Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Pendekar HMI dari Mazhab CIPUTAT

 

Azyumardi Azra (kiri) saat tampil dalam satu diskusi di Ciputat, akhir tahun 1977

Mulanya dia diajak masuk Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Namun, dia lebih memilih gabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dia pun pernah menjadi demonstran yang pernah dikejar-kejar aparat.

Hingga takdir mengantarkannya pada titian sejarah sebagai muadzin bangsa yang penuh integritas. Dia seorang ilmuwan yang tak hanya tekun menuliskan data sejarah, tetapi juga punya suara jernih yang menembus hingar-bingar suara-suara di pemerintahan.

Dia, Azyumardi Azra.

***

Tahun 1975, dia bertolak meninggalkan Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Dia menuturkan bagaimana lagu tentang Teluk Bayur itu terus mengiang di benaknya. Dia ke Jakarta untuk mendaftar di kampus IAIN.

Otaknya memang encer. Dia tak perlu tes untuk masuk di kampus Islam terbesar di ibukota. Di masa itu, gerakan mahasiswa sedang dipenuhi gelora perlawanan. Pemerintah merepresi mahasiswa karena banyaknya keterlibatan dalam politik praktis. 

Saat itu, Azra kerap memimpin demonstrasi mahasiswa Ciputat. Dia memprotes kebijakan pemerintah yang hendak memasukkan para penganut aliran kepercayaan ke dalam haluan negara atau GBHN.

“Saya dikejar-kejar hingga sembunyi,” kata Azra dalam wawancara di kanal Youtube milik Jajang Jahroni. Dia menyaksikan gurunya, Profesor Harun Nasution digebuk aparat. Beberapa dosen ikut digelandang aparat

Azra memiih untuk tetap berlari dan sembunyi. Dalam pelariannya, dia diminta pamannya untuk menemui seorang militer asal Pariaman bernama Letkol Anas Malik. “Daripada kamu dicari-cari terus, lebih baik temui dia. Minta perlindungan,” kata pamannya.

Beruntung, Letkol Anas Malik siap memberi jaminan. Namun, Azra tetap menjadi wajib lapor. Saat itu, dia merasa perlu untuk bergabung di organisasi ekstra kampus.

Seorang mahasiswa asal Padang Bernama Uda Risman mengajaknya gabung di IMM. Uda Risman adalah putra pemiik warung Padang di sekitaran Ciputat.

Uda Risman merupakan putra dari pengusaha warung Padang. Alasannya mengajak Azra bergabung di IMM terbilang sederhana. Sebab di organisasi mahasiswa Muhammadiyah itu banyak orang Padang yang bergabung. "Kalau kamu ada yang gangguin, siapa yang bela kamu," kata Azra menirukan.

Meski ditawari gabung IMM, Azra justru memilih bergabung di Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI. Ia ikut maperca pada 1977. Di HMI, kariernya terus meroket.

Mulanya dia mengurus bulletin. Setelah itu, dia memimpin Departemen Penerangan di HMI. Hingga akhirnya dia menjadi Ketua Umum HMI Cabang Ciputat. Di masa menjabat, dia menjalin relasi dengan Din Syamsuddin yang menjadi Ketua Umum IMM. Juga dengan Suryadharma Ali yang memimpin PMII.

Namun secara intelektual, Azra meniti di jalan yang diretas oleh seniornya di HMI yakni Nurcholish Madjid yang kerap disapa Cak Nur. Di masa itu, Nurcholish ibarat matahai intelektual yang menyengat banyak anak-anak muda.

Nurcholish adalah tipe cendekiawan yang bicara apa adanya. Kejujuran dan kejernihan intelektualnya sering disalahpahami oleh banyak kalangan. Nurcholish menjadi ikon dari kecendekiawanan yang tumbuh dari HMI, serta ekosistem intelektual di Ciputat.

Sebagai matahari, Nurcholish menarik banyak pihak untuk mengitarinya, baik di HMI maupun kampus IAIN Ciputat. Di antara banyak sosok, nama Azyumardi Azra dan Komaruddin Hidayat menjadi sosok yang paling menonjol.

Mereka produktif dalam mengisi wacana di berbagai media. Mereka menulis artikel, hadir dalam berbagai diskusi, serta mewarnai kajian-kajian keislaman.

Nurcholish selalu berbicara tentang Islam dan peradaban, Komaruddin Hidayat sering membahas wacana tasawuf, sedangkan Azra menggali kearifan para ulama Nusantara yang dahulu menjadi jejaring untuk menyebarkan pemikiran keislaman.

Para aktivis HMI di Ciputat memberi julukan pada ketiganya sebagai peletak Mazhab Ciputat. Ketiganya adalah para pendekar HMI.

Nama mereka juga ditulis dalam daftar paling atas buku berjudul "Dekonstruksi Islam Mazhab Ciputat" yang ditulis Fachry Ali, Kautsar Azhari Noer, Budhi Munawar Rahman, Saiful Muzani, Hendro Prasetyo, Ihsan Ali Fauzi dan Ahmad Sahal.

Jejak Azra di jalur intelektual terus bergerak. Dia belajar ke Amerika Serikat untuk menjadi sejarawan Islam yang menekuni kajian Asia Tenggara. Dia produktif menulis artikel, buku, dan makalah.

Pemikirannya tentang jaringan Islam Nusantara menjadi karya penting yang membentangkan bagaimana jejaring para ulama yang secara brilian telah menyebarkan ide-ide keislaman hingga berbagai penjuru Nusantara. Dia mengajarkan, keindonesiaan adalah hasil dari dialog-dialog kebudayaan yang di masa lalu telah mempertemukan para ulama dalam satu jejaring kuat.

Azra berbicara tentang Islam Nusantara, jauh sebelum kalimat itu menjadi slogan dari pemerintah dan ormas di masa kini. Azra selalu menekankan pentingnya Islam wasatiyah atau Islam jalan tengah, yang diharapkan bisa menjadi pilihan terbaik di tengah bangsa Indonesia yang majemuk.


Tak cuma bicara sejarah, Azra juga selalu membahas isu-isu kebangsaan yang actual. Di berbagai media, dia sering berbicara tentang korupsi serta pentingnya integritas. Dia pun menjadikan integritas sebagai napas dari semua gerak langkahnya di jalur akademisi yang mempertemukannya dengan banyak politisi. 

Dia seteguh karang yang berani menarik jarak dari para politisi. Dengan car aitu, dia bisa lebih kritis dan tidak ada beban saat mengingatkan pemerintah untuk tetap berada di aras kebangsaan dan pengabdian pada rakyat.

Baginya, kebangsaan adalah sesuatu yang sudah selesai. Islam tidak perlu dipertentangkan dengan kebangsaan, sebab cinta tanah air adalah ekspresi dari keimanan.

Dia pun percaya, kemajuan Indonesia adalah kemajuan umat Islam. Sebab umat Islam adalah pihak mayoritas yang mengisi semua lini. Kemajuan itu adalah kerja bersama semua kalangan, di mana spirit Islam mengisi semua ruang-ruang kebangsaan.

Dia pun meninggalkan warisan berharga berupa buah-buah pemikiran. Dalam perjalanan ke Malaysia, dia mempersiapkan makalah yang isinya adalah summary atau intisari pemikirannya tentang keislaman.

"Kebangkitan peradaban juga memerlukan pemanfaatan sumber daya alam secara lebih bertanggung jawab. Sejauh ini, kekayaan alam di Indonesia dan agaknya juga di Malaysia cenderung dieksploitasi secara semena-mena dan tidak bertanggung jawab,” tulisnya.

Dia meminta agar kaum Muslimin perlu memberi contoh tentang penerapan Islamisitas atau nilai-nilai Islam secara aktual dalam penyelamatan alam lingkungan dan sumber daya alam.

Di titik ini, dia ingin kaum Muslim memperkuat integritas diri pribadi dan komunitas, sehingga dapat mengaktualkan Islam rahmatan lil'alamin dengan peradaban yang juga "menjadi blessing bagi alam semesta."

Kini, muadzin bangsa itu telah pergi. Kita hanya bisa mengenang dan mencatat semua warisan berharganya untuk Indonesia. Kita mengenang dirinya sebagai sosok yang selalu ingin mengajak bangsa untuk selalu kembali ke jalan yang lurus.

Selamat jalan. 

 


Pemasar GILA

 


Dunia akan menjemukan jika tak ada The Beatles. Demikian kata seorang kawan saat kami jumpa di satu kafe. Saat itu, kami sama-sama menghadiri acara The Beatles Night.

Beruntunglah mereka yang menyenangi racikan nada-nada anak muda asal Liverpool. Beruntunglah mereka yang mengenal para dewa-dewa, penentu arah baru dalam musik.

Kawan itu bercerita tentang Paul McCartney dan George Harrison, dua dari empat personel The Beatles, yang bersekolah di tempat sama. Mereka belajar musik pada guru yang sama di sekolah itu.

Kita mungkin mengira mereka adalah murid terbaik di kelas music. Kita bayangkan, nilai-nilai mereka tertinggi. Namun, kenyataan justru sebaliknya. Mereka bukan kesayangan guru. Mereka tenggelam di antara banyak siswa.

Guru musik di kelas itu gagal mengenali bakat dari dua musisi yang kemudian legendaris. Sekolah hanya melahirkan musisi dengan nilai tertinggi, bukan mereka yang imajinatif. Sekolah itu tidak membangun satu ekosistem bagi mereka yang berpikir gila

Hingga akhirnya sekolah itu tutup karena krisis ekonomi. Paul dan George lalu bergabung dengan John dan Ringo. Kita tahu kisah selanjutnya. Sejarah musik tercipta. The Beatles menjadi grup musik yang fenomenal. Pesonanya menyengat hingga kini.

“Dunia memang butuh orang gila. Namun orang gila juga butuh ekosistem yang mendukung,” kata kawan itu. Menurutnya, The Beatles bisa mencapai level itu karena punya ekosistem yang mendukung semua ide-ide gila. Mereka ibarat benih baik yang tumbuh di atas lahan gembur.

Saya setuju dengan kalimat kawan itu. Orang gila melihat dunia dengan cara berbeda. Mereka berani berpikir di luar apa yang danggap normal dan umum kalangan awam. Mereka punya banyak ide, namun dianggap aneh oleh zaman dan massa yang terbiasa dengan kenormalan.

Saya ingat pengalaman seorang kawan di satu industri kreatif. Kawan itu selalu mencari siapa karyawan yang punya ide-ide gila, serta tahu langkah-langkah untuk mewujudkannya.

Disiplin, patuh, dan taat tidak berlaku di industri kreatif. Yang dicari adalah sosok yang berani berpikir di luar kotak. Kalau perlu berpikir tanpa ada kotak. Think like there is no box!

Di satu BUMN, kegilaan itu malah diperlombakan. Tema besar yang diusung adalah “Are you crazy enough?” Semua karyawan diminta masukan ide-ide gila untuk memasarkan produk. Yang dicari adalah ide tergila, ide teraneh, ide terliar dan ide paling berani. Ide terbaik akan diimplementasikan.

Mantan Dirut Pertamina, Ahmad Bambang, menilai karyawan dari level kegilaan (craziness). Strata paling bawah adalah level pemalas (lazy). Mereka punya potensi dan kemampuan, tapi rendah motivasi.

Di atasnya adalah level bodoh (stupid). Mereka punya kemauan tapi tidak punya kemampuan. Level pemalas dan bodoh ini sama-sama jadi beban perusahaan.

Di atasnya ada level jenius, smart, kreatif. Puncaknya adalah level gila. Kenapa gila berada di level tertinggi? Sebab orang jenius, smart, dan kreatif punya banyak ide, namun belum tentu sanggup mengeksekusinya.

Mereka punya banyak ketakutan-ketakutan serta hambatan dalam mewujudkan gagasan. Mereka terlalu pintar hingga menemukan banyak alasan untuk menunda atau membatalkan setiap rencana.

Sementara orang gila adalah mereka yang paham bagaimana mewujudkan semua gagasan. Mereka berani mengambil risiko, siap bertanggung jawab, dan perlahan menuai buah dari kerja-kerja yang ditanamnya.

Sekadar punya ide cerdas tak cukup. Jauh lebih penting mengeksekusinya, lalu membangun orkestra di mana semua orang tahu nada apa yang harus dimainkan. Di titik ini, ide akan tumbuh jika ada keberanian dan kemampuan untuk menghadapi semua badai dan tantangan.

Saya sedang memikirkan The Beatles, saat penyanyi cantik dan berbaju seksi turun panggung. Dia mendekati saya yang duduk di barisan VIP, sembari bernyanyi:

“There were bells on a hill

But I never heard them ringing

No, I never heard them at all”

Dia menyodorkan pelantang suara ke mulut saya. Spontan saya berdendang: “Till there was you.” Dia berteriak: “Wah, Om gak cuma ganteng, tapi juga pintar nyanyi. Ayo nyanyi bareng di panggung.”

Rasanya hendak marah saat dipanggil Om. Harusnya panggil Kakak, atau Akang. Masak Om?

 


Pelajaran Bisnis dari "Mencuri Raden Saleh"



Selama lima tahun menyaksikan film Indonesia, Mencuri Raden Saleh adalah film terbaik yang pernah saya tonton. Film ini sukses membuat saya betah duduk menonton selama 2,5 jam, sukses bikin penasaran, sukses bikin deg-degan, hingga di akhir film tanpa sadar memberikan aplaus panjang.

Ibarat masakan, film ini diracik dengan bumbu yang tepat. Mulai aktor-aktor muda yang mumpuni dan rupawan, seni bercerita (storyteeling) yang terjaga rapi sejak awal hingga akhir, hingga adegan laga yang indah dipandang mata.

Film ini adalah film pertama yang mengusung genre Heist (perampokan) dalam jagad sinema Indonesia. Di mata saya, film ini lebih menarik dari Money Heist versi Spanyol dan Korea, Ocean’s Eleven, serta beberapa film dengan genre perampokan.

Mencuri Raden Saleh yang disutradarai Angga Dwi Sasongko ini bercerita tentang seorang anak muda yang piawai memalsu lukisan para maestro dan menjualnya pada seseorang di Galeri Nasional demi mendapatkan uang untuk pengadilan bapaknya.

Dia punya tim yang lengkap. Ada anak muda yang menjadi hacker komputer dan jago mengunduh data-data lukisan, ada dua mekanik keren yang bercita-cita punya bengkel, perempuan cantik yang jago silat, hingga gadis belia yang lihai dalam menyusun strategi demi strategi.

Mereka bekerja sama untuk satu misi paling berbahaya yakni mencuri satu lukisan paling penting dalam sejarah Indonesia yakni lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro yang dibuat Raden Saleh.

Saya menyenangi tahap demi tahap dalam merencanakan aksi. Kadang mereka bertengkar, setelah itu akur lagi. Mereka menafikan perbedaan demi tujuan bersama.

Mereka memang anak muda yang minim pengalaman. Makanya, mereka terlihat sangat amatiran. Hebatnya, mereka bisa belajar dari pengalaman, menghitung semua peluang dan kesempatan, lalu merencanakan skenario yang apik. Saat terjadi masalah, mereka punya banyak skenario cadangan.

Saya puas menyaksikan bagaimana mereka sempat jatuh dan terpuruk, lalu bangkit kembali dan mengamati ulang semua peristiwa laksana permainan catur yang baru saja berlalu. Mereka menyusun ulang puzzle kejadian, lalu memikirkan berbagai alternatif solusi.

Kekuatan film ini adalah menampilkan anak muda hijau yang tiba-tiba harus berhadapan dengan intrik politisi korup yang menjadikan mereka sebagai umpan dari satu permainan politik. Barisan anak muda ini menolak untuk menjadi pion. Mereka membuat skenario sendiri yang apik dengan hasil akhir mengejutkan.

Bagi saya, film ini bukan sekadar hiburan. Namun ada banyak pelajaran bisnis, manajemen, serta team building. Benar kata seorang profesor bisnis, untuk melihat manajemen yang rapi serta sukses, jangan malu untuk belajar pada komplotan pencuri. Belajarlah pada bajak laut.

Saya ingat buku The Invisible Hook: The Hidden Economic of Pirates yang ditulis Peter Leeson. Menurutnya, manajemen terbaik bisa ditemukan pada komplotan pencuri hingga bajak laut. Mereka semua tahu apa yang menjadi goal (tujuan), lalu punya pembagian kerja yang sangat rapih saat beraksi di lapangan.

Lihat saja para maling yang menyatroni rumah tetangga. Mereka selalu bekerja berkelompok. Ada yang memantau situasi, ada yang memanjat pagar, ada yang siaga dengan kendaraan, dan ada yang mengamankan CCTV. Pembagian kerja adalah jantung dari ilmu manajemen.


Kata Peter Leeson, sejarah perusahaan-perusahaan besar selalu berawal dari organisasi para bajak laut. Lihat saja perusahaan seperti Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), yang serupa bajak laut, sukses menjarah alam Nusantara lalu membuat kota-kota di tanah Nederland tumbuh bak tulip di musim semi.

Lihat pula East Indian Company (EIC) yang menjadi kongsi dagang Inggris dan melebarkan sayap hingga negara-negara dunia ketiga.

Masih kata Peter Leeson, kelebihan organisasi para penyamun ini adalah adanya kesetraaan serta pembagian tugas yang rapih. Kalaupun ada anggapan mereka organisasi barbar, maka itu sejatinya dihembuskan para pemilik modal yang merasa terganggu dengan kehadiran para bajak laut.

Para kapitalis ini masih ingin mempertahankan tatanan lama yakni perbudakan, penindasan pada buruh, serta eksploitasi.

Saat para bajak laut berhimpun, mereka membangun organisasi yang setara (egaliter), tidak rasis, serta bertumpu pada capaian. Kapal para bajak laut adalah tempat paling demokratis dan setara. Seorang Kapten bisa digulingkan kapan saja. Kapten hanya memiliki wewenang total saat pertempuran, di mana setiap keputusannya bisa membawa konsekuensi hidup mati anak buahnya.

Organisasi yang diangun kian sehat karena mereka saling menopang, saling membantu kru yang kesulitan, juga membuat asuransi yang memastikan keluarga akan ditanggung jika terjadi masalah saat melakukan aksi.

Para bajak laut legendaris seperti Blackbeard adalah pebisnis yang hebat, yang mengubah semua peluang menjadi keberhasilan. Mereka menjaga kontinuitas melalui manajemen yang rapi.

Pelajaran penting lainnya dalam film Mencuri Raden Saleh adalah perlunya Contingency plan atau rangkaian tindakan yang perlu diambil jika terjadi peristiwa yang tak terduga. Saat rencana dinilai hampir gagal, tiba-tiba rencana cadangan bekerja.


Piko, satu sosok penting dalam film ini (diperankan dengan apik oleh Iqbaal Ramadhan), menyebut seharusnya Contingency Plan ini selalu ada dalam setiap tahapan tindakan. Dia menyebut peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro karena tidak adanya rencana cadangan. Sang Pangeran datang memenuhi undangan Belanda, lalu ditangkap di hadapan para pendukungnya yang tak bersenjata.

Saya masih memikirkan tema tentang Contingency Plan ini saat melihat televisi di mana di situ ada seorang jenderal bintang dua yang merekonstruksi peristiwa pembunuhan di rumahnya. Skenarionya hampir berhasil, namun berantakan karena dia gagal memprediksi beberapa hal. Ada banyak plot hole yang diabaikannya saat melakukan tindakan. Dia hanya emosi, tanpa menganaliasa situasi dengan dingin.

Rupanya, dia tidak selihai anak muda dalam Mencuri Raden Saleh.

 


Marketing 5.0 untuk Menang Pilpres 2024



Di satu sudut Jakarta, saya jumpa pria yang digadang-gadang sebagai calon presiden itu. Dia bersama rekan-rekan lintas partai sedang mendiskusikan tahapan rencana untuk pilpres 2024. Mereka hendak membuat relawan.

Di pertemuan itu, saya serasa kembali ke lima tahun lalu. Sebab semua pendekatan yang dipilih adalah pendekatan yang pernah dipakai saat pilpres 2019. Pola bermain tak banyak berubah. Semuanya berbasis relawan. Mereka serasa merencanakan kampanye partai politik di situasi normal.

Jika saja mereka membaca buku Marketing 5,0 yang ditulis Philip Kottler dan Hermawan Kartajaya, akan menemukan banyak insight penting, betapa berubahnya realitas lima tahun lalu dan kekinian. Untuk itu, model dan strategi kampanye harus terus berubah. Harus terus menyesuaikan perkembangan zaman.

Mengacu pada buku itu, ada lima trend yang perlu menjadi perhatian.

Pertama, munculnya generasi digital savvy. Generasi ini sering disebut milenial dan Gen Z. Mereka meramaikan wacana, menentukan arah baru di dunia kerja, serta mengubah lanskap komunikasi di abad ini.

Mereka adalah anak-anak muda yang lebih suka menghabiskan waktu bersama handphone ketimbang hangout bersama teman-temannya. Mereka tidak terlalu suka bahas politik. Mereka suka bermain game online, memosting di Instagram, dan TikTok, serta suka membuat konten digital.

Generasi yang disebut Net Gen oleh Don Tapscott ini mewarnai dunia dengan caranya sendiri, sehingga mau tak mau semua orang dan semua perusahaan harus pandai berselancar di abad yang baru.

Kedua, gaya hidup Phygital semakin berkembang. Phygtal adalah singkatan dari Physical dan Digital. Di era ini, interaksi tidak lagi fisik, tetapi lebih banyak digital. Hampir semua kegiatan, mulai dari belanja, ngobrol, rapat, seminar, perkuliahan, hingga diskusi dilakukan melalui daring.

Interaksi fisik semakin berkurang, apalagi sejak masa pandemi. Kita berhubungan dengan orang lain bukan lagi melalui pertemuan fisik, tetapi melalui avatar atau profile picture yang kita pilih di ruang digital.

Ketiga, dilema digitalisasi. Kian massifnya penetrasi ruang digital dalam kehidupan kita menimbulkan banyak kekhawatiran. Ada banyak pekerjaan yang akan hilang. Ada banyak kecakapan baru yang dibutuhkan. Selain itu, ada kekhawatiran tentang keamanan dan ruang privasi yang kian terancam di era digital.

Dalam konteks politik, tidak semua masyarakat punya akses pada digital. Ada kendala jaringan dan teknologi yang membuat banyak anak bangsa tidak bisa online setiap saat. Di masa pandemic, kita menyaksikan banyak siswa yang harus ke tebing tinggi demi mendapatkan sinyal. Ini adalah dilemma sekaligus tantangan.

Keempat, makin sempurnanya perangkat teknologi. Berkat Google yang menyediakan platform gratis atau rumah bagi beragam aplikasi, setiap hari kita menyaksikan berbagai aplikasi yang memudahkan kehidupan manusia. Banyak bermunculan perusahaan baru yang menawarkan teknologi baru. Kita lihat makin cepatnya internet, cloud computing, big data, dan munculnya banyak software.


Penggunaan teknologi juga semakin luas. Bahkan para nelayan pun bisa memanfaatkan fish-finder atau aplikasi yang menentukan posisi ikan melalui satelit. Petani juga bisa menggunakan peta satelit untuk melihat kesuburan lahan, kalender tanam, serta penggunaan drone untuk penyiraman lahan.

Kelima, munculnya simbiosis antara manusia dan mesin. Kolaborasi manusia dan mesin telah menjadi penanda abad ini. Mesin membantu manusia untuk menganalisis semua data dan memberi rekomendasi banyak kebijakan ekonomi baru.

Dalam konteks pemasaran, mesin membantu manusia untuk membaca target lalu merumuskan cara terbaik untuk mengemas pesan. Mesin menyediakan big data untuk dianalisis lalu digunakan sebagai senjata untuk menyebar pesan.

Dalam konteks kampanye politik, maka dibutuhkan satu kampanye cerdas, yang bisa menentukan sasaran dengan tepat, lalu mengemas pesan dengan baik. Targetnya adalah pesan bisa menyebar secara luas dan bisa menjangkau sebanyak mungkin orang.

***

“Tembok besar itu dimulai dari satu batu bata,” demikian pepatah Cina klasik. Demi Menyusun strategi untuk pilpres tahun 2024, ada banyak hal yang perlu dipersiapkan.

Pertama membentuk relawan yang kuat, berbasis pada kompetensi dan kemampuan menguasai jaringan informasi dengan cepat. Tim relawan bisa bermain di dua ranah yakni online dan offline, saling terhubung dan menguatkan.

Yang baru dari strategi untuk tahun 2024 adalah porsi relawan digital akan lebih besar ketimbang pilpres sebelumnya. Namun pola main juga harus berubah. Tidak semata membangun konten dan brand, tapi harus memastikan diseminasi konten bisa menjangkau target dan khalayak luas.

Kedua, membangun infrastruktur tim yang kuat.  Tim harus memiliki satu command center yang kuat. Secara umum, saya melihat ada tiga unsur utama di setiap pusat komando informasi. Pertama, digital listening tool, yang berisikan perangkat untuk memetakan semua percakapan di media sosial. Kedua, digital media platform, yang isinya berbagai platform media sosial, juga media mainstream. Ketiga, mobile apps, yang digunakan relawan secara mobile di berbagai lokasi.

Ketiga, membangun strategi marketing politik yang terdesentralisasi. Skema kerjanya bukan hierarki, melainkan serupa jaring laba-laba yang terkoneksi dan membangun ekosistem digital yang kuat. Isu-isu harus terdesentralisasi, dalam artian, setiap tim di berbagai daerah bisa memiliki isu dan strategi untuk mendekatai public.

Sinergi antar orang harus dibangun melalui platform digital. Para kreator konten harus terhubung dengan satu tim litbang yang rutin menganalisis isu dan memberikan rekomendasi postingan. Litbang bekerja dengan memanfaatkan big data dan analisis intelijen yang rutin dipasok.

Data pemilih bisa di-breakdown untuk menentukan siapa yang potensial menjadi pendukung. Semua relawan bekerja untuk mengenali kebutuhan khalayak, merancang strategi untuk mendekati khalayak itu.

Semua relawan berinteraksi dalam ekosistem data, sehingga kerja-kerja pemasaran politik akan lebih presisi, membaca target lapangan, serta terhubung dalam satu ekosistem data yang kuat.

Di tanah air kita, pemasaran melalui media sosial sering kali hanya berisi gimmick. Dalam bahasa Inggris, gimmick adalah alat atau trik untuk menarik perhatian. Banyak orang mengira, menjadi viral adalah identik dengan popularitas, lalu elektabilitas. Demi viral, orang rela masuk gorong-gorong, juga rela merayap di haling rintang. Padahal tidak sesederhana itu.

Keempat, membangun ekosisten kreatif. Semua data dan analisis lapangan hanya akan berhenti menjadi laporan jika tidak ada ekosistem kreatof yang bisa mengolah dan mengembangkannya menjadi materi kampanye. Untuk itu dibutuhkan satu tim kreatif dengan energi kreatif meluap-luap yang bisa segera bekerja dalam segala situasi.

“Lantas, berapa biaya yang kami butuhkan untuk membangun semua tim itu?” tanya capres itu.

Saya terhenyak dari lamunan. Satu hal yang bikin kesl dari politisi adalah sering mengira uang bisa menyelesaikan apapun. Untuk sesaat, saya kehilangan kata. Tiba-tiba saja terngiang sebaris puisi dari WS Rendra: “Dan kerja adalah pelaksanaan kata-kata.”

 


Di Balik Rencana TESLA


Setelah lama menunggu, berita itu akhirnya datang juga. Raksasa mobil Tesla, yang dimiliki pengusaha Elon Musk, akan menanamkan uang senilai 5 miliar dollar atau 74 triliun rupiah di Indonesia. Saya pertama menemukan informasi itu dari postingan Prof Trinh Nguyen di Twitter.

Pengajar makro-ekonomi di John Hopkins University ini menjelaskan tentang dunia bipolar, serta dampak peperangan. Menurutnya, semua negara akan berusaha mengamankan rantai pasok, utamanya logam yang diyakini sebagai kunci masa kini dan masa depan.

Dia menilai Indonesia adalah hotspot penting di Asia yang berada dalam posisi sangat strategis untuk menarik investasi dari Amerika Serikat dan Cina, serta kekuatan-kekuatan lain yang berkonflik.

Lihat saja, Tesla, perusahaan Amerika Serikat yang rencananya akan membeli nikel Indonesia pada dua perusahaan Cina yang sukses membangun smelter di Morowali, Sulawesi Tengah.

Belum lama setelah membaca postingan itu, di layar kaca, Menteri Luhut mengumumkan rencana Tesla yang hendak membeli nikel dari dua perusahaan pemasok baterai asal Cina di Morowali yakni Zhejiang Huayou Cobalt Co dan CNGR Advanced Material Co.

Dari sisi Indonesia, investasi ini jelas menguntungkan. Meskipun perusahaan Cina, keduanya berdiri di Indonesia, memiliki tenaga kerja orang Indonesia, serta membayar pajak ke pemerintah Indonesia.

Kata Menteri Luhut, itu baru tahap pertama. Pihaknya masih bernegosiasi tentang investasi dan pembangunan pabrik di Batang, Jawa Tengah.

Beberapa jam setelah membaca berita itu, saya jumpa dengan beberapa ahli tambang di SCBD, Jakarta. Menurut mereka, berita itu bagus untuk jaman sekarang tapi tidak bagus untuk masa depan.

“Bisnis Tesla di masa depan adalah recycling atau daur ulang. Pihak Tesla punya teknologi untuk mendaur ulang semua baterai lithium hingga bisa terus berfungsi. Nantinya, semua baterai bekas akan dikumpulkan di Nevada, kemudian dijual lagi,” kata salah seorang.

Kawan lain memperkirakan, pada tahun 2045 situasinya akan berubah. Saat semua tambang nikel sudah habis, dunia akan sangat tergantung pada baterai daur ulang dari Tesla. “Kita berjaya di masa kini, sebab hanya andalkan sumber daya alam. Tapi Tesla adalah pemilik masa depan, sebab punya teknologi.”

Kawan lain terkekeh. Menurutnya, kita nikmati saja masa sekarang, sebab kita tengah di puncak ekosistem investasi. Namun di masa depan, bisa jadi kita hanya jadi penonton.

Saya teringat buku biografi pendiri Tesla, Elon Musk, yang ditulis Ashlee Vance. Dalam buku itu, saya menemukan sosok Elon Musk sebagai sosok imajinatif yang menggemari fiksi dan sains.

Fiksi ibarat kompas yang menentukan ke mana Elon Musk bergerak. Berkat fiksi dan fantasi itu, dia melakukan revolusi pada tiga bidang industri, yakni teknologi, transportasi, dan ruang angkasa. Dia membangun PayPal, Tesla, Zip2, SpaceX dan Solar City sebagai perusahaan yang mengubah dunia.

Bahkan, dia berambisi mengirim koloni manusia untuk tinggal di Mars pada 2025. Mungkin Anda akan menganggapnya gila, tapi dia perlahan mewujudkannya. Perusahaannya SpaceX saat ini jadi perusahaan terdepan dalam peluncuran roket dan satelit untuk NASA dan berbagai lembaga lain.

Dia selalu memandang masa depan, dan bergerak mewujudkan visinya setapak demi setapak. Dia percaya manusia harus merawat alam, dengan cara mewujudkan teknologi dengan energi bersih, serta membangun pesawat antariksa untuk memperluas capaian manusia.

Elon adalah penduduk masa depan yang hidup di masa kini. Perusahaannya pun dibangun dengan visi untuk memenangkan masa kini, sekaligus masa depan. Masa kini adalah milik mereka yang gigih dan bekerja dengan tekun. Tapi masa depan adalah milik mereka yang penuh imajinasi. Masa depan adalah sesuatu yang diciptakan.

Apakah kita akan memenangkan masa depan? Seorang kawan berbisik agar jangan terlalu khawatir. Sebab kita berpikir melampaui apa yang dibayangkan Elon Musk.

“Dia hanya memikirkan dunia masa depan. Banyak di antara kita yang melampaui masa depan. Makanya sibuk mengurusi keyakinan orang lain, serta sibuk mempersoalkan pakaian. Ada pula yang memastikan kamu akan masuk neraka.”



Teka-Teki Cinta di Bukit Lamando, Buton Selatan

Bukit Lamando, Buton Selatan

Di Rongi, Desa Sandang Pangan, Buton Selatan, sebuah bukit menjelma jadi destinasi wisata baru yang digandrungi anak-anak muda. Sejauh memandang di bukit itu terlihat rumput hijau yang membentang bak karpet.

Di bukit itu, tersimpan kisah cinta yang tragis dari Lamando dan Wa Ode, kisah resistansi pada kesultanan, serta kisah pertautan dengan alam semesta yang jejaknya tersimpan hingga kini.

***

Bulit-bulir keringat menetes satu-satu dari dahi La Aing. Bersama rombongannya, dia berjalan kaki hingga puncak Bukit Lamando. Hari itu, dia berencana  untuk berkemah bersama rekan-rekannya sesama mahasiswa Universitas Dayanu Ikhsanuddin.

Bukit Lamando serupa jamdrud yang memancarkan karisma hijau. Beberapa tahun lalu, bukit ini masuk dalam Anugerah Pesona Indonesia, ajang pemberian penghargaan bagi destinasi wisata yang diadakan Kementerian Pariwisata.

Di bukit itu, La Aing memasang tenda kemudian duduk memandang hamparan hijau di hadapannya. Bersama beberapa mahasiswi, dia becerita lepas hingga sore menjelang. Dia bergegas turun ke sungai terdekat untuk mengambil air lalu membawanya dalam termos kecil.

Dalam remang senja di sungai itu, dia seakan melihat bayangan sosok pria yang berdiri di dekat sungai. Dia melihat samar-samar. Dia bergegas keluar dari sungai, lalu menuju tenda yang dia dirikan. Dia menceritakan pengalaman itu kepada rekannya. Saat itulah dia mendengar kisah tentang Lamando, sosok yang namanya diabadikan sebagai nama bukit.

Konon, di tempat itu pernah tinggal seorang anak muda bernama Lamando. Dia digambarkan sebagai anak muda yang miskin. Dia yatim piatu sejak kecil. Ayah ibunya meninggal tidak meninggalkan apa-apa sebagai bekal hidup.

Ketika remaja, Lamando naik mendaki ke bukit, tinggal menetap, dan mengasingkan dirinya di sana. Sejak itu nama bukit itu dinamailah namanya sendiri.

Bukit Lamando (foto: La Nas)

Semua kebutuhan hidup tersedia di bukit ini. Lamando tinggal mengolahnya. Dia mengeruk punggung bukit, membikin telaga kecil untuk tempat mandi. Rumahnya tepat di puncak bukit. Rumah itu dinamai Cubu Lamando. Di kiri kanannya, ada padang savana yang membentang melandai, naik turun mengikut lekuk punggung gunung.

Hewan-hewan bertabiat merusak tanaman kebun seperti babi dan monyet, tak pernah mengganggu tanamannya. Dia sisihkan bagian untuk semua hewan, di simpankan di depan, sebuah lahan kecil telah dipagarinya terpisah dari lahan kebunnya, ditanami umbia-umbian, jagung dan pisang. 

Suatu hari, ada peristiwa yang mengusiknya. Lamando terperanjat melihat seorang gadis manis telah berdiri menghadapinya. Ia menyapu matanya, memastikan tidak sedang bermimpi. Perempuan itu mendekatnya.

Dia berbincang singkat. Perempuan muda itu mengajaknya jalan-jalan ke sekitar bukit. Lamando menolak. Dia belum kenal dekat. Matahari sebentar lagi tenggelam.

Perempuan itu pulang membawa segunung kekecewaan. Malam itu Lamando tak bisa tidur. Bayangan perempuan itu terus hadir di matanya.

BACA: Serpih Jejak Gajah Mada di Buton Selatan


Perempuan itu memakai kain bercorak. Ada sanggul rapi di rambutnya, serupa ekor kumbang. Dia memakai gelang (simbi) dari emas bersusun empat di lengannya. Anting emas, menggantung manis di kedua telinganya. Di dadanya kalung emas besar bertatah permata menjuntai indah, yang di Buton disebut Jao-Jaonga.

Tidak ada perempuan secantik itu di kampung halamannya. Tidak ada perhiasan seindah ini. Dari mana datangnya?

Ketika kokok ayam terdengar, Lamando bangkit dari tempatnya membaringkan badan. Ia memulai beraktivitas seperti biasanya, mengurus kebun jagungnya dan memetik biji kopi dari pohonnya.

Di sore hari, gadis itu datang kembali. Dia menemui Lamando di gunung. Kembali Lamando menolak ajakannya. HIngga hari-hari selanjutnya, perempuan itu selalu datang di sore hari.

Di satu sore, Lamando mulai menanyakan nama dan asal perempuan itu. “Nama saya Wa Ode. Saya datang dari kampung sebelah di bawah kaki gunung, jawabnya.

Lamando segera mafhum. Memang, ada banyak kampung di bawah kaki gunung tempatnya tinggal. Tapi mengapa rupanya secantik ini?

Gadis penari

Sore berganti sore. Perempuan itu terus datang. Bahkan dia meminta Lamando agar menjadikannya istri.

Lamando tahu dirinya dari kelas sosial yang lebih rendah ketimgang gadis yang bernaa Wa Ode itu. Usia mereka pun tak sepantaran. Tak pantas dirinya bersanding dengan para pemilik gelar La Ode atau kelas sosial Kaomu. Jika dipaksakan akan melawan adat.

Jika pernikahan itu dipaksakan, maka Wa Ode akan kehilangan kebangsawanannya. Dia akan dijadikan sebagai Analalaki, yang kehilangan segala-gala haknya sebagai bangsawan.

Tetapi Wa Ode tak peduli dengan semua itu. Pesona Lamando telah benar-benar memincut hatinya. Ia berharap kedua hati mereka dapat diikat dalam pertalian marital yang suci dan abadi sampai garis maut memisahkan.

Dia menginginkan Lamando kelak menjadi suaminya. Dalam inginnya yang besar itu, usaha dan upaya tiada henti dia lakukan, sekalipun itu melawan norma adat.

Lamando mulai luluh. Dia mulai terpikat bujuk rayu dan kecantikan gadis itu. Dia tak hanya melihat kesungguhan Wa Ode. Rupa dan perangai gadis itu telah juga memikat hatinya. Maka mereka menikah. Keduanya tinggal serumah di bukit itu.

Setelah tujuh hari berlalu, Wa Ode meminta Lamando agar mau turun gunung dan melihat rumahnya di kampung bawah.

Wa Ode tidak ingin jalan sendiri. Mereka harus jalan berdua bersisian saling menggandeng tangan. Tetapi Lamando masih saja terus menolaknya. Dia enggan meninggalkan rumahnya.

Saat gadis itu menangis, Lamando tak kuasa menolak. Dia berkata: “Entahlah firasat ini, apa yang akan datang, mungkin sesuatu hal buruk bakal terjadi, sejak saya naik tinggal di gunung ini, tak pernah barang sebentarpun saya pergi tinggalkan tempat ini”

Mereka turun gunung. Wa Ode menggamit tangan Lamando. Mereka berjalan menyusur lereng bukit, lalu turun ke kampung.

Tibalah mereka di Ue eno Lele Nigooli, sebuah sungai berarus deras. Mereka berhenti di sungai itu. Wa Ode mengajak Lamando mandi, menyelam ke sungai itu, tetapi Lamando menolak karena ia tak pandai berenang.

Lamando terus saja menolak. Wa Ode kemudian memeluk Lamando lalu bersamanya melompat. Mereka menyebur ke sungai. Arus sungai yang deras membawa mereka ke dasar. 

Seketika Wa Ode telah berubah wujud menjadi buaya bersisik putih. Dia bawa Lamando dalam peluknya mengelilingi dasar sungai. Ada banyak buaya-buaya lain di sana. Rupanya di situlah itu rumahnya. Buaya lain adalah kerabatnya. 

Lamando tersentak. Perempuan yang selama ini menamaninya adalah jelmaan buaya. Di tengah ketakutan dan kekalutan perasaannya, dia lalu berenang ke permukaan. Dia lari meninggalkan sungai Ue eno Lele Nigooli menuju ke bukit tempatnya tinggal.

Wa Ode mengejar Lamando. Dia ingin menjelaskan situasinya. Namun Lamando terus berlari. Setiba di gubuk, Lamando bersembunyi di tepian tebing. Hingga akhirnya dia jatuh dan tewas tanpa sempat mendengar penjelasan Wa Ode.

***

Kisah Lamando dituturkan dari zaman ke zaman. Kisah itu abadi dan diketahui hampir semua masyarakat Rongi. Kisah itu menjadi pelajaran agar masyarakat tidak sembarangan menerima orang lain.

Anak-anak diajarkan untuk tidak terpengaruh bujuk rayu apalagi dari orang yang tidak dikenal, sekalipun berperangai dengan tampilan sebagai bangsawan yang terhormat.

Kisah Lamando menjadi nyanyian kedelapan dari tiga belas nyanyian rakyat yang dilantunkan Pande Ngkaole dalam tradisi Batanda di setiap ritual tahunan Matogalampa di Rongi.

Ritual Matogalampa di Lapandewa, Buton Selatan (foto: Rustam Awat)

Menurut beberapa orang, kisah ini menunjukkan adanya relasi antara pusat kuasa dengan negeri bawahannya.

Negeri Rongi yang merupakan bagian rumpun pasukan Matana Sorumba Lapandewa disimbolkan sebagai Lamando, seorang jelata miskin, kemudian dibujuk oleh Wa Ode sebagai simbol pusat kuasa untuk menjadi bagiannya. Di ujung cerita, semuanya jadi petaka yang membawa ke penaklukan.

Di lihat dari sisi ini, kisah Lamando adalah bagian dari strategi kultural dari satu komunitas untuk menola hegemoni dari pihak lain. Mitos dan kisah itu penting untuk mempertegas batas antara”kita” dan “mereka.” Melalui kisah itu, jarak terbentang, sehingga komunitas tetap bisa melihat dengan kritis semua relasi dengan penguasa.

Di masa silam, penduduk Desa Rongi, kini disebut Desa Sandang Pangan, bagian dari rumpun Lapandewa memegang peranan penting terutama dalam urusan pertahanan keamanan Kesultanan Buton.

Rongi ikut mengawal tugas yang diberikan pusat Kesultanan Buton yaitu mengawasi musuh yang mampu menerobos dan mendekati ibukota kesultanan. Penduduknya sering diminta berperang dan berkorban.

Penduduk Rongi juga secara khusus menjaga pergerakan musuh di wilayah sebelah timur yang berbatasan dengan wilayah adat sara Wabula dan di sebelah barat yang berbatasan dengan wilayah adat sara Sampolawa.

Untuk memudahkan komunikasi dan koordinasi antara pusat Pemerintahan Kesultanan Buton dengan syara adat Lapandewa maka Parabela Lapandewa atau Kabelengkao tinggal di Rongi. Wakilnya -sering disebut Waci-- tinggal di Wabuea, kampung lama yang disebut Sempa-Sempa. Wabueya bermakna buaya betina. Kampung itu dinamai demikian karena terdapat gua dengan batu yang merupai buaya betina.

Tari Mangaru

Kisah itu juga bisa dilihat dari sisi ekologis. Di banyak masyarakat, pernikahan antara manusia dan buaya ini sering ditemukan. Kisah itu punya makna ekologis agar manusia tidak memburu dan membunuh buaya. Manusia harus berdampingan dengan buaya, sebab ada pertalian hubungan keluarga serta saling kawin-mawin.

Kisah itu terbukti efektif menjaga relasi di masa kini, membuat manusia menyadari bahwa dirinya hanya satu bagian dari semesta ekoogi yang luas, di mana flora dan fauna juga ikut menjadi bagian penting.

Hingga kini, kisah Lamando dirawat dalam tradisi. Bahkan kisah itu diabadikan dalam kabanti, syair lokal yang berisikan pesan-pesan dan filosofi hidup. Syair kabanti Batanda dilantunkan di Rongi semalam suntuk dalam ritual tahunan Matogalampa.

Di situ, ada kisah Lamando, anak muda yang menikah dengan buaya dan berakhir tragis. Di situ ada kisah tentang pertalian manusia dengan semesta, menjadi bagian dari mata rantai ekosistem, serta sama-sama hidup dan berdiam di bumi yang satu.

 

(tulisan ini dibuat berdasarkan data dari budayawan La Yusri dan peneliti Yadi La Ode. Pertama kali dimuat dalam buku Inspirasi Buton Selatan).


Serpih Jejak Gajah Mada di Buton Selatan

 

Tari Fomani di Siompu, Buton Selatan

Dua orang lelaki memasuki lapangan. Usianya separuh baya. Keduanya memakai ikat kepala berupa kain batik, sarung Buton, serta selempang kain merah dan putih di badannya. Tangan kanan memegang parang, tangan kiri membawa tameng.

Keduanya bersilat disaksikan banyak orang. Sorak-sorai terdengar di mana-mana. Demikian pula tepuk tangan. Keduanya saling memutari, kemudian saling serang.

Di Pulau Siompu, di wilayah Buton Selatan, keduanya menampilkan Tari Fomani. Tarian ini telah ditampilkan sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Menurut budayawan dan tokoh masyarakat, tarian ini diduga kuat dipengaruhi oleh tradisi di Kerajaan Majapahit. Itu terlihat dari kain merah putih, serta ikat kepala batik.

Tarian ini selalu tampil di upacara adat Meta’ua. Masyarakat meyakini, tari Fomani berasal dari seorang yang diyakini berasal dari Majapahit.

Pernah pada satu masa, datang serombongan pasukan. Mereka menyapa warga dan ikut melaksanakan ritual adat. Banyak yang beranggapan kalau rombongan itu adalah dipimpin sosok legendaris Gajah Mada. Rombongan itu diyakini Mereka singgah dalam satu ekspedisi untuk ke daerah lain.

Atribut yang dibawa rombongan adalah umbul-umbul berwarna merah dan putih, yang sering disebut sebagai sang saka getih-getah samudera atau sang saka gula kelapa yang merupakan bendera kerajaan majapahit. Hingga kini, simbol merah putih sebagai warna selempang yang dipakai oleh penari Fomani tetap dipertahankan sampai saat ini.

Sejarah mencatat nama Gajah Mada dengan tintas emas. Dia adalah sosok mahapatih paling berpengaruh dalam perjalanan panjang Kerajaan Majapahit menuju puncak kejayaaannya.

Kerajaan Majapahit sendiri dikenal sebagai kerajaan terbesar di Nusantara, yang wilayahnya lebih luas dari Indonesia saat ini. Wilayah Majapahit juga mencakup Singapura, Malaysia, Brunei, dan selatan Thailand.

Gajah Mada dikenal sebagai sosok patih perkasa yang setia kepada pemangku takhta Majapahit untuk terus menjaga keutuhan dan melebarkan pengaruh kerajaan.

Salah satu peranan Patih Gajah Mada pada masa kejayaan Majapahit yang paling terkenal adalah menyatukan wilayah nusantara seperti yang diucapkannya dalam Sumpah Palapa.

Di tanah Buton, Gajah Mada bukan sekadar sosok dari jauh yang kemudian meninggalkan jejak di panggung sejarah. Gajah Mada adalah bagian dari tradisi lokal, diakui sebagai putra daerah.

Dalam kitab Pararaton disebutkan, Gajah Mada mulai menggelar ekspedisi penaklukan Nusantara sejak tahun 1360 masehi. Di masa itu, Buton dipimpin raja keduanya, Bulawambona.

Dalam kronik Buton dan tutur lisan Wabula, di masa itu kerajaan Buton menyerang Wabula dengan dibantu sepasukan Manjapai.

Para pasukan Manjapai (Majapahit) itu disebutkan pandai benar menunggang kuda, dapat melepas anak panah sembari berbaring di punggung kuda yang sedang berlari kencang.

Gajah Mada di Buton dikisahkan sebagai anak Sijawangkati, panglima militer yang mengawal Sipanjonga. Sijawangkati adalah salah seorang dari Mia Patamiana, yang merupakan empat orang bangsawan asal Johor yang mendirikan Kerajaan Buton.

Keempatnya adalah Si Panjonga, Si Malui, Si Jawangkati, dan Si Tamanajo. Si Jawangkati menikahi Puteri Lasem Lailan Mangraini, perempuan jelita adik bungsu Sibatara dan Jutubun--Bhau Besi Raja Kamaru.

Rekonstruksi Patung Gajah Mada di Monumen Nasional, Jakarta

Di Lipu Katobengke, Sijawangkati dikenal sebagai Parabhela Mancuana. Dialah yang menaklukkan Tobe-Tobe dengan membunuh rajanya Dungku Changia. Si Jawangkati punya postur yang tinggi dan besar. Dia yanh pertama memimpin Kampung Gundu-Gundu, salah satu kampung tua di Buton.

Ingatan tentang Gajah Mada bisa ditemukan di banyak lokasi. Di Kamaru, kini wilayah Kabupaten Buton, Gajah Mada dinamakan "Kompo Ooge" atau Si Perut Besar. Di Batauga, Buton Selatan, dia dinamakan "Landoro Langi" yang menyimpan jejaknya di Bukit Ombo, Gunung Wamoroko.

Gajah Mada juga dikisahkan ada di Takimpo, wilayah Kabupaten Buton. Dia diyakini dikuburkan di sebuah situs dekat batu naga dalam Benteng Takimpo. Masyarakat adat meyakini di situlah kuburan Gajah Mada beserta empat puluh orang prajurit pengikut setianya.

Di Liya dan Kaledupa, Kepulauan Wakatobi, jejak Gajah Mada begitu juga kuat tertinggal. Gajah Mada menjadi ingatan kolektif masyarakat adat. Sebuah tempat tapa yang dinamai Tapaa disebut pernah ia singgahi. Bahkan di Liya, pemuka adat mempercayai bahwa Gajah Mada muksa di sana pada sebuah tempat dalam goa di Togo Mo'ori.

Sebuah jejak prasasti juga terpahat di sana, di pesisir pantai antara Sempo Liya dan pulau Simpora. Di situ terdapat batu yang oleh masyarakat setempat dinamai Batu Mada. Apakah cerita-cerita semua mengenainya itu adalah dongeng belaka yang tiada kebenarannya? 

Di tanah Buton, kisah Gajah Mada ditemukan di banyak lokasi. Dia dihormati, disanjung, bahkan telah dikultuskan sebagai Maharsi atau manusia suci yang nirnoda. Bermula dari tempat paling mula dijejaknya sejak ketibaannya di Buton, di pulau yang tepat berada di muka Kalampa dan bandar Batauga—pelabuhan paling ramai saat itu, pulau Siompu.

Di Pulau Siompu, Gajah Mada digambarkan sebagai sosok berbadan bongsor, memanggul tameng dengan pedang pada tangannya. Di bahunya yang lebar terpasang kokoh kelat dan gelang kuning mengilau pada lengannya, rambutnya panjang, disanggul cepol, ia tampak gagah dengan wibawa yang besar.

Tradisi lisan mengisahkan, ketika datang, dia tidak dikenali. Dia disebutkan datang bersama empat puluh orang yang setia mengawalnya. Mereka memanggul tameng, menenteng senjata, memikul panji kebesaran

Karena tak diketahui namanya, pemuka adat Pharabela Siompu menamainyalah La Palei Yandala. Ada juga yang menyebutnya Lapale Yandala yang kira kira berarti "Orang yang melalui atau melintasi samudera.

La Pelei ini melabuhkan kapalnya di lepas pantai barat hingga selatan Pulau Siompu. La Pelei mendarat dengan perahu kecil di mata air Butu, atau sering disebut Oeno Butu yang terletak di tepian pantai Kula, Nggula Nggula. Dahulu tempat itu memang menjadi persinggahan para pelayar untuk mengisi perbekalan air minum, karena mata air dengan debit yang besar ada di sana.

Bahkan konon dahulu itu ada air jatuh pada tebingnya yang arusnya menumpah langsung ke laut.

Gajah Mada dikisahkan berselubung kain putih. Kain itu dikenakan mereka yang bersiap muksa. Dia memakai sabuk berbentuk kepala harimau dengan mulut menganga melingkar di perutnya yang bongsor.

Rambutnya mengilap diminyaki lungsir putih sesudah ia berlangir--mencuci rambut dengan perdu memakai kulit kayu dan daunnya. Inilah tradisi merias bagi elite Majapahit yang hendak muksa.

Prajurit pengiringnya bercelana geringsing dengan sekain merah putih menyampir bersilang di kiri-kanan dada mereka. Inilah pakaian para penari Fomani yang disebut "Kamanu Manu" di Siompu.

Fomani adalah tari perang, tari yang memantik nyali, menguji ketangguhan dan ketangkasan prajurit Bhayangkara pengawal bawaan Gajah Mada.

Gerak dalam Fomani adalah sepenuhnya gerak unjuk kekuatan, tameng di tangan kiri, tombak di tangan kanan, diadu saling bentur sekuatnya dan menusuk setandasnya. Fomani di Siompu adalah jejak tinggalan Gajah Mada yang masih terus dikenang hingga kini, ia lestari.

Tarian Fomani (foto: La Yusrie)

Tradisi pengenangan yang dikemas dalam ritual tahunan Metaua. Inilah tradisi adat di Siompu yang sepenuhnya adalah sebenar-benar pengenangan terhadap tokoh besar paling disanjung: Gajah Mada atau oleh mereka di Siompu dinamai Lapalei Yandala atau Lapale Yandala.

Jejak Gajah Mada disimpan rapi oleh keturunan Ina Hamu di Lapala, Batuaga. Keturunannya menjadi ahli waris dan penjaga situs yang diyakini sebagai makam Gajah mada. Ina Hamu dikabarkan sering mendendangkan syair Gunung Ringgi.

Syair ini berisi kisah Majapahit dan pengelanaan Gajah Mada ke negeri-negeri terjauh di timur. Syair ini disampaikan dalam dalam bahasa Jawa kuno berlanggam kromo dengan sebagian di dalamnya terdapat diselipi kata-kata Cia-Cia, Pancana, dan Wolio.

Gajah Mada digambarkan sebagai seorang sederhana tetapi dengan wibawa yang besar. Dia tegas dalam mengambil sikap, jujur dalam perkataan, mengabaikan kehendak dirinya dengan menyimpan kepentingan orang banyak sebagai yang utama.

Dia memperoleh gelar kehormatan dari kerajaan Buton sebagai "Landoro Nangi", yang kira-kira berarti: "Orang besar yang menang".

Gajah Mada menetap di Wamoroko, sebuah daerah pegunungan di timur Batauga dengan puncaknya yang berkabut dan berhawa sejuk.  Seorang budayawan menganggap daerah itu sebagai tempat yang paling tepat mewujudkan Dharma Agung dan bakti yang dicitanya setelah ter(di)sisih dari hirukpikuk politik di kerajaan Majapahit, menjadi Resi atau seorang petapa suci yang agung.

Ritual Adat di Batauga, Buton Selatan (foto: Rustam Awat)

Pada sebuah puncak bukit paling tinggi dengan dikelilingi pohon-pohon besar dipilihnya sebagai tempat tapa, merenung sekaligus menenung bakal takdir baik-buruknya sendiri, dinamai tempatnya itu sebagai: Ombo, dan konon di sanalah ia mencapai Moksa nya.

Konon dalam Sanskerta, "Ombo" itu berarti tempat yang lapang dan nyaman, sedangkan dalam Buton dimaknai sebagai tempat yang "Rahasia" dan "Terlarang". Begitulah Gajah Mada menyimpan jejaknya di Buton, abadi dalam ingatan kolektif masyarakatnya, abadi dalam tembang syair nyanyian rakyat, abadi dalam pahatan beraksara Pallawa pada batu-batu dan dinding di gua Batara Batauga.

Ina Hamu sering mendendangkan syair Gunung Ringgi, yang liriknya:

"Agungie Lan Panguwasanin ee

Banderanoe Maajapahi...Saikie Wus

Kumelebatie... Ingee Saindenging

Nusuwantarae... Ya Iki Kang Daadi

Gegayuhaningsun... Lanee Ingi Wanci

Iki Ingisun Mapan Ing Saluhuring

Gunung Ringgi... Akang Agawei

Ingsun Bise Narasakake Manawa

Ing Duwuring Langi... Langi Isi Ana

Langi Mane... Akuana Lungguie Ingi..

Dawuring Wach Batara Ombo Kangi

Agungi..."

 

***

Keyakinan tentang Gajah Mada berasal dari Buton selatan tidak hanya tumbuh di kalangan masyarakat Buton. Belum lama ini, terbit fiksi sejarah berjudul Bajak Laut dan Mahapatih yang menyebutkan asal Gajah Mada berasal dari Buton Selatan.

Dalam novel, yang terbit tahun 2019 ini, berlatar masa pendudukan VOC ini, Gajah Mada disebutkan telah meninggalkan lembaran-lembaran yang kemudian dibaca oleh seorang Tumenggung Wira yang bekerja di masa Sultan Amangkurat I, putra Sultan Agung di Kesultanan Mataram.

Gajah Mada bercerita tentang asal-usulnya dan misteri kesaktiannya.Novel itu mengisahkan masa kecil Gajah Mada di Batauga, Pulau Buton, tahun 1312 Masehi. Kakeknya, Awa, memintanya untuk merantau ke Keraton Majapahit di Jawa.

Sebelum Gajah Mada berangkat, dia diberitahu rahasia keluarganya turun-temurun di Pulau Buton. Keluarganya menjaga satu gua yang di dalamnya terdapat satu telaga. Jika seseorang mandi di telaga itu, maka dia akan kebal dan sakti mandraguna.

Berbekal kesaktian itu, Gajah Mada lalu merantau ke Majapahit melalui Dermaga Pulau Buton dan singgah di Pulau Bali.

Dia lalu bergabung dengan pasukan Bhayangkara yang merupakan pasukan elite Majapahit. Tugas pertamanya adalah mengawal putri Sri Gitarja, yang kemudian menjadi ratu bergelar Tribuwana Tunggadewi.

Dalam novel ini, ada kisah cinta antara Gajah Mada dan Sri Gitarja. Namun ada batas sosial yang memisahkan mereka. Mereka hanya bisa saling mencintai, tanpa bisa saling memiliki.

Berkat cinta itu, Gajah Mada menjadi figur yang selalu berusaha tampil ke depan. Bahkan dia mengangkat Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara agar Sri Gitarja memandang dirinya dengan penuh rasa bangga.

Biar pun fiksi, informasi mengenai Gajah Mada yang disebutkan berasal dari Pulau Buton penting untuk ditelusuri. Penulis novel, Adithya Mulya telah melakukan riset sejarah di Buton. Menurutnya, Kampung Maapahit ada Buton Selatan.

Dalam catatan kaki di novel ini, dia menggambarkan ada beberapa teori tentang asal-usul Gajah Mada. Dia memilih versi yang menyebutkan Gajah Mada berasal dari Buton sebab di sana ada kampung bernama Majapahit, serta banyak pohon maja.

Di berbagai website, ada disebutkan tentang asal Gajah Mada. Masyarakay Kerinci, Jambi, punya versi kalau Gajah Mada berasal dari daerah itu. Ada beberapainformasi mengenai kuburan Gajah Mada. Ada yang mengklaim di Tuban (Jawa Timur), Dompu (NTB), bahkan ada yang bilang di Lampung.

Sejak republik ini berdiri, ada banyak versi sejarah yang sengaja dibiarkan tumbuh. Bukan hanya Gajah Mada bahkan tokoh kekinian seperti Sukarno juga banyak versi mengenai asal-usulnya. Berbagai versi itu sengaja dibuatkan agar masing-masing daerah memiliki keterikatan dengan satu tokoh.

Di Buton Selatan, memang ada satu kampung yang namanya Majapahit. Di situ ada kuburan kuno seluas 40 kali 40 meter yang diduga berisi para petinggi dan pembesar Majapahit. Konon, pernah prasasti yang ditulis dalam bahasa Sansekerta. Tapi prasasti itu sudah lenyap. Tidak ada satu catatan kuat kalau di antara yang dikubur di situ ada sosok Gajah Mada.

Di sekitar kuburan itu terdapat pohon maja serta pohon beringin yang rindang. Sampai kini, situs itu sering dikunjungi umat Hindu yang tinggal di sekitar Kota Baubau untuk berziarah. Umat Hindu menganggap makam itu adalah makam para leluhurnya. Mereka datang saat tertentu, misanya saat menanam, juga saat memanen.

Pemerintah Daerah (Pemda) telah membuat plang informasi mengenai kuburan Gajah Mada. Akses jalan menuju kuburan itu dibenahi. Bahkan masuk dalam kalender pariwisata. 

Memang, informasi tentang Gajah Mada memang simpang siur. Dalam situasi ini, sah-sah saja jika ada yang mengklaim makam Gajah Mada ada di satu lokasi.

Situasinya sama persis dengan lokasi Sriwijaya yang penuh kontroversi. Sejarawan India, Ramesh Chandra Majumdar, berpendapat Sriwijaya ada di Jawa. Sarjana Belanda, J.L. Moens menduga Sriwijaya berpusat di Kedah (Malaysia) dan pindah ke Muara Takus (Riau). Sementara sejarawan George Coedes, Slamet Muljana, dan O.W. Wolters, lebih memilih Palembang. 

Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, salah satu yang meyakini pusat Sriwijaya ada di Palembang. Alasannya, prasasti Sriwijaya banyak ditemukan di sana. Biarpun Palembang yang lebih disepakati, kontroversi itu masih hidup hingga kini.

Dalam konteks ini, kita bisa memahami mengapa banyak muncul klaim mengenai asal-usul Gajah Mada. Selagi belum ada sumber resmi yang sahih, maka sah-sah saja anggapan kalau Gajah Mada memang berasal dari Buton Selatan. Bahkan kuburannya kini menjadi situs sejarah di sana.

Tahun 2016, satu rumah produksi di Jakarta membuat film berjudul Barakati yang berisikan perjalanan ke Buton demi mencari asal-usul Gajah Mada.

Novel Bajak Laut yang menyebutkan Gajah Mada lahir di Buton Selatan

Film Barakati yang bertemakan pencarian Gajah Mada hingga Buton Selatan

Film ini dibintangi beberapa aktor dan artis papan atas yang tengah menjadi idola anak muda. Di antaranya adalah Fedi Nuril, Acha Septriasa, Dwi Sasono, dan Tio Pasukadewo. Sayang, film ini tidak begitu sukses. 

Namun, klaim tentang Buton sebagai asal-usul dan kuburan Gajah Mada itu semakin kuat. Informasi itu terekam di media sosial, tercatat oleh mesin pencari Google, hingga menyebar dari mulut ke mulut. Di era ini, informasi yang dianggap sahih adalah informasi yang terekam oleh Google.

Beberapa tahun setelah film Barakati, kini muncul pula novel berjudul Bajak Laut dan Mahapatih yang mengisahkan misteri Gajah Mada di Pulau Buton. Jika novel ini kelak difilmkan, sebagaimana karya Adhitya Mulya lainnya, maka klaim itu akan semakin kuat. Buton selatan bisa menjadi lokasi ziarah bagi mereka yang menggemari kisah Majapahit dan segala kedigdayaannya.

***

Jalanan menuju makam Gajah Mada kini mulai diaspal. Jalanan ini akan memudahkan siapa pun yang datang berkunjung. Pemerintah Kabupaten Buton Selatan membenahi makam ini agar kelak bisa menjadi tempat ziarah yang bisa dikunjungi siapa saja.

Makam itu terdapat di atas sebuah bukit di Kelurahan Majapahit, Kecamatan Batauga, Kabupaten Buton Selatan. Tempat itu kini menjadi lokasi wisata religi. Lokasinya berjarak sekitar 3 kilometer (km) dari jalan utama.

"Leluhur kami sering bercerita tentang makam Patih Gajah Mada. Di sana juga ada tumbuh pohon maja beberapa ratus meter dari kuburan, dan ada juga tulisan Sansekerta di atas batu," kata Kaimuddin, Camat Batauga.

Dulu, di sekitar makam itu ada prasasti yang ditulis dalam bahasa Sansekerta. Kini, prasasti itu hilang. Tahun 2000, prasasti itu masih bisa disaksikan. Sayangnya, prasasti itu hilang sebelum dilakukan studi ilmiah.

Kompleks yang diyakini makam Gajah Mada di Buton Selatan

Tempat yang diyakini sebagai makam Gajah Mada itu berukuran sekitar 40 x 40 meter. Di tengah lahan itu terdapat pohon besar yang rindang.

Di situ bisa dilihat, beberapa batu yang diduga merupakan batu nisan yang tidak bernama.

Menurut seorang warga Kelurahan Majapahit, La Ode Basarudin, tempat itu sering diziarahi sejumlah warga. Lihat Foto Makam gajah mada dipercaya berada di Kelurahan Majapahit, Kecamatan Batauga, Kabupaten Buton Selatan.

"Ada warga yang ke sini untuk sembahyang. Apalagi kalau hendak menanam atau memanen hasil pertanian, mereka pasti membawa sesuatu ke makam mahapatih ini," kata Basarudin.

Masyarakat meyakini, dahulu Gajah Mada bersama 40 pengikutnya datang ke Pulau Buton. Mereka langsung masuk ke dalam hutan. Kedatangan mereka tidak diketahui masyarakat setempat.

Baru pada pagi harinya, warga desa sekitar melihat ada asap tebal muncul dari dalam hutan. Karena penasaran, warga pun mendatangi sumber asap. Rupanya, Gajah Mada mengetahui kedatangan warga. Ia pun mengajak pengikutnya untuk masuk semakin jauh ke dalam hutan.

Di dalam hutan, rombongan Gajah Mada menemukan sebuah perkampungan kecil. "Mereka kemudian berunding, dan minta izin tinggal tak jauh dari kampung itu. Setelah diizinkan, mereka tinggal di atas bukit itu. Konon, Patih Gajah Mada mati bersama 40 pengawalnya di atas bukit itu," ujar Basarudin.

Kini, kawasan yang diduga makam itu telah dibenahi. Makam itu diyakini akan menjadi lokasi ziarah banyak kalangan. Bukan hanya warga Indonesia, tapi juga warga Malaysia dan Singapura. Di dua negara itu, sosok Gajah Mada juga sangat dihormati. Jejak Gajah Mada bisa ditemukan di Museum Nasional Singapura hingga koleksi para sultan di Malaysia.

Dalam waktu dekat, semua orang bisa berkunjung ke makam itu sembari mengenang sosok hebat yang pernah menyatukan Nusantara. Sosok itu terbaring di Buton Selatan.

 

(tulisan ini dibuat berdasarkan data dari budayawan La Yusri dan peneliti Yadi La Ode. Pertama kali dimuat dalam buku Inspirasi Buton Selatan 1).