Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Makna Dukungan Alumni UI untuk JOKOWI




Ibarat macan tidur, kalangan alumni perguruan tinggi yang tadinya diam kini mulai menyatakan sikap. Mereka datang beramai-ramai ke Senayan demi menyampaikan dukungan agar Presiden Jokowi melanjutkan kepemimpinannya.

Media sosial dipenuhi berbagai respon. Ada yang melihatnya positif, ada pula yang melihatnya negatif. Semua respon itu menunjukkan bahwa aksi itu sukses menyita perhatian masyarakat Indonesia, khususnya para netizen.

Ada yang mengatakan, dalam banyak perubahan negeri ini, amat jarang kita menyaksikan perubahan sosial yang dipicu aksi alumni perguruan tinggi. Yang lebih banyak terjadi adalah akibat aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa aktif.

Namun, tetap saja dukungan dari alumni perguruan tinggi menjadi sangat penting bagi Joko Widodo. Mengapa? Kita bisa melihatnya dalam tiga argumentasi.

Pertama, adanya riset yang menyebutkan bahwa pemilih terbesar Jokowi pada pilpres 2014 lalu adalah mereka yang tinggal di pedesaan, dengan pendidikan ekonomi menengah ke bawah. Mereka melihat Jokowi sebagai orang dekat yang merupakan representasi mereka di dunia politik.

Idealnya, Jokowi merekrut wakil yang bisa merambah perkotaan sehingga daya jelajah keduanya saling melengkapi. Namun, Jokowi justru menggandeng Ma’ruf Amin yang notabene sama-sama memiliki akar yang kuat di pedesaan. Ini yang menyebabkan ada celah kosong bagi daya jelajah Jokowi di perkotaan.

Di sisi lain, pesaingnya yakni Prabowo Subianto malah menggandeng Sandiaga Uno yang identik dengan kelas menengah perkotaan. Keduanya jelas amat kuat di perkotaan sehingga relatif dikenal di masyarakat kota, serta mereka yang punya pendidikan menengah ke atas.

Nah, aksi yang dilakukan oleh alumni perguruan tinggi itu menjadi penting sebagai pernyataan terbuka bahwa masyarakat kota, dengan pendidikan menengah ke atas, telah menyatakan sikap untuk mendukung Jokowi. Ini penting untuk memperkuat daya jelajah di kota serta meyakinkan banyak kelompok lainnya.

Kedua, kelompok terdidik dan menengah perkotaan adalah kelompok yang paling mudah terpapar dengan hoaks dan informasi negatif. Sebab pengguna internet di perkotaan proporsinya adalah 73 persen dari total populasi. Terdapat banyak riset yang menyebutkan bahwa pemilih Prabowo adalah mereka yang akrab dengan internet.

Mengacu pada survei Indikator beberapa waktu lalu, pembicaraan tentang politik selalu mendapatkan konotasi negatif di dunia maya. Bisa dikatakan bahwa masyarakat kota adalah kelompok yang paling mudah untuk membenci sesamanya karena banyak virus kebencian memenuhi atmosfer dunia maya.

Kelompok ini mudah dipengaruhi dengan informasi dari situs abal-abal, serta informasi yang disusupkan melalui berbagai WhatsApp Grup. Makanya, pembicaraan tentang pejabat publik, termasuk petahana, lebih banyak berkonotasi negatif ketimbang positif. Sebab jauh lebih mudah mengkritik ketimbang menjalankan amanah untuk bekerja.

Pihak oposisi menjadi pihak yang paling lincah bergerak dalam memanfaatkan internet untuk menyebar kritik kepada petahana. Mereka dengan mudah bisa leluasa menemukan celah yang bisa diolah menjadi amunisi untuk menembak kerja-kerja petahana, baik itu amunisi yang penuh argumentasi maupun yang dipenuhi hoaks.

Informasi ini semakin menebalkan ketidaksukaan pada petahana. Semua permasalahan selalu dikembalikan pada ketidakmampuan petahana. Harapan dihembuskan seperti angin surga yang dengan cepat bisa memenuhi ruang publik tentang perlunya sosok baru.

Ketika ribuan alumni perguruan tinggi menyatakan sikap secara terbuka, maka itu bisa dipastikan akan meramaikan ruang-ruang media sosial. Bisa dibayangkan betapa jagat maya sontak penuh dengan foto aksi serta liputan berbagai media. Semua orang akan menyampaikan sikap politik secara terbuka dalam situasi yang penuh ruang gembira.

Ketiga, meskipun kalangan menengah perkotaan mudah terpapar virus informasi, kalangan ini lebih open mind dan terbuka dalam menyatakan pilihan, khususnya kalangan milenial. Bagi kelompok ini, isu-isu yang marak di kalangan mereka adalah kebebasan dan keamanan, serta kestabilan.

Dalam beberapa survei, kelompok menengah perkotaan adalah kelompok yang selalu terakhir menentukan pilihan. Makanya, tugas semua kandidat presiden adalah bagaimana meyakinkan kelompok ini agar bersedia menyatakan pilihan lebih awal sehingga diharapkan bisa menarik rekan-rekannya yang lain.

Pada dasarnya, kelompok menengah perkotaan tidak nyaman dengan pernyataan-pernyataan provokatif yang pesimis, serta gambaran suram tentang masa depan. Sudah bukan rahasia lagi kalau narasi kubu oposisi banyak menggambarkan hal-hal yang suram tentang masa depan bangsa ini.

Di tambah lagi dengan kemasan isu-isu agama, pesan lebih cepat mengarah ke ketidaksukaan pada pihak pemerintah. Beberapa riset menyebutkan, kelompok menengah perkotaan adalah kelompok yang lebih suka dengan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan penuh inspirasi.

Di tambah lagi, relawan Jokowi pada periode lalu adalah mereka yang kaya dengan ide-ide kreatif dan menghibur. Kita bisa lihat konser salam dua jari, kartun Jokowi ala Tin Tin, hingga gambar di media sosial bertemakan “I stand on the right side.”

Nah, aksi yang dilakukan alumni UI dan perguruan tinggi lainnya menjadi penting untuk memberikan pencerahan kepada publik bahwa kalangan menengah perkotaan mulai bergerak dan menyatakan dukungan.

Tugas Jokowi selanjutnya adalah bagaimana meyakinkan relawan dan pemilihnya dahulu kalau dia bisa membawa harapan bagi Indonesia yang lebih baik. Strategi yang paling bisa ditempuhnya adalah bagaimana menarik kalangan milenial dan perkotaan untuk sama-sama optimis dan menatap Indonesia yang lebih baik, dengan cara tetap bekerja dan berjalan bersama.

***

NAMUN, pihak Jokowi tak perlu terlalu percaya diri dengan dukungan yang ditunjukkan para alumni perguruan tinggi. Tim Jokowi jangan terlalu ge-er dengan pernyataan dukungan dari alumni perguruan tinggi.

Harus diakui aksi itu mengubah mindset mereka yang selama ini memilih diam dalam menyatakan dukungan. Kini, banyak orang yang secara terbuka menyatakan siap mendukung Jokowi. Beberapa simpul relawan mulai bangkit.

Namun, satu aksi saja rasanya tak cukup. Pihak tim sukses Jokowi mesti merumuskan bagaimana meramu bagaimana strategi untuk tetap memelihara dukungan publik melalui aksi-aksi yang lebih konkret dan punya daya ledak.

Salah satu strategi yang bisa ditempuh adalah memperbanyak testimoni-testimoni dari kalangan menengah perkotaan untuk meramaikan materi di media sosial. Sebab ada kecenderungan orang-orang lebih suka mendengar sesamanya bercerita ketimbang menghadapi sodoran timbunan data.

Orang lebih suka dengan obrolan dan cerita apa adanya, ketimbang dihadapkan dengan angka-angka keberhasilan pemerintah. Sejauh yang saya lihat, testimoni keberhasilan serta pengakuan kerja-kerja pemerintah belum banyak digarap semua tim kerja Jokowi.

Yang lebih banyak muncul adalah aksi ikut menari pada genderang tim lawan. Makanya, tim sukses Jokowi ikut-ikutan menari pada isu-isu yang tidak substansial. Posisi tim kerja Jokowi adalah menyediakan lahan gembur bagi tumbuhnya berbagai komunitas relawan yang akan menjadi ‘penyambung lidah’ dari Jokowi kepada rakyat.

Kekuatan kerja relawan yang memiliki narasi bersama menjadi penting untuk tetap menjaga branding Jokowi agar tetap melanjutkan kerja-kerjanya di dunia politik. Sejauh ini tim Jokowi diuntungkan karena oposisi juga tidak banyak menyebarkan aura positif dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Namun, pengaturan strategi dan pengelolaan isu menjadi penting agar masa depan bisa seperti yang dicita-citakan bersama.

Tim sukses dan relawan Jokowi harus mencamkan baik-baik kutipan penting dari Sun Tzu: “Strategi tanpa taktik adalah jalan yang paling lama menuju kemenangan. Taktik tanpa strategi hanyalah kebisingan menuju kekalahan.”


Politisi Buton di Raja Ampat




Di Waisai, Raja Ampat, saya bertemu sahabat Adji Rahmatullah. Kami sama2 beraktivitas di Jakarta, tapi jarang ketemu. Malah, kami ketemu di Raja Ampat untuk urusan berbeda.

Adji adalah pengusaha sukses yang berasal dari Sidrap dan Enrekang. Kedua wilayah ini ada di Sulsel. Ketika bertemu, Adji bercerita, dirinya ingin ketemu Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) yakni Haji Muhammad Said, seorang kontraktor besar yang mudah ditemui di Masjid Agung Waisai.

Di Raja Ampat dan banyak daerah di Papua, orang Bugis laksana petarung yang datang dengan semangat Vini Vidi Vici. Saya datang, saya lihat, dan saya menang. Mereka ada di semua lini bisnis dan dagang, juga masuk hingga sektor birokrasi. Jaringan KKSS bekerja efektif sebagai mesin yang bisa menguatkan jejaring warga.

Melihat semangat Adji yang meluap-luap, saya pun tergoda untuk bertemu rekan sekampung di sini. Menurut beberapa literatur, riwayat kedatangan orang Buton di pesisir timur Nusantara sama tuanya dengan kedatangan orang Bugis. Orang Buton yang ada di Papua, kebanyakan berasal dari Wakatobi, Cia-cia, juga orang Gu dan Lakudo. Tapi mereka semua memakai identitas Buton.

Dalam satu obrolan, peneliti LIPI, Riwanto Tirtosudarmo, pernah menyampaikan amatan tentang persebaran orang Buton di Maluku dan Papua. Menurutnya, orang Buton pertama membuka lapak-lapak kecil untuk menjual ikan, kasoami, atau kuliner lain. Ketika lapak itu mulai besar, datanglah pedagang Bugis yang membawa modal besar kemudian membuka toko. Setelah itu, orang Buton akan menyingkir lagi mencari lapak yang lain.

Bersetuju dengan Riwanto, orang Buton mewakili kultur rakyat biasa, jelata, juga pedagang kecil. Mereka proletar yang ada di pesisir dan mencari ikan, juga di gunung2 dan pasar rakyat. Saat di Sorong, dengan mudahnya saya temukan orang menggunakan bahasa Buton di pasar ikan.

Orang2 Buton membangun perkumpulan kecil dengan jaringan keluarga yang cukup mengakar, namun belum bisa memaksimalkannya menjadi satu kekuatan bisnis dan politik.

Tapi ketika melintas di ruas jalan utama, saya bisa kenali beberapa foto caleg yang menampilkan identitas Buton. Ada yang memakai ikat kepala seorang parabela, semacam kepala kampung dan tetua adat di Buton. Di tanah Buton, ini adalah pakaian tetua kampung, bukan pakaian bangsawan dan istana. Ada juga yang memakai jubah yang juga dikenakan parabela.

Yang menarik, mereka memakai semboyan dalam bahasa Wolio, bahasa yang digunakan di pusat pemerintahan Kesultanan Buton untuk memikat warga Buton perantauan. Ada yang menulis di baliho "Bolimo Karo Somanamo Lipu", yang merupakan bagian dari filosofi sara pataanguna di Buton. 

Ada juga yang isinya ajakan dalam bahasa Wolio: "Mai taposaangu tamaogeaka lipuna Mia sii." Mari kita bersatu untuk membesarkan kampung orang di sini."



Saya melihat ada fajar baru yang terbit di pesisir timur. Orang Buton perlahan memasuki ruang politik. Mereka tak segesit orang Bugis di lapangan bisnis dan politik, tapi mereka bergerak beramai-ramai ala gerakan rakyat demi mendudukkan calonnya. Malah di satu daerah di Maluku, ada yang sukses jadi pimpinan daerah.

Sayang, selama beberapa hari di Waisai, saya tidak sempat ngobrol dengan salah satu orang Buton di sini. Interaksi saya hanya sebatas dengan orang Bugis. Tapi saat duduk di kapal menuju Sorong, ada seseorang berkulit hitam legam di kejauhan berteriak ke arah saya. "Pengkaanaka." Saya mengenali sapaan dalam bahasa Buton yang berarti hati-hati.

Saya menoleh kiri kanan, apakah saya yang disapa? Rupanya gadis manis berhidung mancung dan berwajah rupawan di sebelah saya yang rupanya sama-sama akan ke Sorong. Dia menjawab, "umbe" yang artinya iya.

Hmmm... Ada yang berdesir di hati ini. Ada sesuatu yang berbisik di hati. Perjalanan ini akan menarik dan terasa singkat.


Akhir Kisah HICCUP dan TOOTHLESS




Sejak trailer film How to Train Your Dragon 3 (HTTYD3) muncul, saya sudah niatkan untuk nonton. Ditambah lagi, anak-anak tak sabar menyaksikannya. Kebetulan, di hari pertama film ini tayang, saya menjemput anak istri di lokasi fieldtrip sekolah. Pulangnya, kami singgah nonton di bioskop.

Di mata saya, film HTTYD adalah film fantasi penuh petualangan yang sarat pesan-pesan penting dalam bahasa sederhana. Film ini bercerita tentang Hiccup, anak remaja yang tampak lugu, bodoh, serta selalu menjadi pecundang dalam banyak hal. Hiccup ibarat Harry Potter yang tampak ringkih, tapi cerdas dan penuh kejutan.

Dalam film pertama, Hiccup digambarkan berhasil menaklukkan naga paling kuat yakni Toothless, yang kemudian menjadi teman setianya. Dalam film kedua, Hiccup dan Toothless berhasil mengalahkan penjahat paling hebat. Hiccup menjadi ketua suku, menggantikan ayahnya yang tewas. Sedangkan Toothless menjadi alfa, pemimpin para naga.

Film ketiganya tak kalah seru. Hiccup, sebagai ketua suku, punya beban besar untuk menjaga wilayahnya sekaligus melindungi naga. Demikian pula dengan Toothless. 

Namun, dalam film ini, Toothless tak sendirian. Dia menemukan naga jenis light furry yang kemudian ditaksirnya. Di sini terdapat banyak kekonyolan yang membuat kami terpingkal-pingkal selama menyaksikannya.

Musuh yang dihadapi lebih jago dari musuh di film pertama dan ketiga. Kali ini, Hiccup mendapatkan lawan sepadan yakni seorang spesialis pembunuh spesies Tootless yakni night furry. Misi Hiccup menjadi tidak mudah. 

Tapi sebagaimana film lainnya, selalu ada jalan keluar dari setiap krisis. Hiccup harus belajar menjadi dirinya sendiri. Dia mesti memecahkan masalah, tanpa harus bergantung pada Toothless. Dia mesti menjawab kalimat sinis dari lawannya, “Without your dragon, you’re nothing!”

Sejujurnya, saya lebih menyukai film pertama dan kedua. Lebih banyak kejutan di situ. Namun, film ini tetap saja punya elemen yang bikin hidup suasana. Bagian akhir film ini juga cukup mengharukan sebab Hiccup dan Toothless akhirnya berpisah demi keselamatan para naga. 

Ketika Toothless akhirnya pergi, saya merasa kehilangan. Untunglah, di bagian paling akhir, Hiccup yang telah menikah dengan Astrid, serta telah memiliki dua anak, bertemu dengan Toothless dan pasangannya yang telah memiliki tiga anak. Bagian ini cukup menghibur.

Sepulang ke rumah, saya memikirkan apa yang membuat saya begitu menyukai semua film HTTYD. Saya menemukan dua jawaban.

Pertama, kisah HTTYD adalah kisah persahabatan. Hiccup selalu menjalankan misi bersama sahabat-sahabatnya. Mereka adalah tim yang kompak, yang bekerja efektif serta penuh canda tawa. Sebagai sahabat, mereka saling percaya dan tidak pernah meninggalkan yang lain. Ketika Hiccup memutuskan untuk menyerbu, semua sahabatnya ingin ikut. Saya rasa, seperti itulah peran sahabat yang sesungguhnya.

Kedua, saya menyukai karakter jagoan seperti Hiccup. Sebagai pemimpin para viking, Hiccup tampak sangat rapuh. Dia bukanlah sosok yang tampak tegap dan berpidato dengan retorika mengguntur. Bukan pula sosok yang main tampar kiri kanan. 

Dia orang biasa yang brilian dan pikirannya selalu penuh kejutan. Dalam banyak krisis, dia selalu punya jalan keluar, yang seringkali nekat dan tak terduga. Dia berani dan juga penuh perhitungan. Tak heran, yang dikalahkannya adalah musuh yang terlihat perkasa, cerdas, berotot, dan menyeramkan.

Sepulang nonton film itu, saya menyaksikan media sosial yang sedang dipenuhi perdebatan tentang pemimpin. Sepertinya, saya tidak begitu suka pemimpin yang retorik dan menyebar kebencian. Saya lebih suka sosok yang selalu memikirkan jalan keluar, bukan sekadar menyalahkan situasi.

Saya menyukai sosok yang biasa saja, tapi punya pengalaman bekerja dan melayani orang lain. Sosok itu tak harus sempurna, tapi saya bisa melihat bahwa dirinya sedang bekerja keras dan penuh daya upaya, di tengah cerca, kritik, dan caci dari mereka yang selalu mengeluh.

Saya menyukai sosok seperti Hiccup, yang inspiratif dan bisa menggerakkan orang lain. Semoga saja, banyak sosok seperti ini yang bermunculan di sekitar kita. Semoga.


Mencari Obat Kuat di Raja Ampat


koteka

Entah apa yang dilihatnya pada diri ini. Setiba di warkop dekat Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), anak muda itu mendekati saya. Kami langsung akrab.

Namanya Baco. Dia berasal dari Maros, Sulsel. Di Raja Ampat, komunitas Bugis tersebar di mana-mana. Tak hanya di jalur politik dan birokrasi, tapi juga menguasai sektor bisnis dan dagang. 

Baco bekerja sebagai tour guide. Dia mengajak saya untuk ikut petualangan yang akan menaikkan adrenalin. "Kaka kalau ikut saya, pasti akan bikin semua cewek puas?" Saya terkejut. Hah?

Dia mengajak saya untuk mencari Akar Kuat, yakni akar yang bisa meningkatkan gairah seksual. Kulit akar akan diiris tipis2, kemudian dicampur di minuman. Khasiatnya? "Kaka pu barang langsung keras. Biar digantung dua kelapa, tara akan layu." 

What? Emang ada orang bodoh yang mau gantung dua kelapa di kemaluan?

Saya ingat sewaktu ke Banjarmasin. Seseorang menawarkan saya ramuan bernama Tongkat Ali. Khasiatnya sama persis dengan Akar Kuat. Rupanya, di banyak budaya, terdapat banyak herbal yang bisa menambah gairah laki-laki. Entah benar atau tidak. Saya belum pernah mencobanya.

Baco juga mengajak saya untuk mendatangi Tugu Kemaluan Raja Ampat. Lokasinya di Teluk Mayalibit. Sebenarnya, ini adalah stalaktit, cuman bentuknya mirip kemaluan. Ditambah lagi ada banyak mitos dan cerita2 mengenai tugu ini.

Di antara mitosnya adalah orang yang menaruh koin di batu itu, diyakini punya kemaluan sekeras batu. 

Saya ingat pengalaman di Amrik. Orang bule suka melempar koin di kolam2 atau akuarium sembari "make a wish" atau menyampaikan permohonan. Permintaannya bisa apa saja, bahkan hal yang mustahil, misalnya ganti presiden. 

Tapi, bisa jadi Baco benar juga. Para bule yang menaruh koin di situ mungkin berharap punya barang sekuat batu. Benarkah? Saya tak ingin mencari tahu.

Demi tak mengecewakannya, saya mengajak untuk melihat-lihat koteka. Saya tanya, bagaimana cara memastikan ukuran koteka tanpa harus mencobanya. Gampang itu, katanya. Cukup lihat ibu jari kaki. Kalau besar, berarti butuh koteka yang besar.

Diam-diam, saya melirik ke kaki.


(Upsss, saya yakin pria yang membaca tulisan ini langsung mengecek ibu jari kaki. Guys, jangan terlalu percaya. Ini hanya candaan ala Papua. Jangan dipercaya.)

Catatan Wira Kesatria

Seorang sahabat di Facebook, yang belum pernah saya temui, menuliskan kesan-kesannya atas pertemanan kami. Saya merasa tersanjung atas catatannya. Thanks sobat!


Tak terasa 8 tahun telah berlalu, membaca dengan seksama dan mengasyikan tulisan-tulisan teman medsos yang satu ini. Rangkaian kata yang apik, membuat ide, tema, dan topik menjadi nutrisi mencerahkan, mencerdaskan, dan membuat jiwa riang gembira.

Sesuatu yang sulit, diracik menjadi renyah, gurih, dan mengalir deras sampai ke muara. Menenteramkan akal dan kalbu. Tak terasa dan sulit untuk mengingatnya, berapa banyak ikatan aksara karya dan karsa dari sosok plamboyan dan ganteng ini telah tamat saya baca.

Dalam banyak kesempatan, niat dan hasrat untuk bersua dan berdiskusi seputar dunia literasi dengan sosok begawan aksara ini, telah saya patrikan. Namun hingga kini belum kesampaian.




Era melenial dalam satu sisi memudahkan kita untuk mengakses karya tulis bermutu dan cerdas dari sosok idola, walaupun secara personal belum mengenalnya. Lewat media sosial dunia maya, kesalingtergantungan mutual bersinergi dan harmoni. Penulis memposting tulisannya dan publik menikmatinya. Ini fakta tak terbantahkan dan pengalaman saya.

Ekspresi rasa yang membuncah ini, tak terbendung dan tak mampu lagi saya menahannya. Lewat tulisan ringan dan sederhana ini, sebagai wujud apresiasi dan kekaguman terhadap sedekah ilmu pengetahuan yang telah saudara Yusran Darmawan lakukan dan perbuat untuk sesama dan terkhusus pribadi yang dahaga dan pakir ilmu ini.

Selasa 1 Januari 2019, berkenan saya mengucap berdaun-daun terima kasih kepada beliau atas semua tulisan yang telah membuat pengayaan, pencerahan, mata air, dan ladang pengetahuan. Berharap semua ini menjadi berkah, hikmah, dan hidayah melimpah dan tak terputus.

Awal tahun ini, semoga menjadi era keberuntungan, kemenangan, kejayaan, kebahagian buat beliau dan keluarga juga buat kita semua. Semoga Tuhan memampukan kita untuk selalu bermanfaat diatas rasa mengasihi dan menyayangi. []

Salam persaudaraan.

Jakarta, 1 Januari 2019

Perang ROBOT di Pilpres 2019




DI banding pilpres lain, pilpres tahun 2019 ini adalah yang paling seru. Tidak hanya melibatkan para politisi dan kandidat presiden, tapi juga melibatkan banyak mesin, algoritma, kecerdasan buatan, hingga para robot.

*** 

ANAK muda berambut pirang itu duduk sendirian di satu kafe dekat Sarinah. Seorang sahabat mengajak saya untuk bertemu dan berbincang dengannya. Anak muda adalah seorang data scientist yang meraih gelar PhD untuk bidang teknologi informasi di satu kampus di Eropa.

Biarpun kami hanya berbincang sesaat, dia menjelaskan keterlibatannya pada pemilihan presiden di banyak negara. Dia bercerita bagaimana para insinyur dari Rusia bisa membongkar email yang digunakan Hillary Clinton, kemudian membuka banyak fakta yang kemudian dengan cepat “digoreng” oleh tim Donald Trump.

Bagian yang membuat saya tertarik saat dirinya membahas betapa tidak amannya semua perangkat komunikasi yang saya gunakan. Menurutnya, semua komunikasi melalui internet, baik itu WhatsApp, Facebook, hingga Line bisa dengan mudah diretas. 

“Bahkan telepon seluler yang kamu gunakan juga mudah untuk diretas. Semua pembicaraan akan direkam dalam satu server, yang kemudian dengan mudah ditembus dan dibuka apa saja yang dibahas,” katanya.

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligence, dan Kediktatoran Digital

Dalam konteks pilpres, pihak insinyur data dengan mudahnya bisa memantau semua yang dilakukan oleh satu kandidat, bisa mendapatkan bocoran apa saja strategi lawan, kemudian merancang counter strategi yang efektif.

Saya menikmati perbincangan dengannya. Dia bercerita bahwa para petarung pilpres 2019 ini bukan hanya kandidat presiden, bukan hanya tim sukses, tetapi juga adu strategi dalam memaksimalkan perangkat teknologi. 

Pengendali strategi malah berada di balik layar. Mereka tidak selalu manusia yang sibuk memetakan data dan informasi. Perhelatan ini juga melibatkan mesin-mesin cerdas yang memproses semua informasi, memahami algoritma percakapan di media sosial, kemudian memberikan beberapa rekomendasi-rekomendasi.

Pilpres tahun 2019 jauh berbeda dengan pilpres sebelumnya. Dulu, sorak-sorai dan ramai-ramai mudah terpantau di jalan-jalan melalui ribuan baliho yang mengotori ruang publik kita. Tahun ini, sorak-sorai itu ada di media sosial. Semua kubu berdebat, saling serang, bahkan saling ancam di media sosial.

Saya mengamati bagaimana Facebook dan Twitter yang tadinya tenang, kini menjadi arena tempur yang tak henti. Ada banyak orang yang memasuki media sosial dengan membawa misi untuk membela politisi yang diidolakannya. Mereka meramaikan media sosial, mengolah beragam isu, kemudian saling tempur di situ.

*** 

BEBERAPA waktu lalu, seorang sahabat mengajak saya untuk melihat aktivitas Command Center di satu lembaga yang kerap melakukan riset untuk pemasaran digital. Beberapa klien lembaga ini adalah partai politik. Mereka memasok informasi terkait satu brand, bisa berupa produk, bisa juga politisi dan partai politik.

Ruangan utama lembaga itu mengingatkan saya pada ruang utama kantor media online. Di situ, saya melihat layar-layar besar, yang tertera angka-angka dan grafik-grafik pembicaraan publik.

BACA: Kiat Membangun Laskar Media Sosial di Era 4.0

Di beberapa kantor media online, layar-layar menampilkan Google Trend, yang menganalisis semua pencarian di media sosial. Di situ juga terdapat grafik-grafik yang isinya percakapan di media sosial. Para jurnalis media online biasanya memetakan isu dan bahan liputan berdasarkan topik yang paling banyak dibicarakan.

Ruang yang saya saksikan ini adalah ruang kontrol utama untuk memberikan instruksi dan arahan secara terpusat. Ruang itu menjadi pengendali informasi, yang memetakan semua percakapan dan sentimen publik, setelah itu merancang strategi yang kemudian menjadi amunisi untuk menyerbu media sosial.

Semua konten dan strategi dirancang di ruangan itu. Semua layar menampilkan hasil kerja mesin dan algoritma yang memantau semua media sosial. Apa pun yang dibahas publik akan mudah terpantau di situ. Bahkan layar juga menampilkan seberapa efektif informasi yang disebar ke para netizen.

Secara umum, saya melihat ada tiga unsur utama di setiap pusat komando informasi. Pertama, digital listening tool, yang berisikan perangkat untuk memetakan semua percakapan di media sosial. Kedua, digital media platform, yang isinya berbagai platform media sosial, juga media mainstream. Ketiga, mobile apps, yang digunakan relawan secara mobile di berbagai lokasi.

Ketiga perangkat ini digunakan untuk mengontrol semua aliran informasi. Teknisnya, tim kreator konten akan memetakan konten yang sedang trending, kemudian merancang konten yang bisa viral, meneruskannya kepada para influencer dan laskar media sosial yang akan meneruskannya di lapangan. 



Nah, para laskar media sosial ini tidak selalu seseorang yang rajin memosting sesuatu. Bisa jadi, itu adalah akun-akun robot yang punya kemampuan untuk mendiseminasi informasi lebih cepat. Akun-akun ini bisa menembus berbagai grup-grup di Facebook, juga meramaikan semua grup di Whastapp. 
Bagaimana dengan penyebaran hoaks? Apakah juga disebarkan dengan cara yang sama? Seorang teman di situ mengiyakannya. Menurutnya, mesin yang mereka miliki bisa menyebarkan hoaks dengan sangat cepat. Namun, mereka memilih tidak melakukannya. Mereka hanya memantau hoaks demi hoaks, kemudian merancang strategi untuk menjawabnya.

Ini pula yang membuat hoaks sulit dihentikan. Ketika satu orang menyebar berita hoaks, algoritma media sosial bisa mendeteksi postingan viral itu, kemudian memantulkannya ke mana-mana sehingga asal-usul hoaks itu jadi tidak penting. Hingga akhirnya, penegak hukum bisa merunut ulang lalu menemukan sumber informasi bohong itu. 

Pada titik ini, saya teringat ucapan seseorang: hoaks diciptakan oleh orang bodoh, disebar oleh orang bodoh, dan diterima kebenarannya oleh orang idiot.

*** 

DI ruang kontrol informasi itu, saya terus memikirkan kalimat sahabat itu. Saya teringat sosiolog Manuel Castells yang membahas peran para planner atau perencana yang memiliki akses pada jejaring informasi dan menentukan apa yang dipikirkan publik.

Orang-orang yang setiap hari wara-wiri di media sosial itu tidak menyadari bahwa semua percakapan yang mereka lakukan akan menjadi big data yang lalu dianalisis oleh mesin algoritma cerdas, yang kemudian meneruskannya ke mana-mana hingga terjadi debat publik. 

Ini pula yang menjelaskan mengapa diskusi publik tak pernah menyentuh langit substansi, sebab yang dibahas adalah hal receh remeh yang tak ada kaitannya dengan tantangan yang dihadapi oleh bangsa kita.

Bisa jadi, ini dipengaruhi oleh naluri kita sebagai manusia adalah selalu ingin terlibat dalam satu tema yang dipercakapkan banyak orang. Kita tak menyadari bahwa sering kali tema dan topik yang setiap hari kita perdebatkan dan pertengkarkan adalah sesuatu yang sengaja dibuat oleh mesin algoritma.
Tidak mengejutkan jika ada banyak orang di sekitar kita yang membayangkan dirinya serupa Don Quixote, tokoh dalam novel yang ditulis Miguel de Cervantes, yang selalu ingin berkelana untuk membunuh naga. Padahal, naga adalah hewan yang hanya ada dalam imajinasi.

Dalam konteks media sosial, kita tak sadar kalau telah meyakini sesuatu, yang belum tentu punya penalaran yang benar. Kita hanya meyakini satu kenyataan sebab setiap hari kita disodorkan kenyataan itu, yang ternyata adalah hasil kreasi dari banyak mesin cerdas demi mengarahkan pilihan kita pada satu titik.

Dalam banyak sisi, para netizen yang setiap hari berdebat itu tidak menyadari apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka disuapi informasi sepihak, dipanas-panasi setiap saat oleh akun robot, dan terakhir menjadi karakter yang sukses dibentuk oleh satu kelompok.

Dalam film The Incredible 2, ada sosok Screenslaver yang melakukan kejahatan tanpa disadarinya. Dia terpengaruh oleh apa yang disaksikannya. Dia tidak tahu kalau kesadarannya telah dikendalikan oleh seseorang.

Tanpa sadar kita menjadi screenslaver, yakni budak (slave) yang dikendalikan oleh layar (screen).


Buku yang Saya Sukai di Tahun 2018




TAHUN 2018 akan segera berlalu. Orang-orang mulai menyusun rencana untuk berlibur. Kompleks perumahan yang saya diami mulai sepi. Banyak yang liburan di kampung halaman. Suasananya seperti libur Lebaran. 

Dalam suasana seperti ini, saya melirik beberapa buku yang saya koleksi di sepanjang tahun 2018. Pilihan buku menunjukkan evolusi perkembangan pemikiran seseorang. Di masa kuliah, hampir semua buku filsafat, saya koleksi. Kemudian, saya mulai meminati humaniora dan sejarah.

Namun, dari buku-buku yang saya baca di sepanjang tahun 2018, sepertinya minat saya bertambah lagi. Tampaknya saya mulai menyukai tema-tema bisnis, marketing, teknologi, media sosial, politik pemasaran, hingga hal-hal yang sifatnya praktis dan populer.

Buku marketing pertama yang saya baca adalah buku yang ditulis Hermawan Kertajaya. Saya tidak menyangka kalau orang-orang marketing sangat memahami antropologi. Buku marketing selalu induktif, memulai dari kasus-kasus, kemudian mencari insight teoritis yang kemudian bisa digunakan kembali untuk memahami kasus lain.

Orang marketing memahami budaya dengan baik, memahami dinamika manusia, demi memasarkan sesuatu. Tema-tema marketing bergeser ke bagaimana membangun hubungan antar manusia yang saling bermakna. Anda tak mungkin bisa memasarkan sesuatu jika tak ada trust atau kepercayaan. 

Saya juga menyukai tema-tema disrupsi dan media baru. Saya melihat ada banyak hal yang berubah di tahun-tahun mendatang. Saya sudah banyak bertemu generasi milenial yang tidak suka bekerja di satu tempat mapan. Mereka suka bekerja di warung kopi atau kafe. Saya pun belakangan mengalami ritme kerja seperti itu.

BACA: Buku yang Saya Sukai di Tahun 2017

Internet telah mengubah interaksi manusia, kemudian mengubah banyak hal. Jika tak berbenah, maka semua yang mapan akan tergusur. Beberapa teman produser televisi sudah mengeluh mulai kehilangan pasar dan iklan.  Kampus mulai ditinggalkan karena banyak kuliah praktis online. 

Bahkan mal-mal mulai kehilangan calon pembeli karena kian maraknya belanja online. Media mainstream juga mulai banyak yang keteteran mengikuti cepatnya dinamika di media sosial.

Tapi untuk soal buku, saya masih terbilang generasi lama. Saya masih belum siap untuk membaca buku di Ipad atau laptop. Saya masih menikmati saat-saat mendatangi toko buku demi bertemu banyak buku, kemudian jatuh cinta dengan beberapa di antaranya. 

Buku adalah kekasih yang selalu setia. Dia tak pernah menuntut untuk dibaca, namun pada saat kamu menggenggamnya, dia tak segan-segan membuka banyak gerbang untuk kamu jelajahi dan renangi sejauh-jauhnya. Momen perjumpaan dengan buku adalah momen magis. Terasa seperti bertemu sahabat yang akan menemani kita untuk menjelajah ke satu genangan kata-kata.

BACA: Buku yang Saya Sukai di Tahun 2016

Bagi saya yang suka mendatangi toko buku, tahun 2018 adalah tahun yang cukup menyedihkan. Toko buku memang belum punah, tetapi jumlah rak toko buku semakin berkurang. Pihak toko lebih suka memajang stationery hingga alat-alat musik dan olahraga di toko buku. Saya juga merasa kehilangan karena beberapa toko buku besar, di antaranya Toko Gunung Agung, kini punah. 

Bagi penggila buku, ini adalah saat menyedihkan. Di tambah lagi, banyak penerbit yang lebih suka memasarkan buku secara online sebab toko buku terlalu banyak mengambil keuntungan penerbit dan pengarang. Padahal, bagi saya, ada kenikmatan tersendiri ketika datang ke toko buku bersama keluarga, kemudian membuka lembar demi lembar buku yang dipajang. Wanginya khas.

Di tengah suasana sepi itu, saya coba menyusun beberapa buku yang saya sukai di tahun 2018. Buku-buku itu adalah:


21 Lessons for 21st Century (Yuval Noah Harari)



Sejak tahun 2017, saya adalah penggemar berat sejarawan asal Israel Yuval Noah Harari, yang meraih gelar PhD bidang sejarah di Oxford. Saya menyukai semua buku-bukunya, mulai dari Sapiens, Homo Deus, dan kini 21 Lessons. Jika Sapiens membahas sejarah ringkas manusia, Homo Deus membahas sejarah manusia masa depan, maka 21 Lessons membahas dinamika manusia masa kini.

Dia mendiskusikan berbagai topik yang menarik. Mulai dari post-truth (pasca-kebenaran), fenomena big data dan limpahan informasi, hoaks atau penyesatan informasi, hingga bagaimana tatanan dunia yang berkembang sekarang. Saya menikmati uraian Yuval sebagai seorang sejarawan yang spektrum pembahasannya sangat luas.

Benar kata orang, sejarah adalah ibu dari ilmu pengetahuan. Melalui sejarah, kita bisa mendiskusikan semua topik, mulai dari politik hingga kuliner. Bahkan kita bisa membaca masa depan melalui pemahaman yang baik atas masa lalu dan masa kini. Saya setuju dengan Bill Gates, buku 21 Lessons adalah buku terbaik di tahun 2018. (BACA: Dari Big Data Hingga Kediktatoran Digital)


The Great Shifting (Rhenald Kasali)


Judul buku ini berbahasa Inggris, padahal isinya berbahasa Indonesia. Ditulis oleh seorang profesor bidang pemasaran yakni Rhenald Kasali. Saya membaca buku setebal 523 halaman ini tanpa ada jeda. Maksudnya, ketika membacanya, saya tidak berhenti sampai selesai. 

Isinya sangat menarik. Dia membahas fenomena disrupsi yang menyebabkan banyak bisnis ambruk. Namun tidak semuanya menerima takdir ditelan zaman. Banyak yang belajar bertahan serta berselancar di dunia yang serba berubah ini. Rhenald membahas beberapa hal baru, seperti berubahnya platform, sharing economy, teknologi yang mengubah interaksi, hingga esteem economy, yakni ekonomi yang berdasar pada pengakuan.

Dia pun menyediakan peta perubahan untuk bisnis, di antaranya tema-tema seperti insurtech, fintech, online game, hingga belanja online dan factory outlet. Buku ini semacam jendela masa kini dan masa depan. Saya suka kalimat di sampul buku: “Lebih baik pegang kendali daripada dikuasai.” Ini buku bagus bagi semua pihak yang ingin membaca tanda–tanda zaman, tak hanya buat para pebisnis.


The Death of Expertise (Tom Nichols)



Saya membaca buku ini sejak tahun lalu. Tapi ketika edisi bahasa Indonesia, yang berjudul Matinya Kepakaran, muncul di toko buku, saya kembali membacanya. Buku ini ibarat mercon yang meledak di kepala saya sebab mengangkat satu hal yang setiap hari saya saksikan di media sosial.

Kata penulisnya, ini adalah era di mana manusia dikendalikan para produsen informasi, yang tidak semuanya bisa diverifikasi. Di era ini, sekeping informasi di Whatsapp dianggap lebih valid ketimbang riset-riset yang bertebaran. Jangan berharap ada diskusi yang sehat. Jangan berharap ada pencerahan karena berbagai fakta diurai dan didiskusikan. 

Tom Nichols membahas tentang kematian para ahli di era milenial ini. Banyak orang yang lebih suka bertahan dalam ketidaktahuannya, tanpa mau mendengar mereka yang benar-benar ahli dan menghabiskan hidupnya untuk mendalami satu topik. Para ahli ditinggalkan. Suara keilmuan dibuang jauh-jauh, sebab orang-orang terlanjur percaya pada satu kebenaran yakni sesuai dengan apa yang dia yakini. (BACA: Saat membaca The Death of Expertise)


Citizen 4.0 (Hermawan Kertajaya)



Buku ini adalah refleksi perjalanan Hermawan Kertajaya yang menyaksikan fenomena pemasaran dalam tingkah laku orang-orang di sekitarnya. Pada usia 70 tahun, Hermawan telah bertransformasi menjadi seorang filosof ataupun begawan yang kerap melakukan refleksi tentang apa pun di sekitarnya. 

Sebagaimana buku sebelumnya, Hermawan menjelaskan fenomena marketing yang terus bergeser. Dunia semakin horizontal, inklusif, dan sosial. Dunia meninggalkan tatanan hierarki dan top-down menjadi tatanan yang egaliter dan horizontal. 

Komunikasi masyarakat serupa komunikasi di media sosial yang sejajar, tanpa ada posisi yang lebih tinggi. Masyarakat kian bergeser dan tidak lagi mempersoalkan perbedaan suku, agama, dan bangsa. Masyarakat perlahan menjadi “citizen of the world.” (BACA: Citizen 4.0 dan Kearifan Hermawan)


Everybody Lies: Big Data, New Data, and What the Internet Reveals Abour Who We Really Are  (Seth Stephens Davidowitz)



Di Amerika Serikat, buku ini terbit tahun 2017. Tapi di Indonesia, buku ini beredar bulan November 2018.  Penulisnya, sering disapa Seth, bekerja sebagai data scientist di Google. Dia meraih PhD bidang ekonomi di Harvard. Buku ini ditulis dengan renyah sebab penulisnya adalah kolumnis New York Times. 

Buku ini menarik sebab menawarkan cara baru untuk memahami satu persoalan. Selama ini, para ilmuwan hanya terpaku pada riset kuantitatif dan survei untuk memotret gejala atau kenyataan (yang disebut di buku ini sebagai small data). Buku ini menawarkan cara baru yakni mengandalkan big data yakni mesin pencari Google.

Kata penulisnya, orang-orang tampak normal dan baik-baik saja di dunia nyata. Tapi saat dia berhadapan dengan Google, orang-orang akan menjadi dirinya sendiri. Makanya, data yang direkam Google sering mengejutkan.  Ini pula penjelas mengapa mengolah big data yakni data-data yang ada di Google lebih akurat dari survei mana pun. 

Buku ini cukup mengejutkan sebab menyingkap banyak hal tabu, misalnya rasisme, tema-tema seks, hingga berbagai kebohongan lainnya. (BACA: Saat Membaca Everybody Lies)


Labu Wana Labu Rope (Susanto Zuhdi)



Saya terbilang subyektif saat menyebutkan buku yang ditulis Profesor Susanto Zuhdi, guru besar ilmu sejarah Universitas Indonesia (UI) ini. Yang dibahas di sini adalah sejarah Buton, kampung halaman saya. Buku ini diolah dari disertasinya mengenai Kesultanan Buton pada abad ke-16 dan 17. 

Susanto berani mengkaji Buton sebagai pulau kecil yang selama puluhan tahun terabaikan dalam peta sejarah nasional. Dia menunjukkan dinamika sejarah di pulau kecil, serta perlunya untuk memahami Indonesia dari tepian, dari pulau-pulau terabaikan.

Susanto meletakkan Buton dalam posisi yang proporsional. Dia mengolah arsip-arsip pemerintah kolonial, tapi tetap juga memberi ruang pada naskah dan tradisi lokal di Buton. Dia mengawinkan arsip kolonial dengan naskah beberapa kabanti, syair tradisi lisan di Buton, demi mencapai pemahaman mendalam atas peristiwa yang sedang dibahasnya. (BACA: Susanto Zuhdi, Sejarawan Pembawa Intan untuk Orang Buton)


Semesta Manusia (Nirwan Ahmad Arsuka)



Sejak membaca tulisan Nirwan Arsuka di rubrik Bentara, Kompas, saya sudah kepincut dengan gaya menulisnya. Dia menulis dengan gaya essai dan membahas berbagai topik-topik filosofis dan sains dengan gaya yang memikat. Dia mendiskusikan Galileo, Einstein hingga Amartya Sen dengan gaya yang memikat.

Tapi, saya lebih menyukai esainya saat membahas tema-tema budaya, khususnya budaya Bugis Makassar, khususnya saat membahas Karaeng Pattingaloang, seorang intelektual asal Makassar di abad ke-17. Dia menempatkan Pattingalloang pada satu setting sejarah di mana ada banyak peristiwa dan situasi yang sedang melanda Makassar dan dunia pada masa itu. Ketika membacanya, saya serasa terlempar ke satu ruang sejarah di mana satu pemikiran selalu dipengaruhi oleh ruh zaman serta dialog dengan berbagai pemikiran.

Buku Semesta Manusia ini adalah koleksi semua esai Nirwan Arsuka, yang pernah terbit di banyak media. Saya ikut terlibat dalam penyusunan buku ini sebab memiliki koleksi tulisan Nirwan. Anehnya, ketika buku ini terbit, saya jarang melihat orang membahas dan mendiskusikannya di media sosial. Padahal ketika saya mengumumkan punya koleksi tulisan Nirwan dan bersedia mengirimkan file, ratusan orang menghubungi saya untuk meminta file koleksi saya itu.


Mediating Islam: Jurnalisme Kosmopolitan di Negara Muslim Asia Tenggara (Janet Steele)



Buku ini ditulis oleh Janet Steele, seorang profesor bidang jurnalisme di George Washington University. Di Indonesia, Janet Steele cukup kondang sebab pernah menulis disertasi yang berjudul Wars Within, yang isinya membahas dinamika Majalah Tempo saat dibredel pemerintah.

Buku ini diolah dari riset yang dilakukannya selama 20 tahun terakhir mengenai praktik reportase para jurnalis Muslim di lima media terkemuka di Indonesia dan Malaysia. Media itu adalah: (1) Sabili, yang disebutnya mewakili Islam skripturalis, (2) Republika yang menjadi representasi dari pandangan atas Islam sebagai pasar, (3) Harakah, media Malaysia yang melihat Islam sebagai politik, (4) Malaysiakini yang melihat Islam secara sekuler, (5) Tempo, yang dianggapnya sebagai representasi Islam kosmopolitan.

Saya menyukai topik mengenai Republika yang kini dimiliki oleh Eric Thohir. Pertanyaan riset Janet Steele sesuai dengan apa yang juga saya pikirkan. Dia menelusuri pertanyaan mengapa Republika memilih haluan kelompok radikal, yang juga pendukung Prabowo Subianto di pilpres lalu? Argumentasinya menarik. (BACA: Erick Thohir di Mata Profesor Amerika)


Political Personal Branding: Strategi Jitu Menang Kampanye di Era Digital (Silih Agung Wasesa) 



Buku ini datang pada momen yang sangat tepat yakni jelang pemilihan umum. Ada semacam kebutuhan di kalangan para calon anggota legislatif (caleg) untuk memahami bagaimana kiat melakukan kampanye di dunia digital. Buku ini menyediakan peta jala, apa yang harus dilakukan untuk berkampanye di dunia maya.

Pemilu lalu menjadi pelajaran berharga bagi semua politisi. Bahwa kampanye tidak lagi dilakukan hanya melalui baliho dan poster yang dipaku di pohon-pohon. Bukan pula dengan pengerahan massa melalui konvoi. Kampanye bisa dilakukan melalui cara-cara cerdas yang berbiaya murah, yakni memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan pesan.

Bab favorit saya adalah bab paling akhir, yang membahas mengenai storytelling. Di sini diuraikan sembilan bumbu dasar untuk membuat postingan yang disukai semua netizen. Saya jadi paham mengapa tidak semua caleg sukses berkampanye di media sosial. Selain karena mereka ingin hasil cepat dalam waktu singkat, mereka juga tidak memahami bahwa ada jurus untuk membuat netizen terpikat dan secara sukarela membagikan semua postingan.


Tatang Teh Tong Dji (Triyanto Triwikromo)


Buku ini membahas Tatang, seorang warga keturunan Tionghoa yang memiliki bisnis teh Tong Tji. Gaya penulisannya sangat memikat sebab mengombinasikan antara perjalanan hidup seseorang dengan berbagai bacaan sastra dan novel menarik. Hasilnya, sebuah biografi yang penuh warna-warni.

Pada satu kesempatan, Tatang digambarkan seperti Mushashi. Pada bagian lain, dia seperti David dan Goliat. Saya suka semua ilustrasi di dalam buku sehingga lebih menarik. Saya tak terkejut jika narasinya sedemikian mengalir. Sebab penulisnya dikenal produktif melahirkan banyak cerpen bermutu yang sering masuk dalam kumpulan cerpen terbaik Kompas.

***

Saya hanya mencatat 10 buku. Tapi kalau saya perhatikan lagi semua buku, ada beberapa buku yang juga saya sukai, tapi tidak sempat dibahas dalam list. Di antaranya adalah Kuasa Media di Indonesia (yang ditulis Ross Tapsell), (2) Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (ditulis Mark Manson), (3) Membaca Indonesia (ditulis tim Kompas), dan (4) Menyibak Tabir Orde Baru (Jusuf Wanandi). 

Saya belum hendak membahasnya karena belum membaca tuntas semua buku ini. Saya hanya senang membuka plastiknya, kemudian mengintip apa saja yang dibahas di dalamnya. 

Selalu ada kenikmatan saat membuka plastik pembungkus buku, kemudian membaui aromanya, setelah itu mulai membuka-buka sampai lembar terakhir. Untuk soal ini, saya bisa berjam-jam melakukannya.

Semoga tahun 2019 nanti, jauh lebih banyak buku bagus.



Pengalaman Ikut Tes Mengaji




DI Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), sejumlah orang membentangkan spanduk tantangan kepada seorang capres agar ikut tes kemampuan mengaji. Mungkin kita akan terkejut mendengar ada tes seperti itu. Tapi dalam rentang perjalanan hidup, saya pernah menjalani tes mengaji di hadapan banyak orang.

Malah, saya tiga kali menjalaninya. Pertama, saat hendak maju sebagai ketua komisariat di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kedua, saat menjalani tes akhir sebagai pengajar di perguruan tinggi berbasis Islam di Makassar. Ketiga, sebelum membaca ijab kabul di hadapan keluarga mempelai perempuan.

Saya akan mengisahkan ketiganya. Tapi tolong, jangan mencela ilmu saya yang amat rendah ini.

***

HARI itu, teman-teman HMI Komisariat Fisip Unhas mengadakan musyawarah untuk memilih ketua. Saat itu, saya sudah cukup senior di HMI. Mereka yang akan memimpin komisariat adalah para junior, tiga angkatan di bawah saya.

Saya datang sebagai senior yang hendak meramaikan acara. Sejujurnya, niat saya adalah mencari makan siang gratis, juga untuk melirik-lirik beberapa akhwat Kohati (anggota perempuan di HMI) yang manis-manis. Dalam banyak acara, saya dan teman-teman mahasiswa sering berdendang “Kohati.. kohati, alangkah indahmu.”

Begitu saya tiba, semua peserta diminta memasukkan nama yang akan memimpin komisariat. Rupanya, saya datang pada saat yang tepat yakni memilih nama terbanyak yang akan berkompetisi sebagai ketua. 

Entah apa yang terjadi, sejumlah orang bersekongkol untuk memasukkan nama saya dalam bursa ketua. Masuklah nama saya sebagai salah seorang formatur atau kandidat yang akan dipilih sebagai ketua. Padahal saya lebih senior tiga tahun dari kandidat lainnya.

Saat ditanya, apakah bersedia, saya spontan bilang bersedia. Niat saya hanya untuk lucu-lucuan. Saya tak punya niat jadi ketua. Hanya ingin masuk arena dan sedikit bercanda saat penyampaian visi-misi. Kan keren kalau saya bisa pidato di hadapan para Kohati yang cakep-cakep di masa itu.

Tapi saya lupa memperhitungkan satu fakta kalau para calon ketua tidak hanya diminta untuk berpidato, tapi juga harus jalani tes mengaji di hadapan banyak orang. Matilah saya. Kemampuan baca Quran saya masih selevel bacaan metode Iqra. Saya bisa mengaji, tapi sekadar membaca ayat demi ayat. Itu pun tertatih-tatih. 

Bagi organisasi bernapaskan Islam seperti HMI, kemampuan mengaji adalah prasyarat utama bagi para pemimpin organisasi itu. Biarpun anak HMI sering dianggap sekuler dan liberal, tapi untuk memilih ketua, mengaji adalah kemampuan yang wajib dimiliki. Makanya, dalam setiap pemilihan ketua, kemampuan mengaji akan selalu diujikan di hadapan semua peserta, yang selanjutnya memilih siapa kandidat terbaik.

Jika kemampuan mengajinya pas-pasan, maka masih bisa dimaklumi, sebab dia dianggap punya kemampuan dasar. Mengapa mengaji dianggap penting? Sebab seorang Ketua HMI diharapkan bisa membawa materi dalam acara pengkaderan, bisa membawakan dakwah, serta bisa menjelaskan ajaran agama Islam, sebagaimana digariskan dalam Nilai Identitas kader (NIK) dan Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Semua orang yang pernah menjalani aktivitas di HMI, pasti tahu tentang hal ini.

Makanya, ketika menjadi kandidat ketua, saya diminta ikut tes mengaji, mulailah saya keringat dingin. Teman saya, Himar, menjadi steering comittee (semacam dewan pengarah) yang menentukan bacaan dari kandidat ketua. Himar menyilakan seorang kandidat untuk mulai mengaji. Dia diserahkan Quran, tapi teman itu menolaknya. Rupanya dia penghafal Quran. Dia mengaji dengan fasih, dengan mata terpejam, lengkap dengan irama dan lagu-lagunya. Wajarlah, dia keluaran pesantren.

Kandidat kedua dipilihkan bacaan Alif Lam Mim, yang relatif mudah. Maka mengajilah teman kedua. Saya sebagai kandidat ketiga mulai keringatan. Rasanya ingin segera mundur dari pencalonan, tapi saya pasti akan malu dan kehilangan muka di hadapan para Kohati. 

Giliran saya, Himar memilihkan bacaan Quran di bagian tengah. Saya pun mulai membaca dengan tertatih-tatih. Beberapa hadirin senyum-senyum. Saat para dewan pengarah ditanya, apakah saya bisa lolos? Semuanya bilang ya. Bacaan saya dianggap bisa dimengerti. Saya lolos tes mengaji. Alhamdulillah.

***

Pengalaman kedua jalani tes mengaji adalah saat mendaftar dosen di salah satu perguruan tinggi berbasis Islam di Makassar. Waktu itu, saya baru lulus S2. Saya sedang menganggur di Makassar. Saat ada lowongan pengajar di kampus Islam itu, saya ikut mendaftar. Saya mendaftar untuk dosen Ilmu Komunikasi. Anehnya, saya malah diminta tes untuk formasi dosen ilmu politik. Saya jalani saja.

Tesnya mirip Indonesian Idol yang memakai sistem gugur. Tes pertama adalah tes potensi akademik (TPA), setelah itu tes bahasa Inggris. Pada semua tes, banyak yang berguguran. Mungkin karena saya cukup pandai, nama saya selalu teratas. Bahkan terakhir, tinggal dua nama yang akan jalani tes wawancara. Yang akan direkrut satu orang.

Tes selanjutnya adalah wawancara. Saingan saya tinggal satu orang. Saya yakin bisa melaluinya dengan mudah. Biarpun saya bukan anak politik, tapi bacaan saya pada teori-teori politik, saya anggap sangat bagus. Kebetulan, pewawancara sangat mengenal saya. Seusai wawancara dia berbisik “Kalau sisi akademik, kamu lebih bagus. Tapi sainganmu sudah lama jadi asisten dosen di sini.” Peluang saya mengecil.

Nah, tes terakhir adalah tes mengaji di hadapan salah seorang guru besar di kampus itu. Kembali saya keringat dingin. Saya berhadapan dengan seorang profesor bidang ilmu hadis, yang dahulu menjadi tetangga saya di Baubau. Sewaktu saya kecil, perguruan tinggi Islam itu punya kelas jauh di Baubau, sehingga banyak dosennya yang tinggal bertetangga dengan saya. Profesor yang hendak mewawancarai pun mengenal dan sering berinteraksi dengan saya di masjid.

Giliran saya mengaji, dia mendengar dengan wajah yang nampak aneh. Komennya hanya satu, “Saya sering lihat kau di masjid. Siapa yang ajar mengaji?” Saya terdiam. Untuk tes terakhir, poin saya tidak bagus-bagus amat. Gak nyangka juga kalau saya bisa gugur karena tes mengaji. Entahlah. Mungkin ada hal lain yang luput dari pantauan saya.

*** 

TERAKHIR, saya jalani tes mengaji saat hendak menikah. Selama beberapa bulan, saya stres memikirkan biaya pernikahan. Maklumlah, untuk nikah ala Bugis, mesti siap modal. Saya memeras otak memikirkan strategi biar pernikahan bisa jalan. Saya sudah menuliskan pengalaman nikah itu beserta jalan keluarnya. Silakan baca DI SINI.

Satu hal yang luput saya persiapkan adalah proses ijab kabul. Ternyata, untuk nikah Bugis mensyaratkan tes mengaji bagi seorang mempelai pria. Bahkan di lokasi ijab kabul itu sudah disiapkan Quran. Keluarga mempelai perempuan berharap agar lelaki yang menikahi anaknya punya kemampuan agama yang baik, bisa jadi imam, juga bisa membimbing agama bagi keluarga.

Saya pun menjalaninya. Untungnya, pihak penghulu hanya meminta saya membacakan surah Al Fatihah. Nah, kalau cuma itu, jelas saya sangat fasih. Mulailah saya melafalkannya dengan gaya ala Qori di acara Musabaqah Tilawatil Quran. Belum sampai bacaan “wala daalin”, penghulu bilang cukup. Maka berlanjutlah proses jab kabul dengan riang gembira.

*** 

HINGGA kini saya masih mempertanyakan mengapa ada tes mengaji. Menurut saya, keberislaman seseorang tidak perlu disampaikan dengan cara demonstratif seperti itu. Tak ada kaitan secara langsung antara kefasihan mengaji dengan kualitas kepemimpinan. Sebab kepemimpinan adalah soal manajerial, kemampuan mengelola manajemen, serta memastikan semua orang bisa mencapai target yang direncanakan.

Daripada sibuk melihat kefasihan mengaji, lebih baik memantau rekam jejak, visi-misi, dan apa yang sudah dilakukan seseorang. Untuk soal ini bisa terukur dan bisa dipantau. Ini jauh lebih penting sebab sebagai pemimpin, sebab dia akan dituntut untuk bekerja dan mencapai target-target yang direncanakan.

Demikian pula dalam hal seleksi dosen perguruan tinggi. Kriteria paling penting yang seharusnya dicari adalah intellectual curiosity yakni satu hasrat dan sikap untuk selalu ingin menemukan jawaban dari banyak pernyataan-pertanyaan. Yang perlu dicari adalah “rasa lapar akademik” yakni kemampuan untuk mencari dan mengembangkan ilmu, kemudian merumuskan cara-cara baru memahami persoalan dengan menguasai metodologi dan riset.

Tes kemampuan mengaji hanya akan menunjukkan seseorang mengenali Islam, tapi tidak akan bisa menunjukkan sejauh mana nilai Islam itu mengakar pada diri seseorang, menjadi napas bagi semua gerak, serta menjadi kompas untuk bergerak.

Tes itu tidak bisa menjadi indikator bahwa seseorang menjadikan nilai itu sebagai napas yang selalu mengisi kehidupannya. Padahal, mereka yang menjadikan agama sebagai napas dan mengalir di darahnya inilah yang harus ditemukan.

Tapi saya juga tidak memungkiri kalau ada pandangan yang dominan di kalangan banyak orang, khususnya organisasi berlabel Islam. Mereka punya kriteria sendiri dalam memilih pemimpin atau mereka yang menjadi bagian dari barisannya.

Dulu, saya keringatan saat harus menjalani tes mengaji. Kini, zamannya telah berubah. Cukup menyebut pendukung satu capres, maka tafsir dan penilaian orang akan berubah. Penilaian akan ditentukan dari pilihan capres. Ketika saya menyebut diri sebagai pendukung capres A, maka salah sebut bacaan Al Fatihah langsung akan di-bully habis-habisan.

Tapi jika saya menyebut diri sebagai pendukung capres B, maka ketika saya menolak jadi imam, orang-orang akan membela. Ketika saya salah sebut gelar untuk Rasul, tetap saja dibela habis-habisan. Ketika ikut merayakan natal, semua akan memuji sebagai simbol toleransi. Bahkan ketika diminta tes mengaji, semua akan membela dan mengatakan tidak perlu.

Ternyata, nilai-nilai bisa longgar saat bicara pilihan politik. Saya berpikir, harusnya, saya menjalani ketiga tes itu di masa kini. Biar saya gampang berkelit dengan menyebut diri sebagai pendukung Capres itu. Biar bisa menjalani hidup dengan aman dan nyaman.

Iya kan?



Saat Membaca "The Death of Expertise"




Di satu kanal media sosial, saya menyaksikan dua orang berdiskusi soal Freeport. Saya mengenal dua orang yang berdebat itu. Satu bekerja sebagai staf honorer di kantor pemda. Satunya lagi, bekerja sebagai pengajar ekonomi di satu kampus negeri. 

Diskusi itu tidak menarik. Teman pertama tidak mau mendengar uraian ataupun penjelasan dari teman kedua. Teman pertama rajin membagikan banyak link yang didapatnya dari berbagai grup whatsapp. Ketika teman itu kehilangan argumen, mulailah dia mengeluarkan dalil untuk menyesatkan teman diskusinya.

Pernah juga saya melihat diskusi di satu grup whatsapp. Pendapat dari seseorang yang mendapatkan gelar doktor bidang hadis pemikiran Islam, tiba-tiba saja dipandang remeh dan ditertawakan oleh warga grup yang justru tidak memperdalam ilmu agama. Rupanya banyak warga grup itu lebih percaya pada satu atau dua paragraf dari ulama yang jadi seleb di media sosial. Padahal, ulama yang dikutip itu tidak jelas apa kompetensi dan keahliannya.

Dalam hati, saya menyimpan tanya. Mengapa kita tak mendengar orang berilmu yang menghabiskan bertahun-tahun usianya untuk memperdalam pengetahuan pada satu topik?

Suatu hari, saya pernah juga menyaksikan poster diskusi sejarah. Yang dibahas adalah sejarah pemberontakan PKI di Indonesia. Lucunya, pembahas utama adalah seseorang dengan gelar S.Ag. Kembali, saya menyimpan tanya, kenapa tak mengundang seorang peraih gelar PhD untuk bidang sejarah, atau orang yang bertahun-tahun mendalami isu PKI? 

Saya selalu teringat buku Tom Nichols yang judulnya The Death of Expertise. Kebetulan, hari ini saya menemukan buku itu dalam versi bahasa Indonesia yang berjudul Matinya Kepakaran. Kata Tom Nichols, di era media sosial, banyak di antara kita yang dikendalikan para produsen informasi. 

Di era ini, sekeping informasi di Whatsapp dianggap lebih valid ketimbang riset-riset sejarah yang bertebaran. Jangan berharap ada diskusi yang sehat. Jangan berharap ada pencerahan karena berbagai fakta diurai dan didiskusikan. 

Dalam buku itu, Tom Nichols telah membahas tentang kematian para ahli di era milenial ini. Banyak orang yang lebih suka bertahan dalam ketidaktahuannya, tanpa mau mendengar mereka yang benar-benar ahli dan menghabiskan hidupnya untuk mendalami satu topik. Para ahli ditinggalkan. Suara keilmuan dibuang jauh-jauh, hanya karena dianggap berbeda dengan sesuatu yang diyakini benar.

BACA: Saat Membaca "Everybody Lies"

Saya sangat setuju dengan uraian Tom Nichols. Media sosial penuh dengan para penganalisis abal-abal yang segala hal ingin dikomentari. Kita terus-menerus menyaksikan debat tak produktif di situ. Mulai dari isu vaksin, bumi itu datar, kontroversi ASI, isu PKI, kontroversi Soeharto, hingga seberapa sehat kencing unta.

Dalam rimba raya informasi, suara seorang peneliti dan pakar dengan mudah diabaikan. Orang lebih mendengar mana komen paling sering, serta suara orang awam yang sok tahu, juga pesohor yang menyesatkan. Jawaban dari tokoh yang punya banyak pengikut lebih didengar, padahal bisa jadi jawaban itu membahayakan.

Dari buku Tom Nichols, saya mendapatkan penjelasan yang utuh. Bahwa ada banyak hal yang menyebabkan suara para ahli itu diabaikan. Dia menyebut satu reproduksi sosial ketika kebenaran pelan-pelan menjadi kesalahan. Pihak-pihak yang seharusnya memberikan pencerahan (misalnya kampus, media massa, hingga para pakar), justru sering kali juga berada dalam sikap arogansi dan merasa paling benar sehingga mengabaikan suara-suara awam.

Saya yakin Tom Nichols tidak melakukan studi mendalam atau riset tentang fenomena di Indonesia. Jika dia melakukannya, saya yakin dia akan menemukan satu fakta penting bahwa pilihan capres akan mempengaruhi penilaian seseorang atas informasi yang diterimanya. Jika dia pendukung capres A, maka semua informasi terkait A akan dianggap sebagai satu-satunya kebenaran. Demikian pula sebaliknya.

Tak ada masalah jika mendukung satu politisi. Hal penting yang harus tetap dirawat adalah nalar serta rasa haus untuk melakukan pencarian kebenaran. Pilihan politik tak harus membunuh argumentasi, sebab yang harus dijaga adalah kejernihan dan penalaran yang didapatkan dengan cara dialektis, membaca satu sumber, kemudian melakukan konfirmasi pada sumber lain.

Lebih baik memberi ruang pada orang yang sudah mengkajinya bertahun-tahun ketimbang hanya mendengar godaan pikiran yang terlanjur percaya pada sesuatu. Ketika pakar dimusuhi, ketika suara penalaran diabaikan, maka kita telah membuka pintu bagi praktek korupsi, kediktatoran, hingga tanpa sadar kita menjadi bola yang dipermainkan para politisi atau para pesohor.

Lantas, bagaimana kita harus memosisikan diri di tengah banjir informasi yang sedemikian pekat ini? Bagaimana seharusnya demokrasi memosisikan “expert” dan “citizen” di era keberlimpahan informasi?

Sepertinya saya harus membaca lagi buku Tom Nichols. Saya sudah membaca versi bahasa Inggris, tapi saya ingin membaca lagi versi Bahasa Indonesia. Ingatkan saya untuk bercerita ketika telah membaca buku itu hingga tuntas.





Saat Membaca Everybody Lies




Tadinya saya ingin membeli buku “Everybody Lies: Big Data, New Data, and What The Internet Reveals About Who We Really Are” dalam versi bahasa Inggris. Terbit tahun 2017, buku ini pernah saya lihat di Periplus. Ternyata saat ke toko buku, saya malah menemukan terjemahan bahasa Indonesianya yang diterbitkan Gramedia.

Penulisnya, sering disapa Seth, bekerja sebagai data scientist di Google. Dia meraih PhD bidang ekonomi di Harvard. Buku ini ditulis dengan renyah sebab penulisnya adalah kolumnis New York Times. Entah kenapa, belakangan ini saya tertarik dengan buku-buku yang membahas tentang Big Data, algoritma, dan internet of things.

Yang dibahas di buku ini sungguh menarik. Kata penulisnya, pada dasarnya semua manusia suka berbohong dalam kehidupan nyata. Tapi saat menggunakan mesin pencari Google, orang akan menjadi dirinya sendiri. Makanya, data yang direkam Google sering mengejutkan. 

Misalnya, di negeri yang semua orang mengaku moralis dan agamis, Google menunjukkan kalau topik paling sering dicari orang-orang di situ adalah situs porno dan seks. Seseorang yang tampak alim dan pendiam, bisa jadi rajin mengetik kata perkosaan di mesin pencari Google. 

Tahukah Anda, data Google menunjukkan, di India, pencarian nomor satu untuk kalimat yang dimulai dengan “my husband wants ...” adalah “my husband wants me to breastfeed him.” Jumlah ini empat kali lipat lebih banyak dari negara lain. 

Jangan juga kaget kalau di banyak negara, laki-laki banyak mencari informasi mengenai ukuran kemaluan, sedangkan perempuan mencari informasi apakah organ kewanitaan bau. Di Amerika Serikat, pencarian tertinggi mengenai “my wife is pregnant” adalah “my wife is pregnant now what” dan “my wife is pregnant what do I do”.

Makanya kata Seth, data-data pencarian di Google selalu lebih akurat dari survei mana pun yang dilakukan para ilmuwan. 

Saya tertarik saat Seth membahas politik. Saat Obama terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat, semua media dan komentar orang-orang mengatakan bahwa ini fenomena demokrasi dan penghormatan pada manusia, apa pun rasnya. 

Tapi Google justru mencatat lain. Ketika Obama terpilih, kata paling sering yang diketik di Google adalah kata-kata rasis dan merendahkan, misalnya “nigger president” Bagi orang kulit hitam, kata-kata ini dianggap sangat merendahkan.

Tapi begitulah manusia. Kata Seth, orang-orang tampak normal dan baik-baik saja di dunia nyata. Tapi saat dia berhadapan dengan Google, orang-orang akan menjadi dirinya sendiri, yang bisa jadi punya sisi yang lebih banyak rasis. Nah, timbunan data yang setiap hari dikumpulkan Google inilah yang kemudian dianalisis demi memahami perilaku manusia di dunia digital.

Seth juga membahas Donald Trump. Pada saat banyak survei dan ilmuwan memprediksi Hillary akan menang, dia sudah menduga justru Trump akan menang. Bukan karena isu pengangguran dan kemiskinan. Bukan juga karena banyak problem ekonomi warisan Obama.

Google sudah merekam banyak data, bahwa kemunculan Trump bersamaan dengan semakin banyaknya ujaran kebencian dan rasis yang diketik di mesin pencari. Terbukti, Trump menang di semua wilayah yang warganya paling sering mengetik kata “nigger.”

Penjelasan tentang ini bisa diperluas. Bisa jadi, tim kampanye Trump rajin memantau Google Trend dan piawai mengolah Big Data sehingga tahu persis bahwa sebenarnya kebanyakan orang justru berpikir rasis. Dengan demikian, seorang kandidat presiden mesti terbuka menyatakan marah atau benci pada sesuatu lalu mengeluarkan kalimat kasar. Publik justru menunggu-nunggu kandidat yang seperti itu. 

Tahun depan Indonesia akan memilih presiden baru. Apakah semua kandidat presiden rajin menganalisis big data sehingga kalimat-kalimat presidennya mencerminkan bacaan sosiologis atas perilaku manusia Indonesia paling jujur sebagaimana dicatat Google? Apakah kalimat kandidat presiden, yang katakanlah kasar dan agak rasis, itu juga hasil rekomendasi dari Google Trend demi menjaga loyalitas massanya?

Mohon maaf. Bacaan saya masih di bagian pendahuluan. Ingatkan saya, jika sudah membaca lembar terakhir, saya akan menjawab pertanyaan di atas.


Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...

Google+ Badge