Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Supernova, Gelombang, dan Kenanganku Atas Dewi Lestari



KISAH terbaru Supernova: Gelombang karya Dewi Lestari ini serupa jendela yang membuatku melesat ke banyak tempat, seperti desa kecil di Sumatra Utara, lalu ke Jakarta, hingga Ithaca (New York). Yang kusuka dari novel ini adalah dunia batin seorang pemuda yang di dalamnya ada pergolakan antara aspek mistik dan aspek rasio yang dikisahkan dengan cara memikat. Tanpa sadar, aku telah belajar banyak budaya Batak, yang lalu

Kali ini, aku tak ingin bahas novel yang kubeli kemarin. Saat menimang novel itu, aku terkenang banyak hal. Novel-novel karya Dewi Lestari memiliki banyak pertalian dengan anakku Ara. Saat dirinya masih berupa janin, ibunya ngidam untuk bertemu dengan penulis Dewi Lestari. Kami orang biasa, dan dia adalah artis dengan reputasi besar sebagai penulis. Tapi aku harus mempertemukan istriku dengan Dewi. Ini mission impossible.

Lantas, apa yang kulakukan?

***

HARI itu, di tengah-tengah kelas bahasa Inggrs, istriku menelepon. Ia mengabarkan bahwa dirinya tengah hamil. Hatiku mekar. Semesta seolah penuh dengan warna-warni. Aku bergegas pulang untuk menemuinya. Ia lalu bercerita tentang harapan-harapannya atas anak kami kelak. Aku menanam tekad dalam hati untuk menjadi ayah terbaik baginya.

Beberapa hari berikutnya, istriku mengajukan permintaan aneh. Ia ingin bertemu dengan Dewi Letari, sang pengarang Supernova. Sebelumnya, ia ingin mencicipi buah strawberry, yang dengan mudah kusanggupi dan kupenuhi. Tapi bertemu seorang pengarang dan artis membuatku teridiam. Aku tak tahu harus menjawab apa. Akhirnya kuiyakan permintaannya sembari memutar otak, apakah gerangan yang akan kulakukan. Jika permintaanya adalah ngidam, maka ke ujung dunia pun pasti akan kupenuhi.

Hari itu, aku tengah mengambil kelas bahasa sebagai persiapan untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Sponsor beasiswaku memintaku untuk belajar bahasa Inggris di Lembaga Bahasa Internasional (LBI) UI di Salemba. Sebagai pengantin baru, aku meminta istriku untuk datang menyusul. Kami tinggal di Jalan Kramat Sentiong, tak jauh dari Salemba. Setiap minggu adalah petualangan menelusuri Jakarta, di sela-sela belajar bahasa. Baru beberapa hari di Jakarta, satu noktah kehidupan berdenyut di rahim istriku. Kini, ia mengajukan beberapa permintaan yang membuatku terdiam.

Di kampung kami, permintaan seorang istri saat hamil ibarat titah yang tak mungkin dilanggar. Melanggar permintaan itu adalah pantangan bagi kami. Di sebelah rumahku, ada seorang anak yang likurnya menetes terus. Kata ibuku, pernah ada masa ketika keinginan anak itu tak terpenuhi. Yakni masa ketika anak itu masih menjadi menjadi janin. Ayahnya tak bisa memenuhi keinginan anak itu melalui ibunya. Ayahnya juga tak punya alternatif untuk menggantikan keinginan itu dengan hal lain yang juga membahagiakan ibunya. Maka liur anak itu selalu menetes.

Entah, apakah ibuku benar dengan kisah itu. Yang pasti, diriku sejak dulu percaya bahwa permintaan istri saat ngidam wajib untuk dipenuhi. Barangkali, ini hanya mitos. Tak ada kaitan dengan nasib dan takdir seorang anak yang keinginan ibunya tak terpenuhi. Akan tetapi, mitos itu telah menghamparkan satu nilai penting dalam kebudayaan kami bahwa seorang suami mesti melayani, mengasihi, dan memenuhi harapan-harapan istrinya agar bunga-bunga kebahagiaan tetap bersemi dan janin akan selalu sehat di dalam tubuh seorang ibu yang senantiasa gembira.

Bagaimanakah mempertemukan istriku dengan Dewi Lestari?

Pada saat itu, kami belum lama ke Jakarta. Dkarenakan terpilih sebagai salah satu penerima beasiswa internasional, aku harus tinggal di Jakarta selama enam bulan untuk memperdalam kemampuan bahasa. Aku belum hapal peta-peta jalan. Ketika istriku ingin bertemu Dewi, aku langsung mengiyakan. Aku paham bahwa Jakarta ibarat labirin yang bisa membuat orang-orang kehilangan arah. Namun, aku tak punya pilihan. Istriku harus bertemu Dewi.

Aku lalu melacak Dewi melalui dunia maya. Aku menyapanya di twitter. Kuikuti blognya. Kubaca dan kucatat semua agendanya. Suatu hari ia ikut menyapaku di twitter. Ia mengundangku untuk hadir di acara diskusi bukunya di Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang, dekat rumahnya. Ia akan menyempatkan waktu untuk ngobrol dan ngopi-ngopi. Langsung kucatat tanggal itu. Kubatalkan semua agenda apapun. Bagiku, memenuhi ngidam seorang istri lebih penting dari apapun. Ini akan menentukan masa depan anakku. Ini meyangkut kehidupan, serta masa depan.

Meskipun mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk menyewa taksi, kami tiba di satu mal di BSD, pada hari itu. Istriku bertemu dengan Dewi. Tak hanya diskusi, Dewi sempat menyanyi di hadapan pengunjung mal. Malah, kami juga sempat menyapa Keenan, putra Dewi yang saat itu masih balita. Istriku juga berfoto dengannya. Aku menyaksikan semuanya dengan riang.

Dua minggu setelah anakku lahir, aku berangkat ke luar negeri. Kami terpisah selama setahun. Saat anak kami berusia tiga bulan, istriku pertama kali membawanya ke toko buku demi membeli novel Supernova terbaru yang berjudul Partikel. Aku hanya bisa melihat fotonya. Senyum mereka adalah senyum –yang entah kenapa—selalu ajaib sebab bisa mengatasi masalah sebesar apapun yang kuhadapi.

***

HARI ini kutimang episode Supernova terbaru. Judulnya Gelombang. Aku sudah membacanya hingga separuh. Novel ini sukses membuatku begadang demi mengikuti perjalanan seorang anak muda bernama Alfa yang mewarisi kesaktian ala Batak kuno, serta kecerdasan seorang anak modern. Tak sabar untuk segera menuntaskan kisah dan petualangannya.

empat tahun silam, saat istriku bertemu Dewi Lestari

Untungnya, istriku tidak sedang ngidam. Aku malah khawatir kalau saat ngidam berikutnya, permintaannya akan direvisi. Boleh jadi ia tak ingin bertemu Dewi. Boleh jadi, ia ingin agar suaminya menulis kisah seperti Supernova. Jika ia menginginkan itu, pastilah aku akan kembali lama terdiam, sembari bertanya dalam hati hendak memulai dari mana.


Bogor, 18 Oktober 2014

Seno Gumira dan Sungai Kata-Kata




DI sebuah toko buku, saya menemukan buku terbaru karya sastrawan Seno Gumira Ajidarma berjudul Senja dan Cinta yang Berdarah. Buku ini cukup tebal yakni 821 halaman, kira-kira setebal kitab suci. Isinya adalah kumpulan cerita pendek yang ditulis Seno sejak tahun 1978 sampai tahun 2013. Saya terkagum-kagum. Seno ibarat sungai yang tak henti mengalirkan kata-kata. Ia punya vitalitas untuk terus menulis, dan secara produktif menghangatkan batin banyak orang dengan refleksi dan inspirasi, butiran pengalaman yang amat berharga sebagai bekal melayari samudera kehidupan.

Namun, saya tiba-tiba saja memikirkan sesuatu yang jauh lebih penting, dan hingga kini belum dilakukan Seno. Apakah gerangan?

Sebagai penulis, ia serba bisa. Ia bisa menulis berbagai topik dalam berbagai style kepenulisan. Ia bagus dalam menuis reportase, esai, cerita pendek, hingga novel. Saya mengoleksi banyak buku-bukunya. Melihat dan mengenang buku-bukunya, saya merasa bahwa dirinya telah mendaki banyak puncak dalam jagad kepenulisan tanah air. Hampir tak ada lagi gunung kepenulisan yang harus ditaklukannya. Ia menggapai semua puncak.

Hanya saja, ia belum mewariskan satu proyek besar yang kemudian jadi pelajaran besar bagi seluruh anak bangsa. Ia memang penulis, tapi apa yang dihasilkannya masih berupa refleksi atau catatan kaki dari segaa dinamika sosial, tanpa ada ikhtiar untuk menunjukkan satu arah yang tegas agar anak bangsa tidak tertatih-tatih. Ini yang membedakannya dengan sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang menuliskan karya-karya seperti tetralogi Pulau Butu, Arus Balik, Arok Dedes, dan Hoakiau di Indonesia.

Pramoedya telah mewariskan satu karya besar yang diharapkan bisa meluruskan sejarah tanah air. Ia membidik masa-masa kebangkitan, sebuah masa ketika negara dan bangsa masih berupa embrio. Dalam proses yang kritis itu, ada banyak sejarah dan peristiwa yang dibelokkan demi menopang ideologi yang kemudian ditegakkan masing-masing kekuatan. Pramoedya telah memberi sentuhan napas, sukma, serta kekuatan, sehingga sejarah kita menjadi lebih menukik ke bumi, lebih manusiawi sebab dialami dan dirrasakan manusia biasa, lebih bertenaga.

Saya berharap Seno melahirkan karya-karya yang lebih serius dan merangkum visi kuat bagi arah gerak bangsa ini. Jika diibaratkan seorang pendekar tanpa tanding, ia telah melalui semua pertarungan, dan saatnya mewariskan satu kitab yang kemudian menginspirasi banyak orang bahwa ada banyak hal menarik dan penting, namun terabaikan oleh deru waktu yang bergerak tanpa henti.

Saya tak berharap ia menyamai Pramoedya dengan karya besar tetralogi Pulau Buru. Setiap orang melalui dan menjalani takdir kepenulisan yang berbeda. Namun tugas besar para penulis adalah menggelitik kesadaran banyak orang bahwa ada banyak hal substansial yang selama ini terabaikan atau malah terselewengkan oleh sejarah. Para penulis membawa suara moral, suara yang bergema di dalam lorong-lorong kesadaran semua orang tentang nilai-nilai kebajikan, arah pengetahuan, serta gema kebijaksanaan yang seharusnya menjadi mercu-suar bagi bangsa ini.

Itulah harapan yang hendak saya bisikkan pada Seno di banyak saat, khususnya saat bangun pagi, di kala mengamati embun yang bening, serta langit yang sedemikian cerah.


Bogor, 13 Oktober 2014

Kisah Pemenang, Kisah Perawat Kehidupan



LELAKI itu bernama Derek Redmon. Di arena Olimpiade, namanya harum semerbak, padahal, ia bukanlah seorang juara yang memenangkan medali. Di ajang Olimpiade Barcelona, tahun 1992, ia mengikuti lomba lari 100 meter. Sungguh malang, kakinya robek sehingga kesakitan dan tak mampu berlari. Tapi ia tetap ngotot untuk berlari, meskipun dengan risiko menahan segala rasa sakit.

Bahkan ia juga mengabaikan saran pelatih, yang merupakan ayahnya sendiri, untuk keluar arena. Baginya, sekali bertanding, ia harus mencapai garis finish. Hasil akhir tak penting. Yang penting adalah menyelesaikan pertandingan, mengakui kekalahan itu dengan jujur, lalu mengapresiasi pemenang. Ia memang kalah. Tapi seluruh publik di stadion yang menyaksikan pertandingan itu serentak berdiri dan memberikan standing applause.

Ia memang tak juara, tapi ia telah menunjukkan karakter juara, yakni mereka yang berusaha menggapai garis akhir, lalu mengucapkan selamat kepada pemenangnya. Para juara adalah mereka yang mengakui kekalahan lalu menyerap semangat itu di setiap ladang kehidupan.

Kisah Derek Redmon ini saya temukan dalam buku bagus bertajuk Self Driving, Menjadi Driver atau Passenger yang ditulis Prof Rhenald Kasali. Buku ini ditulis seorang profesor manajemen, namun kalimat-kalimat dalam buku justru amat sederhana dan memikat. Penulisnya tidak sedang membahas konsep-konsep dan teori yang sering memusingkan kepala serta berarak dengan realitas. Ia justru membumikan pengetahuannya dengan mengambil contoh dari kejadian-kejadian sederhana di sekitar.

Rhenald Kasali percaya bahwa jika kehidupan adalah arena di mana setiap orang menumbuhkan karakter, maka selalu saja ada karakter pemenang dan karakter pecundang. Mereka yang pecundang adalah mereka yang mudah mengeluh, suka menghambat dan menyalahkan orang lain, lalu memelihara dendam kesumat. Sementara mereka yang menang adalah mereka yang selalu menginspirasi, menentukan arah, dan menggerakkan orang lain.

Rhenald berkisah tentang mereka yang kerap dikalahkan oleh situasi. Misalnya kisah tentang seorang alumnus program pasca-sarjana Universitas Indonesia (UI) yang ingin bunuh diri karena gagal mendapatkan pekerjaan. Ketimbang menyalahkan pemuda itu, Rhenald justru problemnya terletak pada ketidakmampuan untuk mengenali celah-celah peluang yang bisa melejitkan keunggulan. Pendidikan kita gagal mengarahkan seseorang untuk menemukan potensi seseorang untuk kemudian dilejitkan sebagai kekuatan. Pendidikan kita hanya fokus pada bagaimana seseorang menjadi sukses, yang tolok ukurnya adalah kekayaan semata.

Pendidikan kita tak banyak menyemai karakter pemenang dalam jiwa anak-anak. Mereka yang menang bukanlah mereka yang juara, melainkan mereka yang mengakui kekalahan, namun memiliki ketabahan dan determinasi untuk terus belajar dari setiap kekalahan itu. Mereka yang menang tak mudah berhenti dan menyalahkan orang lain. Para pemenang memiliki karakter kuat untuk terus maju demi menggapai visi kuat yang ditanamkan sejak awal.

Saya amat menikmati kisah tentang mereka berkarakter kuat dalam buku ini. Mulai dari Theodore Roosevelt yang sakit-sakitan di masa kecil, namun justru mengasah dirinya hingga jadi presiden hebat dalam sejarah Amerika. Kisah tentang manusia bervisi kuat dan berkarakter pemenang yakni Soekarno, Ahmad Dahlan, Sam Ratulangie, ataupun Gus Dur yang kemudian mengubah sejarah bangsa. Saya juga terharu membaca cerita tentang Sugeng, si pembuat kaki palsu, serta Sano Ami yang tak memiliki tangan dan kaki, namun sukses menjadi orang hebat.

Buku ini membuka mata saya untuk lebih jernih melihat banyak hal menarik di sekitar. Sejatinya, karakter kuat bisa ditanamkan dan diasah melalui berbagai refleksi dan pelatihan. Makanya, buku ini harus dilihat sebagai kritik diri yang sangat bagus agar seseorang memahami posisi berpijaknya, serta tahu apa yang harus dilakukan untuk mengubah dirinya menjadi seorang pemenang.

Namun, semuanya berpulang kepada individu. Sebab pengalaman mengajarkan saya bahwa seringkali orang-orang merasa lebih nyaman berada di comfort zone. Tak banyak orang yang mau berjibaku untuk memasuki ruang sosial baru, beradaptasi, dan membuat prestasi. Ketika seseorang merasa cukup dan nyaman, maka jangan berharap akan ada perubahan. Yang dipikirkan hanyalah kenyamanan dan bagaimana menjaga status quo.

Terakhir, saya juga belajar bahwa segala fasilitas dan kemudahan yang dberikan orang tua tidak selalu menjadi faktor yang akan memenangkan seseorang di lapangan kehidupan. Justru melalui segala tantangan, rintangan, serta masalah, seseorang bisa menempa dirinya menjadi lebih kuat. Barangkali, yang lebih penting adalah orangtua harus menyediakan waktu yang cukup bagi anaknya, menemani pertumbuhan tunas-tunas karakternya, lalu memberikan pemahaman tentang kehidupan melalui hal-hal sederhana.

Jika saja kehidupan ini serupa ladang, maka para pemenang adalah mereka yang menumbuhkan potensinya, mencari cara agar lingkungannya selalu hijau lestari, serta selalu meletakkan kebahagiaan diri pada kebahagiaan orang lain. Inilah karakternya para pemenang sejati.


Bogor, 10 Oktober 2014

Sensasi Jadi Headline (24)


SELAMA dua bulan ini, beberapa tulisanku menjadi HL di Kompasiana. Tanpa banyak komentar, inilah tulisan-tulisan itu.

 Saat Warga Kupang Anti-McDonald

 Rahasia di Balik Tulisan Juara

 Mereka yang Susah Air di Atas Air

 Taroan Cerdik Partai Golkar

 Kisah Pemenang, Kisah Perawat Kehidupan

Tiga Hari Ajaib di Kota Kupang


senja di Kupang

TIGA hari di Kupang memberikan banyak pencerahan. Saya diundang ke sana untuk memberikan pelatihan tentang cara-cara mudah menulis dan berekspresi di blog.  Warga biasa yang hadir terkesima menyaksikan begitu luasnya rimba raya kepenulisan yang bisa dijelajahi. Namun ketika warga mulai menulis, giliran saya yang terkesima. Sungguh, saya amat ingin seperti mereka.

***

PEREMPUAN itu menyaksikan materi dengan penuh keseriusan. Sebut saja namanya Etha. Ia mencatat segala hal menarik tentang blog, bagaimana memulai kegiatan menulis, serta bagaimana menggali ide-ide dalam menulis. Ketika saya tanya mengapa tertarik pada dunia blog, jawabannya mengejutkan. “Saya ingin mengubah dunia melalui tulisan. Saya ingin menginspirasi orang lain untuk bergerak,” katanya.

Semangatnya mengingatkan saya pada pemuda Mesir bernama Whael Ghonim. Siapa sangka, postingan Ghonim di blog pribadinya bisa menggerakkan ribuan orang Mesir ke jalan-jalan, lalu menyemut di Tahrir Square, lalu menumbangkan rezim otoriter.

Tapi perempuan yang amat tertarik pada dunia penulisan blog ini tidak berumah di Mesir. Ia warga Flores yang punya imajinasi dan daya ledak dalam setiap baris harapannya. Ia ingin menggemakan isu-isu sosial di daerahnya hingga mengubah kebijakan. Ia seorang pejuang kehidupan yang melihat kegiatan menulis sebagai senjata perubahan.

Perempuan ini mengaku belum pernah mengikuti pelatihan menulis. Hari-harinya adalah sebagai aktivis gender dan pemberdayaan masyarakat. Saya membatin, jika seandainya ia menuliskan pengalamannya, pastilah akan lahir catatan yang dahsyat tentang dunia perempuan di Flores. Pastilah, ia bisa menghadirkan gagasan yang jauh lebih brilian dari para profesor bidang gender yang hanya bisa menghafal buku-buku teori berbahasa asing, lalu mengira semua kenyataan seperti yang ada di buku itu.

Di acara pelatihan menulis yang diadakan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (Bakti), saya juga bertemu seorang bapak yang menjadi pegawai negeri di perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Usianya tidak muda lagi. Tapi vitalitas dan semangatnya bikin saya merinding. Ia ingin sekali memperdalam pengalaman menulisnya. Ia terinspirasi pada sastrawan Ernest Hemingway yang pertama menulis pada usia 40 tahun, lalu menjadi legenda dunia. Ia ingin berkisah banyak tentang hari-harinya sebagai warga perbatasan, pengalaman melihat batasan politik dua negara, serta dinamika manusia di dalamnya. Sebagaimana Etha, bapak ini membuat saya terkesima.

Tanah Kupang menautkan saya dan mereka. Menjadi trainer satu pelatihan menulis blog telah mempertemukan saya dengan banyak karakter hebat. Sejak dulu saya berpandangan bahwa setiap orang punya pengalaman dan kisah hebat untuk dituliskan. Hanya saja, tak semua orang mengenali peta jalan dunia menulis. Tak semua orang tahu bagaimana menorehkan jejak kaki di dunia kepenulisan, lalu mengasah kemampuan membidik masalah secara lebih terarah.

seusai pelatihan menulis blog

Maka, pelatihan menulis seyogyanya menjadi arena untuk menemukan potensi diri, lalu menyalakannya sebagai lilin yang bisa menghadirkan cahaya terang untuk mengusir kegelapan dan ketakutan untuk memulai. Pelatihan menulis harusnya lebih partisipatif, berpangkal pada keunikan setiap orang, serta menjadi kanal-kanal untuk mengalirkan energi dan jati diri melalui tulisan. Bukankah setiap orang itu unik?

Sebagai trainer menulis, saya tak ingin mengajarkan mereka berbagai teori-teori menulis yang amat kaku, namun anehnya masih dipelajari di kampus-kampus. Saya juga tak ingin mengarahkan mereka dengan berbagai teknik menulis berita ala para jurnalis. Gaya menulis seperti itu biarlah menjadi dunianya para jurnalis dan pewarta.

Sementara dunia menulis blog justru memiliki karakteristik sendiri yang berbeda dengan menulis akademik ataupun jurnalis. Dunia menulis blog menekankan pada kreativitas, imajinasi, serta kebebasan berekspresi untuk menemukan style dan gaya sendiri dalam menulis. Mengapa? Sebab blog ibarat dunia yang diciptakan, dipenuhi rerimbunan semak belukar dan pelangi serta warna-warna yang menggambarkan pembuatnya. Tulisan di dalamnya ibarat etalase yang menghadirkan pengalaman, baik itu menggembirakan maupun menyedihkan, yang bisa dikemas secara bebas dan mengikuti aliran jiwa pemilik blog.

Bukan berarti saya anti-teori menulis. Teori memang penting. Namun yang jauh lebih penting adalah kemampuan menggali dan mengalirkan segala perasaan, pikiran, serta kegelisahan menjadi baris-baris kalimat yang merangkum energi sang pengarang. Nah, saya memandang bahwa setiap orang ibarat tangki air yang penuh dengan pengalaman, hasrat, imajinasi, hikmah dan pembelajaran.

Menulis adalah cara untuk mengalirkan semua hikmah-hikmah itu sehingga bisa menggerakkan orang lain, menginspirasi, sekaligus menghadirkan kupu-kuu harapan tentang dunia yang lebih baik. Mereka yang menulis adalah mereka yang meniti di garis harapan itu demi kehidupan yang lebih baik, demi memperkaya zaman dengan kebaikan dan pembelajaran.

***

TIGA hari di Kupang adalah tiga hari yang penuh keajaiban. Sungguh membahagiakan bisa menemui semangat dan keinginan besar untuk merambah dunia kepenulisan. Sungguh menyenangkan bisa berbagi ilmu, sekaligus belajar lagi pada semua orang yang penuh kisah-kisah menarik dan mndebarkan. Di akhir pelatihan itu, saya sadar bahwa sesungguhnya sayalah yang belajar banyak dari mereka. Sayalah yang telah menyerap hasrat kuat itu.

Beberapa hari ini, ketika membaca tulisan dan sapaan mereka melalui email, saya mengucap syukur yang tak henti sebab diberi kesempatan untuk merasakan energi menulis yang sedemikian besar. Sungguh bahagia bisa ikut mengalir bersama energi dan idealisme mereka. Sungguh menyenangkan bisa bersama menuju sungai kehidupan yang amat luas, bertemu sesama pencari inspirasi, serta berguru pada mereka yang terus belajar dan mengasah diri.


Bogor, 8 Oktober 2014

Tarian Cantik Partai Beringin



JIKA definisi klasik politik adalah siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana, maka dari semua partai di parlemen, hanya Partai Golkar yang justru bermain paling cantik. Jika partai lain memasuki gelanggang politik dengan dendam kesumat, maka Golkar justru tenang-tenang saja. Setelah mendapat posisi Ketua DPR, diperkirakan akan jadi salah satu unsur pimpinan MPR, lalu merebut jatah kursi menteri, hingga akhirnya berbalik haluan politik. Hah?

***

DI gedung parlemen yang berkubah hijau itu, saya bertemu sahabat itu. Ia kini bukan lagi sahabat yang dahulu sama-sama menjelajah ke sudut-sudut kampus dalam keadaan kere. Kini ia bersalin rupa menjadi anggota DPR RI. Saat bertemu, saya bisa merasakan aroma parfum mahal yang wangi di tubuhnya. Sungguh beda dengan beberapa tahun silam, ketika bau keringat memancar dari tubuhnya yang berpeluh.

Ia datang bersama beberapa staf ahli. Kami menyeruput cokelat panas sembari bercerita tentang situasi politik. Ia memperlihatkan pesan yang dikirimkan Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie yang mengundang rapat demi membahas komposisi pimpinan MPR. Terhadap undangan itu, ia hanya berujar singkat, “Arena itu mudah ditebak. Pasti milik Koalisi Merah Putih (KMP). Bisa jadi, Demokrat mendapat jatah ketua,” katanya singkat.

Hari itu, ia tak tertarik membahas dinamika siapa yang menang-kalah. Ia menjelaskan tentang langkah-langkah Golkar yang cukup strategis ketimbang partai lainnya. Penjelasannya menarik. Partai Burung dan Partai Banteng sama-sama memasuki arena parlemen dengan dendam kesumat. Mereka berpikir bahwa mereka adalah pengatur ritme atas tarian politik yang lain. Keduanya justru tak melihat kemungkinan betapa lincahnya tarian partai-partai lain di antara keduanya.

Sesat pikir yang melanda Partai Burung dan Partai Banteng adalah sama-sama menganggap arena ini dikendalikan oleh mereka. Padahal, partai lain tengah mengintip posisi dan membidik kue jabatan dan kuasa tertentu. Memang, ada Partai Demokrat yang memosisikan dirinya sebagai penengah, meskipun ujung-ujungnya jadi penopang koalisi pimpinan partai burung. Akan tetapi, posisi seperti itu justru melahirkan ketidakpercayaan. Posisinya menjadi tanggung. Di satu sisi mengklaim sebagai penyeimbang, namun langkah-langkah politiknya sudah bisa dibaca sejak awal.

Sementara Golkar justru bermain lebih cantik. Partai itu sukses memaksimalkan dukungan koalisinya demi menaikkan kadernya menjadi Ketua DPR RI. Tak hanya itu, partai itu juga sukses menaikkan satu kadernya sebagai bagian dari unsur pimpinan MPR.

“Dalam waktu dekat, akan ada kejutan besar dimainkan partai ini. Kejutan itu adalah ketika memilih berbalik haluan dan mendukung pemerintahan. Isunya sudah sangat kencang, tapi semua bisa menahan diri dan menunggu waktu yang tepat,” katanya.

Pernyataan sahabat ini memang menarik untuk dianalisis. Ia menginginkan transisi yang mulus. Sebagaimana dicatat sejarawan David Reeve, Partai Golkar adalah partai yang sanggup beradaptasi pada berbagai situasi. Tadinya, Golkar memberi stempel pada semua kebijakan Soeharto, namun pada saat reformasi, partai ini justru sukses berbalik arah. Tanpa sedikit pun rasa bersalah atas praktik politik Orde Baru, partai ini sukses memenangkan wacana sehingga selalu menempati posisi penting.

Di tahun 1998, partai ini bisa berbalik dengan cepat, lalu mendukung slogan “paradigma baru”. Tokoh militer tersingkir, lalu sejumlah pengusaha mengambil alih pimpinan. Biasanya, karakter para pengusaha lebih fleksibel dalam membaca zaman, mengubah posisi, lalu menyatakan dukungan pada tokoh lain. Politik yang dimainkan Golkar adalah memaksimalkan semua peluang menjadi keuntungan buat partai.

Barangkali, satu-satunya kekalahan telak partai ini adalah ketika gagal mendorong maju Aburizal Bakrie ke arena pemilihan presiden. Bahkan, untuk posisi wakil sekalipun, Aburizal tak berpeluang. Maka yang bisa dilakukan saat itu hanyalah mendukung Koalisi Merah Putih yang mencalonkan Prabowo Subianto. Namun, apakah Golkar akan tetap bersama koalisi itu, bahkan ketika kapal koalisi itu karam? Nampaknya tidak. Sejarah mengajarkan bahwa Golkar bisa dengan mudah berbalik arah mengikuti tarian rezim mana pun.

Keliru besar jika Prabowo mengklaim bisa mengendalikan situasi internal Partai Beringin. Dinamika internal dan konflik beragam kelompok tak mungkin bisa dipadamkan dengan mengangkat retorika nasionalisme ala Prabowo. Jika ia merasa sanggup, maka ia tidak mungkin harus tersingkir dari partai itu. Saat ini, faksi-faksi di partai itu mulai bergerak. Namun semua faksi itu sama-sama berpikir untuk memaksimalkan dulu keberadaan kapal koalisi merah putih, sebelum meninggalkannya secara hormat. Inilah politik.

Revolusi Senyap

Beberapa sumber di internal Golkar bercerita tentang revolusi senyap yang tengah terjadi. Fenomena ini juga tengah melanda partai berlambang ka’bah. Bedanya, semua dinamika dan pertentangan di partai Ka’bah dengan mudah disaksikan dan dibaca oleh publik. Sementara Golkar justru tertutup. Dinamikanya hanya dirasakan para pengurus inti serta beberapa pengurus yang sejak dulu terbiasa bermain politik.

Di hajatan politik pemilihan ketua DPR dan MPR, Golkar bisa menaikkan kader. Berikutnya, partai ini bersiap-siap menaikkan kadernya di posisi menteri. Lobi-lobi politik dan deal-deal telah dibangun melalui perantaraan beberapa faksi yang dekat dengan Jusuf Kalla. Sebagai mantan ketua umum, Jusuf Kalla nampak tenang menghadapi dinamika politik. Namun jangan kira ia benar-benar diam. Ia punya banyak kartu politik yang masih bisa dimainkan.

“Golkar menunggu saat yang tepat. Ibarat rumah, Golkar ingin mengisi rumah dengan perabot, setelah itu baru mengundang tamu besar untuk masuk dan berteduh,” kata teman tersebut.

Pernyataan ini senada dengan Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Y Thohari mengatakan, secara teoritis sebuah koalisi politik akan bertahan dan permanen jika ada kekuasaan yang dibagi bersama secara adil (power political sharing) dalam sepanjang periode waktu. KMP memang memegang kekuasaan, tetapi sangat terbatas, yaitu kekuasaan di legislatif. Dan kekuasaan ini tidak berusia panjang.

Bagi mereka yang kerap wara-wiri di Senayan, tentunya paham bahwa Golkar sedang membangun bargaining untuk posisi menteri. Dengan posisi sebagai pemenang kedua pemilu, partai ini bisa lebih leluasa untuk mengarahkan biduk dukungan.

Melihat dinamika politik yang ada, maka Golkar akan sukses menggapai banyak kursi berkat kemampuannya berakrobat, yang disusul Demokrat dan PPP. Sementara PDIP yang justru memenangkan Pemilu justru tak banyak mendapatkan apa-apa, selain dari posisi presiden. Yang parah adalah Gerindra bersama satu atau dua anggota koalisinya. “Yang pasti, gelombang pragmatisme pasti akan menggerus bangunan oposisionalisme yang fondasinya tidak kuat itu. Saya tahu betul pragmatisme sebagian besar jajaran pimpinan DPR itu,” kata Tohari

Yah, inilah politik kita. Politik kita hari ini masih jalan di tempat. Politik kita belum bisa menjadi api terang yang menerangi seluruh warga. Politik kita masih berisikan kontestasi dari beberapa kekuatan demi meraih jatah dan kue kekuasaan. Semoga saja presiden terpilih bisa membawa cahaya terang itu.


Sekuntum Sapa yang Mendebarkan


ilustrasi

SEBULAN sudah, saya bersama keluarga menempati rumah kecil di persimpangan antara Cikeas, Hambalang, dan Sentul. Namun jangan bayangkan saya tinggal di tiga kompleks itu. Saya tinggal di tengah-tengahnya, tepat pada perkampungan kecil warga desa yang secara perlahan kian terjepit oleh pemukiman mewah. 

Sungguh, saya cukup menikmati suasana perkampungan ini. Rumah-rumah berjajar tak rapi di kelilingi rerimbunan pohon yang daunnya menutupi pemukiman warga dari sengatan matahari. Di siang hari, pemukiman ini amat teduh, namun dingin mudah menyergap di malam hari. Saya menyukai sungai kecil yang airnya mengalir deras di dekat rumah. Hanya saja, ketika melintas di jalan kecil di atasnya, saya sering merasa khawatir kalau-kalau terpeleset ke sungai deras itu.

Orang-orang menyebut pemukiman ini sebagai Kampung Cijulang. Tapi, alamat rumah tertera Desa Cadasngampar. Kadang aneh saja sebab desa ini berhimpitan dengan kota Bogor. Untuk menuju pusat Kota Bogor, saya hanya menempuh perjalanan sekitar 30 menit dengan angkutan umum. Penduduknya saling mengenal. Saya mulai akrab dengan ibu-ibu penjaga warung, bapak pedagang asongan di samping rumah, serta keluarga yang bekerja sebagai peternak di ujung jalan sana. Semua saling mengenal.

Mulanya, saya kesulitan berkomunikasi. Semua orang berbahasa Sunda. Secara perlahan, saya belajar percakapan sederhana dalam bahasa Sunda. Saya bisa memahami beberapa kalimat. Tapi masih sulit melafalkannya. Lidah Sulawesi saya terlampau sulit untuk mengatur ritme pembicaraan menjadi lebih halus, sebagaimana warga Bogor. Saya terbiasa berbicara dengan gaya bicara seorang nelayan yang hendak mengalahkan bunyi ombak. Terdengar setengah berteriak. Yah, ini bawaan kultur yang membesarkan dan menyapih saya sebagai noktah kecil di tengah masyarakat.

Di sini memang perkampungan. Ketika berkendara dengan sepeda motor dan mengelilingi kampung, saya menemukan fakta mengejutkan. Ternyata, kampung kecil ini justru tengah terkepung oleh kompleks-kompleks mewah yang menjadi rumah peristirahatan lapis-lapis kaya di Jakarta sana. Saya melihat plang Cikeas, Hambalang, dan juga Sentul. Wajarlah, kampung ini tak jauh dari jalan tol, yang serupa portal untuk menembus Jakarta.

Saat melintas di jalanan dekat pemukiman mewah itu, saya merasakan dua sisi yang kontras. Jalan di perkampungan warga desa amat sempit, serta rusak parah. Jalan itu hanya bisa dilalui satu kendaraan. Itupun mesti hati-hati sebab kondisi jalan penuh dengan lubang-lubang. Sungguh amat beda dengan jalanan mulus di Sentul yang bisa dilalui delapan mobil yang bersisian. Padahal, tak banyak yang lalu lalang di jalanan itu. Palingan hanya mobil-mobil mewah.

Sementara jalan sempit di kampung ini justru dilalui berbagai moda transportasi serta manusia dari berbagai profesi. Mulai dari angkot, ojek, sepeda, pedagang asongan, petani yang membawa cangkul, peternak yang membawa rumput, hingga pengendara yang memenuhi motornya dengan kerupuk yang akan disimpan di banyak warung. Harusnya, jalan kampung ini yang dibenahi sebab dilalui banyak orang dari berbagai profesi. Mengapa jalan kami tak juga diperbaiki?

Saya menduga, jalanan di kampung kami sengaja tidak diperbaiki agar penghuninya tidak betah, lalu menjual tanahnya pada pengusaha kaya. Melihat fisik kampung yang kian mengecil, saya mengkhawatirkan punahnya perkampungan ini dalam waktu yang tak seberapa lama. Uang dan materi bisa menjadi nabi baru yang sanggup mengubah iman warga desa untuk segera menyingkir. Para pekebun yang lahannya kian menyempit itu kerap tergoda untuk menjual tanahnya demi mencapai standar hidup sebagaimana warga di rumah-rumah mewah itu.

Ketika desa perlahan menjadi kota, saya mulai khawatir pada banyak hal. Saya mulai takut akan hilangnya ikatan kekerabatan dan persaudaraan warga kampung. Saya ngeri membayangkan perkampungan ini menjadi jeruji yang membuat warganya tak saling kenal. Saya tak ingin melihat tembok-tembok besar dibangun di antara rumah tetangga, sebagaimana dengan mudahnya disaksikan di perumahan mewah sana.

Saya takut pada hilangnya rasa saling mengenal dengan tetangga. Yup, saya sungguh mengkhawatirkan itu. Saya tak ingin kehilangan senyum manis gadis-gadis molek sebelah rumah yang sapaannya bikin saya merinding. Para mojang Bogor ini memang jelita sebagaimana artis-artis sinetron. Sayang, kata seorang kawan, sapaan gadis-gadis itu terdengar agak genit. Tapi saya justru suka. Saya kerap berdebar-debar saat disapa, “Akang ganteng, singgah ke sini yuk. Minum teh dan ngobrol sama Eneng...”
 

Bogor, 7 Oktober 2014

Mereka yang Saling Menyingkirkan



DI Jakarta, orang-orang sedang mengasah pedang. Mereka saling menebas dan menyingkirkan satu sama lain. Mereka mengklaim bahwa apa yang dilakukannya adalah demi rakyat banyak, demi sesuap nasi bagi jutaan rakyat Indonesia yang sedang kelaparan. Tapi yang kulihat di sana adalah pertarungan demi gengsi yang pernah terkoyak oleh sebuah kekalahan. Duel mereka adalah duel berbalut dendam, setelah saling tebar fitnah di arena sebelumnya.

Lantas, di manakah posisi rakyat di tengah duel ini? Rakyat is nothing. Mereka hanya disebut saat kampanye. Keluguan mereka adalah alasan kuat untuk selalu dibawa-bawa dalam duel yang saling menyingkirkan itu. Rakyat hanyalah sasaran empuk yang dilempari isu, dijejali berbagai isu tentang kondisi terbaru, dijadikan suporter setia untuk bersorak, setelah itu saling tebas dengan mereka yang berbeda pendapat.

“Mereka semua bangsat!” kata Robert seorang aktivis yang kutemui di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), kemarin. Ia mengepalkan tinju kala melihat apa yang sedang terjadi di parlemen sana. Kali ini, ia tak tahu dengan cara apa hendak menyampaikan aspirasinya. Ruang-ruang parlemen itu terlampau jauh dan kembali menjadi tembok tebal bagi rakyat kecil sebagaimana dirinya.

Politik kita adalah sebuah arena kontestasi di mana seribu karakter dipertontonkan. Politik kita laksana lakon Mahabharata yang menampilkan duel dan adu strategi dua kekuatan besar. Di balik lakon itu, ada sosok-sosok yang sedang mencari rente untuk sembari terkekeh melihat yang lain menjadi buntung, ada sejumlah sosok yang sedang memanen keuntungan dari parade yang sedemikian memuakkan di mata publik itu.

Dan kita hanya bisa menonton sembari menggeram karena tak tahu harus berbuat apa. Kita sama-sama terdiam, kehilangan kata, lalu menarik napas sembari mengurut dada, lalu memilih untuk tidur dengan harapan agar saat bangun nantinya, smeua ingatan tentang duel itu segera lenyap. Kita hanya berjuang agar ingatan itu lenyap tak berbekas, lalu kita kembali menjadi warga biasa, membiarkan mereka yang katanya mewakili kita itu berkelahi dan saling balas dendam.

Sayang, ingatan itu tak juga lenyap. Dan kita dipaksa untuk kembali menanti-nanti seperti apakah lakon selanjutnya.


Bogor, 2 Oktober 2014

Menyerap Inspirasi Banyuwangi


Pantai Merah di Banyuwangi, yang mengingatkanku pada Phi Phi Island di Thailand. But, kayaknya pantai ini jauh lebih indah. Lihat saja pulau di hadapannya.

SELALU saja ada kebahagiaan tersendiri kala bertemu sosok-sosok yang menginspirasi. Selalu saja ada harapan serta tunas-tunas keyakinan yang tumbuh bahwa melalui sosok itu, kita bisa menemukan oase bagi negeri yang tengah krisis dengan sosok hebat. Setidaknya, itulah penilaianku usai menghadiri presentasi yang dibawakan oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Jakarta.

Tadinya kupikir ia akan berbicara sebagai birokrat lainnya. Salah satu gaya presentasi para bupati yang bagiku menjemukan adalah ketika mereka hanya membaca naskah yang diketik oleh para asisten atau staf ahli. Makin menjemukan ketika sang pejabat itu membaca naskah dengan retorika yang datar. Dalam situasi demikian, aku memilih tidur.

Tapi bupati ini beda dengan yang lain.

Ia tak membaca naskah apapun. Seorang stafnya menayangkan presentasi. Ia menjelaskan apa yang tampil dengan retorika yang mengagumkan. Tadinya aku hanya pernah mendengar kata Banyuwangi. Pernah, aku melalui kota itu saat transit dari Surabaya menuju Bali dengan bus antar provinsi. Tapi presentasi bupati ini sukses membuatku penasaran seperti apakah gerangan wajah Banyuwangi.

Tiba-tiba saja aku ingin melangkahkan kaki untuk merasakan langsung bagaimana homestay di rumah warga desa sekitar Pantai Merah, atau menuruni bukit menuju Kawah Ijen yang terkenal itu. Aku langsung penasaran untuk menyusuri sisi timur Jawa, lalu menyusuri masyarakat Using, yang pernah kubaca dalam satu etnografi tentang agama Jawa karya Andrew Betty.

Dalam acara yang diadakan Kemendagri, sang bupati mengejutkan semua audiences dengan pertanyaan singkat, bisakah target pembangunan tercapai sembari melibatkan seluruh masyarakat? Bisakah kita mencapai target pembangunan dengan anggaran daerah yang sangat terbatas?

festival tari di Banyuwangi

Kalau pertanyaan ini diberikan pada para bupati atau walikota di kampung halamanku, jawabannya bisa kutebak. Mereka hanya menunggu kucuran dan kemurahan hati pemerintah pusat. Di satu daerah di Sulawesi Tenggara pernah digelar acara tari kolosal yang diikuti ribuan orang. Tujuannya? Bukan untuk kesejahteraan rakyat. Tapi untuk ‘menggoda’ pemerintah pusat agar mengucurkan anggaran. Ini khas logika para pemimpin daerah. Mereka hanya bisa membujuk pusat lalu menanti-nanti dana. Lain lagi dengan daerah lain di Sulawesi Tenggara. Demi hadinya mal, pemerintahnya siap melakukan apapun. Dipikirnya, investasi itu akan membawa manfaat bagi daerah. Padahal, pihak pemda tak mengkajinya secara serius. Benarkah?

Nah, Bupati Banyuwangi ini berbeda. Ia menunjukkan berbagai strategi, kiat, dan inovasi. Menurutnya, pembangunan digerakkan oleh beberapa hal penting, yakni nilai kemanfaatan bagi publik (public value), partisipasi seluruh masyarakat, serta kepemimpinan (leadership) yang kuat. Tanpa ketiganya, target pembangunan tak akan bisa tercapai. Ia juga menekankan pentingnya kreativitas serta inovasi dalam menjawab persoalan, yang disebutnya sebagai faktor penting bagi upaya pencapaian target pembangunan. Tak perlu menunggu ‘pihak atas’, tapi gerakkan roda ekonomi dengan inovasi, yang anntinya akan membawa kebaikan bagi masyarakat sekitar.

“Kalau cuma andalkan APBD, maka kami tak bisa berbuat banyak di Banyuwangi. Kami mengembangkan beberapa terobosan yang bisa menggerakkan ekonomi, tanpa harus mengandalkan APBD,” katanya. Ia mengakui bahwa setiap daerah memiliki konteks yang berbeda.

Di Banyuwangi, ia memulai pembangunan dengan memetakan persoalan. “Selama ini orang menganggap bahwa indikator keberhasilan pembangunan adalah ketika banyak mal dan pusat perbelanjaan. Padahal, kontribusinya pada peningkatan ekonomi sangat sedikit. Makanya, kami menolak mal,” katanya.  Hasil kajian dan pemetaan masalah yang dilakukannya berujung pada didorongnya sektor pariwisata untuk menggenjot ekonomi daerah.

Ia menekankan pentingnya wisata berbasis budaya dan masyarakat lokal. Ia menolak dibangunnya hotel kelas melati sebab berdasar kajian yang dilakukannya, hotel itu justru menyuburkan praktik prostitusi. Ia hanya mengijinkan pembangunan hotel berbintang di kawasan tertentu.

Menurutnya, sektor pariwisata di tanah air tidak digarap dengan serius. Ia juga memaparkan beberapa gagasan menarik tentang wisata. Pertama, ada anggapan bahwa wisata identik dengan minuman keras dan hiburan malam. Padahal, pengalaman di Langkawi, Malaysia, menunjukkan bahwa wisata justru tidak identik dengan hiburan malam. Malah, jumlah wisata Malaysia bisa mencapai 34 juta orang per tahun. Jumlah ini masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan kunjungan wisatawan yang mencari hiburan malam di Thailand yang hanya 14 juta orang. Malah, Indonesia jauh tertinggal di bawah, yang hanya bisa mendatangkan 7 juta orang setahun.
           
Kedua, anggapan bahwa wisata identik dengan fasilitas modern yang justru berjarak dengan kehidupan masyarakat. “Di Banyuwangi, kami mendorong tumbuhnya homestay. Di sekitar Pantai Merah, kami menolak dibangunnya hotel. Kami menyarankan wisatawan untuk tinggal di rumah warga atau homestay. Kami juga mengembangkan dormitory stay. Tentunya, kami telah melatih warga di hotel-hotel berbintang tentang bagaimana melipat handuk, melayani tamu, serta menyediakan makanan,” lanjut pria yang pernah jadi anggota DPR RI ini.

Yang menarik, ia selalu melibatkan masyarakat desa dalam proses pembangunan. Ia menggelar berbagai festival budaya dan tradisi, lalu meminta masyarakat desa untuk menampilkan atraksi kesenian. “Bahkan, saat pembukaan salah satu festival ski internasional, saya meminta hiburannya adalah para ibu-ibu berkerudung yang memainkan rebana. Para turis justru suka. Mereka sibuk ber-selfie dengan para penampil tersebut,” katanya lagi.

Bupati Banyuwangi (kanan) saat memberikan presentasi
bupati dan diriku

Ketiga, pariwisata harusnya terus melibatkan masyarakat dan budaya. Ia mendesak agar semua hotel yang dibangun mesti bercirikan budaya lokal, baik dari segi bangunan, ornamen, hiasan, hingga suasana di dalam hotel.

Pemaparan bupati berusia muda ini memang menarik. Dalam usia singkat kepemimpinannya, ia sukses mengubah beberapa hal. Ia menjadikan Banyuwangi sebagai destinasi wisata internasional. Ia berhasil mengemas Pantai Merah menjadi lebih menarik sehingga dikunjungi banyak wisatawan internasional. Ia juga membangun infrastruktur penunjang seperti bandara dan jalan-jalan mulus ke beberapa obyek wisata. Malah, ia juga berhasil membangun satu bandara dengan konsep eco-friendly. Saat ini, bandara itu telah disinggahi dua maskapai penerbangan yakni Wings Air dan Garuda.

***

YANG kucatat adalah apa yang disampaikannya. Barangkali, kenyataan di lapangan tidaklah seindah yang dikatakannya. Aku tak terlalu peduli dengan kenyataan itu. Bagiku, presentasinya sukses menaikkan adrenalin dalam diriku untuk menjelajah wilayah itu. Foto-foto yang ditampilkannya membuatu sadar bahwa di sebelah timur Jawa itu terdapat satu wilayah yang sedemikian indah untuk dijelajahi.

Pantas saja, dua bulan lalu, sahabatku asal Thailand, Ussama Kaewpradap, tiba-tiba saja mengontakku. Saat itu, ia datang berwisata ke Banyuwangi. Ia minta guidance atau arahan. Hanya saja, saat itu aku justru tak mengerti apa yang membuatnya tertarik ke Banyuwangi. Bagiku, wilayah itu tak masuk dalam radar pariwisata tanah air. Aku tak tahu obyek wisata apa yang menarik di sana. Ternyata aku keliru. Presentasi sang bupati sukses membuka mataku.

Hari ini kucatat harapan untuk singgah ke wilayah yang sedemikian mengusik rasa kepenasarananku. Semoga saja ada rejeki atau barangkali keajaiban sehingga bisa berkunjung ke wilayah itu. Mudah-mudahan, semuanya sesuai dengan kata pak bupati, “Sekali anda ke Banyuwangi, anda pasti akan datang lagi.”



Kisah Ajaib Mantan Pembom Ikan


seorang nelayan tengah memandang laut di Pulau Badi

DI Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, terdapat kisah menakjubkan tentang seorang nelayan. Tadinya, ia kerap membom ikan demi mendapatkan hasil panen berlimpah. Namun sejak melihat poster iklan XL tentang Internet Ngebut, hidupnya berubah drastis. Berkat teknologi, ia lalu mengubah hari-harinya hingga menjadi lebih bermakna dan menginspirasi semua orang.

***

LELAKI itu masih berdiri di tepi Pantai Pulau Badi di Kepulauan Spermonde ketika kuhampiri. Ia sedang memandang ke tengah laut, di mana ia melihat bebrapa kapal layar jenis phinisi sedang mendekat ke pulau itu. Ia lalu tersenyum saat melihat kapal itu berdatangan. Ia mengajakku ke dermaga demi melihat kapal-kapal itu.

Di dermaga kecil di pulau itu, beberapa kapal membuang jangkar. Di tengah hamparan pasir putih indah, yang air lautnya nampak serupa kaca bening dan menampakkan terumbu karang di dasarnya, anak muda itu lalu bercakap dengan beberapa orag di kapal. Nampaknya mereka membahas tangkapan ikan yang lebih dari biasanya. Ketika aku mendekat, anak muda itu berbisik, “Alat ini tak pernah salah.” Ia menunjukkan alat GPS serta fishfinder yang menjadi rahasianya sehingga mendapat ikan lebih banyak dari nelayan lainnya.

GPS yang ditunjukannya bisa menentukan berbagai posisi ikan. Kemudian, alat fishfinder bisa mendeteksi lautan, lalu memberikan informasi di mana posisi ikan. Berkat dua alat itu, ia selalu mendapatkan tangkapan ikan yang berlimpah. Selama beberapa bulan mengoperasikan alat itu, ia akhirnya bisa membeli kapal, lalu mengajari nelayan lain sehingga hasil tangkapan melimpah.

Aku terperangah. Lelaki itu pemilik beberapa kapal penangkap ikan. Untuk soal pengetahuan, ia amat ringan tangan untuk berbagi pada sesama. Ia membantu nelayan lain agar menguasai beberapa perangkat teknologi sehingga bisa mendapatkan panen yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.

Namanya Daeng Baco. Usianya sekitar 50-an tahun. Ia bercerita banyak tentang dirinya. Dahulu, ia adalah pembom ikan yang beroperasi di sekitar Keplauan Spermonde. Ia melalangbuana ke banyak pulau dengan bom di tangan. Ia gembira ketika melempar bom, sebab air dan pecahan karang akan berhamburan ke udara laksana letusan gunung. Sedetik kemudian, ikan-ikan mengambang di lautan yang langsung dikumpulkan lalu di jual. Ia tak peduli ketika karang-karang ikut mati dan berhamburan. Yang dipikirkannya hanya keuntungan.

Spermonde (archipelago shelf) adalah surga bagi wisatawan, tapi kerap kali menjadi neraka bagi biota laut. Dahulu, Kepulauan Spermonde memiliki tingkat keragaman karang yang cukup tinggi dimana terdapat total spesies 262, seperti yang pernah dicatat oleh peneliti Moll (1983). Kini, keadaan kepulauan ini cukup memprihatinkan karena ulah warga pulau sendiri.

Daeng Baco berkisah, banyak nelayan yang memilih jalan pintas ketika menangkap ikan. Mereka menggunakan alat yang tidak ramah lingkungan seperti bahan peledak (bom), racun sianida (bius ikan), trawl, dan lain-lain. Mengapa? “Kalau pakai bom, tidak perlu capek lempar jala, trus menunggu ikan. Cukup lempar bom, terus tunggu hasilnya,” katanya.

kapan nelayan di Pulau Badi

Praktek menangkap ikan seperti ini selain merusak ekosistem terumbu karang juga telah menimbulkan kerugian ekonomi, memicu berbagai perselisihan dan konflik social. Bila keadaan ini dibiarkan terus maka diperkirakan dalam waktu 15 tahun ke depan terumbu karang Indonesia akan habis.

Menurut satu publikasi, di Propinsi Sulawesi Selatan, penangkapan ikan tidak ramah lingkungan merupakan masalah yang sangat sulit untuk diatasi. Perusakan terumbu karang akibat bom dan bius masih banyak dilakukan. Namun, pendekatan lewat birokrasi jlas tidak efektif. Yang harus dilakukan adalah bagaimana meningkatkan ekonomi nelayan sehingga meninggalkan praktik membom ikan. Bagaimanakah caranya?

Bermula Iklan XL

La Baco terpekur ketika mengisahkan titik balik. Sebagai alumni satu universitas swasta di Makassar, ia memang memilih kembali ke pulau sebagai nelayan biasa. Sayangnya, selama beberapa tahun, ia belum mendapatkan nafkah yang memadai bagi keluarganya. Ia jujur mengakui kalau titik balik itu bermula dari iklan XL tentang internet seru. Ia lalu penasaran dengan iklan itu. Dipikirnya, internet itu adalah sesuatu yang mahal. Ternyata, internet adalah sesuatu yang murah dan terjangkau. Lebih menyenangkan lagi, sinyal XL bisa menjangkau berbagai pulau-pulau sehingga warga bisa mengaksesnya setiap saat dengan biaya murah.

Saat itu, ia lalu menelusuri berbagai situs yang membahas tentang nelayan. Ia tersentak saat mengetahui tentang adanya berbagai kemudahan bagi nelayan. Ia mendapat informasi tentang nelayan di luar negeri yang menggunakan berbagai perangkat teknologi tinggi seperti GPS, radar kelautan, fishfinder, kompas, dan beberapa aplikasi di android.

Batinnya seolah menyala-nyala. Pengalaman nelayan di negara lain telah memperluas cakrawa berpikirnya untuk melihat berbagai kemungkinan-keungkinan yang tidak ditempuh para nelayan tradisional di Pulau Badi. Kebanyakan nelayan hanya bertahan dengan sistem penangkapan ikan ala tradisional, yang justru memiliki struktur sosial yang kadang tidak memberi ruang bagi nelayan untuk berkembang.

Melalui situs online, Daeng Baco lalu memesan perangkat fishfinder. Perangkat teknologi ini adalah buatan Korea yang harganya cukup mahal yakni antara lima hingga sembilan juta rupiah. Tapi ia berpikir kalau apa yang dilakukannya adalah dalam rangka investasi. “Saya melihat teknologi sebagai satu harapan untuk mendapatkan hasil lebih di dunia nelayan. Mudah-mudahan saya bisa berhasil,” katanya.

Ternyata, ia memang berhasil. Meskipun mulanya ia kesulitan mengoperasikan, seriring waktu ia mulai bisa beradaptasi. Ia menekankan bahwa teknologi bisa sangat ramah bagi penggunanya ketika diakrabi, dipelajari, dan dipahami. Menurutnya, semuanya teknologi punya prinsip yang sama yakni memudahkan pekerjaan  manusia. Ia yakin ketika kita memahami prinsipnya, maka teknologi akan sangat membantu kehidupan.

pantai indah Pulau badi, Kep Spermonde, Sulsel

Alat fishfinder yang dibelinya itu  menggunakan gelombang suara mikro-magnetik dalam mencari keberadaan ikan laut. Alat ini telah lama dimiliki oleh nelayan asing, dan telah diterapkan untuk memaksimalkan tangkapan. Alat ini  bisa memberikan informasi tentang keberadaan ikan, suhu air, serta kedalaman air. Konon, kemampuan alat itu adalah bisa melacak ikan hingga kedalaman 1.500 meter, dengan cara menenggelamkan sensor pada kedalaman satu hingga dua meter.

Hebatnya, Daeng Baco tak ingin sukses sendirian. Ia berbagi pengalaman kepada para nelayan lainnya. Ia mempromosikan gagasan bahwa teknologi penangkapan ikan hanyalah bagian kecil dari keajaiban-keajaiban yang dihadirkan internet. Yang penting, para nelayan mesti sabar untuk menelusuri beragam informasi, tahu apa yang dibutuhkannya, lalu bisa menemukan hal-hal yang bisa membantu kehidupan seseorang.

Di pelabuhan kecil Pulau Badi di Kepulauan Spermonde, aku merasa beruntung bisa bertemu dengan lelaki penuh inspirasi ini. Ia bisa mengubah pahaman bahwa teknologi bisa membantu kehidupan manusia sehingga bisa menjalani hidup dengan lebih bahagia. Sejak awal, teknologi memang diniatkan untuk mempermudah urusan manusia, namun seringkali ada anggapan bahwa teknologi hanya untuk orang-orang pintar dan generasi sekolahan saja. Padahal, semua masyarakat bisa merasakan langsung dampak positif dari teknologi.

Daeng Baco telah membuktikannya.



Terpopuler Bulan Ini

...

...