Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Manusia dalam Tafsiran Sejarawan Israel




PADA mulanya, buku Sapiens: A Brief History of Humankind diterbitkan dalam bahasa Hebrew, bahasa yang digunakan orang Yahudi di Israel. Ketika diterjemahkan dalam bahasa Inggris, buku ini langsung menjadi best-seller internasional. Topik yang dibahas Yuval Noah Harari, anak muda yang menjadi profesor sejarah di Israel ini tak biasa. Ia mendiskusikan lintasan panjang yang dilalui manusia, sepanjang 150.000 tahun eksis di planet bumi.

Yuval Noah Harari, anak muda kelahiran 1976, adalah sejarawan yang meraih gelar PhD dari Oxford University. Kini ia mengajar di Universitas Ibrani, Israel. Buku Sapiens ini tak murni karya sejarah. Ia membahas dari berbagai perspektif, mulai dari antropologi, zoologi, filsafat, ekonomi, psikologi, neuroscience, dan teologi. Spektrum pembahasannya luas. Ia menyajkan sesuatu yang provokatif. Buku ini menempatkan Harari sebagai “anak ajaib” di bidang sejarah, yang meraih popularitas pada usia 39 tahun, usia yang cukup muda di kalangan sejarawan. Ia sepopuler JK Rowling di ranah fiksi anak. Ia sehebat Samuel Huntington di ranah ilmu politik.

Sejak buku ini terbit dalam bahasa Inggris, saya sudah berangan-angan membacanya. Seorang kawan pernah mengirimkan review atas buku ini dalam bahasa Inggris. Saya hanya membacanya sekilas. Kemarin, saat berkunjung ke toko buku, saya melihat buku ini telah diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia. Tanpa banyak menimbang, saya langsung membelinya. Saya tak sabar membaca satu buku yang didiskusikan secara luas di level internasional hingga menjadi bestseller yang dibahas di banyakmedia.

Terdapat tiga peristiwa penting yang membuat Sapiens mencapai puncak peradabannya. Pertama, revolusi kognitif, sekitar 70.000 tahun lalu. Manusia mulai meningkat kecerdasannya, menciptakan perkakas, lalu menyebar ke banyak lokasi. Kedua, revolusi pertanian. Sekitar 11.000 tahun lalu, manusia mulai berhenti dari kegiatan berburu dan meramu, mulai tinggal di perkampungan, melakukan domestikasi hewan, serta mulai berkebun dan bersawah. Ketiga, revolusi sains, sekitar 500 tahun lalu. Peristiwa ini memicu revolusi industri, yang mendorong revolusi informasi, dan revolusi bio-teknologi. Harrari menduga, revolusi bio-teknologi adalah signal berakhirnya manusia. Manusia akan digantikan oleh post-human, cyborg, dan robot yang tidak pernah mati.

Buku ini dengan berani mendiskusikan apa saja jejak-jejak yang dibuat manusia sebagai Homo Sapiens sejak pertama kemunculannya. Kata Harrari, manusia sebagai Sapiens adalah makhluk paling egois yang justru tidak banyak memahami dirinya. Sapiens bukan satu-satunya manusia. Dalam catatan para arkeolog, terdapat beberapa manusia lain yang pernah ada, di antaranya adalah Neanderthal di Eropa, Homo Soloensis di Solo (Indonesia), ataupun manusia cebol di Flores (Indonesia).

Harari menduga kuat bahwa Sapiens telah melakukan genosida atau penyingkiran kepada Neanderthal secara kejam. Dikarenakan Sapiens memiliki kecerdasan yang lebih, Sapiens telah menyingkirkan Neanderthal lalu menguasai semua sumberdaya makanan. Toleransi tak ada dalam kamus seorang Sapiens. Jika saja Neanderthal masih ada, maka barangkali sejarah akan bergeser. Manusia akan berbagi bumi dengan spesies manusia lainnya.

Sapiens tak sendiri di alam semesta. Ada pula hewan lain yang tersebar di mana-mana. Bedanya, hewan hanya bisa bekerja sama dan membangun solidaritas pada cakupan yang kecil. Sementara Sapiens bisa bekerja dalam struktur yang kompleks, bisa berjejaring dengan banyak orang yang tidak mengenalnya, lalu menciptakan budaya dan perkakas untuk membantunya menguasai alam semesta.

“Jika Anda letakkan 100,000 simpanse di Oxford Street, atau Wembley Stadium, atau Tiananmen Square atau Vatikan, yang ada hanyalah kekacauan. Bayangkan Wembley Stadium dengan 100,000 simpanse. Pasti akan kacau. Sebaliknya, puluhan ribu manusia biasa berkumpul di sana. Yang terjadi bukanlah kekacauan, melainkan sistem kerja sama yang canggih dan efektif. Semua pencapaian besar manusia dalam sejarah, baik itu membangun piramid atau terbang ke bulan, tidak didasarkan pada kemampuan individu, namun pada kemampuan untuk bekerja sama secara fleksibel dalam jumlah besar,” katanya.

Mengapa manusia bisa bekerjasama dan berjejaring? Mengapa hanya manusia satu-satunya makhluk yang bisa melakukannya? Jawabannya adalah imajinasi. Kita dapat bekerja sama dengan baik dengan orang yang tidak kita kenal, karena hanya kitalah satu-satunya makhluk di bumi yang dapat menciptakan dan mempercayai cerita fiktif. Selama setiap orang mempercayai cerita yang sama, setiap orang akan mentaati dan mengikuti peraturan yang sama, serta norma dan nilai yang sama.

Hewan lain hanya berkomunikasi untuk melukiskan realita. Seekor simpanse bisa mengisyaratkan, "Lihat! Ada singa, ayo lari!" Atau, "Lihat! Ada pohon pisang di sana! Ayo kita ambil pisangnya!" Manusia, sebaliknya, menggunakan bahasa tidak hanya untuk menggambarkan realita, namun juga untuk menciptakan realita fiktif.  Seseorang bisa berkata, "Lihat, Tuhan berada di atas langit! Dan apabila kalian mengingkari saya setelah mati, Tuhan akan menyiksa kalian di neraka." Jika orang-orang percaya pada cerita ini, maka banyak harus mengikuti norma, hukum, dan nilai yang sama, sehingga dapat bekerja sama. 

Tak hanya di tataran religi. Manusia bekerja sama dengan mempercayai cerita yang sama. Jutaan orang bersama-sama membangun katedral. Jutaan orang melakukan jihad dan perang salib. Orang-orang ini meyakini hal yang sama.  Mekanisme tersebut mendasari semua bentuk kerja sama manusia dalam skala yang masif, tidak hanya dalam tataran religi

Sebagai contoh, bidang hukum. Kebanyakan sistem hukum di dunia didasarkan pada kepercayaan akan HAM. Namun apakah HAM itu? “HAM, seperti Tuhan dan surga, hanyalah cerita yang kita ciptakan. Mereka bukan realita obyektif; maupun efek biologis tentang homo sapien. Misalnya, coba bedah tubuh seseorang, tiliklah ke dalamnya, Anda akan temukan jantung, ginjal, neuron, hormon, DNA, namun Anda tidak akan temui HAM apapun. Satu-satunya tempat di mana Anda bisa temukan HAM, hanyalah dalam cerita yang kita ciptakan dan sebarkan dalam beberapa abad terakhir. Cerita tersebut bisa jadi positif, kisah yang sangat terpuji. namun itu hanyalah cerita fiktif yang kita buat-buat,” kata  Harari.

Begitu juga dalam bidang politik. Faktor paling penting dalam politik modern adalah bangsa dan negara. Namun apa itu bangsa dan negara? Mereka bukanlah realita obyektif. Gunung adalah realita obyektif. Anda bisa melihatnya, memegangnya, bahkan menciumnya. Namun bangsa dan negara, seperti Israel, Iran, Prancis, atau Jerman, hanyalah sebuat cerita yang kita buat yang sangat melekat dalam diri kita.



Begitu pula dalam bidang ekonomi. Peran paling penting dalam ekonomi global saat ini adalah perusahaan. Kebanyakan orang sekarang mungkin bekerja untuk perusahaan, seperti Google, Toyota, atau McDonald's. Apakah mereka itu? Kesemua nama itu adalah cerita yang dibuat dan dipertahankan oleh orang-orang sakti yang disebut pengacara, bankir, pejabat negara.

Sama halnya dengan pertanyaan, apa itu uang? Lagi-lagi, uang bukanlah realita obyektif. Ia tidak memiliki nilai obyektif. Uang tidak bisa dimakan, diminum, ataupun dipakai. Kemudian datanglah para pendongeng ulung yakni para bankir besar, para menteri perekonomian, para perdana menteri. Mereka memberi konsep yang sangat meyakinkan: "Anda lihat lembar kertas ini? Ini nilainya sama dengan 10 pisang." 

Uang adalah salah satu konsep yang paling sukses  ditemukan dan disebarkan oleh manusia. Uang adalah satu-satunya konsep yang dipercaya semua orang. Tidak semua percaya Tuhan, tidak semua percaya HAM,  tidak semua percaya pada nasionalisme, namun semua percaya akan uang, dan mata uang dolar. Harrai berkata, “Lihat Osama Bin Laden. Ia membenci politik dan agama di Amerika, juga kebudayaan Amerika, namun dia tidak menolak dolar Amerika. Dia bahkan cukup memujanya.”

***

TERDAPAT banyak hal yang tidak mungkin saya uraikan dalam tulisan singkat ini. Point besarnya adalah buku ini cukup sukses meneror pikiran kita, khususnya pada hal-hal yang dianggap sudah mapan.Banyak hal menarik lainnya yang dijelaskan di seputar dinamika modernitas, tentang perang dan damai, tentang individualisasi dan runtuhnya unit keluarga inti, tentang evolusi peran negara dalam mengatur masyarakat, dan semacamnya.

Di bagian terakhir Harari masuk ke pertanyaan eksistensial: homo sapiens akan terus berevolusi, tetapi sejauh ini, dengan semua pencapaian yang telah diraih, apakah manusia pada umumnya merasa lebih berbahagia dan mensyukuri kehidupan?

”Was the late Neil Armstrong, whose footprint remains intact in the windless moon, happier than the nameless hunter-gatherer who 30,000 years ago left her handprint on a wall in Chauvet Cave? If not, what was the point of developing agriculture, cities, writing, coinage, empire, science and industry?” Apakah Neil Amstrong, yang jejak kakinya tertinggal di bulan, lebih bahagia dari seorang pemburu dan peramu tak bernama yang 30.000 tahun lalu meninggalkan jejak tangan di dinding Gua Chauvet?

Harari mencoba menjawab pertanyaan ini dengan teori dan penelitian terbaru yang tersebar di berbagai jurnal akademik. Pertanyaan ini tak mudah untuk dijawab. Barangkali kita butuh membuka ulang berbagai literatur, sebelum akhirnya menyilakan nurani kita untuk menjawabnya.

Dalam catatan saya yang belum tuntas, Harrari ingin berkata, manusia mengontrol dunia karena imajinasi dan realita fiktif yang disepakati bersama. Realita itu bisa berupa negara, Tuhan, uang, dan perusahaan. Yang menakjubkan adalah seiring sejarah, realita fiktif ini menjadi sedemikian kuatnya sehingga kini, kekuatan terbesar di dunia adalah konsep-konsep fiktif tersebut.  Kini, kelangsungan hidup sungai, hutan, harimau, dan gajah bergantung kepada kebijakan dan keinginan konsep-konsep fiktif, seperti Amerika Serikat, Google, Bank Dunia, yang merupakan konsep dalam imajinasi kita semata.

Ah, mungkin saya terburu-buru dalam membuat kesimpulan. Maklumlah, saya belum menyelesaikan separuh buku ini. Biasanya, saat membaca buku bagus, saya sengaja melambat-lambatkan diri. Mohon maaf kalau keliru.




Tiga Seri Wisata TEMPO



TANAH air Indonesia punya begitu banyak tempat memukau. Jika seluruh hari digunakan untuk menjelajah setiap jengkal tanah air, barangkali waktu 100 tahun tak akan pernah cukup untuk mengunjungi setiap lekuk di tubuh Indonesia. Beruntunglah, ada para penjelajah dan pengelana yang setia mendokumentasikan semua perjalanan. Melalui itu, kita bisa menemukan jendela untuk melihat banyak sisi tanah air.

Hari ini saya membeli tiga seri buku Tempo mengenai pesona cerita wisata demi melengkapi koleksi buku di rumah. Ketiganya adalah Hikayat 45 Danau Indonesia, Kisah Berdesir Pesisir Laut, 100 Surga Tersembunyi. Saya membaca ketiganya dengan penuh rasa penasaran. Semakin banyak membuka lembaran, semakin terbuka kesadaran saya bahwa ada banyak tempat di tanah air yang belum pernah saya jejaki. Ada banyak cerita, mitos, narasi, petualangan, dan perjumpaan yang tak akan pernah habis untuk dikisahkan.

Tapi saya juga melihat banyak hal yang luput di tiga buku ini. Saya lihat buku ini hanya memetakan beberapa yang sudah dikenal publik. Padahal, saya yakin sekali ada banyak tempat indah yang luput dari pantauan. Saya pun tergoda untuk mengumpulkan catatan tentang banyak lokasi di tanah air. Minimal, bisa mengumpulkan informasi tentang kampung halaman saya.

Saya membayangkan, alangkah indahnya jika kita menemukan informasi tentang semua wilayah, juga informasi tentang orang-orang baik yang berdiam di wilayah itu. Minimal kita menyadari bahwa Indonesia tak cuma jakarta dan Bandung, tapi juga banyak kisah dan narasi tepian yang selama ini nyaris hilang di tunas-tunas kesadaran kita yang terus bertumbuh.

Namun saya sadar bahwa kerja-kerja mendokumentasikan itu tidak selalu mudah. Banyak yang lebih suka bercerita, ketimbang mencatat dan memotret. Maka buku-buku, sebagaimana yang dibuat Tempo ini, menjadi demikian berkilau sebab menjadi etalase untuk melihat banyak sisi Indonesia.





Saat Elizabeth GILBERT Bahas Muasal Kreativitas


Buku Big Magic yang ditulis Elizabeth Gilbert


Darimanakah datangnya kreativitas?

Seorang sahabat bertanya pada seorang penulis produktif, mengapa ia bisa menuntaskan buku ratusan halaman? Pada saat sahabat itu hanya sanggup menyelesaikan satu artikel pendek, tiba-tiba si penulis bisa menghasilkan berlembar-lembar tulisan dalam waktu yang sama. Sahabat itu juga keheranan saat mengamati para pelukis, seniman, penulis puisi, hingga para sastrawan. Mereka bisa melahirkan banyak karya dalam waktu singkat. Mengapa mereka sedemikian kreatif?

Mungkin sahabat itu tidak memahami bahwa seorang penulis selalu berhadapan dengan ketakutan, apakah bisa menghasilkan buku-buku tebal. Seorang penulis pun harus mengasah dirinya sekreatif mungkin agar sanggup menuliskan lembar demi lembar buah pemikirannya. Seorang penulis juga mengalami ketakutan, apakah dirinya bisa menuntaskan satu pekerjaan menulis ataukah tidak.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Yang saya tangkap dari pernyataan ini adalah ilmu itu bergerak secara liar, kadang mendekat dan kadang menjauh. Manusia butuh menjeratnya melalui tulisan agar ilmu itu bisa terus abadi, memberikan jawaban manusia atas banyak pertanyaan, bisa dibagikan ke orang-orang lain.

Terhadap pertanyaan sahabat itu, saya terkenang pada buku Big Magic: Creative Living Beyond Fear yang ditulis Elizabeth Gilbert tahun 2015 silam. Buku ini terbilang baru dan hingga kini belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Saya membacanya di satu situs. Elizabeth Gilbert adalah pengarang produktif di Amerika Serikat yang menghasilkan banyak buku best seller. Di antaranya adalah buku Eat, Pray, and Love yang difilmkan dan dibintangi aktris Julia Roberts. Kebetulan pula, beberapa bagian dalam buku itu mengisahkan perjalanan Gilbert di Indonesia.

Dalam buku Big Magic, Gilbert menyebut kreativitas bukan sesuatu yang sifatnya personal, ditemukan dalam diri individu. Kreativitas selalu melibatkan proses spiritual, di mana-mana ide-ide kreatif datang dari luar, yang kemudian memasuki seseorang. Manusia sanggup menulis sesuatu disebabkan ada ilham atau ide-ide yang memasuki tubuhnya. Tulisan hanya satu cara untuk menjerat ide-ide itu agar tidak lepas.

Gilbert menelusuri jejak kreativitas di berbagai zaman, di antaranya adalah masa Yunani dan Romawi kuno. Para seniman bisa melahirkan mahakarya hebat disebabkan oleh kreativitas, yang diyakini berasal dari roh di lokasi yang misterius. Kreativitas seniman didapatkan dari yang peri berdiam di balik tembok rumahnya. Peri, yang disebut Gilbert serupa Dobby dalam serial Harry Potter, membantu para seniman untuk menuntaskan kerja-kerja kreativitasnya. Para seniman menjadikan diri mereka sebagai wadah bagi masuknya peri demi lahirnya karya-karyanya.

Socrates percaya bahwa dia memiliki "daemon" yang mengajarkan kebijakan dari jauh. Orang Romawi pun mempercayai ide yang sama, tapi mereka menyebut makhluk itu Jenius. Orang Romawi tidak menganggap Jenius sebagai manusia yang sangat sangat pintar. Mereka percaya Jenius adalah sesuatu yang magis dan sakral yang hidup dalam tembok ruang kerja seniman, mirip seperti peri-rumah Dobby, yang keluar dari persembunyiannya untuk membantu sang seniman dan membentuk hasil akhir karya tersebut.

“Makanya para seniman tidak pernah narsis di zaman itu. Ketika karyanya bagus, mereka akan berkata bahwa itu berkat peri Jenius. Demikian pula ketika karyanya buruk, maka mereka akan mengatakan itu juga berkat campur tangan peri itu. Mereka bersikap apa adanya, tanpa membanggakan dirinya,” katanya.

Seiring dengan datangnya era renaissance, manusia menganggap dirinya sebagai pusat ilmu pengetahuan dan menyingkirkan semua dewa-dewa dan mitologi. Kreativitas dianggap murni berasal dari dalam diri manusia. Banyak seniman yang justru tak mampu menghasilkan apapun, sebab Jenius perlahan menjauh.

Namun ada saja seniman yang masih percaya dengan adanya roh bernama Jenius itu. Gilbert menyebut penulis puisi terkenal Ruth Stone yang kini berumur 90-an tahun. Saat kecil, Ruth tumbuh di pedesaan Virginia. Saat bekerja di ladang, tiba-tiba saja dirinya merasakan adanya getaran yang merupakan tanda datangnya puisi. Ia mendengar suara gemuruh air bah bersamaan dengan kedatangan puisi. Ruth lalu berlari seperti dikejar setan ke rumahnya demi mengambil kertas dan pensil. Saat puisi itu menembus tubuhnya, ia harus segera menulis demi mengurung dan menjebak puisi itu.

Kadang, Ruth tidak cukup cepat. Saat dirinya telah berlari kencang dan tiba di rumah, puisi itu telah menembus dirinya, lalu mencari penulis lain. Pernah, puisi itu telah menembus dirinya, Ruth lalu menangkap ekor puisi itu, memasukkannya kembali dalam tubuhnya, kemudian ia mulai menulis. Ajaib, puisi yang ditulisnya dalam posisi terbalik, dari kata terakhir ke depan.

Buku Eat, Pray, and Love

Masih kata Gilbert, pengalaman serupa juga dialami Tom Waits, seorang musisi terkenal. Tom seringkali tersiksa oleh melodi-melodi yang datang silih-berganti. Ia produktif menulis lagu, sebab melodi itu datang menghampirinya. Pernah, melodi itu datang saat Tom menyetir di jalur cepat di Los Angeles. Sambil menyetir, tiba-tiba Tom mendengar sepotong melodi masuk ke kepalanya seperti laiknya sebuah inspirasi. Melodi itu begitu indah. Tom ingin menangkapnya. Tapi saat itu Tom tak memiliki kertas ataupun pensil. Tak ada alat rekaman di dekatnya. Ia juga sedang menyetir.

Tom mulai merasa gelisah, "Aduh, aku akan kehilangan melodi ini, lalu akan terus dihantui lagu ini selamanya. Aku begitu payah dan tak mampu." Lalu bukannya panik, dia berhenti.  Tom memandang ke langit, dan berkata, "Maaf, tidakkah kamu lihat saya sedang menyetir?  Memangnya saya bisa menulis lagu saat ini? Jika kamu memang ingin berwujud, kembalilah di waktu yang tepat, saat saya bisa meladenimu,” katanya.

Tulisan Gilbert menyadarkan saya bahwa proses menulis jelas dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain disiplin, juga banyak dipengaruhi oleh kerja-kerja kreativitas. Seorang penulis harus menangkap gagasan-gagasan dan ilham di sekelilingnya, kemudian mengalirkannya dalam kata demi kata. Ia tak boleh berhenti saat memulai. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya, sembari meyakini bahwa proses penulisan itu bekerja karena adanya faktor di luar sana.

Saya teringat seorang guru di masa kuliah. Ia mengajarkan, saat membaca satu buku, bacakanlah doa untuk penulisnya, juga berdoa kepada Yang Maha Membaca agar semua bacaan bisa tersingkap maknanya dan mengendal di pikiran. Hanya dengan cara menghormati dan mengapresiasi penulisnya, maka apa yang ditulis seseorang akan mengalir deras menjadi pengetahuan kita. Saya sih memaknainya sebagai tanda untuk tetap fokus sehinga pengetahuan lebih mudah terserap.

Atas keyakinan tentang kerja kepenulisan yang dibantu oleh roh jenius, Gilbert tak lagi merasa ketakutan. Ia berpikir untuk selalu menuntaskan setiap pekerjaannya. Baik dan buruk pekerjaannya tak selalu disebabkan oleh dirinya. Ia punya apologi kalau penyebabnya adalah kekuatan di luar sana, yang menggerakkan tangannya untuk menulis sesuatu. Ia hanya menyelesaikan apa yang menjadi bagiannya, sisanya akan diserahkan pada roh kreativitas. Ia percaya, setiap tulisan punya takdir masing-masing.

Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana kiat agar selalu kreatif dan produktif dalam hal menulis? Mengacu pada Gilbert, jawabannya adalah lakukan saja. Menulislah dengan tanpa beban. Menulislah sebagai aktivitas untuk melepaskan gagasan yang memasuki tubuhmu. Menulislah dengan tujuan untuk mengabarkan keping-keping realitas. Menulislah sebagai wadah untuk berbicara dan mencerahkan orang lain. Menulislah dengan harapan agar orang lain tercerahkan. Soal tercapai atau tidak, itu bukan urusanmu. Biarkan roh jenius dan takdir yang bekerja.

Namun selagi ada yang tersenyum saat bertemu denganmu lalu mendiskusikan tulisanmu yang menyentuh hatinya, setapak demi setapak kamu telah mencapai tujuanmu.



Bogor, 14 Agustus 2017

BACA JUGA:





Suatu Hari Bersama Umar Werfete



DI sore hari, lelaki ini tiba-tiba saja menghubungi. Baru sampai dari Jayapura, Umar Werfete, lelaki asal Kaimana, Papua, datang untuk satu urusan. Dengan senang hati saya menemuinya. Di tahun 2010-2011, saya dan Umar (demikian ia disapa) adalah rekan seperjuangan bersama puluhan sahabat lain yang hendak memperdalam bahasa Inggris. Umar adalah sahabat yang selalu bisa menghangatkan suasana. Bersamanya, kami selalu menemukan banyolan dan kisah-kisah lucu yang bisa menjadi oase di tengah sumpeknya proses belajar.

Di Papua, Umar punya dua nama. Selain nama Umar, kawan-kawannya yang Kristiani memanggilnya Marthen. Dia tipe orang yang menentang arus. Di saat orang lain sibuk belajar, ia justru memilih santai dan jalan-jalan. Dia tak mau ikut-ikutan stres memikirkan tantangan yang dihadapi. Bersamanya, saya punya banyak kegilaan saat nongkrong di seputaran Salemba hingga Monas.

Biarpun santai dan cuek, pemikiran Umar selalu orisinil. Saya tak terkejut ketika dirinya akhirnya belajar di bidang Cultural Studies di University of Birmingham, Inggris. Dia pun bisa keliling Eropa dan lulus dengan nilai baik, sesuatu yang ajaib mengingat dirinya yang cuek dan santai. Di balik sikap santai itu, pemikirannya selalu cemerlang dan mengejutkan. Hingga akhirnya, dia kembali ke tanah Papua untuk mengabdi di tanah kelahirannya.

Hari ini saya dan dia bertemu, setelah sekian tahun berpisah. Dia bercerita banyak hal, mulai dari perjalanannya ke Suku Asmat, keinginannya untuk menulis etnografi Papua, serta beberapa topik yang mkeren-keren, misalnya bagaimana persepsi warga Papua terhadap Kota Injil, radikalisme agama di sana, juga tentang bagaimana anatomi gerakan orang-orang yang ingin Papua segera merdeka. Ia bercerita tentang para profesor yang menawarkan diri untuk membimbingnya. Terakhir, dia bercerita dirinya akan lanjut studi di Australia. Demi studi itu, dia harus segera mengambil tes IELTS untuk melihat kemampuan berbahasa Inggrisnya.

Saya membayangkan, beberapa tahun mendatang, dia akan kembali ke Indonesia dengan wajah berbeda. Barangkali ia akan menjadi ilmuwan dan peneliti hebat yang tekun membaca kenyataan. Saya berharap dia akan menjadi jendela untuk tahu banyak hal tentang tanah Papua yang permai, tanah yang disebut penyanyi Edo Kondologit sebagai "kepingan surga yang jatuh ke bumi".

Pada Umar, kita bisa banyak berharap tentang generasi baru Papua yang tercerahkan. Namun, saya berharap ia tetap menjadi Umar seperti yang saya kenali. Umar yang penuh kisah menghibur, dan selalu tahu cara membuat sahabatnya bahagia. Umar yang pandai dan tidak sombong.


Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...