DIGITAL STORYTELLING untuk Menang Pemilu Legislatif




Dulu seorang politisi butuh biaya besar untuk sekadar turun ke konstituen dan menyapa semua orang. Kini, politisi cukup bermain di dunia digital demi menyentuh hati banyak orang. Namun, tak semua tahu apa yang harus dilakukan di dunia itu.

Tak semua paham bahwa sekadar memosting foto atau status bijak tak cukup. Bahkan rajin sebar link di WhatsApp dan Facebook juga tak cukup. Selalu sebar foto wajah tampan atau cantik serta nomor urut, tidak menjamin orang akan memilih. Bahkan menguasai big data, algoritma medsos dan semua profil pengguna juga tak cukup.

Lantas, apa dong?

***

Tahun 2016, publik Amerika Serikat heboh. Semua lembaga survei yang terlanjur memprediksi kemenangan Hillary Clinton kemudian gigit jari. Tak diduga, Donald Trump memenangkan pemilihan itu. Dia yang dianggap rasis dan kalimatnya menyengat banyak orang itu malah terpilih sebagai pemimpin negara adidaya.

Beberapa waktu kemudian, beberapa lembaga kredibel memberikan bocoran tentang pola kerja konsultan politik Cambridge Analytica (CA) di belakang Trump. Dalam situs resminya, lembaga ini mengungkap bagaimana mereka membantu kemenangan Trump.

Salah satu strategi yang digunakan adalah bagaimana mengidentifikasi pemilih yang dapat dibujuk (persuadable voters) dan isu-isu yang para pemilih itu pedulikan. CA kemudian mengirimkan 'pesan-pesan' yang berdampak pada sikap mereka.

Ringkasnya, CA memiliki akses pada jutaan data semua pengguna medsos, setelah itu mulai melakukan riset untuk mengolah data lalu merancang pemasaran digital. Kerja mereka sangat efektif sehingga bisa mengubah pihak yang diprediksi kalah menjadi menang. Di mana letak kehebatan CA?

Dalam banyak kasus, orang-orang menuding kehebatannya pada tools atau perangkat teknologi yang digunakan. Namun, saya punya pendapat lain.

Memahami pengguna media sosial dan kebiasaan-kebiasaan mereka memang penting, namun yang juga sama pentingnya adalah bagaimana merancang satu konten yang bisa membuat orang-orang tergugah lalu memutuskan untuk memilih seseorang.

Kekuatan CA ada pada dua sisi yakni “mengenal dan membidik.” Pihak CA bisa mengenali profil semua pengguna medsos, kebiasaan, kesukaan, hingga isu-isu yang direspon. Setelah itu, CA bisa memproduksi konten yang serupa peluru bisa dipakai untuk membidik semua konsumen langsung ke jantung kesadarannya, sehingga berdampak pada tingkat kesukaan serta keterpilihan.

Memang cerita-cerita yang dibuat pihak CA sering dituding sebagai penuh hoaks, kebencian, dan permusuhan. Banyak yang menuding narasi itu dipenuhi kebohongan sehingga publik dijejali cerita horor yang membuat ketakutan, agar memilih seseorang.

Tetap saja kita harus anggap pembuat cerita itu hebat sebab bisa tahu jenis cerita macam apa yang bisa dipercaya orang lain sebagai kebenaran. Melalui perangkat teknologi, CA tahu bahwa ada sejumlah orang yang memelihara ketakutan sehingga perlu dipupuk dengan berbagai cerita. Pada satu titik bisa mempengaruhi orang lain untuk memilih kandidat tertentu.

Kita tak setuju dengan semua hoaks dan kebencian itu. Tapi, pelajaran besar dari CA adalah orang-orang bisa tergugah karena permainan kata. Bahwa konten yang dibuat dengan dosis tepat bisa mempengaruhi khalayak.

Pertanyaannya, bisakah kita menggunakan prinsip-prinsip dalam CA itu untuk sesuatu yang positif yakni memenangkan pemilu legislatif bagi caleg kita yang berada di satu wilayah? Bisakah kita menyederhanakan cara kerja CA untuk membuat seseorang disukai di media sosial?

***

Sejak dulu, dunia politik kita penuh dengan cerita-cerita. Kesan tentang seseorang dibentuk oleh cerita-cerita yang sampai pada kita. Jika kita berkeliling dan melihat baliho politisi, maka kita akan melihat bagaimana cerita hendak dibangun mengenai orang itu.

Kita melihat slogan, misalnya: merakyat, peduli, mengabdi, atau saleh. Semuanya adalah cerita yang hendak dibangun. Di era digital, cerita-cerita itu juga bisa dengan cepat dibangun dan disebarkan. Di era ini, tak perlu mengeluarkan biaya mahal, cukup menyempatkan waktu untuk berbagi kabar di media sosial, maka pesan bisa cepat menyebar ke mana-mana.

Sayangnya, banyak politisi cenderung menggunakan strategi pesan yang sama. Kalau bukan berbagi pesan bijak, link berisi dakwah, atau foto diri disertai nomor urut dan logo partai. Hal-hal seperti ini memang wajar, namun bisa tidak efektif. Sebab jika tidak dikemas dengan baik, kesan yang muncul adalah menggurui.

Apalagi jika seseorang hanya melakukan itu ketika dekat pemilu. Di media sosial, kita lebih sering melihat wajah tersenyum yang diiringi nomor urut dan kata-kata bijak. Sepertinya caleg kita kurang kreatif sehingga suka copy-paste apa yang dilakukan rekannya. Padahal harusnya buat pembedaan (diferensiasi).

Beberapa ahli komunikasi sudah memperingatkan bahwa pesan-pesan yang selalu disampaikan berulang memang berpotensi untuk disukai, tapi yang sering terjadi adalah munculnya rasa bosan dan muak. Demikian pula selalu mengulang-ulang pesan yang menampilkan wajah senyum. Ini juga bisa berujung pada rasa bosan.

Nasihat memang baik, tapi kalau terus-menerus dijejalkan ke telinga seseorang yang terjadi adalah penolakan. Apalagi jika pemberi nasihat itu diyakini sedang punya motif politik. Sama halnya dengan pernyataan bahwa senyum itu bagus, namun jika Anda bertemu seseorang yang tiba-tiba senyum, maka yakinlah orang itu adalah caleg.

Jika kata hendak dijadikan mantra yang bisa mengubah kesadaran orang, maka kata-kata harus masuk dengan strategi yang tepat. Salah satu strategi yang diterapkan dalam dunia pemasaran adalah menggunakan soft campaign. Gunakan kampanye yang tidak lantas menonjolkan diri secara berlebihan.

Nah, Anda mesti memahami teknik bercerita (storytelling) yang benar. Jika diamati, semua budaya dan peradaban selalu memiliki berbagai cerita-cerita yang kemudian memberikan makna bagi setiap generasi. 

Storytelling sama tuanya dengan keberadaan manusia. Sebab manusia selalu ingin bercerita dengan sesamanya, berbagi kisah dan kegembiraan, serta mewariskan banyak kearifan. Semua manusia pasti menyenangi bercerita dengan sesamanya.

Di semua budaya, manusia suka berkumpul lalu bercakap-cakap dan membagikan informasi. Pengetahuan tentang bercerita ini sudah lama diterapkan dalam bisnis. Salah satu brand yang konsisten membangun cerita adalah Coca-Cola.



Sejak awal, iklan Coca-Cola tidak pernah menggurui khalayak. Selalu dimulai dengan cerita, kemudian diakhiri dengan pesan kuat yang bisa tertinggal di benak orang-orang yang menyaksikannya.

Jika Anda seorang politisi yang hendak memasarkan diri ke hadapan orang lain di era digital, apa yang harus dilakukan?

Pertama, rumuskan lebih dahulu apa konsep yang merupakan keunggulan Anda. Kalau Anda merasa sebagai caleg mewakili anak muda, punya kapasitas, serta kepedulian, jadikanlah itu sebagai tagline. Jadikan sebagai narasi besar untuk kampanye di dunia digital.

Kedua, turunkan narasi besar itu dalam bentuk cerita-cerita sederhana yang menarik. Misalnya, ketika Anda merumuskan kekuatan Anda adalah peduli, maka buatlah berbagai cerita pendukung yang menunjukkan kepedulian.

Tak perlu cerita-cerita besar dengan berbagai teori dan bacaan canggih. Cukup tampilkan pengalaman Anda yang sederhana, misalnya bertemu sejumlah pencari kerja yang kesulitan mengakses informasi lapangan kerja. Berikan contoh pengalaman Anda ketika memulai karier atau wirausaha.

Jika Anda menampilkan diri sebagai sosok yang merakyat, berceritalah tentang pengalaman menjadi rakyat. Berikan optimisme bahwa di tengah rakyat itu ada kekuatan dan solidaritas yang jika dikelola bisa menjadi sesuatu yang hebat.

Ketiga, rumuskan strategi dalam membuat postingan. Beberapa postingan yang disukai adalah postingan yang sederhana, tidak menggurui, serta punya pesan penting.

Dalam buku Political Personal Branding: Strategi Jitu Menang Kampanye di Era Digital yang ditulis Silih Agung Wasesa, disebutkan, beberapa jenis postingan yang disukai orang adalah mengenai harapan, cinta, perjuangan hidup, rasa tertindas, anak-anak, kemenangan, dan banyak lagi.

Anda bisa memilih satu topik kemudian dikaitkan dengan pengalaman Anda, setelah itu selipkan pesan-pesan penting kepada netizen. Setiap hari, evaluasi semua postingan. Dalam waktu tertentu, Anda sudah bisa paham mana yang disukai publik dan mana yang tidak.

Keempat, kembangkan aset digital. Semua akun di media sosial bisa menjadi aset digital. Yang perlu dilakukan adalah kumpulkan pengikut sebanyak-banyaknya sehingga Anda punya sasaran yang bisa dipersuasi dengan postingan-postingan bermutu.

Agar mereka menjadi pengikut setia, cari tahu apa yang mereka sukai, kemudian buat postingan yang sesuai dengan hasil pengamatan Anda. Pahami dengan baik bahwa semua media sosial punya kekuatan dan arena bermain yang berbeda.

Twitter digunakan untuk hal-hal yang mesti cepat disampaikan. Instagram menekankan pada visualisasi yang menarik dipandang. Facebook untuk postingan yang agak panjang dan mendalam. Prinsip kerja media sosial adalah satu isu bisa dikembangkan untuk berbagai kanal. Yang berbeda adalah kemasan dan format penyajian.

Untuk Twitter, Anda mesti meringkas informasi itu lalu ditulis dalam kalimat pendek. Sementara Facebook bisa menjadi ruang untuk menulis lebih dalam sekaligus bisa memancing reaksi pembaca.

Kelima, gunakan strategi untuk memviralkan postingan. Sejauh yang saya amati, ada beberapa cara untuk memviralkan postingan. Yakni: menggunakan fasilitas Ads atau iklan yang disiapkan semua media sosial sehingga kita bisa menambah jangkauan postingan ke ribuan orang di wilayah yang dituju.

Cara lain adalah bekerja sama dengan para influencer atau para penggiat media sosial di berbagai wilayah. Anda bisa memetakan siapa pendukung Anda yang paling intens di media sosial dan punya banyak pengikut.

Kalau dirasa repot, minta semua relawan Anda untuk me-retweet atau meneruskan semua pesan-pesan yang disampaikan di akun pribadi. Dengan cara ini, jangkauan dari semua postingan bisa lebih luas sehingga banyak orang berpotensi melihat postingan itu.

Keenam, pertahankan interaksi dan dialog. Kekuatan media sosial adalah adanya interaksi dan saling jawab antar penggunanya. Ini yang tidak dimiliki oleh media-media arus utama. Media sosial memungkinkan kita untuk saling diskusi dan tukar pikiran. Hanya saja, diskusi ini harus dijaga agar selalu menyehatkan.

Anda mesti pandai-pandai memilah kapan mesti menanggapi dan kapan mesti diam. Sebab tidak semua orang di meida sosial berniat untuk diskusi. Banyak di antaranya yang malah ingin debat kusir dan memanas-manasi sesuatu. Di sini, dibutuhkan sat kearifan dan kejernihan untuk tidak larut dalam perdebatan tak berujung.

***

Digital Storytelling hanyalah cara untuk memasarkan diri di media sosial. Penggunaan berbagai software dan tools hanya sebagai alat saja. Yang terpenting adalah bagaimana membangun konten yang positif dan strategi menjaga interaksi sehingga penggemar Anda terus bertumbuh.

Kalau dikerjakan dengan konsisten, maka bisa menjadi kekuatan dahsyat yang ada di tangan seseorang. Buktinya, media sosial bisa membuat revolusi merebak di banyak negara, bisa membuat rejim tumbang, dan bisa membuat perubahan besar.

Kita tak perlu muluk. Cukup bisa meloloskan seseorang ke parlemen. Itu saja cukup. Iya kan?


Kiat Menang (2)




Empat tahun lalu, saya melihat pengumuman tentang lomba menulis XL Awards, yang diadakan operator seluler XL. Saya tergoda dengan hadiah juara pertama yakni sebesar 20 juta rupiah. Saya pikir ini lomba menulis artikel pendek yang hadiahnya paling besar.

Dikarenakan saat itu ekonomi keluarga sedang morat-marit, saya memutuskan ikut. Saya ingin juara. Saya kirim artikel sepanjang dua halaman setengah setelah sebelumnya saya perkuat. Seingat saya, jumlah pesertanya ratusan orang. 

Setelah sebulan berlalu, seseorang dari XL menghubungi saya. Ternyata saya menang. Nama saya ada di banyak media nasional (klik link DI SINI). Saya tersanjung. 

Seseorang bertanya, apakah rahasianya? Ada kiat menang lomba yang bisa dibagikan? Saya pikir tak ada salahnya berbagi. Biar makin banyak orang yang menang lomba. Hehehe.

Ilmu pertama yang diterapkan ketika ikut lomba adalah kenali siapa yang mengadakan lomba. Jangan mentang-mentang tertulis lomba menulis artikel, maka Anda akan sembarang kirim artikel. Jika lomba itu diadakan operator seluler, usahakan cari ide yang sedikit nyambung dengan mereka. 

Beberapa lomba menulis sengaja dibuat untuk memuji-muji sponsor. Kalau Anda bisa menemukan artikel yang nyambung sama sponsor. Ada unsur memuji, atau minimal menyenangkan sponsor, maka Anda punya peluang juara.

Lantas, apa tulisan itu harus selalu memuji? Gak juga. Ibarat makan obat, maka Anda harus punya dosis yang tepat. Memujinya juga harus proporsional dan punya alasan kuat. Mesti ada argumentasi logis mengapa pujian atau apresiasi itu muncul.

Nah, tempo hari saya membagikan kiat tentang perlunya memiliki satu ide yang unik dan menarik. Ternyata, ide saja tidak cukup. Sebab ide ibarat tunas gagasan yang harus dipupuk dan dirawat sehingga kelak menjadi tumbuhan yang kokoh.

Saat itu, saya menemukan ide tentang seorang anak muda yang memilih pulang kampung dan menjadi nelayan. Dia tak ingin jadi nelayan biasa. Dia lalu men-download aplikasi fishfinder yang membantunya untuk mengenali di mana posisi plankton. Dia tinggal datang dnegan perahu, menebar jaring, terus kembali dengan timbunan ikan. Dia menginspirasi nelayan lain.

Ide ini saya dapatkan ketika bermain domino dengan beberapa sahabat fasilitator di Kementerian Kelautan. Tapi, saat itu saya tidak langsung menulis. Kalau hanya menulis nelayan muda maka tidak menarik. Saya ingin perkaya ide itu dengan melihat banyak hal menarik di sekitarnya.

Saya lalu mencari artikel jurnal, termasuk laporan riset mengenai para nelayan di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Selama beberapa hari, saya merenung untuk kembangkan ide. Setelah proses membaca dirasa cukup, maka saatnya menulis. 

Saya terinspirasi pada antropolog Clifford Geertz yang membahas emik dan etik dalam penelitian. Emik adalah kenyataan sebagaimana dipahami masyarakat lokal. Sedangkan etik adalah kenyataan sebagaimana dipahami peneliti.

Kata seorang guru, emik itu adalah pengalaman dekat. Sedangkan etik adalah pengalaman jauh. Seorang peneliti yang sedang menulis laporan harus pandai2 mengombinasikan dua pengalaman ini. 

Ada saat di mana dia menggambarkan sesuatu dengan detail sebab dirinya hadir di situ. Namun ada saat di mana dia melihatnya dari kejauhan, membandingkannya dengan kenyataan di tempat lain. Bisa juga membandingkannya melalui literatur.

Dalam konteks menulis, saya lebih suka menyebutnya zoom in dan zoom out. Ketika Anda hendak memotret, ada saat di mana Anda menggunakan zoom in, sehingga obyek foto jadi lebih dekat. Tapi ada saat di mana Anda bisa menggunakan zoom out sehingga bisa dilihat hal-hal di sekitar obyek foto. 

Menulis dengan pendekatan zoom in dan zoom out ini bisa membantu kita agar tidak hanya memahami satu kenyataan, tapi bisa mendialogkannya dengan banyak hal yang ada di situ, maupun di tempat lain. Dengan cara demikian, kita bisa lakukan refleksi mendalam sehingga tulisan bisa menjadi lebih kaya dan bergizi.

Apakah sulit? Tidak. Gampang kok. Menulis itu ibarat berenang. Anda tak akan pernah pandai kalau hanya mempelajari semua teori renang. Anda harus berani lompat ke kolam lalu menggerakkan tangan dan kaki. 

Tapi, kalau tetap tenggelam, jangan salahkan saya yaa...

BACA: Kisah Ajaib Mantan Pembom Ikan

Kiat Menang (1)




Ada orang yang menjadikan media sosial sebagai arena untuk menyebar benci dan dengki. Ada juga yang menjadikannya sebagai ladang untuk menceramahi orang lain. Tapi ada juga yang menjadikannya sebagai arena untuk cari uang. Nah, saya salah satunya. 

Untuk itu, saya ingin berbagi cerita.

Pada pilpres empat tahun lalu, saya melihat ada pengumuman lomba menulis yang diadakan Seknas Jokowi. Jurinya adalah para sastrawan nasional yakni Seno Gumira Adjidarma, Linda Christanty, dan AS Laksana.

Namun, saya tergiur melihat hadiahnya yakni 10 juta rupiah (pemenang pertama), 7,5 juta rupiah (pemenang kedua), dan 5 juta rupiah (pemenang ketiga). Saya membayangkan, kalau bisa menyabet juara tiga, maka bisa dipakai traktir nonton, makan2, dan sisanya untuk beli buku2. Bisa juga untuk ajak kencan kenalan baru. 

Saya pun memutuskan untuk ikut. 

Pengalaman saya, yang beberapa kali menang lomba menulis, ada beberapa pantangan jika ingin menang lomba. 

Pertama, jangan pernah menulis apa-apa yang dibahas televisi dan semua media Jakarta. Tema itu biasanya sudah basi dan umum. Kedua, jangan gunakan bahasa yang rumit-rumit sebab juri hanya membaca paragraf awal. Ketiga, topiknya jangan terlalu serius dan mengawang-awang sebab ini bukan skripsi. Keempat, jangan juga terlalu mendayu-dayu. Kelima, jangan bahas tentang orang-orang hebat di tivi.

Saya juga punya beberapa kiat menang lomba menulis. Pertama, cari topik yang tidak biasa. Kedua, sebaiknya angkat cerita-cerita kampung sebab tidak banyak yang tahu. Ketiga, gunakan gaya bertutur seperti laporan pandangan mata. Keempat, bikin tulisan yang serupa dialog dengan kenyataan yang dilihat. Kelima, temukan makna atau pembelajaran di situ. 

Nah, kebetulan, saat itu saya sedang berada di Lombok untuk mengawal satu program yang diadakan salah satu NGO bidang kelautan. Saya pikir tema tentang anak muda yang memilih bekerja di pulau kecil akan menarik untuk ditulis. Makin seru pula ketika anak muda itu memilih mendukung capres dan secara mandiri menyebar virus positif di sekelilingnya.

Setelah tulisan itu dikirim, ternyata malah terpilih sebagai juara kedua. Saya ingat juara tiganya adalah mas Fandy Hutari, sejarawan muda yang bukunya selalu keren.

Saya sengaja berbagi pengalaman ini karena saya mulai melihat banyak informasi lomba menulis. Malah, saya melihat ada yang hadiahnya kamera mirrorless yang harganya di atas 10 juta rupiah. Tiba-tiba saja, jemari saya langsung gatal pengen ikut lomba.

Nah, daripada sibuk debat kusir dan saling serang di medsos, mending energi itu dipakai untuk memperbanyak peluang menang lomba. Sebab kata seorang kawan, makin banyak ikut lomba, makin besar peluang menang, makin cerah masa depan. Hehehe.

Apa yang Kau Cari BTP?




Seorang kawan yang mukim di luar negeri terheran-heran melihat Twitter selama dua hari terakhir. Percakapan didominasi oleh berita mengenai bebasnya Basuki Tjahaja Purnama (BTP), yang dahulu dipanggil Ahok.

Kawan itu bertanya-tanya, mengapa bebasnya seseorang dari penjara justru disambut dengan begitu meriah oleh para netizen dan rakyat Indonesia? Apa yang diharapkan dari BTP sehingga bebasnya dirinya sontak dibicarakan bagi banyak orang?

Media asing juga ikut meramaikan peristiwa bebasnya BTP. Media Australia, Sydney Morning Herald, menulis bahwa bebasnya BTP adalah "pengingat" akan undang-undang penistaan agama yang sudah "digunakan sebagai senjata" di Indonesia.

Sementara itu, South China Morning Post menulis bahwa BTP, "Keluar dari Penjara...Ke Pelukan Pengawal Mantan Istrinya". New York Times menyebut bahwa setelah bebas dari penjara, dia akan, "berdoa di kuburan ayahnya dan melakukan perjalanan ke luar negeri untuk menghindari keramaian politik Indonesia".

Pianis dan komposer Ananda Sukarlan ciptakan komposisi “No more moonlight over Jakarta.” Beberapa artis seperti Cinta Laura memasang foto bersama BTP. Bahkan ekonom dan mantan menteri di era SBY, Chatib Basri, memasang foto sedang bersama BTP. Selain mereka, ada banyak orang yang memajang foto saat bersama BTP.

Melihat reaksi netizen dan masyarakat Indonesia, serta pemberitaan media, bisa dilihat kalau BTP masih menempati ruang khusus di hati masyarakat. Bahwa kasus penistaan agama yang disematkan padanya tidak lantas memupus kecintaan masyarakat kepadanya.

Dia tetap dikenang sebagai sosok yang punya jejak. Dengan segala kontroversi yang melekat padanya, BTP masih diingat publik sebagai sosok ksatria yang berani menghadapi semua masalah yang menderanya. Dia tak berniat untuk lari dari masalah.

Justru semua tuduhan dihadapinya di pengadilan hingga akhirnya menjalani masa tahanan. Dia adalah kepala daerah yang kerja-kerjanya diakui, tapi kemudian dihantam dengan berbagai isu agar dirinya tidak terpilih.

Hebatnya, di tengah hantaman demo berjilid-jilid serta seruan jihad banyak orang, dia tetap tegar dan menghadapi semuanya.

Saya teringat buku Winnetou Ketua Suku Apache yang ditulis Karl May. Dalam buku itu disebutkan bahwa orang Indian selalu menghargai semua keberanian, meskipun itu datang dari pihak musuh. Mereka akan memberi apresiasi pada orang yang dianggap berani menghadapi semua kenyataan apa pun.

Itu yang terasa ketika melihat BTP. Anggaplah dia bersalah. Tapi dia telah melakukan semua prasyarat yang untuk menebus semua kesalahan itu. Dia telah meminta maaf secara terbuka, menerima fakta kekalahan di pilkada, juga telah menjalani semua hukuman.

Memang, hukuman itu tidak lantas menghilangkan ketidaksukaan sejumlah orang kepadanya. Tapi setidaknya publik tahu bahwa orang ini bukan tipe yang lari dari masalah. Dia hadapi semua perdebatan dan juga semua proses di pengadilan, tanpa harus meminta ribuan orang berdemo untuk dirinya.

Dia tidak seperti tersangka ujaran kebencian yang berharap agar salah satu capres menang biar dirinya bisa bebas. Dia juga tidak seperti sosok yang memukul anak kecil dan selalu membawa massa saat hendak diperiksa polisi.

Seorang teman bercerita, jika BTP mau bekerja di perusahaan skala nasional dan internasional, maka banyak yang akan memperebutkan dirinya. Dia bisa menjadi CEO handal yang mengorkestrasi perubahan.

Dia tipe pemimpin yang tahu arah dan tujuan, serta tahu apa saja yang perlu dikerjakan untuk menggapai tujuan tersebut. Kalau pun dia menolak, maka banyak hal bisa dilakukannya. Dia bisa menggelar talkshow yang pasti akan ditonton jutaan orang.

Begitu dirinya mengumumkan akan membuka kanal Youtube, langsung dikuti ribuan orang. Dia tipe orang yang punya penggemar setia. Lihat saja film tentang dirinya pun laris manis dan ditonton lebih sejuta orang.

Dari sisi manajemen, BTP adalah simbol dari berbagai inovasi kebijakan publik di satu kota yang terbiasa dengan hal-hal yang mapan. Inovasinya masih diingat banyak orang, khususnya dalam hal pelayanan publik yang lebih responsif pada rakyat.

Banyak yang tak suka kebiasaannya menggusur, tapi warisannya dalam hal penataan sungai serta pengendalian banjir selalu dikenang publik. Dia tipe yang terbuka, sampai-sampai rapat para birokrat direkam dan diunggah di internet, satu hal yang kemudian menjerat dirinya.

Biarpun kebijakan ini ibarat senjata makan tuan, tetap saja dia mewariskan hal yang baik yakni publik tahu apa yang terjadi di balik bilik pemerintahan. Dari sisi politik, kartu BTP jelas belum habis. Banyak lembaga, khususnya elemen gerakan masyarakat sipil dan masyarakat internasional, yang menilai dirinya tidak bersalah.

Tuduhan penodaan agama ibarat karet yang bisa ditarik ulur. Sering digunakan sebagai pasal untuk menjerat seseorang yang tak disukai. Selepas keluar dari masa tahanan, BTP akan menemui banyak undangan dari berbagai lembaga internasional di luar negeri.

Dia seperti para aktivis di zaman Orde Baru yang ketika keluar dari tahanan langsung berangkat keluar negeri dan mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Dia akan menjadi wajah dari minoritas Indonesia yang berhasil naik menjadi pejabat publik, setelah itu kalah dalam kontestasi politik dengan tudingan berbagai isu.

Dia akan menjadi sketsa dari bagaimana dinamika hubungan antar politik dan religi di negeri mayoritas warganya beragama Muslim. Syukurlah, BTP tidak lantas hilang begitu saja. Penahanan tak akan menenggelamkan dirinya.

Namanya akan terus melambung dan dirindukan publik. Dia akan menjadi sosok yang inspiratif, yang kalimat-kalimatnya ditunggu untuk sesuatu yang lebih baik.

Pada BTP, kita menitip harapan agar selalu menjadi mata dan telinga untuk Indonesia yang lebih baik di masa depan. Amin.



Bebasnya BA'ASYIR: Berkah ataukah Ancaman bagi JOKOWI?




LANGKAH Presiden Jokowi untuk membebaskan Abu Bakar Ba’asyir menjadi perbincangan publik. Banyak die hard atau pendukung berat Jokowi merasa kecewa dengan langkah politik itu. Menurut kabar yang beredar, pembebasan itu dilatari oleh persoalan kemanusiaan.

Suara-suara sumbang mulai bermunculan. Perdana Menteri Australia Scott Morison mengajukan protes. Ma’ruf Amin, cawapres Jokowi, memberi respon agar Scott untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Banyak pihak di tanah air yang mempertanyakan langkah politik itu.

Jika memang niatnya kemanusiaan, mengapa Jokowi tidak turun tangan untuk membela sejumlah kasus-kasus bernuansa intoleransi seperti Meiliana dan Ahok? Bagaimana halnya dengan nasib pengungsi Syiah di Sampang, juga Jemaah Ahmadiyah yang mengalami persekusi, hingga kasus-kasus intoleransi yang tengah marak?

Mengingat pilpres yang tak lama lagi digelar, mau tak mau, semua langkah Jokowi akan dikaitkan dengan pilpres. Jika niat pembebasan itu dikarenakan hasrat Jokowi untuk merengkuh suara sejumlah kalangan yang menjadikan Ba’asyir sebagai pahlawan, maka langkah itu jelas keliru. 

BACA: Makna Dukungan Alumni UI untuk Jokowi

Jokowi bisa kehilangan pendukung utama yakni kelas menengah yang jika dibelah dadanya bisa ditemukan guratan "NKRI Harga Mati" di situ. Jokowi mengabaikan pendukungnya yang selalu mengangkat wacana pluralisme, kebangsaan, serta NKRI. Jokowi bisa dianggap mengabaikan empat pilar yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

Kalau memang niatnya untuk merebut suara, maka Jokowi mesti menghitung fakta kalau pendukung Ba’asyir telah lama melabuhkan suara ke kelompok sebelah. Beberapa orang mengatakan, mereka merasa nyaman karena kubu sebelah dianggap representasi Islam politik yang sering turun ke jalan untuk membela agama.

Namun, jika ditelaah lebih mendalam, ada beberapa asumsi yang bisa dikemukakan terkait pembebasan ini.

Pertama, pembebasan ini memang murni soal kemanusiaan. Ba’asyir telah melewati lebih dua per tiga masa tahanan. Usianya juga sudah renta dan sedang sakit-sakitan. Belasan tahun terakhir, dia berurusan dengan perkara hukum, mulai dari pengadilan hingga penahanan. Energinya habis untuk menjalani hidup di pengapnya sel penjara. Bahkan dia sempat menghuni lapas paling angker yakni Nusakambangan.

Ba’asyir juga diyakini sudah tidak mungkin berkoordinasi dengan sejumlah orang untuk aksi-aksi. Pihak keamanan punya banyak cara untuk memantau pergerakan Ba’asyir. Jika dia memang kembali berkonsolidasi dengan sel-sel gerakan, maka informasi itu bisa dengan cepat diketahui aparat.

Di tambah lagi, ada anggapan kalau mereka yang berada di usia sepuh sudah tidak lagi memikirkan dunia. 

Kedua, strategi cantik Jokowi untuk kembali menaikkan pamor Yusril Ihza Mahendra. Bebasnya Ba’asyir tak bisa dilepaskan dari kuatnya lobi Yusril kepada Jokowi. Sebagai pengacara senior dan pimpinan partai berlabel Islam, Yusril dianggap dekat dengan sejumlah lingkaran dekat Ba’asyir.

Melalui pembebasan ini, Jokowi memberikan ruang dan panggung bagi Yusril, sekaligus menghidupkan lagi asa bagi partai yang dipimpin Yusril, yang telah diprediksi banyak lembaga survei akan sulit melewati ambang batas parlemen yakni 4 persen.

Jokowi paham bahwa para pendukung Yusril dan partainya akan beririsan dengan pendukung Gerindra dan koalisinya. Memberi ruang bagi Yusril sama dengan mengurangi basis suara bagi lawan politiknya. 

Bagi Yusril sendiri, bergabung dengan kubu Jokowi menjadi pilihan cerdas sebab ketika bersama koalisi Prabowo, dia dan partainya hanya berada di tepian dan tak mendapat manfaat apa pun. Di tambah lagi, koalisi Prabowo tak memberikan satu solusi dan jalan keluar bagaimana membesarkan partai-partai yang berada di koalisi.

Bebasnya Ba’asyir sendiri sempat membuat kubu lawan panik. Belum lagi bebas, sudah banyak beredar artikel di WhatsApp Grup yang menyebutkan bahwa tidak ada andil Jokowi di situ. Bebasnya Ba’asyir dianggap hal yang sudah seharusnya sebab beliau telah menjalani dua per tiga masa hukuman. Ini bisa dilihat sebagai indikasi kepanikan.

Ketiga, strategi Jokowi untuk mengalihkan perhatian publik dari Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang akan segera keluar penjara. Bebasnya Ahok tidak serta-merta membuat semua isu yang dihembuskan padanya akan selesai. Ahok masih dianggap sebagai perekat bagi bersatunya elemen oposisi yang bisa menambah semangat juang mereka untuk menjatuhkan Jokowi.

Belum lagi keluar dari tahanan, sejumlah orang sudah siap untuk menggelar aksi untuk memperkarakan Ahok dengan sejumlah kasus-kasus lain. Pihak yang paling diuntungkan dari aksi-aksi itu adalah oposisi yang pernah mengambil berkah dari isu Ahok di pilkada DKI Jakarta, serta memperkuat koalisi mereka.

Di media sosial, isu Ahok ibarat peluru yang tak habis-habisnya ditembakkan untuk menghantam PDIP dan Presiden Jokowi sendiri. Masih banyak kampanye “Jangan pilih partai pendukung penista agama” berseliweran. Jika Jokowi dan koalisinya tak punya strategi pembalikan isu yang tepat, maka isu ini bisa terus melebar ke mana-mana dan menggerus tabungan suara.

Keempat, strategi untuk menepis stigma. Isu paling kuat yang menghantam Jokowi di pilpres ini adalah isu identitas. Isu ini sukses diterapkan dalam pilkada DKI Jakarta. Biarpun saat debat pilpres, isu ini tidak nampak, namun sulit untuk menampik fakta kalau di akar rumput, isu identitas menjadi komoditas paling laris yang dijual elite politik.

BACA: Perang Robot di Pilpres 2019

Hingga saat ini, Jokowi masih saja dianggap sebagai anti-Islam serta mengkriminialisasi ulama. Padahal, faktanya Ba’asyir ditangkap dan divonis pada era SBY. Bahkan, Habib Rizieq Shihab yang menjadi simbol gerakan 212 pernah ditahan pada era SBY karena dianggap menyebabkan keributan.

Memang, tak serta-merta semua pendukung Ba’asyir akan menjatuhkan pilihan ke Jokowi. Tapi setidaknya pembebasan itu bisa mengirimkan satu sinyal kuat bahwa pemerintahan Jokowi bukan anti-Islam serta punya keberpihakan pada ulama dan anak bangsa. Jika ada yang menyangkal, maka bebasnya Ba’asyir akan menjadi contoh yang akan sering dikutip.

Kelima, meredam efek radikalisasi. Mengingat usia Ba’asyir yang kian renta, jika ada apa-apa dengannya, maka pemerintah bisa menjadi pihak tertuduh. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, “Bayangkan kalau terjadi apa-apa di penjara itu, maka pemerintah akan dianggap salah.”

Tahun 2016, pemerintahan Jokowi memindahkan penahanan Ba’asyir yang tadinya di Lapas Nusakambangan ke Lapas Gunung Sindur di Bogor. Jika Ba’asyir meninggal di tahanan, maka akan menjadi kartu as bagi lawan politik yang segera menuduh pemerintah telah menelantarkan seorang ulama tua hingga meninggal di tahanan.

Jika tewas di tahanan, maka akan membangkitkan semangat kaum jihadis yang akan melihat Ba’asyir sebagai martir. Kardono Aryo Setyorakhmadi, seorang jurnalis yang sering ke Timur Tengah dan bertemu kelompok Hamas, menilai, jika Ba’asyir meninggal di tahanan, efeknya bisa sama dengan tewasnya Sayyid Quthb di Mesir tahun 1966 lalu. 

Kardono juga menilai, Ba’asyir jauh lebih dikenal para jihadis di Timur Tengah dibandingkan nama seperti Aman Abdurrahman. Dalam situasi kesehatan Ba’asyir yang kian parah, maka pilihan terbaik adalah membebaskannya. Masih mengutip Kardono, ini bukan soal cebong dan kampret. Ini hanya soal pilihan-pilihan strategi terbaik yang bisa memadamkan berbagai peristiwa yang bisa muncul di masa depan.

Entah mana yang benar dari lima asumsi di atas. Yang pasti, bebasnya Ba’asyir akan semakin menambah kontroversi yang bisa kian menggerus tabungan suara Jokowi di pilpres nanti. Bisa pula itu dilihat sebagai pilihan strategis untuk menghadirkan Indonesia yang bersih dari terorisme, sekaligus memberikan keadilan dan rasa aman kepada semua warganya, juga menangkal apa yang bisa terjadi di masa depan.

Di titik ini, kita tak boleh berhenti berharap, Indonesia akan selalu menjadi bangsa yang lebih baik di masa mendatang.




Orasi Terbaik di Dunia




Orasi terbaik yang pernah saya lihat adalah orasi yang dibawakan para penjual obat di Pasar Baubau di Sulawesi Tenggara. Setidaknya itu yang terekam di memori saya. Di situ, ada hiburan yang dikemas dengan kelincahan retorika. Di situ ada kekuatan komunikasi, serta pemasaran yang amat memikat.

Saking kuatnya kata-kata penjual obat yang disampaikan serupa mantra, penonton tak cuma terpukau dan tahan selama dua jam menyaksikannya, tapi juga tidak ragu-ragu untuk mengeluarkan dompet lalu membeli obat yang dijual. Wow keren!

Ini baru permainan retorika yang keren. Saya tak pernah lihat ada politisi yang orasi, dan bisa membuat penonton suka rela mengeluarkan uang. Biasanya, malah penonton yang dibayar agar bersedia datang untuk menyaksikan orasi itu. Lebih hebat penjual obat kan?

Gara-gara penjual obat itu, saya sangat sering bolos sekolah. Di masa itu, ada tiga hal yang bisa bikin saya bolos sekolah. Pertama, ketika ada PR dan saya lupa bikin. Kedua, ketika ada novel silat, baik itu wiro sableng maupun Kho Ping Hoo beredar. Ketiga, ketika ada penjual obat yang orasi di pasar. 

Nah, para penjual obat yang datang ke kampung kami kebanyakan mengikuti rute kapal Pelni dari Ujung Pandang. Biasanya setelah berdagang di kampung kami, mereka akan lanjut ikut kapal ke rute kawasan timur, yakni Ambon dan Papua.

Sedemikian seringnya menonton penjual obat, saya paham betul urutan-urutan ketika mereka mulai berjualan obat. 

Pertama, mereka akan memulai dengan sesuatu yang menghentak perhatian warga pasar. 

Kadang mereka akan mulai dengan akrobat atau sulap. Kadang memulai dengan pertunjukan sihir, misalnya membuat anak-anak tertidur. Ups, saya pernah jadi volunteer. Tentunya sebelumnya di-briefing dulu, kemudian dapat hadiah uang sebesar 500 rupiah. Di zaman itu, jumlah ini bisa beli es cendol dan kue2 lokal seperti sanggara, taripa, dan burangasa.

Nah, tahap pertama ini akan sangat menentukan banyaknya orang yang datang. Pernah, saya melihat penjual obat amatiran yang menggunakan ular. Setelah ular melata, dia akan mulai mengeluarkan sesumbar-sesumbar: “Ular ini saya tangkap langsung dari tanah Papua. Happ.... saya bisa kontak dengan ular ini.” 

Penonton terpukau. Sedetik berikutnya, ular itu terus melata ke penonton. Penjual obat itu mulai panik. Dia mulai memanggil banyak nama: “Dorce, Bleki. Diam kamu.” Ular terus berjalan. Penonton muai panik. Dalam keadaan terpojok, penjual obat itu berteriak, “Amirr... ambil ularmu.” Penonton tertawa.

Kedua, ketika penonton sudah terkumpul, pelan-pelan dia mulai mengeluarkan maksud dan tujuan. Dia akan mulai dengan narasi yang mengawang. “Rusia sudah luncurkan satelit. Amerika sudah sampai di bulan. Kita di sini masih andalkan guna-guna.”

Pernah juga dia mulai dengan cerita Maradona. “Bapak ibu tahu kenapa Diego Armando Maradona begitu lincah memainkan si kulit bundar?” Setelah penonton menggeleng, baru dia keluarkan obatnya.

Ada juga yang mulai dengan bercerita mengenai Rhoma Irama: “Baru-baru ini Raden Haji Oma Irama menikah lagi dengan seorang gadis cantik. Bapak ibu tahu apa rahasia mengapa Rhoma begitu perkasa di atas ranjang? Ini obatnya. Bapak ingin bisa berdiri keras dan kuat sampai-sampai bisa digantungkan dua biji kelapa? Ini obatnya.”

Ketiga, saat penonton mulai tertarik, mulailah dia menawarkan bonus agar penonton makin semangat untuk membeli. Biasanya, bonusnya adalah rumus-rumus untuk pasang kode Porkas, semacam judi yang dilegalkan pemerintah Orde Baru. Bonus lain adalah didoakan agar cepat kaya. Doanya diambil dari kitab suci yang dibacakan dengan sangat fasih.

Pernah saya bertanya dalam hati, kalau penjual obat punya doa yang manjur agar orang lain kaya-raya, kenapa dia tidak mendoakan dirinya lebih dahulu? 

Keempat, siapkan banyak strategi pamungkas. Di antaranya adalah menyiapkan sjeumlah orang yang akan bermain drama yakni tiba-tiba membeli dan berebut. Penonton akan tertarik lalu membelinya dengan cepat. Padahal, semua itu hanya tipu.

Sayang, kejayaan para penjual obat sudah berakhir. Saya nyaris tak pernah lagi menyaksikan mereka memasang tenda payung dan beratraksi di pasar-pasar. Ke manakah mereka?

Ternyata banyak di antara mereka yang memilih jadi caleg. Mereka masih tetap orasi. Tapi kali ini tidak lagi sambil bawa ular. Mereka keliling kampung bersama para penyanyi dangdut. Malah banyak di antara mereka yang sukses jadi politisi.

Sejak dulu, saya beranggapan bahwa ada perbedaan antara dokter dan penjual obat. Kalau dokter selalu merekomendasikan banyak obat untuk satu penyakit. Sementara penjual obat akan merekomendasikan satu obat untuk semua penyakit.

Kini saya temukan kesamaan antara penjual obat dan politisi. Apakah gerangan? Keduanya sama-sama memberikan harapan besar kepada penontonnya. Sekali membeli obatnya, maka semua masalah akan teratasi. Dalam hal politik, sekali mencoblos, maka semua masalahmu juga segera teratasi.

Tul gak?

Makna Dukungan Alumni UI untuk JOKOWI




Ibarat macan tidur, kalangan alumni perguruan tinggi yang tadinya diam kini mulai menyatakan sikap. Mereka datang beramai-ramai ke Senayan demi menyampaikan dukungan agar Presiden Jokowi melanjutkan kepemimpinannya.

Media sosial dipenuhi berbagai respon. Ada yang melihatnya positif, ada pula yang melihatnya negatif. Semua respon itu menunjukkan bahwa aksi itu sukses menyita perhatian masyarakat Indonesia, khususnya para netizen.

Ada yang mengatakan, dalam banyak perubahan negeri ini, amat jarang kita menyaksikan perubahan sosial yang dipicu aksi alumni perguruan tinggi. Yang lebih banyak terjadi adalah akibat aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa aktif.

Namun, tetap saja dukungan dari alumni perguruan tinggi menjadi sangat penting bagi Joko Widodo. Mengapa? Kita bisa melihatnya dalam tiga argumentasi.

Pertama, adanya riset yang menyebutkan bahwa pemilih terbesar Jokowi pada pilpres 2014 lalu adalah mereka yang tinggal di pedesaan, dengan pendidikan ekonomi menengah ke bawah. Mereka melihat Jokowi sebagai orang dekat yang merupakan representasi mereka di dunia politik.

Idealnya, Jokowi merekrut wakil yang bisa merambah perkotaan sehingga daya jelajah keduanya saling melengkapi. Namun, Jokowi justru menggandeng Ma’ruf Amin yang notabene sama-sama memiliki akar yang kuat di pedesaan. Ini yang menyebabkan ada celah kosong bagi daya jelajah Jokowi di perkotaan.

Di sisi lain, pesaingnya yakni Prabowo Subianto malah menggandeng Sandiaga Uno yang identik dengan kelas menengah perkotaan. Keduanya jelas amat kuat di perkotaan sehingga relatif dikenal di masyarakat kota, serta mereka yang punya pendidikan menengah ke atas.

Nah, aksi yang dilakukan oleh alumni perguruan tinggi itu menjadi penting sebagai pernyataan terbuka bahwa masyarakat kota, dengan pendidikan menengah ke atas, telah menyatakan sikap untuk mendukung Jokowi. Ini penting untuk memperkuat daya jelajah di kota serta meyakinkan banyak kelompok lainnya.

Kedua, kelompok terdidik dan menengah perkotaan adalah kelompok yang paling mudah terpapar dengan hoaks dan informasi negatif. Sebab pengguna internet di perkotaan proporsinya adalah 73 persen dari total populasi. Terdapat banyak riset yang menyebutkan bahwa pemilih Prabowo adalah mereka yang akrab dengan internet.

Mengacu pada survei Indikator beberapa waktu lalu, pembicaraan tentang politik selalu mendapatkan konotasi negatif di dunia maya. Bisa dikatakan bahwa masyarakat kota adalah kelompok yang paling mudah untuk membenci sesamanya karena banyak virus kebencian memenuhi atmosfer dunia maya.

Kelompok ini mudah dipengaruhi dengan informasi dari situs abal-abal, serta informasi yang disusupkan melalui berbagai WhatsApp Grup. Makanya, pembicaraan tentang pejabat publik, termasuk petahana, lebih banyak berkonotasi negatif ketimbang positif. Sebab jauh lebih mudah mengkritik ketimbang menjalankan amanah untuk bekerja.

Pihak oposisi menjadi pihak yang paling lincah bergerak dalam memanfaatkan internet untuk menyebar kritik kepada petahana. Mereka dengan mudah bisa leluasa menemukan celah yang bisa diolah menjadi amunisi untuk menembak kerja-kerja petahana, baik itu amunisi yang penuh argumentasi maupun yang dipenuhi hoaks.

Informasi ini semakin menebalkan ketidaksukaan pada petahana. Semua permasalahan selalu dikembalikan pada ketidakmampuan petahana. Harapan dihembuskan seperti angin surga yang dengan cepat bisa memenuhi ruang publik tentang perlunya sosok baru.

Ketika ribuan alumni perguruan tinggi menyatakan sikap secara terbuka, maka itu bisa dipastikan akan meramaikan ruang-ruang media sosial. Bisa dibayangkan betapa jagat maya sontak penuh dengan foto aksi serta liputan berbagai media. Semua orang akan menyampaikan sikap politik secara terbuka dalam situasi yang penuh ruang gembira.

Ketiga, meskipun kalangan menengah perkotaan mudah terpapar virus informasi, kalangan ini lebih open mind dan terbuka dalam menyatakan pilihan, khususnya kalangan milenial. Bagi kelompok ini, isu-isu yang marak di kalangan mereka adalah kebebasan dan keamanan, serta kestabilan.

Dalam beberapa survei, kelompok menengah perkotaan adalah kelompok yang selalu terakhir menentukan pilihan. Makanya, tugas semua kandidat presiden adalah bagaimana meyakinkan kelompok ini agar bersedia menyatakan pilihan lebih awal sehingga diharapkan bisa menarik rekan-rekannya yang lain.

Pada dasarnya, kelompok menengah perkotaan tidak nyaman dengan pernyataan-pernyataan provokatif yang pesimis, serta gambaran suram tentang masa depan. Sudah bukan rahasia lagi kalau narasi kubu oposisi banyak menggambarkan hal-hal yang suram tentang masa depan bangsa ini.

Di tambah lagi dengan kemasan isu-isu agama, pesan lebih cepat mengarah ke ketidaksukaan pada pihak pemerintah. Beberapa riset menyebutkan, kelompok menengah perkotaan adalah kelompok yang lebih suka dengan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan penuh inspirasi.

Di tambah lagi, relawan Jokowi pada periode lalu adalah mereka yang kaya dengan ide-ide kreatif dan menghibur. Kita bisa lihat konser salam dua jari, kartun Jokowi ala Tin Tin, hingga gambar di media sosial bertemakan “I stand on the right side.”

Nah, aksi yang dilakukan alumni UI dan perguruan tinggi lainnya menjadi penting untuk memberikan pencerahan kepada publik bahwa kalangan menengah perkotaan mulai bergerak dan menyatakan dukungan.

Tugas Jokowi selanjutnya adalah bagaimana meyakinkan relawan dan pemilihnya dahulu kalau dia bisa membawa harapan bagi Indonesia yang lebih baik. Strategi yang paling bisa ditempuhnya adalah bagaimana menarik kalangan milenial dan perkotaan untuk sama-sama optimis dan menatap Indonesia yang lebih baik, dengan cara tetap bekerja dan berjalan bersama.

***

NAMUN, pihak Jokowi tak perlu terlalu percaya diri dengan dukungan yang ditunjukkan para alumni perguruan tinggi. Tim Jokowi jangan terlalu ge-er dengan pernyataan dukungan dari alumni perguruan tinggi.

Harus diakui aksi itu mengubah mindset mereka yang selama ini memilih diam dalam menyatakan dukungan. Kini, banyak orang yang secara terbuka menyatakan siap mendukung Jokowi. Beberapa simpul relawan mulai bangkit.

Namun, satu aksi saja rasanya tak cukup. Pihak tim sukses Jokowi mesti merumuskan bagaimana meramu bagaimana strategi untuk tetap memelihara dukungan publik melalui aksi-aksi yang lebih konkret dan punya daya ledak.

Salah satu strategi yang bisa ditempuh adalah memperbanyak testimoni-testimoni dari kalangan menengah perkotaan untuk meramaikan materi di media sosial. Sebab ada kecenderungan orang-orang lebih suka mendengar sesamanya bercerita ketimbang menghadapi sodoran timbunan data.

Orang lebih suka dengan obrolan dan cerita apa adanya, ketimbang dihadapkan dengan angka-angka keberhasilan pemerintah. Sejauh yang saya lihat, testimoni keberhasilan serta pengakuan kerja-kerja pemerintah belum banyak digarap semua tim kerja Jokowi.

Yang lebih banyak muncul adalah aksi ikut menari pada genderang tim lawan. Makanya, tim sukses Jokowi ikut-ikutan menari pada isu-isu yang tidak substansial. Posisi tim kerja Jokowi adalah menyediakan lahan gembur bagi tumbuhnya berbagai komunitas relawan yang akan menjadi ‘penyambung lidah’ dari Jokowi kepada rakyat.

Kekuatan kerja relawan yang memiliki narasi bersama menjadi penting untuk tetap menjaga branding Jokowi agar tetap melanjutkan kerja-kerjanya di dunia politik. Sejauh ini tim Jokowi diuntungkan karena oposisi juga tidak banyak menyebarkan aura positif dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Namun, pengaturan strategi dan pengelolaan isu menjadi penting agar masa depan bisa seperti yang dicita-citakan bersama.

Tim sukses dan relawan Jokowi harus mencamkan baik-baik kutipan penting dari Sun Tzu: “Strategi tanpa taktik adalah jalan yang paling lama menuju kemenangan. Taktik tanpa strategi hanyalah kebisingan menuju kekalahan.”


Politisi Buton di Raja Ampat




Di Waisai, Raja Ampat, saya bertemu sahabat Adji Rahmatullah. Kami sama2 beraktivitas di Jakarta, tapi jarang ketemu. Malah, kami ketemu di Raja Ampat untuk urusan berbeda.

Adji adalah pengusaha sukses yang berasal dari Sidrap dan Enrekang. Kedua wilayah ini ada di Sulsel. Ketika bertemu, Adji bercerita, dirinya ingin ketemu Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) yakni Haji Muhammad Said, seorang kontraktor besar yang mudah ditemui di Masjid Agung Waisai.

Di Raja Ampat dan banyak daerah di Papua, orang Bugis laksana petarung yang datang dengan semangat Vini Vidi Vici. Saya datang, saya lihat, dan saya menang. Mereka ada di semua lini bisnis dan dagang, juga masuk hingga sektor birokrasi. Jaringan KKSS bekerja efektif sebagai mesin yang bisa menguatkan jejaring warga.

Melihat semangat Adji yang meluap-luap, saya pun tergoda untuk bertemu rekan sekampung di sini. Menurut beberapa literatur, riwayat kedatangan orang Buton di pesisir timur Nusantara sama tuanya dengan kedatangan orang Bugis. Orang Buton yang ada di Papua, kebanyakan berasal dari Wakatobi, Cia-cia, juga orang Gu dan Lakudo. Tapi mereka semua memakai identitas Buton.

Dalam satu obrolan, peneliti LIPI, Riwanto Tirtosudarmo, pernah menyampaikan amatan tentang persebaran orang Buton di Maluku dan Papua. Menurutnya, orang Buton pertama membuka lapak-lapak kecil untuk menjual ikan, kasoami, atau kuliner lain. Ketika lapak itu mulai besar, datanglah pedagang Bugis yang membawa modal besar kemudian membuka toko. Setelah itu, orang Buton akan menyingkir lagi mencari lapak yang lain.

Bersetuju dengan Riwanto, orang Buton mewakili kultur rakyat biasa, jelata, juga pedagang kecil. Mereka proletar yang ada di pesisir dan mencari ikan, juga di gunung2 dan pasar rakyat. Saat di Sorong, dengan mudahnya saya temukan orang menggunakan bahasa Buton di pasar ikan.

Orang2 Buton membangun perkumpulan kecil dengan jaringan keluarga yang cukup mengakar, namun belum bisa memaksimalkannya menjadi satu kekuatan bisnis dan politik.

Tapi ketika melintas di ruas jalan utama, saya bisa kenali beberapa foto caleg yang menampilkan identitas Buton. Ada yang memakai ikat kepala seorang parabela, semacam kepala kampung dan tetua adat di Buton. Di tanah Buton, ini adalah pakaian tetua kampung, bukan pakaian bangsawan dan istana. Ada juga yang memakai jubah yang juga dikenakan parabela.

Yang menarik, mereka memakai semboyan dalam bahasa Wolio, bahasa yang digunakan di pusat pemerintahan Kesultanan Buton untuk memikat warga Buton perantauan. Ada yang menulis di baliho "Bolimo Karo Somanamo Lipu", yang merupakan bagian dari filosofi sara pataanguna di Buton. 

Ada juga yang isinya ajakan dalam bahasa Wolio: "Mai taposaangu tamaogeaka lipuna Mia sii." Mari kita bersatu untuk membesarkan kampung orang di sini."



Saya melihat ada fajar baru yang terbit di pesisir timur. Orang Buton perlahan memasuki ruang politik. Mereka tak segesit orang Bugis di lapangan bisnis dan politik, tapi mereka bergerak beramai-ramai ala gerakan rakyat demi mendudukkan calonnya. Malah di satu daerah di Maluku, ada yang sukses jadi pimpinan daerah.

Sayang, selama beberapa hari di Waisai, saya tidak sempat ngobrol dengan salah satu orang Buton di sini. Interaksi saya hanya sebatas dengan orang Bugis. Tapi saat duduk di kapal menuju Sorong, ada seseorang berkulit hitam legam di kejauhan berteriak ke arah saya. "Pengkaanaka." Saya mengenali sapaan dalam bahasa Buton yang berarti hati-hati.

Saya menoleh kiri kanan, apakah saya yang disapa? Rupanya gadis manis berhidung mancung dan berwajah rupawan di sebelah saya yang rupanya sama-sama akan ke Sorong. Dia menjawab, "umbe" yang artinya iya.

Hmmm... Ada yang berdesir di hati ini. Ada sesuatu yang berbisik di hati. Perjalanan ini akan menarik dan terasa singkat.


Akhir Kisah HICCUP dan TOOTHLESS




Sejak trailer film How to Train Your Dragon 3 (HTTYD3) muncul, saya sudah niatkan untuk nonton. Ditambah lagi, anak-anak tak sabar menyaksikannya. Kebetulan, di hari pertama film ini tayang, saya menjemput anak istri di lokasi fieldtrip sekolah. Pulangnya, kami singgah nonton di bioskop.

Di mata saya, film HTTYD adalah film fantasi penuh petualangan yang sarat pesan-pesan penting dalam bahasa sederhana. Film ini bercerita tentang Hiccup, anak remaja yang tampak lugu, bodoh, serta selalu menjadi pecundang dalam banyak hal. Hiccup ibarat Harry Potter yang tampak ringkih, tapi cerdas dan penuh kejutan.

Dalam film pertama, Hiccup digambarkan berhasil menaklukkan naga paling kuat yakni Toothless, yang kemudian menjadi teman setianya. Dalam film kedua, Hiccup dan Toothless berhasil mengalahkan penjahat paling hebat. Hiccup menjadi ketua suku, menggantikan ayahnya yang tewas. Sedangkan Toothless menjadi alfa, pemimpin para naga.

Film ketiganya tak kalah seru. Hiccup, sebagai ketua suku, punya beban besar untuk menjaga wilayahnya sekaligus melindungi naga. Demikian pula dengan Toothless. 

Namun, dalam film ini, Toothless tak sendirian. Dia menemukan naga jenis light furry yang kemudian ditaksirnya. Di sini terdapat banyak kekonyolan yang membuat kami terpingkal-pingkal selama menyaksikannya.

Musuh yang dihadapi lebih jago dari musuh di film pertama dan ketiga. Kali ini, Hiccup mendapatkan lawan sepadan yakni seorang spesialis pembunuh spesies Tootless yakni night furry. Misi Hiccup menjadi tidak mudah. 

Tapi sebagaimana film lainnya, selalu ada jalan keluar dari setiap krisis. Hiccup harus belajar menjadi dirinya sendiri. Dia mesti memecahkan masalah, tanpa harus bergantung pada Toothless. Dia mesti menjawab kalimat sinis dari lawannya, “Without your dragon, you’re nothing!”

Sejujurnya, saya lebih menyukai film pertama dan kedua. Lebih banyak kejutan di situ. Namun, film ini tetap saja punya elemen yang bikin hidup suasana. Bagian akhir film ini juga cukup mengharukan sebab Hiccup dan Toothless akhirnya berpisah demi keselamatan para naga. 

Ketika Toothless akhirnya pergi, saya merasa kehilangan. Untunglah, di bagian paling akhir, Hiccup yang telah menikah dengan Astrid, serta telah memiliki dua anak, bertemu dengan Toothless dan pasangannya yang telah memiliki tiga anak. Bagian ini cukup menghibur.

Sepulang ke rumah, saya memikirkan apa yang membuat saya begitu menyukai semua film HTTYD. Saya menemukan dua jawaban.

Pertama, kisah HTTYD adalah kisah persahabatan. Hiccup selalu menjalankan misi bersama sahabat-sahabatnya. Mereka adalah tim yang kompak, yang bekerja efektif serta penuh canda tawa. Sebagai sahabat, mereka saling percaya dan tidak pernah meninggalkan yang lain. Ketika Hiccup memutuskan untuk menyerbu, semua sahabatnya ingin ikut. Saya rasa, seperti itulah peran sahabat yang sesungguhnya.

Kedua, saya menyukai karakter jagoan seperti Hiccup. Sebagai pemimpin para viking, Hiccup tampak sangat rapuh. Dia bukanlah sosok yang tampak tegap dan berpidato dengan retorika mengguntur. Bukan pula sosok yang main tampar kiri kanan. 

Dia orang biasa yang brilian dan pikirannya selalu penuh kejutan. Dalam banyak krisis, dia selalu punya jalan keluar, yang seringkali nekat dan tak terduga. Dia berani dan juga penuh perhitungan. Tak heran, yang dikalahkannya adalah musuh yang terlihat perkasa, cerdas, berotot, dan menyeramkan.

Sepulang nonton film itu, saya menyaksikan media sosial yang sedang dipenuhi perdebatan tentang pemimpin. Sepertinya, saya tidak begitu suka pemimpin yang retorik dan menyebar kebencian. Saya lebih suka sosok yang selalu memikirkan jalan keluar, bukan sekadar menyalahkan situasi.

Saya menyukai sosok yang biasa saja, tapi punya pengalaman bekerja dan melayani orang lain. Sosok itu tak harus sempurna, tapi saya bisa melihat bahwa dirinya sedang bekerja keras dan penuh daya upaya, di tengah cerca, kritik, dan caci dari mereka yang selalu mengeluh.

Saya menyukai sosok seperti Hiccup, yang inspiratif dan bisa menggerakkan orang lain. Semoga saja, banyak sosok seperti ini yang bermunculan di sekitar kita. Semoga.


Mencari Obat Kuat di Raja Ampat


koteka

Entah apa yang dilihatnya pada diri ini. Setiba di warkop dekat Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), anak muda itu mendekati saya. Kami langsung akrab.

Namanya Baco. Dia berasal dari Maros, Sulsel. Di Raja Ampat, komunitas Bugis tersebar di mana-mana. Tak hanya di jalur politik dan birokrasi, tapi juga menguasai sektor bisnis dan dagang. 

Baco bekerja sebagai tour guide. Dia mengajak saya untuk ikut petualangan yang akan menaikkan adrenalin. "Kaka kalau ikut saya, pasti akan bikin semua cewek puas?" Saya terkejut. Hah?

Dia mengajak saya untuk mencari Akar Kuat, yakni akar yang bisa meningkatkan gairah seksual. Kulit akar akan diiris tipis2, kemudian dicampur di minuman. Khasiatnya? "Kaka pu barang langsung keras. Biar digantung dua kelapa, tara akan layu." 

What? Emang ada orang bodoh yang mau gantung dua kelapa di kemaluan?

Saya ingat sewaktu ke Banjarmasin. Seseorang menawarkan saya ramuan bernama Tongkat Ali. Khasiatnya sama persis dengan Akar Kuat. Rupanya, di banyak budaya, terdapat banyak herbal yang bisa menambah gairah laki-laki. Entah benar atau tidak. Saya belum pernah mencobanya.

Baco juga mengajak saya untuk mendatangi Tugu Kemaluan Raja Ampat. Lokasinya di Teluk Mayalibit. Sebenarnya, ini adalah stalaktit, cuman bentuknya mirip kemaluan. Ditambah lagi ada banyak mitos dan cerita2 mengenai tugu ini.

Di antara mitosnya adalah orang yang menaruh koin di batu itu, diyakini punya kemaluan sekeras batu. 

Saya ingat pengalaman di Amrik. Orang bule suka melempar koin di kolam2 atau akuarium sembari "make a wish" atau menyampaikan permohonan. Permintaannya bisa apa saja, bahkan hal yang mustahil, misalnya ganti presiden. 

Tapi, bisa jadi Baco benar juga. Para bule yang menaruh koin di situ mungkin berharap punya barang sekuat batu. Benarkah? Saya tak ingin mencari tahu.

Demi tak mengecewakannya, saya mengajak untuk melihat-lihat koteka. Saya tanya, bagaimana cara memastikan ukuran koteka tanpa harus mencobanya. Gampang itu, katanya. Cukup lihat ibu jari kaki. Kalau besar, berarti butuh koteka yang besar.

Diam-diam, saya melirik ke kaki.


(Upsss, saya yakin pria yang membaca tulisan ini langsung mengecek ibu jari kaki. Guys, jangan terlalu percaya. Ini hanya candaan ala Papua. Jangan dipercaya.)

Catatan Wira Kesatria

Seorang sahabat di Facebook, yang belum pernah saya temui, menuliskan kesan-kesannya atas pertemanan kami. Saya merasa tersanjung atas catatannya. Thanks sobat!


Tak terasa 8 tahun telah berlalu, membaca dengan seksama dan mengasyikan tulisan-tulisan teman medsos yang satu ini. Rangkaian kata yang apik, membuat ide, tema, dan topik menjadi nutrisi mencerahkan, mencerdaskan, dan membuat jiwa riang gembira.

Sesuatu yang sulit, diracik menjadi renyah, gurih, dan mengalir deras sampai ke muara. Menenteramkan akal dan kalbu. Tak terasa dan sulit untuk mengingatnya, berapa banyak ikatan aksara karya dan karsa dari sosok plamboyan dan ganteng ini telah tamat saya baca.

Dalam banyak kesempatan, niat dan hasrat untuk bersua dan berdiskusi seputar dunia literasi dengan sosok begawan aksara ini, telah saya patrikan. Namun hingga kini belum kesampaian.




Era melenial dalam satu sisi memudahkan kita untuk mengakses karya tulis bermutu dan cerdas dari sosok idola, walaupun secara personal belum mengenalnya. Lewat media sosial dunia maya, kesalingtergantungan mutual bersinergi dan harmoni. Penulis memposting tulisannya dan publik menikmatinya. Ini fakta tak terbantahkan dan pengalaman saya.

Ekspresi rasa yang membuncah ini, tak terbendung dan tak mampu lagi saya menahannya. Lewat tulisan ringan dan sederhana ini, sebagai wujud apresiasi dan kekaguman terhadap sedekah ilmu pengetahuan yang telah saudara Yusran Darmawan lakukan dan perbuat untuk sesama dan terkhusus pribadi yang dahaga dan pakir ilmu ini.

Selasa 1 Januari 2019, berkenan saya mengucap berdaun-daun terima kasih kepada beliau atas semua tulisan yang telah membuat pengayaan, pencerahan, mata air, dan ladang pengetahuan. Berharap semua ini menjadi berkah, hikmah, dan hidayah melimpah dan tak terputus.

Awal tahun ini, semoga menjadi era keberuntungan, kemenangan, kejayaan, kebahagian buat beliau dan keluarga juga buat kita semua. Semoga Tuhan memampukan kita untuk selalu bermanfaat diatas rasa mengasihi dan menyayangi. []

Salam persaudaraan.

Jakarta, 1 Januari 2019

Perang ROBOT di Pilpres 2019




DI banding pilpres lain, pilpres tahun 2019 ini adalah yang paling seru. Tidak hanya melibatkan para politisi dan kandidat presiden, tapi juga melibatkan banyak mesin, algoritma, kecerdasan buatan, hingga para robot.

*** 

ANAK muda berambut pirang itu duduk sendirian di satu kafe dekat Sarinah. Seorang sahabat mengajak saya untuk bertemu dan berbincang dengannya. Anak muda adalah seorang data scientist yang meraih gelar PhD untuk bidang teknologi informasi di satu kampus di Eropa.

Biarpun kami hanya berbincang sesaat, dia menjelaskan keterlibatannya pada pemilihan presiden di banyak negara. Dia bercerita bagaimana para insinyur dari Rusia bisa membongkar email yang digunakan Hillary Clinton, kemudian membuka banyak fakta yang kemudian dengan cepat “digoreng” oleh tim Donald Trump.

Bagian yang membuat saya tertarik saat dirinya membahas betapa tidak amannya semua perangkat komunikasi yang saya gunakan. Menurutnya, semua komunikasi melalui internet, baik itu WhatsApp, Facebook, hingga Line bisa dengan mudah diretas. 

“Bahkan telepon seluler yang kamu gunakan juga mudah untuk diretas. Semua pembicaraan akan direkam dalam satu server, yang kemudian dengan mudah ditembus dan dibuka apa saja yang dibahas,” katanya.

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligence, dan Kediktatoran Digital

Dalam konteks pilpres, pihak insinyur data dengan mudahnya bisa memantau semua yang dilakukan oleh satu kandidat, bisa mendapatkan bocoran apa saja strategi lawan, kemudian merancang counter strategi yang efektif.

Saya menikmati perbincangan dengannya. Dia bercerita bahwa para petarung pilpres 2019 ini bukan hanya kandidat presiden, bukan hanya tim sukses, tetapi juga adu strategi dalam memaksimalkan perangkat teknologi. 

Pengendali strategi malah berada di balik layar. Mereka tidak selalu manusia yang sibuk memetakan data dan informasi. Perhelatan ini juga melibatkan mesin-mesin cerdas yang memproses semua informasi, memahami algoritma percakapan di media sosial, kemudian memberikan beberapa rekomendasi-rekomendasi.

Pilpres tahun 2019 jauh berbeda dengan pilpres sebelumnya. Dulu, sorak-sorai dan ramai-ramai mudah terpantau di jalan-jalan melalui ribuan baliho yang mengotori ruang publik kita. Tahun ini, sorak-sorai itu ada di media sosial. Semua kubu berdebat, saling serang, bahkan saling ancam di media sosial.

Saya mengamati bagaimana Facebook dan Twitter yang tadinya tenang, kini menjadi arena tempur yang tak henti. Ada banyak orang yang memasuki media sosial dengan membawa misi untuk membela politisi yang diidolakannya. Mereka meramaikan media sosial, mengolah beragam isu, kemudian saling tempur di situ.

*** 

BEBERAPA waktu lalu, seorang sahabat mengajak saya untuk melihat aktivitas Command Center di satu lembaga yang kerap melakukan riset untuk pemasaran digital. Beberapa klien lembaga ini adalah partai politik. Mereka memasok informasi terkait satu brand, bisa berupa produk, bisa juga politisi dan partai politik.

Ruangan utama lembaga itu mengingatkan saya pada ruang utama kantor media online. Di situ, saya melihat layar-layar besar, yang tertera angka-angka dan grafik-grafik pembicaraan publik.

BACA: Kiat Membangun Laskar Media Sosial di Era 4.0

Di beberapa kantor media online, layar-layar menampilkan Google Trend, yang menganalisis semua pencarian di media sosial. Di situ juga terdapat grafik-grafik yang isinya percakapan di media sosial. Para jurnalis media online biasanya memetakan isu dan bahan liputan berdasarkan topik yang paling banyak dibicarakan.

Ruang yang saya saksikan ini adalah ruang kontrol utama untuk memberikan instruksi dan arahan secara terpusat. Ruang itu menjadi pengendali informasi, yang memetakan semua percakapan dan sentimen publik, setelah itu merancang strategi yang kemudian menjadi amunisi untuk menyerbu media sosial.

Semua konten dan strategi dirancang di ruangan itu. Semua layar menampilkan hasil kerja mesin dan algoritma yang memantau semua media sosial. Apa pun yang dibahas publik akan mudah terpantau di situ. Bahkan layar juga menampilkan seberapa efektif informasi yang disebar ke para netizen.

Secara umum, saya melihat ada tiga unsur utama di setiap pusat komando informasi. Pertama, digital listening tool, yang berisikan perangkat untuk memetakan semua percakapan di media sosial. Kedua, digital media platform, yang isinya berbagai platform media sosial, juga media mainstream. Ketiga, mobile apps, yang digunakan relawan secara mobile di berbagai lokasi.

Ketiga perangkat ini digunakan untuk mengontrol semua aliran informasi. Teknisnya, tim kreator konten akan memetakan konten yang sedang trending, kemudian merancang konten yang bisa viral, meneruskannya kepada para influencer dan laskar media sosial yang akan meneruskannya di lapangan. 



Nah, para laskar media sosial ini tidak selalu seseorang yang rajin memosting sesuatu. Bisa jadi, itu adalah akun-akun robot yang punya kemampuan untuk mendiseminasi informasi lebih cepat. Akun-akun ini bisa menembus berbagai grup-grup di Facebook, juga meramaikan semua grup di Whastapp. 
Bagaimana dengan penyebaran hoaks? Apakah juga disebarkan dengan cara yang sama? Seorang teman di situ mengiyakannya. Menurutnya, mesin yang mereka miliki bisa menyebarkan hoaks dengan sangat cepat. Namun, mereka memilih tidak melakukannya. Mereka hanya memantau hoaks demi hoaks, kemudian merancang strategi untuk menjawabnya.

Ini pula yang membuat hoaks sulit dihentikan. Ketika satu orang menyebar berita hoaks, algoritma media sosial bisa mendeteksi postingan viral itu, kemudian memantulkannya ke mana-mana sehingga asal-usul hoaks itu jadi tidak penting. Hingga akhirnya, penegak hukum bisa merunut ulang lalu menemukan sumber informasi bohong itu. 

Pada titik ini, saya teringat ucapan seseorang: hoaks diciptakan oleh orang bodoh, disebar oleh orang bodoh, dan diterima kebenarannya oleh orang idiot.

*** 

DI ruang kontrol informasi itu, saya terus memikirkan kalimat sahabat itu. Saya teringat sosiolog Manuel Castells yang membahas peran para planner atau perencana yang memiliki akses pada jejaring informasi dan menentukan apa yang dipikirkan publik.

Orang-orang yang setiap hari wara-wiri di media sosial itu tidak menyadari bahwa semua percakapan yang mereka lakukan akan menjadi big data yang lalu dianalisis oleh mesin algoritma cerdas, yang kemudian meneruskannya ke mana-mana hingga terjadi debat publik. 

Ini pula yang menjelaskan mengapa diskusi publik tak pernah menyentuh langit substansi, sebab yang dibahas adalah hal receh remeh yang tak ada kaitannya dengan tantangan yang dihadapi oleh bangsa kita.

Bisa jadi, ini dipengaruhi oleh naluri kita sebagai manusia adalah selalu ingin terlibat dalam satu tema yang dipercakapkan banyak orang. Kita tak menyadari bahwa sering kali tema dan topik yang setiap hari kita perdebatkan dan pertengkarkan adalah sesuatu yang sengaja dibuat oleh mesin algoritma.
Tidak mengejutkan jika ada banyak orang di sekitar kita yang membayangkan dirinya serupa Don Quixote, tokoh dalam novel yang ditulis Miguel de Cervantes, yang selalu ingin berkelana untuk membunuh naga. Padahal, naga adalah hewan yang hanya ada dalam imajinasi.

Dalam konteks media sosial, kita tak sadar kalau telah meyakini sesuatu, yang belum tentu punya penalaran yang benar. Kita hanya meyakini satu kenyataan sebab setiap hari kita disodorkan kenyataan itu, yang ternyata adalah hasil kreasi dari banyak mesin cerdas demi mengarahkan pilihan kita pada satu titik.

Dalam banyak sisi, para netizen yang setiap hari berdebat itu tidak menyadari apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka disuapi informasi sepihak, dipanas-panasi setiap saat oleh akun robot, dan terakhir menjadi karakter yang sukses dibentuk oleh satu kelompok.

Dalam film The Incredible 2, ada sosok Screenslaver yang melakukan kejahatan tanpa disadarinya. Dia terpengaruh oleh apa yang disaksikannya. Dia tidak tahu kalau kesadarannya telah dikendalikan oleh seseorang.

Tanpa sadar kita menjadi screenslaver, yakni budak (slave) yang dikendalikan oleh layar (screen).