Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Pengakuan Seorang Penyebar Hoaks




PEDANG itu seakan tak bermata. Di Yogyakarta, pedang itu menyabet di Gereja Santa Lidwina, Sleman, Yogyakarta. Polisi menembak kaki pelaku, yang merasa sedang menjalankan apa yang dipercayainya. Di dunia maya, seseorang mengayunkan kata-kata serupa pedang demi menghina Buya Syafii Maarif yang mengunjungi gereja itu pasca aksi pedang. Saat polisi menangkap orang itu, kita melihat sosok berbeda. Sosoknya santun, tenang, dan demikian menjaga setiap tutur.

Rasanya tak percaya kalau hoaks yang isinya hinaan itu bermula dari sosok yang demikian tenang ini. Polisi memastikan lelaki itu sebagai pelaku penyebar hoaks yang kemudian viral dan tersebar ke mana-mana. Postingan itu telah dihapusnya saat banyak protes bermunculan. Polisi punya teknologi yang memastikan bahwa lelaki itu pelakunya, Ia tak bisa mengelak. Ia digelandang.

Beberapa netizen melampirkan bukti-bukti postingan lelaki itu. Dalam salah satu foto yang diunggahnya di Facebook, dia dengan bangga swafoto memegang sepucuk senjata api dengan latar belakang kotak besi tempat amunisi. Tertulis pesan dirinya siap menjemput imam besar yang akan datang. Foto ini semacam ancaman bagi siapapun yang menghalanginya.

Beberapa foto menunjukkan dirinya bersama petinggi partai. Malah, ada foto yang menampikan dirinya sebagai pembicara di acara partai itu. Pada banyak foto, terdapat kesan dirinya yang siap mengorbankan apa pun demi membela apa yang diyakininya. Pada banyak postingan, dia menampilkan keberanian menanggung apa pun risiko yang dihadapi dalam perjuangan.

Sering saya merasakan adanya kontradiksi. Bukankah postingan bohong dan hinaan yang dibuatnya justru bertentangan dengan apa yang diyakininya? Apakah keyakinannya membenarkan seseorang untuk berbohong dan “berpedang” di media sosial hanya untuk dilihat berani melawan otoritas berkuasa?

Yang pasti, lelaki itu tak sendirian. Ada banyak orang sepertinya di dunia nyata yang merasa sedang mengemban misi suci.

***

DI satu sudut kota Bogor, saya bertemu seorang anak muda. Sebut saja namanya Asep. Umurnya di bawah 30 tahun. Ia sangat santun ketika menjabat tangan, kemudian berbincang. Ia lebih sering menundukkan pandangan. Kesan saya, dia  seorang yang baik hati dan senantiasa menjaga dirinya dari segala yang dianggap tercela.

Seorang teman di Jakarta meminta saya untuk bertemu Asep untuk satu keperluan. Saya pun mengajukan pertemanan di media sosial. Saya pikir untuk seorang yang santun sepertinya, media sosial pasti dipenuhi kalimat positif. Ternyata saya keliru.

Di media sosial, ia sibuk menebar berbagai link yang isinya adalah keburukan pemerintah saat ini. Ia tak henti-hentinya berkampanye bahwa pemerintah ini adalah antek Yahudi, antek Cina, antek Amerika, hingga boneka dari seorang ketua partai.

Di dunia maya, ia bukan sahabat dialog yang baik. Ia seolah melihat media sosial sebagai ajang saling menebas pedang. Setiap kalimat yang postingannya berisi kritikan dan hujatan. Tanpa banyak argumen, ia menjawab setiap pertanyaan dengan berbagai tautan yang isinya berita negatif. Bahkan ketika disodorkan tautan berita yang isinya bantahan, ia akan mengabaikannya.

Saya melihat dua sisi lelaki itu. Di dunia nyata, ia adalah seseorang yang amat menjaga lidahnya ketika berbicara. Ia menghindari kalimat-kalimat yang bisa menyakiti orang lain. Ia melaksanakan semua ajaran yang menekankan silaturahmi, serta perlunya menjaga prasangka baik ketika bertemu sesama.

Ia menghormati semua orang, yang terpancar dari kalimat-kalimatnya yang selalu merendah. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Namun di dunia maya, ia menjadi sosok yang lain. Ia laksana seorang ksatria berpedang yang setiap saat menebas pendapat yang berbeda dengannya.

Ketika kami bertemu lagi, ia mulai terbuka. Ia menyebut dirinya menjalankan perintah dari pimpinannya. Baginya, setiap kalimat dari gurunya adalah kebenaran mutlak. Ia hanyalah seorang pekerja lapangan yang menjalankan instruksi partai. Ia adalah bagian dari cyber army yang bertugas untuk menginvasi dunia maya dengan berbagai isu negatif tentang satu calon.

“Apakah kamu tak merasa bersalah kalau isu itu ternyata tidak benar?” tanya saya.

Ia menggeleng. Baginya, ada satu tujuan besar yang hendak dicapai. Ia berangan-angan tentang Indonesia yang lebih baik, yang hanya bisa diwujudkan dengan memaksimalkan berbagai strategi dan menaikkan orang yang berpikir sama dengannya.

“Yang kita hadapi ini adalah sosok yang didukung cukong. Makanya, kita harus rebut semua strategi demi mempengaruhi massa,” katanya
“Tapi kan tujuan yang baik harus didukung oleh cara-cara yang baik,” kataku.
“Itu rumus lama. Mereka banyak main kayu. Kita harus berani main logam. Kita harus memastikan tujuan kita segera tercapai,” katanya tegas.

Diskusi kami berakhir. Tak ada guna berdebat dengan seseorang yang merasa telah menemukan kebenaran. Saya memilih untuk lebih banyak diam. Benar kata seorang sufi, jangan sesekali mengkritik seseorang yang merasa menemukan kebenaran. Kritik akan semakin membuat dirinya membenci kita. Kritiklah seseorang yang berakal. Setiap kritik akan membuat kita semakin dicintainya.

***

BEBERAPA malam selanjutnya, saya bertemu dua orang kawan alumni kampus luar negeri. Mereka bekerja sebagai konsultan media sosial. Kami adalah teman lama yang tiba-tiba saja bertemu saat singgah di satu kafe di dekat Sarinah. Mereka dikontrak seorang politisi. Mereka menjelaskan pada saya tentang peta-peta politik. Mereka menjelaskan tentang informasi yang disebarkan secara berjejaring yang lalu disebarkan secara viral.

Tugas mereka membuat saya terkesima. Mereka membuat isu-isu hitam demi menurunkan elektabilitas seseorang. Mereka mengendalikan dana besar untuk membayar media. Iklan disebar di mana-mana. Mereka bercerita tentang cara kerja ala intel yang mereproduksi isu. Mereka memanfaatkan para buzzer atau penggema isu yang akan meneruskannya hingga ke lorong-lorong dunia maya.

Cara kerja mereka adalah ‘menyerang sebelum diserang.’ Di saat mereka tahu bahwa tim lawan memiliki amunisi serang, maka mereka menyerang terlebih dahulu. Mereka lalu menebar isu ke beberapa grup besar facebook atau twitter, kemudian disebarkan ke mana-mana.

Diskusi dengan mereka membuat saya sadar bahwa di dunia maya, etika adalah sesuatu yang tak selalu menjadi landasan gerak. Jika semua relawan terlanjur melihat arena politik sebagai arena pertempuran, maka semua gerak dan energi diarahkan untuk menang.  Mungkin mereka berpikir bahwa hanya dengan kemenangan, semua cita-cita bisa digapai dengan mudah.

Lewat kampanye hitam itu, mereka memperbanyak pundi-pundi keuangan. Mereka menangguk dana besar dari capres, serta dari para donatur yang tersebar di mana-mana. Mereka memanen banyak rupiah, hanya dengan cara menganalisis peta politik, mereproduksi isu, menyebar kabar melalui media rekanan, dan terakhir, menyebarkannya melalui para pasukan dunia maya.

Politik memang telah lama kehilangan esensinya. Bukan lagi arena untuk merepresentasikan kepentingan publik, lalu mencari cara-cara paling tepat untuk membumikannya. Di mata kawan-kawan ini, politik adalah arena untuk menyebar kebencian, mengalahkan sosok lain dengan cara menikam dari belakang, lalu terus-menerus mempropagandakan gagasan tentang dunia yang lebih berkeadilan dan sistem yang menyejahterakan.

Dalam iklim politik yang penuh bujuk rayu itu, mereka membuai para laskar dunia maya untuk bergerak dengan ide-ide utopis yang diyakini akan terwujud kalau kandidatnya sukses menjadi pemimpin. Politik menjadi alat untuk kuasa.

***

TIBA-TIBA saja, saya teringat dengan teman di Bogor yang menjadi pasukan dunia maya itu. Saya teringat pada ketulusannya dalam bersahabat, serta sikapnya yang menjaga tutur kata. Saya tidak menyangka dirinya yang tulus itu menjadi pasukan dari isu-isu dari orang lain yang kemudian menangguk untung.

Saya mengingat kesantunan dan keikhlasan Asep di Bogor. Saya agak sedih kala membayangkan dirinya yang diserahi pedang demi menjadi martir di dunia maya, sementara orang-orang yang dibantunya adalah mereka yang sedang memperkaya diri, mereka yang melihat politik sebagai ladang untuk menanam gagasan, yang kemudian dipanen sebagai materi.

Teman itu tak menyadari kalau dirinya berperang untuk kepentingan segelintir orang. Dirinya mungkin sedang berharap surga di atas sana, sementara setiap sabetan pedangnya mendatangkan bahagia sesaat di surga dunia bagi segelintir orang. Dia bekerja dan menyerahkan keikhlasannya untuk hasrat kuasa sejumlah orang yang tak sabar untuk duduk di kursi penguasa lalu mengendalikan semuanya.

Semuanya terasa getir.

Siasat Jokowi Menangkan Semua Pilkada




GENDERANG pilkada serentak telah ditabuh seiring dengan diumumkannya pasangan calon kepala daerah. Di daerah-daerah yang akan menyelenggarakan pilkada, kemeriahan segera terasa. Semua partai politik dan para kandidat bersiap memasuki arena demi memenangkan pilkada dan mengamankan kursi kekuasaan selama lima tahun.

Bagi elite politik di Jakarta, pilkada adalah ajang pertaruhan. Dikarenakan pilkada dilaksanakan pada tahun politik, apapun hasilnya akan mempengaruhi konstelasi politik pada tingkat nasional. Apalagi, pilkada ini akan dilaksanakan di daerah-daerah yang basis massanya sangat banyak, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Bukankah Djawa adalah koentji?

Bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sudah pasti akan berlaga di pilpres mendatang, pilkada adalah palagan ataupun arena tempur yang harus dimenangkan. Menang-kalah akan membawa pengaruh pada duel di arena Pilpres. Setelah kandidatnya kalah di Jakarta dan Banten, apakah dirinya akan kembali memainkan strategi yang sama dan kembali kalah telak? Ataukah dirinya datang dengan strategi baru yang membawanya pada kemenangan?

***

TAK ada rasa khawatir di benak Khofifah Indar Parawasa menjelang pengundian nomor urut di arena pilkada Jawa Timur. Dirinya yang berpasangan dengan Emil Dardak tak mengistimewakan nomor manapun. Bagi mereka, nomor berapa pun tak masalah. Yang penting mereka bisa masuk arena dan memenangkan pemilihan.

“Milih yang mana saja. Yang penting harapannya menang dan dilantik,” kata Khofifah saat ditanyai di Hotel Garden Palace, Senin (12/2) kemarin.  Nomor satu atau dua sebagai urutan untuk nomor pasangan calon menurutnya tidak masalah. Asalkan nomor tersebut membawa keberhasilan dan mengantarkannya menjadi pemenang dalam Pilgub pada 27 Juni mendatang.

Khofifah memandang pilkada Jawa Timur lebih tinggi dari apapun. Ia rela melepaskan tanggung jawab sebagai menteri sosial demi mengikuti ajang perhelatan pemimpin politik yang belum tentu dimenangkannya. Ia akan berhadapan dengan Saifullah Yusuf (Gus Ipul), sosok yang ketika menjadi pasangan Soekarwo, pernah mengalahkannya dua kali.

Kali ini, Khofifah lebih optimis. Demi pengundian nomor urut, ia mengerahkan ribuan relawan agar menghadiri acara tersebut. Optimismenya juga menguat saat memikirkan bagaimana basis massa tetap mengenalnya sebagai aktivis NU yang cukup berpengaruh hingga perhelatan politik nasional. Dia juga optimis karena berpikir bahwa Istana Presiden akan mendukungnya.

Diskusi tentang ke mana dukungan Istana Presiden menjadi bahasan yang cukup menarik di Pilkada Jatim. Betapa tidak, dicopotnya Khofifah dari posisi Mensos menimbulkan spekulasi dirinya tidak didukung. Bisa saja Presiden Jokowi mempertahankannya di kursi Mensos, dengan memberinya cuti. Spekulasi bermunculan kalau istana tidak seberapa mendukungnya. Namun, ada juga analisis yang menunjukkan bahwa dicopotnya Khofifah adalah upaya “main cantik” dari istana. Khofifah dibebaskan dari kepentingan politik agar fokus mendulang suara di Jatim.

Di kubu sebelah, Gus Ipul juga optimis Istana Presiden akan mendukungnya. Gus Ipul yang berpasangan dengan Puti Guntur Sukarno, didukung oleh koalisi partai yakni PDIP, PKB, PKS, dan Gerindra. Koalisi ini dipimpin PDIP, partai politik tempat Jokowi bernaung. Jokowi dan Puti Guntur Sukarno sama-sama “petugas partai” yang merupakan representasi kubu nasionalis.

Kita bisa melihat bahwa koalisi pendukung pemerintah tidak berada di satu kubu. Koalisi partai itu menyebar, sengaja mendukung kandidat yang berbeda, sehingga tidak bisa diklaim satu figur hanya identik dengan oposisi. Selalu ada pengelompokan yang cair, sehingga siapa pun yang menang, kemungkinan besar akan memiliki afiliasi dengan pemerintahan Jokowi.

Jika diamati dengan melihat koalisi partai dan kader yang bertarung, pemenang Pilkada Jatim adalah figur yang dekat dengan Jokowi. Khofifah adalah mantan juru bicara Jokowi saat Pilpres. Sedangkan Gus Ipul diusung partai yang mengusung Jokowi. Gus Ipul didukung Megawati yang notabene adalah pemimpin partai yang mengorbitkan Presiden Jokowi.

***

STRATEGI Jokowi di pilkada serentak ini terlihat berbeda dengan strategi di pilkada sebelumnya. Kali ini, Jokowi lebih taktis dan hati-hati. Ia seakan menerapkan pepatah Inggris: “Don’t put your eggs in one basket” yang secara harfiah bermakna jangan menyimpan telur dalam satu keranjang. Artinya, jangan mengonsentrasikan semua upaya hanya di satu pihak. Lakukanlah semua upaya di beberapa pihak sehingga siapapun yang menang pasti akan membawa kemenangan bagimu.

Pilkada Jakarta dan Banten adalah pelajaran berharga. Di dua pilkada ini, partai pendukung pemerintah hanya berada di satu kubu. Ketika kubu lawan menguat, serta ditopang strategi yang bagus, maka kemenangan figur yang tidak punya kedekatan dengan pemerintah adalah petaka. Makanya, pada pilkada ini, partai-partai pendukung pemerintah sengaja menyebar, sehingga bisa ditemukan di mana-mana.

Seorang rekan aktivis partai politik yang dekat dengan istana menuturkan, Jokowi fokus mengamati pilkada hanya di daerah yang padat penduduknya. Pilkada provinsi, yang masuk radar istana adalah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan. Jumlah penduduk di lima daerah ini melewati angka 50 persen wajib pilih di pilpres mendatang. Kemenangan adalah harga mati yang tak bisa ditawar.

Strateginya cukup jitu sebab basisnya bukan hanya satu partai yakni PDIP, melainkan beberapa partai pendukung pemerintah. Kita bisa melihat mobilitas partai-partai ini yang berpencar dan tidak mendukung satu calon, sehingga skenario apa pun yang terjadi, pemenangnya adalah Jokowi juga.

Kita bisa melihat fenomena di Jawa Barat. Pada mulanya, terbentuk koalisi antara Dedy Mizwar dan Ahmad Syaikhu. Mereka adalah representasi dari Demokrat dan PKS. Di tengah jalan, koalisi ini bubar dikarenakan Gerindra tidak sudi bergabung. Gerindra merasa koalisi ini ibarat kereta yang sudah berlari kencang, dan mereka diminta mengikuti banyak kesepakatan.

Gerindra lalu memutuskan untuk membentuk koalisi baru bersama PKS dan PAN. Alasan lain juga muncul yakni koalisi sebelumnya dikendalikan Cikeas sehingga mendukung koalisi itu sama dengan mendukung Agus Yudhoyono sebagai calon presiden.

Gerindra membentuk poros sendiri bersama PKS dan PAN yang sama mendukung Sudradjat – Ahmad Syaikhu. Pasangan  ini berhadapan dengan pasangan Ridwan Kamil – U’u Ruzhanul Ulum yang didukung Nasdem, PPP, Hanura, dan PKB, kemudian pasangan Dedy Mizwar – Dedi Mulyadi yang diusung Demokrat dan Golkar. Sementara itu, PDIP mendukung TB Hasanuddin dan Anton Charliyan.

Penting untuk melihat bagaimana koalisi pemerintah mengepung pasangan usungan Gerindra dan PKS ini. Siapapun yang menang antara Ridwan Kamil ataupun Dedy Mizwar, bahkan TB Hasanuddin, maka posisi pemerintah ada di situ.

Kita bisa melihat bahwa pemerintah memainkan tiga kartu sekaligus. Satu di kubu Ridwan Kamil sebab diusung Nasdem dan PPP, satunya lagi di kubu Dedy Mizwar dan Dedi Mulyadi yang didukung Demokrat dan Golkar. Serta TB Hasanuddin – Anton yang didukung PDIP. Jika satu kubu ini menang, maka lagi-lagi ini adalah kemenangan Jokowi yang menyimpan kartu di tiga kubu.

Lihat pula pertarungan di Sumatera Utara (Sumut). Saat Edy Rahmayadi, yang didukung Gerindra perlahan mengumpulkan basis dukungan, beberapa partai pendukung pemerintah juga merapat. Partai itu adalah Nasdem dan Golkar demi menggenapi dukungan Gerindra, PKS, dan PAN.

Pada awalnya, Edy diyakini berpotensi menang mutlak. Namun setelah koalisi PDIP dan PPP mengajukan calonnya yakni Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus, maka petanya mulai berubah. Pesaing lainnya adalah JR Saragih dan Ance Selian yang didukung Demokrat, PKS, dan PKPI. Pasangan terakhir belum tentu lolos sebab masih terganjal di KPU.

Informasi yang berhembus dari Sumut, Djarot justru lebih berpeluang menang. Dirinya bisa mengonsolidasikan etnik Jawa yang cukup banyak di sana, juga bisa menjadi oase dari kader parpol yang dianggap lebih lurus dan punya visi kuat jika dibandingkan pesaing-pesaingnya.

Kita juga bisa menggunakan cara berpikir yang sama dalam melihat pilkada di Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan. Kubu Jokowi tak menyimpan dukungan pada satu kubu, memainkan sengaja menyebar sehingga siapa pun pemenangnya, akan menjadi mitra koalisi yang bisa memastikan lancarnya agenda-agenda politik ke depan. Kalaupun tak mendukung, minimal kepala daerah itu tidak akan menghambat beberapa agenda politik terkait pemenangan pilkada.

***

KATA Harold Lasswell, politik adalah siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana (who gets what, when, and how). Pemenang di arena politik adalah sosok yang bisa memahami siapa dirinya, mengenali kekuatan lalu mengeluarkan strategi paling jitu untuk memenangkan pertarungan. Politik, sebagaimana pernah dicatat Machiavelli, adalah kegiatan yang bermuara pada bagaimana memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Dalam rumusannya, “siapa yang mempunyai senjata akan mengalahkan siapa yang tidak mempunyai senjata”.

Di era Jokowi, senjata yang dimaksud tak selalu berupa senjata dalam pengertian alat-alat kuasa. Tapi bisa pula modal, dukungan partai politik, pengusaha, pengaruh, media massa, hingga strategi mengemas seorang kandidat dan menjaga ritme kemenangan. Di era Jokowi, pemenang di arena politik adalah sosok yang bisa mengombinasikan soft power dan bisa menentukan kapan harus bermain, kapan harus menunggu, dan kapan harus melangkahkan bidak.

Jika pilkada adalah arena percaturan politik, kita akan menanti-nanti bagaimana kelihaian Jokowi dalam mengarahkan bidak caturnya. Sejauh ini, langkah-langkahnya cukup meyakinkan. Apakah dirinya akan menang? Semuanya akan terjawab dalam beberapa bulan mendatang. Yang pasti, dia telah memainkan strategi baru yakni menyimpan telur dalam beberapa keranjang.

Makanya, apapun pilkadanya, pemenangnya adalah Jokowi.


Heboh, Milea Tinggalkan Dilan



SETELAH film Dilan ditonton lebih dari empat juta orang, berbagai rumor mengenai para pemainnya menjadi bahan gosip para netizen. Ketika film itu mulai booming, berbagai kelompok fans mulai terbentuk di berbagai kanal media sosial.

Yang terheboh adalah akun fans Dilan dan fans Milea yang saling berbalas pesan rindu. Sayangnya, kemesraan itu tak berumur panjang. Kini, Milea telah menemukan sosok pendamping. Bukan Dilan. Siapakah?

Pesaing itu adalah Adipati Dolken. Semuanya bermula dari film Teman Tapi Menikah yang diproduksi Falcon dan akan segera tayang.

Falcon adalah rumah produksi yang juga memproduksi film Dilan. Dalam film terbaru itu, aktor utamanya adalah Vanesha Prescilla, pemeran Milea, yang akan dipasangkan dengan Adipati Dolken. Publik akan disuguhi tontonan baru dan dipaksa untuk move on dari kemesraan Dilan dan Milea.

Banyak pihak yang nggak rela jika Milea berpasangan dengan aktor lain. Maklumlah, chemistry antara Dilan dan Milea dianggap sangat pas dan menancap di benak para fans. Ketika Falcon merilis tayangan Iqbaal (pemeran Dilan) dan Vanessa (pemeran Milea) sedang latihan akting lalu berpelukan, para fans langsung heboh dan mendesak agar keduanya segera jadian.

Kini, Milea akan berpasangan dengan Adipati Dolken. Nama Adipati Dolken bukanlah nama baru di dunia sinema kita.

Beberapa waktu lalu, dia membintangi film Perahu Kertas bersama Maudy Ayunda. Dalam film yang diangkat dari novel laris karya Dewi Lestari ini, Adipati berperan sebagai Keenan, sosok pelukis muda yang menolak keinginan ayahnya untuk kuliah di Fakultas Ekonomi.

Sementara Maudy Ayunda berperan sebagai Kugy, gadis muda periang dan tomboy yang meyakini dirinya adalah agen Neptunus. Meskipun tidak mencapai level seperti Dilan dan Milea, sosok Keenan dan Kugy cukup dikenang para fans.

Memang, Adipati Dolken lebih tua dari Iqbaal (pemeran Dilan). Usia Adipati Dolken adalah 26 tahun, sementara Iqbaal masih berusia 18 tahun. Makanya, Adipati Dolken nampak lebih dewasa dan matang. Namun, sebagaimana dikatakan seorang fans, bukankah anak-anak remaja senang dengan pria dewasa yang matang namun tetap bisa diajak asyik-asyik ala remaja?

Rumor kedekatan Adipati dan Vanesha juga diangkat oleh akun @lambe_turah, yang dikenal sebagai produsen banyak gosip artis. Akun ini menayangkan keduanya sedang jalan-jalan di satu pusat perbelanjaan.

Foto itu langsung heboh dan dikomentari oleh netizen yang tidak rela jika Milea berdekatan dengan sosok lain, selain Iqbaal (pemeran Dilan). Namun, baik Adipati dan Vanesha tidak memberikan konfirmasi apakah foto itu mereka.

Yang menarik, di instagram, hastag #antikangadiclub dan #bukankangadi muncul dan ramai diperbincangkan. Dalam film Dilan, nama Adi merujuk pada nama seorang mahasiswa ITB yang menjadi mentor, juga naksir berat pada Milea. Hastag anti Kang Adi ini sempat jadi trending topic dan diperbincangkan banyak orang.

***

MARILAH kita melihat hal ini secara sosiologis. Dunia di era kekinian tidak lagi dibatasi sekat-sekat geografis. Ketika satu film tayang, maka para penggemar dengan cepat membentuk satu kelompok sendiri yang mempertemukan mereka dengan sesama penggemar lalu membahas idola mereka.

Para fans berat menamakan dirinya shippers. Mereka akan mengikuti semua gosip tentang idola mereka, lalu membincangkannya di berbagai sudut dunia maya. Mereka suka memasang-masangkan idola mereka, menjodohkan dengan idola lain, bahkan sampai pada level hardliner yakni meneror idola mereka agar jadian dengan seseorang.

Saya mengenal seorang ibu muda di Bogor yang merupakan shippers berat film Dilan. Setiap hari dia mengikuti semua tayangan mengenai aktor dan aktris film ini. Dia juga bergabung dengan para shippers serupa lalu sibuk mengeluarkan analisis-analisis mengenai kedekatan dengan seseorang. Nah, topik paling hangat yang tengah dibahas munculnya sosok Kang Adi dalam kehidupan Dilan dan Milea yang sedikit lagi bertaut.

Ibu muda ini mengaku telah mengenal dunia shippers sejak tayangan drama Descendant of the Sun yang dibintangi Song Jong Ki dan Song Hey Kyo. Dia sangat menyukai permainan dua aktor ini lalu mulai mencari tahu siapa mereka, hingga akhirnya bergabung dengan grup fans #SongSongCouple di Instagram. Dia akan kepo mengikuti aktivitas aktor film itu, dan sesekali ikut “war” atau perang antar fans.

Fenomena shippers di Indonesia muncul sejak mewabahnya demam Korea di Indonesia. Shippers berasal dari kata ship yang artinya kapal. Jika kita menggunakan mesin pencari Google, kata Shippers akan membawa kita pada beberapa web mengenai ekspedisi atau pengapalan.

Padahal di kalangan penggemar drama Korea, ship bisa diartikan kapal yang artinya mereka meminati hal yang sama. Ada pula yang menyebut kata ship berasal dari kata worship yang artinya pemujaan. Maknanya, mereka memuja artis idola sehingga sibuk mencari tahu apa yang diakukan idolanya.

Sebenarnya fenomena ini sudah lama ada di kalangan penggemar sinetron. Akan tetapi kehadiran drama Korea membuat fenomena ini kian heboh, di tambah lagi kehadiran internet membuat mereka bisa terhubung di satu kanal pembicaraan.

Beberapa hal yang sering dilakukan para shippers ini antara lain mengawasi jadwal, mencari-cari jenis pakaian, warna rambut dan mode fashion artis idolanya yang sepasang untuk mencari kecocokan antara kedua pasangan imajinasi ini.

Selain itu mereka juga merekam dan mengabadikan gambar saat kedua idola mereka ini bertemu atau berpapasan bahkan meskipun hanya bersapa dan tersenyum satu sama lain. Dan banyak hal lain yang dilakukan oleh para shippers ini yang bahkan oleh kebanyakan fans lain dianggap sangat tidak lazim.

Tidak semua menerima keberadaan para shippers ini. Banyak fans yang menuduh mereka sebagai penyebar rumor dan skandal bahkan dikhawatirkan akan mencederai nama baik serta membahayakan karier idola mereka. Di Korea, isu pacaran dan menikah adalah isu sensitif. Meskipun demikian kelompok ini masih saja tetap ada bahkan termasuk kelompok yang paling banyak meramaikan banyak forum diskusi internasional (soompi.com, allkapop.com dll).

Di Indonesia, para fans ini seringkali lebih gila dari fans di Korea. Saat konser musik salah satu band Korea, CNBlue, para fans ramai berdatangan lalu membawa banner, logo maupun spanduk bertuliskan YongSeo, yang merupakan salah satu shippers terbesar di Indonesia.

Para fans ingin memasangkan vokalis grup band CNBlue, YongHwa, dengan Seo Hyun, anggota grup girlband wanita Korea yang paling terkenal di dunia, Girls Generation. Soal jadian atau tidak, itu utusan para idola. Fans hanya mendesak mereka.

Namun jika cara pandang sosiologis kembali digunakan, fenomena shippers ini menunjukkan bahwa batas-batas antara fakta dan imaji perlahan mengabur. Para fans tidak bisa membedakan film sebagai satu produk imajinasi dengan kehidupan aktor-aktrisnya sehari-hari.

Bagi mereka, batas itu mengabur sehingga keluar dari bioskop, tetap saja mereka menginginkan skenario yang sama terjadi di kehidupan normal.

Bagi pihak produsen, fenomena ini justru menguntungkan mereka. Sebuah produk akan cepat menyebar ke mana-mana ketika banyak fans yang merekomendasikannya.

Malah, setiap perusahaan mesti merancang lahirnya kelompok fans ini yang bisa berfungsi sebagai marketer atau pemasar produk yang secara sukarela merekomendasikan produk itu ke mana-mana. Nah, melihat fenomena shippers ini, saya yakin penonton film Dilan bisa mencapai 7 juta orang, sesuai target.

***

FILM Dilan 1990 harus dicatat sebagai awal mula dari kehadiran shippers yang rutin mengikuti kegiatan idola, membuat grup fans di dunia maya, lalu sibuk membicarakan idolanya. Para shippers kebanyakan adalah remaja, mahasiswa, tante-tante, dan ibu-ibu muda yang selalu mengikuti segala hal mengenai idolanya. Mereka tidak saling mengenal, bahkan tidak pernah bertemu. Mereka berjumpa di berbagai kanal media sosial, seperti Facebook, Twitter, Line, Instagram, hingga Whatsapp.

Tak semua shippers ini adalah perempuan. Dalam satu tayangan Dilan dan Milea yang berpelukan di Youtube, ada pengakuan heboh dari seorang laki-laki. Kurang lebih begini kalimatnya: “Saya bukan penganut LGBT. Saya laki-laki tulen.

Tapi melihat Dilan dan Milea, tiba-tiba rahim saya langsung hangat.” Komentar ini langsung heboh dan ditanggapi banyak orang.

Semalam, di satu grup shippers, banyak yang menyayangkan terlalu cepatnya penayangan film Teman Tapi Menikah, di saat kemesraan Dilan dan Milea tengah hangat-hangatnya di mata para penontonnya.

Lebih baik jika pihak rumah produksi menunggu hingga film Dilan tidak lagi ditonton, barulah mereka hadir dengan film baru. Namun, lagi-lagi, logika para fans tidak sama dengan logika pihak rumah produksi yang tak sekadar ingin melahirkan film berkualitas, tapi juga film yang laku di pasaran.

Nah, apakah Anda rela Milea berpasangan dengan sosok lain selain Dilan? Apakah Anda rajin mengikuti perkembangan Dilan dan Milea? Jika jawabannya ya, jangan-jangan Anda adalah salah satu shippers mereka.


Saat SBY Berkata "This is My War"



PRESIDEN keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meradang. Dia menggelar jumpa pers, menyampaikan perasaan yang dizalimi oleh berbagai tuduhan dan fitnah. Ditemani oleh barisan orang yang semuanya berbaju dan berbaret biru serta selalu mengangguk, ia menyampaikan keberatannya.

Ia menempuh jalur hukum. Ia juga menyampaikan ragu bahwa polisi akan menindaklanjuti laporan nantinya. Pasalnya, laporan terhadap Antasari setahun lalu tidak jelas pengusutannya. “Saya masih percaya kepada Kabareskrim, saya percaya Kapolri dan Presiden RI. Mudah-mudahan beliau-beliau mendengar suara hati saya untuk menindaklanjuti apa yang saya adukan nanti,” kata SBY.

Kalimat mantan presiden kita ini selalu santun, padahal dirinya dikesankan terzalimi, juga agak lebay. Tapi ada pesan yang tegas di situ. Dia ingin tuntutannya dipenuhi. Sebelumnya, dia telah melaporkan Antasari. Kali ini, dia melaporkan orang lain. Besok-besok, jika ada lagi yang menyebut dirinya dengan penekanan negatif, dia bisa saja melaporkannya kembali. Mungkin saja, dia ingin semua catatan yang menyebut namanya harus positif.

Di twitter, beragam reaksi bermunculan. Tak lama setelah konferensi pers itu, Gde Pasek, mantan pengurus partai biru, langsung mencuit. Ia mengatakan: “Telenovela politik kembali hadir dengan akting melodramatik dari artis masa lalu. Semoga bisa menghibur pencinta hiburan politik di tanah air.” Pasek tak spesifik menyebut nama. Tapi banyak orang mengaitkannya dengan momentum jumpa pers itu.

SBY mengaku akan menghadapinya seorang diri. Padahal, banyak orang yang siap membantunya. Banyak kader partai yang siap pasang badan untuknya. Tapi ia tetep kukuh. “Ini perang saya, this is my war. Perang untuk keadilan! Yang penting bantu saya dengan doa,” kata Presiden RI ke-6 ini.

Perang baginya adalah perjuangan untuk membersihkan namanya di hadapan hukum. Mungkin saja ia tak membaca sejarah. Bahwa seorang pemimpin yang baik justru paling sering disalahpahami. Sejarah bisa saja meletakkan noktah hitam dalam perjalanan karier seseorang. Namun, kelak akan tiba masa di mana kebenaran akan tampil ke permukaan. Di titik itu, tak perlu lagi ada jumpa pers. Tak perlu lagi berdiri di hadapan media bersama istri, anak, dan mantan menteri yang pernah jadi anak buah.

Pernyataan perang itu ditanggapi sejumlah kalangan. Para pengacara membentuk barisan lalu bersiap menghadapi jihad ala SBY. Pengacara senior, Maqdir Ismail, menyayangkan laporan itu. Bahkan Antasari Azhar ikut berkomentar. Linimasa di twitter diramaikan isu tentang pertemuan para sejumlah tokoh penentang SBY di Penjara Sukamiskin, yang dikemukakan pengacara SBY yakni Ferdinan Hutahaean.

Jika pun informasi itu benar, saya membayangkan betapa repotnya jika semua suara negatif harus dilaporkan ke pengadilan. Di usia yang terbilang sepuh itu, SBY harus kembali memasuki arena pertempuran lalu berperang menghadapi banyak kelompok. Dirinya akan sering buat konferensi pers, demi menyatakan perang. Mengapa pula harus menghabiskan energi untuk menghadapi sesuatu yang belum jelas di mata publik?

***

DI antara semua presiden Indonesia, SBY mengikuti jejak Megawati yang tetap eksis di partai politik. Mega sejak awal memimpin partai itu. Dia telah lama menjadi sukma yang mengawal warisan pemikiran ayahnya, hingga tak mau melepaskannya. Sementara SBY tadinya tak pernah menjabat posisi ketua umum, namun, ia kemudian mengambil alih posisi ketua umum lalu mengendalikan partai sesaat setelah dirinya lengser.

Di sini, terlihat paradoks. SBY adalah seorang demokrat, sesuai nama partainya, yang memberi ruang atau arena bagi kontestasi dalam dunia politik. Akan tetapi, dirinya justru sedang membentangkan karpet merah untuk anak-anaknya di jalur politik. Di banyak kota, foto anak sulungnya kini menghiasi jalan-jalan raya. Sang anak diperkenalkan sebagai calon pemimpin dari trah Cikeas.

Kita bisa saja berkata bahwa sang anak punya potensi sehebat ayahnya. Jika demikian halnya, mengapa dirinya tak dibiarkan sendirian menempuh jalan berbeda, meskipun itu berliku-liku, agar kelak menggapai keemasannya sendiri. Mengapa dia tak membangun nama besarnya di satu bidang kehidupan, hingga pada satu titik dirinya akan menorehkan jejak sejarahnya sendiri, dan jauh melampaui sang ayah.

Akan sangat elok jika semua mantan presiden, khususnya Mega dan SBY, untuk menjauh dari hingar-bingar politik. Jauh lebih baik jika mereka merawat sesuatu yang lebih besar bagi bangsa ini. Lebih baik merawat warisan sejarah serta tanggung jawab untuk menjadi nurani dan detak jantung anak bangsa dari Sabang sampai Merauke.

Justru tidak elok ketika seorang mantan presiden masih berkutat sebagai pemimpin partai politik yang berurusan dengan remeh-temeh, termasuk siapa calon bupati yang akan diusung di setiap daerah. Mereka harus menjauh dari cara berpikir sempit yang melihat politik sebagai palagan menang kalah. Mereka harusnya melampaui semua batasan dan sekat-sekat dunia politik demi Indonesia raya.

Mereka seharusnya menjaga kerja-kerja kebudayaan, tanpa harus terjebak pada pandangan sempit yang melihat tanah air dari sisi suku, bangsa, agama, dan partai politik. Mereka harusnya melingkupi semua orang, lalu menyerahkan energinya untuk kerja-kerja kebudayaan dan kemanusiaan. Mereka bukan milik satu partai, tapi milik semua bangsa Indonesia.

Kini, tinggal Presiden Habibie yang menjauh dari hingar-bingar politik. Saat turun dari jabatan presiden, Habibie menulis buku Detik-Detik yang Menentukan agar publik tahu betapa beratnya masa-masa yang dihadapinya sebagai presiden pengganti dari Suharto yang mengundurkan diri. Melalui buku, Habibie menjernihkan kasak-kusuk dan berbagai informasi berseliweran tentang periode itu. Dia memilih jalur intelektual demi meramaikan dialog publik, bukannya pergi melapor ke Bareskrim.

***

JIKA saja saya bertemu dengannya, barangkali saya akan menitipkan banyak pesan. Ayolah Pak SBY. Bongkarlah semua yang selama ini tersimpan rapat. Tak usah khawatir akan terjadi geger hanya karena dirimu membuka kotak pandora peristiwa itu. Lebih baik negeri ini heboh, sebab semua pihak akan tahu apa permainan di balik layar.

Lebih baik semua warga geger, namun perlahan semua pihak mencari cara untuk menyelesaikan segenap konflik yang mendera tubuh bangsa. Tunjuk saja siapa pelakunya agar publik tahu bahwa rasa murka yang gemuruh itu adalah kemarahan saat melihat ketidakadilan dan fitnah, bukan karena dirimu hendak menyembunyikan sesuatu.

Jika Pak SBY hanya sibuk jumpa pers lalu merasa terzalimi saat didampingi anak istri, maka publik hanya melihat satu tayangan yang serba kabur. Mungkin, ada pihak yang merasa dirimu sedang difitnah, namun, kita tak bisa menampik sejumput tanda tanya: ada permainan apa di negeri ini sehingga namamu disebut di persidangan? Jika posisimu benar, tak perlu mengkhawatirkan apapun. Bukankah seperti dirimu pernah katakan saat jumpa pers tentang Ahok, tak ada satu pun warga negara yang kebal hukum?

Para pemimpin seperti Bung Karno justru tak berdaya di hadapan rezim yang sekeras baja. Puluhan tahun Bung Karno menerima stigma negatif. Tapi keluarganya tak pernah berniat memperkarakan mereka yang menulis sosok itu dengan kalimat penghinaan. Warisan Bung Karno seakan hendak dilupakan. Bahkan rezim pernah nyaris menghapus sosoknya dalam momen penting pengibaran bendera sesuai pembacaan naskah proklamasi.

Namun, sejarah tak pernah tidur. Tuhan tak pernah diam. Di masa mendatang, teka-teki itu akan diurai. Akan ada pihak yang kemudian mengusut lalu coba meluruskan sejarah demi menyatakan bahwa Bung Karno adalah pemimpin besar yang berhasil membawa bangsa ini ke era kemerdekaan.

***

SAYA membayangkan SBY yang seharusnya undur diri dari panggung, kini kembali memilih jihad dan perang. Dia memang tak pernah menghilang, sebab di akhir masa kepresidenan, masa di mana dia seharusnya tetirah dan lengser, tetap saja memegang kursi ketua umum partai.

Jika saja banyak rumor yang dikemukakan pengacara SBY di banyak media benar, maka dia harus menghadapi banyak pihak yang dahulu menjadi oposisi, atau minimal pernah bekerja lalu kecewa dengannya. Dia menghadapi mereka yang pernah dibesarkannya, serta mereka-mereka yang pernah berharap banyak padanya.

Di usia yang seharusnya dirinya sudah menjadi begawan bagi politik Indonesia, dia masih harus berjibaku dan menghadapi banyak serangan, jika tak ingin segara karam lalu nama dan keluarganya hilang begitu saja. Publik tidak diam. Mereka mencatat apa saja yang telah diwariskannya, tak hanya saat menjabat sebagai presiden, namun sebagai warga negara biasa yang bertindak dan berpikir sebagai seorang negarawan besar.

Pada titik ini,  publik menanti warisan dan keteladanannya, sehingga Dewi Themis, dewi yang memegang sebilah pedang dan menutup matanya, bisa menempatkan dirinya sebagai figur yang selalu memegang supremasi hukum, meskipun kelak pedang hukum akan menebas dirinya.

Pak SBY, bisakah kami berharap akan secercah keteladanan?

Lonceng Bahaya di Balik Tewasnya Seorang Guru di Sampang



BANYAK orang sibuk membahas keberanian seorang mahasiswa yang meniup peluit lalu mengacungkan kartu kuning. Banyak orang saling tengkar di media sosial mengenai kandidatnya di pilkada. Adakah yang sejenak berhenti dan mengalihkan perhatian kepada tragedi meninggalnya seorang guru yang dipukuli muridnya di Sampang, Madura?

Guru honorer yang tewas itu bernama Ahmad Budi Cahyono. Ia mengajar di SMA 1 Torjun, Sampang, Madura. Budi mengalami tindak kekerasan seusai menegur muridnya yang ternyata seorang pendekar silat. Tak terima ditegur, murid itu mengeluarkan beberapa jurus yang kemudian membuat Budi tersungkur.

Budi masih sempat pulang ke rumah, sebelum akhirnya terkapar lalu tewas di rumah sakit. Dokter mendiagnosis guru itu tewas karena mati batang otak sehingga alat-alat tubuhnya mati seketika. Kepala guru itu menerima hantaman yang berujung pada cedera parah. Guru yang hari-harinya berdiri di kelas demi memoles kesenian dan membenahi budi pekerti siswanya itu tewas saat menjalankan tugas.

Beberapa teman guru memosting foto Budi yang tengah memegang biola di media sosial. Saya bisa merasakan betapa besarnya kesedihan istri Budi yang tengah hamil empat bulan. Sebagai anak dari pasangan guru, saya membayangkan betapa sedihnya saya jika itu menimpa keluarga saya. Tewasnya seorang guru di tangan muridnya bukan sekadar hilangnya satu jiwa di ruang sekolah, tapi duka yang harusnya ditangisi masyarakat kita.

Saya tak henti memandang potret Budi yang tewas di tangan muridnya. Ia memegang biola, sebagai tanda dirinya seseorang yang mengajar kesenian. Jika kesenian ibarat embun yang membasahi jiwa seseorang, maka Budi tewas karena tiadanya embun di jiwa muridnya.

Ia seharusnya menuntaskan tugasnya untuk melembutkan semua jiwa-jiwa kerontang itu. Apa daya, murid itu berada dalam kekang sistem sosial yang mengubahnya menjadi sosok bengis. Murid itu mengikuti naluri purba, tanpa membiarkan sisi paling manusiawi dalam dirinya berbisik.

Saya sedih memandang potret Budi. Semua guru menempuh jalan pedangnya sendiri ketika mengajar. Ada yang sesekali menghardik, namun beberapa detik kemudian bisa tersenyum saat menghadapi muridnya. Ada yang memilih jadi protagonis yang selalu sabar menghadapi semua muridnya. Ada yang memilih peran antagonis demi menegaskan mana yang salah dan mana yang benar.

Terhadap semua tindakan, terdapat pelajaran berharga tentang dunia yang kelak dihadapi semua murid tak selalu dunia yang penuh senyum. Untuk itu, karakter baja harus dibangun agar murid selalu tangguh menghadapi semua tantangan kehidupan. Karakter lembut juga mesti diasah agar murid selalu menemukan embun dan pencerahan dari semua hal-hal yang ada di sekitarnya.

Budi telah berpulang. Kematian seorang guru, apalagi dia guru honorer, bukanlah tragedi besar yang akan menyita perhatian semua orang. Kematian itu hanya menempati baris kecil di media-media dan perbincangan. Namun kematian seorang guru karena kekerasan siswanya ibarat dentangan lonceng yang menyerukan kematian banyak hal. Kematian itu ibarat lonceng tanda bahaya yang berbunyi nyaring dan sedang mengabarkan sesuatu yang lebih besar tengah ambruk di sekitar kita.

Tata nilai kita kian sekarat, saat seorang guru yang seharusnya diposisikan sebagai begawan yang didengar petuahnya, dan diperhatikan kalimat-kalimatnya, tewas di tangan anak asuhnya. Langit moral kita kita seakan runtuh berkeping-keping saat anak usia belasan tahun berani membunuh gurunya hanya karena satu teguran yang sejatinya hendak mengarahkannya pada kebaikan.

Menangisi kematian Budi adalah menangisi matinya sistem nilai kita, matinya relasi dan penghormatan kepada sosok yang mengajari anak-anak, matinya tradisi kearifan dan penghargaan pada sosok yang mengalirkan ilmu pengetahuan. Pada mereka yang mengajarkan kebaikan, selayaknya kita meletakkan penghormatan setinggi-tingginya atas semua karunia pengetahuan dan jendela pengetahuan yang dibuka lebar.

Mungkin saja sang guru memang berlebihan dalam mendidik. Dalam banyak kasus, kita sering mendengar kisah guru yang mendidik dengan kekerasan. Tapi kita juga harus mengakui bahwa kita gagal mendidik anak-anak kita untuk selalu berdialog dan menyampaikan keberatan dengan cara-cara yang bijaksana.

Mungkin saja kita abai dan tidak memberi ruang dialog kepada anak-anak kita, sehingga mereka pun cenderung memilih penyelesaian yang paling cepat. Begitu tak sepakat, tinju melayang. Dan seorang guru yang melembutkan hati itu akhirnya pergi selama-lamanya.

Di sini, saya mengenang matinya Budi. Menjadi guru di “jaman now” berbeda dengan menjadi guru di zaman ayah saya, yang mendapatkan posisi terhormat di masyarakat. Ayah saya dahulu dihormati dan didengarkan semua kalimatnya. Saya besar dalam keteladanan, serta pandangan masyarakat yang begitu tinggi dan positif dalam menilai seorang guru. Itulah tatanan sosial yang dahulu begitu tegak dan memayungi semua orang.

Di zaman kini, tatanan sosial itu mulai goyah sendi-sendinya. Seorang guru dipandang sebelah mata. Seorang pendidik kerap dilecehkan. Masyarakat kita kian menghamba pada materi, sehingga orang baik dan berilmu bisa dihardik dan dihinakan, sementara orang kaya akan dipandang setinggi langit. Kematian Budi tak bisa sepenuhnya disalahkan pada anak itu. Kematian Budi adalah indikasi dari kian jauhnya kita dari nilai dan penghormatan kepada sesama. Masyarakat kita kian individualis sehingga abai pada sekelilingnya.

Kembali saya memandang potret Budi. Saya merasakan ada satu ruang kosong dalam jiwa kita yang seharusnya diisi dengan budi pekerti dan kecintaan pada sesama, penghormatan pada yang siapa pun yang menunjukkan hikmah. Butuh kerja keras untuk kembali menyatukan kepingan-kepingan jiwa dan nilai yang terlanjur berserakan.

Budi memilih jadi martir, sekadar untuk memberi tahu kita bahwa ada kesalahan, serta bencana yang lebih besar jika kita tak segera menyikapinya. Saat ribuan guru ikut mengantar pemakaman Budi, terasa ada banyak suara berbisik bahwa betapa banyak kerja keras yang harus dilakukan di negeri ini.

Selamat jalan guru kami!

Tarung Jokowi vs Prabowo di Panggung Medsos



PEMILIHAN PRESIDEN (Pilpres) masih akan digelar setahun lagi. Tapi kemeriahannya sudah mulai tampak di media sosial. Pilpres kali ini serupa ajang Indonesian Idol di mana para fansnya membentuk barisan pemenangan sendiri. Para kandidat presiden memenuhi media sosial dengan berbagai postingan yang kemudian di-share berkali-kali oleh para penggemarnya.

Jika saja media sosial menjadi satu-satunya patokan dalam mengukur kemenangan di arena pilpres, maka pemenangnya adalah Prabowo Subianto sebagai politisi paling populer di Facebook, dengan jumlah penggemar hingga 9,6 juta orang. Selanjutnya Joko Widodo (7,9 juta), dan Susilo Bambang Yudhoyono (5,9 juta). Namun jika dilihat substansi dan pengelolaan konten secara kreatif, maka Presiden Jokowi adalah pemenangnya.

***

“Indonesia adalah negeri yang tidak pernah tidur.” Kalimat itu diucapkan oleh Profesor Don Flournoy, salah seorang pakar media di Amerika Serikat. Flournoy menyampaikan itu saat saya mengajaknya berbincang melalui media sosial. Ia melihat fakta betapa Indonesia amat sibuk dengan lalu lintas percakapan di media sosial. Hampir setiap saat, orang Indonesia akan memosting sesuatu, membentuk kubu-kubu, dan saling perang di media sosial.

Eric Schmidt, mantan CEO Google, mengatakan bahwa dunia di abad 21 terdiri atas dua yakni dunia nyata dan dunia maya. Semua penduduk di dunia nyata hendak membangun rumah di dunia maya. Anda dianggap tidak eksis ketika tidak punya akun atau rumah di dunia maya. Abad ini adalah abad migrasi ke dunia maya. Semua orang ingin bangun rumah maya agar terkoneksi dengan orang lain dalam ruang yang teramat luas.

Generasi lama, yang lahir sebelum tahun 1980-an, adalah generasi baru saja pindah dan membangun rumah maya, sehingga disebut digital immigrant. Banyak di antara mereka masih gatek alias gagap teknologi di era baru ini. Sedangkan generasi baru yang lahir setelah era 1980-an adalah generasi yang sejak kecil telah menikmati era internet. Mereka warga asli dunia ini, sehingga sering disebut digital native.

Dunia di abad 21 adalah surganya mereka yang berdiam di dunia maya. Internet menjadi virus yang menyebar hingga ke seluruh pelosok. Data terbaru yang dirilis Wearesocial.com menyebutkan bahwa populasi manusia di bumi adalah 7,5 miliar orang. Pengguna internet mencapai angka 4.02 miliar. Dari jumlah itu, pengguna media sosial adalah 3.1 miliar orang.

Indonesia tercatat sebagai negara yang terbilang cepat penetrasinya di dunia internet. Data itu menyebutkan, Indonesia masuk dalam lima besar negara yang warganya paling banyak mengakses media sosial. Bahkan Indonesia punya lebih banyak warga yang berselancar di media sosial jika dibandingkan dengan Amerika Serikat. Negara dengan persentase penduduk terbanyak yang mengakses media sosial adalah Cina, India, Indonesia, Iran, dan Amerika Serikat.

Makanya, dalam banyak hal, berbagai isu yang hangat di Indonesia perlahan akan menjadi konsumsi warga dunia. Jangan terkejut, saat PSSI hendak bertanding, ucapan semoga menang justru datang dari beberapa pemain top dunia, mulai dari Rio Ferdinand hingga David Beckham. Apa yang terjadi di Indonesia dengan cepat menyebar ke negara lain.

Data dari Wearesocial.com juga menyebutkan negara-negara yang terbanyak menggunakan Facebook. Terbanyak adalah India (250 juta orang), Amerika Serikat (230 juta), Brazil (130 juta), Indonesia (130 juta), dan Mexico (83 juta). Anda bisa bayangkan, betapa ramainya perbincangan di media sosial di Indonesia, yang kebanyakan didominasi oleh kaum muda dan generasi milenial. Mereka saling bertukar pesan dan melihat bagaimana respon publik di situ.

Hiruk-pikuk itu juga merambah ke dunia politik. Sejak pilpres digelar empat tahun silam, ruang-ruang media sosial dipenuhi kampanye yang digelar para politisi. Dahulu, para politisi menggunakan semua media mainstream sebagai wadah untuk menampilkan diri agar dikenali publik, kini pendekatan itu berubah total. Mereka lebih suka membuat akun di media sosial, kemudian setiap saat menampilkan semua aktivitas, sekaligus menyampaikan gagasan di situ.

Saya mencatat, sejak beberapa tahun terakhir, para kandidat presiden ramai-ramai membangun rumah di dunia maya. Facebook menjadi padang luas tempat mereka berinteraksi dan menyampaikan sikap. Namun tidak semua di antara mereka bisa mendapatkan popularitas dan kesukaan dari warga yang berdiam di Facebook.

Jika arena pilpres 2019 nanti adalah arena yang memperhadapkan Joko Widodo dan Prabowo Subianto, marilah kita menyaksikan bagaimana keduanya menampilkan diri di media sosial, khususnya Facebook.

Jokowi dan Prabowo sama-sama membangun halaman atau Fanpage di Facebook. Presiden Jokowi memiliki pengikut (follower) hingga 7,9 juta orang, sementara Prabowo Subianto memiliki pengikut hingga 9,6 juta orang. Jika dilihat dari sisi jumlah pengikut, Prabowo jelas di atas Jokowi. Nama lain yang di bawah mereka adalah SBY (5,9 juta), Partai Gerindra (3,6 juta), Ridwan Kamil (3,2 juta), dan Basuki Tjahaja Purnama (2,5 juta), dan Jusuf Kalla (1,8 juta). Selengkapnya lihat DI SINI.

Tapi dari segi pengayaan konten, sangat terlihat kalau Fanpage milik Prabowo kedodoran. Postingan terakhir Prabowo adalah tanggal 7 Januari 2018 mengenai kunjungannya ke Medan untuk menemui calon gubernur yang diusung Gerindra. Postingan itu disukai 46 ribu orang, dan dibagikan 2,781 orang.

Bandingkan dengan Presiden Jokowi yang jauh lebih sering tampil di media sosial, serta lebih banyak dibagikan oleh publik. Postingan terbaru Jokowi mengenai kunjungannya ke Afganistan, disukai lebih dari 70 ribu orang, dan dibagikan 3.500 orang. Dalam sehari, selalu ada beberapa postingan Jokowi yang tampil sehingga menjadi konsumsi publik dan dibagikan ke mana-mana.

Saya melihat media-media besar juga mengutip postingan itu untuk memperkuat pemberitaannya. Kita bisa mengatakan bahwa tim medsos Jokowi bekerja lebih spartan dan terorganisir. Mereka bisa mengelola semua informasi dan kegiatan sehari-hari tim Jokowi sehingga dengan segara bisa ter-update di media sosial.

Tim medsos Prabowo belum bisa mengelola banyaknya pengikut itu dengan menyediakan semua informasi yang dibutuhkan. Dalam amatan saya, postingan Prabowo terkesan monoton dan mengulang-ulang topik. Beberapa topik yang sering diangkat adalah nasionalisme dan kemandirian. Namun, topik itu dikemas menjadi postingan heroik yang jurusnya selalu diulang-ulang. Jika saja, tim medianya bisa mengelola itu menjadi tindakan sederhana yang mudah dipahami publik, pasti daya ledaknya akan jauh lebih besar.

Misalnya, Prabowo bisa berbicara nasionalisme, melalui tindakan membeli kopi lokal yang dijual di pinggir jalan. Tema besar nasionalisme dihadirkan dalam tindakan kecil yang justru lebih bermakna bagi banyak orang. Jika tim Prabowo punya creative content hebat, pastilah Fanpage miliknya akan menjadi salah satu senjata hebat yang bisa melejiitkan Prabowo.

Namun, duel ini masih panjang. Dalam dunia politik, pemenangnya adalah siapa yang bisa menjaga napas dan ritme dalam setiap ayunan kaki di maraton politik yang cukup panjang. Jika Prabowo Subianto mengelola akun Facebook-nya dengan baik, diorganisir oleh tim yang hebat, serta membagikan hal-hal yang disukai publik, lambat laun, intensitas akun Fanpage-nya bisa meninggalkan Jokowi.

Biarpun pengelolaan media sosial Jokowi lebih baik, bukan berarti tanpa cacat. Semua postingan yang tampil di Facebook Jokowi tampak hebat, sempurna, tetapi mengesankan Jokowi sebagai sosok yang formal dan kaku. Padahal, jika melihat wawancara Jokowi di media dan interaksinya bersama warga, segera terlihat kalau sosok ini adalah sosok yang merakyat dengan bahasa yang sederhana, serta penuh guyonan. Dalam satu dialog dengan para blogger, kritik telah dilontarkan. Jokowi mengaakui kalau tampilan sosoknya di media sosial agak serius.

Saya juga mengamati beberapa hal.

Pertama, media sosial milik Jokowi terkesan satu arah. Kesannya, media sosial hanya sekadar wadah untuk menginformasikan kepada publik apa saja aktivitas presiden. Padahal, publik media sosial, atau kerap disebut netizen, berharap ada interaksi, dialog, atau ajang berdiskusi tentang berbagai topik. Posisi media sosial bagi tim Jokowi hanya sebagai kanal yang memuat aktivitas, tanpa menjadi ruang berdialog atau kanal menampung aspirasi. Semua tanggapan terkesan dicuekkan begitu saja.

Kedua, media sosial milik Jokowi terkesan dikerjakan tim sukses, bukan oleh Jokowi sendiri. Makanya, informasi yang disajikan adalah informasi ala tim humas yang isinya hanya kebaikan-kebaikan dan aktivitas. Padahal media sosial harusnya menjadi kanal untuk menemukan sisi paling orisinil dari seseorang. Dilihat dari sisi ini, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih lebih baik dalam mengelola media sosialnya. Publik tahu mana postingan yang langsung dari jemari SBY sebab biasanya ada kode *SBY.

Postingan yang dikemas tim humas ini jadinya tidak menampilkan sisi paling lucu, paling heboh, dan paling disukai dari sosok Jokowi. Dalam banyak postingan, saya malah tidak tertarik mengikutinya karena informasinya sudah ada di media massa. Kalaupun dikerjakan tim humas, harusnya lebih kreatif. Mereka bisa merekam perasaan sang presiden saat bertemu orang lain, sesuatu yang tak selalu bisa ditangkap oleh jurnalis media.

Ketiga, kanal media sosial milik Jokowi belum dikelola maksimal melalui strategi online dan offline yang terpadu. Kesan saya, antara kerja online dan kerja offline berjalan sendiri-sendiri, tanpa saling berdialog. Maksud saya, tak ada percakapan di dunia maya, yang seharusnya bisa menampung aspirasi. Seharusnya, tim Jokowi menggunakan kanal itu untuk bertanya kepada publik, yang kemudian dikelola sebagai mekanisme untuk penyusunan kebijakan publik. Jokowi bisa saja bertanya ke warga tentang apa yang harus dilakukan atau tanggapan mereka atas isu politik.

Idealnya, beberapa aktivitas langsung atau offline bisa digelar berdasarkan rekomendasi atau masukan di dunia online. Pengelolaan online harus bersinergi dengan pengaturan kegiatan offline. Jokowi bisa saja berkunjung ke satu lokasi, lalu mengundang orang-orang melalui akun media sosial miliknya. Atau bisa juga memperbanyak kuis, mengadakan sayembara khusus yang bisa diikuti siapa pun, atau secara berkala mengadakan teleconference dengan para penggemarnya di media sosial yang ada di berbagai kota.

Keempat, sistem pengelolaan informasi itu cenderung terpusat. Semua informasi hanya mengalir dari satu kanal, tanpa melibatkan partisipasi publik. Saya paham bahwa dalam konteks akun resmi media sosial, informasi harus langsung dari Jokowi dan timnya. Hanya saja, mesti dipikirkan bagaimana mekanisme pelibatan publik dalam diseminasi informasi tersebut.

Saya membayangkan, semua relawan Jokowi lalu membentuk kluster-kluster atau kelompok di semua wilayah, sehingga setiap ada informasi, langsung disebar secara cepat di kanal-kanal yang selama ini tidak dijangkau Jokowi. Model kerja ini bisa menyiasati keterbatasan jangkauan akun Facebook milik Jokowi sehingga bisa menjaring penggemar dari banyak sisi.

Kelima, akun media sosial Jokowi belum dikembangkan sebagai platform politik untuk menampung semua persoalan yang dihadapi masyarakat, juga belum bisa menjadi sarana advokasi atas semua kepentingan publik. Jika saja dikembangkan ke arah itu, maka kanal media sosial itu akan menjadi jendela bagi warga untuk menyampaikan keluh kesah, yang selanjutnya akan diverifikasi tim Jokowi, yang akan memberikan laporan dan update sejauh mana keluh kesah itu disampaikan.

Jika saja media sosial itu menjadi jendela bagi Jokowi untuk menampung masukan dalam penyusunan kebijakan publik, maka ruang-ruang publik itu akan menopang demokratisasi serta membangun kedekatan seorang kepala negara dengan warganya. Kebijakan bisa dikawal prosesnya, sekaligus bisa pula dipantau hasilnya, yang kelak akan memberikan efek positif dalam kerja-kerja Jokowi.

***

INI hanya amatan sementara. Saya melihat dinamika di media sosial akan terus bergulir. Seiring dengan kian dekatnya pemilihan presiden, maka duel itu akan kembali sengit. Bagi warga, debat di media sosial akan lebih baik sebab tidak ada lagi kampanye di lapangan terbuka, di mana semua orang berebut baju kaos, nasi bungkus, serta jalanan ramai dengan pendukung yang menyetel gas motor dengan suara membahana.

Seiring momen pilpres yang kian dekat, saya akan menanti-nanti kampanye kreatif yang melibatkan para desainer handal dan kreator konten hebat-hebat negeri ini. Di era ini, Anda harus sangat kreatif untuk tampil dengan positioning sebagai sosok paling unik yang lebih bisa memikat publik.

Pengelolaan konten yang kreatif adalah urat nadi utama membangun media sosial yang hebat bagi seorang politisi. Tanpa itu, semua akun media sosial hanya nampak mewah di luaran, tapi tanpa isi dan substansi. Jika politik adalah arena untuk merebut dan mempertahankan kuasa, maka kerja-kerja para kreator konten kreatif adalah menyemarakkan dunia politik menjadi arena parade semua gagasan kreatif yang hasil akhirnya akan dilihat pada sejauh mana elektabilitas seorang figur terkerek.

Pada titik ini, tim Prabowo dan tim Jokowi masih harus bekerja keras untuk menghadirkan sesuatu yang beda dan paling bisa memenuhi ekspektasi publik.


Kiat Jitu Menang Lomba Menulis



SEORANG sahabat mengirim pesan khusus. Ia membaca artikel bahwa locita.co bekerja sama dengan relawan Joko Widodo (Jokowi) mengadakan lomba menulis. Ia tiba-tiba bertanya bagaimana kiat-kiat bisa memenangkan lomba menulis. Ia tahu bahwa saya sering menang lomba menulis yang hadiahnya besar. Ia ingin tahu apa ada strategi atau kiat khusus agar setiap tulisan bisa bernas dan menang lomba.

Saya menulis artikel ini demi menjawab pertanyaan sahabat itu. Saya pikir, yang namanya pengetahuan akan semakin bertambah jika dibagikan kepada banyak orang. Setiap orang menempuh jalan pedang sendiri di dunia penulisan. Setiap orang punya jurus atau teknik menulis sendiri yang dirasanya paling nyaman. Namun, penting juga untuk menyerap pengalaman dari mereka yang lebih dahulu memasuki rimba penulisan.

Saya memang beberapa kali ikut lomba menulis. Biasanya, saya selektif ikut lomba. Saya hanya mengikuti lomba menulis yang hadiahnya besar. Saya akan mempersiapkan diri dengan matang demi mengikuti lomba. Ketika tekad sudah kuat, saya akan mengincar posisi juara. Tanpa bermaksud angkuh, saya sering menang lomba menulis.

Di antara lomba berhadiah besar yang saya menangkan adalah juara XL Writing Award 2014, juara lomba menulis relawan Jokowi-JK yang jurinya adalah Seno Gumira Ajidarma, juga lomba esai ekonomi yang diadakan Sekretariat Kabinet RI. Hadiah untuk juara pertama masing-masing lomba ini selalu di atas angka 20 juta rupiah. Cukup menggiurkan kan?

Jika Anda mengincar hadiah, maka Anda bisa kaya berkat lomba menulis. Saat ini, hampir setiap hari ada saja lomba menulis. Banyak lembaga besar, instansi, serta perusahaan yang menggelar lomba menulis demi menjaring partisipasi yang tinggi dari masyarakat. Melalui lomba itu, berbagai instansi menjaring harapan dan keinginan masyarakat yang kemudian menjadi masukan berharga untuk dikembangkan.

Saya ingin secara khusus menyoroti lomba-lomba yang diikuti banyak orang. Saya akan berbagi pengalaman kiat menjadi juara di Kompasiana, Oxfam International, dan Sekretariat Kabinet RI. Pada setiap lomba itu terdapat ratusan hingga ribuan peserta. Nah, bagaimanakah cara agar tulisan kita bisa sedemikian bersinar sehingga mendapat perhatian semua juri?

Pahami Tujuan Lomba

HAL pertama yang perlu dipersiapkan adalah pahami apa keinginan penyelenggara lomba. Jangan sok tahu dan merasa lebih mengerti apa tujuan lomba. Jangan pula membuat pemahaman sendiri yang belum tentu sama dengan keinginan panitia. Bisa-bisa, di bawah tulisan Anda akan ada tulisan juri: “Pemahaman nenek lu.”

Jika lomba itu diadakan satu pemilik produk yang tujuannya adalah mengampanyekan kelebihan produk itu, Anda jangan menulis hal-hal yang sifatnya cacian. Demikian pula jika lomba menulis bertujuan untuk menjaring suara-suara warga tentang pembangunan, Anda harus pandai-pandai menjaga porsi antara kritik dan masukan konstruktif.

Kritik itu penting untuk menunjukkan ada sesuatu yang keliru, sedangkan masukan konstruktif juga penting untuk menunjukkan bahwa selalu ada harapan untuk menyelesaikan persoalan seberat apa pun.

Lihat pula apa keinginan panitia. Kalau lomba itu adalah lomba menulis surat, maka buatlah tulisan berupa surat. Isinya bisa berupa dialog-dialog, serta curahan hati. Meskipun bentuknya surat, tapi Anda harus tetap berargumentasi, serta menggunakan diksi yang bisa menyentuh hati pihak yang diharapkan membaca surat itu. Jadikan lembaran itu sebagai ruang untuk bercerita banyak hal dengan sebaik dan semengalir mungkin.

Ketika Anda telah memahami keinginan penyelenggara lomba, sering-seringlah melakukan pencarian pada artikel sejenis. Pelajari tulisan-tulisan bagus yang pernah dibuat idolamu dalam menulis.

Malah, kalau perlu tirulah caranya membangun argumentasi. Kalau Anda suka Goenawan Mohamad, maka buatlah tulisan Anda semirip Goenawan. Yang dimiripkan adalah aliran idenya, bukan meniru kata per kata. Jangan pernah melakukan plagiat. Nama baik dan reputasi Anda akan menjadi taruhannya.

Keunikan Gagasan

Sering orang berpandangan bahwa gagasan yang keren adalah yang menyangkut tema-tema politik atau isu yang sedang aktual. Dalam satu lomba menulis, banyak orang mengajukan naskah yang berisikan kritik atau cacian pada pemerintah. Saya yakin, para juri tidak akan pernah melirik naskah-naskah seperti ini. Mengapa? Sebab tulisan-tulisan demikian hanya berisi keluhan dan cacian, tanpa memiliki bangunan argumentasi yang kokoh.

Di satu lomba menulis tentang ekonomi, banyak peneliti yang mengajukan tulisan serupa karya ilmiah. Mereka mengeluarkan banyak dugaan (hipotesis), lalu diuji dengan beberapa eksperimen lalu dianalisis.

Malah, ada yang membandingkan berbagai hasil riset dan angka-angka kuantitatif. Lagi-lagi, tulisan ini tak akan dlirik oleh juri. Argumennya memang kokoh. Namun penyajian yang bikin kening berkerut tersebut hanya pas untuk tampil di jurnal, bukan di lomba-lomba menulis.

Hal pertama dan wajib dimiliki seorang penulis adalah gagasan yang unik, orisinil, sedikit nyeleneh dan melawan arus. Gagasan yang unik akan tampak menonjol di tengah arus ribuan artikel yang masuk dan hendak diikutkan lomba. Ketika semua orang berpikir hal yang sama, maka Anda harus berani berpikir berbeda.

Ada beberapa patokan dasar dalam mengolah ide untuk lomba menulis. Pertama, sajikan sesuatu yang beda. Kalau sama dengan yang lain, yakinlah, naskah itu tak akan dilirik. Kedua, hadirkan orisinalitas atau keaslian. Usahakan untuk menemukan gagasan yang baru atau orisinil. Bagaimana caranya? Catat pengalaman yang unik, sesuatu yang ada di sekitar kita, namun seringkali luput dari pandangan. Tajamkan semua indra demi mengenali hal-hal menarik, namun sering terabaikan.

Ketika mengikuti lomba menulis yang diadakan Oxfam yang bertemakan perubahan iklim, saya membayangkan bahwa kebanyakan peserta akan melihat aspek-aspek lingkungan atau studi tentang bagaimana iklim, cuaca, dan ekosistem. Pada saat itu, saya tak ingin terjebak dengan cara berpikir kebanyakan orang. Saya lalu memilih untuk menulis tentang perspektif nelayan kecil di pulau.

Saat itu, saya melihat nelayan punya keterbatasan dalam memahami memahami fenomena ilmiah atas perubahan iklim, akan tetapi mereka memiliki konsep lokal atau kearifan tentang tabiat iklim yang selalu berubah. Saya teringat pada artikel bahwa lembaga-lembaga internasional tidak lagi berpikir untuk membawa pengetahuan dari negara lain, melainkan menggali pengetahuan dan kearifan lokal yang kemudian dijadikan sebagai solusi untuk mengatasi berbagai masalah.

Ketika mengikuti lomba yang diadakan Kompasiana, saya juga menerapkan cara berpikir yang sama. Demi lomba itu, saya lalu melakukan reportase atau peliputan. Saya mengikuti seorang anak kecil yang berprofesi sebagai perenang penangkap koin. Saya mencatat pengalaman bersama anak itu. Setelah itu, saya lalu mengungkap ironi negeri kita sebagai negeri maritim, namun pemerintahnya jarang menoleh ke laut.

Ketika ikut lomba esai ekonomi, yang saya lakukan adalah menulis pengalaman seorang nelayan mengorganisir nelayan lainnya demi membuat koperasi kecil yang membawa manfaat bagi semua orang. Saya mengangkat hal kecil, lalu melakukan refleksi mendalam atas best practice (praktik terbaik) itu, menarik pembelajaran, lalu menjelaskan mengapa program itu berhasil, sementara ketika pemerintah yang melakukan hal sama dengan dana besar, malah gagal total. Apa pelajaran yang bisa dipetik dari nelayan itu? Inilah fokus tulisan yang kemudian jadi juara.

Perkaya dengan Riset

Ketika Anda punya satu ide yang unik, maka Anda sudah menang satu langkah. Selanjutnya adalah bagaimana mengolah gagasan tersebut hingga menjadi sebuah tulisan yang bernyawa. Di sinilah kita mesti terbiasa dengan riset atau penelusuran data. Riset di sini bisa bermacam-macam bentuknya. Anda bisa melakukannya dengan membaca banyak artikel atau publikasi yang membahas topik yang sama dengan apa yang hendak Anda tulis.

Demi mendapatkan satu pemahaman yang komprehensif atas satu topik, saya membiasakan untuk selalu mengumpulkan banyak informasi tentang topik itu, kemudian membacanya satu per satu. Saya percaya bahwa tulisan yang baik akan selalu lahir dari proses membaca yang baik. Tanpa membaca, sebuah tulisan akan kehilangan energi sebab boleh jadi akan mengulang-ulang sesuatu yang sudah pernah ada.

Tanpa membaca, sebuah tulisan akan kering, sebab penulisnya hanya berputar-putar pada topik, tanpa berkesempatan untuk meninjau hal-hal menarik tentang topik itu yang bisa dilihat dari berbagai sisi. Dengan membaca, kita bisa tahu mana hal yang unik dan belum pernah dibahas siapa pun. Kita bisa mengisi celah kosong yang belum pernah dibahas dan didiskusikan itu, sehingga tulisan kita akan lebih aktual dan bernas.

Saya percaya bahwa tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa menyajikan amatan dari berbagai sisi sehingga pembaca mendapatkan gambaran yang utuh.

Ketika mengikuti lomba esai ekonomi yang diadakan oleh Sekretaris Kabinet RI, saya membiasakan diri untuk membaca beberapa publikasi tentang ekonomi. Saya sadar benar bahwa ekonomi bukanlah bidang yang saya sukai. Makanya, saya berusaha untuk memahami topik yang hendak ditulis dengan cara mengumpulkan beberapa bacaan, serta menelusuri riset-riset mengenai topik tersebut. Bahan-bahan itu kemudian saya baca, lalu mencari celah-celah menarik yang bisa dituliskan.

Demi memahami berbagai bacaan, saya juga rajin mengamati kondisi di lapangan. Ketika sering turun dan berbaur dengan banyak orang, maka pastilah kita akan mendapatkan banyak perspektif yang menarik untuk memperkaya ide. Tulisan yang baik selalu lahir dari pengamatan dan refleksi yang juga baik.

Narasikan dengan Memikat

TERAKHIR adalah narasikan semua gagasan yang sudah diperkaya dengan riset ke dalam aliran yang memikat. Mulailah dengan hal-hal sederhana, bermula dari sebuah mata air, selanjutnya mengalir pelan, lalu memasuki jalan yang berkelok-kelok, lalu menggapai samudera.

Jangan pernah lupa untuk memasukkan karang-karang persoalan serta arus-arus deras di sungai penulisan, perkuat dengan pertanyaan kritis, serta jawaban-jawaban sederhana yang bisa dipetik dari perjalanan tersebut.

Bagi saya, tulisan yang baik adalah tulisan yang sesaat bisa membuat seseorang merenung, lalu mengalir mengikuti gagasan penulis, dan sesuai membacanya, kita tiba-tiba saja melihat sesuatu dengan lebih jernih. Tulisan yang baik serupa embun yang membasahi dahaga pengetahuan kita atas sesuatu, serta bisa menjadi mutiara yang dibawa para pembacanya.

Biasanya, sebelum menulis, seorang penulis akan membangun gambaran-gambaran sederhana tentang rancang bangun tulisan itu. Ia akan membuat coretan-coretan, tentang awal tulisan, inti yang hendak disampaikan, permasalahan, lalu konklusi yang ditawarkan.

Bisa pula meniru kerja mind mapping yang diperkenalkan Tony Buzan. Kita bisa membuat pemetaan pikiran, kemudian meletakkan ide-ide kita dalam pemetaan itu sehingga kita bisa tahu apa point yang hendak disampaikan, serta bagaimana mengakhiri tulisan dengan penutup yang menarik.

***

DEMIKIAN beberapa kiat praktis untuk memenangkan lomba menulis. Kiat ini hanya sedikit. Kita bisa mengembangkannya dalam tulisan lainnya. Ada banyak teknik dan strategi yang bisa ditempuh, akan tetapi semuanya akan kembali pada seberapa besar hasrat kita untuk menang.

Belakangan, saya belajar bahwa menang lomba menulis bukanlah segala-galanya. Yang lebih penting adalah perjalanan atau proses yang kita lalui untuk mengikuti lomba itu. Lebih penting proses belajar tahap demi tahap, ketimbang membaca nama tertera dalam daftar pemenang. Lagian, setiap lomba selalu subyektif. Pemenangnya belum tentu yang terbaik, melainkan pihak yang paling paham tujuan lomba serta selera para juri. Kalaupun kalah, jangan berkecil hati.

Proses menulis ibarat memasuki medan pertempuran. Anda akan lebih sigap dan lancar apabila persiapan juga matang. Nah, persiapan ini adalah proses pra-penulisan, yakni mengumpulkan bahan, membaca literatur, setelah itu mulai menyusun paragraf demi paragraf.

Anda ingin memenangkan lomba menulis? Hadirkan sesuatu yang unik, beda, berkelas, serta memikat.


Menyibak Rahasia Najwa Shihab



NAJWA Shihab menatap Anies Baswedan dalam talkshow berjudul Mata Najwa. Anies menerangkan apa saja yang sudah dilakukannya dalam 100 hari kerja. Perbincangan itu menjadi menarik sebab seorang kepala daerah diminta menjelaskan apa yang dilakukannya kepada publik. Najwa cukup tangkas dalam mengejar Anies.

Seorang kepala daerah memang punya otoritas, tapi itu tidak lantas membuatnya bebas melakukan apa pun. Publik berhak untuk mempertanyakan, mendebat, sekaligus menguliti seorang pejabat.

Sebagai jurnalis dan presenter, Najwa telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Setiap kali usai mengajak seorang tokoh masuk arena dan mencecarnya, Najwa akan menerima sanjungan sekaligus makian di saat bersamaan. Namanya semenjulang para tokoh yang setiap saat siap dicecarnya. Najwa menjadikan acara talkshow-nya menjadi demikian berkelas dan ditunggu-tunggu.

Tak mudah menjalankan peran seperti Najwa. Anda boleh cantik setinggi langit, tapi ketika pikiran Anda kosong, maka Anda akan jadi bulan-bulanan. Anda boleh hebat sedalam samudera, tapi ketika Anda tidak percaya diri dan tak menguasai keadaan, Anda akan tenggelam.

Seorang presenter hebat adalah pengendali siaran, pengatur kemudi dan lalu lintas pembicaraan, sekaligus piawai dalam mengulik banyak sisi seseorang sehingga tak kuasa berkelit.

Saya membayangkan, betapa sulitnya mencetak seseorang untuk mencapai level seperti Najwa. Biarpun banyak akademi dan perguruan tinggi yang mengadakan kelas presenter tetap saja sulit menemukan kombinasi maut berupa cantik dan cerdas sebagaimana yang dimiliki Najwa. Saya yakin, figur seperti itu hanya lahir dari keluarga yang menjadi lahan gembur demi menumbuhkan semua kecerdasan dan percaya diri hingga menjulang tinggi.

Dalam buku Outliers, yang pertama kali terbit tahun 1988, Malcolm Gladwell mengatakan bahwa kesuksesan tidak berasal dari angka nol. Semua orang berutang pada orang tua dan dukungan orang lain. Kesuksesan adalah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai “keuntungan yang terakumulasi”. Tempat dan kapan seseorang tumbuh besar memiliki pengaruh yang cukup besar.

Gladwell menolak anggapan tentang keberhasilan yang semata-mata dipicu oleh kecerdasan. Menurutnya, keberhasilan seseorang menggapai satu kesuksesan tidak bisa dilihat hanya dari satu aspek saja, melainkan terdapat hal yang lebih rumit, kompleks, dan hanya bisa dipahami dengan menelusuri kehidupan orang tersebut.

Gambaran yang paling sederhana namun gamblang dipaparkan Gladwell dalam cerita singkat mengenai pohon. Pohon ek tertinggi di hutan menjadi yang tertinggi bukan semata-mata karena dia paling gigih.

Dia menjadi yang tertinggi karena “kebetulan” tidak ada pohon lain yang menghalangi sinar matahari kepadanya, tanah di sekelilingnya dalam dan subur, tidak ada kelinci yang mengunyah kulit kayunya sewaktu masih kecil, dan tidak ada tukang kayu yang menebangnya sebelum dia tumbuh dewasa.

Bersetuju dengan Gladwell, Najwa Shihab tumbuh di lingkungan yang menjadi lahan gembur bagi pengembangan inteligensi dan kreativitasnya. Pertanyaan yang mencuat, bagaimanakah pendidikan yang didapatnya dalam rumah? Apa yang diajarkan orangtuanya hingga dirinya bisa mencapai posisi seperti sekarang? Apakah sisi-sisi lain Najwa yang tak banyak diungkap? Apakah ada rahasia yang disimpan Najwa?

***

DEMI menjawab pertanyaan itu, saya membaca buku biografi berjudul Cahaya, Cinta, dan Canda M Quraish Shihab. Saya penasaran sebab Quraish Shihab adalah ulama besar tanah air yang merupakan ayah Najwa. Buku ini adalah kisah hidup, pengalaman, serta perjalanan Prof Quraish Shihab, ulama kenamaan yang pernah mengemban banyak jabatan prestisius, mulai dari Rektor IAIN Syarif Hidayatullah hingga kursi Menteri Agama.

Saya menemukan banyak lembaran yang membahas bagaimana asal-usul dan bagaimana Najwa dididik dalam rumah.

Kakek Najwa, dalam hal ini ayah Quraish Shihab, adalah Habib Abdurrahman Shihab, yang dahulu menjadi Rektor IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Nenek Najwa, dalam hal ini ibu Quraish Shihab, dipanggil Puang Asma atau Puang Cemma adalah bangsawan Bugis, keturunan pemimpin di Rappang, Sulawesi Selatan. Keluarga ini sejak lama dikenal sebagai keluarga religius yang membimbing semua anaknya untuk mendalami agama sejak dini.

Najwa adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya Najeela, lulus dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) yang kini menekuni profesi sebagai pendidik.. Adiknya adalah Nasywa, Nahla, dan Ahmad. Ahmad adalah satu-satunya laki-laki saudara Najwa. Semuanya memilih karier yang berbeda dengan Quraish, sang ayah. Quraish tak ingin memaksa anaknya untuk sepertinya.

Quraish Shihab memberi nama semua anaknya dengan awalan N yang diambilnya dari huruf Nun dalam aksara Arab. “Nun adalah huruf yang istimewa,” katanya. Nun adalah salah satu huruf yang berdiri sendiri di awal surah Al Quran yakni Surah Al Qalam. Pada awal surah itu, Nun dijadikan Allah sebagai sumpah bahwa Nabi Muhammad berakhlak mulia, untuk menepis tuduhan penentangnya. Nun juga mengandung makna positif seperti najah (sukses), nur (cahaya), atau nashr (pertolongan).

Nama Najwa bermakna percakapan atau bisikan. Makna majazi-nya adalah orang yang pandai bercakap, mudah dimengerti, dan cerdas saat berbincang dengan siapa saja. Artinya, sejak kecil Quraish telah mendoakan Najwa agar kelak menjadi seseorang yang cakap berbicara.

Quraish dahulu tinggal di Makassar dan berkarier hingga posisi rektor, hingga akhirnya pindah ke Jakarta demi karier dan tanggung jawab yang lebih besar. Najwa lebih banyak menghabiskan masa kecil dan remaja di Jakarta. Biarpun tak memaksa anaknya untuk menekuni dunia ulama, Quraish mengajarkan agama pada anaknya sejak dini.

Sejak kecil, Quraish Shihab mewajibkan semua anaknya untuk berada di rumah saat salat Magrib. Mereka punya tradisi untuk ikut salat jamaah. Selepas salat Magrib, mereka lalu ramai-ramai membaca wirid atau ratib, kemudian mengaji. Rumah Quraish selalu semarak dengan bacaan Al Quran setiap malam. Wirid yang harus dibaca setiap malam adalah Ratib al-Haddad. Di pagi hari, semuanya membaca Wirid Lathif.

Wirid yang indah itu disusun Imam Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad dari Hadramaut. Beliau adalah salah satu ulama besar di abad 12 H. Beliau dilahirkan di salah sebuah kampung di kota Tarim, Yaman pada malam ke-5 bulan Safar, tahun 1044 Hijrah. Mereka yang membaca ratib ini diyakini akan selalu terjaga dari hal-hal yang bisa menyesatkan.

Isi Ratib al-Haddad adalah potongan surah Al Quran dan doa-doa yang diajarkan Rasulullah SAW. Di antaranya adalah Surah Al Fatihah, Ayat Kursi, Surah Al Ikhlas, Surah Al Baqarah, Surah Al Falaq dan An Nas. Sedangkan Wirid Lathif yang dibaca saat subuh bertujuan untuk melenyapkan kesusahan, kesedihan, kegelisahan, mempermudah rezeki serta memenuhi kebutuhan.

Sejak masih kecil, Najwa dan semua anak-anak Quraish lainnya sudah menghafal doa-doa ini. Mereka sudah paham bahwa berdoa sesudah Magrib adalah kewajiban bagi semuanya. Biasanya, seusai berdoa, mereka akan berdiskusi membahas banyak hal. Quraish akan menanyakan pendidikan anak-anaknya serta tugas-tugas sekolah.

Di keluarga ini, pendidikan adalah nomor satu. Quraish membebaskan anaknya untuk memilih bidang apapun yang hendak dimasuki. Ia percaya bahwa dengan fundasi keagamaan yang kokoh, anak-anaknya tidak akan tersesat.

Tak heran jika semua anak Quraish menekuni beragam profesi. Ada yang menjadi psikolog, ada yang menjadi jurnalis dan presenter televisi, ada yang jadi psikolog, dokter, hingga menekuni bisnis di bidang IT. Biarpun semuanya menempuh profesi yang berbeda, di malam hari, seusai salat Magrib, mereka akan menjadi bagian dari salat berjamaah serta melafalkan doa-doa yang sama.

Najwa mendapat limpahan kasih sayang dari ayahnya. Semasa kecil, Najwa diharuskan memakai kaca mata. Quraish tak ingin anaknya kehilangan percaya diri. Najwa diajak ke optik besar di Blok M, Jakarta. Quraish lalu meminta diberikan kaca mata yang paling mahal. Bagi sang ayah, kepercayaan diri adalah hal yang sangat penting agar anaknya mampu merespons semua tantangan hidup.

Sejak kecil, Najwa telah menunjukkan prestasi. Dia lulus program American Field Service (AFS) di usia 16 tahun sehingga memiliki kesempatan tinggal bersama keluarga di Amerika Serikat selama beberapa waktu. Ayahnya tak ragu-ragu melepasnya. Ayahnya percaya bahwa Najwa sudah memiliki fundasi keagamaan yang kuat.

Dengan memberi kepercayaan kepada anak, maka ia mengajari anak itu untuk bertanggungjawab pada apa pun pilihannya. Demikian pula ketika anaknya memilih pasangan hidup. Ia membebaskan mereka, tetapi memberi syarat yakni haruslah rajin melaksanakan salat. Itu sudah cukup baginya.

Najwa mendapat dukungan luar biasa dari ayahnya. Ayahnya menyediakan apa-pun yang dibutuhkannya. Ketika Najwa dan semua anaknya menikah, Quraish selalu membuat buku khusus yang isinya pesan kepada anaknya. Bahkan ketika Najwa telah berkarier dan sukses dengan talkshow-nya, Quraish tak pernah alpa menyaksikan anaknya saat siaran di televisi.

Ia bahagia karena Najwa meraih prestasi atas dedikasi dan profesionalismenya. Di antara prestasi itu adalah Young Global Leader Award 2011 dari World Economic Forum yang berkedudukan di Jenewa.

Episode paling menyedihkan dalam kehidupan Najwa sebagaimana dikisahkan Quraish adalah meninggalnya Namiya, putri kedua Najwa. Anak itu lahir pada 15 Desember 2011. Bayi itu lahir prematur dalam usia tujuh bulan. Saat itu, Najwa sedang perawatan karena sakit. Najwa gembira karena bayi itu lahir dalam keadaan sehat. Tangis bayi memenuhi rumah sakit. Quraish yang memilihkan nama untuk bayi itu.

Keesokan harinya, Najwa sedih karena bayi itu meninggal dunia. Quraish mengisahkan betapa sedihnya Najwa ketika mendekap anaknya yang telah meninggal. Quraish menangis lalu berbisik, “Sempurnanya Namiya.” Selama ini Quraish tak pernah menangis. Hari itu ia menangis karena membayangkan betapa berat perasaan anaknya. Pada Najwa, Quraish berbisik bahwa Namiya akan jadi tabungan akhirat yang akan menyambutnya. Najwa harus ikhlas.

Jenazah bayi dibawa pulang. Najwa masih harus dirawat. Pagi sebelum jenazah dikuburkan, Najwa menelepon ayahnya lalu berbisik. “Saya belum menyanyikan doa untuk Namiya. Tolong nanti sebelum dimakamkan, Namiya dinyanyikan doa seperti yang biasa Mama nyanyikan,” kata Najwa terisak.

Batin Quraish terharu. Inilah cobaan paling berat dalam kehidupannya. Tradisi di keluarga itu,, istri Quraish akan mendendangkan doa bagi semua anak dan cucunya. Hari itu, doa diucapkan dengan sesunggukan. “Ya arhama ar-rahiimin, Ya arhama ar-rahimin, Ya arhamar rahimin farrij ala al muslimin.” Wahai Yang Maha Kasih Sayang. Yang melebihi apa pun yang memiliki kasih sayang. Karuniakan pertolongan-Mu untuk kaum Muslim.

***

DEMIKIANLAH sisi-sisi lain Najwa Shihab. Seperti dikatakan Gladwell, di balik setiap kesuksesan anak, ada kerja keras dan ikhtiar hebat lingkungan. Najwa tumbuh dalam lingkungan yang selalu memotivasi, membesarkan, dan selalu berada di sisinya dalam keadaan apapun. Semua kasih sayang itu adalah energi terbaik bagi dirinya untuk selalu menggapai kesuksesan.

Jika belakangan ini banyak orang yang tiba-tiba saja memvonis dan menuding Najwa dan anak-anak Quraish lainnya tidak Islami, maka semuanya akan kembali pada diri masing-masing. Tak bijak memvonis orang lain hanya karena satu kenyataan yang dilihat dari sisi subyektif.

Tuduhan itu seyogyanya dikembalikan ke dalam diri. Boleh jadi, yang dituduh itu jauh lebih menjaga diri dan menjalankan berbagai amalan ketimbang yang menuduh. Boleh jadi, yang difitnah itu jauh lebih mendekati Tuhan, ketimbang yang melemparkan tuduhan. Boleh jadi, yang dituduhkan itu jauh lebih baik dari diri yang menuduh.

Jika tuduhan itu berpangkal pada perbedaan penafsiran, maka didialogkan dengan baik. Ayah Najwa adalah figur yang selalu menerima kritikan dari siapa saja. Ia membuka diri untuk berdiskusi.

Ia sangat menghargai siapapun yang bisa memberikan kritik atas karya-karyanya. Beberapa kolega dekatnya sekarang dahulu adalah para pengkritiknya. Melalui kritik, ilmu yang dimiliki seseorang akan terus berkembang.

Pada akhirnya, manusia akan mempertanggungjawabkan semua diri dan tindakannya di hadapan Tuhan. Jauh lebih baik jika semua orang berlomba-lomba menjalankan ibadah dan menyebar kebaikan, ketimbang saling menuduh. Semakin banyak kebaikan yang disebar, semakin makmur bumi, semakin indah hubungan antar manusia, dan ajaran agama semakin dibumikan.

Semoga Najwa selalu dilimpahi keberkahan dan kesuksesan.


Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...