Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Sekelumit Inspirasi Profesor Muladno




SEORANG pendekar sakti mandraguna tak membutuhkan satupun senjata untuk bertarung. Di saat dia harus mengeluarkan kesaktian, ranting pun bisa menjadi pedang. Jika kehidupan ini serupa arena kependekaran, seseorang tak perlu berbagai atribut untuk sekadar dianggap sakti. Dia hanya butuh sesuatu yang muncul dari dalam dirinya. Dia cukup tampil apa adanya.

Di dunia akademis, ada banyak orang yang selalu ingin disapa dengan gelarnya. Tapi di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), saya menemukan satu teladan yang justru tak ingin dipanggil dengan gelarnya. Di saat sosok itu menjabat satu posisi penting di kementerian, dia justru melepaskan semua gelar akademik, dan hanya bersedia dipanggil dengan namanya saja.

Perkenalkan, nama lengkapnya Profesor Muladno.

***

SUATU sore, saya bersiap-siap hendak meninggalkan kantor di kampus IPB Bogor. Seorang bapak masuk ke dalam ruangan tempat saya berkantor bersama beberapa orang. Bapak itu membawa dua anak kecil dan menunggu di situ. Rupanya, dia menunggu atasan saya yang saat itu sedang menerima tamu,

Saya lalu menemaninya berbincang. Dia mengaku sebagai warga biasa. Pengakuannya, dia seorang peternak, yang bersama salah satu bos di kantor saya, hendak mendirikan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR). Kami berbincang lama. Saya merasakan pribadinya hangat dan suka berbicara berbagai topik.

Seminggu setelahnya, ada acara diskusi di kantor saya. Saya melihat bapak itu duduk di deretan paling belakang. Yang menjadi pembicara adalah para profesor dan doktor. Tiba-tiba saja, moderator berkata, “Kita beri kesempatan kepada Profesor Muladno untuk berbicara.”

Saya menoleh ke kiri ke kanan mencari yang dipanggil Professor Muladno. Pelantang suara lalu diserahkan ke bapak yang seminggu sebelumnya berbincang dengan saya. Ternyata dialah Professor Muladno, yang saat itu menjadi dekan di salah satu fakultas di IPB. Bapak yang rendah hati itu sebelumnya memperkenalkan diri. Dia tak menyebut namanya sebagai profesor. Dia menjadi dirinya sendiri.

Pada saat itu, saya melihatnya sebagai sosok lain. Dalam diskusi itu, hampir semua orang yang hadir di situ disapa dengan gelarnya. Ia menjadi dirinya sendiri, dan barangkali ingin dilihat secara orisinal dengan buah pikirannya sendiri. Padahal, di banyak kampus, saya amat sering menyaksikan para akademisi selalu memulai perkenalan dengan berbagai gelar berderet, setelah itu mengemukakan buah pikirannya yang ternyata tidak sementereng gelarnya.

Tapi, Profesor Muladno ini berbeda. Barangkali, dia tak lagi memerlukan pengakuan di satu acara dskusi. Sebagai akademisi, reputasinya cukup mentereng sebagai seorang profesor di usia muda, publikasi di banyak media internasional, serta kiprahnya yang bersih dan berwibawa. Dari sisi keilmuan, dia mencapai banyak hal di usia yang masih terbilang muda. Pencapaian itu tak sedikitpun membuatnya jumawa.

Saya terkenang dengan kehangatan pribadinya saat berbincang. Dia cukup fleksibel dan bisa memosisikan diri saat bersama siapa saja. Dalam pembicaraan sebelumnya, dia jelas tak ingin merusak suasana dengan menyebut dirinya sebagai profesor. Mungkin dia berpikir, ketika menyebut siapa dirinya, maka saya akan sungkan dan memberinya perhatian sebagai orang berpangkat.

Saya akhirnya melihat kiprahnya. Dirinya bukan tipe akademisi tulen yang hanya melakukan kegiatan riset dan mengajar. Dia turun lapangan, bersahabat dengan banyak peternak, lalu mengorganisir mereka ke dalam wadah bernama Sekolah Peternakan Rakyat (SPR). Dia melakukan transformasi pengetahuan dari dunia akademik yang melangit itu ke masyarakat biasa. Sebagai profesor bidang peternakan, dia memandu, membimbing, dan mengajari para peternak agar bisa lebih produktif. Dia membumikan pengetahuan menjadi anugerah berharga bagi banyak orang biasa melalui kerja-kerja pemberdayaan yang dilakukannya.

Tak lama setelah diskusi itu, saya mendengar dirinya diangkat sebagai Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian RI. Dia menjadi pejabat eselon satu yang bertanggungjawab untuk mengurusi soal ternak. Dia beberapa kali tampil di televisi. Dalam satu penampilan, saya menyimak bagaimana presenter televisi menuduh adanya penimbunan sapi. Dengan santainya dia menjawab, “Saya orang peternakan. Para peternak selalu ingin sapinya segera dijual selagi muda. Semakin ditimbun, maka sapi itu akan semakin tua, yang justru semakin tidak laku. Problem yang harus kita atasi adalah kelangkaan sapi.”

Dia tetap menjadi Muladno yang dulu. Dia tetap mendedikasikan dirinya untuk orang banyak. Sungguh langka melihat pejabat sepertinya bersedia berbagi ilmu dengan peternak dalam satu siklus pembelajaran kreatif yang didesain orang dewasa. Dalam banyak kesempatan, ia mengatakan kalau posisinya itu didedikasikan untuk orang banyak.

Dia pun menolak memakai gelar profesornya, sebab menganggap gelar itu hanya tepat digunakan di ranah akademis. Bahkan, dia juga jarang menggunakan gelar doktornya di kementerian. Baginya, gelar itu tak tepat digunakan pada ranah birokrasi. Dengan cara itu, dia membangun kultur kerja yang egaliter. Dia memosisikan dirinya sama dengan orang lain, dan lebih mengedepankan visi serta kerja keras.

Sikap Muladno meningatkan saya pada sikap para profesor di Amerika Serikat. Di negeri itu, para profesor berinteraksi dengan mahasiswa tanpa ada batasan. Saking akrabnya, mahasiswa memanggil professor dengan nama panggilan. Sewaktu di sana, saya sungkan juga saat harus menyapa Profesor Don Flournoy, seorang pakar kajian media, dengan panggilan Don. Sempat sungkan pula harus menyapa pemimbing saya Dr Lawrence Wood dengan panggilan Woody.

Mahasiswa Amerika santai saja dengan panggilan nama ke profesornya. Demikian pula profesornya. Bukan berarti mereka menganggap rendah sang profesor. Sebab, mereka sangat menghormati semua profesor itu. Dalam interaksi yang sejajar, orang tidak lantas merasa lebih tinggi dari yang lain. Mereka saling menghormati dan menghargai posisi semua pihak. Saya menikmati saat bekerja dengan profesor, yang serupa bekerja dengan rekan sejawat. Interaksinya natural dan saya merasa bebas berbicara apapun.

Di tanah air, kenyataannya sering berbeda. Posisi sebagai guru besar seringkali menjadi alasan bagi penyandangnya untuk diperlakukan lebih tinggi. Hubungan antara profesor dan mahasiswanya menjadi hubungan antara dua pihak yang tidak setara. Posisi guru besar ditransformasikan menjadi kelas sosial yang lebih tinggi, yang seringkali menuntut penghargaan dan pengistimewaan secara berlebih. Mahasiswa pun terpaksa menerima keadaannya yang seakan terjajah. Mahasiswa bersedia melakukan apapun demi sekadar mendapatkan nilai atau apresiasi dari profesornya. Relasi itu tak berujung pada produktivitas, malah pelestarian hierarki dan kultur patron-client.

Namun, Muladno berbeda dengan yang lain. Pada dirinya, saya menemukan kultur egaliter yang menekankan pada kerja keras. Saya berharap agar pencapaiannya di bidang akademik bisa berjalan seiring dengan kiprahnya di dunia birokrasi. Namun saya sadar kalau dunianya berbeda. Ranah akademisi menuntut kerja individual cemerlang demi menggapai prestasi dan kinerja penelitian yang bermutu, sedangkan ranah birokrasi adalah ranah di mana seseorang harus memahami ritme, aturan main, dan kerja kolektif dengan banyak orang, yang belum tentu bersesuaian ide.

Saya tahu bahwa tantangannya tidak mudah. Pada sosok yang bersahaja dan selalu ingin tampil apa adanya itu, saya menyerap banyak pelajaran berharga.



Bogor, 27 Juni 2016

BACA JUGA:







Kuasa LITERASI di Balik Sejarah MAKASSAR


LITERASI adalah kekuatan yang mengubah Makassar menjadi salah satu wilayah yang paling cemerlang di Nsantara pada awal periode modern di abad ke-16. Siapa sangka, literasi memiliki peran vital sebagai faktor pembentuk sejarah, menjadi alat legitimasi kekuasaan, melahirkan hierarki baru tentang bangsawan dan rakyat biasa. Sejarah, sistem pelapisan tradisional, serta distribusi kekuasaan ditentukan berdasarkan catatan tertulis yang selalu sarat dengan kuasa.

Demikian kesan saya seusai membaca buku bagus berjudul Making Blood White yang ditulis William Cummings, yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Penerbit Ombak dengan judul Penciptaan Sejarah Makassar di Awal Era Modern. Buku ini sungguh jeli dalam melihat bahwa apa yang kita sebut sejarah selalu diciptakan oleh kelas tertentu melalui kata. Tak hanya itu, kekuasaan pun bisa didefinisikan melalui kata.

***

DALAM satu publikasi yang ditulis sejarawan Anthony Reid, saya menemukan fakta bahwa di antara banyak kerajaan yang pernah eksis di Asia Tenggara, Makassar sangat pantas untuk dibahas dalam hal kekayaan literasi dan upayanya untuk merawat pengetahuan. Makassar adalah wilayah yang paling bersinar sebagai produsen berbagai literasi dan khasanah pustaka

Makassar adalah satu wilayah di Nusantara yang paling ambisius untuk merengkuh ilmu pengetahuan. Sebagai kerajaan maritim yang menjadikan laut sebagai ruang yang menghubungkan wilayah ini dengan berbagai wilayah lain, Makassar bisa menjalin hubungan dengan berbagai pusat pengetahuan dunia. Melalui persentuhan dengan banyak budaya, termasuk dengan kolonialisme Eropa, orang Makassar mulai mengenal tradisi literasi.

Saya sedang tertarik mengetahui banyak hal tentang literasi di Makassar. Saya membaca buku berjudul Penciptaan Sejarah Makassar di Awal Era Modern yang ditulis William Cummings, terbitan Ombak tahun 2015. Sebelumnya, saya membaca buku ini dalam versi bahasa Inggris berjudul Making Blood White yang diterbitkan University of Hawaii Press tahun 2002 lalu.

Cummings menjelaskan tentang transisi dari tradisi oral ke budaya literasi pada abad ke-16 dan 17, sebagai awal periode modern Makassar. Ia hendak mengeksplorasi kekuatan-kekuatan yang menggerakkan transformasi sosial dan budaya. Masa-masa ini ditandai interaksi dengan kolonialisme Eropa dan kepentingan komersial. Kapitalisme datang sebagai tamu yang tak hanya bengis, tapi juga membawa tradisi tulis yang lalu mengubah sejarah.

Berbeda dengan para sarjana lain yang fokus pada arsip kolonial, Cummings dengan berani mengisahkan ulang sejarah Makassar melalui berbagai sumber yang dibuat orang Makassar sendiri. Ia menjelaskan pandangan warga setempat (indigenous) ketimbang pandangan kolonial. Ia fokus pada bagaimana sejarah diciptakan, bukan pada bagaimana sejarah dirangkai melalui peristiwa.

Di mata saya, Cummings adalah tipe peneliti yang ikhlas berpeluh dengan data-data lapangan, lalu memahami realitas sebagai warga setempat. Saya membayangkan usaha kerasnya untuk memahami bahasa Makassar lalu memahami naskah-naskah yang ditulis orang Makassar. Saya saja yang pernah tinggal lebih 10 tahun di Makassar, malah tak bisa berbahasa Makassar. Tentu saja, tak paham aksara Makassar. Ia mengatakan, “Kesulitan terbesar dari para sarjana yang saya temukan di luar Makassar adalah ketidakmampuannya untuk memahami sumber-sumber dari orang Makassar sendiri yang ditulis dalam bahasa Makassar."

Cummings mempertanyakan konsensus di kalangan sejarawan pada awal era modern Asia Tenggara yang menyatakan bahwa aktivitas komersial adalah kekuatan yang mendorong transformasi sosial dan politik pada periode itu. Dia berargumen pada pentingnya kekuatan budaya dan makna sebagai penggerak sejarah.

Pada pengantar awal, ia membuat sejumlah klaim historiografi yang menyebutkan bahwa budaya, sosial, agama, dan formasi intelektual direpresentasikan melalui sumber-sumber tertulis. Kekuatan sejarah ini menyatu dalam rekaman tertulis yang muncul pada periode ini, suatu aspek yang justru luput di kalangan orang Eropa, dan sempat hilang dari analisis para sejawan.

Berbeda dengan para sejarawan yang melihat historiografi sebagai teks sejarah yang merupakan rekaman masa lalu, Cummings memberikan ruang bagi material sejarah Makassar untuk berbicara tentang Makassar itu sendiri, sebelum memosisikan argumentasinya dalam debat historiografi yang lebih luas. Dia secara sistematis mengkonstruksi pandangan yang kokoh tentang teks sejarah Makassar sebagai kekuatan yang mempengaruhi rangkaian perubahan pembangunan politik dan sosial

Ia ingin menemukan bagaimana masa lalu diterima, diinterpretasikan, dan digunakan dalam awal Makassar modern. Dia lalu mendemonstrasikan penguasaan pada sejumlah teks-teks Makassar dan genre literasi. Dia lalu menggunakan kemampuan analitik dan bahasa untuk menunjukkan bahwa orang Makassar telah mencapai periode penting dalam sejarah melalui upaya mengenal literasi pada awal abad ke 16.

Yang mengejutkan buat saya adalah pandangannya yang menyatakan bahwa tradisi lisan memiliki kisah yang berbeda dengan tradisi tulis. Fundasi pembentuk tradisi lisan adalah mitos dan sesuatu yang sakral. Sementara tradisi tulis bisa mengombinasikan mitos dan rasionalisasi, yang kemudian menjadi alat legitimasi bagi para penguasa Gowa untuk membentuk sejarah, membuat klaim atas silsilah, menentukan mana bangsawan dan mana rakyat biasa.

Pada bagian ini saya menjadi sangat tertarik. Saya penasaran bagaimana tradisi tulis ini menjadi sesuatu yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya. Saya tak menyangka kalau teks tertulis memutuskan kisah dalam tradisi oral, lalu menggantinya dengan kisah baru yang memosisikan satu kerajaan sebagai pusat dalam dinamika percaturan antar kerajaan.


Buku ini terdiri atas dua bagian, Pada bab awal berjudul "History Making”, Cummings menggambarkan naskah dan cerita tentang awal Makassar dan munculnya literasi pada abad ke-16 untuk mengisahkan masa lalu. Catatan sejarah ini mencakup kronik kerajaan, genealogi, kompilasi adat dan hukum yang ditenun secara bersama lau menjadi jejaring suara sejarah. Ia mendiskusikan evolusi dari naskah tertulis dan menggambarkan perpindahan dari oral ke catatan sejarah.

Bagian dua membahas “Making History”, Cummings menunjukkan bagaimana tulisan telah mengubah banyak hal sehingga melahirkan berbagai hal baru. Salah satunya adalah memosisikan Kerajaan Gowa sebagai pusat dari sistem sosial dan politik Makassar. Tradisi tulis lalu membangun standar dari legitimasi kultual kerajaan dan menaikkan pemimpin Gowa di atas pemimpin lokal lainnya. Di titik ini, tradisi tulis menjadi vital dalam hal penciptaan hierarki sosial yang dibangun melalui kodifikasi konsep darah putih yang membedakan bangsawan dan warga biasa.

Masa silam lalu dilihat sebagai sesuatu yang bisa diturunkan dalam bentuk teks dan dimiliki. Dalam proses yang disebut Cummings sebagai "pemusatan", model teks mengalir dari Gowa ke pinggiran dan regalia suci hanya ada di Gowa, yang memberikan kesempatan bagi Gowa untuk berada di puncak dari semua kerajaan lokal yang ada di Sulawesi Selatan.

Satu hal yang belum saya temukan dalam proses membaca cepat ini adalah argumentasi mengapa Cummings menyebut bangsawan Makassar berdarah putih. Yang saya tahu, di Nusantara, para bangsawan selalu disebut berdarah biru, Mengapa pula ia mengambil judul Making Blood White? Apakah bangsawan Makassar berdarah putih?

Ah, mungkin saya harus membaca lebih detail. Namun dari hasil membaca kilat, saya simpulkan kalau buku karya William Cummings menawarkan sesuatu yang beda.


Bogor, 26 Juni 2016


Mengenang Mansyur Semma (2)


SETIAP guru hebat akan selalu terpatri dalam ingatan. Segala hal baik yang dilakukan seorang guru akan selalu menjadi monumen. Dengan cara itu saya ingin mengenang Mansyur Semma. Dalam ketiadaan penglihatan, dia datang ke kampus dengan tertatih-tatih. Dia merasakan bagaimana sulitnya mendapatkan angkutan umum karena beredar stigma di Makassar kalau memuat tuna netra di angkot akan membawa sial.

Tapi ia tak pernah patah arang. Ia memilih datang mengajar, apapun risikonya. Tak hanya mengajar, ia bergaul dengan aktivis dari berbagai kalangan. Ia dikenal kelompok kiri, kelompok kanan, dan semua mahasiswa yang suka diskusi koridor. Dia selalu datang setiap kali diundang. Bisakah kau bayangkan, dalam keadaan tuna netra, ia meluangkan waktu demi menyalakan pijar kecil di pemikiran mahasiswa yang kelak akan menerangi jalan hidup sang mahasiswa itu.

Saya mengenalnya pada akhir reformasi, saat baru kembali studi magister. Ia masih sehat. Matanya masih terang. Di masa ini ia sudah menjadi dosen hebat. Dia meladeni slama apapun diskusi dengan mahassiwa. Hingga akhirnya, kesalahan prosedur di rumah sakit telah merenggut semua daya penglihatannya. Ia sempat melalui periode berat ketika hanya tinggal di rumah dan tak ke kampus. Ia sempat menghilang dari ruang kelas dan dari ruang diskusi mahasiswa.

Namun, seseorang yang hebat bukanlah dia yang berada di puncak kejayaan, melainkan dia yang selalu bangkit di tengah keterpurukan. Kehilangan penglihatan itu tidak membuatnya terpuruk. Ia tetap bangkit dan memilih ke kampus. Ia tak hanya menjadi guru yang hebat, dia menginspirasi orang lain.

Bisakah kau bayangkan bagaimana dirinya mengambil kelas doktor dalam segala keterbatasan. Dia datang ke kampus, belajar di kelas, lau melakukan enelitian di Jakarta. Disertasinya membahas tentang pemikiran Mukhtar Lubis. Hal yang saya kenang adalah dalam keadaan tertatih-tatih sembari dituntun anaknya yang masih belia, ia datang menemui Jacob Oetama di ruang redaksi Kompas, Jalan Palmerah. Lewat seorang jurnalis Kompas, saya mendengar kalau Jacob Oetama sampai meneteskan air mata melihat kegigihan Mansyur. Hingga akhirnya, ia sukses meraih gelar doktor. Kompas meliput kegigihannya di rubrik profil.

Pada diri Mansyur, saya melihat beberapa kualitas hebat yang tak selalu dimiliki semua guru di masa kini. Pertama, ia memperlakukan mahasiswa sebagai sahabat, adik, rekan, serta teman berdialog. Kedua, dia seseorang yang membumikan religiusitas dalam segala tindakan-tindakan kecil. Saya melihat caranya memperlakukan mahasiswa, bagaimana ketenangannya menghadapi konflik, hingga caranya melejitkan potensi seorang mahasiswa. Ketiga, dirinya adalah seorang petarung hebat yang melawan segala keterbatasan. Setiap kali mengingatnya, saya akan merinding membayangkan energinya untuk mengubah keterbatasan menjadi cahaya.

Dengan segala keterbatasannya, dia akan selalu menjadi monumen cahaya di hati saya. Betapa saya bangga karena pernah diminta oleh guru hebat untuk menjadi asisten yang pernah menggantinya mengajar di beberapa kesempatan. Dan betapa sedihnya saya saat mendengar dirinya berpulang ke Yang Maha Menggenggam dalam waktu yang tak terlalu lama ketika menjadi doktor.

Hari ini, semua ingatan tentangnya muncul di kepala saya saat menyaksikan vidio singkat tentang dirinya di media sosial. Saya bangga pernah mengenalnya. Alfatihah untuk sang guru.

Bogor, 22 Juni 2016



Lain JOKOWI, Lain RIDWAN KAMIL



MEDIA sosial tak hanya mendekatkan hubungan dua orang yang terpaut jauh. Media ini juga mendekatkan hubungan seorang public figure dengan publik. Melalui media sosial, segala tindakan, aktivitas, ucapan, ataupun pemikiran seorang public figure bisa terdiseminasi secara cepat dan tak perlu menunggu media mainstream untuk memberitakannya. Di era baru, komunikasi politik terus mengalami pergeseran.

Marilah kita mengamati bagaimana figur seperti Joko Widodo dan Ridwan Kamil menata personal branding di media sosial. Kita bisa menyimak apa pelajaran berharga dari sosok-sosok ini, bagaimana mengendalikan media sosial, serta bagaimana seharusnya membangun interaksi dengan publik melalui cara-cara yang sederhana namun penuh daya ledak kreativitas tinggi. Marilah kita melihat bagaimana pergeseran peran para Public Relation (PR) dan para anggota tim komunikasi dan strategi politik.

***

DI satu halaman facebook, seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memosting pesan lowongan kerja. Ia membutuhkan seorang tim kerja dengan kualifikasi bisa membuat content berupa postingan, foto, meme, reportase, yang ditujukan untuk media sosial. Ia mencari seseorang yang memiliki keaktifan di media sosial yang tinggi, bisa meng-create lalu mengendalikan isu, kemudian bisa secara kreatif menyampaikan pesan kepada audience tentang dirinya.

Saya teringat pengalaman beberapa bulan lalu. Saya pernah diminta untuk memberikan materi di hadapan tim komunikasi politik dari seorang menteri yang tengah bersinar dan disiapkan agar kelak menjadi presiden. Saya diminta memberikan ceramah dan melatih tim itu bagaimana merebut atensi publik media sosial, bagaimana menyiapkan content yang kreatif dan bisa mendulang pembaca yang banyak.

Kata seorang kawan, satu profesi paling mahal dalam waktu dekat ini adalah jasa pengisi creative content. Yang termasuk dalam jasa ini adalah mereka yang secara kreatif bisa menghasilkan konten yang laris di media sosial, bisa mengemas informasi hingga dibagikan dan dibincangkan terus-menerus di media sosial, memiliki kharisma yang kuat di jagad maya sehingga informasi yang dibagikannya akan menjadi viral ke mana-mana. Mereka dibutuhkan semua unit bisnis dan politik.

Sosok-sosok seperti ini dengan mudahnya ditemukan di media sosial. Mereka tak selalu para kolumnis hebat yang bisa dengan fasih berdebat di televisi. Mereka adalah warga biasa yang punya seribu akal dalam mengemas konten, memberinya opini, dan membuat orang lain mejadi follower-nya. Di era ini, warga biasa sekalipun bisa menantang kemapanan industri media. Kita bisa melihatnya pada fenomena akun Kurawa yang berhadapan dengan raksasa media sekelas Tempo. Saya tak sedang menyoal benar dan salahnya, tapi kehadiran akun Kurawa bisa menunjukkan kepada kita bagaimana media sekelas Tempo bisa dibuat repot oleh cuitan seorang warga biasa.

Tapi bukan berarti sosok-sosok seleb akan tenggelam di era digital. Selagi, popularitas dan nama besar mereka dikelola dengan baik di media sosial, ama mereka bisa akan terus terkerek tinggi-tinggi. Tapi jika tak ada aktivitas, maka nama mereka akan tenggelam di lipatan sejarah. Di era ini, para PR ataupun konsultan politik harus berani menjemput bola. Mereka harus membobardir media sosial dengan pencitraan dari client-nya. Jika tak pandai,

Marilah kita menyaksikan bagaimana kiprah Joko Widodo dan Ridwan Kamil dalam mengelola media sosialnya. Dua sosok ini sudah punya popularitas yang tinggi. Namun, keduanya selalu merawat berbagai akun media sosial. Biarpun Jokowi sudah sangat populer sebagai presiden Indonesia, ia membentuk tim khusus yang mengelola berbagai akun media sosial yang dimilikinya. Timnya mengelola fanpage di facebook, twitter, instagram, hingga akun di Youtube.

Hampir setiap hari, publik bisa memantau apa yang dilakukannya, lokasi atau daerah yang dikunjunginya, serta apa gerangan yang dipikirkannya. Setiap perjalanan Jokowi akan terdokumentasi secara rapi di media sosial. Tak hanya perjalanan, publik juga bisa melihat gambar-gambar terbaru, permasalahan yang dihadapi presiden, hingga optimisme atas kerja-kerja politik yang dilakukannya. Publik pun bisa dengan mudah memberi komentar atau catatan atas apa yang dipostingnya. Di facebook, Jokowi seolah berbicara langsung kepada khalayak. Publik setia mengikuti semua perkembangan pemikirannya.


Saya sangat yakin kalau semua akun media sosial itu tidak dikelola langsung oleh Jokowi. Yang mengelolanya adalah satu tim kerja yang setiap hari mengikuti langkahnya. Mereka adalah para penulis, fotografer, hingga videographer yang lalu mengelolah semua materi dan informasi ke berbagai kanal media sosial. Jangan terkejut jika akun fanpage milik Jokowi jauh lebih cepat menyajikan informasi melalui media sosial ketimbang media massa. Jangan heran pula jika publik lebih suka mencari tahu segala hal tentang Jokowi melalui media sosial itu. Di situ bisa ditemukan orisinalitas dan narasi personal, sehingga seolah-olah Jokowi menyapa langsung semua orang.

Satu catatan, akun ini dikelola dengan terlampau “lurus”. Maksud saya, semua narasi dan pesan disampaikan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jokowi terlampau serius di sini. Padahal, dalam bebrbagai tayangan media dan wawancara langsung, Jokowi adalah figur yang kocak dan berbicara dalam bahasa rakyat biasa. Ia tampak nyantai dan tak terlalu formal. Nah, ini yang gagal dirangkum dalam akun media sosialnya.

Lain Jokowi, lain Ridwan Kamil. Sebagaimana Jokowi, Ridwan Kamil terbilang sering menyebarkan segala pemikiran, tautan, kemajuan, pemikiran, ataupun segala hal mengenai pembangunan di kota Bandung. Bedanya, Ridwan Kamil lebih bisa memikat khalayak melalui humor-humor segar yang disampaikan di sela-sela pesan. Ridwan Kamil lebih lihai mengemas informasi dan membuat publik tak hanya tercerahkan, tapi juga sesaat bahagia karena berbagai candaan yang dilontarkannya.

Salah satu postingan yang saya sukai adalah postingan mengenai kota cerdas di Indonesia. Kang Emil, demikian ia disapa, menjelaskan tentang Kota Bandung yang menjadi rujukan bagi pelaku kota cerdas. Di situ ada foto mojang Bandung di dekat beberapa komputer. Ia lalu menulis kalau pengetahuan tentang kota cerdas gratis di bagikan ke berbagai kota, tapi gadis Bandung berbaju biru itu tak boleh ke mana-mana. Ia tetap di Bandung. Postingan ini menjadi viral, dibagikan banyak orang. Postingan ini cerdas sebab bisa menyampaikan pesan kepada publik, sekaligus memberikan hiburan yang menyegarkan. Tak sembarang orang bisa melakukan hal ini.

Terakhir, saya melihat postingannya tentang berbicara di media massa. Ia memajang gambar dirinya di layar yang sedang disaksikan seekor kucing. Di situ ada kalimat: "ternyata hanya kucing yang tertarik obrolan politik. Atau disangkanya saya seonggok ikan pindang." Kalimat ini sukses membuat saya terpingkal-pingkal. Saya bayangkan jutaan warga Indonesia juga menyukai olok-olok ala politisi seperti yang dilakukan Kang Emil.


Membaca postingan Ridwan Kamil, saya menangkap kesan kuat bahwa dunia politik bukanlah dunia yang selalu serius dan menguras energi. Politik bisa dikelola menjadi sesuatu yang membahagiakan dan menyenangkan. Di tengah himpitan tugas-tugas yang berat itu, ia bisa berbagi keriangan, namun tetap tidak kehilangan esensi penting yakni membagikan semua informasi tentang kemajuan ke publik. Ia menyebar optimisme atas Bandung, dnegan cara-cara yang kreatif dan jenaka.

Saya penasaran dengan postur tim komunikasi politik Ridwan Kamil. Beberapa kawan menyebut satu media online besar memiliki kontrak eksklusif untuk mengelola semua akun kampanye Ridwan Kamil. Jika itu benar, maka media itu amat pandai memotret sosok Kang Emil. Kalaupun informasi itu tak benar, berarti Kang Emil memang memahami dinamika informasi dan bagaimana berinteraksi di media sosial. Dengan banyak menyebar pesan positif, Emil bisa menjadi prototype dari politisi yang meramaikan medsos dengan hal-hal yang mencerahkan. Di titik ini, ia berbeda.

***

Di Indonesia, kehadiran internet memiliki sejarah yang cukup menarik untuk ditelusuri. Internet mulai hadir saat Indonesia berada dalam iklim politik yang otoritarian pada masa Orde Baru. Saat itu, negara mengontrol semua informasi yang ada di media massa. Kehadiran internet disambut gembira oleh semua aktivis pro-demokrasi, sebab media ini tidak bisa dikontrol dan dikendalikan pemerintah. Di masa itu, pemerintah kerap memberikan ancaman berupa sensor atau pencabutan izin cetak kepada media-media yang anti-pemerintah.

Sebagaimana dicatat David T Hill dan Krishna Sen dalam buku The Internet in Indonesia’s New Democracy yang terbit tahun 2005, internet memainkan peran penting dalam transisi demokratis. Pemerintah tidak bisa mengontrol internet, sekaligus menyeleksi lalu lintas informasi yang ada di dalamnya. Semua aktivitas di internet, seperti email, newsgroup, website telah menjadi senjata bagi aktivis karena karakteristik real-time dalam tindak oposisi terhadap pemerntah melalui tukar-menkat nformasi serta ajang konsolidasi gerakan.  Tak mengherankan jika internet memainkan peran penting untuk menjatuhkan kediktatoran Soeharto dari kekuassaannya.

Internet memasuki ruang-ruang publik, membayangi proses demokratisasi. Semua aktivitas politik, mulai dari kampanye dan pemilihan umum tak bisa dilepaskan dari kehadiran internet. Bahkan pendekatan terbaru dalam kampanye adalah melalui media online, yang dilakukan hampir semua partai politik. Ini menjadi bukti bahwa semua partai politik menggunakan internet untuk menopang aktivitas politiknya.

Hubungan antara politisi dan media baru di era internet telah dibahas dalam beberapa laporan penelitian. Gazali (2014) pernah mendiskusikan tentang “new media democracy” atau “social media democracy” yang kadang-kadang sering pula disebut “networking democracy”. Dalam hal ini, internet –khususnya media sosial—dianggap sebagai katalis demokratisasi. Media sosial memiliki potensi untuk menyusun ulang relasi kuasa dalam komunikasi. Dengan menggunakan media sosial, warga bisa memfasilitasi jejaring sosial (social networking) dan memiliki kemampuan untuk menantang kontrol monopoli produksi media dan diseminasi yang dilakukan negara dan institusi komersial.

Keterbukaan platform media sosial bagi individu dan kelompik telah menjadi sumber inovasi dan ide-ide dalam praktik demokratik. Bersetuju dengan Gazali, kita bisa menyebutnya sebagai “demokrasi media sosial” yakni proses demokratis yang secara substansial dipengaruhi oleh penggunaan media sosial. Dalam hal ini, setiap ‘click’ yang dakukan warga bisa disebut sebagai ekspresi dalam iklim demokratisasi yang wadahnya berlangsung di media sosial.


Tak hanya digunakan oleh para aktivis pro-demokrasi. Beberapa studi menunjukkan bahwa internet juga digunakan oleh elemen gerakan sosial yang lain sebagai wadah untuk membangun konsolidasi. Di antaranya adalah studi yang dilakukan Yanuar Nugroho (2012) yang dipublikasikan dengan tajuk Localising the Global, Globalising the Local: The Role of the Internet in Shaping Globalisation Discourse in Indonesia NGOs. Ia menunjukkan bahwa pihak aktivis NGO menggunakan internet untuk merespon berbagai wacana antiglobalisasi. Mereka menggunakan konteks lokal untuk merespon wacana global, menggunakan teknologi secara strategis sebagai pelempar isu ke dunia luar.

Studi Nugroho ini menarik untuk ditelaah sebab menunjukkan bahwa internet adalah tols yang bisa digunakan berbagai elemen gerakan sosial lainnya. Seiring dengan kehadiran media sosial, lalu-lintas percakapan itu pun berpindah dari sebelumnya menggunakan website, email, ataupun groups ke media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, ataupun beberapa diskusi melalui WhatsApp dan Blackberry Messenger. Lalu lintas diskusi menjadi lebih interaktif, lebih semarak, dan melibatkan lebih banyak orang.

***

MENGAMATI akun media sosial milik Jokowi dan Ridwan Kamil, kita bisa menyerap satu pesan penting. Bahwa media sosial bisa membantu seorang politisi untuk berkomunikasi dengan publik serta berbicara langsung tentang apa yang sedang dihadapinya.

Mengamati akun dua tokoh politik itu, serta mengamati kecenderungan masyarakat untuk berbagi informasi lewat jejaring sosmed, kita bisa menarik beberapa kesimpulan sederhana.

Pertama, sedang terjadi satu transformasi komunikasi politik di era yang baru. Dahulu, para Public Relation (PR) atau tim komunikasi politik hanya menunggu di balik meja lalu menjalin relasi dengan banyak media. Kini, pendekatan itu sudah dianggap kaku. Dalam konteks komunikasi politik, seorang PR harus setiap saat menggempur pasar dengan berbagai informasi tentang client-nya. Ia tak menunggu, tetapi ia pro-aktif dan siap menggempur publik dengan informasi.

Semua tim komunikasi politik seyogyanya bisa menulis, bisa mendiseminasikan informasi ke seluruh penjuru. Mereka dituntut untuk lebih pro-aktif dan membagukan segala hal ke publik melalui berbagai kanal medsos. Mereka harus bisa mengombinasikan berbagai cara menyampaikan pesan, bisa melalui foto, sketsa, infografis, lukisan, hingga kutipan-kutipan yang mencerahkan, lalu membaginya ke publik.

Kedua, dahulu, ketergantungan seorang PR atau tim komunikasi politik dengan media massa sedemikian tinggi. Media massa menjadi satu-satunya kawah yang mengolah berbagai informasi yang berseliweran di media sosial. Demi membangu citra yang positif di media, seorang praktisi PR akan membangun relasi, membuat media gathering, dan sesekali mengajak awak redaksi makan siang. Disiapkan pula beberapa bonus liputan bagi media yang menulis sesuai permintaan.

Sering pula, seorang PR membuat press release yang ditujukan kepada pihak media dengan harapan agar memuat sebanyak mungkin informasi tentang politisi yang didampingi PR tersebut. Namun, dalam perkembangannya, liputan media itu tak selalu sesuai dengan yang diinginkan. Sementara mengandalkan ruang iklan (advertorial) di media juga bukan solusi yang baik, sebab pembaca cenderung menghindari halaman iklan.

Ketiga, tim komunikasi politik harus mengenali bagaimana dinamika informasi. Mereka harus bisa mengenali bagaimana informasi menyebar secara viral. Kemampuan ini penting untuk menyalurkan berbagai kanal informasi. Bisa pula digunakan untuk encegat satu informasi yang mendiskreditkan client-nya. Dia harus bisa mengenali siapa saja blogger atau fesbuker yang berpengaruh dan bisa mengendalikan opini. Dengan cara membangun netwrk yang kuat, maka satu isu bisa digelembungkan, namun bisa pula ditengelamkan secepat mungkin.

Keempat, tim komunikasi politik harus piawai dan menguasai seluruh medsos. Ia mesti terbiasa berinteraksi di medsos, dan tahu bagaimana kiat dan etika berinteraksi di dunia baru itu. Meskipun ia membawa nama seorang tokoh penting, ia tak boleh bersikap jumawa di dunia itu. Sikap angkuh hanya akan membuka pintu bagi banyak orang untuk mem-buly serta memojokkan orang tersebut, tanpa upaya

Kelima, semua tim komunikasi politik harus punya sisi kreativitas di atas rata-rata. Mengemas pesan politik tak bisa lagi dengan hard campaign yang berupa glorifikasi atas satu tokoh. Yang harus dilakukan adalah melakukan soft campaign yang antun, sehingga publik ataupun netizen merasa nyaman dan setia menjadi follower. Informasi yang dibagikan adalah infrmasi yang mencerahkan, bukan informasi negatif yang hanya akan merusak mood seseorang. Semakin banyak menebar hal positif di medsos, maka semakin besar pula peluang untuk disukai, dan terakhir menjadi trendsetter dari semua arus informasi.(*)


Bogor, 21 Juni 2016



Seribu Sapu Tangan Putih di Depan Rumah



“Nak, kembalilah,”

Bapak itu menitipkan satu pesan kepada lelaki muda yang kini berada di jeruji besi itu. Lelaki muda yang tak sedikitpun memandang bapak itu. Lelaki muda itu lalu mengeluarkan sumpah serapah dan kutukan kepada bapak tua itu. Ia tak ingin dijenguk siapapun. Ia mengeluarkan makian agar bapak itu segera pergi dari jeruji besi yang memasung aktivitasnya. “Pergi kau tua bangka. Aku bukan anakmu!” teriaknya.

Anak muda itu telah divonis bersalah atas satu tindakan kejahatan. Ia juga sudah lama meninggalkan rumah. Tak dipedulikannya mimpi-mimpi keluarganya agar dirinya menjadi anak yang berguna. Ia ingin merasakan bebas, sebebas merpati yang terbang ke mana-mana. Kehidupan adalah petualangan dari kebahagiaan satu ke kebahagiaan lainnya. Persetan memikirkan masa depan. Yang ada adalah hari ini. Yang ada adalah kemerdekaan.

Ia lepas dari segala harapan keluarga dan dunia sosial. Bapaknya terlampau kolot dengan segala disiplinnya. Ibunya pun setali tiga uang. Mereka berdua terlampau cerewet menanyakan segala hal yang ingin dilakukannya. Tak henti-hentinya mereka menanyakan dari mana dan hendak ke mana. Lebih menjengkelkan lagi karena keduanya suka menjejalkan ajaran moral. Ah, bukankah moral hanya milik para penghotbah di masjid sana?

Anak muda itu lebih memilih jalan kebebasan bersama sejumlah anak muda berandalan di kotanya. Dia menemukan bahagia di luar rumah. Segala bentuk kenakalan telah dicobanya. Ia melarak semua aturan dan menjadi manusia sebebas-bebasnya. Ia menikmati masa muda di balik minuman keras dan berbagai kenakalan. Semakin gila, semakin bahagia. Di setiap malam ia tertawa-tawa bersama kawannya sembari menenggak minuman keras.

Hingga suatu hari, satu peristiwa besar terjadi. Ia terlibat dalam satu perkelahian massal yang menewaskan beberapa orang. Ia diciduk aparat dan terpaksa menerima nasib di balik jerji besi. Ia merasakan hari yang berubah Ia serupa burung merpati yang disekap dalam satu ruang besi. Ia tak lagi bebas ke mana-mana.

Kedua orang tuanya terus-menerus datang menemuinya. Mereka tak pernah kekurangan cinta untuk terus disiramkan kepadanya. Tapi ia terlanjur menganggap diri keluar dari rumah. Di setiap kedatangan orang tuanya, ia akan memakinya habis-habisan. Ia melolong dan menolak kedatangan mereka. Hingga akhirnya, sang bapak mulai lelah menemuinya. Sang bapak lalu berbisik. “Nak, pintu rumah selalu terbuka untukmu. Kalau suatu saat kamu ingin kembali, datanglah. Kalau kamu ragu, lihatlah di depan rumah. Jika ada sapu tangan putih melambai, berarti kami masih merindukanmu,” katanya.

***

SEPULUH tahun berlalu. Anak muda itu telah lama bebas dari jeruji besi. Ia tak ingin mendekati rumah. Ia malu dengan masa lalunya. Ia merasa kalau dirinya telah terbuang dari keluarga. Ia merasa menjadi aib yang hanya akan mempermalukan keluarganya. Ia pergi sejauh-jauhnya dari rumah. Ia berangkat ke kota lain, lalu memulai lembar kehidupan yang baru.

Bertahun-tahun di penjara membuatnya sadar bahwa kebahagiaannya dahulu serupa meneguk air laut. Semakin diteguk, maka rasa haus semakin menyengat. Ia akhirnya menyadari kalau ada sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar pemberontakan pada nilai. Ia menyesal dengan apa yang terjadi. Tapi ia merasa ia terlambat untuk kembali menjadi diri yang dahulu.

Suatu hari, ia menyaksikan seorang bapak berjalan bersama anaknya. Tiba-tiba saja, ada embun yang membasahi nuraninya. Ada kenangan yang berdesir dalam batinnya. Ia merasakan ada satu noktah yang hilang dalam dirinya. Satu lubang yang telah lama menganga dan kini terasa perih. Ia menginginkan kasih sayang yang dahulu pernah menyirami batinnya. Ia rindu keluarga.

“Apakah mereka akan menerimaku kembali?” Ia ragu dan bertanya dalam hati. Ia merasa sudah terlampau jauh meninggalkan rumah. Tapi ia terngiang kembali pesan ayahnya untuk datang dan melihat tanda-tanda berupa sapu tangan putih.

Ia kembali menelusuri kenangan lama itu. Ia datang ke kota yang ditinggali ayahnya dengan niatan untuk melihat kalau-kalau ada sapu tangan putih di situ. Andaikan tak ada sapu tangan putih, ia akan tetap bahagia. Minimal ia bisa melihat rumah yang dahulu menyirami hidupnya dengan cinta.

Saat hendak menuju rumah, langkah kakinya sempat terhenti. Ia kembali mengenang dirinya sebagai pendosa yang setiap saat mengeluarkan makian kepada ayah ibunya. Ah, dia tak ingin kembali ke rumah yang pernah diabaikannya. Hanya saja, ada kesadaran kuat yang menuntun langkahnya untuk tetap datang sembari berharap ada sapu tangan putih yang melambai di depan rumah. Ia ingin tahu apakah dirinya masih diterima di rumah itu ataukah tidak. Jika tak ada sapu tangan putih, ia akan menjauh dari rumah. Itu akan semakin menguatkan kesan kalau dirinya adalah noda dan aib bagi keluarga itu.

Seratus meter dari rumah, ia tercekat. Ia seakan tak percaya pada apa yang dilihatnya. Dari kejauhan, ia melihat bagian depan rumahnya tertutup beribu sapu tangan putih. Bahkan di atap rumahnya, ia menyaksikan kain-kain putih seukuran seprei bergelantungan. Dari jarak beratus meter, kain putih itu jelas terlihat. Di pohon-pohon yang ada depan rumahnya, sapu tangan putih bergelantungan di mana-mana. Bahkan di setiap tanaman, ia melihat sapu tangan putih berjuntaian.

Ribuan sapu tangan putih itu seakan memanggil dirinya agar kembali ke rumah. Banyak di antara sapu tangan itu yang nampak lusuh, namun pesannya masih kuat menancap ke dalam dirinya. Dia berharap hanya setetes, tapi yang disaksikannya ini adalah samudera kasih sayang yang tak pernah kering untuknya. Ia merasakan cinta yang terus bergelora, tanpa pernah mengering.Ia merasakan kasih tanpa mengharap apapun, sesuatu yang pernah diabaikannya.

Kali ini ia kehilangan kata. Bulir-bulir air mata mulai turun dan membasahi pipinya.



Bogor, 20 Juni 2016

terinsprasi pada satu adegan dalam film Finding Dory


BACA JUGA:






Seharian Mengamati Presiden Jokowi


salah seorang warga yang menunggu Jokowi

PEKAN silam, saya berkunjung ke Denpasar, Bali, demi satu pekerjaan yakni melakukan observasi di satu pembangkit listrik. Tak disangka, Presiden Joko Widodo juga datang mengunjungi pembangkit yang sama. Selama beberapa jam, saya mencatat dari dekat semua yang dilakukan Jokowi.

Di hari yang sama, saya menyaksikan pembukaan Festival Kesenian Bali di Renon, Denpasar. Kembali, saya menyaksikan Jokowi yang ikut pawai bersama para penari dan pekerja kesenian di Bali. Dua kesempatan dalam sehari terbilang singkat untuk mengamati bagaimana keprotokoleran istana, serta bahasa tubuh presiden di hadapan rakyat. Tapi setidaknya ada makna yang bisa dipetik.

***

TEPAT pukul 09.00 pagi, Nengah tiba di kantor pembangkit listrik Pesanggaran, Bali. Ia datang bersama suami dan seorang anaknya. Hari itu, Nengah mengenakan kebaya khas Bali, serta memakai kain bermotif khas. Suaminya pun demikian. Ia tersenyum saat memasuki pelataran kantor itu, lalu menuju ke ruang utama. Di situ, banyak orang telah hadir dan menduduki kursi-kursi yang disediakan. Nengah bahagia karena dirinya akan bertemu dengan Presiden Joko Widodo, yang kerap dipanggil Jokowi.

Saya bertemu Nengah di acara yang juga akan menghadirkan beberapa menteri Kabinet Kerja. Acara itu juga dihadiri Gubernur Bali, petinggi Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Bali, pemuka adat, masyarakat biasa, hingga mahasiswa. Saya turut senang melihat ekspresi Nengah yang sangat bahagia karena sebentar lagi akan bertemu Presiden Jokowi.

Hari itu, Sabtu, 11 Juni 2016, Presiden Joko Widodo (kerap disapa Jokowi) direncanakan  datang untuk meninjau operasional Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Gas (PLTDG) berkapasitas 200 Megawatt (MW) di Pesanggaran. Jokowi ingin memastikan daya dukung listrik Bali dengan memantau langsung PLTDG berbahan bakar gas dari mini LNG yang diresmikan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika beberapa waktu lalu.

Saya datang bersama rombongan satu perusahaan asing yang mengerjakan proyek pembangkit itu. Presiden Jokowi akan datang pada pukul 13.00 Wita. Tapi segala persiapan sudah dimulai sejak pukul 08.00 Wita. Saat menuju lokasi acara, saya sudah menyaksikan dua truk yang menurunkan puluhan tentara berseragam hijau di sekitar acara. Saya juga menyaksikan polisi berseliweran di sekitar lokasi.

Tak sembarang orang bisa hadir di acara ini. Semua yang hadir wajib menunjukkan undangan kepada panitia. Setelah itu, semua orang mesti melewati pintu metal detector yang dijaga polisi. Kemudian, semua undangan duduk di kursi yang disediakan oleh panitia acara.




Semuanya mengenakan batik. Beberapa di antaranya mengenakan tanda pengenal yang dipasang di dada, yang menampilkan emblem garuda. Beberapa lelaki berbadan tegap juga hilir mudik di lokasi acara. Saya melihat mereka memakai alat komunikasi serupa kabel telepon rumah yang melingkar di telinganya. “Mereka pasukan pengamanan presiden” kata seorang kawan.

Saya lalu duduk di kursi bagian belakang. Di depan saya, terdapat banyak mahasiswa dari berbagai kampus di Denpasar. Di sebelah tengah, sebelah tengah terdapat para pemuka adat yang kesemuanya berbaju putih dan memakai udeng khas Bali. Di depannya, sejumlah warga biasa baik lelaki maupun perempuan duduk menyaksikan aara itu. Kursi paling depan dibiarkan kosong. Mungkin diniatkan sebagai tempat duduk rombongan yang akan datang.

Kesan saya, komposisi mereka yang duduk di belakang presiden telah ditentukan sebelumnya. Tak hanya para pejabat PLN ataupun perusahaan di bawah PLN, tetapi disiapkan tempat yang luas bagi warga biasa. Mereka dianggap sebagai elemen penting audience yang akan disapa oleh presiden.

Saya tak mengerti apakah ini yang disebut pencitraan ataukah bukan. Akan tetapi kehadiran warga biasa sebagai audience utama adalah sesuatu yang berbeda. Beberapa tahun silam, saya punya pengalaman melihat Presiden SBY saat mengunjungi kawasan yang terkena dampak tsunami Pangandaran di Cilacap, Jawa Tengah. Masyarakat biasa duduk di satu tenda yang agak jauh dari tenda utama yang diisi para politisi dan pejabat daerah.

Di sebelah saya, duduk seorang bapak yang juga mengenakan tanda pengenal garuda. Saya lalu berbicang dengannya. Ternyata ia bekerja di Istana Tampaksiring, Bali. Istana ini adalah salah satu istana presiden, sebagaimana Istana Bogor dan Istana Cipanas. Kata bapak itu, sejak dilantik sebagai presiden, Jokowi belum pernah datang ke Istana Tampaksiring. Padahal di masa presiden sebelumnya, istana itu menerima presiden hingga lebih tujuh kali dalam setahun. “Pemandangan di Tampaksiring jauh lebih indah dari istana manapun,” katanya sedikit berpromosi.

Saya lalu mengamai Nengah dari kejauhan. Mereka sedang di-briefing oleh petugas sekretariat Istana Negara. Ternyata, ada sejumlah perwakilan warga yang dipilih untuk menerima hadiah sembako dari presiden. Mereka yang dipilih terlihat sangat gembira. Ya iyalah, siapa sih yang gak senang bertemu dengan presiden?

***

TEPAT pukul 13.00 siang, semua petugas langsung bergegas. Saya yakin kalau Presiden Jokowi akan segera datang sebab semua anggota paspampres langsung mengambil posisi di jalan-jalan yang akan dilalui presiden. Tapi tak terlihat penjagaan yang demikian ketat.

Presiden datang dan menyalami semua orang yang berdiri di sekitar acara. Ia diikuti Menteri BUMN Rini Soemarmo, Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri ESDM Sudirman Said, dan juga Gubernur Bali I Made Mangku Pastika. Di belakang mereka, menyusul pihak paspampres, pihak sekretariat negara, serta rombongan jurnalis yang sedikit berlarian untuk mencari posisi yang pas lalu mengeluarkan kamera. Jokowi dan rombongan duduk di jejeran kursi paling depan.

Acara selanjutnya agak membosankan buat saya. Dimulai dari pemutaran film tentang kelistrikan di Bali dan presentasi dari Direktur PLN. Saya tak terlalu familiar dengan istilah-istilah teknis mengenai listrik dan pembangkit. Acara berikutnya adalah penyerahan sembako langsung dari tangan presiden.

Nengah dan rekan-rekannya diminta berdiri di depan. Presiden lalu datang menyalami satu per satu sambil menyerahkan sembako. Tak hanya itu, Presiden bersedia untuk ber-selfie dengan mereka. Tak bisa dibendung, warga biasa lain juga merangsak ke depan. Mereka berjabat tangan lalu berpose dengan presiden.




Anggota paspampres cukup sigap. Mereka maju ke depan lalu membentengi presiden yang diarahkan ke bahagian lain di ruangan itu. Presiden lalu memperhatikan maket pembangkit listrik itu ditemani Menteri Rini, Menteri Sudirman Said, Menteri Pramono Anung, dan Gubernur Bali. Seorang ibu dari PLN lalu menjelaskan tentang maket itu.

“Pembangkit ini dibangun oleh konsorsium yang dipimpin PT Wartsila Indonesia bekerjasama dengan salah satu BUMN yakni PT Pembangunan Perumahan,” katanya.
“Alat-alatnya dari mana?” tanya Jokowi.
“Semuanya dibuat oleh Wartsila,” kata perempuan itu.
“Kalau gasnya didatangkan dari mana?” tanya Jokowi lagi.
“Gas didatangkan oleh Pertamina. Gas itu diambil dari Bontang, Kalimantan Timur,” jawabnya.

Jokowi lalu manggut-manggut. Setelah itu ia lalu berpindah tempat. Ia diarahkan ke ruang operator. Sebelumnya, ia memakai helm putih, sebagaimana yang dikenakan oleh teknisi lapangan. Di ruangan operator, ia kembali mendapat penjelasan tentang pembangkit listrik itu. Ia tertarik mendengar penjelasan tentang mata rantai energi gas, mulai dari sumur gas di Bontang, Kalimantan Timur, yang dibawa ke Bali. Sebelum meninggalkan ruangan, ia sempat bertanya, perusahaan apa yang menyiapkan teknologi pembangkit ini? Ibu yang menjadi juru bicara PLN menjawab singkat, “Wartsila.”

***

KELUAR dari ruang operator, tanpa diduga Presiden Jokowi tidak mengikuti paspamres di depannya. Ia langsung mendatangi warga biasa yang berkerumun di tenda lain. Semuanya histeris dan bergegas datang untuk berjabat tangan lalu berfoto. Saya melihat antusiasme yang tinggi dari semua orang. Nampaknya, kehadiran presiden menjadi oase bagi mereka untuk bertemu langsung dengan pemimpinnya. Presiden Jokowi cukup lama menyediakan waktunya untuk menyalami semua orang. Ia juga beberapa kali melambai ke warga yang berada di kejauhan.

Di saat presiden telah meninggalkan acara, beberapa orang masih saja tersenyum lalu bercerita pengalamannya. Dalam bayangan saya, momen itu memang singkat namun cukup mengobati kerinduan masyarakat untuk bertemu presidennya. Akan tetapi, kehadiran itu sendiri tak membawa makna apa-apa, selain dari rasa gembira dan girang karena disapa sosok yang sering disaksikannya di televisi.

Jika ingin membuat momen itu lebih bermakna, akan lebih baik jika presiden meluangkan waktu untuk berdialog, menanyakan apa saja yang dirasakan masyarakat sekitar pembangkit, lalu memberikan beberapa masukan atau instruksi kepada aparat pemerintah di bawahnya. Jika itu dilakukan, momen kehadirannya bisa lebih membawa makna yang sifatnya jangka panjang kepada masyarakat luas. Mungkin hal seperti ini kerap dilakukan presiden. Tapi yang saya lihat di Bali hanya sebatas apa yang tercatat di atas.

Satu hal yang tak saya temukan adalah tim kreatif atau tim komunikasi istana kepresidenan. Saya rajin memantau facebook sang presiden. Di situ saya melihat foto-foto lengkap tentang kegiatan serta kesan-kesannya saat mengunjungi satu lokasi. Saya agak penasaran karena presiden tidak mengungkapkan apapun di acara itu, akan tetapi di facebook tiba-tiba saja ada keterangan presiden mengenai acara itu.

Sebagai orang yang mendalami kajian komunikasi, bisa saya simpulkan kalau tim-tim komunikasi presiden bekerja profesional sebagai tim juru bicara, yang menyampaikan hal-hal baik tentang apa yang dilakukan presiden ke hadapan publik dengan tujuan agar publik tahu apa yang dilakukan presidennya. Tim kerja itu menjadi tim komunikasi politik yang tak hanya mengumpulkan informasi tentang satu lokasi, memberikan release tentang kedatangan presiden, tapi juga memberikan laporan kepada publik melalui postingan yang dilsalurkan ke berbagai kanal media sosial.

***

DI sore hari, saya diajak menyaksikan pembukaan Festival Kesenian Bali. Saya menyaksikan atraksi budaya yang sungguh memukau. Bali tak pernah kehabisan para penari, penampil, pemusik yang menjaga marwah kebudayaan Bali. Silih berganti para penari tampil di jalan raya itu membentuk barisan panjang serupa karnaval. Kamera saya menangkap banyak momen indah yang sayang untuk dilewatkan.

Selain para penari, mobil-mobil hias juga berseliweran. Di mobil itu, terdapat penari, pemain musik, hingga atraksi seni yang memukau. Mobil-mobil itu dihiasi dengan bunga-bunga, ornamen, dan juga hiasan-hiasan yang memanjakan mata.





Jelang barisan terakhir, saya melihat ada satu mobil yang ramai dikerubungi semua orang. Rasa-rasanya semua penonton di pinggir jalan langsung berusaha ke depan, mengelilingi mobil itu sambil memanggil-manggil nama Jokowi. Mereka serupa penonton konser musik yang megelu-elukan idolanya. Saya kembali melihat paspampres yang seakan-akan “membersihkan” jalanan. 

Di atas mobil itu, saya melihat Presiden Jokowi, Ibu Iriana, Menteri Anies Baswedan dan Gubernur Bali I Made Mangku Pastika. Posisinya adalah di belakang tembok tinggi di atas mobil. Tujuan tembok itu adalah melindungi mereka dari ancanaman pihak luar. Semuanya mengenakan pakaian adat Bali. Presiden masih dengan gayanya yang senyum-senyum cengengesan. Beberapa kali ia melemparkan kaos dari mobil itu.

Model komunikasi publik seperti ini memang mendekatkan dirinya dengan rakyat. Namun ke depannya harus dikelola dengan lebih profesional. Kehadiran seorang presiden tak harus mendatangkan histeria serupa konser musik, melainkan harus membawa makna pada banyak orang melalui sejumlah regulasi dan tindakan yang memihak pada kepentingan orang banyak. Kehadiran presiden adalah representasi kehadiran negara di tengah rakyatnya. Akan lebih bermakna jika presiden menghadiri satu momen krusial yang melibatkan gesekan antara masyarakat sipil dan aparat negara. Akan lebih bijak jika ia mendatangi reklamasi Benoa, yang menjadi monumen perlawanan bagi para aktivis di Bali. Jika ia melakukannya, kehadiran itu akan bermakna penting bagi rakyat sipil daripada menghadiri rangkaian acara simbolis yang hanya membawa bahagia sesaat bagi rakyat.

mobil hias yang dikendarai Jokowi dan rombongan

Saya masih berada di tengah aliran histeria massa. Saya teringat kalimat seorang bule yang menjadi sahabat di Bali. Katanya, di tengah kerumuman massa, saya harus menjagai dompet dan barang berharga. Di sebelah sana, saya melihat matahari telah senja. Itu juga pertanda kalau saat buka puasa sudah dekat.

Saatnya saya menepi dan mencari tempat lapang untuk berbuka puasa.



Denpasar, 11 Juni 2016

BACA JUGA:






Penjemput di Bandara Ngurah Rai



DI Bandara Ngurah Rai di Bali, Putu (45) menjemput kedatangan saya. Ia membawa kertas bertuliskan nama saya. Dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, ia mengucapkan selamat datang. Ia akan mengantar saya ke hotel yang akan saya tempati. Ia tidak menyebut hendak ke mana. Saya pun tak bertanya. Sebagai traveler (pejalan), saya terbiasa bermalam di manapun. Jangankan hotel, emperan toko dan teras rumah orang pun pernah menjadi tempat bermalam.

Ternyata, dia membawa saya ke satu apartemen mewah di Sanur, Bali. Saya serasa memasuki rumah luas, dengan ruang tamu, dapur, serta ruang yang sangat nyaman. Tak hanya itu, terdapat dua kamar luas dengan empat tidur yang nyaman dan penuh fasilitas. Di belakang kamar, saya menyaksikan para bule sedang mandi di kolam renang. Tiba-tiba ingin mandi, namun saya ingat bahwa sekarang waktunya berbuka puasa.

Yah, demikianlah hidup sebagai pekerja panggilan. Kadang, saya hanya menerima pesan berupa tiket yang meminta bergeser ke satu tempat, demi satu misi tertentu. Kadang, tempat itu terlalu hebat untuk saya yang dekil, yang hanya datang seorang diri. Bahkan untuk makan malam di sini, uang di dompet saya tak mencukupi. Untuk makan di luar, saya mesti berjalan kaki sejauh tiga kilometer.

Dalam keadaan bingung, sebuah pesan masuk ke HP saya. Putu mengirimkan pesan: "Tugas saya adalah mengantar bapak ke manapun. Cukup kirim pesan, saya akan datang menjemput."



Denpasar, Awal Juni 2016

Bule Belanda yang Mengindonesia


TERLAMPAU banyak kbetulan dalam hidup. Saat menunggu digelarnya Festival Kesenian Bali (FKB) di Denpasar, saya singgah berteduh di satu pos polisi. Di situ, ada seorang bule yang mengajak seorang fotografer untuk berbicara. Tapi fotografer itu terlihat enggan meladeni. Bule itu berbicara tentang satu hal yang substansial yakni bagaimana musik bisa membantu pengembangan karakter kaum marginal.

Saya suka topiknya. Kebetulan, saya lagi ingin melemaskan otot-otot bahasa Inggris yang lama tak digunakan. Kami lalu berdiskusi banyak hal. Saya kisahkan tentang korban kekerasan yang menyembuhkan traumanya lewat musik. Matanya berbinar. Dia bercerita tentang musik sebagai dunianya serta obsesinya untuk membimbing semua musisi muda di Bali.

Namanya Raoul Wijffels. Dia berprofesi sebagai dosen di University of Rotterdam. Pada mulanya dia datang sebagai turis, selanjutnya dia betah lalu memutuskan tinggal di pulau dewata itu. Dia mendirikan organisasi One Dollar for Music (ODFM) lalu menjadikan musik sebagai medium berekspresi. Ia mengagumi Ki Hajar Dewantara, dan menjadikan filosofi Ki Hajar sebagai landasan geraknya. Dia menginginkan musik sebagai bagian dari pendidikan, penemuan karakter, dan pengembangan kaum muda.

Melalui organsasi nirlaba itu, ia membimbing 1.200 musisi muda di Bali, 150 murid di Lombok, serta puluhan anak jalanan. Ia menggelar event dan berbagai festival, merilis CD komposer muda, membuat film dokumenter. Bagi saya, manusia seperti dirinya sangat langka. Dia keluar dari batasan geografis, ras, dan keyakinan demi membumikan ide-idenya, demi sesuatu yang dianggapnya baik.

Seusai bertemu dengannya, saya lalu men-search kiprahnya. Ternyata ia pernah diundang sebagai narasumber di acara KickAndy sebagai bule yang sangat Indonesia. Namanya disejajarkan dengan Janet de Neefe yang menyelenggarakan Ubud Writers Festival. Dia adalah satu dari sejumlah orang yang mencintai Bali dengan caranya sendiri, memopulerkan tanah itu ke mancanegara, lalu bergerak mewujudkan idenya di tanah yang bukan tanah moyangnya. Kecintaannya melebihi mereka yang mengaku lahir di satu wilayah, tapi tak melakukan apapun di wilayah itu.

Dia pun mengajak saya untuk sama-sama bermain musik di satu bar. Saya tidak lantas mengiyakan. Saya ragu, apakah jemari saya masih cukup lincah bermain gitar akustik, setelah sekian lama tak lagi memainkannya.

Uniknya, saya bertemu dengannya di pos polisi, saat singgah berteduh. Pelajaran berharga dari kisah ini adalah di saat anda membutuhkan inspirasi, singgahlah berteduh ke pos polisi. Boleh jadi, ada orang hebat yang sedang berteduh di situ. hihihi.



Denpasar, awal Juni 2016

BACA JUGA:


Terpopuler Minggu Ini

Menulis, Meditasi, Kejernihan

...
...