Tujuh Teori tentang Merapatnya AHY ke Jokowi


Saat AHY menemui Presiden Jokowi

Dengan menggunakan mobil berpelat B 2024 AHY, putra Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menemui Presiden Jokowi di Istana Negara, Kamis (3/5/2019). Di hadapan panglima tertinggi, dia memberikan penghormatan, kemudian tersenyum lebar. Keduanya duduk dan berbincang.

Jika pertemuan ini dilakukan setahun silam, tentunya tak ada yang istimewa. Tapi pertemuan itu justru dilakukan pada masa-masa penghitungan suara hasil Pemilu yang hasilnya sudah diprediksi lembaga survei, masa di mana koalisi di mana partainya AHY bergabung masih mengklaim menang berdasarkan penghitungan internal.

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) datang sebagai tokoh partai yang bertemu presiden. Pertemuan itu langsung menimbulkan beragam spekulasi. Apakah mungkin Partai Demokrat akan pindah haluan ketika hasil real count memenangkan Jokowi?

Politik kita memang sarat dengan simbol-simbol. Para elite politik kita terbiasa memainkan gestur yang kemudian bisa ditafsir dari berbagai sisi. Politik kita juga penuh dengan metafor yang bisa diurai untuk memahami makna-makna.

Apa makna dan pesan politik yang bisa disibak dari pertemuan itu? Marilah kita memahaminya dalam beberapa argumentasi.

Pertama, gestur atau bahasa tubuh. Konten pembicaraan AHY dan Jokowi bisa jadi datar-datar saja. Mereka hanya bicara hal-hal normatif tentang kebangsaan. Tapi perhatikan gestur yang ditampilkan saat berbicara. 

Posisi AHY sedikit membungkuk saat bertemu Jokowi bisa dilihat sebagai penghormatan, juga ketundukan. Posisi Jokowi yang tangannya mengembang dan terbuka bisa pula dilihat sebagai penerimaan.

Posisi tangan AHY ditangkupkan, dan diletakkan di tengah paha. Badan sedikit membungkuk. Ini gestur ketika seorang kawula bertemu pimpinan. Sedangkan Jokowi dalam posisi santai, tangannya terbuka, serta gerak tubuh yang bebas. Jokowi hendak memberi pesan kalau saya yang dalam posisi pengendali irama politik.

Kedua, simbol. Saat datang menemui Jokowi, AHY memakai mobil dengan pelat 2024 AHY. Pelat itu seakan-akan pesan kalau tahun 2024 atau lima tahun mendatang adalah tahunnya AHY. Dengan membawa mobil itu ke istana, AHY dan jajaran Partai Demokrat membawa pesan simbolik tentang target-target mereka.

Simbol ini tidak hanya ditujukan kepada Jokowi, tetapi juga untuk semua politisi, termasuk di koalisinya. Pihak Demokrat tahu, jangankan menang, kalah sekalipun Prabowo akan maju tahun 2024. Mereka menampilkan simbol kalau kebersamaan di koalisi itu hanya sampai di sini saja.

Ketiga, pesan. Media mencatat beberapa pernyataan AHY seusai pertemuan itu. Dia mengatakan: "Yang jelas semangatnya kita ingin melihat Indonesia ke depan semakin baik dan kita juga harus terus bisa menyumbangkan pikiran dan gagasan. “

Dia juga bilang: “Tidak harus selalu berbicara tentang komunikasi politik secara pragmatis, tetapi juga ada hal-hal besar lain dan kita juga harus bisa membangun semangat untuk mewujudkan Indonesia semakin baik ke depan.”

Pernyataan pamungkasnya cukup menohok dan bisa mengagetkan rekan koalisinya. AHY berkata: "Nah mudah-mudahan paling akhir nanti, 22 Mei, kita bisa menerima apa pun hasil yang akan dijelaskan oleh KPU."  

Saya sangat yakin AHY paham situasi. Saat ini, penghitungan real count KPU sudah mencapai angka 62 persen. Belum ada tanda-tanda Prabowo-Sandi akan bisa mengalahkan Jokowi. 

Di kalangan pendukung Prabowo, masih banyak yang berkeyakinan kalau mereka akan menang. Namun, banyak pula yang sudah “buang handuk”, khususnya partai politik. Sebagian pendukung Prabowo menyerukan delegitimasi KPU serta permintaan agar ada diskualifikasi pada Jokowi-Amin. Ini juga tanda-tanda kekalahan.

Pernyataan AHY itu menunjukkan posisinya dan partainya yang lebih mendukung sikap pemerintah yakni menerima prosedur demokrasi yang sedang berjalan. Mereka tak mungkin ikut dalam aksi delegitimasi pada penyelenggara negara yakni KPU serta jalur konstitusi.

Keempat, sikap politik. Setiap kali SBY ataupun AHY mengeluarkan sikap, maka semua influencer di tubuh Partai Demokrat akan meneruskannya dalam berbagai pesan ke bawah. 

Sungguh menarik melihat postingan semua petinggi Demokrat yang tiba-tiba mendingin sejak pertemuan itu. Perhatikan cuitan sejumlah pihak seperti Andi Arief, Rachland Nashidik, dan Ferdinand Hutahaean, Hinca Panjaitan.

Andi Arief mengatakan: “Tugas Partai Demokrat dalam Koalisi Adil Makmur adalah: 1. Memenangkan Capres-Cawapres, 2. Memberikan saran dan Cara agar menang, 3. Jika tidak menang, memberi saran dan cara agar tak mempertinggi tempat jatuh 4. Melaporkan pada rakyat perkembangannya dengan fakta yang benar.”

Point ketiga pasti akan memicu reaksi dari koalisi Prabowo. Di saat semua koalisi masih yakin menang dengan segala perhitungan internal, tiba-tiba Andi Arief memberi pesan jika tidak menang dan cara agar tak mempertinggi tempat jatuh.” Apakah dia sudah meramalkan Prabowo akan jatuh?

Ferdinand Hutahean malah sudah memberikan pernyataan sikap partai. Bahwa setelah 22 Mei 2019, Demokrat akan membuka berbagai kemungkinan. Jika Prabowo menang, Demokrat akan tetap bersamanya. 

"Jika KPU menetapkan Jokowi sebagai pemenang, maka Partai Demokrat mandiri dan bebas serta berdaulat menentukan sikap politiknya apakah kemudian akan bergabung dengan Jokowi atau tidak," katanya.

Kelima, latar sejarah. Sejak dulu, DNA politik SBY tidak pernah bertemu dengan DNA politik Prabowo. Keduanya memulai karier di militer, tapi keduanya punya takdir politik berbeda. SBY sukses menjadi presiden untuk dua periode, sementara Prabowo belum kesampaian. SBY penuh perhitungan dan kalkulasi, Prabowo sering terburu-buru.

Ketidaksesuaian itu sudah tampak di beberapa pilkada. Puncaknya adalah dalam penentuan capres. SBY tahu bahwa Megawati tidak akan memberi ruang bagi partainya di koalisi Jokowi, sehingga mau tak mau merapat ke Prabowo. 

SBY ingin menang, makanya mengajukan duet Anies-AHY demi kemenangan. Namun Prabowo berpikir lain. Dia berpikir untuk tetap mengendalikan koalisi sekaligus mengamankan suara Gerindra sehingga dirinya tetap ngotot maju dan memilih Sandiaga Uno sebagai wakil. 

SBY dan Demokrat tak punya banyak pilihan selain menerima. Meskipun petinggi Demokrat Andi Arief sibuk memojokkan Prabowo dengan sebutan jenderal kardus. Tapi bukan berarti Demokrat akan selalu mengikuti apa saja kehendak koalisi.



Keenam, visi keberagaman. Sejak awal, Demokrat selalu mengkritik kedekatan koalisi Prabowo dengan kelompok pendukung 212 yang menepatkan Habib Rizieq sebagai tokoh sentral. Betapa tidak Habib Rizieq pernah dipenjarakan pada era SBY. Rizieq juga bermain dua kali di pilkada DKI, dan terakhir tidak mendukung AHY.

Kelompok 212 tidak merekomendasikan nama AHY dalam ijtimak ulama. Sikap ini banyak dikritik para petinggi Demokrat. Terakhir, kampanye akbar Prabowo yang didukung kelompok 212 di GBK diprotes oleh SBY sebagai kampanye yang tidak menghargai pluralitas dan keberagaman.

Semua protes Demokrat ini menunjukkan betapa mereka setengah hati di koalisi ini. Mereka pun tahu kalau koalisi ini tidak akan menang, makanya mereka mesti segera mencari exit plan paling efektif untuk segera keluar koalisi, yakni menemui Presiden Jokowi.

Ketujuh, matematika politik. Niat besar SBY dan Partai Demokrat adalah bagaimana menaikkan AHY sebagai presiden. Jika saja Prabowo menang, maka tahun 2024 akan maju kembali. Setelah itu, Sandiaga yang akan maju. Jika Demokrat mengikuti skenario ini, kapan mereka bisa menaikkan AHY?

Tidak mengejutkan jika diam-diam partai ini mendukung Jokowi. Dari sisi matematika atau hitung-hitung politik, Demokrat jauh lebih untung jika Jokowi yang naik. Sebab lima tahun mendatang, Jokowi sudah tidak mungkin maju. Demikian pula pasangannya Ma’ruf Amin.

Lima tahun mendatang, politik menjadi arena terbuka yang tidak bertuan. Inilah momen emas yang ditunggu semua partai politik agar mereka bisa merangsak maju untuk memasuki arena. Inilah momen tepat untuk mengajukan kader masing-masing untuk bertarung di arena politik  demi menggapai kursi presiden.

Jika AHY diharapkan naik pada tahun 2024, maka dia harus punya panggung politik agar publik bisa melihat rekam jejak dan prestasinya. Kelemahan AHY selama ini adalah dirinya ibarat buah yang belum matang, namun dipaksa masuk arena. 

Dengan mendapatkan panggung, AHY bisa menunjukkan visi, ketegasan, serta kerja-kerja yang akan diapresiasi publik, yang akan menaikkan elektabilitasnya. Jika Jokowi menang, pilihan paling realistis dan tepat adalah segera bergabung, kemudian mendapat panggung, setelah itu meninggalkan jejak kerja.

Jika semuanya berjalan baik, maka modal politik AHY akan semakin moncer di pemilihan mendatang. Dia punya kans besar untuk menang Pemilu sebab memiliki dukungan partai politik, rekam jejak yang baik, serta sumber daya finansial yang kuat. 

Sebagai publik, kita sedang menyaksikan satu pesan kuat. Bahwa politik bukanlah satu arena untuk memperjuangkan sesuatu hingga titik darah penghabisan. Politik adalah seni untuk memenangkan pertarungan, seni untuk bersiasat, dan seni untuk meyakinkan publik. 

Dalam proses itu, mundur sesaat dan mengevaluasi strategi akan jauh lebih baik daripada mengamuk, marah-marah, lalu menjadikan diri sebagai sasaran tembak dari berbagai lini.(*)




0 komentar:

Post a Comment