Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Jangan Salahkan ANJI



Baru beberapa jam tayang, postingan itu heboh. Penyanyi Erdian Aji Prihartono alias Anji membuat postingan berupa talkshow dengan Hadi Pranoto, seseorang yang mengaku profesor doktor di bidang mikrobiologi, yang mengaku telah menemukan obat Covid sejak Mei. Di Twitter, Anji menjadi trending topic.

Banyak pakar bereaksi. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membantah. Anji menjadi bulan-bulanan. Ada netizen yang mengklarifikasi. Tapi jauh lebih banyak yang menghujat. Puncaknya adalah Youtube menghapus postingan Anji setelah ditonton ratusan ribu orang.

Si Anji itu tidak salah. Dia hanya mengekspresikan apa yang dia dengar dan dianggap benar. Dia punya hasrat berbagi melalui kanal Youtube. Cuma, dia bodoh. Pengetahuannya cuma sampai di situ. Dia tidak punya disiplin verifikasi yang kuat. Dia tidak tahu bagaimana seharusnya melakukan cek dan ricek atas informasi.

Tugas verifikasi itu harus dikerjakan oleh para ilmuwan kita, para akademisi kita. Namun, banyak akademisi kita larut menjadi netizen yang hanya bisa menghujat. Seharusnya mereka bisa memisah terang dari gelap, mencerahkan publik. Bahwa ada publik yang sebodoh Anji, itu biasa saja. Tidak semua orang bisa kuliah sampai doktor. 

Tapi kan menjadi bodoh di negeri ini tak apa-apa. Anda tak melanggar hukum apa pun. Bodoh pada tingkatan ekstrem yaitu gila lebih tak apa-apa lagi. Dalam agama, orang gila tidak berdosa. Dia bebas ke mana-mana tanpa terikat aturan dunia. Bahkan saat orang gila telanjang bulat sekali pun, orang akan memaklumi. Dia kan gila.

Maka betapa lucunya menyaksikan banyak orang hebat dan pakar di medsos yang kebakaran jenggot gara-gara postingan Anji. Di bidang musik, Anji adalah maestro. Tapi di bidang medis dan dunia talkshow, Anji itu bukan siapa-siapa. Kenapa pula semua orang begitu serius menanggapi postingan seseorang yang tidak berpengetahuan dan tiba-tiba bahas obat Covid?

Kalau menganggap postingan itu ngawur, abaikan saja. Semakin kita peduli, maka semakin heboh pernyataan itu. Lagian, platform Youtube adalah hiburan. Harus diakui, rekaman wawancara Anji di Youtube itu cukup menghibur. Dia ingin meniru para Youtuber lain yang buat konten heboh sehingga ditonton para audiens di mana-mana. Biarkan saja.

Tapi kan malah aneh jika kita ikut heboh dan memaksa agar Youtube mencabut video itu. Bukankah sejak dulu Youtube punya reputasi menyimpan segala jenis video heboh, mulai dari bokep, hoaks, konten bohong, sampai konten prank penuh kengawuran? Apakah kita juga akan jadi polisi dan memaksa Youtube untuk menghapus semuanya? Betapa kurang kerjaannya kita semua.

Mungkin saja ada yang berkata bahwa video Anji itu bisa berbahaya sebab banyak orang yang bisa tersesat. Ya, salahkan orang-orang kenapa percaya. Anji kan bukan media yang menjalankan tugas memberikan informasi bebas dan akurat. Sudah tahu Anji itu bukan dokter atau medis. Kenapa percaya? 

Ucapkan terima kasih pada Anji, karena dia mengajari kita beberapa hal penting sebagai penanda zaman ini.

Pertama, kita hidup di era post-truth. Kata Tom Nichols, ini adalah era “the death of expertise” atau matinya kepakaran. Seorang dokter yang membahas obat bisa dikatai tolol oleh netizen yang merasa dirinya maha benar. Jelas-jelas korban Covid berjatuhan di mana-mana, masih saja menganggapnya sebagai konspirasi. 

Di pasar-pasar tradisional, kita sering bertemu penjual obat yang sibuk memasarkan obat dengan khasiat bisa menyembuhkan segala penyakit. Kita santai saja membeli obatnya, kemudian kecele saat obat itu ternyata tidak berkhasiat. 

Palingan kita berkata “b...sat”, “s..tan”, “an..ng” setelah itu kembali melanjutkan kehidupan seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa. Jika suatu saat ketemu penjual obat itu, kita biasa saja. Mau protes kan malu sendiri.

Pelajaran buat kita adalah saatnya kembali menekuni sains. Saatnya mengecek semua informasi. Percayalah pada otoritas pengetahuan. Soal penyakit, percayalah pada dokter, bukan dukun. Soal ekonomi, percayalah pada ahli ekonomi, bukan netizen. Soal Covid, percayalah pada peneliti virus, bukan pada seseorang penyanyi.

Kedua, Anji adalah potret masyarakat kita yang amat mudah percaya dengan klaim profesor doktor dan pakar di bidang tertentu. Lihat saja di banyak tempat, di banyak kantor instansi, ketika Anda mengaku profesor, maka semua orang akan menganggap Anda pintar. Anda tiba-tiba saja dianggap punya pengetahuan sekualitas dewa. 

Saat seseorang bernama Hadi Pranoto mengaku profesor doktor dan pakar mikrobiologi, Anji percaya saja. Malah membuat sesi wawancara. Belakangan, klaim Hadi Pranoto dipertanyakan. Tak ada yang mengenalnya. Semua orang mengecek Google Scholar. Dia bukan siapa-siapa. Media mencatat, dia panitia keramaian yang menghadirkan Rhoma Irama, di mana penonton mengabaikan protokol covid.

Anji itu tak sendirian. Akui sajalah, masyarakat kita memang mudah silau dan kagum dengan orang bergelar profesor doktor. 

Pernah saya berurusan dengan birokrasi di satu daerah. Saat saya datang, semua orang cuek. Saya diabaikan. Saat seorang kawan menyapa Pak Doktor, kemudian kawan lain menyapa Pak Prof, semua orang di ruangan itu langsung menoleh. Malah ada yang membungkuk. 

Begitu dikira profesor, sengawur apa pun omongan saya, orang percaya. Masyarakat kita lebih suka memandang gelar ketimbang substansi pembicaraan. Padahal saya bukan profesor. Saya hanya seorang provokator.

Meskipun saya lebih banyak tidak percaya Rocky Gerung, tapi saya setuju dengan pernyataannya: “Ijazah adalah tanda bahwa Anda pernah sekolah, bukan tanda Anda bisa berpikir.” 

Ketiga, talkshow kita sejak dulu kehilangan substansi. Tak perlu ribut dengan wawancara yang diadakan Anji. Setiap hari kita sebagai penonton dibombardir dengan kehadiran sosok seperti Ali Ngabalin, Rizal Ramli, Ruhut Sitompul, juga para politisi yang suka bertengkar di layar kaca saat siaran langsung, dan begitu jeda iklan bisa saling rangkul dan ketawa-ketawa. 



Kita pun harusnya mempertanyakan substansi dari pernyataan para pejabat publik kita. Dua hari lalu, New York Times menerbitkan artikel berjudul “In Indonesia, False Virus Cures Pushed by Those Who Should Know Better.” Di artikel itu dibahas tentang Menteri Pertanian yang mempromosikan kalung anti covid, Gubernur Bali yang bilang obat Civid adalah arak bali, juga Presiden Jokowi yang seperti Donald Trump pernah memandang enteng wabah ini.

Mereka dibandingkan dengan Gubernur Nairobi di Kenya yang juga merekomendasikan arak sebagai obat. Mereka semua menjadi contoh dari pejabat yang seharusnya lebih tahu sebab dikelilingi para ahli malah ikut-ikutan menyebar informasi palsu.

Mereka memenuhi ruang publik kita dengan informasi, yang belum pernah terverifikasi. Semestinya, pernyataan seorang pejabat dikeluarkan setelah dipertimbangkan dengan matang, setelah didiskusikan dengan para ahli dan pakar. Sebab semua kebijakan dan pernyataan harus terukur, harus punya basis ilmiah, sehingga publik pun tidak menerimanya begitu saja. 

Nah, di titik ini, kadar kesalahan Anji sama saja dengan pejabat publik kita. Daripada sibuk menghujatnya, mending kita bernyanyi:

"Sampai habis nyawaku
Sampai habis usia
Maukah dirimu jadi teman hidupku?
Kaulah satu di hati
Kau yang teristimewa
Maukah dirimu hidup denganku?
Katakan "Yes I do"




Perang Robot untuk Menang Pilkada


ilustrasi

Di sudut satu kafe di Bandung, Jawa Barat, saya bertemu dengan bapak itu. Dia adalah salah seorang kandidat bupati di satu daerah di Jawa Barat. Dia sudah mengantongi rekomendasi partai. Malam itu dia mengajak saya untuk berbincang.

Dia tak basa-basi. Dia langsung to the point. Dia langsung membuka pertanyaan: “Berapa biaya yang diperlukan untuk membangun laskar digital?” Saya terhenyak. Sekian detik berikutnya, saya balik bertanya, “Berapa yang bapak sanggupi?” 

Di awal reformasi, semua politisi amat gandrung dengan pendekatan survei politik. Survei menjadi satu metode yang digunakan semua politisi, partai, hingga berbagai lembaga. Survei menjadi kompas bagi strategi politik dan pemenangan kandidat.

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligence dan Kediktatoran Digital

Namun sejak pilpres tahun 2014, bertambah lagi amunisi yang harus dilengkapi. Bukan sekadar survei, tetapi juga laskar media sosial. Publik menyaksikan bagaimana media sosial menjadi arena tempur bagi semua kubu politik. 

Semua gerilya, mencari massa, membidik target, hingga mengeluarkan bujuk rayu di medsos. Berbagai konten, mulai dari konten positif hingga hoaks juga direproduksi di media sosial. Semuanya dipakai untuk menang.

Di era covid-19, daya jelajah seorang politisi dan tim kampanye akan sangat terbatas. Di pilkada ini, pengolahan konten dan informasi akan menjadi jantung utama yang menggerakkan semua kerja-kerja politik. Jika informasi dikemas dengan baik, maka kemenangan berada di depan mata. Untuk itu butuh satu strategi yang matang.

“Seperti apa postur laskar media sosial?” tanya bapak itu.

Tak ada acuan tetap untuk merancang tim. Jika patokannya adalah pilkada DKI Jakarta, maka ada tiga tim yang harus dibentuk. 

Pertama, tim intelektual. Tim ini yang bertugas untuk mengolah semua informasi, membaca data-data statistik, lalu memberikan rekomendasi isu-isu apa yang akan diangkat di media sosial. 

Tim ini akan menyusun semua naskah ilmiah, mulai dari visi misi, hingga bahan kampanye. Tim ini harus bisa menerjemahkan semua yang rumit menjadi bahasa orang awam. Dalam konteks pilkada, tim ini harus bisa mengolah isu lokal sekaligus menemukan di mana kelemahan kandidat lain.

Kedua, tim defensif. Tim ini bertugas untuk membentuk semua counter opini yang disebarkan oleh lawan. Pilkada identik dengan permainan isu. Semua kubu tidak cuma ingin memasarkan branding dirinya secara tepat, tetapi juga menyebar berbagai hoaks. 

Tim defensif akan melakukan klarifikasi, berkoordinasi dengan media, serta merancang semua konten, meme, dan pesan-pesan politik. Tim ini akan rajin memantau semua konten di media sosial terkait satu daerah, kemudian menentukan respon yang tepat.

Salah satu isu cemerlang yang lahir di Pilkada DKI Jakarta adalah program DP rumah 0 persen. Meskipun program ini nyaris sulit direalisasikan, tapi dalam konteks kampanye, wacana ini sangat menjual. Pesan ini sejenak menghentikan lalu lintas isu dan hoaks yang maak.

BACA: Berbekal Media Sosial, Anak Muda Ini Memenangkan Obama

Ketiga, tim ofensif. Tim ini sering disebut Tim Hantu. Cara kerjanya adalah menyerang lawan. Di pilkada, informasi bisa dikelola untuk melumpuhkan lawan. Namun kerja tim ini harus berupa tim bayangan. Tak perlu ada garis komando, sebab jika suatu saat tim ini terdeteksi, maka semua kontak harus diputus.

Pesan-pesan yang diolah juga harus dikemas dengan hati-hati. Tim ofensif tak harus menyerang, tapi bisa juga dilakukan dengan mengerahkan semua akun bot yang bisa menyebar dan mengepung postingan kandidat lain.

Semua tim-tim di atas akan berkoordinasi dengan para  kreator konten. Para kreator konten beranggotakan tim kreatif yakni pembuat konten, pekerja media, graphic designer, motion graphic, fotografer, dan videografer, serta tim IT. Mereka merancang konten, menyebarkannya, mengukur dampaknya, lalu kembali merancang konten.

“Apa ada tools atau alat yang digunakan sebagai amunisi bagi tim ini? Kembali bapak itu bertanya.

Tentu saja ada. Sewaktu saya menjadi konsultan media di satu tim yang berlaga di pilpres, saya memperhatikan tingginya kebutuhan pada teknologi yang bisa digunakan untuk pilkada.

Secara umum, saya melihat ada tiga tools utama di setiap pusat komando informasi. Pertama, digital listening tool, yang berisikan perangkat untuk memetakan semua percakapan di media sosial. Semua yang dibahas netizen di satu wilayah akan mudah terpetakan di situ.

Kedua, digital media platform, yang isinya berbagai platform media sosial, juga media mainstream. Semua platform ini akan digunakan untuk menyebarkan pesan secara cepat, menjangkau semua netizen di satu wilayah yang kemudian memviralkan semua pesan-pesan tersebut.

Ketiga, mobile apps, yang digunakan relawan secara mobile di berbagai lokasi. Para relawan dibekali dengan tools atau teknologi untuk saling berkoordinasi, mengetahui apa pesan yang disebar oleh tim komando, lalu menyebarkannya ke semua jejaring.

Di era 4,0, kerja-kerja politik harus bisa terpantau. Seorang politisi tidak bisa lagi dibohongi tim-tim lapangan. Melalui media sosial, dia bisa memantau seberapa kuat dia di satu lokasi, seberapa besar pengaruhnya, sehingga penentuan isu menjadi penting untuk dilakukan.

Kerja politik harus kerja yang kolektif. Informasi dikelola bersama, disebarkan ke jejaring influencer, akun robot, dan pemantul pesan, gemanya ditangkap para analis di tim, kemudian diolah lagi dan dikembangkan menjadi konten yang kuat.

BACA: Membangun Laskar Media Sosial di Era Politik 4.0

Di era 4.0, semua orang bisa membagikan konten-konten politik. Tim media sosial akan mencari strategi agar semua netizen bisa bergerak pada titik tertentu, menggunakan semua perangkat teknologi dan algoritma media sosial demi menyebar pesan-pesan viral ke mana pun, yang kemudian menjadi rekomendasi kuat bagi politisi untuk turun lapangan. 

Politik ibarat perang yang strateginya dirancang dan dipetakan dengan baik.Pusat komando adalah para penentu strategi dan perumus konten. Perang konten akan dilakukan relawan lapangan, yang salah satu tentaranya adalah akun-akun robot yang bisa di-orkestrasi dan dikendalikan.

“Berapa biaya yang dikeluarkan untuk membiayai semua aktivitas itu?” kembali dia bertanya.

Saya memikirkan berapa biaya paling minimal untuk mengerakkan tim. Tiba-tiba seorang gadis Bandung melintas. Saya terkesima. Konsentrasi saya untuk menjawab langsung buyar. 

“Tadi nanya apa Pak?”



Kisah Seribu Pita Kuning




Sebentar lagi bis akan mendekati lapangan hijau di tengah kota. Di tengah lapangan itu, ada pohon beringin besar. Keringat dingin mengucur di tubuh seorang pria. Jantungnya berdegup kencang. Dia dicekam rasa khawatir dan penasaran. Dia takut disapa kenyataan paling menakutkan.

Seisi bis ikut penasaran. 

*** 

Beberapa tahun lalu di White Oak, satu kota kecil Amerika, lelaki itu bukanlah suami dan ayah yang baik. Dia beruntung menikahi perempuan baik yang kemudian menjadi ibu dari anaknya. Namun dia tak pandai bersyukur. Hari-harinya adalah memarahi dan memukuli istrinya.

Dia selalu pulang larut malam. Sering dia datang dalam keadaan mabuk. Jika ditanya dari mana gerangan, dia akan marah dan mulai memukuli. Istrinya hanya bisa diam sembari terisak. Lelaki itu ingin menegaskan dominasinya di dalam rumah.

Suatu hari, dia mengambil semua harta milik istrinya, kemudian pergi ke New York. Dia ingin berbisnis. Namun dia tak juga kapok. Dia tetap degan gaya hidup yang berfoya-foya dan mabuk-mabukan. Bahkan dia pun berjudi serta ganti-ganti pasangan.

Saat uangnya habis, mulailah dia melakukan tindakan kriminal. Dia menulis cek palsu sehingga banyak orang tertipu. Polisi menangkapnya, kemudian menjebloskan ke penjara. Pengadilan memvonisnya untuk hidup di penjara selama tiga tahun.

Saat di penjara, dia mulai merenungi semua hari-harinya. Yang tersisa hanyalah penyesalan. Temannya sesama pemabuk tak satu pun yang mengunjunginya. Bahkan perempuan-perempuan yang gonta-ganti ditidurinya juga tak ada yang datang.

Dia mulai menyesali apa yang sudah lewat. Dalam gelimang uang, semua orang akan mendekat dan menjadi saudaranya. Saat uang habis, maka dia sendirian. Tak ada yang mau menemaninya melalui hari yang kian berat.

Di penjara itu, dia terisak mengingat anak istrinya. Dia ingin kembali bersama mereka. Jika dirinya dimaafkan, maka dia berjanji akan menjadi ayah dan suami yang baik. Jika dirinya diterima, maka dia bertekad untuk memberi semua kasih sayang yang dimilikinya. Dia ingin mengganti hari-hari yang hilang.

Dia bisa paham kalau tak ada lagi tempat untuk ia di rumah. Dia seorang kriminal yang bisa mencemarkan nama baik keluarga. Dia hanya pendosa yang menyesali apa yang telah berlalu. Menjelang bebas, dia menulis surat kepada istrinya: 

“Sayang, kamu tidak perlu menunggu aku. Namun jika kamu masih ada perasaan padaku, maukah kau menyatakannya? Ikatlah sebuah pita kuning pada satu-satunya pohon beringin besar di kota kita jika kamu masih mau menerimaku kembali. Apabila aku lewat di beringin itu dan tidak menemukan pita kuning yang diikat, tidak apa-apa. Aku mengerti. Aku tidak akan turun dari bis dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji untuk tidak akan mengganggumu lagi dan anak-anak seumur hidupku.”

Dia tidak menerima satu pun balasan dari istrinya. Dia mulai pasrah dengan apa pun yang akan terjadi. 

Hari pelepasan itu tiba. Dia menaiki bis yang melalui White Oak, kotanya. Menjelang sampai, dia sudah keringat dingin. Bulir air matanya menetes. Penumpang bis penasaran. Dia pun bercerita apa adanya. Saat bis mendekati lapangan, semua orang melongok ke luar jendela. Semua memandang ke pohon beringin itu, kalau-kalau ada pita kuning yang diikat di situ. Semua deg-degan.

Dari kejauhan pohon beringin itu kelihatan. Masih belum tampak apa-apa. Setelah dekat, pria itu memilih untuk menunduk. Dia kehilangan harapan. Dia mengingat semua kelakuannya yang jahat kepada anak istri. Dia yakin dirinya tidak akan dimaafkan.

Bis berhenti di depan pohon beringin. Semua orang bertepuk tangan. Dia pun mengangkat wajahnya pelan-pelan. Dia memandang pohon beringin itu. Rasa haru perlahan menjalar di seluruh tubuhnya. Dia tertunduk sembari menangis bahagia.

Dia tidak melihat satu pita kuning. Dia melihat ratusan bahkan ribuan pita kuning yang diikatkan di seluruh penjuru pohon itu. Mulai dari bayang, cabang, dahan, hingga ranting semuanya diikat pita kuning. 

Dia seorang lelaki penuh dosa, namun keluarganya membuka pintu maaf yang sebesar-besarnya untuknya. Dia seorang yang telah menyia-nyiakan semua hal baik di sekitarnya, tetapi balasan yang diterimanya bukanlah makian dan permusuhan. Dia dilimpahi cinta kasih yang mengguyur deras dan memberinya kesejukan.

Semua dosanya yang berkarat itu sontak dibersihkan oleh butiran cinta yang disimbolkan oleh ribuan pita kuning. Lelaki itu tersungkur dalam haru. Dia mengucap syukur sembari berurai air mata. Dia menjadi pria yang kembali pulang ke pangkuan keluarganya, untuk selama-lamanya, dan tidak akan pernah pergi lagi.

Sopir bis itu lalu menelepon surat kabar dan bercerita apa yang dilihatnya. Peristiwa itu dimuat di banyak media sebagai kisah permaafan dan pertobatan, juga kisah besarnya kekuatan hati untuk memaafkan.

Pada tahun 1973, seseorang menulis lagu tentang kisah ini dengan judul, “Tie a Yellow Ribbon around the Old Oak Tree.” Lagu itu menjadi hits dan diputar di semua radio di Amerika Serikat. Orang-orang menyanyikan lagu ini untuk mengisahkan kekuatan cinta yang dahsyat dari ibu dan anak yang menerima lelaki itu apa adanya. 

Hingga kini, orang masih berdendang untuk mengenang peristiwa itu:

I’m coming home
I’ve done my time
And I have to know what is or isn’t mine

If you received my letter
Telling you I’d soon be free
Than you know just what to do

If you still want me
If you still want me

Oh tie a yellow ribbon
‘round the old oak tree
Its been three long years
Do you still want me

If I don’t see a yellow ribbon ‘round the old oak tree
I’ll stay on the bus, forget about us
Put the blame on me
‘Cause I couldn’t bare to see what I might see

I’m really still in prison
And my love she holds the key
A simple yellow ribbon is all I need to set me free

I wrote and told her please
Oh tie a yellow ribbon ‘round the old oak tree
It’s been three long years

Do you still want me
If I don’t see a yellow ribbon ‘round the old oak tree
I’ll stay on the bus, forget about us
Put the blame on me

If I don’t see a yellow ribbon ‘round the old oak tree
Now the whole damn bus is cheering

And I can’t believe
I see a hundred yellow ribbons ‘round the old



Bocah yang Memanen Angin




Anak itu melihat tanah-tanah yang kering. Dia melihat ayahnya yang tidak berdaya. Ayahnya seorang petani yang hanya bisa pasrah menyaksikan keadaan. Di Malawi, Afrika, anak itu ingin berbuat sesuatu. Tapi dia bisa apa?

Malawi adalah contoh dari kegagalan praktik pembangunan. Politisi penuh janji dan kalimat tipu demi suara petani. Pengusaha tembakau masuk ke desa-desa dan menebang banyak pohon milik warga desa.

Saat pepohonan berkurang, sungai-sungai mengering. Di musim hujan, banjir selalu terjadi sebab tak ada akar-akar yang menahan air. Desa-desa pertanian kehilangan harapan. Petani kelaparan. Petani tak sanggup menyekolahkan anaknya.

Pemerintah Malawi hanya menanti bantuan asing, termasuk IMF dan Bank Dunia. Yang dipikirkan hanya bantuan berupa bahan pangan. Setelah bantuan datang, rakyat berkelahi demi mendapatkannya.

Bocah usia 13 tahun itu bernama William Kamkwamba adalah siswa sekolah yang terpaksa keluar karena tidak sanggup membayar uang sekolah. Dia tetap ngotot ingin ke sekolah, meskipun hanya duduk di perpustakaan.

Suatu hari, dia tersentak saat menemukan buku berjudul Using Energy. Segumpal ide memenuhi kepalanya. Dia membayangkan, jika saja dia bisa memanfaatkan energi angina untuk menarik air dari dalam tanah, maka tanah-tanah bisa diairi. Petani akan kembali memiliki harapan.

Ide laksana cahaya yang menyalakan sesuatu di kepalanya. Dia ingin berbuat sesuatu bagi warga desanya. Dia lalu mendatangi satu area yang dipenuhi sampah. Dia mengumpulkan banyak bahan yang kemudian dirakitnya. Dia merancang kincir angin.

Tentu saja, langkahnya tidak mudah. Dia butuh sepeda milik ayahnya untuk dipreteli semua onderdilnya demi membuat baling-baling penangkap angin. Dia juga butuh dinamo untuk menyimpan energi. Masalahnya, sepeda milik ayahnya adalah satu-satunya di kampung itu, juga satu-satunya aset yang dimiliki.

Dia tetap nekat dan memintanya. Di Afrika, seorang anak tidak pantas didengar pendapatnya. Dia dianggap anak kemarin sore yang tak tahu apa-apa. Bahkan ayahnya murka lalu menghancurkan purwarupa baling-baling milik anaknya. Dia seakan berteriak, “Anak kecil tahu apa?”

Untunglah, ibunya mau mendengar. Ibunya meyakinkan ayahnya untuk memberi kepercayaan pada anaknya.

Kepercayaan itu dibayar lunas. Menara kayu itu berdiri. Di atasnya ada baling-baling yang bergerak karena angin. Baling-baling itu menggerakkan dinamo dan turbin yang menghasilkan listrik. Selanjutnya listrik menarik air dari dalam tanah lalu mengaliri kanal-kanal, melintasi kebun-kebun milik petani, lalu mengubah tanah tandus menjadi hijau dan segar.

Bocah 13 tahun itu mengubah wajah desa yang tadinya kering-kerontang menjadi hijau dan asri. Dia tak sekadar menghijaukan desa. Dia mengubah persepsi orang-orang yang rendah diri seolah mereka tak mampu mengatasi masalahnya. Dia bisa meyakinkan orang-orang kalau mereka punya kemampuan untuk keluar dari krisis dengan tangan mereka sendiri, dengan pikiran mereka sendiri.

Anak muda yang lahir tahun 1987 itu seakan memberitahu orang-orang dewasa kalau segala masalah pasti ada solusinya sepanjang semuanya percaya pada kekuatan dan kemampuan sendiri. Tak perlu menunggu pihak luar seperti IMF dan Bank Dunia untuk bangkit dari keterpurukan.

Saya menyaksikan kisah William Kamkwamba ini dalam film berjudul The Boy Who Harnessed the Wind yang tayang di Netflix. Film yang digali dari buku ini memotret sekeping realitas tentang kegagalan pembangunan, serta bangkitnya kemandirian lokal dengan cara yang hebat.



Ketika menyaksikan film ini, saya teringat pada sosiolog Robert Chambers yang menjelaskan tentang bagaimana desa mengalami keterpinggiran. Kata Chambers, desa telah menjadi korban penjungkir-balikan (putting the last first) dari pihak luar desa (outsiders) yang mengaku serba tahu tentang desa. Mereka, para outsiders ini, sering merasa lebih tahu dan merekayasa desa.

Pengetahuan warga desa diabaikan dan tak pernah dihargai. Mereka dianggap bodoh sehingga hanya bisa pasrah pada konstruksi pengetahuan dari orang kota. Chambers sempat membahas tentang bias proyek. Di banyak tempat, pembangunan hanya dilihat sebagai proyek yang menyerap anggaran. Ketika anggaran terserap, maka pembangunan dianggap berhasil.

Padahal, di banyak tempat, cara berpikir ini justru tidak memperhatikan aspek kontinuitas atau sustainabilitas dari setiap tindakan. Ketika satu proyek dibangun, para perencana sering abai untuk melihat seberapa bermanfaatkah apa yang telah dibangun tersebut, seberapa berpengaruh pada warga desa.

Film ini mengajarkan betapa pentingnya mengenali potensi dan inisiatif lokal. Di usia 13 tahun, William Kamkwamba memahami apa yang terjadi di sekitarnya.  Dia pun tahu persis sumber daya lokal yang bisa dikembangkan untuk mengatasi masalah. Dia sudah bisa mengenali angin untuk dikelola dan dimanfaatkan.

Saya membaca di banyak situs tentang William Kamkwamba yang kemudian terkenal. Dia diundang untuk berbicara di TedTalk. Bocah yang tadinya dikeluarkan dari sekolah itu malah mendapatkan beasiswa untuk sekolah di Amerika Serikat.

Kisahnya ditulis oleh media-media besar dunia. Satu media di Amerika Serikat membandingkan sosoknya dengan Angus MacGyver, sosok fiksi yang juga bisa menggunakan sains secara praktis. Bukunya The Boy who Harnessed the Wind terbit dan laris di panggung internasional. Majalah Time memasukkan namanya dalam daftar 30 orang yang mengubah dunia di usia bawah 30 tahun.

Saya belum pernah membaca bukunya.  Di situs Goodreads, saya temukan kutipan menarik dari anak muda ini: “Whatever you want to do, if you do it with all your heart, it will happen.”



Pak Jokowi, Batalkan Food Estate Itu!


Jokowi dan Prabowo

Pak Jokowi dan Pak Prabowo duduk di dekat sawah. Mereka membahas rencana pembangunan food estate atau lumbung pangan di Kalimantan. Hitung-hitungan di atas kertas dihamparkan oleh Menteri Pertanian. Perkiraan-perkiraan berapa ton panen dikeluarkan. 

Pak Jokowi, seorang presiden yang di masa kampanye menampilkan citra ndeso, namun ketika terpilih sibuk membagikan semua jabatan menteri, direktur, dan komisaris ke tim suksesnya.

Pak Prabowo, lelaki yang separuh hidupnya menjadi serdadu dan terbiasa membawa senjata, kini menjadi menteri yang masih mengurusi senjata. Dan tiba-tiba saja diserahi tugas untuk mengurusi proyek lumbung pangan.

Ini Indonesia abad 21, negeri yang tak pernah belajar pada kearifan budaya. Di banyak budaya, selalu ada tradisi lumbung sebagai strategi untuk menghadapi masa penuh ketidakpastian. Lumbung serupa asuransi yang bisa menjadi solusi ketika ada krisis.

Orang Minangkabau menyebutnya Rangkiang, orang Sunda menyebutnya Leuit, Orang Enrekang menyebutnya Landa. Orang NTT menyebutnya Umekebubu dan Lopo. Orang Batak Karo punya istilah Sapo Page. Orang Bali menyebutnya Jineng. Orang Toraja memanggilnya Alang. Orang Dompu menamakannya Jompa.

Sejak dulu, semua masyarakat punya lumbung. Tapi kini, kita baru akan membangunnya. Betapa kita menjadi bangsa yang tak belajar pada budaya. Betapa kita tak pernah siap menghadapi ancaman krisis.

BACA: Malu Aku Jadi Petani Indonesia

Ini juga negeri yang pemerintah dan masyarakatnya lupa dengan hasil alamnya sendiri. Tak perlu takut dengan krisis selagi pangan lokal tersedia di mana-mana. Tak ada beras, kita bisa makan ubi, jagung, ketela, keladi, talas, sagu, hingga sorgum.

Di Yahukimo, Papua, pernah masyarakat mengalami krisis pangan hingga beberapa tewas. Mereka sangat tergantung pada beras, sesuatu yang tidak pernah dialami nenek moyangnya yang karib dengan ubi dan sagu. Pemerintah dan masyarakat lupa betapa kayanya bumi kita dengan berbagai bahan pangan.

Ini Indonesia abad 21, negeri yang pemerintahannya tak pernah belajar pada sejarah. Pemerintahan Jokowi tak ada beda dengan pemerintahan sebelumnya. Selalu ingin menempuh jalan pintas. 

Dulu, Pak Harto ingin membangun sejuta hektar lahan gambut di tahun 1996-1997. Di masa Pak SBY, Ketapang direncanakan akan dibangun 100 ribu hektar lahan, lalu Bulungan seluas 300 ribu hektar. Serasa baru kemarin, Pak Jokowi hendak membangun 1,2 juta hektar di Merauke, Papua.

Ke mana semua lahan-lahan itu? Kenapa tak bisa jadi lumbung?

Di Merauke, kita mendengar banyak kisah miris. Terjadi perampokan lahan dari masyarakat adat. Mereka tersingkir dari tanah air yang diwariskan  nenek moyangnya. Kita mendengar kisah datangnya petani dari luar yang kemudian menguasai sumber daya lokal, serta ancaman kerusakan ekologis yang kian parah.

Kisah lumbung pangan atau food estate adalah kisah kegagalan. Mengapa? Sebab pertanian bukan sesuatu yang tercipta hanya dengan merapal mantra. Bukan pula dengan mengusap lampu wasiat. 

Pertanian adalah interaksi antara alam dan manusia, di mana manusia memuliakan alam dan melimpahinya dengan air kasih sayang. Alam akan membalasnya dengan tumbuhan, buah, dan pohon sebagai tanda cinta. 

Sekali manusia dibutakan materi dan hasrat, maka alam akan menjadi obyek yang diperas habis-habisan. Tanah dipaksa untuk menumbuhkan tanaman. Kalau perlu disirami dengan bahan kimia. 

Ini Indonesia abad 21, negeri yang pemerintahnya lebih cinta perusahaan ketimbang para petani. Pak Jokowi dan Pak Prabowo membahas pertanian dengan cara melibatkan BUMN. Pemerintah menunjuk PT Rajawali Nusantara Indonesia sebagai pelaksana proyek.

Lumbung dibangun dengan pendekatan korporasi. Di situ ada pemilik modal dan buruh upahan. Padahal, dalam bahasa Inggris, pertanian adalah agri dan culture. Di situ ada kata budaya yang menunjukkan jati diri manusia. Bertani dan menanam adalah budaya. Para petani adalah pahlawan yang memuliakan alam.

BACA: Jejak Jepang di Sawah Kita

Presiden kita yang terlampau cinta pada dunia pengusaha itu ingin menjadikan pertanian serupa korporasi. Petani bukan lagi penguasa di lahan-lahan. Mereka akan disingkirkan secara perlahan. Petani digantikan buruh yang diberi target berupa berapa ton panen setiap hektar. Jika tak memenuhi target, maka siap-siap di-PHK.

Harusnya, biarkanlah budi daya itu menjadi area para petani. BUMN cukup menyerap produksi para petani lalu melakukan proses, kemudian memasarkan. 

Ini Indonesia abad 21, negeri yang tidak memuliakan petaninya. Jika ingin mengumpulkan pangan sebanyak-banyaknya sebagai lumbung, maka tak perlu bikin proyek cetak sejuta lahan. Tak perlu bangun food estate itu. Cukup berikan harga yang pantas untuk petani.



Hargailah keringat petani kita dengan memberikan harga yang tinggi. Masak, harga pembelian pemerintah hanya 4.200 rupiah per kilogram? Padahal, kata seorang guru besar, biaya produksi di usaha tani untuk 1 kilogram gabah kering panen itu sudah 4.523 rupiah per kilogram. Jika harga gabah hanya segitu, mana bisa petani kita sejahtera dan menyekolahkan anaknya di tempat yang layak?

Muliakanlah petani dengan hentikan impor pangan. Biarkan komoditas petani dihargai mahal di tanah dan airnya sendiri. Jika harga komoditas itu bagus, petani akan meningkatkan produktivitas. Mereka akan meningkatkan semua produksi dengan penuh senyum sebab membayangkan masa depan yang cerah. Mereka akan bekerja lebih giat. Produksi pangan akan membaik. Stok pangan akan siap sehingga kita kebal dari hantaman krisis.

BACA: Kisah Petani yang Berhenti Menyadap Karet

Daripada bangun food estate, bermitralah dengan petani kita. Jika mereka tak punya uang untuk mulai bertani, carikan solusi. Tantang mereka untuk tingkatkan produksi. Beri garansi agar produk yang mereka buat akan dibeli dengan harga setinggi-tingginya oleh pemerintah.

Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Didiklah bangsa Indonesia agar tidak memandang rendah profesi petani. Berilah sejumput kebanggaan pada profesi itu sebab menjadi pahlawan kehidupan. 

Sesekali jalanlah ke desa-desa dan nagari kita. Hakekat kepemimpinan adalah mendengarkan. Tanyai dan diskusilah dengan petani kita. Bersiaplah menerima kenyataan, sepahit-pahitnya. Banyak petani justru tak ingin anaknya jadi petani. Menjadi petani tidak meningkatkan status sosial. Petani kita ingin ingin bersekolah tinggi-tinggi lalu melamar kerja sebagai pegawai negeri.

Di desa-desa kita, tak banyak lagi anak petani yang bercita-cita untuk menjadi petani. Mereka dicekoki dengan kata enterpreneur, abad digital, lalu kompetensi dan persaingan. Tak banyak kebanggaan yang tersisa pada profesi petani. Semuanya hanya menjadi masa lalu yang dikenang dengan romantis.

Jika tak ada lagi culture dan manusia yang memuliakan tanaman, maka suara lirih Bung Karno, pendiri negeri ini akan makin nyaring terdengar. “Pertanian adalah soal hidup matinya suatu bangsa.” 

Mungkin ekonomi kita akan tetap kokoh. Tapi, nurani dan keberpihakan kita sudah lama mati seiring dengan kian merananya petani di tanah air kita, tanah air Indonesia.



Generasi Strawberry




Berita sedih itu dikirimkan seorang kawan. Lelaki di ujung jalan di dekat rumah kami di kampung telah membunuh saudaranya sendiri. Motifnya adalah berebut warisan. Baru saya tahu kalau lelaki itu tidak punya pekerjaan tetap. Sementara saudaranya menguasai warisan.

Saya teringat mendiang orang tua mereka sangat terpandang. Mereka melimpahi anaknya dengan semua fasilitas. Semua anaknya dimasukkan sekolah mahal. Namun, keberlimpahan fasilitas itu tidak memberi hasil yang sepadan. Lulus dari sekolah mahal, tapi anak itu tidak bekerja. Orang tuanya tetap memanjakan.

Saya membaca artikel The New York Times mengenai fenomena Strawberry Generation. Istilah ini menggambarkan generasi Taiwan yang lahir tahun 1980-an pada masa pasca-perang, memiliki orang tua mapan dan kaya, serta kehidupan yang serba menyenangkan.

Generasi ini amat dimanjakan orang tuanya yang dahulu miskin. Orang tua tak ingin masa kelam mereka yang berada dalam ekonomi sulit karena peperangan menimpa anak mereka. Orang tua ini lalu melimpahi anaknya dengan semua fasilitas.

Generasi ini digambarkan serupa buah strawberry, yang mudah koyak hanya karena sedikit benturan. Generasi ini digambarkan tampak mewah, ranum, indah, akan tetapi tidak siap menghadapi benturan. Orang tuanya memberinya semua fasilitas dan kemewahan namun lupa menanamkan sikap kemandirian, daya tahan, serta karakter beradaptasi di segala sesuatu.

Ternyata, semua fasilitas bisa menjadi sesuatu yang negatif. Anak-anak jadi serba manja dan kehilangan daya juang serta semangat bertarung menghadapi situasi yang serba sulit. Saat dihadapkan dengan tantangan, seorang anak gampang menyerah dan rapuh, sebagaimana strawberry.

Saya belajar hal baru. Segala tantangan dan ketidaknyamanan adalah bagian dari lahan gembur yang menyuburkan karakter seorang anak untuk menjadi petarung. Seorang anak harus berhadapan dengan tantangan.

Ketika melimpahi anak dengan semua fasilitas, anak akan kehilangan daya juang serta daya survival, sesuatu yang dahulu dimiliki orang tuanya dan bisa membawanya pada kemakmuran. Sering kita tidak menyadari bahwa sikap over-protective dan pemberian semua fasilitas tidak selalu bagus buat anak. Kelak, anak itu kehilangan daya juang untuk menggapai impiannya.

Saya melihat fenomena Generasi Strawberry di sekitar kita. Saya bertemu banyak orang tua yang berpikir ketika menyekolahkan anaknya di tempat paling mewah, maka dianggapnya satu prestasi.

Padahal sekolah mahal tak selalu bisa jadi jaminan kesuksesan seorang anak. Sekolah mahal menyediakan banyak hal, tapi tak bisa mengajarkan daya tahan menghadapi kesulitan serta bagaimana menumbuhkan tekad kuat untuk menggapai mimpi. Orang tua harus tetap mendampingi seorang anak, memberinya tantangan, lalu mengapresiasi semua upaya-upaya kecilnya.

Saya merenungi kisah dari kawan saya di kampung. Bisa saja, orang tuanya terlampau memanjakan anaknya dengan penuh fasilitas dan lupa mengajarkan mereka langkah demi langkah untuk menjadi pribadi yang kuat.

Orang tuanya sibuk mengejar kemakmuran, lalu berpikir bahwa dengan menyekolahkan di tempat mahal, maka misi dianggap selesai. Padahal, semua tantangan adalah bagian dari proses pendewasaan untuk menjadi pribadi yang tangguh dan kuat.

Mendaki puncak memang melelahkan, tetapi kebahagiaan saat berada di puncak serupa air yang membasuh semua lelah. Mereka yang setiap saat menghadapi tantangan, kelak akan jadi pribadi tangguh dengan mental yang kokoh.

Saya ingat catatan Iqbal Djawad tentang acara televisi yang paling laris di Jepang yakni Hajimete no Otsukai. Di acara itu, anak-anak seusia PAUD diberikan misi tertentu sambil diikuti oleh kru televisi yang menyamar. Misalnya disuruh mengantarkan makanan untuk ayahnya di rumah sakit. Anak itu akan merasa berat, bahkan menangis.

Tapi dia mengambil tantangan, kemudian berjalan kaki atau kadang naik bus menuju rumah sakit. Saat anak itu tersesat, dia akan coba bertanya ke orang lain, yang kemudian menunjukkan jalan. Saat dia berhasil menjalankan misinya, orang tuanya akan memeluknya dan memberi ucapan terima kasih. Dia akan mendapatkan hadiah.

Saya bayangkan betapa beda dengan orang tua yang anaknya membunuh saudaranya. Di masa itu, mereka lebih suka membayar orang lain, ketimbang melihat anaknya bersusah payah mengantar sesuatu.

Yang Luput dari Gordon Ramsay di Tanah MINANG


seorang ibu mengajari Gordon Ramsay mengulek bumbu

SUARA gendang terdengar mengalun di halaman Istana Pagaruyung di Tanah Datar, Sumatera Barat. Seorang pria berwajah Eropa tampak celingukan di tengah penari piring dan sejumlah perempuan yang membawa nampan. 

Pria itu Gordon Ramsay. Dia menemui sahabatnya William Wongso, seorang pakar kuliner Nusantara. Ramsay ikut memakai songkok dan jas lalu memasuki istana. William Wongso mengajaknya menikmati jamuan di Istana Pagaruyung. 

Dia merasakan aroma rempah-rempah dan kari di kuliner Minangkabau. Dia makan dengan amat lahap. Beberapa kali dia tampak kepedasan, namun dia sangat menikmati. Bulir keringat tampak di wajahnya. Dia begitu menikmati rendang dan kuliner Minang yang kaya rasa. 

Saya yakin, lelaki Inggris yang menjadi chef kelas dunia itu, tak pernah mendengar kisah tentang Agus Salim, legenda diplomat Indonesia yang berasal dari Koto Gadang. Saat Agus Salim menghadiri penobatan Ratu Elizabeth II di Gereja Westminster Abbey di tahun 1953, dia pernah melinting rokok dan menghembuskan asapnya ke Pangeran Philips.

BACA: Nikmat Solo, Nikmat Soto Gading

Saat Pangeran bertanya itu aroma apa, Agus Salim menjawab tenang: “Karena aroma inilah bangsa tuan menjajah bangsa kami.” Rempah-rempah memang memesona. Bangsa Eropa berlomba mencari jalan ke Nusantara hanya untuk meminang rempah dan mengolahnya menjadi kuliner serta berbagai produk lainnya.

Kini, di tahun 2020, Ramsay datang sebagai orang Inggris yang ingin mencicipi rempah. Dia tidak lagi membawa semangat kolonialisme. Dia datang bersama kru National Geographic dalam program bertajuk Gordon Ramsay: Uncharted. Dia datang untuk bertualang dan mencicipi rasa asli kuliner yang dinikmati warga lokal. Dia pun menerima tantangan William Wongso untuk bertanding menyajikan rendang dalam sepekan, lalu menyajikannya di hadapan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. 

Ramsay menyajikan acara kuliner dengan sangat unik. Biasanya tayangan kuliner hanya fokus pada makanan itu sendiri. Ramsay tidak. Dia menjadikan kuliner hanya sebagai pintu untuk memasuki jendela budaya. 

Sebenarnya, dia bisa saja datang ke restoran padang demi mencicipi rendang dan belajar membuatnya. Tapi dia memilih mencari bahan hingga pelosok, berbaur dengan rakyat jelata. Dia menelusuri wilayah, kekayaan budaya, latar geografis, hingga perjumpaan dengan penduduk lokal. 

Demi mendapat daging sapi, dia ikut permainan Pacu Jawi, permainan sejenis karavan sapi. Dia jatuh bangun dan bermandikan lumpur. Dia mengikuti perjalanan nelayan, setelah itu memancing udang di dalam gua batu. Dia singgah mencicipi kuliner di pinggir jalan. Dia pun mencari bumbu ke pasar-pasar rakyat, kemudian belajar mengulek dan meracik pada seorang ibu pedagang pasar.

Ramsay yang pernah menimba ilmu dari beberapa koki kenamaan termasuk Albert Roux dan Marco Pierre White di London, Guy Savoy, dan Joël Robuchon di Prancis, menjadi head of chef di Aubergine, London sejak 1993. Dalam kurun waktu tiga tahun, restoran ini pun memperoleh tiga bintang Michelin, sebuah penghargaan bergengsi di industri kuliner.

Kini, restorannya tersebar di beberapa lokasi di Inggris juga negara-negara lain seperti, Italia, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Hong Kong dan Singapura. Namun kuliner adalah soal perjumpaan budaya. Anda tak bisa memahami rasa hanya dari satu perspektif. Rendang hanya bisa dipahami jika kita berbaur dengan warga setempat, ikut dalam denyut nadi aktivitas mereka, lalu menyajikannya dengan cara warga lokal.



Dengan rendah hati dan niat belajar, Ramsay belajar kuliner Minang pada rakyat biasa. Dia mengagumi kue yang disajikan warung di pinggir jalan. Dia mengagumi khasanah pusako minang sebagai rumah dari banyak ragam kuliner. 

Pada hari H, dia dan William Wongso bertanding masak di Ngarai Sianok. Di tengah bukit-bukit menjulang, sungai mengalir jernih, hingga suara-suara alam, Ramsay dan Wongso meracik kuliner lalu menyajikannya. Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dan istri memberikan jempol serta mengucapkan kalimat “lamak bana.”

Kuliner Minang telah dikemas oleh seorang chef dunia yang menyerap ilmu dari jalan-jalan, nagari-nagari, dan bersua para nelayan. Kuliner itu menjadi satu rasa yang merangkum banyak hal. Pada setiap tetes kuliner, ada banyak kisah, perjalanan, serta kenangan yang terus memperkaya pengalaman batin seseorang.

BACA: Bondan Winarno, Sejarah Kuliner, dan Rasa Budaya

Saya sangat menikmati tayangan Gordon Ramsay: Uncharted. Sekian lama menunggu, akhirnya program yang direkam sebelum Covid menyebar itu tayang di National Geographic, kemarin. Banyak orang tak sabar menyaksikan bagaimana Ramsay mencicipi rendang yang pernah ditahbiskan sebagai kuliner terlezat di dunia. Tayangannya ditunggu bukan hanya oleh warga tanah air, tapi juga mancanegara.

Ramsay adalah juru bicara yang mengabarkan pada dunia betapa hebatnya kekayaan khazanah kuliner Nusantara. Dia menampilkan lanskap alam, bukit-bukit hijau, sawah, dan tempat-tempat eksotik. Dia telah menyebar kisah tentang Indonesia sebagai negeri besar dengan tradisi kuliner yang kaya.

Yang Terasa Hilang

Saya merasakan ada beberapa hal yang luput dari tayangan itu. Ramsay tak bertanya tentang asal-muasal dan sejarah. Saat dia mengalami rasa pedas kuliner, dia tidak bertanya dari mana rasa itu bermula. Mengapa orang Minang suka makanan pedas?

Saya terkenang perjalanan saya ke Agam, Sumatera Barat. Di satu warung makan, saya menanyakan ini pada seorang sahabat. “Rasa pedas itu terkait dengan asal-usul orang Minang,” katanya. Dia bercerita tentang luhak nan tigo, atau asal-usul orang Minangkabau dari tiga lokasi, yakni Luhak Agam, Luhak Limapuluh Kota dan Luhak Tanah Datar.

Ketiga daerah itu dikenal sebagai dataran tinggi, yang disebut darek. Daerah itu dikelilingi hawa dingin sehingga masyarakat membutuhkan sesuatu yang hangat. “Makanya, selalu ada resep cabai di masakan Minang. Mereka butuh menghangatkan badan sebab hawa dingin menusuk-nusuk,” katanya.

Jika Ramsay teliti, dia bisa membandingkan kuliner Minang di satu lokasi dengan lokasi lain. Kuliner yang merambah Asia hingga Amerika, punya rasa dan menu yang sama. Ada semacam konsensus tentang masakan Padang. Selalu saja ada makanan bersantan, bergulai, dan rendang. Catatan sejarah menyebutkan, orang Minang sudah berabad-abad memasak makanan bersantan seperti rendang dan gulai.

Dalam buku The History of Sumatra (1784), William Marsde mencatat tentang dua tumbuhan paling penting di Sumatera yakni padi dan kelapa. Kini, keduanya menjadi bahan pokok semua kuliner Minang. Kelapa menjadi santan untuk membuat aneka gulai.

Saya pernah membaca komentar Gusti Asnan, guru besar sejarah Universitas Andalas, yang menyebutkan tentang catatan Jenderal Hubert Joseph de Stuers, panglima militer dan residen Padang pada masa Belanda, tahun 1827. De Stuers bercerita mengenai “teknik membuat masakan menggunakan kelapa yang dihaluskan.” Ini mengarah ke rendang. Artinya, rendang sudah ada sejak dulu.

Kuliner itu juga menunjukkan adanya pertautan dengan berbagai kebudayaan lain. Sejak lama, Minangkabau menjalin hubungan dengan Afrika dan India. Mereka dihubungkan oleh arus angin yang memandu para pelayar untuk saling mengunjungi.

Bahkan penjelajah Tome Pires dalam Summa Oriental menyebutkan koneksi kuat antara pantai barat Sumatra dengan Afrika dan India yang berlangsung di Pelabuhan Tiku, kini ada di Agam.  Hubungan itu bisa dilihat dari tradisi dan ritual budaya.

Dalam hal kuliner, gulai yang ada di Minang diduga kuat dipengaruhi oleh India. Bedanya, India tidak memakai santan, melainkan yoghurt dan kacang-kacangan, sebagai bahan pengental.



Di satu warung di Lubuk Basung, Agam, saya pernah bertanya: “Mengapa masakan Minang bisa ditemukan di seluruh penjuru Nusantara?” Seorang pelayan menjawab singkat. “Sebab orang Minang suka merantau. Mereka berkelana ke mana-mana dan membawa kuliner yang diharapkan bisa tahan berhari-hari. Itulah rendang dan sebangsanya,” katanya.

Saya merenung. Saya teringat perjalanan saya setahun lalu di Kefamenanu, wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbatasan dengan Timor Leste. Di situ, saya juga menemukan restoran padang yang menyajikan rendang dengan sangat nikmat.

Orang Minang adalah bangsa perantau. Mereka membawa semua kuliner dan khazanah budaya sehingga menjadi identitas Nusantara. Mereka juga membawa kerendahhatian dalam racikan rasa kuliner sehingga bersenyawa dengan kuliner setempat lalu menghadirkan rasa yang akrab dengan lidah.

BACA: Wangi Kopi dan Aroma Cengkeh Pegunungan Luwu

Bukan cuma orang Minang, bahkan suku bangsa lain, juga warga negara lain akan selalu mencari jalan ke tanah air demi mencicipi rendang. Saya ingat cerita seorang kawan mengenai ilmuwan politik William Liddle yang selalu mencari rendang saat datang ke Indonesia.

Biarpun berumah dan beranak-pinak di negeri lain, rasa kuliner itu akan selalu menjadi jalan pulang baginya untuk mengenang indahnya alam, kuatnya tradisi, serta senyum ramah banyak orang. 

Itulah pusako Indonesia.



Kisah Haru MAHASISWA yang Menghilang Selama 15 Tahun


ilustrasi

Dia masih menjadi mahasiswa IPB saat menghilang lima belas tahun silam di Pulau Seram, Maluku. Dia kembali ke kota hanya dengan sandal jepit dan baju lusuh. Tapi, dia disambut bak seorang pahlawan yang baru saja kembali dari medan laga. Dia dielu-elukan segenap penjuru.

Kisahnya menitikkan haru. Dia diabadikan dalam puisi. Dia seperti sungai yang tak henti mengalirkan inspirasi.

*** 

Hari itu, 22 September 1979 di Hotel Salak, Bogor. Lelaki berkulit legam itu dikelilingi teman-temannya. Dia hanya mengenakan sandal jepit. Temannya membawakan sepatu dan jas untuknya. Dia menolak memakainya. Namun, temannya bersikeras.

Lelaki itu, Muhammad Kasim Arifin, serupa anak yang hilang. Dia yang lahir di Langsa, Aceh, 18 April 1938 itu adalah mahasiswa yang kembali setelah 15 tahun. Teman-temannya sudah lama sarjana dan banyak yang sudah menjadi pejabat. Kasim hanya seorang petani yang bersahaja. Tapi dia justru jauh menjulang dibandingkan semua orang.

Tahun 1964, dia hanya seorang mahasiswa biasa yang mengikuti Program Pengerahan Mahasiswa, yang sekarang bernama Kuliah Kerja Nyata. Di masa itu, mahasiswa harus siap ditempatkan di pelosok negeri. Kasim mendapat lokasi di Waimital, Pulau Seram, Maluku. Dia pun mendatangi daerah terpencil itu sebab didorong hasrat untuk membumikan semua pengetahuannya.

Di Waimital, dia bertemu keluarga petani miskin yang datang melalui program transmigrasi. Nuraninya terketuk. Dia ingin berbuat sesuatu. Dia menanggalkan semua identitas kota pada dirinya. Dia memakai sandal jepit dan baju lusuh. Dia ikut menemani petani yang berjalan kaki 20 kilometer menuju sawah. Dia melakukannya setiap hari dan bolak-balik.

BACA: Menenun Damai di Perbatasan Indonesia-Timor Leste

Dia membantu petani untuk mengolah tanah. Diajarkannya pengetahuan yang didapatnya di kampus IPB. Dia membantu masyarakat untuk membuka jalan desa, membangun sawah baru, membuat irigasi. Dia tidak menunggu bantuan dari pemerintah. Dia membangkitkan semangat masyarakat untuk bergotong-royong.

Kasim peduli pada petani lebih dari dirinya sendiri. Dia pun mendapat kasih sayang dari semua orang. Dia disapa Antua, sebutan bagi orang yang dihormati di Waimital. Kasim begitu larut untuk membantu masyarakat, sampai-sampai dia lupa pulang.

Seharusnya dia di Waimital hanya tiga bulan. Tapi dia merasa tugasnya belum selesai. Bahkan saat semua teman-temannya pulang, dia tetap menjadi petani. Bahkan semua temannya telah diwisuda, dia masih setia di kampung itu. Hingga semua temannya lulus dan menjadi pejabat, dia tetap memilih di kampung itu hingga 15 tahun.

Di Aceh, orang tuanya memanggil. Dia bergeming. Bahkan Rektor IPB, Profesor Andi Hakim Nasution, memanggilnya kembali, dia masih juga bergeming. Tak kurang akal, Rektor IPB lalu mengutus Saleh Widodo, seorang teman kuliah Kasim, untuk menjemputnya di sana. Dengan berat hati, Kasim bersedia ke Jakarta, lalu Bogor, hanya dengan sandal jepit dan baju lusuh.

BACA: Jejak Jepang di Sawah Kita

Kampus memanggilnya untuk menyelesaikan studi. Kasim sejatinya tak butuh gelar akademik, tapi dia tak kuasa menolak permintaan teman-temannya. Dia mengaku tidak sanggup membuat skripsi. Teman-temannya berinisiatif untuk merekam kisahnya di Waimital untuk diajukan sebagai skripsi. Dia bercerita selama 28 jam. Temannya mencatat cerita itu dengan mata basah. Semua terharu.

Kasim adalah potret manusia yang melampaui dirinya. Dia bukan seperti kebanyakan orang yang hanya berpikir untuk kuliah lalu bekerja, mengumpul harta, kemudian hidup bahagia. Dia menemukan bahagianya dengan cara lain. Saat dia melihat petani tersenyum, hatinya mekar. Selagi senyum itu belum hadir, dia akan menganggap tugasnya jauh dari kata selesai.

Dia lebur bersama masyarakat. Mulanya dia datang sebagai Kasim, mahasiswa IPB yang penuh pengetahuan. Setelah 15 tahun, dia menjadi bagian dari masyarakat. Dia tak lagi ingin sesegera mungkin lulus, kemudian menyandang toga dan bekerja di instansi pemerintahan. Dia ingin membantu semua petani untuk sejahtera melalui tindakan memuliakan bumi, menghargai lumpur, lalu mengolah tanah-tanah pertanian. Dia mencintai tunas yang tumbuh lalu mekar jadi tanaman.

Hari itu, Kasim memasuki gedung IPB untuk wisuda. Mulanya dia ragu-ragu dan takut melihat banyak orang berdatangan. Semalaman dia tak bisa tidur di Hotel Salak karena pendingin udara dan suara bising di jalanan.

Di acara wisuda, dia ingin duduk di kursi belakang. Namun begitu dia datang, semua orang berdiri dan bertepuk tangan. Dedikasinya membuat banyak orang merinding. Dia adalah insinyur pertanian paling istimewa, paling menyentuh hati, dan paling menjulang dibandingkan yang lain.


Lelaki muda itu tetap Kasim yang bersahaja. Bahkan setelah wisuda pun, dia kembali ke Waimital demi meneruskan kerja-kerjanya. Setelah beberapa waktu, barulah dia menerima pinangan Universitas Syiah Kuala, Aceh, untuk menjadi dosen di sana hingga pensiun pada tahun 1994. Di Waimital, namanya selalu harum, bahkan diabadikan menjadi nama jalan.

Pemerintah pernah memberinya Kalpataru di tahun 1982. Dedikasinya pada pembangunan masyarakat desa dan lingkungan mendapatkan penghargaan. Namun Kasim menolak penghargaan itu. Konon, dia meninggalkan penghargaan tertinggi di bidang lingkungan itu di bawah kursi. Dia langsung pulang. Hingga, seseorang datang mengantarkan penghargaaan itu ke rumahnya. Dia tidak silau dengan penghargaan apa pun.

Ketika mendapat tawaran untuk studi banding ke Amerika Serikat, dia menolak. “Untuk apa saya harus ke Amerika yang punya tradisi pertanian berbeda dengan di sini?” katanya.

sampul buku "Seorang Lelaki di Waimital"

Dia selalu menjadi Kasim yang menginspirasi. Kisah hidupnya ditulis ke dalam buku berjudul Seorang lelaki dari Waimital yang ditulis Hanna Rambe di tahun 1983, dan diterbitkan Sinar Harapan. Seusai pensiun, dia tetap di Aceh dan menjadi aktivis lingkungan.

Di masa kini, betapa sulitnya menemukan anak muda yang masih idealis seperti dirinya. Anak muda hari ini berlomba-lomba untuk masuk dunia bisnis, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, lalu masuk ke lingkaran istana, entah sebagai staf milenial atau sebagai staf menteri. Bahkan para akademisi muda bermimpi jadi dirjen, staf khusus menteri, atau jadi pejabat di BUMN.

Kasim adalah oase yang serupa mata air selalu menjadi telaga inspirasi yang tak mengering. Saat dia diwisuda di tahun 1979, salah seorang rekannya penyair Taufiq Ismail, menulis puisi yang mengharukan tentang Kasim. Salah satu baitnya berbunyi:

...
Dari pulau itu, dia telah pulang
Dia yang dikabarkan hilang
Lima belas tahun lamanya
Di Waimital, Kasim mencetak harapan
Di kota kita mencetak keluhan
(Aku jadi ingat masa kita diplonco
Dua puluh dua tahun yang lalu)
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku
Ketika aku mengingatmu, Sim
Di Waimital engkau mencetak harapan
Di kota, kami …
Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah
Awan yang tergantung di atas kota juga
Kau kini telah pulang
Kami memelukmu.



Bukan Bakat, Bukan Pula Kecerdasan

sampul buku

Universitas yang paling sulit ditembus di Amerika Serikat, bukanlah Harvard. Bukan pula MIT. Melainkan Akademi Militer West Point. Kampus itu hanya menerima siswa yang paling tinggi skor kecerdasan dan juga paling bugar jasmaninya. Kampus itu adalah cikal bakal para jenderal dan petinggi militer.

Setiap tahun, terdapat puluhan ribu para juara dan atlet di SMA yang melamar di kampus ini. Hanya 4.000 orang yang akan lolos ke fase selanjutnya. Melalui seleksi yang ketat, hanya ada 1.200 orang yang akan diterima menjadi taruna. Mereka adalah pelamar paling cerdas, paling berbakat, dan paling kuat.

Namun setelah kuliah berjalan, banyak taruna akan putus sekolah. Yang mengejutkan, kebanyakan dari mereka akan mundur setelah menjalani pelatihan intensif selama tujuh minggu bernama Beast Barracks. Apakah gerangan?

Beast Barracks digambarkan sebagai latihan paling keras secara fisik dan emosional. Pelatihan ini dirancang agar seorang taruna mengeluarkan semua kemampuannya, baik secara fisik dan mental. Pelatihan ini digambarkan sama mengerikannya dengan pelatihan Green Berets bagi anggota pasukan khusus Angkatan Darat Amerika Serikat.

Yang menarik, mereka yang lolos melalui Beast Barrcks bukanlah mereka yang terbaik, bukan mereka yang punya skor kecerdasan dan fisik tinggi. Mereka yang lolos adalah kalangan biasa-biasa, tetapi sanggup menghadapi tantangan yang besar. Mengapa?

Psikolog Prof Angela Duckworth melakukan riset di West Point. Dia juga mengamati peserta lomba National Spelling Bee, kartunis New Yorker, dan tim American Football. Dia menemukan kesimpulan menarik.

Kejeniusan dan bakat bukanlah tolok ukur sukses. Menurut hipotesa Duckworth, orang yang bersemangat dan tekun cenderung lebih sukses dibanding orang lain yang mempunyai potensi alami (jenius) namun tidak mengiringinya dengan ketekunan.

Duckworth menyebutnya GRIT. Grit adalah istilah untuk semangat dan ketekunan yang dimiliki oleh seseorang ketika tengah melakukan sesuatu. Bahkan Duckworth membuat Grit Scale, yang menunjukkan seberapa tekun dan tabah seseorang.

Saya tak terkejut dengan penjelasan Duckworth. Ketika pertama meniti karier sebagai jurnalis, seorang jurnalis senior berkata, di dunia jurnalisik, sekadar bakat dan kecerdasan tidak cukup. Mereka yang menjadi top dan terbaik adalah mereka yang punya daya tahan dan ketekunan menjalani profesi itu.

Kata Duckworth: “Apa pun bidangnya, orang-orang yang sangat sukses memiliki semacam tekad kuat yang terwujud dengan dua cara. Pertama, para panutan ini luar biasa tegar dan kerja keras. Kedua, mereka tahu secara sangat mendalam apa yang mereka inginkan. Mereka tidak saja memiliki tekad kuat, mereka juga memiliki arah.”

Penjelasan ini ibarat kepingan puzzle dari apa yang saya baca di buku Barking Up the Wrong Tree. Seusai membaca buku itu, saya ingat seorang kawan kecil yang di masa sekolah bisa disebut siswa gagal, bahkan hanya lulus sekolah menengah, tapi kini menjadi sosok miliader. Dia jauh melampaui kami semua yang sekolah tinggi.

Selama ini kita hanya fokus pada kecerdasan. Kita hanya fokus pada pencapaian angka-angka. Padahal untuk menjadi sukses dan hebat, seseorang butuh lebih dari itu. Seseorang membutuhkan ketekunan, daya tahan, serta ketabahan untuk menempa diri dan menjalani profesi.

Beberapa hari lalu, saya dipanel dalam satu diskusi dengan seorang sahabat yang kini jadi penulis puisi. Dia kini kesohor di bidang itu. Orang-orang mengira menulis puisi hanya membutuhkan bakat. Namun dari kisahnya, saya menemukan sesuatu yang lebih dari itu. Dia menjalani hari-hari ketika rekan dan dunia sosialnya menganggap puisi tidak bisa memberi kehidupan.

Dia tekun. Dia tabah. Bahkan ketika mengerjakan puisi untuk satu film yang akan jadi blockbuster, dia menulis ratusan, kemudian dipilihnya beberapa untuk masuk buku dan tayang di film. Saya mengagumi kerja keras dan ketabahan yang begitu hebat.

Saya merenungi sistem pendidikan kita. Kata Duckworth, grit adalah sesuatu yang sukar diajarkan. Sekolah-sekolah kita hanya fokus pada capaian akademik. Namun, Duckworth luput melihat betapa pentingnya peran keluarga dalam menembuhkan Grit.

Saya ingat seorang akademisi di Makassar yang pernah memosting tangan keriput ayahnya yang berprofesi sebagai petani. Dia katakan, tangan keriput itu ditempa oleh panas, terbenam dalam lumpur, demi anak-anaknya bisa bersekolah. Tangan itu ikhlas menjalani hidup yang penuh keterbatasan demi membentang jalan sukses anak-anaknya.

Mata saya basah melihat postingannya. Justru pada kisah-kisah perjuangan itu, seorang anak bisa mengasah mentalnya sehingga tidak mudah jatuh. Dengan melihat ketulusan, kasih sayang, dan pengorbanan orang tua, seorang anak akan selalu bangkit dari setiap masalah.

Hidup memang tidak harus sempurna, untuk itu kita harus bangkit dan mengubah semua ketidaksempurnaan itu menjadi sekeping bahagia.

Namun, masih relevankah itu di zaman sekarang? Para orang tua sudah tidak sesulit dahulu. Pendidikan terbaik mudah didapatkan. Orang tua menyiapkan semua fasilitas dan memanjakan anak-anaknya. Banyak orang mengira, dengan menyekolahkan anak di tempat terbaik, maka selesailah persoalan. Padahal hidup tidak sesederhana itu Ferguso!

Ada banyak jawaban bisa diurai. Saya menyukai kutipan: "Menjadi tabah berarti bila kita jatuh tujuh kali, kita harus bangkit delapan kali." Saya ingat seseorang yang berkata, orang hebat bukanlah mereka yang berjalan lurus dan menggapai semua kesuksesan. Orang hebat adalah mereka yang setiap kali jatuh, selalu bisa bangkit kembali.

Itulah makna Grit.


Mungkinkah Paman Sam Menggempur Naga?




LAPORAN itu akhirnya tiba di tangan Presiden Cina, Xi Jinping. Laporan dibuat oleh Kementerian Pertahanan Cina. Isinya adalah analisis mengenai sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang selalu menuduh Cina sebagai biang dari banyaknya korban akibat virus Covid-19 di negara itu.

Laporan itu juga menyebutkan kian naiknya sentimen anti-Cina yang mencapai titik puncak sejak tragedi di Lapangan Tiananmen di tahun 1989. Di banyak negara, terdapat kebencian pada Cina yang sengaja direkayasa. Laporan itu meminta Xi Jinping untuk bersiap menghadapi semua risiko yang bisa saja terjadi.

Wabah Covid-19 memang membawa banyak dampak. Kekuatan satu negara bukan hanya militer dan arsenal nuklir, tetapi juga pada efektivitas dan kontrol negara yang kuat pada warganya, juga pada seberapa kuat benteng sistem kesehatan menjadi payung bagi warganya.

Dunia pasca-covid akan ditandai beberapa hal penting. Di antaranya adalah makin kuatnya kerinduan untuk melihat big government, negara serupa gajah dengan belalai panjang hingga mengendalikan semua warganya. Negara-negara akan membentuk menara pengawas ala panopticon-nya filsuf Michel Foucault demi mengawasi rakyat secara ketat melalui big data dan kecerdasan buatan.


Di sisi lain, kita juga melihat menguatnya sentimen nasionalisme. Negara-negara akan berpacu untuk memenuhi kebutuhannya dulu, baru berpikir pasar global. Lihat saja betapa banyak negara saling sikut demi mendapatkan alat rapid test dan alat pelindung diri (APD) yang disediakan Cina dan Korea. 

Pasca-Covid, nasionalisme akan menjadi pagar yang membatasi pergaulan antar negara. Masing-masing negara akan lebih memikirkan kebutuhan dalam negerinya. Dalam waktu dekat, kita akan melihat hal yang sama untuk pangan dan berbagai komoditas lainnya. Bagi negara seperti Indonesia, mau tak mau harus impor. Sekian tahun kita merdeka, bahkan rapid test dan APD pun kita belum mampu memproduksinya sendiri.

Kita pun melihat tatanan internasional baru pasca-covid. Di depan mata, kita akan menyaksikan bangkitnya perang dingin (cold war) antara Amerika Serikat dan Cina. Presiden Amerika Serikat Donald Trump belakangan banyak melontarkan tudingan kepada Cina sebagai biang dari virus yang telah menewaskan lebih 110 ribu warga Amerika. 

Dahulu, perang dingin terjadi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Namun sebagaimana dicatat beberapa pemikir, hubungan itu tak setara. Uni Soviet adalah negara yang nyaris bangkrut. Ekonominya terus memburuk. Sementara Cina sekarang punya posisi yang lebih kuat dari Soviet. Cina menjadi kekuatan dunia dan membentuk barisannya sendiri.

Dunia akan kembali menjadi bipolar. Amerika dengan barisan dan cheer leader-nya. Sementara Cina juga telah membentuk aliansi sendiri, dalam proyek yang disebutnya One  Belt and One Road Initiative (OBOR). Dunia akan menjadi dua kubu besar, yakni pengikut Amerika, dan satunya adalah pengikut Cina.

Saat ini, kondisi Amerika Serikat laksana petinju yang dihantam dengan tiga pukulan telak: (1) serangan virus Covid yang telah menewaskan lebih 110 ribu warganya, (2) pukulan ekonomi yang porak-poranda serta naiknya angka pengangguran, (3) isu rasisme setelah tewasnya George Floyd yang memicu rusuh dan demonstrasi di mana-mana.

Namun, segala kemungkinan bisa terjadi. Amerika kini dipimpin oleh Donald Trump yang kalimat di media sosial bisa membelah warga Amerika. Di tambah lagi, November nanti adalah pemilihan presiden. Jika Trump ingin menaikkan kembali pamornya, maka dia harus menciptakan musuh bersama. Dia mulai mengeluarkan retorika untuk menghukum Cina. Mungkinkah perang dunia ketiga akan terjadi?

*** 

Saya membaca artikel catatan sejarawan terkemuka Yuval Noah Harari dalam buku 21 Lesson for 21st Century.  Sejarawan Israel yang bukunya dibahas di seluruh dunia ini juga menjelaskan tentang perang. 

Dulu, negara-negara atau kerajaan kuat bisa memiliki wilayah luas karena perang dan penaklukan. Setiap jengkal wilayahnya didapatkan dari peperangan. Mereka menguasai semua sumber ekonomi, juga menjadikan masyarakat lain sebagai budak. 

Tapi di abad ke-21, perang bukan lagi jalan yang dipilih oleh negara-negara besar. Merela akan menghindari perang. Mengapa?

Pertama, adanya perubahan sifat ekonomi. Dulu, aset ekonomi adalah material sehingga perang bertujuan untuk mempermudah penaklukan dan penguasaan. Pihak yang menang akan leluasa mencaplok semua kekayaan pihak yang kalah, mulai dari ladang gandum, ladang minyak, lumbung pangan, hingga cadangan emas.

Pada zaman dulu, pemenang perang akan merampas semua harta, aset material, serta menjual penduduk sipil sebagai budak. Perang membuat satu bangsa bisa kaya raya melalui pencaplokan.


Sekarang, hal seperti itu tidak mungkin dilakukan. Aset ekonomi hari ini bukan lagi material, melainkan pengetahuan. Kita bisa mencaplok wilayah, tapi tidak bisa menguasai sumber-sumber pengetahuan. 

Anda bisa mencaplok Google, tapi yang Anda dapatkan hanya kantor dan semua peralatan kerja. Kekuatan Google bukan di situ, melainkan pada pengetahuan, penguasaan teknologi, kerja sama kolektif dan berjejaring, kemampuan mencipta hal baru, kepandaian bisnis, hingga ekosistem kerja yang menjadikannya sebagai perusahaan hebat.

Kedua, perang bukanlah hal yang secara bisnis menguntungkan. Perubahan sifat ekonomi ini hanya membuat perang menjadi sia-sia belaka. Tak akan banyak kentungan yang didapat, sebab kerugian akan lebih besar. Mengingat hal ini, negara-negara besar akan saling menahan diri dan menghindari perang.

Iran sama sekali tidak mendapat keuntungan signifikan dengan perang Iran-Irak. Dulu, Jepang mengira bahwa invasi Korea, Manchuria, hingga Cina daratan akan membuat ekonominya melejit. Jepang mengira, tanpa invasi, ekonominya akan makin hancur. Ternyata, justru invasi itu yang membuat ekonominya makin terpuruk dan luluh-lantak.

Perang itu membuat mereka bangkrut dan kehilangan ratusan ribu jiwa, khususnya ketika bom atom jatuh di Hiroshima dan Nagasaki. Ajaibnya, ekonomi Jepang malah bangkit setelah kalah perang. Negeri itu bisa membangkitkan hasrat dan motivasi kuat dalam hal ekonomi. Mereka ingin membayar lunas semua rasa malu atas kekalahan itu dengan kegemilangan ekonomi. Mereka berhasil.

Hari ini kita melihat Cina dengan kekuatan ekonomi yang sangat hebat dan menjadi pesaing Amerika. Tapi Amerika akan berpikir seribu kali untuk menyerang Cina. Kalkulasi biaya perang akan jauh lebih besar dibandingkan keuntungan yang didapatkan. 

Ekonom peraih nobel, Joseph Stiglitz bersama Linda J Bilmes menulis buku The Three Trillion Dollar War di tahun 2008. Mereka menghitung secara rinci-statistik, biaya yang harus dikeluarkan Amerika untuk Perang Irak. Biaya perang dan rentetan akibatnya yang harus dipikul Amerika, belum Inggris, Italia, dan lain-lain, tidak kurang dari tiga triliun dolar, sebuah angka yang teramat dahsyat dan tidak diperkirakan semula akan setinggi itu. 

Dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas bagi dunia, menurut Stiglitz, akan menelan biaya dua kali lipat: enam triliun dolar. Bahkan, sampai tahun 2017, pengeluaran pemerintah federal Amerika akan bergerak antara 3,5 triliun dolar AS dan 4,5 triliun dolar AS. Angka-angka ini sering disebut Bernie Sandres, kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat yang berhaluan sosialis. Sayang, dia mundur dari arena.

Di abad ini, senjata-senjata punya kemampuan merusak yang sangat hebat. Ledakan nuklir bisa membuat satu negara lenyap. Tapi jika dihitung dari sisi keuntungan ekonomi, maka tak banyak yang bisa diraup. Kata Harari, sejak bom atom jatuh di Hirshima dan Nagasaki, kita nyaris tak pernah lagi mendengar ada negara yang dijatuhi bom atom. 

Perang akan berhasil membangkitkan ekonomi apabila pemenangnya bisa memiliki kendali atas perdagangan global yang sedang berlangsung. Itu dialami Inggris ketika mengalahkan Napoleon. Juga dirasakan Amerika Serikat ketika berhasil menjatuhkan Hitler.  Tapi di abad ke-21, kita tidak akan melihat hal seperti itu lagi.


Ketiga, perang yang paling berbahaya bukan lagi perang berhadap-hadapan dengan senjata canggih yang punya daya rusak hebat. Bukan lagi seperti perang yang dilihat dalam film Rambo. Perang yang lebih menakutkan adalah perang siber. Makanya, negara-negara maju akan memilih untuk tidak terlibat perang mengingat dampak perang siber yang sangat besar.

Di era George W Bush, Amerika Serikat bisa dengan mudahnya menjatuhkan bom di Fallujah, Irak, sebab meyakini Irak tidak akan memberikan perlawanan yang sama pada kota-kota di Amerika seperti New York dan San Francisco. Demikian pula Rusia begitu pede saat menganeksasi Krimea, sebab militer Ukraina sengaja tidak memberikan perlawanan.

Namun dalam perang siber, Amerika akan sangat berhitung siapa yang dihadapi. Dia tidak akan berani menghadapi negara dengan kemampuan siber dan IT yang tangguh. Amerika berani berperang di Irak dan Afganistan, namun akan berhitung seribu kali jika menghadapi negara yang punya infrastruktur teknologi.

Mengapa? Sebab dalam perang siber, seorang remaja di Cina bisa saja merancang sistem informasi agar kereta saling tubruk di Boston dan New York. Bisa saja seorang anak muda di sudut Asia membuat pesawat-pesawat yang ada di Bandara John F Kennedy saling bertabrakan di udara. Semuanya bisa dimungkinkan sebab manusia amat tergantung pada kendali dunia digital. Sekali kenop ditekan, maka sistem bisa menghancurkan diri sendiri.

Mengacu pada pendapat Harari, kita tidak akan menyaksikan perang antar Amerika dan Cina. Itu bisa terjadi, jika Amerika melanggar batasan yang dibuat pemerintah Cina. Saat ini, Cina punya kepentingan di Hong Kong, Taiwan, dan Laut Cina Selatan. Jika Amerika mengusik salah satunya, perang besar bisa terjadi.

***

Meskipun semua analis menyatakan tidak mungkin, perang fisik bisa saja terjadi. Kita tak boleh mengabaikan kemungkinan itu. Sebab sejarah menunjukkan bahwa faktor terpenting yang menyebabkan perang adalah kebodohan manusia.

Beberapa pemimpin dan jenderal melihat dunia seperti permainan catur, di mana ada gengsi dan harga diri. Mereka sesukanya menggerakkan pion, meskipun disebut telah melakukan kalkulasi matang. Mereka bisa mengabaikan banyak hal, termasuk bagaimana ekonomi satu negara, serta orang-orang biasa yang akan menjadi korban dari gerakan pion itu.



Lantas di mana posisi Indonesia? 

Setiap ada konflik besar, perubahan besar selalu terjadi di negeri ini. Perang Dunia II terjadi, Indonesia merdeka. Saat konflik kembali terjadi, Sukarno menjadi pemain utama di panggung internasional ketika menggelar Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung yang sukses mempersatukan negara-negara dunia ketiga. Di tahun 1965, saat terjadi perang dingin, Suharto naik ke tampuk kekuasaan setelah menyingkirkan Sukarno yang tidak diinginkan Amerika. 

Jika konflik negara besar kembali terjadi pasca-covid, apa yang akan terjadi di Indonesia? Jika boleh menebak, pihak yang paling diuntungkan adalah pihak yang bisa bersekutu dengan pemenang di panggung internasional. Tapi, siapa yang jadi pemenang? 

Kita belum tahu. Tapi kita akan segera tahu. Kita akan segera menjadi saksi sejarah.


Siasat NAGA Membelit PAMAN SAM




Seperti apa gambaran orang Amerika terhadap Cina? Bacalah buku The Good Earth, karangan penulis Amerika yang pernah meraih nobel, Pearl S Buck. Cina dilihat sebagai negara agraris yang kusam, petaninya miskin dan kesusahan, tuan tanah tamak, kelaparan, serta bencana banjir dan penyakit silih berganti.

Sejauh pengalaman saya yang pernah tinggal di Amerika selama beberapa tahun, tidak semua orang Amerika punya wawasan geografis yang memadai. Mereka hanya tahu negaranya, minim pengetahuan tentang negara-negara lain. Pernah, di satu county (kecamatan), saya menyebut dari Indonesia, seorang bapak tua menjawab “long drive.” Hah? Dia pikir bisa menyetir untuk tiba di Indonesia.

Bisa dibilang, banyak orang Amerika yang tidak punya gambaran seperti apa perubahan yang terjadi di negara lain. Mereka pun hanya tahu sejarahnya sendiri. Mereka tahu bahwa Columbus mendatangi Amerika tahun 1492. Tapi mereka akan terkejut dan tidak percaya saat disodori riset Gavin Menzies yang menyebutkan, sebelum Columbus datang, Laksamana Cheng Ho lebih dulu menyinggahi Amerika pada tahun 1421 dengan kapal yang jauh lebih besar.

Sejak era kerajaan, Cina sudah menjadi bangsa besar yang kuat. Namun selama lebih 200 tahun mereka tertidur dan hanya menyaksikan pertandingan negara-negara kuat. Jepang, yang meniru Cina mengungguli negara itu di masa perang dan damai. Amerika berbaik hati dan memberikan kursi dewan keamanan PBB.

Tahun 1949, Cina memilih haluan komunis. Pemimpinnya Mao Zedong menjerumuskan negerinya ke bencana yang menghancurkan modal ekonomi, teknologi, dan intelektual. Di tahun 1979, di bawah Deng Xiao Ping, mulailah reformasi terjadi. Ekonomi mengikuti jalan kapitalis. Naga terbangun dan mulai menggeliat.

BACA: Ideologi Kiri Kanan yang Menyambut Corona

Di dekade 1990-an, Amerika Serikat tidak menyangka Cina tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang hebat. Ekonom peraih nobel asal Amerika, Jeffrey Sachs menyebut Cina adalah kisah pembangunan paling sukses di dunia. Pertumbuhannya mencapai lebih 9 persen tiap tahun, tercepat dalam sejarah.

Saya ingat pengalaman di satu kampus Amerika ketika mengambil kelas The Politics of Developing Area yang diasuh Dr Clemente. Dia menjelaskan perbedaan strategi antara Amerika Latin dan Cina dalam mengatasi kemiskinan di pedesaan.

Para sarjana Amerika Latin akan mengeluarkan teori tentang subsidi bagi petani miskin, revitalisasi pedesaan, penghargaan pada kearifan lokal, serta melalui pendekatan partisipatoris. Sementara Cina memilih jalan paling cepat, yakni desa harus masuk ke fase industri. Ketergantungan ke tanah harus dikurangi. Desa harus menjadi kota. Maka kesejahteraan akan meningkat.

Pendekatan mana yang efektif? Faktanya, Bank Dunia mengatakan lebih dari 850 juta orang di Cina telah diangkat keluar dari kemiskinan, dan negara ini berada dalam jalur untuk menghilangkan kemiskinan mutlak.

Kita kenal merek Xiomi, Oppo, Lenovo, Huawei, dan HTC. Semuanya adalah adalah gadget yang komponennya dikerjakan Usaha Kecil Menengah (UKM). Yasheng Huang dalam tulisannya Capitalism With Chinese Characteristics: Enterpreneurship and the State, mengatakan bahwa pada Maret 1984, Deng Xioping memanfaatkan UKM serta bisnis swasta daerah untuk menopang perekonomian Cina, yang kemudian dikenal dengan Township and Village Enterprises (TVEs).

Hal ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa produk dari Cina selalu terbilang murah. Karena mayoritas yang menjalankan perputaran ekonomi adalah bisnis swasta daerah dan UKM yang tersebar di beberapa provinsi seperti Guangdong, Fujian, Zhejiang, Jiangsu, dan Shandong. Peran dari pemerintah adalah mendukung serta membiayai dengan cara pemberian pinjaman kepada pelaku bisnis.

Setiap tahun pemerintah Cina memberi pelatihan kepada 200.000 pemuda desa berupa satu atau dua teknik yang dapat diterapkan di daerahnya. Tidak berhenti sampai di situ, pemerintah Cina juga bekerja sama dengan lembaga riset baik di tingkat pusat maupun daerah untuk terus mengembangkan teknologi yang kemudian akan dipakai di pedesaan ataupun oleh industri rumahan.

BACA: Selamat Datang di Era Post-Amerika

Dengan kekayaan yang melimpah, Cina leluasa mengirim anak mudanya untuk belajar di luar negeri. Kampus-kampus Amerika dipenuhi oleh mahasiswa dari Cina. Para pelajar Cina mendominasi fakultas teknologi dan ekonomi, berbeda dengan mahasiswa Amerika yang lebih suka ilmu sosial dan ilmu hukum. Di Amerika, sampai-sampai ada stereotype kalau Asia identik dengan matematika sebab bidang ini dikuasai oleh pelajar Asia, dalam hal ini Cina dan Jepang.

Tak hanya pintar, mereka juga kaya-kaya. Hal biasa menyaksikan pelajar dan mahasiswa Asia yang ke mana-mana menaiki Mercedes sehingga menimbulkan kesenjangan sosial. Saya pernah melihat seorang mahasiswa Cina dipanggil rekan-rekannya untuk melihat mobil Ferrari-nya yang kacanya dipecahkan di parkiran oleh mahasiswa yang cemburu. Bukannya marah, mahasiswa Cina itu hanya berkata “I’ll buy a new one.” 

Kemajuan Cina memang mencengangkan. Dalam buku The Post-American World, Fareed Zakaria memberikan beberapa ilustrasi. Tahun 1978, Cina hanya memproduksi 200 unit penyejuk udara dalam setahun. Tahun 2005, produksinya mencapai 48 juta unit. Barusan saya cek statistik, di tahun 2019, jumlah penyejuk udara yang dibikin di Cina adalah 218 juta unit dalam setahun.

Tahun 1980-an, Fareed Zakaria berkunjung ke Pudong, di dekat Shanghai. Suasananya masih kayak pedesaan. Kini, Pudong adalah distrik keuangan yang dipadati menara kaca serta terang benderang setiap malam. Pudong lebih luas delapan kali dari Canary Wharf, distrik keuangan di London, hampir seluas Chicago.

Pengusaha Amerika terkejut melihat perkembangan Cina. Negeri itu adalah produsen terbesar batu bara, baja, dan semen. Negeri itu adalah pasar terbesar untuk ponsel. Pada puncak revolusi industri, Inggris pernah dijuluki sebagai the largest manufacturer in the world atau bengkel terbesar di dunia. Kini, gelar itu diambil oleh Cina.

BACA: Virus yang Membangkitkan Komunisme

Ekspornya ke Amerika tumbuh berlipat-lipat. Mereka yang pernah ke Amerika pasti tahu kalau raksasa ritel di sana adalah Walmart, yang selalu dipadati kelas menengah dan bawah Amerika karena produknya murah. Walmart  memperkerjakan 2,1 juta orang, lebih banyak dari gabungan Ford, GM, GE, dan IBM. Pendapatannya 7 kali pendapatan Microsoft dan menyumbang 2 persen PDB Amerika.

Tahu dari mana semua barang di Walmart? Cina. Perusahaan itu mengimpor 27 miliar dollar per tahun dari Cina. Mulai dari pakaian sampai sayuran. Andaikan Cina menghentikan pasokan ke Walmart maka banyak orang akan kolaps di Amerika.

Bukan cuma itu. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi membuat Cina menimbun kekayaan. Cina pun menginvestasikan kekayaan itu dengan cara paling aman yakni membeli surat utang Amerika Serikat. Saat Amerika terjebak dengan perilaku konsumtif, Cina justru mendanainya. Amerika boros dengan pinjaman, Cina justru banyak menabung. Cina mengakumulasi obligasi Amerika. Cina menjadi pemberi pinjaman terbesar di Amerika.

Jangan kaget jika beberapa Presiden Amerika Serikat sangat hati-hati dengan Cina. Anda punya uang, maka Anda punya kedaulatan. Saat bertemu peminjam, Anda bisa berdiri tegak.

Pemerintah Cina leluasa membuat banyak program pembangunan, sebab tidak perlu memikirkan suara rakyat. Di negara lain, politisi mengerjakan hal populis tapi konyol, perbanyak subsidi dan bantuan. Semuanya demi mendapatkan suara. Cina tidak butuh itu. Dengan sistem yang otoriter, Cina bebas melakukan apa pun. Di negara lain, otoriter bisa memunculkan pemerintahan yang diktator dan korup. Cina justru tidak. Hukuman untuk koruptor adalah hukuman mati.

Apakah Naga akan membelit dan mengalahkan Paman Sam? Ini soal waktu. Kini Cina mengekor di nomor urut dua kekuatan ekonomi, setelah Amerika Serikat. Harus diakui, Amerika masih menjadi negara paling kuat, baik secara militer maupun ekonomi. Namun banyak lembaga terpercaya dan ekonom sudah memprediksi fenomena kejatuhan dan kebangkitan. Ada yang menyebut tahun 2050. Ada juga yang lebih awal.

Yang dikhawatirkan adalah generasi baru Cina yang lahir dan tumbuh di tengah kemakmuran dan kekuatan ekonomi. Saat mereka merasa hebat, mereka bisa bermain-main dengan militer. Mulailah mereka melakukan ekspansi dan aneksasi wilayah. Di tengah situasi militer yang terus diperkuat, mereka bisa menempuh jalan berbeda dengan sejarah bangsa itu.

Dahulu, pemimpin Perancis, Napoleon Bonaparte, pernah berkata “China is a sleeping lion. Let her sleep, for when she wakes, she will move the world.” Tahun 2014, saat Xi Jnping mengunjungi Perancis, dia berkata: "Today, the lion has woken up. But it is peaceful, pleasant and civilised."

*** 

Kini, dunia sedang dilanda pandemi Covid-19. Bermula dari Wuhan, virus itu menyebar ke seluruh dunia yang berimbas pada ekonomi. Dunia akan mengalami fase krisis saat banyak ekonomi bertumbangan.

Amerika Serikat menjadi negara yang paling mengalami dampak. Jumlah korban yang terinfeksi mencapai 1,6 juta orang, dengan korban tewas hingga 108 ribu orang. Jumlah pengangguran di Amerika bertambah 4 juta orang. Amerika juga diperparah dengan demonstrasi isu rasial yang sesekali diselingi aksi penjarah warganya.

Cina justru berada dalam kutub yang berbeda. Cina menunjukkan pada dunia bagaimana kerja-kerja big government bisa melindungi dan memberi rasa aman kepada warganya. Cina menjadi model dari bagaimana efektifnya negara mengelola masalah lalu mencarikan solusinya. Perencanaan terpusat serta negara yang kuat menjadi instrumen efektif untuk melawan pandemi.

Salah satu penanda kebesaran Cina

Pelajaran dari Covid adalah orang-orang ingin kembali memperkuat big government sebab lebih efektif mengatasi berbagai masalah. Sebagaimana dicatat Yuval Noah Harari, dunia akan mengarah ke surveillance state yang mengawasi warganya hingga biometri, serta munculnya nasionalisme untuk mengutamakan negara sendiri. Cina telah melakukan itu sejak jauh hari.

Dalam situasi ketika Amerika tengah dilanda berbagai unjuk rasa, Cina kian bergerak menjadi pemain global. Banyak negara Afrika yang diajak bekerja sama. Timur Tengah perlahan dimasuki. Bahkan beberapa negara Eropa, termasuk Italia dan Serbia bergabung dengan barisan Cina untuk sama-sama memperkuat ekonomi.

BACA: Senjata Cina untuk Melawan Tentara Corona

Cina memasuki bab berikutnya dalam pembangunan melalui gelombang pendanaan dalam proyek infrastruktur global besar-besaran, atau dikenal dengan belt dan Road Initiative. Proyek yang disebut jalur sutra modern itu bertujuan untuk menghubungkan hampir setengah populasi dunia dan seperlima dari PDB global, menyiapkan perdagangan dan link investasi yang membentang di seluruh dunia.

Di Asia Tenggara, kehadiran Cina penuh kontroversi. Tapi perlu menyimak pendapat mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad. Mulanya dia menolak proyek dengan Cina, Belakangan dia menyetujuinya. Dia belajar dari sejarah. Cina telah bertetangga dengan Malaysia lebih 2000 tahun. Namun Cina belum pernah menjajah Malaysia. "Namun bangsa Eropa datang pada 1509. Setelah itu dua tahun kemudian, mereka mencaplok Malaysia," ujarnya.

Indonesia punya situasi yang sama dengan Malaysia. Hubungan yang dibangun dengan Cina sudah terjalin sejak masa kedatangan Cheng Ho. Namun di era modern, hubungan itu pasang surut karena faktor ideologi komunisme yang ditentang kuat pada masa Orde Baru.

Pilihan terbaik bagi Indonesia adalah tidak berkiblat ke mana-mana. Tidak ke amerika, tapi tidak juga ke Cina. Namun, siapapun pemimpinnya, negeri ini akan kesulitan melangkah sebab akan selalu ada yang nyinyir, selalu ada yang sinis, selalu ada yang menyebut pemerintah goblok, selalu ada yang tak lelah menyebar hoaks.

Kita ingin sekaya Cina, tapi kita tidak ingin diatur secara paksa ala negeri itu. Kita pun ingin sekuat Amerika, tapi yang kita lakukan adalah rebahan. Kita ingin jadi bangsa hebat, tapi kita tidak siap untuk menjadikan diri kita hebat dan penuh prestasi. Kita lebih suka mencaci, ketimbang menyiapkan sejumlah prasyarat untuk jadi bangsa hebat.

Kapan kita sekaya Cina dan sekuat Amerika?