Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Sungai THE BEATLES yang Tak Pernah Berhenti Mengalir

 


Liverpool tidak hanya punya legenda bernama Mo Salah. Liverpool ibarat rahim yang pernah melahirkan jenius besar di dunia musik yakni The Beatles. Popularitasnya bertahan selama beberapa dekade, menghadirkan revolusi dalam musik, juga menjadi penanda British Invasion ke seluruh dunia.

Di Disney Hosttar, dokumenter terbaru tentang The Beatles tayang sejak 25 November 2021. Judulnya adalah Get Back. Semua fans grup musik ini di seluruh dunia menyambut film dokumenter karya Peter Jackson ini dengan gemuruh.

Selama dua hari, saya menyaksikan serial dokumenter yang terdiri atas tiga episode ini. Peter Jackson mengolah berbagai rekaman video The Beatles yang tersembunyi dari publik selama lebih 50 tahun.

Memang, di masa kini, ada banyak nama musisi hebat, mulai dari BTS, Adele, Lady Gaga hingga Ed Shreean.  Tapi generasi 1960-an hingga 1980-an lebih diberkati. Generasi ini merasakan hingar-bingar musik berkualitas dari para dewa-dewa yang selalu abadi.

The Beatles berada di singgasana para dewa musik sejak tahun 1960-an. Grup ini hanya bisa disaingi, namun tak pernah digantikan. Anak muda Liverpool menjadi penanda invasi budaya pop hingga seluruh dunia, masa di mana kapitalisme merambah musik sehingga selera pun ikut dipengaruhi.

Film dokumenter ini kembali menghangatkan semua nostalgia dan ingatan tentang grup musik ini. Film ini mengajak penonton untuk flashback ke sesi rekaman The Beatles pada Januari 1969, yang menjadi momen penting dalam sejarah musik. Mereka menjalani latihan demi latihan serta menulis 14 lagu baru sebagai persiapan konser live pertamanya dalam lebih dari dua tahun.

Dokumenter ini menjernihkan berbagai isu atas band legendaris ini. Konon, mereka pisah karena Yoko Ono sering merecoki latihan band ini. Konon, ada ego besar di antara mereka sehingga sulit berdamai. Bahkan banyak yang berspekulasi mengenai keretakan antara Paul McCartney dan George Harrison.

Kita bisa melihat panggung belakang The Beatles di mana mereka berkolaborasi untuk tampil di satu hajatan besar. Di sini, mereka bukan lagi empat anak muda berponi dari Liverpool yang menginvasi musik dunia.

Mereka adalah empat pria dewasa yang sudah punya pasangan masing-masing, dan berkumpul kembali untuk latihan musik demi tampil di hadapan publik. Mereka tampil apa adanya, bukan untuk show, tetapi sisi mereka yang paling orisinil.

Sisi inilah yang membuat dokumenter ini terasa istimewa. Kita melihat bagaimana karakter mereka di belakang panggung, yang fokus bekerja, memainkan lagu-lagu lama yang tidak pernah tampil ke publik, juga sesekali saling bercanda.

Mereka menjadi manusia biasa, yang berkumpul untuk satu tujuan bersama. Mereka adalah empat jenius yang coba untuk meredam ego demi penampilan terbaik. Meskipun sejumlah pihak menyebut keretakan di antara mereka mulai menjalar,  mereka tetap tampil profesional.

Saya kagum dengan militansi mereka dalam bekerja. Mereka tak terlihat lelah dan non-stop terus latihan. Sebagai penonton, kita seakan dimanjakan saat emndengar beberapa lagu yang terasa akrab di telinga.

Saat melihat mereka bekerja, saya teringat catatan Malcolm Gladwell dalam buku Outliers. Katanya, tak ada sukses yang jatuh dari langit. Semua kesuksesan muncul dari kerja keras dan militansi untuk selalu menghasilkan yang terbaik.

Dia mencontohkan The Beatles. Ada masa di mana The Beatles melakukan perjalanan ke Hamburg antara tahun 1960 dan akhir tahun 1962. Di masa itu, bar-bar di Hamburg, Jerman, kerap membawa musisi dari Liverpool. Mereka tampil di bar-bar yang menyajikan tarian erotis.

Pemilik bar punya konsep untuk membawa pemusik, yang bermain non-stop, berjam-jam lamanya, untuk mencegat orang yang keluar masuk. The Beatles bermain selama delapan jam sehari, tanpa dibayar. Mereka melakukannya selama tujuh hari dalam seminggu. Selama hampir dua tahun, mereka tampil seperti itu.

Gladwell memperkirakan, The Beatles telah naik panggung sebanyak 1.200 kali sebelum menggapai ketenaran. Mereka ditempa di hadapan pengunjung bar, belajar dari tatapan cuek orang-orang, belajar meracik berbagai jenis aliran musik, hingga menemukan sisi terbaik mereka di dunia hiburan.

Sepulang dari Hamburg, mereka lebih disiplin dan lebih fokus dalam bermusik. Mereka bekerja keras saat latihan dan berpengalaman tampil hingga ribuan kali. Pada saat mereka mencapai kesuksesan pada tahun 1964, mereka telah tampil live sekitar 1.200 kali, sesuatu yang jarang digapai banyak grup musik hari ini.

Bagi Gladwell, The Beatles adalah contoh dari kesuksesan yang lahir dari kerja keras dan semangat tak kenal menyerah.

Sedikit berbeda dengan Gladwell, saya melihat kesuksesan The Beatles adalah kombinasi dari kejeniusan, serta ekosistem yang mendukung. Jika saja Paul dan John tak sering bersama latihan musik saat pulang sekolah, tak bakal lahir grup revolusioner itu. Jika saja, tak ada ekosistem musik dan atmosfer yang mendukung, John Lennon hanya berakhir sebagai buruh di pelabuhan kota Liverpool.

Kita tak bisa mengabaikan sisi paling jenius dan paling kreatif dari band ini. Semua personelnya punya sisi terbaik yang berhasil dikeluarkan melalui kerja-kerja kolektif dan latihan bersama.

Berkat film dokumenter Get Back, kita mengenang kembali grup musik luar biasa, yang memulai sejarah dari kota kecil Liverpool ini. Kita mendapat pelajaran penting, mereka adalah manusia biasa yang memulai semuanya dari berpijak di bumi.

Inspirasi dan kreativitasnya seakan berasal dari langit. Namun, mereka adalah sosok yang kakinya memijak di bumi. Sebagai manusia biasa, mereka mudah marah saat disakiti, mudah tertawa saat melihat tayangan media yang membahas mereka, juga sesekali memegang ego dan tak mau kompromi.

Sebagai dokumenter yang merekam aktivitas secara diam-diam, serial ini tak bisa dipaksa untuk memberikan jawaban atas banyak hal. Saya penasaran dengan proses kreatif lahirnya banyak lagu abadi dari grup musik ini.  Saya ingin tahu mengapa John Lennon begitu realis, Paul optimis, dan George yang spiritualis.

Namun, tak mungkin menjawab pertanyaan hanya dalam tiga episode dokumenter. Saya yakin nama band ini akan abadi dalam sejarah. Dia masih akan dikenang hingga ratusan tahun mendatang.

Ibarat sungai, The Beatles adalah sungai tak pernah berhenti mengalir. Bukan saja dalam hal inspirasi, tapi juga dalam barisan renungan dan kesan seusai mendengar liriknya yang kuat.

Seusai menyaksikan documenter ini, saya menonton konser legendaris The Beatles saat tampil di atap Gedung. Di situ, ada lagu Don’t Let Me Down yang dinyanyikan John Lennon dengan suara melengking. Saya suka syairnya:


I'm in love for the first time

Don't you know it's gonna last

It's a love that lasts forever

It's a love that had no past

Don't let me down

Don't let me down


Facebook Metaverse

 


“Imagination is more important than knowledge.”

Kalimat ini datang dari fisikawan besar Albert Einstein. Imajinasi dipupuk dengan mitos, dongeng, fiksi, juga sastra. Imajinasi lahir dari dongeng-dongeng pengantar tidur, dari kisah-kisah petualangan, juga dari jawaban mitos atas fenomena alam.

Sebagian orang menganggap imajinasi hanya menghabiskan waktu. Tapi lihatlah sejarah peradaban. Imajinasi selalu mendahului penciptaan sains. Sebelum manusia membuat pesawat, pernah ada orang yang mengkhayal tentang benda terbang yang dikemudikan manusia.

Tak semua orang mengenal siapa Jules Verne. Tapi banyak penemu dan ilmuwan yang mengidolakannya setinggi langit. Tahun 1800-an, dia sudah membuat berbagai novel dan fiksi sains yang menjadi kompas bagi ilmuwan.

Dia sudah berimajinasi tentang kapal selam listrik, luar module untuk menuju bulan, hingga pesawat ruang angkasa. Siapa sangka, semua imajinasinya perlahan diwujudkan oleh sains. Tak ada Jules Verne, tak ada banyak penemuan.

Beberapa hari lalu, Mark Zuckerberg mengumumkan tentang perubahan nama Facebook menjadi Metaverse. Zukckerberg bercerita tentang realitas virual, augmented reality yang akan dibangun oleh banyak ilmuwan hingga tahun 2025.

Mark membayangkan, akan ada satu dunia di mana semua orang berinteraksi di situ. Cukup memakai perangkat teknologi virtual reality, kita masuk ke dunia itu. Kita bisa memilih hendak memakai avatar apa, lalu bisa berinteraksi dengan avatar orang lain. Kita bisa jalan-jalan, memasuki gedung, atau malah mendaki ke Everest dengan avatar kita.

Dalam tuturan Mark Zuckerberg: “Di masa depan, Anda akan dapat berteleportasi secara instan sebagai hologram untuk berada di kantor tanpa bepergian, di konser dengan teman, atau di ruang tamu orang tua Anda untuk mengejar ketinggalan.”

Mark berbicara di saat yang tepat. Gara-gara pandemi, banyak orang yang bosan dengan kerja kantoran. Di Amerika, banyak anak muda memilih berhenti kerja kantoran, dan fokus kerja di rumah. Pandemi telah menyuburkan ideologi rebahan di kalangan anak muda kita. Mending kerja santai di rumah, bisa rebahan trus nonton Netflix.

Sepintas, apa yang disampaikan Mark bukanlah hal yang baru. Generasi 1990-an pernah memainkan game The Simps di mana mereka seolah masuk dalam game. Anak-anak sekarang memainkan Roblox di mana mereka berada dalam satu semesta.

Bedanya, dalam Metaverse, Anda masuk ke dalam dunia itu, berinteraksi, kenalan, belanja, bahkan bisa main seks. Hah? Dalam film Demolition Man, ada adegan seseorang memasuki dunia virtual lalu bertemu avatar gadis seksi.

Newsweek mencatat, imajinasi Mark sama persis dengan apa yang tertulis di dua fiksi terkenal yakni Snow Crash dan Ready Player One.

Snow Crash adaah novel bertemakan distopia yang terbit tahun 1992. Penulis fiksi Neal Stephenson bercerita tentang Metaverse sebagai ruang virtual bersama yang menghubungkan semua dunia virtual menggunakan internet dan augmented reality.

Augmented reality adalah teknologi yang menempatkan gambar yang dihasilkan komputer di atas pandangan pengguna tentang dunia nyata.

Sedangkan Ready Player One, yang sudah difilmkan dan disutradarai Steven Spielberg, menceritakan dunia di mana orang-orang setiap hari berinteraksi dalam game.

Hingga suatu hari, ada kuis atau tantangan, lalu semua orang berusaha memenangkan kuis. Lalu, ada pengusaha besar yang ingin menguasai semua semesta permainan lalu melakukan segala cara.

Dua novel fiksi ini menjadi kompas yang memandu Mark Zuckerberg dengan proyek Metaverse. Imajinasinya bisa merentang jauh dan ke mana-mana hingga mencipta satu dunia baru di mana semua orang bisa bertemu dan berinteraksi dengan kripto.

Tidak heran, di negara-negara maju, imajinasi dipupuk dengan sastra, dongeng, mitos, cerita rakyat, juga berbagai cerita petualangan. Membaca sastra dan fiksi sama pentingnya dengan belajar sains dan teknologi. Tanpa khayalan liar, tak lahir kisah-kisah mengenai penciptaan dan inovasi.

Di berbagai perpustakaan luar negeri, buku fiksi dan komik sama pentingnya dengan buku sains. Anak-anak diperkenalkan dengan fiksi. Imajinasi liar mereka dipupuk hingga bertunas, tumbuh, akarnya menghujam ke bumi, dahan dan rantingnya menjangkau mega-mega.

Benar kata Einstein, logika bisa membawa Anda ke A sampai Z. Tapi imajinasi bisa membawa Anda ke mana-mana.”

Di Jepang, membaca komik atau manga dianggap sama pentingnya dengan membaca ensiklopedi. Mantan Perdana Menteri Jepang Shizo Abe adalah penggemar komik. Selain untuk imajinasi, Jepang menjadikan komik, cosplay, dan anime sebagai penanda budaya.

Sayangnya, di negeri kita, fiksi dianggap rendah. Membaca novel dianggap menghabiskan waktu. Bahkan komik pun dihindari. Kisah superhero dianggap tidak berguna. Anak-anak diajari hafalan. Imajinasinya tenggelam.

Jika saja imajinasi menjadi tolok ukur kemajuan bangsa, maka kita tertinggal jauh. Lagi-lagi kita hanya jadi pemakai, bukan pencipta. Kita hanya pengekor.



Melihat Mama yang Kian Renta

 


Berita duka itu datang saat saya kuliah di semester dua. Bapak saya meninggal tanpa ada jejak sakit. Semuanya serba mendadak.

Bapak meninggalkan istri dan empat anak. Kami semua masih sekolah. Saat itu, saya membayangkan masa depan yang gelap. Sebagaimana lazimnya orang Buton lainnya, yang saya pikirkan adalah merantau dan buang diri ke Ambon. Atau tidak ke Papua. Bisa pula Malaysia.

Di saat gelap itu, Mama menjadi matahari yang menguatkan hati.  Dia tak lama bersedih. Dia bangkit dan meyakinkan anaknya untuk tetap sekolah. Tak sepeser pun jatah bulanan dikurangi.

Dia hanya seorang guru sekolah dasar, lulusan SPG. Gajinya tak seberapa. Dia pikul beban sebagai kepala keluarga. Setiap hari dia melangkah dengan tertatih-tatih ke sekolah untuk mengajar. Dia bangkit sebab ada kaki-kaki yang membutuhkannya.

Sampai detik ini saya tidak paham bagaimana rumusnya bisa bertahan dan menyekolahkan empat anak. Gaji guru yang tak seberapa itu dikirimkannya untuk semua anaknya.

Rupanya dia tak cuma mengajar. Sepulang sekolah, dia membuat es kantong, kadang manisan kedondong. Setiap hari dia ke sekolah membawa termos es kantong yang dijual ke murid-murid. Hasilnya recehen. Tapi itu cukup untuk sekadar biaya hidup.

Dia perencana keuangan paling hebat yang pernah saya kenal. Dia sisihkan receh demi receh untuk anaknya. Dia menjalani hidup yang bersahaja demi kebahagiaan anaknya. Saat semua anaknya berhasil, dia tak pernah meminta. Dia matahari yang selalu memberi.

Kini, dia perlahan menua. Langkahnya kian tertatih. Tapi masih saja dia memikirkan anaknya. Semangat dan dedikasinya tetap menyala-nyala, meskipun fisiknya kian lelah.

Bersamanya saya selalu kehilangan kata. Tubuh renta itu adalah oksigen yang memberi saya nafas kehidupan.

Tangan yang kecil dan keriput itu pernah memikul beban yang jauh lebih kuat dari apa pun.

Kaki yang kian berat menyangga tubuh itu adalah kaki yang setiap langkahnya adalah ibadah untuk anak-anaknya. Dia paripurna sebagai manusia yang mendedikasikan dirinya untuk anaknya. Dia lulus tempaan demi tempaan kehidupan.

Di mata yang kian tua dan sayu itu, saya bercermin dan melihat betapa bengalnya diri ini yang belum juga bisa memuliakannya.

Di mata itu, saya melihat potret diriku yang angkuh dan sesumbar hendak berpetualang dan menaklukan dunia, namun tak kuasa untuk memikul bebannya, tak kuat menjadi matahari seperti dirinya.

Di mata itu, saya melihat diri ini yang bangsat, dan dia yang selalu siap jadi telaga jernih untuk tempat kembaliku saat hendak membasuh karat di hati. Kurenangi dan kuselami samudera hatinya yang amat luas.



Titan Teknologi

 


Di lini masa Twitter, saya membaca berita itu. Amerika membocorkan laporan intelijen militer. Agustus lalu, Cina melakukan testing rudal hypersonic yg mengelilingi bumi, kemudian turun menghantam sasaran.

Pihak militer Amerika terkesima, kemampuan Cina jauh di atas yang mereka pikirkan. Rudal terbang ke luar angkasa, persis seperti space shuttle, kemudian turun menghujam ke satu titik di bumi. Tak ada anti rudal yang bisa mencegatnya karena bergerak di orbit.

Hari ini, saya menemukan lagi satu berita heboh di Twitter. Pentagon dilaporkan terkejut melihat Cina meluncurkan pesawat stealth fighter dengan dua pilot pertama di dunia. Pesawat tempur ini menggunakan konsep NGAD (next generation air dominance), di mana pilot kedua fokus mengendalikan drone yg terbang bersama pesawat utama. Wow.

Persaingan AS dan Cina bukan sekadar ekonomi dan dagang, tapi juga merambah ke bidang teknologi dan sains. Ini kenyataan yang mengejutkan.

Dalam buku Tech Titans of China yang ditulis Rebecca A Fannin, saya menemukan banyak kisah tentang persaingan teknologi itu. Buku ini diterbitkan Gramedia dengan judul Raksasa-Raksasa Teknologi Tiongkok.

Bagi generasi 1990-an, pasti akan berpendapat kalau Cina adalah negara peniru, yang menjiplak semua teknologi dan menjual murah. Betapa kagetnya generasi ini saat menyadari Cina bukan lagi menjadi peniru, tapi Cina perlahan jadi pioneer.

Amerika punya raksasa teknologi yang disebut FAANG akronim dari Facebook, Apple, Amazon, Netflix, dan Google. Cina pun kini memiliki raksasa teknologi yakni BAT, akronim dari Baidu, Alibaba, dan Tencent. Orang Amerika mengidolakan Mark Zuckerberg, Jeff Bezos, dan Sergey Brinn. Orang Cina mengidolakan Robin Li (Baidu), Jack Ma (Alibaba), dan Ma Huateng (Tencent).

Jangan lupa, Cina juga punya Tik Tok yang kini mendunia, dan digandrungi oleh warga Amerika sendiri.Tik Tok telah berkembang sangat pesat sehingga menjadi ancaman bagi raksasa media sosial seperti Facebook, yang merilis versi Tik Tok-nya sendiri (dan tidak terlalu sukses) yang disebut Lasso.

Ada juga Huawei yang terdepan dalam riset 5G.

Cina punya masa lalu sebagai pusat inovasi. Dunia mengenali inovasi seperti Kertas, Kembang Api, hingga Layang-layang. Tidak mengherankan jika Cina saat ini akan melanjutkan tren sejarah.

Teknologi telah menjadi jauh lebih kompleks dan beragam daripada satu dekade lalu, dengan munculnya AI, aplikasi seluler, mobil listrik, mobil swa-kemudi, big data, robotika, drone, dan ekonomi berbagi. Muncul pula komputer kuantum, rudal hypersonic. Bahkan mulai muncul ide matahari buatan.

Anda boleh gak percaya, tapi di semua bidang itu, Cina kini menjadi pemenangnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Seperti pernah saya katakan, Cina dan Amerika boleh unggul teknologi, tapi kita pegang kunci surga. Kita menguasai semua hafalan dan kunci jawaban untuk hari akhir. Yang lain cuma punya kunci dunia.

Buku menarik di akhir pekan.


Bos DUCATI Tidak Paham BUDAYA Kita

 


Media asing melaporkan bos Ducati marah-marah. Insiden dibukanya motor Ducati dianggap sangat memalukan. Katanya, peristiwa itu hanya terjadi 40 tahun lalu di negara dunia ketiga.

Banyak netizen yang murka setinggi langit. Di negara Indonesia yang kian modern dan memimpin negara-negara G20, tindakan membuka barang milik orang lain lalu pamer di medsos itu serupa aib.

Padahal, bos Ducati itu yang harusnya dikiritisi. Harusnya ada fatwa protes kepadanya. Dia seenaknya mengeluarkan komentar yang memojokkan kita semua. Dia tidak paham budaya orang Indonesia. Apa saja?

Pertama, budaya kepo. Kata Ivan Lanin, kepo adalah serapan dari dialek Hokkian atau Min Nan. Kepo bermakna rasa ingin tahu yang berlebihan. 

Warga kita selalu penasaran dengan isi tas orang lain. Masih ingat, beberapa tahun lalu, di Bandara Sukarno Hatta sempat heboh mengenai tas-tas bagasi bandara yang sudah dalam keadaan terbuka, dan sejumlah barang dikabarkan hilang.

Di negeri kita, orang selalu penasaran dengan sesuatu yang ditutupi. Lihat saja tayangan media kita penuh dengan gosip tentang rumah tangga selebritis, gosip mengenai istri gelap politisi, hingga gosip mengenai tokoh yang konon katanya melakukan babi ngepet.

Hanya di negeri ini, soal apakah seseorang sudah pindah agama bisa menjadi diskusi yang alot dan menyita energi berhari-hari. Urusan pindah agama yang semestinya menjadi hak pribadi seseorang bisa jadi bahan perdebatan untuk digoreng-goreng hingga disate-sate.

Politisi kita suka menutupi banyak hal. Bukan hanya bisnis PCR di balik penderitaan rakyat, tapi juga banyak menyembunyikan kekayaan negara. Coba tanya, siapa sih yang bikin maskapai burung itu bangkrut? Gelap.

Kedua, budaya pamer. Seseorang di Lombok yang melakukan unboxing motor Ducati lalu foto-foto dan pamer-pamer di media sosial itu mencerminkan budaya kita. Dia hendak pamer dirinya punya akses ke motor-motor balap. Dia ingin pamer ke netizen. Dia seakan ingin berkata: “Lihat nih, saya bisa pose dengan motor Ducati. Kalian gak bisa, Dasar misqueen.”

Di sekitar kita, budaya pamer di medsos menjadi hobi banyak orang. Setiap hari kita melihat orang-orang pamer lagi di resto-resto mahal, lagi wisata di tempat-tempat berkelas dan premium, serta lagi bersama tokoh penting, mulai dari Erick Thohir hingga Lord Luhut.

Politisi kita juga suka pamer. Pejabat publik dengan santainya tampil di acara komedi seakan lupa kalau banyak warganya yang lagi dilanda banjir. Politisi pamer masuk got di semua kanal media, setelah itu popularitasnya naik dan jadi pemimpin. Bahkan ada pula kepala daerah yang jauh-jauh ngasih masukan ke Papua sana, padahal daerahnya gak bagus-bagus amat.

Pamer adalah bagian dari budaya kita. Mulai dari politisi, pejabat publik, hingga rakyat jelata. Banyak orang yang rela menjadi “pemanjat sosial”, sekadar buat konten. Anda mungkin pernah baca tentang remaja yang beraksi dengan menghentikan truk di jalan raya. Buat apa? Buat pamer dan konten medsos. Dia seakan berkata, “Hey cewek-cewek. Lihat aksi heroik saya. Cowok-cowok lain pada cemen tuh.”

Ketiga, budaya suka melempar masalah. Lihat saja pernyataan yang mewakili Mandalika Gran Prix Association (MGPA). Dia bilang, “Ada pihak yang tidak berkepentingan dan tidak mengerti proses yang sedang berlangsung lalu mengambil gambar dan mem-viralkan dengan isi berita yang tidak sesuai."

Kata-kata “tidak berkepentingan” itu kan ngawur. Lha, orang itu kan punya kepentingan, yakni ingin foto, pamer, dan pansos. Semua orang punya kepentingan. Jika hendak “mensterilkan” harusnya sejak awal dilarang. Batasi siapa saja yang punya akses ke motor-motor itu. Bikin kartu akses yang hanya bisa dijangkau sebagian orang.

Anda bisa bayangkan, seseorang yang setiap harinya naik motor supra fit, itu pun cicilan, tiba-tiba saja lihat motor-motor balap yang harrganya ratusan juta hingga miliaran. Pastilah penasaran dan ingin berpose.


Daripada sibuk menyalahkan pihak tidak berkepentingan, lebih baik mengaku salah, lalu lakukan evaluasi menyeluruh. Sampaikan pesan ke pihak Ducati kalau kesalahan itu telah diidentifikasi dan diperbaiki. Kedepannya hal serupa tidak akan terjadi lagi.

Keempat, budaya bully berjamaah. Saat kasus unboxing itu terungkap, sontak semua netizen yang maha benar melakukan bully dan sorak-sorai di medsos. Langsung trending topic. Kita dengan mudahnya mengolok-olok secara beramai-ramai. Bagusnya sih, tetap tenang. Serahkan kepada otoritas atau pihak berwajib.

Penduduk negeri +62 ini mengira dirinya ramah-ramah dan lucu-lucu, persis syair lagu Trio Kwek Kwek. Banyak yang mengira kita adalah negara yang santun dan berbudaya.

Padahal, riset yang dilakukan Microsoft di bulan Februari 2021, menyebutkan kita adalah negeri yang paling tidak sopan di jagad digital. Kita dengan seenaknya mengumpat, memaki, dan perang kata dengan orang lain. Kita tak terbiasa duduk manis dan bicara sopan di dunia maya.

Gaes…. Bukankah pelakunya itu adalah anak bangsa yang seharusnya diedukasi, diajari, dan dicerahkan?

Tindakan unboxing itu bisa saja dianggap wajar ketika security dan pejabat juga hanya sibuk foto-foto biar viral. Anak bangsa itu hanya meniru kebiasaan para petingginya yang juga suka pamer kerjaan orang lain. Saat dilihatnya ada motor balap yang berdiri gagah, naluri pamer dan foto-foto segera bangkit.

Kelima, budaya melihat bule lebih tinggi. Mungkin karena kelamaan dijajah, kita sering melihat orang bule lebih tinggi. Kita seakan ditakdirkan untuk melayani mereka. Sering kali kita menganggap mereka selalu benar. Padahal tidak seharusnya demikian.

Pernyataan bos Ducati itu mesti dipertanyakan. Pernyataan tentang “negara dunia ketiga”itu seharusnya dikritik keras. Sebab pernyataan itu terdengar rasis dan tidak adil. Seakan-akan ada anggapan kalau negara-negara dunia pertama itu lebih maju dan beradab.

Padahal, bagi yang sering ke luar negeri, semuanya terasa sama saja. Bahkan di negara, yang katanya maju pun, masih saja kita temukan perilaku warganya yang tidak beradab.

Istilah negara dunia pertama dan dunia ketiga telah ketinggalan zaman dan memiliki konotasi negatif. Istilah itu digunakan untuk mendeksripsikan negara-negara di dunia berdasarkan status ekonominya. Negara dunia ketiga menduduki posisi setelah negara dunia pertama dan kedua namun lebih tinggi statusnya ketimbang negara dunia keempat. 

Terminologi negara dunia ketiga digunakan pada Agustus 1952 oleh seorang ahli demografi sekaligus sejarawan ekonomi Prancis, Alfred Sauvy. Dia menjelaskan ketidakberdayaan negara-negara yang kala itu baru saja merdeka, yakni negara-negara kawasan Asia dan Afrika. Negara-negara ini dahulu ikut Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung.

Sekarang, istilah ini jadi tidak relevan. Asia adalah wilayah yang sekarang tengah glowing dan melejit. Banyak negara-negara maju muncul dari Asia. Masa depan adalah milik Asia, yang dahulu identik dengan negara berkembang. Malah Eropa sedikit lagi ibarat nenek tua yang hanya mengenang masa lalu yang gemilang.

So, daripada sibuk memuji-muji bos Ducati dan menyalahkan anak bangsa, lebih baik kita fokus ke balapan di Mandalika. Lebih baik kita menyaksikan bagaimana mata dunia mengarah ke bangsa ini, yang dahulu dunia ketiga, kini telah menyelenggaran event balap motor berkelas dunia.

Lebih baik, kita mengerahkan energi untuk sesuatu yang lebih berkelas.

 


Memori di Ujung Lidah

 

sepiring parende

IBU itu menghidangkan semangkuk olahan ikan yang disebut parende. Melihat isi mangkuk, lalu membaui kuah panas itu, lidah dan ludah bergejolak. Persis seperti minyak goreng dalam kuali yang sudah dipanaskan, dan siap menyambut ikan yang akan digoreng.

Ada banyak memori yang tersimpan di ujung lidah kita. Makanya, sejauh-jauhnya kita merantau, bahkan seberapa banyaknya kuliner yang pernah kita cecap, tetap saja ada rasa tertentu yang terekam di lidah kita.

Di titik ini, kuliner bukan cuma soal rasa enak dan tidak enak, sebab yang namanya rasa selalu subyektif. Di ujung lidah kita, ada kode-kode kebudayaan, yang menjadi panduan bagi kita untuk menilai enak dan tidak enaknya sesuatu.

Bagi saya yang lahir dan besar di pesisir laut, kuliner yang terenak adalah olahan sea food. Rasa nikmatnya sukar dilukiskan. Tapi bagi seseorang yang lahir dan besar di Puncak, Bogor, maka olahan sayuran dan dedaunan terasa lebih nikmat di lidah. Ini soal budaya.

Kuliner juga selalu terkait lokasi, juga suasana. Pernah saya membaca catatan Profesor Rhenald Kasali tentang kuliner. Katanya, dia sudah mencoba berbagai menu di hotel berbintang di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Entah kenapa, dia tidak menemukan ada menu kuliner Nusantara yang sangat enak dan nikmat di situ.

Dia mencontohkan sate. Di semua restoran dan hotel berbintang, rasa sate selalu hambar. Menurutnya, sate ternikmat adalah sate yang dinikmati di warung pinggir jalan, di mana penjualnya mengipas-ngipas sate di atas bara api, yang asapnya masuk ke dalam warung.

Rasanya semakin nikmat saat Anda memakannya dengan satu kaki naik ke atas kursi, di tengah suasana panas, sehingga keringat menetes-netes.

Pernah pula saya ikuti tuturan budayawan Sulsel Ishak Ngeljaratan. Menurutnya, konro ternikmat adalah konro yang ada di warung kecil di Lapangan Karebosi.

Saat Anda makan, ada banyak anjing yang menunggu Anda di jarak lima meter. Ketika satu tulang selesai dicicipi, langsung dilempar ke anjing yang menyambut dengan bersahutan. Baginya, itu konro ternikmat.

Hari ini kita sulit mengalami rasa nikmat yang digambarkan Ishak Ngeljaratan. Karebosi sudah jadi arena modern, yang di bawahnya ada mal perbelanjaan. Karebosi sudah dipagari. Bukan lagi Karebosi dahulu yang dipenuhi aktivitas warga, mulai dari penjual obat, pemain catur, pengangguran, pedagang asongan, hingga maling amatiran.

Di sini, di kota Baubau, yang dahulu menjadi pusat dari Kesultanan Buton, kota kecil yang dahulu selalu disinggahi kapal-kapal besar yang menyusuri jalur rempah ke timur, kota kecil yang dicatat dalam diari Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen dan Piter Both, saya menatap semangkuk parende.

Di warung kecil di pinggir laut, saya merasakan angin sepoi-sepoi, hembusan angin timur yang semilir. Di sebelah sana, ada suara-suara nelayan yang begitu perahunya sandar langsung disebur para pedagang kecil.

Hidung saya membaui satu rasa unik yang akrab dengan diri sejak pertama mengenal dunia. Saya ingat almarhum bapak yang suka kuliner ini. Saya ingat masa kecil yang sering bolos ke sekolah gara2 main di laut. Saya ingat ombak-ombak dan tarian samudera. Saya ingat tawa riang kanak-kanak yang menyelam koin.

Semuanya berpadu menjadi satu memori yang mengiringi acara makan parende hari ini. Saya menatap mangkuk sembari menyendok dan menghirup aromanya.

Hmm... Yummy!


Sekelumit Sejarah Pallubasa

 


Semangkuk pallubasa itu dihidangkan di depan saya, di Warung Pallubasa Serigala, Kelapa Gading, Jakarta. Saya menghirup aroma yang amat akrab di hidung.

Saat mencobanya sesendok, pikiran saya melayang ke masa kecil, saat nenek menyajikan nasu wolio, olahan ayam khas Buton. Saya mengenali rasa kelapa goreng yang disanggrai. Hampir sama.

Pallubasa disajikan di mangkuk serupa coto makassar, tapi rasanya sangat beda. Jika coto makassar menggunakan bumbu kacang tanah yang dihaluskan, pallubassa menggunakan kelapa yang disanggrai.

Saat mencoba sesendok lagi, pikiran saya seakan terlempar ke Jalan Serigala, Makassar, hampir 20 tahun silam. Saat itu, saya harus antri di warung kaki lima demi menikmati pallubasa yang otentik. Setiap hari orang-orang antri demi mendapatkan seporsi kuliner nikmat berupa jeroan sapi yang empuk dan lembut di lidah.

Saya menatap pallubasa di hadapan saya. Seorang kawan pernah bercerita, dahulu pallubasa adalah kuliner murah milik rakyat jelata. Yang menikmati pallubasa adalah para pekerja, para buruh, kuli bangunan, tukang becak, dan mereka yang berpeluh keringat saat beraktivitas.

Mengapa murah? Sebab inti dari kuliner ini bikanlah campuran isi atau daging yang mahal-mahal. Bagian dari sapi yang membentuk semesta pallubasa adalah bagian yang tidak dibutuhkan oleh pemilik sapi.

Bagian itu diberikan pada pemotong sapi sebagai jatah atau upah (tawana papolonga). Biasanya adalah bakal susu (kandala po), baluta atau darah sapi.  Baluta merupakan darah sapi yang saat disembelih, ditampung dalam batang bambu, kemudian dibekukan.

Bagian lainnya adalah payudara sapi, biji pelir sapi, usus lurus atau parru lambusu, latto-latto atau bagian daging yang bercampur dengan tulang rawan, dan gantungan jantung.

Daging yang tak diinginkan ini, kemudian diolah oleh para papolong atau pemotong sapi. Mereka menambahkan berbagai rempah serta bumbu kelapa goreng sehingga melahirkan kuliner yang otentik dan rasanya akrab di lidah.

Namun yang namanya rasa tak pernah bisa dibagi-bagi dalam kasta. Makanan yang tadinya murah, sontak menjadi buah bibir banyak kalangan. Kini, semua orang bisa mengonsumsi Pallubasa. Kuliner ini sudah bisa dinikmati di hotel berbintang, malah pernah tampil di ajang Indonesian Master Chef.

Saat hendak menyendok ketiga kalinya, sayup-sayup saya mendengar alunan musik jazz dari warung sebelah. Dahulu, jazz adalah musik khas pekerja Afro-American, yang dibuat di sela-sela kerja paksa. Musik menjadi ruang bagi para budak kulit hitam untuk sejenak melupakan getirnya hari-hari yang dijalani.

Saya membayangkan para papolong atau pemotong sapi yang menciptakan kuliner pallubasa ini. Mereka punya kreativitas setingkat dewa saat meramu bahan yang biasa ini menjadi kuliner hebat. Mengolah kuliner adalah ruang pelepasan, di mana mereka sejenak berekspresi dan mengeluarkan segenap daya cipta.

Biarpun hari ini pallubasa bersalin rupa menjadi kuliner khas di tempat mahal, bahkan berkelana hingga Jakarta, Singapura, Malaysia, juga Australia, tetap saja ada jejak keringat, aroma tubuh pekerja penuh keriangan, serta senandung saat mengolah hal sederhana.

Para maestro bukan mereka yang mengolah resep dengan barang mahal, tetapi mereka yang sentuhan jemarinya bisa mengubah hal biasa menjadi luar biasa. Kuliner bukan soal mewah tidaknya bahan, tetapi kejeniusan dalam mengolah bahan yang ada, memberinya sentuhan rasa, meninggalkan jejak abadi di lidah.

Kembali, saya hendak menyendok sesendok kuah pallubassa. Sayup-sayup ada suara Louis Amstrong yang suaranya serak-serak basah. Dia berkata: “And I think to myself. What a wonderful world.” Bagi orang kreatif dan berpikir damai, dunia akan selalu indah.

Tanpa berpikir lagi, sesendok kuah Pallubasa masuk ke dalam mulut. Ada rasa bahagia saat menikmati kuliner lezat ini. Ada berbagai kenangan yang hadir lalu beranjak. Hmm…  Nyamanna!


Kutukan PALA

 


Jika tak ada pala, tak bakal ada Indonesia, Malaysia, Singapura, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Tak bakal ada jejak bangsa Eropa di tanah Nusantara yang permai. Tak bakal ada kota-kota modern yang tumbuh pesat.

Aroma pala, tanaman yang hanya tumbuh di Pulau Banda itu, telah menggerakkan kapal-kapal layar bangsa Eropa untuk bertualang ke negeri yang jauh, menyerap hasil bumi, lalu jejaknya tercecer di berbagai pantai, lalu kota-kota.

Pala adalah penanda peradaban, sesuatu yang menghela kapal kapitalisme untuk berkelana ke negeri yang jauh, menyisakan kisah kejayaan dan kegemilangan, juga nestapa dan kesedihan.

Pernah pada satu masa, harga pala lebih mahal dari emas. Para penjelajah, mulai dari Vasco Da Gama, Ferdinand Magelhan, hingga Christopher Columbus mencari jalan menuju pulau penghasil pala.

Bagi orang Eropa, kisah tentang pala adalah kisah penaklukan dan kejayaan. Berkat pala, kota-kota mekar di Belanda. Perusahaan VOC menjadi perusahaan paling kaya dengan keuntungan berlipat.

BACA: Tunas Budaya yang Tumbuh dan Mekar di Jalur Rempah


Namun bagi kalangan pribumi, kisah pala adalah awal dari banyak kisah nestapa. Pala memicu sejarah genosida paling memilukan dalam sejarah, saat penduduk Banda dibantai dengan kejam oleh VOC di bawah perintah Jan Pieterszon Coen.

Buku-buku sejarah kita mencatat banyak hal penting terkait pala. Mulai dari kolonialisme, perjanjian antara Spanyol dan Portugis yang membagi bumi jadi dua, hingga pertukaran Manhattan dengan Pulau Run, pulau penghasil pala di Banda.

Sejarah pala seakan sudah berakhir. Padahal, berbagai tafsiran baru terus bermunculan.

Dua Buku

Sepekan ini, saya membaca dua buku menarik mengenai pala dan rempah-rempah. Buku pertama The Banda Journal yang dibuat Muhammad Fadli dan Fatris MF. Buku kedua adalah Nutmeg’s Curse yang ditulis Amitav Ghosh. Dua buku ini ibarat dua keping puzzle yang saling melengkapi.

Kita mulai dari buku pertama. The Banda Journal adalah kolaborasi antara naskah yang ditulis memikat oleh Fatris MF, dan foto-foto situasi terkini di Pulau Banda yang dihasilkan Muhammad Fadli.

Buku The Banda Journal


Saya membaui aroma petualangan di huku ini. Fadli dan Fatris punya ketekunan ala peneliti dan kepekaan para jurnalis. Mereka datang berkali-kali ke Banda, merekam banyak realitas, mendialogkan dengan banyak naskah, lalu menjerat realitas itu dalam naskah dan foto.

Hasilnya adalah kolaborasi yang mengasyikkan. Gaya menulisnya bertutur dan membawa kita untuk menyelam jauh ke masa silam Banda, perjumpaan dengan banyak pendatang, hingga situasinya kini yang memilukan.

Banda dipotret dari banyak sisi, mulai dari penaklukan, kejayaan, hingga masa kini yang kondisinya kian menyedihkan. Tak ada lagi jejak Banda sebagai pulau yang dahulu menjadi incaran semua korporasi besar internasional. Hari ini, Banda adalah satu titik di peta besar Nusantara yang hanya punya kisah masa silam, tanpa kisah masa kini dan masa depan.

The Banda Journal memotret dinamika yang terentang beberapa abad, yang kemudian dikemas dengan gaya menulis ala etnografi. Kita menemukan timbunan kisah dan teks-teks masa silam yang dijalin dengan pengamatan mendalam di masa kini.

Sedangkan buku Nutmeg’s Curse atau Kutukan Pala ditulis dengan sama memikatnya. Amitav Ghosh menulis buku ini saat pandemi tengah menghantam New York. Dalam cekaman ketakutan akan pandemi, dia membuka lembaran catatan lapangan yang ditulisnya semasa berkunjung ke Banda, tahun 2016 silam.

Menurut Amitav Ghosh, kisah pala belum berakhir. Justru pala adalah titik awal untuk memahami bagaimana perubahan iklim, kerusakan ekologis, serta krisis di masa kini. Kehancuran ekologi dimulai dari pandangan manusia yang melihat alam sebagai obyek dan sasaran eksploitasi.

Sebelum abad ke-18, pala hanya berasal dari sekelompok pulau vulkanik kecil di timur Nusantara, yang dikenal sebagai Kepulauan Banda. Saat menyebar ke seluruh dunia, pala menjadi sangat berharga.

Di Eropa abad ke-16, hanya segelintir yang bisa membeli rumah. Berkat pala, para pedagang Eropa menjadi penakluk dan penjajah. Masyarakat di daerah jajahan harus membayar mahal untuk mendapatkan akses ke komoditas berharga ini.

Amitav Ghosh berpendapat, nasib berdarah Kepulauan Banda memperingatkan ancaman bagi kita saat ini. Lintasan kekerasan di pulau penghasil pala itu  mengungkapkan pola pikir kolonial yang membenarkan eksploitasi kehidupan manusia dan lingkungan alam.

Kutukan Pala memaparkan argumen kalau dinamika perubahan iklim saat ini berakar pada tatanan geopolitik berabad-abad yang dibangun kolonialisme barat. Makanya, rempah-rempah, seperti pala, harus diletakkan sebagai jantung yang mengubah peradaban, mendorong manusia untuk mengeksploitasi alam demi mengejar kekayaan, lalu menyisakan nestapa bagi aman dan masyarakat lokal.

Pencarian rempah lalu eksploitasi punya dampak panjang hingga masa kini, saat tatanan bumi mulai dihantam isu perubahan iklim.

BACA: Suatu Hari di Perbatasan Papua New Guinea


Bagi Ghosh, krisis hari ini adalah hasil dari pandangan mekanistik tentang alam semesta. Cara berpikir ini yang menjelaskan sejarah panjang kolonialisme hingga berdampak pada kerusakan ekologis dan krisis yang dihadapi manusia hari ini.

Saya sepakat dengan Ghosh. Jika hendak ditelusuri lebih jauh, akar dari cara berpikir ini terletak pada lahirnya sains sebagai mercusuar baru peradaban manusia. Semuanya bermula dari pandangan tentang manusia sebagai pusat yang berpikir, dan alam sebagai obyek yang dipikirkan.

Saat nabi rasionalisme Rene Descartes mengatakan Cogito Ergo Sum atau “aku ada karena aku berpikir,” saat itulah manusia menganggap dirinya sebagai pusat. Alam semesta tidak punya kesadaran. Hewan tidak punya hak hidup. Manusia merasa punya otoritas untuk mengelola alam dan melakukan eksploitasi.

Dunia Pasca-Pandemi

Hari ini, dunia sedang tidak baik-baik saja. Setelah pandemi Covid-19, manusia akan berhadapan dengan berbagai krisis yang lain, yang semuanya berpangkal pada ketidakseimbangan ekologis.

Kita perlahan membabat hutan lalu memburu hewan liar. Kita tidak menyadari kalau akan ada titik di mana virus yang tadinya aman dalam tubuh hewan liar itu menjalar ke manusia. Kita menjadi korban dari keserakahan dan ketamakan kita memandang alam.


Sesuai membaca dua buku ini, saya terkenang ucapan John Keay, penulis buku The Spice Route. “Sejarah dipenuhi paradoks. Tapi tidak ada yang sedahsyat kisah eksplorasi bumi yang diwakili perburuan rempah.”

Kutukan pala itu terus berlanjut. Kita sedang berdiam di bumi yang rapuh, yang pernah menjadi saksi dari kehancuran ekologis akibat perdagangan pala. Bumi juga menjadi saksi dari berbagai angkara kejayaan yang jejaknya terasa hingga kini.

Kita adalah anak cucu yang dikutuk. Kelak, anak cucu kita akan mencatat upaya kita keluar dari kutukan, juga jalan kita lepas dari nestapa. Entah berhasil apa tidak, yang pasti bukan hanya pala yang mengutuk kita, tapi semua tumbuhan dan hewan liar.

 




DENASSA yang Menghadirkan Telaga

 


DI kalangan aktivis organisasi, dia memilih jalan yang berbeda. Sahabat lain sibuk mencari jalan untuk ke Gedung Dewan atau sibuk mencari jalan pintas untuk kaya, dia memilih pulang kampung dan setia di jalur penyelamatan lingkungan.

Dia tak tergoda dengan kemewahan ibukota dan dunia yang glamour. Dia memilih jalan sunyi yang berkarib dengan suara-suara semesta. Dia memilih untuk mewujudkan satu demi satu mimpinya yang sederhana yakni menjadi sekeping puzzle yang melestarikan semesta.

Lelaki itu, Darmawan Denassa, hari ini, Kamis (14/10), menerima Kalpataru. Dari Borongtala, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dia mendatangi Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta. Senyumnya terlihat sumringah. Dia menerima penghargaan tertinggi bagi mereka yang menyelamatkan lingkungan.

Saya mengenalnya sejak lebih sepuluh tahun silam. Kami tetangga fakultas di kampus Unhas. Dia Sastra, saya FISIP. Sering kami jumpa di koridor dan bercengkerama. Ketika dia menjadi ketua himpunan mahasiswa sastra Indonesia, juga aktif di himpunan mahasiswa asal Gowa, kami sering jumpa.

Di masa itu, dia suka berorganisasi. Dia suka menghadiri semua agenda-agenda diskusi di kampus. Dia pun seorang aktivis yang dahulu suka turun ke jalan demi memprotes rezim.

Saya mengenalnya sebagai figur yang murah senyum dan suka bercanda. Siapa pun yang sekilas berbincang dengannya, pasti merasakan kalau dia orang baik. Dia sangat ramah dengan siapa saja.

Tahun 2013, Ketika saya baru saja pulang dari kuliah di luar negeri, nasib kembali mempertemukan kami. Saya dan dia bersama penggiat komunitas lainnya diajak Ni Nyoman Anna, sahabat keren di Oxfam, untuk ke Kupang. Kami diajak menghadiri kegiatan yang diikuti banyak komunitas dari berbagai kota. Ikut pula banyak kawan-kawan komunitas di Makassar. 

Di situlah saya melihat Darmawan Denassa yang berbeda. Dia melampaui para aktivis dan organisatoris yang ada di setiap kegiatan. Dia sudah bertransformasi menjadi figur baru yang memilih pulang kampung untuk misi-misi idealis. Dia tahu hendak melakukan apa, dengan cara apa. Dia punya visi kuat.

Dia mengelola Rumah Hijau Denassa yang menjadi wadah konservasi dan pengembangan literasi. Di sekitar rumahnya, dia mengoleksi banyak tumbuhan langka. Bahkan dia mengembalikan ekosistem hutan. Dia membangun tradisi literasi di pinggiran, bersama anak-anak sekitarnya. Dia mengumpul pustaka, lalu menggelarnya agar dibaca anak-anak.

suasana di Rumah Hijau Denassa

Denassa in action

Namun sekadar literasi saja tidak cukup. Literasi akan lebih maksimal jika berada di tengah ekosistem yang tepat. Dia tergerak untuk mengembalikan keasrian hutan, serta menghadirkan suara-suara alam secara alamiah.

Tumbuh dan besar di Borongtala, dia menjadi saksi dari modernisasi yang berlari cepat. Lingkungan yang dahulu penuh dengan hutan, serta di pagi hari dipenuhi suara-suara burung, perlahan-lahan punah. Hutan dikonversi menjadi sawah. Pohon-pohon perlahan ditebang satu demi satu. Rumah ekosistem perlahan hilang.

Anak-anak muda perlahan meninggalkan kampung. Semua ingin mencari penghidupan yang lebih baik di Makassar. Kota menjadi magnet untuk menarik semua orang ke sana. Kampung ditinggalkan, sementara ekosistem kian hancur akibat ketidakpedulian.

Langkah Denassa untuk kembali ke kampung adalah anomali bagi anak muda yang ramai ke kota. Dia tak sekadar kembali, Dia mulai mengumpulkan berbagai jenis tanaman, lalu menanam.

Saat di Kupang, tahun 2013, saya pernah menemaninya ke markas Geng Motor Imut, kumpulan anak muda peduli ternak, untuk mengambil bibit pohon langka. Tak hanya itu, dia juga meminta bibit sorgum kepada Mama Tata, pejuang lingkungan dan pelestari sorgum dari Pulau Adonara.

Kerja-kerjanya perlahan membuahkan hasil. Literasi, alam yang lestari, suasana sejuk, dan suara-suara alam, perlahan menjadi magnet. Perlahan ekosistem mulai kembali sebagaimana sedia kala. Hutan mulai menghijau. Suara-suara burung mulai terdengar di pagi hari.

Denassa mengembalikan segarnya suasana kampung pada orang Makassar yang kian kota. Banyak sekolah membawa siswanya ke Rumah Hijau Denassa demi nostalgia pada alam hijau, serta berbagai keriangan khas kampung.

Denassa mengenalkan kearifan lokal apabila murid-murid perkotaan datang berkunjung. Penguatan itu antara lain bermain ke sawah, memberi makan domba, hingga menangkap itik. Termasuk menyajikan makanan-makanan lokal, seperti umbi-umbian, jagung, ubi kayu, ubi jalar, ataupun makanan-makanan lokal lainnya.

Dia mendorong anak-anak belajar tradisi dan budaya lokal di Sawahku dan Rumah Hijau Denassa.  Para pelajar yang berkunjung tidak diperkenankan membawa makanan ataupun minuman berkemasan. Hal itu dinilai bisa merusak alam.  Pelajar diwajibkan membawa tumbler untuk menguatkan budaya perang terhadap sampah plastik.

Murid-murid TK ataupun murid SD kelas 1 hingga kelas 3, diwajibkan menggambar pengalamannya jika berkunjung. Sementara murid SD kelas 4-6, SMP, SMA, ataupun mahasiswa diminta menuliskan kisah hidupnya jika berkunjung.

Hal-hal seperti ini sederhana bagi mereka yang besar di kampung, tapi untuk masyarakat kota, hal-hal ini terasa amat mewah dan penuh kesan. Bagi anak-anak yang setiap hari bermain game di HP, petualangan memandikan kerbau adalah pengalaman yang akan selalu dikenang hingga akhir hayat.

Denassa tak sekadar bernostalgia, dia mengembalikan suasana keriangan anak-anak pedesaan pada generasi kota yang terpapar gadget dan internet. Mereka yang berkunjung ke Rumah Hijau Denassa akan merasakan suasana yang sejuk dan adem, serta menjadi semacam oase yang menyehatkan.

Saya terkenang diskusi kami di tahun 2013. Saat itu, kami membahas tema kegiatan Oxfam yakni Ideas + Action = Change. Bahwa perubahan selalu dimulai dari ide-ide sederhana, yang kemudian diterjemahkan menjadi aksi-aksi kecil. Senyawa dari ide dan aksi itulah yang menggerakkan roda perubahan.



suasana di Rumah Hijau Denassa

Beberapa tahun berlalu, dia telah mewujudkan semua yang pernah didiskusikan. Dia menjadi figur yang menginspirasi. Dia menjadi sosok yang melampaui banyak orang. Gagasan kembali ke alam di tengah masyarakat yang terpapar industri serta gawai adalah gagasan penting untuk tetap merawat bumi.

Kini, ratusan tanaman endemik dan non-endemik memenuhi lingkungan sekitar rumahnya seluas 3 hektar. Di tengah rumah hijau ini, Denassa membangun taman baca, mengundang banyak orang untuk berkumpul. Di situlah dia menyebarkan ide-ide untuk merawat bumi. Dia menjadi telaga untuk sejenak membasuh hasrat kota dalam diri kita yang terlampau kapitalis. 

Kini, Denassa telah menemukan tujuan hidupnya. Dia membangun telaga agar orang-orang berdatangan, sekadar merasakan sejuk di tengah panasnya peradaban.

Saya tak terkejut mendengar dirinya terus mendapatkan berbagai penghargaan. Penghargaan itu hanya buah dari kerja-kerja kecil yang dilakukannya. Namun saya yakin, bagi seorang pejuang lingkungan, penghargaan itu tak seberapa penting.

Jauh lebih penting mendengar suara-suara burung berkicau di pagi hari, di tengah hutan yang asri. Jauh lebih penting melihat tetes embun pagi di dedaunan yang terhampar di sekitar rumah. Jauh lebih penting melihat anak-anak yang bermain dan tertawa riang saat menyusuri pematang sawah.

Bagi Denassa, senyum, udara segar, kicau burung, jauh lebih penting dari apa pun. Dan kita warga kota hanya bisa iri melihatnya. Kita mau, tapi kita tak berani. Kita pengecut. Dia pemberani.


BACA:

Para Pahlawan di Tanah Kupang

Inspirasi Kupang untuk Perubahan Iklim

PNS Inspiratif di Kota Kupang



Kemewahan Bersama Ibu

 


Bisa bersama ibu adalah kemewahan tertinggi.  Bahagianya jauh melebihi apapun.

Dalam diamnya, seorang ibu punya kekuatan yang selalu bikin anaknya tak bisa berkata-kata. Dia adalah monumen dari rasa kasih dan sayang yang tak berkesudahan. Dia sungai mengalir yang tak pernah mengenal kata kering.

Tubuhnya kian renta, tapi saat anaknya datang, dia akan kembali perkasa. Dia kembali jadi induk ayam yang merentang sayapnya untuk melindungi anaknya dari elang.

Dia akan sekuat dahulu saat memeluk anaknya demi menghalau semua raksasa, setan, kanjoli, onicu, dan rasa takut.

Dia kumpulkan seluruh energinya hanya untuk memyambut anaknya, sembari bertanya, “sudah makan? Saya bikinkan parende yaa.?’

Anaknya yang lebih banyak abai dan durhaka itu hanya bisa mematung. Tak kuat melihat rasa kasih dan pengabdian sehebat itu. Sayup-sayup, dua bait puisi dari penyair Zawawi Imron menyelusup dalam sadar.


“Kalau aku merantau 

lalu datang musim kemarau

sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting

hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir”

bila aku merantau

sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku

di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan

lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar




Coto Makassar di Bandara Hasanuddin

 


Tahun 1500-an, coto Makassar sudah ada. Konon, ini makanan favorit para tubarani (ksatria) serta bangsawan Gowa. Selanjutnya, cita rasanya menyebar ke mana2.

Para pelaut Bugis Makassar, serta diaspora manusianya telah membawanya ke berbagai penjuru mata angin. Coto bisa ditemukan di Pasar Senen (Batavia), hingga Buitenzorg (Bogor) yang diasuh Daeng Tona. Bahkan berkelana ke kedai2 di Bugis Street (Singapura), lalu mencapai Semenanjung Malaysia.

Namun mencicipi coto di negeri asalnya punya sensasi berbeda. Bahan utamanya adalah daging sapi, namun ada lebih 40 jenis rempah2, membentuk rasa yang akrab di lidah, menjadi penanda sejarah bahwa di masa silam bumbu2 dan rempah juga bergerak melintasi lautan.

Semangkuk coto menyimpan banyak memori, juga sejarah.

 


BUTON SELATAN yang Lebih Indah dari Maldives

 

spot selam di Buton Selatan (foto: Dicky Millar)

Terik matahari menyambar air laut. Kerlip hamparan pasir yang putih dan bersih, membuat mata silau, siapa pun yang memandangnya dari jauh. Saat memandangi lebih dekat, tampak air laut yang jernih kebiruan menawarkan pemandangan eksotis. Ikan-ikan kecil yang berenang lihai di antara pasir putih yang dangkal semakin membuat siapa pun enggan meninggalkan pulau ini.

Perahu kecil bergerak menuju pulau yang tampak indah dengan gugusan pohon kelapa. Pulau ini ialah Pulau Ular. Namun, pulau ini tidak seseram Pulau lha da Queimada Grande, Brazil, sebuah pulau indah yang sama sekali tak satu pun pelancong pernah bermimpi untuk ke sana. Bahkan warga Brazil sendiri. Pulau itu dihuni oleh sekitar 2.000-4.000 golden lancehead viper (Bothrops insularis), salah satu jenis ular paling mematikan di dunia. 

Namun situasinya berbeda dengan Pulau Ular di Kabupaten Buton Selatan (Busel), Sulawesi Tenggara. Di sini, tidak ada ular. Pulau yang dikelilingi pasir putih ini juga tak berpenghuni. Pulau ini menjadi primadona tayangan televisi yang memotret pesona alam. Salah satunya adalah Indonesia Punya Cerita, yang tayang di Trans TV dua tahun lalu.

Lista, seorang wisatawan asal Jakarta yang diwawancarai TV nasional itu mengaku senang dapat menginjakkan kaki di pulau yang hanya berjarak 50 menit dari Bandara Betoambari, Baubau ini.

“Aku sengaja datang ke sini karena memang cari pulau yang sepi. Kalau orang kan ke Sulawesi Tenggara tahunya Wakatobi, nah ini nggak banyak yang tahu ada pulau secantik ini,” ujar Lista riang.

Lista salah satu contoh wisatawan dari luar Pulau Buton yang sengaja menghabiskan uang untuk bisa tiba di kabupaten muda ini. Lista dan kawannya beruntung sebab salah satu surga di Buton Selatan bisa dinikmati setelah kabupaten ini berbenah.

Perahu yang Menuju Pulau Ular di Buton Selatan (foto: BaYou)

Kabupaten yang dimekarkan tahun 2014 lalu memiliki pesona alam yang sangat menawan. Daerah hasil pemekaran Kabupaten Buton ini, sebagian wilayahnya terdiri atas kepulauan. Itu sebabnya, kabupaten ini menyimpan potensi besar di bidang pariwisata khususnya wisata bahari.

Pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitar Busel, kini mulai mengundang perhatian para wisatawan. Tak hanya wisatawan lokal, wisatawan asing pun tampak mulai berdatangan menikmati pulau-pulau indah Busel yang dianggap lebih indah dari pantai di Maldives.

***

Beberapa meter dari bibir pantai Batauga, sekelompok perahu nelayan dihias sedemikian rupa. Perahu-perahu yang digunakan untuk menangkap ikan ini, terombang-ambing oleh ombak seolah hendak menunggu aba-aba.

Sejurus kemudian. puluhan kapal nelayan tadi berlayar dengan mesin motor. Mereka berparade, berlomba mengitari teluk Batauga. Dari jauh kapal mereka tampak dengan kumpulan warna-warni indah yang mencolok di mata.

Selain parade, festival juga dimeriahkan dengan tarian Kadepo yang menceritakan warga pesisir laut Busel dalam menangkap ikan dengan peralatan tradisional. Tarian ini adalah

Setelah tarian itu selesai, dilanjutkan dengan prosesi ritual adat larung laut yang dilakukan masyarakat nelayan Laompo sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Ritual ini sudah rutin digelar masyarakat Laompo Batauga tiap musim melaut.

Ada ratusan wisatawan lokal yang menyaksikan parade, dan atraksi larung laut, mereka seolah terpukau dengan cantiknya pantai Batauga dan asyiknya atraksi budaya yang dimiliki masyarakat Busel.

Meski baru pertama kali digelar, Festival Buton Selatan yang mengangkat tema The Wonder of South Buton atau Keajaiban Buton Selatan ini berhasil menarik perhatian warga dalam dan luar Busel. Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi bahkan menginginkan festival ini dilaksanakan setiap tahun, menambah destinasi wisata unggulan baru di wilayah Sultra.

Festival Buton Selatan yang diadakan pada 29 November hingga 1 Desember 2019 ini merupakan kegiatan pariwisata yang diinisiasi oleh Bupati Haji La Ode Arusani. Festival yang mengangkat tema Keajaiban Buton Selatan ini merupakan gelaran pertama kali di Busel.

Festival ini digagas La Ode Arusani saat masih menjabat Plt Bupati Busel tahun 2019 lalu. Pria yang dikenal murah senyum ini menghendaki festival yang menyandingkan, keindahan alam serta kebudayaan itu digaungkan lebih besar di tahun mendatang demi mempopulerkan potensi wisata Busel. Dia berharap pariwisata akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Festival ini kita buat agar potensi Busel bisa diekspos ke wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Lewat kesempatan ini, masyarakat yang hadir bukan hanya ikut menyaksikan tapi juga mendoakan agar Busel lebih maju,” pintanya.

Dengan festival ini, Arusani berharap potensi wisata Busel bisa dilirik pemerintah pusat. Lebih jauh bahkan ke wisatawan manca-negara. Tak salah jika Arusani menghendaki kabupaten yang dipimpinnya menjadikan pariwisata sebagai proyek strategis.

Penari di Buton Selatan Festival

Salah satu ritual di Buton Selatan Festival (foto: Dicky Millar)

Pada festival perdana ini, Pemkab Busel akan menyuguhkan sejumlah acara unggulan sebagai etalase bagi masyarakat luas untuk mengenal lebih jauh adat dan budaya, kehidupan masyarakat bahari, kekayaan kuliner, serta potensi kreatif yang dimiliki masyarakat Busel.

Beberapa acara yang digelar adalah: parade budaya, karnaval perahu nelayan, ritual adat, pagelaran tari persembahan para pelajar, pemilihan duta wisata Buton Selatan, zona kuliner dan kreatif, lomba-lomba tradisional hingga fashion show tenun Buton.

Saat kegiatan karnaval perahu, ratusan nelayan ikut berpartisipasi. Demikian pula saat parade budaya. Banyak orang ikut terlibat dan berpartisipasi sehingga nuansa dan kekayaan budaya Buton Selatan bisa tampak.

Kekayaan tenun Buton juga akan mendapat tempat tersendiri di panggung Buton Selatan Festival melalui fashion show tenun. Apalagi, ada kolaborasi dengan desainer yang karyanya telah mewarnai catwalk bergengsi nasional di ajang Indonesia Fashion Week dan negara tetangga.

Sedang ajang pemilihan duta wisata adalah untuk menemukan potensi generasi muda Buton Selatan yang kenal budaya sekaligus berwawasan. Mereka akan menjadi duta dan wajah Buton Selatan dalam berbagai kegiatan promosi pariwisata.

Buton Selatan Festival 2019 diharapkan dapat menjadi jendela untuk melihat lebih dekat keragaman budaya serta keindahan alam Kabupaten Buton Selatan. Inilah upaya pemerintah Kabupaten Buton Selatan untuk ambil bagian dalam upaya merawat Indonesia, melalui pelestarian adat dan budaya lokal.

Sejak dimekarkan sejak tahun 2014, Buton Selatan kini tengah berbenah. Pemerintah terus menggalakkan pembangunan pariwisata berbasis adat, budaya dan bahari.

Sejalan dengan semboyan Kabupaten Buton Selatan Beradat. Adat dan budaya asli memang masih terus dilestarikan oleh masyarakat di wilayah yang menjadi tempat pertama kali penyebaran Islam di jazirah Buton itu. Dengan rutinnya digelar ritual adat dan budaya di desa-desa oleh masyarakat.

Seusai dilantik sebagai Plt Bupati Busel maupun bupati definitif setahun terakhir, La Ode Arusani segera memerintahkan jajaran di bawahnya untuk memulai mendata budaya dan potensi wisata yang dapat dipasarkan.

Budaya lokal dapat dijadikan promosi daerah atas keberagaman kebudayaan yang menjadi kekayaan Busel.

Even pariwisata lokal pun dimulai di tahun 2019 lalu. Kecamatan Lapandewa menggelar Pesta Adat Ma’acia Burangasi, Kecamatan Siompu menggelar pesta adat Metau’a, dan Sampolawa ada karnaval budaya Riapa Wapulaka, serta event yang terbesar dan perdana diadakan yaitu Buton Selatan Festival 2019.

Arusani mengatakan, kegiatan kebudayaan di tujuh kecamatan harus dieksplor. masih banyak kegiatan adat istiadat, tradisi lokal yang memiliki nilai-nilai luhur masa lalu belum tersentuh untuk dikelola dengan baik. Untuk itu ia meminta agar instansi teknis dan lainnya saling berkolaborasi sehingga potensi kepariwisataan dapat dibuatkan kalender pariwisata agar menjadi program tahunan yang bisa menjadi tujuan para pelancong.

Di sektor budaya, Arusani telah memberikan sentuhan pada pakaian adat seluruh perangkat adat. Hal itu penting untuk memperkuat eksistensi adat dalam kedudukannya di tengah-tengah masyarakat Busel. Serta menjadi potensi wisata yang sering dicari-cari oleh dunia luar.

“Kedepan pengembangan potensi kebudayaan Busel akan ditargetkan menjadi destinasi pariwisata unggulan, saya berharap kebudayaan kita masuk kalender pariwisata. Ini yang kita genjot 2020, sehingga bisa menjadi destinasi wisata internasional,” ujar bupati yang sebelumnya menjadi anggota dewan ini.

Arusani melanjutkan, potensi kebudayaan Busel harus mulai didata dengan baik. “Kita tahu nilai-nilai prosesi adat budaya sangat beragam serta unik, jauh berbeda dengan daerah lain. Hal ini yang akan diangkat sehingga menjadi destinasi wisata budaya,” harapnya.

Di tahun 2020 di sektor kebudayaan telah mendapat perhatian serius dari pemerintah. Jajaran di bawahnya pun giat bekerja demi memberi nilai tambah dalam laju pembangunan daerah melalui pariwisata.

“Kami tengah memprakarsai ide Bupati Buton Selatan dalam mendorong pengelolaan obyek wisata dengan membentuk Kelompok kelompok Masyarakat sadar wisata (Pokdarwis) yang akan dibentuk di semua Desa yang memiliki obyek wisata,” ujar La Ode Harwanto, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Busel.

Desa-desa di Busel memang menyimpan potensi wisata lain yang dapat menarik perhatian pelancong. Banyak peneliti yang tertarik untuk mengetahui eksistensi Parabela atau tetua adat, sebagai ujung tombak adat dan budaya dalam aktivitas kehidupan masyarakat.

Di Buton Selatan terdapat 24 baruga yang merupakan tempat pertemuan masyarakat yang umumnya berada di benteng kuno yang tersebar di 7 kecamatan di Buton Selatan.

Di tahun 2020, Bupati Arusani menargetkan untuk menunjukkan potensi kebudayaan dan potensi destinasi alam itu di pentas nasional. “Fokus kedepan potensi kekayaan kebudayaan Busel juga menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di kawasan Indonesia Timur,” papar Arusani.

Salah satu potensi unggulan yang tengah dikembangkan Bupati Arusani ialah Bukit Lamando yang berada di Desa Sandang Pangan Kecamatan Sampolawa. Bukit ini dianggap unik dan memiliki potensi wisata yang dapat diandalkan Buton Selatan untuk menarik wisatawan mancanegara.

Di tahun 2020 ini, bukit tersebut bahkan masuk dalam nominasi objek wisata dataran tinggi terbaik di Indonesia oleh ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020.

Arusani sangat berbahagia menyambut nominasi tersebut. Ia pun telah menginstruksikan Dinas Pariwisata untuk segera menyiapkan faktor pendukung lainnya, untuk bersaing dengan sembilan daerah lainnya guna menjadikan Bukit Lamando masuk dalam tiga besar.


Bahkan merebut posisi pertama kategori objek wisata dataran tinggi terbaik Se-Indonesia. Ia menghendaki nominasi ini tidak dilewatkan sebagai promosi gratis Buton Selatan kepada Indonesia dan dunia.

Bukan hanya Bukit Lamando yang berpotensi menjadi destinasi wisata unggulan. Destinasi wisata lain ialah Danau Taolalo, Siompu Barat Tonpa-Tonpanaune yang terkenal dengan wisata jeruknya, Batauga dengan permandian air panas, Bukti Langoi, dan  jembatan lingkar Lapoili.

 

Wisata yang Tersembunyi

Potensi wisata di tujuh kecamatan Busel, belum seluruhnya terpetakan. Masih banyak kegiatan adat istiadat, serta tradisi lokal yang memiliki nilai-nilai luhur yang layak menjadi objek wisata.

Arusani yang berlatar belakang pengusaha punya visi yang jelas, tentang optimalisasi sumber daya lokal yang dijabarkan dalam visi Pemkab Busel lima tahunan.

Pembangunan Kabupaten Buton Selatan difokuskan pada upaya mengoptimalkan segala bentuk sumber daya lokal yang meliputi sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya budaya, sumber daya buatan/teknologi, dan sumber-sumber penerimaan daerah untuk sampai pada peletakan kesejahteraan daerah yang kokoh.

Di titik ini Arusani menghendaki optimalisasi segala bentuk sumber daya lokal di sisi sumber daya budaya. Maka Pemkab akan segera mendata seluruh kegiatan ritual adat maupun kegiatan yang bernuansa kebudayaan seluruh desa dan kecamatan, baik yang digelar setiap tahun dengan berbagai ritual adat maupun kegiatan tradisi masyarakat setempat.

“Saya berharap potensi kebudayaan kita dapat terdata dengan baik, kita tahu nilai-nilai prosesi adat budaya sangat beragam serta unik, jauh berbeda dengan daerah lain,” harap Arusani.

Bukit Lamando, Buton Selatan

Jika sektor kebudayaan mendapat perhatian serius dari pemerintah, kata Arusani, ia yakin kebudayaan akan menjadi kekayaan tersendiri bagi Busel. Hal itu akan menjadi nilai tambah dalam laju pembangunan daerah. Wisata budaya kelak dapat dituangkan menjadi event internasional.

Salah satu potensi wisata sejarah dan budaya yang banyak dibicarakan di Busel adalah makan Gajah Mada. Di Tanah Air, ada banyak versi di mana letak kuburan Mahapatih di Kerajaan Majapahit itu. Kematiannya pun masih menjadi misteri.

Ada yang mengklaim Gajah Mada dimakamkan di Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Ada juga yang mengklaim Gajah Mada dimakamkan di Tuban, Jawa Timur. Di Lampung juga, diklaim sebagai tempat peristirahatan terakhir pemilik Sumpah Palapa itu.

Buton Selatan juga disebut-sebut sebagai tempat makam Gajah Mada. Setiap tahun, banyak orang Hindu yang datang berziarah ke makam itu. Pemerintah perlu merenovasi akses jalan, serta membenahi kawasan sekitar makam sehingga bisa dijangkau semua orang.

Kepala Dinas Kebudayaan Buton Selatan, Dr Ali Rosdin, mengungkapkan adanya dukungan dari Bupati Buton La Ode Arusani untuk membangun dua monumen, yakni Monumen Gajah Mada dan Monumen Syekh Abdul Wahid.

“Sudah banyak penelitian dilakukan. Kita ingin bergerak lebih cepat. Lebih baik kita bangun monumen. Pelan-pelan pikiran orang itu kita alihkan melalui monumen. Sehingga orang akan datang ke Batauga untuk singgah di Monumen Gajah Mada,” kata Dr Ali Rosdin.

Selain Monumen Gajah Mada, pihaknya juga berencana untuk membangun Monumen Syaikh Abdul Wahid, penyebar Islam di tanah Buton. Buton Selatan ingin melestarikan spirit yang dibawa Syaikh Abdul Wahid. “Kita ingin mewariskan semangat. Islam yang datang di Buton itu berasal dari Syaikh Abdul Wahid itu. Bukan berasal dari Ternate dan lain sebagainya,” lanjut Dr Ali Rosdin.

situs sejarah di Buton Selatan

Jejak Syaikh Abdul Wahid bisa dilihat pada situs budaya berupa masjid tertua di Wawoangi. Masjid ini diyakini sebagai masjid yang pertama kali dibangun di Jazirah Buton. Masjid ini didirikan pada tahun 1527 M oleh Syaikh Abdul Wahid.

Syaikh Abdul Wahid adalah sosok yang amat dihormati, sebab penyebar Islam pertama kali di Kesultanan Buton, termasuk mengislamkan, Sultan Buton I, Sultan Murhum (Laki Laponto). Konon, Syaikh Abdul Wahid melihat cahaya di langit turun di Wawoangi. Dia lalu membangun masjid di lokasi masjid sekarang.

Selain gua dan masjid, “situs misteri” lainnya, yakni gua Purbakala Waburi di pesisir pantai Lapandewa, dan jangkar raksasa di dasar lautan.

Ali Rosdin juga bercerita tentang Syaikh Abdul Wahid yang pertama singgah di Batu Atas, kemudian singgah ke Lampea di Lapandewa. “Kalau hanya cerita-cerita orang mau datang di situ, mau lihat apa. Makanya perlu ada monumen,” katanya.

Selain tempat bersejarah, Buton Selatan dikenal memiliki banyak gua yang memiliki daya tarik wisata sebab misteri serta jejak sejarah yang ditinggalkan. Salah satunya ialah Gua Jepang “Tanci”, di Desa Bola, Kecamatan Batauga.

Gua Tanci semakin meneguhkan klaim bahwa sejak dahulu, wilayah Busel menjadi lokasi yang sangat penting sebagai jalur perdagangan di kawasan Indonesia Timur. Jepang bahkan membangun kekuatan militernya di sini, dan menjadikannya basis pertahanan dari serangan musuh. Alhasil, gua berusia puluhan tahun ini dapat menjadi situs budaya yang tentu menarik bagi wisatawan.

 

Wisata Alam

Kekuatan pariwisata Buton Selatan adalah banyaknya destinasi wisata yang memukau. Di sini, bisa ditemukan padang savana yang luas, pulau-pulau yang menawan, pantai yang cantik, dan ekosistem yang indah.

Ada banyak pantai indah yang menyejukkan mata dan menjadi potensi wisata yang belum terjamah. Beberapa pulau di antaranya bahkan disebut-sebut mengalahkan keindahan pantai Maldives yang terkenal berkat pasir putih dan keindahan bawah lautnya.

Sektor Bahari memang telah menjadi sahabat bagi masyarakat Kabupaten Buton Selatan. Hampir 70 persen wilayah kabupaten ini terdiri dari perairan. Wisata bahari bisa ditemukan di tujuh kecamatan, yaitu Batauga, Sampolawa, Lapandewa, Batu Atas, Siompu, Siompu Barat dan Kecamatan Kadatua.

Salah satu spot wisata bahari yang tengah menjadi buah bibir adalah perairan Batu Atas. Banyak penyelam mengakui spot perairan Batu Atas memiliki panorama wisata bawah laut yang lebih indah dari Wakatobi.

spot selam di Batu Atas, Buton Selatan

Beberapa driver atau penyelam mengakui kekayaan biota lautnya sangat menakjubkan. Warna-warni terumbu karang, dihiasi ratusan jenis ikan mampu memukau para penyelam yang sempat menceburkan dirinya di lokasi ini. Semua kekayaan bawah laut membentuk variasi menyatu menjadi taman. Menghasilkan potret alam luar biasa.

Dari Kota Baubau, menuju Pulau Batu Atas dapat ditempuh dengan menggunakan akses transportasi laut. Kapal reguler siap setiap saat bisa mengantar, baik melalui Pelabuhan Topa dan Pelabuhan Tarafu di Kota Baubau. Biayanya cukup terjangkau. Hanya dengan Rp 70 ribu untuk sekali perjalanan, dengan waktu tempuh beberapa jam melewati laut banda.

Salah seorang penyelam, Dicky Millar, mengakui, bawah laut Batu Atas bisa menghipnotis.

“Keindahan laut Batu Atas ini bisa di setarakan dengan taman laut Wakatobi, bahkan ada beberapa keunikan yang hanya dapat di temukan di perairan Batu Atas. Namun bawah laut Batu Atas ini belum cukup diketahui oleh orang banyak. Saya pastikan menyelam berjam-jam pun rasanya kurang puas,” katanya.

Beberapa penyelam malah menyebut bawah laut Batu Atas lebih indah dari Raja Ampat. Tidak mengherankan jika spot menyelam Batu Atas menjadi favorit banyak wisatawan yang ke Wakatobi. Bahkan saat ini tengah diupayakan jalur langsung dari Pulau Komodo ke Batu Atas, kemudian dibuatkan paket-paket wisata untuk para pelancong.

Buton Selatan memang kawasan bahari. Sejak ratusan tahun lamanya sebelum Belanda mencapai daratan ini, penduduknya telah berdamai dengan laut, rasi bintang dan pulau-pulau tak berpenghuni. Ada empat kecamatan yang berjejer membentuk kepulauan di Buton Selatan. Pulau-pulau itu adalah Pulau Kadatua, Pulau Siompu dan Pulau Batu Atas. Sedang tiga kecamatan lainnya berada di daratan Pulau Buton yakni Batauga, Sampolawa dan Lapandewa.

Sadar berdiri sebagai daerah maritim, sejak awal, Pemda Buton Selatan sudah berambisi menjadikan pantai dan pesona bawah laut sebagai objek wisata unggulan dalam menarik wisatawan domestik, nasional maupun mancanegara.

Selain itu, ada pula Pulau Kawi-Kawia yang merupakan pulau terluar dan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan. Pulau Kakabia terkenal dengan burung berwarna putih hitam yang berkumpul dipulau tersebut pada pagi dan sore hari. Burung tersebut memangsa ikan terbang dan ikan lain yang hidup di permukaan laut dengan paruhnya yang besar dan panjang.

Di sekitar Pulau Kakabia banyak sekali ditemui penyu sisik dan hamparan terumbu karang yang masih sangat bagus. Di atas pulau, terdapat juga biawak, ular batu, tikus berwarna kemerah-merahan dan kotatu (kepiting kenari).

Untuk mewujudkan mimpi wisata bahari paling unggul di Kepulauan Buton. Pemda kini terus membenahi fasilitas serta menggiatkan promosi. Bupati La Ode Arusani telah bertekad untuk menjadi destinasi wisata nasional, mengalahkan kabupaten lain.

Di Indonesia, beberapa daerah juga fokus pada pengembangan pariwisata bahari. Satu di antaranya adalah Banyuwangi di Jawa Timur. Bagi Pemkab Banyuwangi, pariwisata diharapkan bisa menjadi gerbong yang menarik sektor lainnya. Pariwisata bisa memperkuat pertanian, perkebunan, industri jasa, hingga menarik investasi.

Buton Selatan memang masih seumur jagung. Tapi, pengembangan pariwisata sangat menjanjikan. La Ode Arusani ingin menjadikan Buton Selatan bertransformasi dari daerah yang dikenal dengan citra kabupaten yang maju dan modern dengan mengandalkan sektor pariwisata sebagai core economy-nya. Targetnya ialah ketika pendapatan perkapita kabupaten ini naik lebih dari dua kali lipat dan kunjungan wisatawan naik 10 kali lipat.

Di alam pikir pembangunannya, Bupati La Ode Arusani menetapkan landasan pembangunan Busel yang visioner, ia telah paham bahwa ke depan tren pertumbuhan ekonomi dunia bakal ditopang oleh pariwisata.

“Mari kita fokus pada pembangunan daerah yang kita cintai ini. Insyaallah saya terus fokus membangun secara merata di tujuh kecamatan. Mari kita saling mendoakan agar kita diberikan kesehatan, agar daerah ini terus lebih baik,” katanya.

Di era megatren “Leisure Economy” ini sektor pariwisata memang telah menjadi tulang punggung ekonomi bangsa-bangsa di dunia.

Sebut saja negara-negara maju seperti Inggris, Perancis, Spanyol, bahkan Malaysia dan Thailand, sudah mengandalkan sektor pariwisata sebagai core economy.Itu sebabnya Busel harus fokus memosisikan diri di pariwisata tertentu karena sektor pariwisata memiliki multiplier effect amat luas ke perekonomian secara keseluruhan. Artinya, kegiatan di sektor ini memiliki dampak luar biasa dalam menggerakkan begitu banyak kegiatan ekonomi lain.

Tak hanya itu, sektor pariwisata juga paling mudah dan paling murah mendatangkan devisa. Dengan begitu pariwisata menjadi “obat ampuh” untuk menyembuhkan penyakit akut current account deficit (CAD) yang diderita perekonomian kita beberapa tahun terakhir. Meningkatnya promosi serta angka kunjungan wisatawan di beberapa daerah tetangga juga akan memberikan efek bagi tumbuhnya industri pariwisata di Kabupaten Buton Selatan.

Konsep utama wisata yang tengah dikembangkan adalah sinergi antara wisata kepulauan (pantai, pulau bawah laut), wisata budaya (tradisi, ritual budaya tarian, dan musik), dan wisata alam (gua, savana, hutan dan air terjun).

Atraksi budaya di Buton Selatan

Ketiga komponen ini menjadi jantung utama dari kegiatan pariwisata di wilayah ini. Tantangan berikutnya adalah bagaimana memperkenalkan semua unsur pariwisata itu ke dunia luar sehingga lebih dikenal secara luas.

Sejauh yang bisa disaksikan, potensi wisata itu berbasis pada sumber daya alam yang melimpah ruah. Buton Selatan dikenal sebagai Negeri 1001 Misteri. Sebutan ini berdasar pada banyaknya misteri yang seharusnya bisa dikelola demi mendorong pariwisata.

Merujuk dari pernyataan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Busel, La Ode Harwanto, pihaknya mengungkapkan promosi wisata Busel budaya di-branding pada satu ikon, yakni perahu Boti. Moda transportasi tradisional masyarakat ini telah mengarungi sejarah kesultanan Buton, dan menjadi tumpuan masyarakat hingga sekarang.

“Harus ada satu tempat yang kita branding, yang sudah kuat tumbuhnya di wilayah Batauga ini. Termasuk ikon perahu Boti. Salah satu daerah yang melestarikan Boti ini hanya di Busel. Boti ini memang ada dan tumbuh di sini.”

Selain itu, ada wisata alam seperti Bukit Lamando di Desa Sandang Pangan (Rongi), Kecamatan Sampolawa, yang tahun ini terpilih sebagai nominator Anguerah Pesona Indonesia (API) Award 2020. Bukit Lamando, akan bersaing dengan 10 Kabupaten/kota lainnya di Indonesia untuk memperebutkan Kategori Dataran Tinggi Terbaik melalui voting SMS.

Masuk dalam nominasi itu kata Herwanto, sebuah kebanggaan tersendiri. Karena ini promosi gratis. Sebab membangun pariwisata itu yang paling banyak mengeluarkan uang bukan pada membangun infrastruktur tapi Promosinya.

“Kita bersyukur ini adalah promosi pariwisata gratis bagi Busel sehingga dikenal dunia luar,” katanya.

 

Integrasi dan Promosi

Pariwisata di Buton Selatan merupakan pengembangan terintegrasi. Keterlibatan instansi terkait terjalin dengan baik seperti yang telah diperintahkan oleh bupati. Dinas Infokom diminta fokus untuk promosi, Dinas PU untuk akses jalannya, Dinas Perhubungan dan juga termasuk Dinas Perdagangan. Kerja sama dijalin hingga Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Selain karena keindahan alamnya, Buton Selatan punya tradisi menyambut tamu yang unik salah satunya dengan parade penyambutan seni dan budaya yang memanjakan para pengunjung. Seperti saat sebuah Yacht mancanegara yang merupakan peserta Sail to Indonesia 2018 merapat ke pelabuhan Buton Selatan. Kehadiran mereka disambut antusias dengan parade seni budaya hingga kuliner oleh masyarakat Busel.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, waktu itu bahkan mengungkap, Buton Selatan merupakan destinasi pariwisata terbaik. Dengan karakter kuat alam wisata bahari, yang dilengkapi dengan kultur terbaik.

"Selamat datang di Buton Selatan. Wilayah ini merupakan salah satu destinasi terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. Nature dan culturenya sangat bagus. Para yachter bukan hanya menikmati, tapi bisa belajar beberapa tradisi unik masyarakat di sana. Enjoy Buton Selatan," ujar Arief dalam keterangan tertulisnya.

Event Sail to Indonesia 2018 total diikuti 75 yacht. Mereka berasal dari 12 negara. Terdiri dari Australia, Selandia Baru, Denmark, Prancis, Belanda, Inggris Raya, Jerman, Kanada, dan Amerika Serikat. Hal ini menjadi kesempatan promosi yang tidak disia-siakan Pemkab.

Apalagi Sail to Indonesia 2018 digelar empat hari dengan event tersebar di empat lokasi pula, yaitu di Desa Bahari 1, Bahari 2, Bahari 3, dan Rongi, Sampolawa.

Media nasional seperti detik.com dan kompas.com pernah memuat event ini. Dikutip dari detik.com, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Bahari Indroyono Soesilo, selesai acara mengatakan, Buton Selatan jadi salah satu destinasi terbaik Sail to Indonesia 2018. Penyambutan warga dan kesiapan Pemkab jadi yang terbaik di antara wilayah lain yang disinggahi peserta.

"Sail to Indonesia 2018 ini menjadi program luar biasa. Event ini akan memberikan pengaruh besar bagi pariwisata Indonesia. Perekonomian masyarakat bergerak, terutama di destinasi yang disinggahi," kata Indroyono.

Antusiasme masyarakat Buton Selatan, menyambut para tamu pun sangat luar biasa. Hal itu bisa dilihat dari 'ritual' khusus yang telah disiapkan. Ada beragam parade seni dan budaya yang ditampilkan, di antaranya Mangaru Dance dan Traditional Dance yang digelar di Pantai Lagunci, Desa Bahari. Tari Mangaru merupakan salah satu identitas Buton. Tarian ini menggambarkan keberanian kaum pria di dalam medan perang.

Dilengkapi peralatan perang, gerakan rancak akan diperlihatkan Tari Mangaru. Tarian ini biasanya juga diiringi oleh alat musik kansi-kansi, mbololo, dan gendang. Nuansa semakin klasik dengan kostum unik yang dikenakan para penari.

"Kami yakin para yachter ini akan terkesan selama berada di Buton Selatan. Sebab, wilayah ini memiliki culture yang sangat khas dan kuat," tegas Indroyono.

Buton Selatan juga akan menyajikan Boti Festival, di Desa Bahari, Boti Festival menarik perhatian. Sebab, memberi pengalaman melihat Boti yang merupakan perahu khas masyarakat Buton dengan tampilan fisik eksotis. Masih dari hari sama, para yachter juga menikmati kelas memasak ala wilayah Buton Selatan.

Selain beragam sajian budaya tradisional, para yachter juga akan disambut dengan kuliner terbaik khas Buton Selatan. Sebut saja, ada onde-onde, kasomi, tandu, dan masih banyak lainnya.

Selain tradisi dan potensi wisata yang telah disebutkan di atas, masyarakat Buton Selatan juga memiliki tradisi unik, di antaranya budaya Pindokoa yaitu aktivitas menangkap ikan dengan memakai tombak khusus. Tradisi Pindokoa ini sudah hidup selama ratusan tahun silam. Pindokoa menjadi treatment bila kondisi di laut kurang bersahabat lantaran faktor cuaca

Ada pula tradisi menarik lainnya yakni Sungkawiano Sangia oleh masyarakat Siompu. berdasarkan penafsiran ritual ini  berarti menyiram batu.

Proses penyiraman sangia ini dimulai dari penganyaman kaperansa yang dibuat dari bambu dengan bentuk persegi tempat diletakkannya nasi, daun sirih, dupa, gambir, kapur, isi kelapa, rokok.

Kaperansa ini biasanya dianyam oleh ana buou, bhisano sangia atau siapa saja yang hadir di acara sungkawiano sangia. Setelah penganyaman kaperansa selesai langkah selanjutnya diserahkan kepada bhisano sangia (tetua adat yang bertugas menyiram sangia) untuk menyusun isi kaperansa sekaligus menyiram sangia.

Ritual tersebut diharapkan agar mau memberi keselamatan dan ketenteraman masyarakat setempat. Secara umum, tujuan tradisi ritual sungkawiano sangia pada hakikatnya merupakan perwujudan untuk mengingat arwah leluhur, memohon berkah dan pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Masyarakat Siompu akan merasa lega dan puas apabila telah menggelar tradisi ritual sungkawiano sangia ini karena mereka telah melakukan amanat dari leluhurnya. Secara khusus, upacara sungkawiano sangia bertujuan agar seluruh masyarakat Siompu terhindar dari segala macam wabah penyakit khususnya yang timbul akibat gejala alam (pergantian musim) dan meminta rezeki kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tradisi ritual sungkawiano sangia dilaksanakan pada setiap pergantian musim, yakni pergantian musim timur ke barat sekitar bulan November sampai Desember.

Selain itu ada pula ritus budaya di Desa Bahari, Kecamatan Sampolawa, Buton Selatan, ritual ini mendaki jalan berbukit menuju puncak gunung, tempat tanah leluhur orang Wapulaka.

Puncak Gunung Susudu merupakan tanah leluhur warga Desa Bahari. Perjalanan warga ke tanah nenek moyang mereka itu merupakan ritual adat Riapa atau syukuran masyarakat desa atas hasil panen laut selama setahun. Setiap tiga tahun sekali atau setahun sekali. Menariknya, siapa pun boleh mengikuti ritual adat ini, walaupun orang tersebut berasal dari luar desa.

Puncak Gunung Susudu setinggi 1.000 meter, dipercaya sebagai kediaman orang pertama di suku tersebut. Setiap orang yang memasuki wilayah ini kemudian akan diberi Cucundu atau sebuah tanda di kening. Seorang wanita yang merupakan tokoh adat membacakan doa dan bertugas memberikan tanda ini.

Setelah itu, warga mulai mendatangi kuburan tua yang telah diperbaiki dan terdapat patung kecil terbuat dari kayu. Kuburan tersebut dipercaya sebagai kuburan Lapangera atau kuburan orang pertama Wapulaka.

Lokasi kuburan yang indah dan sejuk, dan hutan ini hutan adat, jadi dilarang untuk menebang hutan. Perpaduan kesejukan alam hingga pemandangan yang asri membuat adat Wapulaka menyimpan potensi wisata yang alami.

Apalagi di atas puncak gunung, terlihat laut teluk Desa Bahari yang indah serta hamparan pasir pantainya yang putih.

Buton Selatan merupakan salah satu  kabupaten di Indonesia yang telah merumuskan pokok-pokok pikiran kebudayaan, dengan menyinkronkan arahan dari UU UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan.

Sejak dilantik menjadi bupati definitif  La Ode Arusani pun mengeluarkan aturan yang sangat menjaga adat istiadat dan budaya di kabupaten itu. Selain rutin menggelar agenda budaya, Pemkab Busel melestarikan peninggalan leluhur berupa pemugaran situs budaya dan rehabilitasi rumah adat. Pemerintah memberikan bantuan rehabilitasi melalui APBD.

Tahun 2020 Pemkab merevitalisasi situs dan cagar budaya di wilayah Busel yang telah diidentifikasi kurang lebih 30 benteng pertahanan dan 18 baruga atau rumah adat eks Kesultanan Buton.

Selain merevitalisasi benteng dan baruga, pemkab juga memberikan suntikan dana pada setiap desa dalam perayaan acara acara adat termasuk memberi dukungan pengembangan sanggar sanggar kebudayaan di setiap desa.

Pantai Bahari di Sampolawa (foto: BaYou)

Padang Katanaa di Batauga (foto: BaYou)

Pemkab juga telah menyiapkan dana APBN untuk insentif perangkat adat di setiap desa. La Ode Arusani, menyadari bahwa lembaga adat itu sangat berperang penting menjadi mitra pemerintah untuk mengembangkan dan melaksanakan hal hal yang berhubungan dengan kemasyarakatan.

Sejumlah program tersebut adalah bentuk realisasi dari isu strategis pemkab Busel untuk terus menjaga dan merawat adat istiadat serta kearifan lokal masyarakat, sehingga upaya mendorong pelestarian kebudayaan menjadi salah satu program utama Pemkab Busel.

Selain wisata alam dan budaya, Buton Selatan juga memiliki kekayaan wisata kepulauan. Ini mencakup wisata pulau- pulau, wisata bawah laut, dan wisata kelautan.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana memperkenalkan semua unsur pariwisata itu ke dunia luar sehingga lebih dikenal secara luas. Merujuk pada definisi daya tarik wisata sebagaimana yang tercantum dalam UU No. 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan, maka dapat dikatakan bahwa Kabupaten Buton Selatan memiliki daya tarik wisata yang beragam.

Daya Tarik Wisata ini berasal dari keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang dapat menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Kekayaan alam yang dapat dijadikan obyek wisata di Kabupaten Buton Selatan terdapat seluruh kecamatan cakupan Kabupaten Buton Selatan.

Para pemerhati wisata mengatakan, ada empat unsur dalam pengembangan pariwisata. Di antaranya, aksesibilitas, amenitas dan atraksi atau sering disebut 3A, ditambah kelembagaan dan pengembangan sumber daya manusia.

Aksesibilitas adalah akses yang tersedia menuju destinasi. Akses ini dalam dua tahun terakhir menjadi prioritas pembangunan Bupati, La Ode Arusani. Lalu amenitas atau fasilitas pariwisata yang dikelola publik atau masyarakat yang berkorelasi dengan kebutuhan berwisata. Misalnya hotel, akomodasi dan rumah makan. Amenitas ini bisa dilakukan pemda maupun swasta. Namun, ini juga bisa dijalankan oleh masyarakat.

Selanjutnya dari sisi atraksi baik alam maupun budaya terus didorong. Misalnya pengadaan event tingkat masyarakat maupun pemerintah. Busel sudah punya kalender event, seperti Festival Buton Selatan dan Larung Laut yang setiap tahun dilaksanakan.

 

Pemasaran Melalui Digital

Pariwisata Buton Selatan terus berbenah. Kini, di era digital, pariwisata mesti melakukan transformasi sehingga siklus ekosistem kepariwisataan perlahan terbentuk. Di era 4.0, pariwisata Busel tidak bisa lagi hanya menunggu, melainkan harus ‘jemput bola’ untuk promosi dan memperkenalkan diri ke dunia luar.

Pariwisata Busel harus mengadaptasi pendekatan digital. Di era ini, wisatawan saling berjejaring dan menyebarkan informasi tentang satu kawasan. Sekitar 85% wisatawan dunia menjelaskan unggahan foto video dan platform media sosial mempengaruhi rencana berwisata mereka.

Media sosial memberi dampak pada ekosistem pariwisata dan mempengaruhi proses pengambilan keputusan berwisata. Dalam era digital pariwisata 4.0 penyebaran dan konsumsi informasi di media sosial terkait aktivitas pariwisata menjadi penting terhadap perkembangan pariwisata.

Kedepannya, wisata di Busel mesti merajai konten di semua platform media sosial. Busel harus aktif menyebar informasi di semua kanal atau jejaring media sehingga promosi terhadap wisata Busel terus gencar dilakukan. Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan media, melainkan harus proaktif dan menggelar promosi di semua jaringan.

Istilah pariwisata digital memang sudah mulai berkembang pesat di beberapa negara termasuk Indonesia. Pariwisata digital memiliki arti pemanfaatan digital pada industri pariwisata yang mencakup pengelolaan dan pemasaran. Pariwisata digital juga dapat di simpulkan memanfaatkan fasilitas sarana internet dengan berbagai media yang dekat dengan masyarakat seperti jejaring sosial, yakni Facebook, Instagram, Twitter, blog, dan website.

Untuk memperkuat konsep ini, Busel mesti memperkuat investasi di bidang sumber daya manusia, pemetaan destinasi unggulan, serta bagaimana mengemas informasi menjadi lebih menarik. Era 4.0 telah memberikan perubahan signifikan pada ekosistem kepariwisataan terutama pada generasi milenial.

Pendekatan Pariwisata digital era 4.0 yaitu merespon perubahan kebiasaan wisatawan yang mengarah pada pola hyperconected society melalui kebijakan pengembangan kawasan pariwisata digital yang di kemas melalui strategi pemasaran digital yang “kekinian”.

Berangkat dari pendekatan tersebut pengembangan pariwisata di era digital 4.0 yaitu perubahan pola komunikasi dari kawasan yang sudah ada sebelumnya ke komunikasi pemasarannya sehingga perkembangan dapat dicapai sesuai dengan kebutuhan dan target pasar.

Kedepannya, siapa pun yang hendak ke Busel bisa menemukan informasi yang tepat tentang kalender kegiatan, akomodasi, serta apa saja keunikan di setiap kegiatan. Busel bisa menjangkau dunia dengan platform digital. Itu bisa dikerjakan, sepanjang ada visi serta kemauan kuat untuk menggapainya.

 

DISCLAIMER:

Tulisan ini adalah bagian dari Busel Outlook, yang dibuat untuk Pemkab Buton Selatan, tahun 2020 silam.