Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Sepenggal Kisah Ayah NADIEM dalam Disertasi


Nadiem Makarim

Bukan hal yang mengejutkan jika Nadiem Makarim langsung menggebrak. Ayahnya pernah disebut-sebut sebagai “orang tercerdas di masa Orde Baru.” Ayahnya punya latar belakang aktivis dan pernah menumbangkan Sukarno, kemudian menjadi intelektual terpandang, lalu pengacara sukses.

Nadiem bisa saja berkomentar kalau sekolah bukan segala-galanya. Tapi kakek hingga ayahnya berpandangan berbeda. Nadiem tumbuh di tengah keluarga yang menempati kelas menengah mapan dan kritis di masa Orde Baru.

Saya menemukan kiprah ayah Nadiem yakni Nono Anwar Makarim dalam disertasi berjudul Indonesia's New Order, 1966-1998: Its Social and Intellectual Origins yang ditulis Sony Karsono di Ohio University tahun 2013. Disertasi ini membahas para intelektual di masa Orde Baru.

Dalam disertasi itu, Sony Karsono memetakan tiga poros penting intelektual di masa Orde Baru.

Pertama, kelompok intelektual yang membantu Presiden Soeharto untuk modernisasi. Mereka adalah pemikir Widjojo Nitisastro, Ali Murtopo, Daoed Joesoef, Harry Tjan Silalahi, dan Jusuf Wanandi.

Kedua, intelektual yang berdiri di luar kekuasaan dan membangun wacana tanding. Tiga tokoh penting di sini adalah Nono Anwar Makarim, Ismid Hadad, dan Dawam Rahardjo. Mereka mendorong tema-tema keadilan sosial agar pemerintah tidak melulu bicara pembangunan ekonomi. Mereka mendirikan LP3ES yang menjadi garda depan pemikiran kritis di masa itu.

Ketiga, kelompok sastrawan yang menggunakan sastra sebagai medium untuk menyampaikan kritik pada situasi negara. Tiga sosok yang dibahas adalah Motinggo Busye, Yudhistira Massardi dan Teguh Esha.

Baiklah kita fokus pada Nono Anwar Makarim. Nono berasal dari keluarga keturunan Arab. Ayahnya, Anwar Makarim, adalah seorang notaris yang selalu menekankan kerja keras pada anak-anaknya. Anwar sempat mencoba untuk bisnis, tetapi gagal. Dia tidak cocok berbisnis. Dia lebih cocok menjadi intelektual.

BACA: Erick Thohir dalam Catatan Profesor Amerika

Nono mengenang ayahnya adalah sosok yang kritis dan selalu menumbuhkan iklim dialog dengan anak-anaknya. Dia senang berdiskusi. Sedangkan ibu Nono adalah cucu dari Awab Soengkar Aloermei, pendiri perusahaan tekstil terbesar di Solo, serta kawan dekat Pakubuwana X, penguasa tradisional Surakarta. Ibunya sangat menekankan pentingnya kehidupan religius.

Nono dibesarkan dalam dua model pendidikan yakni Islam dan barat. Kakinya memijak dua sisi tersebut sehingga dirinya terbiasa dengan berbagai macam model pemikiran. Nono terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) tahun 1959, namun baru dinyatakan lulus tahun 1973.

Dia kuliah selama 12 tahun. Mengapa? Ada dua alasan. Pertama, dia menyebut dirinya seorang bohemian yang hidupnya tidak teratur. Kedua, dia menempuh jalan sebagai aktivis dan bersahabat dengan sejumlah pemikir, di antaranya Arief Budiman, Fikri Jufri, Goenawan Mohamad, dan Salim Said.

“Pada masa itu kami lapar dengan ide-ide baru. Sementara dosen di kampus tidak bisa mengatasi rasa lapar itu. Kami lalu membentuk kelas-kelas kajian di Gang Ampiun, Cikini, dan kadang-kadang di rumah Wiratmo Sukito,” katanya.

Ketika aksi-aksi marak pada tahun 1960-an demi melawan penetrasi Partai Komunias Indonesia (PKI), Nono ikut bergabung dalam pergerakan. Dia pemimpin redaksi harian Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), yang saat itu sangat produktif melahirkan banyak wacana pergerakan.

Hingga akhirnya Orde Baru lahir, dan sejumlah aktivis bergabung ke parlemen.  Di tahun 1971, muncullah lembaga think tank yang menjadi partner pemerintahan Orde Baru untuk merumuskan pembangunan dan modernisasi. Intelektual keturunan Tionghoa yakni Harry Tjan Silalahi dan Jusuf Wanandi lalu menghimpun sejumlah intelektual lain demi mendirikan Center for Strategic of Indonesian Studies (CSIS).

Nono Anwar Makarim, Ismid Hadad, dan Dawam Rahardjo juga membentuk satu kelompok pemikir yang membangun wacana kritis atas kebijakan pembangunan Orde baru.

“Di tahun 1965, saya adalah pemimpin mahasiswa. Saya ikut berdemonstrasi dan menjatuhkan pemerintah karena retorika nation building dari pemerintah tidak bisa menghadirkan harga-harga murah. Rakyat kelaparan. Mereka butuh beras, pakaian, minyak tanah,” katanya dalam disertasi Sony Karsono.

Nono Anwar Makarim semasa muda

Saat Orde Baru tumbuh, datanglah mafia Berkley, sebutan bagi sejumlah ekonom alumnus Berkley yag mendesain kebijakan ekonomi pemerintah. Nono mulai mengalami kegelisahan. Dia senang karena PKI disingkirkan, tetapi dia juga tidak senang melihat bagaimana munculnya dominasi militer dalam percaturan politik Orde Baru.

Di tahun 1971, Nono menikah dengan Atika Algadrie. Atika adalah putri pemimpin PSI, Hamid Algadrie, yang merupakan salah satu tokoh perintis kemerdekaan.

Setelah itu, dia berangkat ke Negeri Paman Sam. Awalnya, ia menjadi fellow researcher di Centre for International Affairs Harvard University, AS. Pengalaman yang paling membekas dirinya ketika itu adalah Harvard begitu dipenuhi oleh orang pintar. Ia merasa kalau ada orang pintar dan arogan, sebaiknya sekolah di Harvard.

Ia yakin setelah bersekolah di sana akan berubah 180 derajat, dan bukan tidak mungkin menjadi rendah diri karena banyak yang jauh lebih pintar dan cemerlang di sana. Ia melihat seorang profesor justru bekerja lebih keras dari mahasiswanya.

Nono menuturkan, buku kuliahnya untuk materi Law International Trade di Harvard bahkan lebih tebal dibandingkan dengan diktat kuliah mulai dari program persiapan sampai sarjana di FHUI.

Suatu waktu ketika masih di Harvard karena merasa begitu banyaknya orang cerdas dan berbakat di sana, ia sampai menulis surat ke ayahnya: Semua hal yang cerdas untuk dikatakan, yang perlu dikatakan, dan yang kalau dikatakan akan merubah pikiran orang, itu sudah dikatakan oleh graduate student dan bukannya oleh profesor.

Tahun 1978 Nono menyelesaikan studinya di Harvard. Disertasinya bertajuk Companies and Business in Indonesia. Apa daya, meski mengantongi gelar master dan doktor juridical science dari Harvard Law School, dia tidak bisa langsung mengajar di FHUI.

Dia terhalang birokasi karena untuk menjadi dosen harus berstatus pegawai negeri. Nono langsung patah hati. Dia banting stir menjadi pengacara, profesi yang belakangan diakuinya bukan profesi dambaannya. Padahal, dia besar karena dunia aktivis, jurnalis, dan politik.

Bahkan banyak teman-temannya menuding Nono mencari uang, ketimbang melanjutkan kerja-kerja aktivismenya. Dia tetap menjadi advokat. Dia ingin mendedikasikan hidupnya untuk membela mereka yang terpinggirkan. Bersama rekannya Frank Taira, dia mendirikan Makarim-Taira Law Firm di tahun 1980 dan menjadi firma hukum yang dicari banyak klien.

Lingkaran keluarga Nono adalah para terpelajar yang sukses di bidang masing-masing. Istrinya Atika Algadri adalah lulusan magister dari Harvard. Atika adalah mantan reporter di harian KAMI, bersama Widarti (istri Goenawan Mohamad).

Atika juga co-founder atau pendiri Femina, majalah yang mengangkat isu-isu perempuan pada masa Orde Baru. Tahun 1987, Atika mendirikan Yayasan Lontar yang berkontribusi pada dunia sastra Indonesia.

Mayjen Zacky Anwar Makarim

Anak-anak Nono dan Atika semuanya menjadi tokoh di bidangnya masing-masing. Mereka sukses di bidang berbeda. Rayya Makarim menjadi salah seorang penulis skenario yang sering mendapat penghargaan. Dia lulus magister dari University of London. Selanjutnya Hana Makarim lulus magister dari Yale University tahun 1987, kini bekerja di BKPM. Terakhir, Nadiem Makarin yang lulus dari Harvard.

Bahkan paman dan bibi Nadiem juga sama hebatnya. Chaidir Anwar Makarim adalah profesor geologi di Univesitas Tarumanagara, Mayjen (Purn) Zacky Anwar Makarim adalah perwira tinggi militer yang pernah menjabat Kepala Badan Intelijen ABRI, Dr Irma Anwar Makarim bekerja sebagai pengajar di UI.

*** 

Saya teringat pada buku Outliers yang ditulis Malcom Galdwell tahun 1980. Kata Galdwell, kesuksesan tidak berasal dari angka nol. Semua orang berutang pada orang tua dan dukungan orang lain.

Kesuksesan adalah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai “keuntungan yang terakumulasi”. Tempat dan kapan seseorang tumbuh besar memiliki pengaruh yang cukup besar.

Galdwell menolak anggapan tentang keberhasilan yang semata-mata dipicu oleh kecerdasan. Menurutnya, keberhasilan seseorang menggapai satu kesuksesan tidak bisa dilihat hanya dari satu aspek saja, melainkan terdapat hal yang lebih rumit, kompleks, dan hanya bisa dipahami dengan menelusuri kehidupan orang tersebut.

Gambaran yang paling sederhana namun gamblang dipaparkan Galdwell dalam cerita singkat mengenai pohon. Pohon ek tertinggi di hutan bukan semata-mata karena dia paling gigih. Dia menjadi yang tertinggi karena “kebetulan” tidak ada pohon lain yang menghalangi sinar matahari kepadanya, tanah di sekelilingnya dalam dan subur, tidak ada kelinci yang mengunyah kulit kayunya sewaktu masih kecil, dan tidak ada tukang kayu yang menebangnya sebelum dia tumbuh dewasa.

Dukungan lingkungan adalah hal yang sangat ditekankan oleh Galdwell. Secerdas apa pun seseorang, jika tidak tumbuh di lingkungan yang gembur, pasti akan tumbuh meranggas. Sebab dukungan orang tua, lingkungan, dan arena bermain adalah kunci yang menjelaskan kesuksesan seseorang.

Dalam hal Nadiem, kita melihat sesuatu yang tidak instan. Dia bisa besar karena dia tumbuh di rahim keluarga yang juga besar. Sejak belia, dia sudah mendengar kisah hebat ayahnya sebagai intelektual terkemuka di masa itu. Dia dibesarkan oleh ayah dan ibu yang keduanya alumni Harvard, universitas terbaik di dunia.

“Kita memasuki era ketika gelar bukan lagi jaminan kompetensi,” kata Nadiem. Pernyataan ini jelas bertentangan dengan falsafah di keluarganya. Ayah, ibu, hingga kakaknya, lalu paman dan bibi adalah alumnus magister dari kampus-kampus besar. Mereka punya kompetensi di berbagai bidang masing-masing.



Mungkin yang dimaksudkan Nadiem adalah kompetensi sesuai gelar. Misalnya dirinya adalah alumnus Hubungan Internasional, tetapi bekerja di bidang teknologi. Dia hendak berkata bahwa pendidikan harusnya membebaskan. Seorang siswa bebas memilih hendak jadi apa.

Yang dilupakan Nadiem, pernyataan itu bisa membuat orang berpikir bahwa tak perlu kerja keras mengejar gelar. Orang bisa bermalas-malasan ketimbang menerima kewajiban baca dari lembaga pendidikan. Andaikan pernyataan itu dikemukakan Susi Pudjiastuti, publik akan mafhum. Sebab Susi adalah anomali dari manusia Indonesia yang mendamba gelar demi kesuksesan. Susi bisa sukses berkat kecerdasan yang ditempanya dari pengalaman berbisnis.

Pelajaran buat semua orang Indonesia adalah jika ingin punya anak hebat seperti Nadiem Makarim, tidak semudah itu. Anda mesti menjadikan diri Anda hebat, bangun kultur hebat sehingga potensi anak hebat bisa tumbuh subur. Limpahi dengan kasih sayang serta visi yang kuat agar seorang anak mengejar apa yang menjadi mimpinya.




Dokter Muda di Kampung ASMAT




Dokter muda itu bisa saja hanya duduk di klinik sambil memanen rupiah. Dia memilih hidup yang menantang. Dia mundur dari klinik, kemudian menekuni dunia literasi. Dia bergabung dengan Dompet Dhuafa demi menjalankan misi kemanusiaan. Dia, Drg Dhihram Tenrisau.

Lelaki yang dipanggil Tesa ini suka menerobos tantangan. Dia selalu menghindari acara-acara diskusi politik di ruangan ber-AC. Dia juga menjauh dari berbagai acara-acara milenial perkotaan yang sedikit menyerempet ke tema politik, juga popularitas.

Namun saat mendengar tragedi kemanusiaan, dia akan segera bergabung sebagai relawan. Ketika konflik Rohingya merebak, dia ke sana sebagai relawan di Posko Kesehatan. Dia tak sekadar bertugas sebagai staf medis. dia membuat reportase pandangan mata atas tragedi kemanusiaan yang diamatinya.

Di akhir 2017 hingga awal 2018, berita tentang gizi buruk di Asmat merebak. Alumnus Universitas Hasanuddin ini pun bergegas ke sana bersama beberapa dokter dan rombongan Dompet Dhuafa. Kembali, dia membuat catatan-catatan yang kemudian terbit menjadi buku berjudul Asmat: Mutiara Timur yang Tersisih.

Saya amat beruntung karena dikirimkan gratis buku ini. Dia menulis feature perjalanan yang menarik tentang gizi buruk di Asmat serta program intervensi yang mereka lakukan. Dia bertemu mereka yang mengalami gizi buruk, mencatat kisah-kisah, juga mendeskripsi lanskap Asmat yang eksotik.

Saya tercenung membaca bab mengenai sagu. Dia mencatat komentar beberapa warga Asmat yang mengatakan gizi buruk ini terjadi ketergantungan pada beras. Saat orang Asmat masih mengonsumsi sagu, gizi buruk tidak pernah terjadi.

Namun sejak pegawai negeri mendapat jatah beras, serta dana otsus turun ke desa-desa dalam bentuk beras, sagu seakan turun kelas. Orang Papua mulai tergantung pada beras yang diimpor dari Jawa. Saat pasokan terbatas, gizi buruk dan krisis pangan merebak.

“Gizi buruk tidak akan terjadi kalau warga Asmat masih menjadikan sagu sebagai makanan dan identitas,” kata seorang warga Papua, sebagaimana ditulis Tesa.

Membaca bagian ini, saya pikir Tesa adalah sosok yang sangat antropologis. Dia bisa melihat satu soal tidak hanya dari sisi medis, tapi mengurai sosial budaya, perubahan pola makan, hingga pengaruh kebijakan politik.

Saya merasa buku ini terlalu singkat. Saya ibarat menikmati sajian enak yang cepat habis, sementara rasa lapar masih melilit perut. Saya rasa banyak sisi menarik yang bisa diangkat mengenai Asmat dan seharusnya diulas.

Tapi saya pikir ini hanya pembuka jalan. Saya yakin di masa mendatang, Tesa akan lebih banyak lagi menulis berbagai hal mengenai Asmat serta tantangan yang dihadapi di sana.

Saya sangat salut melihat buku ini. Anak muda yang sering melihat saya sebagai mentor ini telah bergerak melampaui rekan sejawatnya. Dia sudah mengabadikan kenangan, membagikan kenangan itu agar menjadi perhatian semua orang, sehingga kelak akan menjadi gelombang empati dan keberpihakan pada orang Asmat.

Dia sudah meletakkan satu alarm di pikiran kita tentang betapa banyaknya pekerjaan rumah untuk kita sama-sama selesaikan di Asmat, negeri timur yang kaya raya dan penuh potensi hebat.

Selamat buat Tesa. Terima kasih atas buku yang keren ini.


Erick Thohir dalam Catatan Profesor Amerika


Erick Thohir dan Sri Mulyani saat jumpa pers mengenai pemberhentian Dirut Garuda

Di awal kabinet ini dilantik, kita punya ekspektasi pada beberapa nama. Mulai dari Bahlil Lahadalia, Nadiem Makarim, hingga Erick Thohir. Tapi di antara mereka, tampaknya hanya Erick Thohir yang terlihat menampilkan ketegasan serta gebrakan yang selalu menjadi sorotan publik.

Ketika dia meminta Ahok bergabung di Pertamina, dia terlihat santai dan mengabaikan suara-suara protes dari sejumlah orang yang mengatasnamakan agama. Dia melihat kinerja, bukan suara bising. Demikian pula saat memangkas pejabat eselon di kementeriannya.

Saat dia memberhentikan Dirut Garuda, dia melakukannya seperti gaya seorang sherif yang menembakkan pistol saat menerima laporan. Dia tampak dingin dan terlihat tidak ada beban. Kalau Anda salah, ya salah. Tak ada ampun untuk itu.

Sosok Erick Thohir membersitkan banyak harapan kepada anak muda Indonesia untuk tetap teguh dan konsisten, serta memberikan energi terbaik. Dia adalah sosok yang bekerja dan kian terpantau di radar publik. Dia pantas menjadi pemimpin bangsa ini.

Leadership-nya sudah terlihat sejak menjadi Ketua Panitia Asian Games 2019, serta Ketua Tim Jokowi-Ma’ruf.

Dia mewakili beberapa kriteria yang amat diidamkan orang-orang. Dia muda, kaya-raya, suka olahraga, juga pengusaha hebat.  Sebagai pengusaha media dan baliho, dia membawa gerbongnya merapat ke Jokowi. Sebagai pebisnis handal, dia bisa menggaet dan mengonsolidasi kalangan milenial dan pebisnis.

Orang lupa kalau dia seorang Muslim yang sangat taat. Seorang relawan berkisah ketika sedang salat di GBK, dia tidak menyangka kalau yang menjadi makmum adalah Erick Thohir. Catatannya viral.

Siapakah sosok Erick yang sebenarnya? Bagaimana pandangannya tentang Islam? Apakah dia akan menentukan kebijakan redaksi semua media yang dimilikinya?

Saya menemukan catatan tentang Erick Thohir yang ditulis Profesor Janet Steele, seorang pengajar jurnalistik di George Washington University. Janet bercerita tentang Erick yang belum saya temukan di liputan media-media.

Ternyata Erick memiliki ayah yang etniknya separuh Lampung dan separuh Bugis. Ibunya, setengah Tionghoa dan setengah Jawa Barat. Erick juga menikahi perempuan setengah Tionghoa, dan setengah Betawi. Selain latar belakang etnik, kisah Erick juga menarik untuk diulas.

Erick adalah pebisnis yang memulai kariernya dengan mengakuisisi Republika, media berbasis Muslim terbesar di Indonesia. Dia mengambil-alih media itu saat sedang krisis. Janet Steele menulis dan mewawancarai Erick Thohir saat melakukan riset mengenai Jurnalisme Kosmopolitan di Negara Muslim Asia Tenggara.

Dia melakukan riset pada empat media. Pertama, Sabili, yang disebutnya mewakili Islam skripturalis. Kedua, Republika yang menjadi representasi dari pandangan atas Islam sebagai pasar. Ketiga, Harakah, media Malaysia yang melihat Islam sebagai politik. Keempat, Malaysiakini yang melihat Islam secara sekuler. Kelima, Tempo, yang dianggapnya sebagai representasi Islam kosmopolitan.

Dalam catatan Janet, perjalanan Republika menempuh dua periode. Periode pertama adalah periode politik, ketika media itu di bawah ICMI yang menjadi lokomotif pemikiran di era Orde Baru. Periode kedua adalah periode bisnis ketika Mahaka Grup yang dipimpin Erick Thohir mengambil-alih media itu, kemudian mengubah haluan media itu menjadi lebih berorientasi pasar.

Di mata Janet, Republika di masa Erick Thohir mengalami pergeseran. Saat berkunjung ke media itu, tidak tampak banyak simbol-simbol keislaman. Padahal media ini bertujuan untuk melayani masyarakat Muslim.

Pihak Republika mengklaim apa yang mereka lakukan sesuai dengan garis keislaman. Dalam tulisan tentang sejarah Republika, yang beredar untuk kalangan internal, terdapat kutipan: “Dari halaman pertama hingga terakhir, tak ada yang menyimpang dari kerangka kerja “amar ma’ruf nahi mungkar.”

Syahrudin El Fikri, salah seorang redaktur senior yang ditemui Janet mengatakan bahwa inilah Islam substansial.

“Kami tidak bisa hanya berdiam diri melihat para tetangga miskin. Itu salah. Kami tidak bisa diam saja melihat gereja dibakar. Itu tidak boleh. Kami tidak bisa membiarkan kaum Ahmadiyah dibakar. Kami bekerja karena kami harus mengatakan sesuatu: toleransi. Inilah yang disebut Islam substantif.”

Janet pertama kali bertemu Erick pada bulan Februari 2013. Di sebuah restoran yang trendi, Erick mengajak Janet untuk makan malam. Pertama bertemu, Erick langsung bertanya, “Apakah Anda Muslim?” Janet menjawab bukan.

Erick bercerita, saat pertama masuk kantor Republika, dia memperlihatkan sebuah foto mengenai situasi di negara lain. Erick berkata:

“Kali pertama masuk Republika, saya tunjukkan foto. Inilah Islam. Orangnya memang Jerman, tetapi Muslim. Jangan mengira bahwa orang Tionghoa dan orang kulit putih, bukan Muslim. Belum tentu. Anda tak bisa berprasangka seperti itu."

Janet lalu bertanya tentang agama Erick Thohir, yang langsung dijawab lugas: “Saya seorang haji. Namun yang jelas, Islam bagi keluarga saya adalah sesuatu yang bersifat pribadi. Itu identitas kami, tetapi juga sesuatu yang sangat personal,” kata Erick.

Erick mengakui bahwa dirinya membawa visi bisnis ke Republika, yang tadinya dikelola sangat idealis. Dahulu, Republika adalah tempat orang menuangkan gagasan-gagasan tentang bangsa. Ada banyak intelektual dan pemikir yang rutin mengisi kolom di media ini.

Di masa Erick, Republika makin berorientasi bisnis.

“Saya ingat empat pesan yang saya sampaikan ketika masuk Republika. Pertama, media ini seharusnya berada di tengah, moderat. Kedua, saya tidak ingin Islam dianggap bodoh, miskin, dan terbelakang. Ketiga, kita tak boleh berprasangka. Ketika melihat sesuatu, kita tidak bisa secara otomatis langsung berpikir negatif. Kita harus berpikiran terbuka. Terakhir, Anda harus memikirkan pembaca,” katanya.

Erick menginginkan media ini bisa berpikir positif. “Anti globalisasi? Itu belum terbukti buruk. Jangan mengira itu buruk. Orang asing juga membayar pajak. Oleh karena itu, saya bilang berpikir positiflah,” katanya.

Janet tak puas dengan pernyataan Erick. Dia lalu mewawancarai pihak redaksi. Semuanya berpandangan sama bahwa pebisnis tidak ikut mencampuri semua kebijakan redaksional. Saat ada hal-hal menyangkut politik, maka sikap pihak redaksi belum tentu sama dengan Erick Thohir.

Pada saat diwawancarai, Erick Thohir masih menjabat sebagai Presiden Direktur TvOne. Saat pemilihan presiden tahun 2014, TvOne mendukung Prabowo Subianto. Republika pun dianggap mendukung Prabowo.

buku yang ditulis Profesor Janet Steele

Pihak redaksi mengklaim kalau mereka netral. Sebagai media, mereka mendukung siapa pun. Tapi, Janet Steel mengamati tajuk harian ini dan juga Republika Online (ROL) kebanyakan dukungan kepada Prabowo.

Pihak redaksi Republika Online menyebut, kebanyakan pembaca media itu berasal dari Muhammadiyah yang menyukai tulisan-tulisan serangan pada Jokowi. Makanya, tulisan-tulisan mengenai serangan pada Jokowi selalu menjadi tulisan terpopuler yang tampil di halaman depan.

“Kami tidak bisa mengontrolnya Itu otomatis. Sebab cyber army Prabowo menyebarkan tulisan itu ke mana-mana. Makanya, Republika seakan-akan mendukung Prabowo,” kata Joko Sadewo, Pimred Republika Online.

Janet menganalisis hubungan antara web analytics atau proses mengukur dan menganalisis trafik situs web dan gatekeeping, proses menentukan berita yang tayang. Pembaca Republika memiliki kecenderungan untuk mendukung Prabowo dengan perbandingan 6 banding 1. Inilah para pembaca yang kemudian menyebarkan tulisan itu ke mana-mana sehingga menjadi hit.

Janet berkesimpulan bahwa segmen pasar menentukan arah pemberitaan media. Bahwa semua pilihan-pilihan berita, pada akhirnya akan diseleksi oleh segmen pembaca sehingga menentukan perwajahan dan isu yang ditampilkan.

Karena segmen pasarnya adalah komunitas Muslim, media ini lebih fokus pada isu-isu tentang Islam, mulai dari partai politik berbasis Islam, hingga tema-tema yang diperbincangkan komunitas Muslim.

Masuknya Erick Thohir mengubah wajah media ini ke arah komersial. Transisi itu menyebabkan adanya kompromi dengan idealisme dan ceruk pasar sebelumnya. Media ini akan tetap menyajikan jurnalisme yang profesional dan berbicara atas nama demokrasi, ekonomi, juga toleransi.

Dengan demikian, kita sudah bisa memprediksi bagaimana sikap media ini terkait pilpres tahun 2019. Belajar pada Janet, media ini akan berposisi di tengah, tapi pembaca dan cyber army yang akan menyebar berita itu ke mana-mana sehingga membentuk citra atau gambaran tentang media ini.

Gerak netizen ini adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa dihambat oleh Erick Thohir. Dia pun tidak mungkin mengintervensi media sebab di era media sosial ini, netizen punya otoritas hendak membagikan berita yang mana, juga menentukan mana yang hits dan mana yang bukan.

Pertanyaan terakhir yang cukup menohok dari Janet adalah: apakah Republika melayani kepentingan pembaca Muslim ataukah menjadi pemuas keinginan mereka?

***

KINI, sosok Erick Thohir kembali berada dalam spotlight percakapan publik. Sejauh ini, dia bisa menampilkan sosok sebagai pekerja keras yang cepat dalam mengambil keputusan. Kalangan milenial mengidolakan sosok seperti ini sebagai figur pemimpin yang tak sekadar menata kata, tetapi bisa pula bekerja.

Jika dia berniat menjadi pemimpin bangsa ini, karpet merah sedang terbentang untuknya. Apalagi jika kinerjanya semakin moncer. Erick akan jadi kereta yang melaju kencang dan tak bisa dihentikan siapa pun. Bahkan oleh Prabowo maupun Sandiaga Uno.

Kita tunggu saja.



Laskar Digital untuk Menaklukkan BRIGITTA LASUT


Hillary Brigitta Lasut

Ketika Hillary Brigitta Lasut memimpin sidang MPR RI, terbersit banyak harapan kalau telah lahir generasi baru yang akan mengelola politik dengan cara-cara milenial, minimal dia akan menggunakan media sosial secara efektif untuk mengelola pesan dan aspirasi politik.

Tapi setelah beberapa bulan berlalu, dia tak selincah anak muda bernama William Aditya Sarana, kader PSI yang menggunakan medsos untuk membuka praktik anggaran di DKI Jakarta. Malah dia tak “bunyi” di media sosial. Suara dan pandangan politiknya seakan tenggelam di dasar laut Bunaken.

Marilah kita memetakan aset digital yang dia miliki. Pertama, dia punya Facebook Fanpage dengan jumlah follower hingga 10K. Bagi politisi yang lolos Senayan, jumlah ini terbilang kecil. Kedua, di Instagram, dia punya 57,3K follower. Ini jumlah yang cukup besar. Tampaknya dia lebih banyak aktif di Instagram. Ketiga, dia punya akun Youtube yang hanya diikuti 947 orang.

BACA: Senjata Digital untuk Aktivis Jaman Now

Kekuatan media sosial bukan dilihat dari jumlah follower, tapi seberapa produktif dia melahirkan konten berkualitas yang kemudian viral. Kekuatannya pada sejauh mana reproduksi gagasan yang kemudian heboh dan menyebar ke mana-mana, tidak hanya dapilnya, tetapi seluruh Indonesia.

Di sinilah letak kelemahan Brigitta Lasut. Dia bukan tipe orang yang rajin menginformasikan melalui media sosial. Di Fanpage Facebook, dia tidak banyak membagi postingan. Sepanjang November, dia tidak memosting apa pun. Dia hanya aktif di bulan Oktober yang tercatat ada 7 aktivitas.

Dia lebih banyak akif di Instagram. But, come on, postingannya kebanyakan selfie dengan sejumlah tokoh, dan selfie saat ada kegiatan. Dia belum bisa memaksimalkan Instagram sebagai kanal yang mengalirkan gagasan.

Bolehlah memajang foto selfie, tapi dia harus menyiapkan banyak ruang untuk mengalirkan gagasan-gagasan yang substansial, yang diolah kembali dengan sederhana, yang bisa dipahami generasinya. Harusnya dia perkuat pada substansi pesan yang berkaitan dengan publik sebab sebagai wakil rakyat dia adalah penyambung lidah dan penyampai pesan yang berkewajiban untuk kembali menyampaikan pesan pada publik.

Mungkin saja dia memang sibuk. Tapi dia bisa saja memercayakan urusan media sosial kepada sejumlah juru bicara (jubir) digital yang dia tunjuk untuk membagikan sejumlah hal bermanfaat yang dilakukannya.  Dia bisa memaksimalkan kerja staf yang bisa menjadi admin sekaligus mengelola sejumlah prajurit digital yang berfungsi untuk menyebarkan informasi tentang dirinya. Dia bisa menaklukkan orang lain melalui konten yang produktif dan bermanfaat.

BACA: Laskar Digital untuk Menangkan Pilkada

Belajar pada pilpres lalu, untuk menjadi politisi milenial yang kuat di dunia digital, dia harus membekali timnya dengan tiga hal. Pertama, digital listening tool, yang berisikan perangkat untuk memetakan semua percakapan di media sosial. Kedua, digital media platform, yang isinya berbagai platform media sosial, juga media mainstream. Ketiga, mobile apps, yang digunakan relawan secara mobile di berbagai lokasi.

Ketiga perangkat ini digunakan untuk mengontrol semua aliran informasi. Jantung dari aktivitas ini adalah perlunya kreator konten untuk memetakan semua percakapan netizen. Selanjutnya, tim kreator konten akan merancang konten yang bisa viral, meneruskannya kepada para influencer dan laskar media sosial yang akan meneruskannya di lapangan.

Harusnya, tim medsos Brigitta bisa mulai memetakan percakapan netizen dengan mengamati big data. Setelah itu, timnya membuat banyak konten yang kemudian dioptimasi sehingga menyebar ke mana-mana.

Timnya harus paham bagaimana merancang sesuatu yang bisa viral. Harus memahami social currency atau sesuatu yang berlaku universal bagi netizen. Harus menampilkan hal yang menginspirasi dan bermanfaat. Harus paham bagaimana mengelola semua emosi netizen.

BACA: Digital Storytelling untuk Menang Pemilu

Jika dia melakukan langkah-langkah itu, dia hanya butuh waktu singkat untuk meraih popularitas. Dia tinggal merawat popularitas dan branding yang dia miliki, dan kelak bisa terus subur sehingga menjadikannya sebagai politisi milenial yang berpengaruh di media sosial.

Tapi, lagi-lagi semuanya berpulang pada politisi itu. Tidak semua politisi paham dan siap mengeluarkan dana untuk menunjang penetrasinya di media sosial. Tidak semua paham karakter “jaman now”, apa yang diinginkan publik sekarang, dan bagaimana mencapainya.

***

Dalam buku The New Digital Age, mantan petinggi Google Eric Schmidt menyebut dunia kini terbagi dua yakni dunia nyata dan dunia maya. Manusia mencurahkan banyak perhatian ke dunia maya demi menjangkau informasi dan membangun koneksi.

Semua strategi bisnis dan strategi politik berusaha untuk menjangkau dua dunia itu. Dalam dunia pemasaran, orang mengenal kombinasi strategi online dan strategi offline. Dua strategi ini saling melengkapi dan memperkuat.

Dinamika di dunia offline (dunia nyata) akan terpantul gemanya di dunia online, demikian pula sebaliknya. Di dunia politik, semua orang sama sepakat bahwa untuk menjangkau jutaan warga, khususnya kalangan milenial, maka dunia online adalah tempat paling strategis.

Di tahun 2007, anak muda Chris Hughes melakukan revolusi di bidang pemasaran politik. Dia membangun platform di media sosial untuk membantu Obama memenangkan pemilihan Presiden Amerika Serikat. Dia berhasil menjangkau jutaan warga Amerika hanya dengan menggerakkan jemari di media sosial.



Di belahan bumi lain, anak muda Whael Ghonim menggunakan media sosial untuk menggerakkan revolusi di Tunisia. Dia membakar satu gelombang revolusi yang lalu menyebar ke Timur Tengah.

Di Hongkong, anak muda Joshua Wang juga menggunakan media sosial untuk menggerakkan Umbrella Revolution atau revolusi payung. Melalui Twitter, dia menggedor semangat orang-orang untuk bergerak dan memprotes kebijakan negara.

BACA: Perang Robot di Arena Pilpres

Abad 21 ditandai oleh perubahan yang digerakkan dengan cara-cara milenial, yang cirinya adalah tidak dipimpin oleh satu tokoh revolusi, menekankan partisipasi dan kolektivitas, cepat terorganisir sebab dihubungkan media sosial, serta punya isu-isu bersama yang viral.

Kalangan baby boomer agak susah memahami kecenderungan baru ini. Pengerahan massa, kampanye jalanan dengan ribuan kendaraan, aksi spanduk di semua sudut kota, temu kader hingga ribuan relawan, serta kampanye yang menghadirkan penyanyi dangdut adalah cara-cara lama yang sudah tidak efektif di zaman kekinian.

Kini, cara-cara lama itu akan segera diganti dengan penetrasi media sosial. Makanya, yang harus dibangun adalah infrastruktur media sosial yang kuat, di mana di dalamnya terdapat konten yang kuat, serta penetrasi digital yang juga bagus.

BACA: Kiat Membangun Laskar Media Sosial di Era 4.0

Kerja-kerja media sosial selalu terkait dua hal: produksi konten berkualitas dan viral, dan diseminasi konten itu ke mana-mana. Jika dua aspek ini bisa ditangani dengan baik, maka seorang politisi bisa memaksimalkan kanal media sosialnya untuk berbagi dan menjangkau konstituen.

Contoh paling bagus tentang manajemen pengelolaan media sosial yang efektif adalah Fanpage pribadi Presiden Joko Widodo, Ridwan Kamil, dan Anies Baswedan. Mereka bisa mengelola konten dengan baik, tahu apa yang ingin diketahui publik, serta membangun komunikasi.

Yang kurang dari konten politisi di atas adalah mereka belum bisa menjadikan media sosial sebagai platform untuk berdialog dan merekam aspirasi publik untuk menjadi rekomendasi dalam penyusunan kebijakan publik.

Namun, melalui media sosial, mereka membangun kedekatan dengan publik, menghilangkan tembok pemisah, serta memperkuat silaturahmi digital untuk menunjang kerja-kerja politik mereka sebagai kerja untuk publik.

Dalam dunia politik, menaklukkan dunia offline atau dunia digital menjadi sangat penting, Jika tidak, Anda yang akan ditaklukkan oleh beragam wacana yang menerpa bagai hujan. Anda hanya jadi penonton.

Di era politik 4.0, pengelolaan digital adalah koentji!