Pengalaman Ikut Tes Mengaji




DI Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), sejumlah orang membentangkan spanduk tantangan kepada seorang capres agar ikut tes kemampuan mengaji. Mungkin kita akan terkejut mendengar ada tes seperti itu. Tapi dalam rentang perjalanan hidup, saya pernah menjalani tes mengaji di hadapan banyak orang.

Malah, saya tiga kali menjalaninya. Pertama, saat hendak maju sebagai ketua komisariat di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kedua, saat menjalani tes akhir sebagai pengajar di perguruan tinggi berbasis Islam di Makassar. Ketiga, sebelum membaca ijab kabul di hadapan keluarga mempelai perempuan.

Saya akan mengisahkan ketiganya. Tapi tolong, jangan mencela ilmu saya yang amat rendah ini.

***

HARI itu, teman-teman HMI Komisariat Fisip Unhas mengadakan musyawarah untuk memilih ketua. Saat itu, saya sudah cukup senior di HMI. Mereka yang akan memimpin komisariat adalah para junior, tiga angkatan di bawah saya.

Saya datang sebagai senior yang hendak meramaikan acara. Sejujurnya, niat saya adalah mencari makan siang gratis, juga untuk melirik-lirik beberapa akhwat Kohati (anggota perempuan di HMI) yang manis-manis. Dalam banyak acara, saya dan teman-teman mahasiswa sering berdendang “Kohati.. kohati, alangkah indahmu.”

Begitu saya tiba, semua peserta diminta memasukkan nama yang akan memimpin komisariat. Rupanya, saya datang pada saat yang tepat yakni memilih nama terbanyak yang akan berkompetisi sebagai ketua. 

Entah apa yang terjadi, sejumlah orang bersekongkol untuk memasukkan nama saya dalam bursa ketua. Masuklah nama saya sebagai salah seorang formatur atau kandidat yang akan dipilih sebagai ketua. Padahal saya lebih senior tiga tahun dari kandidat lainnya.

Saat ditanya, apakah bersedia, saya spontan bilang bersedia. Niat saya hanya untuk lucu-lucuan. Saya tak punya niat jadi ketua. Hanya ingin masuk arena dan sedikit bercanda saat penyampaian visi-misi. Kan keren kalau saya bisa pidato di hadapan para Kohati yang cakep-cakep di masa itu.

Tapi saya lupa memperhitungkan satu fakta kalau para calon ketua tidak hanya diminta untuk berpidato, tapi juga harus jalani tes mengaji di hadapan banyak orang. Matilah saya. Kemampuan baca Quran saya masih selevel bacaan metode Iqra. Saya bisa mengaji, tapi sekadar membaca ayat demi ayat. Itu pun tertatih-tatih. 

Bagi organisasi bernapaskan Islam seperti HMI, kemampuan mengaji adalah prasyarat utama bagi para pemimpin organisasi itu. Biarpun anak HMI sering dianggap sekuler dan liberal, tapi untuk memilih ketua, mengaji adalah kemampuan yang wajib dimiliki. Makanya, dalam setiap pemilihan ketua, kemampuan mengaji akan selalu diujikan di hadapan semua peserta, yang selanjutnya memilih siapa kandidat terbaik.

Jika kemampuan mengajinya pas-pasan, maka masih bisa dimaklumi, sebab dia dianggap punya kemampuan dasar. Mengapa mengaji dianggap penting? Sebab seorang Ketua HMI diharapkan bisa membawa materi dalam acara pengkaderan, bisa membawakan dakwah, serta bisa menjelaskan ajaran agama Islam, sebagaimana digariskan dalam Nilai Identitas kader (NIK) dan Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Semua orang yang pernah menjalani aktivitas di HMI, pasti tahu tentang hal ini.

Makanya, ketika menjadi kandidat ketua, saya diminta ikut tes mengaji, mulailah saya keringat dingin. Teman saya, Himar, menjadi steering comittee (semacam dewan pengarah) yang menentukan bacaan dari kandidat ketua. Himar menyilakan seorang kandidat untuk mulai mengaji. Dia diserahkan Quran, tapi teman itu menolaknya. Rupanya dia penghafal Quran. Dia mengaji dengan fasih, dengan mata terpejam, lengkap dengan irama dan lagu-lagunya. Wajarlah, dia keluaran pesantren.

Kandidat kedua dipilihkan bacaan Alif Lam Mim, yang relatif mudah. Maka mengajilah teman kedua. Saya sebagai kandidat ketiga mulai keringatan. Rasanya ingin segera mundur dari pencalonan, tapi saya pasti akan malu dan kehilangan muka di hadapan para Kohati. 

Giliran saya, Himar memilihkan bacaan Quran di bagian tengah. Saya pun mulai membaca dengan tertatih-tatih. Beberapa hadirin senyum-senyum. Saat para dewan pengarah ditanya, apakah saya bisa lolos? Semuanya bilang ya. Bacaan saya dianggap bisa dimengerti. Saya lolos tes mengaji. Alhamdulillah.

***

Pengalaman kedua jalani tes mengaji adalah saat mendaftar dosen di salah satu perguruan tinggi berbasis Islam di Makassar. Waktu itu, saya baru lulus S2. Saya sedang menganggur di Makassar. Saat ada lowongan pengajar di kampus Islam itu, saya ikut mendaftar. Saya mendaftar untuk dosen Ilmu Komunikasi. Anehnya, saya malah diminta tes untuk formasi dosen ilmu politik. Saya jalani saja.

Tesnya mirip Indonesian Idol yang memakai sistem gugur. Tes pertama adalah tes potensi akademik (TPA), setelah itu tes bahasa Inggris. Pada semua tes, banyak yang berguguran. Mungkin karena saya cukup pandai, nama saya selalu teratas. Bahkan terakhir, tinggal dua nama yang akan jalani tes wawancara. Yang akan direkrut satu orang.

Tes selanjutnya adalah wawancara. Saingan saya tinggal satu orang. Saya yakin bisa melaluinya dengan mudah. Biarpun saya bukan anak politik, tapi bacaan saya pada teori-teori politik, saya anggap sangat bagus. Kebetulan, pewawancara sangat mengenal saya. Seusai wawancara dia berbisik “Kalau sisi akademik, kamu lebih bagus. Tapi sainganmu sudah lama jadi asisten dosen di sini.” Peluang saya mengecil.

Nah, tes terakhir adalah tes mengaji di hadapan salah seorang guru besar di kampus itu. Kembali saya keringat dingin. Saya berhadapan dengan seorang profesor bidang ilmu hadis, yang dahulu menjadi tetangga saya di Baubau. Sewaktu saya kecil, perguruan tinggi Islam itu punya kelas jauh di Baubau, sehingga banyak dosennya yang tinggal bertetangga dengan saya. Profesor yang hendak mewawancarai pun mengenal dan sering berinteraksi dengan saya di masjid.

Giliran saya mengaji, dia mendengar dengan wajah yang nampak aneh. Komennya hanya satu, “Saya sering lihat kau di masjid. Siapa yang ajar mengaji?” Saya terdiam. Untuk tes terakhir, poin saya tidak bagus-bagus amat. Gak nyangka juga kalau saya bisa gugur karena tes mengaji. Entahlah. Mungkin ada hal lain yang luput dari pantauan saya.

*** 

TERAKHIR, saya jalani tes mengaji saat hendak menikah. Selama beberapa bulan, saya stres memikirkan biaya pernikahan. Maklumlah, untuk nikah ala Bugis, mesti siap modal. Saya memeras otak memikirkan strategi biar pernikahan bisa jalan. Saya sudah menuliskan pengalaman nikah itu beserta jalan keluarnya. Silakan baca DI SINI.

Satu hal yang luput saya persiapkan adalah proses ijab kabul. Ternyata, untuk nikah Bugis mensyaratkan tes mengaji bagi seorang mempelai pria. Bahkan di lokasi ijab kabul itu sudah disiapkan Quran. Keluarga mempelai perempuan berharap agar lelaki yang menikahi anaknya punya kemampuan agama yang baik, bisa jadi imam, juga bisa membimbing agama bagi keluarga.

Saya pun menjalaninya. Untungnya, pihak penghulu hanya meminta saya membacakan surah Al Fatihah. Nah, kalau cuma itu, jelas saya sangat fasih. Mulailah saya melafalkannya dengan gaya ala Qori di acara Musabaqah Tilawatil Quran. Belum sampai bacaan “wala daalin”, penghulu bilang cukup. Maka berlanjutlah proses jab kabul dengan riang gembira.

*** 

HINGGA kini saya masih mempertanyakan mengapa ada tes mengaji. Menurut saya, keberislaman seseorang tidak perlu disampaikan dengan cara demonstratif seperti itu. Tak ada kaitan secara langsung antara kefasihan mengaji dengan kualitas kepemimpinan. Sebab kepemimpinan adalah soal manajerial, kemampuan mengelola manajemen, serta memastikan semua orang bisa mencapai target yang direncanakan.

Daripada sibuk melihat kefasihan mengaji, lebih baik memantau rekam jejak, visi-misi, dan apa yang sudah dilakukan seseorang. Untuk soal ini bisa terukur dan bisa dipantau. Ini jauh lebih penting sebab sebagai pemimpin, sebab dia akan dituntut untuk bekerja dan mencapai target-target yang direncanakan.

Demikian pula dalam hal seleksi dosen perguruan tinggi. Kriteria paling penting yang seharusnya dicari adalah intellectual curiosity yakni satu hasrat dan sikap untuk selalu ingin menemukan jawaban dari banyak pernyataan-pertanyaan. Yang perlu dicari adalah “rasa lapar akademik” yakni kemampuan untuk mencari dan mengembangkan ilmu, kemudian merumuskan cara-cara baru memahami persoalan dengan menguasai metodologi dan riset.

Tes kemampuan mengaji hanya akan menunjukkan seseorang mengenali Islam, tapi tidak akan bisa menunjukkan sejauh mana nilai Islam itu mengakar pada diri seseorang, menjadi napas bagi semua gerak, serta menjadi kompas untuk bergerak.

Tes itu tidak bisa menjadi indikator bahwa seseorang menjadikan nilai itu sebagai napas yang selalu mengisi kehidupannya. Padahal, mereka yang menjadikan agama sebagai napas dan mengalir di darahnya inilah yang harus ditemukan.

Tapi saya juga tidak memungkiri kalau ada pandangan yang dominan di kalangan banyak orang, khususnya organisasi berlabel Islam. Mereka punya kriteria sendiri dalam memilih pemimpin atau mereka yang menjadi bagian dari barisannya.

Dulu, saya keringatan saat harus menjalani tes mengaji. Kini, zamannya telah berubah. Cukup menyebut pendukung satu capres, maka tafsir dan penilaian orang akan berubah. Penilaian akan ditentukan dari pilihan capres. Ketika saya menyebut diri sebagai pendukung capres A, maka salah sebut bacaan Al Fatihah langsung akan di-bully habis-habisan.

Tapi jika saya menyebut diri sebagai pendukung capres B, maka ketika saya menolak jadi imam, orang-orang akan membela. Ketika saya salah sebut gelar untuk Rasul, tetap saja dibela habis-habisan. Ketika ikut merayakan natal, semua akan memuji sebagai simbol toleransi. Bahkan ketika diminta tes mengaji, semua akan membela dan mengatakan tidak perlu.

Ternyata, nilai-nilai bisa longgar saat bicara pilihan politik. Saya berpikir, harusnya, saya menjalani ketiga tes itu di masa kini. Biar saya gampang berkelit dengan menyebut diri sebagai pendukung Capres itu. Biar bisa menjalani hidup dengan aman dan nyaman.

Iya kan?



0 komentar:

Post a Comment