Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Selama Sejam Aku Dicekam Ketakutan



AKHIRNYA aku tiba juga di Kota Makassar, tepat di hari Natal, Selasa (25/12). Lembut sepoi-sepoi anging mammiri langsung mengembus wajahku saat pertama menginjakkan kaki di Bandara Hasanuddin. Hujan keras seakan menyapa hadirku setelah meninggalkan kota ini selama enam bulan lebih. Memang, waktu itu teramat singkat bagi sebagian orang. Namun, apa sih batasan singkat dan lama bagi sebuah rasa betah dan keterikatan pada satu tempat? Bagiku waktu itu cukup panjang untuk berpisah dengan kota yang telah menorehkan begitu banyak kesan di dalam diriku, menumbuhkan semangat, serta gerbang pencarianku pada diriku sendiri.
Aku memandang langit sambil mengumandangkan rasa syukur. Baru saja aku lepas dari cekaman ketakutan selama sejam lebih ketika pesawat yang kutumpangi akhirnya mendarat di bandara. Langit Makassar masih dikepung awan hitam hingga cahaya seakan tidak punya ruang untuk menyapa sudut-sudut kota ini. Beberapa saat yang lalu, awan hitam itu menjadi pemandangan horor bagiku. Selama sejam lebih, pesawat yang kutumpangi hanya berputar-putar di atas sebuah pulau kecil –mungkin Pulau Lanjukkang-- di depan kota Makassar. Meskipun pramugari telah mengumumkan bahwa lima menit lagi pesawat akan segera mendarat, ternyata hingga sejam berikutnya pesawat tak juga menyentuh landasan bandara. Melalui jendela pesawat, kusaksikan awan hitam yang pekat telah mengepung kota Makassar hingga pesawat tak berani menembusnya.
Saat itu, aku dicekam rasa takut. Beberapa rekan di sekelilingku sudah mulai berdoa sambil memejamkan mata. Di belakangku, seorang wanita juga berdoa di saat wajahnya memancarkan aroma kekhawatiran. Semua ketakutan. Awan hitam yang memayungi Makassar itu menjadi pemandangan yang menakutkan kami semua. Bayangan tentang pesawat jatuh serta terbakar tiba-tiba saja memenuhi ruang-ruang berpikirku. Ah, apakah ini saatnya? Jangan. Aku merasa belum banyak melakukan apa-apa dan masih ingin melakukan banyak hal. Kembali kusaksikan awan hitam yang bergulung di depan sana.
Setelah lewat sejam, pilot memutuskan untuk menembus awan hitam itu. Sabuk pengaman dikencangkan. Saat itu, pesawat seakan berguncang-guncang. Ada suara seakan-akan pesawat menabrak sesuatu. Aku dicekam ketakutan. Jendela pesawat dibasahi air hujan. Penumpang di belakangku langsung muntah-muntah. Ternyata, di sebelahku juga ikut muntah, serasa menumpang kapal kecil jenis katinting.. Hingga akhirnya pesawat kian merendah dan berhasil menyentuh landasan. Rasa syukur langsung menyergap. Hey..... wajahku pucat pasi.

BELUM SELESAI

Asian Idol: Sebuah Kontestasi Kebudayaan


TERNYATA pemenang kontes Asian Idol adalah peserta asal Singapura yaitu Mirzahady bin Amir (Mirza Hady). Hari ini, Senin (17/12), saya tercengang saat membaca berita bahwa Mirza berhasil mengumpulkan dukungan SMS terbanyak dan menyisihkan kandidat terkuat yaitu Mike Mohede (Indonesia) dan Jacklyn (Malaysia). Mirza Hady –pria keturunan Bugis Makassar dan Cina ini-- sukses meraih supremasi tertinggi di ajang nyanyi yang melibatkan negara Asia tersebut. Ia sanggup meraih dukungan tertinggi dari pengirim SMS yang ternyata sebagian besar di antaranya adalah warga Indonesia.

Di satu sisi, kemenangan ini menyimpan keanehan tersendiri, apalagi jika harus dilihat dengan tolok ukur kuantitatif yaitu data statistik jumlah penduduk. Bagaimana mungkin, negara sekecil Singapura yang jumlah penduduknya hanya 4,4 juta orang (Brytannica Encyclopedia, 2005), bisa mengalahkan peserta dari Indonesia yang jumlah penduduknya sekitar 241 juta? Mengapa warga Indonesia justru harus memilih Mirza yang berasal dari Singapura dan tidak memilih Mike Mohede asal Indonesia?

Bagi saya, asumsi kuantitatif seperti itu jelas gagal menjelaskan fakta kemenangan Mirza. Kita membutuhkan analisis lain yang kira-kira memiliki kadar ketepatan yang lebih tinggi dalam membaca realitas ini. Nah, tulisan ini akan coba menyoroti berbagai fenomena Mirza Hady dari sisi yang berbeda. Bagi saya, fenomena ini sangat menarik sebab menjelaskan bagaimana kebudayaan bisa menerobos batas struktur politik bernama negara. Pada akhirnya, negara tidak lebih dari sebuah teritori politik belaka, tidak sampai jauh menjelajah pada tingkat kebudayaan hingga mempengaruhi pilihan-pilihan seorang individu. Kata Fukuyama, negara laksana debu-debu yang bakal tersaput angin (Fukuyama 2005).

Minggu lalu, saya sempat membahas ini dengan beberapa teman di kantin Fisip UI yaitu Jaya, Mitha, Taufik, dan Dyah. Saat itu, Jaya berkomentar kalau peserta dari Indonesia pasti menang karena jumlah penduduknya besar. Demikian juga Mitha. Saya justru tidak yakin dengan itu. Alasanku peserta Indonesia yaitu Mike Mohede kurang “Indonesia.“ Ia juga tidak seganteng Delon atau merepresentasikan etnis tertentu seperti halnya Joy Tobing, si cantik dari Medan itu. Bagiku, faktor-faktor seperti itu justru sangat penting untuk memenangkan kontes nyanyi yang kriteria pemenangnya ditentukan dari perolehan jumlah SMS. Namun Mitha menjawabnya dengan kalimat, “Tapi Mike kan culun banget.“ Iya deh.... Mungkin Mitha benar.

Hari ini, teka teki siapa pemenangnya akhirnya terjawab. Kemenangan Mirza hari ini benar-benar luput dari sangkaan banyak orang termasuk Mitha. Setahuku, tak ada satupun komentator yang memprediksi kemenangannya. Apalagi, secara kualitas, Mirza tidak lebih baik jika dibandingkan dengan Mike ataupun Jacklyn.

Lantas, apa fakta-fakta yang bisa menjelaskan kemenangan Mirza? Bagiku, kemenangan itu dipengaruhi oleh tiga hal. Pertama, Mirza berhasil mengangkat isu dirinya adalah keturunan Bugis-Makassar, yang menjadi bagian dari sanubari dan kesadaran kolektif orang Indonesia. Kedua, pemilihan lagu yang tepat saat berada di panggung. Ketiga, performance serta sikap dan komentar Mirza saat berada di luar panggung, khususnya komentar yang simpatik di media massa.

Kita akan bahas argumentasi itu satu persatu. Isu keturunan Bugis Makassar sudah lama menjadi perhatian media kita, khususnya media lokal yang ada di Sulawesi Selatan. Ternyata, Mirza tak malu-malu mengakui hal tersebut. Bisa jadi, ia sadar dan menjadikan itu sebagai strategi kultural. Saat Mirza datang ke Jakarta untuk mengikuti Asian Idol, media lokal sudah menulis dengan kalimat “Putra Bugis Ikuti Asian Idol.“ Bahkan, beberapa elite lokal Sulsel juga memberikan beragam komentar yang kesemuanya mendukung Mirza sebagai seorang putra Bugis yang akan berlaga di ajang Asian Idol ini. Saya juga dapat info dari teman di Makassar, pemenang pilkada Gubernur Sulsel yaitu Syahrul Yasin Limpo, ikut-ikutan memberikan komentar dan dukungan pada “Putra Bugis“ yang kini membela Singapura tersebut. Sebagaimana tercatat dalam penelitian Ahimsa (1997), warga Sulsel cenderung primordial dan mempertahankan identitas etnisnya di manapun ia berada, baik itu bahasa maupun adat-istiadat. Mereka terkadang berlebihan membanggakan etnisnya sehingga kerap menebar benih konflik di manapun mereka berada. Ini sangat berbeda dengan pola merantau orang Buton yang cenderung lebur ke dalam etnis mayoritas di tanah perantauan (Ahimsa 1997). Meskipun seorang warga Sulsel merantau dan empat generasi keturunannya kembali ke daerah, maka tetap diakui sebagai orang Bugis. Dalam konteks Mirza, ketika ia datang ke Jakarta untuk kontes Asian Idol, ia langsung menyebut dirinya sebagai keturunan Bugis Makassar melalui ayahnya. Ini menjadi strategi yang sungguh tepat. Dukungan kepadanya langsung mengalir karena orang melihat dirinya sebagai putra Bugis Makassar.

Itu adalah fakta pertama. Selanjutnya, Mirza sangat pandai memilih lagu yang akan dipentaskan di atas panggung. Ia memilih lagu berirama Melayu berjudul Berserah, ciptaan Taufik Batista. Ia tidak mau ikut-ikutan seperti kandidat lain yang memilih lagu-lagu barat untuk menunjukkan kualitas vokal. Dengan rendah hati ia memilih lagu Melayu karena meyakini lagu ini bisa dipahami oleh semua orang Indonesia, audience terbesar yang menyaksikan ajang tersebut. Tampaknya, ia sadar betul bahwa pemenang ajang ini bukan persoalan kualitas vokal dan kemampuan bernyanyi yang baik. Ia harus bisa menggugah empati sebagian besar penonton acara ini sehingga mengirim SMS dukungan kepadanya.

Selanjutnya, persoalan performance dan komentar. Saya beberapa kali menyaksikan komentarnya di tayangan infotainment. Bahasa Indonesianya sangat lancar --yang diakuinya sebagai pengaruh dari ayahnya yang Bugis itu. Ia beberapa kali mengatakan, hendak mencari keluarga ayahnya di Kota Makassar. Dengan cara berkomentar di media seperti ini, ia berhasil menghancurkan batasan atau image bahwa dirinya adalah orang asing yang datang ke negeri ini. Ia menunjukkan bahwa dirinya adalah bagian dari warga Indonesia yang kemudian merantau dan sukses di negeri lain. Ia menjelma menjadi sosok Indonesia yang sukses di negeri lain hingga membersitkan kebanggaan bagi warga Indonesia. Ia seakan-akan seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang tiba-tiba pulang kampung dan menjadi buah bibir karena tampak kaya. Saya kira, studi tentang perantau yang sukses ini sudah banyak dilakukan dalam literatur antropologi. Masyarakat kita masih menganggap hebat seorang perantau yang sukses. Dengan strategi kultural seperti ini, semua orang tidak berpikir bahwa dirinya adalah orang asing yang datang ke sini sambil membawa paspor negara lain. Tiba-tiba saja, image Mirza lebih “Indonesia” ketimbang Mike Mohede, yang tidak begitu dikenali asal etnisnya. Dengan memilih lagu Melayu, maka Mirza identik dengan ke-Melayu-an, sebuah kategori besar yang di dalamnya terdapat aspek bahasa, adat-istiadat serta agama. Tidak heran jika sebagian besar warga Indonesia, Singapura serta Malaysia justru lebih memilih Mirza ketimbang peserta negaranya sendiri.

Dengan pemaparan fakta ini, apa sih hikmah atau pembelajaran yang bisa dipetik dari fenomena ini? Pertama, studi kualitatif lebih bisa menjelaskan realitas jika digunakan dengan prosedur serta metodologis yang tepat. Kekuatannya terletak pada sejauh mana argumentasi dan narasi dibangun untuk menjelaskan sebuah realitas. Kedua, kategori etnisitas lebih punya power ketimbang negara. Kesadaran bernegara bisa bubar kapan saja, namun kesadaran etnisitas barangkali tidak akan pernah pudar. Negara bisa menggerakkan warganya dengan sejumlah alat paksa berupa tangan kekar hukum, namun tidak serta-merta menjelma menjadi kesadaran untuk membela segala sesuatu yang berbau negara. Ketika dihadapkan pilihan antara etnis dan negara, maka publik bisa memilih etnisitas. Sebab kategori etnis adalah bagian dari kebudayaan dan kesadaran bersama, sesuatu yang dekat dengan ranah kemanusiaan kita.........

(udah ah.... mau jawab soal ujian Pak Afid dulu)

17 Desember 2007, pukul 22.00

Saat pusing mikirin soal ujian Pak Afid

Nyanyi Sunyi Kaum Antropolog


HARI ini adalah hari kedua lokakarya memperingati 50 tahun antropologi Universitas Indonesia (UI). Lokakarya yang bertemakan “Konflik dan Disharmoni Sosial pada Era Reformasi di Indonesia: Sumbangan Pemikiran Antropologi untuk Pembangunan Demokrasi” ini, dihadiri oleh civitas akademika UI, sejumlah utusan dari jurusan antropologi berbagai universitas serta sejumlah peneliti dan aktivis organisasi non pemerintah.

Lokakarya ini cukup ramai dan digelar di Ruang Aula AJB Bumiputera di kampus Fisip UI, Selasa (11/12) hingga Rabu (12/12) hari ini. Dalam jadwal tertera keynote speaker adalah Menteri Pertahanan Prof Juwono Sudarsono. Kemarin, saat tiba di ruangan, saya melihat nama keynote speaker yang tercantum di spanduk adalah Thamrin Amal Tomagola PhD. Juwono batal hadir dan hanya bisa diwakili oleh seorang staf pejabat di kementriannya. Biar ada kesan ilmiah, panitia mengganti nama Juwono dengan Thamrin. Keputusan ini sangat tepat sebab Thamrin sudah lama “berkubang” dengan isyu konflik atau disharmoni sosial. Apalagi, ia pernah mempublikasikan karyanya berjudul Republik Kapling yang berisikan analisis atas gejala konflik di Indonesia.

Selain keynote speaker, sejumlah pemateri dari berbagai institusi dan kampus di Tanah Air dihadirkan untuk memperluas horizon cakrawala menyangkut konflik, disharmoni sosial, dan strategi penyelesaiannya. Saya melihat daftar pematerinya cukup lengkap dan merepresentasikan makalah mengenai aneka ragam konflik di Tanah Air. Mulai dari Al Chaidar (Aceh) hingga Habel Samakori S.Sos (Papua). Namun, pemateri yang menjadi magnet kedatanganku di situ adalah dua orang rekan sesama kerabat Pasca Antrop yaitu Marko Mahin dan Herry Yogaswara, yang sama-sama membahas tema mengenai konflik Sampit. Presentasi dua kawan ini yang membuat saya hadir untuk mengikuti lokakarya ini. Nantilah, presentasi mereka akan saya ceritakan pada tulisan yang lain.

Awalnya, saya agak enggan mengikuti seminar ini hingga tuntas, meskipun saya juga ingin menyaksikannya. Membaca temanya yang mencantumkan kata “sumbangan antropologi”, terasa ada pesimisme yang menyeruak bahwa antropologi adalah ilmu yang tidak pernah “dilirik” dalam proses pembangunan demokrasi sehingga tidak jelas apa sumbangsihnya. Kebimbangan itu akhirnya menjadi kenyataan saat saya mengikuti lokakarya di hari pertama. Pada presentasi kedua di hari pertama yang menghadirkan pembicara yaitu Ngurah Suryawan (Bali), Herry Yogaswara (Sampit), dan Habel Samokori (Papua), tema-tema tentang bagaimana terpinggirkannya antropologi menjadi tema yang mencuat pada sesi tanya jawab. Beberapa peserta berkomentar kalau selama ini antropologi tidak pernah mendapatkan “tempat yang semestinya“ dalam berbagai analisis konflik di Indonesia. Dalam pandanganku, lokakarya ini hanya menjadi ajang keluh-kesah. Sebagaimana ajang lainnya, lokakarya ini hanya mendengungkan suara parau dan nyanyi sunyi dari kaum antropolog bahwa mereka punya ilmu yang semestinya bisa digunakan untuk menguatkan demokratisasi di negeri ini. Bagiku, lokakarya ini hanya menegaskan bentuk ketidakberdayaan antropologi untuk mengambil peran serta memberikan sumbangsih bagi upaya membangun harmonisasi pada masyarakat Indonesia yang majemuk ini.

Keluh Kesah Antropolog

Yang menarik bagiku adalah Ketua Departemen Antropologi UI Prof Yasmin Shahab ikut-ikutan mengomentari persoalan ini. Menurutnya, jika di tataran ilmu ekonomi dikenal profesi risk analysis, maka seyogyanya pemerintah kita juga menempatkan seorang antropolog sebagai risk analysis yang mengidentifikasi potensi konflik sosial dan budaya. “Sayangnya, banyak kritikan yang mengatakan kalau riset antropologi itu terlalu lama. Mestinya ada formulasi riset yang dipersingkat agar ada pemetaan gambaran awal yang bersifat sementara. Sedangkan persoalan yang lebih serius akan diidentifikasi melalui riset etnografi yang panjang itu,” katanya. Bagiku, pernyataan Yasmin kian mengafirmasi terpinggirkannya posisi antropolog dalam membaca realitas konflik di Indonesia.

Kembali ke soal keluh kesah. Dengan mengusung satu tema besar serta hanya dihadiri oleh insan antropolog sendiri, lokakarya ini palingan hanya menjadi sebuah ritual atau kegiatan seremonial untuk memperingati 50 tahun antropologi UI. Nantinya, akan ada laporan bahwa telah digelar sebuah acara besar yang ramai dan menghadirkan banyak antropolog yang sama-sama membicarakan apa kira-kira sumbangan dan peran yang bisa diambil. Kemudian semuanya sama-sama sepakat atau bertepuk tangan bahwa antropologi punya peran besar untuk menemukenali masalah sosial kemudian merumuskan formulasi penyelesaiannya. Setelah itu, rangkuman lokakarya akan diserahkan kepada pemerintah, tanpa tahu apakah hasilnya akan menjadi rekomendasi yang berharga untuk menyelesaikan konflik ataukah mungkin sekedar memenuhi laci kerja di kementrian negara.

Ah, mungkin saya terlalu pesimis melihat ajang ini. Dalam pandanganku, sudah ada begitu banyak ajang pertemuan dan diskusi di kalangan para antropolog Indonesia setiap tahunnya. Di tahun 2000, saya sempat menyaksikan seminar dan lokakarya Antropologi Indonesia yang diadakan Jurnal Antropologi di Universitas Hasanuddin. Saat itu, saya mendengar kalau ajang itu diprotes keras oleh Iwan Tjitradjaja –kini jadi dosenku-- yang menilai pertemuan itu tak banyak memberikan faedah untuk membuat suara antropologi kian nyaring terdengar. Ajang ini hanya akan menjadi ajang arisan bersama serta tepuk tangan bersama menyepakati bahwa ilmu ini punya kekuatan untuk menjelaskan sesuatu. Nantinya, kita akan berdecak kagum siapa yang paling pintar atau siapa yang paling bagus makalah atau presentasinya. Semacam arisan massal yang mempertemukan banyak peneliti dan di akhir acara akan ada pembahasan siapa tuan rumah pertemuan berikutnya. Ternyata, budaya arisan juga melanda antropolog. Budaya kumpul-kumpul dan “bertanding” siapa yang paling pintar serta bertepuk tangan dengan ceria.

Solusi Marko Mahin

Itulah kesanku di hari pertama. Pada hari kedua, saya berusaha menyempatkan waktu untuk hadir dan mendengarkan apa saja tema-tema yang kira-kira mencuat di kalangan para antropolog. Dalam pandanganku, pasti diskusinya akan lebih terkristal dan menukik ke persepsi yang sama dalam membaca realitas konflik termasuk bagaimana peran antropolog. Hari ini, tema pembicaraan mulai mengarah ke situasi harmoni dan rekonsiliasi. Terasa ada hembusan angin optimisme bahwa pendekatan antropologis yang humanis itu bisa menjadi jawaban atas tragedi kekerasan yang menggerus republik ini. Pada diskusi sesi pertama yang menghadirkan Marko Mahin (Sampit), Marsel Robot (Flores), dan Zaiyardam Zubir (Padang), tema rekonsiliasi konflik serta peran antropolog itu kembali mencuat. Apalagi, pada sesi tanya jawab, seorang penanya yaitu yaitu Indrasari Tjandraningsih dari Akatiga Bandung, juga menyinggung persoalan ini. “Persoalannya adalah bagaimana para antropolog mengambil peran di tengah isu konflik yang terus mengemuka di negeri ini. Rasanya terlalu ’angkuh’ jika konflik hanya dilihat dari sisi antropologi. Mesti dilihat dan dipahami secara utuh dari berbagai disiplin ilmu,“ katanya. Persoalan senada juga disinggung oleh penanya lainnya yaitu antropolog asal Aceh bernama Teuku Kamal Fasya.

Isyu yang mereka kemukakan ini adalah isyu yang mencuat sejak kemarin. Rasanya, tidak banyak antropolog atau peneliti yang mau menanggapinya. Yang membuatku tercengang adalah sahabatku Marko Mahin memberikan satu jawaban yang kemudian menjadi diskursus atau wacana yang beberapa kali disebut-sebut sepanjang lokakarya ini. Marko mengatakan, “Saya kira antropolog punya andil dalam memberikan semacam early warning system atau peringatan dini bahwa akan ada konflik besar yang akan terjadi. Dalam kasus Sampit, tatkala beberapa komunitas Dayak mulai melakukan ritual tertentu dan sejumlah Pangkalima hadir dan ikut ritual itu, saat itu para antropolog sudah mulai ’mencium’ gejala konflik besar yang akan segera terjadi. Sayangnya, suara mereka sejak awal tidak diperhatikan otoritas pengambil kebijakan.”

Mendengar jawaban ini, saya sempat terhenyak. Marko berani mengeluarkan pendapat di tengah ajang yang mempertemukan banyak antropolog senior. Pendapat ini yang kemudian beberapa kali disebut peserta lokakarya mulai dari Yasmin Shahab, Iwan Pirous, hingga Thamrin Amal Tomagola. Bagiku, ada genangan pesimisme yang membuat para antropolog ini seakan merasa kehilangan peran. Genangan itu bermuara pada diskursus kekhawatiran antropolog akan kehilangan peran di negeri ini. Mestinya itu bisa diterabas jika berbagai peran-peran strategis itu bisa dilaksanakan. Tentu saja, berbagai konflik di Indonesia bisa sedikit diminimalisir jika para antropolog bisa mengupayakan agar suaranya nyaring terdengar. Thamrin Amal Tomagola juga membenarkan kalimat Marko. Menurutnya, mesti ada strategi resolusi konflik yang sifatnya kultural serta bisa mengapresiasi lokalitas. “Yang bisa mengidentifikasi itu adalah para antropolog,“ katanya.

Nah, persoalannya kemudian adalah bagaimana membuat suara antropolog bisa nyaring terdengar? Tentu saja, itu adalah perkara metodologis. Jika ilmu ini sanggup menelisik sisi-sisi lain dari konflik di Indonesia hingga hal yang remeh-temeh, maka semestinya antropologi juga harus mampu mencari celah agar suaranya bisa nyaring terdengar. Suara antropologi harus bisa berdengung, tidak hanya di ajang seminar para antropolog saja, namun juga di berbagai arena lainnya. Itulah tantangan ke depan.........(*)

(ini belum tuntas, masih banyak yang mau saya ceritakan, termasuk presentasi Marko dan Herry. tapi saya capek dan mau tidur. sepulang lokakarya tadi, tadi saya terkena hujan. kepalaku agak sakit dan butuh istirahat. Zzz...zzz...zzz)

12 Des 2007, Pukul 19.13 WIB

Saat perut keroncongan dan hendak keluar cari makanan

Tiah Protes

Kakakku Tiah protes, kenapa namanya tidak kusebut dalam tulisan tentang Harry Potter?
Yah, aku cuma bisa minta maaf. Barangkali mesti ada edisi ralat atas tulisan Harry Potter tersebut. Kupikir-pikir, mungkin aku salah juga karena tidak menulis namanya. Padahal, dia punya kontribusi besar atas munculnya wacana Harry Potter di pikiranku. Iya yah, dia yang pertama berinisiatif meminjam novel tersebut, hingga kami semua --yang saat itu tinggal di Bumi Tamalanrea Permai (BTP)-- langsung tergila-gila dengan tokoh ini. Minta maaf Tia yaa?

Menanti Harry Potter 7


TIDAK lama lagi edisi bahasa Indonesia Harry Potter ke-7 berjudul “Harry Potter and The Deathly Hallow” akan segera keluar. Adikku Atun dan Dwi sudah mulai menyiapkan duit untuk membeli novel itu pada Januari mendatang. Jutaan pencinta Harry Potter di Indonesia sudah tidak sabar untuk menanti novel tersebut. Mereka ingin segera melayang-layang seakan terbang ke bangunan tinggi menara sekolah sihir Hoghwarts, menyusuri perjalanan Harry Potter, bercengkerama dengan berbagai hantu seperti Myrtle Merana, Nick si Kepala Nyaris Putus, hingga raksasa maupun troll.

Jutaan manusia ingin bersama Harry Potter serta sahabatnya seperti Ron Weasley, Hermione Granger, Neville Longbottom dan menghadapi intrik kotor dari Lord Voldemort serta para pelahap maut (death eater). Harry Potter memang punya magis yang sangat sakti. Tidak saja karena mampu mengangkat tongkat sihir dan merapal mantra “Expecto Patronus”, kemudian keluar cahaya yang berwujud rusa dan menyerang hantu Dementor. Namun, Harry juga sanggup menyihir berjuta-juta penduduk bumi agar menjadi penggemar setia hingga mengukuhkan buku itu menjadi best seller, buku yang tercatat dalam sejarah sebagai buku terlaris yang pernah dibuat seorang pengarang di muka bumi ini.

Saya pun ikut terkena sihir Harry Potter. Jauh sebelum difilmkan oleh sutradara Chris Amstrong, saya sudah membaca novelnya dan serasa menemukan dunia baru yang sungguh menakjubkan. Ada rasa bahagia menemukan tempat di mana rasionalitas tiba-tiba diremukkan. Berpikir ilmiah tiba-tiba dinafikan. Ingin kaya, cukup menjentikkan jari atau hanya mengusap lampu Aladin dan keluarlah jin yang akan mengabulkan semua permintaan. Ini dunia sihir. Segala hal yang mistis menjadi keniscayaan serta menjadi hal yang lumrah saja bagi mereka yang berada di dunia sihir Harry Potter. Dikarenakan sihir menjadi hal yang lumrah, muncullah sebuah kontestasi. Semacam pertandingan atau adu kesaktian antar penyihir sehingga yang paling sakti merasa perlu duduk di singgasana kemudian memerintah dunia. Inilah satu inti cerita Harry Potter yang memesona banyak orang termasuk aku.

Yang saya kagumi, pengarangnya JK Rowling bukanlah orang yang serakah. Sejak awal ia hanya merencanakan Harry Potter hanya tujuh buku. Ia berpikir bahwa sebuah karakter dan cerita, mesti punya akhir sehingga pembaca tidak banyak berinterpretasi tentang bagaimana ending-nya. Bagiku, Rowling adalah maestro yang hebat dan imajinatif hingga sanggup menghanyutkan semua orang ke dalam kisah seorang penyihir cilik yang menuntut ilmu di sekolah sihir Hoghwarts Witchcraft and Wizardly. Ia pandai meramu kisah tentang sihir, hantu, serta berbagai legenda menjadi satu cerita menarik. Dalam satu wawancara dengan Newsweek, Rowling mengungkapkan rahasianya. Ia mengatakan,”Saya beruntung karena dilahirkan di Inggris. Ini adalah negeri yang kaya dengan mitos, folklore, serta berbagai dongeng. Semuanya menjadi kekuatan bagi saya untuk meramu Harry Potter.“ Bayangkan, ia menyerap inspirasi dari begitu banyak dongeng di Inggris. Bandingkan dengan ribuan dongeng dan folklore negeri kita yang dilupakan begitu saja. Mestinya, semua cerita itu bisa menjadi kekuatan dahsyat yang mempengaruhi banyak orang.

Saya masih ingat saat pertama membaca buku Harry Potter 1 berjudul “The Sorcerer Stone.” Waktu itu, aku masih berada di Makassar. Adikku Atun meminjam novel itu di satu rental buku yang terletak di Jalan Cenderawasih. Ia membacanya dan merasa terkejut karena buku itu menyimpan banyak kejutan, misteri dan imajinasi yang kesemuanya digabung dalam satu adonan cerita yang renyah. Kata Atun, “Saya kaget sekali. Tidak mau berhenti sampai lembaran terakhir. Barusan saya baca novel dan terkejut sekali.” Demikian juga dengan saya. Makanya, semua buku Harry Potter selalu saya baca. Setiap membaca Harry Potter, saya selalu tidak bisa menebak apa ending atau penyelesaian akhirnya. Biasanya, alur novel sama dengan alur film India: selalu mudah ditebak. Namun tidak dengan Harry Potter.

Kadang-kadang, saya buat permainan tebak-tebakan dengan Dwi dan Atun. Kami saling bertanya tentang bagian tertentu dari kisah Harry Potter untuk ditebak. Pernah sekali, Dwi tak mampu menjawab pertanyaanku. Saat kutanya, “Siapa nama raksasa adiknya si Hagrid?” Ia tak mampu menjawab dan dilanda rasa penasaran hingga akhirnya ia terpaksa buka buku Harry Potter V. Kalah juga dia. Hehehehe…..

Saya juga masih ingat saat peluncuran Harry Potter VI. Saat itu, saya menemani Dwi dan antri di stand Gramedia Panakkukang, tepat pukul 12.00 malam. Bayangin, di tengah malam, banyak yang antri demi Harry Potter. Saat itu, ada bonus tas, topi sihir serta sticker. Saya sih pengennya ada tongkat ajaib biar bisa menyihir diri sendiri agar cepat kaya dan tak perlu kuliah jauh-jauh ke UI. Kudengar, di Jakarta ada arak-arakan dan perayaan diluncurkannya edisi bahasa Indonesia. Semuanya kian menguatkan kesan di benakku: Harry Potter telah menyihir banyak orang di Indonesia.

Untuk Harry Potter 7 ini, aku yakin pasti suasananya akan jauh lebih meriah. Sebab ini adalah buku terakhir serta pamungkas yang mengkahiri semua rangkaian perjalanan si penyihir tersebut. Akhirnya, tiba juga edisi yang menjelaskan semuanya sejak awal. Aku belum tahu, pada peluncuran ini apakah berada di Jakarta, ataukah di Makassar? Ah, nantilah kita lihat.

Depok, 2 Desember 2007

Pukul 13.14 (seusai makan siang)


Kumis Seksi, Kumis Pak Azis


BEBERAPA hari yang lalu, saya berkunjung ke kos Pak Azis di Jl Margonda Raya. Pak Azis, seorang mahasiswa program doktoral antropologi yang sudah menyelesaikan semua kuliah tatap muka. Awalnya, saya pikir pasti Pak Azis sedang sibuk menyiapkan proposal penelitian dan jawaban soal kualifikasi. Dalam bayanganku, pasti kamarnya akan penuh buku yang berserakan, kertas berisi catatan atas bahan bacaan, serta kopian dari beberapa jurnal terbaru antropologi. Pikirku, ia sedang serius mengasah “ginkang” dan “iwekang” serta sejumlah jurus dari berbagai aliran antropologi agar kelak ia sanggup berdiri tegak dan salto berjumpalitan ketika “diserang“ dengan jurus Pak Iwan dan Pak Afid saat ujian nantinya.

Saat tiba di situ, ternyata tak ada buku dan kertas berserakan. Tak ada juga sejumlah jurus baru dari dunia “kangouw“ antropologi. Kamarnya tetap rapi seperti biasa. Apa yang dilakukannya? Apakah ia sedang memperdalam “tenaga dalam“? Apakah ia tengah berguru pada suhu Marvin Harris yang terkenal digdaya dengan ilmu materialisme kebudayaan? Ternyata tidak. Ia sedang nonton televisi yang disambungkan di laptop di kamarnya. “Canggih khan. Padahal nda mahal ji,“ kata Pak Azis dengan logat Bugis yang kental saat memperlihatkan kecanggihan laptopnya. Ia telah membeli perangkat TV Tunner dan disambungkan ke laptopnya. Seperti biasa, saya akan melontarkan jawaban, “Wah, luar biasa. Cobanya kalo ada juga satu kayak begini di kamarku diii,“ kataku dengan bumbu sedikit pujian sembari berharap bakal dikasih utang sama beliau. Hehehe...

Setelah itu, ia memperlihatkan sejumlah rancangan desain sutra atau batik yang tengah digarapnya. Gambar desain sutranya sangat detail. Menurutnya, rancangan itu akan ditawarkan ke sejumlah daerah atau kabupaten, biar dipatenkan menjadi desain baju batik setempat. Memang, sejumlah daerah di Sulawesi mewajibkan para pegawai negeri sipil (PNS) untuk memakai baju dengan unsur muatan lokal pada hari tertentu, biasanya hari Jumat. Ternyata, itu dilihat Pak Azis sebagai peluang bisnis. Insting bisnisnya yang diasah sejak menjadi mahasiswa program magister desain dari Institut Teknologi Bandung (ITB) tetap tajam. Apalagi, sejak kuliah di antropologi, ia makin memiliki keahlian dalam mengidentifikasi khasanah budaya lokal yang ketika digabungkan dengan bidang desainnya, bisa mendatangkan banyak duit. Apakah benar sudah mendatangkan banyak duit? “Tidak ji. Saya baru mau tawarkan rencana ini sama beberapa daerah. Tunggumi, pasti ada yang latto,” katanya. Dalam bahasa Makassar, latto adalah istilah yang bermakna sesuatu yang sukses dijalankan. Misalnya, ketika saya naksir seorang gadis dan berhasil dipacari, maka saya akan mengatakan latto sebagai tanda sukses dipacari.

Nah, kembali ke soal proposal. Seingatku, Pak Azis hendak meneliti bagaimana identitas Kota Wajo di Sulsel yang mengkalim dirinya sebagai kota sutra. Padahal, benang sutra selalu diimpor dari Thailand atau Cina. Menurutnya, ini terkait fenomena identitas dan globalisasi. Beberapa kali ia memintaku untuk membantunya, minimal bikin fieldnote banyak-banyak. Saat kutanya bagaimana proposal, ia menjawab, “Aiihh, nda bisa ka’ berpikir sekarang. Nantipi saya pikir proposal. Sekarang ini, cari uang dulu,” katanya. Pantas saja, Pak Azis sibuk melihat celah peluang bisnis dan mencari peluang untuk mempertebal pundi-pundi keuangannya. Yang kuherankan adalah meski masih mencari celah bisnis, namun kesibukannya luar biasa. Ia jarang pulang ke kos. Hari-harinya banyak dihabiskan untuk bertemu orang-orang dan membahas rencananya. Pantas saja, temanku Jaya berkomentar, “Belum dapat proyek saja udah sibuk. Apalagi kalo udah dapat ya. Pasti kita udah dilupain.“

Akhirnya, saya tak mau menyinggung-nyinggung masalah proposal. Ia lalu pamit ke kamar kecil untuk mandi. Rencananya, ia mau traktir makan di Warung Banyumas, yang terletak tidak jauh dari kamarnya. Lama nian kutunggu, ia tak juga keluar dari kamar mandi. Kucatat ada sekitar 45 menit dihabiskannya di kamar mandi. Saat keluar, ia sudah rapi. Beberapa rambut yang tumbuh di dagu dan pipi sudah dicukurnya dengan rapi. Ia terlihat lebih tampan dibanding sebelumnya. Namun, kok kumisnya sama sekali tidak dicukur? “Wah, ini jangan dicukur. Kegantenganku terletak di kumis ini. Sudah inimi yang bikin banyak cewek tergila-gila,“ katanya sambil mematut-matut wajahnya di depan cermin kecil di kamar itu.

Ternyata, kumis bisa menjadi bagian paling seksi bagi seorang pria. Kumis menjadi sumber keberanian sekaligus kekuatan untuk menaklukan yang lain. Persoalan ini bisa tergantung sang pria. Ada yang memandang kumis sebagai unsur paling seksi, ada juga yang melihat rambut atau cambang, kayak Surya Paloh. Kalau tak salah, ada legenda pemuda perkasa bernama Samson yang kekuatan dan “keseksiannya“ terletak di rambut. Ketika rambut itu dipotong, ia langsung lemah dan mudah ditaklukan. Dalam versi Benyamin S, kekuatan itu pindah ke bulu keteknya. Ketika bulu ketek itu dicukur, Benyamin jadi gampang dibengkokkan. Bagaimana dengan Pak Azis? Ia menilai kumisnya yang menjadi unsur yang selalu membuatnya percaya diri. Selalu membuatnya tetap sakti di hadapan siapapun. “Kalau ada kumisku ini, siapa saja yang saya hadapi, pasti akan takluk,“ katanya dengan yakin. Masalahnya, apakah Pak Iwan dan Pak Afid akan gentar saat memandang kumis Pak Azis?

Depok, 2 Desember 2007

Pukul 13.14 WIB (seusai makan siang)

www.timurangin.blogspot.com

Jakarta, Kota yang Asing

JAKARTA kota yang asing. Sebuah rimba luas dan ribuan manusia berseliweran setiap harinya. Ribuan manusia itu bersaing demi memperebutkan sumber daya yang jumlahnya sangat terbatas. Begitu banyak orang dari berbagai penjuru membanjiri kota ini dan saling "berkelahi" demi menyambung hidup. Di sini ada kompetisi yang sedemikian kejam dan saling menghabisi. Kompetisi ini melahirkan tabiat hukum sendiri yaitu hukum alam dan meremukkan mereka yang tidak punya kuasa. Jakarta bukan kota yang ramah bagi mereka yang pertama menginjakkan kaki. Selalu saja ada kekhawatiran kalau-kalau akan dirampok, dicopet, atau malah akan dibunuh. Kota ini seakan menyimpan barisan ketakutan serta kekhawatiran yang sengaja dipelihara oleh segelintir orang. Di semua sudut, selalu ada bahasa sendiri yang hanya bisa dimengerti mereka yang berdiam di situ. Kekerasan pun kerap menjelma menjadi sebuah bahasa pengabsah di satu kawasan. Ketika kekerasan menjadi parade kemewahan yang dipertontonkan, semua orang seakan diam saja. Jakarta hanya diam dan berlari. Sebab telah kehilangan nurani.

Dances With Wolves

SAYA baru saja menyaksikan sebuah film yang dibuat Kevin Costner tahun 1990 berjudul Dances With Wolves. Saya sedih dan membayangkan bagaimana nasib bangsa Indian yang dibasmi mereka yang menyebutnya dirinya modern dan berperikemanusiaan. Seolah bangsa Indian adalah bangsa barbar yang pantas dienyahkan. Saya sedih membayangkan mereka yang dilenyapkan sebab dianggap berbeda dan tidak sesuai selera Eropa.
Film ini melihat fenomena ini dengan tilikan yang sangat menyentuh sisi kemanusiaan. Kini saya paham, mengapa film itu telah menohok rasa bersalah penduduk Amerika Serikat (AS) bahwa di masa lalu, mereka pernah membumihanguskan bangsa Indian. Saya bisa merasakan betapa sedihnya menjadi bangsa Indian.

Hidup adalah Senyawa Hal-hal Kecil



HIDUP bermula dari hal-hal kecil. Semua peristiwa dan pengalaman adalah serpih-serpih yang jika ditautkan akan membentuk gambaran siapa kita sesungguhnya. Jangan pernah meremehkan hal-hal kecil sebab akan menjadi kuas bagi kanvas kehidupan kita. Hitam putih ataupun merah biru kedirian kita adalah senyawa dari atom-atom kejadian kecil yang senantiasa beredar dan menggoda kita untuk direspon melalui akal dan hati kita. Diri kita adalah bentukan dari situasi serta jawaban yang kita berikan atas segala hal-hal kecil yang acap kali menyentuh titik kesadaran kita. Sesuatu yang menjadi identitas dan titik berpijak kita.

Prof Fedyani Versus “Pak Afid”

RISALAH ilmu pengetahuan menempatkan nama Socrates sebagai tokoh yang pertama meretas berbagai pertanyaan filosofis dan kemudian memicu dialog filsafat. Sayangnya, Socrates tidak pernah mencatat sendiri semua kegelisahannya dalam memandang dunia sebab dituliskan oleh muridnya yang sangat masyhur yaitu Plato. Tak heran jika banyak filsuf yang menilai kalau dialog Socrates dengan Plato tidak lain dari dialog antara Plato dengan dirinya sendiri. Dialog dua sisi antara Plato dan “Plato”.

Saya tidak hendak berbincang banyak tentang dialog dua “Plato”. Hari ini, Jumat (29/11), Prof Achmad Fedyani Saifuddin (Pak Afid) seakan mengikuti jejak-jejak yang pernah ditorehkan Plato. Pak Afid menunjukkan lembaran-lembaran Bab I dari buku yang sedang ditulisnya dan berjudul “Dialog Imajiner tentang Teori-teori Antropologi”. Buku ini akan berisikan dialog antara dua sisi dalam diri Pak Afid yang berisi bahasan atau tinjauan atas teori-teori antropologi kontemporer.

Kata Pak Afid, format buku itu adalah berupa dialog atau perdebatan antara dua sosok yang keduanya adalah dirinya sendiri. Ia akan menulis dengan gaya bahasa yang agak novelik dan berisikan dialog. “Nanti akan ada dialog tentang teori. Misalnya pada bab awal, ada seorang yang menyapa ’Selamat Pagi Profesor’. Kemudian, saya sendiri yang akan menjawabnya. Jadi, saya punya otoritas untuk menuliskan dialog antara dua sisi diri saya dalam memandang teori,“ katanya saat kuliah Organisasi Sosial: Struktur dan Proses.

Mendengar rencana Pak Afid, saya hanya bisa terkagum-kagum. Memang, sejak awal kuliah, ia selalu saja hadir dengan gagasan yang orisinil, kreatif dan cerdas. Ia selalu ingin mempertegas posisi antropologi dan tidak rela bila ilmu ini seakan dilecehkan dan dipandang sebelah mata. Ia punya “nasionalisme“ antropologi dan ingin menunjukkan pada dunia bahwa antropologi tidak sekedar pelukisan secara mendalam bangsa-bangsa barbar, namun memiliki kemampuan untuk menjelajah dan mengupas realitas sosial hingga titik terdalam. Pak Afid adalah sosok yang demikian mencintai ilmu antropologi.

Rencananya, buku ini tidak hanya diterbitkan dalam bahasa Indonesia, namun juga bahasa Inggris. Artinya, buku ini akan dikonsumsi oleh publik antropolog dunia dan menjadi catatan pencapaian orang Indonesia yang selama ini “berkubang“ dalam rimba teori antropologi. “Saya kira, sudah saatnya kita harus mempublikasikan karya kita ke dunia internasional. Cukup lama, kita ditafsirkan oleh bangsa lain dan hanya menjadi konsumen teoritis yang sebenarnya kian membesarkan nama antropolog asing. Dengan cara ini, karya kita tidak hanya beredar di jurusan antropologi di UI saja,“ katanya sambil tersenyum dan memperlihatkan sebundel kertas yang berisikan Bab I buku tersebut. Di luar itu, Pak Afid hendak memotivasi para antropolog muda untuk terus berkarya dan tidak berhenti pada penilaian sinis masyarakat yang memandang sebelah mata ilmu ini.

Kontroversial

Hal yang mengejutkan adalah buku ini akan membahas beberapa soal yang akan menjadi kontroversial. Pada Bab VI, ia akan memaparkan gagasan bahwa pengajaran antropologi di tingkat sarjana (S1), sudah saatnya ditinjau ulang atau dibubarkan. “Saya sudah lama mengamati perkembangan dunia antropologi di Indonesia. Saya kira, antropologi tidak memadai jika hanya diakomodasi di tingkat S1 saja. Sebaiknya di tingkat S1 haruslah dibubarkan dan biarkan ilmu ini hanya ada pada tingkat graduate atau pascasarjana saja. Mahasiswa antropologi di tingkat S1 hanya menjadi “tukang” penelitian saja. Kemampuan mereka sangat terbatas untuk mengenali dan memahami masalah. Kalau boleh jujur, selama ini tak pernah ada penyelesaian yang sifatnya total dari antropologi sendiri,” katanya.

Baginya, antropologi adalah sains yang semestinya merasuk ke mana-mana. Harus bisa menjadi ruh yang meresap dalam berbagai bidang ilmu agar menempatkan manusia sebagai subyek yang berbicara dan tidak ditaklukan. Untuk itu, antropologi harus memancarkan aura ke semua disiplin ilmu lainnya. “Posisi ilmu ini adalah memancarkan aura dan kompleks pengetahuan yang kemudian menjadi jiwa. Antropologi harus menjadi visi,” ujarnya. Pak Afid mengakui, selama ini ia banyak berinteraksi dengan para doktor dari berbagai disiplin ilmu sehingga memberikan banyak inspirasi tentang pentingnya menempatkan antropologi sebagai jiwa dari beragam ilmu. Ia tidak menampik kalau nantinya ide ini akan menjadi kontroversi sekaligus “berita buruk” bagi banyak dosen. “Semua orang dari berbagai disiplin ilmu, ketika masuk antropologi akan memiliki visi kemanusiaan yang sangat kuat. Makanya, saya siap berbeda pendapat dengan banyak antropolog yang tidak sesuai dengan ide ini,” ujarnya.(*)

Kamis, 29 November 2007

Pukul 21.25 WIB (saat sedang nongkrong di kamar)

Serunya Seminar Tesis Mbak Fikri!!


SAHABATKU Siti Fikriyah Khuriyati (Mbak Fikri) adalah sumber inspirasi yang tak pernah padam. Sejak awal kuliah, aku selalu kagum dengan staminanya yang luar biasa dalam membagi waktu antara kuliah dan bekerja di DPR RI serta aktif di beberapa LSM. Bayangkan, betapa sibuknya harus masuk kantor tiap hari di DPR untuk membahas begitu banyak draft undang-undang, kemudian kuliah lagi di antropologi dan harus membaca banyak buku panduan.

Tapi, Mbak Fikri selalu bisa melakoni semua itu dengan baik. Nilainya selalu saja yang terbaik di kelasku. Aku selalu ingat, jika kuliah usai, ia tak bisa lama ngobrol di kantin bersamaku dan beberapa teman. Ia langsung tancap gas dengan motornya ke DPR dan berhadapan dengan tema baru lagi. Ia sanggup menjalani keduanya, bahkan menjadi yang terbaik di kelas antropologi. Pribadinya low profile dan punya semangat besar untuk menuntaskan dahaganya pada pengetahuan. Aku suka malu dan minder bila bercermin pada dirinya dan menemukan betapa malasnya aku yang tak kunjung bisa menaklukan waktu. Bagiku, Mbak Fikri adalah mata air inspirasi.

Kemarin, aku kian minder setelah Mbak Fikri menjadi orang pertama di angkatanku yang mempresentasikan rencana tesisnya. Di saat aku dan teman-teman masih bergelut dengan kuliah yang masih belum kelar, ia sudah jauh melangkah maju dan meninggalkan kami yang hanya bisa memandang kagum padanya. Staminanya itu bikin aku tak bisa berhenti mengaguminya. Temanku Gonjess pernah mengatakan, “Stamina dan keseriusan seperti itu hanya bisa kita lihat pada orang bule. Jarang orang Indonesia yang punya semangat meluap-luap seperti itu. Di antara kita, mungkin hanya Mbak Fikri yang punya itu.”

Aku rasa, Gonjess benar juga. Kemarin aku cukup beruntung karena bisa menghadiri seminar proposal Mbak Fikri yang berjudul Reproduksi Identitas Simbolik Parlemen Indonesia. Inilah seminar yang paling menarik yang pernah kuikuti. Bahkan jika dibandingkan dengan beberapa seminar S3 yang kusaksikan belakangan ini, seminar Mbak Fikri masih jauh lebih menarik sebab sebab diwarnai diskusi yang cukup alot serta debat ilmiah yang cukup seru.

Bagiku, tema yang diangkat Mbak Fikri jarang ditelaah oleh para antropolog lainnya. Apalagi, pada bagian awal seminar, Mbak Fikri mengatakan, “Saya melihat pendekatan ilmu politik dalam melihat parlemen kita terlampau makro. Mereka tidak melihat hal-hal yang sifatnya mikro dan mendetail dari realitas politik di parlemen. Padahal di sana, ada kebudayaan yang berdenyut dan selalu bergerak. Di sana ada pergulatan manusia.“ Nah, itu hanya pengantar saja dari presentasinya yang sungguh amat mengesankan. Pantas saja bila Ibu Suraya mengatakan, “Ini tema yang sangat menarik dan callenging.“

Sebelum Mbak Fikri tampil, ada dua mahasiswa lainnya yang juga mempresentasikan rencana tesisnya. Mereka adalah Gofur dengan tesis bertemakan Manusia Gerobak: Studi Pemulung Jakarta. Satunya lagi adalah Mbak Sunarwati dengan tesis bertemakan analisis desain komunikasi visual iklan Teh Botol Sosro. Saat mereka tampil, dua dosen penguji yaitu Iwan Tjitradjaja dan Achmad Fedyani (Pak Afid) langsung mencecarnya dengan pertanyaan yang substansial. Iwan mengatakan proposal itu agak ambisius. Kata Iwan, harus selalu dilihat dari sisi kemiskinan perkotaan yang lahir sebagai ekses kebijakan. Meskipun Goffur cukup alot mempertahankan persentasinya, namun ia “terkapar” juga saat Pak Afid menyerangnya dengan sejumlah pertanyaan teoritis. Pak Afid memprotes begitu banyak teori yang hendak digunakan Gofur serta pendekatannya dalam membaca realitas pemulung. “Bagaimana caramu memperlakukan sebuah teori? Apakah sekedar menjadi cuplikan-cuplikan saja? Anda mesti membangun asumsi-asumsi dan hipotetik. Mesti ada jarak dengan beberapa teori, kemudian membangun penjelasan-penjelasan. Itulah asumsi-asumsi. Jangan sekedar pasrah saja dan cuplik teori secara membabi buta.” Kata Pak Afid.

Namun, saat Mbak Fikri tampil, suasananya agak berbeda. Saat itu, Iwan Tjitradjaja digantikan oleh Suraya Afiff. Keduanya mengamati presentasi dan menyimak diskusi seru yang terjadi antara Mbak Fikri dengan kawan-kawan yang menyaksikan seminar tersebut. Pertanyaan-pertanyaan justru banyak diutarakan oleh teman-teman yang menyaksikan seminar itu. Mulai dari Jaya yang menanyakan hubungan antara simbol dan produk kebijakan DPR, kemudian Gofur yang menanyakan bagaimana hasil penelitian terdahulu, hingga aku sendiri yang menilai Mbak Fikri terlalu banyak berasumsi dalam penelitiannya. Terakhir, Dyah yang berkomentar masalah simbol. Berhadapan dengan bertubi-tubi pertanyaan itu, Mbak Fikri justru tetap fokus dalam menjawab pertanyaan. Ia banyak mengangkat contoh kasus bagaimana parade kemewahan simbolik seakan dipertontonkan di gedung parlemen. Mulai dari mobil mewah, pakaian mahal, hingga beberapa atribut yang kesemuanya menjadi sekrup kecil dari mesin besar bersama ketidakdilan di negeri ini. Mbak Fikri sedang menyingkap tabir yang selama ini menutupi tingkah polah di parlemen Indonesia yang selalu mengklaim dirinya mengemban amanat rakyat.

Yang aku kagum, Mbak Fikri tidak kehabisan jawaban dan contoh-contoh. Ibarat pertempuran, ia tidak kehabisan amunisi dalam meladeni desingan pertanyaan yang berseliweran. Ia tetap tenang, meski beberapa kali suaranya meninggi ketika pertanyaan seakan tidak berkesudahan. Ketika suaranya meninggi, Mitha –yang duduk disampingku—langsung berbisik, ”Wah, kayaknya ini sudah mulai nada do tinggi.”

Usai jawaban Mbak Fikri, Ibu Suraya memberi banyak masukan. Mulai dari persoalan metodologi bagaimana mengoperasionalkan konsep, hingga masalah konseptual yaitu fenomena in group dan out group dalam melihat realitas parlemen. Ia memberi apresiasi yang tinggi atas penelitian yang akan dilakukan Mbak Fikri. Sedangkan Pak Afid hanya berkomentar pendek. Katanya, jangan terlalu banyak berasumsi, usahakan tetap menarik jarak, serta pertimbangkan ulang teori Bourdieu dalam penelitian ini. “Realitas yang diamati Bourdieu di Eropa Barat, jelas tidak sama dengan realitas yang diamati di parlemen kita,” katanya untuk menutup diskusi. Selamat ya Mbak Fikri!! Good luck.

Depok, 27 November 2007

Pukul 09.40 (Jelang Kuliah Organisasi Sosial)

www.timurangin.blogspot.com

Foto di Jembatan Teksas


Hari ini, seorang kawan bernama Andi datang menemuiku dan memperlihatkan proposalnya yang berjudul Politik Disiplin di Pondok Pesantren. Ia meminta komentarku atas proposal yang dibuatnya. Aku tak tahu hendak memulai dari mana. Namun, proposal itu kurasa sangat baik. Aku sendiri belum tentu bisa buat sebagus itu. Saat ngobrol, kami kehausan. Selanjutnya sama-sama menuju kantin sastra untuk minum jus mangga. Kami melintas di jembatan Teksas. Kami terpana melihat konstruksinya. Andi memotretnya. Aku sekalian saja numpang dipotret di situ. Keren fotonya yaa?

Membaca Bourdieu


KEMARIN, aku mulai membaca buku An Introduction to Pierre Bourdieu Thought. Meski baru membaca bab-bab awal, namun aku mulai paham bagaimana tali-temali pemikiran Bourdieu serta keterputusannya dengan tradisi Marxisme dan fenomenologi. Ternyata, Bourdieu berada di tengah-tengah dari kutub perdebatan itu. Ia berbeda dengan Giddens yang melihat dua kutub pemikiran itu sebagai oposisi biner atau dua hal yang dipertentangkan. Bourdieu berbeda. Aku mulai paham apa pengertian habitus versus field serta bedanya dengan dualitas Giddens tentang agency dan struktur. Namun, aku tak mau membahasnya sekarang. Oh ya, kemarin aku juga membeli kopian buku Nancy Scheper Hughes yang judulnya Death Without Weeping terbitan University of California Press. Rencanaku, buku ini akan kubaca setelah tuntas membaca buku Bourdieu.

Jangan Takut dengan Pesimis

KENAPA harus takut dengan pesimis? Bukankah pesimis bisa membuat kita fokus dan melakukan penjelajahan otokritik dalam diri kita. Pesimisme bisa menjaga agar kita tidak terlalu melambung tinggi dan tidak lupa bagaimana cara menjejaki bumi. Pesimisme bisa menjadi obat dari sikap pongah atas optimisme yang meluap-luap. Pesimisme adalah senjata agar kita selalu waspada dengan langkah-langkah yang kita pilih serta siap menghadapi semua konsekuensinya. So, kenapa harus takut dengan pesimis?

Apakah Optimisme Bisa Dibeli?


BAGAIMANA sih cara membangun optimisme? Bagaimana sih cara mengalahkan pesimisme? Jujur saja, aku kerap kali larut dalam pesimisme dan butuh optimisme yang meluap-luap. Pesimisme ibarat parasit yang membelit sebagian tubuhku hingga kaku dan statis. Tak bisa bergerak ke manapun. Sedang optimisme adalah sebentuk semangat untuk selalu yakin bahwa masa depan akan selalu berpihak pada kita. Orang yang optimis selalu diliputi keyakinan menantang waktu. Ia yakin bahwa Dewi Fortuna tidak pernah beranjak dari sisinya hingga hidupnya selalu diselimuti kebahagiaan. Nah, masalahnya, gimana cara menggoda sang dewi agar selalu di sisi kita? Apakah Dewi Fortuna ibarat gadis cantik yang selalu dirangsang agar mencintai kita? Aku tak tahu. Bahkan dewi itu jadi semacam lelucon bagiku.

Andaikan optimisme itu adalah buah yang dijual, maka akan kucari dimanakah gerangan penjualnya, kemudian kubeli satu keranjang dan diletakkan di tempat paling spesial di kamarku. Di saat aku sedang pesimis atau terpuruk, akan kumakan optimisme satu demi satu agar percaya diriku terus mekar.

Kalau saja pesimisme itu ibarat parasit yang bisa kukenali, maka akan kucabut semua akarnya agar tak ada yang tersisa di badanku. Biar tubuh ini selalu riang dan tidak terjebak pada berbagai ketakutan yang merupakan buah dari pesimisme. Kata temanku, di Jakarta ada banyak tempat untuk konsultasi atau terapi agar selalu optimis dalam memandang hidup. Katanya, mungkin aku bisa ke sana, siapa tahu di situ ada jenis terapi yang cocok untuk mengatasi masalahku. Iya sih, dia benar juga. Masalahnya, aku tidak pernah percaya dengan terapi. Bagiku psikolog atau terapist adalah manusia yang paling sering berbohong di muka bumi ini. Masak, hanya dengan sekali wawancara atau tes, mereka dengan gampangnya menyimpulkan bagaimana watak seseorang. Hanya dengan pengalaman membaca sejumlah buku asing tentang watak, ia –dengan sangat kurang ajar—langsung memvonis watak seseorang. Busyet!!!

Nah, kembali pada titik awal. Apakah optimisme mutlak harus ada pada diri seseorang untuk selalu yakin dalam pertarungan dengan nasib dan waktu? Mungkin juga. Tetapi bisa jadi optimisme bukanlah segala-galanya. Optimisme bisa pula jadi parasit ketika kita tidak lagi mau berusaha dan bekerja keras. Kita hanya percaya saja pada wangsit yang memunculkan optimisme buta.

Aku pernah mengalami gejala optimisme buta seperti ini.Waktu SD, aku pernah ikut lomba Cerdas Tangkas P-4 dan lolos mewakili Sulawesi Tenggara ke Jakarta. Begitu lolos, mamaku mengantarku ketemu seorang dukun –yang katanya sakti—di kampungku Pulau Buton. Saat dukun itu menerawang namaku, ia langsung meniupkan optimisme yang dahsyat dalam diriku. Katanya, “Jangan khawatir. Hasilnya akan bagus!!“ Saat itu aku langsung berhenti belajar. Bagiku, kalimat sang dukun itu adalah kalimat sakti yang lahir dari hasil kontemplasi magisnya. Bisa jadi itu adalah suara langit yang dibisikkan pada dukun. Seorang dukun menganggap dirinya sosok yang bisa curi dengar apa yang terjadi di langit dan mewartakannya pada warga bumi. Malah, pada saat tertentu, ia bisa jadi kera sakti Sun Go Kong yang bisa mengobrak-abrik langit dan memaksakan nasib sesuai keinginannya.

Singkat kata, aku tak belajar sebab yakin pada kalimat sang dukun. Ternyata, begitu tiba di Jakarta, aku langsung kalah. Saat itu, aku seakan tak percaya dan langsung bilang sama mama, “Kita harus tuntut dukun itu. Dia sudah bohongi saya. Dia sudah bikin saya terlalu yakin.“ Mamaku hanya tersenyum melihat kekonyolanku. Mana mungkin menuntut dukun sebab dia tak salah. Yang salah adalah diriku sendiri, kenapa menjadikan setiap kalimatnya seolah mantra sakti. Bukankah dukun adalah manusia yang setiap berbicara tidak perlu bukti?

Nah, pengalaman ini memberikan pelajaran berharga bahwa optimisme saja tidak cukup. Optimisme mestinya didukung dengan kerja keras serta perencanaan yang matang. Optimisme hanya titik kecil, hasil dari kerja keras, tanpa perlu mengintip apa rahasia langit tentang usaha kita. Dalam novel Edensor diceritakan bagaimana mahasiswa Jerman yang tidak percaya nasib. Mereka hanya percaya kerja keras dan upaya. Mereka tak mau masuk gelanggang pertempuran tanpa persiapan. Barangkali, perencanaan yang matang serta kerja keras adalah hal pertama yang harus ditempuh sebelum memasuki gelanggang. Selanjutnya, optimisme hanya menjadi kalimat akhir yang disebut tatakala semua usaha itu rampung. So, tak perlu menunggu Dewi Fortuna hadir di sisi kita. Kita harus bisa menciptakan Dewi Fortuna itu sendiri. Pasti!!!

Depok, 21 November 2007

Pukul 09.59 WIB, saat baru bangun tidur

Aku Ingin Menjadi Matahari


AKU ingin lepas dari rasa lumpuh yang menjerat kedua tungkaiku. Aku ingin menerabas segala sekat yang membelenggu tubuhku. Sekat-sekat itu seakan menenggelamkanku pada pencarian yang tak pernah berujung, sebuah teka-teki yang tak kunjung terpecahkan. Aku ingin memburai kepompong yang menghalangi keinginanku untuk menatap horison realitas. Aku bosan hidup dalam sebuah tempurung kelapa sehingga hanya mengenali kenyataan yang lebarnya tak lebih dari jangkauan tanganku. Terlalu lama aku dibelit rasa mapan dan keangkuhan pengetahuan yang bersemayam di benakku. Aku ingin membalik tempurung itu, menghancurkannya kemudian menatap alam dengan tanpa rasa takut.

Aku ingin merentangkan tangan hingga ke ujung dunia dan menggapai seluruh jejak pencapaian manusia. Aku ingin merdeka dari segala batasan yang hanya meletakkan diriku sebagai titik kecil dari fenomen semesta. Seolah-olah aku hanya sekerat materi yang berbatas. Aku ingin melanglang buana dan menembus segala batas yang sanggup dijelajahi sains serta pikiran kembaraku. Aku ingin lepas dan terbang tinggi dan menembus mega-mega, melihat bumi hingga titik terjauh, melihat langsung bagaimana bumi menyapa pagi, melepas senja, kemudian memeluk malam. Melihat langsung bagaimana bumi membasahi tubuhnya dengan sapuan aneka warna pelangi, sebuah mosaik lukisan semesta.

Aku ingin menjadi matahari yang sanggup menyinari bumi, tanpa sedikitpun mengenal lelah. Menghadirkan pagi serta cahaya dengan tak pernah meminta balas. Aku ingin menjelma menjadi cahaya kecil yang menyelusup pada setetes embun dan berkilau hingga memancarkan keindahan yang semerbak di seantero bumi. Setetes embun yang bening dengan cahaya pengetahuan yang menerangi jagad pengetahuan. Menjadi cahaya dan api bagi sekelilingku...................

Aku Kesal pada Prof Fedyani?

AKU mulai kesal karena dosenku Prof Achmad Fedyani Saifuddin –yang disapa Prof Afid-- mulai jarang masuk mengajar. Hari ini adalah untuk kesekian kalinya ia tidak masuk mengajar. Di saat aku sudah mandi dan siap-siap untuk ke kempus, tiba-tiba pengelola jurusan menelepon dan berkata singkat, “Yusran, hari ini Prof Afid tidak masuk.“ Aku menghembuskan napas kecewa dan hanya bisa mengurut dada. Seingatku, kuliah Organisasi Sosial: Struktur dan Proses baru digelar empat kali. Itupun, aku tak masuk sehari. Sementara waktu perkuliahan akan segera berakhir pada 8 Desember mendatang.

Apakah aku kecewa? Yup, tentu saja aku kecewa berat. Apakah dia tak paham kalau perkuliahan akan segera berakhir, sementara belum ada serpih jejak pengetahuan yang disapukannya di kanvas otakku? Apakah dia tak paham kalau pikiranku mulai dijalari rasa gamang akan pengetahuanku yang hanya setetes? Ketakutanku untuk meninggalkan kampus Universitas Indonesia (UI) tanpa membawa amunisi pengetahuan yang mumpuni untuk membidik realitas. Ketakutan akan berjejalan di gerbong para pencari kerja yang berjalan kaki di tengah panas terik, memakai kemeja, dan membawa map berisi ijazah magister antropologi UI. Apakah dia tak paham kalau untuk bisa mengikuti kuliahnya, aku harus mengorbankan semua duit serta kekayaanku agar bisa bayar SPP di kampus yang mahal itu?

Dengan segala rasa takut serta gamang itu, apa yang dilakukan Prof Afid? Ia hanya menambah panjang baris ketakutan itu. Alih-alih menambah tebal pundi-pundi pengetahuan, ia malah menjadi katalis dari kian bodohnya aku karena terhalang dari cahaya pengetahuan yang mestinya ia pancarkan..........

Revolusi Memangsa Anaknya Sendiri


KEMARIN aku ke pepustakaan pusat UI dan meminjam buku berjudul Manusia dalam Kemelut Sejarah, terbitan LP3ES tahun 1978. Buku ini sudah cukup lama. Sampulnya sudah usang, agak kekuningan dan lapuk dimakan usia. Namun, isinya tidak ketinggalan zaman dan masih menyimpan bara gagasan yang tak pernah padam. Senarai gagasan yang tersaji dalam buku ini masih sanggup menyengat dan membakar belenggu keingintahuanku atas sisi lain dari sejarah bangsa.

Isinya semacam biografi dan tinjauan atas pemikiran dan gerak beberapa orang foundhing father Indonesia seperti Sukarno, Jenderal Sudirman, Sjahrir, Tan Malaka, Haji Agus Salim, Qahhar Mudzakkar, hingga Amir Sjarifuddin. Pada saat aku menulis catatan ini, aku sudah menuntaskan lebih separuh buku tersebut. Di antaranya adalah pengantar Taufik Abdullah, serta tulisan sejarawan Onghokham berjudul “Sukarno: Mitos dan Realitas,” tulisan M Roem “Memimpin adalah Menderita: Kesaksian Haji Agus Salim”, serta tulisan Dr Alfian tentang “Tan Malaka: Pejuang Kesepian”. Meski baru membaca beberapa tulisan, idenya seakan berputar-putar terus dalam benakku, membawaku ke dalam nuansa dan kelebat pemikiran beberapa tokoh tersebut, merasakan pergulatan emosi, ide serta interpretasi dalam membaca realitas ke-Indonesiaan.

Aku tak bermaksud menjelaskan semuanya. Palingan hanya membahas seorang tokoh yaitu Sukarno. Dalam pandanganku, tidak banyak manusia besar yang pernah dilahirkan oleh rahim bangsa ini. Sukarno adalah segelintir orang besar dengan visi yang terentang jauh untuk melihat bangsa ini lebih baik di masa mendatang. Ia punya energi –yang seakan tak pernah habis—untuk membumikan strategi yang diyakininya bisa membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Membaca kisah Sukarno serasa membaca kisah dalam mitologi Yunani kuno: penuh dengan kisah penaklukan dan berujung pada tragedi. Ciri khas mitologi Yunani adalah selalu menempatkan tragedi sebagai elemen paling penting untuk menjelaskan kehidupan. Tragedi adalah pergumulan dengan nasib yang tidak dimenangkan, dan lewat itulah nilai-nilai moral ditemukan. Ketika Oediphus –kisah masyhur dalam drama Sophocles-- berhasil mengalahkan sphinx dan meraih tahta tertinggi di Thebe, maka itu adalah sebuah penaklukan dan kejayaan (glory). Namun tatkala ia harus menusuk matanya sebagai bukti atas keterlibatannnya –yang dilakukan secara tidak disengaja—atas pembunuhan Raja Thebe sebelumnya serta tindakan mengawini ibunya Penelope, maka itu adalah akhir dari kisah tragik yang baginya. Ia menjadi prasasti dari dilema manusia untuk menemukan dirinya dalam sebentang peta konstalasi kosmos.

Kisah Sukarno bisa pula dibaca sebagai kisah penaklukan yang kemudian berakhir tragis. Ia adalah seorang cerdik cendekia yang berhasil menggiring bangsa pada gerbang kemerdekaan. Ia berhasil memerdekakan sebuah bangsa yang tengah beringsut untuk lepas dari cengkeraman kolonialisme. Lewat jargon revolusi, ia menggelorakan semangat massa dan rasa cinta yang dalam pada negeri hingga siap menjadi martir demi revolusi. Sayang, seperti halnya kisah Yunani kuno, Sukarno kemudian ditikam oleh negeri yang begitu dicintainya. Ternyata, revolusi –sebagaimana sering didengungkannya—harus memangsa anak-anaknya sendiri. Dan itu adalah tragis Sukarno.

Tak ada hal mengejutkan dalam tulisan Onghokham ini. Kalaupun ada yang baru bagiku, maka itu adalah cerita Sukarno yang sejak awal selalu sendirian dalam meniti bahtera kehidupan. Ia hanyalah alumni perguruan tinggi dalam negeri yang melesat sendirian. Ia tidak punya partner diskusi yang setara kualitas dengannya. Ia bukanlah Hatta atau Sjahrir yang dibesarkan dalam iklim akademis negeri Belanda, di mana mereka menemukan banyak lawan debat intelektual. Atas dasar itu, Sukarno kerap merasa egois dengan semua pandangan politiknya. Ia tak punya pengalaman memiliki seorang partner atau mitra yang benar-benar bisa dipercayainya seratus persen. Memang, di akhir kekuasaannya telah muncul tokoh seperti Soebandrio ataupun dr Leimina, namun mereka tak pernah menjelma menjadi tangan kanan Sukarno. Dalam hidup Sukarno, hanya ada sekutu dan seteru. Jika belakangan ia mati dalam konspirasi dan kesendirian, maka itu hanyalah tragedi yang menjadi ending dalam kisah glory hidupnya. Bermula dari keterasingan, meraih kegemilangan (glory), kemudian berujung pada tragedi yang telah menjadikannya sebagai mangsa dari kereta besar bernama revolusi. Soekarno adalah Oediphus yang ditusuk matanya dan mengerang hingga jauh.......

It's American Dream


SAYA sedang berjalan-jalan di Washington DC. Menyusuri jalan-jalan kota yang menjadi jantung Amerika Serikat (AS), negeri yang mencengkramkan kuku di tatanan politik internasional. Saya menghirup udara di depan Capitol Hill, simbol politik AS yang kubahnya berbentuk bulat dan ada patung perempuan sebagai lambang kebebasan. Pematung Thomas Crawford, seorang pencinta wanita yang rela dibakar oleh rasa kecintaannya, meletakkan patung itu sebagai wakil dari kebebasan yang meluap-luap. Apakah wanita identik dengan kebebasan?

Takjub melihat itu, saya lalu menyusuri padang rumput di depan Lincoln Memorial dan menyaksikan langung patung Abraham Lincoln. Di sorot mata pria ini terhampar kasih sayang pada bangsa kulit hitam hingga menjadikan dirinya sebagai martir pada tahun 1865. Ingin rasanya kutembus sorot mata itu dan mengurai sejarah perbudakan bangsa AS, sejak kedatangan imigran Inggris hingga datangnya kapal May Flower yang membawa kaum berkulit hitam dari Afrika. Betapa besar hasratku untuk menelusuri jejak perbudakan yang kemudian dihapus dengan berdarah-darah oleh Lincoln, Presiden AS terbesar sepanjang masa yang tumbuh dalam balutan kemiskinan di Kentucky dan Indiana di tahun 1818.

Ini adalah kompleks bersejarah yang dilestarikan sebagai tanda kehadiran masa silam di situ. Memandang keluar gedung itu, saya menyaksikan Washington Monuments yang berdiri tegak dan kokoh seperti sebuah batu runcing yang tertancap di dasar bumi. Batu itu menjadi prasasti atas kiprah George Washington, seorang komandan militer yang menyulut revolusi Amerika sebagai awal lahirnya Amerika Serikat. Dalam genggaman pria berkuncir ini, AS meletakkan visinya sebagai bangsa baru yang kelak menjadi superpower dan melihat dunia secara tunggal untuk ditekukkan dalam satu kriteria.

Selanjutnya, saya singgah menyaksikan langsung National World War II Memorial, yang menjadi saksi atas kejamnya Perang Dunia II. Saya menangis tertahan di saat membayangkan jenazah mereka yang terbaring demi membela negerinya. Apakah itu benar-benar dilatari tindakan heroik ataukah itu hanya reaksi atas proses pembodohan yang dilakukan secara sistematis atas nama negara? Ah, tangis tertahan itu kian deras tatkala saya berjalan sedikit ke dapan dan menyaksikan Vietnam Veterans Memorial yang berbentuk tembok hitam berbentuk huruf V. Di situ ada tergurat nama mereka yang tewas di Perang Vietnam. Seperti halnya warga AS yang tak pernah mengerti apa tujuan perang itu, hati ini hendak bertanya, apakah itu demi sebuah kehormatan ataukah buah kebodohan yang sukses ditanamkan negara.

BRUKK!!!!! Ada bunyi suara keras. Kepalaku sakit. Mataku berkunangan. Busyet!! Ternyata saya jatuh dari ranjang setelah lelap tidur seharian. Di tangan kananku ada buku karya Jack Canfield berjudul “American Dream.“

Ponakanku Sakit

KEPONAKANKU Ian yang baru berumur enam bulan sedang sakit. Ia menderita demam serta muntah-muntah sehingga harus dirawat di satu rumah sakit swasta di kendari. Kasihan, tubuh kecilnya begitu menderita sehingga menghilangkan keceriaan serta tawa riang yang selalu melekat di wajahnya. Mamaku langsung ke berangkat ke Kendari untuk menjenguk serta mengatasi kegalauan hatinya karena cucu satu-satunya sakit. Kata adikku Atun, saat pertama masuk rumah sakit, wajahnya dipasangi tabung oksigen agar mudah bernafas. Selang infus juga ditanamkan di lengannya.

Semua Agama Suka Menindas

AKU tak pernah setuju dengan mereka yang hendak menghakimi sebuah keyakinan. Bagaimanapun, keyakinan adalah dimensi personal yang merupakan urusan antara manusia dan pencipta. Setiap orang berhak memilih ajaran atau keyakinan manapun yang hendak dipilihnya. Apakah orang tersebut mau atheis, atau memilih Al Qiyadah, maka semuanya punya konsekuensi yang bersifat personal.

Di negeri ini, terlalu banyak orang yang mengambil otoritas Tuhan dan menghakimi sesamanya. Banyak orang yang tidak sabar untuk segera mengambil alih otoritas Tuhan dan segera memvonis kelompok lain sebagai “sesat” dan memberi label “penyimpangan”. Pertanyaannya, apa sih defenisi sesat dan menyimpang? Bukankah semuanya merupakan konstruksi pengetahuan manusia? Bukankah itu hanya kategori yang dibuat manusia dan bersifat menyejarah?

Susahnya adalah semua agama selalu punya tradisi kerasulan. Semua agama punya kisah tentang nabi atau rasul yang turun dan menyandang misi untuk “meluruskan” sebuah ajaran. Jika Kristen menurunkan seorang Yesus Kristus untuk meluruskan “kesesatan” agama sebelumnya, maka Islam juga menurunkan Muhammad dengan misi untuk “meluruskan” kesesatan. Bahkan Buddha sekalipun, mengenal sosok Siddharta Gautama yang hadir ke bumi untuk “meluruskan” keyakinan Hindu yang mengenal system kasta. Apakah agama memang selalu hadir sambil membawa klaim? Mengapa sih agama harus membawa misi pertempuran antara “kebaikan” dan “kejahatan?” Ah,…. Kayaknya semua agama sama saja. Sama-sama otoritarian dan menindas yang lain.

Tongkonan Toraja

Ini foto Dwi saat berada di Toraja. Ia sedang tersenyum di sebuah rumah khas Toraja yang disebut Tongkonan. Tak banyak yang tahu kalau Tongkonan bukanlah rumah untuk ditinggali, melainkan berfungsi sebagai lumbung padi. Seorang temanku mengatakan, konsep lumbung pada masyarakat tradisional tidak berbeda dengan konsep asuransi pada masyarakat modern. Lumbung dibuat dengan asumsi tentang masa depan yang susah diprediksi sehingga petani harus mempersiapkan diri untuk menghadapi itu. Sama persis dengan fungsi asuransi pada masyarakat modern. Kata Giddens, konsep lumbung atau asuransi muncul dari kesadaran serta rasa awas yang tinggi akan adanya resiko yang kelak bisa dihadapi manusia.

Beli Buku Lagi.....

HARI ini aku beli dua buah novel yaitu September (karya Noorca Massardi) serta Sang Pemimpi (karya Andrea Hirata). Khusus novel September, sudah lama kuincar, namun baru bisa kesampaian karena harganya mahal yaitu Rp 78.000. Kalau novel Sang Pemimpi, tiba-tiba saja tertarik karena sebelumnya aku sudah membaca novel Hirata yang berjudul Laskar Pelangi. Kata orang sih cukup bagus, padahal menurutku tidak terlalu istimewa karena alurnya yang kadang lompat-lompat. Harganya juga cukup mahal yaitu Rp 40.000. Jadi, total hari ini aku menghabiskan duit sebesar Rp 118.000. Banyak juga yaa.
Kemarin, aku juga membeli buku etnografi karya Anna Tsing yang berjudul Di Bawah Bayang-Bayang Ratu Intan. Buku terbitan Obor ini, kubeli seharga Rp 35.000. Spertinya, hasrat membacaku lagi tinggi-tingginya. Serasa ada banyak rasa ingin tahu yang mesti dijawab.

AVATAR: The Legend of Aang


AKU tergila-gila menyaksikan serial Avatar: The Legend of Aang. Terasa ada kerinduan dahsyat yang termanifes dan bersemayam pada diri seorang anak berkepala botak dengan baju rahib seperti biksu Tibet. Anak usia 12 tahun itu terlahir sebagai Avatar, sosok pembebas yang akan memburai perut penindasan sekaligus menjadi messiah (juru selamat) atas segala rupa kekacauan di bumi.

Sebelumnya, anak kecil bernama Aang terperangkap dalam sebuah bola es yang membeku di kutub selatan hingga 100 tahun. Anak itu seakan kaku dan tidak bergerak, hingga akhirnya ditemukan dua penjelajah suku air (water tribe) yaitu Katara dan Soka. Katara, perempuan pemberani tersentak ketika bongkahan es yang ditemukannya perlahan mencair sehingga sang anak keluar dari es dalam keadaan bugar. Anak dengan kepala licin dengan baju rahib seperti biksu Tibet, adalah generasi terakhir dari para pengendali udara yang nyaris musnah dibantai oleh bangsa Api. Anak yang kocak dan kadang tampak bodoh itu menyimpan kekuatan tersembunyi yang sanggup menggetarkan semesta. Sebab ia adalah sang terpilih, sang Avatar!

Ini adalah kisah tentang empat unsur semesta yang menjadi dasar dari lahirnya bangsa-bangsa dan suku. Peradaban manusia terbagi-bagi menjadi empat bangsa, Suku Air (Water Tribe), Kerajaan Tanah (Earth Kingdom), Pengembara Udara (Air Nomads), dan Negara Api (Fire Nation). Dalam setiap bangsa ada orang-orang yang dipanggil "Bender" (Pembengkok, atau dalam hal ini pengendali) yang memiliki kemampuan mengendalikan unsur alam sesuai bangsa mereka. Seni mengendalikan unsur alam ini merupakan perpaduan gaya seni beladiri dan sihir unsur alam. Dalam setiap generasi, ada seseorang yang mampu mengendalikan setiap unsur, ialah yang dipanggil sebagai Avatar, roh dari planet yang menitis dalam bentuk manusia. Ketika seorang Avatar meninggal dunia, dia akan terlahir kembali di bangsa yang gilirannya selalu bergantian sesuai dengan siklus Avatar (Avatar Cycle).

Stop! Cukup sampai sini. Aku tak akan berpanjang-panjang menjelaskan secara detail isi serial yang mengasyikkan ini. Aku tuntas menyaksikan seluruh serial ini berkat DVD bajakan yang banyak beredar di Jalan Margonda, Depok. Bagiku, film ini tidak sekadar kisah fiksi yang meninggalkan sebaris kesan mengharu-biru, melainkan sebuah risalah filsafat yang penuh dengan pergulatan ide atau gagasan. Realitas sosiologis Avatar adalah risalah filsafat Democritus yang menyebutkan bahwa alam semesta tersusun atas empat unsur utama yaitu api, air, tanah, dan udara. Keempat unsur ini menjadi partikel yang menyusun atom bernama semesta. Gejala konflik dan resistensi di antara unsur-unsur ini menjadi dinamika yang menjaga keseimbangan alam sekaligus harmoni semesta. Tak ada realitas atau unsur yang buruk, sebab semua menyandang takdir berbeda dan saling menyeimbangkan sesuai dengan garis edar atau ziarah masing-masing unsur.

Namun, tesis yang justru paling menghentak dan menjadi ruh film ini adalah pandangan akan hadirnya sosok pembebas atau lazim di sebut messianisme. Serial ini seakan menganfirmasi pandangan dari sejumlah filsuf maupun agamawan yang hingga kini masih meyakini kelak akan hadir seorang pembebas sebagaimana yang dituturkan dalam berbagai kitab suci. Selama 100 tahun lenyapnya Aang, manusia menantikan sosok penyelamat yang cendekia dan menguasai empat unsur kemudian menjadi peredam atas seluruh energi kejahatan yang mencekam manusia. Bagiku, kerinduan akan sosok Avatar ini adalah sesuatu yang universal dalam sejarah peradaban manusia. Aku berkeyakinan kisah ini hanyalah sebuah pintu masuk untuk mengungkapkan keyakinan purba yang termanifes dalam diri setiap orang dengan konsep serta kategori berbeda-beda. Artinya, konsep Avatar juga muncul di hampir semua peradaban dan kebudayaan manusia sebagai bentuk kerinduan akan hadirnya sosok manusia sempurna yang kelak akan menghancurkan ketidakadilan, menjaga nilai, serta memperkuat moralitas serta tatanan peradaban yang lestari.

Konsep Avatar

Istilah Avatar berasal dari bahsa Sansekerta yang berarti “turun.“ Dalam ajaran Hindu, Avatar adalah keturunan dewa yang turun ke bumi dan berwujud manusia. Titisan Dewa ini mengemban tugas untuk menegakkan kalimat kebenaran dan menjadi medium penghancur kejahatan. Itu bisa dilihat pada sosok seperti Krisna, Rama, dan Buddha. Konsep Avatar hampir sama dengan konsep dalam Kristen yaitu inkarnasi. Hanya saja, ada dua perbedaan mendasar. Pertama, seorang Dewa dalam Hindu bisa melakukan reinkarnasi pada banyak tempat di saat yang sama melalui Avatar sebagian (amshas). Artinya, wujud utama Avatar bisa memencar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan menempati wadah berbeda. Kedua, Avatar tidak terlibat secara utuh di dalam penderitaan manusia atau kehilangan pengetahuan dan kuasa Ketuhanan. Dewa Wisnu sangat masyhur dalam wujud beberapa Avatarnya termasuk Krishna, Rama, dan Buddha. Demikian pula dengan beberapa dewa lain termasuk Siwa, juga memiliki Avatar.

Dalam keyakinan Kristen, konsep “Avatar” adalah konsep messiah. Kata messiah kerap dimaknai sebagai Kristus atau penyelamat. Nama ini dilekatkan pada belakang nama Yesus sehingga menjadi Yesus Kristus atau Yesus Sang Penyelamat. Kitab Perjanjian Lama (The Old Testament) banyak mengisahkan ini (lihat Isaiah 53).

Sejatinya, kata messiah berasal dari bahasa Yahudi bermakna yang terpilih. Istilah ini dinisbahkan pada idelisasi pemerintahan Raja David (Daud) serta risalah kenabian Musa. Konsep ini meyakini bahwa hadirnya Musa adalah yang terpilih serta telah lama menjadi penantian bangsa Yahudi. Hingga kini, bangsa Yahudi masih meyakini akan hadirnya kembali Musa yang menegakkan ajaran, memperkukuh 10 perintah Tuhan (Ten Commandement).

Islam juga mengenal keyakinan tentang “Avatar” atau “Messiah” ini. Keyakinan itu termanifestasi dalam sosok Imam Mahdi yang digaibkan dan kelak akan hadir dalam satu setting sosial yang kian amburadul hingga terjadi dekadensi berupa pembalikan situasi di mana yang benar akan di salahkan, sedang yang salah akan dibenarkan. Meskipun konsep ini dianggap hanya subur di kalangan kaum syiah, namun menarik untuk ditelusuri asal-muasal konsep ini yang sesungguhnya berakar pada tradisi Islam. Dalam keyakinan kaum Syiah, Imam Mahdi adalah keturunan ke-12 dari Rasulullah melalui garis keturunan Imam Ali bin Abi Thalib kw yang digaibkan sebab friksi serta eskalasi konflik antar umat kian mengental. Imam Mahdi akan hadir kembali pada satu momentum zaman di mana kemunkaran dan kebobrokan menemui titik paling puncak dalam peradaban manusia. Saat inilah, Mahdi akan hadir dan mempertegas kebenaran.

Konsep messiah ini tidak hanya ada dalam tradisi religius, melainkan juga muncul di berbagai kebudayaan. Orang Jawa hingga kini masih meyakini akan adanya Ratu Adil yang kelak akan membawa Jawa ke era Gemah Ripah Loh Jinawi. Dalam studi Sartono Kartodirdjo, keyakinan ini justru menjadi api yang membakar semangat perlawanan orang Jawa untuk menentang ketidakadilan. Keyakinan akan Ratu Adil ini juga termanifestasi dalam mitos “Notonagoro” yang dianggap sebagai siklus kepemimpinan yang akan berpusar dan membawa bangsa Indonesia pada kesejahteraan.

Bukan cuma Jawa. Orang Makassar juga punya konsep messiah. Mereka menyebutnya “Tolo”. Kalau suatu saat ke Makassar, akan ….

BELUM SELESAI

Bandung: Sisa Sebuah Peradaban


BANDUNG laksana perempuan tua yang sisa-sisa kemolekannya masih membekas di sapuan wajahnya. Gadis molek yang kian dewasa itu seakan kehabisan napas dan tertatih-tatih mengikuti dengus napas modernisasi yang dengan rakus telah memangsa segenap keunikan dan ciri khas Bumi Parahyangan. Kota yang dulunya dituturkan dengan penuh birahi oleh para penjelajah Eropa ini seakan tenggelam ditelan pusaran arus kapitalisme kultural yang hadir sejak Eropa memasuki masa renaissance (pencerahan).

Bandung tidak lagi menyimpan birahi eksotik yang dikisahkan dengan masyhur dalam berbagai naskah Belanda. Kota ini telah bermetamorfosis menjadi sebuah kota metropolitan yang pekat dengan asap polusi kenderaan bermotor. Hingar-bingar, jalanan sempit, kemacetan, dan sampah, seakan menjadi cakrawala baru yang menggantikan cerita eksotik tentang tempat tetirah yang dikelilingi kebun teh, dan sayup-sayup ada suara suling yang lirih terdengar dan ditingkahi syair bubuy bulan.....

Ini kota yang kian bergegas. Aku menatap Bandung dengan begitu getir pada 18 Oktober 2007 lalu, saat memenuhi undangan seminar di Sekolah Staf Komando (Sesko) TNI. Aku menjadi satu dari empat mahasiswa yang menjadi delegasi Universitas Indonesia (UI) di ajang seminar bersama para jenderal di kampus itu. Di sela waktu kunjungan yang hanya dua hari ini, kuisi dengan berkeliling kota sambil merajut benang-benang memori tentang kota ini yang banyak berubah.

Aku menyaksikan beberapa bangunan tua yang masih berdiri dan dicekam sejarah dari masa keemasan VOC. Bangunan yang berkisah banyak tentang kolonialisme Eropa yang memasuki jazirah Nusantara itu, terlihat berdiri sunyi dan dihimpit berbagai mal yang tumbuh bak jamur. Sekonyong-konyong, pikiranku menerawang pada Van Der Cappelen, seorang pria playboy yang menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1819 dan membangun pendopo Kota Bandung. Atas saran Dr De Wilde yang saat itu menjadi Asisten Residen Priangan, Cappelen menjadikan Priangan sebagai wilayah perkebunan sejak tahun 1870 sekaligus membisikkan indahnya kota ini pada seluruh penjelajah dunia.

Cappelen dikepung oleh gairah yang meluap-luap melihat moleknya gadis Sunda di tengah alam yang sejuk. Ia seakan berada di tengah kota yang disebutnya terindah di Eropa yaitu kota Paris yang memukau. Tapi ini terletak di ujung barat Pulau Jawa, namun menyimpan magma dan semangat yang sama. Inilah Paris Van Java, kepingan kota Paris yang jatuh di hamparan Tanah Sunda. Pusat pemerintahan ini menyimpan imaji meluap-luap yang keindahannya tak henti dicatat dan dijerat dalam berbagai etnografi. Namun adakah kota itu masih eksotik sebagaimana dahulu? Andai Cappelen masih hidup, apakah gerangan yang dikatakannya melihat Bandung yang sudah bergegas menjadi kota metropolitan dan semrawut? Entah.

Barangkali aku terlalu sentimentil terhadap kota ini. Bagiku, harus ada ruang-raung untuk sebuah eksotisme di belantara kapitalisme. Aku tak bermaksud mengatakan kapitalisme harus dihambat, namun harus ada ikhtiar untuk memelihara denyut nadi dan napas sebuah kota. Untuk itu, Bandung harus dijaga sebagai portal untuk meneropong jejak masa silam bangsa Indonesia. Menjadi sejarah hidup yang menyimpan kenangan tentang tumbuh suburnya sebuah bangsa. Bandung harus dijaga agar tidak terjerat desain pemerintah dan saudagar yang menjadikan kota ini sebagai kota mal dan distro.

Barangkali aku terlalu romantis terhadap kota ini. Mungkin. Aku cuma sedikit tersentak melihat hanya dalam waktu singkat, Bandung berubah pesat. Di tahun 2000, aku sempat singgah ke kota ini untuk belajar filsafat dan logika di Yayasan Muthahhari yang diasuh pakar komunikasi Prof Dr Jalaluddin Rakhmat di Jl Kampus II, Kiara Condong. Bersama teman-teman, aku juga singgah belajar agama di Pesantren Al Jawwad yang terletak di Jl Geger Kalong Girang, tidak jauh dari Pesantren Daarut Tauhid milik Aa Gym. Dalam kunjungan itu, aku begitu takjub dengan denyut nadi Kota Bandung yang begitu tenang dan keluwesan khas gadis Sunda. Cuaca kota tidak begitu panas, serta gadis-gadisnya yang ramah dan bisa bikin kita geer karena merasa dinaksir. Aku ingat betul, saat itu hanya ada beberapa mal seperti Bandung Indah Plaza (BIP) atau Kings. Ada begitu banyak pusat jajanan serta distro pakaian di kawasan Cicaheum, yang tak begitu jauh dari Lembang.

Namun, hanya dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, perubahan berjalan dengan sangat cepat seakan berlari. Bandung kian memoles dirinya menjadi kota yang rimbun dengan mal dan pusat perbelanjaan modern. Bandung kian pongah dan mengklaim dirinya sebagai ikon mode dan trend di Indonesia. Sebegitu bangganya kota ini dengan gelar tersebut, hingga menjadikan itu sebagai identitasnya. Bandung yang eksotik menjadi mitos yang dikisahkan di waktu malam. Bunyi suling yang lirih di tengah kebun teh menjadi lagu pengantar tidur yang terlalu romantis untuk dikenang.

Celakanya adalah pesatnya laju bisnis dan irama kapitalisme itu tidak diimbangi dengan penataan atmosfer sebuah kota. Yang tersisa kemudian adalah sebuah kesemrawutan dan situasi laksana kapal pecah atau gunung yang laharnya hendak meletup ke langit. Ruang kota kian sesak, tanpa ada ruang kultural yang mengemban fungsi sebagai bentuk ekspresi dan kebebasan warganya. Yang tersisa adalah sebuah jejak dan sisa dari peradaban masa silam. Maka, seluruh bangunan tua itu menjadi mahluk yang dianggap tidak penting. Perlahan, seluruh jejak masa silam dikubur sembari mendendangkan lagu kemenangan kapitalisme industrial. Ini adalah era pasar Bung!! Dan di era ini, Bandung menjadi lanskap yang menggambarkan pertarungan tidak seimbang antara peradaban masa silam dan peradaban masa kini yang angkuh.

Ah, andai Cappelen masih hidup, apakah gerangan yang dikatakannya? Masihkah ia mengatakan Paris Van Java? Ataukah ia mengatakan Paris yang kian letih dan tertatih.(*)

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...