Sufi Besar, Tasawuf, dan Naskah di Pulau Buton


 
senja di Pulau Buton
 
DI timur Nusantara, seorang sultan menjadi sufi yang begitu produktif menulis buku dan syair. Di abad ke-19, ia membaca berbagai kitab-kitab tasawuf dan tradisi pemikiran sembari menuliskan kalam dan syair kepada rakyatnya. Ia menulis tentang perjalanan spiritual, sebagaimana pernah dicatat para sufi seperti Ibnu Arabi. Sayang, namanya terlupakan oleh sejarah dan masyarakatnya.

***

MATAHARI baru saja lenyap di balik Gunung Kabaena ketika Idrus Kaimuddin[1] baru saja usai menunaikan salat magrib. Negeri Buton seakan tenggelam ditelan malam tatkala Idrus mulai membasahi lidahnya dengan zikir dengan suara pelan-pelan seolah sedang berbisik. Saya membayangkan, di tahun 1824 itu, dalam usia 40 tahun –sebagaimana usia Rasul ketika mendapat pesan langit di Gua Hira--, Idrus mengisi separuh malamnya dengan munajat di saat sebagian besar manusia lain tengah terlelap. Ia juga mendendangkan kabanti[2], puisi lirih yang ditulisnya sebagai pancaran cahaya spiritualitas dan tangga-tangga mencapai kesempurnaan. Idrus sedang bergegas memulai perjalanan panjang di jalur spiritual.

Di dalam masjid tua di tengah benteng terluas yang memantik kekaguman bangsa-bangsa itu, Idrus tidak sedang bersyair tentang jabatannya sebagai Sultan Buton ke-29 yang agung dan mulia. Posisi sultan tidak membuatnya besar kepala bahwa dirinya mengemban amanah untuk langit dan bumi.

Bangsawan Kumbewaha[3] yang juga dijuluki Mokobaadiana[4] ini paham bahwa jabatan sultan di masyarakat Buton ikut menyandang gelar yang idealis khalifatul khamis, khalifah kelima yang melanjutkan risalah kepemimpinan dari empat khalifah yang menggetarkan dari Abu Bakar hingga Ali Bin Abi Thalib. Tapi dalam berbagai naskah kabanti-nya, ia justru merendahkan diri dan menyebut namanya sebagai Aedurusu Matambe, Idrus yang rendah. Ia adalah hamba yang bodoh (batua kabongo-bongo), budak yang tak punya daya sedikitpun dan hanya berharap pada kemurahan kuasa Tuhan.[5]

Idrus menyusun syair kabanti dan beragam kitab sebagai medium untuk berbicara di sepanjang zaman. Tulisannya menggema di sepanjang jejak perjalanan sejarah bangsa Buton. Ia adalah sedikit dari sejumlah raja-raja di Nusantara yang tetap setia menulis syair, puisi, dan karya-karya filsafat. Di Eropa, Kaisar Nero membakar Kota Roma, Italia, demi inspirasi untuk melahirkan sebuah karya puisi. Di banyak tempat, seorang pemimpin atau pemangku jabatan adalah mereka yang sibuk dengan tetek-bengek urusan duniawi dan material belaka, sehingga kerap abai pada dunia syair yang penuh perenungan.

Idrus adalah sultan yang penyair dan melabrak kelaziman seolah seorang sultan tak punya waktu menulis syair. Sebagai sultan, kakinya memang berpijak di dua dunia yaitu dunia lahir dan dunia batin. Ia mesti memimpin rakyat Buton dan memberikan rasa aman. Namun, di sisi lain, ia juga mesti menjadi cahaya terang bagi umat yang tertatih-tatih di kegelapan. Ia menguatkan batin, sebuah dunia yang jauh lebih nyata ketimbang dunia lahir.  

Untuk itu, ia mesti menulis syair, puisi, dan karya-karya yang cenderung lahir dari kecakapan batin, ketimbang rasionalitas belaka. Ada sekitar tujuh kabanti dalam bahasa Wolio yang ditulisnya yakni Bula Malino, Tazikira Momampodona, Jauhara Manikamu Molabi, Kanturuna Mohelana, Fakihi, Nuru Molabina, hingga Kanturuna Mohelana II. Lewat sejumlah kabanti itu, ia berkisah tentang sesuatu yang amat penting. Tidak hanya bagi rakyat Buton, melainkan seluruh umat manusia. Ia tidak sedang berkisah tentang hidup yang getir, tentang eksistensi manusia yang terhampar di padang pasir kehidupan, tentang nasib bangsa Wolio hari ini yang nenek moyangnya adalah para pendatang dari Johor, Cina, dan Arab.

Ia sedang bersyair tentang betapa fananya hidup manusia dan betapa kekalnya Sang Pencipta. Hidup adalah perkara yang dikejar-kejar dengan penuh nafsu seolah-olah menjadi keabadian mutlak. Padahal, semuanya hanyalah fatamorgana yang akan tersaput oleh matahari. Semuanya hanya sesaaat, sebagaimana garis pesisir pantai Wameo yang sebentar-sebentar digenangi air pasang selat Buton.

Seakan merespon tantangan globalisasi dalam perdagangan antar bangsa dan perjumpaan di lautan, Idrus tidak hanya menulis dalam bahasa Wolio. Dia juga menulis sekitar 21 kitab berbahasa Arab,[6] dengan analisis dan tilikan yang mendalam atas satu bahasan. Itu masih belum cukup. Ia menulis Al Quran dengan tulisan tangan, serta puluhan syair dalam aksara Melayu Jawi.[7] Di dalam istananya yang sederhana, Kamali Baadia, ia mengoleksi khasanah teologi (kalam) Islam seperti karya-karya Al Ghazali, Fahruddin Atthar dan juga mencerna dengan baik torehan mistikal dari Ibnu Arabi, dan sejumlah kitab-kitab sufistik lainnya. Sayangnya, tak ada satupun catatan dari bangsa Eropa yang dikoleksinya. Nampaknya, persentuhan dengan bangsa Eropa hanyalah untuk kepentingan dagang semata, tidak sampai pada transfer ilmu pengetahuan dan teknologi.

Idrus juga melanjutkan tradisi para sultan terdahulu yaitu menulis sejumlah surat-surat berharga baik kepada sesama raja di Nusantara, maupun kepada bangsa asing seperti Belanda dan Inggris. Prestasinya menuliskan naskah adalah sebuah prestasi menorehkan ribuan lembar buah-buah pemikiran yang hingga kini tidak banyak ditandingi para raja manapun di Nusantara. Bahkan tidak bisa ditandingi oleh para pemimpin di masa kini.

Di zaman ketika manusia di belahan bumi lain masih belum mengenal aksara, Idrus telah meramaikan dinamika zaman dengan karya-karya besarnya. Pada masa ketika sejumlah bangsa-bangsa masih belum mengenal tradisi tulis, Idrus sudah mendiskusikan sejumlah tema-tema besar dalam filsafat yang hingga kini masih menjadi perdebatan yang tak berkesudahan di kalangan para filosof misalnya konsep fana dan baqa, tentang kesementaraan manusia dan alam serta abadinya Sang Pencipta, konsep manifestasi Ilahi atau teofani (tajalliyat) atas semua realitas di muka bumi, hingga tangga-tangga perjalanan manusia demi menggapai kesempurnaan, menjadi insan kamil, insan yang sempurna.

Saya membayangkan Idrus dengan penuh kekaguman. Ia menuliskan buah pikirannya dalam bahasa Arab, sebuah bahasa yang digunakan Rasulullah ketika menyampaikan berita gembira tentang Islam ke seluruh penjuru Arab. Karya-karya berbahasa Arab itu adalah bukti yang bertutur tentang sejauh mana pengembaraan Idrus ke langit-langit pengetahuan, mencipta gagasan, dan mengartikulasikannya dalam syair.

Pengembaraannya ke langit pengetahuan itu telah membawanya untuk menjangkau Mekah dan separuh jazirah Arabia demi memperdalam ilmu agama dan setelah itu kembali ke Tanah Buton untuk memenuhi tugas yang pernah dilakukan para nabi dan rasul yaitu memberikan suluh terang (kaipopo mainawa)[8] bagi umat yang tertatih-tatih di kegelapan. Ia adalah satu dari sedikit orang Buton yang bertualang langsung untuk berguru ke jazirah Arabia, mendapatkan pengetahuan langsung dari sumbernya, kemudian kembali untuk meneruskan risalah yang pernah ditegakkan para nabi dan rasul yaitu menyampaikan pesan dan memberikan pencerahan.

Saat bermukim di Mekah dan setiap hari menggumamkan doa di depan Ka’bah, mungkinkah ia membayangkan betapa kecil negerinya, Tanah Buton, dalam percaturan akademis dari para sufi yang hendak menggapai Tuhan. Ia menyadari betapa jauhnya bangsa Buton dari lembar-lembar pemikiran tentang ajaran Tuhan di muka bumi. Ia tahu para leluhur telah menuliskan syair kabanti dan merumuskan Murtabat Tujuh, ajaran tasawuf untuk mengelola tata pemerintahan. Namun, apalah artinya semua ajaran tersebut tatkala tidak ada satupun sosok yang mendedikasikan dirinya untuk menjaga segala ajaran dan nilai itu dengan kukuh di tengah tarikan-tarikan hawa nafsu manusia yang cenderung melamah dalam rahim ruang dan waktu.

Harus ada sosok yang menyandang tugas mulia untuk menegakkan kalimat Tuhan dan memporak-porandakan ketidakadilan. Harus ada manusia yang menyandang tugas suci kekhalifahan. Harus ada sosok yang menjaga moral dan kearifan ajaran agama. Alangkah angkuhnya dirinya ketika berkelana dalam waktu yang panjang untuk memperdalam ilmu agama, sementara di negerinya sendiri ancaman datang silih berganti dan rakyat hidup dalam kecemasan, bahkan tidak ada rasa aman untuk sekadar menjalankan salat lima waktu.

Nilai-nilai moral dan kearifan bangsa Buton akan luluh sirna ketika tidak ada sosok yang mengemban misi kenabian untuk menegakkan tiang-tiang nilai itu. Untuk itu, ia mesti bergegas kembali ke negeri. Ia mesti mengembangkan layar dan menyentuh rakyat yang mendamba kearifan.

***

Idrus Kaimuddin merenungi masa yang silam, hikmah-hikmah yang tercecer dalam rentang perjalanan dirinya. Hidupnya adalah kisah petualangan yang tak ada habisnya. Di masa mudanya, ia pernah diangkat sebagai Kapitalao (kapitaraja) yang dengan gagah berani mengusir sejumlah bajak laut yang mengamuk di pesisir Pasarwajo. Idrus ikut serta di kancah peperangan, sesuatu yang kemudian direnunginya secara reflektif di masa ketika ia menjadi sultan.

Perjalanan yang panjang tersebut, baik saat menjadi pencari ilmu maupun saat menjadi seorang panglima, membawanya pada lapis-lapis ingatan yang dalam. Ia merenungi sejarah panjang Kesultanan Buton sebagai sejarah ancaman terus-menerus dari berbagai kekuatan luar. Sejak dahulu, bangsa Buton sudah harus berjibaku dalam menghadapi perlawanan bajak laut yang senantiasa mengancam kawasan pesisir. Bajak laut adalah ancaman yang menakutkan bagi seluruh rakyat sehingga di mana-mana bisa ditemukan benteng yang kokoh sebagai tempat perlindungan. Bajak laut merompak harta benda, menculik warga untuk dijadikan budak atau komoditi yang diperdagangkan[9].

Bajak laut menciptakan ketakutan dan rasa was-was sehingga rakyat menjalankan aktivitasnya dalam cekaman takut. Pada abad ke-18, bajak laut adalah momok yang paling ditakuti di perairan timur Nusantara. Beberapa bangsa memperkuat diri dengan persenjataan yang hebat, semuanya demi menghadapi bajak laut yang menguasai lautan. Ingatan tentang bajak laut adalah ingatan yang paling traumatik sebagaimana dicatat dalam banyak naskah lokal maupun naskah VOC. Terhadap banyaknya ancaman dari bajak laut tersebut, telah bermunculan banyak pahlawan yang menegakkan tata nilai dan menantang para bajak laut tersebut. Salah satu di antaranya adalah Lakilaponto, ksatria asal Muna yang mengalahkan bajak laut legendaris La Bolontio dalam satu perang tanding yang menegangkan.[10]

Selain bajak laut yang memenuhi perairan pada masa itu, ancaman terbesar lainnya yang dihadapi adalah kerajaan-kerajaan lain seperti Gowa dan Ternate yang ekspansif, hingga bangsa Belanda yang berhasrat membawa sumber daya alam ke negerinya. Gowa dan Ternate adalah dua kerajaan besar yang saling berebut pengaruh di negeri-negeri bawah angin.[11]

Pada abad ke-17, Gowa sudah menjelma menjadi kekuatan besar dengan persenjataan yang menakutkan. Gowa adalah kerajaan besar dengan daya jelajah maritim yang jauh dan ekspansif hingga kawasan timur. Sejak dulu, Gowa selalu menyerang Buton dan mendesakkan agar wilayah ini masuk sebagai daerah kekuasaannya. Bahkan pada tahun 1626, Gowa menyerang Buton secara besar-besaran dan sempat menduduki wilayah ini selama beberapa saat. Peristiwa ini diulangi kembali pada tahun 1655 yang dipimpin langsung oleh Sultan Hasanuddin, beberapa waktu setelah Sultan Buton menyembunyikan pahlawan Bugis, Arung Palakka, di satu sudut Benteng Keraton. Tindakan ini memantik murka Hasanuddin dan menyerbu dengan kekuatan penuh.

Idrus tahu bahwa Gowa unggul dalam hal teknologi. Orang Gowa telah menerjemahkan naskah pembuatan meriam dari bahasa Spanyol ke bahasa Makassar sejak tahun 1635. Kitab yang ditulis Andreas Moyona asal Spanyol itu hanyalah satu dari banyak kitab risalah teknologi Eropa yang dialihbahasakan ke bahasa Makassar[12] dan membuat Gowa tercatat sebagai satu-satunya negeri di Nusantara yang paling intens memasuki bidang-bidang ilmiah di abad ke-17.

Melalui ilmu pengetahuan, bangsa Gowa membangun persenjataan yang handal demi menghadapi bajak laut yang mengganas di perairan Nusantara, sekaligus memulai proses ekspansi ke bangsa-bangsa lain. Atas dasar persenjataan yang dahsyat serta hasrat kuasa yang menghinggapi para bangsawannya, Gowa begitu percaya diri ketika menantang Belanda untuk berperang dan menunjukkan siapa pemilik supremasi sesungguhnya di lautan.

Sementara Ternate juga menjadi kekuatan besar karena negerinya menjadi tempat yang dituju oleh bangsa Eropa untuk mengumpulkan rempah-rempah dan sumberdaya. Ternate pernah mengusir bangsa Portugis dalam satu pertempuran yang heroik dan terbesar di kawasan timur yang dipimpin Sultan Baabullah. Ternate adalah kekuatan yang muncul ketika VOC datang pertama kali mengikuti jejak Portugis yang telah dahulu menjadi rekan dagang selama paruh pertama abad ke-16.

Ternate sudah lebih awal memproklamirkan dirinya sebagai pusat keislaman di kawasan timur. Bahkan, menurut satu versi, Islam pertama kali masuk ke Buton dibawa oleh Sultan Baabullah yang melakukan ekspansi pada tahun 1580.[13] Dalam tradisi lisan di Buton, kerap dikisahkan tentang Sultan Zainuddin (La Tumpamana), Sultan ke-17, yang selalu salat jumat ke Ternate. Meskipun dikisahkan La Tumpana yang berangkat dalam sekejap dan mengendarai angin dengan kecepatan kilat, namun aktivitas salat Jumat di Ternate itu menunjukkan kuatnya dominasi Ternate sebagai pintu masuk Islam yang awal di timur Nusantara.

Setelah Gowa dan Ternate, bagaimanakah posisi bangsa Belanda? Belanda pada masa itu dianggap sebagai pemberi jalan keluar dari segala ancaman. Belanda menawarkan perlindungan atas segala ancaman, sebagai juru selamat yang membantu amannya negeri dari segala ancaman. Itu bisa dilihat dari kabanti Ajonga Inda Malusa[14] (pakaian yang tak luntur) sebagaimana disusun oleh Haji Abdul Ganiu (Kenepulu Bula)[15].


Mopangurapina motingarapina lipu
Moneyatina bemo humbunina kota
Siymbau Gowa atoluwu otobungku
Tee malingu saro simbapuyana

Soopodo maka moto penena gunana
Temola hina ampadeyana ilipu
Asadaa daa sakiaia zamani
Owalanda indamo tee dimbana

Kaapaaka karana tongko indapo
Tee Walanda ipiya malona yitu
Adika timbu jagani taranate
tajagani Gowa tongkona adika bara

Yang berkehendak menundukkan negeri
Yang berniat menyerang benteng
seperti Gowa, Luwu, dan Tobungku
dan segala yang disebut mau menyerang

Tetapi ringkasnya yang teramat gunanya
Dan yang terlebih gunanya di negeri
Tetap selama-lamanya zaman
Belandalah yang tiada bandingannya

Sebab karena waktu itu belum ada
Dengan Belanda beberapa waktu lalu
Musim timur kita menjaga Ternate
Menjaga Gowa waktunya musim barat



Namun Idrus juga paham bahwa Belanda tidak selalu menjadi jalan keluar. Meskipun sama-sama pernah menggempur pasukan Gowa dalam koalisi Buton, Bugis, Ternate dan Belanda, namun hubungan dengan bangsa Belanda tidak selalu seperti hubungan dua saudara yang saling peluk dan penuh kehangatan. Malah, dalam banyak kesempatan orang Buton justru terlibat intrik dan saling baku tikam dengan orang Belanda.

Betapa tidak, Belanda sering menyemai ladang konflik dan mengadu domba sesama anak negeri. Dalam banyak kejadian, Buton dan Belanda senantiasa berkelahi hingga konflik membuncah. Itu terlihat pada tahun 1635, saat kapal Velzen terdampar di Pulau Wawonii. Nakhoda Daniel Van Vliet bersama enam anak buahnya datang ke Bau-Bau untuk meminta tolong kepada sultan, namun mereka justru ditikam atas perintah sultan. Belanda mengamuk dan mencap Buton sebagai pembangkang yang berkali-kali menolak perintah kompeni. Pada tahun yang sama, kapal Sasker Douwensen juga dirampok di Pelabuhan Bau-Bau (Zuhdi 1999).

Ingatan yang cukup pedih muncul pada Sultan Mardan Ali (1647-1654)[16] ketika sekelompok pengikut mantan Sultan La Saparigau[17] merasa tidak senang dengan tindakan Sultan Mardan Ali yang memberi bantuan pada lima kapal Belanda yang terdampar di Pulau Kabaena[18]. Rakyat lalu merampok muatan kapal sehingga Belanda murka besar. Intrik politik terjadi. Sultan Mardan Ali tersingkir dan dijerat lehernya di Pulau Makassar, yang terletak di depan Bau-Bau. Atas nama tegaknya nilai, Mardan Ali mengikhlaskan dirinya menjadi martir. Ia mengorbankan diri dan dicatat lembar sejarah sebagai tragedi seorang sultan yang dieksekusi mati demi tegaknya hukum dan aturan nilai.

Konflik paling besar justru terjadi pada masa Sultan Himayatuddin (1750-1752) atau Oputa Yi Koo[19]. Sejak awal, sultan ini sudah memprotes perjanjian dengan Belanda yang dibuat sultan sebelumnya. Tatkala kapal Rust en Werk[20] berlabuh di Pelabuhan Bau-Bau, Sultan mendukung Frans Franz, seorang jurubahasa dari Bulukumba yang merampok kapal. Malah, Sultan Himayatuddin ikut menyuruh rakyatnya menyerang kapal tersebut dan membunuh seluruh awaknya. Orang Belanda di kapal itu yang tengah minum-minum alkohol hingga mabok, langsung panik.

Mereka membalas hingga terjadi bentrok senjata yang amat dahsyat. Himayatuddin lalu menyingkir ke Gunung Siontapina di Lasalimu. Pendukungnya makin berlipat-lipat banyaknya. Walaupun sebelumnya disingkirkan sebagai sultan karena tekanan Belanda, namun ia berhasil kembali menduduki tahtanya dengan semangat untuk menentang Belanda yang datang kembali sambil membawa pasukan. Ia adalah satu-satunya sultan yang naik jabatan sebanyak dua kali, yang menunjukkan sejauh mana kharisma dan pengaruhnya. Benteng Keraton Buton kembali dikepung oleh Belanda hingga nyaris luluh-lantak. Meriam berdentum dan saling serang. Korban berjatuhan termasuk Kapitalao La Walanda. Peristiwa hura-hara dan konflik dahsyat ini dicatat dalam ingatan kolektif masyarakat sebagai “Kaheruna Walanda.“[21]

Selain dua konflik di atas, masih banyak konflik atau pemberontakan yang dilakukan terhadap Belanda. Telah banyak para pahlawan yang memilih menjadi martir atau mengorbankan dirinya seperti La Ode Boha, La Ode Walanda. Bahkan, pada masa Idrus bertahta, pengawal pantai Buton dan laskar Bone menyerang kapal Belanda yang melintas di Teluk Bone. Sebabnya sepele. Kapal Belanda itu tidak mengindahkan isyarat memperkenalkan diri seperti apa yang telah disepakati antara Bugis, Buton, dan Belanda. Yang ada adalah ancaman untuk dihancurkan. Para penjaga pantai sontak murka dan nekad menyerbu. Mereka menantang duel secara terbuka sehingga kapal Belanda itu melarikan diri.

Di tengah-tengah ancaman Gowa, Ternate dan Belanda, apa pula yang bisa dilakukan oleh bangsa Buton yang kecil itu? Ketimbang membangun persenjataan dan meramaikan perang, bangsa Buton memilih bertahan dan bertarung habis-habisan ketika diserang. Mereka bersikap defensif dan mempertahankan diri ketika negerinya diserbu kekuatan lain. Bangsa Buton memperkokoh dirinya dengan ratusan benteng perkasa yang sukar ditembus. Filosofi pertahanan adalah seperti buah nenas. Berani mengambil buahnya, maka anda harus siap menghadapi duri-duri tajam yang mengepung buah nanas. Dan hal yang paling penting dari itu semua: orang Buton harus mengasah spiritualitasnya. Mereka wajib memperkuat aspek batin, sesuatu yang jauh melampaui kisah-kisah peperangan, sebuah tujuan yang abadi ketimbang memenangkan peperangan.

Idrus menarik hikmah dari kisah-kisah pergulatan bangsa Buton dengan bangsa-bangsa lain dengan segala dinamikanya dengan cukup rapi dalam naskah kabanti Kanturuna Mohelana I (penerangnya orang-orang yang berlayar) dan Kanturuna Mohelana II. Ia mencatat suatu naskah terperinci tentang konflik yang membuncah dalam Perang Makassar antara Belanda bersama koalisi Bugis dan Buton serta Ternate, saat mengepung pasukan Gowa di bawah Sultan Hasanuddin.

Sebegitu detailnya catatan tersebut sehingga pantas disandingkan dengan naskah syair Perang Mengkasar yang ditulis Tji’ Amin, pria asal dataran melayu yang menjadi juru tulis Sultan Hasanuddin.[22] Meskipun Idrus tidak hidup pada masa Perang Makassar tersebut, ia mencatat ulang kesaksian banyak orang Buton yang mengabadikan kejadian tersebut dalam tradisi lisan serta menuliskannya dalam naskah yang runtut bagi mereka yang ingin melihat ulang peristiwa tersebut.

Semua catatan sejarah itu direfleksi Idrus dalam syair-syair yang amat indah. Jejak panjang perjalanan negeri Buton itu kian menyadarkannya bahwa negerinya ibarat perahu yang senantiasa dijaga keseimbangannya. Sesekali perahu itu oleng oleh serbuan ombak dari kiri dan kanan, namun Idrus paham bahwa jauh di masa silam, para sultan terdahulu telah merumuskan sistem bharata, di mana empat daerah utama yaitu Muna, Tiworo, Kaledupa, dan Kulisusu akan menjaga kesultanan dari berbagai ancaman bahaya. Tubuh perahu adalah kesultanan itu sendiri, dan empat daerah utama akan menjadi cadik (bharata) yang menjaga keseimbangan. Sementara itu, ribuan rakyat Buton siap menarungkan nyawa demi membela negerinya tatkala bahaya mengancam.

Idrus adalah sultan yang sufi. Saya membayangkan usai salat malam, ia berdiri di atas Benteng Keraton Buton dengan pelita kecil di tangannya. Ia memandang lautan lepas sembari memikirkan negerinya. Pikirannya menerawang. Batinnya bertanya-tanya, apakah gerangan yang dicari berbagai bangsa melalui aneka peperangan itu? Ia memikirkan sesuatu yang melampaui catatan-catatan heroik tentang peperangan. Baginya, peperangan hanya menyisakan nestapa yang berkepanjangan bagi negeri-negeri. Peperangan tidak membawa siapapun menjadi pemenang.

Peperangan hanya menciptakan situasi di mana ‘yang kalah jadi abu, dan yang menang jadi arang.’ Kemenangan hanya membawa pada kebanggaan yang sifatnya sesaat. Namun, apalah artinya yang sesaat itu tatkala harus dibayar dengan berapa banyak darah rakyat yang tertumpah, seberapa banyak kerugian yang harus dipikul, berapa banyak ’mata yang harus dibayar dengan mata.’ Bukankah kemewahan dan kemegahan ibarat pakaian yang sebentar kemudian akan lusuh? Bukankah semua yang dikejar itu adalah kesementaraan yang mudah tersaput angin? Dalam naskah kabanti Bula Malino, ia bersyair bahwa tak ada satupun manusia yang abadi. Semuanya akan sirna dan lenyap tak berbekas.


Inda samia batua bemolagina
Sakabumbu padaa posamatemo
Soomo Opu alagi samangengena
Sakiaiya indaa kokapadaa


Tak ada satupun hamba yang abadi
Seberapa banyakpun bakal bertemu mati
Hanya Tuhan (Allah) yang kekal abadi
Tidak mengenal kata akhir

Ketika manusia adalah sosok yang tidak abadi, lantas untuk apakah pertandingan menuruti kata hawa nafsu dalam peperangan antar bangsa? Apa perlunya mengejar kemegahan yang kelak bagai debu akan tersaput angin? Untuk apakah kita berperang? Perenungan yang disuburkan banyak tanda tanya itu kian memantapkan pilihannya untuk melakukan perjalanan spiritual dan membangun dunia batin, dunia yang dirindukannya sejak memutuskan untuk bergegas di jalan spiritual. Segala kemewahan dunia dianggapnya sebagai sesuatu yang membutakan dan melenakan. Ia lebih memikirkan bagaimana membersihkan diri (pekangkilo) atau dalam bahasa tasawuf disebut tadzkiyatun nafs untuk menghadapi dunia setelah kematian.

Barangkali ia agak miris –namun tak sedikitpun gentar-- saat menyadari ancaman Gowa dan Ternate yang datang setiap saat. Manusia memang selalu mengejar kemegahan, tanpa memikirkan bekal yang harus dibawa ketika menuju akhirat.  Padahal, semua manusia adalah sama, baik asal-usul kejadian maupun nasibnya kelak. Maka betapa anehnya ketika manusia harus saling berkelahi demi memperebutkan masa kini yang sifatnya sementara. Manusia berkali memperebutkan kekuasaan. Padahal, asal-usulnya sama saja. Toh, mereka tercipta dari setetes air yang sama.

...........
Uwe satiri baanamo minaamu
Simbouduka Kadadi maka itu
Incana tana naile uhancurumo
Uposalamo tetanana qoburumu

E, karoku fikiria mpuu-mpuu
Okakawasa tangkanamo idunia
Okalalaki sabutunamo iwei
Teemalingu kabelokana dunia

Akawaaka naile muri-murina
Amapupumo bari-baria siitu
Tangkanamo totona inca mangkilo
Bemolagina naile muri-murina

........
Air setetes awal mula asalmu
Sama kejadiannya dengan segala hewan
Di dalam tanah juga nanti bakal hancur
Kau bercampur nanti bersama tanah kuburmu

Wahai diriku pikirkanlah sungguh-sungguh
Kekuasaan hanya di dunia fana ini
Kebangsawanan hanya di sini juga
Bersama segala cantik moleknya duniawi

Bila nanti tiba esok hari terakhir
Maka sirnalah segala sesuatu itu
Kecuali kata hati nan bersih
Yang akan abadi di esok hari terakhir



Ia merenungi genesis atau asal mula kejadian manusia. Berbeda dengan Adam, manusia lahir melalui proses yang sama, dan kelak akan kembali ke tempat yang sama. Sejak manusia hadir ke muka bumi, manusia menyandang takdir kesementaraan. Semuanya pasti akan mati, tak ada satupun yang akan abadi kecuali Yang Maha Pencipta. Ia sedang berbicara tentang fana dan baqa, konsep yang cukup penting dalam tradisi tasawuf dan filsafat.

Fana adalah konsep yang memandang eksistensi manusia sebagai keberadaan yang sementara. Sedangkan baqa adalah konsep yang memandang bahwa hanya Sang Pencipta yang akan abadi. Semua manusia pasti akan mati dan kelak akan lebur bersama alam semesta. Kefanaan menjadi konsep yang sejak lama menjadi bahasan sentral bagi filosof barat, mulai dari Plato, Aristoteles, hingga filsuf yang lahir belakangan seperti filsuf asal Jerman, Friedrich Nietzsche, maupun Jean Paul Sartre.

Idrus juga mendiskusikan pandangan ini dan beberapa kali mengutip pendapat sufi Abu Yazid Al Bustami yang mengatakan, “Aku tahu pada Tuhan melalui diriku hingga aku hancur, kemudian aku tahu pada-Nya melalui diri-Nya, maka aku hidup.“ Akan halnya baqa, adalah sebagai konsep yang meniscayakan keabadian manusia setelah kehancuran jasadi. Dalam artinya yang murni baqa meskipun berarti kekal, tapi keabadian itu masih saja bergantung dan ditentukan oleh wujud Pencipta. Dengan kata kekekalannya bukan sesuatu yang mandiri, obyektif dan berdiri sendiri.

Seperti halnya para sufi, Idrus memahami fana dan baqa setelah melewati ma’rifah, yakni suatu tahap di mana sufi melihat Tuhan dengan mata yang ada dalam hati sanubarinya. Setelah melewati ma’rifah, sufi tersebut merasa dirinya lebur dalam Tuhan. Fase peleburan (fana) lebih bersifat intelektual yang melibatkan pengalaman ruhani ketimbang penyatuan secara fisik. Pengalaman keagamaan (religious experience) yang seakan-akan melebur dan menyatu pada Tuhan inilah yang disebut sebagai fana. Setelah merasa hancur dalam Tuhan, ia merasa “terus hidup“ dalam Tuhan. Pengalaman “terus hidup“ inilah yang disebut baqa (Yunus 1995). Dalam karyanya yang lain, Idrus mengatakan fana terdiri atas tiga yaitu perbuatan, sifat dan zat. Manusia meleburkan dirinya ke dalam diri Tuhan. Manusia merasakan penyatuan mistik dengan Tuhan.

Perenungan yang jauh mengangkasa laksana terbang di antara mega-mega itu, membawa kakinya kembali berpijak ke bumi. Ia lalu mengamati perjalanan sejarah bangsa-bangsa di mana dirinya adalah bagian dari sejarah yang direfleksikannya. Sejak berbagai negeri tumbuh, kemegahan seolah menjadi sesuatu yang harus dikenakan. Semua negeri berlomba-lomba mencari kebesaran diri. Padahal, sebagaimana dikatakan para leluhur Buton, negeri hanyalah satu tahapan saja dalam perjalanan manusia menggapai kesempurnaan. Negeri hanyalah satu persimpangan belaka dari perjalanan panjang yang dilalui seorang manusia. Para leluhur menyusun tahapan yaitu harta sebagai aspek paling pertama, kemudian diri, negeri, hukum, kemudian agama. Untuk menjadi manusia sempurna, maka kita harus meninggalkan semuanya secara perlahan dan hanya memilih jalan agama. Keyakinan ini sudah muncul dalam falsafah hidup bangsa Buton sejak masa Sultan Buton ke-4 La Elangi atau Dayanu Ikhsanuddin pada tahun 1614. Secara lengkap, falsafah itu berbunyi:


Nainda-indamo arata somanamo karo
Nainda-indamo karo somanamo Lipu
Nainda-indami Lipu somanamo sara
Nainda-indamo sara somanamo agama


Tidak-tidaklah harta asal diri
Tidak-tidaklah diri asal negeri
Tidak-tidaklah negeri asal hukum
Tidak-tidaklah hukum asal Agama


Falsafah itu bisa dimaknai secara sederhana. Bahwa di atas harta, masih ada diri pribadi. Di atas diri, masih ada negeri, dan di atasnya masih ada hukum. Di atas hukum, ada jalan agama atau jalan Tuhan sebagai tujuan utama. Jalan agama atau jalan Tuhan mesti ditempatkan sebagai tujuan tertinggi dari proses gerak manusia. Ketika Tuhan dimaknai sebagai titik terakhir dari orientasi gerak manusia, maka jalan agama mesti ditempatkan sebagai bagian paling penting dari ziarah perjalanan manusia. Idrus sendiri menterjemahkan falsafah tersebut dalam bahasa yang tak berbeda. Ia mengatakan:



Yamada-yamadakimo aratâ solana boli karo
Yamada-yamadakimo karo solana boli lipu
Yamada-yamadakimo lipu solana boli sara
Yamada-yamadakimo sara solana boli agama

Hancur-hancurlah harta asal jangan hancur diri
hancur-hancurlah diri asal jangan hancur negeri
hancur-hancurlah negeri asal jangan hancur pemerintah
hancur-hancurlah pemerintah asal jangan hancur agama



Seperti halnya kalimat Tauhid yaitu Tiada Tuhan selain Allah, falsafah tersebut dimulai dari negasi (penyangkalan), yang kemudian dilanjutkan dengan rekonstruksi. Hal yang disangkal adalah harta, diri, dan negara. Dan yang hendak ditegakkan adalah jalan agama. Bukan berarti bahwa Idrus mengajarkan sikap untuk tidak membela negara. Ia hanya menegaskan bahwa membela negara hanyalah satu tahapan dalam proses menuju jalan Tuhan. Jika hidup didedikasikan untuk sesuatu yang lebih substansial, maka harta, diri, hukum, dan negara, adalah stasiun-stasiun yang dilewati demi mengorbankan diri di jalan Tuhan. Ini mengingatkan pada konsep maqamat dalam tasawuf yaitu tempat-tempat persinggahan manusia dalam perjalanan mencapai Sang Pencipta.

Maqamat adalah tanda bahwa seorang manusia menuju ke jalan tersebut, dan bersedia melewati sejumlah rintangan-rintangan yang menhijab dirinya dari cahaya. Dalam dunia sufistik, maqamat adalah kata jamak dari “maqam“ yang bermakna tahap-tahap perjalanan atau stasiun. Para sufi melakukan perjalanan melewati stasiun tersebut, kemudian menyaksikan realitas yang tidak disaksikan manusia awam.

Makanya, para sufi mendefinisikan maqamat dalam versi yang berbeda-beda sesuai dengan subyektivitas mereka ketika melakukan perjalanan spiritual. Ada yang memulainya dengan maqam taubat seperti Al Kalabadzi, ada juga yang memulainya dengan taubat dan mengakhirinya dengan ridha seperti Al Ghazali. Dan para ulama di Buton memulainya dengan sikap pengorbanan atas harta, diri, hukum, negeri, hingga akhirnya agama atau jalan Tuhan. Semuanya adalah tahapan perjalanan. Sebagaimana ditempuh para sufi, ia melakukan perjalanan ruhani dan telah menyaksikan banyak hal yang  kemudian menentukan caranya memandang dunia.

Sebagai nahkoda, ia tidak membawa kemudi Kesultanan Buton untuk menancapkan cengkraman dominasi ke negeri-negeri lainnya. Ia tidak mengarahkan bangsa Buton menjadi bangsa yang perkasa dan ditakuti di mana-mana. Tidak mewariskan ancaman kepada siapapun. Sejauh-jauhnya orang Buton mengembara, bukanlah untuk membangun kejayaan, namun mengembangkan silaturahmi dan persahabatan dengan siapapun.

Sejauh-jauhnya orang Buton berkelana, mulai dari pesisir Ternate dan Tidore, hingga jauh ke Tanah Marege (Australia), mereka menyatu dengan warga setempat, tanpa harus membangun kerajaan atau menyatakan kata ’aku’ secara berlebihan. Bangsa Buton adalah bangsa perantau yang bertualang ke banyak daerah, dan secara ajaib melepas identitas kebutonannya tatkala berada di tempat baru. Mereka menjelma menjadi warga setempat sebagai bentuk penghormatan pada ranah kultural yang sedang mereka masuki. Sementara identitas kebutonan menjadi ingatan kolektif sebagai negeri asal yang kelak akan membawa mereka pulang kembali untuk menyaksikan tanah leluhurnya.[23]

Idrus paham, sebuah negeri haruslah perkasa demi menjamin keamanan dan melindungi segenap kepentingan semua warganya. Sebuah negeri harus kuat sebab akan menjamin kepastian hukum dan menegakkan nilai. Tapi, keperkasaan itu bukanlah untuk mengalahkan bangsa lain dan meninggikan diri pada kejayaan. Keperkasaan itu harus dijelmakan menjadi sikap negara untuk melindungi rakyatnya dengan tegas, dan mengenyahkan semua gangguan. Ia melihat hal yang jauh lebih substansial. Bahwa keperkasaan itu mesti diarahkan untuk mengalahkan hawa nafsu demi menjalankan ibadah. Seorang ulama Buton bernama Yaroana Labuandari menulis tentang ini dalam kabanti Bunga Malati. “Belumlah disebut berani kalau baru mengalahkan segala negeri. Yang disebut berani adalah saat mengalahkan hawa nafsunya,“ katanya. Secara lebih jelas, pandangan itu bisa dilihat dari penggalan kalimat Labuandari sebagai berikut:


...............
Mincuanapo yi sarongi amasega
Nesabutuuna atalo sabhara lipu
Tabeanamo yisarongi amasega
Atalomea hawa nafsuuna

Mincuanapo yi sarongi amakaa
Nesabutuuna asuungi bhatubuti
Tabeanamo yisarongi amakaa
Apoolia faradhu limba sunathi
.........
Mincuanapo asarongi asilamo
Nesabutuna yinda kanea tobho
Tabeanamo yisarongi asilamo
Moo sanganga yinda kanea oni
…………
Mincuanapo yisarongi Isilamu
Nesabutuna aturu a sambahea
Hajimo ambulimo yi Madina
Tabeanamo yi sarongi Isilamu
Moo saangu yindamo te amarana
Mo laahirina tawa mobaatinina

...............
Belumlah disebut berani
Kalau baru kalahkan segala negeri
Kecuali yang disebut berani
Kecuali sudah kalahkan hawa nafsunya

Belumlah disebut kuat
Kalau baru menjunjung bhatubuti
Kecuali yang disebut kuat
Bila mampu salat fardhu sampai sunat
……………
Belumlah disebut pesilat
Kalau hanya tak bisa ditembus keris
Kecuali yang disebut pesilat
Walau sekata, tak dikena bicara
..............
Belumlah disebut Islam
Kalau hanya rajin sembahyang
Sudah haji dan kembali dari Madinah
Kecuali yang disebut Islam
Walau satu tak ada lagi marahnya
Yang lahir atau yang bathin



Syair ini adalah refleksi atas situasi zaman di mana banyak negeri saling mengalahkan. Keberanian bukanlah untuk mengalahkan sesama manusia. Keberanian digunakan untuk mengalahkan hawa nafsu, sesuatu yang muncul dalam diri dan bisa membelit manusia hingga menjadi akal yang mengendalikan. Demikian pula dengan kekuatan. Belumlah disebut kuat jika baru bisa mengangkat batu gunung sebesar bumi. Seseorang disebut kuat ketika sanggup mendirikan salat fardhu hingga salat sunat, ketika sanggup menegakkan satu pilar penting dalam agama Islam yaitu salat, serta membasahi lidah dengan menyebut asma Allah. Tetapi, bisakah kita berbangga diri dengan menyebut kita sebagai seorang penganut Islam?

Labuandari menggeleng. Belumlah disebut Islam manakala kita hanya sanggup rajin sembahyang. Belum pula disebut Islam jika sudah menunaikan ibadah haji ke Mekah dan Madinah. Keislaman adalah situasi ketika kita sanggup menundukkan semua amarah. Ketika sanggup mengalahkan segala yang lahir dan segala yang bathin. Keislaman bukan sekedar doktrin religius. Namun sesuatu yang dijelmakan dalam diri, sesuatu yang membeaskan kita dari segala perangkap duniawi, sesuatu yang menggiring kita untuk mencapai kualitas insan kamil atau manusia sempurna.

Ketika Idrus lebih memilih melakukan perjalanan spiritual, apakah yang menjadi tujuannya? Siapa pula insan kamil yang selalu disebut-sebutnya dalam syair? Ternyata ia merindukan Rasulullah, sosok yang disebutnya cahaya permulaan (Muhammadi cahea baabaana), purnama yang terang benderang (kainawa motopene) yang tak berkesudahan. Ia merindukan penyatuan mistis dengan Rasulullah dan dimohonkannya dalam doa dengan air mata berlinang, agar kelak Rasul menyelamatkannya dari segala azab. Dalam syair yang sangat indah berjudul Bula Malino, ia mengatakan:


................
E,.. Waopu, dawuaku iimani
Wakutuuna kuboli badakusiy
Tesahada iqraru momatangka
Tetasidiqi iimani mototapu

E,.. Waopu, rangania rahmati
Muhammadi cahea baabaana
Oinciamo kainawa motopene
Mosuluwina bari-baria batua

Sio-siomo Waopu kupokawa
Imuhsyara toromuana batua
Aagoaku I zabu narakaa
Ihuru-hara naile muri-murina

Siy saangu nidzamu yoni Wolio
Ikarangina Sulthani mo’adili
Kukarangia betao paiasaku
Barasalana beluose kaadari

Sio-siomo Opu atarimaaku
Bekuewangi incaku momadakina
Kusarongia Kabanti inciasii
Bula Malino kapekarunana inca

E,.. karoku bega-bega umalango
Inda ufikiri kampodona umurumu
Matemoitu taomo papogaako
Te malingu sabara mangaanamu

Temoduka sabara ahaliymu
Temalingu mia sampomataumu
Temoduaka sabara musirahamu
Wutitinai tawa mosagaanana
……………

...............
Wahai Tuhanku, anugrahi aku iman
Saat kuberpisah dengan jasad ini
Bersama sahadat, ikrar yang teguh
Serta kebenaran iman yang tak goyah

Wahai Tuhanku, tambahkan rahmat
Bagi Muhammad, cahaya permulaan
Beliau purnama terang benderang
Yang menerangi segenap hamba

Tuhan, semoga saya bertemu dengannya
Di Masyhar, tempat kumpulnya para hamba
Semoga Beliau menyelamatkanku dari neraka
Dalam huru-hara esok di kemudian hari

Ini adalah puisi bahasa Wolio
Buah karya Sultan nan adil
Dikarang sebagai cermin hidupku
Agar kuamalkan semua ajaran

Semoga Tuhan menerimaku
Kulawan segala perangai jahat
Kunamai kabanti ini
Purnama jernih pelembut perangai

Wahai diriku, jangan mabuk kepayang
Tidakkah kau pikirkan pendeknya umurmu?
Kematian nanti yang akan memisahkanmu
Dengan segala anak cucumu

Demikian juga dengan ahli keluargamu
Dengan semua orang yang pernah kau kenal
Demikian juga semua keluargamu
Semua famili juga orang lain
..................


Kerinduan pada Rasul menjadi bagian penting dari beberapa syairnya. Sebagaimana Idrus, para sufi juga mengamini pandangan yang melihat posisi manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi, melanjutkan amanah yang diemban para Rasul. Sebagai khalifah, manusia wajib menyampaikan semua berita dari langit agar dipahami dan dirasakan oleh manusia lainnya. Namun karena semua manusia pada praktiknya tidak bisa membawa pesan langit tersebut, maka seorang Rasul atau Nabi menjadi utusan Tuhan untuk menyampaikan kabar tersebut.

Jalaluddin Rumi mengatakan, “Ketika kebun-kebun mawar telah musnah, kemanakah kita akan mendapatkan semerbak mawar?“ Jawabannya dari “air mawar.“ Yang dimaksud oleh Rumi adalah ketika Tuhan yang gaib tidak bisa kita lihat, maka melalui Rasul, pesan dan berita dari-Nya dapat kita peroleh. Oleh karena itu, para Nabi dan Rasul, yang berpuncak pada diri Nabi Muhammad adalah contoh-contoh paling sempurna dari manusia paripurna (insan kamil). Dalam penuturan Idrus, Rasulullah adalah purnama yang tak berkesudahan (kainawa motopene) yang menerangi segenap hamba (mosuluwina bari-bari batua). Rasulullah adalah prasasti hidup dan prototipe ideal tentang bagaimana selaiknya seorang hamba. Rasulullah adalah insan kamil.

Namun ketika Rasulullah sebagai penutup para Nabi dan Rasul telah berpulang, maka siapakah yang menyandang peran kesejarahan tersebut? Jawabannya adalah para aulia Allah, baik itu sahabat, al muqarrabin, dan juga para sufi. Di titik inilah Idrus merasa berat namun tetap harus menyandang tugas mulia tersebut. Jika di malam hari ia berdoa untuk Rasul dan bermunajat kepada Allah, itu dilakukannya demi memperkuat bathin dalam menjalankan amanah tersebut. Idrus hanya berharap pada kemurahan Tuhan. Ia melihat Tuhan begitu dekat dengan seorang hamba, tak berjarak, saling menyatu.

Sebagaimana juga disyairkan sufi Rumi, Idrus juga membayangkan Tuhan yang dekat dan sedikitpun tak terpisah dengan dirinya. Ia yakin “Tuhan sedang mengintip lahir dan batinnya, di mana dan kapan saja.” Ia membuka tabir atau hijab dirinya dan memandang Tuhan dengan mata hatinya. Itu dikemukakan dalam syairnya: “Wahai Tuhan, tetapkanlah hatiku, saat aku menghadap dan memandang zat-Mu.”[24] Idrus mendambakan penyatuan mistis antara manusia dan Tuhan, sebagaimana kerap dikemukakan para penggiat ajaran Wahdatul Wujud dari Ibnu Arabi. Manusia memang ciptaan, namun bukankah manusia adalah pancaran (tajalliyat) dari cahaya Ilahiah? Bukankah keseluruhan ciptaan dan segala yang ada di alam semesta adalah bagian dari Tuhan, meskipun bukan Tuhan sendiri?

Idrus juga menyebut Tuhan dengan sebutan ’Waopu’, kadang dengan sebutan Opu. Di tanah Buton, sapaan “Wa“ biasanya digunakan untuk menyebut seorang perempuan. Ketika menyebut Tuhan dengan sapaan Waopu, maka yang dimaksudkannya adalah kualitas feminimitas atau jamal dalam diri Tuhan. Para sufi kerap membuat klasifikasi dari 99 nama-nama Tuhan yang disebut Asmaul Husna. Dari semua nama tersebut, bisa dipilah dalam dua kategori yaitu kualitas maskulinitas atau kelelakian (jalal), misalnya Maha Perkasa. Kategori lainnya adalah kualitas feminimitas atau keperempuanan (jamal). Itu terlihat dari nama-nama seperti Maha Penyayang, Maha Pengasih. Lewat panggilan tersebut, Idrus merindukan Tuhannya para sufi yaitu sebagai sosok yang jamal, sosok yang pengasih, penyayang.  

Pada akhirnya, sebagaimana kerap direfleksikannya, sejarah panjang Kesultanan Buton adalah sejarah panjang gerak manusia dalam menggapai Pencipta. Kesultanan  Buton adalah perahu yang berlayar di samudera kehidupan demi menggapai Yang Maha Sempurna. Metafora perahu ini dipilih Idrus untuk menjelaskan perjalanan kesultanan yang panjang. Ia sering sekali mengibaratkan kehidupan seperti perahu atau bahtera yang tengah berlayar.

Demikian pula ketika bertutur tentang kesultanan. Ia juga melihatnya sebagai perahu yang menantang samudera. Perahu kesultanan pasti akan mencapai tujuan tatkala memegang teguh tali temali agama Allah sebagai kompas dan penuntun. Ombak dan rintangan adalah sesuatu yang membuat perahu itu oleng ke kiri dan ke kanan, namun nilai-nilai keimanan dan pandangan batin yang bening adalah kemudi yang mengendalikan perahu kesultanan. Itu dikemukakannya dalam syair yang amat indah:


Tau sawika motopenena kalape
Oiimani tashidiqi momatangka
Okokumbuna alaakea khaofu
Pangauwana bakeakea rijaa

Musyaahida betao kapabelona
Mujaahida betao parabosena
Kinaa’ati kamondona rabutana
Rinaa’ati katangkana kabokena

Olinaitu mopatotona porope
Oikhlasi totona inca mangkilo
Opadomana mosusuakana dala
O Kuraani te haditsina Nabii

Obanderana sulaakea zuhudu
Tombi-tombina zikiri te tasbehe
Jurubatuna syaraa’il laahiri
Jurumodina ilimuu baathini

Mopolumena madadi minai guru
Anakodana hidayatina Opu
Asangkaaka kamondona helaitu
Tawakalamo poaromo I Opumu

Adikaaka ngalu ihelaakamo
Ptotomea poarona bangka yitu
Botukimea lipu imbooresimu
Musirahamu teantona banuamu

Pepuumea kambotu motopenena
Zikrillahi LAILAAHA ILALLAH
Neakawako gaurana syeethani
Tangasaana daangiapo uhela



Untuk tumpangan yang sangat baik
Adalah keimanan sebagai tashdiq yang kukuh
Tiangnya adalah khauf (rasa takut)
Layarnya adalah harapan yang pasti

Pandangan batin sebagai layar penyetir
Sikap mujahid sebagai pendayungnya
Sikap hati-hati sebagai pelengkap tali-temali
Sopan santun sebagai penguat ikatan

Kemudinya itu pelurus haluan
Yaitu keikhlasan tatapan hati nan suci
Pedomannya sebagai penunjuk jalan
Yaitu Al Quran dan hadis Nabi

Bendera yang berkibar adalah zuhud
Umbul-umbulnya berupa zikir dan tasbih
Penjaga karang adalah syariat yang wujud
Pemegang kemudi adalah ilmu bathin

Pemberi air adalah ajaran para guru
Nahkodanya adalah hidayah Allah
Setelah sempurna kelengkapan pelayaran itu
Maka berserahdirilah menghadap Allah

Angin menerpa untuk berlayar
Luruskanlah arah bahtera itu
Putuskan negeri tempat tinggalmu
Keluarga dan seisi rumah

Pusatkan ingatanmu yang lurus
Berzikir LAILAAHA ILALLAH
Bila datang senda gurau setan
Saat engkau dalam pelayaran

***

Idrus Kaimuddin bisa menjadi jendela yang bisa membukakan wawasan kita untuk menelaah lebih jauh tentang sejauh mana torehan jejak orang Buton dalam sejarah dan naskah Nusantara. Kalaupun nama Idrus sama sekali tidak disebut dalam historiografi Nusantara, maka itu disebabkan karena penceritaan sejarah kita terlampau dipenuhi nuansa militeristik yang hanya melihat para hero atau mereka yang perkasa di medan laga. Sementara mereka yang menghabiskan malamnya dengan munajat dan menulis syair adalah mereka yang lekas tenggelam dalam arus besar sejarah kita. Mereka yang menulis sastra adalah mereka yang ’dipandang sebelah mata’ dalam historiografi nusantara kita yang kolonial.[25]

Bagi saya dan orang Buton lainnya, posisi Idrus amatlah penting dalam memantik kesadaran orang Buton memasuki gerbang pencerahan. Tradisi penulisan buah pikiran dalam naskah mencapai puncak keemasan pada masanya. Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, di saat banyak bangsa belum mengenal tradisi tulis, telah bermunculan para penulis sastra atau pemikir yang meramaikan kekayaan khasanah kebudayaan bangsa Buton. Selain Idrus sendiri, muncul sosok lain seperti Muhammad Isa Kaimuddin[26], Haji Abdul Ganiu[27], Haji Abdul Hadi[28], La Kobu[29], dan Abdul Khalik Maa Saadi[30]. Mereka meramaikan tradisi literasi dan memberikan pencerahan kepada semua rakyat. Mereka adalah para cendekia yang menjadikan aksara sebagai cara bertutur yang abadi dan akan dibaca oleh generasi penerus.

Kesultanan Buton di abad ke-19 adalah wilayah yang marak dengan aktivitas intelektualitas dan gairah penjelajahan spiritual. Sebegitu besarnya hasrat para sultan untuk meniti di jalur sufistik sehingga menginspirasi rakyatnya untuk menuliskan buah-buah pikirannya dalam kitab maupun syair. Terdapat beribu-ribu lembar naskah yang lahir pada periode kepemimpinan Idrus di Tanah Buton. Tradisi penulisan naskah ini tidak muncul begitu saja seolah jatuh dari langit. Namun telah melewati kurun waktu yang panjang dalam sejarah.

Posisi Pulau Buton yang terletak di jalur utama perdagangan dunia sejak masa silam[31] telah menjadikannya sebagai persinggahan banyak ulama yang melintas baik dalam perjalanan menuju timur, maupun saat menuju ke barat. Meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer, pada masa itu arus peradaban bergerak dari utara yaitu Arab, kemudian ke Malaka, lalu ke selatan dan terus ke arah timur.

Menurut Azra (1994), jaringan antara kalangan Muslim di Timur Tengah dan di Nusantara telah dimulai sejak munculnya hubungan-hubungan dagang yang dibarengi dengan penyebaran agama. Lewat aktivitas dakwah Islam secara ekstensif di Nusantara sejak abad ke-12 dan dominannya Kekaisaran Ottoman dan kerajaan-kerajaan Islam yang lain (seperti Mughol dan Safawwiyah) atas Timur Tengah, Laut Merah, dan Samudera Hindia sejak paruh kedua abad ke-15 dan sepanjang abad ke-16, jaringan ini meluas menjadi hubungan politik dan keagamaan. Selain itu, paling tidak sejak abad ke-17, jaringan ini telah mulai berubah menjadi hubungan-hubungan agama dan intelektual yang ekstensif. Tokoh-tokoh Indo-Malaya yang penting dari jaringan ulama internasional abad ke-17 di antaranya ialah Nur Al Din Al-Raniry (lahir tahun 1685), Abd Al-Rauf Al-Sinkili (lahir tahun 1615), dan Muhammad Jusuf Al Makassary (lahir tahun 1627). Sementara tokoh-tokoh pada abad ke-18 adalah Sjihab Al-Din bin ‘Abd Allah Muhammad, Kemas Fakhr Al-Din, Abd Shamad Al-Palimbani, Muh Arsjad Al-Banjari, dan lain-lain.

Yunus (1995) mencatat bahwa diperkirakan Islam sudah sampai ke Buton sejak abad ke-15, pada masa ketika penguasa Kerajaan Gowa belum memeluk Islam. Itu bisa diketahui melalui manuskrip Wan Muhammad Saghir yang menuliskan tentang kedatangan seorang ulama Patani[32] di bagian timur pulau Buton untuk menyebarkan agama Islam. Namun Islam diterima secara resmi sebagai agama kerajaan sejak pemerintahan Raja Buton ke-enam Lakilaponto atau Murhum pada tahun 948 H atau 1540 Masehi. Lakilaponto, --seorang ksatria asal Pulau Muna yang gagah berani-- memeluk Islam melalui Syaikh Abdul Wahid, ulama yang berasal dari Johor.[33] Murhum lalu dilantik sebagai sultan dengan gelar Sultan Kaimuddin Khalifatul Khamis.

Masuknya Islam bukan saja menjadi awal dari era kesultanan, juga menjadi awal mekarnya tradisi intelektualitas. Masyarakat berada dalam kegelapan tatkala warisan pengetahuan dari masa silam hanya tersimpan dalam ingatan kolektif, tanpa ikhtiar untuk mengabadikannya. Para sejarawan sudah sama mafhum bahwa sebelum datangnya Islam, Buton hanya ditafsirkan oleh naskah dari tempat lain, misalnya naskah Negarakertagama yang menyebut nama Buton dalam sumpah palapa yang diikrarkan Gajah Mada[34].

Buton hanya dijelaskan dengan sinis oleh para penjelajah Eropa yang datang ke Buton dengan hasrat kolonialisme yang mencari sumber daya alam, dan untuk itu bangsa Eropa siap mengalahkan bangsa manapun demi memenangkan akses sumber daya. Tak kurang dari penjelajah seperti Jan Pieterszoon Coen[35] yang ikut mencatat Buton sebagai negeri yang miskin dan penduduknya banyak memakan ubi.

Setelah datangnya Islam, bangsa Buton memiliki akses untuk menjangkau ilmu pengetahuan yang seluas-luasnya, sesuatu yang tidak banyak disentuh oleh bangsa-bangsa lain di masa itu. Mereka mengalami pencerahan dan menyadari bahwa Kesultanan Buton hanyalah satu noktah kecil dalam luasnya jagad ilmu pengetahuan. Mereka menyadari bahwa pengetahuan mereka tentang jagad raya dan alam semesta ibarat garis pesisir pantai dari samudera pengetahuan yang pernah diarungi dan diselami oleh para pemikir besar Muslim di sepanjang sejarah. Islam datang sebagai era baru yang menggantikan masa kegelapan aksara di zaman sebelumnya. Islam memantik lahirnya tradisi penulisan naskah dan syair yang di masa kini menjadi timbunan informasi yang sangat berharga. Datangnya Islam dan diperkenalkannya tradisi menulis dalam huruf Arab, menjadi awal dari dituangkannya catatan-catatan tentang sejarah maupun syair lokal dalam bahasa Wolio.

Di negeri Buton, Islam tidak saja dimaknai sebagai sejumlah aturan yang mesti dipatuhi demi menggapai hidup yang lebih baik, tetapi Islam justru dimaknai sebagai cahaya penerang yang membebaskan suatu bangsa dari gelap gulita menuju ke dunia yang benderang. Sebagaimana dikatakan Idrus, Islam adalah cahaya terang (nuru molabi) yang menuntun seorang hamba. Islam diterjemahkan sebagai penuntun ke tradisi kearifan, sebuah jalan panjang untuk menggapai sang Pencipta. Tradisi kearifan inilah yang kemudian melahirkan banyak ulama besar serta dijelmakan dalam hukum dan tata pemerintahan yang berlaku.

Sejak abad ke-15, di negeri yang tercipta dari mitos tentang setetes buih (bura satongka) ini telah hilir mudik sejumlah sufi dan para wali yang mengabarkan berita gembira tentang indahnya Islam ke seluruh bangsa-bangsa yang dihembus angin timur. Para sufi yang singgah adalah Syarif Muhammad, Sayid Raba[36], Sayid Ulwi[37] --cucu Rasulullah yang berasal dari Hadramaut (Yaman)--, Haji Sulaiman (Haji Yi Pada)[38], Abdullah (Mojina Kalau),[39] Tuan Muda Abdul Rahman Khudari Wan Ali Fatani yang berasal dari Patani[40], Syekh Muhammad bin Syais Sumbul al-Makki.[41]

Mereka memberikan pencerahan sekaligus membuka diskursus dengan para cendekia setempat. Para ulama itu menjadi aktor sosial yang membuka lahirnya komunitas epistemik dan mendikusikan beragam gagasan-gagasan besar dalam Islam, kemudian membumikannya dalam bahasa setempat yang bisa dipahami orang banyak. Posisi mereka adalah sebagai mobile people (manusia bergerak) yang datang ke suatu tempat sambil membawa gagasan, kemudian berpengaruh pada perubahan hukum setempat.

Mereka membawa Islam sebagai jejak peradaban yang lebih tinggi, namun di saat bersamaan, beberapa tradisi Buton yang hidup sejak masa pra-Islam tetap dibiarkan hidup dan mengalami sintesa dengan Islam yang datang belakangan. Inilah bentuk sintesa hukum yang mengagumkan pada abad ke-16 dan berlangsung di satu pulau kecil di wilayah Nusantara.

Ilmuwan sosial Benda-Beckmann memperkenalkan teori tentang mobile law, mobile people.[42] Kehadiran orang-orang baru dari tempat lain, akan membawa proses transformasi gagasan, sehingga terjadi perubahan aturan atau tata nilai di tempat yang baru sehingga nilai atau hukum senantiasa bersifat mobile (bergerak). Pandangan ini muncul di tahun 2005, padahal jauh di abad ke-15, orang Buton sudah mengalami langsung bagaimana datangnya sejumlah orang-orang yang membawa gagasan baru, kemudian terjadi perubahan hukum di masyarakatnya.

Nah, gagasan yang masuk seiring dengan datangnya Islam adalah konsep tasawuf, sebagaimana nampak dari deretan kitab yang pernah singgah ke wilayah ini pada abad tersebut.[43] Pada abad ke-16, orang-orang Buton sudah membaca sejumlah kitab yang beberapa di antaranya adalah khasanah kitab klasik yang masih dikaji hingga kini di semua perguruan tinggi Islam. Kita bisa mengatakan bahwa globalisasi sudah terjadi di Buton sejak masa silam dalam beberapa gelombang yang kian tinggi intensitasnya ketika terjadi dialog-dialog dengan berbagai naskah dunia.

Gelombang pertama globalisasi sudah mulai berpijar ketika pada abad ke-14 datang  mia patamiana asal Melayu yang menjadi cikal bakal lahirnya Kerajaan Buton. Datangnya mereka, kemudian disusul oleh Wa Kha Kaa dan Dungku Changia yang diyakini berasal dari Cina kian memperkuat tarikan globalisasi di tanah ini. Jika globalisasi dimaknai sebagai arena pertautan-pertautan kebudayaan, maka pada abad tersebut sesungguhnya sudah terjadi globalisasi. Gelombang kedua globalisasi adalah datangnya Syaikh Abdul Wahid, ulama yang mengislamkan Raja Buton dan menggantikan sistem kerajaan menjadi kesultanan.

Datangnya Syaikh Abdul Wahid menjadi gerbang pembuka bagi datangnya para ulama dan sufi yang mengajarkan Islam kepada masyarakat. Para ulama tersebut menjadi tokoh penting yang membawa higher civilization atau peradaban yang lebih tinggi dan membawa masyarakat dari abad yang gelap dari aksara, menuju ke zaman baru penulisan naskah-naskah. Gelombang ketiga adalah datangnya bangsa Eropa seperti Inggris dan Belanda, yang membawa bangsa Buton dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lainnya. Datangnya mereka adalah awal terintegrasinya Buton ke suasana pergaulan global. Persentuhan dengan bangsa Eropa, meski lebih banyak perihnya, adalah bagian dari proses perjalanan sebagai bangsa. Sedangkan gelombang keempat hadir ketika membanjirnya kitab-kitab berbahasa Arab yang intensitasnya makin kuat pada masa Sultan ke-29, Idrus Kaimuddin.

Globalisasi melalui kitab-kitab tasawuf itu didorong oleh para ulama dan sufi yang hilir mudik mengunjungi Buton. Di antaranya adalah Syarif Muhammad, ulama yang datang pada masa kekuasaan La Elangi, Sultan Dayanu Ikhsanuddin (Sultan Buton ke-4), pada tahun 1614 M. Ia adalah seorang berkebangsaan Arab yang kemudian membantu La Elangi untuk merumuskan undang-undang kerajaan secara tertulis yang dinamakan Murtabat Tujuh.

Murtabat Tujuh adalah salah satu ajaran kebatinan terpenting di dalam tasawuf.[44] Murtabat Tujuh adalah kristalisasi pengalaman kebatinan para sufi yakni keyakinan tentang proses kejadian manusia termasuk alam semesta yang bersumber dari zat Allah yang Maha Suci dan berakhir pada manusia sempurna (Saidi 2009). Proses itu melalui tujuh tahap atau martabat karena itu disebut Murtabat Tujuh. Proses itu turun dari atas (zat Allah) ke bawah (mahluk) yaitu manusia dan alam semesta, selanjutnya dari manusia kembali kehadirat-Nya sebagaimana tersimpul dalam firman Allah: Inna lillahi wa inna illahi raaji’un” artinya “Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepadaNyalah kami akan kembali” (Q 2:156). Itulah inti hakikat makna yang terkandung di dalam ajaran Martabat Tujuh.

Di beberapa tempat di Nusantara, konsepsi Murtabat Tujuh juga dikenal mulai abad ke-8 M dan mengacu pada ajaran sufi besar seperti Abu Yazid al-Bistani, kemudian diperjelas oleh Al Hallaj (Husain Ibn Mansyur al Hallaj), seorang sufi yang dieksekusi karena kecintaannya kepada Allah, dan terkenal dengan kalimatnya “Akulah kebenaran.”. Namun konsep Murtabat Tujuh lebih dilukiskan dengan konkret oleh ulama sufi termasyhur Ibnu Arabi yang lahir di Andalusia, Spanyol, dan wafat di Damaskus. Konsep tersebut kemudian diadaptasi oleh beberapa ulama tasawuf seperti Syamsuddin dari Pasai, Hamzah Fanshuri dari Aceh, Amongraga di Jawa, dan La Elangi (Sultan Buton ke-4) sendiri.[45] Meski demikian, di antara bangsa-bangsa yang mengenal tradisi Murtabat Tujuh tersebut, hanya bangsa Buton yang menterjemahkan konsep filosofis itu dalam tata aturan pemerintahan, yang mengatur hubungan antara posisi yang satu dengan posisi yang lainnya. Dilihat dari masa diundangnya yaitu tahun 1614 M, maka masih lebih tua jika dibandingkan konstitusi Amerika Serikat (AS) yaitu “Virginia Bill of Rights” yang lahir tahun 1776 dan ditahbiskan sebagai tahun penting sejarah ketatanegaraan dunia.[46]

Sebagaimana disinggung dalam banyak publikasi, Murtabat Tujuh adalah konsep mistik-filsafat yang hadir ke Buton melalui sejumlah kitab yang diperkirakan dibawa oleh Syarif Muhammad. Syarif pulalah yang kemudian memperkenalkan La Elangi dengan bacaan wajib dalam filsafat Islam klasik semacam kitab Ihya Ulumuddin dari Al Ghazali serta ajaran tentang wahdatul wujud dari Ibnu Arabi. Kitab-kitab itu hadir di Buton melalui jalur perdagangan di mana Buton merupakan mata rantai penting dalam perdagangan di Nusantara.

Al Ghazali, seorang ulama besar asal Persia yang lahir tahun 1058 dan oleh publik Eropa lebih dikenal dengan nama Algazel. Al Ghazali adalah pemikir Muslim terkemuka yang disegani di dua dinasti Muslim yaitu Dinasti Saljuk dan Dinasti Abbasiyah. Hidup Al Ghazali adalah pengembaraan ke berbagai penjuru bumi demi menemukan mutiara-mutiara hikmah yang berceceran di mana-mana. Bisakah kita membayangkan apa yang berkecamuk di pikiran La Elangi ketika membaca pikiran Al Ghazali pada abad 16 atau tahun 1579? Apakah La Elangi juga merasa terbakar dalam sebuah perjalanan untuk menemukan kearifan? Tidakkah ia tergerak untuk mengikuti perjalanan Al Ghazali mengumpulkan berkarung-karung mutiara kehidupan?

Nampaknya, La Elangi lebih tertarik pada dimensi sufistik Al Ghazali ketimbang filsafat yang memusingkan itu. Ia tergerak untuk melakukan perjalan spiritual pula, akan tetapi posisinya sebagai sultan mungkin membatasi langkahnya sebab harus memikirkan negeri dan kemaslahatan rakyatnya sendiri. Namun ia bisa saja membumikan konsep perjalanan tersebut dalam tata aturan pemerintahan serta pedoman dalam mengelola negeri. Bagaimana pula perasaan La Elangi ketika membaca kitab karya Ibnu Arabi di abad ke-16?

Ibnu Arabi adalah salah satu mistikus dan filosof besar dalam khasanah intelektual Islam yang memperkenalkan pahaman Wahdatul Wujud atau penyatuan mistis antara manusia dan Tuhan. Ia dikenal sebagai sufi terbesar yang melakukan perjalanan demi menyibak hijab atau perantara manusia dan Tuhan. Ibnu Arabi memberikan ilustrasi yang jelas tentang bagaimana hubungan antara Tuhan dan alam dalam konsep kesatuan wujud. “Wajah sebenarnya satu, tapi jika engkau perbanyak cermin, maka dia jadi banyak.” Dalam pandangannya, “Wajah” identik dengan Tuhan, sedangkan “cermin” merujuk kepada alam. Hubungan Tuhan dan alam seperti hubungan wajah dengan cermin, sedangkan berbagai makhluk yang ada di dalamnya tidak lain dari bayang-bayang wajah yang sama dan satu tetapi terefleksi dalam banyak cermin sehingga mengesankan keanekaan. Bagaimanakah perasaan La Elangi ketika membaca tulisan sufistik semacam ini? Tidakkah ia terbakar dalam semangat pencarian kesejatian dan berkelit dari perangkap nafsu manusia? Apakah ia juga melakukan perjalanan spiritual dan merasakan indahnya penyatuan mistis dengan Sang Pencipta?

Meskipun periode La Elangi sebagai sultan berakhir, namun tidak memadamkan hasrat ingin tahu yang pijarnya terus menerangi para sultan selanjutnya. Di Kesultanan Buton, seorang sultan tidak hanya mengemban amanah atas bumi dan langit, namun juga mengemban amanah spiritual sebagai pemimpin yang membawa terang dalam gelap. Seorang sultan adalah seseorang yang mendalami spiritualitas dengan penjelajahan yang jauh lebih dalam ketimbang rakyatnya.

Seorang sultan adalah seorang sufi yang berziarah untuk kemaslahatan rakyatnya. Makanya, seorang sultan adalah manifestasi dari manusia sempurna yang tidak boleh melakukan kesalahan. Ketika seorang sultan bersalah –yang sebenarnya menunjukkan sisi manusianya—maka tak ada ampun untuk itu. Ia harus siap-siap dimakzulkan atau dijerat lehernya dengan tali yang selama ini melekat di payung kebesarannya.

Kebijakan La Elangi untuk menjadikan Murtabat Tujuh sebagai sumber hukum dalam Kesultanan Buton adalah pilihan yang bijaksana. Di tangannya, Murtabat Tujuh menjadi lebih ‘bertenaga’. Tidak sekedar menjadi konsep filosofis yang mencerminkan intelectual exercise yang rumit dan memusingkan kepala, namun menjadi konsep yang membumi dan diterapkan dalam tata aturan pemerintahan. Pilihan untuk membumikan konsep Murtabat Tujuh ini adalah pilihan yang menunjukkan dialog-dialog antara orang Buton pada masa itu dengan naskah-naskah dunia.

Mereka membaca konsep filosofis tersebut, kemudian menyaksikan realitas pemerintahan di negerinya, lalu menyusun kebijakan menerapkan konsep tersebut sebagai sistem hukum. Menurut saya, ini adalah pilihan yang revolusioner dan menunjukkan bagaimana dialog-dialog yang dilakukannya dengan berbagai khasanah naskah-naskah dunia. Mengacu pada filsuf Jerman, Hegel, tesis adalah naskah-naskah dunia yang datang melalui jalur dagang, antitesisnya adalah bentang pemikiran ulama atau sufi Buton yang membaca kitab luar tersebut. Sebagai sintesis adalah lahirnya berbagai naskah-naskah serta syair yang bernuansa tasawuf.

Melalui tradisi penulisan naskah, maka sesungguhnya sedang terjadi dialog-dialog dengan naskah dunia. Dialog yang saya maksudkan di sini bukan cuma situasi ketika dua orang sedang berkomunikasi. Dialog adalah gagasan-gagasan yang mengalir saat dua pemikiran bertemu dan saling mempertanyakan. Ketika beragam gagasan dari luar datang ke tanah ini, maka pemikiran itu mengalami dialog saat dibaca oleh individu yang berasal dari latar sosial yang berbeda. Pemikiran dari luar itu mengalami dialog-dialog dengan tradisi setempat, dan kemudian melahirkan sintesis berupa gagasan-gagasan yang baru. Pemikiran itu tidak menjadi sesuatu yang beku dan menyelusup begitu saja dalam kesadaran, namun menimbulkan dialog dan lalu lintas gagasan yang lahir saat mempertanyakan dan menguji ulang pemikiran tersebut.

Saya menduga kuat, demikianlah hal yang dirasakan leluhur Buton saat membaca beragam kitab klasik dalam dunia Islam. Kitab itu memberikan terang pandang baru dalam melihat kembali situasi zaman. Kitab-kitab itu menjadi cahaya terang bagi mereka dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi, termasuk dalam hal aturan hukum dan sistematika hubungan antar unsur dalam pemerintahan.

Kitab-kitab itu telah meluaskan pandangan mereka tentang sejauh mana khasanah pengembaraan para sufi di samudera pengetahuan, dan kemudian muncul pula ikhtiar kreatif yang sifatnya dari dalam untuk menerapkan pengetahuan itu dalam skala yang lebih mikro yaitu Kesultanan Buton. Maraknya tradisi penulisan naskah itu tidak lain dari keinginan untuk membekukan ingatan, mencatat semua hikmah dari perjalanan panjang bangsa Buton, kemudian mewariskan ingatan itu kepada generasi selanjutnya.

***

Sebagaimana telah disebutkan dalam berbagai publikasi, tradisi  pernaskahan di Buton sudah hadir ketika Islam mulai merambah wilayah ini, namun intensitasnya kian tinggi pada masa Idrus Kaimuddin menjadi sultan. Secara umum, isi naskah-naskah di Buton bisa dikelompokkan atas naskah bahasa, naskah hikayat, naskah hukum, naskah Islam, naskah obat-obatan, naskah primbon, naskah sejarah, naskah silsilah, naskah upacara adat, dan naskah surat-surat. Pengelompokkan isi naskah-naskah tersebut telah dilakukan Ikram dkk (2001) melalui katalog naskah Buton pada koleksi AM Zahari.

Semua naskah itu ditulis dengan menggunakan aksara Arab serta berbagai bahasa, baik Arab, Melayu ataupun bahasa Wolio. Hal ini dipahami karena Buton telah mengadaptasi Islam jauh sebelumnya dan menjadikannya sebagai spirit rohaniah dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya, tidak terkecuali dalam hal tulis menulis. Hal tersebut ditampakkan dari upaya modifikasi aksara Arab guna mengungkapkan berbagai fenom yang ada dalam bahasa Wolio. Aspek yang disebut terakhir lazim disebut buri Wolio.  

Selama sekian generasi, membaca dan menulis aksara Arab adalah keahlian yang diajarkan secara turun-temurun. Terkadang hal ini menimbulkan pertanyaan: bagaimanakah proses sosialisasi pengajaran naskah di kesultanan? Bukankah sebuah keahlian harus dilembagakan agar dipahami banyak orang? Kembali kita harus membuka lembar dan catatan-catatan sejarah. Semua pertanyaan tentang masa silam, akan didekati dengan sejauh mana lembaran-lembaran naskah berkisah tentang masa-masa tersebut.

Naskah-naskah di Kesultanan Buton disosialisasikan dalam satu metode pembelajaran yang unik. Sejak tahun 1824, tradisi membaca dan menulis naskah sudah menjadi bahan kajian dari para intelektual setempat. Melalui naskah itu, mereka mengangkasa ke langit-langit pemikiran, berdialog dengan banyak tradisi pemikiran, kemudian kembali berpijak ke bumi untuk mengisahkan indahnya pesona studi pernaskahan. Pada masa Sultan Idrus Kaimuddin, keahlian pernaskahan itu telah dilembagakan dalam pendidikan, yaitu dengan mendirikan sekolah yang bernama zawiah. Zawiah menjadi tempat yang melahirkan cikal-bakal cendekia setempat yang menulis syair. Hal revolusioner yang terjadi di zawiah adalah memberikan kebebasan kepada siswanya untuk memilih pengetahuan yang mereka senangi untuk diterapkan dalam kesehariannya.

Ada yang belajar ekonomi (tata niaga), pemerintahan, hukum, sastra, dan militer/ pertahanan namun terikat dalam satu kurikulum yang harus mereka kuasai yaitu ilmu agama (tassawuf). Sehingga tugas dan kewajiban apapun yang mereka emban, dalam mengabdi kepada masyarakat, napas, cara tutur, sikap, dan cara pandang  mereka terhadap sesuatu harus berdasar pada tuntunan dan nilai universal sebagaimana nilai agama Islam itu sendiri[47] atau dalam bahasa setempat disebut “Apoguru antona Islamu.” Sejumlah guru didatangkan dari luar. Dalam keraton, berlaku kebijakan untuk berkomunikasi dengan bahasa Arab. Bahkan, Sultan Idrus juga memerintahkan agar setiap hari Jumat para khatib membaca khutbah berbahasa Arab di masjid-masjid. Sejak saat itulah khutbah-khutbah berbahasa Arab disusun oleh para ulama Buton yang disebut “Hutuba Kalulungi”.[48]

Pada masa ketika pendidikan Islam tradisional belum begitu marak di Nusantara, zawiah telah berdiri kokoh dan menjadi mata air ilmu pengetahuan di masanya. Pada periode inilah, seorang ulama dikirim sultan untuk belajar ke Mesir. Ulama tersebut bernama H Abdul Ganiu yang bergelar Kenepulu Bula, demi melengkapi sejumlah alumni madrasah Arab Saudi yaitu Idrus Kaimuddin dan Haji Abdul Hadi. Pada masa itu, belajar agama di Timur Tengah, khususnya di Haramain (Makkah dan Madinah), masih tetap dianggap sebagai jalan terbaik untuk belajar Islam dengan kualifikasi yang tinggi. Di kalangan umat Muslim di Hindia, terdapat persepsi bahwa bagaimanapun bagusnya pengetahuan agama seseorang, tetapi jika dia tidak belajar beberapa tahun di Haramain, dia hanya akan dianggap sebagai seorang guru yang tidak memiliki otoritas keagamaan yang sejati. Persepsi ini tampaknya selaras dengan tradisi Muslim yang lebih luas dalam transmisi pengetahuan antar generasi. Transmisi antar-pribadi menjadi jantung dari proses transmisi pengetahuan Islam yang kemudian membakar hasrat penjelajahan manusia ke dunia spiritual.

Abad ke-16 dan 17 adalah periode paling penting dalam proses pembentukan tradisi pemikiran Islam di Nusantara. Ketika perdagangan internasional semakin luas dan kejayaan beberapa kerajaan antara lain Aceh, Mataram, Banten, Makassar/ Gowa-Tallo, Buton, dan Ternate, ketika landasan tradisi intelektual dan politik diletakkan, maka usaha salin-menyakin kitab, penyebaran ide-ide keagamaan antara kerajaan yang direkam oleh historiografi tradisional, merupakan tema utama penciptaan komunitas kognitif Islam yang disusul suasana kosmopolitan. Dalam suasana seperti itu, muncul perenungan pribadi tentang hubungan manusia sebgai mahluk dengan Sang Maha Pencipta.

Dalam konteks inilah, muncul Aceh sebagai 'pusat penghasil' pemikiran cemerlang dalam sejarah pemikiran Islam di Asia Tenggara (Zuhdi 1999). Pengetahuan ini adalah transmisi pengetahuan yang sebelumnya didapatkan di Timur Tengah. Pengetahuan ini pulalah yang kemudian diajarkan di zawiah dan melahirkan tokoh-tokoh seperti Muhammad Isa Kaimuddin dan Muhammad Salihi[49] yang kemudian berturut-turut menjadi Sultan Buton ke-30 dan ke-31.

Melalui zawiah, naskah diajarkan sebagai pengetahuan yang membebaskan kegelapan masyarakat. Naskah menjadi titik terang dalam upaya menuliskan syair-syair dan renungan filosofis. Sebuah naskah yang utuh tidak sekedar teks yang diam dan beku. Penulis naskah itu menjalani tirakat dan laku spiritual demi mencapai titik konsentrasi tertentu untuk menuliskan naskah. Situasinya persis sama dengan abad pertengahan di Eropa, ketika sebuah karya seni dan karya filsafat didedikasikan untuk memuliakan Tuhan dan dianggap memiliki kekuatan magis.  

Abad ke 17 tercatat sebagai abad yang penuh penghargaan pada semua naskah-naskah. Apapun yang ditulis akan disimpan sebagai dokumen berharga. Bahkan pada saat Belanda menancapkan dominasinya pada bangsa-bangsa di timur, naskah dan surat-surat kerajaan adalah medium utama untuk menyampaikan pesan. Melalui tradisi tulis, Belanda menjalin hubungan dengan berbagai kerajaan, bertukar kata dan menjalin relasi yang kukuh. Melalui tradisi tulis itu pulalah Belanda menunjukkan supremasinya atas bangsa lain. Itu bisa disaksikan dalam banyak teks perjanjian dengan bangsa lain, misalnya dalam banyak perjanjian, termasuk Perjanjian Bungaya yang memutus supremasi Kerajaan Gowa di kawasan timur Nusantara.

Pada masa ketika Belanda memiliki pengaruh kuat, sebuah surat yang berstempel resmi kerajaan akan diperlakukan dengan cara tersendiri. Tidak sekadar diterima begitu saja, namun diperlakukan sebagaimana halnya seorang sultan yang berkunjung. Ini adalah bentuk pengakuan kedaulatan yang dilakukan Belanda atas kerajaan-kerajaan di belahan timur Nusantara. Melalui tradisi tulis itulah terjadi dialog-dialog kebudayaan serta negosiasi antar kerajaan di Nusantara dengan Belanda. Untuk menyingkap ini, mesti ada riset yang intensif dilakukan pada sejarah pernaskahan di Buton, serta bagaimana pernaskahan diabadikan dalam tradisi.

Zahari (1977) mencatat sebuah tradisi yang sungguh unik terkait surat-menyurat antara Kesultanan Buton dengan Belanda, dan bisa membantu kita untuk melihat bagaimana relasi antara Buton dengan Belanda. Tradisi ini menunjukkan bahwa sebuah surat kerajaan adalah surat resmi yang dipelakukan dengan amat istimewa di mata pemerintah kolonial. Ketika sejumlah orang Belanda datang membawa surat ke Bau-Bau, maka surat tersebut diterima di kapal atau perahu tumpangan tao-tao –sebuah tim khusus yang terdiri atas beberapa orang menteri dan juru bahasa. Pembesar Belanda dan kapten kapal menjadi tamu sultan. Sebagai bentuk penghormatan, saat kapal itu tiba akan dilepaskan tembakan dari kapal. Jika tembakan sebanyak 13 kali, berarti ada surat dari gubernur untuk sultan. Jika sultan yang mengirim surat untuk gubernur, sebagai tanda penerimaan, akan dilepaskan tembakan sebanyak lima kali.

Posisi gubernur adalah berkedudukan di Makassar. Surat-surat kerajaan untuk kompeni Belanda akan dibawa oleh tao-tao (utusan) yang terdiri atas seorang menteri, dua orang pengalasan, dan seorang juru bahasa. Manakala urusan yang disampaikan dalam surat sifatnya mendesak, maka ditambah seorang atau lebih pejabat bobato. Saat tiba di Makassar, dilepaskanlah tembakan sebanyak tiga kali. Selanjutnya juru bahasa naik ke darat untuk menghadap gubernur dan menanyakan kapan tao-tao bisa diterima.

Kemudian, tao-tao dijemput oleh Deurwaarder dari Belanda dengan menggunakan sekoci dari syahbandar. Di darat, telah menunggu pasukan pengawal kehormatan, lengkap dengan tambur dan terompet serta lambang kebesaran yang berwarna kuning. Dengan diiringi pasukan pengawal, tao-tao lalu berjalan menuju kediaman Gubernur di Fort Rotterdam. Pengawal akan berjalan di muka bersama iringan tambur dan terompet, kemudian menyusul pembawa surat yang memegang baki perak dan ditutup kain warna kuning. Pembawa surat itu juga adalah orang Belanda yang ditugaskan khusus dan di belakangnya menyusul anggota tao-tao.

Pada pintu masuk rumah gubernur, berdiri pengawal kehormatan yang pada waktu itu diperkuat oleh beberapa orang yang lengkap persenjataannya. Komandan tao-tao diiringi oleh juru bahasa dari Gubernur, diantar masuk hingga ke tempat Gubernur menunggu tamunya. Sesudah berjabat tangan, komandan tao-tao mengambil surat dari tempatnya lalu diletakkan di atas kepalanya sebagai tanda penghormatan, kemudian diserahkan kepada Gubernur.

Sesudah surat diterima Gubernur, selanjutnya dilepaskanlah tembakan sebanyak lima kali. Gubernur lalu mempersilahkan tamunya untuk mengambil tempat duduk yang telah disediakan melalui juru bahasanya. Beberapa saat kemudian, Gubernur lalu mengadakan perjamuan sekedarnya. Gubernur lalu mengadakan toast untuk kesehatan Sultan Buton bersama-sama seluruh anggota keluarganya dan keselamatan perjalanan tao-tao. Dalam pertemuan ini, belum diadakan pembicaraan yang resmi, melainkan sebuah pertemuan biasa saja. Perutusan lalu memberikan salam untuk kembali dan diantar Gubernur sampai pintu gerbang dan seterusnya berjalan kaki menuju penginapan di Kampung Wajo yang saat itu dikenal dengan nama “Rumah Sobat.”

Kepada Gubernur, di samping surat juga diberikan sebuah bingkisan dari sultan sebanyak 12 potong kain tenun sebagai pemberian balasan atas kiriman Gubernur. Kain tenun ini disebut ‘kawo-kawondu’ atau ‘tope’ atau ‘ging-ging’. Banyaknya 24 lembar yang dibungkus dalam 12 bingkisan dengan pembungkus warna kuning. Masing-masing bingkisan tertera alamat kepada siapa hendak dikirim[50]. Menurut Zahari (1977) para penenun di Buton sudah mafhum bahwa jika mereka disuruh menyiapkan 12 bingkisan tenun, maka berarti akan ada surat yang dikirim keluar.

Pemberian tenun ini dianggap sebagai balasan atas pemberian yang dilakukan oleh Belanda dalam setiap surat-suratnya. Misalnya dalam surat Gubernur Jenderal kepada Sultan Muhiyuddin (La Kopuru), terselip pula kayu cita halus dan dua lembar sapu tangan. Sedangkan dalam surat Gubernur de Paseren kepada Sultan Idrus juga diberikan satu stel perkakas minum teh. 

Pemimpin tao-tao bisa juga menemui Gubernur secara pribadi, tapi ini jarang terjadi. Kunjungan tao-tao tidak mendapatkan kunjungan balasan dari Gubernur karena kepangkatannya yang rendah. Berbeda dengan kunjungan sultan yang selalu dibalas dengan kunjungan. Pada masa ini, Sultan Buton menempatkan dua orang juru tulis di Makassar sebagai perwakilan kerajaan atau duta besar. Setiap bulannya, dua orang duta besar itu menerima jaminan hidup berupa enam pikul beras, 40 kati garam, satu setengah kubik kayu bakar, dan uang tunai Rp 15.

Juru tulis ini juga bertindak sebagai guide atau tuan rumah ketika ada sejumlah utusan Buton yang datang ke Makassar. Ketika tao-tao hendak kembali ke Buton, maka dibekali bahan mesiu sebanyak 10 artilerie-kruid dan 300 peluru, serta ada tentara kompeni yang turut menemani di perjalanan. Ini adalah untuk penjaga diri dari adanya gangguan bajak laut di perjalanan.

Demikian pula saat menerima surat dari Gubernur di Buton, maka tata caranya juga berbeda dan unik. Biasanya, Menteri Gampikaro (semacam menteri dalam negeri) mendapat perintah sultan tentang penerimaan surat dari tao-tao, maka diadakanlah undangan kepada anggota majelis syarat. Ia menemui Sapati dan Kapitalao untuk menyampaikan berita datangnya tao-tao. Ia juga mengundang Siolimbona dan Menteri Besar (Bonto Ogena). Juga diberitahukan agar semua mengenakan jubah di atas baju dalam.[51]  Selanjutnya, wanita Gampikaro diperintahkan memanggil rekan-rekannya untuk hadir di Baruga dan membawa perlengkapan seperti tali pengikat kelambu dan langit-langit. Juga diminta hadir para belobaruga (selir) sebagai anggota rumah tangga istana. Makanan dan minuman untuk pembesar Belanda disiapkan. Minuman untuk Belanda adalah air kelapa muda (kalimbungu).

Ketika semua persiapan sudah matang, Manteri Gampikaro bersama beberapa pengikut turun ke pelabuhan di mana perahu tumpangan tao-tao telah berlabuh demi menjemput surat-surat. Setiba di perahu, Menteri Gampikaro memberikan salam hormat kepada kompeni lalu berjabat tangan, dan sesudahnya menemui tao-tao. Sewaktu tao-tao menyerahkan surat, Menteri Gampikaro menerima dengan tangan kanan, sambil tangan kirinya memegang siku tangan kanannya. Lalu surat itu disimpan di mulutnya, dijepit di antara kedua bibirnya, kemudian disapukan di atas kepala, muka, dan terakhir diletakkan di tempat khusus yang disiapkan.

Tiba di istana, Menteri Gampikaro lalu mendekati kursi tempat duduk Sultan yang telah duduk di satu Baruga (balairung) bersama semua pejabat kesultanan. Saat rombongan lainnya datang, Sultan berdiri lalu berjabat tangan dengan kompeni. Menteri Gampikaro mengambil dan membuka surat itu lalu diserahkan bersama sampulnya dengan kedua tangannya. Sultan lalu mengambil surat dan seterusnya diserahkan kepada juru tulis kerajaan untuk dibaca. Apabila Sultan sudah kembali menduduki kursinya, Menteri Gampikaro memerintahkan dua orang dari Wanita Gampikaro untuk duduk di belakang kursi Sultan guna mengawasi dan menjaga serta menahan kursi tersebut.

Bagi saya, cerita ini amatlah menarik sebab menunjukkan tradisi yang berdenyut dalam setiap pengiriman surat kerajaan. Melalui tradisi, penulisan naskah dan surat-surat menjadi aktivitas yang agung dan diterima dalam ritus tertentu. Melalui tradisi pula, pernaskahan diwariskan sebagai aktivitas penting yang diperlakukan istimewa dalam suatu kerajaan. Ini bukan sekedar misi diplomatik antar kerajaan, namun ini adalah soal bagaimana memposisikan surat-surat sebagai dokumen resmi yang diperlakukan istimewa.

Tradisi ini menunjukkan betapa tingginya penghormatan pada surat-surat dan naskah. Surat dianggap merepresentasikan posisi sebuah kerajaan. Kedatangan surat, dianggap sama dengan kedatangan sultan yang hendak berkunjung. Meskipun hanya berbentuk surat, namun diperlakukan sama dengan kunjungan seornag pejabat. Demikianlah adat dan tradisi yang diterapkan antar kerajaan. Tidak hanya kepada Belanda, namun juga kepada Gowa, Bone, ataupun Ternate. Surat adalah representasi seluruh kesultanan yang dihormati dan diperlakukan dengan takzim. Tidak heran jika hari ini surat-surat Kesultanan Buton itu masih utuh di negeri Belanda. Melalui kisah di atas, bisa pula diketahui kalau iklim pemerintahan kolonial tidak selalu menyisakan kisah-kisah nestapa penjajahan, namun juga proses dialog dan saling belajar antar bangsa, proses pertukaran budaya dan saling menghargai dalam batas-batas tertentu.

***

SEBUAH naskah ibarat harta karun yang menyimpan banyak kekayaan. Sebuah naskah mengandung lautan makna jika disibak lebih dalam. Melalui naskah, kita bisa mengetahui banyak hal yang menjadi perhatian dan keresahan manusia di masa silam. Dan melalui naskah pula, kita bisa mengetahui kalau-kalau sebuah kebodohan yang kerap terjadi di masa kini, pernah terjadi di masa silam. Dan betapa bodohnya kita karena tidak bisa belajar dari kesalahan yang terjadi di masa silam.

Saya memposisikan naskah-naskah sebagai jembatan untuk menjangkau masa silam yang tidak berlalu begitu saja, namun membayang-bayangi masa kini setiap saat. Kita melihat masa silam sebagai ruang yang penuh dengan misteri serta tanda tanya. Masa silam adalah cermin untuk melihat wajah kita sendiri. Melalui naskah, kita bisa menjangkau masa silam itu, menyadari coreng-moreng di wajah kemanusiaan kita, kemudian merencanakan masa kini yang lebih baik. Naskah-naskah itu adalah artefak budaya yang membantu kita untuk melihat kembali bagaimana masa silam dengan jernih, memungut kembali beragam hikmah yang berceceran di masa silam, kemudian belajar untuk tidak mengulanginya di masa kini.

Masa silam juga menjadi suatu tempat bagi kita untuk menimba inspirasi, menemukan asal-muasal kita dan memungkinkan kita untuk terus-menerus belajar demi menghadapi masa depan. Saya memandang hubungan antara masa silam dengan masa kini sebagai hubungan yang dialektik. Masa silam kerap mempengaruhi segala kejadian yang ada di masa kini. Sebuah bangsa seperti Jepang justru menemukan etos kerja yang dahsyat di masa kini karena pada masa silam, para leluhurnya telah menanamkan kedisiplinan itu sejak dini. Ketika kita melihat Jepang pada hari ini yang dahsyat kemajuan ekonominya, maka tentu saja, kenyataan itu tidak jatuh begitu saja dari langit, namun sesuatu yang pernah ditumbuhkan, sesuatu yang pada suatu masa pernah direncanakan dalam sejarah.

Sebaliknya, kita juga memaknai masa silam dengan cara berpikir masa kini. Berpikir sebagaimana yang terakhir, maka masa silam akan selalu kontekstual. Masa silam akan selalu mengalami pemaknaan secara terus-menerus dan menjadi sumber inspirasi bagi kita di masa kini. Ilmuwan sosial mengatakan, kebanyakan dari kita memandang masa silam sebagai sebuah kanvas yang tak berbatas (boundless canvas)[52], sebuah ruang di mana kita menjadi pelukis yang bebas mengekspresikan semua imajinasi.

Melalui kanvas, pelukis bebas menggaris sesukanya dan membentuk gambar, kemudian bebas pula membubuhi warna sesuai dengan yang diinginkannya. Dikarenakan posisi kita berada pada masa kini, maka masa lalu yang sedang dideskripsikan adalah penafsiran berdasarkan titik pijak (standpoint) di masa kini. Masa silam yang dihadirkan adalah masa silam yang mengalami pendefinisian ulang, sebab kita tidak mungkin kembali pada masa silam dengan mesin waktu seperti dalam film Back to The Future karya Spielberg (1978). Kita menjangkau masa silam dengan baragam cara, baik melalui naskah-naskah, catatan harian masa silam, ataupun ingatan dari mereka yang hidup di masa kini dan pernah mendapat tuturan tentang kejadian pada suatu masa.

Melihat masa silam dari perspektif masa kini, menyebabkan kita sering menghakimi masa silam. Terkadang kita sering memaksakan bahwa sesuatu pernah terjadi di masa silam, demi memperkuat posisi dan kepentingan kita di masa kini. Beberapa tahun yang lalu, terjadi silang pendapat terhadap asal-usul Murhum,[53] Sultan Buton yang pertama. Seorang sejarawan mengatakan bahwa Murhum bukan berasal dari Muna, namun berasal dari salah satu daerah lainnya di Sulawesi Tenggara.[54] Memang, posisi Murhum di sini adalah sebagai cultural hero yang muncul di beberapa kebudayaan di Sulawesi Tenggara (Sultra). Akan tetapi, ingatan pada sosok yang pernah hidup di masa silam memiliki derajat akurasi yang tidak terlalu valid. Ingatan itu tidak seberapa kuat sebab memiliki keterbatasan tertentu sehingga secara metodologis tidak bisa menjadi satu-satunya patokan.

Terhadap pendapat tentang asal-usul Murhum ini, jawabannya amat mudah. Kita mesti menelusurinya dalam naskah. Jika klaim tersebut hanya berdasarkan ingatan, maka siapapun bisa saja mengatakan itu. Namun jika klaim tersebut didukung oleh bukti fisik berupa catatan tertulis dari masa silam, maka klaim tersebut bisa kokoh kebenarannya. Naskah menjadi alat bukti dan artefak sejarah yang datang atas nama masa silam untuk menjelaskan apa yang terjadi pada zamannya. Naskah menjadi pengabsah atas klaim atau pengakuan dari seseorang di masa kini atas apa yang terjadi di masa silam. Meskipun naskah tidak bisa dianggap sebagai satu-satunya kebenaran sebab boleh jadi naskah-naskah itu direproduksi oleh istana atau kekuasaan, namun jika dibandingkan dengan ingatan atau klaim, maka naskah jauh lebih kuat kebenarannya.

Di sinilah, saya memberikan penghargaan yang tak henti-hentinya kepada nenek moyang Buton yang setia menuliskan naskah dan mewariskannya hingga hari ini. Di negeri Buton, dengan mudahnya kita bisa merunut pohon silsilah kita hingga ke masa ketika Wa Kha Kaa menjadi raja pertama pada tahun 1400-an. Semua kitab-kitab silsilah (siwulu) itu masih tersimpan rapi dan menjadi artefak berharga bagi generasi masa kini. Ini memang tradisi orang Arab yang setia membuat daftar tentang asal-usul atau genealogi seseorang. Bagi orang Arab, penyusunan kitab asal-usul itu dianggap penting sebab sepanjang sejarah, banyak manusia yang sering mengklaim dirinya sebagai keturunan Rasul dan memanfaatkan klaim itu untuk kepentingan pribadi. Tradisi inilah yang juga sampai ke Buton sehingga pencatatan naskah, termasuk mencatat asal-usul sebagai hal yang dianggap penting bagi masyarakat.

Ketinggian suatu peradaban adalah ketika mereka mencatatkan pengalamannya dalam naskah. Dengan cara demikian, mereka terus belajar dari semua kejadian masa silam, untuk membangun hari ini dan masa depan yang lebih baik. Bagi kita di masa kini, naskah-naskah masa silam itu tidak sekedar menjadi artefak sejarah yang diam dan beku. Melalui naskah, kita bisa mengetahui suasana batin seseorang di masa silam, keresahan-keresahan, duka-cita, suka-cita, hingga apa saja yang menjadi keinginan terbesarnya.

Kita bisa mengetahui bagaimana perasaan Idrus Kaimuddin, bagaimana pandangannya saat melihat dunia, dengan cara membaca naskah-naskah. Perenungan hidup dan kearifan memandang dunia adalah sisi-sisi lain Idrus yang bisa diketahui dengan cara menelusurinya dalam naskah-naskah. Naskah tentang syair itu seolah mengawetkan ingatan serta kesan subyektif Idrus atas sesuatu. Kita bisa ikut menyelam dalam telaga perenungan Idrus dengan membaca syairnya. Kita bisa masuk dalam genangan pemikiran Idrus dan ikut merasakan empati pada pandangannya akan sesuatu.

Mungkin, sebagian dari kita menganggap naskah sebagai hal yang sepele. Coba bayangkan, apa jadinya jika naskah itu lenyap dari bumi? Mungkin kita akan menyaksikan apa yang disebut Eric Wolf sebagai “masyarakat tanpa sejarah.”[55] Masyarakat tanpa sejarah adalah masyarakat yang tak punya visi serta jalan terang dan senantiasa dicucuk hidungnya oleh bangsa-bangsa lain. Akan menjadi masyarakat yang tak pernah mengambil hikmah dari masa ribuan tahun sebelumnya dan terjerembab pada kebodohan yang selalu terulang dalam sejarah.

Dalam satu riset terhadap anak-anak di Amerika Serikat dan Jepang, terungkap kalau anak-anak di Amerika Serikat (AS) membayangkan masa lalu hanya pada tahun 1700-an, era ketika pada koboi memasuki benua Amerika. Masa lalu Indian tidak menjadi ingatan kolektif bagi anak-anak Amerika sehingga masa silam mereka amatlah pendek, hanya pada era George Washington. Sementara anak-anak Jepang justru membayangkan masa lalu yang amat jauh, mulai dari era dewa-dewa ketika mencipta manusia, era kekaisaran, hingga masa kini.

Penelitian itu menjadi patokan untuk melihat etos kerja dan visi ke depan dari suatu bangsa ke depan. Bangsa Jepang dianggap memiliki visi yang lebih jauh dalam melihat kemajuan, dan tidak terjebak pada kepentingan yang sifatnya sesaat. Mereka mengambil inspirasi dari masa silam demi menemukan identitas kemudian melihat kemajuan hari ini sebagai kontinuitas (ketersambungan) dari apa yang sudah dibangun dari masa silam.

Makanya, saya memposisikan naskah sebagai khasanah Kesultanan Buton yang tak ternilai dan hingga kini masih lestari. Naskah-naskah itu menjadi mata air sejarah, menjadi salah satu jembatan yang menghubungkan kita dengan masa silam. Naskah itu menjadi technologies of memory (teknologi ingatan) yang menjaga kelangsungan ingatan dan mewariskannya dari satu generasi kepada generasi yang lainnya.[56] Istilah technologies of memory dimaksudkan sebagai jejak yang terkandung di dalam naskah masa lalu (Tota 2001).

Istilah ’teknologi ingatan’ ini merujuk ke artefak yang secara potensial bisa mengingatkan kita pada waktu lampau melalui sejumlah kode yang membentuk ingatan suatu kelompok atau komunitas. Dalam sejumlah konteks, teknologi ingatan bisa pula menjelma menjadi teknologi melupakan (technologies of forgetting) sebab ketika mengingat sesuatu, maka kita juga melupakan sesuatu. Makanya, tak semua peristiwa masa silam selalu akan diingat. Beberapa peristiwa kelam dan memalukan, akan berusaha untuk dilupakan, meski jejaknya sukar dihapus dalam kesadaran suatu bangsa.

Sebuah naskah tidak selalu berkisah tentang keperkasaan atau kejayaan. Ketika naskah berkisah tentang peristiwa kelam, maka manusia cenderung untuk melupakan apa yang tercatat dalam naskah itu. Demikian pula ketika naskah bercerita tentang masa silam yang dianggap memalukan bagi masa kini, naskah-naskah itu seolah hendak dimusnahkan. Artinya, kita memandang masa silam hanya pada posisi yang menguntungkan atau mengenakkan kita. Padahal, segala yang buruk di masa silam adalah cermin bagi kita untuk tidak mengulanginya di masa kini.

Di Indonesia, masa silam yang kelam cenderung hendak dilupakan, tanpa mendudukkannya secara proporsional. Dalam hal kekerasan terhadap warga yang distigmatisasi sebagai PKI pada tahun 1965, hingga kini tak pernah jelas bagaimana kekerasan tersebut dan bagaimana menyelesaikan masalah itu. Makanya, negeri ini selalu jalan di tempat, lingkaran kekerasan itu akan terus terjadi, sebab kita tak punya keberanian untuk menuntaskan semua kesalahan di masa silam.

Saya juga melihat naskah sebagai jendela untuk melihat bagaimana kebudayaan operasional dalam kehidupan sehari-hari (everyday life). Naskah menyimpan jaringan makna yang jika dipintal dengan metodologi tertentu, akan membawa kita pada pahaman tentang bagaimana kebudayaan operasional dalam keseharian sebuah bangsa pada masa tertentu. Pada titik ini, naskah bukan cuma kapasitas untuk menyimpan sesuatu. Naskah bersifat aktif sebab merupakan konstruksi manusia atas masa silam yang merefleksikan situasi masa kini yang menyejarah. Kita bisa menjelaskan bagaimana dinamika internal dan proses-proses sosial kultural yang membuat suatu kelompok mempertahankan jenis ingatan tertentu. Saat orang-orang Buton mempertahankan ingatannya bahwa di masa silam daerah ini pernah menjadi sentrum peradaban, maka itu dilakukan dalam konteks mencari spirit untuk membangun masa kini yang gemilang.

Melalui tradisi pencatatan naskah, maka sedang terbentang sketsa dialog-dialog dengan kenyataan, sebuah upaya untuk melakukan refleksi dan mengabadikan butir-butir pemikiran. Di negeri Buton, naskah adalah tradisi yang telah lama berdenyut di kalangan rakyat jelata. Meskipun pengajaran tasawuf hanya diberikan kepada mereka yang berumah di keraton (bangsawan), dalam hal ini kaomu dan walaka, namun semua rakyat tetap memiliki akses pada kemampuan membaca kitab dan menulis dengan huruf Arab.

Saat ini, naskah yang masih rapi tersimpan adalah surat-surat kesultanan, naskah tasawuf dan agama Islam, hingga naskah tentang pengobatan. Naskah yang juga banyak ditemukan adalah naskah karya sastra yang bisa digolongkan sebagai hikayat-hikayat (tula-tula) dan kabanti. Tula-tula itu bisa disamakan dengan cerita, dongeng dan sejarah. Sedangkan kabanti berisikan ajaran agama maupun falsafah yang disampaikan dalam bentuk syair. Kabanti juga berisikan kisah-kisah percintaan.

Para antropolog memandang kisah-kisah seperti itu tidak sekedar dongeng yang dikisahkan di malam hari sebagai pengantar tidur. Kisah-kisah itu memiliki makna yang bisa menjelaskan bagaimana kebudayaan bersifat operasional dalam kehidupan sehari-hari serta membantu kita untuk memhamai cara berpikir suatu masyarakat. Kisah-kisah itu penting untuk mengetahui bagaimana pandangan dunia suatu masyarakat, bagaimana mereka melihat suatu masalah, serta bagaimana mereka mempraksiskan pandangan itu dalam sikap dan tindakan.

***

IDRUS Kaimuddin merenungi waktu. Ia kelak akan meninggalkan dunia yang fana. Tapi jejak-jejak aksara pencapaiannya akan selalu abadi dan menjadi mata air pengetahuan bagi generasi selanjutnya. Semoga.


Makassar, 5 September 2009





[1] Sultan La Ode Muh Idrus Kaimuddin adalah Sultan Buton ke-29 yang bertahta pada tahun 1824 - 1851
[2] Kabanti adalah syair tradisi lisan yang berisikan petuah-petuah, kisah peristiwa, hingga ajaran tasawuf. Kabanti seperti puisi, namun panjang-panjang. Beberapa kabanti, panjangnya sampai ratusan halaman
[3] Dalam masyarakat Buton, ada tiga golongan yang disebut kaomu dan berhak dipilih menjadi sultan. Golongan tersebut adalah Tanailandau, Tapi-tapi, dan Kumbewaha.
[4] Berarti “Pemilik Baadia.“ Baadia adalah nama perkampungan yang terletak di luar Benteng Keraton Buton. Menurut catatan sejarah, Idrus adalah pendiri perkampungan tersebut.
[5] Dalam naskah kabanti “Nuru Molabi,” ia mengatakan, "Ikarangina batua kabongo-bongo// Muhammadi aedurusu matambe// Ee waOpu amponia dhosana// Tee amponia dhosana mancuanana// Tedhosana malingu manga guruna. Artinya “Dikarang oleh seorang batua (budak) yang bodoh// Muhammad Aedurusu matambe (Muhammad Idrus yang rendah) // Wahai Tuhan, ampunilah dosanya// Ampuni pula dosa para orangtuanya// serta dosa-dosa semua guru-gurunya.
[6] Kitab yang ditulis Idrus Kaimuddin dalam bahasa Arab adalah: (1) Raudlatul Ikhwaan, (2) Takhaatul Uturiyyat, (3) Tkhsiynul Aulaadi, (4) Utuural Miskiyyat, (5) Siraajul Muttaqiyna, (6) Darratil Ikhkaami, (7) Sabiylas Salaamu, (8) Syuunir Rakhmati, (9) Targiybul Anaami, (10) Bitakhfatur Zaa Irinya, (11) Dliyaaul Anwaari, (12) Sumuumaatil Warradi, (13) Tankiyyatul Kuluubi, (14) Hadiiyatul Basiyru, (15) Hablal Wasiyki, (16) Khaulil Maumudi, (17) Andatul Muwahidiyna, (18) Kasful Hijaaba, (19) Uaoharal Abbariyyat, (20) Misbaahur Rajiyna (salawat), (21) Midaadur Rakhmati.
[7] Melayu Jawi yang dimaksud adalah Melayu kuno
[8] Kaipopo Mainawa adalah judul kabanti karya Haji Abdul Ganiu (Kenepulu Bula)
[9] Salah satu studi yang paling baik dalam membahas bajak laut di perairan Sulawesi, bisa dibaca pada studi AB Lapian (2009) Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad ke 19. Depok: Komunitas Bambu.
[10] Atas keberhasilannya tersebut, Lakilaponto diangkat sebagai Raja Buton ke-6, menggantikan Raja Mulae. Pada masa pemerintahan Lakilaponto, Islam resmi menjadi agama kerajaan sehingga istilah kerajaan diubah menjadi kesultanan. Lakilaponto lalu diangkat sebagai Sultan Buton I bergelar Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis.
[11] Istilah ‘negeri bawah angin’ digunakan dalam surat yang dikirimkan Kapitalao Jitanggawu pada tahun…. Istilah ‘negeri bawah angin’ yang dimaksudkannya adalah negeri-negeri di kepulauan Nusantara. Sedangkan negeri atas angin adalah wilayah timur tengah dan jazirah Arabia yang terletak di sebelah utara Nusantara.
[12] Pada masa Perdana Menteri Karaeng Pattingalloang, dimulailah upaya penterjemahan berbagai naskah tersebut ke dalam bahasa Makassar. Naskah-naskah irtu meliputi pembuatan meriam, pabrikasi bubuk mesiu dan senjata diterjemahkan dari bahasa Spanyol, Portugis dan Turki.
[13] Mengacu pada Zuhdi (1999), terdapat dua versi masuknya Islam di Buton. Versi pertama melalui Syekh Abdul Wahid, putra Syekh Sulaiman, keturunan Arab yang beristrikan putri Sultan Johor. Sekembali dari Ternate, melalui Adonara menuju Johor, Syekh Abdul Wahid berpapasan dengan gurunya Imam Pasai bernama Ahmad bin Qois Al Aidrus di perairan Flores (dekat Pulau Batuatas). Sang guru menugaskan muridnya untuk tidak segera kembali ke Johor melainkan terlebih dahulu menuju ke Buton. Maka berbeloklah perahu Abdul Wahid ke Burangasi.  Versi kedua masuknya Islam di Buton adalah tahun 1580 ketika Sultan Baabullah dari Ternate memperluas kekuasaannya (Ligtvoet 1878). Mengacu pada naskah kuno, La Niampe mencatat tiga versi yang menginformasikan tentang angka tahun sejarah permulaan masuknya ajaran Islam di kerajaan Buton yaitu tahun 850 H. atau tahun 1412 M, tahun 933 H, atau  tahun 1533 M dan tahun 948 H atau tahun 1542 M. Dari ke tiga versi tersebut, versi yang paling tua dan jelas sumbernya adalah angka tahun 948 H atau tahun 1542 M
[14] Menurut informasi yang saya peroleh, naskah kabanti Ajonga Inda Malusa adalah naskah kabanti yang terpanjang di banding naskah kabanti yang lain. Isinya juga sangat kaya dengan data-data sejarah.
[15] Haji Abdul Ganiu adalah pejabat dalam pemerintahan Kesultanan Buton, di antaranya pernah menjabat sebagai juru bahasa, syahbandar, kapitalao (kapten laut), dan terakhir sebagai Kenepulu (penasihat hukum). la Juga dikenal sebagai ulama intelektual di Buton. Beberapa karyanya yang penting di antaranya Mir'at at-Tamam (bahasa Melayu), Kebun segala saudara di dalam Berkat Ibadah kepada Tuhan (bahasa Melayu), serta sejumlah kabanti dalam bahasa Wolio. Di antaranya adalah Ajonga lnda Malusa, Padamana Alimu, Kalipopo Mainawa, dan Kaina-inawuna Arifa.
[16] Sultan Mardan Ali (1647-1654) adalah Sultan Buton ke-8. Juga dijuluki Oputa Igogoli yi Liwuto
[17] La Saparigau adalah Sultan Buton ke-7. Julukannya Oputa Mogaana Pauna
[18] Untuk mengetahui versi Belanda tentang tenggelamnya lima kapal ini, baca tulisan Horst Liebner dalam buku ini
[19] Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi, satu-satunya Sultan Buton yang dua kali menjabat. Masa jabatan pertama tahun 1750 – 1752. Setelah itu, ia digantikan Sultan Sakiyuddin (Sangia Yi Wolowa) dan Sultan Rafiuddin (Oputa Mosabuna Yi Tobe-tobe). Namun pada tahun 1760, Himayatuddin kembali menjabat sebagai sultan. Himayatuddin juga dikenal dengan panggilan La Karambau karena fisiknya yang besar dan tegap. Dalam berbagai naskah, ia juga dijuluki sultani mopotimbena te walanda (sultan yang saling tebas dengan Belanda), dalam satu peristiwa konflik besar yang dalam naskah Buton disebut ‘Kaheruna Walanda.’
[20] Saat tulisan ini dibuat, sejumlah arkeolog dan penjelajah harta karun tengah menelusuri letak karamnya kapal ini. Menurut mereka, ada banyak harta yang ikut terkubur bersama kapal ini di dekat Pelabuhan Bau-Bau
[21] Menurut informasi yang saya dapatkan di Bau-Bau, saat ini sebuah naskah akademik untuk mengusulkan Sultan Himayatuddin atau Oputa Yi Koo sebagai pahlawan nasional telah selesai dibuat dan diusulkan kepada pemerintah. Bahkan, beberapa kali telah dibuat seminar dan menghadirkan sejarawan Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Susanto Zuhdi
[22] Untuk mengetahui lebih jauh tentang syair tersebut, lihat Skinner, C. (ed.), Syair Perang Mengkasar; Sebuah Reportase Sastrawi Bergaya Melayu dari Jurutulis Sultan Hasanuddin tentang Kejatuhan Salah Satu Kerajaan Besar di Abad XVII, a.b: Abdul Rahman Abu, Makassar: Ininawa-KITLV, Jakarta, 2008.
[23] Studi yang dilakukan oleh Blair Palmer terhadap eksodus Ambon di Bau-Bau menunjukkan fenomena itu. Meskipun mereka adalah generasi keempat dari perantau Buton, namun mereka sudah tidak mengetahui lagi bahasa Buton, tidak tahu bagaimana adat-istiadat Buton, namun selalu menyebut nama Buton dalam segala interaksinya. Mereka adalah orang Ambon yang masih mengakui identitasnya sebagai orang Buton.
[24] Dalam versi bahasa Wolio, ia mengatakan “E, Waopu.. patotapua incaku// opoaroku kutontomaka Zatumu.” Lihat, kabanti Bula Malino
[25] Ini juga menimpa maestro sastra asal Bugis Colliq Puji’E atau Arung Pancana Toa yang hingga kini belum juga dikukuhkan sebagai pahlawan nasional. Padahal, Colliq Puji’E adalah penulis kitab La Galigo yang disebut-sebut sebagai karya sastra terpanjang di dunia dan mengalahkan Mahabharata dan Ramayana dari India.
[26] Muhammad Isa Kaimuddin adalah Sultan Buton ke-30, yang bertahta pada tahun 1851-1871. la adalah putera Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin. Salah satu naskahnya yang cukup penting dituIis dalam bahasa Melayu berjudul "Istiadat Tanah Negeri Buton". Naskahnya tersebut telah ditransliterasi dan dianalisis oleh Prof Achdiati Ikram, guru besar filologi Universitas Indonesia.
[27] Haji Abdul Ganiu adalah pejabat dalam pemerintahan kerajaan Buton, di antaranya pernah menjabat sebagai juru bahasa, syahbandar, kapitalao (kapten laut), dan terakhir sebagai Kenepulu (penasihat hukum). la Juga dikenal sebagai ulama intelektual di Zaawiah (pesantren) yang ada di Buton. Beberapa karyanya yang penting di antaranya Mir'at at-Tamam (bahasa Melayu), Kebun segala saudara di dalam Berkat Ibadah kepada Tuhan (bahasa Melayu), serta sejumlah kabanti dalam bahasa Wolio. Di antaranya adalah Ajonga lnda Malusa, Padamana Alimu, Kalipopo Mainawa, dan Kaina-inawuna Arifu
[28] Haji Abdul Hadi adalah putra Sultan Muhammad ldrus Kaimuddin. Ia juga dikenal sebagai salah seorang ulama Buton. Salah satu naskah yang ditulisnya dalam bahasa Wolio berjudul "Kaokabi Mainawa"
[29] La Kobu adalah salah seorang pejabat di Baadia (pusat pemerintahan kesultanan Buton pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin. Ia bergelar "Metapasina (I-kaomu Baadia) yang merawat atau memelihara golongan bangsawan Baadia. Salah satu naskah yang pernah ditulisnya berjudul "Kaluku Panda".
[30] Abdul Khalik Maa Saadi adalah sekretaris kesultanan Buton pada masa pemerintahan Sultan Muhammad ldrus Kaimuddin tercantum namanya sebagai penyalinnya. Selain itu, ia juga menulis naskah, salah satu di antaranya berjudul Qawaid al-Qawa'id fr Usul ad-Din dalam bahasa Arab.
[31] Keterangan yang lebih lengkap mengenai jalur pelayaran ini bisa dibaca dari laporan Tome Pires (1512-1515) yang berjudul Summa Oriental. Menurut Pires, perjalanan lebih singkat bagi orang Portugis ke Maluku tidak melalui pantai Jawa, melainkan melalui Singapura ke Borneo (Kalimantan) kemudian ke Pulau Buton lalu ke Maluku
[32] Patani adalah nama daerah di Thailand selatan yang penduduknya mayoritas bergama Islam.
[33] Sejumlah sumber juga mengatakan bahwa Syaikh Abdul Wahid berasal dari Patani, Thailand.
[34] Saat mengucapkan Sumpah Palapa, Gajah Mada mengatakan, “Ikang Sasanuasa Makasar, Boetoen, Banggawi…” yang maksudnya: “Yang dimaksud kesatuan Nusantara ialah daerah Makassar, Buton, Banggai….”
[35] Jan Pieterszoon Coen (1587-1629) dikenal sebagai orang Belanda yang menemukan jalur perdagangan ke Asia Timur. Ia menjadi Gubernur Jenderal VOC ke-4 yang berkedudukan di kota yang didirikannya yaitu Batavia (Jakarta) pada tahun 1617. Meskipun terlahir dari keluarga penganut Calvinist yang taat, Coen justru dikenal karena tindakannya yang membantai ratusan penduduk Pulau Banda pada tahun 1621.
[36] Sayid Raba di Buton dikenal sebagai ulama yang memiliki kesaktian. Ulama inilah yang pertama kali mengajarkan ilmu hakekat yang dikenal dengan istilah kangkilo (mensucikan diri).
[37] Sayid Ulwi datang di Buton pada masa pemerintahan Sultan Liauddin Ismail atau La Umati (1689-1697). Menurut Zahari (1982:128), ulama ini tiba di Buton bertepatan dengan tahun 1100 H pada tahun ba bulan Jumadilakhir. Sayid Ulwi dikenal pula sebagai guru Sultan Liauddin Ismail di bidang tasawuf. Keturunan Nabi Muhammad yang berasal dari Hadratalmaut ini tinggal di Buton selama dua tahun; tugas utamanya adalah menghapus segala kepercayaan berhala yang masih tersisa di wilayah pedalaman negeri Buton.
[38] Haji Sulaiman, di Buton lebih dikenal dengan nama Haji Pada, sangat terkenal di wilayah pedalaman kerajaan Buton, karena dialah yang mengajarkan ajaran Islam di berbagai wilayah. Ulama ini sangat dimuliakan oleh para pengikutnya di Buton. Tempat dan waktu kematiannya sangat kontroversial. Beberapa tempat di Buton diakui sebagai makamnya.
[39] Abdullah, di Buton lebih dikenal dengan nama Mojina Kalau. Ulama ini berasal dari tanah Semenanjung Melayu-Johor dan sampai di Buton melalui Kalatoa Selayar. Ulama ini dikenal memiliki ilmu kebatinan dan mampu mengobati berbagai penyakit, di antaranya menyembuhkan penyakit yang diderita oleh La Cila putra Sultan Dayanu lkhsanuddin. Dikisahkan dalam salah satu teks naskah Buton bahwa ia menghilangkan penyakit itu melalui sehelai benang. Namun, ia juga mengatakan kepada Paduka Sri Sultan Dayanu Ikhsanuddin bahwa setelah sembuh, kelak kematiannya pun akan melalui sehelai benang pula. Ketika La Cila menjabat sebagai sultan menggantikan ayahandanya, ia terbukti melanggar hukum kerajaan sehingga dihukum mati di tiang gantungan di pulau Makasar. Oleh karena itu, Sultan La Cila atau Mardan Ali bergelar "Gogoli Liwuto" (yang digantung di sebuah pulau).
[40] Tuan Muda Abdul Rahman Khudari Wan Ali Fatani berasal dari Patani. Di Buton ia diangkat menjadi salah seorang menteri kerajaan. Salah satu naskahnya berjudul “Ratibul Azaly Katbal Ariftn"; naskah itu merupakan kumpulan materi yang pernah diajarkan gurunya yang bemama Syekh Ibrahim bin Muhammad Tahir.
[41] Syekh Muhammad bin Syais Sumbul al-Makki dikenal sebagai salah seorang guru Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin ibn Badaruddin al-Butoni di bidang tarekat Khalwatiyah Sammaniyah.
[42] Lihat K. von Benda-Beckmann, Franz von Benda-Beckmann, and Anne Griffiths (Eds.) Mobile People, Mobile Law: Expanding Legal Relations in a Contracting World. Ashgate Publishing Ltd
[43] Mengacu pada penelitian Yunus (1995) terdapat dua corak ajaran tasawuf tersebut masuk di Buton antara lain melalui buku-buku: karya Muhammad bin Fadlullah al-Burhanpuri dari India, At-Tuhfah al-Mursalah ila Ruh an-Nabi, dan Al Haqiqah al-Muwafaqah lisy-Syari'ah al-Muhammadiyah; karya Hamzah Fansuri. Asrar- al-Arifin dan Syarb al-'Asyiqin; karya Syamsuddin Sumatrani, Nur al-ad-Daqa'iq; karya Syekh Yusuf al¬-Makassari; Zubdah al-Asrar; karya 'Abd as-Samad al-Palimbani; Zad al-Muttaqin Tauhid, Rabb al-'Alamin; dan karya Ibn 'Arab'i. Nur Muhammad.
[44] Di antara beberapa sufi yang ajarannya bergema hingga tanah Buton adalah Abu Yazid al-Bistani (wafat 874 M), Al Hallaj (Husain Abu Mansyur al Hallaj) 858 – 922 M, Ibnu Arabi (1164 – 1240 M), Abd al-Karim al Jili (1365 – 1417 M) dan di antara kaum perempuan terkenal seorang Zahid bernama Rabi’atul Adawiyah (meninggal (185 H atau 796 M).
[45] Lihat tulisan Saidi dalam bagian lain di buku ini
[46] Menurut catatan Saidi, dalam satu kunjugan ke Buton, mantan Menteri Hukum dan HAM, Dr M Saad mengatakan, demokrasi tertua di Indonesia adalah Buton.
[47] Dikutip dari Kamaluddin (2008) Buton dalam Dimensi Pendidikan, dalam Darmawan, M Yusran (2008) Menyibak Kabut di Keraton Buton. Bau-Bau: Respect.
[48] Khutuba kalulungi adalah materi khutbah yang disusun di atas kertas panjang yang digulung-gulung.
[49] La Ode Muh Isa adalah Sultan Buton ke-30 dan bergelar Sultan Muh Isa Kaimuddin (Oputa Yi Tanga) yang memerintah pada tahun 1851-1871. Sedangkan La Ode Muh Salihi adalah Sultan Buton ke-31 bergelar Sultan Muh Salihi Kaimuddin (Oputa Yi Munara) yang memerintah pada tahun 1871-1885
[50] Mereka yang menerima bingkisan adalah (1) Gubernur, (2) Petor Kota atau opperkoopman yang berdiam di Benteng Rotterdam, (3) Kapitan (komandan artilerie), (4) Fiskal, (5) Sekretaris Gubernur, (6) Bankelier atau Winkelier, (7) Kapiten Meriam, (8) Syahbandar, (9) Bukewer, pemegang buku keuangan, (10) Juru bahasa besar (oppertolk), (11) Juru bahasa kecil (tolk), (12) Juru tulis kampung Butung
[51] Mungkin ini semacam Pakaian Dinas Harian (PDH) ketika rapat kerajaan
[52] Appadurai, Arjun (1981) The Past as A Scarce Resource dalam Man, New Series Vol 16 No 2, Jun 1981. Royal Anthropological Institute of Great Britain and Ireland.
[53] Untuk melihat silang pendapat tersebut, baca tulisan Prof Djaruju pada bagian lain buku ini.
[54] Malah, sejarawan tersebut ikut memajang gambar Murhum dalam pakaian adat di beberapa daerah. SUatu hal yang amat aneh, mengingat Murhum hidup di tahun 1538.
[55] Lihat karya Eric Wolf berjudul Europe and the People Without History
[56] Saya mengutip tulisan Anna Lisa Tota (2008) berjudul Counter Memories of Terrorism: The Public Inscription of a Dramatic Past. Tulisan ini termuat dalam Jacobs, Mark D & Hanrahan, Nancy Weiss (2005) The Blackwell Companion The Sociology of Culture. Blackwell Publishing. Tota mengatakan,  "I call the ‘technologies of memory’ the tools through which the public inscription of a certain past is accomplished . This term identifies artifacts ‘‘as potentials for remembering past times’’ with a kind of code, able to shape the content of collective memory. In some contexts there are also technologies of forgetting at work. The ‘‘socially instigated amnesia’’ (Douglas, 1986) is the social result, the institutional product of this kind of technology.
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...