Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Catatan Saat Menunggu di Bandara



Teman terbaik saat sedang menunggu adalah buku.

Sebab buku ibarat pendongeng yang akan mengisahkan banyak karakter serta mengajakmu ke lokasi dan dunia yang belum tentu pernah kamu bayangkan.

Sebab buku serupa sahabat yang menunjukkan betapa banyaknya hal yang belum kamu ketahui, serta membawamu ke banyak titik yang rasanya mustahil untuk kamu telusuri dalam rentang usia terbatas.

Sebab buku adalah kawan dialog yang sabar menatap wajah ketidaktahuanmu, serta ikut merasakan aura bahagia di matamu saat menemukan setitik jawaban yang lama kamu cari.

Sebab buku adalah guru yang menunjukkan betapa samudera pengetahuan amat luas, tak bertepi, dan kamu hanya sanggup untuk menelusuri tepian dan pesisir pantainya.

Sebab buku adalah hakim yang menghardik ketidaktahuanmu serta sikap pongah dalam diri yang sering merasa paling benar dari siapapun.

Sebab buku adalah kekasih yang sabar menemanimu bertamasya ke gunung kata-kata lalu melesat ke dunia imajinasi yang romantis dan membuatmu tak ingin kembali.

Sebab buku adalah ibu yang merawat pengetahuan, menyuapimu dengan informasi, mengajarkan hal baru, serta membisikkan inspirasi yang kelak akan membantumu melahirkan banyak keajaiban, kekuatan, dan pengetahuan yang membebaskan.

Senarai Kisah Soeharto




BUKU kuning itu teronggok di toko buku ketika saya melihatnya di satu sore. Saya melihat wajah Soeharto, sosok yang dahulu selalu muncul di layar kaca TVRI ketika saya masih belia. 

Dulu, hanya ada satu saluran informasi yakni TVRI. Di situ, hampir setiap hari Soeharto muncul. Saya sering kesal karena penayangan Aneka Ria Safari tiba-tiba dijeda oleh liputan khusus ketika Soeharto memancing, terus berhasil menangkap ikan besar.

Soeharto adalah bagian dari masa kecil saya. Pada masa itu, tidak banyak yang tahu bahwa di balik senyum yang tampil di acara Dari Desa ke Desa, ada banyak cerita horor. Telah banyak catatan, kesaksian, dan buku sejarah yang mengurai apa saja yang terjadi pada masa pemerintahannya.

Buku yang diolah dari liputan Tempo ini menggedor banyak ingatan. Beberapa orang di media sosial mulai memuji-muji tokoh ini. Dia kembali dielu-elukan. Dia kembali jadi pahlawan. Orang-orang lupa dengan semua warisannya. Berbagai riset dan buku dicampakkan begitu saja. 

Seorang sejarawan pernah bilang bahwa ingatan orang Indonesia itu pendek. Ingatan kita dikendalikan oleh siapa yang memenangkan wacana dan paling ngotot memposting sesuatu, meskipun ngawur. Kita adalah tipe kerumunan domba yang bergerak karena dituntun ke satu titik. 

Di era media sosial, banyak di antara kita yang dikendalikan para produsen informasi. Di era ini, sekeping informasi di Whatsapp dianggap lebih valid ketimbang riset-riset sejarah yang bertebaran. Jangan berharap ada diskusi yang sehat. Jangan berharap ada pencerahan karena berbagai fakta diurai dan didiskusikan. 

Dalam buku The Death of Expertise, Tom Nichols telah membahas tentang kematian para ahli di era milenial ini. Banyak orang yang lebih suka bertahan dalam ketidaktahuannya, tanpa mau mendengar mereka yang benar-benar ahli dan menghabiskan hidupnya untuk mendalami satu topik. Para ahli ditinggalkan. Suara keilmuan dibuang jauh-jauh, hanya karena dianggap berbeda dengan sesuatu yang diyakini benar.

Anda ingin membela Soeharto? Silakan. Tapi jangan tutup pikiran Anda dari membaca banyak buku dan publikasi tentangnya. Jangan serahkan diri dan nalar pada sejumlah postingan media sosial yang hanya separagraf dan dua paragraf. Temukan informasi yang utuh, laporan investigasi, dan berbagai lembar-lembar kerja sejarah yang berkisah tentang zaman itu.

Buku ini adalah adalah satu tiket untuk perjalanan mengurai lapis ingatan satu masa. Seusai membacanya, saya tiba-tiba saja berpikir bahwa dia belum benar-benar pergi. Ada begitu banyak warisannya yang dengan mudah disaksikan di sekitar kita. Dia masih di sini, setidaknya di kepala orang dekat dan mereka yang menikmati kekayaannya.

Tugas terberat kita adalah tetap mengumpulkan banyak apapun ingatan tentang dirinya, baik ataupun buruk, agar bangsa ini tidak selalu jatuh pada kecelakaan sejarah yang sama. Dengan membaca, kita tetap menjaga kewarasan dan kesehatan nalar. Selamat membaca.



Inspirasi di Balik Satu Dollar



MULAI berpikir untuk menukar beberapa dollar yang saya simpan. Selain yang dipegang, ada juga yang disimpan di bank (ciee...). Saat mengecek lembaran dollar, saya tertarik melihat uang satu dollar. Di situ ada gambar George Washington, bapak pendiri Amerika Serikat.

Saya teringat Victor Sherrick, seorang teman warga Amerika. Katanya, pendiri negara sekaligus pahlawan terbesar dalam sejarah Amerika itu sengaja ditempatkan di uang satu dollar. Sebab, Amerika Serikat dibangun dari setiap satu dollar. Penghargaan tertinggi bagi pendiri negara adalah dengan menjadikannya fondasi bagi negeri.

Masih kata Victor, uang satu dollar adalah uang yang paling banyak dipakai transaksi sebab nilainya kecil. Dengan menempatkan Washington di uang satu dollar, maka dia menjadi pihak yang paling sering dilihat masyarakat yang setiap saat bertransaksi. Dengan cara itu dia diabadikan dan selalu dikenang.

Satu dollar juga simbol dari hal-hal kecil yang merupakan buah dari kerja keras rakyat jelata. Negeri itu akan mengingat fundasinya sehingga selalu bangkit dari berbagai terjangan krisis. Pada tahun 1920-an, negara itu pernah mengalami krisis hebat. Tapi berkat kerja keras semua masyarakat, yang disimbolkan dengan uang satu dollar, negeri itu bangkit dan menjadi negara super power.

Saya lalu melihat uang rupiah. Pada mata uang terbesar yakni 100 ribu rupiah, kita menempatkan Soekarno-Hatta di situ. Apakah ini pertanda kita sengaja menempatkan bapak bangsa kita agar hanya dikenang oleh kalangan jetset dan menengah atas sebab hanya mereka yang sering menggunakan uang 100 ribu rupiah untuk bertransaksi? Entahlah.

Saya menimbang-nimbang untuk menukar dollar. Sementara di media sosial, saya menyaksikan banyak politisi yang sibuk menyalahkan pemerintah. Sepertinya kita kurang spirit dan solidaritas untuk sama-sama bangun negeri. Tapi ah, sudahlah. Bagi sebagian orang, lebih mudah mengutuk kegelapan, daripada mencari lilin dan menyalakannya.



Membela Tersangka Korupsi di Malang



SEBANYAK 41 anggota DPRD Malang telah ditetapkan sebagai tersangka. Seperti biasa, semua orang akan bersorak dan tepuk tangan sebab agenda pemberantasan korupsi telah ditegakkan. Semua akan bergembira sebab ada lagi yang ditangkap. Tapi pernahkah kita bertanya, mengapa semakin banyak yang ditahan, korupsi tetap ada?

“Ah, itu hanya sial,” kata seorang teman aktivis. Menurutnya, modus kongkalikong antara pemerintah daerah dan anggota dewan itu terjadi di mana-mana. Tak cuma di daerah. Bahkan di tingkat pusat pun, modus yang sama juga terjadi. “Kalau tak ada bagi-bagi, mana mungkin dewan menyetujui usulan pemerintah,” katanya.

Mungkin saja pemikir Montesqieu tidak menyangka bahwa trias politica yang digagasnya akan dipraktikkan secara berbeda. Dia meniatkan Trias Politica itu sebagai pemisahan kekuasaan antara legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Maksudnya, pemisahan wewenang antara pembuat kebijakan (pemerintah), pengawas kebijakan (dewan), dan mahkamah (kehakiman).

Tapi di sini, trias politica itu bukan dilihat sebagai pemisahan, tetapi kolaborasi dan kerja sama. Walikota Malang mengajikan usulan anggaran untuk disetujui dewan. Demi stempel setuju, dia menyiapkan segepok finansial. Walikota berpikir praktis, daripada ditahan-tahan, yang bisa membawa akibat pada lambannya pembangunan, mending dipenuhi keinginannya.

Pihak dewan juga punya pikiran lain. Usulan walikota tidak dilihat sebagai kerja demi pembangunan untuk rakyat. Dewan melihat potensi walikota akan segera panen raya jika usulan anggaran disetujui.

Sebab, usulan anggaran itu akan dieksekusi oleh para rekanan pengusaha itu sendiri. Malah, bisa jadi dieksekusi oleh perusahaan milik walikota sendiri.

“Enak aja, udah dapat tips dari setiap item pekerjaan, eh malah dapat lagi dari rekanan pengusaha. Dia untung, kita buntung. Kita dapat dong?” demikian kira-kira kata anggota DPRD.

Saya teringat ucapan akademisi Edward Aspinall tentang proyek gentong babi atau pork barrel projects. Seorang politisi dan kepala daerah sering menjanjikan proyek-proyek pembangunan. Proyek ini biasanya melibatkan lobi-lobi, jaringan, serta kongkalikong antara dirinya dengan politisi lain. Demi proyek itu lancar, maka banyak pihak harus kecipratan.

Pantas saja kalau beberapa media sering menyebutnya korupsi berjamaah. Sebab dilakukan secara bersama-sama, mengikuti arahan dari satu orang. Kata berjamaah sebenarnya kurang elok menjadi sebutan, tapi publik butuh satu pandangan yang menyatakan bahwa ini tidak dilakukan seorang diri, melainkan beramai-ramai.

Kata peneliti Michael Buehler, hampir semua proyek-proyek pembangunan selalu dikerjakan oleh kontraktor atau perusahaan milik seorang kepala daerah. Itu semacam proyek balas budi. Sebab ketika seseorang jadi kepala daerah, dia juga didukung oleh banyak pengusaha. Pepatah “no free lunch” berlaku di sini. Tak ada makan siang gratis.

Tapi tidak bisa juga hanya menyalahkan walikota dan anggota dewan. Birokrasi juga harus dituding sebab hanya mengikuti apa saja kemauan penguasa. Birokrasi harusnya netral dan profesional sebab tugasnya memberikan pelayanan.

Sejak awal, birokrasi tahu bahwa ada persekongkolan. Anggaran itu kan bakal dicairkan bendahara daerah. Kalau dia tahu bahwa itu keliru, mengapa dia diam saja? Jika ditelusuri, maka beberapa hal membuat birokrat bungkam. Pertama, sebab bisa jadi mendapat bagian. Kedua, memilih tunduk patuh pada keinginan walikota sebab jika membantah akan terancam mutasi.

Kita pun juga harus berani menyalahkan masyarakat kita. Sebab masyarakat kita memandang tinggi mereka yang kaya dan sejahtera. Di berbagai kondangan ataupun pesta pernikahan, orang-orang kaya-raya selalu menempati kursi paling istimewa.

Kepada orang kaya, semua orang langsung tunduk dan berbicara sopan. Semua mendadak baik begitu bertemu orang kaya.

Bahkan tak segan-segan menawarkan semua pertolongan pada orang kaya. Di hadapan orang kaya, semua mendadak jadi abdi. Karena realitasnya seperti ini, jangan salahkan orang-orang berusaha untuk cepat kaya. Banyak yang sengaja menempuh jalan pintas agar kaya.

Orang mengira kekayaan identik dengan penghormatan orang lain. Andaikan kita menemukan penghormatan yang sama pada orang berilmu, orang baik, maka mungkin saja orang akan berlomba-lomba menjadi orang baik dan berilmu. Kita tak bisa juga hanya menyalahkan mereka yang ditangkap di Malang itu.

Mereka memang ingin kaya dan menempuh cara yang tidak biasa yakni melalui korupsi. Tapi kita dan semua penegak hukum juga lalai sejak awal untuk membangun satu sistem terpadu yang bisa menghalangi orang untuk tidak korupsi. Kata seorang filsuf, manusia itu pada dasarnya jahat.

Aturan dan norma-norma di masyarakat sengaja dibuat agar potensi jahat itu tidak disalurkan. Seseorang bisa saja berhasrat untuk kaya dengan cara korupsi, tapi ketika dirinya takut menghadapi penjara atas tuduhan korupsi, maka dirinya bis terhindar.

Tak hanya itu, harusnya kita membangun sistem yang tidak memberi peluang bagi tindak korupsi. Korupsi terjadi karena ada celah. Ketika kita menutup semua celah, maka tak ada lagi kesempatan untuk melakukan korupsi. Nampaknya, aspek pencegahan ini belum kita perkuat.

Lembaga-lembaga hukum seperti KPK dan Kejaksaan hanya fokus pada bagaimana menangkap koruptor, tanpa melakukan upaya pencegahan agar orang tidak korupsi.
Jika tak ada pembenahan serius pada sistem, aturan, dan norma, maka berita tertangkapnya para koruptor akan terus menjadi sajian di media-media kita.

Maka benarlah ucapan seorang kawan kalau status tersangka pada 41 orang di Malang disebabkan kesialan. Mungkin benar tuduhan kalau penegak hukum hanya melakukan uji petik dari begitu banyak sampel kemudian menahan mereka.

Apakah ini efektif untuk pencegahan korupsi? Sorry to say, saya rasa ini hanya jangka pendek saja. Selanjutnya, kasus ini bisa terjadi lagi. Sebab siapa pun yang ada di situ maka berpotensi melakukannya. Kita bisa berdalih bahwa ada celah.

Andai kita menutup semua celah, maka kita bukan saja menyelamatkan negara, tapi menyelamatkan aset terbaik kita agar tidak melakukan korupsi yang bisa membunuh semua potensi mereka.

Pada mereka yang dinyatakan tersangka di Malang, kita menemukan cermin sosial kita yang menunjukkan betapa banyak pekerjaan rumah untuk segera kita tuntaskan demi anak cucu kita di kemudian hari, demi republik yang dibebaskan dengan penuh darah dan air mata.(*)


CATATAN:

Tulisan ini pertama kali dimuat di Okami.id, pada Selasa 4 September 2018.

Gugatan untuk Jonatan Christie




Terima kasih Jonatan Christie atas permainan bulu tangkis yang begitu memukau. Dalam hati, saya tak henti bertanya, mengapa dirimu dan para pemain bulu tangkis lainnya bisa bermain dengan begitu kesetanan, padahal lawan-lawan kalian punya peringkat yang jauh di atas?

Peringkatmu hanya 15 dunia. Tapi di partai final, kau kalahkan Chou Cien Ten, pemilik peringkat enam dunia. Di semifinal, kau juga kalahkan Kenta Nishimoto, yang ada di peringkat 10 dunia. Bahkan di 32 besar, kau kalahkan Shi Yuqi, pemegang peringkat dua dunia.

Pertanyaan yang sama harus ditanyakan pada rekanmu Anthony Ginting yang bisa mengalahkan peringkat 7 dunia, Chen Long, pada babak perempat final. Apa yang bisa membuat kalian menjadi ksatria yang tampil dahsyat hingga titik akhir?

Dalam satu wawancara, Ginting sudah menjelaskan bahwa dia akan tampil sehebat mungkin agar bisa tampil di partai final, agar bisa bertemu RI 1 yang mengunjunginya saat sedang sakit. Sebagai atlet, Ginting merasa sangat tersanjung sebab dikunjungi dan diberi dukungan seorang kepala negara.

Dia merasa dihargai dan dihormati. Dibalasnya itu dengan permainan hebat di lapangan. Sayang, dia terhenti di babak semi final. 

Tapi dendam Anthony Ginting telah kau balaskan di partai final. Chou Cien Ten takluk dalam tiga set. Kau rayakan kemenangan itu dengan membuka baju, yang disambut gegap gempita oleh semua hadirin. Kau tunjukkan pada dunia bahwa kita tidak akan pernah kalah sampai detik penghabisan.

Inilah Indonesia yang kita banggakan. Inilah bangsa yang tidak akan berhenti sebelum mencapai kemenangan. Kalian adalah pahlawan kita semua.

Di saat ada anak bangsa yang sibuk hendak perjuangkan misi politik, kalian membela kehormatan nama bangsa di panggung olah raga antar bangsa. Kalian tak peduli dengan isu tentang pemerintahan yang bobrok.

Fokus kalian adalah bertanding. Dari pada sibuk menyalahkan negara, kalian pilih jalan untuk menunjukkan kerja-kerja hebat kalian di lapangan olahraga.

Permainan hebat yang kau tunjukkan adalah permainan yang dahulu identik dengan bangsa ini. Jawara-jawara seperti Alan Budi Kusuma, Ardi B Wiranata, Hariyanto Arbi, hingga Taufik Hidayat dahulu menguasai tunggal putra yang menggetarkan semua pemain negara lain.

Permainan hebat yang tidak kenal takut itu dulu juga dimiliki Rudy Hartono hingga Lim Swee King. Semuanya menjadi legenda bulu tangkis tunggal putra yang kini jejak dan semangatnya bisa dilihat pada pebulu tangkis muda seperti kalian.

Kini, dengan hadirnya generasi muda seperti kalian, bangsa kita akan menatap masa depan lebih cerah.

Bulu tangkis akan selalu menjadi arena kedigdayaan kita. Nama kita akan selalu bergema di arena bulu tangkis. Kita tak akan kalah lagi. Kita tidak akan jadi penggembira. Kita kuasai semua turnamen penting. Lagu Indonesia Raya akan berkumandang di mana-mana.

Asian Games tahun ini benar-benar menjadi kebangkitan bangsa kita di ranah olahraga.

Selama puluhan tahun olahraga kita terpuruk. Kita tak sanggup berbicara banyak di level dunia. Kini, semua kebanggaan itu telah kembali. Setidaknya, di tanah sendiri, kita bisa menunjukkan level olahraga kita yang terus membumbung tinggi.

Tidak hanya bulu tangkis. Bidang-bidang lain pun mengalami kebangkitan. Banyak orang yang memajang foto atlet idonya di media sosial.

Tidak hanya Jonathan Christie, nama-nama seperti taekwondoin Defia Rosmaniar, pemain sepak takraw Lena dan Leni, pemanjat dinding Aries Susanti Rahayu, hingga karakteka Rifki Ardiansyah.

Banyak orang-orang membanggakan atlet dari daerahnya. Ali Buton, atlet yang meraih emas untuk dayung, diarak keliling kampung halamannya saat kembali dari laga Asian Games. Kita temukan banyak kebanggaan dengan permainan para atlet di lapangan.

Mereka membela nama bangsa dan kehormatan kita semua.

***

Terima kasih Jonatan Christie. Dirimu hari ini tampil di podium. Dalam satu wawancara dengan stasiun televisi, kamu menyampaikan sekeping kalimat inspiratif. “Saat saya turun podium, maka saya kembali ke awal. Saya kembali mengejar target dan mimpi saya,” katamu. Luar biasa.

Di usia yang semuda itu, kamu sudah tahu hendak ke mana. Hari Minggu mendatang, kamu dan Anthony Ginting sudah siap untuk berangkat ke luar negeri demi mengikuti turnamen lainnya. Satu misi tercapai, misi lain terbentang di depan mata.

Kami yakin, Asian Games ini akan menjadikan kalian sebagai figur baru yang akan selalu mengharumkan nama bangsa di pentas lebih tinggi.

Rasanya ingin menggugat mengapa dirimu, mengapa hadir sekarang dan bukan hadir saat olah raga kita mengalami masa paceklik? Rasanya ingin menggugat mengapa kamu harus menang sekarang dan tidak sejak dulu agar anak bangsa selalu bersatu saat menyaksikan permainanmu? 

Berkat olahraga, kita semua bersatu dan melupakan perbedaan. Kita menjadi Indonesia yang satu. Di lapangan olah raga, tak ada yang mempertanyakan identitas, suku bangsa, dan agama seseorang. Semua bersatu dan berjuang untuk membawa nama bangsa.

Berkat olahraga, semua anak bangsa sejenak tidak larut dalam debat politik. Semua ikut bersorak dan mendukung siapa pun yang datang ke lapangan dengan atribut merah putih di dadanya. Semuanya saling mendukung dan mendoakan untuk Indonesia yang jaya.

Benar kata seorang komentator. Inilah Indonesia yang sempat hilang. Inilah Indonesia yang sempat diredam oleh konflik dan berbagai isu serta hoax yang berseliweran. Jika semua energi diarahkan untuk mendukung anak bangsa, betapa bangsa ini akan melesat jauh dan menang di banyak arena kehidupan.

Ketika merah putih dikerek, ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan, saat itulah hadir satu rasa yang menggumpal dalam dada dan menggedor semua kesadaran kita. Kita bangsa Indonesia yang seharusnya bersatu dan melupakan semua perbedaan.

Saatnya bergenggam tangan dan memenangkan semua arena kehidupan yang lain. Bukan hanya lapangan bulu tangkis, tapi juga lapangan sains dan teknologi, serta kehidupan yang berbudaya.

Tentu saja, tak ada yang akan menggugatmu. Kamu telah menunjukkan karakter bangsa kita yang selalu ingin tampil unggul dan berprestasi. Satu-satunya gugatan adalah mengapa kamu hadir sekarang, bukan pada saat dulu ketika negeri kita paceklik prestasi.

Terima kasih Jonathan Christie. Terima kasih atas permainan yang hebat itu.

CATATAN:

Tulisan ini dimuat di Okami.id pada Selasa, 28 Agustus 2018. Tautannya DI SINI.

Di Era Jokowi, Indonesia Raih Prestasi Terbaik di Asian Games Sejak Tahun 1962



DI era Presiden Joko Widodo, Indonesia meraih prestasi terbaik di level kompetisi olahraga Asian Games sejak tahun 1962. Di hari ketujuh penyelenggaraan pesta olahraga paling besar setelah Olimpiade itu, Indonesia telah meraih 10 medali emas, 12 perak, dan 16 perunggu. Hebat!

Prestasi terbaik Indonesia di ajang ini adalah ketika menjadi tuan rumah Asian Games pada tahun 1962 di Jakarta, pada masa pemerintahan Presiden Sukarno. Selanjutnya, Indonesia meraih prestasi terbaik pada tahun 1978 ketika mendapatkan delapan emas.

Di luar itu jumlah emas yang diraih Indonesia di ajang Asian Games selalu di bawahnya. Boleh jadi, ini ada kaitannya dengan posisi Indonesia sebagai tuan rumah. Sebab dukungan penonton menjadi energi besar yang mempengaruhi mental para atlet.

Anehnya, di arena SEA Games, yang level kompetisinya di bawah Asian Games, Indonesia malah hanya berkutat di peringkat keempat dan kelima.

Tahun 2018 ini menjadi titik balik bagi olahraga Indonesia. Sejak pembukaan Asian Games yang menghebohkan dunia, prestasi Indonesia juga ikut terkerek. Banyak teman saya yang datang dari daerah ke Jakarta dan Palembang dengan tujuan untuk menyaksikan pertandingan Asian Games.

Tak hanya itu, ketika tim Indonesia bertanding, banyak orang standby di depan televisi dan menyatakan dukungan melalui media sosial.

Euforia dahsyat seperti ini pernah terjadi pada masa Orde Baru. Pada masa itu, olahraga Indonesia mencapai titik tertinggi di Asia Tenggara. Setiap SEA Games, Indonesia selalu mencatat prestasi sebagai juara pertama.

Bahkan beberapa atlet menjadi buah bibir masyarakat setiap kali bertanding. Beberapa nama yang masih saya ingat adalah Richard Sambera (renang), Mardi Lestari (atletik), Nanda Telambanua (angkat berat), ataupun Loudry Maspaitella (voli).

Tapi setelah reformasi, olahraga kita terpuruk. Banyak orang yang tidak ingin menjadi atlet sebab dianggap tidak prospek. Kompetisi usia dini di berbagai cabang olahraga juga mandek. Bahkan kita nyaris tidak mengenal satu pun nama olahragawan.

Kondisinya sungguh berbeda dengan masa Orde Baru di mana olahraga menjadi sesuatu yang memasyarakat. Banyak atlet yang jadi idola dan panutan. Secara perlahan kejayaan itu kembali. Betapa menyenangkannya melihat media sosial dipenuhi ucapan kagum ataupun dukungan pada atlit Indonesia.

Barusan saya melihat seorang teman yang membuat postingan kagum pada atlet bernama Aprilia Mangangang. Saya sempat googling siapa Aprilia Manganang. Ternyata dia seorang atlet voli yang perawakannya seperti laki-laki, dan beberapa kali diprotes tim lawan yang meminta agar dia menjalani tes gender.

Sabtu malam, saya memantau media sosial, banyak orang yang mengelu-elukan Lalu Muhammad Zohri yang baru saja menang pada tahap awal untuk final lomba lari. Ada seorang kawan yang secara sukarela membagikan video Zohri saat berlari yang disebutnya secepat kuda.

Ada juga kawan yang memosting foto Jonathan Christie. Bahkan seorang anggota DPR di satu wilayah tidak henti-hentinya memasang postingan yang isinya dukungan pada atlet asal daerahnya di Asian Games.

Kemarin, saya tersentak kagum saat mengetahui tenis ganda campuran Indonesia sukses meraih emas. Seorang teman di Facebook bahkan memajang foto Aldila Sutjiadi, salah seorang petenis yang meraih emas. Selama 16 tahun, Indonesia tidak pernah mencatat prestasi bergengsi itu. Suasana seperti ini sudah lama hilang dari perbincangan masyarakat Indonesia.

Euforia sebagai tuan rumah telah membuat prestasi kita kembali bangkit demi membuat seluruh rakyat Indonesia kagum. Beberapa cabang olahraga pun membuat kejutan dengan meraih emas. Di antaranya adalah balap sepeda, taekwondo, wushu, dayung hingga tenis.

Diperkirakan medali emas Indonesia masih akan terus bertambah sebab beberapa cabang unggulan masih akan dipertandingkan.

Pertanyaan yang muncul, mengapa prestasi olahraga Indonesia melejit sekarang? Mengapa di era-era sebelumnya prestasi itu seakan tenggelam?

Saya coba mengontak beberapa teman atlet. Saya menyimpulkan ada beberapa hal yang menyebabkan prestasi itu melejit sekarang.

Pertama, dukungan pemerintah. Di era Presiden Jokowi, pemerintah terlihat mendukung penuh perjuangan semua atlet. Presiden Jokowi tidak hanya tampil memukau di acara pembukaan olahraga itu, tapi juga hadir dalam beberapa pertandingan penting. Jokowi hadir saat atlet Defia Rosmaniar meraih emas untuk taekwondo.

Dia juga ada saat Lindswell Kwok memenangkan emas untuk wushu. Dia juga hadir saat Eko Yuli Irawan mendapat emas di cabang angkat besi. Bahkan Jokowi menonton pertandingan renang, sepakbola, hingga beberapa pertandingan lainnya.

Kehadiran Jokowi menunjukkan dukungan pemerintah yang sangat besar. Atlet merasa tidak sendirian. Atlet akan mengerahkan kemampuan terbaiknya sebab penampilannya disaksikan oleh seorang kepala negara.

Kedua, bonus. Beberapa orang yang saya tanyai mengakui bonus besar dari pemerintah menjadi motivasi besar. Pemerintah menjanjikan bonus sebesar 1,5 miliar jika atlet berhasil mendapatkan emas.

Tak hanya itu, disiapkan pula bonus berupa uang tambahan, rumah, diterima sebagai pegawai ataupun anggota TNI, serta bonus dari kepala daerah. Atlet taekwondo Defia Rosmaniar juga mendapat hadiah apartemen dari Walikota Bogor.

Soal bonus ini membuat iri media di Malaysia. Media itu memuat laporan tentang Indonesia dan Filipina yang memberikan bonus besar bagi pemainnya yang sukses mendapatkan emas. Sementara atlet Malaysia yang meraih emas hanya mendapatkan hadiah sebesar 280 juta rupiah. Tapi masih lebih tinggi Hong Kong yang memberi bonus hingga 3,5 miliar rupiah.

Ketiga, dukungan masyarakat. Harus diakui, gegap gempita stadion serta pernyataan dukungan dari banyak pihak adalah energi besar bagi atlet untuk meraih prestasi terbaik.

Dukungan masyarakat yang besar berupa kedatangan mereka ke stadion untuk menyaksikan lomba telah memompa semangat para atlet untuk memberi prestasi terbaik. Mereka termotivasi untuk memberikan yang terbaik.

Terlepas dari itu semua, kita sepantasnya berbangga atas prestasi olahraga kita saat ini. Berkat olahraga, semua rakyat Indonesia bisa bersatu dan memberikan dukungan secara penuh pada atlet.

Berkat olahraga, semua anak bangsa sejenak melupakan debat soal politik dan fokus mendukung anak bangsa. Tak ada lagi yang mempertanyakan agama dan etnis seorang atlet. Tak ada yang menyoal keyakinan seorang atlet sebab mereka sedang membela kehormatan kita semua di hadapan bangsa lain.

Berkat olahraga, kita menemukan kebanggaan sebagai anak bangsa, khususnya saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan di podium. Ada rasa bahagia yang sukar dijejalkan dalam kata.

Ada rasa haru melihat merah putih berkibar. Ada rasa bangga melihat atlet berlaga dengan penuh semangat dan antusiasme sebab merasakan dukungan gemuruh dari seluruh rakyat.

Itulah Indonesia, tanah air yang selalu kita banggakan, yang kita harapkan akan selalu dipuja-puja bangsa.(*)


CATATAN:

Tulisan ini dimuat di Okami,id pada Minggu, 26 Agustus 2018. Tautannya DI SINI.


Setelah Idrus Marham, Siapa Tersangka Berikutnya?



Idrus Marham mundur dari posisi Menteri Sosial. Hari ini, Jumat (24/8/2018), Idrus Marham, datang ke Istana Negara untuk bertemu Presiden Jokowi, tanpa mengenakan pin menteri, serta memakai mobil pribadi. Setelah itu dirinya menyatakan mundur.

Pengunduran diri Idrus telah lama beredar. Dirinya sudah beberapa kali diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namanya sudah lama masuk ke dalam radar penyidik. Kalaupun dia belum juga jadi tersangka, ini menunjukkan betapa kuatnya jejaring serta lobi yang dimiliki Idrus.
Wakil Presiden Jusuf Kalla telah mendengar rencana pengunduran diri itu. Jusuf Kalla mengatakan, "Kalau mengundurkan diri berarti tidak bisa ditahan," ujar JK di Istana Wapres. 

Pengunduran diri Idrus disambut beragam oleh warganet. Banyak yang menilai dirinya cukup ksatria sebab tidak ingin agenda pemberantasan korupsi terganggu. Banyak yang juga menilai bahwa Jokowi terbilang cepat memberi respon. Begitu mundur karena kasus, penggantinya langsung ditunjuk. Bahkan dilantik pada hari yang sama.

Ada beberapa pertanyaan penting terkait mundurnya Idrus. Siapa yang paling dirugikan dengan mundurnya dia? Siapa pejabat publik yang akan ikut bersamanya dan diumumkan menjadi tersangka?
Pihak paling dirugikan dengan kasus yang menimpa Idrus adalah pemerintahan Jokowi. 

Idrus adalah menteri pertama di kabinet Jokowi yang terkena kasus korupsi. Jika saja Idrus tidak terkait korupsi, maka pemerintahan Jokowi bisa dibilang bersih dibandingkan pemerintah sebelumnya yang menterinya banyak kena kasus korupsi.

Label bersih itu menjadi tercoreng karena tindakan mantan aktivis organisasi Islam ini. Idrus adalah menteri kabinet Jokowi yang terbilang singkat masa jabatannya. Dia baru dilantik sebagai menteri pada 18 Januari 2018. Artinya, dia menjadi menteri hanya selama tujuh bulan. Dia menggantikan Khofifah yang memilih berlaga di arena pemilihan Gubernur Jawa Timur.

Tapi, harus pula dicatat, kasus yang dituduhkan ke Idrus tidak terkait masa jabatannya sebagai menteri, melainkan pada jabatan sebelumnya. Idrus menjadi tersangka terkait kasus kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau 1 di Provinsi Riau.

Kasus ini telah menyeret Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih dan pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited Johannes Budisutrisno Kotjo. Eni diduga menerima suap sebesar Rp 500 juta yang merupakan bagian dari commitment fee 2,5 persen dari nilai proyek kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1.

Fee tersebut diberikan oleh Johannes Budisutrisno Kotjo, pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited. Diduga, suap diberikan agar proses penandatanganan kerja sama terkait pembangunan PLTU Riau-1 berjalan mulus. 

Di sisi lain, naiknya Idrus ke posisi menteri jelas terkait dengan bargaining atau nilai tawar Partai Golkar yang mendukung Presiden Jokowi. Sebelumnya, Golkar berada di kubu oposisi sebab mendukung Prabowo Subianto di pilpres 2014 lalu. Ketika Setya Novanto memimpin Golkar, posisi partai berlambang beringin ini berubah mendukung pemerintah.

Demi menguatkan dukungan itu, Golkar lalu mendapat jatah menteri kabinet, dalam hal ini Idrus Marham, yang merupakan orang dekat Setya Novanto, sekaligus Sekjen Paryai Golkar. Biarpun Setya Novanto menyatakan setia pada pemerintahan Jokowi, tetap saja tak bisa menyelamatkan dirinya yang terjerat kasus.

Kini, Idrus juga tengah menunggu proses hukum yang sedang berjalan. Penggantinya juga berasal dari partai yang menaikkannya yakni Golkar. Dengan menjadi tersangka, ada sejumlah pihak yang sekarang ini ketar-ketir. Salah satu rumor yang berkembang adalah di atas Idrus ada satu tokoh politik yang juga menjadi operator peristiwa korupsi itu.

Di tanah air, kita sulit menepis anggapan bahwa peristiwa korupsi selalu dilakukan secara berjamaah dan melibatkan banyak orang. Jika Idrus terlibat, maka dirinya bukanlah mata rantai akhir dari korupsi itu. Dirinya hanya pelaksana lapangan dari satu praktik korupsi yang sudah lama berjalan.

Beberapa nama sudah mulai disebut-sebut. Tapi tidak elok jika disampaikan dalam tulisan singkat ini. Bahkan kasus Idrus sudah menjadi bargaining di kalangan politisi agar tidak ikut menyusul nasib pria yang berasal dari Sulawesi Selatan itu.

Yang pasti, kita berharap KPK tidak akan berhenti pada Idrus. Siapa pun di belakangnya mesti diusut secara transparan sehingga publik bisa tahu praktik politik korup yang terjadi di tanah air. Siapa yang akan menyusul Idrus? Kita akan menunggu dalam waktu yang tidak lama lagi.


CATATAN:

Tulisan ini dimuat di Okami.id pada Jumat, 24 Agustus 2018. Tautannya DI SINI.


WIRO SABLENG dan Kenangan yang Menari-nari




HARI INI adalah tayang perdana film Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Saya sudah dua kali menyaksikan trailer film ini. Saya selalu terkesima sosok yang dahulu saya temukan dalam novel serial yang ditulis Bastian Tito itu. Saya tak sabar menyaksikan film yang didanai oleh 20th Fox International itu. 

Semasa masih SD dan SMP, saya penggemar berat novel ini dan selalu membelinya setiap ada edisi terbaru. Bukan cuma saya, bapak saya yang berprofesi sebagai guru sejarah juga keranjingan novel ini. Kini, Wiro Sableng, pendekar yang selalu cengengesan dan bercanda itu akan hadir dalam format layar lebar. 

Tak tanggung-tanggung, film ini adalah kolaborasi antara rumah produksi Indonesia dan raksasa film Hollywood yakni 20th Century Fox. Saya membayangkan film kolosal ini akan sangat meriah, apalagi ditunjang beberapa aktor dan aktris papan atas negeri ini. 

Ditambah lagi, promosi film ini cukup gencar. Wiro tampil dalam trailer film Deadpool 2 yang juga diperoduksi 20th Century Fox. Bahkan telah diluncurkan karakter Wiro Sableng dalam game terkenal Arena of Valor yang digandungi para penggemar game.

Sejak awal tahun 2018, saya sudah membuat resolusi yakni menyaksikan film ini, apa pun yang terjadi. Sebagai penggemar Wiro, saya rindu kehadiran tokoh-tokoh dalam semesta novel ini. Di satu media, saya membaca komentar produser film ini Sheila Timothy yang mengatakan bahwa ada kemiripan antara film Wiro Sableng dan serial Game of Thorne

Struktur cerita film Wiro dibuat seperti Game of Thorne. Katanya, serial Game of Thorne terjadi di satu tempat bernama Westeros, yang di dalamnya terdapat beberapa kerajaan. Masing-masing punya karakteristik sendiri. 

Karakter Wiro Sableng dalam game Arena of Valor

Nah, film Wiro juga punya tiga semesta dengan ciri khas berbeda. Yakni golongan hitam yang mendiami gunung dan hutan, golongan putih yang juga mendiami gunung dan hutan terpisah, serta pihak kerajaan yang sering membenturkan dua aliran persilatan ini. Kerajaan sering memanfaatkan golongan hitam untuk menyerang golongan putih, demikian pula sebaliknya.

Dalam trailer terbaru, saya melihat sejumlah tokoh dalam serial ini. Tokoh golongan hitam yang tampil adalah Mahesa Birawa (yang diperankan pesilat hebat Yayan Ruhiyan), Empat Brewok dari Goa Sanggreng, hingga Kaligundil. 

Sedangkan tokoh golongan putih yang tampil selain Wiro adalah Eyang Sinto Gendeng, Anggini (murid cantik Dewa Tuak), Bujang Gila Tapak Sakti atau sering disingkat Bujala Tasaki, dan Bidadari Angin Timur (yang diidolakan Wiro). Tak boleh dilupakan kehadiran kakek Segala Tahu yang kemampuannya seperti Google sebab selalu punya jawaban atas semua pertanyaan. Bahkan kakek ini bisa-bisa lebih pintar dari Google sebab dia bisa meramal peristiwa masa depan.

Dalam versi novel, ada sejumlah karakter unik yang selalu saya sukai kemunculannya. Selain Dewa Tuak yang membawa bumbungan bambu berisi arak, ada juga Dewa Ketawa, Dewa Sedih, Raja Penidur, juga musuh bebuyutan Wiro Sableng yakni Pangeran Matahari dari Puncak Merapi.

Saya juga terkenang beberapa jurus dan pukulan yang dimiliki Wiro juga masih segar di pikiran. Di antaranya Pukulan Sinar Matahari, yang saat digunakan, lengan Wiro akan bersinar keperakan hingga siku. Juga pukulan kunyuk melempar buah, banteng topan melanda samudera, pukulan angin puyuh, hingga pukulan Dewa Topan Menggusur Gunung. Masing-masing jurus diajarkan oleh guru berbeda. 

Meskipun baru dua trailer yang diluncurkan, saya sudah mendapat gambaran bagaimana megahnya film ini. Budget-nya lebih besar dari kebanyakan film Indonesia. Yang membuat saya tak sabar adalah film ini bisa menandai kembalinya era film silat yang dahulu begitu berjaya di Indonesia. Sejak perfilman kita bangkit, kita jarang menemukan film silat. Terakhir, saya menonton film Pendekar Tongkat Emas yang dibintangi Nicholas Saputra. Saya dengar film ini tak begitu sukses.

Saya membayangkan, penggemar Wiro pasti akan penasaran untuk menyaksikan film ini. Bagi saya, kisah Wiro Sableng membawa banyak lapis kenangan. Mulai dari masa-masa di sekolah menengah saat mengikuti serial ini. 

Saya masih terpesona menyaksikan petualangan pendekar sakti mandraguna yang selalu cengengesan dan sesekali mengerjai banyak orang, namun selalu dikagumi banyak cewek ini. Saya juga teringat pada beberapa lembar adegan porno di novel ini yang bikin saya tidak bisa tidur, serta diam-diam ke kamar mandi. Hahaha.

Di mata saya, Wiro Sableng adalah pendekar yang lintas budaya dan bertualang ke mana-mana. Dia dibesarkan di Gunung Gede hingga akhirnya dianggap cukup ilmu untuk memasuki rimba persilatan. Dia tak perlu memikirkan lapangan kerja sebab hari-harinya adalah berkelana dan bertarung demi mengalahkan golongan hitam. Dia hadir dalam banyak intrik dan konflik kerajaan.

Dia juga bertualang di banyak lokasi. Kebanyakan latar cerita adalah petualangannya di tanah Jawa dan Sunda. Tapi, dia juga bertualang hingga ke pulau seberang. Saya suka mengikuti petualangan Wiro ke Sumatera dan berguru pada orang sakti yakni Tua Gila dari Andalas, seseorang yang dianggap gila dan memiliki silat dengan gerakan tak beraturan ala orang gila. Wiro pernah ke Aceh dan bertemu Nyanyuk Amber dan Pandansuri dalam episode Raja Rencong dari Utara.



Di tanah Minang, Wiro juga bertemu dan berguru pada Datuk Rao Basaluang Ameh yang memiliki ciri khas berupa suara seruling khas Minang. Sang Datuk selalu bersama Datuk Rao Bamato Hijau yakni harimau putih nan sakti. Keduanya menjadi guru Wiro. Dulu, ketika mendengar lagu Badai Pasti Berlalu yang dinyanyikan Chrisye dan diaranser Erwin Gutawa, ada suara saluang, yang langsung mengingatkan saya pada kemunculan Datuk Rao Basaluang Ameh.

Selain Sumatera, Wiro juga bertualang ke Bali dan mengalahkan Nyoman, seorang pendekar pemetik bunga, yang suka memperkosa perempuan. Malah, Wiro juga bertandang ke Jepang hingga Cina. Dalam episode Pendekar Gunung Fuji, entah bagaimana caranya, Wiro datang ke Jepang dan ikut dalam konflik para samurai di sana. Beberapa istilah Jepang digunakan dalam film ini, termasuk beberapa jurus dan pukulan. 

Tanpa saya sadari, kisah Wiro Sableng menjadi medium pembelajaran budaya paling efektif. Saya mengenali banyak istilah, produk budaya seperti saluang, rencong, kalewang, hingga jenis-jenis keris dari kisah ini. Saya pun paham beberapa keping sejarah karena Wiro pernah terlibat di dalamnya. Kisah-kisah seperti Wiro juga menanamkan pentingnya mengenali tradisi hingga multi-kulturalisme. Melalui kisah ini, saya paham bahwa Indonesia adalah mozaik yang terdiri atas banyak budaya, bahasa, dan adat istiadat.

Bidadari Angin Timur, pendekar perempuan yang ditaksir Wiro

Di semua budaya terdapat banyak kearifan budaya termasuk para pendekar berhati bijak yang menemukan kesempurnaan hidupnya melalui duel di rimba persilatan. Dalam sikap cengengesan Wiro, juga terdapat banyak kearifan dan filosofi hidup, yang di antaranya adalah sikap solidaritas, kesetiaan pada nilai-nilai ksatria, dan juga keberanian untuk membela mereka yang tertindas.

Saya tak terkejut ketika Wiro Sableng masuk dalam daftar buku-buku terbaik dan menginspirasi yang dimuat dalam Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik 100 Buku yang terbit tahun 2009 dan diedit Muhidin M Dahlan dan Diana AV Sasa. Bagaimanapun juga, ada banyak nilai dan pelajaran dalam Wiro Sableng yang kemudian kuas telah mewarnai kanvas pemikiran satu lapis generasi Indonesia pada satu masa.

Ah, saya tak sabar menyaksikan aksi 212 yang asli. Di suatu negeri yang didera angkara dan murka, aksi 212 diharapkan kembali hadir untuk mengembalikan keseimbangan. Saatnya pendekar 212 datang kembali dan mengembalikan keadilan di rimba persilatan. 

Di negeri lain, nama 212 seolah identik dengan kelompok tertentu yang memasuki ranah politik dan kebijakan negeri ini. Padahal, pemilik nama 212 yang asli ini adalah sosok petualang lintas wilayah yang setiap harinya bergaul dengan siapa saja, menimba ilmu pada siapa saja, serta membela semua yang tertindas, tanpa berharap dapat kursi kekuasaan.

Ciaattt...!!!

Christopher Robin, Winnie the Pooh, dan Sejumput Rasa Bersalah




BIASANYA, seusai menonton film, saya selalu gembira dan bahagia. Tapi untuk film Christopher Robin, saya langsung merasa bersalah sesuai keluar bioskop. Film ini sarat pesan positif yang serupa gugatan pada kita yang terlalu sibuk bekerja dan lupa bermain dengan anak-anak. 

Saya kadang merasa seperti Christopher Robin (diperankan Ewan McGregor) yang sering tergesa-gesa dan sibuk, padahal ada suara-suara kecil yang selalu menuntut perhatian. Saya mengejar banyak hal agar bisa survive, padahal tujuan hidup bukanlah hal itu. Dalam film ini, yang terpenting adalah kebersamaan, waktu luang untuk tetap saling memperhatikan, serta sikap yang mengutamakan keluarga, ketimbang pekerjaan.

Ketika membaca review film buatan Disney ini, saya teringat film Hook (1991) yang dibintangi Robin Williams. Dalam film itu, Robin William berperan sebagai Peter Pan yang beranjak dewasa dan meninggalkan dunia dongeng. Dia menjadi pekerja kantoran yang mejalani rutinitas, sehingga lupa mengajak anaknya bermain.

Suatu saat, anaknya diculik dan dibawa ke Neverland, sehingga dia harus ke sana. Dia harus bisa kembali jadi Peter Pan yang sejati demi membebaskan anaknya. Barulah dia sadari kalau dia telah kehilangan kebahagiaan dan keriangan ala anak-anak, yang merupakan energi agar dirinya kembali jadi Peter Pan.

BACA: Cinderella: Kisah Glamour Tapi Hampa
BACA: Imperialisme dan Cinta di Balik The Jungle Book 

Film Christopher Robin bergerak dalam logika serupa. Sewaktu kecil, dirinya sering bermain dalam hutan luas bersama kawan-kawan yang diciptakan imajinasinya. Dia bermain dengan Winnie the Pooh, beruang madu yang selalu lapar. Teman-teman Winnie adalah Piglet (babi yang selalu cemas), Tigger (harimau yang selalu ingin bergerak), Eeyore (keledai yang selalu pesimis dan pasrah), dan beberapa karakter lainnya. 

Hingga suatu hari, Robin harus kembali ke dunia nyata dan tidak akan balik ke dunia imajinasinya. Dia akan sekolah di asrama dan menjalani kesibukan seperti anak sekolah lainnya. Pooh dan kawan-kawannya merasa sedih. 

Robin kemudian benar-benar meninggalkan dunia imajinasinya. Ayahnya meninggal sehingga dirinya harus jadi kepala keluarga. Dia bekerja keras setelah menikah sampai-sampai tidak punya waktu buat anak perempuannya. Dia seorang manusia kantor yang sibuk dan berharap kariernya terus melejit. Apalagi, saat itu perusahaannya hendak dibubarkan sebab dianggap tidak lagi menghasilkan.

Suatu hari, Pooh kehilangan teman-temannya di hutan. Dia lalu memasuki pintu pada pohon yang dahulu menjadi jalan masuk Christopher Robin ke dunia imajinasi. Pooh lalu bertemu Christopher Robin dewasa yang sudah terlampau rasional, sibuk, dan waktunya lebih banyak di kantor. Jalan cerita menjadi lebih menarik ketika Pooh dengan segala keluguannya mengajak Robin berdialog. 

Piglet, Pooh, dan Tigger

Film ini penuh dengan dialog-dialog yang amat mencerahkan. Karakter Winnie the Pooh digambarkan sebagai beruang kecil yang bodoh. Kalimat-kalimatnya lugu. Tapi di situlah letak kekuatannya. Dengan bahasa sederhana, dia sering membuat Christopher Robin merasa bersalah. Kalimat Pooh selalu terdengar puitis. Sederhana, tapi penuh makna.

Dalam perjalanan untuk mengembalikan Pooh ke hutan imajinasi, Christopher Robin meminta Pooh agar tidak menyapa orang-orang yang bisa pingsan karena dirinya seekor beruang. “Orang-orang tidak suka hal yang berbeda, “ kata Christopher Robin. “Lantas, apa saya harus menjadi orang lain” kata Pooh.

Adegan yang paling saya sukai adalah saat Christopher Robin menyadari dirinya yang lama tersesat ke dunia orang dewasa. 

“Saya bukan yang dulu. Saya tersesat,” kata Christopher Robin.
“Kamu butuh mengingat siapa diri kamu. Orang-orang bilang tidak melakukan apa-apa adalah mustahil. Tapi saya tidak melakukan apa pun setiap hari. Saya baik saja. Tidak melakukan apa pun bisa membawa kita pada sesuatu yang terbaik. Doing nothing often leads to the very best of something,” kata Pooh.
Kalimat ini sangat mengena di hati. Kita manusia modern terlalu sibuk memikirkan banyak hal, sampai-sampai lupa pada hal-hal sederhana yang justru bisa membuat kita amat bahagia. Setiap hari kita bergegas untuk menyelesaikan banyak hal, mengejar mimpi serupa fatamorgana, lalu lupa dengan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang justru ada di rumah.

Benar juga kata Piglet, sahabat Pooh. “Mana lebih penting, anakmu ataukah kertas-kertas pekerjaanmu. Kalau anakmu lebih penting, mengapa kamu tidak membawanya ke mana-mana?”

Saya tertarik dengan semua karakter dalam Winnie the Pooh. Semuanya menampilkan karakter yang berbeda, tapi saling membutuhkan. Seorang sahabat di luar negeri menunjukkan referensi bahwa semua karakter dalam Winnie the Pooh hendak menampilkan penyakit kejiwaan.

Pooh yang suka makan, ternyata mengidap eating disorder yakni kecenderungan untuk selalu makan. Piglet, babi pink, menderita anxiety diorder yakni gangguan kecemasan. Makanya dia selalu gelisah dan cemas. Dia selalu takut dan bersembunyi di balik temannya.

Keledai Eeyore menderita depressive diorder makanya selalu murung dan pesimis. Owl menderita disleksia dan short term memory. Sedangkan Tigger yang ceria dan selalu ingin bergerak ternyata menderta ADHD atau attention deficit hyperactivity disorder. Dorongan seseorang buat bertindak di luar kendali, baik berjalan maupun bicara, tanpa melihat situasi dan kondisi. Ada juga Rabbit atau kelinci yang menderita OCD atau obsessive compulsive disorder. Makanya, dia selalu menderita  gangguan kecemasan yang membuatnya melalukan sesuatu secara berulang-ulang.

Semua karakter ini saling melengkapi dan saling mendukung sehingga dunia imajinasi itu menjadi amat indah. Inilah hal yang hilang dalam kehidupan Christopher Robin, seorang penderita skizofrenia, yang susah membedakan mana yang nyata dan mana yang imajinasi. Semua karakter di atas adalah hasil imajinasi Christopher Robin yang menganggap semuanya hidup di dunia nyata.

*** 

JIKA ingin menyaksikan film yang penuh nutrisi dan inspirasi, tontonlah film ini. Setengah jam awal, alurnya agak datar. Ketika lewat setengah jam, batin saya beberapa kali basah karena banyaknya kalimat yang menginspirasi. Saya menyenangi semua karakter dalam film ini yang berinteraksi dalam satu semesta yang saling mendukung.

Christoper Robin bersama Pooh dan sahabatnya

Pernah, sekilas saya membaca buku The Tao of Pooh karangan Benjamin Hoff yang terbit di tahun 1982. Menurut buku itu, semua karakter dalam Pooh menampilkan banyak hikmah yang bisa menguatkan jiwa. Sikap Eeyore yang realistis, Piglet yang pemalu, Rabbit yang penuh kalkulasi, dan Pooh yang apa adanya adalah petunjuk untuk mencapai kebijakan rahasia (the secret wisdom) seorang penganut Taoisme.  Karakter Pooh adalah karakter seorang Master Taoisme yang melihat sesuatu secara sederhana. 

Dalam buku itu, Benjamin Hoff mengatakan, “Ketika kamu mengabaikan kesombongan, abaikan hal yang rumit dan juga abaikan hal-hal yang membuatmu makin sibuk, maka cepat atau lambat kamu akan menemukan ha-hal yang sederhana, kekanak-kanakan, dan rahasia semesta yang membawamu pada satu kalimat: hidup itu indah.”

Benar. Hidup ini indah. Tak perlu memaksa diri untuk mengejar sesuatu. Nikmati saja. Jalani apa adanya. Jangan lupa untuk piknik bersama keluarga.

Berebut Suara Habieb Rizieq



BIARPUN kini tengah berada di Arab Saudi, Habieb Rizieq Shihab tetap punya magnit politik yang kuat. Kubu pemerintah maupun oposisi bergantian mendatanginya untuk meminta dukungan politik. Suara pemimpin Front Pembela Islam (FPI) itu dianggap masih efektif untuk mempengaruhi kelompok Islam penggerak aksi 212.

Dua hari lalu, kubu oposisi, yang diwakili Fadli Zon dan Fahri Hamzah, mendatangi Rizieq di Arab Saudi. Foto pertemuan mereka diunggah Fadli Zon melalui twitter pada Juma (17/8/2018) lalu. Dalam foto itu, tampak Rizieq yang diapit Fadli dan Fahri. Mereka tersenyum sambil bergandengan tangan.

"Ngobrol 5 jam hingga jelang Subuh bersama Imam Besar Habib @RizieqSyihabFPI. Smg selalu diberi kesehatan n kekuatan," cuit Fadli lewat akun Twitter-nya, @fadlizon.

Fadli mengklaim kalau pertemuan itu hendak membicarakan tentang kebijakan haji. Namun spekulasi kalau ada diskusi politik di situ semakin kental. Apalagi, saat ini calon wakil presiden (cawapres) Jokowi yakni KH Ma’ruf Amin sedang berada di Saudi.

Ma’ruf pun dijadwalkan akan bertemu Rizieq demi membahas politik. Dua hari lalu, Senin (20/8), Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pereira mengakui kalau Ma’ruf Amin tengah berupaya mendapatkan dukungan dari Rizieq. Ma’ruf dinilai menjembatani pihak yang selama ini kurang menyukai kepemimpinan Jokowi.

"Ma'ruf bisa menjembatani dari kelompok-kelompok yang selama ini tertutup kepada Pak Jokowi. Ini memang mediasi atau diplomasi yang dilakukan Pak Ma'ruf," ucap Andreas di kantor CSIS, Jakarta, Senin (20/8).

Lobi yang dilakukan kubu pemerintah maupun kubu oposisi menunjukkan masih kuatnya pengaruh Rizieq pada sejumlah kelompok atau ormas berbasis Islam. Suara Rizieq masih punya pengaruh pada basis elektoral kelompok Muslim, khususnya di kalangan para pelaku aksi 212.

Sejauh ini, Rizieq dan kelompoknya belum menyatakan dukungan pada capres mana pun. Hasil Ijtimak Ulama I yang dilakukan beberapa waktu lalu memang merekomendasikan nama Prabowo didampingi ulama. Akan tetapi, Prabowo akhirnya memilih Sandiaga Uno, yang bukan berlatar ulama, dan tidak direkomendasikan oleh sejumlah kolega Rizieq.

Sementara Jokowi sendiri malah memilih wakil berlatar ulama yakni KH Ma’ruf Amin yang fatwanya telah dikawal oleh Habieb Rizieq dengan aksi berjilid-jilid. Sebagai seorang ulama, Ma’ruf Amin disebut-sebut sebagai salah satu ulama senior yang sangat disegani Rizieq.

Jika hasil Ijtimak Ulama II menyatakan dukungan pada Jokowi, atau minimal menyatakan netral, maka itu adalah pukulan telak pada kubu Prabowo. Itu menunjukkan keberhasilan lobi Ma'ruf Amin. Tapi jika hasil Ijtimak Ulama II menyatakan dukungan pada Prabowo, maka itu adalah hal yang umum dan dianggap wajar.

Jika pada akhirnya Rizieq mendukung pemerintah, sebab di situ ada Ma’ruf Amin, maka itu adalah bagian dari dinamika politik yang berkembang. Jika fenomena itu terjadi, maka tidak ada lagi isu anti Islam yang diberikan pada rezim Jokowi. Selanjutnya pilpres akan membahas isu-isu yang juga penting, misalnya ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Tapi pertanyaan yang pantas diajukan adalah apakah kubu Rizieq bersedia menerima Jokowi? Apakah kubu pendukung Jokowi bersedia dan menerima bergabungnya kubu Rizieq? Apakah bergabungnya Rizieq akan meningkatkan elektabilitas Jokowi?

Peneliti senior LSI, Adjie Alfaraby, memprediksi, bergabungnya Rizieq tidak akan menambah suara Jokowi. Malah, bisa berpotensi mengurangi suara. Sebab selama ini pendukung Jokowi sering berseberangan dengan Rizieq. Jokowi bisa mendapatkan suara dan pemilih baru, akan tetapi dia akan kehilangan lebih banyak orang yang tidak setuju kebijakannya.

Lembaga LSI yang dipimpin Danny JA sudah mengumumkan rilis survey yang menyebutkan beberapa pemilih Jokowi malah kecewa dengan pilihan Jokowi pada Ma’ruf Amin. Diam-diam, banyak pentolan kubu ini menyatakan golput dan belum menyampaikan sikap politiknya. Pilihan Jokowi pada Ma’ruf Amin dan rumor bakal bergabungnya FPI menunjukkan lemahnya Jokowi dalam mengambil keputusan.

Dia memilih berkompromi dengan realitas politik dan mengabaikan suara-suara pendukungnya yang selama ini berharap agar dirinya lebih tegas dan tidak tunduk pada oligarki partai politik. Pilihan paling aman bagi Rizieq adalah tetap bersama Prabowo. Pendukungnya tidak akan merasa aneh dengan kebijakan itu sebab selama ini mereka menjalin hubungan baik dengan pendukung Prabowo.

Di media sosial, dua kelompok ini bersatu dan sama-sama menjadi sparring partner diskusi terhadap kelompok Jokowi. Bisa saja dia berdalih kalau selama ini banyak kebijakan Jokowi yang makin menenggelamkan umat. Di tambah lagi, beberapa orang dekat Rizieq kemudian dikriminalisasi sehingga ruang geraknya semakin terbatas.

Tapi jika Rizieq masih mendengar suara pengikutnya, maka pilihan bersama Prabowo adalah pilihan yang paling diinginkan. Mereka bisa saling berkoordinasi untuk sejumlah agenda penting, yang sebelumnya sudah beberapa kali mereka lalukan. Koalisi keduanya juga hanya sekadar untuk menjatuhkan Jokowi. Keduanya belum menemukan formula yang tepat jika membahas kebijakan.

Dalam banyak sisi, belum tentu Rizieq akan selalu setuju dengan Prabowo. Belum lagi ada anggapan kalau Prabowo bisa kalah untuk ketigakalinya. Kalau itu terjadi, akses kubu Rizieq akan makin terbatas.

Jika kita menganalisis lebih dalam, masing-masing aktor sedang menjalankan peran-peran yang dianggap strategis. Jokowi berusaha mengakomodasi kelompok Islam dengan cara mengakomodir KH Ma’ruf Amin. Kelompok Prabowo berusaha mempertahankan Rizieq. Sementara Rizieq sendiri memilih untuk bersikap fleksibel, dan bisa jadi akan mendukung Ma’ruf Amin.

Pemilu masih lama. Tapi sejak dini, kita sudah perlu membuat pemetaan pada pilihan-pilihan rasional masing-masing pihak yang akan membawa pengaruh pada tujuan bernegara kita hari ini.


Empat Sesat Pikir Politisi dan Caleg di Media Sosial




KURANG dari setahun lagi pemilihan umum (pemilu) akan digelar. Pemilu kali ini diyakini beda dengan sebelumnya. Semakin banyaknya pemilih milenial yang menghabiskan waktu untuk berselancar di dunia internet telah menyebabkan teritori pertarungan bergeser. 

Dulu, pertarungan ide berlangsung di mimbar-mimbar kampanye, rapat terbuka, pengerahan massa, roadshow keliling daerah, baliho dan spanduk, serta aksi-aksi lapangan. Kini, teritori pertarungan akan banyak bergeser di internet, khususnya media sosial. 

Generasi milenial tidak mau didikte di kampanye terbuka yang menghadirkan artis dangdut. Generasi ini lebih suka duduk di rumah atau warung kopi, dengan laptop dan gadget di tangan. Mereka suka berselancar di media sosial dan memantau apa yang terjadi di situ. Ketika mereka menyukai satu figur di situ, maka mereka akan tetap memilih figur itu di dunia nyata.

Eric Schmidt, salah seorang bos Google, telah meramalkan fenomena ini. Katanya, dunia sekarang terbagi dua yakni dunia nyata dan dunia maya. Masing-masing dunia punya warga yang beraktivitas. Kata Eric, ada kecenderungan semua pemilik rumah di dunia nyata ingin membangun rumah di dunia maya yang luas dan tak bertepi. Jika Anda tak punya website, rumah, avatar, atau akun di media sosial, maka Anda tidak eksis. Anda tidak dikenal. 

Yang menarik, kata Eric Schmidt, semua perilaku di dunia nyata akan dipengaruhi oleh dinamika wacana di dunia maya. Dalam konteks politik, apa saja yang menjadi wacana di media sosial, pasti akan mempengaruhi wacana di dunia nyata. Itu sudah terjadi di banyak momen politik di tanah air. 
Beberapa hari lalu saya bertemu konsultan politik yang bekerja untuk salah satu pasangan yang kalah di pilgub Jawa Barat. Dia bercerita tentang adanya satu segmen besar masyarakat yang meskipun sudah dibombardir program dan hadiah-hadiah, tetap saja ngotot untuk pilih Ridwan Kamil (RK), sang pemenang. Setelah dicek, masyarakat itu malah belum pernah bertemu RK. 

Setelah diteliti lebih dalam, ternyata mereka adalah pengguna media sosial yang terlanjur menyukai semua postingan RK. Mereka telah lama menjadi pengikut (follower), ikut berinteraksi dengan pujaannya, serta bisa merasakan dan mengalami semua yang dialami RK melalui media sosialnya.

Kata konsultan itu, mau tak mau, media sosial akan menjadi pilihan utama bagi setiap kandidat sebagai amunisi untuk memasuki pertarungan politik. Media sosial telah merevolusi dunia politik Indonesia sehingga pertarungan politik tidak lagi berbiaya mahal dan melelahkan. 

Dulu, biaya mendatangi orang-orang sangat besar, apalagi jika lokasinya berjauhan. Sekarang, Anda hanya butuh perangkat teknologi, koneksi internet, dan sedikit kuota atau pulsa. Anda sudah punya kesempatan untuk menyapa ribuan warga di daerah pemilihan Anda.

Tampaknya, banyak politisi mulai menyadari itu. Setahun terakhir, saya mengamati media sosial yang semakin riuh dengan kehadiran politisi. Media sosial jadi ramai dengan banyak politisi yang rajin memposting sesuatu. Jika politisi dan caleg itu hendak memasarkan ide dengan harapan punya pengikut di situ, maka dia harus menyiapkan semua konten dengan baik. 

Persoalannya, banyak di antara politisi yang bukan berasal dari kalangan milenial sehingga tidak memahami dengan baik dinamika di situ. Sejauh yang saya amati, ada banyak salah kaprah di kalangan politisi yang baru memasuki media sosial.

Pertama, banyak yang mengira dunia medsos akan sama dengan dunia nyata. Jika di dunia nyata dirinya seorang tokoh di mana semua orang akan sopan dan hormat, maka dia berharap hal yang sama akan berlaku juga di dunia maya.

Pernah saya bertemu seorang politisi yang amat benci dengan media sosial. Dia kesal karena apa yang dibagikannya tidak ditanggapi orang lain, sementara orang biasa lainnya malah justru bisa jadi seleb medsos. Politisi ini kesal karena orang-orang menyapa dan memberi komentar yang dianggapnya merendahkan. Dia tak suka dipanggil Om atau Bro. Dianggapnya itu merendahkan. 

Di media sosial, orang memang tak boleh baper. Kalau gampang marah, maka sebaiknya jangan masuk rimba media sosial. Di situ, semua orang bebas bicara dan komentar apa saja sepanjang itu masih dalam batasan etika netizen. 

Politisi ini tidak paham kalau di media sosial, semua orang berposisi sama. Tak ada identitas yang pasti di situ. Tak ada istilah usia dan status sosial. Malah orang bisa memilih berbagai foto dan avatar, kemudian menyebut itu dirinya. Orang bisa saja mengaku laki-laki atau perempuan. Semua orang punya ruang yang sama untuk saling sapa dan berinteraksi. Siapa yang paham interaksi medsos, akan lebih disukai banyak orang.

Jangan juga mengira popularitas Anda di dunia nyata akan berlaku sama di media sosial. Itu sih keliru besar. Di media sosial, semua orang sama. Yang disukai adalah pihak yang bisa mencerahkan, memberi inspirasi, dan memperlakukan semua orang lain secara wajar dan berinteraksi. Anda tak bisa menuntut orang lain untuk menanggapi semua postingan Anda hanya karena Anda orang hebat di dunia nyata.

BACA: Dulu Ternak Kambing, Kini Ternak Akun Instagram

Kedua, banyak orang yang mengira media sosial gampang dikuasai. Dipikirnya, cukup rajin posting, maka dirinya akan populer. Biarpun Anda bikin postingan sampai lebih dari sepuluh dalam satu hari, tidak ada jaminan Anda akan populer. Belum tentu orang akan menyukai apa pun yang Anda bagikan. Di media sosial, semakin sering postingan Anda disukai dan dibagikan, maka popularitas Anda akan semakin besar. Demikian algoritma media sosial bekerja.

Jangan juga kaget melihat seorang “anak kemarin sore” tiba-tiba jadi seleb di media sosial. Padahal, postingannya biasa-biasa saja. Palingan hanya kegiatan sehari-hari. Kok bisa populer? Sebab anak kemarin sore itu tahu siapa pengikutnya di media sosial. Dia kenali siapa pasarnya dan bisa menyediakan konten yang sesuai dengan kebutuhan pasarnya itu. Dia bisa membaca pasar, lalu menampilkan karakter dirinya sesuai dengan yang dibutuhkan pasar. Dia tahu cara memenangkan wacana di media sosial.

Setahu saya, tak ada cara instan di media ini. Bahkan ketika kita membayar untuk sponsor dan iklan facebook, tetap saja tak ada jaminan apa yang kita tulis akan disukai dan dibagikan, jika kontennya memang tidak menarik. Artinya, hal terpenting untuk dikelola adalah konten. Semakin menarik, maka semakin besar potensi untuk disukai dan dibagikan.

Popularitas di media sosial tidak diukur dari berapa banyak posting. Bukan juga dari berapa banyak biaya yang kita keluarkan. Popularitas selalu terkait dengan seberapa jauh kita bisa menyentuh hati orang lain, seberapa dalam kita membuka wawasan, serta meninggalkan jejak di hati orang lain. Langkah ini jelas tidak mudah. Orang-orang butuh proses yang perlahan-lahan hingga akhirnya menjadi tetes air yang bisa menembus batu.

Ketiga, banyak politisi yang menjadikan media sosial hanya sebagai ruang untuk pencitraan saja. Sebenarnya, tak ada masalah dengan pencitraan sebab semua orang melakukannya. Pada titik tertentu, pencitraan akan positif jika menyentuh hati publik.

Tapi pencitraan akan jadi negatif ketika dilakukan terlalu sering sehingga menimbulkan kebosanan publik. Contoh yang bisa diangkat di sini adalah iklan kampanye Aburizal Bakrie yang begitu massif di stasiun televisi. Pada satu waktu, iklan ini tidak mengundang simpati, tetapi antipati sebab terlalu sering tampil sehingga publik bosan.

Pencitraan itu juga memosisikan seseorang seperti malaikat. Sejauh yang saya amati di media sosial, orang-orang lebih suka figur yang otentik dan apa adanya. Anda tak perlu menampilkan hal hebat. Cukup ide-ide atau gagasan biasa, tapi itu menggambarkan apa yang menjadi keresahan banyak orang. 

Anda bisa menyederhanakan semua yang rumit-rumi sehingga dipahami orang, sehingga banyak orang yang tercerahkan. Sekali Anda mencerahkan orang lain, maka dia akan menjadi pengikut setia atas semua yang kamu bagikan.



Menurut riset yang dilakukan Alvara, generasi milenial dan pengguna media sosial tertarik pada beberapa hal. (1) Mereka peduli dengan masalah sosial, makanya muncul petisi online dan situs berbagi. (2) Generasi ini suka berbagi pengetahuan, keterampilan, dan wawasan lainnya. Makanya, mereka suka dengan berbagai informasi mengenai tutorial. Banyak di antara mereka yang jadi referensi bagi rekannya. (3) mereka punya solidaritas yang tinggi pada follower (pengikut). Mereka suka mengabarkan apa pun. Mereka suka saling sapa dan memberitahu apa yang telah dan sedang dilakukan.

Keempat, banyak politisi yang menjadikan media sosial hanya sebagai pemantul dari berbagai isu-isu negatif mengenai calon presiden atau politisi Jakarta. Artinya, politisi ini menjadikan media sosial hanya sebagai arena tempur di mana dirinya adalah prajurit. 

Di satu kanal media sosial, saya menyaksikan seorang caleg yang sibuk menyebar berita yang isinya kejelekan atau fakta keburukan seorang calon presiden. Saya senyum-senyum sendiri saat melihatnya. Caleg ini tidak berpikir strategis. Harusnya dia menyadari bahwa pemilih di Indonesia terbagi dalam dua kelompok besar. Harusnya dia berkampanye bahwa siapa pun presidennya, maka caleg yang dipilih adalah dirinya sendiri.

Lagian, ketika dia hanya sibuk menjelekkan satu calon, maka sudah pasti dia akan kehilangan suara dari pendukung kubu yang dijelek-jelekkannya itu. Belum tentu juga pencinta capresnya akan mendukung dirinya. Sebab tindakan menjelekkan orang lain tidak selalu mengundang simpati.  Lantas, apa yang harus dilakukan?

Kata Sun Tzu, “Kenali dirimu, kenali lawanmu, maka ratusan pertempuran akan kamu menangkan.” Belajar dari Sun Tzu, seorang pakar strategi perang, jauh lebih baik jika kita mengenali kekuatan kita, apa saja yang kita miliki, kemudian mengenali musuh dan mengenali medan perang. Daripada fokus dengan medan perang orang lain, lebih baik kita fokus pada kekuatan apa yang kita miliki.

Jika saya dimintai masukan sama caleg itu, saya akan bilang padanya kalau arena pilpres bukanlah arena pertarungannya. Jika dia punya ide yang sama dengan capres, bolehlah ide itu memperkuat skema pemenangannya. Lebih baik dia fokus pada medan perang yang akan dia hadapi. Temukan di mana letak kekuatan, kemudian rencanakan strategi yang tepat untuk memaksimalkan semua kekuatan itu. 

Daripada sibuk memikirkan arena tempur orang lain, lebih baik memikirkan arena tempur yang akan kita hadapi. Sebab orang lain menang, belum tentu kita kecipratan. Tapi jika diri kita yang menang, maka sudah pasti banyak hal yang bisa kita lakukan. Iya khan?

*** 

NAH, itu hanya segelintir hal yang saya amati. Menurut saya, setiap politisi harus melihat media sosial sebagai arena yang harus dimenangkan dengan citra yang positif. Tak ada guna menjadikannya sebagai arena perang dan menebar musuh di mana-mana. Lebih baik serap energi positif sehingga orang-orang akan merasakan gelombang dan manfaat yang sama.

Kalaupun politisi itu tidak punya waktu dan tidak tahu bagaimana memanfaatkannya, maka dia bisa bekerja dengan satu tim media sosial yang punya kecakapan sebagai intelligence assistant.  Dalam buku Thomas L Friedman yang judulnya Thank You for Being Late, ada bab menarik mengenai bagaimana mengubah Artificial Intelligence menjadi Intelligence Assistant. 

BACA: Berbekal Media Sosial, Anak Ini Memenangkan Obama 

Maksudnya, bagaimana mengubah kecerdasan buatan (artificial intelligence) menjadi asisten cerdas (intelligence assistant). Di masa depan, profesi sebagai intelligence assistant akan makin marak. Di era kecerdasan buatan, seseorang butuh teman-teman atau asisten untuk berdiskusi yang bisa menopang sisi intelektual, memahami bahasa media sosial, dan mengembangkan aplikasi untuk merespon semua isu. 

Dibutuhkan pemahaman mengenai bagaimana media sosial demi bisa memaksimalkannya untuk kemenangan, baik di ranah bisnis maupun politik. Dibutuhkan satu strategi sehingga popularitas akan tinggi sehingga membawa dampak pada elektabilitas. Kita sudah menyaksikan strategi itu berjalan di beberapa pemilihan kepala daerah.

Seorang teman politisi pernah bercerita bahwa di pilkada barusan, strategi jangka pendek seperti bagi-bagi sembako dan proyek malah gagal di banyak tempat. Kerja politik menjadi kerja jangka panjang, dengan menguatkan karakter yang dilakukan secara konsisten di media sosial. “Sekali seseorang suka sama satu orang, akan sulit mengubah pilihannya,” kata teman itu.

Dia benar.



Iko Uwais Harumkan Silat Indonesia ke Pentas Dunia




NAMA Indonesia kian bergema di jagat hiburan dunia. Sebuah film yang dibintangi aktor Indonesia, Iko Uwais, resmi diputar di Amerika Serikat. Film yang juga dibintangi aktor papan atas yakni Mark Wahlberg ini menjadi panggung bagi aktor Indonesia itu serta bela diri pencak silat yang semakin dikenal dunia. Sepatutnya kita bangga.

Film itu berjudul Mile 22. Gala Premiere film ini telah dilaksanakan di Los Angeles, pada 10 Agustus 2018 lalu. Dalam acara megah itu, Iko Uwais datang bersama para bintang film itu. Selain Mark Wahlberg, ada juga nama-nama seperti  Lauren Cohan, pegulat Rounda Rousey, dan juga diva Korean Pop yang mantan anggota girlband 2NE1 Lee Chae Rin alias CL. 

Film ini adalah film Hollywood keempat yang dibintangi Iko Uwais. Sebelumnya, dia membintangi film Man of Tai Chi bersama Keanu Reeves, Star Wars: The Force Awakens, dan Beyond Skyline. Kebanyakan peran Iko hanya sebagai figuran yang tampil beberapa saat dalam film.  Tapi dalam Mile 22, dia menjadi aktor utama bersama Mark Wahlberg. 

Film ini mengisahkan sekelompok agen CIA yang harus memboyong 'tawanan' berharga mereka sejauh 22 mil. Tawanan ini adalah Iko Uwais yang berperan sebagai Li Noor, yang disebut-sebut menyimpan informasi krusial dan mematikan. 

Diproduksi oleh STX Entertainment, rumah produksi yang sudah mencetak kesuksesan dengan film-film seperti Bad Moms, Free State of Jones, Molly's Game, dan Den of Thieves. Untuk Mile 22, studio ini dikabarkan mengeluarkan biaya produksi sebanyak US$ 35 juta atau setara dengan Rp 504 miliar. 

Permainan Iko termasuk ditunggu semua orang. Saat Gala Premiere, rekaman vidio yang beredar di Twitter menunjukkan betapa banyak bule yang antre untuk mendapatkan tandatangan Iko. Bahkan Iko lebih populer ketimbang Lee Chae Rin, seorang diva atau personel girlband papan atas Korea.

Demikian pula saat sesi foto. Hampir semua orang yang hadir meminta Iko berpose dengan memperagakan gerakan silat. Iko melayani semua permintaan. Ia merentangkan kaki dan mengeluarkan jurus demi memanjakan para fotografer. Tak berhenti di situ, saat wawancara dia memperkenalkan silat kepada publik hiburan dunia.

“Style bela diri saya adalah pencak silat, Ini adalah bela diri yang merupakan tradisi di Indonesia. Saya ingin melakukan kolaborasi antara silat ala Indonesia dengan martial arts ala Hollywood,” katanya saat wawancara.

Mark Wahlberg memuji Iko sebagai bintang laga hebat dari Indonesia. “Iko adalah seorang aktor hebat. Dia membintangi The Raid, sebuah film yang menjadi standar bagi banyak film laga di Amerika,” kata Wahlberg dalam wawancara untuk behind the scene film Mile 22.

Iko perlahan menjadi ikon bela diri Indonesia di level dunia. Sebelumnya, ia menjadi aktor dalam film genre silat yakni The Raid 1 dan The Raid 2, film yang mengejutkan banyak warga dunia. Adegan pertarungan di film itu dianggap menampilkan seni yang brutal, tapi amat mematikan sehingga koreografinya indah dipandang.

BACA: Pusaka Kerambit dalam The Raid 2

Gara-gara film The Raid yang disutradarai Gareth Evans, silat menjadi bela diri yang ingin dieksplorasi film Hollywood. Sampai-sampai, banyak rumah produksi yang hendak memproduksi film laga memajang pengumuman yang isinya dicari orang-orang dengan kemampuan silat. Tak cuma itu, beberapa aktor silat diundang ke Hollywood untuk menjadi koreografer adegan laga di film, serta memberikan pelajaran silat bagi orang Amerika.

Di antara aktor itu, ada nama Yayan Ruhiyan dan Cecep Arif Rahman. Dua nama ini ikut bermain dalam film The Raid yang dibintangi Iko. Mereka telah mengenalkan silat ke panggung dunia, sehingga menjadi bela diri yang membuat banyak orang Amerika penasaran.

Saya ingat tahun 2011, saat saya mendapat kesempatan ke Pittsburgh, Amerika Serikat, dan bertemu Michael, warga Amerika yang mendalami silat. Mulanya dia menyaksikan atraksi silat dan langsung terkesima melihat gerakan-gerakan yang dikiranya kungfu sebab berasal dari Asia. Setelah mengetahui bahwa beladiri yang ditampilkan bukan kungfu, ia makin penasaran. “Sungguh menakjubkan. Saya kagum dengan gerak serta jurus mematikan dari bela diri itu. Seni bela diri ini telah menggemparkan Pittsburgh.“

Di Amerika, beberapa perguruan silat telah lama didirikan. Di antaranya adalah Padepokan Silat Al Azhar, yang bermarkas di Washington. Padepokan ini berdiri sejak tahun 1970 di Masjid Al Azhar oleh Muhammad Sufiyono dan Djauharul Abidin Bakir. Nama Al Azhar sendiri diperkenalkan oleh ulama legendaris Buya Hamka. Selanjutnya, Muhammad Sufiyono lalu memopulerkan silat hingga membuka cabang di banyak negara seperti Amerika Serikat (AS), Australia, Jerman, dan Afrika Selatan.

Di Washington, padepokan ini telah melahirkan beberapa pesilat yang kemudian sering mewakili Amerika Serikat (AS) pada beberapa kejuaraan dunia pencak silat.  Di antara pesilat itu, ada nama Abdul Malik Ahmad yang beberapa kali mewakili AS. Kini, ia berprofesi sebagai pelatih. 

Pria berusia 35 tahun ini mengenal pencak silat sejak usia 15 tahun. Ia diperkenalkan dengan bela diri ini saat berada di masjid di Washington. Setelah coba menjalani, ia langsung jatuh cinta dan memutuskan untuk menjadi pesilat. Mengapa tertarik dengan pencak silat? “Sebab silat memandu kita pada banyak hal. Ada sisi olahraga, namun ada juga sisi spiritual. Silat juga punya banyak senjata. Anda tak akan pernah bosan belajar silat. Selalu ada hal yang baru di situ.”

Satu hal penting, bela diri silat adalah warisan Indonesia yang kini mendunia. Di tambah lagi, bela diri ini tampil dalam beberapa film laga terkenal yang dibintangi Iko Uwais. Silat Indonesia kian mendunia dan menghadirkan kebanggaan bagi seluruh bangsa Indonesia.

Tanggung jawab besar berikutnya adalah bagaimana merawat tradisi ini sehingga tetap dicintai seluruh anak negeri. Jangan sampai, silat berkembang di luar negeri, tapi justru mati di dalam negeri. Ini menjadi tantangan bersama.


Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...

Google+ Badge