Di Sana Dianggap Badai, Di Sini Dirindukan

salju yang serupa badai di Eropa

EROPA sedang dilanda badai salju. Media memberitakannya sebagai sebuah bencana. Orang Eropa benci salju. Mereka menyebutnya cuaca buruk, sehingga bagi mereka yang berpunya, lebih memilih meninggalkan negeri itu untuk piknik atau wisata di negeri beriklim tropis. Tapi di sini, di negeri yang tidak mengenal musim salju ini, salju seperti fantasi indah. Salju seperti mimpi atau khayalan. Di negeri yang penuh sinar matahari setiap tahun ini, salju adalah sesuatu yang dirindukan dan diimpikan. Banyak orang yang mengkhayalkan ada salju turun dan memenuhi langit.

Kemarin, saya singgah jalan-jalan ke Plaza Atrium di Senen. Di hall atau ruang terbuka di tengah-tengah mall, berdiri sebuah pohon raksasa yang menjulang tinggi. Di tepi pohon itu dibangun wahana bermain yang dasarnya dipenuhi benda mirip pasir putih. Sepintas mirip salju. Tema wahana ini adalah natal sebab saya melihat banyak boneka Santa Klaus berjaket merah di sudut. Di atas salju buatan itu, banyak anak-anak bermain-main sambil melempar-lempar serbuk putih itu. Ada beberapa permainan, termasuk papan luncur yang di bawahnya adalah "salju". Anak-anak dan orangtuanya sangat menggemari wahana ini.

Mungkin ini adalah paradoks. Mungkin juga kita tidak sedang mensyukuri alam indah terbentang bagai zamrud, hutan-hutan hijau, serta matahari yang tak henti menyinari. Kita merindukan sesuatu yang jauh, yang oleh warga setempat dianggap sebagai sebuah bencana. Kita merindukan sebuah bencana di tempat lain, dan di saat bersamaan mengabaikan keindahan alam dan karunia sinar matahari yang tak lekang. 

Tiba-tiba saja saya merindukan alam Pulau Buton yang dipayungi langit biru dan awan putih. Saya rindu dengan suasana ketika duduk di tepi pantai berpasir putih dan menyaksikan ombak-ombak biru bergulung, serta lumba-lumba yang riang di kejauhan sana....

1 comment:

  1. "Tiba-tiba saja saya merindukan alam Pulau Buton yang dipayungi langit biru dan awan putih. Saya rindu dengan suasana ketika duduk di tepi pantai berpasir putih dan menyaksikan ombak-ombak biru bergulung, serta lumba-lumba yang riang di kejauhan sana...."

    Buton memang sebuah negeri yang indah. Yang mungkin takkan pernah bisa untuk ditinggalkan, apalagi dilupakan.

    Mas, salam kenal...

    ReplyDelete

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...