Puasa di Era "Filter Bubble"




Masih bisakah kita semua menjalankan puasa di tengah suhu politik yang belum ada tanda-tanda mendingin? Masih bisakah kita menjaga kemurnian ibadah kita dan menjaga setiap jemari kita untuk tidak menyebar kebohongan yang serupa virus dan hanya akan merusak puasa kita?

Masih bisakah kita sibuk meneriakkan sesuatu yang kita anggap sebagai kebenaran, padahal pihak lain menyebutnya hoaks?

Kita sedang berada di era post-truth, pasca kebenaran. Kita menganggap sesuatu sebagai benar hanya ketika bersesuaian dengan apa yang terlanjur kita anggap benar. Terlanjur kita mengisi kepala kita dengan informasi dari berbagai situs yang laksana cendawan bertebaran di internet.

Sejak kita mengenal media sosial, kita sudah menyerahkan leher kita pada algoritma media yang maha kuasa. Kita secara suka rela masuk dalam satu dunia yang bersesuaian pandangan dengan kita. Ketika menemui informasi yang kita setujui, kita meng-klik tanda “like.” 

Seiring waktu, media sosial mengenali apa saja informasi yang kita sukai. Media sosial lalu menghubungkan kita hanya dengan orang yang berpandangan sama dengan kita. Media sosial menjauhkan kita dari gagasan yang tidak bersesuaian dengan pendapat kita.

Para ahli menyebutnya “filter bubble.” Kita hidup dalam satu dunia yang sudah disaring. Jangan kira media sosial ini netral. Kita pelan-pelan menyaring siapa pun yang jadi teman kita di sini. 

Semua orang punya kriteria siapa yang diajak berkawan di sini. Saya pun secara berkala akan menghapus orang-orang yang suka melempar makian dan hinaan kepada orang lain di media sosial. 

Media sosial menampilkan sisi lain diri seseorang. Ada banyak orang yang menjadikan media sosial sebagai arena untuk mempropagandakan satu kebenaran. Berkat “filter bubble” tadi, seseorang akan menemukan banyak hal yang dia setujui pandanganya. 

Saat nuraninya disentuh bahwa ada kejahatan yang sedang terjadi, maka dirinya pun ingin berontak. Dalam nurani yang gelisah karena sekeping informasi yang entah dari mana sumbernya, seseorang itu dengan mudah akan menyebar informasi itu ke mana-mana. 

Dia tak lagi memverifikasi informasi. Dia hanya percaya pada apa yang dia yakini benar. Semua informasi itu langsung disebar ke berbagai kanal media sosial, mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, dan WhatsApp. 

Benar dan salah adalah soal belakangan. Kalau pun ada salah, maka dia bisa memilih diam atau minta maaf. Persoalan dianggap selesai.

Di media sosial, banyak orang bisa menjadi bengis dan suka main keroyokan. Saat fitnah itu tertuju pada diri seseorang yang dekat dengan kita, barulah kita sadar betapa kejamnya penghakiman pada seseorang yang belum tentu benar.

Namun, bisakah kita menjaga jemari, pikiran, dan lisan kita saat sedang menjalankan puasa? Bisakah kita hanya menahan napas dan menjaga aliran darah agar amarah tidak meledak saat membaca sekeping informasi yang isinya tentang kejahatan dan kebejatan seseorang yang belum tentu benar?

Kata seorang kawan, kita perlu meletakkan semacam alarm yang mengingatkan bahwa kita sedang puasa. Kita perlu semacam “filter bubble” lain agar kita lebih kritis untuk menolak semua informasi yang isinya desas-desus. Puasa harusnya melatih mental kita untuk lebih tangguh dan tidak ikut-ikut menebar bohong. 

Lantas, di era post-truth ini, apakah tidak ada lagi yang namanya kebenaran untuk kita bagikan ke orang lain? Tentu saja, kebenaran akan selalu ada. Akan tetapi dia butuh dikenali secara utuh.

Seorang kawan yang saya anggap bijaksana punya kiat sendiri untuk mengenali kebenaran. Saat informasi dibacanya, dia akan selalu menahan diri untuk tidak mebagikannya. Ditimbang-timbangnya seberapa benar informasi itu. Dia menjaga diri untuk tidak sembarang membagikannya.

Dia akan melihat apakah informasi itu mencerahkan, membahagiakan, serta membuat mata lebih jernih dalam memandang kenyataan. Jika informasi itu berguna, dalam artian memberi makna dan serupa air jernih yang membasahi kalbunya, barulah dia membagikannya.

Jika informasi itu berisi ajakan kebaikan dan seruan untuk refleksi dan melihat sisi lain dari diri yang mungkin berlumur dosa, atau berisikan kisah-kisah dan pelajaran serta hikmah-hikmah, barulah dia akan meletakkan tanda “Like” di situ, kemudian secara suka rela membagikannya.

Dengan cara itu, dia ingin agar nurani seisi dunia ikut basah dan menghadirkan satu tekad kuat untuk menjadi lebih baik. 

Dengan cara itu, dia menjaga puasanya.


0 komentar:

Post a Comment