Membaca Kabar dari Timur


Di sela-sela kesibukan menyelesaikan satu pekerjaan, saya membaca buku Kabar dari Timur yang ditulis anak muda asal Padang, Fatris MF. Dia menulis dengan gaya bertutur. Dia menulis perjalanan mengunjungi banyak daerah di timur Indonesia, mulai dari Flores, Sumba, Timor, hingga Alor. Dia pun datang ke Ambon, lalu Pulau Buru.
 
Sebagian besar tempat yang dia gambarkan, sudah pernah saya kunjungi. Namun, begitu banyak hal yang luput dari pantauan. Wajarlah, saya ke lokasi itu karena ada pekerjaan. Saya tidak sempat berkeliling, berjumpa banyak orang, dan mencatat kesan-kesan.
 
Saya sangat menikmati catatan perjalanan ini. Kita seakan meminjam panca indra penulisnya untuk merasakan kehadiran tempat-tempat menarik ini. Tak sekadar tempat, ada kisah tentang perjumpaan dengan banyak orang di perjalanan. Mereka menjadi senyawa penting yang menghidupkan satu kawasan.
 
Di buku ini, bagian yang paling saya sukai adalah kisah mengenai legiun pemburu ikan paus di Lamalera. Penulisnya menggambarkannya dengan gaya yang dramatis. Ada doa-doa yang dirapal ke langit, kemudian lelaki pemberani dengan kulit legam karena terbakar matahari mengayuh dayung ke tengah Laut Sawu. Para perempuan menunggu di tepi pantai.
 
Namun ada juga kisah getir tentang anggota legiun pemburu paus itu yang tewas, kehilangan anggota tubuh.
 
Saya juga suka catatannya tentang Timor Leste, negara baru yang dulu bagian dari kita. Penulisnya bercerita dengan jujur tentang sisi lain tentang tanah airnya yang dipandang berbeda di sana. Butuh satu wisdom atau kebijaksanaan untuk melihat semua peristiwa, dengan jernih, di luar batas-batas nasionalisme.
 
Berkat catatan Fatris, kita bisa melihat warna-warni di banyak tempat. Dia serupa etnografer yang merekam apa yang disaksikan, sekaligus mendialogkannya dengan dirinya. Dalam proses dialog itu, dia bisa saja mengutip pustaka, mengingat adegan film, atau mengisahkan pengalamannya.
 
Saya pikir inilah kekuatan narasi yang dibuat Fatris. Dia tetap menjadi orang Minang, yang dengan rendah hati mau belajar pada kebudayaan lain. Dia tidak menghakimi, tetapi berusaha memahami apa yang dilihatnya dengan cara deskripsi yang kuat.
 
Saya rasa pustaka tentang Indonesia timur harus diperbanyak. Sepertinya kita lebih mengenal negara-negara lain, ketimbang tanah air kita. Kita lebih tahu pulau-pulau di Jepang, ketimbang pulau-pulau di Nusa Tenggara.
 
Saya ingat beberapa tahun lalu, saya membaca Melawat ke Timur yang ditulis Roem Topatimasang. Selama ini timur identik dengan ketertinggalan. Timur berada di sisi yang jauh. Banyak orang di barat yang tidak tahu tentang timur. Mereka mendefinisikan timur dengan sesukanya.
 
Padahal, orang timur justru sangat mengenal barat. Orang timur tahu kota-kota di Indonesia barat. Semuanya tahu Aceh, Padang, Jakarta, Surabaya, hingga Malang. Tapi coba tanya orang di Indonesia barat, apa mereka tahu di mana letak Morowali, Baubau, Taliabu, Tual, hingga Kaimana?
 
Satu saja kritikan tentang buku ini, yakni terlalu sedikit. Ibarat minuman, rasa haus belum terpuaskan. Dia hanya mengunjungi Nusa Tenggara, kemudian ke Kepulauan Maluku. Padahal timur itu amatlah luas. Saya paham, tidak mungkin petualangan ke timur bisa tuntas dalam beberapa kali perjalanan. Timur itu terlalu luas. Butuh banyak perjalanan dan perjumpaan.
 
Tapi setidaknya, buku ini sudah memulai. Kita jadi tahu sekeping dari bingkai besar lukisan indah bernama Indonesia. Kita jadi tahu, ada banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan di sana. Kita pun tahu ada banyak orang baik yang sekali kamu sapa dan menganggapmu teman, dia akan siap menyabung nyawa untukmu.
 
Bukan lantas memerangi dan menganggap mereka sebagai musuh dari kekuasaan yang letaknya di barat.
 

0 komentar:

Posting Komentar