Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Buku Terbaik tentang Kebangkitan Nasional




Kebangkitan nasional itu bukan hari di mana bangsa bangkit dari tidur. Namun ada proses sejarah dan sintesis ide-ide yang memanaskan wacana pergerakan. Ada kisah-kisah pertemuan dan interaksi banyak orang yang lalu bersepakat untuk membuat gerakan bersama demi lahirnya embrio negeri yang baru.

Di tanah air kita, pernah ada masa ketika semua aliran dan ideologi sama-sama hidup dan berkembang, serta bersatu untuk pergerakan. Pernah ada masa ketika ideologi serupa baju yang bisa diganti-ganti. Kita kesulitan menarik garis atau marka pembeda sebab hari ini seseorang bisa nasionalis, besok dia menjadi Islami, lusanya komunis.

Saya menemukan kisah itu dalam buku An Age of Motion yang ditulis sejarawan Takashi Shiraishi. Buku yang diolah dari disertasi di Cornell University ini kemudian diterjemahkan oleh Hilmar Farid menjadi Zaman Bergerak. Di mata saya, ini buku paling bagus yang menjelaskan bagaimana ide-ide bergolak pada periode kebangkitan.

Fokus buku adalah sejarah sosial dan intelektual yang terjadi di Solo, Semarang, dan Yogyakarta, pada periode 1920-an hingga awal Indonesia merdeka. Generasi yang dibahas adalah para arsitek lahirnya Indonesia. Mereka belajar dari kenyataan, dipengaruhi oleh situasi sejarah, lalu membumikan ide-idenya pada orang banyak melalui publikasi dan karya tulis. Mereka bertanding gagasan melalui media demi mendapatkan simpati banyak orang.

Generasi Soekarno, Hatta, dan Tan Malaka adalah generasi yang tumbuh dari dialektika dan diskusi intens Tjokroaminoto dan Tjipto cs. Generasi Soekarno ibarat striker yang menjebol gawang, setelah sebelumnya bola digiring oleh generasi sebelumnya. Tanpa sintesis gagasan di masa Tjipto cs, tak akan muncul banyak konsep-konsep kebangsaan yang justru melampaui zamannya.

Selain Tjokro dan Tjipto, tokoh lain yang dibahas di sini adalah Tirto Adisoerjo, Soewardi Soerjaningrat, Mas Marco Kartodikromo, Semaoen, hingga Hadji Misbach.

Mereka berdiri di atas landasan berpikir yang berbeda. Mereka berpikir di aras ideologi yang berbeda, namun sama-sama bertemu pada satu jalan yakni cinta tanah air serta harapan munculnya negara baru yang bebas dari cengkeraman kolonialisme.

Di masa ketika negara bangsa masih serupa bayang-bayang, para tokoh ini telah menyusun cetak biru dan sintesis gagasan-gagasan, lalu diteruskan oleh generasi yang kemudian memproklamasikan kemerdekaan.

Buku ini memang buku sejarah, namun penggambaran tokoh-tokohnya begitu detail, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tak ada kisah tentang para hero atau pahlawan. Juga tak ada cerita tentang para jagoan yang mengubah sejarah. Ini adalah kisah tentang mereka yang memiliki gagasan tentang negeri yang lebih baik, tanpa penindasan.

Sejarah tidak dilihat sebagai rangkaian peristiwa. Sejarah adalah rekaman kejadian, kesaksian, serta pemaknaan dari para individu yang hadir pada satu masa. Sebagai kesaksian, maka ada sejumlah peristiwa dan kejadian besar yang lalu mempengaruhi pemaknaan atas satu kejadian.

Para individu itu memungut dan menyusun ulang pemikiran atau ide-ide yang diperoleh dari bermacam gagasan, misalnya sosialisme Marx dan Islamisme, untuk memaknai tindakan mereka dalam memperjuangkan dunia yang sepenuhnya baru, yaitu Hindia (Indonesia).

Gaya penulisan ini sangat khas dan detail, sebagaimana gaya beberapa peneliti Jepang yang pernah saya baca bukunya. Penulisnya tak ingin terjebak pada kategorisasi yang selalu dilakukan para sosiolog dan ilmuwan politik yang selalu ingin membagi aliran politik ke dalam kubu-kubu nasionalis, Islam, dan komunis, sebagaimana pernah dikemukakan ilmuwan politik Herbert Feith, yang lalu dibantah habis-habisan oleh Harry Benda.

Sebab di aras realitas, sebagaimana ditulis Benda, pembagian itu amatlah kabur. Menempatkan posisi seseorang ke dalam satu kubu berpotensi untuk mengabaikan begitu banyak kepingan fakta menarik tentang orang tersebut. Seorang Tjipto yang nasionalis dan Islami memakai pakaian dengan ciri khas Jawa, serta bergaul dan sangat diterima oleh orang Belanda. Lantas, di mana menempatkan dirinya?

Bagaimana pula meletakkan posisi seorang Hadji Misbach, yang dijuluki haji merah? Dia belajar di pesantren, setelah itu bergaul dengan para nasionalis seperti Tjipto, lalu mengakar di kelompok Islam dengan ide-ide komunisme? Bagaimana menjelaskan sintesis yang dilakukan Misbach atas ruh perjuangan Muhammad yang menentang penindasan yang bersesuaian dengan perjuangan kaum proletar, sebagaimana pernah diperjuangkan oleh Pangeran Diponegoro?

Di masa kini, kita melihat semua ideologi itu sebagai kamar-kamar terpisah yang tidak saling berdialog. Padahal perbedaannya hanya eksis dalam pikiran kita. Mestinya kita memahami setiap konteks sejarah, gagasan seorang tokoh, serta bagaimana situasi zaman yang terus bergerak. Gagasan tentang perubahan tak pernah tinggal di satu ruang hampa sejarah, melainkan selalu bergerak berkat dinamika dan dialog dengan kenyataan sekitar.

Pada mulanya adalah kehadiran lelaki bernama Tirto Adhisoerjo (1880), sosok yang dikenal sebagai Minke dalam Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer. Pada tahun 1903, ia menerbitkan koran sendiri (Medan Prijaji, Potri Hindia dan lainnya), lalu melahirkan Sarekat Prijaji dan Sarikat Dagang Islamijah, serta membuka bisnis hotel dan biro bantuan hukum. Tirto menjadi semacam archetype bagi pemimpin pergerakan pada masa berikutnya. Kemudian pada bulan Mei tahun 1908 organisasi Boedi Oetomo dibentuk.

Tak lama setelah itu, SI/SDI muncul. Berawal dari organisasi ronda untuk menjaga keamanan di lingkungan pengusaha batik, SI kemudian menjadi wadah masyarakat Islam Hindia terbesar dengan bermacam individu yang memiliki karakter dan latar belakang masing-masing. Dari bermacam karakter dan latar belakang itulah, kemudian, SI menjadi semacam arena bagi pertarungan gagasan dalam menafsirkan bagaimana seseorang seharusnya berjuang menjadi “satria sejati”.

Saya suka bagaimana penulis buku membagi plot-plot waktu perjalanan sejarah berdasar analisa situasi politik dan ekonomi. Tentang bagaimana situasi ekonomi yang dipengaruhi siklus bisnis mampu memicu radikalisme yang juga naik turun. Ketika periode inflasi tinggi, protes buruh semakin radikal. Sebaliknya, ketika kebijakan represi dilakukan, kondisi politik semakin ‘tenang’. Jadi, ada semacam ‘kebetulan’ yang kemudian dimanfaatkan oleh agen-agen propaganda pergerakan untuk memaknai situasi tersebut.


Gaya Pramoedya

Ketika membaca buku ini, saya merasakan gaya menulisnya yang mirip dengan Pramodeya Ananta Toer. Apakah penulis buku, Takashi Shiraishi, belajar menulis pada Pramoedya?

Tampaknya iya. Menurut informasi yang saya dapatkan dari sejarawan Sonny Karsono yang kini mukim di Korea, Takashi Shiraishi belajar gaya menulis pada Pramoedya. Makanya, kata-katanya demikian bertenaga, serta amat hati-hati dalam menuliskan fakta dan kejadian pada satu masa.

Tapi ada pula yang mengatakan buku ini ditulis dengan gaya sejarawan Jepang, yang amat hati-hati melihat setiap pecahan fakta, tidak ingin terlalu banyak menulis opini atas fakta itu, kemudian merangkai setiap pecahan fakta dengan penuh dedikasi.

Semua tokoh yang dibahas di sini menyadari kalau mereka punya perbedaan dalam melihat persoalan. Tapi tak pernah terlibat konflik dan saling benci. Perbedaan pemikiran dan pergerakan itu lalu dibiakkan dalam berbagai terbitan pers.

Inilah periode di mana para aktivis politik adalah para penulis hebat yang kemudian memantik kesadaran banyak orang tentang perlunya membangun ide-ide kebangsaan.

Beberapa perdebatan yang menarik adalah antara Mas Marco Kartodikromo dengan Tjokroaminoto, Semaoen dengan Soerjopranoto yang dipandang sebagai pertentangan antara kelompok komunis dengan pengurus SI pusat, seorang mubalig radikal beraliran Marxis, Misbach, melawan Syeitan Kapitalisme (yang dimaksud ialah Moehammadyah), antara Tjipto Mangoenkoesoemo dengan kelompok Boedi Oetomo, Kesunanan dan Mangkunegaran.

Pada masa ini, pers adalah senjata paling hebat untuk menggalang advokasi dan perlawanan. Tirtoadhiseorjo menulis di Medan Prijaji, Mas Marco menulis di koran Dunia Bergerak, Tjokroaminoto di Oetoesan Hindia, Semaoen di Sinar Djawa, Misbach menulis di Medan Moeslimin dan Islam Bergerak, hingga Soewardi Soerjaningrat menulis di harian De Express.

Para perintis pergerakan dan pelopor ide-ide kebangsaan ini adalah para jurnalis hebat yang menggugah kesadaran, menginspirasi banyak orang tentang pentingnya merdeka dan menentukan nasib sendiri, serta menjadi peletak semangat hebat di dada para generasi pemimpin sesudahnya.

Sungguh menyedihkan karena hari ini, mereka semua terabaikan. Beberapa dari mereka diberi stigma sebagai komunis yang tak perlu dikenang sejarah. Mereka dianggap tidak penting dan hanya dianggap sebagai catatan kaki dari sejarah pergerakan kebangsaan kita.

Padahal, semua perdebatan pada era sesudahnya hingga kini, berpangkal pada sintesis ide-ide dan debat yang disulut oleh generasi emas dalam sejarah sosial kita. Pada merekalah seharusnya kita banyak berhutang atas setiap tarikan napas di era kemerdekaan.



Kekuatan Syair




Setiap ada ajakan ke tempat paling terpencil di Indonesia, saya menyambutnya dengan senang hati. Belum lama setelah diajak ke Merauke, Papua, saya berkunjung ke tempat jauh lainnya yakni Pulau Simeulue yang letaknya 150 kilometer dari Aceh.

Simeulue tempat yang sangat indah. Rumput di sini serupa rumput di lapangan golf. Di mata saya, , Simeulue lebih indah dari Phi Phi Island, tak jauh dari Phuket, Thailand, yang saya kunjungi beberapa waktu lalu. Saya lihat di peta, Simeulue letaknya tidak terlalu jauh dari Phuket. Andai dikemas dengan baik, pasti bisa jadi destinasi wisata.

Selain mengunjungi pulau kecil di sekitar Simeulue, saya bertemu peneliti asal Jepang bernama Yoko Takafuji. Dia sedang meneliti kesiapan warga menghadapi tsunami. Yoko menjelaskan beberapa fakta yang bikin saya tersentak.

Tahun 2004 lalu, Aceh dan sekitarnya dihantam tsunami. Di dataran Aceh, jumlah korbannya ratusan ribu orang. Namun, hanya ada tujuh warga yang ditemukan tewas di Pulau Simeulue. Itu pun ketujuh orang itu adalah pendatang.

Penelitian Yoko Takafuji sampai pada kesimpulan bahwa ribuan warga di pulau itu bisa selamat karena mereka percaya pada ujaran-ujaran atau dongeng yang disampaikan nenek moyang mereka. Kepada Yoko, warga bercerita tentang syair-syair yang didendangkan saat mereka masih kecil.

Syair itu berisikan pesan agar semua warga harus mengungsi ke tempat lebih tinggi saat melihat tanda-tanda alam. Syair itu dihafal oleh semua warga Simeulue, tua dan muda. Mereka tahu apa yang harus dilakukan saat melihat tanda-tanda alam.

Saat tsunami menerjang di tahun 2004 lalu, anak-anak muda berteriak-teriak "Smong" atau tsunami. Mereka meminta semua penduduk berlarian ke bukit-bukit. Mereka membaca tanda-tanda alam, seperti air surut, iring-iringan kerbau yang ke pegunungan, serta suara yang gemeretak di kejauhan.

Orang-orang menuju pegunungan karena dipandu oleh syair dan pesan turun-temurun dari nenek moyang. Syair itu disampaikan kepada anak-anak dalam bahasa lokal sebagai pengantar tidur.

Berikut, terjemahan syair itu:

"Dengarlah sebuah cerita. Pada zaman dahulu. Tenggelam satu desa. Begitulah mereka ceritakan. Diawali oleh gempa. Disusul ombak yang besar sekali. Tenggelam seluruh negeri. Tiba-tiba saja. Jika gempanya kuat. Disusul air yang surut. Segeralah cari. Tempat kalian yang lebih tinggi. Itulah smong namanya. Sejarah nenek moyang kita. Ingatlah ini betul-betul. Pesan dan nasihatnya."

Orang tua menyampaikan syair dengan berbagai cara. Mereka menyampaikannya saat di meja makan, setelah makan, atau di ruang keluarga. Orang dewasa bercerita saat kejadian smong datang satu abad silam, banyak keluarga tewas, ada pula yang jatuh dari gendongan orang tua, lalu tersangkut di atas pohon bambu dan selamat. Cerita itu terus berulang hingga akhirnya mengendap di benak banyak orang.




Seorang sahabat tahu asal-usul syair itu. Katanya, syair itu bermula sejak letusan Gunung Tambora di awal tahun 1900-an. “Pada saat itu ada tsunami besar yang merendam pulau ini. Makanya, syair itu muncul agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang,” kata sahabat itu.

Dalam syair itu tersembunyi satu hikmah dan pembelajaran. Apa yang kita sebut sebagai kearifan lokal sejatinya adalah himpunan-himpunan pengetahuan yang lahir sebagai upaya manusia memahami alam semesta dengan segala isinya.

Saat manusia memahami semesta, saat itu juga manusia mencipta sains dan segala pengetahuan sebagai mutiara berharga yang lalu ditebar ke masyarakat, diwariskan turun-temurun, serta menjadi api yang menerangi berbagai zaman.

Peristiwa Tambora itu menjadi pelajaran berharga bagi nenek moyang Simeulue. Mereka tak ingin kejadian serupa terjadi di masa mendatang. Syair-syair lahir sebagai jembatan untuk memberikan early warning system bagi generasi mendatang agar selalu waspada pada berbagai kemungkinan.

Syair itu mencakup pengetahuan yang sejatinya lahir dari social learning process, proses belajar masyarakat yang lalu menjadi tradisi dan kebudayaan. Di saat krisis, kebudayaan lalu menyediakan berbagai protokol demi menyelamatkan masyarakat.

Saya merasakan satu pandangan dunia yang menganggap bahwa segala bencana tak harus dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari. Bencana adalah sahabat yang harus diakrabi dan dikenali. Bencana adalah sesuatu yang harus dihadapi dengan damai, sembari manusia perlahan menyusun tindakan-tindakan preventif agar terhindari dampaknya.

Saya menangkap kesan kuat. Manusia harus berselancar dan melintasi berbagai tanda-tanda alam itu, berdamai dengan semuanya, lalu mencari cara-cara kreatif untuk menyelamatkan kehidupan. Pesannya adalah jangan sesekali menghindari segala yang ada di alam dengan penuh kebencian, tetapi dekati, pahami, lalu mengalir bersamanya.

Hanya dengan mengalir bersama semesta, seseorang bisa memahami tabiat alam, lalu menyerap saripati pengetahuan. Manusia Simeulue berselancar di tengah bencana demi menyelamatkan diri.

Saat alam menunjukkan tanda adanya tsunami, masyarakat telah siaga dengan berbagai kemungkinan. Mereka lalu bergerak ke perbukitan untuk menyelamatkan diri. Mereka membaca tanda alam, memahami makna di balik setiap realitas, lalu menentukan langkah-langkah terbaik. Kearifan inilah yang membuat dunia begitu mengagumi Simeulue.

Yoko Takafuji membandingkan syair di Simeulue itu dengan syair Inamuranghi di daerah Wakayama, Jepang. Ada juga syair tsunami tendenko dari daerah Iwate. Di dua daerah ini, bila terjadi tsunami, korbannya lebih sedikit. "Isi cerita agak beda, tapi intinya sama. Tsunami tendenko misalnya. Warga diminta untuk langsung lari dan tidak perlu memikirkan keluarga, “ katanya.



Kini, saya mengenang kata-kata Yoko. Indonesia sedang dihantam pandemi global. Banyak orang lebih suka menyalahkan orang lain, ketimbang berkampanye agar protokol kesehatan dipatuhi. Dalam situasi gelap, kita lebih mudah menggerutu dan memaki, ketimbang menyalakan lilin cahaya. Bencana ini bisa lebih lama, saat kita hanya duduk diam dan menunggu lalu sibuk menyalahkan.

Harusnya kita lebih banyak menyalakan cahaya.
.

Tangis Quraish Shihab untuk Najwa




Dia seorang ulama besar dari Rappang di tanah Bugis. Setiap hari dia mencerahkan publik melalui ilmu dan keluasan wawasannya mengenai Al Quran. Dia juga seorang bapak yang membesarkan semua anaknya dengan cinta.

Suatu hari, seorang anaknya yakni Najwa Shihab meneleponnya sembari menangis. Bagi Quraish, itulah episode paling menyedihkan di keluarganya.

*** 

Setiap Rabu malam, Quraish Shihab akan setia duduk di depan televisi. Dia rutin menyaksikan tayangan Mata Najwa yang diasuh anaknya Najwa. Dia tak pernah absen menyaksikan semua tayangan mengenai anaknya.

Sejak beberapa tahun terakhir, Najwa Shihab telah menjadi trendsetter dalam dunia talkshow di Indonesia. Dia bisa memfasilitasi dialog dengan sangat menarik. Dia tak membiarkan narasumbernya bebas berceloteh hingga taraf membual. Dia bisa dengan cepat mencegat narasumber itu dengan pertanyaan yang membuat tergagap-gagap.

Seorang pesohor pernah menyebut Najwa punya dua kombinasi maut yang bisa menaklukkan semua orang. Dia cantik dan cerdas sekaligus. Dia adalah pengendali siaran, pengatur kemudi dan lalu lintas pembicaraan, sekaligus piawai dalam mengulik banyak sisi seseorang sehingga tak kuasa berkelit.

Saya membayangkan, betapa sulitnya seorang presenter untuk mencapai level seperti Najwa. Biarpun banyak akademi dan perguruan tinggi yang mengadakan kelas presenter tetap saja sulit melahirkan sosok seperti Najwa.

BACA: Kisah Ibunda Quraish Shihab di Kampung Bugis

Figur seperti itu hanya lahir dari keluarga yang menjadi lahan gembur demi menumbuhkan semua kecerdasan dan percaya diri hingga menjulang tinggi.

Dalam buku Outliers, yang pertama kali terbit tahun 1988, Malcolm Galdwell mengatakan bahwa kesuksesan tidak berasal dari angka nol. Semua orang berutang pada orang tua dan dukungan orang lain. Kesuksesan adalah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai “keuntungan yang terakumulasi”. Tempat dan kapan seseorang tumbuh besar memiliki pengaruh yang cukup besar.

Galdwell menolak anggapan tentang keberhasilan yang semata-mata dipicu oleh kecerdasan. Menurutnya, keberhasilan seseorang menggapai satu kesuksesan tidak bisa dilihat hanya dari satu aspek saja, melainkan terdapat hal yang lebih rumit, kompleks, dan hanya bisa dipahami dengan menelusuri kehidupan orang tersebut.

Gambaran yang paling sederhana namun gamblang dipaparkan Galdwell dalam cerita singkat mengenai pohon. Pohon ek tertinggi di hutan menjadi yang tertinggi bukan semata-mata karena dia paling gigih.

Dia menjadi yang tertinggi karena “kebetulan” tidak ada pohon lain yang menghalangi sinar matahari kepadanya, tanah di sekelilingnya dalam dan subur, tidak ada kelinci yang mengunyah kulit kayunya sewaktu masih kecil, dan tidak ada tukang kayu yang menebangnya sebelum dia tumbuh dewasa.

Bersetuju dengan Galdwell, Najwa Shihab tumbuh di lingkungan yang menjadi lahan gembur bagi pengembangan inteligensi dan kreativitasnya.

Pertanyaan yang mencuat, bagaimanakah pendidikan yang didapatnya dalam rumah? Apa yang diajarkan orang tuanya hingga dirinya bisa mencapai posisi seperti sekarang? Apakah sisi-sisi lain Najwa yang tak banyak diungkap?

*** 

Demi menjawab pertanyaan itu, saya membaca buku biografi berjudul Cahaya, Cinta, dan Canda M Quraish Shihab, terbitan Lentera. Buku ini adalah kisah hidup, pengalaman, serta perjalanan Prof Quraish Shihab, ulama kenamaan yang pernah mengemban banyak jabatan prestisius, mulai dari Rektor IAIN Syarif Hidayatullah hingga kursi Menteri Agama.

Saya menemukan banyak lembaran yang membahas bagaimana asal-usul dan bagaimana Najwa dididik dalam rumah.

Kakek Najwa, dalam hal ini ayah Quraish Shihab, adalah Habib Abdurrahman Shihab, yang dahulu menjadi Rektor IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Nenek Najwa, dalam hal ini ibu Quraish Shihab, dipanggil Puang Asma atau Puang Cemma adalah bangsawan Bugis, keturunan pemimpin di Rappang, Sulawesi Selatan. Keluarga ini sejak lama dikenal religius yang membimbing semua anaknya untuk mendalami agama sejak dini.

Najwa adalah anak kedua. Kakaknya Najeela, lulus dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) yang kini menekuni profesi sebagai pendidik. Adiknya adalah Nasywa, Nahla, dan Ahmad. Ahmad adalah satu-satunya laki-laki saudara Najwa. Semuanya memilih karier yang berbeda dengan sang ayah. Quraish tak ingin memaksa anaknya untuk sepertinya.

Quraish memberi nama semua anaknya dengan awalan N yang diambilnya dari huruf Nun dalam aksara Arab. “Nun adalah huruf yang istimewa,” katanya. Nun adalah salah satu huruf yang berdiri sendiri di awal surah Al Quran yakni Surah Al Qalam.

Pada awal surah itu, Nun dijadikan Allah sebagai sumpah bahwa Nabi Muhammad berakhlak mulia, untuk menepis tuduhan penentangnya. Nun juga mengandung makna positif seperti najah (sukses), nur (cahaya), atau nashr (pertolongan).

Nama Najwa bermakna percakapan atau bisikan. Makna majazi-nya adalah orang yang pandai bercakap, mudah dimengerti, dan cerdas saat berbincang dengan siapa saja. Artinya, sejak kecil Quraish telah mendoakan Najwa agar kelak menjadi seseorang yang cakap berbicara.

Quraish dahulu tinggal di Makassar dan berkarier hingga posisi rektor. Dia pindah ke Jakarta demi karier dan tanggung jawab yang lebih besar. Najwa lebih banyak menghabiskan masa kecil dan remaja di Jakarta. Biarpun tak memaksa anaknya untuk menekuni dunia ulama, Quraish mengajarkan agama pada anaknya sejak dini.

Sejak kecil, dia mewajibkan semua anaknya untuk berada di rumah saat salat Magrib. Mereka punya tradisi untuk ikut salat jamaah. Selepas salat Magrib, mereka lalu ramai-ramai membaca wirid atau ratib, kemudian mengaji. Rumah Quraish selalu semarak dengan bacaan Al Quran setiap malam. Wirid yang harus dibaca setiap malam adalah Ratib al-Haddad. Di pagi hari, semuanya membaca Wirid Lathif.

Wirid yang indah itu disusun Imam Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad dari Hadramaut. Beliau adalah salah satu ulama besar di abad 12 H. Beliau dilahirkan di salah sebuah kampung di kota Tarim, Yaman pada malam ke-5 bulan Safar, tahun 1044 Hijrah. Mereka yang membaca ratib ini diyakini akan selalu terjaga dari hal-hal yang bisa menyesatkan.

Isi Ratib al-Haddad adalah potongan surah Al Quran dan doa-doa yang diajarkan Rasulullah SAW. Di antaranya adalah Surah Al Fatihah, Ayat Kursi, Surah Al Ikhlas, Surah Al Baqarah, Surah Al Falaq dan An Nas. Sedangkan Wirid Lathif yang dibaca saat subuh bertujuan untuk melenyapkan kesusahan, kesedihan, kegelisahan, mempermudah rezeki serta memenuhi kebutuhan.

Sejak masih kecil, Najwa dan semua saudaranya lainnya sudah menghafal doa-doa ini. Mereka sudah paham bahwa berdoa sesudah Magrib adalah kewajiban bagi semuanya. Biasanya, seusai berdoa, mereka akan berdiskusi membahas banyak hal. Quraish akan menanyakan pendidikan anak-anaknya serta tugas-tugas sekolah.

Quraish Shihab dan keluarganya

Di keluarga ini, pendidikan adalah nomor satu. Quraish membebaskan anaknya untuk memilih bidang apa pun. Ia percaya bahwa dengan fundasi keagamaan yang kokoh, anak-anaknya tidak akan tersesat.

Tak heran jika semua anaknya menekuni beragam profesi. Ada yang menjadi psikolog, ada yang menjadi jurnalis dan presenter televisi, ada yang jadi psikolog, dokter, hingga menekuni bisnis di bidang IT. Biarpun semuanya menempuh profesi yang berbeda, di malam hari, seusai salat Magrib, mereka akan menjadi bagian dari salat berjamaah serta melafalkan doa-doa yang sama.

Sebagaimana semua saudaranya, Najwa mendapat limpahan kasih sayang dari ayahnya. Semasa kecil, Najwa diharuskan memakai kaca mata. Quraish tak ingin anaknya kehilangan percaya diri. Najwa diajak ke optik besar di Blok M, Jakarta. Quraish lalu meminta diberikan kaca mata yang paling mahal. Bagi sang ayah, kepercayaan diri adalah hal yang sangat penting agar anaknya mampu merespons semua tantangan hidup.

Prestasinya sudah terlihat sejak kecil. Najwa lulus program American Field Service (AFS) di usia 16 tahun sehingga memiliki kesempatan tinggal bersama keluarga di Amerika Serikat selama beberapa waktu. Ayahnya tak ragu-ragu melepasnya. Ayahnya percaya bahwa Najwa sudah memiliki fundasi keagamaan yang kuat.

Dengan memberi kepercayaan kepada anak, maka ia mengajari anak itu untuk bertanggungjawab pada apa pun pilihannya. Demikian pula ketika anaknya memilih pasangan hidup. Ia membebaskan mereka, tetapi memberi syarat yakni haruslah rajin melaksanakan salat. Itu sudah cukup baginya.

Najwa mendapat dukungan luar biasa dari ayahnya. Ayahnya menyediakan apa-pun yang dibutuhkannya. Ketika Najwa dan semua anaknya menikah, Quraish selalu membuat buku khusus yang isinya pesan kepada anaknya. Bahkan ketika Najwa telah berkarier dan sukses dengan talkshow-nya, dia tak pernah alpa menyaksikan anaknya saat siaran di televisi.

Ia bahagia karena Najwa meraih prestasi atas dedikasi dan profesionalismenya. Di antara prestasi itu adalah Young Global Leader Award 2011 dari World Economic Forum yang berkantor di Jenewa.

Kisah Paling Sedih

Kisah paling menyedihkan dalam kehidupan Najwa sebagaimana dikisahkan Quraish adalah meninggalnya Namiya, putri kedua Najwa. Bayi itu lahir prematur pada 15 Desember 2011 di usia tujuh bulan. Saat itu, Najwa sedang perawatan karena sakit. Najwa gembira karena bayi itu lahir dalam keadaan sehat. Tangis bayi memenuhi rumah sakit. Quraish yang memilihkan nama untuk bayi itu.

Keesokan harinya, Najwa sedih karena bayi itu meninggal dunia. Quraish mengisahkan betapa sedihnya Najwa ketika mendekap anaknya yang telah meninggal. Quraish menangis lalu berbisik, “Sempurnanya Namiya.”

Selama ini Quraish tak pernah menangis. Hari itu ia menangis karena membayangkan betapa berat perasaan anaknya. Pada Najwa, Quraish berbisik bahwa Namiya akan jadi tabungan akhirat yang akan menyambutnya. Najwa harus ikhlas.

Jenazah bayi dibawa pulang. Najwa masih harus dirawat. Pagi sebelum jenazah dikuburkan, Najwa menelepon ayahnya lalu berbisik. “Saya belum menyanyikan doa untuk Namiya. Tolong nanti sebelum dimakamkan, Namiya dinyanyikan doa seperti yang biasa Mama nyanyikan,” kata Najwa terisak. Dia menangis.

Batin Quraish terharu. Inilah cobaan paling berat dalam kehidupannya. Tradisi di keluarga itu, istri Quraish akan mendendangkan doa bagi semua anak dan cucunya. Hari itu, doa diucapkan dengan sesunggukan. “Ya arhama ar-rahiimin, Ya arhama ar-rahimin, Ya arhamar rahimin farrij ala al muslimin.”

Wahai Yang Maha Kasih Sayang. Yang melebihi apa pun yang memiliki kasih sayang. Karuniakan pertolongan-Mu untuk kaum Muslim.

***

Demikianlah kisah Najwa Shihab. Seperti dikatakan Galdwell, di balik setiap kesuksesan anak, ada kerja keras dan ikhtiar hebat lingkungan. Najwa tumbuh dalam lingkungan yang selalu memotivasi, membesarkan, dan selalu berada di sisinya dalam keadaan apa pun. Semua kasih sayang itu adalah energi terbaik bagi dirinya untuk selalu menggapai kesuksesan.

Jika belakangan ini banyak orang yang tiba-tiba saja memvonis dan menuding Najwa dan anak-anak Quraish lainnya tidak Islami, maka semuanya akan kembali pada diri masing-masing. Tak bijak memvonis orang lain hanya karena satu kenyataan yang dilihat dari sisi subyektif. Satu jari menunjuk, empat jari lain akan berbalik menunjuk diri kita.



Tuduhan itu sejatinya dikembalikan ke dalam diri. Boleh jadi, yang dituduh itu jauh lebih menjaga diri dan menjalankan berbagai amalan ketimbang yang menuduh. Boleh jadi, yang difitnah itu jauh lebih mendekati Tuhan, ketimbang yang melemparkan tuduhan.

Jika tuduhan itu berpangkal pada perbedaan penafsiran, maka didialogkan dengan baik. Ayah Najwa adalah figur yang selalu menerima kritikan dari siapa saja. Ia membuka diri untuk berdiskusi.

Ia sangat menghargai siapa pun yang bisa memberikan kritik atas karya-karyanya. Beberapa kolega dekatnya sekarang dahulu adalah para pengkritiknya. Melalui kritik, ilmu yang dimiliki seseorang akan terus berkembang.

Pada akhirnya, manusia akan mempertanggungjawabkan semua diri dan tindakannya di hadapan Tuhan. Jauh lebih baik jika semua orang berlomba-lomba menjalankan ibadah dan menyebar kebaikan, ketimbang saling menuduh.

Semakin banyak kebaikan yang disebar, semakin makmur bumi, semakin indah hubungan antar manusia, dan ajaran agama semakin dibumikan.

Semoga Najwa selalu dilimpahi keberkahan dan kesuksesan.


Nama Kampus Paling Keren




Jika ada yang bertanya apa nama kampus di Indonesia dan dunia yang paling keren? Saya tidak ragu-ragu menyebut Universitas Musamus di Merauke, Papua. Mengapa?

Di daerah lain, nama-nama kampus selalu diambil dari nama mereka yang berlaga di medan perang. Sering pula nama raja dan penguasa satu wilayah. Kadang, nama wilayah atau kota. Tapi di Merauke, nama kampus diambil dari nama rumah semut. Hah?

Jika jalan-jalan ke Merauke, khususnya ke Taman Nasional Wasur yang berbatasan dengan Papua Nugini, kita akan melihat rumah semut yang berukuran besar dan sering kali lebih tinggi dari manusia. Rumah semut itu cukup kokoh. Saya bisa memanjatnya dan berdiri di bangunan itu. Orang Mareuke menyebutnya musamus.

Orang Merauke sengaja memilih nama musamus sebagai nama universitas demi menggambarkan betapa digdayanya hewan mungil yang sanggup membuat bangunan yang jutaan kali lebih besar dari badannya.

Saya merasakan ada penghormatan kuat pada alam, sikap rendah hati dan mau belajar pada makhluk selain manusia, juga apresiasi pada siapa pun yang membuat karya hebat.

Rumah semut ini menjadi tempat tinggal bagi ribuan semut. Di dalamnya terdapat banyak lorong-lorong serta lubang-lubang yang berfungsi sebagai pintu masuk.

Bahan dasarnya adalah tanah, serta beberapa ranting yang dipungutnya di sekitar situ, lalu menyusunnya hingga menjadi bangunan ini. Konon, semut ini merekatkan semua material dengan ludahnya, demi membentuk satu rumah benteng yang sangat kokoh.

Saking kokohnya, istana semut ini tahan menghadapi berbagai cuaca. Tak hanya itu, saat hutan terbakar, rumah semut ini tetap saja kokoh dan semut-semut di dalamnya tetap aman.

Melalui beberapa situs, saya menemukan kepingan informasi kalau hewan yang membuat bangunan ini bukanlah semut, melainkan rayap. Tapi warga Merauke lebih suka menyebutnya semut.

Rayap yang membuat bangunan itu adalah jenis rayap Macrotermes sp. Berbeda dari rayap biasa yang merupakan serangga pengganggu yang suka merusak berbagai jenis benda berbahan kayu bahkan rumah kita, di Merauke rayap hidup mandiri di hutan dan membangun rumahnya sendiri yang disebut musamus.

Konon, musamus hanya bisa ditemukan di Afrika dan Indonesia. Terkhusus Indonesia, musamus hanya ada di Merauke. Nah, betapa hebatnya khasanah pengetahuan hewan yang lalu menginspirasi manusia untuk menghasilkan kerja-kerja hebat.

Di Merauke, saya menemukan filosofi yang menarik atas musamus. Kata seorang warga, pesan yang hendak disampaikan rayap itu sangat indah, yakni “Jangan lihat siapa saya, tapi lihatlah apa yang saya kerjakan.”

Pesan itu sangat kuat. Rayap memiliki tubuh kecil, namun bisa menghasilkan sesuatu yang raksasa. Pesan ini menginspirasi manusia untuk tidak memandang yang lain dari fisik yang kecil, melainkan lihatlah karya-karya besar yang bisa dilahirkan.

Seorang warga juga bercerita tentang cara kerja rayap membangun istananya. Ternyata, rayap itu membangun istana di waktu malam, lalu menghilang saat siang.

Pesan yang saya tangkap adalah saat melakukan satu kerja-kerja hebat, Anda tak perlu menggembar-gemborkan diri, tak perlu meninggikan diri, dan berharap dilihat serta dipuji orang lain. Lakukanlah yang terbaik, dan biarkan orang lain terkagum-kagum melihat karya Anda.

Sepulang dari sana, saya membaca dua buku yang ditulis Don Tapscott, penulis yang paling disukai Al Gore. Dua buku itu adalah Wikinomics dan Grown Up Digital. Tapscott bilang, organisasi paling hebat di era digital saat ini memiliki skema kerja seperti semut membangun sarang. Semua semut tahu tujuan, saling terkoordinasi, dan menghasilkan hal hebat.

Dia mencontohkan Wikipedia dan Google sebagai satu bangunan, yang pekerjanya datang dari mana saja, content-nya diperkaya oleh ribuan orang dari banyak penjuru dan tidak saling mengenal, tapi semuanya punya tujuan yang sama untuk memperkaya informasi.

Facebook juga bergerak dengan cara yang sama. Mark Zuckerberg hanya menyediakan platform, selanjutnya semua netizen akan menjadi semut yang mengisi Facebook dengan berbagai macam konten, menyebarkannya ke mana-mana, menjadikan Facebook sebagai perusahaan raksasa.

Tapscott menyebut tentang pentingnya membangun satu platform kerja yang asas utamanya adalah kolaborasi, kerja-kerja berjejaring (networking), serta perlunya membangun satu relasi, serta inovasi di berbagai ranah.

Saya membayangkan, bagaimana perasaan Tapscott jika melihat musamus di Merauke. Bisa jadi, dia akan kegirangan melihat bangunan hebat yang dihasilkan dengan skema kerja paling hebat. Itu dihasilkan oleh para semut.

Ketika menulis catatan ini, saya bertanya dalam hati, mengapa kampus-kampus harus mengambil nama para bangsawan dan pejuang di medan laga, tanpa menyerap kearifan alam semesta yang selalu membuat kita takjub?

Di Merauke, ada banyak pelajaran.



Kisah Ibunda QURAISH Shihab di Kampung BUGIS

Quraish Shihab

Dari tanah Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, lelaki itu memulai hari. Ayahnya menginginkan agar dia kelak bisa memberikan pencerahan di kampung halamannya di tanah Bugis. Tak disangka, lelaki itu tak hanya mencerahkan kampungnya, ia merambah jauh hingga menjadi ahli tafsir Al Quran yang menginspirasi Indonesia.

Lelaki yang kini menjadi ulama itu, selalu menyimpan rindu untuk ibunya, perempuan Bugis bernama Puang Cemma,

***

HARI itu, kehebohan terjadi di sungai Salo, Rappang, Sulsel. Seorang bocah hanyut di sungai. Semua warga langsung kalang-kabut. Semuanya lalu menyusuri sungai demi menemukan bocah itu. Bocah yang hanyut adalah cucu dari Puang Cahaa, nama lain dari seorang nenek bernama Zahra. Setelah lama hanyut, bocah itu akhirnya ditemukan. Ia hampir saja tewas oleh derasnya sungai yang membelah Sulawesi.

Bocah hanyut itu adalah Quraish Shihab. Ibunya adalah Puang Asma, atau sering disapa Puang Cemma. Di kalangan warga Bugis, panggilan Puang diberikan kepada seseorang yang bergelar bangsawan. Nenek dari Puang Cemma bernama Puattulada, adik kandung pemimpin Rappang. Pada masa itu, Rappang bergabung dengan Sidendreng lalu melebur menjadi bagian dari Indonesia.

Namun warisan sistem tradisional masih tampak di Rappang. Puang Cemma sangat dihormati masyarakat. Quraish masih ingat persis bahwa saat ibunya hadir di satu pesta pernikahan, maka pengantin dan tuan rumah akan turun dari pelaminan. “Mereka akan datang dan mencium tangan Emma. Namanya juga cucu seorang pemimpin,” katanya.

Di kota kecil Rappang, Quraish mulai mengenali dunia. Ia menggambarkan kota kecil itu sebagai “Swissnya Sulawesi.” Meskipun, di kota ini ia menyimpan trauma ketika nyaris tewas di sungai. Siapa sangka, peristiwa dirinya hanyut di sungai itu selalu menjadi kenangan yang tak pernah bisa dilupakannya.

Setelah adiknya Wardah dan Alwi lahir, ayahnya lalu memutuskan untuk hijrah ke Kota Makassar. Mereka lalu tinggal di Kampung Buton, tepatnya di Jalan Sulawesi, Lorong 194, nomor 7.

Ayah Quraish bernama Habib Abdurahman Shihab, yang merupakan keturunan pejuang Islam asal Hadramaut, Yaman. Quraish memanggil ayahnya dengan panggilan Aba. Sang ayah adalah seorang pengajar studi-studi Islam yang kemudian menjadi guru besar di Institut Agama Islam negeri (IAIN) Alauddin, Ujungpandang.

Karier sang ayah kian meroket hingga menjadi Rektor IAIN Alauddin. Meski demikian, pada masa-masa awal, ayahnya membuka bisnis toko kelontong yang lalu dijagai oleh anak-anaknya.

“Aba mengajarkan anak-anaknya untuk menjadi orang Indonesia. Meskipun keturunan Yaman, keluarga Shihab tidak mengenakan peci putih kas orang arab, melainkan peci hitam, khas Indonesia. Kami mengenakan celana, bukan jubah, bahkan berdasi dan berjas jika hendak ke pesta,” katanya.

Lulus sekolah dasar, Quraish belajar di SMP Muhammadiyah di Makassar. Aba menganggap bahwa sekolah itu adalah sekolah terbaik di masa itu, meskipun Aba sendiri memiliki latar belakang dekat dengan organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Quraish Shihab (ketiga dari kiri) bersama Aba, Emma, dan saudara-saudaranya


Setahun di sekolah itu, Quraish lalu pindah untuk nyantri ke Pesantren Dar al-Hadits al-Faqihiyah di Malang, Jawa Timur. Aba dan Emma juga mengizinkannya. Di pesantren inilah ia menempa sikap untuk selalu menyerap hikmah dari siapa pun.

Di pesantren ini, ia belajar dalam sistem klasikal. Pelajaran dimulai usai salat subuh berjamaah, dengan pengajian secara sorogan yang diasuh langsung Habib Bilfaqih di aula pesantren. Sorogan adalah membaca kitab secara individual. Setiap santri nyorog kepada Habib untuk dibacakan beberapa bagian dari kitab yang dipelajarinya. Santri lalu menirukan dan menghafalnya. Sorogan adalah belajar langsung kepada Habib menjadi idaman semua santri.

Yang mengesankan bagi Quraish adalah kharisma sang Habib. Berkat habib, pada usia 14 tahun, Quraish telah menghafal lebih seribu hadis. Ia juga mulai pandai berbicara dalam bahasa Arab. Pada usia 14 tahun pula, takdir menuntunnya untuk menimba ilmu ke tanah Mesir.

Bersama saudaranya Alwi Shihab, yang saat itu berusia 12 tahun, mereka menuju Mesir dengan kapal Neptunia. Petualangan baru dimulai. Ia belajar di Mesir mulai dari bangku sekolah menengah hingga menjadi doktor di Universitas Al Azhar.

Ia menyelesaikan gelar doktor dan mendapat predikat Summa Cum Laude. Ia menjadi doktor ketiga alumni Mesir dari Indonesia. Sebelumnya ada Nahrawi Abdussalam dan Zakiah Darajat. Nahrawi dan Quraish sama-sama dari Al Azhar, sedangkan Zakiah dari Universitas Ain Syam di Kairo.

Anak yang sebelumnya kerap bolos karena menonton film itu, kerap bermain bola hingga lupa waktu itu, kini menyandang gelar doktor di bidang tafsir Al Quran. Babak baru kehidupan pria penggemar Real Madrid ini dimulai. Ia hadir di banyak kajian, dakwah, hingga menjadi pendidik di ruang-ruang kuliah.

Di Makassar, keluarga ini sangat terpandang dan menjadi rujukan. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla punya kisah tentang pendirian Hotel Sahid. Saat itu, Jusuf Kalla mengajukan niat itu ke ayahnya Hadji Kalla. Sebelum menyetujuinya, Hadji Kalla lalu mengirim surat ke Quraish Shihab di Mesir. Ia ingin menunggu dulu fatwa ulama muda itu agar hatinya tenang. Nanti setelah Quraish membalas surat itu, barulah ijin pendirian hotel didapatkan.

BACA: Inspirasi ATHIRAH, Ibunda Jusuf Kalla

Karier Quraish terus melejit. Dia menjadi rektor hingga menteri agama. Dia produktif menulis hingga melahirkan banyak kitab mengenai bidang tafsir Al Quran yang digelutinya. Terhadap semua perbedaan, ia menjawabnya deegan menuliskan buah-buah pikirannya.

Bagi banyak orang, Quraish sangat menginspirasi, khususnya saat membaca kitab-kitabnya yang tebal. Sejak masih di pesantren, ia sudah menulis. Pada usia 22 tahun, ia telah menulis Al-Khawathir dalam bahasa Arab. Puluhan tahun kemudian, karya pertamanya itu diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Logika Agama: Kedudukan Wahyu: Batas-Batas Akal dalam Islam.”

Ia juga banyak mengoleksi tulisan para kolumnis di Mesir. Quraish juga produktif menulis untuk media massa. Ia terkenang ucapan mantan Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Prof Harun Nasution kepada Nurcholish Madjid. “Kamu jangan ceramah terus. Menulislah! Kau punya tulisan itu kekal, Ceramahmu mudah dilupakan orang.”

*** 

Kisah tentang Quraish ini bisa dibaca pada buku berjudul Cahaya, Cinta, dan Canda M Quraish Shihab, terbitan Lentera Hati tahun 2015. Buku ini membahas perjalanan hidup serta kisah-kisah yang menunjukkan sisi lain Quraish sebagai seorang manusia yang memperkaya dirinya dengan pengetahuan keislaman, lalu mengajarkannya kepada banyak orang.

Dia mengakui, pendidikan terbaik tetap didapatnya dari rumah. Ayahnya mengajarkan disiplin yang sangat ketat. Ia meminta semua anaknya melafalkan ratib al Haddad, yang disusun Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad sekitar lima abad silam, setiap usai salat magrib.  Quraish masih ingat betul bahwa ratib ini selalu dibacanya setelah mendaras Al Quran.

Pesan Aba yang selalu mengiang di telinganya adalah “Bacalah Al Quran seakan-akan ia diturunkan padamu.” Belakangan ia tahu bahwa pesan itu adalah kutipan dari karya filosof asal Pakistan bernama Muhammad Iqbal.

Kenangan tentang Aba dan Emma adalah kenangan tentang petuah-petuah di meja makan. Emma selalu mengingatkan semua anaknya untuk makan hanya pada saat lapar. Ia selalu menyajikan menu khas Bugis Makassar.

Emma selalu meminta anaknya untuk menghabiskan semua makanan di piring. “Ukur kau punya kemampuan. Kalau masih mau nambah, silakan. Tapi harus habis. Gak boleh ada sisa di piring,“ kata Emma sebagaimana dituturkan Quraish.

Aba dan Emma tak bosan menjelaskan bahwa nasi dan makanan akan mendoakan seseorang ke surga jika dihabiskan. Jika ada nasi yang tersisa, nasi itu akan menangis dan mendoakan ke neraka. Makanya, Aba selalu menghitung setiap butir nasi yang tersisa lalu disantap. Jika tak habis juga, Emma akan mengumpulkan dan menjemurnya, lalu diolah menjadi kerupuk.

Quraish Shihab dan istrinya dalam satu acara

Emma mengajarkan disiplin. Sebagai perempuan Bugis yang dibesarkan dalam iklim penuh kedisiplinan, ia menekankan disiplin di rumah. Meskipun hanya lulusan Sekolah Rakyat (SR), Emma mewajibkan semua anaknya untuk sekolah. Ia melimpahi semua anaknya dengan kasih sayang yang berlimpah.

Aba mengajarkan pentingnya toleransi dan menjauhi fanatisme. Bagi Aba, kebenaran dalam rincian ajaran Islam bisa beragam, namun satu-satunya cara untuk hidup harmonis adalah mengajarkan tasamuh (toleransi), tanpa melunturkan keyakinan dan tradisi yang dianut. “Sahabat Aba banyak sekali. Malah ada orang Cina yang datang ke rumah untuk belajar bahasa Arab,” kata Quraish.

Biarpun telah mencapai banyak hal, dirinya tetaplah seorang anak yang selalu merindukan ayah-ibunya. Pada ayahnya ia belajar ilmu-ilmu agama, pada ibunya, ia belajar ilmu kehidupan. Puang Emma adalah matahari yang terus menyinari kehidupannya.

“Aku, meskipun telah dewasa, masih kecil jika berhadapan dengannya. Ketika tua pun aku masih kanak-kanak saat bersamanya. Aku masih senang berada di pembaringannya, walau aku telah berumah tangga. Aku merengek tanpa malu, menciumnya tanpa puas, berlutut dengan bangga di hadapannya.”

Pada Emma, panggilan untuk ibunya, ia mendedikasikan cinta. Saat mulai bekerja, semua gajinya diserahkan pada Emma. Betapa ia terkejut, saat hendak menikah dan saat menempuh pendidikan doktoral, Emma memberinya kepingan-kepingan emas, yang diakui Emma sebagai pemberian Quraish selama ini.

Emma tidak hendak menikmati pemberian anaknya, melainkan menyerahkannya kembali pada saat anaknya membutuhkan. Seperti matahari, ia tak lelah memberi, dan tak pernah meminta balas jasa apa pun pada anaknya.

Kepergian Emma pada tahun 1986 adalah kepergian yang paling menyedihkan batinnya. Dalam sehari, ia membacakan Al Fatihah sebanyak tujuh kali untuk ibu yang dirindukannya itu. Dalam salah satu bukunya, ia menulis dengan kalimat yang mengharukan:

“Ibu adalah salah satu ciptaan Tuhan yang paling mengagumkan. Hatinya adalah anugerah Tuhan yang terindah. Dunia dan seisinya tidak sepadan dengan kasih sayang ibu. Ibu lebih agung, ibu lebih indah, ibu lebih kuat. Ibu adalah sumber memperoleh kebajikan.”


Sisi Gelap Internet




Ketika dia mengarantina diri di rumah, sahabat yang berprofesi sebagai akademisi itu sudah merencanakan untuk menulis buku. Dia sudah punya rencana untuk menulis beberapa bab penting. Saat kebijakan work from home diberlakukan kampusnya, dia punya waktu sangat luang untuk menulis.

Setelah 40 hari berlalu, apakah dia sudah menuntaskan bukunya? “biar satu lembar, nda ada yang kelar. Nda tau apa kubikin. Padahal tiap hari online,” katanya dalam dialek Makassar. Dia hanya berselancar dalam timbunan informasi di internet. Dia larut dengan semua perdebatan di media sosial. Dia lupa dengan pekerjaan utamanya.

Sahabat itu kehilangan fokus gara2 berselancar di internet. Setiap kali dia berencana menulis, dia akan browsing dulu. Dia cek media sosial, setelah itu berbalas pesan, berbalas komen, memantau diskusi. Saat itulah, semua hasrat menulisnya tidak bisa tersalurkan. Bahkan dia lupa dengan segala hal yang harus dia lakukan. Hari-harinya adalah tenggelam dalam berbagai rimba informasi.

Setelah beberapa jam, baru dia sadar dia belum melakukan apa-apa. Bahkan setelah berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, dia tidak bisa menyelesaikan tugas pokoknya. Dia kehilangan pikirannya yang dulu sangat fokus ketika mengerjakan apa pun. Dia merasa semakin tumpul. Bahkan selembar pun tidak bisa diselesaikannya.

Sahabat itu tak sendirian. Dulu, orang mengira, internet identik dengan kecerdasan. Seolah-olah dengan sering berselancar di internet, maka seseorang lebih cerdas. Saya mengamati di banyak daerah, pemda memperbanyak hotspot. Orang2 mengira internet lebih penting dari perpustakaan. Orang2 lupa kalau internet bisa mendangkalkan cara berpikir seseorang. Benarkah?

Saya membaca uraian Nicholas Carr dalam buku The Shallows. Buku ini masuk nominasi Pulitzer. Buku ini sudah diterjemahkan oleh Mizan.

Nicholas Carr bercerita, dulu dia seorang yang gila baca. Tapi sejak mengenal internet, semua kebiasaan itu berubah. “Dulu, saya adalah penyelam di lautan kata–kata. Kini, saya bergerak cepat di permukaan. Saya seperti orang yang mengendarai jet ski.”

Internet menyebabkan fokusnya hilang, dan sibuk menjadi peselancar, tanpa kemampuan menyelam lagi. Internet membuatnya semakin bodoh. Struktur otak dan cara berpikirnya bisa berubah gara-gara kecanduan pada internet. Dia rindu dengan otaknya sebelum mengenal internet.

Nicholas Carr mengutip banyak riset neurosains, bahwa syaraf otak bersifat lentur dan dapat berubah atau menyesuaikan diri, bergantung pada apa yang dialami atau dipelajari. Penggunaan internet dan ketergantungan kepadanya akan mengubah kemampuan syaraf otak, dan dapat mengarah pada berkurangnya kemampuan berpikir mendalam dan melakukan perenungan.

Selama ratusan tahun, manusia menggunakan buku untuk memperoleh pengetahuan. Buku bersifat linier, terfokus dan mendalam, sehingga pembaca memiliki kesempatan untuk merenung dan mengendapkan pengetahuan yang didapatnya. Hal ini selanjutnya mempengaruhi pengetahuan yang diperoleh, pemikiran dan tulisan yang dihasilkan, yang tercermin dalam budaya.

Sebaliknya, pengetahuan atau informasi yang didapat dari internet berupa potongan-potongan, dan link-link yang ada dalam suatu artikel atau buku memecah fokus pembaca sehingga tulisan tersebut tidak dapat diserap dengan baik bahkan sulit diselesaikan.

Selain link, terdapat SMS, email, RSS dan lain sebagainya yang setiap saat muncul untuk memecah perhatian seseorang saat membaca. Semua ini menyebabkan mereka akhirnya hanya bersedia membaca sedikit-sedikit karena terus berpindah-pindah situs, sehingga informasi yang diperoleh bersifat permukaan. Internet mengubah manusia menjadi pembaca informasi singkat, yang jauh dari kata mendalam.

Saat menyelesaikan buku The Shallow, Nicholas Carr sengaja tinggal di kampong yang akses internetnya terbatas. Di situlah ia bisa menemukan konsentrasi demi penyelesaian bukunya. Jika ia tetap di kota, pikirannya bisa kehilangan fokus. Sekali ia membuka internet, melihat email, lalu mengintip media sosial, maka ia bisa kehilangan mood. Niatnya untuk bekerja langsung hilang seketika saat membaca berbagai link dan berita.

Bagi sebagian orang, internet adalah jendela besar untuk menyerap pengetahuan dari mana saja. Tapi faktanya, kata Nicholas Carr, internet telah telah mengubah cara berpikir kita menjadi dangkal sehingga kehilangan kemampuan menyerap keping demi keping informasi, tanpa kemampuan untuk melihatnya secara utuh, tanpa merenungi secara mendalam.

“Bagaimana caranya biar bisa fokus?” sahabat itu bertanya melalui aplikasi. Saya teringat buku Nicholas Carr. Saya pun teringat saran dari Laksmi Sharma, sahabatku asal India yang kini kerja di Amerika Serikat. “Hanya ada satu cara untuk fokus. Berhenti main facebook. Berhenti aktifkan internet. Trus tenggelam dalam lautan buku-buku.”

“Hah? Ko gila kah? Nda bisaka kalau nda main internet,” kata sahabat itu.



Terima Kasih Ferdian Paleka




Seberapa salah anak muda bernama Ferdian Paleka? 

Dia mengunggah konten yang isinya prank atau gurauan. Niatnya ingin mengerjai orang lain, dalam hal ini waria atau transpuan, demi menangguk pengunjung di kanal Youtube-nya. Dia hanya ikut-ikutan para Youtuber yang hobi bikin video prank yang mengerjai orang lain. Dia tidak paham bahwa ada batasan mana yang patut dan mana yang tidak.

Dalam pikirannya, dia ingin meraup sebanyak mungkin pengikut, setelah itu kanal Youtube-nya akan menjadi mesin yang mendatangkan uang. Dia tidak sendirian.

Media sosial kita sudah lama menjadi ruang bebas untuk menampilkan segala kebodohan dan kegilaan anak muda kita. Media sosial kita sudah lama dijejali dengan berbagai tayangan dengan kadar kebodohan dan kegilaan yang tidak bakal dipahami sebagian orang.

Tidak ada Dewan Pers atau semacam Komisi Penyiaran di media sosial. Semua konten mengalir bebas dan hanya tunduk pada seleksi alam. Kita bisa menganggap sampah dan rendah satu konten, tapi selama konten itu disukai, maka pengunggahnya bisa seperti selebritis yang popularitasnya mengalahkan orang-orang di televisi.

Selama ini, Ferdian Paleka meraup popularitas dengan semua konten yang jauh dari kenormalan sebagaimana diyakini awam. Semuanya baik-baik saja. Dia bisa dikatakan berjaya sebab punya pelanggan (subscriber) hingga ribuan orang. Dia merasa populer. Dia merasa disukai banyak orang. Dia kian bersemangat membuat konten yang bodoh, tapi malah disukai.

BACA: Perempuan Vietnam di Sudut MANGGA BESAR

Hingga, dia kesandung saat mengunggah konten mengenai prank pada para waria di Bandung. Dia memberikan bingkisan kepada waria. Dikira berisi donasi, ternyata isinya adalah sampah dan batu bata. Media sosial yang jenuh dengan debat cebong versus kampret seakan mendapat bahan baru untuk dibahas dan dinyinyirin bersama-sama. Dia dihakimi dan disebut hendak mencari arena social climbing atau panjat sosial.

Dia dicaci lantaran dianggap menghina para waria. Rumahnya didatangi banyak orang. Bahkan sejumlah geng motor juga mendatangi rumahnya. Polisi pun ikut berjaga. Dia dianggap bersalah karena telah melecehkan para waria. Banyak yang memanggilnya dengan sapaan hewan.

Mengapa dia harus sedemikian dicaci? Bukankah dia hanya mengekspresikan suara kebanyakan orang yang menganggap rendah para waria? Apakah selama ini kita memang menghargai dan memuliakan para waria sebagai saudara kita yang setiap hari berjibaku di jalan-jalan demi sesuap nasi?

Tetiba semua orang menjadi peduli dengan waria. Satu pertanyaan lagi, apakah Ferdian Paleka seorang hero ataukah looser?

***

Peristiwa itu serasa baru terjadi kemarin. Tanggal 4 April 2020 seorang waria dibakar di tempat parkir truk di Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta. Mira, demikian dia disapa, dituduh mencuri dompet seorang sopir. Kamar Mira, yang setiap hari menjadi pekerja seks itu, didatangi para preman. Dia diseret ke parkiran.

Dia seorang waria asal Makassar yang mulai menua. Dia minoritas yang kehilangan hak-haknya dalam dunia sosial kita. Tanpa beban, para preman itu mulai memukulinya. Dia berteriak membantah semua tuduhan. Seorang preman menuang dua liter bensin ke kepalanya. Teriakannya dianggap angin lalu saat seseorang memantik korek gas. Dia terbakar. Setelah itu semua orang berlarian.

Mira menyeret tubuhnya seorang diri hingga jatuh di selokan. Lebih 70 persen tubuhnya terbakar. Dia pun dibawa ke rumah sakit, kemudian tewas di sana. Tetangganya mengumpulkan uang untuk penguburannya hingga terkumpul 4 juta rupiah. Seorang penggali kubur menguburkannya dengan ikhlas. “Dia memang waria, tapi dia manusia,” katanya.

Apakah orang-orang heboh membahas Mira dan menghujat pelakunya? Mungkin iya. Tapi sayup-sayup. Tak ada geng motor yang mendatangi para preman pembunuh Mira kemudian memberi ancaman-ancaman. Tak ada sejumlah orang yang datang mengeruduk Cilincing lalu berteriak kalau di situ telah terjadi penistaan pada seorang waria hingga tewas.

Tak ada aksi hujatan dan makian di medsos. Dari 25 orang yang menyaksikan dan ikut terlibat dalam aksi itu, hanya enam orang yang digelandang aparat. Lainnya kembali menjalani kehidupan dengan tetap membawa stigma pada sesamanya. Entah, bagaimana kasusnya sekarang. Bisa jadi mereka sudah bebas.

Mira tak punya keluarga yang akan menuntut pelakunya di pengadilan. Selama ini dia ke mana-mana sendirian demi sesuap nasi. Para waria adalah minoritas gender yang sering disingkat LBTIQ yakni lesbian, gay, biseksual, transgender, interex dan queer. Mereka mengalami diskriminasi di berbagai arena sosial. Ada yang menganggap mereka membawa penyakit. Banyak yang menilai nista sebab melihatnya dari sudut pandang religius.

Para waria itu sejak usia belia sudah berhadapan dengan stigma. Mereka dianggap hina dan akan masuk neraka. Mereka dianggap menyimpang. Mereka sering digunduli dan dipukuli. Mereka tidak bisa mendapatkan akses pendidikan. Mereka juga tidak diterima di berbagai lapangan pekerjaan.

Mereka hanya bisa terserap di beberapa pekerjaan, misalnya pekerja salon, pengamen jalanan, hingga pekerja seks. Mereka terpaksa melacurkan diri di jalan-jalan. Itu pun harus kucing-kucingan dengan aparat. Itu pun harus menerima cacian orang-orang.

Mira meninggal dalam sepi. Namanya hanya dibahas sesekali. Padahal, apa yang dialaminya adalah satu tragedi yang seharusnya menjadi cermin bagi kebanyakan orang. Bahwa ada anak bangsa yang mendapatkan diskriminasi hanya karena orientasi seksualnya.

Lembaga Arus Pelangi mencatat ada 49 produk hukum dan kebijakan di Indonesia yang diskriminatif dan bisa dipakai buat kriminalisasi LGBTIQ.  Di antaranya adalah UU Anti Pornografi yang menilai kegiatan seks sesama jenis sebagai sesuatu yang menyimpang.

Kini, saat pandemi menghantam Indonesia, para waria menjadi minoritas yang kembali terabaikan. Banyak di antara mereka yang tidak punya KTP sehingga tidak menjadi prioritas penerima bantuan sosial.

Sebuah lembaga melaporkan kalau mereka tidak berniat untuk mengurus surat domisili dan administrasi kependudukan. Sebab mereka sering mendapat stigma dan diskriminasi hanya karena meminta dipanggil dengan nama tertentu. Mereka diolok. Padahal sebagai warga negara, mereka berhak memilih hendak dipanggil apa.

***

Terima kasih Ferdian Paleka. Berkat postingan itu, semua orang menjadi peduli dengan waria. Berkat postingan itu, bantuan mengalir kepada waria, yang selama ini memang terabaikan. Sisi lain dari postingan itu, semua orang menjadi peduli.

Tanpa diniatkan sebelumnya, Ferdian Paleka menjadi samsak yang dihujat kiri kanan. Dia hanya anak muda alay yang tidak tahu kalau media sosial itu serupa pisau bermata dua. Media sosial bisa memopulerkan seseorang secepat kilat, tapi bisa pula menikam seseorang hingga kehilangan nama.

Ada banyak stigma yang tumbuh di kepala Ferdian di usia mudanya. Sejak awal membuat video prank, dia sudah memosisikan para waria sebagai hama yang harus dibasmi di bulan Ramadan. Dia menyebut-nyebut kaum sodom, entah paham atau tidak. Dia mewakili pandangan banyak orang terhadap para waria.

BACA: Gadis Karaoke Kota Kendari

Yang mendesak untuk kita lakukan bukanlah menghujat Ferdian, melainkan memberikan ruang yang adil dalam pikiran kita untuk menerima orang lain yang berbeda penampilannya.

Seperti kata Karen Amstrong, kita butuh rasa compassion, kasih sayang kepada sesama manusia. Kita memperlakukan orang lain dengan baik, sebagaimana kita harapkan agar orang lain melakukan hal yang sama pada diri kita.

Kita perlu mengubah kenyataan secara struktural. Para waria yang selama ini terabaikan mesti disentuh oleh negara. Mereka harus mendapatkan akses pada pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, juga tersentuh kebijakan negara.

Dalam hal Ferdian Paleka, kita menyerap hikmah. Terkadang kita membutuhkan satu orang sinting untuk menghardik keangkuhan kita pada sesama, untuk menjewer ketidakpedulian kita pada saudara sesama manusia, untuk menampar semua sisi hipokrit dalam diri kita.

Anak muda bodoh itu akan digelandang aparat. Dia akan dihukum satu atau dua tahun. Tapi, stigma dalam pikiran kita saatnya ditebas. Prosesnya belum tentu bisa selesai dalam satu atau dua tahun. Tapi kita harus melakukannya. Kita ingin dunia bisa lebih cerah dan damai saat semua orang saling mengapresiasi dan saling menghargai.

Mengutip seorang tokoh, kita bermimpi melihat dunia di mana semua orang, apa pun ras dan penampilannya bisa duduk bersama di hadapan meja persaudaraan dan kasih sayang.

Itulah Indonesia masa depan.




Sepenggal Cerita "Stay at Home Economy"




Di kompleks tempat tinggal saya di Bogor, ibu-ibu membentuk grup WA sendiri. Setiap hari, grup ini penuh dengan percakapan. Paling dominan adalah mereka menawarkan masakan rumah untuk dibeli tetangganya.

Sejak warga kompleks mengarantina diri dan anak-anak diliburkan, para ibu menjadi kreatif. Masakan, yang tadinya hanya untuk keluarga, menjadi jualan. Mereka memotret makanan itu, mempromosikan secara kreatif di grup WA, kemudian mengantarkannya ke tetangga yang memesan.

Tak semua berjualan. Ada juga yang menawarkan jasa. Misalnya, seorang ibu memberitahukan dirinya akan belanja di pasar malam. Di Bogor, beberapa komoditas seperti sayuran dan ikan banyak dijajakan di malam hari. Jika ada yang mau membeli sesuatu, bisa jastip.

Di satu siang, saya sempat kaget saat sedang duduk di teras, mobil mercy hitam singgah. Pemiliknya membuka bagasi dan mengeluarkan kantong berisi ikan. Rupanya istri saya memesan ikan melalui ibu itu. Semua transaksi melalui transfer. Semua saling percaya.

Saya tertarik melihat betapa kreatifnya mereka memasarkan jualannya. Saya ingat survei yang menyebutkan masyarakat menengah kota kini lebih suka makanan rumah ketimbang makanan resto. Mereka merasa lebih sehat mengonsumsi masakan rumah, apalagi jika mengenal gaya hidup dan standar kesehatan yang membuat makanan itu.

Pandemi ini memaksa kita untuk beradaptasi dengan perubahan. Kini, kita memasuki era “the new normal” yakni work from home, social distancing, self-care at home, dan digital life. Kita menyesuaikan semua aktivitas kita sehingga lebih banyak di rumah.

Tadinya rumah hanya sekadar tempat istirahat, kini rumah menjadi jantung aktivitas. Kita pun melihat kehidupan dengan cara pandang baru, yang tidak terpikirkan sebelumnya. Ternyata, banyak hal yang bisa dihemat dengan gaya hidup baru.

Saya ingat kursus piano yang diikuti anak saya. Di situasi normal, kursus diadakan di satu ruko yang cukup strategis di Bogor. Kini, anak saya belajar di rumah dan tetap dibimbing mentornya melalui aplikasi zoom.

Betapa banyaknya biaya yang bisa dipangkas. Penyedia kursus tak perlu menyewa ruko, yang taksiran saya bisa 100 juta per tahun. Tak perlu biaya transportasi. Tak perlu menyiapkan fasilitas.

Setiap hari berseliweran informasi mengenai jasa pelatihan yang berbiaya murah. Bahkan seorang jurnalis kondang menawarkan jasa pelatihan dengan biaya yang sangat terjangkau.

Di Twitter, saya membaca kultwit tentang “stay at home economy” yang dibawakan Yuswohady. Dia menjelaskan empat flow (arus) dalam ekonomi yakni arus orang, arus barang, arus uang, dan arus data. Di era ini, arus orang atau mobilitas yang terhenti. Tapi tiga arus lainnya tetap berjalan.

Makanya, ada bisnis yang jatuh dan ada yang bangkit. Bisnis yang jatuh di antaranya adalah hotel, restoran, penerbangan, MICE, properti, dan pariwisata. Bisnis yang bangkit adalah e-commerce telemedicine, online learning, remote working, logistic, food delivery, serta media dan telekomunikasi.

Dalam situasi ini, "stay at home economy" akan menjadi survival innovation baru. Pandemi ini akan menjadi krisis yang menghantam banyak perusahaan. Namun bagi para pemain rumahan, krisis ini justru berkah sebab ibarat Nabi Nuh, mereka telah lama menyiapkan bahtera untuk lepas dari bencana.

Saya senang dengan penjelasan ini. Saya pikir mengikuti kelas-kelas online lebih menghadirkan pengetahuan baru ketimbang gabung di banyak grup medsos dan terus-menerus bahas topik semacam LBP, AB, hingga Menteri T. Banyak hal positif yang bisa dilakukan ketimbang ikut nyinyir sebagaimana para profesor di Universitas WhatsApp.

Di era “stay at home economy”, Anda tak bisa berdiam diri hanya menjadi penonton. Bahkan Anda tak bisa hanya menunggu bantuan pemerintah. Tak bisa juga hanya mengutuki keadaan yang sedang tidak nyaman. Anda harus kreatif, selalu mencari jalan keluar, dan mencoba berbagai cara-cara yang tidak biasa untuk bisa bertahan.

Yang terpukul dari krisis nanti adalah mereka yang terlanjur nyaman kerja kantoran, yang hanya bermodalkan koneksi dengan bos, tanpa membuka ruang-ruang kreativitas seluas-luasnya.

Para ibu di kompleks perumahan saya telah menunjukkan bagaimana melakukan inovasi. Makanan rumah perlahan menjadi bantalan yang menyangga saat krisis, perlahan kebutuhan rumah tangga terpenuhi, sekaligus menjadi bisnis yang menjanjikan.

Mereka para ibu yang luar biasa.



Hikayat Gajah Mada di BUTON SELATAN


novel yang ditulis Adhitya Mulia

Mulanya, saya membaca fiksi sejarah berjudul Bajak Laut dan Mahapatih ini hanya untuk menunggu jam buka puasa. Saya ingin membaca sesuatu yang ringan dan penuh komedi. Setelah beberapa lembar, saya terkejut. Buku ini membahas mengenai Mahapatih Gajah Mada yang disebutkan berasal dari Batauga, Pulau Buton. Hah? Kok bisa?

Dalam novel, yang terbit tahun 2019 ini, berlatar masa pendudukan VOC ini, Gajah Mada meninggalkan lembaran-lembaran yang kemudian dibaca oleh seorang Tumenggung Wira yang bekerja di masa Sultan Amangkurat I, putra Sultan Agung di Kesultanan Mataram. Gajah Mada bercerita tentang asal-usulnya, kisah cintanya dengan Rajaputri, serta misteri kesaktiannya.

Saya tersentak saat membaca bagian berisi catatan Gajah Mada. Mulanya Gajah Mada mengisahkan masa kecilnya di Batauga, Pulau Buton, tahun 1312 Masehi. Kakeknya, Awa, memintanya untuk merantau ke Keraton Majapahit di Jawa.

Sebelum Gajah Mada berangkat, dia diberitahu rahasia keluarganya turun-temurun di Pulau Buton. Keluarganya menjaga satu gua yang di dalamnya terdapat satu telaga. Jika seseorang mandi di telaga itu, maka dia akan kebal dan sakti mandraguna.

BACA: Kisah Raja Bugis di Pulau Buton

Berbekal kesaktian itu, Gajah Mada lalu merantau ke Majapahit melalui Dermaga Pulau Buton dan singgah di Pulau Bali. Dia lalu bergabung dengan pasukan Bhayangkara yang merupakan pasukan elite Majapahit. Tugas pertamanya adalah mengawal putri Sri Gitarja, yang kemudian menjadi ratu bergelar Tribuwana Tunggadewi.

Dalam novel ini, ada kisah cinta antara Gajah Mada dan Sri Gitarja. Namun ada batas sosial yang memisahkan mereka. Mereka hanya bisa saling mencintai, tanpa bisa saling memiliki. Berkat cinta itu, Gajah Mada menjadi figur yang selalu berusaha tampil ke depan. Bahkan dia mengangkat Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara agar Sri Gitarja memandang dirinya dengan penuh rasa bangga.


lembaran yang menyebutkan Gajah Mada berasal dari Buton

Catatan Gajah Mada mengenai asal-usul hingga misteri gua sakti d Pulau Buton itulah yang menjadi pangkal kisah. Seorang keturunan bangsawan Mataram di masa Sultan Agung menyusup ke Istana Mataram demi mengambil koin emas di mahkota Sultan Amangkurat I. Koin emas itu adalah kunci untuk membuka pintu gua di Pulau Buton yang menyimpan misteri kesaktian Gajah Mada.

Tumenggung Wira ingin menyelamatkan koin emas dan menutup gua itu agar tidak menjadi incaran para pendekar. Dia lalu berkoalisi dengan Jaka Kelana, tokoh utama dalam novel ini yang digambarkan sebagai bajak laut muda yang lucu dan lebih banyak bercanda ketimbang seriusnya.

Petualangan Tumenggung Wira dan Jaka Kelana ini akhirnya sampai ke Pulau Buton, dan bertemu dengan sosok Gajah Mada yang abadi dan menunggui makan Gitarja di sana. Saat sejumlah pendekar berdatangan, Gajah Mada ikut berkelahi dan membiarkan dirinya ditembus oleh pedangnya sendiri sehingga tewas sebagai ksatria. Dia memenuhi janjinya pada kekasihnya Gitarja.


Fiksi Sejarah

Novel ini adalah fiksi ala remaja yang diramu dengan bahan sejarah. Biar pun fiksi, saya tertarik dengan informasi mengenai Gajah Mada yang disebutkan berasal dari Pulau Buton. Sebagai fiksi, tentunya kita menemukan versi lain dari sejarah mainstream yang beredar. Justru di situ sisi menarik novel ini.

Pengarang novel ini adalah Adhitya Mulya. Dia seorang pengarang yang karyanya sering difilmkan. Beberapa film yang diambil dari karyanya adalah Jomblo, Traveler’s Tale, Belok Kanan Barcelona, dan Sabtu Bersama Bapak. Buku-bukunya terbilang laris di kalangan anak milenial.

BACA: Sufi Besar, Tasawuf, dan Naskah di Pulau Buton

Saat mendengar dia menulis fiksi sejarah, saya penasaran. Tahun 2016, saya membaca karyanya berjudul Bajak Laut dan Purnama Terakhir. Dia menulis komedi yang bahannya dari sejarah dengan cara yang memikat. Tokoh protagonisnya adalah Jaka Kelana, seorang bajak laut yang lucu, suka bercanda, namun di saat tertentu, bisa menjadi pemuda sakti.

Jaka Kelana berpetualang bersama rekan-rekannya dengan kapal Kerapu Merah. Mereka bukan bajak laut yang bengis dan merompak di lautan. Mereka anak muda yang ingin melihat dunia, dan pindah-pindah pelabuhan untuk bekerja dan bersenang-senang.

Sosok Jaka Kelana mirip dengan sosok Robin Hood. Bedanya, Jaka Kelana jauh dari kesan serius. Setiap hari dia bercanda dan melakukan aksi yang membuat VOC murka. Dia pun menjadi buronan hingga menuntaskan misi dari para ksatria Majapahit.

Dalam Bajak Laut dan Purnama Terakhir, mereka menjadi buronan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen. Kini, dalam versi terbaru yakni Bajak laut dan Mahapatih, Jaka Kelana bertemu Tumenggung Wira, kemudian sama-sama menuntaskan misi untuk melaksanakan amanat terakhir Gajah Mada.




Sebagai orang Buton, saya bisa memastikan kalau penulis novel ini kurang melakukan riset sejarah di Buton. Dia bilang Kampung Maapahit ada di utara Buton, padahal faktanya di selatan. Dia gambarkan Buton sebagai desa-desa di zaman Majapahit. Padahal, budaya Buton selalu dinamis. Sebagai salah satu rute perdagangan internasional ke Maluku, maka Buton dihuni oleh beragam etnik dan budaya.

Andaikan penulisnya memakai bahan-bahan dari catatan VOC, pasti dia akan menemukan banyak nuansa baru untuk menjadi bahan tulisan. Saya juga melihat penulis novel juga kurang meriset tentang rute perdagangan dan pelayaran.

Rute Buton ke Bali yang digambarkan di buku ini terasa janggal. Di masa itu, semua kapal dari Buton akan menuju Makassar, selanjutnya Jawa. Sebab pada masa itu, pelayaran menggunakan kapal kayu, dan selalu singgah ke pelabuhan terdekat untuk mengisi perbekalan.


Gajah Mada di Buton?

Namun, semua detail-detail yang kurang tentang Buton itu tertutupi oleh rasa terkejut ketika membahas tentang asal-usul Gajah Mada. Dalam catatan kaki, penulis menggambarkan ada beberapa teori tentang asal-usul Gajah Mada. Dia memilih versi yang menyebutkan Gajah Mada berasal dari Buton sebab di sana ada kampung bernama Majapahit, serta banyak pohon maja.

Seingat saya, ada beberapa versi tentang asal Gajah Mada. Seorang kawan di Kerinci, Jambi, juga menyampaikan versi masyarakat setempat kalau Gajah Mada berasal dari daerah itu. Saya membaca beberapa informasi mengenai kuburan Gajah Mada. Ada yang mengklaim di Tuban (Jawa Timur), Dompu (NTB), bahkan ada yang bilang di Lampung.

Plang Informasi Kuburan Gajah Mada di Buton Selatan

Sejak republik ini berdiri, ada banyak versi sejarah yang sengaja dibiarkan tumbuh. Bukan hanya Gajah Mada bahkan tokoh kekinian seperti Sukarno juga banyak versi mengenai asal-usulnya. Berbagai versi itu sengaja dibuatkan agar masing-masing daerah memiliki keterikatan dengan satu tokoh. Mungkin saja versi sejarah itu dianggap bisa memperkokoh integrasi nasional.

Di Buton Selatan, memang ada satu kampung yang namanya Majapahit. Di situ ada kuburan kuno seluas 40 kali 40 meter yang diduga berisi para petinggi dan pembesar Majapahit. Konon, pernah prasasti yang ditulis dalam bahasa Sansekerta. Tapi prasasti itu sudah lenyap. Tidak ada satu catatan kuat kalau di antara yang dikubur di situ ada sosok Gajah Mada.

Di sekitar kuburan itu terdapat pohon maja serta pohon beringin yang rindang. Sampai kini, situs itu sering dikunjungi umat Hindu yang tinggal di sekitar Kota Baubau untuk berziarah. Umat Hindu menganggap makam itu adalah makam para leluhurnya. Mereka datang saat tertentu, misanya saat menanam, juga saat memanen.

BACA: Pelayaran Orang Australia di Tanah Buton

Biarpun sumber sejarah tidak kuat sebab hanya mengandalkan informasi lisan, pemerintah setempat melihatnya sebagai peluang. Pemerintah Daerah (Pemda) pembuat plang informasi mengenai kuburan Gajah Mada. Akses jalan menuju kuburan itu dibenahi. Bahkan masuk dalam kalender pariwisata.

Saya pikir Pemda juga tidak keliru. Sebab informasi tentang Gajah Mada memang simpang siur. Dalam situasi ini, sah-sah saja jika ada yang mengklaim makam Gajah Mada ada di satu lokasi.

Sama halnya dengan lokasi Sriwijaya yang penuh kontroversi. Sejarawan India, Ramesh Chandra Majumdar, berpendapat Sriwijaya ada di Jawa. Sarjana Belanda, J.L. Moens menduga Sriwijaya berpusat di Kedah (Malaysia) dan pindah ke Muara Takus (Riau). Sementara sejarawan George Coedes, Slamet Muljana, dan O.W. Wolters, lebih memilih Palembang.

Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, salah satu yang meyakini pusat Sriwijaya ada di Palembang. Alasannya, prasasti Sriwijaya banyak ditemukan di sana. Biarpun Palembang yang lebih disepakati, kontroversi itu masih hidup hingga kini.

Dalam konteks ini, kita bisa memahami mengapa banyak muncul klaim mengenai asal-usul Gajah Mada. Selagi belum ada sumber resmi yang sahih, maka sah-sah saja anggapan kalau Gajah Mada memang berasal dari Buton Selatan. Bahkan kuburannya kini menjadi situs sejarah di sana.

BACA: Susanto Zuhdi, Sejarawan Pembawa Intan untuk Orang Buton

Tahun 2016, satu rumah produksi di Jakarta membuat film berjudul Barakati yang berisikan perjalanan ke Buton demi mencari asal-usul Gajah Mada. Film ini dibintangi beberapa aktor dan artis papan atas yang tengah menjadi idola anak muda. Di antaranya adalah Fedi Nuril, Acha Septriasa, Dwi Sasono, dan Tio Pasukadewo. Sayang, film ini tidak begitu sukses.

poster film Barakati mengenai pencarian Gajah Mada di Pulau Buton

Namun, klaim tentang Buton sebagai asal-usul dan kuburan Gajah Mada itu semakin kuat. Informasi itu terekam di media sosial, tercatat oleh mesin pencari Google, hingga menyebar dari mulut ke mulut. Di era ini, informasi yang dianggap sahih adalah informasi yang terekam oleh Google.

Beberapa tahun setelah film Barakati, kini muncul pula novel berjudul Bajak Laut dan Mahapatih yang mengisahkan misteri Gajah Mada di Pulau Buton. Jika novel ini kelak difilmkan, sebagaimana karya Adhitya Mulya lainnya, maka klaim itu akan semakin kuat. Buton selatan bisa menjadi lokasi ziarah bagi mereka yang menggemari kisah Majapahit dan segala kedigdayaannya.

Sebagai orang Buton, saya pun bangga menyebut diri sebagai keturunan Mahapatih Gajah Mada. Kalau ada yang tanya, mana buktinya? Saya katakan ada kontroversi dan belum ada jawaban final. Saya persilakan penanya untuk menonton film dan membaca fiksi.

Masih tak percaya? Cek di Google.




Mereka Anak Milenial, Bukan Anak Revolusi




DI TENGAH tatapan tidak suka, Hatta muda membacakan pembelaan berjudul Indonesia Vrij atau Indonesia Merdeka di Rotterdam, tahun 1928. Nun jauh di Bandung tahun 1930, Sukarno muda membacakan pleidoi Indonesia Menggugat dalam suasana pengadilan kolonial yang sering menghinakan para pribumi.

Tapi kini, mental anak-anak muda milenial itu bisa langsung jatuh hanya karena dinyinyirin di media sosial. Mereka tidak sedang menjalani persidangan. Tapi mereka seakan sudah divonis dan menerimanya sebagai kekalahan.

Mereka mundur hanya karena menjadi trending topic di media sosial. Mereka kabur dari tugas penting di istana hanya karena tak kuat menghadapi desas-desus dan sindiran para netizen. Bung! Kita sedang perang.  Kenapa mundur?

Di abad ini kita menyaksikan satu pelajaran berharga tentang anak-anak muda yang lebih takut penilaian orang, ketimbang memikirkan apa hal terbaik yang bisa dikerjakannya untuk rakyat di Istana Negara.

Anak-anak muda itu lebih suka dagang dan mengerjakan proyek, ketimbang merumuskan apa hal baik untuk anak muda seusianya di jantung pemerintahan. Mereka bukan pemuda Hatta yang memilih untuk jadi patriot bangsanya, ketimbang mengerjakan proyek di jajaran pemerintah kolonial.

Beberapa bulan lalu, mereka bak selebriti yang diperkenalkan di Istana Negara. Mereka menerima posisi sebagai staf khusus yang berada di lingkaran istana. Mereka memakai baju putih dan celana hitam, beberapa hari setelah menteri kabinet mengenakan baju yang sama. Mereka disebut sebagai anak muda penuh prestasi dan bisa berbuat sesuatu untuk bangsa.

Duduk di posisi itu harusnya menjadi awal bagi kerja-kerja untuk bangsa. Mereka punya reputasi dan track record yang mentereng. Pendidikan juga bagus. Mereka lulusan kampus hebat luar negeri. Mereka kaya, dan tidak perlu lagi mengandalkan proposal demi proposal serta mengetuk satu demi satu seniornya, sebagaimana anak muda dari organisasi sana. Harusnya mereka sudah selesai dengan dirinya.

Namun, mereka tak siap dengan semua konsekuensi. Risiko menerima sebuah jabatan adalah setiap saat bisa dibicarakan, difitnah, dan dihakimi publik. Tak semua yang dibahas itu benar. Sebab kebenaran tidak terletak pada seberapa nyaring suara yang membicarakan. Kebenaran tidak lahir dari seberapa kuat seseorang menghina orang lain. Kebenaran adalah kebenaran, sesuatu yang selalu lahir dari proses yang jujur.

BACA: Para Stafsus Milenial yang Borjuis

Harusnya, hadapi saja semua tuduhan dan tudingan itu. Terima tantangan seorang ekonom muda untuk berdebat. Publik ingin tahu apa rencana dan peta yang mau digapai.

Siapkan argumentasi bahwa kalian memang layak di posisi itu. Jelaskan kepada publik apa yang terjadi. Jika memang layak di posisi itu, jelaskan pada mereka apa saja yang ingin dikerjakan.

Buka dialog dengan siapa pun. Datang ke media, lalu jelaskan apa yang sedang dan sudah dikerjakan. Tunjukkan kepada publik, gaji dan fasilitas yang diambil dari pajak rakyat sangat pantas diberikan kepada kalian.

Lihatlah jabatan dan posisi sebagai cara untuk memperluas jejaring silaturahmi dengan rakyat. Lakukan blusukan hingga kampung-kampung, telusuri bukit-bukit, dakilah gunung-gunung di berbagai penjuru negeri untuk menyampaikan pesan bahwa pemerintah tidak diam. Berikan motivasi dan inspirasi kepada negeri bahwa di usia semuda itu kalian telah mengemban amanah besar untuk bangsa dan negara.

Di hari ketika amanah itu diemban, abaikan semua kepentingan pribadi. Bekerja untuk negara adalah bekerja untuk orang banyak. Di pusat-pusat pengambilan semua keputusan politik, jadilah katalis penting dari kebijakan yang memihak untuk rakyat.

Anak-anak muda itu tidak harus menjadi Tan Malaka yang gerilya dari satu lokasi ke lokasi lain demi memperjuangkan kalimat kemerdekaan. Mereka tidak harus memulai karier dari penjara ke penjara. Mereka cukup dagang sekaya-kayanya, libatkan banyak orang, lalu perlahan tersohor ke mana-mana.

Media menyebut mereka tak punya tupoksi yang jelas di Istana. Ruang geraknya terbatas. Tidak seperti kementerian yang mengelola sumber daya materi dan sumber daya.

Banyak hal di negeri ini dikapitalisasi untuk citra dan kesan. Keberpihakan pada anak muda diwujudkan dengan menunjuk sejumlah orang menjadi staf dan diperkenalkan seperti menteri negara. Soal mereka hendak melakukan apa, negara tidak banyak tahu.

Malah kiprah anak muda itu seakan dibatasi dengan tugas yang absurd dan berkaitan dengan penanaman ideologi Pancasila.

Bagaimana mungkin Pancasila hendak dijelaskan anak muda yang mendirikan perusahaan rintisan lalu besar? Tahu apa mereka seberapa tinggi intoleransi dan penindasan kepada mereka yang berbeda keyakinan? Apa mereka tahu betapa banyak anak bangsa yang mengais rupiah demi rupiah hanya untuk bertahan hidup?

Tapi seharusnya mereka melihat semua itu sebagai tantangan yang akan semakin membesarkan mereka. Bisa berada di lingkar istana adalah peluang besar untuk menyampaikan suara-suara mereka yang di tepian. Suaranya bisa lebih nyaring terdengar. Mereka bisa berperan lebih banyak, jika mereka tahu apa tujuan mereka berada di situ.

Ah, mungkin kita terlampau banyak berharap. Kepada anak-anak muda itu kita pernah menyandarkan harapan akan kehidupan politik yang lebih baik dan lebih memihak. Mereka punya semangat, jiwa muda, dan keberanian untuk menggapai sukses di usianya.

Kita pernah menitipkan satu harapan agar mereka bisa lebih sukses menghela kereta negara agar selaras dengan cita-cita kemerdekaan. Kita bermimpi tentang revolusi pemuda, yang sebagaimana ditulis Ben Anderson, pernah memberikan kado kemerdekaan pada rakyat. Kini, kita hanya melihat anak milenial, bukan anak revolusi.

Sayang, mereka terlalu jauh dari harapan anak muda Soe Hok Gie: “Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka”

Setidaknya kita tahu bahwa kita berharap terlalu tinggi. Kita menunggu kisah besar apa yang akan mereka bagikan.


VIRUS yang Membangkitkan KOMUNISME


seorang perempuan yang membentangkan pesan protes di Amerika Serikat

Sejarawan Yuval Noah Harari mengatakan perlunya solidaritas global untuk mengatasi Covid-19. Sastrawan Arundhati Roy menulis tentang wabah yang memaksa manusia untuk memutuskan masa lalu dan membayangkan dunia yang baru.

Kini, Slavoj Zizek, yang disebut sebagai filsuf paling berbahaya di abad ini, meramalkan virus ini akan membangkitkan komunisme global. Hah? Kok bisa?

*** 

Seorang paramedis berbaju hijau berdiri dan menghadang mobil yang ditumpangi seorang pemrotes yang mendesak pemerintah Amerika Serikat agar mencabut kebijakan lockdown di salah satu kota di Amerika Serikat.

Dari jendela mobil itu keluar seorang perempuan tua yang membawa karton yang bertuliskan “Land of the Free.” Perempuan itu bergabung dengan barisan penyokong Donald Trump yang mendesak Gubernur New York untuk segera mencabut kebijakan karantina, membuka kembali pasar dan pertokoan, serta membiarkan orang lalu-lalang.

Perempuan itu berargumen, Amerika adalah negara bebas. Pilar-pilar bangsa itu adalah kebebasan dan liberalisme. Bahkan negara tidak bisa memaksa warganya untuk mengunci diri dalam rumah. Warga punya privasi. Ekonomi harus bergerak.

Tak jauh dari aksi pengadangan oleh para medis itu, seorang perempuan membawa poster yang bertuliskan Social Distancing is Communism.

BACA: Mendayung di Antara Dua Karang Covid-19

Negeri Paman Sam sedang dalam keadaan tidak baik. Lebih 46 ribu orang telah tewas dalam upaya melawan keganasan virus Covid-19. Kota-kota di Eropa yang dahulu begitu digdaya, kini menjadi kota-kota sunyi. Virus itu tak hanya menjadi wabah dan menyebar dengan cepat, melainkan juga mengubah banyak hal.

Siapa yang menyangka jika katedral kapitalisme yakni bursa saham, pasar-pasar, hingga pusat kegiatan ekonomi tiba-tiba runtuh. Siapa pula yang mengira jika mantra liberalisme, seperti kebebasan untuk berkeliaran, kebebasan untuk berbelanja dan rekreasi, kini hanya menjadi sesuatu yang indah dikenang saat virus memaksa orang untuk tinggal di rumah?

Virus ini tidak peduli dengan sosiologi masyarakat abad ini. Virus ini tidak peduli siapa Anda. Semua manusia dilihatnya sama saja, mau kaya atau miskin, bule atau hitam, cantik atau jelek. Semua manusia dilihat tanpa kelas, tanpa kasta. Siapa pun bisa berisiko terinfeksi hingga sekarat.

Virus ini juga membuka tirai-tirai yang selama ini menghalangi pandangan kita tentang negara-negara. Amerika Serikat yang dianggap kuat dan perkasa ternyata punya sistem kesehatan nasional yang teramat rapuh dan terdapat kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin. Sebaliknya, negara-negara kecil seperti Taiwan dan Vietnam justru bisa lebih efektif dalam melawan virus itu sehingga menghindari jatuhnya korban.

Saya tertarik mengamati dinamika pemikiran mengenai virus ini. Kita sama tahu bahwa di dalam laboratorium, para ilmuwan sedang berpacu untuk menemukan vaksin yang bisa melawan virus ini. Sementara di ranah pertarungan gagasan, banyak pemikir kini saling berdebat untuk meramal ke mana dunia pasca virus ini menyerang.

Tulisan sejarawan Yuval Noah Harari menjadi rujukan banyak orang untuk mengamati dunia pasca-Covid. Dia menilai untuk pertama kalinya dalam sejarah, negara punya instrumen untuk melakukan pengawasan total kepada warganya, sesuatu yang gagal dilakukan pada masa lalu. Berkat big data, negara bisa memaksa warganya di rumah, kemudian memantau apa yang dilakukan warganya.

Harari melihat perlunya solidaritas global di tengah tiadanya kepemimpinan di tingkat dunia. Amerika tidak bisa lagi menjadi pemimpin dunia sebab harus berkutat dengan pertarungan melawan virus di tingkat domestik.

BACA: Ideologi Kiri Kanan yang Menyambut Corona

Saya juga menyukai artikel yang ditulis Arundhati Roy, sastrawan asal India. Dia bercerita bagaimana lockdown menjadi kiamat bagi warga miskin India yang terpaksa harus berjalan kaki hingga ratusan kilometer demi kembali ke kampung halamannya. Virus ini telah mengubah makna normalitas menjadi sesuatu yang tidak normal.

Arundhati Roy mengatakan, virus ini memaksa kita untuk memikirkan ulang mengenai mesin kiamat yang kita bangun untuk diri kita. Virus ini telah memaksa manusia untuk memutuskan masa lalu, membayangkan masa depan. Virus ini serupa portal antara dunia dan masa depan. Saatnya kita memikirkan dunia baru yang akan kita hadapi, dunia yang lebih cerah dan akan diperjuangkan bersama-sama.

Saya melihat Harari dan Arundhati Roy berada di jalur pemikiran yang sama. Mereka menginginkan perlunya memikirkan tatanan baru untuk menggantikan tatanan yang kini sudah usang. Selama sekian abad, bangsa-bangsa hanya memikirkan persenjataan dan persaingan, lalu abai untuk membangun rumah yang lebih humanis bagi semua orang.

Kini waktunya, memikirkan sistem yang lebih adil bagi semua orang. Mulai dari layanan kesehatan yang menjangkau semua kalangan hingga sistem ekonomi yang tidak semata bergantung pada mekanisme pasar.

Virus Corona seakan memaksa manusia untuk memikirkan satu solidaritas dan kerja sama global. Sebab virus ini tidak sedang mengancam satu negara. Tidak juga mengancam satu kelas tertentu di masyarakat. Virus ini mengancam spesies manusia.

Di sinilah relevansi untuk mendiskusikan pemikiran filsuf Slavoj Zizek, filsuf paling produktif dan sering disebut sebagai filsuf paling berbahaya di abad ini.

Bisa dibilang Zizek adalah filsuf kontemporer yang paling produktif. Dia sudah menulis beberapa artikel mengenai Covid-19. Bahkan dia menulis satu buku tipis yang beredar secara gratis di internet, yang diberi judul Pandemic: Covid-19 Shakes the World..

Berbeda dengan para pemikir lain, Zizek tidak tanggung-tanggung langsung menyebut virus ini ibarat pukulan ala “Kill Bll” yang menghantam kapitalisme. Dalam film Kill Bill 2 yang disutradarai Qutentin Tarantino, terdapat pukulan “Five Point Palm Exploding Heart Technique” yakni kombinasi lima serangan yang menyasar lima bagian tubuh. Saat Bill dihantam dengan jurus ini, dia merasa baik-baik saja, tetapi saat berjalan lima langkah, jantung meledak. Inilah salah satu pukulan paling mematikan dalam ilmu bela diri.

Saat virus ini menyerang, kapitalisme seakan baik-baik saja. Masih bisa mengatur napas dan langkah. Tapi, seiring waktu, virus ini bisa menumbangkan kapitalisme, sebagaimana kebocoran nuklir di Chernobyl yang menumbangkan Uni Soviet. Sistem sekarang tidak akan terus berjalan seperti biasanya sehingga dibutuhkan sebuah perubahan radikal.

Menurut Zizek, virus memaksa kita untuk memikirkan satu konsep masyarakat alternatif yang melampaui konsep negara-bangsa. Virus masyarakat alternatif ini menekankan pada solidaritas dan kerja sama global. Kita bisa melihat bagaimana masyarakat global yang butuh saling berjejaring untuk menghadapi virus. Ada negara yang mengirimkan masker, ada juga yang mengirim rapid test. Ketika ada negara yang menemukan vaksin, maka dunia akan merasakan manfaatnya.

Zizek menyebut warga dunia berada dalam satu kapal –ibarat kapal Nabi Nuh-- sedang bergerak ke arah komunisme global. Namun komunisme yang dia maksudkan bukan komunisme sebagaimana praktik politik di tahun 1960-an. Ancaman global telah mampu melahirkan solidaritas global di mana perbedaan-perbedaan kelas, agama, etnik, ras, dan sebagainya menjadi tidak berarti. Semua orang sedang berusaha mencari solusi, yang melampaui perbedaan identitas tersebut.

Zizek menawarkan satu masyarakat dengan solidaritas baru, yang berbeda dengan sebelumnya. “Kita memang memerlukan bencana besar ini, untuk bisa memikirkan hal-hal yang begitu mendasar dari kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah soal solidaritas global itu,” katanya.

Dunia membutuhkan satu pendekatan komprehensif yang melampaui mesin pemerintahan tunggal, serta koordinasi dan kolaborasi internasional yang kuat dan efisien. Kerja sama global itu akan menggantikan sosialisme, serta meletakkan satu landasan bagi lahirnya komunisme baru.

“Saat ini, satu bentuk globalisasi pasar bebas yang menghadapi krisis dan pandemi tentu sedang sekarat. Namun bentuk lain yang sadar akan saling ketergantungan dan keunggulan tindakan kolektif berbasis bukti sedang lahir.”

Sebagai satu wacana, buku Zizek ini menarik untuk didiskusikan. Kondisi global yang sedang sekarat ini menjadi tanda akan perlunya reorganisasi ekonomi global, yang tidak lagi bergantung pada mekanisme pasar.

Mesti ada semacam organisasi global yang dapat mengatur dan mengendalikan ekonomi dunia, yang bisa saja membatasi kekuasaan negara-bangsa. Dulu, negara-bangsa mempertahankan kekuasaan dengan perang, kini situasinya berbeda. Bukan lagi perang fisik, tetapi perang medis.

Saya pikir Zizek sedang membuka wacana baru untuk didiskusikan. Buku ini ibarat pamflet yang isinya pesan-pesan kampanye. Saya rasa Zizek lebih banyak menyoroti Amerika Serikat, Inggris, dan Cina. Dia melihat Cina sebagai model negara yang memaksakan pengawasan melekat ke semua warganya.

BACA: Virus yang Membuka Aib Sosial Kita

Dia tidak melihat banyak negara-negara demokratis yang lebih efektif dalam melawan virus. Sehingga kekuatan dan ketangguhan satu negara dilihat dari seberapa efektif tangan-tangan negara bisa bekerja untuk memeluk semua warganya dan memberikan benteng perlindungan yang efektif untuk warganya. Negara yang bisa jadi rujukan di sini adalah Taiwan, Korea Selatan, Vietnam, New Zealand, dan Austria.

Saya rasa tidak akan ada ideologi yang berubah pasca wabah. Hanya saja, orang-orang akan menjadikan wabah ini sebagai pelajaran untuk menghadirkan pemerintahan yang lebih efektif dalam melindungi warganya dalam satu benteng pelayanan kesehatan yang tangguh. Dunia akan lebih banyak berkolaborasi dan berjejaring untuk melawan musuh bersama di masa depan.

Slavoj Zizek dan buku Pandemic

Saya sepakat dengan poin Zizek tentang kehadiran virus akibat kehancuran alam liar oleh mesin-mesin kapitalisme. Virus ini menyadarkan kita bahwa bumi yang kita tinggali terus-menerus dihancurkan oleh mesin kemajuan yang kita ciptakan. Benar kata Arundhati Roy, saatnya sejenak berhenti dan berefleksi melihat tindakan yang selama ini kita anggap normal.

Bagi kita bangsa Indonesia, solidaritas global ini bisa menjadi kunci untuk keluar dari wabah. Kita bisa berharap pada saintis negeri lain yang sedang berpacu menemukan vaksin. Kita tak perlu menutup pintu perbatasan kita sebab setiap saat ada negara yang menemukan vaksin. Kita membutuhkannya untuk menyelamatkan anak bangsa yang kini memenuhi banyak rumah sakit.

Setelah wabah usai, kita punya banyak PR untuk diselesaikan. Di antaranya adalah perlunya memperkuat sistem kesehatan nasional kita, serta perlunya memberi perhatian besar pada dunia riset kita yang seakan berjalan di tempat sebab negara lebih peduli pada startup para milenial.

Corona memberi pelajaran bahwa di masa depan, perang semakin kompleks. Kita tak hanya perlu memperkuat para prajurit di medan laga. Kita perlu memperkuat paramedis kita sebagai garda depan untuk melindungi segenap anak bangsa dan seluruh tumpah darah kita.

Tentunya, negara juga harus melindungi paramedis kita. Bukan lantas menjadikan mereka sebagai martir.