Membaca Terjemahan The Wealth of Nations




Menjadi peresensi itu nikmat. Anda tidak hanya bisa baca buku baru, tetapi juga bisa berbagi ilmu dengan orang lain. Anda punya peluang dapat banyak kawan sesama pembaca buku. Lebih nikmat lagi ketika bisa mendapatkan buku gratis.

Kemarin, Penerbit Globalindo, yang pengelolanya keren-keren mengirimkan saya buku terjemahan The Wealth of Nations yang ditulis Adam Smith. Ini buku babon dalam ilmu ekonomi. Penulisnya adalah bapak ilmu ekonomi. Dia sepenting Isaac Newton dalam ilmu fisika, ataupun Charles Darwin di ranah biologi.

Saya memang sudah berniat membelinya. Tapi saya ragu-ragu karena saya pikir rumit. Selain itu, kantong sedang kering gara-gara lama menganggur.

Penerbit mengirimkan buku itu secara gratis. Katanya, saya tak perlu mengeluarkan biaya apa pun. Saya hanya perlu memberi alamat. Aseekk...

Beberapa bulan ini saya sering dikirimi buku gratis. Saya anggap ini adalah silaturahmi yang indah antara penulis dan pembaca buku. Sejujurnya, saya ingin menolak setiap kali dikirimi buku gratis. Saya tahu betul betapa susahnya menulis sesuatu, sementara nilai jualnya tak sebanding dengan kerja kerasnya.

Sudah sepantasnya jika apresiasi kepada seorang penulis diberikan dengan cara membeli karyanya, bukan menerima hadiah gratis. Tapi, di era medsos kayak sekarang, apresiasi bisa diberikan dengan cara lain. Di antaranya adalah menulis resensi, yang kemudian disebar di ruang maya.

Buku karya Adam Smith ini masuk daftar buku yang ingin saya baca. Semalam saya membacanya sekilas. Saya pikir penuh dengan analisis ala ekonomi makro. Ternyata dia membahas hal-hal sederhana yang filosofis. Dia bercerita dengan kalimat yang berbunga-bunga. Dia mendiskusikan produk domestik bruto, pasar, manfaat perdagangan, hingga kemakmuran.

Saya salut dengan penerjemah buku setebal lebih 1,000 halaman ini yakni anak muda, kader HMI, bernama Haz Algebra. Sebelumnya dia sudah menerjemahkan bukunya Yuah Noval Harari hingga akademisi Steven Pinker.

Saya yakin, menerjemahkan buku setebal 1.000 halaman butuh perjuangan ekstra. Tapi semua lelah itu terbayar saat melihat buku sepenting ini akhirnya terbit, beredar dan menjangkau khalayak luas, dibaca banyak orang, diterapkan pengambil kebijakan.

Jika bertemu dengannya, saya ingin menjabat tangannya sembari berkata: “Terima kasih telah menerjemahkan buku penting yang inspiratif ini. Terima kasih telah membawa khazanah pemikiran dunia menjadi sesuatu yang enak dibaca dan perlu.”

Terima kasih atas kerja kerasnya yang amat bermakna bagi tumbuhnya tunas pengetahuan.



0 komentar:

Post a Comment