Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Menemukan Rahasia di RAJA AMPAT




“Jangan Mati Sebelum Menginjakkan Kaki di Raja Ampat’

TADINYA, aku menganggap kalimat itu hanyalah provokasi agar orang-orang datang berkunjung ke Raja Ampat. Namun setelah melihatnya langsung, aku sungguh terkesima. Raja Ampat jauh melebihi ekspektasi tentang pulau tropis yang pemandangannya lembut. Raja Ampat serupa kepingan surga yang jatuh di bumi Papua, bumi yang dihuni manusia Papua yang berkulit hitam dan berambut keriting. Ajaib, selama di sana, aku berhasil menemukan rahasia mengapa gugusan pulau ini sedemikian menakjubkan.

***

SUARA vokalis Edo Kondologit mengiringi perjalananku dari Sorong ke Raja Ampat. Di kapal cepat bernama Marina, lagu Edo menjadi lagu yang menemani perjalanan. Liriknya membuat nuraniku basah. Aku memang pernah mendengar lagu ini. Namun entah kenapa, saat berada di Papua, lagu ini terasa magis dan menjadi suara lirih nurani orang Papua.


Tanah Papua tanah yang kaya
surga kecil jatuh ke bumi
Seluas tanah sebanyak madu
adalah harta harapan

Tanah papua tanah leluhur
Disana aku lahir
Bersama angin bersama daun
Aku di besarkan

Hitam kulit keriting rambut aku papua
Hitam kulit keriting rambut aku papua
Biar nanti langit terbelah aku papua

Oooh, Oooh,

Tanah Papua tanah yang kaya
surga kecil jatuh ke bumi
Seluas tanah sebanyak madu
adalah harta harapan

Tanah papua tanah leluhur
Disana aku lahir
Bersama angin bersama daun
Aku di besarkan

Hitam kulit keriting rambut aku papua
Hitam kulit keriting rambut aku papua
Biar nanti langit terbelah aku papua


Liik itu menjadi gerbang untuk mengenali Papua. Sejak pertama menginjakkan kaki di bumi ini, batinku langsung tertawan. Di mataku, Papua tidak sekadar hutan-hutan luas dan flora yang padat, rimba raya yang menjadi surga bagi banyak kehidupan, yang di sela-sela pepohonan terdengar lirih suara burung cenderawasih dan kuskus yang melintasi pepohonan. Papua bukanlah sekadar semesta tempat 

Namun, Papua adalah dua keping surga yang jatuh ke bumi. Satu keping tersimpan di atas bumi, menjadi jamrud hijau yang memancar di sela pepohonan. Sedang satu keping lagi terbenam di dasar laut menjadi pertama biru yang menjernihkan laut, menghidupkan karang-karang, lalu menjadi rumah bagi ikan-ikan hias yang berseliweran.

Sejak pertama memasuki Raja Ampat, atmosfer pariwisata laut kental terasa. Di Pelabuhan Waisai, aku menyaksikan patung dua lumba-lumba sedang berenang. Tak jauh dari situ, terdapat tugu selamat datang yang disangga oleh berbagai binatang laut. Siapapun yang masuk akan menyadari bahwa Raja Ampat mendedikasikan dirinya sebagai kawasan wisata perairan.


Sebagai kabupaten, usia Raja Ampat masih amat muda. Usianya baru 12 tahun. Akan tetapi pembangunannya sangat pesat. Ibukota Raja Ampat di Waisai tertata dengan sangat rapi. Saat melintas, aku menemukan fakta bahwa jalan-jalan sedemikian lurus, lebar, dan panjang, yang mengingatkanku pada jalan-jalan di Amerika Serikat.

Mungkin karena usianya yang masih muda, Raja Ampat mudah ditata. Kata beberapa orang, sebelum pemekaran, Raja Ampat adalah pulau sepi yang dihuni hanya sedikit orang. Dahulu, gugusan pulau sekitar Raja Ampat tak pernah dilirik orang sehingga pulau ini tetap bersih dan menawan. Posisinya yang jauh dari pusat kekuasaan telah menyebabkan pulau ini juga steril dari tangan-tangan kotor para pembuat kebijakan yang barangkali hendak mencari keuntungan di pulau ini. Benar sekali slogan Bupati Raja Ampat, tentang “membangun dari tiada menjadi ada.”

Sejak mekar, perlahan-lahan, Raja Ampat mulai ditata. Berbagai lembaga internasional turun tangan untuk menata Raja Ampat menjadi destinasi wisata terbaik di dunia. Ruang kota dibenahi. Regulasi dibuat agar menjaga keanekaragaman hayati. Penduduk ikut dilibatkan untuk menjaga konservasi. Mereka sama-sama menanam tekad untuk mewariskan bumi Raja Ampat yang kaya kepada anak cucu.

Yang membuat kesan pertama amat kuat di ibukota ini adalah penataan ruang kotanya yang sejuk dengan banyak taman. Di banyak tempat terdapat taman kota, yang selalu menampilkan patung hewan laut seperti lumba-lumba, hiu, ataupun ikan pari. Nampaknya, ikan pari adalah maskot wilayah ini. Aku melihat banyak patung ikan pari. Bahkan di dekat Pantai WTC, yang merupakan singkatan dari Waisai Torang Cinta, terdapat satu balon besar berbentuk ikan pari. Saat datang dan memotret, ternyata ikan ini juga menjadi maskot dari lembaga Konservasi Internasional yang sejak lama telah mengadvokasi kebijakan agar ikan ini dilindungi undang-undang.



Sungguh beruntung, ada banyak sahabat yang menemaniku selama di Raja Ampat. Misi kedatanganku ke situ bukanlah untuk berwisata. Misiku adalah membentuk Komunitas Informasi Wisata (KiTA) yang nantinya akan menjadi wadah bagi warga Raja Ampat untuk mengumpulkan segala informasi tentang wilayahnya. Nantinya, informasi itu akan disebarkan melalui banyak saluran media. Semoga saja komunitas ini kelak bisa tetap bertahan dan bisa memberikan makna bagi para pelancong yang hendak menemukan pencerahan dan hikmah di sepanjang perjalanannya.

Rahasia Raja Ampat

Dalam berbagai brosur wisata, Raja Ampat mengandalkan keindahan bawah laut dan keanekaragaman hayatinya di wilayah seluas 9,6 juta are. Mereka yang datang disarankan untuk diving. Ada sekitar 537 spesies koral dan 699 spesies hewan lunak lainnya di bawah perairan Raja Ampat. Jika anda beruntung, anda juga bisa melihat ikan pari manta dan penyu di sekitar tempat ini. Anda tidak harus menyelam ke dalam untuk bisa menikmati keindahan bawah laut Raja Ampat, dari pesisir pun anda bisa menikmatinya. Cukup pakai snorkel dan anda bisa mulai berenang di pesisir pantai.

Formasi pulau ini juga sangat indah, dan ini merupakan salah satu daya tarik wisata bahari Raja Ampat. Jika anda tidak berani menyelam, anda tetap bisa menikmati keindahan pulau ini dari luar. Berbagai elemen menarik menyusun kepulauan ini, misalnya hutan yang lebat, spesies tumbuhan langka, gugusan batu kapur yang eksotis, dan sarang penyu di sekitar pantai. Saat musim kawin ribuan penyu bisa muncul di sekitar pantai untuk bertelur.

Ada 4 pulau utama yang menyusun kawasan Raja Ampat, yaitu Bantanta, Salawati, Waigeo, dan Misool. Sebenarnya masih ada banyak lagi pulau-pulau kecil yang terdapat di daerah ini. Langsung saja datang ke tempat ini jika ingin melihat keindahan wisata bahari Raja Ampat.

Seteah datang sendiri ke Raja Ampat, aku tiba-tiba saja menemukan RAHASIA mengapa Raja Ampat begitu menakjubkan. Rahasianya tidak terletak pada pantai-pantai indah itu, atau pada paus ataupun ikan hiu serta penyu yang selalu melintas dan berumah di situ, juga tidak terletak pada surga bawah laut eksotis yang tak ditemukan di manapun.



Rahasia mengapa Raja Ampat sedemikian eksotik justru terletak pada manusia-manusia yang menghuni wilayah ini, yang dengan kesederhanaannya justru menyimpan kearifan yang mencengangkan. Mereka yang mendiami Raja Ampat adalah orang-orang hebat yang punya kekuatan hati untuk menerima semua orang dengan tangan terbuka. Selama di sana, aku amat banyak dibantu orang-orang baru yang kemudian menjadi sahabat dekat. Aku bertemu para nelayan yang kemudian menjadi guru-guru konservasi. Mereka tak saja menjaga laut, tapi juga menegakkan marwah seluruh bangsa Indonesia tentang negeri maritim yang kaya dan seharusnya dijaga dengan seluruh energi terbaik. Mereka menghidupkan kawasan, menjadi jantung dari seluruh kegiatan wisata.

Mereka memberikan isyarat bahwa selalu ada keajaiban di Raja Ampat. Keajaiban itu terletak pada senyum tulus, hati yang hangat dan selalu membuka pintunya, serta pada kecintaan mereka pada bumi air Raja Ampat.


Waisai, Raja Ampat, 22 November 2014

Kisah Penakluk Media Sosial




TADINYA aku mengira media sosial seperti Facebook dan Twitter bekerja berdasarkan hukum-hukum sendiri yang tak bisa diintervensi. Belakangan, anggapan itu kurevisi. Seorang teman bisa mengubah twitter-ku tiba-tiba saja di-follow banyak orang. Yang mencengangkan, para follower itu adalah pemilik akun aktif dan tinggal di Indonesia. Hebat khan?

Teman itu menolak untuk menjelaskan caranya. Ia tak hanya menunjukkan bagaimana cara menambah akun dengan sangat cepat (hanya dalam sejam, ia bisa menggiring 3.000 follower baru), ia juga memintaku untuk mem-post sesuatu. Ia lalu mengatur agar postingan itu akan di-retweet sampai ribuan kali. Di tengah rasa keheranan itu, ia lalu berkata, “Kita bisa merancang perubahan. Kita bisa menciptakan banyak keajaiban dengan twitter.”

Kemampuan sahabat itu membuatku terhenyak. Ternyata, apa yang kita sebut media sosial tak bisa lepas dari rekyasa dan strategi. Selama ini aku hanya mengenali cara yang normal-normal saja. Seiring waktu, aku semakin belajar bahwa media sosial tidak bekerja dengan standar yang normal. Ia juga bisa diatur, bisa direkayasa, dan bisa diarahkan untuk mewujudkan apa yang dibayangkan. Artinya, perubahan pun bisa direkayasa dan digerakkan oleh gagasan yang dikendalikan oleh para penakluk media sosial.

Raja Ampat, 21 November 2014

Segelas Moke yang Mempersatukan



sebuah perahu di Teluk Maumere

SELAMA berkunjung ke banyak daerah di Indonesia timur, termasuk Maumere (Sikka), saya menemukan satu benang merah tradisi yang bisa ditemukan di mana-mana. Tradisi itu adalah meminum tuak secara bersama-sama. Melalui tuak, ikatan kekerabatan dikuatkan. Sekali anda minum tuak dengan seseorang, maka anda adalah saudara yang akan dibelanya sampai mati. Bahkan ketika anda salah sekalipun, ia tetap akan membela.

Jangan pernah sekalipun anda meragukan solidaritas yang dimiliki seseorang dari timur Indonesia. Uniknya, persaudaraan itu dirajut melalui banyak cara. Sekali anda berbuat baik, maka anda akan terus diingat. Jika tak punya kesempatan berbuat baik, cukup minum moke secara bersama. Dijamin, anda akan menjadi bagian dari rekan yang bersama minum moke.

Di penginapan tempat saya tinggal, acara minum moke hampir setiap malam dilakukan. Melalui acara itu, pemilik penginapan, pekerja, hingga tetangga sama-sama bergabung untuk meminum moke atau tuak. Tak hanya minum, mereka juga akan saling berceloteh hingga suasananya ribut. Biasanya, mereka akan saling mendengarkan. Jika ada yang lucu, mereka akan tertawa ngakak bersama-sama. Kadang, acara minum moke itu diselingi dengan musik dangdut yang suaranya membahana dari soundsystem berukuran jumbo.

Saya sempat nimbrung dan menyaksikan dari dekat. Dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan bahwa saat meminum moke, tak ada yang disebut hierarki sosial. Semuanya berada pada posisi sama, jenis minuman sama, gelas yang sama, hingga teler secara bersama pula. Seusai teler, biasanya ikatan mereka semakin kuat. Mereka akan mengidentifikasi diri sebagai satu kesatuan yang memiliki tugas berbeda.

Entah, apakah ada yang pernah melakukan riset tentang acara minum moke. Akan tetapi saya sangat yakin kalau acara ini berperan penting untuk memperkuat jaringan sosial. Moke tidak hanya sekedar minuman tetapi mempunyai nilai kultural, ekonomi dan sosial yang tinggi. Bagi sebagian orang, moke adalah simbol adat, persaudaraan dan pergaulan bagi masyarakat Flores.

Moke adalah minuman yang diolah dari hasil penyulingan buah dan bunga pohon lontar maupun enau. Proses pembuatannya masih tradisional. Konon, proses pembuatan moke adalah warisan dari nenek moyang. Pembuatannya dilakukan di kebun-kebun masyarakat dengan menggunakan wadah-wadah tradisional seperti periuk tanah untuk memasaknya.

Pembuatan moke memerlukan keuletan, kesabaran dan keahlian khusus untuk menghasilkan minuman yang berkwalitas. Moke ada berbagai jenis mulai dari moke biasa, moke merah sampai moke dengan kandungan alkohol tertinggi. Khusus untuk moke yang kandungan alkoholnya tinggi masyarakat biasa menyebut ‘BM’ atau bakar menyala. Walaupun moke merupakan minuman yang beralkohol, untuk mendapatkannya sangat mudah, diberbagai sudut kota maupun di pelosok desa moke selalu tersedia.

Semalam, saat kembali dari pertemuan dengan seorang informan, kembali para karyawan penginapan menggelar pesta minum moke. Suara khas Rhoma Irama terdengar nyaring dan bercampur dengan gelak tawa. Saat melintas, sejumlah anak muda bertato itu menahan langkahku. Mereka meminta saya untuk bergabung. Saya sadar betul bahwa mereka ingin menjalin persaudaraan. Saya pun duduk di dekat mereka. Segelas moke diberikan.

Baru mencium baunya, saya lagsung merasa mual. Sungguh, saya bukan peminum yang perkasa. Saya pasti akan mudah tumbang dengan hanya meminum satu sloki. Dengan tidak bermaksud mengecewakan mereka, saya pura-pura mengambil moke. Saat di mulut, saya mencium bau alkoho yang kuat. Saya tak sanggup. Tapi persaudaaraan juga penting.

Inilah yang disebut dilema. Saya berada di tengah dua pilihan sulit. Apakah kami akan bersaudara berkat moke, ataukah melalui hal lain. Ah, izinkan saya memilih satu pilihan yang paling tepat. Hiks.


Maumere, 18 November 2014

Maumere, Keping Sejarah, dan Perjumpaan Pertama


bunga di Sikka

KETIKA pesawat yang saya tumpangi mendarat di Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), udara terlihat sangat cerah. Langit nampak biru. Pesawat itu mendarat di Bandara Frans Seda (dulu bernama Bandara Wai Oti), pukul tiga sore. Bandara ini cukup besar untuk ukuran sebuah ibukota kabupaten. Bangunan utamanya dua lantai. Di sekitar bangunan, terdapat banyak bunga-bunga yang bermekaran. Saya memotret beberapa di antaranya untuk keperluan brosur wisata.

Saya menumpang pesawat jenis Wings Air dari Denpasar. Dalam sehari, ada dua pesawat yang singgah di sini. Selain wings, maskapai Nam Air juga dua kali singgah ke Sikka. Saya lalu menyewa sebuah mobil jenis Avanza. Warga Sikka menyebut mobil pribadi ini sebagai taksi. Saya lalu menuju Blue Ocean Cottages yang menjadi base camp selama tinggal di kota ini. Jalanan tidak terlalu ramai. Aspalnya mulus.

Sang sopir di sebelah saya bercerita sekilas tentang Maumere. Katanya 80 persen penduduk Maumere adalah Katolik. Makanya, di kota kecil itu banyak terdapat gereja katolik. Ia juga bercerita tentang beberapa bangunan yang menjadi landmark wilayah. Misalnya patung Kristus Raja, patung Bunda Maria, serta beberapa gereja-gereja tua.

“Dari sedemikian banyak kota yang mayoritas beragama katolik, hanya Maumere yang pernah dikunjungi langsung oleh Paus Yohannes Paulus,” kata sopir itu menambahkan. Nampaknya, kedatangan Paus cukup monumental di wilayah itu. Sampai-sampai, masih diingat dan dijadikan sebagai topik diskusi kepada seseorang yang baru menginjakkan kaki di wilayah itu.

pesawat Wings Air
bunga-bunga kuning

Saya akhirnya tiba di Blue Ocean Cottages. Saya bertemu beberapa anak muda yang tengah duduk bergerombol. Saya mencium bau alkohol yang pekat di situ. Seorang anak muda berambut gimbal menyambut saya. Namanya Ridho. Ia membawa saya ke satu pavilliun yang kosong. Sayang sekali, rekan Sofyan Sjaf dan fasilitator Kiki manis sedang tak berada di tempat. Mereka sedang berperahu ke Pulau Babi, yang jaraknya sekitar setengah jam perjalanan. Kata Ridho, mereka berencana untuk snorkeling di pulau itu. Huh, saya iri.

Sembari menunggu mereka, saya lalu berkeliling cottages. Tempat ini nampak sangat alami. Atapnya dibuat dari ijuk. Kamarnya dihiasi dekorasi ala Sikka. Pohon kelapa dan tanaman nampak rimbun di sekitar hotel. Kata Ridho, cottages ini cukup laris di kalangan wisatawan asing. “Hampir setiap hari ada tamu di sini,” katanya.

Ia juga menjelaskan beberapa obyek wisata di Sikka. Sayangnya, obyek wisata itu jaraknya cukup jauh. Menurutnya, untuk mencapai gereja tua Sikka, butuh waktu sekitar 45 menit. Saya melirik jam di tangan yang telah menunjukkan pukul 5.30 sore. Saya memilih untuk tidak ke mana-mana sambil menunggu Pak Sofyan dan Kiki. Saya lalu membaca beberapa informasi tentang Maumere.

Menurut satu informasi, Maumere adalah kota terbesar di Flores. Kota ini lebih besar dari Lauan Bajo. Kota ini pernah tercatat sebagai daerah wisata yang cukup populer di tanah air. Dahulu, kota ini terkenal dengan taman bawah lautnya. Tapi sejak ada tsunami yang menerjang Maumere pada tahun 1992, wisata bawah laut langsung tiarap. Tak ada lagi turis-turis yang datang. Tak banyak lagi hotel dan homstay. Kalaupun ada wisatawan yang singgah ke kota ini, maka biasanya wisatawan itu sedang transit dalam perjalanan ke Taman Nasional Komodo.

Keberadaan Maumere tidak lepas dari Keuskupan Larantuka. Sebelum datangnya kekuasaan Hindia Belanda, Maumere dikenal dengan nama Sikka Alok atau Sikka Kesik. Di sinilah pedagang Cina, Bugis, dan Makassar saling barter hasil bumi dengan penduduk setempat. Mereka hilir mudik dan menetap tak jauh dari pelabuhan air yang disebut Waidoko. Pemerintah Hindia Belanda kemudian yang membuka kantor pemerintahannya di Sikka dan memberi nama-nama baru seperti Maunori, Mautenda, Mauwaru, Maurole, Mauponggo, Maulo’o, dan terakhir Maumere yang merupakan daerah di Sikka.




Menurut Ridho, agama Katolik sendiri pertama kali hadir di Maumere dikenalkan dua orang pastor Dominikan tahun 1566, yaitu P. Joao Bautista da Fortalezza. Keduanya mengenalkan agama ini di Paga, sebuah kota kecil sekitar 45 km arah Barat Maumere. Ada juga pastor Simao da Madre de Deos yang menjadi juru agama di Sikka. Mereka berdua dikirim oleh P. Antonio da Cruz dari Larantuka, di Timur Flores. Larantuka sendiri merupakan kota yang ternama dengan ritual agamanya yang disebut Semana Santa, minggu yang khidmat sebelum Minggu Paskah.

Saya masih ingin mencatat banyak hal tentang Maumere. Namun di pesisir laut sana, saya melihat satu perahu telah sandar. Tak lama kemudian, turun Sofyan Sjaf dan Kiki dari situ. Saya lalu mendekat sembari memotret. Kiki menyapa. Ada yang berubah. Kulitnya agak gelap di banding sebelumnya. Tapi tetap manis.


Maumere, 17 November 2014

Bertemu Waria Cantik Maumere


Herlin


TADINYA, aku tak menyangka bahwa di sebelah toko kecil di Jalan Dr Wahidin, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, terdapat sebuah salon kecantikan. Ketika datang untuk mem-print beberapa dokumen, pelayan toko datang dengan wajah yang agak seram. Ketika kutanyakan berapa harga print selembar, suaranya terdengar agak melambai. Ia tersenyum saat menyarankan agar potong rambut. Eh, ternyata ia seorang waria bernama Herlin.

Aku sempat kecele. Secara fisik, ia agak angker. Ternyata senyum dan tawa riang tak pernah bisa sirna dari wajahnya saat berdialog. Di toko kecil itu, ia mengelola usaha warung internet serta print dokumen. Tak hanya itu, ia juga memiliki usaha rias pengantin serta jasa penyewaan baju-baju pengantin di Maumere. Ia nampak sukses.

Aku mengenal beberapa sahabat waria. Herlin adalah tipe yang mudah diajak ngobrol. Ia menunjukkan beberapa foto dirinya di ruangan kecil itu. Ia berpose dengan beberapa artis era 1980-an, seperti Meriam Bellina, Rano Karno, ataupun Nia Dicky Zulkarnain. Ia mengaku dahulu bekerja sebagai juru rias para artis di Jakarta. Makanya, ia punya banyak teman artis.

“Saya cukup lama di Jakarta. Dulunya, saya jadi asisten Rudy Hadisuwarno sebagai penata rambut. Saya juga menjadi pengurus Persatuan Artis Film Indonesia atau Parfi. Kalau ke Jakarta, harus lapor dulu. Hihihi,” katanya.

Saat itu, aku datang bersama sahabat perempuan yang bekerja sebagai fasilitator di Maumere. Sahabatku itu ikut berbincang dengan Herlin. Tapi entah kenapa, Herlin hanya menawariku memotong rambut. Ia suka mengerling ke arahku. Ketika berpromosi tentang wisata Gunung Kelimutu, Herlin menawariku untuk menumpang mobilnya.

“Soal harga sewa, itu urusan belakangan. Yang penting kita bisa sama-sama senang ke Kelimutu,” katanya sedikit genit. Saat itu, aku langsung perikir bahwa barangkali perjalanan ke Kelimutu akan menyenangkan. Namun, sepertinya aku lebih memilih alternatif lain, ketimbang meminjam mobil Herlin. Barangkali, akan lebih baik kalau kami menyewa mobil rental ke sana.

Saat hendak meninggalkan tempat itu, Herlin masih sempat berteriak, “Kalau ke Maumere lagi, jangan lupa ke sini yaa. Kita kan saudara,” katanya. Aku tersenyum lebar. Kepadanya kuucapkan banyak terimakasih atas keramahan dan kebaikan hatinya telah membantuku. Aku lalu menjawab, “Sampai ketemu lagi Mas Herlin. Eh salah. Maksudku, Mbak Herlin.” Aku tersenyum.

Kulihat ia sedikit cemberut.



Mawar Cantik Kota Manado




DI sudut Score, Manado Town Square, gadis itu memandang kosong ke lantai dansa. Di sana, banyak pasangan tengah berdisko dengan berbagai gaya. Ia duduk sendirian. Aku tak melihat satupun gelas minuman di mejanya. Kuminta seorang waiter mengantar segelas Martini. Sang waiter lalu menunjuk ke arahku. Gadis itu tersenyum lalu mendekatiku. Kali ini, aku yang deg-degan. Ia serupa bidadari.

Ia mendekat. Matanya lurus ke arahku. Tak sengaja, aku melihat ke arah roknya yang mini. Kakinya bagus dan indah dipandang. Aku lalu memalingkan wajah ke arah lain. Ia mengangkat gelas berisi minuman lalu mendekatiku. Kali ini kami duduk berdekatan. Cahaya lampu menyorot ke rambutnya yang kemerahan. Cantik.

Kami coba berbincang. Aku lebih banyak diam. Aku tak punya bahan untuk dibahas. Ia selalu memulai pembicaraan. Selanjutnya aku bertanya tentang dirinya. Ia tak pelit informasi. Ia bercerita tentang dirinya yang datang dari satu desa yang jauh di utara Sulawesi demi sesuap nasi. Ia mengenali kalau aku baru pertama berkunjung ke bar itu. Batinku membatin, sepertinya gadis ini hampir tiap malam di situ. Tak lama kemudian, musik yang tadinya berdentam-dentam tiba-tiba melambat. Beberapa pasangan langsung berdansa. Ia lalu menyentuh lenganku sembari berbisik, “Kamu mau dansa khan?” Aku menggeleng. Ia kecewa.

***

Manado serupa kembang indah yang dikerubungi kumbang. Kota ini menjadi magnet dari banyak gadis-gadis muda yang lalu meramaikan dinamika hiburan malam. Baru singgah beberapa malam, seorang sahabatku mengajakku mengelilingi beberapa kawasan. Baru kutahu kalau sebutan bagi kupu-kupu malam adalah mawar. Sedangkan sebutan bagi lelaki pencari mawar adalah kumbang.

Saat melintas di Taman Kesatuan Bangsa (TKB), beberapa mawar mendekat. Aku menyaksikan seorag gadis muda yang wajahnya mengingatkan pada artis Nafa Urbach. Bajunya agak rendah di bagian dada. Aku tak ingin memandang ke arah itu. Tanpa basa-basi, ia mengajak untuk ke hotel terdekat. Dengan logat khas Manado, ia menyapa:

“Ayo kita ke hotel,” katanya
“Tidak ada doe” jawabku.
“Pasti ngana pura-pura,” katanya.

Aku hanya bisa tersenyum. Aku melanjutkan perjalanan. Tak jauh dari TKB, di ujung Jalan Boulevard, beberapa Mawar bergerombol. Kembali mereka mendatangiku. Bersama teman, aku memlih untuk meninggalkan tempat itu. Bagiku, apa yang tampak ini adalah sekeping kenyataan dari kota Manado. Ini juga bisa menjadi gambaran tentang betapa banyaknya persoalan sosial yang harusnya bisa ditangani.

Tak semua orang mau menjadi Mawar. Banyak di antara mereka justru tak berdaya dan kalah oleh keadaan. Barangkali yang harus dikuatkan adalah basis pembangunan di desa-desa, kembali merevitalisasi ekonomi desa, membuka banyak peluang, segingga warga desa tidaklah merantau ke kota lalu memilih menjadi mawar demi mengatasi satu masalah hari ini.

***

“Ayo dansa. Musiknya lagi romantis,” kata gadis di sebelahku. Aku memandang sekeliling, Suasananya memang sengaja dibuat romantis. Banyak pasangan berpelukan. Sayup-sayup suara berat Luis Amstrong mengalun. Di ujung sana, kulihat ada pasangan yang sedang berciuman dengan hot.

Aku lalu menoleh pada gadis ini. Sebelumnya, ia bercerita tentang kehidupan keluarganya yang didera kemiskinan. Ia tak punya skill apapun untuk mendatangkan nafkah. Ia lalu bekerja sebagai ladys di satu bar terkenal kota ini. Ia mendapatkan tip dari apa yang dilakukannya.

Kembali, ia menarik lenganku untuk ke lantai dansa. Aku lalu memikirkan urbanisasi yang marak di kota-kota. Para petani telah lama kehilangan tanahnya karena dijual ke orang-orang kota. Ayah gadis di hadapanku ini adalah petani kecil yang tak punya apapun untuk menopang hidupnya. Gadis di hadapanku ini adalah pemberani yang menopang ekonomi keluarga. Sayang, ia tak pernah bangga dengan pekerjaannya.

“Kaka, ayo kita dansa,” kembali ia merajuk. Kali ini aku tak mau menolak. Aku ingin tahu bagaimana rasanya berdansa dengan bidadari kota Manado. Tiba-tiba saja, ada gagasan melintas di kepalaku. Jangan-jangan, ia akan mengajakku ke satu hotel. Dansa hanyalah pintu masuk untuk pembicaraan serius. Ah, kali ini aku tak mau berspekulasi. Biarlah kunikmati dansa dengannya.
 

Manado, November 2014

Tak Fasih di Negeri Berbahasa Inggris




KALI ini saya ingin bercerita tentang bahasa Inggris. Di media sosial, banyak orang yang mencela kemampuan presiden kita berbahasa Inggris. Dugaan saya, para pencela itu tak pernah merasakan bagaimana tinggal di negara berbahasa Inggris.

Jika pernah, pastilah mereka akan sadar bahwa bahasa hanyalah satu medium untuk menyalurkan gagasan. Di luar bahasa, ada aspek yang jauh lebih penting yakni sedalam apa kita bisa menyelam di lautan gagasan, seberapa banyak mutiara pengetahuan yang kita kumpulkan, serta sejauh mana kita berenang di samudera ide-ide lalu menghamparkannya untuk menyampaikan maksud.

Tanpa bermaksud narsis, saya ingin berkata bahwa saya pun pernah kuliah di satu kampus di negara yang berbahasa Inggris. Dahulu, saya pernah merasa amat minder dengan kemampuan bahasa. Bahkan ketika pertama kuliah, saya sempat pesimis bahwa boleh jadi saya akan terusir dari kampus dikarenakan persoalan bahasa.

Saya masih bisa mengingat hari pertama kuliah. Hari itu, kuliah perdana di mulai. Saya belajar tentang Communication and Development yang diasuh Vilbert Cambridge. Kelas sudah ramai dengan mahasiswa dari berbagai bangsa. Dengan langkah gontai, saya menuju kelas. Di depan kelas, saya bertemu dengan seorang mahasiswa asal Afganistan, Latvia, dan Jerman. Mereka sedang berbincang-bincang dan bercanda. Bahasa Inggrisnya amat fasih. Saya minder.

Kelas dimulai. Cambridge bercerita tentang aspek penting dalam komunikasi dan pembangunan. Ia fasih membedah teori Wilbur Scramm hingga beberapa sosok seperti Paolo Freire dan Amartya Sen. Presentasinya menyihir. Semua terkesima. Saya tak paham secara detail apa saja yang dikemukakannya. Tapi saya paham gambaran-gambaran besar yang hendak disampaikannya. Saya paham ke mana arah pembicaraan, meskipun akan bingung ketika diminta menerjemahkannya kata demi kata.

Sesi diskusi dimulai. Mahasiswa Amerika dan Eropa amat suka berbicara. Mereka tak peduli idenya nyambung atau tidak, yang penting berbicara. Saya tak bisa menangkap kata-kata mereka. Saat kelas usai, saya bertemu dengan seorang mahasiswa asal Cina. Dengan kemampuan bahasa pas-pasan, kami saling curhat tentang kemampuan kami yang hanya bisa menangkap sekitar 20-an persen dari presentasi dosen. Baru saya tahu kalau ternyata ia pun agak minder di kelas dengan kemampuan bahasa rekan-rekan lain. Saya tak sendirian.

Minggu selanjutnya, jantung saya berdetak lebih kencang. Hari itu, Cambridge meminta kami bercerita tentang memori kolektif atas kolonialisme di negeri masing-masing. Saya deg-degan sebab seisi kelas mesti berbicara. Mau tak mau, saya pun harus berbicara. Saat itu, saya tak punya pilihan. Prinsip saya, apapun yang terjadi, terjadilah. Kalaupun ngawur, yang penting saya telah mencoba. Saya tak ingin lari dari masalah.

Seorang teman asal Colombia bercerita tentang bagaimana Spanyol mencengkeram negeri itu, serta hilangnya tradisi dan budaya. Saya mendapat inspirasi. Tadinya saya hanya mau cerita tentang tahapan penjajahan Belanda dan Jepang. Saya sudah menghafal tanggal dan tahun semalam suntuk. Kalimat sahabat tadi membuat saya tertegun. Ketika diminta bicara, saya memutuskan untuk tak menyampaikan bahan yang sudah saya hafalkan.

Saya memilih memaparkan ide tentang bagaimana kolonialisme di Nusantara justru dimulai dari berpijarnya api ilmu pengetahuan. Bangsa Eropa menemukan peta ke dunia timur, yang lalu menjadi kompas bagi pelautnya untuk menggapai Nusantara. Penjajahan itu dimulai dari ekspedisi untuk menemukan sumberdaya alam demi menjadi energi bagi mesin kemajuan di negeri-negeri Eropa. Semua terdiam.

Saya tak tahu seberapa kuat gagasan itu. Saya berpikir yang penting bicara. Saya tak peduli apakah kalimat itu memenuhi kaidah bahasa Inggris yang baik ataukah tidak. Seusai berbicara, saya lalu menutup kalimat dengan mengatakan, “Mohon maaf atas bahasa Inggris yang buruk ini. Saya hanya coba berbicara yang saya ketahui, dengan kosa kata terbatas.”

Semua orang menampilkan wajah protes. Bahkan Cambridge langsung berteriak, “Apa kau bilang? Justru bahasa Inggrismu sangat bagus. Saya serasa mendengar siaran radio yang penyiarnya berbicara dengan fasih.” Hampir semua mahasiswa di kelas mengiyakan. Padahal saya yakin kalau kemampuan bahasa saya pas-pasan. Guru bahasa Inggris saya di Indonesia mengatakan bahwa saya perlu banyak mengasah diri. Aneh, di negeri yang warganya berbahasa Inggris itu, semua orang justru mengangguk ketika saya berbicara. Mereka paham. Saya terharu.

Kelas perdana itu mendatangkan banyak inspirasi. Saya mulai bersahabat. Bahkan seorang teman asal Afganistan yang bahasa Inggrisnya fasih itu mulai menjadi sahabat akrab. Kami banyak mengambil kelas yang sama. Pada setiap kelas, ia akan banyak berpendapat dan melontarkan ide. Sementara saya hanya sesekali.

Di kelas Media Theory, pengajarnya agak aneh. Setiap minggu, ia akan memberikan ujian tulis. Kami diminta menjawab soal yang diberikannya berdasarkan bahan bacaan. Hasilnya akan diketahui seminggu berikutnya. Ajaib, setiap minggu, nilai saya lebih tinggi dari sahabat itu. Padahal, saya menjawab soal dengan kemampuan menulis bahasa Inggris yang pas-pasan.

Ketika nilai-nilai mata kuliah lain diumumkan, saya kembali tercengang. Nilai-nilai saya lebih tinggi darinya. Bahkan ketika kami sama-sama lulus, nilai saya jauh melebihi dirinya. Saya lulus dengan nilai yang baik, sementara sahabat itu lulus dengan nilai pas-pasan. Padahal, ia sangat rajin, suka diskusi, dan tak pernah telat mengumpulkan tugas.

Lantas, apa rahasianya?

Seorang profesor di kelas filsafat membocorkan rahasianya. Dalam satu perbincangan di satu kafe saat kami sama-sama menghangatkan badan dari salju, ia bercerita tentang kebijakannya memberi nilai. “Saya tak pernah melihat kemampuan bahasa. Saya tidak sedang mengajar tata bahasa. Saya jauh lebih peduli pada substansi. Biarpun bahasanya ngawur, tapi jika yang disampaikan adalah substansi, saya akan memberikan apresiasi. Ide-ide jauh lebih bernilai dari sekadar kefasihan bahasa,” katanya.

Saya terkesima. Sungguh, betapa bedanya cara pandang kita dengan bangsa lain.  Kita seringkali lebih suka mengolok-olok kemampuan orang lain, tanpa mau melihat sisi-sisi positif dari orang tersebut. Kita lebih suka mencela, padahal boleh jadi kita pun berada di posisi yang sama dengan orang itu. Kita mencela kemampuan bahasa Inggris seseorang, di saat bersamaan kita pun tak sefasih orang yang dicela, atau jangan-jangan kita justru tak menemukan satu sisi positif dalam diri kita sehingga kita lalu mengalihkannya dengan mencela orang lain.

Banyak dari kita yang seringkali merasa lebih sempurna. Kita menghina sembari menyembunyikan betapa banyaknya kelemahan. Kita lebih suka bergunjing, mencela, atau menghina orang lain, tanpa mengaktifkan seluruh indra kita untuk menyerap hikmah dan kearifan. Kita selalu ingin melihat sesuatu sempurna, tanpa pernah mau menghargai proses setapak demi setapak menuju kesempurnaan itu. Pada titik ini, kita lebih suka nyinyir, tanpa pernah mau menunjukkan prestasi yang kita hasilkan. Tiba-tiba saya teringat kata-kata mutiara yang dituliskan seseorang.

Great People Talk about Ideas
Average People Talk about Things
Small People Talk about Other People.

Nah, di manakah posisi kita?


 Bogor, 10 November 2014

Pahlawan Belia di Kota Manado

seorang pemuda tengah memandang lautan

TAK semua anak muda menginginkan hidup nyaman di kota-kota dengan aktivitas  jalan-jalan di mal. Di Manado, saya bertemu beberapa anak-anak muda kota yang justru memilih tinggal di pulau-pulau terluar dan berhadapan dengan ketidaknyamanan. Mereka berani hidup di desa-desa pulau yang tak berlistrik, tak berpenerang, tak punya fasilitas air bersih. Mereka menjadi bagian masyarakat pulau yang terus bergerak untuk membumikan perubahan. Mereka adalah pahlawan di tepian tanah air.

***

Dewa Laut seakan berdiam di Manado, Sulawesi Utara. Di depan satu pusat perbelanjaan, saya melihat patung dewa laut dan anak-anaknya yang menetas dari beberapa kerang laut. Tak jauh dari situ, laut biru dan ombat-ombak seakan menerjang kota Manado. Dari pesisir itu, nampak gunung Manado tua berdiam tenang di tengah lautan berombak.

DI tengah hamparan laut biru itu, sebuah perahu melesat menuju dermaga. Setelah merapat, beberapa penumpang turun. Di situlah saya bertemu Linda, seorang perempuan muda yang selama beberapa bulan ini tinggal di Pulau Lkupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, salah satu pulau terluar di utara tanah air. Ia melakoni pekerjaannya sebagai fasilitator dari organisasi Destructive Fishing Watch (DFW) yang concern pada pemberdayaan masyarakat pulau terluar. Linda bercerita tentang dunianya di pulau-pulau terpencil, serta upayanya untuk membantu masyarakat.

Ia berkisah tentang pulau-pulau terluar yang seharusnya menjadi pagar tanah air. Kondisi pulau-pulau itu cuku memprihatinkan karena lemahnya akses transportasi. Infrastruktur amatlah terbatas. Tak ada akses listrik, air bersih, serta sentuhan pembangunan. Linda tak patah arang. Ia justru tertantang. Ia memilih tinggal bersama para nelayan di pulau itu sembari mengajarkan pengetahuan yang didapatnya selama studi di Universitas Pattimura.

Selama tinggal di pulau, ia melakukan pemetaan kebutuhan masyarakat. Ia belajar memahami apa yang dirasakan masyarakat. Masyarakat di sekitar pulau kerap mengalami masalah terkait air bersih. Demi mendapatkan air bersih, masyarakat harus mendatangkannya melalui jerigen dari kota Manado. “Biayanya cukup mahal untuk warga yang berpenghasilan sebagai nelayan biasa. Kasihan para neayan mesti mendatangkan air bersih dari kota,” katanya.

Ia lalu mengirimkan rekomendasi kepada pemerintah untuk membangun desalinator air laut. Ia berpikir bahwa jika ada infrastruktur berupa desalinato atau penjernih air laut menjadi air tawar, pastilah alat itu akan membawa manfaat bagi banyak orang. Minimal, kebutuhan dari beberapa pulau-pulau sekitar Sangir talaud bisa terpenuhi.

patung keluarga Dewa Laut di Manado

Ia juga mengusulkan agar pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Ia membayangkan, jika sarana listrik tersedia, maka nelayan bisa membangun pabrik es untuk mendinginkan ikan-ikan tangkapan agar tidak layu saat mencapai kota. Ia juga menginginkan seluruh desa nelayan menjadi terang benderang dan jejak-jejak pembangunan bisa nampak di pualu itu. “Indonesia telah merdeka 69 tahun silam, tapi tak pernah ada jejak kemerdekaan di pulau-pulau terluar kita. Inilah yang harus dibenahi,” katanya.

***

TAK hanya Linda, saya juga bertemu perempuan muda bernama Jeszy Patiri. Ia bekerja di Pulau Supiori, yang terletak di Kabupaten Bepondi, Papua Barat. Pulau ini bisa dijangkau dari Biak, melalui perahu kecil. Jeszy nampak sama tangguhnya dengan Linda. Jeszy adalah penduduk asli Toraja yang terletak di pegunungan Sulawesi Selatan. Meskipun tak pernah menginjakkan kaki di Papua, ia justru berani memilih tinggal di pulau terluar Papua Barat pada gugusan pulau yang berbatasan langsung dengan lautan Pasifik.

Ketika pertama melihat ombak bergulung-gulung, Jeszy sempat khawatir. Anehnya, kapal nelayan yang ditumpanginya saat pertama ke pulau itu justru melaju tenang hingga mengapai pulau. Nakhoda lalu menjelaskan bahwa para nelayan tradsional di pulau itu punya kemampuan yang disebutnya ‘hitung ombak.’ Mereka bisa melihat celah-celah yang serupa pintu di tengah ombak ganas. “Makanya, biar ombak tinggi kayak rumah, kapal akan tetap bisa melaju kalau bisa hitung ombak,” kata nelayan itu sebagaimana ditirukan Jeszy.

Papua memang negeri yang asing bagi pemudi ini. Namun kedatangannya di Pulau Supiori, justru mendapat sambutan bak seorang tamu agung. Penduduk pulau menyediakan rumah untuk ditinggali. Ia tak perlu membayar. Penduduk juga membantu menyediakan kebutuhan sehari-hari. Di pulau itu, ia menjalani hari-hari yang penuh tantangan. Ia mesti terbiasa hidup tanpa sinyal handphone, tanpa listrik, tanpa televisi, dan tentu saja, tanpa pernah menonton sinetron. Ia juga mesti memasak sendiri apa-apa yang hendak di makannya.

Namun ia justru menikmati hari-harinya. Ia sangat bahagia saat berperahu dan di sekelilingnya aa banyak lumba-lumba yang mengikutinya. “Kata penduduk, lumba-lumba ini adalah saudara. Mereka menjagai kita dari bahaya saat berada di laut,” katanya dengan penuh keceriaan.

Mulanya, Jeszy tinggal di situ sebagai fasilitator yang memetakan kebutuhan masyarakat. Namun pada praktiknya, ia juga menjadi pengajar pada satu-satuya sekolah dasar yang ada di situ. “Saya mengajari anak-anak tentang pentingnya menjaga terumbu karang sebagai habitat ikan hias. Saya lebih banyak mengajar dengan gambar-gambar. Anak-anak suka lihat gambar. Mereka tahu semua jenis ikan,” katanya di Manado. Tema yang diajarkannya memang kontekstual.

Linda dan Jeszy saat ditemui di Manado

Selama beberapa tahun terakhir, banyak nelayan Pulau Supiondi yang membius ikan hias lalu menjualnya ke Bali. Jeszy paham bahwa problemnya adalah kemiskinan serta tiadanya alternatif penghasilan bagi nelayan. Makanya, ia berpikir bahwa pengadaan sarana dan prasarana bagi nelayan adalah sesuatu yang tak bisa ditawar lagi.

Saat tinggal di pulau itu, ia juga tahu kalau para nelayan kerap bertemu dengan nelayan asing. Mereka saling barter kebutuhan pokok. Nelayan Papua memiliki sagu dan minyak kelapa yang kemudian dibarter dengan beras dari para nelayan asing itu. Kerjasama mereka telah berjalan selama bertahun-tahun, seiring dengan kian lemahnya pengawasan atas laut Indonesia.
           
***

LINDA dan Jeszy hanyalah dua dari puluhan orang fasilitator yang bekerja di pulau-pulau terluar kita. Mereka tinggal dan berbaur dengan warga, mendengarkan dan mencatat semua keluh kesah dan pengalaman warga, mencatat sejauh mana pengaruh bantuan yang diberikan pemerintah, lalu menyiapkan pra-kondisi bantuan fasilitas kepada masyarakat.

Dari 17.504 pulau yang ada di Indonesia, terdapat 17.470 pulau-pulau kecil. Dari jumlah itu, terdapat 92 pulau-pulau terluar, yang berbatasan dengan negara lain, yang membutuhkan perhatian semua pihak. Pulau-pulau ini seharusna dibangun dan dikuatkan sebab menjadi halaman republik kita. Pulau-pulau ini harusnya diposisikan sebagai pulau terdepan yang menjadi etalase dan wajah tanah air kita. Jika pulau itu terabaikan, maka di masa depan, boleh jadi pulau itu akan dicaplok negara lain. Kita punya pengalaman pahit saat harus melepas Pulau Sipadan-Ligitan karena tak pernah peduli pada pulau itu.

Sejak tahun 2001-2013, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah memberikan bantuan sarana dan prasarana (sarpras) bagi masyarakat di berbagai pulau. Bantuan itu mencakup Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), air bersih, sarana telekomunikasi (telepon satelit), jetty, sarana budidaya ikan, dan sarana penangkapan ikan (katinting). Namun bantuan itu masih amat terbatas untuk membangun pulau-pulau terluar kita.

desalinator air laut di satu pulau terluar

Terabaikannya pulau-pulau itu menjadi kenyataan ironis buat kita. Di negeri yang nenek moyangnya adalah para pelaut ulung, sektor kelautan menjadi sektor yang kerap terabaikan. Di negeri yang kebanyakan wilayahnya adalah lautan, titik berat pembangunannya adalah wilayah darat. Semua infrastruktur lebih banyak menyentuh daratan. Kota-kota banyak berdiri. Berbagai fasilitas dibangun demi memudahkan gerak dan laju pembangunan. Sementara wilayah laut justru terlupakan. Lautan dipandang sebagai arena, tidak dilihat sebagai semesta yang di dalamnya terdapat hubungan ekologis yang mengagumkan antara manusia, sumberdaya laut, beserta semesta yang melingkupinya.

Tapi setidaknya kita bisa berharap banyak pada anak muda seperti Linda dan Jeszy. Mereka adalah pahlawan belia yang hidup bersama warga pulau demi membangkitkan kesadaran semua pihak tentang pentingnya lautan. Mereka menampar kesadaran smeua pihak bahwa semua orang bisa menjadi pahlawan dengan melakukan langkah-langkah sederhana namun penuh makna bagi masyarakat sekitar. Mereka adalah pejuang kemanusiaan di pulau-pulau kecil yang melakukan kerja-kerja sosial demi menguatkan marwah kita sebagai negeri maritim.


Terpopuler Bulan Ini

...

...