Cahaya Hati Seorang Ibu




Anak kecil itu bernama Tommy. Di Amerika Serikat tahun 1850, dia dikenal sebagai anak yang bodoh dan tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Dia selalu gelisah. Pikirannya selalu melompat-lompat dan cepat berpindah dari satu topik ke topik lain.

Pihak sekolah mulai kewalahan menangani Tommy. Kepala sekolah mengundang guru-guru untuk diskusi. Rapor Tommy dibahas. Nilainya selalu buruk dan mengecewakan. Pihak sekolah berniat mengeluarkan anak itu karena dianggap tidak bisa mengikuti pelajaran.

Tapi pihak sekolah tidak ingin mengatakan hal sebenarnya. Tommy dipanggil, kemudian diberi sepucuk surat yang harus diberikan kepada ibunya. Tommy pulang dengan gembira dan bergegas menemui ibunya.

Sang ibu menerima surat itu lalu membacanya. Dia berurai air mata. “Apa isinya Bu?” tanya Tommy dengan penuh rasa penasaran. Ibunya menyeka air mata, kemudian membaca surat itu dengan suara keras.

“Putra Anda seorang jenius. Sekolah ini terlalu kecil untuk menampungnya dan tidak memiliki guru yang cakap untuk mendidiknya. Agar anda mendidiknya sendiri.”.

Ibu meminta Tommy untuk tidak perlu ke sekolah. “Kamu anak yang spesial Nak,” katanya berulang-ulang. Ibu menjadi guru yang mengajari Tommy setiap hari. Ibu merancang jam belajar seperti jam bermain. Mereka membahas banyak buku, jalan-jalan, serta sesekali berpetualang.

Tanpa kurikulum seperti halnya sekolah-sekolah, Ibu mulai mengenalkan Tommy dengan bacaan sains untuk orang dewasa. Tommy pun tumbuh dengan kecerdasan yang melampaui anak seusianya. Ibu menjadi sahabat sekaligus guru yang menjawab semua ketidaktahuan Tommy.

Saat keingintahuan mulai tumbuh, mulailah Tommy bereksperimen. Di usia 12 tahun, dia sudah punya laboratorium kimia kecil di ruang bawah tanah rumahnya. Tommy mulai membuat telegraf yang sudah bisa berfungsi. Dia pun mulai mandiri.

Saat usia 32 tahun, dia bukan lagi Tommy yang bodoh. Namanya harum sebagai penemu hebat yang dikenal seluruh warga Amerika Serikat. Beberapa tahun setelahnya, dia tercatat sebagai penemu paling produktif yang memegang rekor 1.093 paten atas namanya. Sayang, saat itu ibunya telah lama meninggal.

Beberapa penelitiannya antara lain: mendeteksi pesawat terbang, menghancurkan periskop dengan senjata mesin, mendeteksi kapal selam, menghentikan torpedo dengan jaring, menaikkan kekuatan torpedo, kapal kamuflase, dan masih banyak lagi. 

Salah satu karyanya yang monumental adalah penemuan lampu pijar yang mengubah sejarah dan peradaban. Berkat penemuannya itu, dunia menjadi terang benderang. Dia pun kini lebih dikenal sebagai THOMAS ALVA EDISON, seorang penemu hebat dalam sejarah.

Di puncak popularitasnya, Tommy rindu dengan ibunya yang hebat itu. Dalam posisi sebagai pemilik perusahaan General Electric, salah satu perusahaan teknologi paling sukses dalam sejarah, Tommy pulang ke rumah ibunya. 

Saat membuka laci, dia terkejut melihat surat yang pernah dibawanya ke rumah. Dia tersentak saat membaca surat itu:

“PUTRA ANDA ANAK YANG BODOH. KAMI TIDAK MENGIZINKAN PUTRA ANDA BERSEKOLAH LAGI.”

Tommy terdiam sesaat, kemudian menangis tersedu-sedu. Dia membayangkan ibunya yang luar biasa dan serupa mata air tak pernah berhenti menyirami dirinya dengan kasih sayang. 

Jika saja ibunya mengikuti apa kata pihak sekolah, dia tak akan mungkin mencapai posisi seperti sekarang. Mungkin dia akan menjadi seorang preman jalanan yang dicap bodoh oleh dunia sekitarnya.

Tapi ibunya adalah seorang ibu yang luar biasa, yang bisa melihat ada pijar cahaya dalam dirinya. Ibunya menjadi matahari yang menuntun langkahnya untuk menemukan potensi diri. Ibunya menjadi tanah gembur yang menumbuhkan semua potensi itu.

Keyakinan dan kepercayaan ibunya menjadi kekuatan bagi Tommy. Dunia boleh tidak menerimanya, tapi cahaya seorang ibu akan menjadi pelita terang yang memberinya kemampuan untuk terus menggapai mimpinya. Ibunya telah mengubah dirinya menjadi sosok luar biasa dan pengubah sejarah.

Seusai menangis, Tommy lalu membuat catatan: “Saya Thomas Alva Edison adalah seorang anak yang bodoh, yang karena seorang ibu luar biasa, mampu menjadi seseorang yang bermakna.”



1 comment: