Saat Membaca Everybody Lies




Tadinya saya ingin membeli buku “Everybody Lies: Big Data, New Data, and What The Internet Reveals About Who We Really Are” dalam versi bahasa Inggris. Terbit tahun 2017, buku ini pernah saya lihat di Periplus. Ternyata saat ke toko buku, saya malah menemukan terjemahan bahasa Indonesianya yang diterbitkan Gramedia.

Penulisnya, sering disapa Seth, bekerja sebagai data scientist di Google. Dia meraih PhD bidang ekonomi di Harvard. Buku ini ditulis dengan renyah sebab penulisnya adalah kolumnis New York Times. Entah kenapa, belakangan ini saya tertarik dengan buku-buku yang membahas tentang Big Data, algoritma, dan internet of things.

Yang dibahas di buku ini sungguh menarik. Kata penulisnya, pada dasarnya semua manusia suka berbohong dalam kehidupan nyata. Tapi saat menggunakan mesin pencari Google, orang akan menjadi dirinya sendiri. Makanya, data yang direkam Google sering mengejutkan. 

Misalnya, di negeri yang semua orang mengaku moralis dan agamis, Google menunjukkan kalau topik paling sering dicari orang-orang di situ adalah situs porno dan seks. Seseorang yang tampak alim dan pendiam, bisa jadi rajin mengetik kata perkosaan di mesin pencari Google. 

Tahukah Anda, data Google menunjukkan, di India, pencarian nomor satu untuk kalimat yang dimulai dengan “my husband wants ...” adalah “my husband wants me to breastfeed him.” Jumlah ini empat kali lipat lebih banyak dari negara lain. 

Jangan juga kaget kalau di banyak negara, laki-laki banyak mencari informasi mengenai ukuran kemaluan, sedangkan perempuan mencari informasi apakah organ kewanitaan bau. Di Amerika Serikat, pencarian tertinggi mengenai “my wife is pregnant” adalah “my wife is pregnant now what” dan “my wife is pregnant what do I do”.

Makanya kata Seth, data-data pencarian di Google selalu lebih akurat dari survei mana pun yang dilakukan para ilmuwan. 

Saya tertarik saat Seth membahas politik. Saat Obama terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat, semua media dan komentar orang-orang mengatakan bahwa ini fenomena demokrasi dan penghormatan pada manusia, apa pun rasnya. 

Tapi Google justru mencatat lain. Ketika Obama terpilih, kata paling sering yang diketik di Google adalah kata-kata rasis dan merendahkan, misalnya “nigger president” Bagi orang kulit hitam, kata-kata ini dianggap sangat merendahkan.

Tapi begitulah manusia. Kata Seth, orang-orang tampak normal dan baik-baik saja di dunia nyata. Tapi saat dia berhadapan dengan Google, orang-orang akan menjadi dirinya sendiri, yang bisa jadi punya sisi yang lebih banyak rasis. Nah, timbunan data yang setiap hari dikumpulkan Google inilah yang kemudian dianalisis demi memahami perilaku manusia di dunia digital.

Seth juga membahas Donald Trump. Pada saat banyak survei dan ilmuwan memprediksi Hillary akan menang, dia sudah menduga justru Trump akan menang. Bukan karena isu pengangguran dan kemiskinan. Bukan juga karena banyak problem ekonomi warisan Obama.

Google sudah merekam banyak data, bahwa kemunculan Trump bersamaan dengan semakin banyaknya ujaran kebencian dan rasis yang diketik di mesin pencari. Terbukti, Trump menang di semua wilayah yang warganya paling sering mengetik kata “nigger.”

Penjelasan tentang ini bisa diperluas. Bisa jadi, tim kampanye Trump rajin memantau Google Trend dan piawai mengolah Big Data sehingga tahu persis bahwa sebenarnya kebanyakan orang justru berpikir rasis. Dengan demikian, seorang kandidat presiden mesti terbuka menyatakan marah atau benci pada sesuatu lalu mengeluarkan kalimat kasar. Publik justru menunggu-nunggu kandidat yang seperti itu. 

Tahun depan Indonesia akan memilih presiden baru. Apakah semua kandidat presiden rajin menganalisis big data sehingga kalimat-kalimat presidennya mencerminkan bacaan sosiologis atas perilaku manusia Indonesia paling jujur sebagaimana dicatat Google? Apakah kalimat kandidat presiden, yang katakanlah kasar dan agak rasis, itu juga hasil rekomendasi dari Google Trend demi menjaga loyalitas massanya?

Mohon maaf. Bacaan saya masih di bagian pendahuluan. Ingatkan saya, jika sudah membaca lembar terakhir, saya akan menjawab pertanyaan di atas.



1 comment: