Tafsir Hermenetik Atas Isra dan Mi'raj

(tulisan pendek ini saya buat sekitar dua tahun lalu untuk dimuat di media tempatku bekerja. Saya sudah melupakan tulisan ini. Namun, seseorang telah mengoleksi tulisan ini di internet.dan menuliskan nama saya. Terima kasih kawan…)

RASULULLAH berjalan laksana kilat dari Masjidil Aqsa (Mekah) ke menuju Masjidil Aqsa di Palestina. Setelah itu, Rasulullah Muhammad melesat menuju langit, menembus segala batas kosmos dan sentrum semesta. Ia merebahkan dirinya dalam bahtera kecintaan di hadapan Sang Pencipta. Penyair asal Pakistan Dr Sir Muh Iqbal berujar lirih. "Andaikan aku yang bertemu Allah, aku tak akan kembali ke muka bumi. Bukankah itulah tujuan hidup manusia selama ini? Bisa bertemu dengan Pencipta."

Kembalinya Rasulullah ke muka bumi usai bertemu Allah menyimpan makna tersendiri. Sebagai seorang messenger atau pembawa pesan, Rasul tidaklah egois. Ia masih meletakkan basis sosial dan aktivisme kemasyarakatan sebagai salah satu elemen dasar ajaran Islam. Rasul meletakkan fundasi akan titik temu dari ketaatan spiritual dalam bentuk membumikannya ke muka bumi.

Mi'raj berasal dari akar kata uruj, berarti naik atau berada di atas dan "melampaui" sesuatu yang ada di bawah. Mungkin, uruj bisa disepadankan dengan aufhebung dalam filsafat Hegel: yaitu kondisi di mana tahap-tahap perkembangan yang lebih rendah dapat dilampaui karena adanya sintesis baru yang lebih baik dan berasal dari keadaan-keadaan sebelumnya. Mi'raj adalah tindakan Nabi di mana ia mampu melampaui situasi-situasi material dalam kehidupan duniawi, lalu "naik" untuk "manunggal" dengan Kenyataan yang Benar (al haqq). Kata pemikir Iran, Ali Syari'ati, tidaklah sempurna keimanan seseorang jika hanya berhenti menjadi basyar atau manusia sebagai jasad dan badan.

Manusia harus bergerak menjadi "insan" atau manusia sebagai "roh" yang sadar dan bergerak ke arah kemungkinan-kemungkinan yang baik. Mi'raj menandai keadaan di mana Nabi menjadi "insan" sepenuh-penuhnya, karena saat itulah dia bertemu dengan sumber kebenaran yang Murni, yakni Allah. Dalam bahasa berbeda, Nurcholish Madjid menyebutkan kalau peristiwa Isra dan Mi'raj tidak sekedar peristiwa yang dialami Nabi secara fisik. Mi'raj adalah semacam "stasis" atau keadaan kejiwaan yang dalam tradisi mistik Islam mempunyai jenjang-jenjang atau maqamat dan ahwal.

Mi'raj adalah suatu keadaan kejiwaan di mana Nabi mengalami semacam "kemanunggalan" dengan Allah, begitu dekat dengan-Nya. Setiap orang Islam bisa dan bahkan dianjurkan mengalami mi'raj. Nabi sendiri pernah bersabda, "Ash shalatu mi'rajul mu'minin", salat adalah mi'raj-nya orang-orang beriman. Jika pengertian mi'raj hendak diduniawikan, atau disekulerkan, maka kata itu berarti bisa dimaknai sebagai kemampuan untuk "melampaui batas", transendensi. Seorang manusia sebagai basyar, sebagai jasad, adalah hanya seorang agen dengan kemampuan rohaniah yang begitu rendah, sehingga tidak mampu melakukan takhannuts atau penjarakan terhadap situasi-situasi material yang mengungkungnya. Sebaliknya manusia sebagai "insan" adalah seorang agen dengan kemampuan rohaniah yang tinggi sehingga bisa melampaui, atau mi'raj, batas-batas material dalam kehidupan duniawi. Mi'raj adalah keadaan transendensi yang bisa dilalui setiap orang. Sebuah keadaan yang melampaui segala kategori sosial dan konsep sosiologis. Sebuah ikhtiar untuk terus melesat dan bergerak menyempurna. Ikhtiar mendekati Sang Pencipta. (yusran darmawan)


0 komentar:

Posting Komentar