Semuanya Berkat HERNOWO HASIM


beberapa buku yang ditulis Hernowo

BIASANYA, saya sangat cepat menyatakan dukacita dan menuliskan kesan-kesan tentang seseorang. Tapi untuk lelaki bernama Hernowo Hasim, saya butuh beberapa hari untuk bisa menulis. Saya tidak tahu hendak memulai dari mana. Saya merasakan ada yang kosong di rongga hati kala menyadari bahwa seorang guru telah berpulang. Uniknya, sang guru itu justru belum pernah saya temui.

Hernowo, seorang guru menulis telah berpulang. Kenyataan ini terasa menyakitkan bagi saya yang membaca hampir semua, dan mengoleksi banyak buku yang ditulis salah satu pendiri penerbit Mizan ini. Saya membayangkan akan kehilangan motivasi dari orang yang selalu saya tunggu buku-buku terbarunya. Saya sedih saat membayangkan tidak lagi mendapatkan sekeping atau dua keping komentarnya atas artikel pendek yang saya buat.

Beberapa orang telah menulis tentang apa saja ide-ide yang diperkenalkan Hernowo. Saya tak ingin ikut-ikut menulis sesuatu yang sudah dibahas banyak orang. Saya ingin mengikuti anjuran Hernowo yang selalu meminta orang-orang untuk mengeluarkan pemikirannya yang orisinal melalui gaya menulis bebas. Baiklah, saya ingin buat pengakuan mengapa Hernowo begitu penting di mata saya.

Dahulu, sebelum bertemu buku yang ditulis Hernowo, saya sudah menekuni dunia menulis. Satu atau dua tulisan saya terpampang di Identitas, koran milik mahasiswa Universitas Hasanuddin. Sesekali saya juga meramaikan koran lokal. Akan tetapi saya menulis dengan gaya yang susah dimengerti masyarakat awam. Saya menulis terlampau akademik, dengan teori-teori yang berhamburan, dan pendapat orisinal saya hanya secuil.

Dalam artikel-artikel pendek itu, saya menghamparkan banyak teori dan kutipan-kutipan yang tak lazim bagi orang paham. Saya akan merasa keren ketika mengutip banyak pemikir dan filsuf hebat, meskipun saya sendiri tak paham benar apa yang dikatakan orang hebat itu. Bacaan saya hanya satu atau dua buku, tapi ketika menulis, saya berpretensi paham semua pemikiran orang lain.

Perasaan saya akan melambung jauh saat bertemu seseorang yang tidak paham apa yang saya tulis. Rasanya saya ingin berkata, “Makanya, banyak baca. Biar paham apa yang saya tulis.” Sepertinya saya ingin berkata pada mereka yang tak paham: “Makanya, jadi orang pintar dong. Seperti saya.”

Entah kenapa, pada masa itu, saya justru amat bangga ketika orang-orang tak memahami apa yang saya tulis. Ada semacam perasaan jumawa ketika menganggap bahwa tulisan kita membuat orang lain bingung dan tidak mengerti. Ada perasaan bahwa kita telah membangun satu jarak intelektual yang tinggi, yang tak bisa digapai sembarang orang. Ada perasan hebat ketika ilmu kita jauh di depan, dan orang lain tak paham.

Dengan gaya menulis seperti itu, saya jadi tidak produktif. Sebab saya berharap tulisan itu akan dianggap hebat oleh orang lain. Saya akan kecewa ketika satu tulisan saya dianggap biasa-biasa saja. Kegiatan menulis adalah kegiatan yang menjadi amat menakutkan buat saya. Sebelum tulisan jadi, saya bayangkan cibiran, hinaan, dan juga anggapan bahwa saya hanya menulis sampah. Lebih sakit hati saat membayangkan tulisan itu akan dianggap rendah orang lain.

Pada satu titik, saya tak bisa melakukan apa pun. Untuk membuat satu artikel pendek, saya butuh waktu berhari-hari sebab takut penilaian orang. Lebih sering saya urungkan niat untuk mengirimkan tulisan itu sebab khawatir kalau-kalau tulisan itu bisa mencederai anggapan orang bahwa saya pintar. Saya tak ingin dianggap bodoh.

Hingga suatu hari, saya menemukan buku Mengikat Makna yang ditulis Hernowo. Mulanya, saya memandang enteng buku ini. Saya pikir ini tak beda dengan buku-buku how to yang banyak beredar di pasaran. Ketika pertama membacanya, saya mulai tertarik. Kalimat Ali bin Abi Thalib yakni "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya" terasa menyesap dalam diri. Saya membaca kalimat-kalimat yang disusun sederhana, tapi maknanya terasa menusuk hingga sumsum terdalam.

Hernowo telah menghancurkan keangkuhan dalam diri saya tentang menulis. Bahwa menulis itu adalah cara untuk berkomunikasi dan membangun jembatan pemikiran dengan orang lain. Bahwa menulis itu bertujuan untuk menggerakkan, untuk menginspirasi, bukan untuk membuat orang lain kagum. Melalui tulisannya, Hernowo mengajarkan untuk menemukan sesuatu yang orisinil, apa adanya, mengalir, dan menjadi medium bagi seseorang untuk mengalirkan jati dirinya.




Saya sepakat dengan apa yang ditulis pada bagian awal buku Mengikat Makna. Bahwa kegiatan menulis adalah upaya untuk mengikat makna, kemudian merekam, menyimpan, dan mendokumentasikannya. Ketika seseorang menulis, maka sesungguhnya seseorang sedang berpikir. Dia mencerna satu kenyataan, kemudian mengalirkan pengetahuannya itu ke dalam aksara. Menulis adalah cara bagi seseorang untuk berbagi pengetahuan, menyebar manfaat, dan mengajak orang lain untuk memikirkan sesuatu.

Gaya menulis Hernowo sesederhana percakapan di warung kopi atau di teras rumah, tapi makna yang disampaikannya terasa menghujam sampai ke jantung. Dia tidak sedang menggurui, tetapi menunjukkan cahaya terang ketika orang-orang berada dalam situasi gelap hendak memanggil aksara apa. Dia menunjukkan cara-cara sederhana bagaimana memulai gagasan, meniti di atas jembatan aksara, hingga tiba pada ujung yang mengejutkan saat seseorang menyadari bahwa dirinya bisa menulis.

Dalam tuturan Hernowo, seseorang tak akan bisa menjadi penulis yang hebat jika dirinya bukan pembaca yang hebat. Demi mengikuti anjuran Hernowo, saya pun banyak membaca buku-buku yang dianjurkannya. Saya lalu mencari buku yang ditulis Natalie Goldberg, seorang praktisi menulis yang memperlakukan aktivitas menulis serupa meditasi. Saya membaca bukunya yang berjudul Writing Down the Bone, salah satu buku yang mempengaruhi Hernowo.
Seusai membaca buku itu, saya kembali merenungi buku Hernowo. Kesimpulan saya, setiap orang punya kemampuan untuk menulis. Makanya, kelas-kelas kepenulisan itu adalah sesuatu yang tidak perlu. Mengapa? Sebab setiap orang punya kisah yang seharusnya bisa dibagikan melalui aktivitas menulis. Semua orang punya sumur yang berisikan telaga kisah dalam dirinya. 

Kalaupun ada kelas menulis, maka yang dibahas dalam kelas itu adalah bagaimana menemukan tali panjang dan timba, yang kemudian digunakan untuk mengambil kisah dari dalam sumur diri, kemudian dibawa ke atas. Kelas menulis harusnya menjadi kelas penemuan diri. Seseorang mengenali dirinya, mengenali apa saja kisah menarik yang dimilikinya dan berguna bagi orang lain, lalu menemukan cara agar kisah-kisah itu bisa berbaris dalam aksara.

Sejak buku Mengikat Makna, saya mulai mengikuti buku-buku Hernowo. Hingga akhirnya, saya mulai menikmati dunia menulis. Berkat Hernowo, saya lebih percaya diri. Menulis adalah aktivitas yang menyenangkan dan membahagiakan. Saya tak pernah terbebani dengan kegiatan menulis. Bagi saya, menulis serupa singgah bermain di satu telaga, membasuh wajah, kemudian sejenak meminum air dingin di situ. 

Berkat Hernowo, saya sering tak peduli apa pun penilaian sinis orang lain. Bagi saya, jika ada orang yang mencibir satu tulisan, pastilah orang itu bukan penulis. Sebab seorang penulis pasti paham bahwa tidak mudah melahirkan satu tulisan. Selalu ada proses ketika penulis hamil dengan gagasan-gagasan, kemudian menjaganya dalam pikiran, lalu susah payah melahirkannya ketika menulis. Hinaan pada satu tulisan adalah ekspresi ketidakmampuan untuk melahirkan hal yang sama. Potret rasa iri karena orang lain bisa maju selangkah, saat diri hanya bisa mencibir.

Buku-buku Hernowo adalah jenis buku yang tidak saja menyediakan peta jalan agar seseorang tidak tersesat dalam dunia aksara, tapi juga semacam mantra agar seseorang menemukan kekuatan dan daya-daya hebat itu dalam dirinya. Seseorang tak harus menunggu bantuan orang lain, tapi membangkitkan potensi yang selama ini tertidur dalam dirinya. Tipe bukunya adalah menggerakkan seseorang untuk menimba sebanyak-banyaknya potensinya demi menggapai kebahagiaan.

BACA: Sepuluh Alasan untuk Tidak Menulis

Buku-bukunya tak cuma menggerakkan, tapi juga membasahi diri dengan berbagai kearifan dan spiritualitas. Hernowo menyerap kearifan dari tulisan banyak orang, lalu membagikannya kepada banyak orang. Dia menyentuh nurani orang lain dengan pelajaran dan kisah-kisah yang menggerakkan sehingga orang-orang menemukan jati dirinya serta tujuan hendak ke mana. Sesuai membaca bukunya, saya tak cuma merasakan secercah cahaya terang, tapi juga nurani yang dibasahi oleh embun permenungan. 

buku Hernowo yang terbaru

Makanya, ketika membaca berita dirinya telah berpulang, saya merasa sangat kehilangan. Interaksi saya dengannya amat terbatas. Saya belum pernah bertemu dengannya. Saya hanya berinteraksi melalui media sosial. Saya rajin membaca catatannya di satu grup Facebook yang dikelolanya. Ketika saya membagikan tulisan saya di situ, dia dengan sukarela memberikan catatan yang selalu membuat saya melambung dan nyaris tidak berpijak di bumi saking bahagianya.

Pernah pula saya membuat endorsement bukunya akun media sosial saya. Dirinya membaca endorsement itu, kemudian membagikannya ke mana-mana. Saya merasa tersanjung sebab seorang guru sekaliber dirinya, mau saja membagikan catatan saya serta perasaan terima kasih yang dalam. 

Kini, guru hebat yang memberi cahaya terang di dunia menulis itu telah berpulang. Saya tak bisa hadir di pemakamannya. Tapi dari sudut hati yang dalam, saya merapal satu harapan kuat. Semoga setiap aksara yang ditulisnya, yang telah berkelana lalu mengetuk hati banyak orang itu kelak menjadi malaikat yang akan bertutur tentang betapa baiknya dirinya. Semoga setiap kalimat yang pernah dia catat dan abadi dalam buku-bukunya itu akan menjadi amal jariah yang terus memberinya kebaikan di mana pun dia berada. 

Selamat jalan guru menulisku.



1 komentar:

Rahayu mengatakan...

Terimakasih atas tulisannya yang sangat tulus dan menginspirasi.

Posting Komentar