Ballon d'Or Bukan untuk Cristiano Ronaldo




SEMBURAT cahaya memenuhi Menara Eiffel, Paris, semalam, saat trofi Ballon d’Or 2017 diserahkan kepada bintang Portugal Cristiano Ronaldo. Pesepakbola dari klub los galacticos, Real Madrid, itu menerima penghargaan itu untuk kelima kalinya, jumlah yang sama dengan raihan si boncel Lionel Messi dari Argentina. Cahaya-cahaya Menara Eiffel menahbiskan Ronaldo sebagai salah satu yang terbaik sejagad.

Banyak kisah di balik penghargaan ini. Mulai dari pujian filosof Carlo Ancelotti, mantan pelatih Milan dan Bayern Munchen, hingga apresiasi bintang muda Kylian Mbappe yang bermain di Paris Saint Germain. Ada pula hadiah baju bayi berhias lima trofi Ballon d’Or untuk bayi kecil Alana Martina, buah cinta Ronaldo dengan Georgina. Ada juga tekad Ronaldo untuk terus bersaing dengan Messi, si boncel dan si kutu yang skill bolanya selevel dewa.

Nun di sana, di satu kampung kecil Portugal, seorang pemuda menyaksikan peristiwa itu dengan mata basah. Seorang pemuda yang disebut Ronaldo sebagai sahabat terbaik yang melempangkan karpet hebat untuk kebintangannya. Seorang pemuda, yang selalu disebut Ronaldo dengan takzim sebagai penerima Ballon d’Or sesungguhnya. Pemuda yang lebih hebat dari Ronaldo.

***

HARI itu, 24 Mei 2014, cahaya terang menyemburat dari jantung Stadium of Light di Lisbon, Portugal. Real Madrid berhasil menjadi juara Liga Champion setelah mengalahkan rival sekotanya Atletico Madrid. Pertandingan itu berjalan sedemikian dramatis dan begitu menegangkan bagi yang menyaksikannya.

Dalam pertandingan dramatis itu, Atletico Madrid lebih dulu unggul melalui gol yang dicetak Diego Godin pada menit ke-36. Hingga jelang akhir babak kedua, belum ada gol tercipta. Raut penuh kebahagiaan mulai memancar dari wajah Diego Simeone, pelatih Atletico Madrid. Ia membayangkan dirinya akan segera bersulang dengan “si kuping besar”, nama piala Champion yang memiliki pegangan lebar, untuk pertama kalinya.

Menjelang akhir babak kedua, harapan itu ibarat asap yang tersaput awan. Sergio Ramos mencetak gol pada menit ke 90 + 3. Skor menjadi 1 – 1. Pertandingan dilanjutkan dengan babak tambahan. Di sinilah Real Madrid menghadirkan kengerian bagi mimpi-mimpi Simeone. Tiga gol tambahan dicetak oleh Gareth Bale, Marcelo, serta tendangan penalti Cristiano Ronaldo. Yup, nama terakhir ini menjadi penentu yang meramaikan selebrasi kemenangan Real Madrid. Namanya diteriakkan dan dielu-elukan oleh semua penonton.

Semua pendukung Real Madrid bersorak-sorak penuh kemenangan. Para pemain diarak menuju ke panggung untuk menerima medali serta piala. Semua media dan jurnalis berdiri di depan panggung lalu memotret momen dramatis itu. Ribuan cahaya blitz kamera tak henti mengabadikan momen bersejarah itu.

Tapi di tengah euforia dan bahagia yang diletupkan ke udara itu, pemain paling hebat di Madrid, Cristiano Ronaldo, malah meninggalkan panggung. Ia berlari menuju tribun para penonton. Ia meninggalkan selebrasi di panggung utama. Dari tribun penonton, seorang pria dekil berdiri dan menyambut Ronaldo. Keduanya lalu berpelukan di tepian lapangan sambil berurai air mata.




Para jurnalis bertanya-tanya. Mengapa pula Ronaldo harus meninggalkan panggung penuh cahaya hanya untuk berpelukan dengan lelaki itu? Siapakah gerangan dirinya? Para jurnalis lalu mendekati lelaki yang dipeluk Ronaldo itu. Sayangnya, lelaki itu tak ingin diwawancarai. Ia melenggang meninggalkan Stadium of Light dan membiarkan para jurnalis dan publik bertanya-tanya. Lelaki itu menjadi misteri.
***

“Namanya Albert Fantrau,” demikian kata Ronaldo dalam sesi wawancara, beberapa hari sesudahnya. Ia menjawab pertanyaan para jurnalis yang penasaran dengan sosok lelaki itu. Seusai menyebut nama Fantrau, Ronaldo lalu terdiam. Matanya berkaca-kaca saat bercerita lirih tentang lelaki itu. Tanpa Fantrau, Ronaldo mengaku tak akan bisa menggapai kegemilangan dalam karier. Tanpa lelaki itu, ia tak mungkin mendapatkan sepatu emas sebagai salah satu pesepakbola paling ajaib di muka bumi.

Saat masih kanak-kanak, Ronaldo bermain bersama Fantrau di Andorinho, satu akademi sepakbola di Portugal. Keduanya adalah pemain paling berbakat di akademi itu. Keduanya adalah duet maut yang menggetarkan jala lawan. Tak ada satupun pemain muda yang sehebat keduanya. Mereka selalu bersama dan menjadi karib di dalam dan luar lapangan.

Suatu hari, seorang pemandu bakat dari klub besar Sporting Lisbon datang ke akademi itu. Pemandu bakat itu hendak merekrut pemain yang akan mengisi skuad Sporting Junior. Sayangnya, ia hanya bisa membawa satu orang pemain. Ronaldo harus bersaing dengan Fantrau. Untuk pertama kalinya, kedua sahabat itu harus bersaing memperebutkan satu slot tersisa. Siapa di antara mereka yang mencetak gol lebih banyak, akan direkrut ke dalam Sporting Junior.

Seleksi itu berjalan fair. Ronaldo mencetak gol pertama melalui tendangan terukur. Tak lama kemudian, Fantrau juga mencetak gol pertama melalui sundulan. Skor keduanya sama. Hingga akhirnya, pertandingan nyaris berakhir tanpa ada gol tambahan.

Dalam waktu sesempit itu, Fantrau berhasil menggocek bola dan membawanya hingga berhadapan dengan kiper lawan. Ronaldo berlari dari arah lain. Ronaldo merasa dirinya akan kehilangan kesempatan bergabung dengan klub besar sebab Fatrau akan segera mencetak gol.

Dalam situasi tinggal berhadapan dengan kiper lawan, dalam situasi akan segera menjadi pemenang, Fantrau justru mengoper bola ke Ronaldo. Gol tercipta. Ronaldo mendapatkan kesempatan emas yang seharusnya dimiliki Fantrau. Ronaldo mendapatkan “hadiah” berupa peluang mencetak gol dari seseorang yang harusnya mendapatkan kesempatan itu. Pemain bernama asli Ronaldo dos Santos Aveiro ini mencetak gol lebih banyak, sehingga berkesempatan bergabung dengan Sporting Lisbon.

“Mengapa kamu melakukan ini?” tanya Ronaldo di luar lapangan.  “Because you are better than me,” kata Fantrau. Kamu lebih baik. Kamu lebih berhak atas kesempatan emas ini. Kamu akan lebih cemerlang. Fantrau menekan semua ego dan mimpi-mimpinya untuk menjadi pemain besar demi membuka jalan bagi sahabatnya. Ronaldo menggambarkan sahabatnya dalam kalimat indah:
“I have to thank my old friend Albert Fantrau for my success. We played together for the same team in the U-18 championship. When a scout came to see us he said that, Whoever scores more goals will come into our academy. We won that match 3-0. I scored the first goal then Albert scored the second with a great header. But the third goal was impressive for all of us. Albert was one-on-one against the goalkeeper, he rounded the goalkeeper and I was running in front of him. All he had to do was to score that goal but he passed it to me and I scored the third goal, so I got that spot and went to the academy. After the match I went to him and asked him why? Albert said that “Because you (Ronaldo) are better than me.”
Pengorbanan Fantrau tak sia-sia. Ronaldo hijrah ke Sporting. Selanjutnya ia direkrut Manchester United, lalu mencetak banyak sejarah. Ia lalu berlabuh ke Real Madrid dan kembali melanjutkan kebintangannya. Ia meraih banyak hasil hebat, yang salah satunya disebabkan oleh pengorbanan seorang sahabat kecilnya. Ia memanen banyak kesuksesan, yang diawali oleh gol yang dihadiahkan Fantrau.

***

BERBAGAI penghargaan singgah di pangkuan Ronaldo. Di balik penghargaan itu ada kisah seorang sahabat yang memberi jalan bagi sahabat lainnya. Sebagai sahabat, Ronaldo tak pernah melupakan Fantrau. Ia berbagi kegembiraan dengan cara meninggalkan panggung kehormatan, hanya untuk memeluk sahabatnya itu.

Cristiano Ronaldo dan Fantrau semasa remaja

Persahabatan keduanya adalah persahabatan abadi. Para jurnalis banyak berkisah tentang kehidupan Fantrau yang berkecukupan karena fasilitas yang diberikan Ronaldo. Semesta memberikan balasan setimpal atas keikhlasan Fantrau kepada sahabatnya. Keikhlasan itu dibalas oleh ketulusan Ronaldo yang akan selalu menganggapnya sebagai sahabat.

Kisah ini memercikkan banyak keping inspirasi. Mereka yang hebat adalah mereka yang berhasil menggapai puncak kesuksesan, bisa membawa diri melampaui semua capaian orang lain. Tapi mereka yang jauh lebih hebat adalah mereka yang membuka jalan bagi kesuksesan orang lain. Mereka yang lebih hebat mendedikasikan dirinya untuk kebahagiaan dan kesuksesan orang lain. Kebahagiaannya terletak pada seberapa banyak kisah dan senyum yang dipancarkan rang lain, berkat jalan kecil yang dirintisnya.

Bahwa di balik seorang hebat, terdapat banyak kisah mengharukan tentang manusia-manusia lain yang memberikan jejak pada pencapaian seseorang. Manusia hebat ini memang tak dicatat sejarah. Mereka jauh dari publisitas. Tapi berkat ketulusan dan keikhlasan mereka, banyak sejarah hebat berhasil ditorehkan. Semesta akan mencatat nama mereka dengan cara lain. Mereka akan diabadikan dalam bintang-gemintang yang berpendar abadi di hati orang-orang yang merasakan sentuhan mereka.

Di Menara Eiffel, Paris, di tengah kilatan ribuan cahaya, Ronaldo mengingat jalan lurus yang dibentang pemuda itu.



0 komentar:

Posting Komentar