Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

THOMAS LEMBONG dan Nujuman Politik Indonesia


Tepat di tanggal 1 Januari 2024, Thomas Trikasih Lembong membagikan informasi mengenai buku-buku yang paling disukainya sepanjang tahun. Dia menyebut tiga buku, yakni Start with Why dari Simon Sinek, Atomic Habits dari James Lear, dan Factfulness dari Hans Rosling.

Buku-buku tersebut bukanlah buku baru bagi mereka yang suka membaca buku bisnis dan manajemen. Namun buku-buku itu penting bagi mereka yang ingin mendisiplinkan diri, bergerak serta setahap demi setahap mencapai kesuksesan.

Bukankah Thomas Lembong sudah lama menikmati kesuksesan, baik sebagai konsultan bisnis, hingga dua kali menjabat sebagai Menteri di era Jokowi? Apa gerangan yang dicarinya? 

Mari kita membahas pria ini.

*** 

Di podcast Prof Rhenald Kasali dia berbicara banyak. Kalimatnya terbata-bata. Datar dan tanpa intonasi. Diksinya terlihat terbatas. Dia terlihat lebih fasih berbahasa asing, ketimbang bahasa Indonesia. 

Biarpun bukan pendukung Anies, saya senang mengamati berbagai wawancara Thomas Lembong. Saya lihat, dia lebih menarik ketimbang capresnya Anies Baswedan. Thomas selalu genuine, fokus pada substansi dan argumentasi. Terlihat jelas kalau dia rajin membaca dan kaya dengan wacana.

Tom, lelaki asal Manado yang lahir pada 4 Maret 1971, kini wara-wiri di dunia politik. Dulu, dia seorang profesional yang menikmati kerja sebagai konsultan bisnis di luar negeri. Kini, dia menemani Anies ke mana-mana.

Di beberapa wawancara, dia kerap mengeluarkan nujuman politik. Sebagai investor dan trader, dia terbiasa mengambil risiko di pasar saham. Terkait keputusannya untuk bergabung dengan Anies, dia menjelaskannya dari sisi seorang investment maker. 

"Justru karena menurut perhitungan saya kans untuk menang Anies-Muhaimin terbuka lebar bahkan sangat baik. Bahkan saya suka bilang ini investasi yang paling menarik yang pernah saya buat dalam karir saya sebagai investment maker," ujarnya.

Hubungannya dengan Anies terbilang panjang. Bukan hanya sebatas sesama alumni Amerika, namun keduanya adalah profesional yang pernah mendukung Jokowi dan menjadi menteri. 


Ketika Anies menjadi Gubernur DKI, Tom dipercaya menjadi Komisaris Utama di beberapa perusahaan milik pemda. Tak hanya itu, Tom juga menjadi jembatan bagi Anies untuk melobi ke sejumlah lembaga internasional.

Semasa menjadi Gubernur, Anies sempat mengunjungi sejumlah bankir dan lembaga finansial – seperti European Investment Bank (EIB) yang merupakan lembaga pinjaman dari Uni Eropa (UE).

Demikian pula saat Anies berkunjung ke Eropa. Dia bertemu dengan berbagai unsur masyarakat – mulai dari akademisi (University of Oxford dan King’s College, London), pemerintahan (Mendag Internasional Inggris Anne-Marie Trevelyan dan Wali Kota Berlin Franziska Giffey), media (BloombergNEF), dan ekonom (EIB). Semua atas lobi Tom Lembong.

Pria alumnus Harvard ini bukanlah kaleng-kaleng. Ia meraih gelar sarjananya di Universitas Harvard pada 1994 dengan gelar Bachelor of Arts di bidang arsitektur dan tata kelola.

Setelah lulus, ia bekerja di Divisi Ekuitas Morgan Stanley di New York dan Singapura pada 1995. Ia kemudian menjadi bankir investasi di Deutsche Securities Indonesia pada 1999-2000.

Jejak kariernya mentereng. Tom bekerja di Deutsche Bank di Jakarta periode 1998-1999. Tugasnya, mengerjakan rekapitalisasi dan merger Bank Bumi Daya, Bank Eksim, Bank Dagang Negara dan Bank Bapindo menjadi Bank Mandiri.

Ia pun sempat menjadi Senior Vice President dan Kepala Divisi penanggung jawab restrukturisasi dan penyelesaian kewajiban Salim Group kepada negara akibat Bank BCA runtuh pada krisis moneter 1998.

Hingga akhirnya dia dua kali menjadi menteri di kabinet yang dipimpin Presiden Jokowi. Dia juga menjadi penulis pidato Jokowi. Salah satu pidato terbaik Jokowi disampaikan saat acara WTO di Bali, di mana Jokowi mengutip Game of Thorne. Itu buatan Tom Lembong.

Dia juga cukup tajir. Dalam laporan yang disetornya ke negara, kekayaan terbesarnya bukanlah aset rumah, bangunan, dan emas. Kekayaan terbesarnya adalah surat-surat berharga senilai 94,5 miliar rupiah. Total kekayaannya adalah Rp 101,5 miliar.

Kehadiran Tom Lembong adalah oase baru di dunia perpolitikan Indonesia. Politik kita banyak dipenuhi figur inkompeten yang mencari nafkah di jalur politik. Banyak tim sukses atau lingkar inti calon presiden adalah mereka yang berharap jadi Menteri, komisaris, atau proyek-proyek jika calonnya terpilih. 

Dia sepertinya jauh dari hasrat tersebut. Dia sudah melampaui semua yang diincar oleh para pencari cuan di sekitar calon presiden. Dia sudah selesai dengan dirinya.

Bisa dibilang dia amat cerdas. Dia alumnus Harvard University, yang alumninya di Indonesia tidak banyak, namun di dunia internasional, banyak memegang posisi kunci. Dia punya jejaring internasional yang baik. Dia bisa mengetuk berbagai lembaga dan organisasi internasional. 

Sebagai investor, dia paham dengan semua risiko yang diambilnya. Jika kalah, dia bisa kehilangan segalanya. Apalagi, dunia politik kita tidak seperti dunia bisnis, yang bisa dibaca pola dan arahnya ke mana. Politik kita, sebagaimana ditulis Philip Philpott adalah kuburan bagi banyak analis karena banyak hal yang cepat berubah.

BACA: Buku yang Saya Sukai di Tahun 2023


Dalam pembicaraan di podcast Prof Rhenald Kasali, dia mengakui kalau urusan rezeki dan dunia, dia sudah lebih dari cukup. Dengan mendukung Anies, dia mengaku sedang berinvestasi untuk Indonesia yang lebih baik di masa mendatang. Dia ingin memberi secuil perubahan demi bangsa dan negara.Dia meneukan alasan kuat untuk bergerak.

Saya ingat buku Start With Why dari Simon Sinek yang dibaca Tom Lembong. Kata Sinek, orang sukses adalah mereka yang menemukan spirit kuat dan motivasi dalam melakukan sesuatu. Mereka menemukan WHY, lalu menerabas semua belukar permasalahan, demi menggapai apa yang diidamkan. Mereka tidak cuma dipandu rasio, tapi juga hasrat kuat untuk bergerak.

Di mata saya, Tom Lembong terlalu lurus untuk masuk dunia politik. Dunia politik kita penuh intrik dan sukar ditebak. Politik kita penuh dengan permainan, yang hasil akhirnya sulit ditafsir. 

Tom memang cerdas dalam mengurai ekonomi, namun argumentasinya yang hebat-hebat bisa sirna serentak saat berhadapan dengan sosiologi masyarakat kita yang lebih menghargai pembagian bansos ketimbang ide-ide.

Di titik ini dia berhadapan dengan real politics, di mana argumentasi harus diturunkan menjadi strategi kemenangan yang bisa menjadi amunisi bagi semua relawan untuk bergerak.

Yang pasti, Tom Lembong selalu meninggalkan jejak basah di politik kita. Dia anak bangsa, profesional dengan jejaring internasional yang kembali untuk bangsanya. Dia ibarat burung yang kembali ke sarang. Kita bangga dengannya.



Kelas Menulis



Semalam, di ajang pelatihan menulis, saya kembali menemukan hal yang sama. Para peserta sudah jago menulis. Semua sudah pernah menghasilkan karya, mulai dari postingan, artikel, buku, bahkan karya ilmiah.

Mengapa mereka perlu belajar menulis? Sebab mereka kehilangan percaya diri. Mereka takut dikomentari. Takut dihina. Takut karyanya dibilang jelek. Setiap komentar negative bisa menurunkan hasrat menulis.

Saya teringat Natalie Goldberg, seorang guru yang mengajarkan teknik menulis bebas yang tinggal di New Mexico, Amerika Serikat (AS).

Natalie tak menawarkan satu rumusan baku tentang kiat menulis, baik menyangkut cara, gaya, teknik, format ataupun style. Bagi Natalie, menulis adalah upaya untuk melepaskan gagasan-gagasan yang bersarang dalam benak kita, upaya untuk mengalirkan diri kita, ide-ide yang berkelebat dalam pikiran, lalu dituangkan melalui medium tulisan.

Semua individu memiliki keunikan. Semua individu pasti memiliki cara pandang atau opini yang berbeda atas sesuatu. Dengan cara menuliskan sesuatu secara bebas, maka setiap orang memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat serta apa yang dirasakannya. Menulis hanyalah jembatan untuk membantu seseorang untuk mengekspresikan diri.



Nah, kebanyakan kita adalah selalu takut untuk memulai sebuah tulisan. Ada di antara kita  yang takut dikira bodoh, takut dikira tolol, ataupun takut dianggap tidak berpengalaman. Di saat bersamaan, seringkali kita merasa diri kita hebat, pintar, sehingga seakan-akan kita telah memiliki satu standar tersendiri di dunia kepenulisan.

Kata Natalie, semua sikap-sikap itu adalah sebuah penjara bagi siapapun yang hendak menulis. Seseorang yang hendak menulis harus berani menyingkirkan semua perasaan itu. 

Menulis harus dilihat sebagai upaya untuk mengalirkan sesuatu yang sedang dipikirkan. Menulis adalah upaya untuk bercerita atau menyampaikan sesuatu, tanpa harus terpenjara oleh keinginan untuk dipuji, atau ketakutan kalau-kalau orang akan menganggap bodoh.

Makanya, kita tak butuh banyak buku untuk menemukan cara menulis. Sebab yang paling penting adalah keberanian untuk melepaskan apa yang ada di pikiran kita secara bebas, tanpa harus terikat pada banyak konvensi atau aturan kepenulisan. Aturan-aturan dalam kepenulisan dan berbahasa hanya akan menjadi pemjara yang membuat kita tak akan pernah bisa menulis.

Lupakan semua aturan. Labrak semua konvensi tentang cara menulis. Kemudian mulailah menulis secara bebas. Tak usah peduli apa kata orang. Toh, kita menulis untuk diri kita sendiri yang didasari niat tulus untuk berbagi.

Kalaupun ada yang mengatakan tulisan kita jelek, maka yakinlah kalau si penghina itu bukan seorang penulis. Sebab para penulis akan menyadari betul bahwa melahirkan tulisan bukan sesuatu yang mudah. 

Para penulis akan paham betul bahwa menulis membutuhkan nyali dan keberanian. Sehingga apresiasi akan terus diberikan kepada mereka yang memiliki keberanian untuk menuangkan gagasan, seperti apapun gagasan itu, bukan malah menjatuhkannya.

Saya sering mengutip pelukis terkenal Van Gogh. Di masa hidupnya, ia melukis dan menjualnya ke mana-mana. Lukisan-lukisan karyanya tak pernah laku. 

Tapi ia tak pernah berhenti melukis hingga lukisannya disimpan di satu gudang. Beberapa tahun setelah ia meninggal, adiknya coba menjual satu lukisan. Ternyata malah laku jutaan dollar. Mulailah ia dikenal. Mulailah lukisannya diburu, sesuatu yang tak dinikmatinya saat masih hidup.

Boleh jadi, anda adalah Van Gogh. Pada hari ini, tulisan anda dianggap tidak baik. Namun, tak ada satupun yang bisa memastikan masa depan. Boleh jadi, tulisan anda adalah berlian yang tak ternilai harganya. 

Boleh jadi, apa yang anda tuliskan adalah emas yang tengah dinanti banyak orang. Makanya, jangan pernah berhenti menulis. Jangan pernah berhenti untuk membagikan keping demi keping inspirasi untuk dibaca banyak orang. Bukankah setiap tulisan menyimpan keunikan sendiri-sendiri?

Sebagaimana diajarkan dalam filosofi Zen, saat menulis, kosongkan pikiran kita. Lupakan berbagai teori menulis. Langsung gerakkan tangan untuk menulis baris-demi baris. 

Kita akan terkejut saat menyadari bahwa kita telah melahirkan lembar demi lembar. Kita telah mengalahkan satu musuh utama dalam menulis yakni halaman kosong. Kita sukses mengisinya dengan kata demi kata.

Natalie juga mengajarkan agar kita tak perlu meniru-niru gaya orang lain ketika menulis. Dengan meniru orang lain, maka kita terpenjara dengan cara seseorang menulis. Yang jauh lebih penting adalah menjadi diri sendiri dengan cara melepaskan ide itu secara bebas dan lepas, sehingga tulisan kita bisa mengalir.

Saya menikmati buku-buku yang ditulis Natalie. 

Saya akhirnya berkesimpulan bahwa praktik menulis adalah praktik meditasi. Menulis adalah upaya untuk menjadi diri sendiri, upaya menemukan keheningan lalu mengalirkan keheningan itu dalam kata demi kata. Menulis adalah upaya untuk menangkap makna, mengikatnya, lalu mengabadikannya.

Menulis adalah upaya untuk menjelmakan diri kita sebagai sungai jernih yang mengalir lepas, menghindari bebatuan dan karang yang menghadang, hingga akhirnya menemukan danau tenang untuk berdiam. 

Danau tenang itu adalah diri kita sendiri, sisi terdalam diri kita yang seringkali tak kita temukan.

“In writing, when you are truly on, 

there’s no writer, no pen, no thoughts. 

Only writing does writing –everything else is gone.” 


Buku yang Saya Sukai di Tahun 2023

Anna lagi di ruang baca 

TAHUN 2023 adalah tahun penuh tantangan. Ekonomi dunia sedang melambat. Perang berkecamuk di Eropa Timur dan Timur Tengah. Di layar kaca, hampir setiap hari kita melihat ada tragedi kemanusiaan. 

D tahun ini, saya mengalami banyak hal. Mulai dari kehilangan pekerjaan, hingga mendapat pekerjaan baru. Saya juga mengalami krisis finansial gegara transaksi online.

Apapun itu, membaca buku dan menonton film selalu menjadi oase yang efektif untuk keluar dari masalah seberat apapun. Tenggelam dalam lautan buku selalu menjadi tempat sembunyi yang paling bagus. Berenang dalam buku-buku bagus selalu jadi strategi healing paling pas.

Sepanjang tahun 2023, saya membaca banyak buku bagus. Saya membaca beragam tema, mulai sejarah, sosial, hingga buku-buku bertemakan bisnis. Saya menyelami pikiran para ilmuwan dan pengarang, mulai dari Martin Bossenbroek hingga Napoleon Hill. 

Entah kenapa, ada rasa lapar untuk membaca banyak hal baru. Semakin banyak membaca, rasanya semakin banyak ketidaktahuan. Semakin terbentur pada satu kenyataan betapa kita sebenarnya tidak tahu apa-apa.

Berikut daftar acak yang saya baca di tahun 2023.


Pembalasan Dendam Diponegoro (Martin Bossenbroek)

Buku ini masih hangat. Baru tiba dua hari lalu, Baru membaca satu bab, saya sudah jatuh cinta dengan isinya. Ini bukan sekadar sejarah. Gaya menulisnya lebih mirip novel. Kita hanyut mengikuti perjalanan seorang tokoh, dari zaman ke zaman.


Memang, buku-buku terbaik mengenai Diponegoro ditulis oleh Peter Carey. Namun buku yang ditulis sejarawan Belanda, Martin Bossenbroek ini, punya kekuatan. Martin menarik garis hubung antara Diponegoro dan tokoh-tokoh Indomesia modern, yakni Sukarno. 

Dia melihat sejarah tidak hitam putih. Dia tidak menghakimi masa lalu dengan cara pandang masa kini. Dia melihat sejarah sebagai lanskap di mana manusia mewarnainya dengan tindakan. Makanya, di buku ini, kita melihat pergulatan manusia. Kita membaca Pangeran Diponegoro versus Jenderal De Kock. Kita pun melihat jejaknya pada perseteruan antara Sukarno versus Van Mook.

Diponegoro kalah melawan De Kock. Tapi spiritnya tidak lantas hilang begitu saja. Spiritnya merasuki para founding father Indonesia, Sukarno, yang menang banyak saat berhadapan dengan Van Mook, tokoh penting Belanda.

Satu lagi. Gaya menulisnya mengingatkan saya saat mengikuti kuliah Southasian Studies yang diasuh Prof William Frederick. Belajar sejarah yang efektif adalah dengan cara menyelami samudera pengalaman seorang individu, memahami struktur sosial, lalu membaca arah sejarah masa depan.


Yang Tak Kunjung Padam (Soe Tjen Marching)

Siapkan tisu saat membaca buku ini. Isinya benar-benar membuat sedih. Ini kisah tentang mereka yang terbuang, mereka yang dihilangkan haknya sebagai warga negara, mereka yang tak bisa pulang.

Di akhir masa Bung Karno, ada ratusan, bahkan ribuan anak bangsa yang dikirim ke luar negeri. Pemerintah Indonesia mengirim mereka ke kampus-kampus besar di Eropa Timur. Mereka belajar keahlian yang spesifik, mulai kedokteran hingga nuklir. Juga bom atom.


Mereka yang dikirim ke luar negeri itu, sejatinya mengemban misi besar untuk Indonesia yang kuat dan perkasa. Apa daya, peristiwa 65 mengubah segalanya. Mereka yang dikirim itu langsung dicabut paspornya. Mereka tak bisa kembali pulang, meskipun sekadar menyentuh kaki ibunya.

Mereka tak paham apa itu komunis. Tapi label terlanjur dilekatkan pada mereka. Mereka menjadi korban dari kebijakan negara, yang justru meminggirkan rakyatnya sendiri.

Buku ini membuka lapis-lapis makna tentang mereka yang terbuang di negara lain. Mereka sering disebut eksil, meskipun definisi ini bisa diperdebatkan. Mereka yang terbuang itu adalah anak-anak bangsa terbaik.

Buku ini memotret sisi human interest dari mereka yang terbuang. Ada yang berhasil kembali, setelah sekian puluh tahun, namun Tanah Air tidak seramah yang mereka bayangkan. Banyak yang menerima stigma, dan kemudian memutuskan kembali ke Eropa.


Show Your Work (Austin Kleon)

Tahun ini saya membaca tiga buku dari Austin Kleon. Ketiganya adalah Steal Like An Artistm, Show Your Work, dan Keep Going. Saya menyukai ketiganya, namun jika diminta pilih satu, maka saya memilih Show Your Work.



Isinya gue banget. Austin Kleon ingin pekerja seni tetap pede dengan karyanya. Menurutnya, ceritakan pada orang tentang apa yang sedang Anda kerjakan. Terus berpikir positif dan bagikan proses kreatif Anda. Pada satu titik, orang akan mengenali Anda melalui karya-karya itu, sehingga membuka banyak peta jalan bagi kehidupan Anda.

Kata Austin, yang bukunya selalu menjadi New York Times Bestseller, tak perlu menjadi jenius untuk berkarya. Jadilah seorang amatir yang terus belajar hal baru. Jadilah diri sendiri untuk terus produktif. Abaika suara-suara sumbang. Temukan komunitas yang saling mendukung untuk sama-sama berkembang. 

Pendapat Austin bukanlah hal baru. Saya menemukan motivasi serupa saat membaca buku Writing Down the Bone yang ditulis Nathalie Goldberg, juga buku Big Magic dari Elizabeth Gilbert. Namun, tetap saja ada nutrisi baru yang menaikkan adrenalin saat membaca buku serupa.


Zaman Bergerak (Takashi Shiraishi)

Saat melihat buku Zaman Bergerak, karya sejarawan Jepang Takashi Shiraishi (terjemahan Hilmar Farid), diterbitkan ulang oleh Marjin Kiri, saya sangat gembira. Beberapa tahun lalu, saya membeli edisi bajakan, yang kualitasnya pas-pasan. Saya malah masih punya edisi bajakan. Pernah saya membaca edisi aslinya An Age of Motion yang diterbitkan Cornell.


Ini adalah satu buku sejarah paling menarik yang pernah saya baca. Gaya menulisnya serupa membaca Bumi Manusia karangan Pramoedya. Yang dibahas adalah situasi jelang kebangkitan nasional, saat ide-ide saling bertarung dan menjadi tanding dari kolonialisme.

Generasi kita hari ini hanya mengenal nama-nama seperti Sukarno, Hatta, Tan Malaka, juga Sjahrir. Padahal generasi Sukarno ibarat striker yang menjebol gawang, setelah sebelumnya bola digiring oleh para libero dari generasi sebelumnya. 

Di antara mereka adalah Kartini, Tjipto, Tirto, Hadji Misbach, Semaun, Suwardi Suryaningrat, Mas Marco, dan banyak lagi. Tanpa sintesis gagasan mereka, tak akan muncul konsep-konsep kebangsaan yang justru melampaui zamannya.

Mereka tidak bertarung di medan laga. Mereka berdebat di medan gagasan-gagasan. Betapa serunya menyimak artikel Tirtoadhiseorjo di Medan Prijaji, Mas Marco menulis di koran Dunia Bergerak, Tjokroaminoto di Oetoesan Hindia, Semaoen di Sinar Djawa, Misbach menulis di Medan Moeslimin dan Islam Bergerak, hingga Soewardi Soerjaningrat menulis di harian De Express.

Sungguh menyedihkan karena hari ini, mereka semua terabaikan. Beberapa dari mereka diberi stigma sebagai komunis yang tak perlu dikenang sejarah. Mereka dianggap tidak penting dan hanya dianggap sebagai catatan kaki dari sejarah pergerakan kebangsaan kita.

Padahal ada masa di mana tak ada kategori-kategori. Yang ada adalah dialektika gagasan dan adu wacana. Sebab kebangkitan berawal dari kesadaran akan posisi bangsa. Mengutip Takashi Shiraishi, “Dicerahkan kata-kata dan perbuatan mereka, rakyat melihat dunia dan bergerak.”


Unstoppable (Yuval Noah Harari)

Di tahun 2023, saya membaca buku Unstoppable Us: How Humans Took Over the World yang ditulis tahun 2022. Buku ini ditujukan untuk kanak-kanak, makanya dikemas menarik. Ada ilustrasi komik dan gambar-gambar untuk melengkapi narasi yang dituturkan dengan ringan.


Buku ini menyederhanakan berbagai penjelasan tentang arkeologi, sejarah, dan geografi dalam bahasa yang mudah dipahami siapapun. Ide-ide dalam buku Sapiens, yang ditulis Harari, tidak lagi secara eksklusif untuk orang dewasa, tapi juga dipahami anak-anak.

Saya pikir anak-anak perlu mendapatkan bacaan ilmiah, tapi mudah dipahami. Kita tak bisa lagi menjawab pertanyaan anak-anak hanya dengan menunjuk langit. Sedari dini, anak-anak sudah harus diperkenalkan dengan penalaran serta fakta-fakta ekologis.

Di buku ini, dia membahas hal-hal yang agak berat, misalnya bagaimana cerita-cerita telah menyatukan manusia dan membuat manusia bisa bekerja secara kolektif. Dia juga membahas spesies manusia lain, sebelum akhirnya bumi hanya dikuasai oleh spesies manusia sekarang.

Saya menemukan sosok Harari dalam buku ini serupa kakek yang mendongeng pada cucunya mengenai alam semesta. Dia mengajukan pertanyaan yang kemudian menjadi kemudi untuk berlayar di lautan argumentasi.

Saya kutipkan pertanyaan di bab awal. Dia mengatakan: “Kita manusia tidaklah sekuat singa. Kita tidak bisa berenang selincah dolphin, kita tidak punya sayap seperti elang. Lantas, bagaimana kita bisa menjadi makhluk yang memimpin planet ini? Jawabannya ada pada kisah paling aneh yang akan kamu dengar. Yuk, kita ikuti ceritanya.”


Rasa Tanah Air (Fadly Rahman)

Sejarah tak selalu berisikan kisah-kisah orang besar, para raja, para bangsawan, juga kisah kepahlawanan. Sejarah juga berisi tentang mereka yang jadi warga biasa, tentang hal-hal biasa, tentang kebiasaan-kebiasaan unik, juga kisah-kisah di tepian. Di antaranya adalah kisah kuliner dari masa ke masa.


Saya senang membaca buku sejarah kuliner yang ditulis Fadly Rahman. Saya mengoleksi semua buku-bukunya yang selalu sukses bikin saya lapar akan hal2 baru. Kini, saya membaca buku ketiganya yang berjudul Rasa Tanah Air yang berkisah tentang bagaimana kuliner Indonesia menyebar ke manca-negara.

Buku ini bercerita bagaimana kuliner Indonesia menyebar hingga negeri-negeri yang jauh. Kuliner itu menyebar seiring dengan berdiasporanya bangsa Indonesia ke berbagai titik. Saya ingat liputan di media Singapura mengenai cendol, yang sempat diklaim Malaysia dan Singapura. Rupanya sejarahnya terpaut jauh di Jawa pada masa-masa kerajaan.

Di tangan sejarawan seperti Fadly, kuliner menjadi pintu masuk untuk mengenali sejarah, mehamai budaya manusia Indonesia, serta bagaimana kuliner itu menyebar ke banyak titik, namun tetap memiliki pertautan rasa dengan tanah air. 


Ras, Kelas, Bangsa (Andi Achdian)

Jika buku Zaman Bergerak memotret dinamika pergerakan di Solo, maka buku Ras, Kelas, Bangsa ini memotret kota Surabaya yang kosmopolit di abad ke-20. Kisahnya seru sebab semua ras berkontestasi menuju kemerdekaan di “Surabaya yang panas.”


Saya mengenal baik penulisnya, Andi Achdian, sebab dulu sama-sama belajar di kampus UI. Sejak dulu, dia sudah hebat. Saya tidak terkejut jika dia bisa menulis buku sebagus ini. 

Menurut saya, dia cukup berani mengangkat topik yang tidak mudah. Buku ini memotret bagaimana politik pergerakan antikolonial, baik yang moderat maupun radikal, kooperatif maupun nonkooperatif, mau tak mau harus berhadapan langsung dengan persoalan perbedaan dan ketimpangan rasial di koloni ini. 

Di masa itu, kaum pergerakan punya agenda pergerakan untuk melawan kaum kulit putih. Tapi di saat bersamaan, mereka juga harus memberi ruang bagi berbagai ras yang juga ikut bergolak melawan penjajah. Berbagai kelompok masyarakat dari kalangan bumiputra, Eropa, Indo-Eropa, Tionghoa, dan Arab turut ambil bagian dalam aktivitas politik antikolonial. 


Rework – Remote (Jason Fried & David Heinemeier Hansson)

Sejatinya ini terdiri atas dua buku. Pertama buku Remote, yang isinya pengalaman pengusaha start-up yang mempekerjakan karyawan dari jarak jauh. Kedua, Rework yang membuka pandangan tentang dunia bisnis.

Menurut saya, buku ini serupa “mercon yang diledakkan dalam kepala.” Isinya membuat saya mengubah banyak pandangan tentang dunia bisnis. Yang ditulis di sini adalah pengalaman dua penulisnya dalam mengembangkan bisnis hingga menjadi raksasa.

Buku ini mengajarkan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda. Saya jadi tahu, apa yang ada di teori-teori tidak selalu benar. Di antaranya adalah jangan terlalu banyak rencana dan rapat-rapat. Langsung kerjakan sesuatu, dan belajar sambil jalan. Ide orisinil hanya bagian kecil, namun terpenting adalah bagaimana mengeksekusinya.


Komik Dunia Sophie (Jostein Gaarder)

Lebih 20 tahun lalu, saya membaca kisah remaja bernama Sophie Amundsend belajar filsafat melalui surat-surat yang diterimanya dari seseorang. Kini, saat membaca lagi kisah Dunia Sophie dalam versi komik grafis, sensasinya masih sama.


Bagi saya Dunia Sophie, yang ditulis Jostein Gaarder, adalah buku yang membuka gerbang pengetahuan. Buku ini meluruskan banyak hal tentang filsafat. Buku ini menjadi awal dari membaca berbagai literatur filsafat yang ternyata ringan dan enak dibaca. 

Kekuatan Dunia Sophie adalah kemampuan untuk membumikan hal rumit menjadi sederhana dan bisa dinikmati semua kalangan. Tak perlu berkerut kening untuk membaca novel ini. Cukup punya hasrat ingin tau dan rasa penasaran ala membaca novel-novel detektif.

Sebab novel ini menjadikan kisah filsafat seerti himpunan teka-teki. Kita bertualang ke masa lalu, berusaha memahami semesta, lalu menceritakan ulang kepada semua orang. Kita bepergian ke rumah gagasan-gagasan, kemudian menyarikan ulang semua pengalaman berharga itu.


Meaningfull Storytelling (Yoris Sebastian & Umayanti Utami)

Ini buku kedua dari Yoris Sebastian yang saya koleksi. Sebelumnya, saya membaca bukunya yang berjudul Generasi Langgas. Buku Meaningful Storytelling ini harusnya dimiliki oleh para kreator konten, humas, juga semua praktisi digital.


Sejak zaman Adam, manusia memiliki kemampuan bercerita. Kata Harari, kemampuan ini memungkinkan manusia untuk bekerja sama dengan manusia lain dalam skala massif. Berbagai cerita telah menghubungkan manusia satu sama lain, membuat mereka bisa bekerja sama, serta melakukan berbagai proyek besar. Manusia membentuk peradaban berkat cerita.

Buku ini mengajak semua orang untuk membagikan cerita-cerita inspiratif, yang bisa dikemas dalam berbagai platform media. Yoris berharap buku ini memantik semangat orang Indonesia untuk berbagi ha baik, bukannya berbagi hoaks.

Dalam buku ini ada kisah dari Samuel Ray yang sedari dulu sering membagikan tips-tips bagi para pencari kerja, mulai dari followers yang sedikit hingga kini followers-nya sudah sangat banyak, semua ini karena sifat konsisten yang dia miliki. 

Buku ini juga menyajikan hal praktis, agar semua orang bisa merancang konten yang bermakna. Pelajaran penting yang saya dapatkan, semua orang bisa merancang meaningful storytelling-nya masing-masing, sehingga dunia akan lebih baik.


Think and Grow Rich (Napoleon Hill)

Dalam buku yang pertama terbit tahun 1937 ini, Napoleon Hill mewawancarai lebih 500 orang kaya, lalu merumuskan prinsip-prinsip dan hal-hal yang mereka anut dan yakini hingga bisa menggapai kekayaan.


Memang tidak semua orang kaya itu baik, tapi tidak semua juga jahat. Mereka tidak berbeda dengan kaum kebanyakan. Mereka tak ada bedanya dengan kaum miskin.

Bedanya, orang-orang kaya selalu memiliki keyakinan kuat untuk menggapai impiannya. Mereka punya hasrat, melihat masa depan yang hendak digapai, lalu merumuskan langkah-langkah utuk menggapainya. 

Mereka pemimpi besar yang punya keyakinan kuat, lalu menjadikan keyakinan itu sebagai alam bawah sadar, yang memberinya kekuatan untuk melihat celah dan peluang. 

Hill menyebutnya keyakinan ini sebagai autosugesti. 

Pada mulanya, seseorang membayangkan dirinya punya kekayaan tertentu. Seseorang itu lalu mencatat dan mengulang-ngulang keinginannya itu sehingga tersimpan di alam bawah sadar lalu menjadi hasrat.

Hasrat itu lalu menjadi dorongan kuat baginya untuk bergerak. Dia menjadi lebih peka dengan berbagai peluang, membangun jaringan dengan mereka yang berhasrat sama, hingga mencapai titik kekayaan.

Bagi Hill, rumus klasik yang menyatakan kekayaan adalah hasil dari kerja keras dan kejujuran adalah rumus yang keliru. Kalau sekadar mendapat uang, maka kejujuran dan kerja keras itu penting.  Tapi untuk menjadi kaya, maka butuh lebih dari itu. 

Kekayaan adalah hasil yang muncul dari keyakinan dan hasrat kuat, rencana-rencana yang dijalankan, serta membangun tim dengan master mind yang sama. Kekayaan adalah buah dari pikiran, tindakan, dan langkah-langkah terorganisir.

Buku yang menarik.

*** 

BUKU di atas hanya sebagian dari banyak koleksi buku yang saya baca di tahun 2023. Saat ini, saya lagi menuntaskan buku Dunia Hantu Digul yang ditulis Takashi Shiraishi. Ada juga buku Merdeka dari Harry Poeze, serta buku Dunia Revolusi. 

Saya juga membaca ulang serial Percy Jackson gara-gara serialnya tayang di Disney Hotstar. Membaca buku serupa menikmati kuliner. Setiap beberapa jam, Anda akan merasa lapar dan harus segera mengatasinya. Makanya, koleksi saya terus bertambah. Rumah saya penuh dengan buku.

Selamat datang tahun 2024. Semoga makin banyak buku bagus.


BACA JUGA:

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2022

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2021

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2020

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2019

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2018

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2017

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2016

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2015



ARSJAD RASJID Terlalu Lembut untuk Bertarung di Rimba Politik

 


Di bulan September, nama Arsjad Rasjid disebut sebagai Ketua TPN Ganjar. Saat itu, nama Ganjar meroket semua survei dan disebut-sebut akan memenangkan kontestasi pilpres. 

Kini, di akhir Desember, nama Ganjar tidak seterang dua bulan sebelumnya. Tak ada satupun lembaga survei yang menempatkannya di puncak. Strategi marketing politik apa yang dimainkan Arsjad dalam waktu yang tinggal 47 hari?

*** 

Suatu hari di bulan Oktober 2023. Di satu kampus di kawasan timur Indonesia, Arsjad datang untuk membawakan kuliah umum. Sejak mendarat di kota itu, dia mendadak diserbu banyak orang. Bukan hanya pengusaha, politisi dan akademisi antri untuk menemuinya.

Semua tahu kalau namanya setiap hari dibahas media massa. Arsjad akan memimpin tim besar untuk memenangkan Ganjar, yang saat itu memuncaki semua survei politik. Dia akan berada di barisan yang didukung Presiden Jokowi. 

Sebelah kakinya seolah sudah di ambang kemenangan. Dia akan ikut menemani presiden dalam menentukan siapa menteri, siapa kepala lembaga negara, hingga siapa saja yang akan menjadi komisaris perusahaan.

BACA: Kisah Bahlil, Dari Tomia, Banda, Hingga Papua


Arsjad menyatakan bersedia setelah mendapat restu dari dua sosok yang dikaguminya, yakni Megawati dan Jokowi. Megawati melihat Arsjad seperti anak kandung, sebab Arsjad berasal dari Palembang, sekampung dengan Taufik Kiemas, suami Mega.

Sedangkan Jokowi juga dianggap meng-anakemas-kan Arsjad, sejak merestuinya untuk memimpin Kadin, organisasinya para pengusaha papan atas negeri ini. Di banyak kegiatan, Arsjad sering mendampingi Jokowi, khususnya di acara yang menghadirkan banyak pengusaha.

Di awal-awal, Arsjad mengumumkan rencana-rencananya. Dia ingin menjadikan politik sebagai arena yang riang gembira. Dia ingin mengelola politik sebagaimana seorang CEO mengelola perusahaan. Dia ingin menerapkan marketing politik yang fokus pada ide-ide dan gagasan.

Semua kalangan melihat Arsjad sosok yang tepat. Dia paham interaksi kaum milenial di platform digital. Apalagi, pilpres mendatang akan didominasi generasi digital savvy. Generasi ini sering disebut milenial dan Gen Z. Mereka meramaikan wacana, menentukan arah baru di dunia kerja, serta mengubah lanskap komunikasi di abad ini.

Arsjad adalah idola bagi pebisnis yang ingin tumbuh besar. Dia seorang CEO handal, serupa Raja Midas yang semua sentuhannya bisa menjadi emas. Dia sukses di bisnis media, tambang, hingga motor listrik. Dia juga dekat dengan kalangan milenial. Setiap hari dia tampil di media sosial, membagikan hal baik, dan menebar inspirasi. Dia sosok yang suka berbagi ilmu.

Kini setelah tiga bulan berlalu, politik tidak berjalan seperti yang dikehendaki Arsjad. Dia bertubi-tubi menghadapi realitas politik, yang jauh dari apa yang dibayangkannya. Politik kita jauh lebih kompleks dari bisnis. Politik kita tidak sesederhana seorang pebisnis mengejar cuan.

Dia menghadapi beberapa tantangan besar:

Pertama, berubahnya haluan Presiden Jokowi. Arsjad yang menerima posisi Ketua TPN karena meyakini ada Jokowi terpaksa harus memutar kemudi tim untuk menghadapi gelombang yang lebih besar. Jika sebelumnya perahu yang dikemudikannya mulus untuk mencapai tujuan, kini harus siap menghadapi turbulensi.

Dia harus menjadi pemimpin di tengah krisis. Tak perlu menunggu angin dari Jokowi untuk membawa kapal melaju, melainkan harus tetap berlayar dengan mengandalkan dengan angin yang tak sekencang sebelumnya.

Positioning, yang tadinya hendak melanjutkan program pemerintah, sontak berubah, sehingga berdampak pada hilangnya pemilih loyal. Jika berbagai survei benar, maka dalam waktu dua bulan, Ganjar kehilangan banyak pemilih yang hijrah ke kubu sebelah.

Padahal, Arsjad figur yang tak suka konflik. Dia menghormati Megawati, sebagaimana dia juga menghormati Jokowi. Apa daya, dia tak bisa memilih. Dia terlanjur megawal Mega dan harus siap di kubu yang berbeda dengan Jokowi.

Kedua, kewenangan yang dimilikinya sangat terbatas. Di dunia politik, dia tak akan pernah menjadi CEO yang efektif. Mengapa? Sebab CEO sesungguhnya adalah pemilik partai, serta politisi-politisi yang butuh tampil di media jika ingin kembali terpilih masuk Senayan. 

Kekuasaannya tak sebesar kuasa milik sekjen partai merah yang leluasa menyerang pemerintah, tanpa peduli irama permainan yang dikehendaki Arsjad. 

Politik yang dibayangkannya sebagai arena riang gembira, menjadi arena yang penuh semburan kata. Semua orang melampiaskan kesal, tanpa menimbang pola-pola marketing yang sedang dibangun. 

Dalam bisnis, keputusan suka pada produk bisa melalui proses trial and error. Setelah beli dan suka, maka seseorang bisa merekomendasikan. Jika tak suka, maka seseorang tidak akan membeli lagi. Tak ada repeat order.

Dalam politik, tak ada trial and error. Jika Anda salah memilih, maka kesalahan itu hanya bisa diperbaiki lima tahun mendatang. Dalam momentum yang sangat terbatas, kerja-kerja marketing menjadi sangat penting untuk memberi pencerahan kepada publik tentang siapa yang dipilih.

Ketiga, Arsjad mengedepankan kelembutan di arena politik. Padahal arena ini dipenuhi mereka yang pandai bersiasat dan sesekali berkelahi untuk merebut kemenangan. Dia memilih merangkul, dan perlahan memperkenalkan Ganjar ke khalayak lebih luas.

BACA: Permainan Deseptif di Balik Gibran


Pendekatannya lebih ke arah soft selling, yang fokus pada menjalin relasi, kemudian perlahan mengajak orang lain masuk ke ruang politik. Namun, pendekatan ini akan efektif jika sedang berada di atas angin. Saat di posisi underdog, harus diimbangi dengan kengototan, serta keberanian untuk memasuki arena tempur.

Pendekatan soft selling sering tidak bisa efektif jika berhadapan dengan kebutuhan mendesak. Pendekatan ini sering tidak bisa langsung dipahami konsumen sebab membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk memanam kebaikan, juga pengetahuan, hingga perlahan akan dicintai konsumen atau khalayak.

Di sisi lain, pendekatan soft selling sering kalah dalam kompetisi sebab tidak secara langsung menampilkan keunggulan produk. Dalam kompetisi elektoral yang ketat, mau tak mau, tim sukses harus jualan hard selling. Differensiasi harus dibangun, agar suara menebal di satu pihak.

***

Tanggal 27 Desember 2023, lembaga CSIS mengumumkan hasil surveinya. Dalam rentang pilpres tinggal 47 hari lagi, Ganjar berada di posisi ketiga dengan angka 19 persen. Di atasbta ada Prabowo dengan 43,7 persen, dan Anies 26,1 persen. Jika survei ini dianggap kredibel, Ganjar perlahan ditinggalkan.

Angka ini hanyalah representasi dari satu keping kenyataan. Realitas terus bergerak. Namun Arsjad dan tim sudah seyogyanya memainkan strategi yang lebih intens. Dia harus memainkan perang kota untuk merebut wilayah yang selama ini menjadi basis. Dia mesti menurunkan tim kerja yang lebih massif untuk merebut basis lawan, dan mengamankannya.

Dia harus memperlebar kemenangan di Jateng, merebut Jabar, Jatim, juga Jakarta. Melihat suara yang kian tergerus, dia perlu memiliki kendali yang lebih kuat. Di sisi lain, dia tak berdaya melihat elite politik sibuk memperburuk situasi, melalui komentar yang tidak bermutu.

Dia harus punya banyak skenario demi memenangkan Ganjar. Sekali lagi, politik tidak sama dengan bisnis. Dia terlalu baik untuk bertarung dalam arena politik. Jika semua rencana tak berjalan, dia mesti menunggu lima tahun untuk menerapkan apa yang dipelajarinya di pilpres kali ini.

Sebagai anak bangsa terbaik, dia pantas duduk di posisi yang lebih penting. Dia pantas memimpin bangsa ini demi melalui samudera dan gelombang tantangan yang kian bertubi. 

Semoga dia seperti ras Saiyan dalam kisah Dragon Ball, yang semakin terluka akan semakin perkasa. Semoga dia semakin belajar, semakin sempurna. Kita menunggu Arsjad for Indonesia 2029.


Gampang Cuan


Ini film komedi. Tapi yang saya dapatkan bukan sekadar ketawa ngakak sampai perut sakit. Tapi saya juga belajar banyak hal, khususnya literasi keuangan. 

Film ini mengangkat hal-hal seperti utang, saham, reksadana, dengan cara-cara yang sangat menghibur. Keluar dari bioskop, tiba-tiba saja disergap hasrat ingin kaya melalui pasar saham.

Kisahnya tentang dua kakak beradik yang terjebak utang. Rumah di kampung disita bank. Adiknya datang dan ngotot ingin kuliah di kampus mahal. Mereka harus putar otak untuk mencari uang banyak dalam waktu singkat.

Singkat cerita, mereka lalu ikut dalam pasar saham. Mulanya belajar pada seorang playboy yang naksir si adik. Dalam keadaan kepepet, mereka mesti paham istilah-istilah dalam dunia saham.

Saya sudah lama tidak nonton komedi Indonesia yang seru, dan mencerahkan. Namun komedinya akan sangat terasa jika Anda paham bahasa Sunda. Sebab 80 persen dialog dalam film ini menggunakan bahasa Sunda. Untungnya, saya nonton di Bogor, di mana semua penonton tak henti tertawa ngakak.

Hal yang terasa aneh adalah film ini menggambarkan proses jual beli saham seperti Aladin mengusap lampu wasiat. Seolah-olah, Anda memasukkan uang, dan dalam waktu singkat, langsung cuan ratusan juta.

Yang saya alami, prosesnya tidak sesederhana itu Mesti rajin update informasi, mesti belajar analisis teknikal, dan banyak lagi. Juga siap jatuh bangun. Gak selalu bisa cuan. Beberapa bulan lalu, saya pernah boncos hingga tiga digit. Rasanya gak enak bahas pengalaman itu.

Tapi sebagai hiburan, film ini sukses menghibur. Saya suka bagian ending film, yang menjelaskan bedanya saham, investasi, trader, deposito, reksadana, obligasi, dan sukuk. Hal-hal yang rumit, tapi dibuat sederhana dengan analogi peternakan ayam.

Keren.


Peradaban Rambut


Di sela-sela melakukan perjalanan, saya membaca buku berjudul Peradaban Rambut Nusantara, yang ditulis Oky Andries dan Fatsi Anzani. Ini salah satu buku menarik yang saya baca dalam sebulan ini. 

Yang dibahas adalah hal unik mengenai sejarah. Bukan sejarah-sejarah heroik dari para bangsawan, pahlawan, jagoan, atau mereka yang bertarung di medan laga. Rasanya jenuh dan bosan juga membahas orang-orang besar ataupun merasa besar di kanvas sejarah.

Buku ini membahas hal remeh-temeh mengenai rambut. Spektrum pembahasannya cukup luas. Mulai dari bagaimana relief Mesir Kuno yang menggambarkan bangsawan sedang dicukur, kemudian relief di Candi Borobudur yang menampilkan kegiatan memotong rambut. Ada juga dibahas bagaimana rambut dalam peradaban Cina, Romawi, hingga Yunani.

Buku ini memberi wawasan baru buat saya. Bahwa memotong rambut adalah aktivitas yang sudah ada sejak manusia mulai wara-wiri di muka bumi. Jauh sebelum era Mesir kuno, rambut sudah menjadi lifestyle, identitas, juga menggambarkan kelas sosial. 

Di buku ini, saya menemukan catatan sejarawan Anthony Reid mengenai Arung Palakka yang membuat upacara pemotongan rambut di Gunung Cempalagi, Bone, saat kemenangannya atas Makassar di tahun 1972. 

Rambut menjadi simbol kesucian dan kekuatan. Di era perdagangan (age of commerce), para lelaki dan perempuan didorong untuk menumbuhkan rambut selebat mungkin.

Selain Arung Palakka, Pangeran Diponegoro juga bernazar akan menggunduli rambutnya jika menang dalam pertempuran.  Bahkan Pakubuwono I juga membuat ikrar serupa.

Para pejuang kemerdekaan juga membuat nazar terkait rambut. Di antaranya adalah Bung Tomo yang tidak akan mencukur rambut sebelum Indonesia merdeka.

Saya jadi paham kenapa Aji, kawan saya di Pare-Pare, menggunduli rambutnya seusai PSM Makassar juara. Rupanya itu tradisi kuno yang masih bertahan di era jaman now.

Bagian favorit saya di buku ini adalah kisah mereka yang mencukur para Presiden Indonesia. Mulai dari Yusuf Soebari yang selama puluhan tahun jadi tukang cukur Presiden Gus Dur. Juga kisah Agus Wahidin, pria asal Garut yang disebut sebagai satu-satunya orang yang berani memegang dan memutar kepala Presiden SBY. 

Ada juga pria bernama Herman, lagi-lagi asal Garut, yang rutin mencukur Presiden Jokowi. Orang-orang ini sering diabaikan sejarah, tetapi merekalah yang berani meletakkan pisau di leher presiden. Hanya mereka yang berani memiring-miringkan kepala Presiden Indonesia, di saat yang lain hanya bisa nyinyir dari kejauhan. Hebat kan?

Ini buku yang cukup menarik. Setelah ini saya ingin membaca dua buku lainnya. Satu mengenai sejarah para pembuat roti di Batavia, juga tentang bagaimana peradaban seks di Nusantara. 

Hmm. Sepertinya saya tertarik membaca buku kedua. Seru.


Nene Mallomo


Kawan itu menyambut dengan sumringah. Di Pangkajene, Sidrap, dia mengajak saya ke satu resto paling enak. Tak jauh dari situ, ada plang tertulis Selamat Datang di Bumi Nene Mallomo. 

Siapa Nene Mallomo? “Dia orang bijaksana. Dia cendekiawan masa lalu,” kata kawan saya. Di kalangan Bugis, kata nenek berlaku untuk semua gender. Ada istilah nenek laki2, dan ada nenek prempuan. Tak ada kakek.

Saya terdiam dan merenung. Di banyak tempat, sosok masa silam yang jadi ikon di masa kini adalah para petarung, para pahlawan, para jagoan, ataupun mereka yang bertarung di medan laga. Yang dicatat sejarah adalah para raja yang kadang berkuasa dengan buas, lalu mengakuisisi wilayah sekitarnya.

Tapi di Sidrap, sosok masa silam yang dikenang itu adalah seorang cendekiawan, yang melahirkan banyak petuah, nasihat, juga pesan-pesan kehidupan. Dia serupa Lao Tze di China, juga sosok Socrates di kebudayaan Yunani.

Kata kawan, Nene Mallomo adalah sosok legendaris yang pernah hidup di abad ke-17. Dia seorang ahli hukum yang dahulu menjadi penasihat raja dan datu. 

Dahulu, hampir semua kerajaan di tanah Bugis memiliki cendekiawan yang membimbing masyarakat. Ada lima cendekiawan yang terkenal. Mereka adalah Kajao Laliddo (Bone), Nene’ Mallomo (Sidrap), Arung Bila (Soppeng), La Megguk (Luwu), dan Puang ri Maggalatung (Wajo).

“Mereka bertemu dan berdiskusi, serta tukar pengalaman yang menambah wawasan baru. Dari sekian banyak pertemuan, yang dikenang orang adalah pertemuan di Cenrana,” kata kawan.

Di pertemuan itu, Nene’ Mallomo kemudian melahirkan buah pikirannya yang disepakati oleh para cendekiawan yang hadir. Buah pikirannya berupa sebuah prinsip yang harus dijalankan oleh aparat kerajaan dalam mewujudkan masyarakat yang taat hukum. 

Prinsip tersebut dikenal dengan ungkapan “Naia Adek Temmakkeana Temmakkeappo” (hukum tidak mengenal anak cucu). Hukum itu berlaku adil untuk semua. 

Siapapun yang bersalah harus diproses di pengadilan. Dia memperkenalkan prinsip kesetaraan, yang lebih awal dari semboyan Revolusi Perancis; liberte, egalite, dan fraternite.

Para cendekiawan melahirkan pedoman dan tata nilai, yang di Bugis disebut sebagai pangadereng, yang menurut budayawan Mattulada adalah keseluruhan norma, meliputi bagaimana bertingkah laku terhadap sesama manusia.

Salah satu ajaran Nene Mallomo, yang kemudian jadi semboyan Pemerintah Sulsel adalah “Resopa Temmangingngi Malomo Naletei Pammase Dewata.” Hanya dengan kerja keras, rahmat Dewa akan turun dari langit.” Inilah prinsip, yang disebut Marx sebagai kerja, di mana semua orang menafsir dan membentuk dunianya.

Mungkin semua semboyan ini perlu dilihat secara kritis. Bisa jadi, di masa silam, semua nilai ini dikonstruksi kelas berkuasa untuk mengendalikan kelas paling bawah. Nampaknya, Nene Mallomo mewakili keresahan cendekia melihat prilaku kelas berkuasa. 

Kata kawan saya, beberapa kalimat dari Nene Mallomo lahir untuk menghardik kelas berkuasa. Dia adalah orang istana, yang mengeluarkan kalimat-kalimat untuk membela orang luar istana. Melalaui prinsip itu, dia mendambakan masyarakat yang teratur, harmonis, dan saing menjaga.

Saya sedang memikirkan kalimat dari Nene Mallomo, saat seorang politisi masuk kafe dan menyapa. Dia bercerita tentang mimpi-mimpinya untuk menang pilkada. Dia sudah menyiapkan sekarung uang untuk serangan fajar. Dia pun siap menyingkirkan semua lawan politiknya. “Kalau mereka macam-macam, saya akan gergaji,”katanya.

Yah, Nene Malomo telah lama berpulang. Ajarannya pun menjadi kisah yang dituturkan saat senja memeluk malam.

.

.

PS: Ini bukan foto Nene Mallomo, tapi foto saat berjumpa dua pemuda Rappang


Relawan Digital


Pemilu sudah dekat. Semua politisi sedang berebut pengaruh. Semua ingin melalui tahapan marketing politik, yakni diketahui, dikenal, disukai, didukung, dan dipilih. 

Di Sidrap, seorang caleg meminta saya untuk membawa materi tentang relawan digital di hadapan tim suksesnya. Tadinya pengen nolak, tetapi rasanya tidak enak hati. Sebab sebelumnya saya ditraktir kuliner nasu palekko, bebek olahan yang nikmatnya luar biasa.

Caleg dan relawannya itu hendak merambah ke ranah digital. Namun, tak semuanya paham kalau di dunia itu tak ada sesuatu yang instan. Di ranah digital, Anda mesti setia dengan proses. Tidak mungkin langsung populer dalam seketika.

Anda harus mulai dari memetakan siapa audiens, setelah itu memberi asupan konten, hingga akhirnya follower kian membesar. Di titik itu, Anda bisa membangun satu Digital Tribe, kata Seth Godin, di mana Anda menjadi gravitasi dari satu komunitas.

Saya lihat problem bagi mereka yang baru merambah di dunia digital adalah seringkali mengira dunia itu sama dengan dunia yang dijalaninya. Jika dia populer di dunia nyata, maka dikiranya hal yang sama berlaku di dunia digital.

Sering pula ada gap atau jarak antar generasi. Seorang senior yang masih boomer sering marah-marah saat berinteraksi di WA haya karena dipanggil Om. Padahal panggilan itu biasa saja. Di Kaskus hingga forum jual beli, panggilan Om sering digunakan.

Yang sering saya lihat ada anggapan kalau relawan digital adalah gratisan. Soal ini sering dikeluhkan para pelaku industri kreatif di berbagai daerah. 

Seorang kawan fotografer pernah bercerita betapa dirinya sering dipandang remeh oleh klien Profesinya dianggap hanya hobi, sehingga dirinya sering tidak dibayar. “Kan ko Cuma klik-klik saja. Masak harus dibayar?” kata seseorang kepadanya.

Tak semua caleg paham kalau bermain-main di medsos tidak selalu gratisan. Anda mesti punya strategi menjangkau jutaan audiens dengan mengoptimalkan berbagai strategi. Perlu pula membentuk satu tim yang profesional.

Tak sekadar menghimpun barisan anak muda. Namun ada beberapa profesi yang akan saling terhubung dan membentuk satu ekosistem. Mulai dari konten kreator, graphic designer, video editor, hingga digital marketeer.

“Apa ada di antara kalian yang punya pengalaman kelola akun di medsos?” tanyaku. Semua menggeleng.

Saya bayangkan betapa banyaknya pekerjaan rumah yang harus dikejar. Sebab semua butuh proses. Butuh kerja-kerja jangka panjang, tidak sekadar memanaskan mesin politik menjelang proses pemilihan.


Permainan Deseptif di Balik GIBRAN

Ilustrasi bocil takut debat


Biarpun saya bukan pendukung Gibran, saya cukup tertarik melihat bagaimana pola-pola komunikasi deseptif yang dimainkan untuk menyesatkan publik.  Tim konsultan di belakang Gibran menerapkan ajaran Sun Tzu: "Biarkan rencanamu menjadi gelap dan tidak dapat ditembus seperti malam, dan ketika kamu bergerak, jatuh seperti sambaran petir?”

Politik kita bukan cuma soal pasangan yang bertarung di depan panggung debat. Politik kita adalah sinergi dari banyak tim belakang layar yang menyiapkan strategi, merancang aksi, lalu menentukan pilihan-pilihan tindakan untuk mengalahkan lawan. 

Politik kita adalah soal bagaimana mengemas pesan, juga bagaimana membuat publik terkecoh dan terjebak dalam kebenaran yang diatur dalam satu pra-kondisi, lalu pada titik pamungkas, semuanya dijungkirbalikkan.

Politik kita serupa game atau permainan di mana semua pihak bisa mengatur ritme bermain, menarik lawan untuk masuk dalam irama permainan, dan membiarkan lawan mengira akan menang. Di titik puncak, semua senjata pamungkas akan dikeluarkan laksana petir.

Saya melihat pola-pola komunikasi deseptif, yang menyesatkan lawan itu dalam dua hal. Pertama, saat dengan sengaja seolah melanggar kampanye yang melibatkan anak, yang ternyata adalah artificial intelligent. Kedua, membangun pra-kondisi tentang Gibran sebagai sosok culun, bodoh, dan takut debat.

Marilah kita tengok yang pertama.

Tanggal 23 November 2023 silam, kelompok yang menamakan dirinya Radar Demokrasi Indonesia melaporkan dugaan pelanggaran oleh kubu Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming ke Bawaslu.

Laporan yang dimaksud terkait dengan dugaan pelibatan anak-anak dalam sosialisasi program pemberian susu. "Saya melaporkan ada tindakan ataupun ada pelanggaran pemilu terhadap salah satu tim kampanye paslon," kata pihak Radar Demokrasi Indonesia, Steve Josh Tarore mengutip detik.com, Kamis (23/11).

Yang menarik, tim Prabowo-Gibran tidak langsung merespon laporan itu. Mereka membiarkan laporan itu hingga terjadi kehebohan. Selama beberapa hari media dipenuhi berita tentang pelanggaran hukum dari tim kampanye Prabowo-Gibran.

Saat semua pihak mulai bersorak karena tim itu ibarat masuk perangkap, keluarlah klarifikasi kalau itu bukan anak, melainkan Artificial Intelligent (AI). Rupanya “anak” itu bukan benar-benar anak sebab hanya merupakan rekayasa kompiter dan kecerdasan buatan. “Anak” itu tidak punya identitas, tidak punya orang tua, dan tidak punya status hukum.

Tentu saja, kasus ini tidak akan jauh merambah ke ranah hukum. Namun pesan penting terlanjut menyebar di masyarakat kalau tim itu punya kreatifitas tingkat tinggi hingga mampu mengecoh banyak orang. Silang pendapat di media diubah menjadi kekuatan yang memikat banyak orang, sekaligus menjadi lelucon kalau lawan masih berpikir jadul dan tidak kekinian.

Marilah kita tengok yang kedua. 

Sejak sebulan terakhir, Gibran dikesankan menghindari debat. Tim konsultan di belakang Gibran sengaja tidak menghadirkan “bocil” itu dalam debat-debat tidak resmi. Tim juga mengondisikan persepsi publik dengan tawar-menawar di KPU mengenai format debat, seolah Gibran tidak siap hadapi debat.

Permainan deseptif juga dihadirkan di ruang publik. Saat tampil kampanye, dia tampil kaku, asal ngomong, dan tidak sanggup bicara lebih dari 10 menit. Malah, dia juga sengaja dibuat keliru agar semakin jadi bulan-bulaan di media sosial. Semua tindakan itu membangun persepsi publik kalau anak ini tidak siap menghadapi berbagai debat politik.

Ketika debat resmi, barulah satu demi satu kartu dikeluarkan. Mereka yang mengira anak itu akan jadi bulan-bulanan sontak kecele dan tidak siap dengan perubahan pola debat. Dia yang tadinya dikira akan kalah telah dan mengenaskan, rupanya menguasai hal teknis sebab dirinya punya pengalaman sebagai walikota.

Debat cawapres menjadi arena untuk membuka kotak pandora. Muhaimin dan Mahfud yang tadinya di atas angin, tiba-tiba terkesan kehilangan arah dan kehilangan fokus dalam debat. Gibran menguasai panggung, bergerak ke banyak sisi, lalu menarik semuanya masuk dalam permainan yang dia kuasai.

Di ajang debat semalam, elemen kejutan hanya dimiliki Gibran seorang. Hanya dia yang punya elemen misteri dan kejutan.  Beda halnya dengan Muhaimin dan Mahfud yang sudah sering tampil di publik, sehingga publik sudah tidak terkejut dengan penampilan mereka. 

Jika Mahfud dan Muhaimin tampil hebat, itu biasa saja sebab mereka memang sering tampil hebat. Kejutannya adalah Mahfud dan Muhaimin sedikit tterkejut melihat Gibran yang ternyata bisa berdebat. “Bocil’ ini bisa tampil melampaui ekspektasi. Komunikasi Gibran lebih cair. Dia tidak selalu memguasai topik debat. 

Kadang pertanyaan dibelokkan, lalu menyisipkan poin-poin penting dari visi misi. Body language mengesankan dirinya paham persoalan, sorot mata lurus ke arah audience, lalu perlahan dia pun menunjukkan inkonsistensi dari lawan debatnya.

Strategi mengemas Gibran mengingatkan pada strategi Sun Tzu yakni: “Perdaya Langit untuk melewati samudera. Bergerak di kegelapan dan bayang-bayang, menggunakan tempat-tempat tersembunyi, hanya akan menarik kecurigaan. Untuk memperlemah pertahanan musuh anda harus bertindak di tempat terbuka menyembunyikan maksud tersembunyi anda dengan aktivitas biasa sehari-hari.”

Saya melihat tim di belakang Gibran paham benar bagaimana aspek sosiologis masyarakat Indonesia, yang serupa kerbau gamang dicucuk hidungnya mengikuti apa yang jadi trending topic. 

Tim ini tahu kalau masyarakat Indonesia mengidap “Fear of Missing Out” atau takut sendirian di medsos sehingga suka terlibat dalam bully berjemaah. Kecaman pada Gibran merambah ke berbagai medsos, hingga akhirnya debat semalam ibarat petir yang membungkan semua kalangan.

Nihil Substansi

Jika debat semalam menjadi arena untuk melihat masa depan, kita tak bisa berharap banyak. Sebab debat itu hanya menunjukkan bagaimana permainan menggulung lawan, tanpa menampilkan apa gagasan terbaik untuk Indonesia masa depan.

Ketiga orang kandidat lebih fokus untuk mengeluarkan program populis yang membahagiakan publik, tanpa memberi jalan keluar bagaimana menggapai semuanya. Mereka seolah memiliki uang segunung, lalu tugasnya hanya bagaimana menghabiskannya.

Yang kita lihat adalah para “penjual obat” yang seakan berteriak ini obat terbaik, tanpa menjelaskan apa yang harus dilakukan untuk menghadirkan obat terbaik itu. Debat semalam membuka mata kita betapa banyaknya problem di bangsa ini, yang seharusnya membutuhkan kerja keras, bukan sekadar “bicara keras”.

Sebagai anak bangsa, kita dibenturkan kenyataan, betapa seringnya debat pilpres, namun masalah bangsa tak kunjung diselesaikan. Satu demi satu pekerjaan rumah tidak pernah benar-benar tuntas, selalu dibahas di ajang debat pilpres, selalu dibicarakan dari dulu hingga kini, tanpa ada yang selesai.

Yang menyedihkan adalah fakta betapa tiga capres ini sebenarnya terhubung ke jaringan pemodal yang sama. Debat ini hanya artifisial. Sekadar formalitas. Di belakang layar, para bohir sedang tersenyum gembira melihat skenario dijalankan satu per satu.

Permainan deseptif hanya jadi senjata untuk menang debat. Di akhir semua episode politik ini, para bohir akan selalu menang. Dan kita kembali mencari sesuap nasi di jalan-jalan yang kian semrawut, yang di kiri kanannya ada baliho politisi yang sedang menjanjikan kesejahteraan.



Pulau KUCING


Di Sengkang, Sulawesi Selatan, seorang kawan bercerita tentang pulau unik di tengah Danau Tempe. Penghuni pulau itu bukan manusia, melainkan kucing dari berbagai ras.

Dahulu, warga membuang kucing ke pulau itu. Para nelayan yang melintas selalu menyimpan ikan untuk para kucing. Nelayan menanam harapan: “saya simpan ikan untuk kalian. Kalau saya pulang membawa banyak hasil, kalian akan dapat bagian.”

Seiring waktu, terdapat ikatan kuat antara nelayan dan kucing. Saat pergi dan pulang, melayan menyimpan ikan untuk kucing. Para kucing pun girang bertemu nelayan.

Saya teringat sahabat di Fakultas Hukum, Unhas. Saat kami kuliah, dia sudah menikah dan punya anak. Saat dia hendak pulang, dia selalu membeli  permen untuk anaknya. 


Mengapa? Tanya saya suatu ketika. “Memang ini hanya permen. Tapi gara2 permen ini, anak saya tidak sabar untuk menunggu setiap hari. Dan harapan kuat seorang anak agar bapaknya kembali dalam keadaan sehat adalah doa terbaik yang akan mengetuk pintu langit,” katanya.

Kita selalu ingin membangun bonding dan ikatan kuat. Bukan hanya ayah dan anak, tetapi juga manusia dan kucing. Semua terhubung dan terkoneksi melalui bahasa cinta.

Sayang, saya tak bisa melihat Pulau Kucing. Danau Tempe sedang mengalami kekeringan dan pendangkalan. Pulau Kucing tersambung dengan daratan. Maka berpindahlah kucing ke daratan, kembali berumah bersama para nelayan baik hati di Danau Tempe.

Untungnya, seorang kawan tetap mengajak ke Danau Tempe. Dia membuka restoran apung di sana. Kami berperahu ke restoran di tengah danau. Di sana, ada banyak kuliner Bugis telah menunggu. Nyamanna!


ALBINO


Anak muda itu datang dengan senyum tersungging. Di Kafe Nongky-Nongky, dalam perjumpaan dengan Ibu Andis, dosen fakultas hukum unhas, anak muda itu menjabat tangan saya. Dia menyapa saya dalam bahasa Buton. Rupanya kami sekampung.

Namanya Yusril Sirman. Dia seorang albino. Saat dia menyebut kampungnya di Pulau Siompu, saya langsung familiar. Di situ, ada banyak orang albino yang sering menjadi duta kesenian Buton Selatan. Apalagi, di situ ada catatan sejarah tentang Hatibi Bula, seorang albino yang jadi ulama besar.

Baru berbincang sejenak, saya terpikat dengan anak muda ini. Dia membahas satu tema penting tentang para albino yang selama ini termarginalisasi. Menurutnya, albino harusnya dikategorikan sebagai diabilitas, sebab mereka memiliki keterbatasan fisik.

“Para albino itu memiliki keterbatasan penglihatan. Mereka masuk kategori low vision. Ini sudah bisa masuk kategori disabilitas,”katanya. 

Dia lalu bercerita tentang diskriminasi yang kadang menimpa seorang albino.

Saya terdiam mendengar kisahnya. Saya ingat liputan di National Geographic tentang para albino di Afrika. Banyak di antara mereka yang dibunuh dengan kejam karena dianggap tukang sihir.  Ada anggapan kalau tulang mereka bisa jadi jimat. Mereka yang hidup harus menerima risiko di-bully dalam aktivitas sehari-hari. 

Laporan Under the Same Sun (UTSS), organisasi yang fokus pada masalah diskriminasi menjelaskan, anak-anak albino seluruh dunia rentan pada bully atau perundungan. 

Dalam laporan yang dibuat untuk PBB, disebutkan, anak-anak albino sering dihina dan diejek, serta diintimidasi karena dianggap berbeda. Mereka terisolasi oleh stigma, mitos, dan prasangka kultural.

Di Indonesia, tanah yang religius dan pancasilais ini, banyak orang yang juga mem-bully mereka. Saya membaca beberapa laporan media tentang anak albino di Ciburuy, Jawa Barat, yang malu ke sekolah karena diolok-olok rekannya karena dianggap berbeda. Mereka di-bully atas sesuatu yang dianugerahkan Tuhan sejak lahir.

Tapi anak muda di hadapan saya ini justru berbeda. Dia menjalani hari dengan ceria. Dia jadi aktivis, penulis, juga pemikir yang intens mengkaji sesuatu. Di usia muda, dia sudah memiliki misi penting untuk mengadvokasi para albino agar hidup setara dengan orang lain, tanpa mengalami diskriminasi.

Saya senang melihat rona ceria selalu terpancar di wajahnya. Dia tahu dia berbeda, tapi dia justru melihat itu sebagai kekuatan. Dia tekun membaca, menjadi aktivis, penulis, juga sering membawa materi di berbagai forum kajian kampus. Dia mengasah potensinya untuk jadi yang terbaik.

Tak hanya itu. Dia juga punya gagasan besar untuk melobi Under te Same Sun agar mendukung perjuangan kaum albino di Indonesia. Saya mendukung semua langkah-langkah kecilnya untuk membumikan ide-ide besarnya.

“Bantulah kami untuk menggolkan gagasan ini. Kalau proposal ini tembus ke beberapa lembaga asing, ada banyak cuan mengalir,” katanya.

Hmm. Saya tertarik. Saya membayangkan ada cuan, juga cashback.


COTO MAKASSAR



Tiba-tiba saja anak muda itu menghubungi saya. Namanya Luki. Dia salah satu graphic designer terbaik di kota Makassar yang selama beberapa tahun ini tinggal di Belfast, Skotlandia.

Namun lidah anak muda ini tetap Makassar. Bukan cuma logat, yang bagi orang luar, bisa bisa bikin lidah terlipat-lipat, tetapi juga ujung lidahnya yang masih menganggap kuliner Makassar sebagai kuliner terbaik di dunia. 

Orang-orang Bugis Makassar menerapkan ajaran John L Naisbitt yakni Think Global and Act Local. Mereka “think global” dan bertualang saat berpikir, namun dalam hal kuliner, mereka selalu “act local”. Mereka memilih kuliner rumahan. Rasa kuliner local terlanjur terpatri di lidah mereka.

Pantas saja jika coto bisa ditemukan di berbagai kota yang memiliki diaspora orang Bugis Makassar. Bukan hanya di tanah air, namun juga di kota-kota semenanjung Malaysia hingga Sarawak. Bahkan coto Makassar ada di jantung Singapura.

Luki mengajak saya untuk mencicipi coto yang berlokasi di Jalan Gagak. Ini warung coto yang legendaris. Hampir semua penggemar coto pasti pernah ke sini.

Semasa jadi jurnalis yang berkantor di Jalan Cenderawasih (kini diganti namanya jadi Jalan Opu Daeng Risaju), saya sering ke warung ini.

Dulu, masih berupa warung kaki lima. Kini sudah bersalin rupa jadi restoran berdinding beton. Manajemennya lebih modern. Bahkan kedai ini punya cabang di beberapa lokasi. Salah satu lokasi yang sering saya singgahi adalah Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Dulu, pengunjung bisa mencicipi coto sembari melihat penjualnya memasak coto di wadah tanah liat, yang berdiri di atas tungku dan dibawahnya api menyambar-nyambar.  Kini, ruang makan dan ruang dapur terpisah. 

Kita tak bisa lagi melihat sosok Jamaluddin Daeng Gassang, pemilik coto, dengan peluh bercucuran di dapur.  Semua pegawainya memakai seragam khusus. 

Namun jejak masa lalu masih dipertahankan. Di dinding resto ini, ada banyak foto selebritis dan artis yang singgah makan. Istilah akan muda sekarang, itu adalah endorse.

“Makan ki,”kata seorang pelayan berwajah manis. Saya langsung mencicipinya. Pikiran saya menjelajah ke berbagai kota di mana saya pernah mencicipi coto ini.

Di semangkuk coto ini, terdapat 40 jenis rempah-rempah, yang tidak cuma memperkuat cita rasa, tetapi juga meminimalisir dampak dari coto. 

Banyaknya rempah menunjukkan jejak-jejak masa silam di mana Massar adalah sentrum dari perdagangan rempah. Pernah ada masa di mana Pelabuhan Somba Opu penuh dengan hilir mudik bangsa asing yang hendak berdagang rempah.

Konon, coto Makassar sudah ada sejak tahun 1530, yang awalnya adalah makanan untuk rakyat jelata, yang kemudian ‘naik kelas’sebab digemari para bangsawan. 

Dalam soal rasa, tak ada kasta. Sebab lidah semua manusia sama. Ada kode-kode kebudayaan yang melekat dan menjadi penetu enak dan tidak enaknya sesuatu.

“Gimana kak? Enak ki?”tanya Luki. 

Dia melihat saya makan dengan lahap. Saya tak lantas menjawab pertanyaannya. Dari tas kecil, saya keluarkan tembakau khas Bugis, sering disebut Ico Ugi. 

Saya menaikkan satu kaki di atas kursi sembari mengisap Ico. Saya hembuskan kuat-kuat, sembari menggumam: “masipa!”


MUSLIMIN BANDO


Di Jakarta, saya jumpa pria yang kini berusia 70 tahun itu. Dia, Muslimin Bando, adalah Bupati Enrekang dua periode. Kami berbincang akrab seolah telah lama mengenal. Sebagai politisi senior, dia tak pelit berbagi informasi.

Menurutnya, politik bukan sesuatu yang tiba-tiba saja jatuh dari langit. Butuh proses panjang, integritas, serta rekam jejak. Jika Anda ingin berpolitik hari ini, mulailah dengan membangun relasi dengan siapa saja. Mulailah dengan menanam kebaikan.

Pria yang lama berprofesi sebagai guru itu bercerita pengalamannya lebih dari 30 tahun silam. Saat itu, anaknya, Mitra (kini berusia 36 tahun) masih berusia 3 tahun. Anak itu ditabrak seseorang kemudian terseret hingga beberapa meter. 

“Saya sudah berpikir yang terburuk. Ternyata anak saya masih hidup dan dibawa di rumah sakit. Dia sempat koma,”katanya.

Mendengar sopir yang menabrak anaknya ditahan, Muslimin mendatangi kantor polisi. Dia minta agak sopir itu segera dibebaskan. Polisi terheran-heran. “Pak, dia tabrak anakta sampai parah. Kenapa dibebaskan?”

Bukan cuma polisi. Sopir itu pun ikut terheran-heran. “Biasanya, sopir yang menabrak akan ditahan. Atau minimal bayar denda. Kok saya malah disuruh pulang, tanpa ada tuntutan?”

Saat itu, Muslimin berpikir bahwa itu hanyalah kecelakaan. Tak mungkin sopir itu sengaja menabrak. Semua orang berpotensi untuk berbuat salah. Dia berpikir, daripada memperpanjang masalah, lebih baik dia memutus permasalahan. Disuruhnya sopir itu pulang. Baginya, kalau bisa dipermudah, kenapa harus dipersulit?

Untunglah, anaknya sembuh dan kembali beraktivitas. Malah, setelah dewasa, dia menjadi politisi sukses.

Sekian puluh tahun berikutnya, Muslimin berniat maju menjadi Bupati Enrekang. Dia mengunjungi banyak desa untuk memperkenalkan diri. Saat hendak mencapai satu desa, dia terkejut dengan penerimaan masyarakat. Belum sampai di desa itu, orang-orang mendatanginya dengan senyum dan akrab. Ada apa gerangan?

Seorang warga bercerita, “Di kampung sana, ada orang yang tiap hari mengampanyekan Bapak. Dia cerita ke banyak orang kalau Bapak orangnya baik. Makanya, Bapak belum tiba di sana, tapi nama Bapak sudah harum dibicarakan.”

Usut punya usut, pria yang mengampanyekan dirinya itu adalah sopir yang dulu menabrak anaknya. Selama lebih 30 tahun berlalu, dia tak pernah lupa kebaikan yang diterimanya. Dia menanti saat yang tepat untuk memberi balas atas kebaikan yang diterimanya dari Muslimin.

“Makanya Dik, kalau mau jadi politisi, mulailah dengan berkawan dengan siapa saja,”kata Muslimin. 

Saya terdiam. Kebaikan memang serupa benih yang bisa disebar dan ditanam di mana-mana. Kebaikan tak selalu langsung mendatangkan manfaat, namun sering kali membutuhkan waktu yang tepat untuk menjadi buah segar dan mengatasi haus dan lapar.

Politik memang bisa dikarbit, sebagaimana bisa kita lihat pada bayak orang yang sibuk saat menjelang pemilihan. Politik bisa ditopang biaya mahal. Namun sejarah akan membentangkan rekam jejak seseorang, sehingga menentukan sejauh mana dia akan dipilih di bilik suara.

Namun politik yang genuine tak membutuhkan banyak biaya. Cukup ketulusan dan karakter kuat, lalu menyebar ke mana-mana. Sebab tak pernah ada hasil yang mengkhianati proses. Tak pernah ada capaian yang mengkhianati ikhtiar.

Iya kan?