Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Menenun DAMAI di Perbatasan Indonesia - Timor Leste


seorang ibu sedang menyiram kebun di Desa Napan, perbatasan Indonesia dan Timor Leste

Di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, terdapat banyak kisah-kisah mengharukan tentang para perempuan yang memelihara perdamaian. Mereka mengalami masa lalu yang kelam, berusaha menyembuhkan trauma, kemudian bangkit dan menyebarkan perdamaian.

Lewat aktivitas bertani, berdagang, dan menenun, mereka menyebar benih perdamaian dan menatap masa depan yang lebih benderang.

***

Hari itu, Chrispina Taena kembali melintasi perbatasan. Perempuan yang setiap hari berdagang di Pasar Tono, di Distrik Oecusse, Timor Leste ini datang ke Desa Napan di wilayah Indonesia untuk menghadiri undangan pernikahan.

Perempuan yang usianya 50-an tahun ini tidak pernah merasa sebagai orang asing di Desa Napan. Dia lahir dan besar di desa ini. Dia meninggalkan desa ini sejak menikah dengan lelaki asal Oesilo di Distrik Oecuse. Dia pun pindah demi mengikuti suami ke Oesilo. Pada masa itu, Oesilo masih bagian dari Timor Timur, provinsi ke-27 di Indonesia.

Tapi sejak Timor Timur melepaskan diri dari Indonesia dan menjadi Republik Demokratik Timor Leste, perempuan yang disapa Mama Krista ini ikut menjadi warga negara. Pada waktu tertentu, dia tetap sering melintasi perbatasan.

Dia tak perlu harus membawa paspor. Dia cukup membawa kartu Pos Lintas Batas Perbatasan (PLBP) yang memberinya akses untuk datang ke Indonesia selama 10 hari. Dia datang untuk berbagai keperluan.

Selain menghadiri undangan pernikahan sebab penduduk Napan dan Oesilo masih berkerabat, dua juga sering datang untuk membeli sayuran dan buah-buahan. Dia menjual semuanya di Timor Leste.

Desa Napan terletak di Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur. Desa ini bisa dijangkau dengan menggunakan mobil dari Kupang, Ibukota Provinsi NTT, sejauh 200 kilometer. Perjalanan ke desa ini bisa menempuh waktu lima jam, setelah sebelumnya melintas Kefamenanu, Ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara.

Bagi Mama Krista, garis yang memisahkan kedua negara hanya garis politik. “Kita bisa beda negara, tapi kita tetap bersaudara,” katanya dengan tersenyum. Sebagaimana halnya banyak penduduk lain, Mama Krista sering melintasi perbatasan untuk meramaikan aktivitas ekonomi.

embung yang dikelilingi kebun warga di perbatasan

Secara fisik, Desa Napan terlihat lebih berkembang dari Oesilo. Jalan-jalan di Napan terlihat mulus. Sedangkan di Oesilo, jalan-jalan tampak berbatu dan tidak diaspal. Penduduk Napan menyuplai semua kebutuhan pokok ke Oesilo, mulai dari produk pertanian, perkebunan, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya. Sementara komoditas dari Oesilo yang masuk ke Napan hanya ternak dan sopi atau tuak lokal. Itu pun, ternak hanya masuk pada saat tertentu. Sopi dari Oesilo dikenal murah dan banyak.

Hampir semua penduduk di desa perbatasan mengenal Mama Krista sebagai sosok yang ramah dan ceria. Dia selalu menyapa semua orang. Dia pun senang bercanda. Ke mana pun dia datang, banyak orang yang senang dengannya. Dia terlihat selalu gembira. Dia tidak pernah kehabisan topik pembicaraan.

Namun jika dia ditanya tentang peristiwa berpisahnya Indonesia dan Timor Leste di tahun 1999, dia segera menjadi sosok yang berbeda. Dia langsung terdiam, kemudian perlahan terisak dan menangis. Dia sangat sedih saat mengingat peristiwa kelam yang dialaminya.

Pada tanggal 30 Agustus 1999, rakyat Timor Leste memilih untuk merdeka dari Indonesia dalam sebuah referendum yang disponsori PBB. Setelah referendum, milisi pendukung kemerdekaan dan militer Indonesia bertempur sehingga ribuan orang menjadi korban. Sejumlah ahli memperkirakan ada 300.000 orang yang mengungsi ke Timor Barat.

Mama Krista masih mengenang dengan jelas peristiwa itu. Dia masih ingat rumah-rumah di desanya terbakar. Dia suatu pagi, dia mendengar banyak teriakan-teriakan yang menyuruh warga untuk berlarian. Dia langsung keluar rumah untuk mencari perlindungan. Dia mendengar suara tembakan serta melihat banyak mayat di jalan-jalan.

BACA: Sowing Seeds of Peace

Mama Krista berlari sekuat tenaga. Dia berlari sambil menggendong anaknya Riki, yang saat itu berusia lima tahun. Dia tidak menyadari kalau anaknya sedang sakit parah hingga akhirnya meninggal dunia. Ketika dia tahu, dia berhenti berlari dan menangis sekeras-kerasnya.

Saat itu, dia tak bisa terus-terusan menangis. Dalam situasi yang mencekam, dia harus berlari untuk menyelamatkan diri. Bersama warga lainnya, Mama Krista berlari sekencang-kencangnya. Dia menembus hutan bersama warga lain. Dia menerobos lintas batas demi bergabung dengan tenda-tenda pengungsi di Desa Napan.

Bulan-bulan pertama dilaluinya dengan kesedihan. Kehilangan anak adalah kehilangan segala-galanya. Selama ini aktivitasnya hanya untuk anaknya. Dia memulai hari saat melihat senyum anaknya. Sebelum tidur, dia masih melihat senyum anaknya.

Baginya, senyum anaknya adalah kompas kehidupan yang membuatnya kuat melalui semua tantangan seberat apa pun. Ketika kompas kehidupan itu pergi, dia merasa hampa. Dia kehilangan segalanya. Selama sebulan, hidupnya bergantung pada bantuan berbagai lembaga internasional. Semuanya terasa berat baginya.

Pada satu titik ketika air matanya mengering, dia mulai bangkit. Dia berpikir tak ada gunanya tenggelam dalam kesedihan. Dia bisa kehilangan masa lalu, tapi dia tak boleh kehilangan masa kini dan masa depan.

Dia tak ingin tenggelam dalam sedih. Dia bergerak.  “Kalau saya sedih terus, bagaimana saya bisa hidup? Riki memang sudah pergi. Tapi saya masih hidup. Saya harus rawat kehidupan,” katanya.

Dia mulai berjualan. Warga Desa Napan mengulurkan bantuan baginya. Semua menyadari bahwa ini bukan konflik antar warga. Konflik ini didesain oleh sejumlah orang yang tak rela melihat situasi politik berubah. Saat situasi aman, dia kembali ke Oesilo dan memulai semuanya dari nol.

Mama Krista seorang pejuang tangguh. Berbekal bibit tanaman dari satu lembaga internasional, dia mulai menanam. Dia tahu bahwa hanya dia yang menanam, yang kelak akan memanen. Dia menggerakkan ibu-ibu lainnya untuk menanam lalu memanen, kemudian menjualnya ke pasar terdekat.

Tak cuma menanam. Dia juga menenun. Dia membentuk kelompok yang beranggotakan lima perempuan untuk menenun di rumahnya. Dia menenun berbagai kain-kain khas Timor yang indah. Beberapa pewarna menggunakan pewarna alam. Bahkan benangnya menggunakan kulit kayu.

Dia tak pernah malu dan tak pernah merasa tua untuk belajar. Ketika UNDP menggelar pelatihan untuk meningkatkan kemampuan bertani, dia amat gembira. Dia penuh antusias saat mendapat kesempatan untuk belajar pada petani di Desa Napan, Indonesia. Dia belajar pada petani lain, dia pun bagikan pengetahuannya.

Mama Krista mengubur semua dendam. Dia tidak melampiaskan dengan kebencian dan sikap memusuhi satu orang atau satu komunitas. Dia melepaskan dendam itu dengan menjalani aktivitas menanam dan menenun. Dia membakar semua belukar dendam itu dengan embun kasih dan kecintaan pada manusia lainnya.

Mama Krista mengubah bara dendam menjadi embun kasih sayang. Dia mengasihi alam dan mengasihi manusia. Dia melihat masa lalu dengan pikiran terang. Dia membingkai masa kini dengan kebaikan dan cinta.

Dia menatap masa depan dengan penuh optimis. Penuh bahagia. Penuh ceria. Penuh damai.

The Rising Phoenix

Mama Krista tidak sendirian. Rekannya Yasinta Colo juga mengalami kesedihan yang sama. Di tahun 1999, perempuan yang dipanggil Mama Sinta itu berlari ke hutan di tengah desingan peluru. Saat peluru mengenai pamannya, dia tak sempat menangisi kematian itu. Dia harus terus berlari.

“Saya menangis lihat bapak kecil atau paman kena peluru. Waktu itu, laki-laki dan perempuan lari terpisah. Laki-laki yang banyak ditembak. Dia ikut perempuan karena mengira akan lebih aman. Ternyata dia yang kena peluru,” katanya sembari terisak.

Yasinta Colo

Dalam situasi yang penuh ancaman, Mama Sinta tak bisa membawa jenazah pamannya. Jenazah itu lalu disimpan di dekat tebing. Lokasinya ditandai. Dia bersama perempuan-perempuan lainnya berlari dan menembus perbatasan. Mereka lalu menjadi pengungsi di Desa Napan.

Dampak dari konflik tahun 1999 itu menimpa seluruh lapisan masyarakat. Banyak laki-laki yang meninggal. Banyak pula perempuan yang harus menanggung sedih di pengungsian. Selama berbulan-bulan, mereka hidup di pengungsian dan menerima bantuan lembaga internasional.

Tapi sebagaimana halnya Mama Krista, Mama Sinta juga tidak ingin larut dalam kesedihan. Dia memang bersedih saat mengingat peristiwa traumatik serta keluarganya yang meninggal. Namun dia sadar bahwa kesedihan itu tidak akan mengembalikan semua keluarganya. “Saya pikir saya harus bangun. Saya harus bergerak. Kalau tidak, mau makan apa,” katanya.

BACA: Mama Sinta yang Bangkit dari Kesedihan

Mama Sinta mulai membeli kebutuhan sehari-hari di Desa Napan yakni seperti beras, minyak goreng, bensin, hingga sayuran. Dia nekat melintasi perbatasan untuk berdagang. Dia tahu bahwa warga Timor Leste sedang membutuhkan banyak hal.

Pada saat itu, perbatasan masih dijaga ketat. Mama Sinta lalu berkomunikasi dengan cara membenturkan batu sehingga menghasilkan irama tertentu. Dia menyapa rekannya di Timor Leste agar datang membeli barangnya. Mereka berkomunikasi dengan isyarat agar memudahkan transaksi, tanpa sepengetahuan pihak militer.

Perempuan Timor Leste memiliki kemampuan hebat dalam hal bangkit dari kesedihan. Mereka bisa cepat melupakan tragedi dan menatap masa depan yang lebih baik. Mereka lebih tangguh dari lelaki padahal mereka adalah pihak yang paling menderita. Konflik dan peristiwa kelam tidak membuat mereka kehilangan semangat hidup.

Kisah Mama Krista dan Mama Sinta mengingatkan pada burung phoenix yang saat terbakar dan menjadi debu bisa terlahir kembali sebagai phoenix yang baru dan lebih kuat. Mereka menjadikan tragedi sebagai sesuatu yang memberi mereka kekuatan untuk tetap hidup dan bertahan demi keluarga.

Bersama para lelaki, mereka ikut bekerja dan memastikan semua kebutuhan keluarga terpenuhi. Mereka bukan tipe perempuan yang hanya tinggal di rumah saja, sebab mereka memasuki ruang publik. Mereka bekerja keras dan melakukan berbagai pekerjaan bersama para lelaki.

Mereka berdagang, menenun, bertani, dan mencukupi nafkah keluarga. Mereka pun menjadi pilar di rumah yang menyembuhkan trauma dan memberikan motivasi kepada semua anggota keluarga agar tetap bangkit dan berusaha.

Mereka juga menjadi agen perdamaian di perbatasan serta selalu mengingatkan orang-orang kalau batas negara bukanlah sesuatu yang harus memisahkan. Batas negara harus dilihat sebagai peluang untuk tetap menjaga persaudaraan dan persahabatan, serta saling berjejaring di lapangan ekonomi.

Namun, perdamaian tidak akan mungkin bisa terjadi jika hanya diinginkan satu pihak. Benih perdamaian akan bisa tumbuh jika semua pihak memiliki komitmen yang sama untuk tetap saling memanusiakan dan menghargai.

Burung phoenix tidak akan menjadi burung hebat jika sendirian. Dia didukung oleh lingkungan yang bisa menjadi lahan gembur bagi pengembangan potensinya.  Mama Krista dan Mama Sinta bisa menjadi agen perdamaian karena dukungan kuat dari lingkungan kedua negara, baik itu masyarakat, budaya, agama, juga upacara adat.

***

Bapak itu datang dengan mengenakan pakaian adat. Dia memakai sarung tenun dan ikat kepala. Dia singgah menemui beberapa warga yang sedang bersiap-siap menggelar upacara adat. Dia akan memimpin upacara adat dan berdoa kepada leluhur. Bapak itu adalah Petrus Pot.

Sebagai tetua adat, dia tidak hanya bertugas di Napan dan desa-desa sekitar di wilayah Indonesia. Dia juga memilin upacara adat di Oesilo dan desa-desa lain di distrik Oecuse, Timor Leste. Petrus ibarat payung harus memayungi semuanya.

Petrus Pot adalah pemimpin adat sekaligus rohaniwan Katolik. Dia bekerja di gereja Katolik untuk melayani umat. Tapi saat ada upacara adat, dia memimpin ritual untuk memberikan persembahan kepada nenek moyang. “Saya menjalankan peran keduanya,” kata Petrus.

saya sedang mewawancarai Petrus Pot

Penduduk Napan dan Oesilo relatif homogen. Mereka memiliki budaya dan menjalankan ritual yang sama. Mereka memiliki nama belakang atau marga yang saling berkerabat. Di sini, terdapat enam sub-suku atau marga besar, yakni: (1) Kefi, (2) Siki, (3) Nule, (4) Eko, (5)  Kolo, (6) Oki. Ikatan ini masih kuat dan dipertahankan masyarakat.

Kata Petrus, upacara adat masih menjadi hal yang penting di masyarakat. Jika ada warga yang tidak hadir, suatu saat warga juga tidak akan datang ke rumahnya jika diundang mengikuti upacara adat. Upacara adat itu menjadi tali temali yang menjaga solidaritas warga agar tetap kuat.

Petrus bercerita pengalamannya saat konflik di tahun 1999. Dia sangat sedih saat melihat banyaknya pengungsi dari Distrik Oecuse yang datang ke Desa Napan. Sebagai pemuka adat, dia melihat semua orang sebagai kerabat. Apalagi, mereka punya budaya dan bahasa lokal yang sama.

BACA: Petrus Pot yang Merawat Damai

Dia ikut menampung semua pengungsi di gereja. Dia berusaha menenangkan pengungsi, khususnya perempuan, yang mengalami trauma. Dia pun mempersiapkan pesta adat yang bisa menjadi ajang rekonsiliasi bagi semua pihak yang menjadi korban. Pesta adat itu dinamakan Tfua Ton yang digelar setiap tahun.

Saat pesta adat itu, Petrus mengundang semua pihak untuk membawa makanan dan minuman. Petrus membaca doa dalam bahasa lokal yang berisi pesan-pesan agar semua pihak tetap menjaga kedamaian.  Dia menyebut filosofi “Aifa Ben Neke, Sus Pet Bijae” yang dalam bahasa Dawan bermakna “Kami siap memangku dan menyusui siapa pun yang datang dan membutuhkan bantuan.” Filosofi ini berlaku di kedua wilayah.

Petrus menjadi agen budaya yang mempromosikan perdamaian. Di lapangan budaya, dia mempertemukan semua pihak sebagai sesama warga yang sama-sama menginginkan perdamaian. Dia menggelar ritual yang tujuannya agar semua orang menyadari bahwa mereka berasal dari rahim yang sama sehingga musibah yang dialami satu pihak adalah musibah bersama.

Selain budaya, ada dua arena lain yang bisa memfasilitasi dialog-dialog antar warga.

Pertama, arena ekonomi. Mereka yang menjadi korban konflik sama-sama kehilangan pekerjaan, padahal dalam kehidupan sehari-hari, mereka saling terhubung dalam satu mata rantai ekonomi.

Warga Desa Napan lainnya Brigitta Siki bercerita tentang bagaimana dirinya berdagang se’i atau kuliner Oecuse. Dia membangun rantai kerja sehingga produk yang dibuatnya bisa dijual di Oekuse sehingga dirinya memiliki banyak konsumen.

Brigitta kini bergerak di sektor Usaha Kecil Menengah (UKM). Dagangannya selalu laris dan ditunggu-tunggu warga. “Saya menyediakan pasokan daging, kemudian dipasarkan di kios-kios yang ada di sana,” katanya.

Area perbatasan memang menyimpan potensi ekonomi yang hebat. Sejak dulu, warga Napan dan Oesilo memang sudah terikat dalam satu mata rantai perdagangan. Kerja sama antar warga berkembang sejak konflik. Mereka saling membutuhkan sebab sama-sama menginginkan kehidupan yang lebih baik. Mereka membangun simbiosis mutualisme.

Jose Benu, salah seorang petani

Kedua, arena pertanian. Mayoritas warga di perbatasan adalah petani. Dialog-dialog dan relasi antar warga juga terjadi di lapangan pertanian. Para petani di dua negara itu membentuk kelompok tani yang kemudian saling belajar dan saling meningkatkan kapasitas.

Jose Benu, seorang petani di Desa Napan, bercerita, dia melupakan semua trauma kerusuhan ketika sedang menanam. Baginya, menanam ibarat meditasi yang membantunya melepaskan diri dari semua masalah yang terjadi di masa lalu. Dia menemukan aktivitas produktif yang berguna untuk konsumsi keluarga, juga bisa dijual untuk meningkatkan kesejahteraan.

Setahun terakhir, UNDP datang dan membantu masyarakat perbatasan untuk mengembangkan komoditas agar bisa laris di pasaran sehingga mengangkat ekonomi warga. Brigitta adalah salah seorang pelaku UKM yang diberangkatkan ke Malang untuk belajar pengelolaan kuliner. Dia berangkat bersama beberapa rekannya sesama pelaku UKM agar bisa menyerap hal baru demi pengembangan produknya.

UNDP juga membantu petani untuk mengembangkan produk hortikultura yakni sayuran sehat. Para petani di perbatasan diajari bagaimana membudidayakan sayuran sehingga bisa mencukupi kebutuhannya serta dijual ke pasar-pasar. Pendapat per kapita masyarakat masih rendah yakni Rp 500.000 per bulan untuk setiap kepala keluarga.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 menunjukkan, pertanian dan perkebunan adalah sektor yang paling banyak menyerap lapangan kerja di Napan. Jumlah Rumah Tangga Petani (RTP) adalah 257. Dari jumlah itu, 136 RTP memiliki lahan lebih dari satu hektar, 97 RTP memiliki lahan dengan luas antara 0,5 hingga 1 hektar.

Data penduduk yang bekerja di sektor pertanian lebih banyak dari mereka yang bekerja di sektor perdagangan dan industri. Jumlah pelaku industri yang hanya 28 orang, juga pemilik usaha perdagangan hanya ditekuni 44 orang.

Artinya, pertanian dan perkebunan adalah nadi utama dari kehidupan warga Desa Napan. Dengan mengembangkan pertanian dan perdagangan, warga di perbatasan akan hidup lebih baik. Mereka beruntung karena di masa pemerintahan Presiden Jokowi, embung dibangun sehingga warga bisa berkebun di sekitarnya. Mereka menanam sayuran, buah-buahan, serta berbagai kacang-kacangan.

UNDP juga mempertemukan para petani di dua negara itu dalam satu platform kerja sama yang menguntungkan. Para petani mengorganisir dirinya dalam berbagai kelompok, kemudian merencanakan program menanam bersama, serta mengembangkan kapasitas. Mereka saling mengunjungi dan saling memberi masukan.

Saat sama-sama belajar di lapangan, segera terlihat kalau tidak ada yang superior di antara mereka. Semuanya sama-sama belajar dan berkembang bersama. Bahkan mereka juga menggelar upacara adat bersama-sama untuk mensyukuri semua capaian.

Lesson Learned 

Mereka yang pernah ke perbatasan Indonesia dan Timor Leste pasti pernah menyaksikan bunga-bunga gamal (gliricidia sepium) bermekaran. Di tengah tanah yang tandus dan kering, bunga gamal tetap mekar sehingga membawa kesegaran dan menghadirkan pemandangan indah.

Bunga gamal ini mewakili realitas yang sedang terjadi di sana. Di tengah situasi yang kering-kerontang, selalu ada harapan yang mekar, selalu ada yang memberikan kesegaran, selalu ada yang membuat hari-hari lebih berwarna.

bunga gamal yang bermekaran

Seusai konflik, tunas-tunas baru bermunculan dan kini mulai memberikan buah. Banyak perempuan hebat yang bisa bangkit dari trauma, bisa segera recovery dan kini mulai membawa harapan bagi peningkatan kesejahteraan keluarga.

Dalam situasi krisis, sejumlah individu sering bertindak sebagai peace-builder yang mendamaikan situasi. Mereka memperkuat institusi dan kelembagaan di masyarakat sehingga menjadi fundasi pijak yang kuat untuk rekonsiliasi dan perdamaian.

Mama Krista, Mama Sinta, Petrus, hingga Brigita Siki adalah masyarakat yang menjadi peace-builder melalui aktivitas ekonomi produktif. Mereka adalah aktor perdamaian yang menggunakan metode komunikasi, persuasi, dan mediasi sehingga banyak kelompok masyarakat bisa menyembuhkan traumanya melalui kegiatan produktif yakni menenun, menanam, dan berdagang.

Pelajaran penting di perbatasan Indonesia dan Timor Leste adalah perlunya kerja sama dan peran serta dari banyak pihak untuk sama-sama membangun situasi yang aman dan tenang. Perdamaian bukanlah sesuatu yang hanya dikerjakan dari atas, tetapi harus tumbuh dari bawah dan mendapat dukungan kuat dari semua masyarakat.

Perdamaian adalah situasi yang lahir dari kerja sama banyak aktor di grass root yang pernah mengalami situasi penuh konflik, sehingga berharap tidak ada lagi konflik serupa di masa mendatang. Semua pihak diharapkan melakukan kerja sama yang sifatnya lintas negara, lintas politik, lintas budaya untuk membangun transformasi ekonomi dan rekonsiliasi pasca-konflik.

Sejak tahun 1992, istilah peace-building menyebar ke seluruh dunia sejak Sekjen PBB Boutros Boutros-Ghali memperkenalkan peace-building sebagai agenda perdamaian. Mulanya, definisi ini hanya terbatas pada upaya mengakhiri konflik, peacemaking, dan peacekeeping.

Selanjutnya, istilah peace-building menjadi lebih berkembang sebagai upaya dari berbagai aktor, baik pemerintah ataupun masyarakat sipil, untuk mengatasi dampak dan sebab konflik, kemudian membangun situasi yang damai pasca-konflik.

Bentuk konkrit dari peacebuilding adalah tindakan pembangunan kembali daerah-daerah yang mengalami hancur akibat terjadinya konflik. Untuk mempercepat peacebuilding dilakukan identifikasi pada modal sosial yang dapat digunakan untuk memperkuat dan mempersolid perdamaian untuk menghindari agar tidak terjadi suatu konflik.

Di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, modal sosial yang menjadi perekat aktivitas semua warga adalah modal budaya, modal ekonomi, solidaritas sesama koban konflik, dan rasa saling percaya. Modal sosial ini memberikan kekuatan pada masyarakat untuk mencegah kekerasan terjadi di masa mendatang, serta munculnya solidaritas untuk saling membantu.

Modal sosial ini mesti dikenali sehingga pembangunan bisa berjalan dengan lebih terarah. Lembaga internasional dan pemerintah lokal bisa memperkuat modal sosial ini sehingga pembangunan bisa lebih efektif dan menyentuh target masyarakat yang membutuhkan sentuhan pembangunan.

Peacebuilding merupakan fase penting untuk pemulihan pasca konflik. Hal-hal yang dilakukan pada fase peacebuilding ini meliputi pemulihan kembali perekonomian, pembangunan kembali sarana pendidikan, kesehatan, jalan, dan sarana-sarana lain yang rusak akibat perang.

“Kami ingin damai, bukan perang. Karena kami semua di sini bersaudara. Kami sama-sama percaya berkah nenek moyang akan selalu hadir kalau kami saling menjaga. Kami ingin sama-sama maju dan berkembang,” demikian kata Petrus Pot.

Desa Napan menjadi saksi dari para perempuan dan lelaki hebat yang sama-sama menenun kain perdamaian untuk disematkan kepada dunia. Desa ini menyimpan banyak kisah tentang peace-builder yang menyembuhkan trauma dan menatap masa depan dengan hati penuh riang gembira.



Saat ROCKY GERUNG Menampar Akademisi Kita


Rocky Gerung saat membawakan kuliah umum di kampus Universitas Muhammadiyah, Surakarta

DIA tak perlu sibuk mengejar peringkat di Google Scholar, SINTA, serta setengah mati melobi agar artikelnya masuk di jurnal terindeks Scopus. Dia pun tak perlu merogoh kocek demi presentasi di seminar agar karyanya masuk prosiding ilmiah. Dia tidak perlu ikut Sabbatical Program agar karyanya tembus level dunia.

Dia cukup menulis penggalan ide di Twitter, kemudian tampil di layar kaca. Cukup bersuara miring, meskipun secara akademis tidak nyambung, dia sudah bisa menceramahi para akademisi mulia di kampus-kampus yang terbungkuk-bungkuk mengejar gelar profesor doktor. Dia hanya lulusan S1.

Perkenalkan, namanya ROCKY GERUNG.

*** 

Pemilihan Presiden (pilpres) memang telah usai. Ibarat pasar, semua pedagang telah menggulung kembali tikar dagangan. Prabowo telah kembali merapat ke Jokowi. Semua partai dan legislator kembali ke asal. Semuanya kembali ke rutinitas awal, sembari tetap berburu kue proyek dan kuasa.

Namun, ada satu nama yang justru mendapatkan bintang terangnya. Rocky Gerung menjadi sosok yang kian melejit. Dia laris dipanggil sebagai pembicara ke mana-mana. Dia tampil di banyak diskusi. Dia menjadi selebriti yang dikejar hanya untuk dimintai tanda tangannya, lalu foto bareng.

Beberapa bulan terakhir, dia laris diundang ke kampus-kampus di berbagai daerah, khususnya kampus yang berafiliasi ke Muhammadiyah. Saya sering melihat foto-fotonya berseliweran di media sosial. Di banyak kampus, dia diundang untuk membawakan kuliah umum. Gayanya tetap nyentrik. Dia menolak hanya berdiri kaku di podium. Serupa penyanyi konser, dia bergerak ke kiri dan kanan panggung. Kamera hp tak henti mengabadikannya.

Hanya Rocky Gerung yang bisa memorak-porandakan bangunan hierarki di perguruan tinggi.

Semua orang paham bahwa perguruan tinggi kita ibarat menara gading yang memelihara hierarki. Anda tak mungkin jadi guru besar jika hanya bergelar sarjana. Jangan mimpi bisa berceramah di hadapan para doktor jika gelar Anda hanya selevel diploma. Jangan mimpi jadi rektor jika karyamu hanya dipublikasi di media kampung, tanpa pernah dipajang di publikasi internasional, yang terindeks Scopus.

Tapi Anda tak perlu berkecil hati. Untuk menceramahi para profesor dan doktor itu, Anda tak perlu mengejar semua hierarki itu sampai setengah mampus. Belajarlah pada Rocky Gerung yang hanya perlu sering-sering menulis di Twitter. Dia hanya mengeluarkan sepenggal-sepenggal ide yang kemudian viral.

BACA: Fadli Zon dalam Tinjauan Peneliti Jepang

Dari sisi marketing, Rocky Gerung punya positioning yang jelas. Dia tahu siapa penggemarnya. Dia hanya perlu bersuara nyaring sebagaimana diinginkan para penggemarnya. Dia paham kekuatan algoritma media sosial dan bagaimana mengelola informasi sehingga viral, kemudian diperbincangkan di mana-mana. Dia memilih jalur oposisi yang konsisten, bahkan lebih konsisten dari Prabowo Subianto. Dia menjadi idola baru yang disenangi di mana-mana.

Jika dibuatkan tahapan, maka ada dua tahap penting untuk mengenal seorang Rocky Gerung.

Pertama, fase ketika dirinya menjadi intelektual di kampus. Pada dekade 1990-an hingga 2000-an, namanya sudah berkibar. Tapi hanya di lingkup terbatas para akademia kampus. Seorang sahabat saya selalu tak sabar menantikan kuliah-kuliahnya yang bernas. Dia memang sosok yang punya kualitas mumpuni.

Saya membaca beberapa tulisannya sejak tahun 2000-an. Dia tipe intelektual publik yang produktif dan konsisten melahirkan gagasan-gagasan. Dia bisa menjelaskan satu gagasan sederhana sampai tingkatan filosofis. Bersama Gus Dur dan Azyumardi Azra, dia ikut mendirikan Setara Institute yang diniatkan sebagai wadah dialog bagi mereka yang menyenangi tema-tema demokrasi dan keadilan sosial.

Seingat saya, dia sudah lama dekat dengan partai politik. Dia pernah menjadi pengurus Partai Indonesia Baru (PIB) yang dipimpin almarhum Dr Sjahrir pada tahun 2004. Dia kemudian berlabuh ke Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) yang mengusung Sri Mulyani Indrawati sebagai presiden pada tahun 2014.

Nama Rocky Gerung hanya sesekali muncul di permukaan. Sebagai akademisi pun, dia hanya disebut dalam kelas-kelas kuliah filsafat. Dia hanya disebut sesekali saat sejumlah nama besar disebut. Dia lebih dikenal sebagai intelektual yang bekerja di kampus.

Kedua, fase ketika kekuatan media bergeser ke media sosial. Di sinilah Rocky Gerung menemukan bintang terangnya. Dia bisa menampilkan suara kritis yang disambut dnegan gegap gempita. Ini adalah era crowd atau kerumunan, ketika sejumlah orang di media sosial membentuk barisan, meramaikan tagar, lalu memobilisasi kekuatan.

Rocky paham benar bagaimana mengelola gagasan. Di era ini, Anda tak perlu tampil di forum-forum ilmiah dan mengutip dari para pakar. Cukup dengan sentuhan jemari di HP, maka gagasan sudah menyebar ke mana-mana. Namun, gagasan itu harus dikemas dengan baik, disampaikan dalam kalimat sederhana, namun menohok serta diamplifikasi secara massif.

BACA: Lelaki Bugis yang Menikah dengan BADIK

Di era Marketing 4.0, sebagaimana sering dijelaskan Hermawan Kertajaya, seorang netizen tak puas jika hanya membaca dan mengangguk. Dia bergerak untuk sharing ke mana-mana, kemudian mengdavokasi gagasan itu ke khalayak yang lebih luas. Bisa dibayangkan, gagasan yang tadinya hanya cuitan dari Rocky bisa seperti api yang membakar lahan gambut kering, yang dengan cepat viral.

Dalam pandangan saya, hal-hal yang disampaikan Rocky dalam cuitan dan komentar di layar kaca tidak selalu membawa hal baru. Namun dia tahu bagaimana memosisikan gagasan itu hingga cepat diterima satu segmen masyarakat. Dia tahu bahwa di era medsos, masyarakat berbicara dalam satu ruang gema (echo chamber) sehingga mereka selalu ingin melihat apa yang mereka lihat.

Dalam kondisi tanpa beban dan tidak punya banyak kepentingan, Rocky menjadi intelektual publik yang diidolakan. Dia memasuki tahapan menjadi selebriti, saat gagasannya selalu disebar, padahal hanya dituliskan salam sepenggal-sepenggal cuitan.



Dia mengingatkan saya pada uraian Timms dan Heimans dalam buku New Power yang terbit tahun 2018. Kata Timms dan Heimans, kekuatan lama dimonopi oleh segelintir orang yang sukar diakses publik, dikendalikan elite. Sementara kekuatan baru adalah mereka yang terbuka, mudah diakses, tahu bagaimana mengelola emosi publik, serta bisa menggerakkan orang-orang untuk selalu membagikan semua gagasan itu.

Rocky seakan membawa pesan bahwa di era 4.0 sekarang ini, Anda tak perlu sekadar pintar. Anda juga perlu populer untuk bisa menggerakkan publik. Anda harus mengenali big data agar semua kalimat Anda cepat menyebar, sehingga populer, dan semua orang mengajak Anda. Tentunya, kantong akan semakin tebal.

*** 

Di mana salahnya jika Rocky Gerung bicara di kampus-kampus? 

Bagi saya tak ada salahnya. Saya malah berharap dia mengubah kultur di kampus-kampus kita. Tapi saya juga paham jika sejumlah orang bertanya-tanya, “Apa sih karyanya Rocky? Sehebat apa dia jika dibandingkan para akademisi filsafat yang karyanya banyak di toko-toko? Mengapa harus memanggil Rocky?”

Saya berharap Rocky bisa 'menampar' para akademisi kita, minimal menunjukkan bahwa untuk menjadi intelektual, Anda tak harus setia mengikuti kurikukum. Saya ingin dia menunjukkan kalau prosedur kampus tidak selalu melahirkan seorang intelektual publik.

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligence, Hingga Kediktatoran Digital

Satu hal yang menjengkelkan di kampus adalah ketika orang-orang saling memanggil dengan menyebut gelar-gelar.  Di satu diskusi, saya pernah mlihat orang saling menyapa dengan panggilan Pak Doktor. Bahkan banyak profesor yang akan murka ketika tidak disapa Profesor. Beberapa orang di kampus masih saja memelihara feodalisme, bahwa kecerdasan dan kepandaian diukur dari gelar-gelar.

Saya suka kalimat Rocky dalam satu dialog “Gelar itu hanya menunjukkan Anda lulus kuliah. Tapi bukan menunjukkan Anda bisa berpikir apa tidak.”

Tapi di sisi lain, muncul pula anggapan bahwa Rocky tidak sedang mengadakan kuliah umum di hadapan para profesor dan doktor. Dia sedang melakukan jumpa fans. Makanya, di kampus, dia bicara tentang kehebatannya di banyak forum televisi. Dia bicara berbagai topik yang tak selalu sesuai dengan disiplin yang dikuasainya.

Di era yang disebut Tom Nichols sebagai The Death of Expertise, Rocky hanya memuaskan dahaga mereka yang anti pemerintah dan selalu merindukan figur oposisi. Dia tak selalu mencerahkan publik sebab dia melihat satu sisi, sebagaimana diinginkan para pengundang dan fansnya yang tak sabar untuk selfie dengannya.

Dia hadir di saat yang tepat, ketika orang-orang hanya melihat bungkus, tanpa melihat isi. Orang bisa histeris melihat sosoknya, tapi ketika ditanya apa pendapat Rocky yang paling disetujui, tiba-tiba saja bungkam.“Pokoknya dia anti-Jokowi,” kata seseorang.

Ah, saya merindukan Rocky yang dulu.



Lelaki BUGIS yang Menikah dengan BADIK


seorang penari mengacungkan badik (foto; Yusran Darmawan)

Badik itu bergerak. Di tangan pemiliknya, badik itu seakan menentukan sendiri ke mana hendak bergerak. Badik itu lalu menunjuk seseorang yang tak jauh dari itu. Pemilik badik itu tersenyum. Dia sedang mendemonstrasikan salah satu kemampuan badik itu yang bisa mengenali siapa saja orang sakti di ruangan itu.

Saya bertemu komunitas anak-anak muda yang menggemari badik dan berbagai besi di Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Mereka mengajak saya untuk ngopi setelah sebelumnya makan-makan. Saya bertemu mereka di sela-sela acara Festival Keraton Nusantara (FKN) yang diadakan di kota itu.

Pemilik badik itu adalah lelaki berusia 40-an tahun. Penampilannya jauh dari kesan seorang pendekar memakai badik. Dia bekerja sebagai kontraktor. Dia tampak seperti kalangan menengah ke atas. Matanya pun teduh, jauh berbeda dengan mata orang yang suka berkelahi.

Sebut saja namanya Baco. Dia bercerita kalau dirinya membawa badik itu ke mana pun dia pergi. Badik itu disimpan dalam tas pinggang. Badik itu memberinya rasa percaya diri, ketenangan, serta keberanian dalam membuat setiap keputusan. Badik itu memberinya rasa aman secara psikologis yang memberinya kekuatan.

Saya tak terlalu paham kekuatan seperti apa yang dihadirkan badik itu. Saya tidak menyangka, di era big data dan artificial intelligence, masih banyak anak muda yang menggemari badik dan berbagai besi. Mereka membawa badik dengan penuh kebanggaan. Badik itu menjadi benda seni yang tak ternilai harganya.

Di ajang FKN, mereka tak tertarik mengamati pagelaran tari dan seni budaya. Mereka lebih menyukai nongkrong di satu ruang pameran benda pusaka yang menampilkan badik, keris, parang, dan berbagai senjata lainnya.

Baco bercerita kalau dia sampai dini hari di lokasi pameran benda pusaka. Mengapa? “Sebab pemilik pusaka akan mengeluarkan pusaka andalannya saat tengah malam. Mereka tidak mau mengeluarkan di siang hari sebab khawatir kalau kekuatan pusakanya bisa disedot oleh seseorang di situ,” katanya.

Dia memberi saya informasi menarik kalau ternyata kekuatan pusaka bisa diambil dan dipindahkan. Saya pikir ada semacam hacker yang bisa meretas kekuatan satu pusaka, kemudian mengambilnya lalu disimpan ke pusaka lain. Keren juga.

Saya teringat Christian Pelras yang mengatakan bahwa sejak ratusan tahun lalu, badik telah menjadi identitas bagi lelaki Bugis Makassar. Badik tidak saja digunakan untuk pertahanan diri, tetapi juga untuk memberikan kharisma dan rasa percaya diri bagi pemiliknya.

Ada yang mencatat, sebelum nama Sulawesi populer, sebelumya pulau besar ini dinamakan Celebes. Nama ini diperkenalkan oleh seorang yang berkebangsaan Portugal bernama Antonio Calvao pada tahun 1563. Celebes terdiri atas dua suku kata. Cele yang bermakna keris, badik, atau kawali. Bessi yang bermakna besi.

Sejarawan Anthony Reid pernah menulis besi Luwu (bessi ussu) yang disebut sebagai besi terbaik yang kemudian menjadi komoditas dagang di era Majapahit. Besi Luwu mengandung meteorit dan feronikel sehingga menjadi pamor bagi pembuatan keris di Jawa. Konon, keris Empu Gandring dibuat dari bahan besi Luwu.



Dalam buku Ensiklopedi Keris disebutkan bahwa besi Luwu di pasaran dikenal dengan nama Bessi Pamorro, sampai dengan tahun 1920 masih dijumpai di pasar Salatiga dengan harga per kilo setara dengan 50 kg beras.

Bagi sejumlah kalangan di masyarakat Bugis dan Makassar, badik adalah keharusan. Itu terlihat pada ungkapan dalam bahasa Bugis yang berbunyi “tannia ugi narekko de’napunnangi kawali. ” Artinya bukan seorang Bugis jika tidak memiliki badik.

Di masa saya kuliah di Makassar, banyak teman dan sahabat yang membawa badik ke mana pun pergi. Saya pikir di masa kini sudah tidak banyak orang yang membawa badik. Tapi anak-anak muda di hadapan saya ini melihat badik seperti kekasih yang dibawa ke mana pun, dirawat dengan penuh cinta, serta sering ditimang dan dipamerkan.

Bahkan mereka tak segan-segan mengeluarkan biaya berapa pun untuk membeli pusaka yang disukai. Hubungan antara seseorang dan badik serupa hubungan dua kekasih. Kata Baco, dalam beberapa kasus, badik itu memilih sendiri siapa tuannya.

Dia bercerita tentang badik yang dipegangnya itu. Pada mulanya, dia berkunjung ke rumah temannya. Dia merasakan ada aura kuat benda pusaka di situ. Rekannya lalu bilang, kalau ada pusaka maka itu akan menjadi miliknya. Dia lalu mendatangi satu lemari, kemudian membuka laci bawah. Badik itu menyembul. Dia pun menemukan dua badik lainnya di situ.

Kadang, badik atau pusaka muncul saat sedang menggali. Bentuknya seperti batu atau fosil yang lama terpendam, tapi masih bisa berkarat. Sering pula, badik didapatkan dengan cara membeli.

Sebagai kontraktor, Baco sering mendapatkan badik dari para pekerja konstruksi, yang kebanyakan datang dari Makassar. Baco yakin para pekerja selalu membawa badik, Biasanya, dia akan tanya berapa maharnya kemudian membeli.

Di kalangan mereka yang bertransaksi badik, kata mahar sering digunakan untuk menggambarkan biaya yang harus dikeluarkan. Kata ini menunjukkan betapa berharganya badik sehingga hubungan antara badik dan pemiliknya adalah serupa hubungan pernikahan. Lelaki itu meminang badik dengan mahar tertentu.

***

SUASANA ruang pameran pusaka di dekat Istana Kedatuan Luwu tampak lengang. Hanya ada sedikit orang yang mondar-mandir di ruangan itu. Terdapat beberapa rak kaca yang isinya berbagai jenis pusaka.

Saya datang ke ruangan pamer ini karena tertarik dengan perbincangan di warung kopi. Baco mengajak saya untuk menyaksikannya langsung. Di situ, saya melihat beberapa bilah keris dengan sarung, badik, parang, hingga pusaka lainnya. Saya tertarik dengan satu badik yang gagangnya keperakan di sudut ruangan.

Salah seorang penjaga pameran mendekat. Dia lalu menjelaskan: “Ini badik Makassar. Lihat kale atau bilah yang pipih. Lihat juga battang atau perut yang buncit. Ujungnya atau cappa runcing dan tajam. Beda dengan badik Luwu yang lurus,” katanya.

Saya terus menatap badik itu. Penjaganya kembali berkata, “Sayang sekali badik ini sudah berjodoh. Dia akan kembali ke asal. Tadi ada orang Makassar yang bayar maharnya 26 juta rupiah.”

badik Makassar yang terjual 26 juta rupiah

Hah? Saya tersentak dan mundur teratur. Saya tidak menyangka kalau badik bisa dinilai semahal itu. Di ruangan itu, kebanyakan pusaka memang dihargai mahal. Malah ada yang lebih 50 juta rupiah. Ada pula yang tak bersedia dilepas, berapa pun harganya.

Baco menjelaskan, badik itu dihargai mahal karena dua hal. Pertama, fisik yakni bilah besi yang digunakan serta pamor yang memberikan kesan tentu saat melihat badik itu. Kedua, tuah atau isi yang ada dalam badik itu.

“Ada jenis badik yang punya uleng puleng dan battu lappa, sejenis motif pada besi. Kalau dua hal ini ada pada badik, maka akan membawa kebaikan bagi pemiliknya. Orang juga seiring mencari mabalesse atau retakan di atas punggung. Ini juga memudahkan rezeki pemiliknya,” katanya.

Banyak juga yang mencari badik untuk keperkasaan. Para pendekar atau jagoan biasanya ingin memiliki badik ini agar kelak bisa digunakan saat pertarungan. Tapi di masa kini, rasa percaya diri itu menjadi sangat penting untuk negosiasi bisnis, memasuki arena politik, atau pun untuk melobi.

Saya pikir manusia modern butuh sesuatu yang memberinya energi untuk melakukan banyak hal. Pada titik ini, badik menyimpan banyak pesan kuat, serta narasi yang memungkinkan seseorang menimba keberanian masa lalu kemudian menerapkannya di masa kini. Manusia butuh narasi dan kekuatan untuk menjalani hidup yang penuh tantangan.

Saat hendak meninggalkan ruangan, penjaga tadi menyuruh saya menyentuh satu badik yang dibawanya. Saya coba merasakan energi dari badik itu, sebagaimana yang dirasakannya. Tapi saya gagal menemukannya. Malah, yang melintas di pikiran saya adalah bait-bait puisi Berlayar di Pamor Badik dari penyair Madura yakni D Zawawi Imron:

Kata-kata dan peristiwa
telah lebur pada makna
dalam aroma rimba dan waktu

Hanya seutas pamor badik, tapi
tak kunjung selesai kulayari




Tenunan MANDAR di Bandara Hasanuddin




Biarpun orang Mandar kini berada di wilayah Sulawesi Barat, karya budaya mereka tetap dicintai oleh orang Sulawesi Selatan. Lihat saja langit2 Bandara Hasanuddin, Sulsel, yang dihiasi motif tenun Mandar.

Motif tenun Mandar ini jadi saksi buat mereka yang datang dan pergi dari sulsel. Motif tenun Mandar itu membuat saya terkenang pada pesan dari seorang sahabat di Majene:

"Inai-inai mattongan-tongan na nalolongani akkattana." Siapa yang bersungguh-sungguh dia yang dapat.

Selamat pagi Makassar.


Letkol Ratih Pusparini yang Menginspirasi


Letkol Ratih (depan tengah) berpose dengan rekannya sesama pasukan perdamaian PBB

Dia tersenyum ketika menyambut kedatangan saya di Gedung Lemhanas, Jakarta. Beberapa kali kami janjian, tapi selalu gagal ketemu. Saya pikir dia seorang militer yang kaku dan selalu serius. Di luar dugaan saya, dia sangat menyenangkan dan selalu punya banyak topik untuk dibahas.

Perempuan itu bernama Letkol Ratih Pusparini. Dia adalah tentara perempuan Indonesia pertama yang terjun dalam misi perdamaian PBB. Tahun 2008, dia ikut dalam misi Pasukan Garuda di Kongo. Dia menjadi military observer.

Sebagai perempuan, dia memiliki akses untuk memasuki wilayah yang tidak bisa dimasuki militer laki-laki. Dia tetap menggunakan pendekatan keibuan ketika berhadapan dengan perempuan dan anak-anak.

“Kami berhasil memasuki satu desa dan mendapatkan informasi mengenai kekerasan seksual di sana. Regu sebelumnya gagal mendapatkan informasi itu karena tidak ada perempuan di sana,” kata perwira TNI Angkatan Udara ini.

Ketika Ratih datang, ibu-ibu dan anak kecil akan mendekat dan bercerita tentang situasi yang mereka hadapi. “Kami adalah mata dan telinganya misi. Begitu ada berita tentang perkosaan dan kriminal, kami selalu datang ke lokasi bersama interpreter. Beda kalau laki-laki, ceritanya lebih banyak maskulin,” katanya.

Demi menunjang misi, Ratih selalu mendatangi orang sakit di seputaran batalyon. Ternyata hal ini sangat berkesan bagi mereka. Pendekatan kemanusiaan ini menjadi jauh lebih berkesan dari yang lain.

Di mana pun berada, pasukan Indonesia selalu berusaha membangun dekatan dengan masyarakat setempat melalui community engagement. Dalam program ini, militer dan sipil sama-sama merencanakan program atau kegiatan yang memiliki misi kemanusiaan.

Di Kongo, Ratih sangat terharu ketika seorang anak mendatanginya, kemudian berkata, “Mam, I wanna be like you! Because of you, we can go to school…" Saat itu, Ratih dan timnya berhasil mengamankan akses jalan sehingga anak-anak bisa pergi ke sekolah. Dia memeluk anak itu.

Kisah hidup yang tak dilupakannya adalah suatu hari pada tahun 2012, dia dihubungi wakil Kementerian Luar Negeri, Desra Percaya. Dia diminta untuk bersiap-siap dikirim ke Suriah, yang saat itu sedang dilanda peperangan.

Lulusan magister dari Monash University, Australia ini, masih mengenang perjalanan dari Libanon ke Suriah yang hanya tiga jam, tapi terasa menegangkan. Dia memakai pakaian militer. Wajahnya terlihat pucat. Seorang driver asal Libanon bertanya: “Mum, you’r okay?” Dia jawab, “I’m not okay.” Driver itu menjawab: “Just call your parents.”

Ratih menelepon ibunya di Indonesia. Dia menitip pesan: “Ma, kalau nanti tidak ada yang menelepon berati saya baik saja. Tapi kalau ada orang lain yang menelepon, ikhlaskan kepergian saya. Saya juga sudah ikhlas jalani semuanya,” katanya. Setelah menelepon dia tersenyum. Dia merasa plong. Pria Libanon itu berkata,” Now you look like an angel.”


Misi itu hanya berjalan selama 4 bulan. PBB memulangkan semua pasukan perdamaian karena situasi yang tidak aman. Beberapa teman Ratih tewas saat sedang menjalankan tugas.

Kini, Ratih menjadi figur inspiratif. Dia menerima penghargaan sebagai Perempuan Inspiratif dari Kedubes Amerika dan beberapa lembaga lainnya. Dia pun menerima UN Medal Honour.

Di hadapan sidang PBB, dia meminta agar perempuan lebih banyak dilibatkan dalam misi operasi perdamaian. Perempuan lebih bisa membaur dengan warga, khususnya ibu dan anak-anak. “Mereka adalah korban paling besar. Sentuhan keibuan lebih dibutuhkan oleh mereka,” kata Ratih di sidang PBB.

Saya menikmati perbincangan dengannya. Dia malah menolak dipanggil Ibu. Dia lebih suka dipanggil Mbak atau Ratih. Saat hendak foto-foto, saya memintanya memakai uniform yang dipakainya saat operasi perdamaian.

“Wah, saya mesti pakai loreng gurun yaa. Mas Yusran ini harusnya jadi komandan karena suka ngarahin-ngarahin.”

Saya tertawa ngakak. Saya pun ikut berpose dengannya. “Kalau di militer, mesti salam komando. Biar sah,” katanya.

Siiiiaaaaaappp!

Suatu Hari Bersama Gadis RONGKONG




Gadis itu tersenyum manis. Teramat manis. Dia mencoba berbagai gaya ketika saya datang memotretnya. Dia seperti mutiara yang masih belum banyak disepuh. Dia memiliki kecantikan alami.

Saya menaksir usianya 17 tahun, usia siswa sekolah menengah di tingkat akhir. Dia datang dari Desa Rinding Allo, Kecamatan Rongkong, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Dia datang dari wilayah pegunungan hijau yang rimbun dan tak banyak yang menjangkaunya.

Rongkong adalah wilayah yang selama sekian tahun terisolasi. Selain Rongkong, ada dua kecamatan yang terletak di pegunungan di wilayah Luwu, yakni Rampi dan Seko. Seko pernah menjadi headline berita nasional ketika diberitakan bahwa tarif ojek ke situ adalah sejuta rupiah sekali jalan. Maklum, jalannya rusak berat. Butuh beberapa hari untuk mencapainya.

Saya bertemu dengan gadis muda itu di Lapangan Salasa, Kecamatan Baebunta. Hari ini, Sabtu, 7 september 2019, masyarakat Rongkong banyak turun gunung demi mendatangi acara pelantikan Aliansi Keluarga Rongkong (Akar). Mereka datang dengan membawa berbagai atribut budaya.

Saya bisa melihat kekayaan khasanah budaya Rongkong. Wilayah ini serupa melting pot yang menyerap semua budaya-budaya. Busana adat gadis Rongkong serupa Toraja dan Bugis. Bahkan saya melihat sejumlah anak muda Rongkong memainkan kolintang, alat musik dari kayu yang selama ini saya ketahui hanya ada di Sulawesi Utara.

Rongkong punya seni tenun yang sungguh aduhai. Saya begitu cemburu melihat kain tenun yang segera mengingatkan saya pada kain tais di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, atau kain-kain khas di Nusa Tenggara Timur. Saya menduga, pernah ada dialog budaya atau mungkin proses saling belajar antar berbagai komunitas budaya di lintas pulau.



Secara umum, saya melihat budaya Rongkong seperti Toraja.

"Tidak kak. Rongkong tidak sama dengan Toraja," kata gadis itu seakan tahu apa yang saya pikirkan.

Bahasa yang digunakan orang Rongkong adalah bahasa Ta'e, bahasa yang dipakai warga Luwu. Saya ingat antropolog George Yunus Aditjondro. Dia pernah membantah anggapan bahwa Sulsel identik dengan Bugis. Kata George, orang Luwu tidak mau disebut Bugis. Bahasanya juga bahasa Ta'e, bukan bahasa Bugis.

Tapi, seorang kawan bercerita kalau bahasa Ta'e mirip bahasa Toraja. Mirip pula dengan bahasa yang digunakan orang Mamuju, Sulawesi Barat. Persis seperti yang saya pikirkan. Bahwa budaya tidak berada di ruang hampa sejarah. Budaya selalu menyebar seiring dengan migrasi manusia ke mana-mana. Budaya ibarat sari yang dipetik dari kembang, kemudian dibawa ke berbagai arah oleh kumbang bernama manusia.



"Kak, boleh minta nomor hp?" tanya gadis itu.
"Buat apa?" tanyaku.
"Saya ingin ingatkan kakak supaya kirimkan foto itu" katanya sedikit merajuk.

Tak lama kemudian, dia kembali bertanya. "Kak, apa saya cantik?"

Saya tak menjawab. Kamera langsung saya arahkan ke wajahnya. Dia kembali bergaya. Dalam hati saya menggumam, kamu memang cantik. Teramat cantik.



Berkunjung ke Markas INTERPOL




Demi menjalankan tugas di satu lembaga internasional, saya bertandang ke Markas Interpol yang terletak di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo. Saya bertemu AKBP Yuli Cahyanti. Kalau di militer, pangkat AKBP setara dengan Letnan Kolonel.

Perempuan asal Jawa Timur ini selalu terlihat ceria. Dia tipe perempuan yang suka bercanda. Saya nyaris tak percaya bisa bercanda dan mengatur-ngatur seorang polisi berpangkat letkol. Dia pun bersedia ketika saya ajak ketemu di satu mal di Jakarta.

Yuli adalah polwan yang sangat menginspirasi. Dia pernah ikut dalam pasukan misi perdamaian PBB di Darfur, Sudan. Dia pun lama bekerja di Interpol yang bermarkas di Malaysia.

Dalam dua kali pertemuan dengannya, Yuli bercerita pengalamannya saat menjadi anggota pasukan perdamaian. Mulanya dia dipandang remeh, bahkan oleh para lelaki yang bergabung di pasukan perdamaian. Sebab dia perempuan. Dan perempuan dianggap lemah.

Ternyata dia menjadi sosok inspiratif di pasukan perdamaian. Di daerah konflik, pihak yang menjadi korban dalam jumlah paling banyak adalah perempuan dan anak-anak. Sebagai perempuan, Yuli bisa berdialog dari hati ke hati dengan para perempuan yang menjadi korban kekerasan.

“Perempuan yang mengalami kekerasan seksual selalu tertutup. Mereka terguncang dan tidak mau menyampaikan masalahnya pada laki-laki. Pada saat itulah pendekatan sebagai sebagai sesama perempuan sangat diperlukan,” katanya.



Berkat Yuli saya baru tahu bahwa di daerah konflik, perempuan paling sering mengalami kekerasan seksual. Dia menjelaskan istilah seperti gender based violence dan conflict related sexual violence.

Saya tertarik dengan ceritanya tentang pasukan perdamaian Indonesia yang selalu diterima di manapun mereka bertugas. Pasukan Indonesia selalu disenangi warga karena dikenal ramah serta selalu membangun kedekatan dengan komunitas. Istilah kerennya “Community engagement.”

Kata Yuli, orang Indonesia dikenal selalu menyapa dan tersenyum. “Bahkan terhadap tiang listrik pun orang Indonesia tersenyum,” katanya sembari terkekeh. Yuli pernah menjelaskan tentang pendekatan polisi Indonesia saat misi perdamaian di hadapan sidang PBB di New York.

Demi keperluan foto, saya memintanya memakai baju polisi yang dikenakannya saat misi perdamaian, lengkap dengan baret biru PBB. Yuli pasrah-pasrah saja saat saya mengatur pakaiannya, serta foto di mana. “Wah, saya dikerjai nih sama Mas Yusran,” katanya.

Saya cuma senyum-senyum sambil memandang stafnya yang cantik dan selalu bilang siap pada semua perintah. Saya sempat kecele karena mengiranya sekretaris. Ternyata dia seorang polisi yang berpakaian putih hitam saat bertugas di mabes Polri.

Wah, kok saya bisa lupa namanya yaa?



‘The Iron Ladies’ in the Border


Mama Sinta and her son

On the border of Indonesia-Timor Leste, there are many heart-touching stories about women who promote the peace. They try to cure the trauma from their past, then they rise and spread the peace. Through farming, trading and weaving activities, they are spreading the seeds of peace for a brighter future.

***

Chrispina Taena crossed the border. The woman who trades daily in Pasar (local market) Tono, in the Oecuse District, Timor Leste came to Napan Village in Indonesia territory to attend a wedding invitation.

This woman, who is about 50 years old, never felt as a stranger in Napan Village. She was born and raised in this village. She left this village since she married a man from Oecuse. She immigrated with her husband. At that time, Oecuse was still part of East Timor, the 27th province in Indonesia.

However, since East Timor separated from Indonesia and became the Democratic Republic of Timor Leste, the woman called Mama (a term of woman who have married) Krista has become a citizen. She occasionally crosses the border.

Napan Village is located in North Bikomi District, North Central Timor Regency (TTU), East Nusa Tenggara Province (NTT). This village can be reached by car from Kupang, the capital of NTT province, as far as 200 kilometers.

The trip to this village can take five hours, after previously passing Kefamenanu, the capital of North Central Timor Regency. The total of village population is 1016 people. The total population of women is 526 people, more than the male population which is 490 people.

Mama Krista stated that the line separating the two countries is only a political line. "We can be different countries, but we are still brothers and sisters," she said.

Like other citizens, Mama Krista has a trauma about conflicts in the past. She was once a refugee who came to Napan to seek protection. She once lost many things, including her child during the conflict. But, Mama Krista also has a story about the resurrection

On August, 30th 1999, the people of Timor Leste voted for independence referendum from Indonesia which sponsored by United Nations (UN). After the referendum, the chaos was created and conflict tension began rise.

As a refugee, she did not want to sink into grief. She moves. "If I am still sad, how can I live? I am still alive. I have to take care of my life, "she said.

She started selling. The villagers of Napan Village lend many hands to her. Every villager realize that this is not a conflict between of their people. This conflict was designed by several people who were unwilling to see the political situation change.

When the situation is safe, Mama Krista returned to Oecuse and started everything from scratch. Mama Krista is a tough warrior. She started farming from the seeds relief of an international institution.

She knew that the seed her sow is the seed she reap. She organized and empowered the women to plant and harvest, then sell them to the nearest market.

Beside of farming, she also weaves. She formed a group of five women to weave in her home. She weaves a variety of beautiful Timorese fabrics, called tais. She uses the natural dyes to make Tais colorful. In fact, the yarn was from bark.

She was never ashamed and never felt too old to learn. When UNDP held a training to improve farming skills, she was very happy. She was full of enthusiasm when she got the chance to learn with farmers in Napan Village, Indonesia.

Mama Krista buried all the hatred. She did not intend to avenge and defuse hostility towards person or community. She was defused the anger by the activities of farming and weaving. She burned every resentment with love for other human beings.

Mama Krista turns the embers of revenge into dew of affection. She sees the past with a bright mind. She frames the present with kindness and love. She looked to the future with optimism, cheerful, and peaceful.

The Rising Phoenix

Mama Krista is not alone. Her colleague Yasinta Colo also experiences the same grief. In 1999, Mama Sinta ran into the wood in the midst of bullets. When the bullets hit her uncle, she kept running.

"I cried seeing my ‘little father’ or uncle got hit by a bullet. At that time, men and women run apart. Men get shot a lot. He joined women because he thought it would be safer. It turns out he was hit by a bullet,” she said with a sob.

The impact of the 1999 conflict affected all levels of society. Many men have died. Many women also have to face grief in refugee camps. For months, they lived in refugee camps and received assistance from international agencies.

However, Mama Sinta also did not want to dissolve in grief. She is indeed in grief remembering the traumatic event. "I think I should get up. I have to move. If not, what should I eat? "she said.

Head of Napan Village supported Mama Sinta with daily necessities to be sell, such as rice, cooking oil, gasoline, to vegetables. She was encouraging to cross the border to trade. She knew that Timorese people were in need of many things.

The people in border have a great ability to rise from their grief. They can quickly forget about tragedy and look for a better future. They are tougher than men even though they are the ones who suffer the most. Conflict and dark past do not make them lose their spirit for life.

They remind us to a phoenix when burned and turned to dust can be reborn as a new and stronger phoenix. They make tragedy to be a something that gives them the strength to stay alive and survive for the family.

Alongside the men, they come to work and make sure all family needs sufficient. They are not the type of women who only stay at home, because they enter the public spaces. They work hard and do various jobs beside men.

They trade, weave, farm, and provide for the family. They also become pillars at home that heal trauma and provide motivation to all family members to keep up and try.

They also become the agents of peace at the border and always remind people that national borders are not something to separate. National borders must be seen as opportunities to maintain brotherhood and friendship, and the economic networking.

However, peace is impossible, when only one party wants it. The seeds of peace can grow if all parties have the same commitment to keep humanizing and respecting each other.

A phoenix will not be a great bird by itself. Its is supported by an environment that develop its potential. Mama Krista and Mama Sinta could become agents of peace because of strongly supporting from the people, communities, cultures, religion, as well as traditional ceremonies.

Cultural Support

That man came in his traditional clothes. He wears a woven sarong and headband. He stopped by several villagers who were preparing to hold a traditional ceremony. He will lead a traditional ceremony and pray to the ancestors. That man is Petrus Pot.

As a traditional leader, he is not only served in Napan and the surrounding villages in Indonesian territory. He also led traditional ceremonies in Oesilo and other villages in the Oecuse district of East Timor. Petrus Pot is like an umbrella that covers everyone.



He also is a Catholic priest. He works in the Catholic church to serve the people. But when there is a traditional ceremony, he leads the ritual to make offerings to the ancestors. "I play both roles," said Petrus.

The population of Napan and Oesilo is relatively homogeneous. They have the same culture and rituals. They have related last names or clans. There are six sub-tribes or large clans, namely: (1) Kefi, (2) Siki, (3) Nule, (4) Eko, (5) Kolo, (6) Oki. This bond is still strong and maintained by the community.

Petrus said, traditional ceremonies are still important for the community. If villager is not present in the ceremony, someday people will also not come to his house if he has a ceremony. The traditional ceremony becomes a rigging which keeps the solidarity of the villagers to remain strong.

Petrus shared his experience during the conflict in 1999. He was very sad when he saw many refugees from Oecuse District coming to Napan Village. As a traditional leader, he treated everyone as relatives.

He helped accommodate all the refugees in the church. He tried to calm of refugees, especially women, who were traumatized. He also prepared a traditional party that could become a reconciliation for all.

The traditional party is called Tfua Ton which is held every year. During the traditional party, Petrus invited all parties to bring food and drinks. Petrus reads the prayer in the local language which contains messages for all parties to maintain peace.

He called the philosophy "Aifa Ben Neke, Sus Pet Bijae" which in Dawan language means "We are ready to assume and ‘breastfeed’ anyone who comes in and needs help." This philosophy is applied in both regions.

Petrus became a cultural agent that promoted peace. In the cultural field, he brought together all parties as fellow citizens who wanted peace. He held a ritual that aims to make everyone realize that they are from the same womb, as of the disaster experienced by one party is a common calamity.

Besides culture, there are two other arenas that can facilitate dialogue between citizens.

First, the economic arena. Those who are victims of conflict both lose their jobs, even though in daily life, they are connected in one economic chain.

Another Napan villagers, Brigitta Siki, told me about her business in se'i or Oecuse cuisine. He built a work chain therefore her products could be sold at Oecuse and got many consumers.

Brigitta and her sister are engaged in the Small and Medium Enterprises (SME) sector now. Their products are always in demand and eagerly awaited by the villagers. "I provided a supply of meat, then it was marketed at the stalls there," she said.

The border indeed holds great economic potential. Since long time ago, the villagers of Napan and Oesilo had bounded in a trade chain. Collaboration between villagers has developed since the conflict. They need each other because they both want a better life. They build a symbiosis of mutualism.

Second, the agricultural arena. The majority of villagers on the border are farmers. Dialogue and relations between villagers also occur in the agricultural field. The farmers in the two countries formed farmer groups which both of them can be learned and increased capacity from one another.

Jose Benu is a farmer in Napan Village. He said that he forgot all the trauma when he was farming. Farming is like a meditation to him which helps him to escape from all the problems that occurred in the past. He found productive activities that are useful for 'family kitchen', can also be sold to improve the welfare.

In the past year, UNDP has come and helped border communities to develop commodities in order to be in demand in the market, thus raising the economy of citizens. Brigitta is one of the UKM (Small and Medium Enterprise) who was flown to Malang in order learn culinary management. He went with some of his fellow UKM in so they absorb new things for the development of their products.

UNDP also helps farmers to develop horticultural products, which are healthy vegetables. Farmers at the border are taught how to grow vegetables, so they can meet their needs and sell them to markets. Per Capita income is still low, about Rp. 500,000 per month for each head of household.

The data from the Central Statistics Agency (BPS) in 2018 shows that agriculture and plantations are the sectors that absorb the most employment in Napan. The number of farmer households (RTP) is 257. According that number, 136 RTP have more than one hectare of land, 97 RT have land with an area of between 0.5 to 1 hectare.

Lesson Learned 

Those who have traveled to the borders of Indonesia and Timor Leste must have witnessed the blooming of Gamal Flowers (gliricidia sepium). In the middle of a barren and dry land, Gamal Flowers still bloom which bring the freshness and presents a magnificent views.

This gamal flower represents the reality that happening there. In the midst of doughtiness, there will be a hope that blooms, which gives freshness to everyone. There will be something that make the days more colorful.

Gamal Flower

Subsequent to the conflict, 'bud of love' grew and began to bear. 'The Iron Ladies' who can recover from trauma, then immediately recover and now begin to bring hope for improving family welfare.

In crisis situations, a number of individuals often act as peace-builders who reconcile situations. They strengthen society so that become a solid foundation for reconciliation and peace.

Mama Krista, Mama Sinta, Petrus Pot, and Brigita Siki become the peace-builders through productive economic activities. They are peace actors who use methods of communication, persuasion, and mediation in order to heal the community trauma through productive activities namely weaving, planting, and trading.

An important lesson at the borders of Indonesia and Timor Leste is the need for cooperation and the participation of many stakeholders to jointly develop a safe and calm situation. Peace is not something that drove from above, even though must grow from the bottom and strongly supported by all communities.

Peace is a situation that was born from the cooperation of many actors in the grass root who had experienced in conflict, thus there would be no more similar conflicts in the future. All stakeholders are expected to carry out cross-country, cross-political, cross-cultural cooperation to build economic transformation and post-conflict reconciliation.

Since 1992, the term peace-building has spread throughout the world when UN Secretary General Boutros Boutros-Ghali introduced peace-building as a peace agenda. Initially, this definition was only limited to efforts in ending the conflict, peacemaking, and peacekeeping.

Furthermore, the term peace-building is becoming more developed as an effort of various actors, both government and civil society, to overcome the effects and causes of conflict, then building a peaceful situation after the conflict.

The concrete approach of peace-building is the act of rebuilding areas that were destroyed by the conflict. In order to accelerate peace-building, social capital can be identified which can be used to strengthen and consolidate peace to avoid a conflict.

At the borders of Indonesia and Timor Leste, social capital which is strengthen the activities of all citizens are: cultural capital, economic capital, solidarity among conflict victims, and mutual trust. This social capital gives power to the community to prevent violence from happening in the future, as well as the emergence of solidarity to help the others.

This social capital must be recognized, in order to achieve the development direct. International institutions and local governments can strengthen this social capital thus that development can be more effective and touch the target of people who need a model of development.

Peace-building is an important phase for post-conflict recovery. The actions taken during the peace-building phase include economic recovery, rebuilding education facilities, health facilities, roads and other facilities damaged by the war.

"We want peace, not war. Because we are all here in the brotherhood. We both believe that the blessings of our ancestors will be always present if we take care of each other, " said Petrus Pot.

Napan Village is a witness of great women and men who are weaving peace to be pinned to the world. The village holds many stories about peace-builders who heal trauma and look for better future with a happiness




Sowing Seeds of Peace




A lady smiled. She was chewing betel which made her lips reddish. On a brink rock, she was sitting. She was staring down the cliff. A beautiful landscape of a reservoir or lake, surrounded by hills which covered by brownish soil.

The lake is located in the middle of barren hills in Napan Village, North Central Timor Regency, East Nusa Tenggara Province (NTT). Green scenery surrounded the lake. There are various types of green vegetables on the lake to the top of the hill: mustard greens, kale, cabbage, to beans.

"This lake is only dry in October. Therefore, we can always plant, " she said. "Unfortunately, we don't have a pump yet, so we take water in the lake to bring it up so we can flush vegetables," she continued.

On the edge of the lake, men were seen busy making beds to be planted. Meanwhile women were watering plants, ferting from organic materials, and cleaning crabgrasses.  There were also seen children playing between the plants.

In this village, everyone has a clear job description. Women do not stay at home and wait for their husbands. Moreover, the women became figures who are actively working. They go with their husbands to the farm, carrying their children.

"Here, every mama-mama comes to work in the garden. In fact, mama-mama also sell all these vegetables to the market, "said that lady. Mama means mother.

This mama statement was confirmed by a farmer, Jose Benu. Almost everyday, he will come to this farm with his wife. They work together and collaborating.

"If there are no women, what can I do?" he laughed. His teeth was seen reddish. Jose Benu was around 50 years old. He is one of the householder who took the initiative to farm around this lake. He also told me that most of the families who working around the lake were former Timor Leste refugees who had chosen to become Indonesian citizens.



"We all came to this village after the referendum. We have been becoming refugees for a long time. We feel safer here, so we choosed to remain in Indonesia," he continued.

Firstly, he worked odd jobs. He was not interested in becoming a smuggler of goods to Timor Leste. Up to now, border areas are prone to smuggling. The inequality in prices of goods in Indonesia and Timor Leste caused by smuggling. For instance, gasoline in Timor Leste costs USD 3 per litre. Meanwhile in Indonesia, the prices was only about 10.000 rupiah or USD 1 per litre.

The goods are smuggled across the border. In fact that the items were smuggled through the jalan tikus (secret passage) which they did not pass the guard post. Even though security is tightened, it always can getaway.

Jose Benu was interested in becoming a farmer. One day, he saw an empty land. He encouraged to meet the land owner, Edmundo Lase. He was allowed to manage the vacant lot.

He invited his colleagues who in the farmer group named Tafe'u to manage it. He explained the meaning of Tafe'u in Dawan, the language used by all Napan people and every villagers in Timor Leste region.

Tafe'u means always upgrading. Which one is upgraded? "Everything can be renewed. Including members of the farmer group," he said.

It have philosophical meaning. The philosopher, Heraclitus who cited penta rei, which means everything in life is always changing. Everything is always dynamic. What is the eternal is the changing itself.

In Jose Benu mind, farming is an activity that makes him forget all the trauma. When he saw the buds of plant growing, he could forget all the tragedies that he had experienced. His physique is becoming stronger, his mind turning fresher.

"Since I practice farming, I have forgotten all the problems and grief. I am happy indeed when I see the new buds appearing, and also green plants which give me freshness, " he said.

Jose Benu

Jose was lucky, in President Joko Widodo era, the Indonesian government built a reservoir on the areas. The government built a small lake in the middle of the barren hill. The lake was the beginning of the collaboration of many stakeholders. Village Government expands the lake. An international agency, UNDP, is conducting horticulture cultivation training for local residents. Even UNDP is preparing organic vegetable seeds for residents.

Jose began to see a glimmer of hope. He applied it on the hill. Firstly, he collected cow and goat dung. Then, the dung is spreaded on the beds, where he made it around the reservoir. After that, he watered it. Later, it is ready to be planted.

He also invited his colleague to make terrace beds, then planted them. Whoever makes raised beds and planting, has the right to harvest. Collaborating with his colleagues at Tafe'u, they grow kale, mustard greens, shallots, and cabbage. Everything is organic.

At first, Jose and his colleagues at Tafe'u were subsistence farmers (self-sufficiency) who only pursued their own needs. All crops harvested are only used for household needs. If there is any leftover, then it is sold to the market. "We are happy because after the harvest, we can meet the necessity of the family. It can also be sold, but not much," he said.

But after attending a training organized by UNDP in collaboration with the Mitra Tani Mandiri Foundation (MTM) and the Indonesian Ministry of Foreign Affairs (Kemenlu), farmers began to increase production yields, then sell them to the market. They began to make it a livehood to support the family.

Seeds of Truce

Jose and mama-mama who work around the lake told me that they were gardening just to fill free time. Although, since attending the training organized by UNDP and the Mitra Tani Mandiri Foundation (MTM), they have begun to see it as a productive economy.

The training is important because up to date the border residents have applied shifting cultivation. They did deforestation, burning, planting, then moving.  In the rainy season, they rarely farm because it is difficult to burn land.

As the result of the training, they can learn many things about horticulture, from planting, caring, to harvesting plants. "Because the support of UNDP and the MTM Foundation, we were able to expand our farms. We were also assisted by a facilitator who gave us input from planting to harvesting," said a mama there.

The training was held in December 2018 which aims to introduce Good Agriculture Practices (GAP). This training was given to 25 farmers in Napan, and 25 farmers in Oesilo. Farmers are taught to grow the vegetables and horticulture in the rainy season, namely tomatoes, eggplants, beans, string beans, kale, and mustard greens.

The training materials was provided included selection of vegetable seeds and varieties, preparation for vegetable seeding, land preparation, vegetable planting, vegetable maintenance, and pest and disease control.

This training is part of a collaborative project between Indonesia and Norway to build the local economy of communities on the border. In hope, that will improve and live cross-border economic activities, and increase the capacity of farmers.

This training on vegetable and horticulture techniques is the beginning of the project cooperation between Indonesia and Norway in the "Partnership Initiative for Institutional Development of Indonesia's South-South and Triangular Cooperation" (PIID-ISSTC), which one of the outputs is peace building through local economic development across the borders of Indonesia and Timor Leste.

The interesting fact about this training is the opportunity for the farmers at the border to learn from each other. Farmers in Indonesia visit Timor Leste, and vice versa. They learn in an equal and joyful atmosphere. They also share experiences.



MTM Foundation Director Josef Maan called the participatory monitoring approaching, namely a cross-visit between farmers regions to monitor each other's program progress. Participatory monitoring becomes a learning ground for farmers, a medium for them to motivate and control each other, fostering healthy competition between farmers with the result that they can advance their joint efforts.

He sees community participation as a very important benchmark in community empowerment. The concept of participation is often integrated in the problem identification and analysis cycle, program planning and implementation.

"If monitoring is carried out in a participatory manner, it will provide many benefits for farmers as actors and beneficiaries as well as for the institutions and implementing agencies of the program. Through this approach, we position farmers as actors and beneficiaries of the program, " he said.

Josef Maan hopes that through visiting each other, farmers in Napan and Oesilo can build interactive processes so that they get to know each other, build networks, share experiences, and learn how to apply correctly Good Agricultural Practices (GAP) and Good Handling Practices (GHP).

This participatory monitoring was effectively carried out for two days in two program areas. Initially several farmers' groups in Napan visited Oesilo. After that, the farmers in Oesilo came to visit Napan.

"We believe that all farmers have experience. Therefore, we hope that they can share their experiences so they can learn from each other," said Josef Maan.

Harvest the Elbow Grease

Agricultural activities in Napan and Oesilo have become fun activities for farmers. One of mama tells, farming is a joyful activity. She will be missing something if she does not come to the garden to check the condition of the plants. "If I saw the plants begin to bear fruit, I would be very happy," she said.

Jose Benu felt his mind become fresher when he saw greenery. "The support of UNDP and the MTM Foundation resulting we can expand the farm. We are delighted, because  growing vegetables can make the body can be fresh, the brain is also fresh. Seeing greenery, can be also made us fresh, " he said cheerfully.

Nowdays, vegetables are starting to be marketed. In fact, the vegetables did not have time to reach markets in Timor Leste, or the people's markets in Kefa, the capital of North Central Timor, because they were immediately bought.  "When harvest coming, I never had problem to sell these vegetables. Before reaching the market, it always sells first. In fact that many people come looking for vegetables here," he said.

Napan Village Head, Yohanis Anunu said agricultural commodities is a mainstay and contributed to increasing the family's economic income in his village. The commodities are corn, rice, peanuts, coconut, banana, cassava, teak, and mahogany. Unfortunately, per capita income is low which about at 500.000 rupiah per month for one householder.

Yohanis Anunu, Napan Village Head

Some villagers like Jose Benu do not want to grow vegetables only. In the lake, he raised fish. He also uses crabgrasses that grow around the lake as fodder. "Cows like to eat crabgrasses which grow in this lake," he said.

His imagination is not only seeing green vegetables, but also fish ponds and the farm there. If agriculture and livestock develops, he can start thinking about ecotourism. His vision that there will be a hut that served local coffee. He imagined that he will witness the magnificent green landscape in the middle of a barren hill.

"Whatever will be happens, I will keep farming. Not only for family necessity, but also I will find peace," he said.

For Jose and many other families, farming is a way out of all the trauma of conflict, as well as a bright way to get a better future.