Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Buddha Tidur di Kampung Bogor


di depan patung Buddha tidur

SERASA di Thailand, tapi ini di Bogor, Jawa Barat, saya melihat patung Buddha tidur paling besar di Indonesia. Patung ini dikelilingi patung-patung Buddha kecil, serta terletak di tengah wihara yang indah dan bernuansa oriental. Di depan patung itu, saya mengingat banyak episode kehidupan Buddha, mulai dari kisah empat perjumpaan hingga pencerahan saat duduk di bawah pohon bodi.

Dalam posisi tidur, apakah gerangan yang hendak disampaikan pembuat patung ini kepada umat manusia?

***

ANAK muda bermata sipit itu bernama Christian. Wajahnya mengingat saya pada aktor asal Korea, Lee Min Ho. Dia tersenyum ramah saat saya dan keluarga memasuki kompleks Wihara Buddha Dharma & 8 Po Sat di Kampung Jati, Kelurahan Tajur Halang, Bogor. Ia lalu menyilahkan saya untuk mengisi buku tamu, sebelum berkeliling dan memotret. Di buku tamu itu, saya bisa melihat kalau pengunjung wihara berasal dari berbagai kota.

Magnet utama di wihara itu adalah patung Buddha tidur yang panjangnya 18 meter dan tinggi 5 meter. Selain Bogor, dua patung lainnya ada di Mojokerto, dan Bali. Patung ini dalam posisi tidur, menghadap ke kanan, serta kepala yang ditopang oleh telapak tangan. Patung ini adalah satu dari tiga patung Buddha tidur berukuran besar di Indonesia. Mengapa berada dalam posisi tidur?

“Patung ini tidak dalam posisi tidur. Lebih tepatnya, Buddha sedang melakukan meditasi. Lihat matanya yang terpejam, dan senyum yang terpancar. Itu lambang ketenangan dan kedamaian. Ini posisi saat Buddha menemukan pencerahan” kata Christian. Saya menyimak.

Dia lalu bercerita tentang kompleks wihara yang mulai dibangun sejak tahun 2005. Patung itu membutuhkan batu kali sebanyak 15 truk dan 500 sak semen untuk membuat patung Buddha tidur tersebut. Mulanya, pihak pengelola wihara hendak mencari batu utuh, lalu dipahat membentuk Buddha. Ternyata susah mendapatkan batu yang diinginkan. Akhirnya, mereka lalu membuat rangka besi yang diisi material. Setelah bersemedi, dimulailah pembangunan wihara.




Bentuk wihara ini cukup unik dan mencerminkan perpaduan berbagai macam kultur atau budaya. Di bagian depan, pengunjung akan disambut dengan sebuah gerbang berwarna merah. Warna yang merupakan cerminan budaya etnis Cina. Memasuki bagian dalamnya terdapat dinding yang dipenuhi dengan relif bermotifkan Buddha. Bisa saya lihat kalau relief itu menggambarkan kehidupan Sidharta Gautama, mulai dari lahir, masa remaja, masa pencerahan, hingga periode mangkat. Saya sempat tersenyum saat melihat relief kera sakti Sun Go Kong, bersama gurunya biksu Tong, serta Pat Kay (siluman babi), Wu Jing, dan kuda putih.

Selain relief, terdapat pula sebuah stupa, mirip dengan stupa yang ada di candi Borobudur. Tidak mengherankan ada stupa ini disini mengingat Borobudur adalah candi Budha terbesar. Sebuah prasasti yang ditandatangani oleh pejabat Kementrian Agama pun terletak di halaman depan.

Patung Buddha tidur sendiri berada di balik dinding berrelif tersebut. Letaknya ada di sebuah bangsal tersendiri. Mengingat ukurannya yang sangat besar, maka memang perlu ruang penempatan yang sama besarnya pula. Selain itu patung ini merupakan tokoh utama di vihara ini.

Di kedua dinding bangsal tempat patung ini berada, terdapat lemari kaca berisi ratusan patung-patung kecil. Tadinya, saya mengira patung-patung ini adalah persembahan dari keluarga-keluarga untuk anggota mereka yang sudah tiada. Terlihat terdapat label nama orang pada setiap patung tersebut. Ternyata, nama-nama itu adalah para penyumbang. Semua yang mengyumbang uang satu juta rupiah, namanya akan diabadikan di patung kecl itu, serta selalu didoakan.




Yang cukup mengherankan adalah tak banyak warga Bogor yang tahu keberadaan wihara ini. Saat menuju ke sini, saya bertanya kepada tiga orang di perjalanan, namun tak satupun yang mengetahui lokasinya. Saya lalu mengandalkan Google Map yang menunjukkan lokasi wihara ini. Dari rumah saya di Kota Bogor, saya butuh waktu sejam untuk tiba di tempat ini.

Saat tiba di situ pun, saya melihat ada spanduk merah bertuliskan tuntutan warga yang menolak wihara itu dilebarkan, tanpa persetujuan mereka. Padahal, jika wihara itu besar, warga yang akan kecipratan untung, mulai dari retribusi, lahan parkir, diperbaikinya sarana transportasi jalan, hingga jasa penginapan.

Di sisi lain, pemerintah juga tak berbuat apa-apa atas protes warga. Harusnya negara hadir untuk melindungi umat Buddha yang hendak beribadah. Ah, saya tak ingin ngomong banyak tentang ini. Setahu saya, Bogor dikenal sebagai wilayah yang dianggap tidak toleran.

***

MELIHAT patung ini, ingatan saya langsung kuil-kuil Buddha di Thailand. Dua tahun silam, saya berkunjung ke kuil Wat Chalong di Phuket, dan menyaksikan candi Buddha yang cukup tinggi. Di situ, ada pula patung Buddha tidur yang sedang dikelilingi murid-muridnya. Bedanya, patung Buddha yang di Bogor ini bernuansa mandarin. Apapun itu, pesannya sama, yakni kedamaian.

Dalam beberapa bacaan tentang kehidupan Sidharta Gautama, saya selalu menemukan kisah tentang empat perjumpaan. Mulanya, Sidharta menyaksikan orang tua yang jalannya tertatih-tatih. Selanjutnya, ia melihat perempuan yang dilanda sakit parah, setelah itu ia melihat tulang belulang. Terakhir ia bertemu pertapa. Empat perjumpaan itu membuat Sidharta merenungi tentang hakikat hidup. Bahwa manusia adalah mahluk yang amat rapuh, bisa terserang penyakit, pasti mengalami ketuaan, hingga akhirnya menjadi tulang-belulang. Lantas, jika kehidupan sedemikian fana, mengapa pula manusia harus meletakkan kehidupan sebagai segala-galanya?

Sidharta lalu memilih hidup sebagai pertapa yang melepaskan segala nikmat dunia. Ia menghadirkan cahaya terang yang menyelusup ke hati banyak orang, bahkan di zaman yang jauh ketika dirinya telah wafat. Ia mewariskan sesuatu yang tidak kecil, sebab menjadi suluh terang bagi banyak orang yang hendak menemukan kedamaian. Sidharta adalah seorang yang meninggalkan kemewahan dunia. Ia menyebut kemewahan serta rasa kemelekatan atas dunia sebagai penjara-penjara yang menghalang manusia untuk menemukan kedamaian.


Dari Kavilawasthu, India, ajarannya menyebar ke seluruh dunia. Ajaran yang memasrahkan diri untuk mengalir dan mengikuti ke mana sungai semesta bergerak itu menjadi mata air bagi banyak orang yang hendak menemukan kedamaian. Yang khas dari ajaran ini adalah pelepasan segala bentuk ego, serta melihat dunia hanya sebagai beban bagi perjalanan seseorang yang menempuh jalan spiritual. Dengan melepaskan dunia, seseorang berjalan menuju nirwana.

Jauh di Bogor, saya menemukan jejak ajaran Buddha itu.



Bogor, 8 Februari 2016 
Selamat merayakan Imlek


BACA JUGA:






Dari Tania Li Hingga Robert Chambers


suatu hari di desa pesisir di Pulau Derawan, Kaltim

BANYAK orang kota mengklaim sangat mengenali desa, serta punya idealisme untuk membangunnya. Tak disangka, yang terjadi adalah meletakkan desa dalam kerangka berpikir sendiri, yang justru berjarak dengan realitas lapangan. Yang terjadi, berbagai skema proyek, yang disebut-sebut untuk menyejahterakan desa, menjadi lahan basah untuk memperbanyak pundi-pundi keuangan individu, lembaga riset, ataupun pusat kajian di berbagai kota.

Ah, saya tiba-tiba saja mengingat Tania Li dan Robert Chambers, yang banyak menelanjangi cara berpikir yang bias kota.


***

DI suatu senja, saya menemui bapak itu di Tanjung Batu, Berau, Kalimantan Timur. Dia nampak kebingungan ketika harus menggunakan komputer di kantor kepala kampung, yang di wilayah lain disebut desa. Dia tidak tahu harus mulai dari mana. Tabel-tabel yang harus diisi cukup membingungkannya.

Bapak itu adalah sekretaris kampung. Dia diberi amanah untuk menyusun rencana pembangunan bagi kampung itu. Bagi para pemimpin di kota, pihak kampung wajib menyusun rencana pembangunan. Melalui rencana, arah dan kebijakan kampung itu bisa dibuat, sebagai pedoman bagi seluruh aparat pemerintah kampung. Warga pun “dipaksa” menyesuaikan diri dengan desain tersebut.

Bagi pihak kampung, rencana pembangunan itu amat sulit dibuat. Jangankan membuat dokumen berisikan rencana, membuat tulisan di layar komputer pun mereka masih kebingungan. Rencana pembangunan itu serupa pola-pola rumit yang susah dimengerti, namun terpaksa harus dimengerti, demi menentukan nasib kampung itu di masa depan.

Yang sedang saya saksikan ini adalah satu jurang epistemologis yang cukup lebar. Bagi orang kota, dokumen perencanaan itu harus dibuat sebagai blue print pembangunan. Dokumen itu mewakili rencana yang akan mengubah nasib ratusan warga kampung. Tapi bagi orang kampung, rencana itu terlampau kompleks untuk dipahami. Rencana itu disusun oleh orang pintar, yang hanya bisa dipahami oleh orang pintar pula.

Peneliti Tania Li dalam buku Will to Improve (2012) menyebut rencana-rencana pembangunan itu sebagai teknikalisasi permasalahan, yakni serangkaian praktik yang menampilkan urusan yang hendak diatur sebagai ranah yang dimengerti, yang tegas cakupannya, yang jelas ciri-cirinya, jelas tepiannya, serta mudah diamati unsur-unsur di dalamnya, lalu mengumpulkan informasi mengenai teknik untuk menggerakkan kekuatan serta unsur yang ditampilkan tadi.

Saya mengingat pendapat Tania Li saat menyaksikan berbagai rencana dokumen pembangunan. Tampaknya, berbagai dokumen itu ibarat penjara bagi warga kampung. Tiba-tiba saja mereka ‘dipaksa’ mengikuti alur berpikir orang kota, yang melihat kampung laksana istana pasir yang mudah dibentuk dan diarahkan. Padahal, bagi warga setempat, kampung adalah semesta yang memayungi semua aktivitas dan menjadi penanda keberadaan, yang merangkum sejarah saat wilayah itu dibentuk, saat warganya datang dan pergi, saat kelahiran dan kematian datang silih-berganti, saat sejarah menjadi saksi dari setiap tragedi dan peristiwa yang memilukan hingga membahagiakan.

suatu hari di salah satu desa di Mamasa, Sulawesi Barat

Melalui teknikalisasi permasalahan, kampung menjadi satu pengertian yang mudah dimengerti dan dikenali batas-batasnya. Yang bisa mengenali itu adalah para ahli yang tiba-tiba saja melihat kampung serupa maket perumahan, yang jalan-jalannya diketahui melalui lambang-lambang dan angka-angka. Melalui teknikaslisasi, orang-orang pintar dari kota datang ke kampung laksana sinterklas yang hendak mengajari warga kampung untuk mengenali wilayahnya.

Pengetahuan orang kampung menjadi tak penting. Mereka dianggap tidak mengenali wilayahnya. Mereka diwajibkan mengikuti pola dan alur yang dibuat oleh orang-orang kota, demi untuk menjelaskan wilayahnya sendiri. Ketika mereka tidak mengisi data potensi wilayah berdasarkan teknikalisasi permasalahan, sebagaimana persepsi orang kota, maka mereka dianggap tidak mengenali wilayahnya. Dengan cara itu, mereka tidak bisa mendapatkan dana dari pemerintah pusat.

Birokrasi kita disusun dengan hierarki, dari pusat hingga kampung. Sepanjang hierarki itu, dana mengucur hingga ke titik terjauh. Melalui teknikalisasi, penyaluran dana desa menjadi rumit. Hanya yang memenuhi syarat, ataupun bisa mengenali wilayahnya, lalu bisa menyusun rencana matang, yang akan mendapatkan kucuran dana. Ketika tidak menyusun tertib administrasi yang rapi, maka pihak desa tak dianggap cakap untuk mengelola anggaran.

Pertanyaan yang sering mencuat, ketika gagal menyusun perencanaan yang matang, apakah warga desa dianggap tidak mengenali wilayahnya sendiri?

Saya teringat Robert Chambers, seorang maha guru bagi para pelaku perubahan sosial, yang gandrung dengan pendekatan partisipatif. Kata Robert Chambers dalam buku Whose Reality Counts: Putting the Last First (1997), desa telah menjadi korban penjungkir-balikan (putting the last first) dari pihak luar desa (outsiders) yang mengaku serba tahu tentang desa. Mereka, para outsiders ini, sering merasa lebih tahu dan merekayasa desa. Pengetahuan warga desa lalu diabaikan dan tak pernah mendapat porsi yang semestinya, yakni sebagai mercusuar bagi masyarakat untuk melangkah maju.

Padahal, pengetahuan orang-orang kota itu justru memiliki banyak bias, di antaranya adalah (1) bias ruang, (2) bias proyek, (3) bias personal, (4) bias musim kering, (5) bias diplomatis, dan (6) bias profesional.


Menarik untuk ditelaah tentang bias ruang, bias proyek, dan bias personal. Jika dilihat secara spasial, kota lebih diuntungkan oleh pembangunan. Paradigma pembangunan selalu menekankan pada aspek fisik dan pemenuhan kebutuhan masyarakat kota. Infrastruktur diprioritaskan hanya di level kota. Program pembangunan pun hanya diarahkan ke wilayah itu. Ini juga ditambah fakta bahwa cara-cara berpikir dalam koridor ekonomi makro justru lebih permisif pada pembangunan manufaktur dan sektor industri demi mempercepat laju pembangunan. Ini sama dengan memberi ruang yang amat besar bagi kemajuan kota, dan semakin dihilangkannya desa.

Selanjutnya, bias proyek. Di banyak tempat, pembangunan hanya dilihat sebagai proyek yang menyerap anggaran. Ketika anggaran terserap, maka pembangunan dianggap berhasil. Padahal, di banyak tempat, cara berpikir ini justru tidak memperhatikan aspek kontinutas atau sustainabilitas dari satu kegiatan. Ketika satu proyek dibangun, para perencana sering abai untuk melihat seberapa bermanfaatkah apa yang telah dibangun tersebut. Ataukah proyek itu hanya sekadar menghabiskan anggaran, tanpa melihat seberapa bergunakah proyek tersebut? 

Bias dalam arti menguntungkan kota ini seringkali tidak dipermasalahkan dalam analisis normatif yang seolah lupa bahwa berbagai teori modernisasi dan teori pembangunan justru memiliki visi politik tertentu. Teori pembangunan itu memang diciptakan untuk mendorong ekonomi untuk bergerak ke kota-kota.

Sebagai contoh, penerapan model pertumbuhan ekonomi yang dirumuskan Harrod-Domar adalah memosisikan kota sebagai pusat pertumbuhan. Demikian pula rumusan Arthur Lewis (1955) yang menciptakan sektor-sektor modern. Model pembangunan ini dengan mudahnya diterima oleh semua negara dan perencana pembangunan di negara berkembang sebab simpul birokrasi pemerintah yang memegang kendali utama proses pembangunan terkonsentrasi di daerah perkotaan. Inilah yang disebut Robert Chambers sebagai bias personal dan bias profesional.

***
           
Belajar pada Robert Chambers, pembangunan desa seyogyanya dilihat sebagai proses aktif yang melibatkan warga desa dalam proses perencanaan hingga proses eksekusinya. Beberapa prinsip penting yang bisa menjadi pejaran bersama adalah pinsip dialogis, pencerahan, serta mendengarkan berbagai aspirasi. Pendekatan yang kemudian berkembang dan kian populer adalah pendekatan partisipatif yang memberikan kesempatan bagi warga desa untuk menyelesaikan sendiri permasalahan di daerahnya.

Pada titik tertentu, Chambers terlampau ideal. Pendekatan partisipatif itu telah lama menjadi jargon berbagai lembaga. Tak banyak yang menyadari bahwa di balik kata itu terdapat komitmen serta nilai yang memosisikan semua warga desa sebagai subyek uttama. Tapi mungkinkah mereka menjadi subyek ketika mereka diharuskan disiplin dengan berbagai aturan serta tata cara administrasi yang kembali memosisikan mereka sebagai obyek dari kebijakan?

Entahlah. Mungkin saya sedang galau. Saya membayangkan wajah Tania Li dan Robert Chambers yang sedang muram saat menyaksikan berbagai lembaga datang ke desa dan membawa berbagai pendekatan baru, lau mengabaikan khasanah dan kekayaan intelektual yang harusnya diserap di level desa.



Bogor, 6 Februari 2015

BACA JUGA:









Sepuluh Alasan untuk Tidak Menulis


buku yang saya buat beberapa bulan lalu

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis,
ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah..”

- Pramoedya Ananta Toer


DI tanah air kita, terdapat ribuan perguruan tinggi, terdapat jutaan sarjana yang dilahirkan setiap tahun, tapi mengapa tak banyak lahir buku-buku yang meramaikan dunia literasi? Di tanah air kita terdapat begitu banyak para pengamat yang wara-wiri di televisi, mengapa mereka tak melahirkan banyak petikan pemikiran yang dijerat dalam aksara, yang bisa tersimpan abadi dan kelak bisa diakses publik di masa kini dan masa depan?

Berikut, sepuluh persoalan yang sering dihadapi oleh orang-orang yang tak kunjung menghasilkan satu karya.

Pertama, adanya hasrat untuk melahirkan karya-karya hebat.

Saya sering menemukan alasan ini pada beberapa sahabat. Ternyata banyak yang berkeinginan kalau setiap karya harus punya kualifikasi hebat dan kelak akan dibicarakan banyak orang. Seorang sahabat peneliti selalu bermimpi untuk melahirkan karya selevel yang dibuat akademisi James Scott ataupun Benedict Anderson. Ia tak kunjung bisa melahirkan karya tulis, sebab selalu menganggap karyanya buruk dan tidak setara dengan karya James Scott. Ia minder dengan apa yang ditulisnya sendiri.

Harusnya kita memosisikan setiap karya sebagai cara bertutur ataupun medium untuk menyampaikan sesuatu. Peneliti sekelas James Scott pun memiliki proses yang cukup panjang untuk bisa melahirkan karya-karya besarnya. Lagian, setiap orang tidak dilahirkan untuk serupa yang lain. Kita tak terlahir dengan misi untuk melahirkan hal-hal hebat dalam sejarah. Boleh jadi, kita hanya melahirkan hal-hal yang dianggap biasa, namun hal itu justru menjadi berlian bagi siapapun yang ingin memahami satu hal secara mendalam. Setiap karya punya takdir masing-masing, tergantung posisi yang membaca karya itu.

Kedua, ketidaksiapan menghadapi sikap nyinyir orang lain.

Amat sering saya temukan ketakutan-ketakutan dalam diri terhadap sikap nyinyir orang lain. Masyarakat kita tak terbiasa mengapresiasi apapun yang dihasilkan orang lain. Yang seringkali muncul adalah sikap sinis, atau malah mencaci orang lain yang melahirkan sesuatu.

Sejak dulu, saya beranggapan bahwa mereka yang suka mencaci atau sinis pada karya orang lain bukanlah penulis sejati. Saya malah menduga kalau pencaci itu tak pernah melahirkan apapun. Mengapa? Sebab seorang penulis pasti paham bahwa setiap karya lahir dari proses yang tidak mudah. Ada proses belajar, merumuskan topik penting, lalu melahirkan karya tulis. Prosesnya seringkali panjang dan boleh jadi ‘berdarah-darah.’ Tak ada guna untuk nyinyir atas satu karya, jauh lebih penting mengapresiasi proses yang dilalui seseorang, setelah itu menyerap hal-hal baik yang dilahirkan orang tersebut.

Ketiga, ketidaksiapan menghadapi debat atau kritik dari banyak orang.

Ada saja yang tak sabar menghadapi kritik ataupun debat atas karya itu. Sering saya temukan di internet, komentar tentang satu karya yang dianggap buruk dan gagal paham atas persoalan yang dibahas. Yang sering terjadi bukanlah satu debat publik yang mencerdaskan serta memberikan catatan-catatan untuk perbaikan karya. Yang muncul adalah kritik pedas yang serupa pedang lalu menebas-nebas semua hal baik yang ditulis seseorang. Kritik seringkali dilandasi oleh tendensi emosional.

Apapun itu, para penulis selalu melangkah lebih maju dari para pendebat. Para penulis memiliki nyali untuk menampilkan karyanya di hadapan publik untuk kemudian dilihat dari berbagai perspektif. Mereka lebih punya nyali dibandingkan para pendebat, yang seringkali tak pernah melahirkan apapun. Bagi penulis yang berjiwa besar, semua kritikan itu akan menjadi nutrisi yang semakin menyuburkan kemampuan menulisnya. Ia akan menyerap energi kritik di sekitarnya demi melahirkan satu karya yang jauh lebih baik di masa depan. Ia terus menyempurna.

Keempat, terlampau banyak ekspektasi (pengharapan) atas setiap karya tulis.

Para penulis pemula selalu ingin membuat karya yang berkategori best seller. Selalu saja menginginkan karyanya dihargai tinggi oleh publik. Ketika publik menilai karya itu biasa saja, semangat langsung down. Tak ada lagi niat melahirkan satu karya. Padahal, ketinggian satu karya tidak pernah bergantung pada penilaian publik. Malah, publik sering menyandung karya-karya dengan kualitas biasa saja. Selera publik mudah dibentuk oleh iklan, atau barangkali gaya kepenulisan tertentu.

Idealnya, setiap penulis menerima setiap tulisan apa adanya. Ia mesti memahami bahwa setiap tulisan memiliki takdir sendiri-sendiri. Tugas setiap tulisan adalah mengalirkan gagasan, sekaligus menjadi cara untuk menyampaikan pesan ke hadapan publik. Apakah pesan itu sampai diapresiasi publik atau tidak, itu soal lain. Tugas seseorang adalah melahirkannya dnegan susah payah, lalu membesarkan gagasan itu secara terus-menerus untuk memperkaya pengetahuan serta menginspirasi orang lain.

Kelima, adanya hasrat ingin kaya dan terkenal melalui tulisan.

Ada saja orang yang beranggapan melalui tulisan maka dia akan sekaya dan seterkenal Andrea Hirata. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Di tanah air kita, sangat jarang ditemukan seorang penulis yang kaya-raya berkat buku-bukunya. Sebagaimana dicatat sastrawan Korrie Layun Rampan di satu media, nasib para penulis adalah nasib para penyepi yang setidak segemerlap karyanya. Mereka seringkali tidak menerima banyak pemasukan, meskipun bukunya laris. Mengapa? sebab honor itu terkait banyak hal, mulai dari perjanjian dengan penerbit, biaya distribusi, hingga pemasukan toko buku.

Tapi yakinlah, ada banyak keuntungan lain yang didapatkan dari menulis. Meskipun keuntungan dari penjualan tak seberapa, seseorang bisa menguatkan personal branding-nya sehingga dianggap menguasai satu kecakapan tertentu. Ia akan dikenal banyak orang, dan seringkali mendapatkan berkah tak terduga. Ia akan dianggap punya banyak kelebihan dibandingkan mereka yang tak menulis. Pada titik ini, setiap karya ibarat etalase pengetahuan yang lalu dilihat banyak orang. Percayalah, ada banyak hal baik yang didapatkan melalui menulis. Mulai dari jaringan pertemanan yang tetap terjaga, banyaknya sahabat dan pembaca yang berinteraksi di berbagai kanal social media, serta perubahan sosial yang dipicu oleh tulisan kita.

Keenam, merasa tidak punya waktu untuk menulis.

Yang sering saya temukan, alasan tidak punya waktu ini seringkali tak berdasar. Coba refleksi pengalaman sehari-hari. Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk bekerja, bergosip, atau melakukan hal-hal yang tidak penting. Di luar negeri, masyarakat terbiasa fokus bekerja, namun setelah itu bisa fokus untuk rehat. Menulis bisa dilakukan di sela-sela itu. Tanyalah diri masing-masing. Berapa lama waktu kita yang terbuang untuk sekadar obrolan ngalor-ngidul atau sekadar hangout bareng teman-teman. Memang itu, penting juga, tapi kalau diarahkan untuk menulis, banyak hal hebat yang bisa dilahirkan.

Menulis tak membutuhkan waktu khusus. Dia bisa dilakukan saat sedang marah, santai, senang, atau saat lagi bahagia. Bisa pula dilakukan saat sedang menonton tivi. Jadikan aktivitas menulis itu semudah membuat status di facebook. Yang terpenting adalah meluangkan waktu sejenak untuk mengetik kata demi kata, lalu diteruskan hingga menjadi kalimat dan paragraf, lalu berlembar-lembar. Prosesnya sederhana. Dimulai dari menyempatkan waktu sejenak.

Ketujuh, menganggap kegiatan menulis hanya untuk para doktor.

Banyak yang beranggapan bahwa menulis itu membutuhkan “teknik tingkat tinggi.” Hanya para doktor dan akademisi yang bisa mencapai level itu. Ditambah lagi anggapan kalau menulis itu membutuhkan kualifikasi akademik tertentu. Seolah-olah, hanya kelompok tertentu yang bisa menulis lalu melahirkan karya-karya besar yang lalu dibaca banyak orang.

Padahal, menulis telah lama menjadi kegiatan yang bisa dilakukan siapa saja. Tahukah anda bahwa kebanyakan blogger di Indonesia adalah ibu rumah tangga? Mereka menulis di sela-sela kegiatan di rumah dnegan kualitas yang seringkali lebih baik dari orang yang berumah di perguruan tinggi. Siapapun anda, selagi anda mau menulis, maka pastilah akan bisa. Anda hanya membutuhkan motivasi bahwa anda sanggup melakukannya. Itu saja.

Kedelapan, kesulitan memulai kalimat.

Pernah, saya menyaksikan, seorang sahabat terus-menerus menghembuskan asap rokok sambil menatap layar komputer saat hendak menulis. Hingga dua jam, tak ada satu baris aksarapun yang dihasilkannya. Mengapa? Sebab ia kesulitan hendak memulai tulisannya sendiri. Ia tidak tahu hendak mulai dari mana dan bagaimana caranya menyusun kalimat, argumentasi, dan gagasan.

Yang harusnya dilakukan adalah menjadikan tulisan itu sebagai kegiatan bertutur yang simpel. Anggap saja sedang berbicara dengan seseorang. Mulailah dengan hal-hal yang sederhana, yang kira-kira akan membuat orang-orang penasaran. Buat orang lain penasaran, lalu tanpa sadar mengikuti gagasan anda hingga tuntas. Buatlah menulis itu jadi kegiatan yang menyenangkan, serta membahagiakan. Percayalah, segalanya akan mudah.

Kesembilan, kesulitan menjaga konsentrasi dan fokus.

Satu atau dua paragraf telah dituliskan. Tapi, mood langsung berubah. Seseorang langsung didera rasa malas untuk melanjutkan tulisan itu. Kelamaan menunda akhirnya, tulisan itu “berdebu”. Akhirnya, tulisan itu tak pernah selesai. Problem yang sering menghantui para penulis adalah hilangnya konsentrasi atau fokus dalam menulis.

Menulis itu ibarat mengikuti lomba lari marathon. Jangan habiskan energi anda di awal-awal ketika mulai melesat. Atur napas dan ritme. Yakinkan diri kamu bahwa jarak sejauh puluhan kilometer itu akan bisa digapai. Untuk itu, fokus dan pengaturan energi menjadi penting bagi setiap penulis. Bagaimana jika mood hilang? Banyak cara untuk mengembalikannya. Tinggalkan kegiatan menulis, lalu lakukan hal lain. Baca buku, tonton film, ataupun berbincang-bincang dengan orang lain. Dengan cara demikian, wawasan akan semakin luas, perspektif semakin kaya, sehingga melihat satu hal dari berbagai perspektif.

Kesepuluh, sikap merasa mapan dan tidak mau berkembang.

Sikap merasa cepat mapan ini menghinggapi banyak penulis. Makanya, tulisan mereka tak pernah berkembang, alias jalan di tempat. Sikap merasa mapan ini biasanya ditandai sikap cepat puas atas hasil karya, tanpa mau mengasah diri untuk membuat karya itu lebih baik. Jika ingin terus berkembang, maka seseorang harus terus membuka diri pada berbagai perkembangan baru sembari terus mengisi tulisannya dengan berbagai energi baru yang diharapkan bisa membuat tulisan itu lebih bertenaga.

Menulis harus dilihat sebagai proses untuk terus menyempurnakan diri. Makanya, segala masukan dan kritik ataupun apresiasi harus diubah menjadi nutrisi yang membuat perjalanan kepenulisan seseorang menyempurna. Niatkan tulisan sebagai cermin diri untuk terus berkembang, serupa tunas yang lalu tumbuh dan menjadi pohon rindang. Pada titik tertentu, menulis menjadi ajang pembelajaran yang paling mengasyikkan, hingga akhirnya seseorang tiba-tiba saja berada di ketinggian, tanpa disadarinya.

Anda mengalami kesulitan dalam menulis? Yuk, kita bisa belajar bersama.


Sepenggal Kisah tentang Sahabat asal Papua



SAHABAT ini bernama Ricardus Keiya. Ia berasal dari Paniai, Papua. Beberapa tahun lalu, dia datang bersama rombongan calon mahasiswa dari Papua untuk belajar di salah satu kampus besar di Bogor. Ada 40 lebih mahasiswa dari Paniai, yang datang dalam tiga angkatan di kampus itu. Dari desa-desa di Papua, mereka datang dengan harapan untuk belajar hal baru, lalu membawanya ke kampung halaman.

Sekian tahun berlalu, satu demi satu mahasiswa Papua itu berguguran. Jauh lebih banyak yang di-DO dengan berbagai alasan. Dari 40 mahasiswa, hanya ada dua yang bertahan dan berhasil diwisuda, yakni sahabat ini dan seorang lagi. Dia mengungkap beberapa alasan. Mulai dari standar dan kualitas SMA yang tidak setara antara timur dan barat, ketidaksiapan menghadapi persaingan, kebiasaan kampung halaman yang dibawa ke kota, hingga banyaknya hal yang memecah konsentrasi di kota-kota.

Saya tersentuh saat dirinya bercerita tentang masa-masa awal yang berat. "Tiba-tiba saya disuruh belajar kalkulus. Padahal, waktu SMA saya tidak kenal binatang bernama kalkulus itu." Jangankan dia, saya pun akan “taputar” kalau disuruh belajar kalkulus. Tapi dia cukup sabar dan tahan banting. Ditanya kiat suksesnya, ia tak tahu hendak menjawab apa. Selama kuliah, ia lebih banyak bermain bola. Beberapa kali menjadi pemain sepakbola terbaik, serta mengantarkan timnya menjadi juara adalah prestasinya. Olahraga membuatnya terkenal di seantero kampus.

Banyaknya mahasiswa yang berguguran ini menjadi catatan penting untuk mendiskusikan program serupa di masa mendatang. Saya mendengar pemerintah pusat akan mendatangkan banyak siswa dari Papua untuk belajar di sekolah-sekolah menengah di Jawa, juga mendatangkan mahasiswa untuk belajar di Jawa. Lagi-lagi, Jawa dianggap lebih beradab dari pulau tempat saudara kita di ujung timur sana. Orang Timur harus ke barat untuk mendapatkan pendidikan yang lebih memadai.

Mengapa kita tak membalik kenyataan itu? Mengapa kita tak membenahi fasilitas pendidikan di Papua menjadi yang terbaik sehingga anak-anak Papua tak perlu jauh-jauh ke Jawa? Kenapa tak buat sekolah-sekolah keren, menciptakan guru-guru hebat, hingga menjadikan sekolah di sana sebagai sekolah terbaik? Mengapa kita tak membuat hal paling bagus di sana, biar mahasiswa dari Jawa yang datang ke sana untuk menuntut ilmu?

Kita sedang menyaksikan kesenjangan. Kita menyaksikan ketertinggalan timur atas barat. Hanya dengan cara memahami masyarakat Papua, serta berpikir sebagaimana mereka, banyak hal hebat bisa lahir di sana. Tanpa memahami apa yang diinginkan orang Papua, program sebagus apapun hanya akan sia-sia. Tanpa mengajak mereka bercerita tentang dunianya, mustahil merencanakan satu format pendidikan yang bisa menjawab apa yang mereka inginkan.

Ah, apapun itu, saya senang bersahabat dengannya. Satu pekerjaan telah mempertemukan kami. Selanjutnya, dia banyak membantu saya. Cukup sering saya memanggilnya datang untuk sama-sama melakukan sesuatu. Ketika dia datang dan bercerita yang lucu-lucu, dunia langsung terasa indah. Dalam banyak hal, kami punya kesamaan. Mulai dari melihat kehidupan dengan sederhana, tak suka bahas yang serius-serius, suka membahas hal-hal lucu, hingga sama-sama suka menghabiskan hari dengan bercerita ngalor-ngidul.

Tapi beberapa hari ini, dia nampak kalut. Dia nampak sedih. Sebagai sahabat, saya berharap bisa menghiburnya. Kepadanya saya hanya bisa berucap, “Kaka jangan sedih. Selalu bahagia yaa”


Bogor, 19 Januari 2016

Indonesia di Mata Bule Australia


sampul buku

KISAH-kisah tentang perjalanan orang Indonesia ke luar negeri telah banyak ditulis. Saya pun pernah menulis satu buku yang isinya perjalanan di negeri lain. Namun, amat jarang ditemukan buku yang berisikan pengalaman orang luar yang datang ke tanah ini. Salah satu di antaranya yang patut dibaca adalah buku Stormy with a Chance of Fried Rice yang ditulis bule asal Australia, Pat Walsh.

Yang khas dari buku ini adalah sudut pandang Pat Walsh yang tak biasa. Ia memotret bagaimana warga biasa sedang bertarung hidup di Jakarta. Ada kisah tentang karyawan di sebuah kafe, pengemis yang duduk di dekat jembatan penyeberangan, serang pengemudi bajaj, sopir taksi, pembantu, hingga penjual jamu juga dicatat dalam artikel.

Namun, ada hal yang membuat saya lama tercenung seusai membaca buku ini. Apakah gerangan?

***

PEREMPUAN itu bernama Nur. Ia berjualan di salah satu ruas jalan arteri kota Jakarta. Ia berjualan di area yang tak dibolehkan oleh pemerintah. Ia menempuh risiko demi mendapatkan banyak pembeli. Ia bisa melihat celah-celah atau kelengahan pemerintah dalam mengawasi pedestrian. Dengan cara itu, ia bisa bertahan hidup.

Ia berjualan rempeyek dan kripik singkong yang dikemas dalam bungkusan plastik yang rapi. Terdapat 20 rempeyek yang dibawanya, yang lalu terjual sebanyak lima bungkus dalam sehari. Jika satu bungkus terjual 10 ribu rupiah, ia mendapatkan 50 ribu rupiah sehari. Baginya, ini jumlah yang cukup besar demi membayai keperluannya. Suatu hari, seorang lelaki bule, tiba-tiba saja mengajaknya berbincang.

“Untuk apa kamu berdagang snack ini?” tanya bule tersebut.
“Untuk mudik. Agar saya bisa pulang kampung ke Jawa Tengah untuk merayakan Idul Fitri,” katanya.

Dialog itu berakhir. Tapi bagi si bule, peristiwa itu terus terngiang-ngiang dalam batinnya. Ia menyadari dorongan paling kuat bagi kebanyakan bangsa Indonesia untuk bekerja dan mencari nafkah adalah keinginan untuk merayakan Idul Fitri di kampung halaman. Ini menjelaskan bahwa meskipun seseorang telah lama tinggal dan berumah di Jakarta, namun keasadaran tentang kampung halaman masih tertanam kuat.

Orang Indonesia serupa merpati yang selalu ingin kembali ke rumah, sejauh apapun ia mencari nafkah. Kesadaran itu telah menggerakkan ekonomi, menjadikan momen mudik sebagai peristiwa kultural terbesar yang ada di Indonesia. Dari berbagai penjuru, orang-orang ke kampung halamannya untuk sekadar bertemu keluarga, serta memperkokoh identitas sebagai warga kampung. Padahal, orang-orang tersebut telah lama mukim di Jakarta.

***

BULE itu bernama Pat Walsh. Ia berasal dari Melbourne, Australia. Ia datang ke Jakarta untuk bekerja pada satu lembaga yang concern pada hak asasi manusia di Indonesia dan Timor Leste. Selama 12 bulan, ia tinggal di Jakarta. Ia lalu mencatat banyak hal-hal menarik, yang kadang luput dari pandangan banyak orang asing.

Buku Stormy with a Chance of Fried Rice ini adalah kumpulan catatannya tentang pengalaman selama di Jakarta. Sudut pandangnya tak biasa sebab ia memotret banyak kepingan realitas tentang orang-orang yang terpinggirkan. Selain kisah tentang Nur, seorang penjual makanan ringan, ia juga mencatat banyak kisah tentang mereka yang berada di tepian, yang seringkali terabaikan oleh kelas menengah Jakarta.

Nampaknya, ia serupa peneliti yang rajin mewawancarai lalu mencatat setiap detail amatan. Ia menyenangi pertemuan dengan bayak sosok, menggali kisah-kisah di baliknya, lalu mengisahkan ulang dalam narasi yang kuat. Buku ini bisa dikatakan sebagai rekaman tentang warga Jakarta dari berbagai latar belakang. Melalui buku ini, kita melihat sisi lain jakarta, sisi yang tak kita temukan dalam berbagai sinetron atau borusr pemerintah, namun menjelaskan dengan jujur tentang kota berpenduduk jutaan jiwa ini.

Sepintas, kerja-kerja Pat Walsh ini mengingatkan saya pada kerja Humans of New York, salah satu fanpage di Facebook yang paling saya sukai dan selalu saya ikuti postingannya. Human of New York menyajikan foto-foto tentang orang New York, lalu menyisipkan cerita-cerita menarik sebagai pengantar atas foto itu. Fotoyang ditampilkan adalah warga dari berbagai lapis sosial. Mulai dari karyawan kantoran hingga seorang homeless atau tuna-wisma. Yang terpenting di situ adalah kisah-kisah dari beragam manusia yang tinggal di satu ekosistem bernama New York. Tak percaya? Silakan cek Human of New York, trus like. Keren lho.


Bedanya, yang ditampilkan Pat Walsh adalah narasi-narasi, tanpa menampilkan gambar. Andaikan ada gambar, maka bukunya akan jauh lebih bertenaga. So far, saya cukup menikmai narasi yang tersaji dalam buku berbahasa Inggris khas Aussie ini. Setidaknya saya bisa belajar banyak hal tentang bagaimana orang luar membingkai segala peristiwa di tanah air kita. Saya bisa memahami apa yang mereka rasakan saat melihat satu keping realitas di sekitar.

Ada beberapa tulisan yang menarik. Pada bahagian awal, Pat bercerita tentang perayaan hari pahlawan 10 November di Jakarta. Sejumlah anak-anak datang ke Gedung Juang dengan menggunakan seragam. Bagian yang membuatnya terheran-heran adalah saat semua anak berbaris dan mencium bendera. Pat bertanya-tanya, apakah gerangan pesan yang hendak disampaikan. Lebih terheran-heran lagi saat melihat seorang pria berorasi dengan gaya khas Bung Tomo untuk membangkitkan semangat. Kembali ia bertanya-tanya, untuk apa gerangan.

Meskipun tak menulis rinci tentang perasaannya, saya bisa memahaminya. Sebab di luar negeri, kesadaran tentang nasionalisme dan bela negara tidak ditanamkan lewat aksi cium bendera atau pidato penuh semangat. Kesadaran itu ditumbuhkan sebagai sesuatu yang organik, melalui kehadiran negara untuk melindungi warganya, melalui pelayanan publik serta perlindungan atas hak asasi manusia, serta melalui kebajikan-kebajikan negara yang menyantuni warganya.

Sebagai bule, tentu saja, Pat Walsh juga sering mendapat stereotype sebagai sosok yang kaya-raya. Seorang teman bule saya pernah bercerita kalau orang Indonesia selalu mengira dirinya adalah karyawan perusahaan tambang, atau perusahaan besar yang bergaji ribuan dollar. Pat Walsh mengalami bagaimana seorang pengemudi taksi selalu menyebut tarif hingga 200 ribu rupiah, untuk jarak yang pernah ditempuhnya dengan taksi dan hanya membayar 20 ribu rupiah.

***

YANG membuat saya tercenung seusai membaca buku ini adalah kesadaran tentang kota sebagai satu ruang besar yang menjadi rumah bagi banyak orang, yang ternyata tidak banyak saling mengenal. Harus diakui, kita banyak berinteraksi dengan orang, akan tetapi tidak membuat kita saling mengenal. Kita hanya tahu seseorang berprofesi sebagai pembantu, tanpa tahu siapa namanya, berasal dari mana, serta mengapa sampai menjadi pembantu.

Kota serupa himpunan rumah-rumah yang warganya tak selalu berinteraksi. Pergaulan kita amatlah terbatas. Kita hidup dalam penjara ego yang membuat kita kehilangan empati. Akan tetapi, dalam diri kita, ada kesadaran untuk mengenali dan mengetahui apa yang dialkukan orang lain. Makanya, banyak di antara kita yang mengidap penyakit kepo, selalu ingin tahu yang dilakukan orang lain. Mungkin, ini pula yang menjelaskan mengapa kita semua suka gosip, suka selancar di media sosial, suka memantau gosip tentang orang lain.

Yang dilakukan Pat Walsh sepintas terkesan biasa saja. Bagi kita orang Indonesia, apa yang dilakukannya ini barangkali telah lama kita tahu. Tapi bagi publik luar, yang dilakukannya ini adalah upaya untuk mengenali Indonesia, memahami pengalaman warga, mengetahui betapa abainya negara terhadap mereka, serta memahami fakta penting tentang betapa banyaknya kisah-kisah yang tersaji dalam kota, yang seharusnya bisa mengasah nurani kemanusiaan kita.

Pada titik ini, Pat Walsh telah menjadi juru bicara tentang sisi terdalam tanah air kita.

Bogor, 30 Januari 2016

BACA JUGA:




Jared Diamond, Pangan, dan Peradaban



BUTUH dua hari untuk menuntaskan buku berjudul Guns, Germs, and Steel, yang ditulis Professor Jared Diamond, pengajar di University of California, Los Angeles (UCLA). Mulanya, saya seolah membaca buku sejarah tentang perkembangan masyarakat. Selanjutnya, saya tahu bahwa buku ini bukan sekadar sejarah. Yang saya temukan adalah kekuatan-kekuatan yang menyangga sejarah, yakni faktor geografis dan lingkungan sebagai cikal-bakal lahirnya peradaban dan kebudayaan.

Buku ini menyajikan petualangan menyusuri argumentasi tentang lingkungan yang lalu membentuk budaya. Yang hendak dijawab adalah mengapa ada bangsa yang begitu cepat mencipta sains dan teknologi, sehingga mengalami kemajuan, sedangkan bangsa lain justru terbelakang. Mengapa ada yang unggul lalu datang dan menjajah, dan ada bangsa yang justru diam di tempat sehingga mudah dicaplok. Apakah ini faktor budaya ataukah lingkungan yang lalu membentuk budaya?

Semuanya dimulai dari pangan dan ternak. Hah?

***

SUATU hari di tahun 1972, Jared Diamond melakukan riset di Papua New Guinea. Sebagai ahli biologi yang datang untuk meneliti burung, ia menjalin relasi dengan warga suku-suku di daerah itu. Ia menjalin persahabatan dengan seseorang bernama Yali, yang lalu mengantarnya ke banyak tempat.

Di sepanjang perjalanan itu, Yali terus bertanya banyak hal. Mulai dari burung-burung yang diteliti, sejarah penyebaran burung, hingga muncul pertanyaan yang lebih kompleks, misalnya siapa nenek moyang orang Papua, dan bagaimana orang-orang berkulit putih datang ke wilayah itu untuk menjajah dan mengambil barang berharga.

Pembicaraan semakin menarik saat membahas nenek moyang orang Papua. Pernah ada masa ketika orang Papua dan orang barat sama-sama hidup di zaman batu. Namun setelah itu, orang barat memasuki zaman logam lalu mencipta banyak perkakas lalu melahirkan banyak kemajuan bagi peradaban. Sementara, banyak orang Papua yang masih hidup di zaman batu. Suatu hari, Yali mengajukan pertanyaan menohok:

“Mengapa kalian orang kulit putih membuat begitu banyak barang berharga dan membawanya ke Papua, tapi kami orang kulit hitam memiliki begitu sedikit barang berharga itu sendiri?

Pertanyaan itu sedemikian membekas di hati Jared Diamond. Sebagai seorang biolog, ia belum bisa menyajikan satu jawaban yang akurat. Belakangan, ia tahu kalau para sejarawan pun masih berselisih pendapat tentang jawaban pertanyaan itu. Sebagai ilmuwan, ia lalu mengumpulkan bahan-bahan lalu mempelajarinya. Akhirnya, 25 tahun berikutnya, ia lalu melahirkan buku Guns, Germs, and Steel yang diniatkan sebagai jawaban atas pertanyaan Yali. Entah, apakah Yali masih ada dan bisa menyimak jawaban atas pertanyaan itu. Akan tetapi, jawaban yang diberikan Jared kaya dengan analisis lingkungan serta berbagai fakta yang menopang argumentasinya. Ia menyajikan gagasan tentang bagaimana perbedaan geografi bisa mempengaruhi jalannya sejarah berbagai suku bangsa.

Faktor penting yang menentukan kemajuan satu bangsa adalah pertanian. Pada mulanya, semua suku bangsa memiliki tradisi berburu dan mengumpulkan (hunting and gathering). Akan tetapi pekerjaan ini banyak menyebabkan kematian, serta kelelahan. Manusia mesti mencari cara lain untuk bertahan. Mulailah muncul era pertanian. Manusia lalu berusaha untuk menanam jenis tanaman tertentu, lalu memanennya, untuk kemudian disimpan sebagai persiapan menghadapi musim paceklik.

Masyarakat yang menghasilkan pangan yang berlebih, memiliki waktu untuk mengembangkan populasi. Pada masyarakat berburu, populasi berkembang lambat, tapi pada masyarakat pertanian, populasi bisa lebih banyak, sebab manusia punya kelebihan waktu untuk mengumpulkan makanan. Selanjutnya, kelebihan pangan akan dijual ke masyarakat lain sehingga era perdagangan dimulai. Pasar lalu dibuka di mana-mana. Ketika organisasi sosial semakin kompleks, maka dibutuhkan satu pengaturan masyarakat. Struktur sosial terbentuk. Era pembagian kerja dimulai, suatu halyang tak ada pada masyarakat yang masih memiliki tradisi “hunting and gathering.” Selanjutnya, tercipta banyak perkakas, yang bahan bakunya adalah steel (baja), yang lalu diolah menjadi senjata. Saat orang Cina mengembangkan mesiu, maka paduan antara mesiu dan baja ini melahirkan guns (senjata). Dimulailah abad eksplorasi ke dunia baru oleh orang Eropa di Asia dan Amerika.

Pertanyaannya kemudian, mengapa saat Columbus berlayar ke amerika di tahun 1492, ia tidak menemukan masyarakat yang selevel dengan Portugal yang membiayai ekspedisinya ke dunia baru? Mungkin jawabannya adalah muncunya kelas kapitalis, yang memiliki semangat ilmiah, serta daya nalar yang lalu menggerakkan teknologi, ide kemajuan, serta struktur sosial. Namun jawabannya tidaklah sesederhana itu. Bisa pula kita mengajukan pertanyaan lain. Mengapa setiap bangsa menempuh trajektori yang berbeda? Apa yang menjelaskan perbedaan itu?

Kata Jared Diamond, jawabannya adalah geografi.

Kita mungkin agak aneh dengan jawabannya. Selama ini, sejarah kita berisikan kisah tentang manusia-manusia besar yang melakukan penaklukan. Mulai dari kisah Alexander the Great, Julius Caesar, hingga Sultan Saladin. Mereka adalah manusia-manusia besar yang lahir dari rahim sejarah. Berbeda dengan kisah-kisah manusia, Jared Diamond memaparkan argumentasi tentang faktor geografi, yang lalu mempengaruhi lingkungan, hingga akhirnya mempengaruhi kebudayaan. Baginya, manusia-manusia besar itu lahir dari satu masyarakat yang lebih kompleks sehingga memiliki sains dan teknologi yang berkembang lebih pesat dari masyarakat lainnya.

Yang membuat saya terdiam adalah pernyataan bahwa masyarakat yang mengalami kemajuan pesat bukanlah masyarakat yang berlimpah hasil alam, melainkan manusia-manusia yang berhadapan dengan alam yang tak menyediakan banyak pangan. Sebab pada saat itu, manusia lalu mengembangkan pengetahuan untuk menjamin ketersediaan pangan, sehingga melahirkan teknologi pertanian. Setelah itu, manusia lalu berusaha untuk mendomestikasi hewan, lalu menggunakannya untuk membantu kegiatan manusia. Pengetahuan inilah yang membawa kemajuan di bidang lain.

Namun harus dicatat, kemampuan mendomestikasi hewan ini awalnya mendatangkan banyak germs (kuman) penyakit. Germs merupakan kuman pembunuh manusia paling ganas dari zaman dulu. Sebut saja cacar, kolera, disentri, tipus, malaria, dan lain-lain. Pada abad ke-14, Eropa pernah terserang penyakit the black death yang diperkirakan membunuh warga hingga 200 juta orang. Penyebabnya kuman Xenopsylla Cheopis. Ini mempengaruhi perubahan sosiologi masyarakat, berupa berkurangnya kepercyaan pada gereja, hingga individualisme. Mereka yang bertahan adalah mereka yang bisa mengembangkan kekebalan atas kuman. Saat orang Eropa mengeksplorasi Amerika, Asia, dan Afrika, mereka lalu membawa berbagai binatang yakni kuda, ayam, tikus, itik, dan lain-lain. Kembali kuman lalu menyebar. Korbannya lebih banyak dari 200 juta orang Eropa yang tewas pada abad ke-14.

Jujur, saya sendiri tak begitu percaya dengan faktor geografis ini. Di kalangan mereka yang mengkaji budaya, pastilah akan meragukan ‘geographic determinism’ ini. Hanya saja, saya mengakui bahwa kondisi-kondisi lingkungan harusnya bisa menjelaskan kemajuan. Bahwa penguasaan pada pertanian akan memberikan waktu lebih bagi satu masyarakat untuk mengasah kecakapan pada aspek lain. Bangsa-bangsa Eropa mencapai kemajuan berkat pengetahuan tentang pertanian, serta bagaimana mendomestikasi hewan. Meskipun untuk kemajuan itu, manusia harus menghadapi wabah penyakit yang sempat menelan jutaan orang.

Bagian yang saya sukai dari buku ini adalah kisah tentang perang di Cajamarca di Peru tahun 1532. Saat itu, penjelajah Spanyol Fransisco Pizarro bersama 168 prajurit yang sangat payah, malah berhasil membantai 80.000 prajurit Inka, lalu membunuh pemimpinnya Atahuallpa. Kemenangan itu bermula dari kompleksitas masyarakat Eropa akibat sektor pertanian, lalu mempengaruhi teknologi dan pengetahuan tentang masyarakat lain.

Rahasia kemenangan, yang nyaris tidak masuk akal itu, terletak pada digunakannya kuda sebagai kendaraan perang, yang lalu membuat barisan Inka tercerai berai, serta teknologi logam dan baju besi, yang membuat 169 prajurit Spanyol itu tak terkalahkan. Prajurit Inka, yang bersenjatakan batu, lalu menjadi sasaran empuk bagi prajurit Spanyol yang brsenjatakan pedang tajam. Pada titik ini, teknologi persenjataan, kemampuan menjadikan kuda sebagai kereta perang, hingga informasi tentang suku Inka, yang lalu menjadi rahasia di balik kemenangan itu.

***

TENTU saja, masih banyak hal menarik yang bisa dibahas dari buku ini. Mulai dari bagaimana perkembangan teknologi pangan yang lalu membawa kemajuan, domestikasi hewan yang lalu menghadirkan penyakit yang membunuh jutaan manusia, hingga bagaimana teknologi baja mempengaruhi kemenangan di banyak arena pertempuran.

Untuk soal-soal di paragraf atas, saya masih membutuhkan waktu untuk membaca ulang buku ini, menata ulang barisan fakta demi fakta, lalu menuliskannya lagi di blog ini. Semoga saya masih bersemangat untuk melakukannya. Semoga.


Bogor, 25 Januari 2016

Terpopuler Minggu Ini

Menulis, Meditasi, Kejernihan

...
...