Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Profesor CANTIK dan KSATRIA Terakhir dalam Transformers

Vivian saat hendak memasuki Bumblebee

FILM Transformers: The Last Knight adalah jenis film yang mewah, penuh adegan ledakan serta pertarungan antar robot, tetapi miskin kisah. Nyaris tak ada yang baru dalam film ini. Plot kisahnya mengingatkan saya pada film Independence Day. Ada cerita tentang invasi robot yang hendak menghancurkan bumi, lalu muncul para ksatria yang bertarung hingga akhir.

Kisahnya agak garing sebab kita sudah pernah menyaksikannya di film sebelumnya. Di bagian awal film, saya sempat tertidur di bioskop. Tapi menjelang pertengahan, saya langsung tertarik. Ada sejumlah hal yang membuat film ini memiliki magnet yang membuat saya penasaran, dan menyaksikannya hingga tuntas.

***

BAPAK berusia lanjut itu Sir Edmund Burton. Ia adalah astronom dan sejarawan, sekaligus aristokrat Inggris. Ia juga seseorang yang superkaya sampai-sampai memiliki kastil sendiri. Pelayannya adalah robot, sejenis 3PO dalam kisah Star Wars, yang telah melayani dinastinya selama ratusan tahun.

Sir Edmund Burton memiliki pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi tentang masa kiamat yakni hancurnya bumi akibat invasi para robot alien. Ia menjaga rahasia kuno tentang legenda King Arthur dan penyihir Merlin, yang ternyata pernah berinteraksi dengan para robot. Ia tahu bahwa pihak yang mengalahkan alien adalah ksatria terakhir yang akan dibantu oleh keturunan Merlin si penyihir.

Dalam film Transformers: The Last Knight, sosok Sir Edmund Burton ini diperankan oleh aktor legendaris Anthony Hopkins. Ia menjadi sosok kunci dari film ini, menghubungkan banyak karakter, lalu menunjukkan cara mengatasi permasalahan. Ia mempertemukan Cade Yeager (diperankan Mark Wahlberg) dengan perempuan cantik bernama Vivian, yang diperankan aktris Inggris, Laura Haddock.

Saya menyukai chemistry antara Cade dan Vivian. Cade, seorang penemu gagal yang terlibat dalam pertarungan para robot, sementara Vivian adalah profesor sejarah dari Oxford University yang berpikir terlampau rasional. Abad pertengahan dianggapnya penuh mitos yang tak rasional. Sementara Cage masih berpikir penuh mitos, apalagi ia mendapat warisan jimat ksatria yang melekat di badannya. Dialog-dialog mereka menjadi bumbu yang membuat film ini makin menarik, khususnya pada bagian pertengahan hingga akhir.



Jika saja tak ada sosok Vivian dan juga Sir Edmund Burton, kisah ini akan menjemukan. Bagian awal film ini, megisahkan kejar-kejaran antara manusia dan para robot. Kisahnya mulai membosankan. Tapi untunglah, kehadiran Sir Edmund Burton yang membawa teka-teki kehadiran robot pada abad pertengahan, pada masa King Arthur, menjadikan film semakin membuat penasaran. Ditambah lagi, sosok Vivian, yang kecantikannya setara Megan Fox ataupun Angelina Jolie bikin penonton film ini menahan napas.

Saya pun penasaran mengikuti kisah ini. Dikisahkan, King Arthur dan Sir Lancelot hampir saja kalah dalam peperangan yang tidak seimbang. Merlin mendatangi satu situs pesawat alien yang jatuh. Ia berdialog dengan robot alien dan meyakinkannya untuk segera membantu pasukan King Arthur. Merlin dititipi tongkat sihir yang hanya bisa digunakan oleh dirinya dan semua keturunannya. Ia juga dititipi jimat yang akan dimiliki oleh ksatria terakhir yang akan mewarisi gen kepemimpinan King Arthur. Kelak, dunia akan ditimpa kiamat, ksatria terakhir dan keturunan Merlin yang akan menyelamatkannya.

Beberapa karakter robot muncul dalam film. Di antaranya adalah robot vespa yang kikuk, mengingatkan saya pada sosok Wall-E. Juga muncul robot pelayan yang mirip 3PO yang sering bertingkah aneh dan mengubah suasana jadi lucu. Robot lain yang juga keren adalah robot yang bisa berubah jadi mobil Lamborghini. Transformasinya keren.

Bumblebee

Seperti biasa, alur film ini mudah ditebak. Dalam banyak adegan, saya malah tidak fokus karena sudah bisa menebak apa ending-nya. Palingan adegan tembak-tembakan, dan ledak-ledakan. Saya menyukai bagian pertarungan antara Optimus Prime dan Bumblebee. Keduanya selalu hadir sejak film pertama Transformers. Hubungannya sudah serupa kakak-adik. Sedih juga melihat Optimus menjadi jahat, yang berhadapan dnegan Bumblebee.

Dalam film ini, peran Bumblebee menjadi penting. Ia tak lagi sekadar pelengkap, melainkan menentukan bangunan cerita. Terungkap masa lalu Bee yang pernah ikut perang melawan Nazi. Dalam pertarungan melawan Optimus, dia tiba-tiba mengeluarkan suara yang efektif meredakan amarah robot berwarna biru itu. Dugaan saya, akan ada film yang khusus membahas Bumblebee.

Sebagaimana film-film Transformers lainnya, idola saya adalah Optimus Prime. Saya menyukai vokalnya yang sangat berwibawa. Saya suka kalimat-kalimat bijaknya saat memberi pesan kepada manusia dan robot. Dengan warna vokal dan retorika seperti itu, dia menampilkan dirinya sebagai pemimpin berwibawa yang suaranya akan didengarkan siapapun. Ditambah lagi kemampuan berkelahinya yang hebat, Optimus Prime selalu jadi pemimpin hebat yang suaranya menggetarkan.

Biasanya, sehabis nonton film Transformers, saya akan menjelajah di kanal Youtube, hanya untuk mendengarkan suara Optimus Prime yang berwibawa, khususnya saat dia berteriak, “I’m Optimus Prime. Calling the autobots!”



Bogor, 23 Juni 2017

Membaca Catatan Raymond WESTERLING



Di Sulawesi Selatan, nama Raymond Westerling sering dilafalkan dengan penuh kebencian. Perwira pasukan khusus Belanda ini dianggap telah menghilangkan 40.000 nyawa rakyat Sulawesi Selatan. Dia dikenal bengis, kejam, dan lihai menembak. Pribadinya menjadi momok atas peperangan yang sedemikian kejam.

Namun bagaimanakah kesaksian Westerling atas segala tuduhan itu? Apakah ia merasa berdosa telah membunuh rakyat Sulsel demikian banyak? Bagaimanakah pendapatnya terhadap segala informasi tentang dirinya di buku-buku sejarah?

Saya menemukan catatan Westerling dalam buku Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950 yang ditulis Gert Oostindie. Buku ini menjadi catatan paling humanis tentang para serdadu yang dikirim berperang ke tanah air. Peperangan bisa membelah manusia dalam dua kubu. Manusia tak punya banyak pilihan. Namun melihat perang secara hitam putih, tak tepat benar.



Dalam memoarnya, Westerling menyebut tindakan itu memang harus dilakukannya untuk menciptakan keamanan dan ketertiban. Sebagai pasukan khusus, ia bergerak cepat dalam situasi yang disebutnya runyam. Ia mengatakan:

“Saya juga bersikeras bahwa saya dengan mengorbankan sejumlah nyawa telah menyelamatkan puluhan ribu nyawa lainnya. Nyawa-nyawa yang saya lenyapkan adalah nyawa para penjahat, puluhan ribu yang saya selamatkan adalah nyawa-nyawa dari para orang yang tak berdosa,”

Bagi Belanda, situasi saat itu sangat runyam. Banyak terjadi kerusuhan. Kriminalitas meninggi. Banyak penjahat yang mengaku seolah-olah mereka adalah pendukung tentara republik. Kehadiran pasukan khusus yang dipimpin Westerling adalah jalan keluar untuk mengamankan situasi. Benarkah korbannya hingga 40.000 nyawa?

Sebelum membaca catatan Westerling, saya membaca catatan Salim Said saat dirinya mewawancarai Westerling di Belanda pada tahun 1970-an. Ia penasaran dengan klaim pemerintah tentang jumlah korban 40.000 nyawa. Masih dalam catatan Salim Said, beberapa upaya pelacakan korban Westerling, hasilnya jauh dari angka itu, Makmur Makka melacak korbannya sekitar 3.000 jiwa. Anhar Gonggong menunjuk angka ribuan, yang tidak semuanya dilakukan Westerling.

Kepada Salim, Westerling hanya menyebut angka 463 jiwa. Itupun tidak semuanya tewas karena pistolnya yang menyalak. Sebagian besar justru dibunuh oleh anak buahnya. Harus diingat, anak buah Westerling di masa itu kebanyakan orang Indonesia. Tak tepat juga menimpakan kesalahan hanya pada Westerling seorang, meskipun ia mengakui sebagai pihak yang memerintahkan pembunuhan itu.

Pada masa itu, Belanda hendak membentuk negara boneka Indonesia Timur ciptaan Van Mook. Belanda ingin menunjukkan bahwa tidak semua wilayah republik tunduk pada Sukarno. Di saat bersamaan, banyak gerombolan yang memanfaatkan situasi itu untuk meneror masyarakat. Demi mengatasi keadaan menjadi tenang dan damai, Jenderal Spoor mengirim sahabatnya Westerling yang membawa 900 prajurit

Yang menarik, dalam buku ini, Westerling menyebut tindakannya secara terbuka. Mungkin ia memang berniat agar sejarah versi dirinya bisa sampai ke publik. Ia resah dengan catatan sejarah yang menyebut dirinya sebagai orang jahat.

“Kadang saya dianggap aneh. Apa yang saya lakukan? Saya telah membunuh empat laki-laki. Kesemuanya pembunuh. Dengan cara ini saya mengakhiri pembunuhan dan kejahatan mereka, yang telah menewaskan ratusan korban tak bersalah,” kata Westerling.

Dalam catatan Belanda, penanganan Westerling itu telah merebut hati masyarakat. Setelah pembunuhan secara terbuka yang dilakukannya, banyak masyarakat yang mendukung dan mau bekerjasama dengannya. Dalam catatan pemimpin militer Belanda, Westerling mendapatkan penghargaan tinggi karena mendamaikan situasi. Mungkin saja ini terkait dengan shock therapy yang membuat orang-orang ketakutan.

“Saya membunuh dengan tangan saya sendiri karena saya ingin mempertanggungjawabkannya sendiri. Saya membunuh para pembunuh yang telah melakukan kekejaman yang tak terhitung besarnya. Saya tidak membunuh orang yang tidak bersalah. Saya membawa kedamaian di wilayah-wiilayah yang dipercayakan kepada saya.“

Catatan Westerling ini memang harus dibaca dengan kritis. Bisa jadi, ia sedang membangun justifikasi atas tindakannya. Point penting yang bisa dipetik adalah dalam situasi peperangan, semua pihak menjalankan apa yang dianggapnya baik. Pada masa itu, Westerling menganggap dirinya sedang menjalankan misi untuk menciptakan keamanan dan ketertiban.

Kata Salim Said, Sulawesi Selatan punya sejarah perlawanan yang cukup heroik. Mereka menolak untuk berada di bawah Belanda, sehingga melakukan perlawanan. Potensi perlawanan itu yang ditakuti Belanda, lalu dipadamkan dengan penanganan ala Westerling. Belanda berpikir, sebelum api perlawanan itu membesar, mereka harus segera diberi efek kejut.

Yang menarik, dalam buku ini, saya baru tahu kalau dalam masa perang, serdadu Belanda yang asli Eropa, malah tak begitu banyak. Yang banyak adalah orang Indonesia yang berada dalam kubu Belanda. Mereka tentara yang dibayar secara profesional. Dalam catatan Salim Said, banyak orang yang benci Sukarno sebab pernah menderita di zaman Jepang, seperti Romusha, Heiho, dan sebagainya, yang merupakan hasil kerjasama politik Sukarno dengan Jepang.

Hal lain yang saya tertarik adalah Wsterling pasca-aksinya di Sulawesi. Ia pensiun sebagai tentara pada tahun 1948. Ia menjalani masa pensiun dengan menjadi pengusaha bidang perkebunan di Jawa Barat. Dia kawin dengan janda keturunan Perancis dan menetap di Puncak. Tapi ia tak lama menjalani pensiun, sebab terlibat dalam gerakan Ratu Adil. Ia menerima posisi pemimpin Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dikendalikan imam tertinggi Darul Islam, Kartosuwiryo. Hingga akhirnya, Westerling kembali ke Belanda dan melalui masa tuanya di sana.

Kehidupannya di Belanda tak begitu membahagiakan. Ia mencoba jadi penyanyi opera, namun gagal. Pernah ingin jadi penulis, tapi juga tidak berhasil. Dia masih tetap bergaul dengan eks tentara Belanda yang bertugas di Indonesia. Peperangan itu tak menyisakan trauma baginya. Ia mengaku bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya.

Saat ditemui Salim Said, kerut-kerut nampak di wajah Westerling. Ia telah berusia tua, namun tetap tegap. Ia masih bisa menembak dengan tepat lima tutup botol yang dilepas, pada satu lomba yang diadakan di satu bar.  Dari sisi kemanusiaan, tindakannya jelas bar-bar. Tak akan dibenarkan dalam kitab manapun membunuh begitu banyak, bahkan terhadap musuh sendiri. Namun saat Salim Said bertanya tentang korban 40.000 nyawa yang dibantainya, ia tertawa ngakak. “Tanyakan pada Sarwo Edhie, Komandan Pasukan Khusus Indonesia, berapa banyak yang bisa dibunuh oleh pasukan khusus itu dalam waktu singkat.”

Pernyataan terakhir ini, membuat saya terhenyak. 


Bogor, 22 Juni 2017


Bermula dari Editor Kelas Kampung

buku terbaru yang saya editori


DI atas meja di ruang baca, saya memandang buku berjudul Dari Tamalanrea untuk Indonesia. Buku ini berisikan kumpulan tulisan dari beberapa orang yang kesemuanya pernah menjadi organisatoris di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di halaman muka, saya tak bosan membaca nama saya yang menjadi editor buku ini.

Entah kenapa, saya selalu merasa bahagia saat menyaksikan nama sendiri di sampul buku. Kebahagiaan ini tak bisa ditukar dengan apapun. Berbicara tentang bahagia, semua orang punya definisi dan pemaknaan yang berbeda-beda. Ada yang bahagia saat punya mobil, saat punya rumah, atau saat menikah lagi (ups..). Saya menemukan bahagia lain, yakni saat menemukan nama sendiri di sampul buku.

Saat bertemu orang lain, yang menanyakan buku itu, rasa bahagia akan bertambah. Kebahagiaan itu semakin berlipat-lipat saat ada orang yang membaca tulisan kita, lalu memberikan komentar, apakah itu apresiasi atau kritikan. Bahkan kritikan pun bisa menghadirkan rasa bangga. Mengapa? Sebab biarpun orang itu mengkritik, dia telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan kita lalu mengomentarinya. Itu sudah kemajuan besar sebab dia telah “tersesat” dan mau-mau saja mengikuti aliran logika yang kita bangun, meskipun di ujungnya, dia tak bisa bersepakat.

Mungkin kamu akan mengatakan saya seorang narsis. Sejak dulu saya beranggapan narsis terbaik dan halal untuk dilakukan adalah memamerkan buku karya sendiri. Narsis lain yang juga sah dan penuh pahala saat dilakukan adalah memamerkan bahan bacaan, lalu menjelaskan sedikit-sedikit isi bacaan itu yang sukses memancing ketertarikan orang lain untuk membacanya. Narsis-narsis ini adalah narsis yang jauh lebih positif, ketimbang memamerkan makanan, pencapaian harta, saat-saat di hotel dan pusat perbelanjaan mewah, pertemuan dengan politisi, hingga memajang foto bersama seorang artis dangdut.

Bagi seorang penulis ataupun editor, rasa bahagia itu muncul sebab menyadari bahwa di balik satu buku, terdapat banyak kerja-kerja yang tak nampak. Seorang penulis akan berjibaku dengan ide-ide yang berseliweran. Ia mesti merapikan, lalu menata ide itu satu per satu sehingga terbentuk jalinan kata dan kalimat yang padu dan memikat. Ia mesti membaca data demi data demi menyusun konstruksi argumentasi, yang kemudian diamparkan dalam satu narasi yang menarik dan tidak embosankan. Ia mesti menaklukan halaman kosong di laptopnya, untuk diisi dengan ide demi ide yang mengalir bak anak sungai.

Jika ditanya, mana yang paling berat dilakoni, menjadi editor ataukah penulis? Saya akan menjawab editor. Kerja penulis adalah kerja individual. Dia bisa menyepi di satu tempat dan bersikap asosial, tak peduli sekitar, demi menyelesaikan karyanya. Seorang penulis bisa memilih berkarib sunyi agar inspirasinya mengalir melalui jemari dan membentuk barisan kata di laptopnya.

Sementara seorang editor harus bekerja dengan para penulis. Dia harus berpikir melampaui penulis. Dia tidak saja bekerja dengan teks, tapi menyelaraskan dirinya dengan dunia sosial yang kelak akan membaca buku itu. Dia berada di tengah-tengah dari banyak kepentingan. Dia membantu penulis, tapi dia juga harus paham siapa yang akan membaca tulisan. Dia pun harus bertanggngjawab atas kualitas, ejaan, hingga perwajahan buku. Dia menjembatani kepentingan pemilik perusahaan penerbitan yang menginginkan profit, dan kepentingan penulis yang ingin bukunya sebaik mungkin.

Seroang editor juga harus memotivasi penulis, lalu memeriksa semua detail tulisan di dalamnya. Seringkali editor akan merasa kesal dengan apa yang disodorkan penulis. Jika dia tempremen, maka emosinya bisa meledak-ledak lalu membuang kerja seorang penulis ke tong sampah dan mengeluarkan kata kasar.

Jika editor itu bekerja di penerbit besar, sah saja ia mencampakkan karya penulis. Namun jika editor itu bekerja dengan para pemula di penerbitan kecil yang tujuannya hanya untuk mendokumentasikan kerja sosial dan kemanusiaan, maka emosinya harus stabil. Dia harus meyakinkan dan memotivasi seorang calon penulis agar tetap percaya diri dan bersedia menyerahkan karyanya agar kelak dikritisi dan dibenahi demi kualitas.

Kerja editor adalah kerja paling menantang. Saya pertama menjadi editor buku sekitar sepuluh tahun silam. Pada masa itu, saya masih tinggal di kampung halaman, tepatnya di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Bersama beberapa kawan, kami hendak membuat buku yang isinya adalah kumpulan tulisan berserak dari paa penulis di kampung halaman kami, atau minimal mereka yang menggemari tema sejarah dan kebudayaan.

Saya harus bekerja dengan anak-anak muda sebaya yang sama-sama tidak tahu harus mulai dari mana. Di depan kawan-kawan itu, saya menampilkan rasa percaya diri yang tinggi. Saya yakinkan mereka bahwa kerja penulisan itu harus dituntaskan. Sekali kami sukses membuat buku, maka pastilah kami akan ketagihan dan akan membuat buku lain lagi. Demikian seterusnya.

Kerja saya juga lebih berat. Saya harus meyakinkan para mitra penulis bahwa mereka bisa menghasilkan tulisan yang baik dan akan dibaca publik. Saya bekerja dengan penulis dari berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa pasca-sarjana, tapi lebih banyak yang hanya sampai SMA. Bahkan, ada seorang imam masjid, yang mengaku pada saya kalau ilmunya adalah ilmu tikar, ilmu yang didapatnya di luar sekolah. Rasanya sesuatu yang ajaib, sebab saya bisa memaksa para pemula dari kampung, dari berbagai latar usia dan pendidikan, untuk mau berkolaborasi. Hingga akhirnya lahir buku pertama berjudul Menyibak Kabut di Keraton Buton.

buku pertama yang saya editori sepuluh tahun silam

Sejak dulu, saya tidak pernah men-judge kemampuan seseorang dari latar pendidikannya. Saya percaya bahwa semua orang pasti punya kisah yang menarik untuk dituturkan. Teknik menulis dan aliran argumentasi bisa dibangun dan dilatihkan. Tapi soal content, semua orang punya segudang kisah dan pengalaman berbeda. Editor hebat adalah editor yang bisa menjadi timba dan tali yang diulur jauh ke dalam sumur kisah setiap orang demi membawanya ke permukaan dan mengatasi dahaga para pembaca. Editor hebat adalah editor yang bisa mengubah naskah biasa menjadi luar biasa.

Biarpun cuma beredar di skala lokal, buku pertama yang saya editori itu menjadi buku terlaris di provinsi kami. Buku itu beredar di mana-mana, dan dibaca banyak orang. Saya dan kawan-kawan penulis merasakan bagaimana diundang untuk diskusi buku. Saya senang saat banyak orang yang mengapresiasi buku dan memberikan komentar.

Lebih bahagia lagi karena banyak yang mengaku hanya membaca catatan editor yang saya buat. Saya rasa mereka hanya ingin basa-basi. Andaikan mereka bertemu penulis lain, pasti akan mengatakan hal yang sama. Apapun itu, saya senang karena buku itu sukses dan mendapat apresiasi dari pembaca kami. Tujuan kami untuk kembali meramaikan diskusi budaya dan sejarah mengenai kampung halaman kami telah tercapai.

***

SAYA masih memandangi buku Dari Tamalanrea untuk Indonesia ini. Saya tidak menyangka bahwa saya telah menghasilkan cukup banyak buku. Pada mulanya saya hanya seorang editor kelas kampung yang mengedit tulisan mengenai kampung halaman. Selanjutnya saya terus berkembang hingga menjadi editor paruh waktu di beberapa penerbit. Pernah saya mengedit buku yang diolah dari koleksi pidato seorang wakil presiden. Beberapa kali saya bekerja dengan pihak kementerian. Saya juga melatih penulisan bagi warga desa di empat lokasi wisata, hingga pernah pula melatih menulis para akademisi bergelar doktor di dua kota besar.

Tak hanya itu, saya pun pernah diundang salah satu lembaga PBB untuk mengedit draft naskah mereka yang akan segera dibukukan dan dikirim ke seluruh Indonesia. Bahkan saya dipercaya seorang profesor di Jakarta untuk mengedit semua tulisannya yang akan dipublikasi. Sekadar bocoran, sebagian besar tulisannya adalah hasil olah pikir saya. Hahaha. 

Semuanya dimulai dari pengalaman sebagai editor di kampung halaman. Semuanya dimulai dari nol. Pengalaman yang akan memperkaya pengetahuan seseorang hingga akhirnya tiba pada satu titik. Saat ini saya masih amatiran di dunia editor. Saya masih editor kelas kampung. Belum beranjak naik. Saya juga masih harus banyak belajar. Tapi bolehlah saya sesekali narsis sebab telah membantu lahirnya banyak karya, yang rata-rata tidak mudah, sebab punya tantangan masing-masing.

Melalui tantangan itu, saya terus tumbuh dan belajar.


Bogor, 16 Juni 2017



Yang Menakjubkan di Desa Kita



SEBUAH baliho terpampang di dekat masjid yang terletak di Desa Bonemarambe, Mawasangka Timur, Kabupaten Buton Tengah. Baliho itu berisikan laporan pertanggungjawaban atas penggunaan kas desa yang bisa dilihat siapa saja. Pengurus desanya mengumumkan secara terbuka, berapa dana yang mereka terima, digunakan untuk apa saja, serta berapa kas desa yang masih tersisa. Baliho itu sengaja dipasang dekat masjid, sebab masjid adalah simbol kearifan dan kejujuran.

Melalui baliho berukuran besar, warga bisa melihat lalu lintas uang yang masuk ke kas desa. Saya membayangkan baliho itu akan dilihat petani jambu mente, aparat desa, tukang sayur, tukang becak, sopir angkot, ibu Posyandu, penjual obat, pedagang pasar, hingga nelayan kecil yang setiap hari melaut. Semua pihak bisa tahu persis berapa dana yang mengucur ke desa itu, lalu digunakan untuk apa saja.

Seorang sahabat memosting baliho itu untuk dsebarkan di media sosial. Saya membayangkan warga desa akan mendiskusikan isi baliho itu di warung-warung kopi, lapak penjual sayur, sambil mempertanyakannya secara kritis. Mungkin saja, mereka akan menodong kepala desa dengan pertanyaan, mengapa begini dan mengapa begitu. Mungkin juga mereka punya banyak ‘amunisi’ untuk ditanyakan saat musyawarah desa.

Baliho itu nampak sederhana, namun bagi saya luar biasa. Saya langsung merefleksi ke dalam diri. Di kota-kota, yang katanya menjadi pusat peradaban, berapa banyak transparansi kita saksikan? Apakah kita pernah melihat anggaran daerah diumumkan terbuka ke hadapan publik? Apakah kita pernah menyaksikan detail satu Rincian Anggaran Belanja (RAB) proyek secara terbuka? Apakah kita pernah melihat laporan keuangan dari para bos di instansi tempat kita bekerja? Apakah kita menyaksikan kejujuran dari banyak pejabat tentang berapa anggaran yang mereka terima dan digunakan untuk apa saja? Apakah ada ketua umum partai politik yang secara terbuka mengumumkan keuangan partainya, serta digunakan untuk apa saja?

Tak hanya di Desa Bonemarambe, Buton Tengah, seorang sahabat pernah menunjukkan saya foto baliho penggunaan dana desa di satu desa di Jeneponto.  Isinya lebih informatif dan lebih sederhana dibandingkan dengan baliho di Buton tengah. Dalam baliho itu, jelas terpampang semua anggaran desa beserta penggunannya.



Kita memang berada pada era clean government yang ditandai oleh transparansi dan keterbukaan. Tapi berapa banyak organisasi yang bersedia membuka semua anggaran agar diketahui oleh semua anggotanya. Yang banyak terjadi adalah anggaran sengaja disembunyikan demi memudahkan proses kolusi dan kongkalikong di balik layar.

Zaman memang terus bergerak. Kota-kota tumbuh dengan segala kemegahannya, Tapi, kearifan dan kejujuran tetap tumbuh dari desa-desa. Saatnya menyerap beberapa praktik baik di desa-desa itu, lalu membawanya menjadi nilai dan transparansi di semua organisasi di berbagai wilayah. Saatnya berguru pada bagaimana keikhlasan warga desa mengumumkan dana yang diterimanya, serta kejujuran untuk mengumumkannya ke hadapan publik.

Meskipun saya yakin kalau akan ada banyak pertanyaan terkait baliho ini. Tapi setidaknya, di situ kita banyak melihat harapan kuat bagi bangsa ini. Di situ kita melihat embun yang tak banyak kita temukan di berbagai lapis organisasi, yang diharapkan bisa membawa bangsa ini ke arah cita-cita proklamasi.


Peminggiran Desa

SEJAK dahulu, desa selalu menjadi korban dari berbagai kebijakan. Pada masa kolonial, desa dipaksa menjadi instrumen untuk eksploitasi sumberdaya alam dan manusia demi kepentingan penjajah. Pada masa Orde Lama dan Demokrasi Liberal, desa menjadi ajang rebutan pengaruh dari berbagai partai dan politik aliran yang menyebabkan harmoni di tingkat desa terganggu. Pada masa Demokrasi Pancasila, desa diberi peran sebagai sasaran pembangunan, tanpa warganya memahami apakah gerangan tujuan pembangunan itu. Mereka tak pernah dilibatkan dan didengarkan aspirasinya. Desa menjadi perpanjangan pemerintah.

Zaman memang berganti. Namun entah kenapa, berbagai pendekatan pembangunan selalu saja berasal dari kota, dan diharapkan akan dijalankan oleh orang desa. Bisa dikatakan bahwa kaum kota dan terpelajar itu merasa dirinya lebih tinggi sebab menguasai ilmu pengetahuan. Pandangan ini memang sangat bias dengan kepentingan modernis yang kemudian berkontribusi pada peminggiran masyarakat desa.

Di tahun 1979, sosiolog Robert Chambers mengidentifikasi sebab-sebab yang menyebabkan desa mengalami keterpinggiran. Salah satu hal tersebut adalah konstruksi pengetahuan kita tentang desa. Sebagaimana dikatakan Robert Chambers (1979), desa telah menjadi korban penjungkir-balikan (putting the last first) dari pihak luar desa (outsiders) yang mengaku serba tahu tentang desa. Mereka, para outsiders ini, sering merasa lebih tahu dan merekayasa desa. Pengetahuan warga desa lalu diabaikan dan tak pernah mendapat porsi yang semestinya, yakni sebagai mercusuar bagi masyarakat untuk melangkah maju. Padahal, pengetahuan orang-orang kota itu justru memiliki banyak bias, di antaranya adalah (1) bias ruang, (2) bias proyek, (3) bias personal, (4) bias musim kering, (5) bias diplomatis, dan (6) bias profesional.

Menarik untuk ditelaah tentang bias ruang, bias proyek, dan bias personal. Jika dilihat secara spasial, kota lebih diuntungkan oleh pembangunan. Pembangunan selalu menekankan pada aspek fisik dan pemenuhan kebutuhan masyarakat kota. Infrastruktur diprioritaskan hanya di level kota. Program pembangunan pun hanya diarahkan ke wilayah itu. Ini juga ditambah fakta bahwa cara-cara berpikir dalam koridor ekonomi makro justru lebih permisif pada pembangunan manufaktur dan sektor industri demi mempercepat laju pembangunan. Ini sama dengan memberi ruang yang amat besar bagi kemajuan kota, dan semakin dihilangkannya desa.

Selanjutnya, bias proyek. Di banyak tempat, pembangunan hanya dilihat sebagai proyek yang menyerap anggaran. Ketika anggaran terserap, maka pembangunan dianggap berhasil. Padahal, di banyak tempat, cara berpikir ini justru tidak memperhatikan aspek kontinutas atau sustainabilitas dari satu kegiatan. Ketika satu proyek dibangun, para perencana sering abai untuk melihat seberapa bermanfaatkah apa yang telah dibangun tersebut. Ataukah proyek itu hanya sekadar menghabiskan anggaran, tanpa melihat seberapa bergunakah proyek tersebut?


Inspirasi Desa

MESKPUN demikian, desa-desa selalu memancarkan mata air nilai yang mengisi celah dari egoisme dan keangkuhan orang kota. Di desa selalu saja ada pelajaran berharga tentang bagaimana menata satu kawasan dengan basis kultural serta kearifan masyarakatnya.

Di Desa Bonemarambe, Buton Tengah, kita bisa melihat kejujuran warga desa dalam menyampaikan informasi tentang penggunaan anggaran. Padahal, di kota-kota transparansi ini adalah sesuatu yang langka disebabkan ketamakan untuk mengeruk semua sumberdaya finansial. Pada desa-desa, kita menemukan mutiara peradaban berupa kejujuran yang kini menjadi barang mahal.

Tak bisa dipungkiri ada juga aparat desa yang tidak jujur dan menilep keuangan. Biasanya, tipe aparat desa seperti ini tak akan bertahan lama. Jika hukum tak bisa memberi sanksi, maka sanksi sosial jauh lebih menyakitkan sebab dampaknya lebih besar. Bisakah anda bayangkan bagaimana perasaan anda saat tdak ditegur seisi desa hanya karena ada indikasi anda berbuat curang kepada mereka?

Dalam satu dialog dengan warga desa, saya menemukan alasan yang cukup menghentak. Mereka tidak ingin berbuat curang sebab takut siksaan neraka. Saya tertegun. Kearifan seperti ini sudah jarang saya temukan di kota-kota. Banyak orang yang berpikir jangka pendek, berfoya-foya dengan uang yang bukan haknya, sebab merasa akhirat adalah sesuatu yang terlampau jauh. Banyak yang berpikir bahwa kekayaan, didapat dengan cara apapun, adalah cara tercepat untuk menggapai surga. Dan banyak yang tak sabar untuk segera ke sana.





Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...