Mahasiswa BUTON di Kapal PELNI




Jelang mudik, Riza, seorang perantau di Jakarta mulai sibuk berburu tiket. Dia tak lagi berburu tiket pesawat. Dia kini berburu tiket kapal milik maskapai PT Pelni. Padahal, saya ingat persis beberapa tahun lalu, dia sudah berikrar tidak mau lagi naik kapal Pelni. 

“Masak puluhan tahun naik kapal terus. Hidup harus meningkat. Saatnya jadi penumpang pesawat,” katanya dulu. 

Tapi sejak harga tiket pesawat melambung, dirinya mengalami gejala Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK). Tanpa malu-malu, dia kembali berpaling ke kapal Pelni.

Saat saya bertemu dengannya, dia tidak mau terus terang mengakui harga tiket pesawat yang makin susah dijangkaunya. Dia menjawab diplomatis: “Yos, kita ini negara maritim. Harusnya kita bangga menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa,” katanya. Iya deh.

Bagi warga di kawasan timur Indonesia, kapal Pelni ibarat sahabat dekat yang menjadi saksi perjalanan hidup. Pelni menjadi saksi dari mobilitas penduduk yang mencari nafkah di timur Nusantara, juga menjadi sahabat para pelajar yang mencari nasib di kampus-kampus besar di barat Indonesia.

BACA: Sufi Besar, Tasawuf, dan Naskah di Pulau Buton

Bagi mahasiswa asal Sulawesi Tenggara yang kuliah di Makassar pada tahun 1990-an, kapal Pelni menjadi satu-satunya moda transportasi yang dinaiki untuk bolak-balik Makassar dan Baubau. Kapal menjadi arena bertemu bagi mahasiswa asal Buton, Baubau, Muna, Wakatobi, hingga Buton Utara. 

Ada pula mahasiswa yang punya visi bisnis. Dia akan membeli berkarung-karung wortel, kentang dan bunga kol di Pasar Terong Makassar. Karung itu lalu dititip di mobil yang menyeberang melalui Bajoe-Kolaka, lalu dipindahkan di kapal menuju Baubau. Rencananya, kawan itu akan menjual semua komoditas itu di Pasar Baubau sehingga ketika kembali ke Makassar, dia akan punya banyak ongkos. Dia akan pulang dengan menggunakan kapal Pelni ke Baubau. 

Saya masih ingat, saat-saat paling mendebarkan adalah saat naik kapal. Sebab ada ribuan orang yang hendak naik kapal, semuanya mesti melewati tangga dan pintu kecil di dek 4. Bisa Anda bayangkan betapa berjejalnya pintu masuk. Belum lagi harus siap untuk saling sikut dengan para buruh atau kuli panggul. Di Pelabuhan Mahassar, para kuli panggul dikenal ganas dan tidak kompromi. Bisa dimengerti sih sebab mereka harus cepat untuk berebut rejeki.

Pada beberapa momen pulang kampung, para mahasiswa Buton menyiapkan dengan serius. Ada yang lebih dahulu memanjangkan rambutnya, biar warga kampung kaget melihat dirinya yang gondrong. Di masa itu, gondrong identik dengan preman. Bagi mahasiswa, nampak seram itu keren. Ada juga yang berburu tas ransel ala pendaki gunung, lengkap dengan matras di atasnya. 

Fashion paling keren untuk mahasiswa di masa itu adalah fashion ala pencinta alam. Rasanya keren sekali kalau dianggap suka berpetualang dan naik gunung. Di akhir masa kuliah, fashion yang lagi happening adalah penampilan ala fotografer. Rasanya bangga kalau naik kapal sambil menenteng kamera. Padahal kemampuan motret masih amatiran. Masih sebatas motret acara ulang tahun.

Ada juga yang sengaja beli buku-buku tebal untuk ditenteng di kapal. Mungkin dia bayangkan gadis-gadis akan terkesima dengan kemampuan mengutip-ngutip berbagai istilah akademik. Di depan gadis-gadis, dia akan keluarkan istilah-istilah sulit, seperti paradigma, aksioma, atau revolusi sains. Disebutlah nama para filsuf dan pemikir, mulai dari Plato, Aristoteles, hingga Nietzsche dan Michel Foucault. 

Ada juga yang sok-sok jadi aktivis. Ketika ketemu teman, langsung sibuk bahas topik ekonomi makro, pemerintah yang bobrok, hingga keluar teori-teori ekonometrik. Dia lalu menyebut kiprahnya di dunia aktivis dan intelektualitas. Tahu alasan mengeluarkan istilah rumit? Biar si cewek kagum dan bersedia dipacari. Yah, namanya juga usaha.

Ada pula mahasiswa yang membayangkan akan show di kapal. Seorang kawan bernama La Udi akan latihan vokal selama seminggu demi bisa tampil sempurna saat karaoke dengan lagu-lagu dangdut di kafetaria kapal. Sebab di kafetaria kapal, sering kali ada karaoke. 

Banyak mahasiswa menunggu di sana, memesan segelas kopi, lalu menyaksikan para biduan saling pamer kemampuan bernyanyi. La Udi membayangkan dirinya akan jadi bintang, mendapat tepuk tangan meriah, setelah itu dapat hadiah berupa tiket nonton film yang agak porno di dek dua.
Saya masih ingat, dahulu ada clubbing atau diskotik di kapal. Tepat jam 12 malam, pihak kapal mengumumkan akan ada diskotik yang buka di dek dua. Semua penumpang boleh datang, tapi disyaratkan memakai sepatu. Kembali, saya akan melihat La Udi yang menyemprot setengah botol parfum di badannya biar wangi. 

Nah, kemampuan joged akan diperlukan untuk membuat orang-orang kagum. Kalau soal joged, La Udi tak perlu diajari. Dia sudah pengalaman menghadiri pesta kande-kandea di banyak desa di kampung kami, mulai dari Tolandona hingga Wakoko. Di setiap acara adat itu, selalu ada acara joged untuk anak-anak muda. Setiap kali joged, pasti dia akan mendapat pacar baru. Duh! Bikin cemburu saja.

Ada pula yang mengasah skill bermain domino. Lama tempuh kapal Pelni selama 12 jam dari Makassar ke Baubau akan terasa singkat jika dilalui dengan bermain domino. Bagi kami, amat rugi membeli tiket kelas 1 hingga kelas 4. Sebab, waktu akan lebih banyak dihabiskan di kafetaria, tangga kapal, atau lorong-lorong kamar. Apa yang dilakukan di situ? Kalau bukan main domino, kami akan isi dengan berceloteh berbagai topik.

Saking seringnya naik kapal, saya mengenali semua tempat di kapal itu. Sepanjang kuliah, saya selalu menaiki kelas ekonomi. Saya terbiasa tidur di berbagai tempat. Pernah tidur di tangga, dekat dapur, lorong-lorong kamar kelas, hingga pernah pula menyewa kamar anak buah kapal (ABK). Malah, pernah saya tidur di sekoci. 

Saat berada di kapal, saya merasakan banyak hal yang berubah. Beberapa teman yang dahulu minder, tiba-tiba jadi lebih percaya diri. Kadang kami bahas teman yang dahulu juara kelas, tiba-tiba kehilangan kharismanya saat kuliah.

Saat bertemu teman-teman sekampung, topik paling disukai adalah tentang kiprah teman-teman cewek yang dahulu pernah menjadi idola dan agak angkuh di sekolah. Kuliah di kota-kota, membuat kawan sekampung bertemu dengan pergaulan yang lebih luas, sehingga menganggap kalau ada banyak cewek yang melebihi idola sekolah kami, namun justru jauh dari kesan angkuh. 

Kami juga membahas perkembangan teman-teman kami yang lama tak bertemu. Mulai dari La Albert yang berhenti kuliah karena menekuni aktivitas paranormal dan perdukunan, La Dora yang dicari preman karena menghamili keluarga preman itu, hingga La Komar yang di masa SMA dikenal malas, tiba-tiba menjadi aktivis yang muncul di banyak demonstrasi.

Pada beberapa kawan, momen mudik menjadi ajang uji nyali dan petualangan. Modusnya adalah tidak membeli tiket untuk menaiki kapal laut. Saya tahu persis kalau kawan itu punya uang, tapi dia sengaja tidak membeli tiket. Mungkin dia merasa keren saat menumpang kapal tanpa tiket, lalu menghindari kejaran satpam dan petugas tiket. 

Pernah pula dia tertangkap satpam. Bukannya malu, dia justru merasa bangga karena tertangkap. Dia pun membayar tiket. Setelah itu dia akan petantang-petenteng ke mana-mana lalu lempar senyum sana sini saat berita tentang dirinya tertangkap telah menyebar. Dia justru bangga karena tertangkap. Dasar!

Seorang kawan aktivis, punya kiat cerdik. Dia akan membuat negosiasi dengan pihak kapal Pelni. “Jumlah kami 10. Apakah kami bisa diberi 10 tiket dengan hanya membayar 6 tiket?” Kalau pihak Pelni setuju, maka dia akan merasa bangga setinggi langit. Misi untuk lobi telah sukses.

Pada masa itu, banyak teman sekampung yang jadi Anak Buah Kapal (ABK) di kapal. Mereka lalu mengajak rekan-rekannya ke ruang-ruang tersembunyi di kapal, biasanya ruang rapat. Di situ, beberapa bir dan konau (tuak khas Buton) dikeluarkan. Kami lalu party dan hepi-hepi.

BACA: KIsah Raja BUGIS di Pulau BUTON

Saking seringnya naik kapal, saya menghapal persis semua pengumuman di kapal itu. Misalnya, “ABK dek muka belakang.” Atau pengumuman tentang “Kapal serong kiri”. Ada tiga pengumuman yang paling ditunggu.

Pertama, pengumuman makan malam. Saya tak sabar untuk antre demi makanan yang diletakkan di atas kaleng dengan petak-petak ala narapidana. Kedua, pengumuman kalau diskotek sudah dibuka dan pengunjung diminta datang dengan memakai sepatu. Ketiga, pengumuman kalau sejam lagi kapal akan tiba di Pelabuhan Baubau.

Nah, pengumuman terakhir ini yang paling menyenangkan. Saya akan segera menuju anjungan atau geladak kapal. Saya menyaksikan kampung halaman yang terlihat di kejauhan. Yang pertama saya kenali adalah rumahnya La Ony yang nampak dari kejauhan, jembatan batu yang dipenuhi kapal layar, hingga akhirnya kerumunan penjemput yang menanti kedatangan kami, anak mahasiswa yang dahulu bengal, kini melanjutkan pendidikan demi masa depan. 

Di antara penjemput itu, selalu ada almarhum bapak yang akan tersenyum lebar dan menanti kedatangan saya dengan penuh bahagia.

Ah, postingan ini mulai sedih. Saya cukupkan sampai di sini.




0 komentar:

Post a Comment