Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Empat Sesat Pikir Politisi dan Caleg di Media Sosial




KURANG dari setahun lagi pemilihan umum (pemilu) akan digelar. Pemilu kali ini diyakini beda dengan sebelumnya. Semakin banyaknya pemilih milenial yang menghabiskan waktu untuk berselancar di dunia internet telah menyebabkan teritori pertarungan bergeser. 

Dulu, pertarungan ide berlangsung di mimbar-mimbar kampanye, rapat terbuka, pengerahan massa, roadshow keliling daerah, baliho dan spanduk, serta aksi-aksi lapangan. Kini, teritori pertarungan akan banyak bergeser di internet, khususnya media sosial. 

Generasi milenial tidak mau didikte di kampanye terbuka yang menghadirkan artis dangdut. Generasi ini lebih suka duduk di rumah atau warung kopi, dengan laptop dan gadget di tangan. Mereka suka berselancar di media sosial dan memantau apa yang terjadi di situ. Ketika mereka menyukai satu figur di situ, maka mereka akan tetap memilih figur itu di dunia nyata.

Eric Schmidt, salah seorang bos Google, telah meramalkan fenomena ini. Katanya, dunia sekarang terbagi dua yakni dunia nyata dan dunia maya. Masing-masing dunia punya warga yang beraktivitas. Kata Eric, ada kecenderungan semua pemilik rumah di dunia nyata ingin membangun rumah di dunia maya yang luas dan tak bertepi. Jika Anda tak punya website, rumah, avatar, atau akun di media sosial, maka Anda tidak eksis. Anda tidak dikenal. 

Yang menarik, kata Eric Schmidt, semua perilaku di dunia nyata akan dipengaruhi oleh dinamika wacana di dunia maya. Dalam konteks politik, apa saja yang menjadi wacana di media sosial, pasti akan mempengaruhi wacana di dunia nyata. Itu sudah terjadi di banyak momen politik di tanah air. 
Beberapa hari lalu saya bertemu konsultan politik yang bekerja untuk salah satu pasangan yang kalah di pilgub Jawa Barat. Dia bercerita tentang adanya satu segmen besar masyarakat yang meskipun sudah dibombardir program dan hadiah-hadiah, tetap saja ngotot untuk pilih Ridwan Kamil (RK), sang pemenang. Setelah dicek, masyarakat itu malah belum pernah bertemu RK. 

Setelah diteliti lebih dalam, ternyata mereka adalah pengguna media sosial yang terlanjur menyukai semua postingan RK. Mereka telah lama menjadi pengikut (follower), ikut berinteraksi dengan pujaannya, serta bisa merasakan dan mengalami semua yang dialami RK melalui media sosialnya.

Kata konsultan itu, mau tak mau, media sosial akan menjadi pilihan utama bagi setiap kandidat sebagai amunisi untuk memasuki pertarungan politik. Media sosial telah merevolusi dunia politik Indonesia sehingga pertarungan politik tidak lagi berbiaya mahal dan melelahkan. 

Dulu, biaya mendatangi orang-orang sangat besar, apalagi jika lokasinya berjauhan. Sekarang, Anda hanya butuh perangkat teknologi, koneksi internet, dan sedikit kuota atau pulsa. Anda sudah punya kesempatan untuk menyapa ribuan warga di daerah pemilihan Anda.

Tampaknya, banyak politisi mulai menyadari itu. Setahun terakhir, saya mengamati media sosial yang semakin riuh dengan kehadiran politisi. Media sosial jadi ramai dengan banyak politisi yang rajin memposting sesuatu. Jika politisi dan caleg itu hendak memasarkan ide dengan harapan punya pengikut di situ, maka dia harus menyiapkan semua konten dengan baik. 

Persoalannya, banyak di antara politisi yang bukan berasal dari kalangan milenial sehingga tidak memahami dengan baik dinamika di situ. Sejauh yang saya amati, ada banyak salah kaprah di kalangan politisi yang baru memasuki media sosial.

Pertama, banyak yang mengira dunia medsos akan sama dengan dunia nyata. Jika di dunia nyata dirinya seorang tokoh di mana semua orang akan sopan dan hormat, maka dia berharap hal yang sama akan berlaku juga di dunia maya.

Pernah saya bertemu seorang politisi yang amat benci dengan media sosial. Dia kesal karena apa yang dibagikannya tidak ditanggapi orang lain, sementara orang biasa lainnya malah justru bisa jadi seleb medsos. Politisi ini kesal karena orang-orang menyapa dan memberi komentar yang dianggapnya merendahkan. Dia tak suka dipanggil Om atau Bro. Dianggapnya itu merendahkan. 

Di media sosial, orang memang tak boleh baper. Kalau gampang marah, maka sebaiknya jangan masuk rimba media sosial. Di situ, semua orang bebas bicara dan komentar apa saja sepanjang itu masih dalam batasan etika netizen. 

Politisi ini tidak paham kalau di media sosial, semua orang berposisi sama. Tak ada identitas yang pasti di situ. Tak ada istilah usia dan status sosial. Malah orang bisa memilih berbagai foto dan avatar, kemudian menyebut itu dirinya. Orang bisa saja mengaku laki-laki atau perempuan. Semua orang punya ruang yang sama untuk saling sapa dan berinteraksi. Siapa yang paham interaksi medsos, akan lebih disukai banyak orang.

Jangan juga mengira popularitas Anda di dunia nyata akan berlaku sama di media sosial. Itu sih keliru besar. Di media sosial, semua orang sama. Yang disukai adalah pihak yang bisa mencerahkan, memberi inspirasi, dan memperlakukan semua orang lain secara wajar dan berinteraksi. Anda tak bisa menuntut orang lain untuk menanggapi semua postingan Anda hanya karena Anda orang hebat di dunia nyata.

BACA: Dulu Ternak Kambing, Kini Ternak Akun Instagram

Kedua, banyak orang yang mengira media sosial gampang dikuasai. Dipikirnya, cukup rajin posting, maka dirinya akan populer. Biarpun Anda bikin postingan sampai lebih dari sepuluh dalam satu hari, tidak ada jaminan Anda akan populer. Belum tentu orang akan menyukai apa pun yang Anda bagikan. Di media sosial, semakin sering postingan Anda disukai dan dibagikan, maka popularitas Anda akan semakin besar. Demikian algoritma media sosial bekerja.

Jangan juga kaget melihat seorang “anak kemarin sore” tiba-tiba jadi seleb di media sosial. Padahal, postingannya biasa-biasa saja. Palingan hanya kegiatan sehari-hari. Kok bisa populer? Sebab anak kemarin sore itu tahu siapa pengikutnya di media sosial. Dia kenali siapa pasarnya dan bisa menyediakan konten yang sesuai dengan kebutuhan pasarnya itu. Dia bisa membaca pasar, lalu menampilkan karakter dirinya sesuai dengan yang dibutuhkan pasar. Dia tahu cara memenangkan wacana di media sosial.

Setahu saya, tak ada cara instan di media ini. Bahkan ketika kita membayar untuk sponsor dan iklan facebook, tetap saja tak ada jaminan apa yang kita tulis akan disukai dan dibagikan, jika kontennya memang tidak menarik. Artinya, hal terpenting untuk dikelola adalah konten. Semakin menarik, maka semakin besar potensi untuk disukai dan dibagikan.

Popularitas di media sosial tidak diukur dari berapa banyak posting. Bukan juga dari berapa banyak biaya yang kita keluarkan. Popularitas selalu terkait dengan seberapa jauh kita bisa menyentuh hati orang lain, seberapa dalam kita membuka wawasan, serta meninggalkan jejak di hati orang lain. Langkah ini jelas tidak mudah. Orang-orang butuh proses yang perlahan-lahan hingga akhirnya menjadi tetes air yang bisa menembus batu.

Ketiga, banyak politisi yang menjadikan media sosial hanya sebagai ruang untuk pencitraan saja. Sebenarnya, tak ada masalah dengan pencitraan sebab semua orang melakukannya. Pada titik tertentu, pencitraan akan positif jika menyentuh hati publik.

Tapi pencitraan akan jadi negatif ketika dilakukan terlalu sering sehingga menimbulkan kebosanan publik. Contoh yang bisa diangkat di sini adalah iklan kampanye Aburizal Bakrie yang begitu massif di stasiun televisi. Pada satu waktu, iklan ini tidak mengundang simpati, tetapi antipati sebab terlalu sering tampil sehingga publik bosan.

Pencitraan itu juga memosisikan seseorang seperti malaikat. Sejauh yang saya amati di media sosial, orang-orang lebih suka figur yang otentik dan apa adanya. Anda tak perlu menampilkan hal hebat. Cukup ide-ide atau gagasan biasa, tapi itu menggambarkan apa yang menjadi keresahan banyak orang. 

Anda bisa menyederhanakan semua yang rumit-rumi sehingga dipahami orang, sehingga banyak orang yang tercerahkan. Sekali Anda mencerahkan orang lain, maka dia akan menjadi pengikut setia atas semua yang kamu bagikan.



Menurut riset yang dilakukan Alvara, generasi milenial dan pengguna media sosial tertarik pada beberapa hal. (1) Mereka peduli dengan masalah sosial, makanya muncul petisi online dan situs berbagi. (2) Generasi ini suka berbagi pengetahuan, keterampilan, dan wawasan lainnya. Makanya, mereka suka dengan berbagai informasi mengenai tutorial. Banyak di antara mereka yang jadi referensi bagi rekannya. (3) mereka punya solidaritas yang tinggi pada follower (pengikut). Mereka suka mengabarkan apa pun. Mereka suka saling sapa dan memberitahu apa yang telah dan sedang dilakukan.

Keempat, banyak politisi yang menjadikan media sosial hanya sebagai pemantul dari berbagai isu-isu negatif mengenai calon presiden atau politisi Jakarta. Artinya, politisi ini menjadikan media sosial hanya sebagai arena tempur di mana dirinya adalah prajurit. 

Di satu kanal media sosial, saya menyaksikan seorang caleg yang sibuk menyebar berita yang isinya kejelekan atau fakta keburukan seorang calon presiden. Saya senyum-senyum sendiri saat melihatnya. Caleg ini tidak berpikir strategis. Harusnya dia menyadari bahwa pemilih di Indonesia terbagi dalam dua kelompok besar. Harusnya dia berkampanye bahwa siapa pun presidennya, maka caleg yang dipilih adalah dirinya sendiri.

Lagian, ketika dia hanya sibuk menjelekkan satu calon, maka sudah pasti dia akan kehilangan suara dari pendukung kubu yang dijelek-jelekkannya itu. Belum tentu juga pencinta capresnya akan mendukung dirinya. Sebab tindakan menjelekkan orang lain tidak selalu mengundang simpati.  Lantas, apa yang harus dilakukan?

Kata Sun Tzu, “Kenali dirimu, kenali lawanmu, maka ratusan pertempuran akan kamu menangkan.” Belajar dari Sun Tzu, seorang pakar strategi perang, jauh lebih baik jika kita mengenali kekuatan kita, apa saja yang kita miliki, kemudian mengenali musuh dan mengenali medan perang. Daripada fokus dengan medan perang orang lain, lebih baik kita fokus pada kekuatan apa yang kita miliki.

Jika saya dimintai masukan sama caleg itu, saya akan bilang padanya kalau arena pilpres bukanlah arena pertarungannya. Jika dia punya ide yang sama dengan capres, bolehlah ide itu memperkuat skema pemenangannya. Lebih baik dia fokus pada medan perang yang akan dia hadapi. Temukan di mana letak kekuatan, kemudian rencanakan strategi yang tepat untuk memaksimalkan semua kekuatan itu. 

Daripada sibuk memikirkan arena tempur orang lain, lebih baik memikirkan arena tempur yang akan kita hadapi. Sebab orang lain menang, belum tentu kita kecipratan. Tapi jika diri kita yang menang, maka sudah pasti banyak hal yang bisa kita lakukan. Iya khan?

*** 

NAH, itu hanya segelintir hal yang saya amati. Menurut saya, setiap politisi harus melihat media sosial sebagai arena yang harus dimenangkan dengan citra yang positif. Tak ada guna menjadikannya sebagai arena perang dan menebar musuh di mana-mana. Lebih baik serap energi positif sehingga orang-orang akan merasakan gelombang dan manfaat yang sama.

Kalaupun politisi itu tidak punya waktu dan tidak tahu bagaimana memanfaatkannya, maka dia bisa bekerja dengan satu tim media sosial yang punya kecakapan sebagai intelligence assistant.  Dalam buku Thomas L Friedman yang judulnya Thank You for Being Late, ada bab menarik mengenai bagaimana mengubah Artificial Intelligence menjadi Intelligence Assistant. 

BACA: Berbekal Media Sosial, Anak Ini Memenangkan Obama 

Maksudnya, bagaimana mengubah kecerdasan buatan (artificial intelligence) menjadi asisten cerdas (intelligence assistant). Di masa depan, profesi sebagai intelligence assistant akan makin marak. Di era kecerdasan buatan, seseorang butuh teman-teman atau asisten untuk berdiskusi yang bisa menopang sisi intelektual, memahami bahasa media sosial, dan mengembangkan aplikasi untuk merespon semua isu. 

Dibutuhkan pemahaman mengenai bagaimana media sosial demi bisa memaksimalkannya untuk kemenangan, baik di ranah bisnis maupun politik. Dibutuhkan satu strategi sehingga popularitas akan tinggi sehingga membawa dampak pada elektabilitas. Kita sudah menyaksikan strategi itu berjalan di beberapa pemilihan kepala daerah.

Seorang teman politisi pernah bercerita bahwa di pilkada barusan, strategi jangka pendek seperti bagi-bagi sembako dan proyek malah gagal di banyak tempat. Kerja politik menjadi kerja jangka panjang, dengan menguatkan karakter yang dilakukan secara konsisten di media sosial. “Sekali seseorang suka sama satu orang, akan sulit mengubah pilihannya,” kata teman itu.

Dia benar.



Iko Uwais Harumkan Silat Indonesia ke Pentas Dunia




NAMA Indonesia kian bergema di jagat hiburan dunia. Sebuah film yang dibintangi aktor Indonesia, Iko Uwais, resmi diputar di Amerika Serikat. Film yang juga dibintangi aktor papan atas yakni Mark Wahlberg ini menjadi panggung bagi aktor Indonesia itu serta bela diri pencak silat yang semakin dikenal dunia. Sepatutnya kita bangga.

Film itu berjudul Mile 22. Gala Premiere film ini telah dilaksanakan di Los Angeles, pada 10 Agustus 2018 lalu. Dalam acara megah itu, Iko Uwais datang bersama para bintang film itu. Selain Mark Wahlberg, ada juga nama-nama seperti  Lauren Cohan, pegulat Rounda Rousey, dan juga diva Korean Pop yang mantan anggota girlband 2NE1 Lee Chae Rin alias CL. 

Film ini adalah film Hollywood keempat yang dibintangi Iko Uwais. Sebelumnya, dia membintangi film Man of Tai Chi bersama Keanu Reeves, Star Wars: The Force Awakens, dan Beyond Skyline. Kebanyakan peran Iko hanya sebagai figuran yang tampil beberapa saat dalam film.  Tapi dalam Mile 22, dia menjadi aktor utama bersama Mark Wahlberg. 

Film ini mengisahkan sekelompok agen CIA yang harus memboyong 'tawanan' berharga mereka sejauh 22 mil. Tawanan ini adalah Iko Uwais yang berperan sebagai Li Noor, yang disebut-sebut menyimpan informasi krusial dan mematikan. 

Diproduksi oleh STX Entertainment, rumah produksi yang sudah mencetak kesuksesan dengan film-film seperti Bad Moms, Free State of Jones, Molly's Game, dan Den of Thieves. Untuk Mile 22, studio ini dikabarkan mengeluarkan biaya produksi sebanyak US$ 35 juta atau setara dengan Rp 504 miliar. 

Permainan Iko termasuk ditunggu semua orang. Saat Gala Premiere, rekaman vidio yang beredar di Twitter menunjukkan betapa banyak bule yang antre untuk mendapatkan tandatangan Iko. Bahkan Iko lebih populer ketimbang Lee Chae Rin, seorang diva atau personel girlband papan atas Korea.

Demikian pula saat sesi foto. Hampir semua orang yang hadir meminta Iko berpose dengan memperagakan gerakan silat. Iko melayani semua permintaan. Ia merentangkan kaki dan mengeluarkan jurus demi memanjakan para fotografer. Tak berhenti di situ, saat wawancara dia memperkenalkan silat kepada publik hiburan dunia.

“Style bela diri saya adalah pencak silat, Ini adalah bela diri yang merupakan tradisi di Indonesia. Saya ingin melakukan kolaborasi antara silat ala Indonesia dengan martial arts ala Hollywood,” katanya saat wawancara.

Mark Wahlberg memuji Iko sebagai bintang laga hebat dari Indonesia. “Iko adalah seorang aktor hebat. Dia membintangi The Raid, sebuah film yang menjadi standar bagi banyak film laga di Amerika,” kata Wahlberg dalam wawancara untuk behind the scene film Mile 22.

Iko perlahan menjadi ikon bela diri Indonesia di level dunia. Sebelumnya, ia menjadi aktor dalam film genre silat yakni The Raid 1 dan The Raid 2, film yang mengejutkan banyak warga dunia. Adegan pertarungan di film itu dianggap menampilkan seni yang brutal, tapi amat mematikan sehingga koreografinya indah dipandang.

BACA: Pusaka Kerambit dalam The Raid 2

Gara-gara film The Raid yang disutradarai Gareth Evans, silat menjadi bela diri yang ingin dieksplorasi film Hollywood. Sampai-sampai, banyak rumah produksi yang hendak memproduksi film laga memajang pengumuman yang isinya dicari orang-orang dengan kemampuan silat. Tak cuma itu, beberapa aktor silat diundang ke Hollywood untuk menjadi koreografer adegan laga di film, serta memberikan pelajaran silat bagi orang Amerika.

Di antara aktor itu, ada nama Yayan Ruhiyan dan Cecep Arif Rahman. Dua nama ini ikut bermain dalam film The Raid yang dibintangi Iko. Mereka telah mengenalkan silat ke panggung dunia, sehingga menjadi bela diri yang membuat banyak orang Amerika penasaran.

Saya ingat tahun 2011, saat saya mendapat kesempatan ke Pittsburgh, Amerika Serikat, dan bertemu Michael, warga Amerika yang mendalami silat. Mulanya dia menyaksikan atraksi silat dan langsung terkesima melihat gerakan-gerakan yang dikiranya kungfu sebab berasal dari Asia. Setelah mengetahui bahwa beladiri yang ditampilkan bukan kungfu, ia makin penasaran. “Sungguh menakjubkan. Saya kagum dengan gerak serta jurus mematikan dari bela diri itu. Seni bela diri ini telah menggemparkan Pittsburgh.“

Di Amerika, beberapa perguruan silat telah lama didirikan. Di antaranya adalah Padepokan Silat Al Azhar, yang bermarkas di Washington. Padepokan ini berdiri sejak tahun 1970 di Masjid Al Azhar oleh Muhammad Sufiyono dan Djauharul Abidin Bakir. Nama Al Azhar sendiri diperkenalkan oleh ulama legendaris Buya Hamka. Selanjutnya, Muhammad Sufiyono lalu memopulerkan silat hingga membuka cabang di banyak negara seperti Amerika Serikat (AS), Australia, Jerman, dan Afrika Selatan.

Di Washington, padepokan ini telah melahirkan beberapa pesilat yang kemudian sering mewakili Amerika Serikat (AS) pada beberapa kejuaraan dunia pencak silat.  Di antara pesilat itu, ada nama Abdul Malik Ahmad yang beberapa kali mewakili AS. Kini, ia berprofesi sebagai pelatih. 

Pria berusia 35 tahun ini mengenal pencak silat sejak usia 15 tahun. Ia diperkenalkan dengan bela diri ini saat berada di masjid di Washington. Setelah coba menjalani, ia langsung jatuh cinta dan memutuskan untuk menjadi pesilat. Mengapa tertarik dengan pencak silat? “Sebab silat memandu kita pada banyak hal. Ada sisi olahraga, namun ada juga sisi spiritual. Silat juga punya banyak senjata. Anda tak akan pernah bosan belajar silat. Selalu ada hal yang baru di situ.”

Satu hal penting, bela diri silat adalah warisan Indonesia yang kini mendunia. Di tambah lagi, bela diri ini tampil dalam beberapa film laga terkenal yang dibintangi Iko Uwais. Silat Indonesia kian mendunia dan menghadirkan kebanggaan bagi seluruh bangsa Indonesia.

Tanggung jawab besar berikutnya adalah bagaimana merawat tradisi ini sehingga tetap dicintai seluruh anak negeri. Jangan sampai, silat berkembang di luar negeri, tapi justru mati di dalam negeri. Ini menjadi tantangan bersama.


Belajar dari Elang




Di banyak tempat, elang adalah contoh burung yang dianggap paling kuat, perkasa, dan penguasa langit. Dari kejauhan, dia bisa melihat mangsa, kemudian mendekat dan mencaplok. Siapa sangka, pada diri elang, ada banyak pelajaran berharga bagi kita manusia. 

Pada umur 40 tahun, elang mulai menua. Cakarnya mulai rapuh. Paruhnya panjang dan bengkok hinga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya juga berat karena bulu telah tumbuh dengan tebal. Dia kesulitan terbang. Dia raja langit yang tidak berdaya.

Elang lalu terbang ke puncak gunung dan bikin sarang di tepi jurang. Dia akan tinggal di sana selama berbulan-bulan dan bersiap melakukan perubahan. Dia mulai mematuk-matuk paruhnya pada batu hingga terlepas. Dia menunggu lama agar paruh baru tumbuh.

Dengan paruh baru, dia mulai mencabut semua cakarnya satu per satu. Setelah itu dia berdiam lagi sampai cakar baru tumbuh. Saat cakar tumbuh, dia mulai mencabuti semua bulu, lalu menunggu hingga bulu baru tumbuh. 

Dengan paruh, cakar, dan bulu yang baru, dia siap menjalani kehidupan baru selama 30 tahun berikutnya. Dia menjadi figure baru yang muda dan lebih kuat, serta berpengalaman.

Kawan yang baik. Pada elang itu, ada banyak pelajaran berharga. Jika elang itu hanya hidup di zona nyaman, dia akan berakhir pada usia 40 tahun. Tapi dia berani keluar dari zona nyaman. Sengaja menyepi di gunung, kemudian memilih zona tidak nyaman. Dia mengasah dirinya. Dia berpuasa. Dia menahan sakit, agar dirinya bisa menuai hasil yakni hidup lebih lama.

Kehidupan juga demikian. Jika kita tidak berani dan lebih suka jalur nyaman, maka kita bisa tenggelam dan lenyap oleh persaingan. Tapi jika kita berani keluar dari zona nyaman demi proses melatih diri, maka kehidupan akan jauh lebih membahagiakan.

Kawan yang baik, apakah anda berani keluar zona nyaman itu?



Dan Pemenangnya adalah Sandiaga




POLITIK kita memang dinamis. Benar-benar sesuai dengan teori Harold Lasswell yang menyebutkan politik adalah siapa dapat apa, kapan, dan bagaimana. Setelah sekian bulan para elite konsolidasi, bertemu, ikut pembicaraan tingkat tinggi, akhirnya pasangan presiden dan wakilnya telah dikunci. Ada yang kecewa dan ada yang gembira.

Bagian paling menarik untuk diperhatikan adalah dinamika di kalangan partai oposisi. Skenario SBY gagal total. Tadinya dia akan jadi pengendali irama permainan ditemani para hulubalang Demokrat. Ternyata Prabowo mengambil-alih kemudi, mengonsolidasi karib setianya, dan menemukan skenario yang bisa diterima semua kalangan.

Tapi pemenang sesungguhnya adalah Sandiaga Uno. Dia tak butuh track-record, rekam jejak kepemimpinan dan karya hebat. Dia tak butuh ijtimak dan suara nyaring orang-orang yang mengatas-namakan agama serta membawa-bawa suara langit. Dia tak butuh dukungan kuat semua partai-partai politik. Dia datang bagai seorang koboi yang menguasai medan peperangan. Sandiaga tahu kapan harus menurunkan kartu as yang menjadi solusi dari kebuntuan koalisi.

Sekali bergerak, semuanya senyum. Semuanya cincai. Marilah kita mengamati politik kita dengan bahagia, serta melihat tingkah-polah elite kita yang lucu-lucu.

*** 

KEMESRAAN itu serasa baru kemarin. Masih basah ingatan ketika Prabowo Subianto dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertemu. Mereka bicara tentang persoalan yang sangat substansial. Mulai dari ekonomi yang semakin terpuruk, kemiskinan yang terus bertambah hingga semakin kuatnya cengkeraman asing. 

Segera setelah pertemuan itu, dunia media sosial menjadi heboh. Hulubalang Partai Demokrat yang tadinya diam seperti macan tidur, tiba-tiba bangun. Mereka langsung meramaikan semua kanal media sosial dengan kritik dan kecaman pada pemerintah. 

Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan memosting data tentang kinerja pemerintah yang jeblok, yang kemudian diprotes para surveyor. Ferdinand Hutahaean melonjak-lonjak kegirangan dengan pesan cebong akan kalah. Dia posting foto ratusan kodok yang tewas dibantai. Postingan itu menjadi nutrisi bagi kubu anti-pemerintah untuk disebar ke mana-mana.

Memang, Prabowo dan SBY adalah dua sosok yang saling membutuhkan. Prabowo punya momentum dan jejaring politik, tapi tidak tahu bagaimana caranya menang. Buktinya, dia belum pernah memenangkan posisi apa pun di tengah kontestasi politik negeri ini. Pernah jadi cawapres, dan pernah pula jadi capres. Semuanya berakhir dengan kekalahan. Dia adalah satu-satunya rakyat Indonesia yang paham makna dan getir kekalahan di panggung pilpres.

Sementara SBY punya karier yang moncer. Dia hanya sekali kalah di arena yang saat itu belum dikuasainya. Dia dikalahkan Hamzah Haz dalam voting pemilihan calon wakil presiden untuk mendampingi Megawati. Setelah itu, dia sukses dan melenggang sebagai presiden selama dua periode. Dia tahu bagaimana caranya memaksimalkan semua kekuatan untuk menang.

Tapi kali ini, bukan SBY yang bertarung. Dia menjadi mentor bagi anaknya. Dia berharap menjadi pelatih dan pengatur strategi yang mengendalikan irama permainan. Niatnya sederhana yakni menyiapkan jalan agar anaknya jadi pemimpin negeri ini. Niat lain adalah partai politik yang dipimpinnya bisa terus menjulang, dengan memanfaatkan memori orang-orang tentang kepemimpinannya yang dianggap hebat.

Prabowo memang butuh SBY. Apalagi, SBY menjanjikan logistik yang serupa oksigen akan mengalir hingga seluruh arena. Belakangan, Prabowo mulai berpikir ulang. Skema permainan SBY hanya melapangkan jalan bagi dinasti dan gerbongnya. Skenario yang dibangun SBY adalah “mengandangkan” Prabowo demi mengejar kemenangan. SBY hendak memasangkan Anies – AHY. Ini skenario yang juga disukai partai pengusung. 

Bagi Prabowo dan kader Gerindra, maju di arena pilpres adalah marwah yang tak bisa ditawar. Bertahun-tahun dia membangun karakter oposisi, tentu dia akan keberatan ketika kendali itu hendak diambil alih Demokrat. Melihat kenyataan itu, Prabowo tetap ngotot untuk maju. SBY membangun kompromi. Prabowo tetap didukung sebagai presiden. Tapi dia ingin memasangkan dengan AHY. Bagi SBY, tak masalah Prabowo kalah. Yang penting, AHY dapat panggung untuk disorot oleh jutaan rakyat Indonesia.

BACA: Prabowo Kepincut, SBY Ngotot, PKS-PAN Siap-Siap Gigit Jari

SBY dan Demokrat berharap mendapatkan coat tail effect atau efek ekor jas bagi majunya salah satu kadernya di arena pilpres. Jika putra SBY masuk arena maka bisa diprediksi suara bagi partai itu akan menjulang. Tapi, partai-partai lain juga menginginkan efek ekor jas itu. Apa artinya kandidat presiden yang didukung menang, tapi partai sendiri malah nyungsep dan tak masuk arena. 

Beberapa lembaga survei malah memprediksi PKS dan PAN tidak lolos Parliamentary Threshold atau ambang batas masuk parlemen sebesar 4 persen. Dua partai ini ngotot agar Prabowo tegas menolak AHY. Komunikasi tidak terbangun dengan baik sebab masing-masing memikirkan kepentingan partai serta kebutuhan memasuki arena peperangan pilpres.

Sederhananya, partai anggota koalisi bertanya-tanya, “Kalau gue dukung elu, lantas gue dapet apa?” Pertanyaan ini sederhana tapi pelik. Tampaknya, SBY dan Demokrat belum punya solusi terhadap partai lain. Sampai detik akhir, Prabowo juga tidak punya solusi pada ancaman PKS yang hendak keluar koalisi. 

Di sisi lain, ada pula sekelompok orang yang mengatas-namakan dirinya Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF) Ulama, yang dahulu berjilid-jilid membuat demo untuk membela fatwa MUI. Lembaga ini mengajukan dua nama yakni Salim Segaf dan Ustadz Somad. Belakangan, ada investigasi dari beberapa media yang menyebutkan, ulama di kelompok itu kebanyakan punya afiliasi ke PKS.

Dalam situasi sepelik itu, siapa yang akan menjadi juru selamat dan bisa menjadi titik tengah dari begitu banyak kepentingan?

*** 

BEBERAPA cuitan dari Andi Arief, petinggi Demokrat, membuka semua tabir yang selama ini tersembunyi. Di detik-detik terakhir itu, Andi Arief menuduh Prabowo sebagai “jenderal kardus.” Sandiaga Uno menjadi titik tengah dari kian tingginya dinamika dan perdebatan di kalangan oposisi. Andi melempar isu kalau Sandiaga menyiapkan kardus berisi 500 M kepada dua partai yakni PAN dan PKS agar mendukung dirinya sebagai pasangan Prabowo. AHY terpental. Peta politik berubah

Kita boleh saja tak sepakat dengan Andi dan menuduhnya sedang melempar hoax. Tapi kita juga tak bisa memungkiri kalau dirinya sedang menyampaikan satu wacana yang tengah marak dan berembus di internal Demokrat. Dia menyampaikan satu keping fakta yang diketahui internal partai dan sengaja dikeluarkan ke publik. Hingga detik akhir, Partai Demokrat belum juga menyatakan sikap. 

Saya mengamati postingan semua petinggi Demokrat langsung berubah. Tadinya mereka melihat koalisi ini membawa harapan baru bagi partai itu, ternyata malah sebaliknya. Postingan mereka terkesan malu-malu sebab sebelumnya banyak mengkritik pemerintah dan menyanjung kelompok oposisi. 

Demokrat berada di persimpangan. Ingin tetap bersama Prabowo tapi perasaan sudah dikadalin. Sementara kembali ke kubu Jokowi, jelas akan sulit karena sudah mengeluarkan pernyataan yang isinya hambatan psikologis. Padahal dengan bergabung dengan Jokowi, maka posisi AHY akan lebih matang. Kalau Jokowi menang, AHY bisa ditempa sebagai menteri kabinet, bisa menampilkan potensi dirinya, hingga akhirnya kelak akan maju sebagai pemimpin nasional.

SBY yang punya banyak pengalaman menang di kancah politik pasti paham bahwa pasangan Prabowo dan Sandiaga sulit menang. Keduanya berasal dari partai yang sama. Massa mereka adalah orang-orang yang sama. Meskipun Sandiaga mundur dari Gerindra dan akan bergabung dengan PAN, tetap saja tidak menambah jumlah massa pendukung.

Dilihat dari banyak sisi, duet Prabowo dan Sandiaga adalah duet yang kurang menjual. Keduanya sama-sama berlatar nasionalis. Kalaupun Sandiaga harus di-branding sebagai santri, maka betapa sulitnya membangun ulang rekam jejak itu ketika latar belakang dan pengalaman hidupnya lebih banyak di luar negeri dan dari keluarga nasionalis.

Terlepas dari pernyataan Andi Arief, pertanyaan yang muncul dalam benak saya adalah mengapa Sandiaga? Mengapa bukan Anies Baswedan yang lebih menjual? Mengapa bukan AHY yang juga keren dan punya logistik? Apa argumentasi yang bisa menguatkan naiknya Sandiaga yang bisa menggugurkan tuduhan Andi Arief?

Dari sisi elektabilitas, Sandiaga jelas tidak masuk hitungan. Bahkan di pilkada DKI, namanya berada di bawah bayang-bayang Anies Baswedan, sosok yang dianggap paling potensial untuk maju. Dari sisi rekam jejak, kita susah menyebut satu tekam jejak atau karya yang monumental yang bisa diandalkannya ke hadapan publik.

Di pilkada DKI, Sandiaga punya tagline yang mengena di benak publik yakni Oke Oce. Pertanyaannya, apakah bisa Oke Oce menjadi jualan, padahal faktanya program itu nol besar sebab hanya menawarkan pendampingan, tanpa ada bantuan modal bagi warga? Apakah mungkin Oke Oce itu dijual lagi padahal hanya menawarkan ceramah gratis pada rakyat kecil tentang spirit usaha, tanpa ada upaya serius untuk memahami kesulitan mereka dan mencarikan jalan keluar?

Selama menjadi wakil gubernur, Sandiaga juga tidak identik dengan kerja dan prestasi. Malah dirinya lebih banyak menampilkan pernyataan yang justru berseberangan dengan Anies. Boleh jadi, itu kekuatannya. Sandiaga tipe orang yang berbicara apa adanya. Dirinya beda dengan Anies yang membungkus sesuatu dengan kalimat indah dan seolah rasional.  

Sampai kini, saya masih susah menemukan satu alasan rasional pemilihan Sandiaga, selain dari tuduhan Andi Arief itu. Satu-satunya yang bisa sedikit masuk akal adalah Sandiaga menjadi titik temu dari partai-partai. Tapi tetap saja saya bertanya, mengapa tidak mengambil tokoh lain yang berada di luar arena? 

Dalam situasi begini, yang paling banyak menang adalah Sandiaga. Dia tak perlu masuk dalam radar pembicaraan. Dia tak perlu ijtimak para ulama. Dia tak perlu pusing memikirkan partai. Dia juga tidak perlu rekam jejak hebat dan karya. Dia hanya butuh kemampuan membaca kebutuhan semua orang, serta bertindak di saat yang tepat.



Pihak yang kecele di sini adalah SBY dan Partai Demokrat. SBY mungkin berpikir bahwa dirinya masih presiden dan berpengalaman sehingga menjadi magnet bagi semua orang. Ketika Prabowo mendekat kemudian memilih tidak menuruti saran SBY, maka posisi Demokrat jadi serba bimbang. Mau tetap maju bersama Prabowo, rasanya tak enak hati. Mau kembali ke koalisi Jokowi juga tak mungkin.

Pelajaran bagi SBY adalah persiapkan AHY dengan lebih matang. Publik “jaman now” menginginkan pemimpin yang otentik, yang punya jejak dan karya. Berikan pengalaman pada AHY dengan memegang satu jabatan publik. Apakah itu sebagai bupati, gubernur, bisa juga membangun gerakan sosial. Andai AHY jadi Bupati Pacitan, dia bisa tunjukkan kinerja hebat, yang kelak jadi modal politik untuknya di arena pilpres. Gaya politik lama melalui baliho besar dan pidato-pidato menggelegar sudah tidak laku di jaman ini. 

Kalaupun tetap bertahan di kubu oposisi, maka saatnya merencanakan track-record yang hebat buat AHY. Dia bisa tetap bangun branding sebagai sosok muda yang potensial. Tapi caranya bukan dengan pidato-pidato, melainkan melalui pengorganisasian sosial. Dia harus turun lapangan untuk membangun simpul relawan yang bekerja untuk masyarakat. Ketika simpul ini bisa dirawatnya, maka dia tetap akan jadi pemimpin piluhan di masa depan.

Bagi Prabowo, pilpres ini akan menjadi ujian terakhir baginya. Jika dia menang, maka dia akan tercatat dalam sejarah sebagai sosok yang bisa menang setelah kalah berkali-kali. Tapi ketika dia kalah, sejarah juga akan mencatat dirinya tak pernah menang dalam kontestasi di negeri ini. Dua kali kalah dari seorang tukang kayu, yang selalu menang dalam perhelatan apa pun, bukan sejarah bagus untuk dikenang. 

*** 

POLITIK kita memang seperti ranjang yang ditutup kelambu. Sebagai warga, kita hanya menyaksikan dari jauh sesuatu yang tertutup kelambu itu. Di situ bisa saja terjadi saling serang, saling kunci, dan saling pukul. Kita tak pernah tahu sebab semuanya tertutup rapat dan hanya dibicarakan segelintir orang.

Lihat saja penentuan capres dan cawapres ini. Dinamika hanya dirasakan segelintir orang. Para elite suka menggelar acara-acara pertemuan yang diliput media, tapi pembicaraan di situ hanya diketahui segelintir orang. Sebagai publik, kita tak punya akses untuk ikut memberikan masukan tentang figur-figur yang akan dipilih. Yang terjadi adalah para elite membuat kesepakatan dari balik kelambu, kemudian keluar dengan membawa satu nama baru, yang bisa jadi tidak kita duga sebelumnya.

Makanya, nama-nama yang muncul justru jauh dari radar pengetahuan publik. Yang dipikirkan partai dan elite adalah bagaimana mengamankan kepentingan serta skenario yang nyaman bagi masa depan partai. Partai-partai menghitung kemampuan mendulang suara, serta peta jalan yang memungkinkan bagi mereka untuk memainkan bidak pada pemilihan mendatang.

Apa boleh buat, praktik demokrasi kita tidak transparan. Kita hanya diberi penjelasan yang sudah diberi label pencitraan. Kita tak diberi edukasi tentang proses politik yang terjadi, serta bagaimana memahami peta politik dan mengapa setiap figur saling mengunci. 

Yang terasa hilang dari arena kontestasi ini adalah sejumlah isu-isu substansial. Idealnya, semua partai merumuskan apa platform yang dibutuhkan untuk Indonesia masa depan, serta sama-sama menentukan apa yang harus dilakukan. Figur presiden dan wakil presiden adalah sosok yang diharapkan bisa menjawab semua kebutuhan itu. 

Memang, tak selalu figur itu akan memuaskan semua pihak, tapi setidaknya ada harapan. Bahwa terpilihnya satu figur bukan karena kardus atau titik tengah, tapi punya kapasitas baik untuk merumuskan ke mana arah republik ini. Kita akan mencatat semua janji dan kelak akan menagih semuanya pada waktunya.


Dulu Ternak Kambing, Kini Ternak Akun Instagram




SEPINTAS, teman itu seorang pengangguran. Setiap hari dia bangun jam 10 pagi. Setelah itu standby di laptop. Kadang main game, kadang selancar di internet. Beberapa kali bertemu dengannya, saya sering heran-heran melihat dirinya yang punya banyak uang. Padahal dirinya terlihat santai dan tidak punya kantor. 

Suatu hari saya bertanya dari mana dia dapat uang? Jawabannya mengejutkan saya. Dia beternak akun Instagram. Katanya, dia membuat dan merawat beberapa akun Instagram. Selama periode tertentu, dia akan meramaikan akun itu dengan postingan. Ketika sudah ”gemuk” atau punya banyak pengikut, dia akan menjual akun Instagram itu. Hah?

Pantesan, dalam beberapa kali pembicaraan, dia selalu bilang profesinya tak beda jauh dengan profesi ayahnya di kampung. Ayahnya seorang peternak kambing, dirinya pun kini menjalani profesi sebagai peternak. Bedanya, dia beternak akun-akun di media sosial, memberi makan akun itu dengan postingan-postingan, memeliharanya hingga punya banyak pengikut. 

Berapa nilai jualnya? Dia memberikan rincian. Harga satu akun instagram dengan pengikut (follower) hingga 3K alias 3.000 adalah 300 ribu rupiah. Jika dirinya bisa “menggembalakan” akun aktif hingga memiliki pengikut 30K, maka dirinya bisa meraup uang hingga 3 juta rupiah. Kalau dia bisa menggemukkan akun hingga lima dalam sebulan, dirinya berpeluang mendapat penghasilan hingga 15 juta rupiah. Malah bisa lebih. Menggiurkan kan?

Tak sekadar bermain di Instagram. Dia juga merambah ke Facebook. Dia membuat banyak fanpage. Dia menawarkan jasa untuk menambah follower aktif kepada yang membutuhkannya. Dia juga mengelola beberapa blog, kemudian dijualnya ketika mulai banyak pengunjung. Mendengar ceritanya, saya membayangkan orang melihat tanah kosong, lalu dibeli dan dibangun rumah, setelah itu dijual kembali. Persis seperti itu yang dilakukannya. Dia membeli web yang lama nganggur, lalu diisi dengan informasi, kemudian dijual mahal. Enak banget.

Saya lalu tanya, bagaimana cara menggemukkan akun Instagram atau Facebook itu? Adakah jalan pintas? Dia tersenyum. Cara paling cepat adalah buat akun atas nama artis. Isinya adalah re-tweet semua foto-foto atau berita mengenai artis itu. Dia membuat akun yang isinya fans garis keras. Dia tinggal memasang hastag nama artis itu, yang berfungsi sebagai penanda agar penggemarnya berdatangan. Para fans akan datang dan sukarela me-like akun itu. 

Bukan hanya artis. Malah dia juga buat akun fans garis keras para politisi. Dia tahu bahwa pasca-pilpres, publik terbelah menjadi dua kelompok yakni pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo. Dia melihat momen itu untuk membuat akun di dua kubu itu. Hoaks di satu kubu, akan diarahkannya ke akun yang mendukung kubu itu. Demikian pula sebaliknya.

Teman ini adalah sosok yang bisa mendulang keuntungan di tengah perdebatan sengit dua kubu pilpres di Indonesia. Dia santai-santai saja dan tak ikutan baper. Semua informasi akan dikelolanya menjadi postingan di media sosial yang lalu mendatangkan para pengunjung, yang kemudian membuatnya kaya raya.

Pertanyaannya, siapa yang mau membeli akun-akun gemuk itu? Banyak. Mulai dari mereka yang suka bisnis online dan butuh akun untuk memasarkan jualannya hingga sejumlah orang yang suka narsis dan berharap postingannya disaksikan banyak orang. Media sosial seakan-akan menjadi potret diri seseorang. 

Ketika postingan sedikit yang like, maka seseorang merasa dirinya tidak penting, tidak eksis. Dia berharap dirinya tampak populer sehingga bersedia melakukan jalan apa pun demi popularitas itu. Di antaranya adalah membeli akun gemuk yang setiap postingan bisa disukai banyak orang.

Dialog dengan teman itu mencerahkan saya. Selama ini saya mengira media sosial seperti Facebook dan Instagram adalah ruang untuk sekadar narsis dan memajang foto-foto. Saya tak pernah meniatkan media sosial untuk kepentingan lain. Bagi sejumlah orang, media sosial adalah kanal untuk melepaskan aktualisasi, untuk sekadar nampang, untuk sekadar dianggap ada. 

Mungkin ini yang menjelaskan mengapa seorang kawan selalu mengirim pesan agar saya me-like postingannya di media sosial. Dia menganggap saya adalah salah satu social media influencer sehingga ketika saya menyebut namanya, atau minimal menyukai postingannya, maka banyak orang yang akan datang dan ikut menyukai. Dia menganggap saya punya pengaruh sehingga sentuhan jemari saya pada postingannya bisa berdampak pada popularitasnya.

Saya teringat bacaan di satu media asing tentang fenomena penyakit psikologis yang disebut FOMO atau fear of missing out. Ini adalah perasaan manusia yang takut ditinggalkan, merasa terpencil dari pergaulan, merasa sendiri ketika banyak orang heboh saat bersosialisasi di media sosial. Untuk itulah orang butuh instagram dan Facebook. Untuk itulah, orang butuh teman saya.

Melihat kemampuan teman itu dalam melihat celah, saya teringat pada buku Thank You for Being Late yang ditulis Thomas L Friedman. Menurutnya, di era artificial intelligent (AI), akan banyak pekerjaan yang hilang, tapi akan lahir banyak pekerjaan baru yang sebelumnya tidak kita sangka-sangka. Teknologi bisa menggantikan kerja manusia, tapi akan selalu terbuka ruang-ruang bagi pekerjaan baru yang menuntut skill dan keahlian tertentu.

Kata Friedman, era Artificial Intelligent (AI) membutuhkan seseorang yang memiliki kapasitas Intelligent Assistant (AI). Maksudnya, kebutuhan pada orang dengan spesifikasi ahli akan semakin tinggi, yang bisa memahami berbagai data dan menentukan ke mana seseorang akan bergerak. Spesifikasi AI ini adalah mereka yang punya kemampuan lintas disiplin sehingga memahami zaman lebih holistik demi memberikan asistensi ke mana seseorang harus bergerak.

Jumlah peternak akan berkurang, tapi akan muncul banyak orang yang sukses di bidang peternakan, dengan hanya mengandalkan jemarinya untuk memencet smartphone saat memantau ternak. Beberapa tahun sebelumnya, saya tidak membayangkan akan ada profesi sebagai peternak akun Instagram dan Facebook.

Seorang teman lain bercerita tentang profesinya yang unik. Dia membuat pabrik, tanpa ada satu pun bahan mentah. Dia mendirikan pabrik konten yang salah satu misinya adalah memberikan layanan dalam hal memproses informasi kepada banyak klien. Pekerjaannya lebih canggih dari humas di kantor-kantor. Dia membaca data-data liputan media, kemudian menentukan topik-topik yang menarik untuk diolah, setelah itu dia akan menentukan apa saja produksi konten untuk menguatkan branding seseorang.

Masih kata Friedman, dunia bergerak dengan amat dinamis, namun perguruan tinggi selalu terlambat dalam memberikan respon. Dia benar juga. Mana ada sekarang kampus yang mengajarkan bagaimana memaksimalkan Instagram untuk keuntungan. Padahal, di situ ada integrasi antara beberapa bidang ilmu, misalnya periklanan, promosi, antropologi, marketing, hingga teknologi informasi. 

Dunia memang dinamis. Perkembangan serba cepat. Yang dibutuhkan adalah sikap open mind, berpikiran terbuka untuk menemukan celah-celah di mana kita bisa berperan. Kemampuan beradaptasi ini adalah mata rantai penting yang jarang diajarkan di kampus-kampus. Charles Darwin benar, yang bisa bertahan dan abadi bukan mereka yang paling kuat, melainkan mereka yang bisa beradaptasi dengan perubahan. Mereka yang bisa survive.

Prabowo Kepincut, SBY Ngotot, dan PKS-PAN Siap-siap Gigit Jari



Jumpa pers untuk memastikan Prabowo sebagai calon presiden


PERTEMUAN kedua antara Prabowo dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membuat banyak hal berubah. Posisi presiden telah dikunci menjadi milik Prabowo. Anies Baswedan resmi terpental dari bursa capres. Partai koalisi mulai gelisah dan ingin posisi wapres pada arena yang sudah dipetakan dan dikendalikan SBY.

Siapa menang banyak dan siapa gigit jari? Mengapa posisi wapres ini menjadi alot sehingga partai-partai mengancam abstain? Politik adalah soal siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana. Kita tak perlu baper dan menyebut satu adalah partai Allah dan sisanya setan. Marilah kita menelaah politik dengan hati riang gembira dan sesekali tertawa menyaksikan elite kita yang lucu-lucu.

***

PERTEMUAN itu diadakan di Istana Bogor, Selasa (31/7/2018) lalu. Presiden Joko Widodo (Jokowi) memanggil semua sekjen partai koalisi. Sebenarnya pertemuan itu biasa saja. Tak ada pembicaraan yang menyangkut hajat hidup orang banyak di situ. Yang tak biasa adalah dress code atau pakaian yang dikenakan. Semua memakai baju kaos dan sepatu sneakers dan kets. Mengapa bisa santai?

Bagi yang pernah membaca buku Interpretation of Culture dari Clifford Geertz pasti paham bahwa di balik simbol-simbol itu, ada pesan mendalam yang hendak di sampaikan. Presiden Jokowi adalah sosok yang paling pandai memainkan simbol. Dulu, ketika parlemen sibuk berebut posisi ketua, dia malah memanggil pelawak ke istana. Ketika partai oposisi nyinyir atas kinerjanya, dia memilih bekerja dan blusukan ke pelosok.

Di Istana Bogor, busana santai dari pimpinan partai koalisi itu memiliki pesan kuat. Jokowi dan partai-partai koalisi melihat dinamika dalam posisi yang riang dan penuh canda tawa. Tak ada saling ngotot dan mengunci. Tak ada saling gertak dan ancam. Semuanya gembira. Di sisi lain, mereka seakan mengolok-olok koalisi sebelah yang masih belum final.

Sindiran Presiden Jokowi dan koalisi pemerintah itu memang ada benarnya. Partai-partai oposisi masih mencari pasangan yang hendak berlaga di palagan pertempuran melawan Jokowi. Prabowo memang telah ditetapkan sebagai capres, sesuatu yang sebenarnya tidak diharapkan sebagian partai koalisi, mengingat bintangnya tidak sementereng gubernur keren yang namanya lagi bersinar. Partai-partai memikirkan bagaimana nasib mereka, apakah ini tidak lantas membuat mereka jadi partai gurem yang tak punya akses ke parlemen dan kekuasaan?

Sebagaimana pernah saya catat, pilpres kali ini berbeda dengan sebelumnya. Pilpres sekarang bersamaan dengan pemilu legislatif. Artinya, pilihan siapa presiden yang didukung akan membawa dampak pada suara partai. Inilah yang disebut coat tail effect (efek ekor jas). Di tambah lagi, lembaga-lembaga survei sudah memprediksi partai mana yang bertahan dan mana yang terpental. Beberapa partai di kubu oposisi akan terancam menjadi partai gurem yang gagal melalui parliamentary treshold atau ambang batas untuk lolos di parlemen yakni empat persen. PAN dan PKS berada di garis yang tidak aman ini.

Jika tak lolos di parlemen, maka habislah. Sehebat apa pun Anda, ketika hanya berada di luar, maka Anda tak akan masuk hitungan. Partai akan mengempis dengan sendirinya karena tak ada ada darah segar yang membuat sirkulasi di partai. Suara partai tak beda dengan para cebong dan kampret yang selalu berkelahi sembari mendengarkan lagu dari Nasidaria yang syairnya: “Tidak akan kuserahkan pada kampret yang durhaka.”

Bagi partai-partai, politik laksana lari maraton. Anda tidak harus habis-habisan di awal, melainkan mengatur ritme dan napas agar bisa mencapai finish. Partai-partai tak ingin menjadikan pilpres sebagai arena tempur habis-habisan membela keyakinan sebagaimana Perang Badar dan perang-perang suci lainnya. Jauh lebih urgen memikirkan bagaimana bisa bertahan di parlemen, menjaga basis massa, dan bisa menang banyak. Partai memikirkan bagaimana menjaga kemudi dan kendali partai agar tetap berlaga. Semuanya mencari posisi paling nyaman untuk memenangkan kontestasi ini dengan hasil sebesar-besarnya.

Nama Anies Baswedan memang cukup seksi untuk diajukan. Tapi Partai Gerindra menimbang suara partai jika nama Anies diajukan. Tanpa ada nama Prabowo sebagai calon presiden dalam kampanye seorang caleg Gerindra, suara partai ini diprediksi bisa turun dari posisi tiga (sesuai prediksi beberapa lembaga) ke posisi lima dan enam. Menang atau kalah, nama Prabowo harus diajukan demi menjaga suara konstituen yang cinta mati pada Prabowo agar tetap memilih partai.

Berada di posisi ujung tanduk dan siap-siap gigit jari, PKS dan PAN coba menaikkan posisi tawar. PKS tetap ngotot mengajukan sembilan nama untuk mendampingi Prabowo. Jika seandainya Prabowo lebih suka nama AHY sebagai wakilnya, maka PKS jelas tak akan mendapatkan efek apa pun dari duet ini. Prabowo adalah milik Gerindra, dan AHY adalah milik Demokrat. Makanya, wajar saja jika kemarin partai ini menyatakan bisa-bisa abstain. Ini untuk menaikkan nilai tawar.

Bergabung dengan koalisi pemerintah rasanya tidak mungkin. PKS tidak bisa menaikkan posisi tawar dengan ancaman akan bergabung ke Jokowi. Apa kata kader-kadernya yang bergabung dalam koalisi kampret yang sudah berjibaku dalam perang udara dengan kubu cebong? Apa kata kader yang sudah rajin mengutip ayat demi menunjukkan kekafiran Jokowi, jika tiba-tiba pemimpinnya menyatakan gabung dengan presiden yang disebut plonga-plongo itu?

PKS diuntungkan dengan rekomendasi para ulama pendukung 212 yang mendorong nama Salim Segaf Al Jufri dan Abdul Somad sebagai cawapres. Salim adalah Ketua Majelis Syuro PKS. Apakah Prabowo mau berpasangan dengannya? Berpasangan dengan Hatta Radjasa yang jelas-jelas populer dan punya logistik lebih dari cukup, Prabowo kalah, bagaimana jika berpasangan dengan Salim yang tak punya hitungan elektabilitas untuk menang?

PAN masih berharap Prabowo akan berpasangan dengan Abdul Somad. Apalagi, Ustad Somad diprediksi punya posisi seperti Jokowi. Dia dari daerah, simbol rakyat, populer di semua media sosial. Dia punya massa banyak yang setia mengikuti ceramahnya. Tapi Somad bukan figur yang punya kapital. Dia tidak punya logistik. Kalau Somad menjadi wakil, siapa yang akan membayar barisan kampret yang rajin lempar isu ke media sosial? Siapa yang akan membiayai aksi gerilya dari masjid ke masjid untuk mengampanyekan calon melalui isu agama?

Jika ingin mengulang kesuksesan pilkada DKI, maka kartu yang harus dimainkan adalah kartu agama dan SARA. Ini peluang efektif untuk menang. Tapi jika pasangan Prabowo bukan representasi umat, sementara Jokowi berpasangan dengan Tuan Guru Badjang (TGB), Ma’ruf Amin, atau Mahfud MD yang punya darah ulama, maka suara umat akan terbelah. Benar kata Kapitra Ampera, pengacara Habieb Rizieq, kalau pilihannya capres ulama, dia akan mendukung ulama. Tapi kalau pilihannya adalah Prabowo versus Jokowi, maka dia akan memilih Jokowi.

***

JIKA Prabowo kepincut dan akhirnya tetap memilih berpasangan dengan AHY, maka ini adalah buah dari strategi yang lihai dari SBY. Sebagai ahli strategi, SBY memeras otak untuk memikirkan suara partai. Jika nama AHY tidak ada dalam bursa cawapres, maka suara Demokrat juga akan mengempis. Tidak akan ada efek ekor jas yang didapatkan partai itu.

Nilai tawar SBY dan Demokrat juga lebih tinggi di mata Prabowo. SBY punya logistik dan pengalaman dua kali menang, sesuatu yang sekarang tidak dimiliki Prabowo. Dengan limpahan logistik itu, Prabowo bisa leluasa memainkan kartunya untuk menang di pilpres. Makanya, jika dilihat dari kesiapan logistik dan hasrat menang, duet Prabowo – AHY sepertinya akan sulit dibendung.

Meskipun bagi saya, ini pasangan paling tidak menarik. Sebab sama-sama militer yang mundur. Prabowo masih mending sebab punya beberapa jejak dan prestasi di lingkup tentara. Tapi apa prestasi AHY selain dari dirinya putra presiden yang meninggalkan ketentaraan pada posisi Mayor? Memimpin Kodim saja belum pernah, bagaimana mungkin mau mengendalikan para jenderal?

Bagi Demokrat, mengajukan AHY adalah harga mati. Now or never. Sebab politik juga berkaitan momentum. Saat ini bintang AHY sedang terang-terangnya, meskipun belum cukup terang untuk posisi calon presiden. Dalam jangka pendek, partai ini harus mendapatkan suara sebanyak-banyaknya demi mengamankan peluang untuk nanti mengajukan capres pada pilpres mendatang.

Jika tak ada lonjakan suara di pemilu legislatif ini, maka permainan bisa dianggap selesai. Sebab belum tentu AHY akan laku dijual pada pilpres mendatang, setelah era Jokowi. Era pilpres mendatang akan lebih kompleks, yang indikasinya sudah bisa dibaca sekarang. Publik akan lebih suka pemimpin yang otentik dan punya jejak prestasi, sebagaimana Jokowi.

Pada pilpres mendatang, AHY akan berhadapan dengan jagoan-jagoan partai yang punya jejak karya bagus di daerah. Mereka adalah para kepala daerah berprestasi yang punya basis teritorial dan popularitas, serta otentik dari bawah. AHY belum tentu bisa menang melawan Gandjar Pranowo, Ridwan Kamil, Risma, Khofifah Indar Parawansa, Nurdin Abdullah, dan Emil Dardak yang di masa kini saja sudah populer dan disukai banyak orang karena punya rekam jejak membangun daerah.

Hikmah yang bisa dipetik dari adu siasat ini adalah partai-partai harus belajar pada SBY bagaimana mengambil posisi. Jauh-jauh hari dia sudah menyuruh Ruhut Sitompul untuk menyeberang ke koalisi Jokowi. Dia juga sudah mengatur agar Hayono Isman pindah ke Nasdem demi membuka jalan bagi Demokrat ke koalisi pemerintah. Ketika AHY ditolak jadi capres Jokowi, maka segera kondisikan Gerindra agar bersedia meminang AHY.

BACA: SBY Menang Banyak, Prabowo Tak Pernah

Bahkan ketika TGB mundur dari Demokrat pun, bisa jadi itu strategi SBY agar pra-kondisi bagi partai itu pindah ke sebelah berjalan mulus. Jika koalisi pemerintah menang dalam pilpres ini, saya prediksi Demokrat akan mudah berayun ke sebelah. Bisa saja Demokrat beralasan, di sebelah ada TGB sehingga mereka bisa lebih fleksibel dalam menata langkahnya.

PKS dan PAN mesti banyak belajar pada kelihaian Demokrat. Dua partai ini tadinya adalah kekasih setia Gerindra yang sehidup semati. PAN adalah kekasih yang pernah selingkuh sebab dua tahun lalu pilih gabung dengan pemerintah dan dapat satu jatah menteri. Sementara PKS adalah kekasih paling setia dan berikrar sehidup semati, namun keinginannya diabaikan. Dia tak kuat bersaing dengan kekasih baru berwarna biru yang lebih glamour, cantik, kaya, dan pintar. Ternyata, sekadar solehah dan setia saja tak cukup buat menjaga sang pacar agar tidak ke lain hati.

Yah, demikianlah.






Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...

Google+ Badge