Perempuan VIETNAM di Sudut MANGGA BESAR


ilustrasi

“Hallo. Saya dari Vietnam. Kamu mau tidur sama saya?” 

Perempuan itu menyapa dengan suara terbata-bata. Aksennya terdengar aneh. Langkah saya terhenti. Tidak jauh dari gerbang Lokasari Plaza, di kawasan Mangga Besar, suaranya mencegat langkah saya. 

Kawasan ini sejak lama dikenal sebagai “red light district” di Jakarta. Di era Gubernur Jenderal VOC, kawasan Mangga Besar ini sudah menjadi salah satu pusat hiburan malam. Dulu, namanya Gang Mangga. Bahkan, penyakit sifilis dinamakan Sakit Mangga sebab banyak ditemukan di kawasan ini.

Kini, di era Gubernur Anies, semua jenis hiburan malam masih bisa ditemukan di sini. Mulai dari karaoke, pijat plus-plus, hingga tempat esek-esek. Penjaja cinta memenuhi banyak ruas jalan, khususnya dari gerbang Lokasari menuju plaza.

Saya tak punya niat ke kawasan ini. Namun seorang kawan mengajak bertemu di satu warung kopi yang lokasinya tak jauh dari plaza. Selain hiburan, ada banyak warung kopi di kawasan ini, yang rasanya selalu mengendap di pikiran.

Saat melintas di situ, saya tak pernah menoleh ke kiri-kanan. Tapi malam ini, saya tertarik mendengar aksen bahasa Indonesia yang terbata-bata. Saya pun menoleh. 

Dia mendekat. Saya merasakan aroma parfum yang kuat. Perempuan ini agak berisi, istilah lainnya montok. Dia tidak begitu tinggi. Rambutnya agak kemerahan. Kulitnya putih bersih di tengah redupnya lampu jalan. Riasannya cukup menor. Melihat fisik dan penampilannya, saya yakin dia bukan dari sini. Dugaan saya, dia dari Cina. Saya akui, dia cantik. Sepintas wajahnya mengingatkan saya pada Tina Toon.

“Kamu mau short time atau long time?” kembali dia menawarkan diri. Saya dengar aksennya memang seperti orang yang terbiasa menggunakan bahasa mandarin. “If you agree, we can move to that hotel,” katanya sembari menunjuk satu hotel murah yang tak jauh dari situ.

BACA: Orang Bugis, Bule Seksi, dan Senja Temaram di Gili Trawangan

Kali ini dia menggunakan bahasa Inggris. Dugaan saya, bahasa Indonesianya terbatas. Makanya, dia campur dengan bahasa Inggris. Saya tersenyum, kemudian mengeluarkan rokok kretek dari saku. Spontan, dia menyodorkan korek gas. Saya membakar rokok, kemudian menghembuskan asap kuat-kuat ke udara.

“You say you come from Vietnam?” tanyaku.
“Yes, I am,” katanya. 

Dia lalu mencari sesuatu di tas hitam yang dibawanya. Dia mengambil selembar kertas fotokopian, kemudian menyodorkan ke saya. Kertas itu kopian dari passpor asal Vietnam, tertera foto gadis ini, serta tertulis nama depannya: Nguyen. Saya percaya dia berkata benar.

“How long you have been in Jakarta?” tanya saya.

Mulailah dia bercerita. Dia datang bersama rekan-rekannya karena diajak oleh seorang mucikari di Hanoi. Mulanya dia kerja di satu hotel,  yang letaknya tidak jauh dari Jembatan Harmoni. Hotel itu mempekerjakan gadis-gadis dari Thailand, Vietnam, hingga beberapa negara barat. 

Dia memperkirakan sejak tahun 2000-an, banyak perempuan Vietnam dan Thailand yang berdatangan ke Jakarta dan beredar di banyak hiburan malam. Gaji di Indonesia terbilang tinggi. Menurutnya, 1 rupiah senilai 1,5 kali mata uang di negaranya. Jadi kalau dia dapat 1 juta, maka itu sama dengan 1,5 juta di negaranya. 

(Sepulang dari situ, saya mengecek di Google, 1 juta rupiah senilai dengan 1,6 juta dong, mata uang Vietnam).

Setelah hampir dua tahun bekerja di dekat jembatan Harmoni, dia memberanikan diri untuk keluar. Dia mengajak empat rekannya sesama Vietnam untuk mandiri. Dia tinggal di satu kos-kosan. Sembari menjajakan diri di pinggir jalan, juga menjadi mucikari bagi empat rekannya. Lokasi yang sering jadi tempat mangkalnya adalah Lokasari Plaza. Dia sudah enam bulan di situ.

Sepertinya dia cukup betah di Lokasari. Di situ memang banyak pekerja seks. Tapi masing-masing tidak saling iri. Malah mereka saling bantu dan memasarkan temannya. Anda tak cocok pada satu orang, dia akan mencarikan orang lain. Di situ, semuanya saling menjaga solidaritas.

***

Sejak kapan Jakarta kebanjiran pekerja seks dari luar?

Semuanya bermula dari surat yang ditulis Gubernur Jenderal Jan Pietersz Coen pada tahun 1623. Untuk membangun Batavia, Coen meminta agar didatangkan kapal-kapal penuh penumpang dari Belanda. Coen meyakinkan petinggi VOC kalau Batavia cocok jadi kota dagang, apalagi lahan-lahan sekitarnya sangat subur.

Dalam buku Batavia: Masyarakat Kolonial Abad 17 yang ditulis sejarawan Hendrik E Niemeijer, saran Coen tidak begitu bisa meyakinkan orang Belanda untuk berdatangan. Jumlah yang berdatangan tidak sebanyak yang diharapkan Coen. Itu pun yang datang adalah laki-laki Belanda yang kontraknya hanya tiga sampai lima tahun. Jika tak ada perempuan, bagaimana populasi kota bisa berkembang?

buku yang ditulis Hendrik E. Niemeijer

Dalam buku yang pertama terbit di Amsterdam itu, disebutkan kalau Coen menemukan cara lain. Dia meminta kapal-kapal berdatangan dari berbagai penjuru Nusantara yang membawa para budak. Pada masa itu, Batavia menjadi kota kosmopolit yang separuh penduduknya adalah para budak dari berbagai suku-bangsa. Bukan hanya orang Bali, Bugis, dan Jawa, tetapi didatangkan pula budak dari Cina.

Pada masa itu, Coen menolak seks bebas. Dia pernah menghukum anak angkatnya karena kedapatan selingkuh. Hanya saja, dia tidak bisa menemukan solusi dari begitu banyaknya pria Belanda yang membutuhkan hiburan. Demikian pula di kalangan pribumi. 

Banyak orang Belanda yang memelihara gundik dari pribumi. Sementara perempuan pribumi, banyak yang suka rela menjadi gundik ataupun nyai-nyai dengan harapan bisa mendapat jaminan penghasilan lebih baik, ketimbang jadi budak. Inilah yang menjadi cikal-bakal dari prostitusi di Batavia.

Tempat prostitusi pertama di Jakarta adalah di kawasan Macao Po, yaitu berupa rumah-rumah tingkat yang berada di depan stasiun Beos, sekarang stasiun Jakarta Kota. 

Disebut demikian karena para pekerja seks berasal dari Macao yang didatangkan oleh para germo Portugis dan Cina untuk menghibur para tentara Belanda di sekitar Binnenstadt, sekitar kota Inten di terminal angkutan umum Jakarta Kota sekarang. Tempat itu juga menjadi persinggahan orang kaya Cina untuk mencari hiburan.  

Tempat prostitusi pun berkembang. Tidak lagi hanya terkonsentrasi di satu tempat saja, misalnya kemudian berkembang tempat pelacuran kelas rendah di sebelah timur Macao Po, yakni sekitar jalan Jayakarta sekarang. Saat itu bernama Gang Mangga, kini menjadi kawasan Mangga Besar.

Kompleks Gang Mangga kemudian tersaingi oleh rumah-rumah bordil yang didirikan oleh orang Cina yang disebut soehian. Kompleks pelacuran semacam ini kemudian dengan cepat menyebar ke seluruh Jakarta.

BACA: Penolakan Seks yang Memicu Revolusi

Setelah itu muncul kompleks pelacuran serupa di Gang Hauber (Petojo) dan Kaligot (Sawah Besar). Hingga awal tahun 1970an Gang Hauber masih dihuni oleh para pekerja seks, sedangkan Kaligot sudah tutup pada akhir 1950an. 

Dalam makalah berjudul Prostitusi di Jakarta dalam Tiga Kekuasaan, 1930-1959, Sejarah dan Perkembangannya, terdapat uraian yang lebih detail tentang prostitusi di Jakarta era modern.

Pada masa Jepang, prostitusi dilegalkan. Banyak perempuan dipaksa menjadi pekerja seks untuk memuaskan para prajurit yang sedang bertempur. Banyak yang kemudian tidak kembali dan menyembunyikan identitas. (untuk lebih jelas, baca buku Pramoedya berjudul Perawan Remaja di Sarang Militer).

Di masa kemerdekaan, Jakarta ibarat gula yang didatangi semut. Urbanisasi menguat. Banyak orang-orang dari daerah berdatangan dan mengais rejeki di kota ini. Di waktu malam, Jakarta menggeliat menjadi kota yang tak pernah tidur.

Tahun 1950-an sampai 1960-an terdapat banyak tempat prostitusi yang tumbuh subur di Jakarta, seperti di Jalan Halimun, antara Kali Malang, dekat markas CPM Guntur, hingga Bendungan Banjir Kanal. Tempat lainnya tersebar di Kebon Sereh, belakang stasiun Jatinegara, Bongkaran, Tanah Abang, Kali Jodo, dan Stasiun Senen.

BACA: Gadis Karaoke Kota Kendari

Bahkan pada masa Gubernur Ali Sadikin di tahun 1970-an, pemerintah secara resmi meresmikan lokalisasi di Kramat Tunggak, yang terletak dekat pelabuhan Tanjung Priok. Kramat Tunggak ditetapkan sebagai lokalisasi prostitusi dengan SK Gubernur Ali Sadikin, yaitu SK Gubernur KDKI No. Ca.7/1/54/1972, SK Walikota Jakarta Utara No.64/SK PTS/JU/1972, dan SK Walikota Jakarta Utara No.104/SK PTS/SD.Sos Ju/1973. 

Di era reformasi, hiburan malam justru semakin marak. Lokalisasi memang secara resmi sudah tidak ada lagi. Tapi para pencari hiburan malam bisa menemukannya di berbagai kafe, karaoke, hingga spa dan sauna. Di banyak kawasan dan sudut Jakarta, terdapat hotel-hotel yang menjajakan cinta. Para penjaja cinta pun didatangkan dari luar negeri.

*** 

“Can we go inside?” 

Perempuan Vietnam ini mulai memegang tangan saya. Dia menunjuk hotel murah yang ada di depan kami. Saya masih belum memberi respon. Saya bisa melihat wajahnya dari dekat. Dia seperti bidadari.

Saya tiba-tiba saja berpikir, jika banyak pekerja seks dari negara-negara tetangga berdatangan ke Jakarta, apakah ini pertanda kalau ekonomi kita stabil sebab banyak menghabiskan uang untuk hiburan malam?

HP-nya berdering. Dia berbicara dengan seseorang dalam bahasa Inggris. Saya tak begitu jelas mendengar apa yang dibahas. Wajahnya berseri-seri. 

“I think I have to go there. Someone just call me,” katanya.

Tenpa menunggu jawaban, dia langsung pergi. Dia bergegas menuju Plaza Lokasari. Saya masih ingin berbicara banyak. Saya menyesal karena belum sempat memberinya sesuatu. Bagaimanapun, dia telah menemani saya untuk berbincang sejenak. 

Sayang, dia tidak kembali. Hingga setengah jam berlalu, saya masih mencium bau parfumnya. Dalam hati, saya menggumam satu-satunya kosa kata Vietnam yang saya ketahui, kalau tak salah, bermakna sampai jumpa lagi:

“Hẹn gặp lại!”


6 comments: