Nikmatnya Nikah Bugis

“Saya terima nikahnya Dwiagustriani
dengan mas kawin sebidang tanah dan seprangkat alat shalat,
tunai karena Allah Ta’ala..”


KALIMAT ini saya ucapkan saat hari pernikahan, tanggal 31 Juli lalu. Kalimat itu demikian sederhana dan singkat. Saya mengucapkan kalimat ini di saat semua orang memandang lurus. Tak ada petir dan guntur di langit yang bersahutan. Orang-orang spontan berteriak “Sah.” Saya memandang sekeliling. Sebuah ikrar telah dilepaskan ke udara. Sebuah janji telah ditunaikan dan resmilah saya menyandang status sebagai seorang suami. Semua orang lalu berdoa bersama demi keutuhan sebuah keluarga baru, agar konstruksinya tak lekang ditelan zaman.

saat ijab kabul

Usai berdoa, penghulu memberikan nasihat perkawinan. Saya sempat merinding membayangkan betapa besarnya amanah yang sedang saya pikul. Setelah itu ia mempersilahkan saya untuk segera menemui calon istri. Dalam pekawinan adat Bugis ini, seorang istri disembunyikan dalam satu kamar. Suami harus mencarinya di manapun ia berada. Tiba-tiba, seorang bapak berusia tua menggenggam tangan saya. Ia lalu mengantar ke sebuah kamar yang tertutup. Setelah mengetuk sesaat dan mengucapkan salam, ia lalu membuka kamar itu. Dari dalam kamar, ada sahutan, namun pintu tetap tertutup.

Bapak itu lalu membuka dengan paksa, sementara di dalam juga ada gerakan untuk tetap menutup pintu. Saya ingat pernikahan ala Betawi di mana ada atraksi silat antar keluarga. Tapi ini adalah pernikahan Bugis. Tak ada silat, hanya aksi saling dorong pintu kamar. Semua orang bersorak hingga bapak itu berhasil membukanya. Ia lalu melemparkan uang receh kepada penjaga pintu.

Saya lalu digiring masuk ke dalam kamar. Di atas ranjang utama di tengah ruangan itu, saya menyaksikan sang mempelai perempuan tengah menunggu. Cantik nian dirinya dengan busana pengantin Bugis. Saya mendekatinya lalu duduk di ranjang. Orang-orang mengambil tangan saya dan dipersatukan dengan tangannya. Saya memasangkan cincin di jemarinya, dan ia pun memasang cincin di jemari saya. Maka bersoraklah semua orang. Sebuah keluarga baru telah dikukuhkan. Dan setelah itu, saya lalu diarak menuju pelaminan. Maka dimulailah sebuah resepsi yang melelahkan.

Saya bahagia dengan semua proses ini. Perasaan saya amat lega setelah melalui semuanya. Saya merasa plong. Ternyata pernikahan sedemikian sederhana. Intisari pernikahan adalah mengucapkan sebuah ikrar dan disaksikan banyak saksi. Intisari pernikahan adalah mengucapkan “Saya terima nikahnya……” di hadapan penghulu dan para saksi. Namun untuk menuju ke gerbang pengucapan tersebut, saya harus melalui sebuah proses panjang dan amat melelahkan. Betapa panjangnya proses menuju altar tersebut. Saya tidak sedang bercanda. Untuk sebuah proses yang hanya beberapa menit tersebut, saya melalui proses berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk memikirkannya.

Jauh sebelum saya menikah, saya sudah banyak mendengar keluhan tentang pernikahan Bugis. Saya juga sudah membaca banyak publikasi tentang pernikahan Bugis yang padat modal. Kenyataan ini sudah sering saya dengar dari banyak orang. Bahkan pada tahun 2000, pernah pula saya gabung dengan sebuah tim riset yang melihat sejauh mana pernikahan pada peta sosial orang Bugis, konsep merantau, kerusakan ekologis, hingga angka kematian ibu dan bayi yang tinggi. Sejauh itukah?

Marilah kita urai satu per satu. Semua orang sudah paham bahwa pernikahan Bugis selalu menelan biaya besar dan ditanggung keluarga pria. Anda jangan mengira biayanya hanya satu atau dua juta rupiah. Biayanya bisa sampai puluhan juta untuk sebuah pernikahan yang standar alias biasa-biasa saja. Jika anda ingin yang lebih mewah, maka siap-siaplah merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah. Biaya mahal ini dikeluarkan untuk uang naik (panai’), uang belanja, mahar, serta menggelar resepsi megah.

cantik khan?

Bagi orang Bugis, sebuah pernikahan bukan sekedar mempertemukan hubungan dua insan dalam satu mahligai. Sebuah pernikahan adalah arena yang mempertemukan dua keluarga besar dengan segala identitas serta status sosial. Inilah yang menyebabkan prosesnya menjadi rumit. Bayangkan, sebuah keputusan hendak dibuat dan harus melibatkan demikian banyak orang. Pastilah akan memakan waktu panjang sebab masing-masing ingin mempertegas eksistensinya.

Bagi orang Bugis, pernikahan adalah sebuah arena untuk menampilkan identitas sosial dan melestarikan garis silsilah serta posisi di tengah masyarakat. Memang, kita bisa mengatakan bahwa ini adalah warisan sistem feodal pada masa silam, namun jejak-jejaknya masih bisa ditemukan pada masa kini, khususnya pada momentum pernikahan. Jika anda hendak menikahi perempuan berdarah bangsawan (yang ditandai gelar Andi di depan namanya), maka perkirakan sendiri berapa biaya yang hendak disiapkan. Semakin mahal biaya pernikahan, maka semakin tinggi pula citra diri yang dipancarkan seseorang di masyarakat. Demi pernikahan mahal itu, seorang pria akan mengeluarkan segala daya dan sumberdaya yang dimilikinya demi mempertegas status sosialnya.

Banyak pria yang memilih merantau ke Kalimantan atau ke Indonesia timur demi meraup berlian dan menggelar resepsi nikah. Pernah seorang peneliti mengamati data perambahan hutan di Kalimantan, ia terkejut dengan fakta bahwa pelakunya banyak berasal dari etnis Bugis. Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata motif utama perambahan hutan tersebut adalah demi mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dan digunakan untuk menggelar pernikahan di kampungnya sendiri.

Di satu sisi pernikahan itu jelas sangat memberatkan, apalagi kalau dilihat dari sisi migrasi dan kerusakan ekologis. Namun pada sisi lain, pernikahan itu justru meningkatkan etos kerja dan hasrat kompetisi bagi orang Bugis sendiri. Saya teringat pidato mantan Wapres HM Jusuf Kalla saat berada di Papua. Katanya, etos kerja orang Bugis sangat tinggi karena punya banyak keinginan-keinginan, termasuk keinginan menikah di kampungnya sendiri. “Mengapa orang Bugis rajin bekerja? Karena mereka punya banyak keinginan-keinginan. Mereka ingin menikah dengan panai’ (uang naik) yang tinggi. Setelah itu mereka ingin punya rumah. Setelah itu mereka mau naik haji. Kalau sudah haji, mereka ingin kawin lagi. Maka prosesnya kembali dari awal,” kata Jusuf Kalla.

Soal biaya mahal ini sudah banyak dipermasalahkan. Apalagi, Islam –sebagai agama yang dianut mayoritas orang Bugis—justru memudahkan smeua proses pernikahan. Tapi di masyarakat Bugis, aspek sosial masih lebih dominan ketimbang aspek syariat sebagaimana saya sebutkan di atas.

Belajar dari Pengalaman

Saya memasuki gerbang pernikahan dengan membawa semua asumsi serta hasil dialog dengan banyak orang. Pengalaman saya menunjukkan bahwa ada banyak sisi-sisi lain yang saya temukan dan jarang dibahasakan dalam berbagai publikasi. Selama ini para akademisi hanya memperdebatkan mahalnya biaya pernikahan. Mereka justru tidak melihat sisi-sisi lain yang sesungguhnya penting dan menunjukkan bagaimana resistensi terhadap tradisi itu justru tumbuh secara perlahan di masyarakat.

saat di pelaminan

Di masyarakat, biaya mahal itu sering menjadi sorotan. Akan tetapi terdapat begitu banyak jalan keluar sebagai mekanisme dalam kebudayaan demi menyiasati hal tersebut. Ini menunjukkan bagaimana dinamika serta pergeseran tradisi sekaligus resistensi kultural atas tradisi yang terlanjur kuat mengakar. Saya sering mendengar kisah bagaimana sebuah keluarga menyebut biaya nikah hingga puluhan juta rupiah, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Strategi ini ditempuh demi tetap menjaga citra di satu sisi, dan di sisi lain, tidak hendak terbebani dnegan biaya mahal tersebut. Inilah yang saya sebut dengan kata resistensi atas tradisi.

Pengalaman saya juga menunjukkan pentingnya posisi seorang negosiator. Saat dua keluarga bertemu dan merencanakan pernikahan, maka masing-masing akan menunjuk seorang negosiator yang bertugas menjadi utusan keluarga dan mendialogkan berbagai kepentingan atas nama keluarga. Seorang negosiator juga menjadi air sejuk yang mendinginkan situasi, dalam artian mencarikan jalan keluar demi memutuskan sesuatu. Keputusan tentang semahal apapun biaya pernikahan juga lahir dari proses negosiasi antara keluarga yang dimediasi oleh para negosiator. Jika seorang negosiator lihai, maka biaya pernikahan bisa ditekan, dan saat bersamaan, gengsi sebuah keluarga bisa pula dipertahankan.

So, apakah anda masih khawatir untuk nikah dengan orang Bugis? Saran saya, pilihlah negosiator yang hebat dan kuat menegosiasikan kepentingan Anda. Thanks.

5 comments:

  1. Anonymous1:06 PM

    Saya juga memiliki impian menikah dengan wanita bugis,,

    ReplyDelete
  2. Terima Kasih atas penjelasannya :D, saya akan menyebarkan link-nya ke orang-orang.


    Lihat! bukankah gadis bugis itu manis-manis? :))*promosi diri*

    Tabik... :D

    ReplyDelete
  3. Kebetulan saya lagi di Sulawesi, dan kebanyakan orang sini juga bercerita bahwa "harga" orang Sulawesi mahal mahal, dan mumpung sekarang lagi di Sulawesi saya ingin memahaminya lebih jauh.
    Trimakasih, tulisanya bermanfaat.

    ReplyDelete
  4. nice info gan, berguna sekali infonya

    souvenir murah

    ReplyDelete
  5. Anonymous3:41 AM

    Lol hahaha

    ReplyDelete

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...