Ben Anderson dan Nasionalisme Bayangan

MESTINYA tadi sore saya ke kantor Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama (NU) untuk ikut diskusi dengan seorang Indonesianis bernama Benedict Anderson. Tapi tiba-tiba batal karena sesuatu hal. Tiba-tiba saja saya ingin tetap di rumah dan menyelesaikan sesuatu. Padahal, seorang kawan telah menyiapkan tempat di sana, serta memastikan bahwa saya bisa berbincang secara privat dengan Benedict Anderson. Mudah-mudahan masih ada kesempatan lain.

Setahu saya, Ben (demikian ia disapa) adalah salah satu ilmuwan asal Cornell University yang mendunia berkat kajian tentang Indonesia. Ia menulis sejarah dan antropologi dalam berbagai jurnal internasional. Salah satu karyanya yang paling banyak dikutip adalah penjelasan tentang nasionalisme dalam buku Imagined Communities. Ia menguraikan tentang nasionalisme sebagai sesuatu yang dibayang-bayangkan, yang kemudian menjelma menjadi satu rasa bersama.

Seperti apakah itu? Kata Ben, nasionalisme adalah sesuatu yang dibayangkan secara sadar oleh sebuah komunitas. Nasionalisme semacam konsep yang ada di benak kita, yang terbentuk oleh pengalaman sejarah serta penafsiran tentang titik-titik kesamaan yang menautkan kita dengan orang lain. Nasionalisme Indonesia mulai bertumbuh ketika masing-masing suku bangsa menemukan kesamaan pada diri mereka dengan sesamanya. Rasa kesamaan itu semakin kuat tatkala Belanda hadir (sebagai bangsa dengan fisik berbeda) yang kemudian melakukan penindasan. Di titik ini, nasionalisme adalah sesuatu yang sifatnya politik sebab dikonstruksi secara sadar sebagai mekanisme untuk melakukan perlawanan.

Nasionalisme adalah rasa senasib. Meskipun terdapat kesamaan secara fisik dan masih sekeluarga dalam hal suku bangsa, namun ketika nasib politik berbeda, maka nasionalisme tidak akan bertunas. Kita bisa melihat kenyataan ini pada kasus hubungan indonesia dan Malaysia. kedua negara ini berasal dari suku bangsa yang sama, namun memilih jalan politik yang berbeda sebab pengalaman sejarahnya juga beda. Malaysia pernah dijajah Inggris, sedangkan Indonesia pernah dijajah belanda. Malaysia mendapat kemerdekaan secara gratis, sementara Indonesia dengan penuh berdarah-darah, dan pertempuran yang berkobar-kobar selama ratusan.

Andaikan bertemu Ben, saya ingin bertanya bagaimanakah tafsiran nasionalismenya jika digunakan untuk membedah kegandrungan kita pafda tim nasional sepakbola? Ini hanya secuil kenyataan. Bagaimanakah ia akan menjelaskan pohon teori yang ditanamnya sehubungan dengan perkembangan aktual di mana pembicaraan tentang suku bangsa kian tidak penting. Apakah teori itu masih kokoh untuk menjelaskan banyak hal?

Sayang sekali, saya gagal bertemu Ben. Padahal saya juga ingin mengemukakan rumusan tentang nasionalisme. Nasionalisme adalah rasa yang menggenang dalam benak ketika melihat bendera merah putih dinaikkan ke atas, atau mendengarkan lagu kebangsaan dinyanyikan di tengah stadion dan semua orang berdiri memberi penghormatan. Sayang sekali karena saya gagal menyampaikan defenisi ini. Saya hanya mencatat defenisi dan kegelisahan itu di sini. Entah kapan menanyakannya secara langsung.(*)



Jakarta, 8 Desember 2010

0 komentar:

Posting Komentar