Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Saat ARA Menanyakan Tuhan



“Setiap anak adalah filosof.” Kalimat ini saya temukan dalam buku The Sophie’s World karangan Jostein Gaarder. Dulu, saya tak memahami makna kalimat ini. Tapi setelah memiliki anak yang banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan, saya mulai mengakui kebenaran pernyataan Gaarder.

Jujur, saya sering speechless, kehabisan kata saat harus menjawab pertanyaan anak saya Ara. Di usianya yang lima tahun, ia tumbuh sebagai anak yang menanyakan segala hal. Saya tak selalu punya jawaban jitu yang mengatasi dahaga pengetahuannya. Saat ia bertanya tentang Tuhan dan mendebat jawaban yang saya berikan, saya kehilangan kata. Saya menyadari bahwa pertanyaan seorang anak sangatlah mendasar. Pertanyaannya sangat filosofis.

***

HARI itu, anak saya Ara tiba-tiba datang dengan pertanyaan. “Ayah, di mana Tuhan?” Biasanya, saya menikmati sorot matanya yang ingin tahu banyak hal. Biasanya pula, saya punya jawaban atas pertanyaannya. Seiring waktu, pertanyaannya semakin sulit untuk dijawab. Saat bertanya tentang di mana Tuhan, saya memberi jawaban standar yang sering dikemukakan orang Indonesia. “Tuhan itu ada di langit. Jauh.”

Ara sempat terdiam. Sedetik kemudian, raut wajahnya kembali bingung. Ia lalu berkomentar.

“Kalau Tuhan itu di langit, artinya Tuhan ada di dekat awan yaa. Trus, kalau Ara naik pesawat, Ara bisa lihat Tuhan dong,” katanya.
“Tuhan itu jauh di langit. Ara tidak akan bisa lihat dari pesawat,” kata saya setelah sempat terdiam.
“Kalau Tuhan lebih tinggi lagi, artinya Tuhan itu di dekat planet yaa. Jangan-jangan Tuhan itu alien yaaa”

Saya kehabisan kata. Rasanya tak percaya anak sekecil itu bisa melakukan deduksi dari sejumlah premis yang saya ajukan. Ia serupa Sherlock Holmes, detektif yang tinggal di Baker Street dalam kisah yang ditulis Sir Arthur Conan Doyle. Saya baru sadar kalau jawaban saya bisa ditafsir secara berbeda. Seorang anak menalar dengan lebih jernih, lalu mengajukan pertanyaan yang menohok. Jika ini permainan catur, saya telah dikenai skakmat atas bidak catur yang dimainkannya.

Komentarnya membuat saya harus meralat pernyataan sebelumnya. Dengan sedikit malu karena gagal memberikan jawaban yang memuaskan dahaganya, saya lalu memberikan jawaban sederhana. “Nak, Tuhan itu ada hati Ara. Kalau Ara berbuat baik, ada Tuhan di situ. Tapi kalau Ara berbuat jahat, maka di situ ada setan.” Dialog berhenti. Ia kembali bermain.

Saat itu, saya memikirkan bahwa tak selalu mudah memberikan jawaban sederhana atas pertanyaan seorang anak. Saya tidak tumbuh dalam iklim sedemokratis anak saya. Dahulu, mengajukan pertanyaan tertentu dianggap pamali. Anak kecil dianggap tidak tahu apa-apa. Orang dewasa yang berhak untuk mengatakan apakah pertanyaan seorang anak layak diajukan ataukah tidak. Kadang, seorang anak ditakut-takuti saat menanyakan hal tertentu yang barangkali dianggap tabu. Di sejumlah tempat di kawasan timur, terdapat ungkapan, “Anak kecil tau apa. Cuci kaki baru bobo.” Dugaan saya, pertanyaan itu muncul disebabkan orang dewasa tidak menemukan diksi yang tepat untuk menjawab pertanyaan anak. Bisa jadi, seorang anak mengajukan pertanyaan yang amat mendasar, yang justru tidak terpikirkan oleh seorang dewasa.

Suatu hari, Ara ke rumah sambil menangis. Saat melihat saya dan ibunya, ia lalu berkata,

“Ayah. Mama. Ara takut mati,” katanya.
“Siapa yang kasih tahu tentang mati?” tanya saya,
“Tadi Ara main ke rumah Noura. Kata Noura, semua orang pasti akan mati,”
“Iya Nak. Semua orang pasti akan mati.”
“Ara tidak mau. Ara tidak ingin ayah, mama, dan adek mati. Ara ingin semuanya besar, terus jadi nenek.”

Saat itu saya ingin katakan kalau kematian bisa datang kapan saja. Tak perlu harus menunggu sampai kakek-nenek. Tapi saya mengurungkan jawaban itu. Saya ingin mmberi tahu kalau kehidupan dan kematian adalah sesuatu yang berpasangan. Takdir kehidupan adalah bertemu kematian. Mengutip biksu Ajahn Brahm, kematian tak harus diratapi dengan penuh nestapa. Ia harus dihadapi dengan riang, dan dianggap sebagai proses yang memang harus dijalani.

Bagi anak seusia Ara, informasi tak hanya datang dari dialog-dialog dengan ayah ibunya. Informasi bisa datang dari manapun. Ia bisa menyerap informasi dari banyak pihak. Dirinya serupa spon yang menyerap air informasi dengan cepat, lalu mengecek lagi kebenaran semua informasi itu pada pihak lain.

Yang harus dilakukan adalah menjadi sahabat dekat yang mendengarkan semua pertanyaannya. Saya selalu berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Namun, menghadapi seorang anak tidak sama dengan menghadapi orang dewasa. Anak kecil memiliki penalaran yang sistematis dan seringkali memberi jawaban yang mengejutkan. Kita harus pandai-pandai memberikan jawaban. Sebab jawaban yang kita berikan akan diolah kembali dengan penalarannya, lalu memunculkan banyak pertanyaan lain.

Saya lalu mengecek buku-buku di rak belajar. Saya hanya menemukan satu buku yang fokus pada bagaimana memberikan jawaban atas pertanyaan seorang anak. Buku itu berjudul M Quraish Shihab Menjawab Pertanyaan Anak tentang Islam. Tapi saat saya membuka-buka buku itu, saya menemukan kalau bahasa dalam buku itu sepertinya ditujukan untuk orang dewasa. Minimal bisa dipahami anak seusia sekolah menengah. Buku itu tak tepat digunakan untuk menjawab pertanyaan Ara.

Benar kata Jostein Gaarder. Seorang anak memang seorang filosof yang mengajukan pertanyaan mendasar. Saya teringat kisah tentang Socrates yang berjalan-jalan di Athena, lalu memberikan pertanyaan mendasar ke banyak orang. Sedemikian mendasarnya pertanyaan itu sehingga membuat banyak orang kehilangan kata. Tanpa mau mengakuinya nalarnya yang terbatas, banyak orang memilih untuk mengatai Socrates sebagai orang gila. Dengan menyebut Socrates gila, maka orang-orang hendak berlindung dibalik ketidaktahuannya atas hal-hal mendasar yang ditanyakan.

Posisi anak kecil serupa Socrates yang menusik kemapanan berpikir orang dewasa. Barangkali, sebagai orang dewasa, saya tak cukup menghabiskan waktu untuk mencari tahu di manakah posisi Tuhan. Tak semua orang mendengar bahwa seorang sufi berkata bahwa pertanyaan di mana Tuhan adalah pertanyaan yang keliru, sebab kita mendefinisikan Tuhan serupa materi yang bisa ditentukan posisinya. Tuhan ada di mana-mana. Ia melingkupi segala sesuatu. Ia adalah awal dan akhir.

Satu lagi, seorang anak paling bisa menemukan inkonsistensi dalam setiap jawaban. Minggu lalu, saya pernah berkata kepada Ara bahwa salat itu wajib bagi setiap orang. Hari ini ia datang dengan pertanyaan, “Kata Ayah, semua orang harus salat. Tapi kok Ara jarang lihat Ayah salat?”

Hah? Saya ingin marah. Saya ingin berkata “Anak kecil tau apa.” Tapi sejurus kemudian, saya terdiam. Ah, dia benar.



Bogor, 27 September 2016

Puisi Soe Hok Gie di Tepian Cimory


payung-payung di Cimory

SEBAGAI warga Bogor, saya cukup beruntung sebab jarak ke Puncak hanya sepeminuman teh. Malangnya, saya justru jarang ke sana, sebab lalu lintas selalu macet. Puncak tak hanya milik warga Bogor. Puncak adalah milik warga Jakarta yang selalu membutuhkan relaksasi dan pelepas penat di tengah deru kehidupan yang kian padat. Beberapa kali saya terjebak dalam kepadatan kendaraan dan terjebak antrian hingga beberapa jam.

Belakangan saya menemukan saat terbaik mengunjungi Puncak. Jangan pernah datang saat akhir pekan atau liburan. Datanglah pada saat hari biasa, saat orang-orang sedang bekerja. Saat itu, keindahan kawasan Puncak seakan tersingkap. Kemacetan jalanan seakan tersibak. Saya menikmati perjalanan yang hanya ditempuh selama setengah jam dari rumah saya.

Satu tempat yang tak pernah saya lewatkan adalah Cimory. Ini adalah restoran yang menyajikan berbagai produk olahan susu. Daya tariknya bukan pada restoran dengan menu mahal. Daya tariknya terletak pada keindahan pemandangan dari restoran itu berupa sungai jernih yang mengalir di sela-sela bebatuan, suara gemuruh aliran air, hingga pohon-pohon hijau yang membentuk pagar untuk mengapit Cimory.

Setiap kali mengunjungi Cimory, dan memandang sungai jernih serta pegunungan hijau Pangrango di kejauhan, saya mengingat puisi yang dibuat Soe Hok Gie:

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi 
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada 
hutanmu adalah misteri segala 
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Saat kunjungan kemarin, saya menemukan sesuatu yang baru. Biasanya, area teras yang langsung menyentuh pagar untuk memandang sungai itu bebas diakses siapa saja. Kini, untuk memasuki area itu harus membayar sepuluh ribu rupiah, serta mendapatkan bonus berupa susu kedelai. Mengapa haus membayar?

“Pengunjung tak hanya bisa berdiri di teras dan memandang sungai. Tapi bisa menyeberang jembatan sana, lalu mengunjungi area di seberang sana,” kata perempuan yang memasangkan gelang kertas sebagai pertanda telah membayar.

Bersama istri Dwi, si kecil Ara dan bayi Anna, saya lalu memasuki teras Cimory. Pemandangannya selalu saja menakjubkan. Setelah mengambil beberapa pose, saya lalu mengikuti tepian teras, meniti di jalanan samping sungai, lalu menyeberang di jembatan kayu sebelah sana. Ternyata seberang Cimory memiliki eksotika yang memukau. Di situ terdapat hutan alami yang ditata untuk para pengunjung. Saya melalui sela-sela pohon, singgah di beberapa spot istirahat, juga menyaksikan sekeliling.






Tempat pertama yang saya singgahi adalah rumah kura-kura. Di situ ada beberapa kura-kura yang serupa kura-kura-kura Galapagos. Saat saya sentuh, kura-kura itu licin dan wangi. Rupanya, baru saja dibaluri dengan minyak zaitun. Pantas saja banyak rang yang berpose dengan kura-kura yang semua gerakannya nampak lambat ini. Melihat kura-kura ini saya ingat sosok kukang dalam film Zootopia yang gerakannya serba lambat.

Selanjutnya saya mengunjungi kandang kelinci. Saya juga menyaksikan sapi Australia yang nampak galak pada pengunjung. Mungkin sapi ini merasa tak nyaman sebab menjadi tontonan. Tak jauh dari situ, saya melihat rumah burung yang dihuni berbagai jenis burung. Rumah burung itu dibentuk seperti bunga yang sedang mekar. Di atas setiap rumah kecil, ada burung yang bertengger. Pemandangan yang sungguh asri.

Di bawahnya, saya melihat beberapa burung yang sedang mematuk-matuk tanah. Si kecil Ara sangat gembira dan berusaha mengejar beberapa burung. Ia berusaha mendekati burung itu yang dengan segera bergerak menjauh. Saya menyaksikan keriangan itu sembari memberinya semangat.

Di samping rumah burung itu, ada beberapa kandang yang berisikan burung langka. Saya selalu tidak tega menyaksikan burung-burung yang dikandangkan hanya untuk menjadi tontotan. Burung-burung perkasa itu harusnya di alam bebas. Sayapnya harusnya menantang desir angin lalu mengepak dan membumbung tinggi menembus ketinggian pepohonan. Burung-burung hebat itu tak seharusnya berada dalam kandang.





Saya meninggalkan kandang burung, lalu melihat tempat memerah susu sapi, tempat belajar yang meja kursinya berbentuk unik. Saya lalu duduk-duduk di taman sembari memandang pepohonan. Kesan saya, Cimory ini berbeda dengan sebelumnya. Tak lagi sekadar restoran dan panorama sungai yang disaksikan dari teras, tapi serupa kebun raya yang menjadi tempat tetirah dari kepenatan hdup yang bergegas dan berlari kencang.

***

“Ayah, saya ingin berpose seperti tempo hari,” kata Dwi, istri saya. Rupanya, ia memakai baju yang sama dengan saat terakhir kami ke Cimory. Saat itu, dia sedang hamil sembilan bulan. Kini, ia bersama bayi dan bocah mungil yang selalu kegirangan saat melihat hewan. Ia ingin mengabadikan dirinya yang telah berubah. Dahulu ia sedang hamil dan menggandeng putri kecil, kini ia bersama bayi mungil. Putri kecil itu tak kehilangan keceriaan, sebagaimana biasanya. Sembari menyiapkan kamera, saya memandang mereka yang bergerak menuju tepian sungai sana.

Melihat mereka yang menunggu, sungai dengan air gemuruh, serta pepohonan hijau, saya kembali teringat lanjutan puisi Soe Hok Gie.

“Hidup adalah soal keberanian, 
menghadapi yang tanda Tanya” 
tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar 
terimalah dan hadapilah 
dan antara ransel-ransel kosong 
dan api unggun yang membara 
aku terima ini semua melampaui batas-batas hutanmu, 
melampaui batas-batas jurangmu 
aku cinta padamu Pangrango 
karena aku cinta pada keberanian hidup

Soe Hok Gie, lelaki yang idealis dan mati muda itu, menulis banyak sajak di Pangrango. Membaca beberapa larik sajaknya, saya sering menemukan sikap getir atas kehidupan yang serba menjemukan. Dari beberapa buku yang memuat sajaknya, saya bisa merasakan dirinya yang selalu ingin sendirian dan melihat sesuatu dari tepian. Dia tak ingin menjadi massa. Mungkin, atas dasar itu, Gie selalu berkelana seorang diri ke kawasan Puncak hingga Pangrango.

Berbeda dengannya, saya justru datang bersama keluarga. Antara saya dan Gie dihubungkan oleh satu ikatan kuat yakni keberanian untuk memilih. Dia memilih sendirian untuk menelusuri gunung gemunung, lembah-lembah, dan sungai-sungai deras, saya justru memilih menjalaninya bersama keluarga. Saya menyadari bahwa terdapat ikatan kuat yang akan selalu menghubungkan saya dengan orang-orang yang menunggu giliran potret di sebelah sana. Terdapat tali-temali yang akan menjadi jalan bagi saya untuk selalu kembali ke rumah.



Di tengah alam Cimory saat senja di ufuk sana, di tengah pepohonan hijau itu saya menemukan oase dan jawab dari banyak keraguan. Setelah kembali ke rumah dan kantor, barangkali ada rupa-rupa persoalan yang harus diadapi, ada banyak tantangan yang harus dilewati, ada banyak gunung yang harus dihadapi dengan segala keikhlasan. Di situ ada rasa pesimisme, takut, khawatir, serta kecemasan yang bisa saja datang menyergap.

Tapi keberanian pada hidup akan selalu menjadi cahaya terang yang memandu semua perjalanan. Kecintaan pada hidup adalah embun yang selalu memberikan harapan untuk terus bergerak, apapun risiko yang harus dipilih. Kecintaan pada keluarga adalah temali yang selalu menjaga kita agar tidak jatuh dalam lembah kehampaan.

“Ayah, kenapa melamun. Cepat foto kami,” teriak si kecil Ara.

Bogor, 25 September 2016



BACA JUGA:





Strategi Senyap untuk Kalahkan AHOK

Megawati bersama Ahok dan Djarot


AKHIRNYA, deklarasi untuk mendukung Ahok-Djarot dilakukan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai merah ini sukses memilih satu exit plan yang memukau setelah sebelumnya dalam dilema dalam menentukan siapa kepala daerah. Partai ini seakan meninggalkan beberapa partai lain seperti Nasdem, Golkar, dan Hanura, yang lebih dahulu pasang badan terhadap Ahok. Di satu sisi semuanya berjalan lancar, tapi di balik itu, setitik konflik mulai menjalar saat partai lain dinomorduakan.

Di luar ekspektasi yang sedemikian tinggi, terdapat begitu banyak celah yang bisa dimanfaatan oleh publik. Di atas kertas, Ahok akan melenggang sebagai pemenang. Tapi siapapun yang pernah membaca ujaran filsuf Lao Tze bahwa di balik setiap masalah, selalu terdapat banyak peluang, maka selalu ada celah untuk mengalahkan lelaki asal Belitung itu. Kuncinya terletak pada kemampuan memainkan ritme, tidak fokus pada strategi lawan, serta tetap mencari kekuatan sendiri

Pilkada DKI Jakarta akan menjadi ajang pertaruhan besar bagi semua partai. Pilkada ini menjadi ajang penting sebagai pemanasan sebelum pemilihan legislatif dan piplres mendatang. Kehadiran Megawati dalam berbagai langkah Ahok dibalas dengan rapat di Cikeas yang mempertemukan semua ketua partai besar, termasuk mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Semuanya beradu taktik dan strategi untuk menguasai satu titik penting dalam gravitasi politik nasional. Jika melihat tensi dan rapat-rapat di belakang layar, bisa dipastikan duel pilkada akan slebih seru dari pilkada manapun.

Kawan, Djakarta adalah koentji!

***

PERTEMUAN di Cikeas itu tak menghasilkan keputusan apapun. Hampir semua ketua partai hanya membahas hal-hal yang umum. Mereka membahas sesuatu yang sejatinya menjemukan dan tak perlu dibahas. Yang dibicarakan adalah bagaimana agar Pilkada DKI bisa berjalan lancar dan aman. Seorang kawan berkisah bahwa semua ketua partai tak hendak terbuka dalam menyampaikan sikap.

Sejatinya, semua ketua partai datang untuk membahas satu agenda yakni siapa figur yang akan didorong untuk melawan Ahok-Djarot. Di layar televisi, mereka menyaksikan betapa gegap-gempita dan riuh muncul saat deklarasi pasangan yang ditemani oleh Megawati Soekarnoputri itu. Para ketua partai itu sama sepakat bahwa cara strategis untuk mengalahkan Ahok adalah sesegera mungkin menemukan satu sosok yang bisa menjadi anti-tesis atas Ahok.

Di atas kertas, nama yang beredar adalah Yusril Ihza Mahendra. Beliau sosok yang piawai berdebat tentang hukum dan aturan. Kapasitas akademiknya jauh di atas Ahok. Hanya saja, sosok ini dianggap tidak punya positioning yang bagus untuk menghadapi Ahok. Sosoknya tempramental. Emosinya gampang tersulut sehingga kadang-kadang menjadi hilang nalar lalu menjatuhkan lawan debatnya.

Keberatan juga disampaikan pihak PPP. Yusril dianggap punya sejarah menjatuhkan kepemimpinan Romahurmuzy di pengadilan. Ia adalah pengacara yang mendukung Suryadharma Ali dalam persidangan. Walaupun dia melakukan tugasnya sebagai seorang pengacara profesional, semua pernyataannya masih membekas sebagai luka yang sulit disembuhkan di kalangan partai berambang ka’bah itu.

Partai-partai lain pun setengah hati mendukungnya. Pertimbangannya sederhana. Semua partai ingin mendapatkan satu manfaat dari proses politik ini. Minimal nama mereka akan terkerak dan bisa mendulang banyak manfaat pada proses politik mendatang. Menaikkan seorang ketua umum partai yang suaranya kecil, hanya akan menaikkan elektabulitas partai kecl itu. Para ketua partai itu menganggap tak ada manfaat bagi mereka.

Opsi nama lain harus dibuka. Nama yang muncul adalah Agus Harimurti Yudhoyono dan Anies Baswedan. Figur Agus sudah lama disiapkan Demokrat. Langkah politik untuknya telah lama terbentang, sampai-sampai mengorbankan Anas Urbaningrum yang dianggap hendak mbalelo terhadap SBY. Akan tetapi, mengajukan Agus juga sangat berisiko. Sebab jika dalam ajang ini Agus kalah dan salah langkah, maka cita-cita besar untuk menempatkannya sebagai RI 1 akan sedikit tercoreng. Satu-satunya strategi yang dipilih adalah menyiapkannya untuk momen yang paling penting. Jauh lebih baik menunggunya hingga “matang” dan berpangkat jenderal lalu menempati posisi penting di militer ataupun pemerintahan. Setelah itu mulai berpacu untuk RI 1. Kalaupun Demokrat mengajukannya, maka langkah itu mengandung risiko.

Satu nama yang masih tersisa adalah Anies Baswedan. Sosok ini telah didorong oleh PPP berkat lobi Aksa Mahmud, ipar Jusuf Kalla. Anies dianggap sosok yang tepat sebab menjadi antitesis Ahok. Jika Ahok identik dengan marah-marah, tidak santun, bermulut kasar, maka Anies identik dengan kelembutan, sikap menganyomi, serta santun dalam berdebat. Anies punya kapasitas yang bagus dalam debat dan membangun impresi, meskipun dia sering dianggap tidak memiliki kapasitas mumpuni untuk wilayah teknis.

Tapi setidaknya Anies adalah nama yang bisa diterima semua partai. Namanya layak jual jika dibandingkan dengan Sandiaga Uno, Rizal Ramli, ataupun Yusril sendiri. Keberadaannya yang ukan orang partai manapun bisa menjadi perekat dan pemersatu semua partai dalam koalisi. Kerja besar adalah membawanya memasuki sudut-sudut Jakarta sehingga keterpilihannya bisa mengalahkan Ahok.

***

DUNIA politik kita adalah dunia penuh kalkulasi, yang seirngkali harus berjarak dengan dengan realitas. Dalam dua tahun ini, Ahok telah melakukan beberapa mission impossible yang menempatkan dirinya di posisi sekarang. Dia bekerja keras dan membalikkan prediksi banyak orang bahwa dirinya hanya mendompleng pada Jokowi, dan tak memiliki elektabilitas. Dia menunjukkan lewat kerja-kerja dan ketegasan, di tengah berbagai celaan dan segala kecaman yang berlabel SARA.

Kekuatan Ahok adalah bisa membaca momen politik, lalu menentukan sikap di situ. Di saat banyak tuduhan korupsi menghajar dirinya, ia justru berani tampil di pengadilan lalu membuka satu demi satu fakta, tanpa mengeluarkan pernyataan seolah dirinya menghindar. Dia bisa mengambil point di tengah bayak peristwa besar yang nyaris menjungkalkan dirinya. Image berani dan jujur masih sedemikian kuat melekat pada dirinya. Ini menjadi kekuatan yang harus dihadapi oleh semua pesaing-pesaingnya.

Image berani dan bekerja yang identik pada Ahok harus dihadapi sosok yang juga berani dan bekerja. Pada diri Agus Harimurti Yudhoyono dan Anes Baswedan belum terlihat kerja-kerja keras serta prestasi yang mengesankan publik. Publik hanya tahu Agus sebagai putra SBY. Barangkali dia hanya akan diterima publik karena faktor ganteng dan santun. Tapi kalau membahas kerja-kerja serta prestasi, maka nama Agus tidak seberap mentereng. Anies justru telah dikenal publik. Satu-satunya kekuarangan Anies adalah fakta kalau dirinya pernah di-reshuffle oleh Jokowi, sesuatu yang hingga kini masih misteri alasannya.

Di atas kertas, cara terbaik untuk mengalahkan Ahok adalah memahami kelemahannya, serap kekuatannya, lalu menari lebih cepat. Salah satu filosofi Tao Te Ching menyebutkan, “Apa yang kaku dan keras adalah sahabat kematian. Apa yang lembut dan lentur adalah kehidupan.” Dalam konteks strategi politik, filosofi ini bermakna, hadapi kekerasan Ahok dengan segala kelembutan. Jangan pernah masuk dalam arena penuh debat dan tudingan, sebab arena itu sudah lama menjadi milik Ahok. Masuklah lewat tema-tema sederhana yang lembut, namun punya kekuatan besar. Pastikan pula, kandidat yang didukung adalah kandidat yang tepat.

Seorang ahli strategi perang pernah mengatakan, “Do’t put your eggs into one basket.” Ini bermakna para penantang Ahok tidak boleh meletakkan semua strategi dalam satu skenario. Berbagai pilihan harus ditempuh, lalu dibiarkan bekerja demi berbagai skenario pemenangan yang disusun. Perbanyak skenario pemenangan, dan tidak harus berjalan seiring. Dalam banyak kasus, biarkan skenario itu saling berpotongan, sebab bisa bertemu pada satu titik yakni menggerus Ahok dan menaikkan elektabilitas kandidat yang diusung.

Dalam tulisan sebelumnya, telah saya paparkan bahwa untuk mengalahkan Ahok, maka kita bisa menerapkan lima strategi penting itu. Pertama, fokus pada gagasan dan tidak membawa isu SARA. Sebab pemilih Ahok adalah kelas menengah yang rasional dalam bersikap. Kedua, lakukan perekrutan tim profesinal untuk megelola media sosial dan media massa. Tim ini harus memiliki gagasan yang kuat, yang lalu dialirkan ke sejumlah kanal media. Ketiga, tebar jejaring sosial ke berbagai lini, Kenali siapa saja tokoh kunci yang bisa menaikkan elektabilitas. Gunakan tokoh itu sebagai “juru bicara” dan reawan.  Keempat, fokus pada kelemahan gagasan dan impelementasi Ahok. Angkat celah-celah dan kelemahan Ahok melalui berbagai fakta obyektif dan potret realitas lapangan. Kelima, tetap bermain sabar dan tenang.

Pertanyaannya, bisakah semua strategi itu dilaksanakan dalam waktu yang tak seberapa lama lagi?

***

BERBAGAI strategi itu akan efektif di lapangan jika kita memahami dengan baik jantung kekuatan Ahok. Sejauh yang saya amati, kekuatan Ahok terletak pada diri Joko Widodo, yang sosok yang nampak lemah dan biasa, tapi sukses menjadi politisi yang langkahnya paling mulus ke kursi kepresidenan. Sejauh ini, Jokowi masih menjadi tokoh kunci yang mengamati semua langkah-langkah Ahok sembari memberikan dukungan kuat dari belakang. Dalam banyak hal, Jokowi adalah sosok paling jeli membaca dinalika politik dan membuat semua orang bergerak untuk dirinya. Tanpa Jokowi, Ahok akan menjadi sosok rapuh yang bisa dijatuhkan kapan saja. Tanpa Jokowi, Ahok akan kelilangan perisai besar yang selama ini membentengi dirinya dari berbagai tuduhan, serta melancarkan semua rencana-rencananya untuk membenahi Jakarta.

Sebagai seorang presiden, Jokowi paham betapa pentingnya kursi Gubernur DKI dalam setiap perhelatan politik. Di satu media besar, Jokowi telah mengisyaratkan satu pesan pnting agar kursi gubernur tidak jatuh ke “kubu seberang.” Isyarat dari Jokowi inilah yang kemudian memanaskan perhelatan menuju DKI 1.

Tak mengejutkan jika tokoh sekelas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ingin menjadi king maker, yang lalu ikut wacana dalam mendorong anaknya. Tidak mengejutkan jika semua ketua umum partai sibuk berkonsolidasi dan menyiapkan barisan demi mencari peluang untuk menang di posisi penting itu. Tidak mengherankan ketika rapat-rapat di Cikeas digelar agar semua ketua partai menemukan formasi terbaik yang menguntungkan semua pihak.

Langkah untuk mengalahkan Ahok harus dimulai dari memastikan Presiden Jokowi tidak memberikan pernyataan terbuka. Presiden harus dipagari dalam satu ruang netral yang memastikan dirinya tidak berkampanye atau tampil di media bersama-sama. Jokowi harus dibingkai dalam skenario tidak memihak siapapun. Ia harus diyakinkan kalau siapapun yang memimpin ibukota adalah sosok penting yang akan menjadi pelayan masyarakat banyak. Namun jika Jokowi masuk arena, dan muncul dalam banyak acara bersama Ahok, maka saya menduga tak ada satupun kekuatan yang bisa menghalangi Ahok menuju kursi Gubernur DKI.

Pada titik ini, pemenangnya akan seperti yang dikatakan Sun Tzu, yakni “Dia yang mengenali dirinya, dan dia yang mengenali lawannya.”


Bogor, 22 September 2016

BACA JUGA:




Saat THEMIS Mengayunkan Pedangnya

Dewi Themis

SEORANG petinggi negara tertangkap karena melakukan korupsi. Tapi orang-orang justru meributkan berapa jumlah yang dikorupsi. Ada yang menulis bahwa jumlah itu tak sebanding dengan harta kekayaan petinggi negara itu. Ada pula yang berkomentar kalau banyak kasus lain yang harusnya bisa diatasi lebih dahulu.

Di mata saya, korupsi tak terkait dengan angka-angka. Korupsi tak pernah terkait dengan berapa banyak jumlah hartamu. Korupsi tak punya relasi dengan biaya yang dikeluarkan untuk naik ke tampuk kekuasaan. Korupsi tak berhubungan dengan berapa banyak sumbangan yang anda berikan ke Majelis Taklim. Tak ada pula kaitan dengan berapa banyak lidah seseorang melafalkan doa-doa dan zikir.

Korupsi itu terkait dengan penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri. Korupsi itu adalah tindakan menimbun kekayaan, yang dimulai dari sekeping, lalu membukit. Semakin besar kuasa di tangan seseorang, maka semakin jahat pula korupsi yang dilakukannya. Sebab jabatan itu serupa payung, yang seharusnya melindungi dan memberdayakan pihak lain. Di tangan seorang pejabat korup, payung itu digunakan untuk menutupi praktik politik yang

Sungguh naif argumentasi yang menyoroti korupsi hanya dari sisi jumlah. Berapa pun jumlahnya, selagi seseorang mengambil sesuatu yang bukan hanya, maka seseorang wajib mendapatkan banyak pertanyaan. Seorang anak yang mengambil sekeping logam, mesti mendapat teguran dari orangtuanya agar tidak melakukannya lagi. Jauh lebih baik meminta, ketimbang mengambil sesuatu yang bukan hak. Jika seseorang adalah pejabat, maka amanah yang diembannya akan lebih besar. Ia mesti menampilkan keteladanan, salah satunya adalah tidak mengambil sepeserpun sesuatu yang bukan miliknya.

Terhadap setiap kasus korupsi, kita mendesak sekuat tenaga agar negara segera mengungkapnya. Tak ada debat tentang ukuran sebesar zarrah ataukah tidak. Selagi itu bernama korupsi, kita akan menghajarnya sebab berpotensis ebagai virus yang akan menggergoti semua tananan. Kita mendesak semua kasus dituntaskan, tapi bukan berarti kita mengabaikan kepingan-kepingan kecil yang dilakukan seorang berharta.

Tak peduli besar kecil kasusnya, selagi seseorang menjadi pejabat publik, maka dirinya harus berbuat adil dan bersih dari segala tindak yang bisa membahayakan bangsa ini. Risiko menjadi pejabat publik adalah bersedia diawasi dan menjalani kehidupan yang seharusnya membawa teladan bagi orang banyak.

Seorang pejabat memang harus serupa malaikat. Mereka tak boleh sedikitpun melakukan kesalahan. Mereka membawa amanah untuk menegakkan hukum, memberikan keteladanan bagi masyarakat, menghadirkan nilai-nilai kebaikan, dan menjadi cahaya terang bagi masyarakat. Jika mereka melakukan secuil tindakan tak terpuji, maka bisa berdampak pada orang banyak. Jika mereka berbuat curang, maka risikonya ditanggung banyak pihak. Tak heran jika seorang pejabat menerima gaji tinggi, yang diambil dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat dalam setiap aktivitasnya.

Tentu saja, rakyat punya saham atas semua gaji tinggi pada para pejabat. Dari gaji yang diterima setiap bulan itu, ada keikhlasan seorang penjual telur yang dipotong sekian rupiah. Boleh jadi, di situ ada sekian persen dari seorang bapak yang membanting tulang sebagai sopir. Barangkali di situ ada jejak pembayaran seoran petani yang baru saja menjual hasil panen. Atau dipotong dari bayaran seorang pekerja seks yang menggadaikan kehormatannya demi membeli beberapa lembar kain di satu pasar rakyat.

Sebagai rakyat, kita punya hak untuk mencela seseorang yang digaji tinggi dari setiap peser uang yang kita bayarkan. Kita punya hak untuk mempertanyakan amanah yang kita titipkan untuk digunakan sebaik-baiknya demi maslahat orang banyak. Penyimpangan atas itu adalah sesuatu yang tak termaafkan, demi membangun masa depan yag lebih baik. Demi Indonesia bebas korupsi, maka seyogyanya pejabat korup harus segera dilengserkan.

Saya masih tak percaya atas apa yang terjadi kemarin. Pejabat yang tertangkap tangan itu disebut-sebut sebagai seseorang yang cemerlang dalam karier dan pemikiran. Malah ia pernah dinominasikan untuk jabatan yang lebih tinggi. Tapi demikianlah pedang keadilan yang dibawa Dewi Themis bisa menebas siapapun pelakunya.

Themis, yang maknanya dipadankan dengan Iustitia atau Justitia, membawa timbangan dan pedang dengan mata tertutup. Ia tak memandang siapapun pelakunya. Ia melihat timbangan, lalu menentukan seberapa jujur seseorang lalu menjadikan pedangnya sebagai pengadil. Ia hanya memandang masa depan, yang diraih dengan membersihkan masa kini dari semua orang berwatak jahat.

Dari gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta sana, kita mendengar kabar kalau Themis sedang mengayunkan pedangnya.



Bogor, 18 September 2016

Lelaki Dekil yang Lebih Hebat dari Christiano RONALDO

Christiano Ronaldo

KISAH seorang pesepakbola bukan saja kisah tentang kepiawaian dalam menggocek bola lalu mencetak gol dalam pertandingan dramatis. Kisah seorang pemain bola adalah kisah yang serupa warna-warni di atas kanvas lukisan. Seorang pesepakbola adalah manusia biasa yang menjalani hari, bersahabat dengan manusia lain, lalu berjuang untuk meraih kegemilangan.

Publik hanya menyorotkan cahaya pada pemain yang meraih kegemilangan dan kejayaan. Padahal, pemain paling hebat adalah pemain yang membuka jalan bagi rekannya, lalu memilih berada di tepian. Pemain paling hebat adalah pemain yang membuka kesuksesan bagi rekan-rekannya.

Dari tanah Portugal, terdapat kisah mengharukan pesepakbola hebat Cristiano Ronaldo, dengan seorang lelaki dekil.

***

HARI itu, 24 Mei 2014, cahaya terang menyemburat dari jantung Stadium of Light di Lisbon, Portugal. Tim kebanggaan Spanyol, Real Madrid, berhasil menjadi juara Liga Champion setelah mengalahkan rival sekotanya Atletico Madrid. Pertandingan itu berajalan sedemikian dramatis dan begitu menegangkan bagi yang menyaksikannya.

Dalam pertandingan dramatis itu, Atletico Madrid lebih dulu unggul melalui gol yang dicetak Diego Godin pada menit ke 36. Hingga jelang akhir babak kedua, belum ada gol tercipta. Raut penuh kebahagiaan mulai memancar dari wajah Diego Simeone, pelatih Atletico Madrid. Ia membayangkan dirinya akan segera bersulang dengan “si kuping besar”, nama piala Champion yang memiliki pegangan lebar, untuk pertama kalinya.

Menjelang akhir babak kedua, harapan itu ibarat asap yang tersaput awan. Sergio Ramos mencetak gol pada menit ke 90 + 3. Skor menjadi 1 – 1. Pertandingan dilanjutkan dnegan babak tambahan. Di sinilah Real Madrid menghadirkan kengerian bagi mimpi-mimpi Simeone. Tiga gol tambahan dicetak oleh Gareth Bale, Marcelo, serta tendangan penalti Christian Ronaldo. Yup, nama terakhir ini menjadi penentu yang meramaikan selebrasi kemenangan Real Madrid. Namanya diteriakkan dan dielu-elukan oleh semua penonton.

Semua pendukung Real Madrid bersorak-sorak penuh kemenangan. Para pemain diarak menuju ke panggung untuk menerima medali serta piala. Semua media dan jurnalis berdiri di depan panggung lalu memotret momen dramatis itu. Ribuan cahaya blitz kamera tak henti mengabadikan momen bersejarah itu.

Tapi di tengah euforia dan bahagia yang diletupkan ke udara itu, pemain paling hebat di Madrid, Christiano Ronaldo, malah meninggalkan panggung. Ia berlari menuju tribun para penonton. Ia meninggalkan selebrasi di panggung utama. Dari tribun penonton, seorang pria dekil berdiri dan menyambut Ronaldo. Keduanya lalu berpelukan di tepian lapangan smabil berurai air mata.

Para jurnalis bertanya-tanya. Mengapa pula Ronaldo harus meninggalkan panggung penuh cahaya hanya untuk berpelukan dengan lelaki itu? Siapakah gerangan dirinya?

Para jurnalis lalu mendekati lelaki yang dipeuk Ronaldo itu. Sayangnya, lelaki itu tak ingin diwawancarai. Ia melenggang meninggalkan Stadium of Light dan membiarkan para jurnalis dan publik bertanya-tanya. Lelaki itu menjadi misteri.

***

“Namanya Albert Fantrau,” demikian kata Ronaldo dalam sesi wawancara, beberapa hari sesudahnya. Ia menjawab pertanyaan para jurnalis yang penasaran dengan sosok lelaki itu.

Seusai menyebut nama Fantrau, Ronaldo lalu terdiam. Matanya berkaca-kaca saat bercerita lirih tentang lelaki itu. Tanpa Fantrau, Ronaldo mengaku tak akan bisa menggapai kegemilangan dalam karier. Tanpa lelaki itu, ia tak mungkin mendapatkan sepatu emas sebagai salah satu pesepakbola paling ajaib di muka bumi.



saat Ronaldo menemui Fantrau di tribun penonton

Saat masih kanak-kanak, Ronaldo bermain bersama Fantrau di Andorinho, satu akademi sepakbola di Portugal. Keduanya adalah pemain paling berbakat di akademi itu. Keduanya selalu menjadi duet maut yang menggetarkan jala lawan. Tak ada satupun pemain muda yang sehebat keduanya. Mereka selalu bersama dan menjadi karib di dalam dan luar lapangan.

Suatu hari, seorang pemandu bakat dari klub besar Sporting Lison datang ke akademi itu. Pemandu bakat itu hendak merekrut pemain yang akan mengisi skuad Sporting Junior. Sayangnya, ia hanya bisa membawa satu orang pemain. Ronaldo harus bersaing dengan Fantrau. Untuk pertama kalinya, kedua sahabat itu harus bersaing memperebutkan satu slot tersisa. Siapa di antara mereka yang mencetak gol lebih banyak, akan direkrut ke dalam Sporting Junior.

Seleksi itu berjalan fair. Ronaldo mencetak gol pertama melalui tendangan terukur. Tak lama kemudian, Fantrau juga mencetak gol pertama melalui sundulan. Skor keduanya sama. Hiangga akhirnya, pertandingan nyaris berakhir tanpa ada gol tambahan. Dalam waktu sesempit itu, Fantrau berhasil menggocek bola dan membawanya hingga berhadapan dengan kiper lawan. Ronaldo berlari dari arah lain. Ronaldo merasa dirinya akan kehilangan kesempatan bergabung dengan klub besar sebab Fatrau akan segera mencetak gol.

Dalam situasi tinggal berhadapan dengan kiper lawan, dalam situasi akan segera menjadi pemenang, Fantrau justru mengoper bola ke Ronaldo. Gol tercipta. Ronaldo mendapatkan kesempatan emas yang seharusnya dimiliki Fatrau. Ronaldo mendapatkan “hadiah” berupa peluang mencetak gol dari seseorang yang harusnya mendapatkan kesempatan itu. Pemain bernama asli Ronaldo dos Santos Aveiro ini mencetak gol lebih banyak, sehingga berkesempatan bergabung dengan Sporting Lisbon.

“Mengapa kamu melakukan ini?” tanya Ronaldo di luar lapangan.  “Because you are better than me,” kata Fantrau.

Kamu lebih baik. Kamu lebih berhak atas kesempatan emas ini. Kamu akan lebih cemerlang. Fatrau menekan semua ego dan mimpi-mimpinya untuk menjadi pemain besar demi membuka jalan bagi sahabatnya. Ronaldo menggambarkan sahabatnya dalam kalimat indah:

“I have to thank my old friend Albert Fantrau for my success. We played together for the same team in the U-18 championship. When a scout came to see us he said that, Whoever scores more goals will come into our academy. We won that match 3-0. I scored the first goal then Albert scored the second with a great header. But the third goal was impressive for all of us. Albert was one-on-one against the goalkeeper, he rounded the goalkeeper and I was running in front of him. All he had to do was to score that goal but he passed it to me and I scored the third goal, so I got that spot and went to the academy. After the match I went to him and asked him why? Albert said that “Because you (Ronaldo) are better than me.”

Pengorbanan Fantrau tak sia-sia. Ronaldo hijrah ke Sporting. Selanjutnya ia direkrut Manchester United, lalu mencetak banyak sejarah. Ia lalu berlabuh ke Real Madrid dan kembali melanjutkan kebintangannya. Ia meraih banyak hasil hebat, yang salah satunya disebabkan oleh pengorbanan seorang sahabat kecilnya. Ia memanan banyak kesuksesan, yang diawali oleh gol yang dihadiahkan Fantrau.

***

PANGGUNG di Stadium of Light tak hanya menjadi milik Ronaldo. Di situ ada kisah tentang Fantrau yang duduk di bangku penonton. Di situ ada cerita seorang shabaat yang memberi jalan bagi sahabat lainnya. Sebagai sahabat, Ronaldo tak pernah melupakan Fantrau. Ia berbagi kegembiraan dengan cara meninggalkan panggung kehormatan, hanya untuk memeluk sahabatnya itu.

dua sahabat di usai muda

Persahabatan keduanya adalah persahabatan abadi. Para jurnalis banyak berkisah tentang kehidupan Fatrau yang berkecukupan karena fasilitas yang diberikan Ronaldo. Semesta memberikan balasan setimpal atas keikhlasan Fantrau kepada sahabatnya. Keikhlasan itu dibalas oleh ketulusan Ronaldo yang akan selalu menganggapnya sebagai sahabat.

Kisah ini memercikkan banyak keping inspirasi. Mereka yang hebat adalah mereka yang berhasil menggapai puncak kesuksesan, bisa membawa diri melampaui semua capaian orang lain. Tapi mereka yang lebih hebat adalah mereka yang membuka jalan bagi kesuksesan orang lain. Mereka yang lebih hebat mendedikasikan dirinya untuk kebahagiaan dan kesuksesan orang lain. Kebahagiaannya terletak pada seberapa banyak kisah dan senyum yang dipancarkan rang lain, berkat jalan kecil yang dirintisnya.

Bahwa dibalik seorang hebat, terdapat banyak kisah mengharukan tentang manusia-manusia lain yang memberikan jejak pada pencapaian seseroang. Manusia hebat ini memang tak dicatat sejarah. Mereka jauh dari publisitas. Tapi berkat ketulusan dan keikhlasan mereka, banyak sejarah hebat berhasil ditorehkan. Semesta akan mencatat nama mereka dengan cara lain. Mereka akan diabadikan dalam bintang-gemintang yang berpendar abadi di hati orang-orang yang merasakan sentuhan mereka.



Bogor, 15 September 2016


BACA JUGA:







Wangi Kopi dan Aroma Cengkeh Pegunungan Luwu

suasana di salah satu desa di Pegunungan Latimojong

BIARPUN petinggi negeri ini tengah melancarkan retorika tentang kebijakan yang selama ini memunggungi lautan, bukan berarti kawasan pegunungan menjadi kawasan yang harus terabaikan. Nasib pegunungan setali tiga uang dengan lautan. Pegunungan telah lama terabaikan oleh negara. Masyarakat pegunungan seakan termarginalkan. Tapi mereka tetap memelihara daya-daya untuk bangkit dan lepas dari stigma yang diberikan orang kota.

Di Pegunungan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, saya menemukan daya-daya hidup dari petani yang terus bertahan digerus oleh perubahan. Di Latimojong itu, saya menikmati wangi kopi dan aroma cengkeh yang seakan hendak dilenyapkan oleh modernisasi dan deru pembangunan di kota-kota. Di situ, saya menemukan betapa banyaknya tantangan yang harus diatasi demi menghadirkan desa-desa pegunungan yang lestari dan selalu menghadirkan senyum di wajah warganya.

***

LELAKI itu bernama Bachrianto Bachtiar. Hari itu, dia mengajak saya untuk menyeruput segelas kopi di depan kantor RRI, Makassar. Pekan silam, akademisi Universitas Hasanuddin yang punya segudang pengalaman di dunia pengorganisasian masyarakat ini bercerita banyak hal tentang kampung halamannya di tanah Luwu. Ia bercerita banyak tentang sejarah, budaya, hingga masyarakat. Ia juga membahas begitu banyak potensi di kampung halamannya.

Ingatan saya tentang Luwu adalah ingatan tentang kota Palopo yang menyimpan banyak situs sejarah. Saya pun mengenang wilayah ini saat beberapa tahun silam menelusuri jejak-jejak kisah I La Galigo yang hidup dalam benak warganya. Di mata saya, Luwu adalah negeri yang serupa payung, menaungi kebudayaan di jazirah Sulawesi, menjadi mata air yang mengalirkn nilai-nilai filosofis pada kebudayaan lain. Ingatan saya tentang Luwu adalah filosofi dan kearifan yang tercatat dalam kisah klasik I La Galigo, yang disebut-sebut sebagai kanon sastra dunia.

Saya terkenang perbincangan dengan Ishak Ngeljaratan, seorang budayawan Sulawesi Selatan. Kata Ishak, Luwu ibarat Athena, yang menjadi muasal dari semua filosofi dan kearifan. Itu terlihat dari manuskrip I La Galigo yang ditahbiskan Unesco sebagai warisan dunia, sebagai memory of the world. Sayangnya, kata Ishak, Athena tak membangun satu peradaban yang kokoh. Peradaban yang kokoh fundasinya dibangun oleh Roma, yang dalam konteks Sulawesi Selatan, adalah Gowa dan Bone.

Tapi Bachrianto Bactiar menyodorkan saya satu keping kenyataan lain yang selama ini tak pernah saya pikirkan. Ia mengajak saya berpikir tentang Luwu hari ini yang telah dimekarkan menjadi beberapa kabupaten. Ia berbicara tentang ketertinggalan yang disebabkan oleh hilangnya upaya menyerap hikmah dan kearifan dalam kisah-kisah I La Galigo. Luwu hari ini adalah wilayah yang terfragmentasi oleh berbagai kepentingan, diterjang oleh hasrat berkuasa, lalu mengabaikan rakyat biasa yang suaranya kian parau.

Bachrianto mengajak saya berbicara tentang Luwu sebagai satuan wilayah yang harusnya selalu tersaput emas, sebagai salah satu simbol kesejahteraan dan kemakmuran. Berbeda dengan retorika politisi, Bachrianto menunjukkan potensi-potensi hebat yang seharusnya bisa dimaksimalkan menjadi gerak kemajuan. Ia menyebut kawasan pegunungan dan pesisir, dua sisi mata uang koin yang menjadi kekuatan Luwu. “Kita tak hanya punya lautan, tapi kita juga daratan dan pegunungan yang sejak lama telah menjadi ibu bagi peradaban Luwu,” kata pria yang bekerja sebagai akademisi Universitas Hasanuddin ini.

kopi di Pegunungan Latimojong
tanaman cengkeh

Penuturan Bachrianto membut saya terhenyak. Selama ini, sumberdaya yang saya ketahui tentang wilayah ini adalah kebaradaan mineral tambang seperti nikel yang telah lama dikeruk. Saya juga membaca banyak publikasi tentang bijih besi yang pada era Majapahit dikenal sebagai bahan besi terbaik, yang lalu didatangkan ke tanaah Jawa demi membuat senjata paling baik dan paling unggul. Dalam tuturan Jared Diamond dalam buku Guns, Germs, and Steel, baja adalah salah satu tolok ukur kemajuan peradaban yang menjadikan satu bangsa unggul atas bangsa lain. Kata Jared Diamond, penjelajah Spanyol Hernan Cortez pernah menaklukan Amerika Latin berkat keunggulan teknologi besi yang dikembangkan orang Eropa.

Tapi di mata Bachrianto, Luwu tak hanya identik dengan bahan tambang itu. “Luwu tak hanya punya besi. Luwu juga punya pegunungan indah, sawah-sawah menghijau, serta aroma kopi yang menyengat di pegunungan sana. Luwu juga punya wangi cengkeh yang harumnya tersebar ke mana-mana. Dikarenakan hidup ini hanya sekali, maka kunjungan ke pegunungan Luwu harus menjadi satu agenda wajib bagi semua orang. Jangan mati dulu sebelum memijakkan kaki di tanah Luwu,” kata Bachrianto, sedikit memprovokasi.

Entah, apakah dia tahu saya peminat kopi, ia lalu berbisik bahwa di Luwu terdapat khasanah kopi yang tak ditemukan di tempat lain. Jika kopi terbaik dan termahal di dunia adalah kopi luwak, yang merupakan kotoran hewan sejenis musang bernama Luwak, maka di Luwu terdapat kopi bisang. Bisang adalah hewan pengerat dengan penciuman yang lebih andal dari barista manapun. “Untuk tahu lebih banyak, kamu harus ke sana,” kata Bachrianto, yang kini sedang mempersiapkan diri sebagai calon kepala daerah.

Provokasi itu sukses. Dari kota Makassar, saya bergerak dengan bus ke Belopa, Luwu, selama enam jam, demi melihat langsung apa yang dikatakannya.

***

ANAK muda itu bernama Isdar. Ia berjanji akan menemani saya dan beberapa teman ke kawasan pegunungan di Luwu. Katanya, terdapat dua kawasan pegunungan yakni Latimojong dan Bastem. Semua kawasan itu memiliki pemandangan hijau serta komoditas yang telah lama menjadi tulang punggung warga.

Saya bertemu Isdar saat berkunjung ke Belopa bersama empat orang kawan. Kami sengaja membawa peralatan seperti kamera, serta pesawat drone untuk merekam keindahan Luwu dari atas. Selama di Belopa, yang merupakan ibukota Luwu, kami sempat berkunjung ke kawasan pesisir lalu mencicipi kuliner khas Luwu yang tak ditemukan di tempat lain.

Kuliner Luwu khas kuliner kawasan timur Indonesia. Saya menyenangi kapurung, kuliner yang diolah dari bahan sagu. Di Kendari, olahan sagu ini disebut sinonggi. Di Ternate, olahan ini disebut papeda. Selain olahan sagu itu, saya cukup menikmati berbagai jenis kuliner yang berbahan ikan, yang di antaranya adalah parede. Menu ini punya rasa yang sama dengan hidangan pallu mara di mayarakat Bugis.

putih cengkeh

Selain mencicipi kuliner, agenda utama kami adalah mengunjungi kawasan pegunungan. Letaknya tidak terlalu jauh dari Kota Belopa. Sofyan, seorang sahabat di Belopa, menyebut jaraknya sekitar dua atau tiga jam. Hanya saja, medan yang dihadapi cukup berat. Makanya, kendaraan yang bisa menjangkau wilayah itu adalah kendaraan jenis Hilux ataupun Strada yang memiliki dua persneling. Sungguh beruntung, Sofyan meminjamkan kendaraan itu untuk saya gunakan bersama teman-teman. Di daerah seperti Luwu, ketulusan dan keikhlasan dipancarkan oleh banyak orang.

Perjalanan itu dimulai. Dari Belopa, kami melalui jalan yang terus menanjak. Dikarenakan jumlah kami empat orang, sebagian harus duduk di bak belakang. Perjalanan itu memang cukup berat. Sepanjang jalan, saya menyaksikan betapa buruknya infrastruktur transportasi darat, sesuatu yang kontras dengan situasi di ibukota kabupaten. Jejak-jejak pembangunan di wilayah ini tidak begitu nampak.

Pemandangan di sepanjang jalan sungguh menakjubkan. Saya menyaksikan sawah-sawah berbentuk terassiring memenuhi tepian pegunungan. Pemandangannya mengingatkan saya pada hampaan pegununganteh di Pucak, Jawa Barat. Yup, perjalanan di pegunungan Latimojong ini memang serupa perjalanan ke Puncak. Bedanya, jalan-jalan di Pagunungan Latimojong ini rusak parah sehingga susah dijangkau.

Di depan satu rumah, kami singgah sejenak. Di sinilah saya menyaksikan bijih kopi yang siap dipasarkan. Saya juga melihat mesin yang mengupas kopi itu. Pemilik rumah menyambut kami dengan raut penuh bahagia. Ia lalu mengijinkan kami menganbil gambar bijih kopi yang sedang dijemurnya. Kopi-kopi itu hendak dijual ke kota-kota.

Saya membayangkan biaya yang dikeluarkan seorang petani. Dengan kondisi infrastruktur jalan yang rusak parah, petani harus mengeluarkan biaya besar untuk membawa kopi itu ke kota-kota besar. Ditambah lagi kopi itu dijual dalam keadaan mentah, tanpa melalui proses pengolahan dan pengemasan.

Perjalanan dilanjutkan. Tak hanya kopi, saya juga menyaksikan cengkeh dijemur di tepian jalan. Sekeliling pegunungan itu, saya melihat banyak pohon cengkeh yang menjulang. Beberapa orang memetik cengkeh itu dengan cara memanjat tangga yang terbuat dari bambu, yang dimasukkan kayu ke lubangnya. Pegunungan Latimojong adalah semesta bagi banyak komoditas. Selain kopi dan cengkeh, di situ juga ada beberapa hasil kebun yang memenuhi kebutuhan petani, dan dijual ke kota-kota.

pemetik cengkeh
bunga di pegunungan

Petani cengkeh itu tak keberatan ketika saya mengambil gambar. Dia bercerita tentang aktivitasnya yang memetik cengkeh selama seharian. Di bagian lain, saya juga melihat beberapa anak usia belasan tahun memanjat pohon cengkeh. Jika di kota, barangkali ini bisa menimbulkan protes dari para aktivis pemerhati anak. Di pegunungan ini, aktivitas itu adalah bagian dari latihan yang dilalui seorang anak agar kelak bisa mengambil akih perkebunan dari ayahnya. Anak-anak itu tengah bermain di pucuk cengkeh, sembari membawa beberapa cengkeh untuk dijemur lalu dipasarkan orangtuanya. Tak ada eksploitasi di situ, selain keriangan anak-anak yang bermain di pegunungan.

Kembali, kami singgah di satu rumah untuk istirahat. Seorang kawan lalu mengambil gambar, sembari mengajak pemilik rumah lain berbincang-bincang. Di kawasan pegunungan ini, keikhlasan dan ketulusan ibarat berlian yang dimiliki semua warga. Baru berbincang sebentar, ibu pemilik rumah lalu menahan langkah teman saya. Dia telah memerintahkan anaknya untuk menyembelih ayam kampung, sebagai hidangan bagi kawan yang mengajaknya berbincang.

Sayang sekali, perjalanan ini tak mempertemukan saya dengan satupun bisang, hewan pengerat yang mengonsumsi kopi. Seorang warga melaporkan kalau bisang yang ada di kampung itu telah mati beberapa pekan silam. Saya hanya mendengar kisah kalau bisang adalah sejenis luwak yang juga mengonsumsi kopi. Bedanya, kalau luwak mengonsumsi kopi lalu mengeluarkan tinja, yang kemudian diambil untuk dijadikan kopi luwak. Sementara bisang mengonsumsi kopi, lalu memuntahkannya kembali. Muntahan inilah yang diambil dan dijadikan bahan untuk membuat kopi bisang.

***

SEUSAI melakukan perjalanan ke pegunungan itu, kembali saya bertemu Bacrianto. Ia mengatakan bahwa idealnya pemerintah membuat regulasi yang menguntungkan para petani. Ia memberi contoh kebijakan Gubernur Sulawesi Selatan Ahmad Amiruddin yang memliki kebijakan petik-olah-jual. Semua komoditas yang dipetik, harus diolah kembali sehingga memberikan nilai tambah, setelah itu dijual ke pihak konsumen.

“Kebijakan petik olah jual itu masih relevan hingga kini. Pemerintah harus hadir melalui kebijakan yang memihak petani, dengan cara membangun satu sistem kerja yang terintegrasi. Mata rantai pasar harus dibenahi sehingga petani memiliki nilai tambah, dan tidak hanya berhenti sebagai produsen. Kalau itu dibenahi, maka semua petani Luwu ini akan sejahtera,” katanya.

bunga matahari di pegunungan

Jika diamati, pegunungan ini harusnya menjadi kawasan agropolitan yang terintegrasi. Para petani, pengusaha, pemasar, dan pemerintah, harus bekerja dalam satu mata rantai yang saling menguatkan. Tak hanya komoditas, wilayah yang indah ini bisa pula dikelola menjadi satu kawasan ekowisata hijau yang semakin memberikan nilai tambah bagi warganya.

Saya setuju dengan pendapatnya. Para petani di Luwu memiliki daya-daya adaptasi kreatif untuk bertahan dalam situasi apapun. Seharusnya potensi ini juga diimbangi dnegan kesigapan pemerintah daerah dalam membantu semua petani itu untuk menggapai kesejahteraan. Jika semua niat baik itu berjalan, maka Pegunungan Latimojong akan menjadi kawasan hijau yang indah, menjadi rumah yang memberikan kehidupan sejahtera bagi para petani, serta menjadi ruang bagi setiap orang untuk menyaksikan kepingan surga yang jatuh ke muka bumi.



Bogor, 13 September 2016

BACA JUGA:




Inspirasi Kaum Digital Native di Lombok-Sumbawa

banner kegiatan

SEORANG sahabat mengundang saya untuk sharing pengetahuan tentang blogging ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tak saya sangka, perjalanan itu menjadi perjalanan yang mengesankan. Saya bertemu banyak sahabat-sahabat muda yang menggeluti dunia teknologi informasi. Dalam usia muda, pengalaman mereka sangat mengesankan saya. Mereka adalah para blogger, web designer, penulis buku, pengelola start-up, pembuat aplikasi di android, social media marketer, hingga para praktisi IT.

Mereka diikat oleh visi yang sama, yakni bagaimana mempromosikan Lombok-Sumbawa menjadi salah satu kiblat pariwisata dunia. Di ranah maya, mereka sangat produktif dalam mereproduksi konten dan segala informasi tentang wilayah itu. Dalam hati, saya membatin, bahwa generasi inilah yang akan menentukan sejauh mana citra dan persepsi publik terhadap wilayah itu. Generasi inilah yang akan mengubah dunia, menentukan persepsi dan opini publik masa depan, lalu merancang perubahan melalui langkah-langkah sederhana.

Melihat yang muda itu, saya membayangkan revolusi!

***

BUKAN sekali saya menghadiri pertemuan yang dihadiri para blogger. Di Kota Jakarta, saya dua kali menghadiri pesta blogger yang mempertemukan mereka yang kerap berselancar di dunia maya. Setiap pesta blogger, selalu meninggalkan impresi yang dalam di hati saya. Betapa tidak, saya bisa bertemu dengan banyak orang yang selama ini hanya dibaca namanya dan ditelusuri ruang-ruang berpikirnya. Selalu membahagiakan saat bertemu mereka yang kerap anonim di dunia maya.

Di setiap pesta blogger, saya selalu terheran-heran karena acara itu disponsori oleh US Embassy (Kedutaan Besar Amerika Serikat). Saya lalu menduga-duga bahwa pihak kedutaan negeri Paman Sam itu telah lama memiliki prediksi bahwa dunia teknologi informasi akan menjadi atmosfer demokratis yang akan mengubah semua tatanan. Dunia informasi akan mengubah peta sosial, peta bisnis, dan juga peta intelektualitas dunia. Melalui jendela kecil di layar ponsel dan laptop, orang-orang melempar ide ke ruang maya. Ide itu lalu beresonansi dengan semesta serta orang-orang yang berpikiran sama.

Pemerintah kita terlambat sadar bahwa dunia sedang berubah secara perlahan. Nantilah kehadiran Gojek, Grab-Bike, dan Uber bisa dikatakan sebagai satu dentuman yang mengejutkan pemerintah bahwa bisnis pun perlahan berubah dengan kehadiran berbagai aplikasi. Padahal, di ranah lain pun perubahan sudah lama muncul. Di bidang informasi, kehadiran para blogger tak bisa lagi disepelekan. Cepat atau lambat, mereka mulai menjadi kiblat yang meruntuhkan otoritas berbagai media mainstream.

Dua tahun silam, saya sudah punya firasat bahwa komunitas blogger akan tumbuh bak cendawan di musim hujan. Hanya saja, saya tidak menyangka bahwa tumbuhnya jauh lebih cepat dari yang bisa saya bayangkan. Hampir di semua kota, komunitas ini bermunculan dan membangun satu tradisi, yang dahulu dibiakkan oleh media-media mainstream. Kehadiran para blogger telah ‘memaksa’ lanskap media untuk berubah. Para blogger membangun komunitas dan bertukar gagasan dalam satu atmosfer informasi. Mereka saling membaca karya masing-masing, saling mengapresiasi, lalu memperdalam pengetahuan melalui interaksi.

para peserta

Hampir di semua tempat, para blogger baru bermunculan. Di mana-mana, komunitas blogger selalu beririsan dengan komunitas lainnya, mulai dari fotografer, web designer, pengelola start-up, pembuat aplikasi, videografer, hingga komunitas pembuat game. Saya bisa memahami irisan-irisan ini sebab mereka semua adalah generasi muda yang memang sejak awal melek pada dunia internet dan teknologi komunikasi. Para ahli menyebut mereka dalam berbagai nama. Ada yang menyebutnya Generasi Y, ada pula yang menyebutnya Net Generation. Bahkan ada yang menyebutnya digital native, warga asli era digital, yang sejak usia belia sudah terbiasa dnegan teknologi layar sentuh.

Kehadiran mereka ditandai ketidakpahaman para digital immigrant, generasi lama yang melihat dunia digital seringkali dengan perasan curiga. Generasi baru ini sering dilihat dnegan cara pandang lama. Kebiasaan menjelajah di ranah digital dianggap tak berfaedah. Padahal, generasi ini memiliki karakter yang berbeda. Mereka mengenal game dan terbiasa memainkannya sejak usia belia. Mereka tak tunduk pada otoritas, individualis, dan lebih asyik dengan dirinya. Namun di saat mereka terpanggil untuk melakukan sesuatu, mereka bisa melakukan banyak hal-hal besar. Kemampuan inilah yang mengejutkan pada diri mereka.

Saya teringat pada kisah tentang Chris Hughes. Dalam usia 23 tahun, ia bertemu Barrack Obama, yang saat itu masih menjadi senator. Obama meminta Chris untuk merancang kampanye yang berbasis dunia maya. Chris menerimanya sebagai tantangan. Ia lalu membangun satu web yang diniatkan sebagai kanal informasi, lalu menyebarkannya ke mana-mana. Ia juga mengorganisir kaum muda, mengelola manajemen pencitraan di dunia maya, menyebarkan berbagai pesan baik yang dimiliki Obama. Tak disangka, kerja keras itu berbuah kesuksesan, saat Obama terpilih menjadi presiden.

***

DI Hotel Santika, Mataram, saya diminta berbicara di hadapan para digital native. Tadinya, saya ingin berbicara tentang sesuatu yang mendasar tentang bagaimana mengelola konten, serta membuat satu blog dibanjiri pengunjung. Saya menyiapkan slide-slide tentang hal-hal mendasar itu. Baru menjelaskan dua slide, saya meminta mereka untuk menanggapi materi.

Betapa saya terkejut karena mereka memiliki pemahaman yang sangat baik, bahkan terhadap apa-apa yang belum saya tampilkan. Mereka memahami bagaimana seharusnya membuat outline, mind-mapping, hingga bagaimana mengemas konten dengan kreatif. Saya lalu menyerap banyak hal baru melalui interaksi dengan mereka. Saya posisikan diri saya sebagai seorang murid yang berhadapan dengan para guru berusia muda, yang telah lama bermain di ranah digital.

Kesan saya, kemampuan mereka di atas rata-rata. Yang mereka butuhkan adalah jam terbang serta keberanian untuk menjelajah wilayah-wilayah di luar zona aman mereka. Mereka harus berani membuka jalan baru, atau terus-menerus mengasah kemampuan dan kepekaannya dalam mengolah berbagai produk baru. Tanpa keberanian itu, mereka bisa jalan di tempat, dan kelak hanya memiliki kisanh tentang jelajah mereka yang terbatas di dunia IT.

Ciri khas generasi ini adalah kemampuan menyerap dan mempelajari hal baru. Mereka mudah memahami cara kerja satu aplikasi yang baru di-unduh di ponselnya. Hanya saja, generasi ini seringkali tak bisa fokus pada satu titik. Kemampuan multi-tasking telah menuntun mereka untuk selalu berpindah topik saat bersamaan, tanpa sempat menguasai sesuatu secara mendalam.

banner kegiatan

Saya bisa memahami kalau ada kritik mengenai generasi ini yang hanya belajar melalui Google, tanpa membaca banyak buku-buku bermutu. Tapi saya juga ingat penturan Don Tapscott dalam Grown Up Digital, kalau generasi ini melihat persoalan secara berbeda. Mereka memang tak punya pengetahuan mendalam, sebagaimana seniornya. Namun mereka bisa menyajikan sesuatu yang mendalam melalui hal-hal yang sederhana. Mereka cerdas dalam mengemas pesan sehingga menjadi ringan dan sederhana. Di balik sesuatu yang nampak biasa itu, tersimpan banyak hal luar biasa sebab dipahami oleh banyak kalangan, dan bisa memantik perubahan sosial.

Anak-anak muda di Lombok-Sumbawa itu punya kekuatan besar yang tak selalu dipahami banyak orang. Mereka nampak biasa, suka bercanda, dan tak serius memperhatikan paparan di satu pertemuan. Akan tetapi, di dunia maya, mereka punya pengaruh besar yang bisa mengubah wacana hanya melalui ujung jemari mereka. Saat mereka bersatu, mereka serupa air bah yang bisa menjebol satu tembok kukuh melalui penyajian informasi melalui berbagai kanal blog dan media sosial. Merekrut mereka dalam satu barisan adalah langkah strategis untuk menguasai masa depan.

Hal yang juga mengesankan di Lombok adalah pertemuan para blogger itu diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Saya terkesan karena pemerintah daerah bisa membaca trend masa kini. Mereka paham bahwa pariwisata hanya akan ‘berbunyi’ kalau terus-menerus dikicaukan netizen dan disebarkan secara massif. Mengajak generasi muda terlibat dalam satu agenda besar adalah langkah berani yang patut diacungi jempol. Di banyak tempat, netizen dan blogger dipandang sebelah mata. Padahal kekuatan mereka tak bisa lagi dipandang remeh. Merekalah yang menjadi pengendali informasi di abad digital ini.

Kolaborasi antara pemerintah dan netizen ini mesti dikelola dengan baik. Pemerintah harus terbuka dan lebih transparan kepada mereka. Sebab sekali generasi ini menemukan kebohongan dan penyimpangan, maka kepercayaan mereka bisa runtuh. Karakter mereka yang apolitis, atau tidak terlalu suka hal-hal yang berbau politik, akan mencuat. Mereka bisa dengan mudah meninggalkan arena, kembali ke habitat mereka yang anonim namun aktif di dunia maya. Malah, mereka bisa mengorganisir perlawanan yang bisa menjatuhkan rezim.

Namun setidaknya, di Lombok, kita melihat harapan tentang pariwisata yang akan terus semerbak mewangi ke mana-mana.



Bogor, 12 September 2016

BACA JUGA:







Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...