Argentina di Final Champion


Mauricio Pochettino

Akhirnya, ada juga orang Argentina yang tampil di final liga Champion. Bukan Lionel Messi, salah satu pesepakbola terbaik di abad 21. Bukan pula Sergio Aguero, menantu Diego Maradona yang jadi bintang di Manchester City. Bukan pula Higuain yang bermain di Chelsea.

Dia adalah Mauricio Pochettino, pelatih Tottenham Hotspurs. Dia memang bukan pemain. Tapi percayalah, namanya lebih menggema dari siapapun di tim itu. Bahkan namanya akan lebih dikenal dibanding Lucas Moura, pencetak tiga gol di gawang Ajax.

Berkat Pochettino, permainan Spurs menggila. Ketika timnya tertinggal agregat 3-0, dia tak mau mengendurkan serangan. Spurs tak mau menyerah pada takdir. Saat Ajax mulai main aman karena merasa di atas angin, Spurs tetap pantang menyerah dan terus-menerus menggempur.

Paruh terakhir babak kedua, serangan Spurs laksana air bah mengalir. Pochettino tak henti berteriak di pinggir lapangan. Dia tahu, suara paraunya akan ditenggelamkan oleh siulan dan teriakan para penonton di stadion milik Ajax itu.

BACA: Ballon d'Or Bukan untuk Cristiano Ronaldo

Tapi dia merasa perlu melakukannya demi membakar semangat tim, agar tim menjelma menjadi singa lapar yang mengaum dan mengoyak lawan. Racikan strategi serta motivasi itu berhasil. Lucas Moura mencetak dua gol secara beruntun. Terakhir, dia menceploskan gol ketiga saat pertandingan semenit lagi akan berakhir. Maka sorak-sorai membahana. 

Di akhir pertandingan, Lucas Moura datang memeluk pelatihnya. Momen ini menjadi dramatis. Lucas, pemain yang dibuang dari klub PSG karena kedatangan Neymar, malah menjadi pemain paling bersinar. 

Bola memang menunjukkan rigoritas kuasanya. Bukan awal yang menentukan semuanya, tapi akhir. Tim yang tampil di final bukanlah tim yang penuh bintang dan berbiaya mahal. Melainkan tim yang paling solid, paling bekerjasama, dan paling kompak.

Bola membalikkan banyak prediksi. Kemarin, Barcelona diperkirakan akan melumat Liverpool. Sampai-sampai, Luiz Suarez sesumbar tidak akan melakukan selebrasi gol di Anfield. Ternyata, terjadi comeback yang mengejutkan. Hari ini, Spurs menampilkan hal yang sama. 

Sebagaimana Liverpool, kekuatan Spurs terletak pada permainan kolektif yang rapi dan kerjasama apik. Spurs tak mengandalkan nama-nama besar. Bahkan striker-nya yang paling hebat yakni Harry Kane hanya bisa menyaksikan dari tribun penonton. Spurs mengandalkan kerja sama dan tidak bergantung pada satu atau dua pemain.

Kekuatan Spurs adalah motivasi hebat dan semangat pantang menyerah. Sebelum peluit akhir berbunyi, Spurs tetap menjadi petarung yang haus kemenangan. Mereka menjadi singa lapar yang terus mengaum dan menerjang.

Di tepian lapangan itu, Pocchettino menjadi magnet. Semua orang tahu bahwa sebelum kedatangannya, Spurs hanyalah tim semenjana. Berkat tangan dinginnya, Spurs menjadi kekuatan baru, serta bersiap akan menorehkan sejarah sebagai kontestan di partai final Liga Champion Eropa.

Lelaki yang lahir dari keluarga buruh tani di Santa Fe, Argentina itu, paham benar apa makna kerja keras. Di masa kecil, dia hidup miskin sehingga menempa dirinya menjadi seorang pekerja. Dia percaya pada kekuatan mimpi yang kelak bisa membawanya merengkuh semua impian.

Kariernya sebagai pemain tidak terlalu mentereng, meskipun pernah menjadi pemain tim nasional Argentina. Dia lalu banting stir menjadi pelatih dan menangani tim-tim kecil. Hingga akhirnya dia direkrut oleh Spurs.
Spurs cukup jeli melihat kekuatan Pochettino sejak lama. Pochettino laksana Arsene Wenger, mantan pelatih Arsenal, yang selalu mengutamakan pemain muda. Pochettino ibarat seorang koki yang bisa mengolah masakan menjadi lezat dengan bahan-bahan dari sekitar rumah.

Dia tidak seagresif Pep Guardiola yang di setiap musim transfer akan sibuk mencari pemain terbaik, dengan biaya semahal apapun. Malah, Spurs dikenal sebagai tim paling kalem yang tidak pernah belanja pemain saat musim transfer. Spurs memilih untuk membesarkan pemain yang ada. 

Dalam tiga musim terakhir, Tottenham Hotspurs bersama barisan “the young guns” mampu duduk di posisi tiga besar dan selalu lolos ke Liga Champions. Malah, pemain Spurs menjadi pemain terbanyak di timnas Inggris. Di titik ini, Pocchettino harusnya dapat penghargaan dari asosiasi sepakbola Inggris.
Duel di final Champion akan menampilkan dua tim yang sama-sama tidak diunggulkan. Tidak ada yang menyangka mereka bisa membalikkan prediksi dan kini tampil di final. Meskipun sama-sama dari Inggris, karakter pemainan mereka sangat berbeda.

Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, pernah mengibaratkan permainan timnya seperti musik heavy metal. Permainannya cadas dan keras serta penuh perjuangan, sebagaimana pekerja dan buruh pabrik di Liverpool. 

Sementara tim yang diasuh Pochettino laksana angsa yang menari di tengah irama permainan orkestra yang anggun. Iramanya kadang tenang, tapi sesekali bisa tampil dengan nada-nada menyayat. 

Para penonton akan sama-sama menyanyikan lagu “Football’s coming home,” sebuah lagu yang menggambarkan kerinduan Inggris untuk kejayaan di era sepakbola modern:

Three lions on a shirt,
Jules Rimet still gleaming
Thirty years of hurt,
Never stopped me dreaming

0 komentar:

Post a Comment