Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Tahun 2014, Media Jadi Anjing Herder


ilustrasi

BEBERAPA tahun silam, saya ikut menggagas program Media Literacy (melek media) bagi siswa sekolah menengah di Makassar, Sulawesi Selatan. Saat itu, saya beranggapan bahwa siswa sekolah menengah paling gampang dipermainkan berbagai informasi di media sosial. Mereka juga paling gampang ikut arus wacana, tanpa menyikapinya secara kritis. Mereka beda dengan kalangan berpendidikan tinggi yang selalu kritis.

Hari ini saya sadar bahwa gagasan itu keliru besar. Harusnya, pihak yang mendapatkan pelatihan media literacy adalah para doktor, intelektual, serta warga berpendidikan sarjana ke atas, yang justru paling mudah dipermainkan oleh arus wacana di media massa. Kelompok ini tetap saja tak bisa membedakan antara opini dan fakta, tak paham mana hoax dan bukan, tak tahu mana berita yang valid dan tidak, mana berita yang bersumber pada verifikasi dan mana yang tidak.

Kaum terdidik kita sedang terjebak pada arus besar yang tak mau tahu tentang bagaimana seharusnya media kita memberitakan sesuatu. Kita masih saja berada pada fase di mana media massa menjadi rasul-rasul baru yang menyebarkan kebenaran. Kita tak melihat secara kritis, bahwa di balik media, selalu saja ada relasi dengan aspek ekonomi politik, di mana para pemodal seolah memiliki kuasa untuk melakukan banyak hal.

Kita tak hendak mempertanyakan satu liputan; media apa yang memuatnya, apakah ada kutipan langsung atau tidak, apakah ada konfirmasi ataukah tidak, ataukah ada tidaknya bias dalam liputan itu. Kurangnya pengetahuan tentang standar kerja jurnalistik membuat kita dengan mudahnya menerima setiap informasi. Pikiran kita serupa tanah liat yang mudah dibengkokkan oleh semua pemilik media.

Barangkali, semuanya bersumber pada pilihan-pilihan politik. Pilihan kita telah membingkai pandangan kita tentang benar – salah. Benar kata Karl Marx bahwa kita selalu melihat apa yang memang ingin kita lihat. Kita membatasi pandangan hanya pada horizon yang sempit sebab dihinggapi keangkuhan bahwa tak ada kebenaran di luar diri kita. Kebenaran itu selalu di pihak kita. Pilihan membaca ataupun menonton media lebih banyak dipengaruhi oleh apa yang sebelumnya kita yakini.

Saya mencatat tahun 2014 sebagai tahun yang buruk bagi perkembangan media tanah air. Momen politik, yang ditandai dengan masuknya para pemilik televisi dalam pusaran politik, telah memaksa media untuk menjadi ‘anjing herder’ yang setiap saat siap menyerang lawan. Media serupa prajurit sniper yang bekerja berdasarkan memo atau instruksi dari sang pemilik. Disiplin verifikasi dalam jurnalistik ditumbangkan oleh kuasa modal.

Yang menyedihkan adalah hilangnya daya kritis dan daya nalar dari lapis-lapis menengah kita, yang dengan mudahnya mempercayai apa yang tersaji di hadapan media. Di saat bersamaan, media sosial menjadi riuh dengan debat kusir tentang satu informasi.

Sekali lagi, kita butuh satu panduan media literacy. Saatnya menurunkan ilmu-ilmu tentang pinsip kerja media ke dalam modul-modu sederhana yang bisa dipahami kalangan terdidik. Saatnya mencerahkan kalangan menengah perkotaan agar tidak mau begitu saja dijewer oleh media massa. Saya membayangkan ada satu pelatihan yang mengasah kekritisan. Barangkali, cara kiritis membaca media mesti dilatihkan dengan cara memperbanyak diskusi tentang agenda setting, obyektivitas, keberimbangan (impartialitas), hingga framing media.

Saatnya mengampanyekan gerakan kembali ke nalar. Saatnya memproteksi pikiran kita dari segala angin negatif yang bisa masuk dari mana saja. Saatnya membuat refleksi diri, tentang apa yang benar dan tak benar, lalu mengubahnya menjadi visi hidup yang selalu melihat kebaikan di mana-mana.

Sekali lagi, ini hanya catatan lepas. Jika ada yang tertarik membuat pelatihan ini, dengan senang hati, saya siap bergabung.


Berkah Kristus di Tanah Sikka


 
patung Kristus Raja di Sikka


TEPAT 22 tahun silam, gelombang tsunami menerjang Maumere, Sikka. Hari itu, 12 Desember 1992, air laut tumpah ke darat. Rumah-rumah diterpa badai. Tak jauh dari laut, sebuah patung tetap berdiri tegak dan memberikan perlindungan bagi warga yang ditimpa musibah. Patung itu memberikan ketenangan dan keajaiban bagi warga. Hingga kini, patung itu tetap ajaib. Patung itu adalah patung Kristus Raja.

***

DI dekat laut kota Maumere, Sikka, saya mengenang tragedi tsunami. Sebelum Aceh diredam tsunami, tanah Maumere lebih dahulu diterjang. Saya membayangkan lautan yang teduh, tiba-tiba menjadi beringas. Dewa laut seakan murka dan mengirim bala tentara ke daratan dan mengamuk lalu menerjang apapun. Kini, keganasan sang dewa masih membekas di hati warga Maumere.

Maumere adalah ibukota Kabupaten Sikka, yang diapit Laut Flores dan Laut Sawu. Meskipun kegiatan ekonomi warga berpangkal pada perkebunan, namun lautan adalah halaman rumah sekaligus pusat aktivitas. Banyak yang bekerja di sektor kelautan. Posisi kota juga tepat di tepi lautan. Bisa dibayangkan, tsunami menjadi badai yang membangkitkan pengalaman traumatik bagi warga kota.

Seorang lelaki bernama Frans mengisahkan tragedi itu di tepi laut Maumere. Ia Lengannya yang kekar menunjukkan area yang terkena dampak tsunami. Ia berkisah tentang ratusan rumah yang terkena dampak tsunami, serta nestapa dan kesedihan yang memenuhi udara kota. Akan tetapi, saat menunjuk ke area sekitar pelabuhan, ia sempat terdiam. Ia bercerita tentang sesuatu yang ajaib. Ia menunjuk patung Kristus Raja yang saat itu tetap berdiri kokoh, di saat semua bangunan di sekitarnya hancur. Mengapa tetap kokoh?

“Saya tak tahu harus menjelaskan dari mana. Patung ini jadi saksi atas gempa tektonik dan tsunami. Banyak yang lihat kalau patung ini tiba-tiba saja merentangkan tangan dan menghalau tsunami. Andai tak ada berkat dari patung, barangkali hancur semua seisi kota,” katanya saat mengenang.

Saya merenung. Sejak dulu, saya percaya bahwa keajaiban bukanlah sesuatu yang bisa dijelaskan dengan nalar. Keajaiban juga tak sesederhana ketika Aladin mengusap lampu wasiat yang lalu memunculkan jin sebagai pewujud atas semua keinginan. Keajaiban bisa hadir tatkala kita mempercayai dan meyakini sesuatu bisa hadir. Di tengah kota ini, keajaiban pernah hadir dan dikisahkan pada siapaun yang berkunjung.

Saya lalu berkunjung ke patung Kristus Raja. Patung berwarna keemasan itu terletak di Jalan Mgr Sugiyopranoto, tepat di depan Pelabuhan L Say. Sepintas, patung ini sama dengan beberapa patung bernuansa religius yang pernah saya saksikan. Namun di Maumere, patung memiliki nuansa magis. Di depan patung terdapat altar yang di atasnya terdapat banyak lilin. Nampaknya, banyak yang beribadah di sekitar patung.

Sebelumnya, saya pernah mengunjungi patung Bunda Maria di Bukit Nilo. Patung Bunda Maria ini didirikan oleh Biara Karmel yang selama beberapa waktu telah memukau para peziarah. Umat Katolik di Maumere percaya bahwa dirikannya patung itu merupakan berkat yang tak terhingga. Di tengah bebukitan yang dipenuhi pohon-pohon hijau, patung itu menjadi sentrum dari kegiatan ibadah.

Berbeda dengan patung Bunda Maria di Bukit Nilo, patung Kristus Raja justru terletak di tengah kota. Patung itu menghadirkan magis yang lalu menjadi identitas kota, simbol solidaritas serta simbol pemersatu dari berbagai kelompok. Itu terlihat dari sejarah pendirian patung tersebut. Patung ini dirikan pada masa pemerintahan Raja Sikka ke-15, Don Yosephus Ximenas da Silva, pada tahun 1926. Ia merelakan tanahnya untuk dibangun tempat ziarah. Patung itu lalu dibangun dengan dana yang dihimpun secara gotong-royong oleh warga Sikka.

Pada masa Perang Dunia ke-2, patung ini sempat dibombardir oleh tentara sekutu. Ajaibnya, patug ini justru tetap utuh. Selanjutnya, tentara Jepang lalu menghancurkannya hingga patah dan hancur. Pada tahun 1989, patung ini kembali dibangun warga, yang diresmikan secara langsung oleh Paus Yohannes Paulus, ketika memimpin misa agung di Maumere, 11 Oktober 1989 silam.

***

Saya beruntung karena bisa menyaksikan patung ini. Perjalanan ke Maumere, Sikka, semaki  menguatkan kesan saya tentang perjalanan spiritualitas di kota ini. Patung Kristus Raja melengkapi sejumlah situs religi di wilayah ini. Yang saya suka dari Sikka adalah banyaknya tempat ziarah spiritual bagi mereka yang hendak mencari makna di berbagai kota.

Saya memaknai spiritualitas bukanlah dalam pengertian agama, atau sebagaimana dicatat dalam kitab-kitab suci. Saya memaknainya sebagai upaya manusia untuk menemukan keping-keping inspirasi, yang lalu memperkaya batinnya, lalu memunculkan keinginan untuk berbuat yang lebih baik.

Saya teringat pada sebuah artikel di majalah asing. Bahwa tujuan wisata dan perjalanan bukanlah sekadar melihat-lihat dan berfoto selfie. Trend wisata telah mengalami pergeseran. Banyak di antara wisatawan justru berkelana untuk menemukan banyak inspirasi yang tak ditemukan di kampung halamannya. Mereka ingin menemukan diri. Mereka ingin menemukan vitamin bagi jiwa.


Dalam buku Building Wow: Indonesia Tourism and Creative Industry, saya menemukan banyak argumentasi tentang wisata religi, wisata pedesaan, dan wisata alam yang justru menjadi primadna di banyak negara. Yang hendak dicari aalah kedamaian dan penguatan hati agar sesaat setelah berkunjung ke satu tempat, maka seseorang bisa lebih bersemangat dan menjalan hidup dengan visi baru yang lebih terarah.

Mereka yang melakukan perjalanan adalah mereka yang hendak menemukan diri demi memperkaya kehidupannya. Itu terlihat pada sosok Elizabeth Gilbert yang mengunjungi tiga tempat yakni Italia, India dan Indonesia demi menemukan inspirasi pada banyak orang baik di berbagai tempat yang dikunjunginya. Melalui perjalanan dan ziarah, manusia bisa berrefleksi dan menemukan hikmah di banyak tempat, mengambilnya sebagai energi bagi pertumbuhan jiwa.

Di mata saya, Sikka serupa oase yang menjadi tempat untuk mereguk air jernih demi membasahi kerongkongan yang kering kerontang. Inilah surga makna dan tempat menemukan hikmah bagi mereka yang tak sekadar bepergian, namun juga memungut helai demi helai makna untuk memperkaya kehidupan.

“Semoga saja berkah Kristus selalu hadir di tanah Sikka,” kata Frans. Saya mengiyakan ucapannya. Semoga saja tanah ini selalu menjadi surga bagi para pejalan di jalan spiritual. Semoga saja tumbuhan penuh makna tetap rimbun, dan daun-daunnya bisa menjadi cenderamata berharga bagi siapapun yang datang ke tanah penuh berkah ini. Semoga. 



Rahasia Ilmu Marketing Ada di Sekitar Kita



DIDASARI keinginan untuk mencari bacaan alternatif, saya membaca buku bertemakan marketing (pemasaran). Buku pertama yang saya baca adalah Wow Selling, yang ditulis Hermawan Kertajaya. Ternyata, para pelaku pemasaran menulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, tidak jlimet, penuh dengan contoh dan kiat-kiat praktis, serta mudah dipraktikkan. Para pemasar adalah penulis hebat yang membangun argumentasi dari bukti konkrit, yang digali dari fenomena keseharian.

Yang bikin saya terkejut, ternyata rahasia dari ilmu pemasaran itu tidak terletak pada berbagai strategi yang dipelajari di kampus, namun justru ada di sekitar kita. Rahasianya telah ditanamkan oleh orangtua kita sejak kecil. Hah? Gimane ceritanye?

***

LELAKI itu, Joe Girard, dikenal sebagai sales mobil paling tangguh di Amerika Serikat. Tak ada satupun yang bisa melampaui apa yang dilakukannya. Ia bisa menjual hingga enam mobil dalam sehari. Bayangkan, dalam sebulan ia bisa menjual mobil hingga 180 mobil. Bayangkan pula, berapa komisi yang didapatkannya.

Joe Girard amat percaya diri ketika ditanya rahasianya. Ia mengatakan, sekali seseorang mmbeli mobil padanya, maka orang itu pasti akan datang kembali. Kalau tak datang lagi, maka ada dua kemungkinan, yakni (1) pindah dari Amerika Serikat, (2) pindah ke planet lain. “Sebab sekali orang tersebut transaksi dengan saya, pasti akan mencari saya kembali saat hendak membeli mobil,” katanya dengan yakin.

Kisah Girard saya temukan dalam buku Wow Selling, Salespeople are the real marketeers. Dalam buku ini diurai rahasia Girard. Ternyata, ia selalu berusaha mengenali siapapun konsmennya, menghapal nama mereka, lalu secara rutin merawat pertemanan. Ia secara rutin mengirimkan kartu ucapan kepada semua yang pernah dikenalnya. Saya tahu betul bahwa tradisi mengirimkan kartu sangat bermakna bagi orang Amerika.

Girard melakukan itu pada setiap orang yang dikenalnya sekali dalam sebulan. Tak hanya itu, ia juga tak sungkan-sungkan untuk menelepon dan menyampaikan selamat ulang tahun. Ia punya daftar lenkap tentang nama dan tanggal ulang tahun. Ia berusaha menghafal hal-hal kecil tentang pelanggannya. Mulai dari jumlah dan nama anak, alamat rumah, hingga nama anjing yang dipelihara pelanggan. Setiap bertemu, ia akan menjadikan semua informasi itu sebagai pintu masuk untuk berdialog. Hebat khan?

Tak hanya Girard, saya juga menemukan beberapa kisah menakjubkan. Di antaranya adalah kisah Joe Kamdani, pendiri Data Script, office supplier terbesar di Indonesia. Ia pernah berkunjung ke Mayo Clinic di Florida karena sakit jantung. Ketika hendak operasi, Joe sempat ragu dan ingin mendapatkan second opinion. Saat menyampaikan itu ke pihak klinik, ia lalu diberikan daftar rumah sakit, serta di mana saja ia bisa memeriksakan diri. Pihak klinik mengurus semuanya, dan tidak meminta tips. Joe terkesan sebab pihak klinik mengabaikan hukum persaingan. Pihak klinik lebih mengutamakan kenyamanannya.

Saat hendak operasi, Joe diberi daftar tiga orang dokter yang bisa diilihnya. Malah, ia bisa mewawancarai para dokter itu. Ia akhirnya memilih dokter yang dianggapnya ramah dan menyenangkan. Apalagi, dokter itu punya prestasi bagus dalam hal operasi. Seusai operasi yang sukses, Joe kemudian menjadi pemasar gratis atas klinik itu. Mengapa? Sebab ia merasa puas dengan kebaikan dan kenyamanan yang diberikan pihak klinik.

Hermawan Kertajaya menyebut tindakan klinik itu sebagai Wow Selling. Pihak klinik menolak bayaran untuk hal-hal yang tak perlu, semisal sekadar berkonsultasi. Makanya, semua konsumen yang datang selalu puas, dan akan merekomendasikannya kepada pihak lain. Inilah bentuk promosi yang paling ampuh.

Para pemasar modern tidak lagi seperti para penjual obat yang selalu bercerita tentang kehebatan obatnya yang tidak punya cacat. Pemasar modern justru bercerita segala kelemahan produknya di sela-sela promosi tentang kekuatan produk. Para pemasar saat ini lebih mengutamakan pelayanan, kenyamanan, serta merebut hati para calon konsumennya.

***

BUKU ini bercerita tentang pemasaran serta kondisi masyarakat. Saya belajar banyak hal. Di antaranya, konsumen hari ini adalah tipe konsumen yang selalu mencari informasi tetang satu produk sebelum membelinya. Mereka lebih mudah percaya pada saran dan rekomendasi dari orang lain, ketimbang bahasa para pengiklan.

Konsumen hari ini akan mencari informasi melalui google, sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu. Makanya, para pebisnis akan berusaha membuat semua konsumennya nyaman, senang, serta puas dengan pelayanan, sebab sang konsumen itu bisa menjadi pemasar yang baik. Ketika mereka tak puas, maka mereka bisa saja menyebarkan ketidakpuasan itu melalui media sosial.

Argumentasi di buku ini sangat kuat sebab didasari oleh proses trial and error di lapangan. Yang saya suka dari buku ini adalah banyaknya bukti-bukti yang disusun secara rapi sehingga menguatkan argumentasi. Cara berpikir penulis buku mengikuti logika induktif, memulai dari hal yang khusus, kemudian membangun beberapa konsep dan penjelasan. Saya sangat menikmati gaya menulis dan aliran argumentasi di buku ini.

Inti dari Wow Selling itu dirumuskan secara sederhana;

Satukan kata dengan perbuatan
Tambahkan kejutan bagi pelanggan
Ajari pelanggan untuk tumbuh
Rawat pertemanan

Yang saya rasakan, prinsip-prinsip ini bukanlah hal yang baru. Saya teringat pada ajaran orang tua dan masyarakat kita untuk selalu berkata jujur, tidak menyakiti orang lain, berusaha membahagiakan siapapun, serta menyayangi siapa saja. Inilah kaidah-kaidah moral yang diajarkan oleh masyarakat kita secara tradisional.

Kehebatan para marketeers adalah kemampuan menyerap semua nilai-nilai kebaikan itu ke dalam segala tindakan promosi. Maka para pemasar hebat adalah mereka yang memahami para pelanggannya dengan amat baik, membangun pertemanan yang saling menguatkan, lalu meletakkan nilai-nilai persahabatan itu di atas segala hal yang menyangkut materi.

Ternyata kunci menjadi marketeers hebat ada pada nilai-nilai tradisional kita, seperti selalu berkata jujur, menghormati semua orang, berusaha membahagiakan orang lain, ataupun menyayangi yang lebih tua. Di kampung saya, prinsip-prinsip untuk menghargai orang lain itu diajarkan pada semua anak. Prinsip solidaritas serta selalu ‘menyediakan bahu bagi siapapun yang galau’ adalah bagian dari nilai-nilai bersama yang tumbuh di masyarakat kita, bukan sesuatu yang harus dipelajari di kampus-kampus.

Tak disangka, kearifan kultural kita itu menjadi rahasia dari para pemasar hebat. Ternyata rahasia mereka bukan pada buku-buku teks tebal yang dipelajari di kampus, melainkan ada di sekitar kita. Rahasia untuk jadi pemasar hebat terletak pada kebaikan dan ketulusan hati, yang kemudian membuat orang lain selalu ingin bersama kita. Inilah bagian dari kecakapan yang tak dipelajari di kampus-kampus, namun ada di kearifan masyarakat kita yang selalu meletakkan harapan pada siapapun.

Rahasia itu justru ada pada setiap kalimat nenek kita yang selalu memandangi dengan penuh bahagia, atau pada setiap baris kasih sayang yang ditiupkan ibu kita di saat kita hendak terlelap. “Nak, jadilah orang baik agar kelak kamu berguna bagi orang lain.”


Warisan Bandung Bondowoso


 
Candi Prambanan yang dibangun Bandung Bondowoso

SEBULAN ini, intensitas pekerjaan menjadi sangat berat. Saya harus mengikhlaskan waktu istirahat menjadi berkurang. Saya harus mengerjakan banyak hal dalam waktu singkat. Saya juga harus siap berpindah-pindah tempat, berpindah fokus, dan berpindah pekerjaan. Saya tak ingin mengeluh. Saya tetap mengerjakan apa-apa yang bisa dikerjakan.

Dalam keadaan seperti ini, saya teringat kisah tentang Bandung Bondowoso. Dalam legenda, ia diminta oleh perempuan cantik Roro Jonggrang untuk membangun seribu candi dalam semalam. Ia menggerakkan semua bangsa jin untuk bekerja dalam waktu singkat. Ia sudah hampir berhasil. Candi Prambanan telah berdiri, sebelum akhirnya Roro Jonggrang secara licik menggagalkan semua upayanya yang udah nyari mencapai finish.

Hampir semua orang tahu kisah ini. Hampir semua orang menempatkan Bandung Bondowoso sebagai sosok antagonis. Marilah kita lihat sisi lain kisah ini. 

Pada dasarnya, Bandung Bondowoso adalah seorang tipe pengambil risiko (risk-taker). Ia berani menerima tantangan untuk membangun seribu candi. Ia tahu kalau ia sanggup menyelesaikannya. Kisah tentang kerjasama dengan jin adalah simbol dari penggunaan ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan sesuatu. Bisa pula ditafsir bahwa Bandung Bondowoso bisa menggunakan pihak ketiga untuk mencapai apa yang diinginkannya. Ia seperti para pebisnis modern.

Yang menarik buat saya adalah kemampuan Bandung Bondowoso untuk mengerjakan banyak hal sekaligus. Ia mengkoordinir para jin, mengatur logistik para jin, menyediakan material, serta mengatur kerja para divisi dalam membangun candi. Ia seorang multi-tasker yang mengatur semuanya secara rapi.

Apa yang dilakukan nya ternyata juga dilakukan oleh generasi modern. Dalam buku Grown Up Digital, Don Tapscott menjelaskan karakter kerja generasi sekarang sebagai multi-tasker. Katanya, generasi hari ini kerap kali mengerjakan banyak hal secara bersamaan. Kita bisa menilainya tidak fokus. Tapi Tapscott menunjukkan lewat riset bahwa generasi hari ini justru melakukannya dengan baik. Mereka terbiasa dengan tekanan, terbiasa dengan target, dan terbiasa melaksanakan banyak hal sekaligus.

Saya memiirkan Bandung Bondowoso ketika memikirkan bebrapa pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk. Saya bukan dirinya yang bisa menyelesaikan sesuatu yang besar dalam waktu singkat. Saya hanya seorang biasa yang sedang berusaha untuk mengerjakan banyak hal sekaligus.

Saya memikirkan bahwa barangkali teori Don Tapscott itu tak tepat untuk menjelaskan bagaimana generasi tua dan generasi muda di tanah air kita. Saya membayangkan debat seru antara Tascott dan Muchtar Lubis, yang pernah menulis artikel provokatif tentang manusia Indonesia.

Kalimat Muchtar Lubis yang membekas di benak saya adalah kita cenderung selalu mencari jalan pintas untuk meraih sesuatu. Seringkali kita hanya fokus pada tujuan, bukan pada proses bagaimana menemukan tujuan itu. Kita tak sabar untuk menjalani detik demi detik demi menggapai hari. Pantas saja jika generasi hari ini banyak yang kemudian masuk penjara gara-gara mentalitas jalan pintas, yang kemudian permisif pada berbagai tindak korupsi.

Entahlah. Saya hanya bisa mencatat. Banyak di antara kita yang tak siap menjadi Bandung Bonodowoso, sang pekerja keras. Lebih banyak pula yang meniru Roro Jonggrang, yang tak siap melihat kerja keras orang lain akan segera berbuah prestasi.


Bogor, 20 Desember 2014

Kembalinya Kisah Samurai X


poster film Ruroini Kenshin 2: Kyoto Inferno

DIRINYA adalah seorang samurai tak terkalahkan yang kemudian mengundurkan diri dari hiruk-pikuk pertarungan. Dirinya memilih tinggal di sebuah desa dan menjadi pengasuh anak-anak. Demi sumpah untuk tak membunuh siapapun, ia menyandang pedang tumpul jenis sakabato, yang tepiannya tak bisa menembus tubuh. Tiba-tiba saja, panggilan suci untuk membela kemanusiaan datang menyapa. Sanggupkah ia kembali mengayunkan pedang?

Lelaki itu adalah Kenshin Himura. Kisahnya bisa disaksikan pada film Ruroini Kenshin 2: Tokyo Inferno. Sebelum difilmkan, kisahnya sangat populer pada versi kartun dan komik berjudul Samurai X yang ditulis Nobuhiro Watsuki. Saya adalah penggemar setia yang menyaksikan satu demi satu episode petualangan samurai berbaju merah, berambut panjang, serta ada tanda goresan X di pipinya.

Dahulu ia seorang batosai, samurai yang membantai para samurai pemberontak. Ia membela Kaisar Meiji yang menghapus hak-hak istimewa para samurai. Ketika para samurai mengangkat pedang dan melawan kaisar, Kenshin berdiri pada posisi paling depan. Ia menjadi pembantai. Ketika revolusi usai, ia lalu memilih menyepi di desa kecil dan mengasuh anak-anak.

Saya menyenangi kisahnya yang menyepi dari rimba persilatan. Ia tak mau berkelahi. Namun ke manapun ia menyepi, ia selalu dicari. Banyak yang ingin membunuhnya. Ada yang bermotif dendam, namun jauh lebih banyak yang ingin mendapat cap sebagai pendekar tak terkalahkan. Di antaranya adalah musuh Kenhsin yakni Aoshi Shinomori.

Sebagai penggemar berat serial komik Samurai X, film Ruroini Kenshin 2 ini cukup memuaskan. Setelah menontonnya, saya terkesima. Gambarannya sesuai dengan serial kartun. Seingat saya, dari sekian banyak episode Samurai X, kisah Kyoto Inferno ini adalah kisah paling berliku-liku dan mendebarkan. Sang musuh adalah Makoto Shishio, yang dahulu menjadi murid Kenshin. Dendam terlanjur membakar diri Shisio. Ia mengumpulkan para jagoan, lalu hendak membakar kota dan menggulingkan kaisar yang berkuasa.

Kenshin merasa terpanggil untuk mengalahkan Shisio. Apalagi, sepak-terjang anak buah Shishio amatlah mencekam. Mereka menghancurkan desa-desa, membunuh banyak orang, serta melenyapkan banyak pihak yang berseberangan. Kota Kyoto menjadi saksi kembalinya Kenshin sebagai pendekar yang menghadapi banyak jagoan-jagoan hebat.

Kenshin Himura dalam versi kartun

Sayang, film ini banyak menyederhanakan apa yang tersaji di kartun dan komiknya. Seingat saya, masing-masing anak buah Shishio memiliki keistimewaan tersendiri. Beberapa di antaranya membuat Kenshin kepayahan dan nyaris tewas. Namun pertarungan demi pertarungan itu justru kian mengasah Kenshin untuk selalu belajar dan lebih bijak dalam melihat persoalan. Ia menjadi lebih filosofis, dan melihat pertarungan hanya sebagai arena untuk mengadu gagasan, sembari bermain-main di antara satu argumentasi ke argumentasi lainnya.

Sepanjang film, ada dua adegan perkelahian yang saya sukai. Pertama adalah ketika Kenshin menghadapi Seta Sojiro. Gaya bertarung Sojiro amatlah aneh dan tidak lazim. Biasanya, Kenshin sangat memperhatikan mimik dan ekspresi seseorang. Ketika ada ketakutan, maka itu adalah pertanda kekalahan. Tapi lawan yang satu ini justru berbeda. Ekspresinya selalu penuh senyum. Wajahnya jenaka dan kekanak-kanakan. Ia menganggap berkelahi dengan pedang hanya sebagai arena bermain. Pada duel pertama, Kenshin kalah. Pedangnya patah.

Pertarungan kedua adalah saat Kenshin menghadapi pendekar yang memakai dua pedang samurai saat bersamaan. Pendekar itu sebelumnya menculik anak seorang pembuat pedang hebat. Dalam keadaan emosi terpancing, Kenshin memakai pedang hebat pemberian sang putra pembuat pedang yang anaknya diculik. ia mengeluarkan jurus andalannya Hiten Mitsurugi Ryu. Lawannya tersungkur. Ia tak tewas sebab pedang Kenshin adalah pedang jenis sakabato. Kembali, ada filosofi bahwa di abad modern, saatnya para samurai tak perlu memakai pedang tajam.

Apapun itu saya cukup puas dengan film Ruroini Kenshin 2: Tokyo Inferno. Sayang, kisahnya tak tuntas. Selain itu, sosok Kenshin justru agak dingin. Ia tidak sehangat dan sekonyol versi kartunnya. Saya juga kehilangan humor-humor ala Kenshin, serta sikap konyol sahabatnya, Kaoru dan Sagara Sanosuke. Tapi saya justru menyukai pilihan sutradara untuk membagi film menjadi dua. Sebab dalam kisah kartunnya, pertarungan melawan Makoto Shishio menjadi pertarungan puncak setelah sebelumnya Kenshin mengalahkan banyak jagoan yang bekerja di bawah kendali Shishio.

sosok-sosok yang muncul dalam film

Beberapa hal yang saya kagumi pada Kenshin. Pertama, pada titik tertentu, seorang berpengetahuan harus melebur di tengah masyarakat. Pengetahuannya tak perlu menjadi benteng yang membuat dirinya merasa hebat dan eksklusif. Seorang hebat adalah seseornag yang bisa bermain-main dengan siapapun, menjadi sasaran olok-olok dari anak kecil, serta menjadi warga biasa.

Kedua, seseorang hebat harus meletakkan kecintaan pada rakyat biasa sebagai sumbu utama kehidupannya. Ia harus menjadikan pengetahuannya sebagai setitik api yang bisa mengatasi kegelapan. Ia hadir membawa kebaikan, menghadirkan terang bagi rakyat kebanyakan, serta menjadi air yang menyuburkan lahan kehidupan. Seorang berpengetahuan harus memberikan harapan, sesuatu yang menjadikan seseorang hidup dengan lebih bersemangat, serta menemukan visi terang melihat masa depan.

Mungkin inilah tanggung jawab mereka yang berpengetahuan. Di masa modern, para samurai tak perlu membawa pedang. Barangkali mereka akan membawa pengetahuan sebagai senjata paling hebat. Mereka belajar sampai pada level tertinggi, lalu membumikan pengetahuannya sebagaimana kata Paolo Freire, education as a powerful weapon. Itulah para samurai di jaman kini.


Bogor, 14 Desember 2014


BACA JUGA:


Cara Cerdik Menangkan Lomba Menulis


ilustrasi

TANPA saya duga, tulisan yang saya kirimkan pada September silam memenangi lomba karya tulis XL Awards 2014 (bisa dibaca DI SINI). Sejak awal, niat saya hanya untuk berbagi pengalaman. Ketika tulisan itu menang, saya melihatnya sebagai bonus. Seorang sahabat bertanya, apakah kiat atau rahasia memenangkan lomba menulis? Demi sahabat itu, saya ikhlas berbagi cara-cara cerdik memenangkan lomba.

***

SEPTEMBER silam, saya membaca pengumuman tentang lomba menulis yang diadakan XL. Panitia menyusun beberapa tema, yang intinya membahas tentang interaksi antara manusia dan teknologi komunikasi. Saya tiba-tiba saja ingin ikut lomba. Saya lalu memikirkan apa yang bisa saya lakukan agar memenangkan lomba.

Sungguh, saya tak hendak munafik. Ketika memutuskan ikut lomba, tentu saja saya berharap untuk menang. Saya bukan spesialis pemenang. Saya malah lebih banyak kalah ketika ikut lomba menulis. Lewat kekalahan itu, saya belajar banyak strategi agar tidak terjebak pada kesalahan yang sama.

Pertama, pahami tema menulis sebagaimana diharapkan oleh penyelenggara lomba. Jangan egois dengan memaksakan pemahaman sendiri yang belum tentu benar. Jangan sok tahu dan merasa lebih paham atas tema lomba. Pelajari apa yang diharapkan oleh penyelenggara lomba. Jika penyelenggaranya adalah operator selular, maka pahamilah apa yang mereka inginkan. Perhatikan iklan-iklan yang mereka tayangkan di televisi, sebab itu merepresentasikan visi serta keinginan mereka.

Kedua, lakukan riset. Sebelum mencari ide-ide untuk menulis, pelajari beberapa tulisan yang diikutkan lomba. Dalam konteks lomba XL Award 2014, beberapa orang telah memosting tulisannya di blog yang disediakan panitia. Jangan sungkan untuk menelusuri kata demi kata dari setiap kontestan. Temukan apa yang menjadi kekurangan mereka.

Jika lombanya tertutup, riset bisa dilakukan dengan cara membaca berbagai tulisan yang sejenis. Biasanya, saya suka membaca beberapa hasil riset dari beberapa peneliti. Sebab dalam bayangan saya, tak semua blogger dan penulis yang suka membaca riset. Bagi mereka, riset menjemukan dan susah dipahami. Padahal, riset yang baik selalu muncul dari pengamatan yang baik.

Hanya saja, seringkali para peneliti kesulitan untuk menyederhanakan apa yang diamati. Mereka juga terjebak pada pahaman bahwa semakin banyak istilah, maka semain cerdas. Ingat, kita bukanlah mereka. Yang kita lakukan adalah bagaimana membaca hasil riset, lalu mendialogkannya dnegan kenyataan sekitar.

Ketiga, temukan ide-ide unik yang sederhana, namun punya kekuatan dahsyat. Tak perlu membahas hal yang hebat-hebat dan melangit. Temukan gagasan yang biasa-biasa di sekitar kita, namun punya potensi mengejutkan. Biasanya, gagasan seperti ini tidak langsung ditemukan.

pengumuman XL Awards 2014

Sering, saya tak menemukan gagasan bagus untuk diolah. Saya tak lantas patah semangat. Yang saya lakukan selanjutnya adalah mencari inspirasi. Saya membayangkan diri yang serupa fisikawan Isaac Newton yang tiba-tiba saja kejatuhan apel, kemudian menemukan teori tentang gravitasi. Yang saya lakukan adalah menggali inspirasi dengan cara membaca buku koleksi, menggeledah buku-buku bagus di toko buku, hingga menonton film. Sering pula, saya mengajak diskusi beberapa orang. Tak perlu melihat latar belakang seseorang. Siapapun bisa mendatangkan inspirasi.

Ketiga, susun narasi yang memikat. Mulailah dari deskripsi. Pada titik ini, gaya menulis ala feature news bisa diterapkan. Susun semua fakta, lalu sisipkan dalam setiap paragraf. Jangan berambisi untuk menuntaskan semua gagasan dalam satu paragraf. Susun kalimat utama, lalu siapkan kalimat-kalimat lain untuk menjelaskan kalimat utama tersebut.

Keempat, siapkan data-data pendukung. Ketika membuat tulisan tentang nelayan yang menerapkan teknologi komunikasi, saya akan menyisipkan data-data tentang kondisi ekologis, geografis, hingga keanekaragaman hayati. Hanya saja, data itu tidak dituliskan seperti cara ilmuwan menulis data. Gunakan analogi. Daripada menyebut luas 110 X 90 meter, lebih baik tulis ‘seluas lapangan bola.’ Sederhanakan hal yang rumit hingga bisa dipahami oleh siapa saja.

Demikian beberapa kiat yang bisa dibagikan. Saya telah menuliskan kiat seperti ini pada tulisan-tulisan lain. Saya tak pernah khawatir persaingan. Dengan senang hati, saya akan membuka semua rahasia dalam memenangkan lomba menulis. Mengapa? Sebab saya meyakini bahwa teknik atau kiat bisa dipelajari siapapun. Akan tetapi, ada hal yang tak bisa dipelajari dan didapatkan dengan instan. Satu hal itu adalah sense, kepekaan menemukan tema, mengolah adonan tema menjadi kue gagasan yang aromanya memikat, hingga akhirnya renyah dinikmati siapapun.

Untuk soal sense ini, tak ada satupun sekolah yang mengajarkannya. Ia hanya bisa ditemukan sendiri melalui proses menyuburkan segenap potensi. Iya khan?


Bogor, 7 Desember 2014


BACA JUGA:




Seni Perjalanan, Seni Penemuan Diri


patung Kristus di Maumere, Sikka


SELAMA tiga minggu, saya berkeliling ke banyak kota dan lokasi. Saya bertemu banyak orang dan komunitas. Saya menyaksikan pemandangan dan kekhasan dari setiap kota. Saya juga belajar banyak hal yang tak pernah didapatkan di sekolah formal. Saya akhirnya mengamini kalimat seorang sahabat, “Someday you will understand that your destination is the first step of your journey.”

***

HARI itu, sebuah gambar terkirim melalui whatsapp. Gambar itu berisikan tiket yang telah dibeli untuk bepergian ke Bali, lalu ke Sikka, di Pulau Flores sana. Pengirimnya adalah admin di kantor tempat saya bekerja. Hari itu menjadi awal dari perjalanan untuk bertualang ke empat lokasi. Saya tak membawa apapun, kecuali pakaian di badan.

Di perjalanan, saya kerap merenung, apakah gerangan yang hendak saya temukan melalui perjalanan ini? Yup, tentu saja, saya sedang menjalankan tugas kantor. Akan tetapi, ada hal lain yang ingin saya temukan. Ada semacam kesadaran kuat dalam diri untuk menemukan banyak mutiara berharga di perjalanan. Namun, apakah mutiara itu akan ditemukan dalam perjalanan yang serba bergegas?

Mulanya saya ke Sikka. Tadinya saya tak punya gambaran tentang tempat ini. Saya lebih mengenal nama Maumere, yang merupakan ibukota Sikka. Pada tahun 1992, warga kampung saya di Pulau Buton sempat heboh ketika banyak ikan sungai tiba-tiba mati dan terhampar di pinggir sungai. Radio dan televisi menyiarkan informasi tentang bencana tsunami di Maumere. Ternyata, ikan mati itu berhubungan dengan tsunami. Di luar itu, saya tak punya gambaran apapun.

Secara fisik, Maumere serupa kampung halaman saya. Tanahnya penuh karang dan tandus. Setelah sehari di Maumere, saya bertemu banyak orang yang lalu mengenalkan saya tentang keajaiban Maumere. Saya lalu melihat patung Yesus Kristus yang menyimpan magis pada tanah ini. Ternyata Maumere adalah tanah yang penuh aroma religiusitas. Ada banyak situs religi serta wisata ziarah yang menjadi tujuan kunjungan wsata di sini. Maumere adalah tanah yang menyimpan seribu kapel untuk melakukan refleksi dan merenung.

Di sini ada udara spiritualitas yang aromanya semerbak. Saya tak memaknai spiritualitas sebagai setumpuk aturan dan disiplin sebagaimana termaktub dalam kitab. Saya memaknainya sebagai gerak manusia untuk menemukan dirinya demi menggapai kesempurnaan. Spiritualitas adalah cahaya terang yang muncul di ujung sana, ketika dirimu dicekam kegelapan. Spiritualitas memandu langkahmu, menentukan arah, agar tidak tersesat. Spiritualitas ibarat embun yang membasahi jiwa yang serba kering kerontang. Embun itu ada di Maumere, ada pada makna yang terselip di balik patung Bunda Maria, ataupun patung Kristus.

Seusai Maumere, saya lalu berkunjung ke Raja Ampat. Kali ini, kearifan itu terletak pada patung-patung dan situs ziarah. Kali ini, makna itu tersibak di dalam lautan, di tengah karang-karang indah yang menyimpan ratna mutu manikam. Di Raja Ampat, yang dikepung pulau-pulau itu, saya menemukan keajaiban bawah laut.

Di dekat Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), seorang nelayan sekaligus peternak kuda laut bercerita tentang betapa pekanya perasaan kuda laut. Katanya, kuda laut adalah hewan yang amat sensitif. Ia serupa gadis manis yang harus selalu dirayu agar ceria. Sekali kamu membentak atau menghardiknya di laut, maka ia akan mengucilkan diri hingga akhirnya tewas mengapung. “Kamu harus memperlakukannya sebagai sahabat yang harus senantiasa dihibur. Kamu harus bersenandung ketika melihatnya,” katanya.

 
dekat Pantai WTC, Raja Ampat

Entah, apa maksud nelayan itu bercerita tentang kuda laut. Akan tetapi, saya tiba-tiba merasakan embun sejuk. Baangkali kehidupan ini harus selalu dirayakan sebagaimana sikap seorang neyalan ketika menghadapi kuda laut. Kita harus selalu bahagia, sebab kebahagiaan itu ibarat asupan energi untuk tumbuh dan bergerak. Tanpa bahaga, semuanya akan terasa hampa dan menjemukan, hingga akhirnya layu dan susah berkembang.

Raja Ampat adalah bumi yang dihuni manusia penuh keceriaan. Satu yang selalu saya nikmati dari tanah Papua adalah banyaknya cerita lucu dari manusia yang berdiam di sana. Hidup bukanlah sesuatu yang harus dijalani dengan penuh kesedihan. Hidup harus dilihat dengan riang gembira, dengan penuh prasangka baik pada semua orang di skeitar kita. Sayang, saya hanya tiga hari di Raja Ampat.

Selanjutnya, saya berpindah ke Seruyan, Kalimantan Tengah. Di tengah rimba raya Kalimantan, saya mendengar banyak kisah-kisah mistis di tanah itu. Suasana Seruyan amat kontras dengan daerah Raja Ampat. Jika Raja Ampat penuh keceriaan, maka di Seruyan, ada aroma mistis serta ketenangan yang selalu menggedor kesadaran saya tentang pentingnya melebur dalam semesta persoalan.

Di Seruyan, saya mendengar kisah tentang perkampungan siluman, keperkasaan orang Dayak, hingga hal-hal gaib yang tak bisa dijangkau rasio. Tempat ini menjadi oase bagi siapaun untuk membaca ketenangan dan menemukan keteduhan. Pohon-pohon cemara rindang di Pantai Sungai Bakau memiliki banyak kisah tentang kehidupan pada setiap lembar daunnya. Itulah yang harus ditemukan.

Seruyan adalah tempat yang penuh ketenangan. Saya menemukan kedamaian ketika melihat keceriaan burung walet yang memenuhi rumah warga. Ternyata, membuka hati demi mendengarkan suara-suara alam adalah obat mujarab bagi kekerasan hati dan bekunya nurani. Pertama kalinya saya menemukan bahwa musik terindah di siang hari adalah suara hembusan angin yang melewati dahan-dahan pepohonan di tepi laut biru. Itu yang temukan di Seruyan.

Terakhir, saya ke Wakatobi. Di daerah, yang serupa rumah buat saya itu, saya bertemu banyak sahabat di masa kecil. Di tanah ini, saya tak cuma melihat lautan biru dan kisah-kisah wabah laut yang menakjubkan. Saya juga menemukan kehangatan persaudaraan dengan sahabat di masa kecil, serta interaksi dengan beberapa sahabat baru yang setia kawan dan saling bantu.

Pantai Sungai Bakau di Seruyan

Pantai Cemara di Wakatobi

Wakatobi tak hanya punya bawah laut yang indah, tapi juga atas bumi yang menawan. Itu hadir pada spirit berkomunitas, pada budaya Wakatobi yang menekankan pada solidaritas dan saling bantu. Itu saya rasakan ketika melihat beberapa ibu yang beriringan ketika menjunjung nampan berisi beras. Kata seorang sahabat, para ibu itu hendak mengantarkan tanda kasih pada keluarganya yang akan menikah. Beras itu adalah simbol solidaritas serta hasrat kuat untuk saling menolong. Sungguh mengagumkan!

***

HARI ini, saya kembali ke Bogor. Saya baru saja mengetuk pintu. Ada suara kecil yang kegirangan dari dalam rumah. Ada suara kecil yang berteriak “Ayah... Ayah...” Air mata saya jatuh. Ternyata rasa bahagia itu tak perlu dicari jauh-jauh sampai ke belahan bumi lain. Di dalam rumah kecil ini, saya memiliki semuanya.

Suara kecil itu adalah alarm yang mengingatkan saya tentang tanggungjawab serta harapan untuk selalu kuat dalam menghadapi apapun. Yup, saya memang lelah dan sempat sakit di perjalanan. Namun suara kecil itu adalah obat yang telah menguatkan kaki untuk selalu berjalan tegak demi menggapai semua takdir. Suara kecil itu adalah awal sekaligus tujuan ke mana saya hendak bergerak. Pada akhirnya, seni perjalanan adalah seni penemuan diri, yang ternyata justru terletak pada pijakan awal ketika melangkah.

“Nak, ayahmu pulang. Ayo bermain,” kataku padanya saat ibunya memutar kunci pintu. Dan keceriaan kami akhirnya bertaut.


Bogor, 5 Desember 2014

Tafsir Papua untuk Yansen



NUN jauh di Malinau, Kalimantan Utara, butiran gagasan tentang revolusi desa disebar ke mana-mana. Gagasan itu nampak sederhana, namun memiliki dampak yang luar biasa bagi banyak orang. Penggagasnya adalah Yansen TP, yang sejak lama berobsesi untuk memberikan kekuatan bagi desa-desa. Indonesia tidak dilihat dari pusat, Indonesia dilihat dari pinggiran terjauh. Tak disangka, gagasan itu memantul ke mana-mana. Di Raja Ampat, Papua Barat, gagasan Yansen ikut bergema, namun juga terselip beberapa catatan kritis yang patut disimak.

***

HARI itu, sebuah diskusi buku digelar di Jakarta. Buku berjudul Revolusi dari Desa itu menyentuh hati banyak orang. Yang dibahas adalah bagaimana memberikan kepercayaan dan tanggungjawab sepenuhnya kepada warga desa. Puluhan tahun Indonesia merdeka, titik berat pembangunan selalu ditekankan di kota-kota. Desa hanya menanti kemurahan hati orang-orang kota, tanpa menjadi tuan atas dirinya sendiri.

Yansen memaparkan pengalamannya ketika membangun Malinau. Ia mengubah pandangan orang bahwa pembangunan bisa dimulai dari pinggiran. Ia selalu mengulang-ulang bahwa kepercayaan kepada rakyat adalah pilar utama bagi pembangunan. Pendekatannya revolusioner. Ia memberikan kepercayaan penuh kepada desa. Ia mendelegasikan wewenang hingga tanggungjawab kepada desa. Ia juga membagikan anggaran kepada desa, setelah itu membangun mekanisme untuk mengontrol penggunaan anggaran. Ia membuktikan obsesinya untuk membangun dari pinggiran. Ia tak memaparkan teori. Ia membawa bukti.

Pemikirannya mendahului zaman. Di saat pemerintahan baru menanam komitmen untuk memberikan otonom kepada desa, ia bergerak lebih dahulu untuk membumikannya. Sejatinya, pengalaman itu menyediakan butiran inspirasi untuk mengecek sejauh mana kelebihan sekaligus kekurangan konsep otonomi desa itu.

Bagi saya, gagasan itu menjadi menarik sebab dilakukan di tengah kebijakan pembangunan yang tak memberi ruang bagi desa. Selama ini, banyak orang terjebak pada pandangan bahwa desa hanyalah mata rantai paling bawah dari sistem birokrasi. Pemerintah pusat memegang wewenang tertinggi, lalu di bawahnya ada pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/ kota, hingga pemerintahan desa.

saat Yansen mempresentasikan bukunya

Yansen membalik gagasan itu. Posisi masing-masing adalah sejajar dan saling bermitra. Pemerintah desa memiliki wewenang yang harus dipertanggungjawabkan ke hadapan warga. Desa punya kuasa untuk menentukan desain pembangunannya sendiri, sekaligus berdialog dan merumuskan solusi bersama pemerintah di atasnya.



***

BEBERAPA hari setelah diskusi itu, saya berkunjung ke Raja Ampat, Papua Barat. Disatu pulau indah, pada tempat yang disebut-sebut sebagai kepingan surga di bumi, saya bertemu beberapa kepala desa. Kami mendiskusikan banyak hal, termasuk gagasan Yansen tentang desa. Mereka paham intisari gagasan revolusi desa, seperti yang digemakan Yansen.

Sejak tahun 2001, kebijakan otonomi khusus Papua menjadikan desa-desa berlimpah materi. Papua telah melangkah lebih jauh. Hanya saja, ada sejumlah catatan menarik yang kemudian dititipkan. Ternyata, gagasan tak selalu berbanding lurus dengan kenyataan lapangan. Adalah penting untuk mengungkap semua catatan itu agar menjadi pelajaran berharga yang membuat mata lebih terang untuk melihat banyak sisi lain.

Pertama, pemberian wewenang dan kuasa anggaran untuk menentukan desain pembangunan adalah hal yang positif. Akan tetapi, hal itu bakal sia-sia jika tak diiringi penguatan kapasitas dari manusia-manusia yang hidup di desa. “Biar banyak dana dan kewenangan, kalau desa tidak tau mau bikin apa, maka kebijakan apapun bisa sia-sia,” kata Frans, warga Waisai, Raja Ampat.

Sejak tahun 2002 hingga 2013, dana Otsus Papua yang dikeluarkan mencapai Rp 40 triliun rupiah. Namun, sampai saat ini, masyarakat Papua masih memprihatinkan. Warga Papua masih banyak yang kelaparan, mengalami gizi buruk, hingga meninggal. Mengapa bisa terjadi? Ada banyak faktor yang bisa diurai. Salah satunya adalah tidak siapnya sumber daya manusia, lemahnya pengelolaan, serta tingkat korupsi yang tinggi.

Makanya, kebijakan pemberian wewenang itu tidak harus dilihat sebagai salah satu solusi yang mengatasi semua masalah. Harusnya, ada tiga aspek yang harus diperhatikan. Yakni (1) perencanaan pembangunan, (2) implementasi anggaran, dan (3) aspek pertanggungjawaban atas penggunaan anggaran. Ketiga aspek ini adalah tali-temali yang mengikat semua pihak, termasuk desa.

Kedua, banyaknya wewenang dan turunnya anggaran bisa menyebabkan terjadinya tumpang-tindih dalam pelaksanaan program. Bukan rahasia lagi kalau di kalangan pemerinta terjadi saling silang dan benturan saat terjadi di lapangan. Entah kenapa, kita belum juga bisa membangun satu pendekatan yang komprehensif dan menjadi bahasa bersama bagi semua pihak.

Benturan ini menyebabkan tidak bekerjanya sistem, yang kemudian bisa berdampak bagi masyarakat. Sungguh ironis jika mengingat bahwa desa-desa di Indonesia masih menjadi kantong kemiskinan, sehingga rawan terjadinya ketidakadilan sosial.

***

DI Papua Barat, saya mendiskusikan pendekatan yang ditempuh Yansen di Malinau. Pendekatan itu efektif untuk menghidupkan energi dan gairah pembangunan di daerah perbatasan. Pendekatan itu mengingatkan orang pada kalimat ilmuwan sosial Soedjatmoko bahwa pembangunan tidak selalu terkait ekonomi, namun terkait erat dengan manusia. Makanya, tujuan prmbangunan haruslah bisa menjadi pijakan untuk melejitkan pemenuhan potensi kemanusiaan.

Tentu saja, jalan ke arah itu cukup terjal untuk ditempuh. Tapi Yansen telah meletakkan satu landasan penting untuk membangun kepercayaan (trust) kepada rakyat. Entah, apakah Yansen pernah membaca tulisan Francis Fukuyama ataukah tidak. Sebab, beberapa tahun silam, Fukuyama juga mengurai pentingnya kepercayaan, solidaritas, dan institusi sebagai elemen utama modal sosial yang merekatkan semua anggota masyarakat.

Harus diakui kalau buku masih jauh dari sempurna. Ketika membacanya, saya serasa membaca tulisan ilmiah ataupun laporan-laporan pemerintah daerah. Gaya bahasanya agak kaku, monoton, dan kurang luwes sehingga beberapa kali terasa agak menjemukan. Mungkin saja ini disebabkan oleh materi disertasi yang lalu diolah menjadi buku. Harusnya, buku bisa dikemas lebih menarik sehingga selalu memikat siapapun

Meskipun buku ini bertajuk tentang membangun dari pinggiran, saya juga merasakan kalau pendekatan buku ini terkesan top-down. Itu terlihat dari paparan tentang rencana pemerintah daerah serta kebijakan Gerakan Desa Membangun (Gerdema). Posisi pemerintah kabupaten masih berada di atas yang kemudian mendesain wewenang apa saja yang dimiliki oleh desa.

saya dan para sahabat di Papua

Idealnya, jika memang insiatif pembangunan itu dari desa, harusnya paparan bergerak secara induktif. Akan lebih baik kalau suara-suara desa diungkap lebih dahulu, bisa dalam bentuk narasi, deskripsi, atau gagasan, kemudian bergerak ke atas ke aras pemerintah daerah, yang meresponnya dengan kebijakan. Yang ditekankan bukanlah prestasi dan kepedulian pemerintah daerah, namun pada inspirasi komunitas, suara-suara rakyat yang lama termarginalisasi, serta harapan besar yang tumbuh untuk melihat negeri ini lebih baik.

Terlepas dari beberapa catatan itu, buku ini sukses untuk membuka wawasan sekaligus menyentuh kesadaran bahwa ada banyak pelajaran di desa-desa dan daerah-daerah pinggiran. Bahwa kerja keras untuk menggapai cita-cita memang masih harus dikejar. Akan tetapi negeri ini bisa menggapai semua asa selagi ada keberanian untuk menyerap pelajaran dari banyak hal menarik di tubuh bangsa.

Di tanah Malinau, tepian tanah air kita, ada kisah sukses dan inspirasi tentang membangun negeri. Inspirasinya sederhana, namun justru punya kekuatan untuk menggerakkan dan mengubah hal yang nyaris mustahil. Inspirasinya terdapat pada kalimat yang tertera di sampul buku: “Saatnya dalam pembangunan percaya sepenuhnya kepada rakyat.”


Raja Ampat, Papua Barat, November 2014


Terpopuler Bulan Ini

...

...