Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2022


Anna di depan buku-buku di rumah saya


Tahun 2022 menjadi tahun yang sibuk. Work from Home (WFH) mulai berkurang. Pandemi mulai reda. Aktivitas perkantoran mulai sibuk. Di tahun ini, saya sibuk berkantor. Ada beberapa target yang harus dikejar. 

Namun, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, aktivitas saya hanya berkisar di tiga hal: membaca, menonton film, dan menulis. Entah kenapa, saya susah melepaskan diri dari tiga aktivitas ini. Di luar itu, lebih banyak kumpul-kumpul bareng kawan-kawan. 

Rupanya, pilihan buku bacaan selalu ditentukan kebutuhan dan aktivitas. Saat masih aktif di kampus, saya suka buku-buku riset dan akademik. Begitu keluar dari kampus dan bekerja di satu korporasi, bacaan saya pun berubah. Kini lebih suka hal-hal praktis dan ringan-ringan.

Selama tahun 2022, saya tetap rutin membeli dan membaca buku. Namun, saya juga banyak membeli buku digital, yang dibaca melalui aplikasi berbayar di android. Saya menulis secara acak, beberapa buku yang saya sukai.


Psychology of Money (Morgan Housel)

Terjemahan buku ini terbit sejak 2021, tapi saya baru membacanya di tahun 2022. Isinya cukup mengejutkan saya yang sangat awam dengan hal-hal finansial. Buku ini memberikan terang bagaimana memahami uang dan prilaku manusia.


Suka atau tidak suka, kebanyakan manusia modern menjalani hidup semata-mata untuk mengejar uang, demi status sosial serta angan-angan hidup yang lebih baik. Demi uang, kita rela melakukan apapun.

Namun, buku ini tidak berisi kiat, motivasi, dan strategi mendapatkan uang secepat-cepatnya. Isinya lebih ke arah pemahaman psikologi mengenai uang. Kita diajak mengenali siapa-siapa orang terkaya di dunia, serta mengapa mereka bisa kaya.

Buku ini ringan dan cocok dibaca untuk para beginner, seperti saya, yang baru belajar bagaimana mengelola uang. Pelajaran penting yang saya petik di buku ini adalah kekayaan adalah buah dari kemampuan untuk mengelola keuangan dengan baik, sembari tetap memelihara rasa lapar untuk mencari uang.


Cendekiawan dan Transformasi Sosial (Sonny Karsono)

Di jajaran buku riset sosial dan humaniora, buku Cendekiawan dan Transformasi, terbitan LP3ES ini adalah favorit saya. Buku ini adalah disertasi Sonny Karsono yang berisikan kiprah cendekiawan kritis di era Orde Baru. Saya mengenal baik Sonny Karsono, selama studi di Amerika Serikat.

Buku ini menyajikan lintasan ide-ide di masa Orde Baru yang dipantik oleh tiga sosok aktivis muda. Mereka berasal dari latar kelas menengah, yang pernah menyumbangkan Oder Lama, kemudian mengisi perjalanan Orde Baru dengan pendekatan modernisasi dan pembangunanisme.


Di zaman ketika Indonesia tengah mabuk dengan wacana pembangunan, ketiga sosok ini sudah berbicara tema-tema seperti partisipasi, bottom-up approach, hingga perspektif kritis serta Marxisme. Melalui publikasi berupa buku dan jurnal Prisma, mereka membawa perspektif baru agar rakyat Indonesia tetap kritis dalam melihat proyek pembangunan dari pemerintah.

Buku ini bisa menjadi “lubang kunci” untuk meneropong apa yang terjadi di masa itu. Kata Geertz, “a vehicle of meaning” untuk melihat kenyataan yang lebih luas, bisa menjadi jendela untuk melihat realitas sosial, menyaksikan bagaimana benih-benih ide aktivisme tumbuh dari lahan gembur kelas menengah, yang jenuh melihat kampanye ideologi di masa Orde Lama.


Hidup Bersama Raksasa (Tania Li & Pujo Semedi)

Sejak beberapa tahun lalu, saya menjadi fans berat Tania Murray Li. Saya mengoleksi banyak bukunya. Mulai Will to Improve, Land’s End, hingga buku terbarunya berjudul Hidup Bersama Raksasa, yang merupakan terjemahan dari Plantation Life.

Tania Li selalu menulis etnografi tentang mereka yang terabaikan dalam proyek besar bernama pembangunan. Dia memihak masyarakat adat dan komunitas yang terpinggirkan. Semua bukunya adalah hasil riset lapangan, perjumpaan dengan mereka di kampung-kampung, lalu menuliskan kisah-kisah yang menarik dan menyayat hati.


Berkat Tania Li, saya belajar memahami banyak kepingan realitas tentang apa yang terjadi di tanah air kita, Indonesia. Selama ini kita merasa baik-baik saja, tanpa tahu apa yang dialami anak bangsa di banyak lokasi.

Dulu, ketika melihat produktivitas dan ketekunan Tania Li sering kali bikin iri. Saya jarang membaca akademisi Indonesia yang seproduktif dan setekun Tania Li. Kebanyakan akademisi kita hanya menjadi pengulas buku Tania Li, tanpa ada ikhtiar untuk menulis riset lapangan sebagaimana Tania Li Sekian tahun merdeka, kita belum bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Di ranah akademik, kita selalu menjadi konsumen, bahkan terhadap isu mengenai tanah air kita sendiri.

Satu hal yang menggembirakan, di buku ini, Tania Li bermitra dengan dosen UGM yakni Pujo Semedi. Semoga semakin banyak anak bangsa yang ikut meramaikan wacana akademik mengenai Indonesia di panggung antar bangsa.


Think Again (Adam Grant)

Buku ini datang pada saat yang tepat. Saat membacanya, saya sedang galau karena beberapa kali debat kusir di kantor. Saya merasa banyak ide-ide saya yang tidak dipahami sehingga memicu perdebatan. 

Sejak bekerja di tempat baru, saya harus belajar bernegosiasi dan meyakinkan orang lain. Sering kali, saya emosi lalu mempengaruhi kemampuan dalam menyampaikan argumen. Saat emosi, separuh pengetahuan hilang. Saya pun kalah negosiasi.

Padahal kata Adam Grant, seorang profesor bidang psikologi organisasi di Amerika Serikat, jangan pernah menganggap debat sebagai perang di mana ada kalah dan menang.


Debat yang baik bukanlah perang. Bukan seperti pemainan tarik tambang di mana kita bisa menyeret lawan ke sisi kita. Debat adalah tarian tanpa koreografi. Kita saling menari dengan musuh lalu saling memahami langkah masing-masing.

Buku menekankan pada pentingnya sikap ilmiah untuk selalu skeptis dan membuka pikiran pada banyak pendapat berbeda. Banyak pebisnis yang gagal karena terlalu kaku dan melihat dengan kacamata kuda. Dengan membuka perspektif dan peka pada ide-ide baru, seseorang bisa menangkap nuansa perubahan dan menerapkannya untuk dirinya dan organisasi.


Give and Take (Adam Grant)

Ini buku kedua dari Adam Grant yang saya baca. Isinya sama menariknya dengan Think Again. Dia menjelaskan rahasia kesuksesan banyak orang hebat adalah dengan sering memberi atau menjadi giver. 

Namun, Giver yang dimaksud bukan mereka yang setiap saat memberi. Melainkan mereka yang selalu tahu kapan harus memberi. Mereka yang berorientasi ke depan, lalu menjadikan pemberian sebagai strategi untuk merekatkan jaringan-jaringan sosial.


Buku ini mengingatkan saya pada The Gift yang ditulis Marcell Maus. Sejak dulu, berbagai suku bangsa saling memberi sesuatu demi memperkuat jaringan sosial. Bedanya, Adam Grant melihat fenomena di ranah bisnis, di mana pebisnis paling handal adalah mereka yang suka membantu orang lain, sehingga pada satu titik, semua jaringan itu bisa bekerja untuknya.

Di era kekinian, semua pekerjaan selalu berbasis pada jaringan. Makanya, istilah "Your Network is Your Net Worth" sangat tepat. Melalui silaturahmi dan pemberian, seorang Giver akan terus memperluas jaringan sosialnya, sehingga hubungan-hubungan itu membuahkan hasil kepadanya.


Manusia dalam Kemelut Sejarah (Taufik Abdullah dkk)

Ini salah satu buku terbaik mengenai tokoh-tokoh sejarah Indonesia. Pertama diterbitkan tahun 1978, buku ini terus direproduksi karena kualitas serta bacaan yang mendalam. Mulanya, buku ini adalah artikel yang ditulis di Jurnal Prisma. 


Para penulisnya adalah intelektual paling cemerlang di masa itu, namun hingga kini, sulit menemukan cendekiawan dengan jelajah intelektual sedalam mereka. Nama-nama penulis artikel di buku ini sudah menjadi legenda di kalangan intelektual masa kini.

Betapa menariknya mengikuti kemelut manusia yang ditulis Taufik Abdullah, kisah Sukarno yang ditulis sejarawan Onghokham, Jenderal Soderman yang ditulis Nugroho Notosusanto, Sjahrir dalam tinjauan YB Mangunwijaya, Tan Malaka yang ditulis Alfian, hingga Kahar Muzakkar yang dibahas Mattulada.

Saya senang bisa kembali membaca dan menyelami samudera tokoh-tokoh nasional yang ditulis apik oleh para cendekiawan hebat yang telah banyak membuat goresan penting tentang bangsa ini.


Ekspedisi Rempah, Ekspedisi Teh, Ekspedisi Kopi (Kompas)

Saya selalu suka buku-buku mengenai perjalanan, apalagi jika ada misi atau sesuatu yang hendak dtemukan dalam perjalanan itu.  Buku-buku ini mengingatkan saya pada catatan George Marcus mengenai milti-site ethnography dalam buku Writing Ethnographic through Thick and Thin. 

Menurut George Marcus, seorang peneliti tidak selalu mengikuti subyek, namun bisa pula “follow the object” untuk memahami dinamika. Dalam buku-buku ini, pihak jurnalis Kompas menjadikan rempah, the, kopi sebagai titik nol untuk ditelusuri. 


Buku ini menyajikan perjalanan ke sentra-sentra komoditas, berinteraksi dengan para petani, pedagang kecil, hingga melihat perubahan sosial di berbagai desa-desa.

Hasilnya adalah deskripsi dan foto-foto menarik tentang kondisi terkini di arena yang menghasilkan komoditas ini. Kita menyaksikan potret, yang tak selalu cerah, tetapi juga buram mengenai komoditas yang dahulu membawa harum nama Nusantara, kini hanya bisa mengenang masa-masa kejayaan karena perubahan pola ekonomi.


Gadis Kretek (Ratih  Kumala)

Dulu, saya sering lihat novel ini di etalase toko buku. Saat itu tak ada niat membacanya. Padahal novel ini sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.  Namun setelah membaca berita kalau novel ini akan difilmkan Netflix, dan akan diperankan Dian Sastro, saya penasaran.  Mulailah saya membacanya hingga tuntas.


Kisahnya sangat menarik tentang cinta di sela-sela bisnis kretek di masa pra-Indonesia merdeka hingga masa-masa 1960-an. Ada banyak peristiwa sejarah yang mempengaruhi alur kisah cinta itu. Alurnya maju mundur. Ada seorang lelaki tua yang sekarat, lalu menyebut nama seorang perempuan. Anak-anaknya lalu bergerak mencari perempuan yang disebut lelaki itu. 

Sepanjang pencarian, terungkap kisah cinta dan bisnis kretek di satu rentang sejarah. Kisah cinta itu tidak happy ending, sebab situasi tidak memberi dukungan bagi cinta mereka. Di akhir cerita, anak-anaknya mau memperbaiki keadaan dan berdamai.


Politik Dinasti Keluarga Elite Jawa Abad XV-XX (Heather Sutherland)

Mulanya saya tertarik membaca buku ini karena ada sosok seperti Jokowi. Saya pikir isinya mengenai bagaimana Jokowi melanggengkan kekuasaan. Ternyata isi buku merentang jauh ke genealogi atau asal-muasal munculnya dinasti politik di Indonesia.

Dalam buku yang versi aslinya berjudul Notes on Java’s Regent Families, Heather Sutherland memaparkan bagaimana para elite Jawa mempertahankan kuasa dengan cara membangun dinasti.


Heather mengurai berbagai upaya kolonial melanggengkan kekuasaan para elite Jawa. Politik dinasti terjadi saat kekuasaan dikuasai satu keluarga besar secara turun-temurun. Sutherland menunjukkan bagaimana elite politik masa lalu menjaga lambang-lambang kebangsawanan dengan gelar-gelar. Gelar kebangsawanan akan didapatkan juga oleh keturunan yang menggantikannya.

Seorang elite akan memakai nama dan gelar yang kemudian diturunkan ke anaknya. Gelar ini bisa berganti apabila dinasti politik tersebut terputus. Selain itu, seorang elite akan menampilkan pakaian, gaya hidup, tempat tinggal, serta posisi yang memberinya akses untuk tetap menjaga warisan supremasi sebagai penguasa.

Buku ini terasa aktual karena juga terjadi pada masa sekarang. Kesimpulannya, apa yang terjadi di masa sekarang adalah warisan berpikir yang sudah ada sejak masa lalu. Sejarah selalu berulang.


Media Massa Nasional Menghadapi Disrupsi Digital (Agus Sudibyo)

Ini buku menarik yang saya baca di penghujung tahun. Buku ini bercerita mengenai strategi media dalam menghadapi disrupsi atau perubahan. Di era cetak, media bisa mengontrol bisnis, mengetahui jumlah pelanggan, dan membuat target iklan yang tepat. 


Kini, di era media online, media sangat tergantung pada teknologi. Lebih dari 70 persen iklan dikuasai oleh Google dan Facebook. Media online hanya memperebutkan remah-remah yang tak seberapa. Mereka tunduk pada algoritma serta hanya bisa berada dalam garis yang ditetapkan pemilik platform teknologi.

Media berusaha untuk bertahan. Media membangun jejaring dan ekosistem yang saling mendukung. Kian sempitnya ceruk bisnis media, sebab dikuasai pemilik platform teknologi, membuat semua media berusaha untuk bertahan. Mereka coba maksimalkan jaringan dengan pemerintah daerah, juga 

Buku ini melengkapi tiga buku sebelumnya yang ditulis Agus Sudibyo yakni Jagad Digital, Tarung Digital, dan Dialektika Digital. Bedanya, buku ini fokus membahas menenai industri media nasional yang digempur sistematis oleh pemilik platform digital.

Bacaan menarik di akhir tahun.


Yang Tidak Dikatakan soal Pekerja Media (Citra Maudy Mahanani)

Buku ini menyajikan sesuatu yang muram. Kita setiap hari membaca produk media, namun lupa untuk mengetahui bagaimana kondisi para jurnalis. Buku tipis ini menyajikan riset menarik tentang para pekerja media yang berusaha untuk tetap bertahan dalam sistem yang tidak adil.


Para jurnalis menghadapi eksploitasi dalam bekerja. Mereka berada pada sistem bisnis yang semakin liberal serta undang-undang buruh yang dianggap kurang berpihak. Buku ini mencoba menelusurinya dengan cara mewawancarai sejumlah jurnalis untuk mengetahui sejauh mana serikat pekerja media berdampak bagi mereka.

Buku ini memotret voice of voiceless, suara dari mereka yang tak bersuara. Buku ini menyajikan telaah ekonomi politik yang kritis mengenai kapitalisme, gig economy, hingga sharing economy yang hanya ramah di sisi bisnis dan teknologi, namun sangat eksploitatif di kalangan pekerja. 

Buku ini cocok dibaca pemerintah yang setiap saat bicara ekonomi 4.0, sembari menatap nasib pekerja yang kian takluk dalam mekanisme kerja berbasis algoritma, yang platform kerjanya ditentukan perusahaan teknologi.

*** 

Ini hanya beberapa judul buku yang terlintas. Seain buku di atas, saya juga membaca ulang beberapa buku bagus. Tidak semuanya bisa saya tampilkan di sini. Ada yang sedang dalam proses membaca. Di antaranya adalah buku Think Like a Freak yang ditulis Steven Levitt dan Stephen J Downer.

Saya juga sedang membaca buku Geography of Dream yang ditulis penulis asal Korea, Eje Kim dan Ashley. Bukunya lebih ringan dari buku yang dibuat Eric Weiner. Membaca buku ini bikin semangat untuk traveling kembali berkobar.

Semoga tahun 2023 akan semakin banyak buku bagus dan bermutu. Jika saya ditanya seperti apa surga, maka saya akan menjawab surga adalah rumah yang dipenuhi buku-buku.


BACA JUGA:

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2021

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2020

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2019

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2018

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2017

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2016

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2015



Dulu Gereja Maradona, Kini Gereja Messi

Mural Messi dan Maradona

Mulanya semua hening. Saat bola yang disepak Gonzalo Montiel, pemain Argentina, masuk ke gawang Prancis, semua heboh dan histeris. Rasa gembira serupa balon yang dilepas ke udara.

Hari itu, semua pendukung Argentina merengkuh bahagia setelah sekian lama diterpa panas kering derita. Semua bersorak ke angkasa.

Di satu sudut kota Rosario, Argentina, bel berdentang dari gereja yang disebut Iglesia Maradoniana atau Church of Maradona. Suaranya menggema hingga jauh. Di gereja inilah, semua ritual dan pemujaan pada bintang bola Diego Maradona dilantunkan ke langit.

“Jika Maradona adalah Tuhan, maka Messi adalah Juru Selamat,” kata Hernan Amez, salah seorang pengurus Iglesia Maradoniana.

Bagi rakyat Argentina, Maradona setara dengan Dewa. Dia adalah sosok yang menghadirkan bahagia, serta menyatukan semua kelompok. Bola serupa jalan yang mengekspresikan kecintaan, sekaligus menghadirkan kekuatan.

Gereja itu menggelar ritual mengenai Maradona. Ulang tahun Maradona, 30 Oktober, diabadikan sebagai hari Natal agama tersebut. Tanggal 22 Juni adalah Hari Paskah. Di hari itu, Maradona mencetak dua gol di gawang Inggris, yang dianggap sebagai gol terbesar dalam sejarah sepakbola.

Hubungan Maradona dan Messi terlihat pada mural di sudut kota Buenos Aires. Mural itu meniru lukisan seniman Michaelangelo di Gereja Sistine, yag menampilkan Tuhan dan Adam. Di mural itu, figure Tuhan digambarkan sebagai Diego Maradona, sedang Adam adalah sosok Lionel Messi.

"Bagi kami, lapangan sepak bola ini adalah gereja kami, tempat suci dan gambar ini memang layak dipasang di tempat ini," kata Ricardo Elsegood, seorang warga.

Dalam versi lukisan Michelangelo yang berjudul "Penciptaan Adam," Tuhan dikelilingi oleh para malaikat.

Sementara mural di Argentina, Maradona dikelilingi para bintang timnas negara itu. Di antaranya adalah Juan Riquelme, Gabriel Batistuta, Mario Kempes, Sergio Aguero, Claudio Caniggia, Ricardo Bochini, dan Ariel Ortega. Semuanya mengenakan pakaian putih bergaris biru yang dikenakan para pemain bola.

Santiago Barbeito, sang pelukis, menyebut makna dari karyanya adalah proses regenerasi yang terus menerus di tubuh timnas Aregntina. "Maradona mewariskan sepak bola yang hebat ke tangan Messi," kata Barbeito.

Hernan Ames mengatakan, Messi adalah harapan hidup. Messi dinilai mampu membawa rakyat Argentina turun ke jalan-jalan untuk selebrasi, sebagaimana dulu dilakukan Maradona.

Satu-satunya hal yang dibutuhkan untuk menyamai Maradona adalah membawa rakyat Argentina ke jalan-jalan untuk kebahagiaan sebuah kemenangan. Seperti halnya Maradona yang memenangkan pertandingan ikonik pada Piala Dunia tahun 1986.

Kini, Messi sukses mengemban misi tersebut. Dia menuntaskan perannya sebagai Messiah atau Juru Selamat. Dia memenuhi semua harapan dan keinginan rakyat Argentina yang tengah dilanda krisis ekonomi.

Messi tak pernah mengomentari perannya sebagai Juru Selamat. Dia tetap menjadi seorang penganut Katolik yang taat. Di lengan kanannya, terdapat tato Yesus Kristus. Di siku kanannya, ada tato Jendela Mawar, sebuah jendela yang terletak di Gereja Sagrada Familia di Barcelona.

Nazar Messi

Di tahun 2017, setahun sebelum Piala Dunia 2018 di Rusia, Messi sempat bernazar. Jika Argentina memenangkan Piala Dunia, dia akan merayakannya dengan berlari sejauh 31 mil dari rumahnya di Rosario, Argentina, ke Sanctuary of Our Lady of the Rosary yang terletak di San Nicolas.

Setiap tahun di bulan September, ratusan ribu umat Katolik melakukan perjalanan dengan berjalan kaki ke San Nicolas, tempat suaka dan pusat penyebaran Katolik Argentina.


Saat itu dia gagal, kini dia bisa kembali mewujudkan obsesinya. Dia selalu menyebut bakatnya datang dari Tuhan, dan kepada Tuhan pula dia persembahkan semua kemenangannya.

Namun di mata para fans garis keras, yang mendirikan Gereja Maradona, Messi akan selalu jadi Juru Selamat. “Messi membela kondisi kemahakuasaan dan kemahatahuan Maradona. Kalaupun Maradona mati, dia tetap abadi. Dia tidak meninggalkan kami,” kata Hernan Ames.

Apakah setelah berhasil membawa Argentina juara, Messi akan sejajar dengan “Tuhan” Maradona?

Hernan Amez tidak menjawab. Namun Camilo Quinteros, sosiolog di Kolombia, menyebut bisa saja ada Gereja Messi dalam waktu dekat. Dia menyebut sejarah agama selalu berawal dari kegembiraan dan kebahagiaan yang berhasil diwujudkan seseorang.

“Dalam konteks ini, Messi hadir membawa kisah-kisah kejayaan untuk bangsanya. Dia datang sebagai pelipur lara bagi orang-orang yang hampa dengan kisah hebat,” katanya.

Di negeri latin, sepakbola pun bisa menjadi agama. Dan pemainnya bisa menjadi dewa. Semua mendambakan kegemilangan setelah dihantam panas kering kerontang akan gelar juara.

Semua gembira karena Messi.



Momen Haru Hajime Moriyasu


DI TENGAH sorak-sorai dan pekik kemenangan membahana di angkasa, lelaki Jepang itu bergerak menuju tepi lapangan. Dia memandang ke arah sebagian penonton yang tertunduk pilu. Pria itu, Hajime Moriyasu, langsung membungkuk. Dia melakukan ojigi, sebagai tanda permintaan maaf.

Semua penonton di stadion maupun di jagad maya terkesima. Di abad 21, pria itu serupa samurai yang baru saja menyelesaikan pertempuran. Tim samurai biru yang dipimpinnya telah bertarung tak kenal lelah. Mereka kalah terhormat setelah seluruh jiwa raga dan tulang dibanting dalam pertempuran.

Bermain di Al Janoub Stadium, Senin (5/12) malam, timnas Jepang unggul 1-0 di babak pertama berkat gol Daizen Maeda pada menit ke-43. Sayang, keunggulan tersebut langsung dibalas Kroasia di awal babak kedua lewat gol Ivan Perisic pada menit ke-55, skor menjadi 1-1.

Di babak adu penalti, kiper Kroasia, Dominik Livakovic tampil luar biasa dengan menghalau tiga penendang penalti dari para pemain Jepang.

Hajime Moriyasu membungkuk, lalu memberi penghormatan. Ia juga meminta maaf karena gagal membawa Jepang lolos ke 8 besar atau perempat final. Dia menunjukkan sikap ksatria dan jiwa besar, serupa oase di tengah warga dunia yang kian pongah dan tak mau mengakui kekalahan.

Tim yang diasuhnya telah menorehkan sejarah baru di kanvas sepakbola dunia. Timnya mengalahkan dua mantan juara dunia yakni Spanyol dan Jerman. Timnya juga bermain imbang melawan Kroasia yang tampil fantastis di Piala Dunia edisi sebelumnya.

Setelah melakukan aksi membungkuk itu, dia pun membuat pernyataan saat konferensi pers. “Ini adalah era baru. Mereka menunjukkan pada kami era baru masa depan sepakbola Jepang,” katanya.

“Para pemain bisa berpikir untuk bersaing melawan seluruh dunia dari level yang sama," katanya sebagaimana dikutip BolaStylo dari Goal International.

"Kami mengalahkan Jerman, kami mengalahkan Spanyol, kami mengalahkan dua mantan juara dunia. Jika kami berpikir untuk maju daripada stagnan, masa depan pasti akan berubah.”

Dia melanjutkan, "Jika sepakbola Jepang terus ingin berada di panggung terbaik, saya yakin itu kami akan mampu mengatasi penghalang ini.”

Bola memang serupa bandul takdir yang mengayun dan menunjukkan banyak sisi kehidupan manusia. Di Qatar, bola telah menyingkap satu kekuatan karakter dari bangsa Jepang yang pantang menyerah dan selalu menyerap energi terbaik dari setiap peristiwa dan pengalaman.

Semalam, timnas Jepang kalah dalam pertandingan bola. Namun mereka menang dalam menunjukkan kekuatan hati untuk menyerap semua hikmah dan pengalaman lalu mengubahnya menjadi kekuatan.

Dalam buku Upheaval: Turning Points for Nations in Crisis, Jared Diamond menjelaskan bagaimana Jepang di era Meiji bisa bangkit dari krisis dan menjadi bangsa pemenang. Bahkan saat luluh lantak di era Perang Dunia ke-2, Jepang bisa tetap tegak berdiri dan menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Kuncinya terletak pada sikap ojigi, mengakui kekalahan, memberi hormat, dan menancapkan tekad kuat untuk terus maju ke depan. Kita boleh jadi tak memenangkan pertarungan di masa kini. Tapi kita punya sekuntum asa untuk memenangkan masa depan.

Sebagaimana simbol pada bendera Jepang yang bermakna hinomaru. Di depan selalu ada matahari harapan. (*)



Hatibi Bula, Cinta, dan Kisah Albino yang Menjadi Ulama Besar di Tanah Buton

keturunan Hatibi Bula di Pulau Siompu (foto: Rustam Awat)

Sorak-sorai dan tepuk tangan membahana. Rombongan karnaval tenun dari Buton Selatan menjadi bintang pertunjukan. Di Kendari, 25 April 2019, dalam rangkaian acara HUT Sultra, rombongan dari Buton Selatan itu menyentuh hati banyak orang.

Buton Selatan menampilkan remaja dan pria dewasa albino. Mereka berbaris rapi dengan mengenakan pakaian tradisional Buton. Mereka berasal dari Pulau Siompu, yang masih masuk dalam wilayah administrasi Buton Selatan.

Media-media melansir cerita tentang populasi albino di Buton Selatan. Yang membanggakan, para warga albino itu disebut-sebut sebagai keturunan dari Hatibi Bula, seorang ulama besar tanah Buton yang tinggal di Pulau Siompu.

Hatibi Bula adalah seorang albino. Dia adalah khatib berkulit terang. Dia menjadi ulama besar yang kharismatis dan sangat terkenal di masa itu. Dia menjadi suluh yang mencerahkan masyarakat Siompu. Suaranya sebening embun saat sedang bermunajat

Buton Selatan punya banyak hal menarik. Selain banyaknya populasi albino, di sini terdapat warga yang bermata biru, seperti orang Eropa. Semuanya menjadi daya tarik wisata. 

Bagaimana kisah Hatibi Bula hingga menjadi ulama besar di tanah Buton?


*** 

Nama lengkapnya adalah La Ode Hasani Ibnu Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin Khalifatul Khamis. Bapaknya adalah La Kabumbu, sering disebut Mokobhaadiana, yang kemudian menjadi Sultan Buton ke-29, bergelar Muhammad Idrus Kaimuddin. Idrus memerintah mulai tahun 1824.

Hatibi Bula menikah dengan perempuan bangsawan Gowa Makassar bernama Karaeng Hayati, atau sebagian lain menyebutnya Karaeng Iyati yang adalah putri Raja Gowa Karaeng Yusuf.

Sumber-sumber lisan di Buton mengisahkan perkawinan La Ode Hasani atau Hatibi Bula dengan Karaeng Hayati adalah sebagai pertanda kedekatan hubungan Gowa dengan Buton di masa itu. Mula-mula mereka saling mengenal dalam masjid di pesisir kampung Butung,  Makassar, kemudian memutuskan menikah.

BACA: Serpih Jejak Gajah Mada di Buton Selatan


Hatibi Bula tumbuh dalam binaan dan didikan langsung ayahnya dalam sebuah madrasah yang dinamainya Zaawiyah. Dibawah asuh langsung ayahnya, ia diajari pendidikan moral dan pengetahuan agama, khususnya tasawuf terutama Khalwatiyah Sammaniyah aliran tarikat dari Syaikh Muhammad bin Syais Sumbul Al Makki seorang tokoh tasawuf timur tengah terkemuka di mana ayahnya Muhammad Idrus Kaimuddin berguru kepadanya.

Hatibi Bula tumbuh menjadi anak yang cerdas. Kedalaman dan keluasan pengetahuan agamanya melampaui umurnya yang masih belia. Tak hanya berpengetahuan, ia juga fasih berbahasa Arab dalam praktiknya. Banyak kitab-kitab Arab dipelajarinya. Bahkan kitab suci Al-Quran telah ia khatamkan ketika usianya masih belia betul, sebelas tahun. 

Dia mendapat nama La Ode Hasani, yang merupakan cucu Nabi Muhammad SAW. Sultan Idrus Kaimuddin menitip harapan yang besar agar kelak anaknya itu menjadi juga pemimpin, paling tidak pemimpin dalam agama, pemimpin umat, sesuatu yang kelak memang terbukti benar adanya. 

La Ode Hasani menjadi pemimpin agama dan imam di masjid Siompu, ia lalu diangkat menjadi Khatib di Masjid Agung Keraton Kesultanan Buton.

salah satu keturunan Hatibi Bula

La Ode Hasani muda menghabiskan waktunya dalam tafakur dan syiar Islam di pulau Siompu. Di Pulau yang kelak menjadi tempat tinggalnya hingga wafat itu, ia menjadi imam masjid sekaligus mengajarkan agama Islam. 

Ia dikenal sebagai ulama besar dengan pengetahuan keislaman yang luas. Ia juga tersohor sebagai ulama bersuara merdu. Ketika dia mengaji dan memimpin salat, suaranya sangat merdu. Banyak orang berbondong-bondong datang ke Masjid hanya karena mendengar suara azannya yang begitu indah.

Pernah pada suatu masa, Sara Hukumu di Masjid Agung Keraton Kesultanan Buton memerlukan seorang pandai untuk menduduki jabatan Khatib. Kadie-Kadie (desa) kemudian disisir untuk mencari orang yang paling tepat untuk menduduki jabatan itu. 

Barulah di Siompu ditemukan orang paling tepat. Dialah La Ode Hasani, Imam Masjid Siompu. Dia dibawa ke Wolio dan dilantik menjadi khatib di Masjid Agung Keraton Kesultanan Buton. Karena jabatan dan kulitnya yang putih, dipanggillah ia sebagai Hatibi Bula.

Jabatannya sebagai Khatib di masjid Agung Keraton Kesultanan Buton itu mengharuskannya sementara meninggalkan pulau Siompu untuk tinggal di Wolio, yang merupakan ibukota Kesultanan Buton. Murid yang dianggapnya paling mampu ditunjuk untuk menggantikannya dalam memimpin dakwah syiar Islam di Masjid Siompu. 

Setelah beberapa tahun menjabat sebagai Khatib di Masjid Agung Keraton Kesultanan Buton, La Ode Hasani atau Hatibi Bula merasa dirinya banyak kekurangan dalam pemahaman ilmu agama. 

Penguasaannya terhadap ilmu tarikat dianggapnya masih dangkal. Dia berpikir untuk pergi menuntut ilmu. Dia ingin belajar di sumbernya ilmu-ilmu agama di tanah suci Makkah. Sebagaimana ayahnya, ia memerlukan juga seorang Mursyid yang sanad keilmuannya jelas tersambung langsung ke baginda Nabi Muhammad Salallahu Aalaihi Wassalam.

BACA: Sepenggal Kisah Syaikh Abdul Wahid di Burangasi


Ia kemudian memberanikan diri menyampaikan keinginannya itu kepada ayahnya Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin. Setelah menimbang dan memberinya masukan sebagai nasihat, Sultan Idrus Kaimuddin akhirnya memberinya izin dengan disertai syarat yang tak boleh diabaikannya. 

Syarat itu sebagaimana syarat umumnya orang tua ketika melepas anaknya pergi menuntut ilmu: temukanlah guru yang benar sebagai Mursyid, sabar di negeri orang dan tekun-tekunlah belajar. 

Betapa girang La Ode Hasani mendapatkan restu dan izin ayahnya. Dia sangat gembira. Dia membayangkan tanah suci Makkah, kediaman para Wali Auliah, tempat sebaik-sebaik menimba ilmu agama, tempat mereka para mahaguru, para Mursyid yang suci. 

Sembari menunggu kapal yang akan membawanya ke Makassar, ia mulai mempersiapkan bekal dan keperluannya selama nanti di sana.

Kapal pengangkut beras dari kampung Tira Sampolawa telah sandar di pelabuhan Baubau, La Ode Hasani akan menumpang di kapal itu, membawanya sampai ke Makassar. Di sepanjang pelayaran terus saja ia mengaji, bahkan juga mengajari Islam bagi para kru dan penumpang kapal lainnya. 

Para kru dan penumpang kapal sangat senang. Hatibi Bula ikut juga sebagai penumpang bersama mereka. Dirasa waktu begitu cepat berlalu, masih ingin bersama Hatibi Bula tetapi kapal telah sampai di pelabuhan Makassar.

Setiba di Makassar ternyata kapal menuju ke Tanah Suci belum ada. Dalam penantian menunggu kapal di Kampung Butung Makassar, Hatibi Bula  tetap menjadikan Masjid di Kampung Butung Makassar sebagai tempat  untuk menjalani hidup keseharian. Di masjid itu,  ia mengaji sebelum dan sesudah salat Magrib, Isya, dan Subuh. 

Pelabuhan Makassar tempo doeloe

Pada waktu Hatibi Bula mengaji, banyak orang yang heran karena suaranya sangat bagus dan memukau. Banyak orang yang senang dengan  Hatibi Bula, termasuk putri Karaeng Gowa yang bernama Siti Iyati. Dia sering dipanggil Karaeng Iyati, sebagai lazimnya panggilan untuk bangsawan di Makassar. 

Karaeng Iyati pun sangat senang bahkan jatuh cinta kepada Hatibi Bula. Karaeng Iyati sangat rajin untuk datang sembahyang di masjid. 

Di lain kesempatan Hatibi Bula ingin mengumandangkan azan di setiap waktu salat,  namun harus seizin Karaeng Gowa. Setiap meminta izin untuk mengumandangkan azan selalu ditolak oleh karaeng Gowa karena Hatibi Bula dianggap sebagai pendatang yang mirip dengan orang Belanda. Kulitnya putih albino dan matanya biru. 

Seiring perjalanan waktu, lama kelamaan Hatibi Bula diperkenankan untuk mengumandangkan azan yang tadinya dipermasalahkan. Dalam mengumandangkan azan semua orang ada di sekitar Masjid Kampung Butung berlomba-lomba datang ke masjid lantaran lantunan suara azan dari Hatibi Bula  yang begitu memukau sangat indah. 

Pada suatu waktu, Hatibi Bula diperkenankan untuk menjadi imam pada Salat Magrib dan Subuh di Masjid Kampung Butung. 

Kepiawaian dan kemerduan suara yang dilantunkan oleh Hatibi Bula  semakin menambah keakrabannya dengan Karaeng Iyati. Keakraban membuat mereka semakin dekat, menjadikan keduanya menjalin cinta.

Perjalanan cinta Hatibi Bula dengan Karaeng Iyati ternyata tidak direstui oleh Karaeng Gowa. Bahkan Karaeng Iyati  tidak diperkenankan lagi  untuk sembahyang di masjid Kampung Butung. Karaeng Gowa sudah mengetahui bahwa anaknya menjalin kasih dengan orang asing Hatibi Bula. 

Larangan itulah yang membuat Karaeng Iyati tertekan jiwanya dan kemudian jatuh sakit. Sakitnya Karaeng Iyati membuat Karaeng Gowa gelisah. Karaeng Iyati adalah anak satu-satunya perempuan. 

Segala macam obat dari tabib dan orang pintar yang ada di Kerajaan Gowa dipanggil untuk mengobati Karaeng Iyati. Tetapi tak seorang pun yang dapat menyembuhkannya. Lalu Karaeng Gowa membuka sayembara bahwa barang siapa yang dapat menyembuhkan penyakitnya anaknya,  maka ia akan dikawinkan  dengan anaknya tersebut.

Mendengar ada informasi sayembara yang diadakan oleh Karaeng Gowa, Hatibi Bula pun berniat untuk mengikuti sayembara dan ia pun mendaftarkan diri. Dia pun diijinkan mengobati.  Karaeng Iyati langsung terbangun mendengar suara Hatibi Bula. Lalu Hatibi Bula membacakan doa pada air untuk diminum Karaeng Iyati. Selesai meminum air tersebut, Karaeng Iyati langsung meminta makanan dan seketika sehat saja badannya.

Setelah menyembuhkan Karaeng Iyati, Hatibi Bula  memohon kepada Karaeng Gowa untuk menepati janjinya. Namun Karaeng Gowa masih menunda-nunda untuk menepati janjinya. Hatibi Bula mencoba cara lain dengan  melamar Karaeng Iyati tetapi Sultan Gowa meminta mahar yang sangat tinggi yaitu 7 katepi/nyiru emas dengan maksud untuk menggagalkan  perkawinan. 

Dengan mahar sangat tinggi tersebut, Hatibi Bula memberitahu orang di tempat tinggalnya agar menyimpan karung sebanyak 7 karung di bawah tempat tidurnya pada malam Jumat. Pada pagi hari setelah bangun tidur,  karung tersebut telah berisi emas. Ketujuh  karung emas itulah dibawa ke rumahnya Karaeng Gowa untuk dijadikan sebagai mahar lamaran bagi Karaeng Iyati. Namun, lagi-lagi Karaeng Gowa masih menunda-nunda lagi perkawinan tersebut.

BACA: Teka-Teki Cinta di Bukit Lamando, Buton Selatan


Dengan penundaan tersebut, maka Hatibi Bula terpaksa membawa lari Karaeng Iyati ke Pulau Buton pada subuh hari sambil memohon kepada Allah SWT. Dia menghentakan kakinya ke tanah dan berkata, “Landaki Tanah,  Gomia Tanah,  Anee Dhangia Mopajerena."  Artinya: “Diinjak tanah, diisap tanah, jika ada yang mengejarnya.”

Dengan permintaan kesaktian itu, utusan Karaeng Gowa setengah mati untuk mengejar Hatibi Bula dan Karaeng Iyati. 

Setiba di Baubau, Hatibi Bula melapor kepada Ayahandanya Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin bahwa ia telah membawa lari anaknya Karaeng Gowa. Utusan Karaeng Gowa sedang mengejar mereka dengan armadanya yang besar.

keturunan Hatibi Bula di Pulau Siompu

Sesudah melapor itu, pada malam harinya Hatibi Bula dan Karaeng Iyati langsung dibawa untuk diungsikan di Pulau Siompu. Pada malam itu juga armada Karaeng Gowa yang mengejar Hatibi Bula  tiba pula di perairan Baubau. 

Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin memerintahkan agar semua lesung, gong dan yang lainnya dibunyikan bersamaan bahwa seakan-akan Kesultanan Buton diserang dari darat. Mendengar suara tersebut  maka armada Sultan Gowa menyingkir dan berlabuh sementara ke Pulau Makassar, pulau kecil di dekat Baubau.

Keesokan harinya diadakanlah perundingan antara Sultan Buton dengan utusan Karaeng Gowa. Sultan Buton bersumpah  dengan memegang kitab suci Al Quran. Bahwa tidak ada anaknya Karaeng Gowa di Pulau Buton. 

Sumpah itu sengaja diucapkan oleh Sultan Buton  karena Hatibi Bula dan Karaeng Iyati telah berada di Pulau Siompu, pulau kecil di selatan Pulau Buton. Di Pulau Siompu Hatibi Bula dan Karaeng Iyati melanjutkan hidupnya dengan bahagia. Mereka berketurunan dan tinggal menetap di sana sampai meninggalnya. 

Kini, keturunan Hatibi Bula terus bertambah. Banyak keturunannya yang albino. Mereka tetap dihormati masyarakat, sebab mengingatkan pada Hatibi Bula. Bahkan keturunan itu selalu membawa nama daerah Buton Selatan di berbagai acara budaya.

Keturunan Hatibi Bula tetap menjaga marwah leluhurnya Hatibi Bula yang terus dikenang sebagai sosok ulama besar yang menjadi guru bagi masyarakat siompu dan masyarakat Buton lainnya.


Catatan: Tulisan ini dibuat bersama budayawan La Yusrie dan Yadi La Ode



Si Rambut Putih di Kandang Banteng


PARTAI Amanat Nasional (PAN) hendak mencalonkan Ganjar dan Erick Thohir atau Ridwan Kamil. Demikian pula partai-partai dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Tapi, PDIP sampai sekarang belum ada tanda-tanda mencalonkan Ganjar. Partai ini terlihat tetap ingin mencalonkan Puan Maharani.

Publik bertanya-tanya, jika hendak menang, kenapa harus Puan? Apakah PDIP tidak ingin memenangkan pemilu agar tetap bisa mengeksekusi berbagai agenda kerakyatan?

Jika melihatnya dari sisi politik, tentunya sikap “kandang banteng” akan membingungkan. Tapi jika dilihat secara bisnis, keputusan itu sangat masuk akal. Ibarat bisnis, PDIP dan Demokrat punya pemilik saham tunggal. Sedangkan Golkar, PPP, dan PAN sudah sejak lama go public. Pemegang sahamnya dari banyak kelompok.

Yang dipikirkan pemilik saham mayoritas adalah tetap bertahta hingga kapan pun. Bahkan ketika meninggalkan partai pun, kendali harus tetap berada di tangannya biar bisa lengser keprabon dengan riang gembira dan bahagia.

Sebagai pemegang saham tunggal di PDIP, Megawati Sukarnoputri tahu kalau dirinya ada masanya. Kalaupun kelak harus tinggalkan partai, dia ingin regenerasi itu tidak keluar dari lingkarannya trah Sukarno.

Sejak dulu, para pemimpin, khususnya yang tumbuh dalam kultur Jawa, sangat peduli dengan siapa yang menggantikannya. Fenomena ini sering disebut wahyu keprabon.

Konon, Ken Arok pertama kali melihat cahaya di betis Ken Dedes, yang dianggapnya sebagai wahyu keprabon atau semacam legitimasi supranatural yang menjadi tanda seseorang akan menjadi pemimpin.

Di era Orde Baru, konon Suharto melihat wahyu keprabon pada diri Tien Soeharto. Di akhir kepemimpinannya, Soeharto melihat wahyu keprabon turun ke Sarwo Edhie Wibowo.

Soeharto tak rela menyerahkan kuasa pada Sarwo Edhie. Dia memilih mengasingkan Sarwo Edhie dari ranah politik. Dia lupa kalau wahyu keprabon itu tetap di keluarga Sarwo Edhie, yakni turun ke menantunya Susilo Bambang Yudhoyono.

Megawati adalah figur yang pandai membaca tanda-tanda alam. Di masa Orde Baru, dia yakin orde itu akan runtuh. Dia memimpin barisan oposisi dan berdiri di garis depan garda perlawanan karena yakin Soeharto akan tumbang.

Di tahun 2014, dia berani mencalonkan Jokowi karena yakin alam semesta telah memberikan dukungan. Dia tahu kalau tetap memaksakan diri maju, alam semesta tidak akan mendukungnya. Dengan mencalonkan Jokowi, partainya akan tetap menang pemilu sehingga dirinya akan selalu signifikan dalam proses politik.

Kini menjelang tahun 2024, dia tahu kalau dia tetap memaksakan Puan masuk arena, maka bertentangan dengan kehendak alam semesta. Publik ingin “Si Rambut Putih” akan masuk arena melalui kandang banteng.

Jika mencalonkan “Si Rambut Putih”, ada kekhawatiran kelak kendali partai akan bergeser dari kuasa Mega. Si Rambut Putih bisa berkoalisi dengan kubu oposisi di PDIP lalu mengambilalih kursi ketua umum. Dalam iklim demokrasi, pemilik saham mayoritas partai bisa terdepak jika alam semesta menginginkan itu.

Selain itu, Pilpres 2024 tidak sama dengan momen politik lain yang dilalui Megawati. Ini pilpres terakhir bagi politisi sepuh seperti SBY, Megawati, Jusuf Kalla, Surya Paloh, hingga Prabowo Subianto. Pilpres ini adalah transisi untuk mempersiapkan generasi baru yang akan mewarnai politik Indonesia masa depan.

Jika tidak mencalonkan Puan hari ini, bagaimana kelangsungan dinasti dan trah Sukarno?

***

Fenomena pelanggengan dinasti ini bukan hal baru di Indonesia. Dalam buku Notes on Java’s Regent Families, Heather Sutherland memaparkan bagaimana para elite Jawa mempertahankan kuasa dengan cara membangun dinasti.

Dalam buku yang diterjemahkan menjadi Politik Dinasti Keluarga Elite Jawa Abad XV-XX (Komunitas Bambu, 2021), Heather mengurai berbagai upaya kolonial melanggengkan kekuasaan para elite Jawa. Politik dinasti terjadi saat kekuasaan dikuasai satu keluarga besar secara turun-temurun.

Sutherland menunjukkan bagaimana elite politik masa lalu menjaga lambang-lambang kebangsawanan dengan gelar-gelar. Gelar kebangsawanan akan didapatkan juga oleh keturunan yang menggantikannya.

Misalnya, bupati Magelang pertama tahun 1810 adalah RT Danoeningrat, kemudian penggantinya yang merupakan anaknya bergelar RAA Danoeningrat II di tahun 1862, dan seterusnya. Namun, nama gelar ini bisa berganti apabila dinasti politik tersebut terputus.

Selain itu, seorang elite akan menampilkan pakaian, gaya hidup, tempat tinggal, serta posisi yang memberinya akses untuk tetap menjaga warisan supremasi sebagai penguasa.

Di era Indonesia modern, kita bisa saksikan fenomena yang sama. Sukarno mewariskan namanya jadi nama belakang anak-anaknya agar kelak bisa tampil di tampuk politik. Megawati memberikan banyak posisi kepada Puan agar berproses dan segera matang demi memasuki kancah politik nasional.

Posisi yang penting membuat elite punya modal sosial untuk menjaga relasi dan jaringan dengan para pemilik modal sehingga bisa dikapitalisasi menjadi jejaring bisnis dan oligarki. Di masa lalu, elite yang loyal pada pemerintah kolonial akan mendapat garansi kekuasaannya akan langgeng.

Di masa kini, posisi pemerintah kolonial sudah diambil alih oleh banyak pemilik kapital. Mereka punya kuasa untuk menentukan siapa pemimpin, juga punya kuasa untuk menaikkan dan menurunkan pemimpin.

Nah, di titik ini, kita bisa paham kalau hasrat PDIP untuk mencalonkan Puan lebih disebabkan oleh proses regenerasi kuasa politik yang diharapkan tetap berada di trah keluarga Sukarno. Kuasa politik akan memengaruhi kuasa ekonomi, sekaligus memastikan seseorang tetap memiliki napas di arena politik sehingga kelak bisa memasuki arena kapan pun dia merasa siap.

***

Presiden Jokowi tampil di hadapan ribuan relawan. Dia kembali mengirimkan kode siapa yang hendak didukungnya. Dari beberapa peristiwa, sangat terlihat jelas kalau Jokowi tidak ingin mengulangi kesalahan Presiden SBY yang tidak menyiapkan penerus kekuasaan sepeninggalnya sebab hanya memberi ruang bagi keluarganya.

Politik kita memang emosional. Baik Presiden SBY dan Presiden Jokowi sama-sama ingin menyiapkan dinasti. Bedanya, SBY tidak sempat mempersiapkan rute jalan yang akan dilalui anaknya.

Namun politik kita juga rasional. Pengamat politik Ikrar Nusa Bakti menilai jika ada partai atau gabungan partai yang mengajukan capres-cawapres yang elektabilitasnya rendah, itu sama artinya partai itu melakukan bunuh diri politik.

Karena Pemilu 2024 ini era amat penting dalam perjalanan Republik menyongsong kepemimpinan generasi baru bangsa menjelang 100 tahun RI.

Jika Mega, Jokowi, Puan, dan Ganjar bisa kompromi, maka akan menjadi kekuatan yang dahsyat. Bangsa kita terkenal sebagai bangsa yang suka bermusyawarah dan kompromi. Jika PDIP berkoalisi dengan KIB di mana akan menjadi partai utama di dalam koalisi, maka kandidat yang diusung akan tak terbendung.

Jika PDIP mengajukan Ganjar, yang berpasangan dengan Ridwan Kamil ataupun Erick Thohir, maka tak ada yang bisa menandingi mereka. Kuasa politik dan kuasa modal akan berkelindan dan kembali menjadi langgam politik kita di abad kekinian.

Semua cincai, sekaligus cuan.



Sepenggal Kisah Syaikh Abdul Wahid di Burangasi, Buton Selatan

Patung Syaikh Abdul Wahid di Lapandewa, Buton Selatan

Jika saja tak ada dirinya, maka Islam tidak sampai ke Tanah Buton. Syaikh Abdul Wahid adalah penyebar Islam yang datang dari jauh. Pria bernama lengkap Syaikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani adalah legenda. 

Dia membawa suluh Islam yang menerangi masyarakat Buton. Dia pun mengislamkan Raja Buton ke-6, Timbang Timbangan atau Lakilaponto yang bergelar Sultan Murhum. Dia juga mengubah haluan Kerajaan Buton menjadi Kesultanan yang mengamalkan Islam.

Menurut beberapa riwayat bahwa Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani sebelum sampai di Buton pernah tinggal di Johor. Selanjutnya bersama isterinya pindah ke Adonara, kini wilayah Nusa Tenggara Timur. 

Dia lalu hijrah ke Pulau Batu Atas pada tahun 933H/1526M yang termasuk dalam pemerintahan Buton. Di Pulau Batu Atas, Buton, Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani bertemu Imam Pasai yang kembali dari Maluku menuju Pasai (Aceh). 

BACA: Sufi Besar, Tasawuf, dan Naskah di Pulau Buton


Imam Pasai menganjurkan Syaikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani pergi ke Pulau Buton untuk menyebarkan agama Islam. 

Konon Raja Buton ke-6, Timbang Timbangan atau Lakilaponto terkenal dengan kesaktiannya dan bisa mengalahkan bajak laut. Karena, beberapa kali Kerajaan Buton coba ditaklukkan para bajak laut demi bisa menguasai perairan menuju Maluku Utara untuk mencari rempah-rempah. 

Salah satu kesaktian Lakilaponto adalah kebal senjata tajam maupun peluru dan dia berhasil mengusir Labolontio, bajak laut bermata satu. 

Namun kesaktian sang raja tidak seberapa dengan kesaktian Syaikh Abdul Wahid yang akhirnya menjadi gurunya. 

Syaikh Abdul Wahid yang terkenal sakti berhasil menjadikan Raja Buton ke-6, Timbang Timbangan atau Lakilaponto menjadi muridnya. Sang Raja akhirnya masuk Islam yang bergelar Sultan Murhum atau Sultan Muhammad Kaimudin. 

Sultan Murhum merupakan Raja Buton pertama yang menerima pengaruh Islam setelah berkuasa lebih kurang 20 tahun. Otoritas dan keteladanan raja memudahkan dijadikannya Islam sebagai agama resmi bagi orang Buton dan Muna. 

Saat itu terjadi pengislaman beramai-ramai dalam lingkungan Istana Kesultanan Buton dan sekaligus melantik Sultan Murhum sebagai Sultan Buton pertama. Sehingga Sultan Buton dianugerahi gelar Khalifatul Khamis oleh Khalifah Ustmaniyah, 

Ketika itu Khilafah Ustmaniyah di Istanbul Turki sebagai pusat pemerintaahan Islam mengakui kedaulatan Kesultanan Buton yang menjalankan secara penuh syariat islam dalam sistem pemerintahannya. 

Sampai sekarang masih terdapat beberapa peninggalan Syaikh Abdul Wahid di Kesultanan Buton. Di antaranya adalah Benteng Keraton Buton, yaitu benteng pertahanan yang mengelilingi istana sultan dengan berbagai alat kelengkapannya. 

Bermula dari Burangasi

Ada banyak kisah mengenai Syaikh Abdul Wahid saat pertama kali tiba di Burangasi, kini masuk wilayah Buton Selatan. Masyarakat memiliki banyak ingatan kolektif yang dituturkan turun-temurun mengenai ulama ini. 

Dia mendarat pertama kali di tanah Burangasi, tepatnya di pantai Rampea. Sang Syaikh menyusuri pesisir pantai untuk mencari penghuni tempat yang baru disinggahinya. 

Wali Allah ini berjalan ke arah utara menuju Matano Tai. Di sana, ia bertemu gurunya. Sang guru memberinya nasihat sebelum pergi dan menghilang di tengah deburan ombak.   

Syaikh Abdul Wahid terkejut melihat gurunya yang menghilang begitu saja. Bersamaan dengan itu, Al Qur’an yang ia pegang lepas dalam genggaman dan jatuh ke dasar laut. Tempat jatuhnya Al Qur’an itu dikenal dengan nama Tanjung Pemali. 

Satu sudut pemandangan di Burangasi, Buton Selatan

Tiba waktu salat, Wali Allah ini segera mengumandangkan azan dengan suara merdu. Seluruh makhluk yang mendengarnya turut berzikir memuji kebesaran Ilahi. Lantunan azan itu didengar La Buntouno, masyarakat Burangasi yang berhari-hari tinggal di hutan karena sedang berburu rusa. 

Ketika memasuki waktu-waktu salat, ia diam membisu, menyimak dengan teliti azan Syaikh Abdul Wahid. Sang Pemburu ini terkesima dengan syair-syair azan dan kemerduannya. Hingga suatu ketika, La Buntouno meninggalkan hutan menuju perkampungan warga. 

Di tengah perkampungan Burangasi, pemburu itu segera menceritakan apa yang ia dengar. 

“Kamaipo agori, ndau o pindongo suara mia bundo. Mia ia haleo baumelamo laguno. Nopilagu lima mpalinga a alo. Laguno wange, nongea labaru.. labaru.. labaru..” 

Kepala suku dan masyarakat setempat penasaran dengan cerita sang pemburu ini. Mereka mengutus La Buntouno dan beberapa warga setempat untuk menjemput orang baru yang melantunkan nyanyian merdu itu. 

BACA: Kisah Raja Bugis di Pulau Buton


Di hadapan sang Syaikh, La Buntouno memohon agar dia ikut bersama mereka ke perkampungan Burangasi. Namun, Wali Allah ini tak menerima begitu saja. Kedekatannya dengan Allah Ta’ala membuat Syaikh Abdul Wahid tahu, kalau mereka belum tersentuh dengan kemuliaan Islam. Kehidupan masyarakatnya masih lekat dengan sesuatu yang diharamkan Sang Pencipta. 

Syaikh Abdul Wahid memberi syarat kepada La Buntouno dan masyarakat lainnya –agar membersihkan kampung mereka dari segala jenis najis dan sesuatu yang diharamkan Sang Pencipta, seperti anjing dan babi. 

Karakter masyarakat Burangasi yang mudah menerima hal-hal baru, patut diberi apresiasi. Pasalnya, syarat yang diajukan Syaikh Abdul Wahid dikerjakan dengan penuh kepatuhan. Warga yang memiliki kandang babi segera dirobohkan dan hewan peliharaannya dilepas begitu saja. 

Perintah Sang Syaikh sudah dilakukan, La Buntouno diutus kembali untuk memberitahu hal itu. Syaikh Abdul Wahid bahagia dan terharu dengan karakter masyarakat Burangasi yang mudah menerima ajaran baru. Menurutnya, ini adalah awal yang baik untuk memperkenalkan risalah Islam pada mereka. 

Beberapa saat kemudian, Wali Allah itu mengarahkan tangannya ke langit. Ia berdoa kepada Allah. Tongkatnya ditancapkan ke tanah. Ia meminta agar diturunkan hujan lebat demi membersihkan perkampungan dari segala bentuk najis yang dilarang oleh agama. 

Mengingat, saat itu masyarakat Burangasi menganut kepercayaan agama lokal, maka tentu saja banyak tulang-tulang babi yang berserakan di tengah perkampungan. Beberapa saat kemudian, angin mendesau, petir menggelegar. Hujan turun dengan kekuatan penuh mengguyur perkampungan. Semua tulang-belulang terbawa arus hujan. Perkampungan Burangasi bersih dari tulang-tulang babi.

Sang Syaikh dengan perasaan senang menerima ajakan La Buntouno. Kedatangannya disambut dengan penuh sukacita oleh masyarakat Burangasi. Sosoknya yang berkharisma, tutur kata yang lembut dan budinya yang luhur, membuat Syaikh Abdul Wahid mudah diterima dan langsung berbaur dengan masyarakat setempat. 

Setiap waktu salat tiba, Sang Syaikh selalu melantunkan azan dengan suara merdu dan mendirikan salat di atas sebuah batu. Orang-orang menyebutnya Koncu Labatu Puaro. Tentu saja, masyarakat setempat bingung dengan tingkahnya –dan mengira Syaikh Abdul Wahid sedang bersenandung. Anehnya, nyanyian berulang-ulang itu belum pernah mereka dengar sebelumnya.

Syaikh Abdul Wahid memahami kebingungan masyarakat Burangasi. Tanpa menunggu pertanyaan, Wali Allah ini perlahan menjelaskan tentang ritual yang ia lakukan. 

Yang dikira nyanyian itu adalah azan. Sementara gerakan berulang-ulang yang ia lakukan setelah azan adalah salat. Itulah beberapa ibadah yang diperintahkan dalam ajaran Islam. 

Penduduk Burangasi takjub dengan penjelasan Syaikh Abdul Wahid. Mereka minta diajari. Dengan bahasa santun dan tutur kata yang lembut, Wali Allah ini menolaknya. Ia menegaskan, sebelum belajar tata cara ibadah dalam Islam, maka terlebih dahulu mereka harus  bersyahadat; bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Nabi dan utusan Allah. 

Masyarakat Burangasi menyanggupi syarat itu. Mereka berbondong-bondong mengucapkan syahadat sesuai panduan Syaikh Abdul Wahid. Tak perlu waktu lama bagi Wali Allah ini untuk mengislamisasi masyarakat Burangasi. Sang Syaikh begitu gembira dan melantunkan syukur kehadirat Allah atas antusias masyarakat untuk mengenal Islam. 

Masyarakat Burangasi begitu semangat dalam mempelajari Islam. Realitas itu membuat Sang Syaikh berpikir untuk membangun surau sebagai pusat belajar Islam. 

Tak menunggu lama, ia pun memerintahkan masyarakat bergotong-royong membangun surau itu. Penduduk setempat menyanggupi seruannya. Semua sumber daya dikerahkan untuk mempercepat pembangunannya. 

Kebahagiaan masyarakat membuncah dalam jiwa ketika menyaksikan bangunan penting, simbol masuknya Islam di tanah Burangasi berdiri kokoh dan gagah berani. Pada zaman dulu, masyarakat setempat menamai bangunan itu dengan ‘Langgara' dan sekarang kita kenal dengan sebutan 'Baruga I Liwu'.

Langgara menjadi tempat Syaikh Abdul Wahid untuk mengajarkan Islam. Karena al-Qur’an yang menjadi pegangannya jatuh di Tanjung Pemali, maka ia mengajarkan Qur'an dan pokok-pokok Islam secara lisan; dari mulut ke mulut. Proses pengajaran Islam secara lisan itu oleh masyarakat Burangasi menyebutnya Kawalimboba. Tak lupa, Syaikh Abdul Wahid juga melakukan sunatan massal untuk menyempurnakan keislaman mereka. 

Waktu terus berjalan, matahari dan rembulan silih berganti menyapa semesta. Masyarakat Burangasi perlahan hidup dalam nuansa Islam. Ketika azan berkumandang, mereka berbondong-bondong mendirikan salat berjamaah. 

Syaikh Abdul Wahid menganggap perlu ada benteng kokoh yang mengelilingi surau. Pemikiran itu segera diutarakan. Masyarakat setempat menerima usulnya. Tak berselang lama, pembangunan benteng dimulai. Sang Syaikh juga terlibat dalam rancangan dan pengerjaannya. 

Saat itu, aktivitas masyarakat mulai terbagi. Di siang hari bekerja membangun benteng. Malam harinya berkumpul di Langgara untuk belajar ilmu agama. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan benteng itu. Setelah rampung, mereka memberinya nama Benteng Duria. 

Ajaran Islam mulai mewarnai sendi kehidupan masyarakat Burangasi. Syaikh Abdul Wahid harus melanjutkan perjalanan, menyebarkan syiar Islam ke seluruh jazirah Pulau Buton. Saat itu ia hendak memenuhi undangan Raja Buton yang memintanya memperkenalkan Islam di kerajaannya. 

Sebelum pergi, Sang Syaikh mengumpulkan masyarakat Burangasi di Langgara. Ia memberi nasihat dengan penuh hikmah. Semua yang hadir menyimak penuh takzim. Nuansa kesedihan tersaji di Baruga Liwu. 


Sebentar lagi mereka kehilangan panutan dengan akhlak terpuji, sosok berilmu tinggi dan cahaya kelembutan yang selalu terpancar di raut wajahnya. Isak tangis mengiringi kepergian Syaikh Abdul Wahid di tanah Burangasi.

Sebenarnya, perasaan itu terbit juga di jiwa Sang Syaikh. Ia merasa, masih ada pokok ajaran Islam yang belum sempat diajarkan pada masyarakat setempat, yaitu hukum dan syarat pelaksanaan akikah. 

Namun, utusan Raja Buton meminta Syaikh Abdul Wahid untuk menemui Raja dengan segera. Walhasil, Wali Allah ini menitip pesan pada pemuka adat dalam hal ini Sara Burangasi tentang uang sedekah kurban kambing. 

Itulah sebabnya, sejak kepergian Syaikh Abdul Wahid hingga sekarang, masyarakat Burangasi selalu  melakukan ritual mata’ano bembe atau akikah, yaitu penyembelihan kambing sebagai pernyataan syukur orangtua atas kelahiran anaknya.  

Sebelum meninggalkan Tanah Burangasi, Syaikh Abdul Wahid juga menyerahkan sebilah pisau pada pemuka agama. Pisau itu akan difungsikan pada acara sunatan massal. Dan sampai sekarang, pisau peninggalan Sang Syaikh itu masih ada. 

Selain yang disebut di atas, ada juga beberapa peninggalan Sykeh Abdul yang masih lestari hingga sekarang, seperti bendera merah dan putih yang berbeda tiang; keduanya memiliki tiang masing-masing. Dalam pelaksanaan sunatan massal, bendera itu dikibarkan saat melakukan Legoa. 

Peninggalan lainnya adalah Sambahea Lohoro. Ritual ini dilakukan pada saat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Para tokoh melakukannya di Ka’ana Nto’owa. Tentu bukan hanya itu, ajaran Kawalimboba yang diwariskan Sang Syaikh juga masih terjaga keasliannya. Meski tak bisa dimungkiri, dewasa ini makin sedikit generasi yang mau mempelajarinya.



Prabowo Berani, Ganjar Tenang



KOALISI itu baru seumur jagung. Namun santer terdengar kalau pasangan Prabowo – Muhaimin akan segera bercerai. Konon, pihak Prabowo ingin berjodoh dengan Ganjar Pranowo. Ada kabar berhembus kalau pasangan ini didukung istana.

Ibarat permainan, kartu Prabowo memang belum habis. Dia tetap maju ke palagan pilpres dengan penuh semangat. Dia tahu sebagian pendukungnya lari ke Anies, namun dia tetap yakin punya banyak keunggulan.

Dalam dua pekan, banyak sosok penting bertemu Prabowo Subianto. Mulai dari Menteri Pertahanan Amerika Serikat hingga Panglima Angkatan Bersenjata Cina. Di atas kertas, mereka membahas jual beli alutsista.

Namun, bisa jadi mereka membahas hal-hal yang jauh lebih substantial. Di antaranya adalah posisi Indonesia di tengah tarik-menarik negara-negara serta potensi perang di masa mendatang.

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang Rusia–Ukraina diprediksi akan panjang. Banyak pengamat melihat Rusia sengaja menahan diri dan tidak melancarkan serangan pamungkas.

Rusia sengaja membiarkan barat mengalirkan senjata dan jutaan dollar ke Ukraina, yang secara perlahan akan membuat koalisis NATO dan Amerika akan bangkrut dengan sendirinya. Rusia pun telah membangun aliansi strategis dengan negara BRICS yang membuat negara itu tetap tegar menghadapi sanksi.

Perang itu ibarat pisau yang menikam semua orang. Bukan hanya inflasi dan ekonomi yang kian suram, tapi perang itu telah membuka kotak pandora peperangan yang selama sekian tahun ditutup rapat.

Banyak negara, mulai Jerman hingga Jepang mulai menambah anggaran militer. Dunia mulai khawatir dengan perang yang setiap saat bisa merambah ke mana-mana.

Dalam sejarah, perang selalu menjadi titik akhir opsi untuk mencapai tujuan tertentu. Di masa sekarang, perang bisa terjadi sebagai harga yang harus dibayar Amerika untuk mempertahankan imperium selama beberapa dekade.

Saat ini, perang terjadi di Eropa, di mana Ukraina menjadi proxy dan perpanjangan tangan. Setelah Eropa, perang berikutnya bisa terjadi di Asia, saat Cina hendak mengambilalih Taiwan ke pangkuan Ibu Pertiwi Tiongkok.

Perang juga bisa merambah ke Laut Cina Selatan, yang menjadi rumah bersama bagi komunitas Asean.

Di titik ini, Indonesia menjadi negara paling strategis yang perannya ditunggu. Indonesia pun menjadi negara yang setiap saat bisa terkena dampak perang. Indonesia pun setiap saat harus siap berperang untuk menjaga setiap jengkal tanah air dari berbagai kekuatan yang bisa merobek kebangsaan.

Di titik ini, Indonesia butuh Prabowo. Ya Prabowo. Mengapa?

Pertama, Prabowo berlatar militer. Setiap zaman selalu melahirkan pemimpin yang tepat untuk menjawab permasalahan yang muncul. Indonesia butuh pemimpin yang kuat untuk menghadapi krisis global yang diperkirakan bisa terjadi dalam waktu dekat.

Dalam beberapa perhelatan pilpres, Prabowo selalu mengingatkan publik tentang perlunya modernisasi peralatan militer. Dia selalu mengingatkan orang-orang tentang potensi perang yang bisa terjadi.

Dalam dunia militer, ada peribahasa: “Si vis pacem, para bellum.” Jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang. Di atas kertas, Prabowo lebih unggul dari capres lain dalam hal memimpin orkestrasi perang saat Ibu Pertiwi dalam ancaman.

Selain itu, sebagian besar publik Indonesia menginginkan pemimpin seperti Vladimir Putin yang terlihat kuat. Di antara semua capres yang namanya disebut lembaga survei, hanya Prabowo yang mendekati Putin.

Kedua, Prabowo bisa menjadi titik tengah dan penyeimbang. Dulu, Prabowo dipersepsikan sebagai anti-China. Namun saat pidato di forum International Institute for Strategic Studies (IISS) Shangri-La Dialogue 2022 di Singapura, ia mengemukakan pandangan yang disukai semua orang. Bahkan pejabat dan pemimpin militer Cina membagikan berita tentang pernyataan Prabowo.

Saat itu, Prabowo menyebut posisi Indonesia yang respek pada semua kekuatan-kekuatan besar dunia. Posisi Indonesia adalah tidak memihak siapapun, tetapi berperan aktif untuk mendorong perdamaian dunia.

“Situasi di Ukraina mengajarkan kami bahwa kami tidak akan pernah bisa mengabaikan keamanan dan kemerdekaan kita begitu saja. Oleh karena itu, kami bertekad untuk memperkuat pertahanan kami dan itulah kata kuncinya. Outlook kami defensif, tetapi kami telah menyatakan bahwa kami akan mempertahankan wilayah kami dengan segala cara yang kami miliki,” katanya.

Ketiga, Prabowo bisa menjadi titik tengah dari polarisasi politik. Memang, sebagian pendukungnya pindah ke Anies, namun sebagian tetap loyal padanya. Dilihat dari sisi marketing, dia tetap startegis. Sebab dia bisa menggaet pemilih Jokowi, sembari tetap mempertahankan sebagian pendukungnya.

Dia juga terbukti bisa dipercaya. Saat pindah ke haluan pemerintah, dia bisa bekerja dengan baik, dan mengabaikan suara-suara yang memintanya untuk oposisi atau terus mengkritik pemerintah.

Gerinda memainkan politik dua kaki. Di pemerintahan, ada Prabowo yang menopang pemerintah. Di luar pemerintahan, ada sosok Fadli Zon yang terus melancarkan kritik pada pemerintah. Strategi menjaga keseimbangan ini memungkinkan Prabowo tetap mendulang suara yang cukup signifikan.

Keempat, sebagaimana pernah dilontarkan Gus Dur, Prabowo adalah sosok yang paling ikhlas. Dia patriot sejati yang bisa mengabaikan semua perbedaan. Saat dia kalah dari arena pilpres, dia bersedia menerima pinangan Jokowi untuk menjadi menteri demi bangsa dan negara Indonesia.

Dia menunjukkan kepada banyak orang kalau segala perbedaan bisa diabaikan saat Ibu Pertiwi memanggil. Dia menolak untuk mengarahkan pendukungnya membenci pemerintah. Dia bisa menjaga amanah dan konsisten membantu Jokowi hingga hari terakhir menjabat.

***

Di jagat politik, berembus kabar Prabowo didorong untuk berpasangan dengan Ganjar. Kubu Muhaimin Iskandar, yang partainya PKB siap koalisi dengan Gerindra, langsung protes dan mengancam akan membuat poros baru. Pihak Gerindra, yang diwakili Sekjen Ahmad Muzani, tetap tenang dan menilai kompetisi pilpres masih panjang.

Jika Prabowo berpasangan dengan Ganjar, maka keduanya bisa saling melengkapi. Prabowo berani, Ganjar tenang. Prabowo akan fokus mengurus geopolitik dan isu-isu internasional, Ganjar akan fokus untuk memperkuat dalam negeri.

Namun, Prabowo berpotensi kehilangan massa dari kalangan Nahdlatul Ulama, yang terbukti bisa memenangkan Jokowi hingga jadi presiden dua periode.

Di dunia politik, segala hal bisa terjadi. Jangankan Prabowo-Ganjar, bahkan Prabowo-Puan pun bisa menjadi pasangan. Bisa pula Prabowo-Anies, mengingat Kerja sama keduanya di pilkada DKI Jakarta.

Yang pasti, kartu Prabowo tetap hidup. Dia tetap menjadi pemain politik yang bisa mengubah lanskap pertarungan politik negeri ini.

Sebab Indonesia butuh Prabowo.



Menjadi GIVER

 


Sahabat itu datang menemui saya di satu sore. Dia curhat tentang kehidupan ekonomi keluarganya yang biasa-biasa. Kariernya tidak begitu sukses. Dia selalu melakukan banyak hal, tapi nafkah keluarganya tidak mencukupi. Istrinya pun ingin pisah.

Saya tahu persis sahabat ini adalah orang baik. Dia tidak pernah ragu-ragu jika hendak membantu orang lain. Setiap ada rejeki, pasti akan dia berikan kepada yang butuh. Dia pun siap sedia membantu orang lain jika meminta. Lantas, kenapa dia tidak sukses?

Saya teringat buku Give and Take yang ditulis Adam Grant. Menurut psikolog yang juga konsultan di Google, orang baik justru banyak yang gagal. Orang baik bisa menjadi yang paling gagal di antara berbagai tipe manusia.

Dia membagi manusia dalam banyak tipe. Tipe pertema adalah tipe pemberi (giver). Ini adalah tipe mereka yang paling suka berbagi, suka membantu tanpa pamrih, dan setiap saat bersedia untuk membantu orang lain.

Tipe kedua adalah tipe pengambil (Taker). Ini adalah tipe orang yang suka memanfaatkan orang lain. Orang dengan tipe ini hanya bersedia membantu jika dia melihat ada manfaat langsung yang diterima. Jika tidak, dia akan menolak untuk memberi.

Tipe ketiga adalah penyeimbang (Matcher). Ini adalah tipe mereka yang seimbang. Jika dia menerima kebaikan, akan berusaha membalas kebaikan itu. Jika kita jahat kepadanya, dia pun akan membalas kejahatan itu. Minimal, dia tidak mau berkawan.

Nah, kata Adam Grant, lebih 56 persen manusia bumi adalah tipe Matcher. Tipe ini selalu membalas kebaikan, juga menjaga hubungan dengan para Giver. Seorang Matcher akan menjaga jarak dengan para Taker. Sebab sekali mereka dimanfaatkan, maka mereka bisa berpotensi membalas perlakuan itu.

Jika dibuat urutan sukses, siapa yang paling di bawah? Adam Grant menjawab Giver. Mengapa? Sebab seorang Giver sering kali hanya memikirkan orang lain, tanpa memikirkan dirinya. Seorang Giver gagal sering jadi bulan-bulanan dari para bos yang pragmatis.

Lihat saja di kantor-kantor. Seorang Giver akan bersedia menjalankan perintah apapun, meskipun tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya. Dia akan selalu bilang Yes, meskipun dalam hati kecilnya tahu kalau dia sedang dieksploitasi. Saat tahu dia dimanfaatkan, dia hanya menerima lapang dada dan menyerahkan pada Tuhan.

Di atasnya, ada Taker. Seorang Taker hanya mengambil untung sesaat, setelah itu perlahan akan gagal. Mengapa? Sebab orang-orang akan menjauh. Dalam jangka pendek, dia bisa sukses memanfaatkan orang lain, namun seiring waktu, reputasinya akan menyebar sehingga orang-orang tidak mau mengambil risiko berdekatan.

Di atas Taker, barulah tipe Matcher. Tipe ini akan menjaga keseimbangan, sehingga tidak terlalu gagal, juga tidak terlalu sukses. Posisinya di tengah-tengah.

Siapa yang paling sukses dan paling kaya? Jawabannya adalah Giver. Jadi seorang Giver bisa menjadi tersukses, bisa pula tergagal. Lantas apa yang membedakan keduanya?

Seorang Giver sukses selalu punya tujuan kapan dia harus memberi dan kapan harus menolak. Meskipun dia kaya, dia tidak lantas memberi semua orang yang datang meminta apalagi jika permintaan itu diawali pujian-pujian. Dia akan selektif, hanya tanpa pamrih pada orang yang pantas dibantu.

Giver sukses akan melihat hubungan-hubungan jangka panjang. Saat dia memberi, maka dia bisa memastikan bahwa kelak orang yang diberi akan loyal dan membalas pemberian itu. Dengan cara memberi, lingkaran pengaruh dan reputasinya menyebar, sehingga semua orang ingin bekerja sama dengannya.

Di era kekinian, semua pekerjaan selalu berbasis pada jaringan. Makanya, istilah "Your Network is Your Net Worth" sangat tepat. Melalui silaturahmi dan pemberian, seorang Giver akan terus memperluas jaringan sosialnya, sehingga hubungan-hubungan itu membuahkan hasil kepadanya.

Contoh Giver sukses ini bisa dilihat pada Angel Investor yang selalu membantu anak muda pengembang start-up dengan harapan kelak usahanya akan besar. Jika sukses, dia akan untung, namun jika gagal, dia tidak berharap uangnya kembali. Niatnya membantu, tapi tetunya ada analisis bisnis yang komprehensif tentang potensi cuan di masa mendatang.

Giver sukses berprinsip "You Win, I Win". Dia menjadikan pemberian dan kemurah-hatian sebagai strategi untuk membangn relasi-relasi dan hubungan jangka panjang. Dia ibarat menanam pohon, yang kelak akan tumbuh besar lalu memberi banyak buah manis.

“Saya paling rajin dan paling membantu, tapi kenapa saya merasa paling gagal? Yos, apa kamu bisa bantu saya?” tanya sahabat ini.

Saya hanya bisa diam dan mendengarkan. Saya hanya seorang Matcher yang tak bisa berbuat banyak. Saya ingin membantu, tapi saya ragu-ragu apakah bantuan itu kembali ataukah tidak.

Saya lihat, dia menunggu jawaban.



Teater Perang dan Kebangkitan ASIA

 


LELAKI itu, Hajime Moriyasu. Saat peluit panjang dibunyikan di Khalifah International Stadium, dia kegirangan dan diliputi bahagia. Pasukan Samurai Biru yang dibawanya sukses menebas permainan pasukan Bavaria.

"Saya mempersiapkan mereka untuk bermain secara kolektif. Saya persiapkan mereka untuk berperang,” kata Moriyasu saat sesi konferensi pers, sebagaimana dilansir dari laman zerozero.

Sehari sebelumnya, pasukan Saudi Arabia menghancurkan Argentina, tim yang sempat disebut unbeatable atau tak terkalahkan. Semua orang lupa kalau bola selalu bundar.

Sebagaimana dikatakan Michel Platini, dalam dunia bola, bukan awal yang penting, melainkan akhir yang menentukan segalanya. Anda boleh jemawa karena merasa perkasa, tetapi hasil akhir akan menghukum Anda ke titik paling memalukan.

Di pertandingan itu, pasukan Jepang benar-benar menjelma menjadi mimpi buruk. Harga diri pasukan ini sempat terkoyak saat bek Jerman, Antonio Rudiger seakan mengejek pemain Jepang dengan cara berlari sambil berjingkrak.

Dia seakan menertawakan orang Asia yang jangkauan larinya pendek. Rudiger tidak tahu kalau sekali harga diri terkoyak, maka maut pun bisa ditempuh. Pasukan itu menjalankan kamikaze yakni mengeluarkan energi terbaiknya.

Orang Jepang sudah lama mendambakan malam itu. Seorang komikus bernama Yoichi Takahashi pernah membuat animasi mengenai Jepang yang membobol gawang Jerman melalui tendangan Tsubasa Ozora. Semalam, yang menjalankan peran Tsubasa adalah Takuma Asano, pemain yang merumput di kandang Jerman.

Piala Dunia edisi ini penuh kejutan. Kuasa-kuasa lama perlahan digusur. Tim-tim mapan tidak bisa lagi memandang remeh tim-tim Asia yang semenjana.

Di lapangan ekonomi, kuasa lama mulai keropos. Ini Abad Asia, abad di mana negara-negara Asia, yang dahulu porak poranda karena perang, kini muncul menjadi kekuatan baru. Lihat saja di jajaran negara G-20. Asia menempatkan tujuh negara di jajaran negara yang ekonominya paling mapan.

Saya ingat Kepala Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan Uni Eropa Josep Borrell Fontelles. Saat berkunjung ke Jakarta, dia mengatakan, masa depan akan ditulis di Indo-Pasifik. Sebab, 60 persen perekonomian dunia bergerak di Indo-Pasifik dan 2,5 miliar jiwa kelas menengah tinggal di kawasan ini.

Jauh-jauh hari, sejumlah pakar hubungan internasional telah menggaungkan istilah ”Abad Asia”. Seperti Rachman lewat buku Easternization itu, pakar-pakar menyebut Abad Asia sebagai era kebangkitan peran Asia dan penurunan peran AS-Eropa.

AS dan Eropa adalah kuasa lama yang kian ditinggalkan. Mereka masih beranggapan kalau mereka adalah pusat dunia. Di arena ekonomi, semua tahu kalau Asia akan menjadi kekuatan ekonomi dan geopolitik yang dominan di kancah global.

Dalam buku "The New Asian Hemisphere: The Irresistible Shift of Global Power to the East" yang ditulis tahun 2008, Profesor Kishore Mahbubani juga meramalkan kebangkitan Asia. Dalam buku yang menjadi pegangan banyak mahasiswa, termasuk di Harvard University, dia Asia memasuki era baru sejarah dunia yang ditandai dengan dua poin utama.

Pertama, akhir dari era dominasi Barat dalam sejarah dunia. Tapi, akhir dari dominasi Barat dalam sejarah dunia tidak berarti akhir dari Barat. Kedua, dia melihat kembalinya Asia.

Sejak tahun pertama Masehi hingga tahun 1820, China dan India secara konsisten merupakan dua ekonomi terbesar di dunia. Mereka akan kembali ke posisi yang sama tadi di abad ke-21 ini.

Kishore menempatkan penggunaan telepon seluler yang melonjak tajam di Asia sebagai tolok ukur kebangkitan kembali Asia. Lihat saja pasar telepon selular di seluruh dunia yang didominasi produk Asia.

Kata Kishore, memperoleh telepon seluler bukan hanya soal menggunakan alat. Ini adalah tentang memberdayakan kaum miskin, lebih efektif daripada mendapat dana bantuan asing.  Telepon seluler mendorong langkah menuju modernitas yang melanda di seluruh Asia. Informasi soal kemajuan bisa diraih lebih awal.

Katanya, Asia bangkit karena menyerap tujuh pilar kebijakan Barat. Tujuh pilar itu, yakni pasar bebas ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, meritokrasi, budaya pragmatisme, budaya perdamaian, penegakan hukum, dan pendidikan.

”Tragisnya, pada saat negara-negara Asia telah menemukan kembali kebijakan tujuh pilar, negara-negara Barat telah kehilangan kepercayaan pada beberapa pilar tadi, termasuk ekonomi pasar bebas. Karena itu, waktunya telah tiba bagi Barat untuk kembali mempelajari nilai-nilai dari tujuh pilar dari negara-negara Asia,” ujar Kishore.

Kita semua tahu kalau realitas bergerak lebih cepat dari prediksi para ahli. Kita tak menyangka kalau kejatuhan Eropa dan Amerika itu bisa lebih cepat.

Saat badai pandemi menghantam, krisis ekonomi mulai tumbuh bak jamur, lalu kian diperparah oleh invasi Russia ke Ukraina. Di titik ini, Eropa mulai limbung karena kehabisan energi dan gas. Pendulum sejarah segera bergeser ke Asia.

***

“Ini bukan kejutan. Ini sejarah,”kata Moriyasu. Dia menyebut, kunci kemenangan Jepang terletak pada pengalaman pemain yang sudah malang-melintang di liga Jerman dan berbagai liga Eropa.

Dia menggemakan spirit orang Asia yang dengan cepat bisa menyerap kemajuan di berbagai tempat. Di era Meiji, Jepang bisa bangkit dan menjadi raksasa ekonomi karena meniru Eropa. Seiring waktu, mereka memperkat karakter dan membangun etos kerja sebagai bangsa unggul.

Tentu saja, dibutuhkan fokus dan konsistensi untuk menjalankan semua pelajaran itu. Sikap angkuh dan jemawa hanya akan membuat satu bangsa terlena lalu abai pada sejarah, lalu kalah.

Tim Jerman memulai pertandingan dengan menutup mulut. Mereka memilih untuk menyampaikan pesan politik di satu arena di mana mereka harusnya fokus. Sikap abai itu lalu dihukum dengan dua gol di menjelang babak kedua berakhir.

“Kami bersatu sebagai satu kesatuan. Kami harus bertahan sampai peluit akhir berbunyi. Kami datang bukan untuk sekadar bertanding. Kami sedang berperang,” kata Moriyasu.