Kisah Rapunzel dan Punahnya Dongeng Nusantara

adegan film Rapunzel

PUTRI itu disekap di sebuah menara. Seorang penyihir menculiknya dari istana, kemudian menyekapnya dalam sebuah menara yang dikunjunginya hanya saat tertentu. Penyihir jahat itu menginginkan tuah rambut sang putri. Rambut yang panjang itu bisa bersinar dan memberikan kekuatan sihir sehingga sang penyihir jahat bisa tetap awet muda. Namun apakah sang putri punya pilihan untuk lepas?

Selama 18 tahun, Rapunzel, nama putri itu, tersekap dalam kesunyian. Ia mengisi hari-harinya dengan membaca, menulis, dan melukis. Ia memang tinggal di sebuah menara yang sunyi. Namun, pikirannya berkelana ke mana-mana. Dan setiap malam ulang tahunnya, ia akan menyaksikan lentera-lentera cahaya yang memenuhi angkasa di kota kerajaan yang jauh di sana.

Ia memang telah tumbuh sebagai gadis muda yang rupawan. Ia mengisi hari-harinya dengan melukis, dan menganyam mimpinya tentang kerajaan yang jauh di sana, tentang lentera cahaya yang memenuhi langit pada malam tertentu, serta tentang dunia luar yang penuh petualangan. Mimpi untuk melihat dunia luar itu demikian menggebu-gebu hingga menguatkan karakternya, menghadirkan setetes keberanian, serta semangat untuk mencoba petualangan baru dan bertemu manusia lain. Dan lentera cahaya itu menjadi pemandunya untuk melihat dunia luar. Petualangan Rapunzel berujung pada penemuan diri putri yang pernah diculik. Ia menemukan demikian banyak hal berharga dalam petulangannya menerabas belukar, menggapai lentera cahaya di ujung jauh di sana.


Kemarin, saya menyaksikan kisah tentang Rapuzel di bioskop Metropole Jakarta. Film animasi terbaru yang dibuat Disney ini berpusar pada tema besar bahwa motivasi dan hasrat yang kuat akan sanggup menjebol apapun. Ketika seseorang memiliki impian, maka impian itu akan memiliki kaki-kaki untuk bergerak. Tak masalah sebesar apapun impianmu, bahkan setinggi bintang di langit sekalipun. Sebab impian itu akan serupa cahaya kecil di kegelapan yang menggerakkan tubuhmu untuk mengikuti arahnya. Impian itu adalah kompas pemandu, menunjukkan arah, dan memberitahu dirimu kalau-kalau sudah terlampau jauh menyimpang dari garis edar impian. Sebagaimana tuturan Paolo Coelho, “Bermimpilah setinggi langit, sebab Tuhan akan memeluk semua impianmu.”

Film ini memang tentang dongeng seorang putri. Kisahnya sangat inspiratif sebab mengajarkan agar setiap orang –seperti apapun orang tersebut-- tetap memiliki impian. Namun, tidak semua orang bersedia berpayah-payah untuk menggapai impian tersebut. Banyak orang yang terbentur dengan karang-karang kehidupan, kemudian menangisi hidup yang gagal. Banyak orang yang hanya bisa pasrah diseret-seret samudera persoalan, tanpa memiliki kapal dan arah yang tegas hendak dituju. Film ini mengajarkan bahwa ketika kita memiliki impian, kita serupa menemukan lentera cahaya yang memastikan arah, mengarahkan agar tidak tersesat, serta menemukan jalan terang sesungguhnya.

Film ini memang diangkat dari kumpulan dongeng Childrens and Household Tales yang disusun Grimm Brothers pada tahun 1812. Kemudian kisah ini muncul dalam beragam versi, namun kesemuanya tetap dalam bingkai tema yang sama, tentang seorang putri berambut panjang yang disekap di menara oleh seorang penyihir yang sesekali menengok putrid itu dengan cara memanjat melalui rambut panjang itu. Salah satu kalimat yang popular dan hingga kini sering ditampilkan dalam beragam versi adalah kalimat, “Rapunzel.. Rapuzel.. Let down your hair.”


Menurut Wikipedia, Grimm mengadaptasi kisah ini dari dongeng Persia atau Iran kuno yang pernah diterbitkan di Peranis pada tahun 1698. Di Iran, kisah ini disebut Rudaba, yang dimuat dalam koleksi dongeng Shahnameh, yang ditulis Ferdwsi sekitar tahun 1000. Bayangkan, betapa lamanya dongeng ini bertahan. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa isahini diambil dari legenda Saint Barbara, yang pernah dikunci dalam sebuah menara oleh ayahnya sendiri. Entah mana yang benar, yang jelas, kisah ini sangat popular di Jerman. Itu bisa dilihat dari nama penyihir “Mother Gothel” adalah nama yang cukup popular di Jerman, dan menggambarkan seorang ibu yang overprotective pada anaknya sehingga menjadi negatif.

Nasib Dongeng Nusantara

Bagi saya, kelebihan film ini karena diangkat dari khasanah dongeng yang kemudian dikemas sedemikian rupa menjadi lebih menyegarkan dan mengasyikkan untuk ditonton. Kelebihan perusahaan film sekelas Disney adalah mereka punya kemampuan untuk mengangkat khasanah dongeng menjadi kisah yang mengharukan. Meskipun Amerika Serikat (AS) disebut sebagai negeri yang tak banyak menyimpan dongng, sebab penduduknya adalah imigran Inggris pada masa silam, namun mereka bisa menjelajah dunia dan mengolah sejumlah dongeng tersebut dalam kemasan ala Amerika, kemudian melempar ulang ke pasaran global menjadi tontontan yang bernilai jutaan dollar.

Sebelum kisah Rapunzel, Disney sudah lebih dahulu mengangkat kisah Putri Salju dan Tujuh Kurcaci (Snow White and The Seven Dwarf), Putri Tidur (Sleeping Beauty), Cinderella, Putri Duyung (Little Mermaid), Si Cantik dan Si Buruk Rupa (Beauty and The Beast), dan banyak lagi. Semua kisah tersebut adal dongeng yang awalnya menjadi pengantar tidur di sebuah negara, yang kemudian dikemas ulang, diberi sentuhan music, dan laksana sihir, kisah itu langsung menjadi kisah yang tampil dalam sinema dan menghasilkan pundi-pundi bagi pembuatnya.

Seperti apakah kekuatan dongeng? Dalam satu wawancara dengan Newsweek, JK Rowling –penulis Harry Potter—pernah ditanya, mengapa ia bisa menghasilkan karya yang demikian brilian. Rowling menjawab, “Saya beruntung bisa lahir dan besar di Inggris, sebuah negeri yang punya ribuan dongeng. Semua dongeng itu lalu menjadi kekuatan yang mempengaruhi imajinasi hingga saya bisa melahirkan karya seperti Harry Potter.”

Saya sepakat dengan Rowling. Bahkan, saat menyaksikan kisah Rapunzel ini, saya tiba-tiba saja tergelitik dengan pertanyaan bagaimana nasib dongeng kita? Pernahkah kita berpikir bahwa kitapun memiliki khasanah kebudayaan budaya yang sedemikian kaya sebagaimana tercermin dari dongeng-dongeng tersebut? Tiba-tiba saja saya mengkhawatirkan punahnya dongeng tersebut di tengah gencarnya penetrasi dongeng Amerika lewat Disney, dongeng Jepang dalam komik, atau dongeng Korea yang masuk lewat drama seri Korea.

Snow White
Jangan-jangan kita adalah generasi yang sudah tidak peduli dengan dongeng sebagai warisan budaya kita sendiri. Saya pernah iseng mencatat, jika negeri ini punya ribuan suku bangsa, tentunya negeri ini juga memiliki jutaan bahkan miliaran dongeng-dongeng sebagaimana yang tercermin dari suku bangsa tersebut. Semua dongeng tersebut adalah kisah-kisah orisinil yang dihasilkan bangsa kita sejak masa silam, dan merupakan khasanah kekayaan yang tak ternilai. Dongeng tersebut telah mengasah imajinasi, menentukan watak, dan mengasah kepekaan seseorang pada dunia sekitarnya. Dongeng menyimpan kekuatan dalam kata serta nilai-nilai moral yang terselip dalam kisah-kisah sehingga seorang anak bisa mengenali mana kebenran dan mana yang bukan.

Dongeng-dongeng tersebut abadi dalam waktu dan selama sekian lama menjadi bentuk sosialisasi atau upaya pembelajaran yang menumbuhkan karakter bagi seorang anak. Saya pernah membaca sebuah publikasi jurnal yang menyebutkan bahwa jika seorang anak terbiasa diberi dongeng sejak kecil, maka nilai-nilai seperti kepahlawanan, moralitas baik-buruk akan tumbuh dalam dirinya sehingga membersitkan keinginan untuk berbuat sesuatu yang lebih baik di masa mendatang.

Saya membayangkan ada sebuah pencatatan atas ribuan koleksi dongeng kita secara serius kemudian dikemas dalam bentuk yang menarik dan menyegarkan. Tentu saja, merawat dongeng tidak sekedar mendokumentasikannya, namun juga upaya untuk memberinya penafsiran baru, mengadaptasikannya dengan situasi zaman, sehingga dongeng tersebut bisa lebih bermakna dan memberian kekuatan bagi bangsa ini untuk melangkah maju ke depan. Saya membayangkan ada masa ketika anak negeri ini justru bisa mencibir pada Hollywood dan berkata, “Maaf, anda punya Rapunzel dan Putri Salju. Tapi saya juga punya Malin Kundang dan Sangkuriang.”




Jakarta, 4 Desember 2010
www.timurangin.blogspot.com

Comments
2 Comments

2 komentar:

sitilutfiyahazizah said...

Hm.. inilah ironisnya ya pak. beberapa waktu lalu saya buat project pkmm bareng temen, tentang dongeng ke anak2 1 sd, dan mereka bingung semua saat awal-awal saya tanya tentang si kancil, sangkuriang, dll, segitu parahnyakah?

artiatisuhesti said...

wahhhh mantap

Post a Comment

Terpopuler Bulan Ini

...

...