Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Sisi Lain MUNIR


HARI ini (8 Desember 2016) adalah hari lahir aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir. Mengenang Munir adalah mengenang bagaimana seorang aktivis yang berjuang dari tepian hingga titik darah penghabisan. Ia bukan saja simbol dari perjuangan melawan sistem yang korup dan menindas, tetapi juga menjadi monumen tragis bagi anak bangsa yang tewas misterius.

Hingga lebih 12 tahun sejak meninggalnya, Munir digambarkan sebagai pahlawan yang berjuang di garis terdepan menghadapi rezim. Tak banyak yang menyadari kalau Munir adalah manusia biasa yang menjalani hari-hari sebagaimana manusia biasa lainnya. Dia seseorang yang amat suka bercanda. Dia seorang suami yang menyayangi istri dan kedua anaknya. Dia juga seorang penakut, sesuatu yang berlawanan dengan gambaran orang atas sosoknya.

Sisi lain Munir itu bisa ditemukan dalam film dokumenter berjudul Bunga Dibakar, karya Ratrikala Bhre Aditya, yang pertama ditayangkan setahun setelah Munir meninggal. Dalam suasana yang masih berkabung atas meninggalnya Munir, film itu diluncurkan dan membahas sisi lain sosok pembela HAM itu.

Dikisahkan dalam film kalau di masa kecilnya, Munir dikenal sebagai anak yang suka berkelahi layaknya anak-anak lain. Ia mudah emosi dan terlibat dalam perkelahian dengan anak sebayanya. Ia juga bukan anak kecil yang patuh di sekolah. Ia tercatat tidak pernah menjadi juara kelas. Prestasi akademiknya biasa saja.

Masa kuliah menjadi masa yang penting untuk penemuan diri. Dia menjadi aktivis mahasiswa. Dia bergabung dengan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang, hingga posisi ketua komisariat. Selanjutnya ia berkiprah sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Ia juga mengasah dirinya dalam sejumlah kegiatan advokasi dan pendampingan pada masyarakat.

Dari trackrecord itu, Munir seharusnya menjadi sosok yang tak pernah mengenal kata takut. Namun, dirinya adalah sosok manusia biasa yang ternyata juga mengenal rasa takut. Satu kalimatnya yang menyentuh hati adalah: “Kita harus lebih takut kepada takut itu karena rasa takut itu menghilangkan akal sehat dan kecerdasan kita.”

Munir dibunuh di era demokrasi dan keterbukaan serta harapan akan hadirnya sebuah Indonesia yang dia cita-citakan mulai berkembang. Kematiannya adalah noktah hitam yang harus terus dikenang oleh seluruh bangsa sebagai pengingat agar negra segera menuntaskan kasus kematiannya, serta menyeret pihak yang bersalah ke meja hijau.

Hingga akhir hayatnya, Munir menyuarakan perlawanan pada militerisme dan kekerasan atas nama negara. Mereka yang mengenang Munir seyogyanya meneruskan kerja-kerja besar yang teah dilakukan lelaki itu. Jika tidak, Munir akan menjadi monumen yang sepi, tanpa memiliki pelanjut estafet perjuangan.

Munir dalam Film Dokumenter

Kisah Munir ibarat sungai yang mengalirkan banyak inspirasi. Selain film Bunga Dibakar yang disebutkan di atas, beberapa sineas juga telah mendokumentasikan kisah Munir dari berbagai sisi. Berbagai dokumenter itu kini bisa disaksikan melalui kanal Youtube demi mengenali lebh mendalam kisah lelaki hebat itu.

Film dokumenter lain yang membahas Munir adalah:

Pertama, Tuti Koto: A Brave Women. Film ini dibuat sutradara Riri Riza yang menokumentasikan perjuangan seorang ibu yang terus mencari anaknya, setelah sang anak dihilangkan secata paksa pada tahun 1997. Riri, yang kondang karena menyutradari film laris yang diantaranya adalah Ada Apa dengan Cinta 2, menampilkan sosok Munir sebagai pendamping Tuti Koto yang menguak tabir ketidakadilan. Film berdurasi 21 menit ini dibuat tahun 1989, sebelum Munir meninggal.

Kedua, Garuda’s Deadly Upgrade, yang disutradarai David O’Shea dan Lexy Rambdeta. Film ini mereportase perjalanan pengungkapan fakta kematian Munir, muai dari pemeriksaan para saksi dan pihak maskapai penerbangan yang mengangkut Munir ke Belanda, Garuda. Rapat di Dewan Perwakilan Rakyat, tim pencari fakta, hingga upaya keluarga dan sahabat Munir mencari tahu sendiri.

David O'shea dan Lexy terus mengejar narasumber yang enggan berbicara mengenai fakta di balik tewasnya Munir. Termasuk menggali keganjilan-keganjilan, seperti rekaman CCTV Munir di bandara yang tiba-tiba hilang. Film 45 menit ini dirilis pada 2005.

Ketiga, His StorySteve Pillar Setiabudi merekam proses pengadilan kasus pembunuhan Munir melalui film sepanjang 28 menit. His Story yang dirilis pada 2006 itu menceritakan bahwa perkara ini melibatkan Badan Intelijen Negara dan Garuda Indonesia.  Terdakwa Pollycarpus Budihari Priyanto diketahui mengajak Munir bertukar kelas di pesawat yang mereka tumpangi. Pada saat kejadian, pilot senior Garuda itu tidak sedang bertugas.

Keempat, Kiri Hijau Kanan Merah. Film yang dibuat oleh Dandhy Dwi Laksono ini menggali masa kecil Munir. Dia mewawancarai para sahabat dan keluarganya. Film pada 2009 dan berdurasi 45 menit ini juga mengisahkan sejarah pergeseran ideologi pendiri Kontras itu. Misalnya, tampak dari sejumlah advokasi yang dilakukan Munir.

Kelima, Cerita tentang Cak Munir. Meski wafatnya Munir telah lewat sepuluh tahun lalu, Hariwi berusaha merangkai biografi pria asal Malang itu, yakni dengan cara merangkum kesaksian orang-orang terdekatnya. Film berdurasi 90 menit ini diluncurkan pada 2014.

***

KISAH Munir adalah kisah yang mengusik rasa keadilan. Lebih sepuluh tahun kematiannya, selalu saja terdapat banyak misteri. Dua rezim pemerintahan gagal menemukan siapa sosok yang bertanggungjawab atas kematian sosok hebat yang namanya menggetarkan para pengoyak keadilan.

Keadilan memang harus ditegakkan. Negara harus terus digedor agar berani mengungkap siapa pelakunya. Negara harus diingatkan kalau kematian seorang aktivis kemanusiaan adalah kematian sekeping nurani bangsa. Negara harus ditekan agar segera menyelesaikan sebaris noktah sejarah agar bangsa ini bisa menatap masa depan dnegan segala spirit dan nurani seluruh anak bangsa yang mencintai kemanusiaan dan keadilan.


Menanti Kisah Terbaru JK Rowling



JOANNA Kathleen (JK) Rowling memang tak ada habisnya. Ia serupa Raja Midas yang bisa mengubah apapun menjadi emas. Apapun yang digarapnya selalu bernilai jutaan dollar. Setelah pekan ini film Fantastic Beasts and Where to Find Them, yang skenarionya dibuat Rowling, menjadi film laris yang memberi pemasukan hingga di atas 155 juta dollar, tak lama lagi, salah satu naskah yang dibuat Rowling akan tampil dalam teater Broadway.

Naskah itu berjudul Harry Potter and the Cursed Child, yang dijadwalkan tampil di Broadway, New York, pada tahun 2018 mendatang. Sebagaimana dilansir Reuters, pertunjukkan yang mengisahkan karakter penyihir buatan Rowling itu akan digelar di Lyric Theater Broadway. Kehadiran kisah baru Harry Potter ini diyakini akan mengatasi dahaga semua penggemarnya di negeri paman Sam.

Sebagaimana dicatat Pottermore.com, produser acara ini mengakui kalau pementasan ini akan membutuhkan uang hingga lebih sejuta dollar. Pementasannya akan diadakan di Lyric Theater, yang dikenal sebagai salah satu tempat terbesar Broadway yang memiliki hampir 1.9000 kursi, dan telah menampilkan berbagai pertunjukan seperti "Chitty Chitty Bang Bang" pada 2005 dan "Spider-Man: Turn Off the Dark," pada 2010 hingga 2014.

Sebagai persiapan, Lyric Theater akan direnovasi dengan mengurangi kursinya menjadi 1.500, “demi mengakomodasi tampilan dan nuansa dramatis” dari pertunjukan tersebut.

Tiket “Cursed Child” ludes di Palace Theater London hingga 2018, meski diperkirakan ada tiket lagi yang dijual pada Januari mendatang. Pertunjukan itu berlatar belakang 19 tahun setelah buku terakhir “Harry Potter dan Relikui Kematian” yang diterbitkan pada 2007.

Pertunjukan ini ditulis oleh Jack Thorne bersama Rowling, dan berpusat pada kehidupan Harry Potter yang sudah dewasa putranya. Buku skenario “Cursed Child”, yang diterbitkan bertepatan dengan hari pertama pertunjukan, telah menjadi buku terlaris tahun ini, lebih dari tiga juta kopi terjual di AS dalam sebulan pertama.

Kisah Rowling

Kisah Rowling sama ajaibnya dengan penyihir bernama Harry Potter. Perempuan yang lahir di Yate, Inggris, 50 tahun silam itu sejak kecil identik dengan perjuangan. Dia terpuruk saat harus menjadi single mom dan harus membesarkananak perempuannya dalam kondisi serba terbatas. Sebagai penulis, kariernya juga tidak mulus.

Inspirasi bisa datang dimana saja, seperti inspirasi tentang seorang anak laki–laki yang memiliki kemampun sihir dan sekolah sihirnya itu tiba–tiba muncul di pikiran Rowling saat melakukan perjalanan kereta api dari Manchester ke London pada tahun 1990.

Ia singgah di satu kafe, lalu menulis kisah itu di selembar tisu. Tanpa fasilitas memadai, ia lalu menulisnya dengan mesin ketik, lalu mengedarkannya ke beberapa penerbit. Jalan yang dilaluinya semakin terjal saat naskahnya ditolak oleh delapan penerbit. Hingga akhirnya penerbit kesembilan bersedia menerima naskahnya, kemudian menerbitkannya.

Keajaiban itu dimulai dari kisah Harry Potter. Kisah ini laris di seluruh dunia, diterjemahkan ke banyak bahasa, lalu menempatkan Rowling sebagai salah seorang penulis terkaya di dunia. Kisah ini juga sukses diadaptasi dalam bentuk film sehingga mencapai delapan film. Bisa dibayangkan, berapa banyak pundi-pundi yang dimiliki Rowling. Saat ini, satu film dengan skenario yang dibuat Rowling sedang tayang di bioskop, yakni "Fantastic Beasts and Where to Find Them.”

Tak berhenti di situ, Rowling juga membuat situs Pottermore.com bagi para penggemar Harry Potter di seluruh dunia. Pengunjung situs ini serasa memasuki dunia Harry Potter, mulai dari seleksi dengan sorting hat atau topi seleksi, setelah itu pengalaman memasuki asrama Hogwarts. Tak ketinggalan, ada pula pemilihan tongkat sihir di toko Ollivander yang menentukan tongkat yang akan kita dapat. Di situ juga terdapat kuis yang menyenangkan,

Penasaran? Silakan klik pottermore.com.



Filosofi dan Mimpi Jackie Chan



SETIAP orang memiliki mimpi-mimpi yang hendak digapai. Bahkan seorang aktor pun memiliki mimpi. Aktor Jackie Chan seumur hidup memendam mimpi untuk mengenggam Piala Oscar kehormatan yang berukir namanya. Saat piala itu dalam genggaman, ia mengenang banyak hal. Mulai dari negara, keluarganya, hingga pencapaiannya di dunia industri hiburan.

Dua puluh tiga tahun silam, Jackie Chan berkunjung ke rumah actor laga Sylvester Stallone. Di situ, ia melihat Piala Oscar. Tiba-tiba saja dirinya bermimpi untuk mendapatkan piala yang sama. Sabtu silam, aktor kungfu asal Cina itu menerima Piala Oscar atas dedikasinya dalam dunia film.

“Setelah 56 tahun di industri film, membuat lebih dari 200 film, setelah banyak tulang patah, akhirnya berhasil juga,” kata Jackie di acara gala dinner. Dia mengaku kalau ayah dan keluarganya selalu bertanya mengapa dirinya belum juga mendapatkan Piala Oscar atas dedikasinya di dunia film. Kini, semua pertanyaan itu terjawab.

Ia juga menyampaikan rasa bangga pada Hong Kong yang memberinya identitas Cina, dan berterimakasih kepada semua fans. Para fans adalah alasan baginya untuk melakukan banyak hal. “Saya akan lanjut buat film, melompat melalui jendela, menendang, meninju, lalu mematahkan tulang saya,” katanya.

Jackie menerima Oscar setelah sebelumnya diperkenalkan oleh aktris Michelle Yeoh dan Tom Hanks, sosok yang menyebutnya sebagai “Jackie ‘Chantastic’ Chan.” Hanks merasa bangga diminta memperkenalkan kerja-kerja Jackie Chan karena seni berkelahi dan film komedi action adaah dua genre yang sering dibedakan.

Seusai menerima penghargaan itu, Chan menulis di kanal Facebook-nya kalau dirinya adalah orang pertama dalam sejarah Cina yang menerima penghargaan itu. Dia tak salah. Selama lima tahun terakhir, hanya Sembilan actor kulit berwarna yang dinominasikan dalam kategori acting di ajang Academy Award. Setahun silam, Chris Rock, yang memandu acara itu, membuat sindiran di Facebook tentang kurangnya keragaman di Oscar. Dia membuat lelucon betapa sulitnya orang Asia mendapat penghargaan itu. Postingan ini lalu memicu banyak reaksi. Tapi di banyak sisi, Chris Tucker benar.

Filosofi dan Disiplin

Jackie Chan memang identik dengan film kungfu, sebagaimana aktor laga lainnya seperti Bruce Lee dan Jet Li. Bedanya, Chan bisa mengemas beladiri menjadi sesuatu yang tak hanya indah ditonton, tapi juga penuh gelak tawa.

Dalam kehidupan sehari-hari, Chan adalah figur yang serius. Ia juga filosofis. Katanya, kungfu adalah sesuatu yang tak berbentuk, namun hidup. Sebuah energi yang mendesak keluar dari tubuh kemudian mengaum lepas ketika disalurkan dalam pukulan atau gerak tubuh. Seorang pelukis juga pemain kungfu sebab melepaskan energinya pada kanvas. Bahkan penyair sekalipun adalah pemain kungfu sebab menjelmakan kata menjadi gemuruh yang menggelegar dan menyentak kesadaran kita. Kungfu adalah seni yang lahir dari proses mengolah dan “memasak” energi dalam tubuh manusia. Pandangan ini jelas berasal dari ajaran Buddha dan Tao yang sangat kuat menekankan pada peran manusia dalam upaya menggapai kesempurnaan. Suatu cahaya pencerahan yang kemudian menjadi pemandu atas nilai dan dan ziarah melayari dunia.

Sepanjang 1960-an hingga 1970-an, Shaw Brothers menjadi pemasok utama berbagai film kungfu dengan tokoh utamanya yaitu Bruce Lee. Kehadiran pria yang lahir di Washington dengan nama Lee Siu Lung ini menjadi awal dari genre film martial arts yang mengandalkan pada adegan perkelahian yang apik di mana karakter manusia hanya dibelah ke dalam dua bahagian yaitu baik dan jahat. Kita sedih ketika menyaksikan si baik menjadi bulan-bulanan. Dan kita langsung bersorak ketika si baik kemudian menang dan si jahat kalah. Seakan ada naluri yang menggerakkan kita untuk selalu memenangkan si baik atau pendekar budiman.

Dengan kesederhanaan pandang seperti itu, kita seakan membangkitkan naluri purba dalam diri untuk selalu memenangkan yang baik. Kaidah moral menjadi sangat penting demi menjaga kelestarian nilai agar dunia aman dan terang benderang. Inilah yang menjadi tema sederhana dari berbagai film kungfu klasik.

Sejak era Bruce Lee, perfilman Cina seakan menjadi mata air dari begitu banyaknya aktor laga di Hollywood dengan beragam ciri atau jurus masing-masing. Tokoh yang kini paling menonjol dan sukses di bidang ini adalah Jackie Chan dan Jet Li (kadang ditulis Jet Lee). Keduanya sukses di perfilman Cina dan kemudian membawa gaya bertarung itu untuk merasuki Hollywood.

Beberapa tahun silam, Majalah Time membahas Chan dan Li yang bermain dalam film Forbidden Kingdom. Dengan hanya menjelaskan sekilas tentang isi film, Time langsung mengajukan pertanyaan yang cukup menohok, “Is Hongkong Movie Will Never End?”. Tampaknya Hollywood mulai resah atau “takut kehabisan piring” seiring dengan ekspansi aktor Cina yang tak pernah henti. Bagaimanapun, aktor Cina punya kelenturan dan kemampuan yang tidak dimiliki aktor laga Hollywood seperti Chuck Norris ataupun Steven Seagal.

Yang menarik dari analisis Time adalah deskripsi tentang keuletan dan disiplin dari aktor Cina yang menempa diri sejak masih kecil demi menguasai ilmu bela diri. Bela diri Kungfu butuh sebuah tindakan disiplin luar biasa serta sendi dasar spiritualitas yang kokoh. Chan mulai latihan sejak masih kanak-kanak hingga remaja –saat itu ia menjadi cameo (pendatang baru) dalam film Bruce Lee. Sedangkan Li juga belajar wushu sejak kecil dan pernah tampil di hadapan Presiden Nixon dalam satu eksibisi tahun 1974.

Meski demikian, Time juga cukup jujur menyisipkan pernyataan bahwa Jackie Chan dan Jet Li justru berguru banyak pada sejumlah komedian dan aktor pertama di Amerika yaitu Charlie Chaplin, Buster Keaton dan Harold Lloyd. Artinya, ada proses dialogis dan menyerap realitas yang dilakukan aktor Cina untuk memperkaya khasanah bermain di film genre seperti ini.

Sejak awal meniti karier di jalur film beraliran laga (wu xia), Chan memiliki ciri khas serta jurus maut yang menggetarkan jagad film kungfu pasca kematian legenda kungfu Bruce Lee.  Chan mulai populer sejak tahun 1978 ketika berperan sebagai Wong Fei Hung, pendekar mabuk, dalam film The Drunken Masters. Perannya sebagai pendekar mabuk itu begitu membekas di benak fansnya sehingga di akhir tahun 1990-an dibuat kembali sekuel film tersebut. Selanjutnya, ia menjajal sekitar 100 film, di antaranya Rumble in The Bronx, My Lucky Stars, Supercop, Thunderbolt, hingga film Hollywood seperti Shanghai Noon, The Medallion, Around the Worlds in 80 Days, hingga seri Rush Hour, bersama Chris Tucker.

Dengan dedikasi dan disiplin yang sedemikian hebat, amatlah wajar jika Chan sukses menggondol Piala Oscar. Selamat!



Rhoma Irama dan Meme Jokowi Berpayung Biru




ORANG Indonesia terkenal kreatif. Baru saja demonstrasi 2 Desember 2016 usai, berbagai macam postingan kreatif muncul di media sosial. Paling banyak adalah yang mengunggah foto diri di tengah massa berbaju putih.

Banyak membagikan foto-foto polisi ganteng dan polisi cantik. Beberapa orang menyesal karena tidak sempat bertemu mereka. Tak hanya itu, banyak pula beredar foto Jokowi saat berada di tengah hujan gerimis. Foto itu diedit sedemikian rupa sehingga hujannya lebih nampak. Foto itu jadi lebih dramatis.

Di berbagai media sosial, mudah ditemukan meme tentang Jokowi yang di tengah hujan gerimis, datang berpayung biru. Gambarnya adalah angka 212, trus yang menjadi angka satu adalah Jokowi dengan payung biru. Rupanya, banyak yang menyenangi foto Jokowi saat berpayung. Kesannya heroik.


Tak cukup dengan itu, Rhoma Irama pun ikut-ikutan membuat meme melalui twitter. Rhoma memosting meme 212, di mana Jokowi berpayung ada di tengahnya. Di situ juga tertera tulisan Presiden Bernyali Mengalahkan Presiden Bernyanyi. Entah apa maksud Rhoma, sebab dia sendiri pernah menjadi calon presiden. Dia pun seorang penyanyi. Boleh jadi, ia memaksudkan mantan presiden yang dikenal bisa bernyanyi dan mencipta lagu.


Kreativitas lain juga ditunjukkan beberapa netizen. Di antaranya adalah perbandingan gambar antara Jokowi dengan Sukarno. Presiden RI pertama itu pernah menyambut jutaan massa yang datang ke Istana Merdeka pada tahun 1952. Foto itu lalu dibandingkan dengan Jokowi saat berada di Monas.
Yang patut diacungi jempol adalah kreativitas para pedagang online. Mereka menjajakan payung, baju koko, hingga peci yang dikenakan Jokowi. Para pedagang online itu langsung menawarkan pernak-pernik Jokowi melalui berbagai situs jual-beli.

Yah, demikianlah orang Indonesia. Selalu kreatif.




Menafsir JOKOWI di Lapangan Monas



BISAKAH kita membayangkan bagaimanakah gerangan perasaan mastermind yang merancang aksi besar dengan jutaan orang pada tanggal 2 Desember 2016 ini? Bisakah dia tersenyum saat menyaksikan panggung dan karpet merah, yang seharusnya diisi dengan wacana yang telah disiapkan, tiba-tiba berubah lantaran kehadiran Presiden Joko Widodo?

***

KAMIS (1/12), di pesisir ruas jalan Cisarua, saya bertemu serombongan anak muda. Mereka mengenakan pakaian serba putih sembari membawa bendera berwarna hijau. Mereka berjalan kaki dari Cianjur, menuju Jakarta, demi ikut dalam aksi demonstrasi besar yang akan diadakan keesokan harinya. Anak-anak muda ini tak mengenal lelah. Mereka dibakar oleh semangat besar untuk bergabung dalam lautan massa yang akan menyatakan sikap.

Mereka berjalan laksana sebaris pasukan yang penuh semangat. Di beberapa persimpangan, mereka meneriakkan yel-yel Allahu Akbar. Warga pun memberikan dukungan. Di jalur Puncak itu, saya menyaksikan beberapa warga memberikan bekal berupa camilan, makanan ringan, hingga kue-kue. Dukungan warga menjadi nutrisi penting yang melejitkan semangat mereka.

Anak-anak muda itu akan bergabung dengan gelombang massa yang berdatangan ke Jakarta. Mereka ingin menyatukan barisan demi satu tuntutan kepada penguasa yang dianggap lalim dan mengabaikan keinginan rakyat. Mereka berharap segera tiba di Jakarta.

Jakarta, kota yang selalu bergegas. Berbagai wacana hilir-mudik melintasi Jakarta selama dua minggu terakhir. Kebencian demi kebencian menjadi santapan bagi warga Jakarta dan seluruh kota di Indonesia. Pada mulanya adalah tindakan “keseleo lidah” yang dilakukan oleh Gubernur DKI nonaktif Basuki Tjahaja Purnama. Salah ucap itu lalu menjadi perkara serius yang lalu menyerap semua energi bangsa. Di tengah satu perhelatan politik, pernyataan itu sengaja disebar untuk memicu kemurkaan.

Para politisi menjadi api yang membakar bensin di kepala warga negara. Berbagai silang pendapat sengaja disebarkan demi mengesankan kalau satu kalimat itu adalah biang dari segala persoalan di seluruh negeri. Jika memang Basuki bersalah, maka biarlah hukum yang akan menyatakannya bersalah. Namun, yang terjadi adalah vonis bersalah serta tuntutan melakukan penjara, yang hendak dipaksakan melalui massa. Padahal, tanpa pengadilan, kita tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Di sisi lain, kerja-kerja para spin doctors dan pengendali wacana telah membuat wacana kebencian dan kemarahan itu tersebar dengan cepat. Para politisi, intelektual, hingga preman jalanan tiba-tiba saja berada pada barisan pembenci. Mereka mau saja bergabung sebarisan dengan mereka yang punya reputasi melakukan kekerasan atas nama agama.

Siapa bilang persoalan ini murni terkait agama dan keyakinan. Kita mesti melihat tarikan-tarikan ekonomi dan politik yang membuat persoalan ini menjadi sedemikian serius. Posisi Ahok memang selalu rawan. Ia adalah sasaran tembak dari sejumlah orang yang justru hendak menyasar posisi presiden, dan sejumlah simpul kekuasaan. Ahok hanyalah sasaran antara dari sesuatu yang lebih serius. Kalimat kasar Ahok adalah pintu masuk dari sejumlah agenda politik yang hendak mendeligitimasi bangsa. Kalimat kasarnya dianggap sebagai substansi dari berbagai keterbelakangan bangsa karena tidak dipimpin orang sekeyakinan. Ahok menjadi sentrum dari dinamika ekonomi politik yang tidak berkeadilan. Mengapa pula energi publik harus terbuang atas satu kalimat khilaf yang beberapa kali telah dimintakan maaf?

Maka berdemonstrasilah banyak orang.

***

LAPANGAN Monumen Nasional itu ibarat pesta yang telah bersalin rupa. Di hari-hari biasa, lapangan itu menjadi area rekreasi yang didatangi banyak orang. Di tengah lapangan itu berdiri monumen, yang di atasnya terdapat emas murni yang menempel pada patung lidah api.

Sejak pertama dibangun pada tahun 1961, pada masa pemerintahan Presiden Sukarno, Monas bukan saja simbol Jakarta, tapi juga simbol Indonesia. Posisi Monas bisa disejajarkan dengan Washington Monument di Washington DC, Amerika Serikat, yang letaknya persis di hadapan Abraham Lincoln Memorial. Monas adalah simbol Indonesia. Apa yang terjadi di situ akan tersebar ke seluruh pelosok bangsa.

Hari ini, Monas bersalin menjadi lapangan yang penuh dengan warna putih. Jutaan manusia memenuhi lapangan itu demi melaksakan ibadah salat Jumat yang sesudahnya akan dimanfaatkan sejumlah orang untuk menyampaikan pesan politik. Pihak penyelenggara telah mengantongi ijin resmi dari kepolisian untuk menggunakan lapangan itu demi tuntutan pemenjaraan.

Beberapa hari sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah bertemu dengan sejumlah pentolan massa. Mereka membahas demonstrasi, yang akhirnya disetujui oleh pihak kepolisian. Padahal, sebelumnya polisi justru melarang keras demontrasi itu sebab dikhawatirkan telah disusupi dnegan agenda makar atau kudeta.

Tito seakan berjudi. Memberi ruang bagi berbagai kelompok yang sering bertindak seolah miiter adalah pilihan paling berisiko. Banyak yang menyesalkan kompromi politik yang dilakukannya. Satu hal yang sering luput dari publik adalah Tito telah lama bergerak diam-diam, mengidentifikasi siapa saja aktor yang terlibat, serta meminimalisir risiko dan semua pilihan politik yang bisa diambil. Tito bergerak mengikuti tarian dari Presiden Jokowi. Dia mengikuti langgam kerja presiden yang tak henti membangun konsolidasi.

Selama tiga minggu terakhir, Presiden Jokowi tak henti bergerak. Di layar kaca ia terlihat menemui banyak tokoh dan pemimpin organisasi massa. Dia berdiskusi dengan tokoh-tokoh seperti Prabowo Subianto. Ia juga menemui semua pimpinan partai politik, yang menjadi bagian dari koalisinya. Diplomasi Jokowi adalah diplomasi makan siang. Ia seolah menitip pesan bahwa negara dalam keadaan damai. Para politisi masih bisa bersenda-gurau sambil makan siang. Yang tak disaksikan orang adalah bagaimana momen makan siang menjadi momen untuk kian mengecilkan potensi perlawanan dari pihak yang hendak merongrong dirinya.

Ia menjadi bulan-bulanan publik karena tidak bersedia menemui massa yang berdemonstrasi dalam aksi pada tanggal 4 November. Aparat keamanan memang menolak keras kehadiran presiden di tengah-tengah massa. Sejumlah laporan intelijen melaporkan bahwa tidak semua massa yang berdemonstrasi datang dengan niat baik. Banyak di antara mereka datang dengan membawa niat tidak baik yang setiap saat bisa meletup saat ada komando.

Baik Jokowi dan Tito sama-sama menyadari kalau semua aksi-aksi demonstrasi itu tak selalu murni karena penistaaan agama. Mereka bisa mengenali pola-pola yang terus berulang, serta memetakan siapa yang paling diuntungkan dengan wacana ini. Jika Ahok akhirnya tersingkir, maka mudah saja dipetakan siapa yang paling menuai hasil positif.

Sebagai kepala negara, presiden harus mengawal konstitusi bahwa siapapun yang bersalah mesti dinyatakan bersalah dalam peradilan serta prosedur hukum yang berlaku. Jika dirinya tunduk pada tuntutan pubik lalu mengabaikan proses hukum, maka itu sama dnegan tidak mengawal konstitusi sebagai tertib dan landasan bernegara. Jika tunduk begitu saja pada publik, maka ke depannya itu bisa jadi preseden bagi siapa saja untuk menggerakkan massa demi memaksakan tuntutan dan vonis.

Kalaupun Ahok bersalah, maka biarlah pengadilan yang memutuskan itu. Sebagai warga, Ahok tetap punya hak untuk membuktikan dirinya tidak bersalah di persidangan. Sebagai negara hukum, semua orang paham bahwa apapun hasil sidang, maka itu akan menjadi keputusan yang harus ditaati. Jika terjadi penolakan ataupun penistaan hasil sidang, lalu memaksakan hukum sendiri, maka langkah itu bisa menjadi pelanggaran hukum. Pada titik ini, negara harus hadir demi menegaskan mana yang benar dan mana yang salah menurut konstitusi.

***

JUMAT (2/12), Presiden Jokowi bersama wakilnya Jusuf Kalla datang ke lapangan Monas. Di tengah hujan rintik-rintik, mereka bergabung dengan massa yang sontak berteriak Allahu Akbar demi menyambutnya. Jokowi datang bersama sejumlah menteri, serta Panglima TNI.

Tak terlihat rasa gentar di wajah Jokowi dan JK. Padahal, tak semua momen salat bersama menjadi momen yang penuh kedamaian. Presiden Sukarno pernah diberondong peluru saat salat Idul Adha di Lapangan Istana Negara pada tahun 1962. Peristiwa itu sering disebut Peristiwa Idul Adha. Untungnya, Sukarno baik-baik saja saat banyak orang sekitarnya yang tewas diterjang peluru panas.

Kehadiran Presiden Jokowi membawa satu pesan simbolik bahwa dirinya akan mendukung semua aksi yang berlangsung dengan cara damai. Di saat bersamaan, terjadi pula penangkapan pada delapan orang yang diduga hendak melakukan makar. Pesan simbolik yang bisa diambil adalah ada sejumlah orang yang diduga selalu memanfaatkan situasi untuk kepentingan politik. Pemerintah bersikap lembut saat mendukung aksi damai, namun bisa kasar saat menyikapi mereka yang dianggap mengoyak keutuhan.

Jokowi dan Kalla memegang sendiri payung warna biru. Keduanya tampak tenang. Di sisi kiri dan kanan rombongan bersiaga belasan pasukan pengamanan presiden yang memakai baju dinas loreng. Setibanya di Monas, Jokowi dan rombongan langsung masuk ke dalam sebuah tenda merah putih yang sudah disediakan.

Pimpinan Front Pembela Islam langsung memberitahu kepada massa bahwa presiden sudah berada di tengah-tengah mereka. "Presiden sudah hadir disini bersama-sama kita untuk shalat Jumat bersana," kata pria itu melalui pengeras suara. Massa pun langsung menyambut kehadiran Jokowi dengan antusias. Mereka memekikkan takbir.

Seusai salat Jumat, Presiden Joko Widodo menyampaikan apresiasi kepada para peserta doa bersama. "Terima kasih atas doa dan dzikir yang dipanjatkan bagi negara kita. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar," katanya mengawali pernyataannya. "Saya ingin memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya karena seluruh jemaah hadir tertib dalam ketertiban sehingga acaranya bisa berjalan baik," lanjut dia. Jokowi enam kali mengucap takbir.

***

KEHADIRAN Presiden Jokowi menjadi magnet yang segera menyedot semua pembicaraan tentang aksi itu. Bahkan di beberapa media, aksi itu disebut sebagai doa bersama untuk Indonesia. Kehadiran presiden menunjukkan bahwa pemerintah hadir di tengah keinginan warga. Namun, pemerintah tidak lantas tunduk pada segala tuntutan keras para demonstran. Penegasan bahwa segala persoalan akan diselesaikan melalui jalur hukum penting disampaikan.

Di luar arena, pihak yang menjadi mastermind gerakan ini pastilah akan gelisah. Tadinya, gerakan ini diharapkan bisa menjadi arena yang mendeligitimasi posisi pemerintah yang dianggap lemah serta takluk pada jutaan massa yang datang. Tadinya, gerakan ini diharapkan akan semakin mempertegas tuntutan serta desakan pemenjaraan, yang berujung pada kian remuknya posisi Ahok di arena politik.

Ternyata gerakan ini malah menjadi panggung bagi Jokowi untuk tampil ke permukaan lalu mengendalikan situasi. Kehadiran Jokowi telah mengubah banyak peta. Kehadirannya telah mengubah wacana demonstrasi menjadi doa bersama untuk bangsa Indonesia. Kehadirannya adalah magnet yang lalu menentukan semua wacana media massa, sekaligus memberikan pesan kepada lawan politiknya bahwa segala komando situasi telah dikendalikannya dnegan baik. Dia tampil di hadapan massa dengan membawa simbol negara. Dia bisa mengubah wacana demonstrasi menjadi doa bersama, yang lalu dianggap sebagai nutrisi untuk membuat negara ini semakin kuat.

Di balik layar, kita bisa melihat beberapa strategi yang dimainkan Jokowi, dan dijalankan dengan sempurna oleh Kapolri Tito, Panglima Gatot, dan beberapa menteri. Tapi dirigen utama dari permainan ini tetaplah Jokowi dan Tito. Beberapa strategi itu adalah:

Pertama, memperkuat aliansi dengan semua tokoh oposisi, termasuk partai politik. Jokowi memastikan semua kekuatan politik masih dalam genggamannya sehingga dalam keadaan darurat sekalipun, dia bisa mengamankan posisinya sekaligus mengamankan negara. Bersama para tokoh politik, Jokowi bisa memperkuat barisan dan menyatukan sikap untuk Indonesia damai.

Kedua, Jokowi memastikan semua dukungan militer dan kepolisian. Kehadirannya di markas tentara dan polisi adalah sinyal dan pesan bahwa semua kekuatan negara bisa digunakannya untuk mengamankan konstitusi dan siapapun yang hendak melakukan tindakan ternoda bagi tenunan kebangsaan.

Ketiga, mendorong lembaga peradilan untuk segera bergerak demi menyelesaikan secepat-cepatnya dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok. Dia mesti memastikan hukum berjalan secara transparan sehingga publik bisa menilai dan menentukan seberapa salah Ahok dengan segala ucapannya.

Keempat, melokalisir posisi mereka yang berpotensi untuk melakukan makar. Dengan cara menjauhkan mereka dari demonstran, publik akan menuding mereka sebagai pihak yang hendak mengambil keuntungan. Dengan menjauhkan mereka, demonstrasi diyakini akan berjalan damai sehingga wacananya bisa digeser menjadi doa bersama untuk keselamatan bangsa.

Kelima, menyiapkan proses hukum bagi sejumlah kasus yang diduga perlahan-lahan akan melemahkan lawan politiknya yang diduga telah mendanai beberapa aksi. Beberapa kasus yang bisa disebut di sini adalah sinyalemen proyek listrik senilai triliunan yang merugikan negara, hingga pemanggilan kepada putra seorang mantan presiden untuk diperiksa aparat atas tuduhan korupsi.

***

DUNIA politik kita penuh dengan simbol-simbol. Kita tak pernah bisa memahaminya hanya dengan mengandalkan teks-teks media, dan juga selintas informasi melalui media sosial, termasuk facebook dan WhatssApp. Di atas kertas, politisi bisa menyusun peta, rancangan, arah, serta strategi. Tapi di lapangan, semua strategi itu harus dibumikan dan disabung dengan strategi yang dimainkan oleh aktor lain.

Beberapa minggu terakhir, hingga beberapa bulan ke depan, kita sedang menyaksikan satu permainan politik yang dingi dan serba misterius. Kita akan segera menyaksikan apa akhir dari satu episode politik yang penuh teka-teki serta menguras energi diskusi warga negara, mulai dari lorong-lorong, hingga berbagai grup percakapan di media sosial.

Hari ini Presiden Jokowi menguasai satu panggung yang tadinya tidak diniatkan untuknya. Tapi esok hari, kita belum bisa menafsir dan menebak. Sebagai warga negara, kita menitip satu pesan penting agar negeri ini tidak tercabik-cabik oleh berbagai kepentingan politik. Kita menitip harapan agar Indonesia selalu berkeadilan, menjadi payung yang melindungi segenap anak bangsa serta menjadi bumi yang selalu menyuburkan segenap potensi anak bangsa.

Kita menitip banyak harapan.



Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...