Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Matinya Para Ahli



PAGI ini saya teringat artikel Tom Nichols berjudul The Death of Expertise, yang kemudian dikembangkan jadi buku. Nichols membahas tentang kematian para ahli di era milenial ini. Banyak orang yang lebih suka bertahan dalam ketidaktahuannya, tanpa mau mendengar mereka yang benar-benar ahli dan menghabiskan hidupnya untuk mendalami satu topik. Para ahli ditinggalkan. Suara kelimuan dibuang jauh-jauh, hanya karena dianggap berbeda dengan sesuatu yang diyakini benar.

Barusan saya melihat poster nonton bareng dan dirangkaikan dengan kajian sejarah. Di poster itu tertera akan ada kajian sejarah yang akan diurai oleh seorang ustad bergelar insinyur dan master bidang agama. Ke mana para sejarawan atau orang yang benar-benar ahli dan belajar sejarah? Ke mana para peneliti sejarah? Ke mana orang-orang yang selama ini menulis dan rajin membahas hal itu dalam berbagai simposium sejarah?

Tiba-tiba saja saya terngiang kalimat Tom Nichols. Lihat artikelnya DI SINI.



Mengayuh di Ombak




SELALU menyenangkan punya banyak kawan penulis. Sering saya mendapatkan buku secara gratis sebagai hadiah. Entah kenapa, setiap kali menerima hadiah buku, apapun topiknya, ada banyak rasa girang terpancar. Saya membayangkan kerja-kerja intelektual yang tidak mudah. Seorang penulis melakukan riset, menyusun fakta demi fakta, menautkan setiap keping narasi demi menyusun patahan-patahan bab yang dirangkai menjadi buku.

Seorang penulis juga harus punya keberanian berlipat-lipat. Ia harus siap menerima penilaian publik, entah itu positif ataukah negatif. Keberanian ini tak selalu dimiliki oleh banyak orang, bahkan para intelektual sekalipun, yang lebih suka berkoar di media ataupun seminar, tapi tak punya karya. 

Penulis juga harus siap menghadapi kritik orang lain yang, entah kenapa, sangat suka menguliti atau mencari celah karya apapun. Di negeri ini, menjadi pengkritik atau pengamat sering dianggap lebih bergengsi dari para pembuat karya yang mengalami proses berdarah-darah demi melahirkan sesuatu.

Saya paham bahwa menulis itu tidak mudah. Anda bisa saja menguasai banyak pengetahuan, tapi saat anda tak mampu mengisi layar kosong dengan aksara, maka anda harus mengakui kalau pengetahuan anda masih sebatas kutipan-kutipan dari penulis yang menurut anda keren. Selagi anda tak pernah membagikan pengetahuan di atas layar ataupun lembaran, maka anda belum naik level ke arah reproduksi pengetahuan baru.

Hari ini saya menerima buku berjudul Mengayuh di Ombak: Potret Potensi dan Permasalahan Laut, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil di Sulawesi Selatan. Buku ini ditulis sahabat saya Wahyu 'salik' Chandra di Makassar. Isinya sangat menarik sebab menyajikan perjalanan ke kampung-kampung nelayan, memuat kisah mereka yang mengayuh di atas ombak, juga potret persoalan yang dihadapi di sana. Saya familiar dengan topik-topik yang disajikan.

Beberapa waktu lalu, saya pernah bekerja sama dengan Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) untuk menyusun buku serupa yang berjudul Membangun Indonesia dari Pinggiran: Kisah-Kisah Pendampingan Masyarakat di Pulau-Pulau Kecil. Isinya juga mendiskusikan bagaimana kisah mereka yang tinggal di pesisir laut.

Sebagai balas atas kebaikan Wahyu 'salik' Chandra yang mengirim bukunya, saya juga akan mengirimkan buku saya yang temanya seragam.




Prananda Surya Paloh: Dari Politik, Nasdem, Hingga Jodoh



Pekan silam, saya bersua Pranansa Surya Paloh. Beliau anggota DPR RI yang masih berusia 28 tahun. Beliau menyilahkan saya untuk berbincang-bincang. Putra tunggal Surya Paloh, politisi dan pebisnis kawakan, bercerita banyak hal. Mulai dari pengalaman politiknya di parlemen, beda politik dan bisnis, suka-duka berkunjung ke konstituen, obsesinya sebagai Ketua Garda Muda Nasdem, hingga jodoh. Ia juga membahas apa saja mimpi-mimpinya di partai politik. Silakan menyimak.

***

MAJALAH itu teronggok di atas meja, saat saya memasuki rumah di satu ruas jalan besar di Jakarta. Majalah Millionaireasia yang terbit dalam format bahasa Inggris itu sering menampilkan mereka-mereka yang mendapat predikat sebagai miliuner di Asia. Pada edisi yang saya baca itu, pada halaman 11-15, terdapat kisah Prananda Surya Paloh, seorang anggota DPR RI berusia 28 tahun.

Majalah itu menulis wawancara dengan Prananda di bawah tajuk The Voice of Young Indonesia. Kiprah Prananda sebagai anak muda di parlemen, bagaimana dirinya menjaga nama besar ayahnya Surya Paloh, hingga apa saja perubahan yang dibawanya ke parlemen Indonesia.

Saya menemukan majalah itu di salah satu kantor milik Prananda Surya Paloh. Melalui tenaga ahli Prananda, yakni Andy Syoekri Amal atau kerap disapa Asa. Saya diajak untuk bertemu Prananda dan berbincang tentang banyak hal. Saya pikir ini adalah kesempatan emas untuk mengenali sosok muda yang memasuki parlemen dari daerah pemiihan Sumatra Utara.

Setahun silam, saya diminta untuk menganalisis postingan di fanpage Facebook yang dibuat Prananda selama menjadi anggota parlemen. Fanpage itu telah di-like sebanyak 700 ribu orang. Lembaga riset Socialbakers menempatkan fanpage Prananda di urutan ke-14 politisi paling populer di media sosial Facebook, di bawah nama-nama seperti Prabowo Subianto, Joko Widodo, ataupun Susilo Bambang Yudhoyono. Malah, di media sosial itu, Prananda mengungguli nama-nama seperti Wiranto, Moeldoko, Tifatul Sembiring, bahkan Hidayat Nur Wahid.

Saya membaca banyak postingannya yang membangun interaksi dengan masyarakat, baik di dapilnya maupun di luar dapil. Sebagai generasi milenial, ia menjadikan Facebook sebagai wadah untuk berinteraksi. Melalui media sosial itu, ia menyampaikan pandangan-pandangannya atas situasi terbaru, serta laporan kepada publik atas apa yang dilakukannya selama di parlemen.

Sebelum diminta menganalisis postingan itu, saya sudah merasa penasaran dengan sosok Prananda Surya Paloh. Beberapa waktu silam, saya membaca publikasi tentang kampus Harvard University menyiapkan kelas untuk pemimpin masa depan. Kelas itu diisi oleh putra para pemimpin dan tokoh berpengaruh di banyak negara.

Harvard melihat fenomena Ghandi di India, Aquino di Filipina, hingga Aung San di Myanmar. Kampus tersohor di dunia ini melihat bahwa pemimpin dilahirkan di tengah keluarga pemimpin, selalu menyerap DNA kepemimpinan dari dalam rumah, dan menyiapkan dirinya sejak dini.

Saya membayangkan politik di Indonesia beberapa tahun mendatang akan diwarnai oleh generasi kedua politisi yang tengah bersinar saat ini. Beberapa nama yang sudah memasuki arena politik adalah Agus Harymurti Yudhoyono (putra Presiden SBY, Presiden RI ke-6), Puan Maharani (putri Megawati, Presiden RI ke-5), Yenny Wahid (putri Gus Dur, Presiden RI ke-4). Prananda Surya Paloh pun akan mengisi barisan calon pemimpin bangsa ini di masa depan.

Sayangnya, publikasi tentang anak-anak muda ini belum banyak ditemukan. Padahal, catatan tentang mereka selagi muda akan menjadi dokumen berharga saat hendak meneropong wajah politik kita di masa depan. Pada usia muda, mereka telah mempersiapkan diri, memasuki rimba raya politik dan organisasi massa, berhadapan dan berdialog dengan massa.

Prananda Surya Paloh pun telah meniti jalan ke arah itu. Ia telah melenggang ke parlemen di usia 26 tahun. Ia merasakan suka dan duka meyakinkan orang-orang agar memilihnya. Ia bertemu banyak masyarakat, menyerap aspirasi, lalu memformulasikannya menjadi kebijakan. Ia berpeluh keringat untuk menemui orang banyak.

Terhadap anak muda seperti Prananda, saya menyimpan rasa heran. Dengan posisi dan kekayaan orangtuanya, ia bisa saja tinggal di rumah dan menghabiskan hidup dengan bersenang-senang. Ia bisa saja keliling dunia, menghabiskan kekayaan orangtua, atau barangkali tinggal menunggu setoran dari semua unit bisnis yang dikelolanya.

Apakah gerangan yang hendak dicarinya?

***

PINTU di ruangan itu berderit. Saya yang telah menunggu selama sekitar setengah jam melihat Prananda memasuki ruangan. Perawakannya cukup tinggi sebagaimana ayahnya. Kulitnya terang dan bersih, Ia memakai baju batik berwarna biru. Ia menyapa hangat semua orang di ruangan itu.

Berbeda dengan ayahnya, tak nampak cambang atau mata yang tajam. Matanya justru teduh. Senyum tak lepas dari wajahnya. Ia tampak sebagai pribadi yang suka bersahabat dengan siapa saja. Di ruangan itu, ia bersikap santai. Saya tak seolah sedang menyaksikan seorang tokoh bersama tenaga ahli dan stafnya. Ia berbaur dengan yang lain, menjadi rekan sebaya, dalam pola komunikasi yang egaliter.

Setelah sejenak berbasa-basi, ia menjawab beberapa pertanyaan yang saya ajukan.

Keluarga anda sangat mapan. Tapi anda memilih dunia politik, dan meyakinkan orang lain tentang diri anda. Mengapa? Apa yang anda cari?

Saya akui saya dari keluarga mampu dan mapan. Juga besar dalam tradisi politik, Saya paham dengan seluk beluk politik itu. Saya lulus kuliah tahun 2012 akhir. Saat itu ada penerimaan Daftar Calon Sementara (DS) Partai Nasdem. Partai ini baru terdaftar untuk ikut pemilu. Saya waktu itu tidak ada planning tidak terlalu jauh. Umur saya masih 24. Orangtua tanya, mau gak masuk politik? Dia tidak memaksa saya. Saat itu, saya pikir ada peluang dan kesempatan. Saya juga baru lulus, Saya kampanye dengan spirit sama dengan partai yakni "Restorasi Indonesia", Selama satu tahun setengah di Dapil, saya belum banyak tahu keadaan. Saya bukannya shock. Saya melihat kesenjangan sosial. terlalu jauh kalau membandingkan Jakarta dan Medan. bandingkan saja kota Medan dengan daerah pinggiran. Kesenjangannya sangat jauh. Saya ingin berbuat banyak.

Apa yang menjadi jualan anda saat kampanye?

Saya punya jargon kampanye. Kalau saya terpilih, maka gaji dan tunjangan saya akan diserahkan sepenuhnya ke Dapil saya. Alhamdulillah, setelah terpilih dan dilantik pada 1 Oktober, saya turun lagi ke Dapil. Tempat pertama saya kunjungi, Desa Sibolangit, di Kabupaten Deli Serdang. Kenapa itu jadi desa pertama saya kunjungi? Karena desa itu mendulang suara terbanyak buat saya. Saya simpati dengan warga desa. Mereka juga simpati sama saya. Hanya saya anggota DPR yang mengunjungi desa itu.

Jangankan anggota DPR, anggota DPRD tak ada yang ke sana. Saya bangga karena dipercayai mereka. Saya disambut luar biasa. Saya tidak memberi bantuan luar biasa. Hanya pupuk, cangkul, dan peralatan olahraga. Dari situ, terbangun kepercayaan. Saya kaget karena suara daerah itu bulat. Ada 3.000 suara saya dapat di situ.

Saat itu mulai muncul ide untuk kembalikan gaji dan tunjangan. Timbul gagasan bagaimana kalau kita buat yayasan biar terarah dan terukur. Namanya Prananda Surya Paloh (PSP) Foundation. Kami ke notaris. Kami buat konsep, memilih ketua yayasan, ketua harian, dan seterusnya. Setelah rampung di-brainstorming lagi, tapi outflow-nya terukur. Setelah terbentuk, kami mulai jalan.

Apa saja yang dilakukan?

Kami pertama bangun program peternakan di salah satu desa. Di situ kami launching yayasan. Kami kasih bibit unggul ternak, yakni kambing dan sapi. Kami jelaskan bahwa kami tidak menuntut pengembalian. Kami minta supaya mereka tidak menjual bantuan itu. nanti setelah dipelihara dan punya anak, baru bisa dijual. Di situ kita hanya men-supervisi saja. Program ternak itu jalan.
Kami lalu ke kecamatan lain. Mulai bergulir program nelayan. Sejauh ini sudah banyak program nelayan. Tapi seringkali kendalanya adalah pengetahuan dan pendidikan, dan juga bagaimana bersaing dengan nelayan yang lebih modern. Kami kasih pendampingan serta bantuan mesin tempel (speedboat). Saya anggap kegiatan di ranah peternakan dan kelautan, sudah cukup bagus. Yayasan ini dibentuk untuk membantu masyarakat, dengan terukur, teruji, dan terbukti. Yayasan ini juga dibuat untuk mengetahui peta di mana saja daerah yang membutuhkan.

Ada anggapan politisi muda itu biasanya yang muda dianggap hijau dan tidak berpengalaman. Bagaimana menurut anda?

Saya sering temui anggapan itu. Memang, saya masih muda, Saya masih hijau. Tapi itu bukan kekurangan. Justru karena muda, saya punya energi besar. Saya masih punya nurani. Saya punya ketulusan untuk membantu orang-orang. Salah satu kandidat yang melawan status quo hanya saya. Di Dapil itu ada 10 kursi, dan yang bersaing adalah 11 incumbent (petahana). Mungkin saja masyarakat kecewa dengan janji sebelumnya. Bagi saya, dapil itu kekuatan. Tidak mungkin saya lupakan. Orang melihat bahwa muda itu bukan berarti bodoh atau tidak punya pengalaman cukup. Jam terbang boleh kalah, Tapi kita punya motivasi untuk berubah. karena satu-satunya yang muda adalah saya, itu menjadi kekuatan. Ada calon lain, tapi tidak berani

Apa ada bantuan lain?

Ada. Tapi sifatnya masih insidental. Misalnya kita reses ke SMP. Mereka butuh bantuan, kami sumbang. Baru-baru ini saya menyumbang komputer untuk SMP. Bantuan itu atas nama yayasan.

Apa anda selalu hadir dalam setiap kegiatan yayasan.

Iya. Dalam semua kegiatan yayasan, saya selalu hadir. Untuk kerjasama sudah kami jajaki. Sampai hari ini, scope-nya adalah Sumut 1. Dananya tidak terlalu besar. Ini masih tahap perkembangan. Operasional ini masih dari gaji saya. Masih pas-pasan. Efeknya bagus. Contoh inilah yang mesti banyak dicontoh oleh politisi. Banyak yang begitu terpilih, malah menghilang, Dihubungi melalui telepon pun tidak bisa.

Prananda lalu memandang HP. Ia lalu bercerita tentang survei yang menyebutkan interaksi anggota dewan dengan konstituennya yang hanya sedikit. Setelah itu ia melanjutkan.

Permasalahannya adalah terjadi distorsi komunikasi antara anggota DPR dan konstituen. Imbasnya lari ke kepercayaan ke partai politik yang rendah. Apa yang saya lakukan, paling tidak memulai dari hal sederhana untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Tidak semua wakil rakyat buruk. Ada juga yang baik. Jika dilakukan survei tentang anggota dewan yang menjalin hubungan baik dengan konstituennya, saya yakin saya masuk tiga besar. Top three.

Basic anda adalah ilmu politik. Setelah tiga tahun jadi anggota jadi dewan, apa dirasakan ada kesenjangan yang cukup jauh antara teori dan praktik?

Saya sering diskusi dengan teman-teman. Apa yang kami pelajari tidak berlaku dengan realita. Yang dipelajari seperti ideologi, teori, itu hanya penopang. Beda dengan bisnis dan manajemen. Itu kan applied. Politik ini learning by doing. Selain pengalaman, jam terbang, juga naluri dan wawasan.

Tapi, kesenjangan antara orang yang memahami konsep dan orang tidak paham kelihatan bedanya. Politik kita masih jauh. Apalagi saya belajar sistem politik Australia, Amerika, yang sudah matang. Sementara kita masih dalam proses menuju kematangan. Sistem kita sudah baik, tapi dalam sistem masih kacau. karena kematangan, kedewasaan, masih sangat minim.

Di luar politik, apa aktivitas Anda?

Saya mengawasi perusahaan dan kantor. Dalam sebulan, saya beberapa kali ikut rapat dengan direksi dan teman-teman. Saya juga disibukkan dengan Garda Pemuda Nasdem, sebagai sayap pemuda partai. Jujur saja, di luar politik, palingan saya mengawasi bisnis.

Palingan mengisi waktu dengan cara bersenang-senang dan makan-makan. Saya sering lakukan hobi yakni main pingpong. Saya sama dengan orang-orang muda lainnya. Kadang ke mall, kadang jalan-jalan saja. Masih bisa enjoy. Balancing penting, Syukur saya masih menikmati kebahagiaan dalam politik.

Anda masih lajang khan? Kapan rencana menikah?

Hahaha. Itu off the record. Saya kan belum 30 tahun. Mungkin dalam dua atau tiga tahun lagi. Saya belum punya calon.

Apa ada target dalam politik?

Yang pasti, untuk target Garda Pemuda Nasdem, saya ingin mengubah paradigma tentang organsiasi. Tidak semata-mata berpatokan pada politik murni. Saya sosialisasikan pandangan bahwa bergabung dengan Garda Pemuda Nasdem tidak harus jadi politisi, Caleg, Cawalkot atau calon bupati. Dia bisa kembangkan keterampilannya.

Misalnya kalau dia tertarik wirausaha, bagaimana mengembangkannya. Kalau tertarik seni, kita kembangkan bakat seninya. Kita juga kembangkan aspek kepemudaan, juga olahraga. Kami memulai dari scope kecil untuk kembangkan bangsa ini.
Saya juga punya target politik. Saya ingin Garda Pemuda Nasdem bisa menorehkan sejarah. Saya rasa belum ada organisasi pemuda lain yang sanggup menaruh 10 anggota DPR RI di parlemen. Target juga adalah 20 persen DPRD provinsi, dan 20 persen DPRD Kabupaten kota.

Saya pikir itu realistis dan masuk akal. Kita mulai dari sekarang, kita bisa petakan di mana kekuatan kita. Saya yakin banyak yang tertarik. Yang penting adalah kerjasama.

Apa yang ingin anda lakukan di Garda Nasdem?

Garda Nasdem adalah ruang berekspresi. Saya percaya banyak teman yang ingin membantu, tapi malas berpolitik praktis. Bagaimanapun juga, pemuda lebih spontan.

Sekarang saya paham bahwa pemuda Indonesia menganggap politik kotor, membosankan, hanya dilakukan orangtua. itu yang ingin saya ubah. Ini kan organisasi anak muda, harus ada fun, gak harus boring. Kita cari hal menyenangkan dan menarik.

Saya mengajak pemuda-pemudi melek politik. Tak harus masuk politik praktis, tapi memahami hak dan kewajibannya. Anak muda tidak buta politik. Mau pilih Nasdem atau tidak, itu tidak masalah. Yang penting tidak apatis.

Jujur, banyak anak muda yang apatis. Banyak yang tidak punya sikap. Bagi saya itu bodoh. Kalau tak punya sikap, lebih baik diam saja. Kita negara demokratis. Ada banyak momen demokrasi. Tentukan pilihan.

Apa saja kegiatan yang sudah jalan?

Saya baru tujuh bulan di Garda Nasdem. yang sudah dilakukan adalah 17-an. Kita bikin di tujuh titik secara bersamaan. Puncaknya di Rengasdengklok. Masyarakat menyambut dengan sangat baik. Ada 7.000 masyarakat, kemudian 5.000 anggota yang mengenakan baret. Mereka antusias karena biasanya kegiatan di situ skala kecamatan, tiba-tiba dibikin dengan skala nasional.

Generasi milenial. Bolehlah kami diandalkan sebagai kawah candradimuka yang membawa perubahan di ranah politik, kalau tidak, makin banyak pemuda yang apatis dan golput. Kami sadar kita mengalami satu booming. Indonesia tahun 2045, pemuda sekarang jadi golden generation. Kalau kita tidak bisa manfaatkan kelebihan itu, maka kita bisa drop lagi.

Apakah anda membayangkan jadi Ketua Umum Nasdem?

Saya belum pikirkan Saya menjalani step by step. Saya sadar konsekuensi sebagai putra ketua umum. Saya tidak ingin memforsir diri. Orangtua juga tidak forsir saya. Kalau ada orang lain yang lebih baik dan lebih mumpuni, kenapa tidak.

Kalau ada yang lebih punya visi, punya kemampuan, logistik yang baik, mengapa tidak. Tapi kalau tidak ada yang mampu, mungkin kita lihatlah. Saya tidak menutup kemungkinan itu, Silakan yang lain dulu, yang cukup mampu. Lagian itu masih lama. Mungkin 20 tahun lagi.

Banyak anggota dewan ingin jadi pejabat publik. Apa Anda tidak ingin jadi gubernur?

Ada masukan itu di konstituen. Saya nggap permintaan itu positif. karena kinerja saya dianggap bagus. Tapi kalau posisi gubernur, saat ini tidak. Saya masih muda, masih banyak hal lain yang dilakukan. Gubernur kan harus konsentrasi, dedikasi dan stamina 100 persen. Saya gak tertarik.

***

AZAN zuhur berkumandang. Di luar rumah, panas terik menyapa jalan raya. Wawancara berakhir. Prananda menerima tamu lain yang datang berkunjung. Saya merenungi percakapan singkat dengannya.

Ada rasa iri dengan anak muda, putra seorang politisi dan pebisnis sukses ini. Dalam usia semuda itu, ia justru berusaha membangun dunianya sendiri yang lepas dari bayang-bayang ayahnya. Pilihannya cukup berisiko. Dengan memasuki dunia politik, ia berhadapan dengan tantangan serta ritme hidup yang terus berubah setiap hari.

Hari ini ia menanam harapan dan mimpi. Kelak, sejarah yang akan mencatat apakah dirinya bisa menmasuki rimba politik sejauh apa yang dijelajahi ayahnya, ataukah ia malah berhenti di jalan. Saya percaya, dengan perencanaan yang matang itu, ia bisa menggapai jejak ayahnya di jalur politik dan juga bisnis.

Beberapa hari setelah wawancara, saya melihat-lihat biodata Prananda Surya paloh. Ternyata dia lahir di Singapura, 21 September 1988. Artinya, hari ini ia berulang tahun. Kini usianya adalah 29 tahun. Di layar ponsel saya terdapat pesan dari Asa, salah satu tenaga ahli Prananda, yang isinya adalah permintaan Prananda agar saya datang di acara ultahnya yang digelar di salat satu hotel besar di Jakarta.

Selamat ulang tahun sobat muda.

NB

Tulisan yang sama juga dimuat di locita.co


Yuk, Ikuti Tips Nonton Film G30S



TAK perlu khawatir berlebihan jika panglima memerintahkan semua keluarga tentara untuk nonton bareng film G30S/PKI yang dibuat oleh Arifin C Noer. Tak perlu juga ikut mengeluarkan berbagai analisis dan data sejarah demi menjelaskan apa yang disebut pelurusan sejarah. Tak ada guna berdebat selagi masih lebih percaya petikan tulisan di grup WA atau tiga paragraf penuh kalimat bunuh dan ganyang, ketimbang membaca banyak riset-riset sejarah kredibel. Buang jauh-jauh nama mereka yang memang studi sejarah, seperti Ben Anderson, John Roosa, Asvi Warman Adam, hingga Baskara T Wardaya. Mereka kalah kredibel dengan penulis tiga paragraf di media sosial.

Lebih baik kita mengapresiasi mereka yang ingin nonton bareng film itu. Betapa luar biasanya orang-orang yang tahan menyaksikan film mencekam selama tiga jam dengan gambar agak buram itu. Maklumlah, film itu dibuat bukan dalam format HD. Berilah apresiasi jika ada generasi milenial yang tahan untuk duduk diam menyaksikan film, tanpa mempertanyakan secara kritis, mengapa hanya ada satu wajah ganteng ala Korea di film itu yakni Pierre Andreas Tendean, yang disapa Ade Irma sebagai Om Pier. Kalau tak salah, diperankan oleh Wawan Wanisar, sosok “Reza Rahadian” di masa itu.

Film Ada Apa dengan Cinta 2 yang diperankan si cantik Dian Sastro dan si ganteng Nicholas Saputra akan membosankan kalau ditonton lebih dua jam. Salut benar jika ada generasi milenial yang sanggup melihat film yang membahas konspirasi, rapat di bawah kipas angin yang berputar-putar di bawah plafon, hingga operasi militer penculikan dan penyiksaan. Andaikan saya jadi mereka, mending saya mengisi tiga jam itu dengan mengunduh versi ori dari serial terbaru The Flash dan Arrow di layarkaca21. Lumayan, tiga jam mengunduh, bisa jadi tontonan selama beberapa hari.

Tak perlu juga heboh dengan acara nobar. Film itu bukanlah bendera pusaka yang hanya dikeluarkan pada momen upacara 17-an. Film itu justru tersebar di banyak kanal Youtube, bisa ditonton kapan saja, bisa dipilih-pilih mana bagian yang bagus ditonton dan mana yang tidak. Anda mau nonton bareng? Tak perlu tunggu tanggal 30 September. Lakukan saja malam ini. Ikuti instruksi untuk nonton dengan proyektor. Mudah-mudahan saja kemeriahannya bisa mengalahkan nonton bareng saat timnas dikalahkan oleh tim Malaysia. Akan lebih sempurna jika ada doorprize. Nanti ada MC generasi milenial yang ngasih pertanyaan, “Siapa nama kakak Ade Irma yang ikut berperan dalam serial ACI di TVRI?” Sekadar bocoran, jawabannya adalah Sylvana Herman.

Jika anda tetap hendak nonton bareng, ikuti beberapa tips dari saya. Setidaknya, dengan mengikuti tips ini, anda akan terhindar dari tuduhan dan stigma, yang bisa bikinkelar hidup lo’.

Pertama, datanglah nonton dengan mengenakan pakaian yang sopan dan rapih. Potong rambut anda dengan rapih. Lebih disukai jika rambut anda cepak. Bisa jadi, Anda akan mendapat hadiah. Jangan sesekali mengenakan pakaian proletar. Dilarang merokok sepanjang menyaksikan film itu. Aktivitas merokok banyak dilakukan oleh para penjahat di film itu.

Kedua, sebaiknya Anda bersikap serius ketika nonton. Jangan mengeluarkan tawa dan menari-nari seperti para perempuan seksi di Lubang Buaya yang konon adalah anggota gerakan perempuan. Biarpun banyak adegan yang terkesan lambat, jangan keseringan ke kamar kecil, keluar arena nonton untuk beli kopi, atau tiba-tiba saja mengirim SMS atau pesan WhatsApp kepada si doi. Sebab jika Anda ke kamar mandi saat televisi menayangkan wajah pemimpin militer, maka Anda bisa dicap sebagai antek dan dianggap berpihak pada kubu pemberontak. Hidup Anda bakal susah.

Ketiga, nontonlah dalam keadaan takut. Biarpun saat nonton, cinta Anda baru saja diterima seorang gadis, atau Anda baru saja nemu uang lima ribu rupiah di jalan--yang kata Habib Rizieq ada lambang palu arit. Jangan tunjukkan ekspresi gembira. Anda harus ketakutan melihat ekspresi orang-orang di film, mendengar musik horor dan suara lolongan anjing di kejauhan pada banyak adegan film ini.

Jangan lupa setelah takut, Anda juga harus membenci mereka yang hendak melakukan kudeta dan mengambil alih kekuasaan negeri ini. Biarpun sejarah kita mencatat pemberontakan lain, tetap saja penjahat di film itu tak punya ruang.

Keempat, jangan pernah bertanya. Mengapa? Lebih separuh film itu menayangkan adegan penculikan dan pembunuhan, yang justru dilakukan oleh orang-orang berbaju militer. Sebaiknya, Anda diam saja saat melihat bagaimana faksi-faksi militer saling bersilangan di situ, saling tembak-tembakan. Mulai dari Angkatan Udara yang dianggap mendukung pemberontak, juga pasukan Cakrabirawa yang menjalankan operasi penculikan dan penyiksaan. Mereka semua pernah dapat latihan baris-berbaris dan merayap di bawah kabel duri.

Silakan memaki Marsekal Oemar Dhani, mantan Kepala Staf Angkatan Udara yang ikut gabung pemberontak, juga cacilah Letkol Untung, seorang prajurit militer yang telah menjalankan banyak operasi perang demi membela NKRI harga mati, yang diterjemahkan generasi milenial sebagai NKRI the death price. Mereka memang pernah mengangkat sumpah prajurit. Anggap saja mereka mau saja mengikuti bujuk rayu kekuasaan kaum yang hendak berkuasa. Tontonlah hingga akhir, khususnya saat mayat-mayat ditarik dari sumur tua.

Abaikan fakta bahwa ada banyak kekejaman serupa di negara kita di penghujung abad ini. Mulai dari operasi penembakan para preman, tragedi Tanjung Priok, Talangsari, Lampung, Kedung Ombo, kematian Marsinah hingga Munir, penculikan aktivis, hingga gerakan rakyat di Aceh, Papua, dan Timor Leste. Lupakan pula kalau Sumanto punya aksi yang lebih mengerikan yakni memakan jenazah orang yang sudah dikuburkan. Pokoknya, pemberontak di film itu itu lebih mengerikan dari siapapun. Mereka tak punya hak hidup. Sumanto masih lebih beradab ketimbang mereka.

Namanya saja film, yang jelas-jelas fiksi, bukan sejarah. Film ini hanyalah cara sistematis yang dipilih rezim dan sejumlah pihak untuk menyampaikan apa yang mereka yakini sebagai sejarah. Kalaupun ada yang hendak membuat film tandingan ala generasi milenial, sebagai bentuk interpretasi atas sejarah, lakukan saja. Saya usul agar pemeran Letkol Untung bukan Reza Rahadian. Dia kurang macho. Sstt... Tahu kan maksud saya?




Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...