Kisah Haru MAHASISWA yang Menghilang Selama 15 Tahun


ilustrasi

Dia masih menjadi mahasiswa IPB saat menghilang lima belas tahun silam di Pulau Seram, Maluku. Dia kembali ke kota hanya dengan sandal jepit dan baju lusuh. Tapi, dia disambut bak seorang pahlawan yang baru saja kembali dari medan laga. Dia dielu-elukan segenap penjuru.

Kisahnya menitikkan haru. Dia diabadikan dalam puisi. Dia seperti sungai yang tak henti mengalirkan inspirasi.

*** 

Hari itu, 22 September 1979 di Hotel Salak, Bogor. Lelaki berkulit legam itu dikelilingi teman-temannya. Dia hanya mengenakan sandal jepit. Temannya membawakan sepatu dan jas untuknya. Dia menolak memakainya. Namun, temannya bersikeras.

Lelaki itu, Muhammad Kasim Arifin, serupa anak yang hilang. Dia yang lahir di Langsa, Aceh, 18 April 1938 itu adalah mahasiswa yang kembali setelah 15 tahun. Teman-temannya sudah lama sarjana dan banyak yang sudah menjadi pejabat. Kasim hanya seorang petani yang bersahaja. Tapi dia justru jauh menjulang dibandingkan semua orang.

Tahun 1964, dia hanya seorang mahasiswa biasa yang mengikuti Program Pengerahan Mahasiswa, yang sekarang bernama Kuliah Kerja Nyata. Di masa itu, mahasiswa harus siap ditempatkan di pelosok negeri. Kasim mendapat lokasi di Waimital, Pulau Seram, Maluku. Dia pun mendatangi daerah terpencil itu sebab didorong hasrat untuk membumikan semua pengetahuannya.

Di Waimital, dia bertemu keluarga petani miskin yang datang melalui program transmigrasi. Nuraninya terketuk. Dia ingin berbuat sesuatu. Dia menanggalkan semua identitas kota pada dirinya. Dia memakai sandal jepit dan baju lusuh. Dia ikut menemani petani yang berjalan kaki 20 kilometer menuju sawah. Dia melakukannya setiap hari dan bolak-balik.

BACA: Menenun Damai di Perbatasan Indonesia-Timor Leste

Dia membantu petani untuk mengolah tanah. Diajarkannya pengetahuan yang didapatnya di kampus IPB. Dia membantu masyarakat untuk membuka jalan desa, membangun sawah baru, membuat irigasi. Dia tidak menunggu bantuan dari pemerintah. Dia membangkitkan semangat masyarakat untuk bergotong-royong.

Kasim peduli pada petani lebih dari dirinya sendiri. Dia pun mendapat kasih sayang dari semua orang. Dia disapa Antua, sebutan bagi orang yang dihormati di Waimital. Kasim begitu larut untuk membantu masyarakat, sampai-sampai dia lupa pulang.

Seharusnya dia di Waimital hanya tiga bulan. Tapi dia merasa tugasnya belum selesai. Bahkan saat semua teman-temannya pulang, dia tetap menjadi petani. Bahkan semua temannya telah diwisuda, dia masih setia di kampung itu. Hingga semua temannya lulus dan menjadi pejabat, dia tetap memilih di kampung itu hingga 15 tahun.

Di Aceh, orang tuanya memanggil. Dia bergeming. Bahkan Rektor IPB, Profesor Andi Hakim Nasution, memanggilnya kembali, dia masih juga bergeming. Tak kurang akal, Rektor IPB lalu mengutus Saleh Widodo, seorang teman kuliah Kasim, untuk menjemputnya di sana. Dengan berat hati, Kasim bersedia ke Jakarta, lalu Bogor, hanya dengan sandal jepit dan baju lusuh.

BACA: Jejak Jepang di Sawah Kita

Kampus memanggilnya untuk menyelesaikan studi. Kasim sejatinya tak butuh gelar akademik, tapi dia tak kuasa menolak permintaan teman-temannya. Dia mengaku tidak sanggup membuat skripsi. Teman-temannya berinisiatif untuk merekam kisahnya di Waimital untuk diajukan sebagai skripsi. Dia bercerita selama 28 jam. Temannya mencatat cerita itu dengan mata basah. Semua terharu.

Kasim adalah potret manusia yang melampaui dirinya. Dia bukan seperti kebanyakan orang yang hanya berpikir untuk kuliah lalu bekerja, mengumpul harta, kemudian hidup bahagia. Dia menemukan bahagianya dengan cara lain. Saat dia melihat petani tersenyum, hatinya mekar. Selagi senyum itu belum hadir, dia akan menganggap tugasnya jauh dari kata selesai.

Dia lebur bersama masyarakat. Mulanya dia datang sebagai Kasim, mahasiswa IPB yang penuh pengetahuan. Setelah 15 tahun, dia menjadi bagian dari masyarakat. Dia tak lagi ingin sesegera mungkin lulus, kemudian menyandang toga dan bekerja di instansi pemerintahan. Dia ingin membantu semua petani untuk sejahtera melalui tindakan memuliakan bumi, menghargai lumpur, lalu mengolah tanah-tanah pertanian. Dia mencintai tunas yang tumbuh lalu mekar jadi tanaman.

Hari itu, Kasim memasuki gedung IPB untuk wisuda. Mulanya dia ragu-ragu dan takut melihat banyak orang berdatangan. Semalaman dia tak bisa tidur di Hotel Salak karena pendingin udara dan suara bising di jalanan.

Di acara wisuda, dia ingin duduk di kursi belakang. Namun begitu dia datang, semua orang berdiri dan bertepuk tangan. Dedikasinya membuat banyak orang merinding. Dia adalah insinyur pertanian paling istimewa, paling menyentuh hati, dan paling menjulang dibandingkan yang lain.


Lelaki muda itu tetap Kasim yang bersahaja. Bahkan setelah wisuda pun, dia kembali ke Waimital demi meneruskan kerja-kerjanya. Setelah beberapa waktu, barulah dia menerima pinangan Universitas Syiah Kuala, Aceh, untuk menjadi dosen di sana hingga pensiun pada tahun 1994. Di Waimital, namanya selalu harum, bahkan diabadikan menjadi nama jalan.

Pemerintah pernah memberinya Kalpataru di tahun 1982. Dedikasinya pada pembangunan masyarakat desa dan lingkungan mendapatkan penghargaan. Namun Kasim menolak penghargaan itu. Konon, dia meninggalkan penghargaan tertinggi di bidang lingkungan itu di bawah kursi. Dia langsung pulang. Hingga, seseorang datang mengantarkan penghargaaan itu ke rumahnya. Dia tidak silau dengan penghargaan apa pun.

Ketika mendapat tawaran untuk studi banding ke Amerika Serikat, dia menolak. “Untuk apa saya harus ke Amerika yang punya tradisi pertanian berbeda dengan di sini?” katanya.

sampul buku "Seorang Lelaki di Waimital"

Dia selalu menjadi Kasim yang menginspirasi. Kisah hidupnya ditulis ke dalam buku berjudul Seorang lelaki dari Waimital yang ditulis Hanna Rambe di tahun 1983, dan diterbitkan Sinar Harapan. Seusai pensiun, dia tetap di Aceh dan menjadi aktivis lingkungan.

Di masa kini, betapa sulitnya menemukan anak muda yang masih idealis seperti dirinya. Anak muda hari ini berlomba-lomba untuk masuk dunia bisnis, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, lalu masuk ke lingkaran istana, entah sebagai staf milenial atau sebagai staf menteri. Bahkan para akademisi muda bermimpi jadi dirjen, staf khusus menteri, atau jadi pejabat di BUMN.

Kasim adalah oase yang serupa mata air selalu menjadi telaga inspirasi yang tak mengering. Saat dia diwisuda di tahun 1979, salah seorang rekannya penyair Taufiq Ismail, menulis puisi yang mengharukan tentang Kasim. Salah satu baitnya berbunyi:

...
Dari pulau itu, dia telah pulang
Dia yang dikabarkan hilang
Lima belas tahun lamanya
Di Waimital, Kasim mencetak harapan
Di kota kita mencetak keluhan
(Aku jadi ingat masa kita diplonco
Dua puluh dua tahun yang lalu)
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku
Ketika aku mengingatmu, Sim
Di Waimital engkau mencetak harapan
Di kota, kami …
Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah
Awan yang tergantung di atas kota juga
Kau kini telah pulang
Kami memelukmu.



157 komentar:

Nurul Mutiara R.A said...

Menginspirasi sekali tulisannya Pak, membacanya dari awal hingga akhir gak kerasa mata malah jadi basah. Kasim sosok yg luar biasa

Mr.loba said...

Luar biasa bang..oase ditengah banyaknya kepura puraan saat ini

Abduh Sakral said...

Bacaan pagi yang indah. Terimakasih pencerahannya.

Unknown said...

Dimana bisa dapat bukunya Bro?

Unknown said...

Sungguh terharu dan bangga memiliki seorang seperti pak Kasim, semoga menjadi inspirasi bagi anak2 muda dizaman sekarang...πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ™

Mapiha said...

Yaaa yaaa 😒

Unknown said...

Sangat mengispirasi smg di masa milenium skrg muncul sosok Kasim2 yg lain tuk terjun membantu petani di pedesaan.

Unknown said...

Kisah memaksa pembacanya mengerutkan kening dan ubun. Dewasa ini, tak pernah lagi kita jumapai lelaki setulus Kasim.

Abdul Haris said...

Sungguh cerita ini sangat inspiratif, sdh sgt sulit hari ini mendapatkan tokoh spt pak Kasim, tp semangatnya mgkin bisa jumpai ditengah hiruk pikuknya pertarungan pemikiran manusia

agusandi135.blogspot.com said...

Inspiratit sekali pak Yusran, tulisannya,membacanya mengenyangkan ruh jiwa ini yang haus akan teladan sebuah perjuangan,salam kenal pak, dari Andi di SurabayaπŸ‘πŸ‘πŸ™❤️

Laurio Leonald said...

Kisahnya terlalu mudah untuk membuat mataku berkaca2. Andai bisa menjadi sosok bermanfaat sepertinya, tapi kemampuan dan pengetahuanku memang jauh tak sehebat beliau.

Irvan said...

Luar biasa !!!

Irvan said...

Luar Biasa !!!

Unknown said...

Sangat menyentuh.. smg muncul Kasim-Kasim muda pasca pandemi covid ini di pedesaan2 di seluruh wilayah Nusantara ini.. Amiinn yra

Andi Fathurrahman samary said...

Idealisme yang mulai memudar saat ini

Arabinesia said...

Masyaallah. Sosoa seperti inilah yang dicari-cari di masa kini; sosok yang siap berdedikasi di tengah masyarakat luas tanpa keglamoran hidup.

Benar-benar kisah yang sangat menginspirasi.

dahlan azfar said...

Keren Bang

Unknown said...

Extraordinaryman

Unknown said...

Ya...
Kasim..
Engkau adalah miniatur kemuliaan.berpuluh tahun jadi kakak kelasku..
Namun aku gagal untuk gapai kehormatan sepertimu...
Dan terus berjuang dari sisi lain..
Tks atas pesan rekam jejakmu ..
Bang Kasim..
Engkau begitu mulia...

Cipendawa said...

Tak terasa hanyut dan haru.. Sangat menginspirasi.

Unknown said...

Pak Kasim .... semangat pengabdian Bpk sangat luar biasa.

Diary princess amanda the magnet said...

Masya Allah Tabarakallah, sgt menginspirasi, trm ksh atas kisahnya Pak Kasim dan penulis

Unknown said...

Saya bangga dan mengingatkan saya tidak ada yang selalu kaya dgn harta ataupun jasa, melaikan yg kaya adalah org" yg selalu bersyukur.. πŸ‘πŸ‘

Unknown said...

Sangat terharu baca kisah mahasiswa Kasim, juga tak kalah inspiratif adalah acknowledgment akademis dari IPB dan rektor Andi Hakim Nasution....semangat merdeka kampus sudah tumbuh lama di Indonesia

Jumaddin said...

Luar biasa bang

Irdjan said...

Sangat inspiratif dan menampar ku...tq bro sdh share

Unknown said...

Kisah yg sangat menyentuh....smga menjadi inspirasi bagi semua orang,,

Unknown said...

Sangat menginspirasi, akan tetapi di jaman now seperti cerita dongeng.

irwanjurnalism said...

Salut dan bangga,apakah tokoh ini masih hidup?

baitussa'adah said...

Kami sempat bersama2 di ICMI Aceh mendukung gerakan baitul qiradh

Unknown said...

Kalo mau maju, sosok spt Kasim ini, harus lebih sering dimunculkan di media sbg teladan generasi muda serta cermin generasi tua. Dan jangan tokoh politik terus yg ditonjolkan.

Desa Ku said...

Inspiratif

Desa Ku said...

Inspiratif

waoderizkiadi.blogspot.com said...

Tulisan yang menghangatkan hati ✨

Unknown said...

Manusia langka pilihan Tuhan

Ndii Tenri said...

Bacaan yg luar biasa.. terimakasih..

Ndii Tenri said...

Bacaan yg luar biasa.. terimakasih..

Unknown said...

Masyarakat diingatkan oleh pengabdian IPB ditengah2 image institut paling borjuis

Unknown said...

Sosok kasim adalah sosok langkah,saat ini dibutuhkan kasim kasim muda untuk kemajuan rakyat kecil. Beliau masih menyisahkan 1 varietas padi yang diberi nama JAMAL = varietas Jawa Maluku. Apakah hasil varietas ini masih ada? Ini yg dipakai oleh petani di waemital gemba saat beliau masih disana. Klau ada yg bs memberikan almt penerbit untuk memiliki buku tentang kasim.

Choirul Asyhar Yukenbi said...

Berarti pak Kasim sdh berusia 82 thn... semoga Allah menjaganya. Dengan keimanan dan kesehatan. Aamiin...

Unknown said...

Konon Negeri Ini Sedang Menapaki Era Bonus Demografi,Butuh Generasi Seperti P Kasim, Belajar Tinggi, Bahkan Hingga K Luar Negeri, Lalu Kembali K Kampung Halaman atau Pulau2 dan Berbakti Pada Negeri. Itulah Brain Gain

Unknown said...

Luar biasa, sangat menginspirasi, akankah ada anak muda seperti Kasim di era 4.0 ini...?

Unknown said...

Kisah yang sangat luar biasa...
Semoga banyak kasim kasim baru di negeri ini, agar bangsa kita dapat menjadi tuan dinegeri sendiri.

Mustika said...

Kisah haru yg dikemas manis.. Semoga menginspirasi banyak orang untuk terus menebar manfaat πŸ’œ

Unknown said...

Sy sll menginginkan hal yg demikian...wahai pemuda dan pemudi Indonesia...aplikasikan hidupmu dlm dunia nyata...bukan dlm dunia mimpi..bravo om Kasim.

Unknown said...

MasyaAllah.....
Kisah yg rruuuaarr biasah...
Barakallahu fiikum buat pak Kasim...

Unknown said...

Bacaan pagi yg sangat menyentuh hati. Semoga membangkitkan *Kasim2 muda* lainnya

Anonymous said...

Luar biasa sungguh menginspirasi semoga akan lahir generasi seperti pak kasim. Karena sekarang memang tak banyak ditemui sosok seperti beliau

Unknown said...

Ya Allah...menitik airmata mebaca kisah Kasim...Tak gila hormat, tak gila pangkat...Bukan sosok yg menggebu nggebu mempertahankan pendapat demi sebuah tahta, namun ikhlas bekerja membangun bangsa tanpa retorika bahasa....Bukan pula sekedar pencitraan untuk mempertahnakan kuasa...Semoga masih banyak Kasim Kaim lain di negeri tercinta kita...Aamiin

Unknown said...

Terima kasih pak Kasim atas teladanmu...doakan kami juniormu bisa melanjutkan cucuran keringatmu

Unknown said...

Tidak ada rangkaian kata yang bisa mengungkapkannya

masopiq said...

Inspiratif, mengetuk hati bahwa definisi bahagia itu tidak selalu berkorelasi dengan materi dan pangkat tapi lebih ke perasaan dan ketenangan

masopiq said...

Inspiratif, mengetuk hati bahwa definisi bahagia itu tidak selalu berkorelasi dengan materi dan pangkat tapi lebih ke perasaan dan ketenangan

thayyib said...

Masya allah mantep. Semoga kita sebagai pemuda bisa menjadi inspirasi. Bukan hanya sekedar penghargaan tapi keikhlasan dan tanggung jawab yg harus ditumbuhkan

syhadinata said...

sungguh menginspirasi

Unknown said...

Ma Syaa Alloh..Barokalloh...sarjana yang sebenarnya. Semoga menjadi pencerahan utk para mahasiswa.

Unknown said...

Sangat Menginspirasi

Ilona Tasica Angelina said...

Sampe nangis bacanya, terima kasih pak telah menginspirasi

Unknown said...

Masha Allah, sungguh menginspirasi. Semoga Pak Kasim selalu dalam limpahan Rahmat Allah di manapun, dan kapanpun πŸ™

Unknown said...

Haru dan bangga pernah jadi mahasiswanya. Hormat qu tuk Pak Kasim Arifin.

Unknown said...

Tujuan yang sungguh mulia , tak butuh penghargaan maupun toga namun yang terpenting adalah ilmu yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan . Luar biasa

Ben said...

Ini cerita yang hampir saya sendiri ga pernah tahu dan tidak pernah kenal. Hal yang berat untuk dijalankan jika mau jujur, karena hidup di kota seperti berlarian menuju posisi tertinggi.

Semoga saya sendiri bisa mencoba hal ini. Terima kasih sudah berbagi.

Ihsan said...

Siapkah kita semua mahasiswa untuk menjadi kasim selanjutnya?

Unknown said...

Cerita nyata yg sgt indah nanun ,banyak yg tdk tahu, sgt inspiratif....kenapa orang2 yg seperti ini tidak masuk dlm liputan TV?sebaiknya digagas program2 TV yg memuat orang2 seperti pak Kasim...bukan melulu siaran sinetron atau siaran2 yg saat ditonton,gak ada nilai moral yg dapat diperoleh....

Unknown said...

Maa shaa Allah ✨

Unknown said...

Ma sya Allah luar biasa..., sampai menangis..., perjuangan yang menginspirasi.....

Unknown said...

Carita yang sangat menginspirasi, semoga saya dapat melihat banyak para remaja atau anak muda yang menjadi seperti KasimπŸ‘

Unknown said...

Semoga semangat insfiratif pa Kasim nyampai di Senayan gedungnya dan gudangnya harapan Rakyat dan bangsa Indonesia.Aamiin.

liam668.wordpress.com said...

membuka mata hati, menginspirasi....

Unknown said...

Rasanya tiada kata yang pantas di ucapkan selain...
Maasya Allaah wa tabaarakallaahu

Muhammad Haitami said...

Terima kasih. Seperti sebuah dongeng, padahal nyata.

Anonymous said...

Alfatihah buat pak kasim

Sutia Budi said...

Masya Allah...

Uda Roni said...

Inspiratif... Tanpa terasa air mata menetes...semoga amalannya selalu mengalir..aaamiiin

Unknown said...

Ma syaa Allah. Sangat menginspirasi pak. Sebagai generasi muda, kisah ini membuat kami malu dengan ilmu yang sudah kami dapat di bangku kuliahπŸ˜₯

Unknown said...

Masya Allah... Semoga setiap tetesan keringat, menjadi amal ibadah pak Kasim...aamiiin ya rabbal aalamiiin.

Unknown said...

Gimana caranya bisa mendapatkan buku ini, mhn infonya

Haslizen Hoesin said...

Terimakasih tulisannya Pak, menyentuh hatiku sedalam-dalamnya. Semoga amal idadahnya diterima Allah, di Dunia dikenang terus. Mudah-mudahan muncul pemuda lain sebagai penerus. Aamiin ya rabbal 'aalamiin

ADHI KOSWARA said...

Luar biasa,...masih adakah kasim lainnya...? Salut & angkat topi bt anda...

akhwanali.blogspot.com said...

Ijin Share Kk. Tabe

munandar sulaeman said...

Inspiratif utk mereproduksi perg.tinggi bukan mercusuar tetapi ada di hati rakyat dlm sgl hal poleksobud...semoga

Kisah kasim said...

Sepenggal kisah mengharukan dan menginpirasi.
Beliau penutup kasim yang hilang, tidak akan kasim stetelahnya yang serupa kasim yang hilang di lumpur waimital hingga 15tahun, sehingga lupa dirinya adalah mahasiswa.

Salmisupriatin@yahoo.co.id said...

Amazing, inspiring, good idea

Isman said...

Begitu menginspirasi untuk menjadikannya teladan dalam mengarungi kehidupan ini. Izin share ya pak. Terima kasih

Unknown said...

Masya Allah barakallahu fiikum.kisah yg sangat mengharukan dan inspiratif bangat.tak.terasa mata berkaca2 membacax. Semiga Allah sll.melimpahkan taufik dan hidayah pd Pak Kasim dan jg untuk penulis. Tks

Fujita said...

idealis, penuh perjuangan, semoga masih ada kasim kasim lain di zaman sekarang ini. masih adakah?

Unknown said...

Ada e-booknya

Anonymous said...

Sungguh... Membaca ini ada perasaan malu menyeruak dalam jiwa... Sudah melakukan apa aku untuk negeriku....

Unknown said...

Sangat inspiratif ,semoga kita dan anak2 muda sekarang bisa mengikuti jejak beliau di bidang masing2...jadilah diri sendiri ..jadilah orang yg bermanfaat tuk orang banyak..dan buatlah semua karena mengharap ridhonya Allah...

Unknown said...

Sangat menginspirasi, berbuat untuk sesama dengan ikhlas.

cahayalutfi1 said...

Jadi terharu...

toto gemba said...

saya sempat mau mendatangkan wartwan yg menulis buku tersebut bersama mata elang (panggilan facebooknya)
beliau oernah datang ke banda ke ambon, rencana mau kami arahkan ke waimital, to urusannya terlalu banyak, bahkan kami sdh siapkan buku copian yg mirip dg aslinya spy antua tand tangan akang, dan kita buatkan dana buat pulang perginya hana hana (sang penulis) tapi gagal, to masih ada ke8nginan kami mendatangkan wartawan tersebut utk menceritakan kisah2 beliau langsung, smoga ibu hana rambe selalu diberi kesehatan


saya juga pernah nenyadur kisah ini 2009 lalu, bahkan sempat dikomentari salah satu anak dari pak kasim arifin,l

Kursus Batik Tulis Giriloyo said...

Haru
Membiru..
Cerita pilu yang tak akan pernah beku.

qwerty said...

Mohon kepada penulis untuk mengutip sumber tulisannya Krn tulisannya bersumber darihttp://www.hutan-tersisa.org/2010/01/mengenang-m-kasim-arifin-aktivis.html?m=0

Diah Dwi Arti said...

Tiba-tiba saya merasa saya ini bukan siapa-siapa.

Terima kasih, Pak Kasim dan tulisan Anda sangat menginspirasi.

Yhanthy said...

Bacanya bikin tertegun, sosok lelaki yang bernama Kasim, mengabdi untuk masyarakat petani. Semoga bisa ditiru pemuda saat ini

Hanya seorang hamba said...

Mengharukan. Menginsipirasi. Anak milenial kapan menyusul? Walau bukan selevel pak Kasim Arifin, sudah kuberikan apa yg kupunya utk anak negeri, sebab dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.

Aljaelani_ said...

Sangat menginspirasi, Bismillah anak muda harus banyak belajar dari kisah beliau

Unknown said...

Terimakasih banyak atas tulisan inspiratif ini yang membangkitkan jiwa muda yang terkadang lupa akan tujuan, terimakasih sudah mengenalkan pak kasim, sosok yang kemudian akan selalu ku ingat dalam melangkah kedepannya.
Terimakasih bg

oscarmery said...

Sangat menginspirasi

achyarlz_blog said...

luar biasa .kisah yg memberi inspirasi tentang tujuan mencari ilmu dan tujuan hidup... smoga saja banyk kasim" yg lain tercipta dinegri ini... salut..

Ners said...

Inspiratif. Perjalanan Kasim sungguh mengharukan. Dan banyak pesan moral yang bisa dipetik.

Gendis pambayun said...

Saya baper bacanya, airmata menetes nggak bisa ditahan. Menginspirasi sekali. Luarbiasa dan sangat sangat luarbiasa.

Kreta Amura said...

Jadi bertanya2 selama ini aku sudah berbuat apa pada negara

Dewi said...

Inspiratif sekali...

taufik raharjo said...

sya ngefans sama pak kasim....alhamdulillah sya dapet bukunya dr lowakan...

GELUNG INTERTAINMENT said...

Sangat menarik. Kisah yang mengharukan dan menginspirasi.

Unknown said...

Dari sini kita belajar bahwa jabatan/gelar bukalah satu2nya tujuan untuk hidup bagi mahasiswa,,,tapi hidup solidaritas bersama masyarakat itu sangat lah penting,,,,sungg su terharum dan inspirasi sekali cerita nya🀧🀧 semoga kita semua bisa terinspirasi

Unknown said...

Menetes air mata membaca kisahnya....
Semoga msh akan tumbuh generasi2 muda di masa milenial ini setulus Pak Kasim

Nurdin said...

Kepala pelaksana KKN...pribadi yg luar biasa. Beliau oernah memceritakan kisahnya ini saat kami oembekalan kkn 1997.

Zamroniblog.blogspot.id said...

Maasya Allah, semoga akan lahir pak Kasim pak Kasim yang baru, yang terus menginspirasi negeri ini.

Edib Hanum said...

Semoga dimasa akan datang ada seperti kasim akan berkembang kasim kasim lainnya yang berbudi luhur cinta negeri dan mau membangun NKRI Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin

Edib Hanum said...

Semoga dimasa akan datang tumbuh dan berkembang kasim kasim lainnya yang mengispirasi membangun NKRI menuju masyarakat yang sejahtera Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin

Edib Hanum said...

Semoga dimasa akan datang ada seperti kasim akan berkembang kasim kasim lainnya yang berbudi luhur cinta negeri dan mau membangun NKRI Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin

Edib Hanum said...

Semoga dimasa akan datang ada seperti kasim akan berkembang kasim kasim lainnya yang berbudi luhur cinta negeri dan mau membangun NKRI Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin

Edib Hanum said...

Semoga dimasa akan datang ada seperti kasim akan berkembang kasim kasim lainnya yang berbudi luhur cinta negeri dan mau membangun NKRI Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin

Unknown said...

MasyaAllah, luar biasa, ...semoga Allah memberkahi pak Kasim dunia akherat..aammin..Terima Kash tulisannya

muhammad erdi lazuardi said...

Saya pernah mendengar kisah Beliau dari alumni IPB. Alhamdulillah ada yang menuliskannya sehingga lebih lengkap. Terima kasih Pak Kasim atas inspirasinya dan terima kasih Pak Yusran yang terus menghidupkan kisah inspiratif ini melalui tulisan Bapak.

imamghozali.com said...

Subhaanallah....kasim berjiwa malaikat

Anakpaiyes said...

Menyentuh sekali dan sangat inspiratif bagi kaum muda TRIms pak Kasim

Anakpaiyes said...

Keren

Unknown said...

Luar biasa...

Rizki Mustaqim said...

Sangat menginspirasi

Dulwadul Inc. said...

Kapitalisme dunia telah membunuh nurani manusia, hidup kini hanyalah tentang materi. Mungkin sekarang hanya ada 1 dari semilyar orang yang diberi ketulusan hati seperti pak Kasim ini...menanggalkan semua kepentingan dirinya bagi orang lain. *salam sungkem dari juniormu yang sangat memalukan ini...

brownenergy said...

un believeable……….inspiring ….sulit di terjmahkan dalam kata.. menitik kan air mata...haru biru…

Anonymous said...

Rasa luar biasa, kagum sekali..

Lokata said...

Rindu kasim,.
Semoga ada kasim-kasim lagi.
Era milenial yg bisa menginspari dg tulus tanpa embel-embel fulus.

Astrid Savitri said...

Terima kasih telah menulis ini :)

Heru said...

Benar2 mahasiswa idealis, pejuang tangguh, sgt peduli lingkungan, bersahaja, bermasyarakat, suka menolong org miskin... Sosok yg sulit ditemukan pd masa kini...masa dimana manusia bnyk memakan dan menipu manusia lain, yg rakus dng merusak lingkungan hidup hny demi uang dan cinta dunia. Semoga muncul sosok2 Kasim lainnya....Aamiinnn ya rabbal 'alaamiin...

Unknown said...

jaman dulu insinyur sangat2 jarang tetapi ada seorang yang lebih milih membumi dari pada menjulang. terima kasih.

Buyung said...

Teladan luar biasa seorang yang memilih menjadi manusia bernilai daripada orang yang pada umumnya mengejar sukses.
Akan sangat bermanfaat analisis psikologinya, bagaimana karakter itu terbentuk, untuk pelajaran dalam mendidik anak.

Buyung said...

Teladan luarbiasa seorang yang memilih menjadi manusia bernilai daripada mengejar sukses.
Akan sangat bermanfaat dibuat analisis psikologinya untuk pelajaran dalam mendidik anak.

Njana said...

Sungguh mnyentuh hati nurani

Umi Darsiah said...

Masya Allah, pengen baca bukunya

Kusnandar said...

Mantap bang, menginspirasi pemuda sekarang ��

TROTOAR CHIK said...

Luarbiasa,,, πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Sri dania Ambar said...

Sungguh menginspirasi, gak ketebak isinya yang mengharukan, jika hanya dibaca dari judulnya 😞

husni rumbia said...

Inspirator, akhirnya tahu jalan muhamad kasim di desa waimital

Unknown said...

Mantap sekali sangat inspiratif, saya dari orang share di fb pergi kesini.

Salam catatanputhut.blogspot.com

Ade said...

izin bertanya, apakah Pak Kasim ini sekarang masih ada? tks

Ade said...

apakah beliau sekarang masih ada?

Unknown said...

Pahlawan yg haqiqi
Waimital di pulau seram tempat saya tinggal,masih tetlihat hijau deng persawahan

Naomi said...

Halo kak, terima kasih telah menginspirasi melalui cerita ini. Saya minta izin untuk re-share tulisan ini di OA Line Campuspedia untuk menginspirasi anak muda lainnya. Tentunya akan kami sertakan source. Terima kasih kak :)

Naomi said...

Halo kak, terima kasih telah menginspirasi melalui cerita ini. Saya mau minta izin untuk re-share di OA Line Campuspedia untuk menginspirasi anak muda lainnya. Tentunya tidak lupa dengan mencantumkan source. Terima kasih Kak, sukses selalu :)

M.Faizal Rezha Z. said...

Gila! Terima kasih banyak sudah berbagi cerita Pahlawan Kasim, Pak!

Kosmas Lawa Bagho said...

Luar biasa inspiratif. Terima kasih pak Yusran, tulisannya sangat apik dan epik. Bisa kami dapatkan bukunya hehehe. Salam literasi dari Ende, Flores

Lisan Timur said...

Terima kasih telah berbagi kabar ttg Pak Kasim ini, Om. Luar biasa.

Lisan Timur said...

Terima kasih, Bang Yus.
Narasi elok ttg sosok pengabdi. Sungguh saya menikmati tiap baris jejaknya.

LA ODE YUSRAN SYARIF said...

Luar biasa, sungguh menginspirasi.

Unknown said...

Alhamdulillah semoga ada kasim2 berikutnya

Unknown said...

Semoga masih ada kasim2 berikutnya

Anonymous said...

Membirukan langit Maluku...
Pak Kasim melukiskan nama di batu-batu yang tersembunyi
Memberikan inspirasi pada tiap goresnya...
Aku tidak melihat perjuanganmu...
Namun, aku tahu kau tak butuh itu, kau tak butuh semua tahu.
Yang kaubutuhkan adalah melihat perempuan dan anak-anak tersenyum karena perjuanganmu..
Senyum mereka sudah cukup bagimu, karena senyum adalah takaran bahagia bagi mereka...

Ya, kaulah Kasim Sang Pencetak Mimpi Rakyat Waimital

Amrafel said...

Kasim, semoga semakin banyak yang menjadi kasim

Unknown said...

Yahhhhh.... memang sesosok ciptaan Allah yang paling Mulia.... tanpa terasa membaca kisah pak KASIM menaikkan bulu yang ada di seluruh tubuh ku, dan membuat mata berkaca-kaca. dan Amal ibadah yang Tiada terhingga.... Surga tertinggi lah tempat mu Pak KASIM.....

Saifullah Qohari said...

LISANUL HAL AFSOHU MILLISANUL MA QOL...Dakwah/ajakan dalam bentuk perbuatan lebih manjur daripada ajakan kata-kata..(Al Hadist)

Saifullah Qohari said...

Lisanul hal afsohu millisanul maqol (Dakwah/ajakan dalam bentuk perbuatan lebih manjur daripada kata-kata...Al hadist).

fathur rohman al fayaz said...

bang kasim& bang taufik ismail. alumniku asrama ipb ekasari sempur...thanks for telling their epic story

Post a Comment