Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Saatnya Menuntaskan Kerjaan yang Tersisa

MINGGU ini pikiranku melayang-layang. Tubuhku lelah dan tidak terlalu siap dengan urusan bertubi-tubi. Aku mesti mengisi Generic Application (formulir studi di negeri lain) secara lengkap, namun pada saat bersamaan, mesti pula menuntaskan sejumlah tugas-tugas yang tersisa. Pikiranku seolah sudah di Jakarta untuk mengikuti persiapan belajar bahasa Inggris. Tapi kakiku masih berpijak di sini demi menyelsaikan semua yang tersisa agar saat berangkat studi tak ada pekerjaan yang tersisa.

Mungkin Anda menganggapnya mudah. Tapi tidak bagiku. Dulu, sewaktu ikut seleksi beasiswa, mengisi Generic Application bisa dilakukan dengan santai sebab dirimu berpikir kalau kemungkinan lulusnya amat kecil. Makanya dikerjakan dengan cuek dan seadanya. Namun setelah dinyatakan lulus, langsung berubah jadi rumit. Anda mesti memlih kata yang tepat --kalau perlu menyentuh-- agar universitas tertentu kepincut dan bersedia menerima Anda. Nah, di sinilah letak kesulitannya.

Sering aku mengeluh betapa beratnya menjalankan banyak pekerjaan dengan hasil yang maksimal. Apalagi jika pekerjaan itu semuanya membutuhkan kerja otak. Andaikan cuma disuruh memindahkan barang, mungkin sejak kemarin kuselesaikan. Tapi masalahnya, aku mesti menyelesaikan beberapa konsep, mulai dari naskah akademik, menyelesaikan tulisan untuk buku, serta mengurusi tetek-bengek yang membutuhkan kegesitan semisal kartu keluarga, KTP, atau memikirkan kopian hasil translet ijazah yang belum kelar. Semuanya butuh perhatian dan konsentrasi. Masalahnya pula, semua kerjaan berat itu mesti dituntaskan di bulan puasa ini. Nah….

Betapa sulitnya menjaga stamina agar tetap kuat melakukan banyak hal di tengah bulan puasa. Aku tidak setipe dengan binatang unta yang tahan lapar berhari-hari. Diriku seorang pengidap sakit mag yang gampang terkapar ketika terlambat makan. Tapi apalah dayaku. Segalanya harus dituntaskan agar tidak menjadi beban di esok hari. Mau tak mau diriku harus kerja keras untuk menyelesaikan semuanya.

Tapi, tenggelam dalam keluhan bukanlah solusi yang bijak. Toh, itu tidak juga menyelesaikan masalah. Mendingan bangkit dan bergegas. Aku bertekad untuk tidak mengeluh. Diriku harus kuat, perkasa seperti Hulk si raksasa hijau. Mengeluh adalah pekerjaan para pengecut yang tak siap bertarung demi hari. Saatnya bergerak. Aku harus menyusun ulang apa-apa yang harus dikerjakan, mengatur waktu yang tepat sehingga semuanya bisa terselesaikan. Semangat!

Mencari Sumber “Ilmu Api” Kepenulisan

Zuko dalam serial Avatar
BULAN puasa ini, ide-ide seakan lenyap dari kepalaku. Hari-hariku seakan statis, tanpa dinamika ataupun gejolak berarti. Mungkin, --sebagaimana sering kukatakan-- aku butuh cekaman sunyi demi mengalirkan ide-ide secara teratur melalui tulisan. Kesunyian adalah titik awal untuk menemukan keheningan dalam diri, menemukan suara hati yang jernih demi mengalirkan gagasan. Kesunyian, sesuatu yang dulunya karib, kini perlahan mulai hengkang dari peraduanku.

Yup. Aku tidak sedang sunyi. Dan itu sangat mempengaruhi kreatifitas serta produktivitasku. Sejak menikah, hari-hariku adalah bercanda, bercengkerama, maupun bermalas-malasan. Aku enggan ke mana-mana dan lebih suka di rumah. Kalaupun keluar, maka itu demi jalan-jalan atau memanjakan mata. Pernikahan memutar jarum kehidupanku 180 derajat. Segalanya berubah. Kesunyian berganti kemeriahan. Dan ide-idepun mampat di kepala, cuma menyisakan kelelahan berpikir, tanpa sempat diabadikan dalam kata.

Kondisi ini tidak cuma melanda diriku. Istriku Dwiagustriani (betapa bangganya diriku menyebut kata istri) juga mengalaminya. Sebagaimana diriku, hari-harinya adalah ngeblog. Kini, ia kehilangan kenikmatan saat ngeblog. Idenya mandek. Penanya seolah patah. Ia nyaris tak menghasilkan tulisan apapun kecuali catatan perjalanan. Tulisan pendek saja langka, apalagi sebuah puisi, yang jelas-jelas butuh kesenyapan. Saat kutanya mengapa ia malas menulis, ia lalu menjawab enteng, “Sebab dirimu adalah kryptonite bagiku.”

Ia benar. Tulisan kami sama-sama dimasak dari kesunyian-kesunyian. Tulisan kami lahir dari  proses perenungan setelah sebelumnya diselubungi kesenyapan. Selama sekian decade, kami melahirkan tulisan dari hasil refleksi, sebuah momentum ketika diri tiba-tiba focus sehingga pikiran mengalir deras bagai sungai jernih. Saat kami hidup bersama, kesunyian dan refleksi itu lenyap. Kami kehilangan gagasan. Diriku dan dirinya ibarat Zuko dalam serial Avatar yang tiba-tiba kehilangan ilmu api sejak memilih bergabung dengan Avatar Aang. Selama ini, ilmu apinya lahir dari kebencian. Saat benci itu hilang, ia kehilangan ilmunya. Zuko mesti menemukan sumber ilmu api, tidak lagi dengan kebencian. Tapi dengan cara-cara lain.

Aku ibarat Zuko. Aku mesti menemukan sumber-sumber baru yang mengalirkan inspirasi, tanpa harus dicekam sunyi terlebih dahulu. Aku mesti mengelola keramaian dan perasaan bahagia yang melingkupiku agar menjelma menjadi api yang membakar energy kreatifku. Aku mesti menemukan pelita baru yang menyalakan sumbu kemalasan dan kebodohanku. Inilah tantangan yang mesti kuhadapi.

Uppss…!! Jangan berpikir bahwa aku hendak menyalahkan lembaga pernikahan sebagai biang atas kemandekanku. Tidak sama sekali. Pernikahan adalah pilihan bebas yang sudah kuperhitungkan semua risikonya seteliti-telitinya. Pernikahan itu ibarat cahaya yang menerangi pekatnya kehidupan sedang dijalani. Dirinya adalah pelita yang memadamkan sunyi, memunahkan semua sedih dan lara, meruntuhkan gerbang pencarianku yang tak henti. Dirinya adalah matahari untukku.

Ah,... Mungkin aku butuh proses adaptasi, proses menyesuaikan diri dengan kenyataan baru sebagai lembaran baru dalam kehidupan. Aku ibarat pembalap yang memasuki pit stop untuk mengganti ban dan mengisi bahan bakar, kemudian tancap gas untuk melanjutkan perjalanan. Aku perlu menemukan sumber inspirasi baru yang mematangkan ide sehingga mengalir deras dalam kata-kata. Dalam serial Avatar, Zuko lalu menemukan sumber ilmu api baru saat bertemu naga di puncak bukit. Mungkin aku juga perlu mencari naga yang bisa kembali mengalirkan gagasan. Tidak seperti naga yang ditemui Zuko di bukit itu, tetapi naga yang bersemayam dalam diriku sendiri. Naga yang sanggup memuntahkan api demi menyulut energi kreatif dan inspirasiku.

Aku mesti bergegas. Di depan mata ada sejumlah tugas menanti. Apalagi, diriku mengemban tanggungjawab besar sehingga praktis harus memasuki ruang kesibukan baru. Diriku mesti kembali ke ibukota dan menuntaskan satu kerja intelektual yang sudah terlanjur dirintis. Sebuah pertanyaan tiba-tiba menghujam. Apakah aku sanggup menuntaskan semuanya dengan hasil maksimal di tengah situasi mati ide seperti ini?

Pasangan Cilik

anak kecil berbaju adat Buton

SUNGGUH menyenangkan bisa memotret anak kecil dengan busana tradisional seperti ini. Anak ini jelas tidak paham tentang makna kebudayaan atas baju yang dikenakannya. Ia juga tidak tahu bahwa dirinya sedang mengikuti karnaval. Mungkin saja ia hanya mengikuti saja keinginan keluarganya yang memaksanya mengenakan baju adat, memaksanya mengikuti sebuah karnaval. Ia juga tak paham makna berpasangan dengan seseorang, sebagaimana manusia dewasa.

Anak kecil yang saya potret ini beberapa kali terlihat ngambek. Usai saya potret, ia merengek ingin pulang. Namun sang ibu selalu berbisik, “Jangan dulu pulang Nak. Kamu sudah dandan cantik. Nanti kamu akan jalan berpasangan. Kalau sudah selesai Mama akan kasih permen.” Yah.. kasihan anak ini sebab harus menjalani peran sebagai orang dewasa.(*)

Sudahkah Anda Berfesbuk Hari Ini?

BERAPA kalikah Anda membuka fesbuk? Jangan tanyakan ini pada istri saya. Hari-harinya adalah fesbuk. Tak peduli siang, malam, atau subuh, ia akan selalu membuka fesbuk pada kesempatan pertama. Ia tak sabar melihat apa komentar terbaru dari teman-temannya, bertukar kabar, serta saling bergosip tentang banyak hal. Secara fisik mereka terpisah jauh, namun fesbuk telah memutus jarak, mendekatkan, dan mempertemukan mereka dalam suasana hati yang sama. Fesbuk merajut kembali hubungan-hubungan yang dipisahkan oleh batasan geografis, mendekatkan yang jauh, dan menyatukan yang dekat.

istriku berpose di Pantai Lakeba, Bau-bau

Mungkin inilah fenomena hadirnya media baru (new media). Melalui media baru --saya mendefinisikannya sebagai perangkat elektronik yang meng-connect-kan Anda dengan seseorang, maka jarak sudah tidak menjadi masalah. Ketika Anda menuliskan alamat tempat tinggal, maka itu hanya sebatas tanda yang tidak seberapa penting. Di dunia fesbuk, Anda bisa menyebut berasal dari mana saja. orang-orang sudah tidak peduli karena yang terpenting adalah sejauh mana interaksi yang anda bangun dengan orang lain. Meski Anda tinggal sekota atau dekat secara fisik dengan seseorang, apalah artinya kedekatan itu ketika Anda saling berjauhan secara emosional?

Saya sering berpikir bahwa di zaman seperti ini, sudah tidak relevan kekhawatiran akan terpisah jauh. Sudah beberapa kali saya tuliskan bahwa di belahan manapun Anda berada, bahkan di ujung dunia sekalipun, Anda tidak sedang terpencil, sepanjang koneksi Anda dengan dunia global masih bisa dilakukan. Ini adalah zaman ketika ruang tidak lagi penting. Zaman yang disebut-sebut para sarjana sosial telah melahirkan borderless society, masyarakat tanpa batas. Tak perlu jauh-jauh untuk membuktikan fenomena ini. Istri saya --yang semula dikhawatirkan keluarganya karena akan pisah jauh-, justru dengan entengnya memajang foto-fotonya dan men-tag saudaranya yang saat itu juga berkomentar. Lantas, apa pentingnya bicara jarak? Saya jadi ingat kalimat sebuah pamflet yang saya lihat di Unhas, "Sudahkah Anda berfesbuk hari ini?"

Dulu, setiap kali ada yang hendak merantau, maka seluruh keluarga akan menangisinya sebab membayangkan komunikasi yang terputus. Pada masyarakat Bugis-Makassar, hingga kini masih hidup tradisi bertangisan saat mengantar keluarga yang hendak naik haji. Dulu, naik haji ibarat menempuh perjalanan berbahaya yang penuh risiko. Bayangkan, dulu orang-orang harus menempuh perjalanan dengan kapal laut, dan tiba di Mekah dalam waktu enam bulan. Perjalanan yang cukup panjang, khsusunya buat orang berusia lanjut. Inilah sebab mengapa saat mengantar keluarga yang naik haji, bertangisanlah orang-orang yang engantarnya sebab mengira akan pisah lama.

Pada masa kini, tradisi itu masih bisa ditemukan jejaknya. Saya sering geli menyaksikannya. Apa yang harus ditangisi kalau setiap saat sang calon haji bisa saling telepon untuk menanyakan kabar? Bahkan setiap jam, seorang calon haji bisa menelepon untuk menanyakan anaknya. Melalui video call, kita bisa dengan mudahnya memantau kesehatannya di sana. Jika ia sakit, dengan segera kita bisa mengontak ketua rombongan atau petugas kesehatan. Hal-hal semacam ini ibarat mimpi bagi generasi masa silam. Tapi anehnya, tradisi bertangisan saat mengantar haji, tetap dipertahankan. What? Bukankah zamannya telah lama bergeser?

Nah, kembali ke istri saya. Ketika ia memilih tinggal di sini, namun setiap detik ia bisa saling terkoneksi dengan audaranya, bisakah kita menyebut dirinya sedang merantau? Saya kira tidak. Ia sedang berpindah tempat, akan tetapi tetap terhubung dengan semua sahabat maupun keluarganya. Ia tidak sedang ke mana-mana, sebab setiap detik ia akan online dan menyapa siapapun. Setiap detik ia akan men-tag orang-orang untuk melihat foto terbarunya. Setelah itu ia cekikikan dan saling berdialog lewat fasilitas chatting.

Melihat fenomena yang dialaminya, saya sering memikirkan bahwa berbagai macam definisi dalam ilmu sosial sudah saatnya ditinjau ulang. Sudah waktunya para akademisi memikirkan ulang apa makna lokalitas, spasial (ruang), serta makna kebudayaan yang selalu dihibungkan dengan site di mana seseorang berpijak. Sudah saatnya mendefinisikan kebudayaan sebagai sebuah struktur perasaan dan pengetahuan yang menautkan semua orang baik di manapun maupun kapanpun.

Upss….!!!,… tulisan ini belum tuntas. Saya masih ingin online. Tapi di samping, sudah ada istri yang mendelik sambil berkata, “Awas! Sekarang waktunya saya yang online. Gantian! Minggir!”

Bisakah Saya?

PADA saat seperti ini, saya sering bertanya pada diri sendiri. Mengapa tidak memperdalam bahasa Inggris sejak dulu? Semua orang tahu bahwa bahasa Inggris sangat penting. Tidak saja untuk meningkatkan karier, tapi juga untuk sukses di bidang lain. Bahkan seorang anak kecilpun di negeri ini paham betapa pentingnya bahasa Inggris. Tapi, entah kenapa, tidak banyak yang mau memayah-mayahkan diri untuk mempelajarinya secara intensif. Termasuk saya sendiri yang terus menyadari kebodohan ini.

Padahal, apa sih susahnya meluangkan waktu selama dua jam sehari untuk meng-upgrade pengetahuan bahasa? Entah. Sepertinya sayapun terjangkit virus kemalasan serta penyakit bangsa ini yakni tidak mau berpayah-payah menyiapkan skill dan kompetensi untuk menghadapi hari esok. Saya terjebak pada 'tiba masa tiba akal'. Dan hari ini saya terjebak dengan kemalasan yang dipupuk sejak masa silam itu. Entah, apa saya bisa mendongkrak nilai Toefl dalam enam bulan ini. Bisakah saya?

Berendam di Air Jatuh

pose dulu ahh....
KETIKA Anda merasa gerah di tengah siang terik di bulan puasa, apa yang Anda lakukan? Boleh jadi Anda akan ngabuburit atau jalan-jalan demi 'membunuh' waktu sehingga tanpa sadar waktu berbuka menjelang. Dalam bahasa Sunda, ngabuburit adalah jalan-jalan menjelang buka puasa.

usai berendam
Tapi saya mengartikan lain. Ngabuburit adalah mekanisme dalam yang disediakan kebudayaan agar mereka yang berpuasa sanggup bertahan hingga saat berbuka puasa. Ketika lapar dan haus mencekik, maka ber-ngabuburitlah orang-orang agar melupakan sejenak lapar itu hingga saatnya berbuka. Demikian defenisi saya.

Kemarin, perut saya keroncongan. Sayapun melakukan ngabuburit. Tapi, bukannya sekedar berjalan-jalan atau diistilahkan 'cuci mata'. Tapi saya memilih berendam di satu telaga di tengah hutan belukar di dalam kota Bau-Bau. Nama telaga ini adalah kawasan Tirta Rimba. Tapi warga Bau-bau lebih suka menyebutnya Air jatuh sebab di sini terdapat air jatuh yang indah pemandangannya. Letaknya di dalam kota, sekitar 10 menit perjalanan dari rumah saya. Di sini, suara airnya gemuruh sebagai nyanyian alam yang abadi.

segarnya.....
Saya menikmati saat-saat ketika berendam. Gemuruh air, rasa dingin yang menjalar dari kaki hingga ubun-ubun adalah hal-hal yang membuat saya betah di sini. Saya juga menikmati saat berenang menembus air terjun. Di balik air terjun itu terdapat semacam gua kecil sehingga saat kita berdiri di situ, air terjun serupa tirai yang menutupi dinding gua. Jangan tanya bagaimana nikmatnya berdiri di situ. Luar biasa!
melompat dari balik air terjun

Tak terasa sejam berlalu. Di samping telaga, ada sosok manis yang memanggil-manggil agar segera bersiap-siap. Waktu berbuka sudah dekat. Anda tahu siapa sosok manis itu? Dialah istriku tercinta.(*)

Dunia Fesbuk, Dunia Lainnya


ISTRI saya seorang pencandu internet. Saban hari yang dilakukannya adalah mengintip facebook (selanjutnya saya sebut fesbuk) dan aneka situs jejaring sosial. Ia sibuk memperhatikan siapa saja yang menyapanya di dunia maya, sementara di dunia sesungguhnya, hari-harinya adalah rekreasi ke sana ke mari, kemudian senang dipotret bagai artis. Foto tersebut lalu di-publish di fesbuk agar disaksikan dan dikomentari sahabat-sahabatnya.

Ia menikmati saat-saat berselancar di internet. Tawanya menggema kala saling bersahutan dengan sahabatnya. Di dunia internet, ia menjadi sosok yang ceria dan suka menyapa. Sementara dalam kehidupan nyata, istri saya sebenarnya tidak terlalu suka basa-basi, ia suka berkontemplasi saat menulis, dan butuh proses adaptasi saat baru bertemu dengan orang-orang baru. Dirinya seakan bisa memecah dengan dua kepribadian. Satu di alam nyata sebagai dirinya yang sesungguhnya, sedang satu lagi di dunia maya melalui fesbuk dan aneka situs jejaring sosial.

Dalam kasus istri saya, dua dunia itu tidak seberapa kontras. Sebab ia juga amat periang dalam kehidupan nyata. Tapi saya mengenal seorang sahabat yang dunianya demikian kontras. Dalam kehidupan nyata ia adalah sosok pendiam dan pemalu. Ia suka jaim alias jaga image saat bersama mahluk bernama perempuan. Namun di dunia maya, ia serupa playboy atau superstar. Keceriaannya melampaui batas. Selain sibuk mengomentari apapun, ia juga menjadi sosok baru yang menjadi alter ego dalam kehidupan sesungguhnya. Di internet, ia amat bijak, tampan, dan penuh percaya diri. Melalui skill menulisnya yang dahsyat, ia mentransformasi dirinya menjadi sosok penuh kalimat bijak yang digandrungi.

Saya seringkali merenung setiap melihat kenyataan ini. Fenomena istri saya dan sahabat tersebut adalah fenomena universal yang bisa ditemukan di mana-mana. Ini memang abad internet yang serupa wabah dan menjangkiti semua orang. Kasus-kasus ini menarik untuk diteliti sebab menunjukkan bahwa dunia maya bisa menjadi ruang kanalisasi diri. Dunia maya adalah dunia yang memenuhi segala hasrat dan harapan kita atas sesuatu. Dalam kisah Harry Potter, dunia maya ibarat ruang datang dan pergi yang menyediakan semua yang kita butuhkan. Namun, dunia ini sifatnya semu belaka, sebab saat koneksinya diputus, Anda kembali menjalani hari-hari --yang mungkin menyebalkan. Anda kembali menjadi diri Anda yang sesungguhnya.

Namun benarkah dunia maya itu semu? Saya meragukannya. Juatru saya melihat dunia itu real. Segalanya nyata sebab pengalaman terkoneksi bisa di-share secara bersama-sama. Justru melalui dunia maya, kita bisa menemukan karakter dasar yang sesungguhnya pada diri seseorang yang selama ini tersublimasi dalam dunia social kita. Entah, apakah sudah ada sosiolog atau antropolog yang mencatat fenomena ini, namun saya melihat dunia maya menjadi cermin atau refleksi dari diri kita yang sesungguhnya. Dunia inilah yang merangkum siapa diri kita yang sebenarnya, tanpa proteksi. Jika pada dunia sosial interaksi terbatasi oleh status dan kategori sosial --yang sering membentengi kita--, maka dalam dunia maya, semuanya akan lebur. Anda bisa memilih berbagai peran dan status, tanpa ada satupun yang keberatan, tanpa ada kategori social yang menjadi benteng perilaku. Dan itulah diri Anda yang sesungguhnya.

Ketika sahabat itu memilih peran sebagai sosok bijak, maka itulah cerminan diri sesungguhnya yang sedianya dipilih dalam dunia social. Disebabkan situasi yang mungkin belum memihaknya, ia merepresi semua citra tersebut di alam maya demi menjadi kanal atas apa yang sesungguhnya diidam-idamkan. Dalam dirinya, hidup dua dunia dan dirinya memainkan peran berbeda pada dua dunia tersebut. Anda jangan mengatakan bahwa dunia maya itu semu sebab kanalisasi diri yang sesungguhnya justru terletak pada dunia ini. Berbagai status diri yang dicatatnya di fesbuk adalah jejak-jejak yang menunjukkan diri yang sesungguhnya. Mungkin ia berdusta di situ, namun dusta-dusta itu adalah petunjuk atau clue, semacam jejak yang bisa dilihat sebagai fakta-fakta yang membawa kita untuk menyelami dirinya yang sesungguhnya.

Anda tak butuh seorang Sherlock Holmes untuk mendeduksi semua fakta tersebut. Anda bisa mengetahui karakter sahabat tersebut hanya dengan mengumpulkan semua status di fesbuk, kemudian dilihat kaitan satu sama lain. Tak percaya? Coba lihat kerja para psikolog atau psikoanalisa untuk menganalisa kepribadian. Mereka mencatat semua struktur kalimat yang kita lepaskan, lalu menganalisanya secara seksama. Bukankah hal itu bisa dilakukan dengan mengamati status fesbuk seseorang? Bukankah status di fesbuk adalah cerminan diri kita yang sebenarnya?

Entah, bagaimana menjelaskan hal ini. Mungkin para psikolog menyebutnya split personality atau kepribadian ganda. Tapi saya lebih suka menyebut fenomena dunia maya ini sebagai fenomena Jack Sully. Dalam film Avatar karya James Cameron, Jack Sully seorang militer pesakitan. Kakinya lumpuh sehingga ruang geraknya terbatas. Saat tiba di Planet Pandora, misinya adalah mengkoneksikan dirinya dengan tubuh lain sebagai Avatar yang secara fisiologis bisa beradaptasi dengan alam Pandora. Jack Sully menjadi sosok baru di Pandora yang bisa berlarian serta berjumpalitan, sesuatu yang tidak bisa dilakukan saat bersama tubuh aslinya.

dua sisi Jack Sully dalam film Avatar

Nah, ketika Anda terkoneksi dengan internet, Anda ibarat Jack Sully yang memasuki tubuhnya barunya. Anda bisa bergerak sebebas mungkin, bisa berlari secepat mungkin, bisa bersahabat dengan siapa saja, tanpa harus terbatasi oleh tubuh dan kategori social. Anda bisa memilih peran secara bebas dan menjelmakan diri Anda secara utuh dalam peran tersebut. Pada titik ketika dua dunia itu bisa dijaga perannya, tak ada masalah apa-apa di situ. Namun pada titik ketika internet sudah menjadi candu dan satu-satunya dunia, maka waspadalah kalau-kalau Anda mulai menampik dunia social sesungguhnya. Anda sudah mengalami simulasi ketika dunia internet mulai menggantikan peran pada dunia social.

Apa yang bakal terjadi di masa depan? Tergantung pada kemampuan seorang individu. Ketakutan saya adalah Anda akan memilih apanyang dlakukan Jack Sully yakni meninggalkan tubuh kasar Anda dan memilih tubuh Avatar. Mungkin ini menggelikan. Namun siapa bilang gagasan ini mustahil? Kelak kita akan menyaksikannya.(*)

Minggu Penuh Tantangan

INI adalah seminggu setelah pengumuman peraih beasiswa IFP-Ford. Ternyata meraih beasiswa itu tidak seperti seorang yang menang lotere yang bisa buat pesta kapanpun. Euforianya hanya sesaat dan setelah itu Anda mesti bekerja keras untuk menghadapi dunia baru. Dua hari berikutnya, saya sudah menerima email dari pihak IFP sebagai langkah koordinasi dan penyiapan bahan yang diperlukan.

Saya langsung teringat kata senior peraih IFP Fellowship Andi Ahmad Yani, "Ketika Anda dinyatakan lulus, maka itu bukanlah akhir. Justru itu adalah awal dari kerja keras untuk menyiapkan diri dengan dunia dan tantangan baru. Anda tidak punya waktu berleha-leha. Siapkan diri Anda." Betul juga. Saya mulai memasuki fase baru yang mengharuskan untuk setiap saat bergerak terus, siapkan dokumen, siapkan keberangkatan, serta --ini yang paling sulit-- meminta izin pada atasan dan banyak pihak yang selama ini menjadi mitra kerja di daerah.

Terus terang, saya agak sulit membahasakan ini pada atasan. Sebagai bawahan, saya belum menunjukkan kinerja apapun. Belum ada prestasi yang saya buat. Bahkan, gaji saya baru diterima 80 persen, sebagai pertanda masa kerja yang belum genap setahun. Dengan masa kerja seperti itu, pasti saya sulit mendapat izin karena undang-undang tidak membolehkan. Untungnya, saya sudah ikut prajabatan. Andaikan belum ikut, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nantinya. Untungnya lagi, saya dipimpin seorang atasan yang punya pertimbangan jauh ke depan. Ia melihat beasiswa ini sebagai peluang besar yang harus dimenangkan. Saya mendapat izin pindah sementara ke Jakarta. Ia bersedia memberikan nota tugas untuk pemindahan tugas ke Perwakilan Pemerintah Kota Bau-bau di Menara Global, Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

Menurut jadwal yang dikirimkan IFP, saya mesti berada di Jakarta tanggal 19 September 2010 nanti, untuk persiapan Pre Academic Training (PAT) di Universitas Indonesia (UI). Artinya, sebelum tanggal itu saya mesti menyiapkan semuanya. Beberapa bahan yang disyaratkan sudah saya lengkapi, tapi banyak yang belum. Misalnya paspor, yang sudah saya urus sejak dua tahun lalu dan belum pernah dipergunakan. Selanjutnya, kartu keluarga (sejak nikah saya belum urus yang baru), lalu KTP istri yang harus diubah domisili (saya mesti bolak-balik ke kantor lurah), ijazah yang harus ditranslet (udah ditranslet tapi kopian dan pengesahannya masih kurang), akte kelahiran, surat nikah, hingga pas foto.

Di luar dari kewajiban tersebut, masih banyak tugas lain yang mesti tuntas. Misalnya buku yang diterbitkan respect, mengurus KP4 yang baru dan ada nama istri di situ, kartu askes sebagai jaminan kesehatan keluarga, serta mengurus tetek-bengek lainnya.

Hari ini saya kembali menerima email untuk mengisi Generic Application yang akan menentukan proses pemilihan universitas serta penempatan kelas belajar di UI nanti. Nah, mulailah saya kesulitan. Saya mesti memilih hendak belajar ke universitas mana di belahan bumi mana. Pihak IFP mengirimkan daftar ratusan universitas dan program studi yang mesti dipilih di seluruh dunia. Menurut panduan, kita hanya boleh memilih satu benua plus satu universitas home country (Australia, Indonesia, Thailand, Filipina, Korea). Jadi, jika milih Amerika, maka harus focus ke situ plus satu universitas di home country sebagai cadangan. Demikian pula jika memilih Eropa. Tidak boleh memilih satu universitas di Amerika, dan pilihan lainnya satu universitas di Inggris. Ini yang buat saya kesulitan milih mana yang baik sesuai kemampuan English dan akademik saya sendiri. 

Minggu ini adalah awal tantangan berat. Minggu ini adalah minggu kedua Ramadhan. Di tengah kewajiban dan kerja keras, ibadah mesti tetap tegak agar layar keimanan tidak diterjang badai. Semoga semuanya bisa dituntaskan. Amin.(*)

"Karena Hidup Penuh dengan Keajaiban"

HIDUP itu penuh dengan keajaiban-keajaiban. Kau tak pernah tahu kapan keajaiban akan turun menyapamu. Sebab keajaiban tak bisa direncanakan. Ia bisa datang sesukanya dan bisa pula pergi sesuka-sukanya. Kau hanya bisa menangkapnya pada kesempatan terbaik yang kau miliki.


Dulunya, aku hanya bisa bermimpi tentang belajar di negeri orang lain. Aku hanya bisa berkhayal, tanpa tahu kapan kesempatan itu akan menyapa. Bahkan ketika para sahabat mengirimkan aplikasi untuk beasiswa, Aku hanya menyaksikannya saja, tanpa sedikitpun keinginan untuk mencoba peruntungan. Aku kerap pesimis saat hendak menjalani sebuah seleksi. Aku sering merasa bahwa diriku bukan tipe orang yang beruntung sebagaimana kisah Aladin penemu lampu wasiat atau Ali Baba yang menemukan gua berisi harta karun.

Dua tahun silam, seorang kawan pernah berbisik bahwa saat dirimu tak pernah mencoba, maka dirimu tak pernah punya kesempatan. Maka selagi ada kesempatan, cobalah berbagai peluang. Saat dirimu mencobanya, maka dirimu punya kesempatan untuk mencetak keajaiban. Kalimat ini serupa mantra yang menyalakan sesuatu dalam jiwaku. Ada inspirasi yang tiba-tiba menyelusup. Barangkali, kehidupan adalah sebuah panggung di mana kita mesti menjemput beragam peluang. Kita mesti menghadapi hidup sebagaimana seorang nelayan yang setia menebar jaring di mana-mana. Tak semua jaring akan menghasilkan ikan, namun dengan cara menebar di mana-mana, ia sedang memperbesar peluang. Ia sedang menebar harapan.

Yah.. Hidup ini ibarat menebar harapan. Mencoba beragam peluang ibarat menabung harapan yang kelak akan berbuah sesuatu. Kau tak pernah tahu kapan jaring itu akan menjerat ikan, namun saat itu datang, kau akan menyadari bahwa semuanya diawali ikhtiar untuk menebar harapan. Semuanya adalah hasil dari kerja keras, serta keberanian untuk menjemput semua peluang. Dirimu telah melempar jaring, dan kelak dirimulah yang akan disapa keajaiban. Sebab keajaiban tak akan hadir pada mereka yang hanya bisa berpangkutangan, mereka yang hanya menunggu, mereka yang hanya memelihara pesimisme, sehingga tak mau melakukan apapun. Keajaiban adalah milik mereka yang menyingsingkan lengan baju untuk melakukan sesuatu, tanpa pesimis, serta berani menebar jarring harapan.

Dua tahun silam, aku menyaksikan film Sang Pemimpi. Bahkan, sebelum menyaksikan film tersebut, aku menuliskan beberapa dialog tokohnya dalam blog ini. Tulisan itu masih tersimpan rapi DI SINI. Nah, aku kutipkan dialog itu secara lengkap:

“Biar kau tahu kal, orang seperti kita tak punya apa-apa selain semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu”.
”mungkin setelah tamat SMA kita hanya akan mendulang timah atau menjadi kuli, tapi disini kal, disekolah ini, kita tak akan pernah mendahului nasib kita!!”.
“kita akan menginjakan kaki di altar suci almamater sorbonne! apapun yang terjadi”.
“Kita akan sekolah ke Perancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apapun yang terjadi!”

Dulunya, aku mencatat dialog dalam novel itu itu demi melecut motivasi. Aku mencatat kalimat itu sebagai sebuah impian yang kulepaskan ke udara. Minimal dengan mencatat impian itu, aku telah maju selangkah ketimbang mereka yang hanya bisa berpangkutangan, tanpa melakukan apapun. Usai mencatat kalimat itu, keesokan harinya aku lalu mengirim aplikasi untuk seleksi beasiswa Ford Foundation. Aku lalu menjalani serangkaian seleksi. Mulai dari seleksi berkas, test Toefl, hingga tes wawancara. Aku melakukan semuanya dengan semangat, namun tak terlalu yakin bagaimana hasilnya. Hari ini, semuanya terjawab. Dalam sebuah form pengumuman di IFP-Ford (bisa dilihat DI SINI), namaku tercatat sebagai satu dari 50 penerima beasiswa untuk tahun 2010. Aku telah melewati test akhir dan menyisihkan ratusan peserta. 

Kalau kurenungi berita gembira hari ini, bukankah ini sebuah keajaiban? Bukankah ini adalah jawaban dari impian yang sebelumnya kugoreskan di blog ini? Aku banyak menuliskan impian itu. Salah satunya adalah pada tanggal 19 November 2007 (bisa dibaca DI SINI). Kukutipkan lengkap impian itu sebagai bahan refleksi:

AKU ingin lepas dari rasa lumpuh yang menjerat kedua tungkaiku. Aku ingin menerabas segala sekat yang membelenggu tubuhku. Sekat-sekat itu seakan menenggelamkanku pada pencarian yang tak pernah berujung, sebuah teka-teki yang tak kunjung terpecahkan. Aku ingin memburai kepompong yang menghalangi keinginanku untuk menatap horison realitas. Aku bosan hidup dalam sebuah tempurung kelapa sehingga hanya mengenali kenyataan yang lebarnya tak lebih dari jangkauan tanganku. Terlalu lama aku dibelit rasa mapan dan keangkuhan pengetahuan yang bersemayam di benakku. Aku ingin membalik tempurung itu, menghancurkannya kemudian menatap alam dengan tanpa rasa takut.
Aku ingin merentangkan tangan hingga ke ujung dunia dan menggapai seluruh jejak pencapaian manusia. Aku ingin merdeka dari segala batasan yang hanya meletakkan diriku sebagai titik kecil dari fenomen semesta. Seolah-olah aku hanya sekerat materi yang berbatas. Aku ingin melanglang buana dan menembus segala batas yang sanggup dijelajahi sains serta pikiran kembaraku. Aku ingin lepas dan terbang tinggi dan menembus mega-mega, melihat bumi hingga titik terjauh, melihat langsung bagaimana bumi menyapa pagi, melepas senja, kemudian memeluk malam. Melihat langsung bagaimana bumi membasahi tubuhnya dengan sapuan aneka warna pelangi, sebuah mosaik lukisan semesta.

Bukankah sudah kukatakan bahwa hidup penuh dengan keajaiban?

Ode buat Istriku

DI sini, aku masih memandang dirimu yang sedang terlelap. Di atas ranjang butut yang sudah kutiduri sejak bangku sekolah menengah ini, dirimu sedang tertidur pulas. Aku tak pernah bosan memandangmu yang sedang pulas. Tak pernah terpikir bagiku untuk mengganggu tidurmu, sebagaimana yang sering kamu lakukan atas nama kemanjaan (sesuatu yang juga kunikmati). Aku lebih suka melihatmu dalam diam, melihat napasmu yang mengalir satu demi satu, merasakan denyut jantungmu, menikmati senyummu saat tertidur. Apakah gerangan yang sedang dikau pikirkan? Apakah dirimu sedang memimpikanku?

Istriku sayang. Ini adalah hari keenam buat kita yang sedang menganyam mimpi di pulau kecil ini. Pernikahan serasa baru kemarin. Semuanya masih seperti impian yang tiba-tiba menjelma di hadapan kita. Bahwa kau tiba-tiba menerima pinanganku membangun sebuah rumah bersama di hati masing-masing, memberikan testamen pada semesta tentang tekad kita untuk bertaut, dan biarlah zaman yang akan memncatat apakah kasih kita akan seperti kalimat yang kubaca di setiap markas tentara: setia hingga akhir. Hari ini, sejarah di tangan kita. Aku menerima amanah untukmu, dan kaupun berjanji untukku.

saat di Pantai Nirwana, Bau-Bau
wisata Tirta Rimba
Istriku sayang. Kadang kupikir semua amanah itu adalah hal yang abstrak dan berdiam di langit sana. Sering aku bertanya apa yang harus lakukan demi menariknya turun ke bumi hatimu. Aku menerjemahkannya dengan amat simpel yakni menjalani hidup menyenangkan, tanpa memelihara masalah. Amanah itu mungkin dijelmakan dalam sikap menyayangimu lebih dari pada apapun. Orang bijak sering mengatakan segala sesuatu di alam adalah refleksi atasu pancaran cahaya keilahian. Jika itu benar maka mencintaimu juga merupakan refleksi dari kecintaan kepada-Nya. Izinkanlah diriku mencintaimu dengan dahsyat. Izinkan aku menjadi hambamu yang mengasihi dan tak pernah menuntut apapun padamu. Izinkan aku menjadi pembuka gerbang bahagiamu, menghadirkan tawa dan senyum yang tak pernah habis.

Aku ingat, kaupun pernah mengatakan ini. Kaupun sering berpikir demikian. Kita sama-sama pencinta. Biarlah waktu yang kelak akan mencatat, apakah kasih kita akan tertoreh sebagaimana kisah Khais dan Layla Majnun, atau kisah Jayaprana dan Layonsari. Maka biarlah waktu yang akan bertutur apakah kita menjadi martir yang mengorbankan segalanya demi cinta kasihnya. Biarlah kita menorehkan jejak kita sendiri. Bukankah cinta kasih itu adalah refleksi dari cahaya Ilahi?

Bukit Kolema, Bau-Bau
Istriku sayang. Kita sama-sama pencari telaga bahagia. Aku sering merenung, barangkali kebahagiaan tidaklah terletak pada segala sesuatu yang ada di luar diri kita. Kebahagiaan terletak pada seberapa sering kita tersenyum dan tertawa, terletak pada seberapa banyak kita terkekeh menyaksikan hidup yang berjalan. Kebahagiaan adalah oksigen yang selalu memenuhi hati kita masing-masing. Kita tak perlu mencarinya, sebab ia melingkupi segala sesuatu. Untuk bahagia kita tak perlu mendaki Himalaya. Kita hanya hanya perlu menjentikkan jari dan mengatakan “Inilah saatnya bahagia.” Hari ini, matrilah kita sama-sama meyakini kalau inilah saatnya untuk bahagia. Bukankah ini akan sangat indah?

Istriku sayang. Hari ini aku sudah mengantarmu ke mana-mana. Aku sudah menunaikan tugas sebagai fotografer yang memotretmu setiap saat. Aku amat bahagia melihat dirimu yang tersenyum saat melihat foto-foto indah itu. Kau terkesima melihat tempat-tempat eksotik; pantai, gunung, manusia, kebudayaan, alam-alam perawan. Dan aku juga terkesima melihat caramu mengagumi semesta yang kupijak sejak kecil. Kau demikian bahagia mengabadikan kenanganmu atas alam. Dan aku jauh lebih bahagia karena telah menghadirkan api kecil kebahagiaan untukmu.

Pantai Nirwana
Istriku sayang. Kita sama-sama sosok yang menikmati segala anugerah yang kita terima pada setiap inchi helaan napas kita. Kita ibarat celengan yang mengisi hari-hari kita dengan sesuatu yang bermakna. Kita adalah penikmat atas segala karunia yang tak terbatas. Kita adalah dua sosok yang akan saling belajar, saling mengayakan pengalaman masing-masing, saling belajar bagaimana berdiri tegak memandang matahari. Kita akan saling mengisi dan memberi makna. Hei… bukankah ini juga membahagiakan?


CATATAN

Nah, aku yakin pasti dikau akan bertanya apa makna kata “ode” dan apa bedanya dengan kata “Elegi.” Nah, menurut kamus, Ode adalah syair yang berisi pujian. Sedangkan elegi adalah syair yang berisi ratapan sedih. Paham??
ciee.... manisnya

Nasib Tragis Para Peminat Ilmu Sosial

DI negeri ini, peminat ilmu-ilmu sosial seolah dipandang sebelah mata. Eksistensi mereka seakan diabaikan, sehingga tafsiran tentang ilmu pengetahuan selalu didominasi oleh cara pandang exact atau ilmu-ilmu pasti. Ilmu-ilmu sosial seolah bukan ilmu pengetahuan, seolah hanya nujuman-nujuman yang tidak dibangun dari proposisi ilmiah. Kasihan juga para peminat ilmu sosial yang dipandang sebelah mata oleh tafsiran masyarakat dan tafsiran negara.

Kesimpulan ini saya dapatkan setelah mengikuti test potensi akademik (TPA) yang diadakan Bappenas sebagai prasyarat mendapatkan beasiswa bidang doctoral. Sejak awal test, saya sudah bertanya-tanya, mengapa harus lembaga seperti Bappenas yang mengadakan test ini? Saya banyak dapat informasi tentang ini. Entah kenapa, test Bappenas tiba-tiba saja menjadi semacam alat yang bisa mengukur sejauh mana kemampuan seseorang, menentukan apakah seseorang bodoh atau cerdas sehingga layak menempuh studi doctoral. Susahnya lagi karena rekomendasi Bappenas bisa menentukan nasib seseorang apakah layak menerima rekomendasi beasiswa dari pemerintah ataukah tidak. Inilah susahnya. Banyak beasiswa dari pemerintah yang mensyaratkan stempel dari Bappenas. Bukankah ini aneh?

Baiklah, saya akan membahas test itu sendiri. TPA yang disusun Bappenas memiliki durasi waktu dua jam. Test ini terdiri atas tiga bahagian. Secara umum, test ini mencakup: (1) logika dan bahasa, (2) matematika, (3) penalaran. Sistemnya seperti test Toefl, di mana tahap awal adalah mengerjakan dahulu bahagian pertama, jam selanjutnya adalah bagian-bagian berikutnya.

Hal yang menjengkelkan dari test ini adalah dominannya hitung-menghitung serta logika matematika. Aneh. Saya jadi heran, apakah ini semacam standarisasi untuk mengukur kemampuan seseorang? Lantas, apakah tidak ada jenis soal yang memang ditujukan buat mereka yang tidak mendalami bidang hitung-menghitung? Apakah logika dan rasio harus selalu berwujud hitungan? Saya tak henti bertanya. Saat membuka soal, khususnya bagian kedua, kembali saya tersentak. Soalnya adalah matematika. Memang ada juga bahagian mudah seperti deret dan menebak angka-angka. Tapi itu hanya beberapa nomor saja. Sisanya adalah soal-soal perhitungan, yang layaknya diberikan kepada orang yang mendalami bidng matematika maupun fisika. Duh,… betapa stresnya saya!

Bagi yang besar dalam tradisi ilmu-ilmu sosial, khususnya bagi yang mendalami riset kualitatif, pastilah akan stress berat saat menemukan jenis soal ini. Soalnya rumit, mulai dari pembagian bilangan-bilangan pecahan, pengalian, hingga akar-akaran, seperti akar tiga dari bilangan tertentu, kemudian dikurangi bilanngan lain terus dikalikan. Sementara bagian terakhir berupa penalaran, lagi-lagi kita dihadapkan dengan soal-soal aritmatika.

Kita membaca soal cerita –misalnya kisah lima orang yang belanja--, lalu kita menalar berapa biaya yang dikeluarkannya. Bukankah ini lagi-lagi adalah perhitungan yang tidak sederhana? Seseorang mesti terbiasa menjawab soal matematika yang rumit demi menjawab soal seperti ini. Kasihan kami-kami yang terakhir belajar matematika hanya saat sekolah menengah. Dihadapkan pada jenis soal seperti ini, saya hanya bisa pasrah.

Memang, dalam ilmu sosial, ada juga metode kuantitatif yang banyak mengitung dengan rumus-rumus untuk survey. Tapi, saya tekankan, tidak semua orang mendalami itu. Malah pendekatan itu banyak ditentang dalam ilmu sosial. Saya hanya mendalami riset kualitatif yang cara melihat persoalan hingga menjawabnya sangat berbeda bagai bumi dan langit dengan tradisi kuantitatif. Apakah saya bisa dicap bodoh dnegan cara piker kualitatif seperti itu? Entah. Pada akhirnya saya akan menerima pemberitahuan tentang standar kecerdasan yang di bawah standar, kemampuan sangat rendah untuk menerima tantangan yang lebih sulit. Kasihan!

Test ini menjadi jendela untuk melongok sejauh mana pengertian ilmu pengetahuan sebagaimana yang dianut Bappenas. Bukan cuma sekali saya mengikuti psikotest ataupun TPA. Rata-rata mensyaratkan test  mengerjakan soal matematis. Bagi saya, fenomena ini menunjukkan bagaimana pandangan masyarakat luas tentang ilmu pengetahuan sendiri. Boleh jadi, pandangan ini sangat didominasi pandangan positivistic yang menyelusup dalam ranah pengetahuan, sehingga segala hal mesti dikategorisasikan dalam hitung-menghitung. Pantas saja jika logika kuantitatif serta matematika menjadi pengabsah untuk menentukan sejauh mana capaian seseorang dalam dunia ilmu pengetahuan.

Dalam penilaian seperti test ini, mereka-mereka yang bergelut dalam ilmu sosial akan dipandang sebelah mata. Eksistensinya akan direndahkan sehingga mereka seolah-olah harus selalu mengekor para penggiat ilmu exact. Ilmu sosial seolah kehilangan hak hidup sebab hamper semua test kecerdasan dan potensi selalu didominasi test ala ilmu pasti. Tentu saja ini aneh sebab menunjukkan ketidaktahuan kita tentang filsafat sosial dan filsafat ilmu pengetahuan. Kita tidak diajarkan bagaimana awal pengetahuan, cara memandang pengetahuan, hingga konstruksi epistemologis pengetahuan.

Kita juga tak pernah belajar bahwa logika ilmu-ilmu sosial jelas berbeda dengan logika para penganut ilmu pasti. Dalam sosial, sebuah kebenaran mesti ditopang dengan argumentasi serta penalaran yang sekokoh bata karang. Itupun semuanya bersifat kontekstual dan memperhatikan aspek konteks dan waktu alias ideografis. Tapi seberapa banyak orang yang paham ini? Maka terimalah nasib ilmu-ilmu sosial yang hanya dipandang sebelah mata. Selalu dites dengan cara ilmu pasti dan kesimpulannya adalah tidak cerdas alias bodoh. Inilah realitas yang pahit dan menggiriskan itu.

Yah.. saya hanya bisa masygul. Tak tahu harus berkata apa lagi....

Nyanyi Sunyi Bung Hatta


12 Agustus 1902, Bung telah lahir
dan tak pernah mati

---- Yusran Darmawan


JAUH di pedalaman Digul, si Bung yang berkacamata itu tetap bekerja hingga lebih 10 jam dalam sehari. Di lembah indah yang dipenuhi semak belukar pada tahun 1941 itu, Bung Hatta merefleksikan bacaannya tentang filsafat Yunani. Ia menghabiskan lembar demi lembar demi menuliskan ulang semua aliran filsafat --yang memusingkan itu-- ke dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh rakyat kebanyakan. Ia menyiapkan buku Alam Pikiran Yunani sebagai pengantar ke jalan filsafat, jalan yang disebutnya meluaskan pandangan serta mempertajam pikiran.

“Filosofi berguna untuk penerangkan pikiran dan penetapan hati. Ia membawa kita ke dalam alam pikiran, alam nurani semata-mata. Dan oleh karena itu melepaskan kita daripada pengaruh tempat dan waktu. Dalam pergaulan hidup, yang begitu menindas akan rohani, sebagai di tanah pembuangan Digul, keamanan perasaan itu perlu ada,” tulisnya.

Saya tersentuh saat pertama membaca kutipannya. Dalam huru-hara pergerakan dan pekik revolusi yang menggema di seluruh negeri serta terisolasi di tengah belukar pengasingannya, Hatta menuliskan bait demi bait kalimat yang jernih dan terang-benderang. Gagasannya yang mengalir indah perlahan di sela-sela bebatuan karang adalah cerminan dari ketenangannya menghadapi masalah, mengurai buhul persoalan yang mendera bangsa, sekaligus menentukan titik pijak terbaik untuk membawa bangsa ke arah yang lebih baik.

Belukar Digul menjadi saksi dari pergulatan gagasan-gagasan dan pemikiran yang tertoreh di sepanjang kisah-kisah besar peradaban manusia. Bung Hatta melakukan sintesis dan refleksi secara aktif atas semua gagasan itu. Sebagai jalan terang, filsafat bisa digunakan untuk menukik ke dalam jantung sebuah bangsa dan masyarakat, menemukan ide lalu memantik proses yang menggerakkan masyarakat untuk beringsut ke arah yang lebih baik.

Saya senantiasa kagum dengan perenungan filosofis Si Bung di Digul sana. Saya tidak terlalu yakin jika ia menulis di antara ribuan referensi yang bertabur sebagaimana bisa disaksikan di banyak perpustakaan. Ia tidak menghabiskan waktu untuk studi literatur dan menyiapkan bahan-bahan yang memadai seperti para pemimpin di masa kini yang hendak menempuh ujian doktor. Sebagaimana halnya Pramoedya Ananta Toer yang menulis karya besarnya di tengah tahanan Pulau Buru dalam kondisi serba memperihatinkan, Hatta juga menuliskan gagasannya dalam keterbatasan, namun tetap jernih dan benderang.

tiga sosok pendiri negeri ini. Bung Sjahrir, Bung Karno, dan Bung Hatta
Masa itu adalah masa gemilang dalam sejarah pertumbuhan intelektualitas negeri ini. Para pemimpin bangsa dan aktivis pergerakan adalah sosok-sosok yang menemukan pencerahan melalui perjalanan intelektualitas, lalu menuliskan lembar-lembar pemikiran demi mencerdasakan rakyat. Intelektualitas menjelma menjadi pergerakan sosial. Sungguh mencengangkan sebab pada masa yang memperihatinkan ini, Sukarno sanggup menulis studi tentang Islam dan modernisasi di Ende, Flores, Sjahrir yang menulis tesis tentang demokrasi kita, serta si jenius Tan Malaka yang mempersiapkan naskah Materialisme, Dialektika, dan Logika (Madilog) sebagai suluh penerang bagi rakyat.

Melalui karya-karya itu, kita bisa menyelami semangat masing-masing, merasakan pergulatan pemikiran serta kerikil-kerikil yang meresahkan mereka. Melalui karya itulah, saya tak henti mengapresiasi Hatta. Garis pemikirannya sangat khas jika dibandingkan pemimpin bangsa lainnya. Membaca karya Hatta kita tidak menemukan sebuah semangat menyala-nyala atau permainan yang tak terduga-duga. Hatta bukanlah seorang Sukarno yang tulisan-tulisannya menggugah dan menggelorakan semangat. Tulisan Hatta adalah tulisan serupa air mengalir tenang dan jernih, penuh dengan perhitungan yang hati-hati dan efisien. Tulisan Hatta ibarat permainan tim Spanyol yang sabar dan tidak tergesa-gesa untuk mencetak kemenangan. Kita tidak banyak menemui kejutan-kejutan, namun permainan yang efektif dan terjaga ke jantung pertahanan musuh.

Hatta serba taat asas, penuh disiplin dalam mengemukakan gagasan. Hatta adalah sosok yang dingin, tipe seorang intelektual yang menarik diri dari satu realitas sosial, demi menuliskan realitas itu secara jujur dan obyektif. Akan tetapi, lebih dari sekedar intelektual yang berumah di atas angin, ia tetap menceburkan dirinya dalam aktivitas pergerakan, menyelami langsung pergolakan dan diplomasi atas nama bangsa, mengikhlaskan dirinya sebagai pendamping Sukarno yang setia mengiringi proses menuju kemerdekaan. Pada titik inilah beliau menjadi manusia luar biasa yang pernah dilahirkan dari rahim republik ini.

Jalan Sunyi Hatta

Saya merasakan jalan sunyi itu saat membaca bukunya Alam Pikiran Yunani. Dalam buku itu, ia banyak menyinggung dua sosok yang amat berpengaruh yakni filsuf Heraclitus dan Socrates. Heraclitus tersohor dengan pemikirannya tentang penta rei yakni segala sesuatu senantiasa berubah. Hatta pun selalu menginginkan perubahan dalam segala aspek kehidupan. Terlahir dari sebuah keluarga Minangkabau yang taat beragama, Hatta menginginkan pembebasan dari tatanan feudal dan memasuki abad modern sebagai bangsa yang merdeka.

Lepas dari pendidikan agama di Sumatra, ia melanglangbuana ke Belanda demi mereguk pengetahuan pada khasanah perpustakaan dunia, mengambil saripati pengetahuan, dan melakukan sintesa gagasan dengan soal kebangsaan. Ia adalah titik tengah tengah atau hasil dari pendidikan keislaman di alam Minangkabau, dan pendidikan modern yang didapatnya di Eropa. Ia juga titik tengah dari keinginan menjadi sufi yang mendalami agama Islam, serta panggilan untuk menjadi patriot buat bangsanya. Pantas saja, sebagaimana pernah dikatakan Ignas Kleden, kisah Hatta adalah kisah pergulatan dua pemikiran serta pengambilan posisi yang senantiasa berada di tengah dari dua kutub pemikiran. Di tengah kutub tersebut, ia lalu menyusun syair tentang kemerdekaan, syair pembebasan sebuah bangsa. Pribadinya adalah kombinasi dua hal yang dianggap banyak orang bertentangan; di satu sisi sebagai sufi yang kesunyian, dan di sisi lain sebagai pemimpin bangsa yang hiruk-pikuk. Dua peran itu bisa diperankannya dengan baik selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya memilih mundur dari ranah politik.

Di saat banyak intelektual memilih posisi menghamba pada kolonialisme, ia menginginkan perubahan, sebagaimana Heraclitus. Bahkan pada tahun 1928, saat diseret dalam satu pengadilan di Den Hag, Belanda, ia mengucapkan satu pleidoi yang menggugah, serupa belati yang mengiris di jantung colonial. “Saya yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa suatu saat bangsa Indonesia akan merdeka.”

Demi garis perubahan itu, ia memilih jalan sebagaimana filsuf idolanya Socrates yang rela melepaskan nyawa demi kebenaran. Hatta memilih jalan Socrates sebagai jalan sunyi kaum intelektual yang bergegas ke arah perubahan. Dari filsuf Yunani itu, ia belajar bagaimana keteguhan dalam mempertahankan sesuatu yang diyakininya sebagai kebenaran. Ia memilih jalan ketenangan, penderitaan dan kesengsaraan sebagaimana yang pernah dialami para nabi dan rasul sekian abad silam. Pada titik ini ia adalah kombinasi yang tepat untuk Sukarno demi bangsa. Keduanya adalah perpaduan antara charisma dan rasionalitas. Mereka ibarat dua sisi mata koin yang saling melengkapi.

Jika Sukarno memaknai perubahan sebagai revolusi menjebol dan membangun, maka Hatta melihat revolusi dari manusianya. Maka seorang pemimpin adalah seseorang yang punya keberanian untuk menderita dan menahan rasa sakit. "Tanda revolusioner, bukan bermata gelap, melainkan beriman, berani menanggung siksa dengan sabar hati, sambil tidak melupakan asas dan tujuan sekejap mata juga,” kata Hatta.

Jika Socrates mempertaruhkan kebenaran dengan meminum racun di atas altar, Hatta pun mempertaruhkan kebenaran dengan menjadikan dirinya sebagai seorang pemimpin pergerakan yang mengisi lembaran hidupnya dari penjara ke penjara. Bahkan di saat Indonesia merdeka dan menduduki tampuk wakil presiden, ia juga setia dengan prinsipnya di jalur kebenaran dan mengkritik para sahabat yang dinilainya menyimpang dari tujuan revolusi. Ia mengkritik Bung karno yang mulai menunjukkan karakter sebagai pemimpin yang dominan dalam banyak hal dan mulai bermewah-mewah. Pandangan hidup sebagai sufi serta daya tahan dalam penderitaan telah mengusik nuraninya untuk tidak berlama-lama di kursi kekuasaan ketika kekuasaan menjadi panglima yang langgeng.

Bung Hatta dan Bung Karno
Hingga akhirnya, ia memilih mundur dari jalur politik karena keteguhan memegang teguh prinsip dan etika moral yang diyakininya. Seperti halnya Socrates yang meminum racun, Hatta memilih jalan sunyi sebagai seorang warga negara biasa yang menuliskan semua kontribusinya dalam buku teks berharga, buku-buku yang pernah dicatat Tempo sebagai karya terbaik yang pernah dilahirkan seorang anak bangsa. Dan hari ini kita sedang merayakan hari kemerdekaan, sesuatu yang pernah dipersembahkan hatta sebagai kado abadi bagi seluruh anak bangsa.

Hatta adalah pahlawan di hati yang yang tak pernah mati sampai kapanpun. Semangatnya hidup dan menyala-nyala.


Bau-bau, 13 Agustus 2010
Saat mengenang ulang tahun Bung hatta

Keep Your Hand Moving

Writing is a journey to the unknown
--- Charlie Kaufman


SAYA menemukan kalimat ini pada buku Keep Your Hand Moving karya Anwar Holid. Kalimat ini sungguh kuat dan bertenaga. Meski Holid tidak spesifik menjelaskan maknanya, namun saya bisa menebak-nebaknya. Saat menulis, seseorang sedang melakukan sebuah perjalanan. Ia mengarungi samudera pemikiran dan gagasan, berusaha focus menuju pada satu titik yang bolah jadi tidak diniatkannya. Menulis adalah proses melepaskan semua pengetahuan dan gagasan secara bebas dan merdeka, dan hasil akhirnya sering sukar ditebak. Dalam dunia menulis, sebuah tujuan tidak penting, sebab yang lebih ditekankan adalah proses menggapai tujuan tersebut. Demikian penafsiran saya yang sederhana.

Selama beberapa hari saya membaca buku karya Anwar Holid tersebut. Buku ini serupa Mengikat Makna karya Hernowo. Isinya adalah panduan tentang menulis dan mengedit bagi siapapun, baik penulis pemula, maupun yang sudah senior. Sebagaimana Mengikat Makna, saya menggolongkan buku Anwar Holid ini bukan sebagai buku how to yang memuat kiat-kiat atau teknik. Buku ini adalah buku yang menyalakan motivasi seseorang agar tetap menulis, berani mengoreksi pola kepenulisan yang seolah jadi template kaku di pikiran, sekaligus mengeksplorasi teknik-teknik menulis yang baru sehingga tulisan yang dihasilkan bisa lebih renyah dan menawan.

Membaca buku ini serasa menyegarkan kembali gagasan bahwa masalah utama dalam menulis lebih pada aspek internal yang bersumber dari dalam diri. Banyak orang yang seakan memelihara hantu-hantu dalam pikirannya yang berbisik tentang sulitnya menulis. Banyak pula orang yang menganggap bahwa menulis itu adalah bakat yang datang begitu saja sejak lahir, tanpa proses mengasahnya. Semuanya ibarat hantu yang membuat kita takut untuk memulai proses menulis.

Apakah yang paling sulit dari menulis? Pernah saya menanyakan itu pada beberapa orang. Seorang teman pernah mengatakan bahwa yang sulit dalam menulis yakni bagaimana memulai dan bagaimana mengakhirinya. Pernyataannya amat menggelitik. Usai membaca buku Anwar Holid, saya tergoda untuk menjawabpertanyaan tersebut.

Soal bagaimana memulai, jelas terkait dengan motivasi. Ketika seseorang tak punya motivasi, maka menulis menjadi sesuatu yang amat berat. Kita mudah kehilangan gagasan serta tersesat di rimba penulisan dan tak tahu hendak memulai dari mana. Padahal, semua orang punya potensi besar untuk menjadi penulis.

Kata Dewi Lestari, dalam dunia menulis, semua orang menimba gagasan pada satu sumur yang sama. Hanya saja, tidak semua orang memiliki tali dan timba yang panjang untuk menimba gagasan tersebut. Tali dan timba serupa motivasi kuat yang sanggup merentang jauh ke dalam sumur demi menimba gagasan itu ke dalam lembar-lembar buah pemikiran. Makanya, saya bersepakat dengan Holid bahwa menulis butuh sebuah motivasi yang sekuat baja. Sehingga buku tentang dunia kepenulisan seyogyanya serupa dengan buku motivasi. Inilah tali dan timba yang kita butuhkan.

Dalam buku ini, Holid mengutip kalimat “Keep Your Hand Moving” dari Natalie Goldberg. Kalimat ini adalah motivasi agar seseorang bersedia untuk menuliskan apapun pengalamannya secara bebas, tanpa harus terikat dnegan berbagai aturan tentang menulis. Seseorang tidak perlu terjebak dengan hambatan-hambatan dalam menulis, misalnya kekhawatiran apakah tulisan itu bagus atau tidak, apakah akan dibaca orang ataukah diabaikan. Kekhawatiran ini bisa menjadi writers block yang memantek langkah kita sehingga jalan di tempat.

Saya memaknai kalimat Goldberg sebagai kebebasan untuk lepas dari berbagai kerangkeng aturan. Seorang penulis mesti bebas dan menuliskan apa yang ada di benaknya secara lepas, tanpa harus terjebak dengan aturan. Tulislah sesuatu secara bebas lepas, kemudian endapkan selama beberapa saat untuk melihat kembali kelebihan dan kekurangan tulisan tersebut, kemudian terbukalah pada semua kritikan yang masuk demi menguatkan gagasan dalam tulisan tersebut. Mungkin inilah yang dimaksudkan Goldberg.

Pertanyaan berikutnya dalah bagaimana mengakhiri sebuah tulisan. Menurut saya, ini terkait dengan focus serta tujuan dalam menulis. Sebelum seseorang menulis, ia hendaknya memiliki satu tujuan serta pertanyaan mendasar yang hendak dijawabnya. Sebelum menggoreskan sesuatu, seorang penulis sudah harus menyelesaikan tulisannya. Maksud saya, sebelum tulisan itu kelar, seseorang sudah punya gambaran tentang bagaimana bentuk tulisan itu, bagaimana alur berpikir serta konstruksi gagasan, bahkan apa yang menjadi ending atau akhir tulisan tersebut. Makanya, seorang penulis harus pandai menanam imajinasi. Ia harus berpikir di luar mainstream dan terbiasa mengolah semua data dan asumsi asumsi dalam benaknya.

Pernah saya menanyakan berapa lama yang dibutuhkan untuk menulis pada esais Nirwan Ahmad Arsuka. Ia terdiam sesaat, kemudian menjawab bahwa penulisan tidak menelan banyak waktu. Menulis itu hanya sebentar, katanya. Proses yang paling lama dan memakan waktu adalah memikirkan gagasan-gagasan serta apa yang hendak dituliskan.

Saya jadi teringat kalimat filsuf Friedrich Nietzsche yang mengibaratkan menulis sebagai proses menjerang gagasan-gagasan hingga matang. Dan menulis, kata Nietzsche, adalah menuangkan sebuah gagasan, entah itu gagasan yang sudah matang, ataukah masih mentah.

Jika menulis adalah sebuah perjalanan, maka dalam proses perjalanan tersebut, seseorang boleh jadi akan menemukan jawaban atas pertanyaan pada awal keberangkatan. Kalaupun ia gagal menemukan jawaban, maka ia telah membentangkan sketsa persoalan tersebut sehingga menghadirkan gambaran yang lebih terang, jernih, dan menjadi rekomendasi bagi siapapun untuk menemukan jawaban. Dengan cara inilah pengetahuan bisa berbiak dan berkembang pesat. Dengan cara inilah ilmu pengetahuan bisa lahir dan mekar dalam sekujur sejarah peradaban manusia.

Pada akhirnya, menulis adalah laku ilmiah yang membimbing kita untuk fokus dan mengajari kita untuk menyusun argumentasi secara jernih. Mungkin saya salah dengan kesimpulan ini. Tapi setidaknya, saya telah menuntaskan sebuah kerja berat yakni menyarikan gagasan-gagasan sebuah buku ke tulisan pendek ini.(*)



Bau-Bau, 12 Agustus 2010
Saat dua jam lagi buka puasa

Sensasi jadi Headline (4)

BEBERAPA tulisan saya kembali sering jadi headline di Kompasiana. Saya ingin mengabadikan gambar yang memuat tulisan tersebut beserta link-nya. Sebagaimana sering saya katakan, ini bukan bermaksud narsis. Saya hanya ingin menjadikannya sebagai motivasi untuk tetap menulis dan supaya tidak pernah merasa bosan. Semoga.

"Seks Jawa Vs Seks Bugis (2)". Dimuat pada 27 Mei 2010

"Terimakasih Ariel Peterpan". Dimuat pada 11 Juni 2010

"Wow.. Kecil-kecil udah Bisa Main". Dimuat pada 26 Juni 2010

"Seksinya Gadis Korea." Dimuat pada 22 Juli 2010

"Avatar Aang sebagai Rasul Baru." Dimuat pada 7 Agustus 2010

"Nikmatnya Nikah Bugis". Dimuat pada 8 Agustus 2010

Pasangan narsis


"karena hidup adalah sebuah pilihan"

Life is a choice

SEORANG politisi pernah berujar, "Hidup adalah sebuah pilihan." Ia memaksudkan kalimat itu sebagai jargon kampanye. Namun, belakangan ini sering kupikirkan betapa mengenanya kalimat itu. Kita selalu berhadapan dengan pilihan-pilihan. Kita memiliki kapasitas untuk memilih hendak menjadi apa dan bagaimana. Dalam setiap pilihan-pilihan tersebut kita memosisikan diri kita sebagai manusia yang bebas, merdeka dengan pilihan, dan siap sedia menanggung apapun risiko yang hendak dihadapi.

Belakangan ini aku sering memikirkan pilihan yang kutuju serta konsekuensi yang harus dihadapin. Aku berpikir bahwa terkadang kita berhadapan dengan pilihan yang terbatas, dan tiba-tiba harus memberanikan diri untuk mengambil pilihan terbatas itu. Dalam situasi ini, kita menafsir sebuah realitas, lalu merumuskan apa yang terbaik, lalu mengucap lafal 'bismillah' dan menjalani semua pilihan itu. Semuanya membawa konsekuensi yang mau tak mau harus dipikul.

Memang, semuanya tidak mudah. Tapi terkadang kita membutuhkan saat untuk beradaptasi dan menyesuaikan seluruh indera kita pada satu situasi --yang boleh jadi-- membuat kita tidak nyaman. Ibarat penyelam, kita butuh proses aklimatisasi sebelum terjun ke laut lepas. Semangat bertahan itu dipantik oleh keinginan untuk melanjutkan hidup kita hari ini dan esok. Sebuah keputusan mesti diambil untuk menyelamatkan hari ini, meskipun risikonya dalah sebuah ketidaknyamanan. Tapi setidaknya kita telah menuntaskan sebuah masalah hari ini tanpa harus mengemis kiri-kanan dan mengeluh tentang beban hidup yang kian menggunung.

Posisiku adalah berada tepat di tengah situasi antara ketidaknyamanan namun sedikit demi sedikit bisa memenuhi kebutuhan hari ini. Aku menjalani semuanya dengan penuh keyakinan bahwa menyelamatkan hari ini jauh lebih penting ketimbang memelihara mimpi untuk menjadi besar, namun tanpa sadar ternyata selalu berjalan di tempat. Inilah pilihanku. Aku memutuskan apa yang terbaik hari ini sembari mengintip saat yang tepat untuk lepas dan mengangkasa. Semoga Tuhan akan menumbuhkan sayap untuk terbang jauh dan merdeka.(*)

Hidup Tanpa Fesbuk

SEORANG kawan di Respect telah menjadikan diriku sebagai bahan lelucon di fesbuk. Niatnya memang cuma bercanda. Tapi terasa sebagai olok-olok atas pilihan hidup yang sedang kujalani. Mulanya aku menganggapnya biasa saja. Tapi setelah orang-orang terdekat ikut menertawakan, lama-lama mulai terasa janggal. Mungkin ada baiknya untuk sementara aku undur diri dulu dari fesbuk. Di tempat itu diriku mulai jadi bahan olok-olok, sesuatu yang mulai terasa tidak nyaman. Padahal aku sedang menikmati bulan madu dengan fesbuk. Tapi tak apa. Sesekali aku harus belajar hidup tanpa fesbuk.(*)

Happy Ramadhan



Semoga kedamaian terus hinggap di bumi kita
Semoga kupu-kupu harapan memenuhi batin kita
Semoga kita sanggup bertasbih bersama semesta


Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Nikmatnya Nikah Bugis

“Saya terima nikahnya Dwiagustriani
dengan mas kawin sebidang tanah dan seprangkat alat shalat,
tunai karena Allah Ta’ala..”


KALIMAT ini saya ucapkan saat hari pernikahan, tanggal 31 Juli lalu. Kalimat itu demikian sederhana dan singkat. Saya mengucapkan kalimat ini di saat semua orang memandang lurus. Tak ada petir dan guntur di langit yang bersahutan. Orang-orang spontan berteriak “Sah.” Saya memandang sekeliling. Sebuah ikrar telah dilepaskan ke udara. Sebuah janji telah ditunaikan dan resmilah saya menyandang status sebagai seorang suami. Semua orang lalu berdoa bersama demi keutuhan sebuah keluarga baru, agar konstruksinya tak lekang ditelan zaman.

saat ijab kabul

Usai berdoa, penghulu memberikan nasihat perkawinan. Saya sempat merinding membayangkan betapa besarnya amanah yang sedang saya pikul. Setelah itu ia mempersilahkan saya untuk segera menemui calon istri. Dalam pekawinan adat Bugis ini, seorang istri disembunyikan dalam satu kamar. Suami harus mencarinya di manapun ia berada. Tiba-tiba, seorang bapak berusia tua menggenggam tangan saya. Ia lalu mengantar ke sebuah kamar yang tertutup. Setelah mengetuk sesaat dan mengucapkan salam, ia lalu membuka kamar itu. Dari dalam kamar, ada sahutan, namun pintu tetap tertutup.

Bapak itu lalu membuka dengan paksa, sementara di dalam juga ada gerakan untuk tetap menutup pintu. Saya ingat pernikahan ala Betawi di mana ada atraksi silat antar keluarga. Tapi ini adalah pernikahan Bugis. Tak ada silat, hanya aksi saling dorong pintu kamar. Semua orang bersorak hingga bapak itu berhasil membukanya. Ia lalu melemparkan uang receh kepada penjaga pintu.

Saya lalu digiring masuk ke dalam kamar. Di atas ranjang utama di tengah ruangan itu, saya menyaksikan sang mempelai perempuan tengah menunggu. Cantik nian dirinya dengan busana pengantin Bugis. Saya mendekatinya lalu duduk di ranjang. Orang-orang mengambil tangan saya dan dipersatukan dengan tangannya. Saya memasangkan cincin di jemarinya, dan ia pun memasang cincin di jemari saya. Maka bersoraklah semua orang. Sebuah keluarga baru telah dikukuhkan. Dan setelah itu, saya lalu diarak menuju pelaminan. Maka dimulailah sebuah resepsi yang melelahkan.

Saya bahagia dengan semua proses ini. Perasaan saya amat lega setelah melalui semuanya. Saya merasa plong. Ternyata pernikahan sedemikian sederhana. Intisari pernikahan adalah mengucapkan sebuah ikrar dan disaksikan banyak saksi. Intisari pernikahan adalah mengucapkan “Saya terima nikahnya……” di hadapan penghulu dan para saksi. Namun untuk menuju ke gerbang pengucapan tersebut, saya harus melalui sebuah proses panjang dan amat melelahkan. Betapa panjangnya proses menuju altar tersebut. Saya tidak sedang bercanda. Untuk sebuah proses yang hanya beberapa menit tersebut, saya melalui proses berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk memikirkannya.

Jauh sebelum saya menikah, saya sudah banyak mendengar keluhan tentang pernikahan Bugis. Saya juga sudah membaca banyak publikasi tentang pernikahan Bugis yang padat modal. Kenyataan ini sudah sering saya dengar dari banyak orang. Bahkan pada tahun 2000, pernah pula saya gabung dengan sebuah tim riset yang melihat sejauh mana pernikahan pada peta sosial orang Bugis, konsep merantau, kerusakan ekologis, hingga angka kematian ibu dan bayi yang tinggi. Sejauh itukah?

Marilah kita urai satu per satu. Semua orang sudah paham bahwa pernikahan Bugis selalu menelan biaya besar dan ditanggung keluarga pria. Anda jangan mengira biayanya hanya satu atau dua juta rupiah. Biayanya bisa sampai puluhan juta untuk sebuah pernikahan yang standar alias biasa-biasa saja. Jika anda ingin yang lebih mewah, maka siap-siaplah merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah. Biaya mahal ini dikeluarkan untuk uang naik (panai’), uang belanja, mahar, serta menggelar resepsi megah.

cantik khan?

Bagi orang Bugis, sebuah pernikahan bukan sekedar mempertemukan hubungan dua insan dalam satu mahligai. Sebuah pernikahan adalah arena yang mempertemukan dua keluarga besar dengan segala identitas serta status sosial. Inilah yang menyebabkan prosesnya menjadi rumit. Bayangkan, sebuah keputusan hendak dibuat dan harus melibatkan demikian banyak orang. Pastilah akan memakan waktu panjang sebab masing-masing ingin mempertegas eksistensinya.

Bagi orang Bugis, pernikahan adalah sebuah arena untuk menampilkan identitas sosial dan melestarikan garis silsilah serta posisi di tengah masyarakat. Memang, kita bisa mengatakan bahwa ini adalah warisan sistem feodal pada masa silam, namun jejak-jejaknya masih bisa ditemukan pada masa kini, khususnya pada momentum pernikahan. Jika anda hendak menikahi perempuan berdarah bangsawan (yang ditandai gelar Andi di depan namanya), maka perkirakan sendiri berapa biaya yang hendak disiapkan. Semakin mahal biaya pernikahan, maka semakin tinggi pula citra diri yang dipancarkan seseorang di masyarakat. Demi pernikahan mahal itu, seorang pria akan mengeluarkan segala daya dan sumberdaya yang dimilikinya demi mempertegas status sosialnya.

Banyak pria yang memilih merantau ke Kalimantan atau ke Indonesia timur demi meraup berlian dan menggelar resepsi nikah. Pernah seorang peneliti mengamati data perambahan hutan di Kalimantan, ia terkejut dengan fakta bahwa pelakunya banyak berasal dari etnis Bugis. Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata motif utama perambahan hutan tersebut adalah demi mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dan digunakan untuk menggelar pernikahan di kampungnya sendiri.

Di satu sisi pernikahan itu jelas sangat memberatkan, apalagi kalau dilihat dari sisi migrasi dan kerusakan ekologis. Namun pada sisi lain, pernikahan itu justru meningkatkan etos kerja dan hasrat kompetisi bagi orang Bugis sendiri. Saya teringat pidato mantan Wapres HM Jusuf Kalla saat berada di Papua. Katanya, etos kerja orang Bugis sangat tinggi karena punya banyak keinginan-keinginan, termasuk keinginan menikah di kampungnya sendiri. “Mengapa orang Bugis rajin bekerja? Karena mereka punya banyak keinginan-keinginan. Mereka ingin menikah dengan panai’ (uang naik) yang tinggi. Setelah itu mereka ingin punya rumah. Setelah itu mereka mau naik haji. Kalau sudah haji, mereka ingin kawin lagi. Maka prosesnya kembali dari awal,” kata Jusuf Kalla.

Soal biaya mahal ini sudah banyak dipermasalahkan. Apalagi, Islam –sebagai agama yang dianut mayoritas orang Bugis—justru memudahkan smeua proses pernikahan. Tapi di masyarakat Bugis, aspek sosial masih lebih dominan ketimbang aspek syariat sebagaimana saya sebutkan di atas.

Belajar dari Pengalaman

Saya memasuki gerbang pernikahan dengan membawa semua asumsi serta hasil dialog dengan banyak orang. Pengalaman saya menunjukkan bahwa ada banyak sisi-sisi lain yang saya temukan dan jarang dibahasakan dalam berbagai publikasi. Selama ini para akademisi hanya memperdebatkan mahalnya biaya pernikahan. Mereka justru tidak melihat sisi-sisi lain yang sesungguhnya penting dan menunjukkan bagaimana resistensi terhadap tradisi itu justru tumbuh secara perlahan di masyarakat.

saat di pelaminan

Di masyarakat, biaya mahal itu sering menjadi sorotan. Akan tetapi terdapat begitu banyak jalan keluar sebagai mekanisme dalam kebudayaan demi menyiasati hal tersebut. Ini menunjukkan bagaimana dinamika serta pergeseran tradisi sekaligus resistensi kultural atas tradisi yang terlanjur kuat mengakar. Saya sering mendengar kisah bagaimana sebuah keluarga menyebut biaya nikah hingga puluhan juta rupiah, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Strategi ini ditempuh demi tetap menjaga citra di satu sisi, dan di sisi lain, tidak hendak terbebani dnegan biaya mahal tersebut. Inilah yang saya sebut dengan kata resistensi atas tradisi.

Pengalaman saya juga menunjukkan pentingnya posisi seorang negosiator. Saat dua keluarga bertemu dan merencanakan pernikahan, maka masing-masing akan menunjuk seorang negosiator yang bertugas menjadi utusan keluarga dan mendialogkan berbagai kepentingan atas nama keluarga. Seorang negosiator juga menjadi air sejuk yang mendinginkan situasi, dalam artian mencarikan jalan keluar demi memutuskan sesuatu. Keputusan tentang semahal apapun biaya pernikahan juga lahir dari proses negosiasi antara keluarga yang dimediasi oleh para negosiator. Jika seorang negosiator lihai, maka biaya pernikahan bisa ditekan, dan saat bersamaan, gengsi sebuah keluarga bisa pula dipertahankan.

So, apakah anda masih khawatir untuk nikah dengan orang Bugis? Saran saya, pilihlah negosiator yang hebat dan kuat menegosiasikan kepentingan Anda. Thanks.

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...