Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Cerita Agam (1): Kisah Nazaruddin




Dia disapa Pak Wali. Mulanya saya pikir Wali Kota. Ternyata di Agam, panggilan Pak Wali ditujukan untuk Wali Nagari, setara dengan posisi Kepala Desa di daerah lain. Lelaki itu bernama Nazaruddin.

Saya menemuinya di Lubuk Basung, Agam, Sumatera Barat. Dia tampak sangat bersahaja. Seorang kawan memberi tahu kalau dia bukan pria sembarangan. Dia adalah kepala desa yang menerima Kalpataru dan penghargaan Wahana Lestari dari Pemerintah Pusat. Apa yang dia lakukan?

Di tahun 2011 dia dilantik sebagai Wali Nagari. Dia diberi amanah memimpin Nagari Koto Malintang di dekat Danau Maninjau. Nagarinya indah permai, namun letaknya ibarat di cekungan dari bukit-bukit. Ibaratnya di tengah kuali. Setiap saat bencana longsor bisa terjadi.

Baru pertama dilantik, dia bertemu Bupati Agam, Indra Catri, yang memberinya bibit tanaman sebanyak satu truk. Saat itu, Agam sedang giat-giatnya menjalankan Gerakan Agam Menyemai, yang salah satu programnya adalah menyemai bibit sebanyak mungkin demi mengatasi bencana, sekaligus menjaga ketahanan pangan.

Dia lalu menyemai bibit itu bersama warga Nagari. Dia menanam berbagai bibit, mulai dari pala, nangka, cengkeh, hingga berbagai tanaman lain. Hanya dalam tempo dua tahun, tanaman itu tumbuh menjadi pohon yang kokoh. Lembah Koto Malintang jauh lebih hijau.

"Bagi saya, menyemai bibit bukan sekadar arahan bupati. Tapi ini adalah arahan dari nenek moyang kami untuk terus menanam," katanya dalam dialek Minang yang kental.

Dia menjelmakan semua arahan itu ke dalam satu gerakan yang dampaknya menyebar luas. Warga tidak hanya menanam bibit tanaman, tetapi juga menyemai bibit ikan di kolam-kolam, embung, serta selokan. Juga membuat minapadi, kolam ikan di tengah sawah-sawah.

Gerakannya bersinergi dengan Pemkab Agam yang sedang berkampanye Save Maninjau agar kondisi ekologis danau itu tetap lestari. Dia juga berkolaborasi dengan nagari lain untuk sama-sama menyemai. Berkat pasokan bibit yang merata dari Pemkab Agam, gerakan itu terus membesar hingga nagari-nagari lain, menjadi gelombang positif yang terus merambah ke mana-mana.

"Saya tersentuh apa kata Bupati Indra Catri. Bahwa Agam Menyemai itu bukan hanya menebar bibit, tetapi juga menebar kebaikan ke mana-mana. Sebab semua yang disemai, kelak akan tumbuh dan menjadi sesuatu yang mengakar di hati," katanya.

Di Koto Malintang, dia menorehkan jejak keteladanan yang membuahkan penghargaan dan apresiasi dari mana-mana. Tapi dia tetap rendah hati dan menyebut kerja-kerjanya belum selesai.

"Kebaikan bukan sesuatu yang sekali ditebar, kenudian berhenti. Kebaikan harus menjadi gerakan yang tak henti. Terus-menerus. Selagi napas dikandung badan," katanya.

Pada Wali Nagari ini, saya temukan embun keteladanan yang lama hilang di kalangan politisi dan mereka yang sering hadir di layar kaca kita. Anda tak perlu sibuk mengklaim diri sebagai orang baik. Tapi tindakan dan perilaku Andalah yang akan memberitahu sebarapa baik diri Anda.

Pada lelaki ini, saya merasakan sejuknya embun kebaikan


Mereka yang Lebih HMI dari HMI


ilustrasi

Dulu, sahabat itu adalah seorang mahasiswa tipe kupu-kupu, maksudnya kuliah pulang lalu kuliah pulang. Yang dia pikirkan hanya menyelesaikan kuliah secepat-cepatnya. Yang dia pikirkan hanya menyelesaikan tugas dari dosennya. Memang sih, dia cukup pintar.

Pernah, dia menyahuti ajakan seorang kawan untuk ikut pengkaderan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Tapi sebatas basic training. Itu pun dia tidak ikut semua materi. Baru tiga hari, dia sudah balik. Dia tak ingin ada hal-hal yang mengganggu dunia perkuliahan.

Sekian tahun berlalu, dia muncul di media sosial sebagai seorang politisi dan juga pengamat sosial. Dia pun dengan gagahnya memakai jas hijau yang tertera tulisan Korps Alumni HMI (KAHMI). Dia menuliskan nama HMI dengan agak tebal di berbagai CV yang dia bagikan. Bahkan, dia paling aktif di kegiatan-kegiatan KAHMI.

Beberapa dekade setelah Lafran Pane mendirikan HMI, kini lembaga itu berkembang, bahkan jauh lebih besar dari apa yang dia bayangkan. Dahulu, Lafran membayangkan ada himpunan yang bertujuan untuk “terbinanya insan akademis yang bernapaskan Islam.” (alumni HMI pasti tahu kelanjutannya)

Lafran tidak membayangkan kalau alumni HMI terus berjejaring, menguasai satu demi satu kekuatan politik hingga mulai mengaum di pentas nasional. Di berbagai partai politik, HMI membangun gerbong baru. Bahkan di kampus dan perguruan tinggi, para alumni HMI bisa berhimpun untuk menaikkan alumninya jadi rektor.

BACA: Bukan Hanya Lafran Pane

HMI menjadi satu kategori untuk berhimpun lalu berjuang untuk posisi politik dan kuasa. Jika tak punya sertifikat HMI, Anda tak punya password untuk bergabung dengan mereka. Bahkan biarpun Anda punya pemahaman Islam yang penuh nuansa kemodernan dan keindonesiaan ala Cak Nur, Anda juga bisa ditolak bergabung.

Kalau Anda masih ngotot untuk gabung, akan muncul pertanyaan: “Tahun berapa Anda bastra?” Tak ada yang bertanya, sejauh mana Islam bisa dipahami sampai sumsum tulang-belulangnya, sejauh mana cahaya agama merasuk dan menembus semua relung-relung dan lorong di hatimu. Tak ada yang bertanya, apa yang Anda ketahui tentang upaya membumikan Islam di semua lini perjuangan.

Hari ini, HMI menjadi satu penanda dan kelas sosial baru. Orang-orang yang mau menjadi komisioner berbagai lembaga di bawah pemerintah akan sibuk gerilya dengan label HMI. Mereka yang tidak pernah ber-HMI akan menyesal lalu mencari banyak celah biar menjadi alumni HMI. Bukan sekali dua kali saya mendengar ada politisi dan calon kepala daerah yang tiba-tiba saja mengaku HMI, entah bagaimana asal-muasalnya.

Bagi sebagian alumni HMI, tak penting juga asal-muasal itu Selagi Anda bisa berkontribusi, maka Anda bisa saja diklaim sebagai HMI.

Sekian dekade sejak Lafran mendirikan HMI, atau sekian tahun setelah berpulangnya Profesor Nurcholish Madjid, HMI tak lagi sendirian. Dulu, HMI adalah organisasi mahasiswa. Kini, para mahasiswa abadi dan para alumni yang paling sibuk ber-HMI.

Telah lahir satu organisasi baru bernama KAHMI yang lebih HMI dari HMI. Organisasi ini berisikan sejumlah alumni HMI yang gagal move on dari himpunan itu, serta punya kegiatan yang bersentuhan dengan politik. KAHMI menjadi organ baru yang lebih superior ketimbang HMI.

Dulu Lafran hanya membayangkan ada organisasi mahasiswa, sekali lagi mahasiswa, yang mengembangkan Islam melalui kajian-kajian mutakhir, serta menjadikannya spirit dalam semua aktivitas dan ruh perjuangan.

Kini, HMI hanya berisikan sejumlah anak muda yang masih hijau dan setia mengikuti arahan para senior KAHMI. Anggota HMI berada di bawah bayang-bayang para senior yang punya kekuatan kapital serta jejaring di lingkar kekuasaan.

Peta HMI sebelum dan pasca reformasi sungguh berbeda. Dahulu, HMI hanya berisikan sejumlah mahasiswa kampus yang kritis dan mengembangkan pemikiran Islam yang lebih modern dan mengindonesia melalui pengkaderan.

Di masa itu, organisasi berwarna hijau hitam itu bagai kerakap di atas batu. Amat susah menemukan donator dan sponsor yang mau membiayai kegiatan-kegiatan akademik di kampus dan luar kampus. Susah menemukan orang yang mau mengaku sebagai senior HMI sebab khawatir akan dimintai proposal kegiatan.

Kini, pasca-reformasi dan ruang-ruang politik mulai terbuka serta desentralisasi menjadi mantra baru yang mengubah lanskap politik lokal, HMI tiba-tiba saja kebanjiran senior.

Di mana-mana berdiri Graha Insan Cita serta sekretariat cabang. Di mana-mana Intermediate Training (LK 2 HMI) diadakan, dan selalu banjir duit karena disponsori pemerintah daerah. Tidak lengkap seorang politisi jika tidak mengaku HMI. Pernah saya mendengar petinggi militer, pebisnis sukses, juga orang super kaya yang diklaim sebagai warga HMI kehormatan.

BACA: "Pettite Historie" HMI Cabang Makassar Timur

Jika ditanya apa kontribusi para alumni ini berhimpun, kita bingung bagaimana menjawabnya. Yang terekam di memori adalah jalan santai, pembangunan sekretariat, juga kumpul-kumpul demi membicarakan semua kepala daerah yang akan diusung.

Padahal yang perlu didiskusikan adalah peran sejarah serta kontribusi HMI bagi peradaban. Sebab HMI bukan organisasi yang menjadi rental gerakan bagi para alumninya. Bukan pula organisasi yang identik dengan aksi-aksi jalanan. Bahkan bukan pula organisasi yang memberi akses bagi alumni muda untuk melingkar ke Bang Akbar, Bang Anies, Bang Mahfud, atau Bang Jokowi.

HMI harus menjadi kekuatan perubahan yang berdiri di tengah rakyat yang tertindas dan menjadi korban kebijakan pembangunan. HMI harus kembali berdiri di garis yang pernah dilalui Munir, mantan Ketua HMI Cabang Malang, yang berani menggugat negara dan menelanjangi perilaku korup dan kekerasan para elite-nya.

HMI harus menjawab panggilan sejarah untuk tetap berada di garis perjuangan dan membumikan Islam yang inklusif, berkemajuan, serta me-Nusantara. HMI harus tetap di jalur kultural, menjadi suara mahasiswa yang rindu perubahan, serta menjadi kerikil di sepatu penguasa korup.

“Ah, gak penting itu. Yang kita lakukan adalah berhimpun lalu merebut semua kekuatan politik. Kalau semua sudah kelar, baru kita masuk ke tema-tema itu Kubiayai kau!” kata sahabat itu sembari merapikan kerah jas KAHMI yang sempat terlipat. Dia bergegas menuju acara perayaan ulang tahun HMI.

Saya hanya bisa memandangnya dari kejauhan. Dalam hati saya menggumam: "Yakin Usaha Sampai."


Lelaki Bugis di Posisi CEO




Di tahun 1999, Timor Timur tengah bergolak. Lelaki itu, Asmawi Syam, baru saja menerima surat keputusan (SK) sebagai pemimpin BRI yang membawahi empat provinsi yakni Bali, NTB, NTT, dan Timor Timur.

Saat semua karyawan BRI Denpasar hendak membuat pesta penyambutan, dia menolak untuk datang. Dia ingin langsung datang ke Timor Timur. Wilayah itu laksana medan perang. Milisi pro kemerdekaan dan pro integrasi saling baku tembak. Korban banyak berjatuhan.

Seorang karyawan BRI di Timor Timur dilaporkan ditebas parang. Dia dirampok ketika mengawal uang tunai dari kantor cabang BRI ke kantor unit. Suasananya sungguh mencekam. Tapi Asmawi Syam tak patah arang. Dia tetap ingin datang ke Timor Timur. Dia ingin memastikan kantor tetap dalam keadaan aman di tengah proses transisi.

Dia tak peduli ketika tak ada satu pun staf yang bersedia menemaninya. Dia ngotot datang. Akhirnya, salah seorang bersedia ikut. Setiba di Timor Timur, tak ada satu pun hotel yang buka. Mereka menginap di rumah warga yang kosong karena mengungsi.

Kehadirannya menaikkan moral semua karyawan yang dalam situasi sulit. Dia ingin memastikan BRI tetap berjalan sebab bank itu menjadi harapan bagi ABRI dan Polri untuk membayar gaji.

Warga lokal yang menjadi karyawan BRI dalam situasi dilematis. Mereka didatangi dua kubu yang meminta bergabung. Jika mengiyakan satu kubu, maka mereka akan segera diteror. Sedangkan warga pendatang tidak sabar untuk segera meninggalkan Timor Timur.

Asmawi mengambil secarik kertas. Dia meminta semua yang ingin pindah segera menuliskan namanya di situ. Kertas itu menjadi SK bagi mereka. “Apakah ini bisa berlaku?” tanya seorang karyawan. Asmawi langsung mengiyakan.

Dia lalu menelepon Dirut BRI untuk meminta mandat. Dirut yang saat itu dijabat Djokosantoso Moeljono, langsung memberikan mandat. “Asmawi, dalam keadaan darurat seperti itu, kamu bisa bertindak atas nama dirut,” katanya.

BACA: Jusuf Kalla yang Mendayung di Antara Dua Presiden

Kata Djokosantoso, itulah yang disebut fire fighting decision, yakni keputusan yang diambil saat darurat. Seorang pemimpin harus mampu mengambil keputusan strategis dalam situasi genting. Itulah yang dilakukan Asmawi.

Dalam situasi sulit, Asmawi tetap menjaga BRI. Dia memastikan eksodus semua karyawan berjalan lancar ke kota-kota terdekat.  Dia mengawal pemindahan aset BRI, termasuk uang senilai 526 juta rupiah yang diselamatkan dari brankas.

Atas semua dedikasinya, Asmawi mendapatkan penghargaan khusus dari BRI sebagai pemimpin yang bisa mengambil keputusan strategis.

*** 

Kisah di atas hanyalah sekeping dari begitu banyak kisah inspirasi Asmawi Syam sebagai seorang bankir. Kisah itu bisa dibaca pada buku Leadership in Practice yang ditulis bersama Profesor Rhenald Kasali.

Saya tertarik karena Asmawi adalah alumnus Fakultas Ekonomi Unhas yang sukses meniti karier hingga menjadi seorang Chief Executive Oficer. Mantan Ketua Senat Mahasiswa Ekonomi Unhas ini menjadi Dirut BRI yang fenomenal. Di masanya, banyak inovasi BRI, di antaranya adalah peluncuran satelit BRI, membiayai alutsista d PT Pindad, mengucurkan dana untuk transformasi PT KAI, membiayai PT Dirgantara Indobesia (DI), inovasi kapal BRI untuk melayani nasabah di pulau, serta membawa BRI memasuki era digital

Namun, buku ini fokus menyoroti sisi manajemen serta filosofi kepemimpinan. Kita tak hanya disuguhkan hidangan berupa kisah-kisah inspirasi di balik meja seorang CEO, tetapi juga menemukan perspektif Asmawi dalam menyikapi banyak hal.

Jusuf Kalla diapit Asmawi dan Rhenald

Konsep buku ini adalah dialog. Asmawi bercerita pengalamannya, kemudian diperkaya dengan landasan teori oleh Rhenald Kasali. Bagi saya, kisah-kisah Asmawi lebih menarik sebab lebih orisinal ketimbang teori-teori yang bisa jadi kita temukan di buku lain. Saya selalu men-skip catatan dari Rhenald.

Di bagian awal, saya menyukai cerita bagaimana Asmawi memahami karyawannya yang sering protes. Dia melihat ada tipe karyawan yang merupakan kuda jinak, dalam artian selalu ikut aturan dan patuh. Tapi ada juga tipe kuda liar yang selalu ingin memberontak.

Yang menarik, dia justru sering memanggil tipe kuda liar itu kemudian diajak berbicara. Biasanya, dia akan mendengar berbagai protes serta ketidakpuasan. Saat Asmawi memberi masukan, sering kali karyawan itu malah menjawab itu sudah dilakukan, tapi menemui kendala.

Asmawi tak lantas baper. Dia mendengarkan semua celoteh karyawan yang disebutnya kuda liar itu. Dia paham kenapa tipe kuda liar itu sering di-nonjob-kan sebab bisa jadi punya ide-ide yang melampaui semua keteraturan. Malah Asmawi mengembalikan jabatannya, kemudian memberi tantangan. Dia memberi kesempatan kepada mereka untuk mewujudkan ide-idenya.

BACA: Ulama Bugis di Kampung Buton

Kesan saya, Asmawi adalah tipe pemimpin yang bisa memaksimalkan talenta semua anak buahnya. Dia juga tipe pemimpin yang berani mengambil risiko. Saya menemukan itu dalam kisah mengenai penempatannya di BRI Singaparna. Pada masa itu, tak ada yang berani menjabat sebagai Kepala BRI di situ sebab sedang banyak masalah yang membelit.

Di antaranya adalah seorang jawara yang selalu membawa pengawal dan menekan bank untuk memberikan kredit. Asmawi malah meladeni jawara itu. Semakin dia dilawan, maka semakin timbul keberaniannya.

Dia hadapi jawara itu dengan tenang. Bahkan saat diancam, dia siap meladeni. Dia bilang, “Kalau Anda nekat, saya juga bisa nekat. Risikonya bukan hanya di saya tetapi juga di Anda.” Jawara itu keder.

Dia tak serta-merta berani. Sejak masa kuliah, dia sudah berprestasi di cabang olahraga karate. Malah, dia pemegang sabuk hitam dan berposisi sebagai Dan IV. Dia pun menjadi pelatih serta berada di kepengurusan induk olahraga karate.

Bisa dikatakan, buku ini adalah intisari pengalaman, serta inspirasi yang didapatkan selama meniti karier sebagai bankir yang sukses hingga posisi puncak. Pengalaman ini menjadi berharga sebab tak semua orang bisa meniti karier hingga level CEO.

Dia menempa dirinya sebagai figur yang selalu memberi nilai tambah pada apapun yang disentuhnya. Dia pun menunjukkan dedikasi luar biasa pada pekerjaannya. Di beberapa bagian, saya temukan kisah bagaimana dirinya rajin memantau meja kerja semua karyawannya. Bahkan dia pernah datang malam-malam ke kantor hanya untuk memastikan apakah security bekerja dengan baik ataukah tidak.

*** 

Satu hal yang saya rasakan hilang di buku ini adalah tidak ada uraian tentang bagaimana budaya menjadi nilai-nilai yang membentuk seorang Asmawi. Saya tak menemukan cerita bagaimana Asmawi tumbuh menjadi seorang bankir. Saya berpandangan bahwa semua orang hebat selalu tumbuh dari rumah yang membekali seseorang dengan nilai-nilai untuk menjadi hebat.

Dalam buku ini, saya hanya temukan sekilas cerita bahwa orang tuanya adalah pengusaha hotel kelas melati. Asmawi memberi contoh bedanya hotel bintang lima dan hotel kelas melati, di mana keluarga sebagai pemilik harus turun tangan untuk membersihkan seprai dan selimut.



Saya penasaran untuk tahu bagaimana orang tua serta lingkungan menjadi lahan gembur yang menumbuhkan potensi Asmawi. Saya yakin proses belajar sesungguhnya dimulai dari tempaan keluarga hingga dukungan yang diberikan lingkungannya.

Dalam beberapa hal saya temukan ada banyak kemiripan dengan kisah Jusuf Kalla. Sebagai editor yang pernah mengedit buku tentang Jusuf Kalla, saya tidak asing dengan cerita keberanian, kejelian menemukan solusi di tengah situasi sulit, hingga loyalitas dan dedikasi pada pekerjaan.

Bagi saya, kemiripan ini bukan sesuatu yang kebetulan. Keduanya tumbuh dan besar dari rahim budaya Bugis yang memberi bekal nilai-nilai yang kemudian menjadi pedoman dalam hidup. Justru pada nilai budaya, kita bisa menemukan karakter seorang individu, serta daya juangnya dalam menempuh berbagai medan kehidupan.

Seusai membaca buku ini, saya membayangkan satu perahu phinisi yang berlayar di tengah hempasan gelombang samudera. Yang menyelamatkan phinisi itu adalah kecakapan seorang nakhoda yang berani menempuh risiko sehingga setiap kalimatnya didengar oleh semua anak buahnya.

Orang Bugis Makassar percaya bahwa nakhoda ulung tidak lahir dari lautan yang tenang. Dia lahir dari lautan yang terus bergejolak dan menempa semua kecakapan dan kemahirannya di laut. Dia tidak lantas pasrah dan menyerah pada nasib, tetapi dia terus berjuang agar kapal bisa kembali menepi.

Jika phinisi itu ibarat perusahaan atau lembaga, maka nakhoda ulung itu adalah Asmawi Syam.




Saat CORONA Menyerang HOMO DEUS


ilustrasi yang menggambarkan wabah black death yang menewaskan sepertiga populasi eropa pada tahun 1300-an

Di tahun 1529, Hernan Cortes mendarat di pesisir Meksiko. Penakluk asal Spanyol ini datang untuk memerangi orang Indian Aztec yang menguasai negeri itu. Bersama 600 orang pasukannya, dia bertarung dan menewaskan jauh lebih banyak prajurit Kekaisaran Aztec.

Dia sudah mencapai jantung kota Aztec, dan hanya kehilangan sepertiga dari pasukannya. Cortes percaya diri dengan keunggulan teknologi baja yang dimiliki pasukannya sehingga menewaskan jauh lebih banyak orang Aztec.

Tanpa diduga oleh Cortes sendiri, ada senjata lain yang jauh lebih berbahaya dan datang bersama pasukannya. Senjata lain itu adalah penyakit cacar yang dibawa seorang budak pasukan Spanyol itu.

Penyakit itu menyebar dengan cepat dan menjangkiti orang Aztec. Epidemi itu nyaris membunuh separuh populasi Aztec, termasuk Kaisar Cuitlahuac. Orang Aztec yang hidup ciut nyalinya saat melihat penyakit misterius yang merenggut nyawa mereka.

Pada tahun 1618, populasi awal Aztec berkurang drastis, dari 20 juta jiwa menjadi 1,6 juta jiwa. Kuman-kuman telah merenggut banyak nyawa orang Aztec, memperlemah pertahanan mereka, sehingga dengan mudahnya dikuasai pasukan Spanyol di bawah pimpinan Cortes.

Orang Aztec bertanya-tanya, mengapa kuman itu tidak menyerang orang Spanyol? Orang Aztec tidak membaca sejarah. Mereka tidak tahu kalau di abad sebelumnya, berbagai jenis kuman telah lebih dulu menghadirkan nestapa di Eropa.

Penyakit pes (black death) membunuh seperempat penduduk Eropa di antara 1346-1352, dengan jumlah korban jiwa hingga 70 persen di sejumlah kota. Jumlah korban diperkirakan 70 juta orang. Di masa itu, muncul banyak lukisan malaikat maut yang bertudung datang dengan palu arit lalu mengambil nyawa orang Eropa.

Selanjutnya, epidemi influenza juga membunuh 21 juta orang. Belum lagi kolera dan tuberculosis. Semuanya telah melenyapkan sepertiga populasi bumi.

Orang Eropa yang hidup adalah mereka yang berhasil melewati seleksi alam sehingga tubuhnya memiliki kekebalan pada penyakit itu. Mereka inilah yang kemudian menjadi pasukan lalu datang ke Meksiko demi memerangi orang Aztec.

Jared Diamond melukiskan epidemi penyakit sebagai penanda peradaban itu dengan sangat baik dalam buku Guns, Germs, and Steel. Dia menjelaskan tiga penanda penting yang membuat peradaban manusia eksis, yakni bedil, kuman, dan baja. Profesor geografi dari University of California at Los Angeles (UCLA) juga menelusuri sejak kapan wabah penyakit bermunculan di sepanjang sejarah peradaban kita.

sampul buku Guns, Germs, and Steel

Dia menemukan jawabannya yakni saat manusia mulai memasuki era pertanian (agrikultur). Saat itu, manusia mulai meninggalkan pula berburu dan meramu, kemudian memilih untuk menetap di sejumlah wilayah.

Era pertanian adalah berkah bagi semua mikroba dan kuman penyakit. Sebab saat itu manusia mulai melakukan domestikasi hewan liar. Hewan seperti kuda, anjing, bebek, ayam, dan sapi yang dahulu hidup liar, didomestikasi sehingga tinggal di dekat manusia agar kelak bisa dimangsa oleh manusia.

Inilah awal dari era supremasi manusia atas semua spesies lain. Kita memasuki peradaban antroposentrik, manusia sebagai pusat. Namun supremasi itu membawa dampak bagi populasi manusia. Domestikasi hewan menjadi awal dari pindahnya banyak virus ke tubuh manusia. Manusia tidak sekebal hewan yang bisa bertahan pada mikroba tertentu. Epidemi atau wabah terjadi di mana-mana.

Pada era berburu, epidemi tidak terjadi sebab manusia selalu berpindah-pindah. Saat manusia menetap, kuman seakan berada di surga, apalagi manusia belum mengenal konsep sanitasi dan menjaga kesehatan lingkungan.

Wabah itu kian menyebar sebab manusia di abad pertengahan tergoda untuk menaklukkan dunia baru. Mereka mendatangi banyak lokasi demi mencari sumber daya alam. Kedatangan orang Eropa ke dunia baru ikut membawa beragam kuman dan penyakit yang kemudian menjadi wabah.

Di Hawaii, Kapten James Cook dan awak kapalnya membawa penyakit yakni flu, tuberkulosis, dan sipilis. Pendatang berikutnya membawa tipus dan cacar.

Awal abad ke-20, epidemi terus terjadi. Januari 1918, ribuan tentara Perancis tewas karena sakit flu. Virus ini menyebar ke mana-mana dan menewaskan setengah miliar orang.  Selanjutnya, muncul wabah yakni SARS di tahun 2002, flu burung di tahun 2005, flu babi di tahun 2009, hingga ebola di tahun 2014.

Sekian abad perjalanan virus dan penyakit, manusia selalu berhasil menemukan obatnya. Sering kali, hanya butuh beberapa bulan demi menemukan anti virus. Teknologi kedokteran telah membawa manusia pada kemenangan demi kemenangan atas berbagai virus dan kuman.

Manusia kian jumawa dan mengklaim dirinya sebagai Homo Deus, yang disebut sejarawan Yuval Noah Harari sebagai manusia setengah dewa sebab merasa bisa mengendalikan takdir. Manusia kian sewenang-wenang pada spesies lain dan membatasi ruang hidupnya. Hutan menjadi pemukiman. Hewan ditangkapi dan dijadikan tontonan. Bahkan mereka menjadi santapan manusia.

BACA: Kisah dari Dekat Kampung yang Warganya Ditelan Ular

Tapi, tragedi di Wuhan telah membawa manusia pada kengerian epidemi pada abad-abad sebelumnya. Kembali, kita menyaksikan peristiwa ketika orang-orang terpapar virus yang kemudian menyebabkan kematian. Beberapa ahli menyebut virus Corona itu berasal dari kelelawar dan ular yang dijual hidup-hidup kemudian disembelih saat sudah terjual.

Pikiran liar saya mengatakan bahwa munculnya epidemi adalah pembalasan hewan kepada manusia yang menjadikan mereka sebagai obyek yang ditangkapi, dicincang, dimakan, dan dihilangkan hak hidupnya.

Kita semua tahu bahwa flu burung ditularkan oleh ayam di peternakan. Demikian pula flu babi yang ditularkan babi. Bahkan ebola datang dari interaksi antara manusia dan hewan seperti kelelawar dan monyet. Kini virus Corona datang dari ular dan kelelawar yang menjadi santapan di negeri sana.

Sebagai sesama spesies yang mestinya hidup damai di alam, manusia telah bertindak sewenang-wenang sebab menjadikan hewan-hewan itu sebagai makanan. Virus yang menular dari hewan kepada manusia adalah isyarat alam kalau manusia tidak bisa mengemban tugasnya sebagai khalifah di alam semesta.

Virus itu adalah upaya perlawanan diam-diam kepada manusia agar berhenti menjadikan hewan sebagai obyek dan santapan.

Sekian lama peradaban bergulir, manusia belum juga menemukan makanan alternatif atau pengganti lalu mengembalikan kondisi ekologis menjadi rimbun seperti abad-abad lalu agar hewan bebas berkeliaran sebagaimana nenek moyangnya dahulu.



Dalam jangka pendek, virus ini memang harus diatasi. Kelangsungan spesies kita di masa depan ditentukan dari seberapa mampu kita mengatasi tantangan demi tantangan serta membangun solidaritas global bersama.

Wabah bukanlah hukuman kepada suatu bangsa. Sebab sejarah mengajarkan wabah seperti itu bisa mendatangi suku bangsa mana pun. Wabah itu muncul bersamaan dengan keangkuhan manusia untuk mendomestikasi hewan liar dan juga tumbuhan liar demi menopang ekosistem manusia.

Bukan pula masanya untuk bersikap nyinyir pada mereka yang sedang terkena wabah. Di mana pun, manusia selalu rentan dan rapuh sehingga penyakit bisa setiap saat menggempur. Sebagai “binatang” manusia tunduk pada hukum-hukum alam sehingga perlu membangun satu jejaring antarbangsa demi menyelamatkan manusia dari kepunahan, sebagaimana terjadi ketika Thanos menjentikkan jari dalam saga Avengers yang dibuat Marvel.

Saatnya memperkuat solidaritas global dan menemukan anti-virus demi menangkal penyakit itu. Rumah sakit besar dibangun hanya dalam enam hari. Lembaga-lembaga riset ditantang melakukan eksperimen demi menemukan cara menanggulangi penyakit itu.

Namun dalam jangka panjang, manusia harus tiba pada satu kearifan ekologis untuk mengembalikan alam sebagai rumah bagi semua species, hentikan laju deforestasi, hijaukan kembali banyak lahan sebagai rumah bagi hewan, juga temukan pangan alternatif yang bukan berasal dari daging hewan.

Jika tidak, perlawanan hewan pada manusia akan terus berlangsung dalam bentuk lain. Hari ini Corona, besok bisa jadi dalam bentuk virus yang lebih kejam.

Saatnya kita mendengarkan suara alam.




Jadi Penulis Makmur di Era Digital




Bapak itu hampir setiap hari posting status di media sosial. Dia seorang guru yang rajin berbagi artikel tentang kepenulisan. Dia pun tak pelit ilmu. Hampir setiap hari dia berbagi kiat-kiat menulis. Dia juga laris diundang sebagai narasumber terkait dunia kepenulisan. Namanya Johan Wahyudi.

Suatu hari, dia memosting tangkapan layar (screenshot) mengenai royalti atas buku yang ditulisnya. Angkanya cukup mengejutkan yakni 1 miliar rupiah. Hah? Rupanya, dia menulis buku pelajaran, yang kemudian beredar di seluruh Indonesia.

Berkat menulis, rezekinya terus mengalir. Dia bisa membeli tanah, rumah, dan ruko. Dia pun tak henti berbagi inspirasi di media sosial. Dia meyakinkan orang-orang kalau menulis bisa menjadi jalan nasib bagi siapa pun yang menekuninya.

Saya juga mengenal sahabat lain. Dia seorang full time blogger. Kalau orang lain beranggapan bahwa menulis adalah pekerjaan sampingan, teman ini justru menjadikannya sebagai pekerjaan utama.

Hampir setiap hari dia berbagi artikel tentang otomotif. Dia adalah salah satu sosok berani yang menjadikan jalan kepenulisan sebagai jalan pedang. Dia tak punya aktivitas lain selain menulis.  Berkat menulis rutin di blognya, dia bisa menafkahi keluarga, punya beberapa rumah dan tanah, serta selalu bertegur sapa di media sosial.

BACA: Senjata Digital untuk Aktivis Jaman Now

Sejak lama saya iri dengan dua sahabat di atas. Pada sahabat pertama, menulis hanyalah aktivitas sampingan di sela-sela kegiatannya sebagai seorang guru. Tapi seiring waktu, pendapatan menulis justru jauh melebihi gajinya sebagai guru. Kalau pun dia memilih tetap mengajar sebab passion-nya di situ. Menulis adalah jalan baginya untuk berbagi tentang dunia yang setiap hari dia hadapi.

Lain lagi dengan sahabat kedua. Menulis adalah aktivitas utama untuk menafkahi keluarganya. Dia bisa lebih dari sekadar eksis di media sosial. Perlahan, blognya punya positioning kuat sehingga banyak pemilik brand otomotif menjalin kerja sama. Sahabat ini bisa keliling daerah dan mendapat pemasukan hanya dengan mengisi blognya.

Bagi saya, mereka adalah contoh dari begitu sahabat yang eksis di dunia menulis. Saya punya banyak contoh lain tentang kawan yang tadinya kerja kantoran, kemudian banting setir jadi full time blogger. Penghasilan mereka bukan rata-rata kelas menengah di Indonesia. Mereka lebih dari itu. Yang bikin iri, mereka tak harus berkantor. Cukup kerja dari rumah sembari bermain sama anak.

Mereka memang tidak seterkenal Andrea Hirata ataupun Dewi Lestari, tetapi mereka bisa bermain di satu ceruk pasar yang spesifik sehingga jasa mereka selalu dibutuhkan. Mereka tahu siapa audience-nya, kemudian menjadikan kerja-kerja kepenulisan sebagai kerja yang menghasilkan.

Namun, semuanya kembali pada penulis itu sendiri. Jika meniatkan tulisan sebagai medium untuk menyampaikan sikap dan perlawanan pada rezim, maka menulis adalah jalan paling tepat untuk itu. Tapi jika meniatkan kerja-kerja kepenulisan sebagai sandaran hidup, maka ruangnya sangat terbuka lebar.

***

Saya terheran-heran jika mendengar ada penulis yang hidupnya sulit. Saya paham tentang iklim perbukuan di Indonesia. Bahwa seorang penulis hanya mendapatkan 10 persen dari harga buku. Kalau laku 1.000 buku dengan harga jual 50 ribu, maka penulis hanya mendapatkan angka 5 juta rupiah. Biasanya royalti dibayarkan setiap enam bulan.

Saya tahu ada beberapa penulis yang menyebut kerja kepenulisan tidak banyak mendatangkan penghasilan. Menurut saya, model bisnis yang hanya mengandalkan penghasilan dari penjualan buku tidak selalu bisa menjadi andalan. Demikian pula dengan menunggu penghasilan menulis dari media online. Ini juga tidak bisa menjadikan seorang hidup lebih dari cukup.

Makanya, aktivitas menulis harus diperluas. Bukan sekadar menulis opini dan esai di media massa. Bukan pula sekadar menulis karya sastra dan puisi yang kemudian dijual di toko buku. Bukan hanya menulis buku-buku serius yang kemudian dibicarakan komunitas ilmuwan.

BACA: Menjawab 10 Alasan Tidak Menulis

Menulis adalah mengalirkan gagasan melalui baris-baris aksara. Menulis adalah ikhtiar untuk menyampaikan ide kepada publik melalui berbagai medium dan kanal. Menulis adalah cara untuk menyentuh emosi orang lain, membangun silaturahmi, kemudian sama-sama bersepakat dengan gagasan tertentu.

Jika seseorang ingin hidup makmur dari kerja kepenulisan, maka harus berani meninggalkan zona nyaman, harus berani menjadi seorang penulis yang dibayar karena keahliannya.

Tentunya, kecakapan menulis saja tidak cukup. Anda harus berani memasarkan keahlian, melobi calon klien, serta meyakinkan calon klien kalau Anda sanggup mengerjakan kerja-kerja kepenulisan. Anda mesti membuka diri dan melihat berbagai celah baru yang bisa memberinya ruang untuk berkreasi, sekaligus mendapat penghasilan di situ.

Anda pun harus berani mengubah style menulis agar sesuai dengan keinginan klien. Bagus dan buruk dari kerja kepenulisan ini bukan terletak pada Anda dan calon pembaca, tetapi pada klien. Biar pun tulisan itu biasa saja, tapi klien merasa puas, maka Anda sudah bisa dikatakan berhasil.

Apakah ada pasarnya? Banyak banget.

Kita berada di era di mana eksistensi seseorang atau lembaga dilihat dari seberapa banyak orang yang mempercakapkannya. Kecakapan menulis dibutuhkan begitu banyak pihak, mulai dari akademisi di perguruan tinggi sampai lembaga-lembaga internasional yang hendak mendiseminasikan pengetahuan.

Catat pula, ada ribuan peneliti dan akademisi yang bisa naik pangkat jika punya publikasi. Ada ratusan pemerintah daerah yang butuh promosi dan diseminasi produk dan komoditas daerah, termasuk pariwisata. Ada ribuan pelaku bisnis yang butuh teknik copywriting untuk promosi produk dan belanja online.

Ada ribuan perusahaan yang butuh kemampuan menulis untuk diseminasi informasi dan citra lembaga. Ada ribuan politisi dan calon kepala daerah yang butuh narasi tentang dirinya agar disukai publik. Ada ratusan media, televisi, dan rumah produksi serta tim war room yang membutuhkan konten dan amunisi untuk disajikan ke publik.

Jika Anda punya kecakapan menulis, Anda bisa menjadi konsultan untuk semua kerja-kerja diseminasi itu. Anda bisa membantu banyak orang dan banyak lembaga dengan kecakapan Anda untuk mengenali audience dari dunia kepenulisan yang luas. Tentu saja, Anda bisa hidup makmur dari kemampuan itu.

Lagi-lagi kembali pada penulisnya. Ada saja yang berpandangan kalau kerja sebagai penulis berbayar dipandang rendah. Yaa, gak apa-apa sih. Jangan iri kalau lihat penulis lain lebih kaya.

***

Saat ini, kita hidup di era di mana ruang kreasi untuk menulis juga semakin luas. Dulu, penulis hanya berkreasi di medium cetak, baik itu melalui buku, dan publikasi lainnya. Kini penulis punya arena yang sangat luas. Penulis  bisa memanfaatkan era digital yang mau tak mau perlahan menjadi atmosfer masyarakat modern hari ini.

Dalam pandangan saya, profesi yang paling banyak diuntungkan di era digital adalah penulis. Tak percaya? Mari kita diskusi.

Pertama, kita masuk pada era digital di mana kecakapan menulis menjadi sangat bernilai. Eric Schmidt, mantan CEO Google, bilang era digital ditandai oleh berpindahnya penghuni rumah nyata ke rumah maya. Maksudnya, semua orang, lembaga, perusahaan, dan instansi ingin membangun rumah maya. Mereka berbondong-bondong membangun website.

BACA: Digital Storytelling untuk Menang Pemilu

Nah, orang mengira bahwa pekerjaan web adalah arena bagi para programer dan ahli IT. Ini keliru besar. Sebab orang IT punya kecakapan membangun web, tapi belum tentu punya kecakapan untuk mengisi konten. Ibaratnya, orang IT jago bikin rumah, tapi belum tentu bisa meramaikan rumah itu dengan aktivitas.

Bagian terpenting dari kerja-kerja web adalah hadirnya seorang kreator konten yang tahu apa pesan yang hendak disampaikan, serta bagaimana mengelola pesan itu sehingga bisa diterima khalayak luas.

Dalam beberapa diskusi dengan pemimpin perusahaan di Jakarta, saya mendengar sendiri cerita mereka kalau lemahnya web perusahaan disebabkan hanya memperkuat satu sisi yakni IT, sementara sisi pengelolaan konten justru sangat lemah. Padahal, jika ingin web itu kuat dan berdaya, maka harus ada keseimbangan antara bangunan web (aspek IT) dan kualitas isi web yang harusnya dikelola profesional oleh para penulis konten.

Kedua, bukan hanya web, era sekarang memberi ruang bagi kehadiran media sosial yang sangat besar. Hampir semua kantor, perusahaan, lembaga, organisasi membutuhkan saluran khusus atau kanal di media sosial. Di era ini tak cukup lagi berjejaring dengan media. Semua lembaga butuh satu kanal sendiri sebagai pelantang informasi kepada publik.

Belakangan ini, saya banyak bertemu anak muda yang mengelola banyak akun media sosial lembaga atau perusahaan. Pernah, saya menemukan satu anak muda yang mengelola lima akun media sosial. Jika untuk satu akun dia dibayar sampai 10 juta rupiah, hitung sendiri berapa rupiah yang bisa dia panen setiap bulan. Malah, banyak yang membuat perusahaan kemudian punya klien lebih dari 10 lembaga.

Para pengelola konten ini butuh kecakapan menulis serta kemampuan untuk menggali ide-ide baru demi konten yang lebuh segar. Di tangan para penulis hebat, kualitas konten bisa selalu terjaga sehingga bisa menggaet pengunjung lebih banyak.

Ketiga, di dunia bisnis online, orang butuh banyak pencerita handal yang mengabarkan satu produk secara luas. Dalam buku Storynomics yang ditulis Robert McKee, terdapat uraian bagaimana promosi atau iklan gaya lama yang kini digusur oleh storytelling atau pendekatan bercerita.

Storytelling adalah fundasi utama dari pemasaran konten. Anda tak mungkin memasarkan sesuatu jika tak punya kisah menarik. Kita sama tahu, sekarang ini banyak orang yang terlalu mendewakan big data untuk memahami manusia. Padahal, big data hanyalah satu instrumen yang membantu seseorang untuk merancang konten secara efektif.

Saya lihat beberapa orang telah mengembangkan teknik storytelling untuk memperbesar omzet penjualan. Artinya, jika Anda punya belanja online, Anda harus berpromosi. Anda harus meyakinkan orang lain. Untuk berpromosi, Anda mesti punya kemampuan memahami realitas serta tahu cara menggemakan pesan melalui tulisan.

Keempat, dunia politik kita sedang bergerak ke era 4.0, di mana seorang politisi tidak bisa lagi pasif dan menunggu diberitakan media. Seorang politisi atau pun pejabat publik harus berani menjemput bola dengan cara berselancar di dunia offline dan dunia online sekaligus. Semuanya membutuhkan satu tim humas yang bisa menjadi pengelola informasi yang tangguh. Semuanya membutuhkan seorang kreator konten.

Di dunia politik, para kreator konten akan menjadi juru bicara digital yang efektif dalam menentukan bagus tidaknya brand dari politisi atau partai politik. Di dunia ini berlaku pandangan “Semakin banyak likes, maka semakin tinggi elektabilitas.”

Bukan hal aneh jika melihat seorang politisi dan pejabat publik ke mana pun akan datang bersama tim media. Sering kali mereka menjalin relasi dengan beberapa media, tetapi jauh lebih efektif jika mengelola informasi melalui satu tim khusus yang digaji secara profesional.



*** 

“Bisakah kegiatan menulis menjadikan seseorang makmur?” tanya seorang kawan. Tentu saja bisa. Yang penting seseorang punya kejelian dalam melihat mana ceruk yang bisa dikelola menjadi bisnis sehingga mendapatkan bayaran yang pantas.

“Apakah Anda sendiri sudah makmur karena menulis?” kawan itu masih bertanya. Ini pertanyaan yang sulit dijawab. Saya punya banyak kawan yang sudah makmur gara-gara menulis.

Saya sendiri masih nyaman menjadikan kerja menulis sebagai cara untuk menggaet fans sebanyak-banyaknya. Tapi, saya tahu bahwa ada banyak cara untuk mengubah kegiatan itu menjadi sesuatu yang produktif.




Sepenggal Kisah MESSIAH




Seorang kawan dari Papua merekomendasikan saya untuk nonton serial Messiah yang tayang di Netflix bulan Januari 2020 ini. Dia tahu kalau saya suka membaca atau menonton sesuatu yang terkait iman dan agama.

Saya pun menontonnya di satu situs online. Saya hanya butuh waktu dua hari untuk menuntaskan 10 episode di serial keren ini. Kisahnya memang bikin penasaran. Di kalangan penganut Islam dan Kristen, ada pandangan kalau kelak, Isa Almasih akan bangkit kembali ke bumi.

Nah, serial Messiah ini mengambil sudut pandang bagaimana jika Almasih memang hadir kembali di era 4.0 di mana fakta dan hoaks bercampur, konflik geopolitik terus terjadi, serta manusia lebih mencintai pekerjaan ketimbang iman.

Seorang pemuda Timur Tengah hadir di tengah konflik di perbatasan Palestina dan Israel. Dia hadir di tengah orang-orang yang mengalami derita karena perang. Pemuda ini punya kharisma sehingga menuntun orang-orang menuju perbatasan Israel. Dia pun ditangkap tentara Israel.

Pemuda yang bisa bercakap dalam bahasa Arab, Ibrani, dan Inggris ini pun diinterogasi seorang agen Israel. Dalam bahasa Ibrani, dia mengeluarkan kalimat yang tenang, tapi menusuk hati terdalam agen itu.

Di sisi lain, ada kamera yang memantau keberadaan pemuda itu di berbagai peristiwa besar. Mulai aksi ribuan orang Islam di Suriah yang menuju perbatasan Israel hingga demonstrasi di Ramallah, Palestina.

Seorang agen CIA mencurigai pemuda itu sebagai biang dari berbagai aksi terorisme. Dia terkejut karena pemuda itu yang tadinya berada di Israel, tiba-tiba berada di Texas, di dekat satu komunitas kecil yang di tengahnya ada gereja, serta ada pendeta yang mulai putus asa. Kehadirannya menguatkan iman pendeta itu, sehingga mereka lalu membuat konvoi menuju Washington DC.

Pemuda itu menunjukkan keajaiban dengan berjalan di atas air, kemudian bertemu Presiden Amerika Serikat. Dia meminta Presiden AS untuk menarik semua pasukan Amerika di seluruh dunia. Sebab dunia butuh perdamaian, bukan perang.

Saya menyenangi berbagai sudut pandang berbeda di film ini. Tadinya saya pikir ini kisah yang sarat dengan nilai Kristen. Ternyata tidak juga. Pemuda itu tidak pernah menunjukkan dirinya Kristen, Yahudi, dan Islam. Dia bercakap dalam tiga bahasa penganut agama itu, serta tidak pernah terlihat memimpin doa atau ritual.

Kisah ini serupa kisah detektif. Kita diajak untuk berpikir seperti agen CIA itu kalau pemuda itu adalah seorang penipu, yang memperdaya orang lain dengan kharismanya, kemudian mengarahkan pada teror.

Serial ini cerdas sebab menghadirkan begitu banyak suara. Kita diperkenlkan dengan banyak sudut pandang. Mulai dari agen Israel dan keluarganya, anak-anak remaja Palestina, hingga keluarga kecil pendeta di Amerika. Kita pun melihat sudut pandang agen Amerika yang begitu workaholic, sembari menutupi masalah keluarga dan stres karena urusan pribadi.

Kita juga tidak disodori fakta bahwa pemuda itu adalah memang Almasih, melainkan satu teka-teki atau puzzle mengenai bagaimana pemuda itu bisa mengambil sikap di tengah geopolitik dunia yang kian mencekam. Dalam satu episode, kita disodori fakta kalau dia orang Iran yang ingin mengubah tatanan dunia. Benarkah?

Pemuda ini tidak seperti superhero yang datang menyelamatkan. Dia tidak menawarkan mukjizat serupa simsalabim. Malah, mukjizat dirinya jalan di atas air dianggap trik atau ilusi ala David Copperfield.

Tapi, dia punya sisi lain, semacam kekuatan untuk membuat orang lain melihat dari sisi berbeda, membangkitkan kekuatan dalam diri, serta tidak bergantung pada sosok hero atau penyelamat.

Serial ini menjawab beberapa pertanyaan yang sudah lama muncul dalam diri saya yakni jika seorang Nabi muncul di abad ini, seperti apakah dia gerangan?

Tatanan sosial saat ini lebih kompleks dari abad pertengahan. Setiap tindakan selalu punya implikasi politik. Ini bukan zamannya lagi seorang nabi datang untuk menuntun “domba-domba yang tersesat.” Ini eranya media sosial, di mana semua kalimat dan ucapan bisa segera menjadi olok-olok yang diposting di Instagram.

Kita pun bergerak dalam teritori yang serba terbatas. Kita terpenjara dalam religi, batasan politik, hingga keyakinan. Kita tidak terbiasa untuk beyond border dan berdialog dalam suara-suara berbeda. Kita hanya melihat sesuatu dari sisi titik pijak kita, yang kita anggap sebagai kebenaran.

Dalam satu episode, ada dialog antara Almasih dengan agen CIA itu. Kata Almasih, manusia selalu menyembah apa pun. Ada yang menyembah intelektual, ada juga yang menyembah uang. Manusia selalu punya satu titik dan orientasi ke mana hendak bergerak. Pada setiap pilihan, selalu ada konsekuensi yang harus diterima.

Serial ini telah memicu kontroversi. Saya baca di satu media kalau pemerintah Yordania melarang serial ini di negaranya karena ada penggambaran tentang negara itu. Saya juga dengar banyak kalangan yang menyebut sosok dalam Messiah itu adalah dajjal. Malah ada yang bilang dia Anti-Kristus. Bagi saya, semua kontroversi itu membuat serial ini makin menarik. Ini kan cuma fiksi.

Tapi saya menikmati argumentasi dan kisah yang meliuk-liuk di sini. Semakin manusia menjadi modern, semakin mengalami gejala kekosongan. Saya ingat tuturan sosiolog Emile Durkheim yang menyebut gejala ini sebagai anomie, yakni keadaan yang kacau, tanpa aturan, serta hilangnya kendali moral.

Di titik tertentu, anomie membawa manusia pada banyak kasus bunuh diri dan gejala anarkisme.

Namun, apakah masih relevan kita bicara iman dan percaya di tengah zaman yang kian berlari tunggang-langgang ini?

Saya menantikan jawabannya di Messiah, Season 2. Semoga segera tayang.




Sepenggal Cerita dari Pinrang




“Luttuni... luttuni.” Sejumlah orang meneriakkan kata terbang dalam bahasa Bugis. Di Pantai Langnga, Pinrang, mereka menyaksikan seorang anak muda hendak menerbangkan pesawat rakitan yang dibuatnya sendiri.

Mulanya ada rasa tegang yang bercampur dengan ketidakpercayaan. Pesawat adalah produk teknologi tinggi yang rumit dan penuh dengan kalkulasi presisi tinggi. Dahulu, almarhum Habibie butuh belajar bertahun-tahun di program PhD hanya untuk memetakan keretakan pesawat.

Anak muda bernama Chaerul itu tak butuh sekolah tinggi. Dia mengerjakan semua inovasi itu bukan di satu laboratorium dengan budget tinggi. Dia mengerjakannya dari bengkel kecil yang dimilikinya. Dia seorang montir yang tidak lulus sekolah dasar. Dia mengikuti panduan dari Youtube dan Google, kitab segala tahu di era modern.

Dia membuatnya dari material dan rongsokan yang ada di bengkelnya. Dia mengubah perkakas mekanik otomotif menjadi perkakas yang menjelajahi dirgantara. Saat pesawatnya sukses mengudara, vidionya segera viral ke seluruh penjuru negeri.

Seorang teman sempat nyinyir. “Ah, itu kan cuma ikut Youtube saja. Semua orang bisa,” katanya. Memang, ada banyak panduan dan publikasi tentang inovasi serta bagaimana mengerjakannya. Tapi kan tidak semua orang punya kapasitas dan persistensi untuk menerjemahkan semua panduan itu secara praktis.

Kehebatan anak muda itu bukan pada produk yang dihasilkannya. Kehebatannya terletak pada keberaniannya untuk berbuat sesuatu, membumikan apa yang dilihatnya sehingga menjadi kenyataan. Dia punya daya juang untuk bekerja dalam diam demi menuntaskan satu produk yang lama diidamkannya.

Saya membayangkan ketika pertama mengerjakan pesawat, dia akan di-bully dan dipandang sinis oleh orang-orang. “Bikin pesawat itu canggih. Kamu gak bakalan bisa,” kata orang-orang.

Dia terus melaju. Motivasi membuat pesawat rakitan itu sederhana. Dia belum pernah merasakan bagaimana naik pesawat. Demi merasakannya, dia melakukan cara paling keren yang pernah saya dengar yakni membuatnya. Dia sukses, kemudian pertama mencobanya di Lapangan Malipung, Pinrang. Gagal. Lima kali dia mengalami kegagalan.

Dia tak menyerah. Dia diberi masukan oleh Kapten Halid, mantan penerjun Kopassus. Dia beruntung karena tumbuh di rahim keluarga dan pertemanan yang memberinya masukan. Dia hadapi masalah itu dengan perbaikan sana-sini.

Dia punya mentalitas sebagaimana Orvile Wright dan Wilbur Wright yang pertama kali membuat pesawat dari bengkel sepeda di Dayton, Ohio, di akhir tahun 1800-an. Dia tahu bahwa selalu ada kenikmatan saat berusaha mengalahkan kemustahilan. Bukan soal apa yang kamu raih, tapi sejauh mana kerja kerasmu untuk menggapainya. Kenikmatannya terletak pada proses.

Setelah menjalani proses selama tiga bulan, pesawat itu akhirnya mengudara. Di atas pantai, dia perlahan mengangkasa. Pesawat itu dua kali bermanuver yang disambut dengan sorak-sorai semua orang dengan teriakan “luttuni.”

Vidionya segera viral dan menyebar. Chairul telah mematahkan beberapa mitos-mitos yang hidup di masyarakat kita.

Pertama, Chaerul seakan menampar institusi pendidikan kita. Orang mengira bahwa bangku pendidikan adalah satu-satunya lembaga yang bisa memberikan kemampuan analitis bagi orang-orang untuk melakukan inovasi.
.
Chaerul, yang hanya sampai kelas 3 SD, justru bisa mencapai kemampuan praktis seperti itu di luar sekolah. Dia belajar mekanik secara otodidak kemudian bisa membuat inovasi. Dia seperti Susi Pudjiastuti yang lulusan SMP tapi bisa jadi menteri.

Kedua, Chaerul membuktikan kepada orang-orang bahwa tak ada sesuatu yang mustahil. Dia bekerja keras untuk meruntuhkan kemustahilan itu. Dia seakan menunjukkan kebenaran mantra bahwa siapa pun yang berusaha, pasti akan menuai hasil.

Ketiga, Chaerul kembali membuktikan betapa efektifnya teknologi informasi yang memberi terang bagi kehidupan seseorang. Dia tinggal di Pinrang, tapi bisa belajar tutorial dari para kreator konten yang tinggal di Amerika, Jerman, bahkan Jepang.

Internet adalah dunia tanpa batas yang menyediakan jawaban atas semua kata tanya. Internet adalah jagat raya berisikan informasi yang harus dikelola dengan baik sehingga pengetahuan itu bisa menggerakkan banyak orang. Di banyak desa, kita menemukan banyak champion, figur-figur hebat yang menggunakan internet bukan untuk nyinyir, melainkan sebagai sarana inovasi.

Saya ingat beberapa tahun lalu ketika bertemu seorang lelaki di pedalaman Seruyan, Kalimantan Tengah, yang jadi maestro fotografi makro, yang karyanya tayang di situs-situs besar dunia. Internet menjadi ruang belajar yang efektif, serta menyediakan gema inovasi bagi siapa pun.

Saya membayangkan betapa banyaknya kegunaan dari kerja-kerja Chaerul. Pesawat rakitan itu bisa digunakan untuk memperkuat pertanian, yakni untuk menyirami tanaman sehingga bisa menghemat ongkos pekerja dan biaya. Pesawat itu akan berkontribusi pada kedaulatan pangan.

Pesawat itu bisa jadi transportasi jarak dekat, antar desa yang sering dikitari sungai. Pesawat itu bisa menjadi sarana rekreasi untuk melihat indahnya denyut nadi wisata di Pinrang dan sekitarnya. Betapa asyiknya selfie di pesawat kecil sembari melihat kepingan surga di tanah Sulawesi.

Dari tanah Pinrang, kita melihat banyak senyum untuk negeri

Foto: Rudi Hartono (Kabar Makassar)

Sepenggal Kisah Kaisar Amerika




Pria itu tiba-tiba saja mengaku sebagai raja. Di Amerika Serikat yang semua warganya adalah imigran, dia memproklamirkan diri sebagai Kaisar Amerika Serikat. Tanggal 17 September 1859, Joshua Abraham Norton membuat deklarasi yang dimuat San Francisco Buletin yang menyatakan dirinya kaisar: “I’m the emperror of the United States.”

Dulu dia seorang pedagang yang kemudian bangkrut. Ia kehilangan harta, juga kewarasannya. Dia pun mengaku raja. Dia lalu berkeliling San Francisco dengan mengenakan seragam perwira angkatan darat yang lusuh dan pudar. Dia penuh percaya diri.

Dia menyebut dirinya sebagai Kaisar Norton I, Dia berkeliling kota bersama dua anjing setianya lalu menyapa semua orang dengan anggun. Warga kota tidak menampiknya. Mereka membalas semua sapaan. Bahkan warga juga ikut larut dalam kenyataan di pikiran Norton. Warga menyapanya “Yang Mulia.”

Dia seperti Don Quixote dalam novel yang ditulis Miguel de Cervantes. Bedanya, semua warga menerima perannya apa adanya. Kota San Francisco punya reputasi menerima semua imigran, termasuk menoleransi semua kegilaan.

Norton diperlakukan dengan baik semua warga kota. Pemilik restoran menyediakan meja khusus untuknya. Bahkan pertunjukan teater juga menyapanya Yang Mulia serta kursi khusus VIP di balkon jika ada pertunjukan. Semua pegawai negeri pasrah saja saat diminta disiplin oleh Norton. Anehnya, semua arahan dan kritik Norton dijalankan pemerintah kota.

Norton menjadi maskot tak resmi kota. Pemerintah menyiapkan anggaran untuk membiayai rumah Norton, juga baju kaisar yang baru. Pihak percetakan dengan senang hati membuat mata uang kaisar yang diterima sebagai alat pembayaran di semua toko. Bahkan banyak toko membuat boneka Norton dan dijual sebagai cendera mata.

mata uang Norton


Saat seorang polisi hendak menangkap Norton, semua warga protes. Warga menilai Norton tidak merugikan siapa pun. Saat dibebaskan, Norton lalu memberikan pengampunan kepada polisi, serta memberi gelar bangsawan. Sejak saat itu, polisi menghormatinya.

Awalnya semua adalah candaan. Tapi beberapa peristiwa terjadi di kota itu. Pada masa demonstrasi anti-China di beberapa tempat di San Fransisco antara 1860- 1870, yang bahkan sampai menimbulkan kerusuhan, peran Norton ternyata mampu meredakan situasi.

Suatu hari, demonstrasi mulai memanas menjadi kerusuhan, Norton muncul di tengah dua massa yang berhadapan. Ia tetap berdiri tegak dan berupaya menenangkan massa. Lalu ia berdoa secara terus-menerus hingga kedua kubu massa akhirnya terharu pada sikapnya dan membubarkan diri. Tindakan luar biasa ini menimbulkan kekaguman warga yang kini semakin mencintainya.

Media yang sering memberitakan untuk lucu-lucuan tersentak saat Norton mengeluarkan beberapa pikiran bernas. Di masa itu, rasialisme masih sangat kuat. Tapi Norton selalu menekankan kesamaan antara kulit hitam dan kulit putih. Dia juga memihak perempuan yang sering dipinggirkan.

Dalam upaya menyelamatkan AS dari pejabat yang korup, ia mengundang parlemen untuk bertemu di Musical Hall San Francisco pada awal Februari 1860. Ia juga kemudian menyerukan agar Meksiko membatalkan status otonomi khususnya dan berada di bawah perlindungan AS dengan kepemimpinannya. Bahkan dia hendak mengeluarkan dekrit membubarkan Kongres AS saat tidak berpihak pada rakyat.

Maka ia melengkapi gelarnya menjadi Norton I, Kaisar AS dan Pelindung Meksiko (Emperor of the United States and Protector of Mexico).

Bahkan Norton diabadikan dalam sastra yang ditulis pengarang terkenal, Mark Twain dan Robert Louis Stevenson. Pengarang ini mengadopsi karakternya dalam salah satu karya mereka.

Tingkah lakunya yang nyentrik dan seolah merasa dirinya memang kaisar menjadi semacam “simbol” bagi warga San Fransisko di zamannya. Sebuah fenomena “perlawanan” terhadap ketidakberesan tatanan pemerintahan. Ia menjadi selebriti dan tokoh masyarakat yang paling terkenal masa itu.

Ia memproklamirkan kekaisarannya dan bertahan selama 20 tahun, sampai akhirnya Joshua A Norton meninggal dunia pada 8 Januari 1880. Ia ditemukan roboh di sudut jalan California Street dan Dupont Street (sekarang Grand Avenue) di depan Gereja Old St Mary, saat ia menuju Akademi Sains California.

Harusnya dia dimakamkan di kompleks pemakaman orang miskin. Tapi semua orang kaya San Francisco minta agar dia dimakamkan di tempat paling mewah. Sebanyak 30.000 orang berdiri di pinggir jalan saat jenazahnya dimakamkan dengan upacara besar. Peristiwa itu jauh lebih besar dari pelantikan gubernur.




Makamnya ditandai dengan nisan dari marmer terbaik dengan pahatan: Emperor of the United States and Protector of Mexico, Joshua A. Norton, 1819 – 1880”

Pada 1934, lima puluh empat tahun setelah kematiannya, saat makamnya dipindah, imej Norton I tetap dikenang warga San Fransisko. Pada seremoni pemakaman ulang itu, bendera dikibarkan setengah tiang, aktivitas bisnis dihentikan pada hari itu. Sedikitnya 60.000 orang menghadiri pemakaman tersebut, yang dilakukan dengan upacara militer penuh.

Bahkan pada Desember 2004, sebuah resolusi dibuat untuk memberi nama San Francisco-Oakland Bay Bridge menjadi Norton Bridge sebagai penghormatan pada eksistensinya yakni“simbol kebaikan”. Ternyata Norton sudah pernah berniat membangun jembatan besar itu.

Dia abadi sebagai Kaisar Amerika Serikat.


Terima Kasih Aktivis Amerika


Peggy Gish dan Profesor McGinn saat menggelar aksi Kamisan di Ohio, beberapa tahun lalu

Di persimpangan Court Street, Athens, Ohio, saya melihat perempuan itu membentangkan spanduk bersama seorang lelaki. Di tahun 2013, saya memotret mereka yang sedang melakukan demonstrasi anti perang. Mereka membawa spanduk bertuliskan: “It’s a lie that war is protecting us.”

Mereka melakukan demonstrasi itu setiap Kamis, tanpa pernah libur. Selama bertahun-tahun, mereka melakukannya. Perempuan itu adalah Peggy Gish. Dia adalah istri mendiang aktivis Art Gish yang pernah menjadi tameng hidup saat menghadang tank Israel yang hendak membombardir Palestina. Buku Art Gish berjudul Hebron Journal telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan Mizan.

Sejak Perang Teluk, Peggy dan suaminya memilih jalan aktivisme anti perang demi mengingatkan semua orang kalau perang hanya menyisakan nestapa. Dia memilih jalan damai. Dia berkampanye perdamaian ke seluruh penjuru Amerika.

Hari itu, Peggy ditemani pria tua yang ternyata seorang profesor bernama Profesor McGinn. Di kalangan mahasiswa Indonesia, McGinn cukup populer karena risetnya mengenai tradisi lisan di Indonesia. Dia pun seorang aktivis anti perang yang selalu berkampanye perdamaian.

Saya terkenang keduanya saat menyaksikan situasi Timur Tengah yang kian memanas selama beberapa hari ini. Terbunuhnya seorang jenderal di Iran telah memantik rasa marah. Iran membalas dengan puluhan rudal yang amat presisi menghantam target.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melunak. Saat jumpa pers, Trump malah menyalahkan pemerintah sebelumnya, serta berbicara tentang perdamaian. Padahal, beberapa hari sebelumnya, dia seperti preman pasar yang sedang menggertak. Dia membanggakan peralatan perang, serta kesigapannya untuk menghancurkan situs budaya Iran.

BACA: Peggy Gish dan Setetes Embun

Berkat Twitter, saya jadi tahu bahwa perubahan sikap Trump dipicu oleh tingginya tekanan dalam negeri. Di kota-kota Amerika Serikat, demonstrasi digelar warga yang benci dengan perang. Banyak orang menyampaikan desakan kuat agar negeri itu tidak lagi menggelar perang. Sebab dampaknya bukan hanya ekonomi, tetapi juga anak-anak muda militer yang kemudian menjadi korban.

Salah satu horor bagi orang Amerika adalah menyaksikan peti mati berlapis bendera yang turun dari pesawat, serta upacara kemiliteran. Apalagi kebanyakan prajurit yang dikirim bertempur adalah anak-anak muda dari keluarga menengah ke bawah yang sengaja masuk militer demi memudahkan karier serta jaminan masa depan.

Bahkan mereka yang kembali dari pertempuran pun membawa trauma. Saya membaca di National Geographic edisi Februari tahun 2015, kalau kehidupan mereka tidak berjalan sebagaimana sebelumnya. Mereka sering dicekam ketakutan serta tiba-tiba saja panik dan gelisah. Mereka seakan terbawa pada situasi hidup mati saat berada di medan perang. Butuh banyak terapi untuk memulihkan keadaan mereka seperti sedia kala.

Makanya, saat negeri itu dikabarkan hendak menggelar perang, protes merebak di mana-mana. Para aktivis anti-perang menggelar aksi di mana-mana. Mereka mengirimkan pesan kalau fundasi negeri itu adalah perdamaian, bukan perang dan ambisi dari orang gila yang kini menjabat sebagai presiden.

Di Twitter, saya melihat tayangan pernyataan politisi Bernie Sanders. Mantan kandidat presiden dari Partai Demokrat yang kemudian dikalahkan Hillary Clinton, yang disebarkan ke mana-mana. Bernie menyebut sebanyak 59.000 tentara Amerika yang tewas karena kebohongan. Tahun 2003, tentara dikirim ke Irak untuk menghancurkan senjata pembunuh massal.

“Kita semua tahu kalau itu adalah kebohongan, tapi kita telah kehilangan 4.000 tentara Amerika yang pemberani dan ratusan ribu warga setempat. Saya yakin perang melawan Iran adalah bencana besar. Kita semua tahu dan pernah belajar konstitusi kita. Bahwa pernyataan perang adalah hasil keputusan kongres, bukan presiden,” katanya.

Bernie Sanders kini disebut-sebut sebagai penantang Trump yang paling kuat. Dia diidolakan bayak anak muda sebab membawa gagasan-gagasan sosialisme di negeri yang sangat kapitalis itu. Baginya, ketimbang perang, rakyat lebih membutuhkan jaminan kesehatan, pendidikan yang murah dan merata, serta kualitas hidup yang lebih baik.

Bernie tak sendirian. Gelombang unjuk rasa yang digelar kelompok Act Now to Stop War and End Racism, yang merupakan koalisi anti perang, bergema di mana-mana. Demonstrasi itu digelar di lebih dari 70 kota di Amerika Serikat. Bahkan di depan Trump Tower di Chicago, mereka menggelar aksi protes. Dukungan untuk mereka mengalir dari mana-mana.



Di luar Gedung Putih, sekitar 200 orang berkumpul sebagai bagian dari gelombang demo yang diserukan oleh organisasi-organisasi sayap kiri. Mereka meneriakkan slogan, “Tanpa Keadilan Tidak Ada Pedamaian” dan “Amerika Keluar dari Timur Tengah.”

Saya menyukai postingan Michael Moore, sutradara film dokumenter, di Twitter. Moore mempertanyakan mengapa negerinya harus membunuh Jenderal dari negeri lain. Dia berkata: “Remember—everything you hear from Trump and his cronies about Iran, like everything else he says, is a lie.”

Dia juga bilang: “WOW. Take them up on it, President Trump! No need to prove your manhood! You ARE a MAN! A BIG man! A strongman! Sooo powerful. You won! It was a perfect call! Your crowd was bigger than Obama’s! Women love you! You’re the least racist president ever. End the war tonight! YA BABY!”

Moore malah bergerak lebih jauh. Dia justru menuding Amerika telah melakukan kejahatan internasional sebab membunuh petinggi Negara lain yang datang secara resmi karena undangan.

“What Americans did Soleimani kill? Our troops, who were forced to invade Iraq, a country next to his which had nothing to do with 9/11? No.Our beloved troops were sent there to their deaths by Bush, Cheney &the 29 Democratic Senators who voted to commit this war crime. The Truth.”

Kerja mereka akhirnya berbuah. Presiden Donald Trump berada di ujung tanduk karena derasnya kecaman dan demonstrasi. Dia pun harus menerima fakta mengejutkan kemampuan rudal Iran yang bisa mengenai sasaran dengan presisi.

Jika perang berlanjut, di atas kertas negerinya akan menang. Tapi itu akan dibayar dengan banyaknya korban jiwa yang berjatuhan, serta pemandangan horor berupa peti mati yang berdatangan dari arena perang. Boleh jadi, dia melihat meme yang dibuat pejuang Hizbullah yakni tentara Amerika akan datang tegak, tapi akan kembali dalam keadaan berbaring. Dia tak punya pilihan selain membatalkan rencana perang.

Mereka-mereka yang anti-perang itu adalah sisi lain Amerika yang tidak banyak diketahui penduduk bumi yang lain. Selama ini kita terlanjur percaya pada satu sosok yang seolah mewakili semua. Padahal ada banyak keragaman dan perbedaan pandangan yang saling mempengaruhi semua kebijakan politik.

Mereka pantas mendapatkan ucapan terima kasih dan apresiasi karena telah menunjukkan sisi lain Amerika. Mereka layak mendapatkan penghargaan setinggi mungkin karena telah menjaga nalar dan mengedepankan sisi kemanusiaan. Bahwa manusia bisa berada di ruang politik berbeda, namun selalu berada di barisan yang sama sebagai umat manusia.

Mereka mengajarkan perbedaan. Bahwa ada ratusan juta manusia yang hilir mudik di negeri itu dan membentuk satu mozaik di bawah panji “E Pluribus Unum” atau “Unity in Diversity.” Ada begitu banyak perbedaan pandangan yang kesemuanya saling bersinergi dan membentuk negeri itu hingga sebesar sekarang.

BACA: Di Balik Ketenangan Hassan Nasrallah

Makanya, Amerika Serikat bukanlah musuh. Bahkan Iran pun bukan musuh. Demikian pula Turki, Libya, Kuba, bahkan Venezuela. Tak ada satu pun yang bisa dimusuhi hanya karena perbedaan.

Yang pantas dimusuhi adalah sikap keangkuhan yang merasa diri paling hebat dan berhak mengendalikan orang lain. Yang pantas dibenci adalah rasisme atau pandangan tentang diri yang hebat dan lebih mulia sehingga merasa berhak mengatur hidup orang lain. Yang harus dimusuhi adalah sikap sombong yang merasa lebih tinggi dan lebih hebat dari siapa pun, lalu menindas yang lain.

Saya teringat Peggy Gish. Dia mewakili gambaran tentang sisi lembut dari Amerika Serikat yang anti peperangan. Jika suaminya pernah menjadi tameng hidup dari tank Israel, Peggy pun pernah menjadi aktivis perdamaian di Irak.

Dia mendokumentasikan pelanggaran HAM yang dilakukan tentara AS. Dia pernah bercerita tentang pengalamannya di Irak. Yang berkesan adalah ketika berada di satu kota yang dijatuhi bom.

“Saya bersama mereka saat bom jatuh dan menghancurkan kota. Saya ketakutan sambil bertanya, di manakah kau Tuhan? Apakah Kau sedang bersama mereka yang menderita di peperangan ini?”

Saya mengenang kalimat-kalimatnya. Pernah, saya tak tahan untuk bertanya sesuatu. “Bisakah kita hentikan perang yang serupa virus telah menggerogoti manusia di zaman sekarang?”

Dia tersenyum. “Bisa. Hanya cinta yang mengalahkan semua kebencian. Saya telah membuktikannya. Saya merasakan bagaimana diculik oleh militer AS. Saya merasakan bagaimana cinta kasih adalah embun yang bisa memadamkan segala api amarah yang menyala-nyala.”



Di Balik Ketenangan HASSAN NASRALLAH




Timur Tengah memanas. Saya tak menemukan banyak berita di media-media kita, termasuk CNN. Semalam saya nonton Al Jazeera. Momentumnya tepat. Pemimpin Hizbullah, Hasan Nasrallah, sedang berpidato di hadapan ribuan massanya di Libanon, semalam.

Bendera merah telah berkibar di atas Masjid Agung Jamkaran di kota Qom, Iran. Di banyak tempat, ada duka serta rasa marah yang tertahan. Laskar Hizbullah mengalami itu.

Hassan Nasrallah sedang dalam kedukaan karena tewasnya jenderal asal Iran yang telah diakui perintah dari Donald Trump. Dia tetap tenang. Kalimatnya tidak bergelombang. Dia menyampaikan pesan kuat dalam bahasa yang mengalir tenang bak sungai jernih.

Retorikanya sungguh beda dengan Donald Trump yang dengan mudah memaki dan memojokkan orang lain. Trump memang dikelilingi privilise. Kisah hidupnya bergelimang kemewahan. Dia besar sebagai pebisnis. Bertahun-tahun dia membiayai kontes kecantikan Miss USA. Dia pun tak malu-malu tampil di kasino Las Vegas.

Trump tak tahu seperti apa kehilangan. Dia pun dengan mudahnya memberi persetujuan untuk membunuh orang lain, tanpa ada bukti-bukti awal sebelumnya. Jika jenderal itu teroris, tentunya namanya akan setenar Osama bin Laden yang diburu sepanjang waktu. Kali ini tak ada dialog. Bom telah menewaskan jenderal itu, tanpa pembelaan.

Beda dengan Trump, Nasrallah sangat paham seperti apa kehilangan. Bagi pemimpin Hizbullah, simbol perlawanan bagi kaum sunni dan syiah, kehilangan adalah kawan sekarib-karibnya.  Di tahun 1997, putranya, Sayid Hadi, gugur saat bentrok dengan Israel. Dia baru bisa memeluk jenazah putranya setahun berikutnya saat terjadi pertukaran dengan serdadu Israel.

Dalam duka yang mengepung, dia tetap bisa berpikir jernih. “Sayid Hadi adalah tanda bahwa dalam memimpin Hizbullah, kami tidak membesarkan anak-anak untuk menjadi pemimpin Hizbullah. Kami bangga dengan anak-anak kami yang pergi ke garis depan dan akan bangga dengan kesyahidan mereka.”

Kini, saat dia mengalami kehilangan, kalimatnya tetap terjaga. Tak ada sumpah serapah dan caci-maki selangit. Dia tetap santun dalam kalimat-kalimat yang menusuk. “Membunuh Jenderal Sulaimani berarti menargetkan seluruh Sumbu Perlawanan.“

Tapi bagi yang paham semiotika, kalimat yang tenang itu adalah tanda semarah-marahnya seseorang. Di kampung saya, seseorang yang teriak-teriak sembari mengacungkan badik bisa dipastikan adalah penakut yang tidak berani menusuk. Jika dia memang pemberani, maka dia akan tenang, mendekat, lalu menusuk.

Kehilangan jenderal itu bukan hanya kehilangan bagi Iran, tetapi juga kehilangan banyak orang. Bagi Trump, aksi itu penting untuk menaikkan popularitasnya. Tapi harga yang dibayar terlampau mahal.

Beberapa kawan saya di Amerika bercerita bagaimana ketatnya bandara serta berbagai pusat perbelanjaan di sana. Negeri itu kembali memasang mata dan telinga demi mengantisipasi peristiwa yang bisa terjadi. Keamanan diperketat. Gerak-gerik warga menjadi terbatas.

Di abad yang penuh teknologi ini, perang memang mengandalkan artificial intelligent. Semestinya warga Paman Sam bisa lebih tenang menyikapi pernyataan pemimpin Iran akan adanya balas dendam. Dalam film-film Hollywood, Paman Sam cukup menekan satu tombol, maka rudal akan meluncur ke satu titik.

Lagian, seperti dicatat Harrari, di abad ini negara-negara tidak akan memilih perang sebagai opsi penyelesaian masalah. Sebab perang hanya akan menguras cadangan ekonomi. Perang bukan bisnis yang menguntungkan. Tapi butuh satu orang gila untuk memulai perang. Itu yang terjadi sekarang.

BACA: Jika AS Perang dengan Cina, Apa Kata Harrari?

Apakah Trump ingin perang? Belum tentu. Perang hanya efektif untuk meningkatkan daya tawar politik. Targetnya jangka pendek untuk kembali mengerek popularitas.

Tapi dia mengabaikan siapa yang sedang menjadi sasarannya. Dia memukul gong perlawanan dengan mereka yang justru merindukan kematian di jalan Tuhan. Dia hendak konflik dengan mereka yang siap menjemput kesyahidan, mereka yang tak takut dengan ancaman kehilangan selembar nyawa.

Bagi Nasrallah dan juga pejuang-pejuang di jalannya, kematian adalah sesuatu yang disongsong dengan penuh kegembiraan. Mereka memahami bahwa kematian hanyalah jalan untuk bersatu kembali dengan sang pencipta, semacam jalan untuk membawa mereka pada posisi spiritualitas yang tinggi.

Di setiap malam Jumat, matanya basah saat melafalkan doa kumayl, yang salah satu kalimatnya: “Jika aku bisa bersabar menahan siksa-Mu, mana bisa aku bersabar untuk berpisah dari-Mu.”

Di titik ini, dunia paham betapa berkarismanya para pemimpin spiritual seperti dirinya. Kalimatnya terjaga. Mereka jauh dari kemewahan. Hidupnya hanya untuk umat dan bangsa. Orang-orang percaya sebab melihat hidup yang sederhana dan didedikasikan untuk orang lain. Mereka membawa suara langit ke bumi, lalu menjadikan diri mereka sebagai teladan bagi manusia lain.

Saya teringat beberapa tahun lalu saat bertugas meliput kedatangan Ahmadinedjad di Masjid Istiqlal, Jakarta. Semua orang ingin mendekat dan menyentuhnya. Saya beruntung bisa memegang jenggot pemimpin yang sederhana itu.

BACA: Menyentuh Pipi Ahmadinedjad

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, juga telah memberikan warning. Pemimpin yang hidupnya didedikasikan untuk jalan peperangan, pemimpin yang tetap memilih jalan hidup sederhana sebagai rahib, santo, atau ulama ini tetap tampil apa adanya demi menyerap spirit kenabian.

"Kehilangan jenderal kami memang pahit. Namun meneruskan perjuangannya dan mencapai kemenangan bakal membuat para penjahat getir," janjinya.

Khamenei telah memberikan fatwa. Namun, saya meyakini Iran tidak akan memberikan perlawanan terbuka. Mereka akan memilih jalan panjang, namun tidak merasa lelah demi mencapai apa yang diinginkan.

Kata Trump dalam cuitannya, Iran memang tidak memenangkan apa pun di era perang moderen. Tapi dia lupa kalau ada spirit perlawanan yang diwariskan dari generasi ke generasi, dari satu zaman ke zaman lain, dari satu peristiwa kematian ke peristiwa kematian lain.

Di semua periode itu, para singa-singa padang pasir yang berhati lembut silih berganti hadir dalam sejarah. Mereka berbaris untuk menjemput kemuliaan dalam dekapan Sang Pencipta dan para imam yang lebih dahulu berpulang.

Mereka tak sebanding dengan sumber daya yang dimiliki Paman Sam. Mereka semut di hadapan gajah. Mereka adalah liliput di hadapan Gulliver. Mereka adalah David di hadapan Goliath.

Tapi kita sama tahu kalau akhir kisah itu seringkali mengejutkan.




Sepenggal KIsah BASUKI




Dari semua anak buah Jokowi di periode pertama dan kedua, Basuki Hadimuljono adalah menteri favorit saya. Dia tipe yang tidak banyak ngomong. Dia juga figur yang tenang. Dia tidak punya ambisi politik.

Pernah, saya melihatnya makan di satu tempat makan di Terminal 3, Bandara Soekarno Hatta. Dia duduk tenang di sudut, seorang diri. Tidak terlihat satu pun staf yang mendampinginya. Padahal di kampung saya, seorang kepala daerah selalu membawa “pasukan” dan “dayang-dayang” ke mana-mana.

Basuki tidak pernah gila hormat. Dia tidak peduli disapa apa tidak oleh orang-orang. Saya yakin dia lebih suka tidak dikenali. Sebab dengan cara itu, dia bebas melakukan apa pun. Saat saya menyapa dan mengajaknya berfoto di bandara, wajahnya terlihat kurang nyaman.

Dia tipe pekerja keras yang selalu menuntaskan banyak hal. Dia menerjemahkan apa yang diinginkan atasannya dengan baik. Sebagai Panglima Infrastruktur Indonesia, dia hadir di mana-mana. Dia muncul di peresmian jalan tol, pelabuhan, jembatan, hingga perumahan.

Saya pernah melihat tayangan peresmian infrastruktur. Dia tidak duduk di jajaran menteri yang sedang mengelilingi presiden. Dia memegang kamera dan jongkok bersama para fotografer. Dia sangat membumi.

Padahal, kalau dia mau, posisi duduknya lebih tinggi dari gubernur dan bupati. Dia harusnya duduk di jajaran pejabat, menerima kalungan bunga, juga diberi kesempatan untuk sambutan-sambutan.

Anehnya, dia tak suka sambutan. Saya jarang menyaksikan dirinya berbicara panjang dan cerita semua rencana-rencananya di layar kaca. Kalau dia diwawancarai, kalimatnya selalu ringkas. Dia tipe orang yang seakan ingin berkata “Jangan lihat ucapanku, lihat kerjaku.”

Publik tahu prestasinya. Salah satu yang melekat di benak publik adalah pembangunan tol trans Jawa yang menghubungkan Merak hingga Banyuwangi. Berkat kesuksesannya, dia dijuluki Daendels baru, seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang memerintahkan pembangunan jalan dari Anyer ke Panarukan.

Tipe pekerja keras seperti dia selalu irit kata. Ketika dia mengomentari sesuatu, maka berarti ada sesuatu yang serius di situ. Logikanya, dia sangat berpengalaman mengelola banyak proyek besar. Dia tentu tahu di sisi mana ada kendala sehingga perlu dibenahi.

Kemarin, dia berpolemik dengan Gubernur Anies Baswedan mengenai banjir Jakarta. Dia menyoroti normalisasi sungai yang tidak berjalan sesuai target. Keduanya pernah sama-sama menjadi pembantu presiden.

Basuki percaya dengan konsep normalisasi. Dia sama dengan Gubernur DKI Jakarta sebelumnya yang meyakini normalisasi adalah salah satu upaya mengatasi banjir. Sungai harus dikeruk dan dilebarkan. Penduduk direlokasi ke tempat layak.

Di tempat berbeda, Anies yang mengatakan tidak ingin berpolemik. Dia tidak ingin ikut terpancing. Tapi, setelah itu dia memberi respon. Dia membandingkan kampung Pulo yang kini terendam padahal sudah dilakukan betonisasi. Anies lebih memilih naturalisasi.

Dalam hal berbicara di depan mikrofon, Anies adalah pakarnya. Ibarat petinju, Basuki bisa langsung KO dihantam dengan pukulan keras kata-kata. Tapi, kali ini, Basuki tidak lantas limbung. Malah Anies yang sedang limbung karena tekanan publik. Buzzer Anies harus bekerja lebih keras di berbagai kanal media.

Anies bisa bangkit dan meng-KO Basuki jika dia menunjukkan kinerjanya. Dua tahun bekerja, dia seharusnya sudah bisa menampilkan sesuatu. Dia harusnya menunjukkan sungai yang sudah dinaturalisasi, kemudian berkata, “Lihat apa yang sudah kami kerjakan. Lebih bagus kan?”

Sebagai publik kita hanya menjadi saksi dari silang pendapat dua pejabat ini. Namun, harus diingat, ada banyak pekerjaan rumah yang tak perlu menunggu selesainya perdebatan keduanya. Tetap ada kerja-kerja yang dilakukan untuk menjaga agar kawasan bisa terhindar dari banjir, atau minimal bisa mengurangi dampaknya.

Basuki terus bekerja. Basuki tidak hanya merambah Jakarta, tapi seluruh Indonesia. Saat berbicara Jakarta, dia tampak lelah. Rambutnya kian memutih, tapi kerja belum selesai. Belum apa-apa.

Tetap sehat Pak Basuki. Tetap bekerja. Kami ingin Bapak menjadi pemimpin bangsa ini yang bisa bekerja keras. Tidak sekadar bermain kata.




Kita Bisa Buat Kisah IP Man




Pria itu mendatangi markas latihan marinir Amerika Serikat (AS). Dia memenuhi tantangan seorang petinggi marinir yang melecehkan kungfu dan orang Cina. Dia bertarung demi harga diri mereka yang telah dihina dan dipukuli. Dia adalah guru IP Man yang diperankan Donnie Yen.

Dalam kisah IP Man 4: The Finale, kita kembali menyaksikan bagaimana nasionalisme dikemas dalam satu kisah laga yang apik. Ini film yang keempat. Film-film sebelumnya, selalu bergerak dengan tema yang sama yakni nasionalisme bangsa Cina di arena adu perkelahian.

Film ini menampilkan Bruce Lee, murid IP Man yang telah sukses di Amerika. Bruce Lee mengundang gurunya datang ke San Francisco. Kebetulan, saat itu putra IP Man bermasalah di sekolah sehingga akan dipindahkan ke Amerika.

Ketika IP Man tiba di Amerika, dia malah diadili para guru kungfu dan pengurus Chinese Benevolent Association (CBA) yang memprotes tindakan Bruce Lee yang mengajar kungfu pada orang barat. IP Man membela muridnya sehingga dirinya kesulitan mendapatkan rekomendasi agar anaknya bisa sekolah.

San Francisco di masa itu adalah kota yang intoleran. Banyak orang tidak siap dengan perbedaan ras sehingga muncul kebencian berlebihan. Kungfu tumbuh bagaikan bunga di tengah lahan kritis yang tak siap melihat perbedaan.

BACA: Kisah IP Man, Saat Kungfu Cina Menantang Tinju Eropa

Masalah mulai muncul saat ada orang Amerika bertubuh kekar yang belajar karate, kemudian memandang rendah kungfu. Saat festival tahun baru Cina, dia datang bersama rekan-rekannya kemudian menantang semua guru kungfu setelah sebelumnya mengatakan pecundang.

Beberapa guru kungfu meladeni tantangan namun kalah telak. Dalam keputus-asaan saat pelecehan terus dilakukan jago karate itu, IP Man maju bertarung. Hanya dengan beberapa sentuhan, dia membuat jago karate itu terkapar dengan tulang rusuk patah.

Orang Amerika lainnya tidak terima kenyataan itu. Dia lalu menantang semua guru kungfu hingga terkapar. Adegan final adalah adegan ketika IP Man datang ke markas marinir, kemudian bertarung hingga ada yang terkapar.

Saya menyukai adegan laga yang menampilkan kecepatan tangan serta bela diri yang mematikan. Mata seakan tak berkedip saat melihat derasnya pukulan IP Man. Guru Bruce Lee ini sering terlihat lemah dan tak berdaya. Postur tubuhnya seperti orang kebanyakan. Tapi saat bertarung, dia bisa bergerak lincah dan menyentuh semua titik lemah di tubuh lawannya.

Dia tak perlu menghabiskan energi untuk memukul dan menendang sekeras mungkin. Cukup menyentuh satu titik, maka lawan akan tumbang. Dalam film IP Man 4, dia hanya perlu menyentuh satu titik di bawah leher lawannya untuk membuatnya terkapar dan tak berdaya.

Jika disuruh mengenang semua adegan laga dalam film IP Man, pertarungan terbaik yang melekat di benak saya adalah saat IP Man melawan Guru Hung (diperankan Sammo Hung) dalam film IP Man 2. Mereka bertarung di atas meja bundar yang selalu bergerak. Pertarungan itu menunjukkan kelas kependekaran mereka yang di atas rata-rata.

Sayangnya, cerita dalam film keempat ini terlampau mudah ditebak. Alurnya persis film kedua. Kisahnya tentang orang Cina yang dilecehkan orang barat di arena duel. IP Man hadir sebagai pahlawan untuk mengembalikan supremasi orang Cina. Dia ingin menegaskan bahwa mereka tidak boleh dilecehkan dan dipandang rendah.

IP Man digambarkan sebagai sosok yang tidak rela melihat harga diri orang Cina dilecehkan. Dia seorang nasionalis. Di lapangan bela diri, dia tidak mau mendengar ada yang melecehkan bangsanya. Dia siap bertarung demi menunjukkan supremasi siapa yang kuat.

Dalam film pertama, dia melawan seorang jenderal Jepang yang pandai karate. Dalam film kedua, dia melawan petarung Inggris yang telah membunuh guru kungfu. Dalam film ketiga, dia melawan Mike Tyson. Dalam film keempat, dia melawan marinir Amerika yang jago karate.

Namun, sebagai penonton, nasionalisme ini yang menjadi bumbu agar pertarungan menjadi epik. Kita berharap agar tokoh protagonis bisa menang telak sebab bisa mengembalikan marwah. Kita ikut berdebar dan deg-degan saat tokoh kita bertarung. Kita berharap dia menang, kalau perlu menang telak agar pandangan orang-orang berubah.

IP Man Rasa Indonesia

Sejujurnya, kita pun bisa membuat kisah serupa IP Man. Kita bisa menghadirkan seorang jagoan yang menegakkan supremasi silat kita saat berhadapan dengan bela diri bangsa asing. Di era 1980-an, kita pernah menyaksikan Jaka Sembung dan Si Jampang yang melawan kompeni. Jika kisah itu dikemas ulang dan diperkaya, pasti akan jauh lebih menarik.

Sejarah kita mencatat, Nusantara adalah wilayah yang hilir mudik bangsa asing berdatangan. Jika kita bisa mengolah satu cerita silat yang menarik, serta perbenturan dengan bangsa asing, nasionalisme ala IP Man itu bisa dihasilkan.

Kita punya banyak bahan baku sejarah yang seharusnya bisa diolah menjadi fiksi menarik untuk menampilkan bela diri silat. Di zaman Sriwijaya, para biksu dari Cina datang belajar ke Sumatra kemudian kembali ke negerinya. Mereka tak hanya belajar tentang Buddha, tetapi juga beragam keahlian bela diri untuk dibawa ke kampung halamannya.

Dalam serial Tutur Tinular pernah dibahas Pendekar Lou dan Mei Shin, dua sejoli pendekar yang datang bersama pasukan Mongol ke tanah Jawa.

Di zaman Majapahit, banyak kisah tentang pendekar yang kemudian mengembangkan berbagai jenis bela diri. Bahkan ilmu bela diri Kali Majapahit berkembang pesat di Filipina. Bela diri yang dulu diajarkan pada pasukan khusus Majapahit telah punah di Indonesia, tetapi berkembang pesat di Filipina.

Tiongkok juga punya banyak pertautan dengan kita. Di novel Sam Po Kong, karangan Remy Silado, terdapat cerita bagaimana armada Cheng Ho singgah di beberapa tempat di Nusantara. Sudah pasti, terjadi silaturahmi kebudayaan, termasuk melalui perjumpaan kungfu dan silat.

Bahkan terhadap Jepang pun kita punya banyak pertautan. Di masa Gubernur Jenderal JP Coen beberapa samurai didatangkan dari Jepang untuk bekerja di Batavia. Bahkan para samurai ini juga dibawa ke Banda, Maluku, kemudian ikut membantai warga di sana bersama pasukan VOC.

Imajinasi bisa berkembang dengan membuat kisah ala IP Man. Bisa saja kita menulis fiksi kalau enam samurai itu lalu menantang pendekar silat setempat, hingga kemudian datang seseorang yang mengalahkannya hanya dalam beberapa sentuhan.

Jika ingin buat setting film zaman perjuangan, banyak pula kisah yang bisa digali. Di antaranya adalah beberapa perkumpulan rahasia yang tumbuh pada masa itu.



Dalam buku Kuasa Jepang di Jawa yang ditulis sejarawan Aiko Kuroshawa, saya membaca cerita tentang perkumpulan rahasia Kipas Hitam yang anggotanya menyebar di Jawa. Dalam buku itu, Kipas Hitam disebut sebagai organisasi rahasia yang didirikan oleh Hitoshi Shimizu, pemimpin gerakan propaganda Jepang (sendenbu), dengan tujuan untuk membangkitkan spirit bangsa Asia demi menumbangkan Eropa.

Hitoshi Shimizu mendirikan beberapa perkumpulan rahasia yang di antaranya adalah; (1) Ular Hitam, berisi orang-orang Indo-Belanda bermarkas di Bogor; (2) Chin Pan, perkumpulan yang menampung orang-orang Tionghoa; (3) Kipas Hitam, yang dibentuk untuk mempersiapkan orang-orang Indonesia melakukan perang kemerdekaan di bawah bimbingan Jepang. Saat Shimizu ditangkap Belanda, Kipas Hitam lalu bersekongkol dengan sekutu untuk menghadang para pejuang kemerdekaan.

Saya hanya mengungkap sedikit kisah dari lautan kisah yang bisa dikembangkan di tanah air kita. Point saya adalah negeri kita tak pernah kekurangan bahan baku untuk meramu satu kisah nasionalisme ala IP Man yang menggelorakan semangat untuk melawan siapa pun yang merendahkan kita.

Kita hanya butuh satu penulis skenario yang kuat demi mengolah semua narasi sejarah itu menjadi kisah yang berbobot, serta berkelas sebagaimana IP Man.

Hari kita bangga karena silat mulai menjadi rujukan pusat perfilman Hollywood menyusun kesuksesan film The Raid. Kita berharap di tanah air kita muncul satu kisah silat yang menggelorakan semangat nasionalisme, punya jalinan cerita yang menarik, serta lebih bertenaga.

Kita bisa melakukannya. Why not?