Cerita tentang PEIN AKATSUKI (2)


salah satu co-working space di Jakarta

Saya mengenal seorang anak muda di satu kelompok relawan capres. Namanya Giovanni. Biasa dipanggil Gio. Usianya belum 20 tahun. Dia seorang graphic designer. Hidupnya mengingatkan saya pada kampret dalam artian sebenarnya. Dia tidur di siang hari, malam hari sibuk di depan laptop.

Hari-harinya bergerak antara mendesain sesuatu dan juga bermain game. Dia seorang pencandu game yang sudah mencapai level maniak. Dia juga sering wara-wiri di Instagram. Dalam hati, sempat terbersit tanya, apa anak muda ini tidak memikirkan masa depannya?

Suatu hari, dia menyerahkan kartu namanya kepada saya. Rupanya dia menjadi graphic designer panggilan. Dia menerima order dari mana pun. Dia mengerjakan semua hal mengenai desain. Dia juga mendesain semua bahan presentasi power point. Di tangannya, semua bahan presentasi jadi indah dipandang.

Dia tak ingin jadi pekerja terikat, maksudnya, dia tak ingin setiap hari datang ke satu kantor. Tapi, pemakai jasanya mesti mengontrak dirinya selama sebulan atau lebih. Berapa honornya sebulan? Dia menyebut angka 4 juta rupiah. Dengan membayar sebesar itu, dia siap menerima order selama sebulan.

BACA: Cerita tentang PEIN AKATSUKI (1)

Tapi, untuk standar Jakarta, angka 4 juta itu kan kecil? Saya bertanya. Dia tersenyum mendengarnya. Dia bilang, saat ini dia punya 10 klien. Jika satu klien tarifnya adalah 4 juta, maka untuk 10 klien, dia bisa mendapat income 40 juta rupiah, jumlah yang cukup besar untuk seorang anak muda yang setiap hari kerjanya cuma nongkrong.

Tapi mengerjakan jasa desain untuk 10 klien kan pasti repot? Dia bilang, dia punya dua orang asisten. Masing-masing standby di Bandung. Kalau dia membayar asisten lima juta rupiah, dia masih punya 30 juta rupiah kan? Tetap saja besar untuk ukuran kelas menengah kota.

Belakangan ini, saya bertemu banyak anak muda mandiri seperti Gio. Mereka adalah para pelaku freelancer economy yang mendapat manfaat dari disrupsi teknologi. Mereka menjalani profesi yang sesuai hobinya. 

Mereka generasi yang tidak tertarik untuk kerja di perusahaan-perusahaan besar. Mereka jauh lebih suka membuat perusahaan kecil, yang kantornya berpindah-pindah dari kafe ke kafe, tidak terikat jam kerja, serta selalu tertantang untuk membuat sesuatu yang baru. Banyak pekerjaan yang justru dikerjakan di kamar kos-kosan.

Mereka tidak pernah setia pada satu bos, melainkan suka berpindah-pindah, sebelum akhirnya menjadi bos. Bagi mereka, bekerja itu adalah bermain. Ketika seorang bos datang dan menerapkan banyak aturan, maka mereka akan memilih keluar baik-baik dan mencari ruang bermain yang baru.

Salah satu ciri generasi ini adalah adanya rasa percaya diri yang tinggi. Saat meeting dengan mereka, dengan santainya mereka bisa memotong pembicaraan dan menyampaikan idenya. Mereka selalu ingin mewarnai sesuatu, selalu membawa gagasan nyeleneh, dan juga penuh semangat.

Jika saya menekuni profesi seperti Gio, saya bayangkan betapa sulitnya saya menjelaskan profesi ini pada ibu saya di kampung. Ibu saya hanya mengenal beberapa profesi yakni pegawai negeri, paramedis, tentara atau polisi, dan pedagang. Bagaimana menjelaskan profesi seseorang yang setiap hari hanya menghasilkan gambar-gambar karikatur?

Gio sudah mengenal dunia enterpreneur di usia yang masih sangat belia. Namanya boleh tidak populer. Dia tidak dikenal. Tapi dia adalah otak di balik desain sejumlah tokoh-tokoh besar yang berkampanye di ruang publik dan media sosial. Perlahan, dia mulai direkomendasikan banyak orang.

Saya teringat pada Pein Akatsuki, sosok yang pernah saya bahas di postingan sebelumnya. Berkat dirinya, banyak orang, termasuk saya, yang terbantu oleh jasa subtitle gratis di banyak situs penyedia film gratis. Pein Akatsuki sengaja bersembunyi di balik nama samaran itu, tapi dirinya eksis dan bekerja secara lepas dari balik dinding sebuah kantor di Tebet.

Pein Akatsuki dan kawan-kawannya terinspirasi pada Google, yang menggratiskan semua layanan, tapi secara perlahan mereka bisa menangguk banyak untung di situ. Anda jadi penggemar setianya, dan tanpa sadar telah menguatkan branding-nya. Pantas saja, belakangan, selalu ada iklan terselip di terjemahan yang mereka buat. 

Bisa jadi, kita pernah bertemu dirinya di satu coworking space yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Coworking space menjadi ruang kerja bersama di mana banyak orang bisa bertemu, lalu berkolaborasi untuk membicarakan beberapa pekerjaan kreatif. Orang kota tak lagi butuh kantor. Mereka hanya butuh ruang yang nyaman untuk bermain, juga sesekali bekerja.

Saya teringat foto demonstrasi seorang anak ITB yang memegang spanduk bertuliskan “Direbut asing. Direbut robot. Mau kerja di mana coba?” Jika saja poster itu diperlihatkan pada Gio dan Pein Akatsuki, pasti mereka akan tersenyum-senyum.

Jaman sudah berubah Nak.


0 komentar:

Post a Comment