Kisah Betawi Miliuner




Biasanya, saya sangat selektif ketika ada ajakan untuk menulis buku. Tapi mendengar cerita tentang lelaki bernama Afrial Tabrani ini, saya langsung tertarik dan menyanggupi. Kisah hidupnya menarik, seperti roller coaster, seperti kisah “from zero to hero.”

Dulu, pria Betawi yang cuma lulusan SMA ini seorang kondektur bus trayek 213, jurusan Grogol-Kampung Melayu. Saya pernah lihat beberapa fotonya semasa kondektur. Kini, dia menjadi seseorang yang berpenghasilan 300 juta rupiah sebulan. Bahkan sering kali melampaui angka itu. Dalam setahun, dia bisa meraup income sampai miliaran. 

Mulanya saya tak percaya. Saya malah menduga mobil Mercedes dua pintu yang dipakainya adalah pinjaman. Apalagi dia sendiri mengaku tampangnya seperti sopir. 

Pernah, ketika memarkir mobil mercy-nya di satu warung bakso, pemiik warung bertanya, "Bang, majikanmu kerja apa sih?"

Andai tidak mengenalnya, saya pun akan mengira dirinya seorang sopir. Setelah berkunjung ke rumahnya di Alam Sutera dan melihat beberapa asetnya, saya tahu dia berkata benar. Malah, dia menunjukkan slip gajinya.

Tahu apa pekerjaannya? Dia mengelola bisnis berjejaring. Dia menjadi agen satu produk yang menggabungkan asuransi dan tabungan cerdas. Produknya adalah asuransi CAR yang dimiliki grup BCA, tapi dikembangkan dengan berjejaring ala Multi Level Marketing (MLM) yang dinamakan 3iNetwork.

Banyak orang yang alergi dengan skema MLM. Ada pula yang tidak begitu suka ketika diberitahu tentang “uang bekerja untuk kita.” Sering pula kita menjauh saat diberitahu potensi pendapatan agen asuransi dan MLM. Kita pikir semuanya adalah fatamorgana dan ada unsur tipu-tipu.

Semasa kuliah, saya teringat seorang kawan yang aktif di MLM sering melakukan “prospek.” Banyak orang menjauh. Saya justru senang diprospek. Karena pihak yang prospek akan berusaha menghibur dan meyakinkan saya. Di masa itu, saya hanya anggap sebagai lucu-lucuan. 

Tapi Afrial justru menemukan tantangan. Mulanya dia meyakinkan seorang satpam, setelah itu mulai mencari kaki-kaki yang lain. Dengan gaya kocak dan penuh humor, dia rajin menyapa dan meyakinkan banyak orang. 

Jalan yang ditempuhnya memang terjal. Apalagi image orang-orang tentang MLM lebih banyak negatif. “Kalau tiba-tiba ada yang senyum, atau tiba-tiba disapa teman lama, selalu muncul curiga, jangan-jangan MLM.” 

Afrial tidak patah arang. Dia tahu bahwa lebih mudah sinis, ketimbang mengapresiasi. Dia jalan terus. Pelan-pelan dia mulai punya pengikut. Hanya dalam waktu dua tahun, dia sudah mencapai posisi crown, dengan potensi pendapatan 300 juta sebulan. 

Saya lihat kekuatan Afrial bukan pada mimpi-mimpi dan harapan. Tapi dia justru menyediakan dirinya untuk mendampingi, membantu orang lain, dan selalu bersedia untuk datang, kapan pun dibutuhkan. 

Dia mengingatkan saya pada Marketing 3.0, di mana pemasar tidak lagi sekadar menawarkan produk, tetapi lebih menekankan pada sentuhan emosional sehingga pemasar dan calon konsumen menjadi sahabat dekat yang saling membantu.

Saya mengenal beberapa senior yang bekerja sebagai dirjen atau direktur perusahaan besar di Jakarta. Mereka menjadi manusia super sibuk yang waktunya selalu padat. Bahkan untuk sekadar ngopi dengan mereka, itu bisa jadi anugerah besar. Mereka berkorban waktu untuk hal-hal sederhana sehingga sering kali keluarga dikorbankan.

Tapi Afrial Tabrani justru berbeda. Setelah “uang bekerja untuknya”, dia lebih banyak bersantai. Dia suka berwisata ke luar negeri. Dia berkunjung ke banyak destinasi wisata dunia, dari Eropa hingga Asia. Dia melakukan itu bersama istri dan anak-anaknya.

Saat di Paris dan memasuki butik-butik mahal, dia suka mengenang dirinya dahulu yang mesti berjuang keras sebagai kondektur bus demi sesuap nasi. Saat berada di Roma, Italia, dia sengaja memakai baju merah khas Betawi dan berpose di situ. Dia hendak berkata: ”Nih, gue anak Betawi yang dulunya kondektur, sekarang bisa keliling dunia.”

Saya selalu menikmati saat-saat berjumpa dengannya. Di media sosialnya, dia juga kerap berbagi hal-hal yang ringan, tapi sarat makna. Postingannya sering bikin iri. Saat orang lain bekerja dan menembus kemacetan, eh dia malah leyeh-leyeh di hotel.

Dia juga pernah bilang: “Kata orang, jadi kaya itu ujian. Jadi miskin juga ujian. Mending gue milih kaya dong.”

Kini, draft buku berjudul “Betawi Miliuner” sudah saya rampungkan. Saya belum tahu apakah buku ini akan dipasarkan di toko buku atau tidak. Kontrak saya sebatas membuat draft. 

Yang saya nikmati dari proses menulis buku semi biografi adalah kesempatan untuk belajar dan menelusuri sesuatu sampai detail. Pada Afrial, saya tidak belajar cara menjadi kaya. Saya belajar bagaimana melihat hidup sebagai arena untuk bekerja sekeras-kerasnya, lalu menikmatinya sepuas-puasnya.



1 comment: