kisah-kisah tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Winter in Athens, Ohio

Athens is my third home after Baubau and Makassar city.

Buku Pertama Hingga Buku Keempat

Semoga aja buku-buku ini bisa menginspirasi orang lain.

My Wife and My Daughter

They are my river of inspiration.

Naga Hijau di Kota Baubau

Baubau is the first step of my journey.

Sudut Kampus Ohio University

Kelak, saya akan mengenang setiap sudut kampus ini.

Suatu Hari di Apartemen Shino


bersama Joy, Eli, dan Shino
kue buatan Shino
Joy Hsu
Mohsen Radi

SEORANG sahabat asal Jepang, Shino Rhita Yokotsuka, mengundangku ke apartemennya. Bersama Joy, sahabat asal Taiwan, ia hendak menjamu kami dengan makanan serta kue-kue yang dibuatnya. Ia juga mengundang sahabat asal Indonesia, Eli, untuk memasak hidangan khas Indonesia. Ikut pula sahabat Mohsen Radi asal Iran. Maka lengkaplah pesta kecil kami.

Kemarin, di Universities Apartment, sebuah apartemen yang cukup mewah, kami berkumpul dan sama-sama bergembira. Temanku Eli memasak indomie untuk kami berlima. Sedankan Shino membuat kue, serta makanan jenis kolak manis. Kami bercerita banyak hal sambil tertawa bersama.

Pertemuan-pertemuan seperti ini kelak akan kurindukan. Di tengah canda tawa itu, aku belajar memahami bahwa sesungguhnya ada sesuatu yang universal di antara kami semua. Kami adalah pembelajar dari berbagai bangsa yang memiliki obsesi berbeda, namun dipertemukan pada satu momentum sejarah. Kelak, sejarah pula yang akan mencatat ke mana arah perjalanan kami selanjutnya.


Yang Akan Saya Rindukan dari Amerika


sudut kampus Ohio University

SETIAP kali meninggalkan satu tempat, selalu saja ada jejak yang tergores di pikiran saya. Bukan sekadar ingatan tentang tempat eksotis atau tentang pepohonan, dedaunan, dan bunga-bunga, namun ingatan tentang interaksi dengan manusia lain serta ceceran hikmah yang didapatkan di satu tempat.

Dalam waktu dekat, saya akan meninggalkan tanah Amerika. Saya merasa bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar banyak di sini. Tak hanya tentang materi perkuliahan, tapi juga pelajaran kehidupan serta proses mendewasakan diri. Meskipun saat ini saya masih jauh dari dewasa, namun setidaknya saya melangkah perlahan-lahan. Meski langkah itu selambat siput, setidaknya saya menyadari bahwasanya saya tidak sedang mundur.

Ada beberapa hal yang akan saya rindukan dari tempat ini. Saya akan coba untuk mengurainya satu per satu.

Pertama, saya akan merindukan perpustakaan. Di kampus-kampus di Amerika, perpustakaan adalah tempat paling besar dan diusahakan senyaman mungkin. Jika anda berkunjung ke kampus manapun di Amerika, jantung perkuliahan adalah perpustakaan. Inilah sebab mengapa gedung paling besar di semua kampus adalah perpustakaan yang menyediakan jutaan buku dari seluruh dunia.

Ini sangat kontras dengan kampus-kampus di tanah air, yang rata-rata, gedung paling megahnya adalah rektorat. Kata dosen saya di Universitas Indonesia, rektorat yang megah adalah simbol bahwa kampus-kampus kita tidak mewarisi tradisi ilmiah, melainkan tradisi ala kerajaan, di mana kekuasaan adalah aspek paling penting. Buktinya, simbol penguasa kampus yaitu rektorat selalu paling dominan.

perpustakaan Harvard University di Boston, Massachussets

Saya beruntung bisa menjadi penghuni tetap di perpustakaan kampus Ohio University. Di sini, saya serasa menemukan surga berisikan buku-buku serta film yang didatangkan dari seluruh dunia. Ruangannya sangat nyaman, koleksi bukunya sangat banyak, serta adanya ruangan kecil bagi mahasiswa pasca-sarjana untuk menaruh buku-buku atau sebagai tempat untuk belajar.

Sebegitu lengkapnya koleksi buku perpustakaan memberikan pelajaran buat saya bahwa ilmu pengetahuan dibangun di atas landasan yang kokoh dan saling menopang. Aktivitas membaca ibarat cahaya terang yang memandu manusia untuk menelusuri belantara realitas demi menemukan sisi-sisi paling dalam dari realitas itu. Dan buku ibarat pintu yang membuka gagasan kita untuk bertemu mereka-mereka yang telah menuangkan gagasan demi untuk diskusikan atai didebati. Tanpa membaca, mungkinkah akan lahir refleksi yang jernih?

Kedua, saya akan merindukan kehangatan serta kebaikan dari banyak orang. Selama dua tahun ini, saya tinggal di satu kota kecil yang menyenangkan. Dimana-mana saya bertemu dengan orang-orang yang akan selalu tersenyum dan menyapa dengan tulus, tanpa dibuat-buat. Masyarakat Athens adalah masyarakat yang amat ramah. Setiap berpapasan dengan seseorang, maka selalu ada sapaan “How are you” atau “What’s up.” Saya bukan tipe orang yang suka menyapa orang lain. Namun di kota ini, saya mesti menjawab semua sapaan serta senyuman dari banyak orang.

pemandangan di kampus Ohio University

Pelajaran penting yang saya dapatkan di sini adalah tentang kebaikan. Saya banyak bertemu orang baik yang bersedia berkorban waktu , tenaga dan uang demi kebahagiaan orang lain. Saya sering terkenang pada sahabat saya Erick. Selama dua tahun, ia membantu saya untuk merevisi paper dalam bahasa Inggris, melaih kemampuan memahami diaog, serta kawan diskusi yang mengasyikkan. Setiap kali dimintai bantuan, ia tak pernah menolak. Bahkan, ia mengorbankan kepentingan pribadinya.

Atmosfer di kota ini adalah amosfer kebaikan dan penghormatan kepada orang lain. Terlampau banyak pengalaman saya yang bisa dikisahkan di sini. Mulai dari menunggu bis di tengah salju dan tiba-tiba singgah seorang ibu yang datang demi menawarkan diri untuk mengantar dengan mobilnya, atau saat ketika tidak punya uang tunai untuk membayar segelas kopi dan tiba-tiba saja banyak yang menawarkan diri untuk membayarkan, atau saat berjalan dengan bayi dan semua orang membukakan pintu dan menahannya hingga saya berada di dalam gedung. Terakhir, banyak yang datang memberikan hadiah kepada anak saya sebagai tanda kasih sayang.

Ketiga, saya akan merindukan spirit kerja keras serta disiplin warga Amerika. Saya sering terpesona dengan kemampuan mereka untuk berdisiplin serta menepati janji. Perpustakaan Alden menjadi saksi bagaimana mereka bekerja keras untuk memahami buku-buku teks. Memang, kampus Ohio dikenal sebagai kampus yang mahasiswanya suka pesta. Saya lihat sendiri bahwa hari Sabtu dan Minggu, mahasiswa menggelar pesta-pesta di bar sambil meminum alkohol. Akan teapi di hari Senin hingga Kamis, mereka akan belajar keras di perpustakaan, dan tak punya waktu bersantai.

Semangat kerja dan belajar keras ini membuat saya sangat iri dengan mereka. Beberapa teman saya warga Amerika, sangat disiplin dalam mematuhi silabus perkuliahan. Mereka tahu kapan harus menyelesaikan tugas, serta kapan mulai menyiapkan diri untuk final test. Mereka punya semangat serta perencanaan yang sangat baik. Semangat belajar itu telah dipupuk sejak masa sekolah menengah, ketika mereka mulai diperkenalkan dengan tantangan serta American Dream, mimpi-mimpi yang membuat mereka ingin menyelesaikan studi, lalu menjadi kaya-raya.

Ini sungguh berbeda dengan kondisi ketika saya pertama tiba. Pada saat itu, saya sangat keteteran ketika mengikuti jadwal akademik. Saya sering tak membaca silabus dan serba kebingungan ketika semua mahasiswa menyetorkan tugas kepada para profesor pengajar. Proses yang saya hadapi demikian berat sebab saya harus mengubah budaya malas, mengatasi segala kesulitan bahasa, hingga mesti menanam keberanian agar bisa menyelesaikan perkuliahan pada waktunya.

prasasti kampus

Awalnya memang sulit. Tapi selanjutnya saya mulai menyesuaikan diri dengan ritme serta denyut nadi kebudayaan Amerika. Saya adalah seorang warga Indonesia yang tadinya berlari dengan kecepatan minimal, tiba-tiba dipaksa masuk arena formula satu dan harus berlari secepat kilat. Di akhir kuliah, saya mesti mengamini pepatah pelaut Makassar, “Le'ba kusoronna biseangku, kucampa'na sombalakku, tamassaile punna teai labuang” yang artinya, “Bila perahu telah kudorong, layar telah terkembang, takkan ku berpaling kalau bukan pelabuhan yang kutuju.”

Dan perahu yang saya kemudikan itu berhasil melalui samudera Ohio University.


Athens, Ohio, 10 Mei 2013

Hadiah untuk ARA


Ara memakai baju dari Helen Pang

SUNGGUH beruntung memiliki anak kecil di negara empat musim. Anak saya Ara mendapat limpahan kasih dari banyak orang yang berasal dari negara berbeda. Dua bulan lalu, gadis Jerman bernama Linda memberi hadiah coklat-coklat yang lezat, minggu lalu, perempuan asal Cina, Helen Pang, memberikan hadiah baju, dan kemarin, seorang ibu asal Chile, Luisa Esquival, menghadiahkan bingkisan yang berisi gaun dan selendang. Wow!

Linda adalah sahabat saya. Helen adalah sahabat istri saya. Sedangkan Luisa adalah ibu dari salah seorang teman saya. Ia sangat cantik. Saya belum pernah bertemu dengannya. Akan tetapi, ia selalu me-like semua foto yang saya posting di facebook. Meskipun saya seorang amatiran di dunia fotografi, ia menganggap saya seorang fotografer handal. Makanya, ia memberikan order untuk memotret anaknya. Sayang sekali, pemotretan tidak sempat dilakukan karena masalah koordinasi.
 
hadiah dari Linda
hadiah dari Luisa


Kemarin, ia datang memberikan hadiah untuk Ara. Selain gaun, ada pula selendang khas India, yang sepertinya berhaga mahal. Saat menerimanya, saya tak bisa berkata-kata karena snagat terharu. Saya bahagia karena dalam usia yang begitu muda, ada banyak pihak yang menyayangi anak saya. Saya bahagia karena di bumi yang kecil ini, ada banyak orang baik, yang ikhlas berbagi bahagia dengan keluarga kecil kami.

Dan saya bertekad untuk bisa membalas semua kebaikan yang saya terima, minimal pada skala yang lebih sederhana, sebagaimana kebaikan yang saya terima.(*)

Kisah HABIBIE di meja DON FLOURNOY


Prof Don Flournoy

RUANGAN itu nampak sama dengan ruangan para profesor yang mengajar di program Media Studies. Namun ada sesuatu yang beda di ruangan itu. Saya melihat ada prasasti nama yang ditulis di atas ukiran khas Bali. Saya lalu singgah ke ruangan itu dan melihat nama yang tertulis adalah DON FLOURNOY. Tiba-tiba saja, pintu berderit. Seorang pria tua memasuki ruangan itu dan tersenyum.

Saya tahu kalau dirinya adalah Prof Don Flournoy. Beberapa hari sebelumnya, saya menghadiri kelas perdana International Comparative of Media System yang diasuhnya. Ketika saya menyebut Indonesia pada sesi perkenalan, matanya berbinar-binar. Hingga akhirnya ia mengundang saya datang ke ruangannya.

“Indonesia adalah rumah kedua saya. Saya punya banyak kenangan di negeri itu,” katanya sambil tersenyum. Ketika ia tahu bahwa saya adalah alumnus satu perguruan tinggi di Makassar, ia lalu bercerita tentang kunjungannya ke Makassar saat hendak membuat film dokumenter. Ia datang ke Tana Beru, Bulukumba di akhir tahun 1980-an demi membuat dokumenter tentang pembuatan perahu phinisi.

“Waktu itu, saya datang untuk melakukan riset dan dokumenter tentang aplikasi kearifan lokal pada pengembangan teknologi. Riset saya yang kemudian menjadi rekomendasi bagi Prof Habibie untuk membikin PT PAL di Surabaya,” katanya.

Selanjutnya, kami berbincang hal yang ringan-ringan, demi menjalin keakraban. Ia memperlihatkan sebuah majalah bergambar artis cantik Indonesia yang berperan dalam film Matahari-Matahari. Ia lalu bertanya, “Apakah kamu mengenalnya?” Saya lalu mengangguk. “Dia salah satu mahasiswa saya,” katanya sambil tersenyum.

Saat berbincang dengannya, saya merasakan semangat muda yang menggelegak. Padahal, usianya sudah tidak muda lagi. Tahun ini, ia berusia 76 tahun. Ia juga telah menempati banyak posisi, sebelum akhirnya menjadi profesor paling senior serta berpengalaman di School of Media Art and Studies.

Saya sangat terkesan saat melihat CV-nya yang terdiri atas 27 halaman. Di situ tertulis daftar riset yang impresif, tulisan jurnal yang sangat banyak, serta delapan buah buku karyanya, sebagaimana dipajang di etalase kaca di RTV Building, tempat perkuliahan mahasiswa Media Studies. Ia adalah profesor yang paling banyak mempublikasikan catatan jurnal. Menurut asistennya Victor Sherrick, ia juga pandai mencari funding dan mendatangkan banyak uang ke program. Wajar saja jika kemudian ia tetap dipertahankan meskipun usianya sepuh.

Mary Flournoy dan suaminya Don Flournoy

Apakah ia populer di kalangan mahasiswa? Ternyata malah tidak. Banyak mahasiswa, khususnya mahasiswa Amerika, yang tidak tertarik belajar teknologi komunikasi. Spesialisasi Prof Don Flournoy memang banyak berkaitan dengan teknologi informasi, seperti penggunaan satelit, energi surya, energi terbarukan, serta optimalisasi internet untuk mengatasi kemiskinan dan keterbelakangan. Mungkin karena dikontrak oleh NASA, ia juga mengajar tema-tema space communication. Malah, ia menjadi pemimpin jurnal bergengsi Online Space Journal of Communication.

Tema-tema ini tidak populer bagi mahasiswa yang lebih suka topik seperti media dan dampak budaya. Ketika di kelas, saya mengutip kata-kata Presiden Amerika Ronald Reagen tentang regim otoriter di masa depan yang dikalahkan oleh kemajuan teknologi micro-chip yang memberikan kebebasan pada masyarakat untuk berekspresi di dunia maya, ia langsung menjawab dengan tersenyum, “Pada masa itu, Reagen tidak tahu dan tidak memprediksi seperti apa perkembangan micro-chip.”

Ketika mengambil kuliahnya, hari-hari saya diisi dengan disiplin ala spartan. Ia mewajibkan mahasiswa menyusun lima makalah serta lima kali melakukan presentasi. Setiap kali saya menyetor paper sebanyak 20 halaman, ia akan banyak memberi koreksi atau catatan. Tak ada satu kertas pun yang bersih dari coretannya. Ia membaca semua lembar koreksi, memberi masukan dari sisi pengayaan bahasa, lalu memberikan catatan editorial.

Ketika membuat tugas akhir, saya agak sakit hati ketika melihat paper saya penuh dengan coretannya. Bahkan ketika saya sudah merevisinya, sebagaimana yang diinginkannya, ia tetap mengoreksi lagi hingga empat kali. Sepertinya, ia tahu kekesalan yang saya rasakan. Ia datang memeluk lalu berkata, “Jangan sakit hati. Kamu sudah bekerja keras. Saya ingin menjadi bagian dari proses penguatan intelektualmu.” Belakangan, saya sadar bahwa ia sengaja melakukan itu demi mengajari saya. Ia adalah tipe pengajar yang hendak mengasah disiplin, serta mental tahan banting demi pengayaan kualitas.

Kisah Habibie

Jelang keberangkatan ke tanah air, saya menyempatkan waktu ke ruangannya. Dari sekian ribu buku yang dikoleksinya, ia hanya menyimpan beberapa saja di raknya. Ia mengambil beberapa buku-buku yang bergambar Habibie. Saya lalu membuka buku tersebut. Pada beberapa buku yang ditulis Makmur Makka tersebut, ia telah memberikan terjemahan ke dalam bahasa Inggris. Sayang sekali karena ia belum menerbitkan hasil terjemahannya.

Ia bercerita banyak tentang Habibie serta obsesinya pada teknologi. Ia cukup beruntung karena beberapa kali bertemu dan Habibie dan sama-sama membahas tentang teknologi dirgantara dan kelautan. Siapa yang mempertemukannya dengan Habibie? Muridnya sendiri, Makmur Makka, lelaki asal Parepare, Sulawesi Selatan, yang menjadi mahasiswa Ohio University pada tahun 1981.

Ketika bercerita tentang Makmur Makka, mantan pemred harian Republika, ia menjadi sangat serius. Di tas ransel kecil yang selalu dibawanya, ia memperlihatkan beberapa foto. Ternyata, ia membawa-bawa foto Makmur Makka dan keluarganya yang memakai pakaian Bugis. Ia berkata bahwa Makmur bukan sekadar murid  baginya.

“Saya menganggap Makmur sebagai keluarga saya. Dia yang membuka banyak pintu ketika saya ke Indonesia. Salah seorang keluarganya datang belajar ke sini, kemudian saya rekomendasikan untuk lanjut program doktor ke Texas, kampung halaman saya. Di sana, ia bertemu ibu saya,” katanya.

Hari ini, saya belajar kembali tentang makna hubungan seorang guru dan muridnya. Saya hanya bisa menebak-nebak sedekat apa hubungan mereka. Ketika Makmur Makka datang ke Athens, ia berstatus sebagai mahasiswa yang kemudian belajar pada seorang profesor. Namun siapa sangka jika hubungan itu lalu bertransformasi menjadi hubungan kekeluargaan di mana keduanya saling menjaga silaturahmi, saling mengirim kabar tentang keadaan diri dan keluarga masing-masing.

bersama Prof Don Flournoy

Saya sangat tersanjung ketika Flornoy selalu menembuskan imelnya ke Makmur Makka ke imel saya. Dalam salah satu imelnya, ia berkata seolah ucapan seorang ayah kepada anaknya, “Kamu belum tua. Kamu masih muda. Saya pernah jadi gurumu, dan saya merasa selalu muda.”

Ketika saya wisuda, Prof Flournoy datang menemui saya. Kami saling mengambil gambar lalu berpelukan. Momen-momen seperti ini sering jadi momen yang sangat emosional. Tapi, saya tidak pernah tahu apa yang dirasakannya ketika kami bersama-sama dan saling berpelukan.

Suatu hari, di sela-sela mempersiapkan perlengkapan untuk berangkat, saya mengecek imel. Di situ ada imel dari Flournoy ke Makmur Makka. Tadinya saya pikir imel ini sama dengan imel-imel lainnya. Saat saya mengeceknya, di situ ada foto kami berdua. Ia menulis dengan kalimat yang membuat hati saya basah, “Saya perkenalkan kamu dengan mahasiswa saya di Ohio. Ia bukan hanya mahasiswa. Ia keluarga saya.”


Athens, 9 Mei 2013

Kopi Sumatra, Kopi Termahal di Amerika


kopi Sumatra di Amerika

SORE itu, saya tengah duduk Kafe Donkey, yang terletak di jantung kota Athens, Ohio, Amerika Serikat (AS), sambil menyelesaikan beberapa tugas. Tiba-tiba, seorang wanita dengan rambut pirang datang memesan kopi. Dengan bahasa Inggris, ia berkata kepada pelayan kafe. “Apakah saya bisa memesan kopi Sumatra?” Saya yang duduk tak jauh dari kasir langsung tersentak. What? Kopi Sumatra?

Saya lalu menemui pelayan kafe dan mengajaknya berbincang. Ia bercerita tentang kopi Sumatra sebagai salah satu kopi paling laris di Athens. Ketika saya tanya, apakah ia tahu di mana letak Sumatra? Pelayan itu langsung mengatakan Indonesia. Ia lalu bercerita bahwa kafe itu mendatangkan kopi organik dari beberapa komunitas petani di Aceh. Mantap.

Kopi Sumatra memang telah lama menjadi salah satu komoditas paling laris di Amerika yang dikenal sebagai negera dengan tingkat konsumsi kopi terbesar. Anda bisa bayangkan, satu dari tiga warga Amerika adalah peminum kopi. Dikarenakan kopi hanya bisa tumbuh dari negara-negara yang terletak di sekitar khatulistiwa, maka hampir setiap tahun, pihak pengusaha AS mengimpor kopi dari beberapa negara-negara yang terletak di sekitar khatulistiwa. Urutan terbesar kopi didatangkan dari Brazil, Colombia, selanjutnya Vietnam, Meksiko, Guatemala, dan Indonesia.

Lantas, apa yang membedakan kopi Sumatra dengan kopi negara lain? Ternyata kopi Sumatra adalah kopi termahal. The Guardian melaporkan kopi luwak asal Sumatra sebagai kopi termahal di dunia. Mereka juga melaporkan perbandingan harga kopi Sumatra dengan kopi asal Brazil. Ternyata, harga kopi Sumatra masih lebih mahal. Pantas saja jika kopi ini menjadi favorit bagi warga Athens Ohio.

Tadinya saya tidak percaya dengan fakta-fakta ini. Namun saat menelusuri beberapa kafe di kota kecil ini, saya menyaksikan selalu ada informasi tentang kopi Sumatra. Di Kafe Whits yang terletak tak jauh dari Donkey, saya menyaksikan label tentang kopi Sumatra yang dicampur dengan kopi Kolombia. Saat singgah di Starbucks, informasi tentang kopi Sumatra juga dipajang demi untuk menjaring pelanggan. Bahkan di beberapa pusat perbelanjaan, seperti Walmart, kopi Sumatra juga menjadi komoditas yang laris.

kopi Sumatra di Kafe Whit's
kemasan kopi Sumatra di Walmart

Menurut beberapa warga Amerika yang saya tanyai, kopi Sumatra menjadi favorit karena memiliki cita rasa yang berbeda. Kopi-kopi asal Indonesia seperti kopi Sumatra, kopi Jawa, atau kopi Toraja dikenal berharga mahal serta identik dengan cita rasa berkelas.

Nasib Petani

Mulanya, saya sangat bangga ketika mendengar popularitas kopi asal Indonesia di Amerika. Namun, saya juga miris saat membayangkan nasib para petani kopi di tanah air. Nasib para petani amat kontras dengan nasib kopi yang ditanaminya, dan kemudian mejadi komoditas paling mahal di negara lain.

Dua tahun silam, saya beberapa kali bertemu petani kopi di Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang bercerita tentang harga kopi yang terus jatuh di tanah air. Kata mereka, harga kopi di tingkat petani hanya berkisar sekitar Rp 3.500 hingga Rp 4.000 per kilogram. Padahal di Amerika, secangkir kopi bisa dihargai hingga lima dollar atau sekitar Rp 45.000 (dengan asumsi 1 dollar sama dengan Rp 9.000). Anda bisa bayangkan, jika satu kilogram kopi bisa diolah hingga berpuluh cangkir, maka berapakah keuntungan yang didapat para pengusaha kopi di kedai Starbuck?

Saya merasa penasaran mengapa harga kopi demikian rendah di kalangan petani. Belakangan, saya menyadari bahwa sebelum tiba di Amerika, kopi telah menempuh perjalanan panjang dan berpindah-pindah. Petani menjualnya ke para kolektor, kemudian kopi berpindah ke pedagang kecil, setelah itu berpindah ke pihak ketiga, kemudian dijual lagi ke pedagang besar, yang selanjutnya diekspor ke perusahaan multi-nasional. Jika pindah ke banyak tangan, pantas saja jika kopi itu jadi sangat mahal.

Saya juga melihat bahwa permainan harga itu banyak disebabkan oleh perusahaan multinasional seperti Starbucks, Kraft, Nestle, Sara Lee, serta Procter & Gamble. Mereka datang ke petani, lalu membeli dengan harga murah, kemudian menjualnya ke manca negara. Beberapa perusahaan multi-nasional mengejar untung berlipat-lipat dengan cara mendatangi langsung para petani. Mereka juga yang mengatur untuk harga beli kopi di kalangan petani.

Ironisnya, para petani tak pernah punya kuasa untuk menentukan harga. Harga kopi dunia ditentukan oleh organisasi International Coffee Agreement (ICA) yang bermarkas di New York dan London. Organisasi ini yang menentukan harga, mengatur kouta perdagangan, serta segala hal menyangkut kopi. Bukankah mata rantai perdagangan ini menjadi sangat kejam ketika nasib 50 juta petani kopi dunia hanya ditentukan oleh segelitir orang di New York dan London?

Harapan di Kafe Donkey

Di tengah fakta miris tentang nasib petani kopi itu, saya tiba-tiba menemukan rasa optimisme di kafe Donkey. Kafe ini didirikan oleh aktivis bernama Chris Pyle yang mengusung misi social justice. Saat berbincang dengannya, ia menjelaskan bahwa para aktivis di Amerika menyadari benar betapa kejamnya mata rantai perdagangan kopi bagi petani. Mereka lalu berjejaring, menyebarkan informasi, lalu membangun gerakan sosial dengan cara-cara sederhana.

Mereka menolak untuk membeli kopi dari para importir kakap. Mereka membangun jaringan dengan organisasi Dean’s Bean serta TransFair USA yang kemudian mendatangi langsung para petani lokal, memberikan harga tinggi bagi petani, kemudian kopi tersebut lalu disebarkan ke beberapa kafe yang mengusung misi yang sama, sebagaimana Donkey. Kata Chris, jangan pernah mau membeli kopi dengan harga murah, sebab petani bermandi peluh demi segelas kopi itu.

kafe Donkey di Athens, Ohio
kopi Sumatra di kafe Donkey

Misi kafe yang didirikannya adalah Caffeine with Conscience diterjemahkan dengan cara membeli mahal semua produk dari petani lokal, kemudian dijual di kafe itu, lalu ampas kopi akan dikembalikan kepada petani untuk menjadi pupuk organic. Sistem kerja jaringan seperti ini diharapkan bisa memutus alur perdagangan yang tak adil itu.

Chris membuka pintu-pintu kesadaran saya tentang apa yang sedang terjadi. Ketika mengingat sistem perdagangan internasional, saya merasa geram. Saya membayangkan sebuah gurita yang membelit para petani hingga tak berdaya. Akan tetapi, ketika mengetahui langkah-langkah kecil perlawanan dari mereka yang berdiam di kafe ini saya menjadi sangat optimis. Meski dampak mereka tak seberapa besar bagi petani secara keseluruhan, tapi langkah itu menunjukkan bahwa ada setetes embun di tengah kegersangaan berita tentang para petani kopi.

Di Kafe Donkey itu, mata saya membuka. Saya melihat lebih terang tentang satu hal yang tadinya tak terlintas di benak. Saya banyak belajar dari diskusi di kafe ini, yang kemudian menginspirasi saya untuk melakukan hal serupa.

Barangkali, perubahan tak akan pernah lahir dari pembicaraan yang dilakukan di hotel-hotel berbintang atau dari ruang-ruang akademik yang penuh target dan seremoni. Perubahan selalu dimulai dari langkah-langkah sederhana yang didasari hati bening serta pikiran jernih untuk menghadirkan senyum di wajah orang lain.  Dan itu yang saya temukan di kafe itu; Kafe Donkey.


Athens, 5 Mei 2013

BACA JUGA:













Wisuda dan Kehangatan Keluarga




BARU kutahu kalau warga Amerika Serikat (AS) tidak seindividual sebagaimana pernah kusangkakan saat di tanah air. Pada momen-momen ketika seorang anak hendak naik kelas, tampil menari, olahraga, atau lulus sekolah, semua orang tua wajib datang. Demikian pula saat sang anak hendak diwisuda.

Seorang kawan mahasiswa pascasarjana bercerita tentang konflik di keluarganya, ketika sang anak marah-marah hanya karena ia tidak hadir di saat anaknya naik kelas. Katanya, bagi seorang anak Amerika, ketidakhadiran orang tua adalah symbol tiadanya perhatian, tiadanya kasih sayang. Si orang tua hanya memikirkan dirinya, dan tidak peduli bagaimana anaknya.

Hari Sabtu kemarin, Athens penuh dengan para ayah dan para ibu yang datang menemani anaknya. Kupikir mereka tak sekadar datang melihat anaknya. Mereka juga menginspirasi orang-orang bahwa seungguhnya kehangatan keluarga jauh lebih penting daripada apapun. Bukankah demikian?


Athens, 5 Mei 2013 


Jeruji Kenangan di Saat Wisuda


jajaran petiggi universitas

DI gedung Convocation Center di kampus Ohio University, saya menyaksikan mahasiswa Amerika serta mahasiswa berbagai negara yang sedang bergembira. Wajah mereka berseri-seri. Mereka saling memberi selamat. Tawa riang memenuhi udara. Entah kenapa, di ruangan besar itu, saya hanya bisa terdiam. Saya seolah sedang bermimpi. Saya tak pernah menyangka bisa berada di titik ini.

***

SUATU hari di tahun 1989. Bapak saya meminta saya untuk memakai baju terbaik. Di ibukota Kabupaten Buton itu, bapak sedang memanen bahagianya. Ia akan diwisuda di sebuah universitas lokal yang didirikan lima tahun sebelumnya. Bapak adalah angkatan pertama di kampus itu.

Di kampung kami, universitas itu menjadi satu-satunya harapan bagi banyak orang seperti bapak. Dahulu, kampus itu memelihara idealisme bahwa semua warga kampung berhak untuk mendapatkan pendidikan di level sarjana. Bahwa warga kampung tak perlu jauh-jauh ke kota demi untuk mendapatkan pendidikan.

Jangan pikir universitas itu sebesar kampus-kampus di negeri Jawa. Kampus itu  adalah gedung sekolah tua yang lama tak digunakan. Di situlah, bapak belajar demi mendapatkan sesuatu, yang di masa itu tak jelas buat saya untuk apa.

Di masa itu, bapak sudah tak muda. Ia sudah memiliki istri dan empat anak sebagai tanggungan. Tapi niatnya untuk sekolah dan belajar amat menggebu-gebu. Dalam banyak kesempatan, ia selalu bercerita tentang dirinya. Dulu, ia ingin sekali menjadi hakim atau jaksa. Cita-cita itu tak kesampaian. Mengapa? Apakah bapak kurang cerdas? “Tali pendek Nak. Bapak tak punya cukup uang untuk menggapai semua cita-cita itu,” katanya suatu ketika.

Ia memang tak punya banyak uang. Ia hanya seorang guru sekolah menengah dengan penghasilan amat terbatas. Orangtuanya hanyalah nelayan kecil yang hasilnya hanya untuk makan sehari-hari. Tak ada satupun keluarganya yang bersekolah. Ia membanting tulang dengan berperahu ke pulau seberang di setiap hari pasar demi menjual hasil bumi. Ketika hari pasar usai, ia akan kembali berperahu ke kampung kami.

Pendidikan sekolah menengah telah mengantarkannya menjadi seorang guru. Masa depannya terukir sebagai seorang pendidik yang baik. Namun, hasrat belajarnya tetap menggebu. Barangkali, ia adalah satu dari banyak guru yang mengasah dirinya dengan bacaan-bacaan berkelas. Rumah kami di kampung penuh dengan berbagai buku yang dahulu sering saya jadikan mainan.

Di masa itu, akses pengetahuan sangatlah terbatas. Tapi bapak tak pernah kekurangan akal. Ia menyurati penerbit-penerbit demi mendapatkan katalog buku lokal. Kemudian ia mengirim uang dengan wesel pos, yang beberapa hari berkutnya, akan datanglah kiriman buku di rumah kami. Bapak memenuhi rak-rak buku di rumah kami yang kecil. Di rumah kami, tak ada harta yang dipamerkan di ruang tamu. Kami hanya punya buku-buku yang secara regular dibeli bapak dengan cara memesan lewat pos.

Ketika di kampung kami sebuah universitas dibuka, bapak lalu menjadi pendaftar pertama. Ia menyisihkan gajinya sebagai guru demi mendapatkan gelar sarjana. Satu kali, ibu pernah bertanya, apakah gelar sarjana itu penting buat bapak yang sudah sepuh? “Penting sekali. Gelar itu penting untuk menunjukkan kepada anak-anak bahwa sebagai anak seorang nelayan miskin, saya bisa menjadi sarjana,” katanya dengan mata bersinar-sinar.

Yup. Hari itu, bapak akhirnya diwisuda. Ia memakai pakaian jubah serta toga. Dikarenakan bapak adalah angkatan pertama di kampus itu, para wisudawan lalu diperkenalkan dengan penuh bangga di kota kecil kami. Mereka diarak dan berjalan sepanjang satu kilometer dengan menggunakan pakaian wisuda. Mereka jadi kebanggaan warga bahwa telah lahir sejumlah sarjana baru yang kelak akan mewarnai kota kecil kami.

Berlipat-lipat kebahagiaan bapak saat itu. Sepulang dari wisuda, ia singgah bersama ibu ke satu-satunya studio foto di kampung kami. Mereka lalu berfoto dengan pakaian wisuda yang kemudian dicetak dalam ukuran besar serta dipajang di ruang tamu rumah kami. Tak cukup dengan itu, bapak meminta seluruh penghuni rumah untuk sama-sama berfoto.

Saat itu, saya agak malu. Saya tak menemukan letak keistimewaan menjadi seorang sarjana. Saat itu, saya berpikir bahwa lulus perguruan tinggi sama dengan lulus sekolah menengah. Sama saja khan? Saya juga malu untuk berfoto. Bapak sudah bukan anak muda yang lulus sarjana, kemudian merayakannya. Ia sudah berumur 50 tahun. Ketika saya bilang bahwa saya malu untuk berfoto, bapak berkata, “Kelak kamu akan tahu bagaimana mimpi-mimpi saya untuk tiba di titik ini.”

Tapi bapak akan wisuda di usia 50 tahun. Mengapa harus bangga dengan itu?

Saya memang tak paham. Saya tak tahu tentang begitu kuatnya keinginannya untuk bersekolah. Buat saya yang terlahir sebagai anak seorang guru, pendidikan adalah hal penting yang ditanamkan sejak dini. Sementara bagi dirinya yang terlahir sebagai anak nelayan, pendidikan adalah hal yang amat mahal dan diperjuangkan dengan segala daya dan upaya.

Saat itu, saya masih terlalu muda untuk paham tentang makna sebuah perjuangan dan dedikasi. Bahwa menjadi seorang sarjana di kampung bukanlah sesuatu yang sepele bagi seorang bapak. Hasratnya hanya satu yakni menunjukkan kepada anak-anaknya bahwa ia sanggup untuk menerobos satu halangan yakni rasa tak percaya dri sebagai seorang tak berpunya. Dengan menggapai sarjana, ia juga membangun harapan bahwa kelak anak-anaknya akan melampaui jejak yang pernah ditorehkannya.

Pengetahuan adalah jalan pembebasan. Dengan segala keterbatasannya, bapak melatih anak-anaknya sebagai prajurit yang tahan dengan segala ketidaknyamanan. Ketika kakak saya merantau, ia meminjam uang di bank, kemudian disimpan di tabungan demi untuk berjaga-jaga ketika kakak saya membutuhkan uang.

Ia tak memikirkan dirinya. Ia tak memikirkan bagaimana mempercantik rumah kami untuk serupa istana. Ia tak memikirkan bagaimana mewariskan bisnis bagi keturunannya, sebagaimana dilakukan para pejabat di kampung kami. Ia hanya ingin anak-anaknya mendapatkan kesempatan yang lebih baik dari dirinya. Ia hanya ingin saya bisa belajar, tanpa harus putus sekolah karena ketiadaan biaya.

Barulah saya paham bahwa menjadi seorang bapak adalah menjadi seseorang yang akan melakukan apapun demi kebahagiaan anaknya. Menjadi seorang bapak adalah pilihan memasuki medan laga demi melapangkan semua jalan agar kelak sang anak bisa meniti di tengah jalan tenang di tengah hingar-bingar pertempuran. Saya telah mengalami segala keterbatasannya, namun ia telah mengajarkan saya untuk  tahan banting dan mengubah segala keterbatasan menjadi sebuah kekuatan. Dan lewat itu, saya perkasa menghadapi berbagai masalah.

Sayang sekali, bapak telah meninggal ketika saya belajar di sebuah universitas di Makassar. Delapan tahun setelah menjadi sarjana, ia meninggal dunia tanpa pernah melihat langsung satu pun buah yang ditanamnya.

***


bersama anak istri

HARI ini, saya sedang menjalani wisuda di kampus Ohio University di kota Athens, Ohio, Amerika Serikat (AS). Saya menyaksikan mahasiswa berbagai bangsa di ruangan ini. Jiwa saya dipenuhi rasa bahagia ketika musik mengalun dari orkestra di dekat para petinggi kampus. Saya bahagia saat membayangkan betapa susahnya belajar di negeri yang berbahasa asing ini. Saya sangat senang ketika tahu bahwa saya akan pulang dan membawa cerita tentang segala kesulitan yang diubah menjadi kesenangan karena berhasil melaluinya.

Tiba-tiba batin saya dibasahi rasa haru saat mengingat sosok bapak, sosok biasa yang telah mengubah dirinya sebagai matahari dan menerangi segala tapak-tapak langkah kaki ini. Jika saja dirinya di negeri superpower ini lalu menyaksikan anaknya yang dahulu amat nakal ini sedang wisuda, apakah ia akan bahagia? Apakah ia akan menyapukan sapu tangan ke matanya yang basah karena sedang terharu?


Athens, 4 Mei 2013

Kisah tentang Pemudi Arab


ilustrasi (foto: James Natchwey)

DI tanah air, gambaran tentang mereka yang berasal dari timur tengah adalah gambaran tentang mereka yang berahlak seperti Rasulullah. Namun, apakah memang mereka berprilaku demikian?

Saya mengenal pria bernama Moses. Ia berasal dari jazirah Arabia yang bahasa sehari-harinya adalah bahasa sebagaimana kitab suci Al Quran. Ia juga memakai huruf Arab ketika mencatat bahan kuliah, bahkan ketika menulis status di facebook. Jangan pernah tanya tentang kemampuannya mengaji. Jelas sekali ia di atas level fasih, sebab ia tahu makna dari pesan dalam kitab-kitab suci tersebut.

Kemarin sore, saya melihatnya di depan perpustakaan. Ia memakai baju yang kancingnya dibuka lebar. Saya melihat bulu dadanya yang penuh. Ia mendatangi saya hanya untuk berbasa-basi. Saat berbicang, saya merasakan hawa alkohol terpancar dari mulutnya.

Ia memang seorang maniak alkohol. Kulkas di apartemennya dipenuhi alkohol. Bersama beberapa orang Arab lainnya, ia selalu berkeliaran di bar. Ia juga berpacaran dengan bule Amrik, serta membangun komitmen untuk tidak menikah. Entah, apa yang dilakukannya bersama bule itu ketika sedang bersunyi di kamar.

Saya juga mengenal wanita bernama Hijri. Ia berasal dari Syria. Sebagaimana si Moses, bahasa Arabnya di atas kata fasih. Maklum sajalah, itu kan bahasa ibunya. Di kampung Athens, ia bergabung dengan kelompok penari perut yang selalu tampil di berbagai acara. Ia bergabung dengan gadis-gadis cantik lainnya yang selalu latihan di Ping Center, salah satu pusat kebugaran di kampus Ohio.

Suatu hari, saya melihatnya menari perut. Ia melilitkan manik-manik di perutnya yang seksi dan nampak terbuka. Ketika musik mengalun, ia meliuk-liuk dan bergoyang serupa ular yang mendengar irama dari peniup seruling. Matanya yang indah mengerling sana-sini. Ketika ia meluhat saya di sudut, matanya melirik, bibirnya tersenyum, lalu membentuk gerakan serupa mencium. Muach. Pipi saya tiba-tiba terasa agak panas.

Dan mereka tak sendirian. Ada banyak orang Arab sebagaimana mereka. Dan mereka semua ingin lebih barat dari barat.

Saya sedang memikirkan tentang ajaran agama. Di kampung, keluarga selalu menekankan untuk membaca kitab dalam bahasa Arab. Di sekolah, guru-guru selalu menyuruh untuk membaca kitab, menghafalkan surah-surah, meskipun sang siswa tak paham artinya.

Di masjid, para ustad dan mubalig sesekali berbicara dalam bahasa Arab, yang dimirip-miripkan seperti orang Arab. Di kampus-kampus, para dosen memelihara jenggot dan berprilaku sebagai orang Arab. Di dunia politik, semua bangga memakai gelar haji di depan namanya. Bahkan, seorang jendral pun lebih suka nama haji yang dipasang di depan namanya.

Generasi baru dipaksa belajar tajwid serta cara membaca huruf Arab, namun tak ada yang bisa menjelaskan makna. Ajaran diperkenalkan lewat disiplin tinggi serta keyakinan bahwa semakin sering melafalkan bahasa Arab, maka akan semakin terbukalah jalan menuju surga. Semakin baik pelafalan (dalam artian semakin mirip orang Arab), maka semakin lempanlah jalan menuju surga. Jika DIA adalah sosok maha besar yang tak terbatas ruang dan waktu, apakah DIA peduli dengan kesalahan biasa yang dialami ciptaan-NYA?

Saya sedang memikirkan makna. Pada akhirnya, makna adalah sesuatu yang melampaui bahasa dan segala syarat-syarat ritual. Makna adalah cara kita memahami satu ajaran, lalu mentransformasikannya pada sendi-sendi kehidupan. Makna tak pernah tergantung pada seberapa fasih atau seberapa disiplin dalam membaca teks-teks.

Makna adalah soal kemampuan kita untuk menjelajah sejauh-jauhnya ke dalam setiap teks, lalu mengenggamnya, demi untuk menjadi kompas dalam segenap tindakan. Makna adalah kemampuan untuk memahami setiap tetes-tetes embun, lalu membasuh jiwa kita dengan kesegarannya. Makna adalah berlian yang nyaris hilang karena terlupakan oleh hingar-bingar ajaran yang dipaksakan sebagaimana disiplin ala militer. Makna adalah buah dari proses refleksi, yang kemudian dimatangkan oleh proses tumbuh dan mengakarnya manusia dalam belantara kehidupan.

Sayangnya, kita tak banyak belajar makna. Kita hanya belajar bagaimana menjadi mirip seperti suku bangsa si Moses dan si Hijri itu.



Athens, 1 Mei 2013

...

...