Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Lima Badik Abraham Samad


Di Cina, mantan pemimpin lembaga pengawas anti-korupsi terpilih sebagai Wakil Presiden Cina dan mendampingi Xi Jinping. Apakah takdir yang sama akan berlaku untuk Abraham Samad dan terpilih sebagai Wakil Presiden? Apakah dirinya siap mengemban amanah yang lebih besar dari sekadar menangkap dan menjebloskan para koruptor?

*** 

LELAKI itu memasuki ruangan yang dipenuhi ribuan mahasiswa. Ketika dirinya hadir, semua mahasiswa histeris dan berebut hendak berjabat tangan dengannya. Dia dielu-elukan bak seorang pesohor yang datang berkunjung ke satu tempat. Dia tak hendak jumawa. Dia ikut bergabung dengan mahasiswa, kemudian ikut selfie dengan mereka. Lelaki itu Abraham Samad.



Beberapa kali saya bersua dengannya di acara roadshow Kami Indonesia bersama rombongan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Abraham Samad dipilih sebagai sosok inspiratif yang bisa menyulut semangat anak-anak muda untuk lebih berintegritas dan berkarakter. Kepada anak-anak muda, dia diharapkan berbagi pengalaman bagaimana membangun rumah karakter.

Kisah hidup Abraham bukanlah kisah seorang anak muda manja yang mendapat keistimewaan karena ayahnya seorang pejabat. Bukan pula kisah ala sinetron tentang sosok muda yang dengan berani memasang baliho besar lalu memproklamirkan dirinya sebagai pemimpin dengan label “jaman now.” Bukan pula kisah seseorang yang memakai celana jeans dengan surban melingkari leher lalu tersenyum lebar di baliho-baliho besar. Dia tak perlu branding dan baliho sebesar itu untuk mencitrakan dirinya. Semua orang tahu siapa Abraham dan apa yang sudah dilakukannya.

Kisah Abraham adalah kisah penuh onak dan duri, tentang seorang aktivis anti korupsi yang memilih banyak arena untuk berjuang. Jalan hidupnya serupa lintasan roller coaster yang lebih banyak menanjak, sesekali menikung, lalu menukik. Ada masa di mana dirinya melawan anggota parlemen, mengorganisir demonstrasi, menjalin relasi dengan media, hingga akhirnya menjabat sebagai pimpinan di lembaga anti korupsi.

BACA: Seikat Bunga untuk Abraham Samad

Saat menjadi pimpinan tertinggi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ekspresinya selalu dingin. Dia memimpin lembaga yang setiap hari memeriksa berbagai penyelewengan dan lalu lintas uang negara yang masuk ke kantung pribadi. Pose yang jarang senyum itu adalah representasi dari begitu banyaknya sulur-sulur persoalan yang menjerat tubuh bangsa. Dia pun sering hadir di layar kaca saat media membutuhkan keterangannya tentang satu kasus. Ekspresinya selalu datar, tanpa ekspresi. 

Salah satu posenya yang mengendap di benak saya adalah ketika dirinya hadir di Makassar sebulan setelah menjadi Ketua KPK. Dia datang di satu warung kopi untuk berdiskusi dengan koalisi masyarakat sipil anti korupsi. Saat itu, seorang peserta diskusi menyerahkan badik kepadanya. Abraham mengambil badik itu lalu mengacungkan ke langit. Publik gemuruh dan berteriak menyambut dirinya. 

Bagi orang Bugis Makassar, badik adalah simbol dari keberanian dan juga kekuatan. Badik adalah identitas serta representasi dari keberanian mengambil segenap risiko. Di masa kini, badik menjadi ikon dari kesetiaan untuk membela prinsip-prinsip serta apa pun yang diyakini benar. Ketika Abraham mengacungkan badik, maka orang-orang melihat komitmen dirinya yang sangat besar untuk berbuat sesuatu.

Pada masa itu, para aktivis dan organ masyarakat sipil di Makassar menanti-nanti apakah dirinya seberani Antasari Azhar, Ketua KPK terdahulu. Nanti setelah Abraham menersangkakan Miranda Goeltom, para aktivis menyebut peristiwa itu sebagai “pecah telur.” Bahkan mereka menggelar jumpa pers dengan cara unik. Telur-telur dipecahkan sebagai simbol Abraham telah melakukan banyak hal. 

Jika saja tradisi itu dipertahankan, maka betapa banyaknya telur yang akan dipecahkan. Semasa memimpin lembaga itu, banyak koruptor yang dijebloskan ke penjara. Abraham tak saja menahan pejabat selevel gubernur, tapi juga menteri aktif hingga pimpinan lembaga kepolisian. Lembaga yang dipimpinnya mendapatkan banyak penghargaan, termasuk di antaranya adalah Ramon Magsaysay Awards. 

Seorang jurnalis pernah berujar, “Saya ngeri membayangkan nyali manusia itu. Apakah dia tidak takut disingkirkan para cukong yang menyelusup di dalam pemerintahan kita?” Saya pun memendam pertanyaan yang sama. Tak butuh waktu lama, kekhawatiran jurnalis itu terbukti. Sosok yang memenjarakan koruptor dengan kerugian miliaran rupiah itu, tiba-tiba tersingkir karena alasan sepele yakni memasukkan nama orang lain di kartu keluarga. Butuh sekian tahun bagi negara untuk mengakui bahwa kasus itu begitu sepele hingga akhirnya pemerintah menyatakan deponeering. Kasus itu selesai. 

Setidaknya, Abraham telah memberikan jejak panjang di lembaga itu. Dia pernah melawan koruptor dengan cara terbaik yang ditunjukkan anak bangsa. Dia mengingatkan saya pada pernyataan Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer; “Kita telah melawan Nak. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.”

***

“Bang, apakah Indonesia bisa berakhir ketika kita tak bisa keluar dari status darurat korupsi?” Seorang mahasiswa bernama Diana merangsak barisan yang mendekati Abraham demi meneriakkan pertanyaan itu. Di kampus Universitas Udayana, Abraham dikerubuti banyak mahasiswa, yang datang tak sekadar menyaksikan dirinya berpidato tentang Indonesia yang diharapkan bebas korupsi. 

Abraham sejenak terdiam. Dia lalu mengutip pernyataan politisi yang mengatakan bahwa Indonesia bisa bubar di tahun 2030. Bedanya, Abraham mengeluarkan argumentasi. “Indonesia bisa bubar lebih cepat ketika korupsi terus menjamur dan menggerogoti rumah kebangsaan kita. Indonesia bisa berakhir ketika uang rakyat tak henti dipakai untuk pesta pora kepentingan pribadi, dan anak bangsa justru permisif dengan semua keadaan itu,” katanya dengan tegas.

Abraham hanya singgah sejenak di kampus itu. Dirinya bukan lagi menjabat sebagai Ketua KPK. Tapi kehadirannya dinanti banyak orang. Dirinya dielu-elukan oleh mahasiswa dan masyarakat di mana pun dirinya singgah. Pada sosok ini, orang-orang pernah menitipkan harapan untuk menangkap siapa pun yang hendak mengambil uang rakyat. 

Simpati kepadanya tetap tak berkurang. Dia bertransformasi menjadi legenda pemberantasan anti-korupsi. Sikap dinginnya saat berhadapan dengan koruptor telah mengangkat marwah lembaga yang pernah dipimpinnya. Di saat Indonesia tengah mengalami situasi yang disebut orang-orang sebagai darurat korupsi, sosok Abraham akan selalu menjadi hero di hati masyarakat.

BACA: Apa Kabar Abraham Samad?

Melihat antusiasme dan respon orang-orang, saya bertanya, apakah dirinya tidak melihat itu sebagai harapan besar bagi orang-orang agar dirinya melakukan sesuatu yang lebih besar? Apakah dirinya tak berpikir untuk menjadi pemimpin bangsa ini demi menuntaskan agenda pemberantasan korupsi? 

“Jika amanah itu datang, saya tak pernah menolak. Sepanjang diri saya masih bisa memberikan kontribusi, saya pasti akan menerima tawaran itu. Itu adalah kewajiban konstitusional saya,” katanya.

Tapi, saya membayangkan jika rencana itu hendak diwujudkan, betapa terjalnya jalan yang akan ditempuh Abraham. Dirinya bukan politisi. Dia tak berpartai. Bahkan dirinya pernah memenjarakan banyak kader partai yang korup. Dia pun tak punya modal. Entah sejak kapan, publik beranggapan bahwa di dunia politik, cost adalah segala-galanya. Dalam iklim politik di mana semuanya butuh biaya, integritas yang ditawarkan Abraham laksana ‘menggantang asap mengukir langit.’

Namun, sejarah kita sering kali menyajikan kenyataan berbeda. Mereka yang berduit tak selalu bisa melenggang mulus menuju ke kursi kekuasaan. Pada pemilu lalu, tak ada yang menyangsikan kekuatan finansial Aburizal Bakrie untuk melenggang ke kursi kekuasaan. Tentu saja, dia didukung para konsultan dan jejaring partai yang tersebar hingga kelurahan. Tapi dirinya justru tak pernah bisa memasuki panggung pemilihan presiden. Kekuatan finansial itu tak bisa membeli sekeping harapan di benak orang-orang agar mau mendukung dan memilihnya.



Banyak pula yang beranggapan bahwa kandidat yang bertarung di pilpres kali ini adalah sosok yang bisa merepresentasikan identitas keumatan. Jika semua partai dan kandidat presiden berpikir demikian, maka basis pemilih akan terkotak-kotak, sehingga peluang besar akan dipegang oleh sosok yang bisa menjadi representasi semua kalangan. Indonesia butuh sosok yang bisa menjadi payung bagi gerimis perpecahan sehingga mesti ditemukan isu bersama yang bisa menautkan semua kelompok menjadi mozaik keindonesiaan.

Di mata saya, Abraham punya kans jika dilihat dari beberapa argumentasi. 

Pertama, pada pemilu mendatang, jumlah pemilih akan didominasi oleh generasi milenial yang berusia rentang 15-39 tahun. Data BPS menunjukkan, jumlah generasi milenial pada tahun 2019 adalah 48 persen, yang kesemuanya adalah wajib pilih. Melihat potensi suara yang begitu besar, beberapa partai dan kandidat yang akan bertarung dalam kontestasi pemilu sudah mulai dengan serius melirik dan menarget generasi milenial. Pada poin ini, Abraham adalah sosok yang sangat dikenal generasi milenial berkat integritas dan kiprahnya selama memimpin KPK.

Kedua, isu-isu anti-korupsi bisa menjadi titik temu dari siang perdebatan terkait identitas yang seakan tak berkesudahan. Isu anti-korupsi dan Indonesia darurat korupsi adalah tema besar yang selama ini menjadi keresahan publik sehingga dibutuhkan pemimpin yang bisa menjadi titik tengah sekaligus payung bagi semuanya.

Ketiga, dalam situasi ketika semua partai politik menyodorkan kandidat presiden ataupun wakil, maka figur non-partai sering menjadi titik tengah yang disepakati semua pihak. Di titik ini, Abraham bisa menjadi alternatif dan figur penting di luar struktur partai yang ada. Dia bisa menjadi penengah yang diterima semua pihak dan melenggang ke arena pilpres.

Kita menanti bagaimana sejarah bergerak, apakah memberi ruang kepadanya ataukah menjadi milik orang lain. Yang pasti, ajang pilpres nanti diharapkan menjadi pesta meriah yang bisa diikuti dan diramaikan banyak pihak. Agenda-agenda besar publik, khususnya agenda pemberantasan korupsi, mestinya tetap diangkat demi Indonesia yang lebih baik. 

*** 

“Bang, kalau terpilih menjadi pemimpin apa yang akan dilakukan?” Kembali, seorang mahasiswa memberikan pertanyaan. Abraham Samad menyebut beberapa hal, namun saya mencatat ada lima hal penting. Pertama, dalam waktu lima tahun siap untuk memberantas korupsi. Kedua, memperbaiki tata kelola sumber daya alam. Ketiga, mengatasi kebocoran anggaran negara. Keempat, memperkuat kemandirian dan ketahanan pangan. Kelima, membenahi sistem peradilan sehingga semua warga bisa mendapatkan keadilan.

“Saya berharap generasi mendatang mendengar kata korupsi seperti mendengar kata dinosaurus yang sudah punah,” katanya.

Jika lima hal ini menjadi visi, maka saya membayangkan Abraham kini memiliki lima badik yang akan menjadi fokus keberaniannya. Dia akan memberantas korupsi, memperbaiki tata kelola sumber daya alam, menangkap siapa pun yang membocorkan anggaran negara, dan menangkap mafia hukum. Lima aspek ini yang akan jadi medan jihadnya, menjadi sasaran dari badik yang diacungkannya jika sejarah mencatat namanya sebagai pemimpin.

Saya membayangkan medan perjuangan Abraham yang terus bergeser. Dari demonstrasi jalanan, aktivis organisasi, hingga akhirnya menjadi Ketua KPK. Jika hidup ini menyimpan banyak misteri dan kejutan, maka bisa jadi Abraham masih memiliki medan pengabdian lain yang lebih besar. Semuanya akan tergantung pada apakah dirinya berhasil menciptakan momentum sejarah itu ataukah tidak.

Sejarah pernah mencatat kisah seorang tokoh anti-korupsi menjadi pemimpin bangsa. Di Cina, tokoh anti korupsi paling tenar Wang Qishan terpilih sebagai Wakil Presiden dan mendampingi Xi Jinping. Wang Qishan adalah kepala pengawas anti-korupsi yang meraih popularitas sehingga dipilih oleh parlemen. Medan perjuangannya berpindah ke sesuatu yang lebih besar.

Jika semesta memberi ruang, kelak kita akan mencatat nama Wang Qishan bukan yang terakhir. Abraham Samad akan menjadi nama baru yang dicatat sejarah. Semoga.


Betapa Ambigu Teriakan Anti Asing




DI berbagai kanal media sosial, banyak orang teriak anti asing. Tapi di ranah pariwisata, justru taman hiburan yang meniru lanskap negara asing laris manis. Orang2 menyemut, berdatangan, dan sibuk selfie.

Kita bisa mengatakan ada ambiguitas. Secara politik, banyak yang anti asing dan takut dijajah bangsa lain, tetapi secara budaya, masyarakat kita justru tak malu2 menyatakan kekaguman pada negara asing. Buktinya, taman wisata ala negara lain malah laris manis.

Coba tanya orang Bandung. Taman hiburan yang lagi happening adalah hiburan yang meniru kampung koboi ala amerika, kampung pecinan ala beijing, dan rumah2 Jepang beserta pose memakai kimono. Semua orang Bandung tahu di mana lokasinya. Saya beberapa kali ke sana.

Di bogor, baru saja dibuka taman hiburan yang meniru-niru kota2 di eropa. Ada menara eiffel dan kincir angin. Ada big ben hingga sungai2 ala venesia. Bisa ditebak, suasananya kayak pasar. Saya hampir tak dapat parkir. Suasana di dalam penuh banyak orang yang berjubel untuk sekadar selfie.

Saya pun datang untuk selfie bersama anak istri. Setidaknya tak perlu jauh2 berwisata ala eropa. Cukup setengah jam dari rumah. Ditambah lagi, saya gak anti asing. Saya menikmati hidup di era penuh kompetisi dalam pergaulan lintas negara.

Btw, saat berpose dengan istri, saya serasa kembali menjadi Galih Rakasiwi yang sukses menaklukan hati Ratna dalam novel Gita Cinta dari SMA. Bisa saya pastikan, yang tahu Galih dan Ratna adalah generasi old, bukan generasi jaman now. Hehehe.

Filosofi Ikigai, Citizen 4.0, dan Kearifan Hermawan Kertajaya




BUKU terbaru Hermawan Kertajaya berjudul Citizen 4.0 terasa seperti buku spiritual ketimbang buku mengenai marketing. Dalam banyak bagian, saya tak saja menemukan pelajaran tentang marketing, tetapi pelajaran hidup dan kearifan seorang begawan yang telah menjalani hidup hingga usia 70 tahun. 

Pesan dalam buku ini sederhana bahwa pemasaran bukan cuma bagaimana menjual, tetapi bagaimana menjadi individu yang baik, bermanfaat bagi sekelilingnya, menjadi rahmatan lil alamin. 

***

MARILAH kita belajar pada masyarakat di Kepulauan Okinawa, Jepang. Mereka dikenal sebagai masyarakat yang berumur panjang dan selalu bahagia. Mereka tak mengenal masa pensiun. Setiap saat mereka melakukan aktivitas dalam suasana riang gembira. Di sana, bisa ditemukan seorang nelayan berusia 100 tahun.

Para peneliti menemukan bahwa masyarakat Okinawa memiliki filosofi Ikigai yang merupakan alasan untuk hidup dan beraktivitas. Ikigai menjadi bahan bakar yang menggerakkan orang Okinawa untuk mencapai bahagia. Mereka tahu apa tujuan hidup, tahu bagaimana memanfaatkannya, dan tahu bagaimana menggunakannya untuk membahagiakan orang lain.

Ikigai terdiri empat faktor utama. Pertama, passion for knowledge, kebutuhan untuk menemukan pengetahuan. Orang Okinawa akan bertanya pada dirinya, keahlian apa yang dimiliki. Kedua, passion for business yakni hasrat untuk berusaha. Keahlian akan membawa dampak berupa penghasilan. Orang akan dibayar karena apa yang dimilikinya. Ketiga, passion for service. Adanya dorongan untuk melayani orang lain. Kita dibayar karena memberikan sesuatu. Keempat, passion for people. Kebutuhan untuk memuliakan orang lain. Bentuknya bisa berupa hobi atau kegiatan yang membahagiakan.

Filosofi Ikigai mengingatkan saya pada banyak kearifan di tanah air yang menyebutkan, untuk mencapai bahagia, lakukan sesuatu untuk orang lain. Kebahagiaan itu tidak terletak apa apa yang kita miliki, melainkan terasa pada senyum orang lain ketika diri kita hadir di sekitarnya, terletak pada bagaimana orang lain memperlakukan kita, pada seberapa bahagia orang-orang yang bahagia karena kehadiran kita.

BACA: Rahasia Ilmu Marketing Ada di Sekitar Kita

Di mata saya, orang Okinawa menjadi figur yang melampaui dirinya. Mereka sudah selesai dengan dirinya. Mereka tak lagi sekadar memikirkan apa yang dimakan hari ini, tetapi memikirkan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Mereka bisa bergerak menjalankan sesuatu yang membahagiakan kemudian menularkan kebahagiaan itu kepada orang lain. Kebahagiaan mekar pada sikap untuk membahagiakan orang lain, sesuatu yang selama ini dicari banyak bangsa lain di dunia.

Saya menemukan kisah orang Okinawa ini dalam buku Citizen 4.0 yang ditulis Hermawan Kertajaya. Buku ini adalah refleksi perjalanan Hermawan yang menyaksikan fenomena pemasaran dalam tingkah laku orang-orang di sekitarnya. Pada usia 70 tahun, Hermawan telah bertransformasi menjadi seorang filosof ataupun begawan yang kerap melakukan refleksi tentang apa pun di sekitarnya. 

Sebagaimana buku sebelumnya, Hermawan menjelaskan fenomena marketing yang terus bergeser. Dunia semakin horizontal, inklusif, dan sosial. Dunia meninggalkan tatanan hierarki dan top-down menjadi tatanan yang egaliter dan horizontal. Komunikasi masyarakat serupa komunikasi di media sosial yang sejajar, tanpa ada posisi yang lebih tinggi. Masyarakat kian bergeser dan tidak lagi mempersoalkan perbedaan suku, agama, dan bangsa. Masyarakat perlahan menjadi “citizen of the world.” 

Hermawan membagi perjalanan manusia dalam empat tahapan kehidupan, yaitu; fundamental (usia 0-20), forefront (usia 20-40), foster (usia 40-60), dan final (usia 60-80). Pada setiap fase kehidupan, manusia menjalani proses yang amat penting. Setiap fase akan meninggalkan jejak pengalaman bagi kepribadian seorang individu. Ketika semuanya berjalan baik, seseorang akan menapak menjadi Citizen 4.0 yang bisa memberi makna bagi sekelilingnya.

Saya selalu menyukai kisah-kisah bagaimana seseorang memulai karier. Saya bersepakat dengan Malcolm Gladwell bahwa kesuksesan bukan sesuatu yang jatuh dari langit, melainkan sesuatu yang diupayakan dengan kerja keras dan banting tulang. Kata komedian Tukul Arwana, kesuksesan adalah hasil dari kristalisasi keringat. Makanya, penting untuk melihat bagaimana seseorang menapak karier hingga berada pada posisi puncak. Tentunya ada banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik dalam tangga-tangga menuju sukses itu.

Hermawan Kertajaya terlahir dengan nama Tan Tjioe Hak dari keluarga keturunan Tionghoa.  Orangtuanya sangat menekankan pentingnya pendidikan serta kerja keras. Sedari kecil, dirinya selalu bekerja keras sehingga berhasil menjadi direktur di satu perusahaan HM Sampoerna. Ketika dirinya mencapai titik mapan, dia memutuskan untuk keluar dari kantornya dan mulai mencari profesi lain.

Hermawan Kertajaya

Pilihan ini tidak mudah, malah bisa dibilang gila. Anaknya, Michael Hermawan atau Mike masih kecil saat ayahnya membangun Mark Plus sebagai perusahaan yang dibangun dengan modal nekat. Hermawan lalu menjadi kolumnis di harian Jawa Pos untuk tema-tema pemasaran. Dia laris sebagai pembicara pemasaran. Tapi kehidupan ekonominya seakan tidak berkembang. 

Hermawan lalu nekat untuk menemui mantan bosnya, Putera Sampoerna. Saat hendak bertemu Putera Sampoerna, Hermawan sengaja membawa anaknya Mike. Inilah yang menjadi kunci keberhasilan lobi. Melihat wajah Mike yang lugu, Putera Sampoerna langsung menyetujui tawaran Hermawan untuk mengelola pelatihan bagi karyawan PT HM Sampoerna. Nilai kontraknya dua setengah kali dari gajinya selama setahun menjadi karyawan di perusahaan itu. Proyek ini menjadi darah segar bagi Mark Plus saat mulai meniti karier.

Mulailah Mark Plus menjadi lembaga konsultan pemasaran yang paling laris di negeri ini. Pengguna jasanya menyebar, mulai dari pemerintahan hingga perusahaan swasta. Tak hanya itu, Hermawan Kertajaya lalu melebarkan sayap dan menjadi konsultan internasional berkat kolaborasinya dengan mahaguru pemasaran Philip Kottler. 

Beberapa bukunya diterbitkan dalam bahasa Inggris dan menjadi bacaan wajib bagi para marketer di seluruh dunia. Hermawan menjadi anak bangsa dengan prestasi mendunia.

*** 

KONSEP Citizen 4.0 yang dikembangkan dalam ekosistem dunia yang kian mengalami digitalisasi. Dunia semakin horizontal, inklusif, dan sosial, kita tak bisa lagi hanya belajar tentang menjadi orang yang paling hebat atau mungkin cara menguasai dunia. Tapi, kita juga harus belajar bagaimana kehadiran kita bisa memberikan kontribusi pada lingkungan sekitar. Itulah Citizen 4.0.

Istilah 4.0 adalah masa yang ditandai dengan kehidupan serba digital, yang mempermudah konektivitas antar manusia, serta antara manusia dan lingkungan. Konektivitas itulah yang membangun sebuah kolaborasi, keterbukaan, dan interaksi bersama. Citizen 4.0 merupakan sebuah konsep yang memaparkan transformasi tahapan seseorang untuk menjadi manusia yang lebih baik dan berdampak pada lingkungan sekitar. Saat ini merupakan era 4.0 yang ditandai dengan kehidupan yang serba digital. Dengan digitalisasi ini, konektivitas antar manusia, manusia dengan lingkungan menjadi lebih kuat.

Berkat kehadiran internet, kehidupan semakin dinamis begitu juga dengan kehadiran media sosial. Setiap orang bisa lebih mudah mengekspresikan diri dan berkesempatan untuk terhubung dengan siapa pun di dunia ini. Setiap orang bisa membuat, memodifikasi, dan menyebarkan berbagai informasi kepada rekan-rekan di sekitar kita.



Dengan adanya konektivitas tinggi seperti saat ini, setiap orang menjadi manusia dengan spirit yang lebih terbuka untuk bisa bekerja sama, berinteraksi, saling menukar ide untuk mewujudkan satu aksi bersama. Jadi, semangat yang timbul pun berbeda dengan masa lalu yang cenderung vertikal, eksklusif, dan individualistis.

Pesan yang hendak disampaikan Hermawan adalah untuk menjadi seorang Citizen 4.0 memang diperlukan proses yang panjang. Tidak ada cara instan untuk mencapai tahapan tertinggi. Semua harus dilalui satu per satu dan melalui proses penyempurnaan diri secara terus menerus. Pada titik ketika seseorang mencapai kearifan tertentu, maka saat itulah dia bisa merefleksikan perjalanan hidupnya, kemudian berpikir tentang dunia sekelilingnya. Pada puncak kearifannya, seseorang mulai berpikir bagaimana membahagiakan orang lain di sekitarnya.

BACA : Membaca Marketing, Mengingat Antropologi

Kepingan hikmah yang saya temukan dalam buku ini selaras dengan apa yang saya temukan di buku-buku lain. Prinsip ini bukanlah hal baru. Saya teringat pada ajaran orang tua dan masyarakat kita untuk selalu berkata jujur, tidak menyakiti orang lain, berusaha membahagiakan siapa pun, serta menyayangi siapa saja. Inilah kaidah-kaidah moral yang diajarkan oleh masyarakat kita secara tradisional, dan ternyata menjadi prinsip humanis dalam dunia pemasaran.

Kehebatan para konsultan pemasaran  adalah kemampuan menyerap semua nilai-nilai kebaikan itu ke dalam segala tindakan promosi. Maka para pemasar hebat adalah mereka yang memahami para pelanggannya dengan amat baik, membangun pertemanan yang saling menguatkan, lalu meletakkan nilai-nilai persahabatan itu di atas segala hal yang menyangkut materi.

Kunci menjadi pemasar hebat adalah mendahulukan kepentingan konsumen, kemudian membahagiakannya. Maka bahagia itu akan menjalar juga ke diri Anda. Bahwa kesuksesan itu bukanlah dilihat dari berapa banyak uang yang Anda miliki, melainkan pada seberapa banyak kebahagiaan yang Anda tebar di sekeliling Anda.

Tulisan ini ditutup dengan satu kalimat menohok: sudah berapa banyakkah orang lain yang bahagia karena kehadiran Anda?



Lelaki MUSLIM di Sisi Ratu INGGRIS


poster film Victoria & Abdul

SETELAH 130 tahun kisah yang disembunyikan itu, akhirnya dibuka ke publik. Ratu Victoria (1819-1901), pemimpin Inggris memiliki abdi setia bernama Abdul Karim, yang berasal dari India. Tak sekadar abdi atau pelayan, Abdul Karim menjadi guru yang mengajarkan sang ratu banyak aspek tentang Islam, Al Quran, hingga kearifan timur. Bahkan jelang kematian penguasa Inggris itu, Abdul Karim membisikkan puisi indah dari Jalaluddin Rumi.

Dari lorong-lorong gelap istana Inggris, kisah ini dirahasiakan. Hingga akhirnya seorang jurnalis India menelusuri kisah itu, membaca banyak arsip, termasuk melihat catatan-catatan sejarah. Dia lalu menulis buku yang kemudian heboh. Berkat kebaikan rumah produksi Hollywood, kisah indah yang tak terdengar publik itu kini hadir di layar kaca, pada film Victoria & Abdul. 

Saya menyaksikan film Victoria & Abdul ini dengan hati berdebar-debar. Betapa tidak, sejarah memang penuh debu-debu dan kabut yang sengaja dihampar untuk membuat mata kita rabun memandang realitas. Film ini dibintangi Judie Dench dan Ali Fazal, aktor India yang pernah bermain dalam 3 Idiots. Film ini dibuat tahun 2017, tapi saya baru bisa menyaksikannya tahun ini melalui situs gratisan di internet.

Kisahnya dimulai ketika penguasa Inggris, Skotlandia, Kanada, hingga India itu hendak merayakan 50 tahun naik tahta. Pada masa itu, Seorang pria India dikirim ke Inggris untuk menyerahkan mohur atau koin emas sebagai cenderamata dari negara jajahan Inggris. Pria yang bertugas sebagai pelayan itu adalah Abdul Karim, seorang pencatat di rumah sakit. Ia berani melabrak aturan dengan menatap langsung mata sang ratu. Pada momen ini, Ratu tertarik.

Tak cukup sampai di situ, Abdul juga melanggar aturan keprotokoleran ketika mengantar makanan untuk ratu di satu jamuan. Ia tunduk dan mencium ujung sepatu ratu yang berumur 60-an tahun itu. Hingga akhirnya dipanggil Ratu dan diajak berbincang-bincang. Ratu terkesima oleh wawasan dan kearifan yang dimiliki Abdul. 

Pada satu kesempatan, Ratu curhat tentang kondisinya yang setiap hari berhadapan dengan orang tamak dan pencari muka, Abdul dengan tenangnya mengutip Quran sembari berkata bahwa tujuan manusia adalah melayani sesamanya. Ratu terkesima. Abdul mengaku dirinya seorang Muslim yang menghafal Quran di luar kepala. Ia seorang hafiz yang dahulu belajar pada seorang munshi (guru) yakni ayahnya sendiri. Ratu juga ingin belajar, lalu meminta Abdul menjadi munshi. Abdul bersedia, akan tetapi statusnya sebagai pelayan harus ditanggalkan dahulu.

Hubungan itu berubah menjadi seorang murid dan munshi. Abdul mengajari Ratu bahasa Urdu, juga aksara Arab. Abdul juga memperkenalkan kisah-kisah menarik di timur. Mulai dari monumen Taj Mahal yang didedikasikan seorang raja pada permaisurinya yang meninggal, hingga mangga, yang disebut Abdul sebagai raja buah-buahan. Saking tertariknya, Ratu memesan mangga dari India. Melalui saling belajar itu, keduanya menghabiskan waktu bersama-sama sehingga terdapat rumor kalau hubungan keduanya lebih dari itu. 

Kalangan Istana merasa gerah melihat hubungan dekat itu. Dipimpin Pangeran Edward bersama pangeran lainnya hendak menyingkirkan Abdul. Pada masa itu, rasisme sedang mencapai titik puncak. Banyak kaum kulit putih di Inggris merasa hina ketika duduk semeja dengan seseorang yang berasal dari tanah jajahan India, yang penduduknya punya kulit berwarna. Mereka makin terhina saat Ratu hendak memberikan gelar knight atau ksatria kerajaan kepada Abdul. Berbagai upaya menyingkirkan Abdul dimulai. Lebih terhina lagi setelah tahu Abdul seorang Muslim. Bagi orang Inggris, figur pemimpin bukan hanya mengepalai negara, tapi juga semua gereja besar yang ada di sana. Namun semuanya kandas karena Ratu Victoria sangat menyayangi abdi setianya itu.

Foto asli Victoria & Abdul (kiri), sebelahnya adalah adegan film

Hingga akhirnya, Ratu berada di akhir hidupnya. Saat dikelilingi anak dan cucu, serta keluarga istana, Ratu meminta agar dirinya hanya ditemani Abdul. Di sinilah terjadi dialog yang menggetarkan. Abdul meyakinkan Ratu bahwa dirinya sedang melakukan perjalanan yang paling membahagiakan sebab akan bersatu dengan-Nya. Ia lalu mengutip syair Jalaluddin Rumi: 

“Listen, O little drop, give yourself up without regret, and in return you will gain the Ocean. Let your self away, and in the great Sea, you will be secure.”
“Wahai tetesan air. Serahkan dirimu tanpa penyesalan. Dan sebagai balasannya, kamu akan mendapatkan Samudera. Biarkan dirimu pergi, dan di samudera luas, kau akan aman.”

Ratu berucap Alhamdulillah. Selanjutnya, kamera mengambil gambar orang-orang yang berada di luar. Entah apa yang terjadi di dalam. Yang saya bayangkan adalah Abdul membisikkan dua kalimat syahadat, yang sengaja tidak ditampilkan dalam film. Setelah Abdul keluar ruangan, Ratu meninggal dalam damai.

Kisah Sejarah

Kisah keduanya menarik untuk ditelusuri. Pada saat itu, Ratu Victoria telah berusia 60-an tahun. Dia telah menjadi nenek, yang tiba-tiba merasa sangat bahagia saat bersama Abdul. Sementara Abdul sendiri telah punya istri, yang kemudian difasilitasi Ratu agar datang ke Inggris bersama keluarga Abdul. 

Orang pertama yang menelusuri kisah ini adalah wartawati India bernama Shrabani Basu. Mulanya, dia melihat lukisan Abdul tengah memegang sebuah buku dan mengenakan pakaian yang tampak seperti bangsawan. Hal ini tidak biasa bagi seorang India yang berada di tanah si penjajahnya, pada zaman akhir tahun 1800-an ketika India belum merdeka dari pendudukan Inggris. 

Sebagaimana dikutip dari BBC, Basu kemudian melacak jejak Abdul hingga ke Istana Windsor dan menemukan sebuah buku harian yang digunakan Ratu Victoria berisi aksara Arab berbahasa Urdu, dan diduga merupakan tulisan tangan sang ratu sendiri yang mempelajari bahasa tersebut. 

Dalam perjalanannya melacak jejak mantan petugas pencatat rumah sakit tersebut, seorang anggota keluarga Abdul Karim yang masih tersisa pun menghubungi Basu dan memberikannya buku catatan harian kepunyaan Abdul. Dari situlah Basu mengumpulkan semua data dan membukukannya menjadi sebuah buku biografi berjudul Victoria & Abdul: The Truse Story of the Queen's Closest Confidant.

"Cerita ini bukan fiksi, ini fakta. Apa yang ditunjukkan di film, bukan didramatisir... Ini terjadi. Ratu Victoria belajar bahasa Urdu, ia ingin mangga dan dia membela Abdul Karim. Terdengar fantasi, namun tidak," kata Basu kepada Time.



Basu juga mengatakan yang terpenting adalah kisah ini akhirnya diangkat. "Kisah ini yang dicoba dihapus Inggris. Sangat penting untuk diangkat. Ratu Victoria belajar bahasa Urdu selama 13 tahun, itu penting, khususnya karena banyak terjadi rasisme terjadi banyak sentimen anti-Muslim" tambahnya.

Melalui surat-surat pribadi Victoria pada Abdul yang ditemukan, Victoria menganggap Abdul layaknya seorang anak. Di setiap akhir surat, ia memberi tanda 'your loving mother' dan 'your closest friend'. Namun hubungan ini lantas dinilai menjadi ambigu ketika di beberapa surat lain, Victoria kerap membubuhkan tanda bibir di akhir surat yang ia berikan pada Abdul. 

"Sejak itu, hubungan ini dianggap lebih dari sekadar persahabatan. Terlebih dengan jarak usia yang begitu jauh di mana saat itu sang ratu sudah berusia lebih dari 60 tahun," ujar Shrabani Basu, penulis biografi sang ratu dan sang pelayan yang kini diangkat ke layar lebar. 

Hubungan Ratu Victoria dan Abdul dianggap sangat kontroversial oleh anggota keluarganya sehingga semua dokumennya dibakar. Menurut The Telegraph, putra Ratu Victoria, Edward, langsung meminta surat apa pun terkait Ratu dan Abdul dibakar. Abdul dan keluarganya juga diusir dari rumah yang diberikan ratu kepadanya dan dia dikirim balik ke India. Putri Victoria, Beatrice, menghapus dan membuang semua acuan terhadap Abdul di jurnal-jurnal Ratu. 

Victoria bersama Abdul

Selama lebih dari 100 tahun, dokumen-dokumen ini tak berbekas sampai ditemukan oleh Basu yang melihat ada petunjuk di kediaman musim panas zaman Ratu Victoria, dan meneliti lebih lanjut hubungannya dengan Abdul.

Menurut pakar sejarah, keluarga Victoria dan staf kerajaan memandang sebelah mata Abdul karena berasal dari India dan juga ditambah dengan kecemburuan mereka karena Ratu memperlakukan gurunya secara istimewa. 

Sejarawan Carolly Erickson dalam bukunya Her Little Majesty menulis, "Bagi orang India berkulit gelap dan disejajarkan dengan pembantu kulit putih ratu merupakan satu hal yang tak bisa diterima, duduk di satu meja bersama mereka, dan bersama-sama dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu penghinaan." Sekretaris pribadi ratu, Fritz Ponsonsby, dalam satu suratnya yang berisi protes terkait Abdul menulis, "Ratu mengatakan yang terjadi adalah berprasangka karena rasis, dan bahwa kami cemburu dengan Munshi."

***

KISAH saling sayang antara guru dan murid itu akhirnya dibuka ke hadapan publik. Kontroversi sejarah akan terus berlanjut, sebab sejarah memang tak hendak menarik satu versi. Kisah ini menarik sebab tak hanya bicara tentang bagaimana dua insan beda kelas, tiba-tiba disatukan oleh rasa ketertarikan yang sama, tapi juga banyak aspek terkait budaya, sejarah, sentimen etnis, hingga agama yang bermain di situ.

Saya menyukai kisah-kisah seperti ini. Sejak dulu, saya meyakini bahwa ada banyak sisi lain dari kepingan sejarah yang harus ditelusuri demi menemukan semangat zaman. Pada sosok seperti Abdul, kita belajar kearifan untuk memperlakukan semua orang dengan haik, sehingga dirinya pun mendapat perlakuan dalam kadar yang sama. Pada Victoria, kita bisa belajar bahwa pencerahan itu serupa setitik api yang bisa hadir di tengah-tengah kegelapan, sehingga membuat seseorang terus bergerak mendekati cahaya.

Dalam segala keputus-asaan dan kebosanan di Istana Inggris, Victoria menemukan sosok yang menyalakan api dalam dirinya. Victoria menemukan cahaya tentang iman sebagaimana disulut oleh Abdul, seorang pelayan dari negeri jajahan yang jauh. Victoria akhirnya bisa keluar dari pandangan sempit segregasi etnik yang merupakan warisan dari cara berpikir yang memandang diri lebih mulia daripada orang lain.

Pada Victoria dan Abdul, kita menyimpan banyak catatan.


Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia Moderen dari Dinamika Kesultanan Buton?




TAHUN 2018, Indonesia berada dalam persilangan kepentingan berbagai bangsa-bangsa besar. Biarpun bukan lagi era perang dingin, akan tetapi beberapa negara besar seperti Amerika Serikat dan Cina hilir mudik di Asia Tenggara dan saling berebut pengaruh. Meskipun Indonesia adalah negara kepulauan yang besar, Indonesia bukanlah negara dengan militer kuat yang sanggup menghadapi. 

Secara ekonomi, Indonesia justru banyak tergantung pada negara-negara besar itu. Dari sisi politik dan ekonomi, negara besar bisa saja mendikte Indonesia sehingga terpojok dan tak berdaya. Dalam situasi yang seolah terjepit dan terancam negara-negara besar, Indonesia mesti mengembangkan kemampuan adaptasi dan seni politik untuk bisa bertahan dan lepas. Apakah yang bisa dilakukan?

Kamis, 6 April 2018 silam, saya menghadiri orasi 65 tahun Profesor Susanto Zuhdi di kampus Universitas Indonesia. Dalam orasi yang bertemakan Buton dan Kesadaran pada Ruang Sejarah, Susanto membandingkan situasi Indonesia abad ini dengan Kesultanan Buton pada abad ke-16 dan 17. Dia mengingatkan saya pada filsuf Jerman bernama Goethe yang mengatakan bahwa manusia yang hidup tanpa belajar dari masa 3.000 tahun adalah manusia yang tidak menggunakan akalnya.

Susanto mengutip para pelaku seni tradisi di Buton yang melukiskan situasi Kesultanan Buton pada abad ke-16 dengan metafor perahu. Ketika angin barat menerjang, maka nakhoda dan kru perahu akan menjaga sisi barat. Saat angin timur menerjang, kembali semuanya bergerak akan menjaga sebelah timur. Dalam konteks Kesultanan Buton, metafor angin timur dan angin barat itu adalah Ternate dan Gowa yang silih berganti hendak menaklukan Buton. 

Dalam situasi ini, kedatangan kompeni Belanda menjadi pihak ketiga yang membantu Buton untuk menyelamatkan situasi. Namun, hubungan Buton dan Belanda itu ibarat pasang surut. Sejarawan Taufik Abdullah menyebutnya pola sekutu dan seteru. Perjanjian mengharuskan mereka untuk bersekutu, tetapi realitas keseharian sering memaksa mereka untuk berseteru. Pada masa Sultan Himayatuddin di tahun 1755, konflik pernah pecah dan banyak korban berjatuhan. Peristiwa ini direkam dalam memori kolektif orang Buton sebagai “Zamani Kaheruna Walanda.”

BACA: Susanto Zuhdi, Sejarawan Pembawa Intan untuk Orang Buton

Yang menarik buat saya adalah Susanto membandingkan peristiwa sejarah yang dialami Kesultanan Buton itu dengan situasi Indonesia pada masa kini. Dia bercerita tentang orasi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika menerima gelar guru besar di Universitas Pertahanan. SBY menyebut konsep “thousand friends, zero enemy” dalam hal hubungan dengan negara lain. Kata Susanto, konsep ini ambigu seba tidak mungkin bisa bersahabat dengan semua orang, tanpa ada musuh. Bukankah musuh tetangga dekat adalah musuh kita juga?

“Menarik untuk disimak pernyataan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, yang menyebut konsep dynamic equilibrium atau keseimbangan dinamik. Meskipun konsep itu ditujukan untuk kawasan ASEAN, tetapi bisa dipakai untuk memahami situasi Indonesia” kata Susanto.

Jika pernyataan itu dikaitkan dengan pengalaman kesejarahan orang Buton, maka situasinya tidak jauh berbeda. Pengalaman dalam dinamika dan keterancaman itu telah melahirkan intuisi orang Buton dengan penciuman tajam terhadap perubahan lingkungan alam. 

Orang Buton mesti meningkatkan kapasitas mereka dalam menjaga keseimbangan perahu, termasuk dalam menjalin dinamika dengan kekuatan luar  harus dipahami dalam kerangka budaya, membentuk kesadaran akan ruang sejarah, serta tidak hanya berdimensi temporal tetapi juga ingatan ruang kehidupan. Bukankah kehidupan selalu meniti dari di atas ancaman dan peluang?

Pendapat Susanto ini menarik untuk didiskusikan. Saat sesi diskusi, saya menemukan pernyataan menarik dari salah satu pembahas yakni Tommy Christomy PhD. Dia membandingkan pengalaman kesejarahan orang Buton dengan kisah Kapten Cook yang ditulis antropolog Marshall Sahlins di buku Island of History. Kata Tommy, bayangkan satu pulau tenang yang relatif tanpa gejolak. Tiba-tiba suatu hari, datanglah armada kapal dengan persenjataan serta teknologi yang lebih canggih. Bagaimanakah respon warga lokal terhadap kapal itu?

suasana diskusi

Sampul buku dan undangan diskusi

Kapal yang dimaksud Tommy adalah milik Kapten Cook saat pertama kali tiba di Hawaii dan Kepulauan Pasifik lainnya. Penduduk lokal mengira Kapten Cook adalah jelmaan dewa yang datang ke situ untuk mengunjungi warga. Kapten Cook disambut dengan semua pesta adat. Hingga akhirnya Kapten Cook meninggalkan pulau. Karena badai dan kapalnya rusak, Cook kembali ke Hawaii. Respon warga lokal berbeda. Mereka membunuh Kapten Cook, sosok yang tadinya dianggap dewa.

Tommy mengutip Sahlins yang menganalisis bagaimana penduduk lokal (native) memberi respon berbeda atas kedatangan Kapten Cook, yang menunjukkan pertemuan mereka dengan kebudayaan kolonial. Kebudayaan memberikan berbagai pilihan metafor dan respon bagi penduduk, dalam hal penciptaan sejarah. Setiap saat, penduduk mengalami peristiwa sejarah, setiap saat pula kebudayaan menyediakan jalan keluar bagaimana mereka harus memberi respon.

Tommy tertarik dengan metafor-metafor budaya dan narasi yang membingkai sejarah Buton. Dia mengutip beberapa syair kabanti, yang dikutip Susanto, sebagai himpunan kearifan sekaligus semacam primbon yang menentukan tindakan-tindakan orang Buton. Namun, orang Buton tetap punya kemerdekaan ataupun otonomi dalam mengambi sikap. Pola sekutu dan seteru itu menunjukkan kebebasan dan pilihan-pilihan mereka dalam mengambil keputusan terbaik dalam situasi hidup yang penuh ancaman.

Kata Tommy, respon orang Buton ada tiga, yakni (1) sebagai pelindung, yang disampaikan dalam metafor ayah, (2) sebagai ancaman, yang disampaikan dalam metafor angin, (3) sebagai pengabsah, yang ditunjukkan dalam sejumlah metafor kemenangan Buton atas daerah lain secara batiniah. Ketiga metafor ini dimainkan secara cantik dan melekat dalam kehidupan yang tertata secara budaya.

Pembahas lainnya, Dedi S Adhuri menyebutkan respon budaya itu ibarat lemari yang berisi banyak pakaian. Orang Buton punya kebebasan dalam memilih pakaian mana yang hendak dipakai sehari-hari. Makanya, Dedi S Adhuri tidak percaya kalau perjanjian dengan Belanda membuat Buton selalu dalam posisi subordinat. Ia menyebut satu konsep budaya yang memberi ruang bagi siapa pun untuk berada dalam posisi sejajar, serta menafsirkan ulang semua pengalaman yang dijalani. Bukankah realitas sosial selalu dinamik dan cair?

Kata Dedi, salah satu bentuk adaptasi orang Buton adalah mereka menyebar dan memenuhi semua pesisir timur Indonesia. Mereka adalah bahariwan tangguh yang memaknai lautan sebagai rumah tempat mereka berpijak. “Di mana pun saya ke timur, selalu bertemu orang Buton. Baru-baru ini saya riset tentang para pemburu ikan tuna. Rata-rata adalah orang Buton,” katanya.

***

SAYA cukup menikmati diskusi ini. Tak setiap hari kita bisa menyaksikan diskusi budaya dengan pembahasan yang sangat menarik. Rasanya bosan juga melihat layar kaca dan selalu menemukan berita politik. Diskusi budaya ibarat embun segar yang membasahi dahaga yang haus karena kering-kerontang.

bertemu Yulis

Di acara yang dilaksanakan di auditorium Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI ini, saya bertemu banyak orang Buton. Mulai dari para senior hingga beberapa adik-adik yang mulai meramaikan ibukota. Di pertemuan ini, perasaan saya seakan-akan berada di kampung halaman. Kami semua berkumpul karena didorong oleh semangat yang sama yakni kecintaan pada kampung halaman, serta perlunya menjaga silaturahmi.

Kami sama-sama sepakat bahwa Profesor Susanto telah berbuat banyak hal pada kami orang Buton, Tak saja membantu kami untuk menjernihkan pandangan atas kabut-kabut sejarah yang menghalangi, tapi juga menyediakan banyak obor penerang agar kami memahami jejak masa lalu, serta bagaimana menyerap hikmah dan pembelajaran untuk masa depan. Tak mungkin ada masa kini, tanpa ada masa lalu. Tak mungkin ada masa depan tanpa ada masa kini.

Di konferensi ini, saya juga tiba pada satu simpulan penting bahwa dinamika orang Buton masa lalu tak beda jauh dengan dinamika Indonesia modern hari ini. Di titik inilah kita harus terus belajar dan menyerap kearifan.


Susanto Zuhdi, Sejarawan Pembawa Intan untuk Orang Buton


Prof Susanto Zuhdi

SEORANG kawan mahasiswa program doktor bidang sejarah Universitas Indonesia (UI) mengirimkan saya undangan untuk menghadiri orasi sejarah dari Profesor Susanto Zuhdi, sejarawan di Universitas Indonesia (UI). Guru besar sejarah yang kini berusia 65 tahun itu itu akan berorasi tentang Buton sebagai kesadaran sejarah.

Saya sangat antusias untuk menghadiri acara ini. Susanto bukan orang lain bagi saya. Selain karena dia adalah salah satu penguji yang membawa saya pada gelar magister di Universitas Indonesia, dia juga menulis kajian tentang Buton saat menyusun disertasinya. Sejauh ini, jika dilihat dari banyaknya sumber serta analisis yang mendalam, kajian yang dilakukan Susanto, saya anggap sebagai studi paling bagus tentang Buton.

Saya teringat pada pengantar buku The Bugis dalam versi bahasa Indonesia yang dibuat Nirwan Ahmad  Arsuka. Buku yang dibuat Christian Pelras itu disebut sebagai salah intan yang amat berharga, yang memperkaya khasanah intan sejarah dan menjernihkan pengetahuan tentang Bugis, yang kadang berkilau membutakan akibat informasi yang tidak memadai.

Saya pun ingin mengatakan kajian sejarah yang dilakukan Profesor Susanto Zuhdi mengenai Buton dalam buku Labu Wana Labu Rope serupa intan yang berkilau. Kajian Susanto telah memberi cahaya terang atas pengetahuan sejarah Buton yang lebih banyak mitos dan kisah-kisah besar. 

Susanto berani keluar dari barisan sejarawan yang hanya fokus pada pulau besar ataupun kota-kota besar. Susanto berani mengkaji Buton sebagai pulau kecil yang selama puluhan tahun terabaikan dalam peta sejarah nasional. Dia menunjukkan dinamika sejarah di pulau kecil, serta perlunya untuk memahami Indonesia dari tepian, dari pulau-pulau terabaikan.

Selama sekian tahun sebelum Susanto menulis, pengetahuan tentang sejarah Buton lebih banyak didominasi prasangka dan penilaian sepihak. Makanya, ada anggapan tentang sejarah yang terlampau dibesar-besarkan serta dipenuhi mitos sana-sini. Di sisi lain, sejarah juga berlumur anggapan yang melihat Buton hanya sebagai pulau kecil di tengah pulau besar sejarah di tanah air.

BACA: Sufi Besar, Tasawuf, dan Naskah di Pulau Buton

Makanya, kajian Susanto menjadi penting. Fakta bahwa dirinya bukan orang Buton bisa menjaga kejernihan pandangannya, sekaligus menjaganya agar tidak melakukan dramatisasi, sebagaimana dilakukan para beberapa orang di Buton. Susanto juga berbekal metodologi sejarah yang ketat. Cara kerjanya sangat ketat dan teliti. Dia akan sangat kritis pada sumber yang digunakannya, demi mencapai apa yang disebut sebagai kebenaran sejarah. 

Dalam kajian sejarah, sekadar klaim keturunan dari si A dan si B bukanlah jaminan akan kebenaran. Sebab kebenaran ditemukan melalui prosedur metodologi yang ketat. Seorang sejarawan mesti membawa timbunan data lapangan, kemudian memilah-milah, lalu menguji data itu dengan data lainnya. Sejarawan yang besar dalam tradisi ilmiah selalu hati-hati dalam memberikan penilaian. Dia memahami subyek kajiannya dengan sangat dekat, tapi dia juga tetap menjaga jarak obyektivitas agar analisisnya tidak bias.

Susanto meletakkan Buton dalam posisi yang proporsional. Dia mengolah arsip-arsip pemerintah kolonial, tapi tetap juga memberi ruang pada naskah dan tradisi lokal di Buton. Dia mengawinkan arsip kolonial dengan naskah beberapa kabanti, syair tradisi lisan di Buton, demi mencapai pemahaman mendalam atas peristiwa yang sedang dibahasnya. 

Baginya, suara dan dinamika orang Buton patut untuk didengarkan. Dia mengingatkan saya pada Clifford Geertz yang mengatakan perlunya memahami sesuatu pada level yang sangat mikro demi membangun pemahaman pada skala makro. Dengan memahami hal kecil secara mendalam, kita bisa merefleksikannya untuk memahami sesuatu yang besar.

Saya tak pernah bosan membaca karyanya yang berjudul Labu Wana Labu Rope yang berkisar tentang Kesultanan Buton pada abad ke-16 dan abad ke-17, periode di mana Buton berada dalam tarik-menarik antara Gowa dan Ternate.  Susanto menjelaskan dengan sangat baik posisi Buton dalam dinamika dua kerajaan besar itu, serta kedatangan Belanda. Buton berada dalam tarik-menarik tiga kekuatan besar ini sehingga kanvas sejarahnya bayak diisi perjumpaan juga konflik.

Namun bukan berarti Buton hanya menyerah dan tunduk pada Belanda. Susanto menunjukkan fakta-fakta sejarah bahwa relasi antara Buton dan Belanda adalah sekutu, tetapi juga seteru. Ada saat di mana mereka berkawan, tetapi ada pula saat ketika konflik memanas sehingga terjadi ajang baku tikam untuk saling bunuh, yang digambarkan dalam kisah Kaheruna Walanda yang dikutipnya dari naskah kolonial dan kabanti. 
Kalaupun ada anggapan bahwa Buton tunduk buta pada Belanda, maka pastilah tak didasari kajian mendalam. Susanto menunjukkan hubungan keduanya yang ambigu dan tak jelas, mana tuan (lord) dan mana taklukan (vassals). Sejarah mencatat betapa seringnya konflik sehingga hubungan keduanya ibarat pasang surut. Bahkan seorang sultan yakni Oputa Yi Koo bertarung sampai titik darah penghabisan sebab menolak damai dengan Belanda. 

Saya menyukai penjelasannya tentang budaya dan struktur sosial yang menyediakan makna dan batasan di sisi lain. Sultan Buton menggunakan tradisi dan ekspresi budaya untuk melegitimasi kepemimpinannya di hadapan rakyat dan kerajaan sekitar. Meski demikian, posisi ini tak selalu baik-baik saja di hadapan para pemimpin kerajaan kuat lainnya, ataupun kolonial Belanda. Yang terjadi adalah masing-masing saling berkontestasi dan saling bersaing demi mendapat akses demi mengamankan jalur perdagangan rempah-rempah internasional.

***

SEPERTI yang telah saya katakan di atas, kajian yang dilakukan Susanto ibarat intan bagi para pengkaji kerajaan maritim, termasuk pemerhati Kesultanan Buton. Seorang kawan bercerita bahwa buku Labu Wana Labu Rope itu akan dicetak ulang dan direvisi beberapa bagian. Saya menyambutnya dengan gembira dan berharap bisa menemukan hal-hal baru yang tak ditemukan dalam buku sebelumnya.



Tentu saja, saya akan hadir di acara ini. Bukan saja karena selalu tertarik pada apa pun mengenai kampung halaman, tetapi juga ingin memberikan apresiasi pada guru besar yang mendedikasikan hidupnya untuk mempersembahkan intan berharga agar generasi Buton tidak lantas kehilangan budayanya. Saya ingin menjabat tangan Prof Susanto sembari mengucap terima kasih atas kajiannya yang berharga.

Biasanya, kebahagiaan para peneliti adalah ketika berhasil mempersembahkan kembali mutiara berharga tentang satu masyarakat yang nyaris lenyap dan terabaikan di tengah dengus napas modernisasi. Pada titik ini, saya menilai Susanto telah mewariskan banyak hal untuk orang Buton.

Terima kasih Prof.



Jenderal Gatot Harusnya Berguru pada La Nyalla


ilustrasi (sumber: inilah.com)

JIKA saja pemilihan presiden (pilpres) ibarat kontes Indonesian Idol, tentunya Jenderal Gatot Nurmantyo amat pantas memasuki babak Spekta. Tapi, apakah dirinya akan melenggang ke grand final, maka tunggu dulu. Dukungan untuknya tidak cukup. Dia mesti bisa meyakinkan partai politik agar mau mengusung dirinya. Jika politik kita masih seperti yang dituduhkan La Nyalla, maka dia juga harus menyiapkan banyak nutrisi untuk menggerakkan semua mesin partai. 

Mampukah dirinya? Apa senjata terakhir yang dimilikinya?

Di atas kertas, politik itu sederhana. Para pemain-pemainnya dengan mudah dideteksi dan dikenali. Yang mengendalikan semua konstelasi partai cuma itu-itu saja kok. Aktornya tak sampai 10 orang. Sederhananya, lihat saja ke mana arah semua pimpinan partai politik. Jika mereka terlanjur pro-pemerintah, maka mereka akan konsisten di situ. Sebab dukungan pada pemerintah tak hanya soal visi dan misi yang seragam, tapi ada banyak negosiasi dan lobi yang serba tertutup dari pantauan publik.

Rasanya tak mungkin jika koalisi pemerintah akan mendukung Gatot Nurmantyo sebagai calon presiden. Mereka pasti ingin tetap mengusung Joko Widodo sebagai calon presiden. Tapi jika Gatot bersedia menurunkan ambisinya, maka jalan ke arah kursi calon wakil presiden terbuka lebar. Dirinya punya latar militer, yang bisa jadi pelengkap posisi Jokowi yang sipil. Dirinya juga dipersepsi amat dekat dengan kelompok Islam, yang belakangan ini semakin menguat.

Nah, jika melihat koalisi sebelah, peluang Gatot lebih terbuka. Hingga kini, koalisi non-pemerintah belum juga mendeklarasikan siapa calon presiden yang akan diusung. Prabowo Subianto terkesan hati-hati, malah agak ragu untuk memasuki arena pilpres ini. Pengalaman tiga kali kalah di arena ini masih membayang-bayanginya. Jika kembali kalah, apa kata dunia? Dia akan mendapat gelar sebagai seumur hidup jadi calon presiden.

Di dunia maya, santer beredar gosip tentang Prabowo yang sedang menimbang ulang. Logikanya, jika ingin maju, mengapa harus mengundur-undur kapan deklarasi? Langsung saja umumkan, sembari menyusun ulang semua strategi, lalu mendatangi kantong-kantong massa. Ada gosip dirinya kehabisan logistik sehingga mulai membuka ruang bagi sosok lain yang bisa memenuhinya. 

Di sinilah, pintu Gatot terbuka. Di media maya, santer gosip tentang penyandang dana di belakang Gatot. Media sekelas Tempo memajang fotonya bersama taipan kaya itu. Jika Gatot masih mengulang retorika Prabowo yang dukung pribumi, lalu anti-asing, maka foto itu bisa saja muncul ke mana-mana. Foto itu akan disebarkan sejumlah orang yang hendak menjegalnya.

Nah, jika dirinya ingin melenggang mulus, tak perlu malu untuk belajar pada La Nyalla Mattalitti. Beberapa waktu lalu, La Nyalla menjadi kandidat terkuat dari partai berlambang burung untuk pilkada Jawa Timur. Dia sesudah melakukan semua prosedur dan tahapan. Konsultan politik telah memoles citra dirinya menjadi sangat Islami. Media-media mulai menyebut dirinya dengan sapaan Pak Haji. Panggilan haji menjadi semacam simbol kesalehan yang diharapkan bisa membuat orang simpati kepadanya. Ke mana-mana ia bersama aliansi pendukung gerakan 212. Dia seolah menjadi corong Islam di arena pilkada. Branding-nya cukup kuat.

Yang tidak dimiliki La Nyalla hanya satu tahap penting yakni eksekusi akhir. Dia tidak mampu memenuhi permintaan petinggi partai. Sebagai pengusaha dengan berbagai bisnis yang tidak terlalu jelas, dirinya ragu-ragu untuk belanja besar demi pencalonannya. Mungkin saja dia berharap akan dibiayai sebagaimana dilihatnya pada kandidat di pilkada DKI Jakarta.

BACA : La Nyalla yang Selalu Menyala

Dia tidak punya kemampuan eksekusi. Dalam keadaan sakit hati karena tak didukung, dia lalu bernyanyi ke sama ke mari. Dia mengadukan praktik politik yang menurutnya memeras. Pertanyaannya, kalau memang sejak awal sudah tahu medan yang dihadapi, mengapa harus berani untuk maju? Mengapa harus sibuk keluarkan komentar negatif jika dirinya sejak awal tahu bahwa seperti inilah arena yang sedang dimasukinya?

Tapi, Jenderal Gatot sepertinya jauh lebih siap dari La Nyalla. Foto bersama taipan sebagaimana dilansir Tempo bisa menjadi bukti akan relasi kuatnya dengan para pemodal. Foto itu menitipkan pesan dirinya yang siap membayar semua mahar dan keinginan partai politik. Partai butuh logistik kuat. Butuh bensin yang bisa menggerakkan semua mesin di ajang pemilihan legislatif. 

Jenderal Gatot juga cukup pandai memainkan proxy war. Beredar gosip kalau dalam beberapa aksi, dia bisa mengendalikan dunia maya demi satu kepentingan politik yang akan menguntungkan dirinya. Dia bisa membaca situasi, memahami media, lalu menggempurnya dengan permainan politik yang bisa terus menaikkan dirinya. Entah benar apa tidak.

Jenderal Gatot tidak akan senasib La Nyalla. Setidaknya untuk saat ini. Entah esok hari. Politik kita selalu punya banyak kejutan. Hari ini, seseorang bisa jadi wali kota, besok-besok bisa jadi presiden. Hari ini, seorang yang mempersiapkan diri bertahun-tahun untuk jadi presiden, besok-besok bisa gagal masuk sirkuit karena tak punya bensin yang cukup untuk melaju kencang.

Kita lihat nanti.

Kampung Afrika di Tanah Abang


orang Afrika di Tanah Abang

SERING kita merasa diri sebagai anak bangsa yang merasa hanya bisa mengimpor sesuatu. Padahal jika kita menyempatkan waktu untuk jalan-jalan ke kawasan Tanah Abang, kita akan melihat betapa banyaknya orang Afrika yang datang belanja, lalu mengirimkan berbagai barang ke negerinya. 

Bagaimanakah kisah kedatangan orang Afrika yang meramaikan Jakarta? Beberapa tahun silam, saya melakukan pengamatan etnografis di dua lokasi yang selalu menjadi tempat kumpul warga Afrika di Jakarta, yakni Jalan Jaksa dan Tanah Abang. Setelah beberapa tahun berlalu, pengamatan itu perlu ditinjau ulang. Jalan Jaksa sudah tidak lagi ditempati. Namun, Tanah Abang tetap menjadi favorit warga Afrika.

Sekian lama catatan itu masih tersimpan di laptop saya. Sebelum catatan itu benar-benar hilang dari laptop, saya memilih untuk membagikannya di blog ini. Jika ada yang tertarik untuk melanjutkan pengamatan, saya persilakan untuk menelusuri beberapa informasi yang ada di sini.

Silakan menyimak.

***

JAUH sebelum kawasan Petamburan di Tanah Abang menjadi ”perkampungan Afrika”, sejak masa kolonialisme Belanda, pemukiman Jakarta telah ditata berdasarkan suku bangsa. Bahkan, hingga akhir tahun 1970-an, masih bisa ditemukan perkampungan seperti kampung Bali, kampung Makassar, kampung Melayu, ataupun kampung Ambon. 

Meskipun kawasan tersebut tidak lagi didiami suku bangsa tersebut, namun jejak-jejak keberadaan mereka masih bisa dilihat dengan penamaan jalan serta nama perkampungan. Kini, di kota ini, ada banyak tempat yang diidentifikasi sebagai tempat bermukimnya warga internasional. 

Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, dikenal sebagai kampungnya orang berkulit putih (bule), yang sebelumnya banyak berdiam di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Ada pula bule yang memilih tinggal di kawasan Kebayoran Baru, pada kawasan yang tak jauh dari kota, seperti Jalan Prapanca dan sekitarnya, serta sekitar Jalan Senopati. 

Namun, kawasan Kemang seakan menjadi pilihan favorit dari orang-orang bule tersebut. Kalau awalnya hanya beberapa rumah besar dengan halaman luas saja yang dikontrak oleh orang asing, sekitar tahun 1980-an rumah yang tak terlalu besar pun menarik minat mereka. 

Kawasan bule di Kemang, tidak merepresentasikan negara tertentu, namun lebih merepresentasikan benua Eropa serta ras berkulit putih. Setidaknya, di kawasan ini, tak ada pengamatan akan hadirnya orang Afrika. Padahal, di kawasan ini terdapat begitu banyak tempat yang menjadi tempat mangkal favorit warga asing. 

Berdasarkan catatan Kompas, di Kemang setidaknya ada 87 tempat mangkal orang bule, baik yang berupa kafe, restoran, klub, dan sejenisnya. Ini belum termasuk toko pernak pernik yang disukai orang bule, mulai dari toko buku, pakaian, kain tenun, sampai mebel rotan dan kayu yang antik. Di Kemang juga berlokasi beberapa sekolah yang ditujukan bagi komunitas bule, seperti sekolah internasional New Zealand, dengan kurikulum seperti yang ada di Eropa, dan bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris. 

Terkhusus restoran di Kemang, tersedia jenis masakan yang berbeda, ada rasa Korea, Perancis, Brasil, Belanda, dan Jepang. Salsa Club misalnya, menyediakan masakan rasa Italia. Meski begitu, tamu-tamunya tak terbatas hanya mereka yang berasal dari Italia saja. Bahkan, ada restoran yang menyediakan menu blasteran, seperti "Belancis" singkatan dari Belanda dan Perancis. Interaksi sesama warga bule ini tidak hanya terjadi di kafe atau restoran, namun juga terjadi di pasar swalayan, yang menyediakan seluruh kebutuhan mereka. 

Munculnya Toko Swalayan Kem Chick yang menyediakan kebutuhan sehari-hari mereka, semakin menegaskan tumbuhnya Kemang sebagai "kampung bule". Kalau sebelumnya mereka hanya tinggal di kawasan itu, kini nyaris semua kebutuhan mereka pun bisa dipenuhi oleh tempat usaha yang juga berlokasi di Kemang. 

Tak cuma orang asing berkulit putih dan hitam saja yang punya kampung di Jakarta. Orang Korea belakangan ini juga punya kampung di kawasan Jalan Senayan, Jalan Birah, Jalan Suryo, Jalan Wijaya, Jalan Wolter Monginsidi, dan sekitarnya. Menurut informasi warga sekitar, awal munculnya predikat ”Kampung Korea” itu, bermula dari didirikannya restoran bernama Mu Gung Hwa yang menjajakan makanan Korea. 

Hanya dalam waktu 10 tahun, berdiri berbagai salon, toko, butik, restoran, sampai perpustakaan dan tempat kursus bahasa Korea. Bahkan pasar tradisional, Pasar Santa, yang biasanya hanya didatangi warga setempat, sejak sekitar akhir tahun 1980-an menjadi tempat favorit warga Korea untuk membeli buah-buahan. Menurut seorang warga, kadang-kadang penjual dan pembeli tidak saling mengerti bahsa masing-masing, namun transaksi bisa tetap berlangsung.

Tak kalah dengan warga Korea, warga Jepang juga membentuk komunitas sendiri. Mereka membangun banyak tempat hiburan serta toko yang bernuansa Jepang di kawasan Blok M, yang letaknya tepat di depan Blok M Plaza. Di situ, terdapat berbagai jenis tempat hiburan ala Jepang, mulai dari pijat hingga restoran bergaya Jepang, yang gadis pelayannya mengenakan kimono. 

Di lihat dari luar, restoran-restoran itu sangat kental dengan nuansa Jepang, mulai dari bentuk bangunan hingga pakaian kimono yang dikenakan pelayannya. Belakangan, dari kawasan Jepang di Blok M ini, telah lahir pula sebuah media komunikasi berbahasa Jepang yang diterbitkan dengan edisi terbatas dan ditujukan untuk mempererat komunikasi warga Jepang serta menjadi medium yang menuntaskan kerinduan mereka akan negerinya.

***

MESKI lokasi ”kampung internasional” di Jakarta cukup beragam, saya tertarik untuk mengamati warga Afrika di Jalan Jaksa dan Petamburan. Kedua tempat ini sangat menarik sebab interaksi antara warga asing dan warga sekitar berjalan dengan alamiah. Warga ”kampung internasional” yang banyak dipaparkan di atas, cenderung agak eksklusif dan tidak banyak terlibat kontak dengan masyarakat sekitar. 

Warga asing di beberapa kawasan tersebut adalah mereka yang bekerja pada berbagai perusahaan bonafid ataupun kantor kedutaan, sehingga mereka sibuk dengan dunianya sendiri sehingga tidak terlalu bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Apalagi, kompleks tempat mereka tinggal, biasanya dipagari dengan pagar tinggi serta dijaga sejumlah petugas keamanan. 

Namun, hal yang berbeda akan ditemukan di Petamburan dan Jalan Jaksa. Pada dua jalan ini, warga asing justru melebur dengan masyarakat sekitar. Antara warga asing dan warga lokal terbangun sebuah ikatan yang sangat kuat sebab warga asing itu tinggal di rumah warga dan diperlakukan sebagaimana layaknya anggota keluarga lainnya. 

Apalagi, warga asing itu tidak pernah mempersoalkan pelayanan tuan rumah yang tidak seperti pelayanan di hotel sebab sudah dianggap sebagai keluarga. Di sini, terbentuk integrasi serta kesatuan pandangan, meski berasal dari negara serta konteks sosial yang berbeda.

Terkhusus Jalan Jaksa, jalan ini sudah lama dikenal oleh berbagai turis asing yang oleh warga sekitar disebut ”bule kere” atau ”turis sandal jepit”. Sebutan ini agak keliru juga sebab warga asing yang ada di jalan itu, kebanyakan hendak mencari suasana yang santai serta membaur dengan warga sekitar. Mereka memilih tinggal dan menyewa rumah warga ketimbang harus tinggal di hotel berbintang. 

Hal yang menakjubkan di sini adalah semua bule serta warga Afrika dari berbagai negara itu bisa membaur dan sama-sama bergerombol di berbagai kafe, tanpa pernah terjadi konflik. Meskipun terkadang tidak saling memahami bahasa masing-masing, namun interaksi bisa berjalan lancar. 

Tak hanya interaksi dengan sesama warga asing yang terbangun dengan baik di sini. Interaksi dengan masyarakat sekitar juga berjalan dengan baik, tanpa memandang unsur etnik maupun strata sosial. Hingga kini, belum pernah ada catatan konflik antara warga dengan turis. Mereka justru saling mengisi satu sama lain. 

Hal ini terlihat saat perayaan HUT Kemerdekaan Indonesia di bulan Agustus setiap tahunnya. Warga yang bertindak sebagai pelaksana kegiatan, selalu mengajak turis yang sedang menginap untuk ikut dalam acara perayaan tersebut. Dan para turis pun menikmatinya, sehingga muncul kesan seolah-olah sedang berada di negerinya sendiri.

Letak Jalan Jaksa sangat strategis di Jakarta, sebagai jalan tembus dari Jalan Kebon Sirih ke Wahid Hasyim. Dari sini, bisa dicapai sejumlah obyek wisata seperti Museum Nasional dan Tugu Monas. Pamor jalan ini mendunia sejak Pemerintah DKI Jakarta menjadikan jalan ini sebagai aset pariwisata serta dimuat dalam berbagai panduan wisata di luar negeri. 

Nama jalan ini diambil dari banyaknya murid Rechts Hogeschool, semacam sekolah hukum di masa Hindia Belanda, yang tinggal di kawasan ini. Saat itu, mahasiswa hukum tersebut kebanyakan bekerja sebagai jaksa di pengadilan sehingga kawasan ini lalu dikenal sebagai Jalan Jaksa.

Nama Jalan Jaksa sebagai tempat warga asing mulai mencuat sejak tahun 1960-an. Adalah seorang pria bernama Lawalata yang telah tiga kali keliling dunia, pertama kali membuka penginapan di kawasan ini pada masa pensiunnya. Ia orang yang pertama menginap di Jalan Jaksa dan menempati rumah warga sebagai hotel. Awalnya warga merasa keberatan lantaran tidak bisa menyediakan fasilitas layaknya sebuah hotel berbintang. Tetapi, Lawalata tidak masalah. Ia hanya membutuhkan tempat menginap untuk tidur dan menaruh barang miliknya.

Saat waktu kunjungannya selesai, ia terkesan dengan keramahtamahan warga dan biaya hidup yang cukup murah. Lawalata pun kemudian menginformasikan tentang Jalan Jaksa di kalangan turis asing yang bepergian ke Indonesia tanpa terikat dengan biro perjalanan. Jalan ini menjadi tujuan setiap kali para turis berjiwa pengembara itu singgah di Jakarta. Uniknya, informasi tersebut pertama kali berlangsung dari mulut ke mulut, terutama dari mereka yang telah mengunjunginya dan kembali ke negara asal.

Panjang jalan ini hanya sekitar hanya 2 atau 3 kilometer saja. Masih kalah besar dan panjang dengan Jalan Wahid Hasyim di sebelah selatannya atau Jalan Kebon Sirih di ujung barat. Lantas apa yang membuatnya menarik di kalangan turis? Sebab di sepanjang jalan akan banyak ditemui bar, restoran, rumah makan, cafe dan beberapa penginapan dari tingkat losmen sampai hotel. Kebanyakan dibuka dengan standar barat, yaitu ada minuman beralkohol, karaoke, hiburan musik serta makanan bercita rasa lidah turis.

***

SAYA juga sering berkunjung ke perkampungan warga Afrika di Petamburan, Jakarta, atau lazim dikenal sebagai kawasan Tanah Abang. Di kawasan ini terdapat Pusat Grosir Tanah Abang, yang disebut-sebut sebagai sentra perdagangan terbesar di Asia Tenggara. Tidak jauh dari pusat grosir itu, terletak kawasan Petamburan, yang sering disebut sebagai ”Kampung Afrika” atau ”Kampung Negro.” Saat melintas di Jl KS Tubun di Petamburan, hampir setiap saat selalu ada pemandangan warga Afrika yang melintas di jalan itu dan hendak menuju Tanah Abang. 

Sampai-sampai, di kalangan tukang ojek yang kerap mangkal di Tanah Abang, Jalan KS Tubun kerap diplesetkan menjadi ”Jalan Nigeria.” Selain itu, Hotel Petamburan yang terletak di ujung Jl KS Tubun, sekitar 500 meter dari Pasar Tanahabang, kelihatan seperti hotel di kota-kota besar Afrika, baik Lagos, Luanda, atau Kinsasha. Pagi, siang, hingga menjelang tengah malam, laki-laki dan perempuan berkulit hitam tampak di mana-mana. Suasana yang sama juga tampak di sejumlah hotel lain di sekitarnya seperti Petamburan II, Harlan, dan Alamanda.

Menurut seorang informan yang juga pedagang di Tanah Abang yaitu Rakhmat Said, warga Afrika yang ada di situ, kebanyakan adalah pedagang yang membanjiri Indonesia sejak terjadi krisis moneter tahun 1997 lalu. Berikut penuturannya:

”Yang saya tahu, mereka datang ke sini saat terjadi krisis moneter. Mereka kebanyakan berasal dari Nigeria. Mereka itu membeli apa saja di sini, mulai dari indomie, rokok, sampai risleting, mata kancing, tegel, kaset kosong, ban mobil dan motor, odol, tas anyaman, sabun colek, obat-obatan, pokoknya banyak sekali. Apa saja bisa mereka beli dan bawa ke Amerika. Namun, kebanyakan mereka beli garmen dan jual lagi di negaranya,...”

Rakhmat sudah berbisnis di Tanah Abang sejak 10 tahun lalu. Ia cukup paham apa yang dibutuhkan warga Afrika hingga ia melengkapi toko kecilnya dengan berbagai barang yang diperkirakannya akan diborong oleh warga Afrika. 

Bahkan, pria asal Makassar ini menyewakan sejumlah ruangan di rumahnya yang terletak di Kebon Kacang untuk menjadi tempat kos bagi warga Afrika yang datang ke situ. Baginya, ini adalah peluang yang menjanjikan untuk menambah pundi-pundi keuangan keluarganya. 

”Awalnya, saya merasa agak aneh kalo liat orang Afrika di jalan-jalan. Malah, waktu itu, banyak anak-anak yang suka memperhatikan mereka. Tapi sekarang justru tidak lagi. Warga di sini mulai terbiasa dengan mereka. Malah, banyak warga yang mengontrakkan rumahnya biar bisa dapat penghasilan tambahan. Lumayan khan...”

Datangnya pedagang Afrika itu dilihat sebagai peluang bisnis sebab pedagang tersebut datang membawa banyak uang dollar untuk dibelanjakan. Mereka cukup royal saat berbelanja, meskipun penampilan mereka cukup bersahaja. Bagi Rakhmat, banjirnya pedagang Afrika ini, membuat Pasar Tanah Abang dikenal luas di dunia internasional.

Pernyataan Rakhmat diamini informan lainnya yaitu warga Afrika asal Nigeria bernama Muhammad Sissoko. Peneliti menemui Sissoko saat hendak memasuki Gedung Asia-Afrika Trade Center (ATC) yang menjadi salah satu pusat perhimpunan pedagang Afrika yang ada di Petamburan, Tanah Abang. 

Sissoko datang ke Indonesia sejak tahun 2003 lalu dan mulai berbisnis garmen sejak saat itu. Ia tertarik dengan Tanahabang karena barang-barang di situ dianggapnya sangat murah jika dibandingkan dengan harga barang yang ada di negara lain seperti Thailand, Hongkong, atau Taiwan. 

”Tanah Abang adalah tempat favorit kami pedagang Nigeria. Demikian pula dengan pedagang dari Guyana, Lagos, Pantai Gading, Kamerun, Mali, Angola, Somalia, dan Ethiopia. Di sini, semua barang-barang berkualitas bagus, sangat murah dan mudah didapatkan. Dibandingkan dengan barang yang ada di Taiwan atau Hongkong, di sini masih lebih murah dan kualitasnya bagus,”

Menurut Sissoko, ia bisa mengirim 100 peti kemas berisikan garmen ke negaranya setiap bulan. Jika satu peti kemas bisa diisi dengan 10-11 ton garmen, maka nilainya adalah 250.000 dollar AS. Sementara nilai satu peti kemas tegel sebesar 3.000 dollar AS, dan obat-obatan 100.000-150.000 dollar AS. Tak hanya Sissoko, ratusan pedagang Afrika lainnya juga membanjiri kawasan ini dan berkontribusi pada volume transaksi yang mencapai triliunan rupiah per bulan. Hadirnya pedagang Afrika itu menjadi agen globalisasi yang memiliki andil pada membanjirnya produk Indonesia ke dunia internasional. 

Sejarah Petamburan (Tanah Abang) seakan tak lepas dengan fenomena globalisasi ini berupa aktor-aktor yang beragam dan berasal dari berbagai tempat. Sejarahnya bermula sejak tahun 1648, saat Kapiten Cina, Phoa Bing Ham, membuat terusan (kanal) dengan menyedot kali Ciliwung yang kini dikenal dengan kanal Molenvliet (Jl Hayam Wuruk/ Gajah Mada). Ia lalu menggali terusan sampai ke ujung Kebon Sirih, kini menjadi got besar di sepanjang Tanah Abang Timur (Jl Abdul Muis) hingga ke Kali Krukut. 

Kanal yang digali Phoa Bing Ham ini berguna sekali untuk memperlancar angkutan hasil hutan dan mempercepat perkembangan kota ke selatan. Berkat karya Phoa Bing Ham inilah, Justinus Vinks, anggota Dewan Hindia Belanda --yang dikenal sebagai pria kaya raya—membangun pasar Tanah Abang. Bersamaan dengan Tanah Abang, petinggi VOC ini juga membangun Pasar Senen dan diresmikan bersama-sama pada 30 Agustus 1735.

Sebelum Phoa Bing Ham membangun jaringan transportasi sungai (1648), 20 tahun sebelumnya (1628), tempat ini dijadikan salah satu basis pasukan Mataram ketika hendak menyerbu ke Batavia (Pasar Ikan). Konon, nama Tanah Abang berasal dari sebutan laskar Mataram. Karena tanah tempat mereka menghimpun kekuatan itu warnanya merah, mereka pun menyebut 'tanah abang'. Abang dalam bahasa Jawa berarti merah. 

Maka sejak itu, kawasan ini disebut Tanah Abang. Ketika laskar Mataram menjadikan Tanah Abang sebagai salah satu basisnya, kala itu masih merupakan daerah perbukitan yang kini kita kenal dengan Tanah Abang Bukit.

Pada awalnya, pasar yang dibangun oleh Justinus Vinks bentuknya sangat sederhana. Beratap rumbia dan berdinding gedek. Bahkan sampai awal 1970-an kesederhanaannya masih tampak. Dahulu, di depan pasar ini terdapat toko-toko milik Tionghoa dengan arsitektur Cina, terutama di bagian atapnya. 

Sementara para pedagang Betawi banyak berjualan sate kambing, sop, gulai, dan nasi uduk. Di tempat parkir sekarang ini, dulunya terdapat tukang kue putu yang kesohor di seluruh Jakarta. Karena di Tanah Abang banyak terdapat pemakaman, para peziarah sebelumnya membeli bunga yang banyak terdapat di depan pasar sekarang ini.

***

SEBAGIAN warga Afrika yang berada di Petamburan, masih mempertahankan identitasnya sebagai bangsa Afrika. Itu bisa dilihat dari banyaknya warga Afrika yang suka mengenakan baju Kaftan, baju khas Afrika berupa kain baju kain panjang seperti jubah. Sementara wanitanya juga mengenakan Kaftan, namun rambutnya juga ditutupi dengan kain dengan warna yang sama dengan bajunya. Menurut Sissoko, meskipun orang Afrika merantau hingga ke ujung dunia, namun mereka selalu membawa Kaftan. Pakaian ini selalu ada dalam tas mereka, meskipun mereka tidak terlalu sering menggunakannya.

Menurut Sissoko, pakaian ini adalah kebanggaan mereka dan selalu digunakan pada saat ke masjid serta moment tertentu. Berdasarkan pengamatan pada Masjid Jami Al Munawarah yang terletak di depan gedung African Trade Center (ATC), terlihat banyak orang Afrika yang mengenakan baju Kaftan ini. Demikian pula perempuannya, mereka tetap mempertahankan pakaian tradisional yang dikenakannya di negara asalnya.

”Kami merasa bangga jika mengenakan pakaian itu. Kamu bisa lihat di mana saja orang Afrika merantau, pasti mereka akan selalu membawa Kaftan. Baju ini adalah simbol identitas dan kami saling kenal melalui baju ini. Kalau kamu ke Inggris, Perancis, maka jangan kaget kalau lihat orang Afrika suka pakai baju seperti ini,”

Di kawasan Petamburan, banyak yang mengenakan baju seperti ini, namun baju serupa tidak banyak ditemukan di Jalan Jaksa. Pakaian yang dikenakan warga Afrika di Jalan Jaksa, adalah pakaian modern, sebagaimana layaknya orang Eropa lainnya. Namun di salah satu kafe favorit warga Afrika di Jalan Jaksa, terlihat beberapa pemuda Afrika berdandan ala Bob Marley, yaitu rambut gimbal, baju hitam, ikat kepala berwarna merah, hijau, dan kuning, serta celana jeans ketat. Berdasarkan pengamatan, di sepanjang Jalan Jaksa, hanya ada tiga tempat yang selalu dipadati warga Afrika. 

Kafe itu adalah Alis Bar and Restaurant, yang selalu memperdengarkan musik khas Afrika, Cafe Absolute, dan Cafe Memories. Hampir setiap malam, warga Afrika selalu nongkrong di kafe ini sembari mendengarkan musik. Berdasarkan pengamatan di tiga kafe tersebut, nampaknya warga Afrika yang setiap malam di situ adalah mereka yang berusia 20-40 tahun. 

Umumnya, mereka mengenakan pakaian sebagaimana pengunjung kafe lainnya serta selalu bergerombol. Menurut seorang bartender di kafe itu, biasanya warga Afrika suka memesan minuman keras, namun mereka tidak sampai mabuk-mabukan. Mereka menjadikan kafe itu hanya sebagai ajang untuk bertemu dengan banyak rekannya yang lain.

Menurut Sissoko, ada perbedaan antara warga Afrika di Petamburan dan di Jalan Jaksa. Kalau di Jalan Jaksa, biasanya dipadati orang Afrika yang suka mengambur-hamburkan uang serta berbisnis ilegal. Sedangkan di Petamburan, biasanya dipenuhi warga Afrika yang niatnya hanya untuk berdagang garmen semata. Makanya, jika diamati, ada perbedaan gaya serta watak di dua tempat tersebut.

”Orang Afrika yang tinggal di Petamburan biasanya masih agak tradisional dan rajin ke masjid. Sementara yang di Jalan Jaksa, sudah terpengaruh dengan gaya Eropa. Makanya, mereka selalu boros dan kadang-kadang berbisnis yang ilegal. Saya kira, orang Afrika sama saja dengan orang Indonesia, ada yang baik, ada pula yang jahat,”  

Perbedaan watak ini menentukan perbedaan cara melihat persoalan. Jika warga Afrika Petamburan masih sangat rajin ke masjid dan memiliki orientasi religius yang kuat, maka warga Afrika di Jalan Jaksa justru lebih banyak yang mengonsumsi narkoba dan minuman keras. Orientasi religius yang kuat ini menyebabkan interaksi dengan warga sekitar juga menjadi sangat kuat. Meskipun memiliki bentuk fisik yang berbeda, namun karena memiliki agama yang sama serta berinteraksi di masjid, melahirkan adanya interaksi yang cukup intens antara warga sekitar dan warga Afrika. Informan Rakhmat menuturkan.

“Awalnya, saya termasuk yang suka curiga dengan warga Afrika. Namun setelah selalu bertemu di masjid, saya mulai menghilangkan kecurigaan tersebut. Ternyata kita sama-sama Islam, artinya bersaudara. Makanya, kalau ada kegiatan di masjid ini, pasti akan melibatkan mereka. Mereka akan kita undang untuk berpartisipasi. Mereka selalu memberikan sumbangan sehingga warga sini tidak pernah curiga kalau melihat mereka”

Pertemuan di masjid itu, membuat interaksi warga sekitar dengan warga Afrika menjadi lancar. Artinya, kesamaan ideologis serta strata sosial telah mempertautkan hubungan antara warga Petamburan dengan warga Afrika tersebut. Meskipun, ada warga Afrika yang baru datang, maka mereka tidak sukar diterima warga sekitar karena memiliki strata sosial yang sama serta menganut agama Islam. Ini yang mempercepat proses diterimanya warga Afrika dengan warga sekitarnya.

Hal lain yang membuat warga Afrika diterima sebagai bagian masyarakat adalah adanya perkawinan dengan warga sekitar. Ini yang menyebabkan beberapa warga Afrika sudah tidak mau kembali ke negaranya sebab merasa sudah memiliki keluarga di Indonesia. Menurut informan, perkawinan ini kerap membawa motif tertentu dan menguntungkan kedua belah pihak bagi warga Afrika maupun warga Indonesia. Dalam persepsi warga Indonesia, pernikahan itu akan menjadi cara yang ampuh baginya untuk keluar dari rantai kemiskinan. 

Fakta yang muncul dalam beberapa kali pernikahan campur di Petamburan adalah wanita Indonesia yang dinikahi selalu berasal dari strata keluarga menengah ke bawah. Sementara bagi warga Afrika sendiri, pernikahan itu akan menjadi jalan licin baginya untuk mendapatkan kewarganegaraan Indonesia serta pindah ke Australia dan berharap agar kehidupannya lebih sejahtera di negeri kanguru tersebut. Menurut informan, belakangan ini Australia banyak menolak warga Afrika yang masuk wilayah itu sebab dikhawatirkan akan melakukan kegiatan kriminal di sana. Namun dengan cara menikahi wanita Indonesia, maka mereka akan mudah memasuki wilayah Australia.

Berbagai strategi mulai dari kegiatan kultural di masjid hingga pernikahan itu membuat warga Afrika diterima sebagai bagian dari warga Petamburan. Informan Rakhmat menuturkan, dulu jika ada orang hitam tinggi besar lewat, menjadi tontonan tersendiri bagi mereka, terutama anak-anak. Kini kehadiran mereka malah menjadi peluang. 

Selain ada yang menyulap warungnya menjadi "toko" keperluan tamu hitam, banyak juga yang menjadikan rumahnya sebagai "hotel murah" atau kos-kosan tempat tinggal orang Afrika. Walaupun umumnya pedagang-pedagang berkulit hitam itu menginap di hotel-hotel sederhana seputar Tanah Abang, rumah penduduk tetap menjadi pilihan mereka. Menurut Rakhmat, rekan-rekan bisnisnya umumnya sangat perhitungan mengenai pengeluaran uang. 

Rakhmat juga mengatakan, di RW 02 Petamburan, sedikitnya ada delapan rumah warga yang disewa orang Afrika, tiga di antaranya dijadikan gudang. Namun ia tidak tahu berapa warga Afrika yang tinggal di sana. "Kami tidak pernah diberitahu pemilik rumah. Tahu-tahu rumah itu sudah ditempati orang negro," kata pria asal Makassar ini. 

Yang menarik untuk dilihat adalah identitas Afrika. Menurut penuturan Sissoko, warga Afrika memiliki kesadaran akan identitas sebagai bangsa Afrika. Pada saat mereka berada di negeri lain, maka saat itu terbentuk solidaritas serta relasi yang melintasi batasan-batasan negara Afrika. Tiba-tiba saja, mereka melihat dirinya sebagai satu kesatuan yang saling bekerja sama sebab memiliki warna kulit dan ras yang sama. Identitas Afrika ini agak berbeda dengan identitas dari beberapa negara lain seperti negara yang ada di benua Eropa. 

Meskipun sudah ada integrasi kawasan pada Uni Eropa, namun tetap saja identitas yang terbangun adalah identitas negara. Apalagi, latar sejarah sesama negara Eropa ini berbeda-beda serta pernah saling serang di masa lalu. Identitas Afrika ini dimunculkan terus di Indonesia, sehingga menghilangkan semua batas negara demi melancarkan kepentingan bisnis masing-masing.

Tak hanya pakaian, identitas lain yang terus dimunculkan adalah berbagai rumah makan yang menyajikan makanan dari negerinya. Siapapun yang melintas di sepanjang Jl KS Tubun, akan mudah ditemukan begitu banyak restoran yang menyajikan menu khas Afrika. Melalui restoran ini, terjadi kontak serta dialog dengan sesama warga Afrika. Yang menarik adalah beberapa restoran ternyata juga menjadi favorit dari warga lokal, misalnya sate afrika yang terletak di dekat Museum Tekstil. Pengunjung restoran ini tidak hanya warga Afrika saja, melainkan seluruh warga di sekitar jalan tersebut.

***

Sissoko juga beberapa kali mengeluhkan persepsi banyak orang Indonesia yang selalu memandang semua orang Afrika adalah Nigeria. Padahal, katanya, Nigeria hanyalah satu dari sejumlah negara Afrika yang warganya datang ke Indonesia. Ada pula negara lainnya seperti Aljazair, Mali, Somalia, Senegal, hingga Kamerun. Meskipun mereka berasal dari berbagai negara, namun memiliki kepentingan yang sama yaitu bisnis. Ia juga mengeluhkan anggapan bahwa warga Afrika identik dengan narkoba dan obat bius.

“Saya merasa sedih karena warga Nigeria selalu dikaitkan dengan kegiatan kriminal, perdagangan obat bius dan dolar palsu, tanpa dicek terlebih dahulu. Saya mengakui kalau ada juga warga Afrika yang seperti itu, namun itu Cuma sedikit saja. Sama juga dengan orang Indonesia, ada yang baik, ada pula yang jahat. Mungkin, anggapan ini muncul karena Nigeria adalah negara yang terbesar jumlah penduduknya yaitu 120 juta orang dan wilayahnya terpopuler di Afrika Barat. .Di London saja, ada 2 juta warga Nigeria yang berbisnis. Di manapun di dunia ini, jika anda bertemu lima orang hitam, maka dua di antaranya pasti warga Nigeria,” 

Sissoko mengakui, di antara pedagang, terdapat sejumlah orang yang membonceng situasi "menyenangkan" itu. Seperti rekannya, mereka juga menampilkan diri sebagai pedagang. Hanya saja, pekerjaan itu hanyalah sebagai kamuflase. Karena tujuan utamanya ke Jakarta hanyalah bisnis narkotika. Lalu, satu-dua kasus narkotika yang melibatkan transaksi narkotika mulai diungkap polisi. Reaksi warga dan orang-orang Afrika itu sendiri belum berubah. 

Warga Afrika dan warga Tanah Abang masih berpikir, itu hanyalah kasus dan orang pasti bisa memilah antah dari beras. Maka, iklim belum berubah. Pasar Tanah Abang tetap ramai dikunjungi orang-orang benua Afrika. Restoran-restoran tetap padat. Taksi, ojek dan buruh-buruh angkut tetap bergairah melayani orang-orang itu. 

Di tahun 2000, sempat terjadi peristiwa besar ketika sebanyak 10 warga Afrika tewas dalam baku tembak dengan polisi ketika mereka digerebek sebagai tersangka pengedar narkotika. Sejak itu, sikap sebagian besar warga Tanah Abang telah berubah dalam menghadapi warga Afrika. Di tahun 2003, peristiwa besar juga terjadi ketika puluhan warga Afrika penghuni Hotel Fokus di samping Pasar Tanah Abang, digelandang aparat karena diindikasikan berdagang obat bius. 

Peristiwa ini menimbulkan traumatik bagi warga sekitar sehingga sempat memandang curiga dengan warga Afrika. Sejumlah hotel langsung mengumumkan tidak menerima mereka menginap. Ini adalah masa-masa yang berat bagi mereka sebab harus memulai kembali interaksi dari nol. Mereka harus rela dipandang dengan penuh kecurigaan oleh warga sekitar. Namun, masa ini sudah terlewati.
    
***

TAK hanya mengembalikan suasana seperti di negaranya dalam bentuk pakaian, sikap, serta kuliner, warga Afrika juga membawa sejumlah nilai-nilai baru untuk dikembangkan, termasuk strategi penyelesaian konflik. Menurut Sissoko, warga Mali memiliki sesepuh tersendiri sehingga kelak jika ada masalah, maka sang sesepuh yang akan terlebih dahulu menanganinya. Masalah itu bermacam-macam, khususnya konflik dengan warga sekitar. 

Terpilihnya seseorang sebagai sesepuh, tidak melalui mekanisme yang demokratis, namun dipilih berdasarkan aklamasi. Warga Mali melihat siapa warga yang paling senior serta paling kharismatis dan cerdas, sehingga dianggap bisa membantu menyelesaikan persoalan yang bisa jadi akan mendera mereka. 

Peran sesepuh ini sangatlah besar sebab akan terlibat dalam penyelesaian konflik yang terjadi baik di antara sesama warga komunitasnya, maupun antara warga komunitasnya dengan komunitas luar. Sebagai seorang senior, sesepuh lebih dulu datang ke Jakarta serta memiliki relasi atau jaringan yang kuat baik dengan pedagang lainnya ataupun dengan pihak pemerintah.

Menurut Sissoko, ketika ada konflik, maka pihaknya lebih suka penyelesaian melalui sesepuh ketimbang harus berurusan dengan kepolisian. Menurutnya, cara penyelesaian ini lebih efektif karena seorang sesepuh dikenal memiliki jaringan yang sangat luas sehingga menimbulkan ketergantungan di kalangan warga Afrika yang baru datang. Seorang sesepuh memiliki otoritas serta jaringan yang kuat. Ketika seorang warga komunitas itu tidak mau mengindahkan sesepuh, maka ia akan kesulitan dalam berdagang. Aksesnya bisa tertutup sebab tidak mengindahkan aturan tidak tertulis yang dibuat seorang sesepuh. 

Dalam konteks ini, seorang sesepuh berperan sebagai aktor yang berusaha “menjaga” nilai-nilai dan memediasi setiap konflik yang terjadi. Sejauh ini, konflik yang ada hanya berkisar pada konflik di kalangan warga Afrika sendiri untuk hal-hal seperti rebutan pengiriman barang, kontrak dengan ekspedisi, atau kuota pembelian barang. Biasanya, seseorang sesepuh akan memberikan masukan yang kemudian diterima sebagai sebuah keputusan oleh warga komunitas lainnya. 

Dalam studi sosiologi, Van Eldijk (1987) mempergunakan istilah “tawar-menawar isu” (issue bargining) untuk menunjukkan bahwa pihak-pihak yang bersengketa dan lembaga-lembaga dalam suatu pengelolaan konflik merundingkan suatu tema atau isu untu diputuskan. Perundingan ini berjalan dalam suatu “arena”, sebuah istilah yang sedikit berbeda dengan istilah “forum.”

***

SEUSAI melakukan observasi di Tanah Abang, saya mencatat beberapa hal penting terkait temuan lapangan.

Pertama, setiap komunitas Afrika yang memasuki suatu negara, akan memperkuat relasi berbasis modal sosial, membawa nilai-nilai lokalnya dan berusaha untuk mempertahankan nilai itu di tempat baru. Nilai-nilai itu didefinisikan sebagai kebudayaan yang mencakup kebiasaan-kebiasaan, hukum,  atau tradisi yang hidup di masyarakat serta menjadi panduan dalam melihat satu masalah. 

Setiap kebudayaan memiliki kecenderungan untuk mempertahankan dirinya ketika berhadapan dengan kebudayaan dominan sehingga memungkinkan terjadinya proses tarik-menarik, apakah mengikuti kebudayaan dominan ataukah tetap berada dalam bingkai kebudayaannya sendiri.

Kedua, perjumpaan kebudayaan Afrika dengan kebudayaan lainnya, membuat kebudayaan Afrika akan terus berkembang, sehingga dimungkinkan lahirnya sebuah proses akulturasi atau lahirnya kebudayaan baru. Kebudayaan ini bersifat hybrid dan senantiasa berada dalam proses dinamis yang terbentuk secara terus-menerus. Kebudayaan Afrika yang ada di Kota Jakarta, jelas memiliki ”bentuk” yang berbeda dengan kebudayaan Afrika di negeri asalnya. Interaksi ini ”bekerja” secara timbal balik sebab juga kian memperkaya kebudayaan masyarakat Jalan Jaksa dan Petamburan.

Ketiga, heterogenitas dan keragaman etnik orang Afrika bisa terabaikan saat di perantauan sebab masing-masing dilihat dirinya punya bentuk fisik yang sama. Pengamatan pada komunitas Afrika yang ada di dua lokasi tersebut, menunjukkan kalau mereka berasal dari berbagai negara –yang boleh jadi saling berkonflik-- serta kebudayaan berbeda yang terlihat dari pakaian, agama, serta kebiasaan. Bahkan, mereka memiliki bahasa yang berbeda, ada yang berbahasa Inggris, ada pula yang berbahasa Perancis sebab mengikuti bahasa negara yang pernah menjajah negara mereka. 

Namun, ketika mereka berada di Indonesia, seluruh keragaman itu seakan memudar dan berganti dengan satu identitas yaitu Afrika. Ini hampir sama dengan fenomena yang ada pada komunitas Cina dan Arab. Meskipun komunitas ini memiliki banyak etnis serta bahasa atau dialek berbeda, namun ketika meninggalkan negaranya akan melebur dalam satu identitas.

Keempat, fenomena warga Afrika yang membawa nilai lokalnya serta berdialektika dengan warga sekitar Jalan Jaksa dan Petamburan, harusnya diikuti dengan program pemberdayaan komunitas, serta menghubungkan mereka dengan masyarakat sekitar. 


Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...

Google+ Badge