Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Bali, Keheningan, dan Kesunyian


senja di Pantai Kuta, Bali

ENTAH, apa yang terjadi belakangan ini, Bali nampak lebih sepi. Tak banyak yang lalu lalang di pagi dan sore hari. Namun justru di tengah suasana sepi itu, nuansa spiritual lebih kental. Melihat seorang gadis manis berambut panjang yang meletakkan sesajen di dekat pantai, semesta seolah berbisik, bahwa di tengah keheningan itu, Bali lebih bergema, lebih sakral, lebih mistis.

Sejak kemarin, aku berkunjung ke Bali. Ini bukan yang pertama. Beberapa tahun lalu, aku datang ke Bali dan terharu ketika melihat potret beberapa gadis manis di Legian, di monumen untuk mengenang tragedi bom. Kali ini tak ada kunjungan monumen. Aku hanya menikmati sunset di Pantai Kuta, sembari menuntaskan pekerjaan di satu hotel.

Bali kian sepi. Turis yang datang tak sebanyak beberapa tahun lalu. Jika dibandingkan dengan pantai-pantai di Thailand yang suasananya serupa pasar, Bali terlihat seperti perkampungan hotel yang sunyi. Data dari Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, lama kunjungan para turis kian berkurang jika dibandingkan 10 tahun silam. Dahulu, turis bisa menjelajah pulau itu hingga 14 hari. Kini, mereka hanya tinggal selama tiga hari. Mereka hanya bisa menjelajah ke tempat-tempat yang dahulu lebih dahulu populer.

Bagiku, Bali selalu berbeda. Semakin sunyi, semakin memikat dirinya. Pulau ini menyimpan denyut nadi yang memantek kaki untuk selalu memijak kembali. Pulau ini punya embun-embun spiritual bagi para pejalan di keheningan yang hendak menemukan harmoni dengan semesta. Para antropolog dan spiritualis telah lama berkisah tentang Bali dan semestanya. Terakhir, penulis Elizabeth Gilbert juga menuliskan kesan ajaibnya tentang Bali.

suatu senja di Bali

Bahkan ketika bom pernah meluluhlantakkan tempat ini, denyut Bali tak lantas sirna. Di tengah puing-puing itu, tunas-tunas Bali tetap tumbuh dan bermekaran. Inilah daya-daya hidup d tengah puing. Inilah spiritualitas Bali.

Sayang, ada banyak kisah-kisah kekerasan dan banjir darah di tanah ini. Sejarawan Robert Gribb pernah mencatat ada banyak kejadian di mana orang Bali bertarung nyawa. Mereka beramai-ramai melawan hingga titik darah penghabisan.

Dua sisi yakni keheningan dan kekerasan adalah sisi terdalam Bali. Dua sisi inilah yang sesungguhnya dicari para wisatawan. Sayangnya, kebanyakan wisatawan hanya fokus pada tempat, tanpa mau menelusuri relung-relung jiwa. Mungkin ini pula jawaban dari seorang arif bahwa mereka yang mencari kedirian adalah mereka yang berteman dengan sepi, berkarib dengan senyap, namun bisa menyaksikan sisi Bali yang paling indah dan menawan. Bahkan lebih indah dari yang dsaksikan Elizabeth Gilbert dalam kisah Eat, Love, and Pray.


Bali, 23 Oktober 2014

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year


penghargaan yang diterima

BULAN November setahun silam, saya memenangkan dua penghargaan bergengsi di ajang Kompasianival. Pertama, terpilih sebagai reporter warga terbaik. Kedua, terpilih sebagai Kompasianer of the Year 2013. Penghargaan itu telah membawa banyak dampak besar dalam kehidupan saya. Ada banyak keajaiban dan kebaikan yang tiba-tiba hadir, tanpa diduga. Apakah gerangan?

***

DI tengah deru ombak Pulau Buton, saya mendapat telepon dari admin Kompasiana, Iskandar Zulkarnaen. Ia memberitahukan terpilihnya saya sebagai Reporter Warga Terbaik, sekaligus sebagai Kompasianer of the Year. Tak terbersit sedikitpun dalam benak saya untuk mendapat penghargaan itu. Saya bukan penulis yang produktif. Saya juga bukan yang terbaik. Mengapa harus saya?

Saat itu, saya baru kembali dari studi di Amerika Serikat. Niat saya hanyalah hidup tenang dan menjalani aktivitas sebagai orang biasa di Pulau Buton. Menulis di Kompasiana hanyalah upaya untuk mengatasi rasa jenuh, sekaligus menebar kisah-kisah pesisir yang senyap dan terabaikan di tengah deru dan hiruk-pikuk kota. Sesekali saya ikut lomba, kalau melihat hadiahnya besar. Agak terkejut juga sebab tulisan saya menang lomba menulis esai ekonomi yang diadakan Sekretariat Kabiet RI. Rasanya sesuatu banget, sebab saya bukan berlatar belakang ekonomi.

Namun lebih terkejut lagi ketika menerima anguerah Kompasianer of the Year 2013. Saya mendengar ada kontroversi. Saya juga mendapat informasi dan bisik-bisik dari sejumlah orang yang tidak puas dengan kriteria pemberian penghargaan itu. Tapi saya mengabaikannya. Bagi saya, ada banyak hal yang jauh lebih penting untuk ditekuni ketimbang masuk dalam grup-grup yang berisi suara-suara negatif dan penyangkalan atas keputusan admin dan para juri lomba.

Sejak dulu, saya beranggapan bahwa menulis itu serupa meditasi untuk mengalirkan segala suara-suara lirih nurani atas peristiwa yang berseliweran di hadapan kita. Menulis serupa upaya untuk membasuh jiwa, mengalirkan segala resah dan kegelisahan agar tak mengendap dalam hati. Menulis serupa menanam kembang pikiran agar kelak semerbak mewangi dan menginsprasi orang lain. Takdir seorang penulis adalah takdir seorang penanam pohon kebaikan yang berharap agar kelak pohon itu tumbuh kuat dan kokoh, lalu berlimpah dengan buah-buah yang manis. Buah itu adalah saripati pengalaman dan hikmah-hikmah pembelajaran.

buku yang saya terbitkan

dua penghargaan

Makanya, saya memperbanyak tulisan reportase. Mengapa? Sebab melalui reportase, seseorang bisa berbagi pengalaman di setiap tempat. Reportase adalah jembatan bagi seseorang untuk mengasah rasa, menajamkan kepekaan dalam melihat keping kenyataan, serta menguatkan jiwa untuk senantiasa belajar pada kenyataan apapun yang disaksikan. Alasan yang lebih prgmatis, reportase jauh lebih mudah dibukukan, lebih aktual, menarik, serta menghibur. Iya khan?

Sayangnya, setahun silam saya tak bisa menerima penghargaan itu secara langsung di ajang Kompasianival sebab tiket perjalanan dari Buton ke Jakarta terlampau mahal. Akan tetapi, saya bisa berkesempatan untuk jalan-jalan ke Phuket, Thailand, bersama para peraih penghargaan lainnya di Kompasianival. Saya amat bahagia bisa melakukan perjalanan dengan para sahabat yang memiliki hobi sama untuk meramaikan dunia maya dengan banyak jejak pemikiran.

Berbagai Keajaiban

Penghargaan itu berimbas pada berbagai keajaiban yang seolah jatuh dari langit. Penerbit besar memublikasikan kumpulan tulisan saya selama belajar di Amerika Serikat dengan judul Kopi Sumatera di Amerika. Tak hanya itu, dua penerbit lain telah menghubungi untuk membukukan berbagai catatan yang pernah dibuat. Saya bergabung dalam beberapa buku keroyokan yang dibuat oleh teman-teman penulis. Perlahan, saya mulai melebarkan sayap ke mana-mana.

Anugerah sebagai Kompasianer of the Year membawa langkah kaki saya pada beberapa lembaga internasional. Di satu lembaga yang dinaungi PBB, saya diminta menjadi editor atas berbagai modul pembelajaran pada politisi dan masyarakat awam. Di lembaga lain, saya diminta untuk menyusun riset dan buku yang berisi pembelajaran.

Project officer lembaga PBB itu menganggap saya adalah kandidat paling pas untuk membumikan wacana melangit ilmu politik menjadi lebih membumi dan sederhana sehingga dipahami siapapun. Ia mencari seseorang yang memahami bahasa akademik, dan memiliki kemampuan untuk mengemasnya agar dipahami masyarakat biasa.

saat berkelana di Pulau Spermonde

Barulah saya tahu bahwa semua tulisan di blog ibarat kertas CV yang bercerita banyak tentang diri kita. Benar kata Eric Smidth dalam bukunya Being Dogital. Di abad ini, orang-orang lebih percaya pada dunia maya, ketimbang lembar-lembar CV yang ditulis dan dikirimkan. Melalui dunia maya, jejak seseorang lebih mudah dilacak, sehingga terbuka lapis pengetahuan tentang siapa sesungguhnya orang tersebut.

Jangan salah, perusahaan dan lembaga-lembaga besar kerap memanfaatkan web spider atau laba-laba pencari yang mengumpulkan informasi tentang seseorang. Pantas saja, lembaga-lembaga itu tahu banyak tentang apa saja yang telah saya lakukan, padahal saya belum bicara apa-apa. Saya sering terkejut ketika bertemu orang baru, yang tba-tiba menanyakan kabar anak saya Ara. Hah? Tahu dari mana?

Tak hanya itu. Sekembali dari Phuket, Thailand, sebuah lembaga riset di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) meminta saya untuk bergabung. Mereka meminta saya untuk memimpin satu unit di lembaga itu yang memungkinkan saya untuk mengasah intelektualitas serta pengalaman lapangan sebagai peneliti. Saya lalu mengambil kesempatan emas itu.

Saya akhirnya bisa mengunjungi banyak tepat yang dahulu hanya bisa saya bayangkan. Di sepanjang perjalanan itu, saya tak henti mencatat demi mengabarkan pada banyak oang bahwa ada banyak hal menakjubkan di sekitar kita. Perjalanan ke berbagai daerah itu semain menebalkan keyakinan saya bahwa ada banyak hal luar biasa di sekitar kita, hanya saja kita sering tak menyadarinya. Kita lebih mudah terpukau pada satu keping kenyataan di negeri jauh sana, tanpa menyadari bahwa ada begitu banyak harta karun berharga di sekitar kita.

Pengalaman bertemu banyak orang di daerah-daerah telah menjernihkan pandangan saya untuk mengapresiasi berbagai keragaman pengetahuan. Saya berguru pada banyak orang, mulai dari lelaki pemetik senar sasando di Pulau Rote, seorang nakhoda phinisi di Kepulauan Spermode, hingga memahami langir pada seorang penafsir bintang yang menjadi panduan bagi petani di dataran tinggi Mamasa, Sulawesi Barat. Mereka adalah guru-guru kehidupan yang menolak dipanggil guru. Pada mereka, ada keikhlasan serta ketulusan yang serupa kristal bening, dan amat langka di tengah perkotaan. Mereka mutiara bagi tanah air Indonesia.

saat di kampus IPB

Kini, bersama keluarga, saya berumah di Bogor, sebuah kota yang terletak di pegunungan. Tempat ini sungguh beda dengan pesisir Pulau Buton yang berpasir putih dan dikelilingi laut biru. Akan tetapi saya menemukan sisi-sisi Bogor yang jga indah, yakni pegunungan hijau yang menghampar serta berbagai buah-buahan yang murah dan mudah ditemukan di mana-mana.

Dari sisi materi, saya tak punya apa-apa. Saya hanya orang biasa yang ke mana-mana mengandalkan angkot. Tapi saya menjalani hari dengan amat bahagia. Saya punya banyak pengalaman yang bisa dibagikan, punya banyak sahabat-sahabat yang setia berbagi pengetahuan di ranah maya, serta memiliki keluarga yang melimpahi saya dengan kasih sayang. Itulah semesta yang selalu membuat saya tersenyum.


Bogor, 21 Oktober 2014

Supernova, Gelombang, dan Kenanganku Atas Dewi Lestari



KISAH terbaru Supernova: Gelombang karya Dewi Lestari ini serupa jendela yang membuatku melesat ke banyak tempat, seperti desa kecil di Sumatra Utara, lalu ke Jakarta, hingga Ithaca (New York). Yang kusuka dari novel ini adalah dunia batin seorang pemuda yang di dalamnya ada pergolakan antara aspek mistik dan aspek rasio yang dikisahkan dengan cara memikat. Tanpa sadar, aku telah belajar banyak budaya Batak, yang lalu

Kali ini, aku tak ingin bahas novel yang kubeli kemarin. Saat menimang novel itu, aku terkenang banyak hal. Novel-novel karya Dewi Lestari memiliki banyak pertalian dengan anakku Ara. Saat dirinya masih berupa janin, ibunya ngidam untuk bertemu dengan penulis Dewi Lestari. Kami orang biasa, dan dia adalah artis dengan reputasi besar sebagai penulis. Tapi aku harus mempertemukan istriku dengan Dewi. Ini mission impossible.

Lantas, apa yang kulakukan?

***

HARI itu, di tengah-tengah kelas bahasa Inggrs, istriku menelepon. Ia mengabarkan bahwa dirinya tengah hamil. Hatiku mekar. Semesta seolah penuh dengan warna-warni. Aku bergegas pulang untuk menemuinya. Ia lalu bercerita tentang harapan-harapannya atas anak kami kelak. Aku menanam tekad dalam hati untuk menjadi ayah terbaik baginya.

Beberapa hari berikutnya, istriku mengajukan permintaan aneh. Ia ingin bertemu dengan Dewi Letari, sang pengarang Supernova. Sebelumnya, ia ingin mencicipi buah strawberry, yang dengan mudah kusanggupi dan kupenuhi. Tapi bertemu seorang pengarang dan artis membuatku teridiam. Aku tak tahu harus menjawab apa. Akhirnya kuiyakan permintaannya sembari memutar otak, apakah gerangan yang akan kulakukan. Jika permintaanya adalah ngidam, maka ke ujung dunia pun pasti akan kupenuhi.

Hari itu, aku tengah mengambil kelas bahasa sebagai persiapan untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Sponsor beasiswaku memintaku untuk belajar bahasa Inggris di Lembaga Bahasa Internasional (LBI) UI di Salemba. Sebagai pengantin baru, aku meminta istriku untuk datang menyusul. Kami tinggal di Jalan Kramat Sentiong, tak jauh dari Salemba. Setiap minggu adalah petualangan menelusuri Jakarta, di sela-sela belajar bahasa. Baru beberapa hari di Jakarta, satu noktah kehidupan berdenyut di rahim istriku. Kini, ia mengajukan beberapa permintaan yang membuatku terdiam.

Di kampung kami, permintaan seorang istri saat hamil ibarat titah yang tak mungkin dilanggar. Melanggar permintaan itu adalah pantangan bagi kami. Di sebelah rumahku, ada seorang anak yang likurnya menetes terus. Kata ibuku, pernah ada masa ketika keinginan anak itu tak terpenuhi. Yakni masa ketika anak itu masih menjadi menjadi janin. Ayahnya tak bisa memenuhi keinginan anak itu melalui ibunya. Ayahnya juga tak punya alternatif untuk menggantikan keinginan itu dengan hal lain yang juga membahagiakan ibunya. Maka liur anak itu selalu menetes.

Entah, apakah ibuku benar dengan kisah itu. Yang pasti, diriku sejak dulu percaya bahwa permintaan istri saat ngidam wajib untuk dipenuhi. Barangkali, ini hanya mitos. Tak ada kaitan dengan nasib dan takdir seorang anak yang keinginan ibunya tak terpenuhi. Akan tetapi, mitos itu telah menghamparkan satu nilai penting dalam kebudayaan kami bahwa seorang suami mesti melayani, mengasihi, dan memenuhi harapan-harapan istrinya agar bunga-bunga kebahagiaan tetap bersemi dan janin akan selalu sehat di dalam tubuh seorang ibu yang senantiasa gembira.

Bagaimanakah mempertemukan istriku dengan Dewi Lestari?

Pada saat itu, kami belum lama ke Jakarta. Dkarenakan terpilih sebagai salah satu penerima beasiswa internasional, aku harus tinggal di Jakarta selama enam bulan untuk memperdalam kemampuan bahasa. Aku belum hapal peta-peta jalan. Ketika istriku ingin bertemu Dewi, aku langsung mengiyakan. Aku paham bahwa Jakarta ibarat labirin yang bisa membuat orang-orang kehilangan arah. Namun, aku tak punya pilihan. Istriku harus bertemu Dewi.

Aku lalu melacak Dewi melalui dunia maya. Aku menyapanya di twitter. Kuikuti blognya. Kubaca dan kucatat semua agendanya. Suatu hari ia ikut menyapaku di twitter. Ia mengundangku untuk hadir di acara diskusi bukunya di Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang, dekat rumahnya. Ia akan menyempatkan waktu untuk ngobrol dan ngopi-ngopi. Langsung kucatat tanggal itu. Kubatalkan semua agenda apapun. Bagiku, memenuhi ngidam seorang istri lebih penting dari apapun. Ini akan menentukan masa depan anakku. Ini meyangkut kehidupan, serta masa depan.

Meskipun mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk menyewa taksi, kami tiba di satu mal di BSD, pada hari itu. Istriku bertemu dengan Dewi. Tak hanya diskusi, Dewi sempat menyanyi di hadapan pengunjung mal. Malah, kami juga sempat menyapa Keenan, putra Dewi yang saat itu masih balita. Istriku juga berfoto dengannya. Aku menyaksikan semuanya dengan riang.

Dua minggu setelah anakku lahir, aku berangkat ke luar negeri. Kami terpisah selama setahun. Saat anak kami berusia tiga bulan, istriku pertama kali membawanya ke toko buku demi membeli novel Supernova terbaru yang berjudul Partikel. Aku hanya bisa melihat fotonya. Senyum mereka adalah senyum –yang entah kenapa—selalu ajaib sebab bisa mengatasi masalah sebesar apapun yang kuhadapi.

***

HARI ini kutimang episode Supernova terbaru. Judulnya Gelombang. Aku sudah membacanya hingga separuh. Novel ini sukses membuatku begadang demi mengikuti perjalanan seorang anak muda bernama Alfa yang mewarisi kesaktian ala Batak kuno, serta kecerdasan seorang anak modern. Tak sabar untuk segera menuntaskan kisah dan petualangannya.

empat tahun silam, saat istriku bertemu Dewi Lestari

Untungnya, istriku tidak sedang ngidam. Aku malah khawatir kalau saat ngidam berikutnya, permintaannya akan direvisi. Boleh jadi ia tak ingin bertemu Dewi. Boleh jadi, ia ingin agar suaminya menulis kisah seperti Supernova. Jika ia menginginkan itu, pastilah aku akan kembali lama terdiam, sembari bertanya dalam hati hendak memulai dari mana.


Bogor, 18 Oktober 2014

Seno Gumira dan Sungai Kata-Kata




DI sebuah toko buku, saya menemukan buku terbaru karya sastrawan Seno Gumira Ajidarma berjudul Senja dan Cinta yang Berdarah. Buku ini cukup tebal yakni 821 halaman, kira-kira setebal kitab suci. Isinya adalah kumpulan cerita pendek yang ditulis Seno sejak tahun 1978 sampai tahun 2013. Saya terkagum-kagum. Seno ibarat sungai yang tak henti mengalirkan kata-kata. Ia punya vitalitas untuk terus menulis, dan secara produktif menghangatkan batin banyak orang dengan refleksi dan inspirasi, butiran pengalaman yang amat berharga sebagai bekal melayari samudera kehidupan.

Namun, saya tiba-tiba saja memikirkan sesuatu yang jauh lebih penting, dan hingga kini belum dilakukan Seno. Apakah gerangan?

Sebagai penulis, ia serba bisa. Ia bisa menulis berbagai topik dalam berbagai style kepenulisan. Ia bagus dalam menuis reportase, esai, cerita pendek, hingga novel. Saya mengoleksi banyak buku-bukunya. Melihat dan mengenang buku-bukunya, saya merasa bahwa dirinya telah mendaki banyak puncak dalam jagad kepenulisan tanah air. Hampir tak ada lagi gunung kepenulisan yang harus ditaklukannya. Ia menggapai semua puncak.

Hanya saja, ia belum mewariskan satu proyek besar yang kemudian jadi pelajaran besar bagi seluruh anak bangsa. Ia memang penulis, tapi apa yang dihasilkannya masih berupa refleksi atau catatan kaki dari segaa dinamika sosial, tanpa ada ikhtiar untuk menunjukkan satu arah yang tegas agar anak bangsa tidak tertatih-tatih. Ini yang membedakannya dengan sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang menuliskan karya-karya seperti tetralogi Pulau Butu, Arus Balik, Arok Dedes, dan Hoakiau di Indonesia.

Pramoedya telah mewariskan satu karya besar yang diharapkan bisa meluruskan sejarah tanah air. Ia membidik masa-masa kebangkitan, sebuah masa ketika negara dan bangsa masih berupa embrio. Dalam proses yang kritis itu, ada banyak sejarah dan peristiwa yang dibelokkan demi menopang ideologi yang kemudian ditegakkan masing-masing kekuatan. Pramoedya telah memberi sentuhan napas, sukma, serta kekuatan, sehingga sejarah kita menjadi lebih menukik ke bumi, lebih manusiawi sebab dialami dan dirrasakan manusia biasa, lebih bertenaga.

Saya berharap Seno melahirkan karya-karya yang lebih serius dan merangkum visi kuat bagi arah gerak bangsa ini. Jika diibaratkan seorang pendekar tanpa tanding, ia telah melalui semua pertarungan, dan saatnya mewariskan satu kitab yang kemudian menginspirasi banyak orang bahwa ada banyak hal menarik dan penting, namun terabaikan oleh deru waktu yang bergerak tanpa henti.

Saya tak berharap ia menyamai Pramoedya dengan karya besar tetralogi Pulau Buru. Setiap orang melalui dan menjalani takdir kepenulisan yang berbeda. Namun tugas besar para penulis adalah menggelitik kesadaran banyak orang bahwa ada banyak hal substansial yang selama ini terabaikan atau malah terselewengkan oleh sejarah. Para penulis membawa suara moral, suara yang bergema di dalam lorong-lorong kesadaran semua orang tentang nilai-nilai kebajikan, arah pengetahuan, serta gema kebijaksanaan yang seharusnya menjadi mercu-suar bagi bangsa ini.

Itulah harapan yang hendak saya bisikkan pada Seno di banyak saat, khususnya saat bangun pagi, di kala mengamati embun yang bening, serta langit yang sedemikian cerah.


Bogor, 13 Oktober 2014

Kisah Pemenang, Kisah Perawat Kehidupan



LELAKI itu bernama Derek Redmon. Di arena Olimpiade, namanya harum semerbak, padahal, ia bukanlah seorang juara yang memenangkan medali. Di ajang Olimpiade Barcelona, tahun 1992, ia mengikuti lomba lari 100 meter. Sungguh malang, kakinya robek sehingga kesakitan dan tak mampu berlari. Tapi ia tetap ngotot untuk berlari, meskipun dengan risiko menahan segala rasa sakit.

Bahkan ia juga mengabaikan saran pelatih, yang merupakan ayahnya sendiri, untuk keluar arena. Baginya, sekali bertanding, ia harus mencapai garis finish. Hasil akhir tak penting. Yang penting adalah menyelesaikan pertandingan, mengakui kekalahan itu dengan jujur, lalu mengapresiasi pemenang. Ia memang kalah. Tapi seluruh publik di stadion yang menyaksikan pertandingan itu serentak berdiri dan memberikan standing applause.

Ia memang tak juara, tapi ia telah menunjukkan karakter juara, yakni mereka yang berusaha menggapai garis akhir, lalu mengucapkan selamat kepada pemenangnya. Para juara adalah mereka yang mengakui kekalahan lalu menyerap semangat itu di setiap ladang kehidupan.

Kisah Derek Redmon ini saya temukan dalam buku bagus bertajuk Self Driving, Menjadi Driver atau Passenger yang ditulis Prof Rhenald Kasali. Buku ini ditulis seorang profesor manajemen, namun kalimat-kalimat dalam buku justru amat sederhana dan memikat. Penulisnya tidak sedang membahas konsep-konsep dan teori yang sering memusingkan kepala serta berarak dengan realitas. Ia justru membumikan pengetahuannya dengan mengambil contoh dari kejadian-kejadian sederhana di sekitar.

Rhenald Kasali percaya bahwa jika kehidupan adalah arena di mana setiap orang menumbuhkan karakter, maka selalu saja ada karakter pemenang dan karakter pecundang. Mereka yang pecundang adalah mereka yang mudah mengeluh, suka menghambat dan menyalahkan orang lain, lalu memelihara dendam kesumat. Sementara mereka yang menang adalah mereka yang selalu menginspirasi, menentukan arah, dan menggerakkan orang lain.

Rhenald berkisah tentang mereka yang kerap dikalahkan oleh situasi. Misalnya kisah tentang seorang alumnus program pasca-sarjana Universitas Indonesia (UI) yang ingin bunuh diri karena gagal mendapatkan pekerjaan. Ketimbang menyalahkan pemuda itu, Rhenald justru problemnya terletak pada ketidakmampuan untuk mengenali celah-celah peluang yang bisa melejitkan keunggulan. Pendidikan kita gagal mengarahkan seseorang untuk menemukan potensi seseorang untuk kemudian dilejitkan sebagai kekuatan. Pendidikan kita hanya fokus pada bagaimana seseorang menjadi sukses, yang tolok ukurnya adalah kekayaan semata.

Pendidikan kita tak banyak menyemai karakter pemenang dalam jiwa anak-anak. Mereka yang menang bukanlah mereka yang juara, melainkan mereka yang mengakui kekalahan, namun memiliki ketabahan dan determinasi untuk terus belajar dari setiap kekalahan itu. Mereka yang menang tak mudah berhenti dan menyalahkan orang lain. Para pemenang memiliki karakter kuat untuk terus maju demi menggapai visi kuat yang ditanamkan sejak awal.

Saya amat menikmati kisah tentang mereka berkarakter kuat dalam buku ini. Mulai dari Theodore Roosevelt yang sakit-sakitan di masa kecil, namun justru mengasah dirinya hingga jadi presiden hebat dalam sejarah Amerika. Kisah tentang manusia bervisi kuat dan berkarakter pemenang yakni Soekarno, Ahmad Dahlan, Sam Ratulangie, ataupun Gus Dur yang kemudian mengubah sejarah bangsa. Saya juga terharu membaca cerita tentang Sugeng, si pembuat kaki palsu, serta Sano Ami yang tak memiliki tangan dan kaki, namun sukses menjadi orang hebat.

Buku ini membuka mata saya untuk lebih jernih melihat banyak hal menarik di sekitar. Sejatinya, karakter kuat bisa ditanamkan dan diasah melalui berbagai refleksi dan pelatihan. Makanya, buku ini harus dilihat sebagai kritik diri yang sangat bagus agar seseorang memahami posisi berpijaknya, serta tahu apa yang harus dilakukan untuk mengubah dirinya menjadi seorang pemenang.

Namun, semuanya berpulang kepada individu. Sebab pengalaman mengajarkan saya bahwa seringkali orang-orang merasa lebih nyaman berada di comfort zone. Tak banyak orang yang mau berjibaku untuk memasuki ruang sosial baru, beradaptasi, dan membuat prestasi. Ketika seseorang merasa cukup dan nyaman, maka jangan berharap akan ada perubahan. Yang dipikirkan hanyalah kenyamanan dan bagaimana menjaga status quo.

Terakhir, saya juga belajar bahwa segala fasilitas dan kemudahan yang dberikan orang tua tidak selalu menjadi faktor yang akan memenangkan seseorang di lapangan kehidupan. Justru melalui segala tantangan, rintangan, serta masalah, seseorang bisa menempa dirinya menjadi lebih kuat. Barangkali, yang lebih penting adalah orangtua harus menyediakan waktu yang cukup bagi anaknya, menemani pertumbuhan tunas-tunas karakternya, lalu memberikan pemahaman tentang kehidupan melalui hal-hal sederhana.

Jika saja kehidupan ini serupa ladang, maka para pemenang adalah mereka yang menumbuhkan potensinya, mencari cara agar lingkungannya selalu hijau lestari, serta selalu meletakkan kebahagiaan diri pada kebahagiaan orang lain. Inilah karakternya para pemenang sejati.


Bogor, 10 Oktober 2014

Sensasi Jadi Headline (24)


SELAMA dua bulan ini, beberapa tulisanku menjadi HL di Kompasiana. Tanpa banyak komentar, inilah tulisan-tulisan itu.

 Saat Warga Kupang Anti-McDonald

 Rahasia di Balik Tulisan Juara

 Mereka yang Susah Air di Atas Air

 Taroan Cerdik Partai Golkar

 Kisah Pemenang, Kisah Perawat Kehidupan

Tiga Hari Ajaib di Kota Kupang


senja di Kupang

TIGA hari di Kupang memberikan banyak pencerahan. Saya diundang ke sana untuk memberikan pelatihan tentang cara-cara mudah menulis dan berekspresi di blog.  Warga biasa yang hadir terkesima menyaksikan begitu luasnya rimba raya kepenulisan yang bisa dijelajahi. Namun ketika warga mulai menulis, giliran saya yang terkesima. Sungguh, saya amat ingin seperti mereka.

***

PEREMPUAN itu menyaksikan materi dengan penuh keseriusan. Sebut saja namanya Etha. Ia mencatat segala hal menarik tentang blog, bagaimana memulai kegiatan menulis, serta bagaimana menggali ide-ide dalam menulis. Ketika saya tanya mengapa tertarik pada dunia blog, jawabannya mengejutkan. “Saya ingin mengubah dunia melalui tulisan. Saya ingin menginspirasi orang lain untuk bergerak,” katanya.

Semangatnya mengingatkan saya pada pemuda Mesir bernama Whael Ghonim. Siapa sangka, postingan Ghonim di blog pribadinya bisa menggerakkan ribuan orang Mesir ke jalan-jalan, lalu menyemut di Tahrir Square, lalu menumbangkan rezim otoriter.

Tapi perempuan yang amat tertarik pada dunia penulisan blog ini tidak berumah di Mesir. Ia warga Flores yang punya imajinasi dan daya ledak dalam setiap baris harapannya. Ia ingin menggemakan isu-isu sosial di daerahnya hingga mengubah kebijakan. Ia seorang pejuang kehidupan yang melihat kegiatan menulis sebagai senjata perubahan.

Perempuan ini mengaku belum pernah mengikuti pelatihan menulis. Hari-harinya adalah sebagai aktivis gender dan pemberdayaan masyarakat. Saya membatin, jika seandainya ia menuliskan pengalamannya, pastilah akan lahir catatan yang dahsyat tentang dunia perempuan di Flores. Pastilah, ia bisa menghadirkan gagasan yang jauh lebih brilian dari para profesor bidang gender yang hanya bisa menghafal buku-buku teori berbahasa asing, lalu mengira semua kenyataan seperti yang ada di buku itu.

Di acara pelatihan menulis yang diadakan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (Bakti), saya juga bertemu seorang bapak yang menjadi pegawai negeri di perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Usianya tidak muda lagi. Tapi vitalitas dan semangatnya bikin saya merinding. Ia ingin sekali memperdalam pengalaman menulisnya. Ia terinspirasi pada sastrawan Ernest Hemingway yang pertama menulis pada usia 40 tahun, lalu menjadi legenda dunia. Ia ingin berkisah banyak tentang hari-harinya sebagai warga perbatasan, pengalaman melihat batasan politik dua negara, serta dinamika manusia di dalamnya. Sebagaimana Etha, bapak ini membuat saya terkesima.

Tanah Kupang menautkan saya dan mereka. Menjadi trainer satu pelatihan menulis blog telah mempertemukan saya dengan banyak karakter hebat. Sejak dulu saya berpandangan bahwa setiap orang punya pengalaman dan kisah hebat untuk dituliskan. Hanya saja, tak semua orang mengenali peta jalan dunia menulis. Tak semua orang tahu bagaimana menorehkan jejak kaki di dunia kepenulisan, lalu mengasah kemampuan membidik masalah secara lebih terarah.

seusai pelatihan menulis blog

Maka, pelatihan menulis seyogyanya menjadi arena untuk menemukan potensi diri, lalu menyalakannya sebagai lilin yang bisa menghadirkan cahaya terang untuk mengusir kegelapan dan ketakutan untuk memulai. Pelatihan menulis harusnya lebih partisipatif, berpangkal pada keunikan setiap orang, serta menjadi kanal-kanal untuk mengalirkan energi dan jati diri melalui tulisan. Bukankah setiap orang itu unik?

Sebagai trainer menulis, saya tak ingin mengajarkan mereka berbagai teori-teori menulis yang amat kaku, namun anehnya masih dipelajari di kampus-kampus. Saya juga tak ingin mengarahkan mereka dengan berbagai teknik menulis berita ala para jurnalis. Gaya menulis seperti itu biarlah menjadi dunianya para jurnalis dan pewarta.

Sementara dunia menulis blog justru memiliki karakteristik sendiri yang berbeda dengan menulis akademik ataupun jurnalis. Dunia menulis blog menekankan pada kreativitas, imajinasi, serta kebebasan berekspresi untuk menemukan style dan gaya sendiri dalam menulis. Mengapa? Sebab blog ibarat dunia yang diciptakan, dipenuhi rerimbunan semak belukar dan pelangi serta warna-warna yang menggambarkan pembuatnya. Tulisan di dalamnya ibarat etalase yang menghadirkan pengalaman, baik itu menggembirakan maupun menyedihkan, yang bisa dikemas secara bebas dan mengikuti aliran jiwa pemilik blog.

Bukan berarti saya anti-teori menulis. Teori memang penting. Namun yang jauh lebih penting adalah kemampuan menggali dan mengalirkan segala perasaan, pikiran, serta kegelisahan menjadi baris-baris kalimat yang merangkum energi sang pengarang. Nah, saya memandang bahwa setiap orang ibarat tangki air yang penuh dengan pengalaman, hasrat, imajinasi, hikmah dan pembelajaran.

Menulis adalah cara untuk mengalirkan semua hikmah-hikmah itu sehingga bisa menggerakkan orang lain, menginspirasi, sekaligus menghadirkan kupu-kuu harapan tentang dunia yang lebih baik. Mereka yang menulis adalah mereka yang meniti di garis harapan itu demi kehidupan yang lebih baik, demi memperkaya zaman dengan kebaikan dan pembelajaran.

***

TIGA hari di Kupang adalah tiga hari yang penuh keajaiban. Sungguh membahagiakan bisa menemui semangat dan keinginan besar untuk merambah dunia kepenulisan. Sungguh menyenangkan bisa berbagi ilmu, sekaligus belajar lagi pada semua orang yang penuh kisah-kisah menarik dan mndebarkan. Di akhir pelatihan itu, saya sadar bahwa sesungguhnya sayalah yang belajar banyak dari mereka. Sayalah yang telah menyerap hasrat kuat itu.

Beberapa hari ini, ketika membaca tulisan dan sapaan mereka melalui email, saya mengucap syukur yang tak henti sebab diberi kesempatan untuk merasakan energi menulis yang sedemikian besar. Sungguh bahagia bisa ikut mengalir bersama energi dan idealisme mereka. Sungguh menyenangkan bisa bersama menuju sungai kehidupan yang amat luas, bertemu sesama pencari inspirasi, serta berguru pada mereka yang terus belajar dan mengasah diri.


Bogor, 8 Oktober 2014

Tarian Cantik Partai Beringin



JIKA definisi klasik politik adalah siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana, maka dari semua partai di parlemen, hanya Partai Golkar yang justru bermain paling cantik. Jika partai lain memasuki gelanggang politik dengan dendam kesumat, maka Golkar justru tenang-tenang saja. Setelah mendapat posisi Ketua DPR, diperkirakan akan jadi salah satu unsur pimpinan MPR, lalu merebut jatah kursi menteri, hingga akhirnya berbalik haluan politik. Hah?

***

DI gedung parlemen yang berkubah hijau itu, saya bertemu sahabat itu. Ia kini bukan lagi sahabat yang dahulu sama-sama menjelajah ke sudut-sudut kampus dalam keadaan kere. Kini ia bersalin rupa menjadi anggota DPR RI. Saat bertemu, saya bisa merasakan aroma parfum mahal yang wangi di tubuhnya. Sungguh beda dengan beberapa tahun silam, ketika bau keringat memancar dari tubuhnya yang berpeluh.

Ia datang bersama beberapa staf ahli. Kami menyeruput cokelat panas sembari bercerita tentang situasi politik. Ia memperlihatkan pesan yang dikirimkan Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie yang mengundang rapat demi membahas komposisi pimpinan MPR. Terhadap undangan itu, ia hanya berujar singkat, “Arena itu mudah ditebak. Pasti milik Koalisi Merah Putih (KMP). Bisa jadi, Demokrat mendapat jatah ketua,” katanya singkat.

Hari itu, ia tak tertarik membahas dinamika siapa yang menang-kalah. Ia menjelaskan tentang langkah-langkah Golkar yang cukup strategis ketimbang partai lainnya. Penjelasannya menarik. Partai Burung dan Partai Banteng sama-sama memasuki arena parlemen dengan dendam kesumat. Mereka berpikir bahwa mereka adalah pengatur ritme atas tarian politik yang lain. Keduanya justru tak melihat kemungkinan betapa lincahnya tarian partai-partai lain di antara keduanya.

Sesat pikir yang melanda Partai Burung dan Partai Banteng adalah sama-sama menganggap arena ini dikendalikan oleh mereka. Padahal, partai lain tengah mengintip posisi dan membidik kue jabatan dan kuasa tertentu. Memang, ada Partai Demokrat yang memosisikan dirinya sebagai penengah, meskipun ujung-ujungnya jadi penopang koalisi pimpinan partai burung. Akan tetapi, posisi seperti itu justru melahirkan ketidakpercayaan. Posisinya menjadi tanggung. Di satu sisi mengklaim sebagai penyeimbang, namun langkah-langkah politiknya sudah bisa dibaca sejak awal.

Sementara Golkar justru bermain lebih cantik. Partai itu sukses memaksimalkan dukungan koalisinya demi menaikkan kadernya menjadi Ketua DPR RI. Tak hanya itu, partai itu juga sukses menaikkan satu kadernya sebagai bagian dari unsur pimpinan MPR.

“Dalam waktu dekat, akan ada kejutan besar dimainkan partai ini. Kejutan itu adalah ketika memilih berbalik haluan dan mendukung pemerintahan. Isunya sudah sangat kencang, tapi semua bisa menahan diri dan menunggu waktu yang tepat,” katanya.

Pernyataan sahabat ini memang menarik untuk dianalisis. Ia menginginkan transisi yang mulus. Sebagaimana dicatat sejarawan David Reeve, Partai Golkar adalah partai yang sanggup beradaptasi pada berbagai situasi. Tadinya, Golkar memberi stempel pada semua kebijakan Soeharto, namun pada saat reformasi, partai ini justru sukses berbalik arah. Tanpa sedikit pun rasa bersalah atas praktik politik Orde Baru, partai ini sukses memenangkan wacana sehingga selalu menempati posisi penting.

Di tahun 1998, partai ini bisa berbalik dengan cepat, lalu mendukung slogan “paradigma baru”. Tokoh militer tersingkir, lalu sejumlah pengusaha mengambil alih pimpinan. Biasanya, karakter para pengusaha lebih fleksibel dalam membaca zaman, mengubah posisi, lalu menyatakan dukungan pada tokoh lain. Politik yang dimainkan Golkar adalah memaksimalkan semua peluang menjadi keuntungan buat partai.

Barangkali, satu-satunya kekalahan telak partai ini adalah ketika gagal mendorong maju Aburizal Bakrie ke arena pemilihan presiden. Bahkan, untuk posisi wakil sekalipun, Aburizal tak berpeluang. Maka yang bisa dilakukan saat itu hanyalah mendukung Koalisi Merah Putih yang mencalonkan Prabowo Subianto. Namun, apakah Golkar akan tetap bersama koalisi itu, bahkan ketika kapal koalisi itu karam? Nampaknya tidak. Sejarah mengajarkan bahwa Golkar bisa dengan mudah berbalik arah mengikuti tarian rezim mana pun.

Keliru besar jika Prabowo mengklaim bisa mengendalikan situasi internal Partai Beringin. Dinamika internal dan konflik beragam kelompok tak mungkin bisa dipadamkan dengan mengangkat retorika nasionalisme ala Prabowo. Jika ia merasa sanggup, maka ia tidak mungkin harus tersingkir dari partai itu. Saat ini, faksi-faksi di partai itu mulai bergerak. Namun semua faksi itu sama-sama berpikir untuk memaksimalkan dulu keberadaan kapal koalisi merah putih, sebelum meninggalkannya secara hormat. Inilah politik.

Revolusi Senyap

Beberapa sumber di internal Golkar bercerita tentang revolusi senyap yang tengah terjadi. Fenomena ini juga tengah melanda partai berlambang ka’bah. Bedanya, semua dinamika dan pertentangan di partai Ka’bah dengan mudah disaksikan dan dibaca oleh publik. Sementara Golkar justru tertutup. Dinamikanya hanya dirasakan para pengurus inti serta beberapa pengurus yang sejak dulu terbiasa bermain politik.

Di hajatan politik pemilihan ketua DPR dan MPR, Golkar bisa menaikkan kader. Berikutnya, partai ini bersiap-siap menaikkan kadernya di posisi menteri. Lobi-lobi politik dan deal-deal telah dibangun melalui perantaraan beberapa faksi yang dekat dengan Jusuf Kalla. Sebagai mantan ketua umum, Jusuf Kalla nampak tenang menghadapi dinamika politik. Namun jangan kira ia benar-benar diam. Ia punya banyak kartu politik yang masih bisa dimainkan.

“Golkar menunggu saat yang tepat. Ibarat rumah, Golkar ingin mengisi rumah dengan perabot, setelah itu baru mengundang tamu besar untuk masuk dan berteduh,” kata teman tersebut.

Pernyataan ini senada dengan Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Y Thohari mengatakan, secara teoritis sebuah koalisi politik akan bertahan dan permanen jika ada kekuasaan yang dibagi bersama secara adil (power political sharing) dalam sepanjang periode waktu. KMP memang memegang kekuasaan, tetapi sangat terbatas, yaitu kekuasaan di legislatif. Dan kekuasaan ini tidak berusia panjang.

Bagi mereka yang kerap wara-wiri di Senayan, tentunya paham bahwa Golkar sedang membangun bargaining untuk posisi menteri. Dengan posisi sebagai pemenang kedua pemilu, partai ini bisa lebih leluasa untuk mengarahkan biduk dukungan.

Melihat dinamika politik yang ada, maka Golkar akan sukses menggapai banyak kursi berkat kemampuannya berakrobat, yang disusul Demokrat dan PPP. Sementara PDIP yang justru memenangkan Pemilu justru tak banyak mendapatkan apa-apa, selain dari posisi presiden. Yang parah adalah Gerindra bersama satu atau dua anggota koalisinya. “Yang pasti, gelombang pragmatisme pasti akan menggerus bangunan oposisionalisme yang fondasinya tidak kuat itu. Saya tahu betul pragmatisme sebagian besar jajaran pimpinan DPR itu,” kata Tohari

Yah, inilah politik kita. Politik kita hari ini masih jalan di tempat. Politik kita belum bisa menjadi api terang yang menerangi seluruh warga. Politik kita masih berisikan kontestasi dari beberapa kekuatan demi meraih jatah dan kue kekuasaan. Semoga saja presiden terpilih bisa membawa cahaya terang itu.


Sekuntum Sapa yang Mendebarkan


ilustrasi

SEBULAN sudah, saya bersama keluarga menempati rumah kecil di persimpangan antara Cikeas, Hambalang, dan Sentul. Namun jangan bayangkan saya tinggal di tiga kompleks itu. Saya tinggal di tengah-tengahnya, tepat pada perkampungan kecil warga desa yang secara perlahan kian terjepit oleh pemukiman mewah. 

Sungguh, saya cukup menikmati suasana perkampungan ini. Rumah-rumah berjajar tak rapi di kelilingi rerimbunan pohon yang daunnya menutupi pemukiman warga dari sengatan matahari. Di siang hari, pemukiman ini amat teduh, namun dingin mudah menyergap di malam hari. Saya menyukai sungai kecil yang airnya mengalir deras di dekat rumah. Hanya saja, ketika melintas di jalan kecil di atasnya, saya sering merasa khawatir kalau-kalau terpeleset ke sungai deras itu.

Orang-orang menyebut pemukiman ini sebagai Kampung Cijulang. Tapi, alamat rumah tertera Desa Cadasngampar. Kadang aneh saja sebab desa ini berhimpitan dengan kota Bogor. Untuk menuju pusat Kota Bogor, saya hanya menempuh perjalanan sekitar 30 menit dengan angkutan umum. Penduduknya saling mengenal. Saya mulai akrab dengan ibu-ibu penjaga warung, bapak pedagang asongan di samping rumah, serta keluarga yang bekerja sebagai peternak di ujung jalan sana. Semua saling mengenal.

Mulanya, saya kesulitan berkomunikasi. Semua orang berbahasa Sunda. Secara perlahan, saya belajar percakapan sederhana dalam bahasa Sunda. Saya bisa memahami beberapa kalimat. Tapi masih sulit melafalkannya. Lidah Sulawesi saya terlampau sulit untuk mengatur ritme pembicaraan menjadi lebih halus, sebagaimana warga Bogor. Saya terbiasa berbicara dengan gaya bicara seorang nelayan yang hendak mengalahkan bunyi ombak. Terdengar setengah berteriak. Yah, ini bawaan kultur yang membesarkan dan menyapih saya sebagai noktah kecil di tengah masyarakat.

Di sini memang perkampungan. Ketika berkendara dengan sepeda motor dan mengelilingi kampung, saya menemukan fakta mengejutkan. Ternyata, kampung kecil ini justru tengah terkepung oleh kompleks-kompleks mewah yang menjadi rumah peristirahatan lapis-lapis kaya di Jakarta sana. Saya melihat plang Cikeas, Hambalang, dan juga Sentul. Wajarlah, kampung ini tak jauh dari jalan tol, yang serupa portal untuk menembus Jakarta.

Saat melintas di jalanan dekat pemukiman mewah itu, saya merasakan dua sisi yang kontras. Jalan di perkampungan warga desa amat sempit, serta rusak parah. Jalan itu hanya bisa dilalui satu kendaraan. Itupun mesti hati-hati sebab kondisi jalan penuh dengan lubang-lubang. Sungguh amat beda dengan jalanan mulus di Sentul yang bisa dilalui delapan mobil yang bersisian. Padahal, tak banyak yang lalu lalang di jalanan itu. Palingan hanya mobil-mobil mewah.

Sementara jalan sempit di kampung ini justru dilalui berbagai moda transportasi serta manusia dari berbagai profesi. Mulai dari angkot, ojek, sepeda, pedagang asongan, petani yang membawa cangkul, peternak yang membawa rumput, hingga pengendara yang memenuhi motornya dengan kerupuk yang akan disimpan di banyak warung. Harusnya, jalan kampung ini yang dibenahi sebab dilalui banyak orang dari berbagai profesi. Mengapa jalan kami tak juga diperbaiki?

Saya menduga, jalanan di kampung kami sengaja tidak diperbaiki agar penghuninya tidak betah, lalu menjual tanahnya pada pengusaha kaya. Melihat fisik kampung yang kian mengecil, saya mengkhawatirkan punahnya perkampungan ini dalam waktu yang tak seberapa lama. Uang dan materi bisa menjadi nabi baru yang sanggup mengubah iman warga desa untuk segera menyingkir. Para pekebun yang lahannya kian menyempit itu kerap tergoda untuk menjual tanahnya demi mencapai standar hidup sebagaimana warga di rumah-rumah mewah itu.

Ketika desa perlahan menjadi kota, saya mulai khawatir pada banyak hal. Saya mulai takut akan hilangnya ikatan kekerabatan dan persaudaraan warga kampung. Saya ngeri membayangkan perkampungan ini menjadi jeruji yang membuat warganya tak saling kenal. Saya tak ingin melihat tembok-tembok besar dibangun di antara rumah tetangga, sebagaimana dengan mudahnya disaksikan di perumahan mewah sana.

Saya takut pada hilangnya rasa saling mengenal dengan tetangga. Yup, saya sungguh mengkhawatirkan itu. Saya tak ingin kehilangan senyum manis gadis-gadis molek sebelah rumah yang sapaannya bikin saya merinding. Para mojang Bogor ini memang jelita sebagaimana artis-artis sinetron. Sayang, kata seorang kawan, sapaan gadis-gadis itu terdengar agak genit. Tapi saya justru suka. Saya kerap berdebar-debar saat disapa, “Akang ganteng, singgah ke sini yuk. Minum teh dan ngobrol sama Eneng...”
 

Bogor, 7 Oktober 2014

Mereka yang Saling Menyingkirkan



DI Jakarta, orang-orang sedang mengasah pedang. Mereka saling menebas dan menyingkirkan satu sama lain. Mereka mengklaim bahwa apa yang dilakukannya adalah demi rakyat banyak, demi sesuap nasi bagi jutaan rakyat Indonesia yang sedang kelaparan. Tapi yang kulihat di sana adalah pertarungan demi gengsi yang pernah terkoyak oleh sebuah kekalahan. Duel mereka adalah duel berbalut dendam, setelah saling tebar fitnah di arena sebelumnya.

Lantas, di manakah posisi rakyat di tengah duel ini? Rakyat is nothing. Mereka hanya disebut saat kampanye. Keluguan mereka adalah alasan kuat untuk selalu dibawa-bawa dalam duel yang saling menyingkirkan itu. Rakyat hanyalah sasaran empuk yang dilempari isu, dijejali berbagai isu tentang kondisi terbaru, dijadikan suporter setia untuk bersorak, setelah itu saling tebas dengan mereka yang berbeda pendapat.

“Mereka semua bangsat!” kata Robert seorang aktivis yang kutemui di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), kemarin. Ia mengepalkan tinju kala melihat apa yang sedang terjadi di parlemen sana. Kali ini, ia tak tahu dengan cara apa hendak menyampaikan aspirasinya. Ruang-ruang parlemen itu terlampau jauh dan kembali menjadi tembok tebal bagi rakyat kecil sebagaimana dirinya.

Politik kita adalah sebuah arena kontestasi di mana seribu karakter dipertontonkan. Politik kita laksana lakon Mahabharata yang menampilkan duel dan adu strategi dua kekuatan besar. Di balik lakon itu, ada sosok-sosok yang sedang mencari rente untuk sembari terkekeh melihat yang lain menjadi buntung, ada sejumlah sosok yang sedang memanen keuntungan dari parade yang sedemikian memuakkan di mata publik itu.

Dan kita hanya bisa menonton sembari menggeram karena tak tahu harus berbuat apa. Kita sama-sama terdiam, kehilangan kata, lalu menarik napas sembari mengurut dada, lalu memilih untuk tidur dengan harapan agar saat bangun nantinya, smeua ingatan tentang duel itu segera lenyap. Kita hanya berjuang agar ingatan itu lenyap tak berbekas, lalu kita kembali menjadi warga biasa, membiarkan mereka yang katanya mewakili kita itu berkelahi dan saling balas dendam.

Sayang, ingatan itu tak juga lenyap. Dan kita dipaksa untuk kembali menanti-nanti seperti apakah lakon selanjutnya.


Bogor, 2 Oktober 2014

Terpopuler Bulan Ini

...

...