata saya.

Dahulu, sebelum bertemu buku yang ditulis Hernowo, saya sudah menekuni dunia menulis. Satu atau dua tulisan saya terpampang di Identitas, koran milik mahasiswa Universitas Hasanuddin. Sesekali saya juga meramaikan koran lokal. Akan tetapi saya menulis dengan gaya yang susah dimengerti masyarakat awam. Saya menulis terlampau akademik, dengan teori-teori yang berhamburan, dan pendapat orisinal saya hanya secuil.

Dalam artikel-artikel pendek itu, saya menghamparkan banyak teori dan kutipan-kutipan yang tak lazim bagi orang paham. Saya akan merasa keren ketika mengutip banyak pemikir dan filsuf hebat, meskipun saya sendiri tak paham benar apa yang dikatakan orang hebat itu. Bacaan saya hanya satu atau dua buku, tapi ketika menulis, saya berpretensi paham semua pemikiran orang lain.

Perasaan saya akan melambung jauh saat bertemu seseorang yang tidak paham apa yang saya tulis. Rasanya saya ingin berkata, “Makanya, banyak baca. Biar paham apa yang saya tulis.” Sepertinya saya ingin berkata pada mereka yang tak paham: “Makanya, jadi orang pintar dong. Seperti saya.”

Entah kenapa, pada masa itu, saya justru amat bangga ketika orang-orang tak memahami apa yang saya tulis. Ada semacam perasaan jumawa ketika menganggap bahwa tulisan kita membuat orang lain bingung dan tidak mengerti. Ada perasaan bahwa kita telah membangun satu jarak intelektual yang tinggi, yang tak bisa digapai sembarang orang. Ada perasan hebat ketika ilmu kita jauh di depan, dan orang lain tak paham.

Dengan gaya menulis seperti itu, saya jadi tidak produktif. Sebab saya berharap tulisan itu akan dianggap hebat oleh orang lain. Saya akan kecewa ketika satu tulisan saya dianggap biasa-biasa saja. Kegiatan menulis adalah kegiatan yang menjadi amat menakutkan buat saya. Sebelum tulisan jadi, saya bayangkan cibiran, hinaan, dan juga anggapan bahwa saya hanya menulis sampah. Lebih sakit hati saat membayangkan tulisan itu akan dianggap rendah orang lain.

Pada satu titik, saya tak bisa melakukan apa pun. Untuk membuat satu artikel pendek, saya butuh waktu berhari-hari sebab takut penilaian orang. Lebih sering saya urungkan niat untuk mengirimkan tulisan itu sebab khawatir kalau-kalau tulisan itu bisa mencederai anggapan orang bahwa saya pintar. Saya tak ingin dianggap bodoh.

Hingga suatu hari, saya menemukan buku Mengikat Makna yang ditulis Hernowo. Mulanya, saya memandang enteng buku ini. Saya pikir ini tak beda dengan buku-buku how to yang banyak beredar di pasaran. Ketika pertama membacanya, saya mulai tertarik. Kalimat Ali bin Abi Thalib yakni "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya" terasa menyesap dalam diri. Saya membaca kalimat-kalimat yang disusun sederhana, tapi maknanya terasa menusuk hingga sumsum terdalam.

Hernowo telah menghancurkan keangkuhan dalam diri saya tentang menulis. Bahwa menulis itu adalah cara untuk berkomunikasi dan membangun jembatan pemikiran dengan orang lain. Bahwa menulis itu bertujuan untuk menggerakkan, untuk menginspirasi, bukan untuk membuat orang lain kagum. Melalui tulisannya, Hernowo mengajarkan untuk menemukan sesuatu yang orisinil, apa adanya, mengalir, dan menjadi medium bagi seseorang untuk mengalirkan jati dirinya.




Saya sepakat dengan apa yang ditulis pada bagian awal buku Mengikat Makna. Bahwa kegiatan menulis adalah upaya untuk mengikat makna, kemudian merekam, menyimpan, dan mendokumentasikannya. Ketika seseorang menulis, maka sesungguhnya seseorang sedang berpikir. Dia mencerna satu kenyataan, kemudian mengalirkan pengetahuannya itu ke dalam aksara. Menulis adalah cara bagi seseorang untuk berbagi pengetahuan, menyebar manfaat, dan mengajak orang lain untuk memikirkan sesuatu.

Gaya menulis Hernowo sesederhana percakapan di warung kopi atau di teras rumah, tapi makna yang disampaikannya terasa menghujam sampai ke jantung. Dia tidak sedang menggurui, tetapi menunjukkan cahaya terang ketika orang-orang berada dalam situasi gelap hendak memanggil aksara apa. Dia menunjukkan cara-cara sederhana bagaimana memulai gagasan, meniti di atas jembatan aksara, hingga tiba pada ujung yang mengejutkan saat seseorang menyadari bahwa dirinya bisa menulis.

Dalam tuturan Hernowo, seseorang tak akan bisa menjadi penulis yang hebat jika dirinya bukan pembaca yang hebat. Demi mengikuti anjuran Hernowo, saya pun banyak membaca buku-buku yang dianjurkannya. Saya lalu mencari buku yang ditulis Natalie Goldberg, seorang praktisi menulis yang memperlakukan aktivitas menulis serupa meditasi. Saya membaca bukunya yang berjudul Writing Down the Bone, salah satu buku yang mempengaruhi Hernowo.
Seusai membaca buku itu, saya kembali merenungi buku Hernowo. Kesimpulan saya, setiap orang punya kemampuan untuk menulis. Makanya, kelas-kelas kepenulisan itu adalah sesuatu yang tidak perlu. Mengapa? Sebab setiap orang punya kisah yang seharusnya bisa dibagikan melalui aktivitas menulis. Semua orang punya sumur yang berisikan telaga kisah dalam dirinya. 

Kalaupun ada kelas menulis, maka yang dibahas dalam kelas itu adalah bagaimana menemukan tali panjang dan timba, yang kemudian digunakan untuk mengambil kisah dari dalam sumur diri, kemudian dibawa ke atas. Kelas menulis harusnya menjadi kelas penemuan diri. Seseorang mengenali dirinya, mengenali apa saja kisah menarik yang dimilikinya dan berguna bagi orang lain, lalu menemukan cara agar kisah-kisah itu bisa berbaris dalam aksara.

Sejak buku Mengikat Makna, saya mulai mengikuti buku-buku Hernowo. Hingga akhirnya, saya mulai menikmati dunia menulis. Berkat Hernowo, saya lebih percaya diri. Menulis adalah aktivitas yang menyenangkan dan membahagiakan. Saya tak pernah terbebani dengan kegiatan menulis. Bagi saya, menulis serupa singgah bermain di satu telaga, membasuh wajah, kemudian sejenak meminum air dingin di situ. 

Berkat Hernowo, saya sering tak peduli apa pun penilaian sinis orang lain. Bagi saya, jika ada orang yang mencibir satu tulisan, pastilah orang itu bukan penulis. Sebab seorang penulis pasti paham bahwa tidak mudah melahirkan satu tulisan. Selalu ada proses ketika penulis hamil dengan gagasan-gagasan, kemudian menjaganya dalam pikiran, lalu susah payah melahirkannya ketika menulis. Hinaan pada satu tulisan adalah ekspresi ketidakmampuan untuk melahirkan hal yang sama. Potret rasa iri karena orang lain bisa maju selangkah, saat diri hanya bisa mencibir.

Buku-buku Hernowo adalah jenis buku yang tidak saja menyediakan peta jalan agar seseorang tidak tersesat dalam dunia aksara, tapi juga semacam mantra agar seseorang menemukan kekuatan dan daya-daya hebat itu dalam dirinya. Seseorang tak harus menunggu bantuan orang lain, tapi membangkitkan potensi yang selama ini tertidur dalam dirinya. Tipe bukunya adalah menggerakkan seseorang untuk menimba sebanyak-banyaknya potensinya demi menggapai kebahagiaan.

BACA: Sepuluh Alasan untuk Tidak Menulis

Buku-bukunya tak cuma menggerakkan, tapi juga membasahi diri dengan berbagai kearifan dan spiritualitas. Hernowo menyerap kearifan dari tulisan banyak orang, lalu membagikannya kepada banyak orang. Dia menyentuh nurani orang lain dengan pelajaran dan kisah-kisah yang menggerakkan sehingga orang-orang menemukan jati dirinya serta tujuan hendak ke mana. Sesuai membaca bukunya, saya tak cuma merasakan secercah cahaya terang, tapi juga nurani yang dibasahi oleh embun permenungan. 

buku Hernowo yang terbaru

Makanya, ketika membaca berita dirinya telah berpulang, saya merasa sangat kehilangan. Interaksi saya dengannya amat terbatas. Saya belum pernah bertemu dengannya. Saya hanya berinteraksi melalui media sosial. Saya rajin membaca catatannya di satu grup Facebook yang dikelolanya. Ketika saya membagikan tulisan saya di situ, dia dengan sukarela memberikan catatan yang selalu membuat saya melambung dan nyaris tidak berpijak di bumi saking bahagianya.

Pernah pula saya membuat endorsement bukunya akun media sosial saya. Dirinya membaca endorsement itu, kemudian membagikannya ke mana-mana. Saya merasa tersanjung sebab seorang guru sekaliber dirinya, mau saja membagikan catatan saya serta perasaan terima kasih yang dalam. 

Kini, guru hebat yang memberi cahaya terang di dunia menulis itu telah berpulang. Saya tak bisa hadir di pemakamannya. Tapi dari sudut hati yang dalam, saya merapal satu harapan kuat. Semoga setiap aksara yang ditulisnya, yang telah berkelana lalu mengetuk hati banyak orang itu kelak menjadi malaikat yang akan bertutur tentang betapa baiknya dirinya. Semoga setiap kalimat yang pernah dia catat dan abadi dalam buku-bukunya itu akan menjadi amal jariah yang terus memberinya kebaikan di mana pun dia berada. 

Selamat jalan guru menulisku.


Spanduk Duka Cita di Kota Manado




DI Medan, seorang akademisi diringkus aparat karena menganggap teror bom adalah skenario. Tapi di Manado, duka cita atas teror masih tercium di jalan2. Orang masih membicarakannya sembari menyeruput kopi di pagi hari pada bulan puasa.

Di depan Taman Kesatuan Bangsa (TKB) bunga-bunga diletakkan di depan selembar poster yang berisi tanda tangan sebagai tanda mengecam terorisme. Di situ, ada foto Kusuma bangsa, para polisi yang menjadi korban peristiwa itu. Apakah mereka bagian dari skenario?

Rasanya tak mungkin mereka jadi martir dari satu skenario demi mengalihkan isu. Di era ini, isu tak bisa dialihkan. Jejak digitalnya bisa diendus siapa saja. Maka, ancaman teror itu nyata, senyata-nyatanya. Ada kengerian yang setiap saat bisa menerjang. Ada teror yang setiap saat bisa melumat kita ketika lengah.

Mungkin ini kenyataan yang harus kita hadapi di era post-truth, era di mana kebenaran tak lagi menjadi sesuatu yang dicari lewat proses ilmiah. Kebenaran ditemukan lebih dahulu, dipercayai lebih dahulu sehingga fakta demi fakta tak lagi penting.

Di Manado, saya melihat kesedihan yang diekspresikan melalui rangkaian bunga di depan poster polisi yang gugur.

Sekeping Inspirasi di Kota Manado


Kutipan di Bandara Sam Ratulangi

KISAH sebuah kota bukan saja kisah tentang deru knalpot kendaraan bermotor. Bukan juga kisah tentang gedung-gedung tinggi dan jalanan macet yang riuh di pagi dan sore hari. Kisah sebuah kota adalah kisah manusia-manusia yang serupa kuas telah menggoreskan jejak warna-warni di kota itu. 

Di Kota Manado, kota indah di utara tanah air, saya bertemu banyak sosok penuh inspirasi. Pada diri mereka, saya menemukan wajah lain dari kota yang sepintas telah lama dilumat oleh hedonisme dan adu cepat di sirkuit pencarian kekayaan. Berkat mereka, saya melihat sisi lain kota yang sepintas tampak tenang dan adem-ayem di timur. Mereka memberikan identitas dan sukma bagi kota yang menjadi jejak basah bagi siapa pun yang hendak menelusurinya. 

Saatnya berkenalan dengan Benny Ramdhani. Mari jo!

*** 

SUARA bapak itu agak pelan ketika mulai presentasi. Dia diperkenalkan sebagai tokoh lokal Manado. Namanya Benny Rhamdani. Usianya sekitar 40-an tahun. Tubuhnya tinggi besar dan agak tambun. Kumis melintang bertengger di atas bibirnya. Tampaknya, semua orang di Manado sangat mengenalnya. Ketika MC mempersilakan dia untuk bicara, semua orang bertepuk tangan.

Dalam acara yang digelar Kami Indonesia bersama MPR RI di kampus Universitas Negeri Manado (Unima) di Tondano, dia mendapat giliran presentasi setelah mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad dan anggota DPR RI Akbar Faisal. Dua presenter sebelumnya tampil berapi-api dan penuh semangat. Benny justru memulai kalimat dengan tenang.

Dia mengutip teks kitab Injil, kemudian teks dalam Al Quran yang isinya salam dan ucapan selamat sejahtera. Sepintas, gaya retoriknya mengingatkan pada seorang penginjil di gereja. Setelah salam, dia bertanya pada hampir seribu mahasiswa Unima di ruangan itu: “Ada di sini yang beragama Hindu? Islam? Ada yang Nasrani?” Bergantian mahasiswa mengacungkan tangan. “Apakah kalian merasakan ada masalah?” Semua menjawab tidak. 

“Saya ingin berkata pada semua teroris, enyahlah kalian dari Indonesia. Kita tak punya masalah antar agama. Kita baik-baik saja dan hidup rukun harmonis selama berabad-abad,” katanya yang diiringi tepuk tangan membahana.

BACA: Pahlawan Belia di Kota Manado

Benny adalah anggota DPD dari Sulawesi Utara. Ketika bertemu dengannya, saya tak menyangka dirinya berasal dari provinsi yang dikenal sebagai bumi nyiur melambai ini. Fisiknya jauh dari fisik kebanyakan orang Manado yang putih-putih. Ternyata dia lahir di Jawa Barat dari keluarga yang terbilang miskin, kemudian “dibuang” ke Talaud. Dirinya menjadi representasi dari keragaman dan multi-kulturalisme di utara Sulawesi. Dia dari Jawa Barat, besar di Talaud, kuliah di Manado, kemudian terpilih menjadi wakil rakyat Sulawesi Utara di Senayan. 

Ketika kuliah di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Benny tampil sebagai aktivis dan demonstran. Di masa-masa Presiden Soeharto menjadi sosok otoritarian yang menghadirkan teror bagi rakyat, Benny justru memilih jalan tidak biasa yakni menjadi aktivis dan demonstran. Dia getol melakukan demonstrasi di kampus Unsrat, yang disebutnya sebagai kampus yang penuh dengan mahasiswa hedonis. “Saya sering demonstrasi sendirian karena mahasiswa tidak peduli dengan pesan yang mau saya sampaikan,” katanya.

Benny menjalin relasi dengan aktivis Pijar yakni Nuku Sulaeman, serta aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD). Dia pun berangkat ke Jakarta bulan Januari 1998 demi bergabung dengan aksi mahasiswa kampus lain. Dia melakukan tindakan heroik yakni mengiris tangan hingga mendapatkan 25 jahitan ketika berdemonstrasi di kampus UI. Dia meminta pertanggungjawaban mahasiswa UI yang dianggapnya telah melahirkan Orde Baru.

Tak cuma itu, dia juga melakukan mogok makan di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta bersama rekannya Wahab Talaohu. Dalam aksi yang dijagai langsung oleh advokat senior Adnan Buyung Nasution dan Munir itu, Benny dilarikan di Rumah Sakit St Carolus untuk dirawat. Saat baru diinfus selama 3,5 jam, dia dilarikan ke rumah Gus Dur di Ciganjur karena ada isu aparat yang hendak menangkapnya. 

Dalam pelarian itu, Benny dirawat seorang suster di Carolus yang setiap menundukkan badannya akan menjuntai kalung rosario. Dalam keadaan sakit, Benny menggenggam kalung rosario itu kemudian berbisik, “Kalau saya sembuh, saya ingin minta kalung ini sebagai jejak kenangan kalau saya pernah dirawat dalam kasih Tuhan yang mengalir melalui dirimu.” 

Setelah 20 tahun peristiwa reformasi, Benny mengisahkan pengalamannya itu di hadapan mahasiswa. Dia tak malu-malu menceritakan dirinya drop out dari kampus karena sering melakukan demonstrasi. Justru pengalaman drop out itu menjadi cambuk bagi dirinya untuk terus melesat dan sukses di bidang lain. Dia mengasah dirinya sebagai pembela kelompok yang dimarginalkan oleh kebijakan pemerintah.

Berkat reformasi, dirinya punya kesempatan untuk memasuki panggung politik. Dia lalu memaksimalkan kekuatan jejaring yang telah dibentuknya sejak masih menjadi mahasiswa. Dia memberanikan diri untuk maju ke panggung politik hingga akhirnya sukses menjadi anggota DPRD Sulawesi Utara selama dua periode, kemudian tampil di DPD RI sebagai wakil rakyat Sulawesi Utara.

BACA: Mawar Cantik Kota Manado

Tak banyak yang tahu kalau dirinya tidak menamatkan pendidikan di level sarjana. Bahkan Rektor Unsrat pun baru tahu kalau Benny tak lulus kuliah. Kepada mahasiswa, Benny membagikan inspirasi. “Biarpun kamu di-DO, tapi bukan berarti kehidupan kamu berakhir di situ. Bukan berarti kamu akan terjebak dalam kebodohan. Tapi justru harus menjadi kekuatan bagi kamu untuk menemukan apa yang terbaik bagi dirimu,” Semua mahasiswa bertepuk tangan.

Saya yang berada di ruangan itu ikut bertepuk tangan. Saya teringat ucapan filsuf Lao Tze: “Failure is great opportunity.” Kegagalan adalah peluang besar untuk berbuat sesuatu. Ketika satu pintu tertutup, maka pintu-pintu lain akan terbuka. Saat seseorang gagal, bulan lantas dirinya akan gagal di semua bidang kehidupan. Justru seseorang akan menemukan pintu-pintu lain yang bisa melejitkan potensinya untuk menjadi pribadi unggul. Benar kata seorang filsuf: “When we hit our lowest point, we are open to a greatest change.” Ketika kita mencapai titik paling terpuruk, maka kita baru saja membuka perubahan besar dalam hidup kita.

patung depan Manado Town Square

Beruntunglah Kota Manado yang punya banyak sosok hebat seperti Benny. Pada sosok seperti ini, kita menemukan banyak pelajaran yang kelak akan menjadi inspirasi bagi generasi penerus. Namun, kehidupan Benny masih akan terus bergerak. Sikap heroiknya pada masa reformasi akan terus ditantang oleh sejarah. Jika suatu saat ia terlibat kasus korupsi, maka jejak emasnya akan terhapus begitu saja. Tantangan berat yang dihadapinya adalah bagaimana tetap menjaga spirit reformasi dan berbuat sesuatu yang lebih bagi daerah yang diwakilinya.

Dirinya juga tak sendirian. Selain dirinya, tentu ada banyak sosok-sosok lain yang memberikan banyak pelajaran bagi warga kota untuk tidak selalu egois dalam kehidupan, namun meletakkan sekeping pelajaran bagi orang lain. Sosok-sosok hebat ini tak selalu tercatat sejarah, tapi mereka punya peran kecil untuk mengingatkan orang lain tentang sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang lebih bermakna.

Saya meyakini bahwa setiap pengalaman adalah keping pelajaran berharga, yang jika dikumpulkan akan menjadi hamparan hikmah bagi pengayaan jiwa seseorang. Kelak, kita pun akan memberikan inspirasi bagi kehidupan yang akan menjadi tanah gembur bagi tumbuhnya tunas-tunas baru yang memenuhi bumi dengan udara kebaikan.

Di masa silam, peran-peran sebagai sosok inspiratif itu telah dengan amat baik dilakoni oleh Sam Ratulangi, seorang doktor bidang ilmu pasti dari Universitas Zurich yang kemudian mendedikasikan hidupnya untuk republik yang tengah tumbuh tunasnya. Ratulangi meninggalkan hidup mapan demi menjawab panggilan hidup sebagai seorang patriot yang berbuat sesuatu bagi bangsa. 

Saat hendak meninggalkan Manado, saya membaca kutipan menggetarkan dari Sam Ratulangi di bandara yakni “Si tou timou tumou tou” yang artinya manusia baru dapat disebut manusia jika sudah memanusiakan manusia lainnya. Kalimat ini meletakkan esensi kemanusiaan pada tindakan, pada laku untuk memanusiakan orang lain, pada spirit kolektivitas untuk berjalan bersama manusia lainnya. 

Satu sosok manis mengejar saya di bandara. Dari kejauhan, saya melihat seraut wajah manis dengan membawa oleh-oleh di tangan. Dia menyusul saya yang hendak meninggalkan kota itu. Ada banyak rasa yang tak bisa terucap. Sebelum berpisah, dia berbisik  “torang samua basudara kong baku-baku sayang.”


Tak Sabar Menanti Aksi 212




DUA kali trailer film Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 dirilis. Saya selalu terkesima menyaksikan tokoh-tokoh yang dahulu saya temukan dalam novel serial yang ditulis Bastian Tito itu.  Saya tak sabar menyaksikan film yang didanai oleh 20th Fox International itu. Semasa masih SD dan SMP, saya penggemar berat novel ini dan selalu membelinya setiap ada edisi terbaru.

Kini, Wiro Sableng, pendekar yang selalu cengengesan dan bercanda itu akan hadir dalam format layar lebar. Tak tanggung-tanggung, film ini adalah kolaborasi antara rumah produksi Indonesia dan raksasa film Hollywood yakni 20th Century Fox. Saya membayangkan film kolosal ini akan sangat meriah, apalagi ditunjang beberapa aktor dan aktris papan atas negeri ini.

Sejak awal tahun 2018, saya sudah membuat resolusi yakni menyaksikan film ini, apa pun yang terjadi. Sebagai penggemar Wiro, saya rindu kehadiran tokoh-tokoh dalam semesta novel ini. Di satu media, saya membaca komentar produser film ini Sheila Timothy yang mengatakan bahwa ada kemiripan antara serial Wiro Sableng dan Game of Thorne. Makanya, struktur cerita film Wiro dibuat seperti Game of Thorne.

Anggini, Wiro, dan Bujang Gila Tapak Sakti

Katanya, serial Game of Thorne terjadi di satu tempat bernama Westeros, yang di dalamnya terdapat beberapa kerajaan. Masing-masing punya karakteristik sendiri. Nah, serial Wiro juga punya semesta tiga lokasi dengan ciri khas berbeda. Yakni golongan hitam yang mendiami gunung dan hutan, golongan putih yang juga mendiami gunung dan hutan terpisah, serta pihak kerajaan yang sering membenturkan dua aliran persilatan ini. Kerajaan sering memanfaatkan golongan hitam untuk menyerang golongan putih, demikian pula sebaliknya.

Dalam trailer terbaru, saya melihat sejumlah tokoh dalam serial ini. Tokoh golongan hitam yang tampil adalah Mahesa Birawa (yang diperankan pesilat hebat Yayan Ruhiyan), Empat Brewok dari Goa Sanggreng, hingga Kaligundil. 

Sedangkan tokoh golongan putih yang tampil selain Wiro adalah Eyang Sinto Gendeng, Anggini (murid cantik Dewa Tuak), Bujang Gila Tapak Sakti atau sering disingkat Bujala Tasaki, dan Bidadari Angin Timur (yang diidolakan Wiro). Tak boleh dilupakan kehadiran kakek Segala Tahu yang kemampuannya seperti Google sebab selalu punya jawaban atas semua pertanyaan. Bahkan kakek ini bisa-bisa lebih pintar dari Google sebab dia bisa meramal peristiwa masa depan.

Dalam versi novel, ada sejumlah karakter unik yang selalu saya sukai kemunculannya. Selain Dewa Tuak yang membawa bumbungan bambu berisi arak, ada juga Dewa Ketawa, Dewa Sedih, Raja Penidur, juga musuh bebuyutan Wiro Sableng yakni Pangeran Matahari dari Puncak Merapi.

BACA: Lelaki Muslim di Sisi Ratu Inggris

Saya juga terkenang beberapa jurus dan pukulan yang dimiliki Wiro juga masih segar di pikiran. Di antaranya Pukulan Sinar Matahari, yang saat digunakan, lengan Wiro akan bersinar keperakan hingga siku. Juga pukulan kunyuk melempar buah, banteng topan melanda samudera, pukulan angin puyuh, hingga pukulan Dewa Topan Menggusur Gunung. Masing-masing jurus diajarkan oleh guru berbeda. 

Meskipun baru dua trailer yang diluncurkan, saya sudah mendapat gambaran bagaimana megahnya film ini. Konon, budget-nya lebih besar dari kebanyakan film Indonesia. Yang membuat saya tak sabar adalah film ini bisa menandai kembalinya era film silat yang dahulu begitu berjaya di Indonesia. Sejak perfilman kita bangkit, kita jarang menemukan film silat. Terakhir, saya menonton film Pendekar Tongkat Emas yang dibintangi Nicholas Saputra. Saya dengar film ini tak begitu sukses.

Saya membayangkan, penggemar Wiro pasti akan penasaran untuk menyaksikan film ini. Bagi saya, kisah Wiro Sableng membawa banyak lapis kenangan. Mulai dari masa-masa di sekolah menengah saat mengikuti serial ini. Saya masih terpesona menyaksikan petualangan pendekar sakti mandraguna yang selalu cengengesan dan sesekali mengerjai banyak orang, namun selalu dikagumi banyak cewek ini. Saya juga teringat pada beberapa lembar adegan porno di novel ini yang bikin saya tidak bisa tidur, serta diam-diam ke kamar mandi. Hahaha.

Bidadari Angin Timur, pendekar yang ditaksir Wiro

Di mata saya, Wiro Sableng adalah pendekar yang lintas budaya dan berpetualang ke mana-mana. Dia dibesarkan di Gunung Gede hingga akhirnya dianggap cukup ilmu untuk memasuki rimba persilatan. Dia tak perlu memikirkan lapangan kerja sebab hari-harinya adalah berkelana dan bertarung demi mengalahkan golongan hitam. Dia hadir dalam banyak intrik dan konflik kerajaan.

Dia juga bertualang di banyak lokasi. Kebanyakan latar cerita adalah petualangannya di tanah Jawa dan Sunda. Tapi, dia juga berpetualang hingga ke pulau seberang. Saya suka mengikuti petualangan Wiro ke Sumatera dan berguru pada orang sakti yakni Tua Gila dari Andalas, seseorang yang dianggap gila dan memiliki silat dengan gerakan tak beraturan ala orang gila. Wiro pernah ke Aceh dan bertemu Nyanyuk Amber dan Pandansuri dalam episode Raja Rencong dari Utara.

Di tanah Minang, Wiro juga bertemu dan berguru pada Datuk Rao Basaluang Ameh yang memiliki ciri khas berupa suara seruling khas Minang. Sang Datuk selalu bersama Datuk Rao Bamato Hijau yakni harimau putih nan sakti. Keduanya menjadi guru Wiro. Dulu, ketika mendengar lagu Badai Pasti Berlalu yang dinyanyikan Chrisye dan diaranser Erwin Gutawa, ada suara saluang, yang langsung mengingatkan saya pada kemunculan Datuk Rao Basaluang Ameh.

Selain Sumatera, Wiro juga berpetualang ke Bali dan mengalahkan Nyoman, seorang pendekar pemetik bunga, yang suka memperkosa perempuan. Malah, Wiro juga berpetualang ke Jepang hingga Cina. Dalam episode Pendekar Gunung Fuji, entah bagaimana caranya, Wiro datang ke Jepang dan ikut dalam konflik para samurai di sana. Beberapa istilah Jepang digunakan dalam film ini, termasuk beberapa jurus dan pukulan. 

golongan hitam

Tanpa saya sadari, kisah Wiro Sableng menjadi medium pembelajaran budaya paling efektif. Saya mengenali banyak istilah, produk budaya seperti saluang, rencong, kalewang, hingga jenis-jenis keris dari kisah ini. Saya pun paham beberapa keping sejarah karena Wiro pernah terlibat di dalamnya. Kisah-kisah seperti Wiro juga menanamkan pentingnya mengenali tradisi hingga multi-kulturalisme. Melalui kisah ini, saya paham bahwa Indonesia adalah mozaik yang terdiri atas banyak budaya, bahasa, dan adat istiadat.

BACA: Tunas Cinta yang Tumbuh Seusai Bom Surabaya

Di semua budaya terdapat banyak kearifan budaya termasuk para pendekar berhati bijak yang menemukan kesempurnaan hidupnya melalui duel di rimba persilatan. Dalam sikap cengengesan Wiro, juga terdapat banyak kearifan dan filosofi hidup, yang di antaranya adalah sikap solidaritas, kesetiaan pada nilai-nilai ksatria, dan juga keberanian untuk membela mereka yang tertindas.

Saya tak terkejut ketika Wiro Sableng masuk dalam daftar buku-buku terbaik dan menginspirasi yang dimuat dalam Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik 100 Buku yang terbit tahun 2009 dan diedit Muhidin M Dahlan dan Diana AV Sasa. Bagaimanapun juga, ada banyak nilai dan pelajaran dalam Wiro Sableng yang kemudian kuas telah mewarnai kanvas pemikiran satu lapis generasi Indonesia pada satu masa.

Ah, saya tak sabar menyaksikan aksi 212 yang asli. Di suatu negeri yang didera angkara dan murka, aksi 212 diharapkan kembali hadir untuk mengembalikan keseimbangan. Saatnya pendekar 212 datang kembali dan mengembalikan keadilan di rimba persilatan. Di negeri lain, nama 212 seolah identik dengan kelompok tertentu yang memasuki ranah politik dan kebijakan negeri ini. Padahal, pemilik nama 212 yang asli ini adalah sosok petualang lintas wilayah yang setiap harinya bergaul dengan siapa saja, menimba ilmu pada siapa saja, serta membela semua yang tertindas, tanpa berharap dapat kursi kekuasaan.

Ciaattt...!!!

Kisah Diplomat Amerika yang Menggelar Kampanye Anti-Teroris di Indonesia


Stanley Harsha bersama anak-anak Indonesia

BANYAK orang di sekitar kita yang beranggapan bahwa mustahil seorang Muslim melakukan teror bom. Banyak yang meyakini bahwa teror bom itu adalah rekayasa untuk menjatuhkan citra Islam. Bahkan, banyak yang menyebar informasi melalui media sosial kalau pihak yang merekayasa teror itu adalah Amerika Serikat. 

Bagaimanakah jika Anda menjadi seorang warga Amerika Serikat di Indonesia yang berhadapan dengan berbagai isu tersebut? Berikut kita ikuti catatan seorang diplomat di Kedubes Amerika Serikat yang selama bertahun-tahun meyakinkan orang Indonesia bahwa ada sejumlah orang yang memang berpotensi melakukan teror.

***

STANLEY Harsha amat gembira saat bertugas di Indonesia. Bulan Agustus 1986, dia diterima bekerja di Kementerian Luar Negeri, Amerika Serikat. Ketika diminta memilih hendak bertugas di negara mana, lulusan University of Colorado ini memilih Indonesia dengan pertimbangan Indonesia adalah negeri yang eksotik. Siapa sangka, setahun setelah bertugas, dia jatuh cinta pada perempuan Indonesia, kemudian menikah. Dia pun pindah agama menjadi Islam.

Dalam buku berjudul Seperti Bulan dan Matahari: Indonesia dalam Catatan Diplomat Amerika, Stanley menuliskan catatan harian tentang pengalamannya selama berada di Indonesia. Ia bercerita bagaimana dirinya berusaha memahami kebudayaan Jawa demi menikahi seorang perempuan Jawa. Ia juga belajar memahami berbagai simbol budaya serta kebiasaan masyarakat Indonesia. Ia belajar dari berbagai pengalaman, lalu memberikan catatan kritis, sekaligus refleksi atas pengalamannya.

Biarpun Stanley adalah orang Amerika, separuh dirinya sudah menjadi orang Indonesia. Istri, anak, dan mertuanya adalah orang Indonesia. Dia pun telah menjadi seorang Muslim yang taat. Dia bekerja di kantor Kedubes AS di Jakarta pada periode yang cukup berat. Pada masa dirinya bekerja, terjadi peristiwa serangan teroris di Gedung WTC. Presiden AS saat itu George Walker Bush melancarkan perang pada terorisme. Amerika membombardir beberapa lokasi yang diduga sebagai markas para teroris.

Di Indonesia, sentimen anti-Amerika menguat. Banyak tokoh agama yang mengecam Amerika. Stanley terheran-heran karena banyak orang Indonesia yang tidak percaya dengan bukti-bukti yang disodorkan kalau Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden adalah otak dari penyerangan itu. Malah, yang muncul adalah berbagai teori konspirasi kalau pelakunya adalah Amerika sendiri. Tugas Stanley adalah meyakinkan orang Indonesia bahwa peristiwa itu benar adanya, dan tidak mungkin pihak Amerika Serikat membuat konspirasi itu.

Saat Amerika Serikat menyerang markas Al Qaeda di Afganistan, banyak pemimpin ormas Islam menyatakan jihad. Tapi jihad mereka tidak dilakukan di Afganistan, melainkan dengan cara berdemonstrasi di depan Kedubes AS. Dalam situasi ini, Stanley memikirkan banyak solusi untuk meyakinkan banyak orang dengan fakta-fakta yang mereka miliki.

Ia melihat media-media Indonesia sering melakukan provokasi. Ia punya catatan lengkap bagaimana pemberitaan media yang membuat framing seakan-akan perang yang dilancarkan Amerika sebagai perang yang hendak menghancurkan Islam. Gara-gara pemberitaan itu, Kedubes AS menjadi sasaran demonstrasi banyak pihak yang kemudian membakar bendera Amerika. Sering, Stanley tidak bisa keluar kantor sehingga terpaksa bermalam. Kantor Kedubes AS serupa benteng yang dipasangi kawat berduri.

Dalam situasi yang cukup berat itu, pihak Kedubes tetap tenang menghadapinya. Sebagai Atase Pers, Stanley setiap hari mengirimkan berlembar-lebar informasi tentang apa yang dilakukan negaranya kepada media-media di Indonesia. Dia juga menghubungi media untuk melakukan dialog dan menyampaikan sikap Amerika. Tak hanya itu, brosur tentang jaringan teroris juga disebar ke semua media dan tokoh politik agar memahami bahwa terorisme juga bisa mengintai Indonesia kapan saja.

Pada masa itu, Duta Besar AS adalah Ralph L Boyce juga membuka keran dialog dengan semua tokoh Islam. Pernah, kata Stanley, Kedubes AS dikepung pendemo dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Boyce meminta Stanley mengundang masuk pimpinan pendemo lalu berbicara dengan mereka. Setelah dialog, akhirnya semua massa bubar dan kembali ke rumah masing-masing. Boyce meyakinkan semua orang kalau Amerika tidak bermaksud menyerang Islam. Pemerintah AS siap bekerja sama dengan semua pihak demi memberantas terorisme yang bisa menyarang siapa saja.

Stanley melakukan media visiting ke semua media. Bahkan ia juga mendatangi Sabili, majalah yang sering menebar kabar kebencian pada pihak Amerika. Berkat kunjungan itu, tensi pemberitaan ekstrem Sabili menurun, serta memberikan ruang bagi informasi dari pihak Amerika. Bekerja sama dengan sejumlah Muslim moderat, Kedubes AS sering mengirim utusan untuk berdialog dengan pihak pesantren, serta memberikan donasi berupa buku-buku yang diharapkan bisa menjadi jembatan dialog.



Dalam buku ini, saya menemukan betapa rapinya cara kerja pihak kedubes. Mereka rajin mengamati semua wacana, membaca liputan semua koran, membuat analisis media, setelah itu merencanakan berbagai program. Mereka tekun mengadakan riset untuk menghitung sejauh mana persepsi warga Indonesia atas Amerika. Digabungkan dengan analisis media, mereka lalu merumuskan hendak melakukan apa. Di antara program yang dilakukan adalah mengunjungi elite politik, pemimpin, ataupun semua lembaga ormas serta pesantren.

Saat sweeping tengah marak, ia sempat merasa tidak aman sekaligus mengkhawatirkan keluarganya. Ia lalu mengungsikan keluarganya ke Amerika. Sebagai pihak kedubes, ia mesti menjalankan misi untuk menangkis kemarahan masyarakat sekaligus berusaha memastikan semua warga Amerika tetap aman dari tindakan anarkisme. Ia rajin memberikan informasi kepada warga Amerika. Di saat bersamaan, ia juga menggelar beberapa program. Di antaranya adalah kunjungan ke elite-elite politik Indonesia, kunjungan ke semua pemimpin media, serta kunjungan ke semua organisasi ormas.

Tantangan yang dihadapinya adalah (1) bagaimana menjelaskan ke banyak orang Indonesia tentang bahaya terorisme, (2) bagaimana meyakinkan orang-orang bahwa Amerika tak pernah membenci umat Muslim, sebab yang dibenci adalah oknum pelaku kekerasan, (3) bagaimana menjelaskan sikap Amerika yang selalu ingin bersahabat dengan siapa pun. Ia selalu mengacu pada Pew Research yang menyatakan bahwa sebagian besar warga Indonesia tidak percaya dengan wacana terorisme yang selalu diteriakkan Amerika.

Yang saya saluti adalah langkah-langkah yang dilakukan pihak kedubes selalu mengacu pada riset dan pengayaan data. Saya bisa merasakan betapa rapinya kegiatan pengumpulan data, riset lapangan, serta analisis pemberitaan media yang mereka lalukan. Pihak kedubes juga menggelar kampanye diplomasi publik. Mereka membuat satu tim untuk menangani kampanye anti-terorisme. 

Hampir setiap hari mereka mengirimkan hak jawab ke semua media massa, menghubungi tokoh-tokoh masyarakat, lalu menyebarkan brosur ke lebih dari 3.000 pesantren. Meskipun kampanye itu digelar secara simultan, Stanley mengakui bahwa kebanyakan orang Indonesia; (1) tetap menganggap Osama bin Laden tidak bersalah dan bukan ancaman dunia, padahal bukti-bukti kuat telah disampaikan, (2) tetap menganggap bahwa serangan teroris 11 September bukan ancaman bagi dunia, (3) tetap menganggap perang melawan teroris adalah perang melawan Islam.

***

KESADARAN memang membutuhkan proses untuk menggapai kematangannya. Ketika bom meledak di Bali, warga Indonesia baru sadar tentang bahaya nyata terorisme. Ketika bom kembali meledak di Hotel JW Mariott, barulah tokoh-tokoh politik mempercayai tentang ancaman terorisme. Beberapa pemimpin ormas keagamaan mulai berbicara lain ketimbang sebelumnya. Meskipun malu-malu, mereka mulai mengakui ancaman terorisme serta perlunya meningkatkan kewaspadaan sebab bom bisa meledak di mana saja dan mengancam siapa saja. 

Akan tetapi, tetap saja ada anggapan kalau bom di Bali dan Hotel JW Marriott itu adalah settingan Amerika. Padahal, sejak awal peta jaringan teroris sudah disebar. Kesulitannya adalah mayoritas orang Indonesia beranggapan bahwa corak keberagamaan orang Islam di mana-mana sama. Tak banyak yang mau mengakui bahwa ada sejumlah orang Islam yang justru memelihara paham radikal, melihat pemerintah sebagai taghut, dan ingin menggantikan dasar negara menjadi Islam. Harus diakui pula, ada sejumlah orang Muslim yang percaya bahwa perjuangan harus dilakukan dengan cara perjuangan bersenjata.

Kembali, tokoh-tokoh Islam mengeluarkan pernyataan yang isinya adalah kecaman pada Amerika. Hingga akhirnya tertangkapnya Amrozy cs membuat semua pihak sadar bahwa memang ada sejumlah orang di sekitarnya yang berniat melakukan teror dan membunuh orang yang berbeda keyakinan. Barulah mata banyak orang terbuka kalau di sekitar kita ada banyak orang yang berani melakukan teror dan korbannya bisa siapa saja, termasuk keluarga kita.

Stanley mengakui kerja Kedubes AS menjadi lebih berat karena harus membangun jembatan komunikasi dengan sejumlah tokoh Muslim agar memahami beberapa fakta yang sudah ada, dan tidak terjebak pada teori konspirasi. Sering kali kebencian buta menjadi penghalang bagi seseorang untuk melihat cahaya kebenaran. Tak adil juga memusuhi bangsa Amerika dengan hanya berdasar pada satu atau dua keping informasi, yang boleh jadi bahannya hanya kutipan dari satu media yang belum tentu berdasar pada fakta. 

Saya bayangkan, andaikan dia bekerja di Kedubes AS sekarang, pastilah dia akan terkejut melihat banyaknya hoaks dan informasi di media sosial yang isinya kebencian pada Amerika, serta analisis abal-abal yang seolah-olah isinya bersumber dari fakta demi fakta. Stanley akan sulit memahami, aplikasi media sosial buatan Amerika Serikat menjadi lahan subur bagi berkembangnya paham radikal yang sangat berpotensi menjadi teror di masa mendatang.

Bagi saya, buku ini sangat bagus untuk memahami bagaimana orang Amerika memandang Indonesia. Di banyak tempat, ada kekaguman serta hikmah yang bertebaran. Ada juga sikap kritis melihat Indonesia dari sisi orang asing yang datang sebagai diplomat. Melalui berbagai cara pandang itu, kita bisa menyerap banyak pelajaran untuk memperkaya pengetahuan kita tentang tanah air yang kita cintai beserta beragam masyarakatnya.

Seperti halnya judul buku Seperti Bulan dan Matahari, Stanley menilai Indonesia dan Amerika seperti itu. Keduanya sangat berbeda, namun memiliki keindahan. Jika saja keduanya selalu melakukan dialog dan kolaborasi, maka keindahan itu bisa sama-sama dirasakan. Semoga.


Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...

Google+ Badge