Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

"Age of Samurai" dan Kisah Kebangkitan


Di abad ke-16, Jepang adalah wilayah yang terus bergejolak. Syair paling sering terdengar adalah sorak-sorai pertempuran, pekik peperangan, dan suara-suara pedang yang beradu.

Ini adalah periode paling brutal dalam sejarah, yang dikenal sebagai masa Sengoku Jidai. Para penguasa feodal yang disebut daimyo saling bersaing dan bertarung untuk menjadi shogun atau penguasa militer kekaisaran.

Di tengah situasi itu, hadir tiga sosok yang memberi sapuan warna pada kanvas sejarah. Mereka adalah Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, dan Tokugawa Ieyasu. Ketiganya punya karakter amat berbeda. Ketiganya menghadirkan sentuhan berbeda dan membentuk mozaik Jepang yang utuh.

Kisah mereka yang dijuluki the three great unifiers atau tiga sosok pemersatu ini bisa disaksikan dalam serial dokumenter Age of Samurai: Battle for Japan, yang tayang di Netflix, sejak 24 Februari 2021. Saya menyaksikan enam episode serial ini secara maraton. Kelar sekaligus.

Nobunaga digambarkan sebagai sosok yang mengawali ambisi untuk mempersatukan Jepang. Dia adalah sosok yang suka bertempur dan menaklukkan. Pedangnya berkarat karena tetesan darah dari klan atau musuh yang ditaklukkannya.

Hideyoshi adalah sosok pendiam. Dia tidak setangguh Nobunaga dalam bertempur. Dia tidak menguasai bela diri. Mantan anak buah Nobunaga ini hanya manusia biasa yang lahir dari keluarga petani. Namun dia punya kecerdikan dan kecerdasan yang luar biasa sehingga dirinya sukses mempersatukan semua klan, lalu menjadi penguasa tertinggi.

Tokugawa Ieyasu tidak secerdas Hideyoshi. Tapi dia punya kesabaran di atas rata-rata. Saat Hideyoshi mangkat, dia menjadi penguasa tertinggi. Dia menikmati buah kerja Nobunaga dan Hideyoshi yang ingin mempersatukan semua klan di bawah panji kekaisaran.

BACA: Drama Korea, Soft Power, dan Imajinasi Masa Depan


Saya cukup menikmati alur kronologis semua sosok dalam serial ini. Serial ini cukup memikat karena menghadirkan banyak sejarawan. Mereka adalah Stephen Turnbull, David Spafford, Tomoko Kitagawa, dan lainnya. 

Serial ini meluruskan pemahaman saya yang sebelumnya mengira kisah Nobunaga cs hanyalah fiksi. Ternyata, kisah ini bersumber dari fakta sejarah. Dalam serial Netflix, kisahnya dituturkan ulang, dengan menggunakan kronologis, sehingga kita mendapat gambaran utuh.

Satu hal yang saya kritisi, serial ini terlampau hitam putih. Fakta-fakta disajikan secara kronologis dan runtut, khas penulisan sejarah. Peristiwa disajikan secara cepat dan sekilas-sekilas. Kita kehilangan nuansa dan banyak konteks yang seharusnya membantu kita memahami karakter setiap tokoh.

Kita tiba-tiba saja diperkenalkan pada karakter Nobunaga yang dengan tegas membunuh musuh-musuhnya, setelah itu masuk ke Hideyoshi yang menggantikannya. Hideyoshi juga digambarkan sebagai sosok tegas yang mengalahkan pembunuh Nobunaga. Tapi kita tidak mendapatkan gambaran seperti apa dan dengan cara apa Hideyoshi mengalahkan lawannya.

Di titik ini, saya terkenang pada novel Taiko yang ditulis penulis Jepang, Eiji Yoshikawa. Taiko menyajikan kisah periode ini dengan nuansa yang sangat kaya. Taiko menggambarkan semua karakter, mulai dari Nobunaga lalu Hideyoshi, kemudian Tokugawa Ieyashu. Taiko menggambarkan  secara manusiawi, tidak fokus pada peristiwa saling serbu dan serang, tetapi memaparkan bagaimana situasi dan konteks politik mengapa mereka harus menghunus samurai.

sampul baru TAIKO, karya Eiji Yoshikawa


Memang, porsi cerita Taiko lebih fokus pada sosok Hideyoshi. Kisahnya memang inspiratif. Si kurus berwajah monyet ini lahir sebagai anak petani, kemudian menjadi pembantu Nobunaga sebagai pembawa sandal, kemudian menangani dapur, kayu bakar, sampai akhirnya menjadi samurai di barisan Nobunaga. 

Namun dia memang dikaruniai kemampuan berdiplomasi, berargumentasi, dan retorika yang bisa mengubah pelayan yang ragu-ragu menjadi setia, saingan menjadi teman, dan musuh menjadi sekutu.

Dia seorang samurai yang tak berpedang (swordless samurai). Biarpun tak pandai bertarung, dia tahu dan berhasil bagaimana meneruskan cita-cita Nobunaga sehingga dirinya sukses mempersatukan Jepang.  Sayangnya, Hideyoshi tak bisa bertahan lama. Dia pun tewas setelah ambisinya untuk menguasai Korea dan Cina menemui banyak aral. Tokugawa Ieyashu lalu menjadi penerus dan membangun dinasti penguasa dan bertahan selama 300 tahun. 

Takdir ketiga sosok ini bisa dilihat pada kalimat yang sangat populer: “Penyatuan kembali seperti membuat nasi. Nobunaga menumbuk padi. Hideyoshi menanak nasi. Pada akhirnya, Ieyasu memakannya 300 tahun.”

Serial di Netflix ini juga gagal memotret utuh karakter orang Jepang. Yang dipaparkan hanya sisi kekerasan dan strategi untuk mengalahkan lawan. Saya yakin penonton akan kehilangan satu sisi penting dari orang Jepang yakni sisi kelembutan, spiritual, juga seni. Serial ini terlalu sejarah, kurang antropologi.

Saya ingat kajian Ruth Benedict yang berjudul “The Chrysanthemum and The Sword” yang diterjemahkan menjadi Pedang Samurai dan Bunga Seruni. Kajiannya pertama kali terbit tahun 1948 dan menjadi literatur klasik dalam antropologi, khususnya yang membahas pola-pola kebudayaan. Kajian ini menjadi pintu bagi bangsa lain untuk mengenal sisi terdalam bangsa Jepang.


Kata Ruth Benedict, pedang adalah simbol kalau orang Jepang selalu memberikan penghormatan terbaik pada mereka yang gugur dalam peperangan. Pedang adalah simbol dari keberanian. Sedangkan bunga seruni adalah simbol dari kasih sayang dan keindahan. 

Melalui penuturan Ruth Benedict, kita bisa melihat karakter lelaki Jepang yang membawa pedang, tetapi juga bunga seruni atau bunga krisan. Saya ingat karakter Katsumoto dalam film The Last Samurai yang dibintangi Tom Cruise dan Ken Watanabe. Katsumoto adalah pemimpin klan samurai yang susah menyelesaikan bait terakhir puisinya jelang pertempuran. Bahkan ketika dirinya sekarat karena ditembus peluru dan pedang, dia masih sempat-sempatnya menuntaskan puisinya.

Dua sisi yakni pedang dan bunga telah menjadi karakter bangsa Jepang yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka pendekar berpedang, tetapi sekaligus menjadi pencinta puisi. Semangat bushido dan samurai digunakan untuk mempersatukan dan meraih kejayaan. Sebagaimana dicatat Jared Diamond dalam Upheaval, di era Meiji, Jepang sukses melakukan transformasi dengan membuat ekonominya lebih terbuka. 

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligence, dan Kediktatoran Digital


Kejayaan samurai berakhir, namun spiritnya terus diwariskan. Di tahun 1905, semangat itu menjelma menjadi kekuatan bagi tentara Jepang untuk mengalahkan Rusia yang lalu membangkitkan spirit bangsa Asia. Semangat itu pula yang membuat pasukan Jepang berani menjemput maut saat perang dunia kedua. Setelah kalah perang, semangat itu hadir dalam hasrat kuat bangsa Jepang untuk membangun kekuatan ekonomi hingga perlahan menguasai dunia.

Hari ini, kita melihat semangat itu dalam kedigdayaan ekonomi serta soft power yang menjadikan negeri itu punya pengaruh kuat di peta dagang dan teknologi. Kita melihat semangat samurai itu hadir dalam banyak lini kehidupan sehingga mereka tetap menjadi bangsa tangguh. Mereka menyerap semua nilai barat, tetapi tidak pernah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Jepang.

Semuanya adalah legacy atau warisan dari para samurai. 


Anak Ruhani KANG JALAL

Kang Jalal

Di masa awal belajar menulis, saya berpikir bahwa semakin canggih pilihan kata, maka semakin hebatlah seseorang. Makin banyak istilah asing, makin cerdaslah seseorang. Semakin pusing membaca satu tulisan, semakin tinggi jelajah intelektual penulisnya.

Dulu, saya begitu terpesona melihat penulis memajang gelar doktor dan profesor di tulisannya. Padahal, sering kali, saya tak paham dia sedang membahas apa. Mungkin pikiran saya pendek. Tapi, kata Rocky Gerung, sering kali gelar bisa lebih panjang dari pikiran seseorang. Entah. 

Hingga suatu hari, saya membaca buku Islam Aktual yang ditulis Jalaluddin Rakhmat atau Kang Jalal. Saya terkesima dengan bahasa yang sederhana, namun dalam. Kalimatnya pendek-pendek. Dia menggunakan gaya bercerita, serupa kakek mendongeng di hadapan cucu yang terkantuk-kantuk. 

Seeingat saya, di buku Islam Aktual, ada beberapa cerita yang melekat di benak saya hingga kini. Di antaranya cerita tentang prajurit Amerika yang bunuh diri saat berada di kancah Perang Teluk. Dia bunuh diri bukan saat berperang, tetapi saat sedang istirahat. 

Rupanya, prajurit itu menonton tayangan di televisi mengenai Presiden Amerika George Bush yang sedang bermain golf. Prajurit itu merasakan ketidakadilan. Dia dan rekannya sedang menyabung nyawa demi nasionalisme negerinya di tanah yang jauh, sementara presidennya malah bermain golf.

Di mata saya, Kang Jalal adalah penulis yang selalu memikat. Dia tak pernah berniat memusingkan pembacanya. Dia sabar memilih kata yang dipahami semua orang. Dia tahu kalau semua orang tidak berada di garis perjalanan pengetahuan yang sama. Tugas seorang penulis adalah menjernihkan sesuatu dan mencerahkan.

Dia sering mengutip pakar atau filosof, tapi entah kenapa, kutipan itu terasa ringan dan mudah dipahami. Saya masih terkenang renyahnya tulisannya tentang Nietzsche, Heidegger, dan Kierkegard. Dia menggambarkan pemikiran mereka dengan bahasa sederhana, yakni serupa manusia terlempar di padang pasir, lalu bingung hendak ke mana.

Tahun 2000-an, Kang Jalal sering berkunjung ke Makassar. Saya merasakan nikmatnya mengikuti ceramahnya di kampus, ataupun di berbagai forum diskusi. Dia menjawab pertanyaan mahasiswa juga dengan bahasa yang sederhana.

Saya ingat, teman Gego, pernah bertanya di satu acara diskusi. “Saya gampang lupa sesuatu. Bagaimana cara menguatkan daya ingat?” Tadinya saya pikir Kang Jalal akan menjawab dengan kutipan nama-nama pemikir. Eh, dia mencontohkan dirinya yang juga pelupa semasa sekolah

“Biar saya tidak lupa, saya bikin gambar-gambar. Misalnya saat belajar definisi berita, ada kata novelty atau kebaruan. Saya gambar mobil baru yang kinclong, terus saya tulis novelty. Dengan cara begitu saya tidak akan pernah lupa,” katanya. 

Sayang, dalam pertemuan itu, saya lupa bertanya bagaimana menulis yang baik. Untunglah, saya membaca catatan Yudi Latif, cendekiawan yang satu almamater dengan Kang Jalal di Unpad. Yudi Latif mengakui kalau dia meniru gaya menulis Kang Jalal. Bersetuju dengan Kang Jalal, tulisan yang baik adalah tulisan yang sederhana, yang dipahami semua orang, yang tidak menyiksa pembacanya.

Kata Kang Jalal, jika seorang penulis membuat catatan yang rumit dan penuh istilah teknis, berarti penulis itu sendiri tidak paham apa yang ditulisnya. “Dia berlindung di balik istilah-istilah asing untuk menyembunyikan ketidaktahuannya.’

Saya merenungi kalimat dari Kang Jalal. Di mata saya, dia tipe penulis yang humble. Dia menjelaskan sesuatu sesederhana mungkin dan sejelas-jelasnya. Dia tidak bermaksud meninggikan diri. Dia tidak pernah bercerita yang hebat-hebat tentang dirinya. Tulisan adalah cara terbaik untuk membangun jembatan hati, mengalirkan makna, serta menjadi kecipak inspirasi yang terngiang di benak pembacanya.

Tulisannya adalah pancaran dari pengetahuannya, serta ikhtiar sederhana untuk berbagi. Dengan menulis, dia membangun jejaring makna dengan banyak orang. Dia bisa menginspirasi dan menggerakkan orang lain, serta menyebarkan pengetahuan dan kearifan ke segala sisi, dalam kecepatan yang tak bisa kita bayangkan.

Saya merasa beruntung sebab masih merasakan masa-masa tahun 1990-an dan 2000-an yang begitu haru biru wacana intelektualitas. 

Di masa itu, ada banyak penulis hebat dengan artikulasi yang sederhana. Itulah masa emas di mana banyak intelektual dan cendekiawan meramaikan media cetak. Mereka tidak berada di menara gading, tetapi meramaikan media massa, memenuhi rak toko buku dengan bacaan bermutu, hingga tampil di banyak forum diskusi.

Mereka tidak terjebak dalam tengkar yang tidak mutu mengenai dukung mendukung atau cebong kampret, namun mereka mencerahkan masyarakat dengan gagasan-gagasan. Selain Kang Jalal, ada juga Cak Nur, Gus Dur, Sobary, Emha Ainun Najib, dan banyak lagi. Tidak keliru jika mereka disebut sebagai Zaman Baru Islam Indonesia. 

Kini, di era televisi dan internet, kita melihat para intelektual jaman now berbagi ide di Podcast, bikin kanal Youtube, juga bikin postingan dengan nama yang diberi embel-embel gelar agar tampak keren. Mereka marah-marah kalau penontonnya sedikit, seolah itu cerminan dari masyarakat yang makin bodoh. Padahal, jujur saja, konten yang dibuat Rafi Ahmad jauh lebih menarik.

Atas alasan ini, kita akan sering mengenang Kang Jalal, cendekiawan rendah hati yang berbicara dengan bahasa sederhana dan menyentuh hati.  Sore ini, sehari setelah kepergiannya, seusai membaca banyak catatan tentangnya, saya merasa dia tak pernah benar-benar pergi. Anak ruhaninya sudah merasuk ke mana-mana. 

Catatannya akan terus abadi dan menjadi prasasti tentang dirinya. Dia mengingatkan pada Will Durant: “Scripta manent, verba volant.” Kata tertulis abadi, kata terucap lenyap.

Dia akan selalu abadi.



MARIA OZAWA, Pemersatu Bangsa Kita

Daisuki dan Maria Ozawa


Belum cukup sehari semalam, konten dari Youtuber dan komedian asal Jepang, Daisuki Botak, mengenai wawancara dengan Maria Ozawa mengenai Indonesia, sontak ditonton lebih 2,7 juta orang. Dua pekan silam, wawancara dengan Shigeo Takuda, alias kakek Sugiono, juga viral dan ditonton 7 juta orang.

Inilah potret bangsa kita. Di layar kaca, banyak orang sibuk berdebat tentang keputusan menteri yang meminta agar sekolah negeri tidak memaksakan jilbab. Banyak orang rela mati demi mempertahankan nilai agamanya. 

Banyak hubungan silaturahmi yang terganggu gara-gara beda pilihan politik. Orang-orang begitu mudah membangun kubu berbeda. Isu boleh berganti, tapi debat dan tengkar akan terus terjadi. Segala hal diperdebatkan, mulai dari presiden, gubernur, sampai imam besar.

Tapi lihatlah di media sosial kita. Para aktor dan aktris film bokep malah sangat populer dan diidolakan semua orang. Konten-konten tentang bintang film porno, termasuk konten Tante Ernie dan ibu-ibu seksi di Instagram, juga aksi seorang artis inisial GA malah laris manis dan tak bosan-bosan ditonton.

Dalam tayangan bersama Shiego Takuda alias kakek Sugiono, komedian Jepang yang berkarier di Indonesia, Daisuki, sengaja melakukan video call dengan banyak temannya di Indonesia. Rata-rata mengenal si kakek, yang beberapa kali disebut-sebut sebagai legend. Di konten tentang Maria Ozawa, dia tidak lagi melakukan vidio call, karena rata-rata orang akan tahu.

Seorang Youtuber menyebut konten-konten sejenis sebagai pemersatu bangsa. Itulah sebutan paling kreatif dan paling bisa menggambarkan bagaimana masyarakat kita hari ini. Pasca pilpres dan pemilihan Gubernur DKI, dunia maya kita seakan terbelah. Tiada hari tanpa gelut. Tiada hari tanpa melihat debat dan saling menang-menangan.

Berkat konten-konten agak porno, serta aktor film dewasa seperti Shigeo Takuda dan Maria Ozawa, publik bersatu dalam atmosfer yang tenteram dan damai. Berkat konten itu, kita kembali jadi anak bangsa yang cinta damai dan saling mendukung. Tak ada debat. Tak ada tengkar. Yang ada, pikiran-pikiran positif serta komentar lucu hingga porno. Betapa damainya media sosial kita.

Saya suka membaca banyak komentar yang menarik. Kadang kala, komentar lebih seru ketimbang kontennya. Di antaranya adalah: “Mari kita sampaikan rasa terima kasih kepada Maria Ozawa san. Terima kasih untuk apa? Ya, pokoknya terima kasih lah selama ini selalu menemani kami cowok menjadi dewasa. Good job Daisuke!!!”

Youtuber lain memberi komentar seru: “Kami warga indonesia sudah bosan dengan hoax atau drama politik... Kami butuh asupan podcast kaya gini,,podcast yg bener bener pemersatu bangsa..”

Guys, sepatutnya kita berterimakasih pada aktris dewasa yang lebih dikenal sebagai Miyabi ini. Dia telah membuka topeng yang selama ini kita kenakan. Sosok itu telah mengekspos dengan gamblang wajah manusia Indonesia sesungguhnya, yang setiap saat memaki dengan membawa moral, namun di saat bersamaan menikmati tayangan tersebut. 

Kita sering mengklaim sebagai negeri religius dan bermoral. Sering kita selalu berbangga dengan retorika ketimuran, jargon bahwa kita bangsa yang santun dan berkepribadian. Pejabat dan ulama kita bilang tayangan porno akan merusak bangsa. 

Namun jutaan orang yang menyaksikan penampilan Miyabi dan mengidolakannya adalah fakta yang tak bisa diabaikan. Di depan layar kita menolak, tapi diam-diam kita mencari videonya dan menonton sembari mengkhayal. Banyak orang yang memaki GA, arti yang tayangan pornonya menyebar di internet. Namun akuilah kalau semua orang diam-diam mencari video itu, menontonnya, lalu membagikannya ke mana-mana. Kita tak lebih baik dari dia yang dimaki itu.

Dalam wawancara itu, dia menyebut sisi lain bangsa kita. Setiap kali ke Indonesia, selalu ada masalah. Dia tertahan lebih sejam di bandara. Ruang geraknya dipersempit. Dia diinterogasi. Bahkan mengalami deportasi atau dipulangkan. “Saya datang karena diundang, tapi kok dipulangkan?” katanya.

Pernah, dia berhasil masuk Indonesia. Saat sejumlah orang tahu kedatangannya, dia disambut dengan demonstrasi. Dia juga terheran-heran karena fotonya sempat masuk buku pelajaran. Katanya, ada sejumlah figur yang disandingkan, ada figur baik dan ada figur tidak baik. Dia heran kenapa foto dan namanya masuk di buku itu.

Bisa jadi, negara ingin menjaga moral, juga menjaga ajaran agama. Tapi lihatlah respon orang Indonesia. Banyak orang ingin selfie dengannya. Di mana pun dia datang, orang-orang berlomba untuk berfoto dengannya.  Dia tak mengalami perlakuan yang sama saat datang ke negara-negara lain. Hanya di Indonesia, dia bisa dicaci sekaligus dipuja. 

Maria Ozawa atau Miyabi telah menelanjangi kepalsuan yang selama ini menghinggapi rakyat kita. Jutaan manusia Indonesia yang menonton filmnya adalah gambaran utuh tentang sosok kita yang sesungguhnya. Inilah potret bangsa kita. 

Bukan cuma potret dari mereka yang sedang berdoa khusyuk di satu tempat. Tapi juga mereka yang mengidolakan Maria Ozawa, mereka yang mencari teman tidur di hotel-hotel, maupun di pinggiran rel kereta api, mengumbar nafsu di dekat pemukiman tikus got.

Beruntunglah ada internet. Orang-orang bisa diam-diam menelusuri videonya, memberi komentar, dengan memakai nama alias. Saya teringat buku Everybody Lies yang ditulis Seth Stephens Davidowitz. Internet adalah kanal tempat kita menjadi jujur pada diri sendiri. Di depan orang lain, kita bisa tampil dengan wajah moralis. Tapi saat mengetik di kolom pencarian Google, kita akan menjadi diri sendiri.

BACA: Saat Membaca Everybody Lies

Makanya, kata Seth, Google melaporkan, di negeri yang semua orang mengaku moralis dan agamis, topik paling sering dicari orang-orang di situ adalah situs porno dan seks. Seseorang yang tampak alim dan pendiam, bisa jadi rajin mengetik kata perkosaan di mesin pencari Google. 

Satu lagi tentang Maria Ozawa atau Miyabi. Dia tidak baper. Dia senang karena dicintai banyak orang Indonesia. “Hanya saja, jika cinta terlalu kuat, maka bisa jadi bumerang bagi diri sendiri.”

Iya benar Miyabi. Kamu dicintai jutaan orang yang pernah melihat videomu. Bisa jadi mereka ikut berfantasi bersamamu. Kamu telah menghangatkan adrenalin banyak orang untuk tumbuh dewasa.

Terima kasih pemersatu bangsa.


EKOSISTEM DIGITAL




Lebih setengah jam Bapak itu berceramah di hadapan saya. Dia seorang kepala daerah petahana yang terpilih kembali di pilkada barusan. Dia datang mengawal timnya untuk menghadapi gugatan lawan di Mahkamah Konstitusi (MK).

Saya bertemu dengannya bersama investor asal Korea. Dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, Bapak itu begitu bersemangat membahas upayanya membangun ekosistem digital. Dia menyebut fakta-fakta. Misalnya sudah memasang jaringan hotspot. Juga sudah buat website.

Namun pengusaha Korea yang menemani kami meminta bukti. Minimal informasi apa saja potensi yang bisa dikembangkan. Dia sejenak kelabakan. Dia menunjukkan web pemerintah daerah. Akan tetapi, tak ada informasi penting di situ. Wajahnya bersemu kemerahan.

Saya pikir semua pemerintah daerah punya problem yang sama. Mereka tidak punya etalase digital yang bagus. Jangankan digital, etalase fisik pun tak punya. Memang, banyak pemda yang punya kantor perwakilan di Jakarta. Namun aktivitasnya adalah hotel kelas melati yang kini jarang ditinggali orang daerah. Kalah bersaing dengan hotel2 budget yang bertebaran di Jakarta.

Seharusnya, semua mess dan kantor perwakilan dikelola sebagai etalase daerah. Di situ ada berbagai informasi tentang apa saja yang bisa dikembangkan, serta aktif menjalin relasi dengan berbagai stakeholder di pusat. Harusnya berfungsi sebagai Clearing House atau Information Center yang mengelola semua informasi daerah.

Saat Bapak itu terdiam, saya mengambil alih kendali pembicaraan. Saya lalu menunjukkan website daerahnya. Di situ ada fotonya dengan baju kepala daerah bersama pasangan. Ada visi-misi. Ada juga berita-berita mengenai dirinya.

Website itu didesain hanya satu arah. Padahal, di era informasi, website seharusnya menyediakan informasi bagi pihak luar yang ingin tahu segala hal tentang daerah. Di situ sebaiknya ada informasi komoditas, potensi daerah, keunggulan wilayah, juga simulasi bagaimana menuju daerah itu.

Di situ seharusnya ada banyak infografik yang easy reading, juga kisah-kisah dan narasi tentang daerah itu. Saya ceritakan bagaimana sungai yang tampak biasa di Vietnam, namun justru tiap tahun didatangi ribuan turis hanya karena ada informasi di situ pasukan Amerika bertempur dan kalah oleh gerilyawan Vietcong.

Saya ceritakan satu desa di Thailand yang dahulunya penghasil ganja lalu menggantinya dengan bunga-bunga, kini jadi destinasi wisata terkenal.

Pengusaha Korea yang menemani kami langsung bersemangat. Dia menunjukkan bagaimana kiat-kiat pemerintah kabupaten di luar negeri yang menjadikan website sebagai satu ekosistem yang mempertemukan banyak orang, termasuk investor dan pemerintah. “Harusnya kalian bangun ekosistem digital,” katanya.

Saya menyimak semua diskusi. Saya ingat pembicaraan sepekan silam dengan pejabat di kantor BKPM tentang lebih 50 perusahaan besar di luar yang begitu bersemangat masuk pasar Indonesia.
Semuanya butuh guidance atau panduan bagaimana memulai bisnis dan investasi. Semua butuh satu pusat informasi yang dikelola dengan profesional, serta menjalin relasi dengan banyak pihak.

Regulasi memang mensyaratkan semua urusan dilakukan di pusat. Tapi bukan berarti Bapak itu harus pasif. Dia harus seoptimis beberapa teman pebisnis yang mulai menyiapkan banyak skema bisnis.
Satu pabrik pasti butuh ekosistem bisnis lain. Mulai dari penyedia bahan baku, penginapan, jasa catering, jasa hiburan, wisata, transportasi, logistik, dan banyak hal lainnya. Semua butuh mitra.

Saya menatap Bapak itu. Orang sering salah kaprah saat diajak berbicara mengenai Digital Marketing dan Digital Ecosystem. Dikiranya cukup mengadakan wifi dan hotspot. Padahal, ada mindset yang harus berubah, juga perlunya membangun kolaborasi, networking, sharing, juga menyiapkan satu panggung bagi ide-ide.

Saya menyarankan untuk menjadikan website pemerintah sebagai portal komunitas, menguatkan internet of things, juga mengelola jejaring dengan komunitas. Gerakkan komunitas dengan pendekatan mobilisasi dan orkestrasi. Penting pula untuk memperkenalkan digitasi, inkubasi, serta hadirkan angel investor.

Saya lihat dia makin pusing. Dia tak sabar dan langsung bertanya:

“Kapan saya bisa undang kamu ke daerah? Kita bahas ide ini dengan banyak orang” tanyanya.
“Maaf Pak. Saya bukan orang yang tepat. Saya hanya seorang pelatih kucing.”
“Hah?”


Andai AHY Kader HMI


Jika saja di Partai Demokrat masih ada sosok Anas Urbaningrum, pastilah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) akan mendapat mentoring tentang organisasi, juga materi strategi dan taktik (stratak). Bahwa di satu organisasi, kudeta-mengkudeta itu hal biasa. Yang terpenting adalah menyiapkan barisan serta mengenali siapa kawan seperjuangan.

Jalan panjang AHY di kursi ketua umum partai politik terlampau mulus, tanpa riak. Dia tidak merasakan pengalaman menjadi seorang kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang meniti karier dari komisariat, cabang, badko, lalu menjadi pengurus besar di pusat. 

Di tingkat partai, dia tidak pernah merasakan bagaimana membangun karier di level kelurahan, kecamatan, hingga kabupaten. Dia tidak pernah merasakan bagaimana sikut-menyikut di level bawah, lalu meniti karier dengan perlahan hingga menuju puncak.

Dia langsung menjabat sebagai kursi ketua umum partai, yang diwariskan oleh bapaknya. Dia tinggal meniti di atas karpet merah partai, dan menyingkirkan mereka yang sejak awal berdarah-darah mendirikan partai. AHY mendapatkan kursi ketua umum dengan mulus, tanpa riak, tanpa ada yang berani bersaing dengannya untuk kursi ketua.

BACA: Mereka yang Lebih HMI dari HMI


Dia memang punya pengalaman di militer. Namun, menjadi aktivis organisasi dan kader partai politik tidaklah sama dengan meniti karier di jalur militer yang mengenal jenjang kepangkatan. Di militer, tangganya jelas. Anda tak mungkin melompat dari kopral langsung menjadi jenderal. Demikian pula seorang Mayor, tidak bisa langsung turun pangkat jadi Sersan Mayor. Itu hanya ada di film Naga Bonar.

Di organisasi dan partai politik, seseorang bisa saja melejit dalam waktu singkat, dan bisa pula terpental dalam waktu cepat. Prinsipnya adalah bagaimana membangun karier setapak demi setapak, setelah itu membangun koalisi dengan orang lain. Anda tak lantas besar begitu saja, tetapi ada proses membangun kekuatan, memperluas pengaruh, serta merebut kepercayaan publik.

Dalam konteks ini, partai politik adalah arena untuk merangkum berbagai kekuatan. Para pengurus partai politik bukanlah mereka yang paling pintar, melainkan mereka yang paling bisa membangun konsolidasi, serta membangun aliansi dengan banyak pihak, sehingga menjadi barisan yang akan memenangkan pemilihan umum.

Andai saja AHY kenyang asam garam organisasi, dia akan tenang-tenang saja saat mendapatkan fakta tentang sejumlah mantan kader partainya membangun aliansi dengan seorang pejabat di pemerintahan. Dia tidak perlu menyatakan ada kudeta, seolah ada sesuatu yang genting sedang terjadi.

Yang terjadi hanyalah dinamika internal. Lagian, yang berkumpul adalah para mantan kader yang jelas-jelas tidak punya akses untuk masuk arena musyawarah partai. Di arena Kongres HMI, mereka yang ribut dan kasak-kusuk adalah para rombongan liar (romli), bukan pemilik suara. Harusnya dia abaikan saja dan fokus pada pendukungnya.

Dia harusnya bersyukur dengan aliansi itu, sebab dia bisa melihat sejauh mana loyalitas orang-orang di barisannya. Dia tak perlu meniru strategi bapaknya dahulu yang membangun citra terzalimi oleh pemerintah. Strategi terzalimi itu hanya cocok untuk bapaknya. Di era kekinian, penerapan strategi itu hanya berujung pada bully di media sosial.

Kalau perlu, siapkan karpet untuk siapa pun yang bermimpi untuk menjadi ketua umum. Mengapa? Sebab dinamika adalah kekuatan satu organisasi. Mereka yang menjadi ketua akan meyakinkan pihak lain, mengumpulkan kekuatan, lalu berkompetisi secara sehat di ajang musyawarah partai. 

Biarkan saja pesaingnya itu menawarkan uang besar kepada pengurus partai di daerah. AHY bisa memantau siapa yang loyal padanya dan siapa yang tergiur oleh materi. Dia jadi tahu siapa kawan dan siapa lawan, siapa yang dipertahankan dan siapa yang perlu disingkirkan, juga siapa yang akan membesarkan partai dan siapa yang hanya akan jadi benalu.

Kekuasaan memang rakus. Penguasa bisa punya seribu cara untuk membungkam dan menyingkirkan. Tak perlu panik. Selagi AHY mengenali semua pengurus partai, memastikan dukungan dewan pembina partai yang notabene adalah bapaknya sendiri, juga semua pengurus daerah, dia bisa senyum-senyum memantau gerak lawannya. Malah, dia bisa menyusun banyak skenario, dan menjalankan berbagai variasi strategi yang tetap akan menguatkan dirinya.

Sering kali, politik memang butuh drama. Publik bisa disentuh nuraninya dengan drama hingga menjadi barisan pengikut setia. Namun percayalah, efek drama selalu hanya sesaat. Partai yang dipimpinnya itu pernah dipercayai hingga 20 persen pemilih, setelah itu turun jadi 10 persen, terakhir tersisa 7 persen.

Jika hendak menaikkan elektabilitas partai, AHY harus berani melakukan “bunuh diri” kelas. Dia harus turun ke lapis bawah, bukan sekadar membuka acara dan senyam-senyum ganteng agar diidolakan milenial. Tak perlu pamer wajah klimis ala Hyun Bin dalam drakor Crash Landing on You. Tapi harus membasis, melakukan kerja-kerja kemanusiaan, membentuk relawan hingga akar rumput, menghangatkan api ideologi dan cita-cita partai untuk membentuk Indonesia yang lebih baik.

Partai politik tak perlu menawarkan nostalgia. Partai tak perlu menjual masa lalu. Partai harus menawarkan masa depan yang lebih cemerlang sepanjang ditopang oleh kuatnya gagasan di masa kini, serta menghampar langkah-langkah strategis untuk menggapainya. 

BACA: Setelah Lafran Pane, Siapa Lagi Pahlawan di HMI?


Kerja-kerja membangun basis memang tidak mudah. Akan tetapi, kerja-kerja itu punya efek jangka panjang yang dahsyat. Selagi mimpi Indonesia kuat itu tak bisa diwujudkan pemerintahan sekarang, maka gema perubahan yang dibawanya akan terus berdenyut di sanubari semua anak bangsa.

Satu hal yang perlu dipelajari dari HMI adalah adanya ikatan kuat tentang arah dan tujuan. Hampir semua yang mengaku HMI pasti tahu tujuan HMI yakni “terbinanya insan akademis ......” (biar anak HMI yang teruskan). Meskipun untuk menuju tujuan itu, ada yang malah jadi koruptor, ada pula yang jadi malaikat. 

Sayang, AHY bukan kader HMI. Malah kader HMI di partai itu telah disingkirkan satu demi satu. Mungkin demikianlah watak para penguasa partai. Di satu sisi teriak-teriak saat hendak disingkirkan oleh kekuasaan. Di sisi lain lupa, kalau selama memegang kuasa, banyak pihak juga yang disingkirkan, dan dibuang. 

Bahkan ada yang masih meringkuk di balik jeruji besi. 



EKOSISTEM

 

Bukan hanya dipakai dalam biologi, bahkan di dunia bisnis, istilah ekosistem sering disebut. Kita juga sering mendengar istilah Digital Ecosystem. Apakah gerangan?

Dia bernama Jadav Payeng. Di usia 16 tahun, dia melihat banyak hewan mati kepanasan di Sungai Brahmaputra di Mauli, India. Dia melihat sungai yang kering dan daratan yang tandus. Tak ada kehidupan di situ.

Dia punya ide untuk melakukan sesuatu. Ditanaminya kawasan itu secara rutin. Mulanya bambu, setelah itu tanaman lain. Perlahan pemandangannya berubah. Kawasan yang dahulu kering kerontang berubah menjadi hijau. 
 
Luasnya mencapai 550 hektar atau 785 kali luas lapangan sepakbola. Orang menyebut kawasan itu sebagai Hutan Molai, sesuai nama panggilan Jadav Payeng. Hutan luas menjadi cikal bakal dari lahirnya ekosistem di kawasan itu.
 
Jadav Payeng tidak menduga, langkah kecilnya telah menghadirkan ribuan satwa seperti harimau, ular, gajah, badak, rusa, kera, kelinci, dan ratusan burung. Inilah kekuatan ekosistem, yang serupa magnet raksasa bisa menarik jutaan flora dan fauna, membentuk roda kehidupan, dan lingkaran yang saling mendukung.
 
Pendekatan ekosistem dipakai kalangan pebisnis untuk menggambarkan saling hubung dari berbagai unsur dalam satu kawasan. Ekosistem ibarat rumah yang membuat banyak organisme hidup bersama dan saling menopang.
 
Namun adakah cara untuk mengumpulkan hewan tanpa membangun ekosistem? Ada. Yakni dengan membuat kebun binatang. Para hewan dikumpulkan di satu area, kemudian makannya setiap hari disiapkan.
 
Risikonya, saat situasi sulit, hewan tidak mendapat makanan yang sesuai porsinya. Kita pernah membaca publikasi mengenai hewan-hewan yang kurus karena tidak mendapat asupan makanan yang sesuai. Di satu kebun binatang, jatah makan harimau 7 kilogram, dikorupsi pengelola jadi 5 kilogram. Walhasil, harimaunya kurus dan cacingan.
 
Para penggiat teori pembangunan menyamakan upaya pemberian makanan ini dengan subsidi. Untuk mengatasi kemiskinan, pemerintah sering menempuh jalan pintas yakni memberikan subsidi yakng serupa suapan nasi kepada masyarakat miskin.
 
Dalam buku The Prosperity Paradox (2019) yang ditulis Clayton Christensen, menyebut strategi ini sebagai push strategy. Pemerintah memiliki kebijakan fiskal yakni subsidi atau kebijakan moneter melalui kredit murah.
 
Christensen memberi contoh mengenai kota San Francisco. Demi mengatasi kemiskinan, wali kota menggelontorkan dana besar untuk subsidi bagi tuna wisma. Tapi kemiskinan bukannya turun, malah bertambah. Banyak warga yang mencibir dan mengatakan program itu tidak adil. Sebab orang malas dan pengangguran diberi subsidi, sementara orang bekerja dipajaki.
 
Nah, belajar pada Jadav Payeng, yang seharusnya dibangun adalah ekosistem. Bangun hutan. Nanti, berbagai hewan akan berdatangan dan tinggal di situ. Mereka saling menopang sehingga terbentuk lingkaran kehidupan atau the circle of life. Ekosistem akan memberikan kehidupan bagi semua hewan secara adil, tanpa manusia harus memikirkan apa makanan hewan itu.
 
Kata Christensen, strategi Jadav Payeng adalah pull strategy yakni melakukan inovasi sehingga menarik pihak-pihak lain untuk memberikan kontribusi. Christensen mengurai banyak contoh. Di antaranya adalah Tolaram, perusahaan yang memasarkan indomie di Afrika dan menjadi market leader.
 
Awalnya Tolaran susah memasarkan produk mie asal Indonesia itu di pasar Afrika. Dia membangun ekosistem berupa gudang, jaringan listrik, truk-truk etalase, jejaring dengan pengusaha kecil hingga ribuan pengemudi. Kini, Indomie bisa ditemukan di banyak sudut Afrika.
 
Bagaimanakah pull strategy diterapkan di pemerintahan? Saya menyarankan Anda untuk membaca buku Road to Prosperity yang ditulis Prof Rheland Kasali. Buku ini adalah bagian dari MO Series atau Mobilisasi dan Orkestrasi, dua pendekatan yang banyak dipakai di ranah digital.
 
Seperti apakah? Biar saya selesaikan bacaan dulu. Saya baru sampai di halaman 70. Maafkan.


Saat INDIA Tersenyum, INDONESIA Tetap Menangis

Presiden Jokowi dan PM India Narendra Modi sedang bermain layangan bersama


Dilihat dari segala sisi, India adalah negeri yang sama dengan kita. Populasi India malah lebih 1 miliar. Penduduknya banyak kelas menengah ke bawah dan mengais nasib di jalan-jalan. Kemiskinan warganya telah lama digambarkan dalam berbagai film Hollywood dan Bollywood.

Saat pandemi menghantam, pemerintah Indonesia selalu menjadikan India sebagai rujukan. “Lihat India yang lockdown kini ekonominya morat-marit. Lihat India yang sama dengan kita, kini nomor urut dua di daftar negara terparah,” kata seorang pejabat.

Namun, kita luput melihat proses yang sedang bergerak. India tampak sakit dan kepayahan, lalu perlahan mencoba bangkit. Data terbaru menunjukkan, India sukses melandaikan kurva, malah jumlah kasus aktif lebih rendah dari Indonesia. India sukses mengontrol pandemi. 

Kita dapat mahkota sebagai kasus aktif Covid terbanyak di Asia. Jika melihat kerja keras negara-negara lain dan betapa lambannya kita, tak lama lagi kita akan menggantikan posisi India sebagai negara kedua terparah di dunia.

Lantas, apa yang hendak kita katakan?

Marilah sejenak kita berkaca pada India. Negeri itu memang fenomenal. Sejak awal tidak pernah menyembunyikan berapa jumlah warga yang terpapar. Jumlah yang terpapar terus bertambah hingga menggunung.

Sastrawan Arundhati Roy menulis esai mengenai lockdown menjadi kiamat bagi warga miskin India yang terpaksa harus berjalan kaki hingga ratusan kilometer demi kembali ke kampung halamannya. Virus ini telah mengubah makna normalitas menjadi sesuatu yang tidak normal.

Perbandingan India dan Indonesia (sumber: pandemictalks)


Namun pemerintah India tetap fokus pada rencana-rencana. Strateginya tidak canggih-canggih amat. Strateginya hanya mengikuti protokol penyelesaian pandemi yang standar yakni 3t: Test, Trace, dan Treat.

Mulanya India memberlakukan lockdown. Polisi turun ke jalan-jalan dan memukuli warga yang berkeliaran. Seiring dengan munculnya protes berbagai kalangan yang menilai kebijakan itu menghancurkan ekonomi, perlahan dilonggarkan. Namun bukan berarti pemerintah dan nakes diam saja. Mereka menggelar test dan trace secara massif dan besar-besaran.

Pemerintah India melakukan 5,2 juta tes per minggu. Ini jumlah yang cukup besar. India melakukan kombinasi tes Rapid Antigen dan tes PCR sehingga semua kasus positif segera dideteksi.  Semua warga dites Rapid Antigen. Ketika positif, dilaporkan sebagai kasus. Jika negatif, maka wajib untuk jalani tes PCR lagi untuk memastikan akurasinya. 

Prosedur ini memang melelahkan, tetapi semua rakyat India mematuhinya sebab itulah jalan untuk keluar dari belukar persoalan.

Petugas kesehatan mendatangi rumah-rumah, lalu mengetes warga. Semua yang positif langsung diisolasi. Kontaknya segera ditelusuri kemudian dites. Sebanyak 80 persen kontak erat harus ditelusuri dalam 72 jam. Ketika diketahui positif, maka langsung diisolasi.

Jumlah laboratorium ditingkatkan. Tadinya hanya 123 di bulan Juni, berubah menjadi 2.360 di bulan Desember. India mengajak semua swasta untuk terlibat menanggulangi pandemi. Ekonomi terpuruk akan menjadi ancaman bagi semua pihak, baik itu pemerintah maupun swasta.

Kerja keras itu kini berbuah. India memanen apa-apa yang sudah ditanam sejak masa terpuruk, sejak dunia mencatat mereka sebagai negeri terparah setelah Amerika Serikat. 

Memang, kasus aktif di India sempat menembus 1 juta orang pada pertengahan September 2020. Namun, perlahan kurvanya mulai menunjukkan penurunan dan terus menurun pada akhir Januari. Bahkan, India kini mencatatkan kasus aktif terendah sejak Juni 2020.

Dikutip dari Worldmeters, total kasus positif Covid di India adalah 10,7 juta orang. Namun kasus aktifnya kini hanya berjumlah 170.203 orang. 

Bandingkan dengan Indonesia, yang total kasusnya adalah 1 juta, dan kasus aktifnya sebanyak 175.095 orang. Indonesia menunjukkan tren yang terus meningkat sejak November 2020 hingga Januari kemarin.  Indonesia menjadi negara ke-15 dengan kasus aktif terbanyak di dunia, sedangkan India satu tingkat di bawahnya yakni ke-16.


Penambahan kasus harian Covid-19 di Indonesia pada Minggu kemarin juga lebih tinggi dari India. Di saat Indonesia menambah 12.001 kasus positif dalam sehari, kasus di India bertambah 11.528 orang. Kasus aktif Covid ini terjadi seiring dengan banyaknya jumlah testing yang dilakukan. India dengan populasi 1,3 miliar penduduk sudah mampu melakukan testing terhadap 196,5 juta penduduk.

Sedangkan Indonesia, dengan populasi 275 juta penduduk atau dengan penduduk sekitar seperlima lebih sedikit dari India, baru mampu melakukan total 9,2 juta testing.Sama seperti Indonesia, India telah memulai program vaksinasi pada 16 Januari 2021, yang menyasar kelompok prioritas tenaga kesehatan. Tapi, lagi-lagi India bergerak lebih cepat. India menargetkan, di bulan Juli nanti, sudah lebih 300 juta warganya yang divaksin. 

Sementara Indonesia menargetkan jumlah yang divaksin selama setahun ini bisa 180 juta orang. Melihat lambatnya proses vaksin karena banyak hoaks dan debat, sepertinya target Indonesia tidak realistis. Dalam dua pekan kurang dari 300 ribu orang yang divaksin. Jika kecepatannya seperti itu, butuh lima tahun untuk menyelesaikannya.

Baris-Baris Refleksi 

Dalam situasi pandemi begini, tidak tepat mencari salah dan benar. Namun, yang terasa bagi saya sebagai warga, pemerintah tidak benar-benar menjadi sains sebagai pijakan dalam membuat kebijakan publik.

Sejak awal, pemerintah lebih mengkhawatirkan ekonomi ketimbang kesehatan. Lihat saja, pemimpin satgas penanganan Covid adalah Airlangga Hartarto, dan wakilnya adalah Erick Tohir. Pemilihan mereka menunjukkan betapa pemerintah hanya memikirkan ekonomi, tanpa memikirkan dampak virus bagi masyarakat. Kita tidak membangun sinergi antara ahli epidemologi (untuk test dan trace), ahli medis dan biologi molekuler (untuk treat), dan ahli kebijakan publik. Kita menyerahkan semua ke politisi.

Di sisi lain, perlawanan semesta masyarakat kita seperti gaya bermain PSSI yang penuh semangat di awal, setelah itu ngos-ngosan di babak kedua. Kita tidak punya konsistensi untuk mengawal kebijakan hingga kurva perlahan diturunkan.

Banyak hal bisa diurai. Di antaranya, otonomi daerah menyebabkan rentang kendali Kementerian Kesehatan tidak sampai ke daerah-daerah sebab mesti berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Di sisi lain, bisa dilihat lemahnya leadership di kalangan kepala daerah, malah banyak yang masih menganggap Covid hanya konspirasi global.

Pendekatan pemerintah, baik pusat maupun daerah, sama-sama politis. Pemerintah menghindari lockdown dan melahirkan banyak istilah. Di sisi lain, pemerintah daerah hanya bisa menyalahkan pusat, seakan abai kalau dirinya punya kewenangan, yang tidak hanya melakukan tes masif, tapi bisa mengintervensi ke bawah sehingga kurva positif bisa melandai.

Jika situasi terus seperti ini, sepertinya India akan terus berlari ke depan dan memandang kita dengan senyuman. Mereka melaju bukan karena strategi yang hebat-hebat amat, namun konsisten menerapkan panduan yang sudah digariskan di kelas-kelas epidemologi.

Kita hanya gigit jari, sembari berharap-harap cemas semoga investor tidak malah lari, semoga ekonomi tidak terus memburuk, semoga pemerintah punya cadangan untuk menuntaskan semua janji-janji kampanye, semoga citra tetap naik agar kepala negara mendatang tidak jauh-jauh dari lingkar kekuasaan sekarang, semoga rakyat Indonesia tetap tegak menghadapi bencana.

Semoga badai segera berlalu.


Revolusi yang Bermula dari Bangun Pagi


Pria itu direkrut untuk membantu tim balap sepeda. Di tahun 2003, British Cycling tak punya nama. Tak ada brand. Namun, Dave Brailsford menerima tantangan untuk membenahi tim itu. Selama lebih 100 tahun, tim-tim Inggris tak mengukir prestasi besar di level dunia. Tak pernah menang Olimpiade.

Brailsford punya komitmen kuat untuk terus berbenah. Dia percaya, jika setiap orang melakukan perubahan besar hanya 1 persen dalam sehari serta dilakukan secara konsisten, maka hasilnya akan dipanen dalam waktu yang tidak lama.

Brailsford dan timnya terus melakukan perbaikan. Mereka merancang jok sepeda agar lebih nyaman. Mereka mencoba berbagai kostum pembalap, termasuk menganjurkan untuk memakai celana pendek dengan pemanas listrik guna menjaga suhu otot kaki serta memakai sensor biofeedback untuk memonitor reaksi atlet saat latihan.

Mereka menguji beragam gel pijat untuk pemulihan otot paling cepat. Mereka membayar dokter untuk mengajari pembalap cara mencuci tangan yang benar agar tidak terkena virus influenza. 

Bahkan mereka menentukan jenis bantal yang dipakai pembalap agar tidur nyenyak. Mereka terus mengevaluasi setiap gerakan, jenis sepeda, bantalan duduk pesepeda, hingga mengamati setiap pertandingan.

Hanya dalam waktu lima tahun, semuanya berubah. Tim itu memenangkan 60 persen medali emas yang dipertandingkan di Olimpiade Beijing. Empat tahun berikutnya, saat Olimpiade London, tim itu memecahkan sembilan rekor Olimpiade dan tujuh rekor dunia.

Sejak tahun 2015, tim Inggris itu berhasil menang lima Tour de France dalam enam tahun. Selama 10 tahun, tim Inggris itu memenangkan 178 kejuaraan dunia dan 66 medali emas Olimpiade yang dianggap bayak kalangan sebagai prestasi paling sukses dalam sejarah balap sepeda.

BACA: Siasat Perlawanan, Dari Seks Hingga Lipstick


Bagaimana menjelaskan satu tim yang biasa-biasa saja menjadi sekumpulan pemain yang mengubah sejarah permainan? 

James Clear dalam buku Atomic Habits menjelaskan perubahan itu bukan sebagai sesuatu yang ajaib. Bukan sesuatu yang ujuk-ujuk atau tiba-tiba saja hebat. Semuanya dimulai dari hal yang biasa-biasa. Semuanya bermula dari mengubah kebiasaan-kebiasaan kecil.

Kata James Clear, prinsip yang dianut Brailsford yakni cukup melakukan perubahan kecil sebesar 1 persen dalam sehari adalah kuncinya. Jika dilakukan secara konsisten, maka hasilnya dahsyat. Melakukan perbaikan 1 % memang tidak kelihatan hasilnya. Namun jika dilakukan secara konsisten, dalam setahun, Anda akan 37 kali lebih baik dari setahun sebelumnya.

Mulanya adalah kemenangan kecil, kelak setelah terakumulasi akan jadi kemenangan besar. Mulanya adalah mengubah kebiasaan menjadi lebih positif, yang terjadi kemudian adalah hasil yang menakjubkan.

Prinsip ini memang sederhana, namun begitu sulitnya menerapkannya. Hari ini kita menyimpan sedikit uang di tabungan. Namun beberapa hari kemudian, kita tiba-tiba saja merasa tidak akan kaya gara-gara uang sedikit itu. Kita lalu mengambilnya kembali. Padahal jika kita sedikit bersabar, serta konsisten terus menyimpan uang sedikit, maka kelak akan tiba saat panen.

Kata para psikolog, diri kita hari ini adalah hasil dari kebiasaan-kebiasaan kita yang dilakukan dalam waktu panjang. Kecerdasan kita hari ini adalah hasil dari proses belajar sedikit demi sedikit. Demikian pula kekayaan. Kita hari ini adalah hasil dari kebiasaan yang terus terjadi sehingga memberi dampak pada diri kita hari ini.

James Clear bercerita tentang dirinya. Semasa remaja, dirinya bermimpi menjadi pemain bisnol. Dalam satu latihan, dia mengalami kecelakaan lalu cedera parah. Dia tak mau kalah dengan keadaannya. Ia perlahan bangkit, melakukan kebiasaan-kebiasaan kecil untuk melatih diri, hingga akhirnya dia berhasil bangkut dan menjadi pemain bisbol.

Berkat kebiasaan yang lebih baik dan tak kenal putus asa, apa pun bisa menjadi mungkin.  Dia menganjurkan empat langkah sederhana yang menghasilkan kebiasaan yang lebih baik dan mengantarkan kepada perubahan yang besar. Empat langkah itu adalah menjadikannya terlihat, menjadikannya menarik, menjadikannya mudah, dan menjadikannya memuaskan. 

Saya merenungi butir pemikiran dalam Atomic Habits ini. Yang perlu kita lakukan adalah melakukan pembiasaan pada hal-hal baik, meskipun itu kecil dan sederhana. Justru pada hal sederhana dan konsisten itu, kita bisa melihat seperti apa seseorang di masa depan.

Dalam dunia menulis, sekadar menulis bagus tidak akan membuat Anda jadi penulis hebat. Namun konsistensi serta niat belajar akan menjadi pembeda yang akan melejitkan Anda menjadi sosok hebat.

Demikian pula dalam dunia bisnis. Mustahil seseorang menjadi miliader jika tidak bisa mengelola uang senilai sejuta. Mustahil jadi jutawan jika tidak bisa mengelola uang seratus ribu. Sama dengan prinsip di perbankan. Seseorang tidak akan dipinjami miliaran, jika dia tidak punya reputasi atau track-record mengembalikan pinjaman jutaan.

Semuanya melalui proses. Selain mengelola uang, Anda butuh kemampuan menjaga jaringan, memelihara silaturahmi, melihat orang lain sebagai mitra yang akan melejitkan diri Anda.

Makanya, saya sering melihat kesungguhan seseorang dari konsistensi waktu. Bagi saya, seseorang bisa dipercaya jika konsisten dan tepat waktu saat hendak janjian. Ini hal sepele. Namun betapa pentingnya jadi orang tepat waktu dalam kehidupan. Jika janjian saja tidak ditepati, bagaimana seseorang itu bisa dipercaya jika mengelola pekerjaan?

Kata seorang kawan, mustahil seseorang jadi orang hebat jika tidak bisa bangun pagi. Sebab bangun pagi adalah awal dari memulai hari, awal merencanakan banyak hal positif di hari itu, awal dari membiasakan hal baik untuk diteruskan keesokan harinya. Revolusi atau perubahan besar akan dimulai dari hal-hal kecil yakni bangun pagi.

Saya menangkap poin yang dia sampaikan. Seseorang hanya bisa besar jika dia terbiasa merencanakan sesuatu, membangun langkah-langkah kecil menuju ke arah itu, lalu konsisten menerapkan itu dalam dirinya.

Kata James Clear, jika ingin kebiasaan positif itu tetap terbangun, maka kita mesti mengelolanya dalam sistem. Dia menawarkan banyak cara agar seseorang tetap mempertahankan kebiasaan baik sehingga kelak akan jadi kemenangan besar. Buku Atomis Habits menawarkan banyak solusi praktis bagi kita semua.

Namun, saya tertarik saat dia membahas perlunya membangun kultur agar kebiasaan baik menjadi sesuatu yang organik. Saya teringat bacaan tentang perlunya membangun sistem sosial agar nilai-nilai baik menjadi tunas yang tumbuh lalu menjadi budaya. Pantas saja bangsa-bangsa unggul adalah mereka yang bisa menyuburkan kultur positif dalam kehidupannya.

Bill Gates, Zuckerberg, dan Steve Jobs

Kisah dari James Clear akan menjadi relevan jika kita mengamati bagaimana orang-orang hebat dalam sejarah mengisi hari-harinya. Bill Gates selalu membaca buku bagus setiap tahun dan merekomendasikannya kepada banyak orang. Rekomendasinya selalu ditunggu-tunggu.

Mark Zuckerberg selalu membaca buku tiap dua minggu dan bertemu orang baru setiap hari. Menurutnya, kebiasaan-kebiasaan tersebut bisa membantunya mengembangkan diri sendiri di samping mengembangkan Facebook.

Menarik pula melihat bagaimana kiat Steve Jobs bisa menjadi sosok hebat. Dia berusaha untuk mencintai apapun yang dia lakukan. Baginya, semakin bahagia seseorang dengan pekerjaan yang dia lakukan, semakin banyak upaya yang dilakukan untuk pekerjaan itu. Semakin baik hasilnya. Dan, semakin bahagia hidup.

“Jika kamu belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan puas. Terkait dengan semua masalah hati, kamu akan tahu saat menemukannya.

Semuanya menjadi keping inspirasi yang berharga. Saya belajar hal baru. Bahwa mimpi setinggi apa pun, bisa digapai dengan melakukan hal-hal sederhana, hal-hal kecil yang konsisten dan terus berdampak. 

Buku ini membuat kita melihat seseuatu dengan cara baru. Bahwa tak ada sesuatu yang instan. Tak ada sesuatu yang langsung hebat. Tak ada mantra untuk menjatuhkan sekarung berlian. Raihlah kemenangan besar dengan cara memperbanyak kemenangan kecil berupa kebiasaan positif. 



Syair Ariel Peterpan untuk Ba'asyir

Ariel saat di tahanan
Ariel saat di tahanan

Pondok Pesantren Al Mukmin berubah semarak. Kalam takbir seakan meletup ke langit. Pria sepuh itu, Abu Bakar Ba’asyir, datang setelah menjalani penahanan selama 15 tahun. Banyak air mata menyambut kedatangannya.

Dia dituduh teroris. Setiap sidangnya selalu menjadi sorotan media asing. Banyak gelar disematkan pada namanya. Namun dia hanya seorang lelaki tua, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Selama 15 tahun di tahanan, dia bergaul dan berinteraksi dengan banyak kalangan yang dipasung kebebasannya.

Di antara orang yang berinteraksi dengannya, ada nama Nazril Irham atau Ariel, vokalis Peterpan yang saat itu terpidana kasus pornografi. Ariel merekam sosok Ba’asyir dalam syair yang indah.

Saya menemukan kisah Ariel bertemu Ba’asyir dalam buku Kisah Lainnya: Catatan 2010-2012 yang ditulis Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David. Buku ini terbit tahun 2012. Saya membacanya kembali saat ada seorang artis cantik menjadi tersangka kasus pornografi, persis yang dijalani Ariel.

Ariel menggambarkan ruang tahanan di Bareskrim dengan istilah Kampung Bawah, Kampung Tengah, dan Kampung Atas. Saat pertama, tiba, dia sering membuat coretan atau sketsa tentang para penghuni di tahanan itu.

Kampung Bawah adalah blok sel tahanan paling bawah. Penghuninya digambarkan santai dan tidur beralaskan tikar. Di sini, dia mengenal seorang tahanan yang memiliki lima istri. Saat jam kunjungan, lima istri itu bisa datang bersamaan.

Kampung Tengah adalah blok sel, yang terdapat musala. Warta rutan selalu memakai musala itu. Sedangkan Kampung Atas memiliki 10 blok sel yang berhadapan, dan di ujungnya ada ruang luas di mana para tahanan bisa bertemu.

Selama di tahanan, pria, yang tinggal di sekitar Terminal Antapani, Bandung ini, sering membuat sketsa dan syair mengenai orang-orang di situ. Dia menyimpan banyak cerita mengenai mereka. Mereka saling mengenal dan akrab. Ariel sering bermain catur, juga sering diajak makan oleh beberapa tahanan, utamanya tahanan kasus korupsi. Bahkan Ariel bisa membaca buku sufi mengenai Jalaluddin Rumi dari seorang tahanan.

buku yang ditulis Ariel
Sketsa yang dibuat Ariel di tahanan

Di antara beberapa yang direkamnya dalam catatan adalah Abu Bakar Ba’asyir. Ba’asyir ditempatkan sendirian di selnya. Petugas harus meletakkan kamera pengawas. Saat berpapasan, Ba’asyir selalu tersenyum.

Pernah, Ariel berkumpul bersama tahanan lain sembari bercanda. Mereka tertawa karena banyak lelucon. Saat itu, Ba’asyir yang menuju dapur melintas. Semua terdiam. Seorang tahanan menunjuk Ariel lalu berkata: “Ini Ariel Pak Ustad.” Ba’asyir menoleh ke Ariel lalu berkata: “Oh, ini toh Ariel. Saya hanya tahu namanya saja.”

Ba’asyir tersenyum lalu mengeluarkan kalimat yang menyentuh hati. “Jangan berkecil hati. Manusia diciptakan di dunia ini memang untuk bikin kesalahan, lalu memperbaiki diri. Kalau semua orang sudah tidak bikin kesalahan lagi, maka semua ini akan dimatikan oleh Tuhan, karena tidak ada lagi tujuan kehidupan.” 

Suatu hari, pukul lima subuh, Ariel belum bisa tidur di ruang sel. Dia melihat Ba’asyir keluar dengan celana panjang. Ba’asyir memulai aktivitas dengan lari-lari kecil di sel. Hati Ariel tersentuh. Di usia setua itu Ba’asyir masih beraktivitas dan menjaga kesehatan. 

Ariel yang tengah memegang bloknot di tangan kiri, sembari merokok, mulai mencoret-coret:

Ba'asyir tua, berlari kecil di gang yang bergema

Larut dalam dunianya sendiri

Dia tidak menoleransi dunia

Sehingga dunia tidak menoleransinya

Keras memang, tapi apalah arti pendirian jika tidak keras 

Hitam putih, tapi tidak abu-abu 

Keras memang ... 

Andai saja dunia melihat kebenaran yang dia lihat.

Syair ini menunjukkan bahwa Ariel percaya kalau Ba’asyir punya kebenarannya sendiri, yang tidak dipahami orang lain. Ba’asyir larut dalam dunianya, sehingga dunia pun tidak memahaminya. Namun itulah pendirian.

Pertemuan itu berkesan. Selama di tahanan Ariel menjadi lebih banyak beribadah. Di tengah masalah yang menderanya, dia berdoa kepada Tuhan saat salat malam. Bahkan pernah dia merayakan ulang tahun dengan salat malam.

Selain menulis di bloknot, dia juga aktif menggambar. Saat musala rutan hendak dicat, Ariel memberi banyak masukan kepada petugas tentang warna-warna yang bisa digunakan. 

kaligrafi yang dibuat Ariel

Dia melihat ada gypsum untuk pemasangan langit-langit musalla yang tidak digunakan. Dia meminta tukang untuk memotong gypsum itu sesuai pola yang dinginkannya. Dia membuat sketsa kaligrafi kalimat Allah. Saat asistennya berkunjung, dia minta dibawakan kuas dan cat air. Mulailah Ariel menggambar kaligrafi.

*** 

Pertemuan itu terbilang singkat. Ariel divonis kemudian dipindahkan ke Rutan Kebun Waru di Bandung. Dia melalui hari-hari yang cukup berat saat harus bangkit dari semua keterpurukan. Dia menulis syair, membuat lagu, lalu mencatat renungan-renungan. Dia tidak lagi memakai tas pinggang, yang menurut gosip sejumlah orang berisi kondom, ternyata berisi HP dan rokok.

Justru di balik sel, dia menyerap banyak pelajaran untuk kembali menatap dunia. Seusai bebas, dia menjadi figure yang berbeda. Kalimat-lalimatnya menjadi lebih bermakna. Selama di tahanan, dia menulis syair lagu Dara. Dia membubarkan Peterpan dan membentuk Noah.

Dia juga meluncurkan album baru. Di album itu, dia bernyanyi dengan Momo Geisha yakni lagu Cobalah Mengerti. Di antara syairnya adalah:

Cobalah mengerti

Semua ini mencari arti

Selamanya takkan berhenti

Inginkan rasakan

Rindu ini menjadi satu

Biar waktu memisahkan



Buku yang Saya Sukai di Tahun 2020


Tahun 2020 akan segera berlalu. Setahun silam, saya banyak membeli dan menumpuk buku lalu menunda waktu untuk membacanya. Orang Jepang menyebutnya Tsundoku. Orang barat menyebutnya bibliomania. Tahun ini, saya merasa cukup produktif. 

Sejak pandemi, praktis, waktu saya lebih banyak di rumah. Saya mengisi waktu dengan menonton sebanyak mungkin film baru. Saya berlangganan Netflix, Disney Hotstar, Vidio, juga sangat rajin menonton channel NatGeo.

Saya pun menyempatkan banyak waktu untuk membaca di sela-sela mengerjakan beberapa pekerjaan. 

Yang menarik, di masa pandemi, saya melihat banyak artikel-artikel bagus bermunculan di internet. Wabah dan pandemi menjadi panggung bagi para intelektual dunia untuk menjelaskan kepada publik mengenai apa yang sesungguhnya terjadi, dan bagaimana dunia pasca-pandemi.

Saya cukup menikmati beberapa artikel bagus dari sejarawan Yuval Noah Harari, sastrawan Arundhati Roy, filsuf Slavoj Zizek, ilmuwan Ethan Siegel, juga beberapa penulis global. Pandemi ini menjadi arena bagi mereka untuk membuka perspektif baru, serta menuntun publik yang dalam istilah Heidegger, sebagai “memisah terang dari gelap.”

Meski demikian, saya tetap berusaha meng-update buku-buku terbaru. Saya tidak tahu persis angkanya, namun saya yakin tahun ini tidak banyak buku baru yang terbit. Kalaupun terbit, beberapa dijual melalui pre-order agar penerbit punya cukup uang untuk mencetaknya dalam situasi ekonomi yang cukup sulit. 

Selama pandemi, saya sangat jarang ke toko buku. Beruntung, saya mengikuti informasi baru melalu Instagram beberapa penerbit, sehingga ketika ada buku terbaru, langsung saya pesan. Di banding tahun sebelumnya, frekuensi saya membeli buku agak berkurang.

Dalam situasi itu, saya menemukan banyak buku bagus. Lagi-lagi, makna bagus di sini selalu subyektif sebab selalu bergantung pada akses pada buku serta waktu yang cukup untuk membaca dan meresapinya. Ketika menemukan buku yang saya sukai, biasanya saya membacanya berulang-ulang.

Di tahun 2020, saya mencatat beberapa buku yang menarik. Saya menyusunnya secara acak:


Pandemic: Covid-19 Shakes the World  (Slavoj Zizek)

Saya anggap ini buku yang paling provokatif di tahun 2020. Filsuf Slavoj Zizek menyebut virus ini ibarat pukulan ala “Kill Bll” yang menghantam kapitalisme. Dalam film Kill Bill 2 yang disutradarai Quentin Tarantino, terdapat pukulan “Five Point Palm Exploding Heart Technique” yakni kombinasi lima serangan yang menyasar lima bagian tubuh. Saat Bill dihantam dengan jurus ini, dia merasa baik-baik saja, tetapi saat berjalan lima langkah, jantung meledak. Inilah salah satu pukulan paling mematikan dalam ilmu bela diri.



Saat virus ini menyerang, kapitalisme seakan baik-baik saja. Masih bisa mengatur napas dan langkah. Tapi, seiring waktu, virus ini bisa menumbangkan kapitalisme, sebagaimana kebocoran nuklir di Chernobyl yang menumbangkan Uni Soviet. Sistem sekarang tidak akan terus berjalan seperti biasanya sehingga dibutuhkan sebuah perubahan radikal.

Menurut Zizek, virus memaksa kita untuk memikirkan satu konsep masyarakat alternatif yang melampaui konsep negara-bangsa. Virus masyarakat alternatif ini menekankan pada solidaritas dan kerja sama global. (BACA: Virus yang Membangkitkan Komunisme)


Kepunahan Keenam (The Sixth Extension), karya Elizabeth Kolbert

Dalam versi bahasa Inggris, buku ini terbit tahun 2014 dan merupakan peraih Pulitzer sebagai buku nonfiksi terbaik. Saya membaca buku ini pada momen ketika saya merenungi Covid-19 yang muncul akibat kehadiran manusia yang mempengaruhi tatanan ekologis.

Ini buku yang muram. Isinya adalah sejarah kekalahan dari spesies yang bukannya tidak bisa beradaptasi dengan bumi, tapi perlahan tersingkir dan punah oleh spesies manusia. Ini kisah tentang kian tingginya laju kepunahan berbagai hewan sejak era pertama bumi terbentuk.


Dulu, banyak spesies punah karena asteroid atau gunung meletus dalam skala besar. Kini, semua kepunahan itu disebabkan manusia, spesies yang merasa dirinya paling hebat sehingga merasa punya kuasa dewa untuk mengatur alam semesta.

Elizabeth Kolbert menulis kepunahan itu serupa membuat catatan perjalanan, dari satu lokasi ke lokasi lain, dari satu laboratorium ke laboratorium lain. Alam semesta digambarkan sebagai sejarah perebutan ruang demi keseimbangan. Tapi manusia memasuki arena dan membawa ideologi penaklukan. Hewan liar tersingkir. Semua hutan dirambah dan menjadi perkebunan.


Perang Melawan Influenza (Ravando)

Judul lengkapnya Perang Melawan Influenza: Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial. Penulisnya Ravando, sejarawan muda alumnus Leiden yang kini lagi di Aussie.

Biasanya ketika membaca buku sejarah, saya serasa terlempar ke masa silam. Tapi buku ini justru berbeda. Fakta-fakta yang disajikannya membuat saya berkaca ke masa kini. Isinya sangat aktual. Kaya data.  


Jika saja kata Pandemi Spanyol diganti dengan kata Covid-19, maka kita tetap menemukan fakta yang sama. Mulai dari Dinas Kesehatan Hindia Belanda yang memandang remeh penyakit ini, korban yang berjatuhan, juga banyaknya hoaks mengenai obat penyakit ini. 

Saya suka catatan dari Profesor Hans Pol mengenai perlunya melihat aspek kesehatan dan penyakit dalam menyusun historiografi. Epidemi atau penyakit seharusnya menjadi lensa untuk memandang perubahan sejarah dan masyarakat. Ini mengingatkan saya pada Jared Diamond yang menjelaskan bagaimana kuman bisa mengubah sejarah.

Seusai membaca buku ini, kesimpulan saya adalah kita memang tak pernah belajar dari sejarah. Ibarat sedang berjalan, kita selalu jatuh di lubang yang sama. Kita selalu mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan di masa silam. Kita tak menyerap hikmah masa silam untuk membuat kita lebih tangguh di masa kini.


Gen: Perjalanan Menuju Pusat Kehidupan (Siddhartha Mukherjee)

Dua tahun lalu, saya membeli buku The Gene: An Intimate History yang ditulis Siddhartha Mukherjee di Bandara Lombok. Ketika versi terjemahan keluar, saya langsung memesannya. Tentunya, lebih menarik baca buku versi bahasa Indonesia. Lebih mengalir. 

Penulis buku Siddhartha Mukherjee adalah profesor kedokteran di Columbia University. Dia keturunan India. Dia pernah memenangkan pulitzer untuk karyanya yang berjudul The Emperor of All Maladies: A Biography of Cancer (Kekaisaran Penyakit: Biografi Kanker). 



Gen adalah satu gagasan yang mengguncang dalam sejarah sains, Tiga penemuan gagasan fundamental di dunia sains yang bermunculan sepanjang abad ke-20: atom, bit, dan gen, terus berkembang sehingga menjadi wacana sendiri dalam sains. Gen adalah unit informasi terkecil makhluk hidup yang tidak dapat dibagi lagi. 

Buku Gen membahas secara komprehensif apa itu gen, serta memaparkan sejarah konsep gen serta kisah-kisah ilmuwan. Buku ini juga memaparkan masa depan riset mengenai gen. 

Sesuai judulnya an intimate history, buku ini memang terasa intim. Saat bercerita, penulisnya banyak mengutip sastrawan mulai dari George Orwell, Albert Camus, hingga Haruki Murakami.  Kita seakan mendengar seorang Opa penuh pengalaman yang bercerita ringan. Kita seakan menyaksikan film mengenai para peneliti gen yang membahas karyanya.


The Socrates Express (Eric Weiner)

Sejak membaca Geography of Bliss, mengenai perjalanan mencari konsep bahagia di berbagai negara, saya menjadi penggemar catatan perjalanan Eric Weiner. Dia tidak sekadar jalan-jalan dan foto-foto. Dia selalu berusaha menemukan makna. Dia menetapkan misi dalam petualangannya.


Kali ini, saya membaca catatannya bersentuhan dengan wacana filsafat. Saya terkenang buku Dunia Sophie yang ditulis Jostein Gaarder. Sebagaimana Dunia Sophie, The Socrates Express juga meramu filsafat menjadi catatan perjalanan yang menyenangkan.

Saya sepakat dengan pernyataan Henry Manampiring di bagian pendahuluan, filsafat itu akan selalu aktual. Manusia akan selalu berhadapan dengan problem yang sama, dari zaman ke zaman. Dulu orang berpedang, kini memakai nuklir. Substansinya sama.

Yang kita temukan di sini bukanlah sejarah dan perkembangan pemikiran, tetapi petualangan seorang manusia yang mengenali tema-tema filsafat dalam aktivitasnya di abad kekinian. Ada perspektif masa lalu, yang dipraksiskan di masa kini, lalu mengalami dialog2 dan dibenturkan dengan realitas kekinian.

Yang paling diuntungkan dari dialog ini adalah kita, pembaca yang menikmati menu buku ini serupa mencicipi hidangan segar bagi jiwa.


Kisah dari Kebun Terakhir (Tania Murray Li)

Saya selalu terkesima jika membaca kerja-kerja intelektual Tania Murray Li. Profesor antropologi asal Kanada ini selalu produktif melahirkan riset etnografis dan pengamatan mendalam dalam setiap karya-karyanya. 

Beberapa waktu lalu, saya membaca bukunya berjudul The Will to Improve yang lalu menjadi satu lensa ketika melihat desa. Ketika saya berkunjung ke desa, beberapa teori dan argumentasi Tania Li terus hadir dalam benak. Istilah yang sering saya kutip adalah “teknikalisasi permasalahan” yakni cara orang kota menjinakkan orang desa melalui aturan, pengetahuan, dan berbagai hal teknis. Seakan-akan orang kota lebih tahu dan lebih berhak bicara tentang desa.


Tahun ini, saya membaca buku terbarunya yang sudah diterjemahkan yakni Kisah dari Kebun Terakhir. Isinya adalah riset etnografis di Sulawesi yang membahas bagaimana kemunculan kapitalis di antara penduduk adat di perbukitan yang memprivatisasi lahan demi menanam kakao.

Tania Li berfokus pada masyarakat Lauje, baik itu yang tinggal di pesisir maupun perbukitan. Penelitian etnografis yang dilakukan selama dua puluh tahun (1990-2009) tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Lauje di perbukitan tidak selalu menolak narasi pembangunan dan modernisasi. 

Mereka malah ingin merasakan derap langkah kemajuan dan pembangunan. Tanpa disadari, hasrat ini lalu menyeret mereka untuk bersaing satu sama lain dalam praktik kapitalisme yang kemudian berujung pada kesenjangan.


The Real Marketing (Hermawan Kartajaya)

Saya bukan marketer atau pemasar. Tapi setiap kali ada buku baru yang dibuat para marketer, saya selalu tidak sabar untuk membacanya. Di antara nama-nama penulis yang saya tunggu2 adalah Rhenald Kasali dan Hermawan Kartajaya.

Hermawan selalu menulis sesuatu dengan cara yang sesederhana mungkin. Dia tidak suka memusingkan pembacanya. Beda dengan para ilmuwan sosial dan politik yang suka jlimet. Kalaupun Hermawan memakai kata dalam bahasa Inggris, biasanya kata-kata yang mudah dipahami dan pasaran.


Selain itu, Hermawan menulis berdasarkan pengalaman sendiri. Saya suka membaca catatan, yang penulisnya memakai kata “saya.” Sebab di situ ada unsur personal, serta perjalanan seseorang memahami sesuatu. Kita diajak masuk ke dalam pikiran seseorang untuk menelusuri pesan dan makna.

Dia juga peka dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Dia suka mengambil contoh apa yang ada di sekitarnya. Di buku terbarunya ini, The Real Marketing, dia menjelaskan tentang game, film The Rings, konten Youtube, dan K-Pop. Dia selalu update dengan informasi terbaru, bahkan apa saja yang tengah happening di kalangan anak2 jaman now.

Dia menjelaskan perjalanan konsep pemasaran yang dikembangkannya, sehingga dirinya menjadi satu dari 50 orang yang mengubah marketing dunia. Dia menjelaskan bagaimana dirinya bisa berkolaborasi dengan para guru marketing yakni Al Ries, Jack Trout dan Kehnichi Ohmae, serta Philip Kottler yang disebut sebagai the father of modern marketing. Kini, Hermawan telah mendunia.


Pangeran dari Timur (Iksaka Banu dan Kurnia Effendi)

Novel ini masuk dalam list saya. Ini adalah novel sejarah mengenai Raden Saleh, salah satu pelukis paling hebat di masa kolonial.

Sebagai penggemar fiksi sejarah, saya lama menunggu buku ini. Dulu, ketika membaca tetralogi Pulau Buru dan beberapa karya lain dari Pramoedya Ananta Toer, saya selalu berharap ada yang rutin menulis tentang masa silam, dari sisi yang tidak biasa.


Beruntung, saya bisa berinteraksi dengan karya-karya Iksaka Banu. Mulanya, saya mengoleksi bukunya Semua untuk Hindia. Selanjutnya saya membaca Sang Raja, terakhir Teh dan Pengkhianat. Iksaka adalah penulis yang dua kali mendapatkan Khatulistiwa Literary Award.

Bagi saya, Iksaka Banu itu unik. Dia melihat sejarah tidak secara hitam putih. Dalam dua bukunya, dia mengurai kisah dari sudut pandang orang Belanda yang dicap nista oleh sejarah kita. Dia melihat peristiwa dari sudut berbeda. Siapa pun bisa berpotensi jahat, tanpa memandang warna kulit dan asal bangsanya.

Dia membentang sketsa watak manusia yang penuh warna. Ada manusia baik dan ada manusia jahat. Tergantung kita melihatnya dari sudut mana. Jika kita membebaskan diri dari segala prasangka, kita akan melihat dinamika. Selalu ada gejolak. Selalu ada kebaikan, juga kejahatan.


Kuasa Uang (Burhanuddin Muhtadi)

Dalam konteks literatur politik, buku Kuasa Uang ini sangat menarik. Buku ini mulanya disertasi yang dibuat Burhanuddin Muhtadi untuk mendapatkan gelar doktor di satu universitas di Australia.


Saya menemukan banyak kesimpulan menarik di buku ini. Di antaranya, orang Indonesia ternyata lebih jujur mengakui adanya praktik politik uang dibandingkan dengan orang di negara-negara lain. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa jual beli suara dalam pemilu di Indonesia memang bukan tabu. 

Buku membahas bagaimana gelombang politik uang semakin menjadi-jadi setelah Orde Baru runtuh pada 1998, terutama setelah sistem proporsional terbuka diterapkan pada 2009. Perubahan sistem kelembagaan dan sistem pemilu membuat caleg harus menghasilkan personal votes melalui ketokohan pribadinya ketimbang lewat kampanye berbasis partai. 


Creative Collaboration (Abdullah Azwar Anas)

Tidak banyak kepala daerah yang mau berbagi tentang pengalamannya memimpin. Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas adalah pengecualian. Dia mencatat pengalamannya selama dua periode memimpin, menguraikan apa saja yang telah dilakukan, serta memberikan catatan tentang masa depan.

Tahun lalu, saya puas sekali saat membaca bukunya yang berjudul Anti Mainstream Marketing. Dia menjelaskan secara rinci bagaimana kiatnya memasarkan Banyuwangi yang dulu identic dengan santet, terbelakang, juga angker. Dia melakukan branding pariwisata yang berbasis pada tradisi dan budaya, lalu membawa Banyuwangi menjadi salah satu daerah yang maju pariwisatanya.


Dia mengemas bukunya dengan sangat menarik. Konsepnya eye catching. Mencolok mata. Banyak foto warna dan juga kutipan penting. Dia sengaja membuat buku yang tidak rumit, tapi bisa dipahami siapa saja.

Dalam Creative Collaboration, dia menjelaskan kerja-kerja di balik kian banyaknya penghargaan untuk Banyuwangi. Dia membahas kolaborasi kreatif yang menjadi kekuatan. Kerja kolaborasi tidak hanya dilakukan dengan pihak luar, misalnya pemerintah pusat maupun para pengusaha dan arsite, tapi juga kolaborasi dengan warganya sendiri.


Menjadi Penulis (Puthut EA)

Saya dua kali mengkhatamkan buku Menjadi Penulis ini. Buku ini hadir dengan konsep yang sederhana dan menarik. Isinya adalah catatan-catatan tentang dunia menulis, yang ditujukan bagi siapa saja yang hendak menjadi penulis.


Saya suka dengan celotehan Puthut EA yang realistis saat membahas dunia menulis. Dia tidak seperti para motivator atau mentor yang bercerita hebat-hebat tentang dunia menulis. Dia bercerita realistis dan apa adanya, kalau dunia menulis memang tidak seindah melihatnya dari luar. Dunia menulis bukanlah dunia yang bergelimang uang.

Namun dia tidak sekadar memaparkan sedu-sedan. Dia juga memberikan peta bagi mereka yang hendak menekuni dunia menulis. Di antaranya adalah memperluas kerja kepenulisan. Bukan sekadar fiksi, tapi masuk ke non fiksi, melakukan riset, jadi ghost writer, serta apa saja yang terkait dunia menulis.


Serial Bumi (Tere Liye)

Sebelumnya saya bukan pembaca novel yang ditulis Tere Liye. Saya tak pernah membaca satu pun bukunya. Namun saya tergoda membacanya saat melihat banyaknya anak-anak me-review serial Bumi di Youtube.  Saya pikir selama ini Tere Liye adalah penulis dengan genre Islami. Ternyata dia merambah ke berbagai genre, termasuk fantasi.

Serial ini mengenai tiga kanak-kanak yang masing-masing punya kemampuan hebat.  Raib bisa menghilang, Seli bisa mengeluarkan petir, dan Ali adalah anak yang jenius. Ketiganya bertualang melintasi dunia paralel. 


Dalam novel ini, bumi adalah semesta yang di dalamnya terdapat empat dunia paralel yang hidup damai dan tak saling berhubungan. Ada klan Bumi, klan Bulan, klan Matahari, dan klan Bintang. Namun ada sejumlah orang yang punya kemampuan untuk melintasi empat dunia itu, lalu memicu peperangan.

Gambaran tentang empat klan itu sangat imajinatif. Jika novel Harry Potter, semesta dibangun melalui sihir, serial ini menampilkan teknologi yang canggih dengan uraian yang menarik.

Pantas saja jika novel Bumi sudah dicetak hingga 29 kali. Bahkan lanjutannya juga dicetak puluhan kali. Wow. Ini rekor bagi buku fantasi yang dibuat oleh orang Indonesia. Saya juga tidak menyangka ada fantasi sekeren Harty Potter yang malah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Sekarang sudah ada Earth, juga Moon, dan Sun. 


Dia Gayatri (Bre Redana)

Setahun ini, saya membaca dua novel yang ditulis Bre Redana yakni Majaphit Milenia dan Dia Gayatri. Dua-duanya semacam reminder tentang Majapahit, sebagai salah satu imperium paling besar yang menguasai Asia Tenggara.

Dia Gayatri menarik. Kisahnya dimulai dari balai lelang di London. Saat itu, ada dua orang yang sangat kaya dan berebut patung Gayatri. Selanjutnya, kisah bergulir ke masa lalu saat Gayatri hadir di masa awal Kerajaan Majapahit berdiri.  Gayatri digambarkan sebagai sosok yang visioner, yang mengawal Majapahit sejak awal berdiri hingga masuk ke era Hayam Wuruk, dengan patihnya Gadjah Mada.


Saya berharap banyak pada novel ini. Sayangnya, penulisnya kurang berani mengembangkan kisah hingga menjadi teka-teki menarik. Isinya datar-datar saja. Terlalu setia dengan teks sejarah. Padahal jika dikemas lebih baik, kisah ini bisa seheboh Da Vinci Code yang ditulis Dan Brown.

Namun, saya tetap menyukainya. Kekuatan Bre Redana adalah bisa menggambarkan peristiwa sejarah dengan detail sehingga pembaca seolah membaca laporan jurnalistik yang memikat.


The Poppy War (R.F. Kuang)

Ini fiksi yang saya baca di akhir tahun. Saya tidak menyangka kalau fiksi yang terbit tahun 2019 ini semenarik ini. Saya membacanya novel sepanjang lebih 500 halaman ini tanpa jeda. Saya menyelesaikannya hanya dalam waktu tiga hari. 

Kisah dalam novel ini adalah versi fiksi dari sejarah Cina. Ada semacam penggabungan antara kisah sejarah dan fiksi juga mitologis. Dari sisi cerita, saya serasa membaca gabungan antara Harry Potter, Hunger Games, How to Train Your Dragon, dan Game of Thorne. Kisahnya mengenai anak perempuan yatim piatu miskin di satu negeri fantasi di Cina yang kemudian masuk akademi militer paling hebat, lalu menjadi petarung hebat.


Rin, demikian nama perempuan itu, mulanya diremehkan oleh para anak-anak panglima yang belajar bela diri sejak kecil. Bahkan dia ditolak oleh guru bela diri karena dianggap rakyat jelata. Seorang guru yang aneh melihat bakatnya, lalu mengajarinya bela diri dengan cara mengambil dari kitab-kitab di perpustakaan.

Anak itu tak cuma belajar bela diri, tapi juga sampai mendalami shamanisme hingga dirinya bisa mengundang Dewa Phoenix. Dalam satu pertempuran dan posisinya terdesak, datang Dewa Phoenix memasuki dirinya sehingga memiliki kemampuan membakar.

Keren abis!

*** 

Tahun 2020 segera berlalu. Besok, semua kalender 2020 akan disingkirkan. Lembaran baru segera dimulai. Jika di tahun 2020 banyak warga bumi yang pergi karena Covid, saya berharap tahun 2021 akan memancarkan harapan baru.

Semoga kita menjadi bagian dari warga bumi yang survive melalui abad pandemi, semoga kita semua tetap memelihara hasrat membaca, hasrat berbagi, serta terus menyirami bumi dengan kebaikan-kebaikan.

Semoga kita terus menyerap kebaikan dari hikmah-hikmah yang terpancar dalam semua literasi. Bahwa di balik setiap bencana selalu ada harapan baru, selalu ada kehidupan baru, dan selalu ada visi yang lebih arif dalam memandang kehidupan.

Semoga.


BACA:

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2019

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2018

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2017

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2016

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2015