Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Saat Warga Kupang Anti-McDonald


pangan lokal di Kupang

ANDA penggemar ayam goreng ala McD dan KFC dan berbagai makanan siap saji dari luar negeri? Beberapa waktu lalu, di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), anak-anak muda justru menggelar kampanye anti makanan impor seperti KFC dan McDonald. Mereka menggalakkan gerakan kembali ke pangan lokal seperti ubi dan jagung. Tak disangka, keresahan mereka adalah potret keresahan warga dunia atas ancaman terbesar di masa mendatang, yakni ancaman kerawanan pangan.

***

DI dekat Biara Souverdi di Oebofu, Kupang, anak-anak muda itu sedang menyiapkan beberapa bibit tanaman. Mereka menanam bibit itu dalam batang pisang yang diletakkan secara melintang. Setelah menanam, mereka lalu menemui seorang tamu yang datang. Mereka berbagi bibit tanaman lokal seperti jejawud serta sorgum, dua tanaman khas Nusa Tenggata Timur (NTT).

Ketika kutemui dua bulan silam, anak-anak muda yang tergabung dalam Geng Motor Imut itu bercerita tentang kian langkanya pangan lokal, serta semakin tergantungnya warga Kupang pada berbagai pangan yang datang dari luar. Mereka juga berbicara tentang beberapa isu strategis seperti kemiskinan, serta keterbelakangan, juga kelaparan yang semakin mewabah ketika ketergantungan semakin meningkat. “Kita kehilangan kekuatan utama kita yakni pangan lokal. Kita mengabaikan kemurahan alam serta kebaikan bumi yang melimpahi kita dengan sumber makanan,” kata salah seorang dari mereka.

Anak muda itu membuatku tersentak. Di usia semuda itu, mereka bisa berbicara tentang hal-hal substansial. Mereka memang unik. Mereka sangat berbeda dengan beberapa remaja yang kutemui di Taman Nostalgia, Kupang, beberapa waktu lalu. Beberapa remaja itu justru tersenyum-senyum serta saling meirik ketika kuminta menyebutkan makanan lokal. Bahkan mereka tertawa cekikikan ketika menyebut ubi, jagung, pisang, ubi kayu, hingga berbagai jenis kacang tanah. Mereka merasa minder dengan pangan yang tadi disebutnya.

Pangan lokal memang semakin terpinggirkan di mana-mana. Di Kupang, pangan lokal mulai terabaikan oleh deru kota yang kian berderap dan menjadi modern. Saat kutanyakan pada beberapa penduduk, mereka justru tak tahu apa itu sorgum. Padahal tanaman itu dengan mudahnya ditemukan di mana-mana. Buahnya sejenis padi, yang lebih banyak di makan oleh burung. Aku teringat sahabat Maria Loretha di Adonara yang tekun berkampanye agar warga kembali mengonsumsi sorgum dan tidak menunggu-nunggu beras dari pulau Jawa.

peserta kampanye
 
aku cinta pangan lokal

Padahal, tanpa kecintaan pada pangan lokal, mustahil kita berdiskusi tentang ketahanan dan kedaulatan pangan. Logikanya, tak mungkin orang Kupang dipaksa membudidayakan sesuatu yang justru berjarak dengan kultur dan geografis wilayahnya. Tak adil jika orang Kupang diwajibkan makan beras, padahal wilayah itu tak cocok menjadi areal pertanian. Melihat tanah tandus dan berbatu di situ, aku berpikir bahwa sejak dahulu, ladang telah lama menjadi sandaran masyarakat untuk menggantungkan hidup. Seharusnya, ladang kembali difungsikan, demi menjadi sumber pangan bagi warga.

Sayangnya, potret yang kusaksikan di Kupang adalah keinginan kuat untuk segera memasuki gerbang modernisasi. Kapitalisme mulai menari-nari di kota itu. Baru masuk Bandara El tari, aku menyaksikan banyak restoran fast-food, serta jajanan yang tidak sehat. Sebagaimana generasi lain di berbagai kota, warga Kupang sedang gandrung-gandrungnya dengan makanan impor. Warga itu tak menyadari bahwa di negeri-negeri barat yang dianggapnya hebat itu, pangan lokal yang dimakannya begitu bernilai, sedangkan fast-food yang dianggapya hebat itu justru sumber penyakit yang mendera masyaakat di belahan bumi sana.

Barangkali, pangkal masalahnya terletak pada citraan tentang apa yang dianggap hebat dan tidak hebat. Demi citraan hebat serta anggapan lebih beradab itu, orang-orang melakukan banyak hal yang seringkali justru mengabaikan khasanah yang dimilikinya. Beras dianggap sebagai pangan kelas atas dan berpunya. Pemerintah pusat menganjurkan masyarakat setempat untuk mengonsumsi beras. Bahkan, pemberian jatah pangan bagi para pegawai negeri sipil (PNS) juga berwujud beras, sementara kita sama tahu bahwa PNS dianggap sebagai lapis sosial tinggi di masyarakat. Ketika PNS diminta mengonsumsi beras, maka beras dianggap memiliki citraan yang tinggi sebab identik dengan gaya hidup kelas berpunya.

Walhasil, masyarakat bekerja untuk bisa membeli beras, bukan lagi jagung atau umbi-umbian. Bahkan pangan lokal sudah tidak dibudidayakan lagi di kebun-kebun petani. Kebijakan pemerintah yang menyalurkan jatah beras miskin (raskin) semakin memperparah kondisi ini. Tiap saat warga ramai-ramai mengantre pembagian beras itu. Mereka lupa bahwa masih ada lahan yang bisa ditanami jagung atau umbi-umbian. Beras apapun jenis dan kualitasnya telah menjadi indikator kemakmuran. Sementara itu, generasi sekarang telah memandang rendah terhadap produk pangan lokal yang dijual di pasar-pasar tradisional.

Namun beberapa anak muda kreatif di Geng Motor Imut itu mengingatkanku pada kekhawatiran tentang dunia di masa mendatang. Sebelum tahun 2050 mendatang, jumlah populasi dunia yang membutuhkan pangan akan bertambah dua miliar. Bahkan di negara maju sekalipun, krisis pangan mulai terjadi akibat tidak seimbangnya antara produksi makanan, serta laju konsumsi yang semakin lama semakin cepat.

Anak-anak muda itu percaya bahwa krisis pangan bisa dihindari ketika muncul gerakan bersama untuk mengembalikan pangan lokal sebagai menu utama di meja makan. Pangan lokal harus digalakkan kembali demi kehidupan yang ebih sehat dan lebih segar. Mengonsumsi pangan lokal juga sama dengan menguatkan para peladang, petani setempat, serta pedagang lokal yang justru menjadi urat nadi dari distribusi pangan lokal.

***

HARI itu, sebuah kampanye pangan lokal digelar di Taman Nostalgia. Penyelenggaranya adalah Oxfam International bersama sejumlah komunitas reatif di Kupang. Aku menyaksikan pangan lokal dikemas secara menarik dan dihidangkan kepada semua orang yag hadir. Beberapa mahasiswa membawa poster-poster yang isinya adalah ajakan untuk mencintai pangan lokal.

"plant locally, eat wisely, live happily"

Aku teringat pada artikel pada majalah National Geographic terbaru. Melalui riset yang dilakukan para antropolog dan ahli gizi, terungkap fakta menarik bahwa bahan makanan yang dimakan manusia purba adalah makanan yang jauh lebih sehat ketimbang yang dikonsumsi manusia modern hari ini. Mengapa? Sebab manusia purba lebih banyak makan daging mentah, tidak memakan bahan yang sudah dimasak, ataupun digoreng. Para ahli dengan mudahnya memperkirakan bahwa pada masa lalu tak ada penyakit jantung, diabetes, serta kanker yang membunuh sebagian besar manusia hari ini. Dahulu, orang-orang hidup selaras dan alami bersama semesta.

Tak pelu jauh bertandang ke masa silam. Silakan bandingkan daya tahan tubuh kakek dan nenek kita yang hidup di desa-desa. Mereka jauh lebih sehat dan lebih kuat. Dua orang nenekku hidup hingga mencapai usia 120 tahun. Mereka tak banyak menyimpan rahasia. Mereka hanya makan seperlunya yang ada di alam, tanpa banyak diolah, serta senantiasa bekerja keras. Sayang, rahasia sederhana yang diterapkan nenek moyang itu susah diterapkan di masa kini. Sebabnya sederhana. kita terlampau gengsi untuk kembali ke pangan lokal. Hiks.


Menanti Dua Film Laga


adegan dalam film Yasmine

SEBAGAI penggemar film silat, ada dua film yang paling saya tunggu di tahun ini. Pertama, film berjudul Yasmine tentang seorang pesilat yang dibuat sineas asal Brunei, dan melibatkan para aktor dari Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Kedua, film berjudul Pendekar Tongkat Emas yang dibuat Gramedia dan Miles Pictures, yang dibintangi Reza Rahadian dan Nicholas Saputra. Manakah yang paling menarik?

***

FILM Yasmine telah tayang di bioskop. Jika tak ada aral melintang, saya ingin menyaksikannya sebelum turun dari layar bioskop. Trailer-nya telah diunggah di youtube. Saya menontonnya berulang-ulang. Saya menyukai bagian slow motion saat dua pesilat bertarung. Sepintas, film ini seperti Karate Kid, tapi hadir dengan rasa Melayu. Fakta yang membuat saya ingin sekali nonton film ini adalah ‘rasa’ Indonesia yang sangat kuat.

Ini memang film Brunei. Tapi aktor Indonesia banyak bermain. Di antaranya adalah Reza Rahadian, Dwi Sasono, Agus Kuncoro Adi, dan beberapa aktor muda. Tak hanya itu, penulis skenario film ini adalah Salman Aristo, yang pernah menuulis skenario film Laskar Pelangi. Bahkan musik dan soundtrack juga ditangani oleh band Nidji, band kenamaan Indonesia.

Saya membaca informasi di satu media kalau sutradara film ini amat ngefans dengan film-film Indonesia. Informasi ini menag tidak mengejutkan. Tak hanya film, sinetron dan musik Indonesia amat digemari oleh negara-negara Asia Tenggara. Tak salah jika seorang penulis asal Malaysia pernah menyebut Indonesia ibarat Hollywwod-nya Asia Tenggara. Tentu saja, ia banyak menyaksikan fenomena itudi negaranya.

Film lain yang saya tunggui adalah Pendekar Tongkat Emas. Film ini dibuat Miles dan ber-budget hingga 20 miliar rupiah. Jumlah yang cukup mahal untuk ukuran sebuah film. Beberapa aktor hebat bermain di film ini, seperti Reza Rahadian, Nicholas Saputra, dan Christine Hakim. Rencananya, film ini akan tayang pada bulan Desember mendatang.

poster film Pendekar Tongkat Emas

Sayangnya, ketika melihat gambar-gambar film ini, saya agak kecewa. Saya menangkap kesan kalau film ini tidak bebasis pada kultur tanah air yang kaya dengan khasanah bela diri pencak silat. Melihat gambar-gambarnya, terasa kalau film ini lebih condong ke film jenis kungfu yang memang telah lama menjadi trend dunia. Pakaian para pemainnya pun kurang ‘mengindonesia.’

Entahlah, ini cuma kesan sepintas saat menyaksikan gambar-gambar film. Barangkali, pihak sineas ingin menampilkan sesuatu yang lebih bisa ‘dijual’ di pasar internasional. Sebagai seseorang yang percaya kalau film bukan sekadar medium untuk hiburan, namun bisa pula menjadi etalase budaya suatu bangsa, saya berharap lebih.

Apapun itu, saya senang dengan kian banyaknya film laga. Saya menggemari kisah-kisah di balik sebuah aksi laga, khususnya kisah penemuan diri, etos kerja, serta keyakinan bahwa kekuatan terbesar dalam diri seseorang bukanlah pada tinju dan tendangan yang serupa geledek, namun pada ketenangan dan kemampuan mengendalikan ritme kehidupan.



BACA JUGA





Mengenang Mansyur Semma


Mansyur Semma (alm)

MELALUI media sosial, saya menyaksikan berita tentang putra almarhum Mansyur Semma yang kini terdaftar sebagai mahasiswa baru Universitas Hasanuddin (Unhas). Tanpa terasa air mata ini menitik ketika mengingat saat-saat bersua almarhum ayahnya. Dari begitu banyak guru yang saya temui di Unhas, nama Mansyur tertoreh dengan tintas emas.

Kisah tentang pengajar hebat adalah kisah tentang dedikasi serta pengabdian. Para pengajar hebat adalah mereka yang meninggalkan banyak kesan positif serta nama harum di mata banyak mahasiswanya. Mereka tak berdiam di atas langit-langit kemegahan akademis. Mereka berdiam di hati orang-orang yang setia mengenang mereka sebagai mata air inspirasi.

Mereka yang menginspirasi adalah mereka yang hidup dalam keabadian. Kisah tentang mereka selalu berdenyut di sepanjang zaman. Mereka selalu abadi, sekaligus menjadi cermin bagi setiap generasi untuk menemukan diri demi menata zaman yang lebih baik.

Di antara satu dari sedikit pengajar hebat itu adalah almarhum Dr Manysur Semma. Ia meninggalkan jejak yang dalam di hati banyak orang. Air mata saya menetes ketika mengenang ketabahannya menelusuri kampus Unhas di saat matanya mulai rabun. Ia menunjukkan keteguhan untuk berlayar di samudera pengetahuan serta ketabahan menjalani hidup sembari tetap menginspirasi orang lain.

Ia juga berani menyatakan sikap. Barangkali, ia adalah akademisi pertama di tanah air yang berani menyatakan penolakan atas status Badan Hukum Pendidikan (BHP). Sebuah kampus memang idealnya harus tumbuh besar dan memayungi banyak karyawannya dengan kesejahteraan. Tapi, bagi Mansyur, kampus sejatinya mesti menjadi peneduh bagi semua orang. Kampus itu serupa bunga yang keharumannya berhak dinikmati oleh siapa saja yang memenuhi syarat.

Atas dasar pandangan itu, Mansyur hadir menemani diskusi mahasiswa di manapun itu.    Ia dekat dengan semua aktivis, baik kanan maupun kiri. Ia tak pernah melihat latar belakang, serta organisasi mahasiswanya. Baginya, seorang mahasiswa ibarat tanaman yang akan terus tumbuh dan sedang mencari ke mana arah matahari. Pengajar yang baik adalah mereka yang mendedikasikan dirinya sebagai tanah gembur sehingga tunas-tunas pengetahuan bertumbuhan bak cendawan di musim hujan.

Sayang, tak banyak yang seperti Mansyur. Bahkan beberapa tahun setelah kematiannya, kita hanya bisa menghitung dengan jari tentang mereka yang berdedikasi sepertinya. Namun saya berharap ingatan tentangnya tetaplah lestari. Ia mesti menjadi monumen bagi mahasiswa untuk bercermin tentang kebijaksanaan, dedikasi, ketulusan, serta keberanian. Semoga kebaikannya selalu abadi dan menginspirasi semua orang. Amin.

Saling Pukul di Hari Kemerdekaan




DUA orang itu sama-sama duduk di atas bambu yang diletakkan di atas kolam. Keduanya dalam posisi berhadapan. Di tangan mereka ada guling[1] yang dibungkus plastik. Ketika peluit dibunyikan, keduanya lalu saling pukul di tengah riuh dan sorak-sorai penonton. Saat seorang di antaranya terjatuh ke air, keriuhan itu semakin membahana.

Di Taman Topi, Bogor, aku ikut bersorak saat menyaksikan adegan itu. Keduanya adalah pengunjung taman bermain itu. Keduanya sama-sama bergembira dan sengaja berpartisipasi pada peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-69. Pada hari itu, ada banyak permainan yang tujuannya adalah kemeriahan. Barangkali niatnya adalah agar semua orang ikut bergembira dan merasakan indahnya hari kemerdekaan.

Aku melihatnya sebagai ekspresi kultural warga biasa. Mereka ingin merayakan kemerdekaan dengan cara masing-masing. Mereka tak beda dengan mereka yang berupacara di istana, atau mereka yang upacara di Bukit Hambalang, dalam hal mengenang dan memeriahkan acara itu. Mereka yang saling pukul dengan guling itu adalah patriot di tengah-tengah kita, yang barangkali memaknai upaya kemerdekaan sebagai kegembiraan sekaligus keceriaan, yang diwujudkan dengan tertawa bersama.

Para sosiolog percaya bahwa segala bentuk kemeriahan itu adalah ritual yang sengaja dibuat untuk mengingat sesuatu. Yang hendak dilestarikan bukan hanya ingatan tentang peristiwa sejarah pada suatu masa, tapi juga aktor-aktor di belakang peristiwa, serta suasana batin yang sangat kaya, dan diharapkan bisa mengisi semangat di masa kini. Kesemuanya ibarat tali-temali yang menjaga ketersambungan sjarah antara masa kini dengan masa silam, antara peristiwa hari ini dengan peristiwa masa silam.

Bagiku, kegembiraan rakyat jelata itu jauh lebih bermakna jika dibandingkan dengan para petinggi negeri ini yang menggelar upacara di banyak titik. Para petinggi kita tak beda dengan masyarakat periode animisme yang amat rajin menggelar upacara demi memahami semesta. Bedanya adalah upacara di masa kini mengalami kehampaan makna. Entah kenapa, para petinggi negeri suka sekali dengan upacara. Mungkinkah karena di upacara itu ada pembacaan teks proklamasi, ada pembacaan Pancasila, ada juga baris-berbaris, serta pengibaran bendera?

Pernahkah kita bertanya dengan jernih, apakah seorang peserta upacara itu mengingat peristiwa dahsyat di masa silam itu dan menyerap hikmahnya? Jangan-jangan yang muncul adalah kesadaran sebagai peserta upacara yang harus berdiri tegap dengan keringat bercucuran karena dipanggang matahari, setelah itu menyaksikan kain berwarna merah dan putih ditarik seorang pengerek bendera? Tidakkah yang hadir hanya mengingat rasa lelah karena harus berdiri tegap sekian lama?




Jika demikian halnya, maka mereka yang saling pukul dengan batal itu jauh lebih memahami esensi kemerdekaan. Mereka tak perlu upacara. Mereka merayakannya dengan bermain di tengah suasana tawa dan ceria. Mereka paham bahwa esensi kemerdekaan adalah kebahagiaan atas kebebasan untuk melakukan banyak hal tanpa harus takut pada satu otoritas. Mereka mengingat dengan cara sederhana bahwa kemerdekaan adalah saat-saat ketika kamu diliputi bahagia serta saat-saat ketika dirimu menyadari bahwa ada banyak momen indah untuk dikenang.

Aku tiba-tiba saja membayangkan peristiwa di tahun 1945. Aku membayangkan sosok Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka. Aku membayangkan masyarakat di masa itu yang barangkali amat bahagia mendengar berita tentang kemerdekaan. Berita kemerdekaan adalah berita paling menggembirakan bagi semua warga. Ada bahagia karena bisa lepas dari cengkeraman para kolonialis. Ada juga harapan yang terbit karena keyakinan bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas untuk menggapai cita-cita.

Memang, di masa itu ada pula rasa was-was dan khawatir atas kaki tangan bangsa asing yang masih bercokol. Tapi aku yakin bahwa masa itu juga penuh kisah-kisah lucu, bahagia, dan mengharukan yang kemudian diekspresikan secara kultural para rakyat jelata. Salah satu gambar paling kusuka dari buku sejarah 1945 adalah gambar corat-coret di tembok-tembok yang entah dibuat siapa. Coretan itu unik-unik, ada tulisan “Merdeka atau Mati!”. Ada juga kalimat “Indonesia Never Die!”

Yup. Itulah ekspresi kultural rakyat. Di masa lalu ada corat-coret, di masa kini, ada pula aksi saling pukul dengan bantal. Keduanya menyisakan butiran hikmah yang seharusnya kita serap demi memperkaya rasa kebangsaan kita di masa mendatang.




[1] Konon, guling pertamakali dibuat pada periode kolonialisme Belanda di tanah air. Konon, orang Belanda banyak yang kesepian sebab saat itu tak banyak perempuan Belanda yang datang. Akhirnya, terciptalah guling, yang pada masa itu disebut the Dutch Wife. Namun, jangan2 istilah The Dutch Wife itu muncul untuk menyebut para nyai pribumi yang menikah dengan orang Belanda. Entah.

Kisah Orang Kaya Baru


KAWAN itu bukan lagi kawan yang kukenal delapan tahun silam. Ia sudah bersalinrupa menjadi seorang miliuner. Ia sudah menjadi sosok yang berbeda. Rasa percaya diri tumbuh dalam dirinya. Seakan-akan ada lampu sorot yang terus mengarah ke dirinya. Dahulu, ia melobi demi beberapa lembar rupiah, kini ia yang dilobi demi materi itu. Ia seolah punya segepok kunci menuju alam bahagia. Ia bagai gula yang selalu dirubungi semut.

Di satu restoran asing yang mewah, aku menemuinya. Tak ada lagi diskusi tentang nostalgia. Yang dibahasnya adalah investasi. Ia sangat serius, khususnya ketika sejumlah orang datang untuk menjelaskan tentang proposal agar duitnya mengucur. Kuperhatikan dirinya dengan seksama. Kupikir, nikmat juga jadi orang berpunya. Orang-orang akan datang dan berusaha meyakinkanmu. Orang-orang itu menunggu saat-saat ketika kamu mengangguk, lalu menyataan setuju.

Di negeri yang amat memuja materi ini, semua orang laksana berlari pada satu sirkuit pencarian materi. Siapa yang cepat maka dia yang menang. Dia yang menang akan mendapat apresiasi serta kekaguman. Dia yang menang seolah berumah di atas angin. Dia akan datang dan duduk. Yang lain akan mengelilingi, memberi pujian, menyatakan kagum, lalu menjura hormat. Sementara dia cukup melirik sekilas, seolah dirimu tak begitu berharga.

Aku mengenang masa-masa yang lalu. Dahulu, dia yang duduk di hadapanku ini hanya seornag anak muda urakan yang sesekali membaca buku karya Karl Marx. Dahulu, dia hadir di pelatihan sembari mengutip Marx lalu menyampaikan pembelaan atas buruh dan tani. Dahulu, dia menggelandang dan menggembel ke Jakarta sembari mempelajari ritme hidup mereka yang berlari di pusat kekuasaan.

Kini, ia sudah menjadi pribadi yang beda. Ia sudah ‘naik kelas.’ Aku hanya bisa tersenyum dan belajar banyak dari apa yang nampak di hadapan mata ini.Yup, demikianlah hidup. Mereka yang di bawah akan selalu belajar pada mereka yang di atas. Amat jarang yang sebaliknya.

Kenangan Manis tentang Pramuka



LAPANGAN di dekat Kebun Raya  Bogor itu penuh dengan anak-anak berseragam Pramuka. Mereka sedang mengikuti upacara. Di kiri kanan lapangan, aku melihat spanduk bertuliskan Selamat Hari Pramuka. Aku langsung sadar bahwa hari ini, tanggal 14 Agustus, Pramuka berulang-tahun. Pantas saja jika anak-anak itu merayakannya dalam bentuk upacara.

Pikiranku melayang ke masa-masa ketika belajar di sekolah menengah. Aku seorang anggota Pramuka yang setia mengikuti perkemahan. Aku menikmati saat-saat menuju lokasi perkemahan dengan menumpang mobil angkutan umum atau truk. Melalui Pramuka, aku bisa menjelajah hingga menyaksikan banyak desa-desa serta memiliki sahabat di mana-mana. Pramuka mengajarkanku tentang nikmat petualangan serta kemandirian. Lewat organisasi itu, aku mengasah mimpiku bisa ke mana-mana.

Entah, apakah anak-anak remaja hari ini masih mau ber-pramuka ataukah tidak. Mungkin pula mereka menemukan organisasi lain yang lebih memenuhi keinginan mereka. Setiap masa memiliki kisah masing-masing. Generasi hari ini lebih mudah terhubung lewat teknologi informasi yang perkembangannya kian massif. Barangkali, generasi hari ini lebih mudah mengakses informasi tentang travelling, lalu memutuskan untuk berselancar di dunia online pula.

Yang pasti, aku bangga dengan pengalaman selama menjadi anggota Pramuka. Kusyukuri hasrat bertualang ke mana-mana. Kunikmati saat-saat menampilkan kreasi seni di acara api unggun. Kukenang saat-saat berkemah di desa-desa yang jauh dari rumah.

Entah, apakah Pramuka hari ini masih seperti dahulu, ataukah telah bertransformasi menjadi bentuk lain sesuai zamannya. Yang pasti, aku bahagia sebab masih menyimpan rapi banyak kenangan tentang masa-masa muda, pencarian kedewasaan, serta pelajaran tentang alam semesta.


Beda Peneliti Modernis dan Peneliti Kritis




SUNGGUH beda membaca karya ilmuwan modernis dan ilmuwan kritis dalam tradisi penelitian sosial. Seorang modernis selalu bicara tentang apa yang seharusnya diakukan. Ia memiliki setumpuk rencana dan kalkulasi tentang apa saja yang perlu dibangun. Sedang seorang peneliti kritis akan sibuk mencari celah dari apa yang sudah dibangun. Ia akan mengkritik sekaligus menguliti bangunan pengetahuan ataupun hasil dari pekerjaan seorang modernis.

Bagaimanakah halnya jika seorang ilmuwan kritis diberikan mandat untuk membangun sesuatu? Dugaanku, hasilnya akan serba tanggung. Barangkali mereka akan sibuk berdebat dalam proses pemetaaan tentang apa yang perlu dilakukan. Atau barangkali mereka hanya akan menyerahkan pada masyarakat setempat, dengan dalih partisipasi, tanpa melakukan apapun. Peneliti kritis sangat ahli dalam mengkritisi. Mereka pasti akan kebingungan ketika disuruh mengkonstruksi sesuatu.

Setiap pilihan teoritik akan membawa pengaruh hingga level pembumian gagasan. Barangkali, dua metode dalam riset sosial ini laksana matahari dan bulan yang saling melengkapi. Jika modernisme membimbing seorang peneliti tentang arah dan tujuan ideal, maka kritisisme menjadi mercusuar yang memberikan arah agar tidak terjadi penyimpangan. Tapi, tujuan akhirnya sama yakni tiba pada satu tujuan.

Ini catatan lepasku. Mungkin aku sedang galau saja membaca semburan kritik konstruktif yang dibuat seorang peneliti kritis.


Tania Li, Sahabat di Kereta


suasana di dalam kereta

Kapan dan di manakah anda menemukan titik fokus ketika membaca?


SERING saya tak punya waktu untuk membaca. Padahal, membaca adalah jendela untuk menemukan hal-hal baru, gerbang untuk belajar banyak hal yang menarik, serta senjata untuk terus meng-update pengetahuan demi memandang kenyataan dengan cara yang lebih fresh. Tanpa membaca, pengetahuan akan jalan di tempat. Saya hanya akan mengulang-ulang segala hal yang barangkali mendatangkan jenuh atau membosankan bagi orang lain yang pernah mendengarkan gagasan itu.

Belakangan ini, saya kembali menemukan gairah membaca. Memang, hari-hari saya masih bergegas sebab harus bolak-balik antar kota. Namun, saya menemukan keasyikan baru ketika membaca di perjalanan. Ya, saya membaca di dalam kereta yang setiap hari saya gunakan dari dan ke kantor. Kini, saya menemukan konsentrasi penuh ketika membaca di dalam kereta, di tengah deru mesin, serta orang-orang yang lalu lalang.

Hanya dalam waktu dua hari, saya menuntaskan buku tentang riset kualitatif untuk ilmu sosial yang disusun Prof Burhan Bungin. Malah, saya membuat catatan-catatan selama di kereta tentang betapa banyakya gagasan yang tak orisinil di buku itu. Di tengah deru kereta yang menyinggahi banyak stasiun, saya menemukan bahwa buku ini serupa sebuah kolam tempat menaruh semua gagasan-gagasan banyak orang, lalu diikat dengan satu tali, yang justru tak berhasil menautkan semua gagasan itu. Buku ini tak begitu mencerahkan.

Ada dua hal yang sangat mempengaruhi kecepatan membaca. Pertama adalah waktu yang tepat. Kedua, konsentrasi. Nah, saya menemukan keduanya saat d kereta. Waktunya sangat tepat sebab saat itu pikiran saya kosong dan lebih banyak mengkhayal. Makanya, saya memutuskan untuk membaca, sesuat yang snagat efektif untuk ‘membunuh’ waktu perjalanan.

Entah kenapa, saya juga menemukan konsentrasi di situ. Sebab dalam keramaian itu, tak ada satupun hal yang menarik. Setiap hari, saya menyaksikan kenyataan yang sama. Jendela-jendela kereta juga kehilangan kejutan. Daam situasi yang serba kosong itu, membaca adalah jalan keluar terbaik untuk melepas semua kejenuhan.

Demi memenuhi hobi membaca, saya mulai rajin berburu buku-buku bagus. Saya sungguh beruntung karena istri amat mendukung hobi membaca. Ia tak pernah protes ketika saya menghabiskan uang belanja demi hobi membaca. Saya mengakui kalau cukup lama saya tak mengikuti perkembangan baru di ranah teori dan metodologi ilmu sosial. Saya terlampau keasyikan berkelana dari fakta satu ke fakta lain, atau dari tempat satu ke tempat lain, tanpa merefleksi ataupun mendiskusikannya dengan perangkat teori.

buku baru

Saya pernah membaca bahwa ada varian dalam riset yang memang anti pada teori-teori sebab bisa menjerat seseorang pada cara berpikir tertentu. Namun membaca teori juga penting untuk memperluas cakrawala berpikir, demi menemukan fakta bahwa kegelisahan di satu tempat bisa juga dialami di tempat lain, sehingga refleksi dan proses memperkaya pengetahuan amatlah diperlukan.

Hari ini saya membeli tiga buku yang agak serius. Masing-masing adalah Antropologi Marxis (2014), Suara dari Desa (2013), serta buku The Will to Improve (2012). Di antara ketiganya, saya baru membaca bab pendahuluan buku The Will to Improve yang ditulis Tania Li. Baru baca sekitar 20 halaman, saya sudah dilanda keasyikan, dan berniat untuk menuntaskannya. Kali ini, Tania Li akan menjadi sahabat di atas kereta. Ia akan membantuku menunjukkan tentang kemiskinan yang terus terjadi, di tengah berbagai rencana serta strategi pemerintah yang hendak mengatasinya.

Sebagaimana biasa, pada setiap lembar buku, saya terngiang kalimat yang pernah ditulis Ralph Waldo Emerson, Setiap buku adalah kutipan; setiap rumah adalah kutipan, seluruh rimba raya dan tambang-tambang dan bebatuan adalah kutipan, setiap manusia adalah kutipan dari semua leluhurnya”

Setuju.

Sensasi Jadi Headline (23)


DI ajang pemilihan presiden, aku tak bisa berdiam diri. Aku ingin berpartisipasi dengan mendukung kandidat yang kuanggap paling tepat memimpin Indonesia. Makanya, aku beberapa kali menulis tentang tema pilpres yang kemudian memancing atensi besar. Pikirku, biarpun tulisan itu memihak satu calon, setidaknya ada muatan atau kuas emosional yang disapukan pada tulisan tersebut. Semoga saja bisa mencerahkan dan membawa berkah bagi yang membacanya.

 Saat Jusuf Kalla Menggertak laskar Jihad

 Surat Getir buat Joko Widodo

 Kisah Haru Jokowi - JK di Kapan Phinisi

 Penafsir Bintang di Pegunungan Sulawesi

Tiga Tahun Putri ARA




DI tanggal 2 Agustus lalu, Ara dan ibunya merayakan ulang tahun. Meskipun ini adalah ultah ketiga, tetap saja saya terheran-heran mengapa mereka bisa lahir pada hari dan bulan yang sama. Setiap tahun, saya senang sekali karena bisa merayakan ultah mereka pada saat bersamaan. Tak perlu keluar banyak biaya. Bisa dirangkaikan. Tanggalnya juga sama.

Ara kini berusia tiga tahun. Saya tak menyangka, bayi merah yang dahulu saya pandangi ketika baru lahir dan diletakkan di ranjang khusus bayi, Rumah Sakit Pertiwi, Makassar, kini telah menjadi anak yang lucu. Ia belum selancar sepupunya Cakra ketika bicara. Tapi ia sangat suka bercerita apa saja. Mulai dari tayangan kartun yang disaksikannya, atau tentang gambar-gambar yang dibuatnya. Ia menuntut perhatian. Ketika saya cuek dengan cerita-ceritanya, ia bisa marah dan teriak “Ayah!” dengan nada kesal.

Kadang ia suka menghardik. Di saat ia sudah berdandan dan siap keluar, sementara saya masih tidur-tiduran, ia akan marah sambil menunjuk ke kamar mandi. “Ayah! Mandi!” Ia juga gesit. Hobinya adalah berlari sambil tertawa. Yang saya herankan, ia tak pernah kelihatan lelah. Padahal, saya baru berlari  menit, seluruh engsel tubuh serasa mau terlepas. Sementara dirinya tetap kuat.

Ia sepintar anak berusia tujuh tahun. Ia sudah tahu tanggal lahirnya. Ia sudah punya konsep tentang pesta ulang tahun. Ia suka bernyanyi lagu happy birthday sembari meniup lilin. Baginya, acara ulang tahun adalah wajib dirayakan, meskipun sederhana. Demi acara itu, saya siap memenuhi apapun yang diinginkannya.


Kali ini, ultah itu dirayakan sederhana. Ibunya membeli kue kecil dengan angka tiga di atasnya. Di suatu pagi yang cerah di kota Depok, saya lalu melihat dirinya menyanyi Happy Birthday dengan kalimat-kalimat yang cadel, khas seorang anak berusia tiga tahun. Ia memakai gaun seperti putri-putri. Ia belum mengenal konsep tentang ‘make a wish’, tapi setiap geriknya, senyumnya, dan bahkan gerak matanya sekalipun terpatri kegembiraan. Di situ, saya melihat cahaya harapan untuk masa depannya.

Pada saat seperti ini, saya dipenuhi rasa haru ketika melihatnya kian dewasa dan bisa memanggil ayah. Di setiap momen bahagianya, saya menancapkan tekad kuat untuk selalu hadir di sisinya, dalam keadaan apapun. Tak hanya bahagianya, saya akan hadir pada saat-saat tak bahagia sekalipun. Saya dan ibunya adalah prajurit yang akan membersihkan jalanan gripis agar langkahnya mulus menggapai impiannya.

Kelak, dia akan bertarung dengan kehidupan. Kelak dia akan merasakan ganas dan kerasnya ombak kehidupan. Dia pun akan mengalami jatuh bangun serta keadaan yang tak selalu membahagiakan. Barangkali, dia akan menghadapi segala kisah-kisah tak mengenakkan di jalan mencapai impiannya. Tapi selagi ia bisa tertawa bahagia, maka beban seberat apapun akan seketika ringan. Selagi ia bisa tersenyum ceria, maka selalu ada mercusuar harapan yang akan memandu gerak langkahnya demi menggapai bahagianya sendiri.

Itulah harapan yang saya titipkan untuknya. 

Selamat ulang tahun Ara. Selamat ulang tahun juga buat Dwi, ibu terbaik bagi Ara, sekaligus istri terbaik yang ikhlas menerima semua kekurangan yang ada pada diri ini.


Baywatch Seksi di Pulau Lombok


baywatch sedang melintas di Lombok

MENDENGAR kata baywatch, saya membayangkan sosok Pamela Anderson yang seksi dan cekatan ketika menyelamatkan orang-orang yang tenggelam di pantai. Di Pulau Lombok, sejumlah anak muda yang menamakan dirinya baywatch, menjalankan peran yang lebih hebat dari Pamela dalam serial yang pernah tayang di RCTI. Tak hanya menjaga pantai, anak-anak muda itu ikut menjaga laut dari illegal fishing. Hebatnya, mereka mengaku tak dibayar oleh siapapun.


 
MATAHARI tepat berada di ubun-ubun ketika Heri (25) mulai mempersiapkan perahu. Ia memanggul mesin bermerk Johnson, lalu memasangnya di bagian belakang perahu. Sejumlah anak muda telah duduk manis di perahu ketika Heri menyalakan mesin, lalu menjalankan perahu. Desa Tawun yang terletak di bibir pantai Lombok Barat menjadi saksi ketika perahu yang dikemudikan Heri melesat menuju laut lepas.

Sebagaimana Heri, semua anak muda di perahu itu sama-sama memiliki perut rata seakan-akan rajin fitness. Ototnya menyembul dari bisep yang rata-rata kekar. Mereka nampak seksi dan terlihat macho. Maklumlah, lautan telah menempa fisik mereka sehingga mirip sosok David Haselhoff, pasangan main Pamela Anderson dalam serial Baywatch.

Pada hari itu, saya ikut dalam rombongan mereka yang hendak meninjau pulau-pulau kecil seperti Gili Tangkong. Gili Nanggu, dan Gili Sudak. Mereka mengamati semua perahu yang menangkap ikan, singgah ke pulau-pulau kecil untuk berdiskusi dengan warga, setelah itu, singgah ke Gili Nanggu untuk berwisata. Bersama anak-anak muda itu, saya menyaksikan pulau-pulau yang amat indah dan menakjubkan. Pantas saja jika kawasan ini menjadi persinggahan dari banyak turis asing.

Usai meninjau pulau-pulau itu, kami lalu singgah ke sebuah pondok di tepi pantai. Di situ tertera tulisan Pokmaswas Baywatch. Pokmaswas adalah singkatan dari Kelompok Pengawas Masyarakat. Kelompok ini beanggotakan pemuda lokal yang lalu diberi kepercayaan untuk menjaga pantai dan laut.

perahu nelayan
sejumlah turis asing

Kelompok ini difasilitasi oleh Destructive Fishing Watch (DFW) sejak tahun 2006. Bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, DFW merekrut sejumlah anak muda di desa nelayan di sekitar Lombok Barat untuk menjadi anggota Baywatch. Perekrutannya sederhana, yakni mereka harus memiliki komitmen dan kecintaan kepada lautan.

Fasilitator DFW, Rizal, menuturkan bahwa perekrutan Baywatch ini berdasarkan rekomendasi serta insiatif warga. “Kami tak pernah memasang iklan di koran tentang perekrutan. Kami hanya menghubungi sejumlah nelayan untuk merekmendasikan siapa saja anak muda yang bersedia untuk menjaga lautan dan pantai,” katanya.

Selanjutnya, pemerintah dan DFW lalu memfasilitasi mereka dengan peralatan yang lengkap, termasuk peralatan menyelam, perahu yang digunakan untuk patroli, serta beberapa pelatihan untuk mengasah skill mereka sebagai baywatch. Mereka juga diberikan fasilitas berupa sekretariat yang menjadi markas sekaligus tempat untuk menaruh peralatan selam.

Mereka memang cekatan di laut. Ketika berperahu, saya bisa melihat bagaimana mereka amat lihai menyiapkan peralatan selam. Mereka mengajak saya untuk menyelam. Saya menggeleng. Dalam hati, saya ingin sekali menyelam, tapi sayangnya saya belum punya pengalaman menyelam sama sekali. Malu juga pada mereka yang lihai menyelam.

Menurut Rizal, kelompok baywatch dibentuk di tiga lokasi di Indonesia. Selain Lombok Barat, ada juga kelompok yang dibentuk di Labuan Bajo (Manggarai Barat) dan Pulau Anambas. Di tiga tempat itu, para baywatch memiliki tugas yang sama yakni menjaga pantai dan lautan.

Saat meninjau sekretariat mereka, saya menyaksikan banyak foto-foto yang berisikan kegiatan selama di beberapa tahun. Di antaranya adalah upaya transplantasi karang di sekitar pantai demi mengembalikan habitat karang sebagai rumah bagi para ikan. Yang menarik, di tengah gambar-gambar itu, terdapat karikatur seorang anak nelayan yang berbincang dengan Presiden AS Barrack Obama.

Dalam karikatur itu, nelayan itu berkata pada Obama dalam bahasa Inggris dan bahasa Sasak, “Tuan Mister. Safe or coral for better future. Nggih..! Lamun Ndek Jak Diwalku Side Lanun!” Obama menjawab “Yaaaookk.. Understand Wah aneh.”

Tidak Digaji

Sayangnya, para baywatch muda ini tidak mendapatkan gaji yang memadai. Keanggotannya adalah bersifat sukarela. Mereka bekerja memantau laut, namun tidak mendapatkan penghargaan yang setimpal. Namun, mereka menyiasati itu dengan cara mencari penghasilan lain. Salah satunya adalah menyewakan alat selam, serta menjadi guide pemandu selam.

pantai di Desa Tawun, Lombok

peneliti dan baywatch

posko baywatch

Beberapa aktivis DFW membantu mereka untuk memasang iklan di beberapa situs. Saya melihat iklan yang mereka pajang di situs Kaskus, salah satu situs terbesar di Indonesia. Berikut iklan yang mereka pasang.

Guna mendukung kegiatan tersebut, maka melalui binaan dan bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Barat maka terbentuklah Divisi Baywatch Diving Solution yang merupakan inisiasi kelompok ini guna mencari dana tambahan untuk biaya operasional pengawasan perairan dari segala macam bentuk kegiatan ilegal fishing dan perusakan lingkungan pesisir oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Pelayanan yang diberikan berupa pelayanan penyelaman, snorkling serta konservasi pesisir dan lautan di sekitar perairan Desa Sekotong Barat.
Buat agan-agan traveller yang ingin menikmati keindahan bawah laut wilayah Sekotong sekaligus mendukung Pokmaswas Baywatch dalam usahanya melestarikan dan menjaga terumbu karang, berikut adalah paket-paket menarik buat agan-agan.

Anak-anak muda itu mengajarkan tentang pentingnya aspek kesukarelaan dalam menjaga ekosistem dan lingkungan. Mereka juga menunjukkan bahwa hasrat menjaga lautan bisa dilakukan dengan berbagai cara, dan tak selalu harus dinilai dengan uang. Mereka sungguh beda dengan masyarakat kota yang selalu bekerja berdasarkan imbalan materi serta demi untuk survive. Anak-anak muda ini bekerja suka rela demi menyelamatkan bumi dan lautan di masa depan.

Ketika berbincang dengan Heri, saya mendengar kalimat yang terus terngiang dalam pikiran. “Saya bersedia menjadi baywatch dengan satu harapan. Agar kelak kawasan ini terus memberikan sumberdaya yang berlimpah dan bisa mensejahterakan bagi masyarakat desa.”



Penafsir Bintang di Pegunungan Sulawesi

sawah-sawah hijau di Mamasa


DI tengah hamparan pegunungan Mamasa di Sulawesi Barat, para petani memiliki penanda unik untuk memulai masa tanam hingga kapan saat tepat untuk ritual memanen padi. Mereka tak menunggu arahan pemerintah. Mereka menunggu perintah dari sosok yang memiliki kemampuan untuk menafsir bintang, menyibak misteri tanda langit, demi memahami isyarat alam bagi para petani.

***

ANGIN sepoi-sepoi berhembus di tepi persawahan di Mesawa, Mamasa, ketika sejumlah orang mengetuk-ngetuk pintu sebuah rumah di suatu malam. Tak lama kemudian, suara pintu yang berderit terdengar. Seorang perempuan berusia lanjut keluar dari rumah itu dan bertanya ada apakah gerangan. Orang-orang itu bertanya, “Kapan saat menanam padi?”

Perempuan tua itu terdiam sesaat. Ia lalu memandang langit yang dipenuhi bintang-gemintang. Bibirnya sempat berkomat-kamit seolah merapal mantra dalam bahasa kuno. Tak lama kemudian, wajahnya menggeleng. Semua orang paham tentang isyarat yang disampaikan perempuan tua itu. Tanpa banyak bertanya lagi, mereka lalu beranjak pulang dengan wajah agak kecewa.

Mereka yang datang berombongan itu adalah para petani. Mereka datang menemui seorang so’bok, atau kerap disebut tomassuba. Seorang so’bok adalah seorang imam padi dalam sistem kepercayaan atau agama lokal Aluk Toyolo, yang dipercayai orang Mamasa sejak ratusan tahun silam. So’bok adalah mediator antara manusia dan dewa padi.

Seorang So’bok menafsir bintang, memahami letak gugusan bintang yang menandai suatu permulaan bagi musim padi yang tepat (Mandadung 1999). Ia tak hanya menjaga ritual penanaman padi, tapi juga memainkan peran aktif di dalamnya. Ia memberikan isyarat untuk pengerjaan sawah melalui pengolahan pertama dengan sekop. Ia juga membawa sesajen yang diperlukan pada tingkatan berbeda pada penanaman itu. Tugasnya amat penting sebab keberhasilan panen akan tergantung pada dipenuhinya syarat-syarat yang diperlukan dewa-dewa. Jika aturan tak dipenuhi, maka bala atau bencana bisa menghantam negeri.

Bagaimana caranya memahami pesan langit dan menafsir bintang? Seorang warga Mamasa yang saya temui tak dapat menjawabnya. Ia bukanlah seorang passo’bok. Ia hanya menjelaskan bahwa bintang memberikan tanda atau awal menanam padi. Ada proses spiritual serta tingkat pemahaman tertentu bagi seorang so’bok, yang kerap disebut Imam Padi. Jika isyarat langit itu sudah nampak, maka seorang so’bok akan mulai mengambil sekop lalu membongkar tanah. Warga lainnya lalu menunggu hingga tiga hari, sebelum akhirnya mulai menggarap lahannya.

 
beras hitam

Selama sekian dekade, tradisi ini masih dipertahankan oleh warga Mamasa. Mereka meyakini bahwa padi adalah berkat dari langit yang ditumbuhkan oleh dewa-dewa bumi. Berdasar kepercayaan tradisional, warga Mamasa meyakini bahwa ada barisan dewa-dewa yang menghuni langit dan bumi. Mereka menjaga keseimbangan lagit dan bumi. Ketika dewa langit memberikan isyarat melalui bintang, maka tugas selanjutnya adalah dewa bumi memberikan kesuburan dan kekuatan agar padi-padi tumbuh dengan kokoh.

Tentu saja, ada sejumlah ritual dan sesajen yang harus disiapkan. Di satu sisi, ritual itu tak hanya bermakna spiritual, namun juga memiliki makna sosial yang kuat. Melalui ritual itu, organisasi sosial dipertahankan, solidaritas tetap diperkokoh, serta kian menebalnya sense of community bagi seluruh warga desa.

Eksotika Mamasa

Kisah tentang seorang penafsir bintang ini saya dapatkan dalam kunjungan lapangan ke Mamasa, Sulawesi Barat. Bersama rombongan peneliti dari Pusat Studi Pembangunan, Pertanian, dan Pedesaan (PSP3), saya bergabung dengan beberapa peneliti dari berbagai displin ilmu. Niatnya adalah membuat satu studi yang bersifat holistik demi membuat kajian tentang (1) pewilayahan komoditas, (2) pemetaan potensi agro-industri, serta (3) studi tentang eko-wisata. Tiga topik ini diharapkan akan menjadi rekomendasi dan masukan bagi pemerintah daerah untuk menyusun rancangan kebijakan yang akan membuka Mamasa bagi dunia luar.

Kisah tentang seorang so’bok ini bukanlah isapan jempol. Pada beberapa desa, posisi adat ini masih bisa ditemukan. Warga desa masih meyakini keberadaan dewa padi Tottiboyong yang diyakini hidup di tanah Mamasa (Buijs 2006). Tugas seorang so’bok adalah memberikan persembahan berupa sesajen agar Tottiboyong bermurahhati dan menganugerahkan kesuburan kepada tanah Mamasa.

Mamasa adalah wilayah yang dikitari pegunungan. Posisinya di ketinggian. Sayangnya, akses jalan masih rusak berat, sejak pertamakali dibuka Belanda di akhir tahun 800-an. Meskipun medannya berat, saya sangat menikmati perjalanan ke wilayah ini. Bagi yang suka petualangan, Mamasa adalah tempat yang mengasyikkan. Dari Makassar, kita bisa menempuh perjalanan darat melalui Parepare, Pinrang, dan Polewali. Jalanannya masih mulus. Namun begitu hendak meninggalkan Polewali menuju Mamasa, jalanan mulai mendaki dan rusak parah. Meski jarak dari Polewali ke Mamasa hanya 90 kilometer, namun jalanan rusak menyebabkan perjalanan ditempuh hingga berjam-jam.

seroang anak membawa padi

Sayang, dalam perjalanan ini, saya tak sempat bertemu dengan seorang penafsir bintang bagi para petani. Beberapa petani yang saya temui di sekitar kota menjelaskan tentang kian berkurangnya sistem pertanian tradisional ketika modernisasi kian menggerus sistem pertanian tradisional. Kata mereka, so’bok telah lama menjadi cerita.

Idealnya, so’bok harus tetap dipertahankan demi menjaga warisan tradisi serta sebagai modal sosial yang kokoh di masyarakat.  Seperti halnya subak di Bali, suf di Nusa Tenggara Timur (NTT), so’bok adalah tradisi yang bisa menjadi benteng bagi warga setempat untuk menghadapi berbagai keretanan pangan. Berbagai studi menunjukkan bahwa kelaparan banyak melanda wilayah yang tidak memiliki aspek modal sosial yang kokoh, serta hilangnya solidaritas bersama.

Namun, benarkah tradisi so’bok itu telah punah? Suatu hari, saya mengunjungi dataran tinggi Nosu, yang berbatasan dengan Toraja. Saya melihat sawah-sawah luas yang menghampar. Seorang pemuda datang menghampiri saya dan bercerita kalau jenis padi yang ditanami adalah padi lokal sebab padi impor tak bisa bertahan ditanam di ketinggian. Saya lau bertanya sesuatu:

“Bagaimana caranya kalian tahu kalau musim tanam telah tiba?”
“Biasanya, kami meminta bantuan pada seorang passo’bok untuk membaca bintang dan menafsir tanda-tanda alam,” katanya.
“Jadi, apakah penafsir bintang itu masih ada?”
“Iya. Saya bisa mengantar kamu untuk menemuinya,” katanya.

bunga-bunga di dekat sawah

Tiba-tiba saja, ada rona bahagia yang memenuhi hati ini. Rasanya tak sabar untuk segera bertemu dan belajar banyak hal tentang bintang-bintang yang menjadi kompas bagi sistem pertanian di situ. Semoga saja pengetahuan tentang perbintangan itu tetap bertahan dan lestari hingga masa-masa mendatang. Tiba-tiba saja saya khawatir tentang punahnya tradisi itu. Generasi hari ini lebih tertarik bermain facebook ketimbang memahami adat dan sistem tradisional. Hiks.

Terpopuler Bulan Ini

...

...