Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Menjadi Asisten Mr Douglas

HARI ini adalah hari yang cukup berkesan bagiku. Aku bertemu dengan seorang peneliti berkebangsaan Amerika Serikat (AS) bernama Mr Douglas. Ia adalah dosen di satu universitas di Timor Leste. Ia juga seorang mahasiswa doktoral di satu universitas di AS.

Awal pertemuanku, terjadi dengan tidak sengaja. Saat hendak mengambil minuman di dapur kantorku, aku melihat seorang pria berambut pirang duduk di ruang tamu sembari membuka lembaran-lembaran koran.

Pria itu sedang berbincang dengan sahabatku Imam Wahyudi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sangat fasih. Temanku Imam melemparkan guyonan-guyonan yang langsung ditanggapi dengan berguyon juga. Mereka sama-sama tertawa lepas.

Saat aku melintas, Imam memanggil namaku untuk ikut nimbrung. Biasanya, banyak peneliti asing yang datang ke kantor. Karena aku di bagian riset, aku selalu kebagian tugas untuk menemani mereka. Mungkin karena bahasa Inggrisku dianggap paling fasih di kantor. Entahlah.

Aku datang dan menyapanya. Kemudian aku mendengarkan dialog mereka sembari memperhatikan pria itu dengan seksama.

Awalnya, aku pikir, ia sedang melakukan riset media yang berkaitan dengan kebijakan pemberitaan. Dalam khasanah penelitian komunikasi, riset ini masuk dalam kategori riset kuantitatif.

Seorang peneliti akan menghitung berbagai modus pemberitaan menyangkut sesuatu hal. Proses ini disebut koding. Nanti, akan dibuat analisis menyangkut keberpihakan atau persepsi media tentang sesuatu hal.

Sewaktu kuliah, aku termasuk orang yang tidak terlalu suka dengan model penelitian ini. Bagiku, itu terlampau menyederhanakan realitas. Lagian, mana mungkin manusia bisa dikuantifikasi dalam sejumlah angka-angka yang kaku.

Kembali ke pria asing itu. Aku menyodorkan tangan untuk kenalan. Ia menyebut namanya Douglas. Aku teringat kalau dua tahun yang lalu, teman-temanku pernah menggelar diskusi di koridor kampus dan menghadirkan pembicara asing bernama Douglas.

Saat kutanyakan, ia tersenyum dan mengiyakan. Dialog dengan lancar kemudian terjadi di antara kami. Saat itu, aku mengkritik metode yang ia tempuh dalam membaca koran.

Aku menawarinya metode pembacaan lewat searching data. Kujelaskan kalau aku mempunyai arsip file semua liputan koran. File itu tersimpan dalam program wp6. Aku jelaskan karakteristik program ini adalah kemampuannya untuk mencari kata kunci dalam file.

Ia balik mengkritik. Menurutnya, cara itu tidaklah efektif untuk risetnya. Sebab kata kunci hanya menemukan kata tertentu. Tidak membantu kita untuk menemukan substansi. Ia menjelaskan risetnya.

"Yos, saya lagi riset tentang bentuk aksi dari civil society yang ada di masyarakat. Selama ini, lembaga internasional melihat tolok ukur civil society lewat sejumlah angka yang menjadi parameter dan di sebut civil society index," katanya

"Apa yang salah dengan civil society index?" tanyaku.

"Civil society index terlampau menyederhanakan realitas. Bayangkan, seorang peneliti hanya perlu mewawancarai sejumlah ilmuwan lokal atau peneliti setempat. Nantinya, wawancara itu dibuatkan skoring. Dan itu sangatlah tolol," katanya.

"Lantas, apakah metode ini punya bias data yang cukup besar?" tanyaku lagi.

"Yup. Angka civil society indeks di Kalimantan sangatlah tinggi Artinya, di sana kohesi sosial sangat besar sehingga minim bentrokan sosial. Tak lama setelah angka itu dipublikasikan, tiba-tiba muncul berbagai konflik etnis seperti Sampit, dan beberapa daerah lainnya. Jelas, hasil riset itu tidak bisa menjelaskan apa-apa," kata Douglas dengan mimik serius.

Aku tertegun sesaat. Terus terang, aku tak terlalu asing dengan berbagai riset seperti ini. Bukankah sejak debat metodenstreit antara kubu positivistik dan antipositivistik di Jerman tahun 1960-an, hingga kini, parailmuwan tak benar-benar menemukan satu metode terbaik dalam mendekatkan diri pada satu realitas sosial?

"Aku paham dengan metode itu Bung!!. But, apa kamu yakin kalau itu bisa mendekatkan kita pada realitas civil society yang seutuhnya?" tanyaku.

Mr Douglas tersenyum. "Justru dengan cara mencoba berbagai hal dan riset baru, kita punya peluang untuk meruntuhkan berbagai metode yang kita anggap usang," katanya, lagi-lagi dengan tersenyum.

Aku serasa melihat filsuf Yunani Archimedes yang meneriakkan EUREKA. Aku melihat binar pengharapan di matanya. Sekilas, melintas gagasan Thomas Kuhn tentang revolusi paradigmatik dalam ranah riset ilmu sosial.

"Wah..luar biasa. Kita bisa menemukan berbagai metode baru dengan cara ini," kataku.

Tiba-tiba saja, Mr Douglas mengajakku bicara serius. Ia bilang, selama ini ia tak membutuhkan asisten karena tak percaya kualitas orang yang diajaknya kelak. Menurutnya, tak banyak orang yang bisa memahami cara berpikirnya termasuk lompatan-lompatan gagasannya.

Ia mengajakku menjadi asistennya. Menurutnya, aku bisa membantunya untuk menuntaskan penelitian itu. Sebab, jika dikerjakan berdua, maka riset itu bisa lebih ringan. Menurutnya juga, aku paling paham soal Sulsel, kelak ia ingin aku menulis hasil riset itu dalam satu jurnal bergengsi di Indonesia dan luar negeri. Karya itu bisa menimbulkan efek yang mengejutkan kelak.

Aku agak terkejut. Tak menyangka jika aku bisa dijadikannya asisten. Lagian, kupikir pekerjaan itu sangatlah ringan. Dan aku bukanlah orang yang rewel jika berbicara perkara duit.

Aku mengulurkan tangan tanda setuju. Kini, Mr Duoglas memberikan secercah harapan bagiku. Setidaknya, aku punya pengalaman riset dengan beberapa orang asing. Dan mereka selalu memiliki vitalitas dan kecerdasan yang tidak dimiliki rata-rata peneliti di sini.

Bagiku, riset seperti ini sangatlah mudah. Tidak butuh banyak energi. Lagian, suatu saat, mr Doglas bisa kujadikan akses untuk menembus berbagai lembaga donor yang menyediakan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan kelak. Apalagi, istri Mr Douglas bekerja di lembaga Ausaid, yang kerap menawarkan beasiswa ke Australia dan negara Eropa.

Yah, ini adalah peluang sekaligus tantangan bagiku. Bisa menuntaskan satu proyek riset yang agak ambisius. Aku bisa belajar banyak hal.

Usai diskusi, Mr Douglas pamit. Ia akan berangkat ke Kendari dan beberapa daerah lainnya. Ia berjanji untuk datang lagi pada tanggal 11. Kelak, kami akan melanjutkan diskusi kami dengan beragam topik sekaligus menajamkan hasil riset kami kelak.

Semoga Allah terus memberiku jalan terbaik Hari ini, Mr Douglas memberi secercah harapan.

Membunuh Sepi di Jakarta

AKU di Yogya mulai Jumat hingga Senin. Di hari Selasa, aku mulai gelisah. Aku ingin ke Jakarta. Rencanaku, aku ingin mencari informasi pendaftaran di Universitas Indonesia (UI).

Aku tahu betul kalau aku tak punya banyak duit untuk melanjutkan kuliah di jenjang magister. Namun, aku rasa segala sesuatu haruslah dicoba. Barangkali butuh sedikit kenekadan untuk memenuhi ambisiku yang tengah bergejolak.

Aku berangkat dari Yogya naik bus malam menuju Jakarta. Saat berangkat, aku sempat clash dengan seorang calo di Terminal Giwangan. Calo itu menipuku dan membelikan bis kelas ekonomi. Padahal, aku minta dibelikan kelas eksekutif.

Terpaksa, aku tukar dengan tiket bis eksekutif malam hari Meskipun, konsekuensinya adalah harus melewati perjalanan jauh melalui Pantai Utara. So, perjalanan yang sungguh melelahkan.

Bis berangkat dari Yogya pada pukul 8 malam. Setelah tiba di Solo, bis sempat lama menunggu dan berangkat menuju Semarang. Setelah itu bergerak menuju Jakarta. Bis itu menyusuri pantai utara, sebuah perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan.

Untunglah, di kursi sebelahku, ada seorang gadis manis. Rasanya, ini kebetulan yang menyenangkan, bisa melalui hari dengan seorang teman yang bisa diajak berdiskusi macam-macam.

Namanya Hertina Saragih. Ia wanita asli Batak yang tengah belajar di satu universitas di Bandung. Anaknya putih, mungil, dan cantik. Sepanjang perjalanan, ia terus berkisah tentang perjalanan cintanya, keluarganya, serta banyak hal. Ah, perjalanan yang mengasyikkan.

Di Jakarta, aku ketemu sama teman kuliahku dulu yaitu Dery. Ia menjai wartawan di satu majalah otomotif di Jakarta. Kariernya sangatlah menanjak. Itu terlihat dari begitu besarnya animo dan kepercayaan bosnya pada dirinya.

Aku bercerita banyak padanya. Dery mengajakku ke rumahnya. Kami berbincang tentang banyak hal seharian bahkan menjelang tidur pun, kami masih bercerita banyak.

Dery masih seperti dulu. Ia masih memiliki vitalitas dan semangat khas anak kuliahan. Aku tahu betul, kalau ia adalah satu dari sekian anak Unhas yang belum rela meninggalkan kampus. Ia masih setia mengikuti apa wacana yang tengah marak di Unhas. I masih peduli dengan Kosmik, lembaga mahasiswa tempat kami dulu bersama-sama.

Aku mendengarnya setiap ceritanya. Aku senang mendengar semua yang disampaikannya.

Bagiku Dery adalah satu dari sedikit orang yang sangat menjunjung tinggi persahabatan. Sungguh beruntung aku yang bisa menjadi sahabatnya.

Selain bersama Dery, aku juga menemui sahabatku Eka Sastra. Ia menemaniku ke Kwitang, Senen, untuk melihat banyak buku-buku lama. Ia juga mengajakku ke kampus UI Salemba.

Rasanya, keinginanku untuk sekolah mulai tak tertahankan. Aku mulai tak tahan untuk mulai menata impianku. Setidaknya, ini adalah impianku sejak dulu. Waktu satu tahun, sudah cukup untuk mulai mencari tantangan baru.

Aku rasa, setiap orang membutuhkan tantangan demi bisa menjaga ritm hidupnya. Dan, bagiku tantangan terbesar saat ini adalah menuju bangku kuliah. Semoga Allah memberikan jalan yang lapang untuk itu

Jogja-ku yang Hilang

Pulang ke kotamu
ada setampuk haru dalam rindu
masih seperti dulu
tiap sudut menyapaku bersahaja, penuh selaksa makna
musisi jalanan mulai beraksi
seiring laraku kehilanganmu....


DI tahun 1995, aku memasuki Kota Yogya sembari mendendangkan lagu dari Kla Project berjudul Yogyakarta.

Lagu ini begitu puitis. Ada keperihan dan rasa tidak percaya melihat kota ini yang kian bersolek. Ada rasa kehilangan yang terpancar lewat lirik yang begitu kuat.

Dulu, aku mendengar lagu ini dengan agak sinis. Bagiku, tak ada yang benar-benar hilang dari kota ini. Semuanya berjalan lewat satu mekanisme yang linear dan menjadi keniscayaan.

Aku ingat betul. Saat itu, Malioboro Mall tengah dibangun di Jalan Malioboro dan menggusur begitu banyak pedagang yang menggelar dagangan di pasar tradisional. Betapa logika kapitalisme dan ekonomi telah menghempaskan elemen tradisional dan nyaris kehilngan ruang.

Mbok-mbok bakul harus kalah oleh satu mekanisme yang begitu perkasa dan tidak memberi sedikit celah buat mereka demi meletakaan dagangan. Sejalan dengan itu, jalan ini mengalami renovasi besar-besaran.

Pasar Beringharjo ikut dibenahi. Getar kesenian tradisioanl khas Jawa yang memancar dari tempat ini mulai dipertanyakan banyak kalangan. Bahkan gedung kesenian Senisono harus digusur demi membangun berbagai pranata modernitas.

Kini, rentang waktu sepuluh tahun berikutnya, aku kembali di tempat itu. Takdir menggiringku kembali ke situ. Dan, aku harus bersepakat dengan Kla Project.

Betapa banyak tempat yang dulunya penuh jejakku, kini menghilang. Aku ingat, dulu di Jalan Solo ada bioskop murah bernama Royal. Bioskop itu, karcisnya hanya Rp 500 dan dipadati mahasiswa kere sepertiku.

Di depannya, ada bioskop yang cukup elite yaitu Empire 21 dan Regent 21. Kini, dua bioskop itu telah lenyap. Menurut seorang kawan, bangunan itu telah terbakar hingga akhirnya berganti dengan bangunan lain.

Itu belum seberapa. Berjalanlah di sore hari di kota ini. Betapa terasa kalau penduduk kota bertambah dengan cepat. Kalau dulu, tak begitu banyak orang, kini begitu ramai dan penuh manusia.

Di sepanjang sudut kota ini, selalu ada rumah kos. Selalu ada tempat mahasiswa. Semuanya berinteraksi di kota kecil itu. Kalo tak salah, beberapa waktu yang lalu beredar isu menyangkut tingginya angka seks bebas di kota ini.

Yah, Yogya adalah ikon dari pertarungan abadi antara modernitas dan nilai. Di ota ini, masa lalu kian tak punya ruang. Semuanya digantikan oleh pranata kebudayaan baru sebagai anak kandung dari modernitas dan pemujaan budaya massa.

Meski demikian, aku juga banyak menemukan energi positif di kota ini. Warganya kian pandai dalam mengasah rasa seninya. Bagaimanapun, itulah satu-satunya mekanisme bagi mereka agar terus hidup dan bisa bertahan di tengah arus yang kian cepat putarannya.

Flight to Jogja

Cukup lama aku tidak menggoreskan kata di blogspotku ini. Padahal rentang waktu ini, begitu banyak hal yang terjadi dalam gerak langkahku.

Seminggu yang lalu, aku berangkat ke Kota Yogyakarta. Keberangkatan ini agak mendadak dan tanpa planning sebelumnya.

Kakakku, Ismet menikah dengan seorang gadis asal Yogyakarta. Aku penasaran untuk melihat gadis pujaannya. Selain itu, di keluargaku, pernikahan adalah hajatan yang harus dihadiri seluruh anggota keluarga lainnya.

Dua minggu yang lalu, ibuku, Ismet, mama, Atun, Mamanya Evi dan Evi, datang ke rumah. Mereka menginap selama beberapa hari karena dapat tiket pesawat yang berangkat dua hari berikutnya.

Yah, aku melihtnya sebagai bagian dari tugas kebudayaan yang aku emban sebagai manusia yang punya relasi dengan manusia lainnya. Toh, inilah manifestasi dari gagasan Levi Strauss tentang struktur sosial.

Setelah mereka berangkat, selanjutnya adalah giliranku bersama Kak Syam dan Mama di Barru. Kami naik pesawat Merpati Nusantara dan langsung berangkat menuju Kota Yogyakarta, tanpa transit.

Perjalanan ke sana tidak begitu jauh dan hanya ditempuh dengan waktu 50 menit. Setiba di Yogya, adik Edi telah menjemput kami dan diajak ke rumah Kak Budin. Dan keesokan harinya, rombongan kami bergerak menuju Cangkringan, lokasi perkawinan Ismet.

Di sana, udah kumpul banyak keluarga mulai dari Bapaknya Nita sampai La Edi, sahabatku selama kuliah.

Daerah Cangkringan sangatlah dingin. Daerah ini terletak di lereng Gunung Merapi sehingga Kota Yogyakarta tampak di bawah dengan kelip-kelip lampunya.

Namun, tujuanku bukanlah berwisata. AKu menyaksikan perkawinan yang menurutku sangatlah berbeda dengan orang Bugis atau orang Buton sekalipun. Di Yogya, perkawinan tidaklah menjadi beban dari pihak lelaki, namun semuanya adalah tanggung jawab orang tua yang ingin melihat anaknya nikah dan menunaikan kewajibannya.

Di Bugis Makassar, perkawinan adalah alat untuk melestarikan strategi kuasa. Perkawinan menjadi mekanisme yang melestarikan motif ekonomi. Seorang lelaki harus mengeluarkan mahar senilai puluhan juta rupiah demi menikahi gadis pujaannya.

Beberapa tahun lalu, aku melakukan riset atas itu. Aku menemukan banyak fakta, begitu banyak pihak yang diuntungkan lewat mekanisme perkawinan. Ada begitu banyak pekerjaan dan profesi yang terkait dengan hajatan besar itu.

Namun yang paling nmpak adalah ego dan harkat keluarga. Tolok ukurnya adalah gelar kebangsawanan atau pencapaian ekonomi dan material. Inilah yang menentukan seberapa banyak besaran mahar.

Kembali ke Yogya, aku melihat ada kesederhanaan di sini. Meskipun, harus kuaki kalau ibuku mengalami gegar cultural dan butuh waktu beradaptasi. Kayaknya, ada sesuatu yang tengah dirasakannya. Sebagai anak, tugasku adalah menjaganya dari apapun. Ah, perjalanan yang sungguh melelahkan.

Dari Jogja Hingga Jakarta

Aku lgi bersama si ganteng Eka Sastra. Aku akan menulis pengalamanku kelak

Realisme Film Gie

Kamis, 14 Juli 2005

Soe Hok Gie, seorang anak mudah yang karib bergaul dengan perenungan. Hari-harinya diisi dengan mengamati berbagai gejala dan relitas sosial. Ia miris memandang bangsa. Nuraninya kerap bergolak kala melihat ketidakadilan.

Nun di tahun 1960-an, Indonesia tengah bergolak. Sebuah zaman transisi dan penuh dinamika tengah menghadang. Satu kurun waktu yang dicatat oleh sejarawan Asvi Warman Adam sebagai masa yang menentukan Indonesia hari ini. Sebuah starting point untuk memulai sesuatu.

Gie mencatat semua itu dengan penuh impresif. Seorang pemuda yang sejak kecil bergulat dengan berbagai wacana filosofis. Gie seorang penyendiri. Itu tampak dari tulisan-tulisannya yang coba bergaul dengan persoalan. Ia belajar memecahkan berbagai masalah lewat mencari jawaban dalam dirinya. Ia filosof dalam artian berusaha untuk menggeledah skema berpikirnya untuk menemukan sebuah jawaban.

Hari ini, aku menonton film Soe Hok Gie bersama Dwi. Berbagai kesan telah menghuni benakku sebelum menyaksikan langsung film itu. Berbagai gambaran negatif dan miris menghantui diriku hingga mempengaruhi seluruh gambaran kesanku akan film ini.

Ternyata, semuanya tidaklah sesuai dengan gambaran awalku. Kekhawatiran kalau-kalau Gie akan ngepop haruslah dibuang jauh-jauh sebab film ini benar-benar disajikan secara realistis dan setia pada pakem catatan harian Gie.

Setidaknya, film ini akan membungkam banyak orang yang selama ini mengkritik. Begitu banyak orang yang ketakutan kalau-kalau film ini melakukan distorsi terhadap kisah sang aktivis dan pahlawan mahasiswa bernama Soe Hok Gie ini.

Aku pun pernah ikut-ikutan mengkritik Gie lewat situs ini. Aku takut kalau-kalau mahasiswa harus kehilangan sosok yang begitu heroik. Sosok yang bisa menjadi ikon dari gejolak, passion, serta greget khas anak muda. Bagiku, biarlah Gie menjadi pahlawan yang terpelihara dalam jiwa mereka yang muda dan dibakar oleh gelombang emosi dan gejolak.

Ternyata, film itu disajikan dengan penuh idealisme. Betul kata Mira Lesmana, ia sama sekali tidak merubah cerita yang ada dalam Catatan Seorang Demonstran. Semuanya disajikan secara wajar dan mengalir berdasarkan alur dalam buku itu.

Mengalir dengan lancar dan lugas, ternyata bisa mengandung risiko. Film ini seakan mengabaikan unsur dramaturgi yang bisa lebih menguatkan cerita ini. Mungkin aku agak kaku dalam memandang film. Bagiku sebuah film harus memiliki nafas berupa pengenalan suasana, penggarapan konflik, hingga resolusi.

Film tanpa alur akan kehilangan greget dan berjalan dengan tidak menarik. Aku melihat, seakan-akan Mira Lesmana dan Riri Riza tidak berani membuat berbagai interpretasi sendiri dan menghadirkan berbagai unsur yang lebih bisa menguatkan jalan cerita itu sendiri.

Mereka terlalu setia dengan konstruksi ide Gie dalam catatan hariannya. Ada kesan kalau mereka tidak berani untuk menjelajah lebih jauh dan sedikit membongkar berbagai tafsir akan Gie. Jadilah film ini seakan tanpa greget.

Narasinya berjalan dengan begitu monoton. Penonton film ini disuguhi lebih banyak tuturan dari Gie lewat berbagai fenomena. Suara yang ditampilkan pun lebih banyak voice over dari Gie. Aku tak paham.

Barangkali pula timing atau momen pemutaran film ini yang tidak tepat. Film ini disajikan ketika masyarakat Indonesia tengah dijejali dengan berbagai tayangan. Seakan-akan kejenuhan tengah menghingapi masyarakat. Entahlah...

Bolos Kerja dan Pria Mabuk

11 Juli 2005

Kemarin, aku bolos kerja. Seharian aku berbincang dan bercerita lucu sama Dwi. Kami sama-sama tertawa seakan tak ada beban dalam memandang hidup.

Tepat pada jam 12.00, ada telepon dari Pak Dahlan. Ia menyuruhku mengendalikan liputan tentang pilkada yang kisruh di beberapa daerah. Aku mengiyakan dan berjanji untuk melakukannya dengan baik.

Aku bersama Dwi melewatkan waktu sampe sore, setelah itu aku mengantarnya ke UKM Pers Mahasiswa. Kemudian aku pulang untuk bergegas ke kantor.

Entah kenapa, perasaanku tiba-tiba saja berubah. Kepalaku mulai nyut-nyut. Namun, ini tidak seberapa parah. Aku harus masuk kantor.

Ponselku bergetar, Ada sms dari Dwi. Ia marah-marah atas apa yang aku lakukan sebelumnya.

Terpaksa aku balik lagi ke PKM untuk menjelaskan apa yang terjadi. Ternyata Dwi nggak benar-benar marah. Ia cuma menggangguku. Aku tersenyum saja. Yah, kami sama-sama kekanak-kanakan.

Harwan datang dan membawa undangan ke Gedung Kesenian. Katanya, ada diskusi yang membahas peluncuran visualisasi dari puisi yang ditulis beberapa seniman. Aku ajak Dwi, ia bersedia. Bersama Harwan, aku meluncur ke Gudung Kesenian

Aku sengaja pergi tidak pakai motor. Aku jelas tidak enak sama Harwan kalo harus ke sana naik motor dengan Dwi. Selain itu, Dwi pernah bilang kalau sekali-sekali kami keluar naik pete-pete. "Biar banyak waktu untuk ngobrol yang seru-seru," katanya.

Di dalam pete-pete, Dwi duduk di sudut. Kemudian aku di sampingnya, sedangkan Harwan depanku. Tiga orang penumpang kemudian naik. Aku merasakan aroma minuman keras segera terpancar begitu ia naik. Aku merasa risih.

Begitu pete-pete sampai di depan STMIK Dipanegara, pria di sampingku mulai bersandar di bahuku. AKu makin nggak enak hati. Dwi malah ikut mentertawakanku.

Lima menit berikutnya, mulut pria itu mulai mengeluarkan busa. Bau minuma keras mulai menyebar di seantero petepete. Aku kian gelisah. Pria itu bersandar di badanku sambil mengelurkan busa. Ia mabuk.

Aku tak tahan. Harwan pun terlihat tak tahan. "Wan, kita harus turun di sini. Cepat, teriak kiri sama sopir," kataku.

Harwan berteriak kiri. Turunlah kami. Ternyata, beberapa penumpang lain juga ikut turun karena tak tahan melihat ada orang yang mabuk dan mengelurkan busa di situ.

Kami ganti petepete. Perjalanan ke Gedung Kesenian sangatlah lambat. Di beberapa tempat ada keramaian serta antre kendaraan yang hendak mengisi bahan bakar. Belakangan ini, Makassar tengah dilanda krisis bahan bakar minyak (BBM).

Akhirnya tiba juga. Niat terbesarku ikut diskusi adalah karena aku ingin sekali ketemu dengan dosenku yaitu Pak Alwi Rahman. Aku ingin sekali berbincang banyak hal padanya.

Acara diskusi berjalan dengan tidak menarik. Aku agak kesal karena tidak diberi kesempatan untuk mengutarakan pandanganku. Padahal, aku merasakan begitu banyak ketidaksepakatan dalam acara itu.

Tapi biarlah. Aku pulang ke Tamalanrea.Kembali jalan kaki masuk kampus mengantar Dwi dan Harwan. Kulihat langit, ada temaram cahaya bulan di situ. Kulihat cahaya itu membias di wajah Dwi. Wah, ia cantik sekali malam ini

Matahari

Yus, jangan sekali-sekali menyakiti matahari
Yus, jangan sekali-sekali menyakiti matahari
Yus, jangan sekali-sekali menyakiti matahari
Yus, jangan sekali-sekali menyakiti matahari
Yus, jangan sekali-sekali menyakiti matahari

Tangis Menyayat di London

8 Juli 2005

Malam ini aku serius mengamati CNN. Hatiku tercekat menyaksikan betapa teror terus hadir silih berganti dan melukai bangunan kemanusiaan yang paling dalam.

Kemarin, bom meledak di beberapa stasiun kereta di London. Ledakan itu ikut mengoyak tubuh manusia yang berada di sana. Histeria dan kesakitan membahana dan menyayat di udara kota itu.

Kesedihan dan kegembiraan menjadi dua sisi mata uang yang hadir silih berganti di situ. Baru sehari, London larut dalam bahagia karena terpilih sebagai kota yang akan menyelenggarakan Olympiade di tahun 2012, kini kesedihan kembali menyayat.

Sewaktu kecil, ibu selalu melarang bila aku kebanyakan tertawa. Katanya, tertawa yang berlebihan bisa mendatangkan kesedihan. Bahwa di alam ini ada dua unsur yang saling melengkapi. Masing-masing tersusun dengan begitu rapi dan sifatnya komplementer.

Demikian pula pada diri manusia. dua unsur itu ada dan menjadi bagian tak terpisahkan. Ada senang dan tawa. Lao Tze menyebutnya sebagai tao. Ada dua unsur yaitu yin dan yang. Kata Lao Tze, dua unsur itu ada di alam semesta dan juga inheren dalam diri manusia.

Aku ingat dalam komik Batman, si manusia kelelawar, ada tokoh dengan dua wajah yaitu two face. Makanya, tokoh ini memilik karakter yang tak terduga. Bisa menjadi periang dan bisa juga menjadi seorang peneror yang sadis.

Kembali ke London. Barangkali di situ, tertawa menjadi unsur yang berlebihan. Aku menyaksikan beberapa gambar dari AP Photo, betapa kegembiraan dirayakan dengan penuh gegap gempita. Lapangan penuh manusia dengan memakai baju dengan warna mencolok. Ada balon yang beterbangan diiringi terompet yang menggemuruh.

Sehari berikutnya, ada kesedihan yang terpancar. Radio terus menampilkan iringan musik penuh kesedihan. Nyanyian itu terus terdengar dengan lirih di berbagai televisi.

Kota London seakan terbenam dalam kesediahan. Sesuatu yang sebelumnya tak diduga. Yah, Tuhan punya skenario dan rencana tersendiri di situ.

Berbagai pemimpin dunia memberikan reaksi. Kebetulan, pemimpin dari delapan negara industri terkemuka juga ada di situ. Kelompok itu disebut G-8. Gabungan negara industri maju dan terdepan.

Negara-negara itu ramai mengutuk itu di sela-sela demonstrasi yang meneriakkan isu pemanasan global, kemiskinan, serta teror AS di negara dunia ketiga.

Bahkan Presiden AS sendiri ikut mengutuk peristiwa itu. Ia menyebut itu dilakukan kelompok Al Qaeda? Apakah itu betul? Entahlah.

Belakangan ini aku kian gamang melihat AS. Baris paling berkesan dari karya Noam Chomsky adalah ketika ia menuliskan AS sesungguhnya maling yang teriak maling. Meneriakkan terorisme tapi juga melakukan tindakan teror.

Konstalasi dan kisruh di dunia internasional tak juga mampu mengenalkan manusia pada relasi yang lebih sejajar dan adil. Selalu saja ada aspek kepentingan ekonomi dan politik yang bersemayam di balik setiap tindakan.

Marx benar tatkala menyebut ini sebagai distingsi antara negara dan masyarakatnya. Keynes malah melangkah lebih jauh dan menuding ini sebagai konsekuensi dari intervensi negara dalam setiap lapangan ekonomi.

Abad ini adalah abad di mana segala ketakutan harus diintrodusir demi mengekalkan sebuah kebijakan atas nama negara. Apapun perang, selalu diawali dengan ketakutan yang bertubi-tubi demi sebuah pengabsah atas nama memberantas ketakutan.

Realitas kian mengalami pengaburan, kata Baudrillard. Mekanisme pengaburan itu bekerja lewat berbagai tahapan dan aspek ideologis lewat wacana dan dunia sosial.

Satu abad berlalu sejak Descartes memberikan pencerahan sains, namun tetap saja tak menghadirkan watak zaman yang jauh lebih adil. Mungkin, kita harus kembali di abad mitos, tatkala mitos dan pamali masih cukup efektif untuk meredam seluruh gejolak sosial. Entahlah

Catatan Kecil

Yus, pegang erat-erat simpul cintamu
Yus, pegang erat-erat simpul cintamu
Yus, pegang erat-erat simpul cintamu
Yus, pegang erat-erat simpul cintamu
Yus, pegang erat-erat simpul cintamu

Membaca Ulang HG Wells

Selasa, 5 Juli 2005

Aku baru saja pulang nonton film berjudul War of The Worlds. Sewaktu kecil, aku pernah menyaksikan film ini dalam bentuk serial televisi. Ceritanya menarik tentang pergulatan manusia melawan kaum alien atau mahluk asing yang hendak menyerbu bumi.

Mungkin, sebagian besar yang nonton di Studio 21 Mal Panakkukang ingin menyaksikan kiprah Tom Cruise ataupun garapan terbaru dari Steven Spielberg. Namun aku bukan itu.

Aku tertarik karena film ini diangkat dari novel klasik dari HG Wells, seorang novelis dan filosof Inggris yang hidup pada 1866-1946. Novelnya selalu mengangkat fiksi ilmiah dan futuristik di zamannya.

Aku pernah membaca beberapa novelnya yang masyhur. Di antaranya The Time Machine, Invisible Man, ataupun War of The Worlds.

Terkhusus Time Machine, aku sangat tersentuh menyaksikan versi filmnya. Karya itu berbicara tentang prilaku manusia yang bergerak melintasi zaman.

Novel ini tidak sekedar kisah tentang penemuan mesin waktu. novel itu berkisah tentang bagaimana jejak manusia di sepanjang sejarah.
Novel ini mengingatkan pada Arnold Toynbee yang menyebut sejarah sebagai gerak yang siklis (melingkar). Kata Toynbee, tak ada yang berbeda dari setiap zaman. Kalaupun ada, hanyalah aspek yang sifatnya instrumental yaitu sisi material dari kebudayaan.

Aspek itu menyangkut teknologi ataupun peralatan yang kian maju. Namun, secara substansial, manusia tak pernah benar-benar beranjak dari titik berdirinya. Maksud Toynbee adalah di setiap zaman selalu saja ada pergulatan antara syahwat kekuasaan dan ikhtiar untuk membebaskan diri.

Jika dulu orang berkelahi dengan tombak, maka di masa kini orang berkelahi dengan senjata api. Dan di masa datang, orang akan bertempur dengan laser. Tapi secara hakekat, tetap sama saja yaitu berkelahi sebagai bentuk penyelesaian konflik.

Gerak siklis kebudayaan itu digambarkan dengan begitu apik dalam The Time Machine. Lain lagi dengan War of The Worlds. Kisah ini lebih menggambarkan tentang hilangnya solidaritas di antara manusia.

Betapa manusia kehabisan energi hanya untuk berkonflik tanpa pernah membangun solidaritas. Barangkali butuh sosok alien untuk menghadirkan kembali satu spirit kemanusiaan ataupun sikap menghargai yang lain sebagai bagian dari diri kita.

Mungkin karya ini lahir dari satu konteks sosial atau zaman d mana manusia mula merasakan dampak dari teknologi. Karya ini lahir di masa ketika Herbert Marcuse tengah meneriakkan rasionalitas teknologi sebagai landasan berpikir manusia moderen.

Betapa manusia begitu terjebak pada keangkuhan pola berpikir yang sifatnya positivistik hingga kehilangan ruang-ruang untuk tersentuh dan membasahi nuraninya dengan puisi dan filsafat.

Yah, HG Wwlls adalah pengikut Marcuse dan anggota The Fabian Society. Di akhir hidupnya, ia kian pesimis memandang zaman. Seakan-akan ak ada gerak substansial yang terjadi. Ia menulis karya Mind at the End of Its Tether sebagai reaksi atas zaman. Termasuk biografinya sendiri yang berjudul Experiment in Autobiography sebagai kisah tentang visinya terhadap masa depan yang lebih baik. Thanks HG Wells, hari ini kau membuka mataku untuk melihat lebih terang.

Messianisme Ala Batman Begin

TADI aku singgah melepas kepenatan di mall. Aku melihat di etalase, ada DVD film Batman Begin. Ada gambar pemeran Batman (Michael Caine) yang dikelilingi begitu banyak kelelawar.

Aku ingat seminggu yang lalu saat menyaksikan film itu. Sejak dulu, sosok Batman adalah sosok yang paling misterius bagiku.

Sejak lecil, aku suka baca berbagai komik dari superhero. Mulai dari Superman, Batman, Spiderman, Wonder Woman, ataupun The Flash.

Aku menghafal dengan baik berbagai kisah dan latar belakang para superhero itu. Aku tahu persis bagaimana kiprah Superman, yang merupakan alter ego dari Clark Kent. Aku juga hafal bagaimana perjalanan Peter Parker yang merupakan alter ego dari Spiderman.

Anehnya, kebanyakan dari profesi para super hero ini adalah wartawan. Apakah ini pertanda kalau wartawan adalah profesi yang selalu dekat dengan kejahatan? Profesi dari orang yang suka menyerempet bahaya.

Entahlah.Kembali ke Batman. Entah kenapa, sejak dulu, aku selalu menganggap mistrius sosok ini. Kisah komik yang kubaca, selalu menempatkan Bruce Wayne (alter ego dari Batman) sebagai sosok yang tidak jelas pekerjaannya.

Digambarkan sebagai pemuda yang kaya raya. Tapi tak pernah kutemukan bagaimana kisah tentang kekayaannya atau alasan kenapa memilih sosok kelelawar sebagai lambang dan ikon dalam menumpas kejahatan.

Tapi Batman jelas berbeda dengan super hero yang lain. Baik Superman, Spiderman, The Flash, atau Wonder Woman mendapatkan kekuatan dari sesuatu yang tidak tampak. Metreka memiliki kekuatan di luar dari kemampuan manusia normal. Tak heran, jika mereka begitu perkasa dalam aksinya.

Film Batman Begin yang diperankan Michael Caine ini menjawab semua pertanyaanku di masa kecil.
Ternyata, kekayaan itu berasal dari warisan orang tuanya yang merupakan miliader di Kota Gotham. Ia besar dalam semangat balas dendam pada pembunuh ayah dan ibunya.

Kelelawar adalah hean yang paling ditakutinya dikarenakan ada trauma di masa kecil. Benda itu dipilih dengan harapan agar semua musuhnya jadi takut pada dirinya sebagaimana dirinya takut pada kelelawar.

Bagiku Batman dan cerita hero lainnya tak jauh berbeda secara substansial. Semua cerita hero itu menggambarkan setting sosial yang sama. Asumsinya adalah ada masyarakat dengan tatanan yang ambruk kemudian datang seorang pahlawan untuk menyelamatkan itu.

Setahu saya, ada keinginn yang sifatnya mendasar dalam diri manusia yang merindukan hadirnya sosok pahlawan. Sosok yang bisa menggiring manusia untuk melewati masa gelap gulita menuju masa yang terang benderang.

Sosok itu ada dalam berbagai rupa di setiap zaman dan kebudayaan. Jika di Jawa di sebut Ratu Adil, di Makassar di sebut Tollo', di kalangan Kristen di sebut Messiah. Semacam kepercayaan akan hadirnya kembali Isa Al Masih dan menegakkan tatanan sosial yang adil.

Menurutku, sosok itu melintasi zaman. Kalau dalam Islam, setahuku disebut sebagai Mahdiisme. Semacam keyakinan akan turunnya Imam Mahdi di akhir zaman dan kemudian menghancurkan seluruh salib dan memproklamirkan kembali Islam sebagai satu-satunya agama yang benar.

Bagiku, Mahdiisme adalah sebuah postulat akan kerinduan dasar manusia. Meskipun berbagai arus besar dalam Islam menolak istilah ini, namun aku tetap menganggapnya sebagai keyakinan akan hadirnya rasul baru di muka bumi dan menegakkan tatanan sosial yang ambruk.

Jadi, baik Batman, Superman, Spiderman, adalah kerinduan manusia akan sesuatu. Kerinduan manusia modern akan lahirnya sosok yang luar bisa, rasul yang bisa menggiring manusia dari zaman gelap menuju abad yang terang benderang.

Globalisasi Ataukah Lokalisasi???

Semalam, aku pergi ke Gedung Kesenian menyaksikan Festival Anti Globalisasi. Temanku Dul dan Anto menungguiku di sana.

Aku bergegas dengan mengendarai suzuki smash yang hampir delapan bulan mengantarku ke mana-mana. Ini Sabtu, Dwi lagi di Bone, aku butuh sesuatu yang bisa memadamkan sepi.

Gedung Kesenian sangatlah ramai. Di gedung, yang arsitekturnya seperti arsitektur Eropa ini, suasananya penuh hingar bingar.

Di aula, ada panggung dan dibelakangnya dipasang gambar bendera Amerika Serikat (AS) yang terbalik. Kemudian musik berdentum dari sejumlah anak muda yang menyanyi sembari berjingkrak.

Di depan panggung, puluhan anak muda lain ikut berjingkrak mengikuti hentakan musik. Rambutnya dicat dengan berbagai warna. Bagian tengahnya sangat menonjol seperti jambul ayam. Ini identitas dari anak-anak Punk.

Mereka bergoyang dengan begitu bebas. Aku mengenali penabuh drum di situ sebagai seorang sahabatku di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia cerdas dan menyimpan bara perlawanan. Musik menjadi medium baginya untuk melakukan pelepasan.

Ia menyanyi dengan penuh energi. Lagunya sukar dipahami. Lebih banyak teriakan-teriakan yang diikuti musik. Di beberapa bagian, temanku itu berteriak dengan nyaring. Teriakannya langsung diikuti oleh yang lain sambil mengacungkan tinju kepal.

Seorang dosenku yaitu Kak Yahya sempat memprotes. Ia berkata,"Masak merayakan antiglobalisasi dengan cara memamerkan berbagai produk globalisasi. Apakah tak ada cara lain?"

Aku cuma tersenyum. Toh, setiap orang bebas berekspresi. Aku cuma bisa melihatnya sebagai bagian dari ekpresi bebas untuk menyatakan sesuatu. Tak sadar, aku juga larut dan ikut menggoyangkan kepala.

Kadang-kadang kupikir kalau Kak Yahya benar juga. Globalisasi terus menjadi wacana yang paradoks di sini. Kita malu-malu menyatakan penolakan tapi terus memamerkan ketakberdayaan kita di hadapan berbagai instrumen globalisasi.

Betapa anehnya menyatakan kebencian pada globalisasi sembari meminum coca-cola. Sembari menyanyikan lagu-lagu barat. Bukankah globalisasi harus dilawan dengan mencari energi kreatif yang berasal dari dalam diri?

Berbagai hipotesis dan kerangka teoritis hanyalah penghampiran untuk mendekati kenyataan. Aku kadang miris melihat mereka yang menolak globalisasi. Rasanya aneh jika terus meneriakkan anti tetapi masih memakai jeans, baju impor serta aksesoris lainnya. Bahkan, bagiku punk bukanlah produk yang berasal dari rahim negeri ini. Itu juga impor dari tempat lain.

Tokoh yang layak disebut pejuang anti globalisasi adalah GANDHI. Ia membangun spirit perlawanan bangsa India dengan memunculkan gerakan perlawanan khas India.

Ia menyerukan penolakan terhadap berbagai produk asing dengan cara yang elegan. Ia hanya memakai pakaian selembar kain khas India sebagai tanda mencintai khasanah lokalitas. Gandhi menawarkan kesantunan dan kesederhanaan atas keangkuhan Eropa dengan teknologinya.

Gandhi adalah manusia besar yang bisa dihitung jari. Ia membongkar tesis kalau abad 21 adalah abad di mana manusia kehilangan berbagai variabel nilai selaku mercu suar. Abad di mana manusia terjebak pada filsafat materialisme yang cetuskan Rene Descartes.

Gandhi memang unik. Gerakan perlawanan itu digali dari inspirasi lokalitas. Yah lokalitas. Mungkin ini bisa menjadi anti tesis dari globalisasi. Tidak sekedar mencari konsep perlawanan ala luar negeri untuk menjawab masalah di dalam negeri.

So, adakah Gandhi di negeri ini? Entahlah. Tanyalah pada rumput yang bergoyang.

Sensasi Da Vinci Code

AKHIRNYA buku Da Vinci Code dari Dan Brown berhasil juga terselesaikan. Sensasi berbagai lukisan dari Leonardo Da Vinci terus menghantui ragam pemikiranku.

Buku ini mengajakku untuk masuk dalam selaksa pemikiran yang begitu luas dari Da Vinci. Aku ikut merasakan bagaimana ide tersembunyi yang ada di balik Monalisa, The Last Supper ataupun The Holy Grail.

Namun, buku ini tidak sekedar berbicara tentang lukisan. Namun misteri tentang agama Kristen serta sejarah agama sebagaimana dipersepsikan penganutnya.

Kisahnya begitu dramatis tentang bagaimana kehadiran agama yang kemudian melenyapkan seluruh bangunan keyakinan paganisme atau penyembah berhala.

Sebelum hadirnya agama, manusia telah berusaha untuk menemuka Tuhannya dengan cara lain. Mereka melakukan perenungan atau kontemplasi dengan mengamati seluruh gejala kosmos. Pengamatan itu berujung pada hadirnya sebuah pengetahuan akan kekuatan dahsyat di alam ini.

Kekuatan dahsyat yang kemudian disebut dengan berbagai nama baik itu Tuhan, Allah, Yahwe, Somba Opu, ataupun berbagai nama lainnya.

Mereka lalu membuat simbol yang menjadi medium atau representasi dari Tuhan baik itu berbentuk arca, batu ataupun benda-benda lainnya.

Agama hadir dengan membawa mitos-mitos sendiri. Berbagai simbol dan keyakinan itu mengalami dekonstruksi. Sejarah agama hari ini meletakkan bangunan keyakinan sembari mereduksi keyakinan yang lain. Pagan tersingkir hanya karena aspek yang sifatnya politik oleh keyakinan baru yang secara substansial tidak jauh berbeda.

Realitas mengejutkan dari buku ini adalah penggambaran kalau agama tidak benar-benar melenyapkan paganisme. Namun, sebentuk persekutuan telah lahir dan diberi nama Biarawan Sion demi melestarikan berbagai bentuk keyakinan itu.

Yang luar biasa adalah anggota Biarawan Sion mulai dari Isaac Newton, Victor Hugo, hingga Leonardo Da Vinci. Mereka penganut Pagan yang terus berusaha untuk melestarikan berbagai ritual keyakinannya.

Bagiku hal yang istimewa adalah buku itu berisi berbagai gugatan pada sendi dasar agama Kristen. Di antaranya bagaimana peran Maria Magdalena di sisi Yesus atupun debat tentang risalah kenabian Yesus, apakah dia seorang rasul ataukah anak Tuhan.

Jelas, buku ini menyediakan tantangan yang memikat bagi peminat studi agama. Bagiku, argumen tentang paganisme ini benar-benar mengingatkan pada buku Karen Amstrong yang judulnya Sejarah Tuhan. Buku ini berkisah tentang sejarah persepsi manusia dalam usahanya untuk menggambakan Tuhan.

Kadang-kadang aku berpikir kalau agama versus kepercayaan pada Tuhan bukanlah sesuatu yang saling menegasi. Kepercayaan atau paganisme menjadi unsur yang kemudian hadir dalam berbagai agama. Buktinya, Islam tetap mempertahankan aspek ka'bah sebagai tujuan shalat. Ini dianggap sebagai ciri paganisme yang tersisa.

Kemudian Kristen dan berbagai agama lainnya, masih mempertahankan unsur altar atau tempat pemujaan. Ini juga menjadi ciri paganisme yang masih tersisa. Bagaimanapun, dialektika dua kebudayaan tidak mesti melahirkan sesuatu yang sifatnya saling mengatasi. Namun bisa jadi terjadi proses asimilasi ataupun akulturasi kebudayaan.

Asimilasi kebudayaan mengacu pada proses di mana dua kebudayaan hidup bersama dan tidak saling mengganggu. Ini adalah bentuk mozaik kebudayaan. Sedangkan akulturasi mengacu pada lahirnya kebudayaan baru sebagai akibat percampuran dua kebudayaan itu.

Sejarah agama-agama menunjukkan kalau akulturasi selalu terjadi dan bukannya poses dominasi. Dan Brown menunjukkan kalau berbagai mitos jahat tentang perempuan baik itu mitos tentang nenek sihir adalah mitos yang sengaja dibuat untuk menghancurkan aspek kesucian serta keutamaan perempuan.

Tak heran jika peradaban begitu maskulin, begitu menindas yang lain Kian lama, kian hilang aspek feminisme atau keperemopuanan yang bermuara -pada sikap kasih sayang, cinta kasih ataupun aspek lainnya.

Apa yang membuat kita menangisi peradaban hari ini? Jawabannya terletak pada hasrat atau syahwat kekuasaan yang kian dominan dan mewarnai wajah peradaban hari ini. Pada mulanya adalah politik, pada akhirnya adalah pertarungan dan wacana kuasa. Mengapa harus ada pertarungan?....

Soe Hok Gie

Hari ini, sahabatku Nasri membelikanku buku Catatan Harian Seorang Demonstran. Aku merasa kecewa berat. Buku ini telah mengalami revisi yang menjengkelkanku. Buku ini benar-benar jauh berbeda dengan terbitan LP3ES di tahun 1982 lalu.

Secara fisik, buku itu lebih besar dan tebal. Di bagian atas terdapat lambang rokok A Mild (sialan!!). Kemudian ada foto Nicholas Saputra yang direkayasa sehingga seolah-olah buram. Seakan-akan Nicholas adalah Soe Hok Gie.

Berbagai kesedihan berkecamuk di benakku. Apakah Soe Hok Gie asli harus tersingkir dari panggung sejarah dan berganti dengan sosok baru yang ganteng? Aku paham tentang logika kamera dan sinematografi. Bahwa tidak mudah mencari sosok yang tepat secara personal dan karakter untuk memainkan sosok tertentu.

Lantas, apakah itu menjadi satu-satunya pengabsah untuk kemudian harus memilih ikon dari pop culture dan kebudayaan instan dalam sosok Nicholas? Haruskah karena kepentingan market, seorang hero bagi mahasiswa harus dipermak dan diberi gincu agar terlihat fresh, segar, dan menjadi idola gadis-gadis ABG yang tengah mencari figur?

Entahlah. Buku itu seakan mengajakku untuk memahami betapa di zaman seperti ini batas antara realitas dan fiksi mulai kabur. Betapa Soe Hok Gie yang wajahnya agak bopeng, ras cina, pemikir yang kesepian, harus menjelma menjadi pemuda indo yang ganteng dan simbol dari zaman yang memuja tubuh selangit.

Betapa, logika kapitalisme begitu kejam hingga mampu menyingkirkan seseorang dari panggung sejarah. Soe Hok Gie lama yang berbau apak akibat jarang mandi dan selalu berdemonstrasi, kini berganti dengan pemuda berkulit bersih dan berhidung mancung. Betapa Soe Hok Gie yang di malam hari menulis naskah perenungan yang filosofis tentang pergulatan hidup, harus berganti dengan pahlawan baru yang lahir dari dinamika perfilman dan masih tak paham, apa yang dipilh Gie.

Entah kenapa, aku merasa sedih melihat sosok foto asli Gie di belakang buku. Ia mengalami proses marginalisasi (peminggiran) dari berbagai sentrum wacana. Di masa Orde Lama dan Orde Baru, ia tersingkir oleh rezim kekuasaan. Kini, ia tersingkirkan oleh rezim baru yang bermuara pada kapitalisme, pemujan komoditas, serta gejala pop culture.

Aku meradang. Bagaimanapun, Soe Hok Gie adalah ikon dari mahasiswa yang berpanas ria demi meneriakkan sebuah tuntutan. Bagaimanapun, begitu banyak pihak yang menjadikan Gie sebagai pahlawan di hati mereka. Mereka yang kesepian, berpikir, dan mencoba meretas dunia yang lebih baik.

Mereka yang melihat masalah dengan cara berbeda. Mereka yang memilih jalan sepertiku.Mereka yang rela berpanas-panas ria di siang hari untuk sebuah pencarian. Bahkan bisa jadi itu adalah pencarian yang kian kabur hingga akhirnya terantuk dan semuanya buyar.

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...