ABRAHAM yang Selalu Kalah




Andaikan Abraham Lincoln (1809-1865) tidak kuat, mungkin dia sudah akan berakhir di rumah sakit jiwa. Kalah berkali-kali dalam kehidupannya benar-benar menjadi pukulan telak. Tapi dia tidak ingin terpuruk. Dia tetap maju, meskipun kalah terus.

Para sejarawan menyebut dirinya adalah sosok paling banyak menderita kekalahan. Dia lahir di tengah keluarga miskin. Masa kecilnya hidup melarat, tapi dia sudah terobsesi untuk jadi politisi. Sayang, dia tidak punya cukup uang. Dia juga tidak terkenal. Dia pun mulai berbisnis. Dia gagal dan terpaksa harus membayar utang selama bertahun-tahun.

Dia bangkit dan mencoba lagi. Tahun 1831, dia berhasil menjadi anggota legislatif. Dirinya semakin yakin kalau takdirnya di dunia politik. Abraham percaya bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukannya di dunia politik.

Semasa di legislatif, dia mengenal seorang perempuan, yang kemudian menjadi tunangannya. Perempuan ini membantu menyusun strategi politik untuknya. Sungguh menyedihkan, tunangan itu meninggal dunia karena penyakit. Abraham mengalami depresi hingga terkapar di tempat tidur selama berbulan-bulan. Dia divonis menderita neurasthenia, penyakit saraf lemah.

Tahun 1838, dia pulih. Kenekatannya kembali datang. Dia mencalonkan diri sebagai Speaker of State Legislature. Gagal. Tahun 1843, dia mencalonkan diri sebagai anggota kongres. Gagal lagi. Tapi dia bukan orang yang mudah patah. Dia selalu menantang dirinya: “Mengapa harus gagal?” 

Tahun 1846, kembali mencalonkan diri sebagai anggota kongres. Kali ini dia berhasil. Dua tahun bekerja, dia ingin terpilih lagi. Dia pikir dirinya cukup menonjol sebagai anggota kongres. Ternyata dia gagal. Ia kehilangan sejumlah besar uang untuk pemilihan tersebut, Lincoln melamar pekerjaan sebagai land officer, tapi ditolak.

Pemerintah negara bagian mengembalikan surat lamarannya dengan penjelasan bahwa "Untuk menjadi pejabat negara dituntut kandidat yang punya bakat dan kecerdasan yang luar biasa, dan permohonan Anda gagal memenuhi tuntutan ini."

Pada tahun 1854, dia mencalonkan diri sebagai anggota Senat, kembali gagal. Dua tahun kemudian, ia mencalonkan diri untuk menjadi Wakil Presiden Amerika Serikat. Namun, kalah. Dua tahun kemudian, ia mencalonkan diri kembali sebagai anggota Senat, dan gagal lagi.

Abraham telah mencoba 11 kali, tapi hanya berhasil 2 kali, namun, ia tak pernah menyerah untuk mewujudkan keinginannya, ia selalu menjadi sosok orang yang menjalani hidupnya sesuai keinginannya sendiri, dan tidak diombang-ambingkan oleh nasib.

Dan ternyata benar, ia memang ditakdirkan untuk menjadi orang hebat. Pada tahun 1860, akhirnya dia terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-16. Mulailah dia membuat sejarah. Dia dikenal sebagai presiden yang menghapus perbudakan, mengatasi civil war, serta meletakkan landasan kuat bagi demokrasi di Amerika Serikat. 

Dia menjadi presiden paling besar dan paling dikenang di negara itu.

Jika saja mentalnya rapuh, mungkin dia sudah lama terpuruk karena kegagalan bertubi-tubi. Salah satu kutipannya yang terkenal adalah: “The best way to predict the future is to create it.” Cara terbaik untuk menebak masa depan adalah dengan mewujudkannya. 

Untuk mencapai puncak, Anda harus punya konsistensi dan keberanian untuk terus mencoba. Anda tak pernah tahu sudah sampai di titik mana. Tapi ketika Anda berhenti, maka Anda bisa kehilangan peluang. 

JIka berhenti di tengah, maka Anda bisa kehilangan kesempatan emas sebagaimana pernah dialami seorang penggali berlian. Saat sudah jauh menggali, tiba-tiba ada rasa putus asa dan merasa gagal. Dia berhenti. Saat itulah datang orang lain, yang baru sekali mengayunkan linggis, langsung menemukan berlian. Penggali itu mundur pada saat dirinya sedikit lagi berhasil.

Jadilah seperti Abraham yang tak berhenti mencoba. Bahkan tetes air pun bisa melubangi batu sebab konsisten dan tak berhenti. Saat Lincoln mencapai tujuan, dia berujar, “Ternyata saya baru sadar kalau saya ditakdirkan menjadi presiden.” 

Belajar dari Abraham, orang hebat bukanlah orang yang bisa menggapai puncak karier tertinggi dalam kehidupannya. Bukan orang yang dengan mudah berada di puncak. Orang hebat adalah orang yang berkali-kali jatuh, tetapi berkali-kali pula selalu berhasil bangkit kembali.

Kehebatan tidak terletak pada jalan lurus mencapai puncak. Tapi pada kekuatan untuk selalu bangkit dan memaknai kekalahan sebagai duri-duri dan tantangan yang akan membuat seseorang berdiri, meskipun tertatih, lalu kembali mengejar impiannya.


Cerita tentang PEIN AKATSUKI (2)


salah satu co-working space di Jakarta

Saya mengenal seorang anak muda di satu kelompok relawan capres. Namanya Giovanni. Biasa dipanggil Gio. Usianya belum 20 tahun. Dia seorang graphic designer. Hidupnya mengingatkan saya pada kampret dalam artian sebenarnya. Dia tidur di siang hari, malam hari sibuk di depan laptop.

Hari-harinya bergerak antara mendesain sesuatu dan juga bermain game. Dia seorang pencandu game yang sudah mencapai level maniak. Dia juga sering wara-wiri di Instagram. Dalam hati, sempat terbersit tanya, apa anak muda ini tidak memikirkan masa depannya?

Suatu hari, dia menyerahkan kartu namanya kepada saya. Rupanya dia menjadi graphic designer panggilan. Dia menerima order dari mana pun. Dia mengerjakan semua hal mengenai desain. Dia juga mendesain semua bahan presentasi power point. Di tangannya, semua bahan presentasi jadi indah dipandang.

Dia tak ingin jadi pekerja terikat, maksudnya, dia tak ingin setiap hari datang ke satu kantor. Tapi, pemakai jasanya mesti mengontrak dirinya selama sebulan atau lebih. Berapa honornya sebulan? Dia menyebut angka 4 juta rupiah. Dengan membayar sebesar itu, dia siap menerima order selama sebulan.

BACA: Cerita tentang PEIN AKATSUKI (1)

Tapi, untuk standar Jakarta, angka 4 juta itu kan kecil? Saya bertanya. Dia tersenyum mendengarnya. Dia bilang, saat ini dia punya 10 klien. Jika satu klien tarifnya adalah 4 juta, maka untuk 10 klien, dia bisa mendapat income 40 juta rupiah, jumlah yang cukup besar untuk seorang anak muda yang setiap hari kerjanya cuma nongkrong.

Tapi mengerjakan jasa desain untuk 10 klien kan pasti repot? Dia bilang, dia punya dua orang asisten. Masing-masing standby di Bandung. Kalau dia membayar asisten lima juta rupiah, dia masih punya 30 juta rupiah kan? Tetap saja besar untuk ukuran kelas menengah kota.

Belakangan ini, saya bertemu banyak anak muda mandiri seperti Gio. Mereka adalah para pelaku freelancer economy yang mendapat manfaat dari disrupsi teknologi. Mereka menjalani profesi yang sesuai hobinya. 

Mereka generasi yang tidak tertarik untuk kerja di perusahaan-perusahaan besar. Mereka jauh lebih suka membuat perusahaan kecil, yang kantornya berpindah-pindah dari kafe ke kafe, tidak terikat jam kerja, serta selalu tertantang untuk membuat sesuatu yang baru. Banyak pekerjaan yang justru dikerjakan di kamar kos-kosan.

Mereka tidak pernah setia pada satu bos, melainkan suka berpindah-pindah, sebelum akhirnya menjadi bos. Bagi mereka, bekerja itu adalah bermain. Ketika seorang bos datang dan menerapkan banyak aturan, maka mereka akan memilih keluar baik-baik dan mencari ruang bermain yang baru.

Salah satu ciri generasi ini adalah adanya rasa percaya diri yang tinggi. Saat meeting dengan mereka, dengan santainya mereka bisa memotong pembicaraan dan menyampaikan idenya. Mereka selalu ingin mewarnai sesuatu, selalu membawa gagasan nyeleneh, dan juga penuh semangat.

Jika saya menekuni profesi seperti Gio, saya bayangkan betapa sulitnya saya menjelaskan profesi ini pada ibu saya di kampung. Ibu saya hanya mengenal beberapa profesi yakni pegawai negeri, paramedis, tentara atau polisi, dan pedagang. Bagaimana menjelaskan profesi seseorang yang setiap hari hanya menghasilkan gambar-gambar karikatur?

Gio sudah mengenal dunia enterpreneur di usia yang masih sangat belia. Namanya boleh tidak populer. Dia tidak dikenal. Tapi dia adalah otak di balik desain sejumlah tokoh-tokoh besar yang berkampanye di ruang publik dan media sosial. Perlahan, dia mulai direkomendasikan banyak orang.

Saya teringat pada Pein Akatsuki, sosok yang pernah saya bahas di postingan sebelumnya. Berkat dirinya, banyak orang, termasuk saya, yang terbantu oleh jasa subtitle gratis di banyak situs penyedia film gratis. Pein Akatsuki sengaja bersembunyi di balik nama samaran itu, tapi dirinya eksis dan bekerja secara lepas dari balik dinding sebuah kantor di Tebet.

Pein Akatsuki dan kawan-kawannya terinspirasi pada Google, yang menggratiskan semua layanan, tapi secara perlahan mereka bisa menangguk banyak untung di situ. Anda jadi penggemar setianya, dan tanpa sadar telah menguatkan branding-nya. Pantas saja, belakangan, selalu ada iklan terselip di terjemahan yang mereka buat. 

Bisa jadi, kita pernah bertemu dirinya di satu coworking space yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Coworking space menjadi ruang kerja bersama di mana banyak orang bisa bertemu, lalu berkolaborasi untuk membicarakan beberapa pekerjaan kreatif. Orang kota tak lagi butuh kantor. Mereka hanya butuh ruang yang nyaman untuk bermain, juga sesekali bekerja.

Saya teringat foto demonstrasi seorang anak ITB yang memegang spanduk bertuliskan “Direbut asing. Direbut robot. Mau kerja di mana coba?” Jika saja poster itu diperlihatkan pada Gio dan Pein Akatsuki, pasti mereka akan tersenyum-senyum.

Jaman sudah berubah Nak.


Kisah Betawi Miliuner




Biasanya, saya sangat selektif ketika ada ajakan untuk menulis buku. Tapi mendengar cerita tentang lelaki bernama Afrial Tabrani ini, saya langsung tertarik dan menyanggupi. Kisah hidupnya menarik, seperti roller coaster, seperti kisah “from zero to hero.”

Dulu, pria Betawi yang cuma lulusan SMA ini seorang kondektur bus trayek 213, jurusan Grogol-Kampung Melayu. Saya pernah lihat beberapa fotonya semasa kondektur. Kini, dia menjadi seseorang yang berpenghasilan 300 juta rupiah sebulan. Bahkan sering kali melampaui angka itu. Dalam setahun, dia bisa meraup income sampai miliaran. 

Mulanya saya tak percaya. Saya malah menduga mobil Mercedes dua pintu yang dipakainya adalah pinjaman. Apalagi dia sendiri mengaku tampangnya seperti sopir. 

Pernah, ketika memarkir mobil mercy-nya di satu warung bakso, pemiik warung bertanya, "Bang, majikanmu kerja apa sih?"

Andai tidak mengenalnya, saya pun akan mengira dirinya seorang sopir. Setelah berkunjung ke rumahnya di Alam Sutera dan melihat beberapa asetnya, saya tahu dia berkata benar. Malah, dia menunjukkan slip gajinya.

Tahu apa pekerjaannya? Dia mengelola bisnis berjejaring. Dia menjadi agen satu produk yang menggabungkan asuransi dan tabungan cerdas. Produknya adalah asuransi CAR yang dimiliki grup BCA, tapi dikembangkan dengan berjejaring ala Multi Level Marketing (MLM) yang dinamakan 3iNetwork.

Banyak orang yang alergi dengan skema MLM. Ada pula yang tidak begitu suka ketika diberitahu tentang “uang bekerja untuk kita.” Sering pula kita menjauh saat diberitahu potensi pendapatan agen asuransi dan MLM. Kita pikir semuanya adalah fatamorgana dan ada unsur tipu-tipu.

Semasa kuliah, saya teringat seorang kawan yang aktif di MLM sering melakukan “prospek.” Banyak orang menjauh. Saya justru senang diprospek. Karena pihak yang prospek akan berusaha menghibur dan meyakinkan saya. Di masa itu, saya hanya anggap sebagai lucu-lucuan. 

Tapi Afrial justru menemukan tantangan. Mulanya dia meyakinkan seorang satpam, setelah itu mulai mencari kaki-kaki yang lain. Dengan gaya kocak dan penuh humor, dia rajin menyapa dan meyakinkan banyak orang. 

Jalan yang ditempuhnya memang terjal. Apalagi image orang-orang tentang MLM lebih banyak negatif. “Kalau tiba-tiba ada yang senyum, atau tiba-tiba disapa teman lama, selalu muncul curiga, jangan-jangan MLM.” 

Afrial tidak patah arang. Dia tahu bahwa lebih mudah sinis, ketimbang mengapresiasi. Dia jalan terus. Pelan-pelan dia mulai punya pengikut. Hanya dalam waktu dua tahun, dia sudah mencapai posisi crown, dengan potensi pendapatan 300 juta sebulan. 

Saya lihat kekuatan Afrial bukan pada mimpi-mimpi dan harapan. Tapi dia justru menyediakan dirinya untuk mendampingi, membantu orang lain, dan selalu bersedia untuk datang, kapan pun dibutuhkan. 

Dia mengingatkan saya pada Marketing 3.0, di mana pemasar tidak lagi sekadar menawarkan produk, tetapi lebih menekankan pada sentuhan emosional sehingga pemasar dan calon konsumen menjadi sahabat dekat yang saling membantu.

Saya mengenal beberapa senior yang bekerja sebagai dirjen atau direktur perusahaan besar di Jakarta. Mereka menjadi manusia super sibuk yang waktunya selalu padat. Bahkan untuk sekadar ngopi dengan mereka, itu bisa jadi anugerah besar. Mereka berkorban waktu untuk hal-hal sederhana sehingga sering kali keluarga dikorbankan.

Tapi Afrial Tabrani justru berbeda. Setelah “uang bekerja untuknya”, dia lebih banyak bersantai. Dia suka berwisata ke luar negeri. Dia berkunjung ke banyak destinasi wisata dunia, dari Eropa hingga Asia. Dia melakukan itu bersama istri dan anak-anaknya.

Saat di Paris dan memasuki butik-butik mahal, dia suka mengenang dirinya dahulu yang mesti berjuang keras sebagai kondektur bus demi sesuap nasi. Saat berada di Roma, Italia, dia sengaja memakai baju merah khas Betawi dan berpose di situ. Dia hendak berkata: ”Nih, gue anak Betawi yang dulunya kondektur, sekarang bisa keliling dunia.”

Saya selalu menikmati saat-saat berjumpa dengannya. Di media sosialnya, dia juga kerap berbagi hal-hal yang ringan, tapi sarat makna. Postingannya sering bikin iri. Saat orang lain bekerja dan menembus kemacetan, eh dia malah leyeh-leyeh di hotel.

Dia juga pernah bilang: “Kata orang, jadi kaya itu ujian. Jadi miskin juga ujian. Mending gue milih kaya dong.”

Kini, draft buku berjudul “Betawi Miliuner” sudah saya rampungkan. Saya belum tahu apakah buku ini akan dipasarkan di toko buku atau tidak. Kontrak saya sebatas membuat draft. 

Yang saya nikmati dari proses menulis buku semi biografi adalah kesempatan untuk belajar dan menelusuri sesuatu sampai detail. Pada Afrial, saya tidak belajar cara menjadi kaya. Saya belajar bagaimana melihat hidup sebagai arena untuk bekerja sekeras-kerasnya, lalu menikmatinya sepuas-puasnya.


Cahaya Hati Seorang Ibu




Anak kecil itu bernama Tommy. Di Amerika Serikat tahun 1850, dia dikenal sebagai anak yang bodoh dan tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Dia selalu gelisah. Pikirannya selalu melompat-lompat dan cepat berpindah dari satu topik ke topik lain.

Pihak sekolah mulai kewalahan menangani Tommy. Kepala sekolah mengundang guru-guru untuk diskusi. Rapor Tommy dibahas. Nilainya selalu buruk dan mengecewakan. Pihak sekolah berniat mengeluarkan anak itu karena dianggap tidak bisa mengikuti pelajaran.

Tapi pihak sekolah tidak ingin mengatakan hal sebenarnya. Tommy dipanggil, kemudian diberi sepucuk surat yang harus diberikan kepada ibunya. Tommy pulang dengan gembira dan bergegas menemui ibunya.

Sang ibu menerima surat itu lalu membacanya. Dia berurai air mata. “Apa isinya Bu?” tanya Tommy dengan penuh rasa penasaran. Ibunya menyeka air mata, kemudian membaca surat itu dengan suara keras.

“Putra Anda seorang jenius. Sekolah ini terlalu kecil untuk menampungnya dan tidak memiliki guru yang cakap untuk mendidiknya. Agar anda mendidiknya sendiri.”.

Ibu meminta Tommy untuk tidak perlu ke sekolah. “Kamu anak yang spesial Nak,” katanya berulang-ulang. Ibu menjadi guru yang mengajari Tommy setiap hari. Ibu merancang jam belajar seperti jam bermain. Mereka membahas banyak buku, jalan-jalan, serta sesekali berpetualang.

Tanpa kurikulum seperti halnya sekolah-sekolah, Ibu mulai mengenalkan Tommy dengan bacaan sains untuk orang dewasa. Tommy pun tumbuh dengan kecerdasan yang melampaui anak seusianya. Ibu menjadi sahabat sekaligus guru yang menjawab semua ketidaktahuan Tommy.

Saat keingintahuan mulai tumbuh, mulailah Tommy bereksperimen. Di usia 12 tahun, dia sudah punya laboratorium kimia kecil di ruang bawah tanah rumahnya. Tommy mulai membuat telegraf yang sudah bisa berfungsi. Dia pun mulai mandiri.

Saat usia 32 tahun, dia bukan lagi Tommy yang bodoh. Namanya harum sebagai penemu hebat yang dikenal seluruh warga Amerika Serikat. Beberapa tahun setelahnya, dia tercatat sebagai penemu paling produktif yang memegang rekor 1.093 paten atas namanya. Sayang, saat itu ibunya telah lama meninggal.

Beberapa penelitiannya antara lain: mendeteksi pesawat terbang, menghancurkan periskop dengan senjata mesin, mendeteksi kapal selam, menghentikan torpedo dengan jaring, menaikkan kekuatan torpedo, kapal kamuflase, dan masih banyak lagi. 

Salah satu karyanya yang monumental adalah penemuan lampu pijar yang mengubah sejarah dan peradaban. Berkat penemuannya itu, dunia menjadi terang benderang. Dia pun kini lebih dikenal sebagai THOMAS ALVA EDISON, seorang penemu hebat dalam sejarah.

Di puncak popularitasnya, Tommy rindu dengan ibunya yang hebat itu. Dalam posisi sebagai pemilik perusahaan General Electric, salah satu perusahaan teknologi paling sukses dalam sejarah, Tommy pulang ke rumah ibunya. 

Saat membuka laci, dia terkejut melihat surat yang pernah dibawanya ke rumah. Dia tersentak saat membaca surat itu:

“PUTRA ANDA ANAK YANG BODOH. KAMI TIDAK MENGIZINKAN PUTRA ANDA BERSEKOLAH LAGI.”

Tommy terdiam sesaat, kemudian menangis tersedu-sedu. Dia membayangkan ibunya yang luar biasa dan serupa mata air tak pernah berhenti menyirami dirinya dengan kasih sayang. 

Jika saja ibunya mengikuti apa kata pihak sekolah, dia tak akan mungkin mencapai posisi seperti sekarang. Mungkin dia akan menjadi seorang preman jalanan yang dicap bodoh oleh dunia sekitarnya.

Tapi ibunya adalah seorang ibu yang luar biasa, yang bisa melihat ada pijar cahaya dalam dirinya. Ibunya menjadi matahari yang menuntun langkahnya untuk menemukan potensi diri. Ibunya menjadi tanah gembur yang menumbuhkan semua potensi itu.

Keyakinan dan kepercayaan ibunya menjadi kekuatan bagi Tommy. Dunia boleh tidak menerimanya, tapi cahaya seorang ibu akan menjadi pelita terang yang memberinya kemampuan untuk terus menggapai mimpinya. Ibunya telah mengubah dirinya menjadi sosok luar biasa dan pengubah sejarah.

Seusai menangis, Tommy lalu membuat catatan: “Saya Thomas Alva Edison adalah seorang anak yang bodoh, yang karena seorang ibu luar biasa, mampu menjadi seseorang yang bermakna.”


Argentina di Final Champion


Mauricio Pochettino

Akhirnya, ada juga orang Argentina yang tampil di final liga Champion. Bukan Lionel Messi, salah satu pesepakbola terbaik di abad 21. Bukan pula Sergio Aguero, menantu Diego Maradona yang jadi bintang di Manchester City. Bukan pula Higuain yang bermain di Chelsea.

Dia adalah Mauricio Pochettino, pelatih Tottenham Hotspurs. Dia memang bukan pemain. Tapi percayalah, namanya lebih menggema dari siapapun di tim itu. Bahkan namanya akan lebih dikenal dibanding Lucas Moura, pencetak tiga gol di gawang Ajax.

Berkat Pochettino, permainan Spurs menggila. Ketika timnya tertinggal agregat 3-0, dia tak mau mengendurkan serangan. Spurs tak mau menyerah pada takdir. Saat Ajax mulai main aman karena merasa di atas angin, Spurs tetap pantang menyerah dan terus-menerus menggempur.

Paruh terakhir babak kedua, serangan Spurs laksana air bah mengalir. Pochettino tak henti berteriak di pinggir lapangan. Dia tahu, suara paraunya akan ditenggelamkan oleh siulan dan teriakan para penonton di stadion milik Ajax itu.

BACA: Ballon d'Or Bukan untuk Cristiano Ronaldo

Tapi dia merasa perlu melakukannya demi membakar semangat tim, agar tim menjelma menjadi singa lapar yang mengaum dan mengoyak lawan. Racikan strategi serta motivasi itu berhasil. Lucas Moura mencetak dua gol secara beruntun. Terakhir, dia menceploskan gol ketiga saat pertandingan semenit lagi akan berakhir. Maka sorak-sorai membahana. 

Di akhir pertandingan, Lucas Moura datang memeluk pelatihnya. Momen ini menjadi dramatis. Lucas, pemain yang dibuang dari klub PSG karena kedatangan Neymar, malah menjadi pemain paling bersinar. 

Bola memang menunjukkan rigoritas kuasanya. Bukan awal yang menentukan semuanya, tapi akhir. Tim yang tampil di final bukanlah tim yang penuh bintang dan berbiaya mahal. Melainkan tim yang paling solid, paling bekerjasama, dan paling kompak.

Bola membalikkan banyak prediksi. Kemarin, Barcelona diperkirakan akan melumat Liverpool. Sampai-sampai, Luiz Suarez sesumbar tidak akan melakukan selebrasi gol di Anfield. Ternyata, terjadi comeback yang mengejutkan. Hari ini, Spurs menampilkan hal yang sama. 

Sebagaimana Liverpool, kekuatan Spurs terletak pada permainan kolektif yang rapi dan kerjasama apik. Spurs tak mengandalkan nama-nama besar. Bahkan striker-nya yang paling hebat yakni Harry Kane hanya bisa menyaksikan dari tribun penonton. Spurs mengandalkan kerja sama dan tidak bergantung pada satu atau dua pemain.

Kekuatan Spurs adalah motivasi hebat dan semangat pantang menyerah. Sebelum peluit akhir berbunyi, Spurs tetap menjadi petarung yang haus kemenangan. Mereka menjadi singa lapar yang terus mengaum dan menerjang.

Di tepian lapangan itu, Pocchettino menjadi magnet. Semua orang tahu bahwa sebelum kedatangannya, Spurs hanyalah tim semenjana. Berkat tangan dinginnya, Spurs menjadi kekuatan baru, serta bersiap akan menorehkan sejarah sebagai kontestan di partai final Liga Champion Eropa.

Lelaki yang lahir dari keluarga buruh tani di Santa Fe, Argentina itu, paham benar apa makna kerja keras. Di masa kecil, dia hidup miskin sehingga menempa dirinya menjadi seorang pekerja. Dia percaya pada kekuatan mimpi yang kelak bisa membawanya merengkuh semua impian.

Kariernya sebagai pemain tidak terlalu mentereng, meskipun pernah menjadi pemain tim nasional Argentina. Dia lalu banting stir menjadi pelatih dan menangani tim-tim kecil. Hingga akhirnya dia direkrut oleh Spurs.
Spurs cukup jeli melihat kekuatan Pochettino sejak lama. Pochettino laksana Arsene Wenger, mantan pelatih Arsenal, yang selalu mengutamakan pemain muda. Pochettino ibarat seorang koki yang bisa mengolah masakan menjadi lezat dengan bahan-bahan dari sekitar rumah.

Dia tidak seagresif Pep Guardiola yang di setiap musim transfer akan sibuk mencari pemain terbaik, dengan biaya semahal apapun. Malah, Spurs dikenal sebagai tim paling kalem yang tidak pernah belanja pemain saat musim transfer. Spurs memilih untuk membesarkan pemain yang ada. 

Dalam tiga musim terakhir, Tottenham Hotspurs bersama barisan “the young guns” mampu duduk di posisi tiga besar dan selalu lolos ke Liga Champions. Malah, pemain Spurs menjadi pemain terbanyak di timnas Inggris. Di titik ini, Pocchettino harusnya dapat penghargaan dari asosiasi sepakbola Inggris.
Duel di final Champion akan menampilkan dua tim yang sama-sama tidak diunggulkan. Tidak ada yang menyangka mereka bisa membalikkan prediksi dan kini tampil di final. Meskipun sama-sama dari Inggris, karakter pemainan mereka sangat berbeda.

Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, pernah mengibaratkan permainan timnya seperti musik heavy metal. Permainannya cadas dan keras serta penuh perjuangan, sebagaimana pekerja dan buruh pabrik di Liverpool. 

Sementara tim yang diasuh Pochettino laksana angsa yang menari di tengah irama permainan orkestra yang anggun. Iramanya kadang tenang, tapi sesekali bisa tampil dengan nada-nada menyayat. 

Para penonton akan sama-sama menyanyikan lagu “Football’s coming home,” sebuah lagu yang menggambarkan kerinduan Inggris untuk kejayaan di era sepakbola modern:

Three lions on a shirt,
Jules Rimet still gleaming
Thirty years of hurt,
Never stopped me dreaming

Puasa di Era "Filter Bubble"




Masih bisakah kita semua menjalankan puasa di tengah suhu politik yang belum ada tanda-tanda mendingin? Masih bisakah kita menjaga kemurnian ibadah kita dan menjaga setiap jemari kita untuk tidak menyebar kebohongan yang serupa virus dan hanya akan merusak puasa kita?

Masih bisakah kita sibuk meneriakkan sesuatu yang kita anggap sebagai kebenaran, padahal pihak lain menyebutnya hoaks?

Kita sedang berada di era post-truth, pasca kebenaran. Kita menganggap sesuatu sebagai benar hanya ketika bersesuaian dengan apa yang terlanjur kita anggap benar. Terlanjur kita mengisi kepala kita dengan informasi dari berbagai situs yang laksana cendawan bertebaran di internet.

Sejak kita mengenal media sosial, kita sudah menyerahkan leher kita pada algoritma media yang maha kuasa. Kita secara suka rela masuk dalam satu dunia yang bersesuaian pandangan dengan kita. Ketika menemui informasi yang kita setujui, kita meng-klik tanda “like.” 

Seiring waktu, media sosial mengenali apa saja informasi yang kita sukai. Media sosial lalu menghubungkan kita hanya dengan orang yang berpandangan sama dengan kita. Media sosial menjauhkan kita dari gagasan yang tidak bersesuaian dengan pendapat kita.

Para ahli menyebutnya “filter bubble.” Kita hidup dalam satu dunia yang sudah disaring. Jangan kira media sosial ini netral. Kita pelan-pelan menyaring siapa pun yang jadi teman kita di sini. 

Semua orang punya kriteria siapa yang diajak berkawan di sini. Saya pun secara berkala akan menghapus orang-orang yang suka melempar makian dan hinaan kepada orang lain di media sosial. 

Media sosial menampilkan sisi lain diri seseorang. Ada banyak orang yang menjadikan media sosial sebagai arena untuk mempropagandakan satu kebenaran. Berkat “filter bubble” tadi, seseorang akan menemukan banyak hal yang dia setujui pandanganya. 

Saat nuraninya disentuh bahwa ada kejahatan yang sedang terjadi, maka dirinya pun ingin berontak. Dalam nurani yang gelisah karena sekeping informasi yang entah dari mana sumbernya, seseorang itu dengan mudah akan menyebar informasi itu ke mana-mana. 

Dia tak lagi memverifikasi informasi. Dia hanya percaya pada apa yang dia yakini benar. Semua informasi itu langsung disebar ke berbagai kanal media sosial, mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, dan WhatsApp. 

Benar dan salah adalah soal belakangan. Kalau pun ada salah, maka dia bisa memilih diam atau minta maaf. Persoalan dianggap selesai.

Di media sosial, banyak orang bisa menjadi bengis dan suka main keroyokan. Saat fitnah itu tertuju pada diri seseorang yang dekat dengan kita, barulah kita sadar betapa kejamnya penghakiman pada seseorang yang belum tentu benar.

Namun, bisakah kita menjaga jemari, pikiran, dan lisan kita saat sedang menjalankan puasa? Bisakah kita hanya menahan napas dan menjaga aliran darah agar amarah tidak meledak saat membaca sekeping informasi yang isinya tentang kejahatan dan kebejatan seseorang yang belum tentu benar?

Kata seorang kawan, kita perlu meletakkan semacam alarm yang mengingatkan bahwa kita sedang puasa. Kita perlu semacam “filter bubble” lain agar kita lebih kritis untuk menolak semua informasi yang isinya desas-desus. Puasa harusnya melatih mental kita untuk lebih tangguh dan tidak ikut-ikut menebar bohong. 

Lantas, di era post-truth ini, apakah tidak ada lagi yang namanya kebenaran untuk kita bagikan ke orang lain? Tentu saja, kebenaran akan selalu ada. Akan tetapi dia butuh dikenali secara utuh.

Seorang kawan yang saya anggap bijaksana punya kiat sendiri untuk mengenali kebenaran. Saat informasi dibacanya, dia akan selalu menahan diri untuk tidak mebagikannya. Ditimbang-timbangnya seberapa benar informasi itu. Dia menjaga diri untuk tidak sembarang membagikannya.

Dia akan melihat apakah informasi itu mencerahkan, membahagiakan, serta membuat mata lebih jernih dalam memandang kenyataan. Jika informasi itu berguna, dalam artian memberi makna dan serupa air jernih yang membasahi kalbunya, barulah dia membagikannya.

Jika informasi itu berisi ajakan kebaikan dan seruan untuk refleksi dan melihat sisi lain dari diri yang mungkin berlumur dosa, atau berisikan kisah-kisah dan pelajaran serta hikmah-hikmah, barulah dia akan meletakkan tanda “Like” di situ, kemudian secara suka rela membagikannya.

Dengan cara itu, dia ingin agar nurani seisi dunia ikut basah dan menghadirkan satu tekad kuat untuk menjadi lebih baik. 

Dengan cara itu, dia menjaga puasanya.


Bahaya Positive Thinking




Dalam banyak aktivitas, kita selalu mendapat nasihat untuk selalu berpikir positif. Kita diajarkan untuk positive thinking ketika sedang melakukan satu pekerjaan besar. Bagi yang pernah membaca buku The Secret, pasti paham kuatnya mantra tentang berpikir positif.

Dalam buku Filosofi Teras, saya temukan pendapat para psikolog yang justru mengkritik positive thinking. Malah, positive thinking mulai dilihat sebagai masalah.

Dalam beberapa eksperimen, seseorang yang menerapkan positive thinking seringkali mendapatkan hasil yang lebih buruk dibandingkan mereka yang tidak menerapkannya. 

Positive thinking dianggap menipu pikiran kita, beranggapan seolah-olah kita sudah mencapai yang diinginkan, sehingga melemahkan ketekunan dan keuletan kita untuk berusaha. Kita kehilangan daya juang karena dicekoki mantra positive thinking sehingga kita merasa cepat puas.

Beberapa psikolog merekomendasikan “mental contrasting” yaitu menggabungkan positive thinking (membayangkan hasil positif) dengan memikirkan hambatan apa saja yang bisa ditemui. 

Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang melakukan “mental contrasting” memiliki capaian yang lebih hebat ketimbang mereka yang memikirkan hal positif, atau mereka yang hanya membayangkan hal negatif saja.

Di buku ini, saya temukan artikel menarik di Newsweek berjudul The Tyranny of Positive Thinking Can Threaten Your Health and Happiness. Positive thinking bisa menyebabkan perasaan gagal, juga perasaan depresi. Anda merasa sedih ketika gagal, tiba-tiba Anda didera lagi rasa bersalah karena tidak bisa berpikir positif. 

Misalnya, Anda tidak lulus ujian, sehingga merasa terpuruk. Tiba-tiba Anda merasa bersalah lagi karena tidak bisa bahagia. Kata psikolog, ini sama dengan dua kali dihantam palu godam yang bisa membuat Anda depresi.

Seorang psikolog mengatakan, beberapa orang justru memberi respon lebih baik pada hal negatif, sikap yang disebutnya “pesimisme defensif.” Maksudnya, dengan memikirkan sesuatu akan berjalan tidak sesuai rencana, maka seseorang bisa mengurangi kekhawatiran dan sering kali sanggup mengantisipasi semua tantangan.

Saya tak selalu sepakat dengan para psikolog ini. Seringkali perasaan cemas atas sesuatu yang belum terjadi bisa menjadi masalah baru. Kita sering kali berhalusinasi tentang sesuatu yang buruk, padahal hal itu sendiri belum terjadi. Kita depresi untuk sesuatu yang masih mengawang-awang.

Saya teringat seorang kawan yang positive thinking-nya sudah sampai level akut. Ketika ada cewek yang tersenyum, dia langsung meyakini cewek itu naksir padanya. Dia akan kembangkan semua analisis betapa dia digilai oleh cewek. Tapi ketika penolakan datang, dia seperti dihantam palu godam. Dia terpuruk.

Saya datang menghiburnya, dengan satu kalimat sakti: “Beruntung kamu tidak jadian dengannya. Cewek itu bodoh. Dia hanya mau sama pangeran bodoh di istana pasir. Dia tidak siap menjadi kekasih pendekar. Dia tidak siap mengikuti jalan pedang.” 

Niat saya sekadar menghibur. Ternyata dia bisa bangkit berkat kalimat itu. Dia mengiyakan kata-kata saya. Selanjutnya, dia kembali jadi figur yang percaya diri.

Buku Filosofi teras ini tidak menawarkan satu solusi final. Buku ini menggali kearifan Yunani dan Romawi kuno untuk diterapkan di masa kini. Yang ditawarkan adalah upaya untuk mengendalikan semua hal negatif dengan cara mengubah cara pandang kita, yakni melihat hal negatif itu sebagai sesuatu yang normal dan kita berdamai dengannya.

Artinya, kita mengakui bahwa sesuatu itu negatif, tapi kita tidak lantas tenggelam di situ. Kita punya kemampuan untuk mengubah hal negatif itu menjadi kekuatan positif sehingga ke depannya kita akan lebih tangguh dan kuat. 

Pandangan ini mirip dengan ajaran Buddha yang mengatakan: “Diri adalah apa yang kita pikirkan.” Jika kita menganggap diri kita positif dan bernilai, maka semesta pun akan berkonspirasi untuk membantu kita menggapai pandangan itu.

Terkait positive thinking, saya teringat satu lirik dalam lagu soundtrack Asian Games di Jakarta lalu, yang kalau tak salah dinyanyikan Via Vallen. Dia bilang: “Give your best, and let God do the rest.” Berikan yang terbaik, selanjutnya biarkan Tuhan menilai.

Kerjakan yang terbaik, setelah itu jangan pasrah begitu saja. Jika gagal evaluasi, dan terus tingkatkan. Sebab hasil tak pernah mengkhianati proses. 

Kalau pun hasil berkhianat, berarti dia tak siap mengikuti jalan pedang. Dia tak siap mengikuti jalan pendekar. Iya kan?


Tujuh Teori tentang Merapatnya AHY ke Jokowi


Saat AHY menemui Presiden Jokowi

Dengan menggunakan mobil berpelat B 2024 AHY, putra Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menemui Presiden Jokowi di Istana Negara, Kamis (3/5/2019). Di hadapan panglima tertinggi, dia memberikan penghormatan, kemudian tersenyum lebar. Keduanya duduk dan berbincang.

Jika pertemuan ini dilakukan setahun silam, tentunya tak ada yang istimewa. Tapi pertemuan itu justru dilakukan pada masa-masa penghitungan suara hasil Pemilu yang hasilnya sudah diprediksi lembaga survei, masa di mana koalisi di mana partainya AHY bergabung masih mengklaim menang berdasarkan penghitungan internal.

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) datang sebagai tokoh partai yang bertemu presiden. Pertemuan itu langsung menimbulkan beragam spekulasi. Apakah mungkin Partai Demokrat akan pindah haluan ketika hasil real count memenangkan Jokowi?

Politik kita memang sarat dengan simbol-simbol. Para elite politik kita terbiasa memainkan gestur yang kemudian bisa ditafsir dari berbagai sisi. Politik kita juga penuh dengan metafor yang bisa diurai untuk memahami makna-makna.

Apa makna dan pesan politik yang bisa disibak dari pertemuan itu? Marilah kita memahaminya dalam beberapa argumentasi.

Pertama, gestur atau bahasa tubuh. Konten pembicaraan AHY dan Jokowi bisa jadi datar-datar saja. Mereka hanya bicara hal-hal normatif tentang kebangsaan. Tapi perhatikan gestur yang ditampilkan saat berbicara. 

Posisi AHY sedikit membungkuk saat bertemu Jokowi bisa dilihat sebagai penghormatan, juga ketundukan. Posisi Jokowi yang tangannya mengembang dan terbuka bisa pula dilihat sebagai penerimaan.

Posisi tangan AHY ditangkupkan, dan diletakkan di tengah paha. Badan sedikit membungkuk. Ini gestur ketika seorang kawula bertemu pimpinan. Sedangkan Jokowi dalam posisi santai, tangannya terbuka, serta gerak tubuh yang bebas. Jokowi hendak memberi pesan kalau saya yang dalam posisi pengendali irama politik.

Kedua, simbol. Saat datang menemui Jokowi, AHY memakai mobil dengan pelat 2024 AHY. Pelat itu seakan-akan pesan kalau tahun 2024 atau lima tahun mendatang adalah tahunnya AHY. Dengan membawa mobil itu ke istana, AHY dan jajaran Partai Demokrat membawa pesan simbolik tentang target-target mereka.

Simbol ini tidak hanya ditujukan kepada Jokowi, tetapi juga untuk semua politisi, termasuk di koalisinya. Pihak Demokrat tahu, jangankan menang, kalah sekalipun Prabowo akan maju tahun 2024. Mereka menampilkan simbol kalau kebersamaan di koalisi itu hanya sampai di sini saja.

Ketiga, pesan. Media mencatat beberapa pernyataan AHY seusai pertemuan itu. Dia mengatakan: "Yang jelas semangatnya kita ingin melihat Indonesia ke depan semakin baik dan kita juga harus terus bisa menyumbangkan pikiran dan gagasan. “

Dia juga bilang: “Tidak harus selalu berbicara tentang komunikasi politik secara pragmatis, tetapi juga ada hal-hal besar lain dan kita juga harus bisa membangun semangat untuk mewujudkan Indonesia semakin baik ke depan.”

Pernyataan pamungkasnya cukup menohok dan bisa mengagetkan rekan koalisinya. AHY berkata: "Nah mudah-mudahan paling akhir nanti, 22 Mei, kita bisa menerima apa pun hasil yang akan dijelaskan oleh KPU."  

Saya sangat yakin AHY paham situasi. Saat ini, penghitungan real count KPU sudah mencapai angka 62 persen. Belum ada tanda-tanda Prabowo-Sandi akan bisa mengalahkan Jokowi. 

Di kalangan pendukung Prabowo, masih banyak yang berkeyakinan kalau mereka akan menang. Namun, banyak pula yang sudah “buang handuk”, khususnya partai politik. Sebagian pendukung Prabowo menyerukan delegitimasi KPU serta permintaan agar ada diskualifikasi pada Jokowi-Amin. Ini juga tanda-tanda kekalahan.

Pernyataan AHY itu menunjukkan posisinya dan partainya yang lebih mendukung sikap pemerintah yakni menerima prosedur demokrasi yang sedang berjalan. Mereka tak mungkin ikut dalam aksi delegitimasi pada penyelenggara negara yakni KPU serta jalur konstitusi.

Keempat, sikap politik. Setiap kali SBY ataupun AHY mengeluarkan sikap, maka semua influencer di tubuh Partai Demokrat akan meneruskannya dalam berbagai pesan ke bawah. 

Sungguh menarik melihat postingan semua petinggi Demokrat yang tiba-tiba mendingin sejak pertemuan itu. Perhatikan cuitan sejumlah pihak seperti Andi Arief, Rachland Nashidik, dan Ferdinand Hutahaean, Hinca Panjaitan.

Andi Arief mengatakan: “Tugas Partai Demokrat dalam Koalisi Adil Makmur adalah: 1. Memenangkan Capres-Cawapres, 2. Memberikan saran dan Cara agar menang, 3. Jika tidak menang, memberi saran dan cara agar tak mempertinggi tempat jatuh 4. Melaporkan pada rakyat perkembangannya dengan fakta yang benar.”

Point ketiga pasti akan memicu reaksi dari koalisi Prabowo. Di saat semua koalisi masih yakin menang dengan segala perhitungan internal, tiba-tiba Andi Arief memberi pesan jika tidak menang dan cara agar tak mempertinggi tempat jatuh.” Apakah dia sudah meramalkan Prabowo akan jatuh?

Ferdinand Hutahean malah sudah memberikan pernyataan sikap partai. Bahwa setelah 22 Mei 2019, Demokrat akan membuka berbagai kemungkinan. Jika Prabowo menang, Demokrat akan tetap bersamanya. 

"Jika KPU menetapkan Jokowi sebagai pemenang, maka Partai Demokrat mandiri dan bebas serta berdaulat menentukan sikap politiknya apakah kemudian akan bergabung dengan Jokowi atau tidak," katanya.

Kelima, latar sejarah. Sejak dulu, DNA politik SBY tidak pernah bertemu dengan DNA politik Prabowo. Keduanya memulai karier di militer, tapi keduanya punya takdir politik berbeda. SBY sukses menjadi presiden untuk dua periode, sementara Prabowo belum kesampaian. SBY penuh perhitungan dan kalkulasi, Prabowo sering terburu-buru.

Ketidaksesuaian itu sudah tampak di beberapa pilkada. Puncaknya adalah dalam penentuan capres. SBY tahu bahwa Megawati tidak akan memberi ruang bagi partainya di koalisi Jokowi, sehingga mau tak mau merapat ke Prabowo. 

SBY ingin menang, makanya mengajukan duet Anies-AHY demi kemenangan. Namun Prabowo berpikir lain. Dia berpikir untuk tetap mengendalikan koalisi sekaligus mengamankan suara Gerindra sehingga dirinya tetap ngotot maju dan memilih Sandiaga Uno sebagai wakil. 

SBY dan Demokrat tak punya banyak pilihan selain menerima. Meskipun petinggi Demokrat Andi Arief sibuk memojokkan Prabowo dengan sebutan jenderal kardus. Tapi bukan berarti Demokrat akan selalu mengikuti apa saja kehendak koalisi.



Keenam, visi keberagaman. Sejak awal, Demokrat selalu mengkritik kedekatan koalisi Prabowo dengan kelompok pendukung 212 yang menepatkan Habib Rizieq sebagai tokoh sentral. Betapa tidak Habib Rizieq pernah dipenjarakan pada era SBY. Rizieq juga bermain dua kali di pilkada DKI, dan terakhir tidak mendukung AHY.

Kelompok 212 tidak merekomendasikan nama AHY dalam ijtimak ulama. Sikap ini banyak dikritik para petinggi Demokrat. Terakhir, kampanye akbar Prabowo yang didukung kelompok 212 di GBK diprotes oleh SBY sebagai kampanye yang tidak menghargai pluralitas dan keberagaman.

Semua protes Demokrat ini menunjukkan betapa mereka setengah hati di koalisi ini. Mereka pun tahu kalau koalisi ini tidak akan menang, makanya mereka mesti segera mencari exit plan paling efektif untuk segera keluar koalisi, yakni menemui Presiden Jokowi.

Ketujuh, matematika politik. Niat besar SBY dan Partai Demokrat adalah bagaimana menaikkan AHY sebagai presiden. Jika saja Prabowo menang, maka tahun 2024 akan maju kembali. Setelah itu, Sandiaga yang akan maju. Jika Demokrat mengikuti skenario ini, kapan mereka bisa menaikkan AHY?

Tidak mengejutkan jika diam-diam partai ini mendukung Jokowi. Dari sisi matematika atau hitung-hitung politik, Demokrat jauh lebih untung jika Jokowi yang naik. Sebab lima tahun mendatang, Jokowi sudah tidak mungkin maju. Demikian pula pasangannya Ma’ruf Amin.

Lima tahun mendatang, politik menjadi arena terbuka yang tidak bertuan. Inilah momen emas yang ditunggu semua partai politik agar mereka bisa merangsak maju untuk memasuki arena. Inilah momen tepat untuk mengajukan kader masing-masing untuk bertarung di arena politik  demi menggapai kursi presiden.

Jika AHY diharapkan naik pada tahun 2024, maka dia harus punya panggung politik agar publik bisa melihat rekam jejak dan prestasinya. Kelemahan AHY selama ini adalah dirinya ibarat buah yang belum matang, namun dipaksa masuk arena. 

Dengan mendapatkan panggung, AHY bisa menunjukkan visi, ketegasan, serta kerja-kerja yang akan diapresiasi publik, yang akan menaikkan elektabilitasnya. Jika Jokowi menang, pilihan paling realistis dan tepat adalah segera bergabung, kemudian mendapat panggung, setelah itu meninggalkan jejak kerja.

Jika semuanya berjalan baik, maka modal politik AHY akan semakin moncer di pemilihan mendatang. Dia punya kans besar untuk menang Pemilu sebab memiliki dukungan partai politik, rekam jejak yang baik, serta sumber daya finansial yang kuat. 

Sebagai publik, kita sedang menyaksikan satu pesan kuat. Bahwa politik bukanlah satu arena untuk memperjuangkan sesuatu hingga titik darah penghabisan. Politik adalah seni untuk memenangkan pertarungan, seni untuk bersiasat, dan seni untuk meyakinkan publik. 

Dalam proses itu, mundur sesaat dan mengevaluasi strategi akan jauh lebih baik daripada mengamuk, marah-marah, lalu menjadikan diri sebagai sasaran tembak dari berbagai lini.(*)




Kisah SOEWARDI




Orang-orang merayakan hari pendidikan dengan upacara bendera, yang penuh sambutan-sambutan kepala daerah dan pejabat. Yang terlupa adalah hari pendidikan ini mengacu pada hari lahir seorang manusia yang hidup pada masa pergolakan. 

Nama aslinya Soewardi Soerjaningrat. Belakangan dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara. Dia terlahir sebagai seorang bangsawan. Tapi ide-idenya melanglangbuana. Di usia 24 tahun, dia menjadikan kata-kata jauh lebih bertenaga. 

Esai berjudul Seandainya Saya Seorang Belanda (Als ik een Nederlander was) yang ditulisnya dalam bahasa Belanda telah menjadi esai legendaris yang pernah menggedor keangkuhan rezim pada satu masa. 

Demi mengkritik orang Belanda, dia tak mengerahkan satu batalyon pasukan lalu bertempur hingga titik darah penghabisan. Ia cukup membuat satu esai di koran De Express yang dimiliki oleh Douwes Dekker pada tanggal 9 Juni 1913.

Saya tak pernah bosan membaca esai itu. Dia mengkritik perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda atas penjajahan Perancis pada tahun 1913. Saat itu, Pemerintah Hindia Belanda akan membuat perayaan besar-besaran di tanah jajahan. 

"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya,” tulis Soewardi. 

Esai itu menjadi sejarah. Esai itu menjadi alat perlawanan yang dahsyat dari seorang bumiputera yang dianggap hina dan terbelakang, lalu tiba-tiba menulis satu esai yang penuh dengan pedang menghujam. Esai itu menjadikan Soewardi sebagai seorang tokoh pergerakan yang penanya harus diborgol. 

Dalam buku An Age of Motion yang ditulis Takashi Shiraishi, saya terkejut membaca cara pemerintah kolonial Belanda menghukum Soewardi. Dia tidak dihukum kerja paksa untuk membangun jalan dan bendungan. Dia tidak dipenjara di lapas. 

Pemerintah kolonial Belanda malah mengasingkannya ke Belanda sehingga dia bisa leluasa bersekolah dan mendapat sertifikat Europeesche Akte. Menurut saya, inilah bentuk hukuman yang paling manusiawi dan hebat. 

Artinya, pemerintah kolonial Belanda tidak sejahat yang dibahas guru-guru sekolah. Masak, hukuman bagi seseorang yang mengkritik keras adalah dikirim ke Belanda untuk disekolahkan.

Di masa kini, Anda harus melewati saringan ketat dalam semua tes beasiswa agar bisa ke Belanda. Tanya pada peraih beasiswa Stuned dan LPDP. Anak muda jaman now harus berkompetisi ketat untuk satu tiket belajar ke Belanda. Soewardi hanya menulis satu esai menohok, maka dirinya dapat beasiswa. Enak banget.

Kisah Soewardi mengingatkan saya pada Kartini. Banyak orang protes karena Kartini dianggap tukang curhat yang kemudian jadi pahlawan. Orang-orang mengabaikan fakta kalau Kartini adalah seorang penulis perempuan produktif yang di masa itu sudah menulis pikirannya dalam bahasa Belanda, dan dimuat dalam media berbahasa Belanda. 

Kartini mengubah pandangan orang Belanda bahwa seorang pribumi bisa menjadi cerdas sepanjang diberi kesempatan. Berkat Kartini, sudut pandang orang Belanda berubah, kemudian mendorong kebijakan politik etis, yang di kemudian hari telah melahirkan satu barisan cendekiawan yang kelak melahirkan satu bangsa bernama Indonesia.

Jika tak ada para penulis hebat seperti Kartini, Soewardi, hingga Tjipto Mangoenkoesoemo, tak bakal lahir generasi seperti Sukarno dan Hatta. 

Berkat generasi sekolahan seperti Sukarno dan Hatta, yang terinspirasi dari ide-ide generasi Kartini, Indonesia akhirnya lahir saat diproklamasikan. Suka atau tidak suka, Republik Indonesia dilahirkan para generasi yang belajar di sekolah bikinan Belanda, dengan kurikulum ala Belanda.

Makanya, tokoh seperti Soewardi menyerap inspirasi dari orang barat. Dia nasionalis, tapi dia tidak benci Belanda. Malah dia selalu memakai jas ala orang Belanda, yang dipadukan dengan blangkon, kemudian diganti jadi songkok. 

Dia mendirikan organisasi modern yang diberi nama Belanda yakni: Indische Partij. Ketika di Belanda, dia menyukai pemikiran dari sejumlah tokoh pendidikan barat dan timur seperti Maria Montessori, Froebel, John Dewey, serta Rabindranath Tagore. 

Berbagai aliran pendidikan tersebut diolah dan dijadikan sebagai dasar dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri. Ketika pulang ke tanah air, dia mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922.

Lantas, di jaman now, apa yang bisa kita serap di hari kelahiran Soewardi? 

Pertama, buatlah tulisan yang menggugah. Jangan sekadar nyinyir dan posting yang isinya semua puja-puji pada capres idolamu, kemudian komentar pedas pada yang mengkritiknya. Jangan juga dengan mudah bilang kafir pada siapa saja yang beda denganmu. Kalau tak setuju dengan idenya, keluarkan idemu. 

Kedua, tetap gunakan nalar kritis dan serap pengetahuan dari mana saja. Jangan mudah benci dan terprovokasi sesuatu. Ambil hal baik dari mana pun, termasuk itu dari penjajah ataupun dari bangsa lain. 

Ketiga, tetaplah menjadi orang Indonesia. Soewardi belajar dalam bahasa Belanda, menyerap ilmu-ilmu barat, tapi dia tetap seorang Jawa yang menyerap kearifan budayanya. Dia meletakkan falsafah pendidikan yang diserapnya dari budaya Jawa. 

Untuk Indonesia modern, dia meletakkan landasan berpikir yang penting yakni sintesis antara lokal, nasional, dan glonal. Dia mendialogkan itu, menyerap hal baik, demi memperkuat fundasi keindonesiaan.


The Blessing of Electricity in the Heart of Borneo


I wrote this article in 2016 for Wartsila, one of biggest company in Finland who had several project in Indonesia. They gave me money to transport to their area, but in the end, the didn’t pay me for my hard work. I heard they didn’t like my article. So I post it in this blog.

Muara Teweh, Central Borneo

Along the way to the power plant of Bangkanai, Muara Teweh, Central Kalimantan, we can see how the local people live in a limited life. Electricity might be the new hope for them after a lot of productive sectors cannot stand anymore and are no longer able to support the people needs. In the island of Kalimantan we can see how the mining and the plantation sectors have failed to serve prosperity for the community.

There are a lot of crisis stories for us to see in the island, the loss of access to the natural resources, the longing for the prosperity, the poor basic infrastructures, and the lack of government's attentions in the area that used to be famous as the lung of the world.

***

The road seems un-appropriate. The rain has made it like a pond of mud that impossible to pass. But nothing fears Riki (25 years), the driver of PT. Wartsila, the Finland Electrical Company. He is the one who has the responsibility to take guests to the location of the Gas Engine Power Plant of Bangkanai.

Muara Teweh is the capital of North Barito Province, Central Kalimantan. I was one of the guests Riki takes to the location of the Power Plant. I wanted to see how it was built in the middle of the jungle and what people expect of it.

This was my first time trip to Muara Teweh. I flew from Jakarta to Banjarmasin, the capital of South Kalimantan. It was about an hour flight. And then, I took the land trip to Muara Teweh, Central Kalimantan for about ten hours. 

Actually, Muara Teweh is closer to Palangkaraya, the capital of Central Kalimantan, but because the track is not good to pass, people rather take the track from Banjarmasin. Besides, we will pass a lot of small cities along the way from Banjarmasin to Muara Teweh that will make our trip seem not too long. We can also see beautiful scenes and enjoy delicious food.

The Power Plant I visited located in Bangkanai, in the area of Karenda Village, the district of Lahai, North Barito Regency. It's in the middle of Kalimantan that used to call the lung of the world. The deforestation or the damaging of forest has created holes here and there around the island. The mining products have been exploited in many places. The dense forest decreases drastically. What we have left from the island is only the story of the wide jungle full of animals like orang utan, hornbills and many more.

According to Riki, the trip to Bangkanai would take about four hours. But when we left Muara Teweh I thought that it would take any longer. From Muara Teweh we crossed the Barito River by ferry to the district of Lue. The Lue district is the main pulse of the people’s life of Central Kalimantan. 

There're a lot of cities along the river banks. I can see how important the river is for the people. A lot of houses are built above the rivers and people use the water for bathing, washing and toilets.

After crossing the river by ferry, we went through a village and then through a dense forest. The road was very bad. Heavy rain seemed to have just fallen and made the road so slippery. It was so muddy. On the way I saw ponds full of mud. Motorbikes were parked by the road because it was very hard to pass the road. Luckily, Riki drove a Strada Triton that was able to pass the muddy road. 

Riki is a Dayak Bakumpai that is a majority tribe in Muara Teweh. He spent his childhood in the forest. That is why he knows every parts of Kalimantan forest. He has tried many kinds of jobs until he decided to join Wartsila. He confirmed to be able to drive many types of cars, included escavators. Some foreign workers call him a "crazy driver" because he can drive any type of cars on the bad and slippery road 60 km per hour.

Even though he is still young, he is never afraid to drive on the bad and slippery road. The main problem to drive on that kind of road is the way we control the wheel. If we swerve the right, the tires do not directly swerve the right. The slippery road is the main barrier. 

With his ability, Riki becomes the most trusted driver at PT. Wartsila. He has worked for this fin land Electrical Company since three years ago. Besides taking the employees, he is also the one who can go to the city for shopping tools and equipment at any time needed.

The trip was getting harder in the forest. The topography of the area of North Barito is dominated by hills and valleys. When driving with Riki, I felt like I rode a roller coaster that was brought up and down very quickly. Along the way, my heart beated so fast and my eyes didn't seem to blink because I was so worried to get an accident.

Then, it was proved. On one of the turns, Riki saw another car coming from another way. Riki stopped and parked the car. The other car seemed to try to stop suddenly at the fast speed. But the slippery road made the car keep on driving to us. And..Bangs!



The car hitted our car. Thanks to God we were fine. The front of the car was hard broken. Riki was out of the car and documented the accident. The driver of the other car also went out of his car. Then, Riki had an argument with the driver firms the other car in Dayak language. The arguments were resulted in fixing the cars together. There was nothing useful to have conflicts in the middle of a jungle.

Riki said, the accident was not the first for him. He had ever got an accident before on the same road. At the time he drove a Pajero that caused the front of the car very bad broken. He said that having an accident is one of the risks he faces when driving on muddy roads. In the rainy days, only special vehicles can go through the way. But there is also the risk of having accident because each vehicle will be hard to control.

A question comes in my mind about the process to move the heavy equipment and the containers to the location of the power plant. All the heavy equipment and the containers are taken to the location in the dry season. It is impossible for trucks passing the way in rainy season. That is why we always check the weather forecast to ensure that the heavy equipments are not distributed in rainy day or on the wet land, Riki said.

The roads are really in poor condition. For years, the government only builds roads in dense areas, but not in the forest areas. It is not their priority to build roads in such areas because not so many people take the ways.  That is why they do not pave the road to the power plant. They only harden it so vehicles can go through it. Besides, some energy and mining companies use the roads to distribute heavy equipment’s and take their employees.

In the area there are also a lot of timber companies that exploit wood of the forest to be sold in the city. Kalimantan is the witness of a massive deforestation to make few people rich. It is not wrong that Harison Ford actor and environmental activist came and irritated told the Forestry Minister, Zulkifli Hasan about this deforestation.  He contributed one of so many discordant voices over the damage ecosystem of Kalimantan.

***

Finally, I arrived in Bangkanai. I saw the Gas Engine Power Plant built by PT. Wartsila. A young engineer named Eko welcomed me and then explained me about the situations around the Power Plant. Too bad, even though all the power engines have been installed, the electricity is not been able to be supplied. Eko said that there are some problems that make the power plant cannot be appropriately functioned.

Unfortunately, although it is predicted to be able to serve the energy saving until UDR 1.6 trillion per year by reducing fuels of 245 thousand kiloliters, but in fact the operation of the Bangkanai power plant still faces some barriers. One of them is that up to now, PLN hasn't received any sign about the land acquisition for building 4 threads of a 150 kilovolt tower transmission.

Eko, has been for a month working in Bangkanai. He replaced his collega, Mahdi that was on leave. Earlier, the alumnus of Politeknik Bandung served in Dumai. Eko said, before he said “yes” for the job to replace Mahdi in Bangkanai, some other technicians had refused the job.

 The reason was about the difficult access to Bangkanai. "I am willing to take the job just because I want to have more experience," he said. Although it has been just a month, Eko really understood about the workflow in that power plant. He explained me about the situation in the gas engine power plant. 

He showed me the location of the gas, and then the pipes that transported gas to the plants, and the power to be supplied outside. He said, if the Bangkanai power plant operates, then there are 4 electrical systems that will be incorporated in the systems included South and Central Kalimantan (Kalselteng) that is Muara Teweh (8 MW), Buntok (10 MW), Batu Licin (12 MW) and Sampit (33 MW). 

The history of the plant began in 2013. On Wednesday, July 10, 2013, a contract of a power plant construction was signed. The power plant would use the energy source of gas as the gas engine power plant (PLTMG) in Bangkanai of Central Kalimantan with the capacity of 155 mega Watt (MW). PLN took a consortium of Wartsila Finland Oy - PT. Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, to build bangkanai power plant with the capacity of 155 MW. 

The contract was signed by the director of PLN, Nur pamudji and the regional director of PT. Wartsila Finland oy, Mr sushil Purohit and the director of PT. Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, Harry Nugroho. This is the first time in the history that the consortium is led by a foreign manufacturing company, Wartsila Finland Oy. 

"Usually, the consortium is led by Indonesian company and foreign companies are thebmembers. Now it is a foreign company that establishes a contract with PLN. I hope this can be a trend that a foreign manufacturing company can directly sign a contract with PLN", said Nur Pamudji to a local media. The participation of PT. Pembangunan Perumahan  (Persero) Tbk in the consortium this is also the form of a  synergy among BUMN to support the infrastructure development in Indonesia. 

The development project of the PLTMG is very important to take advantage of the gas in Central Kalimantan. "No one has used this gas except PLN. Now, the gas there is 20 MMBTUD but 4 MMBTUD is used by another company. So only 16 MMBTUD is absorbed by PLN" Nur Pamudji explains.

"At first, PLN would use the gas as the base load plant but then it was used as a peaker plant. Later we will build additional capacity for this plant by using the same volume of gas. We use this technology in East Java, at Grati power plants.

 There we save gas by using the tube of CNG (compressed natural gas). We are able to save 16 MMSCFD gas into the tube CNG and we are able to operate plants for 4 hours with a capacity of 300 MW. By using the volume of a small volume of gas, it will be able to generate big power of electricity. We call this a "Peaker Plant", Nur Pamudji explains.

Patterns like this happen outside Java such as Kalimantan. With the electricity consumption of only 50 to 60 percent during the days compared with the consumption during the night. Construction of gas-fired power plant will take about 15 months from the effective date of the contract, and it is expected that Bangkanai PLTMG with the capacity of 155 MW  can be able to strengthen the electricity system in South Kalimantan and Central Kalimantan (Kalselteng) at the end of 2014.

***

Gas Engine Power Plant (PLTMG) of Bangkanai can be seen as a symbol of hope. The presence of electrical energy in the community will bring hope of a better life. Some people in Muara Teweh tell about the power outages that occur several times a day. Even some government agencies and hotels, prepare the generator set to be used at any time during thevpower outages. We can also imagine how much the loss due to the power outages is.

At the central level, the government of President Joko Widodo and his vice Jusuf Kalla has ambitious targets to meet national electricity needs of up to 35,000 MW. Although many parties, including the minister himself, who considers this target is too grandiose, the government still go on. Meeting the needs of electricity is considered as a key policy for the sake of increasing the rate of the economy, improving the investment climate, as well as providing basic services to the people's need.

Not only supply the electricity, the government also has one of the flagship programs of "building Indonesia from the suburbs." This policy is considered as a correction of the approach of the previous government that is only focused on central regions, which are usually densely populated cities. One of the implementations of the policy of building from the suburbs is to build infrastructures, to strengthen border areas, and to make suburbs as front window of the Republic. The path to this goal is steep and winding. But, at least, the government has initiated the first step to achieve it.

The establishment of the power plants in Bangkanai is the response to the scarcity of electricity in Central and South Kalimantan. Until now, people in the two provinces complained about the alternate electricity blackouts by PLN. Although previously PLN has given appeal, to do rolling blackouts due to limited power supplies, people are still afraid about not getting clarity about the end of the electricity crisis.



Several public demonstrations have been recorded that urged PLN to meet the electricity needs. The PLN office has been ever hit with stones. Blackouts for 4-6 hours made the people uncomfortable. The blackout by reason of repairmen and maintenance of plant occur every year.

The students from various campuses were also challenged to channel the aspirations of the people by demonstrating in front of the PLN. Students demanded the government policy that the region can get the same rights in the supply of electricity as other major cities. Students regarded that the area is one of the largest suppliers of natural resources in Indonesia, South Kalimantan and Central Kalimantan should not be experiencing a power crisis as it is happening today. Several times, these demonstrations ended in chaos.

Electricity is very important in this region. Provincial Government (Provincial) of Central Kalimantan (Kalimantan) with 14 districts/ city in the province has raised Rp.500 billion in an attempt to overcome the power crisis in the local area. To achieve these funds the government budgeted 100 billion rupiah from the Regional Budget (APBD) and 14 counties and cities of 400 billion rupiah which began in 2014 to 2017.

Electricity is very important in this region. Provincial Government (Provincial) Central Kalimantan (Kalimantan) with 14 district / city in the province has raised IDR 500 billion in an attempt to overcome the power crisis in the local area. To achieve these funds the government budgeted IDR 100 billion from the Regional Budget (APBD) and 14 counties and cities of IDR 400 billion which began in 2014 to 2017.

"Central Kalimantan government will provide 25 billion every year, and 7 billion is for each district of the city. If it is collected, optimistically the entire villages and communities will have electricity," said Deputy Governor of Central Kalimantan, Achmad Diran in Palangkaraya, last June.

From the data of the Office of Energy and Mines of Central Kalimantan, until now, it is stated that there are still about 389 villages with 223 489 households haven’t enjoyed the electricity. On behalf of the government, Vice Governor said that to serve the electricity for the entire community in Central Kalimantan, it will take about 9 trillion and so far it has been just provided 7,055 trillion rupiah. "A total of IDR 7,055 trillion consists of a multi-year state budget of 4 trillion, 55 billion from private and 3 trillion from PLN plus 500 billion from the provincial government along with the District City in Central Kalimantan. Now there is still a shortage of IDR 1.94 trillion," he said, as published in local media.

He said that about 50.92 million tons of low calorie coal in East Kotawaringin and West Kotawaringin worthy material for generating electricity. Central Kalimantan has also amounted to 20 MMSCFD gas in North Barito and also to large-scale water and mini and micro hydro of 357 MW spread across eight districts. The Sunlight through the potential intensity of solar radiation is less than 4.8 WH / M2.

Then, biomass of 24.3 trillion MJ has been estimated with the capacity of 337.57 MW, biogas of waste oil for 2.605.567.046 MJ has been estimated with the capacity of 36.515 MW and wind along the Coast in Central Kalimantan. By looking at this potential, it is supposed to central Kalimantan not to have electricity crisis. In fact there are hundreds of thousands of people who have not been able to enjoy the electricity. Although the government makes program “Kalteng Tarang” or light, the program has not been able to cope with the electricity crisis there. 

Then the question is how large is the influence of the presence of electrical energy for the common? Can the presence of the electrical power help the community to develop the economic life after the sectors of plantations and mining slumped? What is the public perception of the presence of the power?

***

The man, named Tagah. He stays in front of the electrical company's site. His house is one of as many as 10 houses located in front of the company. He lives with his wife, Galuh and their four children. All the children are male and work for various companies nearby. Some work as laborers, and others work as security guards. They are Suparman, Fahrurrozi, Joni Rumansyah, and Ali Sadikin.

A man named Tagah

Mr. Tagah claimed himself as a member of the ethnic of Dayak Bakumpai. Most members of bakumpai are Moslems, but there are also some who have the local religion, Kaharingan. They are found in Marabahan, which is located in one of the districts in South Kalimantan, Barito Kuala, that then spread through the coast.

Etymologically, Bakumpai is the nickname for the Dayak tribes that inhabit the Barito river basin. Bakumpai comes from the word ba (interpreted from Banjar language that means to have) and kumpai which means grass. From this title, it is understood that this tribe living in the area with a lot of grass. According to the legend, the origin of the tribe of Dayak Bakumpai is Dayak Ngaju who eventually emigrated to Marabahan. 

The people of bakumpai are in Dutch called Becompaijers / Bekoempaiers, is the subetnis of moslem Dayak Ngaju that live along the banks of the river basin of Barito in South Kalimantan and Central Kalimantan, from Marabahan, Barito Kuala until Puruk Cahu, Murung Raya. The Bakumpai tribe originated upstream of the former District of Bakumpai while in the downstream is the settlement of the Barangas (Baraki). They live along the river bank because the river is the pulse of all activities, such as bathing, washing, and also toilets

The Dayak Bakumpai has a variety of professions. Many of those depend on the forest and work as a rubber tappers, rattan gatherers and woodcutters. They also do gardening to fill their needs. For decades, they have been doing those professions in these indigenous forests that used to be a hunting area.

In the past, Tagah lived in Marabahan. He is shifting cultivators in the forests around Barito. Furthermore, he then worked as a rubber tapper because it is quite promising. When the selling price of rubber fell, he then found another profession. He then moved to around the plant site because he believed that the area would be developed. Moreover, he worked as a rubber tapper around the plant. 

But since the last two years, he has been no longer tapping rubber. As a rubber tapper he only earned a little money. His income was not comparable to the hard work he did, he had to plant the trees, care for the tree, and then tap the sap into rubber.

In his prime time, rubber price could reach IDR 15 thousand per kilogram. Now, the price of rubber has dropped dramatically and only IDR 4,000 per kilogram. This amount is not comparable to the hard work of rubber farmers. It's hard to survive to be just a rubber tapper. The income is not enough to buy basic needs. The price of sugar is only 20 thousand per kilogram. Rice is 10,000 per kilogram. How does he live his life if he only a rubber farmer?.

The price of rubber since the last two years has continued to fall. At the farm level, rubber price keeps going down from IDR 15,000 to 10,000 per kilogram. And this year it has been plunged at the range of IDR 5,000 to 4,000 per kilogram. In fact, rubber is one of the commodities of foreign exchange and also the field for living for the people of Indonesia. But the rubber farmers live in poverty.

Farmers wonder why rubber price keeps falling.  The quality of rubber latex is improving. The demand of rubber is also higher. Moreover, the value of the US dollar is also higher. But somehow, the life of the rubber farmers is still apprehensive.

 Rubber absorbs into the market at very cheap prices. As a result, in some places, the condition of the rubber farmers takes a big hit. Media reported that many children of rubber farmers dropped out of school. Crime is increasing. "If you rely on crops, you could be sick. Fortunately there is an electrical company to be expected to provide jobs for local residents, "said Tagah.

The entry of large corporate in Kalimantan is the beginning of their days as a laborer in a variety of oil palm plantations or in some development companies. They become manual workers and porters in the company, and then leave their former profession in the jungle as farmers and planters.

Tagah is powerless in the face of change. He left his job as a rubber tapper. He then came to a close the power plant and then buy a piece of land nearby. There, he built a small house that looks crowded to accommodate all family members. In front of the small house, he opened a small shop that is often full with workers. He sells coffee, tea, and some pastries.

When I stopped by the shop, he then invited me to make my choice of what to drink. When I choosed coffee, he then took a packaged coffee and tore it, then he pleased me to taste it. While tasting the coffee, I choosed to listen to his stories.

"Here, almost nobody else can be sustaining economic life for the citizens. Forests have been for long divided by the private sector. The natural resources have been for long been exploited. We are just the forest people that sell some commodities such as rattan and resin, "he said again.

I caught a note of bitterness in his voice. His statement was not wrong at all. Kalimantan is known as a large island that became a bone of contention for many people. Here, all the natural resources drained in order to maximize the wheels of capitalism. The nature if Kalimantan has long been a field of plunder from many parties working together for the sake of short-term orientation of life, without thinking of how to savevthe earth for our future generations.

The latest data of the Central Statistics Agency (BPS) states that the number of poor people is 148 820 people, or about 6.07 percent of the total population. In North Barito district the number of poor people is over 7,450 or 5.88 percent of the population.

The increasing of the number of poor people is mostly started when illegal logging was banned by the government, so that people lost their promising life. The government labeled the activities as illegal residents, and at the same time providing access to large corporate logging. Similarly, it is what is happening in the mining sector. Society does not have access to a resource management because it is considered to damage the ecosystem and the environment.

Unfortunately, this argument does not apply when giving the concession rights to private parties. Poverty is more widespread and also several factors such as low levels of education, customs bond, a large number of families, young marriage age, the habit of drinking wine, and the absence of creativity to find a breakthrough in the field of improvement of the economic life of the family.

The rise of agriculture and mining posts the local community as a spectator. Plantation and mining are exploited in large scale, which benefits are only enjoyed by a handful of the political elite in Jakarta. It is ironic when we see provinces that are rich in natural resources having a high enough poverty rate. We can infer that the wealth is not distributed evenly. In fact, society is experiencing the impact of environmental damage such as floods, landslides, and the loss of life in the forests.

Save Our Borneo (SOB), an environment care institution, stated that it is approximately 80 percent of deforestation in Kalimantan due to palm oil expansion by large enterprises. This institution describes the greatest damage of Kalimantan forest is due to land clearing for palm oil, and the remaining 20% for mining and transmigration area.

The institution also presented that based on the 10 year trend-prediction, 864 thousand hectares per year, or 2.16%  of the 59 million hectares of Kalimantan area has been damaged (deforested). Forest destruction in Central Kalimantan province has been recorded as the largest, compared to three other provinces in terms of the extent of the damage which has reached 256 thousand hectares per year.

Of the more than 10 million forest area of Central Kalimantan, the deforestation rate is about 2.2% per year. While South Kalimantan province, has the fastest deforestation rate compared to other provinces, although its range is relatively small. Recorded area of 66.3 thousand hectares of forest disappear per year of the total area of about 3 million hectares of forest.

The condition is almost similar to the three other provinces, with spacious and at different rates. The main cause is the opening of coal mines and oil palm plantations. West Kalimantan, for example, of the area of 12.8 million hectares of forest, the deforestation rate had reached 166 thousand hectares per year or 1.9%.  The excessive and careless exploitation activities are not only resulting in damaged forests, but also having an impact on floods and landslides.

In the end, the local people have to accept the impact of development. Disasters often hit in several districts in Central Kalimantan, such as Barito Utara, Murung Kingdom, South Barito. Seasonal flooding that is originally only once a year, now occurs four or five times a year.

Another negative impact of forest exploitation is the loss of local identity. Inflows of foreign cultures brought by immigrant communities in plantation and mining activities deemed to have caused the erosion of local knowledge. The dependence on outside parties is mostly caused by the narrowing of land that is one of the public infrastructures, so that they become dependent on outsiders.

***

Infront of the power plant complex, Tagah decided to no longer tapping rubber. He is also not possible to cut wood in the forest and sell the timber. He keeps on the small shop that he manages with his wife. His four children become workers in various companies around Bangkanai.

"In the past, the land here had no value. But since the electrical companies stood, lands are now expensive. One cubic meter is 100,000 rupiah, "he said.

I imagine, if the power plant is active and starts supplying the electricity needs for the citizens, perhaps the area located in the middle of the forest will be more crowded. Many people will come and live around. People follow the laws of nature. They will build a village in wherever they can find energy.

One thing that stuck out lately is the conflict between the community and the company. Riki admitted that most often the citizens block the way with portal so that all vehicles cannot pass. Portal here means a roadblock that is usually in the form of wood or stone that make vehicles should stop, or may simply cannot pass. "If there is a portal, there will be usually a dialog. People do that to convey the demands to the company, "he said.
What is the demand? "Sometimes people ask for a job. They want their families work as employees of the company. The community also blocks the way with a portal to ask for a compensation for their ground to the company, "he said.

This action of blocking the way is often reinforced the argument that the roads are the parts of the indigenous land owned by The Dayak Bakumpai ethnic. As far as I have observed, there are still many people who run traditional rituals. Many of those still maintain a local religious belief, called Kaharingan. The religion emphasizes on harmony with nature, and on any part that is right for the community. Tagah tells that Dayak indigenous leader who live in the village Bakumpai Karendan occasionally visits the place. 

A lot of Karendang residents still hold the local belief of Dayak Kaharingan. The Indonesian government has a policy that prohibits the presence of all the local religion. The strategy to keep the Kaharingan is by calling the religion as Hinduism, one of the religions that is recognized by the government. This strategy is effective because the religion is immediately recognized and protected by the state. In fact, Kaharingan is not the same as Hindus. Kaharingan has the basic of a different faith.

But often, the claim of the local religion is just another reason that appears on the surface. In the deeper layer, we find the reality is quite alarming in the form of lack of access to natural resources. What emerges is the exclusion of local people from the land that used to be the area they occupy. We can also find facts about the high unemployment rate, as well as the feeling of not being involved in various development activities.

Tagah is very enthusiastic when discussing about the demonstration of the citizens by building a portal. According to him, the use of the portal is the most effective way to invite the company to a dialogue. "If you do not use a portal, recruitment procedures will take long. People are asked to fill a job application file. For months there will be no answer to that application. The shortcut is by using a portal, because there will be a direct response."

The Company will promptly respond due to blockage of roads to lead to a stagnant activity. Typically, the company will accommodate people who want to become employees. They will be given jobs as laborers or freelancers. Riki said those who are recruited because of the tragedy of portal are often lazy and they also don't have a good work ethic. "It is actually confusing to treat them. If they are given a job, they are often lazy. "

At first glance, this may seem trivial. However, this shows that people want to be part of the ongoing projects. Although in recent times they do not show a good work ethic, the company keeps them only to get supports from the local community in project development.

Riki still remembers when the working volume at the plant rose, a lot of workers from the recruits hid in the local people's houses. In the morning, they came to work to give report, but in the working hours they then. In the afternoon, they came again to sign the attendance.
It is also interesting to see how the relationship between the population around the plant site. Mr. Tagah said that they have asked so many times to have electricity for the lights. But until now, the electricity has not been supplied. They were only given water. The company often sends tanker trucks filled with water, which distribute water to all residents, "he said.

What is expected in the future is the presence of a strong relationship between the company and local communities. He wants the company to not only use the natural resources, but also provide benefits to the economic development of local communities, by providing jobs and providing facilities to local residents. "What I want is that we can live in harmony as neighbors who respect each other," he said.

***

THE QUESTION is how important is the electricity for the local community's economic activities? When the plantations and mines often create problems, how about the future of the presence of the power installations in the community?

Almost all the people I have met in Muara Teweh until Bangkanai acknowledges that electricity is something very important to them. Most people deeply need electricity to improve the well-being and improve the economy of the village.

In JNB Hotels in Muara Teweh, I met with a man named Mardamin. According to him, electricity is more important than all other basic infrastructures. "If roads are in poor conditions, then we can take an alternative ways. We can also use other modes of transportation such as airplanes and boats. As well as telecommunications, we can find another way. But if the power goes out, we cannot do anything. All activities will be disrupted, "he said.

Mardamin is a hotel and restaurant entrepreneur. He is upset about the frequent power outages of up to six hours a day in the region. To anticipate it, he then used a backup power generator. However, the cost to operate the generator is big enough for him. He must spend big money to turn on the generator.

If electricity needs can be filled, Mardamin plans to increase his business activities. He wants to open another hotel, then invests his money into the plantation sector. He wants to recruit labor as many as possible in order to sustain future business units he will run. He is very emphatic about his plans if the electricity needs is filled.



Undeniably, electrical energy plays a very dominant role in people's everyday lives.  The activities carried out at homes, offices, shops, factories, public facilities, social and many more are very dependent of electricity. The nation's dependence on electrical energy is very large, so the unavailability of electricity will pose a crucial problem, it can even lead to the collapse of the nation's economy.

If the electricity is off for 1 hour, the impact is very large. So no wonder, if there is a power outage, the household activities will be disturbed, the office cannot operate, most factories are ceased to operate so that the velocity of the practical business world disrupted. It can be said that the economic losses caused by a power outage is about great value. The availability of electrical energy is vital for the survival of life activities.

Electricity is the basic human need that must be provided in order to support community activities. Moreover, the Indonesian government is targeting the quite high economic growth of 5.7 to 6 percent per year, so the electricity growth is surely needed at 7.5 to 8 percent. The growth of electricity should be higher because the sufficient reserve is required when there is a shortage of supply.

To support economic growth and meet the needs of society, the Jokowi-JK government has been targeting to add 35,000 MW of electricity capacity in the next five years, in 2014-2019. Ministry of Energy and Mineral Resources as the technical implementation of this program has projected that will increase electricity consumption by an average of 10.1% per year.

While the national electricity needs of 171 terawatt hour (TWh) will grow to 1,075 TWh in 2031. The number may rise in line with economic growth. Until 2014, the installed electric capacity in Indonesia was only 55 thousand MW, it was quite low compared to China which had a capacity of 1.3 million MW.  We can say, up to now, Indonesia is still experiencing a shortage of electrical energy.

For Tagah, for the residents who live in the jungle, electricity is essential as lighting. Because of electricity, he can also watch television and watch life elsewhere. Because of electricity, children around the jungle can get access to a good education, and care the forests for the sustainable return. "All my children are already working in the company. Without electricity, they might not be labors. Maybe later they have to study hard and become the boss of the company, "he said.

At first glance, Tagah seemed to joke. But I knew that there was an important message behind the sentence. He wants a better life at the time that electricity runs through the villages. He wants improvements in infrastructure, improvements of educational facilities. He wants a more prosperous life in the future.

In the heartland of Kalimantan, I recorded all his wishes and sincerely hoped that all of them will come true in the future. (*)