Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Makna Dukungan Alumni UI untuk JOKOWI




Ibarat macan tidur, kalangan alumni perguruan tinggi yang tadinya diam kini mulai menyatakan sikap. Mereka datang beramai-ramai ke Senayan demi menyampaikan dukungan agar Presiden Jokowi melanjutkan kepemimpinannya.

Media sosial dipenuhi berbagai respon. Ada yang melihatnya positif, ada pula yang melihatnya negatif. Semua respon itu menunjukkan bahwa aksi itu sukses menyita perhatian masyarakat Indonesia, khususnya para netizen.

Ada yang mengatakan, dalam banyak perubahan negeri ini, amat jarang kita menyaksikan perubahan sosial yang dipicu aksi alumni perguruan tinggi. Yang lebih banyak terjadi adalah akibat aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa aktif.

Namun, tetap saja dukungan dari alumni perguruan tinggi menjadi sangat penting bagi Joko Widodo. Mengapa? Kita bisa melihatnya dalam tiga argumentasi.

Pertama, adanya riset yang menyebutkan bahwa pemilih terbesar Jokowi pada pilpres 2014 lalu adalah mereka yang tinggal di pedesaan, dengan pendidikan ekonomi menengah ke bawah. Mereka melihat Jokowi sebagai orang dekat yang merupakan representasi mereka di dunia politik.

Idealnya, Jokowi merekrut wakil yang bisa merambah perkotaan sehingga daya jelajah keduanya saling melengkapi. Namun, Jokowi justru menggandeng Ma’ruf Amin yang notabene sama-sama memiliki akar yang kuat di pedesaan. Ini yang menyebabkan ada celah kosong bagi daya jelajah Jokowi di perkotaan.

Di sisi lain, pesaingnya yakni Prabowo Subianto malah menggandeng Sandiaga Uno yang identik dengan kelas menengah perkotaan. Keduanya jelas amat kuat di perkotaan sehingga relatif dikenal di masyarakat kota, serta mereka yang punya pendidikan menengah ke atas.

Nah, aksi yang dilakukan oleh alumni perguruan tinggi itu menjadi penting sebagai pernyataan terbuka bahwa masyarakat kota, dengan pendidikan menengah ke atas, telah menyatakan sikap untuk mendukung Jokowi. Ini penting untuk memperkuat daya jelajah di kota serta meyakinkan banyak kelompok lainnya.

Kedua, kelompok terdidik dan menengah perkotaan adalah kelompok yang paling mudah terpapar dengan hoaks dan informasi negatif. Sebab pengguna internet di perkotaan proporsinya adalah 73 persen dari total populasi. Terdapat banyak riset yang menyebutkan bahwa pemilih Prabowo adalah mereka yang akrab dengan internet.

Mengacu pada survei Indikator beberapa waktu lalu, pembicaraan tentang politik selalu mendapatkan konotasi negatif di dunia maya. Bisa dikatakan bahwa masyarakat kota adalah kelompok yang paling mudah untuk membenci sesamanya karena banyak virus kebencian memenuhi atmosfer dunia maya.

Kelompok ini mudah dipengaruhi dengan informasi dari situs abal-abal, serta informasi yang disusupkan melalui berbagai WhatsApp Grup. Makanya, pembicaraan tentang pejabat publik, termasuk petahana, lebih banyak berkonotasi negatif ketimbang positif. Sebab jauh lebih mudah mengkritik ketimbang menjalankan amanah untuk bekerja.

Pihak oposisi menjadi pihak yang paling lincah bergerak dalam memanfaatkan internet untuk menyebar kritik kepada petahana. Mereka dengan mudah bisa leluasa menemukan celah yang bisa diolah menjadi amunisi untuk menembak kerja-kerja petahana, baik itu amunisi yang penuh argumentasi maupun yang dipenuhi hoaks.

Informasi ini semakin menebalkan ketidaksukaan pada petahana. Semua permasalahan selalu dikembalikan pada ketidakmampuan petahana. Harapan dihembuskan seperti angin surga yang dengan cepat bisa memenuhi ruang publik tentang perlunya sosok baru.

Ketika ribuan alumni perguruan tinggi menyatakan sikap secara terbuka, maka itu bisa dipastikan akan meramaikan ruang-ruang media sosial. Bisa dibayangkan betapa jagat maya sontak penuh dengan foto aksi serta liputan berbagai media. Semua orang akan menyampaikan sikap politik secara terbuka dalam situasi yang penuh ruang gembira.

Ketiga, meskipun kalangan menengah perkotaan mudah terpapar virus informasi, kalangan ini lebih open mind dan terbuka dalam menyatakan pilihan, khususnya kalangan milenial. Bagi kelompok ini, isu-isu yang marak di kalangan mereka adalah kebebasan dan keamanan, serta kestabilan.

Dalam beberapa survei, kelompok menengah perkotaan adalah kelompok yang selalu terakhir menentukan pilihan. Makanya, tugas semua kandidat presiden adalah bagaimana meyakinkan kelompok ini agar bersedia menyatakan pilihan lebih awal sehingga diharapkan bisa menarik rekan-rekannya yang lain.

Pada dasarnya, kelompok menengah perkotaan tidak nyaman dengan pernyataan-pernyataan provokatif yang pesimis, serta gambaran suram tentang masa depan. Sudah bukan rahasia lagi kalau narasi kubu oposisi banyak menggambarkan hal-hal yang suram tentang masa depan bangsa ini.

Di tambah lagi dengan kemasan isu-isu agama, pesan lebih cepat mengarah ke ketidaksukaan pada pihak pemerintah. Beberapa riset menyebutkan, kelompok menengah perkotaan adalah kelompok yang lebih suka dengan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan penuh inspirasi.

Di tambah lagi, relawan Jokowi pada periode lalu adalah mereka yang kaya dengan ide-ide kreatif dan menghibur. Kita bisa lihat konser salam dua jari, kartun Jokowi ala Tin Tin, hingga gambar di media sosial bertemakan “I stand on the right side.”

Nah, aksi yang dilakukan alumni UI dan perguruan tinggi lainnya menjadi penting untuk memberikan pencerahan kepada publik bahwa kalangan menengah perkotaan mulai bergerak dan menyatakan dukungan.

Tugas Jokowi selanjutnya adalah bagaimana meyakinkan relawan dan pemilihnya dahulu kalau dia bisa membawa harapan bagi Indonesia yang lebih baik. Strategi yang paling bisa ditempuhnya adalah bagaimana menarik kalangan milenial dan perkotaan untuk sama-sama optimis dan menatap Indonesia yang lebih baik, dengan cara tetap bekerja dan berjalan bersama.

***

NAMUN, pihak Jokowi tak perlu terlalu percaya diri dengan dukungan yang ditunjukkan para alumni perguruan tinggi. Tim Jokowi jangan terlalu ge-er dengan pernyataan dukungan dari alumni perguruan tinggi.

Harus diakui aksi itu mengubah mindset mereka yang selama ini memilih diam dalam menyatakan dukungan. Kini, banyak orang yang secara terbuka menyatakan siap mendukung Jokowi. Beberapa simpul relawan mulai bangkit.

Namun, satu aksi saja rasanya tak cukup. Pihak tim sukses Jokowi mesti merumuskan bagaimana meramu bagaimana strategi untuk tetap memelihara dukungan publik melalui aksi-aksi yang lebih konkret dan punya daya ledak.

Salah satu strategi yang bisa ditempuh adalah memperbanyak testimoni-testimoni dari kalangan menengah perkotaan untuk meramaikan materi di media sosial. Sebab ada kecenderungan orang-orang lebih suka mendengar sesamanya bercerita ketimbang menghadapi sodoran timbunan data.

Orang lebih suka dengan obrolan dan cerita apa adanya, ketimbang dihadapkan dengan angka-angka keberhasilan pemerintah. Sejauh yang saya lihat, testimoni keberhasilan serta pengakuan kerja-kerja pemerintah belum banyak digarap semua tim kerja Jokowi.

Yang lebih banyak muncul adalah aksi ikut menari pada genderang tim lawan. Makanya, tim sukses Jokowi ikut-ikutan menari pada isu-isu yang tidak substansial. Posisi tim kerja Jokowi adalah menyediakan lahan gembur bagi tumbuhnya berbagai komunitas relawan yang akan menjadi ‘penyambung lidah’ dari Jokowi kepada rakyat.

Kekuatan kerja relawan yang memiliki narasi bersama menjadi penting untuk tetap menjaga branding Jokowi agar tetap melanjutkan kerja-kerjanya di dunia politik. Sejauh ini tim Jokowi diuntungkan karena oposisi juga tidak banyak menyebarkan aura positif dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Namun, pengaturan strategi dan pengelolaan isu menjadi penting agar masa depan bisa seperti yang dicita-citakan bersama.

Tim sukses dan relawan Jokowi harus mencamkan baik-baik kutipan penting dari Sun Tzu: “Strategi tanpa taktik adalah jalan yang paling lama menuju kemenangan. Taktik tanpa strategi hanyalah kebisingan menuju kekalahan.”


Politisi Buton di Raja Ampat




Di Waisai, Raja Ampat, saya bertemu sahabat Adji Rahmatullah. Kami sama2 beraktivitas di Jakarta, tapi jarang ketemu. Malah, kami ketemu di Raja Ampat untuk urusan berbeda.

Adji adalah pengusaha sukses yang berasal dari Sidrap dan Enrekang. Kedua wilayah ini ada di Sulsel. Ketika bertemu, Adji bercerita, dirinya ingin ketemu Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) yakni Haji Muhammad Said, seorang kontraktor besar yang mudah ditemui di Masjid Agung Waisai.

Di Raja Ampat dan banyak daerah di Papua, orang Bugis laksana petarung yang datang dengan semangat Vini Vidi Vici. Saya datang, saya lihat, dan saya menang. Mereka ada di semua lini bisnis dan dagang, juga masuk hingga sektor birokrasi. Jaringan KKSS bekerja efektif sebagai mesin yang bisa menguatkan jejaring warga.

Melihat semangat Adji yang meluap-luap, saya pun tergoda untuk bertemu rekan sekampung di sini. Menurut beberapa literatur, riwayat kedatangan orang Buton di pesisir timur Nusantara sama tuanya dengan kedatangan orang Bugis. Orang Buton yang ada di Papua, kebanyakan berasal dari Wakatobi, Cia-cia, juga orang Gu dan Lakudo. Tapi mereka semua memakai identitas Buton.

Dalam satu obrolan, peneliti LIPI, Riwanto Tirtosudarmo, pernah menyampaikan amatan tentang persebaran orang Buton di Maluku dan Papua. Menurutnya, orang Buton pertama membuka lapak-lapak kecil untuk menjual ikan, kasoami, atau kuliner lain. Ketika lapak itu mulai besar, datanglah pedagang Bugis yang membawa modal besar kemudian membuka toko. Setelah itu, orang Buton akan menyingkir lagi mencari lapak yang lain.

Bersetuju dengan Riwanto, orang Buton mewakili kultur rakyat biasa, jelata, juga pedagang kecil. Mereka proletar yang ada di pesisir dan mencari ikan, juga di gunung2 dan pasar rakyat. Saat di Sorong, dengan mudahnya saya temukan orang menggunakan bahasa Buton di pasar ikan.

Orang2 Buton membangun perkumpulan kecil dengan jaringan keluarga yang cukup mengakar, namun belum bisa memaksimalkannya menjadi satu kekuatan bisnis dan politik.

Tapi ketika melintas di ruas jalan utama, saya bisa kenali beberapa foto caleg yang menampilkan identitas Buton. Ada yang memakai ikat kepala seorang parabela, semacam kepala kampung dan tetua adat di Buton. Di tanah Buton, ini adalah pakaian tetua kampung, bukan pakaian bangsawan dan istana. Ada juga yang memakai jubah yang juga dikenakan parabela.

Yang menarik, mereka memakai semboyan dalam bahasa Wolio, bahasa yang digunakan di pusat pemerintahan Kesultanan Buton untuk memikat warga Buton perantauan. Ada yang menulis di baliho "Bolimo Karo Somanamo Lipu", yang merupakan bagian dari filosofi sara pataanguna di Buton. 

Ada juga yang isinya ajakan dalam bahasa Wolio: "Mai taposaangu tamaogeaka lipuna Mia sii." Mari kita bersatu untuk membesarkan kampung orang di sini."



Saya melihat ada fajar baru yang terbit di pesisir timur. Orang Buton perlahan memasuki ruang politik. Mereka tak segesit orang Bugis di lapangan bisnis dan politik, tapi mereka bergerak beramai-ramai ala gerakan rakyat demi mendudukkan calonnya. Malah di satu daerah di Maluku, ada yang sukses jadi pimpinan daerah.

Sayang, selama beberapa hari di Waisai, saya tidak sempat ngobrol dengan salah satu orang Buton di sini. Interaksi saya hanya sebatas dengan orang Bugis. Tapi saat duduk di kapal menuju Sorong, ada seseorang berkulit hitam legam di kejauhan berteriak ke arah saya. "Pengkaanaka." Saya mengenali sapaan dalam bahasa Buton yang berarti hati-hati.

Saya menoleh kiri kanan, apakah saya yang disapa? Rupanya gadis manis berhidung mancung dan berwajah rupawan di sebelah saya yang rupanya sama-sama akan ke Sorong. Dia menjawab, "umbe" yang artinya iya.

Hmmm... Ada yang berdesir di hati ini. Ada sesuatu yang berbisik di hati. Perjalanan ini akan menarik dan terasa singkat.


Akhir Kisah HICCUP dan TOOTHLESS




Sejak trailer film How to Train Your Dragon 3 (HTTYD3) muncul, saya sudah niatkan untuk nonton. Ditambah lagi, anak-anak tak sabar menyaksikannya. Kebetulan, di hari pertama film ini tayang, saya menjemput anak istri di lokasi fieldtrip sekolah. Pulangnya, kami singgah nonton di bioskop.

Di mata saya, film HTTYD adalah film fantasi penuh petualangan yang sarat pesan-pesan penting dalam bahasa sederhana. Film ini bercerita tentang Hiccup, anak remaja yang tampak lugu, bodoh, serta selalu menjadi pecundang dalam banyak hal. Hiccup ibarat Harry Potter yang tampak ringkih, tapi cerdas dan penuh kejutan.

Dalam film pertama, Hiccup digambarkan berhasil menaklukkan naga paling kuat yakni Toothless, yang kemudian menjadi teman setianya. Dalam film kedua, Hiccup dan Toothless berhasil mengalahkan penjahat paling hebat. Hiccup menjadi ketua suku, menggantikan ayahnya yang tewas. Sedangkan Toothless menjadi alfa, pemimpin para naga.

Film ketiganya tak kalah seru. Hiccup, sebagai ketua suku, punya beban besar untuk menjaga wilayahnya sekaligus melindungi naga. Demikian pula dengan Toothless. 

Namun, dalam film ini, Toothless tak sendirian. Dia menemukan naga jenis light furry yang kemudian ditaksirnya. Di sini terdapat banyak kekonyolan yang membuat kami terpingkal-pingkal selama menyaksikannya.

Musuh yang dihadapi lebih jago dari musuh di film pertama dan ketiga. Kali ini, Hiccup mendapatkan lawan sepadan yakni seorang spesialis pembunuh spesies Tootless yakni night furry. Misi Hiccup menjadi tidak mudah. 

Tapi sebagaimana film lainnya, selalu ada jalan keluar dari setiap krisis. Hiccup harus belajar menjadi dirinya sendiri. Dia mesti memecahkan masalah, tanpa harus bergantung pada Toothless. Dia mesti menjawab kalimat sinis dari lawannya, “Without your dragon, you’re nothing!”

Sejujurnya, saya lebih menyukai film pertama dan kedua. Lebih banyak kejutan di situ. Namun, film ini tetap saja punya elemen yang bikin hidup suasana. Bagian akhir film ini juga cukup mengharukan sebab Hiccup dan Toothless akhirnya berpisah demi keselamatan para naga. 

Ketika Toothless akhirnya pergi, saya merasa kehilangan. Untunglah, di bagian paling akhir, Hiccup yang telah menikah dengan Astrid, serta telah memiliki dua anak, bertemu dengan Toothless dan pasangannya yang telah memiliki tiga anak. Bagian ini cukup menghibur.

Sepulang ke rumah, saya memikirkan apa yang membuat saya begitu menyukai semua film HTTYD. Saya menemukan dua jawaban.

Pertama, kisah HTTYD adalah kisah persahabatan. Hiccup selalu menjalankan misi bersama sahabat-sahabatnya. Mereka adalah tim yang kompak, yang bekerja efektif serta penuh canda tawa. Sebagai sahabat, mereka saling percaya dan tidak pernah meninggalkan yang lain. Ketika Hiccup memutuskan untuk menyerbu, semua sahabatnya ingin ikut. Saya rasa, seperti itulah peran sahabat yang sesungguhnya.

Kedua, saya menyukai karakter jagoan seperti Hiccup. Sebagai pemimpin para viking, Hiccup tampak sangat rapuh. Dia bukanlah sosok yang tampak tegap dan berpidato dengan retorika mengguntur. Bukan pula sosok yang main tampar kiri kanan. 

Dia orang biasa yang brilian dan pikirannya selalu penuh kejutan. Dalam banyak krisis, dia selalu punya jalan keluar, yang seringkali nekat dan tak terduga. Dia berani dan juga penuh perhitungan. Tak heran, yang dikalahkannya adalah musuh yang terlihat perkasa, cerdas, berotot, dan menyeramkan.

Sepulang nonton film itu, saya menyaksikan media sosial yang sedang dipenuhi perdebatan tentang pemimpin. Sepertinya, saya tidak begitu suka pemimpin yang retorik dan menyebar kebencian. Saya lebih suka sosok yang selalu memikirkan jalan keluar, bukan sekadar menyalahkan situasi.

Saya menyukai sosok yang biasa saja, tapi punya pengalaman bekerja dan melayani orang lain. Sosok itu tak harus sempurna, tapi saya bisa melihat bahwa dirinya sedang bekerja keras dan penuh daya upaya, di tengah cerca, kritik, dan caci dari mereka yang selalu mengeluh.

Saya menyukai sosok seperti Hiccup, yang inspiratif dan bisa menggerakkan orang lain. Semoga saja, banyak sosok seperti ini yang bermunculan di sekitar kita. Semoga.


Mencari Obat Kuat di Raja Ampat


koteka

Entah apa yang dilihatnya pada diri ini. Setiba di warkop dekat Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), anak muda itu mendekati saya. Kami langsung akrab.

Namanya Baco. Dia berasal dari Maros, Sulsel. Di Raja Ampat, komunitas Bugis tersebar di mana-mana. Tak hanya di jalur politik dan birokrasi, tapi juga menguasai sektor bisnis dan dagang. 

Baco bekerja sebagai tour guide. Dia mengajak saya untuk ikut petualangan yang akan menaikkan adrenalin. "Kaka kalau ikut saya, pasti akan bikin semua cewek puas?" Saya terkejut. Hah?

Dia mengajak saya untuk mencari Akar Kuat, yakni akar yang bisa meningkatkan gairah seksual. Kulit akar akan diiris tipis2, kemudian dicampur di minuman. Khasiatnya? "Kaka pu barang langsung keras. Biar digantung dua kelapa, tara akan layu." 

What? Emang ada orang bodoh yang mau gantung dua kelapa di kemaluan?

Saya ingat sewaktu ke Banjarmasin. Seseorang menawarkan saya ramuan bernama Tongkat Ali. Khasiatnya sama persis dengan Akar Kuat. Rupanya, di banyak budaya, terdapat banyak herbal yang bisa menambah gairah laki-laki. Entah benar atau tidak. Saya belum pernah mencobanya.

Baco juga mengajak saya untuk mendatangi Tugu Kemaluan Raja Ampat. Lokasinya di Teluk Mayalibit. Sebenarnya, ini adalah stalaktit, cuman bentuknya mirip kemaluan. Ditambah lagi ada banyak mitos dan cerita2 mengenai tugu ini.

Di antara mitosnya adalah orang yang menaruh koin di batu itu, diyakini punya kemaluan sekeras batu. 

Saya ingat pengalaman di Amrik. Orang bule suka melempar koin di kolam2 atau akuarium sembari "make a wish" atau menyampaikan permohonan. Permintaannya bisa apa saja, bahkan hal yang mustahil, misalnya ganti presiden. 

Tapi, bisa jadi Baco benar juga. Para bule yang menaruh koin di situ mungkin berharap punya barang sekuat batu. Benarkah? Saya tak ingin mencari tahu.

Demi tak mengecewakannya, saya mengajak untuk melihat-lihat koteka. Saya tanya, bagaimana cara memastikan ukuran koteka tanpa harus mencobanya. Gampang itu, katanya. Cukup lihat ibu jari kaki. Kalau besar, berarti butuh koteka yang besar.

Diam-diam, saya melirik ke kaki.


(Upsss, saya yakin pria yang membaca tulisan ini langsung mengecek ibu jari kaki. Guys, jangan terlalu percaya. Ini hanya candaan ala Papua. Jangan dipercaya.)

Catatan Wira Kesatria

Seorang sahabat di Facebook, yang belum pernah saya temui, menuliskan kesan-kesannya atas pertemanan kami. Saya merasa tersanjung atas catatannya. Thanks sobat!


Tak terasa 8 tahun telah berlalu, membaca dengan seksama dan mengasyikan tulisan-tulisan teman medsos yang satu ini. Rangkaian kata yang apik, membuat ide, tema, dan topik menjadi nutrisi mencerahkan, mencerdaskan, dan membuat jiwa riang gembira.

Sesuatu yang sulit, diracik menjadi renyah, gurih, dan mengalir deras sampai ke muara. Menenteramkan akal dan kalbu. Tak terasa dan sulit untuk mengingatnya, berapa banyak ikatan aksara karya dan karsa dari sosok plamboyan dan ganteng ini telah tamat saya baca.

Dalam banyak kesempatan, niat dan hasrat untuk bersua dan berdiskusi seputar dunia literasi dengan sosok begawan aksara ini, telah saya patrikan. Namun hingga kini belum kesampaian.




Era melenial dalam satu sisi memudahkan kita untuk mengakses karya tulis bermutu dan cerdas dari sosok idola, walaupun secara personal belum mengenalnya. Lewat media sosial dunia maya, kesalingtergantungan mutual bersinergi dan harmoni. Penulis memposting tulisannya dan publik menikmatinya. Ini fakta tak terbantahkan dan pengalaman saya.

Ekspresi rasa yang membuncah ini, tak terbendung dan tak mampu lagi saya menahannya. Lewat tulisan ringan dan sederhana ini, sebagai wujud apresiasi dan kekaguman terhadap sedekah ilmu pengetahuan yang telah saudara Yusran Darmawan lakukan dan perbuat untuk sesama dan terkhusus pribadi yang dahaga dan pakir ilmu ini.

Selasa 1 Januari 2019, berkenan saya mengucap berdaun-daun terima kasih kepada beliau atas semua tulisan yang telah membuat pengayaan, pencerahan, mata air, dan ladang pengetahuan. Berharap semua ini menjadi berkah, hikmah, dan hidayah melimpah dan tak terputus.

Awal tahun ini, semoga menjadi era keberuntungan, kemenangan, kejayaan, kebahagian buat beliau dan keluarga juga buat kita semua. Semoga Tuhan memampukan kita untuk selalu bermanfaat diatas rasa mengasihi dan menyayangi. []

Salam persaudaraan.

Jakarta, 1 Januari 2019

Perang ROBOT di Pilpres 2019




DI banding pilpres lain, pilpres tahun 2019 ini adalah yang paling seru. Tidak hanya melibatkan para politisi dan kandidat presiden, tapi juga melibatkan banyak mesin, algoritma, kecerdasan buatan, hingga para robot.

*** 

ANAK muda berambut pirang itu duduk sendirian di satu kafe dekat Sarinah. Seorang sahabat mengajak saya untuk bertemu dan berbincang dengannya. Anak muda adalah seorang data scientist yang meraih gelar PhD untuk bidang teknologi informasi di satu kampus di Eropa.

Biarpun kami hanya berbincang sesaat, dia menjelaskan keterlibatannya pada pemilihan presiden di banyak negara. Dia bercerita bagaimana para insinyur dari Rusia bisa membongkar email yang digunakan Hillary Clinton, kemudian membuka banyak fakta yang kemudian dengan cepat “digoreng” oleh tim Donald Trump.

Bagian yang membuat saya tertarik saat dirinya membahas betapa tidak amannya semua perangkat komunikasi yang saya gunakan. Menurutnya, semua komunikasi melalui internet, baik itu WhatsApp, Facebook, hingga Line bisa dengan mudah diretas. 

“Bahkan telepon seluler yang kamu gunakan juga mudah untuk diretas. Semua pembicaraan akan direkam dalam satu server, yang kemudian dengan mudah ditembus dan dibuka apa saja yang dibahas,” katanya.

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligence, dan Kediktatoran Digital

Dalam konteks pilpres, pihak insinyur data dengan mudahnya bisa memantau semua yang dilakukan oleh satu kandidat, bisa mendapatkan bocoran apa saja strategi lawan, kemudian merancang counter strategi yang efektif.

Saya menikmati perbincangan dengannya. Dia bercerita bahwa para petarung pilpres 2019 ini bukan hanya kandidat presiden, bukan hanya tim sukses, tetapi juga adu strategi dalam memaksimalkan perangkat teknologi. 

Pengendali strategi malah berada di balik layar. Mereka tidak selalu manusia yang sibuk memetakan data dan informasi. Perhelatan ini juga melibatkan mesin-mesin cerdas yang memproses semua informasi, memahami algoritma percakapan di media sosial, kemudian memberikan beberapa rekomendasi-rekomendasi.

Pilpres tahun 2019 jauh berbeda dengan pilpres sebelumnya. Dulu, sorak-sorai dan ramai-ramai mudah terpantau di jalan-jalan melalui ribuan baliho yang mengotori ruang publik kita. Tahun ini, sorak-sorai itu ada di media sosial. Semua kubu berdebat, saling serang, bahkan saling ancam di media sosial.

Saya mengamati bagaimana Facebook dan Twitter yang tadinya tenang, kini menjadi arena tempur yang tak henti. Ada banyak orang yang memasuki media sosial dengan membawa misi untuk membela politisi yang diidolakannya. Mereka meramaikan media sosial, mengolah beragam isu, kemudian saling tempur di situ.

*** 

BEBERAPA waktu lalu, seorang sahabat mengajak saya untuk melihat aktivitas Command Center di satu lembaga yang kerap melakukan riset untuk pemasaran digital. Beberapa klien lembaga ini adalah partai politik. Mereka memasok informasi terkait satu brand, bisa berupa produk, bisa juga politisi dan partai politik.

Ruangan utama lembaga itu mengingatkan saya pada ruang utama kantor media online. Di situ, saya melihat layar-layar besar, yang tertera angka-angka dan grafik-grafik pembicaraan publik.

BACA: Kiat Membangun Laskar Media Sosial di Era 4.0

Di beberapa kantor media online, layar-layar menampilkan Google Trend, yang menganalisis semua pencarian di media sosial. Di situ juga terdapat grafik-grafik yang isinya percakapan di media sosial. Para jurnalis media online biasanya memetakan isu dan bahan liputan berdasarkan topik yang paling banyak dibicarakan.

Ruang yang saya saksikan ini adalah ruang kontrol utama untuk memberikan instruksi dan arahan secara terpusat. Ruang itu menjadi pengendali informasi, yang memetakan semua percakapan dan sentimen publik, setelah itu merancang strategi yang kemudian menjadi amunisi untuk menyerbu media sosial.

Semua konten dan strategi dirancang di ruangan itu. Semua layar menampilkan hasil kerja mesin dan algoritma yang memantau semua media sosial. Apa pun yang dibahas publik akan mudah terpantau di situ. Bahkan layar juga menampilkan seberapa efektif informasi yang disebar ke para netizen.

Secara umum, saya melihat ada tiga unsur utama di setiap pusat komando informasi. Pertama, digital listening tool, yang berisikan perangkat untuk memetakan semua percakapan di media sosial. Kedua, digital media platform, yang isinya berbagai platform media sosial, juga media mainstream. Ketiga, mobile apps, yang digunakan relawan secara mobile di berbagai lokasi.

Ketiga perangkat ini digunakan untuk mengontrol semua aliran informasi. Teknisnya, tim kreator konten akan memetakan konten yang sedang trending, kemudian merancang konten yang bisa viral, meneruskannya kepada para influencer dan laskar media sosial yang akan meneruskannya di lapangan. 



Nah, para laskar media sosial ini tidak selalu seseorang yang rajin memosting sesuatu. Bisa jadi, itu adalah akun-akun robot yang punya kemampuan untuk mendiseminasi informasi lebih cepat. Akun-akun ini bisa menembus berbagai grup-grup di Facebook, juga meramaikan semua grup di Whastapp. 
Bagaimana dengan penyebaran hoaks? Apakah juga disebarkan dengan cara yang sama? Seorang teman di situ mengiyakannya. Menurutnya, mesin yang mereka miliki bisa menyebarkan hoaks dengan sangat cepat. Namun, mereka memilih tidak melakukannya. Mereka hanya memantau hoaks demi hoaks, kemudian merancang strategi untuk menjawabnya.

Ini pula yang membuat hoaks sulit dihentikan. Ketika satu orang menyebar berita hoaks, algoritma media sosial bisa mendeteksi postingan viral itu, kemudian memantulkannya ke mana-mana sehingga asal-usul hoaks itu jadi tidak penting. Hingga akhirnya, penegak hukum bisa merunut ulang lalu menemukan sumber informasi bohong itu. 

Pada titik ini, saya teringat ucapan seseorang: hoaks diciptakan oleh orang bodoh, disebar oleh orang bodoh, dan diterima kebenarannya oleh orang idiot.

*** 

DI ruang kontrol informasi itu, saya terus memikirkan kalimat sahabat itu. Saya teringat sosiolog Manuel Castells yang membahas peran para planner atau perencana yang memiliki akses pada jejaring informasi dan menentukan apa yang dipikirkan publik.

Orang-orang yang setiap hari wara-wiri di media sosial itu tidak menyadari bahwa semua percakapan yang mereka lakukan akan menjadi big data yang lalu dianalisis oleh mesin algoritma cerdas, yang kemudian meneruskannya ke mana-mana hingga terjadi debat publik. 

Ini pula yang menjelaskan mengapa diskusi publik tak pernah menyentuh langit substansi, sebab yang dibahas adalah hal receh remeh yang tak ada kaitannya dengan tantangan yang dihadapi oleh bangsa kita.

Bisa jadi, ini dipengaruhi oleh naluri kita sebagai manusia adalah selalu ingin terlibat dalam satu tema yang dipercakapkan banyak orang. Kita tak menyadari bahwa sering kali tema dan topik yang setiap hari kita perdebatkan dan pertengkarkan adalah sesuatu yang sengaja dibuat oleh mesin algoritma.
Tidak mengejutkan jika ada banyak orang di sekitar kita yang membayangkan dirinya serupa Don Quixote, tokoh dalam novel yang ditulis Miguel de Cervantes, yang selalu ingin berkelana untuk membunuh naga. Padahal, naga adalah hewan yang hanya ada dalam imajinasi.

Dalam konteks media sosial, kita tak sadar kalau telah meyakini sesuatu, yang belum tentu punya penalaran yang benar. Kita hanya meyakini satu kenyataan sebab setiap hari kita disodorkan kenyataan itu, yang ternyata adalah hasil kreasi dari banyak mesin cerdas demi mengarahkan pilihan kita pada satu titik.

Dalam banyak sisi, para netizen yang setiap hari berdebat itu tidak menyadari apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka disuapi informasi sepihak, dipanas-panasi setiap saat oleh akun robot, dan terakhir menjadi karakter yang sukses dibentuk oleh satu kelompok.

Dalam film The Incredible 2, ada sosok Screenslaver yang melakukan kejahatan tanpa disadarinya. Dia terpengaruh oleh apa yang disaksikannya. Dia tidak tahu kalau kesadarannya telah dikendalikan oleh seseorang.

Tanpa sadar kita menjadi screenslaver, yakni budak (slave) yang dikendalikan oleh layar (screen).


Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...

Google+ Badge