Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Kisah Seorang RAJA yang Telanjang




Lelaki tua itu datang menemui raja yang sedang bersama menteri dan pejabat. Dia bilang siap membuatkan satu baju terindah dunia yang penuh dengan perhiasan dan permata. Raja tertarik. Apalagi, dua minggu lagi akan ada karnaval. 

Tapi, lelaki itu bilang ada syaratnya. Apakah gerangan? Hanya orang baik dan berhati tulus yang bisa melihat baju itu. Hanya orang jahat yang tidak melihat baju itu.

Raja menyanggupi. Dia menyerahkan dana awal berupa permata dan perhiasan mahal. Di satu ruangan istana, lelaki itu mulai bekerja. Sepekan pertama, Raja berkunjung. Dia melihat lelaki itu seolah-olah sedang menyulam. Tapi, Raja tidak melihat bahan di situ. Dalam hati, Raja menggumam, “Apakah saya bukan orang baik sampai-sampai tidak melihatnya”

Lelaki itu berpura-pura memegang kain, kemudian bertanya pada Raja, “Bagaimana Yang Mulia. Indah kan?” Raja sesaat kebingungan. Raja ingin dianggap baik. Dia pun menjawab, “Wah, itu baju yang keren. Hebat.”

Hari karnaval tiba. Lelaki tua itu datang menemui Raja. Dia membawa nampan kosong. Kepada Raja dia berkata: “Yang Mulia, lihat mahakarya ini. Baju hebat ini akan membuat dirimu terlihat berkharisma di hadapan rakyat.” 

Raja tidak melihat satu potong baju di nampan itu. Tapi dia takut dianggap bukan orang baik. Dia berpura-pura lihat dan menjawab, “Karya yang hebat. Saya suka sekali.”

Para menteri dan hulubalang juga tak melihat baju. Sebagaimana Raja, mereka takut dianggap jahat sehingga bisa diturunkan dari posisinya. Semuanya juga berpura-pura melihat. “Indah sekali Yang Mulia. Ini baju terhebat yang pernah saya lihat,” kata seorang menteri. Semua di ruangan itu berdecak kagum.

Raja dan lelaki itu masuk ke ruangan khusus. Raja membuka bajunya dan hanya memakai celana pendek. Dia bertelanjang dada. Lelaki itu seolah-olah memakaikan mahakarya itu ke Raja. Semua abdi istana yang melihatnya sontak berdecak kagum. Semuanya bilang itu baju hebat.

Ketika Raja ikut karnaval keliling kotaraja, semua rakyat melihatnya. Semua heran melihat Raja yang tak berbaju. Hingga akhirnya, seorang anak kecil berteriak: “Hei, lihat. Raja tidak memakai baju.” Anak itu tertawa keras. Semua orang ikut tertawa dan membenarkan suara anak kecil itu.

Raja pun merasa malu. Dia murka dan memerintahkan agar lelaki pembuat baju itu ditangkap. Rupanya, lelaki itu sudah lama kabur dan membawa perhiasan dari istana. Kisah ini menjadi desas-desus dan dibahas semua orang, meskipun pihak istana selalu menyangkalnya.

*** 

Kisah ini pernah saya temukan dalam Arabian Night atau Kisah 1001 malam. Banyak versi pada kisah ini. Inti ceritanya masih sama yakni ada seorang pemimpin yang selalu ingin dicap baik. Dia dikelilingi orang-orang yang serupa beo selalu membenarkan kalimat pemimpin itu. 

Dalam hidup, kita sering bertemu karakter serupa. Kita sering bertemu pemimpin yang selalu ingin dianggap hebat oleh semua orang. Mereka selalu ingin menjadi pusat perhatian semua orang. Mereka tidak mau terlihat bodoh. Mereka selalu ingin jadi titik pembicaraan, yang namanya selalu dibahas semua orang.

Kita sering menemui orang yang mengira dirinya hebat hanya karena semua orang di sekelilingnya mengatakan hebat. Kita pernah ketemu orang yang bangga sekali saat semua kalimatnya disambut tepuk tangan dan sorak banyak orang. 

Sosok ini ini dikepung semacam kesadaran palsu bahwa dirinya akan selalu jadi pusat perhatian. Padahal, orang sekitarnya sengaja memujinya hanya karena mengincar sesuatu. Saat satu kenyataan menguak topeng seseorang yang merasa hebat ini, para pendukungnya akan kabur dan membiarkannya sendirian.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa demi untuk tampil luar biasa, seseorang yang merasa dirinya hebat bisa melakukan apa pun, bahkan hal bodoh sekali pun. Orang ini tidak paham bahwa di luaran sana, malah orang-orang sibuk bergunjing dan menertawakan dirinya. Apa daya, dia dikelilingi orang oportunis yang selalu membenarkan tindakannya.

Di sisi lain, kita pun harus berani mengakui betapa kita ikut andil dalam orkestra kebodohan ini. Saat seorang pemimpin bilang sesuatu, kita ikut membenarkannya. Kita tidak berbicara kritis sebab takut dia marah lalu menyingkirkan kita dari pusaran kekuasaan. 

Kita sering kali lebih khawatir penilaian orang lain ketimbang berbicara apa adanya. Kita tahu bahwa kebenaran itu kadang kala pahit. Kita tak siap dengan kepahitan itu, dan lebih suka sesuatu yang manis, padahal yang manis itu bisa membahayakan.

Saat seorang pemimpin bertanya mana yang bagus antara sirup manis dan jamu pahit, kita sering merasa lebih nyaman menyebut sirup manis. Sebab jamu rasanya pahit dan bisa membuat seseorang marah. Padahal, sirup manis itu bisa menjadi penyakit, sedangkan jamu pahit justru bisa menyembuhkan.

Seorang bijak berkata, jika kita dalam posisi pemimpin, maka kita harus peka terhadap berbagai suara-suara yang masuk. Jangan biarkan emosi yang mengendalikan nalar. Tetap kritis dan rendah hati. Percayalah, keputusan hebat selalu lahir dari pikiran yang jernih, serta dari masukan yang juga jernih. 

Jika tetap emosi, kita hanya akan menjadi tertawaan. Iya kan?



Rumah BUGIS Milik SI PITUNG


dari jendela Rumah Si Pitung

Di rumah Si Pitung yang berbentuk rumah adat orang Bugis, saya mengenang sketsa orang Bugis di Batavia. Mulai dari kisah-kisah pesisir sampai kisah keperkasaan. 

***

CUACA terasa panas dan berangin saat kami memasuki wilayah Kampung Marunda di Jakarta Utara. Jalan-jalan berdebu dan dipenuhi truk-truk kontainer saat mobil yang kami tumpangi menuju kampung itu. Di kiri kanan, terdapat banyak area yang dipenuhi alat-alat berat.

Jangan bayangkan pesisir Jakarta Utara seperti pantai-pantai indah di wilayah lain. Jangan bayangkan pohon kelapa dengan latar langit biru dan pasir putih. Deru ekonomi dan hilir mudik mobil kontainer membuat kawasan ini menjadi kawasan industri yang riuh. Mobil-mobil truk berdesakan mengingatkan saya pada pasar senggol di mana semua orang bergegas dan saling menyikut. 

Kawasan Marunda menjadi satu titik yang dikepung oleh lalu lintas sibuk, deru kendaraan, serta suara-suara besi tua bertubrukan. Saat mobil kami memasuki kawasan Sekolah Tinggi Pelayaran, barulah suasananya mulai terasa rindang. Hingga akhirnya kami mencapai kampung nelayan Marunda.

Saya dan Dwi sengaja berkunjung ke Rumah Si Pitung yang ada di kawasan ini. Sehari sebelumnya, kami berkunjung ke Museum Bahari yang menampilkan replika kapal, peta-peta tua, serta suasana Jakarta pada masa keemasan VOC.

BACA: Syair Lelaki Bugis di Pulau Penyengat

Semua koleksi museum ini mengingatkan kami pada masa-masa ketika kapal-kapal berbagai bangsa hilir mudik datang dari negeri-negeri Eropa ke Batavia, yang masa itu disebut Queen of the East. Ratu dari Timur.

Rumah Si Pitung berada di lahan yang lebih sempit dari lapangan bola. Tak ada tempat parkir yang memadai dari situ. Kami harus parkir di depan kompleks itu, pada satu area yang sempit. Untuk memasuki kompleks rumah ini, kami harus membayar 5.000 rupiah per orang, jumlah yang tidak terlalu besar.

Magnet kompleks ini adalah rumah Si Pitung yang berdiri di tengah-tengah. Rumah itu adalah rumah panggung atau rumah kayu khas orang Bugis. Sebagai orang Sulawesi Tenggara, rumah ini tak asing di mata saya. 

Rumah-rumah tradisional khas orang Sulawesi semuanya terbuat dari kayu. Letaknya selalu di pesisir. Kata seorang kawan, posisi rumah panggung untuk mengantisipasi pasang naik air laut. Di pesisir Sulawesi, kolong rumah di pesisir digunakan untuk menyimpan perahu, jala, jaring, hingga menjadi tempat peralatan bagi nelayan.



Saya tertarik dengan sosok Si Pitung. Semasa kecil, saya menonton film laga mengenai Si Pitung yang diperankan aktor Dicky Zulkarnaen. Si Pitung adalah sosok jagoan yang sangat populer di masyarakat Betawi. Dia merampok harta orang Belanda dan orang-orang kaya Batavia kemudian membagi-bagikan rampasan itu kepada rakyat kecil.

Saya masih ingat persis di satu adegan ketika orang Belanda datang mencari Si Pitung di satu rumah. Karena tak sempat lari, Si Pitung lalu berubah menjadi ayam sehingga lolos dari orang Belanda itu. Pitung amat lihai bersilat.

BACA: Mencari Navigasi Bugis Hingga Amerika Serikat

Dia kalah karena seorang jagoan lokal disewa Belanda untuk mencuri jimatnya. Saat itulah semua kesaktiannya hilang. Badannya ditembus peluru emas milik kompeni hingga akhirnya tewas diterjang peluru.

Dalam beberapa literatur, Si Pitung digambarkan sebagai bandit sosial pada abad ke-19. Dia seperti Robin Hood yang mengambil harta orang kaya kemudian mengembalikannya pada orang miskin. Orang Betawi melihatnya sebagai pahlawan, sementara Belanda menganggapnya sebagai pengacau keamanan. Entah mana yang benar.

Sosok lain di Nusantara yang seperti Si Pitung adalah I Tolok Daeng Magassing, seseorang yang disebut sebagai bandit sosial asal Makassar. Dia juga merampok orang Belanda, lalu membagikan hasil jarahan itu ke rakyat kecil. Keperkasaannya menjadi legenda yang selalu dituturkan.

Hingga kini jejaknya masih terasa. Saat orang Makassar nonton film laga, biasanya orang akan selalu bertanya “Siapa tolok-nya?” Maksudnya siapa sosok jagoan di situ. Kata Tolok ini mengacu pada I Tolok Daeng Magassing.

Tradisi lisan mengisahkan nama asli Si Pitung adalah Salihoen. Ada juga yang menyebut namanya Ahmad Nitikusumah. Dia belajar silat di perguruan “Pituan Pitulung” yang bermakna tujuh sekawan, pimpinan Hadji Naipin. Terdapat banyak versi tentang Si Pitung. Umumnya melihat dia sebagai sosok yang melawan Belanda, serta digambarkan sebagai Muslim yang saleh dan alim.

*** 

DI depan rumah Si Pitung, saya mulai bertanya-tanya. Mengapa rumah si Pitung adalah rumah etnik Bugis? Apakah Si Pitung punya kaitan dengan Bugis?

“Rumah ini sebenarnya bukan rumah Si Pitung. Ini rumah yang pernah disinggahi dan ditinggali Si Pitung pada tahun 1890-an. Rumah ini milik Haji Safiuddin, seorang juragan tambak ikan asal Bugis,” kata seorang bapak tua yang datang ketika melihat saya sedang memotret.

dari beranda rumah

Bapak ini tidak tahu persis mengapa Si Pitung datang ke rumah itu. “Saya juga tidak tahu persis, apakah Si Pitung datang ke sini setelah merampok atau saat bersembunyi dari kejaran pemerintah Belanda,” katanya lagi.

Rekan saya Dwi menilai rumah ini persis rumah neneknya di Pattiro, Bone, Sulawesi Selatan. Dwi memang berasal dari tanah Bugis, namun baru beberapa tahun di Jakarta. Saat melihat depan rumah dan hendak naik, dia merasa seperti pulang kampung. “Saya ingat rumah nenek di Pattiro,” katanya sumringah.
Bentuk rumah itu memang seperti bentuk rumah-rumah rakyat di Sulawesi Selatan. Jika kita baik tangga, maka kita akan menemui teras dan kemudian ruang tamu. Ada ruang tengah yang menjadi tempat kumpul keluarga, kamar tidur, hingga dapur.

Sayangnya, rumah ini tak menyimpan banyak artefak. Saya membayangkan di situ ada pakaian-pakaian atau benda-benda yang bisa memberi gambaran seperti apa kehidupan sosial orang Bugis di Betawi pada abad ke-19. Minimal kita bisa menyerap banyak pengetahuan, tidak sekadar menyaksikan rumah.

Saya teringat catatan sejarawan Leonard B Andaya. Orang-orang Bugis sudah lama berkelana dan menempati kawasan pesisir Nusantara. Di Batavia, mereka mulai berdatangan dalam jumlah banyak sejak abad ke-17. Pada masa itu, Arung Pakkka, seorang pangeran Bugis, datang membawa 300 pengikutnya.

Pemimpin Batavia masa itu adalah Gubernur Jenderal Joan Maetsueyker yang sedang galau karena berhadapan dengan kekerasan di mana-mana. Dia menyambut baik kedatangan Arung Palakka yang diharapkan bisa mengatasi semua kekerasan dan para jago di Batavia. Pasukan Arung Palakka diizinkan tinggal di tepian Kali Angke, sehingga mereka dijuluki To Angke, dalam bahasa Bugis bermakna Orang Angke.



Tak butuh waktu lama, orang-orang Bugis menjadi pendekar yang paling disegani di Batavia. Apalagi saat itu, Arung Palakka bersahabat dengan Kapiten Jonker, seorang jagoan asal Pulau Manipa, Maluku, yang pasukannya diberi izin tinggal di kawasan yang kini disebut Pejongkeran.

Kelak, Arung Palakka dan Kapiten Jonker bersekutu dengan Cornelis Speelman, seorang mantan Gubernur Jenderal VOC di Srilanka yang dipecat karena kasus korupsi. Tiga sosok ini kelak akan bekerja sama dan mendapat misi untuk menggempur Makassar yang dipimpin Sultan Hasanuddin. 

*** 

SAYA masih di rumah Si Pitung ketika ingatan tentang catatan sejarah berseliweran di kepala saya. Rumah ini menyimpan banyak sketsa sejarah yang membawa saya pada banyak hal. Saya membayangkan phinisi yang membelah lautan dan membawa orang-orang Bugis ke medan Batavia yang keras. 

Tapi mereka adalah nakhoda yang tangguh menghadapi lautan bergelombang dan menghanyutkan. Pelaut ulung tidak pernah lahir dari lautan tenang. Mereka selalu muncul dari lautan penuh gejolak, badai, dan tantangan yang bisa menciutkan nyali. Mereka melewati ujian alam di lautan demi menjadi pemimpin di daratan.

Saya membayangkan Si Pitung yang bertemu Haji Safiuddin yang menguasai laut dan darat. Saya membayangkan pasukan Bugis, yang dipimpin Arung Palakka, yang pada masa itu pernah sedemikian menggetarkan para pendekar di Batavia.

Mungkin, atas alasan ini pula, pada tahun 2014, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pertama kali menyatakan diri siap menjadi Presiden RI saat berada di Rumah Si Pitung. Dia memberikan deklarasi di situ sembari menyerap kekuatan jawara lokal yang menimba pengalaman pada saudagar dan nakhoda Bugis.

Beberapa budayawan Betawi mengkritik Jokowi yang melakukan deklarasi di situ. Ada pertanyaan: "Lu mau ngapain deklarasi di situ? Mau lawan kompeni?"

Dalam hati saya menggumam, tak semua orang paham makna sejarah apa yang tersimpan di situ. Di tempat itu, saya menyimpan banyak catatan.



Nasib Koalisi PRABOWO Seusai Pilpres




AKHIRNYA, Prabowo Subianto sujud syukur merayakan “kemenangan”-nya. Survei internal yang diadakan partai pendukung menyatakan dia menang pilpres. Dia sudah memberi pidato kemenangan dan menyatakan dirinya sebagai presiden semua rakyat.

Semua orang bersorak-sorai. Suara takbir bergema dengan kuat. Semua merasa menang. Semua merasa sedikit lagi akan menggenggam kekuasaan. Penantian Prabowo selama hampir 10 tahun akhirnya terwujud. 

Nama Prabowo telah lama masuk bursa kontestasi pilpres, telah lama membangun kekuatan dan basis pendukung. Tidak mengejutkan jika pendukungnya banyak dan militan.

Tapi perayaan kemenangan itu terasa hambar. Tidak ada Sandiaga Uno yang telah mengeluarkan uang hingga 1 triliun rupiah. Dia tidak didampingi ketua-ketua partai politik. Sorak-sorai itu terasa hambar.

Sebelum pilpres, beberapa lembaga survei telah menyampaikan prediksi. Hasil quick count tidak begitu jauh. Beberapa lembaga survei kredibel telah mengeluarkan hasil quick count yang menyebutkan Jokowi-Ma’ruf menang telak. 

Yang saya anggap paling mendekati adalah Cyrus dan Kompas. Tapi, kubu Prabowo meragukan kredibilitas banyak lembaga survei. Jika saja lembaga seperti LSI Denny JA dan SMRC kurang dipercayai, bagaimana halnya dengan Litbang Kompas dan RRI yang selama ini selalu dianggap netral?

Rasanya baru kemarin semua pendukung Prabowo memuji-muji Kompas yang dianggap netral sebab mengabarkan jarak elektabilitas yang tersisa 11 persen. Kini, Kompas pun sudah dianggap sebagai musuh hanya karena hasil quick count yang dirilis menyatakan Jokowi menang.

BACA: Prediksi Akurat Siapa Kalah Menang di Pilpres

Andaikan quick count itu menyatakan Prabowo menang, pasti akan dipuja-puji. Dulu, ketika quick count menyatakan Anies menang, semuanya gembira. Ahok menunjukkan dirinya sebagai seorang ksatria ketika langsung mengadakan jumpa pers. Dia tetap menunggu real count, tetapi baginya hasil quick count sudah menjadi gambaran awal. 

Rupanya, Prabowo tidak setangguh Ahok dalam menghadapi kekalahan. Dia tetap delusi dan merasa yakin menang. Dia juga tidak sekuat Grace Natalie yang langsung mengumumkan kekalahan PSI, meskipun masih menunggu real count.

Bagaimana posisi para elite yang selama ini mendampingi Prabowo? Bagaimana lanskap politik setelah hasil pilpres perlahan mulai terkuak?

Percayalah, tidak semua elite politik kita akan baper dengan hasil pilpres ini. Para elite kita malah lebih sibuk memantau hasil pemilu legislatif. Di situ, ada pertaruhan nasib ribuan orang yang mengajukan diri sebagai anggota dewan. 

Saya punya beberapa dugaan sementara mengenai konfigurasi politik setelah quick count diumumkan. Kita akan cek bersama dengan hati riang gembira.

Pertama, elite Partai Demokrat akan lebih awal mengarah ke tengah. Belum tentu mereka akan mendekat ke Jokowi, tapi bisa diduga mereka akan meninggalkan Prabowo. Tanda-tanda itu sudah terlihat sejak masa kampanye saat SBY dan juga AHY tidak pernah menyebut Prabowo dalam pidato-pidatonya.
Demokrat memang sejak awal “setengah hati” gabung dengan koalisi Prabowo. Target besar Demokrat adalah bagaimana menyiapkan AHY sebagai presiden. Jika Prabowo jadi presiden, jalan AHY akan semakin terjal sebab harus menunggu periode kedua Prabowo, kemudian Sandiaga yang akan maju pilpres.

SBY juga sejak awal bermain di tengah. Di koalisi Prabowo, dia sudah menitip orang-orangnya yakni Ferdinand Hutahaean, Andi Arief, Hinca Panjaitan, dan Rocky Gerung. Sementara di koalisi Jokowi, dia juga sudah lama mengirim orang yakni Hayono Isman, Ruhut Sitompul, dan TGB.

Kedua, PAN juga pelan-pelan meninggalkan Prabowo. Apa pun hasil Pemilu, pergolakan di tubuh PAN semakin kuat sehingga bisa jadi akan mendorong lahirnya Muktamar Luar Biasa untuk mengganti ketua umum. 

Bukan rahasia lagi jika kelompok Hatta Rajasa masih eksis dan kuat. Beberapa anggota kelompok ini malah sengaja mendukung Jokowi di pilpres ini, di antaranya adalah Waketum PAN Bima Arya Sugiarto. 

Dalam pidatonya di satu acara relawan Jokowi, Bima sudah menyebut misi PAN justru sama dengan misi Jokowi. Dia menyesalkan kemudi partai yang dibawa ke Prabowo. Bima membuka ke publik bahwa ada friksi dan perbedaan di dalam PAN yang bisa berujung ke Muktamar.

Sebagaimana halnya Golkar yang kemudian terpecah jadi dua seusai kemenangan Jokowi tahun 2014, maka PAN juga bisa berada pada kondisi serupa sehingga pemenangnya adalah siapa yang dekat pemerintah. Sebab pemerintah melalui Kemenkuham punya palu godam untuk mengendalikan partai politik.

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligent, hingga Kediktatoran Digital

Ketiga, bagaimana halnya dengan PKS? Di pemilu ini, PKS menunjukkan bahwa mereka masih memiliki mesin politik yang hebat sebab bisa stabil dan diperkirakan akan mendapat 8 persen suara. 

Padahal PKS tengah di ambang perpecahan karena banyak figurnya yang berpaling ke GARBI, bentukan Anis Matta. PKS pun sukses mendapatkan coat tail effect dengan kehadiran Prabowo. Perolehan PKS dan Gerindra sama-sama meningkat. Gerindra bisa dapat 12 persen, sedangkan PKS dapat 8 persen.

Tapi, elite PKS sering menyampaikan kekecewaan karena posisi Wagub DKI yang sudah dijanjikan Gerindra tak kunjung diterima. Kesannya, beberapa elite PKS merasa di-PHP oleh Prabowo. Ini juga menjelaskan mengapa mesin siber mereka tidak banyak bergerak di udara. 

Keempat, jika Demokrat membentuk poros baru, maka PAN dan PKS berpotensi merapat ke situ. Mereka punya sejarah dan DNA untuk menyatu. Mereka bersatu karena didasari pertimbangan pragmatis: jika bersama Gerindra, nasib mereka tidak jelas, mending mendekat ke Demokrat yang lebih punya harapan. 

Selain itu, partai-partai ini lega karena sudah melewati ambang batas untuk amsuk parlemen. Selanjutnya, mereka bisa menata kekuatan untuk menghadapi lima tahun mendatang.

Kelima, kubu paling setia yang mendampingi Prabowo dan Gerindra adalah persaudaraan 212 dan FPI. Kelompok ini akan tetap bersama Prabowo dan melihat pilpres ini sebagai medan jihad. 

Indikasinya adalah perayaan kemenangan Prabowo yang akan segera diadakan hanya diikuti oleh kelompok ini, sementara partai politik perlahan menjaga jarak. 

Bahkan di kalangan Gerindra pun banyak yang mulai main mata ke kbu sebelah, utamanya paa pengusaha yang masih berharap pork barrel project (proyek gentong babi), istilah dari peneliti Edward Aspinall untuk menyebut proyek-proyek rekanan dari pemerintah kepada sejumlah pendukungnya.

*** 

Kemenangan ibarat gula yang akan didatangi banyak semut, diundang maupun tidak diundang. Sementara kekalahan identik dengan kesepian ketika semua orang menjauh. Kata Mahfud MD, semua pihak yang kalah pasti akan menuduh KPU curang. Ini sudah berlangsung dari pilkda ke pilkada, dari pilpres ke pilpres.

Prabowo pun sudah merasakan kesepian itu di tahun 2014 saat Golkar, PPP, dan PAN merapat ke pemerintah. Situasi yang sama akan terulang kembali. Semua peserta Pemilu akan sibuk mencari formasi baru untuk bersiap menghadapi Pemilu berikutnya.

BACA: Andai Steven Pinker Membahas Bung Karno

Saya melihat kemenangan Jokowi disambut gembira oleh partai-partai koalisi sebab lima tahun mendatang, politik ibarat tanah lapang yang tidak bertuan. Semua bisa memasuki padang luas itu dan kembali bertarung demi mencari keseimbangan. 

Sebab elite politik kita memang pragmatis. Benar kata ilmuwan Harold Lasswel: "Politik adalah siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana."

Di atas kertas, elite memaknai politik sebagai perjuangan dan pembumian gagasan ideologi. Tapi pada praktiknya, elite politik mengejar kepentingan sesaat demi keuntungan sebesar-besarnya di masa kini dan masa depan. 

Mereka sibuk mencari posisi demi kuda-kuda yang lebih kuat sebagai bargaining politik kekinian dan masa depan. 

Kita lihat nanti.



Mereka yang Lebih Percaya Dukun Politik




Ibu itu terlihat seperti ibu-ibu kebanyakan. Penampilannya modis. Dia tampak seperti ibu pejabat. Saya diajak seorang politisi bertemu ibu itu. Ternyata ibu modis itu berprofesi sebagai paranormal. Tapi, ibu itu sendiri mengaku profesinya adalah dukun. Di mata saya, dia terlalu cantik untuk disebut dukun.

Kami baru berbincang sejenak ketika ponselnya berdering. Rupanya, seorang menteri kabinet menghubunginya. Ibu itu bercerita kalau selama beberapa tahun ini telah mengawal menteri itu. 

Dia menyuruh menteri itu menjalankan sejumlah ritual yang kemudian mempengaruhi semesta. Nama menteri itu selalu baik di mata publik. Dia menolak jika keyakinannya dianggap sirik. Menurutnya, proses-proses spiritual yang dilakukannya tidak melanggar agama. 

Ketika teman politisi itu berbincang dengan ibu itu, saya memilih di luar ruangan. Saya tak melihat detail apa yang mereka diskusikan. Saya membayangkan dukun itu membaca aura, melihat tanda-tanda alam di tubuh politisi, kemudian merapal mantra. 

Saya teringat buku yang ditulis Nils Bubandt berjudul Demokrasi, Korupsi, dan Makhluk Halus dalam Politik Indonesia Kontemporer. Buku ini berisikan amatan etnografis terhadap aroma mistis di kalangan politisi di Maluku Utara. Dalam buku itu, Bubandt bercerita mengenai peran dukun dan makhluk halus dalam politik kita. 

Para dukun bekerja berdasarkan order. Ada yang menggunakan santet untuk menciderai lawan politik, ada yang memakai jin untuk mengawal saat debat kandidat, hingga mantra dan sihir yang dipakai para politisi.

Para politisi Jakarta juga banyak yang menggunakan dukun. Semasa jurnalis, saya pernah mewawancarai seorang dukun, yang mengaku sakti, di rumahnya di kawasan Kalibata. Dukun itu meraup uang miliaran dari bisnis meminjamkan jin kepada politisi agar selalu tampil percaya diri di hadapan publik. Saya tak ingin membuka siapa politisi itu.

Seperti ditulis Nils Bubandt, keberadaan para dukun ini antara ada dan tiada. Maksudnya, mereka disangkal politisi di hadapan publik, tapi diam-diam politisi mencarinya. Kerja para dukun seperti para intelijen yang senyap, cepat, dan tepat sasaran.

Politik kita tak semua rasional. Tapi juga irasional. Demi menjadi pelayan publik, seseorang tak cuma menjalankan proses-proses politik yang rasional, tapi juga melakukan hal yang irasional. Di antaranya adalah menemui dukun dan mencari wangsit.

Sementara orang yang sedang bertahta juga kadang-kadang mengonsolidasikan kekuasaannya dengan mistik. Dalam pemilihan pejabat, seorang pemimpin bisa mengabaikan data statistik dan analisis rekam jejak seseorang jika dukun atau paranormal memberikan rekomendasi yang buruk. 

Saya pernah membaca catatan sejarah mengenai Presiden Soeharto yang sangat percaya pada wangsit dan tanda-tanda alam. Soeharto lebih percaya pada wangsit dalam hal memilih siapa yang hendak diorbitkannya. 

Sejarawan Asvi Warman Adam bercerita mengenai nasib tragis Sarwo Edhie Wibowo di masa Soeharto. Sebagai komandan pasukan yang memimpin penyingkiran para anggota komunis, Sarwo Edhie berharap kariernya bisa mencapai posisi Panglima TNI.

Rupanya, Soeharto melihat popularitasnya sebagai ancaman. Soeharto memarkirnya di posisi-posisi yang tidak penting. Mulai dari Dubes Korea Selatan, Kepala BP7, hingga anggota DPR. Malah Sarwo Edhi hendak dijadikan Dubes Uni Soviet, sesuatu yang amat menyakiti Sarwo Edhie sebab dia pernah menghabisi para komunis.

Kata seorang sejarawan, Soeharto mendapat wangsit atau wahyu keprabon kalau Sarwo Edhie akan menjadi penguasa berikutnya. Itulah sebab mengapa Soeharto menyingkirkan Sarwo Edhie sebelum menjadi ancaman baginya. 

Seorang sejarawan bilang, wangsit itu tidak salah. Wangsit itu memang turun ke Sarwo Edhie, tapi bukan untuk dirinya. Wangsit itu malah turun ke menantunya Susilo Bambang Yudhoyono yang kemudian menjadi Presiden Indonesia dua periode.

Nah, dua hari lagi Indonesia akan menggelar pemilihan presiden. Jika politik kita dipenuhi dengan aroma mistik, maka kepada siapa wangsit kekuasaan itu kini jatuh? Apakah jatuh kepada tukang kayu kurus kerempeng dari Solo itu, ataukah jatuh ke seorang jenderal yang pernah memimpin Kostrad?

Sepertinya saya harus menanyakan kepada ibu yang berprofesi sebagai dukun ini.

MACROWIKINOMICS di Era Kecerdasan Terhubung




INI adalah cerita tentang Rob McEwen. Dia adalah seorang CEO Goldcorp Inc, perusahaan pertambangan kecil di Toronto, Kanada. Perusahaan itu sudah nyaris tutup ketika utang semakin membengkak, pemogokan karyawan, serta kondisi pasar yang tidak menguntungkan.

Bagi McEwen geolognya sudah tidak bisa diandalkan lagi untuk menemukan sumber emas baru. Dia sudah habis-habisan menyuntik dana agar para geolog di perusahaan itu bisa maksimal bekerja, tapi hasilnya selalu nihil.

Suatu hari, McEwen membaca informasi tentang bagaimana Linux Torvalds dan sekelompok pengembang piranti lunak merakit sistem operasi komputer kelas dunia melalui internet. Torvald membuka semua sandi, menggratiskan layanan, sehingga para pengembang bisa mempelajari dan memberikan kontribusi. 

Di masa itu, Linux seperti Facebook dan Google yang menggratiskan layanan. Semua orang menjadi member yang memperkaya data yang kian menyempurnakan. Tanpa sadar, semua orang ibarat menyumbang kepingan bata yang menyusun bangunan kokoh perusahaan itu.

McEwen berpikir, kolaborasi semacam itu pasti bisa diakukan di industri pertambangan. Selama ini, pertambangan adalah industri yang tertutup. Industri ini punya banyak rahasia, sebagaimana perusahaan Cadburry merahasiakan kandungan coklatnya. 

McEwen membuat keputusan penting untuk mengumumkan sayembara kepada semua orang di seluruh dunia agar menemukan emas di arena yang mereka miliki. Dia membocorkan semua data geologi di internet, disertai tantangan sebesar 500.000 dolar bagi siapa pun yang bisa memberi informasi di mana letak emas.

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligence, dan Kediktatoran Digital

Dia tahu bahwa para geolognya sudah tiba pada level frustrasi. Tindakannya pun pasti dianggap gila sebab membocorkan data perusahaannya sendiri. Melalui pengumuman itu, dia berharap mendapatkan otak-otak terbaik dari berbagai disiplin ilmu yang memberinya informasi di mana letak emas yang berlimpah.

Tantangan itu dijawab banyak orang. Setiap hari kantornya dibanjiri hasil studi dan analisis di mana letak emas. Tidak semuanya dari geolog, banyak yang justru berasal dari disiplin ilmu lain yakni matematika, fisika, ilmu komputer, hingga para ahli tanah. Dia mendapatkan berbagai analisis dan cara kerja yang selama ini tidak pernah dibayangkannya.

Akhirnya, pemenang dari sayembara itu adalah ahli komputer modelling yang membuat peta tiga dimensi di mana lokasi emas, serta bagaimana menemukannya. Dia mendapatkan 500.000 dollar. Apakah McEwen rugi karena mengeluarkan uang banyak untuk hadiah lomba?

Nah, berkat analisis dari pemenang itu, McEwen berhasil mendapatkan emas dan uang senilai 3,4 juta dollar. Nilai valuasi perusahaan itu di pasar saham kian menanjak, yang tadinya hanya 10 juta dollar menjadi 90 juta dollar. McEwen pun pensiun dalam kondisi kaya-raya.

***

Saya menemukan kisah McEwen dalam buku Don Tapscott berjudul Macrowikinomics: Rebooting Business and The World, yang pertama terbit tahun 2010 namun selalu direvisi dan terasa selalu update. Kata Tapscott, pemikiran McEwen mewakili cara pandang baru yang melihat pentingnya kolaborasi dan bekerja sama dengan banyak orang.

Dulu, pebisnis melihat talenta hanya ada di dalam perusahaannya. Sekarang pebisnis bisa memaksimalkan semua netizen di seluruh dunia untuk memberikan masukan atau pun memperkuat gagasan, sekaligus menjadi pasar dari ide-ide yang akan memajukan perusahaan.

Dalam buku Tapscott lainnya Wikinomics yang terbit tahun 2004 dia menyebut pasar bagi semua ide-ide yang berinteraksi itu sebagai ideagora. Istilah ini bermula dari kata “agora” yang pada masa Yunani Kuno adalah pasar bagi semua aktivitas sosial dan politik warga Athena. Istilah Ideagora mengacu pada dunia maya yang bisa menjadi lalu lintas pertukaran ide-ide dan gagasan.

Konsep inti Ideagora ini bisa dilihat pada Wikipedia, ensiklopedia online terbesar di dunia. Wikipedia hanya punya beberapa orang karyawan. Tapi dia bisa menyerap gagasan dari seluruh dunia. Semua orang bisa jadi editor dan kreator konten yang memperkaya Wikipedia sehingga punya bank koleksi konten terbesar. 

Wikipedia menjadi contoh bagaimana kolaborasi bisa dilakukan oleh orang-orang yang tidak saling mengenal, tapi bisa bekerja sama karena diikat oleh aturan dan rambu-rambu yang disepakati bersama.

Kata Tapscott, social media bisa berkembang menjadi social production ketika orang-orang berkolaborasi untuk sesuatu yang positif. Media sosial menjadi penghubung dan jembatan bagi kolaborasi ide-ide cerdas untuk satu kegiatan. Tantangannya adalah bagaimana bisa menemukan pikiran cerdas itu dan membuat koneksi sehingga bisa menjadi sesuatu yang produktif.

Di era sekarang, semua organisasi mesti memahami peta sosial yang berubah berkat penetrasi internet, sehingga perlu cara pandang baru dalam orkestra perubahan arsitektur organisasi. 

Tapscott memang seorang yang sangat optimis dalam melihat perkembangan digital. Buku lainnya Grown Up Digital berisikan optimisme tentang kelahiran generasi baru, yang disebutnya Net Generation, yakni para digital native yang terbiasa dengan digital, dan secara perlahan mengubah lanskap dunia. Generasi baru ini mengubah dunia bisnis, pendidikan, media, organisasi, bisnis, hingga politik.

Tapscott melakukan riset mendalam dan menyajikan optimisme tentang dunia yang lebih baik dengan adanya generasi baru ini. Tentu saja, Tapscott banyak ditentang para pemikir yang lebih pesimis melihat dunia digital. Seorang di antaranya adalah Nicholas Carr, yang bukunya The Shallow pernah saya resensi di sini.

BACA: Nicholas Carr dan Era Bodoh di Internet

Yang menarik dari buku Macrowikinomics ini adalah penjelasan Tapscott tentang The Age of Networked Intelligence atau Zaman di mana kecerdasan saling terhubung. Dia menilai ada lima prinsip yang mendasari zaman baru ini.

Pertama, kolaborasi. Yakni kerja bersama yang melibatkan banyak orang. Tapscott menunjukkan bahwa kolaborasi banyak orang adalah prinsip kerja baru yang harus dipahami semua organisasi. Melalui kolaborasi, terbuka peluang lahirnya ide-ide baru dan masukan yang membuat satu organisasi akan semakin berkembang.

Kedua, keterbukaan. Di era ini, semua organisasi akan terbuka. Publik akan mudah memantau apa yang terjadi di perusahaan itu sehingga menuntut adanya keterbukaan. Julian Assange adalah sosok di balik Wikileaks yang banyak menelanjangi kebijakan luar negeri di banyak negara.

Di masa depan, keterbukaan akan menjadi mata uang baru dalam pergaulan internasional. Organisasi mesti membuka dan berkomunikasi kepada publik melalui berbagai platform media yang sudah ada. 

Ketiga, sharing. Yang dimaksud sharing adalah berbagi pengetahuan dengan cara menempatkannya pada ruang yang disebut “common.” Dulu, orang suka bicara tentang intellectual property sebagai aset yang tidak boleh diambil orang lain. 

Kini, intellectual property menjadi milik publik. Di era digital, beberapa produk kreatif seperti musik, tulisan, hingga desain beredar secara gratis di internet. Industri ini bisa kolaps jika tidak ada pergeseran cara pandang atau perubahan skema bisnis. Kini, pekerja industri kreatif bisa menemukan model bisnis yang tepat ketika berselancar di samudera digital.

BACA: Manuel Castells dan Kuasa Komunikasi

Bagi Tapscott, sharing sama pentingnya dengan kolaborasi. Bahkan lembaga-lembaga pendidikan pun mulai membuka kelas untuk masyarakat luas. Mereka mesti membagikan pengetahuan dan riset yang mereka miliki sehingga perlahan memiliki posisi kuat di masyarakat. Demikian pula lembaga pemerintah. Dalam iklim berbagi, organisasi yang sehat ibarat air yang menyuburkan sekelilingnya.

Keempat, semua organisasi harus punya integritas. Dahulu, integritas diukur dari penyediaan dana untuk CSR, kini maknanya ebih luas. Integritas adalah komitmen dan rekam jejak untuk tidak merusak lingkungan, serta memiliki good value, keterbukaan, dan contoh baik bagi sesamanya. 

Kita bisa melihat apa yang terjadi di negara lain, contohnya Tunisia. Media sosial bukanlah penyebab dari revolusi. Penyebab revolusi adalah ketidak-adilan. Anak-anak muda yang saling berbagi melalui media sosial berpandangan bahwa pemerintahnya tidak punya integritas. Melalui media sosial, mereka menyebar pesan sehingga isu integritas tersebar ke mana-mana sehingga memicu revolusi. 


Beberapa waktu lalu, saya bertemu beberapa perusahaan skala internasional yang beroperasi di Indonesia. Mereka sangat peduli pada integritas dan tidak ingin bisnisnya dicap merugikan lingkungan. Di era keterbukaan dan transparansi, setiap isu mengenai perusahaan bisa berakibat pada ambruknya bisnis. Di titik ini, integritas menjadi penting agar rasa percaya (trust) bisa terbangun.

Kelima, interdependence (ketergantungan). Di era sekarang, tidak ada satu pun organisasi yang berdiam di tengah pulau. Semuanya saling terhubung dan terkoneksi, serta saling tergantung satu sama lain. 

*** 

Masih banyak hal yang dibahas Tapscott dalam Macrowikinomics ini. Di antaranya adalah bagaimana mengubah universitas menjadi pembelajaran kolaboratif, sains di era kolaboratif, media-media yang mulai berubah, masa depan musik dan industri televisi, hingga bagaimana menerapkan prinsip wikinomics di era yang kian terhubung.

Bagi saya, buku Don Tapscott membuka wawasan baru tentang dunia yang terus bergerak cepat. Kita hanya bisa sesaat membekukan kenyataan demi mengamatinya, sementara kenyataan itu terus bergerak. Kita selalu terlambat sebab hanya bisa menangkap bayangan yang terus berlari.

Tantangan bagi kita bangsa Indonesia adalah bagaimana mengelola semua gagasan yang berhamburan di media untuk memperkokoh pilar ekonomi bangsa kita. Di era ekonomi padat pengetahuan, sepantasnya kita memikirkan hal-hal strategis, bukan sekadar bagaimana menanam padi kemudian menjualnya.(*)



Kisah Gajah dan Enam Orang Buta




DI suatu negeri yang jauh, enam orang buta tinggal bertetangga. Setiap hari mereka bercakap-cakap tentang banyak topik. Sering pula mereka berdebat tentang satu hal. Suatu hari, mereka berdebat tentang seperti apa bentuk gajah.

Rupanya, mereka belum pernah menyentuh hewan bernama gajah. Mereka hanya bisa mengira-ngira seperti apa bentuknya. Beruntung, raja di negeri itu mendengar perdebatan enam orang buta itu. Raja lalu berinisiatif untuk mendatangkan gajah ke hadapan enam orang buta itu.

Keenam orang buta itu dituntun untuk mendekati gajah. Mereka menyentuh gajah dari sisi berbeda. Ada yang memegang belalai, ada yang menyentuh badan. Ada yang meraba kaki. Ada juga yang memegang ekor. Ada pula yang memegang telinga gajah. Terakhir, ada yang memegang gadingnya.

Setelah semuanya menyentuh tubuh gajah, keenamnya dipanggil di hadapan raja. Raja meminta mereka untuk bercerita seperti apa bentuk gajah.

Orang buta pertama bercerita gajah itu seperti ular. Katanya tubuh gajah itu panjang, bisa meliuk-liuk ke kiri ke kanan. Orang buta kedua membantahnya. Katanya, gajah itu seperti tembok yang lebar. “Gajah itu seperti dinding rumah. Luas dan keras,” katanya.

Orang buta ketiga berpendapat lain. Dia menganggap gajah itu seperti pohon kokoh. Gajah itu seperti batang pohon yang kokoh. “Saya menghitung ada empat batang pohon,” katanya. 

Rekan keempat langsung membantah. Dia merasa gajah itu seperti tali panjang. Persis seperti tali kecil pengusir lalat. Orang buta kelima berpikir lain. Katanya, gajah itu seperti permadani lebar yang bisa bergerak. Terakhir, orang buta keenam memberikan pendapat. Gajah itu seperti tombak yang runcing dan tajam.

Setelah keenamnya berpendapat, mereka lalu sibuk berdebat. Semuanya merasa benar sebab telah menyentuh gajah. Tapi, apakah mereka salah? Tidak. Mereka benar. Sebab mereka bercerita tentang sebatas apa yang mereka ketahui. 

Informasi yang ada di kepala mereka sebatas pada apa yang mereka sentuh di tubuh gajah itu. Ketika hanya menyentuh badan gajah, maka akan mengira gajah itu seperti tembok. Ketika memegang kaki gajah, pasti mengira gajah seperti pohon. 

Demikian pula mengira gajah seperti permadani jika hanya memegang telinganya. Sedangkan yang menyentuh gading akan mengira gajah seperti tombak tajam. Yang memegang ekor akan mengira tali. Yang memegang belalai, akan berpendapat gajah seperti ular.

Kekeliruan orang buta itu adalah mengira kenyataan itu hanya sebatas apa yang diketahui. Padahal ada banyak informasi berbeda yang bisa ditelusuri dan dicari demi menyempurnakan apa yang diketahui. Mereka bisa mendatangi gajah dan menyentuh bagian berbeda demi mendapatkan gambaran utuh seperti apa gajah itu.

Beberapa situs menyebutkan kisah enam orang buta dan gajah ini berawal dari buku The Walled Garden of Truth yang ditulis Hakim Sanai, guru dari sufi Jalaluddin Rumi. Wikipedia mencatat, kisah ini dalam versi berbeda ditemukan pula dalam teks ajaran Hindu dan Budha. Di abad ke-19, penyair John Godfrey Saxe (1816-1887) menulis kisah ini dalam larik puisi. 

Kisah ini menjadi abadi sebab menunjukkan betapa terbatasnya pengetahuan manusia. Kita hanya mengenal satu keping puzzle realitas, tapi sering kali kita merasa angkuh sebab mengira itulah satu-satunya realitas. Kita merasa paling benar, kemudian sibuk menyalahkan orang lain. Padahal, pengetahuan kita terbatasi oleh informasi yang kita dapatkan.

Dalam tradisi ilmu sosial, ada pandangan bahwa apa yang kita sebut kenyataan adalah hasil dari konstruksi pengetahuan yang kita lakukan. Kita membangun gambaran tentang sesuatu dari kepingan informasi yang kita terima. Para pengkaji ilmu sosial juga percaya bahwa dunia sekitar kita punya banyak tafsir tentang kenyataan di sekitar. 

Jika Anda tinggal di Eropa, tafsir cantik adalah berkulit putih terang bak pualam, serta tubuh langsung, Tapi jika Anda tinggal di Afrika, yang disebut cantik adalah sosok berkulit gelap serta bertubuh gemuk. Seperti apa cantik? Tentunya akan tergantung seperti apa dan di mana kita mendefinisikannya.

Hari-hari belakangan ini, Indonesia sedang terbelah dalam kubu-kubu pendukung capres. Baru saja seorang teman meyakinkan di grup WA kalau calonnya sudah pasti akan menang. Dia menyebut banyak fakta-fakta yang sejatinya adalah konstruksi pengetahuan yang dia buat. Dia tidak melihat banyak fakta lain, yang bisa jadi berkebalikan dari apa yang dia yakini. 

Benar kata Budha, kita hanya ingin melihat apa yang kita anggap benar. Di luar itu kita anggap salah besar. Daripada ikut debat, mending kita nikmati saja debat kusir di media sosial. Teringat kisah orang buta itu, saya ingin berbisik supaya lihatlah dari sisi lain. Kenyataan akan lebih utuh dan lengkap.

Kata seorang teman, ada dua pihak yang susah diingatkan. Pertama, orang yang sedang jatuh cinta. Kedua, orang yang sudah punya pilihan di pilpres.

Anda berada di sisi mana?

Cerita DON KISOT


Don Kisit saat melihat kincir angin dan mengira itu raksasa

Petani tua itu bernama Alonso Quinzano. Tapi dia kemudian mengaku sebagai Don Quixote. Kita sebut saja Don Kisot biar mudah dilafalkan. Dia hidup dalam obsesi sebagai seorang ksatria. Dia berperilaku dan bertingkah seperti seorang ksatria.

Dia banyak membaca buku-buku mengenai ksatria. Pikirannya dipenuhi imajinasi para pendekar berpedang. Dia takut serangan naga dan musuh yang setiap saat menyerbu. Di puncak ketakutannya, dia memutuskan untuk meninggalkan rumah.

Diambilnya keledai di kandang, kemudian dinamakannya Rozinante, kuda para ksatria. Dia mengajak temannya Sancho ikut dengannya. Dia berkelana untuk menyelamatkan putri yang disebutnya Ratu Dulcenia del Toboso. Dia membayangkan akan berkelahi dengan para raksasa dan penjahat yang menculik putri. 

Mulanya imajinasi, selanjutnya menjadi halusinasi. Rumah penginapan dilihatnya sebagai kastil. Kincir angin dikiranya raksasa. Panci yang dibawa pengelana dilihatnya sebagai helm dan baju zirah. Bahkan kawanan domba dianggapnya sebagai tentara yang sedang menuju medan perang.

Orang-orang melihatnya gila. Banyak yang ingin mengingatkan kalau apa yang dianggapnya realitas itu hanyalah imajinasi. Tapi dia terlampau keras kepala untuk diingatkan. Di akhir kisah, dia tersadar. 

Dia kembali ke kampung halamannya dalam keadaan sakit. Saat sekarat, dia mengakui kalau apa yang selama ini dilihatnya hanyalah fiksi. Dia terjebak dengan kenyataan yang sejatinya hanya imajinasi.

Don Kisot adalah fiksi yang ditulis pengarang asal Spanyol bernama Miguel de Cervantes (1547-1616). Kisah ini dianggap sebagai awal mula dari novel modern pertama Eropa. Cervantes menulis novel ini dengan harapan bisa mendatangkan uang agar dirinya keluar dari kemelaratan. Ternyata, novel ini membuatnya jadi pengarang besar yang dicatat sejarah.

Sejak pertama membacanya, nama Don Kisot tak bisa hilang dari pikiran saya. Saya rasa kisah Don Kisot akan selalu relevan di setiap zaman. Banyak orang menganggap imajinasinya sebagai fakta sehingga menilai sesuatu berdasarkan pengetahuannya yang minim.

Banyak orang yang tiba-tiba saja ketakutan akan datangnya ancaman dan serbuan pihak lain. Sehingga ketika ada seseorang yang mengaku pahlawan datang, langsung disambut dengan gegap gempita sebagai sosok yang akan menyelamatkan dunia porak-poranda di sekitarnya.

Banyak orang yang beranggapan bahwa negaranya sedang kacau. Seperti Don Kisot, mereka menganggap dunia sedang membutuhkan campur tangan para ksatria. Banyak yang abai membaca fakta demi fakta kalau kenyataan yang disaksikannya tak selalu sesuai dengan apa yang dibayangkannya.

Dalam novel karangan Cervantes, Don Kisot adalah sosok yang imajinasinya dipengaruhi oleh berbagai novel dan fiksi ksatria. 

Di abad ini, Don Kisot adalah sosok yang bisa dibuat dan diduplikasi sebanyak-banyaknya. Teknologi komunikasi menyediakan begitu banyak software untuk mengubah orang yang hidupnya tenang menjadi penuh ketakutan. 

Don Kisot adalah hasil dari proses brainwash menggunakan berbagai piranti teknologi yang membuat orang-orang sulit membedakan mana fiksi dan mana fakta. Don Kisot lalu memutuskan berkelana, menjalankan satu agenda politik, lalu melabeli orang lain sebagai penyihir yang harus disingkirkan.

Di ujung fiksi itu, yang sering tersisa adalah penyesalan. Ketika hasil perjuangan itu tak sesuai dengan imajinasi, orang-orang dengan segera pindah ke fiksi yang lain. Dunia menjadi gerak dari satu isu ke isu yang lain. Dari satu fiksi ke fiksi yang lain. Persis seperti Don Kisot yang dibuai imajinasi.

Saya teringat satu kawan mantan aktivis mahasiswa. Semasa kuliah, setiap hari dia membayangkan sedang melawan rezim yang jahat. 

Hidupnya adalah petualangan dari satu demonstrasi ke demonstrasi lainnya, dari satu perlawanan ke perlawanan lainnya. Hingga satu hari, dia baru sadar kalau teman-temannya telah lulus kuliah dan sibuk mengejar karier.

Di satu kantin mahasiswa, saya bertemu dengan sahabat itu. Dia masih dirinya yang dulu. Tapi matanya tidak segarang dulu. Malah matanya kian redup saat menyadari semua kawan-kawannya telah menjadi orang besar. 

Dia perlahan kompromi dan mau saja diberi pekerjaan remeh-temeh agar dia bisa menyambung hidup, agar dia tidak mengemis ke kiri kanan. Dia tidak sempat mengasah skill sebab terlena dengan perjuangan membunuh naga. Dia terlalu sibuk melawan rezim jahat selama di kampus.

“Yos, kadang-kadang saya merasa seperti Don Kisot,” katanya dengan suara lirih. Saya terdiam sembari menghembuskan asap rokok. Di luar sana, saya lihat cat gedung kampus perlahan mulai terkelupas.(*)

Sesat Pikir CEBONG dan KAMPRET


ilustrasi

Apakah Anda suka berdebat di media sosial? Apakah Anda suka saling serang dengan berbagai argumen di media ini? Saran saya, pilih-pilihlah dengan siapa Anda hendak berdebat. Berdebatlah hanya dengan orang pandai. Apa pun hasilnya, pasti akan membuat Anda lebih pandai dan lebih waras. 

Sebaliknya, berdebat dengan orang bodoh tidak akan pernah membuat Anda lebih pandai. Malah, debat itu bisa berujung penghinaan pada diri Anda. Bisa-bisa Anda akan dilecehkan dengan kalimat kasar.

Imam Syafi'i pernah berkata, “Aku mampu ber-hujjah dengan 10 orang yang berilmu, tetapi aku pasti kalah dengan seorang yang jahil, karena orang yang jahil itu tidak pernah paham landasan ilmu.” 

Rupanya, di abad lampau, ulama ini paham bahwa ada orang yang tak bisa dijadikan partner dalam berdiskusi, sebab landasan ilmunya tak memadai. 

Jelang pilpres, media sosial menjadi arena debat antara dua pendukung capres, yang kemudian disebut cebong dan kampret. Keduanya saling debat dan memojokkan. Biarpun keduanya tidak saling mendengarkan, debat tak pernah usai. Tiap hari selalu ada topik baru yang diperdebatkan.

Herannya, banyak orang yang suka menyesatkan orang lain, tapi orang itu lupa berkaca, jangan-jangan malah dirinya yang sesat pikir. Banyak orang yang justru mengalami kesalahan berpikir dan mengira sesuatu sebagai benar. Padahal logikanya justru keliru.

BACA: Prediksi Akurat Siapa Kalah Menang di Pilpres

Saya teringat kuliah-kuliah logika beberapa tahun silam. Dalam ilmu logika, terdapat banyak kesalahan berpikir yang kerap dialami orang-orang. Nah, marilah kita sama-sama mengidentifikasi beberapa kesalahan logika yang sering sekali kita temukan di media sosial. 

Pertama, ad hominem, yang berarti menyerang karakter atau kehidupan personal lawan untuk melumpuhkan argumennya. Nama panjangnya adalah argumentum ad hominem. Bentuknya adalah saat kita didebat, kita justru menyerang si pemberi argumentasi itu dengan hal-hal lain tentang pribadinya yang tak ada hubungannya dengan argumentasi itu.

Saya pernah lihat perdebatan di Twitter. Seorang pengamat politik yang kepalanya plontos menunjukkan kesalahan logika banyak orang. Eh, jawaban orang-orang itu adalah: “Dasar botak. Makin licin kepalamu, makin tampak kebodohanmu.” Harusnya jawab juga secara argumentatif.

Kedua, post hoc ergo propter hoc. Kesalahan berpikir ini ketika menganggap dua hal memiliki kaitan secara langsung. Saat X terjadi, Y juga terjadi. X dianggap sebagai penyebab terjadinya Y. 

Misalnya seorang politisi tiba-tiba terpilih jadi pemimpin. Pada saat terpilih, semua harga daging langsung meroket naik. Orang yang mengaitkan naiknya harga daging karena naiknya politisi itu mengidap kekeliruan logika.

Ketiga, pars pro toto. Anggapan bahwa satu bagian kecil merupakan cerminan keseluruhan. Misalnya, seorang perempuan dikhianati kekasihnya yang berasal dari Makassar. Ia lalu mengumpat dan mengatakan, "Semua orang Makassar adalah buaya." Nah, ini keliru sebab menganggap semua orang Makassar lainnya sama dengan orang yang pernah menyakitinya.

Contoh lain. Seseorang membaca berita tentang ada warga keturunan yang divonis korupsi. Ia lalu menganggap bahwa semua warga keturunan seperti itu. Ia lalu membenci setengah mati. Padahal, faktanya, pelaku korupsi itu berasal dari berbagai etnik dan agama. Malah, ada pula pelaku korupsi yang rekan sekampungnya. Ada yang ketahuan, dan ada yang tidak ketahuan.

BACA: Andai STEVEN PINKER Membahas Bung Karno

Keempat, argumentum ad baculum. Berusaha memaksa lawan untuk menerima pendapat dengan cara memberikan rasa takut. Misalnya pernyataan seseorang, "Kalau kamu tidak terima kebenaran ini, silakan keluar dari agama. Awas, saya akan laporkan supaya kamu dipersekusi." 

Pertanyaan itu juga keliru. Dua hal yang patut ditanyakan: (1) sejak kapan dia seolah jadi juru bicara satu keyakinan, (2) sejak kapan kebenaran harus dipaksakan dengan ancaman?

Kelima, anecdotal. Menggunakan cerita personal untuk membuktikan "fakta" universal, khususnya untuk melumpuhkan data dan statistik. Ini juga sering ditemukan. Misalnya ada survei yang mengatakan capres A akan menang. Seseorang membantah survei dengan cerita pengalamannya saat melihat ribuan orang hadir kampanye.

Nah, ini termasuk anecdotal atau salah pikir. Orang itu menggunakan cerita pribadi untuk menggugurkan satu argumentasi yang sifatnya universal. Selain itu, melihat satu kampanye dan data survei adalah sesuatu yang berbeda. Survei mencoba memotret kenyataan yang lebih luas, sesuai dengan alur metodologis. 

Contoh lain adalah klaim seseorang mengenai banyaknya tenaga kerja asal Cina. Ketika disodorkan fakta, ia tetap tidak percaya. Ia mengaku pernah naik pesawat dan bertemu tenaga Cina. Disodori fakta, malah menjawabnya dengan link media abal-abal. Ini juga anecdotal.

Keenam, black or white. Kepercayaan bahwa hanya ada dua alternatif kemungkinan. Kalau bukan A yang benar, maka pastilah B yang benar. Pikiran seperti ini banyak muncul seusai ajang pilpres di Indonesia. Ketika Jokowi berkata A, maka kemungkinannya hanya dua yakni mendukung pernyataan Jokowi atau menolaknya. 

Demikian pula sebaliknya. Ketika mengkritik Prabowo, maka seolah-olah kita adalah Jokowi. Padahal belum tentu.Bisa jadi golput.

ilustrasi dari Mojok.co

Ketujuh, argumentum ad verecundiam. Pandangan ini adalah pandangan yang mendewakan pendapat seseorang, dan menganggap pendapat itu sudah pasti benar. Dalam politik, hal ini sering terjadi. Saat idolanya, yakni Si A, mengeluarkan fatwa, maka ia lantas beranggapan bahwa itu sudah pasti benar. Saat ada suara kritis, orang itu akan balik bertanya, "Anda berani mengkritik dia. Apakah Anda sehat?"

Dalam logika, sering kali argumentum ad verecundiam ini dipersamakan dengan “halo effect.” Ini juga cara berpikir yang sering kita temukan di media sosial. Halo effect adalah bias subyektif saat pertama bertemu seseorang, yang lalu digunakan untuk menganggap semua kalimatnya benar. 

Kedelapan, appeal to emotion. Ini adalah memanipulasi tindakan emosional untuk menyatakan kebenaran. Misalnya, Anda pernah dikasari seorang yang agamanya adalah menyembah pohon.

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligence, dan Kediktatoran Digital

Saat diskusi dengan penganut agama itu, Anda langsung emosional dan menangis terisak demi meyakinkan betapa jahatnya para penyembah pohon. Perdebatan yang harusnya jadi ajang positif untuk menumbuhkan pengetahuan, kok malah jadi baper.

Kesembilan, strawman. Dalam logika, ini disebut melebih-lebihkan, menyalah-artikan, atau bahkan memalsukan argumen seseorang demi membuat argumen Anda yang menyerangnya terdengar lebih masuk akal. 

Misalnya, seorang pejabat berkata, “Kita harus fokus memperkuat industri kita.” Seseorang lalu merespon, “Kalau memperkuat industri, berarti Anda mengabaikan pertanian dan pedesaan. Berarti Anda benci dengan sektor pedesaan. Mengapa Anda membenci desa?” Nah, ini dia yang disebut strawman.

Kesepuluh, slippery slope. Mengasumsikan jika situasi P terjadi, maka Q akan juga terjadi, tanpa didukung dengan bukti atau penalaran yang masuk akal. Karena itu, P tidak boleh terjadi. 

Misalnya, seorang pejabat pemerintahan menolak melegalkan pernikahan beda keyakinan, sebab jika diperbolehkan kelak mereka akan melegalkan pernikahan sesama jenis di masa depan. Ini juga kekeliruan logika, sebab dua hal itu adalah hal berbeda.

Kesebelas, tu quoque. Menghindar dari kritik sekaligus mendiskreditkan lawan dengan menggunakan kritik yang sama yang disampaikan pada dirinya. 

Misalnya: “Berhati-hatilah main proyek. Bisa-bisa kamu akan masuk penjara.” Tiba-tiba ada yang menyanggah: “Siapa bilang main proyek harus berhati-hati? Buktinya situ sejak dulu selalu main proyek, Artinya aman dong.” Nah, kita membalas kritikan dengan cara mendiskreditkan si pengkritik.

Keduabelas, burden of proof. Menyatakan bahwa orang lainlah yang harus membuktikan suatu klaim, bukan si pembuat klaim. Misalnya seseorang mengklaim bahwa jumlah pekerja asal Cina di Indonesia adalah 10 juta orang.  Karena tidak ada yang membuktikan informasinya salah, maka dia terus-terus berargumen seperti itu. Dia lalu menganggap dirinya benar hanya karena tidak ada yang membantahnya.

BACA: "Everybody Lies" dan Kebohongan BIG DATA

Contoh lain, seseorang menyebar cerita kalau server KPU sudah diatur sehingga pemenangnya adalah satu kandidat capres. Dia berharap agar pihak yang dituduh segera memberikan klarifikasi. Ini juga keliru berpikir. Masak, dia sibuk tuduh kiri kanan terus orang lain harus membersihkan semua tuduhan.

Dalam logika, burden of proof ini hampir sama dengan argumentum ad ignorantiam, yakni menganggap suatu hal sebagai kebenaran, hanya karena orang-orang diam atau tidak ada orang yang menyanggahnya. Padahal, orang lain memilih diam karena merasa tak ada gunanya berdebat. Kata satu ujaran, “Yang waras, ngalah!”

Ketigabelas, bandwagon. Keyakinan bahwa jika suatu hal itu populer dan dipercayai oleh banyak orang, maka hal itu adalah kebenaran yang valid, tanpa perlu menyelidikinya lebih lanjut. Misalnya anggapan bahwa capres A adalah bodoh dan plonga-plongo. 

Pandangan ini ibarat gerbong (bandwagon) yang ditarik oleh satu lokomotif. Seseorang ingin berpendapat berbeda, cuma karena takut untuk berbeda pandangan dengan publik, ia ikut saja ke mana arus akan menyeretnya. 

Keempatbelas, appeal to authority. Kepercayaan pada otoritas. Misalnya saat junjungan capresnya bilang ekonomi sulit, langsung saja percaya. Padahal belum tentu. Dia lalu mengabaikan berbagai penalaran lain yang mendukung pandangan junjungannya.

Kelimabelas, personal incredulity atau menganggap sesuatu tidak benar hanya karena susah dipahami. Misalnya seorang politisi mengklaim ia punya ribuan relawan, yang bisa digerakkan karena adanya kesamaan visi serta pola kerja yang efektif. 

Seseorang tiba-tiba saja menolak mentah-mentah kalimat itu, hanya karena dirinya tidak memahami bagaimana konsep partisipasi publik serta strategi membangun tim yang kokoh. Dia tidak paham, malas menalar, lalu menganggap ide itu keliru.

Keenambelas, appeal to nature. Ini adalah kepercayaan bahwa sesuatu itu valid atau benar karena sifatnya yang natural seperti itu. Misalnya kepercayaan bahwa seorang pemimpin itu harus gagah, penuh keberanian, serta punya seragam militer. Keberanian seolah identik dengan seragam. 

Ketika seorang pemimpin tampak seperti warga biasa yang sering ditemui di terminal atau pasar-pasar, maka muncullah penolakan. Seolah-olah pemimpin itu harus jagoan, dan bukan kategori yang pantas didapatkan seorang warga biasa.

Ketujuhbelas, genetic. Menilai satu pernyataan baik atau tidak hanya berdasarkan pada dari mana pernyataan itu berasal, tanpa disertai argumentasi yang valid. Misalnya hanya karena diberitakan korupsi, petinggi satu partai lalu menyatakan, kita harus berhati-hati pada informasi dari media A karena sering mendiskreditkan kita. Harusnya ia akan mengintropeksi diri lalu menjelaskan duduk perkara, bukannya menyalahkan pihak lain.

Kedelapanbelas, non causa pro cause. Ini adalah penarikan kesimpulan yang keliru. Misalnya pernyataan bahwa Sukarno menjadi presiden pertama Indonesia karena dia orang Jawa. Pernyataan ini dibuat tanpa memperhatikan berbagai aspek lain. Pastilah akan munculkan pernyataan, mengapa harus Sukarno? Bukankah ada banyak orang Jawa lainnya?

***

SAYA hanya mencatat beberapa salah logika. Orang-orang yang belajar logika ataupun epistemologi punya lebih banyak penjelasan tentang mana yang benar dan mana yang keliru. Kita bisa terus mengembangkan, lalu mencatat berbagai argumen yang kita temukan dalam berbagai interaksi. 

Ada hal-hal yang kita sadari, banyak pula hal yang tidak disadari. Namun dengan cara belajar terus-menerus, kita bisa mengasah kepekaan kita dalam berargumentasi dan menemukan kebenaran.
Jangan pula terjebak pada sikap merasa nyaman dengan apa yang kita anggap benar. Jangan pula berpandangan bahwa ketika orang diam, berarti kita benar. Jangan pula menganggap hanya karena kita yang paling sering berkomentar, maka kita berhasil menguasai wacana. Padahal belum tentu. 

Boleh jadi orang lain tidak nyaman dengan cara Anda berdiskusi atau membangun argumentasi. Orang lain akan memilih diam sebab tidak ingin menghabiskan waktu untuk berdebat dengan Anda yang maunya menang sendiri tanpa menyerap kebenaran dari orang lain.

Imam Syafi’i menasihatkan: “Apabila orang bodoh mengajak berdebat denganmu, maka sikap yang terbaik adalah diam, tidak menanggapi. Apabila kamu melayani, maka kamu akan susah sendiri. Dan bila kamu berteman dengannya, maka ia akan selalu menyakiti hati.”


Andai STEVEN PINKER Membahas Masa Bung Karno




Di dunia ilmu pengetahuan, satu ketidaksepakatan adalah benih dari proses akademik. Melalui keraguan, seseorang bisa menumbuhkan rasa ingin tahu, memupuknya dengan berbagai bacaan, kemudian menyusun patahan demi patahan argumentasi.

Itu yang dirasakan Steven Pinker, profesor psikologi dari Harvard, ketika menyaksikan retorika Donald Trump yang amat pesimis. Trump mengatakan ibu dan anak terperangkap dalam kemiskinan. Dia juga bilang kriminalitas, narkoba, dan banyak manusia yang tewas di jalan.  Puncaknya adalah perlu mempersiapkan diri untuk perang terbuka. 

Saya sedang membaca buku Steven Pinker berjudul Enlightenment Now yang terbit tahun 2018. Buku ini disebut Bill Gates sebagai buku terbaik yang pernah dibacanya, buku yang argumentasinya solid, serta menyajikan optimisme dalam melihat dunia.

Pinker terheran-heran melihat banyak orang yang percaya dengan semua pesimisme itu. Cara dia merespon persoalan itu bukan dengan cara ikut nyinyir dan menjelekkan Trump. Dia menulis dengan serius, mempersiapkan argumentasi dan menjawab semua keraguan.

Buku setebal lebih 700 halaman berisikan argumentasi dan analisisnya tenang kondisi dunia saat ini. Yang menakjubkan, dia menghamparkan timbunan data-data statistik yang isinya perbandingan antara periode sebelum 1600-an hingga kini. Saya terheran-heran dari mana dirinya bisa mendapatkan data begitu kaya.

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligence, dan Kediktatoran Digital

Melalui kekayaan data statistik itu, dia ingin mengatakan bahwa masa sekarang jauh lebih baik dari masa sebelumnya. Dia menunjukkan, di masa lalu harapan hidup hanya sampai usia 30-an tahun, kini bisa sampai 70-an tahun ke atas. Demikian pula jumlah angka kemiskinan, kematian ibu dan anak, hingga bagaimana listrik, energi, hingga penggunaan alat elektronik.

Pinker adalah pembela semua ide-ide pencerahan. Di beberapa kelas filsafat, saya pernah membaca beberapa nama filsuf yang memantik pencerahan, di antaranya adalah Imannuel Kant, Rousseau, Voltaire, Rene Descartes, David Hume, dan banyak lagi. 

Saya tak begitu hafal para filsuf itu sebab di awal kuliah S1, saya malah lebih tergila-gila pada pemikir teori kritis yang mempertanyakan ide-ide pencerahan, khususnya dari kalangan mazhab Frankfrut yang tokohnya adalah Horkheimer, Adorno, dan Jurgen Habermas.

Dalam banyak hal, saya setuju dengan Pinker. Berkat ide-ide pencerahan, rasionalitas, dan sains, manusia memasuki zaman baru yang jauh lebih baik. Berkat sains, manusia bisa memecahkan berbagai persoalan yang mendera, kemudian menyusun solusi untuk mengatasinya. Bagi Pinker, ide-ide pencerahan serupa obor yang menerangi kegelapan manusia.

BACA: "Everybody Lies" dan Kebohongan Big Data

Namun saya tak ingin jauh membahas pembelaan Pinker habis-habisan terkait ide pencerahan. Saya lebih tertarik membahas bagaimana respon hebat yang diberikannya ketika menerima satu pernyataan.

Di Indonesia, saat ini, kita mulai jarang menyaksikan debat dan diskusi-diskusi yang mencerahkan. Semua orang tiba-tiba menggolongkan dirinya dalam dua kelompok besar yang mendukung capres. Debat konstruktif menjadi tabu. Yang ada adalah perdebatan saling menang-menangan. Ketika tampil di tivi dan bisa men-skak lawan bicara tiba-tiba mendapat tepukan meriah.

Steven Pinker, profesor psikologi dari Harvard

Jika saja Pinker menggunakan data statistik untuk telaah Indonesia, saya yakin dia akan terkejut menyaksikan elite politik dan akademisi Indonesia masa kini dibandingkan dulu. Dulu, elite politik kita begitu produktif dalam reproduksi ide-ide. Di masa Bung Karno, semua elite politik dicirikan oleh gagasan serta ide-ide yang terang tentang ke mana republik muda hendak dibawa.

Bung Karno menulis pleidoi Indonesia Menggugat yang menggetarkan. Dia menulis semua pemikirannya yang kemudian terbit dalam buku Di Bawah bendera Revolusi. Di usia muda, dia sudah mendiskusikan pemikir-pemikir besar dunia.

Hatta menulis Alam Pikiran Yunani, yang mendiskusikan filsafat Yunani. Dia juga menulis Mendayung di Antara Dua Karang, yang membahas semua aliran ekonomi dan posisi pijak Indonesia. Buku ini disebut Majalah Tempo sebagai buku terbaik yang pernah ditulis oleh orang Indonesia.

Sjahrir menulis Demokrasi Kita yang coba membangun sintesa antara demokrasi dan sosialisme, jauh sebelum Anthony Giddens membuat teori tentang sosialisme jalan tengah, yang kemudian diadaptasi Tony Blair saat menjadi Perdana Menteri Inggris.

BACA: Nicholas Carr dan Era Bodoh di Internet

Yang selalu menjadi favorit saya adalah Tan Malaka yang menulis Materialisme, Dialektika, dan Logika, yang diniatkannya sebagai pertanggungjawaban ilmiah atas buah pemikirannya. Di tahun 1940-an, Tan Malaka sudah membahas sains, ideologi, serta pahaman mitis yang membuat bangsa Indonesia tidak bisa maju.

Sayang, Pinker tidak spesifik membahas Indonesia. Dia membahas fenomena global serta menangkis berbagai tuduhan yang disebutnya tidak bersandar pada data yang akurat. Dunia memang sedang berubah. Di sana-sini ada masalah, tapi tetap tidak akan memberi bukti bahwa zaman dulu lebih baik dari sekarang. 

Berbagai isu global dipecahkan secara bersama oleh masyarakat global. Dunia sedang terhubung satu sama lain, gagasan baik menyebar ke mana-mana. 

Saya masih membaca bab-bab awal buku Steven Pinker ini, ketika menyaksikan di layar kaca, seorang intelektual dan maha terpelajar sedang menjelek-jelekkan presidennya. Dia pikir gelar mentereng itu bisa menjadi pengabsah bagi tindakan mencaci, tanpa menyajikan satu sistematika berpikir yang rapi sebagai basis argumentasinya.

Mengapa dia tidak meniru Steven Pinker?

Menanti Kartu Truf Terakhir Prabowo




Publik menanti dengan berdebar. Dua minggu ke depan, rakyat akan menentukan siapa yang akan memegang kemudi kebangsaan hingga lima tahun ke depan. Setiap peristiwa dicermati dengan serius. Semuanya tampak berhati-hati.

Menarik untuk dilihat kartu truf apa yang akan dikeluarkan pasangan Prabowo Subianto untuk mengalahkan Joko Widodo. Bisakah?

Para pendukung Jokowi kerap kali menjawab santai: “Dalam posisi Jokowi sebagai bukan siapa-siapa di politik nasional, dia bisa menang pilpres. Apalagi jika dia dalam posisi pemegang semua kekuasaan?”

Sementara pendukung Prabowo juga tak kalah santai. “Di pilkada DKI, semua strategi dan dukungan besar pemerintah pada calon petahana malah gagal total dan porak-poranda. Pilpres pun tak jauh beda.”

Para pendukung Prabowo melihat pilpres ini seperti Pilkada DKI Jakarta. Mereka menantang arus lembaga survei, kemudian mengubah prediksi kalah menjadi pemenang. Pada saat itu, kartu-kartu agama dikeluarkan.

Dukungan dari kelompok yang melakukan aksi 212 adalah katalis penting yang membawa kemenangan. Gerilya dilakukan di masjid-masjid. Mulai dari ancaman tidak menyalatkan jenazah pemilih kubu lawan, sampai khutbah politik.

Pertanyaannya, jika skenario yang sama dikeluarkan kembali, apakah itu sukses untuk memenangkan Prabowo? Bisakah kita menyamakan situasi pilpres dengan saat pilkada DKI? Apa kartu terakhir yang akan dikeluarkan Prabowo untuk meraih kemenangan?

***

Mantan CEO Google Eric Schmidt meyakini bahwa dunia terbagi dua yakni dunia nyata dan dunia maya. Jika hanya melihat dunia maya, maka mungkin kita akan beranggapan kalau Prabowo sedang di atas angin. Hampir setiap saat kita menemukan postingan yang isinya memojokkan petahana. Postingan ini kian menambah militansi para pendukungnya.

Sandiaga melengkapi kekuatan Prabowo dengan amunisi serta stamina menjelajah ke mana-mana. Mereka bisa memetakan dan masuk ke kantong-kantong pemilih yang selama ini terabaikan oleh Jokowi. Mereka bisa menyatukan berbagai kepentingan dari banyak kelompok yang terpinggirkan oleh pemerintah. Semuanya memiliki tujuan sama yakni bagaimana memenangkan Prabowo.

BACA: Dan Pemenangnya adalah Sandiaga

Saya menilai penampilan Prabowo dan Sandiaga di ajang pilpres tidak begitu mengesankan. Wacana yang diajukan Prabowo tak beda jauh dengan wacana yang diajukan pada pilpres 2014 silam. Malah, saat debat kedua dengan Jokowi, dia malah setuju dengan Jokowi. Padahal, itu adalah momen bagus untuk menunjukkan diferensiasi serta konsep yang lebih matang dari petahana.

Semua kekurangan itu bisa dipoles di media sosial. Prabowo dan Sandiaga tetap berjaya di sini. Perlahan tapi pasti, kubu Prabowo Subianto memenangkan pertarungan di media sosial. Dengan dukungan kelas menengah perkotaan yang punya akses pada teknologi informasi, kubu Prabowo berada di atas angin.

Strategi konten yang dibangun para relawan lebih banyak menyoroti kekurangan petahana. Strategi ini cukup cerdas sebab melihat Prabowo sudah punya basis yang kuat, sehingga perlu mengambil basis massa Jokowi. Namun, strategi ini bisa mengundang risiko. Di antaranya adalah tuduhan penyebaran hoaks dan kabar-kabar kebencian. Postingan itu bisa diendus penegak hukum.

Di sisi lain, berbagai semburan media sosial itu gagal menjangkau banyak desa-desa dan kawasan yang selama ini menjadi basis suara Jokowi. Saya sepakat dengan pernyataan Eep Saefullah Fattah bahwa penentu kemenangan di pemilu ini bukanlah pengendali wacana di media sosial, melainkan sejauh mana penetrasi dan ketuk pintu yang diakukan di rumah-rumah rakyat.

Beberapa lembaga survei terkemuka juga sudah mulai mengeluarkan prediksi. Mayoritas lembaga survei berpengaruh memprediksi selisih suara antara Jokowi dan Prabowo adalah antara 11-21 persen. Nyaris belum ada lembaga survei dengan reputasi baik yang memenangkan Prabowo.

Bocoran yang saya terima dari tim survei internal Prabowo, hasilnya tak berbeda jauh. Jokowi masih di atas Prabowo dengan selisih di atas 13 persen. 

BACA Prediksi Akurat Siapa Kalah Menang di Pilpres

Tantangannya adalah Prabowo dan Sandiaga mesti lebih kuat menjelajah dan memetakan kekuatan di daerah-daerah. Namun daya jelajah mereka ke daerah tidak seberapa leluasa. Di Jakarta, Prabowo didukung Gubernur DKI Jakarta, tapi di daerah-daerah, dia ibarat panglima yang tak punya hulubalang.

Bagi politisi Jakarta, pilpres ibarat arena yang harus dipersiapkan sejak lama. Kekuatan Jokowi adalah empat tahun selama menjabat (meskipun itu juga jadi kekurangannya), serta kemampuan untuk memenangkan banyak teritori di ajang pilkada lokal.

Di Jakarta, pendukung Jokowi kalah, tapi tidak dengan daerah-daerah berpopulasi besar lainnya. Di antaranya adalah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. 

Di pilkada itu, koalisi Jokowi terlihat lebih taktis. Mereka menggunakan strategi memecah kekuatan. Partai-partai tidak diarahkan mengumpul di satu titik, melainkan menyebar, kemudian mengepung calon yang diajukan Gerindra. Walhasil, koalisi Jokowi bisa menang telak di pilkada besar itu.

Bagi para politisi Jakarta, penguasaan pilkada lokal ibarat memperpanjang belalai dan rantai kekuasaan. Para politisi paham benar tentang gejala patron-client di masyarakat kita. Sekali Anda memegang posisi puncak, maka dengan mudah melakukan penetrasi sampai ke satuan terkecil di bawah.

BACA: Siasat Jokowi Menangkan Banyak Pilkada

Jika Anda gagal menempatkan orang di posisi puncak, maka langkah Anda akan lebih terjal. Inilah yang membuat koalisi Jokowi bisa percaya diri sebab berhasil menaikkan Ridwan Kamil (Jawa Barat), Khofifah (Jawa Timur), Gandjar Pranowo (Jawa Tengah), hingga Nurdin Abdullah (Sulsel). Kubu ini juga makin percaya diri ketika PDIP menang pilkada di mayoritas kabupaten.

Lantas, apa kartu terakhir yang dimiliki Prabowo?

*** 

Jumat, 27 Maret 2019, Prabowo mengeluarkan pernyataan penting di Karawang. Dia meminta pendukungnya untuk lebaran di TPS.

"Masih mau dicurangi atau tidak? Kalau tidak, 17 April jaga TPS. Bawa lontong, bawa ketupat, bawa sarung, bawa tikar kita lebaran di TPS. Yang punya makanan berbagi dengan yang tidak punya. Hari itu rakyat harus menang," katanya.

Beberapa hari berikutnya, dia juga mulai memperkenalkan nama-nama yang dianggapnya pantas menjadi menteri kabinet jika dirinya terpilih sebagai calon presiden. Dia menyebut AHY, Aher, hingga Eddy Soeparno.

Pada pernyataan pertama, dia berharap ada migrasi yang cukup besar di pilpres, sesuatu yang diharapkan oleh tim pemenangannya. Sedangkan pernyataan kedua, bisa ditafsir sebagai strategi untuk menjaga keutuhan koalisi, sesuatu yang kemudian dianggap AHY sebagai tindakan yang “melukai rakyat.”

Sejumlah kalangan mengaitkan lebaran di TPS itu dengan apa yang terjadi di pilkada DKI Jakarta. Saat itu, masjid-masjid menjadi pusat gerakan. Pendukung Prabowo salat subuh berjamaah, kemudian bersama-sama menuju TPS.

Yang harus dicatat adalah situasi hari ini tidak sama dengan saat pilkada Jakarta. Beberapa pihak sudah memberi warning untuk tidak kampanye di masjid. Mulai dari polisi, Bawaslu, hingga berbagai ormas Islam sudah mengingatkan agar masjid tidak menjadi sasaran kampanye.

BACA: Sesuai Debat Capres, Panglima Medsos Bertempur

Menteri Perhubungan, Budi Karya, membentuk Gerakan Cinta Masjid (GCM), yang kegiatannya adalah membangun koordinasi dengan masjid-masjid. Gerakan yang dipimpinnya telah memetakan semua masjid, dan mengetahui titik mana saja masjid yang berpotensi untuk ditunggangi bagi kegiatan politik untuk memenangkan capres.

Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang dipimpin Jusuf Kalla juga melakukan hal yang sama. Pihaknya selalu mendorong agar tidak ada kampanye politik yang dilakukan di masjid-masjid. 

Pihak Bawaslu juga telah memperketat pengawasan agar masjid-masjid tidak disusupi kepentingan politik. Lembaga ini bahkan menyita Tabloid Indonesia Barokah yang dituding sebagai kampanye bagi petahana. Masjid harus dijauhkan dari aktivitas politik dan penggalangan massa.

*** 

DI atas kertas, politik bisa diamati dengan membaca berbagai fenomena dan kecenderungan. Tapi di balik itu, ada sejumlah strategi yang tak terbaca sebab masing-masing tim ingin bekerja dalam senyap. 

Tim Prabowo sedang memantau situasi. Mereka paham bahwa jika kalah, maka ini akan menjadi pilpres terakhir bagi Prabowo. Tapi jika menang, maka ini akan menjadi awal bagi banyak hal. Mulai dari dominannya kekuatan politik Gerindra, hingga menata ulang banyak hal di republik ini.

BACA: Yang Menjengkelkan dari Gibran Jokowi

Di atas kertas, Jokowi sedikit di atas angin. Tapi ada banyak hal yang belum bisa terbaca. Sebab politik adalah seni untuk mengolah ketidakmungkinan menjadi sesuatu yang mungkin. Jika berhasil, Prabowo bisa jadi presiden dua periode.

Jika kalah, maka dia akan tercatat dalam sejarah sebagai manusia Indonesia yang dua kali maju sebagai capres, dan sekali sebagai cawapres. Entah, takdir mana yang berlaku bagi Prabowo kali ini.


Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Followers

...