Membingkai Ide yang Berserak Catatan yang Menolak Lupa

Syair Ariel Peterpan untuk Ba'asyir

Ariel saat di tahanan
Ariel saat di tahanan

Pondok Pesantren Al Mukmin berubah semarak. Kalam takbir seakan meletup ke langit. Pria sepuh itu, Abu Bakar Ba’asyir, datang setelah menjalani penahanan selama 15 tahun. Banyak air mata menyambut kedatangannya.

Dia dituduh teroris. Setiap sidangnya selalu menjadi sorotan media asing. Banyak gelar disematkan pada namanya. Namun dia hanya seorang lelaki tua, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Selama 15 tahun di tahanan, dia bergaul dan berinteraksi dengan banyak kalangan yang dipasung kebebasannya.

Di antara orang yang berinteraksi dengannya, ada nama Nazril Irham atau Ariel, vokalis Peterpan yang saat itu terpidana kasus pornografi. Ariel merekam sosok Ba’asyir dalam syair yang indah.

Saya menemukan kisah Ariel bertemu Ba’asyir dalam buku Kisah Lainnya: Catatan 2010-2012 yang ditulis Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David. Buku ini terbit tahun 2012. Saya membacanya kembali saat ada seorang artis cantik menjadi tersangka kasus pornografi, persis yang dijalani Ariel.

Ariel menggambarkan ruang tahanan di Bareskrim dengan istilah Kampung Bawah, Kampung Tengah, dan Kampung Atas. Saat pertama, tiba, dia sering membuat coretan atau sketsa tentang para penghuni di tahanan itu.

Kampung Bawah adalah blok sel tahanan paling bawah. Penghuninya digambarkan santai dan tidur beralaskan tikar. Di sini, dia mengenal seorang tahanan yang memiliki lima istri. Saat jam kunjungan, lima istri itu bisa datang bersamaan.

Kampung Tengah adalah blok sel, yang terdapat musala. Warta rutan selalu memakai musala itu. Sedangkan Kampung Atas memiliki 10 blok sel yang berhadapan, dan di ujungnya ada ruang luas di mana para tahanan bisa bertemu.

Selama di tahanan, pria, yang tinggal di sekitar Terminal Antapani, Bandung ini, sering membuat sketsa dan syair mengenai orang-orang di situ. Dia menyimpan banyak cerita mengenai mereka. Mereka saling mengenal dan akrab. Ariel sering bermain catur, juga sering diajak makan oleh beberapa tahanan, utamanya tahanan kasus korupsi. Bahkan Ariel bisa membaca buku sufi mengenai Jalaluddin Rumi dari seorang tahanan.

buku yang ditulis Ariel
Sketsa yang dibuat Ariel di tahanan

Di antara beberapa yang direkamnya dalam catatan adalah Abu Bakar Ba’asyir. Ba’asyir ditempatkan sendirian di selnya. Petugas harus meletakkan kamera pengawas. Saat berpapasan, Ba’asyir selalu tersenyum.

Pernah, Ariel berkumpul bersama tahanan lain sembari bercanda. Mereka tertawa karena banyak lelucon. Saat itu, Ba’asyir yang menuju dapur melintas. Semua terdiam. Seorang tahanan menunjuk Ariel lalu berkata: “Ini Ariel Pak Ustad.” Ba’asyir menoleh ke Ariel lalu berkata: “Oh, ini toh Ariel. Saya hanya tahu namanya saja.”

Ba’asyir tersenyum lalu mengeluarkan kalimat yang menyentuh hati. “Jangan berkecil hati. Manusia diciptakan di dunia ini memang untuk bikin kesalahan, lalu memperbaiki diri. Kalau semua orang sudah tidak bikin kesalahan lagi, maka semua ini akan dimatikan oleh Tuhan, karena tidak ada lagi tujuan kehidupan.” 

Suatu hari, pukul lima subuh, Ariel belum bisa tidur di ruang sel. Dia melihat Ba’asyir keluar dengan celana panjang. Ba’asyir memulai aktivitas dengan lari-lari kecil di sel. Hati Ariel tersentuh. Di usia setua itu Ba’asyir masih beraktivitas dan menjaga kesehatan. 

Ariel yang tengah memegang bloknot di tangan kiri, sembari merokok, mulai mencoret-coret:

Ba'asyir tua, berlari kecil di gang yang bergema

Larut dalam dunianya sendiri

Dia tidak menoleransi dunia

Sehingga dunia tidak menoleransinya

Keras memang, tapi apalah arti pendirian jika tidak keras 

Hitam putih, tapi tidak abu-abu 

Keras memang ... 

Andai saja dunia melihat kebenaran yang dia lihat.

Syair ini menunjukkan bahwa Ariel percaya kalau Ba’asyir punya kebenarannya sendiri, yang tidak dipahami orang lain. Ba’asyir larut dalam dunianya, sehingga dunia pun tidak memahaminya. Namun itulah pendirian.

Pertemuan itu berkesan. Selama di tahanan Ariel menjadi lebih banyak beribadah. Di tengah masalah yang menderanya, dia berdoa kepada Tuhan saat salat malam. Bahkan pernah dia merayakan ulang tahun dengan salat malam.

Selain menulis di bloknot, dia juga aktif menggambar. Saat musala rutan hendak dicat, Ariel memberi banyak masukan kepada petugas tentang warna-warna yang bisa digunakan. 

kaligrafi yang dibuat Ariel

Dia melihat ada gypsum untuk pemasangan langit-langit musalla yang tidak digunakan. Dia meminta tukang untuk memotong gypsum itu sesuai pola yang dinginkannya. Dia membuat sketsa kaligrafi kalimat Allah. Saat asistennya berkunjung, dia minta dibawakan kuas dan cat air. Mulailah Ariel menggambar kaligrafi.

*** 

Pertemuan itu terbilang singkat. Ariel divonis kemudian dipindahkan ke Rutan Kebun Waru di Bandung. Dia melalui hari-hari yang cukup berat saat harus bangkit dari semua keterpurukan. Dia menulis syair, membuat lagu, lalu mencatat renungan-renungan. Dia tidak lagi memakai tas pinggang, yang menurut gosip sejumlah orang berisi kondom, ternyata berisi HP dan rokok.

Justru di balik sel, dia menyerap banyak pelajaran untuk kembali menatap dunia. Seusai bebas, dia menjadi figure yang berbeda. Kalimat-lalimatnya menjadi lebih bermakna. Selama di tahanan, dia menulis syair lagu Dara. Dia membubarkan Peterpan dan membentuk Noah.

Dia juga meluncurkan album baru. Di album itu, dia bernyanyi dengan Momo Geisha yakni lagu Cobalah Mengerti. Di antara syairnya adalah:

Cobalah mengerti

Semua ini mencari arti

Selamanya takkan berhenti

Inginkan rasakan

Rindu ini menjadi satu

Biar waktu memisahkan