Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Mengeja Timur dari Buritan PERAHU

tiga buku yang dibuat tim Ekspedisi Maritim Timur Nusantara

SETIAP anak yang menemukan mainan paling diingininya, selalu akan bersorak kegirangan. Setiap pembaca buku yang disodorkan buku yang selalu ingin dibacanya pasti akan berreaksi serupa. Mainan dan buku adalah jendela untuk memasuki dunia imajinasi. Mainan dan buku adalah dua kepak sayap yang membawa pikiran beterbangan.

Di hadapan saya ada dummy atau draft tiga buku yang sungguh menarik. Ketiganya berada dalam satu bundel bertuliskan Ekspedisi Maritim Timur Nusantara, yang ditulis anggota tim ekspedisi. Buku pertama berjudul Pesan dari Buritan berisikan catatan perjalanan mengarungi samudera untuk menelusuri jejak perahu kecil para pelaut tradisional Buton yang berlayar ke timur Nusantara, di tanah-tanah eksotik Taliabu lalu ke tanah Maluku Utara dan Maluku Kepulauan. Dua buku lainnya adalah Menatap Halaman Timur dan Hore adalah kumpulan foto-foto menarik tentang pelayaran itu, serta sketsa para pelaut.

Pelayaran itu dimulai dari Wakatobi, yang sejak lama telah berkarib dengan semesta maritim, Di tanah itu, kita masih bisa menyaksikan perahu-perahu ramping yang gesit membelah lautan, kapal-kapal kayu berukuran besar yang masih hilir-mudik di lautan, juga bisa bertemu para nakhoda hebat yang bahkan di tengah gelombang raksasa pun masih bisa tersenyum sembari menghisap rokok kretek.

Saya menyukai buku ini karena beberapa sebab. Pertama, buku ini lahir melalui proses yang tidak mudah. Penulisnya mesti mengarungi samudera, melakukan perjalanan, lalu mencatat semua yang disaksikannya di perjalanan itu. Penulisnya menelusuri rute kuno pelayaran orang Buton yang terhenti akibat modernisasi sektor pelayaran. Pelayaran itu ditempuh dengan perahu kecil yang disebut bangka.

Kedua, data-data yang disajikan penulisnya menjadi bernilai karena data itu adalah data first hand reality. Penulisnya tidak sedang mengutip berbagai literatur, melainkan langsung memasuki jantung realitas, mencatat segala hal penting, lalu membagikannya kepada orang banyak.

Kerja itu menjadi begitu bernilai sebab penulisnya sekaligus melakukan ekspedisi, pengamatan terlibat, merasakan langsung bagaimana degup jantung para pelaut saat menyaksikan samudera, mengalami urat nadi lautan yang kadang kala penuh gelora, dan kadang kala tenang saat lembayung senja berarak di kejauhan.

Ketiga, ekspedisi ini menyajikan begitu banyak mutiara-mutiara berharga berupa pengalaman, kesaksian serta perjumpaan budaya. Membaca buku ini saya bisa merasakan bahwa para pelaut Buton datang berperahu ke kawasan timur tidak sekadar berdagang kopra, tapi juga bertukar budaya, menyebar silaturahmi, serta meninggalkan banyak jejak persahabatan. Banyak di antara pelaut itu yang menepi ke darat, lalu menikah dengan warga setempat. Mereka menjadi jangkar dari pertukaran budaya, serta menyisakan jejak-jejak pada jalur pelayaran tradisional itu. Banyak tradisi yang masih bisa dikenali akar kebudayaannya. Buku ini menjadi pintu masuk untuk mengeja kawasan pesisir di timur Indonesia.

rute ekspedisi

Keempat, cara penulisnya menggambarkan keadaan mengingatkan saya pada metode etnografi yang sering ditempuh para antropolog. Cara penulisan di buku ini menempatkan para penulis dan peneliti sebagai pembelajar yang datang ke lapangan untuk menyerap kearifan. Mereka membuang jauh-jauh segala bias dan keangkuhan orang kota dan orang luar, demi satu ikhtiar belajar dari masyarakat yang ditemuinya di perjalanan.

Pada bagian awal, penulisnya menggambarkan ekspedisi itu dibumbui oleh jejak sejarah yakni kelapa, pelayaran rakyat, dan perdagangan antar pulau. Kesemuanya adalah samudera di pelupuk mata perekonomian rakyat di timur Nusantara. Berkat pelayaran dan perdagangan kelapa itu, masyarakat di timur saling bertaut, lalu membentuk sabuk yang mengikat banyak budaya. Laut adalah ruang luas bagi mereka untuk bertegur sapa.

Membaca perjalanan lintas pulau yang bergerak mengikuti jalur perdagangan kopra itu mengingatkan saya pada kerja-kerja Celia Lowe, seorang antropolog asal University of Washington. Dia menulis tentang bagaimana ikan bius diperdagangkan dari Pulau Togean hingga pasar global di Hongkong.

Dalam buku Wild Profusion, Celia menelusuri perjalanan ikan itu serta konflik yang menyertainya. Dimulai dari konflik lokal, ketika suku Bajo menjadi tertuduh di Togean demi melindungi permainan bisnis para cukong yang hendak menyelundupkan ikan hidup itu ke Hongkong. Ternyata perdagangan itu hanya untuk memenuhi mitos keberuntungan orang kaya di pasar global yang percaya mitos bahwa memelihara ikan tertentu bisa membuatnya selalu beruntung.

Buku lain yang senapas dengan itu adalah Ekspedisi Cengkeh yang disusun oleh tim Inninnawa dan Insist. Buku itu menyajikan perjalanan menyusuri cengkeh sebagai komoditas utama yang membuat Nusantara menjadi mutiara yang diperebutkan bangsa Eropa. Keemasan cengkeh tidak seemas nasib para petaninya, yang justru tetap bersahaja. Nasib petani tidak seindah hebatnya kisah perdagangan cengkeh disebabkan permainan sejumlah pengusaha dan elite.




beberapa tampilan halaman dalam

Pada semua buku-buku itu, saya menemukan apa yang disebut George Marcus sebagai multi-sited ethnography, yakni cara untuk menemukan proses global dan memahami interkoneksitas orang-orang dalam proses globalisasi. Metode riset ini bisa membantu kita untuk memahami bagaimana dunia di era yang terus bergerak ini. Orang-orang, ide-ide, dan komoditas tidak lagi terikat pada satu ruang geografis, melainkan terus bergerak. Hanya dengan mengikuti ide, orang, atau komoditas, kita bisa menemukan satu benang merah pengetahuan yang mendalam.

Di era internet ini, ide-ide dipertukarkan dengan cepat dan melampaui batas-batas geografis. Orang-orang juga dengan mudahnya berpindah-pindah, lalu menyisakan jejak di mana-mana. Bahkan komoditas pun dengan mudahnya berpindah antar pulau dan kawasan hanya karena sentuhan jemari yang lalu tersebar ke mana-mana berkat kabel fiber optik. Teknologi tumbuh dengan cepat. Manusia saling terhubung dengan cepat, sesuatu yang sebenarnya telah terjadi di masa silam. Bedanya, kabel fiber optik itu berbentuk perahu, samudera, serta kecakapan seorang nakhoda mengarungi lautan. Pertemuan kebudayaan itu telah terjadi melalui persahabatan di lautan, dialog yang memperkaya pengetahuan, hingga berbagi kebaikan dengan banyak orang di banyak pulau.

Saya menyukai filosofi para pelaut Wakatobi sebelum berlayar, Mereka mengucap syair serupa mantra yang berbunyi bara moturu da’o. Secara harfiah bermakna janganlah kalian moturu (tidur) dan da’o (buruk). Pesan itu bisa ditafsir secara luas. Saat berlayar, berhati-hatilah, kenali cuaca, pelajari arus, pahami karang, pastikan haluan, hadapi bajak laut Terakhir, bawa diri baik-baik di rantau, pulang selamat dan berhasil.

Para pelaut itu mengajarkan satu filosofi: kehidupan itu serupa menjaga keseimbangan perahu dari berbagai gelombang. Di lautan ada banyak gelombang dan ombak yang menjadi karib para pelaut. Mereka yang memahami semua unsur semesta di sekitarnya adalah mereka yang bisa menjaga kemudi demi mengarahkan perahu agar menggapai tujuan.



Kendari, 26 Maret 2017


BACA JUGA:









Yang Menjengkelkan dari Beauty and the Beast



DI layar-layar bioskop, film Beauty and the Beast versi live action mulai ditayangkan. Orang-orang berbondong-bondong untuk menyaksikannya. Anak istri mengajak saya untuk menonton film itu. Saya tak seberapa antusias untuk menyaksikannya. Biasanya, yang saya sukai dari film besutan Disney adalah bahagian ending yang membahagiakan. Istilah kerennya adalah happy ending.

Tapi saya justru tak menyukai akhir kisah Beauty and the Beast. Bahagian akhir film ini benar-benar menjengkelkan saya. Andaikan saya mengenal sutradara film ini, saya akan meminta agar bagian ending itu dihapus, sebab merusak indahnya cerita yang dibangun sepanjang film.

Akhir yang tak saya sukai itu adalah adegan ketika Beast, pangeran buruk rupa, berubah menjadi pangeran tampan. Beast berubah setelah Belle menyatakan cinta padanya. Cinta Belle telah menghancurkan kutukan yang telah berlangsung lama, mengubah istana menjadi istana muram durja, mengubah wajah pangeran menjadi wajah Beast.

Mengapa saya tak suka adegan itu? Sebab kisah itu terasa sedemikian indah dan mengharukan saat Belle bersedia menerima Beast dengan segala kekurangannya. Cinta adalah sesuatu yang berdiam dalam diri dua insan, sukar terbahasakan, namun gemuruhnya terasa saat keduanya saling memandang. 

Kesediaan Belle menerima Beast apa adanya adalah gambaran indah tentang cinta yang sungguh dahsyat. Cintanya Belle pada Beast yang buruk rupa adalah cinta yang melintasi segala bentuk konstruksi manusia. Cinta yang hebat adalah cinta yang melabrak batasan tentang cantik-jelek, kaya-miskin, tampan-buruk, hingga mempesona-menjengkelkan. Cinta yang menakjubkan adalah cinta dari seseorang yang tak menuntut apapun. Dia yang mencintai adalah dia yang rela mengorbankan apapun demi kebahagiaan orang yang dicintainya.

Jika film ini hendak menunjukkan keagungan cinta, maka seharusnya Beast tetap dengan wajah buruknya. Di situ ada kesediaan menerima, pandangan yang melihat substansi ketimbang aspek lahiriah, serta kekuatan untuk tetap mencintai di tengah perbedaan. Di situ ada kekuatan hati dan kejernihan dalam menilai seseorang, yang melampaui semua batasan-batasan material.

Saat Beast kembali berubah menjadi pangeran tampan, kisah ini kehilangan greget. Kisah ini jadi serupa dengan film-film romantis lain, yang seolah hendak mengatakan bahwa cinta itu hanya ada di hati lelaki tampan dan perempuan cantik. Padahal, cinta adalah sesuatu yang universal di hati semua orang. Dia ada dalam tatap Beast pada Belle, ada pada senyum seorang ibu pada anaknya, ada dalam sikap heroik mereka yang rela mati untuk orang lain.

Andaikan tak ada adegan akhir itu, cintanya Belle dan Beast yang dahsyat itu akan terekam abadi.

***

BAGI yang menyaksikan film ini dari versi kartun ataupun live action sering tidak menyadari kalau film ini menanam banyak stereotype di pikiran. Tanpa kita sadari, film ini punya banyak stereotype yang seharusnya dipahami agar tidak membuat kita berpikir seragam.

Sosok Belle sebagai protagonis memiliki kualitas yang sama dengan putri-putri Disney lain. Belle mewakili gambaran tentang cantik menurut Disney. Jika diterjemahkan, nama Belle berarti cantik. Kulitnya terang, rambut lurus, mata lebar. Dia kurus dan punya pinggang ramping. Suaranya indah didengar. 

Dalam beberapa film Disney, semua putrinya memiliki penampilan yang sama. Mereka selalu putih, ramping, rambut lurus, dan tampil seperti wanita aristokrat atau bangsawan. Beberapa peneliti telah mengkritik keras stereotype tentang perempuan cantik ini, Seolah-olah untuk menjadi cantik, anda harus putih. Pantas saja jika berbagai pagelaran ratu kecantikan selalu diprotes sebab menyeragamkan pengertian cantik. Padahal, semua kebudayaan punya definisi berbeda tentang cantik.

Belle juga digambarkan aneh sebab punya kebiasaan membaca. Yang menarik, dari semua bacaan Belle, bab favoritnya adalah kisah saat perempuan bertemu pangeran tampan. Bagian ini menunjukkan bahwa meskipun Belle suka berpetualang, drive atau dorongan kuat dalam dirinya adalah menemukan pangeran tampan dan menikah dengannya. Ini tak beda dengan putri Disney lainnya. Kita bisa mengatakan bahwa film buatan Disney ini menyederhanakan karakter Belle sebagai seorang ibu rumah tangga bahagia yang sukses menikah dengan pria tampan dan kaya.

Jika analisis hendak dilanjutkan, kita bisa pindah ke beberapa karakter. Ada sosok Lumiere, yang berubah menjadi pembawa lilin. Dia berbicara dengan aksen Perancis yang kental. Dia beberapa kali mengatakan, saat kembali jadi manusia, maka dia akan melanjutkan hobinya yakni memasak dan berkencan dengan perempuan. Gambaran romantisme ini menjadi setereotype terhadap orang Perancis.

Sosok lain yang patut disimak adalah Cogsworth. Dia adalah jam dinding yang selalu kaku dan menegaskan aturan. Ketika ayah Belle memasuki kastil dalam keadaan basah, semua benda hendak membantunya. Cogsworth adalah satu-satunya yang mengingatkan mereka untuk tidak berbicara dengan siapa pun. Selain itu, ia menegaskan bahwa jika ia menjadi manusia lagi, mimpinya adalah "menyeruput teh." 

Nah, jika Perancis identik dengan kencan, maka Inggris identik dengan sikap yang kaku dan tegas pada aturan.

*** 

JIKA dilihat dari sisi hiburan, film ini tetap menarik ditonton. Melalui kanal Youtube, saya menyaksikan soundtrack-nya yang masih memikat. Biarpun saya lebih suka vokal Celine Dion dan Peabo Bryson dalam versi kartunnya, saya tetap menyukai lagu yang dinyanyikan ulang oleh Ariana Grande dan John Legend ini. Kalimat awalnya masih mengiang di telinga saya:

Tale as old as time
true as it can be
barely even friends
then somebody bends
unexpectedly.

Semoga bisa segera menontonnya.



Bogor, 19 Maret 2017

Lima Buku Manuel Castells



PERBURUAN itu akhirnya berakhir. Empat buku setebal lebih 500 halaman, serta satu buku setebal 300-an halaman yang kesemuanya ditulis Profesor Manuel Castells, akademisi komunikasi negeri Paman Sam, telah memenuhi rak buku di rumah.

Mulanya saya membaca Communication Power, ternyata malah ketagihan untuk membaca buku lainnya dari akademisi ini. Saya belum tahu kapan bisa menghabiskan semua buku ini. Saya jarang membaca buku teks dengan cara runtut, dari awal sampai akhir. Saya membaca bab-bab tertentu yang saya butuhkan, kemudian membuat catatan-catatan. Lebih banyak catatan itu yang saya simpan sendiri di buku harian. Banyak pula yang saya bagikan dengan cara ngobrol dengan para sahabat yang singgah ke rumah.

Setiap orang punya cara sendiri untuk mengalami rasa bahagia. Ada yang menemukan bahagia saat melihat tumpukan uang, ada juga yang merasakannya saat berlibur di tempat keren. Saya menemukan bahagia itu saat mengamati tumpukan buku yang semakin sesak di ruang sempit rumah. Bahagia itu akan semakin berlipat-lipat, saat menemukan nama sendiri di sampulnya. Itu jauh lebih keren dari apapun.

Dengan melihat judul buku saja, saya selalu merasa senang. Memandang banyak buku selalu menghadirkan inspirasi, sekaligus rasa penasaran. Dengan melihat judul, saya langsung memikirkan banyak topik, setelah itu mulai membuka lembar demi lembar. Bisa membaca tiga lembar saja dari buku teks sudah merupakan kemajuan besar buat saya.

Belakangan, memandang buku ini menghadirkan rasa cemburu. Betapa tidak, para akademisi dan peneliti di negeri sana punya adrenalin menulis setingkat dewa. Mereka sedemikian produktif dan bisa melahirkan buku-buku setebal ini di tengah kesibukan mengajar dan meneliti. Saya yakin, buku seperti ini lahir di tengah iklim membaca yang juga setingkat dewa. Mustahil lahir sintesis ide-ide, tanpa proses mencari bahan, meracik bumbu gagasan, memasak, lalu menyajikannya dengan menarik.

Dalam kelas Falsafah Sains, Prof Endang Suhendang, pengajar senior di kampus IPB, pernah mengatakan, insan akademis kita serupa pohon pisang. Sekali berbuah, setelah itu mati. Para intelektual kita hanya sekali menulis buku berupa olahan dari disertasi, setelah itu merasa puas dengan hanya melahirkan tulisan pendek untuk koran. Usai mengolah disertasi menjadi buku, karya berikutnya adalah kumpulan opini. Katanya lagi, ilmuwan asing beda dengan ilmuwan kita. Setelah riset dan kontemplasi, ilmuwan asing akan melahirkan DALIL, sementara ilmuwan kita akan melahirkan DALIH.

Saya yakin dia sedang bercanda. Saya tidak merasa tersindir. Saya bukan akademisi. Saya hanyalah seorang pengangguran yang sesekali melukis di saat senggang.

Selamat pagi Indonesia.


Suatu Hari Bersama Lelaki Bermata Sipit



DI Bandara Sukarno-Hatta, saya melihat lelaki itu. Dia duduk di sudut ruangan, agak terpisah dari orang-orang. Matanya sipit, kulitnya terang, rambutnya lurus. Saat ditanya petugas bandara, ia tampak tidak memahaminya. Ketika beberapa patah kata keluar dari mulutnya, langsung saya menebak kalau dia berasal dari Cina.

Dalam beberapa penerbangan ke Kendari, Sulawesi Tenggara, saya selalu bertemu dengan banyak orang Cina. Bahkan saat meninggalkan Kendari pun, saya bertemu banyak warga dari negeri tirai bambu itu. Mereka selalu datang dalam rombongan. Mereka selalu kesulitan dalam berkomunikasi dengan petugas bandara. Mereka tak bisa bahasa Inggris, hanya bisa bahasa mandarin.

Selama beberapa tahun terakhir, banyak warga Cina hilir mudik di Sulawesi Tenggara. Kata seorang kawan, ada pabrik baja dan stainless steel yang dibuka di Morosi, perbatasan antara Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Pabrik itu adalah investasi Cina di Indonesia. Demi membangun pabrik itu, banyak pekerja didatangkan, bahkan pekerja kasar pun didatangkan dari negeri itu.

Situasinya memang agak dilematis. Perusahaan itu mengantongi ijin sejak eranya Presiden SBY. Rupanya, manual book ataupun guidance untuk mesin-mesin pabrik itu dibuat dalam aksara Cina. Praktis, hanya warga dari negeri itu yang bisa memahaminya. Mungkin, alasan itu pula yang membuat migrasi banyak karyawan Cina di sana. Dari sisi sosial, tak banyak interaksi dengan warga setempat. Yang ada adalah tatap curiga pada mereka.

Lelaki yang saya lihat di bandara itu agak berbeda dengan rombongan warga Cina yang pernah saya temui. Lelaki ini mengenakan jas dan tampak sangat rapi. Tampilannya mengesankan dirinya warga kelas atas, yang berbeda dengan penampilan warga Cina lainnya yang sering saya saksikan. Saya hanya menyaksikannya dari jauh.

Tak lama kemudian, suara nyaring memancar dari pengeras suara. Semua penumpang diminta naik pesawat. Saya lalu memanggul ransel dan menuju pesawat. Tak lupa, saya juga mengeluarkan buku. Dua jam perjalanan akan saya isi dengan membaca buku.

Entah, apakah kebetulan, posisi duduk saya di kursi bagian belakang, bersisian dengan lelaki Cina itu. Saya dan dia hanya diantarai oleh lorong yang dilaui pramugari dan semua penumpang. Saat melirik ke arahnya, dia pun memandangi saya. Kami sama-sama tersenyum. Saya lalu menyapanya dalam bahasa Inggris. Dia menjawab dengan bahasa mandarin. Kami tak saling mengerti.

Saat pesawat hendak bergerak, dia mengambil lembar panduan yang menayangkan petunjuk pemakaian pelampung. Aksara petunjuk itu terdiri atas bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Jepang. Saya menyapanya lalu menunjuk aksara Jepang, sembari berkata dalam bahasa Inggris, "Apa kamu mengerti tulisan ini?” Ia menggeleng. Setidaknya, kami mulai berkomunikasi.

Saat pesawat lepas landas, saya kembali mencoba berkomunikasi dengannya. Lagi-lagi problem bahasa. Terpaksa komunikasi kami lakukan dengan gerak tangan. Dia menunjuk gambar kopi dan makanan. Setelah itu menunjuk harga yang tertera 50.000 rupiah. Saya menjelaskan kalau itu adalah harga yang harus disiapkannya saat memesan makanan itu. Dia lalu membuka dompet, lalu menunjukkan uangnya yang sebesar 100 ribu rupiah. Saya katakan, dia bisa memesan dua porsi makanan itu.

Saat pramugari melintas, dia menunjuk gambar itu lalu berbicara dalam bahasa mandarin. Pramugari itu langsung paham dirinya hendak memesan menu tadi. Lelaki itu mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu, lalu menunjuk ke arah saya. Rupanya dia juga ingin memesan menu yang sama buat saya. Meskipun saya menolak, dia tetap ngotot agar saya mau menerima kebaikannya. Menu pesanannya datang. Saya menikmatinya lalu mengucapkan terimakasih.

Sesuai makan, dia lalu mengeluarkan beberapa roti dari tas kecil yang dibawanya. Kembali ia memberikan saya roti itu. Saya melihat bungkusnya ditulisi aksara mandarin. Artinya roti itu dibawanya dari Cina. Saya mau saja menikmatinya. Menjelang pesawat mendarat, kembali dia mengeluarkan bingkisan. Isinya adalah berbagai jenis camilan dari Cina, mulai dari roti, kue, permen, dan berbagai jenis coklat. Biarpun saya menolak, dia tetap ngotot agar saya menerimanya.

Saat itu saya merenung. Semuanya bermula dari senyuman dan sapaan. Tak ada ruginya tersenyum dan menyapa orang lain. Boleh jadi, orang lain memang ingin disapa, meskipun tak saling memahami bahasa. Bisa saja saya bertindak serupa penumpang lain yang cuek dan mengabaikannya. Perjalanan itu akan berlangsung biasa-biasa saja, tanpa ada kejadian luar biasa. Namun saat saya tersenyum dan menyapanya, dunia berubah. Dia menawarkan keramahan, dan memberi saya banyak kebaikan.

Dalam hidup, ada banyak orang lalu lalang yang melintas di hadapan kita. Kita sering abai dan tidak peduli pada mereka. Namun cobalah tersenyum pada mereka. Dunia yang tadinya kaku akan berubah menggembirakan. Cobalah menyapa, barangkali dunia akan menawarkan banyak hal baik untukmu. Berawal dari senyum, selanjutnya terbangun komunikasi, dan terakhir saling berbagi kebaikan.

Saat tiba di Bandara Halu Oleo, Kendari, saya masih jalan bersisian dengan lelaki itu. Saya menyebut beberapa kata yang mungkin dipahaminya. Saya menyebut Morosi hingga Kendari. Dia tak memberi respon. Saat saya sebut Beijing, matanya berbinar. Dia lalu menjabat tangan saya dengan hangat. Dia lalu menyebut dirinya datang dari Beijing. Di depan bandara, kami berpisah.

Di luar sana, Kendari tengah disapa gerimis.



SILARIANG, Sepenggal Kisah Bugis Makassar

adegan film Silariang

BADIK itu telah dihunus. Ujung badik mengarah ke bawah sebagai pertanda kalau pemiliknya akan segera menikam seseorang. Ada teriakan yang menyayat-nyayat yang hendak meluruhkan amarah. Tapi pemilik badik tak juga menyurutkan langkahnya. Ia sedang menegakkan siri’ atau harga diri. Sejurus kemudian, suara nyaring merobek siang di pematang sawah. Crash.....!

Semalam, saya menyasikan penggalan film Silariang di Kendari. Tadinya saya tak punya rencana menyaksikan film ini. Tapi melihat antrian panjang di bioskop itu, kebetulan saya menginap di hotel depannya, saya pun penasaran. Saya berpikir kalau banyak orang antri menyasikan film itu, pasti ada sesuatu yang menarik. Minimal ada sesuatu yang menggerakkan orang-orang untuk datang dan menyaksikannya. Bukan perkara mudah mendatangkan banyak orang untuk membeli tiket lalu menonton film.

Saya lalu singgah dan menyaksikan poster dan trailer film. Ternyata film itu dibuat oleh para sineas yang melahirkan film Uang Panai’. Film ini menjadi fenomena di jagad perfilman kita. Sebab film itu dibuat oleh rumah produksi lokal, sineasnya lokal, juga ditonton orang lokal. Tak tanggung-tanggung, film itu ditonton lebih satu juta orang. Film itu tak hanya ditonton di Makassar, tapi juga kota-kota lain yang didiami banyak perantau Bugis-Makassar.

Strategi marketing film Uang Panai sangat tepat yakni menyasar orang Bugis Makassar dan warga kawasan timur. Nah, film itu bisa membuat para perantau Bugis-Makassar di banyak kota ke bioskop untuk merasakan nostalgia kampung halaman mereka. Konon, film itu menembus box office film nasional kita. Jumlah orang Bugis Makassar di seluruh Indonesia diperkirakan sampai 20 juta orang. Satu persen saja yang menyaksikan film itu, maka film itu sudah untung besar.

Nah, artinya, sesuatu yang lokal bisa menjadi tontonan nasional sepanjang dikemas dengan tepat. Lagian, apa sih batasan lokal dan nasional? Biasanya, orang hanya melihat simpel bahwa nasional itu identik sama Jakarta. Padahal, kriteria ini bisa diperdebatkan sebab menunjukkan kuasa dari Jakarta dalam menentukan bangunan bernama budaya pop Indonesia.

Mengutip Robert Chambers, kita seringkali mengidap penyakit bias kota. Kita sering beranggapan bahwa segala yang di kota, segala yang di level nasional, pastilah lebih baik. Padahal belum tentu. Faktanya, semua daerah juga mereproduksi konen budaya yang memperkaya rumah besar kebudayaan kita.

Sebagai peneliti, saya sangat mengapresiasi semua yang berasal dari daerah. Saya melihat film tidak semata teknik, sinematografi, editing, dan kualitas akting. Saya melihat pesan-pesan yang hendak disampaikan, serta kekayaan makna yang merupakan khsanah pusaka milik warga setempat. Saya menyukai lokalitas sebagai sesuatu yang unik, lebih membumi, dan merepresentasikan kelokalan. Pada titik ini, saya menyukai kisah-kisah yang digali dari banyak sudut Indonesia.

Film Silariang dibuat dengan napas yang sama dengan Uang Panai’. Film ini merekam denyut nadi dan jantung keseharian orang Bugis Makassar. Saya menyukai dialek khas Makassar yang dibuat natural, tanpa dibuat-buat. Bagi mereka yang lama di Makassar lalu pindah ke kota lain, pasti merasakan bagaimana lidahnya “terlipat-lipat” dikarenakan harus menyesuaikan aksen atau logat bicara di kota lain itu. Logat Makassarnya terlanjur melekat. Nah, film ini menampilkan gaya berbicara sehari-hari khas orang Makassar, lengkap dengan segala atribut budayanya.

Jujur, ketertarikan saya pada film ini berawal dari sejumlah nama yang terlihat di poster. Saya mengenal Rere, sang sutradara. Biarpun saya tak begitu akrab dengannya, saya mengenalinya karena dia bermain musik bersama teman saya Ferry di kelompok Art2Tonic. Kelompok musik itu paling unik sebab selalu mengusung tema-tema lokal yang dikemas menarik, khas anak muda Makassar. Kelompok itu punya kebenarian sekaligus konsistensi untuk tetap mengusung muatan lokal, merekam budaya keseharian anak muda, dan menampilkannya secara menarik.

Selain beliau, saya mengenal banyak nama. Saya tak ingin membahas satu per satu. Saya hanya ingin membahas Syahriar Tato. Dahulu, saya sering ngopi dengannya di Gedung Kesenian Makassar. Dia sering memublikasikan puisi-puisi yang dibuatnya saat keliling dunia. Saya tak begitu menyukai puisinya. Tapi di ranah teater, saya suka penampilannya. Dia pemain teater yang sangat aktif. Kata orang, profesi aslinya adalah pegawai negeri di Pemprof Sulsel. Tapi dugaan saya, profesi PNS itu hanya sambilan. Profesi utamanya adalah pekerja seni.

Kisah Silariang ini terbilang sederhana. Mengisahkan dendam masa silam, ketika satu keluarga merasa dipemalukan sebab anak perempuannya bunuh diri karena perbuatan anak keluarga lain. Dengan mengusung jenazah si anak, keluarga itu lalu datang ke satu pernikahan yang digelar keluarga lain. Mereka menuding pengantin pria telah berbuat hal yang mencoreng harga diri. Di hadapan banyak orang, bapak si anak perempuan mecabut badik lalu menikam si pengantin pria. Ia dianggap menegakkan harga diri yang terlanjur terkoyak. Bapak si anak lelaki tak berdaya sebab menganggap apa yang dilakukan bapak perempuan itu memang harus dilakukan, jika dilihat dari tatanan adat.

Cerita lalu bergeser ke 15 tahun berikutnya. Ternyata anak-anak dari dua bapak itu menjadi sahabat di kampus. Mereka saling mencintai. Hubungan itu tak direstui kedua orangtua sebab masih trauma dengan peristiwa masa silam. Dua insan itu memutuskan untuk lari dari rumah, atau silariang. Bapak perempuan itu merasa harga drinya terkoyak dan bertekad untuk membunuh mereka sebab dianggap mempermalukan keluarganya. Kisahnya cukup seru untuk diikuti.

Kisah itu memang sederhana. Namun, di kalangan orang Bugis-Makassar, silariang menjdi satu kanalisasi dalam budaya bagi pasangan yang tak direstui. Biarpun zaman semakin modern, jodoh masih dianggap sebagai ranah yang ditentukan oleh keluarga di kalangan Bugis Makassar. Pernikahan bukan saja arena mengukuhkan cinta dua orang, tapi menjadi arena untuk menghubungkan dua keluarga besar, merevitalisasi hubungan sosial, sekaligus mereproduksi budaya dan tatanan adat. Makanya, penting bagi satu keluarga untuk mengetahui silsilah calon keluarga lain, sebelum akhirnya memutuskan untuk menggelar pernikahan.

Dalam kasus-kasus hubungan yang tak direstui, silariang menjadi satu kanal dalam budaya, yang dipilih stau pasangan, namun sangat tak diinginkan oleh dua keluarga besar. Keluarga akan merasa malu, tercemar harga dirinya, sehingga gengsi dan status sosialnya di masyarakat bisa turun. Orang Bugis sangat memegang teguh status dan posisi sosial itu. Makanya, tindakan yang mencemarkan nama baik itu hanya bisa ditebus dengan kematian. Keluarga yang anaknya lari dari rumah itu pasti akan mencari anak itu sampai ke ujung dunia, lalu membunuh si anak demi menegakkan siri’ atau harga diri.

Di lihat dari sisi ini, orang Bugis lebih heroik dari kisah Romeo dan Juliet. Jika Romeo memilih menenggak racun bersama Juliet, maka pasangan Bugis memilih untuk lari dari rumah dan pindah ke kota lain, kemudian bersiap menghadapi semua risiko, termasuk kehilangan nyawa. Semua pasangan yang silariang tahu persis risiko yang akan dihadapi.

Namun, harus dicatat pula bahwa tak semua kisah silariang berakhir dengan kematian. Saya mendengar banyak kisah Silariang yang happy ending. Biasanya saat pasangan itu punya anak, pintu rekonsiliasi akan terbuka. Sebab sekasar dan sekeras apapun perangai orang Bugis, mereka mudah luluh melihat cucunya. Mereka tipe penyayang hebat yang siap berkorban apapun demi keluarganya. Mereka bisa melupakan semua dendam masa silam, saat anaknya datang kembali, memanggilnya “puang” sebagai panggilan kehormatan bagi bapak, kemudian menunjukkan bayi yang montok dan ceria. Di titik ini, mereka akan menerima kembali anaknya, meskipun di hadapan masyarakat akan berpura-pura murka seolah tidak mengakui lagi anaknya.

Di film Silariang, aspek-aspek humanis yang saya bahas ini hadir di beberapa adegan. Saya suka pada cerita bagaimana seorang bapak ingin menegakkan harga diri, namun terkalahkan oleh rasa sayangnya pada anak serta cucu. Saya suka adegan saat bapak, yang diperankan Syahriar Tato, bersiap membunuh, namun tiba-tiba saja menjadi tak berdaya saat anak perempuannya keluar lalu berbisik. “Tahan emosita Puang. Ini cucuta. Kalau mau bunuh, sekalian bunuh saya sama cucuta. Biar dia nda yatim piatu.” Bapak itu terdiam, mundur, dan pulang ke rumah. Setiba di rumah, saudaranya berteriak, “Apaji. Biar kita saja yang bunuh.” Bapak itu menjawab singkat, “Ko belum tahu bagaimana rasanya punya cucu.”

Rere dan para pemeran film

Sosok lain yang saya sukai di film ini adalah Mama Ramlah. Dia seorang waria yang membesarkan anak perempuan itu hingga dewasa. Keberadaan Mama Ramlah menjadi pemanis dalam film sebab kecentilan dan gayanya menjadi hiburan bagi penonton. Mungkin, kalangan yang anti LGBT akan benci melihat sosok Ramlah, tapi bagi yang pernah hidup di masyarakat Bugis pasti akan paham kalau keberadaan waria memang diterima secara sosial. Mereka menempati posisi khusus sebab merupakan keluarga dekat yang banyak membantu. Unsur komedi yang dihadirkan Mama Ramlah mengingatkan saya pada komedian Tumming dan Abu di film Uang Panai.

Kekurangan yang sangat mencolok dalam film ini adalah aspek sinematografi yang lemah. Sineasnya perlu belajar bagaimana komposisi, pergerakan kamera, serta bagaimana membuat gambar yang natural dan pas. Saya agak terganggu saat adegan di dermaga, tiba-tiba saja gambar pasangan itu diambil pakai drone yang juga memperlihatkan sutradara, kameramen, dan barisan kru yang sedang mengambil gambar. Saya sempat ngakak melihatnya. Akting pemain juga banyak yang tidak maksimal. Beberapa adegan sedih dari ibunya Ali terasa hambar sebab aktingnya standar. Banyak gambar yang “bocor” sebab aktornya tersenyum di luar skenario. Bagian yang juga lucu adalah saat si bapak hendak menikam, tiba-tiba saja pengikutnya berbaris rapi seolah pengambilan gambar klip lagu rock Malaysia. Ini mau menikam, kok malah berbaris.

Namun, hal-hal seperti ini yang justru saya sukai. Saya jenuh menyaksikan televisi dan film-film yang terlampau rapi. Sedikit menyimpang, tak masalah. Yang jauh lebih penting adalah publik menyukai dan mengapresiasinya. Justru yang ingin saya saksikan dalam film ini adalah segala sesuatu yang khas Makassar, dengan segala kelucuan dan ketidaksempurnaannya. Saya percaya bahwa seiring waktu hal-hal teknis ini akan terus dibenahi.

Yang pasti, film ini sukses membuat saya duduk menyaksikannya sampai selesai. Saya mengategorikannya sebagai film yang menginspirasi, serta sebagai jendela untuk memahami Bugis-Makassar. Film ini cukup mampu membuat saya merasa tegang dan menunggu-nunggu penyelesaiannya. Saya menyukai semua dialek dan percakapan khas orang Makassar. Menyaksikan film ini dengan segala aktor dan aktrisnya membuat saya bernostalgia banyak hal. Bahkan, saya sibuk menebak-nebak lokasi pengambilan gambar. Pada beberapa dialog, saya juga kembali memperbarui canda-canda khas di Makassar sana.

Bagi saya, kriteria film bagus adalah bisa membuat saya tetap menyaksikan di bioskop, serta menghadirkan perasaan puas saat meninggalkan gedung pertunjukan. Film ini saya anggap cukup bagus. Beberapa adegan dalam film ini sukses membuat saya terkenang-kenang hingga keluar bioskop. Gambar paling saya sukai adalah dua orang saling menikam dengan badik di dalam satu sarung yang sama, dengan latar belakang air terjun di Malino. Gambarnya keren. Tiba-tiba saya kangen sama Malino. Ah, betapa rindu saya dengan kota itu.

Bahkan soundtrack film ini yakni Sajeng Rennu terus mengiang-ngiang di telinga saya. Lagu yang dahulu sangat baik dinyanyikan oleh Anci La Ricci ini dikemas ulang dengan menarik, dinyanyikan oleh Ika KDI. Bahkan, sehari setelah menyaksikan film ini, saya masih saja bersenandung lirih:


Kegani maka utiwi sajang rennu atikku
Eloku sedding ro mate
Na tea lao nyawaku
Notaroa sajang rennu
Naulleku tapakkua

Kemanakah akan kubawa rasa kecewa dihatiku
Ingin rasanya aku mati saja
Namun nyawaku tak mau pergi
Kau biarkan aku dalam kecewa
Teganya kau lakukan itu padaku




Kendari, 5 Maret 2017

BACA JUGA:






Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...