Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Film Aquaman dan Teka-Teki Atlantis di Indonesia




DI banyak bioskop kita, film Aquaman yang diperankan Jason Momoa dan Amber Heard tengah tayang dan disambut meriah. Banyak orang antre untuk menyaksikan kisah Arthur Curry yang berebut tahta sebagai penguasa Atlantis, kerajaan di bawah laut.

Tahukah Anda, sejak awal reformasi, banyak orang sibuk mendiskusikan posisi Atlantis yang disebut-sebut berada di lautan Indonesia? Tahukah Anda bahwa ada beberapa pakar yang menguatkan teori bahwa benua yang hilang itu ada di sekitar kita?

***

DEMI merebut tahta dari saudaranya, Arthur Curry atau Aquaman bersedia untuk merebut takhta sebagai penguasa Atlantis, kerajaan hebat dengan teknologi canggih yang berada di dasar laut. Bersama Putri Mera, Arthur lalu menaiki kapal selam yang membawanya ke negeri Atlantis.

Dalam film Aquaman yang disutradarai James Wan, Atlantis digambarkan sebagai negeri yang mewah di dasar laut. Dahulu, kerajaan itu berada di permukaan, dan sudah mencapai kematangan teknologi, saat bangsa lain masih percaya bumi itu datar.

Akibat keserakahan, Atlantis tenggelam ke dasar laut. Namun kekuatan tongkat trisula Neptunus yang dipegang King Atlan menyebabkan warga Atlantis bisa bernapas di dalam air. Negeri itu tetap berdiri. Penduduknya tetap membangun peradaban yang mewah dan canggih, meskipun berada di dasar laut.

Aquaman bukan film pertama yang membahas Atlantis. Hampir semua perusahaan film, termasuk Disney, pernah membuat film yang bertemakan Atlantis sebagai peradaban yang hilang. Hingga kini, masih banyak orang yang meyakini bahwa pernah ada masa di mana manusia telah menapak satu kejayaan, namun tenggelam karena alasan yang tidak diketahui.

Di Indonesia, diskusi tentang Atlantis juga marak pada era pasca-reformasi. Maklumlah, pada era reformasi marak perdebatan tentang seperti apa identitas Indonesia. Ada yang kembali menggemakan gagasan tentang Indonesia sebagai negara agama yang berkiblat ke Timur Tengah.

Namun, ada juga sejumlah orang yang menganggap bahwa identitas asli Indonesia bukan tercermin pada budaya yang dipengaruhi agama dari Timur Tengah. Argumentasinya, sebelum era itu, bahkan beberapa abad sebelumnya, Nusantara sudah pernah berdiri dan punya jejak peradaban yang hebat.

Bahkan masa lalu Nusantara dilacak ke era yang disebut filsuf Yunani yakni Plato dan Aristoteles sebagai era Atlantis.

Saya melihat perdebatan itu dimulai sejak seorang profesor berkebangsaan Brazil yakni Arysio Santos menulis buku berjudul Atlantis: The Lost Continent Finally Found. Profesor Santos dikenal sebagai geolog dan fisikawan nuklir.

Dalam bukunya, dia menyebutkan bahwa setelah melakukan penelitian selama 30 tahun dan membuat peta bawah laut, mengkaji mitologi, hingga arkeologi, dia menyimpulkan bahwa posisi Atlantis berada di Indonesia.

Dalam buku yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia ini, Santos menganalisis teks-teks Atlantis yang dahulu pernah dikemukakan Plato dan Aristoteles. Di situ tertera bahwa Atlantis tenggelam karena banjir besar melanda manusia pada satu masa sehingga permukaan laut meninggi.

Dia menyimpulkan Atlantis berada di khatulistiwa, pada wilayah yang banyak memiliki gunung api sehingga ketika terjadi letusan besar, permukaan air naik, wilayah itu tenggelam. Wilayah yang paling memenuhi syarat yang digambarkan Santos adalah Indonesia.

Buku lain yang juga menguatkan Santos adalah Eden in the East yang ditulis ilmuwan biologi molekuler Stephen Oppenheimer. Buku ini membantah versi sejarah tentang nenek moyang kita yang disebutkan dari Cina, sebab DNA orang Indonesia lebih tua dari Cina.

Artinya, orang Indonesia sekarang dibentuk oleh satu peradaban tua yang telah lama menghuni wilayah ini, kemudian memencar karena adanya banjir besar. Setelah dua buku ini terbit, perdebatan tentang Atlantis kian marak.

Umumnya banyak pihak yang setuju dengan pandangan itu dan sibuk memaparkan bukti kehebatan Nusantara di bandingkan bangsa lain. Bahkan beberapa intelektual kita, di antaranya Prof Jimly Ashidique sering mengutip Indonesia sebagai Atlantis yang hilang.

Publik semakin tertarik ketika di zaman SBY, pemerintah membentuk Tim Katastrofik Purba yang dipimpin politisi Partai Demokrat, Andi Arief, yang meneliti bencana purba yang pernah terjadi. Namun dalam perjalanannya, lembaga ini juga mengemukakan banyak hipotesis tentang adanya banyak piramida yang berukuran lebih besar dari piramida Mesir. Di antaranya adalah piramida di Gunung Padang.

Bahkan tim ini sempat melakukan penggalian, namun dihentikan di tengah jalan. Tim ini meyakini bahwa ada banyak artefak hebat di Nusantara yang masih terkubur sebagaimana dahulu Candi Borobudur ketika digali di zaman Raffless. Artefak itu menunjukkan Nusantara pernah berjaya pada masa silam, yang disebut sebagai Atlantis.

Pada tahun 2007, Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Umar Anggara Jenny juga menyampaikan pandangan banyak peneliti Amerika Serikat yang meyakini Atlantis ada di Indonesia.

Kata Umar Anggara, arkeolog Amerika Serikat (AS) bahkan meyakini benua Atlantis dulunya adalah sebuah pulau besar bernama Sunda Land, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Kata Umar, dalam dua dekade terakhir memang diperoleh banyak temuan penting soal penyebaran dan asal usul manusia.

Salah satu temuan penting ini adalah hipotesa adanya sebuah pulau besar sekali di Laut Cina Selatan yang tenggelam setelah zaman es.

Jika Anda menyempatkan waktu ke Toko Gramedia, pasti Anda akan temukan banyak buku yang membahas Indonesia sebagai Atlantis yang hilang. Di antaranya adalah buku Peradaban Atlantis Nusantara yang ditulis Ahmad Y Samantho dan Oman Abdurrahman.

Buku lain adalah yang ditulis pakar geologi yang bekerja di LIPI yakni Dr Dhani Hilman Natawidjaja berjudul Plato Tidak Bohong, Atlantis Ada di Masa Pra-Sejarah Indonesia. Masih banyak buku lain yang tak mungkin saya sebut satu per satu di sini.

Saya juga menemukan banyak website yang membahas keterkaitan Indonesia dan Atlantis. Bahkan saya juga mendapati banyak fiksi atau novel mengenai Atlantis di Indonesia. Yang terkenal adalah karangan ES Ito berjudul Negara Kelima, serta dwilogi Gerbang Nuswantara yang ditulis Victoria Tunggono. Ada juga novel yang ditulis Tasaro berjudul Nibiru.



Semua buku itu memaparkan fakta bahwa kemungkinan besar peradaban hebat yang digambarkan dalam banyak naskah orang Eropa sebagai rumahnya orang-orang yang jenius dan punya teknologi tinggi itu ada di Nusantara. Atlantis itu diyakini  tenggelam saat terjadi letusan besar sehingga es di kutub mencair.

Yang menarik buat saya, banyak orang yang kemudian bergerak menelusuri reruntuhan Atlantis itu. Majalah Tempo pernah memuat cerita tentang warga Amerika yang rajin menelusuri pesisir selatan Jawa demi menemukan reruntuhan Atlantis.

Sewaktu kuliah di UI, sahabat saya Diah Laksmi bercerita tentang anak muda keluaran UI dan ITB yang membentuk Turonggo Seto yang rajin melakukan ekspedisi demi membuktikan Indonesia adalah Atlantis.

Tak sekadar diskusi, mereka melakukan jelajah candi, menafsir ulang relief candi, dan mengemukakan teori bahwa ada banyak candi-candi lain yang jauh lebih hebat, namun masih terkubur.  Latar belakang pendidikan mereka adalah pertambangan dan geologi, namun sangat meminati kajian masa silam.

Pendekatan mereka adalah gabungan dari metode saintifik, yakni metode ilmiah dan teknologi untuk mengenali batuan, dan pendekatan klenik. Memang aneh kedengarannya, sebab bagi anak-anak muda itu, klenik adalah metode yang diwariskan sejak lama oleh nenek moyang, dan bisa melengkapi metode ilmiah.

Entah bagaimana menjelaskan persoalan ini secara ilmiah. Bagi saya, diskusi tentang Atlantis selalu terkait dengan diskusi masa kini dan masa silam. Ketika kita membayangkan kejayaan masa silam, maka itu adalah pertanda bahwa kita gelisah melihat masa kini kita yang hanya bisa menjadi penyaksi bangsa-bangsa lain yang unggul.

Ini adalah potret kekalahan kita menyaksikan bangsa lain yang sudah menjangkau ruang angkasa, sedangkan kita tidak punya cerita hebat masa kini. Maka, kita lalu mencari kejayaan itu di masa silam sembari menyesali kenyataan mengapa kita mengabaikan masa silam demi meniru bangsa lain.

Kita memilih bernostalgia pada sesuatu yang masih menjadi wacana, dikarenakan kegagalan kita membangun kejayaan itu di masa kini. Ada satu hal yang saya sepakati dari semua diskusi mengenai Atlantis di Indonesia. Yakni banyak misteri yang perlu diungkap.

Untuk itu, kita mesti mengembangkan berbagai studi dan riset demi mengungkap banyak misteri. Tapi di saat bersamaan, kita juga tak boleh alpa untuk membangun kejayaan di masa kini. Jika bangsa China bisa membangun negerinya menjadi negeri unggul di masa kini dengan memori kolektif kejayaan bangsanya di masa lalu, kita pun bisa melakukan hal yang sama. Iya khan?



Sepenggal Kisah Hardiyanti Rukmana




Hari ini, saya membaca berita tentang Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut. Biasanya saya hanya melihat sekilas dan sambil lalu. Kisah tentang Mbak Tutut dan ayahnya Presiden Soeharto sudah sering saya baca dalam banyak publikasi para peneliti. Mereka adalah Crazy Rich Asian yang sebenar-benarnya. 

Saya terkejut melihat aktivitas Mbak Tutut sekarang adalah menjadi blogger. Dia secara rutin mengisi catatan harian di satu blog. Dia bercerita tentang ayahnya, perjuangannya membuat jalan tol pertama yang disebutnya sebagai prestasi anak bangsa, hingga cerita tentang ibunya, Tien Soeharto.

Blognya cukup membuat saya betah. Saya baru tahu kalau acara Kirab Remaja Indonesia dihidupkan lagi. Di situ, ada foto dirinya bersama sejumlah remaja dengan baju merah putih, menyanyikan lagu-lagu nasionalis, setelah itu memberi tepuk tangan dan salam ala tentara. 

Silakan cek blognya DI SINI

Saya pernah menyaksikan acara ini semasa kecil melalui layar kaca di TVRI. Pernah saya bertanya pada bapak saya, apa mungkin orang akan cinta pada Indonesia dengan cara baris-berbaris keliling kota sambil sesekali menyanyikan lagu perjuangan? Bapak saya tak berani menjawab. Dia tahu, kritisisme tak diperlukan di zaman itu. Dia bercita-cita agar anaknya jadi PNS. 

Melihat catatan-catatan Mbak Tutut, saya merasakan betapa kuatnya niat beliau untuk “meluruskan” pemahaman tentang masa silam. Saya sebenarnya berharap dia membuka banyak hal apa yang terjadi pada masa itu, bukan mengangkat hal yang remeh-temeh, misalnya pesan-pesan bapaknya sebelum meninggal. 

Berani gak dia cerita berapa uang negara yang kemudian dikelolanya dengan membawa stempel nama bapaknya? Apakah dia akan mengakui proyek-proyek apa saja yang kemudian dikelolanya hanya karena para menteri dan pejabat takut sama bapaknya?

Saya teringat kajian dari Maurice Halbwach, sosiolog Perancis yang terkenal dengan teorinya mengenai ingatan kolektif. Bahwa apa yang kita sebut sebagai ingatan bukan sekadar endapan kenangan atas satu peristiwa bersejarah yang pernah terjadi pada satu masa, melainkan sesuatu yang selalu aktif dan terus mengalami reproduksi makna berdasarkan situasi kesejarahan.

Masih kata Halbwach, orang-orang akan menggunakan medium tertentu untuk melestarikan ingatan. Medium itu bisa berupa ritual, upacara, peringatan, patung, monumen, atau tugu.

Mungkin ini pula yang sedang dilakukan Tutut. Dia melakukan rekonstruksi atas masa silam, dengan mengangkat versinya sendiri, kemudian menggunakan blog sebagai medium. Dia juga membangun museum di kampung ayahnya, menuturkan lagi banyak cerita, dan mengangkat sisi religius dan penyabar ayahnya. 

Dia mengabaikan narasi dari banyak peneliti dan sejarawan yang telah mengangkat masa silam dengan metodologi yang ketat. Dia ingin menafsir ulang masa lalu, dengan mengangkat sisi humanis bapaknya, seakan-akan hendak berkata, “Enak jamanku to?”

Tahun depan, Indonesia akan memasuki pilpres. Saya menganggap momen ini menjadi strategis sebab yang sedang bertarung adalah ingatan dan tafsir masa silam. Ada yang menganggap masa silam itu amat indah dan masa kini begitu terpuruk sehingga solusinya adalah kembali ke masa silam. 

Di kutub lain, saya melihat anggapan bahwa masa silam sudah berlalu, namun masih menyisakan jejak berupa mentalitas yang harus disingkirkan demi Indonesia masa depan. Bahwa Indonesia masa depan adalah Indonesia baru yang tidak pernah melupakan sejarah sebab selalu menyerap banyak hikmah dari perjalanan bangsa sehingga tidak jatuh di lubang yang sama.

Di situ, saya melihat ada ingatan yang sedang berebut mencari tempat di benak generasi baru yang pikirannya serupa ruang kelas yang kosong.



FADLI ZON dalam Tinjauan Peneliti Jepang


Fadli Zon bersama patung empat pendiri bangsa di rumah budaya yang didirikannya

Bulan April lalu, saya diajak Profesor Susanto Zuhdi untuk menghadiri orasi ilmiahnya di kampus Universitas Indonesia, Depok. Di acara itu, saya bertemu Fadli Zon yang ternyata adalah bimbingan Prof Susanto yang belum lama lulus di program doktor bidang sejarah UI. 

Di layar kaca dan media sosial, Fadli Zon terlihat arogan, tidak mau mendengar lawan debatnya, hingga penuh kritik membabi-buta pada rezim. Bahkan dia juga seorang yang produktif buat puisi untuk mengkritik Jokowi. Tapi saat bertemu langsung, dia sosok yang sangat hangat. 

Sebagai murid, dia datang dan menghadiri acara orasi dari Prof Susanto. Dia tidak memosisikan dirinya lebih tinggi sebab semua yang datang adalah murid Prof Susanto. Malah dia ikut berbincang santai dengan banyak orang. Tentu saja, tak ada topik mengenai Jokowi dan Prabowo di situ.

Saya pun teringat dengan sosoknya sebagaimana ditulis Hisanori Kato, seorang peneliti asal Jepang. Tulisan tentang Fadli itu saya temukan dalam buku Islam di Mata Orang Jepang karya Hisanori Kato, terbitan Kompas 2014. 

Sebagaimana lazimnya para antropolog, dalam buku ini, Kato bercerita pengalamannya ketika melakukan riset tentang Islam di Indonesia. Dalam riset itu, ia tidak fokus pada ajaran dan teks keislaman. Ia fokus pada bagaimana Islam dipersepsi, dihayati, dan dijelmakan dalam sikap hidup para penganutnya.

Kato menuliskan beberapa sosok yang menurutnya inspiratif serta menjadi representasi Islam di Indonesia. Ia menulis pertemuannya dengan Gus Dur, Mohamad Sobary, Ismail Yusanto (Jubir HTI), Ulil Abshar Abdalla, Abu Bakar Ba’asyir, hingga beberapa sosok muda seperti Eka Jaya (anggota FPI) dan Fadli Zon.

Pada beberapa tokoh itu, ia mengaku tidak sekadar wawancara. Ia sedang belajar dan menyerap pengetahuan.
Saya tertarik membaca kisah perkenalannya dengan Fadli Zon. Sebelumnya, saya memang tak punya banyak gambaran tentang sosok ini. Pernah, saya membaca bukunya Politik Huru-Hara 1998, namun saya tak begitu terkesan sebagaimana membaca buku Pretext for the Mass Murder karya John Roosa. 

Kato menggambarkan Fadli sebagai sosok penting di balik peristiwa demonstrasi besar-besaran anti SDSB. Pada tahun 1980-an, pemerintah memiliki program Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB). Bentuknya adalah semacam lotre di mana setiap orang memiliki iming-iming untuk kaya. Sebagai aktivis, Fadli Zon mengorganisir demonstrasi untuk menentang kebijakan SDSB.

SDSB ibarat taruhan memasang sejumlah nomor. Jika tebakannya benar, maka akan mendapatkan hadiah. Jika tidak, maka bisa pasang nomor lagi pada kesempatan lain. Bagi Fadli, kebijakan memasang SDSB itu ibarat judi. “Hukumnya adalah haram,” katanya.

buku yang ditulis Hisanori Kato

Yang menarik buat saya, penggambaran tentang Fadli adalah sosok generasi muda Muslim yang getol memperjuangkan agama. Di saat wawancara itu, Fadli menginginkan agar Islam bisa diakomodasi di ranah politik. 

“Seharusnya Islam terlibat aktif dalam politik. Saya memimpikan Indonesia menjadi negara yang demokratis. Seperti Anda ketahui, Indonesia adalah negara yang mayoritas warganya beragama Islam. Dalam hal ini keterlibatan warga Muslim sangat diperlukan,” kata Fadli sebagaimana dicatat Kato.

Wawancara ini penting untuk memahami bahwa pada mulanya Fadli memang tokoh yang berniat untuk menempuh jalan politik melalui wacana keagamaan. Padahal, jalan hidupnya agak berbeda. Sebab ia pernah menjalani sekolah menengah di Amerika Serikat (AS), pernah pula memiliki keluarga angkat yang beragama Kristen. 

Dua tahun setelah Soeharto turun, Fadli lalu bergabung dengan Partai Bulan Bintang (PBB) demi membumikan gagasannya tentang Islam. Ketika terjadi perpecahan di tubuh partai itu, Fadli lalu hengkang ke Inggris untuk belajar di London School of Economic (LSE).

***

Saya juga menemukan beberapa inspirasi tentang Fadli Zon. Sosok ini cukup konsisten pada ranah kebudayaan. Ia rajin berburu koleksi publikasi, kartu pos, dan segala hal menyangkut Indonesia di luar negeri. Bahkan, ia juga mengumpulkan foto-foto bersejarah untuk dipajang di rumah budaya dan perpustakaan yang didirikannya.

Beberapa tahun silam, seorang sejarawan yang saya temui di negeri Paman Sam menyampaikan kekagumannya atas upaya Fadli Zon mendapatkan koleksi foto saat Kartosuwiryo, pemimpin gerakan DI/TII, dieksekusi pemerintahan Soekarno. Dokumen foto itu amat bernilai bagi para sejarawan yang hendak memahami kejadian tersebut demi menyerap tetes-tetes hikmah.

Dia mendirikan Rumah Budaya Fadli Zon di Tanah Datar, Sumatera Barat, daerah kelahirannya. Di situ, ia memajang sekitar 100 koleksi keris Minangkabau yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun. Ia juga mengoleksi lebih 700 buku bersejarah yang bertema Minangkabau, serta beberapa koleksi bersejarah di antaranya keris Luk Sembilan asal Pagaruyung yang dibuat pada abad ke-18, songket lama, dan lukisan kuno. Ia juga memajang fosil kerbau berusia dua juta tahun di rumah budaya itu.

peresmian patung Tan Malaka
patung Chairil Anwar

Di media online, saya membaca artikel tentang koleksi di rumah budaya ini. Di situ, terdapat empat patung pendiri bangsa, yakni Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka. Aneh juga sebab Fadli Zon dalam banyak kesempatan mengkritik komunisme dan menjelaskan bahayanya, tapi malah dia sendiri memajang patung Tan Malaka.

Di situ juga ada patung Chairil Anwar, juga banyak koleksi lukisan dan ukiran. Tak hanya itu, di situ juga terdapat koleksi batu akik yang berasal dari banyak wilayah di Indonesia.

Kecintaan Fadli pada ranah budaya dan literasi juga diwujudkan dengan pendirian Fadli Zon Library di Jakarta. Ia memiliki perpustakaan dengan koleksi buku sebanyak 40.000, koleksi koleksi naskah kuno, dan koleksi koran tempo dulu. Beberapa koleksi lainnya adalah: koleksi keris, tombak, pedang dan badik dari berbagai kerajaan Nusantara, koleksi prangko, koleksi uang logam (coin), koleksi patung dan lukisan dari berbagai maestro seniman Indonesia.

Ada juga koleksi piringan hitam (long play) dari musisi atau penyanyi Indonesia, koleksi rokok yang di produksi di Indonesia, koleksi tekstil dan kain tua dari berbagai daerah, serta koleksi kaca mata dari beberapa tokoh.

Bagi saya, perpustakaan dan rumah budaya itu merupakan wujud dari kecintaan Fadli Zon pada kebudayaan. Dia mencintai Indonesia dengan cara menyerap semua artefak dan karya-karya agung dari bumi Indonesia. Melalui koleksi-koleksi yang dikumpulkannya, dia berharap mewariskan sesuatu yang kelak akan menjadi dokumen budaya dan sejarah yang penting untuk Indonesia.

Pada titik ini, Fadli Zon telah menyimpan banyak warisan berharga yang kelak jadi mutiara budaya dan sejarah bagi generasi mendatang. Salut untuknya.

***

Sayangnya, artikel Hisanori tidak menyajikan cerita mengenai bagaimana pertemuan Fadli dengan Prabowo Subianto. Saya menyayangkan mengapa hal ini tak dibedah lebih jauh. Sebab kisah perjumpaan dengan Prabowo serta pilihan politik Fadli untuk mendampinginya pastilah menyimpan cerita yang menarik bagi semua sejarawan dan pemerhati ilmu sosial.

BACA: Luna Maya, Suzanna, dan Narasi Profesor Amerika

Saya penasaran bagaimana transformasi seorang aktivis yang mencintai budaya, menjadi seorang politisi yang amat setia pada satu figur. Mungkin saja, kecintaan Fadli pada Indonesia membawanya pada satu kesimpulan bahwa dirinya harus masuk ke ranah politik, di mana Prabowo menjadi figur yang bisa mewujudkan cita-citanya.

Saya hanya mendengar selentingan kabar kalau perkenalannya dengan Prabowo sudah berlangsung lama. Bahkan Prabowo yang menyekolahkannya ke Inggris. Jika ini benar, maka terjadi simbiosis antara seorang intelektual dengan politisi. Para politisi bisa meng-ijon atau berinvestasi pada para aktivis dan intelektual agar di kemudian hari menjadi partner dan pembela yang setia.

Satu hal yang saya sayangkan adalah Fadli Zon tidak meneruskan tradisi intelektualnya melalui upaya menulis buku-buku bermutu. Rasanya amat sayang, gelar master dari London School of Economic, kampus yang banyak melahirkan para pemikir dunia, hanya berakhir sebagai politisi yang memproduksi puisi-puisi kritik yang diarahkan pada rezim. 

rumah budaya Fadli Zon

Saya membayangkan dia akan melahirkan banyak buku dan artikel bermutu sebagaimana dahulu dilahirkan Sukarno dan Hatta, yang kemudian menjadi artikel penting dalam tapak sejarah pemikiran bangsa ini. Dia punya kapasitas yang memadai untuk mencerahkan negeri dengan gagasannya cemerlang, yang diolah dengan pendekatan budaya serta rasa cinta yang dahsyat pada negeri.

Dia bisa mewariskan catatan sekelas Madilog karya Tan Malaka atau Di Bawah Bendera Revolusi karya Sukarno. Bahkan dia bisa menulis topik ekonomi sedalam Mendayung di Antara Dua Karang yang disusun Hatta.

Jika saja dia melakukan itu, maka kelak warisannya pada negeri akan paripurna. Dia mengoleksi artefak budaya. Dia pun mewariskan pemikiran yang cemerlang serta perilaku politik yang berada dalam bingkai keadaban. Tapi, saya masih berharap dia bisa melakukannya. 

Tak sekadar puisi-puisi itu.




Tiga Opsi untuk BUNI YANI




Lama ditunggu, akhirnya kasasi dari Mahkamah Agung (MA) keluar juga. Mahkamah menyatakan menolak kasasi yang diajukan Buni Yani. Dia tetap dinyatakan bersalah sesuai keputusan Pengadilan Negeri Bandung yang telah memvonis Buni Yani 1 tahun enam bulan penjara.

Dia dianggap bersalah karena mengedit dan menyebarkan video Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang kemudian heboh dan mengundang reaksi berupa demonstrasi hingga berjilid-jilid. Jika tak ada lagi upaya hukum, maka Buni Yani tinggal menunggu waktu kapan akan dieksekusi.

Saya mengenal Buni Yani sebagai sesama alumni Ohio University. Semasa di Ohio, saya membaca tesisnya yang mengenai politik editorial di harian Kompas dan Republika saat memberitakan konflik Maluku.

Dia menulis tesis di bawah bimbingan seorang profesor yang dikenal sangat mencintai Indonesia. Bahkan Buni tinggal di rumahnya.

Saya beberapa kali bersua dengan Buni Yani dalam berbagai pertemuan alumni, serta berinteraksi di WhatsApp Grup. Di mata saya, dia orangnya baik dan senang berdiskusi. Dia pribadi yang hangat. 

Dia pernah mengirimi saya pesan melalui SMS. Dia tahu kalau saya sedang berada di Lombok. Kebetulan, dia pun menuju ke Lombok, kampung halamannya. Dia mengajak untuk sekadar ngopi dan berbincang. Sayang, jadwal kami tak bertemu.

Tapi sejak momen pilpres, postingannya di media sosial mulai menyengat. Beberapa orang tidak nyaman dengan sebab sering kali merendahkan pihak pendukung capres tertentu. Pernah dia didebat habis-habisan hingga akhirnya mengurangi postingan. Hingga akhirnya, kasus itu bergulir dan kasasi MA keluar.

Kalaupun Buni Yani harus dieksekusi, maka saya berharap itu tidak lantas menenggelamkan seorang Buni Yani. Saya ingin dia tetap produktif dan melakukan banyak hal yang kelak akan menjadi perbincangan banyak orang.

Jika akhirnya dieksekusi, ada tiga hal yang bisa dilakukan Buni Yani.

Pertama, dia harus menulis. Dalam sejarah, kita banyak membaca kisah tentang karya-karya hebat yang lahir dari penjara. Dahulu, aktivis asal Italia, Antonio Gramsci, menulis Prisoner Notebook dari dalam jeruji. Tan Malaka menulis Madilog ketika menjadi buronan.

Nelson Mandela menulis karya terbaiknya Long Walk to Freedom saat berada dalam tahanan. Bahkan karya terbaik sastrawan Pramoedya Ananta Toer lahir di tahanan yang terletak di Pulau Buru.

Kasus Buni Yani bisa dilihat dari banyak sisi. Selama ini kita hanya tahu dari berita yang ditampilkan banyak media. Tapi kita tidak pernah tahu persis apa yang dirasakan Buni Yani, serta bagaimana penilaiannya atas kasus ini sebagai seorang akademisi.

Sebagai alumni Ohio University, dia punya amunisi yang cukup untuk sekadar menulis kasusnya secara jernih, yang selama ini luput dari pantauan media. Andaikan dia menulis kasus ini dari perspektif auto-etnografi, satu perspektif riset yang tengah populer, maka pasti akan menarik dibaca.

Dia bisa menguraikan apa saja lesson learned yang dihadapinya bagi pengembangan kajian tentang media sosial di Indonesia. Dia bisa menyumbang kepingan penting pada the body of knowledge kajian komunikasi di tanah air, yang belakangan ini terkesan mandek.

Di tambah lagi, dia punya kemampuan menulis dalam bahasa Inggris. Dia bisa menuliskan kasusnya dengan bahasa Inggris sehingga diketahui oleh publik luar. Dia bisa populer di kalangan organisasi pelindung hak sipil dan hak asasi.

Jika bebas, undangan untuk menghadiri konferensi ke luar negeri akan laris diterimanya. Dia bisa setenar Malala Yousafzai yang sering diundang di banyak negara karena kisah perjuangannya di tengah tekanan milisi Taliban telah menginspirasi banyak orang.

Kedua, Buni Yani harus tetap aktif sebagai buzzer dari Prabowo-Sandi. Dia bisa mencitrakan dirinya sebagai orang yang dizalimi oleh rezim ini. Dia bisa saja menuding peradilan dan penghakiman pada dirinya sebagai sesuatu yang sengaja di-setting oleh aparat berwenang.

Ujung-ujungnya dia bisa menyalahkan Jokowi, sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh pencinta oposisi,  sebagai kepala negara yang tidak berbuat apa-apa untuk membela dirinya sedang memperjuangkan kebebasan berbicara.

Sebagai buzzer, Buni bisa menjadi simbol dari kesewenang-wenangan penguasa. Buni akan menempati posisi strategis dalam perang wacana di media sosial. Sebagai akademisi yang pernah belajar di Ohio dan Leiden, dia tahu bagaimana memetakan pesan-pesan yang berpotensi viral, serta bagaimana merancang sesuatu menjadi viral.

Di tambah lagi, kasusnya telah melejitkan dirinya sebagai micro-celebrity yang punya banyak penggemar di dunia maya. Dia hanya butuh konsistensi dalam membuat postingan kemudian menyebarkan ke berbagai kanal.

Kalaupun di tahanan dia tidak bisa menggunakan HP, maka dia bisa menempuh strategi Anas Urbaningrum yang menulis bahan postingan di kertas, kemudian dicuitkan oleh sahabat-sahabatnya di Twitter.

Jika saja Prabowo-Sandi menang, maka Buni Yani bisa panen berkah dan keuntungan, sebagaimana aktivis 98 yang dulunya memenuhi penjara di rezim Orba, kini bisa melenggang ke kursi kekuasaan dan duduk nyaman di posisi strategis.

Ketiga, dia bisa fokus sebagai pendakwah. Dia melejit sejak kasus Ahok. Jika Ahok dilabel sebagai penista, maka Buni Yani dilabel sebagai pembela. Sejak kasusnya merebak, saya melihat Buni Yani mulai populer sebagai pendakwah. Dia mulai sering diundang ke acara-acara yang dibuat FPI. Dia juga mulai rajin mendatangi pengajian. Penampilannya mulai agamis.

Jika ditahan, dia bisa kembali memperdalam ilmu agama hingga level magister, setelah keluar dia bisa meramaikan televisi dengan menjadi selebriti. Saat ini, dia sudah menjadi branding yang kuat di kalangan banyak orang. Sebagaimana diakuinya sendiri di satu media, sejak kasusnya merebak, dia mulai laris sebagai penceramah.

Dakwahnya tidak hanya di medsos, kini mulai merambah ke masjid dan beberapa majelis taklim. Dia tidak perlu nyantri selama bertahun-tahun. Dia hanya perlu kembali membaca buku-buku agama, sehingga bisa mengutip ayat dan hadis, setelah itu mulai fokus membahas pembelajaran serta pelajaran agar orang lain bisa setegar dirinya.

Dengan keahiannya di bidang komunikasi, dia bisa jadi pendakwah sekaligus motivator yang akan mengalahkan popularitas Mario Teguh. Dengan sedikit polesan bisnis, branding Buni Yani bisa dikelola untuk memasarkan banyak hal.

Dia bisa jadi duta bagi usaha atau bisnis berlabel 212, sebagaimana Rafi Ahmad menjadi duta promosi bagi Alfamart. Malah dia bisa membuat label sendiri sebagaimana dilakukannya ketika membuat gelas dengan wajah dirinya disertai tulisan Buni Yani Mencari Keadilan.

Yang pasti, Buni Yani bisa tetap melakukan banyak hal. Tahanan hanya akan menjadi terminal sementara yang akan semakin melejitkan dirinya. Sungguh menarik untuk melihat bagaimana transformasi dirinya, serta bagaimana tanggapannya atas banyak hal. Jika ada yang menulisnya, pasti akan menjadi bacaan yang menarik.

Tapi saya berharap dirinya yang menulis tentang itu. Semoga.


Selamat Datang JONRU GINTING




Setelah mendekam di penjara selama 14 bulan, Jon Ria Ukur (Jonru) diizinkan untuk meninggalkan tahanan. Dia sudah menjalani 2/3 vonis pengadilan yakni 1 tahun 6 bulan. Jonru, pria yang dituding menebar kebencian itu, kini bisa kembali ke rumah.

Kuasa hukum Jonru telah memastikan bebasnya Jonru. "Betul bebas bersyarat. Tadi beliau bebas sekitar bakda asyar atau pukul 15.00 WIB dari LP Cipinang," ujar Kuasa Hukum Jonru, Djuju Purwanto, sebagaimana dicatat banyak media, Jumat (23/11/2018).

Saya membayangkan media sosial akan kembali heboh dengan kedatangan Jonru. Banyak orang yang gembira dengan kehadirannya. Tanpa dirinya, media sosial ibarat ring tinju yang kehilangan sosok seperti Mike Tyson. Tanpa dirinya, media sosial seakan lengang dari hiruk-pikuk dan debat.

Di twitter, saya melihat gambar dirinya saat bebas. Beberapa orang menyambut dan memeluknya. Pengacaranya mengatakan dia ingin kembali ke keluarganya dahulu. Politisi Gerindra, Habiburokhman, merasa gembira atas bebasnya Jonru.

Jika Jonru ingin bergabung dengan tim Prabowo, Habiburokhman siap menyambut. Banyak orang berharap agar Jonru bisa kembali seperti dulu. Seorang netizen menyebutnya “ksatria cyber putih” yang segera kembali ke medan pertempuran.

Ada pula yang mencatat kaum cebong bakal kelojotan dengan kembalinya Jonru.

Pada pemilu lalu, Jonru adalah sosok yang meramaikan debat di media sosial. Dia serupa magnet yang menarik banyak orang untuk setia mengikuti apa pun yang ditulisnya. Setiap postingannya di Facebook selalu dibagikan banyak orang. Bahkan setelah Pemilu dia tetap menempati posisi istimewa di hati sejumlah orang.

Dari sisi marketing, Jonru adalah pemasar yang brilian. Dia tahu potensi akun media sosialnya yang selalu didatangi orang-orang. Secara terbuka, Jonru membuka ruang untuk iklan. Bahkan dia mencantumkan nomor bagian iklan untuk dihubungi siapa pun yang ingin bekerja sama dengannya.

Jika kita mengacu pada gagasan Alice Marwick (2011) dalam buku To See and To Be Seen: Celebrity Practice on Twitter, Jonru bisa dikatakan sebagai micro-selebriti. Dalam artian, dia adalah selebriti dalam satu jejaring sosial. Apa pun yang diunggahnya akan dibagikan dengan cepat oleh semua fansnya, tanpa melihat postingan itu secara kritis.

Meskipun dia dipenjara, dia tetap tidak akan kehilangan penggemar. Malah, penjara itu akan menjadi semacam ujian bagi konsistensi perjuangannya. Para fans akan melihat dirinya ibarat Nabi Yusuf yang pernah dipenjara di istana seorang penguasa.

Simpati padanya akan tetap tumbuh. Jonru tetap menjadi merek yang kuat. Pertanyaannya, apakah Jonru masih segarang dulu ketika memosisikan dirinya sebagai pengkritik pemerintah?

Biarpun bukan penggemarnya, saya sering memantau apa saja yang dibagikan Jonru. Dalam berbagai tayangan di Youtube, dirinya mengatakan selalu berniat mencari klarifikasi. Dia hanya memantulkan berbagai rumor yang didengar dari jaringannya, kemudian direspon banyak orang.

Ibaratnya dia melempar sesuatu, yang diharapkan akan dibalas dan diklarifikasi. Masalahnya, tak semua penggemarnya yang menanti klarifikasi. Apa yang dibagikannya, langsung dianggap sebagai kebenaran. Meskipun, banyak yang dibagikannya itu masih samar-samar. Malah berpotensi menjadi kebohongan.

Apakah Jonru suka berbohong? Saya rasa tidak. Saya yakin dia tak ada niat untuk berbohong. Dia mendapat pesan-pesan yang terkirim dari jaringannya. Sebagaimana netizen lainnya, dia tak punya waktu untuk melakukan verifikasi atas fakta demi fakta.

Lagian, tugas melakukan verifikasi harusnya di tangan para ilmuwan dan sejarawan yang berdiam di menara ilmu. Mereka yang harusnya produktif menulis demi mencerahkan publik atas setiap fakta dan kepingan informasi.

Tugas verifikasi juga harusnya diemban oleh para jurnalis yang setiap hari melahirkan aksara. Namun para jurnalis sudah lama terjebak dalam sirkuit persaingan media, yang dimenangkan oleh siapa yang paling cepat, dan paling kuat berlari. Berita adalah sesuatu yang memberi sensasi bagi publik.

Jonru adalah subyek yang kesadarannya ditentukan oleh membanjirnya beragam informasi yang tak terverifikasi. Dia ibarat keramik yang dibentuk oleh apapun lempung informasi yang ada di sekitar.

Di era sebelumnya, informasi hanya ditemukan dalam celoteh para pedagang koran di lampu merah, atau di tuturan para penyalur media, atau dalam setiap menit sajian berita televisi. Di era Jonru, informasi masuk secara gratis dan memberondong di smartphone begitu kita bangun pagi.

Informasi berseliweran di sekitar kita, yang kurang sabar untuk mencerna satu demi satu. Jonru adalah produk dari sistem sosial kita yang lumpuh penalarannya. Sistem pendidikan kita tak mengajarkan bagaimana membedakan kebenaran dan kesesatan.

Kita telah lama mundur di era kegelapan ketika otoritas mengalahkan pencarian kebenaran. Kita tak menghargai diskusi dan penalaran. Kita tak fokus pada informasi, melainkan siapa yang memberi informasi.  Saat informasi disampaikan seseorang yang memakai jubah keagamaan, kita mudah saja larut.

Di era digital seperti sekarang, informasi menjadi senjata yang sengaja digunakan untuk melumpuhkan sesuatu. Ketika semua hal dilihat sebagai konspirasi dan ada niat jahat, maka segala yang baik pun akan tampak berbeda. Kebenaran kehilangan penanda. Kebaikan kehilangan ruh.

Benih prasangka dan kebencian tumbuh dalam diri kita, memenuhi semua pembuluh darah, lalu menjadi identitas yang mendefinisikan siapa diri kita. Pada titik ini, kita jadi kehilangan fokus dan kejernihan untuk menelaah apa yang benar dan apa yang salah.

Lantas, di mana salahnya Jonru?



Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...

Google+ Badge